PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Hak cipta :
KATA PENGANTAR

“Seluruh tulisan pada modul ini merupakan milik dari Pusdiklat Pajak – BPPK, hasil tulisan dari Widyaiswara Pusdiklat Pajak, Fauzi Malik.” “Modul ini dapat digunakan dalam rangka proses pembelajaran, dengan tetap mencantumkan penulis dan pemilik sah dokumen ini. Dilarang mengunakan sebagian atau seluruh isi dari modul ini untuk kepentingan komersial. “

Tujuan yang ingin dari Diklat

dicapai

Teknis Substantif Dasar untuk menyiapkan dilingkungan yang

Pajak II, adalah karyawan

baru

Direktorat Jenderal Pajak

berasal dari penerimaan Sarjana Baru oleh Departemen Keuangan tahun 2008 yang lalu, menguasai tugas bidang perpajakan. Salah satu kompetensinya

adalah memahami dan menguasai secara teknis dan administratif ketentuan formal dan material yang berkaitan dengan Pajak Penghasilan. Guna menunjang sasaran tersebut dipandang perlu untuk memberikan

pemahaman dan pengertian Pajak Penghasilan, dalam bentuk modul kepada peserta Diklat dimaksud. Modul ini disusun sesuai dengan perkembangan terakhir dari Pajak Penghasilan, berupa Perubahan dan penyempurnaan Undang-Undang Pajak

Penghasilan, melalui perubahan keempat yakni Undang-undang No. 36 Tahun 2008, dari UU No. 7 Tahun 1983. Agar peserta mengetahui anatomi dari UU PPh. yang

terkhir ini, penyajian modul ini dimulai dari sejarah keberadaan

Pajak Penghasilan di

Indonesia, sampai dilakukannya Reformasi dibidang perpajakan diawal tahun 1980-an, terakhir penyempurnaan seperti di singgung diatas, agar didapatkan gambaran yang utuh tentang Pajak Penghasilan. Kami menyadari mungkin penyusunan modul Pajak Penghasilan ini, masih perlu disempurnakan salah satunya. Sampai saat penyusunan modul ini, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri Keuangan, Peraturan Direktorat Jederal Pajak yang berkaitan dengan pelaksanaan UU No. 36 Tahun 2008, belum lengkap diterbitkan. Akhirnya kepada pembaca kami ucapkan terima kasih atas perhatiannya. Jakarta, 5 Januari 2009. Penyusun, Drs. Fauzi Malik

MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II

HALAMAN

i

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

DAFTAR ISI
Halaman Kata Pengantar Daftar isi i Riwayat Singkat dari PPh. di Indonesia, Subjek Pajak dan Bukan Subjek Pajak. 1. Pendahuluan 1.1. Deskripsi singkat. 1.2. Tujuan Instruksional Umum 1.3. Tujuan Instruksional Khusus 2. Kegiatan Belajar 1, Riwayat singkat PPh di Indonesia 2.1. Uraian, Contoh. 2.1.1. Ordonansi PPd. 1944. 2.1.2. Ordonansi Pajak Perseroan 1925 2.1.3. Undang-Undang PBDR 1970 2.1.4. MPS-MPO, UU No.8 Tahun 1970 2.1.5. Tax Reform (Reformasi Perpajakan) 1980-an 2.2. Latihan 2.3. Rangkuman 3. Kegiatan Belajar 2 Subjek Pajak dan Non Subjek Pajak. 3.1. Uraian, Contoh 3.1.1. Pengertian 3.1.2. Subjek Pajak (Dalam dan Luar Negeri) 3.1.3. Saat Mulai dan Berakhirnya Kewajiban Pajak Subjektif 3.1.4. Tidak termasuk subjek pajak 3.2. Latihan 3.3. Rangkuman 4. Kegiatan Belajar 3 Objek dan Non Objek Pajak pada PPh. 4.1. Uraian, dan Contoh 4.1.1. Pengertian Penghasilan 4.1.2. Penghasilan yang tidak termasuk objek pajak 4.2. Latihan 4.3. Rangkuman 5. Kegiatan Belajar 4 Jenis-jenis Penghasilan yang dikenakan Pajak bersifat Final junto Psl 4 ayat (2) 5.1. Uraian, dan penjelasan 5.2. Latihan 5.3. Rangkuman 1 1 1 1

3 3 3 3 4 4 5 6 6

7 7 9 12 15 16 16

18 18 18 24 30 30

33 33 36 36 36

MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II

HALAMAN

ii

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

6. Kegiatan belajar 5 6.1. Objek Pajak Bentuk Usaha Tetap (BUT) 6.2. Latihan 6.3. Rangkuman 7. Test Formatif 7.1. Pilih salah satu jawaban yang paling tepat 7.2. Pilihan B (BETUL), atau S (Salah) 8. Kunci jawaban Test Formatif 8.1. Jawaban pilihan yang paling tepat 8.2. Jawaban Pilihan B (Betul), atau S (Salah) 9. Umpan Balik 10. Kegiatan Belajar 6 Biaya yang boleh dan tidak boleh dikurangkan dari Penghasilan Bruto 10.1. Uraian, dan Contoh 10.1.1. Pengeluaran (biaya) yang boleh dikurangkan 10.1.2. Penghasilan Wanita Kawin 10.1.3. Pengeluaran biaya yang Tidak boleh 10.1.4. Penilain harta 10.1.5. Penyusutan dan Amortisasi 10.2. Latihan 10.3. Rangkuman 10.4. Test Formatif 10.5. Pertanyaan, B (Betul), atau S (Salah) 10.6. Kunci jawaban Test Formatif 10.6.1. Jawaban yang paling tepat 10.6.2. Jawaban B(Betul), atau S (Salah) 10.7. Umpan Balik. 11. Kegiatan Belajar 7 Norma Perhitungan, Cara Menghitung Pajak, dan Tarif. 11.1. Norma Penghitungan Penghasilan Neto 11. 2. Norma Penghitungan Khusus 11. 3. Cara Menghitung Pajak 11. 4. Tarif ( Pasal 17) 11. 5. Latihan 11. 6. Rangkuman 11. 7. Test Formatif 11. 7. 1. Pilih Jawaban yang paling benar 11. 7. 2. Pilihan B (Betul), atau S (Salah) 11. 8. Jawaban Test Formatif 11. 8. 1. Jawaban pilihan paling benar 11. 8. 2. Jawaban B (Betul), atau S (Salah) 11. 9. Umpan Balik. 12. Kegiatan Belajar 8 Pelunasan pajak dalam tahun berjalan, Angsuran Pasal 25, Perhitungan pajak pada akhir tahun pajak, dan Ketentuan lainnya 12. 1. Pelunasan pajak tahun berjalan 12. 2. Angsuran PPh. Pasal 25
MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN

37 39 39 41 43

44 44 44

45 45 52 54 61 64 71 71 73 75 77 77 77 77

78 78 80 81 83 86 86 88 88 89 90 90 90 90 91 91 91 92
iii

Kunci Jawaban Test Formatif 12. 3. Jawaban Pilihan paling benar 12. Pilihan B (Betul) atau S (Salah 12. 3. 3. 1. Pilihlah jawaban yang paling benar 12. 9. Latihan 12. 7. 3. 2. 1. 8. Jawaban B (Betul) atau S (Salah) 12. 3. 5. 2. 7. 4. Test Formatif 12. 1. Perhitungan pajak pada akhir tahun 12. Keringanan tarif (Pasal 31 E) 12. 4. Pajak yang kekurangan bayar (Pasal 29) 12. 2. 6. 1.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 12. 4. Perhitungan akhir tahun 12. 7. Ketentuan lain 12. 4. 8. Pajak yang lebih bayar (Pasal 28 A) 12. Pembagian penerimaan Pajak Penghasilan 12. Fasilitas Perpajakan ( Pasal 31 A) 12. Rangkuman 12. 2. 8. 3. Umpan Balik DAFTAR KEPUSTAKAAN 96 96 97 97 98 98 99 99 100 101 102 102 104 105 105 105 105 106 MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN iv .

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN v .

Di era tahun 1980-an.1. BM. Dapat memahami objek pajak dan bukan objek pajak. Dapat memahami objek pajak yang dikenakan bersifat final. Perjalanan Tax-Reform sampai saat ini selalu mengalami penyempurnaan dan penyesuain dalam rangka kemandirian bangsa Indonesia memenuhi tuntutan APBN yang dari tahun ke tahun selalu meningkat. Pemerintah secara serius dan berketetapan hati melaksanakan pemungutan pajak melalui sistem Self-Assessment dengan melakukan Tax-Reform sebagaimana dijelaskan diatas. 1944.Pajak Penghasilan. Tujuan Instruksi Umum. d. Setelah mempelajari modul ini peserta Diklat diharapkan : a. tetapi masih tahap semi self-assessment yang disebut system MPS-MPO (Menghitung. sebelum dilakukannya Tax Reform dibidang perpajakan melalui Undang No. Untuk orang pribadi dikenakan Pajak Pendapatan melalui Ordonansi PPd. f. Pasal 23. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 1 . dan Melapor Pajak Sendiri-MPS. kesiapan aparatur pajak. PENDAHULUAN. Tujuan Instruksi Khusus. Dapat menjelaskan latar belakang lahirnya sistem self-assessment. sebagaimana telah beberapa kali dirubah terakhir melalui UU No. PPs. Devidendan Royalty (PBDR). 1. b. 6 Tahun 1983. diintrodusir suatu sistem pemungutan pajak yang mengarah kepada sistem Self-Assessment. serta Menghitung. melalui UU No. dan mulai awal tahun 1980 inilah. Deskripsi singkat.MPO). c. dan Royalty (PBDR). Menyetor dan Melaporkan Pajak Orang . sedangkan untuk jenis-jenis penghasilan berupa Deviden.KUP. d. Memungut. 1. dan PBDR. dimana penerimaan pajak memegang peranan 70 s/d 75 % dari target yang dicantumkan dalam APBN itu sendiri. dan diharapkan sistem ini menuju sistem SelfAssessment. Dapat mengetahui dan membandingkan serta membedakan Pajak Penghasilan antara sebelum Tax-Reform dengan setelah Tax-Reform. Sistem MPS-MPO diterapkan untuk pelaksanaan pemugutan Pajak Pendapatan (PPd ).PPN dan PPn. tapi karena beberapa hal antara lain kondisi masyarakat WP. 11 Tahun 1967. c.2. Dapat menjelaskan latar belakang dilakukannya Tax-Reform. kondisi administrasi yang belum mendukung pelaksanaannya. Dapat menjelaskan Subjek Pajak dan non Subjek Pajak e. yang dahulunya terdiri dari PPd. Menyetor. Setelah mempelajari modul ini peserta Diklat diharapkan : a. Di tahun 1967. Dapat memahami riwayat singkat dari Pajak Penghasilan b. 7 Tahun 1983. dan Undang-Undang No.. yang sekarang ini menjadi PPh. Dapat menjelaskan subjek dan bukan subjek Pajak Penghasilan. Bunga dan Royalty dikenakan Pajak atas Bunga. Keadaan ini berjalan sampai dengan awal tahun 1980. Dapat menjelaskan riwayat pengenaan Pajak Penghasilan. 8 Tahun 1967 juncto Peraturan Pemerintah No. Pajak Perseroan (PPs). serta Pajak atas Bunga. untuk Badan-Badan dikenakan Pajak Perseroan melalui Ordonansi PPs.8 Tahun 1984. 7 Tahun 1983. Undang-Undang No.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN RIWAYAT SINGKAT DARI PAJAK PENGHASILAN DI INDONESIA SUBJEK PAJAK DAN BUKAN SUBJEK PAJAK 1. 1. 1925. sebagaimana diatur dalam Psl 23 UU No. 36 Tahun 2008 Pajak Penghasilan. melalui UU PBDR 1970. maka sistem MPS-MPO ini tidak berjalan sebagaimana diharapkan. Devidend.3. Latar belakang lahir nya sistem Self-Assessment.

h. i. Dapat menjelaskan perbedaan perlakuan perpajakan subjek pajak berdasarkan pembagian domisili dimaksud. g. Dapat menjelaskan mulai dan berakhirnya kewajiban subjek pajak. f. Dapat menjelaskan pembagian subjek pajak berdasarkan domisili.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN e. Dapat menjelaskan pengenaan PPh yang bersifat final. Dapat menjelaskan yang menjadi objek dan tidak objek pajak. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 2 .

Subjek Pajak luar negeri Yang dalam pelaksanaan hak dan kewajiban perpajakannya terdapat perlakuan yang berbeda. sedangkan bagi Subjek Pajak luar negeri berlaku azas sumber.Tarif umum.Hasil dari usaha dan tenaga. yang untuk tahun berjalan disebut SKP Sementara. Pajak Perseroan yang diatur melalui ordonansi PPs. . Besarnya pajak terutang yang harus dibayar ditetapkan melalui suatu lembaga yang dinamakan Surat Ketetapan Pajak (SKP).Hasil dari harta tak gerak. berlaku sampai dengan 31 Desember 1983. 2.8 Tahun 1970. Subjek Pajaknya dibagi 2 (dua) yaitu : . Uraian. . ada 19 lapisan tarif progresif. Pajak Perseroan (PPs). Pajak Pendapatan yang diberlakukan melalui Ordonansi tersebut diatas. RIWAYAT SINGKAT PENGENAAN PAJAK PENGHASILAN DI INDONESIA. dimana perubahan terakhir dan mendasar adalah melalui UU No. .1. tarif marginal mulai dari 5% sampai dengan 50%.Subjek Pajak dalam negeri . Tentang Perubahan & Penyempurnaan Ordonansi PPs.1. dimana yang dikenakan pajak hanya pendapatan-pendapatan yang berasal dari 4 sumber pendapatan yaitu : . juga bukan uang seperti natura dan atau kenikmatan yang diterima atau diperoleh seseorang. 2. yang berlaku bagi pendapatan tertentu sebesar 10% Pendapatan yang dikenakan pajak adalah Pendapatan Bersih. yang antara lain berisi ketentuan-ketentuan mengenai MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 3 . Tugasnya menetapkan besarnya pajak terutang yang merupakan kontribusi masyarakat kepada negara dalam mengisi kas APBN.1.1. dan . Tarif pajak yang berlaku ada 2 macam. menganut pengertian sempit. adalah produk buatan Belanda yang dibuat di Australia. antara lain bagi Subjek dalam negeri berlaku azas domisili. yaitu : . contoh.Hak atas bayaran berkala. 1925.Tarif khusus. Besarnya BPBP setiap tahun ditentukan menurut Keputusan Menteri Keuangan. KEGIATAN BELAJAR 1.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2. terhadap ordonansi PPs. yang kemudian pada akhir tahun diterbitkan lagi SKP Rampung.2. UU Pajak Pendapatan 1944 (Ordonansi PPd 1944). 2. 1925. yaitu Pendapatan yang telah diurangi dengan Batas Pendapatan Bebas Pajak (BPBP). yang mencerminkan kurangnya partisipasi serta peran aktif masyarakat wp dalam menentukan besarnya beban pajak yang harus mereka pikul. Pengertian pendapatan selain berbentuk uang. Objek (sasaran) pajak pada Pajak Pendapatan 1944. .Hasil dari harta bergerak. Guna mengikuti perkembangan zaman dan situasi. dengan mengurangkan pajak terutangnya dari SKP Sementara. ini sering dilakukan perubahan dan penyempurnaan disana sini. berada ditangan fiskus (petugas pajak). juga merupakan produk hukum buatan Belanda jauh sebelum kemerdekaan berakhir dilaksanakan 31 Desember 1983.

Tarif Umum. tidak semua orang dan badan yang bertempat tinggal di luar Indonesia dapat dikenakan pajak walaupun mereka memperoleh/menerima pendapatan dari sumber-sumber yang berasal atau datang dari Indonesia. merupakan pembayaran pajak dimuka (cicilan) dari Pajak yang terutang pada akhir tahun melalui perhitungan SKP Rampung. yang mengatur pengenaan pajak atas deviden yang dibayarkan ke luar negeri dengan sistem ”withholding tax ”. Menghitung Pajak Sendiri (MPS). Deviden. dan Menghitung Pajak Orang lain (MPO) Sistem ini diintrodusir melalui UU No. MPS-MPO merupakan tatacara (sistem) dari pelaksanaan pemenuhan MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 4 . pandangan. maka untuk menggali potensi pajak dari sumber-sumber tersebut. dan diganti dengan Undang-Undang Pajak atas Bunga. pendapat serta pikiran dari si wajib pajak. Subjek Pajak juga dibedakan dan dibagi atas : .4. 10 Tahun 1970). Dengan terbukanya perekonomian Indonesia terhadap pihak luar. adalah bahwa berdasarkan Ordonansi PPd. 1944. 11 Thn 1967.Subjek Pajak dalam negeri . dan Royalty (PBDR)-UU PBDR 1970. 2. Dengan demikian tarif yang berlaku ada 2 macam yaitu : . Oleh karena itu UU Pajak Deviden diperluas objeknya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN perangsang penanaman dan berbagai bentuk fasilitas perpajakan dalam rangka menampung kegiatan Penanaman Modal Asing (UU No. dan . Bagi WP dalam negeri.1. 8 Tahun 1967. dan Royalti (UU No. pembayaran PBDR yang dilakukan melalui pemotongan tersebut.Subjek Pajak luar negeri. maka banyak investor dari luar negeri yang melakukan kegiatan baik langsung maupun tidak langsung. 1 Tahun 1967. membuka kegiatan/usaha/partispasi ke Indonesia sehingga pendapatan bukan hanya dalam bentuk Deviden tapi telah berkembang dalam bentuk lain seperti bunga.1. baik yang modalnya terbagi atas saham atau tidak terbagi atas saham. yang kemudian lebih terkenal dengan nama Undang-Undang Pajak Deviden 1959. 2. Demikian pula tidak terikat/dipengaruhi oleh sistem pembukuan. 1925. Bagi WP luar negeri pemotongan PBDR merupakan pembayaran pajak bersifat final. .12 Tahun 1959. yaitu berdasarkan kenyataan atau keadaan sebenarnya dari suatu penerimaan/pengeluaran. serta SKP Rampung pada akhir tahun. Latar belakang yang melahirkan PBDR. juncto PP No. Pajak atas Bunga. Deviden. adalah Badan-Badan. Kemudian dalam rangka untuk menciptakan iklim yang kondusif dari perkembangan ekonomi. Pengertian laba yang menjadi objek (sasaran) pengenaan PPs.3. dan royalty. dan tidak tergantung kepada nama yang diberikan dari suatu penerimaa/pengeluaran. dan Ordonansi PPs. beban pajak diintrodusir bermacam tarif khusus berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan. Yang menjadi Subjek Pajak pada PPs. serta Penanaman Modal Dalam Negeri –UU No.Tarif Khusus. Sistem pengenaan pajak juga dilakukan dengan sistem official Assessment dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP) Sementara diawal tahun. 6 Tahun 1968. adalah paham laba material. lahirlah Perpu No.

serta Melaporkan kewajiban pajaknya sendiri. sumbar daya alam dan lingkungan hidup. perlunya diadakan pembaharuan secara menyeluruh dari system perpajakan. Menyetor. IPEDA (pada waktu itu). dalam rangka memenuhi tuntutan APBN yang makin tahun semakin meningkat. PPs. Di lain pihak sistem MPO. serta sistem MPS-MPO yang masih bersifat semi Self-Assessment. disamping adanya tuntutan yang mendesak. di samping penerimaan Pajak Pendapatan.5. adalah Menghitung. dan investasi diseluruh wilayah RI. e. PBDR. Menunjang kebijakan pemerintah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan pemerataan. Memungut. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 5 . Lebih memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat sebagai pembayar pajak c. selama tahun berjalan. Pajak Kekayaan. Keikut sertaan serta partisipasi anggota masyarakat untuk bersama-sama secara gotong royong memikul beban pembiayaan dan pembangunan. d. dan Pajak Kekayaan. untuk mengoptimalkan pengembangan potensinya. dalam rangka kemandirian bangsa. Menunjang usaha peningkatan ekspor. barang hasil olahan dan jasa-jasa dalam rangka meningkatkan perolehan devisa. Arah dan tujuan yang hendak dicapai dari Tax –Reform. Menunjang usaha pengembangan usaha kecil. dan sistem inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya sistem Self-Assessment pada saat sekarang. termasuk juga Pajak Kekayaan. pembangunan. apabila berhubungan dengan pihak yang ditunjuk oleh Kantor Pajak sebagai pemungut.1. Pembaharuan Pajak (Tax-Reform) awal Tahun 1980-an. 2. pelestarian ekosistem. b. Menyetor. f. terutama ekspor non migas. dan teknologi. dan Melaporkan Pajak Orang lain. ini terlihat dari laporan penerimaan pajak yang dipublikasikan Direktorat Jenderal Pajak diera tersebut. dalam bentuk kontribusi membayar pajak. PPs. Ekses yang terjadi dari pelaksanaan sistem MPS-MPO dalam praktek. Bercermin pada kegagalan pelaksanaan MPS-MPO. menjelmanya MPO menjadi jenis pajak tersendiri. sehingga dapat disebut sistem semi self-assessment. Menunjang pengembangan sumber daya manusia. dengan tetap memperhatikan landasan berpikir undang-undang perpajakan yang telah ada seperti PPd. ilmu pengetahuan. suatu hal menyimpang dari tujuan MPO sebagai salah satu sistem mengangsur pajak terutang selama tahun berjalan. Dengan sistem ini WP diberi kepercayaan untuk Menghitung. dalam rangka pengentasan kemiskinan. Kedua tatacara pembayaran dan pemotongan akan menjadi kredit pajak (pembayaran dimuka) pada akhir tahun pajak. dengan mencantumkan besarnya penerimaan MPO setiap tahun. dan bukan jenis pajak baru. Sistem MPS-MPO berjalan secara paralel selama tahun berjalan. sesuai dengan mukaddimah yang tercantum yang melatar belakangi pembaruan perpajakan adalah : a. Kepada yang kena pungut oleh pemungut diberikan bukti pungutan yang dapat digunakan oleh yang bersangkutan sebagai pengurang pajak terutang pada akhir tahun. dengan mendapat bantuan serta pandangan secara teknis dari expert luar negeri.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Pajak Pendapatan. walaupun pada akhir tahun besarnya pajak terutang kembali ditetapkan oleh Fiskus secara jabatan melalui penerbitan Surat Ketetapan Pajak Rampung. pemerintah melaksanakan TaxReform secara menyeluruh dibidang perpajakan. Pajak Perseroan.

dan dimana ketentuan yang sama pengaturannya dalam Pajak Penghasilan. Atas pendapatan berbentuk bunga. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 6 . serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPNPPn. 1. 13 Tahun 1985. Mencegah timbulnya pengenaan pajak yang berganda. b. d. e. kecuali UU Bea Meterai (UU No. 8 Tahun 1984. 8 Tahun 1967 juncto PP No. melalui UU Pajak Deviden 1959. dan bagaimana kondisi dari UU Pajak yang diperbaharui tersebut saat ini. termasuk penyederhanaan. Sebelum Reformasi perpajakan. Latihan 1. 2. Jelaskan yang melatar belakangi dilakukannya Tax-Reform. c. a. dan apa perbedaan objek pajaknya dengan objek pajak menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan. 2. 1925 mengatur jenis pajak apa ?. Dengan dilandasi serta latar belakang yang disebut diatas maka lahirlah : 1. 11 11 Tahun 1967. maupun PPs. melalui UU No. Undang-Undang No. peningkatan pelayanan kepada wajib pajak. Baik PPd. d.12 Thn 1985. dikenakan Pajak atas Bunga. dan royalty. 7 Tahun 1983. Seluruh UU yang disebut diatas. c. Tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Undang-Undang No. h. i.13). maupun PPs. 2. 2. Tiga UU ini kemudian disusul dengan 2 UU lagi yaitu . a. Jelaskan jenis pajak apa yang diatur dengan Ordonansi PPd. diintrodusir suatu sistem (tatacara) yang disebut MPS-MPO. dan bagaimana pengaturannya setelah dilakukannya tax-reform b. yang selanjutnya akan dibahas pada bab-bab berikutnya. Tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan atau disingkat KUP. Untuk kelancaran pelaksanaan pengenaan PPd. Rangkuman. Penyederhanaan sistem tarip pajak. 6 Tahun 1983. Undang-Undang No. Tentang Bea Meterai (BM). telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan. Apa kaitannya antara sistem MPS-MPO dengan PPd. dan mencegah terjadi penghindaran dari kewajiban membayar pajak.2. Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa. 3. Menunjang usaha terciptanya aparat perpajakan yang makin mampu dan makin bersih. dan kemudahaan prosedur dalam pemenuhan kewajiban perpajakan. 1944. Deviden. peningkatan pengawasan atas pelaksanaan pemenuhan kewajiban perpajakan tersebut. Ordonansi PPs. PPs. dan apa pula sebabnya sistem MPS-MPO ini tidak berjalan sebagaimana diharapkan. serta mencegah terjadi penyeludupan pajak yang merugikan pendapatan negara.3. dan Royalty (PBDR. Undang-Undang No. PPd.BM). Tentang Pajak Penghasilan (PPh). yang sebelumnya hanya dikenakan Pajak Deviden. termasuk peningkatan penegakan pelaksanaan ketentuan hukum yang berlaku. sedangkan untuk badan menerapkan Ordonansi PPs. Undang –Undang No. pengenaan pajak atas orang pribadi menggunakan Ordonansi. atas wp dalam negeri dan wp luar negeri. membagi klassifikasi WP.UU No.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN g. 1944. deviden. Terangkan apa yang saudara ketahui dengan PBDR. 10 Tahun 1970). dan jenis pajak apa yang mengalami pembaruan. 1925.

g. 3. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. dan Tatacara Penghapusan NPWP. Sampai dengan saat modul ini dibuat. Contoh : Ahmad semasa hidup memiliki usaha bengkel mobil yang selalu tetap memenuhi kewajiban pajaknya setiap tahun. Orang Pribadi sebagai Subjek Pajak dapat bertempat tinggal di Indonesia.1. bahwa dalam hal wajib pajak yang telah memiliki NPWP meninggal dunia. yang kemudian direntang waktu sekitar 2 tahun. dan ahli warisnya wajib mengisi formulir yang ditentukan. 7 Tahun 1983. 4 UU Perpajakan telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan. mengilhami perlunya melakukan perubahan dalam tata kelola penerimaan pajak. KEP-161/PJ. telah dibagikan (ditetapkan) pemilik barunya. tidak diberikan pengurangan berupa MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 7 . Seiring dengan perkembangan zaman. 3. Bentuk Usaha Tetap (BUT). dan contoh. PPh. yang sebelumnya telah dirintis melalui tatacara MPS-MPO. Badan . pada pasal 10 menyebutkan. menerapkan sistem SelfAssessment dalam pelaksanaannya. bahwa yang menjadi subjek pajak dalam Pajak Penghasilan adalah : a. Orang Pribadi (Perseorangan) . Uraian. h. b. merupakan subjek pajak pengganti. Tentang Jangka Waktu Pendaftaran. serta meningkatnya tuntutan APBN dari tahun ketahun. harta (warisan berupa bengkel mobil) belum dibagikan kepada ahli waris. maka selama belum dibagikan harta (bengkel mobil) tersebut. serta Pengukuhan Dan Pencabutan PKP. Pengertian : Menurut Pasal 1 UU No. dicetuskan lagi 2 UU baru (PBB. Warisan yang belum terbagi. sebagaimana telah dirubah dan disempurnakan terakhir dengan UU No. Penjelasan selanjutnya Pasal 2 ayat (1) adalah. diera tahun 1980-an awal. dan Bea Meterai. serta PPN-PPn. atau pun tidak bertempat tinggal di Indonesia. pemerintah melakukan reformasi menyeluruh bidang perpajakan. maka warisan (harta) tersebut berakhir kedudukannya sebagai subjek pajak. SUBJEK DAN NON SUBJEK PAJAK. termasuk perkembangan teknologi dan informasi. Suatu saat Ahmad meninggal.1. ini menjadi dasar agar pengenaan pajak dari warisan tersebut tetap terjamin. sebagai satu kesatuan. kecuali UU Bea Meterai. menggantikan mereka yang berhak dikemudian hari. maka lahirlah 3 UU Perpajakan baru (KUP. dan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak (PKP)nya. berstatus sebagai subjek pajak. BM).PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN e. dan meninggalkan warisan yang belum terbagi. Pelaporan Kegiatan Usaha. 3.1. maka warisan yang belum terbagi tadi kedudukannya sebagai subjek pajak. f. berhubung misalnya yang punya harta (warisan) semasa hidup tidak menetapkan siapa yang bertanggung jawab dikemudian hari apabila yang bersangkutan meninggal dunia. Apabila harta (bengkel mobil) dimaksud. c. d. menggunakan NPWP dari wajib pajak yang meninggal dunia. 36 Tahun 2008.Pajak Penghasilan. ”Pajak Penghasilan dikenakan terhadap Subjek Pajak atas Penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam tahun pajak”./2001.). Warisan sebagai Subjek Pajak. KEGIATAN BELAJAR 2. Selanjutnya dalam Pasal 2 ayat (1) nya dijelaskan. Tgl 21 Pebruari 2001. Perkembangan teknologi dunia usaha. UU Perpajakan yang lahir melalui reformasi perpajakan.

tanpa memperhatikan nama dan bentuknya. atau proyek perakitan . j Wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi . atau yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan. h.Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 8 . baik yang berbentuk perseroan terbatas. atau organisasi yang sejenis. atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia. Cabang Perusahaan . instalasi. termasuk dalam pengertian badan. Perseroan Komanditer (CV). 36 Tahun 2008-PPh. sehingga setiap unit dari badan pemerintah. n. dan bentuk badan lainnya. persatuan. sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12(dua belas) bln. Gudang . perhimpunan. atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan usaha melalui internet. Perkumpulan. atau peralatan otomatis yang dimiliki. Lembaga. Gedung Kantor . Pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau orang lain. Koperasi. o. Badan Usaha Milik Negara/Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun. Bentuk Usaha Tetap ditentukan sebagai subjek pajak tersendiri sebagai Subjek Pajak Luar Negeri. g. Kantor Perwakilan .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Firma. Proyek konstruksi. maupun pemerintah daerah. disewa. Dalam UU ini. Bengkel . badan. Orgaisasi sosial politik. c. Agen atau pegawai perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima premi asuransi atau menanggung resiko di Indonesia . sebagaimana ditegaskan dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. Kongsi. dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Bentuk Usaha Tetap. b. agen elektronik. Tgl 12 Pebruari 1996. adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan satu kesatuan. Selanjutnya dalam Pasal 2 ayat (5). adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia. e. Pengertian Badan sebagai subjek pajak. Ruang untuk promosi dan penjualan. Sebagai subjek pajak perusahaan Reksadana. k. maupun bentuk lainnya. dan sebagainya yang dimiliki oleh pemerintah pusat. sekalipun tatacara pengenaannya serta ketentuan administrasi perpajakannya sama dengan wajib pajak dalam negeri. yang meliputi Perseroan Terbatas. misalnya lembaga. Perseroan lainnya. Orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas . Sedangkan pengertian perkumpulan termasuk pula assosiasi.41/1996. Komputer. atau ikatan dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama. Yayasan. Pabrik . Tempat kedudukan manajemen . d. yang dapat berupa: a. yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk memperoleh penghasilan merupakan subjek pajak. baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan usaha. dan p. merupakan Subjek Pajak. m. UU No. i. Bentuk Usaha Tetap. termasuk Reksa dana. Pertambangan dan penggalian sumber alam . f. Dana Pensiun. Persekutuan. SE-10/PJ. Organisasi masa.

Dibiayai dengan dana yang bersumber dari APBN atau APBD. tidak termasuk sebagai subjek pajak yaitu : a. menjelaskan bahwa subjek pajak terdiri dari subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri. atau melakukan kegiatan di Indonesia. Pengertian bentuk usaha tetap mencakup pula orang pribadi atau badan selaku agen yang kedudukannya tidak bebas yang bertindak untuk dan atas nama orang pribadi atau badan yang tidak bertempat tinggal atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia. Dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. yang dimiliki. Selanjutnya dalam penjelasan pasal 2 ayat (1) huruf b. UU No. 36 Tahun 2008. 3. Apabila suatu badan/lembaga memenuhi syarat–syarat tersebut diatas. unit usaha tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria berikut. yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung termasuk juga mesin-mesin. 36 Tahun 2008.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Seterusnya menurut penjelasan pasal 2 ayat (5) UU No. dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia. Sebalikya apabila syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi. Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang No. disewa.2. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa pihak tertanggung bertempat tinggal. c. menggunakan. Penerimaan lembaga tersebut dimasukan dalam anggaran pemerintah pusat atau pemerintah daerah. 36 Tahun 2008. menyatakan bahwa suatu bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha (”place of bussiness”). Perusahaan asuransi yang didirikan dan bertempat tinggal diluar Indonesia. asalkan agen atau perantara tersebut dalam kenyataannya bertindak sepenuhnya dalam rangka menjalankan perusahaannya sendiri. Subjek Pajak dalam negeri dan Subjek Pajak luar negeri. sedangkan subjek pajak luar negeri menjadi wajib pajak sehubungan dengan penghasilan yang diterima MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 9 . apabila perusahaan asuransi tersebut menerima pembayaran premi asuransi di Indonesia. broker atau perantara yang mempunyai kedudukan bebas. atau menanggung resiko di Indonesia melalui pegawai atau perwakilan atau agennya di Indonesia. gudang dan komputer atau agen elektronik atau peralatan otomatis (automated equipment). peralatan. apabila telah menerima atau memperoleh penghasilan. Pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan funfsional negara. maka badan/lembaga tersebut adalah subjek pajak pada pajak penghasilan. maka ia tidak termasuk subjek pajak penghasilan. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. d. tidak dapat dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia. Menanggung resiko di Indonesia tidak berarti bahwa peristiwa yang mengakibatkan resiko tersebut terjadi di Indonesia. atau berada atau bertempat kedudukan di Indonesia. Selanjutnya dalam pasal tersebut dijelaskan subjek pajak menjadi wajib pajak. b. Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dari orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia.1. atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan aktivitas usaha melalui internet. apabila orang pribadi atau badan dalam menjalankan usaha.

turut. tapi niat dimaksud dibuktikan dengan mengurus legalisasi kependudukan. sebagai satu kesatuan menggantikan mereka berhak. Warisan yang belum terbagi. Terdapat kewajiban menyampaikan baik SPT Masa maupun SPT Tahunan. Atau seseuai dengan Tarif menurut P3B (Tax-Treaty). Uraian Ruang lingkup Penghasilan Kewajiban memiliki NPWP Kewajiban menyampaikan SPT Penghasilan yg dikenakan Pajak Subjek Pajak(WP) DN Meliputi Penghasilan Seluruh dunia. 15%. 9. begitu pula bagi yang mempunyai niat. 5. Orang Pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. 4. a. 6. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan. tapi bisa juga diselang seling yang penting jumlah harinya mencapai 183 hari. Penghasilan Bruto. untuk menjamin penerimaan negara dari pajak. Wajib memiliki NPWP. yang telah memenuhi kewajiban subjektif dan objektif. semisal keterangan izin menetap. yaitu : .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN atau diperoleh dari sumber di Indonesia. Terdapat perbedaan perlakuan antara subjek pajak dalam negeri dengan subjek pajak luar negeri. Dikenakan Tarif Khusus Psl 26. 8. Tidak Wajib memiliki NPWP.. . 3. Pembukuan dan Pencatatan Diwajibkan menyelenggarakan. Keberatan dan Banding Mempunyai Hak dimaksud. Merupakan angsuran dari PPh yang terutang pada akhir tahun. siapa yang harus bertanggung jawab. bukan hanya yang menerbitkan/mengeluarkan saham. 36 Tahun 2008. Subjek Pajak Orang Pribadi 7. Selanjutnya pengertian Badan. Penghasilan Kena Pajak bagi WP .WP Badan. 2. menggantikan yang berhak. Rumusan dari subjek pajak dalam negeri terdapat dalam Psl 2 ayat (3) UU No. atau kepada MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 10 . perkumpulan sosial. kecuali yang Final Dapat pengurangan beban PTKP Subjek Pajak LN. yaitu : a. dan 35% WP OP b. seandainya yang punya waris tidak meninggalkan wasiat/pesan/amanah. tidak harus menunggu mencapai 183 hari.5%. 25%. Dikenakan Tarif PPh. a. Merupakan pembayaran yang Final kecuali yang berubah status. Penghasilan Neto bagi WP Badan b. Tarif. Tidak mempunyai hak dimaksud Tidak terdapat kewajiban tsb. demikian juga organisasi-organisasi yang nirlaba semisal partai politik. Dengan perkataan lain wajib pajak adalah orang pribadi atau badan. perlakuan perpajakannya. b. Tidak dapat pengurang PTKP. Tidak ada kewajiban SPT. tetapi juga yang tidak menerbitkan saham. 1. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia. Orang Pribadi. Dikenakan Tarif Pasal 17. Hanya Penghasilan dari Indonesia. seakan-akan terdapatnya pengertian yang tidak konsisten terhadap subjek pajak luar negeri. Final (Psl 4 ayat 2. Pengertian 183 hari dalam 12 bulan tidak harus berturut. Khusus WP Luar Negeri Bentuk Usaha Tetap (BUT). termasuk kegiatan yang dikelola lebih dari satu orang. dan ketentuan yang diterapkan dipersamakan dengan WP Dalam Negeri. c. kemasyarakatan (LSM). antara lain seperti tertera pada tabel dibawah : No.Tarif tunggal 28% . kartu penduduk dan lain sebagainya. atau orang pribadi yang dalam satu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat bertempat tinggal di Indonesia. Pembayaran Pajak Tahun Berjalan.

Oleh karena keberadaan Warisan yang belum dibagi sebagai subjek pajak. Selanjutnya Pasal 2 ayat (4). alamat tempat tinggal keluarga. UU No. maka orang pribadi tersebut adalah subjek pajak luar negeri. ditentukan menurut keadaan yang sebenarnya. tetapi lebih didasarkan pada kenyataan. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari. dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. dengan meninggalnya yang bersangkutan gugur statusnya sebagai subjek pajak. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh Direktur Jenderal Pajak dalam menentukan tempat tinggal seseorang atau tempat kedudukan badan tersebut antara lain domisili. 36 Tahun 2008. bahwa subjek pajak luar negeri adalah orang pribadi atau badan yang bertempat tinggal atau bertempat kedudukan di luar Indonesia. tetapi berada di Indonesia kurang dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan. b. Berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (6). hal ini dikarenakan subjek pajak orang pribadi melekat pada orangnya. menjelaskan pengertian subjek pajak luar negeri yakni : a. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 11 . Pasal ini menjelaskan. Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN siapa harta tersebut diberikan apabila yang punya harta ini meninggal dikemudian hari. apalagi kalau pembagian waris berlarut-berlarut sementara kewajiban perpajakannya tidak ada yang mau bertanggung jawab. Apabila penghasilan yang diterima atau diperoleh melalui bentuk usaha tetap. 36 Tahun 2008. maka terhadap orang pribadi atau badan tersebut dikenakan pajak melalui bentuk usaha tetap. cukup menggunakan NPWP yang meninggal. termasuk Kantor Pelayanan Pajak mana yang menerbitkan NPWP nya. yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia . Terhadap warisan yang belum terbagi yang ditinggalkan oleh subjek pajak luar negeri yang tidak menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia melalui Bentuk Usaha Tetap (BUT). yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia. tidak ada istilah subjek pengganti. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia. maka dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Penjelasan pasal dan ayat tersebut menerangkan bahwa penentuan tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan penting untuk menetapkan Kantor Pelayanan Pajak mana yang mempunyai yurisdiksi pemajakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan tersebut. Dengan demikian bentuk usaha tetap menggantikan orang pribadi atau badan sebagai subjek pajak luar negeri dalam memenuhi kewajiban perpajakannya di Indonesia. hal tersebut ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak menurut keadaan yang sebenarnya. dan orang pribadi atau badan tersebut statusnya tetap sebagai subjek pajak luar negeri. maka pengenaan pajaknya dikenakan langsung kepada subjek pajak luar negeri tersebut. dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. Dengan demikian penentuan tempat tinggal atau tempat kedudukan tidak hanya didasarkan pada pertimbangan yang bersifat formal. UU No. baik tidak melalui ataupun melalui bentuk usaha tetap. Pada dasarnya tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan. dan badan yang tidak didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia. tempat menjalankan usaha pokok. atau hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan untuk memudahkan pelaksanaan pemenuhan kewajiban pajak. maka perlu ditetapkan tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan. dan tidak menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia. Dalam hal penghasilan tersebut diterima atau diperoleh tanpa melalui bentuk usaha tetap. hanya sampai warisan selesai dibagi. artinya tidak bersifat permanen. Berkenaan dengan pengenaan pajaknya (orang pribadi dan badan).

Tempat kantor pimpinan perusahaan dan pusat administrasi dan keuangan berada sebagaimana tercantum dala Akte Notaris Pendirian Perusahaan yang bersangkutan. penentuan saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektig menjadi penting. Tempat tinggal orang pribadi menurut keadaan yang sebenarnya : a. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 12 . Dalam hal tempat tinggal orang pribadi berada dalam dua atau lebih wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak. Penentuan tempat tinggal dilaksanakan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atas nama Direktur Jenderal Pajak. dalam hal keadaan sebagaimana dimaksud dalam huruf (b) berada dibeberapa tempat. Kep 701/PJ. b. d. Rumah tetap orang pribadi tempat pusat kepentingan pribadi dan ekonominya dilakukan. 2. tetapi dalam satu wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak e.3. dalam hal rumah tetap tempat tinggal pusat kepentingan pribadi dan ekonomi dilakukan sebagaimana dimaksud dalam huruf (b) tidak dapat ditentukan. c. Oleh karena itu dalam rangka memberikan kepastian hukum. didua tempat atau lebih wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak. termasuk keperluan untuk penerbitan NPWP nya. yaitu rumah tempat orang pribadi tinggal beserta keluarganya bertempat tinggal sebagaimana tercantum dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) b. Tgl 16 Nopember 2001. Dalam hal tempat tinggal orang pribadi berada dalam dua atau lebih wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak. Penentuan saat mulai dan berkhirnya kewajiban pajak subjektif diatur dalam Psl 2A UU No. Penjelasan pasal ini menerangkan bahwa Pajak Penghasilan merupakan jenis pajak subjektif.1. Tempat kedudukan badan menurut keadaan sebenarnya yang ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak. f. a. Tempat kedudukan badan menurut keadaan yang sebenarnya. penentuan tempat tinggal dilaksanakan oleh Direktur Pajak Penghasilan atas nama Direktur Jenderal Pajak. penentuan tempat tinggal dilaksanakan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atas nama Direktur Jenderal Pajak. Rumah tetap orang pribadi berada. c. Saat Mulai dan Berakhirnya Kewajiban Pajak Subjektif. artinya kewajiban pajak tersebut dimaksudkan untuk tidak dilimpahkan kepada subjek pajak lainnya. 36 Tahun 2008. d.2001. Tempat kantor pimpinan perusahaan berada dalam hal tempat kantor pimpinan perusahaan terpisah dari tempat pusat administrasi dan keuangan perusahaan. Dalam hal tempat kedudukan badan berada dalam dua atau lebih wilayah kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak. dalam hal orang pribadi mempunyai rumah tetap sebagaimana dimaksud huruf (a).PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Keputusan tentang tempat tinggal orang pribadi dan tempat kedudukan badan dimaksud. Tempat orang pribadi lebih lama tinggal. yang kewajiban pajaknya melekat pada subjek pajak yang bersangkutan. Dalam hal tempat kedudukan badan berada dalam dua atau lebih wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak. ditetapkan dalam keputusan Direktur Jenderal Pajak No. Penentuan tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan penting untuk menetapkan Kantor Pelayanan Pajak mana yang mempunyai yurisdiksi pemajakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi dan badan tersebut. tetapi dalam satu wilayah kerja Kantor wilayah Direktorat Jenderal Pajak. 3. e. penentuan tempat tinggal dilaksanakan oleh Direktur Pajak Penghasilan atas nama Direktur Jenderal Pajak. yang isinya antara lain : 1.

yang mengemukakan. Orang Pribadi yg tidak bertempat tinggal atau berada di Indonesia tidak lebih 183 hari. atau bertempat kedudukan di Indonesia. kewajiban pajak subjektifnya dimulai sejak hari pertama ia berada di Indonesia. Kewajiban pajak subjektif badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia (Psl 2 ayat (3) huruf b). diatur dalam Psl 2A ayat (2).Bertempat tinggal di Indonesia . dimulai pada saat orang pribadi itu dilahirkan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Pasal 2A ayat (1) mengemukakan bahwa kewajiban pajak subjektif orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (3) huruf (a). dan badan yg tidak didirikan dan tdk bertempat kedudukan di Indonesia. atau orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan. untuk bertempat tinggal di Indonesia. yaitu orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia. atau tidak lagi bertempat ke dudukan di Indonesia. Apabila pada saat ia meninggalkan Indonesia terdapat bukti – bukti yang nyata mengenai niatnya untuk meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya. bahwa kewajiban pajak subjektif dimulai pada saat badan tersebut didirikan atau MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 13 . dan berakhir pada saat meninggal atau meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya. atau berniat. Badan.Berada di Indonesia lebih dari 183 hari dlm 12 bulan atau berada dan punya niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. maka pada saat itu ia tidak lagi menjadi Subjek Pajak dalam negeri. usaha/kegiatan Pada saat adanya hubungan ekonomis dengan Indonesia. Pada saat meninggal dunia. berada. Pada saat putusnya hubu ngan ekonomis dengan Indonesia. -Yang menjalankan usaha. Pada saat warisan tersebut selesai dibagi. Pada saat badan tersebut didirikan. Warisan yang belum terbagi Mulai -Pada saat dilahirkan Di Indonesia. Berakhirnya. -Tidak menjalankan melalui BUT. dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Subjek Pajak Dalam Negeri Orang Pribadi . Subjek Pajak Luar negeri. Pada saat ditiadakannya BUT. tersebut berada di Indonesia. Pada saat badan tersebut di bubarkan dan dilikuidasi. atau meninggalkan Indonesia buat selama-lamanya. Pengertian meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya harus dikaitkan dengan hal-hal yang nyata. dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. atau Pada saat BUT melakukan kegiatan melalui BUT. pada saat orang pribadi tersebut meninggalkan Indonesia. Pada saat meninggalnya pewaris. Untuk lebih jelasnya hal tersebut. -Sejak hari pertama berada di Indonesia.

yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia. kewajiban pajak subjektifnya dimulai pada saat BUT tersebut berada di Indonesia dan berakhir pada saat BUT tersebut tidak lagi berada di Indonesia. dimulai saat timbulnya warisan yang belum terbagi. Pasal 2A ayat (3) mengatur bahwa kewajiban pajak subjektif orang pribadi atau badan sebagaimana dimaksud dalam Psl 2 ayat (4) huruf a (yaitu orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia. dimulai pada saat orang pribadi atau badan tersebut menjalankan usahaatau melakukan kegiatan sebagaimana diatur dalam Psl 2 ayat (5). yaitu pada saat meninggalnya yang punya waris. dan berakhir pada saat tidak lagi menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT. melalui suatu BUT. dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. apabila orang pribadi dan badan tersebut menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia. Psl 2A ayat (4) mengatur tentang kewajiban pajak subjektif orang pribadi Atau badan sebagaimana dimaksud dalam Psl 2 ayat (4) huruf b. maka bagian tahun pajak tersebut menggantikan tahun pajak. yaitu menerima atau memperoleh penghasilan dari sumber-sumber dari Indonesia. dan saat itu pemenuhan kewajiban perpajakannya melekat pada warisan tersebut. Dalam penjelasan ayat ini. Penjelasan ayat ini menerangkan bahwa bagi orang pribadi yangtidak bertempat tinggal dan berada di Indonesia tidak lebih 183 hari. atau meninggalkan Indonesia buat selama-lamanya pada pertengahan tahun pajak. (yaitu subjek pajak luar negeri yang bukan menjalankan usaha atau melakukan kegiatan kegiatan melalui BUTdi Indonesia). Hubungan ekonomis dengan Indonesia dianggap ada. dan badan yang didirikan dan tidak berkedudukan di Indonesia. Kewajiban pajak subjektif orang atau badan tersebut dimulai pada saat orang pribadi atau badan tadi mempunyai hubungan ekonomis dengan Indonesia. Penjelasan Psl 2A ayat (4) ini menyatakan bahwa orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau berada di Indonesia. dan berakir pada saat orang pribadi atau badan tersebut tidak lagi mempunyai hubungan ekonomis dengan Indonesia. maka jangka waktu yang kurang dari satu tahun pajak tersebut disebut bagian tahun pajak yang menggantikan tahun pajak. Penjelasan ayat ini menerangkan bahwa kewajiban pajak subjektif warisan yang belum terbagi. dan tidak menjalankan usaha melalui BUT di Indonesia. yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia). Kewajiban pajak subjektif warisan berakhir pada saat warisan tersebut dibagi kepada ahli waris. atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan. dan yang tidak didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia. Selanjutnya Psl 2A ayat (6) menyatakan bahwa apabila kewajiban pajaksubjektif orang pribadi yang bertempat tinggal atau berada di Indonesia hanya meliputi sebagian dari tahun pajak. dimulai pada saat timbulnya warisan yang belum terbagi. Psl 2A ayat (5) mengatur tentang kewajiban pajak subjektif warisan yang belum terbagi.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN bertempat kedudukan di Indonesia dan berakhir pada saat dibubarkan. dikemukakan bahwa dapat terjadi orang pribadi menjadi subjek pajak tidak untuk jangka waktu satu tahun pajak penuh misalnya menjadi subjek pajak pada pertengahan tahun pajak. dan berakir pada saat warisan tersebut selesai dibagi. adalah subjek pajak luar negeri sepanjang orang pribadi atau badan tersebut mempunyai hubungan ekonomis dengan Indonesia. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 14 . atau tidak lagi bertempat kedudukan di Indonesia. tidak lebih dari 183 hari. dimulai pada saat orang pribadi atau badan tersebut menerima atau memperoleh penghasilan.

serta tinggal bersama mereka dengan syarat bukan WNI. selain dari pemberian pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota.Bukan Warga Negara Indonesia. dimana dalam pasal tersebut dikemukakan bahwa yang tidak termasuk sebagai Subjek Pajak adalah : a.4. Tidak termasuk sebagai Subjek Pajak.1. Indonesia menjadi anggota organisasi didalamnya dan. maka kembali lagi berlaku azas timbal balik. yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama mereka. dengan syarat : . Ketentuan lebih lanjut mengenai Psl 3 huruf (c) dan (d). a. dikecualikan sebagai subjek pajak.Negara yang bersangkutan memberikan perlakuan yang sama (azas timbal balik). . Dengan demikian apabila pejabat perwakilan suatu negara asing. tidak melakukan ke giatan lain. Organisasi-organisasi Internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan (terakhir dengan Kep. atas penghasilan lain diluar tugas dan jabatannya. serta orang yang diperbantukan. dengan syarat : 1. Pajak Penghasilan apabila memenuhi syarat sebagai berikut : MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 15 . c. b. apabila mereka memperoleh penghasilan lain di Indonesia. Organisasi Internasional yang berbentuk kerjasama tehnik dan atau kebudayaan bukan merupakan subjek pajak. diluar jabatannya atau mereka adalah WNI. maka ia termasuk subjek pajak yang dapat dikenakan pajak atas penghasilan tesebut. d. dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka. dengan syarat bukan WNI. diatur lebih lanjut dalam KMK seperti disebut diatas. dan di Indonesia tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia. serta negara asing tersebut memberikan perlakauan yang sama (azas timbal balik).PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3. MK 601/KMK.03/2005. Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing. sedangkan yang dimaksud dengan pejabat perwakilan organisasi Internasional adalah pejabat yang diangkat langsung oleh induk organisasi Internasional yang bersangkutan untuk menjalankan tugas atau jabatan dalam organisasi tersebut di Indonsia. 36 Thn 2008. Selanjutnya dikemukakan bahwa organisasi Internasional bukan merupakan subjek pajak penghasilan apabila memenuhi syarat sebagai berikut . bahwa badan perwakilan negara asing beserta pejabat-pejabatnya. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi Internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan (sebagaimana dimaksud huruf c). Penjelasan Psl 3 huruf (a) dan (b) tersebut diatas. . Kantor Perwakilan Negara Asing . Pengecualian sebagai subjek pajak diatur dalam Psl 3 UU No. dan 2. b. memperoleh penghasilan lain diluar jabatannya. Yang dimaksud dengan organisasi Internasional adalah organisasi/badan/lembaga/asosiasi /perhimpunan/forum antar pemerintah atau non pemerintah ygbertujuan untuk meningkatkan kerjasama Internasional dan dibentuk dengan aturan tertentu atau kesepakatan bersama. Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain pemberian pinjaman kepada Pemerintah yang dananya berasal dari iuran anggota. menerangkan bahwa sesuai dengan kelaziman yang berlaku secara Internasional. Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia. Namun apabila negara asal pejabat tersebut memberikan pembebasan pajak kepada perwakilan Indonesia. Pengecualian tersebut tidak berlaku.Tidak menerima penghasilan lain diluar tugas dan jabatannya. Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut.

atau pembicara pada suatu seminar. Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia. atau Psl 26. apa beda BUT dengan subjek pajak LN lainnya. dikenakan Pajak Penghasilan. Kapan mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif orang pribadi sebagai WP dalam negeri.1. Organisasi –Organisasi Internasional lainnya (terdapat 54 badan) VI. atau pajak objektif ? 7. maka yang menjadi Subjek Pajak. Apa pula pengertian BUT. Pajak Penghasilan apakah termasuk pajak subjektif. dan b. b.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN a. Subjek Pajak Dalam Negeri : a.2. Orang pribadi yang lahir dan atau. atau berada di Indonesia dan berniat untuk bertempat tinggal di Indonesia. 2. dan jelaskan perbedaan perlakuan perpajakan antara subjek pajak DN dengan subjek pajak LN. Jelaskan pula mulai dan berakhitnya kewajiban pajak subjektif bagi BUT. Misalnya seorang pejabat perwakilan organisasi Internasional diluar tugas pokoknya contoh menjadi pengajar bahasa asing di lembaga kursus swasta. Jelaskan kriteria antara subjek pajak dalam negeri subjek luar negeri. oleh penyelenggaranya. Pengertian 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan sebagai subjek pajak dalam negeri itu bagaimana. Kerjasama tehnik tsb memberi manfaat pada negara/Pemerintah Indonesia. seperti dimaksud diatas. Kerjasama Tehnik (terdapat 18 kerjasama tehnik) IV. tapi tidak termasuk dalam daftar dimaksud. maka honor tersebut dikenakan pemotongan PPh Psl 21. maka organisasi internasional tersebut menjadi subjek pajak. Organisasi Swasta Internasional ( terdapat 18 organisasi). Latihan 2 1. 3. Siapa saja yang dikecualikan sebagai subjek pajak.3. Kerjasama Kebudayaan (ada 4 kerjasama kebudyaan) V. Organisasi Internasional dan pejabat perwakilan organisasi Internasional yang tidak memenuhi syarat tersebut diatas. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 16 . pada Pajak Penghasilan adalah : 3. Siapakah subjek pajak pada PPh. jelaskan dengan hitungan waktunya. Mengenai Organisasi Internasional yang dikecualikan sebagai subjek pajak. Dasar hukum apa untuk menentukan suatu organisasi internasional menjadi subjek pajak atau tidak menjadi Subjek Pajak. bukan merupakan subjek pajak penghasilan. 6. 3. karena terlalu banyak dan kurang efisien. bertempat tinggal lebih dari 183 hari dalam 12 bulan. tetapi secara garis besar dapat disebut disini yaitu : I. 10. Mengapa warisan yang belum terbagi ditunjuk sebagai subjek pajak ? 3. Pejabat perwakilan dari organisasi Internasional tersebut diatas. Bukan Warga Negara Indonesia . Colombo Plan ( ada 8 organisasi) III. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 8. apabila memenuhi syarat sebagai berikut : a. tidak diperinci dalam modul ini. Rangkuman Berdasarkan uraian –uraian terdahulu. dan bukan Subjek Pajak. Badan-Badan Internasional dari PBB (terdapat 15 organisasi) II. 4.3. 5. Apabila ada organisasi internasional. kemudian mendapat honor. Tidak menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia. 9.

Firma. b. Orang pribadi yang kurang dari 183 hari berada di Indonesia. Untuk menentukan mulai dan berakhirnya kewajiban pajak maka dibedakan mulai dan berakhirnya kewajiban pajak bagi subjek pajak dalam negeri dengan mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjek pajak luar negeri secara jelas.3.6.5. Orang pribadi yang berada kurang dari 183 hari dalam 12 bulan. Sesuai dengan kelaziman yang berlaku secara internasional maka Badan Perwakilan negara asing disuatu negara. 3.3. Warisan yang belum terbagi menjadi subjek pajak menggantikan kedudukan yang akan menerima warisan tersebut dikemudian hari. b. atau berada di luar negeri tapi menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia.2. atau bukan melalui bentuk usaha tetap.3. 3.3.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Warisan yang belum terbagi.3. Terdapat perbedaan perlakuan perpajakan antara subjek dalam negeri dengan subjek pajak luar negeri. atau orang pribadi atau badan yang berada di luar negeri yang melakukan usaha baik melalui bentuk usaha tetap di Indonesia. sebagai satu kesatuan menggantikan mereka yang berhak.4.3. 3. 3. beserta pejabat-pejabatnya dengan syarat-syarat tertentu. dan Organisasi Internasional yang ditentukan melalui Keputusan dan Peraturan Menteri Keuangan dikecualikan sebagai subjek pajak. Subjek Pajak Luar Negeri a. Kongsi dst nya ) 3. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 17 . Badan (PT.

Deviden. KEGIATAN BELAJAR 3. dan 5) keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan. termasuk yayasan. Rumusan penghasilan yang termasuk objek pajak dalam Psl 4 ayat (1) UU No. Penerimaan dan perolehan pembayaran berkala. j. dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal . g. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya. f. pemekaran. i. h Royalti . upah. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing .1. dan pembagian sisa hasil usaha koperasi . dan imbalan dan jaminan pengembalian utang .1. atau penguasaan diantara pihak-pihak yang bersangkutan. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa. kepemilikan. 4) keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah. 36 Tahun 2008. OBJEK DAN NON OBJEK PADA PAJAK PENGHASILAN. badan sosial. m. atau reorganisasi dengan nama dan dalam bantuk apapun . n. bonus.dan pembayaran tambahan pengembalian pajak. atau imbalan dalam bentuk lainnya. 4. dengan nama dan dalam bentuk apapun. Pengertian Penghasilan. pengambil alihan usaha. Uraian. yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4. dan penghargaan . uang pensiun. atau permodalan dalam perusahaan pertambangan . d. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. o. yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan. gratifikasi. dengan nama dan dalam bentuk apapun. kecuali sampai jumlah tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah . e. 4. maupun dari luar Indonesia. k. Premi asuransi . Keuntungan karena penjualan atau pengalihan harta termasuk : 1) keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan. peleburan. dan atau anggota yang diperoleh peseroan. sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha. badan pendidikan. atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil. yang diterima atau diperoleh termasuk gaji. Bunga termasuk premium. dan badan lainnya . 3) keuntungan karena likuidasi. komisi. atau pekerjaan atau kegiatan. sekutu. Laba usaha . p. koperasi. c. tunjangan honororarium. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari wajib pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas. yang berbunyi : ” Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak. kecuali ditentukan dalam UU ini : b. Keuntungan karena pemebebasan utang. bantuan atau sumbangan. termasuk deviden dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis. l. baik yang berasal dari Indonesia. tanda turut serta dalam pembiayaan. pekerjaan. persekutuan. diskonto. pemecahan. Hadiah dari undian. contoh dan non contoh. kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat dan badan keagamaan. penggabungan.1. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva . Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 18 . termasuk : a. 2) keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham. persekutuan.

b. Yang dimaksud dengan penghargaan adalah imbalan yang diberikan sehubungandengan kegiatan tertentu. Hadiah undian adalah hadiah dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diberikan melaui undian .395/PJ. adalah hadiah langsung dalam penjualan barang atau jasa sepanjang diberikan kepada MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 19 . imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan. Pengertian imbalan dalam bentuk lainnya termasuk imbalan dalam bentuk natura yang pada hakekatnya merupakan penghasilan. seperti upah. (2) Tarif dan dasar pengenaan : a. termasuk hadiah dari undian. Hadiah atau penghargaan perlombaan. adalah hadiah dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diberikan sehubungan dengan pekerjaan. Huruf b Dalam pengertian hadiah. jasa. agar tidak terdapat keraguan dalam pelaksanaannya. Mengenai perlakuan PPh terhadap hadiah dan penghargaan. 36 Tahun 2008. dikenakan PPh Psl 21 sebesar tarif Psl 17 UU PPh. Penjelasan Psl 4 ayat (1) UU No.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN q. selain BUT. telah dikeluarkan surat edaran/keputusan Direktur Jenderal Pajak dan terakhir Surat Keputusan Direktur Jnderal Pajak No. misalnya imbalan yang diterima sehubungan dengan penemuan bendabenda purbakala. Hadiah atau penghargaan perlombaan adalah hadiah atau penghargaan yang diberikan melalui suatu perlombaan atau adu ketangkasan. dan : s. jasa dan kegiatan lainnya. dan kegiatan lainnya dikenakan PPh dengan ketentuan sbb :  Dalam hal penerima penghasilan adalah orang pribadi wajib pajak dalam negeri. Penghargaan adalah imbalan yang diberikan sehubungan dengan prestasi dalam kegiatan tertentu. Tgl 13 Juni 2001. dkenakan PPh Psl 26 sebesar 20% dari jumlah bruto. hadiah dari pertandingan olah raga dll sebagainya. pekerjaan. termasuk BUT. Hadiah undian dikenakan PPh sebesar 25% dari jumlah penghasilan bruto. r. dan kegiatan yang dilakukan oleh penerima hadiah.2001. (3) Tidak termasuk pengertian hadiah dan penghargaan yang dikenakan PPh.  Dalam hal penerima penghasilan adalah wp luar negeri. yaitu sebesar 15% dari jumlah penghasilan bruto. c. dikenakan PPh berdasarkan Psl 23 ayat (1) huruf a. premi asuransi jiwa. yang mengatur hal-hal sebagai berikut : (1) Pengertian : a. asuransi kesehatan yang dibayar oleh pemberi kerja atau imbalan dalam bentuk lainnya adalah objek pajak. b. dan bersifat final.4 UU PPh. atau sesuai dengan tarip P3B. Hadiah sehubungan dengan pekerjaan. gaji. dan hadiah sehubungan dengan pekerjaan. surplus Bank Indonesia. penghasilan dari usaha yang berbasis syariah . jasa. dan kegiatan seperti hadiah undian tabungan. tentang Pengenaan Pajak Penghasilan atas Hadiah dan Penghargaan.  Dalam hal penerima penghasilan adalah wp badan. KEP. d. lengkapnya adalah : Huruf a Semua pembayaran atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan.

dan/atau . Tentang Badan-Badan dan Pengusaha Kecil yang Menerima Harta hibahan dan Yang tidak Termasuk Objek Pajak Penghasilan disebut bahwa : . atau sosial. Keuntungan berupa selisih antara harga pasar dengan nilai perolehan atau nilai sisa buku atas pengalihan harta berupa hibah. merupakan penghasilan bagi badan usaha tersebut. dan apabila mobil dimaksud dbeli salah seorang pemegang sahamnya dengan harga Rp 55. dan/atau .000.000. kegiatan.Badan sosial adalah badan termasuk yayasan yang kegiatannya semata-mata menyelenggarakan : (1) pemeliharaan kesehatan dan/atau (2) pemeliharaan orang lanjut usia (panti jompo).04/ 1994. kemudian sisa bukunya dibebankan sebagai pengurangan penghasilan pada akhir tahun pajak. . 604/KMK. Dalam hal penjualan harta tersebut terjadi antara badan usaha dengan pemegang sahamnya.mata mengurus tempat ibadah. maka nilai jual/penggantian yang digunakan. kecuali harta tersebut dialihkan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat. (6) pelestarian lingkungan hidup. dan/atau tingkat menengah perguruan tinggi. dan sejenisnya.. (4) santunan dan/atau pertolongan kepada korban bencana alam. atau badan pendidikan. tapi cara perhitungannya adalah seluruh nilai jual atau penggantian harta tersebut.000. yaitu harga jual dengan nilai sisa bukunya juga merupakan objek pajak. adalah harga pasar.-...merupakan objek pajak bagi pemegang saham dimaksud. mobil tersebut dijual dengan harga Rp 65. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 20 . dianggap sebagai penghasilan bagi pihak yang mengalihkan. dan/atau (7) kegiatan sosial lainnya. maka keuntungan berupa selisih antara harga pasar harta tersebut. yang tidak mencari keuntungan .Badan pendidikan adalah badan termasuk yayasan yang kegiatannya semata-mata menyelenggarakan pendidikan formal tingkat taman kanak-kanak dan/atau tingkat dasar.000. kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. Misalnya PT Q. kecelakaan. yang tidak mencari keuntungan. Apabila wp menjual harta dengan harga yang lebih tinggi dari nilai sisa bukunya.maka selisih sebesar Rp15. dengan nilai bukunya merupakan objek pajak. tetap merupakan penghasilan badan usaha tersebut.000. Dalam hal terjadi pengalihan harta sebagai pengganti saham. sepanjang tidak ada hubungan usaha.maka selisih sebesar Rp 15. anak atau orang terlantar. atau lebih tinggi dari nilai perolehan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN semua pembeli atau konsumen akhir tanpa diundi dan hadiah tersebut diterima langsung oleh konsumen akhir pada saat pembelian barang atau jasa. sedangkan pemegang saham dengan selisih harga pasar Rp 10. memiliki sebuah mobil dengan nilai sisa buku Rp 50.000.Badan keagamaan adalah badan termasuk yayasan yang kegiatannya semata. atau penyertaan modal. Apabila suatu badan dilikuidasi.000. dimasukan sebagai penghasilan.000. dan/atau .000. . Selanjutnya dalam Keputusan Menteri Keuangan No. Tgl 21 Desember 1994. termasuk yayasan dan pengusaha kecil dan koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Huruf d. dan/atau anak serta orang cacat. (3) pemeliharaan anak yatim piatu. dan/atau menyelenggarakan kegiatan dibidang keagamaan.000. (5) pemberian bea siswa dan/atau . bantuan atau sumbangan. keuntungan dari penjualan harta/aktiva badan tersebut. serta badan keagamaan.000. maka selisih harga tersebut merupakan keuntungan yang dikenakan pajak.000.

pekerjaan. jika dalam tahun-tahun yang lalu diperoleh keuntungan. dan kepemilikan atau penguasaan. premium terjadi apabila misalnya surat obligasi dijual diatas nilai nominalnya. (9) bagian laba yang diterima oleh pemegang polis. yang dilakukan tanpa penyetoran. merupakan objek pajak. dan diskonto merupakan penghasilan bagi yang membeli obligasi. tidak termasuk sebagai objek pajak penghasilan.Pengusaha kecil termasuk koperasi adalah pengusaha yang pada saat menerima hibah jumlah nilai aktivanya tidak termasuk tanah dan/atau bangunan tidak melebihi Rp 600. termasuk saham bonus yang berasal dari kapitalisasi agio saham. .Pengalihan harta hibahan dibukukan sesuai dengan nilai sisa buku harta tsb. pada saat menghitung Penghasilan Kena Pajak. (10) pembagian sisa hasil usaha koperasi. (2) pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah penyetoran. (6) pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian dari modal yang disetor. (5) jumlah yang melebihi setoran sahamnya yang diterima atau diperoleh pemegang saham karena pembelian kembali saham-saham oleh perseroan ybs. dengan nama dan dalam bentuk apapun. Huruf f Dalam pengertian bunga termasuk pula premium. sebagai contoh PBB yang sudah dibayar dan dibebankan sebagai biaya.000. kecuali jika pembayaran kembali itu. dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang. Termasuk dalam pengertian deviden adalah : (1) pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung. usaha. diskonto. (8) bagian laba sehubungan dengan kepemilikan obligasi.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN sepanjang badan sosial tersebut tidak mencari keuantungan. maka jumlah sebesar pengembalian tersebut merupakan penghasilan. adalah akibat dari pengecilan modal dasar (statuter) yang dilakukan secara sah (7) pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba. dan memberikan pinjaman kepada perseroan dengan imbalan bunga yang melebihi kewajaran. Dalam praktek sering dijumpai pembagian atau pembayaran deviden secara terselubung. (11) pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang saham yang dibebankan sebagai biaya perusahaan. (4) pencatatan tambahn modal yang dilakukan tanpa penyetoran.Harta hibahan yang diterima oleh badan-badan dan pengusah kecil termasuk koperasi. Huruf g Deviden merupakan bagian laba yang diperoleh pemegang saham dan pemegang Polis asuransi. Apabila hal ini. yang karena suatu sebab dikembalikan. .000. Huruf e Pengembalian pajak yang telah dibebankan sebagai biaya. maka selisih antara bunga yang dibayarkan dengan tingkat MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 21 . sedangkan diskonto terjadi apabila surat obligasi dibeli dibawah nilai nominal. termasuk yang diterima sebagai penebusan tanda-tanda laba tersebut.-(enam ratus juta rupiah). misalnya dalam hal pemegang saham yang telah menyetor penuh modalnya. sepanjang antara pemberi hibah dengan penerima hibah tidak ada hubungan kegiatan. atau pembagian SHU koperasi yang diperoleh anggota koperasi. . Premium tsb merupakan penghasilan bagi yang menerbitkan obligasi. (3) pemberian saham bonus.

penerimaan atau hak menerima rekaman gambar atau rekaman suara atau keduanya. desain. penggunaan atau hak menggunakan rekaman gambar atau rekaman suara atau keduanya. atau karya ilmiah. sebagai imbalan atas : (1) penggunaan atau menggunakan hak cipta dibidang kesusasteraan. Huruf k Pembebasan utang oleh pihak yang berpiutang. sewa kantor. b. Huruf i Dalam pengertian sewa termasuk imbalan yang diterima atau diperoleh dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan penggunaan harta gerak. serat optik. (3) pemberian pengetahuan atau informasi di bidang ilmiah. pelepasan seluruhnya atau sebagian hak yang berkenaan dengan penggunaan atau pemberian hak kekayaan intelektual/industrial atau hak-hak lainnya sebagaimana tersebut diatas. baik dilakukan secara berkala. (5). dianggap sebagai deviden. Bagian bunga yang dianggap sebagai deviden tersebut tidak boleh dibebankan sebagai biaya oleh perseroan yang bersangkutan. penggunaan atau hak menggunakan film gambar hidup (motion picture films). atau komersial (4) pemberian bantuan tambahan atau pelengkap sehubungan dengan penggunaan atau hak mengunakan hak-hak tersebut pada angka 1. misalnya sewa mobil. berupa : a. Huruf j Penerimaan berupa pembayaran berkala. penggunaan atau hak menggunakan sebagian atau seluruh spektrum radio komunikasi.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN bunga yang berlaku wajar dipasaran. untuk siaran televisi atau radio. Huruf h Royalty adalah suatu jumlah yang dibayarkan atau terutang dengan cara atau perhitungan apapun. atau pemberian pengetahuan atau informasi tersebut pada angka 3. kabel. yang disiarkan/dipancarkan melalui satelit. dan (6). paten. merek dagang. atau model. misalnya uang ”alimentasi” atau tunjangan yang dibayarkan seumur hidup kepada mantan isteri berdasarkan keputusan hukum oleh suami selama mantan isteri masih hidup. c. formula atau proses rahasia. atau bentuk hak kekayaan intelektual/industrial atau hak serupa lainnya . maupun tidak. kabel. industrial. atau siaran televisi. atau teknologi yang serupa. atau harta tak gerak. penggunaan atau hak menggunakan peralatan/perlengkapan tersebut pada angka 2. atau ilmiah . sedangkan bagi pihak yang berpiutang dapat dibeban kan sebagai MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 22 . kesenian. teknikal. (2) penggunaan atau hak menggunakan peralatan/perlengkapan industrial.yangdisalurkan kepada masyarakat melalui satelit. rencana. dianggap sebagai penghasilan bagi pihak yang semula berutang. dan penghasilan sewa disini adalah sewa bruto. atau pita suara untuk siaran radio. atau sewa gudang. sewa rumah. film atau pita Video. atau teknologi yang serupa. komersial. serta optik.

Tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wp. Kredit Usaha Tani (KUT). 79/KMK. Huruf l Keuntungan yang diperoleh karena fluktuasi kurs mata uang asing diakui berdasarkan sistim pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat azas. Apabila diketahui adanya penambahan kekayaan neto yang melebihi akumulasi penghasilan yang telah dikenakan pajak. Kredit Usaha Rakyat (KUR). tetapi penghasilan itu belum dikenakan pajak. yaitu bahwa pajak dikenakan atas setiap penambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wp dari manapun asalnya. baik yang telah dikenakan pajak maupun yang belum dikenakan pajak. atau omzet penjualan barang. Atau satuan produksi. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 23 .03/2008. kredit untuk perumahan sangat sederhana. serta kredit kecil lainnya sampai dengan jumlah tertentu dikecualikan sebagai objek pajak. merupakan ukuran terbaik mengenai kemampuan wp tersebut untuk ikut andil bersama-sama memikul biaya yang diperlukan pemerintah untuk kegiatan rutin dan pembangunan. Namun. maka tambahan kekayaan neto tersebut merupakan penghasilan yang jadi objek pajak. tetapi pada adanya tambahan kemampuan ekonomis. Namun penghasilan yang diterima atau diperoleh dari kegiatan usaha berbassis syariah tersebut tetap merupakan objek pajak menurut UndangUndang ini. merupakan penghasilan. misalkan iuran yang besarnya menurut jumlah (volume) ekspor. Huruf m Selisih lebih karena penilain aktiva sebagaimana dimaksud Psl 19 UU. menganut perinsip pemajakan yang sangat luas. dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan bahwa pembebasan utang debitur kecil misalnya Kredit Usaha Keluarga Prasejatera (Kukesra). Penilaian kembali aktiva tetap terakhir diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan No. dan inlah yang menjadi objek pajak pada perkumpulan. Huruf p Tambahan kekayaan neto pada hakikatnya merupakan akumulasi dari penghasilan. Pengertian penghasilan dalam UU ini tidak memperhatikan adanya penghasilan dari sumber tertentu. sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN biaya. yang dapat dipergunakan untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak dimaksud. Huruf n Dalam pengertian premi asuransi termasuk premi reasuransi. Undang-undang PPh.PPh. Kegiatan usaha berbasis syariah memiliki landasan filosofi yang berbeda dengan kegiatan usaha yang bersifat konvensional. Tgl 23 Mei 2008. Huruf o Iuran yang dibayar oleh anggota perkumpulan yang dihitung berdasarkan volume kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dari anggota tersebut. Huruf q.

2. dimaksudkan untuk memperjelas pengertian tentang penghasilan yang luas tidak terbatas pada contoh contoh yang disebut diatas saja. seperti gaji. bantuan atau sumbangan. penghasilan dari kegiatan usaha baik orang pribadi maupun badan. Sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha. aktuaris. atau dikecualikan dari objek pajak. dan sebagainya. sewa. penghasilan dapat dipakai untuk konsumsi dan dapat pula ditabung untuk menambah kekayaan wp. hubungan MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 24 . pekerjaan. dengan tarif yang bersifat final. Contoh-contoh penghasilan yang disebut dalam ketentuan ini.1. seperti hak atas bayaran berkala. atau badan sosial termasuk yayasan. penghasilan dari modal. atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. badan keagamaan. penghasilan dapat dikelompokan menjadi : 1. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. Namun demikian apabila suatu jenis penghasilan dikenakan pajak. koperasi. keuntungan penjualan harta atau yang tidak digunakan dalam usaha. Dalam penjelasan Psl yang bersangkutan adalah sebagai berikut : Huruf a Bantuan atau sumbangan bagi pihak yang menerima bukan merupakan ojek pajak. harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat. Dilihat dari penggunaannya. pengacara. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Dengan demikian apabila dalam suatu tahun pajak suatu usaha atau kegiatan menderita kerugian. diatur dalam Psl 4 ayat (3) UU No. bunga. sepanjang diterima tidak dalam rangka hubungan kerja. maka semua jenis penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu tahun pajak. berupa harta gerak maupun harta tak bergerak seperti deviden. hubungan usaha. 3. kecuali kerugian yang diderita diluar negeri. digabungkan untuk mendapatkan dasar pengenaan pajak. maka penghasilan tersebut tidak boleh digabungkan dengan penghasilan lain yang dikenakan dengan tarif umum. dll sebagainya. penghasilan lain-lain. maka kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan lainnya (kompensasi horizontal). yaitu : a. notaris. 36 Tahun 2008. Penghasilan yang tidak termasuk sebagai objek pajak.1. 4.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Dilihat dari mengalirnya tambahan kemampuan ekonomis kepada wp. termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia. kepemilikan. honororarium. penghasilan dari praktek dokter. dll. atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil. Karena UU ini menganut pengertian penghasilan yang sangat luas. 4. pembebasan utang. 2. royalti. yang diterima lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak. dan 2. Penghasilan yang tidak termasuk sebagai objek pajak dan tidak dikenakan Pajak penghasilan. penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas. akumtan. atau badan pendidikan.

pemberian bea siswa . Hibahan. Penetapan Dasar Nilai Bagi yang Menerima Pengalihan Harta yang diperoleh dari Bantuan. apabila diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat. anak atau orang terlantar. Sumbangan. Tgl 24 Desember 1994. 11/PJ/1995. mengenai hal tersebut diatas.Apabila nilai atau perolehan harta. anak dan/atau orang cacat. dikemukakan bahwa : . maka sumbangan bahan baku yang diterima oleh PT A. kepemilikan. maka nilai perolehan bagi yang menerima pengalihan tersebut. atau hubungan penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. Apabila PT B. Pemeliharaan orang lanjut usia (panti jompo). f. - - Dikemukakan lebih lanjut bahwa harta hibahan yang diterima badan-badan tsb diatas. memberikan sumbangan bahan baku kepada PT .-(enam ratus juta rupiah). atau lembaga amil zakat. oleh penerima hibah sesuai dengan nilai sisa buku harta hibahan. Menteri Keuangan telah menerbitkan peraturan pelaksanaannya. yang memenuhi syarat bukan sebagai objek pajak. adalah sama dengan nilai atau harga perolehan harta tsb. misalnya PT A sebagai produsen suatu jenis barang yang bahan utamanya diproduksi oleh PT B.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN kepemilikan atau hubungan penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan.04/1994. antara lain menyatakan bahwa yang dimaksud dengan : Badan keagamaan adalah badan termasuk yayasan yang kegiatannya semata-mata mengurus tempat ibadah dan/atau menyelenggarakan kegiatan dibidang keagamaan. b. atau badan pendidikan atau badan sosial termasuk yayasan atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan . Selanjutnya dalam keputusan Direktur Jenderal Pajak No.000. santunan dan/atau pertolongan kepada korban bencana alam. yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan para penerima zakat yang berhak serta sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama lainnya yang diakui di Indonesia yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah yang diterima oleh penerima sumbangan yang berhak sama seperti bantuan atau sumbangan. tidak ada hubungan usaha. Sepanjang badan sosial tersebut tidak mencari keuntungan. Tgl 1 Pebruari 1995.. Pengusaha kecil termasuk koperasi adalah pengusaha yang pada saat akan menerima hibah. Pemeliharaan kesehatan dan /atau. 604/KMK. Pemeliharaan anak yatim piatu. jumlah nilai aktivanya tidak termasuk tanah dan/atau bangunan tidak lebih Rp 600. Ditambahkan disini. diketahui. dan pengusaha kecil termasuk koperasi. merupakan objek pajak. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 25 . Yang dimaksud dengan zakat adalah zakat sebagaimana dimaksud UndangUndang yang mengatur mengenai zakat. dari WP tidak menyelenggarakan pembukuan. Badan pendidikan adalah badan termasuk yayasan yang kegiatannya semata-mata menyelenggarakan : a. tidak termasuk sebagai objek pajak. sepanjang antara pemberi hibah dengan penerima hibah tersebut. yang tidak mencari keuntungan . kegiatan sosialnya. kecelakaan. sepanjang diterima tidak dalam rangka hubungan kerja. dan/atau . Harta hibahan bagi pihak yang menerima bukan merupakan objek pajak. Harta hibahan dimaksud dibukukan. d. Zakat yang diterima oleh badan amil zakat. atau penguasaan. yaitu Keputusan Menteri Keuangan No. bagi yg mengalihkan. hubungan kepemilikan. dan/atau c. pekerjaan. hubungan usaha. Hubungan usaha antara pihak yang memberi dengan pihak yang menerima dapat terjadi. dan badan keagamaan.000. dan/atau e. dan sejenisnya. bagi yang mengalihkan harta tersebut. dan Warisan.

berdasarkan surat keterangan dari kepala KPPBB. atau . namun tahun perolehannya diketahui. harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan. harta yg diterima tsb bukan merupakan objek pajak. seperti penggunaan mobil. atau jika SPPT PBB tidak ada. e. asuransi jiwa. b. Warisan . dan lain sebagainya. Namun karena harta tersebut.. maka nilai perolehan bagi yang menerima pengalihan harta tersebut. c.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN - - Apabila tidak diketahui. berdasarkan surat keterangan dari Kepala KPPBB Apabila nilai atau harga perolehan dan tahun perolehan bagi yg mengalihkan. jika SPPT PBB tidak ada. Apabila yang memberi imbalan berupa natura atau kenikmatan tersebut. berkenaan dengan pekerjaan atau jasa merupakan tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh bukan dalam bentuk uang. Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura seperti beras. sama dengan besarnya NJOP. yang tercantum dalam SPPT PBB tahun pajak 1986. dan asuransi bea siswa. Huruf d Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan. bukan merupakan objek pajak. apabila tanah dan/atau bangunan tersebut diperoleh yang mengalihkan dalam tahun 1986. maka berdasarkan ketentuan ini. c. maka nilai perolehan bagi yang menerima pengalihan harta tersebut adalah . apabila diperoleh sesudah tahun 1986. harta berupa tanah dan/atau bangunan tidakdiketahui. atau . - b. Untuk harta selain tanah dan/atau bangunan. bagi yang mengalihkan. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari wajib pajak atau Pemerintah. gula. maka nilai perolehan bagi yang menerima harta tersebut adalah sama besarnya. Dalam penjelasan Psl yang bersangkutan adalah sebagai berikut : Huruf c Pada prinsipnya harta. sama besarnya dengan NJOP yang tercantum dalam SPPT PBB tahun pajak diperolehnya harta tersebut. diterima sebagai pengganti saham atau tanda penyertaan modal. dan sebagainya. asuransi dwiguna. kecuali diberikan oleh bukan wajib pajak. wajib pajak yang dikenakan pajak secara final atau wajib pajak yang menggunakan norma penghitungan khusus (deemed profit) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. atau wp yang dikenakan PPh Final. sebagaimana dimaksud dalam Psl 2 ayat (1) huruf b sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal. termasuk setoran tunai. bukan wp. apabila nilai atau harga perolehan tidak diketahui. yang diterima oleh badan merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi badan tersebut. rumah. adalah sama besarnya dengan 60% dari harga wajar harta tersebut pada saat terjadinya pengalihan. dengan NJOP yang tercantum dalam SPPT PBB tahun pajak yang paling awal yang tertulis atas nama yang mengalihkan harta tersebut. a. pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan. fasilitas pengobatan. d. dan wp yang dikenakan berdasarkan norma MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 26 . dan imbalan dalam bentuk kenikmatan. asuransi kecelakaan. atau sebelumnya.

iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. bank pemerintah bank pembangunan daerah. dan asuransi bea siswa. koperasi. dari jumlah modal yang disetor. Pegawai tersebut memperoleh kenikmatan menempati rumah yang disewa oleh perwakilan diplomatic tersebut. baik yang dibayar oleh pemberi kerja. dengan penyertaan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen). i. dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat : 1) deviden berasal dari cadangan laba yang ditahain . persekutuan. h. k. berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yg didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia. tidak termasuk objek pajak. deviden yang dananya berasal dari laba setelah dikurangi pajak dan diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai wp dalam negeri. dengan syarat badan pasangan usaha tersebut : 1) merupakan perusahaan mikro. atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan . yang menerima deviden kepemilikan saham pada badan yang memberikan deviden paling rendah 25% (dua puluh lima persen). yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham. penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura. sebab perwakilan diplomatic yang bersangkutan bukan merupakan wajib pajak. firma. Hal ini selaras dengan ketentuan dalam Psl 9 ayat (1) huruf d. asuransi jiwa. Misalnya seorang penduduk Indonesia menjadi pegawai pada suatu perwakilan diplomatic asing di Jakarta. kenikmatan – kenikmatan tersebut merupakan penghasilan bagi pegawai tersebut. BUMN dan BUMD. yaitu bahwa premi asuransi yang dibayar oleh wajib pajak orang pribadi untuk kepentingan dirinya tidak boleh dikurangkan dalam perhitungan penghasilan kena pajak. Huruf e Penggantian santunan atau santunan yang diterima oleh orang pribadi dari perusahaan asuransi sehubungan dengan polis asuransi kesehatan. kecil. bukan merupakan objek pajak . yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia. dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menkeu. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 27 . dan 2) bagi perseroan terbatas. dan 2) sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia. asuransi kecelakaan. maka imbalan dalam bentuk natura/kenikmatan. sebagai wajib pajak dalam negeri. maupun pegawai. termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif . f. bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer. menengah. tersebut merupakan penghasilan bagi yang menerima atau yang memperolehnya. perkumpulan. Penjelasan dari huruh f sampai dengan huruf k adalah sbb : Huruf f Berdasarkan ketentuan ini. koperasi. dihapus. BUMN dan BUMD. penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana dimaksud pada huruf g.. dan kongsi. Yang dimaksud dengan BUMN/ dan BUMD dalam ayat ini. deviden atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas. dan BUMN/BUMD. atau kenikmatan lainnya. asuransi dwiguna. dan penerima deviden tersebut memperoleh penghasilan dari usahan riil di luar penghasilan yang berasal dari penyertaan tersebut.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN perhitungan/khusus/deemed profit. dari penyertaannya pada badan usaha lainnya. j. antara lain adalah perseroan (Persero). g.

16/PJ.  bunga dan diskonto dari deposito. yang berasal dari deposito. Huruf h Sebagaimana tersebut dalam huruf g. maka penghasilan berupa deviden atau bagian laba tersebut tetap merupakan objek pajak. bunga dan/atau deviden dari obligasi dan/atau saham yang diperdagangkan di bursa efek di Indonesia. Selanjutnya dalam SE. dan oleh karena itu iuran tsb dikecualikan sebagai objek pajak.  bunga dan obligasi yang diperdagangkan di pasar modal Indonesia. Jika dana pensiun yang dimaksud. hanya berlaku bagi dana pensiun yang pendiriannya telah mendapat pengesahan dari Menteri Keuangan. yang akan dibayarkan kembali kepada mereka pada waktunya. dinyatakan sebagai berikut : Penghasilan dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan yang bukan merupakan objek pajak PPh adalah :  iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang dibayar oleh pemberi kerja maupun oleh pegawai. perseroan komanditer. dan sebagainya. Pengenaan pajak atas iuran tersebut berarti mengurangi hak para peserta pensiun. atau SBI. atau uang pribadi pengurus dana pensiun. dan tabungan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Perlu ditegaskan bahwa dalam hal penerima deviden atau bagian laba adalah wajib pajak selain badan-badan tersebut diatas. pada bank di Indonesia. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 28 .04/1994.4/1995. atau yang dibayar pemberi kerja termasuk pengembangannya. 651/KMK. sertifikat. Tgl 23 Maret 1995. maupun luar negeri. Huruf g Pengecualian sebagai objek pajak berdasarkan ketentuan ini. Tentang Bidang Penanaman Modal tertentu yang memberikan penghasilan kepada dana pensiun yang tidak termasuk sebagai objek PPh adalah sebagai berikut . Tgl 29 Desember 1994. menerima atau memperoleh bunga atau diskonto. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No.  deviden dari saham pada perseroan terbatas yang tercatat di bursa efek di Indonesia. merupakan objek pajak dan harus dipotong PPh Psl 23 UU Pajak penghasilan oleh pemberi hasil. maka penghasilan tersebut. Yang dikecualikan dari objek pajak adalah iuran yang diterima dari peserta pensiun. pengecualian sebagai objek pajak berdasarkan ketentuan ini hanya berlaku bagi dana pensiun yang pendiriannya telah mendapat pengesahan Menteri Keuangan. dananya harus bersumber dari dana yang terkumpul dari iuran pensiun yang diterima atau diperoleh dana pensiun. baik atas beban sendiri maupun yang ditanggung pemberi kerja. yayasan dan orgnisasi sejenis. Apabila ada yang berasal dari pihak ketiga. serta sertifikat Bank Indonesia.  penghasilan dana pensiun dari modal yang ditanamkan dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.Direktur Jenderal Pajak No. dan tabungan. SE. maka penghasilan yang diterima atau diperoleh dana pensiun menjadi objek pajak. firma. seperti orang pribadi baik dalam negeri. Yang dikecualikan dari objek pajak dalam hal ini adalah penghasilan dari modal yang ditanamkan di bidang-bidang tertentu berdasar kan Keputusan Menteri Keuangan. Pada dasarnya iuran yang diterima oleh dana pensiun tersebut merupakan dana milik dari peserta dana pensiun. Penghasilan dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan dari penanaman modal yang tidak termasuk objek pajak sebagaimana dimaksud Keputusan Menkeu seperti disebut diatas.

badan-badan sebagaimana disebut dalam ketentuan ini. Huruf k Perusahaan modal ventura (ventura capital). Agar kegiatan perusahaan modal ventura dapat diarahkan kepada sektor-sektor kegiatan ekonomi yang memperoleh prioritas untuk dikembangkan. menengah. maka penyertaan modal tersebut diarahkan pada perusahaanperusahaan yang belum mempunyai akses ke bursa efek. 3. adalah perusahaan yang penjualan bersihnya setahun tidak melebihi Rp 5. perusahaan modal ventura dari penyertaan modal pada perusahaan pasangan usaha. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II . 250/KMK.  Penghasilan lainnya yang merupakan objek pajak Dana pensiun yang memperoleh penghasilan seperti itu. Menteri Keuangan. akan ditetapkan secara perbandingan. Tgl 2 Juni 1995. yang memenuhi persyaratan tersebut diatas. misalnya untuk meningkatkan ekspor non migas. perusahaan modal ventura harus menjual sahamnya pada perusahaan pasangan usaha HALAMAN 29 2.000. yaitu pada tingkat badan tersebut.000. Berdasarkan ketentuan ini. yang merupakan himpunan para anggotanya dikenakan pajak sebagai satu kesatuan. Mengingat perusahaan modal ventura merupakan alternatif pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal. Apabila perusahaan pasangan usaha menjual sahamnya di bursa efek. yg berisikan antara lain: 1. (lima miryar rupiah). deviden yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura bukan merupakan objek pajak. wajib membuat pencatatan yang terpisah dalam pembukuannya. dan sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek Indonesia. dengan syarat perusahaan pasangan usaha tersebut merupakan perusahaan kecil. Tentang perusahaan kecil dan menengah pasangan usaha dari perusahaan modal ventura dan perlakuan perpajakan atas penyertaan modal perusahaan modal ventura. bagian laba yang diterima atau diperoleh dari perusahaan pasangan usaha. Oleh karena itu bagian laba yang diterima oleh para anggota badan tersebut bukan lagi menjadi objek pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Dengan demikian penghasilan yang diterima atau diperoleh dana pensiun dimaksud dapat dikelompokan menjadi :  Penghasilan yang tidak termasuk objek pajak . Sehubungan dengan perusahaan kecil dan menengah pasangan usaha dari perusahaan modal ventura. Penyertaaan modal perusahaan modal ventura pada setiap perusahaan pasangan usaha. telah menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan No. usaha atau kegiatan perusahaan pasangan usaha tersebut diatur oleh Menteri Keuangan. adalah suatu perusahaan yang kegiatan usahanya membiayai badan usaha (sebagai pasangan usaha ) dalam bentuk penyertaan modal untuk jangka waktu tertentu.04/1995. dilakukan selama perusahaan pasangan usaha tersebut belum menjual saham di bursa efek dan/atau untuk jangka waktu tidak melebihi 10 tahun. Kalau tidak demikian halnya. Apabila pasangan usaha perusahaan modal ventura memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf f. antara penghasilan yang bukan objek pajak dengan penghasilan yang menjadi objek pajak. Perusahaan kecil dan menengah pasangan usaha perusahaan modal ventura.000. maka perhitungan biaya yang boleh dikurangkan/dibebankan dari penghasilan bruto. Huruf i Untuk kepentingan pengenaan pajak. Penghasilan berupa bagian laba yang diterima atau diperoleh. atau yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dalam sektor-sektor tertentu yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. tidak termasuk objek pajak. bukan merupakan objek Pajak Penghasilan. 4.

6. baik yang berasal dari Indonesia. kecuali apabila bagian laba tersebut memenuhi ketentuan Psl 4 ayat (3) huruf f UUPPh. Jelaskan yang menjadi objek pajak pada Pajak Penghasilan. dan bantuan bukan merupakan objek pajak. sepanjang sisa lebih tersebut ditanamkan kembali dalam bentuk pembangunan gedung dan pengadaan sarana dan prasarana kegiatan dimaksud.3. maupun dari luar Indonesia.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 5. Jawaban didiskusikan dengan sesama peserta Diklat. setelah lewat jangka waktu sebagaimana dimaksud pada angka (2) atau angka (4). Terangkan jenis pajak apa yang pengembaliannya merupakan objek pajak mengapa demikian halnya. yang diterima atau diperoleh wajib pajak. Penanaman kembali sisa lebih dimaksud harus direalisasikan paling lama dalam jangka waktu 4 (empat) tahun sejak sisa lebih tersebut diterima atau diperoleh. merupakan objek pajak. Penghasilan berupa bagian laba yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura pada perusahaan pasangan usaha. Untuk itu dipandang perlu memberikan fasilitas perpajakan berupa pengecualian pengenaan pajak atas sisa lebih yang diterima atau diperoleh. maka lembaga atau badan yang menyelenggarakan pendidikan harus bersifat nirlaba. terangkan syarat-syarat yang harus dipenuhi tidak menjadi objek pajak dimaksud. dengan nama dan dalam bentuk apapun. natura dan kenikmatan tidak dianggap objek pajak. dan dalam hal apa pula. Pengertian ”penghasilan”adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis. Hibah.      4. Huruf l Bahwa dalam rangka mendukung usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia melaluipendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan diperlukan sarana dan prasarana yang memadai. Perusahaan modal ventura wajib membukukan secara terpisah penghasilan yang merupakan objek pajak. yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak dimaksud. Huruf m Bantuan atau santunan yang diberikan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kepada wajib pajak tertentu adalah bantuan sosial yang diberikan khusus kepada wajib pajak atau anggots masyarakat yang tidak mampu atau sedang mendapat bencana alam atau tertimpa musibah. dan apa syaratnya untuk dikenakan pajak.2. dalam hal apakah natura dan kenikmatan dianggap sebagai objek pajak. HALAMAN 30 MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II . selambat-lambatnya 36 (tiga puluh enam) bulan. Latihan 3 Jawablah pertanyaan berikut ini secara singkat tetapi jelas. Rangkuman 1. Untuk menjamin tercapainya tujuan pemberian fasilitas ini. apakah yang dimaksud tambah kekayaan neto. dan penghasilan yang bukan merupakan objek pajak. sejak perusahaan pasangan usaha tsb diizinkan oleh BAPEPAM menjual sahamnya di bursa efek. Pendidikan serta penelitian dan pengembangan yang diselenggarakan bersifat terbuka kepada siapa saja dan telah mendapat pengesahan dari instansi yang membidanginya. 4.

atau lembaga amil zakat yang dibentuk dan disahkan pemerintah. 8. sewa. honororarium. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 31 . yang tidak digunakan dalam usaha. atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. sedangkan bagi pihak yang berpiutang. 7.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2. Sesungguhnya pengertian penghasilan yang dianut dalam UU No.antara lain bantuan. keuntungan dari penjualan atau pengalihan harta. Penghasilan lain-lain. badan sosial. 36 Tahun 2008. pengacara. terdapat 12 jenis penghasilan yg termasuk dalam pengertian deviden. dapat dibebankan sebagai biaya. dan lain sebagainya. yaitu imbalan sehubungan dengan penggunaan hak atas harta tak berwujud. maupun harta tak gerak. Penerimaan berupa pembayaran berkala. 3. Penghasilan yang tidak termasuk objek pajak seperti yang diatur dalam Psl 4 ayat (3) UU NO. Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas. 9. walaupun mungkin belum dipatenkan. notaris. serta harta hibahan yang diterima keluarga sedarah dalam garis keturunan satu derajat. Apabila diketahui adanya penambahan kekayaan neto yang melebihi akumulasi penghasilan yang telah dikenakan pajak. misalnya sewa alat. Pada dasarnya imbalan berupa royalti terdiri dari 3 kelompok . sepanjang tidak hubungan usaha. kegiatan dan kepemilikan. b. Pembebasan utang oleh pihak yang berpiutang dianggap sebagai penghasilan. sumbangan. akuntan. termasuk koperasi dan yayasan yang ditetapkan oleh pemerintah. Penghasilan dari modal. sewa mobil. bagi pihak yang semula berutang. tetapi belum dikenakan PPh. termasuk imbalan yang diterima atau diperoleh dengan nama dan dalam bentuk apapun. dan oleh badan keagamaan. Tambah kekayaan neto pada hakekatnya merupakan akumulasi penghasilan baik yang telah dikenakan pajak maupun yang belum dikenakan pajak. deviden. maka penghasilan dapat dikelompokan menjadi : a. 10. hadiah. Penghasilan dari usaha dan kegiatan . dan informasi yang belum diungkapkan secara umum. d. hak atas bayaran kala dan lain sebagainya. 36 Tahun 2008. royalti. misalnya uang alimentasi atau tunjangan seumur hidup yang dibayar secara berulang-ulang dalam waktu tertentu. 5. yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak. dan sebagainya. akturis. termasuk zakat. 6. yang diterima oleh badan amil zakat. Pajak Penghasilan menganut pengertian penghasilan yang sangat luas. penghasilan dari praktek dokter. atau pengusaha kecil. seperti pembebasan utang. dan para penerima zakat yang berhak. Dilihat dari mengalirnya tambahan kemampuan ekonomis kepada wajib pajak. seperti gaji. hak atas harta berwujud. Deviden merupakan bagian laba yang diperoleh pemegang saham dan pemegang polis asuransi atau pembagian SHU koperasi yg diperoleh anggota koperasi . Dalam pengertian sewa. sewa kantor dll nya. seperti bunga.. 4. atau badan pendidikan. c. sehubungan dengan penggunaan harta gerak. maka tambahan tersebut akan menjadi objek pajak.

beserta dengan contoh-contoh yang diberikan. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 32 .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Perincian dari penghasilan-penghasilan yang tidak termasuk objek pajak. dapat dipelajari dan dibaca serta dipahami. beserta penjelasannya dapat dilihat pada uraian dan penjelasan dari penghasilan-penghasilan yang tidak termasuk objek pajak.

pemotongan atau pemungutan. penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya di bursa efek. 140 Tahun 2000. Usaha Jasa Konstruksi dan Jasa Konsultan. PP No.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Kegiatan belajar 4. dan tabungan-tabungan lainnya. serta penghasilan tertentu lainnya. atau pemungutan atas jenis-jenis penghasilan tersebut diatur tersendiri Peraturan Pemerintah. dan Tabungan serta Diskonto SBI. 4. Penghasilan dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan.1. juncto PP No. Tgl 21-12-2002. Tgl 21 Desember 2000. 131 Tahun 2000. telah diterbitkan Peraturan Pemerintah sebagai berikut : 1. Tgl 15-12-2000. 6. penghasilan berupa bunga deposito. Atas Penghasilan dari penjualan dan Pengalihan hak atas Tanah dan/atau Bangunan. bahwa sesauai dengan ketentuan ayat (1). pengenaan pajaknya diatur dengan Peraturan Pemerintah. 2. PP No. Uraian. Dalam penjelasan ayat tersebut dikemukakan. Tgl 8 Pebruari 1995. penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya. Dengan mempertimbangkan kemudahan dalam pelaksanaan pengenaan serta agar tidak menambah beban administrasi baik bagi wajib pajak maupun Direktorat Jenderal Pajak. atas penghasilan dari transaksi penjualan saham di BE.per tersebut juga mendasari. 5. Perusahaan Modal Ventura dari Transaksi Penjualan Saham atau Pengalihan Penyertaan Modal pada Perusahaan Pasangan Usahanya. 27 Tahun 1996. juncto PP No. 6 Tahun 2002. PP No. Tentang PPh. 4 Tahun 1995. Sehubungan dengan ketentuan Psl 4 ayat (2) ini. besarnya. perlu diperlakukan tersendiri dalam pengenaan pajaknya. penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan serta penghasilan tertentu lainnya. 5. tentang PPh. PP No. 5 Tahun 2002. PPh. Oleh karena itu pengenaan pajak penghasilan. tentang PPh. Atas Penghasilan atas Bunga dari Obligasi yang diperdagangkan/diperjual belikan di Pasar Modal. 29 Tahun 1996. 3. Tgl 18 April 2002. Tentang Pembayaran PPh. tentang Perubahan Peraturan Tentang Pembayaran PPh. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 33 . Tabungan masyarakat yang disalurkan melalui perbankan dan bursa efek merupakan sumber dana bagi pelaksanaan pembangunan. 139 Tahun 2000. 41 Tahun 1994. diberikannya perlakuan tersendiri terhadap pengenaan pajak atas penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan. serta jenis-jenis penghasilan tertentu lainnya. di bursa efek. Tentang PPh. UU –PPh. dan tabungan lainnya. sehingga pengenaan pajak yang berasal dari tabungan masyarakat tersebut. 7. juncto PP No. 8. Tgl 15 Desember 2000. Berdasarkan Psl 4 ayat (2). PP No. PP No. 14 Tahun 1997. dikemukan : Bahwa atas penghasilan berupa bunga deposito. 132 Tahun 2000. dan tatacara pelaksanaan pembayaran. Atas Bunga Deposito. Atas hadiah Undian. PP No. maka pengenaan Pajak Penghasilan dalam ketentuan ini dapat bersifat final. Pertimbangan. PP No. Tgl 23 -12-1997. Tentang PPh. 79 Tahun 1999. termasuk sifat. dan penjelasan. merupakan objek pajak. penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan. juncto PP No. JENIS-JENIS PENGHASILAN YANG PENGENAAN PAJAKNYA BERSIFAT FINAL SEPERTI DIATUR DALAM Psl 4 ayat (2).

dari Sda. 7. dari jumlah bruto. Bunga Deposito/ Tabungan dan Diskonto SBI. 11. Keterangan Jumlah bruto bagi WP Dalam Negeri.30% 0. No. Jumlah bruto penjualan/ PP 27 /1996. 10. Bunga Obligasi & Diskonto SBI. Jenis Penghasilan. Tarif 20%.15% 5% 8./1998 2.81/KMK/ 04/1995. pengalihan.000.5% 0. saham pendiri. Premix 20 % 0. 4. Kep. PP-132/2000. 1.227/2002./sebulan.6/2002. selain Yayasan dan 04/1996. Jumlah bruto yang diPsl 4 ayat (2) terima/diperoleh WP PP No. OP dan WP Badan. gas Lpg dan 392/KMK. PP sejenisnya tidak bersifat No. 0.04/98. Harga banderol. 522/ KMK. 30% 0. kualifikasi Usaha. 6. milik Swasta. Kep. selain penyedia Kontruksi 187/PMK. 9. Hadiah Undian Bunga simpanan anggota Koperasi 25% 15% Jumlah bruto hadiah (barang atau uang). Keuangan Untuk pelaksana konstruksi No. Dasar Hukum Psl 4 ayat (2) PP 131/2000./2001. 3. Minyak 03.7Kep penjualan rokok DN./2001. PremixPsl 22.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Secara terperinci. Pelaksana Konstruksi oleh Yo Penyedia jasa Konstruksi Peraturan yang tidak memiliki Menteri kualifikasi. Tambahan bagi pemilik PP No. Kep. 10% 2% 4% 3% 4% Psl 4 ayat (2). bagi WP Luar Negeri . Final.1% Jumlah bruto bunga. PP No.5/2002. 20%.03/2008 yang disebut diatas.03/ pelumas.79/1999. KMK-566/99. Untuk perencana Konstruksi atau pengawasan Konstruksi MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 34 .DJP. 25% 0. Seluruh bunga diatas Rp 240. 529/PJ. 5. Jumlah bruto transaksi PP 14Tahun penjualan saham 1997. Tanggal Untuk perencana Konstruk si atau pengawasan yang 20 Nopember dilakukan oleh yang memiliki 2008. Penjualan saham pendiri. Psl 4 ayat (2). Penyalur/Agen/Dis tributor rokok Penjualan / Pengalihan hak atas Tanah /Bangunan. yo Kep-217/PJ/ 2001. Psl 23 ayat (4) g. Penghasilan dari Persewaan tanah dan atau bangunan Usaha jasa konstruksi . Kep 51/KMK 04/2001. atau ta rip P3B. jenis-jenis penghasilan (objek) pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat Final dapat dilihat ditabel dibawah ini : No. Kep tanah. Premium. Atas jasa pelaksana yang Peraturan Pemedilakukan oleh penyedia jasa Tah No. Solar. yoncto SPBU Pertamina SPBU Kep 254/kmk. SE-43/PJ. Bagi WP Kep 392/kmk badan.4/1995. Penjualan bukan saham pendiri Penyalur/Dealer/ Agen Produk Per tamina. 51 dengan kualifikasi usaha kecil Tahun 2008. 2001.

/2001.64% Penghasilan bruto. 36 kan kepada WP OP 10% Deviden Bruto Tahun 2008. 23 Mei 2008. 20. 417/ KMK. 14. Terhadap penghasilan yang dikenakan PPh. atau SPT Wajib Pajak Badan. Honororarium ke Pada PNS Gol. yo Kep 634/ KMK. TNI Peltu ke Atas dari APBN/ APBD. PMK 15 Tahun 2005. Psl Dalam Negeri 17 ayat (2c). 0. 11 Tahun ORI.lll A Keatas. diatas 50 jt s/d 100 jt.04/ 1996. 17.guna. PP 4/1995.03/2008 geri. 5% Nilai pasar atau NJOP mana yang tertinggi.04/ 1996. 63/ Luar NePMK. POLRI Ajun Inspektu keAtas. atau pengalihan saham Kep 250/1995 SE-33/PJ. Psl 15 UU. Tgl 28-4-2008 21. yo Kep. 15. Psl 15 UU. Final.4/95 18.44% Nilai Ekspor Bruto 16. Tgl 15 tarip P3B April 2006. dan Pemerintah Negara (SPN). akan tetapi tetap dilaporkan wajib pajak pada SPT Orang Pribadi. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 35 . 15% Penghasilan Bruto. penghasilannya tidak digabungkan dengan penghasilan yang pengenaan PPh nya tidak Final. Penghasilan bruto. Uang Pesangon. yo kembali aktiva tekembali. 0. 2. Psl 4 ayat (2) PP 149/2000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 6% yang tidak memiliki kualifikasi usaha. Psl 15 UU. SUN 20% atau No.2% Diatas 25 jt s/d 50 jt. Diskonto atas Surat 20% (WP Dari imbalan bunga. tap perusahaan 15% Tambahan kalau dijuPMK N0. Kep 248/ KMK. Sesuai dg 2006. JHT.04/ 1996.03/2008 waktunya. Uang pensiun seka ligus. 79/ al/dialihkan sebelum PMK. Deviden yang dibagi UU PPh No. 13.Kep 667 /PJ. bagi WP PMK No.04/95 SE-38/PJ. Psl 21 ayt (1) PP 45 Tahun 1994. Nilai bangunan yang diserahkan selesai perjanjian bangun.4/95 19.Psl 15 UU. 12.1% Jumlah bruto transak Psl 4 ayat (2) si penjualan saham. diatas 100 jt s/d 200 jt diatas 200 juta. dibayarkan sekaligus Penghasilan WP yang bergerak di bidang usaha pelayaran Dlm Negeri Penghasilan WP yang bergerak usa ha pelayaran/penerbangan LN Perwakilan Dagang Asing yang mempunyai kantor di Indonesia. Selisih penilaian 10% Dari selisih penilaian Psl 19 UU.545/PJ/ 2000. Peraturan Perbendaharaan DN).serah Penjualan saham milik perusahaan mdal ventura 5% 10% 15% 25% 1. THT. KMK 486/02. Kep. Yo Kep 416/ KMK.

sampai dengan saat modul ini dibuat. Jelaskan dimana ketentuan PPh. maupun wajib pajak badan. Objek pajak yang dikenakan Final tidak digabungkan dengan penghasilan wajib pajak yang PPh nya tidak bersifat final MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 36 . atau dilunaskan sendiri oleh wajib pajak. Apa yang dimaksud dengan PPh. 5. Undang-Undang Pajak Penghasilan. Final sehubungan dengan pengisian SPT Tahunan. Latihan 4. Keputusan/Peraturan Menteri Keuangan. disebut PPh. 2. maka diatur tatacara pelunasannya baik dari segi perhitungan. Sebutkan beberapa jenis objek pajak yang termasuk PPh. 5. Jenis-jenis Pajak Penghasilan yang bersifat Final. Final. baik SPT Tahunan wajib pajak orang pribadi. Tatacara pembayaran pajak dimaksud.3. 4. sampai dengan Keputusan/Peraturan Direktur Jenderal Pajak. 1. Bagaimana pertanggungan jawab PPh. Final diatur. pemunugtan. yang umumnya menggunakan tarif tunggal. baik bagi WP Orang Pribadi. untuk memudahkan pemenuhan kewajiban pajaknya dalam bentuk pemotongan. Untuk merealisir PPh. maupun Wajib Pajak Badan. namun wajib pajak tetap melaporkannya didalam SPT Tahunan. Final. Final Jelaskan pengertian Bangun. yang tidak menyulitkan wajib pajak dalam melaksanakannya. 3. terdapat 21 (dua puluh satu) jenis. Rangkuman Terhadap transaksi-transaksi atau objek pajak tertentu. Final.2.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 5. Sekalipun sifatnya final. yang diatur dalam Psl 4 ayat (2). diterbitkan peraturan pelaksanaannya mulai dari PP. tarip dan dasar pengenaan pajaknya. disamping menggunakan Psl seperti disebut diatas. pada lampiran-lampiran yang telah disediakan. Guna dan Serah (BOT).

dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta  Imbalan sehubungan dengan jasa. Huruf a Bentuk usaha tetap dikenakan pajak atas penghasilan yang berasal dari usaha atau kegiatan. Usaha atau kegiatan yang sejenis dangan usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap misalnya. penjualan barang. Ayat (1). Dengan demikian semua penghasilan tersebut dikenakan pajak di Indonesia. diatur Objek Pajak bentuk usaha tetap (BUT).  Royalty. Huruf b Berdasarkan ketentuan ini penghasilan kantor pusat yang berasal dari usaha atau kegiatan. dianggap sebagai penghasilan bentuk usaha tetap. OBJEK PAJAK BENTUK USAHA TETAP (BUT).1. karena pada hakekatnya usaha atau kegiatan tersebut. misalnya kantor pusat di luar negeri yang mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia.  Hadiah dan penghargaan. secara angsung tanpa melalui bentuk usaha tetap nya di Indonesia. yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia. pekerjaan. dengan yang dijual oleh bentuk usaha tetap. dikenakan pajak di Indonesia melalui Bentuk Usaha Tetap tersebut.. atau kegiatan. termasuk dalam ruang lingkup usaha atau kegiatan yang dapat dilakukan bentuk usaha tetap. b) penghasila kantor pusat. yang menyebutkan sebagai berikut : Yang menjadi objek pajak bentuk usaha tetap adalah : a) penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap tersebut. Penjelasan Psl 5 Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. 36 Tahun 2000. Didalam Psl 5 ayat (1) Undang-Undang No. menjual produk yang sama dengan produk yang dijual oleh bentuk usaha tetap tersebut. memberikan MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 37 . atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau dilakukan oleh bentuk usaha tetap di Indonesia . Penjualan barang yang sejenis. termasuk premium. Pemberian jasa oleh kantor pusat yang sejenis dengan jasa yang diberikan oleh bentuk usaha tetap. Penghasilan sebagaimana dimaksud Psl 26 yang diterima atau diperoleh kantor pusat dimaksud dapat berupa. sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk usaha tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan dimaksud.  Deviden  Bunga. c) penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Psl 26 yang diterima atau diperoleh kantor pusat. premi swap dan imbalan sehubungan dengan jamainan pengembalian utang. terjadi apabilansebuah bank diluar Indonesia yang mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia memberikan pinjaman secara langsung tanpa melalui bentuk usaha tetapnya di Indonesia. 6. Kegiatan Belajar 5. misalnya kantor pusat perusahaan konsultan di Indonesia. dan dari harta yang dimiliki atau dikuasainya. diskonto. penjualan barang dan pemberian jasa yang sejenis dengan apa yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap.PPh. dari harta yang dimiliki atau dikuasai . dari usaha atau kegiatan. sewa.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 5.

kecuali yang berkenaan dengan usaha perbankan . dalam pemasaran produk PT Y yang mempergunakan merek dagang tersebut. huruf b. maka atas penggunaan hak tersebut X Inc. dan oleh karena itu penghasilan X Inc. menutup perjanjian lisensi dengan PT Y untuk menggunakan merek dagang X Inc. 2) imbalan sehubungan dengan jasa manajemen dan jasa lainnya. Sehubungan dengan ini Direktur Jenderal Pajak telah menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. Misalnya X Inc. dijelaskan bahwa dalam menentukan besarnya laba (penghasilan) suatu bentuk usaha tetap : a. dan memelihara penghasilan. tanpa melalui bentuk usaha tetapnya kepada klien di Indonesia. yang diterima atau diperoleh dari kantor pusat. Dalam hal demikian. menagih. melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia. 3) bunga. dan c. terutama yang berkenaan dengan objek pajak seperti dimaksud huruf b dan c. yang besarnya ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak . biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dibebankan adalah biaya yang berkaitan dengan usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap. menerima imbalan berupa royalti dari PT Y Indonesia. penggunaan merek dagang oleh PT Y mempunyai hubungan efektif dengan bentuk usaha tetap di Indonesia./1995. adalah : Biaya-biaya administrasi yang dikeluarkan oleh kantor pusat sepanjang digukan untuk menunjang usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap di Indonesia. Isi keputusan tersebut antara lain sebagai berikut : 1) biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dikurangkan dari penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh suatu bentuk usaha tetap di Indonesia. paten. Pada ayat (3) nya. KEP-62/PJ. boleh dikurangkan dari bentuk usaha tetap. yang berupa royalti tersebut diperlakukan sebagai penghasilan bentuk usaha tetap. Jenis serta biaya yang boleh dikurangkan tersebut ditentukan oleh Dirjend Pajak. Sehubungan dengan perjanjian tersebut X Inc. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 38 . b. tentang Jenis dan Besarnya biaya Administrasi Kantor Pusat yang Dibebankan Sebagai Biaya suatu Bentuk Usaha Tetap. atau hak-hak lainnya. Pembayaran sebagaimana dimaksud pada huruf b. Penjelasan huruf (a). apabila terdapat hubungan efektif antara harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan dengan bentuk usaha tetap tersebut. tersebut diatas . kecuali bunga yang berkenaan dengan usaha perbankan. Dalam Psl 5 ayat (2) diatur tentang biaya-biaya yang diperkenankan. Huruf c Penghasilan seperti dimaksud dalam Pasal 26 yang diterima atau diperoleh kantor pusat. juga memberikan jasa manajemen kepada PT Y. boleh dikurangkn dari penghasilan bentuk usaha tetap tersebut. dianggap sebagai penghasilan bentuk usaha tetap di Indonesia. Biaya-biaya yang berkenaan dengan penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tidak dianggap sebagai objek pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN konsultasi yang sama dengan jenis jasa yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap tersebut secara langsung. adalah biaya administrasi yang dikeluarkan oleh kantor pusat yang berkaitan dan dalam rangka untuk menunjang usaha dan kegiatan BUT yang bersangkutan untuk mendapatkan. pembayaran kepada kantor pusat yang tidakdiperbolehkan dibebankan sebagai biaya adalah: 1) royalti atau imbalan lainnya sehubungan dengan penggunaan harta.

Biaya-biaya apa saja yang boleh dikurangkan dan tidak boleh dikurangkan dari penghasilan BUT. Apa kaitannya penghasilan yang semula menjadi objek pajak PPh. tidak dianggap sebagai objek pajak. atau kegiatan BUT terhadap seluruh peredaran usaha atau kegiatan seluruh dunia. 8. Oleh karena itu berdasarkan ketentuan ini pembayaran bentuk usaha tetap kepada kantor pusatnya berupa royalti. Bagaimana kaitannya biaya dimaksud kalau dibidang usaha perbankan. dan bunga tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bentuk usaha tetap. 2. 2. Jelaskan kriteria penentuan besarnya biaya kantor pusat yang dapat dibebankan sebagai beban biaya bentuk usaha tetap. Namun apabila kantor pusat dan bentuk usaha tetapnya bergerak dalam bidang usaha perbankan. BUT wajib menyampaikan laporan keuangan konsolidasi atau kombinasi dari kantor pusat yang meliputi seluruh usaha/kegiatan perusahaan diseluruh dunia. laporan keuangan konsolidasi atau kombinasi. merupakan perputaran dana dalam satu perusahaan. Latihan 5 1. 4. maka pembayaran bunga pinjaman dapat dibebankan sebagai biaya.3. Pembayaran apa yang diterima kantor pusat dari BUT yang tidak merupakan objek pajak. Objek pajak BUT diatur dalam Psl 5 UU No. 6. serta jenis dan besarnya biaya administrasi yang dibebankan kepada masing-masing BUT dinegara tempat perusahaan yang bersangkutan melakukan usaha atau kegiatan. Uraikan yang menjadi objek pajak pada BUT tersebut. 3. Rangkuman 1. 9. sehingga pembayaran oleh bentuk usaha tetap kepada kantor pusat nya. Jelaskan Keputusan Direktur Jjenderal Pajak yang mengaturnya. kecuali bunga yang diterima bentuk usaha tetap dari kantor pusatnya berkenaan dengan usaha perbankan. Sebagai konsekuensi dari perlakuan tersebut. mengenai bentuk usaha tetap. akan tetapi kemudian menjadi objek pengenaan pajak BUT. 6. 6. 7. untuk tahun pajak yang bersangkutan sebagai lampiran SPT Tahunan PPh. Kapan neraca kombinasi atau konsolidasi harus dilampirkan oleh BUT. Jelaskan pengertian Sdr. seperti royalti atas penggunaan harta kantor pusat. oleh sebab itu.PPh yaitu . Psl 26. Huruf b dan huruf c Pada dasarnya bentuk usaha tetap merupakan satu kesatuan dengan kantor pusatnya. harus sudah diaudit oleh akuntan publik dan mengungkapkan rincian peredaran usaha atau kegiatan perusahaan. 36 Tahun 2000.  Penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap tersebut dan dari harta yang dimiliki atau dikuasai . apakah ukuran yang dipakai dalam penentuan biaya seperti pertanyaan pada nomor 5 diatas. imbalan jasa. HALAMAN 39 MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II . setinggi-tingginya adalah sebanding dengan besarnya peredaran usaha. 10. pembayaran-pembayaran sejenis yang diterima oleh bentuk usaha tetap dari kantor pusatnya.. Bentuk Uaha Tetap (BUT) adalah WP luar negeri yang tata cara pengenaan pajaknya sama dengan WP dalam negeri.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2) 3) 4) besarnya biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dikurangkan dari penghasilan bruto. 5.2.

penjualan barang. yang diterima atau diperoleh kantor pusat. Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan. BUT. atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang dilakukan bentuk usaha tetap di Indonesia. Bentuk usaha tetap dikenakan pajak atas penghasilan yang berasal dari usaha atau kegiatan dan dari harta yang dimiliki atau dikuasainya. setinggi-tingginya sesuai dengan perbandingan penghasilan BUT dengan omzet atau peredaran usaha induk beserta BUT-BUT nya diseluruh dunia. imbalan jasa. maka pembayaran berupa bunga pinjaman dapat dibebankan sebagai biaya. Dengan demikian semua penghasilan tersebut dikenakan pajak di Indonesia. Pada dasarnya BUT merupakan satu kesatuan dengan kantor pusatnya.  MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 40 . pembayaran oleh BUT kepada kantor pusatnya. dan bunga tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bentuk usaha tetap. Oleh karena itu berdasarkan ketentuan ini pembayaran BUT kepada kantor pusatnya berupa royalti. 5. harus melampirkan neraca kombinasi/konsolidasi untuk hal dimaksud. 4. merupakan perputaran dana dalam satu perusahaan. sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk usaha tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan tersebut.  Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Psl 26. 6. seperti royalti atas penggunaan harta kantor pusat.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3. Namun apabila kantor pusat dan BUT bergerak dalam usaha perbankan. untuk kepentingan kantor pusat dari BUT. sehingga. Besarnya biaya yang dapat diperkenankan sebagai biaya bentuk usaha tetap.

7. Kepala Inspeksi Pajak. 2. Pengenaan pajak dengan sistim withholding : a. c. tarif rata-rata yang dikenakan atas laba kena pajak. Dengan berlakunya sistim MPS-MPO. menganut paham laba material. Wajib Pajak dengan bantuan Konsultan Pajak . c. tarif umum dan tarif khusus. melunasi pajaknya. Struktur tarif Pajak Perseroan : a. ditentukan oleh wajib pajak sendiri . c. menganut paham laba yang terbatas seperti halnya atas pendapatan orang pribadi. berdasarkan perhitungan menurut pembukuan wajib pajak. b. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 41 . mulai diberikan kepercayaan kepada WP untuk melunaskan kewajiban pajaknya melalui semi self-assessment. memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada WP. satu-satunya untuk mengamankan penerimaan pajak. b. menjadi selfassessment. Tax Reform ditahun 1980-an dimaksudkan . menambah beban petugas Direktorat Jenderal Pajak. 9. a. 1. dan PPd. penentuan besarnya pajak terutang dilakukan dan ditetapkan oleh : a. salah satu cara untuk mengefektifkan pembayaran pajak. anggap paling tepat. c. (Pajak Pendapatan). merupakan jenis pajak baru disamping PPs. Wajib Pajak sendiri b. untuk menentukan pajak terutang. 4. untuk meningkatkan penerimaan pajak. yaitu berdasarkan kenyataan yang sebenarnya dari penerimaan atau pengeluaran. 5. b. Sistim MPS-MPO. Penentuan besarnya pajak yang terutang menurut Ordonansi PPs.8 Tahun 1967 : a. 3. Menurut kedua Ordonansi tsb diatas. Menurut Ordonansi PPs. b. suatu tatacara pembayaran pajak selama tahun berjalan. melalui lembaga Surat Ketetapan Pajak . 8. memasukan Neraca dan perhitungan R/L untuk tahun pajak ybs. c. 1925 dan Ordonansi PPd. b. c. 1925 : a. yaitu tarif umum. a. 1944. Pengertian laba menurut Ordonansi PPs.1. 1925. memperbaharui sitim pemungutan pajak dari official-asssessment. pada akhir tahun : a. Wajib pajak mempunyai kewajiban : a.Test Formatif. 6. maka tugas pemungutan pajak . memasukan surat pernyataan mengenai kegiatan usahanya. b. c. b. Pilih salah satu jawaban yang Sdr. c. c. 1944. suatu sistim yang menggantikan lembaga Ketetapan Pajak. ditentukan menurut laba komersial dari usaha wajib pajak. merupakan hambatan kesadaran membayar pajak. 7. (Pajak Perseroan) dan Ordonansi PPd. yang diintodusir melalui UU No. merubah pola kerja fiskus dalam menetapkan pajak terutang . ada dua macam tarif. hanya ada satu macam tarif.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 7. memasukan SPT dan lampirannya ke Kantor Inspeksi Pajak. b.

hubungan usaha (mitra usaha). b. 13. melakukan kunjungan wisata ke Indonesia atas undangan pemerintah. mendirikan perusahaan di Indonesia yg pemilik/pemegang sahamnya bukan penduduk Indonesia. Penghasilan berupa gaji. Pajak Pendapatan. berada di Indonesia selama 4 (empat) bulan dan menjadi karyawan. dalam rangka pengenaan PPh. adalah : a. dan atau kegiatan. Badan Usaha dianggap subjek pajak luar negeri apabila : a. pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang saham yang dibebankan sebagai biaya perusahaan. terbebas dari kewajiban membayar hutang. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 42 . a. 16. b. dan Pajak Kekayaan. komisi. c. b. dimulai saat melakukan usaha di Indonesia setelah lebih 183 hari. Tidak termasuk sebagai subjek pajak dalam negeri . maka harga jual yang dipakai sebagai dasar untuk perhitungan adalah : a. Ketentuan Formal Pemungutan Pajak (KUP). c. b. b. Termasuk pengertian bunga dalam objek pajak adalah : a. lahir dan bertempat tinggal di Indonesia lebih dari 183 hari. 15. c.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 10. c. dan PPd. b.BM. ditambah PPN-PPn. Pajak Perseroan. 14. c. c. buat selamalamanya. 11. hubungan keluarga atau kekeluargaan dalam usaha. a. nilai sisa buku . mendirikan badan usaha diluar negeri tetapi pemilik dan pengurusnya penduduk Indonesia. Kongsi. a. dan PBB. berstatus Bentuk Usaha Tetap (BUT). PPs. c. Tax Reform menyangkut perubahan atas . jaminan pengembalian utang. pembayaran kembali karena likuidasi yang tidak melebihi jumlah modal yang disetor. Tidak termasuk objek pajak dan tidak dikenakan PPh. 19. bertempat tinggal di Indonesia untuk jangka waktu tertentu. pemberian saham bonus yang berasal dari revaluasi aktiva tetap. sesuai ketentuan UU. harga pasar . b. 18. Orang Pribadi sebagai wp dalam negeri apabila : a. piutang yang dikonversikan menjadi modal saham . Dalam hal penjualan harta antara badan usaha dengan pemegang sahamnya. bagian laba yang diterima badan usaha berbentuk Firma. pekerjaan. dilahirkan di Indonesia kemudian pergi meninggalkan Indonesia. mempunyai hubungan darah dengan penduduk Indonesia. 12. hubungan kerja . b. pada waktu berada di Indonesia dan melakukan kegiatan/usaha. Yang tercantum pada b. pembagian sisa laba yang ditahan. harga perolehan . jaminan harta yang digunakan untuk mendapatkan pinjaman. Tidak termasuk pengertian deviden adalah : a. upah dan sebagainya adalah penghasilan yang berasal dari: a. c. c. pada saat melewati batas 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan . 17. b. Adapun kewajiban pajak subjektif orang pribadi sebagai WP LN . b. c.

. dapat dijadikan biaya bagi BUT pada waktu menghitung penghasilan kena pajaknya. tidak merupakan objek pajak bagi PT A. tidak dapat dianggap mempunyai bentuk usaha tetap (BUT).. kepada induknya di luar negeri yang berkaitan dengan usaha dibidang perbankan.. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 43 . c. (..2... yang dilakukan wp orang pribadi dalam negeri. (.. devidend yang diterima wajib pajak orang pribadi.).) Penghasilan berupa sewa angkutan darat..... apabila dalam menjalankan usahanya di Indonesia menggunakan agen yang kedudukannya bebas. 9. royalti dari penggunaan hak paten yang diterima WP Badan DN. b.. 13.. CV Tidak atas saham. tidak perlu melakukan pemotongan pajaknya..). sesuai dengan PTKP ahli warisnya. 14.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 20. dikenakan PPh. dan karenya PT B. Kewajiban pajak subjektif warisan yang belum terbagi.). penghasilan dari penjualan/pengalihan berupa hak atas tanah dan/ atau bangunan. Persekutuan. (. 7. Yang menjadi objek pajak adalah setiap tambahan kekayaan yg dimiliki. bagi pemilik modal bukan objek pajak... Deviden yang diterima PT A. dan berakhir pada saat warisan dibagi. (. 12. mulai saat Badan didirikan. 10.... 8. Apabila Bentuk Usaha Tetap membayarkan imbalan berupa bunga.). (... apabila telah memenuhi kewajiban pajak subjektif dan objektif. adalah objek pajak. 6. Final : a. Perusahaan Reksadana yang membagikan keuntungan berupa bunga obligasi kepada pemilik modal. wajib pajak dalam bentuk apapun. ke Indonesia. 2. Yayasan terdaftar sebagai wajib pajak dan diberikan NPWP..... atau S dalam tanda kurung ( ).. Uang Alimentasi yang diterima oleh seorang mantan isteri dari mantan suaminya setiap 6 (enam) bulan adalah objek pajak. di Indonesia. Semua penduduk yang bertempat tinggal di Indonesia. (.. (...).. (. 15. yang bersifat Final. (……). 7. 4. dimulai pada saat meninggalnya pewaris.. Kewajiban subjektif pajak WP Badan. Yang menjadi objek pajak pada bentuk usaha tetap adalah penghasilan yang semata-mata dari penjualan barang atau jasa yang diproduksi Induk perusahaan tersebut di luar negeri. 5. Orang Pribadi atau Badan di luar negeri..). Kongsi. atas penyertaan sahamnya pada PT B.) Tidak termasuk Objek Pajak adalah. bila pernyataan dibawah ini Benar (B). (.)..) Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota Firma. Penghasilan (objek pajak) dibawah ini dikenakan PPh. maka pembayaran bunga dimaksud. Tulis B . (.).). 11. atau Salah (S). sebesar 24.(. mendapat pengurangan PTKP.. (…. Perkumpulan serta..).. 1.. sampai saat Badan tersebut dibubarkan dan dilikuidasi.). Warisan yang belum dalam rangka pengenaan pajaknya... (. 3....8%. adalah subjek pajak tanpa kecuali (.. harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau penyertaan..

hasilnya dikalikan dengan 100%. Memasukan Neraca dan perhitungan R/L. pekerjaan dan kegiatan.89% . 1. jawabannya Salah (S) jawabannya Benar (B). = Baik = Cukup = Kurang. jawabannya Salah (S). 3. Pilihan Benar (B). jawabannya Benar (B). Tetapi bila tingkat penguasaan kurang dari 80%. jawabannya Salah (S). Lahir dan bertempat tinggal di Indonesia lebih dari 183 hari. Kunci jawaban (test) Formatif. jawabannya Benar (B). Penjualan atau pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dari wajib pajak orang pribadi dalam negeri.100% . jawabannya Benar (B). jawabannya Salah (S). dengan kunci jawaban test Formatif. artinya tingkat penguasaan yg dicapai : 90% 80% 70% 69% . Cocokanlah jawaban Sdr. 15. Mengamankan penerimaan negara. jawabannya Benar (B). serta CV.BM. Menyangkut yg tercantum pada b ditambah PPN-PPn.dan PBB. Bentuk Usaha Tetap. dan hitunglah jawaban Sdr. 13.1. Merubah dari sistim Official Assessment ke sistim Self-Assessment. Jaminan pengembalian utang. Pembayaran kembali yang tidak melebihi jumlah modal yang disetor. 4. 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) jawabannya Benar (B). harus mempelajari kembali kegiatan belajar tersebut. Umpan Balik. Berada di Indonesia selama 4 (empat) bulan. 20.79% atau kurang = Baik sekali. 8. Rumus : Tingkat penguasaan = jumlah jawaban Sdr. yang benar dibagi dengan jumlah soal. 5. Harga pasar. tidak atas saham. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 44 . 10. 7. Sdr.Assessment.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 8. 6. Pada saat berada di Indonesia dan melakukan usaha/kegiatan. Tatacara pembayaran pajak selama tahun berjalan. Bila Sdr. 9. Semi Self. jawabannya Salah (S). jawabannya Salah (S). Memilih jawaban (pernyataan yang benar). (C) (B) (A) (A) (A) (B) (B) (A) (B) (C) (A) (C) (B) (A) (B) (B) (A) (C) (C) (B) Kepala Inspeksi Pajak. 17. 8. 14. Lembaga Surat Ketetapan Pajak. 18. Tarif umum dan tarif khusus. Persekutuan. dapat meneruskan dengan modul berikutnya. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) jawabannya Salah (S). atau Salah (S). Hubungan kerja. 9. Sdr. 16. 19. Kongsi. 12. 11.2. Menganut paham laba material. mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih. yang benar. jawabannya Salah (S). 2. Perkumpulan. jawabannya Salah (S). Bagian laba yang diterima dari Firma. kemudian gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan materi kegiatan belajar. 8.

yaitu biaya (beban) yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari 1 (satu) tahun. bonus. pajak kecuali Pajak Penghasilan. gaji. biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan . g. dan memelihara penghasilan.1. iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan . Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada Direktorat Jenderal Pajak . MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 45 . biaya bea siswa dan pelatihan .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 10. telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan rugi komersial . biaya administrasi . b. biaya perjalanan . biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia . 3. Kegiatan belajar 6 BIAYA YANG BOLEH DAN TIDAK BOLEH DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO. menagih. kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan da perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan. biaya yang boleh dikurangkan diatur dalam Psl 6 ayat (1) UU Pajak Penghasilan. dapat sekaligus dibebankan pada tahun pajak yang bersangkutan. dan tunjangan. biaya pengolahan limbah . c. biaya-biaya yang boleh dikurangkan dimaksud adalah : a.1. sewa. 8. honororarium. h. akan tetapi terhadap biaya yang masa manfaatnya lebih dari satu tahun. pembebannya harus dilakukan melalui penyusutan (untuk harta yang berwujud). dan . dan 9.. kerugian selisih kurs mata uang asing . dan biaya (beban) yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. premi asuransi . 10. Pengeluaran (biaya) yang boleh dikurangkan.yang diberikan dalam bentuk uang. Terhadap biaya yang masa manfaatnya tidak lebih dari satu tahun. biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah. biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha antara lain 1. f.gratifikasi. biaya pembelian bahan . 7. Bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap. Sesuai dengan Psl 6 ayat (1) tersebut diatas. d. piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat : 1. atau amortisasi (untuk harta tak berwujud termasuk hak). Biaya yang dapat dikurangkan ini dibagi kepada 2 (dua) golongan. 2. bunga. 5. dan royalty . 2. e. Uraian dan Contoh 10.1. 4. 6. penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manf lebih dari 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal 11A.

maka kerugian-kerugian tersebut dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. yang pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan . j. dan memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak. i. atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum dan khusus. biaya administrasi dan bunga. m. biaya rutin pengolahan limbah. Dengan demikian pengeluaran-pengeluaran untuk mendapatkan. l. atau adanya pengakuan dari debitur. menagih. sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah . MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 46 . Beban yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari 1(satu) tahun merupakan biaya pada tahun yang bersangkutan. dan memelihara penghasilan yang bukan merupakan objek pajak tidak boleh sebagai biaya . bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu . misalnya gaji. sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yamg ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. k . sedangkan pengeluaran yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun. kepada Pengadilan Negeri atau instansi yang menangani piutang negara . Penjelasan Pasal 6 Ayat (1) Beban-beban yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dapat dibagi dalam 2(dua) golongan. telah diserahkan perkara penagihannya. sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional. maka kerugian tersebut tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun. atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan . syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk penghapusan piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf k. Untuk dapat dibebankan sebagai biaya. pengeluaran-pengeluaran tersebut harus mempunyai hubungan langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan. (3) Kepada orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri diberikan pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. pembebanannya dilakukan melalui penyusutan atau melalui amortisasi. biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah . sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3. 4. menagih. dan sebagainya. (2) Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didapat kerugian. Disamping itu apabila dalam suatu tahun pajak didapat kerugian karena penjualan harta atau karena selisih kurs. Huruf a Biaya-biaya dimaksud dalam ayat ini lazim disebut biaya sehari-hari yang boleh dibebankan pada tahun pengeluaran. yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah . yaitu beban atau biaya yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari 1 (satu) tahun dan mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun.

.. perlakuan Pajak Penghasilannya adalah sebagai berikut : PT. Jamsostek yang masih berkaitan dengan iuran pensiun..000... Demikian pula bunga atas pinjaman yang dipergunakan untuk membeli saham tidak dapat dibebankan sebagai biaya..PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh : Dana Pensiun A yang pendiriannya telah mendapat pengesahan dari Menteri Keuangan untuk memperoleh penghasilan bruto yang terdiri dari : a. maka biaya yang boleh dikurangkan untuk mendapatkan.. pembebanannya dilakukan melalui penyusutan atau amortisasi. Huruf d Kerugian Penjualan atau Pengalihan harta..000.... Apabila seluruh biaya adalah sebesar Rp 200.........000.. baik yang dipotong dari penghasilan pegawai/karyawan.... penghasilan bruto lainnya.... Rp 400... (2)....000.............. Rp 300.....000... menagih. b. sepanjang deviden yang diterimanya tidak merupakan objek pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f. sedangkan angka (3)... dan memelihara penghasilan adalah sebesar 3/4 x Rp 200... Huruf b Pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan harta tak berwujud serta pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun..... boleh dibebankan sebagai biaya.... asuransi jiwa..........000... dalam penyelenggaraannya. yang menurut tujuannya semula MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 47 ....... Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. maupun yang ditanggung sipemberi kerja... adalah sejenis dengan asuransi kecelakaan.... tidak boleh menjadi biaya... yang pendiriannya telah disetujui oleh Menteri Keuangan... c.... 2... penghasilan yang bukan merupakan objek pajak sesuai dengan Pasal 4 ayat (3) huruf h ...... Selanjutnya lihat ketentuan Pasal 9 ayat (2)..000... Jaminan kecelakaan kerja...... ...... dan asuransi kesehatan.... yaitu : 1.......... misalnya sewa untuk beberapa tahun yang dibayar sekaligus pembebannya dapat dilakukan melalui alokasi Huruf c....... Jaminan eKmatian..000... Angka (1).. dan Pasal 11A beserta penjelasannya.. Pengeluaran yang menurut sifatnya merupakan pembayaran dimuka....Rp 100...000......... Jamsostek......000... Jumlah penghasilan bruto..... Jaminan Hari Tua .... disamakan dengan perlakuan terhadap Dana Pensiun yang telah memperoleh persetujuan Menteri Keuangan... 4........ Iuran pensiun kepada dana pensiun.. sedangkan kepada dana pensiun yang pembentukannya belum disahkan oleh Menteri Keuangan... Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta.. menyelenggarakan 4 jenis program.............. dan (4)....... dalam pelaksanaannya.. Bunga pinjaman yang tidak boleh dibiayakan tersebut dapat dikapitalisasi sebagai penambah harga perolehan saham. = Rp 150.. 3.000. Pasal 11...000.....

atau Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN). Huruf g Biaya yang dikeluarkan untuk keperluan bea siswa. Huruf e Kerugian karena fluktuasi kurs mata uang asing diakui berdasarkan sistem pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat azas sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia. dan pihak lain. yang dimiliki dan dipergunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan. dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan dengan memperhatikan kewajaran. huruh h. dan menyampaikannya kepada Direktur Jenderal Pajak. Telah dibebankan sebagai biaya dlm laporan keuangan komersial. Dengan demikian Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih. Huruf h Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dapat dibebankan sebagai biaya sepanjang Wajib Pajak telah mengakuinya sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial dan telah melakukan upaya – upaya penagihan yang maksimal atau terakhir Yang dimaksud dengan penerbitan. UU Pajak Penghasilan. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri. Tgl 28 Maret 2001. menagih. dimaksud adalah Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. Peraturan Pelaksanaan yang telah dikeluarkan berkaitan dengan ketentuan Psl 6 ayat (1). atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yg bersangkutan. mahasiswa. harus memenuhi syarat : 1./2001. diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. magang. dapat di kurangkan dari penghasilan bruto. tentang Penghapusan Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih. 3. dan memelihara penghasilan. 238/PJ.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN tidak dimaksudkan untuk dijual atau dialhkan. Wajib pajak membuat daftar nominatifnya. yang pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. dalam jumlah yang wajar untuk menemukan teknologi atau sistem baru bagi pengembangan perusahaan boleh dibebankan sebagai biaya. 2. Telah dipublikasikan dalam penerbitan/mass media umum/khusus. antara lain berisi penegasan : MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 48 . melainkan juga penerbitan internal asosiasi dan sejenisnya. 4. Tatacara pelaksanaan persyaratan yang ditentukan dalam ayat (1) huruf h ini. termasuk beasiswa yang dapat dibebankan sebagai biaya adalah beasiswa yang diberikan kepada pelajar. tidak hanya berarti penerbitan berskala nasional. Huruf f Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia.

Kompensasi kerugian dilakukan sebagai berikut : Rugi fiskal tahun 2009 ( Rp 1.000. Contoh : PT A. b .) 2012 : laba fiskal Rp N I H I L. kerugian tersebut dikompesasikan dengan penghasilan neto atau laba fiskal selama 5(lima) tahun berturut berturut dimulai sedjak tahun berikutnya sesudah tahun didapatnya kerugian tersebut.000.000. yang berskala nasional atau penerbitan khusus. adalah penerbitan koran/majalah atau media massa cetak yg lazim lainnya.000. 2013 : laba fiskal Rp 100.000. tidak boleh dikompensasikan lagi dengan laba fiskal tahun 2015.000) Laba fiskal 2014 Rp 800.000 Rugi fiskal tahun 2009 sebesar Rp 100. alamat. Ayat (2) Kompensasi Kerugian. Dalam 5 (lima) tahun berikutnya laba rugi fiskal PT A sebagai berikut : 2010 : laba fiskal Rp 200.000.000.Daftar Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dimaksud. atau penerbitan khusus Bank Indonesia. karena jangka waktu lima tahun sejak dimulainya tahun 2012 berakhir pada akhir tahun 2016.000.000.000) Laba fiskal tahun 2010 Rp 200.000.000 Sisa rugi fiskal tahun 2009 (Rp 900.000.000. serta jumlah piutang yang nyata-nyata tak dapat ditagih. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 49 .000. Jika pengeluaran-pengeluran yang diperkenankan berdasarkan ketentuan pada ayat (1) setelah dikurangkan dari penghasilan bruto didapat kerugian.000. 2014 : laba fiskal Rp 800.000. yaitu : nama. Penjelasannya : Pada dasarnya ada 2 (dua) bentuk kompensasi kerugian yaitu kompensasi kerugian Vertikal dan kompensasi kerugian Horizontal. memuat data dan informasi mengenai debitur. Kompensasi kerugian Horizontal adalah kompensasi kerugian diantara sumber-sumber penghasian. yang masih tersisa pada akhir tahun 2014.000) Sisa rugi fiskal tahun 2009 ( Rp 1. Himpunan Bank bank Milik Negara.000.000.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN a. NPWP.000.000.000.000 Sisa rugi fiskal tahun 2009 (Rp 1. sedangkan rugi fiskal tahun 2011 sebesar Rp 300. 2011 : rugi fiskal (Rp 300.000.000.000) Laba fiskal tahun 2013 Rp 100.200.200.000. yang dimaksud dengan penerbitan umum atau khusus. sedangkan kompensasi kerugian Vertikal adalah kerugian pada sesuatu tahun yang akan diperhitungkan ketahun-tahun berikutnya.000) Rugi fiskal tahun 2011 ( Rp 300. Dalam tahun 2009 menderita kerugian fiskal sebesar Rp 1.000. hanya boleh dikompensasikan dengan laba fiskal tahun 2015 dan tahun 2016.000 Sisa rugi fiskal tahun 2009 Rp 100.000) laba fiskal tahun 2012 Rp N I H I L Sisa rugi fiskal 2009 (Rp 1.000.000.

Wajib Pajak yang mempunyai anggota keluarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus yang menjadi tanggungan sepenuhnya.000. Contoh : Wajib Pajak A mempunyai seorang isteri dengan tangungan 4 (empat) orang anak. mertua. kepadanya diberikan pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).(lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah). (lima belas juta delapan ratur empat pulu ribu rupiah) untuk Wajib Pajak orang pribadi . tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat. (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah).840.840. Rp 1. tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). (lima belas juta delapan ratus empat puluh rupiah). Apabila isterinya memperoleh penghasilan dari satu pemberi kerja yang sudah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 dan pekerjaan tersebut tidak ada MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 50 . PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK ( Pasal 7). misalnya orang tua. Bagi Wajib Pajak yang isterinya menerima atau memperoleh penghasilan yang digabung dengan penghasilannya. Disamping untuk dirinya.840.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Ayat (3) Dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri.000. Rp 15. (1) Penghasilan Tidak Kena Pajak per tahun diberikan paling sedkit sebesar : a. b. Rp 1. paling banyak 3(tiga) orang untuk setiap keluarga. berdasarkan ketentuan dimaksud dalam Pasal 7. (2) Penerapan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan oleh keadaan pada awal tahun pajak atau awal bagian tahun pajak. anak kandung. (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah).000. Yang dimaksud dengan ”anggota keluarga yang menjadi tanggungan sepenuhnya”. c.320. dan d. penghasilan netonya dikurangi dengan jumlah Penghasilan Tidak Kena Pajak. Rp 15. kepada wajib pajak yang sudah kawin diberikan tambahan Penghasilan Tidak Kena Pajak. adalah anggota keluarga yang tidak mempunyai penghasilan dan seluruh biaya hidupnya ditanggung oleh Wajib Pajak. (3) Penyesuaian besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat.000.320. tambahan untuk WP kawin . atau anak angkat. Wajib Pajak tersebut mendapat tambahan Penghasilan Tidak Kena Pajak untuk seorang isteri paling sedikit sebesar Rp 15. yang menjadi tanggungan sepenuhnya. diberikan tambahan Penghasilan Tidak Kena Pajak untuk paling banyak 3(tiga) orang.000. Penjelasan Pasal 7 Ayat (1) Untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak dari Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri.

Ayat (3) Berdasarkan ketentuan ini Menteri Keuangan diberikan wewenang untuk mengubah besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat. c.960. Tgl 29 Agustus 1995. yaitu : a. dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi dan moneter serta perkembangan harga kebutuhan pokok setiap tahunnya. Tidak pula turut dibantu oleh lain-lain anggota keluarga atau orang tuanya sendiri Sedangkan kalau Wajib Pajak sekedar menyumbang. Misalnya pada tanggal 1 Januari 2009 Wajib Pajak B berstatus kawin dengan tanggungan 1 (satu) orang anak. + Rp 1. Pengertian dewasa.840.120. b.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN hubungannya dengan usaha suami atau anggota keluarga lainnya. Apabila penghasilan isteri harus digabung dengan penghasilan suami. Ayat (2) Penghitungan besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan menurut keadaan Wajib Pajak pada awal tahun pajak atau pada saat awal bagian dari tahun pajak. yang harus terlebih dahulu ada pengesahan dari Hakim Pengadilan Negeri. membantu. + (3x Rp 1.000. S-11/PJ. Tinggal bersama-sama dengan Wajib Pajak . sedangkan untuk isterinya. besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak yang diberikan kepada Wajib Pajak A. Dan menjadi tanggungan sepenuhnya dari Wajib Pajak. Apabila anak yang kedua lahir setelah tanggal 1 Januari 2009. yaitu (Rp 15. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 51 . bertanggung jawab. dan sebagainya. tidak termasuk dalam menjadi tanggungan sepenuhnya. atau belum lagi 18 tahun tapi sudah menikah.000.000.840.320.) . c. tetap dihitung berdasarkan status kawin dengan tanggungan 1(satu) anak. pada saat pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 oleh pemberi kerja diberikan Penghasilan Tidak Kena Pajak sebesar Rp 15.000.840. Yang tidak tergolong keluarga sedarah atau semenda dalam garis keturunan lurus dari Wajib Pajak. Republik Indonesia.). ditegaskan sebagai berikut :  Bukan pengertian anak angkat sebagaimana dalam masyarakat sehari-hari yaitu seorang anak yang diaku dan dan diangkat sebagai anak. Berdasarkan surat Direktur Jenderal Pajak kepada Yayasan Taruma Negara.000.  Dan juga bukanlah pengertian anak angkat sebagaimana dimaksud dalam hukum perdata. besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak yang diberikan kepada Wajib Pajak B untuk tahun 2009. Pengertian menjadi tanggungan sepenuhnya menurut Undang-undang PPh berdasarkan keadaan yang terlihat dari keadaan nyata. adalah sebesar Rp 21. No. Nampak secara nyata tidak mempunyai penghasilan .41/1995. Pengertian anak angkat .000. + Rp 15.000.120. sudah berumur 18 tahun.320. (Rp 21. Seseorang yang belum dewasa .000.  Tetapi pengertian anak angkat dalam perundang-undangan pajak dengan kriteria sebagai berikut : a. besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak yang diberikan kepada Wajib Pajak A adalah sebesar Rp 36. b.

suami – isteri telah hidup berpisah berdasarkan putusan hakim . dan dikenai pajak sebagai satu kesatuan. (4) Penghasilan anak yang belum dewasa digabung dengan penghasilan orang tuanya. Ayat (1) Penghasilan atau kerugian bagi wanita yang telah kawin pada awal tahun pajak. kecuali penghasilan tersebut semata-mata diterima atau diperoleh dari 1(satu) pemberi kerja yang telah dipotong pajak berdasarkan ketentuan Pasal 21 dan pekerjaan tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga lainnya. Apabila penghasilan isteri tersebut diperoleh dari satu pemberi kerja dan telah dipotong pajak oleh pemberi kerja dan pekerjaan tersebut tidak ada hubungannya MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 52 . dan b. (3) Penghasilan neto suami-isteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf c. Penggabungan tersebut tidak dilakukan dalam hal penghasilan isteri diperoleh dari pekerjaan sebagai pegawai yang telah dipotong pajak oleh pemberi kerja. yang belum dikompensasikan sebagaiman dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). dikehendaki oleh isteri yang memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri. b.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 10.1. Namun dalam hal-hal tertentu pemenuhan kewajiban pajak tersebut dilakukan secara terpisah. penghasilan isteri tersebut semata-mata diperoleh dari satu pemberi kerja . atau c.000.000. Contoh : Wajib Pajak A yang memperoleh penghasilan neto dari usaha sebesar Rp 100. dengan ketentuan : a. dikenai pajak berdasarkan penggabungan penghasilan neto suami-isteri dan besarnya pajak yang harus dilunasi oleh masing-masing suami-isteri dihitung sesuai dengan perbandingan penghasilan neto mereka. begitu pula kerugiannya yang berasal dari tahun-tahun sebelumnya. atau awal bagian tahun pajak dianggap sebagai penghasilan atau kerugian suaminya. artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yang dikenai pajak dan pemenuhan kewajiban pajaknya dilakukan oleh kepala keluarga. Ketentuan mengenai wanita kawin diatur dalam Pasal 8 UU PPh sbb : (1) Seluruh penghasilan atau kerugian bagi wanita yang telah kawin pada awal tahun pajak atau pada awal bagian tahun pajak. (2) Penghasilan suami-isteri dikenai pajak secara terpisah apabila : a. mempunyai seorang isteri yang menjadi pegawai dengan penghasilan neto Rp 70. PENGHASILAN WANITA KAWIN. Penjelasan Pasal 8 Sistem pengenaan pajak berdasarkan Undang-Undang ini menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis.2. penghasilan isteri tersebut berasal dari pekerjaan yang tidak ada huungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga lainnya.000. dianggap sebagai penghasilan atau kerugian suaminya. dikehendaki secara tertulis oleh suami-isteri berdasarkan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan .

. (Rp 70.000. maka untuk masing-masing suami dan isteri pengenaan pajaknya dihitung sebagai berikut: . Ayat (4) Penghasilan anak yang belum dewasa dari manapun sumber penghasilannya dan apapun sifat pekerjaannya digabung dengan penghasilan orang tuanya dalam tahun pajak yang sama.000. x Rp 27.000. tidak digabung dengan penghasilan A.000.000.000.isteri : 150. Apabila suami-isteri mengadakan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan secara tertulis atau jika isteri menghendaki untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri. Dengan penggabungan tersebut. x Rp 27.000.000. A dikenai pajak atas penghasilan sebesar Rp 250.000. ( Rp 100.000.000. maka seluruh penghasilan isteri sebesar Rp 150.000. Apabila selain menjadi pegawai.550.000. Ayat (2) dan Ayat (3). Misalnya pajak terutang atas jumlah penghasilan tersebut adalah sebesar Rp 27. Potongan pajak atas penghasilan isteri tidak bersifat final.000.000.000. 250. atau anggota keluarga lainnya. = Rp 11.000. Contoh : Perhitungan pajak bagi suami-isteri yang mengadakan perjanjian pemisahan penghasilan secara tertulis atau isteri menghendaki untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri.000.000.000. apabila isteri menjalankan usaha salon kecantikan.). isteri A juga menjalankan usaha.000.000.000. dan pengenaan pajak atas penghasilan isteri tersebut bersifat final.000. + Rp 80. + Rp 80.020.000. Dalam hal suami-isteri telah hidup berpisah berdasarkan keputusan hakim. misalnya salon kecantikan dengan penghasilan neto sebesar Rp 80. pengenaan pajaknya digabungkan dengan penghasilan ayah atau ibunya berdasarkan keadaan yang sebenarnya. adalah sebagai berikut : Dari contoh pada ayat (1).000.550.suami : 100. tersebut yang dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan.000.000. penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan pengenaan pajaknya dilakukan sendirisendiri.000. menerima atau memperoleh penghasilan. 250.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dengan usaha suami. perhitungan pajaknya dilakukan berdasarkan penjumlahan penghasilan neto suami-isteri dan masing-masing memikul beban pajak sebanding dengan besarnya penghasilan neto.530. pengenaan pajaknya dihitung berdasarkan jumlah penghasilan sebesar Rp 250.550. Apabila seorang anak belum dewasa. yang orang tuanya belum berpisah.) digabungkan dengan penghasilan A. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 53 . penghasilan neto sebesar Rp 70. artinya dapat dkreditkan terhadap pajak yang terutang atas penghasilan sebesar Rp 250.000.000. Yang dimaksud dengan ”anak yang belum dewasa ” adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah menikah.000.000.000.000. = Rp 16. + Rp 70.

5. 204/KMK. 68/KMK. Asuransi Jiwa.5% dari rata-rata Usaha de ngan tertagih. 235/01/1998. c. (1) Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikuangkan : a. No. Besarnya cadangan dari masing-masing jenis usaha tersebut berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 5. Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang menyalurkan kredit.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 10. Cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan. Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri untuk pengolahan limbah industri. Cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan. dan perusahaan anjak piutang . SKMK No. dan 6. Cadangan Premi. tertagih Sewa Guna Cadangan Piutang tak Maksimum 2. Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang dibentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).3. 1. 3. Asuransi kerugian Cadangan Premi 40% dari Premi tanggungan Cadangan Klaim sendiri sama dg jumlah klaim yang sudah disepakati tetapi belum dibayar ditambah dg klaim yg sedang dalam proses. Hak Opsi. 80/KMK. Saldo awal dan akhir Piutang. dan pembagian sisa hasil usaha koperasi . perusahaan pembiayaan konsumen. SKMK No. sekutu. Yang ketentuan dan syarat-syaratnya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. 4. kecuali : 1. b. pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti deviden termasuk deviden yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis. 2. pembentukan atau pemupukan dana cadangan. sewa guna usaha dengan hak opsi. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham. diperkenankan Bank Umum Cadangan Piutang tak Lihat tabel dibawah.04/1995. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 54 . Sesuai dengan perhitungan aktuaria yg disahkan oleh Ditjen Lembaga Keuangan. 2. 3.04/1999. 4. atau anggota . Jenis Usaha Cadangan yg Besarnya Cadangan. terakhir perubahan ketiga melalui KMK No. Pertambangan Cadangan Reklamasi Dihitung dg menggunakan MSP atas dasar taksiran biaya reklamasi.04/2000. Pengeluaran/biaya yang tidak boleh dikurangkan. Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan .1. adalah sebagai berikut .

00% 4.00% 1.75% 5.00% Periode laporan 31-12-1998 s. tidak termasuk Dalam SBI dan Surat utang Perhatian Pemerintah.625% 1. 466/KMK.d.d.875% 3. Besarnya dana cadangan piutang tak tertagih dimaksud ditentukan sbb: o 0.30-111999. 204/KMK. dan o 100% dari kredit yg digolongkan macet setelah dikurangi nilai agunan. kecuali yang dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi wajib pajak yang bersangkutan.50% 0.00% 12. 31-12-1999 s. o 100% dari kredit yang digolongkan macet yang masih tercatat dalam pembukuan bank setelah dikurangi agunan yang dikuasai. o 50% dari kredit yang digolongkan diragukan setelah dikurangi nilai agunan yang dikuasai. yang dibayar oleh wajib pajak orang pribadi. 7.25% 0. atau penggantian yang sepadan dengan HALAMAN 55 d) e) MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II .04/2000. Kurang Lancar Setelah dikurangi Nilai Agunan.5% dari kredit yang digolongkan lancar. serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan didaerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan dimaksud No.d 31-052001. 30-06-1999 s. Tentang Penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai dan penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yg diberikan dalam bentuk natura / kenikmatan di daerah tertentu. besarnya dana cadangan untuk kredit yg digolongkan macet ditentukan sebagai berikut : o 50% dari kredit yang digolongkan diragukan setelah dikurangi nilai agunan . 30-06-2000 s. asuransi kecelakaan. o 3% dari kredit yang digolongkan kurang lancar setelah dikurangi nilai agunan yang dikuasai. kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai. asuransi dwiguna.75% 2. Untuk jenis usaha Bank Umum. Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No.31-052000.31-051999. 0. 30-06-2001 dan seterusnya.50% 0.42/2000.50% 15.25% 1.875% 0.d 30-112000.00% 5. dan asuransi bea siswa. 3.d. tanpa memandang jabatan dan posisi karyawan yang bersangkutan. Penggolongan Kredit. yang disediakan sipemberi kerja (perusahaan). ditempat kerja. juncto KMK No. Bank Perkreditan Rakyat dapat membentuk dana cadangan piutang tak tertagih. asuransi jiwa.50% 10. 31-12-2000 s. yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja : 1. serta yg berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan. Premi asuransi kesehatan. Tgl 3 Nopember 2000. Penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai. SE-21/PJ. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmtan.04/2000. Khusus. Lancar.00%.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Pembentukan Dana Cadangan Piutang Tak Tertagih Jenis Usaha Bank.50%.

tetapi keadaan sarana dan prasarana ekonomi pada umumnya kurang memadai dan sulit dijangkau oleh transportasi umum. termasuk daerah perairan laut yang mempunyai kedalaman lebih dari 50 meter. frma. dan atau kenikmatan didaerah tertentu yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. sepanjang fasilitas dan sarana tersebut tidak tersedia. termasuk perumahan pegawai dan keluarganya.  olah raga bagi pegawai dan keluarganya tidak termasuk golf. dan pacuan kuda. Pemberian kepada pegawai dalam bentuk natura dan kenikmatan. boating. 3. Pengeluaran untuk penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja. dan warisan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b. yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN nilai pemberian makanan tersebut. Sanksi administrasi berupa bunga. penanam modal menanggung resiko yang tinggi.  pengangkutan bagi pegawai dan keluarganya . adalah sarana dan fasilitas di lokasi bekerja untuk :  tempat tinggal. atau pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan. Pengeluaran untuk pembangunan sarana tersebut yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun. bantuan atau sumbangan. Atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia. ditugas luarkan. keamanan dan keselamatan kerja atau yang berkaitan dengan situasi lingkungan kerja. dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi ker kerja. harta yang dihibahkan. Daerah tertentu adalah daerah terpencil. 5. yaitu daerah yang secara ekonomis mempunyai potensi yang layak dikembangkan. 4.  pelayanan kesehatan. denda. sehingga pemberi kerja harus menyediakan sendiri. yang diterima. apabila pegawai/karyawan ybs. Biaya yang dibebankan atau yang dikeluarkan untuk kepentingan pribadi wajib pajak atau orang yang menjadi tanggungannya . bagi pegawai dan keluarganya. dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan dibidang perpajakan. Gaji yg dibayarkan kepada anggota persekutuan. kecuali sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf i sampai dengan huruf m. HALAMAN 56 MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II . atau perusahaan. f) g) h) i) j) k) Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang ham. dan masa pengembalian yang relatif panjang. Pajak Penghasilan . yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk dan disahkan oleh pemerintah. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yg diberikan dalam bentuk natura. sehingga untuk mengubah potensi ekonomi yang tersedia menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. yang merupakan keharusan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan. atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham. yang dasar lautnya memiliki cadangan mineral. pembebannya dilakukan melalui penyusutan. serta zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah. pendidikan. 2.

Lengkapnya bunyi Psl 13 ayat (5) dan ayat (6) adalah sbb : Pasal 13 ayat (5) UU PPN . MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 57 . BM yang dipungut . sebagai berikut : a. alamat./2000. mengatur juga pengeluaran dan biaya yang boleh/ tidak boleh dikurangkan dalam menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi WP dalam negeri dan bentuk usaha tetap.Psl 9 ayat (8) huruf g. sepanjang tidak dapat dibuktikan bahwa Pajak Masukan tersebut benarbenar telah dibayar. Catatan : Bunyi Psl 9 ayat (8) huruf f dan g UU PPN dimaksud adalah sbb : . Nama Jabatan.312/PJ/2001. Dalam Faktur Pajak harus dicantumkan keterangan tentang penyerahan Barang Kena Pajak. dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut . . Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan dokumen tertentu sebagai Faktur Pajak. Pajak Masukan tidak dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran untuk masa pajak yang sama bagi pengeluaran untuk (f) perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yg faktur pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Psl 13 ayat (5). Pasal 13 ayat (6) UU PPN . NPWP.Psl 9 ayat (8) huruf f UU PPN-PPn. yang menyerahkan BKP atau JKP . Pemberitahuan Impor Barang Untuk Dipakai (PIUD) dan Surat Setoran Pajak (SSP) untuk Impor Barang Kena Pajak. Pasal 3 PP 138 Tahun 2000. Dokumen tertentu yang diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar dimaksud berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak No. PPn. Pajak Masukan tidak dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran untuk Masa Pajak yang sama bagi pengeluaran untuk (g) pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar daerah pabean yg faktur pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Psl 13 ayat (6). Kode.  Pajak Masukan yang berkenan dengan pengeluaran yang tidak dapat dikurangkan dalam menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Psl 9 ayat (1) UU PPh.BM. c. Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan berdasarkan ketentuan Psl 9 ayat (8) UU PPN. adalah sebagai berikut : a. UU PPN. yang merupakan penyempurnaan dari KEP-522/PJ. nomor seri dan tgl pembuatan Faktur Pajak . kecuali :  Pajak Masukan sebagaimana dimaksud dalam Psl 9 ayat (8) huruf f dan g. Jenis barang atau jasa. . atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang paling sedikit memuat : a. dan NPWP. e. Tgl 21 Desember 2000. pembeli BKP atau JKP . Nama.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Dalam Peraturan Pemerintah No. dan potongan harga . dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. UU PPN . b. Tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan. alamat. jumlah Harga Jual atau Penggantian. dan g. 138 Thn 2000. Nama. f. d.

Ticket dan surat muatan udara (airway bill). Surat Setoran Pajak untuk pembayaran PPN atas pemanfaatan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari Luar Daerah Pabean . Psl 4 Peraturan Pemerintah 138 Tahun 2000. sebagaimana dimaksud dalam Psl 14 UU Pajak Penghasilan. Pajak Masukan yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto. menagih. Pengeluaran MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 58 . menagih. dan memelihara penghasilan yang dikenakan pajak berdasarkan norma perhitungan. delivery order. terlebih dulu harus dikapitalisasi dengan pengeluaran/biaya tersebut dan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi. dan memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak. UU Pajak Penghasilan. dan . dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan sekaligus. menagih. Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang telah difiat muat oleh pejabat yang berwenang dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan dilampiri invoice . dan memelihara penghasilan pengenaan pajaknya bersifat final. menagih. (2) Pengeluaran untuk mendapatkan. c. d. Nota Penjualan Jasa yang dibuat/dikeluarkan untuk penyerahan Jasa Kepelabuhan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN b. kecuali pajak atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Psl 26 ayat (1). biaya untuk mendapatkan. menagih dan memelihara penghasilan bukan merupakan objek pajak. biaya untuk mendapatkan. UU Pajak Penghasilan. Tanda Pembayaran atau kwitansi atas penyerahan jasa Telkom. melainkan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 atau Pasal 11A. Surat Perintah Pengiriman Barang (SPPB) dari Bulog/Dolog untuk penyaluran gula pasir dan tepung terigu . Paktur Nota Bon Penyerahan (PNBP) yang dibuat/dikeluarkan oleh Pertamina untuk penyerahan BBM dan/atau non BBM . tersebut ditambahkan dalam perhitungan dasar untuk pemotongan pajak. e. f. serta biaya lainnya yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun sebagaimana dimaksud dalam Psl 11 dan Psl 11 A. Tanda pembayaran atau kwitansi listrik. menagih. atau memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak yang pembebanannya dapat dilakukan dalam tahun pengeluaran atau selama masa manfaat dari pengeluaran tersebut. Pajak Penghasilan yang ditanggung oleh pemberi penghasilan. j. h. biaya untuk mendapatkan. a. sehubungan dengan pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan atau harta tak berwujud. Pada prinsipnya biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto adalah biaya yang mempunyai hubungan langsung dan tidak langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan. Kerugian dari harta atau utang yang dimiliki dan tidak dipergunakan dalam usaha atau kegiatan untuk mendapatkan. c. Penjelasan Pasal 9 Ayat (1) Peneluaran-pengeluaran yang dilakukan Wajib Pajak dapat dibedakan antara pengeluaran yang boleh dan yang tidak boleh dibebankan sebagai biaya. tetapi tidak termasuk deviden sepanjang PPh. d. i. bill yang dibuat/ dikeluarkan untuk penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri . b. g.

asuransi dwiguna. Huruf b. penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan didaerah tesebut dalam rangka menunjang kebijakan pemerintah untuk mendorong pembangunan didaerah terpencil. dan pembayaran deviden oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis. penggantian atau imbalan dimaksud dianggap bukan merupakan pengeluaran yang dapat dibebankan sebagai biaya bagi pemberi kerja . serta penginapan untuk awak kapal dan sejenisnya. Lihat uraian diatas pada dana cadangan. yang dibayar oleh perusahaan untuk kepentingan pribadi para pemegang saham atau keluarganya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN yang tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto meliputi pengeluaran yang sifatnya adalah pemakaian penghasilan. biaya premi asuransi. dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Huruf a. seperti perbaikan rumah pribadi. Tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan adalah biaya-biaya yang dikeluarkan atau dibebankan oleh perusahaan untuk kepentingan pribadi pemegang saham. seperti pakaian dan peralatan untuk keselamatan kerja. dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja. dan asuransi bea siswa yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak orang pribadi tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto. maka bagi pemberi kerja pembayaran tersebut boleh dibebankan sebagai biaya bagi pegawai yang bersangkutan merupakan penghasilan yang merupakan objek pajak. asuransi kecelakaan. penerimaan tersebut bukan merupakan objek pajak. biaya perjalanan. pakaian seragam petugas keamanan (satpam). tidak boleh dikurangkan dari penghasilan badan yang membagikannya karena pembagian laba tersebut merupakan bagian dari penghasilan badan tersebut yang akan dikenakan pajak berdasarkan Undangundang ini. penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan dianggap bukan merupakan Objek Pajak. 2. Apabila premi asuransi tersebut dibayar atau ditanggung oleh pemberi kerja. Huruf e Sebagaimana telah diuraikan dalam penjelasan Pasal 4 ayat (3) huruf d. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun. Huruf d Premi asuransi kesehatan. dan pada saat orang pribadi dimaksud menerima penggantian atau santunan asuransi. Namun. sekutu atau anggota. asuransi jiwa. dan bukan merupakan penghasilan bagi pegawai ybs: 1. antar jemput karyawan. termasuk pembayaran deviden kepada pemilik modal. atau yang jumlahnya melebihi kewajaran. pemberian natura dan kenikmatan yang merupakan keharusan dalam pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena sifat pekerjaan tersebut mengharuskan. dan MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 59 . pembagian sisa hasil usaha koperasi kepada anggotanya. pemberian natura dan kenikmatan berikut ini. Selaras dengan hal tersebut maka dalam ketentuan ini.

Ayat (2) Sesuai dengan kelaziman usaha.000. pembebanannya dilakukan sesuai dengan jumlah tahun lamanya pengeluaran tersebut berperan terhadap penghasilan. jumlah yang melebihi kewajaran tersebut tidak boleh dibebankan sebagai biaya.tidak boleh dibebankan sebagai biaya. Dengan demikian gaji yang diterima oleh anggota persekutuan. pemberian atau penyediaan makanan dan atau minuman bagi seluruh pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.000.000. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 60 . menagih. memberikan jasa kepada badan tersebut dengan memperoleh imbalan sebesar Rp 50. persekutuan. atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham. dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun tidak dapat dikurangkan sekaligus pada tahun pengeluaran. Huruf f Dalam hubungan pekerjaan. (dua puluh juta rupiah). dan memelihara penghasilan yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto adalah pengeluaran yang jumlahnya wajar sesuai dengan kelaziman usaha. Huruf h Yang dimaksud dengan Pajak Penghasilan dalam ketentuan ini adalah Pajak Penghasilan yang terutang oleh Wajib Pajak yang bersangkutan.000. Huruf i Biaya untuk keperluan pribadi Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya. berdasarkan ketentuan ini. Misalnya seorang tenaga ahli yang adalah juga pemegang saham dari suatu badan. dan perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham diperlakukan sebagai satu kesatuan. dimaksud dianggap sebagai deviden. kemungkinan dapat terjadi pembayaran imbalan yang diberikan kepada pegawai yang juga pemegang saham.000.000. menagih. maka jumlah sebesar Rp 30. selama masa manfaatnya sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 11A. Sejalan dengan prinsip penyelarasan antara pengeluaran dengan penghasilan. Oleh karena itu biaya tersebut tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto usaha/perusahaan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3. Bagi tenaga ahli yang jiga sebagai pemegang saham tersebut jumlah sebesar Rp 30. Apabila untuk jasa yang sama yang diberikan oleh tenaga ahli lain yang setara hanya dibayar sebesar Rp 20. bukan merupakan pembayaran yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto badan tersebut. Karena pada dasarnya pengeluaran untuk mendapatkan.000. Huruf j Anggota firma. melainkan dibebankan melalui penyusutan dan amortisasi. pada hakekatnya merupakan penggunaan penghasilan oleh Wajib Pajak yang bersangkutan. sehingga tidak ada imbalan sebagai gaji.000. dalam ketentuan ini pengeluaran untuk mendapatkan. pengeluaran yang mempunyai peranan terhadap penghasilan untuk beberapa tahun. firma.

yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b. (5) Apabila terjadi pengalihan harta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf c. maka dasar penliaian bagi yang menerima pengalihan sama dengan nilai sisa buku dari pihak yang melakukan pengalihan atau nilai yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak . Ketentuan tentang tata cara penilaian harta diatur dalam Pasal 10 Undang-undang PPh. kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan. Termasuk dalam harga perolehan adalah beli dan biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh harta tersebut. dan biaya pemasangan. yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf c. dalam rangka mengnghitung penghasilan sehubungan dengan penggunaan harta dalam perusahaan. Ayat (1) Pada umumnya dalam jual beli harta. (6) Persediaan dan pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok dinilai berdasarkan harga perolehan yang dilakukan secara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang diperoleh pertama. maka dasar penilaian bagi yang menerima pengalihan sama dengan nilai pasar dari harta tersebut. (3) Nilai perolehan atau pengalihan harta yang dialihkan dalam rangka likuidasi.: (1) Harga perolehan atau harga penjualan dalam hal terjadi jual beli harta yang tidak dipengaruhi hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) adalah jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan atau diterima. menghitung keuntungan atau kerugian apabila terjadi penjualan atau pengalihan harta. sedangkan apabila terdapat hubungan istimewa adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4). termasuk persediaan. penggabungan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PENILAIAN HARTA. dan penghitungan penghasilan dari penjualan barang dagangan. (2) Nilai perolehan atau nilai penjualan dalam hal terjadi tukar-menukar harta adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar. pemecahan. maka bagi pihak pembeli nilai perolehannya adalah jumlah yang seharusnya dibayar dan bagi pihak penjual nilai MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 61 . pemekaran. Dalam hal jual beli yang dipengaruhi hubungan istimewa. (4) Apabila terjadi pengalihan harta : a. Penjelasan Pasal 10 Ketentuan ini mengatur tentang cara penilaian harta. maka dasar penilaian harta bagi badan yang menerima pengalihan sama dengan nilai pasar dari harta tersebut. seperti bea masuk. peleburan. harga perolehan harta bagi pihak pembeli adalah harga yang sesungguhnya dibayar dan harga penjualan bagi pihak penjual adalah harga yang sesungguhnya diterima. b. biaya pengangkutan. atau pengambil alihan usaha adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar.

000. membukukan semua harta tersebut dengan jumlah Rp 750. sedangkan PT C.000. (Rp 20. – Rp 200. + Rp 450.000.000. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 62 .000. Antara PT A dan PT B terjadi pertukaran harta. (Rp 20.) dan PT B memperoleh keuntungan sebesar Rp 8. Adanya hubungan istimewa antara pembeli dan penjual dapat menyebabkan harga perolehan bisa menjadi lebih besar atau lebih kecil dibandingkan dengan jika jual beli tersebut tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa.000.). Contoh : PT A dan PT B melakukan peleburan dan membentuk badan baru.000.000.000.000.000. Nilai sisa buku dan harga pasar harta dari kedua badan tersebut adalah sebagai berikut: : PT A PT B Nilai sisa buku Rp 200.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN perolehannya adalah jumlah yang seharusnya diterima.000. dan pengambilalihan usaha. penilaian harta yang dialihkan. Dengan demikian. Oleh karena itu dalam ketentuan ini diatur bahwa nilai perolehan atau nilai penjualan bagi pihak-pihak yang bersangkutanadalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau seharusnya diterima.000.000. PT A memperoleh penghasilan sebesar Rp 10. peleburan. pemecahan.000. Ayat (2) Harta yang diperoleh berdasarkan transaksi tukar-menukar dengan harta lain.000.000.000.000.000. Contoh : PT A PT B (Harta X) (Harta Y) Nilai sisa buku Rp 10. (Rp 300. yaitu PT C.000. Selisih antara harga pasar dengan nilai sisa buku harta yang dipertukarkan merupakan keuntungan yang dikenakan pajak.000.000.000. Rp 12. namun karena harga pasar harta yang dipertukarkan adalah Rp 20.000.000. dilakukan berdasarkan harga pasar.000.000.).000. Rp 300. Pengalihan harta tersebut dapat dilakukan dalam rangka pengembangan usaha berupa penggabungan.000.).000.000.000.000. Selisih antara harga pasar dengan nilai sisa buku harta yang dialihkan merupakan penghasilan yang dikenakan pajak. maka jumlah sebesar Rp 20. Harga pasar Rp 300. pemekaran. adalah harga pasar dari harta. – Rp 300. Ayat (3) Pada prinsipnya apabila terjadi pengalihan harta. – Rp 12. – Rp 10. Harga Pasar Rp 20.000. Rp 450.000. Rp 20. PT A mendapat keuntungan sebesar Rp 100.000. penilaian harta yang diserahkan oleh PT A dan PT B dalam rangka peleburan menjadi PT C. nilai perolehan atau nilai penjualannya adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar.000.). (Rp 300.000.000.000.000. Walaupun tidak terdapat realisasi pembayaran antara pihak-pihak yang bersangkutan.000.000.000.000.000.000. Selain itu pengalihan tersebut dapat dilakukan pula dalam rangka likuidasi usaha atau sebab lainnya. merupakan nilai perolehan yang seharusnya dikeluarkan atau nilai penjualan yang seharusnya diterima.000.000. Pada dasarnya. (Rp 450. dan PT B mendapat keuntungan sebesar Rp 150.

Menteri Keuangan diberi wewenang untuk menetapkan nilai lain.). selain harga pasar. sumbangan yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a.000. Ayat (4) Dalam hal terjadi penyerahan harta karena hibah.000. maka nilai perolehan bagi pihak yang menerima harta adalah harga pasar. Dalam hal demikian PT C membukukan penerimaan harta dari PT A dan PT B tersebut sebesar Rp 500.000. + Rp 200. Sesuai dengan kelaziman. yaitu barang jadi atau barang dagangan. Dalam hal ini PT Y akan mencatat mesin bubut tersebut sebagai aktiva dengan nilai Rp 40.000. – Rp 25. Persediaan 2. Apabila Wajib Pajak tidak menyelenggarakan pembukuan sehingga nilai sisa buku tidak diketahui. Pembelian 100 satuan @ Rp 9. bahan baku dan bahan pembantu.000.000. bantuan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Namun dalam rangka menyelaraskan dengan kebijakan dibidang sosial. ) merupakan objek Pajak. – Rp 20. 100 satuan @ Rp 12.000. Selisih antara nilai nominal saham dengan nilai pasar harta. barang dalam proses produksi. ekonomi.000.000. 100 satuan @ Rp 11.000.000. moneter dan kebijakan lainnya.25. maka nilai perolehan bagi pihak yang menerima harta adalah nilai sisa buku harta dari pihak yang melakukan penyerahan. maka nilai perolehan atas harta ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. Ketentuan ini mengatur tentang penilaian harta yang diserahkan sebagai pengganti saham atau penyertaan modaldimaksud. sumbangan yang memenuhi syarat dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a atau warisan. yaitu sebesar Rp 20.000. Dalam hal terjadi penyerahan harta karena hibah. 1.000. Contoh : Wajib Pajak X menyerahkan 20 unit mesin bubut yang nilai bukunya adalah Rp 25. Pembelian 3. Contoh . (Rp 40. bantuan.00.) dibukukan sebagai agio. investasi.000.000.000.000. kepada PT Y sebagai pengganti penyertaan sahamnya dengan nilai nominal Rp 20.000. yaitu dinilai berdasarkan nilai pasar dari harta yang dialihkan tersebut.000.000. (Rp 40. Ayat (5) Penyertaan Wajib Pajak dalam permodalan suatu badan dapat dipenuhi dengan setoran tunai atau pengalihan harta. Ayat (6) Pada umumnya terdapat 3(tiga) golongan persediaan barang. Penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok hanya boleh dilakukan dengan cara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang didapat pertama (”first –in first –out” atau disingkat FIFO).000.000. dan sebesar nilai tersebut bukan merupakan penghasilan bagi PT Y. HALAMAN 63 MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II . Ketentuan pada ayat ini mengatur bahwa penilaian persediaan barang hanya boleh menggunakan harga perolehan.00.000.000. Bagi Wajib Pajak X selisih sebesar Rp 15. yaitu atas dasar nilai sisa buku (”pooling of interest”). (Rp 300. cara penilaian tersebut jiga diberlakukan tehadap sekuritas.000. Harga pasar mesin-mesin bubut tersebut adalah Rp 40.000.

yang HALAMAN 64 MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II .100 st @ Rp11. ---- 100 st @ Rp12. 100 st @ Rp 11. hak guna bangunan. 1. kecuali tanah yang berstatus hak milik.150. Rp 1.200. 100 st@ Rp 11.200.125. 100 st @ Rp 9. sebagaimana dimaksud dalam Psl 11 an 11 A Undang-Undang PPh. (Pasal 11 dan Pasal 11 A) Pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan harta tak berwujud. Penjualan/dipakai 100 satuan. hak guna usaha. Penyusutan dan Amortisasi. adalah sebagai berikut : Penyusutan. 100 st @ Rp11. misalnya sebagai berikut : No. 10.75=Rp 2. pendirian. Penghitungan harga pokok penjualan dan nilai persediaan dengan menggunakan cara FIFO.75 = Rp 1.25=Rp1. perbaikan. ----Dipakai ----------100 st @ Rp 10.200.125.225.=Rp1.075. 100 st @ Rp 12.25=Rp 1.100 st @ Rp 10.= Rp 1. Didapat --100 st@ Rp 12. 1. Penjualan/dipakai 100 satuan 5.= Rp 900.25=Rp1.100 st @ Rp12.00 = Rp 900. 100 st @ Rp 9. 2.- ----- 4. ---- 100 st @ Rp 9.00 =Rp 900. 4.00 = 100 st @ Rp11.- Sekali Wajib Pajak memilih salah satu cara penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok tersebut.100 300st@ Rp10.- 5.125. maka untuk tahun-tahun selanjutnya harus digunakan cara yang sama. pembebannya dilakukan melalui penyusutan dan amortisasi.200.125.100 st @ Rp12=Rp1. atau perubahan.75=Rp1.25=Rp1.Sisa/persediaan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4.Dipakai -------Sisa/persediaan.075.00 =Rp 900. (1) Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian.00=Rp1. 100 st @ Rp 9. =Rp 1. 3.100 st @ Rp 9.=Rp 900.200 st@ Rp10. dan hak pakai.200. serta pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari1 tahun.200. Didapat ---100 st @ Rp 12.1. Penggunaan harga pokok penjualan dan nilai persediaan dengan menggunakan cara rata – rata misalnya sebagai berikut : No.50 =Rp2. 200 st@Rp 10. ----- 100 st @ Rp10. 5. 3.075.25=Rp1. harta berwujud.125.75 = Rp 1. 2. penambahan.5.75= Rp 3.

masa manfaat dan tarif penyusutan harta berwujud ditetapkan sebagai berikut Kelompok Berwujud Harta Masa Manfaat Tarif Penyusutan. dapat juga dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat. Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak.5% 6. dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta yang bersangkutan mulai menghasilkan. menagih. (9) Apabila hasil penggantian asuransi yang akan diterima. Apabila wajib pajak melakukan penilaian kembali aktiva. dibukukan sebagai beban masa kemudian tersebut. yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku. dilakukan dalam bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan. menagih. termasuk penggantian asuransi (kalau diasuransikan). dan memelihara. atau penarikan harta karena sebab lainnya. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 65 .5 % 10 % (3) (4) (5) (6) 4 tahun 8 tahun 16 tahun 20 tahun 25 % 12. Wajib Pajak diperkenankan melakukan penyusutan mulai pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan. dan jumlah harga jual atau penggantian.25% 5% II. kecuali untuk harta yang masih dalam proses pengerjaan. maka dengan persetujan Direktur Jenderal Pajak jumlah sebesar kerugian. Bukan Bangunan Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 3 Saldo Menurun 50 % 25 % 12. penyusutannya dimulai pada bulan selesainya pengerjaan harta tersebut. berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Psl 19 UU PPh. Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran. bagi harta tersebut. penghasilan. maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut dibebankan sebagai kerugian. Bangunan Permanen 20 tahun 5% --Tidak Permanen. selain bangunan. maka dasar penyusutan atas harta adalah nilai setelah dilakukan penilaian kembali. yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun. (2) Penyusutan atas pengeluaran harta tak berwujud sebagaimana tersebut diatas. (8) Apabila terjadi pengalihan atau penarikan harta sebagaimana dimaksud dalam Psl 4 ayat (1) d UU PPh. jumlahnya baru dapat diketahui dengan pasti dimasa kemudian. nilai sisa buku disusutkan sekaligus. dengan syarat dilakukan taat azas. 10 tahun 10 % --(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyusutan atas harta berwujud yang dimiliki dan digunakan dalam bidang usaha tertentu diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. Garis Lurus I. yang diterima atau diperoleh dibukukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penarikan harta tersebut. dan pada akhir masa manfaat. Untuk menghitung penyusutan.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN (10) Apabila terjadi pengalihan harta yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Psl 4 ayat (3) huruf a. bukan bangunan untuk keperluan penyusutan. diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan No. melalui penyusutan. Pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh tanah hak milik. dapat disusutkan dalam satu golongan. dengan cara mengalokasikan pengeluaran tersebut selama masa manfaat harta tersebut. atau perusahaan batu bata. yang sama atau sejenis. diamortisasikan selama jangka waktu hak-hak tersebut. alat-alat kecil (small tolols). dana pengurusan hak-hak ter but dari instansi yang berwenang. tahun harus dibebankan sebagai biaya untuk mendapatkan. berupa harta berwujud. a. tidak boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yang mengalihkan. menagih. kecuali apabila tanah tersebut dipergunakan dalam perusahaan atau dimiliki untuk memperoleh penghasilan. hanya dapat disusutkan dengan metode garis lurus. dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang ditetapkan bagi harta tersebut (metode garis lurus atau straight line method) . dan sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan No. Yang dimaksud dengan pengeluaran untuk memperoleh tanah hak guna bangunan. 138/KMK. dan hak pakai yang pertamakali tidak boleh disusutkan. adalah sebagai berikut : Pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu). dalam bagian-bagian yang menurun dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku (metode saldo menurun atau declining balance method). dengan syarat nilai tanah tersebut berkurang karena penggunaannya untuk memperoleh penghasilan. atau metode saldo menurun. maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut. perusahan keramik. untuk harta berwujud berupa bangunan. UU PPh. misalnya tanah dipergunakan untuk perusahaan genteng. termasuk tanah yang berstatus hak guna bangunan. sedangkan harta berwujud selain bangunan dapat disusutkan dengan metode garis lurus. dan (2). (12) Jenis-jenis harta termasuk dalam kelompok harta berwujud. atau b. hak guna usaha.03/2002 Tgl 8 April 2002. dan hak pakai yang pertama kali adalah biaya perolehan hak tanah tersebut dari pihak ketiga. nilai sisa buku pada akhir masa manfaat harus disusutkan sekaligus. Sesuai dengan pembukuan wajib pajak. Penggunaan metode penyusutan atas harta harus dilakukan secara taat azas. untuk pertama kalinya. dan huruf b. hak guna usaha. dan hak pakai. Metode penyusutan yang dibolehkan berdasarkan ketentuan ini adalah . dan memelihara penghasilan. Penjelasan ayat (1). Sedangkan biaya perpanjangan hak guna bangunan. hak guna usaha. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 66 . Tgl 14 Desember 2000. Dalam hal wajib pajak memilih menggunakan metode saldo menurun. (11) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelompok harta berwujud sesuai dengan masa manfaat sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. 520/KMK.04/2000.

dan masa manfaat dari mesin adalah 4 (empat) tahun.000.750.750.000.750. Mesin kantor tersebut termasuk dalam kelompok 1. Sebuah mesin kantor yang dibeli dan ditempatkan pada bulan Juli 2009.pembangunan dimulai pada bulan Oktober 2009. Nilai Sisa Buku 150. tarif penyusutannya 5% setiap tahun.000. dengan tarif penyusutan 50% (lima puluh persen) setahun.000. 18. saat mulainya penyutan dapat dilakukan pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan. maka perhitungan penyusutannya adalah sebagai berikut : MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 67 .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh penggunaan metode garis lurus : Sebuah gedung yang harga perolehannya Rp 1.000.000. 18.000.000. dengan harga perolehan sebesar Rp 100. 37.75.000. Contoh 2. 18.000.000. yang tarif nyusutannya 50% (lima puluh persen) saldo menurun.000.000.- Penjelasan ayat (3) dan ayat (4) sebagai berikut : Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran. atau pada bulan harta tersebut mulai menghasilkan. Pengeluaran untuk pembangunan sebuah gedung sebesar Rp 1.000.000.500.Mesin kantor tersebut berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan termasuk kelompok l.000.000. Yang dimaksud dengan mulai menghasilkan dalam ketentuan ini dikaitkan dengan saat mulai berproduksi dan tidak dikaitkan dengan saat diterima atau diperolehnya penghasilan. bangunan permanen.000.. dan memelihara penghasilan. 0. Contoh l. Tahun Harga perolehan 2009 2010 2011 2012 Tarif 50% 50% 50% Disusutkan sekaligus Penyusutan 75.500. dan selesai untuk digunakan pada bulan Maret 2010.000.000. 37. Metode penyusutan yang digunakan Saldo Menurun. Contoh penggunaan metode Saldo Menurun : Sebuah mesin kantor yang dibeli dan ditempatkan pada bulan Januari 2009 dengan harga perolehan sebesar Rp 150. dan masa manfaatnya 20 (dua puluh) tahun.000. maka besarnya penyusutan Gedung tersebut 5% x Rp 1. maka penyusutan atas Gedung dimulai pada bulan Maret tahun pajak 2010.000.000. Namun berdasarkan persetujuan Direktur Jenderal Pajak.000.000.000. atau pada bulan selesainya pengerjaan suatu harta sehingga penyusutan pada tahun pertama dihitung secara pro-rata.= Rp 50. maka perhitungannya sbb . yang berarti masa manfaat mesin ybs 4 (empat) tahun. menagih.

000. dan pada akhir masa manfaat.000. Kelompok Kelompok Kelompok Kelompok 1 2 3 4 Masa manfaat 4 tahun 8 tahun 16 tahun 20 tahun Tarif Amortisasi Garis lurus 25% 12. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. saat mulainya penyusutan dapat dilakukan pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 68 .000. menagih. dan pengeluaran lainnya. yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun. 100.500. menagih. Amortisasi (1) Atas pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud.000. yang dipergunakan untuk mendapatkan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Tahun Harga perolehan 2009 2010 2011 2012 2008 Tarif Penyusutan 25. atau atas nilai sisa buku.0.37.000.375.- ½ x 50% 50% 50% 50% Disusutkan sekaligus Nilai Sisa Buku. dg syarat dilakukan secara taat azas. Perkebunana tersebut mulai menghasilkan (panen) pada tahun 2010.5% 6.000. dan hak pakai.000. kecuali untuk bidang usaha tertentu yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan.9.75.000.9.000.25% 5% Saldo menurun 50% 25% 12. diamortisasi sekaligus.000.18.37.18.000.500. hak guna usaha.750. dan memelihara penghasilan.375. Contoh : PT X yang bergerak dibidang perkebunan membeli traktor pada tahun 2009. atau dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat.5% 10% (3) Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya perluasan modal suatu perusahaan dibebankan pada tahun terjadinya pengeluaran.000. Saat mulai menghasilkan dalam ketentuan ini dikaitkan dengan saat mulai berproduksi dan tidak dikaitkan dengan saat diterima atau diperolehnya penghasilan.- Ayat (4) Berdasarkan persetujuan Direktur Jenderal Pajak.375.9. (2) Masa manfaat dan tarif amortisasi. Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak. atau amortisasi. penyusutan traktor tersebut dapat dilakukan mulai pada tahun 2010. (1a)Amortisasi dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran. dilakukan dalam bagian yang sama besar. termasuk biaya perpanjangan hak guna bangunan. yang dihitung dengan cara menerapkan tarif Amortisasi atas pengeluaran tersebut.000.750. dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta tersebut mulai menghasilkan. Kelompok harta Tak berwujud.

(8) Apabila terjadi pengalihan harta yang memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Psl 4 ayat (3) huruf a dan huruf b UU PPh. Tarif amortisasi yang diterapkan didasarkan pada kelompok masa manfaat. dan hak pengusahaan sumber alam. yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut tidak boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yang mengalihkan. yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun. yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun. (7) Apabila terjadi pengalihan harta tak berwujud atau hak-hak yang dapat diamortisasi. Penjelasan ayat (2) Penentuan masa manfaat dan tarif amortisasi atas pengeluaran harta tak berwujud dimaksudkan untuk memberikan keseragaman bagi wajib pajak dalam melakukan amortisasi. misalnya harta tak MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 69 . dari tiap harta tak berwujud. dalam bagian-bagian yang menurun setiap tahun dengan cara menerapkan tarif amortisasi atas nilai sisa buku. dilakukan dengan menggunakan metode satuan produksi. Khusus untuk amortisasi harta tak berwujud yang menggunakan metode saldo menurun. maka wajib pajak menggunakan masa manfaat yang terdekat. dikapitalisasi. sebagaimana yang diatur dalam ketentuan ini. berupa harta tak berwujud. sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berdasarkan masa yang sebenarnya. serta hasil alam lainnya. Dalam rangka menyesuaikan dengan karakteristik bidang-bidang usaha tertentu perlu diberikan pengaturan tersendiri untuk amortisasi yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan. dilakukan dengan menggunakan metode satuan produksi. diamortisasi dengan metode : a. dan kemudian diamortisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun. hak guna bangunan. atau : b. pada akhir masa manfaat nilai sisa buku harta tak berwujud atau hakhak tersebut diamortisasi sekaligus. paling tinggi 20% (dua puluh persen). dibidang penambangan minyak dan gas bumi (migas). setahun. Penjelasan ayat (1a) Amortisasi dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran sehingga amortisasi pada tahun pertama dihitung secara pro-rata. dan hak pakai ).PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN (4) Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan pengeluaran lain. (5) Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan hutan. (6) Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial. Penjelasan ayat (1) Harga perolehan harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya. dalam bagian-bagian yang sama setiap tahun selama masa manfaat. Untuk harta tidak berwujud yg masa manfaatnya tidak tercantum pada kelompok masa manfaat yang ada. termasuk perpanjangan hak-hak atas tanah (seperti hak guna usaha. maka nilai sisa buku harta atau hak-hak tersebut dibebankan sebagai kerugian dan jumlah yang diterima sebagai penggantian merupakan penghasilan pada tahun terjadinya pengalihan tersebut. Wajib Pajak dapat melakukan amortisasi sesuai dengan metode yang dipilihnya.

barrel. Dalam hal masa manfaat yang sebenarnya 5(lima) tahun.000.000. Contoh : Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan hutan. misalnya biaya studi kelayakan dan biaya produksi percobaan tetapi tidak termasuk biaya-biaya operasional yang sifatnya rutin.Taksiran jumlah kandungan minyak dan gas bumi tersebut sebanyak 200. Jika dalam satu tahun pajak.Penjelasan ayat (6) Dalam pengertian pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial. yang berarti 30% (tiga puluh persen).000.500.000. pada tahun yang bersangkutan dg taksiran jumlah seluruh kandungan minyak dan gas bumi di lokasi tersebut yang dapat diproduksi.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN berwujud dengan masa manfaat yang sebenarnya 6 (enam) tahun. adalah biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum operasi komersial. diamortisasi berdasarkan metode satuan produksi (MSP). yang mempunyai potensi 10. besarnya Rp 1.000. sehingga masih terdapat sisa pengeluaran untuk memperoleh hak atau pengeluaran lain. Penjelasan ayat (4) Metode satuan produksi dilakukan dengan menerapkan persentase amortisasi yang besarnya setiap tahun sama dengan persentase perbandingan antara realisasi penambangan minyak dan gas bumi. dengan jumlah paling tinggi 20% (dua puluh persen) setahun. seperti hak pengusahaan hasil laut. dalam tahun pajak yang bersangkutan. menjual hak penambangan tersebut ke PT Y.000. Penjelasan ayat (5).000. atau hasil alam lainnya. atau 20% x Rp 1. maka atas sisa pengeluaran tersebut boleh dibebankan sekaligus. dari jumlah potensi yang tersedia. ton. ton kayu. mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak penambangan minyak dan gas bumi di suatu lokasi sebesar Rp 500.000.000.000. = Rp 300. barrel.000. tidak boleh dikapitalisasi tetapi dibebankan sekaligus pada tahun pengeluaran..500. seperti gaji pegawai. hak pengusahaan hutan.000. dapat menggunakan kelompok masa manfaat 4 (empat) tahun atau 8(delapan) tahun. Perhitungan penghasilan dan kerugian dari penjualan hak penambangan sbb : MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 70 . untuk dikurangkan dari penghasilan bruto.000. maka harta tak berwujud tersebut diamortisasi dengan menggunakan kelompok masa manfaat 4 (empat) tahun.000. PT X. Untuk pengeluaran operasional yang rutin ini. yang akan diamortisasi sesuai dengan persentase metode satuan produksi yang direalisasikan dalam tahun yang bersangkutan. dan biaya kantor lainnya. biaya rekening listrik. Pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain minyak dan gas bumi. maka amortisasi yang diperkenankan. pada tahun pajak tersebut adalah 20%. dan telepon.000. Setelah diproduksi minyak dan gas bumi mencapai 100.000. Ayat (7) Contoh : PT X. ternyata jumlah produksi mencapai 3.000. dengan harga Rp 300. Apabila ternyata jumlah produksi yang sebenarnya lebih kecil dari yang diperkirakan.000.

dan jelaskan batasan-batasan PTKP terakhir yang diberlakukan. 9.000. Besarnya PTKP dapat ditinjau berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan. 1.Amortisasi yg telah dilakukan 100. penghapusan piutang dengan syarat-syarat tertentu. a. 10. Untuk mendapatkan penghasilan neto (bagi wajib pajak Badan).000. dalam menentukan biaya 3 M.320. Apa syarat-syarat piutang tak dapat ditagih sehingga bisa dianggap biaya.250. Biaya pengembagan usaha yang bagaimana dapat dijadikan sebagai biaya.000. Biaya-biaya yang diatur dalam Psl 6 ayat (1) yang terdiri dari : a.8. seperti gaji.000. maka terhadap penghasilan brutonya dapat dikurangkan . c.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Hak perolehan Rp 500.  Rp 1. dibebankan sebagai kerugian. 10. Kepada wajib pajak mana dapat diberlakukan PTKP. 8.000.2.  Rp 1. a.3. b.320. a. maksimal 3 (tiga) orang. Disamping biaya yang boleh dikurangkan terdapat biaya yang tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto yakni seperti diatur dalam .(50%)Rp 250. biaya mendapatkan. Bagaimana pengelompokan harta guna kepentingan penyusutan. dan pelatihan.000.000. Terangkan perbedaan antara penyusutan dan amortisasi.000. dan dimana diatur PTKP Tersebut.2. biaya bea siswa. a. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 71 .840. menagih dan memelihara penghasilan (biaya 3 M).000. setahun bagi setiap anggota keluarga yang diperkenankan. a./200. sesuai dengan urutan masa kompensasinya.000. kerugian karena penjualan harta. besarnya penghasilan tidak kena pajak dimaksud diatas adalah :  Rp 15. Penentuan besarnya PTKP ditetapkan pada awal tahun pajak. Latihan.Nilai sisa buku harta Rp. 3. Jelaskan dimana diatur biaya-biaya yg dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.000. Rangkuman. dibukukan sebagai penghasilan.000. 7. setahun isteri yang punya penghasilan sendiri.000.840.Harga jual Rp 300. dan jumlah sebesar Rp 300. iuran kepada dana pensiun yang pendiriaannya telah disahkan Menkeu. a. upah.000. 10. e. bagi wajib pajak orang pribadi DN.1.000. 4.000.4. dan untuk jenis usaha apa saja.000.6. yang pencatatannya diserahkan kepada wp sesuai dengan adat pedagang baik.Nilai sisa buku sebesar Rp 250.3. pembelian bahan dstnya. Jelaskan pula beberapa biaya yg tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto. kerugian selisih kurs.5. Terangkan pengertian ”Adat pedagang yang baik”. 6. setahun bagi wp kawin (isteri)  Rp 15.000. Kompensasi kerugian seperti diatur dalam Psl 6 ayat (2). a. Anggota keluarga yg mana saja yang diperbolehkan menjadi tanggungan wp. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).000. atau penghasilan kena pajak (bagi wajib pajak Orang Pribadi). 2. f. Jelaskan pengertian Metode Satuan Produksi. d. magang. setahun bagi wp sendiri. biaya penelitian dan pengembangan usaha di Indonesia.7. dengan batasan 5 (lima) tahun. a. penyusutan dan amortisasi .000. 5.

dan Bangunan. Amortisasi. sumbangan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN a.  Biaya kepentingan pribadi pemegang saham. Penyusutan dan Amortisasi (Psl 11 dan Psl 11 A). hak pakai. misalnya dijual maka nilai sisa buku menjadi kerugian. jadi bukan tidak boleh. 138/KMK. dibebankan melalui penyusutan dan amortisasi. maka disusutkan setelah selesainya proses pengerjaan bangunan tersebut. penyusutan harta dapat digeser ke tahun mendatangkan penghasilan (untuk usaha khusus misalnya perkebunan). kecuali harta yang masih dalam proses pengerjaan (misalnya bangunan). Psl 9 ayat (1) UU Pajak Penghasilan yaitu :  Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun. Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak. yg dibayarkan ke pemegang saham. hak milik. penggantian asuransi tidak terjadi pada tahun terjadinya musibah. dengan sistim penyusutan yang dapat dipilih antara straight line method (sistim garis lurus). maka dengan seizin Direktur Jendral Pajak penghasilannya dibukukan dimasa kemudian.04/2000.  Biaya yang dibebankan untuk kepentingan pribadi wajib pajak. Kalau terjadi penarikan harta sebagai bantuan. atau dihibahkan maka nilai bukunya tidak boleh menjadi kerugian bagi pihak yang mengalihkan.  Premi asuransi-asuransi yang bersifat pribadi wajib pajak.  Harta yang dihibahkan. g. menagih dan memelihara penghasilan yg menjadi objek pajak. Tgl 8 April 2002. Jika terjadi pengalihan harta.Pasal 9 ayat (2). 520/KMK.-yang telah diubah dengan KepMenkeu No. biaya yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1(satu) tahun. Harta dibagi atas Bukan Bangunan. persekutuan dan sejenisnya. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II . Penyusutan dimulai pada bulan perolehan dari harta tersebut. sedangkan hasil penjualannya masuk sebagai objek pajak Jika harta diasuransikan mengalami musibah. adalah harta yang terpakai dalam kegiatan mendapatkan. misalnya hak guna usaha. hak pengusahaan dibidang pertambangan. atau biaya serta pengeluaran yang mempunyai masa manfaat HALAMAN 72          3. Terhadap harta tak berwujud. Terhadap bukan bangunan dibagi lagi atas 4 (empat) kelompok.  Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya. Penyusutan digunakan untuk harta berwujud. b. kecuali tanah.  Jumlah yang melebihi kewajaran.  Gaji yang dibayarkan kepada anggota firma. tetapi tidak boleh sekaligus. seperti hak-hak. atau double declining balance ( sistim saldo menurun). 2. serta dilaksanakan dengan taat azas.  Pajak penghasilan. kehutanan. sumbangan.  Pembentukan dana cadangan dengan persyaratan tertentu. Dalam melakukan penyusutan berlaku ketentuan-ketentuan sebagai berikut : Harta yang boleh disusutkan.03/2002. dan bantuan. Jenis-jenis harta untuk kepentingan penyusutan daftar pengelompokannya diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan No.  Sanksi-sanksi perpajakan.

Pilihlah salah satu jawaban yang Saudara anggap paling tepat : 1. menggunakan Metode Satuan Produksi (MSP). biaya menurut perhitungan laporan Akuntan Publik. penghasilan komersial menurut laporan wajib pajak. 3. c. hak pengusahaan sumber alam lainnya. hampir sama dengan ketentuan yang terdapat pada penyusutan yaitu : Atas harta tak berwujud dibagi 4 (empat) kelompok. sedangkan jumlah yang diterima atau diperoleh sebagai penggantiannya. atau hak-hak tersebut diatas. 16 tahun (12. dan 20 tahun (10%).5%). Apabila terjadi pengalihan atas harta tak berwujud. biaya berdasarkan laporan komersial wajib pajak. 8 tahun (12. pembebanannya dilakukan melalui amortisasi. menggunakan metode satuan produksi tanpa batas. Hak penambangan. Hak penambangan dibidang Minyak dan Gas bumi (Migas). tidak dapat dijadikan biaya yang mengurangi penghasilan bruto. Pajak Penghasilan dikenakan atas penghasilan . Biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap (BUT) : a. Persentase amortisasi dengan menggunakan sistim garis lurus dengan masa manfaat 4 tahun (25%). dan 20 tahun (5%). biaya yang menyangkut 3 M. maka jumlah nilai sisa bukunya. sedangkan kalau menggunakan sistim saldo menurun masa manfaat dan persentasenya. c.         10. 16 tahun (6. Atas biaya pendirian. merupakan penghasilan pada tahun terjadinya pengalihan. Pengeluaran lainnya yg mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. maka nilai sisa bukunya. dibebankan sebagai kerugian. dapat dijadikan pengurangan penghasilan (biaya).25%). atau diwariskan sesuai dengan Psl 4 ayat (3) huruf (a) dan huruf (b). 8 tahun (25%). jika masa manfaat diatas 1(satu) tahun. 2. hak pengusahaan hutan. PKP (Wajib Pajak Orang Pribadi). dengan sistim penyusutan yang dapat dipilih antara sistim garis lurus.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN lebih dari 1 (satu). dikapitalisasi dan dibebankan melalui penyusutan .5%). setinggitingginya 20% (dua puluh persen). sama dengan titik point (2) diatas.4. Namun apabila terjadi pengalihan harta tak berwujud. Ketentuan-ketentuan yang berlaku pada amortisasi. b. 4 tahun (50%). atau saldo menurun. dan penghasilannya menjadi objek pajak b. Test Formatif. dihibahkan. diamortisasi sesuai dengan pengelompokan poin titik (2) diatas. karena diberikan sebagai bantuan atau sumbangan. tidak boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yang mengalihkan. a. biaya perluasan modal. Pajak Penghasilan yang dibayar wp baik melalui pemotongan atau pemungutan serta yang dibayar sendiri wp : a. Penghasilan Bruto b. Penghasilan Neto (WP Badan). MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 73 . c.

b. diambil kerugian yang paling besar . c. perhitungannya boleh dilakukan setiap bulan. c.000. atas semua harta wajib pajak. selisih kurs tersebut tidak dalam kegiatan usaha wajib pajak. Piutang yang tak dapat ditagih dapat menjadi kerugian apabila : a. 5. b. Kompensasi kerugian sebagai pengurangan penghasilan (biaya) : a. semua wajib pajak. c. hanya terhadap harta yang digunakan umtuk mendapatkan. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 74 . Rp 18.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4. atas semua harta baik yang masih mempunyai masa manfaat. piutang tersebut adalah piutang pribadi pemilik usaha . c. setahun untuk seorang wp yang belum kawin. 11. Jika terdapat kerugian berturut-turut. perhitungannya tanpa batas waktu . dan huruf (b) diatas. a. 12. selisih kurs berdasarkan kebijakan pemerintah dibidang moneter. Penyusutan atas harta berwujud hanya dapat dilakukan : a. Penentuan besarnya PTKP ditentukan . b. piutang macet akibat yang punya piutang failit (bangkrut) . maka perhitungannya adalah : a.840.000. Rp 14. menagih. dapat mengurangi penghasilan netonya. dan bukan permanen). b. pada akhir tahun pajak sewaktu wp mengisi SPT Tahunan. 6. dan memelihara penghasilan yang menjadi objek pajak. pada saat bertambah atau berkurangnya anggota keluarga wajib pajak. a. awal tahun pajak. selisih kurs tersebut dari perdagangan valuta asing. maupun wp luar negeri . perhitungannya hanya diperkenankan selama 5 (lima) tahun. Kerugian bagi wajib pajak yang menggunakan Norma Perhitungan : a.000. 13. dan bangunan (2 kelompok yaitu permanen. b. 8. b.000. b. maupun yang masa manfaat (umurnya) sudah habis. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) diberlakukan kepada : a. setahun bagi wp yang kawin dengan 3 (tiga) tanggungan. tidak dilakukan pengelompokan harta . termasuk hak-hak. c. pengelompokan diserahkan sepenuhnya kepada wajib pajak . Kerugian selisih kurs dapat menjadi biaya yang dapat dikurangkan jika . c. Rp 15. 7.400. diklasifikasi kepada. jika waktunya masih ada. 9. ditambah wajib pajak badan dan BUT. jawaban diatas tidak ada yang benar 10. Besarnya PTKP seperti dimaksud angka (10) diatas mulai tahun 2009 : a. c. b. c. Dalam melakukan penyusutan maka aktiva/harta wajib pajak : a. huruf (a). bukan bangunan (yang terdiri dari 4 kelompok). b. baik wp dalam negeri. mendahulukan kerugian tahun sebelumnya. jawaban (a) dan (b) diatas tidak ada tepat. setahun bagi wajib pajak kawin dengan status K/1. tidak dapat mempengaruhi penghasilan netonya. wajib pajak orang pribadi dalam negeri. dapat dilakukan sekaligus untuk mengurangi penghasilan . c. c. b.

pembukuan biaya-biaya yang boleh dikurangkan sebagai biaya yang akan mengurangi penghasilan bruto wajib pajak. penarikan harta tersebut tidak mempengaruhi penghasilan wajib pajak. pengeluaran untuk perolehan harta tak berwujud . didasarkan biaya komersial (. menjadi objek pajak bagi anggota firma yang bersangkutan. b.. hak penambangan migas bumi.. harta tak berwujud. 3. hak guna usaha.). harta tak berwujud yang dimiliki diluar perusahaan/usaha . 10. b. bila benar. b. nilai sisa bukunya menjadi kerugian.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 14.. a. 17.5.). 16. jika wp sudah mendapat keterangan dari Pemda setempat. pengeluaran sebelum produksi komersial. c. boleh dijadikan biaya sepanjang penghasilan wp memakai norma khusus. b. c. sistim garis lurus atas semua harta . jika salah. serta biaya lainnya yang mempunyai masa manfaatnya lebih dari satu tahun. b. sistim garis lurus bagi bangunan . Pemberian natura dan kenikmatan kepada pegawai : a. tidak boleh menjadi biaya. Amortisasi sebagai pengurangan penghasilan diterapkan terhadap . 20. amotisasi atas biaya memperoleh hak milik. dan peraturan perpajakan (. termasuk hak-hak. sudah ada keputusan dari Dirjend Pajak tentang status daerah terpencil bagi wajib pajak yang bersangkutan . c. Tulis B pada tanda dalam kurung ( ). hak pengusahaan sumber alam lainnya. dapat mengurangi penghasilan firma yang bersangkutan. Metode Satuan Produksi (MSP).. tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto firma tersebut. sedangkan hasil penggantiannya dimasukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penarikan. 1. biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto wajib pajak. apabila wajib pajak sudah melaporkannya ke Ditjend Pajak.. Gaji yang dibayarkan oleh badan usaha berbentuk firma kepada anggota .. a. atau c. b. c. 15. 2. hak pengusahaan hutan. diterapkan terhadap : a. wajib pajak mengajukan permohonan agar dihapuskan dari pembukuan.. hak pakai. c.. a. atau saldo menurun bagi bukan bangunan. kecuali dalam hal-hal tertentu . 19.). b. apabila biaya tersebut termasuk biaya 3 M. penyusutan dan amortisasi didasarkan perhitungan menurut ketentuan UU. dan penghasilannya objek pajak (. c. memilih sistim garis lurus. Sistim penyusutan atas harta dapat diterapkan : a. dapat jadi biaya sepanjang wajib pajak menyelenggarakan pembukuan. Apabila terjadi penarikan harta berwujud dari pemakaian maka . Natura dan Kenikmatan didaerah terpencil dapat dibiayakan : a. atau S. sistim saldo menurun bagi seluruh harta. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 75 . 18.

HALAMAN 76 12.. dapat dikurangkan dari penghasilan bruto wajib pajak (.).... 15. 13..).)..... wajib pajak diperkenankan memasukan orang tua walaupun orang tua tersebut sudah pensiun dari pekerjaannya. pemberian uang perbaikan rumah pemegang saham.). diperkenankan (. dapat dijadikan biaya yang mengurangi penghasilan neto wajib pajak (.... maka nilai bukunya tidak boleh menjadi kerugian bagi pihak yang mengalihkan (. sebelum penghasilan badan tersebut dikenakan pajak (.... (. dapat dikurangkan sebagai biaya... biaya penelitian dan pengembangan usaha yang dilakukan di Indonesia.. 9. sanksi-sanksi perpajakan seperti bunga. tapi harus diamortisasi sesuai dengan masa manfaatnya. 20.. dan huruf b. dengan batasan paling tinggi 20% (dua puluh persen). tidak boleh dibebankan sekaligus.... jika ybs berbekerja sebagai karyawati. dalam melakukan penyusutan dan amortisasi.)....). (.. 16... hanya berlaku bagi usaha pengusahaan hutan... Metode Satuan Produksi (MSP). imbalan bunga yang diberikan kepada pemegang saham sehubungan dengan pinjaman yang diberikannya. denda... MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II .. 10. sewa kantor untuk jangka waktu 3 tahun.) 8. (.) 11. walaupun pemegang saham tersebut belum menyetor penuh modalnya.. 14.).PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4. apabila terjadi penarikan harta tak berwujud dari pemakaian sesuai dengan ketentuan Psl 4 ayat (3)... sejak terjadinya kerugian (. tarif penyusutan untuk harta kelompok tiga dengan sistim saldo menurun besarnya adalah 25% (dua luluh lima persen).. sebagai pengurangan penghasilan neto.. wanita kawin... maka pengelompokan harta diserahkan kepada wajib pajak sesuai dengan fungsinya didalam perusahaan (. kenaikan pajak.. penghasilan tidak kena pajak bagi wajib pajak orang pribadi luar negeri apabila setelah melewati batas 183 hari dalam 12 bulan.).. dalam melakukan penyusutan...)..).. iuran pensiun yang boleh dikurangkan dari penghasilan wajib pajak apabila dibayarkan kepada lembaga pensiun yang dibentuk wajib pajak (.). 5. terhadap aktiva/harta yang diasuransikan.. 19. (. (.... dapat dikurangkan dari penghasilan perusahaan. dengan surat keterangan dari Camat.). huruf a.... 7... wajib pajak dapat berganti-ganti sistim setiap tahun sesuai dengan keadaan usahanya. didalam perhitungan PTKP....). 18. 17. kompensasi kerugian hanya diperuntukan bagi wajib pajak badan (. dan hak penambangan diluar migas bumi (. apabila penggantian asuransi tidak bersamaan tahunnya dengan terjadinya musibah....)...)... yang suaminya tidak mempunyai penghasilan dapat memasukan PTKP suami. maka seizin DirJend Pajak penghasilannya dapat dibukukan dimasa kemudian (.. masa kompensasi kerugian hanya dibatasi jangka waktu perhitungannya 5(lima) tahun.. (.. 6..

atau Salah (S). a b c b a b c b b b 10. 3.1. 4. 80 % . b a a c b b c a c a 11. 8. Arti tingkat penguasaan yang dicapai : 90 % . 5. hasilnya dikalikan dengan 100%. Saudara harus mempelajari kembali kegiatan belajar tsb. Saudara dapat meneruskan dengan modul berikutnya. 10. 20. 5.2. Memilih jawaban yang paling tepat . Memilih Benar (B). dan hitunglah jumlah jawaban Saudara yang benar atau yang betul. Salah (S) 17. 15. 7.6. Benar (B) 18. dan pilih betul atau salah). 6. 18. Kemudian gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan materi kegiatan belajar Saudara.100 % = Baik sekali. 2. Bila Saudara mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih. Salah (S) 12. (pilih salah satu jawaban yang tepat.6. Benar (B) 20. 2. 1. 13.79 % = Cukup 69 % atau kurang = kurang.89 % = Baik 70 % . kurang dari 80% . Salah (S) 10. 10. 6. 8. 9. 10. Benar (B) 15. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 77 .6. 9. 1. 12. 17. 4. 19. Benar (B) 13. Salah (S) 16. Benar (B) Salah (S) Benar (B) Salah (S) Benar (B) Salah (S) Benar (S) Benar (B) Benar (B) Salah (S) 11. Kunci test Formatif.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 10. Cocokkanlah jawaban Saudara dengan kunci jawaban dengan Test Formatif. Rumus : Tingkat penguasaan = jumlah jawaban Saudara yang benar dibagi dengan jumlah soal. tetapi bila tingkat penguasaan Sdr. 14. Umpan Balik. 7. Salah (S) 14. 16. 3.7. Salah (S) 19.

dibuat dan disempurnakan terus-menerus serta diterbitkan oleh Direktorat Jendaral Pajak . Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri termasuk kategori tidak mampu Menyelenggarakan pembukuan atau Wajib Pajak kecil dimaksud. Penjelasan Pasal 14 Informasi yang benar dan lengkap tentang penghasilan Wajib Pajak sangat penting untuk dapat mengenakan pajak yang adil dan wajar sesuai MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 78 . maka penghasilan netonya dihitung berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Neto dan peredaran brutonya dihitung dengan cara lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. termasuk wajib pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4). Norma Perhitungan. CARA MENGHITUNG PAJAK. dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan.800. wajib menyelenggarakan pencatatan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tatacara perpajakan. dengan syarat memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3(tiga) bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan. terutama Wajib Pajak Orang Pribadi pengusaha kecil.1. (4) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) yang tidak memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. KEGIATAN BELAJAR 7 NORMA PERHITUNGAN. yang ternyata tidak atau tidak sepenuhnya menyelenggarakan pencatatan atau pembukuan atau tidak memperlihatkan pencatatan atau bukti-bukti pendukungnya. (empat milyar delapan ratus juta rupiah).000. (1) Norma Penghitungan Penghasilan Neto untuk menentukan penghasilan neto.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 11. disediakan angka yang berbentuk prosentase yang akan digunakan untuk menetapkan besarnya Penghsilan Neto dan Pajak Penghasilan terutang. (6) Dihapus.000. (7) Besarnya peredaran bruto sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan. 11. (3) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang menghitung penghasilan Netonya dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. boleh menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto sebagaimana dimaksud pada ayat (1). disamping itu terdapat pula Wajib Pajak yang tidak mampu menyelenggarakan pembukuan. (2) Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. yang peredaran brutonya dalam 1(satu) tahun kurang dari Rp 4. (5) Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan. Seperti dimaklumi kondisi Wajib Pajak bermacam-macam. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 14 Undang-Undang Pajak Penghasilan yaitu . DAN TARIF. ada Wajib Pajak yang mampu menyelenggarakan pembukuan.

Ayat (2). Ayat (4) Apabila Wajib Pajak orang pribadi yang berhak. Norma Penghitungan Penghasilan Neto hanya boleh digunakan oleh Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. Penggunaan Norma Penghitungan tersebut pada dasarnya dilakukan dalam hal-hal : (a) terdapat dasar penghitungan yang lebih baik. Norma penghitungan disusun sedemikian rupa berdasarkan hasil penelitian atau data lain. tetapi tidak MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 79 . Untuk dapat menyajikan informasi dimaksud. Namun bahwa tidak semua Wajib Pajak mampu menyelenggarakan pembukuan. Semua Wajib Pajak badan dan bentuk usaha tetap diwajibkan menyelenggarakan pembukuan. Untuk dapat menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto tersebut.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dengan kemampuan ekonomis Wajib Pajak. Direktur Jenderal Pajak menerbitkan norma penghitungan.000.000. Penentuan tersebut dimaksudkan untuk memudahkan penerapan norma dalam menghitung penghasilan neto. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas dengan jumlah peredaran tertentu. Wajib Pajak harus menyelenggarakan pembukuan. (empat milyar delapan ratus juta rupiah). yang peredaran brutonya kurang dari jumlah Rp 4. Ayat (3) Wajib Pajak orang pribadi yang menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto tersebut wajib menyelenggarakan pencatatan tentang peredaran brutonya sebagaimana diatur dalam UndangUndang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tatacara perpajakan. atau (b) pembukuan atau catatan peredaran bruto Wajib Pajak ternyata diselenggarakan secara tidak benar. Wajib Pajak orang pribadi harus memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3(tiga) bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan. dan dengan memperhatikan kewajaran. Ayat (1) Norma Penghitungan adalah pedoman untuk menentukan besarnya penghasilan neto yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak dan disempurnakan terus-menerus. Norma penghitungan akan sangat membantu Wajib Pajak yang belum mampu menyelenggarakan pembukuan untuk menghitung penghasilan neto. bermaksud untuk menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. yaitu pembukuan yang tidak lengkap. Untuk memberikan kemudahan dalam menghitung besarnya penghasilan neto bagi Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan peredaran bruto tertentu. tidak diwajibkan menyelenggarakan pembukuan.800.

atau wajib menyelenggarakan pencatatan dan atau dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan. Beberapa contoh penerapan Norma Penghitungan Khusus : 11. tidak bersedia memperlihatkan pembukuan atau pencatatan atau bukti pendukungnya pada waktu dilakukan pemeriksaan. Ayat (5) Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan. adakalanya diberlakukan Norma Penghitungan Khusus yang ketetuannya daitur dalam Pasal 15. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 80 . Ayat (7) Menteri Keuangan dapat menyesuaikan besarnya batas peredaran bruot sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dengan memperhatikan perkembangan ekonomi dan kemampuan masyarakat Wajib Pajak untuk menyelenggarakan pembukuan.1. and transfer”). perusahaan yang melakukan investasi dalam bentuk bangun-guna-serah (“build. yang berbunyi : Norma Penghitungan Khusus untuk menghitung penghasilan neto dari Wajib Pajak tertentu yang tidak dapat dihitung berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (1) atau ayat (3) ditetapkan Menteri Keuangan. dan panas bumi.2. Penghasilan Wajib Pajak yang bergerak dibidang usaha pelayaran dalam negeri (Keputusan Menteri Keuangan No. NORMA PENGHITUNGAN KHUSUS.04/1996. operate. perusahaan dagang asing. Penjelasan Pasal 15 Ketentuan ini mengatur tentang Norma Penghitungan Khusus untuk golongan Wajib Pajak tertentu antara lain perusahaan pelayaran atau penerbangan internasional.) dikenakan Pajak Penghasilan 1. tetapi : a. perusahaan pengeboran minyak. Sehingga mengakibatkan peredaran bruto dan penghasilan neto yang sebenarnya tidak diketahui maka peredaran bruto Wajib Pajak yang bersangkutan dihitung dengan cara lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan dan penghasilan netonya dihitung dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Wajib Pajak tersebut dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan. 2. 416/KMK. perusahaan asuransi luar negeri. 2% x Peredaran Bruto. Bagi Wajib Pajak tertentu terutama Wajib Pajak Badan. 11. gas. atau b.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN memberitahukannya kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu yang ditentukan. tidak atau tidak sepenuhnya menyelenggarakan kewajiban pencatatan atau pembukuannya.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 11. Nilai bangunan yang diterima dalam rangka Bangun. dikenakan Pajak Penghasilan sebesar 5% x harga pasar atau NJOP. huruf e. dikenakan Pajak Penghasilan sebesar 0.04/1996 dikenakan Pajak Penghasilan dengan tarif 2.04/1994. (2) Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak orang pribadi dan badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. (mana yang lebih tinggi.2. Penghasilan Wajib Pajak yang bergerak dibidang usaha pelayaran dan penerbangan luar negeri ( Keputusan Menteri Keuangan No.2.2.44% x Nilai ekspor Bruto. Pasal 15 jo Keputusan Menteri Keuangan No. 634/KMK.04/1995.4/1995.) Untuk menghindari kesukaran dalam menghitung besarnya penghasilan kena pajak (PKP) bagi golongan Wajib Pajak tertentu tersebut. Serah (BOT). 11. Cara menghitung pajak diatur dalam Pasal 16. Pasal 7 ayat (1). Guna. 417/KMK.2. CARA MENGHITUNG PAJAK.3. diperoleh dari penerapan tarif menurut Pasal 17 dikalikan Penghasilan Neto atau Penghasilan Kena Pajak. huruf d.4. huruf d. jo SE38/PJ. dihitung dengan menggunakan norma penghitungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dan untuk Wajib Pajak orang pribadi dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1). dengan berbagai cara seperti berikut : (1) Penghasilan Kena Pajak sebagai dasar penerapan tarip bagi Wajib Pajak orang pribadi dan badan dalam negeri dalam suatu tahun pajak dihitung dengan cara mengurangkan dari penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dengan pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2).3. Menghitung pajak terutang. 11. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 81 . (4) Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang terutang pajak dalam suatu bagian tahun pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2A ayat (6) dihitung berdasarkan penghasilan neto yang diterima atau diperoleh dalam bagian tahun pajak yang disetahunkan. dan ayat (2). Penghasilan Wajib Pajak luar negeri yang mempunyai kantor perwakilan dagang di Indonesia. serta Pasal 9 ayat (1) huruf c. berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 11. 248/KMK. serta Pasal 9 ayat (1) huruf c. berdasarkan pertimbangan praktis atau sesuai dengan kelaziman pengenaan pajak dalam bidang-bidang usaha tersebut. Pasal 6 ayat (1).64% x Peredaran Bruto. huruf e. Menteri Keuangan diberi wewenang untuk menetapkan Norma Penghitungan Khusus guna menghitung besarnya penghasilan neto dari Wajib Pajak tertentu tersebut. (3) Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia dalam suatu tahun pajak dihitung dengan cara mengurangkan dari penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5mayat (1) dengan memperhatikan ketentuan dalam Pasal 4 ayat (1) dengan pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3). dan huruf g. dan huruf g.

menagih dan memelihara penghasilan tsb . Bagi Wajib Pajak dalam negeri pada dasarnya terdapat dua cara untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak.Penghasilan neto dari usaha lainnya . Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.000.000 610.000.Biaya untuk mendapatkan.Penghasilan Kena Pajak (bagi Wajib Pajak orang pribadi) Ayat (2) Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang berhak untuk tidak menyelenggarakan pembukuan. Disamping itu terdapat cara penghitungan dengan menggunakan Norma Penghitungan Khusus.000 10.000.Penghasilan lainnya .000 20.000. yang diperuntukan bagi Wajib Pajak tertentu yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.800.000 Rp 590.200.000.Penghasilanneto lainnya Rp 5.000 .000 620..000 Rp 19.000 Rp 50.Jumlah seluruh penghasilan neto (usaha pokok + usaha lainnya) . Wajib Pajak luar negeri lainnya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Penjelasan Pasal 16 Penghasilan Kena Pajak merupakan dasar penghitungan untuk menentukan besarnya Pajak Penghasilan yang terutang.000.000.Penghasilan neto menurut Norma Penghitungan (misalnya 20%) Rp 800.Penghasilan Kena Pajak (bagi Wajib Pajak badan ) .Peredaran bruto Rp. Ayat (1) Bagi Wajib Pajak dalam negeri yang menyelenggarakan pembukuan Penghasilan Kena Pajaknya dihitung dengan mengggunakan cara penghitungan biasa dengan contoh sebagai berikut : .000 Rp 5.Laba usaha (penghasilan neto usaha ) .Kompensasi kerugian .Pengurangan Penghasilan Tidak Kena Pajak (bagi Wajib Pajak Orang Pribadi dengan status K/2 (isteri + 2 anak) . Bagi Wajib Pajak luar negeri penentuan besarnya Penghasilan Kena Pajak dibedakan antara : 1.000 .000 .000 Rp 600.000.000.000. yaitu penghitungan dengan cara biasa.(+) MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 82 Rp 6. dan penghitungan dengan menggunakan Norma Penghitungan.Biaya untuk mendapatkan.000 Rp Rp Rp Rp Rp 30.000. 4.400. yaitu Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib Pajak luar negeri.000. Dalam Undang-undang ini dikenal dua golongan Wajib Pajak.000.dan 2.Peredaran bruto . menagiah dan memelihara penghasilan .000.000. Penghasilan Kena Pajaknya dihitung dengan menggunakan Norma Penghitungan Neto dengan contoh sebagai berikut : .

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

- Jumlah seluruh penghasilan neto (usaha pokok + usaha lainnya) - Penghasilan Tidak Kena Pajak (isteri + 3 anak) –K/3 - Penghasilan Kena Pajak Ayat (3)

Rp Rp Rp

805.000.000 21.120.000.(-) 783.880.000

Bagi Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia, cara penghitungan Penghasilan Kena Pajaknya pada dasarnya sama dengan cara penghitungan Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak badan dalam negeri. Karena bentuk usaha tetap berkewajiban menyelenggarakan pembukuan, Penghasilan Kena Pajaknya dihitung dengan cara penghitungan biasa. Contoh : - Peredaranbruto - Biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara Penghasilan - Penghasilan neto - Penghasilan Bunga - Penjualan langsung barang yang sejenis dengan barang yang dijual Bentuk usaha tetap oleh Kantor Pusat - Biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilannya - Penghasilan netonya - Deviden yang diterima atau diperoleh kantor pusat yang mempunyai efektif dengan bentuk usaha tetap - Jumlah - Biaya – biaya menurut Pasal 5 ayat (3) - Penghasilan Kena Pajak Ayat (4) Contoh : Orang pribadi tidak kawin yang kewajiban pajak subjektifnya sebagai subjek pajak dalam negeri adalah 3(tiga) bulan dan dalam jangka waktu tersebut memperoleh penghasilan sebesar Rp 150.000.000. maka penghitungan Penghasilan Kena Pajaknya adalah sbb: Penghasilan selama 3(tiga) bulan Rp 150.000.000. Penghasilan setahun sebesar (360 : (3 x 30) x Rp 150.000.000 = Rp 600.000.000. Penghasilan Tidak Kena Pajak Rp 15.840.000. Penghasilan Kena Pajak Rp 584.160.000. Rp10.000.000.000 Rp 8.000.000.000 Rp 2.000.000.000 Rp 50.000.000 Rp 2.000.000.000 Rp Rp 1.500.000.000 500.000.000

Rp 1.000.000.000 Rp 3.550.000.000 Rp 450.000.000 Rp 3.100.000.000

11.4. TARIF (Pasal 17). (1) Tarif pajak yang diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak bagi : a. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri adalah sebagai berikut ;

MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II

HALAMAN

83

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Lapisan Penghasilan Kena Pajak
Sampai dengan Rp. 50.000.000. (lima puluh juta rupiah) Diatas Rp 50.000.000. sampai dengan Rp 250.000.000. Diatas Rp 250.000.000 sampai dengan Rp 500.000.000. Diatas Rp 500.000.000. (lima ratus juta rupiah)

Tarif Pajak 5% (lima persen) 15 % (lima belas persen) 25% (dua puluh lima %) 30% (tiga puluh persen).

b. Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebesar 28% (dua puluh delapan persen). (2) Tarif tertinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat diturunkan menjadi paling rendah 25% (dua puluh lima persen), yang diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2a) Tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, menjadi 25% (dua puluh lima persen) yang mulai berlaku sejak tahun pajak 2010. (2b) Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk perseroan terbuka yang paling sedikit 40% (empat puluh persen) dari jumlah keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan dibursa di Indonesia, dan memenuhi persyaratan tertentu lainnya, dapat memperoleh tarif sebesar 5% (lima persen) lebih rendah daripada tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. (2c) Tarif yang dikenakan atas penghasilan berupa deviden yang dibagikan kepada Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri, adalah paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen) dan bersifat final. (2d) Ketentuan lebih lanjut mengenai besarnya tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (2c), diatur dengan Peraturan Pemerintah. (3) Besarnya lapisan Penghasilan Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan. (4) Untuk keperluan penerapan tarif pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), jumlah Penghasilan Kena Pajak dibulatkan kebawah dalam ribuan rupiah penuh. (5) Besarnya pajak yang terutang bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang terutang pajak dalam bagian tahun pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (4), dihitung sebanyak jumlah hari dalam bagian tahun pajak yang terutang untuk 1(satu) tahun pajak. (6) Untuk keperluan penghitungan pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (5), tiap bulan yang penuh dihitung 30 (tiga puluh) hari. (7) Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan tarif tersendiri atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2), sepanjang tidak melebihi tarif pajak tertinggi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II

HALAMAN

84

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Penjelasan Pasal 17 Ayat (1) Huruf a Contoh : Penghitungan Pajak terutang untuk Wajib Pajak orang pribadi: Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp 500.000.000. Pajak Penghasilan terutang : 5% x Rp 50.000.000. = Rp 2.500.000. 15% x Rp 200.000.000. = Rp 30.000.000. 25% x Rp 250.000.000. = Rp 62.500.000. 30% x Rp 100.000.000. = Rp 30.000.000. Jumlah = Rp125.000.000. Huruf b Contoh : Penghitungan pajak terutang untuk Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap: Jumlah Penghasilan Neto Rp 1.250.000.000. Pajak Penghasilan terutang adalah : 28% x Rp 1.250.000.000. = Rp 350.000.000. Ayat (2) Perubahan tarif sebagaimana dimaksud pada ayat ini akan diberlakukan secara nasional, dimulai per 1(satu) Januari dan diumumkan selambatlambatnya 2 (dua) bulan sebelum tarif baru ini berlaku efektif, serta dikemukakan oleh Pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rajyat Republik Indonesia, untuk dibahas dalam rangka penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ayat (3) Besarnya lapisan Penghasilan Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tersebut, akan disesuaikan dengan faktor penyesuaian, antara lain tingkat inflasi, yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. Ayat (4) Contoh : Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 5.050.900,- untuk penerpana tarif dibulatkan kebawah menjadi Rp 5.050.000. Ayat (5) dan ayat (6) Contoh : Penghasilan Kena Pajak setahun (dihitung sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 16 ayat (4) sebesar Rp 584.160.000. Pajak penghasilan terutang : 5% x Rp 50.000.000. = Rp 2.500.000. 15% x Rp 200.000.000. = Rp 30.000.000. 25% x Rp 250.000.000. = Rp 62.500.000. 30% x Rp 84.160.000. = Rp 25.248.000. Jumlah = Rp120.248.000. Pajak penghasilan yang terutang dalam bagian tahun pajak 3(tiga) bulan = ( 3 x 30 ) x Rp 120.248.000. = Rp 30.062.000.360
MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 85

6. terutang bagi Wajib pajak orang pribadi dalam negeri yang memiliki penghasilan kena pajak sebesar Rp 68. keadilan. Jelaskan tatacara pelunasan pajak dalam tahun berjalan.750.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Ayat (7) Ketentuan dalam ayat ini memberi wewenang kepada Pemerintah untuk menentukan tarif pajak tersendiri yang dapat bersifat final atas jenis penghasilan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2). Terangkan tarif yang berlaku bagi Wajib Pajak badan dan bentuk usaha tetap. 10. Undang-undang memberi kesempatan untuk menghitung Penghasilan Neto dengan mengunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto seperti yan diatur dalam Pasal 14. 11. Penentuan tarif pajak tersendiri tersebut didasarkan atas pertimbangan kesederhanaan. 2. dengan beberapa yang harus dipenuhi Wajib Pajak antara lain penghasilan brutonya/omzet/peredaran usahanya tidak lebih Rp 4. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 86 . Bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang tidak sanggup menyelenggarakan pembukuan. 7. Terangkan jenis-jenis Pajak Penghasilan baik melalui pemotongan. RANGKUMAN 1. LATIHAN 1.5. 6. sepanjang tidak lebih tinggi dari tarif pajak tertinggi sebagaimana diatur dalam ayat (1).000 dalam 1(satu) tahun. seperti diatur dalam Pasal 15. terdapat pula Norma Penghitungan Khusus. maupun melalui pemungutan.000. 5. 2. Berikan contoh menghitung PPh. Disamping Norma yang sifatnya umum. 11. dan pemerataan dalam pengenaan pajak. Persyaratan apa yang harus dipenuhi Wajib Pajak untuk dapat mengunakan Norma Penghitungan dimaksud. 9. 8.230. Uraikan batasan kegiatan NormaPenghitungan usaha yang diperkenankan menggunakan 4. Terangkan bidang-bidang usaha yang telah ditetapkan memakai Norma Peghitungan Khusus. jelaskan. Jelas apa yang dimaksud dengan Norma Penghitungan Penghasilan neto. 3. Jelaskan tarif yang digunakan bagi penghasilan yang dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2). Bagaimana penentuan tarif Pajak Penghasilan dalam Pasal 17. yang digunakan untuk bidang-bidang usaha tertentu.800.

serta tarif untuk penghasilan yang bersifat final sesuai dengan Pasal 4 ayat (2). Terdapat 2(dua) macam cara menghitung Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap. dihitung sesuai dengan bulan banyaknya penghasilan tersebut dikalikan dengan pajak yang terutang untuk 1(satu) tahun pajak. Bagi Wajib Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan dalam bagian tahun pajak. dan badan termasuk bentuk usaha tetap. yaitu melalui sistem pembukuan. Dalam Pasal 17 diatur ketentuan mengenai tarif bagi Wajib Pajak orang Pribadi dalam negeri. 4. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 87 . termasuk yang menggunakan Norma Penghitungan Khusus. 5.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3. dan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.

8.7. Pilihlah jawaban yang paling tepat. Tarif Pajak Penghasilan berdasarkan Pasal 17 menggambarkan : a.800. Norma Penghitungan Khusus (Pasal 15).000. dan ayat (2). Persyaratan menggunakan Norma Penghitungan : a. Test Formatif. dan Pasal 9 ayat (1) huruf c. ayat (1). Hanya bagi Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang peredaran usahanya tidak melebihi Rp 4. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 88 . Penghasilan tersebut tidak menjadi objek pajak. b. 7.Wajib menyelenggarakan pencatatan mengenai peredaran usaha/penerimaan penghasilan brutonya/omzet kegiatan usahanya selama satu tahun tersebut. Jawaban a dan b tidak ada yang benar. c. Tarif Degressif. c. Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri badan dan bentuk usaha tetap diperoleh dari : a. b. Usaha Pelayaran dan Penerbangan Luar Negeri. Semua Wajib Pajak. Penghasilan bruto sama dengan Penghasilan Neto. Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang mengalami bagian tahun pajak a. Tidak ada kewajiban pembukuan maupun pencatatan apapun. Kegiatan usaha dibidang perdagangan dalam negeri. 3. dalam satu tahun. Tidak disyaratkan adanya pemberitahuan. Tarif Tetap. c. 6. 4. c. 5. b. Tarif Pajak yang progressif. c. Penghasilan menurut Pasal 4 ayat (1). b. c. Penghasilan bruto dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak.7. Penghasilan tersebut dijadikan penghasilan satu tahun. Wajib Pajak akan diberitahukan oleh Kantor Pelayanan Pajak setempat.1. Penghasilan bruto dikalikan Norma Penghitungan dikurangi PTKP. c. b. b. 1. b. Bagi Wajib Pajak yang menggunakan Penghitungan Norma Penghasilan : a. Penghasilan bruto dikurangi biaya-biaya yang diperkenankan. 11. Diwajibkan menyelenggarakan pembukuan yang lengkap. 2. dikurangi dengan pengurangan seperti diatur dalam Pasal 6. b. Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak orang Pribadi dalam negeri yang menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto (Pasal 14 ) diperoleh dari a. Norma Penghitungan Penghasilan Neto digunakan oleh : a. antara lain diberlakukan terhadap : a. Penghasilan yang diterima atau diperoleh menurut catatan usaha.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 11.000. Harus memberitahukan ke Kantor Pelayanan Pajak dalam tempo 3(tiga) bulan dari permulaan tahun pajak yang bersangkutan. Jenis usaha dibidang perbankan. c. s/d g.

5. (.... 5%. atau S(Salah). b.Tarif Pajak Penghasilan yang tercantum dalam Pasal 17 terdiri dari : a.2% x Penghasilan bruto.2..... 10%. 10. Tarif Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak badan dan bentuk usaha tetap.000.. diberlakukan baik untuk Wajib orang pribadi DN maupun badan...)....7. Tulislah (B) atau (S) pada kotak 1...) 8. 11. Norma Penghitungan Penghasilan Neto... Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang menerima atau memperoleh deviden. 15%...Rp 31. dikenakan Pajak Penghasilan sebesar 10%. Dilakukan pembulatan kebawah menjadi ribuan penuh. dan final. Norma Penghitungan Khusus bagi Wajib Pajak badan yang bergerak dibidang usaha pelayaran dalam negeri dikenakan 1...Wajib Pajak yang akan menggunakan Norma Penghitungan... serta 30% untuk Wajib Pajak orang pibadi dalam negeri... Pilihan B(Betul) jawaban. Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang tidak menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto... (mis..).. 10..850. (.. dan 30% untuk Wajib Pajak badan dan bentuk usaha tetap.. (.376... Guna penerapan tarif perhitungan. (.. 15%..) 6.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 9.. wajib menyelenggarakan pembukuan (. .)...). (.. Dilakukan pembulatan keatas... 7.......000.. Dalam perhitungan pajak bagi Wajib Pajak yang mengalami bagian tahun pajak satu tahun dihitung jumlah hari yang sebenarnya. c.. Jawaban a dan b tidak ada benar. 15%.. Menghitung Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak bagi yang menggunakan Norma Penghitungan Khusus berdasarkan Laporan Rugi/Laba Fiskal.... 4. maka Penghasila Kena Pajak : a..menjadi Rp 31.. ditetapkan 28%. dapat digunakan bagi semua Wajib Pajak (tanpa pembatasan peredaran usaha) .. Tarif tersendiri untuk penghasilan yang bersifat final (Pasal 4 ayat (2)..) MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 89 ... Dihitung seperti apa adanya.). (...000.377..dan 5%.) c. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang peredaran usahanya setahun sebesar Rp 4.. untuk Wajib Pajak orang Pribadi. 9.) 2.... tetap dihitung berdasarkan Norma Penghitungan. b.) 3... serta 10%...752. memberitahukannya pada waktu menyampaikan SPT Tahunan (. 25%. dan akan menjadi 25% pada tahun 2010. (.. (. 25% dan 35%... Hanya dikenakan 28% untuk Wajib Pajak badan dan bentuk usaha tetap......

11.1. 8. 11. 5. 2. Artinya tingkat penguasaan yang dicapai : 90% . 10. B.79% 69%. atau S( Salah). b. a. 11. a. 9. 5.89% 70% .8. S. B. = Kurang. yang benar dibagi dengan jumlah soal. Rumus : Tingkat penguasaan = Jumlah jawaban Sdr. Tetapi bila tingkat penguasaan kurang dari 80% (delapan puluh persen). 7. c. 10. Cocokanlah jawaban Saudara dengan Kunci jawaban Test Formatif. = Baik. c. c.9. S. hasilnya dikalikan dengan 100% (seratus persen). 6. 2. Umpan Balik. Jawaban yang paling tepat.100% 80% . Jawaban Test Formatif.8.2. 6. 1. Jawabab B (Betul). 1. = Cukup. 3. b. 4. 3. S.8. dan hitungalah jumlah jawaban Sdr. atau kurang = Baik sekali.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 11. 4. S. B. Kemudian gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan materi Kegiatan Belajar Saudara. 9. Bila Saudara mencapai tingkat penguasaan 80% (delapan puluh persen). S. a. B. 8. 7. c. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 90 . Saudara dapat meneruskan dengan modul berikutnya. b. B. yang benar. Saudara harus mempelajari kembali Kegiatan Belajar tersebut.

Ayat (1) Agar pelunasan pajak dalam tahun berjalan mendekati jumlah pajak yang akan terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan.1. DAN KETENTUAN LAINNYA. Pemugutan pajak atas penghasilan dari usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 20 yang berbunyi : (1) Pajak yan diperkirakan akan terutang dalam suatu tahun pajak. pemotongan pajak oleh pihak lain dalam hal diperoleh penghasilan oleh Wajib Pajak dari pekerjaan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Kegiatan Belajar 8. 12. kecuali untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final. jasa atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. Dengan pertimbangan kemudahan. namun Menteri Keuangan dapat menentukan masa lain. (3) Pelunasan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan angsuran pajak yang boleh dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan. Penjelasannya. Ayat (3) Pelunasan pajak dalam tahun berjalan merupakan angsuran pembayaran pajak yang nantinya boleh diperhitungkan dengan cara mengkreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan. b. pengenaan pajak yang tepat waktu. pembayaran oleh Wajib Pajak sendiri sebagaimana dimkasud dalam Pasal 25. maka pelaksanaannya dilakukan melalui : a. Ayat (2) Pada dasarnya pelunasan pajak dalam tahun berjalan dilakukan untuk setiap bulan. kepastian. Pelunasan pajak dalam tahun berjalan . ANGSURAN PPh Pasal 25. PELUNASAN PAJAK DALAM TAHUN BERJALAN. sehinga pelunasan pajak dalam tahun berjalan dapat dilaksanakan dengan baik. dan pertimbangan lainnya. serta pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri. 12. kesederhanaan. jasa dan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23. maka dapat diatur pelunasan pajak dalam tahun berjalan yang bersifat final atas jenis-jenis MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 91 . dan pemotongan pajak atas penghasilan dari modal. seperti saat dilakukannya transaksi atau saat diterima atau diperolehnya penghasilan. dilunasi oleh Wajib Pajak dalam tahun berjalan melalui pemotongan dan pemungutan pajak oleh pihak lain. PERHITUNGAN PAJAK AKHIR TAHUN. (2) Pelunasan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk setiap bulan atau masa lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

b. b. (5) dihapus. bank. badan usaha milik negara. Wajib Pajak memperoleh penghasilan tidak teratur . Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu disampaikan setelah lewat batas waktu yang ditentukan. (6) Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menetapkan penghitungan besarnya angsuran pajak dalam tahun berjalan dalam hal-hal tertentu. d. (7) Menteri Keuangan menetapkan penghitungan besarnya angsuran pajak bagi : a. sebagai berikut : a. (3) dihapus. Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan yang mengakibatkan angsuran bulanan lebih besar dari angsuran bulanan sebelum pembetulan. Pajak Penghasilan yang dipotong sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 23 serta Pajak Penghasilan yang dipungut sebagaimana dimaksud dlm Psl 22. ANGSURAN PAJAK PENGHASILAN Pasal 25. dan b. Pajak Penghasilan yang bersifat final tersebut tidak dapat dikreditkan dengan Pajak Penghasilan yang terutang.2. Terjadi perubahan usaha atau kegiatan Wajib Pajak. Pasal 21. sama dengan besarnya angsuran pajak untuk bula teakhir tahun pajak yang lalu. yang ketentuannya diatur dalam Pasal 25 sebagai berikut : (1) Besarnya angsuran pajak dalam tahun berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu dikurangi dengan : a. 12. (2) Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk bulan bulan sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. Wajib Pajak berhak atas kompensasi kerugian . Wajib Pajak baru . Wajib Pajak masuk MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 92 . maka besarnya angsuran pajak dihitung kembali baerdasarkan surat ketetapan pajak tersebut. Dengan mengambil prinsip perpajakan “Pay as you earn” . dibagi 12(dua belas) atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak . maka diberi kesempatan kepada Wajib Pajak untuk mengansur pajak yang terutang melalui sistem pembayaran angsuran yang dinamakan “Angsuran PPh Pasal 25. e. badan usaha milik daerah. Wajib Pajak diberikan perpanjangan jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. artinya bayarlah ketika punya penghasilan. (4) Apabila dalam tahun pajak berjalan diterbitkan Surat Ketetapan Pajak untuk tahun pajak yang lalu. dan f. Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang diluar negeri yang boleh dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24. c. Pasal 22. dan Pasal 23.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN penghasilan tertentu seperti dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2). dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan penerbitan surat ketetapan pajak.

yang bertolak keluar negeri. yang dipotong pihak lain (Pasal 23) Rp 2. Selisih (Pajak yang dibayar sendiri) Rp 15.000. PPh. Contoh 2. Ayat (2) Mengingat batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak orang pribadi bulan keempat tahun pajak berikutnya. luar negeri (Pasal 24) Rp 7.000. yang dipungut oleh pihak lain (Pasal 22) Rp 10.000. Contoh 1 : Pajak Penghasilan yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun 2009 Rp 50.000.500. = Rp 1. Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu dengan tarif paling tinggi 0. PPh.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN bursa. tersebut adalah sama dengan bulan terakhir dari tahun pajak yang lalu. Contoh .000. Ayat (1). Ketentuan ini mengatur tentang penghitungan besarnya angsuran bulanan yang harus dibayar oleh Wajib Pajak sendiri dalam tahun berjalan.000. Penjelasan Pasal 25.000. dan Wajib Pajak lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang undangan harus membuat laporan keuangan berkala.500. Wajib membayar pajak yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Berdasarkan ketentuan ini. dan c. Apabila SPT Tahunan PPh. Besarnya pajak yang harus dibayar sendiri setiap bulan untuk tahun 2010.000. Jumlah Kredit pajak Rp 35. (8) Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak dan telah berusia 21(dua puluh satu) tahun. yang dipotong pemberi kerja (Pasal 21) Rp 15.000.000. Apabila Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam contoh diatas berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh untuk bagian tahun pajak yang meliputi masa 6(enam) bulan dalam tahun pajak 2009. adalah sebesar 1/12 x Rp 15. b.000.500. Kredit PPh. besarnya angsuran pajak yang harus dibayar Wajib Pajak MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 93 .000.000.000.000.250.000.000. (8a) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (8) berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 2010. besarnya angsuran bulanan yang harus dibayar sendiri setiap bulan dalam tahun 2010 adalah sebesar 1/6 x Rp 15.75% (nol koma tujuh puluh lima persen) dari peredaran bruto. d. dikurangi dengan : a. = Rp 2. PPh. c. disampaikan oleh Wajib Pajak pada bulan Pebruari 2010.000. besarnya angsuran pajak untuk bulan-bulan sebelum waktu penyampaian SPT Tahunan PPh. besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk bulan-bulan sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan belum dapat dihitung sesuai dengan ketentuan pada ayat (1).

000. – Rp 30. adalah sebesar angsuran pajak bulan Desember 2009.Sisa kerugian thn sebelumnya yg masih dapat dikompensasikan Rp 150. yaitu nihil.000.000. .000. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 94 .000. Contoh : Berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak pajak 2009.000.000. PPh. Apabila pada tahun 2009 tidak ada PPh. Berdasakan ketentuan dalam ayat ini. Wajib Pajak menerima atau memperoleh penghasilan tidak teratur. terutang 28 % x Rp 90. Apabila dalam bulan September 2009 diterbitkan keputusan pengurangan angsuran pajak menjadi nihil.000.000 Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 25 tahun 2010 adalah : Penghasilan yang dipakai sebagai dasar perhitungan angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 = Rp 120. besarnya angsuran pajak yang harus dibayar Wajib Pajak untuk bulan Januari 2010. Oleh karena itu berdasarkan ketentuan ini. Penetapan besarnya angsuran pajak berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut bisa sama. atau terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak. = Rp 2.000. tetap sama dengan angsuran bulan Desember 2009.200.000.000. besarnya angsuran pajak bulanan PT X tahun 2010 = 1/12 x Rp 25. Contoh 1 : .200.000. = Rp 25.000. angsuran pajak dihitung berdasarkan surat ketetapan pajak tahun pajak tersbut. Ayat (4) Apabila dalam tahun berjalan diterbitkan surat ketetapan pajak.Penghasilan PT X tahun 2009 Rp 120. yang dipotong atau dipungut oleh pihak lain dan pajak yang dibayar atau terutang diluar negeri.100. sesuai dengan ketentuan Pasal 24. untuk tahun pajak yang lalu.000. maka besarnya angsuran pajak mulai bulan Juli 2010 adalah sebesar Rp 2. .000.000.000.000. Ayat (6) Pada dasarnya besarnya pembayaran angsuran pajak oleh Wajib Pajak sendiri dalam tahun berjalan sedapat mungkin diupayakan mendekati jumlah pajak yang terutang pada akhir tahun.000.000. = Rp 90. apabila terdapat kompensasi kerugian.250. yang disampaikan Wajib Pajak dalam bulan Pebruari 2010. dalam hal-hal tertentu Direktur Jenderal Pajak diberikan wewenang untuk menyesuaikan penghitungan besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak dalam tahun berjalan. lebih besar atau lebih kecil dari angsuran pajak sebelumnya berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN untuk bulan Januari 2010. (satu juta rupiah). perhitungan besarnya angsuran pajak yang harus dibayar adalah sebesar Rp 1.000. Perubahan angsuran pajak tersebut berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan diterbitkannya surat ketetapan pajak.Sisa kerugian yang belum dikompensasikan tahun 2009 Rp 30. misalnya sebesar RAP 1. Dalam bulan Juni 2010 telah diterbitkan surat ketetapan pajak tahun 2009 yang menghasilkan besarnya angsuran pajak setiap bulan sebesar Rp 2.000.000.

B mengalami peningkatan usaha. ketentuan ini memberi kewenangan kepada Menteri Keuangan untuk menetapkan dasar perhitungan besarnya angsuran bulanan selain berdasarkan prinsip tesebut diatas. Contoh 3 : Perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak dapat terjadi karena penurunan atau peningkatan usaha. Penghasilan yang dipakai sebagai dasar penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 25. Ayat (7) Pada prinsipnya penghitungan besarnya angsuran bulanan dalam tahun berjalan didasarkan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun yang lalu.000. penentuan besarnya angsuran pajak didasarkan atas kenyataan usaha atau kegiatan Wajib Pajak.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh 2 : Dalam tahun 2009. yang bergerak dibidang produksi benang dalam tahun 2009 membayar angsuran bulanan sebesar Rp 15. badan usaha milik daerah. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mendekati kewajaran perhitungan besarnya angsuran pajak karena didasarkan kepada data terkini kegiatan usaha perusahaan.000. Dalam bulan Juni 2009 pabrik milik PT.000.000.000. dan penghasilan tidak teratur sebesar Rp 72. apabila PT.000. penghasilan teratur Wajib Pajak A dari usaha dagang sebesar Rp 48. serta Wajib Pajak masuk bursa. Namun. Sebaliknya apabila.B dapat disesuaikan oleh Direktur Jenderal Pajak. Huruf a Bagi Wajib Pajak baru yang mulai menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dalam tahun pajak berjalan perlu diatur perhitungan besarnya angsuran.B dapat disesuaikan menjadi lebih kecil dari Rp 15. dan Wajib Pajak lainnya yang berdasarkan ketentuan diharuskan membuat laporan keuangan berkala perlu diatur perhitungan besarnya angsuran tersendiri karena terdapat kewajiban menyampaikan laporan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan dalam suatu periode tertentu kepada instansi Pemerintah yang dapat dipakai sebagai dasar penghitungan untuk menentukan besarnya angsuran pajak dalam tahun berjalan. PT B. misalnya adanya peningkatan penjualan dan diperkirakan Penghasilan Kena Pajaknya akan mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. badan usaha milik negara. kewajiban angsuran bulanan PT. karena Wajib Pajak belum pernah memasukan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 95 .000. Huruf b Bagi Wajib Pajak yang bergerak dalam bidang perbankan.B terbakar.000. dari Wajib Pajak A pada tahun 2010 adalah dari penghasilan teratur tsb saja. Oleh karena itu berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak mulai bulan Juli 2009 angsuran bulanan PT.

imbalan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23. pajak yang dibayar atau terutang atas penghasilan dari luar negeri yang boleh dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24. besarnya angsuran pajak paling tinggi sebesar 0. berupa : a. baik yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak.1.ayat (5). c. 12. Pajak sendiri pemotongan pajak atas penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal (26).75% (nol koma tujuh puluh lima persen) dari peredaran bruto. d. pembayaran yang dilakukan oleh Wajib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 . (2) Sanksi Administrasi berupa bunga. e. pemungutan pajak atas penghasilan dari kegiatan dibidang impor atau kegitan usaha di bidang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 . f. jasa. ataupun yang dipotong serta dipungut oleh pihak lain. Berdasarkan ketentuan Pasal 28 yang berbunyi sebagai berikut : (1) Bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap. dan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 . royalty. PERHITUNGAN PAJAK PADA AKHIR TAHUN. pemotongan pajak atas penghasilan berupa deviden. yaitu Wajib Pajak orang pribadi yang mempunyai 1(satu) atau lebih tempat usaha.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Huruf c Bagi Wajib Pajak orang pribadi tertentu.3. pajak yang terutang dikurangi dengan kredit pajak uantuk tahun pajak yang bersangkutan . dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan peraturan perundang undangan di bidang perpajakan yang berlaku tidak boleh dikreditkan dengan pajak yang terutang sebagaimana dimkasud pada ayat (1). b. pemotongan pajak atas penghasilan dari pekerjaan. sewa.(kurang bayar). denda. Penjelasan Pasal 28 Ayat (1) Pajak yang telah dilunasi dalam tahun berjalan. dapat dkreditkan terhadap pajak yang terutang pada akhir tahun pajak yang bersangkutan : MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 96 . hadiah dan penghargaan. 12.3. bunga. Perhitungan pada akhir tahun.

kebenaran materil tentang besarnya Pajak Penghasilan yang terutang. Direktur Jenderal Pajak atau pejabat lain yang ditunjuk diberi wewenang untuk mengadakan pemeriksaan atas laporan keuangan. dan catatan-catatan lainnya serta pemeriksaan lain yang berkaitan dengan penentuan besarnya Pajak Penghasilan yang terutang.000. Apabila pajak yang terutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih besar dari pada kredit pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1). Apabila pajak yang terutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih kecil dari jumlah kredit pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1). . 12.000. Penjelasan Pasal 28 A Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 17 ayat (1) Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan. kelebihan pembayaran pajak dikembalikan setelah diperhitungkan dengan utang pajak berikut sanksi-sanksinya.3.pemotongan pajak dari pekerjaan (Pasal 21) Rp 5.000. kebenaran jumlah pajak dan jumlah pajak yang telah dikreditkan.000.pomotongan pajak dari modal (Pasal 23) Rp 5.000. Oleh karena itu untuk kepentingan pemeriksaan pajak. Jumlah Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan Rp 45. . keabsahan bukti-bukti pungutan dan bukti-bukti potongan pajak serta bukti pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri selama dan untuk tahun pajak yang bersangkutan. .000 12. kekurangan pembayaran pajak yang terutang harus dilunasi sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan. dan untuk menentukan besarnya kelebihan pajak yang harus dikembalikan.000. maka setelah dilakukan pemeriksaan.000.3.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh : Pajak Penghasilan yang terutang Rp 80.3. PAJAK YANG LEBIH BAYAR (Pasal 28 A). Kredit pajak : .pemungutan pajak oleh pihak lain (Pasal 22) Rp10. buku-buku.000. Direktur Jenderal Pajak atau pejabat yang ditunjuk berwenang untuk mengadakan pemeriksaan sebelum dilakukan pengembalian atau perhitungan kelebihan pajak.000 Pajak Penghasilan yang masih harus dibayar (Pasal 29) Rp 35. PAJAK YANG KEKURANGAN BAYAR (Pasal 29). Maksud pemeriksaan ini untuk memastikan bahwa uang yang akan dibayar kembali kepada Wajib Pajak sebagai restitusi itu adalah benar merupakan hak Wajib Pajak.000.2. .dibayar sendiri oleh Wajib Pajak (Pasal 25) Rp10.000.000.000.000. Penjelasan Pasal 29 MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 97 . Hal-hal yang harus menjadi pertimbangan sebelum dilakukan pengembalian atau perhitungan kelebihan pajak adalah : a.kredit pajak luar negeri (Pasal 24) Rp15. b.000.

KETENTUAN LAIN-LAIN.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Ketentuan ini mewajibkan Wajib Pajak untuk melunasi kekurangan pembayaran pajak yang terutang menurut ketentuan Undangundang ini sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan. misalnya dimulai tanggal 1 Juli sampai dengan 30 Juni. setelah tahun pajak berakhir. penyusutan dan amortisasi yang dipercepat. pengenaan Pajak Penghasilan atas deviden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 sebesar 10% (sepuluh persen). sedangkan apabila tahun buku tidak sama dengan tahun kalender. kompensasi kerugian yang lebih lama tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun.4. pengurangan penghasilan neto paling tinggi 30% (tiga puluh persen) dari jumlah penanaman yang dilakukan. b. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai bidang-bidang usaha tertentu dan/atau daerah-daerah tertentu yang mendapat prioritas tinggi dalam skala nasional serta pemberian fasilitas perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. kekurangan pajak wajib dilunasi paling lambat tanggal 30 September bagi Wajib Pajak orang pribadi atau tanggal 31Oktober bagi Wajib Pajak badan. Penjelasan Pasal 31 A Ayat (1) Salah satu prinsip yang perlu dipegang teguh didalam Undang-undang perpajakan adalah diterapkannya perlakuan yang sama terhadap semua Wajib Pajak atau terhadap kasus-kasus dalam bidang perpajakan yang hakikatnya sama. dapat diberikan fasilitas perpajakan dalam bentuk : a. kecuali apabila tarif menurut perjanjian perpajakan yang berlaku menetapkan lebih rendah. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 98 . Apabila tahun buku sama dengan tahun kalender. dan paling lambat pada batas akhir penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan. 12. dengan berpegang pada ketentuan perundang-undangan.1. FASILITAS PERPAJAKAN (Pasal 31 A) (1) Kepada Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu dan atau didaerah-daerah tertentu yang mendapat prioritas tinggi dalam skala nasional. dan . d. Oleh karena itu. 12. setiap kemudahan dalam bidang perpajakan. bagi Wajib Pajak orang pribadi Atau 30 April bagi Wajib Pajak badan. kekurangan pajak tersebut wajib dilunasi paling lambat tanggal 31 Maret. c. jika benar-benar diperlukan harus mengacu kepada kaidah diatas. dan perlu dijaga agar didalam penerapannya tidak menyimpang dari maksud dan tujuan diberikannya kemudahan tersebut.4.

800.000. dari tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp 4. untuk Pemerintah Pusat.000.000. KERINGANAN TARIF. PEMBAGIAN PENERIMAAN PAJAK PENGHASILAN Berdasarkan Pasal 31 C.000. (empat milyar delapan ratus juta).4. Penjelasan Pasal 31 E Ayat (1) Contoh 1.(empat milyar lima ratus juta rupiah).000.2.000. (lima ratus juta rupiah).000. = Rp 70. Pajak Penghasilan yang terutang = (50% x 28%) x Rp 500. Penghitungan pajak yang terutang : Seluruh penghasilan kena pajak yang diperoleh dari peredaran bruto tersebut dikenai tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif Pajak Penghasilan badan yang berlaku karena jumlah peredaran bruto PT Y tidak melebihi Rp 4. 12.000. investasi. Peredaran bruto PT Y dalam tahun pajak 2009 sebesar Rp 4. dan/atau didaerah-daerah tertentu yang mendapat prioritas tinggi dalam skala nasional.000. dan 20% (dua puluh persen) untuk Pmerintah Daerah tempat Wajib Pajak terdaftar.4. mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% (lima puluh persen). (lima puluh milyar). MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 99 . 12.000.000. (2) Besarnya bagian peredaran bruto sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dinaikan dengan Peraturan Menteri Keuangan. (empat milyar delapan ratus juta rupiah).500. dan bidang lainnya.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Tujuan diberikannya kemudahan pajak ini adalah untuk mendorong kegiatan investasi langsung di Indonesia baik melalui penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri di bidang-bidang usaha tertentu. (Pasal 31 E) (1) Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp 50.000.000. Ketentuan ini juga dapat digunakan untuk menampung kemungkinan perjanjian dengan negara-negara lain dalam bidang perdagangan. dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 500.800.000. ayat (1) Penerimaan negara dari Pajak Penghasilan orang pribadi dalam negeri dan Pajak Penghasilan Pasal 21 yang dipotong oleh pemberi kerja dibagi dengan imbangan 80% (delapan puluh persen).3.

000. JAWABLAH PERTANYAAN INI DENGAN SINGKAT DAN JELAS.000. 12.000.000.520.000. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas : Rp 4. Pasal 29. Kepada Wajib Pajak yang bagaimana dapat diberikan fasilitas perpajakan.000.000. Jelaskan Rumus umum dalam menetapkan besarnya angsuran PPh. 3. 4. 6.000.000. Besarnya angsuran PPh. Kapan timbulnya PPh. Terangkan juga kedudukan pemotongan dan pemungutan tersebut pada perhitungan pajak akhir tahun.600. 5.000. Rp 30. 8.(tiga milyar rupiah).480. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 100 .000.520. apa yang dimaksud dengan hal-hal tertentu tersebut.800.000.5. bagaimana pengaruhnya terhadap besarnya angsuran PPh. (tiga puluh milyar).= Rp 67.000. b.000.000 . Jika Wajib Pajak mendapatkan SKP untuk tahun pajak yang lalu. Bagaimana sistem pelunasan pajak dalam tahun berjalan.000. Jenis-jenis pelunasan pajak mana yang : a. Melalui Pemotongan . dan apa pula yang dimaksud PPh.000. LATIHAN.000.000. dan sebutkan jenis-jenis fasilitas tersebut.000  28% x Rp 2. Penghitungan Pajak Penghasilan terutang : 1. x Rp 3.000. Pajak penghasilan terutang :  (50% x 28%) x Rp 480. dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 3.000.000. Pasal 25 tahun berjalan.200.000 2 Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas: (Rp) 3. 7.000.000. Apa yang mendasar pemikiran adanya kewajiban pembayaran pajak dalam tahun berjalan. 9.= Rp 480.000.000 = 2. Pasal 25 mempunyai ketentuan tersendiri dalam hal-hal tertentu. Peredaran bruto PT X dalam tahun pajak 2009 sebesar Rp 30. Pasal 25. 2.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh 2. = Rp 705.000. Pasal 28 A. Melalui Pemungutan. 1.800. Jumlah PPh. yang terutang = Rp 772.000.

Bagi Wajib Pajak BUMN. yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan. Pelunasan pajak dalam tahun berjalan dapat dilakukan oleh Wajib Pajak melalui : a. termasuk yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak dikreditkan dengan PPh. diatur tersendiri besarnya pembayaran angsuran PPh.Pasal 25 dipakai ketentuan. dan Wajib Pajak yang diwajibkan membuat laporan keuangan berkala.000. yang disebut dengan PPh. seperti Wajib Pajak yang terlambat menyampaikan SPT Tahunan. dan disebut pemotongan PPh. Pemungutan oleh pihak lain atas kegiatan Impor dan penjualan barang kepada pemungut (PPh. grey). Untuk meringankan beban utang pajak pada akhir tahun. kecuali apabila Wajib Pajak mendapat Surat Ketetapan Pajak untuk tahun pajak yang lalu tersebut. Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu. Pasal 28A). 3. 1. jumlah pajak terutang menurut SPT Tahunan tahun pajak yang lalu. atau mendekati jumlah pajak terutang pada akhir tahun pajak. Seluruh pemotongan dan pemunugtan tersebut diatas. PT D. dari peredaran bruto tiap bulan untuk setiap tempat (out let. Wajib Pajak mengalami kelebihan pembayaran pajak (PPh. Pasal 25 untuk tahun berjalan. Pasal 25. RANGKUMAN. Bank.Psl 29). 8. Apabila dari hasil pengkreditan tersebut ternyata jumlah pajak yang terutang lebih besar dari kredit pajak maka terdapat pajak yang kurang bayar (PPh. diintrodusir pembayaran pajak dalam tahun berjalan yang disebut angsuran PPh.) 2. 5. Pasal 22). MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 101 . Pasal 21. dan Wajib Pajak yang melakukan pembetulan SPT Tahunan Pajak Penghasilannya. yaitu penghasilan dari hubungan kerja/pekerjaan/kegiatan. atau sesuai dengan masa pajaknya. Dalam menentukan besarnya angsuran PPh. b.75 (nol koma tujuh puluh lima persen). Pasal 24. 12. 7.000. Pasal 25 dihitung tersendiri dalam hal-hal tertentu. dikurangi dengan kredit pajak (Pasal 21. adanya penghasilan tidak teratur. sebesar 0.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 10.000.Pasal 23.6. ditetapkan besarnya angsuran PPh.000. 6. 22. Pasal 25. Jelaskan besarnya Pajak Penghasilan terutang berdasarkan aturan Pasal 31 E. Tahun 2010 memperoleh penghasilan bruto sebesar Rp 40. serta pajak yang dibayar/dipungut diluar negeri (PPh. dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 3. serta penghasilan dari modal dan harta serta kegiatan jasa. hasilnya dibagi 12 (dua belas).BUMD. 23. Menyimpang dari ketentuan seperti dimaksud pada angka (5) diatas. Pemotongan. WP yang masih memperhitungkan kompensasi kerugian. 4.Pasal 24). sebaliknya kalau kredit pajak lebih besar dari pajak terutang.600. serta pajak yang diluar negeri-PPh.000. maka jumlahnya disesuaikan dengan pajak terutang menurut SKP. terjadi perubahan usaha/kegiatan Wajib Pajak. angsuran PPh.

b. dan berlaku bulan berikutnya setelah terbitnya SKP tersebut. Sesuai dengan besarnya pajak terutang menurut SKP. angsuran PPh. Pasal 25. Wajib Pajak yang kepadanya diterbitkan Surat Ketetapan Pajak tahun pajak yang lalu. b.000. Terutang. c. c. Test Formatif. Terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan. 5. Ditentukan oleh Wajib Pajak sendiri berdasarkan prinsip selfassessment. untuk penghasilan kena pajak sampai dengan Rp 4. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 102 . b. sebesar 50% (lima puluh persen). 2.Wajib Pajak badan dalam negeri yang peredaran usahanya sampai dengan Rp 50. 4. kaitannya dengan angsuran PPh. Apabila terjadi perubahan usaha/kegiatan Wajib Pajak. Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan atas terbitnya SKP tersebut.. Bersifat final dan tidak dapat dikreditkan dengan PPh. Dalam memenuhi utang pajak yang akan terutang pada akhir tahun : a. 12. merupakan pembayaran pajak : a. dan dibayar sendiri melalui angsuran bulanan. a. Berdasarkan pajak terutang menurut SPT Tahunan tahun pajak yang lalu. Pilihlah jawaban yang paling tepat diantara a. c. atau c.000.000. (empat milyar delapan ratus juta rupiah). Menunggu diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak. Membuat perjanjian dengan Direktur Jenderal Pajak akan dilunasi pada akhir tahun.1. dikurangi dengan kredit pajak hasilnya dibagi 12.7. karena ada pedoman pajak terutang menurut SPT Tahunan tahun pajak yang lalu. Wajib Pajak tidak perlu melakukan perubahan perhitungan Angsuran PPh. Menurut besarnya pajak terutang menurut SKP tersebut dan barlaku sejak batas terakhir penyampaian SPT Tahunan PPh. Besarnya angsuran PPh. (lima puluh milyar rupiah). b. 1. Yang dapat dikreditkan dengan PPh. 10. 3.800.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 9. Wajib pajak diberi kesempatan memenuhinya melalui pemtongan.000. Pasal 25 yang dibayar sendiri Wajib Pajak : a. Tidak ada kaitannya dengan pembayaran pajak tahun berjalan. yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. b.7. 12. Pasal 4 ayat (2). karena Wajib Pajak telah menyetor sesuai dengan SPT. Ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak melalui penerbitan Surat Ketetapan Pajak (SKP). Pasal 25 adalah .000. diwajibkan membayar Fiskal luar negeri. c. atau sesuai dengan masa pajaknya. Pelunasan PPh. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang bepergian keluar negeri yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Pasal 25 nya : a. mendapat pengurangan tarif Pasal 17. pemungutan.

Penghasilan neto menurut Norma Penghitungan yang disetahunkan. dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak. c. dan sebesar 20% (dua puluh persen). Pengurangan tarif sebesar 50% Pajak Penghasilan diberikan bagi Wajib Pajak badan dalam negeri yang : a.000.000. Semuanya menjadi penerimaan Pemerintah Pusat.000. dimana WP bertempat tinggal. Jawaban a dan b diatas tidak ada yang benar. Penerimaan negara dari Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri dan PPh. b. Peredaran usaha sampai dengan Rp 50. c. b. Bagi Wajib Pajak baru yang menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto besarnya angsuran PPh. Peredaran usaha tidak lebih Rp 50. Sebesar 80% (delapan puluh pesen) untuk Pemerintah Daerah. Untuk Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 4. Tidak ada kewajiban penyetoran PPh. c. pada waktu akan menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan.000. Dijadikan biaya usaha yang dapat mengurangkan penghasilan kena pajak. c.000.Pasal 25 ditetapkan : a. c. hasilnya dibagi 12 (dua belas).000. b.000. Diperhitungkan dengan kredit pajak pajak.000. dan apabila terdapat kelebihan bayar maka tidak dapat diminta pengembalian. Pasal 25 Wajib Pajak baru karena belum ada Surat Pemberitahuan Tahunan.000. Pajak yang terutang pada akhir tahun setelah Wajib Pajak mengisi Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan : a. Pasal 21 dibagi sebagai berikut : a. MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 103 . yang berkaitan dengan penghasilan yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2).000. kemudian ditarif dengan tarif Pasal 17.000. untuk Penghasilan Kena Pajak sampai dengan Rp 4.000. yang berkaitan denga pelaksanaan Undang-undang perjakan a. Wajib Pajak harus menyesuaikan besarnya angsuran PPh. 9. Dapat diperhitungkan sebagai pengurangan dari pajak terutang. Sanksi administrasi perpajakan seperti bunga. 6. untuk Pemerintah pusat. Tidak diperhitungkan dengan pembayaran PPh. denda dan kenaikan pajak. 7.800.000.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN b.000. Diperhitungkan saja pada akhir tahun pajak. dengan peredaran bruto diatas Rp 50.800. Pasal 25 dengan perubahan yang terjadi .800. Apabila terdapat kekurangan bayar maka harus disetor lagi paling lambat 31 Desember dari tahun pajak yang bersangkutan 8. Penghasilan neto menurut norma penghitungan ditarif dengan tarif Pasal 17. 10. b. 80% (delapan puluh persen) untuk Pemerintah Pusat. dan 20% (dua puluh persen) untuk Pemerintah daerah. b. c. untukPenghasilan Kena Pajak diatas Rp 4.

.)... (... dengan pengisian pada (.. 1...... Pilih jawaban B (Betul). Kepada Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal dibidangbidang usaha-usaha tertentu dan daerah tertentu diberikan fasilitas perpajakan antara lain penyusutan dan amortisasi yang dipercepat.000.) 6... 4. Pasal 25 bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri pengusaha tertentu ditetapkan 0....) MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 104 ..75% dari peredaran bruto (.7. maka Wajib Pajak harus menyetor kekurangannya yang dinamakan Pajak Penghasilan Pasal 28 A (..2.. Pasal 25 besarnya ditentukan menurut peredaran usaha tahun pajak yang lalu. maka besarnya angsuran PPh.....).. (...).000.... Pasal 23) sebesar Rp 12. dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan dari bagian tahun pajak yang lalu. dengan kredit pajak (Pasal 21.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 12. Ketentuan yang tercantum dalam Pasal 31 E ( pengurangan tarif sebesar 50%) dari tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a). besarnya Rp 60..... Pelunasan pajak dalam tahun berjalan hanya dapat dilakukan oleh Wajib Pajak sendiri melalui penyetoran sendiri.) Apabila pajak yang terutang pada akhir tahun jumlahnya lebih besar dari kredit pajak... 8... Pasal 25 tahun 2010 adalah Rp 5.... 2 Pajak yang dibayar atau dipungut diluar negeri (Psl 24).. berlaku juga bagi Wajib Pajak luar negeri (. Wajib Pajak A.) 7.. sebagai akibat pajak terutang lebih besar dari kredit pajak (. adalah Pajak Penghasilan yang dibayar pada waktu mengisi Surat Pemberitahun Tahunan apabila terjadi kekurangan bayar. 9...).... Besarnya angsuran PPh. Pajak Penghasilan Pasal 29.. Angsuran PPh..000.000....000...). (. 10.) 3.... diatur dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak (. 5. (........... Ketentuan perpajakan dibidang usaha pertambangan minyak dan gas bumi..000.). Pajak terutang tahun 2009. (. atau S (Salah).... dapat dikreditkan dengan PPh yang terutang dalam negeri asal memenuhi ketentuan.

8. 6. Saudara dapat meneruskan dengan modul berikutnya. 12. = Kurang.8. 2. S (Salah). 8. 10. B (Betul).2. 9. Arti tingkat penguasaan yang dicapai : 90% 80% 70% 69% . a. 5.89% . hasilnya dikalikan 100% (seratus persen). 10. c. 9. Cocokanlah jawaban Saudara dengan Kunci Jawaban Test Formatif. b. 8. S (Salah). 12. Umpan Balik. Jawaban B (Betul). B (Betul). a. c.79% atau kurang = Baik sekali. ------Selamat belajar dan mencoba----=== fm=== MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 105 . B (Betul). Rumus . = Baik. Bila Saudara mencapai tingkat penguasaan 80% (delapan puluh persen). Jawaban Pilihan yang paling tepat. Kemudian gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Materi Kegiatan Belajar. 3. 7. a. Tingkat penguasaan = Jumlah jawaban Saudara yang benar dibagi dengan jumlah soal. S (Salah). c. 4. dan hitunglah jawaban Saudara yang benar. 6.100% .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 12. S (Salah). Saudara harus mempelajari kembali Kegiatan Belajar tersebut. c.1. B (Betul). = Cukup. 3. 7. S (Salah). atau lebih. B (Betul). atau S (Salah). b. 12. 1. b.8. 2. KUNCI JAWABAN Test Formatif. 4.9. Tetapi bila tingkat penguasaan kurang dari 80% (delapan puluh persen). 1. 5.

Undang-Undang No. 6. Eresco. Bandung Tahun 1984. 28 Thn 2007-KUP. Eresco. telah dirubah dan 7.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN a. 8 Tahun 1967. Direktorat Jenderal Pajak 1969. Peraturan Dirjend Pajak. 7 Tahun 1983.11 Tahun pelaksanaan MPS-MPO. Keputusan Menteri Keuangan. Daftar Kepustakaan. PP. Penerbit PT. Bandung Tahun 1984. Undang-Undang No. sebagaimana telah dirubah dan disempunakan terakhir dengan UU No. Eresco. yang berkaitan dengan pelaksanaan Pajak Penghasilan. 6 Tahun 1983. sebagaimana disempurnakan terakhir dengan UU No. Undang-Undang PBDR 1970. ------fm---- MODUL PAJAK PENGHASILAN@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 106 . 2. dan PP No. Penerbit PT. 1925. Penerbit PT. Undang-Undang No. 36 Tahun 2008. dan Keputusan Direktur Jenderal Pajak . Ordonansi PPs. 8. PMK. Tentang Pajak Penghasilan. 1967. Tatacara 5. 1944. Bahan ajaran dan panduan untuk mata pelajaran Pajak Penghasilan. Bandung 1978. 1. 3. Keputusan Presiden. 4. Ordonansi PPd.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times