Bab

10

EPILOG

1.

PENDAHULUAN

Hampir dapat dipastikan bahwa semua setuju semakin pentingnya inovasi dalam peningkatan daya saing (pada beragam tataran). Keberhasilan yang ditunjukkan oleh banyak perusahaan, industri atau beberapa negara lain tak saja menjadi bukti empiris tentang hal tersebut, tetapi juga sebenarnya memberikan pelajaran yang berharga bagaimana mendorong perkembangan inovasi. Inovasi dapat diartikan sebagai “proses” dan/atau “hasil” pengembangan atau pemanfaatan/mobilisasi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman untuk menciptakan (memperbaiki) produk (barang dan/atau jasa), proses, dan/atau sistem yang baru yang memberikan nilai (terutama ekonomi dan sosial) yang berarti (signifikan). Inovasi sangat penting terutama karena perannya, antara lain dalam: Membentuk/meningkatkan keunggulan daya saing; Meningkatkan produktivitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi; Memenuhi kebutuhan sosial secara signifikan; Meningkatkan standar hidup; Menciptakan/memperluas kesempatan kerja; Menciptakan/memperluas internasional; pasar setempat, daerah, nasional dan

Meningkatkan keuntungan dan mendorong kemajuan bisnis. Aktivitas penelitian dan pengembangan (litbang) sangatlah penting, terutama dalam menghasilkan invensi. Namun tentu perlu dipahami bahwa inovasi mencakup lebih luas dari sekedar keberhasilan aplikasi hasil litbang. Inovasi berkembang didorong oleh dan dalam beragam bentuk kebaruan (novelty) seperti: Invensi yang dihasilkan dari aktivitas penelitian dan pengembangan (litbang). Penggalian dan penyesuaian gagasan yang diperoleh dari sektor/bidang atau praktik aktivitas bisnis lain, yang terutama dilakukan oleh para pelaku bisnis dalam aktivitas tertentu yang berbeda. Penggalian dan perintisan ranah pasar dan/atau produk yang ”baru.” Pengenalan dan/atau pemanfaatan pendekatan yang baru secara komprehensif terhadap sistem bisnis, seperti misalnya pendekatan dalam praktik/model bisnis.

324

PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: PERSPEKTIF KEBIJAKAN

Perjalanan sejarah menunjukkan bahwa “pandangan” tentang inovasi berkembang dari waktu ke waktu. Pemahaman sebagai “proses sekuensial-linier” sangat mendominasi di masa lampau. Dorongan bahwa hasil temuan (discovery/invention/technical novelty) merupakan sumber dan bentuk inovasi sebagai sekuen (urut-urutan) rangkaian riset dasar riset terapan litbang manufaktur/produksi distribusi (sering disebut technology push) berkembang terutama pada periode pasca Perang Dunia II hingga tahun 1970an. Kemudian, pandangan selanjutnya bahwa perubahan kebutuhan permintaanlah yang menjadi pemicu atau penarik dari inovasi (sering disebut demand pull) berkembang pada periode selanjutnya sampai periode 1980an. Namun pandangan “sekuensial-linier” push ataupun pull (atau ada kalanya disebut pipeline linear model) demikian disadari tidak sepenuhnya benar. Perkembangan dari waktu ke waktu semakin memperkuat pergeseran cara pandang dan keyakinan bahwa dalam sebagian besar praktiknya, inovasi lebih merupakan proses interaktif-rekursif dan iteratif, dan sebagai proses pembelajaran (learning process) yang merupakan bagian penting dalam proses sosial. Artinya, semakin dipahami bahwa inovasi pada umumnya tidak terjadi dalam situasi yang terisolasi. Cara pandang “interaktifrekursif” demikian sering juga disebut dengan model feedback-loop atau chain-link atau model nonlinier. Perubahan yang cepat dan semakin kompleks beserta tantangan yang dihadapi membawa kepada ”kesadaran baru” akan perlunya cara pandang yang lebih baik, yang secara holistik mempertimbangkan kompleksitas dan dinamika serta proses pembelajaran terkait dengan inovasi, terutama sejak tahun 1980an. Sejak masa tersebut, “sistem inovasi” (yaitu suatu kesatuan dari sehimpunan aktor, kelembagaan, hubungan, interaksi dan proses produktif yang mempengaruhi arah dan kecepatan inovasi dan difusinya, termasuk teknologi dan praktik baik/terbaik, serta proses pembelajaran) dinilai sebagai kerangka pendekatan yang sebaiknya digunakan, terutama oleh para pembuat kebijakan, untuk memahami dinamika inovasi dalam situasi perkembangan dewasa ini. Pergeseran cara pandang demikian berimplikasi pula pada kebijakan yang diterapkan pemerintah oleh berbagai negara dari waktu ke waktu (lihat tabel berikut). Perkembangan yang terjadi pun membawa kepada kesadaran bahwa proses kebijakan pada dasarnya merupakan proses pembelajaran. Tantangan baru pun muncul, antara lain bahwa untuk mendorong perkembangan inovasi dibutuhkan upaya-upaya (baik dalam berpikir, bersikap dan bertindak) kreatif-inovatif dalam kebijakan itu sendiri. Dalam dekade terakhir ini, diskusi tentang “kebijakan inovasi” (innovation policy) (yang esensinya merupakan kelompok kebijakan yang mempengaruhi kemajuan-kemajuan teknis dan bentuk inovasi lainnya) demikian marak berkembang, walaupun umumnya masih terbatas di negaranegara maju. Kebijakan inovasi lebih dari sekedar kebijakan ”litbang” atau bahkan ”iptek”, dan tidak cukup dengan hanya mempertimbangkan perlunya intervensi pada satu sisi (one-side policy) dari dua mata uang yang saling berkaitan dalam perekonomian (permintaan dan penawaran beserta keterkaitan/interaksi antara keduanya). Menyadari pentingnya hal ini dalam menentukan masa depan, banyak negara secara sungguhsungguh memberi perhatian dan upaya khusus dalam hal ini. Beberapa menyusun perundangan dan dokumen strategis untuk dijadikan acuan agenda nasional semua pihak. Beberapa negara mengembangkan/memperkuat kelembagaan untuk menghasilkan kebijakan inovasi di negaranya. Beberapa asosiasi negara seperti OECD dan Uni Eropa bahkan mengembangkan agenda khusus berkaitan dengan tema ini. Inovasi dan sistem inovasi beserta kebijakan inovasi bukanlah “isu dan kebijakan eksklusif” yang hanya menjadi ranah negara, daerah, pelaku bisnis atau masyarakat “maju” saja. Namun patut diakui, pemahaman keliru tentang ini masih sering ditemui. Tak mengherankan jika masih ada anggapan, yang nampaknya juga luas berkembang, bahwa instrumen-instrumen kebijakan inovasi hanyalah sekedar instrumen yang eksklusif bagi kelompok intelektual.

BAB 10 EPILOG Tabel 10.1 Pergeseran Cara Pandang terhadap Inovasi dan Implikasi Kebijakan. Cara Pandang
Sebagai residual (faktor ”marjinal”) pertumbuhan/ kemajuan (model-model pertumbuhan neo-klasik dan sebelumnya). Inovasi sebagai proses sekuensial linier (pineline linear model).

325

Era
Era di mana inovasi belum memperoleh perhatian khusus (terutama masa sebelum 1960an).

Implikasi Kebijakan
Tidak/belum ada upaya khusus intervensi.

Era Technology push (tahun 1960an – tahun 1970an).

Tekanan kebijakan pada sisi penawaran sangat dominan (supply driven). Kebijakan sains/riset sangat dominan. Kebijakan teknologi/iptek mulai berkembang.

Era Demand pull (1970an – 1980an).

Tekanan kebijakan pada sisi permintaan sangat dominan (demand driven). Kebijakan teknologi dan/atau kebijakan iptek berkembang, namun yang bersifat satu arah/sisi (one-side policy) masih dominan.

Inovasi dalam kerangka pendekatan sistem proses interaktif-rekursif (feedback loop/chain link model) dari kompleksitas dan dinamika pengembangan (discovery, invensi, litbang maupun non litbang), pemanfaatan, dan difusi serta pembelajaran secara holistik.

Era Sistem Inovasi (1980an – sekarang).

Kebijakan inovasi, dengan kerangka pendekatan sistem. Kebijakan inovasi merupakan proses pembelajaran yang perlu diarahkan pada pengembangan sistem inovasi yang semakin mampu beradaptasi. Kebijakan inovasi tak lagi hanya menjadi ranah monopoli Pemerintah ”Pusat,” tetapi juga Pemerintah ”Daerah.”

Kebijakan inovasi perlu mempertimbangkan beragam isu yang mempengaruhi tekanan untuk perubahan (misalnya kebijakan persaingan), mempengaruhi kemampuan berinovasi dan menyerap perubahan (misalnya peningkatan kualitas SDM), dan mempertimbangkan kelompok-kelompok masyarakat yang mungkin “dirugikan” akibat kemajuan/perubahan yang terjadi. Karena itu, kuranglah tepat kerangka agenda yang seolah membenturkan upaya investasi untuk peningkatan daya saing dan pengembangan sistem inovasi dengan isu-isu atau pertimbangan lainnya yang lebih bersifat jangka pendek (yang umumnya dinilai lebih mendesak) sebagai situasi yang mutually exclusive dalam suatu kerangka upaya pembangunan untuk mewujudkan kesejahteraan yang semakin tinggi dan semakin adil secara berkelanjutan.

326

PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: PERSPEKTIF KEBIJAKAN

Namun patut diakui, bahwa pendekatan bersistem masih menghadapi beragam tantangan, khususnya dalam pengembangan strategi dan kebijakan inovasi yang terkoordinasi dan koheren. Tantangan tersebut antara lain berkaitan dengan: Upaya mendorong perkembangan pengetahuan/teknologi dan kapasitas riset serta kemampuan berinovasi pihak “penyedia” (lembaga litbang pemerintah dan perguruan tinggi) dan kemampuan inovasi industri/swasta (terutama badan usaha sebagai penyedia); Upaya meningkatkan alih/difusi inovasi; kemampuan absorpsi inovasi di pihak pengguna (baik industri/swasta maupun lembaga pemerintah atau non pemerintah lainnya); Peningkatan pemahaman para aktor tentang pentingnya perbaikan peran masing-masing (dan dalam peran bersama) baik sebagai penyedia, pengguna dan intermediaries, atau penentu kebijakan, pengkaji/penasihat kebijakan dan pihak pendukung lain dalam sistem inovasi; Basis legislasi yang mendukung lingkungan legal dan kerangka kebijakan yang kondusif bagi perkembangan sistem inovasi; Efektivitas dan efisiensi penadbiran kebijakan inovasi, terutama menyangkut koordinasi dan koherensi kebijakan. Dengan karakteristiknya yang kompleks, kontekstual dan cenderung berkembang semakin dinamis, pertanyaan/isu kebijakan dalam pengembangan sistem inovasi (pada tataran nasional maupun daerah), dengan perkembangan keilmuan/konsep yang relevan sejauh ini dan pengalaman praktik beberapa negara maju, menurut hemat penulis, bukanlah memprioritaskan pada desain struktural yang ”optimal”, tetapi lebih berhubungan dengan upaya meletakkan/mengembangkan dinamisme dan fleksibilitas dalam sistem inovasi untuk menciptakan, memanfaatkan dan mendifusikan pengetahuan (dalam arti luas). Salah satu implikasi kebijakan yang penting adalah perlunya perubahan peran pemerintah dalam kebijakan inovasi untuk mencapai/mengembangkan koherensi kebijakan dan ”membuka” serta melakukan reformasi dan memastikan proses pembelajaran dalam sistem kebijakan, baik pada tataran nasional/pusat maupun daerah.

2.

PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: DARI GAGASAN KE IMPLEMENTASI

Sepanjang buku ini, uraian yang bersifat pengenalan telah disajikan, baik menyangkut konsep maupun beberapa contoh praktik. Dari diskusi tersebut diharapkan dapat dipetik pelajaran yang bermanfaat bagi pengembangan sistem inovasi, terutama di daerah-daerah di Indonesia. Dalam buku ini diungkapkan bahwa kebijakan inovasi (berkaitan dengan upaya pengembangan sistem inovasi) perlu mempertimbangkan beragam dimensi, yang satu dengan lainnya perlu sejalan, saling melengkapi dan memperkuat, baik pada tataran nasional, sektoral dan lintas sektor (klaster industri), bidang lain, serta tataran daerah. Konteks tataran daerah merupakan fokus bahasan dalam buku ini. Melalui tinjauan ringkas tentang perkembangannya di Indonesia dan perbandingan kinerja beberapa faktor/bidang (walaupun bukan dimaksudkan sebagai suatu upaya benchmarking) dapat dilihat posisi secara umum Indonesia, setidaknya dibanding dengan beberapa negara lain, termasuk dalam prakarsa-prakarsa relevan. Beberapa isu kebijakan inovasi diidentifikasi dan diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pemikiran untuk melakukan kajian lebih komprehensif dan mendalam, terutama untuk melakukan upaya-upaya perbaikan ke depan. Terdapat 6 (enam) kelompok isu umum sangat penting yang perlu memperoleh perhatian dan penanganan prioritas berkaitan dengan pengembangan sistem inovasi daerah, sebagai berikut:

BAB 10 EPILOG 1. Kelemahan kerangka umum. Ini antara lain menyangkut: Isu umum mendasar yang terkait dengan sistem inovasi, seperti: Regulasi yang menghambat; Kelemahan lingkungan legal dan regulasi (yang diperlukan); Kelemahan infra- dan supra-struktur pendukung perkembangan inovasi; Administrasi yang birokratif; Keterbatasan pembiayaan/pendanaan inovasi; Isu perpajakan yang tidak kompetitif bagi aktivitas inovasi; Kelemahan keperdulian dan implementasi perlindungan HKI. 2.

327

Kelemahan kelembagaan dan daya dukung iptek/litbang serta rendahnya kemampuan absorpsi UKM. Berbagai fungsi yang belum berkembang, lembaga yang ada yang belum berfungsi sebagaimana yang diperlukan, dan kelemahan daya dukung iptek/litbang yang relevan bagi pengembangan potensi terbaik daerah merupakan faktor belum berkembangnya sistem inovasi daerah dan rendahnya daya saing daerah. Di sisi lain, pelaku mayoritas usaha, yaitu UKM, umumnya memiliki keterbatasan antara lain dalam mengakses, memanfaatkan dan mengembangkan pengetahuan/teknologi untuk meningkatkan daya saing bisnisnya. Kelemahan keterkaitan, interaksi dan kerjasama difusi inovasi (termasuk praktik baik/terbaik dan/atau hasil litbang). Kesenjangan relevansi dan fungsi komplementatif antara perkembangan knowledge pool dengan tarikan kebutuhannya oleh pengguna, khususnya swasta, masih terbatasnya pola hubungan dan transaksi bisnis maupun non bisnis antara berbagai aktor, serta asimetri informasi dan keterbatasan dalam dukungan interaksi dalam sistem inovasi (termasuk pembiayaan bagi komersialisasi potensi inovasi) merupakan isu yang menghambat keterkaitan, proses interaksi dan kerjasama antarpihak dalam sistem inovasi daerah. Persoalan budaya inovasi. Beragam isu yang diungkapkan sebenarnya juga menunjukkan belum berkembangnya kultur dalam masyarakat (pelaku bisnis, pembuat kebijakan, aktor-aktor litbang, lingkungan akademis dan masyarakat secara umum) yang mendukung bagi kemajuan inovasi dan kewirausahaan secara umum. Ini antara lain berkaitan dengan: Masih rendahnya apresiasi masyarakat terhadap pentingnya semangat kreativitas/inovasi dan profesi kewirausahaan; Belum berkembangnya pengetahuan dan keterampilan kewirausahaan dan sistem pendidikan yang belum mendukung perkembangan hal ini; Keterbatasan SDM bertalenta di daerah, dan masih rendahnya mobilitas dan interaksi dari dan antaraktor penting bagi perkembangan kewirausahaan dalam masyarakat; Kelemahan di lingkungan pemerintahan (public authorities), yang umumnya juga belum menghargai pentingnya kewirausahaan dan inovasi baik di lingkungannya sendiri maupun perkembangannya dalam masyarakat.

3.

4.

5.

Kelemahan fokus, rantai nilai, kompetensi dan sumber pembaruan ekonomi dan sosial. Kelemahan dalam bisnis dan non bisnis yang saling terkait, yang sangat penting bagi dinamika ekonomi dan sebagai landasan bagi pembentukan keunggulan daya saing yang khas:

328

PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: PERSPEKTIF KEBIJAKAN Keragaman aktivitas bisnis yang belum mengarah pada, dan belum berkembangnya kompetensi daerah yang penting bagi, pembentukan potensi keunggulan yang lebih terfokus; Struktur dan keterkaitan dalam bisnis beserta aktivitas non-bisnis pendukungnya yang lemah; Masih rendahnya kepemimpinan dan kepeloporan dalam pemajuan inovasi dan difusinya; Relatif rendahnya perkembangan/regenerasi perusahaan-perusahaan baru (pemula) yang inovatif; Ketertinggalan mayoritas pelaku bisnis (UKM) untuk dapat memanfaatkan dan mengembangkan peluang dari kemajuan/perkembangan yang terjadi.

6.

Tantangan global. Berbagai kelemahan yang dimiliki pada akhirnya mempengaruhi tingkat kesiapan Indonesia (pada tataran nasional maupun daerah) berperan di arena global beserta beragam kecenderungan perubahan yang berkembang untuk dapat memaksimumkan kemanfaatan bagi, dan meminimalisasi dampak negatifnya terhadap masyarakat.

Isu-isu utama tersebut tentu membutuhkan solusi-solusi yang dirancang dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh oleh para pembuat/penentu kebijakan dan pemangku kepentingan di daerah, bersama dengan mitra/pemangku kepentingan dari ”luar” daerah. Memperhatikan dan ”mentaati” kaidah-kaidah formal (tata perundangan dan tertib adminsitratif dalam sistem politik, pemerintahan, dan penganggaran) yang berlaku tentu sangat penting dalam menjabarkan kebijakan, tindakan atau aktivitas masing-masing pihak. Tetapi ketika upaya tersebut sekedar menjadi ”rutinitas konvensional” (apalagi ”hanya” demi memenuhi tertib administratif dan sekedar proforma), maka cara demikian tak akan pernah memadai untuk mendorong pemajuan inovasi dan daya saing. Proses kebijakan inovasi yang baik membutuhkan keterbukaan bagi perbaikan dalam kebijakan itu sendiri (termasuk tentunya kerangka legislasinya, instrumen, mekanismenya dan lainnya) sehingga desain, implementasi, pemantauan dan evaluasi kebijakan menjadi rangkaian siklus yang dapat memberikan kontribusi positif yang signifikan dalam, dan mendorong proses pembelajaran kebijakan untuk menghasilkan kebijakan inovasi yang lebih baik. Kebijakan inovasi membutuhkan inovasi dalam kebijakannya itu sendiri. Karenanya, penentu/pembuat kebijakan inovasi dan para pemangku kepentingan (stakeholder) kunci perlu berpikir dan bekerja dalam kerangka strategik dan sistemik dengan perspektif jangka panjang, tanpa mengabaikan hal-hal urgen yang lebih bersifat jangka pendek (segera) dan memelihara momentum perubahan. Penataan/perbaikan kelembagaan (organisasi dan pengorganisasian) kebijakan inovasi perlu dikembangkan di daerah. Tak ada formula kaku bagi organisasi dan pengorganisasian untuk mendorong pengembangan sistem inovasi dan daya saing daerah. Setiap daerah dapat mengembangkan ”pola” yang dinilai paling sesuai. Paradigma kebijakan inovasi berfokus pada penciptaan/pengembangan sistem inovasi yang mampu beradaptasi. Intinya, pola kebijakan (termasuk tata kelembagaannya) di daerah harus mendorong berkembangnya organisasi pembelajar (learning organization), mengembangkan visi dan agenda bersama dengan instrumen-instrumen kebijakan yang terpadu dan terkoordinasi untuk mengembangkan/memperkuat sistem inovasi daerah, serta menciptakan kondisi bagi proses pembuatan kebijakan yang juga belajar dan beradaptasi terhadap kebutuhan-kebutuhan dan kondisi ekonomi yang baru secara terus-menerus. Pola penadbiran inovasi (innovation governance) di negara lain dapat menjadi contoh dan memberi pelajaran bagaimana upaya perbaikan dipraktikkan di daerah. Namun perlu dipahami bahwa penadbiran pada dasarnya bersifat path dependent sehingga praktik baiknya tidak dapat ditiru begitu

BAB 10 EPILOG

329

saja. Upaya untuk mengembangkan keterpaduan sains dan inovasi serta isu ”sektoral” lain yang lebih baik perlu terus dikembangkan. Tentu harus dipahami pula bahwa bagaimana pun bentuknya, pola tersebut akan memberikan dampak nyata hanya jika pembuat kebijakan memiliki kehendak untuk mendengarkan. Kepemimpinan dan kepeloporan untuk melakukan perbaikan merupakan kunci bagi berkembangnya proses pembelajaran dalam kebijakan dan penadbiran inovasi. Para pihak juga perlu menyadari bahwa dalam upaya perbaikan, persoalan yang seringkali muncul adalah ”inersia” kelembagaan terhadap perubahan, betapapun hal itu akan membawa kepada perbaikan. Hal demikian biasanya tidak cukup dipecahkan hanya dengan mengubah prosedur adminsitratif. Peninjauan sistematis dan proses pembelajaran, walaupun seringkali melelahkan, perlu dikembangkan untuk melakukan perbaikan secara kontekstual lanskap organisasi dan pengorganisasian dalam sistem inovasi daerah. Proses pragmatisasi dari ide/gagasan kepada implementasi kongkrit dalam pengembangan sistem inovasi dan peningkatan daya saing daerah akan beragam. Titik awal (starting point) daerah akan turut mempengaruhi bagaimana proses berkembang. Namun ini tentu menyangkut banyak segi dan bukan sekedar faktor “alamiah” seperti misalnya kekayaan sumber daya alam yang dimiliki daerah. Daerah dengan penentu/pembuat kebijakan dan para pemangku kepentingan yang lebih memiliki kehendak kuat untuk belajar (dari proses yang dialami sendiri maupun pihak lain) dan semakin terbuka terhadap inovasi, akan lebih mungkin mengembangkan jaringan, kerjasama/ kolaborasi dan dukungan luas serta mencapai kemajuan yang signifikan di masa depan.

3.
3.1

BEBERAPA REKOMENDASI
Strategi Inovasi

Beberapa pemikiran menyangkut pengembangan strategi inovasi daerah dan kerangka kebijakan diajukan dalam buku ini. Ini dapat menjadi bahan pertimbangan atau masukan bagi para pihak dalam mendorong pengembangan sistem inovasi dan peningkatan daya saing daerah di Indonesia. Pada intinya, setiap daerah perlu menentukan arah pengembangan sistem inovasinya untuk ”membangun ekonomi daerah secara inovatif, seimbang dan berkelanjutan.” Hal ini antara lain mengandung pokok-pokok pemikiran yang dipandang urgen seperti berikut: Pengembangan dan pemanfaatan sistem inovasi dalam ”modernisasi” ekonomi daerah; Keseimbangan pemanfaatan dan pengembangan keunggulan relatif faktor lokalitas, investasi dan talenta, serta inovasi; Keharmonisan pemajuan ekonomi dengan pembangunan sosial-budaya (kohesi sosial) dan pengelolaan lingkungan hidup. Beberapa pemikiran bagi pokok-pokok strategi yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut: A. B. C. Mendorong investasi dan langkah pengembangan/penguatan sistem pengetahuan/ inovasi yang terarah di daerah. Mendorong peningkatan pengembangan, pemanfaatan penyebarluasan pengetahuan dan inovasi dalam keseluruhan aktivitas bisnis dan non-bisnis di daerah. Menggali, mengembangkan dan memanfaatkan potensi terbaik bagi sistem inovasi daerah untuk memanfaatkan dan mengembangkan peluang yang paling sesuai bagi daerah.

330
D. E.

PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: PERSPEKTIF KEBIJAKAN Meningkatkan efektivitas dan efisiensi penadbiran inovasi di daerah. Mengembangkan dan memperbaiki iklim daerah dan kerangka beserta instrumen kebijakan inovasi daerah sesuai dengan urgensi, perkembangan dan kemampuan daerah, serta kesinkronan dengan kebijakan nasional.

Seperti disampaikan dalam bagian sebelumnya, beberapa “kriteria” yang umumnya dipertimbangkan dalam penetapan prioritas antara lain adalah: Dampaknya bagi perekonomian daerah (misalnya signifikansinya dalam ekonomi, penyerapan tenaga kerja, ukuran pasar daerah); Dukungan faktor lokal: termasuk misalnya keunggulan ketersediaan bahan baku yang memadai dan kompetitif, keunggulan khusus yang tak tergantikan dan potensi keunggulan khas lokasional lainnya; Perannya dalam pemajuan ”sektor” ekonomi yang luas di daerah; Dimensi global: terutama menyangkut prospek peran daerah dalam konteks pasar global (misalnya pertimbangan ukuran pasar global dan pertumbuhannya, investor return, dan sustainabilitas sektor-sektor tertentu). Pemerintah daerah umumnya menghadapi keterbatasan pendanaan dan sumber daya lain bagi dukungan pengembangan sistem inovasi daerah. Karena itu, sangatlah penting untuk memfokuskannya, terutama pada masa awal pengembangan, pada bidang-bidang yang dapat memaksimumkan dampak positif bagi daerah. Untuk mendorong inovasi yang paling efektif dalam keseluruhan ekonomi daerah, pemerintah daerah perlu juga mengidentifikasi bidang-bidang tertentu yang memiliki potensi untuk tumbuh sendiri, dan karena sifat alamiahnya yang horisontal, dinilai sangat berpotensi memperbaiki produktivitas secara signifikan dalam keseluruhan ekonomi daerah. Beberapa teknologi tertentu dapat berperan penting dalam hal ini. Namun tentu saja hal tersebut mungkin akan berbeda dari satu kasus daerah ke daerah lainnya. Contoh umum bidang teknologi demikian yang menurut hemat penulis sangat relevan bagi daerah pada umumnya di Indonesia antara lain adalah teknologi informasi dan komunikasi, bioteknologi (terutama untuk pertanian, dan mungkin bagi beberapa obat bahan alam), dan pengetahuan/teknologi generik yang dapat menjadi pengungkit bagi perkembangan industri kreatif (creative industries). Sehubungan dengan itu, banyak pihak dari ”luar” daerah sangat dibutuhkan dan dapat menjalankan peran penting bagi daerah dan bersama para pihak di daerah. Dalam kaitannya dengan sistem inovasi daerah, beberapa peran penting tersebut terutama adalah: Membantu daerah menganalisis penggalian, pengembangan dan pemanfaatan potensi daerah dan posisi kompetitif daerah, serta mengembangkan strategi sistem inovasi; Memfasilitasi pengembangan kemitraan dan jaringan rantai nilai; Mengembangkan keterampilan teknis dan manajerial; Mendukung upaya-upaya inovatif (litbang, pelayanan teknologi, komersialisasi hasil litbang); Mendorong dan mendukung pemajuan kewirausahaan. Dari berbagai pengalaman praktik negara maju yang berhasil, peran demikian tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien oleh lembaga/organisasi intermediaries. Walaupun tentu pengembangan peran intermediaries dalam sistem inovasi tetap sangat penting. Yang juga sejauh ini kurang berkembang adalah organisasi/lembaga atau unit yang melakukan kajian-kajian dan/atau mendorong prakarsa kebijakan yang relevan dengan sistem inovasi. Elemen ini penting dalam proses/siklus kebijakan untuk memperoleh kebijakan yang lebih baik dan proses pembelajaran kebijakan secara terus-menerus.

BAB 10 EPILOG

331

Dari perspektif kebijakan, dalam konteks pengembangan sistem inovasi dan daya saing, maka peran unsur kelembagaan nasional “LPND Ristek” seperti BPPT dan LIPI, lembaga litbang departemen atau lembaga litbang nirlaba dan/atau perguruan tinggi sangat penting dalam membantu lembaga/badan penasihat (seperti misalnya DRN, DRD ataupun DPDS) maupun penentu kebijakan (di tingkat nasional maupun daerah) dan para pemangku kepentingan, terutama dalam rangka: Memahami kegagalan yang berkembang dalam sistem inovasi; Memberikan advis kepada pembuat kebijakan (advisory); Menyuarakan “isu” urgen (advocacy) dalam pengembangan inovasi dan daya saing; Mendorong/membantu perbaikan penadbiran inovasi dan kebijakan inovasi; Mendorong/memfasilitasi proses pembelajaran dalam sistem inovasi. Lembaga/organisasi atau unit organisasi yang berperan dalam hal ini perlu mengembangkan dan melaksanakan berbagai upaya penting, terutama untuk mendukung proses tindakan kebijakan yang kontekstual di daerah, terutama:146 Mengkaji kekhususan sistem; Memahami basis pengetahuan yang relevan; Mengkaji dinamika sistem; Koordinasi sistem; Identifikasi eksternalitas pengetahuan (terutama untraded aliran pengetahuan); Mengembangkan pola keterpaduan prakarsa/program dan/atau kegiatan serta koherensi kebijakan, baik di daerah maupun daerah dengan “pihak di luar daerah” (antardaerah, antara daerah dengan pusat, dan/atau antara daerah dengan komunitas internasional). Pola “organisasi/pengorganisasian” yang efektif dalam penadbiran bagi kebijakan inovasi perlu terus dikembangkan. Organisasi/pengorganisasian penentu dan penasihat kebijakan inovasi di daerah perlu dikembangkan (diperkuat) terutama agar dapat: Menjembatani keragaman pendekatan atas inovasi. Bekerja pada tingkat strategis (tidak mengurusi persoalan keseharian, namun menelaah isu-isu sistemik dengan perspektif jangka panjang). Memiliki “skema” keanggotaan yang baik, terutama melibatkan: Keanggotaan dalam pemerintah yang mencakup lebih dari hanya satu ranah kebijakan; Keanggotaan dari para pemangku kepentingan yang berperan baik sebagai “penentu kebijakan” maupun “penasihat” dan/atau “pemberi pengaruh/perubahan” agenda kebijakan. Memiliki peran yang lebih efektif, lebih dari seperti “dewan riset” yang dikenal pada umumnya yang aktivitasnya lebih pada ranah iptek ataupun “dewan penasihat” yang seringkali kurang mendapat “saluran” rekomendasi yang disampaikan atau pengaruh yang efektif bagi perbaikan kebijakan. Mengembangkan metode dan alat-alat proses untuk mengembangkan kebijakan inovasi yang koheren, serta produk, hasil dan cara-cara bagaimana mempengaruhi keputusankeputusan kebijakan. Meningkatkan proses pembelajaran, baik bagi penentu kebijakan maupun pemangku kepentingan lain sesuai dengan peran masing-masing.
146

Lihat diskusi dalam Bab 2 dan Bab 3.

332

PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: PERSPEKTIF KEBIJAKAN

Pemerintahan daerah, secara konsep maupun praktik di beberapa negara, kini semakin berperan penting dalam pengembangan sistem inovasi. Pola koordinasi antara pemerintahan di tingkat nasional dengan daerah dalam hal ini cukup beragam. Namun peran aktif dan kepeloporan pemerintah daerah serta koordinasi yang baik dengan pemerintahan tingkat nasional dan jaringan internasional dipandang menjadi penentu keberhasilan penguatan sistem inovasi dan peningkatan daya saing daerah dan nasional secara keseluruhan. Sehubungan dengan itu, perancangan kebijakan inovasi akhirnya tidak saja menyangkut isu-isu horisontal dan vertikal pada tingkat pemerintahan nasional atau “pusat” (terutama kelemahan koordinasi dan kerjasama horisontal dan fragmentasi institusional pada tingkat kelembagaan yang sejajar dan antara kelembagaan yang berfungsi berbeda), tetapi juga dimensi daerah, terutama kelemahan ”antarsistem” dan antara peran pemerintahan pada tataran yang berbeda (nasional – daerah).

3.2

Kerangka Kebijakan Inovasi

Dalam mengatasi isu/permasalahan sistem inovasi dan menjabarkan pokok-pokok pikiran tentang strategi inovasi yang telah didiskusikan, maka diajukan 6 (enam) kelompok ”tema” utama (agenda utama) kebijakan inovasi yang menurut hemat penulis perlu dikembangkan di daerah. Ini tidak berarti bahwa seluruhnya merupakan ranah daerah dan harus dilakukan semuanya sendiri oleh (berdasarkan sumber daya dan kapabilitas) daerah sepenuhnya. Walaupun begitu, sikap proaktif dan keprakarsaan/kepeloporan daerah sendiri tentu merupakan kunci bagi implementasi agenda ini dalam pengembangan sistem inovasi dan daya saing daerah yang bersangkutan. Keenam tema utama ini, yang juga merupakan tujuan strategis pengembangan sistem inovasi daerah adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Mengembangkan kerangka umum yang kondusif bagi inovasi. Memperkuat kelembagaan dan daya dukung iptek/litbang serta mengembangkan kemampuan absorpsi UKM. Menumbuhkembangkan kolaborasi bagi inovasi dan meningkatkan difusi inovasi, praktik baik/terbaik dan/atau hasil litbang. Mendorong budaya inovasi. Menumbuhkembangkan dan memperkuat keterpaduan pemajuan sistem inovasi dan klaster industri daerah dan nasional. Penyelarasan dengan perkembangan global.

Beberapa tindakan kebijakan seperti yang telah disampaikan dalam Bab 9, dapat menjadi bahan pertimbangan bagi daerah dalam merancang dan mengimplementasikan instrumen-instrumen kebijakan yang dinilai tepat bagi konteks masing-masing daerah. Di antara hal yang perlu diperhatikan dalam merancang instrumen kebijakan inovasi, sebagai implikasi dari pendekatan sistem adalah: Kinerja sistem seringkali “ditentukan atau diatur oleh simpul, keterkaitan dan proses interaksi” yang paling lemah dalam sistem. Aktor yang berpikir dengan pandangan sempit dan bekerja dengan ”sekat sektoral” yang kuat, yang secara ”tradisional” dijalani (apalagi dalam suasana comfort zone yang statis) akan sulit menjadi simpul yang kuat (memiliki kompetensi yang semakin kuat);147 Instrumen kebijakan yang dikembangkan dan diimplementasikan dalam ”tatanan terisolasi” akan sangat sulit diharapkan mampu memberikan dampak signifikan terhadap kinerja sistem
147

Berbeda dengan paradigma “tradisional,” kini semakin diyakini bahwa pengembangan kompetensi semakin ditentukan oleh dinamika penguatan sumber daya dan kapabilitas, yang tidak mungkin terisolasi dari interaksi dengan “dunia luar.”

BAB 10 EPILOG

333

keseluruhan. Investasi dalam litbang (terlebih lagi jika dengan komitmen yang sangat rendah) tanpa dukungan instrumen kebijakan lain yang relevan dan urgen tak akan mampu memberikan kelayakan cakupan untuk mendorong perkembangan sistem inovasi dan menghasilkan dampak signifikan dalam kemajuan sosial ekonomi; Upaya perbaikan penadbiran kebijakan inovasi dengan kerangka komprehensif memerlukan kekuatan komitmen, kepemimpinan dan pengambilan keputusan pada ”tingkat tinggi” dengan mekanisme yang efektif (lembaga, pola koordinasi, dan/atau pola lain). Kebijakan untuk memperbaiki berbagai kekurangan/kelemahan (termasuk misalnya upaya/proses penggalian dan pengembangan/penguatan simpul dan keterkaitan yang lemah), membutuhkan koordinasi yang baik antara berbagai organisasi pemerintah dan juga pada tingkat interaksi antarperusahaan. Perbaikan koordinasi harus dilakukan melalui keterbukaan, komunikasi dan proses pembelajaran di antara para pembuat kebijakan maupun para pemangku kepentingan. Untuk mewujudkan hal tersebut para pemangku kepentingan perlu secara bersama mengembangkan prakarsa yang lebih terkoordinasi dan terpadu dalam pengembangan sistem inovasi. Dalam konteks “hubungan” antara nasional/pusat dan daerah, peran masing-masing pihak antara lain adalah sebagai berikut.

3.3

Peran Daerah

Setiap daerah (penentu kebijakan dan para pemangku kepentingan di daerah) perlu memperkuat komitmennya terutama dalam: Menyusun dan memperbaiki secara terus-menerus strategi inovasi daerah masing-masing, menetapkan tujuan strategis kebijakan dan sasaran-sasarannya sesuai dengan konteks masing-masing daerah, serta mengimplementasikannya secara konsisten; Mengembangkan kerjasama dengan pihak-pihak yang berkompeten (misalnya DRN, KRT, kementerian/departemen terkait, lembaga litbang dan perguruan tinggi dan/atau lembaga lainnya) dalam upaya-upaya pengembangan sistem inovasi daerah, termasuk penataan/ pengembangan basisdata (indikator) penting di masing-masing daerah (khususnya yang relevan dengan sistem inovasi dan daya saing) yang sedapat mungkin kompatibel dengan daerah lain dan nasional; Berpartisipasi aktif dalam prakarsa pembelajaran inovasi, termasuk kebijakan inovasi.

3.4

Peran Nasional/Pusat

Penentu kebijakan dan para pemangku kepentingan lain, terutama di tingkat nasional sebaiknya menjalankan peran proaktif terutama dengan: Mengembangkan kerangka kebijakan inovasi yang terkoordinasi dan terpadu sebagai acuan bagi para pihak dalam melaksanakan perannya dalam pengembangan sistem inovasi di Indonesia; Meningkatkan koherensi beragam kebijakan di bawah ranah kompetensinya (mandatnya) sebagai bagian integral dari kebijakan inovasi nasional; Mengembangkan program/kegiatan prioritas dalam kerangka sistem inovasi nasional, termasuk misalnya pola hibah bersaing dan/atau bentuk-bentuk patungan (sharing) ”pusat – daerah” atau kemungkinan pola anggaran struktural DAU, DAK atau dekonsentrasi; Memprakarsai/mengembangkan kerangka proses pembelajaran dalam kebijakan inovasi;

334

PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: PERSPEKTIF KEBIJAKAN Bekerjasama dengan daerah dalam mengembangkan program terpadu pengembangan sistem inovasi dan melakukan pengkajian bersama berkaitan dengan proses pengembangan sistem inovasi, kebijakan inovasi dan kinerjanya; Mengembangkan prakarsa percontohan, bekerjasama dengan beberapa daerah; Mendorong inovasi di sektor swasta dan publik dengan mengorganisasikan pertukaran informasi dan pengalaman dalam mendorong dan mendiseminasikan informasi tentang inovasi di lingkungan industri dan sektor publik; Memprakarsai dan mendorong upaya peningkatan kapasitas para pihak (misalnya melalui pelatihan, semiloka, kampanye keperdulian dan upaya relevan lainnya) terkait dengan kebijakan dan faktor/aspek penting yang mempengaruhi kinerja inovasi dan daya saing bisnis dan daerah; Mengembangkan kerjasama internasional dalam pengembangan sistem inovasi, termasuk dalam penadbiran kebijakan inovasi; Mendorong difusi praktik-praktik baik (termasuk penadbiran kebijakan inovasi) di seluruh wilayah Indonesia; Menyebarluaskan pelaporan/publikasi berkaitan dengan perkembangan sistem inovasi di Indonesia.

3.5

Peran Bersama

Para pihak (penentu kebijakan bersama pemangku kepentingan di tingkat nasional dan daerah) secara bersama perlu: Mengembangkan mekanisme yang sesuai bagi koordinasi horisontal maupun “vertikal” untuk mengatasi secara bertahap persoalan-persoalan koherensi pada berbagai dimensi; Mengembangkan prakarsa bersama mekanisme koordinasi, terutama mekanisme koordinasi terbuka, sebagai salah satu cara untuk lebih memungkinkan proses pembelajaran bersama dalam pengembangan dan implementasi kebijakan inovasi; Meningkatkan kerjasama dan prakarsa-prakarsa bersama (kolaboratif) terutama dalam mengembangkan kerangka bersama (di daerah, daerah – daerah, dan daerah – pusat/nasional, maupun untuk kerjasama internasional) dalam rangka memperkuat inovasi di seluruh wilayah Indonesia. Ini antara lain dilakukan melalui: Intensifikasi aktivitas inovasi dan kebijakan inovasi di seluruh daerah di Indonesia; Pendinamisan pasar pengetahuan/teknologi/inovasi domestik dan internasional; Peningkatan investasi dalam pengetahuan/inovasi. Penetapan sasaran kuantitatif investasi inovasi (termasuk litbang) tertentu sebaiknya dipertimbangkan sebagai pemacu para pihak dalam meningkatkan/mempercepat proses pengembangan sistem inovasi di Indonesia; Peningkatan keterampilan bagi inovasi. Para pihak perlu menyusun agenda untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam bidang-bidang tertentu yang relevan dan urgen bagi perkembangan inovasi; Peningkatan efisiensi penadbiran inovasi; Perbaikan kerangka dan koordinasi kebijakan inovasi, termasuk pola pengkajian tentang kemajuan yang dicapai. Berkaitan dengan ini penataan/pengembangan atau perbaikan pola mekanisme perlu mempertimbangkan beberapa opsi atau kombinasi opsi antara lain: Kelembagaan kebijakan. Bagaimana penataan pengambilan keputusan tertinggi di tingkat nasional dan di daerah dan peran badan penasihat (advisory body), serta pelaksana dan aktor lainnya dalam sistem inovasi nasional maupun daerah.

BAB 10 EPILOG

335

Strategi Inovasi (Kebijakan Strategis Inovasi). Adanya dokumen strategis sangat penting agar semua pihak yang berkepentingan dapat memahami arah, prioritas, serta kerangka kebijakan pemerintah (dan pemerintah daerah) di dalam pengembangan sistem inovasi (atau setidaknya di bidang iptek). Dokumen strategis ini juga berfungsi sebagai acuan/pedoman bagi para pemangku kepentingan dalam melaksanakan perannya dalam pengembangan/penguatan sistem inovasi. Dengan demikian, pengembangan/penguatan sistem inovasi diharapkan dapat menjadi agenda bersama para pihak secara nasional (termasuk peran-peran lembaga relevan di daerah). Program payung (umbrella program) yang dapat menjadi alat pengarah fokus, koordinasi dan kolaborasi di tingkat nasional, di daerah maupun antara daerah dengan pihak lain (termasuk nasional/pusat). Mekanisme keterpaduan anggaran. Ini menyangkut koordinasi perencanaan program yang didukung oleh beragam sumber pendanaan (dan mungkin juga pelaku/aktor). Pola investasi dari APBD (provinsi, kabupaten/kota), APBN (misalnya melalui program oleh lembaga nasional), mekanisme DAU, DAK, dekonsentrasi dan lainnya (misalnya swasta, lembaga internasional atau lembaga non pemerintah). Mekanisme koordinasi terbuka. Saluran-saluran formal (seperti regulasi atau instrumen kebijakan formal lain) sebagai mekanisme yang lebih ”tertutup” tentu sangat penting untuk pengembangan koordinasi. Tetapi hal ini juga sering tersendat karena terkendala oleh kekakuan birokrasi yang berlebihan atau bahkan faktor individu orang. Karena itu upaya-upaya meminimalisasi hambatan koordinasi menjadi bagian agenda penting dalam perbaikan kebijakan. Sebagai komplemen dan/atau penguat dari mekanisme yang telah berkembang, mekanisme koordinasi terbuka dapat dikembangkan bersama oleh pusat dan daerah. Melalui kehendak politik yang kuat, kepeloporan dan komitmen melakukan perbaikan kebijakan serta didukung dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (khususnya internet), suatu prakarsa mekanisme koordinasi terbuka berkaitan dengan pengembangan sistem inovasi dapat dikembangkan oleh berbagai pihak. Sebagaimana ditegaskan dalam UU No.18/2002 (Pasal 26), pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. Dalam Pasal 27 juga ditegaskan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengalokasikan anggaran sebesar jumlah tertentu yang cukup memadai untuk memacu akselerasi penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Alokasi pembiayaan pemerintah dan pemerintah daerah perlu diupayakan untuk mencukupi kebutuhan pembiayaan bagi unsur kelembagaan iptek yang dibentuk oleh pemerintah dan pemerintah daerah dalam melaksanakan tugas, mengembangkan diri, dan membuat instrumen kebijakan yang diperlukan. Upaya ini juga dimaksudkan untuk mendorong peningkatan pembiayaan sektor swasta bagi kegiatan litbang dan penerapan iptek. Melalui peningkatan pembiayaan oleh sektor swasta, total pembiayaan kegiatan penelitian, pengembangan, dan penerapan diharapkan dapat secara bertahap mencapai tingkat yang setara dengan negara maju. Untuk itu, disarankan upaya penetapan sasaran jumlah tertentu di daerah (dan secara nasional) dalam investasi inovasi (termasuk litbang) untuk dapat dicapai dalam kurun waktu (periode) tertentu. Rasio sebesar 1 - 2% (pendanaan litbang terhadap PDB atau PDRB) atau 2 - 3% (pendanaan aktivitas inovasi terhadap PDB atau PDRB) merupakan rasio minimum yang perlu dipertimbangkan (untuk dapat dicapai misalnya dalam 5 - 10 tahun mendatang). Jika tidak, potensi semakin melebarnya ketertinggalan dari negara/daerah lain di masa datang akan semakin besar. Karena itu, ini perlu dipertimbangkan untuk dapat ditetapkan dalam dokumen strategis seperti “Jakstra Bangnas Iptek “ dan “Strategi Inovasi Daerah.“

336 4.

PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: PERSPEKTIF KEBIJAKAN

CATATAN PENUTUP

Seperti halnya dengan pendekatan klaster industri, perkembangan pendekatan sistem inovasi yang masih relatif pada tahap awal (lihat misalnya Johnson, et al., 2003 atau Lundvall, et al., 2001), dan masih dinilai belum banyak mengungkap konteks pragmatis yang relevan dan ”teruji” bagi negara berkembang akan menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan dan aplikasinya di negara berkembang seperti Indonesia. Ini tentu patut menjadi perhatian, terutama dalam pengembangannya secara bertahap dalam realita yang dihadapi. Namun esensi bahwa pengetahuan, inovasi dan proses pembelajaran yang semakin penting dalam pemecahan persoalan atau perbaikan dalam masyarakat bersifat universal, baik bagi negara maju maupun negara berkembang. Kelemahan-kelemahan dalam akses, penciptaan/pengembangan, pemanfaatan dan penyebarluasan (difusi) pengetahuan/inovasi serta penguatan proses pembelajaran inilah di antara persoalan urgen yang perlu diatasi oleh Indonesia, khususnya dalam konteks peningkatan daya saing. Secara konsep, pendekatan sistem inovasi beserta pendekatan klaster industri dalam prakarsa terpadu (termasuk pada tataran daerah) dinilai dapat sangat membantu dalam upaya ini. Pengembangan sistem inovasi dan daya saing daerah akan semakin menentukan keberhasilan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang semakin tinggi dan semakin adil. Sejalan dengan ini, bahkan ditegaskan antara lain dalam UU No. 32/2004, bahwa: tujuan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya saing daerah (Pasal 2, Ayat 3); dan kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban antara lain: memajukan dan mengembangkan daya saing daerah (Pasal 27, Ayat 1, butir g). Esensi ini akan sangat erat terkait dengan kepeloporan daerah dalam memajukan sistem inovasi dan peningkatan daya saing daerah sesuai dengan potensi terbaik setempat, dan tentunya sebagai bagian integral dan pilar dari sistem inovasi dan daya saing nasional. Rangkaian diskusi dan gagasan/pemikiran yang tertuang dalam buku ini ingin penulis aksentuasikan kembali pada ajakan dan semangat bahwa untuk mewujudkan cita-cita tersebut, maka pengembangan sistem inovasi perlu menjadi salah satu agenda prioritas pembangunan (baik pada tataran nasional maupun daerah) dan langkah ini perlu menjadi gerakan nasional di seluruh wilayah Nusantara. Menutup diskusi dalam buku ini, barangkali suatu metafora berikut dapat menggambarkan lebih sederhana pikiran penting berkaitan peningkatan daya saing yang mewarnai keseluruhan sajian dalam buku ini, bahwa: Prakarsa klaster industri dan sistem inovasi merupakan dua sisi dari mata uang logam daya saing; Sementara berkompetisi/berlomba dan bekerjasama merupakan dua sisi dari mata uang logam klaster dan sistem inovasi; dan para aktor (termasuk wasit) perlu semakin mampu untuk bermain sesuai dengan peran/fungsi dan kompetensi yang dibutuhkannya dalam membentuk dan memperbaiki mata uang logam yang semakin bernilai; Ketika “lingkungan dan budaya” yang membentuk berfungsinya klaster dan sistem inovasi serta semangat berkompetisi dan bekerjasama semakin kondusif bagi berkembangnya peran/fungsi dan kompetensi yang dinamis, maka kemenangan bersama dapat dicapai, dan siap melangkah ke tahap berikutnya . . . . . Setiap daerah pada dasarnya memiliki potensi dan keterbukaan peluang mewujudkan hal ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.