PEMANFAATAN DAN PERANCANGAN KAWASAN TEPI AIR SUNGAI TERPADU DAN BERKELANJUTAN

Pengantar Kota akan selalu mengalami perkembangan baik secara fisik maupun non fisik. Perkembangan kota merupakan konsekwensi logis dari proses "urbaniasi´ dalam arti yang sangat luas. Pertambahan penduduk kota di satu sisi, serta peningkatan jumlah fasilitas fisik kota merupakan suatu faktor yang mendorong perkembangan kota semakin pesat. Tuntutan akan pemenuhan fasilitas kota serta adanya "keterbatasan´ lahan di perkotaan, menyebabkan pemanfaatan ruang kota mengalami dilema dalam pengendaliaannya. Alih fungsi ruang kota dan semakin tidak terkendalinya pemanfaatan kaasan-kawasan yang "tidak´ terawasi seperti Kawasan Tepi Air Sungai (KTAS) atau yang lebih umum dengan istilah bantaran / stren sungai (baca; wilayah sempadan tepi air sungai), merupakan salah satu masalah dihadapi oleh kota yang memiliki daerah aliran sungai. Pemanfaatan KTAS pada saat ini mengalami kecenderungan tidak terkontrolnya penggunaan ruang, kepadatan, serta fungsi ekologis yang mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan fisik serta kualitas air sungai. Pemukiman kumuh di sepanjang KTAS merupakan suatu pemandangan yang "biasa´ dan pada akhirnya menimbulkan masalah yang sangat serius dalam upaya pemanfaatannya. Kawasan TAS, khususnya daerah bantaran sungai dalam pengendaliannya menghadapi masalah yang serius seperti; Kepadatan bangunan yang tinggi dengan prasarana lingkungan yang minim; Kualitas visual yang terkesan "kumuh´; Kerawanan terhadap bahaya banjir dan tanah longsor; serta Pembuangan sampah rumah tangga yang mencemari sumber daya air sungai dan lain-lain. Keadaan ini terjadi antara lain karena upaya perencanaan, perancangan, serta pengendalian pemanfaatan KTAS yang masih sektoral. Upaya-upaya penataan kawasan yang sudah terlanjur "kumuh´ ini permasalahannya bukan hanya sekedar perancangan fisik ruang saja tetapi justru permasalahan lingkungan dan sosial merupakan masalah krusial yang sulit untuk diatasi dalam waktu yang relatif singkat. Dalam upaya meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan dalam pemanfaatan KTAS, diperlukan pemahaman dan penanganan semua aspek yang menyertai secara komprehensif. Upaya penataan KTAS sebagai suatu bentuk upaya intervensi fisik harus memperhatikan keberlanjutan kehidupan sosial, budaya serta ekologis kawasan. Keberlanjutan pembangunan (sustainable development) sebagai suatu konsep penataan (intervensi fisik berupa rancang bangun kawasan) kelihatannya merupakan salah satu solusi yang mampu menjembatani berbagai kepentingan pembangunan di KTAS. Pembahasan dalam makalah ini akan ditekankan pada menghasilkan prinsipprinsip disain KTAS sesuai dengan peruntukan fungsi kawasan yang diperkenankan, dengan memperhatikan konsepsi keberlanjutan pembangunan sebagai mainset. Kerangka acuan perancangan unsur fisik KTAS mengacu kepada unsur-unsur perancangan kota seperti diungkapkan oleh Hamid Shirvani (1985) dalam bukunya Urban Design Process. Permasalahan yang sering muncul dalam upaya pemanfaan KTAS adalah bangaimana arahan atau prinsipprinsip disain untuk fungsi tertentu di KTAS yang mampu menjaga kelestarian lingkungan TAS. Dengan tetap mengacu kepada ketentuan perundangan yang berlaku serta pendekatan-pendekatan perancangan kawasan diharapkan prinsip-prinsip disain kawasan dapan memberikan arahan yang lebih jelas dalam pemanfaatan KTAS. Upaya penyusunan prinsi-prinsip perancangan ini harus dibarengi dengan upaya-upaya pelibatan masyarakat di sekitar KTAS untuk perperan aktif dalam upaya implementasi dan pengendaliannya.

dalam penyelenggaraan pembangunan kawasan perkotaan. Pelaksanaan UU No. Hal ini bermakna bahwa perubahan atau "intervensi fisik´ (baca: pembangunan) yang dilakukan harus mampu menjamin dan meminimalkan cultural-lag dalam arti luas. dijelaskan batasan tentang sustainable development sebagai berikut (Blower. Dalam Brundtland Commission Report yang berjudul Our Common Future. Korten (1984). Pembangunan di daerah. Pemahaman sustainable development sebenarnya bukan semata-mata keberlanjutan dalam pemahaman perubahan social-cultural masyarakat.Pemanfaatan KTAS Terpadu dan Keberlajutan Strategi pembangunan yang hanya mengacu pada paradigma pertumbuhan dan "pemerataan´ telah terbukti rentan terhadap masalah-masalah sosial. 22 tahun 2000 tentang Pemerintah Daerah. tetapi keberlanjutan dalam pengertian luas termasuk aspek ekologi (sustainable environment). 22 disebutkan bahwa. berimplikasi pada perubahan paradigma pembangunan di daerah. 25 tahun 2000 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. kelestarian lingkungan serta kepentingan hajat hidup masyarakat di sekitar kawasan. dan UU No. dan pembangunan ekonomi. yaitu strategi pertumbuhan. Bila dikaitkan dengan tiga strategi pembangunan yang dilakukan oleh David C. Andrew 1993): "Sustainable development is defined as development that meet the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs. Pengertian terpadu dimaksudkan untuk mengkoordinasikan dan mengarahkan berbagai aktivitas dari dua atau lebih sektor dalam perencanaan dan perancangan KTAS. Konsep sustainability yang digagas oleh kaum environmentalist berawal dari sikap keprihatinan terhadap konsekwensi jangka panjang terhadap tekanan daya dukung alami (natural support system). Hanson (1988) mendefinisikan perencanaan sumberdaya secara terpadu sebagai upaya secara bertahap dan terprogram untuk mencapai tingkat pemanfaatan sistem sumber daya alam secara optimal dengan memperhatikan semua dampak lintas sektoral yang . basic needs. Perencanaan terpadu dimaksudkan sebagai suatu upaya secara terprogram untuk mencapai tujuan yang dapat mengharmoniskan dan mengoptimalkan antara kepentingan untuk memelihara lingkungan. Dalam konteks perencanaan pembangunan sumber daya alam yang lebih luas. maka paradigma pembangunan kota saat ini diarahkan pada strategi pembangunan yang ketiga. Menurut Tjokrowinoto (1987) pendekatan pembangunan harus disertai dengan nilai kelestarian pembangunan atau sustainable development untuk menumbuhkan self sustaining capacity masyarakat. keterlibatan masyarakat. seperti tercantum dalam pasal 92 UU No. sebagaimana dimaksud ayat (1). Dalam tataran operasional konsepsi keberlanjutan pembangunan sebenarnya masih menuntut adanya prasyarat keterpaduan baik dalam perencanaan. dan strategi people-centered development. Terjaga dan terpeliharanya kualitas lingkungan secara ekologis dan sosial-budaya dan ekonomi merupakan sasaran yang harus dicapai setiap upaya pembangunan kawasan. Strategi ini akan menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Strategi ini merupakan strategi yang mendekati konsep pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). sebagai realisasi Otonomi Daerah (OTODA). Ini bermakna bahwa pembangunan harus berpusat pada manusia (poeple-centered development). pelaksanaan maupun kontrol operasionalnya. dan Pengikutsertaan masyarakat. merupakan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan perkotaan. Perancangan Kawasan Tepi Air Sungai (KTAS) sebagai bentuk "intervensi´ fisik dalam upaya pemanfaatan ruang kota juga harus memperhatikan kepentingan tuntutan pengembangan (fungsi ruang).´ Uraian di atas semakin jelas bagi kita bagaimana konsepsi pembangunan yang berkelanjutan menjadi tuntutan yang semakin mengemuka. perancangan. Pemerintah daerah perlu mengikut sertakan masyarakat dan swasta (ayat 1).

mungkin timbul. sektoral (horizontal and vertical integration). Walaupun boleh dikatakan terlambat. maupun ekologis. sebenarnya pemerintah lokal (kota dan kabupaten) yang wilayahnya memiliki aliran sungai. yakni tataran teknis. tanpa memperhatikan kepentingan-kepentingan kelestarian lingkungan. Kawasan Tepi Air Sungai Kawasan Tepi Air Sungai (KTAS) meruakan suatu kesatuan area/lahan yang letaknya berbatasan langsung dengan tepian air sungai. (2001). tetapi justru masalah sosial masyarakat di KTAS merupakan masalah yang sangat pelik. tahap perencanaan. tataran konsultatif dan koordinasi. Tetapi paling tidak kita dapat gunakan pada upaya-upaya perancangan KTAS ke depan. Perancangan Kawasan Tepi Air Sungai . perdagangan. Secara fungsional KTAS sebagai satuan wlayah dan atau bagian wilayah kota mempunyai fungsi utama sebagai fungsi ekologis. Selain perangkat peraturan tersebut. maka jiwa keterpaduan perlu diterapkan sejak tahap perencanaan sampai tahap evaluasi. dan lingkungan secara proporsional dalam setiap keputusan perencanaan dan pembangunan kawasan. segenap aspirasi dan kebutuhan stakeholders atau yang terkena dampak pembangunan hendaknya dilibatkan (participation approaches) sejak tahap awal perencanaan sampai pelaksanaan. sumber daya. Dalam tataran operasional kenyataannya perangkat peraturan sebagai "pengendali´ belum mampu berperan optimal. telah mengeluarkan perangkat (perda) yang mengatur tentang pemanfaatan daerah "bantaran´ sungai. swasta maupun masyarakat. Keterpaduan dalam tataran teknis dilakukan dengan mempertimbangkan aspek-aspek teknis. yang masih memiliki pengaruh dominan karakteristik lingkungan tepi air baik secara morfologis. Sehingga keterpaduan horisontal dan vertikal seperti diharapkan oleh Dahuri R (2001) harus dilakukan. Kaqasan TAS merupakan area konservasi yang diharapkan akan mampu "memfilter´ serta melindungi sumber daya air sungai. Walaupun demikian kita juga harus menyadari bahwa permasalahan pengendalian dan penataan KTAS saat ini bukan hanya masalah teknis penataan fungsi ekologis saja. keterpaduan (integrated) pemanfaatan SDA mengandung tiga dimensi. dan kegiatan pemanfaatan secara terintegrasi (integrated) guna tercapainya pembangunan KTAS secara berkelanjutan. yang dikeluarkan oleh Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum RI tahun 2000. Menurut Dahuri. Untuk itu diperlukan upaya-upaya kongkrit yang mampu menjembatani berbagai kepentingan dalam pemanfaatan KTAS. tahap monotoring dan evaluasi. karena pada saat diterbitkan permasalahan pemanfaatan KTAS di beberapa kota sudah demikian kronis. Sehingga pembahasan dimensi keterpaduan bidang ilmu (interdisciplinary approaches) dan keterkaitan ekologis (ecological linkages) lebih dominan. Peraturan perundangan tersebut seperti diurai pada halaman 3 di depan. Upaya-upaya pengendalian serta perlindungan terhadap kualitas lingkungan Tepi Air Sungai (TAS) sebenarnya sudah dilakukan oleh pemerintah dengan diterbitkannya beberapa peraturan perundangan yang berkaitan dengan hal tersebut. tahap implementasi. Pada tataran konsultatif. R. Pemanfaatan KTAS secara terpadu adalah suatu pendekatan pemanfaatan KTAS yang melibatkan dua atau lebih ekosistem. Tataran koordinasi mensyaratkan adanya kerjasama harmonis di antara stakeholders baik pemerintah. Mengingat upaya pemanfaatan mengandung makna pengelolaan yang di dalamnya mengandung tiga tahapan utama. Pada kenyataannya fungsi ekologis KTAS saat ini sudah mulai hilang karena pemanfaatan KTAS semata-mata hanya diperuntukan bagi fungsi-fungsi hunian. Menurut Lang (1986) keterpaduan dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya alam hendaknya dilakukan pada tiga tataran (level). Hal ini berimplikasi pada kecenderungan penurunan kualitas visual dan kualitas ekologi lingkungan kawasan. Pembahasan dalam makalah ini akan dibatasi pada tahap perencanaan dengan menghasilkan prinsip-prinsip perancangan KTAS. ekonomis. bidang ilmu (interdisciplinary approaches) dan keterkaitan ekologis (ecological linkages). Peraturan teknis mengatur yang pemanfaatan KTAS tertuang dalam Petunjuk Teknis Penataan Bangunan dan Lingkungan di Kawasan Tepi Air.

maka bentuk rancangan kota dapat dibedakan dalam tiga kelompok. kelembaban. flora-fauna dan sebagainya. termasuk KTAS. Faktor lingkungan alam. aliran.Kawasan Tepi Air sungai dalam pembahasan ini adalah KTAS yang berada di lingkungan kota. iklim. (1985). 1. bahwa perancangan kota merupakan keputusan-keputusan kebijaksanaan publik. mengungkapkan rancangan kota berkepentingan dengan kualitas ruang kota terutama yang berkaitan dengan kepentingan umum pada suatu bagian dan/atau sektor kota. yang berfungsi sebagai perangkat pengendali untuk mempermudah implementasi kebijakan perencanaan kota. yang bertujuan untuk mengupayakan terbentuknya perangkat pengendali (urban regulation) yang mampu mengantisipasi semua aspek perkembangan kota. geomorfologi. Bentuk guideline ini harus sudah operasional dan terperinci secara teknis. mengatakan bahwa urban design adalah "jembatan" antara profesi perencana kota (urban planning) dengan profesi arsitek. 3. 2. Pendekatan yang realistis untuk perancangan kota harus memasukkan tersebut. merupakan panduan yang harus dipergunakan dalam perancangan atau penataan suatu kawasan kota. yakni. Apabila ditinjau dari unsur pembentuk kota pada hakekatnya substansi urban design sebenarnya akan menyangkut 3 unsur pokok yaitu. dalam bukunya The Urban Design Process menyebutkan perancangan kota adalah merupakan bagian dari proses perencanaan yang berkaitan dengan perancangan fisik dan ruang suatu lingkungan kota yang ditujukan untuk kepentingan umum. . karakteristik alam merupakan unsur dasar yang akan memberikan karakteristik yang spesifik suatu kawasan/kota. Perancangan kota merupakan bagian rangkaian dari proses perencanaan 1. dan menurut Gosling (1980) perancangan kota sebagai pernyataan politik.H. permasalahan. Dalam makalah Urban Design: Pengertian. Danisworo (1993). Perancangan kota (urban) pada hakekatnya merupakan pengelolaan kawasan kota yang terpadu. Seperti diungkapkan oleh Barnett (1979). Orientasi perancangan kota tersebut merupakan dasar kebijaksanaan yang harus diperhatikan dalam perancangan kota. Lebih lanjut Shirvani menyatakan bahwa ruang lingkup perancangan kota adalah mulai dari eksterior bangunan pribadi (individual building) sampai ke ruang terbuka. Urban design criteria atau kriteria-kriteria yang mendasari keputusan ruang kota. kondisi-potensi lingkungan buatan sebagai produk budaya masyarakat yang telah membentuk lingkungan yang spesifik perlu menjadi suatu pertimbangan sebagai satu kesatuan produk aktifitas masyarakat. unsur dasar (kriteria) yang harus diperhatikan dalam penataan fisik kawasan kota. Urban design guideline. dan Konsep Penerapan. topografi. 1985). merupakan patokan-patokan dasar atau ukuran minimum dan atau maksimum bagi kriteria perancangan kota dalam pelaksanaan pembangunan suatu kawasan.. Urban design standart. dan ketiga orientasi mencari keseimbangan antara ketiga orientasi tersebut di atas (Shirvani. Faktor lingkungan buatan. Faktor alam ini mencakup. 2. Lingkup urban design (perancangan kota) menurut Beckley (1979 :62) dalam Introduction to Urban Planning. suhu udara. sehingga pembahasan perancangan KTAS merupakan bagian dari proses perancangan kota secara umum. Menurut Shirvani. H.

jenis vegetasi. seperti dikemukakan para pakar bahwa "No two cities are alike". dan Program. Dengan mengacu pada upaya pembangunan terpadu yang berkelanjutan jelas bahwa prioritas pemanfaatan KTAS adalah upaya melindungi dan melestarikan lingkungan alam. disain. Pembangunan di KTAS haruslah ditujukan untuk perlindungan terhadap lingkunan serta memanfaatkan lahan-lahan yang kurang produktif. Ketiga faktor tersebut merupakan satu kesatuan yang saling pengaruh mempengaruhi. Rencangan kota sebagai peraturan yang diperlakukan harus menjadi landasan bagi arsitektur baru. 1992). 2. politik dan teknologi. . dan kualitas baru (Slamet Wirasondjaya. kehidupan sosial-budaya. (4) Petunjuk Teknis Penataan Bangunan dan Lingkungan di Kawasan Tepi Air Oleh Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum RI tahun 2000. 3. serta bentuktepi air sungai (landai atau curam) akan mempengaruhi teknik. karakteristik tanah. (1) Keputusan Presiden RI No. Bentuk tipologi-morfologi KTAS baik secara topografis. Berkaitan dengan hal tersebut ada beberapa dasar pertimbangan yang digunakan dalam menyusun prinsip-prinsip perancangan KTAS. 32 tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung. Lingkungan alam akan menentukan struktur dan pola kota yang spesifik. ekonomi. Rencana merupakan produk penting dalam perancangan kota yang berorientasi pada proses dan produk. Perlu ditetapkan fungsi peruntukan yang sesuai dengan karakteristik setempat. meliputi Kebijaksanaan. Kebijaksanaan dan rancangan kota dalam operasionalisasinya perlu diterjemahkan ke dalam bentuk pedoman yang lebih spesifik dan operasional dengan memperhatikan ruang kota dalam skala mikro termasuk perancangan KTAS. Rencana. Beberapa peraturan yang berkaitan dengan upaya pemanfaatan kawasan tepi air antara lain. Kawasan tepi air mempunyai batasan-batasan atau aturan dalam perancangannya baik dari sisi skala (ukuran) maupun kompleksitasnya (Wrenn. 1983). Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga konsistensi serta penegakan peraturan yang berlaku. Pedoman. Faktor lingkungan non-fisik. Kebijaksanaan perancangan kota merupakan kerangka strategi pelaksanaan yang bersifat spesifik. rencana tersebut harus dikembangkan mengikuti kerangka yang tertuang dalam kebijaksanaan perancangan kota di atas. sehingga karakter spesifik kawasan tetap terjaga. Daerah Manfaat Sungai.3. (2) Peraturan Pemeintah RI no 47 tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Sebagai produk kebijaksanaan yang spesifik menuntut setiap kota harus memiliki peraturan yang khas. (3) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum no.63/PRT/1993 tentang Garis Sempadan Sungai. sebagai cerminan pola perilaku dan tata nilai sosialbudaya. Sehingga perlu dilakukan AMDAL secara cermat sebelum pembangunan KTAS dilakukan. sebagai faktor yang melatar belakangi terbentuknya lingkungan binaan manusia. ekonomi dan politik yang melatar belakanginya. rencana baru. Hal ini akan mempengaruhi sejauhmana pemanfaatan KTAS atau bahkan badan air sungai/danau akan digunakan. Perancangan KTAS harus memperhatikan karakteristik lingkungan. Daerah Penguasaan Sungai dan Bekas Sungai. Perancangan KTAS harus memperhatikan beberapa aspek yang berkaitan dengan bentuk morfologi sungai serta ketentuan peraturan yang berlaku. dan konstruksi pembangunan kawasan tersebut. Produk perancangan kota menurut Hamid Shirvani (1985). antara lain: 1.

(4) Ruang terbuka (Urban Space). Selain ke enam dasar pertimbangan di atas ada ada 4 aspek yang harus diperhatikan yakni. sumber daya. serta antisipasi terhadap bencana (longsor. dan aspek estetika lingkungan alam dan buatan. maka dalam rangka pemanfaatan KTAS yang terpadu dan berkelanjutan harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut: (1) Pemanfaatan SDA harus memperhatikan kepentingan generasi yang akan datang. untuk generasi sekarang dan masa yang akan datang. Pemanfaatan lingkungan tepi air sungai dilakukan dengan menjaga kualitas air. Beberapa catatan penting berkaitan dengan pemanfaatan ruang dalam upaya perancangan KTAS yang harus diperhatikan dan menjadi bahan renungan kita adalah sebagai berikut: 1. 3. Secara sosial. Pemanfaatan KTAS secara terpadu adalah suatu pendekatan pemanfaatan KTAS yang melibatkan dua atau lebih ekosistem. Orientasi bangunan sebaiknya ke arah tepi air. (5) perlu upaya-upaya partisipasi dalam pengambilan keputusan. Harus diinventarisasi kegiatan-kegiatan sosial-budaya. 2. menjamin kemudahan akses/pencapaian. (2) pembangunan harus memperhatikan keselarasan dan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan. 4. kemudahan aksesibilitas. (2) conservation orientations. Karena KTAS sangat strategis dalam rangka upaya kelestarian lingkungan. dan dimensi keterkaitan ekologis (ecological linkages). sektoral (horizontal and vertical integration). penyediaan ruang terbuka. 6. (3) Pembangunan harus memberikan peluang untuk berlangsungnya regenerasi ekosistem dan menjamin kualitas kehidupan yang lebih baik. maka harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) Pemanfaatan SDA harus memperhatikan kepentingan generasi yang akan datang. (3) Sirkulasi dan parkir (Circulation and parking). (1) Development orientations. (6) Aktifitas penunjang (Activity support). Tepi air harus dijadikan "latar depan´ sehingga "penghargaan´ terhadap lingkungan tepi air menjadi lebih baik. banjir) serta dampak sosial bagi penduduk di kawasan tersebut. kawasan) inilah yang digunakan sebagai acuan dalam menyusun prinsipprinsip perancangan KTAS (lihat tabel 1). kontrol pemanfaatan ruang tepi air menjadi lebih mudah dibandingkan jika tepi air dijadikan "daerah belakang´. Perancangan KTAS mengacu pada pendekatan yang dilakukan oleh Shirvani.. kesehatan lingkungan.4. Upaya intervensi fisik melalui perancangan KTAS sebagai upaya pembangunan fisik kawasan harus memperhatikan 3 orientasi pembangunan yakni. Keterpaduan (integrated) pemanfaatan SDA mengandung tiga dimensi. (4) perlu dihindarkan dampak pada kesenjangan sosial. 5. bidang ilmu (interdisciplinary approaches). (2) pembangunan harus memperhatikan keselarasan dan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan. (1985). (4) harus dihindarkan dampak pada . yang mencakup delapan elemen perancangan yakni. Catatan Penutup Pada akhir makalah ini secara khusus tidak dibuat kesimpulan. H. (3) Pembangunan harus menjamin kualitas kehidupan yang lebih baik. (7) Tanda-tanda (Signage). Kedelapan elemen perancangan kota (baca. dan kegiatan pemanfaatan secara terintegrasi (integrated) guna tercapainya pembangunan KTAS secara berkelanjutan. Ke-tiga Orientasi tersebut merupakan dasar kebijakan yang harus diperhatikan dalam perancangan KTAS. Dampak kepada aktivitas penduduk serta kelestarian lingkungan perlu dicermati. Dalam rangka pemanfaatan dan perancangan KTAS terpadu dan berkelanjutan. perencanaan dalam semua level upaya peningkatan kualitas lingkungan. dan (3) community orientations. kenyamanan. (1) Tata guna tanah (land use). aspek keamanan. Hal ini penting untuk dapat mengakomodasikan kepentingan-kepentingan penduduk dalam upaya pengembangan kawasan. (2) Massa dan bentuk bangunan (Bulding form and massing). dan (8) Preservasi (Preservations). (5) Jalur pejalan kaki (Pedestrian ways). peristiwa tertentu (event) dan/atau adat kebiasaan penduduk berupa ritual/upacara yang dilakukan di tepi air dan/atau badan air.

perencanaan harus dilakukan di semua level proses upaya peningkatan kualitas lingkungan KTAS. 15 Januari 2005 di Ruang PPI lantai III. HATHI cabang Malang. .sosial dengan melakukan kajian AMDAL. Pemkot Malang. Perum Jasa Tirta Malang. (5) Upaya-upaya partisipasi dalam pengambilan keputusan. Kerjasama antara: Jurusan Teknik Sipil. Gedung Pusat Unmer Malang. Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang dengan. [1] Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya air terpadu dan Berkelanjutan (Integrated and Sustainable Water Resource Management).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful