BABAD TANAH SUNDA BABAD CIREBON.

PRAKATA Yang disuguhkan dalam tulisan ini adalah terjemahan dari tulisan huruf pegon/huruf Arab berbahasa Cirebon madya yang asli/otentik. Semoga manfaat menjadi pegangan untuk menengah-nengahi Babad Tanah Jawi dan Babad Cirebon dari luar yang simpang siur sejare-jare akibat Nusantara/Indonesia, pulau Jawa khususnya di selang/ dijajah oleh Belanda lebih-kurang 350 tahun. Semoga ditemukan yang dicari biidnillah insya Allah s.w.t. Dan tiap-tiap membaca Babad Tanah Sunda ini seyogya baca al-Fatihah terlebih dahulu untuk Yang Sinuhun Susuhunan Cirebon, pula setelah membacanya. Tsumma ila hadharati Sayyidina wa Maulana Sulthan Mahmud Syekh Syarif Hidayatillah Awliya Allahu Taala Kutubizzaman khalifatur-Rasulillah s.a.w. sailun lillahi al-Fatihah, baca Fatihah sekali sehingga selesai. Semoga ada manfaatnya, insya Allah s.w.t. Penyusun: P.S. Sulendraningrat.

1. Negara Pejajaran. Pertama-tama diceritakan perihal perjalanan hidup Pangeran Walangsungsang, hingga datang kepada ceriatan Yang Sinuhun Susuhunan Cirebon. Adapun yang dibuka oleh serita ini adalah menceritakan suatu praja di Pejajaran Ratu Agung di Tanah Sunda yang bernama Sri Sang Ratu Dewata Wisera, mashur disebut Sri Mahaprabu Siliwangi. Beristri tiga orang, ialah Ambetkasih, Aci Bedaya dan permaisuri Ratu Subanglarang. Sang Prabu berputra empat puluh orang.

Sang Prabu bersabda: "Hai anakku Walangsungsang, aku lihat engkau bermuram durja, semuanya prihatin tidak sama dengan sesama yang berkumpul duduk. Apa yang jadi kesedihan engkau, bukankah engkau calon Prabu Anom memangku negara? Atau putri yang engkau inginkan, beri tahu saja mana yang engkau sukai, jangan engkau bersedih hati, tidak baik bagi pribawa semuanya kraton." Sang putra menjawab dengan khidmat sambil menundukkan kepala dan mengeluarkan air mata. "Duhai Gusti, murka Dalem yang hamba mohon, karena tadi malam hamba mimpi bertemu dengan seorang lelaki yang elok danagung memberi wejangan agama Islam sarengat Jeng Nabi Muhammad yang jadi Utusan Yang Widi, namun menyesal sekali belum tuntas hamba sudah terjaga. Sekarang hamba rindu sekali kepada agama Islam, mengingat tidak adanya guru untuk meneruskan pelajaran agama Isalam itu." Sang Prabu berkata sambil senyum: "Walangsungsang, engkau orang muda jangan terlanjur, engkau kena sihir, kena bius Muhammad yang mengaku anutan, yang jadi dutanya Widi, sunguh dusta seenak nafsunya, karena sesungguhnya anutan itu adalah Yuang Brahma Yuang Wisnu itu sesungguhnya agama Dewa yang mulia. Yang Jagat Nata Pangerannya orang setriloka. Sejak dahulu hingga sekarang para leluhur tidak menghendaki dirubah." Walangsungsang menjawab sambil menyembah: "Duhai Gusti mohon ampunan Dalem, pengertian, kebijaksanaan dan pemaafan. Dalem yang hamba mohonkan, karena hamba lebih condong/suka sarengat Jeng Nabi Muhammad dan sesungguhnya Illahi yang wajib disembah itu melainkan Allah yang tiada sekutu sesama yang baharu (makhluk)." Sang Prabu murka, karena sang putra tidak patuh, bertentangan dengan agamanya. Sang putra dimarahi diusir keluar dari praja Pejajaran. Walangsungsang menjadi suka hati, segera pamit, menghindar dari hadapan Sang Prabu, keluar dari Istana, terus berjalan masuk hutan keluar hutan naik gunung turun gunung menuju ke arah timur. Ratu Mas Rarasantang sedang rindu kepada kakaknya, ialah Walangsungsang, menangis siang malam selama empat hari akhirnya Rarasantang, mimpi bertemu dengan seorang lelaki pula yang berupa satria lagi berbau harum memberi pelajaran agama Islam, menyuruh berguru sarengat Jeng Nabi Muhammad dan diramal kelak mempunyai suami Ratu Islam dan akan mempunyai anak lelaki yang punjul.

Rarasantang segera terbangun, ingat kepada impiannya lalu keluar dari keraton, menyusul kakaknya, Walangsungsang, terus berjalan. Diceritakan di dalam kraton geger busekan/panik, karena sang putri menghilang melolos tanpa bekas. Jeng Ratu Subanglarang sangat olehnya menangis menyungkemi Sang Prabu karena kedua-dua putranya hilang. Sang Prabu kaget sekali, segera memanggil menghadap seluruh para putra sentara, patuh, bupati, para wadyabala dikumpulkan. Sang Prabu berkata: "Hai Patih Argatala, Dipati Siput, sekarang carilah putraku, Dewi Rarasantang hilang dari kraton dan Walangsungsang sisuruh pulang. Sungguh jangan tidak teriring keduanya." Patih Argatala menjawab sandika. Ia segera keluar dari kraton mengumumkan kepada seluruh para wadyabala di Pejajaran geger panik lalu menyebar ke berbagai penjuru. Patih Argatala mencarinya dengan berlaku betapa menuruti perjalanan pendeta. Dipati Siput mencarinya memasuki hutan menuruti perjalanan khewan. Para putra pada bertapa atau berlaku sebagai dukun, sebagian membangun kerajaan. Pada wadyabala bubar ke masing-masing tujuannya, mereka takut, tidak berani pulang sebelum mendapat karya. 2. GUNUNG MARAAPI. Diceritakan Pangeran Walangsungsang telah datang di kaki runung Maraapi (di Rajadesa, Ciamis Timur) sedang tafakur, tak lama kemudian datanglah Sanghyang Danuwarsih, datang sudah di hadapannya. Sang Danuwarsih berkata: "Hai siapa engkau, putra mana dan apa yang dikehendaki?" Walangsungsang berkata: "Walangsungsang namanya, putra dari praja Pejajaran yang beribu Ratu Subanglarang, yang hendak berguru agama Islam." Berkata Sang Danuwarsih: "Baik sekarang turutlah dengan si Rama di puncak gunung Meraapi, niscaya bertemu dengan jodoh engkau; “Walangsungsang mematuhi. Segera turut bersama menuju kayuangannya Sang Danuwarsih, datang sudah mereka berdua di puncaknya gunung Maraapi. Sang Danuwarsih berkata: “Hati putriku, nini Indangayu, sekarang lekas bikin jamuan, jodoh engkau sudah datang.” Nyi Mas Indangayu telah menghidangkan jamuan. Ayahnya bersuka cita. Segera ditari/didimai. “Hai Walang sungsang Indangayu, sekarang aku kawinkan kamu kedua jadi satu, karena tidak lain trah (turunan) dari Galuh.” Sang putra berdua menyetujui.

” Sang putri mengucap terima kasih. bisa untuk sebanyak simpanan. terlaksana dengan sebentar Sang Putri telah datang di gunung Liwang di hadapan Ki Ajar Sakti.Segera telah kawin tetap catap (syah) perkawinannya pada tahun 1442 M.” Nyi Indang Sukati merasa kasihan: “Duhai bayi. namun . mohon pertolongan Eyang. Nyi Indang berkata: “Hai bayi. kelak dipastikan mempunyai putra lelaki yang punjul sebuana. terkabul yang dikehendaki. kakak engkau. Rarasantang nama hamba. sang putri mengucap terima kasih dan mohon petunjuk kakaknya ada dimana. berwatak cepat cepat berjalan seperti angin dan tidak panas di dalam api dan tidak basah dalam air. hamba sesungguhnya putri Pejajaran dari ibu Subanglarang. “Hai putraku Walangsungsang terimalah cincin pusaka turunan dari dipati Suryalaga sama turunan engkau. Walangsungsang sudah punya istri. terimalah baju Sang Dewa mulya. segera pamit. Ini wataknya cincin Ampal kalau diterawangkan tahu isinya jagat bumi tujuh langit tujuh bisa terlihat dan di dalam cincin Ampal dapat memuat laut dan gunung. Ia menangis sambil menyebut-nyebut nama abangnya. Berkata Sang Danuwarsih. rahayu dari bahaya. terus berjalan menuju puncaknya gunung Maraapi. Jeng Pangeran Walang sungsang pada waktu itu berusia 23 tahun. menyungkemi kakinya sambil mohon petunjuk kakaknya ada di mana. engkau siapa dan apa yang engkau cari sendirian berada di sini tanpa kawan?” Sang Dewi Rarasantang menjawab: “Eyang. putri Sanghyang Danuwarsih yang berada di gunung Maraapi.” Segera sudah dipakai baju si Dewa Mulya. Diceritakan Ratu Mas Rarasantang yang sedang dalam perjalanan berada digunung Tangkubangprahu kelelahan beristirahat di bawah pohon beringin dengan menggosok kakinya yang pada bengkak. Berkata Nyi Indang Sukati: “Engkau datanglah terlebih dahulu di gunung Liwang. baik engkau menyusul ke sana dan aku memberi engkau nama Ratnaeling. Syahdan Pangeran Walangsungsang yang sedang tapakur di hadapan Sang Danuwarsih. Tak lama kemudian ada datangnya Nyi Indang Sukati datang sudah di hadapannya. yang dituju menyusul saudara tua Walangsungsang. pakaiannya cabik-cabik.” Segera Sang Dewi menyembah pamit. mengetahui maksud Sang Putri. bahkan sebentar sudah datang. di situlah dapat petunjuk. temuilah Ajar Sakti. Indangayu namanya. semoga lekas bertemu. Ia Berkata: “Bayi. Ki Ajar waspada penglihatannya.

aku tidak tahu agama Islam. tidakkah engkau lebih senang di dalam kraton. Ini golok bisa bicara bahasa manusia dan bisa terbang dan bisa keluar api. Indangayu dan Rarasantang.agama Islam si Rama tidak bisa. terimalah sih pemberian si bapak dan ini Golokcabang pusaka para leluhur terimalah. asal putra mana dan siapa nama engkau?” Dijawab oleh Walangsungsang: “Putra Raja Pejajaran. nanti seantara lagi engkau mendapatkannya. berkata: “Hai Walangsungsang. hanya si bapak memberi ilmu kedewaan dan menghilang. sungguh bahagia engkau masih bisa bertemu dengan si kakak. Sedangkan mereka berdua bercakap-cakap.” Segera Nyi Indangayu merangkul adik iparnya. tiap . Sedangkan mereka berkumpul tak lama kemudian datanglah Sang Dewi Rarasantang bertemu rangkul merangkul dengan kakaknya. kelak seantara lagi engkau tahu. sang istri dan sang adik sudah dimasukkan ke dalam cincin Ampal. GUNUNG CIANGKUP Setelah antara sebulan lamanya Ki Sanghyang berkata: “Hai putraku semua marilah berkumpul.” Sang putra mematuhi perintah Jeng Rama.” Para putra bertiga sudah di hadapan Sang Danuwarsih. kekuatan. itu bayi perempuan siapa berangkulan bertangisan?” Menjawab Sang Putra: “Sungguh saudari kandung hamba seayah seibu. sekarang baik berguru kepada Sanghyang Nanggo di gunung Ciangkup. 3. Ia berkata: “Hai orang muda selamat datang. Rarasantang namanya. Berkata Walangsungsang sambil menangis: “Duhai bayi adikku. Sang Danuwarsih mendekati dan berkata: “Hai putraku. ingin berguru agama Islam. apa sebabnya engkau menyusul.” Walangsungsang mengucap terima kasih sambil menerima semua pemberian Sang Ayahanda. Segera pamit terus berjalan akhirnya telah datang di gunung Ciangkup bertemu di hadapan Sanghyang Nanggo. Dan engkau dapat petunjuk jalan dari siapa?” Sang Rarasantang berkata sambil menangis perihal perjalanannya dan awal hingga akhir. Walangsungsang namanya. hanya itu terimalah aji-aji dan kemenayan (melumpuhkan) pengabaran (menurut) dan pengasihan (pekasih). apa yang engkau kehendaki. kekebalan. mudah-mudahan mendapat sihnya guru.” Sanghyang Nanggo berkata: “Hai Walangsungsang.

aji dipa. GUNUNG CANGAK Sanghyang Naga berkata: “Engkau sekarang pergi bergurulah ke gunung Cangak di situ engkau akan dapat petunjuk perihal agama Islam. Gunung Kumbang Setelah sebulan lamanya Sanghyang Nanggo berkata: “Hai Walangsungsang sekarang engkau baik bergurulah lagi kepada Sanghyang Naga di gunung Kumbang. mudah-mudahan ada sihnya guru.” Walangsungsang mematuhi perintahnya guru. siapa engkau. 5.” Sanghyang Naga berkata: “Hai Walangsungsang. Diceritakan yang berada di gunung Cangak di pohon beringin besar rombongan burung-burung bangau banyak sekali berhinggap. walaupun Dewa tidak tahan. Walangsungsang mengucap terima kasih. menghilang dan aji titimurti (Membesarkan tubuh hingga segunung anakan).” Walangsungsang mengucap terima kasih atas sih pemberian guru.yang terkena olehnya niscaya lebur. Walangsungsang terheran-heran melihat sedemikian banyak burung burung . umbul-umbul waring. jin. agama Islam belum ada. namun diakali dulu Ratunya Bangau hingga sampai tertangkap. gunung ambruk dan laut kering. mungkin seantara lagi. kepewiraan. hanya si bapak bisa memberi ilmu kesaktian. Berkata Sanghyang Naga: “Hai orang muda. ialah peci waring. 4. asal putra mana dan apa yang engkau kehendaki?” Sang Walangsungsang menjawab: “Hamba ingin berguru agama Islam. lalu jimat yang warna tiga itu disimpan di dalam cincin Ampal. segera pamit terus berjalan menuju gunung Kumbang. “Walangsungsang sudah menerima semua apa sih pemberian guru. datang sudah di hadapan Sanghyang Naga. mengetahui omongannya segala binatang. Sanghyang Naga berkata: “Dan ini pusaka yang tiga warna kepunyaan Juwata sekarang dapat wangsit terimalah dari sih pemberian Dewa. kalau dipakai tidak terlihat oleh semua penglihatan. Walangsungsang namanya putra Pejajaran.” Diterima sudah. berwatak rahayu dari senjata musuh dan melemahkan musuh. kelak pada kahirnya engkau yang punya. setan pada sika asih. badong batok berwatak dianuti oleh sileman siluman.” Setelah sebulan lamanya Walangsungsang mohon pamit segera menuju ke gunung Cangak.

6. anda siapa yang bertemu di hadapan menjadikan terkejutnya hatiku?” Ki Pendeta menjawab: “Sanghyang Bangau namaku yang membangun kayuwangan di gunung Cangak. nanti anda aku beri pusaka warna??? tiga. lauk pauk selalabnya dan sejuk pribawanya kepada kawula warganya.” Diterima sudah jimat yang warga tiga. Sang Nata Bangau berteriak tolongtolong minta hidup. Piring panjang berwatak tidak diisi lagi lalu mengisi sendiri lengkap segala-galanya. Walansungsang sedangnya melongo keheranan melihat ada kraton. Sang Nata Bangau lenyap setelah datang di pohon beringin di puncak gunung itu. ialah panjang . dan bareng/bende. panjang. lalu ia terbang sambil berkata: “Hai manusia susullah aku di puncak gunung ini yang berada di pohon beringin. Walangsungsang sedangnya enak duduk sambil makan minum tak lama kemudian datanglah Sang Pedeta Luhung duduk sejajar. fardhu memenuhi janji memasrahkan jimat pusaka yang warga??? tiga.bangau berseliweran dan bingung mana yang jadi Ratunya. Tal lama kemudian hilanglah ujud pohon beringin itu salin rupa menjadi sebuah kraton yang indah sekali. bareng/bende. pendil. Walangsungsang kebingungan. nasi kuning. bertubuh lebih besar dari sesama burung bangau. GUNUNG JATI . cukup sandang. Segera ia memakai peci waring dan mengeluarkan kesaktian sebuah wadah yang berisikan ikan deleg diletakkan di pohon. Kena ampuhnya aji penurutan Sang Nata Bangau segera temurun. tal lama lalu ada 40 orang anak-anak bule yang menghidangkan jamuan sambil menyilahkan duduk di sebuah permadani semas. Walangsungsang mengucap terima kasih dan berguru kepada Pendeta sebulan lamanya. Cepat Walangsungsang menangkap leher Sang nata Bangau sambil diancam dengan Golok cabang di atas lehernya. Baren/bende wataknya keluar air banjir.” Lalu Sang Nata Bangau dilepaskan. pangan. Walangsungsang berkata: “Hai Pendeta.” Walangsungsang segera menyusul. suaranya membungungkan mausuh. pendil. Pendil berwatak kalau dikeruk nasinya bisa untuk memberi makan dua tiga segara. Ikan deleg di dalam wadah/perangkap lalu dipatuknya. papan.

putra Pejajaran. Ki Syekh memanggil: “Walangsungsang aku beri nama Somadullah.Walangsungsang mohon pamit hendak meneruskan mencari agama Islam serengat Jeng Nabi Muhammad Ki Pendeta berkata: “ Hai putra.” Walangsungsang segera pamit menuju gunung Jati. asal dari mana.” 7. datanglah di gunung Jati Syekh Nurjati namanya. apa kemauan kalian. Rarasantang sudah lama olehnya berguru. puasa bulan Ramadhan. datang sudah di hadapan Syekh Nurjati. asal dari Mekah. tetap patuh kepada Guru. nama kalian siapa?” Berakta Walangsungsang: “Hamba hendak berguru agama Islam sarengat Jeng Nabi Muhammad. Walangsungsang. ke arah selatan perjalanannya menyusuri pinggir pantai bersama sang istri dan sang adik. Sementara perjalanannya membelok ke arah barat menuju ke Lemahwungkuk ada sebuah rumak Kaki Tua yang bernama Ki Gedeng Alang Alang. salat lima waktu dan diwejang Qur’an. Kebon Pesisir Lemah Wungkuk Antara lama kemudian Ki Syekh berkata: “Somadullah. membangun sebuah dukuh/pemukiman dimulai pada hari Ahad tanggal 1 bulan Sura. Indangayu. . bersama adik kandung hamba Rarasantang.” pada tahun babad jaman/Sakakala 1367/1445 M Somadullah mematuhi perintah guru. suhud sekali. hamba bernama Walangsungsang.” Syekh Nurjati berkata: “Bagaimana mulanya orang Budha dan putra Raja menghendaki Islam dan dapat petunjuk dari siapa tahu kepada gunung Jati?” Walangsungsang menceritakan sesungguhnya lantaran mau Islam dari awal hingga akhir. Ki Syekh Nurjati segera terjaga melihat tiga orang tamu. yang sedang bertapa tidur dialah yang empunya agama Islam sarengat Jeng Nabi Muhammad. Ki Syekh segera memberi wejangan kepada ketiga putra ngucapkan sahadat kalimah dua. tak lama kemudian segera pamit. putri gunung Maraapi Sanghyang Danuwarsih. dan naik haji. sekarang aku beri idzin babakyasa. Kitab Fikih dan Tasawuf. Sambil senyum ia berkata: “Hai tiga orang muda di hadapanku dengan memberi hormat. adapun istri hamba Indangayu namanya. Zakat fitrah. selawat dan dzikir. sudah dipatuhi semua apa yang diwejangkan dan diperintah oleh guru. Sang istri dan sang adik lalu dikeluarkan dari cincin Ampal disuruh sujud menghaturkan hormat.

Orang-orang pegunungan banyak turut menanam. Rebon ditumbuk dibikin terasi.” Berkata Kaki Tua: “Hai Somadullah. Berebutan saling mendahului orang-orang yang membeli. dan setelah datang pada waktunya pagi hari Ahad lalu ia memasuki hutan rawa belukar menebangi pepohonan besar kecil tiap hari.Diceritakan Somadullah istirahat di sana dan sembahyang dalam rumah Kaki Tua itu. lama olehnya ia babad/membuka hutan yang sudah lapang lalu ditanami palawija membangun perkebunan. tanah pantai yang jadi dedukuh/pemukiman. mereka turut berkebun dan semua tanaman serba jadi. Adapun palawija sebanyaknya buah-buahan itu sudah dikulakan kepada tengkulak-tengkulak Palimanan dan Rajagaluh laksana semut berkerumunan pada waktu itu orang pegunungan yang telah datang. si bapak tidak punya anak dan kawan. Cakrabumi mematuhi perintah Kaki Tua. berkebun dan menetap. Somadullah namanya. sekarang bawahan engkau. Mereka memberitahukan kepada tangga desa-desanya. Kaki Tua heran sambil berkata: “Hai orang muda. Sentana mantri dan para Gegedeng sudak kumpul dihadapannya Sang Prabu segera memanggil Ki Dipati Palimanan. Kaki Tua melihat hutan sudah lapang dan banyak ditanami palawija ia suka cita sekali Cakrabumi disuruh menangkap ikan dan rebon diberi waring/jala. sekarang kamu tiga orang aku akui sebagai anak. Sekarang sudah diangkat anak. suku/alat penangkap ikan dan jakung/perahu kecil. Sebakdanya salat. Cakrabumi bergenbira karena sudah banyak tetangga/pendatang baru. engkau aku beri nama Cakrabumi. tiap malam berkendaraan jakung itu pergi menangkap ikan dan rebon (rebon— sebangsa udang kacil). Gedeng Kiban namanya. . Berkata Sang Prabu: “Hai Dipati Palimanan. 8. Hari esok dimulainya badad/menebang pepohonan besar kecil dan kalau diidzinkan mohon mondok sementara waktu tiga orang banyaknya. aku lebih terasih kepada tubukan ikan rebon. engkau siapa bertemu di sini dan sedang apa?” Berkatalah Somadullah: “Hamba santri gunung Jati. RAJA GALUH Diceritakan Prabu Rajagaluh mengadakan sewaka/seba (jumpa pejabatpejabat pemerintahan). paginya membabad hutan. dapat idzin dari guru disuruh berkebun membangun sebuah dukuh/pemukiman. serah jiwa raga dan tempat. banyak orang yang berkebun dan ada nelayan yang menangkap ikan dan rebon.” Somadullah menerimanya. seluruh para Bupati.

agar diperiksa yang sampai terang dan ditetapkan pajak bagi nelayan rebon itu dalam setahun sepikul bubukan rebon yang sudah halus gelondongan dan ada berapa cacah jiwanya orang-orang yang bermukim di pantai. sambisaling berkata. mereka terus berjalan menuju ke pantai.” Ki Dipati mengucap sandika (siap menjalankan perintah).” Ki Mantri pepitu mengucap sandika. geura bebek (Cepat-cepatlah ditumbuk!) Jadi mashur pedukuhan baru itu desebut nama Grage. segera keluar meninggalkan sidang.” Ki Mantri berkata: “Coba ingin tahu rasanya cai/air rebon itu. Adapun menangkapnya dengan jala tiap malam. geura age. memanggil ponggawa penipu (pepitu???) (tujuh orang mantri) sudah menghadap kepadanya. karena Sang Prabu terasih sekali kepada bubukan rebon yang sudah gelondongan (bulat panjang). Berkata jubir Mantri pepitu: “Hai tukang penangkap rebon.” Cakrabumi mengucap sandika. setelah kering lalu ditumbuk digelondongi. dedukuh/pemukiman baru itu. Mereka lalu makan bersama dengan lauk pauk petis blendrang. sudah ada cacah jiwa 364 orang. Ki Dipati berkata: “Hai ponggawa pepitu. engkau oleh perintah Sang Prabu diharuskan mengirim pajak tiap-tiap tahun datu pikul bubukan rebon gelondongan. Orang yang mengkulak rebon berebut saling mendahului. sekarang periksalah sesukuh baru di pinggir pantai. berdesak-desak sambil berceloteh” Oga age. demikian. karena Sang Prabu Rajagaluh lebih terasih sekali minta keterangannya bagaimana membikin terasi itu. Tidak lama datanglah utusan Falimanan Mantri pepitu memeriksa.” Cakrabumi segera menyuruh istrinya memasak air perasan rebon. Rebon lalu diuyahi seantara lalu diperas. ada berapa cacah jiwanya dan nelayan penangkap ikan rebon seyogya diberi ketetapan pajak tiap tahun sepikul bubukan rebon yang sudah halus gelondongan. Segera menghindar dari hadapannya. diambilnya pagi-pagi. Adapun air perasannya dimasak dengan diberi bumbu-bumbu. Setelah masak lalu dihidangkan kepada Ki Mantri pepitu. Karenanya Ki Mantri pepitu . diberi nama petis blendrang. Diceritakan Cakrabumi bersama sang istri dan sang adik sedang menumbuk rebon di lumpang batu dengan halu batu. karena Sang Prabu lebih terasih dan aku beri nama bubukan gelondongan. Masakan perasan air rebon lebih enak. bahwa cai/air rebon lebih enak ketimbang gragenya (trasinya). Harap diperiksa yang sampai terang. Ki Cakrabumi sudah bertemu di hadapan mereka. setelahnya lalu dijemur.

semufakat rakyat Dukuh Cirebon Kaki Tua Gedeng Alang Alang yang terpilih jadi pikuat/Kuwu Dukuh Cirebon.” Kaki Tua ingat kepada tas titipan santri. aku ingin tahu. Cepat sang putri dipanggil dan berkata: “Hai bayi. kala waktu tahun 1447 M.” Tas itu sudah diterima. Diceritakan Kuwu Cirebon yang sedang tidur seantara lalu mimpi bertemu dengan Jeng Nabi Muhammad memberi wejangan kepadanya sahabat Mutaakhirah/ Sahabat kalimat dua. lalu Ki Kuwu memanggil putri Rarasantang dan berkata: “Bayi. Antara lama kemudian Ki Gedeng Alang Alang Wafat. ternyata ada sebuah cupu hijau yang berisi air cahaya.mengumumkan kepada rakyat dedukuh baru itu. Oleh karenanya Ki Kuwu gelisah dan menangis hingga jatuh sakit. Ia seorang santri gunung Jati menitipkan sebuah tas karena ia mau menghadapi kepada Syekh Nurjati. lalu Rarasantang masuk ke kamarnya. Cakrabumi memanggil kumpul semua tetangga berniat mensucikan jenazah . antara lama kemudian ada seorang santri datang mampir di rumah Ki Kuwu. Tas dibuka.” Sang putri menjawab: “Sungguh tas itu berisi tirta nur. tas diterima sudah Ki santri meneruskan perjalanannya. 9. tas titipan santri yang berisi cupu tirta nur sekarang diminta oleh Kanjeng Nabi Muhammad dan aku diberi wejangan Sahada Mutaakhirah. Lalu isinya diminum oleh Rarasantang hingga habis. Setelah tamat Jeng Nabi berkata: “Hai Kaki Tua. harap ayahanda mengetahuinya. akan tetapi cupu itu isinya sudah saya minum. ini tas simpanlah yang baik. memberi nama Dukuh Cirebon. Pada tahun itu juga Mantri pepitu memanggil kumpul rakyat Dukuh Cirebon untuk memilih seorang pikuat/Kuwu Dukuh Cirebon. tas yang berisi tirta nur/air cahaya supaya dibawa sekarang. Mantri pepitu menetapkan Ki Gedeng Alang Alang yang jadi Kuwu dukuh Cirebon dan Ki Cakrabumi sebagai wakilnya. DUKUH CIREBON Syahdan Ki Gedeng Alang Alang sudah masyhur sebagai Kuwu Cirebon. segera terjaga menggerayangi sesuatu. lalu cupu ditutup kembali dan disimpan. ada seorang santri gunung Jati menitipkan tas ini.” Ki Kuwu kebingungan sekali takut kepada Rasulullah dan kepada santri yang empunya tas itu. setelah usai Ki Mantri pepitu lalu pulang kembali ke Palimanan untuk memberi laporan kepada Ki Dipati Palimanan.

hanya sebagai pengguron/pesantren. berkumpul lebih suhud. Cakrabumi mengumumkan barangsiapa yang mau turut mengurusi dan mengeduk kuburan akan diganjar tiap orang uang sebaru/35 sen dan nasi sebungkus dengan lauk pauk sepepes ikan. seperti Ampeldenta. Orang banyak berkata satu sama lain mufakat yang meneruskan jadi Kuwu Cirebon ialah Cakrabumi ditetapkan sebagai Kuwu Cirebon. Orang-orang Budha para tetangga sangat heran sekali melihat kejadian jenazah Kaki Tua yang telah masuk Islam. Akan tetapi jenazah Kaki Tua itu lenyap tanpa bekas hanya tinggal bungkus putihnya saja dan berbau harum sekali. . bergelar Pangeran Cakrabuana.” Lalu para tetangga yang masih Budha pada tertarik masuk Islam turut sarengat Jeng Nabi Muhammad. NAIK HAJI Cakrabumi sudah masyhur sebagai Kuwu Cirebon.Ki Gedeng Alang Alang sebagaimana cara bangsa Islam. namun tidak ada paksaan dalam memeluk agama. /Sedangkan Demak diakui sebagai sebuah desa oleh Majapahit baru pada tahun 1478 M. ialah agama resmi adalah Islam. Segera para tetangga mau turut mengurus mematuhi perintahnya Cakrabumi karena ada ganjarannya. sebakdanya lalu dikubur. 10. Terlaksana sudah jenazah Kaki Tua disalatkan. pada tahun 1447 M. dan bebas beragama pada tahun 1447 M. Daerahnya diakui sebagai sebuah desa oleh negara berdaulat Rajagaluh. Sebakdanya kubur para tetangga dihidangi makan semua. Cakrabumi mengumumkan: “Barangsiapa orang yang mati Islam niscaya seperti demikian itu lebih sempurna patinya pula yang turut membantu niscaya mendapat berkah orang yang Islam. Rakyat Cirebon kebanyakan sudah Islam/permulaan ada pemerintahan Islam di pulau Jawa. Gresik dan Krawang. Adapun para tetangga seorangpun tidak ada yang mau mendekatinya karena memakai cara bangsa Islam. Lain-lain daerah adalah bukan pemerintahan.

Cakrabuana namanya. Tidak antara lama kemudian ada hawatif/suara tanap rupa terdengar: “Sesungguhnya jodoh anda sekarang berada di Mekah!” Sanga Sultan ingat kepada wangsit segera kiyan Patih Lamalulail dipanggil . Syekh Nurjati. Antara sepekan Cakrabuana dan sang adik disuruh naik haji ke Baitullah dan dibawakan surat untuk Syekh Bayan dan Syekh Absullah di tanah Mekah. oleh karena engkau sudah terlaksana membangun desa Cirebon dan masyarakat sudah banyak turut mengamalkan/memeluk agama Islam. Penghulu dan Bupati sentana mantri kumpul semua di hadapan Sang Sultan. Cakrabuana dan Rarasantang diberi wejangan ilmu sarengat. Sekarang engkau dan adik engkau pergi be’atlah kepada Syekh Maulan Ibrahim. Syekh Nurjati berkata: Somadullah. patuhilah perintah Guru.” Cakrabuana menjawab: “Hamaba adalah santri gunung Jati. Ki Syekh segera berkata: “Hai orang muda. Segera memanggil sang istri dan sang adik untuk bersama menghadap kepada sang Guru. tarekat. Cakrabuana dan Rarasantang merasa senang bermukim di Mekah pagi dan sore mengaji Qur’an dan Kitab. Permohonannya ditetima lalu Ki Ayekh memberi wejangan tarekat satariyah kepada putra berdua itu berikut semua ilmu tarekat. Mohon sih kemurahan Allah siang malam tekun dzikir memuji kepada Ilahi menjernihkan cipta. segera mohon pamit. di negara Campa. datang sudah di hadapan Syekh Maulana Ibrahim. terus pergi berlayar menuju negara Campa. BERTEMU JODOHNYA Diceritakan di negara Mesir Jeng Sultan Maulana Mahmud Syarif Abdullah sedang diseba/dihadap oleh seluruh para pejabat pemerintahan.” Cakrabuana mengucap sandika (siap menjalankan perintah Guru). Jeng Sultan lama bermuram durja setelah wafatnya Sang Permaisuri. datang sudah di hadapannya. Patih. Antara lam kemudian mereka berdua datang sudah di hadapan Syekh Bayan dan Syekh Abdullah menerimakan sepucuk surat dari Sang Guru Maulana Ibrahim. hakikat dan ma’rifat. 11. Syekh Bayan bersuka cita. Fardhu hamba mohon be’at tabaruk Jeng maulana.Ki Kuwu bersuka hati desanya sudah luas/besar. anda siapa menghadapku dan apa kehendaknya. pada akhirnya kelak menjadi negara besar dan jadi tempat berkumpulnya para Wali. Rarasantang adik hamba.

000 ringgit. meneruskan perjalanan dengan diiringi wadya/pengiring empat puluh orang berlayar mengendarai kapal. Jeng Sultan berkata: “Hai Paman Patih. mendapat karya atau tidak?” Ki Patih menjawab: “Brekah Dalem . Cakrabuana.” Ki Patih berkata: “Kalau disetujui dan semufakat ahlinya itu putri Jawa akan dipinang oleh Jeng Sultan Mesir. karena waktu haji anda pergilah ke Mekah.” . lelaki perempuan pada kumpul di Baitullah. turutlah kemauan Ki Patih. bawalah wadya empat puluh orang dan aku beri bekal 2. Tidak antara lama kemudian mereka datanglah di Jedah. Sang Sultan berkata: “Hai Patih. oleh karena memperoleh karya. lalu dikuntit lalu bertemu di rumah Syekh Bayan. di sana akan bertemu dengan jodoh anda. wangsit jodoh anda adalah Raja Islam.” Berkata Ki Syekh: “Ini adalah santri putri dari tanah Pejajaran orang pulau Jawa. ditemukan di rumah Ki Syekh Bayan di Mekah setelah usai haji.” Ki Syekh berkata: “ Hai bayi Rarasantang. Berkata Ki Patih: “Hai Syekh Bayan. berkumpul semua para pejabat di hadapan Sang Sultan. menurutlah kepada kamauan Ki Patih. selekasnya anda berangkat. karena sama rupanya dengan permaisuri Mesir yang sudah meninggal. Rarasantang namanya. Kebetulan waktu haji. ingatlah kepada impian anda. Kedua putra Jawa diberi pondokan dalam rumah Ki Penghulu Jamaluddin. semoga memperoleh seperti permaisuri almarhumah. itu santri perempuan yang punjul rupanya dari negara nama dan anak siapa. Ki Patih dan rombongan lalu mendarat meneruskan perjalanannya menuju ke Mekah. dahulu anda aku utus. Pada suatu hari Sang Sultan sewaka. Antara lama buburan haji Ki Patih melihat seorang perempuan yang cantik sekali menggungguli orang senegara. serupa dengan permaisuri paduka yang telah wafat. Segera turut rombongan Ki Patih yang bergembira sekali. adik dari Cakrabuana. Lalu mereka berlayar menuju Mesir. carilah seorang perempuan yang pantas untuk jadi permaisuri. karena sekarang sudah lebaran haji. Rarasantang namanya. supaya hari ini juga turut bersama kami ke Mesir. Ki Patih dan Ki Penghulu tidak ketinggalan hadir. fardhunya mengaji dan menetapi fardhu haji. harap jangan menghalangi. Ki Patih dan rombongan turut beribadah haji.menghadap. dan sekarang ditempatkan di rumah Ki Penghulu Jamaluddin. Menghindar dari hadapan Sang Sultan. datang sudah di praja Mesir.” Kiyan Patih mengucap sandika. berhasil. Putri Pejajaran pulau Jawa bersama saudara tuanya Kaki Cakrabuana.” Cakrabuana dan Rarasantang mematuhi perintahnya sang Guru.

lalu H. namun seyogya Paduka tanyai pribadi karena adik sudah baligh.” Jeng Sultan berkata: “Hai Rarasantang.” Jeng Sultan sudah selesai berdamaian dengan Dewi Rarasantang. lindu/gempa. Malah disaksikan oleh ketug/bebunyian alamiah.” Berkata Jeng Pangeran Cakrabuana: “Duhai Gusti melainkan menyetujui. datang sudah Jeng Sultan melihat kepada putri Jawa setuju sekali. sekarang aku memintanya untuk permaisuri. kalau saya dikaruniai anak lelaki Waliyullah yang punjul (unggul) sebuana. ini destar harap kakak terima.Sang Sultan berkata: “Hai Penghulu.” Karenanya Jeng Sultan hatinya gembira. Segera sang putri didekati dan berkata: “Hai putri Jawa. Adapun sebakdanya nikah Jeng Sultan meninggalkan mesjid bersama permaisuri putri Jawa. sekarang . mirip dengan permaisurinya yang telah meninggal. aku akan tanyanya sendiri. Cakrabuana segera sudah menikahkan Sang Sultan dengan Sang Adik. Abdullah Iman. anda akan dimuliakan sebagai mustikanya kraton. Sang Sultan berkata: “Hai kakak Abdullah Iman. dan pula harap menjadi tahu kakak dan para wadyaku. pada tahun 1447 M. Tidak lama kemudian ada terdengar hawatif: “Sesungguhnya itu perempuan pasti jodoh anda dan punya anak lelaki Waliyullah yang punjul sebuana.” Jeng Sultan anggleking manah/hatinya masghul. lekas putri Jawa suruh datang di Masjid Tursina. insya Allah terkabul sekehendak anda. oleh karena aku suka kepada adik anda Rarasantang. saya ridho. lalu Penghulu sekaumnya dipanggil karena Jeng Sultan akan nikah. bungkam tidak bisa bicara. Aku muji syukur kepada Allah. pusaka dari Rasulullah. siapa nama anda dan saudara anda siapa?” Saya menjawab: “Rarasantang nama saya.” Ki Penghulu secepatnya membawa kedua putra Jawa ke dalam Mesjid Tursina. saudara saya Abdullah Iman namanya. mohon pertolongan. Gunung Tursina hingga bergerak tanda dibenarkan/dikabulkan kehendak Jeng Sultan. Ki Penghulu bergembira.” Rarasantang berkata: “Saya terima sekali kehendak Paduka. setuju tidak kalau jadi permaisuri Mesir. 12 AKAD NIKAH Sudah selesai olehnya berdamaian. Ki Patih bersuka ria sewadya pada kumpul. Segera mengheningkan cipta menyerahkan persoalannya kepada Yang Mahakuasa . segera berkata: “Rarasantang. geter/gerak alamiah. Jeng Sultan berkata: “Hai Haji Abdullah Iman. tiga puluh depa. Abdullah Iman menghadap Sultan. Setelah berada kraton Jeng Sultan sewaka mengundang saudara ipar tua H.

. adapun sang adik Syarifah Mudaim sudah mengandung tiga bulan. Syarifah Mudaim. segera mohon pamit meneruskan perjalanannya mampir kepada Jeng Sultan Aceh.Dewi Rarasantang diganti namanya dengan nama H. Bayanullah pulang dari Aceh mampir di Palembang. Sang Permaisuri sudah cukup bulannya untuk bersalin. Abdullah Iman memberi tahu. cahayanya meredupkan cahaya matahari. seterusnya H. Jeng Sultan memberi izin dan memberinya pesangon 1. Cakrabuana lalu mohon pamit pulang kembali ke Jawa. Segera sudah berangkat diiring wadyabala dua ribu orang berlayar mengendarai kapal datang sudah di Jidah. Antara 60 hari kemudian rombongan Jeng Sultan. dan mohon izin mau pulang ke Jawa. 13. datang sudah ia di Cirebon. Permaisuri dan putra berlayar pulang kembali datang sudah di negeri Mesir. H. Abdullah Iman antara setengah tahun lamanya. ZHAHIRNYA WALI KUTUB Diceritakan di negara Mesir Jeng Sultan Syarif Abdullah dan permaisuri Syarifah Mudaim sudah mengandung tujuh bulan pergi ziarah ke mekah dan Madinah. Jeng Sultan gembira sekali. Adapun antara hari bulan Mulud tanggal 12 Bakda Subuh Syarifah Mudaim melahirkan seorang jabang lelaki yang elok sekali. diberi nama Syarif Hidayatullah. bahwa Rarasantang sudah diperistri oleh Jeng Sultan Mesir. Setelah selesai ziarah kemudian mereka pulang kembali ke Mekah. Abdullah Iman segera pulang terus berjalan mampir di Mekah menuju kepada sang Guru Syekh Bayan dan Syekh Abdullah sudah pada berjumpa.000 dirham. Seluruh masyarakat desa Cirebon pada kumpul dan bersuka ria menerima kedatangan Ki Kuwunya. dirubung oleh para Ulama dan para mukmin. Ki Syekh Bayan memberinya nama Bayanullah. Cakrabuana mengucap terima kasih. H. Antara sebelum lamanya. Kemudian antara tiga bulan lamanya Bayanullah pulang dari Palembang menuju ke gunung Jati. Abdullah Iman meneruskan memangku jabatannya sebagai Kuwu Cirebon. lalu dibawa tawaf di Baitullah.” Cakrabuana mengucap terima kasih dan destar diterima. datang sudah Sultan dan rombongan di hadapan kubur Jeng Nabi Muhammad Rasulullah. karena Syekh Abdullah kala waktu dulu sudah memberinya nama Abdullah Iman. Lalu menuju ke Mekah dan meneruskan perjalanan ke Madinah. bertepatan pada tahun 1448 M.

Syarif Kafi dan Syarifah Baghdad mengikuti tingkah lakunya saudara tua. Siang malam membopong anjing. menjadi sebuah negara beragama Islam. Setelah wafatnya Jeng Sultan lalu Patih Jamalullail/Patih Ongka Jutra dilantik sebagai Pejabat Sultan Mesir memolmaki/mewakili Syarif Hidayatullah selama belum dewasa. namun tetap tidak ada paksaan dalam memeluk agama. tidak makan karena sedang majnun bilahi Ta’ala (cinta rindu mabuk kepayang kepada Allah s. karena sang putra. Adapun saudara-saudara mudanya.). PANGERAN PANJURAN Diceritakan di Baghdad (ibukota Irak) Sultan Maulana Sulaiman sudah lama bersedih hati. Setelah membangun kraton Ki Kuwu Cakrabuana bergelar Sri Mangan (Cirebon sejak tahun 1454 M. ialah Syarif Abdurrahman. Setelah datang kepada waktunya lalu lahirlah seorang jabang lelaki pula dan diberi nama Syarif Nurullah pada tahun 1450 M. Keraton Pakungwati diperlebar dan diperbesar pada tahun 1479 M. Pada suatu hari Jeng Sultan Sulaiman sewaka . Pula di sebelah timurnya dibangun sebuah tajug jami’ di pinggir pantai disebut kampung Grubugan/Sitimulnya).Antara tahun Syarifah Mudaim mengandung lagi. Kemudian Ki Kuwu membangun kraton disebut kraton Pakungwati pada tahun 1452 M.t. Antara tahun istrinya yang kedua mengandung. 15. Abdullah Iman. Antara dua bulan lamanya Syarif Abdurrahman tidak tidur. 14. tidak mengindahkan batal haram. Syarif Abdurrahman bertentangan dengan serengat agama Islam. DIBANGUNNYA KRATON PAKUNGWATI Diceritakan Ki Kuwu Cirebon H. Kepala negaranya adalah Pangeran Cakrabuana yang bersemayam di kraton Pakungwati.w. Tidak antara tahun Jeng Sultan Syarif Abdullah wafat. istrinya Dewi Indangayu sudah melahirkan bayi perempuan diberi nama Ratu Mas Pakungwati. setelah datang pada waktunya lalu melahirkan seorang bayi lelaki diberi nama Pangeran Carbon pada tahun 1454 M. gegembyungan/menabuh trebang di jalan-jalan bersama penganut-penganutnya. diakui oleh Prabu Siliwangi Pejajaran sebagai Sri Mangan/Prabu Anom).

kalian siapa dan apa kehendaknya datang di hadapanku?” Menjawab sang putra Syarif Abdurrahman: “Hamba sekalian adalah sungguh dari Baghdad hendak berguru kepada Jeng Maulana Syekh Nurjati dan mohon diizinkan hamba sekalian akan mukim di Cirebon/Jawa. Adapun Syarif Abdurrahman berlaku tinggal adat bukan adat yang lumrah. Jeng Sultan berkata: “Hai Abdurrahman. Segera mohon pamit meneruskan perjalanan. Syarif Abdurrahman tidak mematuhi perintah Sang Ayahanda. mematuhi perintah gurunya. Keempat putra mohon izin akan menghadap kepada Ki Kuwu Cirebon. karena aku adalah menjabat sebagai Sultan penetap panata agama (Sultan yang berkuasa atas agama dan politis). jangan suka bertentangan dengan serengat agama Islam. Adapun Syarif . Semua para pejabat pemerintahan kumpul pula sang putra lelaki bertiga sudah berada di hadapannya. sempurna ilmu engkau. bermukimlah di Cirebon. Ki Kuwu lebih kasih sayang. putraku buanglah adat yang buruk. Syarif Abdurrahman menuju ke gunung Jati. Lalu meneruskan perjalanannya datanglah sudah di desa Cirebon. Oleh karenanya Jeng Sultan murka. datang sudah di pinggir pantai. Syekh Junaid berkata kepada Syarif Abdurrahman: “Engkau jangan berkelana ke lain negara. keempat putra itu lalu memberi hormat. diusir keluar dari negara Irak. bergurulah kepada Syekh Nurjati yang berada di gunung Jati dan engkau jangan syak dan ragu kepada apa yang aku wejangkan sebagai guru engkau. menujulah ke pulau Jawa. Sang adik Siti Baghdad dan Syarif Abdurrahman disuruh mengendarai kapal kepunyaan ayahandanya. empat kapal yang diminta.(jumpa pejabat-pejabat pemerintahan). pada akhirnya mereka datang sudah di Cirebon. keempat putra sudah diberi pemukiman di sebelah utara. yang dari empat buah kapal itu berjumlah 1.” Sang putra mengucap terima kasih.200 orang. sang putra sangat dimarahi. Semuanya ada kapal empat buah segera berlayar empat orang putra itu menuju ke pulau Jawa. bahkan bertambah meningkat ulahnya yang tidak wajar. Sudah selesai olehnya memuat. Syarif Abdurrahman menghindar sudah dari hadapan Sang Sultan. Segera Ki Syekh Nurjati berkata: “Hai para putra. yang tetap zhahir batin. selesailah sudah olehnya mereka berguru. Syarif Abdurrahman telah membangun sedukuh/pemukiman semua wadyanya disebar. kapal satu putra seorang. Keempat putra dan rombongan lalu naik ke darat.” Ki Syekh sudah memberi wejangan ilmu hak. Satu kapal memuat tiga ratus orang. Syarif Abdurrahman sudah bertemu dengan Ki Kuwu Cirebon.

a. bahkan sudah turun ke-22 kepada anda. Jeng Sultan Mesir yang berkata: “Hai adik . Adapun Syarif Abdurrahman yang menjadi ayunaning orang/pemimpin dan membikin barang-barang keramik dari tanah liat disebut Pangeran Panjunan. hendak dicari di mana adanya. pula dukuhnya/pemukimannya disebut dengan nama Kejaksaan.w. Siti Baghdad yang berdiam di gunung Jati siang malam memberi wejangan kitab Qur’an kepada masyarakat.Kafi. segera mohon pamit meneruskan perjalanannya pada tanggal 5 bulan Jumadilawal tahun 1466 M. janganlah anda cari yang bangsa tiada. hingga sungguh-sungguh berkehendak berguru kepada Jeng Rasulullah. seyogyanya anda tahu Jeng Rasulullah sudah tiada. para ulama yang anda pilih yang anda sukai. pembesar-pembesar Jepura semua tunduk. mohon izin akan berguru kepada Jeng Rasulullah. datang sudah di hadapannya. Antara malam mimpi bertemu dengan sang suami almarhum. disebut Syekh Datuk Kafi. Jeng Maulana sudah menerima/menangkap surasaning/tersiratnya kitab yang dibaca itu.” Jeng putra memaksa tidak kena ditahan. walaupun menurut kabar dan kenyataannya Jeng Rasulullah sudah tiada tetapi Gusti Allah lebih kuasa dan yang bangsa rohaniah itu adalah abadi tidak berubah. pula pemukimannya disebut dukuh Panjunan pada tahun 1464 M. Sang Ibunda lalu merangkulnya dan berkata: “Mas sayang putraku. Jeng Ratu Rarasantang. Jeng Maulana segera keluar dari gedung perpustakaan itu menghadap kepada ibundanya. 16. Adapun Jeng Pangeran Panjunan yang diamalkan itu adalah ilmu hakiki dan setauhidan. Sang Ibu menangis gelisah ditinggal oleh sang putra. Diceritakan di negara Mesir Sang Raja Putra Hidayatullah sedang sendirian dalam gedung peminatan/gedung perpustakaan membaca kitab Usulkalam yang sangat terperinci/halus. Di antara mereka telah berkarya sebuah bangunan mesjid di Jepura. SYARIF HIDAYATULLAH BERTEMU DENGAN JENG NABI MUHAMMAD s. Adapun Syarif Abdurrahman menjabat sebagai jaksa untuk mengurus agama dan drigama (urusan duniawi) karenanya disebut Pangeran Kejaksaan. Segera berkata: “Duhai ibu. Adapun semua wadyabala Baghdad (pengikut-pengikut keempat orang putra itu) sudah menetap di berbagai tempat tanah Pasungan. Baik bergurulah kepada para Awliya.

Ki Pendeta gembira. Jeng Maulana mematuhi perkataan Naga. bisanya menyala-nyala seperti api menghadapi perjalanan Jeng Maulana sambil berkata: “Hai orang muda. Hidayatullah namanya. masuk hutan keluar hutan. berkeinginan hendak berguru kepada Jeng Rasulullah dan engkau Naga apa tidak sama dengan sesama engkau dan engkau bisa berkata bahasa manusia. hanya kebingungan di jalannya. Tak lama kemudian datanglah Jeng Maulana. asal dari neraka kalawaktu jaman Nabiyullah Sulaiman dan engkau jangan terus ke Mekah dan Madinah karena Jeng Rasulullah sudah sirna sempurna. baik anda berdualah kepada Allah. berkeinginan hendak berguru kepada Jeng Rasulullah. Tidak antara lama kemudian ada datangnya Nata Ular Naga yang besar sekali menghadangi di perjalanan.” Sang Naga mengucap: “Saya ini namanya Yamlika. yang percaya kepada Allah. bagaimana daya upaya anda?” Jeng Maulana berkata: “Hai . kalau diterawangkan mengetahui yang gaib dan berkhasiat seluruh obat-obatan walaupun sudah mati bisa hidup kembali. Ki Pendeta gemetar sambil berkata: “Hidayatullah. berjalanlah ke arah barat menuju pulau Mejeti dan ini cupu manik waris engkau terimalah. Segera pamit meneruskan perjalanannya ke arah barat lebih mantap kehendaknya serah diri kepada Allah Yang Mahakuasa. segera berkata: “Hai orang muda. oleh karena dahulu anda ingin mempunyai putra Waliyullah yang punjul sebuana. baik kita pada ziarah ke kuburnya Nabiyullah Sulaiman di pulau Maceti. hendak ziarah.” Jeng Maulana menuruti kehendak Pendeta ziarah bersama kepada kuburnya Nabiyullah Sulaiman. engkau siapa dan apa kehendak engkau makanya berjumpa denganku di sini?” Jeng Maulana berkata: “Hai Naga. aku sungguh putra Mesir.” Syarifah Mudaim ingat kepada mimpinya lalu bertobat kepada Allah tekun memuji.Syarifah Mudaim. mudahmudahan putra anda karena inilah lantarannya menjadi punjul (unggul). kalau engkau sungguh-sungguh. Diceritakan Jeng Maulana Hidayatullah yang sedang berjalan naik gunung turun gunung. Tidak antara lama lalu bertemu dengan Nagasaka yang besar sekali. siapa anda bertemu denganku di sini dan apa keinginannya?” Berkata Jeng Maulana: “Saya putra Mesir. terus berjalan. Diceritakan Ki Pendeta Ampini sedang berada di pinggirnya pulau Maceti.” Berkata Pendeta: “Apa anda belum mengetahui kepada kabar bahwa Nabi Muhammad itu sudah sirna sempurna berabad-abad.” Cupu diterima sudah. ikhlaskanlah.

yang dikehendaki itu adalah cincin Maklumat Jeng Nabi Sulaiman. Setelah bertobat lalu meneruskan perjalanan berjumpa dengan seorang petapa yang di sisinya ada sebuah kendi pertula. merdeka mulia negaranya. Kendi segera mengucap: “Tuan pasti menjadi Nata/Raja keturunannya.” Sang Tapa membalas: “Wallahu a’lam. Ki Pendeta bersuka cita. tidak berani mengadu biru selamat dari bahaya. namun saya minta air susu tumbal/penolak bisa dan rahayu dari bahaya.” Lalu kendi segera terbang ke angkasa pulang kembali ke asalnya. saya ingin minum. banyak longok.” Kendi Pertula berkata lagi: “Saya kelak mengabdi kalau Tuan sudah jadi Raja. tidak berubah.” Jeng Maulana berkata: “Hai kendi pertula. akan tetapi tidak sampai terus. kalawaktu turun jamannya Nabiyullah Nuh. terlaksana sebanyak ular. tatkala saya memulai betapa. Segera meneruskan perjalanannya bersama Ki Pendeta. Jeng Maulana dan Ki Pendeta telah datang di hadapan kuburnya Jeng Nabiyullah Sulaiman. Keng Maulana terlempar ke angkasa hingga jatuh di puncaknya sebuah gunung.sang Naga sumingga sumingkira/harap minggir memberi jalan aku sungguh putra Mesir dan hendak ziarah ke Nabiyullah Sulaiman. tidak antara lama lalu ada gelap seribu menyambar.” Kendi menjawab: “Saya kendi asal dari surga.” Kendi lalu diminum kembali hingga airnya habis. Pratula berkata: “Selanjutnya negara Tuan abadi tidak terjajah. diselang/direbut hingga terjajah. Cepat Jeng Maulana mengambil lawe itu dari telinganya Sang Nata Ular. saya izinkan. engkau siapa yang mempunyai milik. Jeng Nabi Sulaiman memberi sasmita jari penunjuknya bergerak. karena kemurkaan Nabiyullah Sulaiman Jeng Maulana merasa mati. Jeng Maulana lebih hormat dan khidmat. semoga terlaksana. Jeng Maulana merasa terang benderang. Ki pendeta remuk hancur sirna sudah. karena saya ingin minum.” Jeng Hidayatullah menjawab: “Iya. kendi itu sudah ada. itu kendi milik siapa. seluruh yang gaib terlihat dan tubuhnya . tetap. lalu kendi diletakkan. Sang Naga lalu mabuk lalu menggelundung di tanah ternyata keluar dari telinganya sesuatu seperti lawe/kanthe.” Jeng Maulana dan Ki Pendeta lalu mencari air susu mendapat sekaleng besar kemudian air susu itu diminumkan sudah. setan. Jeng Maulana berkata: “Hai Sang Tapa.” Sang Naga berkata: “Hai orang muda. jin. iya Tuan yang empunya milik.” Lalu kendi airnya diminum tidak sampai habis. Segera Jeng Maulana bertobat kepada Allah oleh karena menemani orang yang berlaku durjana.

merasa sehat segar dan berbau harum. Sang . anda seyogya mohon pertolongan. malaikat. Jeng Nabi Ilyas berkata: “Aku tuduhkan anda. lalu dimakannya hingga habis. Jeng Maulana segera menghaturi bakti hormat. disuruh bonceng bersama mengendarai kuda. akan tetapi Jeng Maulana tidak mau menerimanya. tidak lama kemudian dihadang oleh seorang lelaki ingin mengabdi pula dan mendengar suara di angkasa yang indah merdu sekali. jin. sebagai pangruwating penangkal badan/tubuh. berwatak kalau dipakai seperti Malaikat. Tidak lama kemudian ada datangnya Nabiyullah Ilyas. Diceritakan ada seorang perempuan yang punjul sebuana ingin mengabdi. Segera terbang ke angkasa melerep seperti kilat dan pada akhirnya telah datang di Ajrak. Jeng Maulana tidak mau menerimanya. dan mengetahui seluruh bahasa sebanyak barang kumilik. Jeng Maulana mengucap terima kasih. Jeng Maulana mengucap terima kasih. di dalam air tidak basah. api tidak mendatangkan panas. Jeng Maulana meneruskan perjalanannya lalu ditimpa oleh gelap gulita merasa menderita sekali karenanya. Segera meneruskan perjalanannya. Berkata Nabiyullah Ilyas: Terimalah baju ini. setan. Jeng Maulana disuruh turun. Jeng Nabi Khidhir lalu memberinya sebuah buah-buahan yang hijau dari surga. manusia. karena mengetahui dari godaan ratu dunia. Jeng Maulana mematuhi lalu mohon pamit meneruskan perjalanannya datang di sebuah puncak gunung. Jeng Maulana segera sungkem menghaturi bakti hormat. segera cincin Merbun diberikannya yang berwatak terang yang bangsa gaib dan tujuh langit tujuh bumi terlihat terang nyata dan bisa memuat seluruh isi alam. lalu mohon pamit meneruskan perjalanannya. Tidak lama kemudian datanglah Nabiyullah Khidhir mengendarai kuda sembrani. bisa memasuki barang keras/padat tanap berlubang. lebih nikmat sekali dan keluar cahaya nurbuat teja kuwung-kuwung (seperti cahaya pelangi). Sang Petapa terheran-heran tidak disangka bahwa sebuah kendi bisa berkata seperti manusia dan bisa terbang di angkasa. Sang Petapa ingat kepada sasmita.” Baju sudah diterima dan dipakai sambil mengucap terima kasih. dari khasiatnya buah-buahan tadi dan berkahnya menurun hingga tiga turunan. sekarang naiklah di puncak sebuah bukti berjumpa dengan seorang lelaki yang mengendarai kuda. oleh karena mengetahui bahwa mereka itu adalah ratunya setan sewadiyanya ingin menggodanya. Jeng Maulana mohon petunjuk semoga lekas berhasil apa yang dikehendaki Jeng Nabi Khidhir suka menolongnya. hewan dan bangsa angin pun mengerti bahasanya semua. kalau bepergian hanya sekecap mata.

” Buah-buahan sudah diterima lalu dimakan hingga habis. semoga Eyang berkenan memberi petunjuk. seribu khasiat.” Sang Prabu berkata sambil senyum: “Kurang seantara waktu lagi akan bisa bertemu dan buah-buahan pemberian Malaikat. Sang Prabu lalu memanggil Kiyan Patih Osad Asid: “Ini cucuku bawalah ke Damsik (ibukota negara jin Islam Ajrak). berkahnya menurun hingga sembilan turunan. masukkanlah di dalam mesjid Mirawulung. apa yang dikehendaki datang di hadapan Eyang/Kakek?” Berkata Jeng Maulana: “Cucunda hatur bertahu. Para Anbiya dan para Malaikat yang berjumpa semua diuluki salam. Jeng Maulana uluk salam.Maulana lalu turun datang di kraton Ajrak bertemu di hadapan Sang Prabu jin Islam Abdullah Safari. Jeng Maulana hingga pingsan karena nikmatnya. Jeng Maulana lalu naik ke langit ketiga. sedunia tanpa tanding. Setelah Jeng Maulana mendengar suara yang mengawang lalu menengadah ke langit melihat langit sudah terbuka.” Segera Sang Maulana dibawa di dalam Masjid Mirawulung. Jeng Maulana dirangkul lalu duduk sejajar. Tidak antara lama Jeng Maulana terjaga merasa lain jaman. Jeng Maulana terharu nikmat tiada lain yang terlihat hanya cahaya yang lebih agung laksana meliputi tujuh dunia. waktu mi’rajnya Jeng Maulana Hidayatullah. datang sudah di dalam langit yang pertama.w. Jeng Maulana bercakapcakap dengan semua arwah dan pada menduakan semoga lekas terlaksana maksudnya. bahagia sekali anda bertemu di sini. Jeng Maulana terus naik ke langit ke enam. Jeng Maulana lalu sujud. Maka lalu ada . Jeng Maulana segera semedi mengheningkan cipta menyerahkan diri kepada kehendak Ilahi. seribu nikmat. Jeng Maulana segera telah datang di langit ke enam. Tidak lama kemudian ada terdengar suara: “Hai bahagia sekali engkau orang muda diridai oleh Allah naik ke langit hingga tingkat enam bertemu/terlaksana kemauan engkau dengan Nabi Muhammad s. seribu rahmat laksana lenyapnya papan dengan tulis. melihat para arwah orang-orang yang mati sabil dan orang-orang yang ahlul makrifat. para Malaikat pada melambai-lambai. Jeng Maulana segera terbang. bermaksud sungguhsungguh berguru kepadanya. sesungguhnya saya sedang mencari Jeng Rasulullah.a. Berkata Sang Prabu: “Ya bahagia datangnya cucuku.” Kala waktu 28 Rajab. dibalas oleh semua para Malaikat dan semua para Malaikat itu bertindak menggembirakan Jeng Maulana. Prabu gembira sekali. rasanya seribu nikmat. mereka bergembira sekali memuji syukur kepada Allah. tahun 1466 M.

kalawaktu nisfu Sya’ban pada tahun 1466 M. lalu datang di hadapan Ibundanya. zakat fitrah. Tidak lama kemudian datanglah sudah Insankamil di Kraton Mesir. Geger orang senegara bersuka ria setelah datangnya Jeng Maulana Insankamil. tidak ada aku ya adanya anda. syahadat. Insankamil turun dengan mengendarai awan putih datang sudah di Kraton Ajrak. Jeng Maulana Insankamil sudah menceritakan dari awal sampai akhir pengalaman perjalanannya yang berhasil itu. tidak adanya Nabi ya adanya aku Wali Kutub. Setelah usai olehnya wejang. bahkan tidak ada wujud dua. karena rindu sekali. puasa. Jeng Nabi Muhammad memberi wejangan sejatinya syahadat yang bangsa lathifatusirri. Kiyan Patih. Segera dirangkul-rangkul oleh Sang Ibu. naik haji bagi orang yang kuasa di jalannya dan patuhilah apa yang tersebut dalam Qur’an dan ingat anda janganlah mengunggul-ungguli menghebat-hebati yang tanpa amal kebajikan dan anda bergurulah apa adat biasa di dunia. yang benar lakunya nasihati hati-hati yang sejatinya. menjabat sebagai Wali Kutub sebagai Wakil mutlakku. Tidak antara hari Insankamil mohon pamit meneruskan perjalanannya mengendarai mahligai emas diiringi oleh jin Islam sedonasi (80 orang) dan Patih Osad Asid turun serta. Sang Prabu bertemu di hadapan dan bergembira sekali.” Jeng Maulana mengucap terima kasih atas apa sih pemberian Rasul. dibahas oleh semua para anbiya dan semua para malaikat. sujudlah kepada Yang Qadim!” Jeng Maulana mendengar suara itu lalu mengangkat kepalanya ke atas melihat kepada Hak yang sesungguhnya. Insankamil lalu mohon pamit. JENG MAULANA INSANKAMIL NAIK HAJI Antara sebulan lamanya bakda bulan puasa Maulana Insankamil mohon izin dari ibundanya akan pergi ke Baitullah dan ke Madinah untuk mengamalkan . 17. Ki Penghulu dan Bupati sentara mantri pada menghadap menghaturkan selamat datang. dan anda gelarkanlah agama Islam. salat. dihormathormat. Insankamil sudah pamit uluk salam. segera turun ke langit kelima terus hingga langit pertama. Jeng Nabi berkata: “Aku beri anda gelar Insankamil. sambil menangis.suara yang terdengar: “Janganlah anda sujud kepada sesama yang baharu. Alhamdulillah rabbil alamina dan tasbih. rukunnya lima perkara.

” Orang-orang Yahudi jadi terheran-heran ada pohon ditunjuk jadi emas. terimalah dirham 100 dari pemberian Jeng Ibu. selesainya dari mazhab Hanafi lalu mereka berguru kepada mazhab Hambali. karena sudah menjabat sebagai Sultan memangku negara. Tidak lama kemudian ada datangnya para begal (perampok) sembilan orang Yahudi. Orang sembilan itu lalu sujud tobat mohon diwejang ilmu keduniaan. sebakdanya haji itu lalu pergi ke Madinah. Jeng Maulana lalu memberi wejangan syahadat kalimah dua.” Para Yahudi itu menerimanya dengan berebutan. Seluruh para wadya dan rakyat Mesir semua bersuka ria karena Sang Gusti sudah menjabat sebagai Sultan. meneruskan perjalanannya datang sudah dalam hutan besar. kalau sudah mempunyai ilmu itu tentu senang.ibadah haji. Jeng Insankamil pergi seharian tidak mau dengan pengiring. Sang Ibunda mengizinkannya dan memberi bekal uang 100 dirham. tidak usah adang atau membegal. Ratu berkata: “Hai Putraku. Setelah selesai olehnya berguru Jeng Maulana segera kembali ke praja Mesir. Jeng Maulana dinobatkan menjadi Sultan Mesir Maulana Mahmud. Lebih aman pribawanya Awliya Allah Kutubijaman Khalifaur-Rasulullah s. berkah yang memberi wejangan sembilan orang Yahudi itu keluar keramatnya.a. Dalam pikiran Yahudi itu ini tentu mempunyai ilmu keduniaan. Jeng Maulana dan rombongan pada turut mengamalkan ibadah haji.w. pada tahun 1468 M. kamu menghendaki kepada dunia. 18. karena mereka akan menggumulinya lagi. pada akhirnya mereka datanglah sudah di tanah Mekah yang pada waktu itu sedang waktu haji. Jeng Maulana Insankamil segera meneruskan perjalanannya ke tanah Mekah diiring para Yahudi yang sembilan itu. Ibu sekarang menggugat perjanjian Ayahanda kelak kalau mempunyai anak lelaki yang . jadi sungguh-sungguh mereka bermaksud mengabdi kepada Maulana Insankamil. JENG MAULANA INSANKAMIL BERTOLAK MENUJU CIREBON DI PULAU JAWA. Sebakdanya ziarah kepada kubur Jeng Rasulullah lalu Jeng Maulana dan rombongan berguru di tanah mazhab Hanafi. apa kamu belum merasa cukup. Maulana Insankamil berkata: “Hai orang Yahudi. Akan tetapi dalam pikiran para begal itu terlintas tentu ini masih banyak dalam kantongnya. ini ada lagi sebuah pohon emas bagilah di antara kawanmu. Jeng Maulana berkata: “Hai begal. Sejak itulah para Yahudi itu sudah Islam semua. Diceritakan Ibunda Kanjeng Ratu Syarifah Mudaim pada suatu hari mendekati Sang Putra Kanjeng Sultan Mahmud. selesainya mazhab Maliki lalu masuk guru kepada mazhab Syafii.

Syekh Nurjati berkata: “Selamat datang Maulana Insankamil yang jadi Khalifat-ur-Rasulullah.” Segera Syekh Nurjati memberinya wejangan tarekat sempurnanya ilmu hingga tamat semua. JENG MAULANA INSANKAMIL BERTOLAK KE AMPELDENTA . jadilah polmak/pejabat mewakili kedudukanku. segera mohon pamit meneruskan perjalanannya. namun pesannya bahwa Ibunda menyerahkan perkara ini kepada Pakde bagaimana seharusnya. serahlah anda kepada orang tuwa apa yang seharusnya dituruti perintah Ibunda. baik mohon berguru kepadany: “Jeng Maulana Insankamil mematuhi perintah Guru. Ki Kuwu bergembira sekali sambil merangkulnya.” Jeng Maulana segera berangkat dengan Ki Kuwu menuju gunung Jati datang sudah di hadapan Syekh Nurjati. Jeng Maulana Insankamil datang sudah di Cirebon. ananda tunduk. Jeng Ibu memberi izin lalu meneruskan perjalanan. sebaiknya Putra berguru dulu kepada Ki Syekh Nurjati yang berpengguron di gunung Jati. Ki Kuwu bertanya: “Hai Putra. sekarang serah negaraharap diurus dengan baik. nanti bagaimana kehendak. bibitnya Wali di pulau Jawa. digembirakan dan dihormat-hormat.bertindak mengislamkan orang sepulau Jawa dan para kerabat di Pejajaran. Segera Sang Kemenakan dibawa masuk ke dalam kraton Pakungwati. tidakkah Tuan yang sudah dimuliakan. disuruh berguru apa kebiasaan di dunia. hatur beritahu sungguh seorang putra Rarasantang. pada tahun 1479 M. Orang Cirebon setelah mengetahuinya geger bercerita satu sama lain dengan gembira sekali. sekarang sudah sedang waktunya seyogya datanglah di pulau Jawa menghadaplah kepada Pakde Kuwu Cirebon. Rama Guru. bagaimana yang dikehendaki.” Syarif Nurullah menyanggupinya. Berkata Syekh Nurjati: “Semoga Putra mau menghadap kepada Sunan Ampel di Ampeldenta. 19. saya mohon berguru kepada Tuan.” Berkata Jeng Maulana: “Menurut suruhan Rasul tidak boleh mengatas-atasi. segera memanggil Sang Adil Nurullah dan berkata: “Hai adik. Segera Jeng Maulana Insankamil mohon pamit. bagaimana Ibu Dalem dan Putra apa yang dikehendaki mungkin mengemban perintah Ibunda?” Menjawab Jeng Maulana Insankamil: “Sungguh ananda diutus oleh Ibunda disuruh menghaturkan sembah baktinya dan pula disuruh mengislamkan para kerabat di Pejajran.” Berkata Ki Kuwu: “Sekarang belum waktunya. kakak hendak mematuhi perintah orang tuwa bertolak ke pulau Jawa Cirebon yang dituju.

Sunan Undang dan Sunan Giri. Syekh Magrib. menurut suruhan Rasul.” Tidak antara lama datanglah Jeng Maulana Insankamil berteja kuwungkuwung (bercahaya pelangi di atas kepalanya). Sang Putra Sunan Bonang. nanti sebentar lagi akan ada datangnya Wali Kutub yang menjadi Khalifah Rasulullah. datang sudah di pinggir pantai. lalu ditunjuk menjabat Imam di Cirebon dan diridhai menggelarkan agama Islam mengislamkan yang belum Islam. namun saya lebih dhaif. Syekh Lemahabang. Syahdan pada suatu waktu Jeng Maulana Insankamil bertolak ke negara Cina. Jeng Maulana sudah selesai olehnya sabda guru. Jeng Maulana mendatangi tukang keramik pembikin piring panjang. karena sudah ada izin untuk menggelarkan agama Islam. Syekh Bentong. 20. Jeng Maulana meneruskan perjalanannya ke tukang bikin penimbal poci. Para Wali melihatnya dengan terperanjat. saya disuruh berguru bagaimana lumrah adat dunia. segera mohon pamit meneruskan perjalanannya. Pangeran Welang.” Jeng Sunan Ampel segera memberinya wejangan tarekat yang bangsa latifah. para Wali lebih hormat.Syahdan pada suatu hari Jeng Sinuhun Ampeldenta sedang sinewaka/dihadap oleh para murid. saya mohon berguru kepada Tuan. tidaklah Tuan yang menjabat Wali Kutub. seluruh para murid pada kumpul. Pangeran Drajat. bagaimana kehendaknya. Setelah tukang bikin poci masuk Islam Jeng Maulana meneruskan perjalanannya ke praja Tartar datang sudah di ibukota. tidak ada Nabi ya adanya Wali. Jeng Maulana mematuhi perintah Guru. derajatnya Wali yang punjul. JENG MAULANA INSANKAMIL BERTOLAK KE NEGARA CINA. bahkan empat negara sudah memeluk agama . Jeng Sunan Ampel berkata: “Hai adik Sunan Giri dan para murid semuanya harap menjadi tahu kalian. Jeng Maulana sementara waktu lamanya bermukim di sana terdengar oleh berbagai negara tetangga. Orang Tartar dan pembesar-pembesarnya berturut-turut berhasil diislamkan. Sudah pada bersalaman. Syekh Majagung dan Pangeran Makdum. Berkata Jeng Sunan Ampel: “Selamat datang Putra.” Berkata Jeng Maulana: “Betul perkataan Dalem. Setelah tukang keramik piring panjang itu masuk Islam. disangka Jeng Rasulullah.

lalu dikeluarkan menghadap sang Ayahanda. Berkata Jeng Maulana: “Hai Patih. Antara hari kemudian datanglah ia di negara Tartar dan bertemu dengan Jeng Maulana Insankamil lalu duduk sejajar.” Berkata Kiyan Patih: “Apakah anda pendeta yang mashur itu. tidak antara lama dantanglah Kiyan Patih. segera Kiyan Patih berlalu sudah dari hadapan Sang Raja.” Berkata Jeng Maulana: “Hai Patih harap anda terlebih dahulu nanti aku bertemu di dalam kraton tidak usah diiringkan. atau apakah mengandung sebenarnya. segera pulang kembali ke ibukota lebih dipercepat perjalanannya.” Kiyan Patih mengucap andika. Sang Putra perempuan di atas perutnya diletakkan sebuah bakor kuningan dihias sedemikian rupa hingga sang putri terlihat sebagai sedang mengandung.” Kiyan Patih mematuhinya. Kiyan Patih terheran-heran sekali bahwasanya Jeng Maulana itu telah datang terlebih dahulu.” Segera Sang Raja mengadakan percobaan. lihatlah putriku itu apakah ia mengandung oleh karena penyakit. siapa nama dan dari nama asalnya?”Dijawab: Dari pulau Jawa. Diceritakan Raja Cina yang sedang diseba. bahwa di negara Tartar ada pendeta baru termashur bijaksana waspada penglihatannya. Segera Sang Raja berkata: “Apakah itu orangnya pendeta baru di negara Tartar. itu anak anda mengandung karena kuasanya Allah . Jeng Maulana sudah berada di hadapan Sang Raja Cina. menurut khabar. selamat datang. perjalanannya dipercepat dengan mengendarai kuda. sekarang undanglah menghadap supaya bersama seperjalanan. Cirebon tempatnya.” Lalu membalas Jeng Maulana: “Hai Raja Cina.Islam. kalau kena penyakit apa obatnya. kalau mengandung dengan siapa. Berkata Sang Raja: “Hai pendeta muda. anda datang tergesa-gesa seperti ada keperluan yang penting. Diceritakan dalam kraton Sri Maharaja Ong Te ratu agung di negara Cina sedang diseba oleh seluruh para wadya (jumpa para pejabat pemerintahan). supaya selekasnya anda memberi petunjuk. Insankamil namaku. apakah nyata kebijaksanaannya?” Kiyan Patih berkata: “sungguh menurut kabar bahwa pendeta baru itu bijaksana. termashur lebih bijaksana waspada penglihatannya (weruh sedurunge winarah/tahu sebelum terjadi). Berkata Sang Maharaja: “Hai patih.” Kiyan Patih berkata: “Sekarang juga dipanggil menghadap oleh Sang Prabu Cina sungguh sekarang juga harap bersama seperjalanan. harap jangan sampai tidak terbawa.

” Sang Prabu segera memanggil Kiyan Patih: “Hai Patih. Kalau putri suka di pulau Jawa supaya diserahkan tetap bermukim di pulau Jawa untuk mengabdi kepada pendeta muda: “Kiyan Patih mengucap sandika. Segera putri meneruskan perjalanannya diiring wadyabala 1. kong. kalau diridhai saya mau menyusul sendiri ke pulau Jawa. Kelak kalau sudah bertemu dengan pendeta muda itu dimohon pulang ke negara Tartar. Segera berlayar menuju ke pulau Jawa. wadyabala 1. panjang. Bertanyalah Jeng Maulana: “Ini adalah . hidup tanpa guna kalau tidak jadi satu dengan pendeta muda itu. Cirebon tujuannya.” Oleh karenanya Ong te murka sekali.500 orang dan kapal tiga.500 orang datang sudah di pinggir pantai. Ong Te terbengong-bengong dan heran sekali. Sang Putri jatuh cinta kepada Jeng Maulana siang malam menangis tidak ada yang terlihat selain Jeng Maulana.tanpa lawan jenis. Diceritakan Sang Putri Cina bakor kuningan yang terletak di atas perutnya itu lenyap. isilah guci. PATIH KELING BERSAMA PARA BAWAHANNYA MASUK ISLAM. lima negara bagian yang aku akan memberikannya sungguh janganlah tidak sampai terbawa dan barang-barang di dalam dua kapal dan orang-orang sekapal itu berikanlah kepada pendeta muda. Jeng Maulana sangat dimarahi dan diusir. Segera Ong Te menyebar wadyabala untuk mencari Jeng Maulana di negara Tartar sudak tidak ada.” Sang Prabu kebingungan sekali. barang-barang sudah dimuat. engkau iringilah putriku Ong Tien bertolak kepada pendeta muda yang berada di pulau Jawa dan bawalah seorang Bupati. jembangan dan uang semilyun. Jeng Maulana segera pulang meneruskan perjalanannya. kalau tidak dituruti niscaya sang putri mati. serah jiwa raga. 21. sang putri Cina sangat rindu dan berkata: “Duhai Ayahanda Prabu. Diceritakan Patih keling dan rombongannya berjumlah 99 orang sedang mengadakan upacara tradisi merubung jenazah Rajanya di atas kapal layar di tengah laut. Tidak lama kemudian kebetulan datanglah Jeng Maulana Insankamil di hadapan mereka. jadi mengandung sesungguhnya. bunuhlah putra Paduka. Sang putri segera masuk kapal seperingiringnya.

Ki Patih dan rombongan lalu mengabdi. Sang Putra dibahagiakan dan dihormat-hormat. 22. Pangeran Kejaksan. sebaiknya kamu sekalian masuk agama Islam. Syekh Magrib dan para Gegedeng sudah pada datang Ki Kuwu berkata: “Sekarang Rama memasyrahkan putri saya nama Ratna Pakungwati dan kratonnya berikut seluruh wilayah Cirebon yang dapat babakyasa/membangun si Rama pribadi. semoga Putra menjabat sebagai Nata/Raja . Jeng Maulana lalu bermukim di pesanggahan Gunung Sembung dan merasa senang. Pangeran Panjutan. pada waktu sekarang belum dapat menerima negara. Diceritakan Sri Mangana telah membangun pesanggrahan/petamanan di gunung Sembung untuk Sang Putra ponakan. Jeng Maulana segera memberi wejangan sahadat agama Islam.” Jeng Maulana menjawab: “Terima kasih atas sih pemberian Pak De. mereka mengiring Jeng Maulana terus berlayar menuju Cirebon. CIREBON DISERAHKAN KEPADA JENG MAULANA INSANKAMIL Syahdan pada suatu hari para murid pada berkumpul. terimalah semuanya. Segera orang-orang Keling beberes di gunung Sembung. Ki Kuwu sudah menghadap. Sri Mangana sedangnya berkumpul di Masjid Pejlagrahan tidak lama kemudian datanglah Sang Putra Insankamil sudah di hadapannya dengan diiring oleh Ki Patih Keling dan rombongannya. orang-orang Keling lalu waluya lagi/sembuh lagi seperti semula. namun gunung Sembung saya terima untuk pemukiman orang-orang Keling. robong jenazah Taja diburak lalu ditinggalkan. mata mereka mendelik.” Ki Kuwu menyetujui. Syekh Lemahabang. pula di Rama menyerahkan kraton Pakungwati tanah Cirebon serakyatnya dan si Rama menyediakan pesanggrahan di gunung Sembung. sekarang seyogyanya jadi Imam menggelarkan agama Islam. Antara hari lalu Ki Kuwu berkata: “Hai Putra Insankamil.” Orang-orang Keling karenanya tersinggung dan marah.prang apa ada bangkai dirubung dijaga-jaga. Syekh Majagung. Segera orang-orang Keling mohon ampun dan sembuh lagi seperti sedia kala. Syekh Datuk Khafid. Oleh karena kramatnya Jeng Maulana orang-orang Keling satu per satu roboh tidak bisa bergerak. Sri Mangana bergembira sekali. Syekh Bentong. karena belum mempunyai karya.

lebih dekat pengabdi engkau ketimbang wadya manusia. Seluruh para Wali dan Para wadya Cirebon sudah berkumpul. Sebakdanya salat lalu ada datangnya seekor naga yang lebih besar sekali.” Jeng Maulana menerimanya menuruti kehendak Rama Uwa/Pak De. Berkata Pangeran Panjunan. membelit melata mohon diterima mengabdi. hanya semoga rakyat Panjunan diberi tanah untuk penghidupannya (tanah liat untuk membikin keramik) seturunannya. Jeng Maulana menerimanya.” Jeng Maulana menjawab: “Kalau engkau sungguh-sungguh mau mengabdi. Ki Kuwu bergembira sekali menyelenggarakan hidangan kehormatan. bahwasanya Jeng Maulana . Jeng Maulana Insankamil sebakdanya nikah pada waktu tengah malam pergi ke gunung Jati salat hajat empat raka’at.” Syekh Datuk Khafid dan Pangeran Kejaksaan pula menyerahkan penganut-penganutnya. bagaimana nantinya wadyabala manusia. para Syekh. jadilah sebuah keris untuk agemamnya yang jadi Nata. semoga keridaan oleh Allah menjadi Nata/Raja mohon terus langsung seketurunannya. para Pangeran. gurinyangnya pulau Jawa. dan para Gegedeng. oleh karena si Raka mau pergi betapa.Cirebon memangku kraton Pakungwati. oleh karena engkau hewan yang lebih besar sekali mengabdi kepadaku. Jeng Maulana sudah dikabul hajatnya oleh Allah keridaan jadi Nata/Raja.” Sang Naga berucap: “Duhai Gusti. bertolak ke kraton Pakungwati. Keris lekas dipegang disebut Kaki Naga Gede. niscaya tidak ada yang berani dekat. para Gegedeng dan Ki Kuwu Sri Mangana. karena hamba ingin mengabdi mohon diterima.” Jeng Maulana menyetujuinya. Segera dari gunung Jati Jeng Maulana diiring oleh rombongan segenap para murid. Ki Kuwu berkata: “Putra semoga memasuki kraton Pakungwati dan hari besok dinobatkan. datang sudah di dalam kraton. lalu pulang ke kraton Pakungwati terus salat Subuh dalam masjid Pejlagrahan. dan malam Juma’at Jeng Maulana lalu menikah dengan putra Sir Mangana yang bernama Ratu Pakungwati. “Pla si Raka (kakak) menyerahka adik Siti Bagdad serombongannya berikut Dukuh Panjunan serakyatnya.” Sekonyong-konyong Naga jadi keris dapur naga berluk sembilan. dan ridhanya bumi sukanya negara. Jeng Maulana mengetahui kemauan Naga itu lalu berkata: “Hai sang Naga. bagaimana kehendak Paduka. para Pangeran. Sebakdanya salat mereka tetap pada berkumpul segenap para Syekh. antara bakda Jum’ah mengumumkan kepada khalayak ramai. setelah Jeng Maulana dinobatkan oleh Wali Sanga Jawadwipa sebagai kepala negara Cirebon.

anda dan seluruh rakyatnya. 23.w.” Sang Raja Luragung terkena pengabaran/penurutan hatinya lebih kasih. Sang Putri segera dengan rombongannya bertolak ke Luragung. Pepatih Dalem Kanjeng Sinuhun Susuhunan Cirebon. Jeng Maulana sesudah selesai dinobatkan sebagai Yang Sinuhun. hanya Majapahit tidak mengadakan tindakan apa-apa. pada tahun 1479 M. Orang Cina menanyakan kabar bahwa Insankamil ada di mana. Orang Cirebon menjawab bahwasanya Jeng Maulana sekarang sedang berada di Luragung. Patih Keling diangkat menjadi Patihnya disebut Dipati Suranenggala. karena dekat seyogyanya dipercepat keislamannya. Segera ia memeluk agama Islam dan seluruh para putra sentana Bupati pula para Gegedeng pada anut agama Islam serakyat kota yang pada masuk agama Islam dan tetangga negara para Gegedengnya pada menghadap.a. Diceritakan Sang Putri Cina dan Ki Patih kapalnya sudah datang di pantai Cirebon. SUNAN JATI BERTOLAK KE LURAGUNG Pada suatu hari Ki Kuwu berkata: “Putra lekas bertolaklah ke Luragung menyiarkan agama Islam dan melebarkan wilayah di tanah Luragung. sebaiknya sekarang anutilah agama Islam. Sang Raja Luragung dan Jeng Sunan Jati sudah duduk sejajar. namun Brawijaya Majapahit masih mengakui Demak sebagai negara bagian Majapahit. Rajanya masih belum Islam serakyatnya. Sejak tahun ini pula Cirebon memberhentikan upeti tahunannya kepada Pejajaran dan Rajagaluh.” Jeng Sunan Jati mematuhi perintah Jeng Rama. terus bertolak datang sudah di kraton Luragung. barang-barang sudah di darat diterima oleh Patih Keling. .Insankamil menjabat sebagai Yang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panata agama Awliya Allah Kutubijaman Khalifatur Rasulullah s. Berkata Jeng Sunan Jati: “Hai Sang Raja. Susuhunan Cirebon diakui pula oleh Wali Sanga Jawadwipa sebagai Panetep Panata Agama seluruh Sunda. pada tahun 1481 M. Sang Putri meneruskan perjalanannya datang sudah di Luragung. Pada tahun ini pula Wali Sanga Jawadwipa mengakui Raden Patah sebagai Sultan Demak. Kanjeng Susuhunan Cirebon yang bersemayam di kraton Pakungwati Cirebon. Antara hari kemudian lalu membangun tembok keliling kraton.

Jeng Sunan Jati sudah menerimanya Sang putri setelah datang pada waktunya tidak lama kemudian lalu melahirkan bokor kuningan. Nyi Mas segera berkata: “Siapakah orangnya yang telah bisa menghidup-segarkan kembali .Jeng Sunan Jati sedang duduk bersama dengan Gedeng Kemuning. Adapun dukuh Ki Gedeng Kemuning sejak itu disebut Kuningan. Jeng Sunan Jati berkata: “Tidak ada adatnya orang melahirkan bokor.Jeng Sunan Jati karenanya merindukan sekali. Sang putri Cina dan rombongannya sudah diislamkan semua. kalu seorang manusia melahirkan tentu keluar bayi. peliharalah dengan baik. dan pada waktu Ashar mampir di rumah Ke Gedeng Babadan mau mandi dan wudu’. karenanya ia bergembira sekali. Antara lam kemudian Sang Putri wafat. Tidak lama kemudian Nyi Retna Babadan keluar dari rumahnya melihat pepohonan bunganya sudah walunya/segar kembali seperti sediakala. seorang putri Ki Gedeng Jatimera tatkala sedang berjalan di perkebunan. Tidak antara hari kemudian Nyi Mas Rarakerta. pula Patih Cina segera berkata sambil sujud menerimakan perkataan Sang Prabu Cina dan menyerahkan putri dan kapal tiga seisinya semoga diterima.” Ki Gedeng mengucap sandika. ini bayi akuilah sebagai anak anda. Diceritakan Jeng Sunan Jati sudah pulang di pesanggrahan gunung Sembung. Jeng Sunan Jati segera pulang oleh Ki Gedeng Kemuning. Bayi diberi nama Pangeran Kuningan. lalu tafakur di gunung Jati. lalu merasa sir. Bajunya disangkutkan pada dahan bunga cempaka yang sudah mati meranggas daunnya. yang jadi wakilnya adalah Gedeng Kwmuning. segar dan gemuk. semua jajahanku yang sudah ada sekarang serahkalah kepada Pangeran Kuningan. kelak di kemudian hari menjadikan tumbuh bungnya bambu di tempat itu. Jeng Sunan Jati sebakdanya mengambil air wudu’ lalu bajunya dikenakan kembali lalu pohon bunga cempaka hidup kembali seperti sediakala.” Saksana/sekonyong-konyong bokor lenyap jadi bayi elok warnanya semunya meejurit. atas wafatnya Putri Cina. oleh karena Pangeran Kuningan menetap di sana. kebetulan ia mempunyai anak pula yang masih menyusu. Tidak antara lama kemudian datanglah putri Cina lalu sujud menghaturkan bakti memasrahkan jiwa raga kepada Jeng Sunan Jati. Jeng Sunan Jati segera bertolak ke pedesaan. karenanya Pangeran Kuningan disusukan bersama anaknya itu dan Raja Putra Pangeran Kuningan dipelihara sebaik-baiknya. Jeng Sunan Jati melihat betisnya tersingkap. Adapun putri Cina setelah masuk Islam lalu dinikahi disebut Nyi Mas Rarasumanding. Jeng Sunan Jati berkata: “Hai Gedeng Kemuning.

dan apabila perempuan aku terimanya sebagai saudara. mudah-mudahan hidup segarnya pepohonan bunga itu adalah menjadi segarnya hatiku lantaran anda. BURAK PEJAJARAN Pada suatu hari Ki Kuwu Sri Mangana menghadap kepada Jeng Sunan Jati dan Sunan Jati berkata: “Ratna Uwa (Pak De) selamat datang dan apa yang dikehendaki?” Berkata Sri Mangana: “Sekarang Jeng Rama Prabu Siliwangi (Sri Sang Ratu Dewata Wisesa) sudah mengirim utusan enam puluh orang yang dikepalai oleh Tumenggung Jagabaya untuk meninjau atas nama Sang Prabu bagiamana keadaan anak cucunya (anak adalah Pangeran Cakrabuana dan Ratu Mas Rarasantang dan cucu adalah Sunan Jati Purba dan Ratumas Pakungwati). Tidak antara hari lamanya Nyi Mas Retna Babadan sibawa pulang ke gunung Sembung. datangnya tergesa-gesa seperti ada perkara yang penting. Tidak lama kemudian ada datangnya Ki Buyut Talibarat sudah ada di hadapan Sang Prabu.pepohonan bungaku ini dengan sekejap mata. segera lalu Nyi Mas Retna Babadan dinikah sudah.” Tidak lama kemudian Jeng Sunan Jati keluar setelah salat Ashar lalu berkata: “Itu pepohonan bunga anda hidup segar kembali atas kehendak Allah lantaran oleh bajuku.” Jeng Sunan Jati mematuhi kehendak Sang Rama Uwa. orang Pejajaran sudah siap-siap. oleh karena itu Sang Rama Prabu sudah waktunya demoga putra mau datang di Pejajaran untuk mengislamkan Eyang/Kakek dan kerabat-kerabat. Ki Gedeng dipanggil menghadap. Segera Jeng Sunan Jati dan Ki Kuwu Cakrabuana bertolak ke Pejajaran hendak mengislamkan mengganti agama Sanghyang dengan agama Islam. Jeng Sunan Jati segera menerimanya. Diceritakan di kraton Pejajaran Sang Prabu Siliwangi dan semua istrinya dan para swlir hendak datang meninjau Sang Prabu Cakrabuana dan Sang Cucu Insankamil di Ceribon. Sang Prabu berkata: “Eyang Talibarat selamat datang. namun sekarang wadyabala Pejajaran yang enam puluh orang itu dengan Ki Tumenggung Jagabaya sudah memeluk agama Islam.” Nyi Mas Retna Babadan segera sujud memasrahkan jiwa raga oleh karena tunduk kepada janjinya sendiri. apabila lelaki aku terimanya sebagai suami. oleh karena Eyang sekarang mungkin sudak agak ada condongnya/sukanya. 24. apa yang dikehendaki dengan takluk kepada sang cucu hendak melakukan agama Islam. agama orang yang bosok bolong/busuk .” Berkata Ki Buyut Talibarat: “Hai Sang Prabu.

