Laporan Asuhan Keperawatan Cedera Kepala Ringan

Posted on 25 Maret 2010 by Ghandi| Tinggalkan komentar

LAPORAN PENDAHULUAN CEDERA KEPALA RINGAN Konsep Dasar

A.

Pengertian

Cedera kepala yaitu adanya deformitas berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan (accelerasi – descelarasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan factor dan penurunan percepatan, serta rotasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan.

B.

Patofisiologi

Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi, energi yang dihasilkan di dalam sel – sel syaraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg % karena akan menimbulkan koma, kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan tubuh, sehingga bila kadar oksigen plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala – gejala permulaan disfungsi cerebral. Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolisme anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan oksidasi metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan asidosis metababolik. Dalam keadaan normal Cerebral Blood Flow (CBF) adalah 50 – 60 ml / menit 100 gr. Jaringan otak yang merupakan 15 % dari cardiac output. Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktifitas atypical myocardial, perubahan tekanan vaskuler dan udema paru. Perubahan otonim pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P aritmia, fibrilasi atrium dan ventrikel serta takikardi. Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan tekanan vaskuler akan menyebabkan pembuluh darah arteriol akan

Pengaruh persyarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar. Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1 – 2 hari. Udema otak 5). Cedera kepala sekunder : timbul gejala seperti : 1). Epidural hematoma Terdapat pengumpulan darah diantara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah / cabang – cabang arteri meningeal media yang terdapat diantara duramater. Komplikasi pernapasan 6). 1. KLASIFIKASI CIDERA KEPALA Cidera kepala primer Akibat langsung pada mekanisme dinamik ( acceselarsi – descelerasi rotasi ) yang menyebabkan gangguan pada jaringan. Hipotensi sistemik 2). Pada cidera primer dapat terjadi : 1). a. Memar otak 3).berkontraksi. b. Gejala – gejalanya : . 2. Lokasi yang paling sering yaitu di lobus temporalis dan parietalis. Infeksi komplikasi pada organ tubuh yang lain. Geger kepala ringan 2). Hiperkapnea 3). Hipokapnea 4). Laserasi. pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena sangat berbahaya . JENIS PERDARAHAN YANG SERING DITEMUI PADA CIDERA KEPALA : a.

.1). Muntah 4). Peningkatan suhu b. Periode akut dapat terjadi dalam 48 jam – 2 hari. perdarahan lambat dan sedikit. Penurunan nadi 8). Bingung 3). 2 minggu atau beberapa bulan. Dilatasi pupil ipsilateral 6). Mengantuk 4). Udem pupil. Berfikir lambat 6). Pernapasan cepat dalam kemudian dangkal ( reguler ) 7). dapat terjadi akut dan kronik. Penurunan tingkat kesadaran 2). Kejang 7). Gejala – gejalanya : 1). Nyeri kepala 2). Subdural hematoma Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak. Nyeri kepala 3). Hemiparese 5). Menarik diri 5). Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena / jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater.

kapiler dan vena. Kaku kuduk. hampir selalu ada pada cedera kepala yang hebat. Gejala – gejalanya : 1). Penurunan kesadaran 3). Perubahan tanda – tanda vital d. Hemiparese 4). Komplikasi pernapasan 4). Perdarahan Subarachnoid Perdarahan di dalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan permukaan otak. Dilatasi pupil 6). Gejala – gejalanya : 1). Perdarahan intra serebral berupa perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri. Nyeri kepala 2). 3. Penurunan kesadaran 3).1. Nyeri kepala 2). Hemiplegi kontra lateral 5). HUBUNGAN CEDERA KEPALA TERHADAP MUNCULNYA MASALAH KEPERAWATAN . Dilatasi pupil ipsilateral 5).

penghasilan. convulsi. Riwayat kesehatan Tingkat kesadaran / GCS < 15. paralise. akumulasi secret pada saluran pernapasan. sakit kepala. lemah. PENGKAJIAN Pengumpulan data klien baik subyektif maupun obyektif pada gangguan sistem persyarafan sehubungan dengan cedera kepala tergantung pada bentuk. jenis injuri dan adanya komplikasi pada organ vital lainnya. Identitas klien dan keluarga ( penanngungjawab ) : nama. suku bangsa. adanya liquor dari hidung dan telinga serta kejang.Asuhan Keperawatan 1. 1. 2. wajah simetris atau tidak. umur. . hubungan klien dengan penanggungjawab. jenis kelamin. muntah. agama. luka di kepala. takipnea. 3. alamat golongan darah. status perkawinan. lokasi.

3) Integritas ego S : Perubahan tingkah laku / kepribadian O : Mudah tersinggung. Postur (dekortisasi. hemiparese. atensi dan kinsentarsi) perubahan pupil (respon terhadap cahaya).Riwayat penyakit dahulu barulah diketahui dengan baik yang berhubungan dengan sistem persyarafan maupun penyakit sistem – sistem lainnya. kehilangan pendengaran. 5) Makanan / cairan S : Mual. lelah. 1) Pemeriksaan Fisik Aktifitas / istirahat S : Lemah. takhikardi dan aritmia. kejang. tinitus. perubahan penglihatan. nadi bradikardi. kehilangan penginderaan. 7) Nyeri / rasa nyaman . Sensitive terhadap sentuhan / gerakan. kaku dan hilang keseimbangan O : Perubahan kesadaran. letargi. gangguan pengecapan / pembauan. gangguan menelan (batuk. 2) Sirkulasi O : Tekanan darah normal atau berubah. disfagia). pengecapan dan pembauan serta pendengaran. perubahan selera makan O : Muntah (mungkin proyektil). diplopia. bingung. depresi dan impulsive 4) Eliminasi O : bab / bak inkontinensia / disfungsi. Perubahan status mental (orientasi. vertigo. muntah. desebrasi). cidera pada tulang dan kehilangan tonus otot. koma. O : Perubahan kesadara.goyah dalam berjalan ( ataksia ). 6) Neuro sensori : S : Kehilangan kesadaran sementara. demikian pula riwayat penyakit keluarga yang mempunyai penyakit menular. 1. kewaspadaan. guadriparese.

7) PET . 2) MRI Digunakan sama dengan CT – Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif. 1) Pemeriksaan penunjang CT. 4) Serial EEG Dapat melihat perkembangan gelombang patologis. stridor . perdarahan. merintih.perubahan regulasi temperatur tubuh. napas berbunyi. fragmen tulang. demam. tonus otot hilang kekuatan paralysis. 10) Intensitas sosial O : Afasia. 5) X – Ray Mendeteksi perubahan struktur tulang ( fraktur ) perubahan struktur garis ( perdarahan / edema ). gangguan penglihatan.S : Sakit kepala dengan intensitas dan lokai yang berbeda.Scan ( dengan tanpa kontras ) Mengidentifikasi luasnya lesi. 8) Repirasi O : Perubahan pola napas ( apnea. perdarahan dan trauma. distarsia 1. 3) Cerebral Angiography Menunjukkan anomaly sirkulasi serebral seperti : perubahan jaringan otak sekunder menjadi edema. 9) Keamanan S : Trauma / injuri kecelakaan O : Fraktur dislokasi. gangguan ROM. ronchi dan wheezing. 6) BAER Mengoreksi batas fungsi korteks dan otak kecil. hiperventilasi ). determinan. O : Wajah menyeringa. ventrikuler dan perubahan jaringan otak.

11) Screen Toxicologi Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga menyebabkan penurunan kesadaran. Tujuan : . Pemberian informasi tentang proses penyakit. Pengaturan fungsi secara optimal / mengembalikan ke fungsi normal. Mendukung proses pemulihan koping klien / keluarga 5). Memaksimalkan perfusi / fungsi otak 2). pengobatan dan rehabilitasi. 8) CFS Lumbal punksi : dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid.Mendeteksi perubahan aktifitas metabolisme otak. 10) Kadar elektrolit Untuk mengoreksi keseimbangan elektrolit sebagai peningkatan tekanan intrakranial. 1. Konservatif : Bedres total Pemberian obat – obatan Observasi tanda – yanda vital ( GCS dan tingkat kesadaran). Mencegah komplikasi 3). rencana. 9) ABGs Mendeteksi keradangan ventilasi atau masalah pernapasan ( oksigenisasi ) jika terjadi peningkatan tekanan intra cranial. Penatalaksanaan Prioritas Masalah : 1). prognosis. 4).

2. otak. Nursing Care Plan.A.1). Philadelpia. 5. (1997). 4. (Jakarta). (1989). Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan depresi pada Tidak efektifnya kebersihan jalan napas berhubungan dengan Gangguan perfusi jaringan otak berhubungan dengan udema pada pusat napas di otak. penumpukan sputum . M. Yogyakarta. F. E. prognosis. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Cedera Kepala. Daftar Putaka Asikin Z. Jakarta. Kebutuhan sehari – hari dapat terpenuhi sendiri atau dibantu oleh orang lain 4). Keterbatasan aktifitas berhubungan dengan penurunan kesadaran Resiko gangguan integritas kulit sehubungan dengan immobilisasai. (1991). Fungsi otak membaik. Komplikasi tidak terjadi 3). Doenges. defisit neurologis berkurang/ tetap 2). program pengobatan dapat dimengerti oleh keluarga sebagai sumber informasi. Davis Company Harsono. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Diagnosa Keperawatan 1. Kariasa I Made. (1993) Kapita Selekta Neurologi. Keluarga dapat menerima kenyataan dan berpartisipasi dalam perawatan 5). Simposium Keperawatan Penderita Cidera kepala Penatalaksanaan Penderita dengan Alat Bantu Napas. Gajah Mada University Press. 6. Kecemasan keluarga berhubungan dengan keadaan yang kritis (Soporous koma) tidak adekuatnya sirkulasi perifer. Proses penyakit. pada pasien. 3. Guidelines For Planning Patient Care (2 nd ).

(1998). Bandung. Essensial of Medical Surgical Nursing : A Nursing process Approach St. Soetomo : COS + Fraktur Basis Cranii. Agenda Gawat Darurat. Fraktur Maksilla F I. Mosby Company. BC and Phipps WJ. CV. TINJAUAN KASUS Tanggal Pengkajian Tanggal Masuk Rumah Sakit Ruangan / Tempat Diagnosa Masuk II – F III : 8 April 2002 : 7 April 2002 : Ruangan Bedah F RS Dr. Nama Umur Identitas : Tn Cahyono : 21 tahun : Jawa / Indonesia : Islam : Mahasiswa : Kedaton / Jombang Suku / bangsa Agama Pendidikan/pekerjaan Alamat Penannggung jawab : Nama Umur Suku / bangsa Agama : Sumiatun : 45 tahun : Jawa / Indonesia : Islam .Long. (1985). Penerbit Alumni. Tabrani.

Genogram : Tidak dikaji. selanjutnya klien pingsan dan temannya yang minta bantuan pada orang yang lewat. 3. klien selama ini hanya menderita penyakit panas. Soetomo. batuk dan pilek saja. 1. motor Alasan Masuk Rumah Sakit Alasan di rawat : Tidak sadarkan diri setelah terjatuh dari kendaraan sepeda Upaya yang dilakukan : Langsung membawa klien ke IRD RSUD Dr. Klien baru pertama kali di opname di Rumah Sakit III.2 Riwayat penyakit sekarang Klien tidak sadarkan diri / pingsan setelah jatuh ke selokan karena menghindar dari truk yang berkecepatan tinggi pada tanggal 7 April 2002. 3. 3.5. Diabetes Mellitus tidak ada. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit sebelumnya Klien sebelumnya tidak pernah menderita penyakit yang kronis / penyakit keturunan. Soetomo. Posisi jatuh tidak diketahui .4.Pendidikan/pekerjaan Hubungan dengan klien Alamat : SMP / Wiraswasta : Orang tua / ibu kandung : Kedaton / Jombang II. GCS pada saat di IRD ExV4M6. Asthma Bronchiale tidak ada. Keadaan kesehatan lingkungan 3.1. Kemudian klien di bawa ke IRD RSUD Dr.3 Riwayat Kesehatan Keluarga Tidak ada keluarga yang memiliki penyakit genetic maupun penyakit menular yang berbahaya. .

gerakan simetris.8 0C : 20 x / menit a) Pernapasan Hidung Trakhea Dada : Nampak kotor karena adanya sisa darah yang kering : Dalam Batas normal : Bentuk simetris.Tanda Vital Tekanan darah Nadi Suhu Pernapasan 1. terpasang infus DS – ½ – NS 1500 cc / 24 jam dan manitol 4 x 100 cc pada tangan kiri dan terpasang Dower kateter 1. gizi cukup. jejas tidak ada .Body Sistem : 90/60 mm Hg : 84 x / menit : 36. Badan klien nampak bersih.Keterangan = Laki – laki = Klien = Perempuan = Tinggal dalam satu rumah.Keadaan Umum Observasi dan Kesadaran baik.4. agak gelisah.2.3. Pemeriksaan Fisik 1. IV. GCS E3V4M6.

kram kaki tidak ada. c) Persyarafan Kesadaran Kepala dan wajah Mata : baik. terdapat darah yang mengering pada daerah mulut. Clubbing finger tidak ada. tidak ada suara tambahan. sakit kepala sebelah kanan. cyanosis tidak. gigi depan atas dan bawah keluar sebanyak 4 dan 3. pusing tidak ada. edema palpebra S/D : +/+ :Mata agak sulit dibuka karena pada daerah palpebra oedema dan nampak kebiruan. batuk tidak ada. Mulut : Bengkak pada daerah bibir.Suara napas : Vesikuler. palpitasi tidak ada. Frekuensi napas : 20 x / menit b) Kardiovaskuler Nyeri dada tidak ada. d) Perkemihan / eliminasi urine . sputum tidak ada. GCS E3V4M6 : Deformitas wajah baik. Leher Refleks fisiologis Refleks Pathologis Pendengaran Penciuman Pengecapan Penglihatan Perabaan Lainnya : Dalam batas normal : Normal : Babinski negatif : kanan / kiri normal : Normal : Tidak dikaji : Tidak dikaji : Tidak dikaji : Tidak ada.

udem pada daerah bibir. . makanan yang diberikan adalah bubur saring dan susu. Tenggorokan Abdomen BAB Obat pencahar Lavamen Lain – lain : Tidak ada kelainan : jejas tidak ada. e) Makan dan minum : Mulut : Tampak kotor dengan darah yang mongering.Produksi urine Warna urine : kurang lebih 1300 cc / 24 jam : Kuning agak kemerahan Gangguan saat kencing : Tidak ada Lainnya : Terpasang kateter sejak tanggal 7 April 2002. peristaltik baik. Klien tidak dapat mengunyah dengan sempurna. paralise. Porsi yang diberikan dapat dihabiskan. tidak. hemiparese tidak ada. Ekstremitas atas Ekstremitas bawah : Tidak terdapat kelainan : Terdapat luka lecet pada lutut kanan yang mengering. f) Tulang otot dan integumen 5 5 5 5 Kemampuan pergerakan sendi Parese tidak ada. simetris : Selama 2 hari ini klien belum BAB : belum digunakan : Belum dilakukan : Tidak ada. tidak dapat menutup mulut dengan rapat.

h) Sistem Hemopoitik Diagnosa penyakit hemopoitik yang lalu : Tidak ada .Warna kulit Akral Turgor kulit ADL : Sawo matang : Hangat : Baik : Klien saat ini masih berbaring di tempat tidur. g) Sistem Endokrin Terapi hormon fisik :normal :tidak ada Riwayat pertumbuhan dan perkembangan Perubahan ukuran kepala :tidak mengalami kelainan Rambut dan kulit Exopthalmus Goiter Hipoglikemia : Tidak nampak kering : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada Toleransi terhadap panas : Ya Toleransi terhadap dingin : Ya Polidipsi Poliuri Polipagi Postural hipotensi Kelemahan : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada.

4 : – 4.600 : 181.2 ) .45 ) ( N : 35 – 45 ) ( N : 80 – 104 ) ( N : 21 – 25 ) ( N : – 3.3 – +1.392 : 34. j) Psikososial Klien dapat berinteraksi dengan baik kepada petugas kesehatan. dan selama sakit klien tidak lagi melaksanakannya.35 – 7.9 : 20. Pemeriksaan Penunjang Tanggal 8 April 2002 : 13. i) Reproduksi Laki – laki : Testis ada. V.Anemia Kecenderungan perdarahan Transfusi darah Golongan darah : Tidak ada : Tidak ada : Tidak pernah : O.6 CT.4 gr % : 20. k) Spritual Sewaktu belum sakit klien menjalankan sholat 5 waktu secara teratur. Hb Leuko Trombo 1. penis normal.2 : 217.Scan ( N : 7. 1.000 BGA : : 7. PH PCO2 PO2 HCO3 BE 1.

Pemberian manitol 4 x 100 cc . Fraktur Zygoma Dextra. fraktur zygoma dextra dinding lateral dextra. Rencana Acara : Operasi fraktur maxilla VI. Suhu : 36.8 OC Pernapasan 20 x / menit. dinding lateral orbita dextra Analisa : COS + SFBC + FR. Tekanan darah : 90/ 60 mmHg. Fronto parietal dextra. 1. Nadi : 84 x / menit. Maxilla LF II – III + Hematosinus dextra dan sinistra.ICH Parieto Occipital dextra. GANGGUAN PERFUSI DARAH OTAK BERHUBUNGAN DENGAN OEDEMA SEREBRI DENGANDATA PENUNJANG : Sewaktu kecelakaan pasien tidak sadarakan diri GCS ExV4M5 CT – Scan : ditemukan Intra cranial Hematoma parieto occipital dextra. Diagnosa Keperawatan Sesuai Prioritas. - Therapy Voltaren 3 x 1 amp Rantin 3 x 1 amp Cedantron 3 x 1 amp Dilantin 3 x 1 amp Manitol 4 x 100 cc Infus DS ½ – NS VII.

fraktur zygoma dextra dinding lateral dextra. GANGGUAN ORAL HYGIENE BERHUBUNGAN DENGAN PERAWATAN MULUT YANG TIDAK OPTIMAL DENGAN DATA PENUNJANG : Klien mengatakan rasa nyeri sewaktu membuka mulut Oedema pada daerah mulut Gigi tanggal sebanyak 7 buah Terdapatnya darah kering sekitar mulut dan hidung . Nadi : 84 x / menit.2. Suhu : 36. Tekanan darah : 90/ 60 mmHg.8 OC Pernapasan 20 x / menit. RESIKO TERJADINYA PENINGKATAN TIK BERHUBUNGAN DENGAN GANGGUAN OKSIGENISASI KE OTAK DENGAN DATA PENUNJANG : GCS ExV4M5 CT – Scan : ditemukan Intra cranial Hematoma parieto occipital dextra. Pemberian Dilantin 3 x 1 amp 3. Pemberian cedantion 3 x 1 amp Pemberian voltaren 3 x 1 amp 4. RESIKO TERJADINYA INFEKSI BERHUBUNGAN DENGAN PEMASANGAN KATETER DAN INFUS DENGAN DATA PENUNJANG : Terpasang kateter sejak tanggal 7 April 2002 Terpasang infus sejak tanggal 7 April 2002 Pengeluaran urine sebanyak 1300 cc/ 24 jam melalui selang kateter.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful