You are on page 1of 18

BAB 1

PENDAHULUAN

Rinitis vasomotor merupakan suatu bentuk rinitis yang tidak berhubungan dengan reaksi
alergi ( rinitis non alergi) tetapi memiliki gejala yang mirip dengan rinitis alergi. Pada
penderita dengan rinitis vasomotor akan dikeluhkan adanya sumbatan pada hidung yang
dapat terjadi secara berulang disertai dengan pengeluaran sekret yang encer dan bersin-
bersin. Perjalanan penyakit ini cenderung bersifat kronis dan bisa berlangsung seumur
hidup, kondisi ini yang kadang membuat pasien terganggu sehingga menjadi tidak nyaman
dan frustasi akan penyakitnya yang berdampak terganggunya aktivitas dan produktivitas
penderita sehari-hari disamping penderita juga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk obat
yang biasanya hanya bersifat simtomatis saja.
Klasifikasi dari rinitis telah lama diperdebatkan menurut beberapa kepustakaan.
Rinitis dibagi menjadi dua kelompok yaitu rinitis yang berhubungan dengan reaksi alergi
(rinitis alergi) dan rinitis yang tidak berhubungan dengan reaksi alergi (rinitis non-alergi), di
mana rinitis vasomotor termasuk ke dalam kelompok rinitis non-alergi. Rinitis non-alergi
dapat disebabkan oleh terapi medikamentosa, hormonal, dan infeksi. Rinitis vasomotor
terjadi akibat gangguan vasomotor hidung yaitu terdapat gangguan fisiologik lapisan
mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktifitas parasimpatis.
Patofisiologi yang mendasari rhinitis vasomotor yang pasti belum diketahui, tetapi
diduga sebagai akibat terjadinya gangguan keseimbangan fungsi vasomotor yang
menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah sehingga terjadi oedem kronis serta sumbatan
hidung disamping gejala lainnya. Keseimbangan vasomotor ini dipengaruhi oleh berbagai
faktor yang berlangsung temporer, seperti emosi, posisi tubuh, kelembaban udara,
perubahan suhu luar, latihan jasmani dan sebagainya, yang pada keadaan normal faktor-
faktor tadi tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu tersebut. Bersin-bersin, hidung
tersumbat dan ingus encer-bening sering merupakan barometer keadaan lingkungan. Pada
seorang yang sensitif terhadap perubahan lingkungan sering menunjukkan keluhan sindroma
rinitis seperti di atas. Dengan kemajuan teknologi, bertambahnya jumlah penduduk yang
diikuti dengan semakin meluasnya perusakan lingkungan menyebabkan polusi udara
semakin meningkat. Diduga oleh banyak kalangan bahwa polusi udara adalah salah satu
penyebab meningkatnya angka kejadian rinitis dari tahun ke tahun.
Diagnosis rinitis vasomotor dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain yang mempunyai gejala yang sama.

1
Penatalaksanaan rinitis vasomotor dapat berupa konservatif baik medis, nonmedis
ataupun tindakan pembedahan.

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Hidung


Untuk mengetahui penyakit dan kelainan pada hidung, misalnya pada sumbatan hidung
perlu diketahui dulu tentang anatomi hidung. Hidung terbagi atas dua bagian yaitu hidung
bagian luar dan rongga hidung. Hidung bagian luar berbentuk piramid dengan bagian-
bagiannya dari atas kebawah yaitu pangkal hidung (bridge), dorsum nasi, puncak hidung,
ala nasi, kolumela dan lubang hidung (nares anterior). Hidung luar dibentuk oleh kerangka
tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang
berfungsi untuk melebarkan dan menyempitkan rongga hidung.1,2 Kerangka tulang terdiri
dari: tulang hidung (os nasalis), prosesus frontalis os maksila dan prosesus nasalis os
frontalis.1 Kerangka tulang rawan dibentuk oleh sepasang kartilago nasalis lateralis superior
dan sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (disebut juga kartilago alar mayor), beberapa
pasang kartilago alar minor dan tepi anterior kartilago septum.1
Kavum nasi berbentuk terowongan, dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnya
sehingga rongga hidung terbagi menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu masuk kavum
nasi bagian depan disebut nares anterior dan bagian belakang disebut koana yang
menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.1
Tiap kavum nasi memiliki 4 dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior dan superior.
Dinding medial kavum nasi dibatasi oleh septum nasi, dinding lateral dibatasi oleh konka
nasalis dan meatus nasi, dinding inferior dibatasi oleh dasar kavum nasi, dan dinding
superior dibatasi oleh lamina kribiformis.1
Pada dinding lateral kavum nasi terdapat 4 konka nasalis. Yang terbesar dan letaknya
paling bawah adalah konka inferior, kemudian konka lainya yang lebih kecil ukuranya
antara lain konka media, konka superior dan konka suprema.1
Diantara konka-konka tersebut terdapat rongga sempit yang disebut meatus.
Berdasarkan letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior, medius dan superior.
Meatus inferior terletak diantara konka inferior dengan rongga hidung. Pada meatus inferior
terdapat muara duktus nasolakrimalis. Meatus medius terletak diantara konka media dan
dinding lateral kavum nasi. Pada meatus ini terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus
semilunaris dan infundibulum etmoid. Hiatus seminularis merupakan suatu celah sempit
dimana terdapat muara sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid anterior.1,2,3

3
Bagian bawah kavum nasi divaskularisasi oleh cabang a.maksilaris internal. Bagian
depan hidung mendapat perdarahan dari cabang a.fasialis. Pada bagian depan septum
terdapat anastomosis cabang-cabang a.sfenopalatina, a.etmoid anterior, a.labialis superior
dan a.palatina mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach. Pleksus ini letaknya superficial dan
mudah cedera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis. Vena-vena hidung
bermuara ke v.oftalmika yang berubungan langsung dengan sinus kavernosus. Vena-vena
ini tidak memiliki katup, sehingga memudahkan terjadinya penyebaran infeksi sampai ke
intrakranial.1,2
Hidung diinervasi oleh cabang-cabang nervus trigeminus yaitu ramus oftalmikus dan
ramus maksilaris.

2.2. Fisiologi Hidung


Hidung mempunyai beberapa fungsi yang sangat penting, antara lain sebagai 1) jalan
nafas, udara masuk melalui nares anterior lalu naik setinggi konka media dan turun ke arah
nasofaring. Pada ekspirasi, udara masuk melalui koana dan mengikuti dan mengikuti jalan
yang sama yang dilalui udara inspirasi akan tetapi saat di bagian anterior udara memecah,
sebagian melalui nares anterior dan sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran
dan bergabung dengan aliran nasofaring. 2) Sebagai alat pengatur kondisi udara (air
conditioner), mengatur kelembaban udara dan suhu. 3) Sebagai alat penyaring udara (filter),
berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri. 4) Sebagai penghidu,
partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila
menarik nafas dengan kuat. 5) Untuk resonansi suara, penting untuk kualitas suara pada
waktu berbicara dan menyanyi. 6) Ikut membantu proses bicara, hidung membantu proses
pembentukan kata-kata. 7) Refleks nasal, mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang
berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskuler dan pernapasan. Adanya kelainan pada
hidung akan menyebabkan gangguan terhadap fungsi hidung tersebut dan menimbulkan
berbagai macam gejala penyakit.1

2.3 Definisi
Rinitis vasomotor adalah suatu sindrom pada hidung dengan gejala hidung tersumbat
berulang disertai pengeluaran sekret yang encer serta bersin-bersin. Penyebab yang pasti
belum diketahui, tetapi diduga akibat gangguan vasomotor pada hidung yaitu adanya
gangguan fisiologik pada lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh meningkatnya
aktivitas saraf parasimpatis terhadap saraf simpatis.1,3

4
2.4 Patofisiologi
Etiologi pasti dari rinitis vasomotor belum diketahui dengan pasti akan tetapi
diperkirakan disebabkan oleh:
1. Adanya ketidakseimbangan sistem saraf otonom ( hipoaktif sistem saraf simpatis)
Hal ini diakibatkan karena terjadinya aktifitas sistem saraf parasimpatis yang
lebih dominan dari pada aktifitas sistem saraf simpatis, sehingga menimbulkan
vasodilatasi pembuluh darah kecil di mukosa hidung. Vasodilatasi ini akan
menimbulkan gejala klinis yang dominan, yang berupa hidung tersumbat. Mukosa
hidung beserta struktur yang ada didalamnya mempunyai fungsi untuk
mempersiapkan udara yang akan masuk kedalam paru-paru antara lain
melembabkan, menyaring, dan memanaskan udara. Semua ini dikontrol oleh serat-
serat saraf parasimpatis dan saraf simpatis.
2. Adanya trauma pada hidung (komplikasi akibat tindakan pembedahan serta non
pembedahan).
3. Neuropeptida
Zat-zat neuropeptida ini menyebabkan:
a. Disfungsi sistem saraf otonom dan saraf-saraf sensoris
Hal ini mengakibatkan gangguan pada saraf nosiseptif tipe C, yang
disebabkan oleh peningkatan ekspresi dari p-substance dan calcitonin gene-
related peptides. Terjadi peningkatan sekresi kelenjar serta pengeluaran
cairan plasma, di mana hal ini dirangsang oleh adanya reflek dari sistem saraf
parasimpatis yang menyebabkan peningkatan sekresi kelenjar submukosa
hidung.
b. Rinitis akibat iritasi kronis dari asap rokok
Hal ini diakibatkan oleh peningkatan ekspresi dari calcitonin gene-related
peptide, p-substance, vasoactive intestinal peptide (VIP), neuropeptide
tyrosine (NPY). NPY, senyawa peptida yang terdiri dari 36 asam amino,
merupakan zat vasokonstriktor yang sering ditemukan bersamaan dengan
noradrenalin pada serabut saraf simpatis perifer. VIP, zat neurotransmiter
yang bersifat antikholinergik pada sistem traktus respiratorius, memberikan
efek bronkodilatasi dan vasodilatasi.
c. Paparan ozone yang berlebihan

5
Hal ini menyebabkan gangguan pada sel-sel epitel sehingga terjadi
peningkatan permeabilitas serta perangsangan terhadap sel-sel inflamasi.
Akibatnya, jika berlangsung lama akan berlangsung proses proliferasi sel-sel
epitel yang akan merangsang peningkatan sekresi kelenjar.
d. Penurunan kemampuan dari silia mukosa hidung dalam menghalau partikel-
pertikel asing.
e. Peningkatan produksi radikal bebas
f. Peningkatan sintesis DNA
4. Nitric Oxide (NO)
Zat ini menyebabkan nekrosis sehingga luas jaringan normal akan berkurang. Hal
ini diakibatkan adanya peningkatan ekspresi NO pada epitel hidung, sehingga
terjadi peningkatan kadar NO yang persisten. Peningkatan kadar NO ini
membuat sel-sel epitel mengalami gangguan secara terus menerus ( penurunan
kemampuan silia mukosa hidung dalam menghalau partikel-partikel asing,
meregangnya epithel-junction mukosa hidung, diskontinuitas membran basalis),
serta terjadi perangsangan dari serat saraf aferen nervus trigeminus, yang
menyebabkan perangsangan reflek vaskular serta sekresi kelenjar, hal ini
menyebabkan timbulnya gejala dari rinitis vasomotor. Untuk menurunkan kadar
NO, sangat dipengaruhi oleh jumlah reseptor NPY di dalam sirkulasi darah,
dapat diberikan alfa 2 adrenoreseptor agonis yang diberikan secara intranasal.
5. Protein yang disekresi oleh mukosa hidung
Jika dilakukan nasal-washes kadar total protein dan albumin akan ditemukan
lebih tinggi pada rinitis alergi daripada rinitis yang disebabkan oleh non-alergi. Jenis
protein yang ditemukan ( MW 26-kda protein ) pada rinitis non alergi jumlahnya
minimal. Jika dilakukan gel-electrophoresis dari hasil nasal washing kadar total
protein pada rinitis vasomotor akan ditemukan lebih rendah daripada rinitis
penunjang.
Ada beberapa faktor yang diduga sebagai pencetus dari sindroma ini, yaitu: 1,2,3,4
1. Faktor fisik ,seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban udara yang
tinggi, serta bebauan yang menyengat.
2. Faktor endokrin, seperti kehamilan, masa pubertas, pemakaian kontrasepsi oral, dan
hipotiroidisme.
3. Faktor psikis, seperti rasa cemas, konflik jiwa dan stress.

6
4. Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis antara lain:
ergotamine, chlorpromazine, obat anti hipertensi dan obat vasokonstriktor topical.

2.5 Diagnosis
Diagnosis penyakit ini ditegakkan berdasarkan anamnesa yang lengkap dan
pemeriksaan status lokalis (THT). Dari anamnesa dicari faktor pencetusnya dan
disingkirkan kemungkinan rinitis alergi.
Rinitis vasomotor menimbulkan gejala sumbatan pada hidung, rinore dan bersin.
Karena mekanisme terjadinya rinitis vasomotor dipengaruhi oleh sistem saraf otonom, maka
dapat dipahami mengapa gangguan emosi sering ditemukan pada pasien rinitis dengan
gejala hidung tersumbat.2 Reaksi vasomotor selain disebabkan oleh disfungsi sistem saraf
otonom, dipengaruhi juga oleh faktor iritasi, fisik dan endokrin. Penderita rinitis vasomotor
umumnya menunjukkan gambaran sensitivitas yang berlebihan terhadap iritasi, rangsangan
dingin atau perubahan kelembaban udara. Keluhan yang dominan pada rinitis vasomotor ini
adalah sumbatan pada hidung dan rinore yang hebat. Keluhan bersin dan gatal tak begitu
dominan pada kasus ini. Jadi disini dapat disimpulkan bahwa gejala rinitis vasomotor dapat
berupa:
1. Hidung tersumbat pada salah satu sisi dan bergantian tergantung pada posisi penderita
(gejala ini yang paling dominan).
2. Rinore yang bersifat serus atau mukus, kadang-kadang jumlahnya agak banyak.
3. Bersin-bersin lebih jarang dibandingkan rinitis alergika
4. Gejala rinitis vasomotor ini dapat memburuk pada pagi hari saat bangun tidur karena
adanya perubahan suhu yang ekstrem, udara yang lembab, dan karena adanya asap
rokok.1,2,4
Pemeriksaan rinoskopi anterior tampak gambaran edema mukosa hidung, konka
berwarna merah gelap atau merah tua, permukaan konka licin atau tidak rata. Pada rongga
hidung terlihat adanya secret mukoid, biasanya jumlahnya tidak banyak. Akan tetapi pada
golongan rinore tampak secret serosa yang jumlahnya sedikit lebih banyak.1
Gambar 1. Gambaran rinoskopi anterior pada rinitis vasomotor

Pemeriksaan laboratorik dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan rinitis alergi.


Biasanya pada pemeriksaan sekret hidung tidak ada atau ditemukan eosinofil dalam jumlah
sedikit. Tes kulit biasanya negatif, bila tes ini positif biasanya hanya kebetulan.1,5
2.6 Diagnosis Banding

7
Diagnosa banding rhinitis vasomotor:1,2,3
1. Rinitis alergika
2. Rinitis medikamentosa
3. Rinitis akut

2.7 Penatalaksanaan
Pengobatan pada rinitis vasomotor bervariasi, tergantung pada faktor penyebab dan
gejala yang menonjol. Secara garis besar, pengobatan dibagi dalam :
1. Menghindari penyebab
2. Pengobatan simtomatis, dengan obat-obatan dekongestan oral, diatermi, kauterisasi
konka yang hipertofi dengan memakai larutan AgNO3 25% atau triklor asetat pekat.
Dapat juga diberikan kortikosteroid topikal, dua kali sehari dengan dosis 100-200
mikrogram sehari. Dosis dapat ditingkatkan sampai 400 mikrogram sehari. Hasilnya
akan terlihat setelah pemakaian paling sedikit selama 2 minggu. Saat ini terdapat
kortikosteroid topical baru dalam aqua seperti flutikason propionate dengan pemakaian
cukup satu kali sehari dengan dosis 200 mcg.
Diagram 1. Tatalaksana manajemen pemberian obat untuk rinitis vasomotor
Tabel 1. Rekomendasi terapi untuk rinitis vasomotor

3. Operasi, dengan cara bedah beku, elektrokauter atau konkotomi inferior, bila
pengobatan yang diberikan gagal memperbaiki gejala klinis.
4. Sphenopalatina ganglion blok dan neurektomi n.vidianus, yaitu dengan melakukan
pemotongan pada n.vidianus, bila dengan cara diatas tidak memberikan hasil. Operasi
ini tidaklah mudah, dapat menimbulkan komplikasi, seperti sinusitis, diplopia, buta,
gangguan lakrimasi, anesthesia infraorbita dan anesthesia palatum. Hal ini dianjurkan
untuk mengatasi intractable rinitis vasomotor.1,5

2.8 Komplikasi
Komplikasi yang sering timbul pada rinitis vasomotor adalah:3
1. Sinusitis paranasalis
2. Polip nasi
3. Otitis media

8
BAB 3
LAPORAN KASUS

I. Identitas Penderita
Nama : Ni Nengah Suciartini
Umur : 32 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pendidikan : Tamat SLTP
Pekerjaan : Pegawai swasta
Suku bangsa : Bali
Agama : Hindu
Status perkawinan : Belum menikah
Alamat : Perum Permata Arsandi C 8 Denpasar
Tanggal pemeriksaan : 31 Maret 2005

II. Anamnesis
Keluhan Utama : pilek-pilek setiap pagi sejak satu tahun yang lalu
Penderita datang dengan keluhan pilek-pilek yang dirasakan sejak satu tahun yang
lalu yang sifatnya hilang timbul terjadi setiap pagi hari setelah bangun tidur dan
keluhan berkurang pada waktu siang hari, dengan konsistensi ingus encer dan
berwarna bening. Keluhan ini semakin memberat sejak dua minggu yang lalu dengan
betambah banyaknya ingus yang keluar sehingga membuat penderita merasa tidak
nyaman dan sedikit menganggu aktivitas penderita.
Keluhan ini juga disertai dengan keluhan hidung tersumbat yang lebih sering terjadi
pada satu sisi hidung secara bergantian yang berlangsung kurang lebih satu jam dan
gejala dirasakan membaik saat siang hari.
Terkadang penderita juga bersin-bersin, terutama pada waktu pagi hari, frekuensi
rata-rata empat kali tiap pagi. Keluhan rasa gatal di hidung, tenggorok, mata dan
telinga disangkal oleh penderita. Tidak ada keluhan panas badan, batuk, nyeri pada
kepala dan sekitar wajah serta gangguan pada telinga.
Riwayat Pengobatan: Penderita belum pernah memeriksakan diri ke dokter maupun
mendapatkan pengobatan terkait dengan keluhannya ini.

9
Riwayat Penyakit Dahulu: Penderita belum pernah menderita gejala penyakit yang
sama sebelumnya. Tidak ada riwayat penyakit alergi, asma, hipertensi dan penyakit
sistemik lainnya. Penderita juga menyangkal pernah mengalami trauma dan menjalani
operasi sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga
Di lingkungan keluarga penderita tidak ada anggota keluarga lain yang menderita
penyakit yang sama dengan penderita.
Riwayat Pribadi/Sosial
Penderita adalah seorang pegawai swasta, yang tidak merokok dan tidak memiliki
kebiasaan minum alkohol, dan secar psikologis memiliki hubungan yang baik dengan
keluarga dan di tempat kerja.

III. Pemeriksaan Fisik


Vital Sign
Keadaan umum : baik
Kesadaran : compos mentis
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 83 x/ menit
Respirasi : 21 x/ menit
Temperatur : 36,4o C

Status General
Kepala : normo cephali
Mata : anemis -/-, ikterus -/-
THT : ~ status lokalis
Leher : kelenjar limfe dalam batas normal
kelenjar parotis dalam batas normal
kelenjar tiroid dalam batas normal
Thorak : Cor : S1S2 tunggal reguler, murmur (-)
Po : ves +/+, rh-/-, wz-/-
Abdomen : dalam batas normal
Ekstremitas : dalam batas normal
Status Lokalis THT
Telinga Kanan Kiri
Daun telinga : normal normal

10
Liang telinga : lapang lapang
Discharge : (-) (-)
Membran timpani: intak intak
Tumor : (-) (-)
Tes pendengaran
Suara bisik : tidak dievaluasi
Rinne : + / +
Weber : lateralisasi (-)
Schwabach : N / N
Tes keseimbangan: tidak dievaluasi
Kelenjar limfe : pembesaran( –)

Hidung Kanan Kiri


Hidung luar : normal normal
Cavum nasi : sempit lapang
Septum : deviasi(-) deviasi(-)
Discharge : - -
Mukosa : pucat pucat
Tumor : - -
Sinus : normal normal
Konka : kongesti dekongesti
(hipertropi)
Koane : normal normal

Tenggorok
Dispneu :-
Sianosis :-
Mukosa : merah muda
Dinding post. : granulasi (-)
Stridor : (-)
Suara : normal
Tonsil : T2/T2
Hiperemis ± / ±
Detritus ± / ±
Kripte melebar / melebar

11
Laring
Epiglotis : tidak dievaluasi
Plica ventricularus : tidak dievaluasi
Plica vocalis : tidak dievaluasi
Plica glotis : tidak dievaluasi

IV. Resume
Penderita wanita, umur 32 tahun, Hindu, Bali datang dengan keluhan pilek-pilek yang
dirasakan sejak satu tahun yang lalu yang sifatnya hilang timbul terjadi setiap pagi
hari setelah bangun tidur dan keluhan berkurang pada waktu siang hari, dengan
konsistensi ingus encer dan berwarna bening. Keluhan ini semakin memberat sejak
dua minggu yang lalu dengan betambah banyaknya ingus yang keluar sehingga
membuat penderita merasa tidak nyaman dan sedikit menganggu aktivitas penderita.
Keluhan ini juga disertai dengan keluhan hidung tersumbat yang lebih sering terjadi
pada satu sisi hidung secara bergantian yang berlangsung kurang lebih satu jam dan
gejala dirasakan membaik saat siang hari. Terkadang penderita juga bersin-bersin,
terutama pada waktu pagi hari setelah bangun tidur, dengan frekuensi rata-rata empat
kali tiap pagi.
Keluhan rasa gatal di hidung, tenggorok, mata dan telinga disangkal oleh penderita.
Penderita belum pernah berobat terkait dengan keluhannya ini.
Penderita tidak pernah menderita penyakit alergi, asma dan menyangkal pernah
mengalami stres, kecemasan, trauma dan operasi. Tidak ada anggota keluarga yang
menderita penyakit yang sama.

Status lokalis THT :


Telinga : dalam batas normal
Tenggorok : dalam batas normal
Hidung Kanan Kiri
Hidung luar : normal normal
Cavum nasi : sempit lapang
Septum : deviasi(-) deviasi(-)
Discharge : - -
Mukosa : pucat pucat
Tumor : - -

12
Sinus : normal normal

Konka : kongesti dekongesti


(hipertropi)
Koane : normal normal

V. Diagnosis Banding
a. Rinitis vasomotor
b. Rinitis alergika
c. Rinitis akut infeksiosa

VI. Usulan Pemeriksaan : pemeriksaan sekret hidung, tes kulit, laboratorium darah rutin

VII. Diagnosis Kerja : Rinitis vasomotor

VIII. Penatalaksanaan
Terapi :
Pseudoefedrin 3 x 1 tab
Becomb C 1 x 1 tab
KIE :
- hindari faktor pencetus timbulnya penyakit
- hindari tempat-tempat dengan kelembaban tinggi dan minum minuman dingin
- memakai pakaian yang cukup tebal saat udara dingin
- olahraga teratur untuk meningkatkan kondisi badan
-
IX. Prognosis : dubius at bonam

13
BAB 4
PEMBAHASAN

Rinitis vasomotor merupakan suatu sindrom pada hidung dengan gejala hidung
tersumbat berulang disertai pengeluaran sekret yang encer serta bersin-bersin. Etiologi yang
pasti belum diketahui, tetapi diduga akibat gangguan fungsi vasomotor pada hidung yaitu
adanya gangguan fisiologik pada lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh
meningkatnya aktivitas saraf parasimpatis yang dominan terhadap saraf simpatis. 1,3
Saraf otonom mukosa hidung berasal dari n.vidianus yang mengandung serat saraf
simpatis dan serat saraf parasimpatis. Rangsangan pada saraf parasimpatis menyebabkan
dilatasi pembuluh darah dalam konka serta meningkatkan permeabilitas kapiler dan sekresi
kelenjar. Sedangkan rangsangan pada serat saraf simpatis menyebabkan efek sebaliknya.
Pada penderita rinitis vasomotor, mekanisme pengatur ini hiperaktif dan cenderung saraf
parasimpatis lebih aktif.1
Pada kasus diatas didapatkan penderita datang dengan keluhan pilek-pilek setiap
pagi hari bersifat encer dan bening, disertai hidung tersumbat pada satu sisi bergantian
kanan dan kiri, serta bersin-bersin. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyebutkan
bahwa gejala yang didapat pada rinitis vasomotor ialah hidung tersumbat, bergantian kiri
dan kanan, tergantung pada posisi pasien, pengeluaran sekret atau rinore yang mukus atau
serus yang kadang-kadang agak banyak. Untuk mengetahui gejala yang timbul pada rhinitis
vasomotor perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan siklus nasi, yaitu
kemampuan untuk dapat bernafas dengan tetap normal melalui rongga hidung yang
berubah-ubah luasnya.1
Keluhan pilek dan hidung tersumbat sebenarnya sudah dirasakan penderita sejak
satu tahun yang lalu dan memberat sejak dua minggu yang lalu. Keluhan ini biasanya timbul
pada waktu pagi hari, ketika bangun tidur dan keluhan berkurang pada waktu siang hari.
Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyebutkan bahwa gejala rinitis vasomotor dapat
memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur oleh karena adanya perubahan suhu yang
ekstrim dan udara lembab. Perubahan hawa dingin sebagai trauma fisik akan menyebabkan
lymphocyte atau plasma cell melepaskan mediator kimiawi yang secara farmakologik
bersifat vasoaktif dengan akibat vasodilatasi, meningkatnya permeabilitas pembuluh darah
kapiler, edema dan sekresi kelenjar seromucinous. Berdasarkan gejala yang menonjol,
kelainan ini dibagi dalam dua golongan, yaitu golongan rinore (sneezers) dan golongan
obstruksi (blockers). Prognosis dari pengobatan golongan obsruksi lebih baik daripada

14
golongan rinore. Golongan rinore sangat mirip dengan rhinitis alergika sehingga diperlukan
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti untuk memastikan diagnosanya.1,4
Pada penderita ini terkadang juga timbul bersin-bersin, terutama pada waktu pagi
hari, frekuensi rata-rata empat kali setiap pagi. Kelainan ini mempunyai gejala yang mirip
dengan rinitis alergika, tetapi pada rinitis vasomotor gejala bersin-bersin lebih jarang, dan
tidak disertai rasa gatal pada mata, rongga hidung serta tenggorokan. Keluhan rasa gatal di
hidung, tenggorok, mata dan telinga disangkal oleh penderita. Selain itu penderita juga tidak
memiliki riwayat alergi.
Keluhan panas badan tidak ada, ini menyingkirkan kemungkinan rinitis akut
infeksiosa karena rinitis vasomotor bukan merupakan radang yang disebabkan oleh bakteri
ataupun virus sehingga tidak menimbulkan tanda khas radang akut.
Keluhan nyeri pada sekitar wajah dan gangguan telinga disangkal oleh penderita.
Hal ini untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyulit sinusitis paranasalis dan otitis
media pada penderita ini.
Ada beberapa factor pencetus yang diduga mempengaruhi keseimbangan rhinitis
vasomotor yaitu:1,3
Faktor fisik seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban udara yang tinggi,
serta bebauan yang menyengat. Faktor endokrin, seperti kehamilan, masa pubertas,
pemakaian kontrasepsi oral, dan hipotiroidisme. Faktor psikis, seperti rasa cemas, konflik
jiwa dan stress. Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis antara
lain: ergotamine, chlorpromazine, obat anti hipertensi dan obat vasokonstriktor topikal.
Dari anamnesis terhadap penderita diatas didapatkan faktor-faktor yang
mempengaruhi adalah faktor fisik seperti udara dingin, kelembaban udara yang tinggi,
karena gejala hidung tersumbat, pilek, dan bersin-bersin timbul pada pagi hari saat udara
dingin dan lembab. Dari riwayat pengobatan penderita tidak ada penggunaan obat
vasokonstriktor topikal dalam jangka waktu lama. Hal ini menyingkirkan kemungkinan
adanya rinitis medikamentosa. Penderita juga tidak mempunyai riwayat hipertensi, sehingga
penggunaan obat-obat anti hipertensi yang bekerja menekan dan menghambat kerja saraf
simpatis bisa diabaikan. Faktor psikis seperti rasa cemas dan tegang disangkal oleh
penderita.1
Dari pemeriksaan fisik menggunakan rinoskopi anterior ditemukan adanya kavum
nasi yang sempit pada hidung kanan, dengan konka yang kongesti di hidung kanan dengan
mukosa yang pucat di hidung kanan dan kiri. Hal ini sesuai dengan tanda pada rinitis
vasomotor berupa edema mukosa hidung, konka berwarna merah gelap atau merah tua

15
(karakteristik), tetapi dapat pula pucat. Hal ini perlu dibedakan dengan rhinitis alergi.
Permukaan konka dapat licin atau berbenjol-benjol (tidak rata).1
Pemeriksaan laboratorik dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan rhinitis
alergi. Kadang-kadang ditemukan eosinofil pada sekret hidung, akan tetapi dalam jumlah
sedikit. Tes kulit biasanya negatif, bila tes ini hasilnya positif, biasanya hanya kebetulan.
Diagnosis penyakit ini biasanya ditegakkan berdasarkan anamnesis yang lengkap dan
pemeriksaan fisik status lokalis THT. Dari anamnesa dicari faktor pencetusnya dan
disingkirkan kemungkinan rinitis alergi.1
Pengobatan pada rinitis vasomotor bervariasi, tergantung pada faktor penyebab dan
gejala yang menonjol antara lain: menghindari penyebab, pengobatan simptomatis dengan
obat-obat dekongestan oral, diatermi, kauterisasi konka yang hipertropi dengan memakai
larutan AgNO3 25 % atau triklorasetat pekat. Dapat juga diberikan kortikosteroid topikal,
misalnya budesonid, dua kali sehari dengan dosis 100-200 mikrogram sehari. Dosis dapat
ditingkatkan sampai 400 mikrogram sehari. Hasilnya akan terlihat setelah pemakaian paling
sedikit selama 2 minggu. Saat ini terdapat kortikosteroid topikal baru dalam larutan aqua
seperti flutikason propionat dengan pemakaian cukup satu kali sehari dengan dosis 200
mcg. Operasi dengan cara bedah beku, elektrokauter atau konkotomi konka inferior.
Neurektomi n.vidianus, yaitu dengan melakukan pemotongan pada n.vidianus, bila dengan
cara diatas tidak memberikan hasil. Operasi ini tidaklah mudah, dapat menimbulkan
komplikasi seperti sinusitis, diplopia, buta, gangguan lakrimasi, neuralgia atau anestesi
infraorbita dan anestesis palatum.
Pada penderita ini diberikan KIE agar penderita menghindari faktor pencetus
timbulnya penyakit, menghindari tempat-tempat dengan kelembaban tinggi, menghindari
minum minuman dingin, memakai pakaian yang cukup tebal saat udara dingin dan
berolahraga secara teratur untuk meningkatkan kondisi badan. Penderita mendapatkan
pengobatan simtomatis dekongestan yaitu Pseudoefedrin 3 x 1 tablet, dan vitamin C 1x1
tablet

16
BAB 5
RINGKASAN

Telah dilaporkan kasus penderita wanita, umur 32 tahun, Hindu, Bali datang dengan
keluhan pilek-pilek yang dirasakan sejak satu tahun yang lalu yang sifatnya hilang timbul
terjadi setiap pagi hari setelah bangun tidur dan keluhan berkurang pada waktu siang hari,
dengan konsistensi ingus encer dan berwarna bening. Keluhan ini semakin memberat sejak
dua minggu yang lalu dengan betambah banyaknya ingus yang keluar sehingga membuat
penderita merasa tidak nyaman dan sedikit menganggu aktivitas penderita.
Keluhan ini juga disertai dengan keluhan hidung tersumbat yang lebih sering terjadi
pada satu sisi hidung secara bergantian yang berlangsung kurang lebih satu jam dan gejala
dirasakan membaik saat siang hari. Terkadang penderita juga bersin-bersin, terutama pada
waktu pagi hari setelah bangun tidur, dengan frekuensi rata-rata empat kali tiap pagi.
Keluhan rasa gatal di hidung, tenggorok, mata dan telinga disangkal oleh penderita.
Penderita belum pernah berobat terkait dengan keluhannya ini.
Penderita tidak pernah menderita penyakit alergi, asma dan menyangkal pernah mengalami
stres, kecemasan, trauma dan operasi. Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit
yang sama.
Dari pemeriksaan rinoskopi anterior didapatkan: hidung luar kanan-kiri normal,
cavum nasi kanan sempit, kiri lapang. Tidak ada deviasi septum, tidak ada discharge, sinus
kanan-kiri normal. Konka kanan kongesti, kiri dekongesti, dengan mukosa pucat kanan dan
kiri
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis kerja rinitis vasomotor.
Penatalaksanaan dengan terapi simptomatis dan KIE agar penderita menghindari faktor
pencetus timbulnya penyakit, , menghindari tempat-tempat dengan kelembaban tinggi,
menghindari minum minuman dingin, memakai pakaian yang cukup tebal saat udara dingin
dan berolahraga secara teratur untuk meningkatkan kondisi badan.

17
Daftar Pustaka

1. Soepardi EA,Buku Ajar Telinga hidung Tenggorokan KL, Edisi kelima, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia , Jakarta,2001.
2. Adams,Boies,Higler, Buku Ajar Penyakit THT,Edisi 6, Penerbit Buku
Kedokteran EGC,Jakarta,1997.
3. Vasomotor Rhinitis (VMR), http://www. Auckland Alergy Clinic Vasomotor
Rhinitis.com, Akses 5 April 2005
4. Vasomotor Rhinitis, http://www. Brookwood ENT Asosiates. com, Akses 5 April
2005
5. Vasomotor Rhinitis, http://www. IMcKesson Clinical Reference Products.com,
Akses 5 April 2005

18