Kraton terlihat jadi hutan besar. ialah Sastrajendra Ayuningrat yang dipusti amalkan. sebagai hewan dan siluman. Jeng Sunan Jati . Raja Sengara tertangkap dan para sentara. amoh ajur/rapuh remuk. para putra Sentara tidak dibawa tertinggal di kraton Pejajaran pada tahun 1482 M. Seluruh para famili. para eyang sudah diislamkan. apakah Sang Prabu silau melihat kepada putra cucu. Lalu disuruh kemit/jaga di Cirebon.” Ki Patih lalu sujud tobat namun agama Islam mohon nanti di akhir jaman. para bahwahannya menjadi macan loreng. Berkata Jeng Sunan Jati: “Barangsiapa yyang ikut kepada agama tidak diperbolehkan campur dengan manusia. mendekati para pembesar dan para kerabat yang pada anut agama Islam. Berkata Jeng Sunan Jati: “Dipati Siput sebawahannya berlaku seperti hewan bersembunyi di hutan: “Saksama/sekonyong-konyong Dipati Siput menjadi macan putih. sejak dahulu hingga sekarang mongmonganku para leluhur yang menganut agama Desa Mulya. Ki Patih Argatala sebawahannya pada bersembunyi di pegunungan Jeng Sunan Jati dapat melihat mereka lalu berkata: “Patih Argatala sebawahannya seperti siluman tidak bercampur dengan manusia. Jeng Sunan Jati lalu mendekati Dipati Siput sebawahannyayang bersembunyi di hutan. yang sebagian sudah bubar.” Sang Prabu mematuhi saran Ki Buyut Talibarat Sengera Kraton ditanami pusaka lidi lelaki. Lalu Jeng Sunan Jati memasuki kraton Pejajaran lagi.berlubang. oleh karena Sang Putra dan Sang Cucu sebentar lagi datang. Akan tetapi Jeng Sunan Jati dan Ki Kuwu masih jelas melihat kraton Pejajaran itu sebagai semula lalu masuk ke dalam kraton. menangkapi para penghuninya. nanti ini kraton kutanami pusaka lidi lelaki supaya kraton tidak tertampak dan Sang Prabu haraplah ngahyang sekarang juga. ada yang tertangkap di dalam bumi. berjanji nanti di akhir jaman. Adapun Arya Kebo Kamale sudah tertangkap akan tetapi tidak mau Islam. Ada yang tertangkap di angkasa. Para sang istri (ratu Subanglarang/permaisuri Pejajaran Ibunda Pangeran Cakrabuana sudah wafat) dan pada sang selir dibawa ngahyang lalu lenyap tanpa bekas. Jeng Sunan Jati mengampuninya akan tetapi disuruh berkumpul jaga di Cirebon. Tidak antara lama kemudian datanglah Jeng Sunan Jati dan Ki Kuwu Cirebon mengetahui bahwa Sang Prabu sudah tidak ada dalam kraton. Dipati lalu sujud bertobat namun mohon nanti di akhir jaman melaksanakan agama Islam.” Akan tetapi Dipati Siput sebawahannya diterima pengabdiannya disuruh kemit/jaga di Cirebon.

. Raden Teel bermukim di gunung Bandang. Ada lah kraton pakwan Pejajaran setelah ngahyangnya Prabu Siliwangi itu kosong menjadi hutan besar. Sanghyang Mayak bermukim di Cilutung.” Berkata Raja Sengara: “Namun Rama Dalem Cakrabuana sudah bermukim di Cirebon Jeng akan tetapi Rama Raja Sengara jangan berdiam di kraton. Prabu Sedanglumu bermukim di Selaherang. karena kraton Pejajaran sudah pasti menjadi hutan. 10. Diceritakan masih ada seorang putra perempuan Prabu Siliwangi yang tertinggal bernama Dewi Balilayaran dapat jodoh dengan satria trah/ turunan Galuh kuna. Sanghyang Sogol bermukim di Maleber.” Raja Sengara mematuhi permintaan Sang Putra. famili sunda bubar ke tujuan masing-masing. Sunan Manyak bermukim di Traju. Sunan Pajengan bermukim di Kuningan. Sanghyang Tubur bermukim di Panembong. 17. 4. kemudian membangun kraton lagi di luaribukota Pakwan. Dalem Mayak bermukim di Cilutung. tidak ada raja lagi. 14. 6. semoga Sang Rama mau bermukim di lain tempat. 15. Sanghyang Kartamana bermukim di Limbangan. 13. 3. hanya ini balai tempat duduk Sang Rama Prabu saya mohon supaya dibawa ke Cirebon dan alatalat. disebut Sunan Kabuaran. Sanghyang Pandahan bermukim di Ukur menjadi Dipati Ukur. 5. Sri Puaciputi bermukim di Kawali. 7. Sanghyang Jamsana bermukim di Batulayang.memanggil Sang Rama paman Raja Sengara dan berkata: “Rama seyogyanya mengosongkan kraton Pejajaran. 16. 8. Negaranya meneruskan nama Pejajaran yang kelak di jaman Prabu Seda negaranya dibubarkan oleh bala tentara Banten Sultan Maulana Yusuf dibantu oleh bala tentara Cirebon Sultan Panembahan Ratu. Sunan Ranjam bermukim di Cihaur. Borongora bermukim di Panjalu. pedang. Seorang putra perempuan Sunan kabuaran yang bernama Dewi Mendapa/Dewi Tanduran Gagang ialah yang menjadi lantaran kelak ada raja menyelang/menjajah di jaman akhir. Dalem Naya bermukim di Ender. Lumansanjaya bermukim di di Sundalarang. 2. keris. 1. 11. 12. Prabu Seda hingga seda/wafat pada tahun 1579 M. tumbak. oleh karena Eyang Prabu tidak mau Islam. Raden Lawean bermukim di Pasir Panjang. 9.

dan Pangeran Panjunan. Syekh Majagung. sayang yang jadi Imam wejangannya hanya fikih saja. karena adik adalah orang bodoh. di Ciasem. kahyangan yang menurun kepada menak-menak di Sumedang. seluruh para murid pada berkumpul semua. seterusnya tafakur saja di dalam masjid Panjunan. Tidak antara lama kemudian Jeng Sunan Jati datanglah menemui Pangeran Panjunan. di Cianjur. Syekh Lemahabang. Dalam fikiran Pangeran Panjunan terlintas suatu pendapat. di Krawang itu semua adalah turunan Taji Makeka. seyogya orang-orang muda yang pada merubung. segeralah Pangeran Panjunan memnubruk Jeng Sunan jati dikanti/dibimbing duduk sejajar. 25.” Berkata Pangeran Panjunan: “Adik.18. Para gegedeng tetangganya sudak pada suhud anut. datang sudah di pesanggrahan gunung Sembung. Syekh Magrib. Pangeran Panjunan berkata: “Selamat datang adik Sunan. Taji Malela bermukim di Sumedang. tidak disangka maut datang di Panjunan. Karenanya Pangeran Panjunan tidak mau menghadap lagi. bukan seyogya tempatnya orang-orang tuwa. bagaimana yang dikehendaki?” Berkata Jeng Sunan Jati: “Mungkin adik tidak seyogya menjadi Imam yang digelarkan hanya kitab Fikih dan Qur’an. untuk orang yang berilmu kurang condong/kurang suka. Jeng Sunan Jati segera menggelarkan agama meneruskan sebagai Imam. ilmu apakah yang jadi pegangan?” Jeng Sunan Jati menjawab: “Si adik hanya membawa ilmu sahabat yang jadi pegangan.” Berkata Pangeran Panjunan: “Dan apalah bawaan adik dari Mesir. Para gegedeng pula para buyut. Pangeran Kejaksan dan Syekh Datuk Khafid pada menghadap Jeng Sunan Jati siang malam memberi wejangan kitab Qur’an. Jeng Sunan Jati bersama Ki Kuwu lalu bertolak terus ke arah barat tujuannya ke Banten. lalu diminta untuk dijadikan istri. Sahadatdan . JENG SUNAN JATI DAN KI KUWU CIREBON BERTOLAK KE BANTEN. Sebakdanya pernikahan kemudian antara sebulan lamanya lalu Jeng Sunan Jati. datang sudah di Kegeng Kawunganten. Jeng Sunan Jati berhasil mengislamkan Ki Gedeng Kawanganten seanak cucunya dan serakyat Kawunganten sudah turut masuk Islam. Dewi kawunganten. sarengat yang digelarkan. Syahdan Jeng Sunan Jati melihat putrinya Ki Gedeng Kawunganten yang bernama Dewi Kawunganten merasa suka. di Bogor. Syekh Bentong.

WALI SANGA JAWADWIPA Yang terpilih menjadi Ketua/Kutub ialah Jeng Sunan Jati. akan tetapi si Raka menyetujuinya.” Lalu tidak antara lama Jeng Sunan mohon pamit. 5. 26. BUNG CIKAL . Syekh Majagung. 7. Sunan Bonang. adapun ilmu kemakrifatan dan ketauhidan. Hanya untuk memuliakan Guru dan sesepuh para Wali jabatan ketua sementara diserahkan kepada Sunan Ampel. Setelah Sunan Ampel wafat jabatan dipegang seterusnya oleh Jeng Sunan Jati. itu adalah amalan sarengat untuk santri dan kaum agamanya. ilmu kesempurnaan seyogya adik yang empunya. Sunan Undang/ setelah gugur diteruskan oleh putranya. seledailah sudah wejangannya. Sunan Ampel almarhum/diteruskan oleh Sunan Giri. Sunan Jati Syarif Hidayatullah sebagai Ketua/Kutub 1. Sunan Ampel almarhum tidak mengalami jatuhnya Majapahit dan zhahirnya Kesultanan Demak. 27.” Berkata Pangeran Panjunan: “Sudah dipastikan tidak boleh dirubah Jeng Adik yang menjadi Nata/Raja seturunannya dan waris pemegang agama. segera datang sudah di gunung Sembang. Sunan Kalijaga. 3.” Berkata Hidayatullah: “Semoga ada sih Jeng Kakak si adik diberi wejangan ilmu kemakrifatan atau kesempurnaannya. ketauhidan. 9. 8. Sunan Muria. Syekh Maulana Magrib. 2. Syekh Bentong. si kakak tidak kejatuhan waris menjadi Ratu/Raja dan menggelarkan sarengat agama. lebih seyogya Jeng Kakak yang menjabatnya. umum sudah mengetahuinya. Jeng Sunan Jati mengucap terima kasih lalu berkata: “Jeng Kakak seyogya jadi Raja Panetep Panata Agama. Sunan Kudus. 4. 6. Syekh Lemahabang/ setelah wafat tidak diteruskan.sarengat adalah untuk orang awam.

apa kemauan anda yang penting?” Ki Gedeng segera berakta: “Duhai Gusti. hanya aku memberinya nama Bung Cikal. oleh karena membawa putra Dalem yang telah lahir dari putri hamba. Pada antara hari bekas sempayen Dalem berdiri disungkemi oleh Rarakerta siang malam. Jeng Sinuhun sedang tiada karenanya Lokacaya menunggu sedatangnya.” Jeng Sunan Jati lalu ingat kalawaktu merasa sir waktu melihat seorang perempuan sedangnya beliau tafakur di gunung jati. Antara sebulan lamanya kemudian Rarakerta mengandung. itu nyatanya anak termasuk anak sir seyogya peliharalah yang baik. Namun Rarakerta sekarang aku pinta untuk dijadikan istri. wallahu a’lam kelak di akhir jaman. Antara sebulan lamanya lalu tumbuh bungnya bambu. tidak antara lama si Rarakerta pulang sambil menangis jatuh cinta kepada sampeyan Dalem. 28. Nyi Mas Rarakerta sudah dinikah menjadi seorang istri Jeng Sunan Jati.Diceritakan pada suatu waktu bertepatan dengan hari Isnen Kanjeng Sunan Jati sedang diseba oleh seluruh para murid. iya inilah yang hamba bawa caos/menghadap di hadapan Paduka.” Berkata Jeng Sunan Jati: “Sebabnya aku mempunyai putra bersatu denga Rarakerta karena aku belum merasa nikah. mohon sih ampunan Dalem hamba lancang menghadap. para pejabat pemerintahan dan Patih Suranenggala suadh di hadapannya.” Ki Gedeng berkata: “Adapun waktu dulu anak hamba Rarakerta sedang berjalan di perkebunan ia melihat sampeyan Dalem sedang berdiri. lalu Bung Cikal dibawa betapa. Tidak lama kemudian datanglah Ki Gedeng Jatimerta bersama sang cucu sudah menghadap di hadapan Jeng Sunan Jati. lalu bungnya bambu itu dimakannya. datang sudah di kraton Pakungwati Cirebon.” Ki Gedeng mengucap sendika. akan tetapi itu anak sekarang tidak dapat waris. Jeng Sunan Jati berkata: “Gedeng Jatimerta menghadapnya dengan anak kecil dan tergesa-gesa. bertemu di hadapanku. Terlintas dalam fikirannya apakah beliau tidak mengetahui . Rarakerta. LOKACAYA Diceritakan Lokacaya putra Ki Wilatifka Tumenggung Tuban bermaksud berguru kepada Sunan Jati Cirebon. Segera Jeng Sunan Jati berkata: “Gedeng Jatimerta. dan sesudah datang pada waktunya lalu melahirkan seorang bayi lelaki.

Pada suatu hari antara bulan kemudian buah kemiri yang seratus itu jatuh dalam sungai. Ia segera sungkem menghaturkan bakti. Tidak lama kemudian ada cangkir dari batu mirah sepasang penuh berisi. Segera ia ditangkap oleh Nabiyullah Khidir. buah-buahan warnawarni. segera datang adik Lokacaya dan bagaimana di Ampel dan para saudara di Bonang dan Undang. dan sang adik aku beri nama Kalijaga. merasa seribu nikmat seribu rahmat. dan ia sudah berada di hadapan Baginda Khidir. Jeng Sunan Jati melihat bahwa Lokacaya itu adalah sungguh Waliyullah. Lokacaya segera menubruk sujud beraba-raba sambil berkata: “Duhai Eyang mohon sih berkah Dalem. Berkata Jeng Sunan Jati: “Ini buah kemiri seratus banyaknya untuk bilangan. Lokacaya lalu hanyut akhirnya datang dalam dasar laut. kantong dan panurat/ alat menulis dan makanlah sekenyangnya. Lokacaya mematuhi perintah guru. melihat lain jaman. kalau malam menaik dalam pohon andul. Karenanya Lokacaya lebih mantap kemauannya setia tuhu kepada Guru. Lokacaya segera terjun ke dalam sungai untuk mengambil buah kemiri-kemiri itu namun sekonyong-konyong ditimpa oleh banjir besar. terimalah.” Jeng Sunan Jati lalu pulang. seyogya jangan pergi-pergi dari pinggir sungai ini.” Lalu Kalijaga segera makan. Lalu berkata: “Kalau sang adik sungguh-sungguh keinginannya semoga di tempat yang sunyi. setelah makan lalu diberinya wejangan sempurnanya tauhid oleh Nabiyullah Khidir.” Jeng Sunan Jati melihat dalem lauhil mahfuzh seharusnya Nabiyullah Khidir yang memberinya wejangan itu. hamba ini bagaimana. kalau siang membangun perkebunan.” Segera Lokacaya bersama Jeng Sunan Jati bertolak ke hutan yang sunyi datang sudah di hutan di pinggir sungai di bawah pohon andul. bebungaan manca warna. jadi mashur deisebut kebun Kalijaga. Tidak lama kemudian lalu Jeng Sunan Jati datang di hadapan Lokacaya. lalu ingatlah sang Lokacaya kepada terang benderang laksana di dalam sebuah negara. ia mengambil cangkir itu hendak diminum istrinya.” Nabiyullah Khidir berkata sambil tertawa: “Jabeng/tole Kalijaga.bahwa aku di sini telah lama menunggu. sebagai ganjaran orang yang mematuhi perintah Guru. semuanya merasa malu lalu cangkir diletakkan kembali sungguh kramatnya Sinuhun Cirebon. Kalijaga lalu mohon . Berkata Lokacaya: “Berkah Dalem. semua para saudara sedang ada sehat-sehat saja. Sudah selesai olehnya ia diwejang. sekarang aku beri anda sesuatu. namun hamba mohon sih kemurahan Dalem semoga diberi wejangan sejatinya sahadat dan sempurnanya tauhid. Cangkir mengucap: “Belum ada yang mengizinkan koq berani akan dimunim isinya?” Lokacaya terkejut ada cangkir bisa bicara.

seorang putri Ki Gedeng Jatimerta bernama Rarakerta. yang benar mengurusnya. di antaranya Putri Cina. lalu Jeng Sunan berkata: “Adik Nurullah sejak sekarang tetap menjabat sebagai Sultan. Berkah Ibunda di Cirebon dan di Pasundan sudah terselenggara/berlaku agama Islam. . pula para akrab. kakak tadi malam dapat sasmitanya Dewa disuruh pergi ke laut. putri Dewi Siliwati bersuami dengan Sang Ngewalarang. namun Eyang Prabu Siliwangi para istri dan para selir tidak Islam ngahyang meninggalkan kraton. KANJENG SINUHUN CIREBON BERTOLAK KE NEGARA MESIR. disuruh mencari udang lelaki perempuan yang sedang beriringan. di situlah akan menemukan lantarannya kemuliaan lagi perwira sakti. Pula para saudara dari Bagdad telah menyerahan seluruh pengikutnya dan para gegedeng dan para tetangga negara pada tunduk.” Ibundanya menyetujui kehendak sang putra.” Segera Dipati Awangga berjalan terus ke laut. dan putra sudah dapat jodoh. Diceritakan di tanah Pasundan di Maleber Babakan Cianjur. putri Rama Uwa. Diceritakan di kraton Mesir Kanjeng Sunan Jati sudah datang duduk sejajar dengan Ibundanya. seorang cucu dari Prabu Siliwangi.pamit. Sri Mangana. segera pulang datang sudah di darat terus masuk hutan keluar hutan naik gunung turun gunung merantau sesukanya. serahlah negara Mesir seketurunannya. namun tidak lama lalu meninggal. Maka daripada itu semoga Ibunda berkehendak bermukim di Cirebon karena putra senang bermukim di Cirebon. sudah empat istri yang dinikah. seorang putri Gedeng Babadan. Berkata Dipati Awangga: “Adik Selalarang. yang bernama Ratu Pakungwati berikut diserahkan kratonnya. tidak akan pulang kalau belum trelaksana. Dipati Awangga dan sang adik Dipati Selalarang. adik sekarang tinggallah di sini. seorang putri Ki Gedeng Kawunganten. Adapun negara Mesir diserahkan kepada sang adik Nurullah. Berkata Jeng Sinuhun: “Semoga ibu mengetahui di Pejajaran sudah pada Islam. 29. siang malam merendam diri mencari udang lelaki perempuan. Diceritakan Kanjeng Sinuhun Cirebon bertolak ke negara Mesir hendak menghadap kepada Ibundanya terus perjalanannya datang sudah di kraton Mesir. Pula putra sudah menjabat sebagai Sinuhun di Cirebon diangkat oleh Rama Uwa Cakrabuana. Kanjeng Ratu Syarifah Mudaim dan adik Syarif Nurullah.

Adapun Kanjeng Sinuhun bersama Kanjeng Ibu menghendaki berjalan di atas air laut. karenanya hingga sekarang belum berhasil. Baik sekarang turutlah ke Cirebon bersama mengiring Jeng Ibu. Sang Dipati sangat setia tuhu. Dipati Awangga namanya. Terkejutlah Dipati Awangga melihat ada orang lelaki perempuan beriringan di atas air laut. lantarannya putra ada di sini di laut.” Ibunda berkata: “Hai Putra Nurullah semoga adil orang yang menjadi raja. lalu segera berangkat terus menuju Cirebon. mendadak bisa bersama berjalan di atas air laut.” Dipati Awangga mematuhi perkataan Kanjeng Sunan. akan tetapi belum berhasil senantiasa kebingungan oleh warnanya. cuma Ibu minta sebagai waris kakak anda. Di ceritakan Dipati Awangga yang sedang mencari urang/udang lelaki perempuan hingga koyak-koyak pakaiannya untuk berendam di laut. permaisuri Mesir putra Siliwangi Pejajaran negaranya. di sanalah lantarannya memperoleh kemuliaan lagi pewira sakti. .” Dipati Awangga segera menubruk menyungkemi sambil berkata: “Duhai Ibu. kitab Usul kalam. akan tetapi putra senantiasa kebingungan. kalian apakah sesungguhnya manusia atau jin mrekayangan dan kalian asal dari mana?” Kanjeng Ratu Rarasantang berkata: “Rarasantang namaku. Ibu hendak bermukim di Cirebon. berhentilah terlebih dahulu. Tidak lama kemudian lalu datanglah sudah di kraton Pakungwati. bahagia bertemu di sini.” Sang Putra meluluruskannya. Segera sebuah kapal sudah dimuati piring-piring panjang dan barang-barang serta empat puluh orang. berupa warna pusaka empat. Tidak antara lama kemudian datanglah Kanjeng Ratu Rarasantang sedang berjalan beiringan dengan Sang Putra kanjeng Sinuhun di atas air laut. karena kalawaktu dulu ada sasmitanya Dewa menyuruh mencari urang/udang lelaki perempuan yang sedang beriringan. destar pusaka dari Rasulullah dan Ibu minta untuk kebawaan piring-piring panjang dan barang-barang dan orang empat puluh dan kapal satu. ialah pedang jimat selawat Nabi. Segera ia menegur: “Hai manusia lelaki perempuan.berdasarkan hadits dalil.” Segera lalu dirangkul-rangkul oleh Kanjeng Ratu: Mas bopo ponakanku!” Kanjeng Sunan berkata: “Adik Dipati Awangga supaya menjadi tahu perihal sasmitanya Dewa yang dimaksud urang/udang lelaki perempuan di atas laut yang sedang beriringan itu nyatanya adalah si kakak sebagai urang/udang lelaki dan Kanjeng Ibu sebagai urang/udang perempuan. sesungguhnya hamba adalah putra adik Paduka Dewi Siliwati.

Hasanuddin. tombak dan baris upacara.Ki Kuwu bergembira sekali. Para menantu pada menghadap menghaturkan bakti. Diceritakan Sang Kalijaga merantau menuruti sekehendaknya kemudian datanglah di kebun kalijaga dengan mengendarai kuda lumping. Pangeran Moh. hamba lebih setia tuhu menghadap kepada Paduka dan hamba mohon izin hendak bermukim di tempat kebun Kalijaga ini. Sang Dipati Awangga merasa senang dan suka kepada Agama Islam hingga lupa kepada anak istri dan daerahnya. sungguh Paduka itu Wali Kutub. oleh karena Sang Gusti telah datang. pada waktu itu barulah sebanyak itu putranya. Kemudian Jeng Sunan datang menemuinya. Sang Kalijaga ketawa dan menyungkumi. Adiknya ialah Dipati Selalarang sudah memeluk agama Islam pula. Jeng Sunan berkata: “Adik seyogya bermukim di Kuningan mewakili Sang Putra Pangeran Kuningan sebagai pejabat Adipati. . Pangeran Dipati Moh. yang lahir dari Kanjeng Ratu Pakungwati ialah Ratu Ayu. yang lahir dari Nyi Mas Rarakerta adalah Pangeran Jayalelana. mengetahui jalannya kemuliaan. karena sang adik Ratu Rarasantang sudah datang.” Dipati Awangga mematuhi perintahnya Sang Kakak. akan tetapi rayi bercahaya anguwung (seperti cahayanya pelangi) laksana pangrasuknya/akbatnya ilmu sejati. kemudian Dipati Awangga angempu/membikin alat-alat pedang.” Jeng Sunan meluluskannya. berhasil atau belum. 30. Jeng Sunan kemudian memanggil Dipati Awangga diwejang sahadat kalimah dua dan agama Islam. Arifin lahir di liang lahat (karena Ibunya meninggal sebelum melahirkannya). Jeng Dipati lalu mohon pamit terus berjalan datang sudah di Kuningan. Orang Cirebon bergembira sekali ria.” Berkata Sang Kalijaga: “Sungguh betul perkataan Paduka. Jeng Sunan berkata sambil senyum: “Rayi/adik Kalijaga bagaimana hasilnya yang dimaksud. PARA PUTRA YANG SINUHUN CIREBON Diceritakan Yang Sinuhun Cirebon sudah mempunyai putra yang lahir dari Nyi Mas Kawunganten itu adalah yang pertama Ratu Winaon. Kemudian antara sebulan lalu Dipati Awangga membawa anak istrinya ke Kuningan. Sang Dipati Awangga lebih hati-hati olehnya mewakili dan mengurus para wadyabala dan negara.

tetangga desa banyak yang pada anut. Seluruh para murid. aku lebih percaya. meneruskan perjalanannya diiring bala tentara Palembang dua ratus orang. sebab sudah pasti Pangeran Patah yang akan menggatikan kedudukan ayahandanya. yang kelak akan mengkurat/memangku setanah Jawa sebelah timur tanah Sunda. dan Jum’ah depan dititahkannya. Tetangga . segera berkata: “Rayi/adik itu akan mendapat ganjaran putri Ratna Winaon.” Berkata Sunan Kali: “Mohon diterangkan artinya mimpi. ialah mandi tiap malam waktu sepertiganya malam.” Berkata Jeng Sunan Ampel: “Betul Rama anda itu masih belum Islam. Segera Pangeran Patah membangun perumahan. 31 DUKUH DEMAK Diceritakan di Ampelgading Jeng Sinuhun Ampel sedang diseba. para kerabat dan putra pula Kanjeng Sultan Palembang. Berkata Jeng Sinuhunan: “Ada apa keperluannya.Lokacaya/Sunan Kalijaga membuka perkebunan dan melakukan kelakuan Jaya Sempurna. Tidak antara bulan kemudian tanah rawa harum telah diketemukan. Sang Ratu Brawijaya. bagaimana karena Rama Prabu Brawijaya belum Islam diraakan tidak enak dalam hati. bangunlah sebuah duduk/pemukiman.” Sunan Kali menyetujuinya. carilah tanah yang ada rawa harumnya. di sana bangunlah yasa/karya. Pangeran Patah rajin olehnya menghadap seperti ada keperluan yang penting. Ki Kotim adalah murid yang pertama. Nanti kalau sudah diluluti/disenangi oleh para Wali barulah apa yang dikehendaki. Segera berkata Jeng Sultan Palembang: “Mohon berembugnya. Termashur. tadi malam hamba bermimpi memanggul bulan. Sultan Palembang Aryadila dan Pangeran Patah patuh kepada nasehatnya Rama Guru. Setelah nikah Sunan Kalijaga lalu menjabat sebagai wakil Imam. orang Palembang diperintah membangun dukuh/pemukiman Aryadilah memndirikan pesantren.” Jeng Sunan mengetahui kehendaknya. akan tetapi beliau kasih sayang kepada orang-orang Islam. putraku pasti jodoh dengan rayi. Antara hari lalu Sunan Kalijaga menghadap kepada Sunan Cirebon datang sudah di hadapannya. camkanlah jangan dulu diganggu sebelum aku sirna meninggal. akan tetapi sekarang babakyasa terlebih dulu. Segera mohon pamit hendak mencari tanah rawa harum.

lalu dicobanya . Berkata Jeng Sunan: “Sangkan-sangkan lantaran terjadi ayam mengeram bisa hidup kembali. . ada du’a pemahat mau ditukar. akan tetapi engkau belum menerimanya. Jeng Sunan lalu memegang panggang ayam. pada tahun 1475 M. coba berilah aku pelajaran terlebih dulu. itu wataknya du’a tadi lihatlah dalam ruas bambunya ada lebih dari harga sereal. sekarang engkau aku alih namanya Gedeng Sangkanurip. segera lahang menjadi berhenti setetespun tidak keluar. Berkata Jeng Sunan: “Gedeng Penderesan. sekarang aku tempuhkan/minta ganti harganya yang selodong/seuras bambu searu (35 sen).” Jeng Sunan lalu berlalu dari situ.” Jeng Sunan segera memberi wejangan sahadat kalimah dua. engkau orang apa.” Ki Gedeng menjawab: “Untungnya dari mana?.” Bungbung/ruas bambu segera dilihat. 32. Ki Gedeng sudah menerimanya. Buruk sekali hatinya dan engkau orang mana?” Berkata Jeng Sunan: “Aku orang Cirebon membikin keuntungan kepada engkau. Ki Gedeng segera berkata: “Ini orang membohongi jadi mematikan pangan.desanya pada anut. Kemudian seterusnya dengan keputusan Prabu Majapahit Demak diumumkan menajdi dukuh Demak dalam kawasan negara Majapahit. kalau sekiranya menjadi bagus kepada lahang tentu saya teruskannya. LAKU LAMPAH SUNAN JATI CIREBON Diceritakan pada suatu hari Gedeng Penderesan yang sedang memahat lahang/tuak. ternyata isinya penuh dengan pasir emas. saksana/sekonyong-konyong panggang ayam itu hidup lagi lalu terbang ke petarangannya (tempat mengerami telurnya). Gedeng Penderesan sejak itu disebut Gedeng Sangkanurip. aku punya du’a yang lebih bagus dan tidak usah dengan suara nyaring lagi. kemudian termashur disebut pedukunan Demak (dari tanah demek/ berair). Berkata Gedeng Penderesan: “Ini orang lebih ngerekel (seenaknya sendiri saja). baik pada saling tukar. kalau tidak percaya cobalah terlebih dulu. anda sedang membaca du’a apa sedemikian nyaringnya. sedangkan getak getok sambil bernyanyi tidak lama kemudian datanglah Sunan Jati.” Berkata Jeng Sunan: “Gedeng Penderesam. sebab lahang jadi berhenti menetes. Ki Gedeng segera sujud lalu pulang menghormati Jeng Sunan dengan tumpeng panggang ayam.

yang lain lagi terbang di angkasa. Sunan Undung/Pangeran Kudus. Suana Muria. mungkin itulah tandanya Kutub. 9. 4. Suana Jati Purba sudah berada di hadapan. ada yang mengendarai angin. para Wali menyetujuinya. Syekh Majagung. Adapun Sunan Jati Purba dan . 1. Jeng Sunan sedang beristirahat tidak lama kemudian datanglah Gedeng Sangkanurip sujud meraba-raba sambil berkata: “Duhai Gusti lebih bijaksana hamba mohon ampun dan ingin berguru. 3. Syekh Lemahabang. sebakdanya para Wali bermusyawarah Sunan Jati Purba menyilahkan mengambil tempat musyawarah bagi seluruh para Wali Sanga selanjutnya di gunung Jati. Lalu pada bubar. 5. 6. Syekh Bentong. 8. ada yang memasuki ke dalam bumi dan ada yang menghilang. para kawan Cuma sembilan. Sunan Kalijaga. Sunan Bonang. Wali Sanga pada kumpul. Seterusnya Ki Gedeng sudah memeluk agama Islam. 33. Datang sudah di gunung Ciremi. ada yang mengedarai awan.Ki Gedeng segera menyusul bermaksud bakti dengan sangkaannya mungkin ini orangnya yang bernama Sunan Jati. Sunan Ampel/Sunan Giri. nuhun sih kemurahan Dalem.” Lalu Jeng Sunan pulang ke Cirebon. Lalu berkata Sunan Bonang: “Di manakah yang menjadi Kutub. sepuluh Kutub (Sunan Jati Cirebon).” Berkata Sunan Ampel: “Aku lihat di gunung ada cahaya anguwung (sperti cahaya pelangi) hampir menyentuh langit. ada yang mengendarai kuda lumping. 7. RIUNGAN WALI SANGA JAWADWIPA Diceritakan Kajeng Suna Ampelgading menghendaki mengumpulkan para yang menjadi Wali Sanga Jawadwipa.” Segera para Wali lalu masuk ke dalam kawah. Sunan Jati sebagai Wali Kutub/Imam. 2. Ki Gedeng mengiringi beliau datang sudah di kraton Pakungwati. Syekh Maulana Magrib. Permulaan jadi caremnya/musyawarahnya Wali Sanga.

Segera pada mohon ijazah. Pangeran Welang. Adapun jalannya jenazah kemudian sudah selesai sirna sempurna. Jeng Sunan Jati Purba berkata: “Menurut wejangan Jeng Nabi Muhammad s. para akrab. Tidak lama kemudian datanglah para Wali sudah pada duduk lalu barulah Pangeran Kudus datang. Sunan Undung. para putra. Diceritakan Sunan Jati telah datang di gunung jati dan sudah bersedia gelaran di balai amparan. Sunan Cirebon sejak itulah disebut Susuhanan Gunung Jati karena di gunung Jati itulah waktu beliau dinilai lebih tinggi derajatnya melebihi derajat para Wali lainnya oleh para Wali Sanga Jawadwipa. Syekh Lemahabang dan Sultan Palembang Aryadila dan Pangeran Patah sudah berkumpul.w. Antara hari kemudian Aryadila dan Pangeran Patah minta sangat seluruh para Wali Sanga dimohon datangnya di pedukuhan Demak. Syekh Bentong. pada berkumpul. Setelah selesai musyawarah dengan kehendak Sunan Ampel dan semufakat para Wali. Setelahnya Jeng Sunan Ampel pulang dan seluruh para Wali pada bubar. Sunan Cirebon dan Pangeran Cakrabuana.” Berkata Sunan Cirebon: “Seyogya Pangeran Kudus mendahului untuk mengadakan gelaran di gunung Jati menyediakan bagi para Wali yang telah datang. para murid. Pangeran Drajat. Seluruh para Wali pada merasa jauhnya derajat terhadap Sunan Jati Purba. mungkin para Wali sudah pada datang. Sunan Giri.” Seluruh para Wali pada menerima sungguh-sungguh wasiat Cirebon. Berkata Sunan jati: “Pangeran Kudus rupanya terlambat datangnya.” Segera Pangeran Kudus mendahuluinya mempercepat perjalanannya seperti kilat. Sunan Cirebon mengabulkannya segera seluruh para Wali bertolak bersama-sama ke Demak .” Pangeran Kudus segera tobat semunya malu. Seluruh para Wali. akan tetapi perjalanannya terlebih dulu. PERANG DEMAK MAJAPAHIT Tidak antara bulan kemudian diwartakan di Ampel Gading Jeng Sunan Ampel meninggal.a. Pangeran Kudus. waktu kapankah kita akan datang di gunung Jati. 34. Syekh Majagung. Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Pangeran Makdum. mengunggul-ungguli yang tanpa amal kebajikan dan janganlah menduduki yang bukan makamnya. Berkata Pangeran Kudus: “Kaki Cirebon bagaimana perjalanan kita nantinya.Pangeran Kudus menghendaki berjalan kaki dari dalam kawah sampai ke puncak. dan Ki Syekh Magrib. janganlah menghebat-hebat.

” Berkata Sunan Cirebon: “Raka Aryadila dan Pangeran Patah seyogya mengirim surat terlebih dulu kepada Prabu Majapahit dimohon memeluk Islam. Lalu para Wali mulai salat Subuh pada tahun 1411 Sakakala/1489 M. Selanjutnya berkumpulnya para wali di masjid itu lalu dihidangkan jamuan makan dan berbagai warna warni makanan. Berkata Sunan Bonang: “Oleh karena Rama di Ampel sudah sirna sempurna sejak sekarang Ratu di Majapahit dapat diganggu gugat. lalu disentuhkan sampai rapat. Baju jubah lalu diterima oleh Jeng Sunan Kali segera dipakai sudah diberi nama Baju Antakusuma.a.” Berkata Sunan Undung: “Seumpama Sang Prabu menolak dan karenanya kita terpaksa mengadakan peperangan bolehlah orang Undung yang ajdi Denapati ing ngalaga. Selesainya salat Subuh lalu para Wali melihat ada menggantungnya sebuah bungkusan berisi baju jubah yang dibungkus dengan kulit dan ada tulisan yang dialamatkan kepada Sunan Bonang. kalau nanti Sang Prabu menolak dan murka karenanya barulah kita hadapi. Adapun bungkusnya yang berupa kulit itu diberikan kepada Sunan Bonang. Adapun tidak antara hari lalu para Wali membangun masjid Demak dimulai bakda Isya dan pada waktu Subuh selesai. Sang Prabu telah mengetahui seluruh isi surat. lalu dibikin baju kutang diberi nama baju Ki Kundil.” Aryadila dan Pangeran Patah mematuhi nasehatnya Sunan Gunung Jati. ponggawa tujuh yang diutus yang diutus membawa surat itu datang sudah di Majapahit. Adapun Sultan Palembang dan Pangeran Patah lalu mohon berempungan karena Rama Prabu Majapahit masih belum Islam semoga memeluk agama Islam serakyatnya semua. Para Wali barulah mufakat kepada arahnya kiblat. Para Wali pada muji syukuran kepada Allah. Setelah selesainya mufakat Baitullah segera pulang ke asalnya. akan tetapi setelah mau diadakan salat Subuh para Wali merasa ragu-ragu perihal kiblatnya.datang sudah di demak. tangan kanan memegang Baitullah tangan kiri memegang masjid. Para wali masih belum mufakat pada berempug arahnya kiblat. Baju jubah darih sih pemberian Jeng Nabi Muhammad s. surat diterima sudah oleh Sang Prabu Brawijaya. Segera Sunan Kali bertindak. segera duta tujuh diusir. Pageran patah dan Aryadila mengadakan jamuan kehormatan. bagaimana mufakatnya para saudara. semuanya Sang Prabu murka lalu memanggil Dipati Teterung diperintah mengumumkan seluruh para wadyabala bupati sentana mantri dan . lalu menulis sebuah surat. semoga diberikan kepada Jeng Sunan Kali karena yang mengesahkan kiblatnya masjid.w.

Tikus dibunuh seekor menjadi dua. surak gegap gempita laksana gemuruhnya daratan longsor berbaurnya suara gong beri dan gendang bende laksana berhentinya daratan. Telah selesai olehnya mufakat dan penuh siap siaga keperluan untuk berperang. Undung. Aryadila sudah di tengah-tengah medan perang membawa peti jimat lalu peti dibuka mengeluarkan gelap gulita menyerang menyelimuti musuh. bedil.tamtama diharuskan siap siaga seluruh alat perang. Cirebon. meriem. panah. disengati oleh ribuan lebah. Ki Kuwu Cirebon mengusap badon batok lalu mengeluarkan tikus putih sepasang terus mengamuk. Segera Sunan Undung mengenakan baju Ki Kundil dan Antakusuma. banyak yang mati. Bala tentara Majapahit sudah siap siaga menghadang. Bonang. Lalu Pangeran Kudus memukul tanda bende si Macan. totog dan keris. menantang gembar gembor: “Hai orang Majapahit. Kudus. Sunan Bonang menghunus keris mengeluarkan lebah ratusan ribuan menyerang menyengati musuh. panah totog tulup bandring brengkolan gegetuk ramai berperang campur. Diceritakan yang sedang bermusyawarah tak lama kemudian duta tujuh sudah datang. lalu Sunan Undung memperlihatkan dirinya. Sunan Kali mengetahui bahwa Sunan Undung gugur lalu jenazahnya diambil dibawa pulang Sunan Kudus yang mengganikan jadi Senapati. seluruh wadyabala Islam sudah disiap-siapkan terus maju jalan menuju Majapahit datang sudah di medan peperangan.” Berkata Dipati Teterung. pedang. Segera pecahlah perang besar. Segera cepat Dipati Teterung menombak tubuh Sunan Undung dan jatuhlah ia di tanah gugur terbareng dengan terdesaknya tentara Islam. bedil.”Siapa gembar gembor menantang tapi seperti setan tidak terlihat. Segera barisan Demak. Palembang.” Kanjeng Sunan Undung mengetahui pastinya memperoleh derajat Awliya Sabilullah. diliputi gelap gulita. Seluruh wadyabala Majapahit geger busekan/geger panik. baris upacara supaya siap siaga penuh untuk berperang. hadapilah Senapati Dalem Majapahit. di mana Ratu kalian Brawijaya kalau mau aku Islamkan kalau tidak aku potong lehernya. Sunan Bonang segera maju di medan laga dan Sunan Gunung Jati diiring oleh Ki Kuwu Cirebon. meriam. dilepaskannya baju Ki Kundil dan Antakusuma lalu baju pulang dengan sendirinya dengan terbang mendekati yang empunya. tumbak. menyerang wadyabala Malapahit. kalau engkau sesungguhnya Wali perlihatkanlah diri engkau. Dipati Teterung namanya. hilang . Diceritakan Senapati ngalaga Kanjeng Sunan Undung maju di medan laga. mimis seperti hujan. Lalu diputuskan oleh para Wali yang jadi Senopati itu adalah Sunan Undung.

dua jadi empat hingga berketi-keti berjuta-juta. Alat-alat perang dan alat-alat rumah tangga barang-barang benda kayu rusak semau digigiti oleh tikus. Wadyabala dan rakyat Majapahit lari bubar ke tujuannya masing-masing, yang sebagian turut Islam dan yang sebagian lari ke gunung-gunung. Dapati Teterung sudah dibelenggu oelh Pangeran Kudus. Diceritakan Sang Prabu Brawijaya merasa tidak tahan karena sangat pribawanya para Wali lalu ngahyang/keluar dari kraton bersama istri dan para putri dari Cempa, lalu Prabu Brawijaya dan pengiringnya lenyap sudah dari pemandangan. Seluruh para Bupati sentara mantri dan kraton sekekayaannya sudah dijarahi/dirampas. Rakyat Majapahit sudah memeluk agama Islam. Tidak antara lama kemudian Prabu Kediri, sebuah negara bagian Majapahit, yang bernama Gridhra Wardhana mengumumkan Majapahit merdeka tidak takluk kepada Demak beri kubu kota di Kediri. Diceritakan para Wali mengadakan riungan di pesanggrahan Demak. Pangeran Kudus sudah datang mengiringkan tawanannya tawanannya Dipati Teterang dan para Bupati sentana mantri dan rampasan perang berupa dunyabrana/emas picis dan lain-lain. Berkata Pangeran Kudus: “Semoga diterima dengan hormat menyerahkan tawanan dan rampasan perang, namun Dipati Teterung dimohon hukum mati, oleh karena telah membunuh Ramanda Sunan Undung.” Berkata Sunan Gunung jati: “Dipati Teterung diminta supaya memeluk agama Islam. Adapun gugurnya Sunan Undung itu lebih sempurna derajatnya Awliya Sabilullah lantaran dari Dipati Teterung dan sebanyak dunyabrana itu agar dibagikan sebagai ganjaran para prajurit prajurit yang turut berperang. Adapun para Bupati sentara mantari seluruh wadyabala Majapahit dan negara seluruh bawahan Majapahit supaya diserahkan kepada rayi Pangeran Patah, sebab yang empunya waris yang akan jadi Ratu menruskan kedudukannya Sang Prabu Brawijaya, akan tetapi raka Sultan Palembang hendaknya mau menyetujuinya, oleh karena raka sudah menjadi Sultan di Palembang.” Jeng Sultan Palembang sudah setuju di tanah Jawa sang rayi Pangeran Patah yang menjadi Raja. Para Wali sudah mufakat. Aryadila berkata: “Rayi Patah menjadi raja di tanah Jawa akan tetapi para akrab yang sudah memeluk agama Islam seyogya diberi tanah atau lainnya sebagai warisnya dari sih kemurahannya saudara dan yang adil olehnya menjadi raja berpeganganlah kepada hukum Rasul apa yang disebut

di dalam Qur’an (ialah agama resmi adalah agama islam akan tetapi tidak ada paksaan dalam memeluk agama/bebas beragama). Sudah selesai olehnya bratayuda dan urusan tawanan dan rampasan, segera Arya dila pulang ke kota Demak pula para Wali dan semua para wadyabala Majapahit, bupati sentara mantri dan gegedeng/para pembesar sudah tunduk Aryadila, Pangeran Patah dan para Wali sudah datang di kota Demak lalu berkumpul dalam masjid. Segera Aryadila memanggil para wadya majapahit diharuskan membangun kraton. Seluruh para wadya sudah bertindak. Berkata Sunan Jati: “Rayi Patah sudah waktunya dinobatkan jadi Ratu/Raja di pulau Jawa sebelah timur tanah Sunda bekas negara Majapahit menjabat sebagai Susuhunan di kraton Demak.” Segera Sunan Kalijaga mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa Sunan Jati Purba dan para Wali menetapkan Pangeran Patah dinobatkan menjadi Susuhunan di kraton Demak yang mangkurat/memangku senusa jawa sebelah timur tanah Sunda mengganti meneruskan Sang Ratu Majapahit. Seluruh rakyat Jawa Tengah, Jawa Timur sudah mengakui bahwa Raden Patah itu termashur jadi Ratu tanah Jawa bersemayam di kraton Demak disebut Sunan Bentara dan Kanjeng Sultan Abdul Patah pada akhir tahun 1489 M. (bersamaan dengan tahunnya pembangunan Masjid Demak ialah pada tahun 1411 Sakakala/1489 M.). Majapahit Grindhra Wardhana Kediri direbut oleh Demak pada tahun 1517 M. Pula Prabu Udara Singosari (sesudah ibukota Majapahit Wilwatika/Trowulan ambruk, Grindhra Wardhana raja negara bagian Majapahit mengumumkan Majapahit merseka, ibukotanya Kediri, dengan gelar Prabu Brawijaya VI dan Prabu Udara dengan gelar Prabu Brawijaya VII). Oleh karena Sunan Bentara sudah jadi Ratu/Raja tanah Jawa yang bersemayam di kraton Demak, segera memberi ganjaran seluruh para Wali dan para Pinangeran pula seluruh akrab dan para wadya sudah menerima ganjaran. Semua Cirebon diberikan pengakuan menjadi Sunan mangkurat/memangku di Jawa Barat tanah Sunda bersemayam di kraton Pakungwati Cirebon dan diberi keris tombak baris upacara pula Raden Sepat, Gedeng Trepas sebawahannya seratus orang sebaliknya Cirebon memberikan pengakuan kepada kesultanan Demak. Sunan Giri sudah menerima ganjaran tetap senegara dan Sunan Bonang diberi ganjaran tanah senegara dan diangkat menjadi Susuhunan.

Adapun Pangeran Kudus diganjar tanah senegara pula dari Undung serakyatnya tetap diwaris oleh Pangeran Kudus sebagai putranya dan diangkat menjadi Susuhunan dan ditetapkan sebagai Senapati ngalaga Demak. Adapun Sunan Kali diberi tanah senegara akam tetapai yang dipilih tanah yang berawa dibangun kraton menjadi Susuhunan Kadilangu disebut nama Sunan Kalijaga. Ada para Wali dari Daerah barat empat orang yang menolak menerima ganjaran ialah Syekh Bentong, Syekh Lemahabang, Syekh Magrib dan Syekh Majagung. Selain dari wali yang empat orang itu semua para Wali mendapat ganjaran dan para bupati sentara mantri dan para gegedeng sudah diterimanya semua ganjaran dari Sunan Demak. Ganjaranganjaran itu semuanya berada dalam kawasan kesultanan Demak. Sesudah selesai lalu para Wali pulang ke masing-masing daerahnya (ada tembang/nyanyian Jawa yang berbunyi: “Ana timun ginotong wong wolu/ada bonteng digotong orang delapan, tersiratnya), seumpama Demak tidak dibantu oleh para Wali delapan (Sunan Ampel sudah wafat), terutama oleh Cirebon yang sudah lama jadi negara beragama Islam, pasti kesultanan Demak tidak akan ada di dunia, karena melawan Majapahit itu adalah laksana bonteng melawan durian dan kesultanan Demak baru penuh jadi negara merdeka dan berdaulat di seluruh bekas kawasan Majapahit setelah direbutnya Kediri dan Singasari pada tahun 1517 M.) Sankalan tahun dibangunnya masjid Agung Demak ialah dengan gambar bulus yang bermakna: kepalanya = 1, tubuhnya = 1, kakinya = 4, buntutnya = 1, jadi 1411, dibalik jadi 1411 Sakakala/1489 M. 35. KRATON PAKUNGWATI DIPUGAR DAN DIBANGUNNYA MASJID AGUNG CIREBON Diceritakan Sunan Cirebon dan Ki Kuwu Cirebon sudah pulang ke negaranya membawa tawanan dari Majapahit seratus orang dan keris, tombak, baris upacara dan Raden Sepat, Gedeng Trepas seanaknya semua mengiring ke Cirebon. Adapun Sultan Palembang Aryadila dan Pangeran Makhdum, Pangeran Derajat, pula Pangeran Welang turut mengiring ke Cirebon memohon berguru kepada Sunan Jati Cirebon. Adapun Sunan Jati tidak antara hari kemudian menghendaki melebari kraton menyontoh kraton Majapahit hanya agak kecil. Orang-orang Majapahit sudah bertindak. Raden Sepat dan Gedeng Tepas yang mengurus, Sunan Kali yang menjadi kepala, kemudian selesailah sudah, pada tahun 1489 M. Pada tahun itu juga tidak antara lama para Wali pada berkumpul hendak meneruskan membangun

Jeng Sunan Cirebon mengumumkan pada suatu Jum’ah bahwa Pangeran Jayalelana mau mengimami Jum’ah. karena bertentangan dengan hukum syara’ (kejadian ini Sunan Kali sedang menguji kemulusan tauhidnya para Wali). Pangeran Welang. Antara hari kemudian lalu Jeng Sunan Cirebon memberi wejangan ilmu sejati. lalu betapa tidur. cuma sedumdumane/sebagian bagiannya Wali. namun Rama ing Giri/Sunan Giri yang tetap menggantikan meneruskan Rama ing Ampel almarhum/Sunan Ampel almarhum termasuk seorang Wali Sanga. sekarang hendak diteruskan. Mulai dibangun bakda Isya dan pada waktu Subuh selesai hanya satu tihang yang masih kurang. Aryadila hanya mendapat derajat selakaring/menuju tingkat Wali. Lalu Sunan Kali bertindak mengumpulkan tatal/serpihan kayu dibikin sedemikian rupa hingga menjadi tihang untuk melengkapi tihang yang kurang. ternyata Pangeran Makdum setelah membuka destarnya itu ada najis atau bangkai cecak sebesar jari kelingking. usholi kambing merah itu adalah kambing hitam. fatihahnya dandang gula. Sunan Kali yang menjadi Imam. sedemikian pula kalau mantap tobatnya kepada Allah. Segera berkata Sunan Kali: “Pangeran Makdum tadi olehnya makmum hatinya syak/ tidak diterima.” Semua para Wali lalu pada membuka destarnya meraba masing-masing kepalanya. kedatangannya hendak mohon berguru kepada Sunan Cirebon dan diberinya wejangan sudah.” Pangeran Makdum semunya malu lalu mohon maaf kepada seluruh para Wali. kalau di kepalanya ada najis itu batal salatnya dan tidak lulus kewaliannya.Masjid Agung karena tadinya fundamennya sudah dibuat. semuanya yang makmum hanya Pangeran Makdum yang syak (tidak menerimakan) hatinya. Setelah mereka selesai diwejang lalu Pangeran Derajat hanya mencapai sederajatnya Wali. sekarang batal salatnya dan tidak lulus kewaliannya. Tidak antara hari lalu Pangeran Luhung dan Pangeran Kajoran datanglah. karenanya tihang ini seterusnya disebut Saka Tatal. oleh karena Sunan Kali bertindak seperti kalawaktu mengepaskan kiblatnya Masjid Demak. akan tetapi pada . Seluruh para Wali lalu salat Subuh. Pangeran Derajat. kemauannya sendiri. Setelah selesai salat Sunan Kali berkata: “Barangsiapa yang tadi salat makmum kepadaku. Pangeran Makdum. Pangeran Welang baru welan-welan/baru beberapa bagian ia mohon izin hendak betapa. jadi disebut Pangeran Pelakaran. karenanya para Wali pada ketawa. Kalawaktu pada salah satu salat Jum’ah Sunan Kali membaca khotbahnya memakai istilah kambing merah ceplok-ceplok kemauan siapa. Setelah selesai dan perihal kiblatnya masjid para Wali sudah pada mufakat.

waktu itu ia gugur mengimamkannya, karena sedang cengeng kepada Allah (penglihatannya sedang tertuju hanya kepada Allah), tidak ubah tidak gerak, semua yang pada makmum tidak suka terima. Karenanya Pangeran Kejaksaan memutuskan hukum mati kepadanya, akan tetapi dapat pertimbangan dari Jeng Sunan Cirebon. Pangeran Jayalelana ditebus dengan emas picis dunyabrana seberat timbangan tubuhnya. Sejak itukah Jeng Sunan Cirebon lalu mengangkat Penghulu Kalamuddin, abdi Dalem dari Mesir. Sangkalan dibangunnya Masjid Agung Cirebon ialah: mungal = 1, mangil = 1, mungup = 1, jemblung = 2, gateling = 1, asu = 1, jadi 111211= 41 dibalik jadi 1411 Sakakala/ 1489 M. 36. PANGERAN KUNINGAN Diceritakan di Kuningan setelah wafatnya Dipati Awangga asal Cianjur pejabat kepada daerah Pangeran Kuningan. Ki Gedeng Kemuning dengan hormat hendak memberi tahu kepada Cirebon bersama dengan Pangeran Kuningan dan empat orang putra lelaki Dipati Awangga almarhum, Segera mereka datanglah sudah di hadapan Jeng Sunan Cirebon. Berkata Sunan Cirebon: “Selamat datang Gedeng Kemuning, kemungkinan ada warta yang penting.” Segera Ki Gedeng Kemuning berkata: “Semoga jadi pengetahuan Dalem karena rayi Dalem Dipati Awangga sudah sirna sempurna meninggalkan empat anak lelaki, dan ini menghadapkan putra Dalem Pangeran Kuningan mudah-mudahan sudah seyogya menjadi Adipati memangku negara.” Jeng Sunan Jati meluruskannya lalu berkata: “Sekarang putraku Pangeran Kuningan aku angkat dengan diberi gelar Pangeran Dipati Awangga yang memangku negara Kuningan dan anak anda yang jadi saudara tunggal menyusu. Adapun anak rayi Dipati Awangga almarhum diberi nama yang pertama Dipati Anom, yang kedua Dipati Cangkwang, yang ketiga Dipati Sukawayana dan yang keempat Dipati Semanunggal menjabat sebagai pembantu Dipati Awangga/Pangeran Dipati Kuningan, adapun anak anda Arya Kemuning menjabat sebagai pelaksananya.” Setelah selesai keputusan Jeng Sunan Jati, Gedeng Kemuning lalu mohon pamit bersama Pangeran Dipati Awangga pulang kembali menuju Kuningan pada tahun 1499 M.

37. BANTEN Diceritakan Kanjeng Sunan Gunung Jati sedang berempug dengan sang istri Nyi Mas Kawunganten karena tanah barat belum ada yang jadi pikuat agama drigama. Adapun yang dikehendaki hanya sang putra Pangeran Moh. Hasanuddin. Sang istri berkata: “Setuju sekali namun mohon bertempat di lingkungan Kawunganten.” Jeng Sunan Jati meluluskanny. Lalu Jeng Sunan Jati karsa/menghendaki bertolak ke Kawunganten bersama dengan sang istri dengan sang putra Moh. Hasanuddin/Sebakingkin mengendarai kapal layar berlayar datang sudah di pantai barat, Jeng Sunan Jati bersama sang istri sang putra lalu datang di Kawunganten. Seluruh para murid pada kumpul menghadap dengan bersuka ria dan para gegedeng tetangga desa sudah pada menghadap. Berkata Jeng Sunan Jati: “Semoga kalian jadi tahu sekarang aku membangun pikuat mengukuhkan agama drigama sebagai wakil mutlakku, menjabat penata agama ialah putraku yang bernama Pangeran Moh. Hasanuddin.” Jeng Sunan Jati lalu memerintahkan membangun kraton di ibunegara/ibukota. Seluruh para murid sudah turut, disebut dengan gelar Kanjeng Sultan Moh. Hasanuddin sudah termasyhur bersemayam di kraton Banten. Jeng Sunan Jati sudah selesai menobatkan sang putra menjabat sebagai Sultan Banten dan diberi keris Kaki Naga Gede dan lain-lain pada tahun 1526 M. Antara hari kemudian lalu Jeng Sunan Jati pulang ke Cirebon mengendarai kapal layar. Segera berlayar dan setelah datang di tengah lautan diserang bahaya, kapal layarnya terputar di air pusar. Seluruh para awak kapal pada mohon pertolongan kepada Gusti Sunan Jati. Segera Jeng Sunan Jati menyawuk/menangkap air yang mulek/ air puser itu saksana/sekonyongkonyong air dicawuk menjadi keris berluk sembilan lalu keris diberi nama Kaki Air Mulek. Setelah air dicawuk menjadi keris lalu air yang menjadi bahaya tadi lenyap bisa lagi seperti semula. Segera kapal layar lalu dipercepat perjalanannya datang sudah di pesisir/pantai Cirebon. Jeng Sunan Jati lalu masuk ke dalam kraton Pakungwati. 38. RAJA GALUH DAN SAYAMBARA PANGURAGAN

Diceritakan di kraton Rajagaluh Sang Prabu Cakraningrat sedang diseba. Seluruh pada Danghyang, pula Dipati, para Gegedeng dan para perwira tentara pada berkumpul. Berkata Sang Prabu: “Hai Dipati Palimanan, mana keterangannya Sunan Cirebon, sebab itu adalah orang ngumandi/menjadi benalu sudah lama belum ada permohonan izinnya.” Berkata Dipati Palimanan: “Duhai Gusti, mohon ampunan Dalem karena tidak berhasil, betapa seringnya hamba mengurus para gegedeng dan bertindak pribadi, akan tetapi negara Cirebon tidak terlihat, apabila sementara para gegedeng dapat melihat Sunan Jati atau bisa memasuki negara Cirebon dan bertemu dengan Sunan Jati mereka tidak pulang kembali, para gegedeng sudah banyak yang pada anut.” Berkata Sang Prabu: “Demang Rajagaluh sekarang supaya bertolak ke Cirebon hingga sampai bertemu sendiri dengan Sunan, harap diberitahu supaya mau seba ke Rajagaluh, dan harus mengirim upeti tiap tahun, kalau tidak anut kepadaku niscaya Sunan Cirebon akan dirampas rajakayane/kekayaannya dan boleh dipotong lehernya, kalau menghendaki perang tentu aku serbu dibikin tanah hitam (Cirebon akan dibumihanguskan).” Ki Demang mengucap sandika. Segera mohon pamit terus perjalanannya dengan mengepalai prajurit empat puluh orang Ki Demang perjalanannya putar-putar kembali lagi ke tempat semula, kalau ke utara terus menerus tersesat ke utara, kalau ke selatan terus tersesat pula ke selatan, senantiasa tersesat tidak tahu arah. Diceritakan Ki Gedeng Selapangan diwartakan sejak dahulu tatkala bertapa di gunung Mendang di bawah pohon pudak memuja semedi ingin mempunyai anak yang sakti lagi punjul. Permulaan bertapa bunga pudak baru kuncup, sekarang berjatuhan di hadapan Ki Pendeta saksana/sekonyong-konyong dikabul oleh Rabbul ‘Alamin di antara bunga pudak yang jatuh di tanah itu ternyata jadi bayi perempuan, lalu bayi itu dibawa pulang. Ki Pendeta baru usai dari tapanya lalu bayi itu diberi nama Panguragan. Menurut kaol (riwayat) lain Panguragan adalah putra angkatnya dari Sultan Aceh dan seorang adik kandung perempuan dari Fadhillah Khan/Faletehan. Ki Pendeta (Pangeran Cakrabuana) lalu membangun dukuh/pemukiman semua tanam-tanaman serba jadi, seterusnya termasyhur dukuh itu disebut dukuh Panguragan.

beritahulah kepada si bapak yang engkau senangi.” Berkata Ratna Gandasari: “Rama. dan engkau kalau tidak mau bersuami tentu dirusak dukuh Panguragan ini.” Berkata Ki Pendeta: “Hai bayi. Diceritakan Nyi Mas Panguragan sudah termasyhur ke lain-lain desa keperwiraan saktinya lagi indah elok cantik rupanya seperti punjul sebuana. satria dan para nakhoda. mana yang engkau pilih salah seorang dari semua yang telah melamar engkau. hamba mau pula bersuami akan tetapi kalau hamba sudah terkalahkan siapa saja yang bisa menangkap hamba. sekarang sang putra belum suka mempunyai suami. para nakhoda yang sedang menunggu di pondokannya masing-masing. para nakhoda yang sudah melamar berduyun-duyun.Diceritakan Nyi Mas Panguragan sudah berumur limabelas tahun. itulah orang yang hamba akan mengabdi kepadanya. segera sudah mengumumkan kepada seluruh gegedeng. masih enak mengolah tubuh. Diceritakan orang-orang dua puluh lima negara sudah membangun pemondokan menunggu utusan Ki Pendeta membawa balasan lamarannya masingmasing. Demang. bahkan ia sudah be’at/berguru kepada Sunan Gunung Jati. . Dikatakan oleh Jeng Sunan Jati bahwa walaupun engkau adalah perempuan tetapi engkau adalah menjadi prajurit Awliya. walaupun orang melarat kalau bisa menangkap hamba itu tandanya jodoh hamba. Satria. disebut-sebut namanya oleh tiap orang.” Berkata Sang Putri: “Rama. yang melebihi kesaktian hamba. bahkan sudah banyak para gegedeng para bupati dan para satria pula para juragan. Bupati.” Segera Ki Pendeta memanggil seorang pembantu diminta pergi ke pemondokan orang-orang dua puluh lima negara untuk mengumumkan siapa saja yang bisa mengungguli keperwiraannya dapat menangkap Ratna Panguragan ia itulah menjadi tanda jodohnya dan mengabdi kepadanya. Mantri. dan para Gegedeng pula para juragan. sudah cukup waktunya engkau mempunyai suami. Diceritakan Pendeta Salapandan memanggil menghadap Sang Putra Nyi Mas Panguragan yang disebut pula Gandasari. silahkan Rama mengadakan sayembara kepada orang-orang dua puluh lima negara. Pembantu itu keluar sudah. jangan lagi para pembesar. Berkata Ki Pendeta: “Putriku Pengurangan aku minta engkau supaya mau bersuami. seandainya ada seorang yang diterima lamarannya pasti yang lain tidak menerimakannya. tidak enak orang yang jadi kembang bibir.

Seluruh para Aruman. Diceritakan Nyi Mas Panguragan sudah memasuki arena sayembara di tengah-tengah balabar/batas medan sayembara berbusana putri raja indah gemerlapan laksana bidadari dari surga.” Sang Putri segera turun sambil mendupak Ki Plumbon jatuh terjengkang berguling di tanah diinjak perutnya yang buncit. sebab harumnya Nyi Mas Panguragan melebihi harumnya bunga atau minyak wangi. Orang-orang dua puluh lima negara bersuka ria saling berebut dulu mendahului. kalau memakai kembang dari para Aruman. Ki Gedeng ketawa terbahak-bahak sambil berkata: “Nini putri jangan lari. oleh karena tubuhnya yang harum. Ki Plered ditendangnya jatuh terjengkang. Sang Putri terus berlari di ladang persawahan. Berjatuhanlah ke tanah kembang dari Sang Putri. Dengan gugup Ki Gedeng Plered berusaha menangkapnya segera Sang Putri melesat ke atas.” Segera orangorang dua puluh lima negara maju serentak saling berebut dahulu mendahului saling desak mendesak. unggulilah kesaktianku niscaya aku mengabdi kepadanya. tangkai waru janganlah suka menghindari bokor tanah. larilah sampai akhir jagat si kakak tentu mengiringi. Gedeng Plumbon melambai-lambai: “Adik turunlah dibimbing oleh si kakak. Sang Putri masuk ke dalam hutan. rebutlah tubuhku. oleh karena ia adalah seorang manusia yang tubuhnya berbau harum sekali. Ki Gedeng Kandanggaru berusaha memegangnya tetapi tidak kunjung kena bahkan ia terserempet . para Ifrit pada mengiringinya ke medan laga sambil menyiarkan bebauan harum sekali memenuhi sekeliling medan laga. Orang-orang dua puluh lima negara melihat keluarnya Sang Putri dan pengiring pada terlongong-longong masing-masing tidak berkedip. sepanjang umur aku gauli. Sang Putri meleset. barangsiapa yang bisa menangkapnya sungguh jantan. karenanya seluas hutan itu nantinya disebut hutan Wanasari makanya Nyi mas Panguragan disebut pula Nyi Mas Gandasari. para Ifrit. Sang Putri segera siap siaga. Segera Sang Putri menantang: “Hai orang-orang dua puluh lima negara. jangan memelet jangan menduyung. orang ayu janganlah suka mengecewakan. Ki Gedeng Kandanggaru menyandak. kakak cinta sendiri kembang biru di atas kuburan. seluruh dedaunan dan pepohonan yang pada tersentuh olehnya jadi berbau harum. kelapa tua beriringan seperjalanan. si kakak sungguh cinta lubang disusun dengan batu bata. jauh-jauh dari kandanggaru akhirnya ditinggal lari. Ki Ujung gebang menubruknya meleset karenanya jatuh tengkurap. bantu berumpun.Segera mereka siap bertindak memasuki medan sayembara.” Lalu sang putri lari dikejar sampai di pedesaan.

negara Cempa bawah angin. Ki Gedeng karenanya merasa malu sekali lalu pulang sambil berkata: “jangan sekalikali anak cucuku menanam padi merah karena aku mendapat malu itu dikarenakan oleh padi merah.” Sang Putri lalu pulang menghadapi lagi sayembara ramai sudah orang-orang menonton pada sorak gegap gempita berjubel-jubel. Sang Putri cepat panah ditangkis. Segera Jaka Supetak melihat sayembara lalu ia memasuki ke tengah balabar/batas tempat sayembara. lekaslah anda menurut bersama-samaku pulang ke negara Indramayu. dan Jaka Supetak berjalan ke darat hingga datang di Panguragan berbarengan dengan terdengarnya suara sorak-sorak gegap gempita. Sang Putri membalas melepaskan anak panah yang sudah cepat terlepas laksana kilat dan mengenai tubuh Satria Indrakusuma itu karenanya ia jatuh berguling di tanah dengan disuraki gemuruh. Segera anak panah itu dilepaskan. ia mengetahui tulisan yang ada di anak panah itu. Diceritakan seorang putra sebrang yang baru mendarat di pantai Cirebon dari laut. Diceritakan yang sedang menghadapi sayembara itu adalah putra Dalem Indramayu yang bernama Satria Indrakusuma memegang busur panah yang pada anak panahnya tertulis ditujukan kepada Sang Putri yang dirindui oleh hatiku tidak lain terbayang di hitam-hitamnya mataku hanya Ratna Pengurangan sebagai calon mustika yang senantiasa akan dipuja.” Sang Putri segera memegang busur panah dan anak panahnya dilepaskan. jangan cari gara-gara. siapa nama anda?” Berkata Jaka Supetak: “Putra dari sebrang. janganlah mati sebelum diketahui namanya. Berkata Jaka Supetak sambil ketawa: “Hai sang putri mana panah yang paling ampuh habiskanlah prawira sakti anda kalau mau menguji calon suami anda. Lalu Jaka Supetak mendekatinya.” . habiskanlah sekehendak anda terlebih dahulu. Jaka Supetak namaku. Nin Putri baiklah tunduk. orang cantik ayu sayanglah kalau tidak jadi mustikannya kratonku. Jaka Pakik berjalan ke selatan. jatuhnya anak panah ke tubuh Jaka Supetak hanya seperti batu yang dilemparkan. yang bernama Jaka Supetak dan Jaka Pekik dengan mengepalai wadyabala seratus orang siluman yang beruap manusia hendak menerobos negara menguasai se pulau Jawa.oleh padi merah lalu jatuh tengkurap. Jaka Supetak menadahi. Sang Putri mencibirinya. berkata Sang Putri: “Hai satria. jangan nanti sampai elik/menolak di belakang hari. karenanya orang-orang Indramayu lalu mengundurkan diri. Karena aku tersesat memasuki sayembara ini niscaya musuh tidak ada yang keluar hidup-hidup. namun datangnya tersesat di pantai Cirebon Kedua putra ini kebingungan lalu berjalan ke arah masing-masing untuk menyelidiki daerah baru itu.

kalau bisa terangkat oleh engkau nyatalah ia jodoh engkau. Jaka Supetak engkau belum waktunya mati. Jeng Sunan Jati berkata: “Itulah buahnya orang yang mendahului karsa Ilahi jadi engkau adalah siluman beruap manusia engkau menyangka lebih perwira sakti mau merebut negara menguasai sepulau Jawa akan tetapi kenyataannya engkau baru oleh seorang perempuan saja sudah dikalahkan.” Segera Jaka Supetak sewadyabalanya terjun ke dalam sungai. baiklah turut ke Cirebon. hamba merasa Tuan itu beribu sakti perwira. jangan lagi membuka merebut senusa Jawa tapi oleh seorang perempuan saja engkau menyerah. Diceritakan Kanjeng Sinuhun Jati Purba yang sedang berdiri di pinggir sebuah sungai. tapi sang putri tidak bisa terangkat bahkan tidak bergeming. Jaka Supetak sudah di hadapannya. engkau janganlah menghadapi buruanku.” Keris lalu diterima. Segera ia berkata: “Hai Paman. Panguragan telah kalah dalam pertandingan karenanya ia sudah dipastikan menjadi istriku.” Jaka Supetak segera mengangkat sang putri. hamba merasa malu sekali tidak bisa bercampur lagi dengan sesama manusia.” Berkata Jaka Supetak: “Oleh karena hamba lebih sangat malu sekali hamba seterusnya tidak bisa bercampur lagi dengan manusia. Kerannya sang putri tertawa terbahak-bahak sambil mengejek. Jaka Supetak malu sangat tidak bisa mengangkat mukanya diam mematung. Keris Jaka Supetak mengeluarkan api bersemburan. namun hamba mohon izin bermukim di dalam sungai ini. ia berkutetan berusaha mengangkat tubuhnya sang putri namun sang putri tidak berubah dan tidak bergerak. bangunlah sebuah dukuh sekehendak engkau. tidak antara lama datanglah Nyi Mas Gandasari mohon senjata pertolongan. baiklah Tuan bunuh hamba. Jeng Sunan Jati berkata: “Aku adalah Susuhunan Cirebon.Sang putri memegang senjata andalannya segera ditusukkan ke tubuh Jaka Supetak. terimalah keris ini.” Jaka Supetak lalu menyembah sujud dengan berkata: “Siapakah Tuan itu. ada manusia . Berkata: “Jeng Sunan: “Jaka Supetak sewadyabalanya seperti buaya. Sang putri lalu lari merasa tidak kuat. namanya. Jati Purba namaku. Jaka Supetak mengejarnya.” Berkata Jeng Sunan Jati: “Aku belum nyata bahwa Panguragan kalah dalam pertandingan. oleh karena Jaka Supetak sangat dengan sekuat tenaga berusaha mengangkat sang putri hingga terkentut. Jaka Supetak menangkis dengan sebuah keris saling tangkis menangkis.

bermukim di dalam air. Syarif syam namaku mau berguru kepada Awliya Cirebon dan yang bisa memotong rambutku sungguh aku akan mengabdi kepadanya.” Segera Ki Bentong masuk ke dalam bung-bung sambil memanggil-manggil. bagi orang Jawa untuk mengerti syahadat saja itu sudah terhitung dhaif. lalu datang di kebun bayam.” Syarif Syam terheran-heran ada percaya ada tidak. Syarif Syam melihat bahwa bung-bung itu ternyata adalah sebuah pintu besar lalu ia masuk. sungguh Paduka itu adalah Awliya Allah hamba mohon berguru. karena tadinya ada hawatif/suara tanpa rupa terdengar menyuruh mencari guru yang mursyid/guru petunjuk Awliya Kutub di Cirebon. Setelah selesai Ki Bentong lalu berkata: “Adapun ilmu . mohon sih ampun Dalem.” Berkata Ki Bentong: “Itu kitab dua perahu bagaimana membacanya. yang jadi Imam ternyata adalah Ki Bentong. dan semoga Paduka mau memotong rambut hamba. Termasyhur seterusnya sungai itu disebut sungai/kali Kapetakan. jangan ngobrol saja.” Ki Bentong lalu memberinya wejangan ilmu kezhahiran. kegunaan perwira sakti. Syarif Syam lalu turut makmum. siapa namanya dan apa keperluannya?” Syarif Syam menjawab: “Saya berasal dari negara Syam. Sebakdanya salat Syarif Syam lalu sujud menyembah sambil berkata: “Duhai Kyai. di situlah tempatnya aku menjalankan salat. Syarif Syam melihat ada seorang lelaki yang sedang membentong/memukul buah gayam untuk diambil isinya lalu memanggilnya: “Hai Kaki di mana tempatnya Awliya Cirebon dan ke mana arahnya negara/kota?” Berkata Syekh Bentong: “Di selatan arahnya negara Cirebon.” Berkata Ki Bentong: “Di bungbung/bambu ini yang terkait di pagar. Syarif Syam lalu mendarat di pantai Cirebon mau mencari Awliya Kutub meneruskan perjalanannya. Segera Nyi Mas Gandasari pulang ke Pengurangan dan Sunan Jati lalu pulang ke kraton Pakungwati. dan berkata: “Hai kaki masuklah anda terlebih dulu nanti aku mengikuti. dan ia itulah yang bisa memotong rambutnya yang seperti kawat.” Berkata Syarif Syam: “Ini waktu sudah Zhuhur. silahkanlah anda masuk di dalam bung-bung. Pula aku membawa kitab dua perahu untuk mufakatkan perihal ilmu. marilah Kaki Kita salat. di mana tempatnya salat. Diceritakan ada satria yang baru datang di pantai Cirebon membawa kitab dua perahu dari Negara Syam/Syria yang bernama Syarif Syam.” Ternyatalah Jaka Supetak sewadyabalanya salin rupa menjadi buaya. mungkin pula Waliyullah di situlah kediamannya dan anda dari mana. di dalamnya terlihatlah masjid yang lebih besar dan banyak orang yang turut makmum.

Mas Behi maju ke depan ditampar lehernya bengkok. Kakek Tua lalu memegang rambutnya. Lalu rambut itu ditanamnya di bawah pohon asem di tempat itu pula. Antara lama kemudian Ramagelung berjumpa dengan seorang kakek tua. melihat orang-orang sedang bersayembara penuh berjubel sambil sorak-sorak gegap gempita. Sang Putri bertindak. Kakek Tua lalu lenyap. Ki Demang Citratanaya menubruk. majulah semuanya. Ki Nakhoda . rambutnya bergelantungan tidak dapat digelung karena kerasnya seperti kawat.” Segera Remagelung membelakanginya. sebab mengingat tatkala getasnya/rapuhnya rambut Remagelung. Berkata Remagelung: “Hai kakek tua di mana tempatnya Sunan Cirebon. Ki Tumenggung memuluk disambut dengan patrem/ badik punggungnya sobek.” Remagelung berkata: “Sukalila/suka ridha kalau Kakek Tua mau memotongnya. karena suka ridha dipotong rambutnya dan jadi masyhur tempat itu seterusnya disebut Karanggetas. Remagelung kehilangan Kakek Tua. Segera orang dua puluh lima negara menyerbu dengan serempak. Sang Putri meleset ke atas sambil mendupak dan menampar.” Berkata Kakek Tua: “Kasihan sekali orang Syam ini.kebatinan setauhidan Sunan Cirebon nanti yang memberi wejangan pula yang memotong rambut anda dan anda diberi nama Pangeran Remagelung. seyogya cepatlah datang ke Cirebon. sudah gundul kepalanya lalu memakai dester hijau seterusnya disebut Pangeran Sukalila. kalau menjadikan sukalilanya saya akan memotongnya.” Remagelung mengucap sandika. Lalu ia terbang ke angkasa ke utara barat menujunya kemudian ia datang di Pengurangan.” Berkata kakek Tua: “Wallahu a’lam tempatnya Sunan Cirebon dan anda dari mana. Segera pangeran Sukalila meneruskan perjalanannya mencari Kakek Tua siang malam tidak ditemukan. Diceritakan Sang Ratna Panguragan sudah keluar berada di tengah-tengah medan laga di dalam balabar arena sayembara sambil menantang: “Hai wong salawe negara/orang dua puluh lima negara (maksudnya kepada orang-orang yang turut memasuki sayembara) janganlah maju seorangseorang. lalu mohon pamit meneruskan perjalanannya. Ki Demang jungkir balik mundur dengan merangkak. segera rambut itu getas/rapuh putus berjatuhan di tanah. siapa namanya dan apa kemauannya?” Berkata Remagelung: “Putra Syam mau berguru kepada Sunan Cirebon yang bisa memotong rambutku sungguh-sungguh aku akan mengabdi kepadanya. Ki Dipati Rangkong hendak menangkap disambut dengan patrem lehernya terkulai mundur ditandu. namun saya minta melihatnya dari belakang.

Seluruh penonton sorak-sorak gegap gempita. Berkata Sang Putri: “Hai satria. Gandasari sudah bersembunyi di sabuknya: “Hai Paman. siapa saja yang bisa menangkap saya. Berkata Pangeran Sukalila: “Hai Paman. lalu Sang Putri lari. siapa anda yang turut masuk sayembara.hendak memeluk. Sang Putri meleset ke angkasa bersembunyi di mega putih.” Jeng Sunan Jati lalu minggir dari situ. Sukalila namaku. Sang Putri lenyap memasuki bunga cempaka. Gandasari segera keluar dari cincin itu . Sang Putri mendahaki. dikejar olehnya dari belakang. tidak jadi melihat sabuk.” Segera Sang Putri melepas sarotama dan melepas senjata-senjata laksana hujan. sayang sekali oleh kecantikan anda yang punjul. Segera Sang Putri mencabut aptrem ditusuk-tusukannya. Segera Pangeran Sukalila datang sudah di hadapan Ratna Panguragan. Jeng Pangeran menadahi sebuah panah pun tidak ada yang mempan. minggirlah dulu. Jeng Pangeran sudah ada di belakangnya. anda jangan berdiri di situ. Jeng Putri masuk ke dalam bumi. “Hai Paman. jangan anda hendak membantu: “Nyi Mas Gandasari berkata: “Aku mengadakan sayembara.” Jeng Sunan Jati lalu melepaskannya. tapi cincinnya aku mau lihat rupanya lebih bagus. Jeng Pangeran hanya berdiri tidak bergeming sambil senyum.” Berkata Sang Putri: “Hai satria disayangkan sekali sombong perkataan anda. Orang dua puluh lima negara semuanya ketakutan. sedang berdiri di pintu gerbang bersama Ki Kuwu Cakrabuana. pantas lebih seyogya anda kalau diperistri olehku. anda perempuan siapa dikeroyok oleh orang dua puluh lima negara. Jeng Pangeran merupa jadi lebah. Tidak lama kemudian ada datangnya Nyi Mas Gandasari bersembunyi di bawah telapak kaki Sunan Jati. Lalu Pangeran Sukalila datanglah sudah di hadapan Jeng Sunan Jati. itu tandanya jodoh saya. sabuk anda aku lihat. Sang Putri segera ditangkapnya tapi tidak tertangkap seperti menangkap bayangan. Jeng Pangeran menyusul dantang sudah di hadapannya. kembang dihisap sarinya.” Berkata Pangeran Sukalila: “Sebaiknya anda menurut kepadaku untuk menghindari kemungkinan tewas. aku minta sukanya.. jangan mati tanpa nama. Nakhoda mukanya rusak mundur dicikrak. ulahnya cekatan. kalau anda sungguh perwira sakti sediakanlah dada anda ditimpa sarotamaku/tumbakku.” Berkata Pangeran Sukalila: “Putra negara Syam. rupanya anda prajurit perwira sakti.” Jeng Sunan Jati lalu melepas cincinnya. Diceritakan Kanjeng Sinuhun Jati sedang membangun ketemenggungan dan masjid Jagabayan dan tempat penjagaan untuk orang-orang jaga/piket di suatu pintu kota pada tahun 1500 M. Gandasari sudah keluar dari sabuk lalu bersembunyi di cincin kelingking yang kiri Sunan Jati.

Sukalila namanya memang Paduka dari awal yang dimaksud/dicari karena hamba hingga telah memasuki sayembara Panguragan. Jeng Sunan Jati lalu diterjangnya berusaha menangkap Gandasari.” Perjanjian Nyi Mas Gandasari dengan Pangeran Sukalila disaksikan oleh Ki Kuwu Cirebon pula oleh Sinuhun Jati Cirebon dan Pangeran Sukalila disuruh selanjutnya membangun dukuh sekehendaknya. 39. semoga Paduka suka mengaku kepada hamba dan menerimanya kitab seperahu dan pengiring hamba dari Syam semoga diterima dan pula hamba mohon dapat terlaksana dijodohkan dengan abdi Dalem yang bersama Gandasari. Seterusnya dukuhnya itu tambah ramai turut dihuni oleh pendatang-pendatang baru. siapa nama anda.bersembunyi di belakang Jeng Sunan Jati.” Berkata pangeran Sukalila: “Mematuhi kehendak Dalem Gandasari di batin istri hamba. oleh karena itulah anda supaya menerimanya. Jati Purba namaku dan anda berasal dari mana.” Berkata Jeng Sunan Jati: “Pangeran Sukalila dari kesediaannya Gandasari supaya minta bersuami nanti saja di batin. lalu mohon pamit meneruskan perjalanannya diiring oleh rombongannya dua puluh lima orang ke arah utara. KI GEDENG PALUAMBA DAN PERANG RAJAGALUH . setelah datang di suatu tempat yang ada tumbuhan pohon kendal besar Pangeran Sukalila dan rombongan beristirahat merasa senang lalu membangun dukuh di sana seterusnya dukuh itu disebut dukuh Karangkendal dan Pangeran Sukalila seterusnya disebut Pangeran kaangkendal.” Pangeran Sukalila menjawab: “Hamba adalah putra Syam. Paduka itu siapa hamba tidak mengetahui.” Jeng Sunan Jati sudah menerima apa yang dikatakan oleh Pangeran Sukalila lalu berkata: “Gandasari.” Menjawab Sang Ratna Gandasari: “Hamba menurut kehendak Paduka akan tetapi hamba mohon batin (mohon kelak nanti saya di akhirat). Adapun Pangeran Sukalila oleh karena sudah mendapat izin untuk membangun sebuah dukuh/pemukiman.” Berkata Jeng Sunan Jati: “Aku adalah Sunan Cirebon. lebih seyogya kalau engkau jadi satu dengannya. Pangeran Sukalila habis kesabarannya. Pangeran Sukalila saksana/sekonyong-konyong lumpuh jatuh di hadapan Jeng Sunan Jati tidak bisa ubah dan bergerak. di lahir hamba persaudaraan dengan Gandasari. sungguh hamba bermaksud berguru kepada Paduka dan menghadap zhahir batin. sesungguhnya Paduka yang hamba cari. engkau aku tari/damai kalau bersuami menuruti permintaan Pangeran Sukalila. Pangeran Sukalila lalu bertobat sambil berkata: “Duhai Gusti mohon perampunan.

” Ki Gedeng Paluamba dan Ki Gedeng Kemuning lalu meneruskan tujuannya masing-masing. san Dipati Semanunggal hendak menghadap kepada Jeng Sunan Jati Cirebon diiring oleh Ki Gedeng Kemuning. kalau menghendaki perang akan digempar kotanya dibikin tanah hitam (dibumi hanguskan).Diceritakan di negara Kuningan Pangeran Dipati Awangga/Pangeran Dipati Kuningan dengan Dipati Anom. kalau tidak dipatuhi Sunan Cirebon boleh di bunuh dan dirampas kekayaannya. kalau suka dipersilakan datang di Kuningan. oleh karena telah turut sayembara putri di Penguragan berhasil tidak bahkan mendapat malu. Gedeng Paluamba meneruskan perjalanannya ke arah selatan terus ke Kuningan. Dipati Sukawayana. Antara lama kemudian Dipati Awangga berjumpa di tengah jalan dengan Demang Rajagaluh serombongannya. karena syahadat itu anak gembala juga bisa. mau ke Cirebon diutus supaya memberi tahu kepada Sunan Cirebon seyogya mau menghadap seba kepada Sang Prabu Rajagaluh dan diharuskan mengirim upeti setiap tahun. Arta Kemuning dan para prajurit Kemuning sebanyak limaratus orang. Dipati Cangkeang. Demang Dipasara namanya. pendapat si adik itu tidak ada gunanya. akan tetapi saya masih bingung karena belum menemukan kenyataannya negara Cirebon. Berkata Ki Gedeng Paluamba: “Kakak Gedeng Kemuning.” Berkata pangeran Dipati Awangga: “Hai Demang Rajagaluh. beritahulah kepada Gusti engkau tidak usah engkau bertemu dengan Kanjeng Rama Sunan Cirebon. Berkata Dipati Awangga: “Hai Ponggawa.” Berkata Gedeng Paluamba: “Si adik merantau di pegunungan mau bertapa. Adapun Pangeran Dipati Awangga mengendarai kuda bernama Winduhaji keturunan dari kuda sembrani meneruskan perjalanannya. siapa anda bertemu di jalan dan mau ke mana?” Berkata Ki Demang: “Saya adalah utusan Rajagaluh. berguru kepada Sunan Cirebon hanya diberi wejangan syahadat selawat saja. Ki Gedeng Kemuning meneruskan perjalanannya ke arah utara mengiring Pangeran Dipati Awangga. kakak janganlah terlanjur menghadap kepada Sunan Cirebon. untunglah .” Berkata Gedeng Kemuning: “Karena si kakak sudah tuwa tidak menghendaki berpaling ke belakang. Diceritakan di tengah jalan Ki Gedeng Kemuning berjumpa dengan Ki Gedeng Paluamba. makanya kakak percuma saja berguru kepada Sunan Cirebon. Si Kaka mau menghadap kepada Sunan Cirebon dengan Pangeran Dipati Awangga dan adik Gedeng Paluamba mau ke mana.

Berkata Kanjeng Sunan Cirebon: “Selamat datang Jeng rayi Sunan Demak sebagaimana yang dikehendaki?” Berkata Kanjeng Sunan Demak: “Dengan menghadapnya rayi di hadapan Jeng Raka seyogya ada sih berkenan mohon diberi wejangan ilmu sejati. Ki Demang dengan wadyabala Kuningan seterusnya lalu bertolak menyerbu Rajagaluh.” Berkata . kalau tidak mau mematuhi niscaya akan ku serbu negaranya. Dipati Semanunggal. Jeng Sunan Demak sudah duduk sejajar. Pangeran Dipati Awangga yang memutuskan. Syekh Majagung bersama Syekh Datuk Khafid. Buyut Kandang. Ki Gedeng Babadan bersama Gedeng Bungko. Karangkendal. pula karena Jeng Raka mempunyai putra lelaki yang belum mempunyai istri supaya berkenan dijodohkan dengan anak perempuan si rayi karena sudah cukup waktunya seyogya dipertemukan Pangeran Jayalelana dan Bratalelana dimohon kedua-duanya. Dipati Awangga dan rombongan lalu mempercepat perjalanannya datang sudah di hadapan Jeng Sunan Cirebon. Sunan Bonang dengan Sunan Kali. Syekh Lemahabang dan Syekh Bentong. Orang Rajagaluh lari terbirit-birit tunggang langgang berebut dulu mendahului. sedang duduk di balai amparan dalam riungan pada Wali dan para murid sedang memberi wejangan kitab Qur’an mengurus jalannya peraturan serengat agama. orang Kuningan gembar gembor menantang perang. Dipati Suranenggala. Abdullah Iman bersama Pangeran Kejaksaan. Diceritakan di Cirebon Kanjeng Susuhunan Jati sedang berada di gunung Jati. sebaiknya Sang Prabu Rajagaluh takluk kepada Cirebon. Adapun Demang Sing (Demang Kuningan) diperintah pulang untuk menyiap siagakan wadyabala Kuningan dengan membawa lengkap alat-alat perangnya.engkau bertemu denganku. Tumenggung Jagabaya. Gedeng Rawagatel. orang Cirebon berani digempur atau menggempur. bersama Pangeran Dipati Awangga sudah di hadapannya pula Dipati Sokawayana. Ki Gendeng Jatimerta. Gedeng Jungjang. Gedeng Tegal Gubug. sekarang engkau lekaslah pulang. Gedeng Embat Embat. Sunan Kudus.” Segera Ki Dipasara pulang kembali dengan tergesa-gesa sambil dibrengkolangi/dilempari oleh orang Kuningan. Gedeng Bayalangu. Buyut Kresek. H. Syekh Maulana Magrib. Gedeng Sangkanuripi. Dipati Cangkwang. Gedeng Ujung Gebang. pula Ki Gedeng Kemuning dan Kanjeng Susuhunan Demak baru saja datang diiring oleh bala tentara Demak tujuh ratus orang banyaknya. Pangeran Rudamala.

” Ada pun Sunan Cirebon lalu bertolak ke gunung Sembung. kalau . Para Dipati dan sentana. Ki Demang segera mempercepat perjalanannya. Patih Bangong Dipasara sudah di hadapannya. Prabu Wawangi. di tengah jalan hamba berjumpa dengan Dipati Kuningan. maka daripada itu sang putra mohon izin Dalem akan menyerbu untuk membawa kepala Sang Prabu Rajagaluh. mohon perampunan murka Dalem.” Sedangnya sidang riungan itu saling berkata lalu disela oleh Pangeran Dipati Awangga segera menghaturkan kata: “Jeng Rama dengan hormat semoga jadi pengetahuan Dalem karena tadi sang putra sudah berjumpa utusan dari Rajagaluh diutus oleh Sang Prabu Rajagaluh bahwa Jeng Rama diperintah seba/menghadap pula diharuskan mengirim upeti tiap tahun. kalawaktu dulu engkau diutus. Sang Prabu duduk di atas permadani emas diseba oleh seluruh para Sanghyang. Sanghyang Sutem.Sunan Gunung Jati: “Si Raka menyetujui kehendak rayi kedua-dua anak Raka silahkan diterima. Sunan Kali berkata: “Orang Kuningan tidak mau merendah melancangi kemauan orang tua. hamba tidak berhasil. Diceritakan di kraton Rajagaluh Prabu Cakraningrat sedang mengadakan sidang di dalam bungsal agung. para pembesar sudah menghadap semua. kalau menolak pasti Rajagaluh akan diserbu. sekarang engkau baru datang lekaslah beritahu Sunan Cirebon tunduk atau tidak?” Segera Ki Demang hatur beritahu: “Duhai Gusti. Diceritakan Pangeran Kuningan sudah mengumumkan kepada seluruh para wadyabala akan berangkat menyerbu Rajagaluh lalu memanggil Demak Singagati diutus terlebih dahulu ke Rajagaluh membawa sepucuk surat menyatakan perang. hamba telah mencari negara Cirebon sungguh belum ditemukan senantiasa tersesat ke arah utara. untuk memberi wejangan kepada Sunan Demak. Sanghyang Gempol. kalau Jeng Ratna menolak dapat dirampas kekayaannya atau dipotong lehernya. Jeng Sunan Jati diam tidak berkata. hamba ditolak disuruh pulang. Berkata Sang Prabu: “Hai Demang Dipasara. akan tetapi putra sudah memutuskan orang Cirebon bersedia melurug/menyerbu dan bersedia dilurug/diserbu dan Prabu Rajagaluh itu sekarang diminta dengan hormat takluk kepada Cirebon. dari perkataan Dipati Kuningan. mantri. Dipati Kiban. kalau sekiranya menghendaki kotanya. Cirebon berani dilurug dan berani melurug dan Sang Prabu Rajagaluh aku minta dengan hormat menaklukkan kepada Cirebon supaya memeluk agama Islam. semuanya tidak memberi izin Pangeran Dipati Awangga segera keluar.

Sang Prabu menghindar lalu merupa diri jadi kodok putih.” Segera trisula dilepaskan. Ki Kuwu menadahnya dengan tenang. Ki Kuwu menadahi dengan cincin Ampal.” Berkata Ki Kuwu: “Tidak usah Sunan Jati. RAJAGALUH KALAH PERANG DAN DIGABUNGKAN KEPADA CIREBON PADA TAHUN 1528 M. keluarlah anak panah laksana hujan.” Berkata Sang Prabu: “Aku merasa terhina perang tanding dengan engkau. Lalu Sang Prabu merapatkan Aji Wisesa. saling banting membanting saling lempar melempar karenanya tidak terdengar datang Ki Kuwu menangkap Sang Prabu dari belakang. Cakrabuanna namaku. Ki Kuwu berjumpa di hadapannya. hanya tinggal suaranya saja: . Kodok mau disambar cepat menghilang masuk ke dalam bumi.tidak mau takluk inilah Senapati Cirebon yang bernama Pangeran Dipati Awangga yang menanggung memotong lehernya orang Rajagaluh. Ki Kuwu sudah berada di belakangnya Sang Prabu cepat meleset ke angkasa bersembunyi di mega hitam. tidak penasaran perang tanding denganku. Lalu Sang Prabu melepaskan senjata capa (pedang pendek). mana Sunan Cirebon. hati-hati hanya/cuma hari inilah engkau tahu kepada terang (akan segera terbunuh). bermaksud mengislamkan. berkata Sang Prabu: “Siapa orangnya yang berani mencampuri perkelahian orang lain?” Berkata Ki Kuwu: “Aku adalah Kuwu Cirebon. ini walaupun orang kampung pesisir penjaul terasi namun aku sudah memelu agama Islam. Sang Prabu sangat heran sekali lalu mau ditangkap.” Berkata Sang Prabu: “Hai pabela (orang kampung pesisir) kalau engkau sungguh perwira sediakanlah dada engkau ditimpa trisula. karena berkahnya badong batok dan cincin Ampal pula berderajat prajurit Aeliya senjata itu tidak mempan. masih untung bermusuhan denganku ketimbang dengan engkau walaupun engkau adalah Ratu akan tetapi masih jahiliyah hukumnya.” 40. Sang Prabu segera menghindar mencari medan yang lebar. Sang Prabu lalu turun ditangkap tidak tertangkap Sang Prabu lalu melenyapkan diri secepatnya. sebaiknya anda turut. Sang Prabu lalu menghunus keris. Ki Kuwu menadahi. segera keris dituding oleh Ki Kuwu menjadi melengkung. Diceritakan Sang Prabu dengan Pangeran Karangkendal sedang berkelahi. seluruh anak-anak panah Aji Wisesa terhisap masuk ke dalam cincin Ampal. Ki Kuwu lalu cepat merupa diri jadi ular putih. karena engkau adalah bukan tandinganku sebagai Ratu/Raja bertanding dengan orang yang menjual terasi.

Diceritakan Yang Sinuhun Cirebon sedang duduk di Dalem Agung Gandasari telah datang si hdapannya sambil menghaturkan kandaga/guci emas yang berisi patung naga emas. Ki Arya mau lari. Lalu pada pulang selesailah sudah perang Bratayuda itu.” Berkata yang Sinuhun: “Seluruh mereka yang dibelenggu supaya sisuruh memeluk . wadyabala bawahan tidak berani mendekat. Ki Arya Mangkabumi menusuknya cepat ditangkap kerisnya putus. para Gegedeng tidak ada yang berani menangkapnya. Adapun Sang Prabu Rajagaluh tidak tertangkap sudah mereka yang seperti siluman. kapan saja berani. berikut kerbau sapinya dan para putri. kelak di akhir jaman pembalasanku kepada keturunan engkau dijajah orang. emas picis. nanti berani. Jeng Sunan Cirebon lalu keluar dari Dalem Agung duduk di Sitiinggil. Segera kandaga dibuka lalu terlihatlah patung ular emas itu.“Hai Cakrabuana. mengadakan sidang para Wali dan Sultan Demak. Tidak antara lama kemudian datanglah Ki Kuwu Cirebon dan Seluruh para wadyabala mengiringkan tawanan perang dan pembesar-pembesar Rajagaluh yang terbelenggu sudah berada di hadapannya. Limunding dan Palimanan sudak tunduk. Orang Cirebon sambil sorak-sorai mengiringkan para tawanan. Seluruh para wadyabala dan rakyat. jand kembang dan perawan-perawannya dirampas semua menjadi tawanan. Pangeran Karangkendal lalu merampasi seluruh kekayaan kraton Rajagaluh.” Pangeran Cakrabuana lalu pulang. pada waktu itulah harus berhati-hati. Diceritakan Ki Arya Mangkabumi menghunus kerisnya mau mengamuk karena kepergok. Ki Kuwu lalu menerangkan kejadian perang Rajagaluh dari awal hingga akhirnya dan menyerahkan tawanan dan mereka yang terbelenggu. sekarang berani. Berkata Jeng Sunan Cirebon: “Jadi jimat pusaka Rajagaluh itu ternyata adalah bentuk ulat seperti keris.” Saksana/sekonyogn-konyong jadi keris seterusnya disebut Kaki Kanta Naga. kandaga sudah diterimanya. segera tertangkap lalu dibelenggu sudah. dunya berhala. Karangkendal segera unjuk beritahu: “Bagaimana kehendak Dalem mengenai seluruh boyongan dan mereka yang sibelenggu dan para barisan dan rakyat Rajagaluh. Gedeng Bungko menari-nari sambil menyanyi-nyanyi sepanjang jalan sebagian mereka berbimbingan dan saling bergembira bergurau. Segera Pangeran Karangkendal maju.” Ki Kuwu mendengar suara itu lalu menjawab: “Kelak berani. dari pedesaan dan sindangkasih bawahan Rajagaluh sudah pada menakluk.

” Ki Kuwu segera membagikan sebagai pemberian ganjaran kepada seluruh wadyabala Cirebon dan wadyabala Demak. kelak pada jaman akhir keturunan engkau negaranya ada yang menjajah paa waktu itu adalah pembalasanku. emas picis dunya berhala. Jeng Sunan lalu memanggil Pangeran Karangkendal sambil memutuskan: “Anda hai karangkendal sekarang aku angkat kedudukan putra. Diceritakan yang sedang berkelahi Dipati Kiban dengan Pangeran Dipati Kuningan. segera seluruh para putri dan janda kembang berikut para perawannya yang dibagikan kepada para Pinangeran dan para Gegedeng selesailah sudah Ki Kuwu memberi ganjaran kepada seluruh wadyabala yang turut berperang. INDRAMAYU. hingga sekarang belum ada akhirnya. nanti berani. diberi nama Oangeran Arya. KEPADA CIREBON (KEPADA SUNAN JATI CIREBON) PADA TAHUN 1528 MASEHI Pada suatu hari Sinuhun Jati sedang berada di gunung Jati. Pangeran Kuningan terserimpet oleh pohon menjalar yang bernama Oyong karenanya ia jatuh ke tanah. Pangeran Kuningan. dan cepat Sang Kiban menubruknya. naik gunung turun gunung. sekarang berani. Sang Kiban lalu merekayangan masuk ke dalam gunung Gundul sambil meninggalkan suara: “Hai Kuwu. Jeng Pangeran tidak berdaya namun segera datanglah Ki Kuwu sambil menghunus Golok Cabang.agama Islam setelah mereka dibebaskan. disabetkan kepada lehernya Sang Kiban. kerbau sapi sudah dibagikan semua. 41.” Seterusnya ia disebut dengan nama Oangeran Arya Karangkendal. Berkata Jeng Sinuhun senyum: “Dipati Kuningan.” Lalu Ki Kuwu pulang beserta Pangeran Kuningan datang sudah di hadapan Jeng Sunan Jati. Segera Ki Kuwu berkata: “Si Rama mohon izin hendak mencari putra dalem. PRABU INDRAWIJAYA/ARYA WIRALODRA MEMELUK AGAMA ISLAM SAMBIL MENYERAHKAN DAERAHNYA. sedangnya dorong mendorong banting membanting lempar melempar.” Ki Kuwu lalu mohon pamit terus berangkat. untuk ia masih dapat tahan. kapan saja berani.” Ki Kuwu segera menjawab: “Kelak berani. dan seluruh tawanan Rama Kuwu yang membagikannya. kepalanya orang Rajagaluh sudah dibawa atau belum?” Mana belengguannya Sang Prabu Rajagaluh?” Berkata .

. berkah Dalem sambil semuanya malu. Berkata Ki Kuwu: “Ya nantinya harus banyak berasnya cuma piring panjang berkaki harus jangan diisi lagi. Segera Pangeran Kuningan terjun ke dalam sungai. orang Kuningan ramai-ramai mengepungnya. perwira).Pangeran Kuningan: “Duhai Rama. sekarang putra Dalem mohon izin. kalau tidak ada Eyang Kuwu pasti Sang Putra menemui sengsara besar. tidak patuh kepada orang tua. pasti periuk ini harus sering diisi. Sang Prabu lalu merupa diri jadi kidang/rusa kuning. tidak mau merendah.” Ternyata periuk itu nasinya habis. akan tetapi itu sudah condong/berhasrat untuk menakluk pada Sunan Cirebon. kalau diisi pasti selamanya harus diisi. siap siagakanlah penjaga keamanan praja Indramayu.” Diceritakan San gPrabu Dermayu bernama Prabu Indrawijaya sedang diseba/mengadakan sidang. Berkata Sunan Kali: “Bagaimana sampeyan Dalem berlaku demikian. Antara lama kemudian datanglah Pangeran Kuningan berkendaraan kuda si Winduhaji diiring oleh seluruh para wadyabala Kuningan datang sudah di kali Kamal.” Segera Sang Prabu sendirian bertolak menuju kali Kamal memasang jimat Oyod Mingmang dan memasang jimat Lembu Tirta di dalam kali/sungai. Berkata Sang Prabu: “Menurut kabar negara Indramayu akan diserbu oleh musuh. karena negara Dermayu belum menakluk. ialah Dipati Kuningan dengan barisannya akan datang sekarang. nasi ini adalah untuk menjamu tamu Dalem. apakah tidak sedang kepada baunya nasi. aku akan mencoba Pangeran Kuningan. Lalu kidang hendak ditangkapnya tetapi menghindar. Tidak lama lalu ada datangnya seekor kidang (kijang.” Pangeran Kuningan sudah berada di luar mengumumkan kepada seluruh wadyabala Kuningan maju jalan ke Dermayu dengan berkendaraan kuda si Winduhaji. rusa) kuning di hadapan Sang Dipati. segera mohon pamit meninggalkan tempat itu.” Pangeran Kuningan tidak mematuhi. Jeng Sunan Jati menamengkan tangannya dari asap itu sambil menoleh. Sunan Kali mempersiapkan hidangan menanak nasi di periuk besi asapnya memasuki gua. Berkata Sunan Kali: “Orang Kuningan tanah tinggi. tetapi putra Dalem masih sanggup jadi Senapati (hulubalang. seluruh para pembesar dan Patih Danujaya sudah berada di hadapannya. Lalu periuk itu kosong berkelontangan. kidang lalu mencebur ke dalam sungai.” Lalu berkata Jeng Sunan: “Walaupun orang Dermayu itu jelek rupanya namun baik itikadnya.

akan tetapi sebentulnya mereka telah datang di alun-alun Cirebon karenanya Jeng Pangeran Kuningan jadi terheran-heran. Diceritakan Yang Sinuhun Cirebon sedang bersidang di Sittinggil. mereka mau pulang putar-putar balik lagi di tempat semula lalu Jeng Pangeran datang.” Berkata Pangeran Kuningan: “Dipati Awangga namanya putra Nata/Raja Cirebon. maka daripada itu mohon sih pertolongannya Kyai. Barisan Kuningan lekas dipanggil siap untuk terus maju jalan menuju praja Indramayu. bermaksud menaklukkan orang Indramayu agar memeluk agama Islam. Tak lama lalu datang seorang kakek tua menolong Jeng Pangeran sudah didaratkan di pulau Menyawak. kotak kecil) yang berisi Tirta Bata. Jeng Pangeran ditimpa oleh banjir besar hanyut terbawa air banjir hingga ke laut lepas datang di pulau Menyawak. lekaslah engkau pulang.” Berkata Jeng Sunan Jati: “Dalem Indramayu sudah berada memeluk agama Islam. Berkata kakek tua: “Hai engkau siap dan apa maksud engkau hingga timbul tenggelam di laut. Jeng Pangeran sudah merasa telah datang di alun-alun (lapangan. alup) Indramayu.” Berkata kakek tua: “Terimalah jimat cupu (botol kecil. Berkata Jeng Sunan Jati sambil senyum: “Dipati Kuningan. pakailah ini jukung/perahu kecil datanglah lagi tempat engkau semula. berkat wataknya jimat Oyod Mingmang mereka tidak datang di alun-alun Indramayu. kalau ada karya usapkanlah berjuta-juta. Tidak lama lalu Dipati Kuningan datang.” Segera Sang Pageran mohon pamit meneruskan perjalanan mengendarai jukung datang sudah di kali Kamal. lalu masuk ke dalam kraton Pakungwati. mana tawanan orang Indramayu dan mana belengguannya?” Jeng Pangeran Kuningan semuanya mali. segera hatur beritahu: “Berkah Dalem selamat sehat. Orang Kuningan pada bingung. wadyabala Kuningan mematuhi. Para Wali dan Sultan Demak dan para Pinangeran. para pembesat dan Dalem Indramayu sudah sudah dihadapannya sedang menyatakan memeluk agama Islam dan menyerahkan praja Indramayu kepada Sunan Jati Purba Cirebon.” Dipati Awangga sangat malu sekali. karena sudah dua kali tidak berhasil mendapat karya. sebaiknya engkau bertobatlah. kalau tidak ada kakek tua di pulau Menyawak pasti putra Dalem mati di dalam laut. Berkata pengeran Kuningan: “Akan tetapi putra Dalem .sekonyong-konyong kidang lenyap.

Pangeran Jayalelana. wataknya kalau diteteskan kepada kerikil atau merang sekonyong-konyong akan menjadi wadyabala berpuluh ribu berjuta-juta.” Menjawab Pangeran Kuningan sambil menyembah: “ Hamba mempunyai jimat cupu tirta bala dari pulau Menyawak. ternyata sekonyong-konyong ada kejadian berupa wadyabala berpuluhpuluh ribu berjuta-juta hingga penuh berjejal di laun-alun dan di kota Cirebon.a. Sukapura dan Krawang bermaksud menakluk dan memeluk agama Islam. telah aku bacakan du’a tolak bala karenanya wadyabala ciptaan itu lenyap. Berkata Jeng Sunan Cirebon: “Dipati Awangga. mohon izin untuk menaklukkan para Raja di lain pulau atau para Dipati dan para pembesar yang belum Islam. Ratu Nyawa.” Segera Pangeran Kuningan mengumpulkan sebanyak-banyaknya kerikil dan merang lalu merang dipotong-potong lalu ditetesinya dengan jimat cupu tirta itu.w. para Dipati dan para pembesar insya Allah di kawasan tanah Pasundan akan pada takluk sendiri dan engkau apakah yang masih khawatir. Tidak lama kemudian datanglah para pembesar dan para Dipati dari tanah Pasundan. mengerumuni). kalau sampeyan Dalem kurang percaya marilah melihatnya abdi Dalem mencobanya.” Dipati Awangga Dipati Kuningan bungkam seribu basa semuanya sedih. Jeng Sunan Jati lalu membaca du’a tolah bala karenanya sekonyong-konyong wadyabala ciptaan itu lenyap.masih sanggup jadi Senapati. 42. segera mereka diberi wejangan sudah. menjadikan geger orang Cirebon ada wadyabala datangnya sekonyong-konyong. pula seluruh para Wali dan Rama Sri Mangana semoga mau merubung (mengelilingi. dimohon raka datangnya di Demak. kembali kepada asalnya. Lalu Ki Kuwu dipersilahkan setelah mereka membaca syahadat memberi wejangan agama Islam sarengat Jeng Rasulullah s. jadi tidak ada gunanya yang demikian itu bagi prajurit Awliya.” Jeng Sunan Jati menyanggupinya Sultan Demak lalu pamit. Bratelelana bertemu dengan putra si rayi bernama Ratu Pulung.” Berkata Jeng Sunan Jati: “Tidak usah ditaklukkan lagi. Segera pulang . TELAGA MENYERAH KEPADA CIREBON PADA TAHUN 1529 MASEHI Lalu berkata Sultan Demak: “Raka Sunan Jati si rayi/adik mohon izin pulang dan bulan depan nikahnya putra Dalem kedua-duanya.

yang mengerti berhati-hati. aku memberi ingat. yang benar laku lampah (jalan. tapi jangan melewati waktu Ashar itu kurang baik pribawanya. peganglah sebagai peringatan untuk selama-lamanya. kurang baik orang yang senantiasa bangun siang dan tidur pada waktu Subuh itu apes/sial wataknya. ternyata jenazah lenyap tinggal bau harumnya saja Gedeng Plumbon lebih sangat menyesal sekali. Gedeng Plumbon turut memandikan sambil berkata: “Hai orang Kuningan. janganlah oleh karena . Bratalelana dan Syekh Magrib. kalau masih ingin tidur diperboleh tidur lagi pada waktu bakda Zhuhur. Dipati Awangga. segera jenazah disalatkan. jenazahnya kakak Gedeng Kemuning membengkak seperti bangkai. Berkata Sunan Jati: “Rama Sri Mangana. Syekh Bentong. cara) (laku palampahan = hadiah seorang jajaka kepada kekasihnya) engkau dan hati-hati janganlah engkau meringankan ibadah beramallah kebajikan dan pada berbaiklah dengan kawan-kawan engkau semua dan hati-hati janganlah engkau mambanyakkan makan tidur. Ki Gedeng Plumbon segera menekuni puja tobat kepada Allah. mengabdilah yang patuh. mantaplah tobat engkau. sebakdanya lalu dikubur. Orang Kuningan pada pulang. sebab mencari Guru Wallahu a’lam kehendak Allah.” Kanjeng Sunan berkata pula: “Putraku Jayalelana. hair ini dipersilahkan berangkat kecuali Pangeran Kuningan dan Dipati Suranenggala untuk tunggu kraton. Syekh Majagung pula Ki Kuwu Cirebon dan Gedeng Bungko dan Gedeng Jatimerta. Baunya hilang pula bau yang anyir busuk lalu gemilang cahayanya jenazah itu lagi berbau harum mewangi. para murid bubar. karena sudah waktunya bertolak ke Demak untuk pernikahannya sang cucu Jayalelana dan Bratalelana. Orang Kuningan pada siap memandikan jenazahnya. baunya busuk ke mana-mana. Berkata Jeng Sunan: “Gedeng Plumbon dipastikan gugur ilmunya. Bratalelana.dengan bala tentaranya pula diiring oleh Sunan Kalijaga. ini tandanya murid Cirebon kebanyakan syahadat selawat. nanti kalau engkau sudah berada di Demak.” Tidak lama lalu ada datangnya seorang santri turut memandikan jenazah lalu jenazah mengecil. tak lama lalu datanglah Sunan Jati Purba. Gedeng Plumbon bertobat sujud merengek-rengek. Diceritakan Sunan Jati pada sekali waktu mengadakan riungan di Sittinggil bersama sang putra Jayalelana. Syekh Lemahabang.” Jeng Sunan lalu pulang. Patih Suranenggala. Karenanya Gedeng Plumbon terheran-heran. kecuali Pangeran Dipati Awangga tertinggal dan tidak pulang. Diceritakan Gedeng Kemuning setelah datang dari Cirebon lalu jatuh sakit tidak lama kemudian lalu wafat. jadi seterusnya disebut nama Ki Gedeng Cigugur karena sudah gugur ilmunya. hormatilah sang mertua.

ah kedua penganten lalu nikah. adapun mas kawinnya Pangeran Bratalelana adalah perang sabil. Segera Jeng Sunan bertolak ke Demak bersama sang putra berdua diiring oleh Ki Kuwu Cirebon dan Syekh Magrib. pengobengnya sudak siap bekerja. berhatur akan mematuhinya.beranggapan engkau adalah berkedudukan sebagai putra mertua jadi Ratu. Ki Panghulu sekaumnya. Berkata Sultan Demak: “Patih Danureja karena aku pekan depan akan menikahkan putraku. Syekh Bentong dan Pangeran Cakrabuana dan Gedeng Jatimerta. Sultan Demak pribadi yang menukahkan. sedang mengadakan riungan di Sittinggil bersama patih Danureja dan Tumenggung Kertanegara. yang ingat selamanya orang tua. warna-warni riasan sudah diselenggarakan semua tetabuhan sekati.” Sunan Cirebon dan Sultan Demak menyerahkan perihal mas kawinnya sebagaimana yang jadi layaknya. blandongan. kedua penganten diiring oleh Syekh Lemahabang dan Syekh Magribi. Syekh Majagung. Ki Tumenggung lalu mengumumkan kepada semua para abdi Dalem. Berkata Sunan Kali: “Mas kawinnya Pangeran Jayalelana adalah potong dakar. Syekh Bentong.” . Berkata Sunan Kali: “Oleh karena berbesan Ratu Awliya apakah mas kawinnya. hati-hati jangalah ada kekurangan. Dengan keramatnya Sunan Jati arak-arakan penganten tidak terasa berkeliling hingga datang di praja Telaga.” Sang Purba berdua sudah menerima dawuhnya (nasehat) Sang Rama. lokananra dan polog selendro dan blangbang Susuhanan Cirebon. Gedeng Bungko pula seluruh lamaran sudah diterimakan dan setelah datang pada malam Juma. Sebakdanya nikah penganten lalu diarak berkeliling di alunalun Demak. sekarang umumkanlah kepada para abdi Dalem untuk membikin riasan dan menyediakan penginapan yang layak dan semua tetabuhan dan riasan yang indah dan mengadakan baris upacara yang lengkap dan kendaraan yang sentosa perjalanannya orang yang mempunyai karya. Gedeng Bungko dan yang membawa lamaran meron yang layak sebagai lamarannya raja. Syekh Majagung. segera bertindak. namun seluruh orang yang mengiring masih merasa berada di alun-alun Demak.” Kiyan Patih berhatur sandika. pula Gedeng Jatimerta. Ratu Pulung dan Ratu Nyawa dapat jodoh dengan putra Cirebon. Diceritakan Yang Sinuhun Kanjeng Sultan Demak. Syekh Lenahabang.” Jeng Sunan mufakati lalu penganten nikah.

” Arya Salingsingan berkata: “Juga abdi Dalem menghadap lahir batin. ini bukan Rama anda Sunan Pucukumun yang aku tangkap dan mau memeluk agama Islam atau tidak. Berkata Jeng Sunan: “Rama anda di mana. semoga diterima tumbak Kaki Cuntangbarang. memohon ampun seribu ampun. Ki Demang segera mengamuk. masyarakat Telaga lalu masuk Islam. Tidak lama lalu datanglah Sunan Jati Purba. Ki Demang Telaga ditusuk lambungnya robek. Orang Demak jadi geger. Ki Demang berkata tetapi seorang pun tidak ada yang menjawab (oleh karena tidak mengerti bahasa Sunda).” Segera Sunan Jati menangkap Sunan Telaga dari dalam bumi. lalu berkata: “Hai Arya Salingsingan. Adapun Ratu Mendapa saudari muda Sunan Telaga melolos dari kraton mau bertapa.” Jeng Sunan segera memasuki kraton. Segera Sang Putri Cayadi dinikahkan dengan Pangeran Jayalelana. pengiringnya tidak wajar memakai upacaranya Ratu membikin kaget kepada pembesar Telaga. Berkata Jeng Sunan: “Arya Sulingsingan. Orang Demak pada bubar. Ki Tumenggung Kertanegara lari jatuh bangun kena pribawanya tumbak menyala-nyala bagaikan api. Prabu Pucukumun segera bersembunyi di dalam bumi. Arya Salingsingan turut mengiring. menghaturkan tobat. seterusnya disebut Indang Leuwih Panas (Tanduran gagang) di Batu . Segera Tumenggung Kertanegara maju. sekarang mau aku Islamkannya. Arya Salingsingan segera jatuh lumpuh di hadapan Jeng Sunan.” Jeng Sunan segera menerima tumbak dan keris (lambang negara Telaga) dan putri itu.Diceritakan orang praja Telaga geger panik Ki Demang Telaga menghadapi sambil mengucap: “Hai penganten siapa berkeliling di alun-alun Telaga. panas yang pribawa. dapat izin dari siapa?” Orang Demak menjadi heran sekali pada bingung hatinya karena berada di tanah Pasundan. menghadap lahir batin dan hamba menghaturkan keris pusaka yang bernama Kaki Naga Dawa dan anak perempuan hamba Nhay Candi. lalu Jeng Pangeran mengamuk.” Lalu menjawab Sang Prabu Telaga: “Hamba mau masuk Islam.” Menjawab Sang Salingsingan: “Adapun Jeng Rama Prabu ada si dalam pura/kraton semoga berkenan sampeyang Dalem datang ke dalam pura. Jeng Sunan Jati bersama Pangeran Jayalelana dan arak-arakan penganten lalu pulang kembali ke Demak. menjadikan onar. Prabu Pucukumun. seorangpun tidaj ada yang berani dekat. Pangeran Arya Salingsingan (putra mahkota Telaga) keluar dari kraton Telaga sambil memegang tumbak kaki Cuntangbarang karena Ki Demang digegerkan mati. Rama anda menghilang sekarang ada di mana?” Menajwab Arya Salingsinga: “Abdi Dalem tidak mengetahui persembunyiannya Rama Prabu.

Lalu berkata Sunan Jati: “Adapun Allah itu adalah Yang Wujud Hak. Segera para Wali meneruskan mengadakan riungan di gunung Ceremai datang sudah dan berkumpul.” Berkata Syekh Bentong: “Allah itu adalah bukan di sana sini ya inilah.” Tidak lama lalu datanglah Sultan Demak dan Ki Patih beserta Ki Penghulu.” Berkata Syekh Majagung: “Allah itu adalah bukan di sana bukan itu tetapi ini. seluruh para Wali sanga berembug untuk bermusyawarah ilmu membuka yang tersembunyi.” Berkata Sunan Kali: “Allah itu adalah umpamanya Dalang melakinkan wayang. kenapa kawan pada memakai tedeng.” Berkata Sunan Giri: “Tidak ada lainnya yang wujud melainkan Allah. dekatnya tanpa rabaan. oleh karena Ratu Mendapa tidak mau memeluk agama Islam.” Berkata Sunan Bonang: “Allah itu adalah sirna pada ada.” Berkata Sunan Kudus: “Barangsiapa tahu kepada tubuhnya. MEMBICARAKAN ILMU TANPA TEDENG ALING-ALING Diceritakan di Demak kedua pasang penganten sudah dijejerkan di pelamina. 43. dan Sunan Giri.” Berkata Sunan Giri: “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas. Lalu para Wali segera pada bubar. Sunan Bonang. Sunan Kudus. tapi janganlah memakai kedok/topeng.” Berkata Sunan Kali: “Barangsiapa mencari Pangeran maka lain dari tubuhnya jadi yang lebih jauh. dan Syekh Majagung. yang nantinya nafsu pembalasan dendamnya menjelma jadi penjajah Belanda.” Syekh Magribi berkata: “Allah itu adalah meliputi kepada segala sesuatu. maka tahu kepada Pangerannya.” Berkata Syekh Lemahabang: “Allah itu adalah keadaanku.” Berkata Sunan Bonang: “Allah itu adalah tidak warna tidak rupa tidak arah tidak tempat tidak bahasa tidak suara wajib adanya muhal (tidak mungkin) tiadanya. Sunan Kali. Syekh Magribi. Lalu berkata Sunan Purba: “Tidak ada lain Pangeran/Ilahi melainkan Allah. Berkata Syekh Magribi: “Allah itu adalah tidak sebadan tidak .” Berkata Sunan Kudus: “Jangan suka terlanjur bahasa menurut pendapat hamba adalah Allah itu tidak bersekutu dengan sesama baharu.” Disetujui oleh seluruh para Wali. Syekh Bentong. kemudian tamu-tamu undangan berturut-turut sudah bubar. Sunan Cirebon.Ruyuk. Adapun para Wali sedang mengadakan riungan di dalam masjid Demak. Syekh Lemahabang. sambil membawa berkatnya masing-masing. para Wali mufakat karena di antara kawan. tapi tidak dengan tedeng aling-aling. Berkata Syekh Lemahabang: “Marilah kawan pada kita selesaikan membicarakan ilmu yang samapi terang.

” Berkata Syekh Lemahabang. “Ya Allah. “Tidak ada Syekh Lemahabang tapi Allah yagn ada. Berkata Sunan Jati. sudah ditunggu oleh para saudara Dalem. anda aku utus untuk mengaundang raka Syekh Lemahabang supaya lekas dating bersama anda.” Ki Khatim berhatur sandika.” . para Wali menyetujuinya. nanti Allah sekarang Allah. “Anda kembalilah lagi undanglah Allah. Syekh Lemahabang seyogya teriring. hanya seorang Wali yang tidak mau turut berkumpul di dalam masjid. “Berkata Syekh Lamahabang. “Tidak ada Allah. ialah Syekh Lemahabang yang berdiam di rumahnya. tetapi Sang rama janganlah terlanjur bahasa kurang seyogya menurut hukum. tidaklah membicarakan ilmu telah saling berjanji membuka yang tersembunyi.” Berkata Sunan Jati. lalu pamit dating sudah di hadapan Syekh Lemahabang. “Anna/Sesungguhnya aku Hak illallah pun tiada wujud dua. semoga lekas sekarang juga. tetapi Syekh Lemahabang yang ada. “Berkata Sunan Kali.” Berkata Syekh Majagung: “Allah itu adalah Asma nyatanya yang ada. karena ucapanya. datang sudah di hadapan para Wali. Segera Ki Khatim hatur bertahu.” Ki Khatim lalu pamit. datang sudah di hadapan Syekh Lemahabang. tetap zhahir batin Allah kenapa kawan masih memakai gegedong/tedeng aling-aling. “Syekh Khatim.” Berkata Syekh Lemahabang: “Hukum siapa yang punya kenapa kawan tadinya pada berjanji. tunggal tan tunggal. baik kawan kita undangnya. supaya paduka berkenan datang di masjid Agung. “Hamba diutus oleh rayi/adik Paduka Sunan Kali.” Lalu Jeng Sunan Jati menghendaki mengadakan riungan di dalam masjid Agung Cirebon. “Adapun raka dalem Syekh Lamahabang tidak mau dating. PENGADILAN WALI SANGA JAWADWIPA DI DALAM MASJID AGUNG CIREBON Segera para Wali bubar seterusnya dating sudah di dalam masjid Agung Cirebon. semoga berkenan datang sudah ditunggu oleh para Wali. 44. lekaslah pulang anda Khatim. tidak ada Syekh Lemahabang tapi Allah yang ada.” Ki Khatim segera pamit. Syekh Lemahabang yang berselisih paham munkin menjadi hati. dan masakah Allah kena diungang oleh anda.senyawa. segera ia hatur bertahu.” Berkata Syekh Lemahabang.” Berkata Sunan Kudus: “Memang benar. “Kawan kita kurang seorang. Segera Ki Khatim berhatur tahu.

” Berkata Sunan Jati.” Berkata Sunan Kali: “Allah itu adalah mengganti tidak mengganti tapi menggati kepadaNya. sebab menyatakan adanya Allah nanti Allah sekarang Allah.” Berkata Sunan Bonang: “Sekarang kawan pada kita mulai lagi membicarakan membuka i’tikad sejati. “Sang Raka diutus oleh Sunan Purba.” Berkata Sunan Bonang: “Allah itu adalah tidak bersama tidak di luar tidak di dalam.” Berkata Syekh Magribi. “Para saudaraempat orang seyogya mau menjemput Syekh Lemahabang supaya bias teriring.” Dijawab. tidak ada Allah tetapi Syekh Lemahabang yagn ada.” Berkata Sunan Giri: “Allah itu adalah bingung karena mudahnya. “Dari tadi juga sang raka mohon antar kawan untuk membuka i’tikad sejatinya. “Selamat datang para saudara. rayi diundang berkumpul di dalam masjid Agung selekasnya sekarang jura bersama-sama dengan kami Wali empat orang.” . ialah Syekh Magribi. Berkata Syekh Lemahabang sambil ketawa.” Berkata Sunan Kudus: “Memang benar perkataan sang rama.” Berkata Syekh Majagung: “Allah itu adalah lebih ketimbang hitamnya mata.” Para Wali mufakat.” Berkata Syekh Bentong: “Allah itu tidak dekat tidak jauh. Berkata Syekh Lemahabang. ia segera hatur bertahu. “Menurut perkataan raka dalem.” Berkata Sunan Kudus: “Sang Rama senantiasa mengumbar bahasa. tergesa-gesa kedatanganya seperti ada perlu yang penting. “Berkata Sunan Purba. Syekh Majagung. “Adapun sang raka berkali-kali diundang karena kosong kurang seorang untuk membicarakan ilmu membuka yang tersembunyi. tetapi janganlah pada memakai hijab. apakah tidak takut kepada hukum?” Syekh Lemahabang menjawab: “Hukum apa yang aku takuti.” Syekh Lemahabang lalu turut bersama para Wali yang empat itu datang sudah di hadapan Sunan Purba di dalam masjid Agung.” Segera mereka pamit datang sudah di hadapan .” Berkata Syekh Lemahabang: “Tidak merasa terlanjur bahasa. “Bagaimana kehendak Paduka karena bertubi-tubi datangnya undangan itu. walaupun sibunuh sang Rama tameng dada i’tikad yang abadi tidak boleh berubah. kawan masih memakai gegedeng. bersih tidak kecampuran. Syekh Bentong dan Sunan Kudus. Segera Sunan Jati berkata: “Allah itu adalah sah Dzat ShifatNya.” Segera Syekh Lemahabang: “Allah itu adalah nyatanya aku yang sempurna yang tetap di dalam zhahir batin. tetapi janganlah terlanjur bahasa.” Berkata Syekh Magribi: “Allah itu adalah tauhid tan tunggal. sekecap pun tidak.Ki Khatim segera pamit datang sudah di hadapan para Wali. dan masakah Allah kena diundang oleh anda.

Para Wali berkata sambil ketawa: “Ada Allah keluar darah putih seperti cacing. Para Wali berkata sambil bersorak: “Ada Allah keluar darah merah seperti kambing.” Lalu ia ditusuk lagi segera Syekh Lemahabang menghilang tidak terlihat wujudnya.” Lalu ditusuk lagi Syekh Lemahabang mengeluarkan darah putih. yang seorangnya lagi hamba Allah kecil. Segera Syekh Lemahabang ditusuk bergenjrang tidak mempan.” Lalu berkata Syekh Lemahabang: “Ayolah Sunan Kudus tusuklah aku lagi. seteursnya jenazah itu dikubur cuma sebesar kuncup kembang melati baunya harum mewangi. Syekh Lemahabang hingga utama mengaku Rabbil a’lamin. seterusnya jadi disebut Astana Pamlaten karena jenazah Syekh Lemahabang cuma sebasar kuncup kembang melati (sekarang kuburannya masih ada). Segera usungan jenazah dibawa menyebrang sebuah sungai ke sebelah kiri jalan ke arah utara. pulau Jawa. ayo tusuklah aku lagi.” Lalu berkata Syekh Lemahabang: “Ayolah SunanKudus tusuklah aku lagi.” Sunan Jati segera memberikan keris Kaki Kanta Naga lalu Sunan Kudus menerima sasmitanya.” Segera Syekh lemahabang menjadi kecil sekuncup kembang melati. tapi di tengah jalan digubed/dihalangi dua orang penakawan Syekh Lemahabang sambil berkata: “Hamba Allah besar. lalu dikubur di samping jalan sebelah kanan dari arah Cirebon seterusnya disebut Astana gobed karena mengubed/menghalang halangi lajunya usungan jenazah. Berkata Para Wali sambil bersorak-sorak: “Ada Allah matinya seperti kayu.” Lalu Syekh Lemahabang ditusuk lagi hingga dalam karis memasuki tubuhnya karenanya keluar darah merah. bagaimana hukumnya orang yang mengaku Allah. kelak pada akhir jaman ada kebau bule mata kucing yang mendarat dari laut itulah yang akan menumpas/menjajah turunannya. sebakdanya disucikan lalu disalatkan lalu jenazahnya dibawa untuk dikuburkan. .” Syekh Lemahabang lalu memperlihatkan diri terlentang seperti orang mati.” Lalu berkata Syekh Lemahabang: “Sunan Kudus. Indonesia pada umumnya) seterusnya selamat sehat walunya mulya terhindar daripanca bahaya. Para Wali berkata dambil ketawa: Ada Allah wujudlah hilang seperti setan.” lalu membaca du’a supaya anak cucunya (rakyat Cirebon.” Berkata Sunan Jati: “Ini ada suara yang tidak enak akan menjadi kenyataan pada akhitnya. para Wali pada ketawa: “Ada Allah keras seperti batu.Sunan Kudus segera berkata: “Kanjeng Rama Sunan Jati. Lalu diperintahkan selekasnya jenazah (????? Sekuncup kembang melati itu?) Syekh Lemahabang disucikan.” Segera kedua penakawan itu dibunuh pula. dan ada suara yang terdengar mengawang: “Sunan Jati dan para Wali. lalu di suatu tempat usungan jenazah itu berhenti.

hati-hati kalian janganlah usil. Samber Nyawa dan Panuwek. masingmasing diberi nama Kaki Panuding.” Menjawab Ki Khatim: “Apakah Syekh Lemahabang itu salah i’tikadnya hingga sampai dihukum mati?” Ki Kuwu Cakrabuana lalu menoleh ke belakang sambil membegis (memperingatkan dengan keras): “Hai Penghulu dan engkau Khatim. lalu beliau keluar sambil membawa keris itu dan siberi nama Kaki Jimat Pasalatan.” Lalu seluruh yang bercakap-cakap itu pada bungkam. SUNAN JATI PURBA SALAT HAJAT MENDU’AKAN ANAK CUCU/RAKYAT INDONESIA Adapun Sunan Cirebon sudah bersemayam di dalam kraton Pakungwati akan tetapi tidak merasa wnak hatinya. keirs dapur jalak. jadi tujuh buah keris. . Jeng Sunan lalu memerintahkan kepada para Mpu tujuh disuruh membikin keris tujuh buah. walaupun aku tidak berani. sebab yang bisa menyalahkan salah seorang Wali itu bukan bersengketa akan tetapi mengadakan kesenangan. Kaki Kalabrama. (Para Mpu setelahnya diperintah lagi untuk membikin beberapa duplikatnya keris-keris itu). ialah kelak di akhir zaman anak cucu Paduka ada yang menjajah hingga negaranya terjajah. Sebakdanya salat lalu ada sebuah keris terletak di pangkuan Jeng Sunan. sebab belum datang kepada derajatnya Awliya. Segera para Mpu pada melaksanakan. kalawaktu wafatnya Syekh Lemahabang (menurut satu kaol (riwayat) lain kejadian ini adalah pada tahun 1506 M. karena teringat kepada suaranya kendi pertula kalawaktu diminum airnya. merasa perkataan Syekh Lemahabang itu sidik (benar). Kaki Langlang Kewu. Antara satu tahun kemudian selesailah sudah. Kaki Kunci. besinya Malela Gagak.) Berkata Penghulu Kalamuddin: “Biarpun Wali kalau salah i’tikadnya pasti dihukum mati. janganlah kalian berani menyalahkan i’tikadnya para Wali mungkin kalian terkena sesiku. Kumendung.Seluruh para Wali pengiring setelah menguburkannya lalu pada pulang ke rumahnya masing-masing pada hari Rabu pertama bulan Sapar tahun 1529 M. Segera Jeng Sunan salat hajat memohon kelak anak cucunya/rakyat Indinesia semoga merdeka kembali jangan sampai ditimpa sengsara besar. 45.

apabila pada hari Rabu bulan Sapar ada anak-anak gembala berkeliling memuji selamat panjang umur itu pada bertawurlah uang sekuasanya atau nasi atau spem. sebab lekas kabul du’anya anak-anak itu. sungguh bahaya terlaksana sepemujinya anak-anak dan anda penghulu umumkanlah kepada kaum.” Jeng Sunan Kali lalu keluar mengumumkan kepada anak-anak gembala kerbau itu. Berkata Jeng Sunan: ‘Umumkanlah kepada masyarakat. itu anak-anak gembala seyogya diurus sandang pangangnya. . dan tiap Juma’ah suruh datang di mesjid Agung dan tiap bulan Sapar hari Rabu keliling di dalam kota sambil memuji selamat panjang umur. PANGERAN SEDANGLAUTAN DIBUNUH OLEH BAJAK LAUT. para jemaah. Sunan Kali lalu berhatur kata: “Harap menjadi tahu Dalem karena anak-anak gembala kerbau dua puluh satu orang banyaknya penakawan Syekh Lemahabang sekarang menangis siang malam menjeritjerit karena tidak ada yang mengurus mungkin lama kelamaan bisa menjadi gara-gara kurang baik kepada negara Dalem. Segera Sunan Kali memberi makan kepada anak-anak gembala itu.Diceritakan dua puluh satu orang anak-anak gembala kerbau panakawan Ki Syekh Lemahabang yang telah dihukum mati berikut dua panakawan kepada anak-anak gembala kerbau itu. Segera mereka pada melakukannya. sebakdanya lalu caos/menghadap kepada Sunan Cirebon. para modin. karenanya anak-anak gembala kerbau itu tidak ada yang mengurus menangis siang malam menjerit-jerit gelasahan. PANGERAN PASEH MLEBU/MASUK GURU KEPADA SUNAN JATI PURBA. akan tetapi kalau mereka dibaiki dan diberi pangan bisa menjadikan kesejahteraan para rakyat dan pada pembesar karenanya menjadikan sentosanya negara. apabila pada hari Jum’ah ada anak-anak gembala datang supaya seluruh kalau kuasa jangan menolak.” Berkata Sunan jati: “Rayi.” Ki Penghulu dan Ki Patih segera mengumumkan sebagaimana diperintahkannya oleh Kanjeng Gusti. datang sudah di hadapannya. Yang Sinuhun Jati segera memanggil Ki Penghulu dan Ki Patih datang sudah di hadapannya. sebab jadi pengruating bala/penangkal yang berada dimesjid itu pada sukalah semua jangan menolak kepada permintaannya kalau pada punya. 46. oleh karena kalawaktu meninggal Syekh Lemahabang itu pada hari Rabu pertama bulan Sapar.

Sang Pangeran Paseh lebih setia tahu menginap di dalam masjid Agung sementara waktu Jeng Sunan Jati berkenan menikahkannya dengan seorang putrinya bernama Ratu Ayu. Jeng Pangeran dan panakawan sudah menduduki kapal bajak laut. minta . timbul tenggelam jenazahnya itu bercahaya teja anguwang (bersinar seperti pelangi). lalu jenazahnya Sang Pangeran sibelenggu lalu dibuang ke laut. karena mas kawinnya itu perang sabil. kedua panakawannya lalu terjun ke air membawa duyung. sebagian bersembunyi di dalam air dan yang sebagian lagi di dalam kapal masingmasing mencari hidup. pula disebut Maulana Fadhilah Khan.Diceritakan seorang putra Paseh yang bernama Fadhilah pula di sebut orang agung Paseh. Segera kedua panakawan itu mendekatinya dan dimabilnya sudah. ia melihat Sang Satria sedang lelap tidur lalu pedangnya dicabut segera disabetkan kepada Sang Pangeran. karena sang raka Pangeran Jayalelana sudah memenuhi mas kawinnya ialah potong dakar. Diceritakan di praja Demak menantu Dalem Pangeran Bratalelana sedang berada di taman bersama dua orang panakawan. Oleh karena kelelahan Jeng Pageran dan kedua panakawannya pada malam harinya tertidur. kerisnya dihunus akhirnya bajakbajak yang sekapal sudah tertumpas. segera kelaur ingin pulang ke Cirebon. menjadikan Jeng Pangeran Bratalelana tidak kerasan menetap dalam kraton. ia lalu ingat kepada mas kawin istrinya yang belum dibayar. Tidak lama bajak-bajak yang pada bubar datang lagi. sebakdanya lalu pergi bertapa. yang sekapal lagi pada bubar. Segera panakawan pada berteriak. membawa penganut enam puluh orang. Pangeran Paseh sudah diberi wejangan sejatinya syahadat. pula disebut Faletehan yang baru datang menghendaki berguru kepada Jeng Maulana Hidayatullah. hartanya sekapal beramal membagibagikan sedekah kepada fakir miskin menuju ke dalam masjid Agung Cirebon pada tahun 1524 M. perahu digandeng sudah dan hendak dirampas barang-barang seisinya perahu dan pakaian yang sedang dipakai sang Pangeran. Sang Pangeran lalu wafat. segera pernikahannya telah dilaksanakan. Jeng Pangeran bertekad mengamuk. tidak lama lalu Ki GedengMundu yang kebetulan sedang menebar jalan melihat ada teja anguwung segera didekatinya. lalu berkendaraan perahu bersama kedua panakawannya berangkat terus perjalananannya menelusuri pinggir pantai sambil berdayung antara tujuh hari tujuh malam di tengah perjalanan dibanding oleh bajak laut dua kapal. Jeng Sunan sudah menemuinya. Diceritakan seorang bajak yang bersembunyi di dalam kapal lalu keluar karena sudah larut malam.

Lalu berkata Sunan Kali: “Bratalelana utama hidup di akhirat jadi Ratudi Kasuwargan memangku sebanyak para bidadari dan sudah sempurna untuk mas kawin anda yang tadi sudah mati. sang putra sudah menerima ilham dengan izin Allah. saya merasa ia kurang sempurna matinya. ketib.” Jeng Pangeran lalu mati kembali. cepat Ki Gedeng lalu mengangkat jenazah Sang Pageran dibawa bersama panakawannya terus pulang mendarat sudah di pantai Mundu lalu dibawa caos/menghadap ke Cirebon datang sudah di hadapan Sunan Cirebon. Jeng Sunan Jati dan Sunan Kali saling merangkul.” Sunan Kali dan Pangeran Carbon sudah menerima perintah. modin. dimohon sebagai pusaka bagi masyarakat Mundu. Pangeran Carbon yang meneruskan jabatannya sebagai Kuwu Cirebon dan Senapati Cirebon.” Jeng Sunan segera mewangsitkan sejatinya ilmu kesempurnaan. ini anak masih muda. seterusnya disebut Pangeran Sedanglautan. segera pamit meneruskan perjalanan lalu datang sudah di Demak. sekarang baik mati kembali. Setelah usai Sunan Jati berkata: “Raka Pangeran Carbon dan Rayi Kadilangu sekarang lekas berangkat ke Demak memberi tahu kepada Rayi Sunan Benara bahwa sang putra Bratalelana sudah meninggal dan jandanya ialah Ratu Nyawa semoga dinikahkan dengan Dipati Moh. Sunan Kali lalu menyucikannya. Arifin/Pangeran Pasarean. lalu dikuburkannya sudah. Jeng Sunan tidak mau menyalakannya hanya mewakilkan kepada Sunan Kali. Segera jenazah Pangeran Bratalelana dibawa ke Mundu.tolong. semoga putra Paduka jenazahnya dimohon dikubur di daerah Dalem di Mundu. Diceritakan Kanjeng Sultan Demak yang sedang geger karena kedua menantu Dalem itu hilang dan seluruh pada pembesar dan masyarakat .” Jeng Sunan Jatilalu memberi izin. Segera jenazah disucikan lalu disalatkan. belum mengetahui ilmu sejati. para kaum. Setelah diisalatkannya Gedeng Mundu segera memohon: “Duhai Gusti. dan Ki Penghulu sudah menjalankan tugas dan sebakdanya lalu disalatkan. hamba mohon ampunan Dalem. Adapun Ki Kuwu Cirebon. walunya seperti semula. Segera Sunan kali berkata: “Bagaimana jenazah putra Dalem hidup kembali mungkin rasa kurang rela?” Berakta Jeng Sunan : “Iya betul dari terharunya dalam hati dan anak ini belum menerima ilmu sejati. Pada waktu menyalatkannya Jeng Sunan berfikir. sekonyong-konyong jenazah yang sedang disalatkan itu hidup kembali.

Arifin. Sang Putri Ratu Nyawa semoga dinikahkan dengan Pangeran Dipati Moh. Sunan Demak sudah wakil kepada Sunan Kali untuk menikahkannya. maka daripada itu harap raka tidaklah menjadi sedih. dan wayang kulit sekotak. Tidak lama kemudian datanglah Sunan Kali dan Pangeran Carbon. Ratu Nyawa semoga diterima. Antara pertengahan bukan Sunan Kali dan Ratu Nyawa dan rombongan sudah datang di Cirebon. Sunan Kali dan Pangeran Carbon lalu mohon pamit. Si rayi diutus oleh Sunan Cirebon karena mantu Dalem Sang Bratalelana sudah meninggal sempurna. Arya Kenduruan telah menerima surat itu segera mohon pamit kemudian bertolak pulang ke praja Demak dengan diiring wadya Demak. datang sudah di hadapan Sunan Bentara yang sedang kehilangan kedua menantunya. Ratu Nyawa dan Dipati Sebrang Lor sudah diiring oleh wadya Demak terus bertolak ke Cirebon. wayng kulit berikut gamelannya dan emas picis beserta kain-kain dan upacara dengan karyawannya seratus orang semoga diterima sebagai pembawaan Ratu Nyawa dan sebagai wakil rayi Sultan Demak untuk menikahkannya adalah si rayi dan Pangeran Dipati Sebrang Lor dan Arya Kenduruan yang diperintahkan caos/menghadap karena rayi Dalem Sunan Demak tidak bisa datang. Berkata Sunan Kali: “Si rayi diutus berkah Dalem sudah terlaksana dan menghaturkan permintaan Dalem. antara hari lalu Pangeran Dipati Moh. Setelah selesai Sunan Cirebon mempunyai karya Pangeran Dipati Sebrang Lor dipanggil oleh Jeng Sunan Jati menerimakan sepucuk surat untuk rayi Sunan Bentara. Ratu Nyawa siperintah caos ke Cirebon sibarengi dengan putra Pangeran Dipati Sebarng Lor dan Arya Kenduruan dengan dibekali keris Kaki Embilang tabuhan sekati dan selendro. Segera Sunan Kali hatur beritahu: “Semoga jadi pengetahuan Dalem. Pangeran Dipati Moh. Pangeran Dipati Sebrang Lor. gamelan sekati. Sunan Purba bersuka cita. Arifin menikah. karena mantu Dalem sudah memenuhi mas kawinnya ialah perang sabil dan permintaan raka Dalem. Sang Sedanglautan terbunuh oleh bajak laut. .Demak sedang geger resah. rayi Dalem Sunan Demak menyerahkan dan menghaturkan keris. agar jangan menjadikan kecewa dalam hati dimohon untuk keturunan sebagai pertalian persaudaraan antara Cirebon dan Demak.” Sunan Jati sudah menerimanya.” Sunan Demak lalu menyetujui. Sunan Kali yang menikhkan pada tahun 1531 M. emas picis empat meron/wadah. Arifin sudah jadi satu dengan Ratu Nyawa. Sunan Jati. baju kain dan sebagainya dua dondang dan upacara wadyanya seratus orang.

Siti Fatimah binti Muhammad s. Nay Rarasantang dan Sunan Gunung Jati. Beliau adalah Rama Guru dari permaisuri Nay Subanglarang. Nay Rarasantang (ibunda Sunan Gunung Jati Cirebon).a. + Sayidina Ali bin Abi Thalib r. Ahmad al-Muhajir 10. 2. Zainal Abidin 4. Isa al-Basri (al-Baqir) 9. 2. ibunda dari Raden Walangsungsang/Pangeran Cakrabuana dan adiknya. Syekh Idhofi/Syekh Datuk Kahfi dari Baghdad berasal dari Mekah membangun Pengguron Islamiyah di Gunung Jati Cirebon pada tahun 1420 M. Mubaligh-mubaligh Besar Islam pionir yang pertama-tama mendarat di Jawa Barat. ialah: a. makamnya hingga sekarang masih ada di gunung Jati Cirebon bersama makam seorang muridnya bernama Syekh Datuk Khafid. Syekh Hasanuddin dari Mekah membangun Pengguron/Perguruan Islamiyah di Krawang pada tahun 1418 M. makamnya hingga sekarang masih ada di Krawang. yang seterusnya disebut Syekh Nurjati. Silsilah Sunan Ampel Dhenta.w. Nabi Muhammad s.a. Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah dan Maulana Fadhilah Khan/Faletehan. Alwi . Beliau adalah Rama Guru dari Pangeran Cakrabuana. Kasim al-Kamil (Ali al-Uraidi) 7. Nay Indanggeulis (istri Pangeran Cakrabuana). 1. CATATAN 1. putra putri mahkota dari negara Pejajaran. yang seterusnya disebut Syekh Kuro. Ubaidillah 11.a. Muhammad an-Naqib (Idris) 8. Husain as-Sabti 3..w. Jafar Shadiq 6. b.47.. Muhammad al-Baqir 5. Muhammad 12.

a. Alwi Amir Faqih 16. Ibrahim Zainal Akbar 21-1. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati/Sunan Cirebon) 23-1. Ratu Gandasari/Nyi Mas Panguragan c. Jafar Sadiq . b. Zainal Abidin 4.w. Ali Nurul Alim 21. Sunan Drajat 23-2. Al-Amir Ahmad Syekh Jalaluddin 19. Maulana Ishak 23-1.13. Ali Musada 22-1. Pangeran Pesarean (Putra mahkota Cirebon) 23-2. Abdul Gafur 21-2. Fatimah az-Zahra + Sayidina Ali r. a. Ahmad Zainal Alim 22-1. Syarif Abdullah (Sulatan Mesir) 22. 20. 20. Pangeran Sebakingkin (Sultan Banten Hasanuddin) b. Abdullah Khan Nudin (Amir) 18. Silsilah Syekh Lemahabang (Syekh Siti Jenar) Nabi Muhammad s. Muhammad 15.a. Syarif Syam/Syekh Magelung 24. Jamaluddin al-Husein: a. 1. Sunan Giri 3. Muhammadal-Baqir 5. Abdul Malik 17. c. 20. Sayid Husain as-Sabti 3. Abdurrahim Rumi 23-1. 2. Mahdar Ibrahim 22-2. Ali al-Gazam 14. Sunan Bonang 22-2. Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) 21-2. Berkat Zainal Alim 21-1. Fadhilah Khanal Paseh al-Gujerat/Falatehan 23-2.

Al-Amir Ahmad Syekh Jalaluddin 18-2. Sultan Anom Muhammad Badridin Kanoman 7. Pangeran Pasarean 2. Ali al-Gazam 14. Syekh Qadir Kaelani 19-2. Ubaidillah 11. Pangeran Raja Adipati Kaprabon Kanoman 8. Pangeran Sulaiman Sulendraningrat . Muhammad 12. Pangeran Aripudin Kusumabratawirja 12. Alwi Amir Faqih 16. Panembahan Girilaya 6. Alwi 13. Kasim al Kamil (Ali al-Uraidi) 7. Syekh Datuk Isa menetap di Malaka 20-2. Pangeran Dipati Carbon 3. Syekh Datuk Abdul Jalil/Syekh Lemahabang/Syekh Jabaranta/Syekh Siti Jenar. Abdullah Khan Nudin (Amir) 18-1. Pangeran Kusumawaningyun 9. Panembahan Ratu 4. Pangeran Brataningrat 10. Identitas Pengguron Caruhan Krapyak Kaprabonan Cirebon Sunan Gunung Jati: 1. Pangeran Moh. Muhammad an-Naqib (Idris) 8. Muhammad 15. Syekh Datu Soleh 21-2. Pangeran Adikusuma 13. Abdul Malik 17. Isa al-Basri (al-Baqir) 9. Apiah Adikusuma (adik Pangeran Angkawijaya dari lain Ibu) 14.6. Ahmad al-Muhajir 10. Panembahan Dipati Anom Carbon 5. 4. Pangeran Raja Sulaiman Sulendraningrat 11.

kemudian maju jalan menuju Banten. bertepatan waktunya dengan huru-hara itu berlabuhlah di pelabuhan Banten tentara gabungan Islam Demak dan Cirebon. diutus olehku perglah kalian memimpin balatentara Cirebon berperang ke Banten dan Sundakelapa bersama Senapati Fadhilah yang menjabat Senapati pertama dari tentara Islam Demak dan Carbon. datanglah balatentara Demak yang dipimpin oleh Panglima Besar Fadhilah/Falatehan. Segera tentara gabungan Islam Demak dan Cirebon itu menggabungkan diri dengan barisan santri Pangeran Sebakingkin dan menggempur tentara Banten yang belum Islam. Berdirinya Kesultanan Banten dan Perang dengan Portugis di Sundakelapa Pada kalawaktu Susuhunan Jati Purba mengadakan sidang di dalam balairung kraton Pakungwati Cirebon pada tahun 1526 M. Akhirnya tentara Banten itu menyerah.. Telah lama ada perjanjian persahabatan antara Pejajaran dan Ki Fadhilah/Falatehan menjawab dengan horamt: “Sesungguhnya betul perintah Paduka itu. perintah ini adalah sama benar dengan perintah yang hamba telah terima dari kakanda Sultan Demak (Sultan Trenggono). para Wali dan para Senapati negara Caruban/Cirebon. nanti setelah istirahat pergilah anda memimpin tentara Muslim anda semua. Lalu Jeng Susuhunan berkata kepada Ki Fadhilah: “Anakku. dihadiri oleh para pembesar negara. pada hadiran keluar dari balairung kraton Pakungwati untuk mensiap siagakan tentara perang tentara Carbon dan menggabung kepada balatentara Demak Gabungan balatentara Demak dan Carbon ini berjumlah 1.” Lalu Susuhunan Jati berkata pula kepada Pangeran Carbon (Panglima Besar Cirebon) dan Dipati Keling: “Kakak dan Dipati Keling.967 orang.5. tidak lain mohon restu Sinuhun agar hamba sekalian rahayu lulus. Kalawaktu itu di Banten sedang ada huru hara perebutan kekuasaan oleh Pangeran Sebakingkin memimpin para santri militannya dengan pemerintahan Banten Pejajaran. kita telah mendengar warta dari hal akan kedatangannya tentara Portugis ke Sundakelapa. hamba akan mendatangi negara Banten dan Sundakelapa. Susuhunan Jati bersuka cita kedatangan seorang menantinya orang agung Pasai yang “otot kawat balung wasi” (orang kuat gagah perkasa). rebutlah negara Banten san Sundakelapa bawahan Pakwan Pajajaran itu.” Setelah itu Panglima dan balatentara mohon pamit dari Susuhunan Carbon. Sidang lalu bubar. anda adalah Panglima pertama daripada Senapati-Senapati Demak. Bismillah. Bupati Banten dan panglima-panglimanya lari memasuki hutan ke arah selatan timur menuju .

Akhirnya mereka dikalahkan dan lari tunggang langgang menuju kapalkapal layar perangnya. Yang menjadi Panglima dari tentara Portugis adalah yang disebut bernama Prangka Bule (Fransisco De Sa). Sedang Sundakelapa ditangguhkan sementara setelah Banten. Mereka menyangka masih pelabuhan Sundakelapa Pejajaran. ialah Cirebon yang seterusnya ibukotanya disebut Gerage. Setelah Sundakelapa menyerah. gemetar ketakutan sangat. Pangeran Carbon. para pembesar dan seluruh rakyatnya menakluk kepada Ki Fadhilah dan Pangeran Sebakingkin. bahkan banyak yang mati.452 orang dengan panglima-panglimanya. Karena kalah perang tentara Portugis lalu lari kembali ke Pasai. Dipati Keling dan Dipati Cangkuang (contingen Kuningan) berperang di Sundakelapa. Telah dicetak dengan aslinya . yang bersemayam di Puser Bumi. Beberapa hari kemudian mereka digempur oleh tentara Islam di bawah komando Panglima Fadhilah dan Pangeran Carbon. yang berarti jaya dan aman sentosa. Pertempuran berkobar dahsyat sekali. akan tetapi masyarakat di sana sebelumnya sudah banyak yang telah diIslamkan oleh Syekh Amrullah/Sunan Ampel dan Syarif Hidayatullah kalawaktu baru datang di Jawadwipa. Ki Fadhilah/Falatehan. Setelah itu dinobatkanlah Sebakingkin sebagai Sultan Banten. kemudian Pangeran Pasai/Ki Fadhilah/ Falatehan diangkat menjadi Bupati di Sundakelapa oleh Susuhunan Jati. Si Bule tidak berani meneruskan perang. yaitu berasal dari negara gede di Sunda dengan pengakuan dari Wali Sanga Jawadwipa. yang tertinggal di Banten. Dipati Cangkuang mundur ke garis belakang setelah melihat tentara Portugis membawa alat-alat besar seperti guntur menggelegar (meriam). Dan sejak itulah Sundakelapa dialih nama dengan Jayakarta. Akan tetapi tentara Islam tidak gentar.ibukota Pakwan Pejajaran. Tidak lama kemudian berlabuhlah sebuah armada Portugis yang berperlengkapan alat-alat perang di pelabuhan Sundakelapa yang berasal dari Pasai yang telah menjadi jajahan mereka. tentara gabungan Islam Demak dan Cirebon sebanyak 1. Sejak itu orangorang Portugis kalau melewati pulau Jawa tidak berani dekat ke pantai. oleh ayahanda Susuhunan Jati Purba yang kedudukannya sebagai Raja Pendeta atau sang Wali seluruh Sunda. bahkan terus menyerbu dan menggempur tentara Portugis. Mereka tercenggang. bergelar Sultan Hasanuddin. Bumi bergoyang seperti kena gempa. Setahun kemudian pada tahun 1527 M.

Selama 15 tahun ia mendapat gemblengan dan pembinaan ayahanda nya yang ahli Tarekat dan Tasawuf itu. Ia sebagai Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Wilayah III Cirebon. 22 Pebruari 1984. bahasa Arab. ia mengkaji dan mendalami ajaran Tarekat Satariyah.S. Ia pula sebagai pemegang penangungjawab sejarah Cirebon dan ia juga sebagai Pembina aktif GUPPI Wilayah III Cirebon.Rama Guru (P. Kemudian tahun 1933 ia capai tanpa diploma Mulo negeri. Cirebon . Sulendraningrat dilahirkan di Kaprabonan Cirebon tanggal 3 Juni 1914. nahwu. Ia juga pernah memasuki Pesantren al-Azhar selama 1 tahun untuk memperdalam tafsir al-Qur’an. Pendidikan yang pernah ia capai HIS Taman Siswa dan HIS Negeri diploma tahun 1930. Selanjut usianya ini ia masih dibebani tugas. Riwayat Hidup P. gramatika. dan tafsir alQur’an selama 3 tahun. sehingga ia dapat lestari sebagai pelanjut pewaris leluhurnya. Sejarah Cirebon. ia juga mendapat diploma KAE tahnu 1929. Purwaka Caruban Nagari. Namun rupanya ia lebih banyak memperdalam perihal keagamaan berkenaan ia hidup di tengah-tengah lingkungan Pengguron Islam Kaprabonan. SULENDRANINGRAT). ayahandanya seorang ramaguru besar Tarekat Satariyah. Timbangan (tasawuf).S. Karya naskahnya yang telah diterbitkan antara lain Nukilan Sejarah Cirebon Asli. tetapi juga ia pernah memasuki Pesantren Buntet bidang fikih. Sampai sekarang ia dikenal sebagai ramaguru Tarikat Satariyah di Pengguron Caruban Krapyak Kaprabonan Cirebon di samping ia pernah menjabat pimpinan MU di desanya sambil ia isi pula waktunya dengan mengikuti kursus bahasa Arab Belanda “Republica” Bandung diploma tahun 1940. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful