KADAR KONFLIK PEMILIHAN KEPALA DAERAH

Abstraksi
Pilkada adalah tonggak demokrasi langsung di daerah, namun pelaksanaannya rawan konflik. Oleh karena itu diperlukan pemahaman yang mendalam terhadap aspek dan faktor yang potensial potensi konflik pemicu Dari dapat dengan konflik pemahaman dan pilkada lancar dihindari aman, yang ini, dapat dan ditekan melatarbelakanginya. seminimal mungkin

sehingga

terselenggara

demokratis. Bila konflik tidak bisa dihindari, mka diperlukan sebuah manajemen dan resolusinya untuk menyalurkan serta menganalisa agar konflik tidak lepas kendali dan terjadi luar konteks proses demokrasi.
A. Pendahuluan Konflik merupakan realitas sosial yang terjadi dalam setiap lapisan masyarakat, dari tingkat keluarga, RT, Desa, sampai ke tingkat negara, dan bahkan dunia. Konflik terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antara satu individu dengan individu yang lain, antara
Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 1

sosial atau lingkungan dan /atau menghalangi seseorang untuk meraih potensinya secara penuh. dan konflik menjadikan manusia menjadi berubah. dan manfaat konflik diantaranya adalah membuat orang-orang menyadari adanya banyak masalah yang akan mendorong ke arah perubahan yang diperlukan. karena orang seringkali mencampuradukkan antara konflik dengan kekerasan. konflik berbeda dengan kekerasan. Persoalannya adalah. mendorong kedewasaan psikologis. Pengertian tersebut menegaskan bahwa konflik merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Lebih jauh dikatakan. bagaimana agar konflik tidak berubah menjadi ketegangan sosial atau bahkan sampai pada kekerasan sosial. agama dan daerah dalam bentuk kekerasan Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 2 . karena manusia hidup dalam kelompok masyarakat yang di dalamnya terdapat normanorma. dia berada diantara kita dan selalu bersama-sama kita. tanpa konflik kehidupan akan statis. Dalam tulisan ini yang dimaksud konflik disini adalah pertikaian antar komunitas etnis. Di sini sengaja memakai istilah kekerasan. adat istiadat serta budaya yang berbeda-beda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya. aturan-aturan. maupun asal daerah. perkataan. berarti konflik itu sebenarnya dibutuhkan. menumbuhkan semangat. Menurut Simon Fisher dkk (2001). jika konflik selalu ada. dan menimbulkan kesenangan. mempercepat perkembangan pribadi.individu dengan masyarakat atau antara satu kelompok masyarakat dengan masyarakat lain. menambah kepedulian diri. Konflik merupakan fakta sosial. Konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki sasaran-sasaran yang tidak sejalan. agama. sikap. sedangkan kekerasan adalah tindakan. Menjelang pemilihan pimpinan Kepala Daerah PILKADA hampir selalu diliputi oleh ketakutan akan terjadinya kekerasan komunal antar kelompok etnis. berbagai struktur atau sistem yang menyebabkan kerusakan secara fisik. mencari solusi.

begitu pula sebaliknya. Setiap kelompok atau golongan menginginkan (jika perlu memaksakan) agar yang menjadi Kepala Daerah tersebut adalah berasal dari golongan atau kelompoknya. maka dibalik nafsu yang menginginkan agar orang dari kelompoknyalah yang menjadi pemimpin sebenarnya terdapat rasa ketakutan dan keserakahan. Jika kita merenung lebih dalam. Apakah keinginan tersebut memang merupakan keinginan mayoritas atau hanya sekedar keinginan dari orang yang kepingin DUDUK dan tim suksesnya yang mencoba memanipulasi sentimen Etnis dan golongan dari masyarakat lapis bawah (grassroot) ? Untuk mengatasi benturan yang disebabkan oleh perbedaan kelompok ini. Rasa ketakutan karena jika yang menang dari kelompok atau golongan atau etnis lain. maka golongan atau kelompoknya akan di anaktirikan atau dimarjinalkan. biasanya para politikus kita lewat partai politik. dengan demikian akan mendapatkan kemudahan-kemudahan. maka ia akan mendapat perhatian lebih karena ada hubungan emosional dari kesamaan etnis. Solusi seperti inilah yang sering disebut politikus sebagai solusi terbaik. Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 3 . se iman jika perlu serahim dengan kita ?. sedangkan keserakahan timbul dalam bentuk harapan bahwa jika yang menjadi pemimpin berasal dari kelompoknya. hewan maupun kerusakan sosial lingkungan dan benda-benda lainnya. yaitu. menawarkan solusi klasik yaitu membagi kue jabatan menjadi dua. jika Gubernur atau Bupatinya berasal dari kelompok Etnis atau agama A.sehingga menimbulkan korban manusia. maka wakilnya dari kelompok B. Dari kenyataan ini seharusnya nafsu kritis rasionalis kita sebagai bangsa yang katanya Bhinneka Tunggal Ika itu bertanya : Mengapa kita ingin agar pemimpin daerah kita berasal dari orang yang se Etnis. agama dan golongan.

Ada beberapa daerah tertentu yang mempunyai potensi konflik sangat besar dan ekskalatif. Pilkada dari satu sisi bisa menjadi wujud demokrasi dalam era otonomi daerah dan dari sisi lain akan menjadi ajang perebutan kuasa dan money. Pilkada merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 4 . karena manifestasinya sesungguhnya tidak dikehendaki. Pelaksanaan pilkada bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri sebagai manifestasi dari prinsip demokrasi dan kedaulatan rakyat. daerah-daerah lain yang dipandang masih adem ayem juga memendam bara konflik yang besar karena faktor kesenjangan ekonomi dan sosial misalnya. Mereka yang kurang mengenal realitas dan seluk beluk sosial di daerah tertentu umumnya optimis dengan Pilkada mendatang. Tujuannya tidak hanya agar pilkada dapat berjalan lancar dan sukses. meskipun faktor pemicunya bukan soal pilkada. Potensi konflik yang nyaris tersebar di semua daerah di Indonesa itu perlu diwaspadai dan diantisipasi sejak dini. baik yang sifay horisontal maupun vertikal. Sementara itu. Sebagian lainnya. B.Sebagai suatu entitas sosial berdimensi paradoksal. namun bara apinya belum dapat dipadamkan. Beberapa daerah lainnya justru sudah terjadi atau manifest. konflik yang terjadi telah dapat diredam. “Siapa yang menjamin kebenaran pelaksanaan Pilkada?” merupakan pertanyaan hakiki Pilkada. Potensi dan Peluang-Peluang Konflik Potensi konflik dalam proses pilkada merupakan sesuatu yang perlu diwaspadai dan diantisipasi. laksana api dalam sekam. sedangkan mereka yang mewarisi pemikiran kritis historis meragukan jaminan kebenaran dan kejujuran langkah-langkah prosedural Pilkada. tetapi juga sebagai awal atau pintu masuk bagi upaya mengelola daerah secara adil yang pada gilirannya dapat mengatasi akar persolan konflik atau sengketa yang terjadi di masyarakat.

Justru inilah hakekat lain dari penyelenggaraan pilkada. Sebaliknya pengalaman empirik yang terjadi akhir-akhir ini di berbagai daerah memberikan contoh sebaliknya. dan bukan sebaliknya sebagai ajang atau pemicu konflik betapapun besarnya potensi ke arah itu. kelompok masyarakat atau aparat negara. Secara normatif. merupakan sesuatu yang baru. proses pilkada sejak tahap perencanaan hingga pasca pelaksanaannya bukan arena konflik. sehingga terjadinya konflik politik adalah sesuatu yang sulit dihindarkan. Pilkada yang demokratis justru dimaksudkan untuk mencari pemimpin yang berkualitas dan akan menjadi problem solverI bagi setiap permasalahan di daerah.pengelolaan daerah. Persoalannya adalah pilkada langsung yang digelar mulai bulan Juni 2005. Persoalannya adalah bagaimana mengelola konflik itu agar tidak merusak sendi-sendi demokrasi dan bangunan masyarakat secara keseluruhan. baik yang dilakukan oleh massa. Fenomena kekerasan lebih sering mengemuka. tetapi justru sarana pembelajaran masyarakat agar semakin dewasa dalam berdemokrasi dan berbeda pendapat. sementara pengalaman masyarakat sangat minim. Kekerasan demi kekerasan sering Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 5 . tetapi masih tidak cukup dan belum teruji kemapanannya. Demikian juga praktik-praktik demokrasi di tingkat desa berupa pemilihan kepala desa terjadi dalam lingkup kecil (desa) dimana penduduk dan kepentingannya relatif homogen dibalur sistem kemasyarakatan yang bercirikan paguyuban. dan bukan sebaliknya menjadi sumber atau pangkal masalah. Keberhasilan melaksanakan pemilu tahun 2004 merupakan pelajaran berharga. tetapi justru sebaliknya sebagai alat untuk menyalurkan berbagai perbedaan dengan cara-cara yang beradab dan tanpa kekerasan atau kerusuhan massa. Tapi persoalannya pilkada adalah kegiatan politik yang dilakukan di tempat dan lingkungan masyarakat yang sangat heterogen kepentingannya.

Kedahsyatan dari manifestasi potensi konflik dapat dilihat di penghujung dan pasca jatuhnya rezim Soeharto. Keberadaannya melekat pada struktur sosial dan setiap kegiatan dan kehidupan sosial masyarakat. karena konon rezim orde baru yang berkuasa mampu menekan konflik sosial ke tingkat yang dapat dikendalikan.dipertontonkan dengan telanjang dalam kehidupan sehari-hari atau lewat media massa. Tapi asumsi itu tidak semua benar sebab potensi konflik ternyata tidak mengecil atau mati justru semakin berkembang di bawah permukaan. Di era orde baru konstalasi sosial politik di permukaan kelihatan adem ayem. Kekawatiran ini bukan sesuatu yang mengada-ada atau didramatisir. tetapi juga manifestasi dari ledakan konflik yang terpendam. Lagi pula konflik sosial sesungguhnya senantiasa ada (omnipresent) atau ada dimana-mana. tetapi justru semakin mendorong berkembangnya konflik yang kemudian meledak tak terkendali pasca jatuhnya rezim Soeharto. Dimanapun tempatnya. oleh karenanya tidak bisa dihilangkan. tetapi jsutru lebih mengacu pada pengalaman masa lalu. sejarah mencatat bahwa kekuatan yang dimiliki rezim otoritarian atau totalitarian tidak pernah mampu Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 6 . Rezim Soeharto yang didukung militer dengan mengedepankan pendekatan represif ternyata tidak mampu mematikan potensi konflik yang ada. Semua pihak kawatir jika pilkada justru menjadi penyulut atau pemicu konflik yang telah ada dan memperluasnya dalam tingkatan yang lebih enskalatif dan mendalam. Praktek dan realitas yang sering dipilih untuk mendesakkan kehendak dan mengatasi persoalan adalah sesuatu yang dikhawatirkan akan terjadi dan berlanjut dalam proses pilkada. Kondisi demikian ini sering disebut sebagai bentuk euforia reformasi. Kekhawatiran ini telah menjadi realitas umum di masyarakat yang sesungguhnya menghendaki sebaiknya agar pilkada berjalan lancar dan aman.

kredibilitas. Rakyat berharap tim seleksi calon Kepala Daerah sungguh-sungguh bersih. berkompeten dan terpercaya. Pemilu yang digelar tahun 1999 dan 2004 adalah salah satu upaya terpenting untuk mengkanalisasi konflik dan mengelolanya untuk tujuan produktif. seolah tiba-tiba saja datang. Suatu saat rezim itu akan runtuk karena pembusukan yang terjadi di dalam (social and political decay) sebagaimana yang dialami rezim Soeharto. 1. Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 7 . yang mana hingga saat ini belum menemukan sistem yang melembaga untuk mengelola konflik secara demokratis. mulai dari tahap penyaringan calon yang layak menjadi Kepala Daerah (memenuhi dan mematuhi Undang-undang dan Peraturan Pemerintah). Permainan pada tahap pencalonan akan menyengsarakan keadaan daerah yang dipimpinnya. penentuan jumlah pemilih (angka-angka statistik abstrak). Dan seiring dengan bergulirnya demokratisasi. Seleksi calon Kepala Daerah yang tidak memenuhi normanorma obyektif –legal (profesional. accountable) akan mengundang reaksi massa di daerah pemilihan. melainkan sekedar menekannya ke bawah permukaan tanpa meresolusikannya secara layak. maka potensi konflik itu menjadi manifest. Yang layak dicalonkan adalah mereka yang benar-benar berkompetensi profesional dan berdedikasi dalam membangun daerah. Dalam proses Penyaringan Balon Kepala Daerah (konflik dalam rekruitmen kandidat) Ketidakjujuran dan manipulasi dalam proses pilkada. perhitungan suara dan permainan-permainan kotor yang menipu rakyat (pemberian suara oleh manipulator Pilkada). Indonesia adalah contoh par-execelent akan hal ini.membunuh potensi konflik.

ada kecenderungan parpol atau gabungan parpol mengusulkan pasangan calon pilihan mereka sendiri. sehingga mampu meraup banuk suara pendukung. Menjadi persoalan jika kegagalan itu lebih disebabkan oleh keputusan parpol yang tidak mau mencalonkannya karena menilai ada calin lain yang lebih layak dan pas dengan kepentingan parpol yang mencalonkan.Proses rekruitmen kandidat calon kepala daerah sangat ditentukan oleh parpol meskipun semua orang dapat mengajukan dirinya. maka tokoh yang bersangkutan dapat tersinggung dan marah. Klaim itu dinilai wajar mengingat pilkada langsung melibatkan suara rakyat sepenuhnya. tanpa mengakomodasi calon perseorangan. Padahal calon perseorangan itu bisa saja mengjukan klaim bahwa ia adalah tokoh yang berpengaruh. tapi harus melalui lembaga partai politik. Hal inilah Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 8 . Persoalannya. Dengan demikian. Jadi dalam pelaksanaan pemilihan langsung. Sementara calon perseorangan tidak dapat menerima penolakan tersebut. tapi justru hal ini telah meningkatkan potensi konflik yang lebih besar pula. walaupun sekarang sudah ada calon independent namun aturan masih belum mengaturnya secara lebih rinci. Potensi konflik dalam rekruitmen calon dapat muncul apabila parpol menolak calon perseorang karena memiliki calon sendiri. Contoh konkrit yang telah melakukan pencalon independent adalah pencalonan Irwandy Yunus sebagai Calon Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam. Seperti disebutkan dalam pasal 59 ayat (6) Undang-undang Pemerintahan Daerah bahwa parpol hanya dapat mengusulkan satu pasangan calin dan pasangan itu tidak dapat diusulkan lagi oleh parpol atau gabungan parpol lain. seringkali semua calon yang lolos seleksi atau gagal mengklaim bahwa mereka mendapat dukungan luas. kesempatan bagi calon individu atau perseorangan terbuka luas. Biasanya ketika tokok sebagai calon perseorangan tidak dipilih sebagai calon kepala daerah atau wakil kepala daerah oleh partai politik di daerah tersebut.

Mengentalnya Gejala Primordialisme Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 9 . Oleh karena itu perlu mekanisme terbuka dalam pencalonan pasangan kepala daerah dan wakil kepala daerah termasuk calon perseorangan. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian dari pihak-pihak terkait baik dari pihak keamanan. Panwasda maupun penyelenggara (KPUD sampai petugas TPS). selama pelaksanaan pilkada langsung. Bahkan dalam proses kampanye tidak jarang para juru kampanye dari Calon Kepala Daerah tertentu melakukan black campain. kondisi yang akan timbul yaitu adanya serangan fajar. 2. Sedangkan dalam proses pemilihan. intimidasi dan menggelorakan sentimen golongan ataupun kelompoknya serta yang tak dapat dielakkan lagi adalah mobilisasi massa yang bisa menimbulkan keributan antar para pendukung. perasaan-perasaan di atas akan memancing mereka untuk melakukan tindakan-tindakan konfliktual dalam masyarakat. Fanatisme masyarakat bawah terhadap golongannya biasanya murni. Dalam proses pemilihan Calon Kepala Daerah Para Calon Kepala Daerah dan Tim Suksesnya dalam kampanye sangat memahami hal ini. Padahal kadar fanatisme antara masyarakat bawah dan elit politiknya berbeda. sekedar agar mendapat dukungan mayoritas saja. 3. sabotase. Kekecewaan dan ketidakpuasan sosial yang terkait dengan langkah-langkah prosedural pencalonan hingga pemilihan hanya akan mempertebal akumulasi sosial dalam masyarakat yang merasa “kalah” dalam pilkada. carracter assassination.yang memicu konflik di daerah. Bukan mustahil. manipulasi data. Memang biaya yang paling murah untuk memobilisasi massa adalah dengan membakar rasa fanatisme etnis dan golongan. sedangkan fanatisme para elite politiknya umumnya hanya semu.

Kedua hal ini membawa implikasi yang luas terhadap keseluruhan proses penyelenggaraan pilkada seperti proses distribusi logistik dan sosialisasi pilkada. dan mudah menjadi benturan-benturan yang bisa menimbulkan tindak kekerasan. baik dari APBD maupun APBN. Sedangkan calon-calon yang sebenarnya lebih layak dan cocok akan tersingkir dari kalangan masyarakat yang belum dewasa dalam pendidikan politik. 4. Namun dibalik itu justru sikap primordialisme ini cenderung lebih mudah menyulut emosi massa. karena sikap keakuan antara inside dan outside atau ingroup dan outgroup pasti selalu menjadi lem perekat yang paling mudah dan murah dalam mempengaruhi emosi massa. Tanpa pencerahan politik yang lebih baik. Beberapa persoalan teknis penyelenggaraan pilkada yang masih belum terselesaikan biasanya bervariasi antar daerah. sesuku. Bahkan diantara KPU kabupaten di daerah pemekaran ada belmu memiliki personel dan sebagian diantaranya dalam proses seleksi calon-calon anggota KPU Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 10 . Beberapa KPUD mengeluh soal minim dan belum turunnya anggaran. namun ada kesamaan diantara mereka yaitu soal mepetnya waktu yang tersedia dan kendala dana yang minim. sebahasa dan sebudaya. Beberapa Kendala Teknis Penyelenggaraan Pilkada Di samping soal potensi konflik yang masih membayangin penyelenggaraan pilkada.Dalam proses Pilkada gejala primordialisme sangat sulit disingkirkan. muncul juga persoalan-persoalan teknis yang tidak kalah berat dan serius. Persoalan tekni sini tidak bisa dianggap sepele dibandingkan dengan persoalan lain seperti soal demokrasi dan potensi konflik karena jika tidak ditangani dengan baik. rakyat akan cenderung memilih calon-calon sedaerah. justru akan mengacaukan proses demokrasi dan memicu konflik yang lebih luas.

Pilkada seharusnya menjadi ajang uji coba pluralisme politik tanpa melahirkan konflik terpola yang berbasiskan etnik. agama. Antena Early Warning System (EWS) perlu segera dipasang. sebuah jembatan antar anasir sosial (etnis. Pemantauan dan kontrol normatif oleh pemerintah pusat dalam kerja sama dengan masyarakat termasuk suatu kebutuhan mendasar. Demokrasi dalam dirinya mengandaikan kesatuan kultural yang merangkul semua kelompok sosial. Disamping adanya wadah pengaduan masyarakat tentang langkahlangkah non prosedural dan langkah manipulatif dalam penanganan problematika sosial masyarakat.padahal pelaksanaan pilkada semakin dekat. Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 11 . kebudayaan dan politik) perlu segera dibangun menyongsong Pilkada mendatang. Kesadaran mendasar akan adanya keterkaitan antara demokratisasi dan konflik identitas kelompok sosial perlu ditumbuhkan sejak sekarang sehingga beberapa langkah antisipatif dapat ditempuh. tampaknya nilai-nilai tradisi lokal berupa kesetiakawanan. Sebelum calon-calon itu terpilih dan diangkat KPU pusat. Suatu politik peradaban dalam membangun suatu demokrasi diharapkan dapat lahir dari pilkada. agama atau segala bentuk kebudayaan. Sambil menunggu kucuran dana yang jumlahnya tidak banyak. meskipun tidak optimal. Menghadapi potensial konfliktual. saling percaya dan tenggang rasa antar kelompok sosial sudah waktunya dibangkitkan kembali setelah sekian lama dipolitisasi oleh pihak-pihak yang memanipulasi perkembangan sosial masyarakat yang begitu majemuk. Sanksi hukum positif yang transparan selayaknya dikenakan pada pihak-pihak yang terbukti mempermainkan dan memanipulasi Pilkada demi kepentingan-kepentingan terselubung golongan atau kelompok sosial tertentu. Penegakan hukum positif secara bersih dan terpercaya dinantikan dalam pelaksanaan Pilkada. kerjasama. KPUD harus tetap melaksanakan tugasnya. KPU kabupaten belum bisa melakukan pilkada.

artinya kalau ada peserta dan tim suksesnya yang melakukan pelanggaran terhadap aturan kampanye harus diberi sanksi dan ditindak.Untuk itu sebagai langkah antisipatif penanggulangan konflik dalam pelaksanaan Pilkada yang perlu diperhatikan antara lain : 1. jangan sampai ada keberpihakan pada calon Kada tertentu. 4. Panwasda harus bisa mengantisipasi akan adanya serangan fajar ataupun serangan senja dalam bentuk apapun. 5. bagi yang tidak memenuhi syarat. Aturan kampanye harus tegas. 6. Sosialisasi aturan main dalam Pilkada. sehingga masyarakat benar-benar memahami dan mengerti aturan dan tata cara dalam Pilkada. tetapi dari kebajikan dan kebijakan pemimpin itu sendiri. Ini harus dilakukan semaksimal mungkin. KPUD harus tegas untuk mencoret. Menghindari sikap primordialisme yang berlebihan. Penyelenggara ( KPUD sampai petugas TPS) dan Panwasda Pilkada harus tetap menjaga netralisasi. jangan sampai ada kompromi-kompromi di belakang layar. Syarat calon Kepala Daerah harus sesuai dengan aturan main (UU maupun PP). Masyarakat tidak bisa maju dan berkembang hanya karena kebanggaan terhadap kelompok atau golongannya yang menjadi pemimpin. 3. bukan hanya sebagai formalitas politik saja. Sebagai saran. kita pilih bersama orang-orang yang layak untuk menjadi pemimpin tanpa melihat kelayakan Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 12 . 7. serta penghayatannya terhadap moral yang diajarkan oleh agamanya. mari kita berpikir dengan jernih. mengingat untuk pertama kalinya Pilkada dilaksanakan secara langsung. Membangun etika politik siap kalah. sehingga apapun hasilnya jika dilaksanakan dengan jurdil dan transparan maka siap menerima kekalahan itu. 2.

Jakarta: Gramedia. Arbi. Rajawali. Sanit. DAFTAR PUSTAKA Harahap. 1989. Tugas Mata Kuliah Manajemen Sistem Aparatur dan Konflik Organisasi 13 . Sistem Politik Indonesia. Sjamsudin. Nazarudin. Manajemen dan Resolusi Konflik Pilkada. kemudian kita dudukkan dia bersama-sama. Integrasi Politik di Indonesia. Namun jika ternyata dia tidak becus. 1981. Abdul Asri. 2005. Jakarta: Pustaka Cidesindo. maka bersama-sama kita ingatkan dia. Jakarta: CV.asal etnis atau agamanya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful