BAB 1 PENDAHULUAN

I.I. Latar Belakang

Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) Millenium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bulan September 2000 yang dihadiri 189 negara anggota menyepakati dan

mengadopsi tujuan milenium atau (MDGs), salah satunya dalah memerangi penyakit menular. Visi DEPKES yaitu “ masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat” dan misi ”membuat rakyat sehat”, Salah satu dari pelaksanan untuk mencapai visi tersebut maka Badan Litbangkes Depkes mengadakn Riset Kesehatan Dasar1).

Sesuai dengan 2 pernyataan diatas maka peneliti bermaksud untuk memaparkan 3 penyakit menular yang merupakan hasil dari data riskesdas 2007, hal- hal yang melatar belakangi pemilihan 3 penyakit tersebut adalah adanya data- data

dibawah yang menyatakan bahwa Pneumonia, Typhus/ Paratpyhus dan Hepatitis masih merupakan masalah kesehatan yang serius di Indonesia.

Data angka kesakitan penduduk yang berasal dari masyarakat (community based data) yang diperoleh melalui studi morbiditas, dan hasil pengumpulan data dari dinkes kabupaten/kota serta dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data) yang diperoleh dari pencatatan dan pelaporan memberi informasi bahwa pada pola 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit tahun 2005 menyatakan bahwa Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) 1,117,179 (7,05%) menduduki peringkat pertama dan pada pola 10 penyakit pasien rawat nginap di rumah sakit tahun 2005, Demam Tifoid dan Paratifoid 81,116 (3,15%) menduduki tempat kedua
2

). Dalam istilah ISPA dan Pneumonia program

menjelaskan bahwa pneumonia merupakan bagian dari ISPA.

1

Kasus hepatitis secara nasional mengalami fluktuasi dalam 5 tahun terakhir yang tercermin dalam Angka insiden (AI) per 10.000 penduduk. Tahun 2001 tercatat AI sebesar 1,3 jumlah kasus (26,75) yang kemudian turun menjadi 0,60 (jumlah kasus 12,99) pada tahun 2002. Kasus hepatitis mengalami peningkatan tahun 2003 dengan AI sebesar 1,40 (jumlah kasus 29,59) yang kemudian kembali turun pada tahun 2004 menjadi 0,56 (jumlah kasus 12162). Setelah sempat turun AI kembali merangkak naik menjadi 0,9 (jumlah kasus 20,33) pada tahun 2005. Menurut laporan pada tahun 2005, jumlah kasus hepatitis klinis yang dirawat jalan di rumah sakit sebanyak 2.933 kasus, yang dirawat inap di rumah sakit sebanyak 1.639 kasus dengan kematian pada 8 kasus, dan yang dirawat di puskesmas 13.938 kasus 3).

Determinan karakteristik individu yang dipakai adalah jenis kelamin, beberapa literatur menyatakan jenis kelamin perlu diukur sebagai determinan karena ada beberapa teori gen yang menyebutkan adanya perbedaan strukur gen pada lakilaki dan perempuan akan dapat menyebabkan respon terhadap suatu penyakit, atau juga kemungkinan terjadi perbedaan aktivitas antara 2 kelompok tersebut, sedang umur, hal ini untuk mengetahui resiko yang terjadi dari setiap golongan
3,4,)

umur, seperti umur tua diyakini makin banyak terpapar berbagai macam penyakit menular, dan imunitas semakin turun, .

Determinan karakteristik keluarga meliputi pendidikan, pekerjaan, pengeluaran perkapita, dan jumlah balita dalam keluarga. Variabel pendidikan merupakan

suatu indikator yang kerap ditelaah dalam mengukur tingkat pembangunan manusia suatu negara, melalui pengetahuan dan pendidikan ada beberapa perilaku yang berkontribusi terhadap derajat kesehatan. Pada variabel pekerjaan dipercaya ada beberapa penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan karena pada sekelompok pekerja tersebut diyakini beresiko terpapar agent penyakit

sehingga kalau imunitas mereka turun akan sangat beresiko untuk sakit . Sedang pengeluaran perkapita dipakai sebagai ukuran kesejahteraan suatu keluarga atau sosial ekonomi, variabel ini berguna untuk menentukan keberhasilan

pembangunan ekonomi suatu negara, hubungannya dengan derajat kesehatan adalah sosial ekonomi sangat menentukan perilaku seseorang dalam
2

menerapkan kesehatan, karena adanya desakan atau faktor prioritas kebutuhan hidup seseorang disamping pertimbangan kesehatan, hal ini terbukti adanya beberapa penyakit yang sangat banyak terjadi pada kelompok sosial ekonomi rendah. Determinan jumlah balita dalam rumah tangga dianggap sebagai faktor adanya resiko sakit didalam suatu keluarga, karena makin banyak balita maka makin banyak anak yang sangat bergantung pada orang dewasa, jumlah balita yang ideal adalah 1 keluarga terdapat 1 balita, sehingga perhatian orang tua fokus dalam memelihara kesehatan dan tumbuh kembang balita, apabila dalam keluarga tersebut terdapat banyak balita sedang yang menjaga hanya 1 atau 2 orang atau hanya terdapat 1 atau 2 orang dewasa, maka bisa disimpulkan mahkluk yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri ini sangat rentan untuk terkena penyakit 3,4,5,6,7,8,9).

Beberapa determinan penyakit menular kebanyakan adalah karena sanitasi lingkungan, kondisi rumah, akses dan pemanfaatan dan beberapa karakteristik individu hal ini sudah sesuai dengan teori HL blum dan beberapa referensi yang tidak mungkin disebutkan disebutkan satu persatu
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16

).

Data riskesdas tahun 2007 terdiri dari; 22 pertanyaan (10 variabel penyakit menular) tentang data morbiditas dari penyakit menular dari 50 pertanyaan (21 variabel penyakit yang digali). Dari 10 variabel tersebut hanya 7 penyakit yang merupakan variabel penyakit menular langsung.

Dan

beberapa

determinan

morbiditas

pada

penyakit

menular

langsung

(Pneumonia, Typhus/Paratyphus, Hepatitis),

yang dicari hubungannya adalah:

umur, pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin (gender), status hamil, tempat tinggal bisa rural urban atau kabupaten hal ini dimungkinkan karena budaya yang berbeda, sosial ekonomi, sanitasi lingkungan, akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan.

3

situasi morbiditas karena penyakit menular langsung Typhus/Paratyphus.) . Mencari hubungan antara morbiditas penyakit Pneumonia. Hepatitis dengan determinannya pada data riskesdas 2007. Typhus/Paratyphus dan hepatitis B)menurut determinan yang ada dirasakan penting untuk membantu pelaksanaan kerja yang lebih efektif bagi penentu kebijakan dan penanggulangan penyakit menular langsung. Dan sepanjang pengetahuan data peneliti hubungan belum ada orang yang meneliti atau menampilkan morbiditas penyakit Pneumonia.Tujuan Khusus 1. maka data morbiditas penyakit menular langsung (Pneumonia.Tujuan 1Tujuan Umum Memperoleh faktor determinan yang dominan pada penyakit menular langsung Pneumonia. dan juga merupakan riset dasar merupakan daya tarik tersendiri bagi peneliti untuk menampilkan hasil riset ini agar menarik dan berguna bagi semua pihak. Typhus/Paratyphus.3. 1. Pertanyaan Peneliti Bagaimana (Pneumonia. Hepatitis) di Indonesia? Dan determinan apakah yang paling dominan setiap penyakit tersebut ? 1. walapun masih ada kekurangan dari beberapa variabel yang ada. Hepatitis dengan faktor determinant status individu (umur.2. 4 . Typhus/Paratyphus.4. Hepatitis ) yang menyebabkan morbiditas dan di Indonesia. Perumusan Masalah Data riskesdas tahun 2007 yang mengambil data dimasyarakat. terutama variabel penggalian penyakit menular langsung. jenis kelamin. menimbang masalah morbiditas masih didominasi penyakit menular. Typhus/Paratyphus.1. 2.

pekerjaan. Bermanfaat bagi perencanaan dan evalusi program penanggulangan penyakit menular langsung (Pneumonia.Manfaat 1.5.akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. 1. pendidikan. baik sampai pelacakan pada pemeriksaan laboratorium atau mengetahui wilayah potensial penyakit tersebut. Bermanfaat bagi rekan-rekan peneliti kelompok penelitian menular langsung untuk menindaki penelitian dasar ini secara mendalam. sanitasi lingkungan . Mencari hubungan antara morbiditas penyakit Pneumonia.Hepatitis ) 2. jumlah balita dan asal daerah/ tempat tinggal.2. Typhus/Paratyphus. 5 . Hepatitis dengan faktor determinant keluarga/ lingkungan seperti sosial ekonomi. Typhus/Paratyphus.

BAB 2 METODOLOGI 2.Kerangka Teori HL Blum: Lingkungan Perilaku Status Kesehatan Pelayanan Kesehatan Herediter 6 .1.

2.2. Pneumonia 2.Jumlah balita Lingkungan: . Demam Typhoid/typhus 3.Status sosek .Kerangka pikir Status Individu: .Jenis kelamin Status keluarga: .Sosial ekonomi Morbiditas karena: 1.Umur . Hepatitis/Lever/Kuning akses ke pelayanan kesehatan Dan pemanfaatan pelayanan kesehatana 7 .Pekerjaan .Sanitasi lingkungan .Pendidikan .Asal daerah(desa/kota) .

2 8 . memilih terlebih dahulu subblok sensus secara PPS. 2.3.4. Cara Pemilihan dan Estimasi Sampel. Desain: Crosseksional 2..352 rumah tangga yang tersebar di 17. Tempat dan Waktu Penelitian: Penelitian ini adalah penelitian analisa lanjut data riskesdas 2007 yang dilaksanakan seluruh Indonesia maka analisa data ini akan di laksanakan di Badan Litbangkes DEPKES ( 4 bulan) 2.8.397 BS(blok sensus)di seluruh kabupaten atau kota di Indonesia. yaitu terpilih 278. RKD BLOK II NO. yaitu penduduk Indonesia yang terpilih dalam sampling susenas secara systematik random.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Sampel: Inklusi: Semua responden yang mengisi pertanyaan.7. untuk blok sensus besar. 2. Cara pemilihan sample susenas 20007 dilakukan dengan memilih sejumlah blok sensus secara PPS (probability Proportional to size) dari kerangka sampel blok sensus. Jenis Penelitian.6. dan kemudian baru memilih 16 rumah tangga secara sistematik random sampling. Deskriptif analitik 2. Populasi dan Sampel: Populasi Riskesdas kesmas 2007-2008 adalah sama dengan Susenas 2007.2. kemudian memilih 16 rumah tangga secara sistematik random sampling dari tiap blok sensua biasa.

Wilayah 2. Variabel Variabel dependent: Morbiditas: . BLOK X A.9.10.Demam typhoid (semua kelompok umur) .Sanitasi lingkungan .RT BLOK 1 pengenalan tempat.Pneumonia ( semua kelompok umur) .4.9. BLOK IV kolom 3.Akses ke pelayanan kesehatan .Asal daerah(desa atau kota) . no 1-14. Cara Pengumpulan data: 9 . BLOK V.Pendidikan .11. dan RKD07 AV1 umur  29 kuesioner no 26 dan 27 RKD07 AV2 no 36 RKD07 AV3 no 69 BLOK VI no1.8. BLOK X D no 1-9 BLOK XI no 1-2 Eksklusi: apabila variabel diatas ada yang tidak lengkap 2.Hepatitis/sakit liver/sakit kuning ( semua kelompok umur) Variabel independent: .Pekerjaan .7.Umur . B no 5.5. BLOK VII.6. no 19-20.Jenis kelamin .RKD07.

G (Gejala) 10 .Data yang dianalisa adalah data riskesdas 20007-2008 dikumpulkan oleh tim pewawancara yang terdiri dari 4 orang.13. Pada morbiditas Pneumonia: Penderita penyakit pneumonia paru baik didiagnosa tenaga kesehatan maupun bukan tenaga kesehatan. baik secara univariat. Pneumonia: Radang paru yang disebabkan oleh bakteri dengan gejala panas tinggi disertai batuk berdahak. 2. Bahan dan Cara Kerja Menentukan variabel yang akan diperlukan Meneliti kelengkapan data yang diperoleh Melakukan analisa. Mengajukan permohonan penggunaan data kepada tim manajemen data riskesdas 2007-2008. 2. D (Diagnosa) atau 2.11. dan mendatangi rumah responden untuk melakukan wawancara dan pengukuran. 1. Rencana Pengolahan dan Analisa Data Dilakukan analisa data menggunakan komputer dengan program SPSS versi 16.Kuesioner yang digunakan terdiri dari kuesioner rumah tangga. kuesioner individu. dan multivariat (logistik regresi) 2. Variabel Dependent Morbiditas penyakit penular langsung yaitu: Kesakitan yang disebabkan oleh 3 penyakit dibawah ini: 1.12. bivariat. gelisah dan nafsu makan berkurang).1. Untuk kegunaan analisa ini maka cara mengumpulkan data dengan cara. napas cepat (frekuensi nafas > 50kali/menit) sesak dan gejala lainnya (sakit kepala. Definisi Operasional 1.

D (Diagnosa) atau G (Gejala) Ditanyakan dalam 12 bulan terakhir 2. permukaan lidah kotor. Morbiditas demam Typhus: penderita demam typhoid yang sudah didiagnosa tenaga kesehatan maupun bukan tenaga kesehatan. Gejala hepatitis ditandai dengan demam. disertai dengan sakit kepala. D (Diagnosa) atau G (Gejala) Ditanyakan dalam 1bulan terakhir 1. karena hal ini ada kaitannya dengan kegiatan aktifitas menurut jenis kelamin (beberapa referensi menyebutkan pada 11 . muntah. mual. Kadang-kadang disertai nyeri perut atau nyeri diulu hati.3. Hepatitis/Sakit Liver/Sakit Kuning: Penyakit infeksi hati yang disebab oleh virus hepatitis A. Demam Typhoid: Penyakit infeksi perut yang disebabkan salmonella typhii.2. Status Individu 1. B. Hilang nafsu makan. dapat disertai dengan gangguan pencernaan berupa diare atau buang air besar sulit. Variabel Independent 1. tebal berwarna putih kekuningan dengan pinggiran lidah berwarna merah (bedakan pada balita lidah putih karena minum susu).Ditanyakan dalam 1 bulan terakhir 1. disertai urin warna coklat yang kemudian diikuti dengan ikterus (warna kuning pada kulit dan/sklera mata karena tingginya bilirubin dalam darah. C. 1. Lesu. mual. nyeri pada perut kanan atas.1. D atau E. Morbiditas hepatitis: penderita hepatitis yang sudah didiagnosa oleh tenaga kesehatan atau ditemukan pada saat wawancara riskesdas. Jenis kelamin: jelas pada beberapa penyakit ada perbedaan resiko biarpun tidak langsung. Gejala demam typhoid adalah infeksi perut yang ditandai dengan demam. biasanya suhu badan meningkat mulai sore hari dan menurun pagi hari. 1.

laki laki atau kode 2. Strata-2. 2. Termasuk tidak tamat madrasah ibtidaiyah (MI) Kode 3 = Tamat SD. perempuan. D1. Melalui pengetahuan. Termasuk tamat madrasah ibtidaiyah/ Paket A dan tidak tamat SLTP/MTs Kode 4 = Tamat SLTP. .Pendidikan (khusus untuk ART yang ≥ 10 tahun) Kondisi pendidikan merupakan salah satu faktor yang kerap kali ditelaah dalam menukur tingkat pembangunan manusia. Termasuk tamat Strata-1. kelompok umur pad penyakit pneumonia dan hepatitis menurut teori makin tua makin banyak terpapar. pendidikan berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan. Termasuk tamat Madrasah Aliyah (MA) Paket C. Kode 2 = Tidak tamat SD. D3 mahasiswa drop-out. typhus kelompok laki-laki) Kode 1. Kode 6 = Tamat Perguruan Tinggi.pneumonia banyak terjadi pada laki-laki.2.2. hal ini disebabkan karena keadaan tempat kerja yang tidak memungkinkan 12 . Termasuk didalamnya adalah yang belum sekolah karena belum mencapai usia sekolah.1. Karakteristik keluarga 2. dan hepatitis pada 1. Strata-3. Pekerjaan Utama (khusus ART ≥ 10 tahun) Beberapa pekerjaan ada hubungan dengan resiko penyakit. Kode 1 = Tidak pernah sekolah. sedang pada penyakit typhoid kelompok umur sekolah yang banyak menderita sakit typhus paratyphus 2. Termasuk tamat madrasah Tsanawiyah (MTs)/ Paket B dan tidak tamat SLTA/MA Kode 5 = Tamat SLTA. Umur: Dihitung dalam tahun dengan pembulatan kebawah atau umur pada ulang tahun yang terakhir.

orang yang bekerja secara mandiri dan mendapatkan imbalan atas pekerjaannya. orang yang melakukan usaha dengan modal sendiri atau berdagang baik sebagai pedagang besar atau eceran. Kode 3 = Mengurus Rumah tangga adalah kegiatan mengurus rumah tangga atau membantu mengurus rumah tangga tanpa mendapatkan upah/gaji. perkebunan yang diolah sendiri atau dibantu oleh buruh tani. Kode 2 = Sekolah. bekerja di pemerintahan sebagai angkatan darat. 13 . Kode 1 = Tidak bekerja adalah sedang mencari pekerjaan.berperilaku sehat. Kode 09 = Pelayanan Jasa. angkatan udara dan kepolisian. Kode 08 = Wiraswasta/pedagang. angkatan laut. adalah kegiatan bersekolah di sekolah formal baik pada pendidikan dasar. Kode 07 = Pegawai Swasta adalah pekerja yang bekerja pada perusahaan swasta. Misalnya jasa tramsportasi seperti sopir taksi. departemen lain maupun swasta. Kode 6 = Pegawai BUMN adalah pegawai pemerintah yang non PNS misalnya pegawai Telkom. atau hal ini juga berhubungan dengan sosial ekonomi. PLN. pendidikan menengah atau pendidikan tinggi yang di bawah pengawasan Depdknas. Tanyakan kepada setiap ART berumur 10 tahun atau lebih mengenai pekerjaan responden. mempersiapkan suatu usaha. ojek. Kode 11 = Nelayan. bekerja di pemerintahan sebagai pegawai negeri sipil. Kode 5 = Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kode 10 = Petani adalah pemilik atau pengolah bahan pertanian. atau sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Kode 4 = TNI/Polri. PTKA. orang yang melakukan penangkapan dan atau pengumpulan hasil laut (misalnya ikan).

Terendah 2. pekerja yang mendapatkan upah dalam mengolah pekerjaan orang lain (buruh tani. buruh pekerja). Kuintil 3 4. Karakteristik lingkungan 3.Sosial ekonomi : menurut acuan BPS ada 5 : 1. Jumlah balita 2 orang 5. Jumlah balita 3 orang 4. Menurut daerah administrasi 14 .4. Jawa dan Bali 2. Kuintil4 5. Maluku dan Papua 3. Wilayah Menurut propinsi tetapi tidak sampai ke analisa bivariat. NTT dan NTB 6.2. penyakit tipus dan hepatitis banyak dipedesaan. Jumlah balita 4 orang 3. sedang menurut beberapa referensi penyakit pneumonia banyak dikota besar.Kode 12 = Buruh. Jumlah balita: Jumlah anak dibawah lima yang dipunyai dalam rumah tangga responden dibagi menjadi 1.1.3. Sumatera 3. Jumlah balita 1 orang 6 Tidak mempunyai balita Kode 13 = Lainnya 3. 2. Sulawesi 5. Menurut kelompok ada 5 kelompok pulau 1. Kuintil 2 3. Kalimantan 4. buruh angkat angkut. buruh bangunan. Jumlah balita 5 orang keatas 2. Terkaya 2.

tanyakan berapa meter kubik pemakaian air dalam sebulan sesuai dengan rekening. cuci.Sanitasi Lingkungan (BlokVII) Menurut teori penyakit menular sangat ditentukan oleh sanitasi lingkungan baik rumah maupun lingkungan luar rumah. Berapa jumlah pemakaian air untuk keperluan rumah tangga Tujuan pertanyaan ini untuk mengetahui berapa volume air yang biasanya digunakan untuk keperluan seluruh kegiatan anggota rumah tangga dalam sehari.16. Tersedia tempat pembuangan sampah 10.15. untuk meningkatkan kesehatan seseorang 3. Desa 3.14. Rumah sehat yang dipakai referensi adalah persyaratan perumahan Menkes RI no. mandi. kemudian dibagi jumlah hari dalam sebulan. Tidak terletak dekat daerah pembuangan akhir sampah 2.11. Bahan bangunan tidak boleh terbuat dari bahan yg dpt berkembangnya mikro organisme 9.1.nyamuk.3.13. karena itu beberapa teori menyebutkan bahwa perlu ada rumah sehat. Kepadatan hunian:Ruang tidur minimal 8 meter.12. Debu tidak melebihi 350 mm³/m2 per hari 5. Bebas dari hewan pembawa penyakit (unggas. baik untuk kebutuhan minum.1. dan menyiram tanaman. Kualitas Air Tanah harus memenuhi air baku sesuai undang2 6. tidak dianjurkan tinggal > dari 2 orang (tidak mendapatkan data) 3. Bila menggunakan sumber air dari PAM.9.5.8.7. cuci peralatan.6. pemakaian air dianggap menggunakan 15 . Tersedia sumber Air bersih memenuhi persyaratan kesehatan 7.4.10 ppm) 4. Pemakaian semua kegiatan dilakukan disungai. 829/Menkes/SK/VII/ 1989 antara lain: 1.3. Kualitas udara lingkungan bebas gas beracun dan berbau (Gas sulfur melebihi 0. memasak. cuci kendaraan. dsb) 8. Tidak teletak pada daerah asap (pembakaran) 3.10. Kota 2. maupun keperluan lain seperti buang air besar.17).

Tidak 3. berbusa.20 liter per hari per orang. dan dapur menuju sarana pembuangan air limbah (SPAL) atau sejenisnya. Bagaimana pengolahan dilakukan pengolahan air sebelum diminum? Tujuan pertanyaan ini untuk mengetahui air minum yang tersedia sebelum digunakan atau dikonsumsi dilakukan perlakuan 1. Dimana tempat penampungan air limbah dari kamar mandi/dapur/ tempat cuci? Tempat penampungan air limbah/air kotor yang berasal dari kamar mandi. Tidak ada: tanpa penampungan (ditanah) atau langsung kegot/kesungai 2. 2.3. berbau. Bagaimana saluran pembuangan air limbah dari kamar mandi/dapur/ tempat cuci? Pertanyaan ini untuk mengetahui kondisi konstruksi saluran air limbah/air kotor yang dialirkan dari kamar mandi. Dibuat menjadi 2 kategori: 1.3. 16 . berasa. Diolah : Dimasak.5. Tidak diolah : apabila langsung diminum 2. dan dapur.2. Ya 2. Disaring. Isi kode 1. dan lainnya 3.3.4. Kode: 1. Kualitas fisik tersebut meliputi kondisi air minum menurut persepsi responden yang terlihat oleh mata secara visual. tercium oleh indra pencium. Bagaimana kualitas fisik air minum? Pertanyaan ini untuk mengetahui kualitas fisik air minum yang digunakan ART( anggota Rumah Tangga).Ada penampungan : baik terbuka maupun tertutup 3. Kurang dari 20 liter perorang Lebih atau sama dengan 20 liter perorang 3. tempat cuci.3. dan terasa oleh lidah seperti: keruh. tempat cuci.3. Diberi bahan kimia. berwarna. dan referensi ini yang dipakai untuk mengukur kecukupan air seseorang.

udara.9. Tidak ada kode isian 9999 17 . depan atau dibagian tertentu yang merupakan tempat pengumpulan sampah yang dimiliki oleh rumah tangga tersebut. Tidak ada 2.Kode jawaban jenis saluran pembuangan air limbah 1. Bila ya. seperti dihalaman samping. Tidak pelihara 3.10. Saluran tertutup 3. Apakah hewan peliharaan dikandangkan? 1. Apa jenis hewan ternak yang dipelihara? Tujuan pertanyaan untuk mengetahui keberadaan faktor risiko terjadinya beberapa penyakit menular karena disebabkan lingkungan seperti hepatitis.7. apakah jenis tempat pengumpulan/penampungan sampah rumah tangga tersebut? Pertanyaan ini untuk mengetahui jenis tempat pengumpulan/penampungan sampah diluar rumah yang dimiliki rumah tangga responden. tanah. Jarak rumah dengan sumber pencemaran? Sumber pencemaran baik oleh air. Saluran terbuka 2. suara. ternak sedang atau ternak besar atau anjing dan sejenisnya. Ya pelihara baik unggas. Kode: 1. Ada sumber pencemaran 2.8. Tempat sampah terbuka 2. DiKandang 3. radiasi 1.Ada 3.6. Tempat sampah terbuka 3. 2.3.3. tidak dikandang 2. Ketersediaan tempat sampah dalam berbagai bentuk dan kondisi Kode 1.3. Kode 1.3.3. Apakah tersedia tempat pembuangan sampah di luar rumah? Tempat pembuangan sampah diluar rumah artinya di luar bangunan induk rumah. bau. pneumonia./flu karena hal ini dihubungkan dalam syarat rumah sehat.

Dokter praktek. sayang dalam penelitian ini pemanfaatan hanya ditanyakan pada fasilitas kesehatan karena swadaya masyarakat seperti posyando.3. sedang yang jauh waktu tempuhnya lebih dari 30 menit.4.4. Bidan praktek). sedang yang jauh waktu tempuhnya lebih dari 30 menit.3. Berapa waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan profesional terdekat (rumah sakit.4. Tidak 18 . atau (Posyandu. dan hal ini tentunya mereka memanfaatkan atau tidak.1.Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Hal ini berhubungan dengan apakah fasilitas kesehatan yang didirikan pemerintah bisa diakses oleh responden. Ya 3.4. dalam 3 bulan terakhir (jelas) Jawaban yang ada 1. polindes dan POD dan hal ini memang menurut teori Blum akan menentukan derajat kesehatan seseorang. (kode 1) 3. Tidak 2.4.Gabung waktu tempuh baik ke sarana kesehatan profesional maupun swadaya masyarakat Dikelompokkan menjadi dua yaitu yang dekat artinya waktu tempuhnya kurang dari 30 menit (kode 2). Poskesdes.5. Berapa waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan swadaya masyarakat terdekat (Posyandu. Pustu. (kode 1) 3. Apakah rumah tangga ini pernah memanfaatkan pelayanan polindes/bidan desa. puskesmas. Polindes) : Dikelompokkan menjadi dua yaitu yang dekat artinya waktu tempuhnya kurang dari 30 menit (kode 2). (kode 1) 3.4.4. sedang yang jauh waktu tempuhnya lebih dari 30 menit. 3. Poskesdes.2.Apakah rumah tangga ini pernah memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes 3 bulan terakhir (jelas) Jawaban yang ada 1. Polindes) : Dikelompokkan menjadi dua yaitu yang dekat artinya waktu tempuhnya kurang dari 30 menit (kode 2).

Ya 2. Adanya sarana transportasi ke fasilitas kesehatan 1.8. Gabung penggunaan ketiganya manfaat posyandu.7.9. polindes dan POD Jawaban yang ada 1. Apakah rumah tangga ini pernah memanfaatkan pelayanan polindes/bidan desa dalam 3 bulan terakhir (jelas) Jawaban yang ada 1. Tidak 2. Tidak 2.6.2. Tidak 2. Ya 2.7. Ada 19 . Ya 2.7.7. Ya 2. Apakah rumah tangga ini pernah memanfaatkan pelayanan pos obat desa (POD)/ warung obat desa (WOD) dalam 3 bulan terakhir (jelas) Jawaban yang ada 1.7. Tidak 2.

kecuali karena sesuatu hal maka peneliti melakukan analisa data tanpa menunggu data kepadatan hunian. lidah kotor dan tidak bisa buang air besar.500 per 100. Pneumonia merupakan penyakit menular yang menyebabkan kematian utama.7%-5.5% bisa diartikan ada kasus tifoid 1. ANALISA UNIVARIAT Pneumonia merupakan kelanjutan dari infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) yang mengenai jaringan paru – paru atau ISPA berat. 3. Prevalensi hasil analisa lanjut ini menggambarkan prevalensi 1.8%) .1.000 penduduk range yang diperoleh antara 0. Dalam Riskesdas ini dikumpulkan data pneumonia .2 % dengan range (0. ditanyakan apakah pernah menderita gejala Pneumonia yaitu menderita panas tinggi disertai batuk berdahak dan napa lebih cepat dan pendek dari biasa (kuping hidung) sesak napas dengan tanda tarikan dinding dada bagian bawah Distribusi data yang diperoleh pada analisa ini menunjukan prevalensi penderita pneumonia sebesar 2. Sedang pada data kepadatan hunian. Prevalensi demam tifoid diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosa tifoid oleh tenaga kesehatan dalam satu bulan terakhir. sakit kepala. Bagi responden yang menyatakan tidak pernah. seperti demam sore/malam hari kurang dari satu minggu. responden yang menyatakan tidak pernah ditanyakan apakah satu bulan terakhir pernah menderita gejala tifoid. 20 .4% sampai 2. Kepada Responden ditanyakan apakah satu bulan terakhir pernah didiagnosa Pneumonia oleh tenaga kesehatan. terutama pada balita. semua variabel ada.6%.BAB III HASIL PENELITIAN Data diberikan dalam bentuk set data yang berupa CD. kelengkapan variabel.

Distribusi Responden menurut variabel dependent (Pneumonia.5 98. serta kulit dan mata berwarna kuning.5 6045 469136 0.Ya 2. Prevalensi hepatitis diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosa hepatitis oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir. Pada analisa data diperoleh prevalensi sebesar 0.Tidak 2.6% yang artinya adalah setiap 600 per seratus ribu penduduk (rentang 0.Morbiditas Pneumonia 1. Typhus/ Paratyphus dan Hepatitis B) pada Data Riskesdas di Indonesia tahun 2007 Variabel penyakit 1.Morbiditas Typhoid: 1.Ya 2.6 99.Tidak 3.Morbiditas karena hepatitis/sakit liver/sakit kuning: 1. 21 .Kasus hepatitis yang dideteksi pada survei Riskesdas adalah semua kasus hepatitis klinis tanpa mempertimbangkan penyebabnya. Sebaran responden menurut karakteristik individu Pada variabel menurut karakteristik individu terdiri dari 2 variabel yaitu variabel jenis kelamin dan umur. Tabel 1. kencing berwarna air teh.4 3.1.Ya 2. nyeri perut sebelah kanan atas. ditanyakan apakah dalam kurun waktu tersebut pernah menderita mual.Tidak Jumlah responden % 21167 954014 15111 960070 2. muntah. dapat diperhatikan pada tabel 2 dibawah. Responden yang menjawab tidak pernah didiagnosa hepatitis dalam 12 bulan terakhir.8 1. dibawah ini.3%).1. Semua pernyataan untuk lebih jelasnya dapat disimak pada tabel 1. tidak nafsu makan.2% .2.2 97.

15-24 4. 22 .8%.8%.Jenis kelamin 1. di bagi menjadi 9 kelompok. sedang umur diatas 75 tahun menduduki peringkat terkecil yaitu 1.1-4 2. daripada kelompok jenis kelamin laki – laki.3 22. data menurut jenis kelamin memperlihatkan distribusi yang hampir kelompok jenis kelamin perempuan sedikit lebih banyak yaitu 50.35-44 6.Sebaran sama.8 1.74 tahun dan diatas 75 tahun.25-34 5.75=< Jumlah responden 478411 495246 % 49. yaitu kelompok umur 1-4 tahun.3%. 5-14 tahun. kelompok umur 5 -14 tahun menduduki peringkat pertama yaitu 22. 25 -34 tahun. 35 – 44 tahun. Tabel 2.Perempuan 2. Pada distribusi menurut kelompok umur.8 79072 213775 153089 152637 140574 105100 59802 36056 16938 8. Distribusi reponden menurut karakteristik individu pada Data Riskesdas di Indonesia tahun 2007 Variabel 1. dan jumlah balita yang dipunyai responden.5-14 3.7 11 6.55-64 8.9 14. Pada sebaran data.2.1. serta status sosial ekonomi.1 50.45-54 7. 5 sampai 54 tahun.8 3. 65.2 3. 55 sampai 64 tahun. Sebaran responden menurut karakteristik keluarga Pada distribusi sampel menurut karakteristik keluarga terdiri dari variabel pendidikan dan pekerjaan.Laki-laki 2.3 16 15.Umur (tahun) 1.65-74 9. 15 -24 tahun.

4 sedang pada kelompok pekerjaan terendah adalah TNI/POLRI yaitu 0. peringkat pendudukan perguruan tinggi adalah 4. tamat SLTA. Pada tingkat pengeluaran perkapita. Tamat SD menduduki. Sebaran data pada analisa ini memperlihatkan tamat SD adalah responden terbanyak yaitu 29.5% responden mempunyai balita jumlahnya 1 orang dalam rumah tangga tersebut. Dan pada kelompok tidak lulus SD persentase yang ada adalah 8%. tidak tamat SD.2%. Perguruan Tinggi. tamat SD. kuintil pertama merupakan responden terbanyak yaitu 24. sedang kalau dikelompokkan lagi ternyata kategori yang tidak bekerja misalnya tidak bekerja. Pada jenis pekerjaan responden terbanyak adalah nelayan yaitu 22.4%. Sedang sebaran responden yang mempunyai balita dalam rumah tangganya adalah 55. dan ibu rumah tangg menduduki peringkat terbesar kedua yaitu 37. tamat SLTP. 17.3% dan responden terendah adalah kuintil 5 yaitu sebesar 15. sekolah.5%) .4%. dan selebihnya 35.5% responden tidak mempunyai balita.2% yang terbagi menjadi (11. 18.Pada variabel pendidikan terdiri dari 6 kategori. yaitu tidak pernah sekolah. 23 .6%.5%.8 %.

7 2. Distribusi responden menurut karakteristik keluarga pada Data Riskesdas Di Indonesia tahun 2007 Variabel Jumlah responden 60982 163779 228251 137473 140259 35566 % 1.Pegawai BUMN 7.Wiraswasta/Pdg 9.5 17.Nelayan 12.Ibu rumah tangga 4.Tidak bekerja 2.Tamat SLTP 5. 3 balita 3.9 35.4 15.Tamat SD 4.Tidak punya anak 8 21.TNI/Polri 5.Jumlah Balita dalam Keluarga 1.Tamat SLTA 6.6 0.4 238690 211336 194619 178238 149676 24.Tingkat Pengeluaran per kapita perbulan 1.Kuintil3 4.Sekolah 3.9 18.4 504 6889 70466 316557 49822 0.8 20. Kuintil 5 4.6 86117 142133 134599 3141 24755 3143 32751 74367 15675 171801 9385 51105 18486 11.PNS 6.Kuintil 2 3.2 6.3 4.Pekerjaan 1.4 29.Tabel 3.Tidak tamat SD 3.5 0.8 7.Lainnya 3. 1 balita 5 .Tidak pernah sekolah 2.5 55.4 3.Kuintil 1 2.8 17.Pendidikan 1.8 24 . PT 2.1 18.Pelayanan Jasa 10. >4 balita 2. 2 balita 4.3 21.7 2 22.Kuintil4 5.2 18.Buruh 13.3 9.Petani 11.4 4.1 0.4 1.Pegawai Swasta 8.

distribusi sampel menurut karakteristik lingkungan di bagi menjadi wilayah Jawa Bali merupakan persentasi yang terbesar yaitu 33% . Sebaran responden menurut waktu akses ke pelayanan kesehatan yang dibentuk masyarakat adalah 4.3. Puskesmas Pembantu (Pustu) . Sebaran responden menurut karakteristik lingkungan Pada tabel 5. Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).1 % dan responden terendah adalah di daerah Maluku dan Papua 4. 2% responden dengan waktu tempuh pelayanan kesehatan kurang dari 30 menit dan 95. Jangkauan masyarakat ke pelayanan kesehatan yang dibentuk masyarakat.8% responden dengan waktu tempuh ke pelayanan kesehatan lebih dari 30 menit. dalam waktu yang cepat yaitu kurang dari setengah jam.2% dan yang dekat sebanyak 96.8%. Dekat artinya waktu tempuh kesarana pelayanan tersebut kurang dari 30 menit. Dokter Praktek.1. disusul dengan wilayah Sumatra sebesar 31. dibagi menjadi 2 yaitu 1. Bidan Praktek yang jauh aksesnya 3. Waktu tempuh ke sarana kesehatan (pelayanan kesehatan) yaitu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Gabung waktu akses ke pelayanan kesehatan adalah gabungan antara variabel waktu akses ke pelayanan kesehatan profesional dengan gabungan antara 25 . Sedang pada wilayah administrasi terlihat sebaran sebagai pedesaan 63. Pos persalinan Desa (Polindes). Jauh artinya waktu tempuh kesarana pelayanan kesehatan tersebut lebih dari 30 menit 2. Waktu tempuh ke sarana kesehatan (pelayanan kesehatan) yaitu rumah sakit.3.6%.6% dan perkotaan sebanyak 36. Hal ini menggambarkan bahwa sebaran responden menurut waktu tempuh ke sarana kesehatan profesional tidak menjadi masalah karena kebanyakan sarana kesehatan tersebut dapat dicapai responden.4%.

5 %.2 % responden dengan waktu tempuh ke pelayanan kesehatan kesehatan lebih dari 30 menit.4%.7%. maka sebaran data yang ada tidak memanfaatkan 93. Pemanfaatan ke Polindes ( Pondok Bersalin Desa) dalam 3 bulan terakhir . bervariasi mulai dari mandi cuci. Angkutan umum atau transportasi baik darat.3 % memanfaatkan 2.4 %.3 % .varabel waktu akses ke yang dibentuk masyarakat. dan minum. sebaran responden menurut jumlah responden adalah yang tidak memanfaatkan sebanyak 89. Gabung pemanfaatan posyandu atau polindes atau POD. dan responden dengan tersedia angkutan ke pelayanan kesehatan sebanyak 46. 26 . maka sebaran data yang ada adalah responden dengan tidak ada angkut ke pelayanan kesehatan adalah 53. memperlihatkan jumlah responden yang tidak memanfaat polindes sebanyak 75. atau dapat dikatakan pemanfaatan responden terhadap tempat pelayanan yang bentuknya non formal dari pemeintah. sedang responden yang memanfaatkan 32.5 % dan responden yang memakai jumlah air >=20 liter 94. memperlihatkan jumlah responden yang tidak memanfaatkan sebanyak 67. Pemanfaatan POD (Pos Obat Desa) dalam 3 bulan terakhir.9%. Pemanfaatan ke posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) 3 bulan terakhir.6%. Sebaran datanya adalah yang 5. Adapun sebaran responden memperlihatkan jumlah responden yang memakai air <20 liter sebanyak 5. Jumlah air yang dipakai artinya adalah jumlah air yang dipakai oleh individu adapun jenis pemakaiannya tersebut yaitu dipakai acuan 20 liter perorang.8 % adalah responden dengan tempuh ke pelayanan kesehatan kurang dari 30 menit dan 94.7 %.6 % dan responden yang memanfaatkan sebanyak 24.1% dan yang memanfaatkan sebanyak 10. ataupun laut ke fasilitas pelayanan kesehatan .

berasa.Pencemaran sumber air dalam radius <10 meter terdapat sumber pencemaran Ada13. di sinar dan sebagainya.2%. sedang distribusi data yang ada adalah jawaban kurang baik sebanyak 58% sedang jawaban responden kategori SPAL baik adalah 42%. Pengolahan iar minum disini diartikan bagaimanan pengolahan air minum sebelum diminum. sedang arti dari ada adalah apabila menjawab ada bentuknya tertutup atau terbuka di pekarangan. 27 . sedang pengertian yang diolah adalah di beri bahan kimia. arti tidak diolah adalah air sama sekali tidak diolah.4%.7%. dimasak. Bagaimana saluran pembuangan air limbah dari kamar mandi/dapur/tempat cuci? Jawaban baik apabila responden menjawab salurannya ada dan tertutup.8% dari responden yang sumber airnya dekat dengan sumber pencemaran. Kualitas fisik air minum terdiri dari kategori kurang baik sebanyak 13. sedang jawaban kurang baik apabila responden menjawab ada tetapi saluran terbuka atau tanpa saluran. arti dari kualitas fisik sendiri adalah air tesebut tidak berbau.4% sedang yang menjawab ada sebanyak 10. Sedang arti jawaban apabila menjawab tidak ada di artikan tidak atau tanpa penampungan (ditanah) atau langsung ke got.8 %dan responden yang tidak mempunyai sumber pencemaran 86.2 %. Pada variabel Pengolahan air minum responden yang menjawab tidak mengolah air sebelum diminum sebanyak 9. disaring.8% dan baik 86. baik WC. Dimana tempat penampungan air limbah dari kamar mandi/dapur jawaban responden yang menjawab tidak ada sebanyak 89.3% dan respoden yang mengolah air sebelum digunakan sebanyak 90. Hal ini menunjukkan bahwa ada pencemaran air dari sumber air. berwarna. Dalam pengertian ini arti dari tempat pemnampungan air limbah dari kamar mandi/dapur/tempat cuci. pembuangan air limbah rumah tangga dan sebagainya menunjukkan sebagian kecil yaitu 13.

kuda) atau responden memelihara binatang seperti anjing. lebih Keadaan tempat sampah dimaksudkan apakah tempat sampah tersebut terbuka atau tertutup. sedang jawaban dikategorika dekat apabila jarak kurang dari 500 meter dan kategori jauh apabila lebih dari 500 meter sedangkan sebaran keadaan rumah responden 28 . papan dan sebagainya. sedang yang termasuk tidak dikandangkan adalah hewan ternak tersebut sama sekali tidak dikandangkan. domba. kereta api. burung) atau responden memelihara ternak sedang (kambing. dengan sebaran jawaban responden sebanyak 32. Ketersediaan tempat sampah dalam berbagai bentuk dan kondisi. Pelihara hewan ternak artinya apakah responden memelihara ternak.Keberadaan tempat pembuangan sampah diluar rumah artinya diluar bangunan induk rumah. Sebaran jawaban responden adalahyang menjawab tidak mempunyai sebanyak 55.1 % banyak sedikit daripada yang menjawab ada yaitu 44. dan sebaran keadaan tempat sampah responden adalah 82. didalam pengertian ini peneliti mengkompositkan beberapa variabel yaitu jawaban baik responden menjawab ya dengan jenis ternak yang dipelihara bervariasi ternak unggas (ayam. bebek. atau bengkel atau jaringan listrik tegangan Tinggi.3% menjawab tidak dan sebanyak 67. kelinci dikategorikan dengan jawaban ya memelihara dengan jumlah sekitar 55%. kucing. Jarak rumah dari sumber pencemaran lingkungan di sekitar rumah baik jarak dari jalan raya.9 %. seperti dihalaman samping. babi) atau ternak besar (sapi. pasar tradisional.7% menjawab ya dikandangkan. tempat pembuangan sampah. industri atau pabrik. baik sampah dari semen. atau peternakan/Rumah potong hewan.6% adalah terbuka dan 17.4% tertutup. artinya adalah ternak atau hewan peliharaan tersebut dimasukkan dalam kandang baik kandang dalam rumah atau diluar rumah. kaleng. kerbau. Apa hewan ternak dikandangkan. sedang jawaban responden yang tidak memelihara sebanyak 45%. plastik. atau bandar udara. rel kereta api. terminal/stasiun bis. depan atau bagian tertentu yang merupakan tempat pengumpulan sampah yang dimiliki oleh rumah tangga tersebut.

Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel 4 dibawah.9%.dengan jarak ke sumber pencemaran lingkungan adalah jawaban ya sebanyak 48. 29 .1%. Sedang untuk jawaban tidak jumlahnya 51.

2 1.7 1.0 DI Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 30 .8 2.7 1.1 1.9 2.7 7.2 7.4 2.9 1.0 8.2 0.4 1.0 10.Tabel 4.3 2.3 1.3 3.4 1. Distribusi responden menurut Propinsi Data Riskesdas di Indonesia Tahun 2007 JUMLAH 40892 69256 42021 25530 22435 33358 19042 23833 13645 12514 16970 68460 87119 10164 100966 17276 20603 21297 38000 27377 28015 25706 25928 14397 21512 54570 26642 11245 10349 10361 11521 6898 15755 973657 % 4.1 1.8 2.7 1.6 2.0 2.6 2.9 2.5 2.6 2.6 100.1 4.2 3.2 5.1 2.4 1.

Puskesmas. Dekat 6.1 31 .2 655080 318288 67.Pemanfaatan Polindes dalam 3 bulan terakhir: 1.4 865605 89.3 32.Maluku dan Papua 2. Dokter Praktek.4 63.Wilayah administrasi 1.Tidak memanfaatkan 2.7 7.Tidak memanfaatkan 734828 237341 75.Memanfaatkan 8.8 94.1 4.6 24.8 56958 918223 5.2 6.NTT dan NTB 6. Jauh 2.Tidak memanfaatkan 2.Poskesdes. Dekat 321558 302526 107026 138715 59297 44535 % 33 31.2 95..8 4.Waktu tempuh ke sarana yankes (Posyandu. Jauh 2.6 30879 944302 3.Gabung waktu tempuh kesarana yankesbaik Rumah sakit maupun posyandu 1.Perkotaan 2.6 353632 620025 36.Waktu tempuh ke sarana yankes (Rumah sakit.Tabel 5. Bidan Praktek) 1.Pemanfaatan POD dalam 3 bulan terakhir: 1. Distribusi responden menurut karakteristik lingkungan pada Data Riskesdas di Indonesia tahun 2007 Jumlah responden 1.Pedesaan 3. Kalimantan 4. Jawa Bali 2.Wilayah 1. Sumatra 3. Sulawesi 5.Memanfaatkan 40784 934397 4.1 11 14. Pustu. Dekat 5.Pemanfaatan Posyandu dalam 3 bulan terakhir: 1. Polindes) 1. Jauh 2.2 96.

7 860884 94977 89.<20 liter 2.Memanfaatkan 9.Terbuka 2. Tidak memanfaatkan 2.4 552767 400026 58 42 535169 436844 55.Tidak 2.>=20 liter 12.Pengolahan air minum 1.6 17.Keberadaan tempat sampah 1.7 519702 449054 53.3 90.4 32 .Ada 105535 10.2.Tidak tersedia 2.Keadaan tempat sampah 1. Baik 17.Gabung manfaat Posyandu.Ada 2.6 86.5 94.5 216385 707833 13.Tertutup 357317 75405 8.1 44.Kualitas fisik air minum 1.2 134832 840349 13.Baik 14. Keadaan saluran pembuangan air limbah dari kamar mandi/dapur 1. Memanfaatkan 10.4 10. Kurang baik 2.9 18.Tersedia 11.Jumlah air yang dipakai 1.Tidak ada 13.8 86. Dimana saluran pembuangan air limbah dari kamar mandi/dapur 1. Ada 16.9 948988 26193 93.Angkutan umum ke fasilitas pelayanan kesehatan 1.2 90675 884506 9.4 49668 854651 5.6 46. Polindes: 1. Diolah 15.Kurang baik 2.Tidak diolah 2. Tidak ada 2. POD.3 2.Pencemaran sumber air dalam radius <10 meter terdapat sumber pencemaran 1.

Apa hewan ternak dikandangkan 1.Tidak 2. antara lain DI Aceh. Sulawesi Tenggara. Sumatera Barat. Hasil analisa bivariat antara pneumonia dengan beberapa variabel independen dan pemilihan kandidat variabel multivariat Tiga belas provinsi di Indonesia mempunyai prevalensi diatas angka nasional. Ya 535173 437973 55 45 172284 360865 32.148 dibanding kelompok perempuan.7 21. Gorontalo. Pada variabel kelompok umur prevalensi terbesar pada kelompok umur 75 tahun keatas.Tidak Pelihara 20.Pelihara 2. Provinsi dengan prevalensi pneumonia tinggi.3% dan pada kelompok wanita 2%.9 % kemudian umur 5-14 33 . Papua Barat. Sumber Pencemaran lingkungan di sekitar rumah 1.9 3.2. disusul kelompok umur 65 tahun. memberikan gambaran bahwa prevalensi pneumonia pada pada laki laki yaitu 2. Papua. Maluku Utara Tabel 6. Walaupun kalau di cermati ada penurunan prevalensi menurut umur dimulai umur 0-4 tahun 2.2. Jawa Barat. dengan p = 0. Kalimantan Selatan. gambaran data menunjukkan adanya kenaikan prevalensi menurut umur setelah umur 25 tahun keatas. Sulawesi Tengah.000 masuk menjadi kandidat multivariat. NTB. Hubungan antara penyakit Pneumonia dengan beberapa karakteristik individu menunjukkan pada variabel jenis kelamin. ANALISA BIVARIAT DAN HASIL AKHIR MULTIVARIAT 3. Ada 2. sehingga kelompok laki-laki mempunyai OR = 1. Pelihara hewan ternak 1.3 67.19. Sulawesi Selatan.1 51.1. kelompok umur 55 tahun dan 45 tahun keatas. NTT. Tidak ada 468827 506354 48.

2%. makin tua usia ods ratio makin besar. terlihat mencolok mulai umur 25. yaitu mulai dari OR= 0.567.020. Dibanding dengan kelompok umur 5-14 tahun.000 masuk menjadi kandidat model. OR=0. OR= 1. OR=1.493 . Cermati tabel 6 dan 7 dibawah ini. OR=1.35 tahun keatas sampai kelompok umur 75 tahun keatas.403.7% dan umur 15 -24 tahun sebesar 1.732. OR= 0. 34 .tahun 1.540 karena p=0.

4 2 1.9 2.6 4.2 2.4 1.1 0.7 1 3.2 1.3 1.3 1.5 2.4 2. Prevalensi pneumonia menurut Propinsi Data Riskesdas Indonesia Tahun 2007 Propinsi Jumlah % DI Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 40892 69256 42021 25530 22435 33358 19042 23833 13645 12514 16970 68460 87119 10164 100966 17276 20603 21297 38000 27377 28015 25706 25928 14397 21512 54570 26642 11245 10349 10361 11521 6898 15755 973657 3.7 3.6 1.8 1 1.5 1.3 2.2 35 .2 2.9 2.8 5.1 1.9 2.7 1.Tabel 6.3 2.8 5.9 1.5 1.4 4.5 1.4 1.

1-4 2.Perempuan 2.6 5. Pada tabel 8 dibawah terlihat ternyata penemuan kasus banyak ditemukan sewaktu tim survey berada dilapangan.Jenis kelamin 0.521-0.105 -1.3 2 1.545 -0.933-1.9 2.5-14 3.4 1.35-44 6.732(0.631) 0.459) 0.4 4.tahun 2007 Jumlah Pneu OR P responden monia % 1.617) 0.1 1.25-34 5.116) 1.Laki-laki 2.540(1.536) 0.191) 1a 0.795) 1.719) 478411 495246 2.55-64 8.Umur (tahun) 1.020(0.Tabel 7.674 -0.420(0.2 1a 0.65-74 9.384-0. Sedang untuk keperluan analisa tetap digunakan pengelompokan kasus berdasar diagnosa atau gejala.000* Khusus untuk kelompok umur akan dilakukan pengelompokan prevalensi berdasarkan diagnosa penyakit oleh tenaga medis atau penemuan kasus waktu tim riskesdas wawancara.278-1.379-1.148(1.6 1.000* 1. 36 .567(0.15-24 4.8 1.493(0.454 -0. Distribusi responden menurut prevalensi pneumonia dan hasil analisa bivariat antara pneumonia dengan beberapa karakteristik individu serta kandidat model multivariat pda Data Riskesdas di Indonesia.5 3.403(1.587(0.539) 1.75=< 79072 213775 153089 152637 140574 105100 59802 36056 16938 3.45-54 7.

Pada tingkat pengeluaran memberi informasi makin besar kuintil makin sedikit ORnya. kemudian disusul petani ( OR=2.80).tahun 2007 Jumlah Diagnosa % Gejala % Variabel responden Umur (tahun) 1.90) dan lainnya (0. kemudian nelayan.1 9 5.1-4 2. Pada responden dengan pendidikan sekolah menengah atas (SMA) dan perguruan tinggi (PT) prevalensinya terendah yaitu 1.Tabel 8.7%. makin tinggi pendidikan responden makin rendah OR nya dibanding dengan yang tidak pernah sekolah. Tetapi kalau dilihat ORnya maka pada kelompok responden yang tidak bekerja adalah (3. Demikian juga OR yang terjadi.924).25-34 5.4 5.5-14 3.6 6.4 16. buruh dan lainnya dengan OR masing-masing diatas 2. sedang OR yang rendah adalah pegawai BUMN.3 Pada variabel tingkat pendidikan kelompok tidak pernah sekolah mempunyai prevalensi terbesar yaitu 4.3 15 15.5 21.35-44 6. Pada pekerjaan prevalensi tertinggi adalah pada kelompok nelayan (1).45-54 7.4 20.00. Distribusi responden menurut prevalensi pneumonia berdasarkan pengelompokan kasus menurut diagnosa dan gejala pada Data Riskesdas di Indonesia.2 21.5 7 7. kemudian petani (0.6 8.7 15. 37 .008) ini adalah OR tertinggi dengan referens BUMN.65-74 9.75=< 79072 213775 153089 152637 140574 105100 59802 36056 16938 16. pegawai swasta. Hal ini sama dengan laporan Riskesdas Indonesia tahun 2007. dan PNS.7 18. dan trend yang ada adalah makin tinggi pendidikan makin menurun prevalensi pneumonia-nya.1 31. dan hubungan ini memberikan kemaknaan 0.55-64 8.1 6.2%.15-24 4.

Pada OR tersebut sebagai pembanding kelompok responden dengan jumlah balita diatas 4 balita dalam keluarga tersebut. hal ini kemungkinan menunjukkan makin banyak balita makin tinggi pneumonianya. tetapi pada kelompok keluarga yang tidak punya balita prevalensinya juga besar. demikian juga OR-nya jika dibanding dengan OR pada kelompok responden yang tidak mempunyai balita.Pada responden yang mempunyai jumlah balita lebih dari 4 makin besar prevalensinya demikian juga OR. 38 .

Tabel 9. Distribusi responden menurut prevalensi pneumonia dan hasil analisa bivariat antara pneumonia dengan beberapa karakteristik keluarga serta kandidat model multivariat pada Data Riskesdas di Indonesia- tahun 2007 Jumlah Pne OR P responde umo n nia % 1.Pendidikan 0.000* 1.Tidak pernah sekolah 2.Tidak tamat SD 3.Tamat SD 4.Tamat SLTP 5.Tamat SLTA 6. PT 2.Pekerjaan 1.Tidak bekerja 2.Sekolah 3.Ibu rumah tangga 4.TNI/Polri 5.PNS 6.Pegawai BUMN 7.Pegawai Swasta 8.Wiraswasta/Pdg 9.Pelayanan Jasa 10.Petani 11.Nelayan 12.Buruh 13.Lainnya 3.Tingkat Pengeluaran per kapita perbulan 1.Kuintil 1 2.Kuintil 2 3.Kuintil3 4.Kuintil4 5.Kuintil 5 4.Jumlah Balita dalam keluarga 1. 5 balita atau lebih 2. 4 balita 3. 3 balita 4. 2 balita 5. 1 balita 6 .Tidak punya anak 235690 211336 194619 178238 179676 2,5 2,3 2,1 2 1,7 1.557(1.432-1.693) 1.395(1.288- 1.512) 1.321(1.217- 1.433) 1.202(1.111- 1.301) 1a 0,012* 44 460 6889 70446 316557 498227 15,9 3 2,6 2,5 2,2 2,3 10,307(1,824-58,232 0,798(0,397-1,606) 1,057(0,813-1,376) 1,049(0,958-1,148) 0,948(0,902-0,997) 1a
39

60982 163779 228251 137473 140259 35566

4,3 2,7 2 1,5 1,2 1,2

3,983(3,432-4,624) 2,750(2,374 -3,186) 1,992(1,725 -2,301) 1,355(1,165 -1,577) 1,158(0,994 -1,350) 1a 0.000*

86117 142133 134599 3141 24755 3143 32751 74367 15675 171801 9385 51105 18486

0,7 0,5 0,7 0,6 0,5 0,4 0,4 0,5 0,8 1 0,9 0,7 0,8

3.008(1.855-4.877) 1.434(0.885-2.324) 1.855(1.144-3.008) 1.455(0,786-2.694) 1.285(0.777- 2.126) 1a 1.112(0.670-1.846) 1.741(1.068-2.836) 1.846(1.115- 3.055) 2.924(1.803 -4.742) 2.674(1.584-4.512) 2.356(1.447- 3.838) 2.324(1.408 -3.836) 0.000*

Prevalensi Pneumonia menurut propinsi sudah dijelaskan diatas, dan dibawah ini adalah sebaran prevalensi pneumonia menurut pulau, tertinggi adalah pulau

Nusa Tenggara, 4,1%, kemudian Maluku dan Papua sebanyak 4%, sedang pada nilai OR tertinggi adalah Maluku dan Papua 2,1 kemudian Nusa Tenggara OR= 1,85 kemudian pulau Kalimantan OR=0,796 paling rendah dibanding pulau lain.

Pada wilayah administrasi maka pedesaan mempunyai prevalensinya 2,5 % dan wilayah perkotaan yaitu 1,6% sehingga untuk wilayah pedesaaan OR= 1,404(1,303 – 1,513) dibanding dengan wilayah perkotaan.

Waktu

tempuh responden ke sarana yankes (Rumah sakit, Puskesmas, Pustu,

Dokter Praktek, Bidan Praktek), disini menunjukkkan bahwa responden yang mempunyai waktu tempuh tempuh ke sarana pelayanan kesehatan dengan waktu

lama prevalensinya 4% dibanding responden yang waktu tempuh ke

sarana tersebut sebentar (kurang dari 30 menit) jumlah prevalensinya 2,1 % . OR=1,915 pada kelompok responden yang mempunyai waktu tempuh kesarana pelayanan kesehatan profesional jauh.

Waktu

tempuh ke sarana yankes (Posyandu,Poskesdes, Polindes) jauh

prevalensi pneumonianya sebesar 3,1% dan dekat prevalensi pneumonia sebesar 2,1% dengan OR pada kelompok responden yang waktu tempuh kesarana kesehatan sebesar 1,411.

Semua variabel (21 variabel) pada analisa bivariat mempunyai p dibawah 0,25, karena pertimbangan maka yang masuk menjadi kandidat model adalah 17 variabel.

40

Tabel 10. Distribusi responden menurut prevalensi pneumonia dan hasil analisa bivariat antara pneumonia dengan beberapa karakteristik lingkungan serta kandidat model multivariat pda Data Riskesdas di Indonesiatahun 2007 Jumlah Pneumo OR P respond nia en % 1.Wilayah 1. Jawa Bali 2.. Sumatra 3. Kalimantan 4. Sulawesi 5.NTT dan NTB 6.Maluku dan Papua 2.Wilayah administrasi 1.Perkotaan 2.Pedesaan 3.Waktu tempuh ke sarana yankes (Rumah sakit, Puskesmas, Pustu, Dokter Praktek, Bidan Praktek) 1. Lama 2. Cepat 0.000* 321558 302526 107026 138715 59297 44535 1,7 1,9 1,6 2,7 4,1 4 1a 0,896(0,829-0,969) 0.796(0.720 - 0.881) 1.407(1.285 - 1.541) 1.852(1.658 - 2.068) 2.179(1.917 - 2.478) 0,000* 353632 620025 1,6 2,5 1a 1,404(1,303 -1,513)

0.000*

30879 944302

4 2,1

1.915(1.665 - 2.201) 1a

4.Waktu tempuh ke sarana yankes (Posyandu,Poskesdes, Polindes) 1. Lama 2. Cepat

0.000*

40784 934397

3,1 2,1

1,411(1,251 -1,592) 1a

5.Gabung waktu tempuh kesarana yankesbaik Rumah sakit maupun posyandu 1. Lama 2. Cepat

0,000* 56985 918223 3,4 2,1 1,555(1,394 -1735) 1a

6.Pemanfaatan Posyandu dalam 3 bulan terakhir: 1.Tidak memanfaatkan 655080 2.Memanfaatkan 318288

0.000* 2 2,5 0,825(0,787 -0,866) 1a
41

921) 1a 9.000* 134832 840349 3.1 3.Kurang baik 2.825-0.Pemanfaatan POD dalam 3 bulan terakhir: 1.000* 948988 26193 2.793(0.Jumlah air yang dipakai 1.584(1.4 2.372) 1a 15.1 0. Apakah mempunyai saluran pembuangan air limbah dari kamar 0.Tidak tersedia 2.6 0.<20 liter 2.Tidak memnftkan 2.266(1.Tersedia 11. Memanfaatkan 10.Pemanfaatan Polindes dalam 3 bulan terakhir: 1.953(0.Memanfaatkan 8. Tidak memanfaatkan 2.000* 49668 854651 3.720) 1a 0.4 0. Diolah 0.Memanfaatkan 0.893(0.Tidak ada 13.7.1 1.Baik 14.897 -1.080 -1.Tidak memnftkan 2.Ada 2.504(1.709(0.2 2 1.168 -1.805) 1a 0.Gabung manfaat Posyandu. POD.Tidak diolah 2.000* 734828 237341 2 2.Pencemaran sumber air dalam radius <10 meter terdapat sumber pencemaran 1.471 -1.Kualitas fisik air minum 1.1 1.1 2.624-0.211) 1a 0.2 2. Polindes: 1.1 1.Angkutan umum ke fasilitas pelayanan kesehatan 1.2 0.000* 42 .749-0.000* 90675 884506 3.000* 216385 707833 2.840) 1a 0.143( 1.2 2.315 –1.1 2.706) 1a 0.008* 865605 105535 2.121* 519702 449054 2.Pengolahan air minum 1.>=20 liter 12.013) 1a 0.

2 1.000* 0.8 1.035 -1.Apakah mempunyai tempat sampah 1.5 2.335 -1.192 .001 -1.1.Tertutup 2.116) 1a 17. Pelihara hewan ternak 1.289(1.003* 172284 360865 2.5 1.Tidak Pelihara 20. Apakah ternak dikandangkan 1.9 2. Tidak ada 535109 436844 2. Ya 21.795-0. Keadaan saluran pembuangan air limbah dari kamar mandi/dapur 1. Tidak 2.414) 1a 0.345) 1a 0.000* 535173 437973 2.2 1.Pelihara 2.4 1. Ada 16.4 0.395) 1a 0. Baik 860889 999777 2.900) 1a 43 .000* 468827 506354 1.1.8 2.215 -1.107(1.278(1.846(0. Ada 2.482) 1a 0.Tidak 2.8 1.Terbuka 19. Tidak ada 2. Sumber Pencemaran lingkungan di sekitar rumah 1.269(1.6 1.057(1.045* 552767 400026 2.Keadaan tempat sampah 1. Kurang baik 2.407(1.2 2 1.185) 1a 0.000* 357317 75405 1.139 .6 1. Ya 18.mandi/dapur 1.

784-2. dan odd ratio ajust pada kelompok laki-laki sebesar 1.55-64 8. Hasil akhir analisa multivariat antara pneumonia dengan beberapa karakteristik individu pada data riskesdas di Indonesiatahun 2007 Jumlah Pneu OR P responden monia % 1.Laki-laki 478411 2.837) 2.65-74 9.25-34 5.205) 1.4 4.4 1.376(1.047(1.5 3. petani mempunyai prosentase yang paling tinggi.1-4 2. Tabel 11.Umur (tahun) 1.974) 2.3 1.202-1.1 1.024) 0.299) 2.2. 75=< 79072 213775 153089 152637 140574 105100 59802 36056 16938 3. 44 .15-24 4.606(1.589(2.35-44 6.000 2.9 2.575) 1.348) 2.253-2.426) 1.45-54 7. kemudian disusul kelompok nelayan. hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa proporsi responden yang berumur 75 tahun atau lebih prosentasenya lebih tinggi dibanding dengan kelompok umur lainnya. Model akhir analisa multivariat antara pneumonia dengan determinan Dari hasil bivariat sampai kemultivariat ternyata ada hubungan antara penyakit pneumonia dengan jenis kelamin.405-1.2.8 1.5-14 3.Perempuan 495246 2 1a 0.219-3.Jenis kelamin 1. kemunian lainnya.6 5.228(1. Pada kelompok umur.6 1. dan yang paling rendah adalah kelompok pegawai BUMN.2 1a 1.228 dibanding dengan kelompok perempuan.070(0.088-1.000 Pada variabel pendidikan responden yang tidak pernah sekolah ternyata menunjukkan prosentase yang paling tinggi terkena pneumonia dibandingkan dengan responden yang bersekolah.950-1.3. Pada variabel pekerjaan.591(2. dan hal ini menunjukkan bahwa prosentase laki-laki lebih banyak yang terkena penyakit pneumonia daripada perempuan.246(1.161-1.

kemudian disusul wilayah Maluku dan Papua.5 1.Tamat SLTP 5.Pegawai BUMN 3143 0.320) 5.268(0.686) 2.126) 4.3 2.734-2. dengan pembanding kuintil 5.090) 9. Kuintil 5 60982 163779 228251 137473 140259 35566 4.005-1.Tidak pernah sekolah 2.255(0.PNS 24755 0.Ibu rumah tangga 134599 0.Kuintil 2 3.5 2.Tamat SD 4. PT 3.178(0. 45 .064(0. serta Sulawesi.5 1.756-2.817-2.Lainnya 18486 0.Wiraswasta/Pdg 74367 0.7 1.201(0.242(0.Tingkat Pengeluaran per kapita perbulan 1.056) 12.973-1.Tamat SLTA 6.392(0.Pelayanan Jasa 15675 0.749(1.679-1.Nelayan 9385 0.Tidak bekerja 86117 0.4 1.675-1.197(1.Pendidikan 1.1 2 1.675-2.355(0.Petani 171801 1 1.Kuintil3 4.6 1.189) 11.351(1.156(0.000 Untuk wilayah regional.009-1.931) 3.Sekolah 142133 0.780-2.7 2 1.7 1.163) 1a 0.855-2.307(0.7 1.4 1a 7.175(1.2 2.623) 1.Tingkat pengeluaran perkapita.145(0.458-2.216) 1. wilayah Nusa Tenggara mempunyai persentase yang paling tinggi. sedangkan pada sebaran menurut Odds Ratio maka Maluku dan Papua menduduki peringkat pertama.2 1.124-1.8 1. kemudian Nusa Tenggara dan kemudian Sulawesi.Buruh 51105 0.Kuintil4 5.000 235690 211336 194619 178238 179676 2.279) 13.223(0.166(1.770) 2.622) 1.113 -1.5 1.714-2.Pekerjaan 0.096) 6.TNI/Polri 3141 0.215) 1.621-2.738-2.165(1.Tidak tamat SD 3.tahun 2007 Jumlah Pneum OR P responden onia % 1.957-1.148) 10.007-1.3 2.881-2.353 1.5 1.373) 2.806-2.Pegawai Swasta 32751 0.7 1. persentase responden dalam group kuintil 1 peluang untuk menderita penyakit pneumonia paling tinggi dibandingkan dengan responden dalam group kuintil 2 sampai kuintil 5.097) 1.227(1.8 1.000 1.603(0. Hasil akhir analisa multivariat antara Pneumonia dengan beberapa karakteristik keluarga pada data riskesdas di Indonesia. Tabel 12.Kuintil 1 2.383(1.427) 1a 0.980) 8.9 1.

Sedang variabel ada tempat sampah OR=1.120 untuk sakit pneumonia. dan lalu 1. Lebih jelas cermati tabel 13 dibawah. dan yang pelihara hewan ternak mempunyai peluang 1. pustu.119 dan 1.516 kali dibanding pada kelompok yang waktu tempuhnya sebentar. dan kualitas air mempunyai OR masing-masing 1.508.Waktu tempuh kesarana kesehatan profesional yaitu kesarana kesehtan rumah sakit. Untuk jumlah air.231 untuk yang tidak mempunyai tempat sampah sebesar untuk sakit pneumonia. dan bidan praktek.669. 46 . dokter praktek. variabel pencemaran sumber air. Puskesmas. dari data yang ada dapat dijelaskan bahwa waktu tempuh yang lama mempunyai resiko mendapatkan sakit pneumonia sebesar 1.

254) 2.4 2.773(1.. Pustu. Sumatra 302526 1.Ada 2.Baik 5.Pelihara 2.188) 1a 47 .788) 1a 0.010) 3.1 2. Sulawesi 138715 2.508(1.>=20 liter 4.669(1.638) 1a 0.6 0.Tidak 2.Kurang baik 2.513) 5.000 134832 840349 3.922) 1a 0.8 1.504(1.449-1.Waktu tempuh ke sarana yankes (Rumah sakit.266-1.Kualitas fisik air minum 1.388-1.923(0.5 2.698-2.Tabel 13.010) 6.000 a 1.957(0.000 3.1 1.181(1.230-1.844-1.157-1.563-2.1 1.Maluku dan Papua 44535 4 1.880) 4.106-1.7 1 2.692-0.000 535173 437973 2. Dokter Praktek. Puskesmas.309) 1a 0.7 1.231(1.000 30879 944302 4 2.2 2 1.Pencemaran sumber air dalam radius <10 meter terdapat sumber pencemaran 1. Bidan Praktek) 1.Tidak Pelihara 49668 854651 3.000 535109 436844 2.780(0. Lama 2. Ada 6.9 0.NTT dan NTB 59297 4. Hasil akhir analisa multivariat antara pneumonia dengan beberapa karakteristik lingkungan pada data riskesdas di Indonesia.Jumlah air yang dipakai 1. Jawa Bali 321558 1. Cepat 0.1 1.000 216385 707833 2.364(1. Kalimantan 107026 1.Adakah tempat sampah diluar rumah 1.<20 liter 2. Pelihara hewan ternak 1.5 1.056-1.2 1.1 1.Tidak ada 5.120(1.tahun 2007 Jumlah Pneu OR P Variabel responden monia % 1.262) 1a 0.Wilayah 0.

Sulawesi Selatan. dan Papua.6%. Gorontalo.5). Papua Barat.3. bengkulu. sedang angka typhus dan paratyphus nasional adalah 1.2. 48 . Kalimantan Selatan.3.4%).6%) kemudian Bengkulu (2. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tengah. Jawa barat. disusul Gorontalo (2. banten. Kalimantan Timur. Kalimantan Tengah. Nusa Tenggara Timur. Beberapa daerah diatas angka nasional adalah propinsi Aceh. Kalimantan Barat. Hasil analisa bivariat antara typhus/paratyphus dengan beberapa variabel independen dan pemilihan kandidat variabel multivariat Pada sebaran variabel independent menurut propinsi maka propinsi DI aceh menduduk peringkat pertama (2.

0 1.4 1 1.6 2.Tabel 14.4 1.6 1.6 Sebaran prevalensi penyakit typhus dan paratyphus menurut beberapa variabel independent karakteristik individu. yaitu jenis kelamin dan umur. 49 .2 1.3 2 1.8 1.5 0.8 1.4 2.2 0.8 0.0 1.0 0.2 2.0 2.1 2.5 0.3 1.9 2.1 1.8 1.4 1.4 2.9 1.8 1.8 0.4 2. Prevalensi typhus/paratyphus menurut Propinsi Data Riskesdas Indonesia Tahun 2007 Provinsi Total %Typhus/Paratyphus DI Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 40892 69256 42021 25530 22435 33358 19042 23833 13645 12514 16970 68460 87119 10164 100966 17276 20603 21297 38000 27377 28015 25706 25928 14397 21512 54570 26642 11245 10349 10361 11521 6898 15755 973657 2.1 1.4 2.

50 .000 maka OR yang paling besar adalah kelompok umur 5-14 tahun.6%.148(0. dan tidak tamat SD kemudian dan yang paling rendah adalah tamat Perguruan Tinggi.104 dibanding dengan kelompok perempuan.941(0.tahun 2007 P Variabel Jumlah Typhus/ OR responden Paratyp hus % 1.1-4 2. dan perempuan 1.329) 1.4 1.65-74 9.35-44 6.7 1.957.Pada sebaran penyakit menurut jenis kelamin maka laki-laki 1.075) 0.2 1.201-1. dengan p=0.098(0. dan OR pada kelompok laki-laki adalah 1.5 1. dengan p= 0.6 1. Tabel 15.057 -1.737 -1.902(0. terendah tamat SLTA kalau dibanding dengan perguruan tinggi.25-34 5.716) 1.377) 0.104(1.3 1. 75=< 478411 495246 741395 2055105 213775 1506555 1511162 1445758 636331 394766 185823 1.4 1.000* 0.908 – 1.5%.1. Distribusi responden menurut prevalensi typhus/paratyphus dan hasil analisa bivariat antara typhus/paratyphus dengan beberapa karakteristik individu serta kandidat model multivariat pada Data Riskesdas di Indonesia.154) 1a 1.122) 0. dengan p = 0.000.688-1.089) 0.6 2.781 -1.1 1.Perempuan 2. dilihat dari persentase memperlihatkan bahwa kelompok umur 5-14 adalah kelompok terbanyak yang terkena typhus dan para typhus.5-14 3.55-64 8.135) 0.049) 1a 0.15-24 4.Jenis kelamin 1.45-54 7.890(0.3 1.938(0.Umur (tahun) 1.Laki-laki 2.850(0.747 -1.000* Pada kelompok pendidikan tertinggi yang pberpeluang untuk sakit Typhus/Paratyphus adalah tidak pernah sekolah.785-1. Sedang OR tertinggi adalah tidak tamat SD.000 jadi masuk kandidat multivariat Distribusi penyakit menurut umur ada 9 kelompok umur.5 1.435(1. Dan merupakan kandidat multivariat.

Pada kelompok kuintil ternyata kuintil 1 paling tinggi odds ratio terjadi typhus dan paratyphus daripada kuintil lainnya.000 Pada kepemilikan balita didalam rumah tangga responden maka responden yang memilik balita 4 orang atau lebih memiliki OR= 1. 51 . makin besar kuintil atau tingkat pengeluaran makin kecil odds ratio yang terjadi. Lihat tabel 15 dibawah dan p yang didapat adalah = 0.55.

310) 0.Sekolah 3.245) 0.838-0.Nelayan 12.221) 1.041) 1.113(0.Kuintil3 4.550(0.Tidak tamat SD 3.Ibu rumah tangga 4.794-2.Tamat SD 4.4 1.Tingkat Pengeluaran per kapita perbulan 1.7 1.Lainnya 60982 163779 228251 137473 140259 35566 1.Tidak pernah sekolah 2.296(1.6 1.374) 1.343) 1.150-3.Pekerjaan 1.015-1.096(0.143) 0.Kuintil 5 4.859(.261) 1.Tamat SLTA 6.Pelayanan Jasa 10.PNS 6.Buruh 13.6 1.657(1.293(0.Tabel 16.Tamat SLTP 5.5 1.3 1.170-1.PT 2.538-0.031-2.Pegawai BUMN 7.181-3.736-0.089-2.000* 1.387(0.5 1.723(1.387(0.034-1.157-3.573-1. 4 balita 3.260(1.851-2.842-2.Jumlah Balita 1.3 1 1 1 1.000* 0.5 1.079) 1.1 1.876(1.8 1. 1 balita 6 .560-2. 3 balita 4.1 1.905) 0.Tidak punya anak 235690 211336 194619 178238 149676 1.816(0.1 1.8 1.315-1.969) 2.929(1.623) 1.539(1.801) 2. 2 balita 5.TNI/Polri 5.4 1.088(1.Kuintil 2 3. Distribusi responden menurut prevalensi typhus/paratyphus dan hasil analisa bivariat antara typhus/paratyphus dengan beberapa karakteristik keluarga serta kandidat model multivariat pada Data Riskesdas di Indonesia.7 1.8 1.2 1.378-3.948) 1a 52 .888(0.722(0.026-0.851-2.023) 2.6 1.Pegawai Swasta 8.526-2.3 0.610) 1a 1.363-6.389) 1.152) 1.155-1.864(1.Kuintil 1 2.493) 0.Pendidikan 1.127(1.228) 1a 44 460 6889 70446 316557 498227 2.Wiraswasta/Pdg 9.5 1.052-1.145(1.1 1.107) 3.395(0.234(1.448) 1.6 1.968) 0.5 1.000* 86117 142133 134599 3141 24755 3143 32751 74367 15675 171801 9385 51105 18486 1.tahun 2007 Typhus/P OR Variabel Jumlah P aratyphus responden % total 1.000* 1.6 1.781(1.961(0.Kuintil4 5.617) 0. 5 balita 2.8 1.073-3.Petani 11.408) 1a 0.275(1.394-1.Tidak bekerja 2.6 1.444(0.787-2.261) 1.878) 1.

Waktu tempuh kesarana kesehatan swadaya masyarakat untuk responden dengan waktu tempuh lama persentase yang sakit Typhus adalah 2.1%).338 dibanding dengan perkotaan.000 maka masuk menjadi kandidat multivariat demikian juga OR yang terjadi. dengan dengan OR untuk yang lama jarak tempuhnya adalah 1. Polindes.728. dan POD. yaitu kalau dilihat sebaran persentase maka ternyata yang memakai posyandu. misalnya0.000.395 dan merupakan kandidat multivariat.326 dan p masuk kandidat multivariat. sesuai dengan persentase. jika dibanding dengan yang tidak memakai. Gabung waktu tempuh kesarana kesehatan baik swadaya masyarakat maupun ke sarana kesehatan profesional maka responden yang sakit Typhus dengan waktu tempuh lama adalah 2.637. dan terkecil adalah Sumatra(1. maka OR yang terjadi adalah justru yang tidak menggunakan fasilitas kesehatan mempunyai OR dibawah 0.844.Pembagian wilayah menurut pulau. maka kalau dilihat persentase yang terjadi maka NTB dan NTT termasuk daerah yang tinggi (2.617. Sedang pembagian atau sebaran responden menurut wilayah administrasi maka pedesaan memilik odds ratio sebesar 1.1% dengan OR= 1. Dari peristiwa tersebut dapat di maklumi bahwa mereka menggunakan fasilitas 53 .25. dengan p dibawah 0. dan gabung pemanfaatan ketiganya maka justru yang memakai mempunyai persentase yang tinggi untuk sakit Typhus dan Paratyphus.0.4%. Sedang pada sebaran pemanfaatan sarana kesehatan kelihatannya ada yang terbalik dari analisa hubungan yang ada.1% dengan OR= 1.5% dan untuk waktu tempuh lama maka persentase responden yang sakit Typhus dan Paratyphus adalah 2. maka masuk kandidat multivariat. Waktu tempuh ke pelayanan kesehatan profesional memperlihatkan untuk waktu tempuh cepat persentase yang sakit Typhus adalah 1. P yang didapat adalah 0.778 dan 0.4%). 0. dengan p=0.

jadi mereka menggunakan fasilitas kesehatan tersebut karena akan berobat.5. pada analisa riskesdas ini air yang dipakai cukup apabila >=20 liter. maka berdasarkan pertimbangan tersebut mak pemanfaatan tidak diikutkan dalam analisa multivariat.3% daripada responden yang sakit typhus dengan kualitas air yang digunakan baik.000 masuk kandidat multivariat. Pada variabel cara pengolahan air responden sebelum digunakan. dan persentase yang sakit typhus dan paratyphus yang sakit adalah 1. maka didapatkan bahwa responden dengan sumber air ada sumber pencemaran yang sakit typhus dan paratyphus sebanyak 1.7 lebih besar daripada responden yang tidak memelihara hewan ternak.489.134 dengan p=0. maka variabel ini tidak masuk kandidat multivariat.231.7%. 54 .7% dengan OR=1. p = 0. Dan merupakan kandidat masuk multivariat. sedang OR yang ada adalah 0. Sedang adanya sarana angkutan ke fasilitas kesehatan menunjukkan bahwa persentase yang sakit typhus pada responden yang tidak mempunyai sarana ke fasilitas kesehatan 1. Dan sebaran prevalensi adalah responden dengan mengunakan air yang tidak diolah sebanyak 1.7 sedang persentase responden yang mempunyai sarana ke fasilitas kesehatan adalah 1.000 maka variabel ini masuk ke analisis multivariat. dan masih masuk ke kandidat multi walaupun p=0.000. karena p=0. dan OR= 1.008. Jumlah air yang dipakai.917 dengan p= 0.7% yang sakit typhus dan paratyphus. Kualitas air.25. dan menderita typhus dan paratyphus lebih banyak yaitu 2. Pada responden dengan sumber air ada sumber pencemaran kurang dari 10m. menunjukkan responden dengan kualitas air kurang baik. Peluang sakit typhus pada responden yang memelihara hewan ternak adalah 1.kesehatan karena mereka sudah sakit. didapat diatas p diatas 0.

Pedesaan 3.NTT dan NTB 59297 2.338(1.689 -0. Jawa Bali 321558 1.Wilayah 1.polindes ) 1.517) 1a 0.000 dengan responden yang ada sumber pencemaran disekitar rumah yang sakit typhus sebanyak sebanyak 1.000* 4. Pos Kesdes.931(0. Sulawesi 138715 1. Pustu.241-1.156) 0. Distribusi responden menurut prevalensi typhus/paratyphus dan hasil analisa bivariat antara typhus/paratyphus dengan beberapa karateristik lingkungan serta kandidat model multivariat pada Data Riskesdas di Indonesia.Maluku dan Papua 44535 1.326(1.Lama 2. dan dikandangkan maka didapat p = 0.844 -0.Waktu tempuh ke sarana yankes (Posyandu.947 -1.2 1.000* 30899 944302 2.Cepat 4. Lama 2.347) 2.500) 6.5 1a 2.8 1.821) 3.6 0. Kalimantan 107026 1.000* 1.041(0.159-1.Pada responden yang memelihara hewan ternak. tempat pembuangan sampah dan sebagainya.235-1.Wilayah administrasi 1. 337. Sebaran responden menurut sumber pencemaran yang ada di sekitar rumah.938 -1. seperti adanya pasar.5 0.576) 55 .314(1.8 0.Gabung Waktu Kesarana Yankes Baik rumah sakit atau posyandu 1a 1.5 1.4 1.637(1. Cepat 5. Puskesmas.385-1.129(0.1 1.935) 1a 40784 934397 2.443) 353632 620025 1. maka didapat p = 0.000* 0.000* 56958 2. Sumatra 302526 1.1 1.1 1.Waktu tempuh ke sarana yankes (rumah sakit.152.4% Tabel 17.7 1.752(0. Bidan Praktek) 1.1.Perkotaan 2.395(1.026) 5. jadi variabel ini tidak masuk dalam analisis multivariat.Dokter Praktek.4 0.tahun 2007 Variabel Jumlah Typhus/ OR P responden Paratyp hus % 1.

5 1.302 860889 99977 1.1. Memanfaatkan 10.2 1.778(0.Tidak memanfaatkan 2. Jumlah air yang dipakai 1.Tidak memanfaatkan 2.Pemanfaatan Polindes 1.Tidak 13.Gabung pemanfaatan.4 1.210) 1a 0. Memanfaatkan 7.4 1. 15.799 -0.378-1.5 1.489(1.5 1a 655080 318288 1.955 -1.6 1.860-0.000 865605 105335 1.000 328979 8667564 1.Kurang berkualitas 2.Tidak memanfaatkan 2.977) 1a 1.160) 1a 0.000* 134832 840349 2.771) 1a 0. Polindes.711 -0. Ada 918225 1.5 0.Lama 2. Berkualitas 14. posyandu.<20 liter 2.7 1.284) 1a 0.064 -1.287(1.053(0.Tersedia 11.941 -1.7 1. POD 1.892) 1a 0.9 0.Pemanfaatan Posyandu 1.231* 216385 707833 1.608) 1a 0.3 0.Dari sumber air dalam radius <10 meter terdapat sumber pencemaran 1.008* 49668 854651 1.Angkutan umum ke fasilitas pelayanan kesehatan 1.100(0. Memanfaatkan 8.728(0. Apakah mempunyai saluran pembuangan air limbah dari kamar mandi/dapur 1.5 0. Diolah.408) 1a 0.686 -0.Kualitas Fisik Air 1.7 1.178-1.Tidak memanfaatkan 2.8 0.844(0. Tidak diolah 2.5 2.917(0.9 1.Pengolahan air minum sebelum diminum 1.5 2 0.000* 90475 884506 1.Tidak tersedia 2.000 734828 237341 1.4 1.3 1.Cepat 6.Ya 2. Tidak ada 2. Memanfaatkan 9.>= 20 liter 12.538-0.134(1.Pemanfaatan POD 1.727) 1a 0.852) 1a 0.617(0.000* 56 .000 948988 26193 1.

7 0.965(0.000* 535109 75405 1.830-0.101-1.5 1.7 1. Bagaimana saluran pembuangan air limbah dari kamar mandi/dapur 1. pekerjaan.174(1.16.000* 3. Pelihara hewan ternak 1. Model akhir analisa multivariat antara typhus/paratyphus dengan determinan Pada sebaran beberapa analisa bivariat maka yang masuk menjadi kandidat ke analisa multivariat adalah 18 variabel ( jenis kelamin.020) 1a 0. Ya 21.Pelihara 2.946) 1a 0. Tidak ada 2.364) 1a 0.Tidak Pelihara 20. keadaan saluran pembuangan air limbah. Keadaan tempat sampah 1.886(0.121) 1a 0. Tertutup 17 Keberadaan tempat sampah 1.8 1. pendidikan.225) 1a 0.097 -1. wilayah.4. Terbuka 2.7 1.000* 535174 437973 1. Tidak ada 552767 400026 1.4 1.wilayah administrasi. Terbuka 2. umur. Sumber Pencemaran lingkungan di sekitar rumah 1.5 0. adanya tempat sampah.25 57 .206* 357317 436844 1. serta pencemaran sekitar rumah responden) yaitu dengan p<= 0. tingkat pengeluaran perkapita.159(1. jumlah balita.038(0. adanya sumber pencemaran kurang dari 10 m disekitar sumber air. jumlah air yang dipakai. Ada 2. kualitas air.226(1.245) 1a 0.913-1.waktu tempuh serta adanya transportasi ke yankes. Apakah ternak dikandangkan 1.337* 468827 506354 1.4 1. Tertutup 19.107 -1. Tidak 2. keadaan tempat sampah.000* 172284 360865 1.962-1. adanya hewan ternak.3 1.7 1.3 1.4 1.2. adanya saluran pembuangan air limbah. Ada 18.

3 1.Perempuan 2.177(0. Sedang umur 1-4 tahun tidak muncul. dan akhir dianggap varaiabel yang dominan menurut kelompok ini adalah variabel pendidikan dan jumlah balita.465) 1.6 1.726) 1.5 1.2 1.925-1. hal ini bisa terjadi karena usia-usia tersebut anak mulai jajan diluar rumah.249) 1a 0.449.435) 1. 75=< 478411 495246 1.4 1.142(1.5 1.830-1.Laki-laki 2. hal ini adanya trend.281) 0.Jenis kelamin 1.000 741395 2055105 213775 1506555 1511162 1445758 636331 394766 185823 1.25-34 5.986(0.3 1. karena dianggap keluar dari trend maka tidak muncul pada analisa multivariat.843-1. 58 .208) 1a 0.152(0.031(0. maka OR terbesar dimiliki oleh kelompok tidak pernah sekolah.945-1.6 2. Hasil akhir analisa multivariat antara typhus/paratyphus dengan beberapa karakteristik individu pada data riskesdas di Indonesiatahun 2007 P Jumlah Typhus/Par OR responde atyphus n % 1.107-1.081-1. kemudian diikuti umur 15 sampai 24 tahun. Dan pada kelompok umur ini mempunyai trend semakin tua semakin berkurang peluang untuk menjadi sakit typhus paratyphus.1.804) 1.1-4 2.Variabel umur maka umur yang besar peluangnya untuk sakit typhus paratyphus adalah kelompok umur 5-14 tahun yaitu sebesar 1.142 dibanding kelompok perempuan.5-14 3.4 1.55-64 8.15-24 4.301) 1.382(1.65-74 9.Pada variabel jenis kelamin setelah hasil akhir multivariat maka kelompok laki laki mempunyai peluabg sakit typhus/ paratyphus sebesar 1. pada variabel pendidikan trend yang ada adalah makin tinggi pendidikan makin turun resiko untuk menderita typhus dan paratyphus.35-44 6.45-54 7. hal ini sesuai dengan hasil laporan riskesdas 2007.7 1. pada waktu analisa bivariat kelompok ini muncul OR.449(1164. variabel yang masih.047(0.1 1.779-1. untuk analisa multivariat.Umur (tahun) 1.000 Pada hasil akhir multivariat menurut karakteristik keluarga. Tabel 18.

2 balita 5.196E-9(1.506E-93.517) 1a 0.746(1. 4 balita 3.1 1. kemudian Maluku dan Papua.Tamat SLTA 6. 59 .390-2.695-0. Hasil akhir analisa multivariat antara typhus/paratyphus dengan beberapa karakteristik keluarga pada data riskesdas di Indonesiatahun 2007 Variabel Jumlah %Typhus/ OR P respon Paratyph us Den 1.042 -1.000 44 460 6889 70446 316557 498227 2. sedang pada variabel ini tidak mempunyai trend.Tamat SLTP 5. 5 balita 2.482-1.6 1.714(1.743(0.4 1.894(0.915) 0.283 kali untuk sakit typhus paratyphus dibanding responden yang tinggal di perkotaan. 1 balita 6 .961) 1a 0.1 1.052.113) 1.797(0.4 1.114) 1.257(1.Pada variabel jumlah balita pada rumah tangga tersebut. OR= 3.577(1.8 1.114) 0.417-8.5 1.Tamat SD 4.442-2.Tidak tamat SD 3. maka resiko tertinggi adalah responden yang punya balita 5 atau lebih.Pendidikan 1.5 1. Tabel 19.894) 1.000 Wilayah menurut pulau wilayah paling tinggi OR adalah 1.5 1.368(1.Tidak pernah sekolah 2. Menurut wilayah administrasi maka responden yang tinggal di pedesaan mempunyai peluang 1.689) 1.368.166-1. baru Kalimantan.831-0.7 3.Tidak punya anak 60982 163779 228251 137473 140259 35566 1.314-1.404(1.3 0.Jumlah Balita dalam keluarga 1.202E-9) 0.003) 2.8 1. dan peluang untuk sakit typhus dan paratyphus pada hasil analisa ini adalah responden dimana dalam rumahnya terdapat jumlah balita 4. 3 balita 4.PT 2.

sedang pada responden yang dalam sumber airnya terdapat sumber pencemaran mempunyai peluang sebesar 1. sedang waktu tempuh kesaran kesehtana swadaya masyarakat OR yang lama sebesar 1. Hasil akhir analisa multivariat antara typhus/paratyphus dengan beberapa karakteristik lingkungan pada data riskesdas di Indonesiatahun 2007 Jumlah Typhus/ OR p responden Paratyp hus % 1.913) 0.401 pada responden yang mempunyai air dengan kualitas buruk untuk sakit typhus dan paratyphus.Wilayah administrasi 1.712-0. jumlah air dan sumber pencemaran disekitar air.42 untuk yang waktu tempuhnya lama pada variabel waktu tempuh ke fasilitas kesehatan profesional.8 1.000 353632 620025 1. hal ini merupakan perwakilan dari akses responden bisa mencapai fasilitas kesehatan.273 kali Pada variabel lingkungan yang masih eksis adalah adanya saluran pembuangan limbah dan mempunyai tempat sampah diluar rumah masing-masing OR untuk sakit typhus dan paratyphus adalah 1.Waktu tempuh ke sarana yankes (rumah 60 1a 321558 302526 107026 138715 59297 44535 1. Sedang pada variabel tentang air.169 -1.627(0. Jawa Bali 2.NTT dan NTB 6.224 berarti aksesnya susah atau jaraknya jauh.Perkotaan 2.283(1.097 kali .2 1.1 1.Pedesaan 3.410) 1a 0.098. Pada kualitas air disini adalah ada peluang sebesar 1. maka didapat peluang.052(0.8 1. 1.806(0. Tabel 20.735(0. Sumatra 3.7 0. Kalimantan 4.180 dan 1.5 1.Waktu tempuh.226) 0.699-1.6 2..850(0.Maluku dan Papua 2.830) 1.902-1.4 1.651-0.565-0. yang masuk sampai akhir adalah kualitas air.Wilayah 1. dan tentang kecukupan air responden yang tidak cukup memakai air cenderung sakit paratyphus sebesar 1. Sulawesi 5.696) 0.034) 0.000 .

Ya 2.Jumlah air yang dipakai 1.519) 1a 0.002 30899 944302 2.010 3.<20 liter 2. Jambi.279-1.Dokter Praktek. Pos Kesdes.067 -1. Berkualitas 8.6 1.455) 1a 1. NTT. Sulawesi Tenggara.5.Dari sumber air dalam radius <10 meter terdapat sumber pencemaran 1.188) 1a 0. Apakah mempunyai tempat pembuangan sampah diluar rumah 1.420(1. Tidak ada 2.4 1.2.3 1.5 1. Hasil analisa bivariat antara hepatitis dengan beberapa variabel independen dan pemilihan kandidat variabel multivariat Hepatitis klinis terdeteksi diseluruh provinsi di Indonesia dengan prevalensi sebesar 0. Puskesmas.7 1. NTB.Kualitas Fisik Air 1. Sumatera Barat.2 1.7 1. Bidan Praktek) 1. Ada 9.Lama 2.326) 1a 0.020 0.533) 1a 0.005 357317 436844 1.180(1.Apakah mempunyai saluran pembuangan air limbah dari kamar mandi/dapur 1.033-1.>= 20 liter 6.Waktu tempuh ke sarana yankes (Posyandu.sakit. Cepat 5.098(1.1 1. Pustu. Tidak 2.7 1.097(1.000 860889 999777 1.4 1.5 1.773) 1a 40784 934397 49668 854651 2. Riau.4 1. 61 .5 1.226(1.051-1. Ada 0.Kurang berkualitas 2.013-1.178) 1a 0. tiga belas propinsi memiliki angka rata.137-1. DI Aceh.5 1.rata diatas angka nasional yaitu.273(1.6% .Cepat 4.007 216385 707833 1. Lama 2.023-1.Tidak 7.polindes ) 1.401(1.022 134832 840349 2.

3 1 2.6 0.4 0.5 0.4 0.4 0.3 0. Dari tiga belas propinsi tersebut diatas propinsi tertinggi adalah propinsi Sulawesi Tengah.4 0. Maluku Utara.8 0.7 1. Papua Barat.9 1.6 0.8 0.Sulawesi Tengah.3 0.5 0.5 0. Sulawesi Utara. Papua. Tabel 21.5 0.5 0.2 0.2 0.2 0. Gorontalo.8 0. Prevalensi hepatitis menurut Propinsi Data Riskesdas Indonesia Tahun 2007 Propinsi DI Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total Jumlah 40892 69256 42021 25330 22435 33358 19042 23833 13645 12514 16970 68460 87119 10164 100966 17276 20603 21297 38000 27377 28015 25706 25928 14397 21512 54570 26642 11245 10349 10361 11521 6898 15755 973657 % 1.3 0.4 0.6 62 .9 1.6 0.4 0.3 0.7 0.1 0.4 0.5 0.

Jenis kelamin 1.7 0.988 .759(1.000* 16614 79072 213775 153089 152637 140574 105100 59802 36056 16938 0.316 -1. dan kalau dilihat tren yang terjadi maka kelompok umur tua makin banyak yang menderita hepatitis. Pada sebaran data untuk variabel Umur.6 1.240(0.5-10 3. masuk kandidat multivariat. ternyata umur 1-4 tahun dengan angka persentase 2.Pada analisa bivariat prevalensi hepatitis menurut jenis kelamin didapat OR pada kelompok laki-laki 1. dibanding kelompok umur yang lebih muda.474 dengan p=0.25-34 6.474(1.6 0.556) 1. Tabel 22.642) 2.077 -3.6 pada uji bivariat tidak keluar angkanya.549) 2.013) 2.Laki-laki 2.9 1a 1.7 0. hal ini bisa disebabkan karena angkanya terlalu kecil.Perempuan 2.55-64 9.652) 1a 0.1.396 -2.7%. Distribusi responden menurut prevalensi hepatitis dan hasil analisa bivariat antara hepatitis dengan beberapa karakteristik individu serta kandidat model multivariat pada Data Riskesdas di Indonesia.3.000* hasil analisa bivariat variabel karakteristik keluarga menurut penyakit hepatitis maka diperoleh gambaran bahwa pada pendidikan tinggi maka makin 63 .035(1. Dan p yang didapat= 0.35-44 7.tahun 2007 Jumlah hepatiti OR P respond s% en 1.10-15 4.45-54 8.499) 2.9 0.4 0.3. Dan variabel ini masuk kekandidat model multivariat.2 0.9 0.625 -2. dan OR kelompok umur 65-74 mencapai 2.2.3 0.129(1.000.920.518) 0. sedang persentase menurut jenis kelamin ternyata kelompok laki-laki lebih banyak yang menderita hepatitis sebanyak 0.65-74 10>=75 Pada 478411 495246 0.035(1. untuk analisa selanjutnya bisa disarankan untuk di komposit dengan kelompok umur yang lebih besar.716-2.846.216) 2.417(1.1-4 2. Umur (tahun) 1.696 hal ini kalau dibanding dengan kelompok umur 5-10 tahun.15-24 5.8 0.993) 2.696(2.938 .7 0.000.599(1.

diperoleh sebaran yang tidak memiliki trend. maka. Pada kelompok pekerjaan. maka dihasilkan kelompok dengan OR tertinggi adalah pelayan jasa. hal ini menunjukan bahwa ternyata pada kelompok variabel pengeluaran prevalensi ini tidak memandang kelompok. kemudian petani disusul nelayan. penyakit tersebut. dan OR tertinggi dimiliki oleh kelompok kuintil 2. pegawai swasta dan BUMN biasanya merupakan kelompok terkecil. maka PNS dijadikan referens. p=0.25. Keempat variabel karakteristik keluarga masuk menjadi kandidat model mutivariat karena p dibawah 0.25. dalam hal ini yang tertinggi OR-nya adalah responden yang memiliki balita 2. demikian juga kalau dilihat tren OR yang terjadi. p dibawah 0. jadi bisa menyerang kelompok manapun. 64 . Pada tingkat kuintil. Demikian juga pada uji bivariat yang dilakukan pada kelompok responden dengan kepemilikan balita.000.menurut persentase. kemudian disusul pekerjaan lainnya.

tahun 2007 Jumlah hepat OR P respond itis% en 1.Tidak bekerja 2.104E-9) 1.316) 1.737-0.Ibu rumah tangga 4.706) 3.320(1.7 1.087(1.7 0.774-5.Pelayanan Jasa 10.Pegawai BUMN 7.5 0.7 0.200) 0.695) 1.892E-9(1.445.866-1.4 0. Lainnya 3.650(1.000* 0.000* 65 .8 0.6 0.6 1.246-5.6 0.810) 1. 5 balita 2.Nelayan 12.026(1.066(0.103* 44 460 6889 70446 0 0 0.791-1.Tidak tamat SD 3.004-1. Pekerjaan 1.775(0.996E-9) 0.720(0.Kuintil4 5.443(1.9 0.Buruh 13. 3 balita 4.6 0. Pendidikan 1Tidak pernah sekolah 2.958) 2.363) 2.165) 2.8 1 0.1.119-5.Tabel 23. Tingkat Pengeluaran per kapita perbulan 1.666-1.4 0.194E-8-2.884) 3.357) 0.186(1.068(0.7 0.974(0.231-5.6 0.608(0.Kuintil 2 3.674(0.301) 1.083) 3.067-1.221) 1.173) 0.Wiraswasta/Pdg 9.7 0.6 0.446(0.8 0.7 0.944-4. Distribusi responden menurut prevalensi hepatitis dan hasil analisa bivariat antara hepatitis dengan beberapa karakteristik keluarga serta kandidat model multivariat pada Data Riskesdas di Indonesia.029(0.6 0.PT 2.935-1.804-3.664(1.6 0.5 0.203-5.879) 0.085) 2.670) 2.Petani 11.220) 1a 0.892E-9(7.633) 1.386(1. 2 balita 1.805(0.000* 235690 211336 194619 178238 149676 0.037-1.Tamat SLTA 6.661-3.020) 1.5 0.5 0.149(1. 4 balita 3.Tamat SLTP 5.640) 60982 163779 228251 137473 140259 35566 86117 142133 134599 3141 24755 3143 32751 74367 15675 171801 9385 51105 18486 0.824(0.PNS 6.151-1.501) 0.010E-10-5.Pegawai Swasta 8.Sekolah 3.Kuintil3 4.369-6.TNI/Polri 5.Kuintil 5 4.Kuintil 1 2.227(1.806-3.003-1.660(1.Jumlah Balita dalam keluarga 1.570-7.379-6.019) 1a 2.9 0.916) 1a 1.931-1.026(0.Tamat SD 4.335(1.

dan justru yang tidak menggunakan mempunyai peluang tercegah sakit hepatitis. dilihat pada sebaran data justru pada kelompok responden yang memanfaatkan fasilitas kesehatan banyak yang menderita sakit Hepatitis.9% . Sedang pada kelompok variabel pemanfaatan posyandu. adanya angkutan dan waktu tempuh ke fasilitas kesehatan baik profesional maupun fasilitas kesehatan tradisioal masuk ke kandidat model bivariat. dan karena OR dibawah 0. Pada variabel transportasi. hal tersebut sesuai dengan pengelompok responden menurut propinsi.25. dan responden dengan jumlah air kurang sebanyak 0. 1 balita 6 .7 1a Pada pengelompok responden menurut wilayah. keadaan pembuangan air limbah masuk kekandidat multivariat. 66 . walaupun p dibawah 0. Sedang menurut variabel wilayah administrasi. Variabel kualitas air. WOD.Tidak punya anak 316557 498227 0. pelihara ternak.5.25 maka masuk kekandidat model multivariat. sumber pencemaran disekitar sumber air. Variabel jumlah air yang dipakai pada setiap respoden bila dihubungkan dengan kejadian hepatitis maka responden yang memakai air cukup atau jumlah >= 20 liter adalah 0. adanya tempat sampah keadaan tempat sampah.6 %. adanya tempat pembuangan air limbah. Hasil analisa menunjukkan p dibawah 0. maka didaerah NTT dan NTB merupakan kelompok dengan OR tertinggi.25. responden yang tinggal di pedesaan yang banyak mengalami hepatitis dibanding responden yang tinggal di perkotaan.6 0. dan masuk sebagai kandidat model multivariat. karena pertimbangan causal plausability maka tidak dimasukkan dalam kandidat multivariat.

000* 519702 449054 0.Pedesaan 3.474(1.372) 1a 0. NTT dan NTB 6.Tidak ada 2.974(1.4 1 1. Lama 918223 1 0.316-1.961) 1.697-0. Bidan Praktek) 1.652) 1a 0.6 1.485(1.144(1.429-3.099) 1a 40784 934397 1 0.4 0.Adakah alat transportasi umum ke pelayanan kesehatan terdekat: 1.4 0.polindes ) 1.773-0.6 2.000* 30879 944302 1. Puskesmas.257-1.Perkotaan 2.974(1.710-2.917(1.939) 1a 0.291) 2.8 0. maka tidak ikut dalam pemodelan multivariat Tabel 24.6 1.Variabel responden menurut pemanfaatan POD dan variabel bagaimana keadaan tempat sampah karena p diatas 0.25.644-2. Lama 2.2 0.373) 1a 0.3 0.000* 353632 620025 0. Sulawesi 5. Cepat 5.7 1. Gabung Waktu Kesarana Yankes Baik rumah sakit atau posyandu 56958 1. Wilayah administrasi 1.559(1.852(0.932) 321558 302526 107026 138715 59297 44535 0.6 0. Distribusi responden menurut prevalensi hepatitis dan hasil analisa bivariat antara hepatitis dengan beberapa karakter lingkungan serta kandidat model multivariat pada Data Riskesdas di Indonesia.000* 6.6 1.308) 0. Cepat 1a 1.000* 67 . Pos Kesdes. Pustu Dokter Praktek.Ada 4. Jawa Bali 2.tahun 2007 Jumlah Hepatitis OR P respond % en 1.001.Maluku dan Papua 2.001* 0. Lama 2. Kalimantan 4. Sumatra 3. Wilayah 1.1.818(0.6 0.619) 1.965(2. Waktu tempuh ke sarana yankes (Posyandu.548-1.992-3. Waktu tempuh ke sarana yankes (rumah sakit.

318) 1a 134832 840349 0.638(1.000* 0.8 0.000* 68 .717) 1a 0.027* 552767 400026 0. Jumlah air yang dipakai 1. Memanfaatkan 8.919(0.000* 0. Memanfaatkan 11.949(0.Tidak memanfaatkan 2.6 1.659 -1.8 0. Kualitas Fisik Air 1.2.9 0.324) 1a 0.kurang baik 2.008) 1a 1. Memanfaatkan 10.4 1.517(1.<20 liter 2.000* 90675 884506 0.7 0.POD 1. Apakah ada saluran pembuangan air limbah dari kamar mandi/dapur 1. Tidak memanfaatkan 2. Memanfaatkan 9.970) 1a 0. Gabung manfaat. Polindes.009) 1a 0.012-1.Tidak memanfaatkan 2.>= 20 liter 12.979-1.072-1.815(0.878(0.Kurang berkualitas 2. Pengolahan air minum sebelum diminum 1.6 0. Pemanfaatan POD 1.095* 860889 999777 0.001* 216385 707833 0.010* 86505 105535 0.189(1.498 948988 26193 0.795-0.6 0.340-1.6 0. Tidak diolah 2.Tidak 13.6 1.6 0.9 0.6 0.302) 1a 0.129(0.6 0.105) 0.6 0.008* 655080 318288 734828 237341 0. Ada 16.550) 1a 0. Dari sumber air dalam radius <10 meter terdapat sumber pencemaran 1.363-1.7 0.161 -1.Ya 2. Pemanfaatan Polindes 1. Tidak ada 2.969) 1a 0. Pemanfaatan Posyandu 1.Cepat 7.Tidak memanfaatkan 2.836-1.6 1. Bagaimana saluran pembuangan air limbah dari kamar mandi/dapur 1.059* 49668 854651 0.baik 0.7 0.815-1.6 0.6 1. Diolah 15.342(1.113(1. posyandu. Berkualitas 14.

087-1.17. ya dikandangkan 20.473) 1a 0. Bagaimana tempat sampah yang ada 1.6. maka didapatkan hasil akhir yang masuk ke model akhir multivariat adalah 11 variabel. dan trend penyakit makin tua umur seseorang makin besar OR . Sedang kelompok umur ada 10 kelompok.Ada tempat sampah 1.8 2.7 0.9 0. Apakah ada hewan ternak 1. Tidak 2. Ada 2. jenis tempat sampah. Apakah hewan ternak dikandangkan 1.759 1.7 1.5 0. hal ini dikarenakan makin tua umur seseorang makin banyak terpapar. umur.224-1.Tidak ada 2. Terbuka 2. 275 dibanding kelompok wanita. Ya dikandangkan 21.5 1.001* 357317 75405 0. Tidak ada 535109 436844 0. Tidak 2.nya.028(0.414) 1a 357317 75405 0. dan OR tertinggi pada hasil akhir multivariat ini adalah kelompok umur 65 keatas.343(1. waktu tempuh kepelayanan kesehatan.289(1.5 0. variabel jenis kelamin.923(0.834-1.5 0.. pendidikan.022) 1a 0.396) 1a 0. dengan nama-nama variabel sebagai berikut. wilayah menurut pulau dan wilayah menurut daerah administrasi.5 0. Pada analisa multivarait antara hepatitis dengan karakteristik individu. 69 . pelihara ternak.4 1. Tertutup 19. Model akhir analisa multivariat antara hepatitis dengan determinan Setelah analisa multivariat.122* 3. Tidak ada 18.222) 1a 172284 360865 0. kecukupan air.175-1. Sumber Pencemaran lingkungan di sekitar rumah 1. Ternyata OR laki-laki untuk menderita hepatitis adalah 1.232(1.864-1. kualitas air. jumlah balita dalam rumah tangga responden.2.000* 172284 360865 2.

Jenis kelamin 1.373) 1.25-34 6.382) 1a 478411 495246 0.9 0. hal ini bisa dimaklumi.Laki-laki 2.989(1.241) 1.7 0.674 -2.7 0.993(1.Perempuan 2. Pada variabel responden dengan jumlah balita. Hasil akhir analisa multivariat antara variabel Hepatitis dengan beberapa karakteristik individu pada data riskesdas di Indonesiatahun 2007 Jumlah Hepatitis OR P respond % en 1.15-24 5.000 16614 79072 213775 153089 152637 140574 105100 59802 36056 16938 0.35-44 7.1-4 2.740 .625(1.000 Hubungan variabel pendidikan.6 0.1.Tabel 25.55-64 9.645– 2. makin rendah pendidikan responden makin besar OR untuk terkena penyakit dibanding dengan kelompok pendidikan tinggi.9 0.360 .2.605 – 2.8 0. Tabel 26. tetapi pada sebaran OR menurut jumlah balita.10-15 4.2 0.946(1.942) 1.4 0. ternyata tidak mempunyai trend. maka jumlah balita 2 dalam rumah tangga responden tersebut mempunyai OR paling tinggi.7 0.3 0.45-54 8.715) 2.174(1.275(1.626 – 2.65-74 10>=75 1. kemungkinan responden dengan pendidikan tinggi lebih bergaya hidup sehat.125(1.6 0.5-10 3.642 – 2.404) 2.306) 1.9 1a 1.896(1. Hasil akhir analisa multivariat antara variabel Hepatitis dengan 70 . Umur (tahun) 1.176 -1.776) 0.

Tidak tamat SD 3.815(0.138(0.5 kali lipat dibanding Jawa dan Bali.6 0.117(0.253(1. Pada sebaran responden yang menempati pedesaan cenderung untuk sakit dengan OR 1.265(0.425) 0.6 0.403.6 0.7 0.702E-9(1.088) 1a 0.333) 0.000 Pada Sebaran penyakit menurut wilayah pulau ternyata NTT dan NTB mempunyai OR tertinggi yaitu 2. 4 balita 3. dan hasil analisa disini menunjukkan bahwa responden dengan 71 .7 1.041E-9) 0.198E-9(3.900(0.990-1. dan hal ini akan mempengaruhi perilaku hidup sehat mereka.535E-9) 2.981-1.9 0.Jumlah Balita dalam keluarga 1.586) 1.Tidak punya anak 1.787 Jumlah air menurut referensi riskesdas pemakaian air yang cukup adalah perorang 20 liter.028) 1a 60982 163779 228251 137473 140259 35566 0.254 dibanding responden yang tinggal di perkotaan.987(0.PT 2. Pendidikan 1Tidak pernah sekolah 2.909-1. apabila makin lama waktu tempuhnya maka makin jarang kemungkinan dia datang ke fasilitas kesehatan tersebut dan makin jarang dia terpapar penyuluhan.937-1.5 0. 2 balita 5.6 0. kemungkinan hal ini adanya sosial budaya yang menyebabkan penyakit ini tinggi didaerah-daerah tersebut.134) 0.8 0.646-1.806E-9-4.000 44 460 6889 70446 316557 498227 0 0 0.631) 1.Tamat SLTP 5.692(0.164E-10-4.895-1.Tamat SD 4. OR= 1.7 0.188) 1.Tamat SLTA 6.715-1.1. 5 balita 2.beberapa karakteristik keluarga pada data riskesdas di Indonesiatahun 2007 Jumlah Hep OR p respond atiti en s 1. 1 balita 6 . 3 balita 4. Waktu tempuh kesarana pelayanan kesehatan ini mengambarkan akses responden kesarana pelayanan kesehatan.

dibanding dengan peluang untuk sakit pneumonia sebesar adalah responden yang memakai air berkualitas. Pada variabel responden dengan pemeliharaan binatang maka OR yang didapat 1. Pada responden dengan pemakaian air yang tidak berkualitas mempunyai 1. maka akan memperparah keadaan.171 dibanding pada responden yang tidak memelihara binatang. hal ini memang secara logika berhubungan. 72 . penyakit apapun kalau lingkungan rumah sanitasinya jelek. Pada keberadaan tempat sampahmenunjukkan adanya peluang sakit hepatitis klinis sebanyak 1.614 mempunyai peluang sakit pneumonia dibandingkan dengan responden yang memakai air yang cukup.143 pada kelompok responden yang tidak mempunyai. dibanding pada kelompok responden yang mempunyai tempat sampah.air yang kurang dari 20 liter mempunyai OR= 1.448 kali.

Perkotaan 2.143(1.694(0.000 49668 854651 0. Kalimantan 4.271) 1a 0.259 – 1.002 73 .000 172284 360865 0.>= 20 liter 5. Waktu tempuh ke sarana yankes (rumah sakit. Jumlah air yang dipakai 1. Hasil akhir analisa multivariat antara variabel Hepatitis dengan beberapa karakteristik lingkungan pada data riskesdas di Indonesiatahun 2007 Jumlah Hepatitis OR P respond % en 1.6 1.295) 1a 0.6 0.948(0. Ya 2. Wilayah administrasi 1.442) 321558 302526 107026 138715 59297 44535 0.296(1. Bidan Praktek) 1. Tidak 535109 436844 0.6 1.448(1.000 134832 840349 0.NTT dan NTB 6.Pedesaan 3.028-1.077) 1.Lama 2.3 0.2 0. Tidak ada 7.Kurang berkualitas 2.066-3.666) 1a 1. Sumatra 3.028-1.614(1. Puskesmas.Maluku dan Papua 1a 0.254(1.521(2.Tabel 27.6 0.Ada tempat sampah 1. Wilayah 1.7 0.341-0.944) 1a 0.000 6.834) 1. Pustu Dokter Praktek.<20 liter 2. Kualitas Fisik Air 1.8191.8 0. Ada 2.7 0.4 0.5 0.634) 1a 1.578-0.275) 1a 1. Cepat 4.7 1. Apakah ada hewan ternak 1.000 2.000 30879 944302 1.9 0.543-2.060-1.096) 0.4 0.9 0.171(1.787 (1.091-1. Sulawesi 5.403-2.809(1. Jawa Bali 2. Berkualitas 353632 620025 0.9 0.122) 2.4 1 1.

adalah 9. dengan responden yang berbeda-beda.046 orang. Tidak mendapat ASI memadai.BAB IV PEMBAHASAN 4. rokok. Faktor-faktor risiko terkena pneumonia.9 ).6%). Polusi udara. Pneumonia dapat disebabkan oleh beberapa penyebab.69.8% . dan hasil pengumpulan data dari Dinas kesehatan kabupaten kota/kota serta dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan. kekurangan nutrisi. jamur.5. Pneumonia merupakan masalah kesehatan yang masih tinggi kejadiannya di Indonesia. Infeksi Saluran Nafas Atas (ISPA). termasuk infeksi oleh bakteria. Sedang pada analisa lanjut ini menunjukan prevalensi penderita pneumonia sebesar 2. Gizi kurang. dan nominal 37. antara lain. Pneumonia dapat juga disebabkan oleh iritasi kimia atau fisik dari paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit lainnya. atau parasit. Jenis kelamin laki-laki . misalnya studi morbiditas. seperti kanker paru atau terlalu banyak minum alkohol 8. Sedang Data tahun 2006 dari 10 penyakit utama pasien rawat inap di rumah sakit. Laporan Riskesdas Indonesia tahun 2007 menyebutkan prevalensi pneumonia menurut diagnosa dan gejala adalah 2.2 % 74 . Umur dibawah 2 bulan. Kepadatan tempat tinggal. usia lanjut. Gambaran 10 besar penyakit pada pasien rawat jalan di Rumah sakit pada tahun 2006. Membedong bayi. pneumonia menduduki peringkat ke 8 dengan kode DTD(169) dan kode ICD(J12J18) dalam persen 1. virus. Imunisasi yang tidak memadai. data -data dibawah adalah data hasil survey tentang pneumonia.1. efisiensi vitamin A dan penyakit kronik menahun 8. Kejadian morbiditas pneumonia dengan determinan dan determinan yang dominan.634 orang2). Berat badan lahir rendah. alkoholisme.9).13% ( rentang 0.32% kunjungan merupakan kasus ISPA dengan nominal 96.

148 kali dibanding kelompok perempuan. Ada beberapa pemikiran dan secara logika menerangkan bahwa makin tua umur seseorang makin menurun kondisi fisiknya dan makin rapuh terhadap beberapa 75 .000. Papua. Gorontalo. jadi bisa dikatakan mempunyai 2 puncak biarpun puncak yang kelompok umur muda tidak setinggi pada pada puncak kelompok umur tua.3% sedang pada kelompok wanita 2%. Sulawesi Tengah. dan sebagian besar adalah propinsi dengan daerah susah air bersih. Sulawesi Selatan.7%.atau ada 2. Gambaran hasil distribusi persentase pada kelompok umur menunjukkan bahwa setelah umur 25 tahun maka makin tua umur responden makin banyak yang menderita pneumonia . DI Aceh. Sumatera Barat. Hasil analisa ini sama dengan referensi yang disebutkan diatas. sehingga beberapa sarana dan prasarana pendukung kesehatan masih sangat minim. adalah propinsi dengan prevalensinya Hubungan antara penyakit Pneumonia dengan karakteristik individu. Dan setelah itu mulai naik pada kelompok umur lebih tua. Dari beberapa propinsi diatas merupakan propinsi yang masih berkembang. prevalensi kasus pneumonia menurun setelah kelompok umur 0-4 sampai kelompok umur 15 -24 tahun. Pneumonia menurut propinsi menunjukkan bahwa propinsi dengan prevalensi pneumonia tinggi (diatas angka nasional). enam propinsi yang disebut dari awal diatas 3%. terdapat di Papua Barat. Maluku Utara.5. dan rentang nilai prevalensi (0.200 penderita pneumonia pada 100. disamping itu juga ada kemungkinan perilaku hidup penduduknya.000 penduduk. memberikan gambaran bahwa prevalensi pneumonia pada laki-laki yaitu 2.8%).228 dan p=0. Hal ini kemungkinan karena laki-laki lebih banyak keluar rumah untuk bekerja sehingga lebih banyak kontak dengan udara yang kotor dibandingkan dengan perempuan yang biasanya hanya sebagai ibu rumah tangga dan lebih banyak tingggal dirumah sehingga jarang kontak dengan udara yang tercemar dengan berbagai bakteri atau virus penyebab pneumonia. dan setelah multivariat didapat OR kelompok laki-laki =1. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tenggara. NTT. NTB. kelompok laki-laki berpeluang sakit 1. Jawa Barat.

tetapi peneliti mempertimbangkan alasan-alasan dibawah ini. yang merupakan proporsi terbesar dari seluruh penyebab kematian balita 2). yaitu 46%. 27. 76%. dari survei mortalitas yang dilakukan oleh subdit ISPA tahun 2005 menempatkan Pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase 22. Pneumonia masih merupakan penyebab kematian terbesar baik pada bayi maupun pada anak Balita. Angka Kematian Balita cenderung menunjukkan penurunan yang cukup signifikan.6% kematian pada balita disebabkan oleh penyakit ini.75%. yaitu balita digabung dengan kelompok umur yang lebih tua. hal ini kemungkinan karena kelompok umur balita terlalu sedikit. Solusi yang baik sebetulnya dilakukan pengelompokan umur lagi. pada analisa multivariat kelompok umur balita tidak keluar ORnya. Kenyataan kurun waktu lima tahun terakhir hasil penemuan penderita pneumonia pada balita dapat dilihat 2003-2007. biarpun kesehatannya terkontrol. Data pengelompokan menurut umur pada analisa bivariat semua kelompok umur keluar ORya. ternyata beliau juga bisa terkena pnumonia pada usia yang makin tua. 25. Target penemuan penderita pneumonia balita tahun 2005 – 2009.52% 3).30% dari seluruh kematian bayi. 86% dari semua kasus.penyakit. 36%. Upaya ini dikembangkan melalui suatu manajemen terpadu dalam penanganan balita sakit yang datang ke unit pelayanan kesehatan atau lebih dikenal dengan manajemen terpadu Balita Sakit (MTBS). 66%. Meskipun secara umum di Indonesia. Penemuan pneumonia pada balita lebih diprioritaskan karena pneumonia adalah pembunuh utama pada balita.19% dan 21. Pada survey yang sama menyebutkan bahwa sebanyak 23. yaitu upaya pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (P2 ISPA) lebih difokuskan pada upaya penemuan kasus secara dini dan tatalaksana kasus yang cepat dan tepat terhadap penderita pneumonia balita yang ditemukan. hal ini dicontohkan kasus bapak presiden kita yang kedua. 30%. Penemuan kasus diutamakan pada balita. 56%. Hal ini 76 .

420. Gejala Pneumonia sukar dikenali oleh orang awam maupun tenaga kesehatan yang tidak terlatih.dapat dilihat melalui hasil survei mortalitas subdit ISPA pada tahun 2005 di 10 provinsi dan hasilnya 23. tetapi hal ini merupakan hal yang menarik untuk ditelaah. Hambatan yang ditemui dalam meningkatkan cakupan penemuan Pneumonia Balita di Puskesmas adalah: 1. Estimasi angka insiden pneumonia balita yang digunakan adalah 10-21% (WHO) 2). sedang temuan oleh tim survey sebanyak 31. Sepanjang tahun 2007 ditemukan penderita pneumonia pada balita sebanyak 477. Hal ini karena jumlah sampel yang beda sehingga. Tenaga terlatih MTBS/tatalaksana Standar ISPA tidak melaksanakan di Puskesmas 2. Pembiayaan (logistik dan Operasional) terbatas 3.1 77 . dan diperkiraan prevalensi pneumonia sekitar 10-21% (WHO).6%( profil kesehatan Indonesia 2005. monitoring dan evaluasi) secara berjenjang masih sangat kurang 4.kadang program menyebut ISPA dan kadang-kadang program menyebut pneumonia. misalnya kadang. Informasi lebih rinci mengenai kasus pneumonia pada balita berdasarkan provinsi dapat dilihat pada lampiran.2006). Jumlah balita Indonesia berjumlah sekitar 110 juta. tidak bisa begitu saja diterima sebagai perbandingan. menyebabkan perbedaan juga. Pembinaan (bimbingan teknis. sedangkan pada temuan balita pneumonia oleh tenaga kesehatan sebanyak 16. Dan perlu diperhatikan pengertian Pneumonia sendiri yang belum konsisten. jadi hasil laporan profil kesehatan 2007 untuk pneumonia.1 % dari semua sampel dengan definisi Pneumonia Diagnosa dan gejala.1% dengan nominal 12788.5% dengan nominal 21166 . Prevalensi pneumonia pada balita hasil analisa data riskesdas adalah 3. ISPA merupakan pandemi yang dilupakan/tidak prioritas sedangkan masalah ISPA merupakan masalah multisektoral 5.

dan lingkungan kerjanya. Hal ini sesuai dengan laporan riskesdas nasional tahun 2007. Hal ini bisa diambil kesimpulan bahwa makin miskin seseorang makin ada peluang untuk sakit pneumonia. serta pernyataan pada profil kesehatan 2007. Variabel ini merupakan variabel dominan untuk terjadinya Pneumonia. kemudian petani (0.Pada tingkat pendidikan terdapat kelompok tidak pernah sekolah mempunyai prevalensi terbesar yaitu 4. kemudian disusul petani ( OR=2.90) dan lainnya (0. Pada responden yang mempunyai jumlah balita lebih dari 4 makin besar prevalensi dan peluang untuk sakit pneumonia. Pada tingkat pengeluaran memberi informasi makin besar kuintil makin sedikit ORnya. Pada responden dengan pendidikan sekolah menengah atas (SMA) dan perguruan tinggi (PT) prevalensinya terendah yaitu 1. karena akan berpengaruh pada perilaku hidup sehat. dan yang paling rendah adalah kelompok pegawai BUMN. Demikian juga OR yang terjadi. Pada pekerjaan prevalensi tertinggi adalah pada kelompok nelayan (1). dibanding dengan kelompok pekerjaan lainnya.00. Hal ini sama dengan laporan Riskesdas Indonesia tahun 2007. kemudian pekerjaan lainnya. makin tinggi pendidikan responden makin rendah OR nya dibanding dengan yang tidak pernah sekolah. Tetapi kalau dilihat ORnya maka pada kelompok responden yang tidak bekerja adalah (3. Variabel ini gugur sebagai varaibel dominan untuk determinan pneumonia. makin tinggi pendidikan makin menurun prevalensi pneumonianya.80). 78 . buruh dan lainnya.7%. dan sesuai dengan teori HL Blum. kemudian nelayan.008) ini adalah OR tertinggi.2%.924). Setelah dilakukan analisa multivariat maka kelompok pekerjaan. petani mempunyai OR yang paling tinggi.bahwa determinan pendidikan tetap perlu untuk melihat kelompok pendidikan mana yang paling banyak terkena sakit. Variabel pengeluaran perkapita merupakan determinan yang dominan. dan hubungan ini memberikan kemaknaan 0. hal ini kemungkinan pegawai BUMN makin bagus kesejahteraan. kemudian disusul kelompok nelayan.

kemudian Nusa Tenggara dan selanjutnya Sulawesi. Waktu tempuh ke fasilitas kesehatan profesional mempengaruhi terjadinya pneumonia. hal ini dapat dijelaskan bahwa jarak yang dekat lebih cepat berobat ke fasilitas kesehatan daripada jarak yang jauh. Namun. Untuk itu.516 kali dibanding resiko yang dekat Masalah pengadaan air bersih bagi masyarakat merupakan kebutuhan yang mutlak dan tidak bisa dihindarkan sebagai salah satu sarana untuk mencapai masyarakat sehat. Jarak yang jauh mempunyai odds ratio sebesar 1. sedangkan pada sebaran menurut Odds ratio maka maluku dan papua menduduki peringkat pertama. pelihara ternak. hal ini kemungkinan karena daerah yang kering dan sosial ekonomi rendah. kenyataannya masyarakat Indonesia. dan responden dengan jumlah air kurang dari 20 liter sebanyak 0. khususnya di daerah kering. sangat sulit mendapatkan air bersih. penyediaan air bersih dan sebagainya 17).6 %. serta Sulawesi.Analisa multivariat Untuk wilayah regional. sumber pencemaran disekitar sumber air. 79 .9% . Notoatmojo mendefinikan sanitasi lingkungan adalah Status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup perumahan. adanya tempat sampah keadaan tempat sampah. tidak bisa dipungkiri bahwa di daerah yang sulit mendapatkan air bersih sangat rentan terhadap penyakit menular6 ). serta kemungkinan kurangnya jumlah fasilitas kesehatan. keadaan pembuangan air limbah masuk kekandidat multivariat. Variabel kualitas air. adanya tempat pembuangan air limbah. pembuangan kotoran. Variabel jumlah air yang dipakai pada setiap respoden bila dihubungkan dengan kejadian pneumonia maka responden yang memakai air cukup atau jumlah >= 20 liter adalah 0. sehingga penyakit ISPA tidak menjadi pneumonia.25. Hasil analisa menunjukkan p diatas 0. kemudian disusul wilayah Maluku dan Papua. wilayah Nusa Tenggara mempunyai persentase yang paling tinggi.

hal ini menggambarkan adanya pencemaran lingkungan dengan ada atau tidak adanya tempat sampah. ini dimungkinkan karena 3 variabel tersebut sangat berhubungan dengan suatu kriteria dari rumah sehat. baik itu penyakit karena perantara udara. dan akan dapat dipastikan akan menganggu kesehatan masyarakat pengguna air tersebut. Jadi dengan kondisi tersebut maka bukan hanya penyakit pneumonia saja yang meningkat didaerah tersebut.231 cenderung sakit pneumonia daripada yang mempunyai tempat sampah. makin banyak seseorang memakai air makin mempunyai perilaku sehat yang baik. terutama penyakit menular. maupun makanan.kasus flu burung. demikian juga akan mengundang binatang penyebarnya (lalat. dan pada odds ratio yang tidak mempunyai tempat sampah ternyata 1.Untuk jumlah air yang mencukupi hal ini berhubungan dengan perilaku kebersihan seseorang. Dengan tidak mempunyai tempat sampah maka memungkinkan bakteri dan virus akan beterbangan diudara sekitarnya.tikus dll) Sedang kan pada variabel pelihara hewan ternak. secara tidak langsung dapat mempengaruhi terjadinya pneumonia. seperti halnya kasus. karena sumber air yang mereka gunakan tidak baik maka hal ini juga akan mempengaruhi imunitas seseorang terhadap beberapa serangan penyakit. disamping dengan jumlah agent dan juga daya tahan seseorang. makin sering seseorang mencuci tangan maka makin kecil resiko untuk terkena penyakit menular tersebut.kasus flu burung. karena salah satu penyebab utama pneumonia oleh virus adalah virus influenza. Sehingga masalah ini bisa dipikirkan secara logika bahwa semua penyakit akan berhubungan juga dengan perilaku. maka kemungkinan adanya alergi terhadap hewan-hewan tersebut atau kemungkinan adanya kasus. yang kebanyakan penghuninya adalah dari pendidikan rendah. hal ini. dan kualitas air. kemungkinan pneumonia diagnosisnya bisa overlapping dengan asma. berhubungan dengan cara-cara pemerintah dalam menurunkan suatu prevalensi penyakit. Sedang untuk variabel pencemaran sumber air. kemungkinan penyakit lainnya akan lebih tinggi. Variabel adakah tempat sampah.kecoa. 80 .

disusul Gorontalo (2. pada kisaran nilai (0. bengkulu. Siapa saja bisa terkena penyakit itu tidak ada perbedaan antara jenis kelamin lelaki atau perempuan. (2. Demam Tifoid juga dikenali dengan nama lain yaitu Typhus Abdominalis.5). Beberapa daerah diatas angka nasional adalah propinsi Aceh. Biasanya angka kejadian tinggi pada daerah tropik dibandingkan daerah berhawa dingin.16). Umumnya penyakit itu lebih sering diderita anak-anak.5% yang artinya ada kasus tifoid 1.4% .16 ).Lebih jelas cermati tabel 13 diatas.Typhoid fever atau Enteric fever 12.15. Penyebarannya tidak bergantung pada iklim maupun musim.15. 4.6%). Sebaran variabel independent menurut propinsi maka propinsi DI aceh menduduk peringkat pertama. Kasus-kasus demam tifoid terdapat hampir di seluruh bagian dunia. Sumber penularan penyakit demam tifoid adalah penderita yang aktif.6%) kemudian Bengkulu (2.4%-2.2.6%).13.3%).14. dan kronik karier.14.000 penduduk. Jawa 81 . Penyakit itu sering merebak di daerah yang kebersihan lingkungan dan perilaku yang tidak sehat12.500 per 100.13. Prevalensi tifoid klinis nasional sebesar 1.4%).6% (rentang: 0.14. Sedang prevalensi hasil analisa lanjut ini sebesar 1. Demam tifoid pada masyarakat dengan standar hidup dan kebersihan rendah.2.6%. Sedangkan orang dewasa sering mengalami dengan gejala yang tidak khas. kemudian menghilang atau sembuh sendiri 12.3% . cenderung meningkat dan terjadi secara endemis.13. Kejadian morbiditas typhus/paratyphus dengan determinan dan determinan yang dominan. sedang angka typhus dan paratyphus nasional adalah 1.15.16 ). Tetapi data yang diperoleh pada analisa data ini adalah rentang pervalensinya (0. Menurut persentase propinsi terbesar adalah Namru Aceh Darussalam. penderita dalam fase konvalesen.

serta pencemaran sekitar rumah responden) yaitu dengan p<= 0. keadaan tempat sampah. hal ini karena kebiasan kaum laki-laki kurang perhatian dalam kesehatannya dan suka jajan di jalan. wilayah. jumlah balita. pekerjaan. Jakarta 2008. Kalimantan Tengah. Nusa Tenggara Timur. sedang tempat jajan disekitar sekolah belum tentu terjamin kebersihannya. adanya hewan ternak. keadaan saluran pembuangan air limbah. dimana anak-anak sudah mengenal jajan diluar rumah. adanya tempat sampah.25 Variabel jenis kelamin setelah hasil akhir multivariat maka kelompok laki laki mempunyai peluang sakit typhus/ paratyphus sebesar 1. Papua Barat. tingkat pengeluaran perkapita. adanya saluran pembuangan air limbah. Pada rentang kelompok umur merata pada umur dewasa. Gorontalo. Beberapa analisa bivariat maka yang masuk menjadi kandidat ke analisa multivariat adalah 18 variabel ( jenis kelamin. Dengan prevalensi tifoid cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT perkapita rendah pada data laporan nasional Riskdesdas Laporan Profil Kesehatan Indonesia 2007 Departemen Kesehatan Republik Indonesia. kualitas air. adanya sumber pencemaran kurang dari 10 m disekitar sumber air. umur. dan Papua. Wilayah pedesaan mempunyai prevalensi yang tinggi dibandingkan perkotaan. ini kemungkinan usia –usia sekolah merupakan resiko. Kalimantan Barat. banten. wilayah administrasi. Ini sesuai dengan teori yang ada dan laporan nasional riskesdas.142 dibanding kelompok perempuan. waktu tempuh serta adanya transportasi ke yankes. pendidikan.barat. Kalimantan Timur. Sulawesi Selatan. Kalimantan Selatan. Prevalensi tifoid terbanyak kelompok umur 5-14 tahun dan terendah kelompok umur 65-74. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tengah. gambaran pola 1 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit tahun 2006 dapat dilihat bahwa demam tifoid dan paratifoid 82 . jumlah air yang dipakai.

Sedang pembagian atau sebaran responden menurut wilayah administrasi maka pedesaan memilik odds ratio sebesar 1. menyatakan bahwa angka kematian bayi karena tifoid menduduki peringkat ke 9 yaitu 1. dan tidak tamat SD kemudian persentase menurun dan yang paling rendah adalah tamat Perguruan Tinggi. Sedang OR tertinggi adalah tidak tamat SD. 1.000. terendah tamat SLTA kalau dibanding dengan perguruan tinggi.283 kali untuk sakit typhus paratyphus pada responden yang tinggal didesa dibanding responden yang tinggal di perkotaan.42 untuk responden yang mempunyai waktu tempuhnya lama. Lihat tabel 15 dibawah dan p yang didapat adalah = 0. sedang AKABA (Angka Kematian Balita) data terakhir pada hasil SDKI 2002-2003 yaitu 46 per 1000 kelahiran hidup. dengan p=0. Tetapi dari hasil mortalitas penyakit Tifoid menduduki peringkat ke 6 yaitu sebesar 3. Setelah diajust OR menjadi 1. hal ini sesuai dengan hasil laporan riskesdas 2007. Kelompok pendidikan prevalensi tertinggi adalah kelompok tidak pernah sekolah. Hal ini kemungkinan didesa masih minim fasilitas umum yang menyediakan tempat penunjang perilaku hidup sehat. Menduduki peringkat ke3 setelah penyakit diare dan gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis inf) dan demam berdarah dengue.8%.26%. Pada variabel jumlah balita pada rumah tangga tersebut. dengan p= 0. makin besar kuintil atau tingkat pengeluaran makin kecil odds ratio yang terjadi. Survey mortalitas subdit ISPA pada tahun 2005 di 10 provinsi. Variabel pengeluaran dikelompokkan dalam kuintil ternyata kuintil 1 paling tinggi odds ratio terjadi typhus dan paratyphus daripada kuintil lainnya. maka resiko tertinggi adalah responden yang punya balita 5 atau lebih dan OR= 3.kode DTD (2) dan kode ICD (A1) didapat angka nominal 72.804 dengan persentase 3.368. dengan pembanding kelompok tidak mempunyai balita sedang pada variabel ini tidak mempunyai trend kelompok. sedang waktu 83 .000.000. Semua variabel waktu tempuh kefasilitas kesehatan masuk ke kandidat model.2%.338 dibanding perkotaan. dan akhirnya pada model akhir memperlihatkan bahwa waktu tempuh fasilitas profesional didapat peluang.

jadi persentase yang sakit pada pengguna fasilitas kesehatan tinggi. Sedang pada sebaran pemanfaatan sarana kesehatan kelihatan ada hubungan causal plausability yaitu kalau dilihat sebaran persentase maka ternyata yang memakai posyandu.tempuh kesarana kesehatan swadaya masyarakat OR yang waktu tempuh responden yang lama sebesar 1. 0. dan air juga merupakan sumber kehidupan.917 dengan p= 0. sedang pada responden yang dalam sumber airnya terdapat sumber pencemaran mempunyai peluang sebesar 1.008.728. 0. Pada kualitas air disini adalah ada peluang sebesar 1. Sekali lagi air merupakan sarana untuk berperilaku hidup sehat. olindes.7 dengan peluang 0. dan tentang kecukupan air responden yang tidak cukup memakai air cenderung sakit paratyphus sebesar 1. yang masuk sampai akhir adalah kualitas air. Dan merupakan kandidat masuk multivariat. Pada variabel tentang air. karena p=0. Dari peristiwa tersebut dapat di maklumi bahwa mereka menggunakan fasilitas kesehatan karena mereka sudah sakit. maka OR yang terjadi adalah responden yang tidak menggunakan fasilitas kesehatan mempunyai mempunyai peluang mencegah penyakit typhus yaitu 0.273 kali Pada responden yang memelihara hewan ternak adalah 1. dan gabung pemanfaatan ketiganya memakai mempunyai persentase penyakit typhus tinggi .617.844.778 dan 0.224 berarti aksesnya susah atau jaraknya jauh. jumlah air dan sumber pencemaran disekitar air. tetapi tidak sebagai variabel dominan.097 kali . dan bukan sebagai variabel dominan 84 . Adanya sarana angkutan ke fasilitas kesehatan menunjukkan bahwa persentase yang sakit typhus pada responden yang tidak mempunyai sarana ke fasilitas kesehatan sebesar 1. berdasarkan pertimbangan tersebut maka pemanfaatan fasilitas kesehatan tidak diikutkan dalam analisa multivariat.401 pada responden yang mempunyai air dengan kualitas buruk untuk sakit typhus dan paratyphus.7 lebih besar daripada responden yang tidak memelihara hewan ternak.000 maka variabel ini masuk ke analisis multivariat. maka penjelasan tentang variabel air adalah sebagai berikut. dan pod.

yaitu vaksinasi dasar dan booster yang dilakukan 6-12 bulan kemudian. Kejadian morbiditas hepatitis dengan determinan dan determinan yang dominan.10) Virus hepatitis A terutama menyebar melalui tinja. Imunisasi hepatitis A bisa dilakukan dalam bentuk sendiri (Havrix) atau bentuk kombinasi dengan vaksin hepatitis B (Twinrix). demam kuning dan infeksi sitomegalovirus.Variabel responden menurut sumber pencemaran yang ada di sekitar rumah. serta kulit dan mata berwarna kuning. nyeri perut sebelah kanan atas. 4. D atau E. muntah. yaitu dasar. C. seperti adanya pasar.10). Hepatitis biasanya terjadi karena virus.3. sementara imunisasi hepatitis B dilakukan tiga kali. ditanyakan apakah dalam kurun waktu tersebut pernah menderita mual. Hepatitis juga bisa terjadi karena infeksi virus lainnya. seperti mononukleosis infeksiosa. Di negara-negara berkembang sering terjadi wabah yang penyebarannya terjadi melalui air dan makanan 9. B. Imunisasi hepatitis A dilakukan dua kali. kencing warna air teh. Responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosa hepatitis dalam 12 bulan terakhir. tidak nafsu makan. Penyebaran ini terjadi akibat buruknya tingkat kebersihan. terutama salah satu dari kelima virus hepatitis. Prevalensi hepatitis diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosa hepatitis hepatitis oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir. Orang yang dekat dengan penderita mungkin memerlukan terapi imunoglobulin. Kasus hepatitis yang dideteksi pada survey riskesdas adalah semua kasus hepatitis klinis tanpa mempertimbangkan penyebabnya. Penyebab hepatitis non-virus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan 9. satu 85 . Cara pencegahan hepatitis adalah menjaga kebersihan perorangan seperti mencuci tangan. tempat pembuangan sampah dan sebagainya. yaitu A. masuk sebagai kandidat model multivariat tetapi tidak sebagai variabel dominan.

jumlah balita dalam rumah tangga responden. Data hepatitis dari profil kesehatan Indonesia tahun 2006. Imunisasi hepatitis A dianjurkan bagi orang yang potensial terinfeksi seperti penghuni asrama dan mereka yang sering jajan di luar 9.9%). Hal ini dikarenakan laki-laki cenderung 86 . Sulawesi Utara. Papua Barat.3%). Sulawesi Tenggara. kecukupan air.2% . jenis tempat sampah. NTB.6% rentang (0. Papua. melaporkan. tiga belas propinsi memiliki angka rata. umur. yang dirawat inap di rumah sakit sebanyak 1. NTT.bulan dan 6 bulan kemudian. dengan nama-nama variabel sebagai berikut.10 ). dan yang dirawat di puskesmas 12. Jambi. maka didapatkan hasil akhir yang masuk ke model akhir multivariat adalah 11 variabel. kualitas air. 275 dibanding kelompok wanita. Hepatitis klinis terdeteksi diseluruh provinsi di Indonesia dengan prevalensi sebesar 0. pendidikan.1. pelihara ternak. waktu tempuh kepelayanan kesehatan. jumlah kasus hepatitis klinis yang dirawat jalan di rumah sakit sebanyak 2.2% . Dari tiga belas propinsi tersebut diatas propinsi tertinggi adalah propinsi Sulawesi Tengah. Maluku Utara.676 kasus. Sumatera Barat.6% . Jumlah kasus penyakit hepatitis klinis menurut provinsi pada tahun 2006 disajikan dalam lampiran 2. Gorontalo.rata diatas angka nasional yaitu. variabel jenis kelamin. jenis kelamin ternyata OR laki-laki untuk menderita hepatitis adalah 1.6 (0. hal ini hampir sama dengan analisa yang dilakukan pada analisa lanjut yaitu hasilnya 0. Setelah analisa multivariat.2. DI Aceh. Sulawesi Tengah.Sedang hasil akhir multivarait antara hepatitis dengan karakteristik individu.474. Riau. Pada hasil laporan Riskesdas menyatakan Hepatitis Klinis terdeteksi diseluruh provinsi di Indonesia dengan prevalensi sebesar 0. wilayah menurut pulau dan wilayah menurut daerah administrasi.671 kasus dengan kematian pada 5 kasus. Hasil analisa bivariat prevalensi hepatitis menurut jenis kelamin didapat OR pada kelompok laki-laki 1.413 kasus.

akan semakin menurun persentase penyakit tersebut. bukan merupakan variabel dominan. hal ini bisa disebabkan karena angkanya terlalu kecil. Pada kelompok responden dengan kepemilikan balita. Dan sebagai variabel dominan. diperoleh sebaran yang tidak memiliki trend.(22) Sebaran data untuk variabel Umur.000. demikian juga variabel wilayah menurut administrasi. maka didaerah NTT dan NTB merupakan kelompok dengan OR tertinggi dan sebagai variabel dominan. Pada hasil analisa bivariat variabel karakteristik keluarga menurut penyakit hepatitis diperoleh gambaran bahwa pada pendidikan yang lebih tinggi.6 pada uji bivariat tidak keluar angkanya. kemudian pekerjaan lainnya. maka dihasilkan kelompok dengan OR tertinggi adalah pelayan jasa. Pengelompok responden menurut wilayah. apabila makin lama waktu tempuhnya maka makin jarang 87 . karena p yang didapat= 0.berperilaku tidak sehat dibanding kelompok wanita. dan kalau dilihat tren yang terjadi maka kelompok umur tua makin banyak yang menderita hepatitis. maka. ternyata umur 1-4 tahun dengan angka persentase 2. petani disusul nelayan. Pada tingkat pengeluaran. dan PNS dijadikan referens. dan masuk sebagai kandidat multivariat tetapi tidak sebagai variabel yang dominan. Sesuai dengan teori penyakit maka makin rendah pendidikan makin sedikit pengetahuan untuk hidup sehat. pegawai swasta dan BUMN biasanya merupakan kelompok terkecil. demikian juga kalau dilihat tren OR yang terjadi. dalam hal ini yang tertinggi OR-nya adalah responden yang memiliki balita 2.000. Kelompok pekerjaan. untuk analisa selanjutnya bisa disarankan untuk di komposit dengan kelompok umur yang lebih besar. dan ada beberapa penelitian bahwa hal ini disebabkan adanya perbedaan gen pada laki-laki dan perempuan. dan OR kelompok umur 65-74 adalah yang tertinggi kalau dibanding dengan kelompok umur 5-10 tahun. dibanding kelompok umur yang lebih muda. merupakan variabel dominan. dan cenderung beresiko untuk terpapar penyakit. p=0. Dan merupakan variabel dominan terjadinya hepatitis. Waktu tempuh kesarana pelayanan kesehatan ini mengambarkan akses responden kesarana pelayanan kesehatan.

171 dibanding pada responden yang tidak memelihara binatang. dan hasil analisa disini menunjukkan bahwa responden dengan air yang kurang dari 20 liter mempunyai OR= 1. Pada keberadaan tempat sampah menunjukkan adanya peluang sakit hepatitis klinis sebanyak 1. OR= 1. hal ini memang secara logika berhubungan. 88 . penyakit apapun kalau lingkungan rumah sanitasinya jelek. Pada responden dengan pemakaian air yang tidak berkualitas mempunyai 1. merupakan variabel dominan. dan hal ini akan mempengaruhi perilaku hidup sehat mereka. dibanding pada kelompok responden yang mempunyai tempat sampah.448 kali. masuk variabel dominan. Jumlah air menurut referensi riskesdas pemakaian air yang cukup perorang adalah 20 liter. dibanding dengan peluang untuk sakit hepatitis sebesar adalah responden yang memakai air berkualitas. variabel ini merupakan variabel dominan.787 dan termasuk variabel dominan. maka akan memperparah keadaan. Pada variabel responden dengan pemeliharaan binatang maka OR yang didapat 1.kemungkinan dia datang ke fasilitas kesehatan tersebut dan makin jarang dia terpapar penyuluhan.614 mempunyai peluang sakit pneumonia dibandingkan dengan responden yang memakai air yang cukup.143 pada kelompok responden yang tidak mempunyai. masuk sebagai variabel dominan.

umur. kecukupan pemakaian air responden.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. jumlah balita. variabel pendidikan . jumlah balita dalam rumah tangga responden. kecukupan air. Kesimpulan 1. jumlah balita dalam rumah tangga responden. Faktor deteminant yang berhubungan dengan terjadinya Hepatitis adalah 11 variabel yaitu. jenis kelamin. wilayah menurut pulau dan wilayah menurut daerah administrasi 4. adanya tempat sampah. pendidikan. Faktor determinan dominan pada ketiga penyakit yaitu. kualitas air. pendidikan. jeniskelamin. dan juga adanya variabel adanya tempat sampah diluar rumah. Determinant faktor yang mempengaruhi terjadinya variabel jenis typhus/paratyphus terdapat 13 variabel antara lain kelamin dan umur. umur. kualitas air. Pada determinant faktor yang mempengaruhi terjadinya pneumonia ada 12 variabel antara lain. variabel pencemaran air pada sumber air yang dipakai responden. jenis tempat sampah. waktu tempuh kesaran fasilitas kesehatan baik kesehatan profesional maupun kesehatan swadaya masyarakat. waktu tempuh kesarana kesehatan. waktu tempuh ke sarana kesehatan profesional. 89 . wilayah. kecukupan air.1. serta kecukupan air. wilayah menurut pulau dan administrasi. umur. pelihara ternak. adanya sumber pencemaran disekitar sumber air minum. variabel jenis kelamin. dan kualitas air. kualitas air yang dipakai responden. pendidikan pekerjaan. dan saluran pembuangan limbah) 3. waktu tempuh kepelayanan kesehatan. variabel responden yang memelihara hewan ternak) 2.

dan mendirikan fasilitas kesehatan yang dapat dengan mudah di akses oleh penduduk sekitarnya.Saran 1. Propinsi yang mempunyai angka prevalensi tinggi atau diatas angka nasional pada tiga penyakit tersebut adalah.. NTB. Gorontalo. Variabel pendidikan merupakan salah satu variabel dominan.5. NTT. Papua. maka untuk mengurangi peluang sakit salah satunya adalah meningkatan pendidikan penduduk. Untuk penentu kebijakan dan pelaksana di 6 propinsi lebih diutamakan untuk meningkatan derajat kesehatan penduduknya. DI Aceh. penyediaan air yang cukup otomatis berkualitas. Sulawesi Tengah 5. 90 . Papua Barat. 2.2. .

karena pekerjaan ibu. Iqbal. Mentari. membimbing dan mendampingi kalian dalam segala suasana.UCAPAN TERIMA KASIH Kepada kepala Badan Litbangkes Dr Triono Soendoro..Tris Eryando peneliti ucapkan banya terimakasih atas bimbingan pembuatan protokol sampai pelaporan. PHD dkk. tim Komisi Ilmiah DR Soewarto Kosen.tim Panitia Pembina Ilmiah dr Emiliana tjitra. Kepada suamiku Bambang Suteja. MPH. maka kami ucapkan terima kasih sedalam dalamnya kepada kalian berempat. dan ketiga anakku. dan revier bapak DR .drs. Kepala Puslitbang BMF DR dr Trihono . PhD. Shollahuddin. semoga Allah selalu melindungi dan membimbing kalian. 91 . maka berkurang waktu ibu untuk memperhatikan.

WFP and World Bank.Nopember 2008 5. Profil Kesehatan Indonesia 2005.2008 11.com/2006/05/pneumionia. Nopember. 17.com/news.com/Artikel_Kesehatan/Pneumonia. Pedoman Hidup Sehat Diadaptasi dari Facts for Life Third Edition. Depkes RI.medicastore.com Nopember. DepKes RI. Harrison’s Principles of Internal Medicine.medscape.html Nopember.com Nopember. http://id.2008 8. Braunwald.html. http://www. http://ww. Riskesdas. 829/Menkes/SK/VII/ 1989. http://www. 2006.2008 14. Buku Pedoman Pengisian Kuesioner.merck.Fernando et al.2008 7. Peraturan Tentang Rumah Sehat. 2008. Jakarta. UNAIDS.2008 13. http://www. Diagnosis and Management.medistra. Nopember.medistra.2008 6. Profil kesehatan Indonesia 2007. UNESCO. http://www.DAFTAR KEPUSTAKAAN 1.2008 10.com/content. Http://www. Http://www. Jakarta. London. 2007. 3.php.info-sehat. 2003. Depkes RI. Tropical Infectious Diseases Epidemiology. WHO. Nopember.com Nopember. PPM dan PL.com/Artikel_Kesehatan/Pneumonia. 2005. 16th Edition.org/wiki/Pneumonia. UNFPA.2008 9.45:270-272 16.2008 12. Departemen Kesehatan Republik Indonesia .com/med/detail_pyk. Jakarta. 4.inawater. 2001.html. Nopember. halaman 138 . Investigation. Ranjan L. Jakarta 1990 18. UNICEF.php?s_sid=797 Nopember.2008 15. PPM dan PL. Nopember.blogspot. 2.com/News/2003/04/27/Kesehatan/kes1. http://www. UNDP.html. 92 . Depkes. http://asuhan-keperawatan.wikipedia.emedicine.suarapembaruan. Menkes RI no. kemitraan air Indonesia. Jakarta. New York. Pusat promosi kesehatan. http://www.

1982.19. http: Dinkes-Kutaikertanegara. Kamis. 29.id . 1997. 93 . Winardi. Status Kesehatan. Modul Analisis Data Menggunakan SPSS. dkk.Alumni. Http: Bank data. Pencegahan Kematian Ibu hamil Edisi Bahasa Indonesia. CV Sagung Seto. 2002 24. 28 November 2007. Arikunto suharsimi. dari hasil SKRT 1992 dan 1995. Kamis 28 November 2007. Data Susenas 2004 Sustansi Kesehatan. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi ke-2. 22.Indonesia. Depkes. BPS. sekretariat jendral Depkes. bpp. Pusat komunikasi .com. Pelayanan Kesehatan.“ 5% kematian Balita disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi”. http:// www. WHO. Kamis 28 November 2007.id “ Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Menular yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Royston Erica dan Amstrong Sue. FKMUI. Go. Rineka Cipta. Bandung. Karang joang. Badan Litbangkes DEPKES . Pusat Data Dan Informasi Depkes RI.2005. Statistik Indonesia Statistical Yearbook of Indonesia 2007. 21. go. Perilaku hidup Sehat dan Kesehatan Lingkungan. 28. Ismail Sofyan. Jakarta. Pengantar Metodologi Research. 27. 25. 2004. 26. 2005 23. Jakarta. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta 2002. 20. Jakarta. Sastroasmoro Sudigdo. 1989. Kabupaten Kartanegara. Kumpulan kuliah statistik Demografi. “ Penyakit Yang Dapat Di Cegah Dengan Imunisasi”. Depok.

Lampiran 1. Kasus pneumonia pada balita menurut propinsi

94

Lampiran 2. Kasus hepatitis klinis menurut propinsi

95

Lampiran 3. Kuesioner Riskesdas 2007

96

Lampiran 4. Kuesioner Susenas 2007 97 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful