BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang BTLS didirikan dengan latar belakang masih tingginya tingkat kematian dan kecacatan akibat kegawatdaruratan (Emergency Case) pada kejadian kecelakaan transportasi, industri, rumah tangga, gejolak sosial (terorisme, konflik masyarakat, kejahatan dan kekerasan) dan bencana yang tidak henti-hentinya melanda negeri ini. Selain itu kegawatdaruratan medis seperti penyakit kardiovaskular, jantung, hipertensi dan stroke masih menduduki peringkat lima besar penyebab kematian di Indonesia. Penyebab tingginya angka kematian dan kecacatan akibat kegawatdaruratan medis tersebut adalah tingkat keparahan, kurang memadainya peralatan, sistem yang belum memadai dan pengetahuan penanganan penderita gawat darurat yang kurang mumpuni. Pengetahuan penanggulangan penderita gawat darurat memegang porsi besar dalam menentukan keberhasilan pertolongan. Pada banyak kejadian banyak penderita gawat darurat yang justeru meninggal dunia atau mengalami kecacatan yang diakibatkan oleh kesalahan dalam melakukan pertolongan. 1.2 Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Diharapkan mahasiswa mampu menerapkan Basic Trauma Life Support (BTLS) 2. Tujuan Khusus a. Diharapkan mahasiswa mampu melakukan pengakajian pada Basic Trauma Life Support (BTLS) b. Diharapkan mahsiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Basic Trauma Life Support (BTLS) c. Diharapkan mahasiswa mampu menyusun rencana tindakan Basic Trauma Life Support (BTLS)

1

d.

Diharapkan mahasiswa mampu melaksanakan rencana tindakan Basic Trauma Life Support (BTLS)

e.

Diharapkan mahasiswa mampu melakukan evaluasi pada Basic Trauma Life Support (BTLS)

1.3

Metode Penulisan Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif yaitu dengan penjabaran masalah-masalah yang ada dan menggunakan studi kepustakaan dari literatur yang ada, baik di perpustakaan maupun di internet.

2

BAB II KONSEP DASAR
2.1 Basic Trauma Life Suport (BTLS) BTLS (Basic Trauma Life Suport) adalah bagian awal dari ATLS (Advanced Trauma Life Suport. Pada BTLS, dokter atau tenaga kesehatan lainnya tidak diminta untuk memberikan tatalaksana sesuai diagnosis definitifnya tapi hanya memberikan kesempatan bagi pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan nantinya. Intinya pada tahap ini, dokter atau pelayan kesehatan lainnya hanya diminta membantu pasien untuk tetap hidup atau membuat reaksi kimia C6H12O6 + 6O2 ---> 6CO2 + 6H2O tetap berlangsung. Hal dilakukan adalah Primary Survey. Di sini dokter diminta menilai secermat mungkin hal apa yang mengancam nyawa pasien. Beberapa nemonic yang sering membantu antara lain: A : Airway with c-spine control B : Breathing and ventilation C : Circulation with haemorrage control D : Disability (neurologic evaluation) E : Exposure and Environment 2.1.1 Airway with c-spine contol. Hal pertama yang harus diperiksa dalam penyelamatan seorang pasien. Pelayan kesehatan diharapkan bisa memberikan distribusi oksigen dalam kurang waktu 810 menit. Assessmentnya : Kalau pasien sadar, dia mampu berbicara dengan jelas tanpa suara tambahan. Ini berarti laringnya mampu dilewati udara yang artinya airway is clear. Terdapat pengecualian untuk pasien luka bakar. Kalau kita temukan jejas
3

kehitaman pada lubang hidung pasien atau lendir kehitaman yang keluar dari hidung pasien itu mungkin disebabkan sudah terjadinya inflamasi pada saluran pernapasan akibat inhalasi udara bersuhu tinggi. Pasien tidak langsung menunjukan gejala obstruksi saluran nafas segera. Kalau pasien tidak sadar maka segera lakukan penilaian Look - Listen - Feel. Lihat gelisah atau tidak, gerakan dinding dada, dengarkan ada atau tidak suara nafas, rasakan hembusan nafas pasien dari pipi dalam satu waktu. Kalau terjadi obstruksi total maka akan timbul apnea biasanya disebabkan obstruksi akibat benda asing. Tindakan yang dapat dilakukan antara lain memberikan penekanan pada dinding abdomen melalui manuver Heilmicth atau Manuver Abdominal Trust. Kalau untuk anak kecil bisa dibantu dengan membalik posisi anak secara vertikal agar mempermudah keluarnya benda asing. Tindakan yang disebutkan diatas dilakukan pada pasien sadar. Sementara pada pasien tidak sadar yang bisa dilakukan antara lain : finger sweep, abdominal trust, dan instrumental.

Kalau terjadi obstruksi parsial maka pasien akan menunjukan tanda bunyi nafas tambahan. Beberapa bunyi nafas itu antara lain:
4

1. Gurgling (kumur-kumur) = obstruksi akibat adanya air dalam saluran nafas. Penanganannya melalui suction. Terdapat dua jenis suction yakni, yang elastic dan yang rigid. Pilih saction yang rigid karena lebih mudah diarahkan. Jangan melakukan tindakan yang berlebihan di daerah laring sehingga tidak timbul vagal refleks.

2. Stridor (crowing) = obstruksi karena benda padat dan terjadi pada URT. Penanganan pertama nya dengan penggunaan endotracheal tube (ETT)

5

Tidakan berikutnya dengan pemasangan oropharingeal tube (untuk pasien tidak sadar) atau nasopharyngeal tube untuk pasien sadar. Fraktur ini seringkali disertai dengan robekan pada Duramater). Multiple trauma b. Cirinya adalah keluar darah atau cairan bercampur darah dari hidung atau telinga. Penangannya yang pertama dengan membuka mulut pasien dengan jalan.3. Begitu pula dengan pemasangan nasopharingeal tube. Snorg (mengorok) = biasa nya obstruksi karenan lidah terlipat dan pasien dalam keadaan tidak sadar. bahwa pada oropharingeal tube terdapat tiga jenis ukuran sehingga sebelum memasangnya dokter harus menentukan ukuran yang sesuai. Cara mudahnya dengan menyamakan ukuran dengan panjang dari lubang telinga ke sudut mulit atau panjang dari sudut telinga ke lubang hidung. chin lift atau jaw trust. Sebagai tambahan info. C-spine kontrol mutlak harus dilakukan terutama pada pasien yang mengalami trauma basis crania (Suatu fraktur linear yang terjadi pada dasar tulang tengkorak yang tebal. Terdapat jejas di daerah serviks ke atas 6 . Kemudian diikuti dengan membersihkan jalan nafas melalui finger sweep (cara ini tidak amam karena memungkinkan trauma mekanik pada jari dokter) atau melalui bantuan instrumen. C-spine kontrol dilakukan dengan indikasi: a.

Jika semuanya gagal. Suara paru yang hipersonor disebabkan oleh pneumotorak sementara pada pleurahemorage suara paru menjadi redup. Penurunan kesadaran. Penanganan pneumotorak ini antara lain dengan menusukan needle 14 G di daerah yang hipersonor atau pengguanan chest tube. 2.2 Breathing and Ventilation Lihat keadaan torak pasien. maka terapi bedah menjadi pilihan terakhir. ada atau tidak cyanosis. Keadaan dada pasien yang mengembung apalagi tidak simetris mungkin disebabkan pneuomotorak atau pleurahemorage. d. Jika terdapat henti napas : 7 .c. Untuk membedakannya dilakukan perkusi di daerah paru.1. dan kalau pasien sadar maka pasien mampu berbicara dalam satu kalimat panjang.

Pemberian Oksigen melaui kanul hanya mampu memberikan oksigen 24-44 %. Nilai sirkulasi pasien dengan melihat tanda-tanda perfusi darah yang turun seperti keadaan pucat.Hal yang dapat dilakukan antara lain Resusitasi Paru. bisa dilakukan melalui : a. Mouth to mask c. akral dingin. Jika menggunakan ventilator oksigen dapat diberikan melalui : a. Perbedaan antara rebreathing mask dan nonrebreathing mask terletak pada adanya valve yang mencegah udara ekspirasa terinhalasi kembali. Shock yang tersering dialami pasien trauma adalah shock hemoragik. Non-rebreathing mask. intravena harus pada suhu yang hangat agar tidak memperberat kondisi pasien 8 . Jadi dalam penatalaksanaannya yang pertama adalah tangani status cairan pasien dan cari sumber perdarahan. nadi lemah atau tidak teraba.3 Circulation and haemorage control Assessment : Pertama kali yang harus diperhatikan adalah kemungkinan pasien mengalami shock. Sementara saturasi oksigen bebas sebesar 21 %.1. Kanul. dan kemungkinan timbul tamponade jantung 2. Note : pada pasien pneumotorok perhatikan adanya keadaan pergesaran mediastinum yang tampak pada pergeseran trakea. Berikan cairan intravena Pemberian cairan kemudian tutup luka dengan kain kassa. Saturasi oksigen melalui face mask hanya sebesar 35-60%. c. Mouth to mouth b. peningkatan tekanan vena jugularis. Bag to mask (Ambu bag). b. Pemberian oksigen melalui non-rebreathing mask inilah pilihan utama pada pasien cyanosis. Face mask/ rebreathing mask. immobilisasi. kemudian atasi perdarahan. Konsentrasi oksigen yang diantarkannya sebesar 80-90%.

Cirinya terdapat lebam pada perineal atau skrotum. tulang panjang. 9 . Kalau terjadi henti jantung maka lakukan massasse jantung.4 Disability Pada tahap ini dokter diharapkan menilai keadaan neurologic pasien. pelvis. 2. Luka pasien trauma yang sering menimbulkan keadaan shock antara lain luka pada abdomen. serta perdarahan torak yang massive.1. Status neurologic yang dinilai melalui GCS (Glasgow Coma Scale) dan keadaan pupil serta kecepatannya. Status hidrasi pasien juga harus diukur melalui output cairannnya sehingga sering diikuti dengan pemasangan kateter.(pemasukan cairan yang memiliki suhu lebih rendah daripada suhu tubuh menyebabkan vasokontriksi sehingga nantinya menurunkan perfusi). Namun pemasangan kateter dikontraindikasikan pada pasien yang mengalami ruptur uteri.

Fleksi normal (menarik anggota yang dirangsang) 3. Buruk /koma < 8 10 . Ekstensi abnormal (deserebrasi) 1. Mengikuti perintah 5. Membuka spontan 3. Fleksi abnormal (dekortikasi) 2.Hal yang dinilai dari GCS antara lain (E-V-M) Eye 4. Tidak ada respon Verbal 5. sedang 9 -12. Membuka terhadap suara 2. tidak ada respon (flasid) Kesadaran baik >13. Berbicara kacau atau tidak sinkron 2. Suara merintih atau menerang 1. Berorientasi baik 4. Berbicara tapi tidak berbentuk kalimat 3. Melokalisir nyeri 4. tidak ada respon Motorik 6. Membuka terhadap nyeri 1.

Bagaimana pun kerugian akibat trauma dalam hal kehilangan kesempatan hidup produktif. 2. penyebab kematian ini hanya di lampaui oleh kanker dan kardiovaskular. anamnesis riwayat pasien. Akibatnya. Jika terdapat lateralisasi maka kemungkinan terdapat cedera kepala yang ipsilateral.pada kelompok usia yang lebih tua. Sebagai penyebab utama kematian dan kecacatan. 2. Pengembangan pusat-pusat pelayanan trauma telah menurunkan mortalitas dan morbiditas diantara korban kecelakaan. CT-scan.5 Exposure dan Enviroment Buka pakaian pasien untuk mengeksplorasi tubuh pasien untuk melihat kemungkinan adanya multiple trauma. Kemudian selimuti pasien agar mencegah hipothermi. Setelah semua dilakukan dan keadaan pasien menjadi stabil lakukan kembali Secondary Survey Pelayan Kesehatan diharapkan memeriksan kembali dari awal. lakukan pemeriksaan neurologi yang komplit (tes refleks. melebihi kerugian yang ditimbulkan oleh kanker dan penyakit kardiovaskular. Perawatan dan sarana angkutan prarumah sakit yang semakin baik telah menyebabkan kenaikan jumlah korban kecelakaan dengan keadaan kritis sampai ke rumah sakit dalam keadaan hidup. dan lainnya. Jika respon pupil lambat maka kemungkinan terdapat cedera kepala. pasien yang tiba di unit perawatan kritis cenderung mengalami cedera serius yang menlibatkan banyak 11 . dan membuat diagnosis spesifik.2 Deskripsi Trauma adalah penyebab kematian utama pada manusia antara usia 1 dan 44 tahun.Respon pupil dinilai pada kedua mata. trauma telah menjadi masalah kesehatan dan social yang signifikan.1. MRI). Kemajuan dalam bidang perawatan pasien trauma telah dicapai dalam beberapa dekade terakhir.

dan adakalanya pemasangan pneumatic antishock garment (PASG). Setelah jalan nafas dipastikan. committee on trauma”. resusiitasi. Kriteria dan protokol untuk memudahkan pengkajian awal. Fase ini dimulai pada tempat kecelakaan dengan pengkajian cepat terhadap cedera-cedera yang mengancam keselamatan jiwa. pengkajian skunder. 2. Informasi tentang mekanisme terjadinya cedera dan gambaran tentang keadaan kecelakaan (spt. dan perawatan definitive. 2. intervensi.1. Potensi terhadap fraktur juga harus diimobilisasi sebelum dipindahkan. melakukan terapi cairan intravena.2 Rumah Sakit Pengkajian dan perawatan yang dilakukan setibanya di rumah sakit dibagi ke dalam empat fase : evaluasi primer.3.3. dan menentukan kemungkinan ancaman terhadap jiwa dan anggota badan. Prarumah Sakit Penatalaksanaan awal sering kali menentukan hasil akhir.2. Resusitasi sirkulasi awal termasuk kontrol terhadap hemoragi eksternal. 12 . Pemeriksaan neurologic yang seksama juga dilakukan. 2. dan mereka sering kali membutuhkan asuhan keperawatan yang ekstensif dan kompleks.3 Pengkajian Awal dan Penatalaksanaan Awal Orang yang mengalami cedera barat harus dikaji dengan cepat dan efisien.organ. dan triage untuk korban trauma telah dikembangkan oleh “American college of surgeons.stang roda mobil yang bengkok )akan memberikan petunjuk tentang kemungkinan terjadinya cedera serius. 2.3. evaluasi primer mendeteksi masalah-masalah jalan nafas. dan sirkulasi. kemudian pernafasan dan sirkulasi dievaluasi dan didukung. pernafasan.1 Evaluasi Primer Seperti halnya pada pengkajian prarumah sakit.

3 Pengkajian sekunder Apabila kondisi pasien sudah berhasil distabilkn. termasuk informasi tentang mekanisme terjadinya cedera. dan kontrol terhadap hemoragi. kateter urin dan selang nasogastrik dipasang. makin besar kecepatan yang tetrlibat di dalam suatu kecelakaan. Pemeriksaan dapat mencakup elektrokardiogram (ECG). terapi cairan intravena. badan kenderaan memberikan sebagian perlindungan dan menyerap energi dari hasil benturan 13 . akan makin besar cedera yang terjadi (mis. 2.KKB kecepatan tinggi. Kondisi-kondisi yang mengancam keselamatan jiwa. maka lavage peritoneal diagnostic (DPL) juga diperlukan dilakukan. atau luka tikam. pneumotoraks terbuka. Trauma tumpul terjadi pada kecelakaan kenderaan bermotor (KKB) dan jatuh. riwayat kesehatan yang lengkap.jika diduga adanya cedera abdomen. diatasi dengan cepat kecuali adanya kontraindikasi.3. jatuh dari tempat yang sangat tinggi).2. harus diperoleh dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh harus dilakukan.3. pemberian oksigen. sedangkan trauma tusuk (penetrasi) seringkali di akibatkan oleh luka tembak.2. Trauma tumpulm pada kecelakaan kenderaan mobil. Pasien dapat memerlukan intubasi endotrakeal. misalnya tension. peluru dengan kecepatan tinggi. hemotoraks masif.2 Resusitasi Resusitasi seringkali mulai dilaksanakan selama evaluasi primer dan mencakup tindakan terhadap kondisi-kondisi yang mengancam keselamatan jiwa. 2. dan tamponade jantung.3 Pola-pola cedera Informasi tentang pola atau mekanisme terjadinya cedera sering kali akan sangat membantu dalam mendiagnosa kemungkinan gangguan yang diakibatkan.2. berbagai uji laboratorium.3. dan pemeriksaan radiologic (Table 44-1). Umumnya.

tabrakan. Demikian juga. usus) akan terlepas dari mensenteri. Bagaimanapun akan terlempar dari mobil dan dampaknya mendapatkan cedera tambahan. organ-organ abdomen (limpa. Pengendara sepeda motor mempunyai perlindungan yang minimal dan seringkali akan menderita cedera yang parah apabila terlempar dari motor. Perlambatan yang cepat selama KKB atau jatuh dapat menyebabkan kekuatan yang terputus yang dapat merobek struktur tertentu.1 Prosedur-prosedur Radiologi pada Trauma Prosedur Radiografi Dada Pneumotoraks Hemothoraks Fraktur iga Kontusio pulmonal Cedera trakeobronkial Cedera pembuluh besar Pelvis Ekstremitas Angiogram Fraktur Fraktur Cedera pembuluh besar Cedera ginjal Cedera vascular pelvis Cedera vascular ekstremitas Tomografi Komputer Dera abdomen Cedera retroperitoneal Cedera ginja Dugaan Cedera 14 . Organ-organ yang berdenyut seperti jantung dapat terlepas dari pembuluh besar yang menahannya. ginjal. Pengendara atau penumpang yang tidak menggunakan sabuk pengaman. Tabel 2.

Cedera tumpul dengan abdominal b. trakea.Fraktur pelvic Serangkaian gastrografin GI bagian atas Skan hepar/limpa radioNuklida Pielogram intravena Uretrogram Retrograd Sistogram retrograde Hematoma atau laserasi Duodenal Cedera seplenik Cedera Hepatik Cedera ginjal Cedera uretra Cedera kandung kemih Tipe kedua trauma tumpul termasuk kompresi yang disebabkan oleh kekuatan tabrakan berat. limpa. Hepar. Tipe kerusakan pada kendraan seringkali memberikan petunjuk-petunjuk cedera spesifik yang diderita pada KKB. Cedera karena benturan seringkali menyebabkan kerusakan internal dengan sedikit tanda-tanda trauma eksternal. Stir atau kemudi kenderaan yang bengkok atau rusakmemperbesar dugaan akan kemungkinan cedera pada dada. luka dada penetrasi akibat pegangan pintu atau jendela. jantung dapat tetrhimpit diantara sternum dan tulang belakang. cedera limpa atau hepar dan fraktur pelvis.4 Lavage periotoneal Diagnostik (LPD) Tujuan : untuk mendeteksi perdarahan intraperitoneal Indikasi-indikasi : a. Pada kasus demikian. iga. tulang belakang atau abdomen. jantung. dan pancreas juga sering tertekan terhadap tulang belakang. Perubahan respons nyeri 15 . dan cedera trakeal sering berkaitan dengan kerusakan pada kaca depan mobil atau dashboard. Benturan lateral dapat menyebabkan patah iga.3. cedera tulang belakang servikal. Trauma kepala dan wajah. 2.

Kebutuhan laparotomi segera Prosedur : a. Peluru dapat menyebabkan luka di sekitar jaringan dan dapat terpecah atau merubah arah di dalam tubuh. c. 10-20 ml darah nyata pada aspirasi awal b. Hasil-hasil positif : a.Penurunan : cedera kepala atau medula spinalis . Trauma penetrasi. Lebih besar dari 100. bakteri. tulang belakang lumbar atau iga bawah. dan fraktur kesemuanya dapat disebabkan oleh cedera penetrasi. Peningkatan : fraktur pelvik. Hipovolemia yang tidak dapat dijelaskan pada korban trauma multiple d. Riwayat operasi abdomen multiple b. Beriakan cairan mengalir kembali kekantung dengan bantuan gaya gravitasi. Lebih besar dari 500 SDP/mm³ d. d. Luka tembak berkaitan dengan derajat kerusakan yang lebih tinggi dari luka-luka tikaman. Perdarahan internal. Kirim spesimen ke laboratorium. Ubah posisi pasien dari satu sisi kesisi yang (kecuali jika ada kontraindikasi) e. perforasi organ. adanya alcohol dan obat-obatan. 16 . atau bahan feses. Pasang kateter lavege kedalam rongga peritoneal melalui insisi 1-2 cm. Trauma abdomen penetrasi (jika eksplorasi tidak dikasikan) Kontraindikasi : a. Infus normal salin atau Ringer laktat dengan bantuan gaya gravitasi. c. b. adanya bilirubin. Coba mengespirasi cairan peritoneal. f.000 SDP/mm³ c. mengakibatkan peningkatan cedera.

5 Perawatan definitive Meskipun perawatan definitif dapat dimulai pada unit gawat darurat atau ruang operasi. dan yang konstan adalah penting dalam memudahkan penatalaksanaan masalh-masalah yang ada. 2.2 Cedera pada Paru dan Iga 2. Jika tidak ditangani. Elemen penting lainnya dari perawatan definitif termasuk evaluasi tanda-tanda serta gejala-gejala baru. maka akan mengancam jiwa. perawat unit keperawatan kritis dapat membantu dalam mengidentifikasi cedera yang tidak didiagnosa di unit kegawatdaruratan. penatalaksaan terhadap kondisi-kondisi medis yang sudah ada terlebih dahulu. Hemotoraks massif (>1. Banyak cedera torakik yang secara potensial mengancam jiwa. misalnya tension atau pneumotoraks terbuka.2.1 Pneumotoraks dan Hemotoraks Trauma tumpul dan penetrasi dapat menyebabkan pneumotoraks atau hemotoraks Seringkali.3. satu-satunya tindakan yang diperlukan adalah pemasangan selang dada. seringkali tanpa operasi besar.Dengan menggunakan keterampilan pengkajian yang baik dan kewaspadaan pada mekanisme terjadinya cedera. iga melayang (flail chest).4.4. identifikasi cedera yang terlewatkan selama tindakan terhadap masalah-masalah yang mengancam jiwa.4 Pengkajian dan Penatalaksanaan Trauma yang Terjadi 2. 2. 2. sedangkan selang dada untuk mengembangkan kembali paru-paru sering kali sudah 17 .4. Perawatan ini sebagian besar terdiri atas perawatan yang diberiakan pada unit rawat itensif. hemotoraks massif.1 Trauma Torak Kurang lebih 25% dari kematian karena trauma adalah karena cedera torakik. dan mudah.500 ml pada awalnya atau >100-200 ml/jam) akan memerlukan torakotomi.

menyebabkan ketidak stabilan dinding dada. Fraktur iga tidak pernah dibalut karena hal ini nantinya hanya akan mengutangi pul monal. Intervensi pembedahan juga mungkin diperlukan dalam kasus pneumotoraks terbuka (luka menyedot dada) atau kebocoran udara yang tidak terkontrol. Analgetik sistemik.2 Iga melayang Iga melayang terjadi bila trauma tumpul menyebabkan fraktur multiple iga. latihan nafas dalam). batuk. Selain memberikan perawatan rutin posoporasi (spirometri. maka ada indikasi pemasang intibasi dan fentilasi mekanis. hemotoraks. Pasien dengan cedera paru mempunyai resiko lebih besar untuk mengalami komplikasi pulmonal seperti etelekstatis. 2. intramuscular. 18 . Jika status pernafasan terganggu atau diperlukan operasi untuk cidera terjadi. Mungking juga digunakan tekanan akhir ekspirasi positif (PEEP).2. Selang dada harus dikaji patensi dan fungsinya serta dokter harus diberitahu jika drainase menjadi berlebihan. dan empiema. Tujuan utama daari perawatan terhadap iga mengambang adalah untuk meningkatkan fentilasi yang ade kuat. kontusio miokardial. Sering diberikan analgesi parenteral. bagaimanapun tidak cukup kuat untuk menghilangkan nyeri iga melayang. atau analgesia yang dikontrol pasien.4. peneumonia. Control nyeri yang ade kuat dapat meningkatkan ekspansi paru tanpa memerlukan ventilasi mekanis jangka panjang.memadai tamponade dengan sumber pendarahan yang lebih kecil. kontusio pumonal. Untuk kehilang darah dalam jumlah besar dari selang dada. Pada kejadian yang langka. perawat unit perawatan kritis harus mengkaji fungsi pernafasan dan hemodinamik dengan cermat. mungkin harus dilakukan ototranfusi. Iga melayang berkaitan dengan pneumotoraks. mungkin dilakukan stabilisasi operatif dengan kawat dan staples. Fraktur iga sering berkaitan dengan nyeri yang hebat.

termasuk sinar-x dada. mukolitik.sehingga membutuhkan metode lain untuk menghilangkan nyeri seperti blok interkosta atau analgesia epidural.2.3 Kontusio Pulmonal 19 . dan kadang-kadang pemantauan dengan oksimetrik adalh penting. bronkoskopi terapeutik. Hipoventilasi. Akibat nyeri meningkatkan resiko terhadap komplikasi pernafasan. termasuk atelektasis dan peneumonia. pernafasan tekanan positif intermiten (PTPI). Asuhan keperawatan pada pasiaen denga iga melayang ditujukan pada pengkajian dan pengontrolan nyeri. Berbagai intervensi untuk memperbaiki fungsi pernafasan dapat dilaksanakan termasuk batuk dan panas dalam. Tabel 2. drainase dan chapping.2 Prosedur-prosedur antara Kontusio Pulmonal dan ARDS Kontusio Pulmonal Awitan gagal pernapasan bertahap Perubahan-perubahan radiografi dapat segera terlihat ARDS Awitan gagal pernapasan mendadak gambaran Perubahan-perubahan gambaran radiografi sering kali tertunda 2-3 hari setelah timbul gejala-gejala Infiltrate setempat Dapat mengarah pada Infiltrate menyebar terbentuknya Dapat mengaah pada fibrosis pulomanal kronis rongga dan abses 2. disertai dengan peningkatan oksigenasi dan pertukaran gas yang ade kuat. bronkodilator.4. spirometrik. pemeriksaan fisik. Suksionendotrakeal dan nasotrakeal. gas-gas aterial darah. Serangkain pengkajian pulmonal.

Perlu sering dilakukan pengukuran gas darah arterial (GDA) atau oksimetri nadi.2. disertai dengan perawatan pulmonalyang tepat. Cedera trakeobronkial yang parah mempunyai angka kematian yang tinggi. rales. sedangkan stenosis trakeal dapat terjadi kemudian. Tanda-tandanya termasuk dispnea (ada kalanya satu-satunya tanda). hemoptisis. seringkali akibat trauma tumpul. Gangguan ini dapat tidak terdiagnosa pada foto dada awal: bagaimanapun adanya fraktur iga atau iga melayang harus mengarah pada dugaan kemungkinanadanya kontusio pulmonal. dan kontrol nyeri. Asuhan keperawatan melibatkan pengkajian terhadap oksigenisasidan pertukaran gas. maka makin banyak pasien ini yang bertahan hidup. batuk. Cedera jalan udara seringkali tidak tersamar.4. Perbaikan operasi dengan ventilasi mekanis pascaoperasi melalui selang endotrakeal atau trakeostomi akan diperlukan. Tanda-tanda dan gejala-gejalanya termasuk dispnea. Kontusio pulmonal terjadi bila perlambatan cepat memecahkan dinding sel kapiler. 20 . 2. menyebabkan hemoragi dan ekstravasasi plasma dan protein ke dalam alveolar dan spasium interstisial. Pasien dengan kontusio ringan memerlukan pengamanan ketat. dan emfisema subkutan. Pneumonia adalah komplikasi jangka pendek. hemoptitis. bagaimanapun dengan bertambah baiknya perawatan dan transportasi prarumah sakit akhir-akhir ini.4 Cedera Trakeobronkial Cedera pada trakea atau bronki dapat disebabkan oleh trauma tumpul atau penetrasi dan seringkali disertai dengan kerusakan pada esophagus dan vascular. Intervensi keperawatan tambahan termasuk pengkajian pernapasan yang kerap.Kontusio Pulmonal adalah memar pada parenkim paru. dan takipnea. perawatan pulmonal.

Secara histology. Diagnosa bias sulit ditegakkan. Setelah trauma. kateter arteri pulmonal (Swan-Ganz) dan selang arterial dipasang unutk memudahkan pemantauan hemodinamik dengan cermat. Tanda-tanda dan gejala-gejala yang bersifat temporer (mis. risiko terhadap ARDS dan koagulasi intravascular diseminata makin tinggi (Tabel 44-4).3. Untuk menegakkannya dilakukan serangkaian pemeriksaan EKG dan serangkaian pengukuran keratin kinaseinsoenzim miokardial. Setelah operasi perbaikan.3. maka tindakan yang dilakukan serupa dengan untuk infark miokardial akut. Pada peristiwa transfusi multipel.3 Cedera Pada Jantung 2. Manakala kontusi sudah dipastikan. takikardia.2. keluhankeluhan tentang nyeri dada harus dievaluasi dengan cermat.4.2 Cedera penetrasi Cedera penetrasi pada jantung mengakibatkan kematian korban prarumah sakit sekitar 60% sampai 90% dari kasus.4. 2. kontraks premature) akan terlihat tanpa adanya perubahan dalam insoenzim. Yang lebih umum dari kontusio miokardial yang sudah dipastikan adalah cedera tipe “konkusio” (gegar) yang dapat pulih. Pada 10% sisanya.1 Kontusio Miokardial Memar pada miokardium kebanyakan disebabkan oleh benturan dada pada batang stir atau dashboard selama KKB. Luka tikam kecil yang mengenai ventrikel ada kalanya menutup sendiri karena tebalnya muskulatur ventrikuler. kontusio jantung mirip dengan infark miokardial. hemoragi dan syok adalah yang umum terlihat. Hipotensi berkepanjangan meningkatkan kemungkinan terjadinya gagal renal.4. 21 . Gejala-gejala kontusio jantung bervariasi dari tidak ada gejala (umum) sampai pada gagal jantung kongestif yang berat dan syok kardiogenik.

3. Tanda-tanda awal dapat mencakup penurunan tekanan darah. sehingga memerlukan diagnosa dan tindakan yang cepat. Asuhan keperawatan pasca pembedahan mirip dengan tindakan cedera penetrasi jantung Sebagian besar pasien dengan transeksi atau robekan pada aorta mengalami pengeluaran darah sebelum sampai dirumah sakit. Tempat yang paling umum terjadinya cedera adalah dekat ligamentum arteriosum.4. “Aneurisma palsu” ini dapat pecah setiap saat.4 Komplikasi yang Berhubungan dengan Transfusi Darah Multipel ARDS Koagulopati KID Hipokalemia atau Hiperkalemia Hipokalsemia Metabolik asidosis Hipotermia Kelebihan volume Reaksi Transfusi Penularan infeksi Cedera pada Pembuluh Darah Besar 2. Kematian mendadak dapat dihindari jika hemoragi benda didalam adventisia aortic. meskipun tidak 22 .3 Tamponade Tamponade jantung dapat terjadi akibat trauma penetrasi maupun trauma tumpul. peningkatan tekanan vena sentral sebagaimana yang ditunjukan oleh distensi vena leher. Tanda-tanda diagnostik tambahan. dan bunyi muffle pada jantung.Tabel 2. Kecurigaan akan cedera pada aorta atau pembuluh darah lainnya meningkat dengan adanya fraktur iga pertama dan kedua atau hemotoraks masif sebelah kiri.

4 Trauma Abdomen Rongga abdomen memuat baik organ-organ yang padat maupun yang berongga. Komplikasi-komplikasi serius termasuk gagal ginjal karena iskemia. disertai dengan ARDS dan KID karena transfuse multipel. ketidakstabilan hemodinamik. rigiditas. Organ-organ berongga pecah dan mengeluarkan isinya dan ke dalam rongga peritoneal.3. atau tanda-tanda dan gejala-gejala abdomen akut dilakukan eksplorasi dngan pembedahan. Namun skan CT tidak dapat terlalu diandalkan dalam mendeteksi cedera pada rongga-rongga berongga. Pasien yang memperlihatkan adanya cedera abdomen penetrasi fasia dalam peritoneal. Diagnosis dini adalah penting pada trauma abdomen. Pasien dikaji untuk mendapatkan tanda-tanda abdomen akut. Eksplorasi pembedahan menjadi perlu dengan adanya awitan setiap tanda-tanda dan gejala-gejala yang mengindikasikan cedera. 2. Cedera pada subklavia atau arteri innominata dapat menyebabkan penurunan nadi pada ekstremitas atas. perbaikan atau pengkleman silang aorta totatik asending dapat menyebabkan iskemia medula spinalis. organ-organ padat berespon terhadap trauma dengan perdarahan. atau sebagai tambahan LPD. Pada kasus yang langka. Trauma tumpul kemungkinan besar menyebabkan kerusakan yang serius organ-organ padat. termasuk hipertensif ekstremitas atas dengan penurunan nadi ekstremitas bawah. dan trauma penetrasi sebagian besar melukai organ-organ berongga. menyebabkan peradangan dan infeksi.4. distensi. Secara umum. 23 . mengakibatkan paralysis pemanen dari ekstremitas bawah. guarding dan nyeri lepas.selalu ada. Penggunaan CT abdomen telah memperoleh popularitas dan sering digunakan.

Diperlukan kekuatan yang besar untuk mencederai organ-organ ini. Cedera penetrasi biasanya menyebabkan LPD positif. Selang pemberi makan dapat dipasangkan segera pascaoperasi. getah asam lambung mengiritasi peritoneum dan dapat menyebabkan peritonitis. Beberapa dari keadaan ini mengharuskan adanya tindakan pembedahan tambahan. Cedera tumpul usus halus atau lambung dapat terlihat dengan adanya darah pada aspirasi nasogastrik atau hematemesis. Pada sisi lain. dipertahankan sampai fungsi usus pulih. jauh di dalam abdomen.4. Hipovolemia karena “spasium ketiga” serta timbulnya fistula atau obstruksi. namun usus halus lebih umum mengalami cedera. 2. namun pemberian anti biotik profilaktik dapat dilakukan kapan saja terjadi perforasi usus.2. karena organ-organ ini terlindung dengan baik. Dekompresi pascaoperasi. maka resiko terhadap sepsis adalah kecil. baik dengan selang nasogastrik atau selang lambung. Sindrom malabsorpsi jarang terjadi kecuali jika lebih dari 200 cm usus telah diangkat.5 Cedera pada Lambung dan Usus Halus Cedera lambung yang signifikan jarang ditemui.3. pembedahan biasanya diperlukan untuk memperbaiki luka-luka penetrasi. Mobilitas usus di sekitar titik tetap (seperti ligamentum Treitz) mencetuskan terjadinya cedera dengan adanya perlambatan. Meskipun sering mengalami kerusakan oleh trauma penetrasi. Karena lambung dan usus halus mengandung jumlah bakteri yang signifikan. Potensial komplikasi lainnya termasuk perdarahan pascaoperasi.6 Cedera pada Duodenum dan Pankreas Pankreas dan duodenum akan dibahas bersama-sama karena keduanya adalah organ-organ retroperitoneal dan secara anatomi dan fisiologi mempunyai hubungan yang dekat.3. Tanda-tanda dan gejala-gejala dapat 24 . Meskipun kontusio usus ringan dapat diatasi secara konservatif (dekompresi lambung dan menunda masukan per oral).4.

Perlindungan terhadap kulit adalah penting jika fistula telah terbentuk.3. mual. Pada kasus perbaikan kolon eksterior. Obstruksi menyeluruh umumnya memerlukan drainase pembedahan dari hematoma. Karena sepsis adalah komplikasi utama pada cedera kolon. peningkatan kadar amylase serum. Laserasi minor atau kontusio hanya akan memerlukan pemasangan drain. 2. dan dilakukan anastomosis ujungke-ujung dan tempat perbaikan eksterior untuk memudahkan identifikasi kebocoran. tumpahnya isi kolon dapat mencetuskan terjadinya sepsis intra-abdominal. Sifat dari cedera paling sering menuntut segera dilakukannya operasi eksplorasi. sedangkan luka-luka besar memerlukan perbaikan pembedahan. nyeri epigastrik yang menjalar ke punggung. Patensi drain harus dipertahankan dan pasien dipantau terhadap timbulnya fistula. Awitan Diabetes Militus jarang terjadi kecuali jika dilakukan pankreatektomi total. dan pembentukan abses. Prosedur pembedahan yang dilakukan pada kasus-kasus ini termasuk pankreotikoduodenektomi. Pengkajian dan asuhan keperawatan pascaoperasi adalah sama untuk berbagai prosedur. anastomosis Roux-en-Y. Cedera pada duodenum sendiri dapat disembuhkan dengan anastomosis primer atau Billroth II.mencakup abdomen akut. Asuhan keperawatan pascaoperasi difokuskan pada pencegahan infeksi. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan diatrizoate (Gastrografin) gastrointestinal atas. dilakukan pankreatektomi total.4. karena tingginya kandungan enzim dari getah pankreatin. Trauma tumpul pada duodenum juga dapat mengarah pada obstruksi duodenal. Perbaikan primer adalah tindakan pilihan untuk laserasi kolon. Kolon mempunyai jumlah bakteri yang tinggi. 25 . dan muntah-muntah. dan pada keadaan yang langka.7 Cedera pada Kolon Cedera pada kolon biasanya berkaitan dengan trauma penetrasi.

Tanda-tanda dan gejala-gejala yang ditunjukkan termasuk nyeri kuadran kiri atas menjalar sampai ke bahu kiri. hematokrit) dan dekompresi nasogastrik. mungkin timbul syok hipovolemik dan koagulopati.3. Baik trauma tumpul maupun trauma penetrasi dapat menyebabkan cedera. Setelah pembedahan. Orang dewasa dengan cedera minor atau kebanyakan anak-anak ditangani tanpa tindakan operasi. Potensial komplikasi dari cedera hepar termasuk abses hepatic atau perihepatik. disertai keseimbangan cairan. sedangkan dengan hemostasis inkomplit perdarahan terutama berasal dari tempat pembedahan. Tindakan pembedahan 26 .mungkin diperlukan serangkaian prosedur radiografi dan pembedahan untuk menemukan dan mengalirkan abses. baik sifat dari cedera atau LPD positif atau skan CT digabung dengan kondisi klinis pasien akan menuntut dilakukannya pembedahan. 2. dengan observasi (serangkaian pemeriksaan abdomen.8 Cedera pada Hepar Setelah limpa. skan CT abdominal. juga adalah penting. Pada banyak kasus. 2. perdarahn timbul dari berbagai tempat.3. syok hipovolemik. sepsis. hepar adalah organ abdomen yang paling umum mengalami cedera. Pengkajian tipe dan jumlah selang drainase. atau pemeriksaan radionuklida biasanya penting untuk diagnosa. obstruksi atau kebocoran saluran empedu.4. Cedera pada hepar juga memrlukan drainase empedu dan darah pascaoperasi melalui drain. Dengan koagulopati. dan temuan-temuan nonspesifik dengan peningkatan jumlah sel darah putih.4. ARDS dan KID. Asuhan keperawatan termasuk penggantian produk darah sambil memantau hematokrit dan pemeriksaan koagulasi. Lebih sering sebagai akibat trauma tumpul. LPD.9 Cedera pada Limpa Limpa adalah oragan abdomen yang paling umum mengalami cedera.

2. sedangkan cedera yang lebih besar mengharuskan dilakukan nefrektomi. Pengkajian pascaopersi dan dukungan fungsi ginjal adalah penting. Ototransplantasi splenik. Laserasi yang lebih kecil diperbaiki. jika ada. Pembedahan diperlukan untuk cedera yang 27 .2 Cedera Parenkin Trauma tumpul atau penetrasi dapat menyebabkan laserasi atau kontusio parenkin ginjal atau pecahnya system koligentes. abses subfrenik. pielogram intravena. Mungkin diberikan dopamine dosis rendah. Skan CT. Penyuluhan harus difokuskan pada deteksi terhadap tanda-tanda dan gejala-gejala dari infeksi.4. dan pankreatitis karena trauma pembedahan. terdiri atas implantasi fragment-fragment splenik ke dalam kantung omentum. atau engiogram biasanya dapat membantu dalam menegakkan diagnosa. terdiri atas hematuria.4 Cedera pada Ginjal 2.4. 2. Diagnosanya serupa dengan cedera vskular ginjal.terdiri atas splenorafi atau splenektomi.4. Komplikasi akhir terdiri atas trombositosis dan sepsis berat postplenektomi (SBPS). Autotransplantasi splenik terbukti dapat bermanfaat dalam menurunkan insiden SBPS. suatu prosedur yang masih sangat baru dan controversial.4. hematoma terkandung. Komplikasi utama terdiri atas trombosis arterial atau vena dan gagal ginjal akut.1 Cedera Vaskular Cedera penetrasi dapat mengarah baik pada hemoragi “bebas”. Tanda-tanda dan gejala-gejala. dan massa panggul. Komplikasi dini termasuk perdarahan berulang. nyeri.4. atau berkembangnya trombus intraluminal. dan keseimbangan cairan optimal harus dipertahankan untuk menjamin perfusi ginjal.

Transfusi multipel dan pemantauan hemodinamik diperlukan dalam kasus hemoragi yang signifikan. sepsis (terutama dengan ekstravasasi dari urine yang terinfeksi).1 Cedera pada Kandung Kemih Kandung kemih dapat mengalami laserasi atau pecah. Komplikasi jarang terjadi namun dapat saja terjadi infeksi karena kateter urine atau sepsis akibat ekstravasasi urine. 2. dan awitan lambat hipertensi.2 Fraktur Pelvik Fraktur pelvik yang kompleks berkaitan dengan mortalitas yang tinggi. Hemoragi sekunder adalah penyebab yang paling sering dari kematian dini.lebih besar. Angiogram seringkali diperlukan untuk menemukan letak dan menyumbat sumber perdarahan. sedangkan sepsis menyebabkan penundaan mortalitas. Perhatian utama dari perawat unit perawatan kritis adalah untuk mencegah syok hemoragi. Ekstravasasi ekstraperitoneal sering dapat ditangani dengan drainase kateter.4.5.4. berkembangnya fistula uriner. Komplikasi lainnya termasuk perdarahan. paling sering sebagai konsekuensi trauma tumpul. Cedera pada kandung kemih seringkali berhubungan dengan fraktur pelvic. Cedera pada kandung kemih dapat menyebabkan ekstravasasi urine intraperitoneal atau ekstraperitoneal.4.5.5 Trauma Pelvik 2. 2. atau ketidakmampuan berkemih memerlukan pemeriksaan terhadap cedera uretra dengan uretrogram retrogad sebelum pemasangan kateter urine. Komplikasi utama lain 28 . Adanya hematuria. nyeri abdomen bawah.

dari fraktur pelvik termasuk keterlibatan saraf pelvik dan emboli pulmonal. 2. Asuhan keperawatan harus diarahkan terhadap pencegahan dan deteksi dini tentang masalah-masalah ini. Penting untuk dilakukan terapi fisik yang berkepanjangan dan rehabilitsi yang sering. dan suhu ekstremitas yang cedera. Segera setelah periode pasceoperasi. terdapat resiko perdarahan berlanjut atau oklusi trombotik dari pembuluh.6 Trauma pada Ekstremitas 2. kurang jarang pada trauma penetrasi.6. Angiogram juga dapat digunakan untuk menentukan tempat cedera dan mengidentifikasi fistula arteriovenosa. Fiksasi internal fraktur sering memungkinkan ambulasi dini pada pasien dengan cedera multipel yang mungkin akan mengalami komplikasi akibat tirah baring berkepanjangan (ulkus dekubitus.6. sejalan dengan perawatan luka dan pin.2 Cedera Vaskular Cedera vaskular sering kali mengakibatkan perdarahan atau trombosis pembuluh. warna kulit. maka harus dilakukan stabilitasi atau perbaikan fraktur. Indeks 29 . penyusutan otot). Manakala radiografi sudah memastikan adanya fraktur.1 Fraktur Fraktur sering terjadi pada trauma tumpul. sensasi. Perawat juga harus bekerja sama dengan terapis fisik untuk meningkatkan kekuatan dan mobilisasi dini.4. dan penutupan intima. emboli pulmonal. Perawat harus mengkaji nadi distal.4.4. Cedera vaskular biasanya disebabkan oleh trauma penetrasi. dan kurang sering karena fraktur. gerakan. 2. Dilakukan perbaikan pembedahan primer atau tandur vaskuler. pseudoaneurisme. Tanggung jawab keperawatan termasuk pengkajian status neurovaskuler.

2.ankle-brakial (ABI) seringkali berguna dalam mendeteksi perkembangan oklusi setelah trauma ekstremitas bawah. sekitar 25% dan penderita multi-trauma ada komponen trauma toraks. Perawat juga harus memperhatikan perkembangan sindrom kompartemen.Pada keadaan pnuemothorax akan berbunyi hipersonor.berbeda dengan bagian paru yang lain.Nilai peranjakan kedua sisi dada penderita apakah teraba simektris atau tidak oleh kedua tangan pemeriksa.5. Auskultasi 30 .Pada keadaan hemotorak akan berbunyi redup (dull) d.sedangkan diatas lambung (dan usus) berbunyi timpani. c. Perkusi Dengan mengetukan jari tengah terhadap jari tengah yang lain yang diletakan mendatar di atas dada. Metode ini memberikan data yang lebih objektif ketimbang hanya meraba nadi. Inspeksi Pemeriksaan paru dilakukan dengan melihat adanya jejas pada kedua sisi dada.serta ekspansi kedua paru simektris atau tidak b.5 Pengkajian dan Penatalaksanaan Trauma Lanjutan 2.2 Pemeriksaan Fisik Paru a. 2.5.Pada daerah paru berbunyi sonor.1 Trauma Torak Trauma torak sering ditemukan. Palpasi Palpasi dilakukan dengan kedua tangan memegang kedua sisi dada.pada daerah jantung berbunyi redup (dull). sehingga hanya 10% yang memerlukan operasi. 90% pada penderita dengan trauma toraks ini dapat diatasi dengan tindakan yang sederhana oleh dokter rumah sakit (atau paramedic dilapangan). Penurunan ABI menunjukan peningkatan gradient tekanan yang menembus pembuluh.

5. Hematothorax massif Pada keadaan ini terjadi perdrahan hebat dalam rongga dada. 2.Pada perkusi dada akan dull karan adarah dalm rongga pleura (pada pneumothorax adalah hipersonor) d.sesak yang berat.distress pernafasan takikardea. Flail chest 31 .3.3 Jenis Trauma Torak 2. Tension pneumothorax Penyebab tersering dari tension pneumothorax adalah komplikasi penggunaan fentilasi mekanik (fentilator) dengan fentilasi tekanan positif pada penderita yang ada kerusakan pada pleura visceral.Pada pemeriksaan klinis penderita aka nada gejala penekanan airway seperti stridor inspirasi dan suara serak.5.Auskultasi dilakukan pada 4 tempat yakni dibawah kedua klavikula.dan pada kedua mid-aksila (kosta 4-5) bunyi nafas harus sama kiri sama dengan kanan.Tekanan didalam rongga pleora akan segera menjadi sama dengan tekanan atmosfer.dan ditensi venaleher c.1 Manifestasi : gangguan airway (obstruksi) Penekanan pada trakea didaerah toraks dapat terjadi karna mislnya fraktur seternum.hilang suara nafas pada satu sisi. b. 2.Tension pneumothorax juga ditandai dengan gejala nyeri dada.(pada garis mid-klavikularis) .Pada keadaan ini akan terjadi sesak karna darah dalam rongga pleura dan sok karna kehilangan darah.5.3. Pneumotoraks terbuka /open pneumo-thorax (sucking chest wound) Depek atau luka yang besar pada dinding dada akan menyebabkan pneumo-thorax terbuka.hipotensia deviasi trakea.2 Manifestasi : gangguan breathing (sesak) Ada 4 gangguan breathing : a.

Gerkan pernafasan menjadi buruk dan torak bergerak secara asimetris dan tidak terkoordinasi. Adanya penurunan kesadaran karna ada cedera kepala yang bersamaan. karna spilnthing pada awalnya (terbelat) dengan dinding dada.3.3 Manifestasi : circulation (shok) Cirdera torak yang akan mempengaruhi sirkulasi yang harus ditemukan pada primary survey adalah hemotorak mosip karna terkumpulnya darah dengan cepat dirongga pleura.5. 2.Palpasi gerakan pernafasan yang abnormal dan krepitasi iga atau fraktur tulang rawan membentuk diagnosis. sehingga tidak adanya rasa nyeri. c.Terjadinya flail chest dikarnakan fraktur iga multiple pada dua atau lebih tulang dengan dua atau lebih garis fraktur. d.4 Trauma Abdomen Trauma abdomen akan ditemukan pada 25% penderita multi-trauma. Sering kali terjadi bahwa diagnostic akan adanya cedera intra-abdomen terlambat karna: a. 2.Adanya sigmen flail chest (segmen mengambang) menyebabkan gangguan pada pergerakan dinding dada. b. sehingga gejala nyeri abdomen tidak ada.walaupun trauma tumpul juga dapat menyebabkannya. Gejala dan tanda yang ditimbulkannya kadang-kadang lambat.Juga dapat terjadi pada tampo nade jantung. Pemakaian obat-obatan atau minuman keras. Adanya cedara spinal. Flail chest mungkin tidak terlihat pada awalnya. 32 .5.Pada ekspirasi segman akan menonjol keluar.pada inspirasi justru akan masuk kedalam ini dikenal sebagai pernafasan paradogsal.walaupun penderita tidak dalam keadaan sesak namun dalam keadaan shok ( syok nonhemoragik ) terjadi paling sering karna luka tajam jantung.

pisau lipat. extremitas dan kadang-kadang menimbulkan syok hypovolemik.5.3 Gejala Dan Tanda Trauma Abdomen Pada trauma tajam abdomen seharusnya kita mampu mendeteksi cedera yang potensial pada organ-organ intra abdomen.1 Insiden Trauma abdomen bisa disebabkan karna trauma tajam dan trauma tumpul. Adanya trauma pelvis 33 . dada.4. Pemeriksaan color dubur sangat penting pada trauma tajam abdomen dan bila ditemukan adanya darah pada sarung tangan berarti ada cedera pada usus. umumnya pada senjata standar militer 2. umumya pada senjata sipil/polisi b. golok. Perdarahan yang tidak diketahui b. Kecepatan tinggi : > 3000 feet/detik.2 Mekanisme trauma Luka tikam bisa dibedakan oleh pisau. Bila pada pemeriksaan tidak ditemukan tanda dan gejala klinis yang positif kita harus hati-hati dan tetap waspada. Trauma tajam di Indonesia cukup sering terjadi umumnya disebabkan oleh luka tikam. dileher.4.2. Pada luka bacok biasanya penderitanya mengalami luka-luka ditempat lain. Penderita umumnya pria dari kelompok usia produktif. misalnya dikepala.atau team harus melakukan resusitasi dan stabilisasi secepat mungkin. luka bacok atau luka tembak. Luka tembak bisa disebabkan menjadi 2 (dua) jenis: a. Kecepatan rendah : < 1000 feet/detik.4. kaca atau benda-benda yang menancap. 2. Ada beberapa indikasi untuk melakukan pemeriksaan secara teliti pada kasus yang kita curigai adanya trauma tumpul abdomen antara lain: a. Adanya trauma dada mayor d. Riwayat syok c.5. obeng.5.

Palpasi Tujuan palpasi adalah untuk mendapatkan adanya nyeri lepas yang kadangkadang dalam.abdomen bagian depan dan belakang diteliti apakah mengalami ekskoriasi atau memar. Dengan palpasi juga kita dapat menentukan besarnya uterus dan usia kehamilan.4 Penanganan Trauma Abdomen Pada dasarnya semua trauma abdomen tumpul dan dan tajam. Shifting dullness (adanya darah dalam abdomen) terjadi kalau pasien dimiringkan. Perkusi mengakibatkan pergerakan peritoneum dan mencetuskan tanda peritonitis. tusukan dan sebagainya dengan cara log roll Auskultasi Lakukan auskultasi untuk mendengarkan bising usus terdengar atau tidak. dan perut distensi) h.5. penanganan awal tindakan penyelamatan selalu didahulukan dan mengacu prosedur ABCDE. Disini penolong atau tim harus melakukan resusitasi dan stabilisasi secepat mungkin.m adakah laserasi. Penderita dengan penurunan kesadaran f.4. kontusio. Mekanisme trauma yang besar Inspeksi Semua pakaian harus dilepas. Perkusi Dengan perkusi bisa kita ketahui adanya nada tympani karna dilatasi lambung akut dikwadran kiri atas ataupun adanya perkursi redup bila ada hemoperitoneum. 2. 34 . Adanya hematuri g. Pada pemeriksaan fisik ditemukan jejas diabdomen (luka lecet.e.

5 Trauma Termal Kulit manusia banyak fungsinya. Selal periksa tingkat kesadaran (dengan GCS) dan adanya lateralisasi (pupil anisokor dan motorik yang lebih lemah satu sisi). b. 2. apabila penderita masih dalam keadaan terbakar. Semakin banyak kulit yang hilang maka semakin berat kehilangan cairan. dan pertolongan pertama yang baik akan sangat membantu prognosis penderita. ingat untuk memprioritaskan airway dan breathing terlebih dahulu. Apabila ada benda menancap. Disability Tidak jarang trauma abdomen disertai dengan trauma kapitis.maka dapat ditempuh dengan cara : 35 . Circulation Kebanyakan trauma abdomen tidak dapat dilakukan tindakan apa-apa pada fase pra-RS namun terhadap syok yang menyertainya perlu penanganan yang agresif c. d.5. dan apapun yang ditemukan. Apabila terjadi lka ternal maka kulit akan mengalami denaturasi protein yang ada dalam sel. Selalu ingat bahwa cedera bisa lebih dari satu area tubuh.1 Penanganan Luka Bakar Pada saat penderita ditemukan.5. Saat ini luka ternal (luka bakar) masih merupakan masalah yang cukup besar. jangan dicabut tetapi dilakukan fikasi benda tersebut terhadap dinding perut. sehingga kehilangan fungsinya. biasanya api sudah mati. 2. dan kemudian terjadi luka.kematian sel di dalam jaringan.5.a. antara lain menghindari terjadinya kehilangan cairan. Apabila ditemukan usus yang menonjol keluar (eviserasi) cukup denga menutupnya dengan kasa steril yang lembab supaya usus tidak kering. Airway dan breathing Ini diatasi terlebih dahulu.

Luka bakar yang mengenai wajah dan leher b. Sputum yang mengandung karbon atau arang e. Luka bakar kepala dan badan akibat ledakan Breathing Gangguan breating yang timbul cepat. Mangatasi sesak yang terjadi adalah dengan penangan yang agresif. dapat disebabkan karena: a.a. kerana apabila dalam jumlah sedikit hanya akan memperbesar api. Apabila obsruksi parsial dibiarkan. Riwayat gangguan mengunyah dan terkurung dalam api g. b. Alis mata dan bulu hidung hangus c. Menghisap gas atau pertikel korban yang terbakar dalam jumlah juga dapat mengganggu airway. lakukan airway definitive untuk menjaga jalan nafas. 36 . kalau bisa dalam selimut basah (penolong jangan sampai turut terbakar). Menyiram air dengan jumlah yang banyak apabila api disebabkan karena bensin atau minyak. Survei primer Airway Pada permulaan airway biasa tidak terganggu. Inhalasi partikel panas yang menyebabkan proses peradangan dan edema pada saluran jalan nafas yang paling kecil. Adanya timbunan karbon dan tanda peradangan akut orofaring d. Suara serak f. Menggulingkan penderita pada tanah yang datar. Dalam keadaan ekstrim bisa saja airway terganggu. maka akan menjadi total dengan akibat kematian penderita indikasi klinis adanya trauma inhalasi anatara lain: a. misalnya karena lama berda dalam ruangan tertutup yang terbakar sehingga terjadi pengaruh panas yang lama terhadap jalan nafas.

dengan akibat terjadi dehidrasi. Luka bakarnya sendiri Tidak perlu dilakukan apa-apa. apabila penderita berada dalam ruangan tertutup yang terbakar maka kemungkinan keracunan Co cukup besar.selain menutup dengan kain bersih. Keracuanan Co (karbondioksida).Tidak jarang terjadi bahwa disamping luka bakar akan ditemukan pula perlukaan lain yang disebabkan usaha melarikan diri dari dari api dalam keadaan panic tersebut. Eksposure Pada eksposure selaluperhatikan penderita jangan sampai hipotermi Survey Sekunder Anamnesis Penting untuk menanyakan dengan teliti hal sekitar kejadian.b. b.Apabila ditemukan kelainan maka diberikan pertolongan sesuai.Pemeriksaan teliti di lakukan apabila ada waktu.Menyemprot dengan air hanya dilakukan bila tiba sebelum 15 menjangan memecit setelah kejadian. Circulation Kulit yang terbuka akan menyebabkan penguapan air yang berlebih dari tubuh. Pemeriksaan ujung rambut sampai ujung rambut sampai ujung kaki. Asap dan api mengandung Co. Kepanikan mungkin menimbulkan benturan sehingga perdarahan intracranial dapat saja terjadi.Pada fase pra-RS hkan bula atau vesikula 37 . a. Disability Jangan lupa memeriksa skor GCS dan tanda lateralisasi (pupil dan motorik).

dan pencucian luka.2 Penatalaksanaan Luka Perawatan luka dilakukan segera setelah tindakan resusitansi jalan nafas dan mekanisme bernafas serta resusitasi cairan dilakukan:melakukan tindakan debridement.5. Yang harus di perhatikan adalah : a. d. b. Zat yang bersifat basa kuat lebih berbahaya di bandingkan zat bersifat asam kuat.5.3 Luka Bakar Listrik Luka listrik cukup sering di temukan. semakin berbahaya pula.nekrotomi.maka coba lepaskan penderita dengan perataran kayu kering.2.yang perlu diperhatikan adalah:   Matikan listrik dari sumber listrik Apabila tidak mungkin.Tentunya tindakan ini di lakukan di Ruang Operasi Luka Bakar 2. Bila sudah meninggal.5. Luka bakarnya sendiri Bahaya gamgguan irama jantung juga selalu ada . e. Apabila menemukan penderita masih dalam keadaan terkena zat kimia:  Selalu proteksi diri 38 .4 Luka Bakar Kimia a.5.Bila ada kelainan berikan terapi yang sesuai.selalu berikan RJP(kecuali bila kematian pasti.5.karena selalu pasang EKG. Apabila penderita datang masih dalam keadaan terkena arus listrik .baju kering dsb c. Patut di tambhakan bahwa luka karena aruskan listrik akan masuk kekulit 2.betapapun kecil arus listrik. Yang menyebabkan kematian adalah kuat arus (ampere)dan bukan voltase b.5. Semakin asam atau basa. Masalah luka karena arus listriknya : dianggap sebagai luka bakar.

edema tanpa nekrosis kulit.7 Derajat frostbite: a. Apabila sifat kimia bersifat bubuk safu dulu sampai zat kimia tipis baru siram. Kasus LB derajat II pada muka.5. ditandai dengan nyeri. Derajat 3 / dalam: nekrosis seluruh lapisan kulit daan jaringan sekutan. Derajat 1 : kulit tampak memucat.5.6 Cedara akibat cuaca dingin: efeknya pada jaringan lokal Ada 3 jenis truma dingin : a. Kasus LB derajat III >2% pada dewasa. 2. merupakan bentuk paling ringan trauma dingin. Kasusu LB disebabkan oleh listrik disertai cedera.5. 2. dan kesemutan pada daerah yang terkena. Derajat 2 : mulai gelembung atau bulae c. Perinium.5. Frostbite. adalah pembekuan jaringan yang diakibatkan oleh pembentukan Kristal es intraseluler dan bendungan mikrofasikuler sehingga terjadi anoriksia jaringan. c. b. b. tangan dan kaki. Luka karna zat kimia diperlakukan sebagai luka bakar. jalan nafan atau komplikasi lain. pucat.8 Penanganan 39 . 2.5. Frostnip. Derajat 4 : nekrosis seluruh lapisan kulit dan ganggreng otot serta tulang.5. 2.5.5 Indikasi rawat Pada beberapa kasus luka bakar yang perlu dirujuk kepusat luka bakar sebagai berikut :     Kasus LB derajat II > l5% persen pada dewasa dan >10% pada anak-anak. sendi.5. setiap derajat III pada anak-anak. d.  Apabila zak kimia bersifat cair. langsung semprot dengan air mengalir.

10 Penanganan Lakukan penilaian ABCDE cegah hilangnya panas dengan memindahkan penderita dari lingkungan dingin dan lepaskan baju yang basah dan dingin serta tutup dengan selimut hangat.Selalu berikan oksigen sesuai kebutuhan penderita.5.1 Jenis trauma kapitis 1. Penangan harus segara dilakukan untuk memperpendek berlangsunya pembekuan jaringan. Fraktur 40 .9 Cedera akibat cuaca dingin : hipotermi sistem Hipotermi adalah keadaan dimana suhu tubuh inti (core body temperature) dibawah 35 C tanpa adanya trauma lain.5. Lebih dari 50% penderita trauma kapitis.5. 2.6 Trauma Kapitis Trauma kapitis merupakan kejadian yang sangat sering dijumpai. maka 50% penderita ada masalah trauma kapitis.Manula lebih rentan terhadap trauma hipertermi ini di sebabkan terbtasnya kemampuan menghasilkan panas dan mengurangi kehilangan panas dan mengurangi kehilangan panas melalui vasokonstriksi.5. Re-warming Jangan lakukan pada frost bite dalam/lanjut Selalu memakapenhangatan lembab jangan kering misalnya mamakai hair drayer Jika terdapat luka lakukan seperti penangan luka bakar 2. 2.6.5. bila multi-trauma (cedera lebih dari satu bagian tubuh). hipotermi dibagi menjadi ringan sampai berat .5.       Proteksi diri dan lingkungan Selalu mendahulukan hal yang mengancam ABC terlebih dahulu. 2.

Perdarahan subdural mempunyai prognosis lebih buruk karena kerusakan otak dibawahnya. Cedera Fokal dapat berupa kontusio atau perdarahan intra-kranial. Membuka spontan 3.iskemik dari otak karena syok yang berkepanjangan atau priode apnu yang terjadi segera setelah trauma.Fraktur kalvaria (atap tengkorak) apabila tidak terbuka (tidak ada hubungan otak dengan dunia luar) tidak memerlukan perhatian segera. Yang lebih penting adalah keadaan intra-kranialnya. yakni Eye (mata). perdarahan epidural lebih jarang. 2. dan merupakan keharusan untuk dikuasai oleh setiap para medic. Paling sering ditemukan adalah perdarahan perdarahan sub-dural. Membuka terhadap nyeri 41 . Perdarahan intra-kranial dapat berupa perdarahan epidural. Membuka terhadap suara 2. Cedera otak difus yang berat biasanya diakibatkan hipoksia.2 Penilaian Trauma kapitis 1. Saat ini penurunan kesadaran dinilai memakai Glosgow Coma Scale (GCS). Verbal (kemampuan berbicara). Cedera Otak Cedera otak dapat berupa Cedera Difus dan Cedera Fokal Cedera Difus dapat kehilangan kesadaran yang sebentar (komosio serebri) atau lebih lama (difuse axonal injury). dan Motorik (gerakan). 2.5. GCS memakai 3 komponen. Penurunan kesadaran Penurunan kesadaran merupakan tanda utama trauma kapitis.6. Fraktur basis cranium dapat berbahaya terutama karena perdarahan yang ditimbulkan sehingga menimbulkan ancaman terhadap jalan nafas. Eye 4. perdarahan subdural atau perdarahan intracranial.

Ekstensi abnormal (deserebrasi) 1. Melokalisir nyeri 4. Suara merintih atau menerang 1. Berbicara kacau atau tidak sinkron 2. Fleksi normal (menarik anggota yang dirangsang) 3. Mengikuti perintah 5. Berbicara tapi tidak berbentuk kalimat 3. tidak ada respon Motorik 6. Tidak ada respon Verbal 5.1. tidak ada respon (flasid) Keadaan koma apabila diterjemahkan ke GCS adalah : Tidak membuka mata : Eye =1 Tidak dapat berkata-kata : Verbal =2 atau 1 Tidak dapat mengikut perintah : Motorik = 5 Maka koma adalah GCS 8 atau kurang. Fleksi abnormal (dekortikasi) 2. 42 . Berorientasi baik 4.

Sebanyak 10-20% dari penderita cedera otak sedang mengalami pemburukan dan jatuh dalam koma. Biasanya sama lebar (3mm) dan reaksi sama cepat apabila salah satu lebih lebar (lebih dan 1mm).3 Tanda lateralisasi Tanda lateralisasi disebabkan karena adanya suatu proses pada satu sisi otak. Pupil Kedua pupil mata harus diperiksa. 3. maka keadaan ini disebut sebagai anisokoria.Tingkatan GCS 1. GCS Ringan (GCS=14-15) Penderita tersebut sadar namun dapat mengalami amnesia berkaitan dengan cedera yang dialaminya. 2. Dapat disertai riwayat hilangnya kesadaran yang singkat namun sulit untuk dibuktikan terutama bila dibawah pengaruh alcohol atau obatobatan 2. seperti misalnya perdarahan intra-kranial. GCS Berat (GCS 3-8) Penderita dengan cedera kepala berat tidak mampu melakukan perintah sederhana walaupun status kardiopulmonalnya telah stabil.5. Motorik 43 . GCS Sedang (GCS=9-13) Penderita masih mampu menuruti perintah sederhana namun biasanya tampak bingung atau mengantuk dan dapat desertai deficit neurologis fokal seperti hemiparesis.6.

karena reflex menelan dan reflex batuk kemungkinan sudah tidak ada sehingga ada bahaya obstruksi jalan nafas. Disability Selalu dilakukan penilaian GCS. Pusing dan muntah b.5. Penurunan kesadaran dalam bentuk penurunan GCS lebih dan 1 (2 atau lebih) menandakan 44 . Oksigen selalu diberikan dan bila pernafasan meragukan lebih baik memulai ventilasi tambahan.4 Tanda-tanda peningkatan tekanan intra-kranial (TIK) a. namun apabila ditemukan maka harus sangat waspada. Airway dan Breathing Gangguan airway dan breathing sangat berbahaya pada trauma kapitis karena akan dapat menimbulkan hipoksia atau hiperkarbia yang kemudian akan menyebabkan kerusakan otak skunder.6. Bila koma harus dipasang jalan nafas definitive. Tekanan darah sistolik meninggi c. Dengan demikian syok trauma kapitis harus dilakukan penanganan dengan agresif. pupil dan tanda lateralisasi yang lain.5 Pengelolaan cedera kepala Pada setiap cedera kepala harus selalu diwaspadai adanya fraktur sevikal.Dilakukan perangsangan pada kedua lengan dan tungkai. Tanda – tanda peninggian tekanan intra-kranial tidak mudah untuk dikenali. 2. apabila salah satu lengan atau dan tungkai kurang atau sama sekali tidak bereaksi maka disebut sebagai adanya tanda lateralisasi 2. Circulation Gangguan Circulation (syok) akan menyebabkan gangguan perfusi darah keotak yang akan menyebabkan kerusakan otak sekunder.5. Nadi melambat (bradikardia) d.6.

penurunan volume. maka perdarahan harus dikendalikan. Hemoragi berkelanjutan memerlukan Transfusi multiple. 2. Ini dapat diselesaikan dengan operasi ligasi (pengikatan) dan pembungkusan.perlunya konsultasi bedah syaraf dengan cepat. pelepasan toksin) ↓ Penurunan arus balik vena ↓ Penurunan isi sekuncup ↓ Penurunan curah jantung ↓ Penurunan perfusi jaringan yang tidak sama Untuk mencegah kehabisan darah.6 Komplikasi-Komplikasi Pada Trauma Multipel Penyebab Kematian Dini (Dalam 72 Jam) Hemoragi dan Cedera Kepala Hemoragi dan cedera kepala adalah penyebab kematian dini setelah trauma multipel. Mekanisme yang Mengarah pada Penurunan Perfusi Jaringan Faktor penyebab (spt. Selalu ingat upayakan mencegah kerusakan otak sekunder. sehingga meningkatkan kecenderungan terjadinya ARDS dan DIC. dan embolisasi dengan angiografi. Hemoragi berkepanjangan mengarah pada syok hipovolemik dan akhirnya terjadi penurunan perfusiorgan (Tabel 44- 45 .

dilakukan pemeriksaan kultur. Pelepasan toksin menyebabkan dilatasi pembuluh. Infeksi dan riwayat Syok hipovolemik diduga dapat meningkatkan potensi perkembangan GOM. 2. insisi dibiarkan terbuka. syok septik).6. dengan drains terpasang. Setelah pembedahan drainase abses abdomen.6. Pada mulanya.2 Gagal Organ Multipel Awitan sepsis sering bertepatan dengan awitan gagal organ multipel (GOM) yang terjadi pada 7% sampai 12% dari Pasien-pasien cedera kritis. sedangkan yang lainnya memerlukan pembedahan. 46 .5).1 Penyebab Lambat Kematian (Setelah 3 Hari) Sepsis Sepsis adalah komplikasi yang sering terjadi pada trauma multipel. mekanisme kompensasi terlampaui dan curah jantung menurun sejalan dengan tekanan darah dan perfusi (y. operasi eksplorasi sering dilakukan. Abses intra Abdomen merupakan penyebab sepsis paling sering. Diberikan antibiotik. Sebagian abses dapat keluarkan perkutan. curah jantung meningkat untuk mengimbangi penurunan tahanan vaskular sistemik. yang mengarah pada pengumpulan venosa yang mengakibatkan penurunan arus balik vena. Diperkirakan bahwa pemberian nutrisi yang dini dapat menurunkan perkembangan sepsis dan gagal organ multipel. untuk memungkinkan penyembuhan dan menghindari kekambuhan. 2. Akhirnya. dan paru-paru. mulai dilakukan pemeriksaan radiologik. Berbagai organ memberikan respons yang berbeda terhadap penurunan perfusi yang disebabkan oleh syok hipovolemik.i. Sumber infektif harus ditemukan dan dibasmi. saluran kemih. Sumber-Sumber infeksi lainnya yang perlu diperhatikan adalah selang invasif.

hipovolemia (karena hemoragi. Melemahnya vaskular. sepsis dan syok. Uji Fungsi hepar merupakan Diagnostik. oligurik. Gagal hepar dapat mengarah pada penururnn tingkat kesadaran. Dapat terlihat hipotensi. Gagal Pulmonal ditandai dengan hipoksemia dengan pemirauan. bahan kontras radiografi. tranfusi darah multipel. adanya kondisi jantung sebelumnya dapat mencetuskan korban tauma multipel pada awitan dari gagal jantung. dan timbulnya infiltrat pulmonal bilateral difus.Ditandai dengan kegagalan dua organ atau lebih. Netralisasi profolaktik asam lambung dapat meminimalkan resiko perdarahan. Gagal hepar dapat diakibatkan oleh kerusakan awal. dan penurunan fraksi ejeksi. spasium ketiga) atau sepsis. dan sepsis. Gagal Jantung biasanya merupakan kompilkasi akhir. dan hipoglikemia.dan jantung. Paru-paru dan Hepar Cenderung untuk gagal pertama kali. 47 . Faktor-faktor penyebab termasuk trauma pulmonal mayor. Dialisis seringkali diperlukan. GOM ditandai dengan tingkat mortalitas 25% samapai 95%. Gagal ginjal dapat poliurik. meskipun penyebab lain seperti obstrusi saluran empedu pasca traumatik harus disingkirkan. pemeriksaan pembekuan abnormali. takipnea. Gagal pulmonal dalam bentuk ARDS biasanya timbul 5 smpai 7 hari setelah cedera. iskemia. Tandatanda awal termasuk peningkatan nitrogen urea darah dan kreatinin serum. penurunan komplians paru. diikuti oleh ginjal. penurunan curah jantung. Sindrom memerlukan bantuan ventilator intensif. Ikterik adalah indikator umum dari penyimpangan fungsi hepar. dispnea. syok. bagimanapun. Gagal Gastrointestinal ditunjukkan dengan perdarahan stres yang membutuhkan tranfusi darah. sistem pencernaan. Gagal ginjal dapat dicetuskan oleh cedera ginjal.

Oleh karena itu. Sifat tak teduga dari trauma cenderung memperkuat rasa takut dan ansietas. dapat juga merupakan tanda GOM. Karena kebanyakan pasien-pasien trauma berada pada unit perawatan intensif saat komplikasi ini timbul. Banyak teradapat komplikasi yang berkaitan dengan trauma multipel.Koagulasi intravaskular diseminata dan perubahan-perubahan sistem syaraf pusat. 48 . berkisar dari kekacauan mental sampai obtundasio. maka perawat unit perawatan kritis memainkan peranan penting dalam mendeteksi dan mencegah akibat ini. asuhan keperawatan juga harus memeberika dukungan psikososial terhadap pasien cedera berat dan keluarga mereka melalui pendekatan multidisiplin yang mengetahui permasalahan dan sering memberikan penjelasanpenjelasan.

Beberapa nemonic yang sering membantu antara lain: A : Airway with c-spine control B : Breathing and ventilation C : Circulation with haemorrage control D : Disability (neurologic evaluation) E : Exposure and Environment 49 .1 Kesimpulan BTLS (Basic Trauma Life Suport) adalah bagian awal dari ATLS (Advanced Trauma Life Suport. Hal dilakukan adalah Primary Survey. dokter atau tenaga kesehatan lainnya tidak diminta untuk memberikan tatalaksana sesuai diagnosis definitifnya tapi hanya memberikan kesempatan bagi pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan nantinya. Pada BTLS. Di sini dokter diminta menilai secermat mungkin hal apa yang mengancam nyawa pasien.BAB III PENUTUP 3. Intinya pada tahap ini. dokter atau pelayan kesehatan lainnya hanya diminta membantu pasien untuk tetap hidup atau membuat reaksi kimia C6H12O6 + 6O2 ---> 6CO2 + 6H2O tetap berlangsung.

cc/ http://emedicine.Kamus Saku Kedokteran . Bandung Hudack & Galo (1996).http://askep-askeb. EGC .com/article/822099-overview 50 .2004. K.L.2002. Jakarta Emanuelsen. J.Panduan Belajar Keperawatan Emergency.Lynda J.Indonesia: Ikabi Scheets. New York: A Wiley Dorland. Pembina Ilmu.DAFTAR PUSTAKA Tabrani (1998). Handbook of critical care nursing.2002. & Rosenlicht.McQ. (1986). Perawatan Kritis. Pendekatan Holistik.cz.Advanced Trauma Life Support Seventh Edition.Jakarta :EGC American College of Surgeon Committee of Trauma.medscape.Jakarta: EGC Medical Publication. Agenda Gawat Darurat.

..33:3.3 O $0.3.73.3 .35.723 O .3.3203..38:3.3.7.::  O !03.:.3  O #0 .:203/.:./.3.O !74908/7/.3:39:202507503/0-07.502-0:.3.7:880./.3.2.17489-90/.29070-/.::.

3:.9 $0.3.3805079503.25:.3.9.. 0- /./. 02.3.. 97.9 8073 /:25.35.3:.3.503..3 549072/-.-.3.9:7   ..7   503/079.302-.-.3. 8:: 9:-: 39 .3 203.:-07.820.30./.97. 0.0-7039.3 /2.35.9:70  /-.3503/079. .2.. 9:9:5/03.9 .3 203:7.7     0/07.:2.9.3  ..:.:2.2. 5..598  -.3..0.25.84438978      !03.3 5.8.. .:2.8 /.3 -. ..3907.598      03897..3:9 O $0.7 8..3.3 503/079.. /. -07./.3.  503/079.2./3354907288902 549072 .598 %7.50790723/80-.3 /33 /..3 0.8./73.8.-.:2.9: -..307328.:2.:202.3 503.3 05.:2..3907-9.907/.3 9:-:  2.9:.3.470 -4/ 902507.97.3 8.83...3.-.3802:9.33..5.07 O .:.3 .3 .0-:9:. /.9..  0- /.597.598 207:5.:2.7/7.8.3.7 3:3..3 -.3 /33 8079..:2.. 2:9 97..3 0.:.203.3.3.: .3.3. .      %7.8 /03./.598   7.38..8 /.34803808:.:.3 5./.3 2023/./.0/07.3 203:7.

7.  !.439:84.93503:7:3.7  9/.3-07-../.9-07:5. 40 809./. !07/./-.3 397.7.9. 507/. 2025:3..9.88 .5.3 80-039..8     0/07.3 :39: /:.3 207:5.749. 1:8 /.7.3..  02-:..3.3:7 0/07.598   !03:7:3. 7.703.9-.30/07.97.907.39.7.7..3 /92-:.3. .3/.349.7. 9/.85439.3.3907./1:8.2.. 02.9.:2./. 20207:.703.  .7:8. /.8.-. 7./.84./.4. $. 907-:.598 $.3 !03:7:3. /.5 5.3%7.:9.7.3 8073 /902:.97. 9/.: 574/0.07:8.7.3 8:- /:7.  7. 507/.0/07..3 0.-.5../. /1:80.3-07.3 397.5.308.2.. 9.. :.3 507/.3907.3 /:3..3  02-:.3./.: 507/.  507/.7.7 42484 8070-7  .308.  0/07.. 7.0 $  /.3 49.8090.703.5.7. :-:3..3 8:-/:7.3:2 /.3 05/:7.49.3.33. /03.9./.1. 202.9..9:7 .4./.3 8:-/:7.907.5 90347.:507/.:2.7.9-07:5.5307   .7.7..3-0705..:0-./.7.9 0. ...1:8/. ...7..9 -07:5.3.3.43.3.3.3.9.9.. 2032-:.. .53:.3 397.9 -07-.7..  4254303  .5.3 /3. 507/. 0/07.3 08.3548. 0- .8.9. 907:9.  $ 202.9:7 -. 0/07.3 08.7.       !03./.57434880--:7:.:2.3 ../.3 ..3 05/:7. 0./.25:.2.5....3.3 8007.  ..3.34947 07./8007.3397.7.7.30 2.3 . 20/.7.3 207:5. 802/. 484 42.  507/.3  0  02-:.3 507..5.3  !07/.7. '07-.3 803.3 0- 50393 .49.58:...7.2. /.

3/7.-07-039:.9-07.9. /08070-7..9.$.349../...59/.9.9..5...5.::7.708543 1.7./90702.. %/. /0479..3     .9./.0 %/.87307  083472.-.202-:.8/   0.2. .8   9/..30$.342.  04.7..8   89038../.9203:950739.-3472...7.: %/.83743  $:.38.:9/.20739. %/.4947 .3  9/./.708543 '07-.42.708543 4947  03:950739.9.-3472.. 203.9.5./..2.8-./.  0747039././.'07-.  07-.3   08.9  07-.9.:20307.7..:.

0/07.3.9 /08079..23.242.25: 203:7:9 50739.9: 0- 0-. 3./03.7:8 /5078.3.3.3/../.2..2.9 .3$  $#3.3907:9. -07.99/.39: /.9 $   !03/079.-07.  .: 203.05.3 203.8 %.503./.3.25:20.8.350739. 90780-:9 8.7:. -3:3 .    /././..9/8079. 805079 025.5.9 203.3/. 8.9 4-. 9.7 22  /.703.05.5....8 2..3 .8 8.9 3.9.:. 5:5 2.. 8.25.9. 49.3.08.-.90.2:3 /.8.5.  4947   . ..%3. .3. . 8.3/.9:/.3 3 /80-:9 80-.3./-.2.3397. 0-... 2. ..0/07.9:8. 8:.-.907.9.2308.3/.3 70.5.3 . 0.3.9 30:7448 14. 80/.7 3.89.9.2 .  80507928.7.7.7 0- /.38447.7088  $0-.3.3  $$0/.3.2:38:9:39:/-:9.9.7 503/079..8.3 $   !03/079.2.3.907. 7.:5:389.8 /80-.7/45:243.9: 88 49..-       %.33.3. .0/07.   $07.:4-. 80/07.2 502-:7:.3 /03.3 22  2.-.7.3 $   !03/079.507/. /01. 8./.  !:5 0/:..9: 574808 5.9.44.8.383.2:3 -.80/07. ..3 /.9. .

3 .8.3.8.3.8 2.3 -. 8:3/07  .3 .3/..7:880.9./.3.9.8 /0139....1..390.7:8/.3 /.3:..8  803 80.-.307:8.: /.-.3 .8.9:03.3503.9 -7.3  7..3/.3 . 9/.32.907./.3 02:/.39:3./...:2.. /.7.9.38497.5.3 5071:8 /./.3.3..039.0 .:/.:./.3/.9./902:.-.5.202:.9 2032-:..:/.:.2:3.3 .3 /.7010 2030.3.1..: /-07.3 2030-.93 . -070.-. 5033.943 .37010 -.. .5..3$ 0-/.9:780.3   ./.: 507.  !:83/.8. 049.   7.32030-.7/. 2:/. .32:39.  /  %.: 0-  203..3503.7081  8.3.-.:2..3/02.3. 80.3397.1..30--. 5073. /80-:9 80-.03. 5.3207.7:8 /5.9 -07-..3:.9. 7.7-. !.38:/.703. -  %0.598 ./20.3 49. 803..3/.3./.3 3.. .2-.3 397.  9.0/07.907../.05.3 2030-. 9/.85.7./..3/..:.3 7.3 08.-9 $0.3/.809...85.3.: 8.2.7:88.8.3/.3 . .17. 7.703.:.  3.3.3:. 4-897:8 .0/07.2-.5. 42.3 .3 3.2 -039:503:7:3.35.9.8.88942033 .943 84  . ../. .9/.:.3/.3/./.0/:.3 548.3 07:8..3 9:3.39.370.89.3.3/03.7. . .3 90. %  .3$ 5:5/.8. .8     %.93 8.3/.3/.3507.9.349. :39: /03.      !0304../. 97.:.. 9.7...3 -70.80:3/07 03.3.598.  .3. :7.3 !03:7:3.9:02:33.3.5033. -.3. .38.05.

3 %.-0   .30/07.05.3.8./.8 -0/..7.0.9:5.39/.1  0247.3 .9..8 503. 0. 2033.438:9.7.5030-.3 . 0247.35071:847.347.3880:3.03/07:3.3 4507.2  0247.3/38090.8.3  /.3:9.3.3 502-:3:8.907.73.3 .-02..!03:7:3.3 20207:..507:3.8.7:8 /03/.5. #$ /.8 425.8454.3 0..-8./3.3  3 /.349.4:20 5005.:950!030-.381:8 2:950  803..7:8-.2.3.:2.9 /8008.0/07.3 203.39483   !03:7:3..80:3/07     425.  !03:7:3.3 /.97./503:7:3.2 .03. -070.:2.35071:8./../.7.39:3  !03:7:3.5.3820.3   0247.3./.8 .8!.402/.3./...73.9475030-..:7.05.303.3  /.-02.:5  !03:7:3.3 %7..3 02-48.  2.3!071:8. &39: 203.1/03.- 859 503:7:3.5. -0705..8 /03.33 . 07:8.9.05.3.7. 507/.9.9 $0.3 /03.3.3.3.: 3.3 907.7./.%7.0.3 203..2:950   0.73.9.

3805888073-07905..33:978.3 /./.39:3203:7:380...3  $:2-07 $:2-07 3108 .3 907-:.80 .3 503:7:3.902.9 0:.3 507: /507.3 /80-.3/.9.3 2033/./. 80.:2.8907.39:3 2033./.-808 /.3 9..-808 .7  $0588 $0588 .3 .3 3./. 20.9.9 2033.402      !030-.502-07.7:  5077...3 /.803 5.38 9075.3 202-07..47.3 /7.  !..32:950   .3 549038 50702-.37085438 ..3.81  8. 07-..9..0348.3 5.3  80/./.3 .3 -808397. 97.3.3 .8 502-::  .3. 502-0/.25.9.32:950      .-.7.3 507:9. 425.8 08547.3 .35071:8 .03.2-.:7.  /03.:. 2:.8 . 7.0/07.7 0.  .47.7..-.3 7.3 203.9.3/3/.3 02  /.7: 5.33.3 502078.803.3.9. 5. ./44  4507.3:950 9./..3 503:7:3.:.3 ..3 .3 50302-:.7 88902  73.3      .5.7!.3 502-0/.3 /03.-/4203207:5.7:8 /902:./..7:8 -.35030-.-.5. 20207:.907.798 3108/.8.37.47.3 .3 $090.3 8073 907.3.-.9 :39: 2032-.5.38073  $0-.3  :39: 202:33.3 /-./.8./.8 8073/.82  -07.25.7. /.3.3 /7. 503:25:.3.33. 2:950  !005.5503:7:3.39-49  /..:.8.2-:.3 /.3820425038.:7.3408454.3 9483 2030-.9 $4 54.7.3 .35071:8   848059  $:2-07 31091 .3/03.3.3./5.8:. ./ 5.:7..-/4203  388 /-.9.3 .3 -07-0/..:/.3 203.3 -.350702-.3 502078.9203:7:3.402 //:. ..390.3  $090..3 907.. .3. /.380588/.3 :9:7  2:.-805885.

7..3 80588  907 .3  . 3/..8  8. 002.9549038 503:7:3. 207:5.947 :2:2 /.0/07.5.:7.  802.  /8530.3  503:7:3.7:8 /837./.908.5.3 /..7.:2.1  54.5.  -..7.857414.39:3 /. /.39:3 -.3/.8.8.3.3 93.3 /:. /.9907.3 0250/: 5.933807:2 . /9..  /.0/07.370.3 47-.3 40 .073. ..7.3.8974390893.2.3/.920232.3 425.3 1:38 05.947 390381  .  /.-.7 207:5. /03.  85./..7 84  /.9.8: 97.3/.8..7..3. 2:950  80588 /.39:3 80-0:23.3/.39:3 ./.9..05.8:2 09. 05.3 .7..8 .317.3 . .3 4397.3 502078./507:.7 03/07:3 :39: .3 805079 4-897:8 8.5..:.3 507/.3 /03.5.  .3.3.09:8.: 80588  %.:7. 3.7:  9. 88902503..- . 5079.503:7:73393.. 5:243.09:8.9 /.7  -.8./. .907.7.3.888073.- 9072.402.9.:2.9 2479.. 9.5.   !. 2.8008    .3/.9072.947 5030-.9..3. 3. /9:3:.7 50325.703.31:8 /.3397403:70. 92-:  825.35402. 2:950 5.039.7: 5.31:8/.7 8090.7/.:2.  ..3 05.34007:8.5:3  ./.3 89708 .9.3/.7 /.9 203... 3. /.3 84  .3 97.7: /.3  ..3..3502-0:. /1:8  $3/742 20207:.8:.2. 5:243.2../47.  . 3197..9 203.37084 507/. /03. !:243..3 -.5..954:7 4:7 .3 .47  97.-3472.: 0-    /9.39:. 97.2.9 ./.8 7.3./.2 -039: #$ -.3 503:7:3.3.9.3 54802.8:5033. 47..947 1.530.3 9. 43/8 ..9. 0247.39:3  ..3489  .5. /03. /03.3 0.3 425...9.3 92-:3.7.38 5.. 097.2-:3/.5.3  & :38 05.7  2085:3 5030-.3 202-:9:.9/.3 5027. -.8. /:9403..9 5:243. ./.  . .

:2.15:8..9 425. 507.:2.8397.703.9.99.9.3 5030. -07.3 20309.3.3 390381 8.93  $1.3.9 :39 507.7:8 2020-07.3/.0.803 97.8...90/:...3/..3.3 -07.7/8023.797..8:.8.4.0/07./..8:. 5.84  /.    .7 0.3 9.03/07:3202507:.3507:-.5. 0-. ..9./.8  0 ..3.:2./...3 0:.3 5. 20. 9:  .97.803 5.9.3 8073 202-07.7.3 50393/. 4-9:3/.3889028. :39 507.3 /03.3 0507.:.3 507:-.9 /..3                ./.3 2039..9  -078.7 /.9.9 :.5 5.8 . 907.3 :. 2070.803 . /::3. 907.:5072.3 584848.3 97.3 507.2203/0908/../.:.-...3 798 202.8 3 92-:  2.9 425.. 207:5.8.5.3809.9.3.:9/.35030.: 503/0.3 2:9/853 . 8. -07.9./..7.703. 2:950  .8.3203.25.

7432039          .3 .3.3.3 %$ .803 :39: 909.9.9.393. -.3.39.       909. 202-07. !&%&!   0825:.3 .3..7. :39: 202-07.3 08025.8..072../. 808:.3488 /013913.33.3 7.92:33.5.43974 70.../.8.. 10 $:5479  .5-07...803 :39: 203/.9.3 .5 3  /4907 .803 0-07.: 903.5. /. 080.9 70.5 /:5 .203.93.0/ %7.:.3203.:2.30243.3./. 8530...43974 8. . 10 $:5479  !.:.9.3. 9/.39: 5.02477.039.23.!72. %$  /4907 .3 50. 9.7$:7..3 -.3 3.: 50.943  548:70.9./. 9. 5.9.9.8 2.38073202-.0.33. /239.  393.943 7..38:3  .:2..:.0.3/...5 .9.3 9.. /239.: 202-:. 202-. 5.-9 30:744.9.9.5. .7 %$ /.3 080.80.3 080.3/3./.5.39:. %7. /.3.9439.0 83/4907/239.

3798!03/0.79.3/   .2:8$..3 ...:2.9 !02-3...:0/4907.0098 3/.-7.9.3/:3 :/.70507...3  03/.."   .340041$:7043422990041%7..2: .943 995.3/-4441. 2.3.!:-...3489  .039/943 3/4308.0/%7.79.3/:.:2. 207.703:783 047 0 47..7:7.10$:55479 $0.9.... 0/.79.3:0803    #4803.   /. .79..4  !07..- $.320703.   !.30.%#!&$%  %. .9.9  .9.

.

80- ..805 . .

 995.

.

020/.42.50 ..30 20/8.

.79.0.

07.  4.0   .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful