PENENTUAN KADAR BETA-KAROTIN DALAM UBI JALAR KUNING DAN UNGU DENGAN MEMAKAI “HIGH PERFORMANCE LIQUID

CHROMATOGRAPHY” (HPLC), DAN PENGARUH AKIBAT MEREBUS DAN MENGGORENG. Mohammad Hanafi, Sri Utari Purnomo, dan Tuti Aryani. RINGKASAN Kekurangan vitamin A di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu penanganan serius. Sumber vitamin A terutama untuk anak balita yang dapat terjangkau masyarakat luas masih belum banyak diketahui. Kadar vitamin A dalam makanan/sayuran menurut daftar yang ada tidak akurat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar beta-karotin dalam ubi jalar kuning dan ungu dengan menggunakan HPLC, dan untuk mengetahui pengaruh merebus dan mengmenggoreng terhadap kadar beta-karotin. Ubi jalar kuning dan ungu sulit didapat dipasar-pasar di Surabaya. Ubi jalar kuning diperoleh di Malang, sedangkan ubi jalar ungu didapat di Gunung Kawi. Ubi jalar kuning saja yang dibagi menjadi tiga kelompok: mentah, direbus dan digoreng. Ubi jalar yang ungu tidak dikelompokkan sebab pada penentuan pendahuluan didapat kadar betakarotinnya terlalu kecil. Metode ekstraksi dan analisa dengan HPLC dilakukan menurut cara yang sudah ada diliteratur dengan sedikit modifikasi. Kadar beta-karotin dalam ubi jalar kuning cukup tinggi. Rata-rata terdapat 7111µ gr / 100 gram ubi jalar kuning basah atau setara dengan 3951 I.U. vitamin A. Ubi jalar ungu boleh dikatakan tidak mengandung beta-karotin. Merebus atau menggoreng tidak menurunkan kadungan beta-karotin. Dianjurkan untuk membudidayakan ubi jalar kuning dengan harapan menjadi sumber vitamin A, terutama untuk balita guna menghindari kekurangan vitamin A.

1

Sweet purple potatoes was not treated similarly due to very low content of beta-carotene. The effect of cooking process (frying and boiling) on the beta-carotene content are also studied. Sri Utari Purnomo and Tuti Aryani. 2 . The present available data of vitamin A activity in food stuffs in not accurate due to the method used as instrumentation available was inadequate. of vitamin A. Mohammad Hanafi. An alternative source of vitamin A with low cost and consumable especially for children is still in search. Sweet yellow and purple potatoes are hardly found in Surabaya market. This work aims to provide a more reliable data on the provitamin A activity of yellow sweet potatoes with a highly accurate and more reproducible instrument. i. The method applied in the determination of beta-carotene was an established.U.e. It is suggested that the sweet yellow potatoes should be cultivated more vigorously so it will be available especially for young children to prevent vitamin A deficiency. Sweet yellow potatoes were divided into three group. There was no effect of the cooking process on the beta-carotene content. SUMMARY Vitamin A deficiency is still a major public health problem in Indonesia. which required a serious attention. Sweet yellow potatoes available in Malang while the purple one obtained in Gunung Kawi. fresh.DETERMINATION OF BETA-CAROTENE CONTENT IN YELLOW AND PURPLE SWEET POTATOES WITH HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAPHY (HPLC) AND THE EFFECT OF COOKING PROCESS (FRYING AND BOILING). accurate and reproducible one. fried and boiled. Virtually there was no beta-carotene in sweet purple potatoes. It was found that 100 gram fresh sweet yellow potatoes contained 7111 µ gr betacarotene or equal to 3951 I.

5 gr for yellow and 50 gr for purple. Yellow sweet potatoes contained average 7. using 50 ml Petroleum ether : Aceton = 1:4 (v/v) in Buhler blender. sweet potatoes PENENTUAN KADAR BETA-KAROTIN DALAM UBI JALAR KUNING DAN UNGU DENGAN MEMAKAI “HIGH 3 PERFORMANCE LIQUID .U Vit. while the purple contained 0. Mohammad Hanafi.001 mg/100 gr. A. A for yellow sweet potatoes Cooking does not effect the content of beta-carotene Key word: beta-carotene.3 = 3951 I.111 mg/ 100 gr. Flow rate of eluen ( liquid phase) was 2ml / minute. multiply by 1000 ( in μgr ) divided by 6 (retinol equivalent) and divided by 0. It was repeated with a mixture PE : Aceton = 1 : 1 (v/v) until the residue free of colour. Beta-carotene were separated by using separatory funnel and dried with negative pressure. Sri Utari Purnomo and Tuti Aryani. To convert into I. ABSTRACT Beta-carotene was extracted from sweet potatoes. Ten micro liter sample was injected into HPLC with eluen consist of methanol : acetonitrile : chloroform : H2O = 200 : 250 : 90 : 20 as eluent. HPLC.U Vit.DETERMINATION OF BETA-CAROTENE CONTENT IN YELLOW AND PURPLE SWEET POTATOES WITH HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAPHY (HPLC) AND THE EFFECT OF COOKING PROCESS (FRYING AND BOILING).

1989) Metoda yang biasa dipakai untuk menghitung aktivitas vitamin A dengan spektrofotometri kurang akurat. et. namun anak-anak balita jarang memperolehnya dalam menu mereka sehari-hari guna menunjang kebutuhannya (Kodyat A. Program untuk menanggulangi dan mencegah kekurangan vitamin A ini sudah dilaksanakan sejak tahun 1972. (1988) penentuan kadar provitamin A dengan menggunakan HPLC merupakan cara yang lebih teliti. Renqvist U. Dalam penelitian terdahulu mengenai pengaruh memasak bahan makanan terhadap kadar provitamin A yang dikandungnya menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda. (Zakaria dkk. Kemungkinan yang ada di Indonesia dibawa oleh bangsa Spanyol dari Amerika Tengah (Wargino J. I.BAHAN-BAHAN DAN METODE PENELITIAN.H. Tentang bagaimanakah kondisinya sekarang masih belum ada data yang bisa disajikan. Sedangkan peneliti lainnya Panalks dan Murray (1970). Gomez (1982). Dalam studi kepustakaannya Dietz menunjukkan bahwa para peneliti terdahulu menghasilkan kesimpulan yang berlawanan. rebus dan goreng mempunyai bagian yang sama. beta-karotin dalam wortel akan berkurang 40%. namun WHO Technical Report tahun 1982 menyatakan hasilnya kurang memuaskan. yaitu kelompok mentah.al. II. Sweeney dan Marsh (1971) penurunan sebanyak 15% hingga 20% kandungan karotin sayuran hijau terjadi setelah dimasak selama 30 menit. et. et al. Menurut Dietz. 4 .M..M. (1978) menyatakan orang-orang Afrika dengan memasak secara tradisional tidak mempengaruhi kadar provitamin A dalam sayuran hijau. DAN PENGARUH AKIBAT MEREBUS DAN MENGGORENG. Bertolak dari kenyataan tersebut di atas peneliti ingin melakukan penilaian kembali (reavaluasi) kadar beta-karotin dalam ubi jalar dengan menggunakan HPLC dan mempelajari juga pengaruh merebus dan menggoreng terhadap kadar beta-karotin tersebut.CHROMATOGRAPHY” (HPLC). 1988) Ubi jalar (ketela rambat = Ipomea batatas) yang tumbuh di Indonesia bermacammacam.PENDAHULUAN Kekurangan vitamin A masih merupakan masalah kesehatan yang perlu penanganan serius di Indonesia.al.Bahan: Ketela rambat yang kuning dibeli di Malang sedangkan yang ungu didapat di Gunung Kawi. 1979 dan Pepping F. (1988) menyimpulkan bahwa dengan merebus selama setengah jam. Menurut Dietz J. misalnya “High Performance Liquid Chromatography” (HPLC) maka telah dikembangkan pula metode analisa karotinoid dalam sayur-sayuran dengan menggunakan alat ini. dkk 1988). Laporan UNICEF tahun 1988 menyatakan bahwa balita serta ibu menyusui menderita kekurangan vitamin A. Hal ini disebabkan karena cara tersebut mengukur total karotinoid dan dikonversikan kedalam unit vitamin A. Bushway dan Wilson (1982) melaporkan kanaikan kandungan karotin antara 24% hingga 88% dalam wortel dan sayuran setelah dimasak. Dengan perkembangan tehnologi dalam bidang analisa kimia. 1. Namun Dietz J. Sri Utari dkk (1984) dalam penelitiannya juga menghasilkan kesimpulan yang sama. Sayur-sayuran yang banyak mengandung beta-karotin (diantara karotinoid akivitas provitamin A-nya paling tinggi) mudah didapat di Indonesia. Karena kadar beta-karotin dalam ketela tidak rata maka sampel dilakukan secara bertingkat (stratified sampling) sehingga pengelompokan menjadi tiga.

Kolom yang dipakai “stainless steel (15 cm x 6 mm I.D. B. Beta-karotin ditimbang seberat ± 1 mg dilarutkan dengan 50 ml. Kedua tabung pemisah dicuci mula-mula dengan 200 ml NaCl 4%. Kadar beta karotin sampel dihitung dengan membandingkan luas puncak sampel dengan luas puncak standar yang mempunyai waktu retensi yang sama ( Kipiniaik W 1981. Karta Subratg J 1990 ). Metode yang dipakai baik ekstraksi maupun pemilihan fase gerak (eluen) sudah diuji keabsahannya. Sampel diinjeksikan ke dalam HPLC dengan menggunakan 100 μl semprit gelas. Yang masuk kedalam alur eluen hanya 10 μl ( loopnya 10 μl ).96 Untuk “ type II error” = 0.D. Selanjutnya ekstrak karotin yang telah kering tersebut dilarutkan dengan 50 ml eluen HPLC. sehingga untuk dapat mengukurnya diperlukan 50 gram berat bersih (eadible). Ekstrak yang telah kering diberi gas nitrogen dan disimpan dalam freezer pada temperatur minus 10oC sampai tiba saatnya dianalisa dengan HPLC. Diambil sebanyak 2 ml diencerkan lagi dengan eluen menjadi 50 ml.Penentuan beta-karotin: A. Na2SO4 unhidrida.85 Reagen : Petroleum eter.05 Zα / 2 = 1. 18 ODS. Validsasi metode. Ubi jalar kuning seberat 5 gram digoreng dengan 30 ml minyak goreng merek tertentu selama dua menit hingga berwarna agak coklat tua. Standar beta-karotin selalu dibuat baru. Untuk yang direbus. Tabung pemisah dikocok pelan-pelan. metanol. Eluen terdiri dari campuran Metanol : Asetonitril : Khloroform : H2O = 200 : 250 : 90 : 20 2. Kemudian dibiarkan hingga dalam tabung pemisah terlihat ada dua lapisan larutan. Ekstraksi diulang dengan 50 ml campuran PE : aseton = 1 : 1 ( v/v) beberapa kali hingga residu tidak berwarna. USA. Dalam penelitian pendahuluan diketahui bahwa ubi jalar ungu mengandung beta-karotin sedikit sekali. baik oleh peneliti yang merintisnya maupun oleh peneliti dalam penelitian terdahulu yaitu dalam penentuan kadar alfa dan beta-karotin 5 .P. dengan sistem “controler SCL-6A pump” dan “chromatopac CR-3A recorder”. HPLC model LC-6A buatan Shimadzu. Filtrat yang telah bebas aseton dipindahkan ke dalam labu yang selanjutnya dikeringkan dengan menggunakan tekanan negatif dengan “rotatory evaporator”.) R. Sebelum diinjeksikan kedalam HPLC disaring dengan penyaring HPLC buatan Whatman. dengan menggunakan Buhler Blender. Aseton.G.Analisa dengan HPLC. Injector buatan Rheodyne Cal.2 Zβ = 0. khloroform buatan RDH. Lapisan bawah yang mengandung air dan aseton dipindah ke tabung pemisah lain yang telah berisi 200 ml PE. sedangkan beta-karotin standar buatan Merck. Kemudian diekstaksi dengan 50 ml campuran petroleum eter (PE) : aseton = 1 : 4 ( v/v).Ekstraksi.Jumlah sampel dihitung menurut rumus berikut (Steel R. 1984) : ( Zα / 2 + Zβ )2 σ2 D n = -----------------------δ2 dimana n = Jumlah sampel Untuk α = 0. asetonitril. kemudian dengan air suling tetes demi tetes hingga larutan sebelah atas (PE sebagai pelarut) bebas dari aseton dan NaCl. 5 gram ubi jalar kuning direbus dalam 300 ml air selama setengah jam. Dengan menggunakan tekanan negatif ekstrak dilewatkan filter “fritted glass” ke dalam tabung pemisah (separatory funnel) yang telah diisi dengan 100 ml H2O. untuk mengekstraksi karotin yang mungkin terikat oleh aseton.

Ini memang lebih dari 2% yang mana dianjurkan untuk penentuan obat-obatan. Gambaran yang diperoleh (gambar di bawah) dari sampel mirip dengan yang dari standar. Hasilnya adalah : Retensi standar 16. test linearitas. Hasilnya rata-rata adalah 105%.208 menit. 2. Fraps bahkan memperoleh 114%.011. Ubi jalar ungu lebih mudah didapat di Surabaya. Dalan penelitian ini dilakukan : “recovery rate”. Penelitian ini tidak bermaksud mencari hubungan antara kandungan air dengan beta-karotin dalam ubi jalar. besarnya adalah 0. Namun dalam penentuan beta-karotin masih bisa diterima.Ubijalar. Hanafi HM 1990). karena dianggap tidak terlalu penting. III. B. Faktor kapasitas standar 10.45. Di bagian ujung dan pangkal dari ubi jalar mempunyai warna paling inten (kuning atau ungu).6%. A. Warna daging ubi jalar kuning maupun ungu tidak merata. Dari 10 kali injeksi standar didapat koeffisien variasi sebesar 7.9991. Waktu retensi dan besarnya faktor kapasitas puncak dari sampel dan puncak standar juga dibandingkan.LOQ (limit of quantitation) dan LOD (limit of detection). Dari kedua hasil di atas menunjukkan bahwa sampelnya memang betakarotin.Indentifikasi puncak. B. Akhirnya diperoleh di Gunung Kawi.HASIL DAN PEMBAHASAN 1. D. Kemudian dihitung berapa persen yang ditemukan kembali. namun tergantung musim.Tes presisi. Hubungan antara kadar beta-karotin dan luas puncak dihitung. 6 .Liniaritas. Persamaan hubungan antara Y dan X adalah Y= 21110. Kandungan air dalam ubi jalar rata-rata 71 gram per 100 gram ubi jalar ( berkisar antara 63 hingga 77 gram). namun banyak tersedia di pasar-pasar Malang dan sekitarnya. Di bagian tengah dan beberapa milimeter bagian luar warnanya paling pucat.66 X – 645.”Recovery rate”. dan identifikasi puncak. Beta-karotin diisolasi dengan open kolom khromatografi menurut Sweeney JP and Marsh AC (1970).Validasi metode. Untuk mengetahui efektivitas ekstraksi. pada waktu penelitian ini dilakukan sulit didapat. standar beta-karotin yang telah diketahui kadarnya diperlakukan sama seperti sampel. namun lebih atau kurang. Dari hasil perhitungan didapat bahwa harganya masih jauh dibawah kadar betakarotin terendah.205 menit sedangkan retensi sampel adalah 16. test presisi. Peneliti terdahulu (Fraps GS 1941 Gatautis VJ 1987 Edwarson PA 1990) memperoleh hasil tidak sama dengan 100%. Gambaran beta-karotin yang didapat dari sampel dibandingkan dengan standar beta-karotin. C.009 faktor kapasitas sampel 10.dalam jagung (Speek AJ 1989. LOQ dan LOD. Koeffisien korrelasi mendekati satu. Intensitas maupun distribusi warna daging ubi jalar kuning maupun ungu mempunyai pola tertentu. Ubi jalar kuning sulit didapat di Surabaya.

7 .

771 3.406 7.940 6.032 8. Tabel 1.010 11.0002 0.581 Rata 7.191 4.637 – 4.634 3.053 7.770 5.475 α (faktor selektivitas) = ------------------.045 7.395 9.0017 0.785 5.680 2.703 – 14.0013 0.0011 0.3.Dasar perhitungan beta-karotin dengan HPLC.927 6.16.0003 0.to tR std = 16.035 3.703 k’ (faktor kapasitas) = -------------tR spl = 16.147 8 .468 11.475 tR .475 ∆tx2 Rs = ---------. Oleh karena itu untuk tiap dua sampel diikuti dengan satu standar.836 4.530 6.462 6.Hasil.0009 0.576 10. Dikatakan derajat resolusi puncak mencapai 90%.389 9. 4.394 5.591 3.0006 Ubi jalar kuning mg/100gr Mentah Rebus 4. Kadar beta-karotin sampel dihitung dengan cara membandingkan luas puncak sampel dengan luas puncak standar (Kipiniak W 1981 Kanta Subrata J 1990).029 4.0007 0.120 5.= 1 ωA – ωB Rs = Resolusi ω = lebar puncak t = tinggi puncak Faktor selektivitas beta-karotin dengan karotin didekatnya adalah 1.720 Ungu mg/100 gr Mentah 0.0012 0.868 4.116 6.013 2.= 1.839 5.0007 0.923 16.0016 0. dengan resolusi nilainya = 1.0011 0.369 k’ karotin = 8.210 2.0019 0.609 12.0015 0.324 k’ spl = 10.951 6.905 11.712 to tR spl puncak lainnya (dekat beta-karotin) = 14. ini cukup memadai.637 (karotin) k’ std = 10. Kandungan beta-karotin dalam ubi jalar Goreng 6.091 SD 3.153 3.971 7.249 9.596 11.674 9.16 14.946 5. Dari hasil injeksi standar dan sampel yang lain didapat to = 1.304 13.0010 0.559 12. Dari hasil presisi di atas dapat dilihat bahwa kondisi HPLC tidak tetap.

294.U. Bauernfeind JC (1972) mencatat sedikitnya ada 6 macam karotin. Dari hasil perhitungan “Analysis of variance” antara mentah. agar diperoleh harga yang kira-kira merupakan harga rata-rata beta-karotin dari ubi jalar yang diteliti. Harga yang diperoleh adalah 7. maka untuk memperoleh jumlah data sebanyak mungkin. Apabila dalam 100 gram ubi jalar kuning ada sekitar 3951 I. Menurut daftar analisa bahan makanan yang dikeluarkan oleh Bagian Gizi Dinas Kesehatan Propensi Jatim yang dikutip dari Daftar Komposisi Bahan Makanan oleh Direktorat Gizi Dep.3 (Zakaria M 1979). Kandungan macam-macam karotinoid dan aktivitasnya ( biopotensinya ) Dalam ubi jalar (Bauernfeind JC 1972) Macam karotinoid Beta-karotin ( β-carotene ) Zeta-karotin ( ξ-carotene ) Hidroksi-zeta-karotin Beta-karotin-furoksida Gamma-karotin ( γ-carotene ) Sis-kriptosantin epoksida Aktivitas (Biopotensi) 100 0 0 50 42-50 ? Perhitungan kadar beta-karotin dalam ubi jalar yang daftarnya dikeluarkan Dep. / 100 gr. Tabel 2 . 9 . maka anak anak dengan memakan separuh lebih sedikit ubi jalar yang kecil atau sepertiga dari yang besar sudah dapat mengkonsumsi vitamin A sebesar ± 3950 IU. Harga yang didapat adalah 7. maka diperoleh SD yang sangat besar. Untuk mengubah ke “International Unit of Vitamin A” maka dalam satuan mikrogram dibagi 6 kemudian dibagi lagi dengan 0. tidak ada perbedaan. Jadi nilainya akan lebih besar. Namun apabila dilihat dari kandungan tertinggi maupun terendah kelihatannya tidak berbeda dari ketiga kelompok tersebut. diambil rata-rata dari rata-rata ketiga perlakuan di atas. 1967 kandungan vitamin A ubi jalar merah adalah 7700 I. Vit.111 mg / 100 gr ubi jalar kuning. direbus dan digoreng didapat p = 0. Jadi apabila tinggi kandungannya misalnya diambil dari ujung atau pangkal semuanya diambil dari ujung atau pangkal jangan sebagian diambil dari tengah karena pucat atau kandungan beta-karotinnya rendah. Kes. Namun demikian kadar beta-karotin yang diperoleh dalam penelitian ini cukup menggembirakan.A.U. merebus dan menggoreng.I. antara mentah. sedangkan ubi jalar putih 60 I.Sampel diambil dari bagian yang berlainan. Mungkin dalam penelitian yang akan datang mengenai pengaruh memasak lebih baik diambil sampel yang kira-kira sama kandungannya.111 mgr / 100 gr ubi jalar kuning setara dengan 3951 I. dalam perhitungan untuk menentukan berapa kadar beta-karotin dalam ubi jalar. / 100 gr. Kes.U. adalah berdasarkan total karotinoid dalam ubi jalar. A . Vit. Karena memang tiap sampel jelas sekali berbeda kadar beta karotinnya dengan maksud seperti diterangkan di atas. Jadi tidak ada perbedaan yang bermakna. Dalam ubi jalar didapatkan bermacam-macam karotinoid.U. Atau dengan perkataan lain perlakuan tersebut di atas tidak mempengaruhi kadar beta-karotin dalam ubi jalar kuning. Karena dari hasil di atas. R. Pada waktu menghitung jumlah sampel tiap kelompok diperoleh n = 13.

Second Ed.Chromatogr. J. Merx R. Sukaton A. Sri Pijiarti. Kanta Subrata J 1990. Karyadi D (Eds). Clin.Am. Amsterdam. November: 3-5. J. Determination of carotene and cryptoxanthin in yellow corn. FMIPA Unair. Zakaria M and Simpson H 1979. Use of reverse phase HPLC analysis for determination of provitamin A carotene in tomatoes. Ceramah dalam Seminar Khromatografi Cair dan Perangkat Kerasnya.59:238-243. van Dorp M. Wargino J 1989.Food Chem. West CE 1988. and Erdman JW Jr 1988. Dengan merebus atau menggoreng tidak mempengaruhi kadar beta-karotin dalam ubi jalar.DieteticAsc. McGraw-Hill.Chem. J. Kemungkinan ubi jalar lebih mudah diterima oleh anak-anak sebagai “camilan” atau makanan kecil atau kue. Dahlan M.Singapore: 113-121 Sri Utari P and F van der Pol 1984. Retinol and carotene of foods consume in East Africa determined by HPLC. terutama di daerah tertentu yang memang jarang memakan sayuran. Juli. Majalah kedoteran Surabaya. Oleh karena itu akan sangat berguna apabila ubi jalar kuning digalakkan untuk dibudidayakan. Sweeney JP and Marsh AC 1971. Steel RGD and Torris JM 1984 Principle and Procedures of statistics A Biometrical Approach. Speek AJ. Effect of processing on provitamin A in vegetable. Data tidak dipublikasi. Ind.KESIMPULAN DAN SARAN Ternyata kandungan beta-karotin dalam ubi jalar kuning cukup besar. Carotenoid vitamin A precursurs and analogs in food and feeds. dibandingkan dengan memakan sayur-sayuran hijau bersamaan dengan makanan utama. Unpublished report. Pilihan fase gerak dalam penentuan alfa dan beta-karotin jagung dengan HPLC.XXVI Juli-September : 83-98 Hanafi HM 1990. Toxopeus H. Edisi Pertama PT Bhratara Niaga Media. KEPUSTAKAAN. Dietz JM. Book Comp.Chem. and Ketut Tasra 1989. Assesment of beta-carotene content of leafy vegetables and some other common foods and the effect of Indonesian cooking method.Agr. Gatautis VJ and Pearson KH 1987. J. Int.Sci. Vitamin A deficiency in Indonesia and its Intervention Programme in Muhilal. Bauernfeind JC 1972.IV. sedangkan dalam ubi jalar ungu boleh dikatakan tidak ada. 19: 332-327. A Basic Problem – The measurement of Height and Area. Kodyat BA.Sci.Eng. Muhilal 1988. 166: 195-206.Anai. Proceedings Regional Meeting in Vitamin A Jakarta. 176:109-117. Separation of plasma carotinoid and measurement of beta-carotene using HPLC.45:359-371. Method of alfa and beta-carotene determination in maize. Dasar-dasar khromatografi. 3: 456-471. Budidaya ubi jalar.Chromatogr. Reversed phase HPLC analysis of alfa and beta-carotene from selected raw and cooked vegetables. tidak seperti yang terjadi sekarang masih sulit didapat. Plant food for Human Nutrition. 10 . Joko Utomo. 13: 806-809. dengan harapan untuk mencegah kekurangan vitamin A pada anak-anak. 38: 333-341 Fraps GS and Kemmerer AR 1941. Vitamin analysis in body fluids and food stuffs with HPLC. sehingga mudah didapat. Venden CMY.Acta. Hanafi HM. Pepping F. J. Jakarta. Th. Thesis for doctorate degree. Sri Utari P. Kantha SS. accuracy and precision under routine condition. Kipiniak W 1981.in food Agr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful