HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KEMANDIRIAN ANAK TK PANGUDI LUHUR BERNARDUS SEMARANG TAHUN AJARAN 2004

/ 2005 SKRIPSI Diajukan dalam rangka menyelesaikan Studi Strata 1 Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan Oleh : Nama NIM Jurusan Fakultas : Anastasia Kiswanti : 1401901084 : Pendidikan Sekolah Dasar S1 PY : Ilmu Pendidikan UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES) 2004 / 2005 PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi Pembimbing I Pembimbing II Dra. Tri Esti Budiningsih NIP. 131 570 067 Drs. Kustiono, M.Pd NIP. 132 050 308 Mengetahui Ketua Jurusan Drs. Zoedindarto BDH NIP. 130 345 749 ii PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang Pada hari Tanggal : Selasa : 16 Agustus 2005 Pe nitia Ujian Skripsi Ketua Sekretaris Drs. Siswanto, MM NIP. 130 515 769 Drs. Zoedindarto BDH NIP. 130 345 749 Penguji I Penguji II Penguji III Drs. Sukardi, M.Pd NIP. 131 676 923 Dra. Tri Esti Budiningsih NIP. 131 570 067 Drs. Kustiono, M.Pd NIP. 132 050 308 iii PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar benar hasil karya saya sendiri dan kutipan yang terdapat dalam skripsi dikutip dari referensi buku-buku yang ada hubungannya dengan pola asuh orang tua atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah yang semestiya. Semarang, Agustus 2005 Yang membuat pernyataan, Anastasia Kiswanti NIM. 1401901084 iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN Berilah kasih kepada seorang anak, dan engkau akan mendapat kasih itu kembali (John Ruskin) Guru mendidik perserta didik dengan berprinsip ³ajrih ±asih´ dalam atmosphere sekolah yang penuh kekeluargaan, kesetiakawanan, saling memajukan diri. (YB. Mangunwijaya, PR) Skripsi ini kupersembahkan kepada : 1. Suami dan anakku tercinta 2. Kedua orangtua dan keluargaku tersayang 3. Sahabat dan rekan -rekan kerja yang tercinta v PRAKATA Penulis bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa ,yang telah memberikan berkat dan kasih sehingga dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini . Skripsi ini dapat tersusun berkat bantuan beberapa pihak .Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. A.T. Sugito , S.H, M.M; selaku Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan belajar di Universitas Negeri Semarang. 2. Drs. Siswanto, MM; selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan yang telah memberikan kesempatan belajar di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. 3. Drs. Zoedindarto Boediharto, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar (PSD) Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan dukungan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan 4. Dra. Tri Esti Budiningsih, selaku Pembimbing I yang membimbing dengan baik dalam proses penulisan skripsi ini dari awal hingga akhir penyusunan. 5. Drs. Kustiono, MPd; selaku Dosen Pembimbing II

yang telah membimbing penulis sejak awal hingga penyelesaian skripsi ini. 6. BR. Arnodus M.FIC, selaku kooedinator TK-SD PL Bernardus yang telah memberikan motivasi dan bantuan selama penulisan skripsi ini. 7. Ibu Maria Yulimah, selaku kepala TK. PL Bernardus, yang telah memberikan dorongan baik spiritual maupun material kepada penulis dari awal hingga akhir. 8. Responden / orangtua yang banyak bekerjasama dalam penelitian ini. vi 9. Rekan-rekan guru di unit kerja TK. PL. Bernardus, yang telah banyak membantu selama penulisan skripsi ini. Pihak-pihak lain yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dalam penelitian ini. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih ada kekurangannya. oleh karena itu segala kritik dan saran pembaca sangat diharapkan. Semoga penelitian ini tetap dapat memberi arti bagi pembaca dalam pemenuhan informasi ilmiah. Semarang, Agustus 2005 Penulis vii SARI ANASTASIA KISWANTI. 2005. Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kemandirian Anak Tk Pangudi Luhur Bernardus Semarang Tahun Ajaran 2004 / 2005. Skripsi Jurusan PGSD S-1, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang, Pembimbing I. Dra. Tri Esti Budiningsih, Pembimbing II Drs. Kustiono, M.Pd. Kata kunci : Pola asuh orang tua, kemandirian anak TK. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam menumbuh kembangkan anak. Peran keluarga menjadi begitu penting dalam membentuk beberapa sikap dasar yang akan menentukan perkembangan kepribadiannya di masa depan. Pada tahap awal perkembangan, peran keluarga yang utama adalah memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan rasa aman bagi anak sehingga anak mampu mengembangkan dasar kepercayaan terhadap lingkungan. Kemandirian anak sudah harus tumbuh pada usia prasekolah agar kepercayaan dirinya bisa tumbuh dan berkembang dengan wajar. Seorang anak merasa perlu untuk mandiri dan memang ada dorongan nalurinya untuk menjadi mandiri. Skripsi ini bertujuan untuk menguji ada tidaknya hubungan antara pola asuh orangtua dengan kemandirian anak.Penelitian dilakukan di TK Pangudi Luhur Bernardus Semarang, dengan obyek penelitian siswa dan orangtua anak yang bersangkutan. Instrumen yang digunakan adalah angket pola asuh orangtua yang meminta jawaan dari orangtua siswa untuk mengetahui pola asuh yang mereka terapkan. Penelitian ini juga menggunakan metode observasi yang mengamati tingkat kemandirian siswa di sekolah. Baik angket maupun observasi dinilai dengan skala 1 sampai 4. Uji validitas dan reliabilitas instrumen dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan pengujian selanjutnya. Pengujian ada tidaknya hubungan antara pola asuh orangtua dan kemandirian siswa diuji dengan analisis korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orangtua memiliki hubungan yang cukup kuat dengan kemandirian anak dimana diperoleh nilai korelasi sebesar 0,613. Hal ini menunjukkan akan perlunya pemberian sedikit toleransi kepada anak untuk diberikan pola asuh yang benar agar dapat memicu anak untuk dapat melakukan segala sesuatunya secara mandiri. Berdasarkan simpulan

analisis ini disarankan kepada: (1) orangtua untuk lebih meningkatkan sikap positif mereka terhadap program-program dalam rangka mendidik anak untuk memiliki kemandirian yang besar, (2) bagi orang tua agar dapat mendampingi putra-putrinya belajar dan membimbing mereka untuk menentukan cara atau jalan mereka yang terbaik supaya lebih mandiri, (3) bagi pendidik, diharapkan mampu memberikan contoh da n perilaku mandiri kepada siswa. viii

............................................... DAFTAR TABEL ........................................................ Pengujian Instrumen ............................ E....................................... Hipotesis ...............................................DAFTAR ISI Halaman JUDUL ................................................................. F.................................... Latar Belakang Masalah .. Pendidikan Taman Kanak -Kanak ......................... B...... A............................ .................... Variabel Penelitian ..... Kesimpulan ........................................................ D................. E.......................... 45 45 51 54 BAB V PENUTUP ......................... D............ B........................................................................... 1 1 4 4 5 5 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS ............................................. PERNYATAAN ......... Kemandirian ...................................................................................... Sis tematika Skripsi.. Analisa Data ..................................................................................... PERSETUJUAN PEMBIMBING... 4.. Tinjauan Pustaka ...... 8 8 8 16 25 28 30 ix BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................................................................................................................................ 56 56 56 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN x DAFTAR TABEL Tabel Halaman 37 41 49 50 51 ..................................................................................................................... Hubungan Pola Asuh terhadap Kemandirian Anak di Taman Kanak-Kanak ................................................. DAFTAR GAMBAR ................ A............................................................................................. 2........................................................................................................................................................................................................... Tujuan Penelitian ......................................................................... Penegasan Istilah.... B.................. 3............................... Sampel .................. A................................................................... i ii iii IV v vi viii ix xi xii xiii BAB I PENDAHULUAN ........................ PENGESAHAN KELULUSAN .................................................... B.............. ........................................... Pola Asuh Orangtua ................. 1................................................................................................................ Populasi .............................................. Saran -Saran .......................................................................................... C......................................................... Persiapan Penelitian ........................................... B............................................. Metode Pengumpulan Data ............................................................................................................... PRAKATA ......................................... A............................................................................................................................................................................... A........... MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................... SARI....... Manfaat Penelitian ....... 31 31 31 32 36 42 43 BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ....... Pembahasan ....................................................... Permasalahan .......... DAFTAR LAMPIRAN ........ DAFTAR ISI .................... F.............................................................................. C........................................ Metode Analisa Data ............................. C................

...... 3............3 4.......................................... Siswa mampu tampil di depan kelas . xiii ........ Rancangan Skala Pola Asuh Orangtua ...........2.......................................... 4 5................................................................. Hasil Perhitungan Validitas Observasi Kemandirian Siswa ..... 3........... xi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 2 3 4 5 6 7 Halaman 60 64 65 68 69 77 80 Angket.... xii DAFTAR GAMBAR Gambar 1......... 4.................. Rancangan Observasi Kemandirian Siswa ....................... Siswa memakai sepatu sendiri ....... Skor hasil Observasi Kemandirian Siswa ........................................................ Hasil PerhitunanValiditas Angket Pola Asuh ..................... 4. Hasil uji korelasi .......................... 2..................4 Skala Pola Asuh Orangtua yang Valid .................................. Siswa bisa mencuci tangan sendiri sampai bersih ........ Hasil pengujian reliabilitas ..............................1... Nilai Reliabilitas ......................... Lembar Observasi Kemandirian Siswa ........................................................................ Siswa makan minum sendiri tanpa bantuan orang lain ............................................52 3.................................................... Halaman 81 82 83 84 85 Siswa berani bertanya secara sederhana .................................................................... Korelasi hasil uji validitas ....................................................2 4........................................................................................................................................................... Skor hasil angket Pola Asuh Orangtua ..........................1..................................................

Namun jika anak mampu mengembangkan rasa percaya diri dan sikap mandiri. maka anak akan berani mengambil inisiatif untuk secara bebas melakukan segala sesuatu atas kemauan sendiri. proses pendidikan maupun nilai -nilai yang harus dikembangkan bagi anak untuk menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks. Tiap lingkungan memberikan pengaruh pada proses pembentukan individu. Bila Indonesia modern di masa depan mengisyaratkan perlunya manusia manusia pembangunan yang kreatif. maka yang terjadi adalah berkembangnya rasa ragu -ragu. Jika pada tahap ini seorang anak tidak mendapatkan dukungan keluarganya. peran keluarga yang utama adalah memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan rasa aman bagi anak sehingga anak mampu mengembangkan dasar kepercayaan terhadap lingkungan. Drost (1998:63). pujian dan dorongan sehingga timbul rasa percaya diri. Dia memerlukan orang lain dan dukungan lingkungan agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam menumbuh kembangkan anak. Dunia pendidikan dituntut memberikan respon lebih cepat terhadap perubahanperubahan yang tengah berlangsung di masyarakat.BAB I PENDAHULUAN A. Peran orang tua adalah membangun rasa mandiri da n percaya diri anak dengan pengakuan. pengetahuan. Perubahan akan terjadi jika ada pengaruh dari lingkungan dan orang lain di sekitarnya. baik dalam visi. Seorang anak merasa perlu untuk mandiri dan memang ada dorongan nalurinya untuk menjadi mandiri. Tanpa pendidikan dengan lingkungan hidup. Kemandirian anak sudah harus tumbuh pada usia prasekolah agar kepercayaan dirinya bisa tumbuh dan berkembang dengan wajar. maka dunia pendidikan yang harus mempersiapkan dan menghasilkannya. . Pada tahap awal perkembangan. Tidak ada seorangpun yang dapat membangun hidupnya sendiri dari awal dengan kekuatannya sendiri. mandiri inovatif dan demokr atis. mengemukakan bahwa peran orang tua dalam membimbing adalah sebagai pendidik utama untuk mempersiapkan anak menghadapi dunia pendidikan formal. Masyarakat pasca modern saat ini menghendaki perkembangan total. melalui proses pendidikan yang diterimanya. LATAR BELAKANG MASALAH Pendidikan merupakan kunci bagi suatu bangsa untuk bisa menyiapkan masa depan dan sanggup bersaing dengan bangsa lain. Peran keluarga menjadi begitu penti ng dalam membentuk beberapa sikap dasar yang akan menentukan perkembangan kepribadiannya di masa depan. 2002:1) Seorang anak tidak dapat tumbuh dan berkembang tanpa adanya pengaruh dari orang lain. kehidupan yang senantiasa berubah.(Widayati. Keluarga dapat mendorong hal ini dengan memberikan kesempatan untuk menentukan sendiri apa yang ingin dilakukan anak.

Dari analisis diketahui data skor kemandirian siswa kelas I SD yang berasal dari TK menunjukkan kriteria baik dan skor kemandirian siswa kelas I SD yang bukan berasal dari TK menunjukkan kriteria cukup. Disisi lain pengasuh sekedar menjalankan tugas mengasuh anak. mainan. . TUJUAN PENELITIAN Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah : 1. PERMASALAHAN Bagi orang tua dalam mendidik anak dengan pola asuh yang benar dapat mewujudkan atau meningkatkan kemandirian yang ada dalam diri anaknya. 2. Penelitian Ason (1998:143) yang berjudul ³Kontribusi Pola Asuh Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Peserta Didik di SD Pangudi Luhur Bernardus´ menyatakan bahwa pola asuh orang tua memberikan kontribusi terhadap prestasi belajar peserta didik. Hal tersebut membuat anak menjadi kebiasaan dibantu orang lain sehingga waktu sekolah menjadi kurang mandiri. Bila ada. Mengetahui seberapa besar hubungan pola asuh orang tua dengan kemandirian Anak Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang. Dalam penelitian Komariyah (2002:49) tentang ³Studi Komparatif antara Kemandirian Siswa Kelas I SD yang berasal dari TK dengan yang bukan berasal dari TK´. Pola asuh orang tua diduga kuat ada kaitannya dengan kemandirian seorang anak pada masa belajar di taman kanak-kanak. maka perlu dilaksanakan penelitian dengan judul : ³Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kemandirian Anak TK Pangudi Luhur Bernardus Semarang tahun Ajaran 2004 / 2005´ B. Pola asuh yang dimaksud adalah dapat terjadinya komunikasi dua arah antara orang tua dengan anak.3 Menurut Triyon dan Lilienthal (Moeslichatoen. jurnal penelitian dan diperkuat beberapa teori tersebut di atas. segala sesuatu dibantu supaya anak tidak rewel dan merasa senang. Apakah ada hubungan pola asuh orang tua dengan kemandirian Anak di Taman Kanakkanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang ? 2. memberi makan. dinyatakan bahwa kemandirian siswa kelas I SD yang berasal dari TK dengan yang bukan berasal dari TK ada perbedaan. 4 Dengan adanya fenomena yang ada. 1999:4) tugas -tugas perkembangan masa kanak -kanak awal yang harus dijalani anak taman kanakkanak adalah berkembang menjadi pribadi yang mandiri yang berarti berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab untuk melayani dan memenuhi kebutuhan sendiri pada tingkat kemandirian yang sesuai dengan tingkat usia taman kanak-kanak. Mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan kemandirian Anak di Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang. maka permasalahan yang dapat muncul dalam penelitian ini adalah: 1. Penulis melihat adanya fenomena atau gejala para orang tua terlalu mempercayakan anak pada pengasuh karena mereka sibuk bekerja sendiri. seberapa besar hubungan pola asuh orang tua dengan kemandirian Anak Taman Kanakkanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang ? C.

1976:362). 3. Bagi Taman Kanak-kanak Pengudi Luhur Bernardus. E. 2001:1). Perilaku orang tua dalam mendidik anak mereka ini dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: perilaku otoriter. memberikan tambahan wawasan dan dapat disempurnakan dalam penelitian yang lebih lanjut atau lebih sempurna.5 D. penegasan istilah dan sistematika skripsi. SISTEMATIKA SKRIPSI Dalam penulisan skripsi ini terdiri atas lima bagian bab sehingga dapat dijelaskan sebagai berikut: 7 Bab I Pendahuluan Menguraikan tent ang latar belakang permasalahan. metode pengumpulan data dan teknik analisa data. 2. variabel penelitian. yang dijadikan nama pelindung sekolah dengan harapan keutamaankeutamaan yang dimiliki Santo Bernardus dapat dijadikan contoh teladan bagi anak didik (Nikolaas. memberikan peningkatan dalam mengasuh anak untuk lebih mandiri. Hubungan pola asuh terhadap kemandirian anak di Taman kanak-kanak. Taman Kanak -kanak Pangudi Luhur Bernardus Taman Kanak-kanak merupakan suatu lembaga pendidikan non formal yang dilakukan sebelum memasuki jenjang sekolah dasar (Depdikbud. per ilaku demokratis dan perilaku laissez -faire. 1986: 27). Hubungan Hubungan adalah keadaan berhubungan atau dihubungka n dengan hal lain (Purwodarminto. 1993: 14). (Sumardjo. 4. 1997: 412). 6 3. maka perlu diberikan penegasan istilah sebagai berikut: 1. Sedangkan Bernardus adalah nama seorang santo atau orang suci. guru dan sekolah yaitu: 1. pendidikan taman kanakkanak yang mencakup ciri-ciri pendidikan taman kanak-kanak. F. tujuan penelitian. interaksi belajar mengajar di taman kanak-kanak. tidak bergantung pada orang lain sampai batas kemampuannya. Kemandirian Yang dimaksud kemandirian adalah kemampuan mengatur diri sendiri sesuai dengan hak dan kewajiban. MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada orang tua. tugas-tugas perkembangan. 1992:87). PENE GASAN ISTILAH Untuk menjaga agar jangan sampai terjadi salah penafsiran ataupun menimbulkan beberapa penafsiran dalam mengartikan judul. Bab III Metodologi Penelitian Berisi tentang populasi dan sampel. yaitu yayasan yang bergera k dibidang pendidikan dan pembinaan serta mengelola sekolah dari tingkat TK sampai dengan SLTA. mampu bertanggungjawab atas keputusan. perumusan masalah. langkah -langkah . Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan Berisi persiapan penelitian. Taman Kanak-kanak Bernardus dikelola oleh Yayasan Pangudi Luhur. 2. Bagi Civitas Akademik. Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan pola asuh orang tua dalam mendidik anak dalam lingkungan keluarga. kemandirian yang mencakup pengertian dan sikap kemandirian anak TK. Bab II Landasan Teori Menguraikan tentang pola asuh orang tua yang mencakup pengertian macam -macam pola asuh. Pola Asuh Pola asuh adalah perilaku orang tua dalam mendidik anak-anak mereka (Idris. manfaat penelitian. tindakan dan perasaannya sendiri serta mampu membuang pola perilaku yang mengingkari kenyataan (Sukadji.

Masing-masing dari ketiga perilaku orang tua tersebut memiliki ciri -ciri tersendiri dan berkaitan erat dengan peranan orang tua sebagai pendidik dalam hubungannya dengan pola asuh. 1998:109). 1988:20) mengartikan pola asuh sebagai sikap orang tua terhadap anaknya. ciricirinya adalah sebagai berikut: (a) Anak harus mematuhi peraturan-peraturan orang tua dan tidak boleh membantah. KAJIAN PUSTAKA 1. Tingkah laku lekat merupakan tingkah laku yang khusus bagi bayi. 1992:87). Macam -Macam Pola Asuh Ketika mendidik anak ditemukan bermacam-macam perilaku orang tua. namun dapat timbul lebih banyak tergantung dari banyak sedikitnya orang yang mengasuh anak tersebut. Secara teoritis perilaku orang tua tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga. b. dan dari sinilah pola asuh orang tua mulai diberikan kepada anaknya. Pola Asuh Orang Tua a. yaitu otoriter. (Idris. Sering mengadakan reaksi terhadap tingkah laku anak. yaitu kecenderungan dan keinginan seseorang untuk mencari kedekatan dengan orang lain. (b) Orang tua cenderung mencari kesalahan kesalahan pada pihak anak. Dengan tingkah laku lekat inilah anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orang yang dilekatinya. (f) Orang tua cenderung menentukan segala sesuatu untuk anak. Biasanya tingkah laku kelekatan tidak hanya pada satu orang saja. demokratis. dan kemungkinan menghukumnya. Bab V Penutup Berisi mengenai kesimpulan dan saran dari hasil penelitian di Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS A. tetapi orang tua harus mengadakan kontak sosial dengan anak. yang dimaksudkan yaitu untuk menarik perhatian dari anak tersebut. dengan kontak sosial itulah akan menimbulkan tingkah laku lekat terhadap anaknya (Haditomo. (d) Orang tua cenderung memberikan perintah dan larangan terhadap anak. Pengertian Pola Asuh Orang Tua Pola asuh orang tua adalah perilaku orang tua dalam mendidik anak-anak mereka (Idris. Sedangkan (Sukadji. Untuk menimbulkan tingkah laku lekat t erhadap seseorang atau khususnya anak. b. Tetapi tingkah laku lekat yang utama biasanya yang ada di rumah tersebut. (c) Kalau terdapat perbedaan pendapat antara orang tua dengan anak. untuk mencari kepuasan dalam hubungan dengan orang lain tersebut. analisa data dan pembahasan hasil penelitian. Sering membuat interaksi dengan anak secara spontan. penyampaian. yaitu: a. laissez -faire (Idris. Berdasarkan kedua pengertian tersebut penulis mendefinisikan bahwa pola asuh adalah cara dan sikap serta perilaku orang tua dalam mendidik anak. dan anak hanya sebagai pelaksana. Ketiga pola asuh tersebut dapat dijelaskan di bawah ini: 1) Otoriter Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang diterapkan orang tua dengan bercirikan kekuasaan. Untuk membina atau mendidik anak tidaklah semudah membalik tangan. (e) Orang tua cenderung memaksakan disiplin. 1992:87). maka anak dianggap melawan atau membangkang. Segala peraturan yang dianut oleh 10 orang tua harus dikerjakan oleh anak dan tidak boleh dibantah.penelitian. atau secara kebetulan saja. maka ada faktor yang mempengaruhi. 1992:87). 2) Demokratis Pola asuh .

(c) Kalau terjadi sesuatu pada anggota keluarga selalu dicari jalan keluarnya secara musyawarah. anak lebih berperan daripada orangtua dalam menyelesaikan tug as atau masalah. (c) Terutama memberikan kebutuhan material saja. bersikap longgar. Masing-masing pola asuh tersebut mempunyai ciri-ciri sebagaimana dijelaskan berikut ini: 13 a. pasif dan masa bodoh. yaitu: otoriter. Pola asuh Laissez-faire memiliki ciriciri sebagai berikut: (a) Membiarkan anak bertindak sendiri tanpa memonitor dan membimbingnya. (f) Semua larangan dan perintah yang disampaikan kepada anak selalu menggunakan kata -kata yang mendidik. Pola Asuh Otoriter 1) Tidak menerangkan kepada anak tentang alasanalasan mana yang dapat dilakukan. (h) Keinginan dan pendapat anak diperhatikan apabila sesuai dengan norma-norma dan kemampuan orang tua. wajar dan terbuka. (e) Ada komunikasi dua arah. perasaan dan pendapat anak serta 11 memberikan alasan-alasan yang dapat diterima. demokratis dan permisif. kurang tegas. (b) Medidik anak acuh-tak acuh.demokratis adalah pola asuh yang diterapkan oleh orangtua secara fleksibel/luwes. (d) Membiarkan saja apa yang dilakukan anak atau terlalu memberikan kebebasa n untuk mengatur dirinya sendiri tanpa ada aturan dan norma -norma yang digariskan oleh orang tua. juga dihadapi dengan tenang. (b) Menentukan peraturan -peraturan dan disiplin dengan mempertimbangkan keadaan. dipahami dan dimengerti oleh anak. kurang membimbing terhadap anak. Anak diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan diikursertakan dalam pemecahan masalah yang muncul dalam keluarga juga dihadapi dengan tenang. Ciri -ciri dari perilaku tersebut adalah sebagai berikut : (a) Melakukan sesuatu dalam kelua rga dengan cara musyawarah. sabar dan terbuka. kurang kontrol terhadap anak pada saat berada dirumah. 2) Me ngabaikan alasan-alasan yang masuk akal dan anak tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. bukan menggunakan kata-kata kasar. 1992:88). 4) ³Reward´ atau penghargaan jarang diberikan pada perbuatan yang bena r. Menurut Hurlock (1997:256). tidak pernah menghukum maupun memberi ganjaran pada anak. (e) Kurang sekali keakraban dan hubungan yang hangat dalam keluarga (Idris . 3) ³Punishment´ atau hukuman selalu diberikan pada perbuatan yang salah dan melanggar aturan. (d) Hubungan antara keluarga saling menghormati : pergaulan antara ibu dan ayah juga saling menghormati. 3) Laissez-faire Orang tua bersikap percaya bahwa mereka selalu menganggap anak sebagai pribadi dan mendorong mereka dengan 12 memberikan kebebasan penuh. ada tiga model pola asuh orang tua. yaitu anak juga dapat mengusulkan. dalam memberikan peraturan dan kedisiplinan dan hanya berperan sebagai pemberi fasilitas maka tidak akan peduli terhadap kelakuan anak sehingga kurang adanya komunikasi. (g) Memberikan pengarahan tentang perbuatan baik yang perlu dipertimbangkan dan yang tidak baik ditinggalkan. demikian pula orang tua menghormati anak sebagai manusia yang sedang bertumbuh dan berkembang. menyarankan sesuatu pada orang tuanya dan orang tua mempertimbangkan. (i) Memberikan bimbingan dengan penuh pengertian. .

. dan anak diperbolehkan melakukan sesuatu yang dianggap benar. 4) ³Reward´ yang berupa pujian dan penghargaan diberikan kepada perilaku yang benar dan berprestasi.baik dan berprestasi. 3) ³Pu nishment´ diberikan kepada perilaku yang salah dan melanggar peraturan. 2) Anak diberi kesempatan untuk menjelaskan mengapa ia melanggar peraturan sebelum hukuman dijatuhkan. Pola Asuh Demokratik 1) Ada pengertian bahwa anak punya hak untuk mengetahui mengapa suatu aturan dikenakan kepadanya. 2) ³Punishment´ tidak diberikan karena memang tidak ada aturan yang mengikat. c. b. Pola Asuh Permisif 1) Tidak ada aturan ketat dari orang tua.

Pendidikan Taman Kanak-kanak a. dan selalu mendengarkan keluhan-keluhan atau keberatan-keberatan yang dikemukakan oleh anakanaknya. tidak menunjukkan kasih sayang dan tidak simpatik. Pola asuh otoriter Pemaksaan kepada anak untuk memenuhi keinginan orang tua Tidak ada kebebasan pada anak dalam menjalankan aktivitasnya Adanya ancaman atau hukuman fisik Jarang sekali memberikan pujian kepada anak Orang tua berhak mengatur masa depan anak Sering menakut-nakuti anak dengan ancaman 2. 16 . 2000:32) mengemukakan ciri -ciri anak prasekolah ada 4 macam yakni : (1) Ciri Fisik Penampilan maupun gerak gerik anak pra sekolah . Penulis menggunakan klasifikasi pola asuh yang dikemukakan oleh ahli tersebut. serta memiliki ciri -ciri yang jelas. 4) Ada pengertia n bahwa perbuatan yang baik akan dipelajari dari perbuatan yang salah.14 3) ³Reward´ tidak diberikan untuk perilaku yang baik. memiliki ciri-ciri: kaku. Ciri-ciri Pendidikan Taman Kanak-kanak Snowman (Patmonodewo. Pola asuh laizzes faire Orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk berbuat sesuai keinginan mereka. Pola asuh demokratik. memiliki ciri-ciri yaitu: hak dan kewajiban antara anak dan orang tua adalah sama. Pola asuh demokratis Mau meluangkan waktu kepada anak Mambatasi anak terhadap bahaya yang dapat mengancam anak Memberi toleransi waktu bermain anak Memberikan hadiah kepada anak jika berprestasi. demokratis dan permisif biasanya digunakan dalam kepemimpinan. mempunyai hak yang sama dengan orang tua. Namun demikian selanjutnya penulis akan menggunakan ciriciri ketiga pola asuh tersebut dengan mendasarkan pada pendapat beberapa ahli sebagaimana dijelaskan sebelumnya yaitu: 1. Dalam hal ini anak tidak dituntut untuk bertindak untuk memperbaiki kesalahannya. 3. Dengan demikian tanggung jawab anak terhadap diri mereka tidak menjadi besar. Pola asuh otoriter. c. Dari berbagai pendapat para ahli mengenai pola asuh tersebut diatas. secara bertahap orang tua bermusyawarah dengan anaknya. yaitu cenderung memberikan kebebasan kepada anak tanpa kontrol sama sekali. demokratis dan laizzes faire sebagaimana dikemukakan oleh Idris (1992:87).Sering mendampingi anak-anak Pemberian tugas kepada anggota keluarga sesuai dengan kemampuan. Anggapan bahwa anak memiliki hak yang sama besarnya dengan orangtua. b. Tidak ada hukuman kepada anak Tidak ada pujian kepada anak. Memberikan kebutuhan meteri kepada anak. karena istilah yang dipakai berlaku umum dan mudah dimengerti. Adanya saling memberi dan menerima. Istilah otoriter. Pola asuh permisif. 2. anak sedikit sekali dituntut suatu 15 kewajiban atau tanggung jawab. Pendapat senada dikemukakan oleh Stewart dan Krech (1986:84) yang mengemukakan bahwa ketiga pola asuh tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. penulis akan menggunakan istilah otoriter. Namun demikian istilah tersebut telah digunakan dalam layanan orang tua kepada anaknya yang disebut pola asuh. karena ada anggapan bahwa persetujuan sosial sebagai reward. suka menghukum. namun orangtua membiarkan anak untuk merubahnya sendiri.

belum melakukan kegiatan yang rumit seperti misalnya. yaitu : 18 a. b. Perselisihan seringkali terjadi tetapi sebentar kemudian mereka telah berbaik kembali. Kelompok bermainnya cenderung kecil dan tidak terlalu terorganisasi secara baik. anak membutuhkan istirahat yang cukup. Anak prasekolah umumnya sangat aktif. Bermain fungsional. Walaupun anak lelaki lebih besar. Khususnya dalam tugas motorik halus. umunya pada mereka berkembang kesadaran terhadap perbedaan jenis kelamin dan peran sebagai anak lelaki atau anak perempuan. Anak yang lebih muda seringkali bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar. Setelah anak melakukan berbagai kegiatan. Seringkali anak tidak menyadari 17 bahwa mereka harus beristirahat cukup. Kompetisi anak perlu dikembangkan melalui interaksi. Mereka seringkali memperebutkan perhatian guru. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut. Anak masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada objek -objek yang kecil ukurannya. mengikat tali sepatu. Mereka telah memiliki penugasan (kontrol) terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. mengagumi dan kasih sayang. Melakukan pengulangan gerakan -gerakan otot dengan atau tanpa objek-objek. tetapi tengkorak kepala yang melindungi ot ak masih lunak (soft). Melakukan pengelompokan setelah mengamati kegiatan bermain bebas anak prasekolah yang dihubungkan dengan kelas sosial kognitif anak. Melakukan manipulasi terhadap bendabenda dalam kegiatan membuat konstruksi atau mengkreasi/menciptakan sesuatu.mudah dibedakan dengan anak yang berada dalam tahapan sebelumnya. Adalah dengan menggunakan situasi yang imajiner. Iri hati pada anak prasekolah sering terjadi. . Oleh karena itu biasanya belum terampil. Bermain konstruktif. Sebagian besar dari mereka senang bicara. Bermain dengan menggunakan aturan. (2) Ciri Sosial Anak prasekolah biasanya mudah bersosialisasi dengan orang disekitarnya. Itulah sebabnya koordinasi tangan dan matanya masih kurang sempurna. tetapi sahabat ini cepat berganti. dan anak perempuan lebih terampil dalam tugas yang bersifat praktis. Pola bermain anak prasekolah sangat bervariasi fungsinya sesuai dengan kelas sosial dan µgender¶. Otot ± otot besar pada anak prasekolah lebih berkembang dari kontrol terhadap jari dan tangan. khususnya dalam kelompoknya. Walaupun tubuh anak ini lentur. c. kesempatan. 19 Patmonodewo (2000:24) mengemukakan ciri tahapan perkembangan berdasar aspek perkembangan anak prasekolah ada 4 macam yakni: (1) Perkembangan jasmani Pada saat anak mencapai tahapan prasekolah (3 -6 tahun) ada ciri yang jelas berbeda antara anak usia bayi dan anak prasekolah. Konneth Rubin dkk (1976). Anak lelaki lebih banyak melakukan tingkah laku agresif dan perselisihan. Bermain dramatik. minat. d. (4) Ciri Kognitif Anak prasekolah umumnya telah terampil dalam berbahasa. Setelah anak masuk TK. Umumnya anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat. (3) Ciri Emosional Anak TK cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka.

Perbedaannya terletak dalam penampilan. proporsi tubuh. main jungkat jungkit dan berlari. berat. panjang badan dan keterampilan yang mereka miliki. Kecepatan perkembangan jasmani dipengaruhi oleh gizi. jadi merupakan tingkah laku -tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengetahuan atau yang dibutuhkan untuk menggunakan pengetahuan. Ketarampilan motorik halus adalah koordinasi bagian kecil tubuh. Bahasa biasanya dipah ami sebagai sistem tatabahasa yang rumit dan bersifat semantik. kesehatan dan lingkungan fisik lain misalnya tersedianya alat permainan serta kesempatan yang diberikan kepada anak untuk melatih berbagai gerakan. (2) Perkembangan kognitif Kognitif adalah pengertian yang luas mengenai berpiki r dan mengamati. terutama tangan. (3) Perkembangan bahasa Ada perbedaan antara bahasa dan kemampuan berbicara. sedangkan kemampuan berbicara terdiri dari ungkapan . Keterampilan motorik kasar ad alah koordinasi sebagian besar otot tubuh misalnya melompat.

pada saat merencanakan menyelesaikan masalah dan menyerasikan gerakan mereka. Usia empat sampai enam tahun. 21 b. Oleh sebab itu dibutuhkan kondisi 22 dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal. Perkembangan sosialisasi yang optimal diperoleh dari respons yang diberika n oleh tatanan kelas pada awal anak masuk sekolah yang berupa tatanan sosial yang sehat dan sasaran yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan konsep diri yang positif. menulis. Perkembangan sosial diperoleh dari kematangan dan kesempatan belajar dari berbagai respons lingkungan terhadap anak. mengembangkan kata hati. moral. sosial emosional. Kemampuan sosialisasi anak adalah hasil belajar. Anak akan berbicara dengan dirinya sendiri apabila berkhayal. juga harus dibahas. dan nilai-nilai agama. merupakan masa peka bagi anak. Bahasa ekspresif (bicara dan tulisan) menunjukkan ciptaan bahasa yang dikomunikasikan kepada orang lain. Bahasa pengertian misalnya mendengarkan dan membaca menunjukkan kemampuan anak untuk memahami dan berlaku terhadap komunikasi yang ditujukan kepada anak tersebut. Peran pendidik sangat diperlukan dalam upaya pengembangan potensi anak 4-6 tahun. Upaya pengembangan tersebut harus dilakukan melalui kegiatan bermain sambil belajar atau belajar . bukan sekadar hasil dari kematangan saja. seni. kemandirian. kognitif. Masa peka adalah masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. membina sikap sehat terhadap orang lain sebagai individu yang sedang tumbuh. dan kelompok lembaga sosial. belajar bergaul dengan teman sebaya. tugas -tugas perkembangan pada periode anak-anak adalah mempelajari berbagai kecakapan jasmani yang perlu untuk permainan sehari -hari. (4) Perkembangan emosi dan sosial Perkembangan sosial biasanya dimaksudkan sebagai perkembangan tingkah laku anak dalam menyelesaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku didalam masyarakat dimana anak berada. Tugas-tugas Perkembangan Anak Taman Kanak-kanak Tugas perkembangan adalah suatu tugas yang timbul pada suatu periode tertentu dalam kehidupan individu. Anak mulai sensitif untuk menerima berbagai upaya perkembangan seluruh potensi anak. Masa ini merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik. Interaksi Belajar Mengajar di Taman Kanak-kanak Taman Kanak-kanak merupakan salah satu bentuk awal pendidikan sekolah. Terdapat dua daerah pertumbuhan bahasa yaitu bahasa yang bersifat pengertian/reseptif (understanding) dan pertanyaan/ekspresif (producing). moralitas. dan skala nilai. mengembangkan konsep-konsep yang berguna dalam kehidupan sehari -hari. disiplin. bahasa. Menurut Havighurt (Idris. mengembangkan kecakapan dasar dalam membaca. Komunikasi diri atau bicara dalam hati.20 dalam bentuk kata-kata. mengembangkan sikap. konsep diri. c. mempelajari peranan yang tepat sebagai anak pria atau wanita. mencapai kebebasan perorangan. berhitung. 1992:76).

aspek aspek perkembangan dipadukan dalam bidang pengembangan yang utuh yang mencakup bidang pengembangan pembiasaan dan bidang pengembangan kemampuan dasar. belajar secara menyenangkan. berkreasi. Selain itu bermain membantu anak mengenal dirinya sendiri. emosional dan kemandirian. Bidang pengembangan pembiasaan meliputi pengembangan moral. orang lain dan lingkungan. Dalam kurikulum 2004. (Depdiknas. Pembiasaan merup akan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus dan ada dalam kehidupan seharihari anak sehingga menjadi kebiasaan yang baik. Penulis akan meneliti salah satu bidang pengembangan yaitu bidang pengembangan pembiasaan. Dengan bermain anak memiliki kesempatan untuk bereksplorasi. Program pengembangan sosial dan kemandirian dimaksudkan untuk membina anak agar dapat mengendalikan emosinya secara wajar dan dapat berinteraksi dengan sesamanya maupun dengan orang dewasa dengan .seraya bermain. nilai -nilai agama. serta pengembangan sosial. menemukan. mengekspresikan perasaan. 2004:4).

Hasil karya. antara lain : a. kognitif. Portofolio. sedangkan 25 pencatatan anekdot merupakan sekumpulan catatan tentang sikap dan perilaku anak dalam situasi tertentu. Mengembangkan kecakapan hidup (Depdiknas 2004:8) 4. olahraga. 1. kognitif. Menggunakan pendekatan tematik e. sehingga akan menjadi dasar utama dalam pembentukan pribadi anak 24 sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat (Depdiknas 2004:8). Strategi pembelajaran pada taman kanak -kanak hendaknya memperhatikan pada prinsip-prinsi sebagai berikut : a. Berorientasi pada kebutuhan anak c. guru. Kreatif dan inofatif f. d. fisik/motorik. Kompetensi Pendidikan Taman Kanak-kanak Kompetensi yang diharapkan dari pendidikan taman kanakkanak adalah tercapainya tugas -tugas perkembangan secara optimal sesuai dengan standar yang telah dirumuskan. b. berbahasa. misalnya menyanyi. Strategi Pembelajaran Taman Kanak -kanak Strategi pembelajaran pada pendidikan taman kanak-kanak dilakukan dengan berpedoman pada suatu program kegiatan yang telah disusun sehingga seluruh pembiasaan dan kemampuan dasar yang ada pada anak dapat dikembangkan dengan sebaikbaiknya. merupakan penilaian yang menuntut anak untuk melakukan tugas dalam perbuatan yang dapat diamati. yaitu penilaian ber dasarkan kumpulan hasil kerja anak yang dapat menggambarkan sejauh mana ketrampilan anak berkembang b. stimulasi dan bimbingan. sosial. merupakan tugas yang harus dikerjakan anak yang memerlukan waktu yang relatif lama dalam pengerjaannya. 2. 3. Misalnya melakukan percobaan menanam biji. sosial-emosional.23 baik serta dapat menolong dirinya sendiri dalam ran gka kecakapan hidup. dan kemandirian. orang tua. memperagakan s esuatu. Unjuk kerja. diharapkan akan meningkatkan perkembangan perilaku dan sikap melalui pembiasaan yang baik. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan sikap anak yang dilakukan dengan mengamati tingkah laku anak dalam kehidupan sehari-hari secara terus menerus. Penugasan. Melalui pemberian rangsangan. Aspek-aspek perkembangan yang diharapkan dicapai meliputi aspek moral dan nilai -nilai agama. d. Adapun alat penilaian yang dapat digunakan untuk memperoleh gambaran perkembangan kemapuan dan perilaku anak. Kurikulum Taman Kanak-kanak Kurikulum untuk TK merupakan pedoman bagi para pendidik. Pembelajaran berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak. merupakan hasil kerja anak setelah melakukan suatu kegiatan (Depdiknas . Bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain d. kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar (Depdiknas 2 004:5). bahasa. orang dewasa lain untuk digunakan dalam rangka menstimulasi perkembangan anak. c. Evaluasi Pendidikan Taman Kanak-kanak Penilaian pada Taman kanak -kanak dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain melalui pengamatan dan pencatatan anekdot. fisik/motorik dan seni. emosional. Tujuan Taman Kanak-kanak Tujuan taman kanak-kanak yaitu membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai -nilai agama. Lingkungan kondusif g.

Pengertian Kemandirian Kemandirian adalah suatu proses pertumbuhan dan proses perkembangan (Drost. Diungkapkan juga oleh Sukadji (1986:27). Kemandirian a. 1998:19). yang dimaksud kemandirian adalah kemampuan mengatur diri sendiri sesuai dengan hak dan kewajibannya. 3. mampu bertanggung jawab . tidak tergantung pada orang lain sampai batas kemampuannya.2004:10).

sebagaimana mestinya. mengatakan bahwa tingkah laku itu dapat dipelajari melalui melihat. Kemandirian tumbuh sejalan dengan pertambahan usia dan setiap tekanan atau paksaan cenderung menghambat tumbuhnya kemandirian anak. yakni sebagai berikut : 1. Anak terbiasa menjaga kebersihan diri dan mengurus dirinya sendiri. Jadi kemandirian adalah suatu keadaan dimana individu sudah tidak tergantung kepada orang lain atau sudah bisa berdiri diatas kaki sendiri. 28 4. 3. Sikap Kemandirian Anak TK Menurut Bandura dalam Haditomo (1998:109). Dengan dorongan jiwanya sendiri. tidak mencoret-coret tembok. mampu mengambil keputusan secara sederhana. Harus diingat. Kemandirian adalah kemampuan untuk mampu berdiri sendiri di atas kaki sendiri dengan keberanian dan tanggung jawab sendiri . Jadi kemandirian itu dapat dipelajari melalui proses meniru tingkah laku 27 orang lain yang dilihat. Anak-anak tidak perlu dipaksa atau didesak agar menjadi mandiri. Hubungan Pola Asuh terhadap Kemandirian Anak Taman Kanakkanak Penerapan pola asuh yang benar memberikan dampak yang positif . Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah merupakan sikap kemampuan kemampuan diri yang memungkinkan individu untuk bertindak bebas. menyatakan bahwa seorang anak merasa perlu untuk mandiri dan memang ada dorongan nalurinya untuk menjadi mandiri. Anak dapat menunjukkan rasa percaya diri. anak akan belajar mandiri apabila dia sudah cukup matang dan sudah ada dorongan dari dalam jiwanya untuk mandiri. mengembalikan alat -alat selesai bekerja. Sikap tersebut dapat dilihat waktu akan melaksanakan kegiatan sendiri sampai selesai. merapikan mainan seles ai bermain. tindakan dan perasaannya sendiri serta mampu membuang pola perilaku yang mengingkari kenyataan. Anak dapat bertanggung jawab. Anak terbiasa menjaga lingkungan. Menurut Wahyuni (2001:71). anak memang membutuhkan berbagai peluang dan kesempatan untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. memakai sepatu sendiri. mau mengemukakan pendapat secara sederhana. Sikap ini ditunjukkan anak dalam kegiatan sehari-hari seperti membuang sampah pada tempatnya. Standar Kompetensi Taman KanakKanak disajikan kompetensi yang menunjukkan sikap. agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara fisik maupun psikis. 4. berani dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya sendiri. baik dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. makan minum sendiri. b. membantu membersihkan lingkungan kelas. memelihara milik sendiri. sikap ini dapat ditunjukkan anak dalam kegiatan menggosok gigi. Oleh sebab itu anak harus diberi kesempatan dan kebebasan untuk menjadi dirin ya sendiri. berpakaian sendiri. Dalam kurikulum 2004. melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri dan mampu m engatur diri sendiri sesuai dengan kewajibannya. Mengerjakan tugas sendiri 2. kemandirian anak usia Taman Kanak-Kanak. berani bertanya secara sederhana. Sikap ini dapat dilihat dalam kegiatan belajar sehari-hari seperti .26 atas keputusannya. membersihkan peralatan makan selesai digunakan.

Pola asuh orang tua yang bersifat laizzes faire. 1981:190) mengatakan. penilaian terhadap perbuatan yang baik dan b uruk akan dinilai secara individual oleh anak tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1973:256) dimana pada pola asuh ini orang tua tidak memberikan bimbingan bagi kebaikan anak. tetapi setelah memberikan teguran orang tua tersebut kemudian menjelaskan alasan-alasan apa yang seharusnya dilakukan oleh anak dengan memberikan arahan dan contoh-contoh. Dalam hubungannya dengan kemandirian. sehingga anak tidak boleh bahkan tidak bisa untuk berkutik barang sedikitpun. bahwa makin otoriter orang tuanya. sesuai dengan akibat dari perbuatannya sendiri (Windradini. HIPOTESIS Hipotesis dalam penelitian ini yang akan di uji adalah sebagai berikut : a. Begitu pula kemandirian juga dipengaruhi oleh sikap orang tua terhadap anak. karena orang tua cenderung menganggap bahwa perbuatan yang baik akan dipelajari oleh anak dari perbuatan yang salah. H0 : Tidak ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak di Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang Tahun Ajaran 2004 / 2005. daya tahan berkurang dan menjadi anak yang penakut. yaitu dimana orang tua akan membiarkan anak untuk mengerjakan apa saja yang ia kehendaki. Jadi anak akan menganggap bahwa perbuatannya adalah benar. Maka pada pola asuh orang tua yang bersifat otoriter anak akan selalu merasa ketakutan. tetapi akan makin banyak timbul sifat yang passivitet. kurang inisiatif. Dalam hubungannya dengan kemandirian. Hal ini terkadang menjadi 30 dilema bagi anak. Menurut Baldwin (dalam bukunya Gerungan. tidak dapat merencanakan sesuatu. Kecuali itu orang tua yang bersifat demokratis juga mau memberikan teguran kepada anaknya apabila anak tersebut salah. akan memberi kesempatan kepada anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut. sehingga tanggung jawab terhadap dirinya sendiri akan menjadi kurang. Dalam pola asuh orang tua yang bersifat otoriter segala sesuatunya harus taat dan patuh sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh orang tua. Dengan tidak adanya bimbingan dari orangtua. b. maka makin berkuranglah ketidaktaatan anak.terhadap sikap dan perilaku anak. pola asuh laissez-faire kurang berhubungan dengan kemandirian karena anak cenderung menjadi kurang bertanggung jawab dan semaunya sendiri sehingga anak kurang mandiri. pola asuh demokratis mempunyai hubungan yang baik dengan kemandirian anak karena adanya sikap demokratis dari orang tua membuat anak lebih percaya diri dan mandiri. B. 29 Pada orang tua yang bersifat demokratis. orang tua berpendapat bahwa anak nanti akan dapat belajar sendiri hal -hal yang mana yang baik dan mana yang kuran baik. Dalam hubungannya dengan kemandirian. H1 : Ada hubungan antara pola asuh . 1985:110). pola asuh otoriter kurang berhubungan dengan kemandirian karena sikap otoriter orang tua membuat anak merasa kurang percaya diri dan penakut sehingga anak kurang mandiri.

SAMPEL Sampel adalah sebagian dari populasi (Hadi. 2000:221). Variabel didefinisikan sebagai gejala yang bervariasi misalnya jenis kelamin. Dalam penelitian ini populasi yang dimaksud adalah anak sekolah Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang sejumlah 160 anak. artinya segala sesuatu yang terjadi pada variabel tergantung (terikat). 1996:115). Adapun sumber data yang digunakan adalah anak-anak TK dan orang tua/wali. meliputi : a. Kelas B1 41 b. VARIABEL PENELITIAN Dalam penelitian diperlukan adanya teori yang mendasarinya. Senada dengan Hadi. Kelas B3 40 d. Untuk masing -masing kelas sampel yang dijadikan responden yakni. yang mana dalam menarik sampel penulis memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anggota populasi untuk menjadi sampel. Variabel menurut fungsinya dibedakan sebagai variabel tergantung dan variabel bebas. sehingga variabel adalah obyek penelitian yang bervariasi (Hadi dalam Arikunto. Kelas B4 39 x x x x 15% = 15% = 15% = 15% = = 6 6 6 6 + 24 Jumlah C. 1998:97) menyebutkan variabel sebagai sebuah konsep seperti halnya laki -laki dalam konsep jenis kelamin. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian merupakan cara atau langkah yang harus ditempuh dalam suatu penelitian ilmiah untuk memperoleh data guna menguji atau membukt ikan kebenaran suatu fenomena atau gejala. Agar dapat mencapai tujuan penelitian yang telah ditentukan serta hasilnya dapat dipercaya maka dalam penelitian perlu menggunakan langkah langkah dan metode yang sistematis. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengambilan sampel dengan teknik cluster quota random sampling. Gejala adalah obyek penelitian. Variabel tergantung biasanya mengikuti variabel bebas. karena jenis kelamin mempunyai variasi : laki-laki dan perempuan. POPULASI Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. apabila ingin meneliti semua elemen yang ada keseluruhan subyek penelitian (Arikunto. Populasi adalah sejumlah individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama (Hadi. 1988:220). . A. Kelas B2 40 c. 1998:70). insaf dalam kesadaran. Kerlinger (dalam Arikunto. Dengan landasan teori yang ada akan dapat menentukan data-data yang dibutuhkan sebagai obyek penelitian serta dirumuskannya suatu hipotesis agar data yang dibutuhkan tepat.25% jika populasi kurang dari 100 orang. dan akan diambil 10% .15% jika populasi lebih dari 100 orang 31 32 dan 20% . maka dibutuhkan variabel-variabel yang diteliti.orang tua dengan kemandirian anak di Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus Semarang Tahun Ajaran 2004 / 2005. B. karena pengaruh dari variabel bebas.

khususnya dalam pengumpulan data dan dalam penyusunan instrumen. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah kemandirian anak Taman Kanak-kanak Bernardus. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pola asuh orang tua. 1998:101). 1998:101).33 1. sehingga variabel tersebut dapat diamati dan diukur a) Pola asuh orang tua Pola asuh orangtua adalah cara dan sikap serta perilaku orang tua dalam mendidik anak. 2. Data mengenai pola asuh orangtua diungkap dengan menggunakan skala pola asuh orangtua dengan ciri-ciri sebagai berikut : 1) Pola asuh Otoriter 2) Pola asuh demokratis . b) Variabel Tergantung Variabel tergantung adalah variabel yang dipengaruhi atau variabel akibat (Arikunto. Definisi Operasional Setiap variabel dalam penelitian perlu memiliki definisi operasional supaya dapat digunakan dalam penelitian. Identifikasi Variabel-variabel Penelitian Pada penelitian ini mengungkap dua variabel yaitu : a) Variabel Bebas Variabel bebas adalah variab el yang mempengaruhi disebut juga variabel penyebab (Arikunto.

Mau mengemukakan pendapat secara sederhana .Berani bertanya secara sederhana Berani tampil di depan umum atau di depan kelas . b) Kemandirian Kemandirian anak adalah kemampuan mengatur diri sendiri sesuai dengan hak dan kewajibannya.Mampu mengambil keputusan secara sederhana Tidak putus asa jika mengalami kesulitan . Adapun aspek-aspek yang akan diteliti adalah : 1 Dapat menunjukkan rasa percaya diri .34 3) Pola asuh laissez-faire Bila skor yang diperoleh individu dalam skala ini tinggi berarti pola asuh orangtua mengarah pada bentuk otoriter. mampu bertanggung jawab atas keputusannya. Data mengenai kemandirian anak diperoleh dari data observasi secara langsung yang dilakukan oleh guru kelas. tindakan dan perasaannya sendiri serta mampu membuang pola perilaku yang mengingkari kenyataan. Semakin tinggi nilai observasi dari siswa menunjukkan semakin tinggi kemandirian anak tersebut. sebaliknya apabila skor yang diperoleh rendah maka berarti mengarah pada pola asuh laissiez-faire. tidak tergantung pada orang lain sampai batas kemampuannya.

Mamakai pakaian sendiri 3 Terbiasa menjaga lingkungan Membuang sampah pada tempatnya .Membersihkan peralatan makan selesai digunakan .Makan.Tidak mencoret-coret tembok Membantu membersihkan lingkungan kelas 4 Dapat bertanggung jawab Melaksanakan kegiatan sendiri sampai selesai . minum sendiri tanpa bantuan orang lain Memakai sepatu sendiri .Mencuci tangan sendiri sampai bersih .Mempu mengerjakan tugas sendiri .Merapikan mainan selesai bermain .Mengembalikan alatalat selesai bekerja Aspek-aspek tersebut di atas akan digunakan sebagai instrumen dalam metode observasi dalam rangka meneliti kemandirian anak TK di sekolah .Tidak mudah terpengaruh pada orang lain 2 Anak terbiasa menjaga kebersihan diri dan mengurus dirinya sendiri Menggosok gigi sendiri .Memelihara milik sendiri .35 .

dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen Observasi dalam penelitian ini berisi daftar beberapa kegiatan yang akan diamati terhadap anak TK.36 D. Aspek-aspek observasi yang diteliti adalah sebagai berikut : . peraba. Observasi sistematis. Masing-masing observasi memiliki beberapa alternatif jawaban. dan pencecap. Apa yang dikatakan ini sebenarnya adalah pengamatan langsung. (Mardalis. sedangkan metode skala da lam penelitian ini untuk mengungkap pola asuh orangtua anak 1. yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan. 1. Metode Pengumpulan Data Metode pengambilan data yang dipergunakan dalam penelitian ini ada dua macam yaitu metode observasi dan metode skala. Metode Obserasi Observasi atau pengamatan digunakan dalam rangka mengumpulkan data dalam suatu penelitian. 2. pendengaran. Jadi mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan. penciuman. Metode observasi dalam penelitian ini untuk mengungkap kemandirian anak. Manurut Arikunto (1998:16) observasi atau disebut pula dengan pengamatan meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap s esuatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indra. merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya suatu rangsangan tertentu yang diinginkan. Observasi non sistematis. 1999:63).

2 .Mampu mengambil keputusan secara sederhana 1.6 .5 .Mau mengemukakan pendapatan sec ara sederhana 1.2 Tidak mencoret -coret tembok 3.Berani bertanya secara sederhana 1.3 .1 .6 Memakai pakaian sendiri 3 Terbiasa menjaga lingkungan 3.2 Makan.2 Membersihkan peralatan makan selesai digunakan 4.Berani tampil di depan umum atau di depan kelas 1.4 Memelihara milik sendiri 2.1 Menggosok gigi sendiri 2.4 .3 Memakai sepatu sendiri 2.3 Membantu membersihkan lingkungan kelas Dapat bertanggung jawab 4.1 Membuang sampah pada tempatnya 3.1 Melaksanakan kegiatan sendiri sampai selesai 4.Mempu mengerjakan tugas sendiri 1. minum sendiri tanpa bantuan orang lain 2.Tidak mudah terpengaruh pada orang lain 2 Anak terbiasa menjaga kebersihan diri dan mengurus dirinya sendiri 2.1 Rancangan Observas i Kemandirian Siswa No 1 Aspek yang diobservasi Selalu Sering Kadang Tidak -kadang pernah Dapat menunjukkan rasa percaya diri 1.37 Tabel 3.5 Mencuci tangan sendiri sampai bersih 2.Tidak putus asa jika mengalami kesulitan 1. 4 Mengembalikan alat-alat selesai bekerja Skor Total Skor 4 Sumber : Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Taman Kanak-Kanak .3 Merapikan mainan selesai bermain 4.7 .

. kelebihan maupun kelemahan. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah observasi. b. . Untuk menyusun instrumen kemandirian yang mempunyai validitas isi (content validity). Metode Skala Metode pengumpulan data untuk mengungkap pola asuh orangtua dapat diketahui dengan menggunakan metode skala atau angket.38 Instrumen suatu penelitian harus mempunyai validitas. maka observas i sudah termasuk dalam content validity. Metode angket merupakan sekumpulan pertanyaan atau pernyataan yang meminta tanggapan dari obyek penelitian. karena itu maka penulis memakai alasan penggunaan metode angket menurut Hadi (1994:157) bahwa skala adalah suatu metode yang mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self reports atau setidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Pada dasarnya pemakaian alat ukur berupa skala dan angket memiliki kesamaan dalam hal asumsi. maka item dalam observasi harus disusun berdasarkan yang telah disesuaikan dengan Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Taman Kanak-Kanak. Alasan -alasan atas penggunaan metode skala / angket ini adalah : 1) Kenyataan subyek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya 2) A sumsi bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya 3) Angkat dapat menjelaskan interpretasi subyek tentang pertanyaan yang dimaksudkan oleh penyelidik.

Untuk menghindari pernyataan -pernyataan yang kurang jelas maksudnya. 5) Adanya kecenderungan untuk mengkonstruksikan secara logik unsurunsur yang dirasa kurang berhubungan secara logik. Unt uk memperbaiki pernyataan yang mungkin menimbulkan jawaban yang dangkal. metode angket memiliki kelemahan. 2) Melakukan proses uji coba atau try out preliminer (Arikunto. U ntuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut. b. 4) Kesukaran merumuskan dari diri sendiri ke dalam bahasa. maka perlu dilakukan beberapa hal. Untuk memadukan kata -kata yang menimbulkan kecurigaan. (Hadi.39 Setiap metode pasti mempunyai kelemahan. yaitu : 1) Unsur -unsur yang tidak disadari tidak dapat terungkap 2) Besar kemungkinan jawaban dipengaruhi oleh keinginan -keinginan pribadi 3) Adanya hal -hal yang dirasa tidak perlu dipertanyakan. 1984:163) menyatakan antara lain : 1) Dalam petunjuk -petunjuk mengerjakan atau menjawab perlu dihindarkan kata -kata yang mengandung perintah atau permintaan yang memaksa . 1990:196). misalnya hal-hal yang memalukan atau dipandang tidak penting untuk dikemukakan. c. Maksud dari uji coba atau try out adalah : a. seperti diungkapk an oleh Hadi (1984:162). .

Skala disajikan dalam bentuk pilihan jawaban dan memiliki 2 kelompok item yaitu item favourabel dan kelompok item unfavourabel. sehingga subyek mengerti halhal tersebut 2) Subyek tidak diwajibkan untuk menulis namanya. yang langsung ditujukan pada orangtua siswa yang bersangkutan sebagai subjek penelitian. 2) Demokratis. skor jawaban . skor 3 untuk sering. dan selalu ( SL ) Skor jawaban untuk item fovourabel bergerak dari 4 untuk jawaban selalu. 3) Jawaban terdiri dari beberapa pilihan jawaban. Untuk setiap item terdiri dari 4 alternatif jawaban yaitu tidak pernah ( TP ). Sehingga subyek tidak perlu kuatir dan takut bahwa hal -hal yang ada pada dirinya akan diketahui orang lain. 3) Laissez faire. kadang kadang (KD). Untuk menambah item yang sangat perlu atau memadukan item yang ternyata tidak relevan dengan tujuan penelitian. Adapun kelompok jawaban item unfovariabel. Hadi (1994:157) menyatakan untuk mengatasi kelemahan -kelemahan penyusunan angket dalam penelitian ini diupayakan : 1) Menggunakan bahasa yang sederhana.40 d. 2 untuk kadang-kadang. Ciri-ciri tersebut adalah : 1) Otoriter. Skala ini bertujuan untuk mengungkap pola asuh orangtua siswa. Skala ini disusun berdasarkan 3 bentuk atau ciri -ciri pola asuh yang dengan item berjumlah 60 item. dan 1 untuk tidak pernah. sehingga subyek tidak perlu merumuskan jawabannya. sering (SR ). subyek tinggal memilih salahsatu jawaban yang paling sesuai dengan keadaan dirinya.

58 29. 38 16. Rancangan skala Pola Asuh Orang Tua Pola asuh Otoriter Sub Indikator No. Orangtua tidak mendorong anak untuk patuh e. 41 12. Adanya kebebasan berbuat pada anak b. dan 4 untuk tidak pernah Rancangan skala pola asuh orangtua dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 3. Adanya peraturan yang sudah ditentukan untuk ditaati bersama e. 49 20. 52 23. Pemberian materi sebagai keutamaan Jumlah Sumber : Dikembangkan untuk penelitian 1. Anak ditakut-takuti dengan hukuman d. 60 4 4 4 4 4 4 60 .57 28. 33 4. Pengawasan dilakukan demi perkembangan pribadi anak c. 55 26. 47 18. 46 17. skor 2 untuk sering. Anak tidak harus tunduk pada orangtua c. Anak cukup diberi kebebasan dan anak tidak dikekang namun dengan batas tertentu d. Anak harus selalu menuruti kemauan orangtua b. 34 5. Pemberian hukuman fisik e. Adanya komunikasi antara anak dan orangtua b. 37 8. 36 7. 54 4 10. 56 27. 31 2. 42 13. 51 22. Orangtua tidak perlu menentukan perilaku anak d. 48 19. 44 15. 35 6. Pemberian penghargaan kepada anak Laisez faire a. 43 14.41 bergerak dari 1 untuk jawaban selalu. 53 9. 45 25.2. 3 untuk kadangkadang. Tidak ada kebebasan pada anak c. Kurang adanya penghargaan yang diberikan kepada anak Demokratis a. Item Favorable Unfavorable Jumlah 4 4 4 4 4 4 4 4 a. 59 30. 32 3. 50 21. 40 11. 39 24.

adapun rumus tersebut sebagai berikut: n ™ XY í (™ X )(™ Y ) (n ™ X 2 í (™ X ) 2 )( n ™ Y 2 í (™ Y ) 2 rxy = Keterangan : Rxy = koefisien korelasi antar variable xdan y X = jumlah nilai x (skor item) Y = jumlah nilai y (skor item) N = jumlah sample Untuk menentukan valid tidaknya suatu i tem kuesioner adalah dengan membandingkan nilai korelasi dengan r tabel untuk = 5%. Jika ter dapat item-item yang tidak valid.42 E. Pengujian Instrumen 1.. suatu alat yang dikatakan valid apabila mampu secara cermat menunjuk ukuran besar kecilnya dan gradasi suatu gejala. . Validitas Validitas merupaakan ketepatan antara gagasan variabel dengan ukurannya. Jika nilai r pq lebih besar dari r tabel maka akan diperoleh suatu item yang valid. Suatu instrument yang valid itu mempunyai kesejajaran dengan skor total yang diketahui dengan korelasi product moment. Sebelum item -item pertanyaan berupa kuesioner maupun soal digunakan dalam penelitian. maka item tersebut tidak dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya. Menurut Azwar (1986:55). terlebih dahulu harus diuji validitas (kesahihan) dan reliabilitasnya.

Gejala interval adalah gejala yang menggunakan skala pengukuran yang berjarak sama. Perhitungan Scale Alpha untuk instrumen -instrumen yang digunakan adalah sebagai berikut. Korelasi product moment melukiskan hubungan antara dua gejala interval. 1987:273). Adapun Rumus Product Moment dari Pearson adalah sebagai berikut : . Reliabilitas Reliabilitas adalah alat pengumpul data yang pada dasarnya menunjukan tingkat keajegan alat tersebut dalam mengungkap gejala tertentu dari kelompok individu walaupun dilakukan pada waktu berbeda. Metode Analisa Data Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak Taman Kanak-kanak Pangudi Luhur Bernardus digunakan metode analisa korelasi product moment (Hadi.43 2. Dalam penelitian ini dalam mencari reliabilitas menggunakan scale Alpha yang dapat dilihat dan dikoreksikan pada table Reliab ility AnalysisScale (Alpha). 2 k 1í™ b r11 = 2 kí1 t Keterangan : R1I = reliabilitas instrumen K = jumlah item pertanyaan 2 b = varian butir 2t = varian total F.

2). . 1993 : 220). Untuk mengetahui hipotesis penelitian diterima atau ditolak. Jumlah responden (Suharsimi. maka perlu dikonsultasikan dengan kaidah Uji Hipotesis dengan ketentuan sebagai berikut : 1). Jika r0 < rts 5% : Korelasi dinyatakan tidak atau hipotesis penelitian ditolak. Jika r0 • rts 5% : Korelasi dinyatakan signifikan. Produk dari variabel bebas (X) Produk dari variabel terikat (Y). Produk dari variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). atau hipotesis penelitian diterima.44 rXY ™ X2 ( X )( Y ) ™ XY í ™ N™ ( X ) ( Y) ™Yí™í ™22N 2N Keterangan : rXY XY X Y N = = = = = Koefisien korelasi prediktor (X) dengan kriterium (Y).

Setelah diperoleh ijin dari pihak TK. 45 . Setelah diperoleh surat ijin penelitian. selanjutnya peneliti menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian dan kemudian memberikan angket kepada siswa tersebut untuk diberikan kepada orangtua mereka. PERSIAPAN PENELITIAN 1. Sehubungan dengan persiapan penelitian. Untuk itu lebih jelasnya akan dikemukakan langkah -langkah penelitian secara berurutan berikut ini : A. maka peneliti menempuh langkah-langkah sebagai berikut : a. Sebelum mengadakan penelitian. dan memintanya untuk dikembalikan pada keesokan harinya. Peneliti minta ijin kepada Kepala TK Pangudi Luhur Bernardus Semarang untuk mengadakan penelitian di sekolah tersebut. Persiapan perijinan Persiapan merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam penelitian ini.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini akan dikemukakan hal-hal yang sudah dilakukan maupun yang telah dica pai dari penelitian ini. peneliti minta surat ijin penelitian dari Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Universitas Negeri Semarang b.

Pengujian validitas instrumen menggunakan rumus korelasi product moment yang merupakan korelasi antara jawaban dari item soal yang akan diuji dengan skor totalnya. Jika terdapat korelasi yang cukup tinggi atau lebih besar dari nilai r tabel untuk n = 24 maka item yang diuji dinyatakan valid. Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen Pengujian validitas dan reliabilitas instrumen dilakukan untuk mengetahui kehandalan dari angket yang digunakan. Pengumpulan Data Penelitian Pengumpulan data penelitian ini diperole h melalui pengebaran angket dan observasi kemandirian siswa. 3. Pengujian ini dilakukan terlebih dahulu untuk memastikan bahwa data yang diperoleh merupakan data yang baik. a. Sedangkan yang dimaksud kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (angket) adalah kondisi dimana instrumen tersebut layak dipergunakan untuk mengukur tinggi rendahnya suatu pengukuran variabel.46 2. Angket yang akan diperg unakan untuk penelitian harus memenuhi standar validitas. Validitas angket. Selanjutnya hasil jawaban angket dan observasi ditabulasi untuk mendapatkan skor dari masing masing variabel pada masing-masing siswa. Dalam hal ini soal yang digunakan adalah berupa 60 item pernyataan yang diberikan kepada 24 orang tua siswa. Sebaliknya jika korelasi item ± total tersebut lebih .

Hasil selengkapnya pada tabel berikut ini. bila nilai r hitung > r tabel untuk n = 24 yaitu sebesar 0. hasilnya dapat dilihat pada Lampiran. hasil tersebut dikonsultasikan pada tabel nilai r product moment dengan taraf signifikan 5%.47 kecil dari nilai r tabel maka item tersebut dinyatakan tid ak valid yang berarti item tersebut tidak diikutsertakan dalam analisis selanjutnya. maka item pertanyaan adalah valid dan sebaliknya apabila r hitung < r t abel dikatakan tidak valid. Rumus product moment yang digunakan untuk menguji validitas instrumen mengenai sikap siswa adalah sebagai berikut : N ™ XY í (™ X ) (™ Y ) ( N ™ X 2 í (™ X ) 2 ) ( N rXY = ™Y 2 í (™ Y ) 2 ) Keterangan : rxy : koefisien korelasi tiap item X : jumlah skor tiap item Y : jumlah skor total N : jumlah responden (Suharsimi Arikunto. .404. 1993:138) Dengan menggunakan rumus tesebut di atas menghasilkan validitas item angket.

Secara ringkas hasil tersebut disajikan pada tabel berikut ini.170752 (2400 í 2116) (14003232 -13778944) 3560 = 0. .446 63697792 = = = Perhitungan selengkapnya untuk keseluruhan instrumen penelitian ini ada pada lampiran.48 Contoh Perhitungan Validitas Untuk item 1 Dari tabel dip eroleh : X X2 XY Y Y2 n = 46 = 100 = 7263 = 3712 = 583468 = 24 rxy = n ™ XY í (™ X )(™ Y ) (n ™ X 2 í (™ X ) 2 )(n ™ Y 2 í (™ Y ) 2 24 (7263) í (46)(3712) (24(100) í (46) 2 ) (24(583468) í (3712) 2 ) 174312 .

486 Valid 34 5 0.455 0.463 0.058 0.471 0.073 Tidak Valid 50 21 0.491 Valid 40 11 0.474 Valid 42 13 0.578 0.555 0.419 0.443 0.181 0.473 Valid 43 14 -0.442 Valid 53 24 0.446 Valid 31 2 0.020 Tidak Valid 44 15 0.423 0.408 0.438 0.442 0.463 0.414 Valid 46 17 0.687 0.350 Tidak Valid 58 29 0.404.705 Valid 36 7 0.444 -0.490 Valid 47 18 0.696 Valid 38 9 0.412 Valid 57 28 -0.446 Valid 49 20 -0.422 Valid 54 25 0.440 0.464 Valid 60 Sumber : Data primer yang diolah r 0.440 0.546 Keterangan Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Val id Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Setelah dihitung ternyata diperoleh 9 item dinyatakan tidak valid karena memiliki nilai korelasi di bawah 0.475 Valid 56 27 0.043 0.540 Valid 48 19 0. Dengan demikian 51 item yang layak digunakan untuk penelitian ini.501 Valid 33 4 0.478 0.1.454 0.428 0.49 Tabel 4.442 Valid 59 30 0.514 Valid 32 3 0.462 -0.633 Valid 39 10 0.202 Tidak Valid 52 23 0.448 0.510 Valid 41 12 0. Dengan demikian sebaran item yang valid dari penggunaan instrumen sebelumnya dapat disajikan sebagai berikut : .483 0.429 Valid 51 22 -0.021 Tidak Valid 35 6 0. No r Keterangan No 1 0.505 Valid 55 26 0.463 0.458 Valid 45 16 0. Hasil Perhitungan Validitas Angket Pola Asuh .532 -0.449 Val id 37 8 0.462 0.406 0.

57 4 3 4 2 29. 43 44 15. 46 17. 1. Pemberian materi sebagai keutam aan Jumlah Sumber : Data primer yang diolah . 31 2. dengan pengujian . Pengawasan dilakukan demi perkembangan pribadi anak c. 55 26. 39 24. Anak cukup diberi kebebasan dan anak tidak dikekang namun dengan batas tertentu d. Rancangan skala Pola Asuh Orang Tua Pola asuh Otoriter Sub Indikator No. Orangtua tidak perlu menentukan perilaku anak d. 33 4 35 6. 47 18.2. 37 8. 51 52 23. Adanya peraturan yang sudah ditentukan untuk ditaati bersama e. 36 7. Orangtua tidak mendorong anak untuk patuh e.50 Tabel 4. Tidak ada kebebasan pada anak c. Anak ditakut-takuti dengan hukuman d. 49 21. Pemberian hukuman fisik e. 53 9. 45 25. 59 30. Anak tidak harus tunduk pada orangtua c. 48 19. Anak harus selalu menuruti kemauan orangtua b. Kurang adanya penghargaan yang diberikan kepada anak Demokratis a. 42 13. 60 3 4 51 Sedangkan untuk variabel kemandirian siswa yang diperoleh dari penilaian observasi terhadap 20 item pernyataan. 32 3. Adanya komunikasi antara anak dan orangtua b. 38 16. 54 4 10. Pemberian penghargaan kepada anak Laisez faire a. 40 11 12. Adanya kebebasan berbuat pada anak b. Item Favorable Unfavorable Jumlah 4 4 4 3 1 4 3 4 a. 56 27.

640 Valid Sumber : Data primer yang diolah Diperoleh bahwa 20 item obserasi variabel kemandirian siswa menunjukkan sebagai item yang valid karena memiliki nilai korelasi di atas 0.51 validitas dengan korelasi product moment diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 4.493 Valid 12 0.458 Valid 9 0.484 Valid 4 0.586 Valid 7 0.465 Valid 17 0.559 Valid 16 0.768 Valid 18 0.637 Valid 13 0.473 Valid 6 0.470 Valid 11 0. 2. Dengan demikian seluruh item observasi kemandirian siswa layak digunakan untuk penelitian ini.512 Valid 5 0.455 Valid 19 0. Reliabilitas Test Sebelum digunakan untuk pengumpulan data. Reliabilitas yaitu tingkat keajegan alat u kur meskipun dilakukan dalam .426 Valid 10 0. alat ukur yang akan dipergunakan perlu diuji cobakan terlebih dahulu reliabilitasnya.431 Valid 8 0.404.502 Valid 14 0.3 Hasil Perhitungan Validitas Observasi Kemandirian Siswa No r Ket 1 0.655 Valid 3 0.459 Valid 2 0.567 Valid 15 0.643 Valid 20 0.

ANALISA DATA Setelah semua memenuhi syarat validitas dan reliabilitas. maka langkah selanjutnya adalah menguji ada tidaknya hubungan antara pola asuh orangtua dengan kemandirian siswa. Untuk menentukan reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus Alpha.52 waktu yang berbeda (Arikunto.4.404 0. Tabulasi data dan hasil perhitungan selanjutnya akan disajikan berikut ini. Pola asuh orangtua dihitung berdasarkan 51 item angket yang valid sedangkan kemandirian siswa dihitung dari seluruh 20 itemnya. Hasil pengujian reliabilitas selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran dan hasilnya diringkas pada tabel berikut ini Tabel 4. 1998:138).9316 R tabel 0. Nilai Reliabilitas Soal Soal Pola Asuh Orangtua Reliabilitas 0. B.8650 Sumber : Data primer yang diolah Berdasarkan hasil tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data telah memenuhi syarat sebagai soal yang reliabel. .404 Keterangan Reliabel Reliabel Kemandirian Siswa 0.

53 r XY ™ ™X 2 XY í (™ X )(™ Y ) N 2 2 ( ™ X ) ™Yí N (™ Y ) 2 í N 215749 = 453276 (3260)(157 5) 24 2 (3260) (1575) 1575 24 24 215749 - 213937.50 2 = (453276 í 442816.67) (104193 1811.5 8719161.75 1811.5 2952.82 103359.38) = = = 0.613 Jadi besarnya hubungan antara X ( pola asuh orangtua) dengan kemandirian siswa adalah sebesar 0,613. Untuk menguji keberartian besarnya hubungan tersebut maka nilai tersebut harus dibandingkan dengan nilai r tabel untuk n = 24 yaitu diperoleh sebesar 0,404. Karena nilai ry1 (0,613) > r tabel (0,404) maka dapat disimpulkan terdapat adanya hubungan yang bermakna antara pola asuh orangtua dengan kemandirian siswa.

54 Nilai korelasi sebesar 0,613 masuk dalam kategori cukup tinggi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pola asuh orangtua memiliki hubungan yang cukup tinggi dengan kemandirian siswa. C. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan diperolehnya nilai korelasi yang cukup tinggi antara pola asuh orangtua dengan kemandirian siswa dimana diperoleh nilai korelasi sebesar 0,613. Hal ini menunjukkan bahwa kemandirian siswa dapat ditentukan oleh polaasuh orangtua. Sedangkan nilai korelasi sebesar 0,613 memberikan indikasi adanya hubungan yang cukup tinggi antara pola asuh orangtua dengan kemandirian siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan satu implikasi akan perlunya pemberian toleransi kepada anak untuk diberikan beberapa kebebasan dengan bimbingan yang baik. Model pengekangan atau pola asuh otoriter pada orangtua akan cenderung tidak memacu anak-anak untuk melakukan segala sesuatunya secara mandiri. Dalam hal ini anak harus diberi bimbingan dan pengarahan untuk dapat merangsang jiwa kemandirian anak. Sejak usia masih kecil, anak perlu dididik dengan pola asuh yang tidak mengekang namun juga tidak membiarkan anak bertindak semaunya. Kemandirian anak sudah harus ditumbuhkan pada usia pra sekolah agar kepercayaan diri anak dapat tumbuh dan berkembang dengan wajar. Seorang anak merasa perlu untuk mandiri dan hal ini dapat diberikan dalam pola pengasuhan orangtua.

55 Untuk itu orangtua harus dengan bijaksana dalam memutuskan bentuk pola asuh yang sesuai untuk perkembangan anak. Karena pola asuh yang kurang tepat yang diberikan kepada anak, akan menciptakan satu bentuk perilaku kemandirian yang kurang pada diri anak, dan selanjutnya akan berakibat kurang baik pada anak. Dalam pola asuh orangtua yang bersifat otoriter segala sesuatunya harus taat dan patuh sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh orangtua, sehingga anak tidak boleh bahkan tidak bisa berkutik sedikitpun. Sebagimana dinyatakan oleh Baldwin dalam Gerungan (1981:190) bahwa semakin otoriter sikap orangtua, maka anak akan semakin timbul sifat passivitet, kurang inisiatif, tidak dapat merencanakan sesuatu, daya tahan berkurang dan anak menjadi penakut. Hal ini tentunya akan mengganggu kemandirian anak. Pada pola asuh demokratis, ada kemungkinnan akan memberi kesempatan kepada anak untuk tumbuh dan berkembang ses uai dengan kebutuhannya, namun pola ini juga memberikan keterbatasan berupa teguran kepada anak apabila anak dinilai salah selain memberikan arahan dan contohcontoh perilaku. Sikap ini akan memungkinkan anak memiliki sifat mandiri, percaya diri dan mampu melakukan sesuatu dengan pertimbangan sendiri dengan adanya tanggung jawabnya terhadap tindakannya Pada pola asuh laizes faire, dimana orangtua membiarkan perilaku anak mereka tanpa batasan yang jelas akan me mbuat anak tidak memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, sehingga kemandirian yang dimiliki oleh anak kurang akan seimbang.

56 ..613. baik di rumah maupun di sekolah. 2. Bagi pendidik. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisa data dan pembahasan pada bab IV. Bagi orangtua. diharapkan mampu memberikan contoh dan perilaku mandiri kepada siswa untuk bisa diterapkan oleh siswa.56 BAB V PENUTUP A. maka dapat disimpulkan sebagai berikut : Pola asuh orangtua memiliki hubungan yang cukup tinggi dengan kemandirian anak dimana diperoleh nilai korelasi sebesar 0. Bagi orang tua. B. agar dapat mendampingi putra -putrinya belajar dan membimbing mereka untuk menentukan cara atau jalan mereka yang terbaik. diharapkan agar lebih meningkatkan sikap positif terhadap program-program dalam rangka mendidik anak untuk kemandirian yang besar. SARAN-SARAN Dari serangkaian hasil penelitian dan analisanya ada beberapa hal yang dapat peneliti sarankan : 1. Hal ini menunjukkan akan perlunya pemberian sedikit toleransi kepada anak untuk diberikan pola asuh yang benar agar dapat memicu anak untuk dapat melakukan segala sesuatunya secara mandiri.

Psikologi Praktis Anak. Semarang : YPL. AMP. Moeslichatoen. Jakarta : Rineka Cipta. . Metodologi Research 3. Zahara. 1999. Sudjana. Remaja dan Keluarga. Bandung : Tarsito. Depdiknas. Patmonodewo. Pendidikan Antisipatoris . 2000. Psikologi Perkembangan (Pengantar dalam Berbagai Bagiannya). 1998. 1997. Sumarjo. Buchori. 2000. Monks. Depdikbud. Singgih. Knoers. Jakarta. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta : Erlangga. Kurikulum 2004. Metode Statistika. 1999. 2004. R. Yogyakarta : Kanisius. Orang Kudus Sepanjang Tahun. 1994. Hurlock. 1992. Rencana Strategi Yayasan Pengudi Luhur. Surabaya : SIC. Program Kegiatan Belajar Taman Kanak -Kanak. Jakarta : Obor. 2001. Perkembangan Anak. Sutrisno. Sumantri. Mochtar. Edisi ke 6. Membuka Masa Depan Anak-Anak Kita. Sindhunata. 1987. Yatim. 1997. Yogyakarta : Kanisius. Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak. Nicolaas. Drost. 1990. Kanisius. Pengantar Pendidikan I. Idris. Psikologi Sosial. Jakarta : Rineka Cipta. Jakarta : BPK Gunung Mulia. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Hadi. 1992. Jakarta : Gramedia. Elizabets B. Sekolah : Mengajar atau Mendidik?. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Riyanto. Siti. Standar Kompetensi. Jakarta : Rineka Cipta. 2001. 1991. Yogyakarta. Jakarta : Rineka Cipta. FJ. 2001.57 DAFTAR PUSTAKA Abu. Metodologi Penelitian Pendidikan.

Endang. Widayadi. Pionir Jaya. Jakarta 20270 : Grasindo. 1985. Cara praktis Mengasuh dan Membimbing Anak Agar Menjadi Cerdas dan Bahagia. 2001.58 Wahyuni. Soesila. 1999. Psikologi Perkembangan Masa Remaja . Windradini. Sri. . C. Reformasi Pendidikan Dasar Menyiapkan Pribadi Berkualitas Menghadapi Persaingan Global. Surabaya : Usaha Nasional. dkk.

Angket ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang pola asuh orangtua 2. : ««««««««««««««««««««. 3. Data yang Bapak. Bacalah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan sederhana. Nama anak 3. Nama Orangtua 2. . Nama Sekolah 4.ANGKET PETUNJUK 1. Kejujuran Bapak/ Ibu dalam memilih jawaban akan sangat membantu keberhasilan penelitian ini. : ««««««««««««««««««««. Kelas : ««««««««««««««««««««. 5. : ««««««««««««««««««««. Ibu berikan dijamin kerahasiannya dan sama sekali tidak mempengaruhi status putra/putri Bapak/ Ibu di sekolah. Atas bantuan dari Bapak/ Ibu kami ucapkan banyak terima kasih. IDENTITAS RESPONDEN 1. kemudian jawablah pertanyaan tersebut dengan memberi tanda (X) pada salah satu jawaban yang telah tersedia sesuai dengan jawaban yang Bapak/ Ibu maksudkan. Oleh karena ini Bapak/ Ibu tidak perlu ragu-ragu untuk memberikan jawaban pada angket sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. 4.

menjewer. memukul atau menendang anak anda jika mendapat nilai jelek 20 Anda tidak segan untuk memberi pujian kepada anak anda selesai anak anda melakukan pekerjaan yang anda berikan . masa depan anak anda sepenuhnya ada di tangan anak anda 14 Anda mengganggap bahwa jika anak anda tidak mengerjakan tugas mereka adalah sebagai hal yang wajar 15 Anda member ikan segala kebutuhan materi kepada anakanak anda 16 Anda beranggapan bahwa anak anda tidak harus tunduk kepada kemauan anda 17 Anda tidak dapat berbuat apapun untuk melarang anak anda dalam bermain 18 Anda tidak pernah menakut -nakuti anda dengan bentuk hukuman apapun 19 Anda tidak pernah menjewer. menendang) kepada anak anda jika anak anda berbuat kesalahan yang besar 5 Anda merasa puas jika anak anda telah melakukan perbuatan yang anda inginkan tanpa memberikan pujian kepada anak anda 6 Anda selalu meluangkan waktu unt uk bertanya kepada anak anda mengenai yang terjadi di sekolahnya 7 Anda sangat membatasi pergaulan anak-anak anda terhadap bahaya yang berasal dari lingkungan 8 Anda memberikan toleransi waktu bermain kepada anakanak anda hingga jam tertentu 9 Keluarga and a menentukan satu peraturan tidak tertulis yang harus ditaati seluruh angggota keluarga 10 Anda memberikan hadiah kepada anak anda jika anak anda berprestasi di sekolahnya 11 Anda memberikan kebebasan kepada anak anda untuk berbuat sesuai dengan hati nuraninya 12 Anda membiarkan anak anda jika menentang pada kemauan anda 13 Menurut anda.No Pernyataan TP KD SR SL 1 Anda memaksa anak anda untuk selalu mematuhi kemauan Anda 2 Anda tidak memberikan kebebasan kepada anak anda dalam menjalankan aktivitasnya sebagai anak-anak 3 Anda memberikan ancaman jika anak anda tidak tidak mendapatkan prestasi yang anda inginkan 4 Anda memberikan hukuman fisik (memukul.

seluruh anggota keluarga saling menyuruh dalam melakukan sesuatu 25 Anda merasa bahwa pemberian hadiah atau penghargaan kepada anak dapat memperlemah mental anak anda 26 Anda tidak menghalang -halangi keinginan anak anda dalam melakukan yang diinginaknnya 27 Anda merasa tidak berhak memaksa anak anda untuk mematuhi anda 28 Anak merasa bahwa anak anda berhak sepenuhnya untuk melakukan sesuatu demi kepentingannya sendiri 29 Selama ini anda jarang berbicara kepada anak anda mengenai cita-cita anak anda 30 Anda tidak peduli akan kebutuhan material untuk anakanak anda 31 Menurut anda segala sesuatu yang baik bagi anda adalah baik bagi anak anda 32 Menurut anda segala tindakan anak anda harus diarahkan sesuai dengan keinginan anda 33 Anda merasa bahwa pemberian ancaman kepada anak anda merupakan satu-satunya hal yang paling tepat untuk anak anda 34 Menurut anda hukuman fisik layak diberikan kepada setiap anak laki-laki yang melanggar peraturan 35 Anda hanya bangga jika anak anda menjadi yang terbaik di sekolahnya 36 Jika liburan. anda menawarkan kepada anak anda rencana untuk mengisi liburan 37 Anda sering mendampingan anak-anak anda menonton televisi 38 Anda mengetahui nama teman -teman bergaul anak anda 39 Anda memberikan tugas kepada seluruh anggota keluarga dalam kegiatan di rumah 40 Anda merasa berhak memberikan hadiah kepada anak anda untuk merangsang prestasi anak .No Pernyataan TP KD SR SL 21 Anda jarang berbicara dengan anak anda 22 Anda tidak memiliki banyak waktu untuk memperhatikan anak-anak anda dan teman bergaulnya 23 Menurut anda mengekang kebebasan anak berarti membatasi hak pribadi anak anak anda 24 Dalam pergaulan di rumah.

akan dapat memberikan rasa frustasi kepada anak 54 Keluarga tidak pernah memberikan aturan terhadap semua tindakan anggota keluarga 55 Anda tidak sempat berpikir untuk memberikan hadiah atas prestasi anak anda 56 Anda merasa tidak baik untuk mengekang kebebasan anak anda yang sekaligus menjadi hak anak anda 57 Anda berpendapat bahwa keharusan anak untuk tunduk kepada orangtua akan membuat tekanan pada anak anda 58 Anda merasa bahwa anak anda mampu memilih tindakan yang terbaik untuk kehidupan mendatang mereka 59 Anda jarang mengingatkan anak-anak anda untuk membuat pekerjaan rumah yang diberikan di sekolah 60 Menurut anda kurangnya materi akan mengakibatkan pertumbuhan yang kurang baik bagi anak anda . maka anak akan bertindak kurang ajar kepada orangtua 49 Anda merasa bahwa tidak diberikannya hukuman fisik pada anak akan membuat anak anda menjadi lemah 50 Memberikan pujian kepada anak merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan semangat anak anda 51 Anda jarang makan bersama sama anggota keluarga lainnya 52 Anda tidak tahu dengan pasti kapan anak anda pergi bermain dan kapan pulangnya 53 An da berpendapat bahwa kebebasan yang diberikan kepada anak namun dengan pembatasan.No Pernyataan TP KD SR SL 41 Anda memberi kebebasan kepada anak anda untuk menggunakan fasilitas rumah 42 Anda menyadari bahwa keharusan anak anda untuk tunduk kepada anda akan membawa efek negatif kepada anak anda 43 Anda merasa bahwa anak anda akan dapat memilih perilakunya sendiri tanpa bantuan orang lain 44 Anda tidak memberikan t ugas rumah apapun kepada anak-anak anda 45 Anda merasa bahwa materi merupakan faktor utama untuk membahagiakan anak 46 Anda merasa bahwa anak anda boleh melakukan tindakannya sendiri tanpa petunjuk anda 47 Anda merasa bahwa keputusan yang diambil oleh anak anda akan membawa dampak negatif bagi perkembangan anak anda 48 Anda merasa bahwa jika anak tidak ditakuttakuti.

.6 .1 Menggosok gigi sendiri 2.3 Membantu membersihkan lingkungan kelas Dapat bertanggung jawab 4.3 .6 Mamakai pakaian sendiri 3 Terbiasa menjaga lingkungan 3. «««««««« 2005 Observer ( «««««««««.Mau mengemukakan pendapat secara sederhana 1.2 . ) .7 .2 Membersihkan peralatan makan selesai digunakan 4.4 Mengembalikan alat -alat selesai bekerja Skor Total Skor 4 Semarang.Berani tampil di depan umum atau di depan kelas 1.5 Mencuci tangan sendiri sampai bersih 2.Tidak mudah terpengaruh pada orang lain Anak terbiasa menjaga kebersihan diri dan mengurus dirinya sendiri 2. minu m sendiri tanpa bantuan orang lain 2.1 .3 Merapikan mainan selesai bermain 4.1 Melaksanakan kegiatan sendiri sampai selesai 4.2 Makan.Mempu mengerjakan tugas sendiri 1.5 .2 Tidak mencoret-coret tembok 3.Nama anak Kelas No 1 : «««««««««« : «««««««««« LEMBAR OBSERVASI KEMANDIRIAN SISWA Aspek yang diobservasi Selalu Sering Kadang Tidak -kadang pernah 2 Dapat menunjukkan rasa percaya diri 1.3 Memakai sepatu sendiri 2.4 Memelihara milik sendiri 2.1 Membuang sampah pada tempatnya 3.Tidak putus asa jika mengalami kesulitan 1.4 Mampu mengambil keputusan s ecara sederhana 1.Berani bertanya secara sederhana 1.

8895 .6938 44.2971 44.3460 44.8900 .4583 60.3965 .4167 61.8928 .8901 .4889 .5052 .2591 43.5004 S C A L E (A L P H A) SISWA Alpha if Item Deleted .7917 60.8911 .5215 .5561 .2446 43.8905 .9547 43.5314 .4574 .6449 41.7917 61.8043 42.8928 .8919 .4167 60.6938 43.8915 .5328 .8921 .4828 .8750 61.0417 60.0417 60.8935 .8623 43.4344 .3617 .8333 Scale Variance if Item Deleted 43.5199 44.8878 .8909 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .2319 Corrected ItemTotal Correlation .4330 .9167 60.8913 43.0 N of Items = 20 .7530 .7501 .8889 .1667 60.6504 45.7917 61.3841 44.8750 60.8832 .8954 24.6504 42.8837 .8893 .3750 44.8947 .7500 61.5738 .8912 .0417 61.Reliability R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S KEMANDIRIAN Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 Y8 Y9 Y10 Y11 Y12 Y13 Y14 Y15 Y16 Y17 Y18 Y19 Y20 61.2754 44.2500 60.5833 61.8927 .6047 .4716 .4344 .1250 61.9112 44.5505 .7917 60.7663 45.7917 61.

8333 133.6504 438.4869 .2391 436.4329 .9311 .4015 .9303 .9305 .9305 .4065 .6250 132.4167 133.8913 440.9309 .9308 .0272 438.368 0 .4798 .4811 .4710 437.4031 .9284 .6615 .7500 132.9305 .9301 .9583 133.3841 440.6667 132.4121 .8406 432.1250 134.6250 132. 3315 437.2500 132.3634 .9301 .3315 442.0417 435.9275 431.5489 441.9583 132.4928 433.9303 .9303 .9310 .9304 .5435 430.3406 433.2917 134.7373 440.9167 132.4130 434.4556 .3811 .9304 .5833 Scale Variance if Item Deleted 442.9306 .9583 134.7083 133.7040 .4008 .0580 439.9305 .9294 .7536 437.9307 .5000 434.3025 438.4145 .9306 .5924 442.4169 .9306 .8333 133.7808 440.5104 .1667 Corrected ItemTotal Correlation .6250 133.3333 132.0000 437.7083 133.3939 .9294 .3333 132.6176 .3670 .4776 .8967 441.4167 133.0851 442.9310 .9309 .9311 . 2500 133.9312 .8243 438.1250 133.4140 .1014 440.3333 133.5278 .7500 132.4292 .9297 .9309 .9309 .4058 438.5658 .9299 .4226 .6250 133.7917 134.2500 133.1667 133.6667 132.4493 441.9301 .8333 132.4274 .6938 429.5580 436.2917 133.9301 .9306 .5199 437.8623 435.0797 435.9304 .9783 440.2754 436.7083 132.9167 134.4379 .7171 .9167 133.9304 .Reliability R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S S C A L E (A L P H A) POLA ASUH ORANG TUA Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted X1 X2 X3 X4 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X15 X16 X17 X18 X19 X21 X23 X24 X25 X26 X27 X29 X30 X31 X32 X33 X35 X36 X37 X38 X39 X40 X42 X43 X44 X45 X46 X47 X48 _ 133.3424 .3333 132.3875 .2754 428.9307 .9306 .3654 .4482 .4089 .4330 446.4269 Alpha if Item Deleted .4213 .9286 .0833 132.0000 133.2917 132.4429 .9583 132.7500 133.8678 442.4594 .9307 .9289 .4695 .9306 .3612 .

2156 436.9316 24.3188 439.8750 132.0 N of Items = 51 .5417 132.R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S .4164 .S C A L E (A L P H A) POLA ASUH ORANG TUA Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted X49 X51 X52 X53 X54 X55 X56 X57 X59 X60 132.5258 .3750 439.4278 .5781 .6667 132.9304 .5833 132.9294 .5210 Alpha if Item Deleted .9307 .9982 441.9305 .5417 132.9928 438.3750 132.9297 .5833 132.6087 438.3952 .1304 Corrected ItemTotal Correlation .9305 .4115 .6449 435.4185 433.5000 133.5000 Scale Variance if Item Deleted 432.4169 .5417 133.4314 .9307 .9306 .9547 436.3965 .9298 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .9306 .

(2-tailed) N **. 24 24 Kedisiplinan Siswa Pola Asuh Orangtua Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.000 . Correlation is significant at the 0.661** 1.Correlations Correlations Kedisiplinan Pola Asuh Siswa Orangtua 1. .000 24 24 .000 . .000 .661** .01 level (2 -tailed).

(2-tailed) N Pearson Correlation Sig.156 24 .111 . 24 -.024 24 .024 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.318 .442* .294 .029 24 .461 24 .000 .299 .334 .426* .158 .Y .500 24 .035 .607 24 .232 .342 .500 24 .055 24 .194 .029 24 .232 .111 .003 24 Y7 .056 .020 24 1.484* .620** .158 .655** .182 .039 .035 .468 24 .470* .253 24 .050 .459* .473* .332 24 .024 24 Y9 .028 24 .000 .342 .038 24 Y10 .858 24 .182 .872 24 -.404 .639 24 . **.586** .507* . .024 24 .035 24 Y8 .019 24 Y6 .202 .246 .507* .243 .431* .246 24 .038 24 .396 24 .011 24 Y5 .01 level (2 -tailed).844 24 .910 24 .001 24 Y3 .222 .013 24 -.465 24 . 24 .449* .468 24 -.257 .396 .467* . 24 .159 .042 .163 24 . Correlation is significant at the 0.130 24 .05 level (2-tailed).102 24 . (2-tailed) N Y1 1.762 24 .858 24 .156 .442* .011 24 .017 24 .449* .844 24 .110 24 .105 .001 24 -.403 .102 24 .467* .467 24 1. 24 -.246 .020 24 TOT.110 24 .344 24 .000 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.816 24 .222 .445* .156 24 .607 24 -.000 .168 .305 .016 24 .624 24 .051 24 .363 24 . 24 .039 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.145 .403 .299 .445* .001 24 .461 24 . 24 -.484* .586** .194 .042 .207 .459 24 1.031 24 .459 24 .404 .309 24 .012 24 .024 24 Y2 .000 .296 24 1.029 24 -.016 24 .872 24 1. 24 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 Y8 Y9 Y10 TOT.344 24 .467 24 .065 .056 .795 24 1.029 24 -.257 .012 24 1. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.217 .051 24 .021 24 .305 .065 .620** . 24 .655** .156 .003 24 .43 4 24 .396 .000 .000 .458* .001 24 .202 .050 24 .426* .434 24 .363 24 .155 .155 .147 24 .017 24 Y4 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.275 24 .147 24 .035 24 . 24 . Correlation is significant at the 0.000 .130 24 .246 24 .309 24 .156 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.163 24 .624 24 .431* .055 24 1.Correlations Correlations Y1 Pearson Correlation Sig. 24 .031 24 .910 24 .019 24 .33 4 .159 .396 24 .795 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.488* .459* .473* .512* . 24 .000 .332 24 .762 24 .497* .050 .217 .275 24 .1 56 .488* .207 .445* .050 24 1.028 24 .243 .253 24 .145 .445* .000 .296 24 .168 .000 .024 .639 24 .458* .013 24 .226 24 .318 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.512* .294 .470* .105 .Y *.021 24 -.816 24 1. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.226 24 .497* .101 .465 24 .101 .

517** . 24 .413* .266 24 1.465* .643** .096 24 .063 24 .026 24 .940** .386 .348 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. 24 .169 .192 24 .575** .696 24 .339 24 .Correlations Correlations Y11 Pearson Correlation Sig.337 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.034 24 . 24 .000 24 .111 24 .50 2* .000 .435* .393 24 .024 24 .855 24 .567** .010 .000 .435* .507* .113 .386 .192 24 .248 .012 24 .333 .493* .001 24 Y20 .559** .460* .183 .543** .333 24 .197 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.001 24 1.000 .000 24 1.493* .338 .011 24 .502* .318 .115 24 .517** .373 .022 24 .177 .643** .000 .505* .012 24 Y14 .612** .045 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.567** . .130 24 .183 . 24 . 24 .011 24 1.004 24 .022 24 Y17 .242 24 .024 24 .079 24 .002 24 .001 24 .575** .372 24 .177 .004 24 .331 .500* . 24 .365 .768** .333 .073 24 .012 24 .014 24 Y12 .039 .194 .318 . **.000 .006 24 .339 24 .640** .204 .640** . 24 .130 24 .045 24 .003 24 .211 .000 24 Y18 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.Y . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.001 24 TOT.768** . (2 -tailed) N Pearson Correlation Sig.590** .507* . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.013 24 .01 level (2 -tailed).248 .590** .096 .000 .511* .364 24 1.559** .455* .963 24 .192 24 .006 24 .237 .108 . 24 .002 24 .000 . (2-tailed) N Y11 1.276 . 24 .373 .505* .197 .331 .430 24 .333 24 .614 24 .276 .113 .206 .002 24 .206 .364 24 .191 .500* .276 .001 24 1.654 24 .430 24 .000 .191 .637** .010 24 .000 .276 .194 .014 24 .011 24 .000 .013 24 . 24 Y12 Y13 Y14 Y15 Y16 Y17 Y18 Y19 Y20 TOT.348 .237 .010 .108 .338 .408 24 .242 24 .337 24 .205 .106 24 .543** .475 24 .111 24 1.393 24 . 24 .322 24 -.000 .001 24 .266 24 .465* .006 24 .413* . Correlation is significant at the 0.013 24 .365 .084 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.011 24 .106 24 .153 .356 24 .322 24 .455* .153 .654 24 .096 .012 24 1.026 24 Y19 .013 24 .004 24 Y15 .003 2 4 .637** .169 .000 24 .408 24 .500* .039 .855 24 .096 24 .079 24 .614 24 .460* .598** .612** .356 24 1.940** . Correlation is significant at the 0.599 24 .002 24 1.073 24 .204 .205 .063 24 .598** .500* .696 24 .963 24 .006 24 .05 level (2tailed).511* .372 24 .540** .084 .001 24 Y13 .010 24 .211 .192 24 .115 24 .001 24 .004 24 Y16 .034 24 .599 24 .475 24 .Y *.540** .

538** . .471* .191 .071 24 -.110 .794 24 .500* .020 24 .001 24 .293 .010 24 .300 24 .635 24 1.315 .000 .371 24 .309 24 .015 24 TOT.021 .000 .016 24 -.137 24 .306 24 .177 .320 .313 .000 24 .378 .337 .108 .000 .000 .518** .000 .000 1.614 24 .218 .400 .013 2 4 X4 .306 24 .028 24 X8 .102 .595** .489 24 .013 24 .013 24 .696** .108 24 .635 24 .483* .306 24 .470* .489* .217 .029 24 X2 .148 .500* .446* .306 24 .635 24 .000 1.015 24 .449* .293 .000 24 .000 24 .320 .019 24 .696** .489 24 1.501* . (2-tailed) N X1 1.313 .015 24 1.019 24 . 24 .001 24 .123 .000 24 .518** .007 24 . 24 . 24 .168 .021 24 -. 24 .007 24 .168 .395 .029 24 .309 24 .001 24 -.001 24 X10 .056 24 .000 24 X9 .056 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.017 24 .633** .010 24 .610 24 .01 level (2-tailed).177 .491* .102 .470* .449* .164 24 .010 24 .015 24 .021 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.538** .045 24 .013 24 .191 .486* .311 .045 24 .217 .056 24 1.491* .538** .218 .375 .922 24 X6 .000 1.475* . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.016 24 X5 -.102 .Correlations Correlations X1 Pearson Correlation Sig. 24 -.X .307 24 .127 24 .110 .102 .315 .069 24 .218 .705** .000 24 .538** .582** .102 .137 24 .000 24 X7 .400 .108 .431 24 .471* .483* .395 .017 24 . *. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.000 .003 24 .610 24 1. 24 .140 24 .309 24 .408 24 -.007 24 .371 24 .218 .140 24 .000 .000 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.056 .654** .015 24 .475* .000 .309 24 .218 .221 .431 24 .069 24 .413* .582** .003 24 .000 .635 24 .614 24 . Correlation is significant at the 0. 24 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 TOT.654** . 24 .010 24 1.336 .108 24 .501* .595** .218 .491* .486* . 24 .567 24 .489* .336 . 24 -.217 .010 24 1.164 24 .000 .108 24 -.021 24 1.028 24 .307 24 -.002 24 .221 .108 24 .518** .705** .567 24 .053 24 .133 24 .148 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.007 24 .635 24 -.635 24 .446* .491* .514* .102 .133 24 1.015 24 .053 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.518** .514* .000 24 .922 24 .375 .X **.378 .794 24 .127 24 1.311 .010 24 X3 .002 24 .020 24 .05 level (2 -tailed). (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.000 1. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.413* .633** .123 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.337 .071 24 .3 00 24 .408 24 .217 . 24 . Correlation is significant at the 0.

734 24 TOT.288 . 24 . 24 .073 .Correlations Correlations X11 Pearson Correlation Sig.390 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.019 24 X13 .095 24 .132 24 .165 .309 24 -.480* .534 24 -.000 24 .770 24 .177 24 .172 24 .510* . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.316 .152 24 1.073 . 24 .097 24 .063 .146 24 -.020 24 -.925 24 .675 24 .337 24 . 24 .000 1.277 .005 .194 24 .633 24 .777 24 .309 24 . 2 4 .474* .000 .675 24 .006 24 X19 .302 .171 .337 24 1.275 .535** .296 .044 24 X17 .020 .073 .348 .152 24 .446* .872 24 .000 .X . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.073 .930 24 .024 24 .140 .346 .000 1.172 24 .007 24 .306 .540** .000 1.267 .930 24 -.490* .217 .346 .733 24 .090 . 24 -.489 24 .208 24 .424 24 .441 24 -.925 24 X15 .097 24 .000 24 .000 24 -.208 24 1.941 24 .823 24 1.534 24 .322 24 .312 .827 24 -.343 24 .288 .392 24 .458* .823 24 .125 24 .941 24 .042 24 .211 .734 24 1.160 24 .309 24 -.510* .202 .446* .000 .044 24 .138 24 .019 .132 24 .146 24 -.016 .473* .414* .515 24 .777 24 -.474* .285 .165 .601 24 .183 .029 24 X20 -.015 24 X18 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.217 .720 24 .285 .015 24 .418* .005 .217 .042 24 .872 24 .019 24 . 24 .047 .827 24 .016 .306 .720 24 -.183 .194 24 .000 24 -.424 24 .020 24 X14 .000 24 .535** .473* . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.060 24 . (2-tailed) N X11 1.441 24 1.000 .000 1.000 1.035 .024 24 X16 . **.489 24 -. 24 -.157 . 24 .157 .063 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.770 24 1.312 .05 level (2 -tailed).189 24 .134 .060 24 -.733 24 -.392 24 .112 .047 .540** .343 24 .011 24 .006 24 .148 .316 .480* .035 .090 .140 .296 .112 .000 24 -. .189 24 1.029 24 -.134 . Correlation is significant at the 0.465 24 .011 24 X12 .000 1.048 .103 .211 .019 .048 .322 24 -.217 . (2 -tailed) N Pearson Correlation Sig.267 .138 24 .309 24 .601 24 .125 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.414* .061 .160 24 .077 .275 .205 .322 .980 24 .633 24 .302 .020 .077 . Correlation is significant at the 0.007 24 -.061 .000 .980 24 .X *.018 24 -.348 . 24 . 24 X12 X13 X14 X15 X16 X17 X18 X19 X20 TOT.490* .01 level (2-tailed).000 .277 .177 24 1.000 .000 .000 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.390 .000 .515 24 .202 .458* .103 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.465 24 1.095 24 -.205 .018 24 .148 .171 .418* .322 .000 .

096 .093 24 X29 .052 .126 .640** .961 24 -.636 24 .045 24 X28 -.442* .141 .764 24 .134 .014 . 24 X22 X23 X24 X25 X26 X27 X28 X29 X30 TOT.328 24 .104 .277 24 .621 24 -.012 24 .186 .202 . Correlation is significant at the 0.630 24 . (2-tailed) N X21 1. (2 -tailed) N Pearson Correlation Sig.000 24 -.027 .001 24 .030 .774 24 1.259 24 -. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.315 24 . 24 .009 24 .000 .457* .000 .022 24 TOT.051 .126 .259 24 .013 24 .412* .429* .012 24 .350 .774 24 .814 24 .019 24 .104 .051 .045 24 -.097 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.823 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.202 .051 .544** .217 .141 .630 24 . 24 .000 .036 24 X22 .006 24 .011 .208 .000 .031 24 X24 .623** .001 24 -.612 24 .048 .621 24 -.128 24 .048 .040 24 X25 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.109 .141 24 .315 24 .240 .013 24 .653 24 -.030 .350 .X *.109 .466* .062 .296 24 .000 .814 24 -.065 .623** .186 .442* .457* .465 24 .009 24 -.556 24 -.328 24 1. .466* .008 .344 24 . 24 -.636 24 -.309 24 -.134 .533 24 -.949 24 .519** .900 24 . **.014 .019 24 X27 -.022 24 -. 24 .506* .100 .814 24 -.052 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.655 24 . 24 -.000 24 -.640** .375 .101 .096 .025 24 1.464* .890 24 -.814 24 .475* .012 24 X26 .422* .310 .214 .544** .510 24 .810 24 .025 24 .510 24 1.422* .040 24 .051 .442* . 24 .022 24 1.344 24 X23 .102 .309 24 .001 24 1.900 24 .505* .764 24 -.383 24 -.087 .071 24 .375 .383 24 1.104 .008 . 24 -.639 24 .031 24 .639 24 . 24 -.685 24 .X .412* . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.465 24 -.071 24 -.208 .556 24 -.065 .000 .222 . Correlation is significant at the 0.519** .011 .128 24 -.097 .464* .000 .093 24 .630 24 . 24 .01 level (2 -tailed).972 24 .027 .000 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.972 24 -.762** .277 24 -.Correlations Correlations X21 Pearson Correlation Sig.641 24 -.231 .296 24 .000 .506* .612 24 -.810 24 .310 .762** .608 24 .961 24 -.022 24 .100 .157 .141 24 .110 .214 .222 .608 24 -.031 24 X30 .505* .157 .501* . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.106 .429* . 24 .101 .231 .655 24 .653 24 .319 .442* .630 24 1.036 24 -.102 .240 .012 24 1.106 .685 24 -.217 .319 .501* .006 24 -.533 24 -.087 .641 24 .031 24 .000 .890 24 .05 level (2-tailed).062 .110 .475* .823 24 1.000 .104 .949 24 .001 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.

419* . 24 -.054 24 .000 .005 24 1.331 24 .247 24 .406* .329 .000 . 24 X32 X33 X34 X35 X36 X37 X38 X39 X40 TOT.028 .840 24 .02 3 24 -.570** .202 .206 .828 24 .043 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N X31 1.711** .687** .086 24 .259 .343 .313 24 -.208 24 .328 .117 24 .141 24 .246 .423* .Correlations Correlations X31 Pearson Correlation Sig.207 . (2 -tailed) N Pearson Correlation Sig.248 .233 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.041 24 .043 .419 24 -.117 24 .553 24 .898 24 .419* .768 24 1.560 24 .511 24 .028 .801 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.687** .840 24 X35 .358 .358 .090 24 .141 24 .570 24 .028 24 X38 . 24 .000 .462* .093 .004 24 1.202 .006 24 .307 24 .413 24 .334 24 .141 .093 .05 level (2 -tailed).047 .X *.043 .354 .043 .175 .030 24 .039 24 -.544** .349 .828 24 .711** .454* .175 .720** .443* .063 .000 24 .206 .841 24 .222 24 .222 24 -.343 24 .025 24 .902 24 1.841 24 .117 24 . .329 .553 24 -.000 24 .448* .125 .207 .117 24 .555** .000 .101 24 .043 .454* .006 24 .560 24 .456* .590** .027 .023 24 X34 .243 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.043 .423* .025 24 .304 24 .049 24 X37 .125 .208 24 .101 24 1.570 24 .570** .005 24 TOT.801 24 .000 .039 24 .456* .354 .266 .419 24 .902 24 .027 .006 24 .002 24 .065 24 .328 .544** .215 . 24 .544** .023 24 X39 .086 24 .343 24 .002 24 .243 24 .245 .273 24 .590** .173 .122 . Correlation is significant at the 0.343 .028 24 .248 24 .127 .448* .555** .054 .245 .023 24 .768 24 -.026 24 .443* .413 24 .24 7 24 .090 24 .000 .328 .462* .219 .000 .095 24 .841 24 1.399 .266 .304 24 .218 .026 24 X40 .054 24 .841 24 -.383 .173 .313 24 -.383 .898 24 1.720** .511 24 . Correlation is significant at the 0.665 24 .328 .310 .000 24 1. 24 .095 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.047 .544** .117 24 -.215 .049 24 .X .313 24 .259 .030 24 X33 .000 24 .054 .215 .462* . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.273 24 .248 . 24 .000 .313 24 .127 .246 .122 .310 .406* .000 24 X32 .399 .004 24 .462* . 24 .063 .000 24 .000 .117 24 . 24 .065 24 . **.000 . 24 .218 .01 level (2-tailed).006 24 1.334 24 .041 24 X36 .219 .141 .248 24 -.233 .000 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.665 24 .331 24 .307 24 1. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. 24 .21 5 .349 . 24 -.

24 .367 24 -. 24 .303 .023 24 . **. 24 .478* .023 24 .200 .428* . 24 .435* .301 .110 .291 .302 .067 24 .576 24 .234 .300 .474* .193 .511 24 .167 .455* .442* .171 .113 .200 .065 .023 24 X48 -.018 24 TOT.545 24 .141 .018 24 1.026 24 .560 24 . 24 X42 X43 X44 X45 X46 X47 X48 X49 X50 TOT.299 24 .442* .167 .273 .560 24 .194 .032 .042 24 .130 .007 24 .428* . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. .066 24 .000 .158 .048 .110 24 1.884 24 .141 .000 24 .474* .764 24 .000 24 . 24 -. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.278 .786 24 X42 .462 24 .053 .273 .113 .145 24 .05 level (2 -tailed). (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2 -tailed) N Pearson Correlation Sig.058 .598 24 .729** .125 .540 24 .060 24 .408* .000 24 .271 24 1.301 .194 .145 24 1.000 .020 24 .042 24 1.131 .058 . 24 .000 24 -.068 .123 .426 24 .303 .610 24 -.193 .545 24 -.196 24 -.048 24 X44 .110 .110 24 .436 24 .786 24 .000 .007 24 X50 .048 24 .153 24 .168 24 -.418* .026 24 X45 .431* . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.130 .532** .000 24 1.807 24 .155 24 .019 24 .221 .754 24 1.381 .000 .271 .349 24 .000 .024 24 .067 24 .000 .X .459* .221 .024 24 .463* .462 24 .567 24 .307 .152 24 .381 .139 .365 24 -.691** . Correlation is significant at the 0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.020 24 X47 -.125 .823 24 .000 .Correlations Correlations X41 Pearson Correlation Sig.598 24 -.938 24 .151 24 -.576 24 .271 24 .153 24 .120 .540 24 .380 .455* .188 24 -.168 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.463* .031 24 .610 24 .516 24 .152 24 .478* .390 .034 24 .511 24 -. 24 .567 24 .418* .151 24 .408* . 2 4 -.158 .234 .335 .000 .463* .390 .131 . (2-tailed) N X41 1.365 24 .036 24 1.000 .048 .01 level (2 -tailed).017 .000 1.938 24 -.034 24 -.380 .120 .471* .123 .200 24 .436 24 . 24 .019 24 -.053 .435* .823 24 .278 .031 24 X43 .471* .463* .000 1. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.188 24 -.764 24 .280 24 .065 .000 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.335 .000 .200 24 -.300 .000 24 -.068 .884 24 -.X *.299 24 1.516 24 .349 24 .196 24 .271 . 24 .532** .431* .017 .307 .280 24 -.459* .032 .171 .691** .139 .754 24 -.155 24 .230 . Correlation is significant at the 0.230 .036 24 .060 24 .807 24 -.037 24 X49 -.729** .291 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.367 24 .023 24 X46 .066 24 -.037 24 .302 .426 24 1.

111 .463* .006 24 .000 1.786 24 .017 24 X54 .000 .355 .463* .019 .103 24 .538** . 24 .786 24 .111 .176 24 .001 24 .117 .181 . Correlation is significant at the 0. com/search?q=cache:xzdsRKh9DMJ:www.427* . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.053 24 -.117 .015 .771 24 -.000 24 . (2-tailed) N X51 1.058 .026 24 .003 24 .001 24 . 24 .604 24 -.040 24 X53 .320 .355 .068 .586 24 .615** .202 24 .228 24 .026 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.048 . 24 .620 24 .455* . 24 .969 24 .749 24 .145 24 . 24 -.634 24 -.069 .020 24 .286 .126 24 1.102 .000 1.111 .019 .Correlations Correlations X51 Pearson Correlation Sig.googleusercontent.178 24 1.408 24 .01 level (2 -tailed) http://webcache.300 .307 .225 .281 .207 .752 24 .749 24 .605 24 .440* .040 .784 24 1.177 .852 24 .069 .483* .032 24 X56 .784 24 . .001 24 .634 24 .341 .605 24 .320 .000 24 .438* .546** .823 24 1.040 .040 24 .178 24 -.023 24 . **.281 .423* .271 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.000 . Correlation is significant at the 0.008 .181 .183 24 .007 24 . 24 .000 .030 24 X58 -.461* .126 24 .111 . 24 .969 24 -.473* .006 24 TOT.547** .201 24 1. 24 X52 X53 X54 X55 X56 X57 X58 X59 X60 TOT.023 24 .423* .053 24 .464 24 .037 24 .000 .546** .032 24 X55 .752 24 -.000 1.633** .104 .440* .032 24 X52 .088 24 .154 24 . 24 .103 24 .630 24 .400 .355 .05 level (2 -tailed).321 .157 .048 .089 24 1.102 .023 24 .000 .157 .944 24 . (2 -tailed) N Pearson Correlation Sig.823 24 .286 .332 24 .473* .461* .088 24 1.228 24 .003 24 X60 .355 .931 24 .256 .063 .372 24 -.483* .032 24 .604 24 .944 24 . 24 .284 .397 24 X59 .290 24 .440* .015 .000 .058 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.176 24 .630 24 .000 24 .000 .284 .104 .271 .341 .000 1.128 24 .017 24 .X .059 .059 .578** .438* .008 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.177 .444* .290 24 .001 24 .270 .270 .455* .307 .427* . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.030 2 4 -.032 24 .154 24 1.063 .332 24 . 24 .538** .201 24 .107 .000 .X *.464 24 .191 .397 24 .620 24 .225 .191 .321 .852 24 1.000 24 .007 24 . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.128 24 .000 .com/doc/37574856/128+hubungan+pola+asuh+ibu+dengan+ kemandirian+anak+usia+4-6+tahun+di+TK&cd=9&hl=id&ct=clnk&gl=id .400 .183 24 .023 24 X57 .068 .202 24 .256 .scribd.444* .107 .145 24 .300 .006 24 .440* .408 24 .037 24 .578** .089 24 .032 24 .547** . (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.931 24 .020 24 .207 .006 24 1.633** .586 24 .615** .000 .372 24 .771 24 .000 .

.

ekolah atau di rumah (sosial). Ciri khas perkembangan kognitif anak TK adalah : * Anak sudah mampu menggambarkan objek yang secara fisik tidak hadir. berbelok. B. keterampilan nonlokomotorik (menggerakan anggota tubuh dengan posisi tubuh diam ditempat. Perkembangan kognitif Berarti proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan syaraf pada waktu manusia sedang berpikir. dan keterampilan memproyeksi. Karakteristik anak TK 1.. menendang bola.. Keterampilan koordinasi motorik kasar terbagi atas tiga kelompok yait u keterampilan lokomotorik (berlari. berjalan setelah berhenti sejenak. * Anak memiliki motivasi instrinsik sehingga tidak mau berhenti melakukan aktivitas fisik baik yang melibatkan gerakan motorik halus maupun motorik kasar. menggiring bola. melengkung. seperti ketika menggambar anak menunjukkan gambar ikan dari sudut pengamatannya. orang dewasa disekitar anak) perlu memahami tahapan perkembangan anak dalam segala aspek. 3. berguling. 2. berjalan. melompat. seperti anak mampu menyusun balok kecil untuk membangun rumah -rumahan. guru. bergoyang. menjatuhkan diri. * Anak belum mampu berpikir kritis tentang apa yang ada dibalik suatu kejadian. Pemahaman tersebut dapat membantu menganalisis dan mengelompokkan anak pada kategori bermasalah atau tidak. mengangkat. merentang. menderap. melempar dan menaiki. Motorik halus berkaitan dengan gerakan yang menggunakan otot halus. pendidik (orang tua. Motorik kasar mer upakan gerakan yang terjadi karena adanya koordinasi otot -otot besar. dan mengelak). * Anak tidak mampu memahami prespektif atau cara berpikir orang lain (egosentris). menggambar. berhenti. menangkap dan menerima (dapat dilihat pada waktu anak menangkap bola. dll. dan otot yang terkoordinasi.Definisi anak bermasalah Anak bermasalah usia TK 4-6 tahun yang memiliki perilaku non normatif ( perilaku) dilihat dari tingkat perkembangannya. melempar bola. /p> Untuk mengetahui apakah anak bermasalah atau tidak. memutar dan mendorong). urat syaraf. dan lain sebagainya. menggambar. meronce. Ciri khas perkembangan motorik anak TK adalah : * memiliki kemampuan motorik yang bersifat kompleks. memukul dan menarik). berkembang secara bertahap sejalan dengan perkembangan fisik dan syaraf -syaraf yang berada di pusat susunan syaraf. Perkembangan motorik terbagi dua yaitu motorik halus dan motorik kasar. menggunting. meluncur. seperti . seperti . seperti anak tidak mampu menjawab alasan mengapa menyusun balok seperti ini dll. berayun. melompat. memeluk. yaitu mampu mengkombinasikan gerakan motorik dengan seimbang. Perkembangan motorik Berarti perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf. atau mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri baik pada waktu belajar (konsentrasi) maupun dalam aktivitas bermain di s. melipat kertas. berlari. Perkembangan bahasa . melambungkan bola.

Intensitas perilaku maksudnya tingkat kedalaman perilaku anak yang bermasalah. perbedaan. * Sudah dapat menengkan diri * Pada usia 6 tahun anak akan menjadi sangat asertif. kecepatan. sering berperilaku seperti boss (atasan). khususnya yang berkaitan dengan emosi. * Sudah dapat melakukan ekspresi diri. * Lingkup kosakata yang dapat diucapkan anak menyangkut. u menjadi ibu) dan sintaksis (t ata bahasa. * Sering bertengkar tetapi cepat berbaikan kembali. dapat diwujudkan dengan tanda isyarat tangan atau anggota tubuh lainnya yang memiliki aturan sendiri. rentang perhatian anak untuk konsentrasi sangat pendek. * Sudah dapat mempelajari mana yang benar dan yang salah. Usia anak yaitu tingkah laku anak yang mencolok yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak seusianya. * Anak sudah dapat menunjukkan sikap marah. rasa. Ciri khas perkembangan bahasa anak TK adalah * Terjadi perkembangan yang cepat dalam kemampuan bahasa anak. jarak. maksudnya seberapa banyak tingkah laku yang menimbulkan masalah muncul. membaca bahkan berpuisi. * Sudah dapat membedakan yang benar dan yang tidak benar. malah beberapa kali dalam sehari maka hal itu pertanda anak bermasalah. Frekuensi perilaku menyimpang yang tampak. Perkembangan psikososial Merupakan perkembangan yang membahas tentang perkembangan kepribadian manusia. * Sudah dapat meras akan kelucuan (misalnya. keindahan.Bahasa sebagai alat komunikasi ti dak hanya berupa bicara. maksudnya. * Keinginan untuk berdusta mulai muncul. akan tetapi dapat menerima nasihat. * Dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan. Apakah anak TK yang terlambat perkembangannya sama artinya dengan anak yang bermasalah? . ukuran. serta apa yang dilihatnya. 4. menulis.500 kosakata. * Rasa takut dan cemas mulai berkembang. bau. * Telah menguasai 90% dari fonem (satuan bunyi terkecil yang membedakan kata seperti kemampuan untuk merangkaikan bunyi yang didengarnya menjadi satu kata yang mengandung arti contohnya i. * Sudah dapat mengucapkan lebih dari 2. Ciri khas perkembangan psikososial anak TK adalah * Sudah dapat mengontrol perilakunya sendiri. akan tetapi anak takut untuk melakukannya. permukaan (kasar -halus) * Mampu menjadi pendengar yang baik. ikut tertawa ketika orang dewasa tertawa atau ada hal -hal yang lucu). Anak sudah dapat mendengarkan orang lain berbicara dan menanggapi pembicaraan tersebut. Anak dapat menggunakan kalimat dengan baik dan benar. 2. medominasi situasi. suhu. dan sudah dapat menerima peraturan dan disiplin. bentuk. dan hal ini akan berlangsung sampai usia 5 tahun. misal saya memberi makan ikan´ bukan ´ikan saya makan beri´) bahasa yang digunakan. Batasan -batasan bermasalah Anak bermasalah di TK dapat dilihat dari : 1. anak dikatakan bermasalah sangat bergantung pada ukuran budaya setempat. b. Ukuran norma budaya. anak mudah beralih perhatiannya baik dalam belajar atau bermain. misalnya. motivasi dan perkembangan kepribadian. 4. misalnya anak ngambek setiap hari . C. warna. * Percakapan yan g dilakukan telah menyangkut berbagai komentar terhadap apa yang dilakukan oleh dirinya sendiri dan orang lain. 3. * Perasaan humor berkembang lebih lanjut. perbandingan.

Jawabannya ya dan tidak Ya. Melihat emosi negatif sebagai arena yang penting dalam mengasuh anak. walaupun ungkapan emosinya tidak terlalu kelihatan. Apakah perilaku tersebut mengganggu aktivitas anak baik dalam belajar maupun bermain? 3. jika anak berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarn ya (anak berkembang dengan iramanya masing -masing). Menggunakan saat-saat emosional sebagai saat untuk mendengarkan anak. prestasi kurang di sekolah. dan terus berada di kamar orang tua. Masalah anak TK a. 7. sedih. Rasa takut yang berlebihan terlihat dalam gejala -gejala seperti berikut : 1. 10. Gejala psikis. namun jika berlebihan dan tidak wajar maka perlu diperhatikan. 4. putus asa. agresi. Sadar dan menghargai emosi -emosinya sendiri. Tidak bingung atau cemas menghadapi ungkapan -ungkapan emosional anak. Penakut Setiap anak memiliki rasa takut. tidur. marah. dokter atau dokter gigi. sensitif. 3. gelap. mudah tersinggung. 6. Sabar menghadapi anak yang sedih. dan mengajarkan anak untuk terampil dalam menyelesaikan masalah. lamunan. seperti . Peka terhadap keadaan emosi anak. dan sakit kepala. jika anak yang terlambat dalam perkembangan tersebut sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan rumah. ketidakberdayaan. serangga. demikian pula sebaliknya). bersalah. menolong anak memberi nama emosi yang sedang dirasakan. Penyebab anak memiliki rasa takut : 1. angin topan. Tidak menanggapi lucu atau meremehkan perasaan negatif anak. atau ketakutan. rendah diri. dan saat emosi negatif anak muncul sebaiknya guru menciptakan hubungan yang akrab 2. D. Tidak. ketergantungan pada suatu benda. 3. rasa takut. E. seperti . perut. Rasa takut anak TK biasanya terhadap hewan. gangguan makan. Gejala emosional. Urutan kelahiran . 8. sulit bernafas. Tidak merasa bahwa guru harus membereskan semua masalah bagi anak. Jika tingkah laku tersebut tidak diatasi dengan segera apakah akan menimbulkan masalah dala m perkembangan anak secara menyeluruh? Jika semua pertanyaan tersebut dijawab ´ya´ maka besar kemungkinan anak tersebut bermasalah. lapar atau kurang sehat). 1. Keadaan fisik ( anak cenderung takut bila dalam keadaan lelah. Apaka h frekuensi tingkah laku yang menyimpang tersebut terlihat setiap waktu? 2. bingun g. dan tidak menjadi marah jika menghadapi emosi anak. marah. sekolah. 3. menghindari pergi keluar. Jenis kelamin (anak perempuan lebih takut dibanding laki -laki karena lingkungan sosial lebih menerima rasa takut perempuan). 2. ketinggian. 9. Berikut ini pertanyaan yang dapat mengidentifikasi apakah anak tersebut bermasalah atau tidak. Gejala tingkah laku seperti : gangguan tidur. Untuk tahu apakah anak tersebut bermasalah maka pendidik harus memperhatikan kekhasan perilaku anak. mengisolasi diri. 5. Menghadapi emosi emosi negatif anak. monster. dll. Tidak memerintahkan apa yang harus dirasakan oleh anak. Intelegensi ( anakanak yang tingkat intelegensi tinggi cenderung punya rasa takut yang sama dengan anak yang berusia lebih tua. 4. menentukan batas -batas dan mengajarkan ungkapan emosi yang dapat diterima. berempati dengan kata-kata yang menyejukkan. 2. Respon guru TK dalam menghadapi anak TK yang bermasalah 1.

Menggambar b. mengolok -olok. mengejek. tontonan TV. tangan. otoriter terhadap anak dan terlalu protektif. Lindungi dan hibur anak 3. dll. Solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan pendidik 1. paksaan. mencaci dan memaki. Reaksi emosi terhadap frustasi (banyaknya larangan yang dibuat guru atau orang tua (kecemasan yang berlebihan). atau ibu yang takut. 3. mencakar. ejekan. sementara anak melakukan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhannya). 3. Mendengarkan cerita anak 2. mengganggu anak lain. Memberi hadiah 5. merusak alat permainan milik teman. Solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan pendidik : 1. Menyerang dalam bentuk verbal seperti . yang timbul pada seseorang. ketidakperdulian. dan pelindungan diluar batas. Anak kurang terbuka Penyebab anak pemalu 1. Tidak bersedia untuk berdiri di depan kelas 4. Bertambahnya usia diekspresikan dengan mencela. Bela jar mengenal perasaan 3. Kepribadian anak (anak yang kurang memperoleh rasa aman cenderung lebih penakut). Ciri anak pemalu adalah : 1. Memberi contoh teladan (guru sebagai model) 6. akibatnya adanya penilaian negatif terhadap dirinya. Memanfaatkan imajinasi anak untuk menumbuhkan keberanian 10. Tidak mampu menatap mata orang lain ketika berbicara 3. berbicara kotor dengan teman. p ola asuh orang tua yang menghidupkan rasa takut anak seperti . Ajari kenyataan 4. Biasanya melanggar aturan atau norma yang berlaku di sekolah seperti. Pemalu Pemalu adalah reaksi emosional yang tidak menyenangkan. 8. Penyebab anak agresif 1. Lebih senang bermain sendiri 6. seperti . 7. 4. Tidak berani tampil dalam permainan 7. Melakukan aktivitas penuh tantangan 9. memukul. Kesulitan . Membatasi diri dalam pergaulan 8. bencana alam. 3. Beri penguatan jika anak berperilaku tepat dengan temannya 5. seperti . 6. Kurang berani bicara dengan guru atau orang dewasa 2. 5. Perbanyak kegiatan yang menggunakan gerakan motorik c. atau memukul. mencaci. Pola asuh yang keliru (melakukan kekerasan terhadap anak. Keadaan fisik 2. Gejala anak yang agresif : 1. Bermain peran 2. Menyerang dengan menggu nakan kaki. Mendongeng 8. 2. tabrakan mobil. Sering mendorong.(anak sulung cenderung lebih takut karena perlindungan yang berlebihan). Agresif Agresif adalah tingkah laku menyerang baik secara fisik maupun verbal atau melakukan ancaman sebagai pernyataan adanya rasa permusuhan. Adanya contoh yang dilihat anak. Perilaku tersebut cenderung melukai anak lain seperti menggigit. tubuhnya untuk mengganggu permainan yang dilakukan teman -teman. Anak tidak banyak bicara 9. atau berkelahi. Enggan bergabung dengan anakanak lain 5. berkelahi. 7. Tingkah laku mengganggu muncul karena ingin menunjukkan kekuatan kelompok. hukuman. Coping model (adalah salah satu cara seseorang menghadapi rasa takut namun ia harus melewati rasa takut itu. angina topan. Belajar berteman melalui permainan beregu 4. terlalu memanjakan anak (orang tua selalu mengijinkan atau membenarkan permintaan anak) 2. Tingkah laku agresif sebelumnya (tingkah laku agresif yang pernah dilakukan anak mendapat penguatan dari keluarga atau guru). Trauma yang dialami anak-anak. Salah satu cara dengan bicara pada diri sendiri).

dalam bicara 3. Belajar bergabung melalui permainan 3. Melibatkan anak pada kegiatan yang menyenangka 2. 22 Mei 2009 hambatan interaksi Hambatan interaksi dan komunikasi (studi kasus) DOSEN : Dra.com/group.facebook. Dorong anak berpartisipasi dalam kelompok Ver más http://webcache.MOMON KUSMANA. Harapan orang tua yang terlalu tinggi 5. BETTY KARYANTI IMA KURROTUN AININ ANIK DWI HIEREMAWATI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2009 KATA PENGANTAR . Kurang terampil berteman 4.php%3Fgid%3D403081916419%26v%3Dwall+perilak u+sosial+pada+anak+usia+4-6+tahun+di+TK&cd=8&hl=id&ct=clnk&gl=id Jumat. Meng ajar cara mulai berteman 4.com/search?q=cache:HfKdUB9svusJ:es es.PdOleh: AHMAD NAWAWI. PERMANARIAN SOMAD M. Pola asuh yang mencela Solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan pendidik : 1.googleusercontent.

Kritik. Tiada gading yang tak retak. saran dan masukan akan menjadi bahan sharing yang berharga khususnya bagi tim kelompok penulis. Sholawat serta salam teruntuk baginda yang kami rindukan Na bi dan Rasul kita Muhamad SAW. Contoh Rancangan Program Intervensi BAB V PEMBAHASAN . yang tiada pernah terputus rahmat dan karunia-Nya. Pembahasan Data D. Latar belakang B. Maret 2009 Penyusun Kelompok 1 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Interaksi B. Menyusun Kajian Teori C. Ucapan terima kasih kepada semua dosen Prodi Pendidikan Kebutuhan Khusus dan rekan-rekan yang selama ini saling mendukung. Kepada keluarganya. Riwayat Perkembangan Kelahiran. Bandung. para sahabatnya dan sampailah pada kita sebagai pengikutnya. Karenanya kami memohon saran dan kritik dari pembaca agar dapat memperbaharuinya dikemudian hari . Tujuan penulisan BAB II DESKRIPSI KASUS A. begitu pula dalam makalah presentasi tugas kelompok kami ini. Identitas Kasus B.Puji syukur kehadirat Allah SWT. Mohon maaf jika dalam penyusunan laporan presentasi ini terdapat banyak kesalahan. Mengembangkan Kemampuan Interaksi Anak Usia 3 ± 5 Tahun C. Instrumen Asesmen E. Berharap semoga ilmu yang di kaji saat ini menjadi ilmu bermanfaat dan dapat diaplikasikan secara nyata dilapangan. Pengasuhan dan Kesehatan Anak BAB III KAJIAN TEORI A. saling mengisi dan menyemangati dalam proses menuju pemahaman ke tingkat yang lebih baik. Perumusan masalah C. Bentuk-Bentuk Interaksi BAB IV METODE A. Menentukan Subyek B.

Menurut penelitian janin/bayi di dalam kandungan pada usia kandungan tertentu memiliki kemampuan berinteraksi dengan lingkungan di luar kandungan. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Hi dup bersama antar manusia akan berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi. merespon belaian pada kandungan. terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak dapat terlepas dari individu lain. baik itu disengaja maupun tidak disengaja. Saran C. terutama dengan ibunya. Pada masa -masa awal kelahirannya manusia sudah belajar melakukan komunikasi. Kenyataan ini memunculkan keingin an untuk melakukan studi kasus terhadap salah satu anak yang diduga mengalami hambatan dalam . Dengan demikian kegiatan hidup manusia akan selalu dibarengi dengan proses interaksi baik interaksi dengan alam lingk ungan. Itu artinya manusia telah dibekali kemampuan interaksi sejak dini oleh Yang Maha Kuasa. dll. Ibu dapat membedakan menangis karena ³ngompol´ atau menangis karena lapar (ingin menyusu). maupun interaksi dengan Tuhannya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa manusia sejak dini telah menunjukkan tanda -tanda komunikatif dalam rangka pemenuhan kebutuhannya. Secara kodrati manusia akan selalu hidup bersama. Setiap manusia memiliki kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya. Rekomendasi DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN A. Kesimpulan B. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial. Dari tangisan bayi. interaksi dengan sesamanya. terutama ketika berinteraksi dengan sesama manusia. seorang ibu dapat membedakan apa yang anak inginkan. Pada tahap selanjutnya interaksi ini diwujudkan dalam bentuk komunikasi. kendaraan. Namun kenyataannya tidak semua mampu berinteraksi dengan baik. Misalnya bayi mampu mendenga r bunyi-bunyi musik. Pada masa itu bayi mulai belajar mengkomunikasikan segala keinginannya dengan suara tangisan dan gerakan -gerakan tertentu dari anggota tubuhnya. Bahkan kemampuan itu telah dimilikinya ketika masih di dalam kandungan.BAB VI PENUTUP A. detak jantung ibunya. ada beberapa anak diantaranya yang diduga mengalami hambatan dalam berinteraksi. Sejak di dalam kandungan manusia telah belajar berinteraksi dengan kondisi ibunya.

Berat badan lahir : 3. . Natal a. Lahir anak langsung bisa menangis g. Lahir cukup bulan c. Identitas subyek Nama : H Jenis kelamin : Laki-laki Tempat tanggal lahir : Bandung 14 April 2005 Anak ke : Tunggal B. Identitas 1. Riwayat Perkembangan Kelahiran. Pre natal Selama kehamilan trimester pertama asam lambung ibu tinggi 2.berinteraksi. Post natal 2 kali di beri imunisasi influensa. B. Usia kehamilan 5 bulan ibu mengalami sakit gatal 4. Menggunakan salep untuk gatal 5. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang masalah. Tinggi badan lahir : 52 cm 3. sebelum diimunisasi H sering sakit dan daya tahan tubuh terhadap influensa membaik setelah imunisasi ke 2. Pengasuhan Dan Kesehatan Anak (Berdasarkan Keterangan Ibu Subjek) 1.850 gr i. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah 1) untuk mengetahui riwayat perkembangan kasus. Proses kelahiran agak lama e. dapat dikemukakan permasalahan pokok yang menjadi dasar perumusan masalah studi kasus yaitu: ³ Bagaimana riwayat perkembangan kasus? Bagaimana kemampuan interaksi yang dimiliki kasus? dan Bagaimana program penanganannya ? C. Menggunakan perangsang pil d. Sejak hamil sampai melahirkan ibu mengeluhkan sakit di bagian tulang ekor 2. Pernah minum milanta tablet 3. Kelahiran normal b. 2) untuk mengetahui bentuk-bentuk kemampuan interaksi yang dialami kasus dan 3) Membuat rancangan program penanganannya. BAB II DESKRIPSI KASUS A. Sedikit kuning (tidak sampai di sinar) h. Ibu diinfus f.

Satu setengah tahun masih belum memehami konsep panas -dingin. Usia 3 tahun 2. R=respon. (S -R-S-R-S-R-S-R-Stanpa R). Usai tiga tahun H mampu menanggapi stimulus dengan respo n verbal hingga dua sampai empat kali respon S= stimulus. namun respon balik yang disampaikan H hanya sekali dan tidak berula ng ) artinya Stimulus-Respon-Stimulus-Tanpa responStimulus-tanpa respon.5 bulan H tidak lagi mengikkuti Day care 7. Usia 1 tahun 4 bulan H masih belum memiliki kepercayaan diri untuk berjalan sendiri (selalu meminta untuk dipegangi) b. Vokalisasi jelas meskipun berbicara pelan 6. Usia 1 tahun 4 bulan naik tangga dengan merayap. langkah H makin tidak seimbang c. Tidak mampu mengendalikan emosinya secara stabil terutama pada saat berinteraksi dengan teman yang berbeda jeni s kelamin dengan H c. Perkembangan sosialisasi a. belum memahami fungsi benda d. Usia dua setengah tahun respon yang muncul hanya sekali dan tidak berulang kembali (H bermain dengan teman sebayanya. ada beberapa stimulus rangsang yang diberikan teman. Pada usia 7 bulan kata kata bermakna yang yang keluar hanya : maman b. H tampak berbeda dengan anak lain dalam berkomunikasi. Diusai tiga tahun kemampuan berbicara H mengalami perbaikan. Perkembangan emosi a. Di usia satu tahun perkembangan bahasanya sudah menampakkan peningkatan c. namun tampak postur keseimbangannya kurang. (badan condong kedepan. f.4. Frekuensi di Day care dikurangi menjadi 5 hari d. Awalnya dititipkan Ibu di Day care (8 hari penuh) c. ia lebih suka menghindar dan menunjukkan penolakan pada kehadiran orang lain pada usia dibabah 15 bulan b. Mampu merangkai tiga kata dengan struktur kalim at yang benar e. H dikatakan ³moody children´ anak-anak yang memiliki ketidak stabilan mood atau emosi . Saat dipegang kedua tangan H ingin berjalan cepat-cepat. telapak kaki tampak jinjit saat melangkah dan belum bisa menopang berat badan sepenuhnya) saat dipegang dengan satu tanggan. Usia 1 setengah tahun H masih belum mampu bergaul dan membaur bersama teman teman lain di Day care e. mobilisasi masih dengan merangkak 5. Sangat suka menyendiri b. Perkembangan bicara dan berbahasa a. ide untuk mengawali dam memulai pembicaraan mulai muncul g. Perkembangan motorik a. masih belum konsisten terhadap konsep sebab akibat. h. Posisi H saat duduk tampak sering membungkuk d.

Memahami deret kubus. geometrik. Tidur dengan orangtua (1bed dengan Ibu. panjang-pendek. bentuk sudah paham d. Secara umum perkembangan persepsi H baik b. Perkembangan dorongan i. Menanggapi tawaran dengan kegembiraan yang pasif c. Komunikasi kompleks a. Menunjukkan minat terhadap objek tetapi kurang dengan teman sebaya yang berjenis kelamin perempuan atau orang yang belum dikenal 2. Menanggapi tawaran dengan senyuma n. Malam hari masih ngompol b. Bisa meniru perilaku yang bertujuan . Ayah di extra bed) a. Makan 2 s/d 3 sendok bisa sendiri. selebihnya disuapi Ibu d. Regulasi diri dan minat terhadap dunia sekelilingnya a. bentuk. Pengelompokan warna.8. meskipun bimbingan yang diberik an ³ditemani´) C. Kemandirian j. design c. Memprakarsai interaksi dengan orang yang sudah dikenalnya saja 4. Kadang-kadang menanggapi gerak isyarat dengan gerak isyarat yang bertujuan b. tidak memakai botol. Susu : memakai sedotan. atau perilaku yang bertujuan dengan orang -orang yang dikenal saja b. Perkembangan persepsi a. Protes dan menjadi marah bila frustasi tapi tiak konsisten 3. Komunikasi dua arah a. Menunjukkan minat terhadap berbagai rangsang hanya masih terbatas pada objek yang menonjol atau disodorkan secara kuat (dipaksakan) b. Keakraban a. Perkebangan interaksi anak saat ini 1. Menggapi tawaran dengan rasa inggin tau dan minat asertif bagi orang -orang tertentu d. Baru bisa menutup empat siklus komunikasi sekaligus b. kadang disendoki c. Terganggu dengan suara dengung mesin l. uluran tanggan. Toilet training belum mandiri hingga sekarang (usia 4 tahun masih ketoilet dengan bimbingan. Tetap tenang dan memusatkan perhatian untuk objek yang terbatas dan disukai saja c. Suka jijik (misalnya ketika sepidol terkena dan mengotori tangan) k. Membedakan konsep tinggi -rendah. Senang main roda sepeda kecil di putar-putar saja j. besar-kecil sudah jelas e. Takut dengan suara speaker yang keras 10. Mengenal dan membedakan fungsi anggota tubuh 9. deret warna. Tidak menjadi jengkel jika ti dak ditanggapi e.

Gagasan emosional a. Sudah mampu berbicara dengan gagasan yang berdasarkan realitas t etapi masih terbatas b. maupun orang perorangan dengan kelompok manusia. saling berbicara atau bahkan mungkin berkelahi. saling menolong. Mutual or reciprocal action or influence. Mampu menciptakan drama pura -pura b.blogspot 2009/02 mendefinisikan interaksi sosial sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Sedangkan hubungan adalah terjalinnya dua manusia atau sesuatu menjadi suatu kesatuan mereka saling mempengaruhi saling menerima. 6. the interaction of the heart and lungs on each other. Apabila dua orang bertemu. Menyatakan keingginan dan perasaan namun belum konsisten c.c. dengan kelompok. Menutup sedikitnya lima siklus menggunakan celotehan. yang menyangkut hubungan orang perorangan. antara individu dengan kelompok. saling mempengaruhi´. Dengan demikian interaksi adalah hubungan timbal balik (sosial) berupa aksi saling mempengaruhi antara individu dengan individu. .[1913 Webster]. antara individu dan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok. Gillin dalam Abrahamzakky. sentuhan atau pelukan dengan orang yang dikenal 5. Berpikir emosional a. saling tergantung. Aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk interaksi sosial. Bermain permainan motorik dalam ruangan yang memiliki aturan tetapi dengan dorongan dari orang yang sudah dikenal BAB III KAJIAN TEORI A. berjabat tangan. maupun dengan lingkungan social yang lain. saling membantu. Pengertian Interaksi Secara harfiah interaksi (interaction) berarti ³pergaulan. pada saat itu mereka saling menegur. Menurut pendapat Santoso 2004. Dalam kamus Bahasa Besar Indonesia Interaksi didefinisikan sebagai hal saling melakukan aksi. mimic wajah. dan antara kelompok dengan kelompok. Bermain pura-pura berdasarkan gagasan orang dewasa c. interaksi sosial dimulai. antara kelompok-kelompok manusia. dan saling mengisi. Mampu melakukan permainan motorik sederhana yang memiliki aturan d. as. Interaksi adalah hu bungan timbal balik antara individu yang satu dengan individu yang lain. berhubungan atau saling mempengaruhi. Menelaah dari beberapa definisi dan istilah tentang interaksi maka kelompok kami berpendapat bahwa yang dimaksud dengan gangguan interaksi adalah : terjadinya permasalahan pada diri individu dalam melaksanakan hubungan timbal balik antara individu dengan individu.

Apabila si kecil memiliki gagasan baru dan materialnya belum tersedi. anak ± anak butuh arahan anda tentang cara memulai pertemanan. Hanya saja. sebaiknya anda menghindari sikap suka mengkritik selama anak anda bermain.B. Berdasarkan penelitian. ada baiknya anda memberi µmodal¶ khususnya bagi yang akan masuk TK. Orang tua yang hangat dan terampil bersosialisasi juga memiliki anak ± anak yang suka tertawa dan mudah tersenyum. Ada yang butuh dukungan dan stimulasi terlebih dahulu. Salah satu keterampilan sosial yang juga penting diajarkan adalah cara memecahkan masalah. Berikut beberapa hal yang bisa dikembangkan anak usia 3-4 tahun untuk merangsang perkembangan interaksinya . misalnya dengan bernegoisasi. Hubungan hangat dapat diperkuat antara lain lewat berbagai aktivitas bersama dan tentu saja bermain. . Bisa juga anda jadwalkan membawa si kecil di hari tertentu ke taman bermain dengan anak seusianya di sekitar rumah. Di usia balita ( 3 ± 5 tahun). Tipe seperti apa pun anak usia 3 ± 5 tahun anda. misalnya dengan merancang semacam waktu bermain. tak ada salahnya anda rutin mengajaknya bermain bersama anak sahabat anda di rumah atau dirumah sahabat. Diusia berapa pun. Mengundang teman Maksimalkan interaksi positif anak dan teman ± temanya saat bermain bersama di rumah. Cara termudah. dan bersikaplah responsive terhadap gagasan yang diajukanya. anda dapat membelinya terlebih dahulu. antara lain dengan menyediakan beragam material dan kegiatan. tentu saja dengan memberi contoh. memberi respon positif terhadap sapaan teman dan cara berinteraksi dalam kegiatan bermain bersama. Biasakan bergaul Biasanya untuk balita (0-3 tahun) cukuplah dengan teman seusia di sekitar lingkungan rumah atau sepupunya. Hangat dan penuh cinta Cara si kecil berinteraksi dengan lingkungan sekitar sangat bergantung pada pengaruh pola asuh dan hubunganya dengan ibu dan ayahnya. Mengembangkan Kemampuan Interaksi Anak Usia 3-5 Tahun Anak pra sekolah senang berteman da n bersosialisasi. Beri petunjuk praktis tentang cara menyapa orang lain. tak semua anak nyaman dan mudah memulainya. anak ± anak yang sering bermain dengan orang tuanya terampil bergaul dengan teman ± teman seusianya. dan berkompetisi. Sebagai orang tua. Petunjuk praktis Sebagai pemula. Ada pula yang punya pembawaan cukup luwes dalam memulai perkenalan atau perbincangan dengan teman baru sehingga semua lancar se olah tanpa hambatan. ada baiknya anda paparkan contoh tata krama dan peri laku yang mendukung kegiatan bersosialisasi dengan orang ± orang di sekitarnya.

Setelah familiar dengan lingkungan barunya. misalnya prasekolah. Apabila si kecil µgagal¶ di kesempatan pertama. biasanya anak ± anak usia 3 ± 5 tahun dengan nyaman memulai interaksi dengan orang ± oarang di sekitarnya. karena anda adalah panutanya. Menyusun Kajian Teori Penyusunan kajian teori didasarkan pada permasalahan gangguan interaksi dan di kaitkan dengan usia klient yang menjadi subyek studi kasus ini C. Menentukan Subyek Menentukan satu subyek klient yang telah di duga mengalami gangguan interaksi. Kehadiran anda di masa ± masa awal tentu berguna untuk menjembat ani situasi asing yang dihadapi si kecil.Ajak anak menyusun kegiatan yang dapat dila kukan bersama teman yang akan diundang. Buatlah daftar mainan dan material yang tersedia lalu susunlah kegiatan yang mungkin dilakukan si balita bersama temanya. tak ada salahnya melibatkan diri saat si kecil bermain bersama temanya. Untuk balita sungguh membingungkan bermain bersama teman pertama kali. tek perlu sedih. dan merasa nyaman. Pembahasan Data Materi dalam pembahasan data ini adalah menghubungkan antara data subyek . natal hi ngga natal yang diperolah dari kuisioner yang diisi oleh orang tua subyek studi kasus). Mereka biasanya main sendiri ± sendiri secara paralel. B. tak ada salahnya anda mencari tahu siapa saja calon teman . Mungkin saja diantara orang tua mereka yang telah anda kenal. Pemanasan dulu Sebelum anak nyaman berinteraksi dengan orang ± orang di lingkungan baru. BAB IV METODE A. Bimbing di awal Sebagai awal.teman sekelasnya. penentuan subyek studi kasus ini tidak melalui screning terlebih dahulu namun langsung merujuk pada subyek yang telah memiliki data base perkembangan (data base perkembangan ini diperoleh melalui asesmen riwayat tumbuh kembang anak mulai dari neo natal. Tentu saja peran anda saat memberi contoh dalam bersosialisasi juga penting. ( Andi Maerzyda ). Ajaklah si kecil berkenalan dengan teman barunya sebelum prasekolah dimulai Dukungan dan pujian Tentu saja keberhasilan anak menghalau hambatan berinteraksi dengan teman perlu diberi imbalan berupa penghargaan dan pujian. Berikan ia dukungan dan dorongan untuk mencoba lagi di kesempatan lain. Kenalan dulu Apabila si kecil akan masuk kelompok bermain atau TK di tahun ajaran baru. ia butuh kesempatan mengenai lingkungannya terlebih dahulu. Anak usia 1 ± 3 tahun belum mampu bermain secara sosial.

Persaingan : persaingan akan muncul ketika ada kerjasama. masih suka bermain sendiri. Contoh Rancangan Program Intervensi Bentuk rancangan program intervensi yang kami sajikan dalam studi kasus ini bukan merupakan bentuk program intervensi yang sesungguhnya (hanya berupa contoh saja). berikut pembahasan masalah H A. mengubah atau memperbaiki. Berdasarkan kajian teori dan data yang diperoleh tent ang H. Kerjasama : Belum tampak adanya kemampuan kerjasama pada H.di kaitkan dengan teori-teori yang berhubungan dengan interaksi untuk menemukan gambaran yang lebih jelas tentang tingkat kemampuan interaksi klien untuk selanjutnya dipergunakan dalam penyusunan program assesment yang lebih kongkrit tantang subyek guna ketepatan pemetaan hasil intervensi D. Diharapkan dengan instrumen yang lebih terperinci. BENTUK-BENTUK KEMAMPUAN INTERAKSI H 1. namun semua aktifitas tersebut tidak dilakukan dengan kerjasama. sehingga jelas di ketauhi hambatan utama anak selajutnya bisa dirancang program intervensi yang sesuai untuk kebutuhan anak BAB V PEMBAHASAN Interaksi sebagai dasar komunikasi perlu mendapatkan stimulasi dini untuk mengantarkan anak Interaksi merupakan hubungan antara dua orang atau lebih yang saling mempengaruhi. hanya dalam kesempatan tertentu H menampakkan reaksi pada temannya misalnya dengan mengh entikan aktifitas temannya yang sedang bermain kadang juga bermain hal yang sama yang sedang dimainkan temannya. Instrumen Assesment Pembuatan instrumen assesment untuk mengukur tingkat kemampuan interaksi subyek. dikarenakan subyek berus ia 4 tahun maka rancangan instrumen yang digunakan adalah instrumen pengukuran kemampuan interaksi anak usia 3 sampai dengan 5 tahun. karena program intervensi yang sesungguhnya akan sangat tergantung dari aplikasi assesmen yang telah dipetakan. sedangkan kemampuan kerjasama H masih belum tampak sehingga tidak muncul adanya kompetisi pada H terhadap temannya meskipun berada pada satu aktifitas dan . 2. kemampuan dan hambatan komunikasi H dapat dianalisis secara lebih detai l untuk kemudian dirancang program intervensi yang tepat (karena data dari hasil observasi dan interview tanpa adanya pedoman instrumen yang jelas tidak akan memberikan penjelasan rinci tentang kemampuan dan hambatan yang dialami anak) E.

Bentuk persainggan kecil yang muncul pada H adalah adanya reaksi ³memukul pel an / usaha untuk merebut / berteriak pelan saat menginginkan mainan teman yang menarik baginya´ namun kejadian seperti itu sangat jarang terjadi. 5. Kepemimpinan : masih cenderung memiliki primitif ego yang tinggi tidak tampak adanya sifat sifat kepemimpinan. Agresif : agresifitas H saat ini sudah lebih stabil karena H telah sering mendapatkan stimulasi dari lingkungan untuk menurunkan tingkat agresifitasnya (stimulasi diberikan olah ibu dan lingkungan tempat belajar H) 3. B. karena H lebih sering tidak merespon dan tidak mengadakan interaksi dengan teman -teman sepermainaanya.kegiatan dengan teman -teman sebayanya. memakai sepatu. 4. H cenderung tidak suka atau menghindari) 6. HAMBATAN YANG DIALAMI BERKAITAN DENGAN KEMAMPUAN INTERAKSI (dikaitkan dengan kasus H) 1. 3. Bila dalam keadaan yang mendukung H mau merespon pertanyaan yang diberikan kepadanya. H cenderung tidak bergaul dan menjauhi arena permainan yang lain (terutama pada teman -teman lawan jenis. dan menggembalikan benda ke tempat asalnya). (H mampu menjawab pertanyaan pertanyaan dengan benar dan dengan penggunaan bahasa yang tepat) namun bila kondisi H tidak sedang ³mood´ stimulus apapun yang datang padanya tidak mendapatkan respon (tidak dipedulikan sama sekali). Pertentangan : bentuk pertentangan atau penolakan yang dilakukan H berupa ketidak peduliannya pada kondisi disekelilingnya (bukan sebu ah pertentangan yang ekstrim terlihat sebagai penolakan) jadi lebih bersifat pertentangan yang tidak jelas. Impulsif : H tidak menunjukkan perilaku impulsif berlebihan . Kepedulian : kepedulian H pada diri dan lingakungan kurang. Tidak inisiatif : H mulai menampakkan inisiatif meskipun sangat jarang (bentuk inisiatif sederhana itu misalnya mulai ada kemauan untuk memulai bertanya. meskipun setelah pertanyaan tersebut direspon kadang H tidak memberikan respon balik terhadap stimulus yang datang) 2. hal ini tampak pada aktifitas ke giatan bermain bersama. Tanggung jawab : bentuk-bentuk tanggungjawab yang sederhana telah mampu ditunjukkan oleh H (misalnya pada aktifitas harian yang sederhana : memasang kaos kaki sendiri.

Dengan stimulasi yang sama. Kemampuan berbicara dan penguasaan kosakata yang memadai pada anak. respon tia p anak akan berbeda beda. Maladaptif : H bukan tipe anak peniru. Kemampuannya berkonsentrasi hanya terbatas pada saat -saat dimana H sedang ³mood´ 8. tidak dinyatakan mengalami ganguan dalam kemampuan berfikir 9. ternyata tidak otomatis menjadi modal utama anak untuk memiliki kemampuan berinteraksi yang baik 2. Tidak ada motivasi: persaingan dan keinginan untuk bersaing tidak tampak pada H sehingga motivasi yang dimiliki H tidak tampak sebagai dorongan untuk melakukan sesuatu lebih baik (tidak memiliki motivasi intrinsik yang kuat. diperlukan stimulasi secara khusus (interaksi harus direncanakan secara sistematis dan bertujuan) 4. harus .4. Gangguan berfikir : dalam suatu pemeriksaan psikologis dan IQ H dinyatakan sebagai anak dengan IQ rata-rata dan masuk dalam kategori ³spectrum´ namun tidak sampai terkategorikan dalam DSM IV. ia lebih suka melakukan sesuatu oleh dorongan ketertarikan H pada subyek tertentu. Sulit konsentrasi : dalan keadaan ³mood¶ H dapat menyelasaikan tugas -tugas motorih halus dengan tingkat kerumitan seusianya. BAB VI PENUTUP A. hal ini tergantung pada kesiapan anak dalam berinteraksi juga karakteristik anak yang memang berbeda-beda antara satu individu dan individu yang lainnya 5. KESIMPULAN 1. Ketergantungan : tingkat ketergantung an H sangat tinggi pada pengasuh dan Ibunya 7. Interaksi sebagai dasar (ketrampilan prerequisite) dari komuniksi perlu mendapatkan stimulasi dini untuk mengantarkan anak memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik. motivasi seringkali dimunculkan secara eksternal oleh orang -orag diluar dirinya) 6. Pada anak-anak yang mengalami kebutuhan khusus. Untuk mengoptimalkan kemampuan anak dalam berinteraksi. Mengasingkan diri: salah satu hal yang menonjol dari H yang berbeda dengan anak lain yang usianya sebaya dengan H adalah tingginya intensitas H menyendiri / mengasingkan diri dari lingkungannya. 3. 5.

bertemu dengan teman. Simulasi sikap : dilaksanakan dalam permainan mempergunakan peran -peran sosial seseorang. memberi motivasi anak. misalnya bermain peran menjadi polisi dan pencuri. kesiapan berinteraksi bergantung pada faktor lingkungan (keberadaan anak dalam keluarga) dan aspek sensori : pendengaran. saat beraktifitas. b. Bisa dengan cara pemberian reward (meskipun hanya berupa pujian) ataupun pemberian penguatan. Pedoman bimbingan Bentuk metode atau materi permainan yang disusun sendiri atau dirumuskan sendiri oleh lembaga sebagai acuan pengajaran. SARAN 1. dilaksanakan dalam bentuk permainan dengan membagi siswa menj adi berkelompok-kelompok. Bentuk-bentuk materi ajar a. b. penciuman. perabaan. Memanfaatkan semua aspek sensori untuk dijadikan stimuli dalam perkembangan kemampuan interaksi anak C. c. Perlakuan : membentuk perilaku anak sesuai dengan norma yang telah berlaku (modifikasi perilaku). Etika budi pekerti : etika sesuai norma. selanjutnya untuk mengembangkan kemampuan komunikasi anak 1. Logicall story : guru memberikan cerita -cerita menarik yang mampu dipahami anak dengan inspirasi dari kejadian-kejadian logis dan aplikatif. e. Motivasi : menumbuhkan keinginan positif. 2.diperhatikan pula kesiapan anak dalam melakukan interaksi. Bentuk-bentuk materi bimbingan a. Dinamika kelompok : dinamika kelompok yaitu dengan membangun kejasama dan keserasian dengan teman -teman yang lain. makan. penglihatan. d. 3. REKOMENDASI Berikut beberapa program yang kami rancang untuk mengembangkan kemampuan interaksi bagi H yang dapat diterapkan di sekolah TK tempat H bersekolah (yang pada dasarnya tidak hanya bermanfaat untuk H namun juga untuk pengembangan kemampuan interaksi bagi anggota kelas yang lain) Bentuk perlakuan dengan bimbingan pengembangan interaksi : merupakan bentuk bimbingan yang diberikan untuk meno long individu ataupun kelompok agar mampu mengatasi permasalahannya dalam bidang interaksi. Bimbingan yang dilakukan hendaknya memperhatikan keragaman dan memenuhi prinsip bahwa semua siswa mendapatkan manfaat dan tidak ada anak yang dirugikan (memperhatikan unsur inklusifitas). (memanfaatkan semua aspek sensori) B. Logical discussion : guru mengajak anak-anak mendiskusikan peristiwa- . bermain dan kegiatan kegiatan yang lain. Meteri ini disusun untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan interaksi anak.

Waktu dan tempat. Motivasi belajar yakni dengan pengajaran latihan kon sentrasi dan daya ingat anak sebelum memulai aktifitas (konsep motivasi ini dirancang dengan model Fun motivation). angka dansebagainya) berikur tekniknya : a. 7. Metode bimbingan Dalam kegiatan belajar untuk anak-anak usia pra sekolah semuanya harus dilaksanakan dalam kegiatan yang fun dalam fram e permainan (tidak ada tuntutan menghafal. Persiapan (bila anak masih ada yang menangis ditenangkan. Sasaran dan tenaga layanan bimbingan. a. Anak diajak untuk melakukan aktifitas yang mengandung unsur fun bagi anak. b. 5.peristiwa sederhana yang ada di sekitar kehidupan sehari-hari. !). Sasaran 1) bimbingan kelompok yaitu anak secara keseluruhan 2) bimbingan spesialisasi yaitu menurut macam spesialisasi dan kebutuhan anak. c. contoh tugas : menyampaikan ³sayang´ pada ibu dan Ayah sesampainya anak dirumah). Memberikan follow up. bekerjasama dan permainan -permainan perangsang anak untuk mempertinggi interaksi dan melatih pengajaran pikologis anak. dan tekanan jadi anak murni bermain tidak ada tuntutan anak harus hafal huruf. 6. Tujuan layanan bimbingan a. Happy theraphy : melatih anak untuk mengembangkan diri dalam bentuk permainan-permainan yang menyenangkan. c. Secara spesifik merangsang kemampuan anak dalam berinteraksi secara positif. b. Meningkatkan circle interaction ( anak mampu mengikuti dan merespon rangsang sehingga kualitas interaksi dan komunikasi menjadi lebih baik tidak terputus-putus) 2) Secara konsisten melakukan interaksi dengan teman (tidak m elakukan interaksi hanya di moment-moment khusus / ketika anak dalam keadaan mood saja). namun untuk beberapa anak yang masih belum dapat tenang dan masih aktif bergerak guru hanya perlu untuk bagaimana mengalihkan dan menarik perhatian anak. 4. Secara umum adalah mengoptimalkan masa -masa timbuh kembang anak. e. motivasi. d. . b. Dilaksanakan di lingkungan sekolah ataupun taman bermain . membiarkan anak tetap bergarak namun juga mencari cara bagaimana anak tetap dapat mengikuti aktifitas yang dilakukan guru). Tenaga layanan yang menangani bisa dari guru ataupun dari instruktur (bekerjasama dengan ahli misalnya teraphist). Pemberian tugas individu untuk penanaman tanggung jawab (pemberian tugas tetap memperhatikan kemampuan anak dan menghilangkan unsur paksaan.

KISI-KISI ANGKET Angket ini dibuat berdasarkan pedomen dari De Ganggi dan S . Slamet Santoso. komunikasi dan interaksi.html http://www.landak. 2004 LAMPIRAN LAMPIRAN 1 A. perkembangan emosi. bahasa dan suara 6 8 Melihat dan penglihatan 2 9 Ikatan dan fungsi emosional 14 B.DAFTAR PUSTAKA http://kamus. WEBSTER 1913 kamus besar bahasa Indonesia gillin http://abrahamzakky.khatulistiwa.blogspot. DAFTAR PERTANYAAN UNTUK ORANGTUA : NO IDENTIFIKASI PERTANYAAN JUMLAH PERTANYAAN 1 Kemampuan anak mengatur diri sendiri 9 2 Perhatian anak 3 3 Seputar tidur 2 4 Tentang makanan dan pemberian makan anak 5 5 Memakai baju mandi dan sentuhan 11 6 Gerakan 5 7 Mendengarkan. BENTUK ANGKET Dimohon untuk membaca dengan seksama daftar pertanyaan di bawah ini dan isilah pertanyaan sesuai urutan dan nomer pertanyaan dengan memberikan tanda ceklist ( ¥ ) pada olom yang sesuai N O DAFTAR PERTANYAAN JAWABAN SKORING . Bumi Aksara.php?c=131&p=3930 (buku dinamika Kelompok oleh Drs.com/2009/02/proses -sosialisasi-daninteraksi-sosial.net/khatulistiwa.com/cari/interaksi). Poisson (1990) Tujuan penggunaan angket ini adalah untuk mendiagnosa adanya kelainan atau perkembangan di bidang regulasi.

dibelai rambutnya dsb Total 4 TENTANG MAKANAN DAN PEMBERIAN MAKAN a Hanya mau makanan lembut b Keinginan luarbiasa untuk minuman ata u makanan tertentu c Ngeces (drolling) yang berlebihan saat anak mulai keluar gigi d Mudah muntah atau sering seperti inggin muntah e Tidak tenang dan mudah teralihkan saat makan Total 5 MEMAKAI BAJU. dimulai sedikit sampai meledak -ledak c Anak merasa kesulitan untuk ditenagkan dengan diberi dot. perhatiaanya yang mengambang b Sering terputus perhatiannya dan sulit mengajak kembali c Sulit mengalihkan perhatian dari satu obyek / kegiatan ke obyek / kegiatan yang lain Total 3 SEPUTAR TIDUR a Jam tidur malam larut (• pk 20. dibawa jalan-jalan keluar.TIDAK/ KADANG-KADANG YA/ SERING YA/ DULU 1 KEMAMPUAN ANAK MENGATUR DIRI SENDIRI a Sering rewel dan lekas marah b Mudah menangis.00) sering terbangun lebih dari 3 kali semalam dan sulit tertidur lagi sendiri b Memerlukan waktu yang luar biasa untuk menidurkan anak. atau makanan. cepat marah e Sulit mengarahkan perhatian dari satu kegiatan ke kegiatan lain f Anak membutuhkan waktu dan penjelasan yang berulang tentang suatu perubahan aktifitas g Mengharapkan kehadiran orangtua atau pengasuh terus menerus h Temper tantrum (mengamuk / berontak) sering dan berat i Waktu yang diperlukan untuk menenangkan anak 15-30¶ 1-2 jam • 3 jam Total 2 PERHATIAN ANAK a Mudah dialihkan. Misalnya : diayun. MANDI DAN SENTUHAN a Tidak mau memakai baju . mainan atau mendengarkan pengasuh d Tidak sabar menunggu mainan.

menabrak -nabrak barang/ benda Total 7 MENDENGARKAN. dan mengeluh bila pakaian terlalu sempit dan menggelikan (bahan pakaian) c Menginginkan pakaian yang berlapis -lapis Marah kalau rambut atau mukanya dicuci d Tidak suka kalau dipeluk. nai k korsel atau dilempar keatas d Keinginan yang luar biasa untuk diayun atau badannya diangkat terbalik (dengan kepala dibawah) e Kikuk (canggung). mudah jatuh. tidak bias duduk diam b Tidak merangkak sebelum berjalan c Takut kalau diayun.b Memilih pakaian tertentu. BAHASA DAN SUARA a Kaget sekali dan mudah terganggu karena suara keras (vacuum cleaner. berlari-lari atau berayun-ayun. dibuai (cudle) menghindari atau melentingkan tubuhnya e Sering menubruk orang / barang / benda f Tidak menyukai ikatan di kursi mobil g Tidak tampak mengeluh sakit kalau jatuh / disuntik h Anak selalu menghindari posisi tertentu misalnya telungkup atau terlentang i Menghindari sentuhan dengan te kstur atau bahan tertentu seperti bahan berbulu atau takut tangannya kotor j Marah kalau baju dibuka Total 6 GERAKAN a Bergerak terus. kurang keseimbangan. lonceng atau gonggongan anjing) b Terganggu oleh bunyi yang biasa tidak dihiraukan oleh orang lain c Tidak bereaksi terhadap sapaan verbal (walaupun pendengaran normal) d Kurang ngoceh pada tahun pertama anak e Mengulang-ulang kata atau kalimat yang baru di dengar f Pengulangan kata atau kalimat yang terus menerus Total 8 MELIHAT DAN PENGLIHATAN a Reaksi yang berlebihan tehadap cahaya terang misalnya dengan menangi s atau menutup mata b Menjadi gelisah bila dibawa ke lingkungan (suasana) yang ramai (mal atau supermarket) Total .

Bandingkan dengan batasan skor ´cut off´ .9 IKATAN DAN FUNGSI EMOSIONAL a Menghindari kontak mata. lebih menyenangi obyek atau mainan b Tampak tidak gembira atau senang c Tidak memulai interaksi aktif dengan orangtua / pengasuh. PEDOMAN SKORING ANGKET Skor diberikan pada semua item Nilai 2 : Ya / sering Nilai 1 : Ya / dulu Nilai 0 : tidak / kadang-kadang Skor pertanyaan 1 poin i : Nilai 2 : > 3 dari jam Niali 1 : 1 sampai 2 jam Nilai 0 : 15-30 menit Jumlahkan semua skor untuk tiap kategori dan masukkan skor anak. C. Batasan skor untuk menginterpretasikan cheklist gejala gangguan perkembangan anak usia 2-4 tahun Bidang fungsi skor anak Batasan skor Skor yang diperoleh anak Pengaturan diri . menyendiri dan menjadi agresif j Tidak bereaksi (mengindahkan) terhadap disiplin atau rambu-rambu (batasan) yang diberikan orangtua k Tampak takut atau gelisah menghadapi orang atau lingkungan yang asing l Tetap mengingat peristiwa yang menakutkan (traumatic) m Merusak atau melukai diri sendiri Ingin menguasai ligkungan n Semua orang disekitarnya mengalami kesulitan untuk mengerti atau memahami keingginan dan emosi anak Total Jumlah score total (dari keseluruhan pertanyaan) adalah : «. yang harus menyapa anak berkali-kali d Tidak menunjukkan interaksi yang timbal balik e Anak belum terlihat bermain pura-pura atau meniru kegiatan orang dewasa f Memecahkan mainan atau menunjukkan sikap destruktif g Sulit dipisahkan dengan ortu atau pengasuh di sekolah atau tempat belajar anak h Bisa berhubungan dengan semua orang termasuk orang yang belum dikenal i Tidak mau bermain dengan anak lain. skor yang sama atau diatas angka yang dicantumkan pada tabel dibawah ini menandakan aadanya masalah pada anakdan diberikan diagnosa ´resiko´ adanya kelainan atau gangguan perkembangan. membuang muka dari tatapan.

Atensi perhatian 4 Tidur 3 Makan dan cara makan 2 Berpakaian, mandi, sentuhan ,gerakan 2 Mandengarkan, bahasa dan suara 2 Melihat dan penglihatan 3 Ikatan dan emosional 3

Kesimpulan :.................. Catatan :.................. Tanggal pemeriksaan :.................. Pemeriksa :..................

LAMPIRAN 2 INSTRUMEN ASSESMEN UNTUK PERKEMBANGAN SOSIAL, EMOSI DAN BAHASA BAGI ANAK USIA PRA SEKOLAH (4-6 TAHUN) KET : instrumen assesman ini dikutip dari mata kuliah assasmen dan pendekaan pembelajaran oleh kelompok 1. pentingnya penggunaan instrumen ini karena di dalam interaksi terdapat aspe k-aspek lain yang terlibat yaitu : aspek sosial, emosi dan bahasa A. ASESMEN 1. Kisi-Kisi Instrumen Asesmen No. Aspek Perkembangan Komponen (Berk, 2003; Hurlock, 1990; Hurlock, 2005) Indikator Perkembangan No. Item Pertanyaan 1. Sosial Kerjasama: Bekerjasama dengan anak lain untuk melakukan sesuatu secara bersama -sama ‡ Bekerjasama dengan anak lain dalam mengerjakan tugas di kelas ‡ Bermain dengan mengikuti aturan permainan AS.1, AS.2, AS.3 Hubungan sosial : Belajar melakukan hubungan sosial dengan bergaul dengan orang lain di luar rumah ‡ Bermain dengan anak lain ‡ Cepat bergaul dengan orang yang baru dikenal AS.4, AS.5 Persaingan: Berlomba untuk mendapatkan prestasi terbaik ‡ Berusaha mengerjakan tugas lebih cepat atau lebih baik dari anak lain AS.6 Kemurahan hati :

Menunjukkan kemurahan hati ‡ Menolong teman/ orang lain yang sedang kesulitan ‡ Meminjamkan barang/mainannya ‡ Membagi bekal kepada teman AS.7, AS.8, AS.9 Penerimaan sosial : Menunjukkan hasrat akan penerimaan social ‡ Mau be rmain dengan teman yang mana pun ‡ Menerima/mempertimbangkan pendapat/usul teman AS.10, AS.11 Simpati : Menunjukkan emosi yang sama dengan emosi yang ditampilkan orang lain ‡ Ikut sedih/gembira jika ada teman bersedih/bergembira AS.12 Empati: Anak peduli dengan perasaan orang lain ‡ Menyuruh anak lain yang ribut untuk diam saat guru berbicara. ‡ Tidak tertawa-tawa saat ada teman yang sedang bersedih. ‡ Menenangkan teman yang sedang bersedih/cemas. AS.13, AS.14, AS.15 Ketergantungan: Anak menunjukkan sikap ketergantungan dengan minta bantuan ‡ Meminta bantuan orang lain dalam mengatasi berbagai persoalan AS.16 Meniru: Anak meniru perilaku orang lain ‡ Meniru perilaku/gerak-gerik/permainan orang lain ‡ Meniru pakaian/tas/sepatu orang lain AS.17, AS.18 Perilaku kelekatan: Anak menunjukkan perilaku selalu bersama dengan orang/objek tertentu ‡ Gelisah jika tidak disertai orang/benda yang disukai. ‡ Gembira jika disertai orang/benda yang disukai AS.19, AS.20 Negativism: Anak menolak nasihat/perintah ‡ Menolak nasihat/perintah ‡ Berprasangka buruk terhadap sesuatu yang belum jelas keburukannya. AS.21, AS.22 Perilaku Agresi: Anak menunjukkan perialu menyerang baik secara lisan maupun fisik terutama pada anak yang lebih kecil ‡ Berkata kasar/memaki kepada orang lain ‡ Menendang/memukul/mencubit orang lain ‡ Merusak barang-barang AS.23, AS.24, AS.25 Pertengkaran: Anak menunjukkan perilaku mengejek, menggertak, dan usaha balas dendam. ‡ Mengejek orang lain ‡ Bertengkar dengan orang lain ‡ Membalas dendam AS.26, AS.27, AS.28 Berkuasa: Anak menunjukkan perilaku memerintah dan mempergunakan orang lain untuk

memenuhi kepentingannya ‡ Menyuruh orang lain dengan memaksa untuk mengerjakan sesuatu AS.29 2. Emosi Amarah: Anak menunjukkan pola ekspresi kemarahan lebih matang, seperti cemberut dan sikap bengal, serta menggunakan bahasa untuk mengungkapkan reaksi kemarahan ‡ Anak tidak mematuhi perintah, cemberut/bersungut -sungut, mengumpat, mengejek, berbicara kasar/kotor AE.1, AE.2 Takut: Anak menunjukkan rasa takut pada situasi dan hal -hal yang dikhayalkan ‡ Anak menunjukkan rasa takut, misalnya dengan cara bersembunyi, menangis, gemetar AE.3 Malu: Anak menunjukkan rasa malu saat bertemu dengan orang lain yang belum (baru) dikenalnya ‡ Anak menunjukkan rasa malu dalam bentuk bicara gagap, menarik-narik baju, tersipu-sipu, tidak berani menatap, sedikit berbicara AE.4, AE.5, AE.6, AE.7, AE.8 Cemas: Anak merasa khawatir karena berpikir bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi ‡ Anak menunjukkan kegelisahan, murung, rebut, berlagak, bosan, gugup kesulitan berbicara, mencari kesibukan sendiri, berpura -pura sakit AE.9, AE.10, AE11, AE.12, AE.13, AE.14, AE.15 Cemburu: Menunjukkan reaksi cemburu jika perhatian seseorang (terutama orangtu a) tidak terarah kepadanya ‡ Anak menunjukkan kecemburuan dengan cara marah marah, mencela, mengejek, menyalahkan orang lain AE.16, AE.17, AE.18, Sedih: Anak menunjukkan kesedihan karena kehilangan sesuatu yang dianggap penting ‡ Anak menunjukkan kesedihan dengan cara menangis atau diam saja AE.19, AE.20 Gembira: Anak menunjukkan kegembiraan karena mendapatkan apa yang dibutuhkannya ‡ Anak menunjukkan kegembiraan dengan cara tertawa atau bermain bersama AE.21 3. Bahasa Fonologi: Anak menunjukkan kemajua n pesat dalam pengucapan kata -kata Menunjukkan kemajuan pesat dalam pengucapan AB.1, AB.2 Semantik: Anak mulai mampu menguasai makna kata -kata ‡ Anak usia 4 tahun mengetahui nama warna dasar ‡ Anak usia 6 tahun memahami kata tiga, sembilan, lima, sepuluh dan tujuh untuk menghitung jumlah biji ‡ Anak usia 6 tahun mengetahui makna pagi, siang dan malam AB.3, AB.4, AB.5, AB.6, AB.7

G AS. menyalurkan perasaan tersinggung. AB. AB.2 Apakah anak mau diajak untuk membersihkan ruangan kelas/rumah ? Jika tidak.Tatakalimat: Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat dengan hampir lengkap berisi semua unsur kalimat.3 Apakah anak bisa mengikuti permainan sesuai dengan aturan permainan? + O. G AS. AB. G AS.4 Apakah anak biasanya bermain dengan anak lain? Jika tidak.1 Apakah anak dapat diajak dalam kegiatan menempel dan menyusun gambar di papan tulis? Jika tidak. G AS.5 Apakah anak cepat bergaul dengan teman yang baru dikenalnya? + O.9. apa yang ia lakukan saat orang lain melakukan tugas tersebut? + O. Instrumen Asesmen No.8 Apakah anak mau meminjamkan barang/mainannya kepada anak lain? + O. memberitahu pendapatnya tentang orang lain ‡ Anak belum bisa melakukan percakapan yang sesuai dengan konteks pembicaraan AB. Aspek Perkembangan Responden No Item Pertanyaan Kategori Pertanyaan 1.10. AB. G AS. G AS. Sosial G AS.13 Kesadaran metalinguistik: Anak sudah mulai bisa berpikir tentang bahasa sebagai sebuah sistem Anak usia 4 tahun sudah dapat menggunakan kata ganti AB . AB. G AS. G AS. G AS.9 Apakah anak mau berbagi bekal/makanan/tempat dengan temannya? + O.15 2.10 Apakah anak mau bergaul dengan siapa pun di sekolah/ di rumah? + . apa penyebabnya? + O.6 Apakah anak berusaha mengerjakan tugas/sesuatu lebih cepat/lebih baik dari orang lain? + O. yang terdiri atas 6-8 kata Pada anak usia 4 tahun menyusun kalimat dengan hampir lengkap berisi semua unsur kalimat AB. halhal apa yang membuat anak tidak mau? + O.12.8 Pragmatik: Anak sudah mulai bisa menggunakan bahasa secara efektif dalam konteks sosial ‡ Usia 4-8 tahun khususnya laki-laki menggunakan istilah popular untuk mengungkapkan emosi pada teman sebaya ‡ Anak usia 6 tahun terutama perempuan menggunakan bahasa rahasia untuk berkomunikasi dengan teman sebaya ‡ Anak usia 5 tahun menggunakan kata yang dilebih -lebihkan melebihi penalaran untuk menarik perhatian ‡ Dimulai saat usia 3 tahun menggunakan kata menghina untuk memaksakan ego.14.11.7 Apakah anak suka membantu/menolong temannya yang sedang kesulitan? + O.

G AS.G AE.25 Apakah anak suka merusak barang-barang? O.28 Apakah anak suka membalas perbuatan teman yang tidak baik? O. dalam situasi yang seperti apa anak menjadi gagap? O. hal-hal apa saja yang bisa membuat anak mudah marah? Dalam situasi seperti apa biasanya anak mudah marah? Apa yang dilakukan anak pada saat marah? O. G AS. G AS.23 Apakah anak suka berkata kasar/memaki orang lain O. G AS.22 Apakah anak suka berprasangka buruk terhadap sesuatu yang belum diketahuinya? O. G AS.4 Apakah anak suka memisahkan diri (menarik diri) dari teman temannya saat di kelas? Jika ya.G AE.6 Apakah anak sering tampak malu-malu? Jika ya. dalam hal apa saja anak suka membantah? Kepada siapa ia suka membantah? O.29 Apakah anak suka menyuruh/memaksa orang lain untuk mengerjakan sesuatu? 2.12 Apakah anak suka menunjukkan kesedihan jika ada anak lain mengalami musibah? + O. G AS. siapa yang biasanya ia ejek? Dalam situasi apa biasanya anak mengejek? O. G AS.15 Apakah anak berusaha menghibur/menenangkan temannya yang sedang bersedih/cemas? + O. G AS. G AS. dalam situasi seperti apa anak menunjukkan perilaku menarik diri? O.13 Apakah anak suka mengingatkan anak lain untuk memperhatikan saat guru/temannya sedang berbicara? + O.5 Apakah anak sering gagap? Jika ya. Emosi O. G AS.21 Apakah anak suka menolak nasihat/perintah? O.1 Apakah anak sering menunjukkan mudah marah? Jika ya.O. G AS. G AS. G AS.G AE. G AS.20 Apakah anak gembira bila disertai benda/ orang yang disukainya? O.16 Apakah anak hampir selalu meminta bantuan untuk menyelesaikan tugasnya? O.G AE. G AS. G AS.18 Apakah anak suka meniru benda/pakaian/tas/sepatu orang lain? + O. G AS.17 Apakah anak bisa meniru gerak-gerik orang lain? + O. G AE.2 Apakah anak sering membantah? Jika ya.14 Apakah anak langsung terdiam/berusaha tidak tertawa saat ada temannya bersedih? + O. apa saja yang dilakukan jika ia malu? Hal -hal apa saja yang bisa membuat anak malu? - .11 Apakah anak mau mendengarkan pendapat teman/ orang lain dalam memutuskan sesuatu? + O.26 Apakah anak suka mengejek orang lain? Jika ya.19 Apakah anak gelisah jika tidak ada orang/barang yang disukainya? O. hal -hal apa saja yang membuat anak takut? Apa yang biasanya dilakukan anak jika ketakutan? G AE. G AS.27 Apakah anak suka bertengkar? O.24 Apakah anak suka menendang/memukul/mencubit oranglain? O. G AS.3 Apakah anak sering tampak ketakutan? Jika ya.

bukan benar-benar sakit? G AE.2 Apakah ada kata-kata yang masih salah diucapkan anak? Jika. seperti apa biasanya celaan tersebut? Mengapa anak mencela karya temannya? O.G AE. hal-hal apa saja yang dapat membuat anak menyalahkan orang lain? Dalam situasi seperti apa anak menyalahkan orang lain? O.G AE. apa yang biasa anak lakukan jika berada pada suasana yang menggembirakan? 3.1 Apakah anak berbicara cadel? Jika ya. bunyi huruf apa yang masih salah diucapkan? Bagaimana ia mengucapkannya? O.19 Apakah anak sering menangis ? Jika ya.20 Apakah anak sering sedih? Jika ya.12 Apakah anak suka berlagak jagoan? Jika ya.8 Apakah anak sering tidak menjawab pertanyaan dari ibu guru? Jika ya.16 Apakah anak sering menunjukkan sikap cemburu? Jika ya. hal apa saja yang membuat anak sedih? Apa yang anak lakukan jika sedang bersedih? O.G AE. G AB. dalam situasi seperti apa anak tampak murung? Apa yang dilakukan anak jika sedang murung? O. G AB. ya.11 Apakah anak sering ribut? Jika ya. hal apa saja yang membuat anak menangis? O.14 Apakah anak sering berpura-pura sakit jika disuruh guru ke depan kelas? Apa tanda bahwa ia berpura-pura sakit.9 Apakah anak sering menunjukan perilaku gelisah? Jika ya. apa tanda bahwa ia menolak? Mengapa ia menolak maju ke depan kelas? O. hal -hal apa saja yang dapat membuat anak mudah bosan? Apa yang dilakukan anak ketika mulai bosan? G AE. kata-kata apa saja? Bagaimana ia mengucapkannya? O.G AE.G AE. hal apa saja yang menyebabkan anak berperilaku seperti itu? G AE.15 Apakah anak sering menolak disuruh maju ke depan oleh ibu guru? Jika ya. apa yang dilakukan anak jika sedang gelisah? Situasi seperti apa yang membuat anak gelisah? O.G AE.18 Apakah anak suka menyalahkan orang lain? Jika ya.13 Apakah anak sering tampak bosan didalam kelas? Jika ya. G AB. Bahasa O. hal -hal apa saja yang dapat membuat anak cemburu? Apa yang dilakukan anak jika sedang cemburu? O.G AE. hal-hal apa saja yang bisa membuat anak ribut? Dimana/dalam situasi seperti apa yang biasanya anak ribut? O. G AE. hal-hal apa yang bisa menyebabkan anak tidak berani menatap lawan bicara? G AE.7 Apakah anak menunjukkan tidak berani menatap jika ditanya/diajak bicara? Jika ya.3 Apakah anak mengalami kesulitan memilih kata -kata yang tepat .G AE.21 Apakah anak tidak menunjukkan rasa kegembiraan ? Jika ya.17 Apakah anak sering mencela hasil karya teman lain? Jika ya.G AE. dalam situasi seperti apa anak berlagak jagoan? G AE.O.10 Apakah anak tampak sering murung? Jika ya.

(da n) keterangan)? Jika tidak.5 Apakah anak sudah mengetahui nama warna benda. pada situasi apa saja ia melakukannya? O. G AB. siang .13 Apakah anak suka menggunakan kata-kata menghina/makian untuk mengemukakan perasaan tidak senangnya? Jika ya. G AB. G AB. -nya. G AB.7 Apakah anak sudah dapat membedakan makna kata pagi.15 Apakah anak sudah bisa menggunakan kata yang sesuai untuk situasi/objek yang berbeda? Jika ya. biru)? Jika tidak.9 Apakah anak bisa terlibat dalam pembicaraan sesuai dengan apa yang sedang dibicarakan (nyambung)? + O. G AB. objek. mereka)? Jika ya. Rumus perhitungan : Skor pada aspek perkembangan tertentu = Jumlah item positif ditambah jumlah item negatif dibagi keselluruhan item dan hasil akhir dikalikan 100% 4. G AB.10 (Jika subjek laki-laki) Apakah anak suka menggunakan istilah populer untuk emosi pada teman sebayanya? + O. G AB. Rekomendasi Treatmen diberikan pada anak sesuai dengan hambatan yang dialami anak pada aspek perkembangan tertentu. warna apa saja yang ia ketahui? + O. seperti apa contoh kalimat yang biasanya ia ucapkan? + O. seperti apa contohnya? + 3. G AB.6 Apakah anak sudah dapat menyebutkan kata bilangan dengan tepat untuk menunjukkan jumlah benda (kurang dari 10)? + O. -mu.11 (Jika subjek perempuan) Apakah anak suka menggunakan bahasa rahasia untuk berkomunikasi dengan teman sebayanya? Jika ya. khususnya warna dasar (merah.untuk menyampaikan maksudnya? O. . predikat. kata ganti apa saja yang masih belum dikuasainya? Seperti apa contohnya? + O. seperti apakah bahasa rahasia yang digunakannya? + O.14 Apakah anak sudah bisa menggunakan kata ganti kepunyaan ( -ku. G AB. seperti apa contohnya? Jika belum bisa.8 Apakah anak sudah dapat mengucapkan kalimat dengan lengkap (jelas subjek.4 Apakah anak sering tidak mengerti arti kata yang disampaikan orang lain? Jika ya. G AB. G AB. dan sore? Seperti apa contohnya? + O. apa tanda bahwa ia tidak mengerti? O.12 Apakah anak suka menggunakan kata-kata yang dilebih-lebihkan (hiperbola) untuk menarik perhatian? + O. G AB. kuning. Kriteria Interpretasi Hasil Asesmen Anak disimpulkan mengalami hambatan dalam aspek perkembangan tertentu jika ia memperoleh skor > dari 50 % yang diperoleh dari p erhitungan rata-rata dari jumlah indicator item positif yang tidak terpenuhi (tidak dikuasai) anak dengan jumlah indikator item negatif yang terpenuhi (ditampilkan / dilakukana anak) pada aspek perkembangan tersebut.

Berkuasa: Anak menunjukkan perilaku memerintah dan mempergunakan orang lain untuk memenuhi kepentingannya Amarah: Anak menunjukkan pola ekspresi kemarahan lebih matang.Komponen Perkembangan (Berk. serta menggunakan bahasa untuk mengungkapkan reaksi kemarahan Takut: Anak menunjukkan rasa takut pada situasi dan hal -hal yang dikhayalkan . Hurlock. menggertak. dan usaha balas dendam. Hurlock. dsb. kondisi fisik. Simpati: Anak mampu menunjukkan emosi yang sama dengan emosi orang lain Empati: Anak peduli dengan perasaan orang lain Ketergantungan: Anak menunjukkan sikap ketergantungan dengan minta bantuan Meniru: Anak meniru perilaku orang lain Perilaku kelekatan: Anam menunjukkan perilaku selalu bersam a dengan orang /objek tertentu Negativism: Anak menolak nasihat/perintah Perilaku Agresi: Anak menunjukkan perialu menyerang baik secara lisan maupun fisik terutama pada anak yang lebih kecil Pertengkaran: Anak menunjukkan perilaku mengejek. 1990. 2005) Kerjasama: Anak menunjukkan perilaku bekerjasama dengan anak lain untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama Hubungan sosial: Anak mampu bergaul dengan orang lain Persaingan: Anak berlomba dengan anak lain untuk mendapatkan prestasi terbaik Kemurahan hati: Anak mau berbagi dan menolong Penerimaan sosial: Anak mampu menerima orang lain yang memiliki perbedaan status. seperti cemberut dan sikap bengal. 2003.

yang terdiri atas 6-8 kata Pragmatik: Anak sudah mulai bisa menggunakan bahasa secara efektif dalam konteks sosial Kesadaran metalinguistik: Anak sudah mulai bisa berpikir tentang bahasa sebagai sebuah sistem http://webcache.html+pengaruh+pola+asuh+orang+tua+terha dap+prestasi+anak+46+tahun+di+TK&cd=10&hl=id&ct=clnk&gl=id .com/2009/05/gangguan -interaksi-dankomunikasidosen.blogspot.googleusercontent.com/search?q=cache:i_y6r nW0m4J:permanariansomad.Malu: Anak menunjukkan rasa malu saat bertemu dengan orang lain yang belum (baru) dikenalnya Cemas: Anak merasa khawatir karena berpikir bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi Cemburu: Menunjukkan reaksi cemburu jika perhatian seseorang (terutama orangtua) tidak terarah kepadanya Sedih: Anak menunjukkan kesedihan karena kehilangan sesuatu yang dianggap penting Gembira: Anak menunjukkan kegembiraan karena mendapatkan apa yang dibutuhkannya Fonologi: Anak menunjukkan kemajuan pesat dalam pengucapan kata -kata Semantik: Anak mulai mampu menguasai makna kata-kata Tatakalimat: Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat dengan hampir lengkap berisi semua unsur kalimat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful