152

TUGAS AKHIR PROGRAM MAGISTER (TAPM)

PENGARUH SIKAP INOVATIF DAN MOTIF BERPRESTASI TERHADAP PRESTASI KERJA GURU SMP NEGERI KOTA SIBOLGA

TAPM diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Manajemen

DISUSUN OLEH : KAMARUDDIN GULTOM NIM : 014282451

PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS TERBUKA JAKARTA 2008

153

UNIVERSITAS TERBUKA PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER MANAJEMEN

PERNYATAAN

TAPM yang berjudul Pengaruh Sikap Inovatif Dan Motif Berprestasi Terhadap Prestasi Kerja Guru SMP Negeri Kota Sibolga adalah hasil karya saya sendiri, dan seluruh sumber yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar. Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan adanya penjiplakan (plagiat), maka saya bersedia menerima sanksi akademik

Jakarta, 21 Desember 2008 Yang menyatakan

KAMARUDDIN GULTOM NIM : 014282451

154

ABSTRAK Kamaruddin Gultom. Pengaruh Sikap Inovatif dan Motif Berprestasi Terhadap Prestasi Kerja Guru SMP Negeri Kota Sibolga. Program Pasca Sarjana Universitas Terbuka Jakarta. Desember 2008. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh sikap inovatif dan motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru SMP negeri kota Sibolga. Untuk menjawab permasalahan penelitian, ada tiga hipotesis yang diajukan yakni pertama sikap inovatif berpengaruh signifikan terhadap prestasi kerja guru. Kedua motif berprestasi berpengaruh signifikan terhadap prestasi kerja guru. Ketiga sikap inovatif dan motif berprestasi secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap prestasi kerja guru. Jenis penelitian yang digunakan adalah explanatory yang bertujuan menganalisis pengaruh antara variabel independen sikap inovatif dan motif berprestasi terhadap variabel dependen prestasi kerja guru SMP negeri kota Sibolga. Data dikumpulkan dari 68 orang responden yang ditetapkan dengan teknik stratified proporsional random sampling dari 234 populasi. Instrumen penelitian adalah kuesioner/angket dengan analisis uji coba instrumen untuk melihat validitas dan reliabilitas instrumen. Berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas ditetapkan butir pernyataan untuk variabel sikap inovatif dari 21 butir pernyataan gugur 2 butir menjadi 19 butir. Untuk variabel motif berprestasi dari 15 butir pernyataan gugur 6 butir menjadi 9 butir pernyataan sementara untuk variabel prestasi kerja dari 23 butir pernyataan gugur 1 menjadi 22 butir pernyataan. Untuk analisis data terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisis antara lain uji asumsi sebaran variabel devendent Y dengan teknik uji Kolmogorof-Smirnov, uji multikolonieritas, uji heteroskedastisitas kemudian dilakukan analisis data penelitian dengan teknik analisis regresi berganda dengan bantuan program komputer Statistical Package for the Social Sciences (SPSS 16,0). Hasil analisis menunjukkan secara parsial baik sikap inovatif maupun motif berprestasi berpengaruh signifikan terhadap prestasi kerja. Demikian juga secara bersama-sama sikap inovatif dan motif berprestasi berpengaruh signifikan terhadap prestasi kerja guru SMP negeri kota Sibolga dengan sumbangan determinasi sebesar 51,1% dengan persamaan regresi yaitu Y = 23,248 + 0,549 X1 + 0,344 X2 + ℮. Berdasarkan penjelasan di atas dapat dinyatakan bahwa semakin tinggi sikap inovatif dan motif berprestasi maka semakin tinggi pula prestasi kerja guru SMP negeri kota Sibolga. Ini menunjukkan bahwa kedua variabel sikap inovatif dan motif berprestasi dapat menjadi prediktor yang baik dalam peningkatan prestasi kerja guru.

i

155

ABSTRACT Kamaruddin Gultom. The Effect of Innovating Attitude and Accomplishing Motive Toward Sibolga’s State Junior High School Teachers’ Job Accomplishment. Postgraduate Study Program of Jakarta Open University. December 2008. This research was aimed at learning whether or not there is effect of innovating attitude and accomplishing motive on job accomplishment of Sibolga’s state junior high school teachers. To satisfy the research problems three hypothesis were proposed. They were : first, innovating attitude significantly affected teachers’ job accomplishment ; second, accomplishment motive significantly affected teachers’ job accomplishment ; third, innovating attitude and accomplishing motive simultenously and significantly affect teachers; job accomplishment. Research type applied was explanatory intending to analyze the effect of innovating attitude and accomplishing motive independent variable toward Sibolga’s state junior high school teachers dependent variable. Data were collected from 68 respondents concluded by means of stratified proportional random sapling technique out of 234 population. Research instruments were questonaires / forms with instrument try out analysis to verify the validity and reliability of the instruments. Based on the result of the validity and reliability evaluation, for innovating attitude variable, an item of statement of conclusion prevailed that 2 out of 21 items were failed to make 19 items retained. For accomplishing motive variable, out of 15 statement items, 6 items were failed and 9 did retain, while for job accomplisihment, 1 out of 23 was failed and 22 items of statement retained. To analyze data, requirement assessment analysis such as dependent variable even assumption of Y by applying Kolmogorof-Smirnov assessment technique, multicoloniery assessment, heterocedasity assessment continued with research data analysis by means of multiple regression analysis aided by computer program Statistical Package for the Social Sciences ( SPSS 16,0 ) were conducted in advance. The result of the analysis revealed partially that both innovating attitude and accomplishing motive significantly affected job accomplishment, simultenously, innovating attitude and accomplishing motive significantly affected job accomplishment of Sibolga’s state junior high school teachers with 51,1 % of determination contribution and regression equity of Y = 23,248 + 0,549 X1 + 0,344 X2 + e. Referring to the above explanation, it can be stated that higher the innovating attitude and accomplishing motive can be appropriate predictors on the improvement of teachers’ job accomplishment.

ii

156

UNIVERSITAS TERBUKA PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER MANAJEMEN PENGESAHAN Nama NIM Program Studi Judul Penelitian : : : : KAMARUDDIN GULTOM 014282451 Magister Manajemen Pengaruh Sikap Inovatif dan Motif Berprestasi Terhadap Prestasi Kerja Guru SMP Negeri Kota Sibolga.

Telah dipertahankan di hadapan Sidang Panitia Penguji Tesis Program Pasca Sarjana, Program Studi Magister Manajemen Universitas Terbuka pada : Hari, Tanggal Waktu : Minggu, 21 Desember 2008 : 11.00 – 13.00 wib

Dan telah dinyatakan LULUS PANITIA PENGUJI TESIS 1. Ketua Komisi Penguji Prof. Dr. H. Udin S. Winataputra, MA. ...............................................

2. Penguji Ahli Dr. Chairy ................................................

3. Pembimbing I Dr. Elisabeth Siahaan, M.Ec. ...............................................

4. Pembimbing II Dr. Prihatin Lumbanraja, M.Si. ................................................

iii

157

LEMBAR PERSETUJUAN TAPM

Judul TAPM

: Pengaruh Sikap Inovatif Dan Motif Berprestasi Terhadap Prestasi Kerja Guru SMP Negeri Kota Sibolga : KAMARUDDIN GULTOM : 014282451 : Magister Manajemen : Jumat, 12 Desember 2008.

Penyusun TAPM NIM Program Studi Hari, Tanggal

Menyetujui : Pembimbing II Pembimbing I

Dr. Prihatin Lumbanraja SE. MSi NIP :

Dr. Elisabeth Siahaan SE. Mec. NIP :

Mengetahui : Direktur Program Pascasarjana

Prof. Dr. Udin S.Winataputra, M.A NIP. 130367151

iv

158

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Pengasih atas segala berkat rahmat dan karuniaNya diberikan kepada penulis sehingga Tugas Akhir Program Magister (TAPM) ini dapat selesai tepat pada waktunya sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Pasca sarjana Magister manajemen di Universitas Terbuka Jakarta. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada guru, kepala sekolah maupun pengambil kebijakan di pemerintahan khususnya dinas pendidikan kota Sibolga tentang pentingnya sikap inovatif dan motif berprestasi untuk meningkatkan prestasi kerja guru. Terwujudnya TAPM ini tidak terlepas dari partisipasi berbagai pihak yang telah memberikan bantuan moril maupun materil. Untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada: 1. Prof. Dr. Udin S.Winataputra, M.A, selaku Direktur Program Pasca Sarjana Universitas Terbuka, beserta staf. 2. Prof. Dr. Urip Harahap, Apt dan Dr. Asnah Said, M.Pd, selaku Kepala UPBJJ Medan, seluruh staf dan dosen pengampu mata kuliah Magister Manajemen Universitas Terbuka (UT). 3. Drs. CB. Supartomo SE, M.Si, selaku Ketua Program Magister Manajemen v

159

4. Dr. Chairy, selaku Dosen penguji Ahli dari Universitas Indonesia Jakarta 5. Dr. Elisabeth Siahaan, MEc. selaku Dosen Pembimbing I 6. Dr. Prihatin Lumbanraja, Msi. selaku Dosen Pembimibing II 7. Drs. Sahat P. Panggabean MM. walikota Sibolga yang telah memberi ijin belajar. 8. Kepala Dinas Pendidikan dan seluruh kepala SMP negeri kota Sibolga, yang telah memberi ijin tempat penelitian. 9. Rekan-rekan mahasiswa, rekan kerja dinas pendidikan kota Sibolga yang memberi dorongan kepada penulis agar tetap bersemangat. 10. Ibunda terkasih Nonna Silaban dan Bapak Mertua St. P. Silitonga serta Ibu mertua Erlina Situmeang atas Doa restunya. 11. Istimewa kepada istriku tercinta Julianny Silitonga SP. dan anak-anaku tersayang Wahyu Ruli Verawati, Xander Gorga, Zogi Tri dan Cledwin Gultom yang selalu setia membantu dalam doa dan memberi motivasi yang sangat berharga dan dengan ini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kurangnya perhatian terhadap keluarga selama menyelesaikan pendidikan. Penulis menyadari bahwa TAPM ini tidaklah sempurna, oleh karena itu sangat diharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaannya. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi pembaca sekalian, Tuhan memberkati. Jakarta, Penulis Desember 2008

Kamaruddin Gultom vi

160

DAFTAR ISI

Halaman Abstrak . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Lembar Pengesahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Lembar Persetujuan TAPM. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Kata Pengantar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Daftar Isi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Daftar Tabel . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i iii iv v vii xi

Daftar Gambar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . xiii Daftar Lampiran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah................................................................ B. Perumusan Masalah...................................................................... C. Tujuan Penelitian.......................................................................... E. Kegunaan Penelitian..................................................................... BAB II KERANGKA TEORITIK 12 12 13 13 14 16 1 9 10 10

A. Kajian Teori............................................................................... 1. Pengertian Sikap............................................................. 2. Karakteristik Sikap......................................................... 3. Komponen Sikap............................................................ 4. Pengertian Inovasi.......................................................... 5. Sikap Inovatif..................................................................

vii

161

6. Faktor – faktor yang mempengaruhi Inovasi................... a. Karakteristik Inovasi………………………………… 1). Keunggulan relatif (relative advantage)……….. 2). Kompatibilitas (compatibility)……………………. 3). Kerumitan (complexity)……………………….... 4). Kemampuan diuji cobakan (trialability)…………. 5). Kemampuan diamati (observability)……………. b. Saluran Komunikasi………………………………... c. Karakteristik Sistem Sosial………………………… 7. Pengertian dan Jenis Motif…………………………….. 8. Fungsi Motif…………………………………………… 9. Motif Berprestasi………………………………………. 10. Prestasi Kerja…………………………………………... B. Kerangka Berpikir……………………………………………. 1. Pengaruh Sikap Inovatif Terhadap Prestasi Kerja Guru....... 2 Pengaruh Motif Berprestasi Terhadap Prestasi Kerja Guru....................................................................................... 3. Maping Penelitian Terdahulu................................................ 4. Pengaruh Sikap Inovatif dan Motif Berprestasi terhadap Prestasi Kerja Guru………………………………………... 5. Hipotesis Penelitian............................................................... C. Definisi Konsep dan Operasional……………………………… BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian................................................................. viii

19 20 20 20 20 20 21 21 22 25 26 27 29 36 36

39 41

43 46 46 49 49

162

B. Populasi dan Sampel........................................................... 1. Populasi Penelitian…………………………………….. 2. Sampel Penelitian……………………………………... C. Instrumen Penelitian.......................................................... 1. Uji Coba Instrumen........................................................ 2. Penentuan Responden Uji Coba..................................... 3. Pelaksanaan uji Coba Angket........................................ 4. Analisis Uji Coba........................................................... a). Analisis Validitas................................................... b). Uji Reliabilitas....................................................... 5. Hasil Uji Coba Instrumen.............................................. D. Prosedur Pengumpulan Data……………………………. E. Metode Analisa Data......................................................... BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian.................................................................. 1. Gambaran Umum Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) Negeri Kota Sibolga........................................................ 2. Gambaran Umum Responden Penelitian……………. a. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin……………………………………. b. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur……… c. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan………………………………………… d. Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja e. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkatan Golongan………………………………

50 50 50 56 59 60 60 61 61 62 62 63 63 67 67

67 68 68 68 69

69 70

71

ix

163

B. Deskripsi Data Penelitian…………………………………... C. Klasifikasi skor Data Setiap Variabel……………………… 1. Klasifikasi skor data variabel sikap inovasi (X1)………. 2. Klasifikasi skor data variabel motif berprestasi (X2)… 3. Klasifikasi skor data variabel prestasi kerja guru (Y)… D. Pengujian Persyaratan Analisis…………………………… E. Pengujian Asumsi Analisis Regresi………………………. a. Uji Multikolonieritas…………………………………. b. Uji heteroskedastisitas……………………………….. c. Uji Normalitas Sisaan……………………………….. F. Analisis Regresi................................................................. G. Pengujian Hipotesis……………………………………… a. Pengaruh Sikap Inovatif terhadap Prestasi Kerja……… b. Pengaruh Motif Berprestasi Terhadap Prestasi Kerja Guru…………………………………… c. Pengaruh Sikap Inovatif dan Motif Berprestasi Terhadap Prestasi Kerja Guru………………………… H. Pembahasan Hasil Penelitian…………………………… I. Keterbatasan Penelitian…………………………………. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan………………………………………………. B. Saran……………………………………………………… DAFTAR PUSTAKA.........................................................................

72 73 73 74 75 76 79 79 80 81 83 88 89

90

90 90 96 98 98 99 101

x

164

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.1 Persentase Kelulusan dan Nilai Rata-rata Siswa SMP kota Sibolga Tabel 2.1 Maping Penelitian Terdahulu Tabel 2.2 Defenisi Konsep dan Operasional Tabel 3.1 Distribusi Populasi Setiap Sekolah Tabel 3.2 Distribusi Populasi Berdasarkan Strata Tabel 3.3 Hasil Perhitungan Sampel Tabel 3.4 Jumlah Sampel Setiap Strata Tabel 3.5 Jumlah Sampel Setiap Unit SMP negeri kota Sibolga Tabel 3.6 Kisi-kisi Instrumen Sikap Inovatif Tabel 3.7 Kisi-kisi Instrumen Motif Berprestasi Tabel 3.8 Kisi-kisi Instrumen Prestasi Kerja Tabel 3.9 Hasil Uji validitas dan Reliabilitas pada Instrumen Penelitian Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat pendidikan Tabel 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja Tabel 4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Golongan 8 42 47 50 51 54 55 56 57 58 59 62 68 69 70 71 71

xi

165

Tabel 4.6 Distribusi Data Sikap Inovasi, Motif Berprestasi, dan Prestasi Kerja Tabel 4.7 Klasifikasi skor Data Sikap Inovatif Tabel 4.8 Klasifikasi skor Data Motif Berprestasi Tabel 4.9 Klasifikasi skor Data Prestasi Kerja Tabel 4.10 One- Sample Kolmogrove Smirnov Test pada variabel Prestasi kerja Tabel 4.11 Hasil Uji Koefisien Tabel 4.12 Analisis Ragam ( Analisis of varians/Anova) Tabel 4.13 Model Summery Tabel 4.14 One Sample Kolmogrove Smirnov Test 77 78 81 84 88 72 73 74 75

xii

166

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Penilaian Prestasi Kerja Gambar 2.2 Paradigma Pengaruh variabel X terhadap Y Gambar 4.1 Histogram Variabel Prestasi Kerja Gambar 4.2 Diagram Pencar Kelayakan Model Ragresi Gambar 4.3 Histogram Normalitas Data Gambar 4.4 Sebaran Data Untuk Uji Normalitas 32 45 78 80 82 83

xiii

167

DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran Lampiran Lampiran 1 2. 3 Uji Validitas dan Reliabilitas Intrumen . . . . . . . . . . . . . . . . . Kuesioner/Angket Penelitian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Data Penelitian Variabel Independen(X1 dan X2) serta Variabel Dependen (Y) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran 4 5 6 7 8 9 Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov (K-S). . . . . . . . . . . . . Analisis Regresi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Uji Asumsi Klasik (Uji Multikolonieritas) . . . . . . . . . . . . . . . Uji Heteroskedastisitas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Uji Normalitas Residual (Sisaan) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Surat Ijin Pengumpulan Data . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 137 145 147 148 149 150 152 105 117

xiv

168

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia kini berada di abad 21, merupakan abad yang penuh tantangan dan persaingan kompetitif sehingga menuntut masyarakat memiliki kualitas sumber daya manusia yang tangguh, terampil dan berwawasan keunggulan. Para ahli berpendapat bahwa sumber daya manusia (human resources) merupakan determinan kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang ingin memenangkan persaingan atau kompetisi harus meningkatkan mutu sumber daya manusia. Fatah (1998), Tilaar (2002) mengatakan bahwa dibutuhkan SDM yang berkualitas di era reformasi yang merupakan produk dari Sistem Pendidikan Nasional yang pada dasarnya merupakan tanggung jawab Departemen Pendidikan Nasional. Sekolah sebagai institusi (lembaga) pendidikan merupakan wadah tempat proses pembelajaran dilakukan. Dalam kegiatannya sekolah bukan hanya sekedar tempat berkumpul guru dan murid, melainkan berada dalam satu tatanan organisasi yang saling berkaitan. Oleh karena itu sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang membutuhkan pengelolaan. Lebih dari itu, kegiatan inti organisasi sekolah adalah mengelola sumber daya manusia ( SDM ) yang diharapkan menghasilkan lulusan berkualitas sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Proses pendidikan dan pengajaran di sekolah dapat berhasil apabila

operasionalisasi sekolah didasarkan pada landasan formal berupa undang-undang pendidikan yang dibantu oleh sarana prasarana yang memadai, serta dimotori oleh tenaga kependidikan yang professional dan bertanggung jawab. Salah satu

1

2

unsur tenaga kependidikan yang mempunyai peranan dan tanggung jawab besar dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut adalah guru. Berdasarkan hasil penelitian pada dunia pendidikan bahwa salah satu faktor dominan yang menentukan tingkat keberhasilan anak didik dalam melakukan proses transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta internalisasi etika dan moral ditentukan oleh guru sebesar 34%, pengelola (kepemimpinan kepala sekolah) 22%, sarana fisik 26%,dan waktu belajar 18% (Fatah, 1998). Sementara Saman (1994) mengatakan bahwa peranan guru dalam pendidikan (pengajaran) merupakan ujung tombak bahkan bersifat menentukan. Peranan guru bersifat multidimensional karena peran guru beraneka ragam, yaitu guru sebagai pendidik atau orang tua, pengajar, pemimpin atau manajer, produsen atau pelayan, pembimbing atau fasilitator, motivator atau stimulator, peneliti atau narasumber. Guru menempati posisi penting dalam upaya memenuhi kebutuhan tenaga-tenaga pembangunan nasional ke depan serta menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan dapat membawa negara kepada kemajuan. Dalam menghadapi situasi pendidikan yang multikultural, dituntut prestasi kerja yang tinggi dari setiap guru, sebab peran guru tidak cukup hanya sebagai pendidik, pengajar dan pembimbing, melainkan diperlukan peran guru sebagai pelayan, fasilitator dan nara sumber. Prestasi kerja guru yang tinggi mendorong tercapainya tujuan pendidikan yang berkualitas. Menurut Irawan (1997) prestasi kerja merupakan kecakapan atau kemampuan pegawai dalam melaksanakan suatu tugas atau

pekerjaan yang diberikan, penampilan atau perilaku dalam melaksanakan tugas,

3

sikap, cara yang digunakan dalam melaksanakan tugas, ketegaran jasmani dalam menjalankan tugas. Banyak faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi kerja guru. Oleh karena itu perlu diketahui lebih lanjut faktor apa saja yang diperkirakan dapat meningkatkan prestasi kerja guru, sehingga proses pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan baik dan dapat memberikan hasil yang memuaskan. Masalah yang berkaitan dengan prestasi kerja guru pada era terakhir ini diidentifikasi beberapa hal antara lain: kemampuan intelektual guru dirasakan masih kurang, sikap inovatif guru belum optimal, motif berprestasi guru baik motif internal maupun motif eksternal belum maksimal, penguasaan guru terhadap materi pelajaran yang akan diajarkan sangat kurang, menerapkan metode-metode pembelajaran terhadap siswa kurang aspiratif dan belum mengikuti metode-metode baru, penguasaan guru terhadap pengembangan tugas-tugasnya masih kurang. Guru belum mampu menerima dan menerapkan berbagai informasi baru dengan optimal. Berkaitan juga prestasi kerja guru dengan pembinaan kepala sekolah misalnya dengan cara melaksanakan observasi kelas, memonitoring, mengevaluasi kinerja guru belum dilaksanakan kepala sekolah secara baik dan benar. Kepala sekolah dengan beban kerja yang cukup banyak sering melupakan tugas pokoknya sebagai supervisor dan motivator terhadap guru. Jika tugas kepala sekolah untuk memonitoring, mengobservasi guru dilaksanakan dengan baik dan benar sangat memungkinkan bagi kepala sekolah untuk memahami dan dapat memberikan solusi terhadap kesulitan atau masalah yang dihadapi guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

4

Dari beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi kerja tersebut di atas dirasakan bahwa sikap inovatif dan motif berprestasi guru saat sekarang ini masih sangat kurang yang mengakibatkan prestasi kerja guru menurun yang pada akhirnya

mengakibatkan mutu pendidikan rendah. Atkitson, dkk (1993) mengatakan motivasi adalah membicarakan faktor-faktor yang memberi energi dan arah pada perilaku manusia. Siagian (1989), menganggap motivasi sebagai daya pendorong yang mengakibatkan seseorang mau menggerakkan semua kemampuan, tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai bentuk kegiatan dalam rangka pencapaian tujuan organisasi. Teori motivasi kebutuhan dikemukakan oleh Maslow (1994), yaitu: (1) pshycological need atau kebutuhan fisik; (2) safety and security need atau kebutuhan keselamatan dan perlindungan; (3) belongingness, social and love need atau kebutuhan sosial mencakup cinta dan kasih sayang maupun kerjasama; (4) estern need atau kebutuhan penghargaan; (5) self actualization need atau kebutuhan akan aktualisasi diri dalam hal ini mencakup juga kebutuhan untuk berprestasi. Menurut Mc Clelland dalam Irawan, Suciati dan Wardani (1997) kebutuhan pribadi mencakup tiga hal yaitu kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan berkuasa dan kebutuhan berafiliasi. Kebutuhan berprestasi menjadikan seseorang berusaha lebih baik dari pada orang lain. Dorongan kebutuhan berprestasi membuat seseorang menjadi pribadi yang berhasil dan bertanggung jawab atas tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya. Dalam kaitannya dengan prestasi kerja guru maka ketiga motivasi itu yang terbaik untuk mendukung prestasi kerja guru adalah motivasi berprestasi atau motif berprestasi.

5

Motif berprestasi setiap orang berubah-ubah mengalami peningkatan ataupun penurunan. Perubahan terjadi akibat proses interaksi dan komunikasi secara intens dengan lingkungan. Motif berprestasi juga merupakan hasil belajar individu yang diperoleh melalui pengalaman emosional terutama berkaitan dengan usaha untuk menghasilkan sesuatu secara sempurna. Dari berbagai pendapat di atas mengisyaratkan bahwa motivasi atau dapat disebut motif berprestasi penting dan bermanfaat sebagai dorongan dari dalam diri seseorang merupakan kebutuhan pada level paling tinggi, berubah-ubah mengalami peningkatan atau penurunan, sebagai hasil belajar yang bermuara pada usaha meningkatkan atau minimal mempertahankan prestasi kerjanya semaksimal mungkin. Berdasarkan pengamatan bahwa fenomena motif berprestasi guru SMP negeri kota Sibolga tergambar dari kurangnya minat guru untuk mengikuti lomba guru berprestasi tingkat kota sibolga setiap tahunnya. Data pada bidang pendidik dan tenaga kependidikan menunjukkan terjadinya penurunan jumlah peminat peserta lomba selama tiga tahun berturut-turut (2005 sd 2007). Menurut keterangan panitia yang menjadi alasan guru adalah karena sebagian besar guru masih enggan menyusun karya ilmiah sebagai satu persyaratan lomba guru berprestasi tingkat kota maupun tingkat provinsi. Ahli pendidikan Surakhmat (1981) mengatakan bahwa disiplin kerja pendidik sangat rendah, dan ketertutupan mental pendidik untuk menerima hal hal baru (inovasi) merupakan masalah yang sangat penting untuk dicermati. Sikap inovatif itu sendiri merupakan sikap dari seseorang yang memiliki kepribadian kreatif dan dinamis. Kreatif adalah proses pengembangan prespektif,

6

alami, inovatif dan imajinatif pada berbagai kondisi dan situasi yang terjadi. Dengan sikap ini guru akan termotivasi memacu dirinya berimprovisasi dalam pembaharuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mendorongnya untuk tidak mudah puas dengan hasil kerja yang telah dicapainya, melainkan akan terus mamacu dirinya untuk lebih produktif sehingga menghasilkan prestasi kerja yang maksimal. Berdasarkan laporan hasil supervisi pengawas sekolah yang berkedudukan di dinas pendidikan kota Sibolga ditemukan bahwa secara administrasi masih banyak diantara guru yang belum melengkapi perangkat pembelajaran. Secara umum guru masih menggunakan metode pembelajaran lama yakni guru lebih banyak mendominasi waktu dari pada siswa pada hal tuntutan kurikulum sekarang ini siswa lebih banyak mendominasi waktu dalam proses KBM. Idealnya guru sebagai motivator dan fasilitator sesuai tuntutan kurikulum yang ditetapkan pemerintah saat ini yakni CTL (Contextual, Teaching and Learning) Dari waktu ke waktu masalah prestasi kerja guru sering diperbincangkan

masyarakat luas. Kenyataan membuktikan banyak kritikan dilontarkan terhadap guru. Menurut data penelitian Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan penguasaan guru SD, SLTP dan SLTA dalam materi pelajaran yang diajarkan tidak sampai 50%, pada hal seorang guru harus menguasai paling tidak 75% dari seluruh materi yang diajarkannya. Balitbang Depdiknas seperti dikutip Fatah (1998) menemukan bahwa sebahagian besar guru SD dan SLTP hanya mencurahkan sebahagian kecil waktunya untuk tugas di sekolah sedangkan sebahagian besar digunakan untuk memperoleh penghasilan tambahan ditempat lain.

7

Gambaran masalah prestasi guru dikaitkan dengan motif berprestasi dan sikap inovatif seperti diuraikan di atas bukan tidak mungkin terjadi di kota Sibolga dimana fenomena yang teramati menunjukkan bahwa sebagian guru dalam pelaksanaan tugasnya belum memperbaharui materi pelajarannya seperti Satuan Pembelajaran (SP) sebagaian guru masih tetap mempertahankan satuan pembelajaran yang lama, sebagaian guru jarang mempersiapkan media pembelajaran, hubungan guru dan siswa masih bersifat paternalistik-feodalistik-birokrasi yakni adanya sikap dan sifat birokrasi, belum menciptakan metode baru, guru belum termotivasi dalam pelaksanaan tugas. Perlu kiranya diteliti apakah hal tersebut di atas disebabkan kurangnya sikap inovatif dan motif berprestasi yang dimiliki guru atau apakah ada masalah yang lain yang diduga sebagai penyebab terjadinya kemerosotan prestasi dan kurangnya semangat untuk bekerja keras meningkatkan produktivitas dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional. Hal ini menjadi penting karena walaupun pemerintah kota Sibolga telah berupaya memperbaiki kesejahteraan guru, menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai serta mengupayakan pelatihan guru tetapi masih belum dirasakan terjadinya peningkatan mutu lulusan yang signifikan dari tahun ketahun. Berikut ini data persentasi kelulusan dan rata-rata nilai ujian nasional tingkat SMP kota Sibolga selama 3 (tiga) tahun pelajaran berturut-turut:

8

Tabel 1.1 Persentase Kelulusan dan Nilai Rata-rata SMP Kota Sibolga No Thn Pel. 1. 2004/2005 2. 2005/2006 3. 2006/2007 Peserta UN 2032 2143 2157 Jlh Lulus UN 2019 2126 2094 % Kelulusan 99,36 99,20 94,84 Nilai rata-rata 6,09 6,13 6,08

Sumber: Profil Dinas Pendidikan Kota Sibolga.

Dari data di atas diketahui bahwa terjadi penurunan persentase jumlah kelulusan dan tidak adanya peningkatan nilai rata-rata siswa yang signifikan. Terlihat juga fenomena-fenomena yang timbul terhadap prestasi kerja guru.

Sebahagian guru terlambat hadir ditempat kerja, sehingga memberi kesan rendahnya loyalitas dan tanggung jawab terhadap pekerjaan yang harus diselesaikan, suka menunda dan menumpuk pekerjaan, meninggalkan tugas sebelum waktunya, hal ini tentu mengurangi pelayanan yang harus diberikan terhadap sub sistem lain yang ada di dalam organisasi maupun pihak luar (masyarakat) yang hendak berurusan. Hal ini diduga ada kaitannya dengan sikap inovatif dan motif berprestasi yang kurang. Berdasarkan fenomena dan identifikasi masalah disiplin kerja pendidik sangat rendah, ketertutupan mental pendidik untuk menerima hal hal baru (inovasi), guru belum memperbaharui materi pelajarannya seperti perangkat pembelajaran, sebagaian guru masih tetap mempertahankan perangkat/program pembelajaran yang lama, sebagaian guru jarang mempersiapkan media pembelajaran, hubungan guru dan siswa masih bersifat paternalistik-feodalistik-birokrasi yakni adanya sikap dan sifat birokrasi, belum menciptakan metode baru, guru belum termotivasi dalam pelaksanaan tugas, Sebahagian guru terlambat hadir ditempat kerja, sehingga memberi kesan rendahnya loyalitas dan tanggung jawab terhadap pekerjaan yang

9

harus diselesaikan, suka menunda dan menumpuk pekerjaan, meninggalkan tugas sebelum waktunya, hal ini tentu mengurangi pelayanan yang harus diberikan terhadap sub sistem lain yang ada di dalam organisasi maupun pihak luar (masyarakat) yang hendak berurusan, penulis tertarik untuk meneliti faktor-faktor apa yang berpengaruh terhadap prestasi kerja guru. Ada dugaan bahwa sikap inovatif dan motif berprestasi berpengaruh terhadap prestasi kerja guru. Oleh karena itu peneliti mencoba

menelusuri sejauh mana pengaruh sikap inovatif dan motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru SMP negeri di kota Sibolga. Ketertarikan penulis juga karena sepengetahuan penulis bahwa penelitian tentang pengaruh sikap inovatif dan motif berprestasi terhahap prestasi kerja guru belum pernah dilakukan mencakup seluruh SMP negeri di kota Sibolga. Banyak penelitian serupa dilaksanakan dengan populasi satu kecamatan atau hanya satu sekolah saja tetapi penelitian ini dilakukan dengan populasi seluruh SMP negeri yang ada di kota Sibolga.

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah seperti diuraikan di atas, maka permasalahan yang diteliti dirumuskan dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. Apakah terdapat pengaruh sikap inovatif terhadap prestasi kerja guru SMP Negeri Kota Sibolga. 2. Apakah terdapat pengaruh motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru SMP Negeri Kota Sibolga.

10

3. Apakah terdapat pengaruh sikap inovatif dan motif berprestasi secara bersama sama terhadap prestasi kerja guru SMP Negeri Kota Sibolga.

C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah : 1. Untuk menganalisis pengaruh sikap inovatif terhadap prestasi kerja guru SMP Negeri Kota Sibolga. 2. Untuk menganalisis pengaruh motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru SMP Negeri Kota Sibolga. 3. Untuk menganalisis pengaruh sikap inovatif dan motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru SMP Negeri Kota Sibolga. D. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan yang didapat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Menjadi bahan masukan bagi Kepala Dinas Pendidikan Kota Sibolga dalam membuat kebijakan, pemanfaatan, penempatan, pembinaan dan peningkatan profesionalisme guru SMP dimasa mendatang. 2. Memberi sumbangan pemikiran bagi para guru SMP, untuk dapat mengevaluasi diri agar termotivasi dalam meningkatkan kemampuan secara terus menerus sesuai dengan tuntutan perkembangan dunia pendidikan. 3. Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya mengenai pengaruh sikap inovatif dan motif berprestasi dengan prestasi kerja guru, serta dapat menjadi bahan masukan bagi mereka yang berminat untuk menindak lanjuti hasil penelitian ini dengan kancah penelitian yang berbeda.

11

4. Bagi penulis sendiri berguna untuk memperdalam dan mengembangkan pengetahuan tentang manajemen sumber daya manusia khususnya guru karena penulis bekerja pada dinas pendidikan kota Sibolga.

12

BAB II KERANGKA TEORITIK A. Kajian Teoritik 1. Pengertian sikap Sikap merupakan kecenderungan seseorang untuk bereaksi atau berinteraksi terhadap objek. Oleh karena itu sikap merupakan salah satu faktor yang menentukan bentuk perilaku. Menurut Morgan, sikap adalah tendensi dari seseorang untuk memberi reaksi yang positif atau negatif terhadap sesuatu, seseorang atau situasi, sesuai dengan pengalamannya Susanto (1977). Selanjutnya Mar’at (1984), mengemukakan bahwa sikap merupakan produk dari proses sosialisasi dimana seseorang bereaksi sesuai dengan rangsang yang diterimanya. Gibson (1990), mendefinisikan sikap (attitude) adalah kesiap-siagaan mental, yang diorganisasi lewat pengalaman, yang mempunyai pengaruh tertentu kepada tanggapan seseorang objek dan situasi yang berhubungan dengannya. Dari pengertian-pengertian sikap di atas, Rahmat (1994), menyimpulkan beberapa hal tentang sikap yaitu : (1) Kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai; (2) Mendorong dan memotivasi atau pro atau kontra terhadap sesuatu, menentukan apa-apa yang disukai, diharapkan dan diinginkan, mengeyampingkan apa yang tidak diinginkan, apa yang harus dihindari; (3) Cenderung dipertahankan dan jarang mengalami perubahan; (4) Mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan; (5) Sikap timbul dari pengalaman, yaitu tidak dibawa sejak lahir tetapi merupakan hasil belajar.

12

13

2. Karakteristik sikap Alpplbaum karakteristik : a) Mengarah pada suatu objek, situasi, peristiwa, issu atau orang, b) Arah sikap, tingkat dan intensitas yang menunjukkan assosiasi atau disasosiasi dengan suatu permasalahan. Tingkatan sikap dapat diukur dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang perasaan individu terhadap suatu objek. (1974) mengemukakan bahwa sikap mempunyai beberapa

Sedangkan intensitas berhubungan dengan tingkat keyakinan. c) Suatu respon yang dipelajari. Sikap berkembang melalui pengalaman langsung dan tidak langsung dari objek atau individu. d) Stabil dan bertahan lama. Jika pengalaman individu itu adalah pengalaman yang baik atau pengalaman yang paling berkesan, maka suatu sikap sulit dirubah.

3. Komponen Sikap Mar’at (1984) mengemukakan bahwa sikap memiliki tiga komponen : 1. Komponen kognitif yang berhubungan dengan beliefs, ide dan konsep, 2. Komponen afeksi yang menyangkut kehidupan emosional seseorang dan 3. Komponen konatif yang merupakan kecenderungan bertingkah laku. Sedangkan Applbaum (1974) mengatakan komponen konatif berhubungan dengan keyakinan terhadap objek, termasuk keyakinan evaluatif yaitu baik atau buruk, tepat atau tidak tepat. Komponen afektif yaitu komponen yang berkaitan dengan suka dan tidak suka ( like or dislike ) terdiri dari tipe kuantitas dan kualitas

14

perasaan atau emosi terhadap sebuah objek. Sedangkan komponen konatif berhubungan dengan kecenderungan berbuat. Setiap komponen sikap dapat bervariasi terhadap derajat multifleksitas. Hal ini mengacu pada jumlah dan jenis elemen yang membangun komponen tersebut. Komponen konatif dapat bergerak dari pengetahuan yang minim sampai

dapat mengetahui objek tersebut , komponen afektif juga bervariasi, dari yang sangat ekstrim positif sampai perasaan negatif terhadap sesuatu objek. Dan komponen konatif menunjukkan variasi yaitu tindakan menyerang sampai pada tingkat yang membantu objek. Ketiga komponen tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain yang merupakan suatu sistem. Demikian juga setiap komponen sikap akan berbeda valensinya. Valensi adalah untuk menggambarkan suatu sikap merasa senang atau tidak senang terhadap sesuatu objek. Tetapi biasanya tidak cukup menggambarkan begitu saja, perlu juga mengetahui atau mengukur kuantitatif dari valensi derajat senang atau tidak senang seseorang. Jadi valensi adalah karakteristik yang dapat dipakai untuk setiap komponen.

4. Pengertian Inovasi Inovasi adalah pemasukan atau pengenalan hal-hal baru, penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya baik itu gagasan, metode atau alat ( Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI 1990 ). Hal-hal baru artinya apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh sipenerima

15

inovasi, meskipun bukan merupakan hal yang baru bagi orang lain ( Hasbullah 2003 ). Berdasarkan pengertian tersebut, inovasi ( innovation ) adalah hal-hal baru apakah itu nilai, norma, gagasan atau cara-cara baru. Webster,s New World Dictionary memberi arti inovasi sebagai : (1) tindakan atau proses pembaruan, (2) Sesuatu yang baru diperkenalkan, metode, kebiasaan dan cara melaksanakan sesuatu

(Sutisna 1989). Rogers (1983), mengatakan bahwa inovasi adalah sebuah ide, praktek, atau objek terasa sebagai sesuatu yang baru oleh seseorang atau unit yang menerapkannya. Sementara itu Timpe (1993) mengatakan bahwa inovasi adalah metode kerja, produk, proses atau jasa-jasa yang baru dan lebih baik. Selanjutnya dikatakan bahwa inovasi (pembaruan) adalah suatu kumpulan dari teknologi dan ilmu yang ada untuk memenuhi suatu kebutuhan tertentu. Inovasi adalah proses tertentu seseorang dengan melalui pendayagunaan pemikiran, kemampuan imajinasi, berbagai stimulan dan individu yang

mengelilinginya yang berusaha menghasilkan produk baru, baik bagi dirinya sendiri ataupun bagi lingkungannya (Ahmad 2002). Inovasi merupakan suatu proses mengubah peluang menjadi gagasan dan ide-ide yang dapat dijual. Inovasi sesungguhnya bukanlah gagasan yang rumit. Kadang inovasi datang dari ide yang sepele. Inovasi adalah penerapan praktis dari gagasan-gagasan tersebut. Dari beberapa pengertian di atas inovasi selalu menunjuk pada suatu perubahan yang baru secara kualitatif berbeda dengan keadaan semula yang didasarkan atas pertimbangan yang diteliti dengan maksud untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai hasil yang lebih baik. Inovasi lebih dari sekedar menambah jumlah unsur

16

bagian yang telah ada, tetapi pada usaha menata kembali misalnya, dalam pembelajaran dilaksanakan pengelompokan mata pelajaran dan murid, alokasi pemakaian ruang dan waktu serta cara mengajar, sehingga dengan tenaga , uang dan fasilitas yang sama dapat dicapai hasil pendidikan yang lebih baik.

5. Sikap Inovatif Penyesuaian terhadap perubahan dapat dikatakan sebagai sikap inovatif dan untuk perubahan dibutuhkan suatu kreatifitas dari seseorang, sehubungan dengan itu, Manan menjelaskan bahwa, orang-orang yang bersikap inovatif adalah orang yang memiliki kepribadian kreatif dan dinamis (Irawati 2003). Kreatif adalah proses pengembangan perspektif, alami, inovatif dan imajinatif pada berbagai situasi (Griffin 1986). Jika seseorang dapat berpikir dengan cerdas dan kreatif, maka orang tersebut akan mendapat hasil-hasil tertentu. Jika pikiran-pikirannya tidak menentu dan tidak diarahkan kepada suatu tujuan tertentu, maka hasilnya pun akan mengecewakan. Bandingkanlah kalau ada dua orang, yang satu sibuk dan gelisah, namun tidak menghasilkan sesuatu yang penting. Hal ini karena pikiran-pikiran dan gagasan gagasannya tidak dipersiapkan dan tidak dipikirkan dengan serius. Yang lain melaksanakan pekerjaannya sehari-hari dengan tenang dan tertib, memperhatikan setiap bagian, menjatuhkan keputusan dengan tepat, maka setiap hari akan dapat hasil yang baik. Kekuatan yang dimiliki oleh setiap manusia yang sering disebut dengan daya khayal, melalui daya khayal inilah manusia dapat mencapai kemauan yang tinggi dan kesanggupannya dalam menemukan segala hal. Daya khayal dapat

17

dibedakan menjadi 2, yaitu daya khayal sintesis dan daya khayal kreatif. Daya khayal sintesis adalah untuk tidak menciptakan hal yang baru, tetapi membentuk dan menyusun yang lama dalam bentuk kombinasi baru. Sedangkan daya khayal kreatif adalah menciptakan hal-hal baru terutama apabila daya khayal sintesis tidak bisa bekerja dalam memecahkan suatu masalah. Melalui daya khayal kreatif ini alam pikiran manusia yang terbatas dapat berhubungan langsung dengan alam pikiran halusnya. Barangkali alam pikiran inilah yang menyalurkan inspirasi atau ilham dan menyampaikan gagasan baru sebagai hasilnya menjadi alat bagi manusia untuk menyesuaikan getaran dalam dirinya dengan getaran dalam diri orang lain. Daya khayal biasanya bekerja secara otomatis dan hanya bekerja jika alam pikiran yang sadar bergerak dengan kecepatan yang luar biasa seperti mendapatkan dorongan dari suatu emosi yang ditimbulkan oleh keinginan yang kuat. Dalam hubungan ini, berpikir kreatifnya seseorang dapat merombak dan kemudian mendorongnya dalam pengembangan lingkungan menjadi berhasil. Kreatif merupakan proses pemikiran yang membantu dalam mencetuskan gagasan-gagasan Sifat-sifat yang menimbulkan kreatif, akan menghasilkan kepribadian yang inovatif yaitu: a. Terbuka terhadap pengalaman baru, b. Imajinasi yang kreatif, c. Kesadaran dan tanggungjawab untuk berhasil, d. Memiliki persepsi bahwa dunia mempunyai tantangan.

18

Respon individu terhadap perubahan, merupakan keputusan terhadap inovasi, apakah individu menerima atau menolak inovasi tersebut. Rogers (1983) mengemukakan lima tahapan keputusan terhadap inovasi yaitu : a. Pengenalan terjadi apabila individu (unit pengambilan keputusan) mengetahui adanya motivasi dan memperoleh beberapa pengertian tentang bagaimana inovasi itu berfungsi, b. Persuasi adalah disaat seseorang membentuk sikap senang atau tidak senang terhadap inovasi, c. Keputusan terjadi apabila disaat seseorang terlibat dalam kegiatan yang membawanya dalam pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi, d. Implementasi pada saat tampak ada perubahan perilaku nyata dalam bentuk menerapkan inovasi pada kegiatan sehari-hari, e. Konfirmasi dimana seseorang mencari penguat bagi keputusan inovasi yang telah dibuatnya. Pada tahap ini kemungkinan seseorang untuk merubah

keputusannya jika ia memperoleh informasi yang bertentangan. Pada umumnya respon negatif yang berupa kecenderungan dari individu maupun kelompok dalam organisasi untuk menolak perubahan. Namun tidak semua perubahan ditolak. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Davis (1993) mengemukakan bahwa ada tiga jenis penolakan terhadap perubahan, yaitu: a. Penolakan logis yang timbul dari waktu dan upaya yang diperlukan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, termasuk tugas pekerjaan yang baru yang harus dipelajari.

19

b.

Penolakan psikologis berkaitan dengan sikap dan perasaan secara individu tentang perubahan.

c.

Penolakan sosiologis yang berkaitan dengan kepentingan dan nilai yang disandang kelompok.

Selain respon negatif, ada juga beberapa kategori penerima inovasi sebagai tipe yang ideal yang dikemukakan oleh Rogers (1983), yaitu: a. Innovators: venturesome. Pada kategori ini, penerima inovasi berhasrat untuk mencoba ide-ide baru. Keinginan tersebut membawa mereka keluar dari

lingkungan lokal dan lebih menuju pada hubungan yang lebih global. b. Early adopter: Respectable. Penerima inovasi lebih berintegrasi pada sistem sosial lokal. Sebelum ia memutuskan untuk menerima ide-ide baru, terlebih dahulu mereka mengecek informasi tentang inovasi tersebut. c. Early Majority : Deliberate. Kategori ini adalah seseorang atau unit adopsi menerima ide-ide baru, sebelum mayoritas dari anggota sistem sosial menerimanya. d. Late Majority. Pada kategori ini, seseorang atau unit adopsi menerima ide-ide baru setelah rata- rata dari anggota sistem sosial menerimanya. e. Laggards:Traditional. Adalah seseorang atau unit adopsi menerima perubahan paling akhir atau terlambat. Mereka hampir tertutup (terisolasi) pada jaringan sosial dan berorientasi tradisional. Proses keputusan terhadap inovasi bergerak lamban, disamping kurangnya kesadaran pengetahuan tentang ide-ide baru 6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inovasi Beberapa faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi adalah:

20

a. Karakteristik Inovasi Rogers (1983) mengemukakan lima karakteristik inovasi meliputi: 1). Keunggulan relatif (relative advantage),Keunggulan relatif adalah derajat dimana suatu inovasi dianggap lebih baik/unggul dari yang pernah ada sebelumnya. Hal ini dapat diukur dari beberapa segi, seperti segi ekonomi, prestise sosial, kenyamanan, kepuasan dan lain-lain. Semakin besar keunggulan relatif dirasakan maka semakin cepat inovasi tersebut diterima. 2). Kompatibilitas (compatibility), Kompatibilitas adalah derajat dimana inovasi

tersebut dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman masa lalu dan kebutuhan pengadopsi. Sebagai contoh, jika suatu inovasi atau ide baru tertentu tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku, maka inovasi itu tidak dapat diadopsi dengan mudah sebagaimana halnya dengan inovasi yang sesuai. 3). Kerumitan (complexity), Kerumitan adalah derajat dimana inovasi dianggap

sebagai suatu yang sulit untuk dipahami dan digunakan. Beberapa inovasi tertentu ada yang dengan mudah dapat dimengerti dan digunakan oleh pengadopsi dan ada pula yang sebaliknya. Semakin mudah dipahami dan dimengerti oleh pengadopsi, maka semakin cepat suatu inovasi dapat diadopsi. 4). Kemampuan diuji cobakan (trialability), Kemampuan untuk diuji cobakan adalah derajat dimana suatu inovasi dapat diuji-coba batas tertentu. Suatu inovasi yang dapat di uji-cobakan dalam seting sesungguhnya umumnya akan lebih cepat diadopsi. Jadi, agar dapat dengan cepat diadopsi, suatu inovasi sebaiknya harus mampu menunjukan (mendemonstrasikan) keunggulannya.

21

5). Kemampuan diamati (observability). Kemampuan untuk diamati adalah derajat dimana hasil suatu inovasi dapat terlihat oleh orang lain. Semakin mudah seseorang melihat hasil dari suatu inovasi, semakin besar kemungkinan orang atau sekelompok orang tersebut mengadopsi. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin besar keunggulan relatif; kesesuaian (compatibility); kemampuan untuk diuji cobakan dan kemampuan untuk diamati serta semakin kecil kerumitannya, maka semakin cepat kemungkinan inovasi tersebut dapat diadopsi. b. Saluran Komunikasi Tujuan komunikasi adalah tercapainya suatu pemahaman bersama (mutual understanding) antara dua atau lebih partisipan komunikasi terhadap suatu pesan (dalam hal ini adalah ide baru/inovasi) melalui saluran komunikasi tertentu. Dengan demikian suatu ide baru (inovasi) dipengaruhi oleh: 1) partisipan komunikasi dan 2) saluran komunikasi. Dari sisi partisipan komunikasi, Rogers (1983) mengungkapkan bahwa derajat kesamaan atribut (seperti kepercayaan, pendidikan, status sosial, dan lain-lain) antara individu yang berinteraksi (partisipan) berpengaruh terhadap proses inovasi.

Semakin besar derajat kesamaan atribut partisipan komunikasi (homophily), semakin efektif komunikasi terjadi. Begitu pula sebaliknya. Semakin besar derajat perbedaan atribut partisipan (heterophily), semakin tidak efektif komunikasi terjadi. Oleh karenanya, dalam proses difusi inovasi, penting sekali untuk memahami betul karakteristik adopter potensialnya untuk memperkecil “heterophily”.

Sementara itu, saluran komunikasi juga perlu diperhatikan. Dalam tahap-tahap

22

tertentu dari proses pengambilan keputusan inovasi, suatu jenis saluran komunikasi tertentu memainkan peranan lebih penting dibandingkan dengan jenis saluran komunikasi lain. Hasil penelitian berkaitan dengan saluran komunikasi menunjukkan beberapa prinsip sebagai berikut:

1)

Saluran komunikasi masa relatif lebih penting pada tahap pengetahuan dan saluran antar pribadi (interpersonal) relatif lebih penting pada tahap persuasi.

2)

Saluran kosmopolit lebih penting pada tahap penetahuan dan saluran lokal relatif lebih penting pada tahap persuasi.

3)

Saluran media masa relatif lebih penting dibandingkan dengan saluran antar pribadi bagi adopter awal (early adopter) dibandingkan dengan adopter akhir (late adopter).

4)

Saluran kosmopolit relatif lebih penting dibandingkan dengan saluran lokal bagi adopter awal (early adopter) dibandingkan dengan adopter akhir (late adopter).

c. Karakteristik Sistem Sosial Difusi inovasi terjadi dalam suatu sistem sosial. Dalam suatu sistem sosial terdapat struktur sosial, individu atau kelompok individu, dan norma-norma tertentu. Berkaitan dengan hal ini, Rogers (1983) menyebutkan adanya empat faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi. Keempat faktor tersebut adalah: a. Struktur sosial (social structure); b. Norma sistem (system norms); c. Pemimpin opini (opinion leaders); dan d. Agen perubah (change agent).

23

Struktur sosial adalah susunan suatu unit sistem yang memiliki pola tertentu. Struktur ini memberikan suatu keteraturan dan stabilitas prilaku setiap individu (unit) dalam suatu sistem sosial tertentu. Struktur sosial juga menunjukan hubungan antar anggota dari sistem sosial. Hal ini dapat dicontohkan seperti terlihat pada struktur organisasi suatu perusahaan atau struktur sosial masyarakat suku tertentu. Struktur sosial dapat memfasilitasi atau menghambat difusi inovasi dalam suatu sistem. Katz seperti dikutip oleh Rogers (1983) menyatakan bahwa sangatlah bodoh mendifusikan suatu inovasi tanpa mengetahui struktur sosial dari adopter potensialnya, sama halnya dengan meneliti sirkulasi darah tanpa mempunyai pengetahuan yang cukup tentang struktur pembuluh nadi dan arteri. Penelitian yang dilakukan oleh Rogers dan Kincaid (1983) di Korea menunjukkan bahwa adopsi suatu inovasi dipengaruhi oleh karakteristik individu itu sendiri dan juga sistem sosial dimana individu tersebut berada. Norma adalah suatu pola perilaku yang dapat diterima oleh semua anggota sistem sosial yang berfungsi sebagai panduan atau standar bagi semua anggota sistem sosial. Sistem norma juga dapat menjadi faktor penghambat untuk menerima suatu ide baru. Hal ini sangat berhubungan dengan derajat kesesuaian (compatibility) inovasi dengan nilai atau kepercayaan masyarakat dalam suatu sistem sosial. Jadi, derajat ketidak sesuaian suatu inovasi dengan kepercayaan atau nilai-nilai yang dianut oleh individu (sekelompok masyarakat) dalam suatu sistem sosial berpengaruh terhadap penerimaan suatu inovasi tersebut. “Opinion Leaders” dapat dikatakan sebagai orang-orang berpengaruh, yaitu orang-orang tertentu yang mampu mempengaruhi sikap orang lain secara informal

24

dalam suatu sistem sosial. Dalam kenyataannya, orang berpengaruh ini dapat menjadi pendukung inovasi atau sebaliknya, menjadi penentang. Opinion leaders berperan sebagai model dimana perilakunya (baik mendukung atau menentang) diikuti oleh para pengikutnya. Jadi, jelas disini bahwa orang berpengaruh (opinion leaders) memainkan peran dalam proses keputusan inovasi. Agen perubah, adalah bentuk lain dari orang berpengaruh. Mereka sama-sama orang yang mampu mempengaruhi sikap orang lain untuk menerima suatu inovasi. Tapi, agen perubah lebih bersifat formal yang ditugaskan oleh suatu agen tertentu untuk mempengaruhi kliennya. Agen perubah adalah orang-orang professional yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan tertentu untuk mempengaruhi kliennya. Dengan demikian, kemampuan dan keterampilan agen perubah berperan besar terhadap diterima atau ditolaknya inovasi tertentu. Sebagai contoh, lemahnya pengetahuan tentang karakteristik strukstur sosial, norma dan orang kunci dalam suatu sistem sosial (misal: suatu institusi pendidikan), memungkinkan ditolaknya suatu inovasi walaupun secara ilmiah inovasi tersebut terbukti lebih unggul dibandingkan dengan apa yang sedang berjalan saat itu. Berkembangnya informasi dan teknologi membawa perubahan-perubahan termasuk dalam bidang pendidikan. Adanya perubahan menyebabkan banyaknya pihak melakukan redefenisi baik pada konsep maupun pada peranan guru. Redefenisi itu penting mengingat makin diragukannya signifikansi antara pandangan lama dengan aspirasi kondisi dan kebutuhan masyarakat. Perubahan yang berpengaruh terhadap pendidikan dan peran guru meliputi perubahan dimensi global. Oleh karena itu guru harus epektif dalam mencari informasi yang mendukung dalam pelaksanaan

25

tugasnya. Informasi yang dimaksud tidak terbatas hanya persediaaan bahan pengajaran, tetapi juga membentuk sikap mandiri dan mempengaruhi perilaku dan disiplin sekolah. Sekolah mengglobal. Oleh sebagai lembaga menyikapi perubahan yang

sebab tidak semua perubahan dapat diterima tetapi harus

disesuaikan dengan budaya yang dimiliki. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dikemukakan bahwa sikap inovatif merupakan suatu kecenderungan untuk bereaksi atau bertindak terhadap inovasi yang tercermin dalam: (1) Tentang pembelajaran yaang dilaksanakan guru seperti pengetahuan atau pengalaman sesuatu yang baru (inovasi) yaitu: pengetahuan tentang pengelompokan murid, pengetahuan tentang pemakaian ruang dan waktu, pengetahuan tentang cara mengajar, pengetahuan tentang teknologi dan informasi; (2) respon terhadap inovasi; (3) kreatif yaitu: kemampuan dalam masalah, imajinatif, penemuan pelayanan dan produk baru. memecahkan

7. Pengertian dan jenis Motif Motif adalah dorongan-dorongan bawaan serta kebutuhan-kebutuhan psikologis pekerja (Manullang 2001). Selanjutnya menurut Gerungan (1978) motif merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak, keinginan, hasrat dan tenaga pendorong dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu dan hal ini dapat terjadi baik secara sadar maupun tidak sadar. Selanjutnya Abu (1999) mengemukakan bahwa motif adalah yang ada pada diri individu yang menggerakkan atau membangkitkan sehingga individu tersebut berbuat sesuatu. Dengan demikian motif merupakan sesuatu kekuatan yang ada dalam diri seseorang dan motif ini

26

menjadi faktor penggerak dan penyebab

timbulnya tingkah laku atau perilaku.

Untuk menumbuhkan dorongan yang ada dalam diri terwujud dalam tingkah laku ada dua hal yang harus dipahami yaitu, kegiatan apa yang dilakukan dan mengapa perlu melakukan kegiatan tersebut. Dalam hal ini perlu pemahaman mendasar dari diri guru terhadap tujuan yang akan dicapai yaitu prestasi kerja. Menurut asalnya motif-motif pada diri manusia dapat dibedakan menjadi motif primer dan motif sekunder (Martaniah 1982). Mereka menyebut motif primer

ini sebagai motif biogenetis, yaitu motif yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan organisme orang demi kelanjutan kehidupannya. Motif ini ada dalam diri setiap individu dan berkembang dengan sendirinya tanpa dipelajari. Misalnya: lapar, haus, kebutuhan akan istirahat dan sebagainya. Sedangkan motif sekunder ini sering disebut sebagai motif sosial (sosiogenetis), yaitu motif yang umumnya diperoleh dari proses belajar baik melalui pengalaman maupun lingkungan.

8. Fungsi Motif Motif mempunyai dua fungsi yaitu: a. Memberi daya untuk bergerak atau berfungsi menggerakkan perilaku. b. Mengarahkan perilaku pada tujuan tertentu. Tenaga pendorong yang dimiliki motivasi menyebabkan individu aktif, sedangkan fungsi yang mengarahkan perilaku dari motif menyebabkan munculnya perilaku yang mengarah pada tujuan.

27

Fungsi pengarah perilaku dari motivasi membuat individu melakukan seleksi atau pilihan dari beberapa alternatif perilaku yang memenuhi tujuannya. Sehingga makin tinggi motif atau motivasi akan makin terarah perilaku individu. Kebutuhan manusia ada tiga (Mc Celelland) yaitu kebutuhan berprestasi (need achievement), kebutuhan kekuasaan (need for power), kebutuhan afliasi (need affliation). Seseorang yang memiliki “ need for achievement “ yang tinggi selalu mempunyai pola berpikir tertentu pada waktu tertentu dalam melaksanakan pekerjaan dan dorongan ini berharap untuk meraih sasaran Oleh yang dan karena akan melampaui itu ia atau selalu untuk

mengembangkan

keberhasilannya

(prestasi).

mempertimbangkan cara bagaimana pekerjaan

dilakukan

berhasil, serta selalu memikirkan rintangan-rintangan yang mungkin dihadapi dalam usaha pencapaian tujuan. Ciri lain adalah berorientasi pada hasil yang baik. 9. Motif berprestasi Motif berprestasi ini bukan semata-mata untuk memperoleh pengakuan dari orang lain, tetapi karena dorongan hati nurani untuk memperoleh kepuasan batin. Kreiner (1999) Orang yang memiliki prestasi tinggi memiliki moral kerja atau semangat kerja yang tinggi, dan suka bekerja keras, serta selalu berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya. Motif berprestasi adalah sebagai usaha mencapai sukses dengan tujuan untuk berhasil dalam kompetisi berdasarkan ukuran keunggulan. Ukuran keunggulan ini dapat dilihat berdasarkan pelaksanaan tugas, keberhasilan diri sendiri dan keberhasilan orang lain. Hal ini sejalan dengan pendapat Heckhausen yang dikutip

28

oleh Sibuea (2001) bahwa motif berprestasi adalah usaha untuk meningkatkan atau mempertahankan kecakapan pribadi setinggi mungkin dalam segala aktifitas dengan menggunakan suatu ukuran tertentu sebagai pembanding. Heckhausen membedakan tiga ukuran keuanggulan yaitu (1) keunggulan yang berhubungan dengan tugas, (2) keunggulan yang berhubungan dengan diri sendiri, dan (3) keunggulan yang berhubungan dengan orang lain. Dengan adanya pembanding ini, maka guru akan lebih mudah melihat sampai sejauh mana prestasi yang sudah dicapai dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai guru. Dalam hal ini motif berprestasi merupakan dorongan untuk berusaha keras untuk mencapai prestasi dalam hubungannya dengan standar keunggulan. Orang yang mempunyai motif berprestasi tinggi cenderung mempunyai kepercayaan yang tinggi terhadap diri sendiri, bertanggungjawab dan menghargai hasil yang konkrit dari kerjanya, aktif di sekolah dan di masyarakat serta ulet dalam kehidupan. Heckhausen yang dikutip Sibuea (2001) sifat-sifat individu yang mempunyai motif berprestasi tinggi yaitu, lebih memiliki kepercayaan dalam menghadapi tugas yang berhubungan dengan prestasi, memiliki sifat yang lebih berorientasi ke depan dan lebih menangguhkan permuasan saat sekarang untuk dapat mencapai penghargaan atau imbalan (reward) yang lebih diwaktu kemudian, memiliki tugas yang kesukarannya sedang, tidak suka membuang-buang waktu, dalam memilih teman kerja lebih menyukai orang yang mempunyai kemampuan dari pada orang yang simpati dan lebih tangguh dalam mengerjakan tugas. McClelland yang dikutip oleh Tyagi (1997) bahwa gambaran tentang individu yang motif berprestasi tinggi memiliki cirri-ciri sebagai berikut : lebih suka menetapkan sendiri tujuan prestasinya,

29

menyukai tujuan yang sesuai dengan kemampuannya dan menyukai balikan (feed back) yang cepat serta efisien mengenai prestasinya dan bertanggung jawab terhadap solusi yang diberikan. Berdasarkan uraian di atas, maka motif berprestasi adalah dorongan yang diarahkan untuk mencapai prestasi. Guru yang memiliki motif berprestasi dalam melaksanakan tugasnya akan selalu berusaha meraih keberhasilan, dan prestasi yang akan dicapai muncul apabila ada kepercayaan diri yang tinggi dan harus

mempunyai prinsip mengutamakan pencapaian tujuan daripada penghargaan (reward). Motif berprestasi dapat diukur melalui ukuran keunggulan yaitu pelaksanaan tugas, keberhasilan diri sendiri dan keberhasilan orang lain. Motif berprestasi adalah keinginan guru untuk berprestasi dengan tujuan untuk mencapai sukses. Keinginan berprestasi itu meliputi : (1) adanya keinginan untuk memperlihatkan hasil kerja yang optimal, (2) Memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, (3) memiliki sikap yang lebih berorientasi kedepan (4) sangat berhati-hati di dalam memilih teman kerja, dan (5) bertanggungjawab terhadap prestasi yang diperoleh. 10. Prestasi Kerja Secara etimologis, istilah kinerja dalam bahasa Inggris adalah performance yang berarti unjuk kerja atau prestasi kerja. Kamus The New Webster memberikan tiga arti bagi kata performance yakni prestasi, pertunjukan dan pelaksanaan tugas (Ruky, 2002). Performance diartikan juga sebagai pelaksanaan kerja, pencapaian kerja atau hasil kerja / unjuk kerja / penampilan kerja ( Sedarmayanti 2002 ).

30

Istilah lain dalam bahasa Inggris yang menggambarkan prestasi yaitu achievement. Kata ini berasal dari kata to achieve yang berarti mencapai, tetapi sering diterjemahkan menjadi pencapaian atau apa yang dicapai. Dari pengertian tersebut prestasi kerja karyawan merupakan hasil yang dicapai oleh setiap orang dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Selanjutnya Bernadin dan Russel mengemukakan, prestasi adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu ( Ruky 2002). Dengan demikian prestasi adalah hasil yang dicapai oleh setiap orang dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Prestasi yang dimaksud dalam hal ini adalah prestasi yang berhubungan dengan hasil kegiatan yang dilakukan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya atau pekerjaannya sehari-hari. Oleh karena itu prestasi kerja merupakan suatu pengabdian terhadap bangsanya (untuk kepentingan orang banyak) melalui pekerjaan yang dilaksanakan. Prestasi kerja merupakan kecakapan atau kemampuan pegawai dalam melaksanakan suatu tugas atau pekerjaan yang diberikan, penampilan atau perilaku dalam melaksanakan tugas, sikap, cara yang digunakan dalam melaksanakan tugas, ketegaran jasmani dalam menjalankan tugas ( Irawan 1997). Prestasi kerja merupakan suatu kebutuhan yang relevan dengan pembangunan dewasa ini. Prestasi kerja yang baik dapat diwujudkan apabila didukung oleh beberapa faktor. Menurut Castetter ( 1981 ) faktor yang mendukung prestasi kerja itu antara lain : (1) sumber individu itu sendiri, (2) sumber dari organisasi, (3) sumber dari lingkungan eksternal.

31

Hasil akhir dari prestasi kerja lebih jelasnya dapat dilihat dari konsumen yang menikmati layanan karyawan. Menurut Dharma (1991), bahwa prestasi kerja adalah sesuatu yang dikerjakan atau produk/jasa yang dihasilkan atau diberikan oleh seseorang atau sekelompok orang. Prestasi adalah hasil yang dicapai dan apa yang dikerjakan atau yang sudah diusahakan, seperti belajar, bekerja, olahraga dan sebagainya. Prestasi kerja tersebut mengandung pengertian cukup luas , prestasi itu dapat dikatakan hasil-hasil yang dicapai seseorang dalam melakukan sesuatu, misalnya keberhasilan guru, dosen, pegawai, seniman, pedagang dan lain sebagainya. Untuk mengetahui prestasi kerja seorang guru, perlu diadakan penilaian atas prestasi kerja tersebut (performance appraisal). Penilaian prestasi kerja adalah suatu cara dalam melakukan evaluasi terhadap prestasi kerja karyawan dengan serangkaian tolak ukur tertentu yang objektif dan berkaitan langsung dengan tugas seseorang serta dilakukan secara berkala ( Handoko 1978 ). Penilaian yang dilakukan dalam suatu organisasi tidak terlepas dari unjuk kerja yang dihasilkan oleh guru itu sendiri. Penilaian adalah sesuatu yang berhubungan dengan masalah nilai yang diangkatkan tentang suatu objek, kejadian atau peristiwa yang dilihatnya. Sedangkan penilai adalah sesorang yang memberikan nilai terhadap rangsangan yang ditangkap panca indranya. Rangsangan yang ditangkap panca indra tersebut diterima, diseleksi, diorganisasikan dan diartikan sebuah proses formal untuk melakukan peninjaun ulang dan evaluasi prestasi kerja seseorang secara periodik. (Surakhmad 1985). Penilaian dengan cara kualitatif umumnya bersifat subjektif, Cara dan teknik

menilai mempunyai dua cara kualitatif dan cara kuantitatif karena sangat tergantung kepada selera penilai mengenai apa yang akan diartikannya sebagai baik, baik sekali,

32

cukup dan lain sebagainya. Sedangkan penilaian dengan kuantitatif biasanya lebih objektif, karena pada waktu memberikan nilai dengan angka, biasanya penilai terlebih dahulu membuat ukuran, apa artinya apabila ia harus memberikan nilai 1, 2, 3 dan sebagainya secara matematis, dengan jalan menggunakan konsep konsep statistik. Pedapat Winarno Surakhmad tersebut diperkuat oleh pendapat Winkel (1996) yang mengatakan bahwa, penilaian yaitu penentuan taraf mutu prestasi berdasarkan norma, patokan atau kriterium tertentu. Objek penilaian atau apa yang akan dinilai adalah pendekatan yang berpusat pada individu, kemudian pendekatan yang berpusat pada tugas dan pendekatan yang berpusat pada tujuan (Ruky 2002). Seperti ditunjukkan pada gambar 2.1 berikut :

Berpusat pada Pendekatan individu

Berpusat pada Pendekatan tugas

Berpusat pada Pendekatan tujuan

Gambar 2.1. Penilaian Prestasi Kerja.
Sumber : Ruky (2002)

Penilaian prestasi kerja dengan pendekatan yang berpusat pada individu adalah metode yang menekankan pada pengukuran atau penilaian ciri-ciri kepribadian karyawan. Dalam penilaian yang individual atau person oriented, fokus perhatiannya adalah cirri-ciri keperibadian atau karakteristik karyawan. Ruky menyebutkan dengan istilah Person Oriented Performance Management disingkat menjadai “POPMAN” yang artinya suatu penilaian yang menfokuskan pada orang melakukan pekerjaan dan bukan pada hasil kerjanya. Hal ini sejalan dengan pendapat Tohardi (2002) bahwa objek penilaian prestasi kerja adalah karyawan. Oleh karena itu pada pekerjaan

33

yang sama belum menghasilkan penilaian karyawan yang sama pula. Ciri-ciri atau karakteristik (traits) kepribadian yang banyak dijadikan objek pengukuran adalah (1) kejujuran, (2) ketaatan, (3) disiplin, (4) loyalitas, (5) inisiatif, (6) kreatif, (7) adaptasi, (8) komitmen, (9) motivasi dan (10) sopan santun. Dalam Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1979 tentang penilaian kinerja Pegawai Negeri Sipil. Hasil-hasil penilaian dituangkan dalam suatu daftar yang disebut DP3 atau Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan. Penilaian ini berpokus kepada karakteristik kepribadian pegawai yang meliputi : (1) kesetiaan, (2) tanggung jawab, (3) ketaatan, (4) kerjasama, (5) prakarsa dan (6) kepemimpinan. Penilaian kerja dengan pendekatan yang berpusat pada pelaksanaan tugas, dilakukan dengan cara menilai perilaku pegawai sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Dengan kata lain penilaian hasil, tetap tidak difokuskan langsung pada kuantitas dan kualitas hasil yang dicapainya, yang dilakukan adalah meneliti

bagaimana tugas-tugas dilakukan dan membandingkan perilaku dan sikap yang diperlihatkan dengan standar yang ditetapkan. Penilaian proses ini, Ruky memberikan istilah PROPERMAN singkatan Proces Oriented Performance Management. Penilaian ini tidak lagi berorientasi pada traits atau cirri-ciri kepribadian, tetapi pada baik buruknya pelaksanaan tugas oleh seorang karyawan. Menurut Sayle bahwa standar kinerja perlu dirumuskan guna dijadikan tolak ukur dalam

mengadakan perbandingan antara apa yang telah dilakukan dengan apa yang dipercayakan kepada seseorang ( Sedarmayanti 2002 ). Penilaian yang berfokus pada individual karyawan dan pelaksanaan tugas orientasinya pada hasil yang diperoleh atau dicapai. Penilaian hasil adalah hasil atau keluaran dari sikap karyawan dan

34

pelaksanaan tugas. Hal ini sejalan dengan pendapat Smith yang menyatakan bahwa performance atau kinerja merupakan hasil atau (Sedarmayanti 2002). keluaran dari suatu proses

Pendekatan penilaian yang berpusat pada tujuan. Ruky

menyebutkan sebagai Result Oriented Performance Management atau disingkat menjadi ROPER-MAN. Prestasi kerja guru berdasarkan pendekatan pelaksanaan tugas dapat diukur dari uraian tugas guru. P3G Depdiknas, sepuluh kompetensi dasar guru, yang meliputi kemampuan-kemampuan dalam hal : (1) menguasai bahan ajar, (2) mengelola program belajar mengajar, (3) mengelola kelas, (4) menggunakan media dan sumber pengajaran, (5) menguasai landasan-landasan kependidikan, (6) mengelola interaksi belajar mengajar, (7) menilai prestasi belajar siswa, (8) mengenal dan fungsi program pelayanan BP, (9) mengenal dan ikut menyelenggarakan administrasi sekolah, dan (10) memahami prinsip-prinsip penelitian pendidikan dan menafsirkan untuk pengajaran. (Anwar 2003). Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Kepemndikbud) RI Nomor. 025/0/1995, tentang pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka kredit, “kinerja guru” dapat diindikasikan dari tugas dan tanggung jawabnya yang meliputi : (1) membuat perangkat program pengajaran, (2) melaksanakan kegiatan belajar, (3) melaksanakan kegiatan evaluasi, (4) melaksanakan analisis hasil evaluasi,

(5) menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan, (6) mengisi daftar nilai siswa, (7) melaksanakan kegiatan bimbingan pada guru junior, (8) membuat alat peraga / media dalam setiap penyusunan program pembelajaran, (9) menumbuh kembangkan sikap menghargai karya seni, (10) mengikuti kegiatan

35

pengembangan dan pemasyarakatan kurikulum, (11) melaksanakan tugas tertentu di sekolah, (12) mengadakan program pengajaran, (13) membuat catatan tentang kemajuan hasil belajar siswa, (14) mengisi dan meneliti daftar hadir siswa, (15) mengatur kebersihan ruang kelas dan ruang praktikum, (16) mengumpulkan dan menghitung angka kredit untuk kenaikan pangkat. Berdasarkan uraian diatas, bahwa prestasi kerja adalah hasil yang dicapai seseorang dalam bekerja yang diukur dari sikap individu dan pelaksanaan tugas. Prestasi kerja yang berfokus pada sikap individu meliputi:

a. Kesetiaan, b. Tanggungjawab, c. Ketaatan, d. Kerja sama, e. Prakarsa dan f. Kepemimpinan Prestasi kerja yang menekankan pelaksanaan tugas meliputi : 1. Membuat perangkat program pembelajaran, 2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran, 3. Melaksanakan kegiatan evaluasi, 4. Melaksanakan analisis hasil ulangan, 5. Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan, 6. Mengisi daftar hadir, 7. Membuat alat pelajaran/ alat peraga/ media,

36

8. Mengikuti kegiatan pengembangan dan pemasyarakatan kurikulum, 9. Melaksanakan tugas tertentu disekolah, 10. Mengisi dan meneliti daftar hadir siswa, 11. Mengumpulkan dan menghitung angka kredit kenaikan pangkat.

B. Kerangka Berpikir 1. Pengaruh Sikap Inovatif terhadap Prestasi Kerja Guru. Inovasi menurut Sherwood (2005) adalah “menemukan (membawa) sesuatu gagasan yang baru”. “ Proses inovasi memerlukan tahapan yaitu pengajuan gagasan, evaluasi dan implementasi. Sementara menurut Timpe (1993) mengatakan bhwa inovasi adalah “metode-metode kerja, produk proses, atau jasa-jasa baru yang lebih baik dari sebelumnya. Menurut Winardi (2000) inovasi senantiasa perlu dimasukkan ke dalam fungsi manajemen. Lebih lanjut menurut Winardi inovasi terdiri dari tindakan tindakan mengembangkan cara baru yang lebih baik untuk melaksanakan pekerjaan. Dari defenisi di atas dapat dikatakan bahwa sikap inovatif sebagai kemampuan menemukan atau membawa gagasan baru, sikap yang kreatif akan mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan atau dapat meningkatkan prestasi kerja seseorang. Sikap inovatif adalah suatu kecenderungan seseorang yang sangat berhubungan dengan psikologis untuk bertindak atau berkreasi terhadap perubahan yang terjadi dilingkungannya. Seseorang yang menginginkan inovasi ia harus berorientasi pada metode metode baru, mempunyai minat menyesuaikan diri dengan perubahan, kreatif, memiliki keterampilan dan menggunakan teknologi.

37

Sikap inovatif para guru dalam penelitian ini didefenisikan sebagai suatu kecenderungan mental guru untuk menerima dan menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan baru. Guru harus selalu siap menyikapi perubahan sehingga tidak akan pernah tertinggal oleh perubahan. Sebab segala sesuatu yang ada selalu berubah. Oleh karena itu, bila guru tidak menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan maka dia akan tergilas oleh perubahan tersebut, akibatnya dapat mempengaruhi prestasi kerja yang menurun. Untuk itu guru perlu mengembangkan kemampuan kreatif melalui banyak membaca dan menulis, sebab dengan banyak membaca dan menulis akan mengetahui banyak informasi baru sehingga menambah wawasan. Adanya wawasan yang luas akan meningkatkan prestasi kerja. Adanya keinginan guru untuk berdiskusi dan bertanya kepada teman kerja tentang disiplin keilmuan untuk mendapatkan masukan juga dapat mengembangkan kemampuan guru. Sikap guru yang imajinatif, banyak merenung, banyak berbuat dan mencoba cara baru dalam pengajaran akan meningkatkan prestasi kerja guru hal itu memberi kekuatan dalam mengantisipasi berbagai situasi. Guru sebagai unsur penting dalam sekolah perlu menyikapi setiap perubahan karena tidak semua perubahan dapat diterima, melainkan harus disesuaikan dengan budaya sekolah dan lingkungan sekolah. Respon dapat mempengaruhi terhadap prestasi kerja. Respon guru yang positif terhadap inovasi akan meningkakan kreativitas guru dalam pelaksanaan tugas. Guru akan selalu memperbaharui materi pelajarannya berdasarkan informasi yang diperoleh, guru memperbaharui metode mengajar sesuai dengan perkembangan

38

teknologi, guru mempersiapkan skrenario pembelajaran setiap mengajar, guru mempersiapkan media pembelajaran, guru memiliki keterampilan dalam

menggunakan teknologi dan lain-lain. Sikap inovatif guru diwujudkan dalam perilaku guru yang terbuka terhadap pengalaman baru, memberikan pelayanan baru terhadap peserta didik. Semua perilaku ini tentu tidak terlepas dari prestasi kerja guru. Kemauan untuk menerima perubahan baru juga tidak terlepas dari prestasi kerja guru. Berdasarkan uraian diatas diduga bahwa ada pengaruh sikap inovatif terhadap prestasi kerja. Hasil penelitian Irawati (2003) yang mengkaji sikap inovasi sebagai faktor pendukung kinerja pustakawan di Padang. Populasi penelitian adalah para pustakawan perguruan tinggi berjumlah 72 orang. Berdasarkan penelitian terdapat korelasi yang signifikan antara sikap inovasi dengan kinerja pustakawan. Lubis (2005) meneliti pengaruh budaya kerja dan sikap inovatif terhadap kinerja guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di kota Medan dengan hasil bahwa terdapat pengaruh signifikan sikap inovatif terhadap kinerja guru. Penelitian Harahap (2007) tentang hubungan integritas dosen dan sikap inovatif dengan kinerja dosen fakultas ekonomi Universitas Negeri Medan (UNIMED) dengan hasil analisis terdapat hubungan positif yang berarti antara sikap inovatif dengan kinerja dosen.

39

2. Pengaruh Motif Berprestasi Terhadap Prestasi Kerja Guru. Umstot (1984) berpendapat bahwa “untuk dapat berkinenerja dengan baik, individu harus memiliki kemampuan untuk bekerja, motivasi dan juga kapasitas atau kecakapan (capacity) untuk berkinerja”. Menurut Mitrani, Dalziel, dan Fitt (1992) terdapat empat faktor yang mempengaruhi prestasi kerja yaitu: (1) sumber motivasi individual, (2) penetapan pekerjaan, (3) gaya manajemen dan (4) iklim organisasi. Sementara Gannon (1979) menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi prestasi kerja yaitu: (1) motivasi pekerja, (2) kemampuan dan keterampilan pekerja, (3) kejelasan dalam penerimaan tugas, dan (4) kesempatan untuk berkinerja. Davis (1991) mendefenisikan motivasi berprestasi ialah kekuatan tersembuni di dalam diri seseorang, yang mendorong seseorang untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas. Kadang kekuatan itu berpangkal pada naluri, kadang pula berpangkal pada suatu keputusan rasional tetapi lebih sering lagi hal itu merupakan perpaduan dari kedua proses tersebut Ames dan Ames dalam Irawan, dkk (1997) menjelaskan motivasi dari pandangan kognitif. Menurut pandangan ini motif berprestasi didefenisikan sebagai prespektif yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri. Seorang yang percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan yang diperlukan untuk melakukan tugas, akan termotivasi untuk melakukan tugas tersebut. Berdasarkan beberapa defenisi di atas dapat dikatakan bahwa motif berprestasi mempengaruhi prestasi kerja individu yang melaksanakan pekerjaan tersebut.

40

Motif berprestasi adalah keinginan atau hasrat untuk mencapai sukses dengan tujuan untuk berhasil dalam kompetisi berdasarkan keunggulan. Ukuran keunggulan dapat dilihat dari keberhasilan melaksanakan tugas, keberhasilan diri sendiri dan keberhasilan yang berhubungan dengan orang lain. Motif berprestasi berhubungan dengan pekerjaan dan mengarahkan tingkah laku pada usaha untuk mencapai prestasi. Prestasi kerja tidak terlepas dari adanya keinginan dan kemauan untuk berhasil, ada keinginan untuk memperlihatkan hasil kerja yang optimal, memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, memiliki sikap yang lebih berorientasi ke depan, sangat berhati-hati memilih teman kerja dan bertanggung jawab terhadap prestasi yang diperoleh. Guru yang ingin memperlihatkan hasil kerja yang optimal adalah guru yang mempunyai prestasi kerja yang tinggi, sebab keinginan yang kuat itu berasal dari dalam diri guru untuk mencapai kesuksesan. Keinginan yang kuat untuk mencapai suskses juga mendorong semangat kerja guru. Adanya semangat kerja akan meningkatkan prestasi kerja. Jika dari dalam diri guru tidak ada keinginan untuk mencapai hasil kerja yang optimal, dan jika tidak ada semangat kerja maka prestasi kerja guru akan menurun. Motif berprestasi juga tidak terlepas dari sikap guru yang memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Guru yang memiliki prestasi kerja tidak akan pernah

menyia- nyiakan waktu sangat berharga dalam pekerjaannya. Sikap memandang jauh kedepan adalah keinginan untuk mencapai prestasi sehingga dalam setiap

pekerjaannya guru tersebut mempersiapkan diri sebaik mungkin terhadap apa yang ingin dicapai pada masa mendatang. Sikap memandang jauh kedepan akan

41

meningkatkan prestasi kerja guru, sebaliknya jika guru tidak ada keinginan untuk berhasil maka prestasi kerja akan menurun. Minat atau keinginan berprestasi berkaitan dengan sikap memilih teman kerja guru yang punya prestasi kerja tinggi akan memilih teman kerja yang berkwalitas karena hal itu akan mendukung prestasi kerjanya. Bila guru memilih teman kerja yang tidak berkwalitas maka prestasi kerjanya akan menurun. Berdasarkan uraian di atas diduga ada pengaruh motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru. Sibuea (2003) meneliti hubungan keterampilan manajerial dan motif berprestasi dengan efektifitas kinerja kepala SMK di kota Medan. Berdasarkan analisis terdapat hubungan yang signifikan antara keterampilan manajerial dan motif berprestasi dengan efektifitas kinerja kepala SMK di kota Medan. Hasil penelitian Zulkifli (2004) menjelaskan terdapat hubungan positif antara motif berprestasi dengan kinerja guru matematika SMP Negeri kabupaten langkat.

3. Maping Penelitian Terdahulu Penelitian sejenis sebagaimana dijelaskan pada butir 1 dan 2 di atas yang sudah dilakukan peneliti sebelumnya dapat dilihat pada tabel:

42

Tabel 2.1. Maping Penelitian terdahulu
No. 1 Judul Peneliti Penelitian Sikap inovasi Irawati sebagai factor pendukung kinerja pustakawan di padang Sumatera Barat Hubungan Sibuea antara keterampilan manajerial dan motif berprestasi dengan efektifitas kinerja kepala SMK di kota Medan Thn 2003 Variabel Indevenden Sikap inovasi Variabel Devenden Kinerja pustakawan Metode Analisis Korelasi Hasil Terdapat korelasi yang signifikan antara sikap inovasi dengan kinerja sebesar 0,68 Terdapat hubungan yang signifikan antara keterampila n manajerial dan motif berprestasi dengan efektifitas kinerja kepala SMK Terdapat hubungan positif motivasi berprestasi dengan kinerja guru

2.

2003

Keterampil an manajerial Motif berprestasi

Kinerja kepala SMK

Regresi berganda

3.

Hubungan Zulkifli antara motivasi berprestasi ,kebiasaan belajar, dan penggunaan media pembelajaran dengan kinerja guru matematika SMP Negeri Kab. Langkat

2004

Motivasi Kinerja berprestasi Guru Kebiasaan matematika belajar Penggunaa n media pembelajar an

Statistik deskriptif dan statistic imperensial

43

No. 4.

5.

Judul Peneliti Penelitian Pengaruh Lubis budaya kerja dan sikap inovatif terhadap kinerja guru MAN di kota Medan Hubungan Harahap integritas dosen dan sikap inovatif dengan kinerja dosen fakulta ekonomi unimed

Thn 2005

Variabel Indevenden Budaya kerja Sikap inovatif

Variabel Devenden Kinerja guru

Metode Analisis Alpha Cronbach

Hasil Sikap inovatif berpengaru h secara signifikan terhadap kinerja guru Terdapat hubungan positif yang berarti sikapinovat if dengan kinerja dosen

2007

Integritas Sikap inovatif

Kinerja dosen

Deskriptif korelasion al

4. Pengaruh Sikap Inovatif dan Motif Berprestasi terhadap Prestasi Kerja Guru. Usaha untuk meningkatkan prestasi kerja, sikap inovatif dari guru memegang peranan penting. Karena dengan memiliki sikap inovatif para guru akan dapat menyesuaikan diri, kreatif, bersikap positif dan terbuka terhadap perubahan yang terjadi dalam lingkungan sekolah, terutama keterbukaan terhadap pengetahuan dan pengalaman tentang sesuatu yang baru , respon yang positif terhadap sesuatu yang baru, kreatifitas guru akan meringankan dan memperlancar pelaksanaan tugas-tugas guru. Pelaksanaan tugas yang lancar akan menimbulkan gairah kerja yang cenderung akan meningkatkan prestasi kerja. Prestasi kerja berkaitan juga dengan motif berprestasi, karena motif berprestasi adalah suatu dorongan yang kuat dari diri guru untuk meraih prestasi. Dorongan yang kuat dari dalam diri guru tercermin dalam perilakunya, yaitu memiliki

44

kepercayaan dalam menghadapi tugas, memiliki sikap yang lebih berorientasi ke depan, tidak suka membuang-buang waktu, memilih teman kerja yang berkualitas, mempunyai semangat yang tinggi. Penelitian terdahulu seperti telah dijelaskan pada poin 3 (tiga) maping penelitian terdahulu memiliki kesamaan paradigma dengan penelitian ini yang bertujuan untuk melihat hubungan assosiatif kausal antara 2 variabel independen terhadap 1 variabel dependen yang sama yaitu prestasi kerja. Hasil analisis data juga menunjukkan kesimpulan yang sama yaitu adanya pengaruh atau hubungan yang signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen baik secara parsial maupun secara bersama-sama, dimana hasil uji asumsi klasik regresi berganda dapat diterima. Cerminan perilaku sikap inovatif dan motif berprestasi seperti dijelaskan pada poin 1 dan 2 di atas secara parsial berpengaruh terhadap peningkatan prestasi kerja guru. Para peneliti terdahulu telah meneliti dan membuktikan secara ilmiah bahwa baik variabel sikap inovatif dengan variabel lainnya diluar variabel motif berprestasi maupun variabel motif berprestasi dengan variabel lainnya diluar variabel sikap inovatif berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi kerja. Dalam penelitian ini perlu kiranya diteliti pengaruh sikap inovatif dan motif berprestasi secara bersamasama terhadap prestasi kerja. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dan memperhatikan fenomena prestasi kerja guru SMP negeri di kota Sibolga penulis berkeinginan untuk meneliti Pengaruh Sikap Inovatif dan Motif Berprestasi terhadap Prestasi Kerja Guru SMP negeri kota Sibolga, dengan paradigma yang menggambarkan antara sikap inovatif (X1), dan

45

motif berprestasi (X2), berpengaruh terhadap prestasi kerja guru SMP Negeri kota Sibolga (Y) sebagaimana dapat dilihat pada gambar 2.2 berikut :

VARIABEL BEBAS VARIABEL TERIKAT

SIKAP INOVASI ( X1) PRESTASI KERJA ( Y)
1. Pengetahuan / Pengalaman tentang sesuatu yang baru 2. Respon terhadap pembaharuan 3. Kreatifitas

1. 2. 3. 4.

MOTIF BERPRESTASI (X2)
1. Memiliki kepercayaan dalam menghadapi tugas 2. Memiliki sikap yang lebih berorientasi kedepan 3. Tidak suka membuang – buang waktu 4. Memilih teman kerja yang berkualitas 5. Mempunyai semangat tinggi

Tanggung jawab Kerjasama Prakarsa Membuat perangkat pembelajaran 5. Melaksanakan kegiatan pembelajaran 6. Melaksanakan analisis hasil evaluasi 7. Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan 8. Membuat alat pelajaran / alat peraga 9. Mengikuti kegiatan pengembangan dan pemasyarakatan kurikulum 10. Mengumpulkan dan menghitung angka kredit kenaikan pangkat.

Gambar 2.2. Paradigma Pengaruh Variabel X terhadapVariabel Y

46

5. Hipotesis Penelitian Berdasarkan kerangka berpikir, variabel penelitian dan defenisi operasional di atas, maka dapat diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut : 1. Terdapat pengaruh yang signifikan dari sikap inovatif terhadap prestasi kerja guru SMP Negeri Kota Sibolga 2. Terdapat pengaruh yang signifikan dari motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru SMP Negeri Kota Sibolga 3. Terdapat pengaruh yang signifikan dari sikap inovatif dan motif berprestasi, secara bersama sama terhadap prestasi kerja guru SMP Negeri Kota Sibolga Hipotesis penelitian ini dapat ditulis dengan notasi statistik sbb : 1. Ho : ρy.x1 Ha : ρy.x1 2. Ho : ρy.x2 Ha : ρy.x2 3. Ho : ρy.x1,2 Ha : ρy.x1,2 = 0 ( tidak terdapat pengaruh dari X1 terhadapY ) ≠ 0 ( terdapat pengaruh dari X1 terhadap Y ) = 0 ( tidak terdapat pengaruh dari X2 terhadap Y ) ≠ 0 ( terdapat pengaruh dari X2 terhadapY ) = 0 ( tidak terdapat pengaruh dari X1 dan X2 terhadap Y ) ≠ 0 ( terdapat pengaruh dari X1 dan X2 terhadap Y )

C. Definisi Konsep dan Operasional Dalam penelitian ini ada dua jenis variabel, yakni variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah (1) sikap inovatif (X1), (2) motif berprestasi (X2) sedangkan variabel terikat adalah prestasi kerja guru (Y). Setiap variabel diperjelas dengan defenisi dan indikatornya masing-masing.

47

Berdasarkan indikator variabel yang diteliti maka penelitian ini menggunakan pengukuran dengan skala Likert yaitu digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2006). Untuk keperluan analisis kuantitatif penelitian maka peneliti memberikan alternatif jawaban kepada responden dengan menggunakan skala 1- 5 yang dapat dilihat pada Tabel 2.2 berikut ini: Tabel 2.2 Defenisi Konsep dan Operasional Variabel Pengertian Indikator 1. Pengetahuan tentang komputer atau alat teknologi baru 2. Pengetahuan tentang informasi baru 3. Respon terhadap inovasi 4. Kemampuan memecahkan masalah 5. Imajinatif 6. Penemuan dan pelayanan produk baru 1.Memiliki kepercayaan dalam menghadapi tugas 2.Memiliki sikap berorientasi kedepan 3.Tidak suka membuangbuang waktu 4.Memilih teman kerja 5.Mempunyai semangat tinggi Skala Likert 1=Sangat Tidak Setuju 2=Tidak Setuju 3=Kurang Setuju 4=Setuju 5=Sangat Setuju

X1: Sikap Suatu kecenderungan Inovatif seseorang untuk bereaksi atau berinteraksi terhadap hal-hal baru yang berhubungan dengan pengetahuan teknologi dan informasi tercermin dari pengetahuan atau pengalaman yang baru, respon terhadap hal yang baru dan kreatifitas menciptakan hal yang baru

X2: Motif Berprestasi

Sesuatu yang ada pada diri individu yang menggerakkan atau membangkitkan individu sehingga memiliki prestasi tinggi, memiliki moral kerja atau semangat kerja yang tinggi dan suka bekerja keras, serta selalu berusaha menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya.

1=Tidak Pernah 2=Jarang 3=Kadangkadang 4=Sering 5=Selalu

48

Variabel

Pengertian

Indikator 1.Tanggungjawab 2.Kerjasama 3.Prakarsa/proaktif 4.Membuat perangkat pembelajaran 5.Melaksanakan pembelajaran 6.Melaksanakan analisis hasil ulangan 7.Melaksanakan program perbaikan dan pengayaan 8.Membuat alat peraga/media 9.Mengikuti kegiatan pengembangan dan pemasyarakatan kurikulum 10.Mengumpulkan dan menghitung angka kredit kenaikan pangkat.

Skala Likert 1=Tidak Pernah 2=Jarang 3=Kadangkadang 4=Sering 5=Selalu

Y: Prestasi Hasil kerja guru yang Kerja Guru dicapai seorang guru melalui pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya. Hasil kerja guru diukur dari sikap dan perilakunya dalam melaksanakan tugas dan dari hasil pelaksanaan tugas itu sendiri.

49

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian maka penelitian ini

menggunakan jenis penelitian eksplanatori, yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara variable-variabel melalui pengujian hipotesis (Singarimbun dan Effendi, 1989;43) yaitu menjelaskan pengaruh variabel sikap inovatif dan motif berprestasi terhadap kepuasan Prestasi kerja Guru SMP Negeri Kota Sibolga Sedangkan menurut Faisal (1992) explanatory research ditujukan untuk menemukan dan mengembangkan teori sehingga hasilnya dapat menjelaskan terjadinya seuatu gejala atau kenyataan sosial tertentu. Penelitian ini dilakukan pada SMP Negeri yang ada di Kota Sibolga, dengan subjek penelitiannya adalah para guru SMP yang sudah pegawai negeri. Pemilihan tempat penelitian ini adalah didasarkan pada fenomena yang terjadi pada sekolah tersebut sesuai dengan permasalahan yang dibahas. Waktu penelitian dimulai dari bulan Juli sampai dengan Oktober 2008. Penelitian ini bersifat deskriptif. Menurut Bets (1982) penelitian deskriptif ialah suatu analisis untuk menjawab pertanyaan pengaruh beberapa variabel. Variabel yang dikaji dibedakan atas dua hal yaitu variabel bebas yang terdiri dari sikap inovatif dan motif berprestasi, sedangkan variabel terikat adalah prestasi kerja guru. Penelitian ini menitikberatkan pada pengaruh variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat. Dengan demikian arah kajiannya adalah pada studi regresi.

49

50

B. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian Populasi Penelitian ini adalah guru SMP Negeri Kota Sibolga, ada 7 SMP negeri di Kota Sibolga, dengan jumlah guru yang berstatus pegawai negeri sebanyak 234 orang. Distribusi jumlah guru untuk masing-masing SMP dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut: Tabel 3.1 Distribusi Populasi Setiap Sekolah No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Nama Sekolah SMP Negeri 1 Sibolga SMP Negeri 2 Sibolga SMP Negeri 3 Sibolga SMP Negeri 4 Sibolga SMP Negeri 5 Sibolga SMP Negeri 6 Sibolga SMP Negeri 7 Sibolga Jumlah guru Jumlah Guru 42 35 37 39 37 24 20 234

2. Sampel Penelitian. Untuk mentukan jumlah sampel digunakan teknik stratified proportional random sampling bagi masing-masing sekolah. Teknik ini digunakan karena

memperhitungkan banyaknya guru dari masing-masing sekolah tidak sama. Dengan demikian karakteristik populasi akan terwakili secara optimal didalam sampel. Untuk menetukan besarnya sampel dipakai rumus Cochran (1977). Penetapan strata populasi ditetapkan atas dasar tiga pertimbangan (1) jenjang pendidikan guru (2) masa kerja guru, (3) golongan (pangkat) guru. Jenjang pendidikan guru dibagi menjadi dua bagian yakni sarjana dan non sarjana. Masa kerja

51

guru juga dibagi dalam dua kategori yakni masa kerja > 10 tahun dan < 10 tahun. Sedangkan golongan (pangkat) guru dibagi dalam dua bagian yakni golongan III dan golongan IV. Penyebaran populasi berdasarkan tiga strata adalah sebagaimana terlihat pada Tabel 3.2 sebagai berikut : Tabel 3.2 Distribusi Populasi Berdasarkan Strata. No. 1. 2. 3. Sub Kategori a. Sarjana Pendidikan b. Non Sarjana a. > 10 tahun Masa Kerja b. < 10 tahun a. III Golongan (Pangkat) b. IV Kategori (Strata) Jumlah 106 128 149 85 175 59 % 45 55 64 36 75 25

Berdasarkan ciri-ciri populasi di atas, maka penentuan sampel dalam penelitian ini lebih sesuai dengan penentuan sampel berdasarkan rumus Cochran (1977) dengan rumus sebagai berikut: t2 x p x q no = -------------d
2

Selanjutnya nilai no yang terbesar dikoreksikan kedalam rumus : no n = -------------no – 1 1 + ------N

52

Dimana : no = besar sample tahap pertama N = jumlah populasi penelitian N = besar sample tahap kedua t = besarnya z sesuai dengan taraf signifikansi 95 % p = besarnya proporsi kelompok pertama dalam strata. q = 1-p ( besarnya proporsi kelompok kedua dalam strata ) d = besarnya kekeliruan pengambilan sample, ditetapkan 10 %

a. Perhitungan proporsi masing-masing strata dilakukan sebagai berikut : a. Untuk strata jenjang pendidikan dengan proporsi : p1 = (106/234) = 0,45 q1 = 1 – 0,45 = 0,55

b. Untuk Strata masa kerja, dengan proporsi : p2 = (149/234) = 0,64 q2 = 1 – 0,64 = 0,36

3. Untuk strata golongan kepangkatan, dengan proporsi : p3 = (143/234) = 0,75 q3 = 1 – 0,75 = 0,25

Dari hasil perhitungan proporsi strata, maka untuk perhitungan sampel digunakan rumus Cochran yaitu : 1,96 x0,45x0,55 no = ------------------------- = 95,08 dibulatkan menjadi 95 0,01
2

53

b. Karena perhitungan di atas menghasilkan sampel yang dianggap masih besar, maka nilai sampel tahap pertama (no) dikoreksi agar menjadi kecil dengan

rumus koreksi Cochran yaitu : 1. Untuk perhitungan sampel berdasarkan tingkat pendidikan : no n = -------------no – 1 1 + ------N 95 n = -------------- = 67,85 dibulatkan menjadi 68 95 – 1 1 + ------234 2. Perhitungan sampel berdasarkan masa kerja : 1,962 x0,64x0,36 no = ------------------------- = 88,51 dibulatkan menjadi 89 0,01 89 n = -------------- = 64,51 dibulatkan menjadi 65 89 – 1 1 + ------234

54

3. Perhitungan sampel berdasarkan golongan pangkat : 1,96 2 x0,75x0,25 no = ------------------------- = 72,03 dibulatkan menjadi 72 0,01

72 n = -------------- = 55,38 dibulatkan menjadi 55 72 – 1 1 + ------234

Tabel 3.3 Hasil Perhitungan Sampel No. 1, 2. 3. Strata Jenjang Pendidikan Masa kerja Golongan/pangkat p 0,45 0,64 0,75 q 0,55 0,36 0,25 d 0,10 0,10 0,10 no 95 89 72 n 68 65 55

Dari tabel 3.3 di atas dapat dilihat bahwa sampel penelitian ini adalah sebanyak 68 orang (hasil paling besar dari perhitungan dengan rumus koreksi Cochran) yang diambil secara random berdasarkan strata jenjang pendidikan, masa kerja dan golongan/pangkat dari seluruh SMP negeri di kota Sibolga. Persentase sampel untuk masing-masing strata adalah perbandingan jumlah sampel yang terbesar dengan jumlah populasi yaitu:

55

68 ------ x 100 % = 29,05 % 234 Berdasarkan jumlah sampel di atas, rincian masing-masing strata dapat dilihat pada Tabel 3.4 berikut : Tabel 3.4 Jumlah Sampel Setiap Strata No. Pendidikan Masa kerja Golongan/ Pangkat III 1 Sarjana < 10 Tahun > 10 Tahun IV III IV III 2 Non Sarjana < 10 Tahun > 10 Tahun IV III IV Jumlah …………… Jlh Sampel 22 0 6 4 3 0 20 13 68

Penentuan sampel dari setiap unit SMP negeri kota Sibolga meskipun ditentukan secara random tetapi tetap berdasarkan strata pendidikan, masa kerja dan golongan. Jumlah sampel penelitian dari setiap unit SMP negeri adalah sebagaimana tertera dalam Tabel 3.5 sebagai berikut:

56

Tabel 3.5 Jumlah Sampel Setiap Unit SMP negeri kota Sibolga No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Unit Sekolah SMP Negeri 1 Sibolga SMP Negeri 2 Sibolga SMP Negeri 3 Sibolga SMP Negeri 4 Sibolga SMP Negeri 5 Sibolga SMP Negeri 6 Sibolga SMP Negeri 7 Sibolga Jumlah ……….. Jumlah (Orang) 12 10 11 11 11 7 6 68

C. Instrumen Penelitian Sesuai dengan variabel penelitian yang telah disebutkan sebelumnya, ada tiga jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini (1) data sikap inovatif, (2) data motif berprestasi, dan (3) data prestasi kerja guru. Ketiga jenis data penelitian tersebut dijaring dengan menggunakan kuesioner atau angket, yang masing-masing dengan mempedomani model skala likert. Disamping itu digunakan juga metode dokumentasi untuk mendapatkan data sekunder. Guna mendapatkan data penelitian digunakan kuesioner, untuk variabel sikap inovatif pernyataan berbentuk opini dengan menggunakan alternatif sangat setuju (SS), setuju (S), kurang setuju (KS), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS) dengan skala nilai yang digunakan adalah 5,4,3,2 dan 1.Adapun kisi-kisi instrument sikap inovatif adalah seperti dalam Tabel 3.6 berikut:

57

Tabel 3.6 Kisi-kisi Instrumen Sikap Inovatif. Variabel Sikap inovatif (X1) Subvariabel Pengetahuan/ pengalaman tentang sesuatu yang baru (inovasi) Respon Indikator 1) Pengetahuan tentang Komputer, 2) Pengetahuan tentang informasi baru, 3) Menerima dan mendukung ide-ide baru, 4) Perubahan cenderung mendorong semangat, 5) Perubahan membuat semakin berprestasi, 6) Sering mencoba ide-ide baru, 7) Perubahan teknologi meningkatkan minat dalam bekerja, 8) Kemampuan memecahkan masalah, 9) Imajinatif 10) Penemuan pelayanan Produk baru Skala 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5

Kreatifitas

1-5 1-5 1-5

Untuk variabel motif berprestasi, pernyataan berbentuk frekwensi dengan menggunakan alternative selalu (SL), sering (SR), kadang-kadang (KD), jarang (JR), tidak pernah (TP) dengan skala nilai yang digunakan adalah 5,4,3,2 dan 1. Adapun kisi-kisi instrument Motif berprestasi dapat dilihat dalam tabel :

58

Tabel 3.7. Kisi-kisi Instrumen Motif Berprestasi. Variabel Motif Berpres tasi (X2) Subvariabel Keinginan untuk berprestasi Indikator 1) Memiliki kepercayaan dalam menghadapi tugas, 2) Memiliki sikap yang lebih Berorientasi kedepan, 3) Tidak suka membuangbuang waktu, 4) Memilih teman kerja, 5) Mempunyai semangat tinggi Skala 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5

Untuk variabel prestasi kerja guru, pernyataan berbentuk frekuensi diisi oleh kepala sekolah dengan menggunakan lembar observasi beserta deskriptornya yang diberi bobot dengan skor 1,2,3,4 dan 5, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dan dipenuhi oleh guru. Adapun kisi-kisi instrument observasi kerja dapat dilihat pada tabel:

59

Tabel 3.8 Kisi-kisi Instrumen Observasi Prestasi Kerja Variabel Prestasi Kerja (Y) Subvariabel Perilaku guru Indikator 1. Tanggung jawab 2. Kerjasama 3. Prakarsa/proaktif 4. Membuat perangkat pembelajaran 5. Melaksanakan kegiatan pembelajaran 6. Melaksanakan analisis hasil Ulangan 7. Menyusun dan melaksanakan Program perbaikan dan Pengayaan 8. Membuat alat pelajaran/alat Peraga/media 9. Mengikuti kegiatan Pengembangan dan pemasyarakatan kurikulum 10. Mengumpulkan dan menghitung Angka kredit kenaikan pangkat Skala 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5

Pelaksanaan tugas

1-5 1-5

1-5

1. Uji Coba Instrumen Sebuah instrument dikatakan baik sebagai alat ukur apabila memiliki ciri-ciri valid (sahih) dan andal ( reliable ). Ujicoba instrument dimaksud untuk melihat keandalan dan kesahihan ( reliabilitas dan validitasnya) instrument tersebut. Adapun manfaat yang diperoleh dari proses uji coba instrument adalah : 1. 2. 3. Mengidentifikasi bias yang disebabkan oleh urutan pertanyaan Menemukan item-item yang tidak jelas dan penyebabnya Memperbaiki pemilihan kata dan kalimat dalam instrumen

60

4. 5.

Menemukan adanya pertanyaan yang menimbulkan multi interpretasi Menghilangkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu dan menambahkan yang diperlukan

6.

Mengidentifikasikan kesulitan pencatatan (atas jawaban)

Setelah diuji coba, instrument dapat disempurnakan menjadi lebih baik sehingga dapat mengukur nilai yang seharusnya diukur (valid) dan konsisten (handal). Prosedur uji coba angket ditempuh dengan tahapan sebagai berikut (1) penentuan responden uji coba, (2) pelaksanaan uji coba dan (3) analisis uji coba.

2. Penentuan Responden Uji Coba Responden uji coba diambil dari anggota populasi sebanyak 30 orang. Penentuan jumlah responden uji coba sebanyak 30 orang dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi syarat minimum sampel penelitian kuantitatif. Responden uji coba berasal dari populasi yakni guru yang bertugas di 7 (tujuh) SMP Negeri yang ada di kota Sibolga. Pemilihan responden uji coba dilakukan secara purposive sampling (pemilihan sampel non acak dan sesuai dengan kriteria yang diinginkan).

3. Pelaksanaan uji Coba Angket Uji coba instrument dilaksanakan pada tanggal 21 Agustus 2008 dengan cara membagikan kuesioner kepada guru yang terpilih sebagai responden uji coba. Khusus untuk instrument observasi di isi oleh kepala sekolah dengan cara mengobservasi guru yang menjadi responden uji coba dari unit sekolah yang dipimpinnya. Setelah kuesioner dan hasil observasi terkumpul selanjutnya dianalisis.

61

4. Analisis Uji Coba Menurut Ary (1985) : Validitas ( kesahihan) adalah menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur mampu mengukur apa yang hendak diukur dan reliabilitas (keterandalan) mengacu pada sejauh mana suatu alat ukur secara konsisten mengukur apa yang diukurnya. Dengan demikian analisis instrument bertujuan untuk mengetahui sumbangan butir-butir pernyataan indikator dalam masing-masing variabel, serta untuk menseleksi butir-butir soal yang layak dipertahankan atau yang harus dihilangkan.

a). Analisis Validitas Untuk memperoleh validitas (kesahihan) instrument, dilakukan anlisis validitas antara lain : Validitas isi ( content validity ) dan validitas konstruk ( construk validity). Analisis tersebut dilakukan melalui penelaahan yang cermat dan kritis terhadap butir-butir item pertanyaan dalam kuesioner sekaligus memeriksa relevansinya dengan indiktor setiap variabel yang secara berkelanjutan dibimbing oleh dosen pembimbing. Untuk menganalisis hubungan antar butir-butir dari masing-masing variabel, dilakukan dengan mengkorelasikan antara skor butir angket dengan skor total. Teknik analisis yang digunakan adalah Corrected Item-Total Correlation yang diperoleh dengan bantuan program komputer SPSS for Windows versi 16.

62

b). Uji Reliabilitas Reliabilitas biasanya didefinisikan sebagai kekonsistenan dari alat ukur yang digunakan. Kekonsistenan merupakan salah satu dari aspek reliabilitas. Selvilla dkk (1993) menyatakan bahwa reliabilitas adalah “derajat ketepatan dan ketelitian atau akurasi yang ditunjukkan oleh instrument pengukuran “. Uji reliabilitas (reliability analysis) dapat dilakukan untuk melihat keterandalan setiap variabel. Keterandalan dianalisis dengan metode Alpha Cronbach dengan bantuan Komputerisasi Program SPSS for windows versi 16.

5. Hasil Uji Coba Instrumen Dari hasil uji coba instrumen penelitian yang diberikan kepada 30 orang guru SMP Negeri kota Sibolga yang merupakan responden uji coba, maka didapat hasil sebagai berikut : Tabel 3.9. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pada Instrument Penelitian Jumlah item variabel tidak valid 2 pernyataan 6 pernyataan Pertanyaan yang dihilangkan X111 dan X112 X21, X23, X27, X212, X29, X214 Y8 Uji Reliability (Cronbach's Alpha) 0,877 0,837

Variabel Sikap inovatif (X1) (Motif Berprestasi (X2) Prestasi Kerja (Y)

Jumlah item variabel 21 pertanyaan 15 pertanyaan

23 pertanyaan

1 pernyataan

0,949

Dengan demikian, beberapa pernyataan yang kurang tepat akhirnya dihilangkan dari instrument dan selanjutnya pernyataan yang ada diperbaiki secara redaksional

63

bahasa untuk selanjutnya disebarkan ke responden untuk mengumpulkan data penelitian.

D. Prosedur Pengumpulan Data. Pengumpulan data khusus untuk kuesioner dilakukan secara langsung kepada responden dengan bantuan kepala sekolah atau wakil kepala sekolah dan tata usaha masing-masing sekolah dengan harapan mereka mengisi angket secara terbuka, jujur dan sesuai dengan apa yang mereka rasakan dari pengalaman kerja mereka. Untuk mengantisipasi kesibukan para guru, maka pengisian kuesioner diberikan waktu lebih kurang 1(satu) minggu. Pengumpulan data prestasi kerja guru dilakukan dengan pengamatan/observasi langsung oleh kepala sekolah terhadap guru karena tugas kepala sekolah sehari harinya adalah mensupervisi dan memonitor pelaksanaan tugas-tugas guru di sekolah. Kepala sekolah diminta mengisi lembar observasi yang telah dipersiapkan untuk mengukur sejauh mana pelaksanaan tugas para guru yang dipimpinnya.

E. Metode Analisa Data Kuesioner yang telah dikumpulkan dan berisi respon jawaban dari responden akan diproses untuk dapat dianalisis sehingga memberikan informasi dan kesimpulan penelitian. Adapun tahapan pemrosesan data terdiri dari : 1. Pengecekan pengisian instrument (kuesioner) oleh peneliti untuk memastikan kelengkapan, kebenaran dan keabsahan data,

64

2. Pembuatan coding atau pengkodean dengan tujuan untuk mengecek kembali kelengkapan setiap jawaban sekaligus memberikan tanda agar memudahkan (menyeragamkan) dalam proses entry data, 3. Proses pengetikan data ke media elektronik (komputer), 4. Proses pembersihan data dilakukan untuk menjamin free error dan kelengkapan data, serta menghindari kesalahan “logic”, 5. Pemrosesan data ditujukan untuk meringkas data dalam bentuk tabulasi dasar (basic tabulation) dan dilanjutkan dengan dengan uji signifikansi secara statistik, Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah persamaan regresi berganda, dimana teknik yang digunakna adalah Ordinary Least Square (OLS). Prosedur analisis regresi meliputi beberapa pengujian : a. Uji asumsi sebaran variabel dependent (Y). Pada metode Ordinary Least Square (OLS), sebaran variabel terikat (Y) seharusnya mengikuti sebaran normal ∼ ( µy , σ2y). Untuk melakukan uji normalitas pada variabel terikat (Y) dapat dilakukan dengan teknik uji Kolmogorof-Smirnov (Uji K-S). b. Uji asumsi klasik yaitu pengujian pada sisaan model (tingkat kesalahan /error) Model dapat digunakan apabila sisaan model (ei) telah memenuhi asumsi OLS, yaitu : • Sisaan Model (ei) menyebar normal Untuk mengetahui apakah Sisaan model (ei) menyebar normal, maka perlu dilakukan Uji normalitas (normality test) yaitu dengan 2 cara, pertama analisis

65

visual dengan grafik (yaitu grafik normal P-P plot) dan uji KolmogorofSmirnov. Metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS 15. • Variabel X1 dan X2 tidak memiliki korelasi yang berarti, atau dengan kata lain tidak terjadinya multikolinieritas pada model. Jika terjadi korelasi antar variabel bebas akan memberikan efek pada membesarnya standard error peubah bebas. Untuk dapat menguji keberadaan multikolliniearitas, dapat menggunakan VIF (Variance Inflation Factor). • Homoskedastisitas Model persamaan regresi sebaiknya memenuhi asumsi homoskedastisitas, yaitu Kehomogenan ragam (variance) dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance tetap maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda maka terjadi problem heteroskedastisitas. Model regresi yang baik yaitu homoskesdatisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Ada beberapa cara untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas yaitu melihat secara grafik pada scatter plot (nilai prediksi dependen vs residual) dan statistik uji Goldfeld-Quandt. c. Pengujian tingkat signifikansi simultan atau uji signifikansi secara bersama-sama pengaruh varibel bebas terhadap variabel terikat (uji statistik F) dengan analisis ragam (Analysis of Varian-ANOVA). Model persamaan regresi merupakan sebuah persamaan yang menjelaskan hubungan antara variabel-variabel yang diteliti, dimana sekumpulan variabel bebas (X) dapat menjelaskan dinamika variabel terikat (Y). Jika model secara

66

statistik terbukti nyata pada taraf α = 0,05, maka model dapat dikatakan bermakna secara statistik. d. Pengujian tingkat signifikansi parameter individual atau uji signifikansi secara parsial pengaruh variabel bebas (X1 dan X2) terhadap variabel terikat (Y) dilaksanakan dengan uji statistik t.

67

BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Kota Sibolga Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah salah satu lembaga pendidikan formal yang bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar bagi siswa. Bekal tersebut berupa perluasan dari pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari sekolah dasar. Di kota Sibolga yang terletak dipantai barat Sumatera Utara terdapat 14 Sekolah Menengah Pertama (SMP) terdiri dari 7 (tujuh) unit SMP negeri yang merupakan objek penelitian dan 7 (tujuh) unit SMP swasta. Ketujuh SMP Negeri kota Sibolga secara umum dapat mengemban tugas sesuai tugas pokok dan fungsinya sebagai lembaga pendidikan dasar sebagaimana program pemerintah Republik Indonesia dalam Wajib belajar pendidikan dasar tahun yang dicanangkan sejak tahun 1983 yang lalu. Sebagai Unit pelaksana Teknis Kegiatan (UPT) dinas Pendidikan Kota Sibolga maka seluruh SMP negeri melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada dinas pendidikan kota Sibolga berdasarkan Peraturan Daerah Kota Sibolga no 11 tahun 2008 tentang pembentukan organisasi dinas-dinas kota Sibolga dan Peraturan Walikota Sibolga nomor:188.3.342/24/2008 tentang penjabaran tugas pokok dan fungsi para pejabat di lingkungan dinas-dinas kota Sibolga. Sembilan

67

68

SMP negeri di kota Sibolga telah dapat menampung siswa sekolah dasar lulusan dari kota Sibolga dan bahkan masih dapat menampung siswa lulusan sekolah dasar dari daerah tetangga kabupaten tapanuli tengah maupun kabupaten nias dan nias selatan.

2. Gambaran Umum Responden Penelitian Responden penelitian adalah guru SMP negeri kota Sibolga sebanyak 68 orang tersebar pada 7 SMP negeri yang ada di kota Sibolga. Lokasi SMP negeri tersebut berada pada radius 3 (tiga) Km dari kantor dinas pendidikan sehingga mudah dijangkau oleh peneliti dalam menyebarkan dan mengumpulkan kuesioner sehingga tingkat penegembalian kuesioner mencapai 100%. Bantuan kepala sekolah dan wakil kepala sekolah serta pegawai tata usaha sekolah juga adalah faktor yang mendukung dalam keberhasilan pengembalian kuesioner. a. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan hasil penelitian bahwa karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin sebagaimana tertera dalam Tabel 4.1 berikut: Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin No 1 2 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Jumlah (orang) 15 53 68 Persentasi 25,06 74,94 100

Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

Dari Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa responden dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 15 orang (25,06%), dan jenis kelamin wanita sebanyak 53 orang (74,94%). Berdasarkan karakteristik jenis kelamin tersebut menunjukkan bahwa jumlah

69

responden Perempuan lebih banyak dari pada jumlah laki-laki. Data ini semakin menegaskan bahwa jumlah guru yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dari laki-laki. b. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Berdasarkan hasil penelitian bahwa karakteristik responden berdasarkan usia sebagaimana tertera pada Tabel 4.2 berikut: Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia No. 1 2 3 4 5 6 Umur (Tahun) 25-30 31-36 37-42 43-48 49-54 55-60 Jumlah Jumlah 6 9 14 23 13 3 68 Persentase 8,83 13,23 20,59 33,82 19,11 4,41 100

Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

Dari Tabel 4.2 dapat dijelaskan bahwa responden yang berusia 25-30 tahun sebanyak 6 orang (8,83%), 31-36 tahun sebanyak 9 orang (13,23%), 37-42 tahun sebanyak 14 orang (20,59%), 43-48 tahun sebanyak 23 orang (33,82%), 49-54 tahun 13 orang (19,11%), 55-60 tahun sebanyak 3 orang (4,41%) .Karakteristik responden berdasarkan usia menunjukkan bahwa jumlah 37-54 tahun sebanyak 50 orang (73,52%) artinya responden berada pada usia dewasa produktif dan sudah berpengalaman dibidangnya sehingga dapat diharapkan lebih bertanggung jawab, lebih mampu meningkatkan prestasi dan lebih produktif dalam menjalankan tugas. c. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Berdasarkan hasil penelitian bahwa karakteristik responden berdasarkan pendidikan sebagaimana tertera pada Tabel 4.3 berikut:

70

Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan No. 1 2 3 4 Tingkat Pendidikan SLTA/PGSLP/D.I D.II/A.II D.III/A.III Sarmud Sarjana Jumlah Jumlah(orang) 15 5 16 32 68 Persentase 22,05 7,35 23,52 47,06 100 berpendidikan

Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

Dari Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa responden yang

SLTA/PGSLP/D.I/A.I sebanyak 15 orang (22,05%), D.II/A.II sebanyak 5 orang (7,35%), D.III/A.III Sarjana muda sebanyak 16 orang (23,52%), Sarjana sebanyak 32 orang (47,06%).Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan yang dimiliki responden menunjukkan bahwa 32 orang (47,06%) memiliki latar belakang pendidikan sarjana dimana sangat dimungkinkan mampu melaksanakan tugas sebagai guru lebih baik. Namun demikian masih terdapat 36 orang (52,94%) responden yang memiliki latar belakang pendidikan non sarjana yang sangat perlu mendapat perhatian peningkatan kualifikasi pendidikan artinya masih lebih banyak responden berada pada tingkat pendidikan non sarjana. Oleh karena itu sebaiknya dilakukan peningkatan pendidikan kepada guru yang non sarjana. d. Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja Berdasarkan hasil penelitian bahwa karakteristik responden berdasarkan masa kerja sebagaimana tertera pada Tabel 4.4 berikut:

71

Tabel 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja No. 1 2 3 4 5 6 Masa Kerja 6-10 11-15 16-20 21-25 26-30 31-34 Jumlah Jumlah (orang) 28 3 4 20 6 7 68 Persentase 41,17 4,41 5,88 29,41 8,84 10,29 100

Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

Dari Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa responden dengan masa kerja 6-10 tahun sebanyak 28 orang (41,17%), 11-15 tahun sebanyak 3 orang (4,41%), 16-20 tahun sebanyak 4orang (5,88%), 21-25 tahun sebanyak 20 orang (29,41%), 26-30 tahun 6 orang (8,84%), 31-34 tahun sebanyak 7 orang (10,29%) .Karakteristik berdasarkan masa kerja responden menunjukkan bahwa sebanyak 37 orang (54,41%) responden memiliki masa kerja di atas 16 tahun, sehingga diharapkan sudah memiliki pengalaman pengetahuan serta keterampilan yang cukup dalam melaksanakan tugas sebagai seorang pendidik. e. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkatan Golongan Berdasarkan hasil penelitian bahwa karakteristik responden berdasarkan tingkatan golongan sebagaimana tertera pada Tabel 4.5 berikut: Tabel 4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkatan Golongan No. 1 2 Golongan III IV Jumlah Jumlah (orang) 51 17 68 Persentase 75 25 100

Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

72

Dari Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa responden yang memiliki golongan IV sebanyak 17 orang (25,%), dan golongan III sebanyak 51 orang (75%). Berdasarkan karakteristik tingkatan golongan tersebut diharapkan responden masih berusaha untuk meningkatkan prestasi kerjanya dengan mengumpulkan angka kredit jabatan fungsional guru. B. Deskripsi Data Penelitian Deskripsi data berguna untuk memudahkan pemahaman terhadap hasil penelitian. Deskripsi data penelitian ini secara berturut-turut dimulai dari data variable sikap inovatif (X1), motif berprestasi (X2), dan prestasi kerja (Y). Dari perhitungan data diperoleh skor tertinggi, skor terendah, rata-rata dan standard deviasi sebagaimana terlihat pada Tabel 4.6 berikut: Tabel 4.6. Deskripsi Data Sikap Inovatif, Motif Berprestasi dan Prestasi Kerja Variabel Sikap Inovasi (X1) Motif Berprestasi (X2) Prestasi Kerja (Y) Jumlah Responden (N) Dimana : a. X1 : Penjumlahan skor item variabel sikap inovatif b. X2 : Penjumlahan skor item variabel motif berprestasi c. Y : Penjumlahan skor item variabel prestasi kerja guru N 68 68 68 68 Terendah 56.00 26.00 61.00 Tertinggi 78.00 40.00 85.00 Rata-rata 65.3088 33.5147 75.7500 Standart Deviasi 6.28017 3.82253 5.02080

Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

73

C. Klasifikasi skor Data Setiap Variabel Klasifikasi skor data dalam penelitian ini dikategorikan ke dalam tiga kelompok yaitu 1.kategori tingkat tinggi, 2.kategori tingkat sedang, dan 3.kategori tingkat rendah . Dalam menentukan range untuk nilai klasifikasi skor data variabel penelitian, maka digunakan range sebagai berikut : 1. Kategori tingkat tinggi 2. Kategori tingkat sedang 3. Kategori tingkat rendah : Mean+1 SD ke atas : Mean-1 SD sampai dengan +1 SD : Mean-1 SD ke bawah

1. Klasifikasi skor data variabel sikap inovatif (X1) Untuk mengetahui klasifikasi skor data variabel sikap inovatif digunakan nilai rata-rata 65,31 dan simpangan baku 6,28. Hasil klasifikasi skor data variabel sikap inovatif dapat dilihat pada Tabel 4.7 sebagai berikut: Tabel 4.7 Klasifikasi Skor Data Variabel Sikap Inovatif (X1) Jenis Kategori X1 Kategori Tinggi Kategori Sedang Kategori Rendah Jumlah Interval >70,95 58,67 - 70,95 < 58,67 Frekuensi 10 35 23 68 Persen (%) 14,71% 51,47% 33,82% 100,00%

Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

Tabel 4.7 menunjukkan klasifikasi skor data variabel sikap inovatif guru yang termasuk kategori tinggi 10 orang (14,71%), kategori sedang sebanyak 35 orang (51,47%), kategori rendah sebanyak 23 orang (33,82%). Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki sikap inovatif pada kategori sedang karena belum seluruhnya atau belum secara umum guru SMP negeri di kota Sibolga memiliki atau berusaha untuk memiliki pengetahuan/pengalaman tentang hal-hal baru seperti

74

pengetahuan tentang komputer, mengakses informasi baru melalui internet, menerima dan mencoba ide-ide baru dalam pendidikan, menerima teknologi baru dan menerapkannya dalam bekerja, guru masih belum memaksimalkan kreatifitasnya malah enggan mencoba untuk kreatif. Alasan lain sikap inovatif guru berada pada kategori sedang karena berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan beberapa orang guru bahwa masih lebih banyak guru SMP negeri di kota Sibolga belum memiliki perangkat komputer. Walaupun Sekolah telah memiliki perangkat komputer dan internet para guru masih enggan untuk belajar mempergunakan alat teknologi tersebut. Banyak guru yang belum manyadari pentingnya sesuatu pembaharuan sekecil apapun pembaharuan itu, kalau sifatnya kearah positif pasti bermanfaat untuk pembelajaran. 2. Klasifikasi skor data variabel motif berprestasi (X2) Untuk mengetahui klasifikasi skor data variabel motif berprestasi digunakan nilai rata-rata 33,51 dan simpangan baku 3,82. Hasil klasifikasi skor data variabel motif berprestasi (X2) dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut: Tabel 4.8 Klasifikasi Skor Data Variabel Motif Berprestai (X2) Jenis Kategori X2 Kategori Tinggi Kategori Sedang Kategori Rendah Jumlah Interval > 37,34 29,69 – 37,34 < 29,69 Frekuensi 13 44 11 68 Percent (%) 19,12% 64,71% 16,18% 100,00%

Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

Tabel 4.8 menunjukkan bahwa klasifikasi skor data variabel motif berprestasi guru yang termasuk kategori tinggi 13 orang (19,12%), kategori sedang sebanyak 44 orang (64,71%), kategori rendah sebanyak 11 orang (16,18%). Dapat disimpulkan

75

bahwa sebahagian besar responden memiliki motif berprestasi pada kategori sedang karena belum seluruhnya atau belum secara umum guru SMP negeri di kota Sibolga berkeinginan cukup kuat untuk berprestasi seperti belum memiliki komitmen yang kuat dan selalu kurang percaya diri dalam menghadapi tugas, belum senantiasa memiliki sikap yang berorientasi ke depan, masih sering membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak produktif, masih suka bergaul dengan orang-orang yang kurang berprestasi, belum memiliki semangat yang tinggi.

3. Klasifikasi skor data variabel prestasi kerja guru (Y) Untuk mengetahui klasifikasi skor data variabel prestasi kerja guru digunakan nilai rata-rata 75,28 dan simpangan baku 5,71. Hasil klasifikasi skor data variabel prestasi kerja guru (Y) dapat dilihat pada Tabel 4.9 sebagai berikut: Tabel 4.9 Klasifikasi skor data variabel prestasi kerja guru (Y) Jenis Kategori Y Kategori Tinggi Kategori Sedang Kategori Rendah Jumlah Interval > 81,77 69,73 – 81,77 < 69,73 Frekuensi 16 39 13 68 Percent (%) 23,53% 57,35% 19,12% 100,00%

Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

Tabel 4.9 menunjukkan klasifikasi skor data variabel prestasi kerja guru yang termasuk kategori tinggi 16 orang (23,53%), kategori sedang sebanyak 39 orang (57,35%), kategori rendah 13 orang (19,12%). Dapat disimpulkan bahwa sebahagian besar responden memiliki prestasi kerja berada pada kategori sedang karena belum seluruhnya atau belum secara umum guru SMP negeri kota Sibolga yang dapat melaksanakan tugas dengan bertanggungjawab penuh, belum proaktif berprakarsa

76

yang baik, tidak mengembangkan kerjasama dengan sesama guru dengan maksimal, tidak membuat perangkat pembelajaran dengan baik dan benar, menyusun dan melaksanakan program pengajaran kurang serius. Agar terjadi peningkatan sikap inovatif, motif berprestasi dan prestasi kerja guru dari kategori sedang menjadi kategori tinggi perlu kiranya kepala sekolah menerapkan kebijakan mewajibkan guru untuk menggunakan teknologi baru dalam menunjang proses pembelajaran seperti memiliki buku-buku penunjang yang baru, dapat mengoperasikan komputer, mengakses internet untuk mendapatkan informasi baru tentang mata pelajaran yang akan diajarkannya, mempergunakan alat bantu pembelajaran seperti perangkat LCD. Para guru tidak berprestasi tinggi mengingat kurang jelasnya punishment dan reward terhadap prestasi tersebut. Masih terjadi kondisi bahwa guru yang berprestasi tinggi dan tidak berprestasi sama sekali tetap sama-sama menerima atau mendapatkan hak-haknya sebagai guru atau pegawai negeri sipil. Sistim penghargaan belum ditata dengan baik dan benar untuk seorang guru. Oleh karenanya kepala sekolah dapat menata dengan baik sistem penghargaan kepada guru yang melaksanakan inovasi (pembaharuan), memberikan penghargaan kepada yang memiliki motivasi yang tinggi dan sebaliknya memberikan sangsi kepada guru yang tidak melaksanakan inovasi dan tidak termotivasi dalam melaksanakan tugasnya.

D. Pengujian Persyaratan Analisis Sebelum pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan analisis statistika, maka perlu dilakukan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas pada sebaran variabel

77

dependent. Salah satu persyaratan

analisis yang harus dipenuhi agar dapat

menggunakan analisis regresi adalah data variabel dependen (Y) seharusnya menyebar normal. Untuk itu, perlu ditetapkan hipotesis sebagai berikut : H0 Ha : Data populasi berdistribusi normal : Data populasi tidak berdistribusi normal

Kriteria penolakan dan penerimaan hipotesis sebagai berikut: Terima H0 Tolak H0 : jika signifikansi statistik > 0,05 : jika signifikansi statistik < 0,05

Uji normalitas dapat dihitung dengan metode non paramaterik yaitu dengan metode kolmogorove smirnov. Data variabel Y akan dihitung dengan menggunakan software SPSS versi 16. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.10 sebagai berikut : Tabel 4.10 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test pada Variabel Prestasi Kerja One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Prestasi Kerja Guru N Normal Parameters Most Extreme Differences
a

68 Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative 75.7500 6.02080 .149 .092 -.149 1.228 .098

Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal
Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

78

Dari hasil uji normalitas pada variabel Y, diperoleh nilai Kolmogorov-Smirnov Z sebesar 1,228 dengan hasil uji signifikansi (2-tailed) sebesar 0,098 Sesuai dengan hipotesis uji, diyakini bahwa apabila nilai signifikansi lebih besar dari α (alpha) sebesar 0,05, maka tolak Ho. Dengan demikian, dapat dibuktikan secara statistik bahwa sebaran data untuk variabel Y adalah normal. Adapun plot grafik histogram dari sebaran Y dapat dilihat pada Gambar 4.1 sebagai berikut: Histogram Devenden Variabel Prestasi kerja Guru

Gambar 4.1 Histogram Normalitas Data
Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

79

E. Pengujian Asumsi Analisis Regresi Persamaan regresi dapat dikatakan baik apabila memenuhi syarat BLUE (Best Linier Unbiased Estimator) atau penduga linear terbaik yang tidak berbias. Dalam memenuhi syarat tersebut, maka perlu dilakukan analisis terhadap data sisaan (residual) dari model yang dihasilkan dari persamaan regresi. Adapun uji yang perlu dilakukan adalah uji Multikolonieritas, uji heteroskedastisitas, dan uji normalitas sisaan. a. Uji Multikolonieritas Uji Multikolonieritas pada prinsipnya adalah mendeteksi adanya hubungan korelasi yang kuat diantara variabel bebas atau antar variabel X. Menurut Gujarati, apabila terjadi hubungan yang erat pada variabel bebas, akan memberikan efek yang berarti pada standar error pada koefisien variabel bebas yang dihasilkan dari metode OLS. Sehingga akibatnya adalah kesalahan dalam memberikan kesimpulan pada keberartian peubah bebas yang terlibat di dalam model regresi. Multikolonieritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel manakah yang dijelaskan oleh variabel bebas lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap variabel bebas menjadi variabel terikat dan diregresikan terhadap variabel bebas lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel bebas yang terpilih yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel bebas lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF=1/ tolerance) dan menunjukkan adanya kolonieritas yang tinggi. Kaedah nilai cutoff yang umum dipakai adalah nilai tolerance 0,10 atau sama dengan VIF di atas 10.

80

Artinya, apabila nilai tolerance > 0,10 atau VIF > 10, maka disimpulkan bahwa variabel tersebut mengandung masalah multikolinier. Pada data Tabel 4.12 variabel X1 dan X2 masing-masing memiliki nilai VIF sebesar a1,087. Artinya kedua variabel bebas dari pelanggaran asumsi multikollinieritas. b. Uji heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari sisaan satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari sisaan satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi keberadaan heteroskedastisitas, dapat dilakukan dengan melihat hasil analisis dengan menggunakan SPSS diperoleh grafik dimana penyebaran residual adalah tidak teratur. Hal tersebut dapat dilihat pada plot yang terpencar dan tidak membentuk pola tertentu sebagaimana terlihat pada gambar 4.2

Gambar 4.2 Diagram Pencar Kelayakan model regresi
Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

81

Dengan demikian, kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa tidak terjadi gejala homokedastisitas atau persamaan regersi memenuhi asumsi heterokedastisitas.

c. Uji Normalitas Sisaan Uji ini dibutuhkan untuk memenuhi asumsi sebaran sisaan yang menyebar normal e ~ N (µe, σ). Dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov Test, dengan software spss 15, dapat dilihat Tabel 4.11 sebagai berikut : Tabel 4.11 One Saple Kolmogorov-Smirnov Test One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardiz ed Residual N Normal Parameters Most Extreme Differences
a

68 Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative .0000000 4.14523578 .068 .046 -.068 .558 .915

Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a Test distribution is Normal. b Calculated from data.
Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

Dari hasil uji normalitas pada variabel Y, diperoleh nilai KolmogorovSmirnov Z sebesar 0,558, dengan hasil uji signifikansi (2-tailed) sebesar 0,915. Sesuai dengan hipotesis uji, diyakini bahwa apabila nilai signifikansi lebih besar dari

82

α (alpha) sebesar 0,05, maka tolak Ho. Dengan demikian, dapat dibuktikan secara statistik bahwa sebaran data untuk data sisaan model adalah normal. Adapun grafik histogram dari sebaran Y dapat dilihat pada pola normalitas Distribusi data tergambar dalam grafik berbentuk lonceng sebagaimana Gambar 4.3 sebagai berikut:

Gambar 4.3 Histogram Normalitas Data
Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

Disamping itu, suatu data akan terdistribusi secara normal jika nilai probabilitas yang diharapkan adalah sama dengan nilai probabilitas pengamatan. Hal ini dapat dilihat dalam grafik PP Plots dimana kesamaan antara nilai probabilitas harapan dan probabilitas pengamatan ditunjukkan dengan garis diagonal yang merupakan perpotongan antara garis probabilitas harapan dan probabilitas pengamatan. Dari grafik terlihat bahwa nilai plot PP terletak di sekitar garis diagonal. Pada grafik juga

83

terlihat bahwa nilai PP Plots tidak menyimpang jauh dari garis diagonal, sehingga dapat diartikan bahwa distribusi data prestasi kerja guru adalah normal.

Gambar 4.4 Sebaran data untuk uji normalitas
Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

F. Analisis Regresi Adapun model persamaan regresi yang akan dibangun mengikuti kerangka fikir dari penelitian, yaitu sebagai berikut :

SIKAP INOVATIF ( X1) PRESTASI KERJA ( Y) MOTIF BERPRESTASI (X2)

84

Prestasi Kerja (Y) =β0+ β1.Sikap Inovasi (X1) + β2.Motif Berprestasi (X2) + e dimana : β0 = Konstanta β1 = Koefisien variabel Inovasi (X1) β2 = Koefisien variabel Motif Berprestasi (X2) e = error / sisaan model Variabel-variabel yang diperoleh dari hasil penjumlah sub/item variabel selanjutnya disusun dalam format data pada software SPSS versi 15. Selanjutnya akan dianalisis sesuai dengan model persamaan di atas. Adapun output analisis adalah sebagai berikut : 1. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t) Tabel 4.12 Hasil Uji Koefisien Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) Sikap Inovasi Motif Berprestasi B 23.248 .526 .542 Std. Error 6.213 .085 .140 .549 .344
Standardized Coefficients

Collinearity Statistics t 3.742 6.161 3.863 Sig. .000 .000 .000 .920 .920 1.087 1.087 Tolerance VIF

Beta

a. Dependent Variable: Prestasi Kerja Guru Sumber: Data Primer, Diolah (2008) Dari Tabel 4.12 di atas, diketahui bahwa kedua variabel independen yaitu variabel Sikap Inovatif dan Motif berprestasi berpengaruh signifikan pada taraf 0,05.

85

Disimpulkan bahwa variabel prestasi kerja guru dipengaruhi oleh variabel sikap inovatif dan motif berprestasi dengan persamaan regresi dapat dituliskan sebagai berikut : Y = 23,248 +0,549 X1 + 0,344X2 . Salah satu tujuan dalam penelitian ini adalah untuk membuktikan keberartian setiap variabel bebas (independent variable) di dalam model. Caranya adalah dengan melakukan uji hipotesis terhadap koefisien variabel variabel x1 (β1) dan variabel x2 (β2). Adapun hipotesis untuk pengujiannya adalah sebagai berikut: : βj = 0, yaitu koefisien variabel tidak bermakna atau = 0. : βj ≠ 0, yaitu koefisien variabel bermakna atau ≠ 0.

H0 Ha

dimana j = 1,2. Adapun kriteria penolakan dan penerimaan hipotesis sebagai berikut: Terima H0 : t hit < t tabel Tolak H0 Atau, Terima H0 : Sig > α Tolak H0 : Sig < α : t hit > t tabel

Dari hasil uji t pada Tabel 4.12 di atas, diperoleh t hitung sebesar 6,161 untuk variabel X1 dan 3,863 untuk variabel X2. Dengan demikian jika dibandingkan dengan t tabel, maka hasilnya sebagai berikut :

86

t tabel t hit 6,161 3,863
(α=0,05 ; db=65)

Kriteria Uji t hit > t tabel = tolak Ho t hit < t tabel = terima Ho

Kesimpulan pada α = 0,05 Tolak Ho Tolak Ho

2,29

Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

Model yang diperoleh dari Tabel 4.12 menunjukkan besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat (Y) dimana Y =23,248 + 0,549X1 + 0,344X2. Artinya, variabel sikap inovatif (X1) berpengaruh secara parsial sebesar 54,9% terhadap Prestasi Kerja Guru. Motif berprestasi (X2) secara parsial berpengaruh sebesar 34,4% terhadap prestasi kerja guru. Artinya apabila sikap inovatif semakin tinggi maka otomatis akan berdampak positif terhadap prestasi kerja guru tersebut karena kalau seseorang guru memiliki pengetahuan tentang teknologi baru, kreatif dalam mencari solusi permasalahan yang ada, menunjukkan respon positif terhadap ilmu pengetahuan yang baru, imajinatif, mampu menemukan cara-cara baru dalam pelayanan pembelajaran maka semakin tinggilah prestasi kerja guru tersebut. Demikian juga apabila motif berprestasi semakin tinggi maka otomatis akan berdampak positif terhadap prestasi kerja guru karena kalau seseorang memiliki kepercayaan dalam menghadapi tugas, memiliki sikap berorientasi kedepan, tidak suka membuang-buang waktu, memilih teman kerja dengan baik, mempunyai semangat tinggi maka semakin tinggilah prestasi kerja guru tersebut.

87

2. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F). Model dikatakan memiliki makna secara statistik apabila variabel penjelasnya atau disebut dengan variabel bebas secara parsial atau bersama-sama memberikan kontribusi secara nyata terhadap Variabel terikat (dependent variable). Untuk dapat membuktikan apakah model signifikan ataukah tidak, maka hal ini dapat dibuktikan dengan menggunakan statistik uji F dimana hipotesisnya adalah sebagai berikut : H0 Ha berpengaruh Adapun kriteria penolakan dan penerimaan hipotesis sebagai berikut: Terima H0 Tolak H0 Atau, Terima H0 Tolak H0 : F hit < F tabel : F hit > F tabel Tabel 4.13 Analisis Ragam ( Analisis of varians)
ANOVAb

: β1 = β2 = 0, atau model tidak bermakna : β1 & β2 ≠ 0, kedua variabel secara bersama-sama atau parsial

: Sig. F > α : Sig. F < α

Model
1

Sum of Squares Regression Residual 1277.490 1151.260

df 2 65

Mean Square 638.745 17.712

F 36.063

Sig. .000a

Total 2428.750 67 a. Predictors: (Constant), Motif Berprestasi, Sikap Inovatif b. Dependent Variable: Prestasi Kerja Guru
Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

88

Dari Tabel 4.13 di atas,

menunjukkan bahwa nilai F hitung sebesar 36,063

Sedangkan F tabel pada derajat bebas 0,05 dan df1 = 2 dan df 2 = 65, maka diperoleh F tabel = 3,136. Dengan demikian, F hit > F tabel, ini berarti bahwa tolak Hipotesis nol (Ho) dan berarti model memiliki tingkat signifikansi pada α = 0,05. Artinya bahwa sikap inovatif dan motif berprestasi secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap prestasi kerja guru. Selain dari uji F, ditemukan juga adjusted R square (R2) pada Tabel 4.14 model summery yang menunjukkan nilai 0,511 yang artinya variabel sikap inovatif (X1) dan motif berprestasi (X2) secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel prestasi kerja guru (Y) sebasar 51,1%. Sedangkan 48,9% dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Tabel 4.14 Model Summary Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate DurbinWatson 1.618

1 .725a .526 .511 4.20853 a. Predictors: (Constant), Motif Berprestasi, Sikap Inovatif b. Dependent Variable: Prestasi Kerja Guru
Sumber: Data Primer, Diolah (2008)

G. Pengujian Hipotesis Penelitian

a. Pengaruh Sikap Inovatif terhadap Prestasi Kerja Sebagaimana Tabel 4.12 Hasil Uji Korelasi Parsial diketahui bahwa hasil uji statistik menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara variabel Sikap Inovatif

89

terhadap prestasi kerja guru yang ditunjukkan dengan nilai Sig < 0,05. Koefisien korelasi sebesar 0,549 menunjukkan kuatnya tingkat pengaruh antara variabel Sikap Inovatif terhadap prestasi kerja guru. Tanda positif pada koefisien korelasi menunjukkan bahwa korelasi memiliki pola positif atau searah. Dengan demikian dapat diinterpretasikan bahwa semakin tinggi sikap inovatif guru, maka semakin tinggi prestasi kerja yang dihasilkannya. Signifikansi hasil korelasi yang lebih kecil dari 0,05 menyimpulkan bahwa Ho ditolak yang berarti bahwa pengaruh antara sikap inovatif terhadap prestasi kerja guru adalah signifikan pada taraf kepercayaan 95%. b. Pengaruh Motif Berprestasi Terhadap Prestasi Kerja Guru Sebagaimana Tabel 4.12 Hasil Uji Korelasi Parsial diketahui bahwa hasil uji statistik menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara variabel Motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru yang ditunjukkan dengan nilai Sig < 0,05. Koefisien korelasi sebesar 0,344 menunjukkan tingkat pengaruh antara variabel Motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru. Tanda positif pada koefisien korelasi menunjukkan bahwa korelasi memiliki pola positif atau searah. Dengan demikian dapat diinterpretasikan bahwa semakin tinggi motif berprestasi guru, maka semakin tinggi prestasi kerja yang dihasilkannya. Signifikansi hasil korelasi yang lebih kecil dari 0,05 menyimpulkan bahwa Ho ditolak yang berarti bahwa pengaruh motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru adalah signifikan pada taraf kepercayaan 95%.

90

c. Pengaruh Sikap Inovatif dan Motif Berprestasi terhadap Prestasi Kerja Guru. Berdasarkan hasil uji statistik pengaruh Sikap inovatif dan motif berprestasi secara bersama-sama terhadap prestasi kerja guru sebagaimana yang tercantum pada Tabel 4.13 Hasil Uji ANOVA diketahui bahwa nilai F hitung = 36,063 dengan Sig = 0,000, sedangkan F tabel = 3,136 pada df penyebut = 2 dan df pembilang = 68. Oleh karena Sig < 0,05 atau F hitung > F tabel, maka secara bersama-sama variabel bebas sikap inovatif dan motif berprestasi berpengaruh terhadap variabel terikat prestasi kerja guru pada taraf kepercayaan 95%. Adapun nilai Sig < 0,05 menunjukkan bahwa Ho ditolak, yang berarti bahwa pengaruh sikap inovatif dan motif berprestasi secara bersama-sama terhadap prestasi kerja guru adalah signifikan pada taraf kepercayaan 95%. Oleh karena itu penelitian ini membuktikan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi kerja adalah sikap inovatif dan motif berprestasi.

H. Pembahasan Hasil Penelitian Sikap inovatif para guru telah terbukti memiliki pengaruh yang signifikan dengan prestasi kerja guru, baik secara parsial, sikap inovatif memiliki pengaruh yang signifikan apabila motif berprestasi dikontrol. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sikap inovatif secara sendiri dapat memberikan sumbangan yang signifikan terhadap prestasi kerja guru. Oleh karena itu apabila sikap inovatif tersebut dapat ditingkatkan maka tidak mustahil keberhasilan prestasi kerja guru cenderung akan menjadi lebih baik pula.

91

Temuan penelitian ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari sikap inovatif terhadap prestasi kerja guru didukung oleh pendapat Hagen yang disampaikan oleh Manan (1989) bahwa seseorang yang berkepribadian inovatif, serta memiliki kesadaran dan tanggungjawab, akan berhasil memajukan pekerjaannya dan mereka punya persepsi bahwa dunia ini mempunyai tantangan. Pendapat tersebut diperkuat oleh Fadli (1999) yang menegaskan bahwa manusia sebagai modal, memberikan kontribusi pengetahuan, keterampilan, inovasi yang dapat menciptakan sistem nilai dan kinerja yang menjamin eksistensi dan pengembangan organisasi. Apabila ditinjau dari klasifikasi pengelompokan skor, terungkap bahwa tingkat sikap inovatif guru sebahagian besar masih kategori sedang. Hasil yang diperoleh yaitu yang termasuk kategori rendah 23 orang ( 33,82% ), kategori sedang sebanyak 35 orang ( 51,47% ) dan kategori tinggi sebanyak 10 orang ( 14,71% ). Dari hasil wawancara langsung dengan beberapa guru didapat kesimpulan bahwasannya yang menjadi penyebab belum optimalnya sikap inovatif para guru disebabkan faktor internal dan eksternal antara lain: (1) Tingkat keingintahuan guru masih rendah; (2) Masih kurangnya pengetahuan dan informasi yang diterima ataupun dicari para guru; (3) Belum tersedianya sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung dalam mendapatkan informasi baik itu mengenai informasi pendidikan terbaru maupun mengenai teknologi informasi yang ada seperti komputer, internet maupun buku – buku terbitan terbaru. Berdasarkan temuan penelitian, sikap inovatif menjadi salah satu faktor penentu terhadap prestasi kerja guru. Sikap inovatif memiliki sumbangan positif yang sangat

92

berarti terhadap prestasi kerja guru. Hal ini berarti dalam upaya peningkatan prestasi kerja guru dapat mengandalkan sikap inovatif. Untuk dapat memelihara serta meningkatkan prestasi kerja guru, maka seluruh faktor yang terkandung dalam sikap inovatif harus ditingkatkan seperti pengalaman tentang teknologi komputer, penelusuran informasi dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan usaha meningkatkan kreatif sebaiknya dioptimalkan. Teknologi komputer akan membantu dan memperlancar berbagai tugas guru. Penting kiranya pengadaan buku–buku terbitan terbaru yang berhubungan dengan pendidikan ataupun buku–buku yang dapat menambah wawasan para guru dan yang berhubungan dengan kebijakan–kebijakan baru tentang pendidikan sehingga dalam pelaksanaan tugas guru tetap relevan dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta dapat melakukan pembaharuan baik dalam hal materi pembelajaran, metode pembelajaran dan media pembelajaran. Untuk mencapai pengalaman–pengalaman dibidang komputer, pengetahuan tentang informasi baru dan guru yang kreatif, cara yang terbaik adalah dengan mengupayakan pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan serta pelatihan khususnya pengetahuan dibidang perkembangan pendidikan dan pelatihan

menggunakan perangkat teknologi informasi (ICT). Kreatifitas dari guru yang termasuk bagian dari inovasi, dapat

ditumbuhkembangkan dengan beberapa cara yaitu mengatur kembali jenis dan pengelompokan pelajaran, waktu, ruang kelas, cara – cara menyampaikan pelajaran sehingga dengan tenaga, alat, uang, dan waktu yang sama dapat dicapai kualitas yang lebih tinggi.

93

Membudayakan kompetisi yang sehat antar sesama guru juga dapat memotivasi guru untuk lebih kreatif. Lomba menciptakan alat peraga/media pembelajaran yang baru dapat diupayakan menjadi kegiatan untuk memicu kompetisi yang positif bagi guru. Lomba guru berprestasi tingkat kota dilaksanakan oleh pemerintah kota Sibolga maupun lomba guru berprestasi yang dilaksanakan oleh pemerintah propinsi dan pemerintah pusat setiap tahunnya dapat dimanfaatkan menjadi wadah yang baik untuk meningkatkan motivasi guru untuk berkompetisi dengan baik. Bagi guru yang mampu menemukan ide–ide baru dan produk baru untuk meningkatkan pelayanan pembelajaran di sekolah agar diberikan penghargaan seperti pemberian hadiah atau termasuk promosi jabatan menjadi kepala sekolah. Dalam rangka kenaikan pangkat guru perlu kiranya diberlakukan kebijakan agar guru diwajibkan dapat mengoperasikan komputer dalam menghitung dan

mengusulkan kenaikan pangkatnya untuk mengubah sikap guru yang belum menerima pambaharuan (inovatif) menjadi inovatif. Sejalan dengan upaya – upaya kongkrit di atas, sangat diharapkan kerjasama antara kepala sekolah dan dinas pendidikan dalam pengembangan program–program yang dapat mewujudkan prestasi kerja guru yang lebih baik. Pihak dinas pendidikan perlu tanggap dengan berbagai kebutuhan sekolah dalam penyediaan sarana prasarana seperti komputer, perangkat internet, buku-buku yang menginformasikan tentang perubahan–perubahan dalam pendidikan sehingga dengan cepat disosialisasikan kepada para guru.

94

Kemudian, hasil temuan juga menunjukkan bahwa motif berprestasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi kerja guru, artinya apabila motif berprestasi guru di lingkungan sekolah meningkat maka prestasi kerja merekapun cenderung akan meningkat pula. Hal ini sejalan dengan pendapat Anoraga ( 1992 ) yang mengatakan bahwa kuat lemahnya motif berprestasi seseorang tenaga kerja ikut menentukan besar kecilnya prestasi kerja karyawan. Oleh sebab itu sudah seharusnya motif berprestasi guru dalam berbagai dimensi harus diperhatikan, untuk lebih meningkatkan prestasi kerja guru. Berdasarkan analisis data juga terungkap bahwa terdapat pengaruh signifikan antara motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru pada saat sikap inovatif dikontrol. Hasil temuan analisis deskripsi menunjukkan bahwa tingkat motif berprestasi guru pada umumnya berada pada kategori sedang yaitu mencapai 64,71% berdasarkan pengelompokan skor. Untuk peningkatan motif berprestasi dapat dilakukan dengan membentuk sikap, prilaku, serta komunikasi yang positif dari guru. Sebagai salah satu cara, untuk meningkatkan sikap dan perilaku terlebih dahulu kita harus mengenali sikap dan perilaku manusia. Menurut pandangan ahli psikologi yang disampaikan oleh Bondar ( 1999 ) bahwa sikap dan prilaku manusia dapat terbentuk dari: (1) hasil bawaan, yang disebut sebagai kepribadian alami ( teori nature ), (2) sikap dan prilaku yang terbentuk oleh lingkungan dengan titik berat seberapa besar lingkungan mempengaruhinya. Atas dasar pandangan psikologi tersebut, untuk mendapatkan orang – orang yang memiliki prilaku prositif dari hasil bawaan, dapat diupayakan dengan psikotes

95

terhadap calon guru untuk merekrut calon–calon guru yang benar–benar memiliki moral kerja atau semangat kerja yang tinggi, suka bekerja keras dan berusaha menyelesaikan tugas tepat pada waktunya. Ciri ini hanya ada pada guru yang memiliki nilai paedagogis. Sebab seorang guru tidak cukup hanya memiliki nilai kecerdasan intelektual tetapi juga harus memiliki nilai kecerdasan emosional dan nilai kecerdasan spiritual, karena motif berprestasi tidak semata–mata untuk pengakuan orang lain tetapi karena dorongan hati nurani. Sikap dan prilaku yang dipengaruhi oleh lingkungan dapat dibina melalui semacam pelatihan dasar kepemimpian yang dapat melatih dan mengembangkan sikap kepemimpinan para guru sehingga para guru lebih memiliki kepercayaan dalam menghadapi tugasnya, mempunyai semangat yang tinggi dan memiliki sikap yang berorientasi ke depan. Salah satu usaha yang dapat dilaksanakan adalah dengan menugaskan para guru untuk melakukan studi banding ke sekolah–sekolah lain baik yang berada di pulau Sumatera maupun yang berada di pulau Jawa untuk menambah wawasan para guru mengenai perkembangan dunia pendidikan. Ternyata sikap inovatif dan motif berprestasi secara bersama – sama mempunyai pengaruh yang signifikasi terhadap prestasi kerja guru SMP negeri di kota Sibolga. yakni sebesar 0,511 x 100% = 51,1%, sama artinya bahwa masih terdapat 48,9% selain variabel sikap inovatif dan motif berprestasi yang mempengaruhi variabel prestasi kerja guru SMP di kota Sibolga. Dari nilai di atas dan temuan pertama dan kedua dapat disimpulkan bahwasannya kedua variabel baik variabel sikap inovatif (X1) dan motif berprestasi (X2)

96

memberikan sumbangan yang berarti (signifikan) baik secara sendiri–sendiri maupun secara bersama–sama terhadap prestasi kerja guru walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat variabel lain selain sikap inovatif dan motif berprestasi yang mempengaruhi porestasi kerja guru. Dapat juga dikatakan bahwa keberhasilan prestasi kerja guru ditentukan oleh faktor sikap inovatif dan motif berprestasi meskipun peran sikap inovatif lebih dominan daripada motif berprestasi dalam penentuan keberhasilan prestasi kerja guru. Oleh karena itu untuk mencapai prestasi kerja yang baik, perlu diperhatikan kedua faktor tersebut. Arah tindak lanjut dari perhatian ditujukan pada upaya–upaya yang dapat meningkatkan sikap inovatif dan motif berprestasi.

I. Keterbatasan Penelitian. Penelitian ini telah dilakukan dengan cermat berdasarkan metode dari prosedur yang sesuai dengan jenis penelitian ini. Tujuan penelitian yakni untuk menganalisis pengaruh sikap inovatif terhadap prestasi kerja, pengaruh motif berprestasi terhadap prestasi kerja dan pengaruh sikap inovatif dan motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru telah dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. Namun tidaklah mudah untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Dalam hal ini penulis merasakan terdapatnya keterbatasan serta kelemahan–kelemahan yang tidak dapat dihindarkan. Adapun sumber dan kelemahan dan keterbatasan tersebut adalah : Pertama, penelitian dengan menggunakan metode kuantitatif menemukan kendala dalam mengungkapkan hal–hal yang bersikap kualitatif. Sebagai contoh motif berprestasi guru dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk lingkungan sosial dimana

97

mereka

berada.

Hal

ini

memungkinkan

terdapatnya

unsur

bias

dalam

mengeneralisasikan temuan penelitian. Kedua, alat ukur yang digunakan adalah angket dan observasi dalam bentuk daftar pernyataan dengan model skala likert. Untuk mendapatkan data digunakan cara self-report yang mempunyai keterbatasan seperti yang diungkapkan oleh

Kusumaningrum ( 1998 ) yaitu (1) kemampuan seseorang dalam membaca dan memahami pertanyaan, (2) pandangan pengertian seseorang dan (3) kemampuan untuk mengungkapkan semua keadaan pribadi yang sesungguhnya. Atas dasar pendapat tersebut, memungkinkan responden memberikan jawaban tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya karena dirinya merasa dinilai dan takut pribadinya diketahui oleh orang lain. Atau mungkin saja mereka cenderung memberikan pernyataan yang baik – baik saja. Ketiga adalah keterbatasan guru yang belum profesional dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sehingga belum mampu dan mau terbuka terhadap apa yang sebenarnya terjadi dan hal-hal apa yang dialami para guru dalam melaksanakan pekerjaannya terutama dalam pencapaian prestasi kerjanya. Keempat, belum ada instrumen baru yang digunakan untuk menilai sikap inovatif dan motif berprestasi guru, hal ini berkemungkinan akan berpengaruh terhadap hasil penelitian. Kelima, hasil penelitian ini hanya menggambarkan pengaruh dan sumbangan sikap inovatif dan motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru pada SMP Negeri di kota Sibolga. Oleh sebab itu, hasil penelitian ini belum dapat digeneralisasikan pada guru di sekolah diwilayah lainnya.

98

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Hasil analisis secara deskriptif menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari sikap inovatif terhadap prestasi kerja guru. Oleh karena itu peningkatan sikap inovatif akan menyebabkan peningkatan prestasi kerja guru. 2. Hasil analisis secara deskriptif menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru. Sehingga peningkatan motif berprestasi akan menyebabkan peningkatan prestasi kerja guru. 3. Hasil analisis secara deskriptif menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari sikap inovatif dan motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru, sehingga peningkatan sikap inovatif dan motif berprestasi, akan menyebabkan peningkatan prestasi kerja guru. 4. Baik secara parsial maupun simultan bahwa sikap inovatif dan motif berprestasi berpengaruh signifikan terhadap prestasi kerja guru. Pengaruh kedua variabel sikap inovatif dan motif berprestasi secara bersama-sama terhadap prestasi kerja guru sebesar 51,1% dan selebihnya yakni 48,9% dipengaruhi oleh variabel lain.

98

99

B. Saran Berdasarkan temuan penelitian dan merujuk kesimpulan, maka peneliti dapat mengemukakan beberapa saran sebagai berikut kepada : 1. Para Guru, hendaknya berusaha meningkatkan interaksi dengan hal – hal yang baru yang berhubungan dengan pengetahuan, teknologi dan informasi dibidang pendidikan sehingga dapat meningkatkan prestasi kerja guru. Peningkatan antara lain dapat dilakukan dengan cara belajar sendiri mengoperasikan komputer di sekolah, mengakses internet dari warung internet, mengikuti pertemuan rutin antar sesama guru dan rajin membaca untuk mengetahui informasi baru. Upaya – upaya peningkatan sikap inovatif ini diharapkan akan dapat pula meningkatkan prestasi kerja guru. 2. Pimpinan sekolah yang dalam hal ini kepala sekolah, diharapkan mengarahkan para guru agar mampu dan mau mengoperasikan komputer, mengakses internet sekaligus dapat menyediakan fasilitas komputer dan internet tersebut di sekolah agar motif berprestasi dan sikap inovatif guru semakin baik. Kepala sekolah dapat menyediakan hadiah atau penghargaan bagi guru yang mampu mengoperasikan komputer, mengakses internet, menerapkan hal-hal atau informasi baru dalam bidang pendidikan. 3. Departemen Pendidikan Nasional / Dinas Pendidikan, diharapkan dapat memberikan kebijakan dalam meningkatkan sikap inovatif, motif berprestasi dan prestasi kerja guru dengan cara mewajibkan setiap guru mampu dan mau mengoperasikan komputer baru menyetujui kenaikan pangkatnya setingkat lebih tinggi.

100

4. Para peneliti selanjutnya, dari hasil penelitian ini terlihat bahwa masih ada faktor lain yang mempengaruhi prestasi kerja guru. Memperhatikan hal ini masih terbuka kemungkinan menggunakan variabel lain seperti sistim penghargaan, kompensasi/insentif, manajemen pendidikan dan lain-lain dalam lingkup administrasi pendidikan diluar variabel penelitian ini untuk diteliti, sehingga diperoleh gambaran yang lebih menyeluruh terhadap peningkatan prestasi kerja guru.

101

DAFTAR PUSTAKA Abu, A. (1999). Psychologi sosial, Jakarta. Rineka Cipta Ahmad,M. (2002), Mengembangkan Inovasi dan kreatifitas Berpikir. Bandung. PT Syaamil Cipta Media. Anoraga Pandji. (1992). Psikologi Kerja. Jakarta : Rineka Cipta. Anwar. I.M ( (2003). Administrasi Pendidikan dan Manajemen biaya pendidikan, Teori, konsep dan isu. Bandung: Alfabeta Applbaum, R.L dan Karl W.E.A. (1974). Strategis for persuasive communication Charles.E. Merril Publishing Company A. Bell dan Howel Company Columbus, Ohio. Ary, Donald, Lucy Cheser Jacobs dan Asghar Razavieh (1985). Introduction to research In education. New York: Holt Rinehart and Winston. Atkitson, Rita L., dkk (1993). Pengantar Psikologi, Terjemahan Nurjannah Taufik, Jakarta Erlangga. BAKN, Daftar penilaian pelaksanaan pekerjaan dan daftar urut kepangkatan Pegawainegeri; PT Inaltu Bets,J.W (terjemahan Sanafiah F. dan Mulyadi G.S).(1982). Metodologi Penelitian Surabaya: Usaha Nasional. Castetter, W.B. (1981). The Personal function in education administration. New York: MCMillan Publishing Co., Inc Cochran, William G. (1977).Teknik penarikan sampel. Edisi ketiga. Terjemahan Rudiansyah. Jakarta: Universitas Indonesia Danin, Sudarwan. (2002). Inovasi Pendidikan Dalam upaya Profesionalisme Guru, Bandung CV Pustaka Setia. peningkatan

Davis,K dan J W (1993). Perilaku dalam organisasi, terjemahan tim Erlangga, Jakarta; Erlangga Depdikbud RI. (1990). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka Dharma, A (1991) Manajemen prestasi kerja, Jakarta; Rajawali Pers. Fatah, N. (1998).Ekonomi dan pembiayaan pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

102

Gannon, Martin J. (1979). Organizational Behavior: A Managerial and Organizational Prespective. Canada: Little, brown and Company Limited. Gerungan, W.M. (1978). Psikologi sosial. Jakarta; PT ERESCO. Gibson, D & Ivancevich ( 1990 ). Organization. 5th Edition. Terjemahan Djakarsih. Jakarta; Erlangga Griffin, R.W. (1986). Management Boston; Houghton Mifflin Company. Handoko, T.H (1978). Manajemen personalia dan sumber daya manusia. Edisi 2. Yokyakarta; BPFE. Harahap, M. Rusdy. (2007). Hubungan Integritas Dosen dan Sikap Inovatif dengan Kinerja Dosen Fakultas Ekonomi Unimed. Tesis. Medan: PPs Unimed. Hasbullah. (2003). Dasa-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Hays, W. L. (1976). Quantification in Psychology. Prentice Hall.New Delhi Irawan, P.S dan Sriwahyu, K. (1997). Manajemen sumber daya manusia. Jakarta; STIA-LAN Press. Irawati, A.K. (2003). Budaya kerja sikap inovatif sebagai faktor pendukung kinerja para Pustakawan perpustakaan perguruan tinggi di Padang Penelitian Dasar Program Pasca UNPAD Jawwad, M. Ahmad, Abdul, (2002). Mengembangkan inovasi & Kreativitas berfikir Bandung; PT. Syaamil Cipta Media. Kreiner, R (1999). Management. India ; A.I.T.B.S Publishing. Lubis, S. (2005). Pengaruh Budaya Kerja dan Sikap Inovatif Terhadap Kinerja Guru MAN di kota Medan. Tesis. Medan: PPs Unimed. Manullang, M dan Marihot. M (2001). Manajemen sumber daya manusia. Yokyakarta; BPFE. Mar,at. ( 1984 ), Sikap manusia, perubahan serta pengukurannya, Jakarta, Ghalia Indonesia Martaniah (1982). Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen, Jakarta PT. RajaGrafindo Persada.

103

Maslow, Abraham H. (1994). Motivasi dan Kepribadian: Teori Motivasi dengan Pendekatan Hierarki Kebutuhan Manusia, Terjemahan Seri Manajemen, Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. McClelland, C.D.(1999). Publisher inc. The Achievement motive. New York; Irvington

Mitrani, Alain, Murray Dalziel, dan David Fitt, (Ed), (1992). Competency Based Resourcve Management Value-Driven Strategies for Recruitment Development and Reward. London Kogan Page. Nasution (1996). Metode Research Penelitian Ilmiah, bandung, Jenmears Rahmat, J. (1994). Metode penelitian komunikasi . Bandung; Remaja Karya Rogers, E.M. (1983). Diffusion of innovations. Third Edition, New York Frec Press Mac Millan Publishing. Ruky, A.S. (2002). Sistem manajemen kinerja (ferformance management system). Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama Saman, A. (1994). Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta: Kanasius. Sedarmayanti. (2002). Sumber daya manusia dan produktivitas kerja. Bandung Mandar Maju Selvilla dkk. ( 1993 ). Pengantar Metode Penelitian. Jakarta; Indonesia Press. Sherwood Dennis. (2005). Hal-hal cerdas yang perlu diketahui inovasi dan kreatifitas. Diterjemahkan oleh Marianto Samosir, 2005, Jakarta : PT. Media Komputindo. Siagian, P.S. (1999) Manajement sumber daya manusia. Jakarta : Bumi Aksara Sibuea, A.M. (2001) Perilaku kewiraswastaan lulusan STM di Kota Medan. Penelitian Dasar. Fakultas Tehnik Universitas Negeri Medan Sibuea, Roni Parningotan. (2003). Hubungan Antara Keterampilan Manajerial dan Motif Berprestasi dengan Efektifitas Kinerja Kepala SMK di kota Medan. Tesis. Medan PPs Unimed. Sugiyono. (2006). Metode Penelitian Bisnis, Cetakan Kesembilan. Bandung: Alfabeta, CV . Susanto, A.(1977). Komunikasi dalam teori dan praktek, Jilid I, Bandung Binacipta

104

Surakhmad, W. (1981) Problematik Pembaharuan Pendidikan Negara-negara sedang berkembang dewasa ini. Prisma no 2 Tahun X LPES, Jakarta Surakhmad, W. (1985) Tehnik Penilaian, Jakarta: Departemen P dan K. Sutisna,O.(1989) Administrasi pendidikan dasar teoritis untuk praktek professional Bandung; Angkasa Tilaar,H.A.R. (2002). Membenahi Pendidikan Nasional, Jakarta: Rineka Cipta. Timpe A.D.(1993). Memimpin manusia managing people seri ilmu dan seni Manajemen bisnis. Jakarta; Gramedia Asri Media. Tohardi, A. (2002). Manajemen sumber daya manusia. Bandung Mandar Maju. Tyagi A.(1997) Organizational behavior. New Delhi: Excel Books. Umstot, Denis D. (1984). Understanding Organizational Behavior. St. Paul: West Publishing Company. Umstot, Denis D. (1984). Understanding Organizational Behavior. St. Paul: West Publishing Company. Winardi. (2000). Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Winkel, W.S.(1996). Psikologi Pengajaran. Jakarta; Grasindo. Zanten, W.V.(1994). Statistika untuk ilmu-ilmu sosial. Jakarta ; Gramedia Zulkifli. (2004). Hubungan Antara Motivasi Berprestasi, Kebiasaan Belajar, dan penggunaan Media Pembelajaran dengan Kinerja Guru Matematika SMP negeri kabupaten Langkat. Tesis. PPs Unimed

105

Lampiran 1. Uji Validitas Dan Reliabilitas Instrument DATA : VARIABEL X1 ( SIKAP INOVATIF )
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 1 4 5 5 5 5 5 5 4 4 3 5 4 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 3 5 2 4 5 3 4 4 4 5 4 4 3 4 4 4 4 2 4 4 5 4 3 3 3 5 4 3 4 3 4 5 4 5 5 4 5 4 4 5 5 4 4 5 4 5 4 5 5 4 5 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 4 5 4 4 5 4 4 4 5 4 4 5 5 5 4 5 4 4 5 4 5 5 4 4 5 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 5 5 4 5 5 4 4 5 5 4 4 5 6 4 4 4 4 4 4 5 4 4 5 5 4 4 5 4 4 5 5 5 4 4 4 4 4 4 5 7 3 4 4 4 4 4 5 4 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 4 4 4 4 5 4 4 5 8 4 5 5 5 4 4 5 4 4 4 5 4 4 5 4 4 4 5 5 4 4 4 4 5 4 5 9 4 4 4 4 4 4 5 4 4 3 4 4 4 5 4 3 4 5 5 4 3 5 4 4 4 5 10 4 5 3 4 4 4 4 4 4 5 4 3 4 5 4 4 3 4 5 4 3 5 4 4 4 5 11 4 5 4 4 4 4 5 4 4 5 4 5 4 5 5 4 4 4 3 4 3 5 5 4 4 5 12 3 4 1 4 4 5 4 3 4 5 4 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 13 4 5 4 5 4 4 4 4 4 5 5 4 4 5 4 4 5 5 5 3 4 4 4 4 4 5 14 3 4 4 4 5 4 4 4 3 5 4 4 4 5 5 3 4 5 5 4 4 3 4 4 3 4 15 3 4 5 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 5 5 4 4 5 4 3 4 4 4 4 2 4 16 3 4 5 4 3 3 4 4 3 3 5 4 3 5 4 3 3 3 4 3 3 3 4 4 2 5 17 3 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 3 4 5 4 4 4 4 4 4 4 5 18 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 5 4 3 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 19 5 5 4 5 5 5 5 4 4 5 5 4 4 5 5 5 5 5 5 4 4 5 5 4 4 5 20 4 5 4 5 5 4 4 4 4 5 5 4 4 5 4 4 4 5 4 4 4 5 5 5 4 5 21 4 4 5 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 5 4 3 4 4 4 3 4 4 5 3 3 4 79 95 86 92 89 86 95 83 81 91 92 84 83 102 88 81 85 97 94 80 82 88 92 87 76 98

106

27 28 29 30

5 4 5 5 5 5 4 5 5 4 4 3 5 3 5 4 3 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 5 5 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 5 5 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 140 116 133 135 132 130 126 132 124 122 128 110 129 120 122 110 122 121 139 133 118

93 87 85 91

107

VARIABEL X2 ( MOTIF BERPRESTASI )
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 1 3 4 1 3 3 5 2 3 3 5 3 4 3 4 4 2 3 4 3 5 3 3 3 3 2 5 3 4 2 3 4 5 4 4 5 3 4 4 5 5 4 4 5 5 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 5 4 4 3 4 4 5 5 5 4 5 4 4 5 3 5 4 5 5 3 4 4 5 3 5 5 5 4 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 4 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 5 5 4 4 4 5 4 4 5 4 3 5 5 3 4 5 5 5 5 4 5 4 5 5 3 5 6 3 4 4 4 5 4 4 5 5 4 5 4 3 5 4 3 4 5 5 5 5 3 5 4 5 5 4 4 7 4 5 5 4 5 4 5 5 5 5 5 4 4 5 5 5 4 5 5 4 5 4 5 5 5 5 4 4 8 4 5 5 5 4 4 5 3 4 5 5 4 4 5 5 3 4 5 5 4 5 3 4 3 4 5 4 4 9 3 4 4 4 3 4 3 5 4 5 5 4 4 4 3 3 3 4 5 3 3 5 5 4 5 5 4 4 10 4 4 3 4 4 4 5 3 4 4 5 4 4 5 5 1 4 5 5 3 5 2 5 4 3 5 4 5 11 3 4 2 3 5 4 5 5 4 5 5 4 4 5 5 2 4 5 3 3 4 5 4 3 3 5 4 4 12 3 4 3 4 4 4 4 4 4 5 5 4 5 4 3 4 4 5 5 4 5 5 5 4 3 5 4 4 13 4 4 5 4 4 4 5 5 4 5 4 4 4 5 5 3 4 5 3 4 5 4 5 4 4 5 4 5 14 4 5 3 4 4 4 4 3 4 5 4 4 4 4 5 3 3 4 5 3 5 5 4 5 5 5 4 4 15 3 4 2 4 4 4 4 3 4 5 5 4 5 5 4 2 3 5 3 3 3 5 4 4 3 5 4 4 53 65 57 62 63 62 63 62 62 72 69 62 59 71 68 44 57 70 65 57 67 62 68 60 61 75 60 65

108

29 30

3 3 99

5 5 124

4 5 134

5 5 147

5 5 133

5 5 130

5 5 140

5 5 130

5 5 122

4 5 122

4 5 121

4 4 125

5 5 131

5 4 125

4 4 116

68 70

109

VARIABEL Y ( PRESTASI KERJA GURU )
1 4 4 4 4 5 4 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 4 4 4 4 4 5 5 5 5 2 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 4 4 3 4 5 5 5 5 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 4 5 4 4 4 4 4 5 5 5 5 4 3 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 5 5 4 5 5 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 5 4 5 6 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 5 4 4 4 4 4 5 5 5 5 7 3 4 3 3 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 4 4 4 4 5 5 4 4 4 5 5 5 4 8 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 9 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 5 5 5 10 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 5 5 5 11 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 5 5 12 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 5 5 13 4 5 5 5 5 4 5 5 4 5 4 4 4 4 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 5 4 5 5 14 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 5 4 5 5 15 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 3 4 3 4 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 5 5 4 4 16 4 5 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 5 5 5 5 17 4 5 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 4 4 4 4 3 5 5 5 5 18 3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 19 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 20 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 21 3 5 3 3 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 4 5 4 5 5 5 22 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 5 5 23 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 5 4 5 5

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

86 105 90 96 98 92 94 95 93 93 89 84 87 87 89 105 106 104 109 95 94 93 91 92 105 109 112 113

110

29 30

4 4 5 5 132 127

4 5 128

5 4 126

4 4 4 4 4 5 5 4 125 129 118 119

5 5 5 5 129 131

5 5 129

4 5 131

5 5 136

5 5 127

4 4 125

5 5 132

4 4 4 4 4 4 130 118 120

4 4 119

4 4 123

4 5 5 5 131 127

100 106

111

a. Melakukan Uji Validitas Kuesioner : 1. Variabel X1 ( Sikap Inovatif ) Item-Total Statistics Corrected ItemTotal Correlatio n 0,3521 0,3296 0,4797 0,5558 0,3564 0,6169 0,5167 0,6847 0,5248 0,4486 0,2907 0,0744 0,6392 0,4642 0,5346 0,5356 0,4786 0,3433 0,5178 0,5883 0,3668 Cronbach' s Alpha if Item Deleted 0,8615 0,8632 0,8570 0,8545 0,8609 0,8530 0,8555 0,8505 0,8551 0,8579 0,8636 0,8758 0,8514 0,8574 0,8545 0,8546 0,8569 0,8612 0,8559 0,8535 0,8606

Butir Variabel X11 X12 X13 X14 X15 X16 X17 X18 X19 X110 X111 X112 X113 X114 X115 X116 X117 X118 X119 X120 X121

Scale Mean if Item Deleted 83,4000 84,2000 83,6333 83,5667 83,6667 83,7333 83,8667 83,6667 83,9333 84,0000 83,8000 84,4000 83,7667 84,0667 84,0000 84,4000 84,0000 84,0333 83,4333 83,6333 84,1333

Scale Variance if Item Deleted 35,6966 35,4759 35,4816 35,0126 36,2299 34,8920 34,9471 34,3678 34,7540 35,1724 36,2345 37,3517 34,3230 34,6851 34,2069 33,3517 35,3793 36,7230 35,3575 34,8609 36,0506

R tabel

Validita s valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid tidak valid tidak valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid

0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914 0,2914

Reliability Statistics Cronbach's Alpha 0,863790332

N of Items 21

112

Karena ada yang tidak valid, yaitu pernyataan X1(11) dan X1 (12), maka kedua pernyataan tersebut dihilangkan, sehingga pernyataan yang tersisa perlu dilakukan uji validitas kembali. Hasilnya adalah sebagai berikut : Item-Total Statistics Scale Variance if Item Deleted 31,9816 32,1333 32,0103 31,4126 32,5471 31,4759 31,9264 30,7540 31,3103 32,3402 30,9023 31,3609 30,6161 29,8437 32,2023 33,1966 32,1897 31,8034 32,3724 Corrected ItemTotal Correlatio n 0,3988 0,3220 0,4946 0,5989 0,4027 0,6281 0,4587 0,7388 0,5393 0,3625 0,6551 0,4595 0,5735 0,5634 0,4418 0,3601 0,4774 0,5326 0,4119 Cronbach's Alpha if Item Deleted 0,8746 0,8786 0,8710 0,8675 0,8739 0,8670 0,8721 0,8631 0,8692 0,8757 0,8653 0,8725 0,8678 0,8687 0,8727 0,8750 0,8716 0,8697 0,8736

Butir Variabel X1_1 X1_2 X1_3 X1_4 X1_5 X1_6 X1_7 X1_8 X1_9 X1_10 X1_13 X1_14 X1_15 X1_16 X1_17 X1_18 X1_19 X1_20 X1_21

Scale Mean if Item Deleted 75,4667 76,2667 75,7000 75,6333 75,7333 75,8000 75,9333 75,7333 76,0000 76,0667 75,8333 76,1333 76,0667 76,4667 76,0667 76,1000 75,5000 75,7000 76,2000

R tabel 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077 0,3077

Validit as valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid

Uji Reliabilitas : Reliability Statistics Cronbach's Alpha 0,877047569

N of Items 19

113

Setelah dilakukan uji validitas lagi pada data yang tersisa, ternyata tidak ditemukan adanya variabel yang tidak valid. Selain itu, hasil uji reliabilitas dengan metode Cronbach's Alpha, menunjukkan hasil uji diatas nilai minimum yaitu 0,75. Dengan demikian pernyataan-pernyataan tersebut di atas dapat digunakan dalam kuesioner penelitian untuk proses pengumpulan data penelitian.

2. Variabel X2 (Motif Berprestasi) Item-Total Statistics Scale Variance if Item Deleted 34,4828 34,3506 35,8678 37,5586 34,1195 34,3782 37,0678 34,1023 34,7368 31,0816 31,6506 36,0506 34,6851 34,8782 32,5299 Corrected Item-Total Correlation 0,3391 0,5468 0,3492 0,4094 0,5331 0,5155 0,3229 0,5508 0,4139 0,6533 0,6390 0,3488 0,5687 0,4623 0,6025 Cronbach's Alpha if Item Deleted 0,8503 0,8355 0,8457 0,8455 0,8360 0,8370 0,8464 0,8351 0,8429 0,8273 0,8284 0,8456 0,8352 0,8399 0,8311

Scale Mean if Item Deleted X2_1 X2_2 X2_3 X2_4 X2_5 X2_6 X2_7 X2_8 X2_9 X2_10 X2_11 X2_12 X2_13 X2_14 X2_15 60,0000 59,1667 58,8333 58,4000 58,8667 58,9667 58,6333 58,9667 59,2333 59,2333 59,2667 59,1333 58,9333 59,1333 59,4333

R tabel

Validitas tidak valid valid tidak valid valid valid valid tidak valid valid valid valid valid tidak valid valid valid valid

0,3507 0,3507 0,3507 0,3507 0,3507 0,3507 0,3507 0,3507 0,3507 0,3507 0,3507 0,3507 0,3507 0,3507 0,3507

114

Terdapat 4 variabel yang tidak valid. Dengan demikian, ke-4 variabel tersebut dieliminir dan selanjutnya dilakukan kembali uji validitas pada data yang tersisa. Hasilnya adalah sebagai berikut : Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted 42,5667 41,8000 42,2667 42,3667 42,3667 42,6333 42,6333 42,6667 42,3333 42,5333 42,8333 Corrected Item-Total Correlation 0,5692 0,4416 0,5534 0,5191 0,5639 0,3956 0,6423 0,5977 0,5858 0,4057 0,5446 Cronbach's Alpha if Item Deleted 0,8240 0,8384 0,8248 0,8277 0,8241 0,8383 0,8166 0,8210 0,8238 0,8365 0,8258

Scale Variance if Item Deleted 21,9782 24,6483 21,7885 22,1023 21,8264 22,5161 19,5506 20,2299 22,2989 22,8782 21,0402

R tabel 0,4187 0,4187 0,4187 0,4187 0,4187 0,4187 0,4187 0,4187 0,4187 0,4187 0,4187

Validitas valid valid valid valid valid tidak valid valid valid valid tidak valid valid

X2_2 X2_4 X2_5 X2_6 X2_8 X2_9 X2_10 X2_11 X2_13 X2_14 X2_15

Setelah diuji validitasnya, masih ditemukan 2 butir pernyataan yang tidak valid. Dengan demikian, pernyataan yang tidak valid dieliminir dan selanjutnya harus dilakukan lagi uji validitas pada data yang tersisa. Hasilnya adalah sebagai berikut :

115

Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted X2_2 X2_4 X2_5 X2_6 X2_8 X2_10 X2_11 X2_13 X2_15 34,3333 33,5667 34,0333 34,1333 34,1333 34,4000 34,4333 34,1000 34,6000 Scale Variance if Item Deleted 16,2989 18,4609 16,0333 16,1885 15,8437 13,7655 14,5299 16,1621 15,6966 Correcte d ItemTotal Correlati on 0,5348 0,4892 0,5391 0,5262 0,5928 0,6845 0,6100 0,6402 0,4795 Cronbach' s Alpha if Item Deleted 0,8221 0,8367 0,8214 0,8228 0,8159 0,8043 0,8142 0,8133 0,8299 Validit as valid valid valid valid valid valid valid valid valid

R tabel

0,4716 0,4716 0,4716 0,4716 0,4716 0,4716 0,4716 0,4716 0,4716

Reliability Statistics N of Items Cronbach's Alpha 0,837319179 9

Dari hasil uji validitas beberapa tahap, ditemukan beberapa butir pernyataan yang perlu dieliminir dalam model X2, yaitu : X2_1, X2_3, X2_7, X2_12, X2_9, X2_14.

116

3. Variabel Y ( Prestasi Kerja Guru ) Item-Total Statistics Scale Variance if Item Deleted 64,0920 62,8333 63,4069 64,6713 65,6103 63,3575 62,3954 67,6103 63,2885 62,7000 62,6678 64,2862 64,1885 61,0402 64,6448 62,2989 62,7540 62,6713 63,8575 63,2655 65,0678 64,2862 61,0402 Corrected Item-Total Correlation 0,6224 0,6825 0,7953 0,5650 0,5784 0,7724 0,5888 0,1516 0,7821 0,8201 0,7499 0,6081 0,5977 0,8049 0,5132 0,8593 0,7219 0,6815 0,6162 0,6479 0,3559 0,6081 0,8049 Cronbach's Alpha if Item Deleted 0,9436 0,9427 0,9417 0,9443 0,9443 0,9419 0,9446 0,9499 0,9417 0,9411 0,9418 0,9438 0,9439 0,9408 0,9450 0,9406 0,9422 0,9427 0,9436 0,9432 0,9482 0,9438 0,9408

Scale Mean if Item Deleted Y_1 Y_2 Y_3 Y_4 Y_5 Y_6 Y_7 Y_8 Y_9 Y_10 Y_11 Y_12 Y_13 Y_14 Y_15 Y_16 Y_17 Y_18 Y_19 Y_20 Y_21 Y_22 Y_23 92,6667 92,8333 92,8000 92,8667 92,9000 92,7667 93,1333 93,1000 92,7667 92,7000 92,7667 92,7000 92,5333 92,8333 92,9000 92,6667 92,7333 93,1333 93,0667 93,1000 92,9667 92,7000 92,8333

R tabel 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774 0,2774

Validitas valid valid valid valid valid valid valid tidak valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid

Reliability Statistics Cronbach's N of Alpha Items 0,945687638 23

117

Lampiran 2. Kuosioner / Angket Penelitian KUOSIONER/ANGKET PENELITIAN I. Pengantar Dengan hormat, Kiranya Tuhan Yang Maha Esa selalu menyertai Bapak/Ibu Guru dalam melaksanakan Tugas Pengabdian Kepada Nusa dan Bangsa ini. Saat ini bapak/ibu sedang membaca kuesioner/angket penelitian yang berjudul “Pengaruh Sikap Inovatif dan Motif Berprestasi Terhadap Prestasi Kerja Guru SMP Negeri Kota Sibolga”. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh sikap inovatif dan motif berprestasi terhadap prestasi kerja guru SMP Negeri di kota Sibolga sekaligus sebagai syarat untuk menyelesaikan program studi S2 Magister Manajemen Universitas Terbuka a.n. Drs Kamaruddin Gultom Staf Dinas Pendidikan Kota Sibolga. Agar penelitian ini berjalan dengan baik dan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan tentang manajemen sumber daya manusia, diharapkan kiranya bapak/ ibu dapat mengisi kuesioner/angket ini dengan terbuka dan sebenarnya. Jawaban yang bapak/ibu berikan tetap kami rahasiakan dan dijamin tidak berpengaruh negatif terhadap karir dan pekerjaan bapak/ibu. Demikian disampaikan atas perhatian dan partisipasinya diucapkan banyak terima kasih. II. Identitas Responden Usia Jenis kelamin : Tahun Bln

: ( ) laki-laki ( ) Perempuan

118

Pendidikan terakhir

: ( ) SLTA/DI ( ) DII/DIII ( ) S1 ( ) S2

Masa kerja

:

Tahun Tahun

Bln Bln

Lamanya menduduki posisi sekarang : Jabatan/kedudukan dalam sekolah :

III. Petunjuk Pengisian Kuesioner/Angket Untuk Sikap Inovatif 1. Bacalah terlebih dahulu pernyataan-pernyataan dengan seksama kemudian pilihlah salah satu pilihan yang tepat menurut pendapat bapak/ibu dengan sejujurnya dan sebenarnya. 2. Jawablah dengan membubuhkan tanda silang pada pilihan bapak/ibu

Contoh pengisian kuesioner/angket

No 1.

Pernyataan Saya menerima perubahan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan zaman Saya mengajar dengan tuntutan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

SS SS

S S

KS KS

TS TS

STS STS

2.

SS

S

KS

TS

STS

Keterangan: SS = Sangat Setuju S = Setuju TS = Tidak Setuju STS=Sangat Tidak Setuju

KS = Kurang Setuju

119

IV. Daftar Pernyataan Dan Pilihan Jawaban Kuesioner/Angket Untuk Sikap Inovatif Guru SMP Negeri Kota Sibolga No 1. Pernyataan Saya sangat senang dengan hadirnya teknologi komputer, untuk menunjang terlaksananya pekerjaan dengan baik Saya menyusun persiapan mengajar dengan memanfaatkan teknologi baru Saya suka membaca untuk mencari informasi baru tentang dunia pendidikan Saya suka berdiskusi dengan orong-orang yang mempunyai pengetahuan baru dibidang pendidikan Saya mengikuti model pembelajaran sesuai dengan informasi baru Saya memperkaya materi pelajaran dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Saya senang mencoba ide-ide baru dalam pendidikan sesuai dengan informasi yang saya terima Saya berupaya menerapkan sistem pembelajaran baru sesuai dengan kurikulum Kurikulum berbasis kompetensi yang dicanangkan saya anggap sebagai dinamika yang membawa peluang perkembangan sistim pendidikan Saya lebih suka menghadapi tugas yang penuh dinamika dari pada dalam kondisi monoton atau statis Saya berusaha tetap tenang ketika menghadapi masalah namun berusaha mencari solusi terbaik Saya mengajukan banyak solusi terhadap satu permasalahan Saya terlebih dahulu memikirkan kemutakhiran pelajaran yang saya ajarkan Saya sudah dapat memprediksi bahwa siswa dapat memahami materi pelajaran yang saya sampaikan SS SS S S KS KS TS TS STS STS

2. 3. 4

SS SS SS

S S S

KS KS KS

TS TS TS

STS STS STS

5 6

SS SS

S S

KS KS

TS TS

STS STS

7

SS

S

KS

TS

STS

8

SS

S

KS

TS

STS

9

SS

S

KS

TS

STS

10

SS

S

KS

TS

STS

11

SS

S

KS

TS

STS

12 13 14

SS SS SS

S S S

KS KS KS

TS TS TS

STS STS STS

120

No 15

Pernyataan Saya harus memiliki kemauan yang tinggi dalam mendeteksi berbagai permasalahan yang akan timbul di sekitar sekolah Saya melayani siswa dengan metodemetode yang baru Saya menyukai siswa yang mau mengutarakan ide-ide baru. Saya berusaha mencari solusi penyelesaian tentang keluhan siswa dengan konsep-konsep yang baru Saya suka memakai media pembelajaran dengan teknologi yang lebih canggih

SS SS

S S

KS KS

TS TS

STS STS

16 17 18

SS SS SS

S S S

KS KS KS

TS TS TS

STS STS STS

19

SS

S

KS

TS

STS

V. Petunjuk Pengisian Kuesioner/Angket Untuk Motif Berprestasi 1. Bacalah terlebih dahulu pernyataan-pernyataan dengan seksama kemudian pilihlah salah satu pilihan yang tepat menurut pendapat bapak/ibu dengan sejujurnya dan sebenarnya. 2. Jawablah dengan membubuhkan tanda silang pada pilihan bapak/ibu

Contoh : engisian kuesioner/angket No Pernyataan 1. Saya berada di sekolah setiap jam kerja sekalipun tidak bertugas melaksanakan pembelajaran 2. Saya berorientasi tugas dari pada materi. SL SL SR SR KD KD JR JR TP TP

SL

SR

KD

JR

TP

Keterangan: SL = Selalu SR = Sering KD= Kadang-kadang JR = Jarang TP = Tidak Pernah

121

VI. Daftar Pernyataan Dan Pilihan Jawaban Kuesioner/Angket Untuk Motif Berprestasi Guru SMP Negeri Kota Sibolga

No 1 2 3

Pernyataan Saya mampu menyelesaikan tugas tepat waktu Saya bangga dengan profesi saya sebagai guru Saya merasa yakin bahwa saya mampu meraih sukses dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab saya sebagai guru Saya mempersiapkan diri sejak dini untuk menjadi guru yang terbaik Saya senang mengikuti pertemuan ilmiah Saya lebih suka bekerja dengan orang yang memiliki kemampuan yang lebih professional Saya lebih suka bergaul dengan orang yang memiliki prestasi kerja Saya melakukan tugas sesuai dengan uraian tugas dengan sebaik mungkin Saya mau menyelesaikan tugas sekalipun diluar jam kerja yang telah ditentukan

SL SL SL SL

SR SR SR SR

KD KD KD KD

JR JR JR JR

TP TP TP TP

4 5 6 7 8 9

SL SL SL SL SL SL

SR SR SR SR SR SR

KD KD KD KD KD KD

JR JR JR JR JR JR

TP TP TP TP TP TP

122

LEMBAR OBSERVASI PRESTASI KERJA GURU SMP NEGERI KOTA SIBOLGA Pengantar. Dengan hormat dimohon kesediaan bapak/ibu kepala sekolah untuk dapat membantu mengobservasi prestasi kerja guru SMP Negeri kota Sibolga sebagai bahan penelitian yang dilaksanakan dalam rangka menyelesaikan program S2 Magister Manajemen Universitas Terbuka oleh Kamaruddin Gultom Staf dinas pendidikan kota Sibolga. Demikian disampaikan atas partisipasinya diucapkan terima kasih.

Petunjuk Pengisian Observasi a. Isilah nama guru yang diobservasi, b. Bacalah terlebih dahulu penjelasan skala nilai dan pernyataan-pernyataan yang menyangkut sikap dan perilaku guru yang bapak/ibu amati dengan seksama kemudian tentukanlah salah satu pilihan yang tepat menurut

pengamatan bapak/ibu dengan sejujurnya dan sebenarnya, c. Jawaban yang bapak/ibu berikan tetap kami rahasiakan dan dijamin tidak berpengaruh negatif terhadap karir dan pekerjaan guru yang diobservasi, d. Jawablah dengan membubuhkan tanda silang pada pilihan saudara,

123

Penjelasan Skala nilai perilaku Guru 1. Tanggung jawab a. Mampu menyelesaikan tugas tepat pada waktunya Skala nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Selalu menyelesaikan tugas tepat pada waktunya Pada umumnya menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat pada waktunya Ada kalanya terlambat melaksanakan tugas Ada kalanya tidak menyelesaikan tugas Sering tidak menyelesaikan tugas

b. Mengutamakan kepentingan dinas Skala nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Selalu mengutamakan kepentingan dinas dari pada kepentingan pribadi Pada umumnya mengutamakan kepentingan dinas daripada kepentingan pribadi Mengutamakan kepentingan dinas dalam keadaan terpaksa Ada kalanya mengutamakan kepentingan dinas Sering mengabaikan kepentingan dinas

c. Mampu dan mau memikul resiko pekerjaannya Skala Nilai Penjelasan 5 Berani memikul resiko dari keputusan yang diambil atau tindakan yang dilakukan 4 Pada umumnya berani memikul resiko dari keputusan yang diambil dan tindakan yang dilakukan 3 Ada kalanya melibatkan orang lain dan mengalihkan sebahagian resiko yang dibuatnya kepada orang lain 2 Ada kalanya tidak berani memikul resiko yang dibuatnya sendiri kepada orang lain 1 Sering tidak berani memikul resiko

124

2. Kerjasama a. Menghargai pendapat orang lain Skala nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Selalu menghargai pendapat orang lain Pada umumnya menghargai pendapat orang lain Ada kalanya kurang menghargai pendapat orang lain Kurang menghargai pendapat orang lain Sering tidak menghargai pendapat orang lain

b. Mampu bekerja sama Skala nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Selalu mampu bekerja sama dengan orang lain Pada umumnya mampu bekerja sama orang lain Ada kalanya kurang mampu bekerja sama dengan orang lain Kurang mampu bekerja sama dengan orang lain Sering tidak mampu bekerja sama dengan orang lain

c. Menyesuaikan pendapat dengan orang lain Skala nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Dengan cepat dapat menyesuaikan pendapatnya dengan pendapat orang lain apabila yakin bahwa pendapat itu benar Pada umumnya dapat menyesuaikan pendapatnya dengan pendapat orang lain Pendapat orang lain dapat diterimanya setelah berulang kali diyakinkan Ada kalanya tidak dapat menyesuaikan pendapatnya dengan pendapat orang lain Sering tidak menerima pendapat orang lain

125

3. Prakarsa/Proaktif Mencari tata kerja baru Skala nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Selalu berusaha mencari dan menerima tata kerja baru dalam pekerjaannya agar berhasil dan berdaya guna Pada umumnya mencari dan menerima tata kerja baru Ada kalanya kurang berusaha mencari dan menerima tata kerja baru Kurang berusaha mencari tata kerja baru Tidak pernah berusaha mencari tata kerja baru

4. Membuat perangkat pembelajaran a. Mampu mendiskripsikan tujuan pembelajaran untuk butir ini perlu diperhatikan lima syarat: √ Kesesuaian Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) dengan Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) √ Kelengkapan jumlah TPK √ Kejelasan rumusan(tidak menimbulkan tafsiran ganda) √ Kelengkapan rumusan TPK(subjek tingkah laku yang dpat diukur) √ Urutan TPK dari yang mudah kepada yang sukar Skala nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Lima syarat yang dipenuhi Empat syarat yang dipenuhi Tiga syarat yang dipenuhi Dua syarat yang dipenuhi Hanya satu syarat yang dipenuhi

126

b.Mampu menentukan materi Skala Nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Bahan bidang pengajaran yang akan diajarkan: Dicantumkan dan seluruhnya sesuai dengan TPK Dicantumkan dan sebagian besar sesuai dengan TPK Dicantumkan dan sebagian tidak sesuai dengan TPK Dicantumkan tetapi tidak sesuai denganTPK Tidak tercantum

c.Mampu menentukan metode pembelajaran Penjelasan Dalam rencana pengajaran : Tercantum lebih dari dua metode mengajar yang relevan dengan TPKdan bahan Tercantum dua metode mengajar yang relevan dengan TPK dan bahan Tercantum satu metode mengajar yang relevan denganTPK dan bahan Tercantum metode mengajar tetapi tidak sesuai dengan TPK dan bahan Tidak tercantum metode mengajar

5 4 3 2 1

5. Melaksanakan kegiatan pembelajaran a.Mampu membuka pelajaran: untuk butir ini perlu diperhatikan empat ciri berikut: √ Menarik perhatian siswa √ Menimbulkan motivasi √ Memberi acuan √ Memberi kaitan

127

Skala Nilai 5 4 3 2 1

Penjelasan Dalam membuka pelajaran : Empat ciri muncul Tiga ciri muncul Dua ciri muncul Satu ciri muncul Tidak satu pun ciri diatas muncul

b. Mampu menyajikan pelajaran untuk butir ini perlu diperhatikan empat ciri berikut: √ Bahan yang disampaikan benar tidak ada yang menyimpang dari TPK √ Penyampaian lancar tidak tersendat-sendat √ Penyampaian Sistimatis √ Bahasanya jelas dan benar mudah dimengerti oleh siswa Skala Nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Dalam menyampaikan bahan: Empat ciri muncul Tiga ciri muncul Dua ciri muncul Satu ciri muncul Tidak satu pun ciri diatas muncul

c. Menggunakan alat/media pengajaran untuk butir ini perlu diperhatikan ciri-ciri sebagai berikut: √ √ √ √ Cara penggunaannya tepat Membantu pemahaman murid Sesuai dengan tujuan Jenisnya bervariasi (lebih dari satu)

128

Skala Nilai 5 4 3 2 1

Penjelasan Dalammenggunakan alat: Empat ciri muncul Tiga ciri muncul Dua ciri muncul Satu ciri muncul Tidak satu pun ciri diatas muncul

d. Mampu memotivasi siswa untuk butir ini perlu dilibatkan empat cara memotivasi: √ Memberitahukan tujuan pembelajaran √ Memberikan gambaran umum tentang inti bahan pelajaran √ Memberikan gambaran tentang kegiatan yang akan dilakukan √ Mengemukakan kegiatan-kegiatan yang menarik Skala Nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Dalam memotivasi murid Digunakan empat cara memotivasi Digunakan tiga cara memotivasi Digunakan dua cara memotivasi Digunakan satu cara memotivasi Tidak satu pun cara yang digunakan

129

e. Mampu menyimpulkan pembelajaran Skala Nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Dalam menyimpulkan pembelajaran Kesimpulannya jelas, mencakup seluruh pelajaran saat itu,serta dibuat bersama-sama oleh guru dan siswa Kesimpulannya jelas, mencakup seluruh pelajaran saat itu, dibuat oleh guru Kesimpulannya jelas tapi hanya mencakup sebagian dari pelajaran Kesimpulan ada tapi tidak jelas Tidak ada kegiatan menyimpulkan

f. Mampu menggunakan waktu untuk butir ini perlu diperhatikan beberapa hal berikut: √ Sebagian kecil waktu (10 menit) digunakan untuk pendahuluan √ Sebagian besar waktu digunakan untuk kegiatan inti √ Sebagian kecil (5-10 menit) digunakan untuk mengakhiri pelajaran √ Pelajaran diakhiri tepat pada waktunya Skala Nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Dalam menggunakan waktu: Empat ciri muncul Tiga ciri muncul Dua ciri muncul Satu ciri muncul Tidak satu pun ciri muncul

6. Melaksanakan analisis hasil ulangan a.Mampu mengolah dan menganalisis hasil ulangan. untuk butir ini perlu diperhatikan beberapa hal berikut: √ Mengoreksi hasil jawaban siswa

130

√ Menentukan bobot nilai jawaban siswa √ Menggunakan rumus penilaian dengan tepat √ Menetapkan nilai siswa Skala Nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Dalam menganalisis hasil ulangan : Empat ciri muncul Tiga ciri muncul Dua ciri muncul Satu ciri muncul Tidak satu pun ciri diatas muncul

b.Mampu menyusun laporan penilaian untuk butir ini perlu diperhatikan beberapa hal berikut: √ Menyusun daftar penilaian siswa √ Menyusun urutan rangking siswa √ Menuliskan analisis keberhasilan siswa √ Menyampaikan hasil penilaian siswa kepada kepala sekolah Skala Nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Dalam menyusun laporan ulangan : Empat ciri muncul Tiga ciri muncul Dua ciri muncul Satu ciri muncul Tidak satu pun ciri diatas muncul

131

7. Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan untuk butir ini perlu diperhatikan beberapa hal berikut: √ Mengklasifikasikan kemampuan siswa √ Mengidentifikasi kebutuhan perbaikan dan pengayaan √ Menyusun program perbaikan dan pengayaan √ Mengevaluasi hasil perbaikan dan pengayaan Skala Nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Dalam melaksanakan program perbaikan dan pengayaan : Empat ciri muncul Tiga ciri muncul Dua ciri muncul Satu ciri muncul Tidak satu pun ciri diatas muncul

8. Membuat alat peraga/media Untuk butir perlu diperhatikan beberapa hal berikut : √ √ √ √ Mengetahui materi yang memerlukan alat peraga Dapat menentukan bahan alat peraga Dapat membuat alat peraga dengan benar Dapat menggunakan alat peraga untuk mendukung materi Skala Nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Dalam melaksanakan program perbaikan dan pengayaan : Empat ciri muncul Tiga ciri muncul Dua ciri muncul Satu ciri muncul Tidak satu pun ciri diatas muncul

132

9. Mengikuti kegiatan pengembangan dan pemasyarakatan kurikulum untuk butir ini perlu diperhatikan beberapa hal berikut: √ Pernah mengikuti penataran yang berhubungan dengan pengembangan kurikulum √ Aktif dalam MGMP √ Aktif mengikuti kegiatan lokakarya, seminar tentang kurikulum pendidikan √ Mengembangkan bahan ajar berdasarkan kurikulum yang berlaku Skala Nilai 5 4 3 2 1 Penjelasan Dalam melaksanakan program perbaikan dan pengayaan : Empat ciri muncul Tiga ciri muncul Dua ciri muncul Satu ciri muncul Tidak satu pun ciri diatas muncul

10. Mengumpulkan dan menghitung angka kredit kenaikan pangkat Untuk butir ini perlu diperhatikan beberapa hal berikut: Mendokumentasikan bukti-bukti fisik kegiatan pengajaran dilakukan. Mendokumentasikan bukti-bukti fisik kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan. Menghitung sendiri nilai angka kredit dari setiap kegiatan yang dilakukan. Mengusulkan kepada pihak penilai bukti fisik kegiatan untuk dinilai yang

133

Penjelasan Skala Nilai Dalam Mengumpulkan dan menghitung angka kredit kenaikan pangkat Empat ciri muncul Tiga ciri muncul Dua ciri muncul Satu ciri muncul Tidak satu pun ciri diatas muncul

5 4 3 2 1

134

LEMBAR OBSERVASI PETUNJUK PENGISIAN 1. Nama Guru Yang diobservasi:_____________________________________ 2. Setelah membaca penjelasan skala nilai perilaku guru seperti tersebut di atas berikanlah hasil pengamatan bapak/ibu terhadap perilaku guru yang namanya

tersebut di atas dengan membubuhkan tanda (X) pada salah satu pilihan di bawah ini. 3.Contoh: No 1. Sikap/perilaku guru Tanggung jawab: a.Dapat menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya b.Mengutamakan kepentingan dinas 1 1 2 2 3 3 4 4 5 5 S k a l a

Keterangan: Skala nilai 1 s/d 5 adalah sekala terendah s/d tertinggi

135

DAFTAR SKALA NILAI DAN PILIHAN JAWABAN No 1. Sikap/perilaku guru Tanggung jawab: a. Dapat menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya b. Mengutamakan kepentingan dinas c.Berani memikul resiko dari keputusan yang diambil Kerjasama: a. Menghargai pendapat orang lain b. Menyesuaikan pendapat dengan orang lain yang diyakini benar c. Mampu bekerja sama 3. 4. Prakarsa: Mencari tata kerja baru Membuat perangkat pembelajaran a. Mampu mendeskripsikan tujuan pembelajaran b. Mampu memilih/menentukan materi c.Mampu menentukan methode/strategi permbelajaran Melaksanakan kegiatan pembelajaran a. Mampu membuka pelajaran b. Mampu menyajikan pelajaran c. Mampu menggunakan media pembelajaran d. Mampu memotivasi siswa e. Mampu menyimpulkan pengajaran f. Mampu menggunakan waktu S 1 1 1 k 2 2 2 a 3 3 3 4 4 4 l a 5 5 5

2.

1 1 1 1

2 2 2 2

3 3 3 3

4 4 4 4

5 5 5 5

1 1 1

2 2 2

3 3 3

4 4 4

5 5 5

5.

1 1 1 1 1 1

2 2 2 2 2 2

3 3 3 3 3 3

4 4 4 4 4 4

5 5 5 5 5 5

136

No 6.

Sikap/perilaku guru Melaksanakan analisis hasil ulangan a. Mampu mengolah dan menganalisis hasil penilaian b. Mampu menyusun laporan hasil penilaian Melaksanakan program perbaikan dan pengayaan: Menggunakan alat peraga untuk mendukung materi pengajaran Mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum

S

k

a

l

a

1 1 1 1 1 1

2 2 2 2 2 2

3 3 3 3 3 3

4 4 4 4 4 4

5 5 5 5 5 5

7. 8. 9.

10. Menghitung angka kredit kenaikan angkat

137

Lampiran 3. Data Penelitian Variabel Independen ( X1 dan X2 ) serta Variabel Dependen ( Y ) Data Variabel Independen X1 ( Sikap Inovatif )
NO X1_1 X1_2 X1_3 X1_4 X1_5 X1_6 X1_7 X1_8 X1_9 X1_10 X1_11 X1_12 X1_13 X1_14 X1_15 X1_16 X1_17 X1_18 X1_19 1 3 4 4 3 4 4 3 4 5 2 4 4 3 4 2 2 3 3 4 2 2 3 3 4 3 5 2 4 4 3 2 3 2 4 3 2 4 2 3 3 3 3 4 4 4 5 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 3 2 3 3 4 3 4 4 2 3 3 3 3 3 3 4 3 4 5 4 3 2 3 3 4 3 3 3 3 4 4 2 3 3 2 3 2 3 6 3 3 2 3 3 4 2 4 3 2 3 4 3 4 3 3 4 3 4 7 3 4 3 3 4 3 2 3 3 3 3 4 3 4 2 3 3 2 4 8 3 3 3 4 4 4 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 4 9 4 4 2 3 3 4 2 3 3 2 3 3 2 3 2 3 4 3 3 10 4 3 3 4 3 5 3 5 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 11 4 3 2 3 3 4 2 3 4 2 4 3 3 4 3 3 3 3 3 12 4 3 3 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 4 4 13 4 3 4 3 3 3 3 3 4 2 3 3 3 3 2 3 3 4 4 14 4 4 4 3 4 3 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 4 15 3 4 4 3 4 5 4 3 3 3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 16 2 4 3 4 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 17 3 4 4 3 4 4 3 4 5 4 3 4 4 3 3 3 4 4 3 18 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 5 3 4 19 3 5 4 3 3 4 3 4 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 4 20 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 5 4 4 4 21 3 3 2 3 4 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 3 3 3 3 22 4 4 4 4 4 5 4 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 5 5 23 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 3 4 4 4 Jlh

65 58 72 60 57 60 59 58 56 72 59 59 60 67 67 59 69 68 67 75 57 76 70

138

24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51

3 3 4 4 3 2 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 3 4 3

3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3

2 2 2 4 2 3 4 2 2 4 4 3 3 4 4 4 4 2 4 4 3 3 3 3 4 4 4 2

3 3 3 4 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 5 4 4 4 4 4 4 3

3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 5 4 4 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3

4 3 3 4 3 3 3 3 3 5 4 4 4 4 3 4 4 4 3 5 4 4 3 3 3 4 3 4

2 4 3 3 2 4 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 4 4 4 2

3 3 3 4 3 3 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3

3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 3 4 3

3 3 3 3 3 3 2 2 2 4 2 4 4 3 3 4 4 2 3 3 4 4 4 3 3 3 4 4

3 4 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 4 4 3 4 3 4 4 3 3 4 4 4 4 3 3

3 3 3 3 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 4 4 2 3 4 4 4 4 4 4 3 4 3

2 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 5 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 3

3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 2 4 3 3 4 4 4 4 3 3 4 3 4 3 3 3 3

3 3 2 3 3 2 3 4 3 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3

3 3 3 4 3 3 2 3 3 4 2 2 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 3 4 4

4 3 3 4 3 3 3 4 4 3 3 2 3 4 4 3 5 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2

4 3 4 3 4 3 4 4 3 4 3 3 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3

3 4 3 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4 4 5 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3

57 59 58 68 58 57 58 66 59 71 58 58 70 69 71 74 77 58 68 74 70 71 68 71 70 68 71 57

139

52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68

4 4 4 4 3 4 3 3 4 4 3 3 4 3 3 4 3

4 3 4 4 3 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 3

4 4 4 4 3 5 4 4 4 4 3 2 4 3 3 4 4

5 4 4 3 3 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4

4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 4 3 4 4 3 4 4

4 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 3

4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 2 3 4 4 4 3 4

4 4 3 3 3 4 4 3 4 3 3 4 3 3 4 4 4

3 4 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4

3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 3 4 3

4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 3 3 3 4 3 3 4

4 4 4 4 3 4 4 4 3 4 2 2 4 3 3 4 3

4 4 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 4 3 4 4

4 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3

4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 3 3 4 3 3 3 3

3 3 4 4 3 4 3 4 5 4 3 3 3 4 3 4 3

3 4 4 4 2 4 3 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4

3 5 4 3 3 5 4 4 3 3 3 3 4 4 3 4 4

3 4 4 3 3 4 4 4 3 3 3 3 4 4 3 4 4

71 73 70 68 58 78 66 69 67 65 58 57 69 66 62 72 68

140

Data Variabel Independen X2 ( Motif Berprestasi )
X2_1 3 5 5 4 3 4 4 3 3 5 4 4 4 3 3 4 4 3 4 5 4 4 4 4 4 5 3 4 4 4 4 3 4 3 5 4 3 3 4 X2_2 3 4 4 3 3 4 3 4 3 5 4 4 3 4 4 4 5 3 3 4 4 3 5 5 4 4 4 3 4 5 4 4 5 3 4 4 4 4 4 X2_3 3 3 5 2 3 4 2 3 2 5 3 3 4 4 3 4 4 3 3 5 4 4 4 4 3 5 4 4 4 4 5 4 4 4 5 4 4 4 4 X2_4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 5 4 3 5 3 4 4 5 3 4 3 4 4 4 4 3 5 4 4 4 3 3 4 X2_5 3 3 4 3 3 4 2 3 3 5 3 3 4 4 3 4 4 3 3 4 4 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 3 5 3 4 4 4 X2_6 4 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 3 5 4 4 4 4 4 4 X2_7 3 3 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 3 4 4 3 3 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 3 5 3 3 3 4 X2_8 4 4 5 3 3 4 3 3 3 4 4 3 4 4 4 5 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 4 4 4 3 3 X2_9 3 4 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 3 3 3 4 Jlh

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

30 34 39 31 28 34 26 28 27 40 31 30 32 33 30 37 38 28 29 38 35 33 37 38 31 36 29 33 36 37 36 31 39 31 40 33 32 31 35

141

40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68

4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4

3 4 3 4 4 4 4 5 4 5 4 2 4 4 3 5 4 4 4 5 4 5 4 4 3 3 2 4 4

4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 3 5 3 4 4 4 4 5 4 4 4 3 3 4 4

4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 3 4 3 3 4 3 4 4 5 4 5 4 4 4 3 3 3 4

3 4 3 3 3 5 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 5 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4

4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 5 4 4 3 4 3 3 4 4

4 4 3 4 4 5 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 5 5 4 4 4 4 4 3 4 3

4 4 3 3 3 4 4 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 5 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4

3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3

33 36 27 33 32 38 36 37 32 35 30 26 35 35 33 38 28 38 36 39 38 39 36 34 35 30 26 34 34

142

Data Variabel Dependen Y ( Prestasi Kerja Guru )
Y_1 3 3 4 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 3 3 Y_2 4 3 4 4 2 2 2 2 3 4 2 2 3 3 4 4 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 4 Y_3 3 3 4 4 3 4 3 2 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 3 4 3 4 4 4 2 3 3 3 Y_4 4 4 4 3 2 4 3 2 3 3 2 4 3 3 4 3 4 3 4 3 3 5 3 4 3 2 4 4 Y_5 3 3 3 4 3 3 3 2 2 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 3 3 3 Y_6 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 Y_7 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 2 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 Y_8 4 2 4 3 2 2 3 3 2 4 2 2 3 5 3 3 5 4 4 4 3 3 4 3 3 5 2 Y_9 Y_10 Y_11 Y_12 Y_13 Y_14 Y_15 Y_16 Y_17 Y_18 Y_19 Y_20 Y_21 Y_22 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 2 3 3 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 4 3 4 3 4 3 4 4 3 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 3 4 3 4 3 2 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 2 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 2 3 3 2 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 2 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3 3 4 5 3 4 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4 3 4 3 3 4 3 4 4 5 3 3 5 3 3 3 4 3 3 3 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 5 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 5 4 4 4 4 4 3 4 3 4 2 2 4 4 2 4 4 4 3 3 3 5 3 3 4 3 5 3 4 4 4 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4 3 3 3 4 4 4 3 4 4 3 3 5 3 4 3 3 4 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 4 3 4 4 4 3 Jlh 74 68 83 79 66 75 65 64 61 82 64 66 66 78 77 67 82 78 76 82 72 85 77 76 76 74 79 73

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

143

29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59

3 4 3 3 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4

3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 3 3 4 3 3 4 4

3 3 3 3 4 2 3 4 3 3 3 4 3 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 4 3 4

5 4 4 4 3 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3

3 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 3 4 3 4 3 4 4 4

3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 4 3 4 3 3 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4

3 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 4 3

5 3 2 3 4 3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 3 4 3 3 4 3 4 4 4

3 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 4 3 4 4 4 3 4 3 4 3 4 3 4

3 3 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 3 3 4 3 3 4 4

4 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4

3 3 4 4 4 3 3 3 4 3 4 4 4 3 3 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4

4 3 4 4 5 4 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3

4 3 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 3 3 4 4 3 4 4 4 4 3 2 4 4 3 4 3 4 4 4

4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4

4 4 2 3 3 3 4 4 3 3 4 3 2 4 4 4 3 3 3 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 3 3

3 4 4 3 4 3 3 2 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 4 3 4 3 4 4 3

4 4 3 3 3 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3 4 4 4 2 4 4 4 4 3 4 4 4

3 4 3 4 4 3 3 2 3 3 4 3 3 4 4 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 3 4 3 3 3 3

3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 3 4 3 3 4 3 4 4 4

3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 4 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4

3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 3 3 4 4 4

76 72 73 78 79 71 71 73 72 78 77 79 78 82 79 80 78 80 78 82 83 84 70 82 80 68 83 67 84 82 82

144

60 61 62 63 64 65 66 67 68

4 4 3 4 4 3 3 4 4

4 3 4 4 3 3 3 4 3

4 3 4 3 3 3 3 4 4

4 4 3 4 4 2 3 3 3

4 4 4 4 3 3 2 3 4

4 3 4 3 3 3 3 4 4

3 4 3 4 4 3 3 3 3

3 3 3 3 3 3 3 4 4

4 4 4 4 3 4 3 3 4

4 4 4 3 4 3 4 4 3

4 4 3 4 4 3 3 3 3

3 3 4 3 3 3 3 4 4

4 4 3 4 4 3 2 4 3

4 3 4 3 4 3 3 3 3

3 4 4 4 3 3 3 4 4

4 4 3 3 4 3 4 3 3

3 4 4 3 3 2 3 4 4

4 4 4 4 4 3 3 4 2

3 4 3 3 4 3 4 4 3

4 4 4 3 3 4 3 3 4

4 4 4 4 3 3 3 3 3

4 4 3 4 4 3 3 4 4

82 82 79 78 77 66 67 78 76

145

LAMPIRAN 4. UJI NORMALITAS KOLMOGOROV - SMIRNOV UJI NORMALITAS KOLMOGOROV – SMIRNOV
NPAR TESTS /K-S(NORMAL)=Y /MISSING ANALYSIS.

NPar Tests
[DataSet0]

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Prestasi Kerja Guru N Normal Parameters
a

68 75.7500 6.02080

Most Extreme Differences

.149 .092 -.149

Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed)

1.228 .098

a. Test Distribution is Normal

REGRESSION /MISSING LISTWISE /STATISTICS COEFF OUTS R ANOVA /CRITERIA=PIN(.05) POUT(.10) /NOORIGIN /DEPENDENT Y /METHOD=ENTER X1 X2.

146

147

LAMPIRAN 5. ANALISIS REGRESI

Regression

Variables Entered/Removed Variables Model 1 Entered Motif Berprestasi, Sikap Inovatif
a

b

Variables Removed Method

. Enter

a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: Prestasi Kerja Guru

Model Summary Adjusted R Model 1 R .725
a

Std. Error of the Estimate

R Square .526

Square .511

4.20853

a. Predictors: (Constant), Motif Berprestasi, Sikap Inovatif

ANOVA Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares 1277.490 1151.260 2428.750 df

b

Mean Square 2 65 67 638.745 17.712

F 36.063

Sig. .000
a

a. Predictors: (Constant), Motif Berprestasi, Sikap Inovatif b. Dependent Variable: Prestasi Kerja Guru

148

Coefficients

a

Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) Sikap Inovatif Motif Berprestasi B 23.248 .526 .542 Std. Error 6.213 .085 .140 .549 .344 Coefficients Beta t 3.742 6.161 3.863 Sig. .000 .000 .000

a. Dependent Variable: Prestasi Kerja Guru

LAMPIRAN 6. UJI ASUMSI KLASIK Uji Multi Kolonieritas

Regression
Coefficients Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) Sikap Inovatif Motif Berprestasi B 23.248 .526 Std. Error 6.213 .085 .549
a

Standardized Coefficients Beta t 3.742 6.616 Sig. .000 .000 .920 1.087 Collinearity Statistics Tolerance VIF

.542

.140

.344

3.863

.000

.920

1.087

a. Dependent Variable: Prestasi Kerja Guru

149

LAMPIRAN 7.UJI HETEROSKEDASTISITAS

Charts

150

LAMPIRAN 8. UJI NORMALITAS RESIDUAL

Charts

151

NPAR TESTS /K-S(NORMAL)=RES_1 /MISSING ANALYSIS. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual N Normal Parameters
a

68 Mean Std. Deviation .0000000 4.14523578 .068 .046 -.068 .7558 .915

Most Extreme Differences

Absolute Positive Negative

Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful