Dasar Dasar Ilmu Tanah

Bahan Kuliah Online untuk mahasiswa Fakultas Pertanian, Univ. Sriwijaya Oleh: Dr.Ir.Abdul Madjid,MS Tampilkan posting dengan label Kesuburan Tanah. Tampilkan semua posting Tampilkan posting dengan label Kesuburan Tanah. Tampilkan semua posting

Senin, 2009 Juni 15
Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 1)
Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. ** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan)

I. PENDAHULUAN 1.1. Tanah Mineral Masam dan Penyebarannya Tanah mineral masam banyak dijumpai di wilayah beriklim tropika basah, termasuk Indonesia. Luas areal tanah bereaksi asam seperti podsolik, ultisol, oxisols dan spodosol, masing-masing sekitar 47,5, 18,4, 5,0 dan 56,4 juta ha atau seluruhnya sekitar 67% dari luas total tanah di Indonesia (Nursyamsi et al, 1996). Luasnya tanah masam tersebut sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan usaha pertanian, tetapi sampai sekarang masih belum dapat dimanfaatkan secara maksimal mengingat beberapa kendala yang terdapat pada tanah masam.Tanah ordo lain yang bersifat masam adalah

inseptisol dan entisol. Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di dalarn tanah tersebut. Bila kepekatan ion hidrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan bereaksi asam. Sebaliknya, bila kepekatan ion hidrogen terIalu rendah maka tanah akan bereaksi basa. Pada kondisi ini kadar kation OH- lebih tinggi dari ion H+. Tanah masam adalah tanah dengan pH rendah karena kandungan H+ yang tinggi. Pada tanah masam lahan kering banyak ditemukan ion Al3+ yang bersifat masam karena dengan air ion tersebut dapat menghasilkan H+. Dalarn keadaan tertentu, yaitu apabila tercapai kcjenuhan ion Al3+ tertentu, terdapat juga ion Al-hidroksida ,dengan demikian dapat menimbulkan variasi kemasaman tanah (Yulianti, 2007). Di daerah rawa-tawa, tanah masam umumnya disebabkan oleh kandungan asam sulfat yang tinggi. Di daerah ini sering ditemukan tanah sulfat masam karena mengandung, lapisan cat clay yang menjadi sangat masarn bila rawa dikeringkan akibat sulfida menjadi sulfat. Kebanyakan partikel lempung berinteraksi dengan ion H+. Lempung jenuh hidrogen mengalami dekomposisi spontan. Ion hidrogen menerobos lapisan oktahedral dan menggantikan atom Al. Aluminium yang dilepaskan kemudian dijerap oleh kompleks lempung dan suatu kompleks lempung-Al-H terbentuk dengan cepat ion. Al3+ dapat terhidrolisis dan menghasilkan ion H. Reaksi tersebut menyumbang pada peningkatan konsentrasi ion H+ dalam tanah. Sumber keasaman atau yang berperan dalam menentukan keasaman pada tanah gambut adalah pirit (senyawa sulfur) dan asam-asam organik. Tingkat keasaman gambut mempunyai kisaran yang sangat lebar. Keasaman tanah gambut cendrung semakin tinggi jika gambut semakin tebal. Asam-asam organik yang tanah gambut terdiri dari atas asam humat, asam fulvat, dan asam humin. Pengaruh pirit yaitu pada oksida pirit yang akan menimbulkan keasaman tanah hingga mencapai pH 2 - 3. Pada keadaan ini hampir tidak ada tanaman budidaya yang dapat tumbuh baik. Selain menjadi penghambat pertumbuhan tanaman, pirit menyebabkan terjadinya karatan (corrosion) sehingga mempercepat kerusakan alat-alat pertanian yang terbuat dari logam. Terdapat dua jenis reaksi tanah atau kemasaman tanah, yakni kemasaman (reaksi tanah) aktif dan potensial. Reaksi tanah aktif ialah yang diukurnya konsentrasi hidrogen yang terdapat bebas dalam larutan tanah. Reaksi tanah inilah yang diukur pada pemakaiannya sehari-hari. Reaksi tanah potensial ialah banyaknya kadar hidrogen dapat tukar baik yang terjerap oleh kompleks koloid tanah maupun yang terdapat dalam larutan (Hanafiah, 2007). Selanjutnya dijelaskan juga oleh Hanafiah (2007) bahwa sejumlah senyawa menyumbang pada pengembangan reaksi tanah yang asam atau basa. Asam-asam organik dan anorganik, yang dihasilkan oleh penguraian bahan organik tanah , merupakan konstituen tanah yang umum dapat mempengaruhi kemasaman tanah. Respirasi akar tanaman menghasilkan C02 yang akan membentuk H2CO3 dalam air. Air merupakan sumber lain dari sejumlah kecil ion H+. Suatu bagian yang besar dari ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan. H

H---Lempung ---> Lempung + 3 H+ H Ion-ion H+ tertukarkan tersebut berdisosiasi menjadi ion-ion H+ bebas. Dcrajat ionisasi dan disosiasi ke dalam larutan tanah menentukan khuluk kemasaman tanah. Ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan merupakan penyebab terbentuknya kemasaman tanah potensial atau cadangan. Besaran dari kemasaman potensial ini dapat ditentukan dengan titrasi tanah. Ion-ion H+ bebas menciptakan kemasaman aktif. Kemasaman aktif diukur dan dinyatakan sebagai pH tanah. Tipe kemasaman inilah yang sangat menentukan dan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ada beberapa alat ukur reaksi tanah yang dapat digunakan. Alat yang murah ialah kertas lakmus yang bentuknya berupa gulungan kertas kecil memanjang. Alat lain yang harganya sedikit mahal tetapi dapat dipakai berulang kali dengan hasil pengukuran lebih terjamin adalah pH tester dan soil tester. Pemakaian kertas lakmus sangat mudah, caranya yaitu : mengambil tanah lapisan dalam, lalu larutkan dengan air murni (aquadest) dalam wadah. Biarkan tanahnya terendam di dasar wadah sehingga airnya menjadi bening kembali. Setelah bening, air tersebut dipindahkan ke wadah lain secara hati-hati agar tidak keruh. Selanjutnya, ambil sedikit kertas lakmus dan celupkan ka dalam air tersebut. Dalam beberapa saat kertas lakmus akan berubah warna. Cocokan warna pada kertas lakmus dengan skala yang ada pada kemasan kertas lakmus. Skala tersebut telah dilengkapi dengan angka pH masing-masing Warna. Angka pH tanah tersebut adalah angka dari warna pada kemasan yang cocok dengan warna kertas lakmus Misalnya, angka yang cocok adalah 6 maka pH-nya 6. Pemakaian soil tester untuk mendapat pH tanah agak berbeda dengan kertas lakmus. Bentuknya seperti pahat dan berukuran pendek. Oleh karena berbentuk padatan, ada bagian yang runcing. Bagian runcing inilah yang ditancapkan ke tanah hingga pada batas yang dianjurkan. Setelah ditancapkan, sekitar tiga menit kernudian jarum skala yang terletak di bagian atas alat ini akan bergerak. Angka yang ditunjukkan jarum tersebut merupakan pH dari tanah tersebut. Pemakaian pH tester lebih sederhana dan soil tester penggunaannya untuk megukur nilai pH tanah di lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1-2 ha. Walaupun demikian, alat ini masih bisa diandalkan. Bagian yang menunjukkan angka pH berbentuk kotak dengan jarum penunjuk angka. Bagian kotak tersebut dihubungkan dengan besi sepanjang 25 cm yang ujungnya runcing dan dilapisi logam elektroda. Besi inilah vang ditancapkan ke tanah. Jumlah besi bisa 1-2 buah. Penetapan pH tanah sekarang ini dilakukan dengan elektroda kaca. Elektroda ini terdiri dari suatu bola kaca tipis yang berisi HCL. encer, dan di dalamnya disisipkan kawat Ag-AgCl, yang berfungsi sebagai elektrodanya dengan tegangan (voltase) tetap. Pada waktu bola kaca tersebut itu dicelupkan ke dalam suatu larutan, timbul suatu perbedaan antara larutan di dalam bola dan larutan tanah di luar bola kaca. Sebelum pengukuran pH dilakukan, kedua elektroda pertama-tama harus dimasukkan ke dalam suatu larutan yang diketahui pH-nya (misalnya konsentrasi ion H+ = 1 g/L). Kegiatan ini disebut pembakuan elektroda dan petunjuk pH (pH meter).

danMn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. 1. Derajat agregasi rendah dan kemantapan agregat lemah baik pada lahan berlereng maupun datar. pH dapat diukur dalam cairan supernatant atau dalam endapan (sedimen). Asidolisis berlangsung kuat karena air infiltrasi dan perkolasi mengambil CO2 hasil mineralisasi bahan organik berupa serasah hutan dan hasil pernafasan akar tumbuhan hutan (Yulnafatmawita. Ultisol dibentuk oleh proses pelapukan dan pembentukan tanah yang sangat intensif karena berlangsung dalam lingkungan iklim tropika dan subtropika yang bersuhu panas dan bercurah hujan tinggi dengan vegetasi klimaksnya hutan rimba. Kejenuhan Al . Kejenuhan basa rendah . tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Hasanudin dan Ganggo. 5. elektroda acuan dan elektroda indikator dicelupkan ke dalam suspensi tanah yang heterogen yang terdiri atas partikel-partikel padat terdispersi dalam suatu larutan aquadest. Tanah ultisol memiliki ciri-ciri sebagai berikut . pH rendah 2. karena prosedur ini memberikan bacaan yang tidak stabil (Hanafiah.Dalam pengukuran pH. Menurut Subandi (2007) Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl. Kadar bahan organik rendah dan kadar N rendah 6. 2007). Daya simpan air terbatas 7. Jenis tanah masam diantaranya terdapat pada tanah ordo Ultisol. 2006). Kerentanan terhadap erosi membuat tanah akan semakin cepat berkurang kesuburannya terutama pada lapisan atas dan akan terakumulasi di bagian yang lebih rendah (Notohadiprawiro. sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe. Penempatan pasangan elektroda dalam supernatant biasanya memberikan bacaan pH yang lebih tinggi dari pada penempatan dalam sedimen. Persoalan akan bertambah berat jika bahan induk tanah sudah bersifat masam kondisi inilah yang dijumpai di Sumatera. Fe. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi. Pengadukan suspensi tanah sebelum pengukuran tidak akan memecahkan masalah tersebut. 2004). Jenis tanah ini . Perbedaan dalam bacaan pH ini disebut pengaruh suspensi. Fe dan Mn tinggi 3. Kedalaman efektif terbatas 8. Dalam lingkungan semacam ini reaksi hidrolisis dan asidolisis serta proses pelindian (leaching) terpacu sangat cepat dan kuat. 2008). Zn cukup namun tereluviasi. kadar Cu rendah dalam tanah yang berasal dari bahan induk masam (feksil) atau batuan pasir. Jika partikel-partikel padat dibiarkan mengendap. Pelapukan masam tanah membebaskan basa dari mineral tanah secara cepat apabila didukung dengan daya lindi yang kuat maka akan terbentuk tanah yang miskin hara dan Al Fe serta Mn yang tinggi dapat meracun tanaman. Daya jerap terhadap fosfat kuat 4.

71 juta).26%. Jambi (1. Species tumbuhan yang berkadar ion-ion logam rendah.biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N. Total luas tanah ini sekitar 14. sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya.41 juta). Total luas adalah sekitar 45.14 juta). oksida) adalah tanah-tanah yang telah mengalami pencucian yang intensif dan miskin hara. Senyawa – senyawa organic tercuci kebawah bersama air perkolasi sehingga tanah permukaan menjadi berwarna terang. dan B. Horizon iluvial ini dijumpai dibawah horizon eluviasi. K.79 juta ha atau 24. P. Tanah di KP. Kalimantan dan Jawa.5% dari total lahan Indonesia dan menyebar di Sumatera Selatan (2.27 juta ha). .81 juta).06 juta). dan Lampung (1. dan Mg.62 juta). tinggi kandungan AL dan Fe.01 juta ha). berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey) . Tanah-tanah ini mendominasi lahan kering yang ada di Sumatera.01%. Kalimantan Tengah (2. Tekstur tanah ultisol bervariasi. Dengan membusuknya daun-daun yang rendah kadar ion logamnya.08%. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge). unsur hara mikro Zn.Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl . seperti pinus. suatu horizon dalam dengan akumulasi bahan organic. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah. Seperti halnya Ultisols. Irian Jaya (7. mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11. serta bahan organik. sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. Cu. sedang horizon bawah menjadi berwarna gelap karena terjadinya selaput organic pada butir-butir tanah.lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci.40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah . Dikenal luas sebagai podsolik merah kuning. sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK . Ultisols (ultimus-selesai) adalah tanah-tanah yang berwarna kuning merah dan telah mengalami pencucian yang sudah lanjut. misalnya.11 juta ha atau 7. kelihatannya merangsang pertumbuhan spodosol. dengan demikian memadai bila disebut abu kayu). Tanah Oxisols (oxide. dan 17.79 juta). Mo.04 juta ha). Kalimantan Barat (1. Ca. Tanah-tanah ini sudah tua. Kalimantan Barat (5. mereka mendominasi lahan kering dengan intensitas curah hujan yang tinggi. dan Prabumulih Sumatera Selatan. dibawah vegetasi hutan basah dan berkembang dari bahan endapan dan batuan sediment kaya kuarsa yang dipercepat oleh adanya vegetasi yang menghasilkan serasah asam. Umumnya terbentuk diwilayah iklim humid.82 juta ha). 1.3 % dari lahan Indonesia dan menyebar di Kalimantan Timur (10. Irian Jaya (2. Indralaya. namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). Kalimantan Tengah (4. dan oksidasi aluminium (Al) dengan atau tanpa oksidasi besi (Fe). Kayu Agung. dan Riau (2. di Jawa Barat 13. Spodosol merupakan tanah mineral yang mempunyai horizon spodik. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%). biasanya suatu horizon albik (berwarna merah muda.

skeletal berlempung. Di silawesi tengah. Terletak langsung dibawah horizon albik. Vegetasi alami yang tumbuh biasanya spesifik jenisnya. sehingga menghasilkan profil spodosol yang menarik. seperti akumulasi bahan organik yang tinggi.3 – 4. Batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih. iv. terdapat di kalimantan tengah. Sebagian dari mereka adalah orthod. Di pulau lain nampaknya tidak luas penyebaranya dan setempat – setempat terdapat disulawesi dan sumatra. Landform – nya dimasukkan sebagai dataran tektonik. tanah diklasifikasi sebagai spodosol. Batas atas berada dalam kedalaman <50 cm. apabila memiliki horizon dengan semua sifat berikut : i. Data dari analisis tanah dari beberapa pedon Spodosol dari kalimantan tengah dan kalimantan barat menunjukkan bahwa. Banyak tanah dari timur laut amerika serikat. Air perkolasi membawa asam-asam itu kebagian profil tanah yang lenig dalam. Reaksi tanah menunjukkan masam ekstrem sampai sangat masam (pH 3. bisasanya terdapat lapisan bahan organik (Oi dan Oe) tipis (5-10) cm dan . Horizon atas hancur karena pencucian intensif oleh asam. Lanscape luas tanah spodosol seluruhnya diperkirakan 2.kemasaman tinggi akan terbentuk. Pada permukaan tanah. dari permukaan tanah. tengah. selatan dan tenggara dipearkirakan terdapat antara 11-25 ribu ha (Himatan. iii. termsuk bagian utara michigan dan winconsin yang dulunya digolongkan sebagai podsol. kemudian dikalimantan barat 0. Sebagian besar mineral. dengan kandungan fraksi pasir tinggi (65-96 %). Oksida aluminium dan besi serta bahan organic akan diendapkan di horizon bagian bawah.51 juta ha. Di Indonesia sendiri penyebaran endapan pasir dan batu pasir kuarsa yang secara geologis sangat luas. becak-becak pada horizon albik dan terbentuknya semacam lapisan keras (duripan) pada horizon albik. Tersementasi dengan kelembaban minimum 10 cm. Apabila kelas besar butirnya berpasir. podsolik coklat dan podsol air tanah termasuk dalam spodosol.1 % wilayah dataran indonesia. 2006). Mengikuti definisi kuantitatif taksonomi tanah. Spodosol termasuk tanah dengan kelas besar butir berpasir. Spodosol adalah Tanah – tanah yang secara unik berkembang dari endapan pasir kuarsa. Daerah-daerah dari aquod adalah Florida. dengan curah hujan tunggi dan rezim kelembaban tanah udik dan aquods yaitu spodosol basah atau jenuh air dengan drainase sangat terhambat dan sering kali mempunyai permukaan air tanah berada dekat dengan permukaan tanah. apabila kelas besar butirnya berlempung kasar. pada 50 % atau lebih dari setiap pedonnya. suatu spodosol umum. serta setempat-setempat di kalimantan barat dan kalimantan timur.9) di seluruh lapisan tanah. Dari empat sub-ordo dalam kelompok spodosol. ii. dan.16 juta ha atau 1. dipindahkan kebagian lebih dalam. atau lebih halus atau <200 cm. cenderung menaik kelapisan bawah. Dalam hal ini Spodosol mencakup Tanah-tanah yang disebut : Podzol dan Podzol Air Tanah.15 juta ha. karena tanah ini selama musim tertentu jenuh dengan air dan mempunyai ciri-ciri yang berasosiasi dengan kebasahan. seperti kantung Semar dan Paku-pakuan. Yaitu vegetasi yang mampu berkembang subur di Tanah masam. dan/atau batu sedimen berupa batu pasir kuarsa. Akan tetapi beberapa adalah aquod. Penyebaranya paling luas terdapat di kalimantan tengah sekitar 1.42 juta dan kalimantan Timur 0. yang sering kali dibuka untuk pertanian adalah Haplorthods yaitu spodosol yang terbentuk diwilayah beriklim basah.

Ultisol. fraksi tanah yang dihasilkan didominasi oleh pasir. Tanah Marjinal dapat terbentuk secara alami dan antropogenik (ulah manusia). bukan tanah yang menjadi marjinal karena antropogenik. Deforestasi dan degradasi hutan menyebabkan terjadinya erosi yang dipercepat dan punahnya organisme yang berperan dalam pembentukan tanah T = ƒ (i. bahan induk yang keras dan asam. berwarna putih dan putih kekelabuan.1 – 9. Spodosols. Mollisols. Secara antropogenik adalah karena ulah manusia yang memanfaatkan sumberdaya alam yang tidak terkendali. serta kebakaran.5)%. terungkapnya unsur atau senyawa beracun bagi tanaman. Selain itu. b. Gelisols. 2006) 1. Kandungan P dan K-potensial di lapisan atas dan dilapisan bawah. w). Misalnya. dan (2) tempat akar berjangkar. Andisols. Kalau tanah ini diusahakan untuk budidaya tanaman memerlukan masukan teknologi. suhu yang dingin/membeku. sehingga menambah biaya produksi. tergenang dan akumulasi bahan gambut.2 cmol (+)/kg tanah). Inceptisols.2 – 0. yaitu : (1) sebagai sumber penyedia unsur hara dan air. sangat rendah sampai rendah. Tanah Marjinal untuk budidaya tanaman merupakan tanah yang mempunyai sifat-sifat fisika.95) %. dan Vertisols) yang tergolong Tanah Marjinal antara lain adalah : Aridisols. pengeringan ekstrem pada tanah gambut. bahkan hilang. Histosols. dan agak tinggi sampai tinggi pada lapisan serasah dan di horizon Bs (sesquioksida). Secara alami (pengaruh lingkungan) yang disebabkan proses pembentukan tanah terhambat atau tanah yang terbentuk tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman.dibawahnya terdapat Horizon Al dengan kandungan bahan organik termasuk sedang sampai tinggi (3. . eksploitasi deposit bahan tambang. Misalnya. selalu lebih tinggi dari pada lapisan bawah yang berpasir. dan biologi yang tidak optimal untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman. Rasio C/N tergolong tinggi (16-35). dengan kandungan bahan organik dangat rendah (0. Gelisols. r. Entisols. Tanah Marjinal yang dimaksudkan adalah tanah yang terbentuk secara alami. Inceptisols. tanah ini juga tidak mempunyai fungsi ekologis yang baik terhadap lingkungan. Aridisols. kekurangan air. Langsung dibawah horizon ini terdapat horizon E. Jumlah basa-basa dapat ditukar termasuk sangat rendah (0. Hilangnya fungsi inilah yang menyebabkan produkvitas tanah menurun menjadi Tanah Marjinal. deforestasi dan degradasi hutan. pengaruh salinisasi/penggaraman. sehingga terjadi kerusakan ekosistem.2. Dari 12 ordo tanah di dunia (Alfisols. Oxisols. Histosols. Dengan demikian. KTK tanah sebagian besar sangat rendah dilapisan pasir. KB semuanya sangat rendah sampai. tanah mempunyai dua fungsi. Kandungan kedua unsur hara ini dilapisan serasah. o. Potensi Kesuburan alami Spodosol dengan demikian disimpulkan sangat rendah sampai rendah penggunaan tanah (Himatan. Salah satu atau kedua fungsi ini dapat menurun. dan Ultisols. Tinjauan Umum Kesuburan Tanah Sebagai sumberdaya alam untuk budidaya tanaman.2-1. Entisols. kimia.

Luas lahan kritis di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat. Pada umumnya proses degradasi tanah dalam sistem pertanian dapat disebabkan oleh erosi. Fraksi tanah yang dahulu diangkut adalah yang halus dan ringan yaitu liat dan humus. Aryantha (2002) menjelaskan ada tiga konsep untuk memperbaiki kesuburan tanah yaitu yang berwawasan lingkungan atau berkelanjutan adalah Low External Input Agriculture (LEIA) dan Low Ezternal Input Sustainable Agriculture (LEISA). pemadatan. Winarso (2005) menjelaskan bahwa pengukuran kualitas tanah merupakan dasar untuk penilaian keberlanjutan pengelolaan tanah yang dapat diandalkan untuk masa-masa yang akan datang. terutama pada areal budidaya tanaman pada lahan berlereng. Kualitas tanah dapat sebagai sifat atau atribut inherent tanah yang dapat digambarkan dari sifat-sifat tanah atau hasil observasi tidak langsung. Dapat diprediksi betapa luasnya lahan kritis di Indonesia saat ini. karena dapat dipakai sebagai alat untuk menilai pengaruh pengelolaan lahan. Suatu tanah atau lahan dapat menghasilkan suatu produk tanaman yang baik dan menguntungkan maka tanah dikatakan produktif. dan sebagai kemampuan tanah untuk menampakkan fungsifungsi produktivitas lingkungan dan kesehatan. karena merupakan kompleks petukaran ion dan penahan unsur hara. Sedangkan dari laporan Suranggajiwa (1975) luas lahan kritis pada seluruh DAS di Indonesia mencapai 30 juta ha dan meningkat 2 % / tahun. Produktivitas tanah merupakan kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tertentu suatu tanaman dibawah suatu sistem pengelolaan tanah tertentu. dan pertanian modren yang tergantung . Tanah subur akan produktif jika dikelaola dengan tepat.5 % / tahun. Tanah produktif harus mempuyai kesuburan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. menggunakan jenis tanaman dan teknik pengelolaan yang sesuai. Dari hasil survei Direktorat Kehutanan tahun 1985 pada 75 DAS (sebagian dari jumlah DAS di Indonesia) jumlah lahan kritis telah mencapai 16 juta ha dan meningkat 2. dalam bentuk senyawa-senyawa yang dapat dimanfaatkan tanaman dan dalam perimbangan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tertentu dengan didukung oleh faktor pertumbuhan lainnya (Yuwono dan Rosmarkam 2008). tanah yang mengalami erosi akan menurun produktivitasnya menjadi tanah marjinal yang kalau erosi selanjutnya tidak dikendalikan. kehilangan bahan organik tanah dan lain lain. Oleh karena itu. tanah tersebut akan menjadi lahan kritis. Kedua fraksi ini sangat berperan dalam menentukan kesuburan tanah. Dalam sedimen yang terangkut pada peristiwa erosi terdapat juga berbagai unsur hara dan bahan organik. Kesuburan tanah adalah kemampuan atau kualitas suatu tanah menyediakan unsur hara tanaman dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan tanaman. penurunan ketersediaan hara atau penurunan kesuburan. sejalan dengan semakin mengganasnya deforestasi dan degradasi hutan serta belum diterapkannya teknologi konservasi tanah yang memadai. Akan tetapi tanah subur tidak selalu berarti produktif. Tanah yang sehat akan memberikan sumbangan yang besar tehadap kualitas tanah.Aliran permukaan yang berasal dari curah hujan akan mengikis lapisan permukaan yang merupakan bagian tersubur dari tanah. Produktivitas tanah merupakan perwujudan darifaktor tanah dan non tanah yang mempengaruhi hasil tanaman.

Kualitas dan Karekteristik Lahan Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. zat pengatur tumbuh). udara dan air dengan pengelolaan iklim mikro. Umumnya berupa bahan-bahan agrokimia konvensional yang memang disengaja dibuat untuk input produksi. 1. tumbuhan dan hewan). limbah. Pendauran hara di dalam usahatani dengan sumber-sumber yang berasal dari luar usaha tani. Dapat berpengaruh buruh pada keseimbangan lingkungan dan kesehatan manusia . hewan. HEIA adalah Merupakan sistem pertanian yang menggunakan masukan dari luar (secara berlebihan).(b) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. air. khususnya melalui penambatan Nitrogen. pengetahuan dan keterampilan) yang tersedia ditempat dan layak secara ekonomis.dengan bahan kimia adalah High External Input Agriculture (HEIA) LEIA adalah sistem yang memanfaatkan sumberdaya lokal yang sangat intensif dengan sedikit atau sama sekali tidak menggunakan masukan dari luar sehingga tidak terjadi kerusakan sumberdaya alam. hewan. air. Pendauran hara di dalam petak pertanaman.. mengoptimalkan ketersediaan dan menyeimbangkan aliran unsur hara. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan ( performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics ). Sistem ini sangat tergantung senyawa kimia sintetis (pupuk. meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari. air. LEISA adalah Pertanian dengan masukan rendah tetapi mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam (tanah. Ciri-ciri sitem ini (a) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman. dll. Pendauran ini dapat dilewatkan dengan ternak atau pengembalian sisa-sisa biomassa hasil panen. Cara ini tidak menambahkan hara kepada tanah. pengelolaan air dan pengendalian erosi. iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. tanah. adil secara sosial dan sesuai dengan budaya lokal. kompos. saling melengkapi dan sinergi dalam penggunaan sumberdaya genetik yang mencakup penggabungan dalam sistem pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman fungisonal tinggi . manusia (tenaga. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung . Pendauran hara di dalam usaha tani dengan sumber-sumber yang berasal dari usaha tani itu sendiri. mantap secara ekologis. pendaur ulangan unsur hara dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap. tetapi hanya mengembalikan hara yang tidak terangkut ke luar bersama dengan hasil panen . Prinsip dasar LEISA adalah menjamin kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman. khususnya dengan mengelola bahan organik dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme di dalam tanah (soil regenerator). Kegiatan ini biasanya melibatkan tanaman legum (cover crop) untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan N pada tanaman pokok. pestisida. tanah. Kegiatan ini berguna untuk menambahkan hara kepada tanah dari luar usaha tani.3. Bahan-bahan yang digunakan: sampah.

maka temperatur semakin menurun. Pada daerah yang data suhu udaranya tidak tersedia. menyukai dataran tinggi atau suhu rendah. Karakteristik lahan tersebut terutama topografi dan tanah) merupakan unsur pembentuk satuan peta tanah (Ritung. kemungkinan untuk irigasi dan lain-lain (d) Kualitas konservasi yang berhubungan dengan erosi. Secara manual biasanya dicatat . Misalnya tanaman teh dan kina lebih sesuai pada daerah dingin atau daerah dataran tinggi. sedangkan karet. dan kelapa lebih sesuai di daerah dataran rendah. Namun demikian mengingat sifat saling berkaitan antara unsur iklim satu dengan yang lainnya. tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO.di lapangan. seperti respon terhadap pemupukan. secara umum sering dibedakan antara dataran rendah (<700> 700 m dpl. kelapa sawit dan kelapa sesuai untuk dataran rendah.01 x elevasi dalam meter x 0. yaitu topografi. Iklim sebagai salah satu faktor lingkungan fisik yang sangat penting dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Namun dalam kesesuaian tanaman terhadap ketinggian tempat berkaitan erat dengan temperatur dan radiasi matahari. Ketinggian tempat dapat dikelaskan sesuai kebutuhan tanaman. oksigen. 1976). misalnya. suhu. Semakin tinggi tempat di atas permukaan laut. maka dalam uraian iklim ini akan diuraikan unsur-unsur iklim yang yang berkaitan dengan pertumbuhan tanaman. Tanaman kina dan kopi. Pengukuran curah hujan dapat dilakukan secara manual dan otomatis. sawit. Sedangkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan temperatur udara dan radiasi matahari. Demikian pula dengan radiasi matahari cenderung menurun dengan semakin tinggi dari permukaan laut. Ketinggian tempat diukur dari permukaan laut (dpl) sebagai titik nol.6 C) Suhu udara ratarata di tepi pantai berkisar antara 25-27 C.3 C (0. Dalam kaitannya dengan tanaman. Sitorus (1985) menjelaskan ada empat kelompok kualitas lahan utama : (a) Kualitas lahan ekologis yang berhubungan dengan kebutuhan tumbuhan seperti ketersediaan air. semakin rendah suhu udara rata-ratanya dan hubungan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus Braak (1928): 26. Data curah hujan diperoleh dari hasil pengukuran stasiun penakar hujan yang ditempatkan pada suatu lokasi yang dianggap dapat mewakili suatu wilayah tertentu.2003). dan kelembaban. Sedangkan tanaman karet. unsur hara dan radiasi (b) Kualitas yang berhubungan dengan kualitas pengelolaan normal. Semakin tinggi tempat. Di daerah tropika umumnya radiasi tinggi pada musim kemarau dan rendah pada musim penghujan.). suhu udara diperkirakan berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut. Bebrapa unsur iklim yang penting adalah curah hujan. tanah dan iklim. Relief erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi. seperti kemungkinan untuk mekanisasi pertanian (c) Kualitas yang berhubungan dengan kemungkinan perubahan. Karakteristik lahan yang erat kaitannya untuk keperluan evaluasi lahan dapat dikelompokkan ke dalam 3 faktor utama. Topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah bentuk wilayah (relief) atau lereng dan ketinggian tempat di atas permukaan laut.

Agak kasar (ak) : Lempung berpasir. Sedangkan Schmidt & Ferguson (1951) membuat klasifikasi iklim berdasarkan curah hujan yang berbeda. Sedang (s) : Lempung berpasir sangat halus. kerakal atau batuan pada setiap lapisan tanah. bahaya erosi. Drainase tanah menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh air. dibedakan menjadi: tipis : <> 400 cm. lempung liat berpasir. C. KTK). liat berdebu. misalnya setiap menit. terutama untuk padi. terutama tanaman tahunan atau perkebunan berada pada kelas 3 dan 4. Data jenis tanah dapat di lihat melalui peta satuan lahan khusus jenis tanah. Kelas drainase tanah disajikan pada Tabel 5. Kriteria ini lebih diperuntukkan bagi tanaman pangan. Sangat halus (sh) : Liat (tipe mineral liat 2:1). debu dan liat. lempungberdebu. drainase tanah. Sedangkan secara otomatis menggunakan alat-alat khusus yang dapat mencatat kejadian hujan setiap periode tertentu. Tekstur merupakan komposisi partikel tanah halus (diameter 2 mm) yaitu pasir. liat. Pengelompokan kelas tekstur adalah: Halus (h) : Liat berpasir. Karakteristik Kelas Drainase Tanah . sedangkan kelas 5. Oldeman (1975) mengelompokkan wilayah berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut. Kriteria yang terakhir lebih bersifat umum untuk pertanian dan biasanya digunakan untuk penilaian tanaman tahunan. D dan E). Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan >200 mm. setiap jam. lempung. pasir berlempung. dan seterusnya. Bahan kasar adalah persentasi kerikil. lempung liat berdebu. Kasar (k) : Pasir. serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas. tekstur. yang kemudian dijumlahkan menjadi bulanan dan seterusnya tahunan. dibedakan menjadi: sedikit : <> 60 %. Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik tanah di antaranya jenis tanah. Drainase tanah kelas 1 dan 2 serta kelas 5. 6 dan 7 sering jenuh air dan kekurangan oksigen. Berdasarkan kriteria tersebut Oldeman (1975) membagi zone agroklimat kedalam 5 kelas utama (A. atau berdasarkan data hasil analisis di laboratorium dan menggunakan segitiga tekstur . yakni bulan basah (>100 mm) dan bulan kering (<60 mm). dan banjir/genangan. Untuk keperluan penilaian kesesuaian lahan biasanya dinyatakan dalam jumlah curah hujan tahunan. Ketebalan gambut. 6 dan 7 kurang sesuai untuk tanaman tahunan karena kelas 1 dan 2 sangat mudah meloloskan air. kedalaman tanah dan retensi hara (pH. Agak halus (ah) : Lempung berliat. B. sedangkan bulan kering mempunyai curah hujan <100 mm.besarnya jumlah curah hujan yang terjadi selama 1(satu) hari. debu. Kelas drainase tanah yang sesuai untuk sebagian besar tanaman. jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah. Tekstur dapat ditentukan di lapangan seperti disajikan pada Tabel 4. seperti contoh peta jenis tanah propinsi Jambi Kabupaten Muaro Jambi.

Ciri yang dapat diketahui di lapangan. 4.Tanah demikian hanya cocok untuk sebagian tanaman kalau tanpa irigasi. Agak cepat (somewhat excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi dan daya menahan air rendah. tanah basah untuk waktu yang ke cukup lama sampai permukaan. Tanah kemikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. 2.Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Terhambat (poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 100 cm. 5. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 50 cm. 6.1. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley(reduksi) pada lapisan 0 sampai 25 cm. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Cepat (excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi sampai sangat tinggi dan dayamenahan air rendah. tapi tidak cukup basah dekat permukaan. tanah basah sampai ke permukaan. Baik (well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air sedang. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. lembab. 7. Agak terhambat (somewhat poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. yaitu tanah berwarna homogen tanpabercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). tanah basah dekat permukaan. 3. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Agak baik (moderately well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang sampai agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) dan bercak atau karatan besidan/atau mangan sedikit pada lapisan sampai permukaan. Tanah demikian tidak cocok untuk tanaman tanpa irigasi. Sangat terhambat (very poorly drained): .

A. Indonesia. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) permanen sampai pada lapisan permukaan. dibandingkan tanah yang tidak tererosi yang dicirikan oleh masih adanya horizon A. MS di 21:27 1 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 2) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.blogspot. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Propinsi Sumatera Selatan. Diposkan oleh Dr. erosi alur (rill erosion). Palembang. Propinsi Sumatera Selatan. Program Magister (S2).Tanah dengan konduktivitas hidrolik sangat rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) sangat rendah. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. (3) Teknologi Pupuk Hayati. . R. http://dasar2ilmutanah. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. tanah basah secara permanen dan tergenang untuk waktu yang cukup lama sampai ke permukaan. Palembang. Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya.com. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Program Pascasarjana. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Ir. dan erosi parit (gully erosion). Horizon A biasanya dicirikan oleh warna gelap karena relative mengandung bahan organik yang lebih tinggi. Abdul Madjid. Program Magister (S2). Palembang. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Pendekatan lain untuk memprediksi tingkat bahaya erosi yang relatif lebih mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata) pertahun. 2009. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. yaitu dengan cara memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion). Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan kondisi lapangan. (2) Kesuburan Tanah. Propinsi Sumatera Selatan.

serta bahan organik . Pemberian bahan ameliorasi kapur. dan Prabumulih Sumatera Selatan. Fe. dan Mg. bahan organik. Mg sangat rendah. permeabilitas rendah. aras N. Mn. P. Tanah ini di Indonesia terbentuk di daerah yang bercurah hujan tinggi (2500-3000 mm per tahun)..08%. batuan induk granit. Tekstur tanah ultisol bervariasi. 1993). Mo. Ca. topografi berombak hingga berbukit dengan ketinggian 50-350 mm di atas muka air laut. gibsit dan atau goetit (Ismail et al. dan Mg. K. stabilitas agregat baik. dan atau Mg dan Mo . 2003). bereaksi masam. Lahan masam pada umumnya miskin bahan organik dan hara makro N.(Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N.Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl. Fe. struktur gumpal. 1. Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl. fraksi lempung didominasi oleh mineral-mineral bermuatan terubahkan seperti kaolinit. mengandung Al. Ca. dan pemupukan N. P. dan K merupakan kunci untuk memperbaiki kesuburan lahan kering masam. berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey). vegetasi alami alang-alang (Imperata cylindrica) dan hutan (Hardjowigeno. Ca. dan/atau Fe. P. pH rendah. Tanah di KP. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) . dan 17. dan Mn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. K. namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). keracunan Al. P. P. 1990). unsur hara mikro Zn. sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11.26% di Jawa Barat 13. 1993). dan B. Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%). Ca.40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah (Taufiq et al. Lahan kering tergolong suboptimal karena tanahnya kurang subur. Kayu Agung. misalnya. Teknologi ini mencakup segala upaya untuk memanipulasi jasad renik dalam tanah dan proses metabolik mereka untuk mengoptimumkan produktivitas pertanaman. Usaha pertanian di tanah Ultisol akan menghadapi sejumlah permasalahan.01%. Indralaya. KPK rendah. Permasalahan Pada Tanah Mineral Masam Tanah masam di Indonesia memiliki ciri-ciri tekstur lempungan. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N. abu vulkan atau andesit . Cu. Upaya untuk mengatasi persoalan kesuburan tanah-tanah masam adalah dengan mengkombinasikan antara praktek usaha tani dengan penerapan bioteknologi tanah yang menekankan pada komponen mengamankan suplai N di dalam sistem tanah-tanaman dengan pengayaan fiksasi N2 secara biologis (Notohadiprawiro.

Di samping itu. erosi tanah merupakan salah satu penyebab degradasi lahan yang dominan disamping penyebab lain seperti pencucian hara dan akumulasi unsur-unsur beracun. Jawa dan Nusa Tenggara (Soebagyo. Di daerah tropika basah yang topografinya bervariasi dari datar. secara teknis. Pada umumnya lahan kering masam didominasi oleh tanah Ultisol. Kendala pengembangan lahan Podzolik Merah Kuning beriklim basah dengan topograsi bergelombang cukup kompleks.tanah Podsolik juga rendah. tetapi kadar Al dan Mn tinggi. yang dicirikan oleh kapasitas tukar kation (KTK) dan kemampuan memegang/menyimpan air yang rendah. 2007). Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi. peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK. tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Notohadiprawiro. Kesuburan tanah ini secara alamiah sangat tergantung pada lapisan atas yang kaya bahan organik tetapi bersifat labil. Ultisol mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan pertanian lahan kering. Sulawesi. 2004. kandungan bahan organik yang memadai. Beberapa kendala sifat fisik tanah yang sering dijumpai antara lain adalah kemantapan agregat yang rendah. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge). Papua. Sumatera. bergelombang hingga bergunung. dan bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin hara dan bahan organik. produktivitas lahan cepat pula menurun dan akhirnya menjadi lahan kritis. sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe. 1994).6 juta hektar dan tersebar di Kalimantan. Kalau lahan ini diolah untuk budidaya. Kesalahan dalam pengelolaan merupakan penyebab degradasi lahan yang mendasar. Tanaman yang dibudidayakan pada lahan kering PMK yang krits tidak mampu berproduksi . kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kadar bahan organik pada lapisan atas.et al. 2005). Oleh karena itu. Oleh karena itu lahan ini tergolong lahan marginal yang tingkat produktivitasnya rendah. Lahan kering Podzolik Merah Kuning beriklim basah didominasi oleh tanah masam PMK dengan bahan induk yang miskin unsur hara (Partohardjono et al. terdapat dua pendekatan pokok yakni pemilihan jenis komoditas atau varietas yang adaptif serta perbaikan kesuburan tanah dengan ameliorasi dan pemupukan. Ditinjau dari luasnya. tanah mudah menjadi padat dan permeabilitas tanah yang lambat.. Hidayat dan Mulyani. maka dalam pengelolaannya untuk pertanaman. Salah satu ordo tanah yang cukup luas penyebarannya adalah Ultisols. lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci (Subandi. Maluku. Memperhatikan permasalahan yang dihadapi pada lahan kering masam seperti yang disebutkan di depan. Indonesia memiliki lahan kering masam cukup luas yaitu sekitar 99. 2006). Namun demikian. pemanfaatan lahan ini menghadapi kendala karakteristik tanah yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman terutama tanaman pangan bila tidak dikelola dengan baik. kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya.

perbedaannya adalah pada jumlah tapak retensi.5. 1997). Dampak langsung dari wilayah yang mengalami erosi adalah terjadinya suatu areal yang secara bertahap menjadi tandus dengan konsekuensi penduduk yang tinggal disekitarnya akan menjadi miskin (Pandang dan Subandi. 1997). Tanaman kedelai mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan di tanah Ultisol asal dibarengi dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. Masalah tersebut erat kaitannya dengan bahan induk tanah yang miskin K. gibbsite dan pseudoboehmite. Kekahatan kalium merupakan kendala yang sangat penting dan sering terjadi di tanah Ultisol. Mineral liat umumnya didominasi oleh kaolinit yang tidak banyak memberikan sumbangan terhadap kesuburan tanah serta sebagian besar tanah ini mempunyai kapasitas memegang air yang rendah dan peka terhadap erosi (Arief dan Irman. dan hanya sedikit mengandung kation Ca dan Mg. Kandungan dan kejenuhan aluminiumnya tinggi yang dapat meracuni tanaman dan daya fiksasi yang tinggi terhadap Phospor. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kemampuan retensi P dari kaolin dan oksida-oksida besi yang diperoleh dari tanah-tanah mineral masam di Indonesia. Muljadi et al.1-5. Meskipun demikian perlu disadari bahwa terdapat perbedaan kekuatan ikatan retensi yang bersumber pada perbedaan sifat ikatan antara anion fosfat dengan oksida-oksida besi dan lempung alumino silikat. (1966) berkesimpulan bahwa isotherm retensi P adalah sama untuk kaolinit. Alfisols dan Oxisols maka reaktivitasnya terhadap fosfat perlu dipertimbangkan sebagai landasan pengelolaan P pada tanah-tanah ini.. 1997). hara kalium yang . 2000). yaitu sekitar 4. Wild (1950) melakukan penelitian tentang reaksi fosfat dengan lempung alumino-silikat dan berkesimpulan bahwa montmorillonit dan kaolinit menjerap P dalam jumlah yang hampir sama apabila ukuran partikelnya serupa. Umumnya tanah tersebut mempunyai pH yang sangat masam hingga agak masam. yaitu pertukaran ion fosfat dengan gugus hidroksil pada lapisan gibbsite dan/atau sebagai anion tertukarkan yang mengimbangi muatan positif hasil protonasi ion. mampu menjerap P. Kandungan bahan organik. Dalam hubungan ini nisbah antara oksida besi dan lempung silikat perlu dipertimbangkan sebagai dasar pengelolaan P terutama pada tanahtanah mineral masam. Mineral Kaolin telah lama dikenal akan reaktivitasnya terhadap fosfat. Sedangkan pembuatan teras dan galengan memerlukan biaya yang tinggi dan petani tidak memiliki cukup biaya. Perbedaan ini akan menimbulkan perilaku dan tanggapan yang berbeda terhadap perlakuan pemberian fosfat ke dalam tanah sebagai pupuk. Kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) lapisan atas tanah umumnya rendah hingga sedang (Subagyo et al.secara optimal jika dikelola secara konvensional (Hakim et al. Oksida-oksida besi dan aluminium maupun lempung aluminosilikat. karena kaolin merupakan mineral lempung yang merajai terutama pada tanah-tanah mineral masam seperti Ultisols. yang merupakan komponen utama fraksi lempung tanah-tanah mineral masam. Sifat kimia dan fisika tanah PMK yang jelek merupakan kendala misalnya tanah yang bereaksi masam sampai sangat masam. Ia mengusulkan dua mekanisme retensi P oleh mineral-mineral lempung. KTK dan kejenuhan basahnya umumnya rendah. jumlah basa-basa dapat ditukar tergolong rendah hingga sedang dengan komplek adsorpsi didominasi oleh Al.

Program Magister (S2). Indonesia. 2009. Abdul Madjid. (2) Kesuburan Tanah. Perkembangan Penelitian Tanah Mineral Masam Hasil penelitian Arimurti et al (2006) menunjukkan bahwa tanah tersebut mempunyai sifat yang sangat masam (pH 4. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Pemupukan kalium memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produksi kedelai di tanah Ultisol. Program Studi Ilmu Tanaman. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Propinsi Sumatera Selatan. dan curah hujan yang tinggi di daerah tropika basah sehingga K banyak yang tercuci. R.blogspot. . Program Studi Ilmu Tanaman.2). Palembang. Program Pascasarjana. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.com. hal ini dapat disebabkan tanah tersebut mempunyai kapasitas tukar kation yang tinggi dan mempunyai kejenuhan basa rendah dan bereaksi masam (Sanchez. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai di tanah masam dapat dilakukan melalui pengelolaan tanaman yang sesuai dan manipulasi tanah yang tepat. Propinsi Sumatera Selatan. A.mudah tercuci karena KTK tanah rendah. Palembang. Program Magister (S2). Indonesia. Universitas Sriwijaya. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. MS di 21:23 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Magister (S2).2006) Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Ir. Program Pascasarjana. Hara kalium merupakan hara makro bagi tanaman yang dibutuhkan dalam jumlah banyak setelah N dan P (Nursyamsi. Diposkan oleh Dr. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang. Universitas Sriwijaya. Indonesia. 1976). Program Pascasarjana. (3) Teknologi Pupuk Hayati.

Secara umum. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Kapasitas retensi P dari oksida-oksida besi sekitar 10 kali lipat lebih besar dari kaolin. Efek peningkatan takaran P-alam juga berpengaruh terhadap peningkatan kandungan Ptersedia tanah pada setiap level pengapuran.alam akan menurunkan kandungan Al-dd tanah. P tersedia dan P total yang sangat rendah. Semua kombinasi perlakuan jenis pupuk P dengan BPF sama baiknya dalam meningkatkan berat kering trubus pada tanah masam. bereaksi asam dan terjadi pencucian yang kuat terutama basabasa K. terutama jika dikombinasikan dengan kapur. sedangkan peningkatan nilai pH tanah dipengaruhi oleh efek mandiri P-alam dan jenis kapur. N sangat rendah. baik kalsit maupun dolomit. semakin tinggi pula nilai pH tanah. berat basah trubus. Meningkatnya nilai pH tanah menyebabkan penurunan kandungan Al-dd tanah sedangkan penurunan nilai Al-dd tanah akan meningkatkan kandungan P-tersedia tanah. Peningkatan takaran P. Oleh karena itu sebenarnya jumlah P yang dijerap oleh kaolin jauh lebih besar dibandingkan dengan oksida-oksida besi. Perlakuan kombinasi pupuk P dengan BPF dapat meningkatkan pertumbuhan yang tampak pada parameter berat kering trubus. Perlakuan dengan pupuk P ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan hanya pada parameter tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. berat basah akar. luas daun serta kadar P trubus. berat kering akar. Penelitian Siradz (2003) memperlihatkan bahwa baik mineral lempung golongan kaolin maupun oksida-oksida besi mampu menjerap P. Hasil penelitian Joy (2005) bahwa pada tanah masam terjadi penurunan kandungan Al-dd tanah dan peningkatan kandungan P-tersedia tanah dipengaruhi oleh interaksi antara takaran P-alam dengan jenis kapur. Hasil penelitian Sumaryo dan Suryono (2000) tentang pengaruh pupuk P dan Dolomit pada hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol menunjukkan bahwa pengaruh sangat nyata dari dosis pupuk dolomit pada semua parameter yang diamati dikarenakan pemberian dolomit dapat menambah unsur hara Ca dan Mg yang di dalam tanah Latosol sangat rendah sampai rendah serta dimungkinkan dapat memperbaiki sifat . Ca dan Mg. semakin tinggi takaran P-alam. Hasanudin (2003) melakukan penelitian tentang ketersediaan dan serapan P pada tanaman jagung di tanah ultisol melalui inokulasi mikoriza dan pemberian bahan organik. Terlihat bahwa ketersediaan P dan serapan P meningkat dengan perlakuan tersebut diikuti pula peningkatan pada ketersediaan N serta hasil tanaman jagung. Perlakuan masing-masing SP-36 maupun rock fosfat sama baiknya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. tetapi keberadaan kaolin di dalam tanah-tanah mineral masam sekitar 18 kali lipat dibandingkan dengan oksida besi.Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tanah ini mempunyai sifat berikut: C tinggi. Pengapuran dengan dolomit meningkatkan pH tanah lebih tinggi dibandingkan pengapuran dengan kalsit. Kendala lain untuk budidaya pertanian adalah kekurangan unsur hara P akibat terjadinya fiksasi oleh mineral lempung kaolinit dan ion-ion Fe dan A1 akibat pH yang rendah. Tanah Latosol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan yang intensif. berat kering trubus.

Penelitian Junedi (2008) menunjukkan bahwa untuk memperbaiki permeabilitas tanah dapat dilakukan dengan penambahan kompos jerami padi saja. Ultisol merupakan tanah terluas dari seluruh lahan kering yang ada di Propinsi Jambi yang mempunyai potensi besar untuk untuk dijadikan lahan pertanian produktif yang berkelanjutan dan menunjang program ketahan pangan nasional. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.fisik dan kimia tanah. suksinat. diantaranya asam sitrat. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendirisendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. Mg2+.15 g tanaman-1. glutamat. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. oksalat. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot kering tanaman kedelai. KTK rendah dan tekstur silt loam . malat. 34% dan 48% . laktat. Pemberian kompos jerami padi 20 ton-1 ha masih mampu meningkatan permeabilitas tanah. kadar N total rendah. Ca tertukar rendah. Mg dan K tertukar rendah . Diberi perlakuan dengan inokulasi mikoriza dan rhizobia indigeneus pada beberapa varietas kedelai . glioksilat. P tersedia. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. serta terjadi peningkatan pertumbuhan dan produksi kedelai jika dibandingkan dengan kontrol. memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kesuburan tanah yang ditandai dengan meningkatnya N total. kadar P tersedia sangat rendah. fumarat. Salah satu kendala adalah permeabilitas tanah yang lambat. demikian pula dengan pemberian kapur sampai 2xAldd. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . kapur saja maupun diberikan secara bersama-sama. pH meningkat ke arah netral. pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. Akan tetapi jika kompos jerami padi diberikan bersama sama dengan kapur maka pemberian 10 ton-1 hakompos jerami padi dan 1xAldd kapur sudah mampu meningkatkan permeabilitas tanah. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. KTK . kadar bahan organik rendah sampai sedang. Hasil penelitian Wulandari (2001) pada tanah ultisol menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan.3881 ppm dan 280. Penelitian Bertam et al (2005) pada tanah masam di Bengkulu dengan seri tanah Kandanglimun Bengkulu yang memiliki pH sangat masam. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. Fe2+. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung.

dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Sejalan dengan pemikiran Sufiadi (1999). Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Klebsiella aerogenes.blogspot. A. Ir. dan pupuk kandang ayam berpengaruh terhadap pH tanah. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. sehingga cukup untuk meningkatkan pH dan akibatnya muatan permukaan negatif menjadi lebih besar. dan 606. pemberian bahan organik dengan dosis yang meningkat akan meningkatkan pelepasan kation ke dalam larutan tanah. Klebsiella aerogenes.67%. Penelitian Sudirja et al (2006) menunjukkan bahwa respon pemberian kompos kulit buah kakao. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Semakin besar dosis perlakuan pupuk organik yang diberikan. Chromobacterium lividum. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. dan B. 217. berat daun segar 4 tanaman per pot. 2009.81%. MS di 21:20 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . http://dasar2ilmutanah. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. maka pH tanah pun semakin meningkat. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. Chromobacterium lividum dan B. kascing. 903. Diposkan oleh Dr.75%. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.63%. Megaterium sebagai inokulan padat.48 g.42 g atau ada kenaikan 877. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol.com. Abdul Madjid. 354.30%. 203. R. dan 61. (2) Kesuburan Tanah.) di Tanah Marginal dengan pH rendah. 208.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia.67%.dibandingkan dengan kontrol.22 g. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. 207. 930. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. 575.

Pupuk kandang merupakan hasil samping yang cukup penting dari budidaya hewan peliharaan baik unggas maupun non unggas. Palembang. bahan tanaman dan limbah. bobot volume. total ruang pori. tetapi mengandung hara mikro yang cukup sangat diperlukan oleh tanaman. Pemakaian Pupuk Organik dan Anorganik Sumber pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan. Indonesia.Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Magister (S2). Kandungan hara rendah. Program Pascasarjana. Penggunaan pupuk organik sebaiknya harus diikuti dengan pupuk anorganik yang lebih cepat tersedia untuk menutupi kekurangan hara dari pupuk organik . 3. Program Pascasarjana. Program Pascasarjana. mempertahankan kelengasan tanah . Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral 4. Kandungan unsur hara pupuk kandang akan berbeda dengan berbedanya jenis dan wujud bahan . Pemberian pupuk kandang selain dapat menambah tersedianya unsur hara. Universitas Sriwijaya. plastisitas dan daya pegang air. limbah pertanaman dan limbah agroindustri. Beberapa sifat fisik tanah yang dapat dipengaruhi pupuk kandang antara lain kemantapan agregat. dapat menambah unsur hara dalam tanah . Indonesia. Kandungan hara pupuk organik pada umumnya rendah tetapi bervariasi tergantung jenis bahan dasarnya. Program Studi Ilmu Tanaman. Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Indonesia. 2.perdu dan pohon. Ketersediaan unsur hara lambat. pupuk kandang. hijauan tanaman rerumputan. Palembang. mencegah pengerakan permukaan tanah (crusting)dan retakan tanah. Universitas Sriwijaya. semak . Hara yang berasal dari bahan organik diperlukan untuk kegiatan mikrobia tanah untuk dirubah dari bentuk organik komplek yang tidak dapat dimanfaatkan tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik yang sederhana yang dapat diabsorpsi oleh tanaman. juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. misalnya . Karekteristik umum yang dimiliki oleh pupuk organik adalah : 1. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Tanah yang dibenahi dengan pupuk organik mempunyai struktur yang baik dan sifat menahan air yang lebih besar dari pada tanah yang kandungan bahan orgaiknya rendah. Palembang.1. sebagai bahan pembenah tanah pupuk organik dapat mencegah erosi. Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro yang rendah. Program Magister (S2). terdiri dari kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang bercampur sisa makanan.

2005). (2) Analisa kimia tanah di laboratorium dengan metode yang tepat dan teruji. dan 50 kg / ha KCl dengan membuat larikan atau ditugalkan kemudian ditutup kembali dengan tanah dengan jarak 10 cm dari garis tanam / lubang tanam. Barus (2005) menjelaskan bahwa efisiensi penggunan pupuk dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian uji tanah untuk suatu sistem hara-tanah-tanaman. untuk pupuk organic ( pupuk kandang / kompos ) 20 ton / ha. TSP 100 kg / ha. dan K. Pengapuran mungkin diperlukan. Pupuk susulan diberikan 3 minggu setelah tanam berupa Urea 100 kg / ha. Peningkatan pH diikuti dengan peningkatan P tersedia tanah . sedangkan untuk tanaman nonlegum takarannya lebih tinggi. (1) Pengambilan contoh tanah yang mewakili lokasi berdasarkan hasil survey terdahulu. 100 kg / ha Urea. Pemberian bahan organik pada tanah masam dapat meningkatkan serapan P dan hasil tanaman jagung karena setelah bahan organik terdecomposisi akan menghasilkan beberapa unsur hara seperti N. Pemupukan P juga memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.pupuk kandang . Fosfor berperan pada berbagai aktivitas metabolisme tanaman dan merupakan komponen klorofil. pemakaian pupuk anorganik hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minimum hara tertentu seperti N. demikian pula pupuk KCl dengan takaran 60-90 kg/ha. Oleh sebab itu pemberian yang etrus menerus dalam jumlah berlebih akan terakumulasi dalam tanah dan dapat merubah status P tanah dari rendah ke tinggi sehingga tanaman tidak lagi tanggap terhadap pemupukan P (Barus. sehingga diberkan pada takaran yang rendah. Pemakaian pupuk P (P-alam) minimal 60 kg P/ha untuk dua musim tanam. KCI 50 kg / ha. Takaran pupuk anorganik secara tepat perlu diteliti lebih lanjut. P dan K serta menghasilkan asam humat dan fulvat yang memegang peranan penting dalam pengikatan Fe dan Al yang larut dalam tanah sehingga ketersediaan P akan meningkat (Hasanudin. 2003).2007). bukan untuk meningkatkan pHtanah maupun mengurangi kadar Al tanah. Hasil penelitian Mayadewi (2007) pupuk kandang ayam meningkatkan pertumbuhan hasil tanaman jagung manis sebesar 47. P. Pupuk N (urea) untuk tanaman legum diperlukan sebagi stater sehingga diberikan pada saat tanam dengan takaran 15-20 kg/ha. Seperti halnya pupuk organik.03% bila dokombinasikan dengan jarak tanam 50 x 40 cm. Pada dasarnya tahapan kegiatan uji tanah meliputi . Sebagian besar hara P dari pupuk P yang diberikan difiksasi di dalam tanah sehingga hanya 10-20% pupuk P yang diberikan diserap tanaman. diteruskan pupuk susulan kedua pada tanaman berumur 5 minggu sejumlah 100 kg Urea / ha (Dinas Pertanian Jember. Hasil penelitian Hasanudin et al (2007) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang pada berbagai dosis mampu menurunkan Al-dd sekaligus meningkatkan pH tanah walaupun peningkatan pH tanah tidak sedrastis penurunan Al-dd. (3) Interpretasi hasil analisis dan (4) Rekomendasi pemupukan. Pemupukan yang dianjurkan pada budidaya tanaman jagung . . Sedangkan untuk pupuk an organik : Urea 300 kg / ha. Pupuk dasar diberikan sebelum tanam atau bersamaan tanam sejumlah 20 ton / ha pupuk organic. 100 kg TSP. tetapi hanya sebatas memenuhi kebutuhan tanaman.

Pemberian pupuk P yaitu pupuk SP36 dan pupuk Rock fosfat mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung terlihat darai parameter tinggi tanaman 10 dan 17 hari setelah tanam serta kadar P trubus (Arimurti et al , 2006). 4.2. Pengapuran Salah satu kegiatan reklamasi lahan untuk memperbaiki atau memulihkan kembali tanah –tanah yang tidak subur agar secara optimal dapat mendukung pertumbuhan tanaman adalah dengan penambahan amelioran seperti pemberian kapur pertanian. Secara tidak langsung kapur dapat mengurangi keracunan Al, meningkatkan ketersediaan P, meningkatkan pH tanah dan secara langsung kapur dapat meningkatkan ketersediaan hara Ca. Pengapuran ditekankan kepada penggunaan kapur biasa CaCO3 , seterusnya tanah masih perlu terus dipupuk. Pengapuran hendaknya dipandang hanya untuk menetralisasikan tanah secara cepat dan seterusnya jangan tergantung lagi pada banyaknya kapur, walaupun kualitas lahan cepat menurun kembali. Kapur dapat menetralisir Al melalui ion OH- membentuk Al(OH)3 tidak aktif yang dihasilkan dari pelepasan CO32- yang selanjutnya Al menjadi tidak larut dan Al-dd semakin berkurang (Hasanudin et al, 2007). Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk meningkatkan pH tanah dari 4,6 menjadi 5,8 diperlukan dosis kapur 2x Al-dd. Kapur berfungsi memantapkan stabilitas tanah, tetapi daya kerjanya lebih cepat dari pada kerja bahan organik. Kelemahannya adalah bila tanah berkualitas rendah, yang ditandai dengan tingkat kesuburan rendah, maka dengan pengapuran saja hanya memungkinkan pertumbuhan tanaman yang normal. Sebaliknya penggunaan bahan organik tanpa didahului dengan pengapuran menghasilkan pemantapan stabilitas tanah secara lambat, tetapi dampak positifnya berlangsung jangka panjang. Oleh karena itu pengapuran pada tanah masam sebaiknya diikuti dengan pemberian pupuk organik agar stabilitas tanah terjaga dan pertumbuhan serta produksi tanaman akan terjamin (Kuswandi,1993). 4.3. Pupuk Hayati Penyedia Hara Tanaman Mikrobia tanah yang menguntungkan dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. Menurut Yuwono (2006) secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa : 1. Penyedia hara 2. Peningkat ketersediaan hara 3. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. Pemantap agregat tanah 6. Perombak persenyawaan agrokimia Beberapa mikroorganisme tanah seperti Rhizobium, Azospirillum dan Azootobacter, Mikoriza, Bakteri pelarut fosfat, bila dimanfaatkan secara tepat dalam system pertanian akan membawa

pengaruh yang positif baik bagi ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman, lingkungan edapik, maupun upaya pengendalian beberapa jenis penyakit. Sehingga akan dapat diperoleh pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal dan hasil panen yang lebih sehat. Mikroorganisme tersebut sering disebut sebagai biofertilizer atau pupuk hayati (Sutanto, 2002). Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri pelarut fospat dapat meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P serta dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Penggunaan pupuk hayati berupa inokulan bakteri fospat dengan tanpa pemberian pupuk TSP dapat meningkatkan hasil jagung yang setara dengan pemberian TSP (Prihartini, 2003). Hasil penelitian Arimurti et al (2006) pada perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam, yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST, berat basah trubus, berat kering trubus, berat basah akar, berat kering akar, luas daun serta kadar P trubus. Pemberian BPF P. putida sama baiknya dengan P. Aeruginosa atau gabungan keduanya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Untuk meningkatkan berat basah, berat kering trubus dan akar paling baik menggunakan P. putida. Asosiasi simbiotik anatara jamur dan sistem perakaran tanaman tinggi diistilahkan dengan mikoriza. Dalam fenomena ini jamur menginfeksi dan mengkoloni akar tanpa menimbulkan nekrosis sebagaimana biasa terjadi pada infeksi jamur patogen, dan mendapat pasokan nutrisi secara teratur dari tanaman. Asosiasi ini akan dapat meningkatan ketersediaan hara P dan lainnya serta meningkatkan serapannya. MVA membantu pertumbuhan tanaman dengan memperbaiki ketersediaan hara fosfor dan melindungi perakaran dari serangan patogen (Hadiyanto dan Hairiyah, 2007). Hasil penelitian Hasanudin dan Gonggo (2004) menjelaskan pemberian inokulasi mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan inokulasi mikoriza 20 g tanaman-1 dapat meningkatkan serapan P dan hasil jagung. Rhizobium yang berasosiasi dengan tanaman legum mampu menfiksasi 100-300 Kg N/Ha dalam satu musim tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. Permasalahan yang perlu diperhatikan adalah efisiesnsi inokulan Rhizobium untuk tanaman tertentu. Rhizobium mampu mencukupi 80% kebutuhan nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi antara 10-25%. Tanggapan tanaman sangat bervariasi tergantung pada kondisi tanah dan efektifitas populasi asli (Sutanto, 2002). Kenaikan hasil tanaman setelah diinokulasi Azotobacter terjadi pada tanaman jagung, cantel, padi, bawang putih, tomat, terong dan kubis. Apabila Azotobacter dan Azospirillum diinokulasi secara bersama-sama, maka Azospirillum lebih efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. Azospirillum menyebabkan kenaikan hasil cukup besar pada tanaman jagung, gandum dan cantel (Sutanto, 2002). Selanjutnya dijelaskan juga oleh Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (2008) bahwa pemakaian pupuk hayati pada lahan kering masam sebaiknya yang telah terbukti

dapat menjalankan fungsi ekologis, merupakan mikroba hasil seleksi yang benar-benar unggul dalam membantu pertumbuhan tanaman. Pupuk hayati meliputi bakteri penambat N, mikroba pelarut fosfat, dan cendawan mikoriza arbuskula. Bakteri penambat N2. Bakteri ini mencakup bakteri yang membentuk bintil akar, bersimbiose dengan tanaman legum, dan bakteri penambat N yang hidup bebas di dalam tanah. Oleh karena itu, budi daya tanaman legum (kacang-kacangan) dapat menggunakan Rhizobium spp. Namun, perlu diperhatikan bahwa hubungan antara tanaman legum dan Rhizobium bersifat sangat spesifik, artinya satu spesies Rhizobium hanya dapat bersimbiose dengan spesies legum tertentu. Oleh karena itu, penggunaan Rhizobium sp. harus disesuaikan dengan spesies legum yang akan dibudidayakan. Bakteri penambat N yang hidup bebas seperti Azotobacter, Azospirillum, dan Beijerinckia dapat digunakan pada tanaman dari famili Gramineae (rumputrumputan) seperti padi, jagung, dan sorgum. Mikroba pelarut fosfat. Telah banyak dihasilkan pupuk hayati yang mengandung mikroba pelarut fosfat. Mikroba ini ada yang hidup bebas di dalam tanah atau hidup di daerah perakaran (rhizobakteri). Mikroba tersebut dapat menghasilkan senyawa organik yang dapat melarutkan Ptanah, sehingga ketersediaan P bagi tanaman meningkat dan mengurangi takaran penggunaan pupuk P. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA). CMA merupakan suatu bentuk asosiasi cendawan dengan akar tanaman tingkat tinggi. Kemampuan asosiasi tanaman- CMA ini memungkinkan tanaman memperoleh hara dan air yang cukup pada kondisi lingkungan yang miskin unsur hara dan kering, perlindungan terhadap patogen tanah maupun unsur beracun, dan secara tidak langsung melalui perbaikan struktur tanah. Hal ini dimungkinkan karena CMA mempunyai kemampuan menyerap hara dan air lebih tinggi dibanding akar tanaman. Keunggulan kemampuan CMA dalam pengambilan hara, terutama hara yang bersifat tidak mobil seperti P, Zn, dan Cu, disebabkan CMA memiliki struktur hifa yang mampu menjelajah daerah di antara partikel tanah, melampaui jarak yang dapat dicapai akar (rambut akar), kecepatan translokasi hara enam kali kecepatan rambut akar, dan nilai ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap CMA lebih rendah (setengah ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap akar). CMA secara tidak langsung juga dapat meningkatkan ketersediaan P-tanah melalui produksi enzim fosfatase oleh akartanaman. CMA juga berperan dalam membantu pemenuhan kebutuhan air pada saat kekeringan karena bertambahnya luas permukaan penyerapan air oleh hifa eksternal. Satu spesies CMA dapat berasosiasi dengan berbagai tanaman sehingga satu macam CMA dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Pada saat ini telah dihasilkan berbagai inokulan CMA,umumnya dari spesies Glomus, Gigaspora, dan Acaulospora. 4.4. Teknik Pengelolaan Tanah Apabila dihadapkan pada kondisi tanah masam, ketersediaan hara rendah, bahan organik tanah rendah, dan tanah memiliki slope tertentu serta berada pada daerah dengan intensitas hujan

lahan tegalan. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah. sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi (Rahim. Secara mekanik pembuatan teras misalnya teras gulud. (2) penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi. sehingga terjadi deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga. Jenis teras ini biasa dibangun di areal perkebunan atau pertanaman buah-buahan. dan berbagai sistem wanatani. Contohnya adalah tumpang gilir antara tanaman jagung . Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat : (1) memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah.tinggi. maka secara teknik pengolahan tanah yang dilakukan harus berprinsip peningkatan kesuburan tanah dan adanya pelaksanaan konservasi tanah dan air. tumpang sari atau penanaman budidaya lorong. membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal). fungsi utama teras bangku adalah: (1) memperlambat aliran permukaan. (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak. Pada usahatani lahan kering. Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar. (2) Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah. Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya. Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud (Gambar 8) menurut Sinukaban (1994): (1) Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%. 2006). Pergiliran tanaman atau tanam berurutan adalah sistem bercocok tanam dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman pada sebidang tanah selama satu tahun. dan (4) mempermudah pengolahan tanah. Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman. guludan dibuat miring terhadap kontur. miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli). teras bangku atau teras individu dan pembuatan saluran drainase. tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli). guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Pada prinsipnya untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan tanah dapat dilakukan teknik pengelolaan tanah secara mekanik dan vegetatif. Sedangkan secara vegetatif adalah penerapan pola tanam yang menutup permukaan tanah sepanjang tahun baik dengan hijauan maupun vegetasi misalnya dengan pergiliran tanaman . (3) disamping itu dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah. terutama tanaman tahunan. (3) meningkatkan laju infiltrasi. tanaman musim kedua ditanam sebelum panen tanaman musim pertama. Konservasi tanah secara mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis dan pembuatan bangunan yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan guna menekan erosi dan meningkatkan kemampuan tanah mendukung usahatani secara berkelanjutan.

tanaman yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah: a. mudah dilaksanakan. sistem ini juga dimaksudkan untuk mempercepat penanaman tanaman pada musim kedua. b. Bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak. yang terdiri atas 48% disebabkan oleh pengaruh penutupan tanah oleh mulsa.yang ditanam pada awal musim hujan dan kacang tanah yang ditanam beberapa minggu sebelum panen jagung. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan menjaga agar permukaan tanah selalu tertutup tanaman. rumput gajah dan rumput benggala. Dengan cara ini penguapan air tanah dapat diperkecil sehingga air tanah tetap tersedia bagi tumbuhnya tanaman. Di Filipina.. Salah satu cara untuk memperbaiki struktur tanah. 1991) dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman serta dapat diadopsi oleh petani di lahan kering. Efektivitas pengendalian erosi tersebut sangat tergantung kepada jenis tanaman pagar yang digunakan. jarak antara tanaman pagar dan pada saat awal. gamal. Tanaman penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtorogung. Teknologi yang diintroduksikan ke lahan kering masam DAS bagian hulu haruslah teknologi yang mampu mengendalikan erosi. Salah satu teknologi yang tersedia adalah sistem pertanaman lorong atau Alley cropping. Pada musim pertama di awal musim hujan. sehingga masih mendapatkan air hujan dengan jumlah yang cukup untuk pertumbuhan dan produksinya. 8% disebabkan oleh perubahan profil tanah dan 4% oleh penanaman secara kontour . Tanaman pagar dipangkas secara periodik selama pertanaman untuk menghindari naungan dan mengurangi kompetisi hara dengan tanaman pangan/semusim. kaliandra. dengan umur tanaman yang relatif sama dan diatur dalam barisan atau kumpulan barisan secara berselang-seling seperi: padi gogo + jagung . Efektivitas . mempertinggi kemampuan tanah dalam menyerap air yaitu dengan menggunakan pupuk organik berupa pupuk hijau atau pupuk kandang serta penggunaan sisa-sisa tanaman yang diletakkan di atas tanah sebagai serasah (mulsa) sehingga dapat mempertahankan kelembaban tanah. Tanam bersisipan atau tumpang sari adalah sistem penanaman lebih dari satu macam tanaman pada lahan yang sama secara simultan. 1984). Tahan pangkas sehingga tidak menaungi tanaman utama. Beberapa hasil penelitian yang dilakukan telah menunjukkan bahwa Alley cropping sangat efektif dalam mengendalikan erosi. Alley cropping dapat menurunkan erosi sebanyak 69%. padi gogo ditanam secara tumpang sari dengan jagung. Anonimous (2009) menjelaskan bahwa alley cropping merupakan salah satu sistem agroforestry yang menanam tanaman semusim atau tanaman pangan diantara lorong-lorong yang dibentuk oleh pagar tanaman pohonan atau semak (Kang et al. sehingga mampu mengikat air. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini sangat efektif mengendalikan erosi. akasia. Leucaena leucocephala yang pertama diuji dalam sistem Alley cropping ini dan menyusul kemudian Glinsidia sepium. murah dan dapat diterima oleh petani. Selain itu. c. Menambah tanaman penguat teras. Mempunyai sistem perakaran intensif. kemiringan lahan.jagung + kacang tanah.Di Indonesia sistem ini sudah diyakini efektif mengendalikan erosi (Sukmana and Suwardjo.

Contoh kondisi pertanaman alley cropping.com. Abdul Madjid. Diposkan oleh Dr. Efektivitas pengendalian erosi ini selain karena hal yang telah disebutkan diatas juga karena terbentuknya teras secara alami dan perlahan-lahan setinggi 25-30 cm pada dasar tanaman pagar. (2) Kesuburan Tanah. Alley cropping juga ternyata dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman.16 .49 mm/detik pada bagian bawah menjadi 0. Air tersedia pada kedalaman 10-15 cm adalah 0. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Kandungan air tanah dan tekanan air tanah menurun pada bagian lorong yang dekat pada tanaman pagar. mempengaruhi distribusi air. Sistem ini dapat memperbaiki sifat fisik tanah yaitu menurunkan BD (bulk density) dan meningkatkan konduktivitas hidraulik tanah. Selanjutnya tanaman pagar menyebabkan air tanah selalu berkurang untuk kebutuhan pertumbuhannya selama musim kemarau sehingga sistem ini menyerap lebih banyak air hujan ke dalam tanah dan akhirnya menurunkan erosi. Transmisivitas air menurun dari 0. http://dasar2ilmutanah.blogspot. penelitian-penelitian terdahulu juga memperlihatkan bahwa Alley cropping dapat meningkatkan unsur hara di dalam tanah .08 m3 masing-masing pada bagin bawah.pengendalian erosi dapat mencapai >95% dibanding apabila tidak menggunakan Alley cropping.12 mm/detik pada bagian atas dari lorong. tengah dan atas dari lorong. sehingga tanah terlindung dari air hujan dan pemadatan tanah karena ulah pekerja selama operasi di lapangan. MS di 21:09 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 5) . tetapi dipengaruhi oleh posisi dalam lorong. Alegre dan Rao (1995) menunjukkan bahwa Alley cropping menahan kehilangan tanah 93% dan air 83% dibandingkan dengan pertanaman tunggal semusin. Lebih dekat pada barisan tanaman pagar. 0. Selain efektif mengendalikan erosi. Ir. Rendahnya erosi disebabkan oleh hasil pangkasan yang sukar melapuk yang berfungsi sebagai mulsa. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Hal ini akan menyebabkan kompetisi air antara tanaman pagar dengan tanaman pangan pada lorong. Selain perbaikan sifat fisik tanah. 2009. Hasil penelitian Agas et al.13 dan 0. Barisan tanaman pagar menurunkan kecepatan aliran permukaan sehingga memberikan kesempatan pada air untuk berinfiltrasi. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. R. (3) Teknologi Pupuk Hayati. (1997) tentang sifat-sifat tanah dan air di bawah Alley cropping pada tanah oxilos miring menunjukkan bahwa pada umumnya sifat-sifat tanah tidak dipengaruhi oleh jenis legum/taman pagar. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. A.

Tanah mineral masam yang terdapat pada iklim tropik adalah jenis tanah ultisol. 1665-1675. Indonesia. 2008. Palembang. Efettivitas bakteri pelarut fosfat dan pupuk P terhadap pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays) pada tanah masam. Hal. keracunan Al. Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. feiraz. Propinsi Sumatera Selatan. dan atau Mg dan Mo 3. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Ameliorasi Lahan Kering Masam untuk Tanaman Pangan.wordpress. Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. DAFTAR PUSTAKA Arimurti. Arief. Universitas Sriwijaya. oxisols dan spodosol serta inseptisol .files. Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi tanah masam guna mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman adalah pemberian pupuk organik dan anorganik.com (diakses Mei 2009) . Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Jember Jurusan FMIPA . Indonesia. Program Pascasarjana. pengapuran. A. Karekteristik tanah mineral masam adalah pH rendah . Ca. Program Pascasarjana. Palembang. bahan organik rendah dan kahat unsur hara makro maupun mikro serta tingginya kandungan Al dan Fe. 1997. Program Magister (S2). Kesimpulan 1. Geografi tanah Indonesia. Setyati. Program Studi Ilmu Tanaman. Mn. Puslitbang Tanaman Pangan. Palembang. Dan Irman. Universitas Sriwijaya. pemberian pupuk hayati dan pengelolaan tanah yang berazas peningkatan kesuburan tanah dan melakukan tindakan konservasi tanah dan air . *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Pascasarjana. Indonesia. Program Magister (S2). Program Magister (S2). Balitbangtan Deptan. dan/atau Fe. 2.S. 2006. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N.M. Universitas Sriwijaya. Arief.Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.D dan Mujib. P.

Budidaya Lorong. Introduksi pasangan CMA dan Rhizobia Indigenous untuk peningkatan pertumbuhan dan hasil kedelai di ultisol Bengkulu.Ganggo.I dan Sopandie. Peningkatan ketersediaan dan serapan N dan P serta hasil tanaman jagung melalui inokulasi mikoriza. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia..Serapan Fospor Tanah Ultisol dan Hasil Jagung.Universitas Bengkulu. Budidaya Tanaman Jagung.wordpress. 2005. Hiatan06.E. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia . Kusuma. Hanafiah. Ismail.2007.go. Ismail. 1993.files. Mitriani dan Barchia F. A. Pembentukan dan Profil Tanah. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. 4(2) : 97-103.Anonimous. Badan Litbang Pertanian.AK. 5(2): 83-89. Dinas Pertanian Jember. Hasanudin. pp 139165. 273 p. Departemen Pertanian. Pemanfaatan Mikrobia Pelarut Fospat dan Mikoriza untuk Perbaikan Fospor tersedia. Barus. pp 8-35. Hardjowigeno. 2005.YH. Hal. N. Pustaka Adipura.Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat.. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 2007. J..D. Jakarta. Akademika Pressindo.bantul. 8(2): 52-55. Mulyani.Mansur. Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. S. Hidayat. Muchtar. Allevation of SoilAcidity in Ultisol and .com (diakses Mei 2009) Bertam.R. Perbaikan Lahan Kritis dengan Rotasi Tanaman dalam Budidaya Lorong. Syed Oman. Lahan Kering untuk Pertanian.K.2007. H. Hakim. 2006.Hairiyah. Handayanto. Himpunan Ilmu Tanah Universitas Padjajaran. Hasanudin. Edisi khusus No 1: 1-4. http://warintek. Deptan. Shamshuddin & S. 2007. Jurnal Akta Agrosia . 1997. G. 1656-1664.wordpress. azotobacter dan bahan organic pada ultisol. 2005. Raja Gravindo Persada..Jakarta . Respon tanaman padi terhadap pemupukan P pada tingkat status hara P tanah yang berbeda. 1993. Jurnal Akta Agrosia .Y. Pengaruh pengapuran dan pupuk kandang terhadap ketersediaan hara P pada timbunan tanah pasca tambang batubara. Hasanudin. 2003. Mardinus dan H. Dan A. Puslitbangtan.B. Edisi 2. Puslitbang Tanah dan Agroklimat.com (di akses Mei 2009). Dasar Dasar Ilmu Tanah.Setiadi.2004.J.files. bebasbanjir2025.C. Himatan. 7(2):94-103.2009. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis.id (diakses 8 April 2009).

Edisi 3.. Prihartin. D. NA.R. 2006. Pandang. 1990.2002. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol.Jurnal Bionatura 7(3): 249-258.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimak. B. "Erapan P dan Kebutuhan Pupuk P Untuk Tanaman Pangan pada Tanah-tanah Asam". Farming Acid Soils for Food Crop: An Indonesian Experience.Penerapan Pertanian Organik. Mikroorganisme Meningkatkan Efisiensi Pemupukan Fospat. Sistem Usahatani Konservasi Menunjang Pendapatan Petani Lahan Kering. Nanan. 2005. I. Universitas Lampung 17-18 November 2008.Bogor Partohardjono. 6(2) : 71-81. Rachman S. T. Deptan. Puslitbangtan Deptan.S.Oxisol for Corn Growth.T.2. Hal 143-182. Ultisol. Darmawan. Kanisus Jakarta. Puslitbangtan. 2006. Perbedaan respon keterkaitan pH.Edisi 3 .6. Kanisus Jakarta. Ismail. kalsit dan dolomite. 28(4): 163-169. .M. S. Prosiding Simposium Panelitian Tanaman Pangan III.pp 91-106. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III Buku 6. Noor A.In: Management of Acid Soils in the Humid Tropics of Asia E. Notohadiprawiro. 1994. Notohadiprawiro. Bumi Aksara Jakarta.. Subandi. 1993.2002.O.Bogor.65. Croswell & E.2003.G.T.Edisi 1. .. Joy. 1997. Pusparajah (Eds. Buletin Pusat Penelitian Marihat . Kuswandi. Pp 177-184. Pengendalian Erosi Tanah. serta P tersedia dari tanah masam akibat aplikasi P-alam. S. Dalam Jurnal Tanah Tropika. Kanisus Yogyakarta. 1996.. Tahun II No. Pengapuran Tanah Pertanian. Plant & Soil 151: 55.. Peranan Sistem Usahatani Terpadu dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan di Berbagai Agroekosistem. 1676-1686. Al-dd. Mayadewi. ES. 2006.. D.) Aciar Monograph 13: 62-68. 31 (3): 100-106. Sutisni dan I P. H. Junedi. Buletin Agronomi.. Penerapan Pertanian Organik . Adnyana dan D. M.G. Jurnal Agritrop. Nursyamsi. M. 2006.A. Rahim. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol. 2007. 2003. Sutanto. Edisi 5. 2008.dan Subandi. Nursyamsi. Widjaja-Adhi. Pengaruh jenis pupuk kandang dan jarak tanam terhadap pertumbuhan gulma dan hasil jagung manis. Fakta dan Implikasi Pertaniannya.Proseding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II. Hal. Pemanfaatan kompos dan jerami padi dan kapur guna memperbaiki permeabelitas tanah ultisol dan hasil kedelai.No.

J. Ir.Sinukaban. Jurnal Nature Indonesia. Yogyakarta. Sunaryo dan Suryono. Suryantini. 7(1):1014. 1950. Wild. Perbaikan dan peningkatan efisiensi produksi kedelai di lahan keringmasam.. Reaksi Tanah . Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan. dan A.2006. Wulandari. Yuwono NW dan Rosmarkam A. 2008. dan C.A. 2006. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Pengaruh dosis pupuk dolomit dan pupuk P terhadap jumlah bintil akar dan hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol. Pemanfaatan Biota Tanah untuk keberlanjutan produktivitas pertanian lahan kering masam.NW. Diposkan oleh Dr..A. Kuntyastuti.Manshuri. Membangun Pertanian Menjadi Lestari dengan Konservasi. N. 4(1) : 1-5. Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2):157-163. 2008.R. Triwardani. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. Tanah-tanah pertanian di Indonesia. Sudirja.2(5) : 23 – 43. Ilmu Kesuburan Tanah.Jurnal Hijau.G. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1994. Bogor. H.Solihin.Universitas Padjajaran. 2166 dalam Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Soil Sci. Yulianti. N. S. 1: 221-238 Yuwono. 2000. N.Agrosains 2(2):54-58. Suharta.Biodiversitas. 2007. H. MS di 21:04 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Sabtu. 2009 Juni 13 Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 1) . Taufiq.Yogyakarta. The retention of phosphate by soils. Sudaryono. Siswanto. Laporan teknis BalaiPenelitianTanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (tidak dipublikasi). 2005. 2001.Pupuk Hayati .S. A. Prahoro.) di Tanah Marginal. UGM.B. Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Hal. Widawati. Respon beberapa sifat kimia fluventic eutrudepts melalui pendayagunaan limbah kakao dan berbagai jenis pupuk organik. Bogor. Subandi. 2007.MA dan Rosniawati. S dan Suliasih . Edisi 4. Abdul Madjid. Iptek Tanaman Pangan 2(1) :12 -25. 2003. 2000. pp 23 -32. Subagyo. Faperta IPB.

Propinsi Sumatera Selatan.16 juta hektar. Propinsi Sumatera Selatan. Menurut Soekardi dan Hidayat (1988) penyebaran gambut di Indonesia meliputi areal seluas 18. Pendahuluan Lahan gambut dikenal dan ditemukan pertama kali oleh Kyooker. Kalimantan Barat merupakan propinsi yang memiliki luas lahan gambut terbesar di Indonesia yaitu seluas 4. Istilah gambut sendiri pertama kali muncul dan kemudian umum digunakan oleh di kalangan ilmiawan dan menjadi kosa kata Indonesia sejak tahun 1970 an (Radjaguguk. Universitas Sriwijaya. Jenis tanah Organosol atau tanah gambut atau tanah organik berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput rawa. Riau dan Kalimantan Selatan dengan luas masing-masing 2. konsistensi tidak lekat-agak lekat. . Indonesia. Sumatera.70 juta hektar dan 1. 2001). ketebalan lebih dari 0. Program Magister (S2).Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Palembang. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Papua serta beberapa pulau Kecil. kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir. Program Pascasarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. warna coklat hingga kehitaman. Indonesia. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Indonesia. tersebar pada pulau-pulau besar Kalimantan.5 m. Palembang.480 ribu hektar. Uni Sovyet dan Amerika Serikat. dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas. Program Magister (S2). umumnya bersifat sangat asam (pH 4. Dengan penyebaran seluas sekitar 18 juta ha maka luas lahan gambut Indonesia menempati urutan ke-4 dari luas gambut dunia setelah Kanada. Palembang. Propinsi Sumatera Selatan.0) kandungan unsur hara rendah (Paungkas P. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. diikuti oleh Kalimantan Tengah. 1. tidak berstruktur.48 juta hektar. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2).61 juta ha. 2006). Program Studi Ilmu Tanaman. seorang pejabat Belanda pada tahun 1860an yang menyatakan bahwa 1/6 areal wilayah Sumatera ditempati gambut (Notohadiprawiro. Program Pascasarjana. tekstur debu lempung. 1997).

dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut. Apabila dalam keadaan jenuh air mempunyai kandungan C –organik paling sedikit 18% jika kandung liatnya >60 % atau mempunyai kandungan C-organik 2% jika tidak mempunyai liat (O .1 g ml-1. dalam keadaan yang selalu tergenang. dimana proses dekomposisinya berlangsung tidak sempurna sehingga terjadi penumpukan dan akumulasi bahan organik membentuk tanah gambut yang kedalamannya di beberpa tempat dapat mencapai 16 meter. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara. (2) 40 cm atau lebih : (a) dengan lapisan bahan organik jenuh air lebih dari 6 bulan atau telah ada perbaikan drainase. Tanah gambut dapat terbentuk di daerah rawa pasang surut dan di daerah rawa-rawa pedalaman yang tidak dipengaruhi oleh air pasang surut (Hardjowigeno. Tanah gambut terdapat di cekungan. depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa. 1996).Soil Survey Staff (1990) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tanah organik (Histosol) adalah tanah yang mempunyai ketebalan sebagai berikut : (1) 60 cm atau lebih dengan kandungan serat (bahan organik kasar) meliputi 3/4 volume atau lebih dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab kurang dari 0.1990): 1. Tanah gambut merupakan tanah hidromorfik yang bahan asalnya sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik sisa-sisa tumbuhan. misalnya pada cekungan atau depresi. Hal tersebut akan memperlambat proses dekomposisi bahan organik dan akhirnya bahan organik itu akan menumpuk. gambut sering bercampur dengan tanah liat. Di daerah tropis khususnya Indonesia menurut Driesen (1978) terbentuknya gambut pada umumnya terjadi dibawah kondisi dimana tanaman yang telah mati tergenang air secara terus menerus. Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. Tanah gambut terbentuk karena laju akumulasi bahan organik melebihi proses mineralisasi yang biasanya terjadi pada kondisi jenuh air yang hampir terus menerus sehingga sirkulasi oksigen dalam tanah terhambat. Tanah disebut sebagai tanah gambut apabila memenuhi salah satu persyaratan berikut (Soil Survey Staff . (b) dengan bahan organik terdiri atas bahan organik halus (saprik) atau bahan organik sedang (hemik) atau bahan fibrik (kasar) kurang dari 2/3 volume dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab 0. yaitu lahan yang menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan.1 g ml-1 atau lebih. Di alam. danau atau daerah pantai yang selalu tergenang dan produksi bahan organik yang melimpah dari vegetasi hutan mangrove atau hutan payau.

Apabila tidak jenuh air mempunyai kandungan C-organik minimal 2O %.1 jika kandungan liatnya antara 0-60 %. Fibreists. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 sampai 5 minggu pengeringan dan hal itu mengakibatkan gambut mudah terbakar. bobot isi rendah (0. Hemists. (2) mempunyai 12% atau lebih kecil C-organik jika fraksi mineral tidak mengandung liat. 2. • Saprists adalah gambut yang tingkat dekomposisinya telah lanjut. gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa. Kriteria penggolongan tanah gambut dengan tanah mineral secara kuantitatif ditentukan oleh kandungan fraksi bahan tanah mineral dan C-organik. • Folist merupakan lapisan tanah yang tersusun oleh tumpukan daun-daun. • Hemists adalah gambut yang tingkat dekomposis bahan organik tengah berlangsung. suatu tanah digolongkan pada tanah gambut jika (1) mempunyai 18 % atau lebih C-organik jika fraksi mineral terdiri atas 60% atau lebih kadar liat. dan porositas total antara 75% sampai 95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling. Sifat lain yang merugikan adalah jika gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak. Menurut Soil Taxonomi gambut digolongkan kedalam order Histosol yang dibedakan menjadi 4 sub order masing-masing Folists. dan (3) mempunyai 12% sampai 18% C-organik jika fraksi mineral mengandung liat antara 0% sampai 60 %. terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15 sampai 30 kali dari bobot kering. kerikil atau pasir yang ruang antaranya telah diisi oleh bahan organik. berat jenisnya besar dari 0. 1996). Menurut Suhardjo dan Soepraptohardjo (1981). Menurut Everret (1983). dimana separuh dari bahan organik tersebut telah terdekomposisi. ranting dan cabang yang tertimbun diatas batuan. Berdasarkan penyebaran topografinya. bersifat sangat . Saprists. hampir selalu tergenang air. tanah gambut mempunyai lapisan organik setebal 50 cm atau lebih dari permukaan tanah. hampir tidak berserabut.2 dan biasanya berwarna hitam atau coklat kelam.5 – 16 meter. Gejala kering tak balik (irreversible drying) terjadi dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. 2000).%) atau mempunyai kandungan C–organik lebih dari 12% + % liat x 0. Gambut tropis umumnya berwarna coklat tua (gelap). Dapat juga digolongkan pada tanah gambut bila kedalaman tanah tersebut besar dari 50 cm dan kandungan bahan organiknya besar 65%. • Fibrists merupakan tumpukan dari bahan organik yang berserat yang belum atau baru mengalami proses dekomposisi. bergantung pada tahapan dekomposisinya. mempunyai ketebalan 0. tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu: a.4 g cm-3).05-0.

ketebalan 0. Misalnya kasus kebakaran hutan yang menyebabkan protes dari negara-negara tetangga. Menurut pengamatan di lapangan. Tanah gambut secara alami terdapat pada lapisan paling atas. b. dan c. Pasalnya. sehingga menghasilkan tanah gambut yang variasi dan sebarannya heterogen. Berdasarkan kedalamnya. Jawa Tengah). yaitu lahan dengan ketebalan gambut 200 . material berserat ini tidak terdistribusi secara merata dalam lapisan tanah. berasal dari sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). Contoh penyebarannya di Rawa Pening (Jawa Tengah). Dalam kondisi alami.5 – 6 meter.asam. di kawasan hutan gambut tropika. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 50 . bersifat agak asam. gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di daerah dataran rendah dengan di pegunungan. Contoh penyebarannya di Dataran Tinggi Dieng. lahan gambut dibagi menjadi empat tipe. Tanah gambut di daerah tropika basah seperti Indonesia berkembang dari vegetasi hutan tropis. Wilayah lahan-lahan gambut merupakan potensi karbon dan juga sebagai penyimpan air perlu didorong sehingga pemanfaatannya bisa maksimal dan tidak keliru lagi. gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan. Pemanfaatan gambut yang tidak bijaksana justru membawa bencana bagi kehidupan masyarakat setempat dan bangsa. Dengan demikian. berasal dari sisa tumbuhan rawa.300 cm 4. Lahan gambut sangat dalam. Rawa Lakbok (Ciamis. Kalimantan dan Irian Jaya (Papua). Dari sekian luas penyebaran di Indonesia beberapa bagian dipengaruhi oleh pasang. Contoh penyebarannya di daerah dataran pantai Sumatra. Diberbagai tempat dewasa ini telah dilakukan pemanfaatan tanah gambut itu terutama untuk lahan pasang surut dan pembukaan lahan lain baik untuk perkebunan maupun untuk lahan pemukiman transmigrasi. Lahan gambut sedang.200 cm 3. Lahan gambut dalam. kandungan unsur hara relatif lebih tinggi. vegetasi maupun gambut di bawahnya menyimpan kandungan karbon yang besar. Lahan dengan ketebalan tanah gambut kurang dari 50 cm disebut sebagai lahan atau tanah bergambut disebut sebagai lahan gambut apabila ketebalan gambut lebih dari 50 cm. yaitu lahan dengan ketebalan gambut lebih dari 300 cm.100 cm.lahan gambut adalah lahan rawa dengan ketebalan gambut lebih dari 50 cm. emisi . yaitu lahan dengan ketebalan gambut 100 . dan Segara Anakan (Cilacap. yaitu: 1. 2. Di bawahnya terdapat lapisan tanah alluvial pada ke dalaman yang bervariasi. Lahan gambut dangkal. Jawa Barat). lapisan tanah gambut terdiri atas bahan material berserat dan tanaman yang terdekomposisi belum sempurna. Terdapat hubungan sangat jelas antara cadangan karbon.

kandungan basa sedang). dan pengaruhnya terhadap proses perubahan iklim dunia. dikutip Driessen dan Soepraptohardjo. yaitu (1) gambut eutropik yang subur. (2) gambut mesotropik dengan kesuburan sedang. tanah bawah gambut dapat terdiri atas liat endapan marin. dan oligotropik menurut Fleischer . kalsium (Ca). atau endapan liat nonmarin. (1996). Saprik adalah bahan organik yang terdekomposisi paling lanjut yang mengandung serat kurang dari 1/3 volume dan bobot isi saprik adalah 0. dan kadar abunya seperti yang disajikan pada Tabel 1. 1974) memilah gambut menjadi tiga golongan.075 sampai 0.karbon. Penggolongan tersebut didasarkan pada kandungan nitrogen (N). Stevenson (1994) menjelaskan bahwa lignin akan mengalami proses degradasi menjadi senyawa humat dan selama proses degradasi tersebut akan dihasilkan asamasam fenolat. (1996) membagi gambut dalam 4 kelas. penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi gambut sebagai wilayah fungsional ekosistem gambut.075 g cm-3 dan kandungan air tinggi jika tanah dalam keadaan jenuh air. dalam (200-300 cm) dan sangat dalam (lebih dari 300 cm). yaitu dangkal (50-100 cm). reaksi gambut netral atau alkalin). terutama Ca rendah dan reaksi masam) dan mesotrofik ( terletak diantara keduanya dengan pH sekitar 5. agak dalam (100-200 cm). fosfor (P). Kriteria kimia gambut eutropik. pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik bahan tanah mineral di bawah lapisan gambut. pasir kuarsa. Subagyo et al. mesotropik. dan (3) gambut oligotropik sebagai gambut miskin.195 g cm-3. Komposisi bahan penyusun gambut berkaitan erat dengan asam-asam organik yang dihasilkan selama proses dekomposisi.195 g cm-3. Tabel 1. Tingkat dekomposisi bahan organik ditunjukkan oleh kandungan serat. Ketebalan atau kedalaman gambut juga menentukan tingkat kesuburan alami dan potensi kesesuaiannya untuk tanaman. Tanah gambut yang berkembang di atas pasir kuarsa miskin hara esensial dibandingkan dengan tanah gambut yang berkembang di atas tanah lempung dan liat. Yang dimaksud dengan fibrik adalah bahan organik tanah yang sangat sedikit terdekomposisi yang mengandung serat sebanyak 2/3 volume. peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut dan pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan. kalium (K). gambut dibagi dalam 3 kelompok yakni eutrofik (kandungan mineral tinggi. Berdasar sifat dari bahan gambut dan hasil pembelajaran dalam pengelolaan lahan gambut. Bobot volume fibrik lebih kecil dari 0. oligotrofik (kandungan mineral. Fleisher (1965. Pengertian taraf dekomposisi bahan organik tanah yang lebih jelas dikemukakan Widjaja dan Adhi (1988). maka pengembangan lahan gambut Indonesia ke depan dituntut menerapkan beberapa kunci pokok pengelolaan yang meliputi aspek legal yang mendukung pengelolaan lahan gambut. Isu perubahan iklim dunia sudah menjadi isu global yang perlu dicarikan solusinya. sedangkan hemik adalah bahan organik yang mempunyai tingkat dekomposisi antara fibrik dengan saprik dengan bobot isi 0. Berdasarkan tingkat kesuburan alami. Menurut Subagyo et al. Berdasarkan status hara. pengelolaan air.

banyak terbentuk senyawa-senyawa asam organik sehingga derajat kemasaman tanah gambut tinggi. Diposkan oleh Dr. Indonesia. MS di 21:50 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 2) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Palembang.Tingkat Kesuburan Eutropik Mesotropik Oligotropik Kriteria Penilaian (%) N K2O 2. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.20 0. (3) rendah.25 Abu 10. 2009. Propinsi Sumatera Selatan.blogspot. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. (2) sedang. kategori kemasaman tanah gambut dibedakan atas : (1) tinggi. Program Magister (S2).00 1. . Indonesia. pH berkisar antara 4 sampai 5. Palembang. pH kurang dari 4. R. A.80 0. Program Pascasarjana. (2) Kesuburan Tanah. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2).00 0. Abdul Madjid. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. http://dasar2ilmutanah.10 0.00 0.03 P2O5 0. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.00 2. Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. pH lebih dari 5.25 0. Menurut Halim dan Soepardi (1987). Dasar-Dasar Ilmu Tanah.10 0.00 Sumber : Driessen dan Soepraptohardjo (1974).50 2.00 5. Program Pascasarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. Ir. Sebagai akibat akumulasi bahan organik dan tanah dalam lingkungan tergenang air.com.05 CaO 4.

Propinsi Sumatera Selatan. Perubahan kandungan air karena reklamasi gambut akan ikut merubah sifat-sifat fisik lainnya (Andriesse. dan kadar lengas gambut merupakan sifat-sifat fisik yang perlu mendapat perhatian dalam pemanfaatan gambut. Pengembangan usaha pertanian sangat dibatasi oleh beberapa hal di atas (Andriesse. lapisan bawah. Sifat Fisik Sifat-sifat fisik gambut sangat erat kaitannya dengan pengelolaan air gambut. (2) gambut sedang (Hemist) memiliki 1/3-2/3 bahan organik kasar. kering tidak balik. dan (3) gambut halus (Saprist) jika bahan . A. Bahan penyusun gambut terdiri dari empat komponen yaitu bahan organik. Palembang. kerapatan lindak. air dan udara. Indonesia. Pemahaman akan sifat-sifat fisik akan sangat bermanfaat dalam menentukan strategi pemanfaatan gambut. sifat menyusut dan subsidence ( penurunan permukaan gambut) karena drainase. Noor (2001) menambahkan bahwa ketebalan gambut. Uraian tentang sifat-sifat fisik gambut ini akan dihubungankan dengan sifat-sifat kimia tanah gambut. antara lain (1) dinamika sifat kemasaman tanah yang dikaitkan dengan pengendalian asam-asam organik meracun. yang pertama-tama harus diperhatikan adalah dinamika sifat-sifat fisika dan kimia tanah gambut. Berdasarkan atas tingkat pelapukan (dekomposisi) tanah gambut dibedakan menjadi: (1) gambut kasar (Fibrist ) yaitu gambut yang memiliki lebih dari 2/3 bahan organk kasar. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. bahan mineral. dalam keadaan tergenang. irreversible dan subsiden. Permasalahan Pada Tanah Gambut Pada pengelolaan tanah gambut untuk usaha pertanian. pH yang sangat rendah dan status kesuburan tanah yang rendah. Program Pascasarjana. Menurut Hardjowigeno (1996) sifat-sifat fisik tanah gambut yang penting adalah: tingkat dekomposisi tanah gambut. dan (2) dinamika kesuburan tanah sehubungan dengan ketersediaan unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman yang diusahakan (3) kebakaran lahan gambut dan (4) pengaturan tata air pada lahan gambut sesuai kebutuhan tanaman. • Sifat-sifat Tanah Gambut Diantara sifat yang penting dari tanah gambut di daerah tropis adalah : bahan penyusun berasal dari kayu-kayuan. Program Studi Ilmu Tanaman.*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Mengingat sifat-sifat fisik tanah gambut saling berhubungan maka pembahasan sifat fisik dari tanah gambut tidak dapat dilakukan secara terpisah. 1988). 1988). Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2).

2 gr/cc maka kerapatan lindak gambut adalah sangat rendah. Harjowigeno. Berkurangnya kemampuan menyerap air menyebabkan volume gambut menjadi menyusut dan permukaan gambut menurun (kempes). 1996). 1991). Lapisan bawah gambut dapat berupa lapisan lempung marine atau pasir. Perbaikan drainase akan menyebabkan air keluar dari gambut kemudian oksigen masuk kedalam bahan organik dan meningkatkan aktifitas mikroorganisme. Tingginya kemampuan gambut menyerap air menyebabkan tingginya volume pori-pori gambut. Ketebalan gambut berkaitan erat dengan kesuburan tanah. 2001). Gambut kasar mempunyai porositas yang tinggi. namun kemampuan fibris memegang air lebih lemah dari gambut hemik dan saprist (Noor. Akumulasi gambut akan menyebabkan ketebalan gambut yang bervariasi pada suatu kawasan. kearah kubah gambut akan menebal. 1996). Tanah gambut jika di drainase secara berlebih akan menjadi kering dan kekeringan gambut ini disebut sebagai irreversible artinya gambut yang telah mengering tidak akan dapat menyerap air kembali.1 gr/cc untuk gambut kasar. menyusut dan hilang maka akan muncul tanah pasir yang sangat miskin. Gambut kasar mudah mengalami penyusutan yang besar jika tanah direklamasi. semakin dekat dengan sungai ketebalan gambut menipis. sedangkan yang telah mengalami dekomposisi berkisar antara 200-600 % bobot. Perubahan menjadi kering tidak balik ini disebabkan gambut yang suka air (hidrofilik) berubah menjadi tidak suka air (hidrofobik) karena kekeringan. Gambut diatas pasir kuarsa memiliki kesuburan yang relatip rendah. Dibanding dengan tanah mineral yang memiliki kerapatan lindak 1.organik kasar kurang dari 1/3. jika lapisan gambut terkikis. pada kondisi tergenang (anaerob) pirit tidak akan berbahaya namun jika didrainase secara berlebihan dan pirit teroksidasi maka akan terbentuk asam sulfat . demikianpula pada daerah rasau Jaya. dan sekitar 0. keadaan ini menyebabkan rebahnya tanaman tahunan seperti kelapa dan kelapa sawit pada tanah gambut. 1988. Tanah gambut mempunyai kerapatan lindak (bulk density) yang sangat rendah yaitu kurang dari 0. Rendahnya kerapatan lindak menyebabkan daya dukung gambut (bearing capasity) menjadi sangat rendah. Kadar lengas gambut fibrik lebih besar dari gambut hemik dan saprik. Pada gambut alami kadar lengas gambut sangat tinggi mencapai 500-1. akibatnya kemampuan menyerap air gambut menurun sehingga gambut sulit diusahakan bagi pertanian. Tanah lapisan lempung marin umumnya mengandung pirit (FeS2). Kemampuan menyerap air gambut fibrik lebih besar dari gambut sapris dan hemist. akibatnya terjadi dekomposisi bahan organik dan gambut akan mengalami penyusutan (subsidence) sehingga permukaan gambut mengalami penurunan. namun unsur hara masih dalam bentuk organik dan sulit tersedia bagi tanaman. di Kalimantan Barat kubah gambut di Sungai Selamat dapat mencapai 8 m. Gambut halus memiliki ketersediaan unsur hara yang lebih tinggi memiliki kerapatan lindak yang lebih besar dari gambut kasar (Hardjowigeno.000 % bobot. Gambut ditepi kubah tipis dan memiliki kesuburan yang relatif baik (gambut topogen) sedang di tengah kubah gambut tebal >3m memiliki kesuburan yang relatip rendah (gambut ombrogen) (Andriesse. Umumnya gambut akan membentuk kubah (dome). daya memegang air tinggi.2 gr/cc pada gambut halus. mengakibatkan rendahnya kerapatan lindak dan daya dukung gambut (Mutalib et al. Kadar lengas gambut (peat moisture) ditentukan oleh kematangan gambut.

tanah mineral. . jalan. 2000) Sebagai contoh di Malaysia. pohon yang tumbuh menjadi mudah rebah. permukaan tanah gambut akan mengalami penurunan karena pematangan gambut dan berkurangnya kandungan air. akan sulit diinjak serta sangat miskin hara.3-0. Untuk mengatasi masalah kandungan asam-asam organik yang beracun biasanya dilakukan drainase dengan membuat saluran drainase intensif atau saluran cacing. Dilakukan pemadatan gambut sebelum penanaman. Pemadatan dapat dilakukan dengan menggunakan alat sederhana yang dibuat sendiri dari kayu gelondong yang dapa digelindingkan (Gambar 3). penurunan tersebut semakin cepat dan semakin lama. Rata-rata kecepatan penurunan adalah 0. 3. pohon rebah. Beberapa contoh bahan amelioran yang sering digunaka adalah kapur . saluran drainase) terganggu atau ambles. kompos. Gambut memiliki daya dukung atau daya tumpu yang rendah karena kerapatan tanahnya rendah. dan abu. rendahnya bulk density (0.8 cm/bulan. 1986). Gambut tebal sulit dan tidak cocok dibuat sawah karena dalam kondisi basah. pupuk kandang. jalan sulit dilalui kendaraan. Bahan amelioran adalah bahan yang mampu memperbaiki atau membenahi kondisi fisik dan kesuburan tanah.05-0. dan umumnya terjadi selama 3-4 tahun setelah drainase dan pengolahan tanah. Gambut dengan ketebalan lebih dari 75 cm ditata dengan sistem tegalan. Beberapa kiat untuk mengatasi daya tumpu dan daya dukung gambut yang rendah adalah: 1. dan sulit disawahkan (kecuali gambut dengan kedalaman kurang dari 75 cm).4 g/cm3) dan porositas total diantara 75-95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling. Karenanya. dan dilakukan pemadatan sebelum penanaman tanaman tahunan. ata menggunakan alat pemadat mekanis yang biasa digunakan untuk memadatkan tanah di jalan. Sebagai akibatnya. Masalah penurunan gambut ditanggulangi dengan cara sebagai berikut: Penanaman tanaman tahunan didahului dengan penanaman tanaman semusim minimal tiga kali musim tanam. karet dan kelapa cenderung pertumbuhannya miring bahkan ambruk sebagai akibat akar tidak mempunyai tumpuan tanah yang kuat (Singh et al. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15-30 kali dari berat kering. gambut tebal sebaiknya tidak digunakan sebagai lahan pertanian/sawah. Penurunaan gambut terjadi setelah dilakukan drainase. Sifat gambut seperti ini mengakibatkan terjadinya genangan. Budidaya tanaman tahunan hanya pada lahan dengan ketebalan gambut <> 2. tiga komoditas utama yaitu kelapa sawit. Gambut tropis umumnya berwarna coklat kemerahan hingga coklat tua (gelap) tergantung tahapan dekomposisinya. dan konstruksi bangunan (jembatan. Kemasaman tanah akan memningkat pH menjadi 2-3 sehingga tanaman pertanian akan keracunan dan pertumbuhan terhambat serta hasil rendah.dan senyawa besi yang berbahaya bagi tanaman. Semakin tebal gambut.

Hardjowigeno. Unsur P dalam tanah gambut terdapat dalam bentuk P organik dan kurang tersedia bagi tanaman. 1997) dilapangan pencucian P dapat diperkecil dengan menambahkan tanah mineral kaya besi dan Al (Salampak. Dekomposisi bahan organik pada kondisi anaerob menyebabkan terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat yang menyebabkan tingginya kemasaman gambut. Bo dan Zn merupakan unsur mikro yang seringkali sangat kurang (Wong et al. Gambut pantai memiliki kemasaman lebih rendah dari gambut pedalaman. dalam Mutalib et al. sifat subsoil dan frekuensi luapan air sungai mempengaruhi komposisi kimia gambut. 1986. Tanah gambut memiliki kapasitas tukar kation (KTK) yang sangat tinggi (90-200 me/100 gr) namun kejenuhan basa (KB) sangat rendah. Jika tanah lapisan bawah mengandung pirit. Pada tanah gambut yang sering mendapat luapan. KB gambut harus ditingkatkan mencapai 25-30% agar basa-basa tertukar dapat dimanfaatkan tanaman (Tim Fakultas Pertanian IPB. Unsur hara Cu. Bo dan Mo. 1996). 1999). dan Mg menjadi sangat rendah. Penambahan besi dapat mengurangi pencucian P (Soewono. Kondisi tanah gambut yang sangat masam akan menyebabkan kekahatan hara N. dan Sagiman.3 (Andriesse. Mg. 1988). KTK tanah gambut di . Sifat-sifat Kimia Ketebalan horison organik. 1996. P. Kekahatan Cu acapkali terjadi pada tanaman jagung. gambut sedang (mesotropik) dan gambut miskin (oligotropik). Ca. Kesuburan gambut sangat bervariasi dari sangat subur sampai sangat miskin. Ca. hal ini menyebabkan ketersedian hara terutama K. semakin banyak kandungan mineral tanah sehingga relatif lebih subur. biasanya lebih dari 100 cmol kg-1 tanah. Atas dasar kesuburannya gambut dibedakan atas gambut subur (eutropik).B. 1991). Pemupukan P dengan pupuk yang cepat tersedia akan menyebabkan ion phosphat mudah tercuci dan mengurangi ketersediaan hara P bagi tanaman. C/N gambut umumnya sangat tinggi melibihi 30 ini berarti hara nitrogen kurang tersedia untuk tanaman sekalipun hasil analisis N total menunjukkan angka yang tinggi. pembuatan parit drainase dengan kedalaman mencapai lapisan pirit akan menyebabkan pirit teroksidasi dan menyebabkan meningkatnya kemasaman gambut dan air disaluran drainase. 1988). Secara umum kemasaman tanah gambut berkisar antara 3-5 dan semakin tebal bahan organik maka kemasaman gambut meningkat.1986. Gambut tipis yang terbentuk diatas endapan liat atau lempung marin umumnya lebih subur dari gambut dalam (Widjaya Adhi. Hubungan ketebalan gambut dengan sifat kimia dan kesuburan gambut disajikan pada Tabel 3. K. 2001). Selain itu terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat dapat meracuni tanaman pertanian (Sabiham. Everret (1983) mengemukakan bahwa Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah gambut pada umumnya sangat tinggi. Tanah gambut ombrogen dengan kubah gambut yang tebal umumnya memiliki kesuburan yang rendah dengan pH sekitar 3.3 namun pada gambut tipis di kawasan dekat tepi sungai gambut semakin subur dan pH berkisar 4. Kemasaman tanah gambut disebabkan oleh kandungan asam asam organik yang terdapat pada koloid gambut. ketela pohon dan kelapa sawit yang ditanam di tanah gambut.

orientasi pengembangan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi secara berkelanjutan (mempertahankan kualitas lahan dan lingkungan) denga cara memperbaiki kesuburan tanah menggunakan sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian sehingga pemakaian pupuk kimia dapat dikurangi. (Prasetyo. dan natrium. kesuburan sedang jika KBnya berkisar antara 50% sampai 80%. 1995). Menurut Sastrosupadi et al. Suatu tanah dikatakan sangat subur jika KB-nya lebih besar dari 80%. baik terhadap lahan pertanian maupun lingkungan. Kemasaman akan menurun dan kesuburan tanah akan meningkat dengan meningkatnya KB.dataran Anai termasuk tinggi dan sangat tinggi. Hasil penelitian Mawardi et al. dan aplikasi mikrobia pelapuk bahan organik (Poeloengan et al. Pertanian yang hanya bertumpu pada pemakaian pupuk kimia. Pupuk mikro digunakan pada tanah gambut dengan kedalaman lebih dari 1 m. (1992) pengapuran dapat meningkatkan pH tanah. Nilai Kejenuhan Basa (KB) adalah persentase dari total kapasitas tukar kation yang ditempati oleh kation-kation basa seperti kalsium. dan meningkatkan ketersediaan P untuk tanaman. juga memberikan dampak negatif berupa penurunan kualitas tanah serta pemborosan energi.1 sampai 65. sehingga menyebabkan produktivitas lahan semakin merosot. menjadi faktor penyebab kerusakan lahan gambut yang cukup signifikan. magnesium. pengapuran untuk menaikkan pH tanah (Mawardi et al. meningkatkan pH. Dari hasil-hasil penelitian disimpulkan bahwa salah satu kegiatan pertanian yang memberikan kontribusi yang nyata bagi rusaknya ekosistem gambut adalah kegiatan pembukaan lahan gambut dengan cara bakar. kalium. Dalam era lingkungan dan globalisasi. dan memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman. Rendahnya pH dan besarnya kapasitas sangga tanah gambut menyebabkan banyak diperlukan kapur untuk meningkatkan setiap satuan pH.6 cmol kg-1 tanah. selain memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi. Data KTK tanah gambut di dataran Anai yang diambil dari beberapa sampel profil. yaitu antara 35. 1993). . (1997) memperlihatkan bahwa bahan-bahan amelioran dapat menetralkan asam-asam organik yang bersifat meracuni. dan dikatakan tidak subur jika KB-nya kurang dari 50% (Tan. Tindak lanjut masalah tanah gambut yang sudah dipecahkan adalah usaha memperbaiki kesuburan tanah digunakan pupuk (makro dan mikro) dan bahan amelioran.1997). Selain itu. menetralkan Al. Nilai KB berhubungan erat dengan pH dan tingkat kesuburan tanah. 1996). pemakaian pupuk kimia dengan dosis tinggi secara terus menerus dapat merusak struktur tanah dan menimbulkan pencemaran. Laju pelepasan kation terjerap bagi tanaman bergantung pada tingkat KB suatu tanah. Pembukaan lahan gambut dengan cara bakar.

Tanah gambut mempunyai kandungan bahan organik yang tinggi (>12% C. media pembibitan. 1974).. dan akuakultur. Dalam konteks konservasi lahan gambut maka upaya untuk menghindarkan terjadinya degradasi lahan adalah bagaimana mempertahankan lapisan gambut pada batas antara 25 – 50 cm bergantung sistem usahatani yang dikembangkan dan mencegah terjadinya oksidasi pirit berlebihan. Pada keadaan jenuh air pirit stabil dan tidak berbahaya. selanjutnya akan menghancurkan struktur mineral liat tanah sehingga meningkatkan kadar asam. Sifat Biologi . termasuk kawasan pengembangan lahan gambut (PLG) sejuta hektar berada pada endapan marin yang kaya pirit pada kedalaman yang beragam antara 25 – 100 cm lebih. Selain itu juga dengan semakin meningkatnya penyusutan kawasan gambut dapat mengakibatkan terganggunya tatanan tata air di kawasan gambut karena sifat gambut yang besar dalam menyimpan air yaitu antara 200 – 800 % bobot (Nugroho et al. Gambut mempunyai sifat khas. ameliorasi tanah dan untuk menyerap zat pencemar lingkungan. Gambut merupakan sumberdaya alam yang banyak memiliki kegunaan antara lain untuk budidaya tanaman pertanian maupun kehutanan. Lahan gambut merupakan lahan yang berasal dari bentukan gambut beserta vegetasi yang terdapat diatasnya terbentuk di daerah yang topografinya rendah. karbon) dan kedalaman gambut minimum 50 cm. Mahalnya harga pupuk menyebabkan ketergantungan petani pada abu bakar dari gambut semakin tinggi. Tanah gambut diklasifikasikan sebagai Histosol dalam sistem Klasifikasi FAO UNESCO (1994) yaitu yang mengandung bahan organik lebih tinggi daripada 30 persen. Hasil pemetaan pada sebagian besar kawasan gambut di Kalimantan. besi. dan bercurah hujan tinggi atau di daerah yang suhunya sangat rendah. C. Pembuatan abu sebagai bahan amelioran dilakukan petani bersamaan dengan musim kemarau. dibagian 80 cm teratas profil tanah. Pirit mempunyai sifat yang unik dan tergantung pada keadaan air (Van Breemen dan Pons. selain juga dapat digunakan untuk bahan bakar. Oksidasi pirit akan menyebabkan pemasaman tanah karena diikuti oleh pelepasan ion ion sulfat dan besi. 1997). yaitu sifat kering tak balik (irreversible drying) dan daya retensi air yang besar (Driessen dan Soepraptohardjo. Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan pertanian di lahan pasang surut (gambut) adalah adanya lapisan gambut tebal dan lapisan pirit (FeS02). kaya bahan organik dan diperkaya oleh sulfat larut yang berasal dari laut. 1978).Alternatif mempertahankan dan meningkatkan kesuburan lahan gambut serta menghindarkan dampak negatif penggunaan abu bakaran gambut dan pupuk kimia antara lain dengan memadukan penggunaan limbah-limbah pertanian sebagai amelioran dan penanaman varietasvarietas adaftif serta pemanfaatan pupuk organik. Sedangkan pirit adalah suatu mineral endapan marin yang terbentuk pada tanah yang jenuh air. tetapi pada keadaan kering atau drainase berlebihan maka pirit menjadi labil dan mudah teroksidasi. Oleh karena itu penyusutan atau kehilangan lapisan atas (gambut) dapat menyebabkan terjadinya pemasaman tanah dan pencemaran terhadap lingkungan. aluminum dalam larut tanah. yaitu dengan cara membakar gambut pada waktu membersihkan lahan dari gulma dan semak belukar. dalam lapisan setebal 40 cm atau lebih.

2005). D. misalnya untuk mencuci zat-zat beracun atau asam kuat yang berasal dari teroksidasinya pirit dan mengatur keberadaan air sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Gambut tropika umumnya tersusun dari bahan kayu sehingga banyak mengandung lignin. 40 – 80 persen kebutuhan nitrogen kedelai dapat disuplai melalui simbiosis kedelai dan bakteri bintil akar (B. • Sumber Air di Lahan Gambut Sebagai salah satu jenis lahan rawa. Setelah gambut didrainase untuk tujuan pertanian maka kondisi gambut bagian permukaan tanah menjadi aerob. et a1. dan protein. namun mempunyai ketersedian hara makro dan mikro yang sangat rendah. • Teknologi Pengelolaan Air di Lahan Gambut Pengelolaan air di lahan gambut bertujuan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya air secara optimal sehingga didapatkan hasil/produktivitas lahan yang maksimal. 1998. 1999). Lahan gambut yang sering menerima luapan air sungai relatif lebih subur dibandingkan lahan gambut yang semata-mata hanya menerima limpasan/curahan air hujan. Pengaturan Tata Air Pada Tanah Gambut Lahan marginal seperti lahan gambut dapat ditingkatkan menjadi lahan produktif dengan menerapkan teknologi yang tepat guna. 1977). hemisellulosa. 1997). Tingkah laku dari keduanya akan berpengaruh terhadap tinggi dan lama genangan air di lahan gambut dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan lahan serta pola budidaya tanaman yang akan diterapkan di atasnya. Yusuf. Lahan gambut dicirikan dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Inokulasi B japonicum asal Jawai dan Jangkang yang efektif dapat meningkatkan kandungan N dan hasil tanaman kedelai (Sagiman dan Anas. serta sekaligus . bakteri yang banyak ditemukan pada gambut tropika adalah Pseudomonas selain fungi white mold dan Penecilium (Suryanto. et a1. sehingga memungkinkan fungi dan bakteri berkembang untuk merombak senyawa sellulosa. kemasaman tanah tinggi. Pada berapa penelitian di lahan gambut Jawai (Kab Sambas) dan Jangkang (Kab Pontianak) dapat diisolasi bakteri Bradyrhizobium japonicum yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan hasil kedelai di lahan gambut. Penelitian tentang dekomposisi gambut di Palangkaraya menunjukkan bahwa dekomposisi permukaan gambut terutama disebabkan oleh dekomposisi aerob yang dilaksanakan oleh fungi (Moore and Shearer. Gambut memiliki ketersediaan N yang rendah. keberadaan air di lahan gambut sangat dipengaruhi oleh adanya hujan dan pasang surut/luapan air sungai. japonicum ). Pseudomonas merupakan bakteri yang mampu merombak lignin(Alexander. Kedelai adalah tanaman yang sangat banyak memerlukan nitrogen. 1991). Selain itu path musim penghujan akan terjadi penggenangan air dan path musim kemarau akan terjadi kekeringan. Sifat luapan/pasang surut air sungai yang jangkauannya dapat mencapai lahan gambut dapat disiasati untuk mengatasi berbagai kendala pertanian di lahan gambut. sehingga tata air menjadi kebutuhan mutlak (Yardha.Menurut Waksman dalam Andriesse (1988) perombakan bahan organik saat pembentukan gambut dilakukan oleh mikroorganisme anaerob dalam perombakan ini dihasilkan gas methane dan sulfida.

Sistem parit/handil di tepi sungai . tapi juga tidak tergenang di musim hujan. kondisi demikian menjadikan lahan gambut sulit untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian. Kedua sistem ini mempunyai kelemahan yaitu aliran air yang masuk atau keluar dari petakan lahan gambut (pada saat pasang-surut/luapan berlangsung) terjadi pada satu saluran yang sama. selain meningkatkan kesuburannya adalah mengendalikan tinggi muka air di dalamnya sehingga gambut tetap basah tapi tidak tergenang dimusim hujan dan tidak kering di musim kemarau. Salah satu teknik pengelolaan air di lahan gambut dapat dilakukan dengan membuat parit/saluran. Pengaturan tinggi muka air yang tepat juga dimaksudkan agar proses pencucian bahan beracun berjalan dengan lancar sehingga tercipta media tumbuh yang baik bagi tanaman. dengan tujuan: 1. baik budidaya aktif (dimana benih ikan ditebarkan di dalam saluran) maupun budidaya pasif (dimana parit/saluran digunaan sebagai perangkap ikan ketika sungai di sekitarnya meluap). dan pada saluran ini sering terjadi pendangkalan yang diakibatkan oleh endapan lumpur sungai. 3. Salah satu faktor kunci keberhasilan pengembangan pertanian di lahan gambut. Memanfaatkan keberadaan air di dalam saluran sebagai media budidaya ikan. akibatnya bahan-bahan beracun dan juga senyawa asam menumpuk/terakumulasi di dalam saluran dan menyebabkan mutu air menjadi jelek. Mengendalikan keberadaan air tanah di lahan gambut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dibudidayakan.mempertahankan kelestarian sumber daya lahan tersebut. Artinya: gambut tidak menjadi kering di musim kemarau. sebagai sarana transportasi hasil panen. Kondisi demikian menyebabkan penyumbatan saluran sehingga proses pergantian air di dalam petakan lahan tidak berlangsung sempurna. Mencuci asam-asam organik dan anorganik serta senyawa lainnya yang bersifat racun terhadap tanaman dan memasukan (suplai) air segar untuk memberikan oksigen. Beberapa teknik pengelolaan air yang telah lama dikembangkan di lahan rawa (termasuk gambut) antara lain: (1) Sistem parit/handil di tepi sungai. Kondisi di atas dapat diatasi dengan mengangkat/ membuang endapan dari dalam saluran atau memisahkan saluran air masuk/irigasi (inlet) dengan air keluar/drainase (outlet). 2. dan (2) Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut (dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada). Hal demikian dapat dicapai dengan membuat pintu air (flapgate) yang dapat mengatur tinggi muka air tanah gambut sekaligus menahan air yang keluar dari lahan. 1.Lahan gambut merupakan salah satu jenis lahan rawa yang selalu jenuh air atau tergenang. Selain itu keberadaan air di dalam parit akan berfungsi sebagai sekat bakar yang dapat mencegah terjadinya kebakaran di lahan gambut.

Di bagian tepi sungai biasanya tidak dibuatkan pematang. luapan air akan tertahan dan genangan pada lahan usaha yang ditimbulkan terbatas.5 . yaitu lahan-lahan yang terletak di dataran pantai atau dataran dekat sungai. maka pada parit dipasang tabat untuk mencegah keluarnya air sewaktu surut tetapi sewaktu pasang air dapat mudah masuk dalam petakan. 3. dikiri dan kanan parit dibuat pematang-pematang yang umumnya digunakan sebagai jalan sekaligus sebagai batas kepemilikan lahan. Aliran air dalam parit adalah dua arah atau bolak balik. maka perlu dilakukan pengangkatan/pembuangan lumpur secara rutin setiap bulan sekali. telah dikembangkan sejak dahulu kala oleh petani di lahan gambut pedalaman Kalimantan. karena sudah ada tanggul sungai yang terbentuk secara alami sehingga bila sungai pasang atau banjir. 2. Lahan usahatani umumnya berjarak 0. Parit dibuat dari pinggir sungai yang mengarah tegak lurus ke arah daratan. Untuk mencegah agar parit tidak tersumbat oleh endapan lumpur. air akan tertahan di dalam parit- . Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut Pengaturan tata air dengan sistem garpu (Gambar 2) telah dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada (UGM) pada lahan pasang surut. Untuk mempertahankan keberadaan air di lahan/petakan. pengaruh pasang surut (kedalaman muka air) dan ketebalan gambut. 4. Parit dapat dipandang sebagai saluran sekunder bila sungai dipandang sebagai saluran primer.4 km dari tepi sungai ke arah pedalaman. baik terpengaruh secara langsung maupun tidak langsung oleh pasang surut. Pekerjaan ini dilakukan secara berkelompok dan bertahap serta dimulai dari tepi sungai tegak lurus kearah pedalaman. tetapi sewaktu surut. 7. Parit dibuat biasanya berfungsi ganda. Di atas pematang ini. Parit dibuat secara bertahap dan diselaraskan dengan kondisi perubahan lahan. pertama sebagai saluran drainase (pembuangan) apabila air surut dan kedua sebagai saluran irigasi (mengairi) apabila air pasang. Pada setiap jarak 500 meter dibuat parit cacing yang berfungsi untuk memasukan dan mengeluarkan air pada petakan pertanaman. Sistem parit/handil dicirikan oleh: 1. air akan mendorong pintu sehingga air dapat masuk ke dalam parit-parit petakan lahan. Penerapan sistem parit biasanya diawali dengan usaha pembukaan lahan (reklamasi) dengan merintis dan memotong/menebang pohon-pohon besar. Pada kanan dan kiri parit dibuat tanggul/pematang untuk ditanami buah-buah yang berfungsi sebagai penguat tanggul agar tidak longsor. juga dapat dibuat pondok-pondok. maka dibuat pintu-pintu air yang dikenal dengan sebutan flapgate yaitu pintu otomatis yang ketika pasang. atau sampai ke ketebalan gambut maksimum 1meter. 5. 6.Pengelolaan lahan pertanian dengan sistem parit/handil ini. 2. Untuk mengatur air pasang surut. Lebar parit/handil berukuran 5 meter dan semakin menyempit ke arah hulu parit.

5 juta ha lahan gambut di Indonesia (BAPPENAS. Statistik Kehutanan Indonesia telah mencatat adanya kebakaran hutan sejak tahun 1978. termasuk 750.000 ha di Kalimantan. yang terjadi bersamaan dengan munculnya periode iklim panas ENSO. 2002). dan lama kejadiannya dari 14 bulan hingga 22 bulan (Singaravelu. Terjadi gejala kering tak balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. meskipun kebakaran besar yang diketahui oleh umum terjadi pada tahun 1982/1983 telah menghabiskan 3. Pemanasan ini biasanya bermula pada bulan Oktober. 2000. Periode panas ini dapat terjadi setiap 3–7 tahun.6 juta ha hutan termasuk sekitar 500. 2002). apakah untuk sawah. terus meningkat ke akhir tahun dan berpuncak pada pertengahan tahun berikutnya. Meskipun . 1994 dan 1997 di 24 propinsi di Indonesia. Kelemahan sistem garpu: Biaya pembuatan sistem garpu terlalu mahal.5 minggu pengeringan dan ini mengakibatkan gambut mudah terbakar. Kebakaran Lahan Gambut Kendala lain pada tanah gambut adalah kebakaran gambut hal ini dapat merugikan. Kebakaran selama musim kering pada tahun 1997. 1998). apabila gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak dan kering. Kebakaran hutan dan lahan gambut di wilayah tropika terutama di Asia Tenggara sudah terjadi selama 20 tahun terakhir ini.000 ha lahan gambut di Kalimantan Timur (Page et al. Selanjutnya pada tahun 1987 kebakaran hutan dalam skala besar terjadi lagi di 21 propinsi terutama di Kalimantan Timur. yang nampaknya cocok benar dengan periode iklim panas ENSO rata-rata 5 tahun. surjan atau lahan kering. Kebakaran tersebut terjadi umumnya selama musim kering yang terimbas oleh periode iklim panas atau dikenal sebagai El Nino-Southern Oscilation (ENSO). karena dirancang untuk areal pertanian yang cukup luas dan menggunakan alat-alat berat.parit petakan lahan. 2002). kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berulang setiap lima tahun. Struktur tinggi/operasional pintu-pintu air tersebut disesuaikan dengan penggunaan lahannya. dan pelepasan gas metana (CH4) telah diketahui dapat memicu terjadinya kebakaran (Abdullah et al. • Penyebab Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut selama musim kering dapat disebabkan atau dipicu oleh kejadian alamiah dan kegiatan atau kecerobohan manusia.. telah membakar sekitar 1. yakni di kawasan antara Sungai Kalimantan dan Cempaka (sekarang Sungai Sampit dan Katingan) di Kalimantan Tengah. Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997 dinyatakan sebagai yang terburuk dalam 20 tahun terakhir. yang rusak akibat kebakaran hutan tahun 1877. Kejadian alamiah seperti terbakarnya ranting dan daun kering secara serta-merta (spontan) akibat panas yang ditimbulkan oleh batu dan benda lainnya yang dapat menyimpan dan menghantar panas. Atas dasar rekaman sejarah tersebut di atas. Begitulah kebakaran besar terjadi lagi pada tahun 1991. Parish. sehingga sejak saat itu timbul anggapan bahwa kebakaran hutan adalah bencana alam akibat kemarau panjang dan kering karena ENSO. Kebakaran hutan tropika basah di Indonesia diketahui terjadi sejak abad ke-19. Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 . 1996). E..

2002. Pembukaan dan persiapan lahan oleh petani dengan cara membakar merupakan cara yang murah dan cepat terutama bagi tanah yang berkesuburan rendah. 2002).83 cm jam-1 (atau 92 cm hari-1). 2000. bahkan oleh hujan lebat sekalipun. • Sifat Kebakaran Sifat kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan lahan gambut berbeda dengan yang terjadi di kawasan hutan dan lahan tanah mineral (bukan gambut).29 cm jam-1 (atau 29 cm hari-1).demikian. kebakaran tidak hanya menghanguskan tanaman dan vegetasi hutan serta lantai hutan (forest floor) termasuk lapisan serasah. Kebakaran tipe kedua ini paling berbahaya karena menimbulkan kabut asap gelap dan pekat. dan melepaskan gas pencemar lainnya ke atmosfer.000 ha kawasan PPLG di Kalimantan Tengah telah terbakar selama kebakaran tahun 1997 (Page et al. Musa & Parlan. Tipe yang kedua adalah terbakarnya gambut di kedalaman 30–50 cm di bawah permukaan. pemicu utama terjadinya kebakaran adalah adanya kegiatan dan atau kecerobohan manusia.. 2005). kegiatan pembukaan dan persiapan lahan baik oleh perusahaan maupun masyarakat merupakan penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut. Di samping itu. dedaunan dan bekas kayu yang gugur. 2002) dan di Sumatra (Sanders. persiapan lahan oleh petani. Page et al. Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut pada tahun 1997 menunjukkan bahwa sekitar 80% dari luas lahan Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) 1. dengan panjang proyeksi sekitar 10–50 cm dan kecepatan menyebar rata-rata 3. yang sebarannya semakin banyak ke arah saluran pengatusan (drainase) yang telah dibangun (Jaya et al..4 juta hektar di Kalimantan Tengah diliputi oleh titik titik panas (hot spots). Menurut pengalaman di Malaysia (Abdullah et al. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa cara ini cukup membantu memperbaiki kesuburan tanah dengan meningkatkan kandungan unsur hara dan mengurangi kemasaman (Diemont et al. Faktor manusia yang dapat memicu terjadinya kebakaran meliputi pembukaan lahan dalam rangka pengembangan pertanian berskala besar. 2000. yang biasanya terjadi pada gambut dangkal atau pada hutan dan lahan berketinggian muka air tanah tidak lebih dari 30 cm dari permukaan. Ancaman itu memang akhirnya terjadi bahwa sekitar 500. Pada tipe yang pertama ini. ujung api bergerak secara zigzag dan cepat. Ujung api bergerak dan menyebar ke arah kubah gambut (peat dome) dan perakaran pohon dengan kecepatan rata-rata 1. dan kegiatankegiatan rekreasi seperti perkemahan. yang 90–95% kejadian kebakaran dipicu oleh faktor ini. tetapi juga membakar lapisan gambut baik di permukaan maupun di bawah permukaan. kebakaran tipe ke-2 ini sangat sulit untuk dipadamkan. yaitu tipe lapisan permukaan dan tipe bawah permukaan. Siegert et al. Hanya saja jika tidak terkendali. 2003) ada dua tipe kebakaran lapisan gambut. Tipe yang pertama dapat menghanguskan lapisan gambut hingga 10–15 cm. piknik dan perburuan. Di kawasan bergambut. ancaman kebakaran terutama terjadi dalam kawasan hutan dan lahan gambut yang telah direklamasi. . kegiatan ini dapat memicu terjadinya kebakaran. Dalam skala besar. Berdasarkan pengamatan lapangan (Usup et al. 2000). 2002).

• Akibat Kebakaran Kebakaran hutan dan lahan gambut dapat berakibat langsung dan tidak langsung atas lingkungan di dalam tapak kejadian (on site efect) atau di luar tapak kejadian (of site efect)..2–0. 298. Selain itu. karena karakteristik kebakaran di kawasan bergambut yang khas daripada di kawasan tidak bergambut.Dari uraian di atas jelas bahwa kebakaran hutan dan lahan gambut dapat meninmbulkan dampak/akibat buruk yang lebih besar dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi di kawasan tidak bergambut (tanah mineral). 58. cara penanganannya pun berbeda.. asap yang dihasilkan telah mengakibatkan gangguan kesehatan terutama masyarakat miskin. 2000). 8. Kebakaran hutan dan lahan gambut juga berdampak atas hilangnya beberapa potensi ekonomi terutama di sektor kehutanan dan pertanian. Sedangkan di sektor pertanian kerugiannya mencapai Rp 718 milyar. Asap bertahan cukup lama di lapisan atmosfer permukaan.095 bronkitis. 2002). Akibat kebakaran hutan dan lahan gambut antara lain adalah kehilangan lapisan serasah dan lapisan gambut. akibat rendahnya kecepatan angin permukaan.4 trilyun untuk delapan propinsi kawasan bergambut di Kalimantan dan Sumatra. Dampak utama kebakaran hutan dan lahan gambut adalah asap yang mempengaruhi jarak pandang dan kualitas udara. dan pada kesehatan manusia serta flora dan fauna. Jumlah kasus selama bulan September–November 1997 di delapan propinsi di Kalimantan dan Sumatra tercatat 527 kematian. lanjut usia.120 ISPA (infeksi saluran pernafasan akut). kehilangan potensi ekonomi. dan 1.800 asma. gangguan atas kualitas udara dan kesehatan manusia. Di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatra. termasuk di Kalimantan Selatan yang dijumpai 69 kasus kematian. Pelepasan C ini berdampak luar biasa atas emisi gas karbondioksida (CO2) ke atmosfer. 41. karena kehilangan lapisan gambut. 2002). dan gangguan atas sistem transportasi dan komunikasi. yang turut berperan dalam pemanasan global (Siegert et al.6 Gt C. ibu hamil dan anak balita. Lapisan asap ini berdampak serius pada sistem transportasi udara. Kehilangan lapisan gambut ini berakibat atas kestabilan lingkungan. terutama di daerah-daerah yang banyak dijumpai kebakaran hutan dan lahan gambut. dan 202. gangguan atas dinamika flora dan fauna. Pada kebakaran tahun 1997 berkurangnya jarak pandang di beberapa kota di Kalimantan dan Sumatra antara bulan Mei dan Oktober telah mengakibatkan penundaan jam terbang dan bahkan penutupan beberapa bandar udara. Akibat ini bisa terjadi selama bertahun-tahun tergantung .761 kasus ISPA. Selain itu. stabilitas lingkungan. Kerugian ekonomi pada sektor kehutanan akibat kebakaran tahun 1997 mencapai Rp 2.145 bronkitis.125 asma. Ketebalan itu setara dengan pelepasan karbon (C) sebanyak 0. Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Tengah pada tahun 1997 telah menghilangkan lapisan gambut 35–70 cm (Jaya et al.446. Akibat tidak langsung dari kebakaran lahan gambut merupakan akibat lanjutan (postefect) yang dihasilkan ketika proses pemulihan hutan dan lahan gambut baik secara alamiah maupun buatan manusia belum mencapai titik pulih. kebakaran tahun 1997 telah merusak vegetasi hutan sehingga kerapatan pohon berkurang hingga 75% (D’Arcy & Page.

3. Kedua upaya itu harus dilakukan secara sistematis. Program ini diharapkan dapat mendorong dikembangkannya strategi pencegahan dan pengendalian kebakaran berbasis masyarakat (community-based fire management). Pencegahan kebakaran diarahkan untuk meminimalkan atau menghilangkan sumber api di lapangan. hingga pemantauan dan evaluasi. 5. . 6. atau dengan pembakaran yang terkendali (controlled burningbased land clearing). perencanaan tata guna hutan/lahan. Upaya ini pada dasarnya harus dimulai sejak awal proses pembangunan sebuah wilayah. Penatagunaan lahan sesuai dengan peruntukan dan fungsinya masing-masing. Pengembangan sistem penegakan hukum. seluruh bencana kebakaran dapat diminimalkan atau bahkan dihindarkan. Pengembangan sistem kepemilikan lahan secara jelas dan tepat sasaran. Pencegahan perubahan ekologi secara besar-besaran diantaranya dengan membuat dan mengembangkan pedoman pemanfaatan hutan dan lahan gambut secara bijaksana (wise use of peatland). Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya api di antaranya: 1. Bila pencegahan dilaksanakan dengan baik. Pengembangan program penyadaran masyarakat terutama yang terkait dengan tindakan pencegahan dan pengendalian kebakaran. Pengelolaan atas kebakaran hutan lahan gambut meliputi upaya pencegahan dan pengendalian.kemampuan untuk memulihkan. dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stake holder). • Pencegahan kebakaran Tindakan pencegahan merupakan komponen terpenting dari seluruh sistem penanggulangan bencana termasuk kebakaran. Selain itu. serta sistem produksi kayu yang tidak rentan terhadap kebakaran. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghindari pengelolaan lahan yang tidak tepat sesuai dengen peruntukan dan fungsinya. yaitu sejak penetapan fungsi wilayah. serba-cakup (comprehensive). Hal ini mencakup penyelidikan terhadap penyebab kebakaran serta mengajukan pihak-pihak yang diduga menyebabkan kebakaran ke pengadilan. hilangnya vegetasi akan mengurangi penyerapan CO2 sehingga meningkatkan efek rumah kaca dan hutan juga kehilangan fungsi pengaturan iklimnya. 2. Hilangnya vegetasi dan terbukanya hutan dan lahan gambut menyebabkan debit aliran permukaan dan erosi akan meningkat dalam musim hujan sehingga dapat menyebabkan banjir. dengan mempertimbangkan kelayakannya secara ekologis di samping secara ekonomis. dan terpadu. dan memulihkan hutan dan lahan gambut yang telah rusak. pemberian ijin bagi kegiatan. Pengembangan sistem budidaya pertanian dan perkebunan. Akibat utamanya adalah terganggunya fungsi hidrologis dan pengaturan iklim. 4. seperti pembukaan dan persiapan lahan tanpa bakar (zero burning-based land clearing).

Pada tahap ini usaha lokal untuk memadamkan api menjadi sangat penting karena upaya di tingkat lebih tinggi memerlukan persiapan lebih lama sehingga dikhawatirkan api sudah menyebar lebih luas. Beberapa kegiatan mitigasi yang dapat dilakukan antara lain: (1) menyediakan peralatan kesehatan terutama di daerah rawan kebakaran. Tahapan ketiga adalah kegiatan pemadaman api. Hal ini mencakup pengembangan sistem pemeringkatan bahaya kebakaran (Fire Danger Rating System) dengan memadukan data iklim (curah hujan dan kelembaban udara). dan peta sejarah kebakaran yang penting untuk evaluasi penanggulangan kebakaran. • Pengendalian kebakaran Kegiatan pengendalian kebakaran meliputi kegiatan mitigasi. (2) menyediakan dan mengaktifkan semua alat pengukur debu di daerah rawan kebakaran. karena tanah gambut mempunyai daya hantar air cacak (vertikal) yang sangat randah. Hal ini terkait dengan kecepatan penyebaran api yang sangat cepat dan tipe api di bawah permukaan. (4) mengembangkan waduk-waduk air di daerah rawan kebakaran. kesiagaan. data hidrologis (kedalaman muka ir tanah dan kadar lengas tanah). Hal yang paling penting dalam tahap ini adalah membangun partisipasi masyarakat di kawasan rawan kebakaran. dan data bahan yang dapat memicu timbulnya api. Kegiatan ini akan memberikan gambaran secara kartografik terhadap kerawanan kebakaran. Pengembangan sistem informasi kebakaran yang berorientasi kepada penyelesaian masalah. Cara lainnya adalah penyemprotan air melalui lubang yang telah . dan (5) membuat parit-parit api untuk mencegah meluasnya kebakaran beserta dampaknya. Kegiatan mitigasi bertujuan untuk mengurangi dampak kebakaran seperti pada kesehatan dan sektor transportasi yang disebabkan oleh asap. terutama untuk memadamkan api di bawah permukaan. Oleh karenanya pemadaman api bertipe ini hanya dapat dilakukan dengan membuat parit yang diairi. tetapi daya hantar air menyamping (lateral)nya tinggi. dan pemadaman api. Pemadaman api di bawah permukaan dengan menyemprotkan air ke atas permukaan lahan tidaklah efektif. Pemadaman api di kawasan bergambut jauh lebih sulit daripada di kawasan yang tidak bergambut. Strategi pemadaman api secara konvensional seperti pada kawasan hutan dan lahan tidak bergambut harus dikombinasikan dengan cara-cara khas untuk kawasan bergambut. Kesiagaan dalam pengendalian kebakaran bertujuan agar perangkat penanggulangan kebakaran dan dampaknya berada dalam keadaan siap digerakkan. Gambarannya dapat berupa peta bahaya kebakaran yang berhubungan dengan kondisi mudahnya terjadi kebakaran. peta resiko kebakaran yang berkaitan dengan sebab musabab terjadinya kebakaran. (3) memperingatkan pihak-pihak yang terkait tentang bahaya kebakaran dan asap. seperti sekat bakar diairi (KATIR) yang telah dikembangkan oleh Tim Serbu Api Universitas Palangkaraya.7. dan ketaatan para pengusaha terhadap ketentuan penanggulangan kebakaran.

Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Kegiatan pertanian dengan membuka lahan baru. harus dihindari/dilarang.com. apalagi yang masih berhutan. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Abdul Madjid. seperti yang dilakukan di Malaysia (Musa & Parlan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. 2009. Indonesia.digali hingga batas api di bawah permukaan. Indonesia. . R. Universitas Sriwijaya. Diposkan oleh Dr. Propinsi Sumatera Selatan. A. Program Pascasarjana. Palembang. Kegiatan pengelolaan lahan rawa gambut untuk pertanian harus diprioritaskan pada kawasan lahan gambut yang telah mengalami kerusakan tetapi memiliki potensi pemanfaatan yang tinggi dengan batas kedalaman tidak lebih dari 1 meter. Program Magister (S2). Program Pascasarjana.blogspot. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. http://dasar2ilmutanah. Pengelolaan lahan gambut harus dilakukan secara terencana dan penuh kehati-hatian agar mutu dan kelestarian sumber daya lahan dan lingkungannya dapat dipertahankan secara berkesinambungan. Universitas Sriwijaya. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Program Magister (S2). (2) Kesuburan Tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. 2002). MS di 21:46 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 3) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Palembang. Ir.

825. Kalimantan. Namur demikian lahan gambut masih memberikan harapan untuk dijadikan lahan produktif dengan menerapkan teknologi yang sesuai seperti paket teknologi tampurin. penelitian tentang pemanfaatan tanah gambut untuk lahan pertanian dan perkebunan telah banyak dilakukan diantaranya: Jagung merupakan komoditas pangan kedua setelah padi. Sekitar 50% dari luasan lahan gambut tropika tersebut terdapat di Indonesia yang tersebar di pulau-pulau Sumatra. Dengan penelitian mampu meningkatkan produksi tanaman jagung hingga mampu meningkatkan pendapatan petani (Gonggo et al. Penerapan paket teknologi Tampurin yang merupakan singkatan dari Tata Air. 2004).3 17. dan Amerika Serikat. 1997). setelah Kanada.266 juta hektar tahun 1997. 1997. 2005).0 . Karena wataknya yang sangat rapuh. dan penambangan (Rieley et al. Program Pascasarjana. Mg. Kendala yang dihadapi untuk meningkatkan produksi jagung di antaranya persaingan lahan dan tanaman padi sebagai makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia.5.0).*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Zn. dan Papua. luasan lahan gambut di Indonesia cenderung mengalami penurunan. Untuk itu perlu lahan altematif yang potensial seperti lahan gambut untuk budidaya tanaman jagung. Program Magister (S2). Indonesia. Mikroba. Pupuk yang seimbang dan kapur serta proses inkubasi bahan amelioran (IPPTP.203 juta hektar dari 16. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Mo dan Mn rendah dan kandungan air yang tinggi. Bahkan dari data yang telah dipublikasikan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat tahun 2002. 1996). Dari itu semua dan dari banyak publikasi yang telah dirilis baik melalui pertemuan ilmiah maupun laporan ilmiah. Penelitian Widodo ( 2004). diperkirakan yang masih tersisa tidak lebih dari 17 juta hektar (Kurnain. kehutanan. Uni Soviet. K. sebanyak 38. Altematif untuk mengatasi kendala pada tanah gambut untuk tanaman padi gogo dilakukan dengan memberikan pupuk urea dan . Hasil-Hasil Penelitian Tentang Tanah Gambut Dari luasan total lahan gambut di dunia sebesar 423. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. Kendala utama dalam meningkatkan produksi padi gogo adalah rendahnya kesuburan tanah dan juga kandungan bahan organik dalam tanah. Diperkirakan sedikitnya 20% dari luasan lahan gambut di Indonesia telah dimanfaatkan dalam berbagai sektor pembangunan meliputi pertanian.000 ha. Tanah gambut merupakan tanah marjinal yang memiliki kesuburan rendah yang dicirikan oleh pH rendah (3. Palembang. Propinsi Sumatera Selatan.000 ha terdapat di wilayah tropika. sehingga Indonesia menempati urutan ke-4 dalam hal luas total lahan gambut sedunia. luasan lahan gambut di Indonesia hanya tersisa 13. Ca. tentang budidaya tanaman padi gogo di lahan gambut telah dilakukan. Widarjanto. P. kandungan dan ketersediaan unsur N. B.

19. masing-masing 149.0 cm dan 1166.0 g per tanaman (Asie E R.kombinasi media tanam. yaitu sistem budidaya yang menggunakan tanah gambut hanya sebagai sarana pendukung atau sebagai wadah berpengaruh positif bagi pertumbuhan dan hasil tanaman melon varietas Action 434. Dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14/Permentan/PL. Hal itu didukung oleh berbagai hal sebagaimana tercantum dalam butir-butir di bawah ini.53.5 ton ha-1 dan pemberian pupuk organik padat Supernasa dengan dosis 15 kg ha-1. bobot pupus 10. Lapisan tanah mineral di bawah gambut Substratum menentukan kemampuan lahan gambut sebagai media tumbuh tanaman. dan (2. Pada perlakuan media tanam memberikan beda nyata pada peubah jumlah dawn.62 g. Dosis pupuk kalium dan pupuk organik padat Powernasa yang memberikan pertumbuhan dan hasil yang baik masing-masing adalah 250 kg ha-1 dan 15 kg ha-1 menghasilkan panjang tanaman 135. yaitu tingkat kesuburan gambut dengan kandungan unsur hara makro dan mikro yang cukup untuk budidaya kelapa sawit sebagai pengaruh luapan air sungai dan/atau pasang surut air laut.59. Panjang tanaman terpanjang dan bobot buah terberat diperoleh pada pemberian abu serbuk gergaji dengan dosis 22. bobot pupus. bobot bulir bemas dan indeks panen dan nilai tertinggi untuk peubah: jumlah dawn: 45. 4. 3. Tingkat kesuburan tanah Tingkat kesuburan tanah dalam kategori eutropik. Berada pada kawasan budidaya Kawasan budidaya dimaksud dapat berasal dari kawasan hutan yang telah dilepas dan/atau areal penggunaan lain (APL) untuk usaha budidaya kelapa sawit. Abu serbuk gergaji dan pupuk organik padat Powernasa secara sinergis dapat meningkatkan panjang tanaman dan bobot buah per tanaman.110/2/2009 Tahun 2009 tentang Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Budidaya Kelapa Sawit. . Lapisan tersebut tidak boleh terdiri atas pasir kuarsa dan tanah sulfat masam.12. Dari pembukaan lahan yang telah dilakukan pada tanah gambut untuk tanaman kepada sawit mampu memproduksi kelapa sawit sebesar 12 . 2. demikian juga interaksi antara ukuran urea dan media tanam tidak terjadi. (hukmas dj bun). bobot bulir berms 12. jumlah malai. dan indeks panen 1.3 cm dan bobot buah 1530. Tingkat kematangan gambut Areal gambut yang boleh digunakan adalah gambut matang (saprik) dan gambut setengah matang (hemik) sedangkan gambut mentah dilarang untuk pengembangan budidaya kelapa sawit. Pengembangan budidaya tanaman melon pada lahan gambut melalui penerapan sistem pertanian berwawasan lingkungan maka sistem budidaya inovatif. Ukuran urea tidak memberikan perbedaan yang nyata pada peubah yang diamati. 2. 2003). jumlah malai 7. lahan gambut yang dapat digunakan untuk budidaya kelapa sawit harus memenuhi kriteria: 1. 5.24 ton/ha dalam satu tahunnya.7 g per tanaman. Penelitian tentang tanaman perkebunan juga dilakukan pada tanah gambut.1) dalam bentuk hamparan yang mempunyai ketebalan gambut kurang dari 3 (tiga) meter. 1. Ketebalan lapisan gambut kurang dari 3 (tiga) meter Lahan gambut yang dapat digunakan untuk budidaya kelapa sawit: (2.2) proporsi lahan dengan ketebalan gambutnya kurang dari 3 (tiga) meter minimal 70% (tujuh puluh prosen) dari luas areal yang diusahakan.

674 per tahun.8 ton/ha dengan kisaran 1.5 – 2. hal ini karena tenaga kerja yang digunakan pada padi unggul lebih sedikit atau pada kegiatan pengolahan tanah menggunakan handtraktor. Hasil penelitian Noorginayuwati et al. Akan tetapi. Secara ekonomi pengusahaan padi dilahan gambut cukup menguntungkan. Sayuran Sayuran yang diusahakan petani adalah kacang panjang. (Riza AR. namun demikian semua jenis sayuran yang diusahakan cukup layak untuk dikembangkan karena R/C > 1. gambas. sementara pada usahatani padi lokal umumnya petani melakukan secara manual yaitu tebas-angkut (Riza AR. 2006). 2006) Sistem usahatani berbasis padi dapat dilihat dari besarnya kontribusi usahatani tani dalam menyumbang pendapatan rumah tangga petani. Pengembalian tenaga kerja pada usahatani padi unggul lebih tinggi sebesar 28.214. Dari sistem usahatani berbasis padi di Desa Petak Batuah Kecamatan Kapuas Murung wilayah UPT Dadahup A 2 Proyek Lahan Gambut Sejuta hektar menunjukkan bahwa kontribusi pendapatan usahatani padi sebesar 47% terhadap pendapatan rumah tangga petani sebesar Rp 9. Hal ini diikuti pula dengan nilai R/C yaitu pada usahatani padi lokal sebesar 1.3 ton/ha dengan kisaran 2 – 2.4 ton/ha.38 dan padi unggul 1. pare dan cabai Rawit (varietas Tiung). (2006) menunjukkan bahwa kontribusi sayuran sebesar 39 % terhadap pendapatan total rumah tangga petani sebesar Rp 8. Sayuran umumnya untuk konsumsi rumah tangga.743/ha.37 dan 2.144.5 ton/ha dan padi lokal rata-rata 1. (Noorginayuwati et al.270.• Analisis Usahatani Komoditas Di Lahan Gambut Padi Produksi rata-rata padi unggul 2. pare dan gambas cukup efisien diusahakan di lahan gambut..22.000/ha sementara pada padi unggul sebesar Rp 1. Berdasarkan analisis biaya dan pendapatan menunjukkan bahwa sayuran cabai rawit. 2006) Sistem usahatani berbasis sayuran di lahan gambut menunjukkan bahwa kontribusi sayuran cukup besar terhadap pendapatan total rumah tangga petani. Nilai keuntungan dari padi lokal sebesar Rp 1.36) dibanding sayuran lainnya. Hasil dari pelaksanaan demplot oleh Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) pada tahun 2006 menunjukkan bahwa sayuran tomat dan bawang daun cukup menguntungkan untuk diusahakan di lahan gambut dengan nilai R/C masing-masing 3. 2006) Demikian juga dengan tanaman sayuran yang diusahakan di lahan gambut Desa Siantan Hulu Kalimantan Barat menunjukkan bahwa komoditas bawang daun memiliki R/C tertinggi (3. namun tidak sedikit petani yang menjual ke pasar desa. konsep pertanian berkelanjutan pada lahan gambut sebenarnya bukan merupakan istilah yang tepat dikarenakan adanya daya menyusut dan adanya subsidence selama penggunaannya untuk usaha pertanian.32.7% dibanding padi lokal. hal tersebut bisa dikurangi dalam arti .per tahun (Riza AR.516. Dalam istilah yang tepat.314.

Hal ini misalnya terlihat dari adanya pola suksesi dari pertanaman padi menjadi tanaman perkebuna kelapa atau kebun karet atau pohon buah-buahan dan perikanan. Kerugian • Biaya pembuatan surjan maha dan membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga ker • Diperlukan pengaturan/ pengawasan air yang lebih ba • Lapisan gambut akan lebih cepat dangkal karena sering diolah.memperpanjang ‘life span’ dengan meminimalkan tingkat subsidence dengan cara mengadopsi beberapa strategi pengelolaan yang benar mengenai air. Dengan penerapan sistem surjan. . maka lahan akan menjadi lebih produktif . Untuk mengatasi hal demikian. da (2) Lahan guludan/tembokan/baluran sebagai lahan kering (digunakan untuk budidaya palawija. tanaman tahunan/perkebunan). Keuntungan dan Kerugian Sistem Surjan Keuntungan • Dapat menanam aneka ragam jenis tanaman dengan umur panen yang berbedasehingga pendapatan petani dapat berlanjut • Pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman lebih mudah • Memperkecil resiko kegagalan panen karena jenis tanaman yang ditanam berma macam • Dapat ditanami padi sawah sebanyak 2 kali musim tanam. karena pada lahan tersebut akan tersedia dua tatanan lahan. Penggunaan sistem surjan merupakan suatu cara pengelolaan tanah dan air yang disesuaikan den kondisi gambut <> dapat dilakukan pada lahan gambut dangkal yang marginal . maka perlu dilakukan pemilihan jen tanaman yang tepat (misal jen tanaman tahunan atau hortikultura tertentu yang tidak memerlukan pengolaha tanah secara intensif). Namun yang perlu diperhatikan dalam menggunakan sistem ini adalah penerapan pola tanam tumpang (multicroping) yang berkelanjutan dan produktif dalam waktu lama. yaitu: ( 1) Lahan tabukan yang tergenang (digunakan untuk menanam padi atau digabungkan dengan budidaya ikan/minapadi) . tanah dan tanaman. Tahapan-tahapan P embuatan Surjan Pemilihan lokas Identifikasi terlebih dahulu loka dan karakteristik lahan yang ak digunakan menjadi lahan pertanian dengan sistem surjan apakah layak secara fisik dan memenuhi nilai-nilai sosial ekonomi. sehingga menimbulkan lapisan pirit yang dapat meracuni tanaman. buahbuahan.

Sedangkan semak beluka dan rerumputan akan lebih mudah dan relatif dapat digunakan. Ir. beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu kondisi permukaan lahan/tutupan vegetasi. MS di 21:44 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 4) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) . terutama pada lahan yang telah lama ditinggalkan (seperti semak belukar) memerlukan waktu pengolahan lebih lama dan tenaga memerlukan waktu pengolahan lebih lama dan tenaga ke lebih banyak daripada lahan yang seri dikerjakan sebagai lahan usaha. Jenis-jeni tanaman yang berbeda memiliki toleransi yang berbeda pula terhadap tinggi muka air tanah dan genangan (lihat Tabel 1). Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. pengeringan dan pematangan tanah. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. sehingga pola surjan ya akan dibangun harus pula memperhatikan aspek muka air tanah untuk kelangsungan hidup jenis-jenis tanaman yang akan ditanam diatasnya. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Abdul Madjid. 2009.Dalam kegiatan ini. R. http://dasar2ilmutanah. A.com. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Hutan setelah dibuka harus dibiarkan selama du tahun untuk proses pencucian. (2) Kesuburan Tanah.blogspot. kedalaman dan kematangan gambut. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.5> Kedalaman permukaan air tanah Kegiatan budidaya tanaman di laha gambut sangat ditentukan oleh kedalaman muka/paras air tanah d lamanya periode genangan. serta kedalaman permukaan air tanah. Pembuatan surjan Menata/mengolah lahan dengan sistem surjan. Kedalaman dan kematangan gambut Tanah gambut yang baik untuk usaha pertanian adalah lahan bergambut (<0. Kondisi permukaan lahan/tutupan vegetasi Lahan berhutan akan lebih sulit untuk diolah dibandingkan denga lahan yang sudah terbuka atau semak belukar . Diposkan oleh Dr.

Indonesia. Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman.Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Palembang. Palembang. Universitas Sriwijaya. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Indonesia. Kriteria lahan yang cocok untuk pertanian bagi para petani pioner sebagaimana dituturkan ditentukan oleh jeluk mempan (kedalaman effective) dan bau dari tanah lapisan atas yang diistilahkan dengan bau “harum” (Idak. Propinsi Sumatera Selatan. penurunan permukaan gambut. rendahnya kesuburan tanah. Penggunaan abu bakaran gambut sebagai amelioran sangat tidak dianjurkan karena jika dilakukan terus menerus gambut akan menipis sehingga fungsi gambut sebagai pengatur air/hidrologi. Universitas Sriwijaya. 1985). Program Pascasarjana. sarana konservasi keanekaragaman hayati serta sebagai penyerap dan penyimpan karbon yang mampu meredam perubahan iklim global akan berkurang. rendahnya daya tumpu. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Berkenaan dengan dinamika tanah ini pada petani umumnya pada awal-awal minggu pertama musim hujan membiarkan tanahnya kosong karena ”air bacam” dapat meracuni tanaman. dan pH yang sangat masam. Kesuburan tanah dalam pandangan masyarakat petani lokal melayu di lahan rawa atau lahan gambut adalah kemampuan tanah untuk memberikan hasil yang memadai umumnya dilihat dari aspek fisik dan lingkungannya. Program Pascasarjana. kapur dan pemberian pupuk kimia. Indonesia. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Selama ini. Program Studi Ilmu Tanaman. Pengelolaan Kesuburan Pada Tanah Gambut Bertani di lahan gambut harus dilakukan secara hati-hati karena menghadapi banyak kendala antara lain kematangan dan ketebalan gambut yang bervariasi. untuk mengatasi kendala kesuburan lahan gambut pada umumnya dilakukan pemberian abu bakaran gambut. . Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Asam sulfida ini bersifat meracun tanaman pada kondisi tergenang atau lahan-lahan yang setelah kekeringan (musim kemarau) menjadi basah kembali setelah hujan menyisakan kadar sulfida yang tinggi hasil proses reduksi sulfat. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Boleh jadi yang dimaksud dengan bau “harum” adalah lawan dari bau “busuk” yang muncul dari asam sulfida (H2S). Program Pascasarjana. Palembang.

Kedalaman permukaan air tanah pada parit kebun diusahakan agar tidak terlalu jauh dari akar tanaman. Satu juta lahan gambut tropika setebal 2 m ditaksir dapat menyimpan 1. 3. Sifatnya yang praktis tidak terbarukan karena membutuhkan waktu 5000-10. . yakni dapat menyimpan air tawar dalam jumlah yang sangat besar. sehingga taksiran laju pelenggokannya adalah 1cm/ 5 tahun. di bawah vegetasi hutan 5. Petani baru melakukan tanam setelah 3-4 minggu memasuki musim hujan saat air bacam sudah terencerkan dan tergelontor. Pengelolaan air harus disesuaikan dengan kebutuhan perakaran tanaman. Sebagai acuan kedalaman permukaan air tanah untuk tanaman pertanian menurut Maas et al dalam Andriesse (1988). jika permukaan air terlalu dalam maka oksidasi berlebih akan mempercepat perombakan gambut. Jenis-jenis gulma atau vegetasi tertentu sering dijadikan penciri atau tanaman indikator bagi status kesuburan lahan tersebut. sehingga gambut cepat mengalami subsiden. galam (Meleleuca leucadendron) mencirikan tanah mengalami pengatusan dan berubah matang dengan tingkat kemasaman pH <>(Melastoma malabatharicum) dengan bunga merah jambu menarik.. yang disebut juga Rhododendron Singapura menunjukkan tanah paling miskin.2 juta m3 . Sebaliknya apabila keruh dan berwarna cokelat seperti air teh menunjukkan bahwa kondisi lahan di sekitar wilayah tersebut adalah gambut dalam atau tebal. Indikasi tumbuhan yang dilihat di atas berkorelasi dengan tipe luapan lahan rawa sehingga umumnya dipilih yang mendapatkan luapan yaitu tipe A dan B. Mackinnon et al. 2000). 1996. Misalnya tanaman purun tikus (Eleocharis dulcis) mencirikan keadaan tumpat air (waterlogging) dan kemasaman akut. Fungsi hidrologisnya. Menurut Radjagukguk (2003) lahan gambut tropika yang terdapat di Indonesia dicirikan oleh antara lain : 1. percepatan peruraian dan resiko pengerutan tak balik (irreversible) serta rentan terhadap bahaya erosi 4. Sifatnya yang rapuh (fragile) karena dengan pembukaan lahan dan drainase (reklamasi) akan mengalami pengamblesan (sub-sidence). Bentuk lahan dan sifat-sifat tanahnya yang khas. Selain hal di atas. Menurut Maas (2003) warna air yang keruh tersebut menunjukkan kandungan asam-asam humat dan fulvat yang tinggi. yakni lahannya berbentuk kubah keadaannya yang jenuh atau tergenang pada kondisi alamiah serta tanahnya mempunyai sifat-sifat fisika dan kimia yang sangat berbeda dengan tanah-tanah mineral. Tumbuhan lain seperti Commelina dan Emilia menunjukkan pH rendah (Noor. Penilaian kesuburan tanah juga terkait dengan keadaan air di sekitar wilayah tersebut antara lain apabila air tersebut tampak bening dan terang ini menunjukkan bahwa kualitas air tersebut sangat masam.000 tahun untuk pembentukannya sampai mencapai ketebalan maksimum sekitar 20 m. Biodiversitas (keragaman hayati) yang khas dengan kekayaan keragaman flora dan fauna 2. petani juga sering menilai kesuburan lahan dari vegetasi yang tumbuh pada lahan tersebut.khususnya padi.

Sistem usahatani lahan gambut hendaknya didasarkan kepada sistem usahatani terpadu yang bertitik tolak kepada pemanfaatan hubungan sinergik antar subsistemnya agar pengembangannya tetap menjamin kelestarian sumberdaya alamnya. maka perlu dilakukan penelitian tentang budidaya tanaman melon di lahan gambut dengan teknik budidaya inovatif. Sitem pertanian Leisa menggunakan Tanah selalu tertutupi tanaman dimana dedaunan yang jatuh atau serasah membusuk menutupi permukaan tanah. Selain itu dalam pengelolaan lahan gambut haruslah didukung dengan teknologi budidaya spesifik lokasi dan ketersediaan lembaga pendukung. (2) Penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi.2000). Sistem usahatani berbasis tanaman pangan ditujukan untuk menjamin keamanan pangan petani sedangkan sistem usahatani berbasis komoditas andalan dapat dikembangkan dalam skala luas dalam perspektif pengembangan sistem dan usaha agribisnis. Pelepasan unsur hara oleh mikroba tanah sejalan dengan kebutuhan tanaman . (5) Peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut.. Sebagian besar hara disimpan dalam bentuk tumbuhan dan ternak. Pengaturan pola tanam dan pola usahatani merupakan alternatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan intensitas pertanaman dan memperpendek masa bera. yaitu sistem usahatani berbasis tanaman pangan dan sistem usahatani berbasis komoditas andalan (Alihamsyah dan Ananto 1998. pemanfaatan gambut hanya sebagai sarana pendukung atau sebagai wadah/pot bagi tanaman. sangat tergantung pada tipologi gambut. Secara garis besar ada dua sistem usahatani terpadu yang cocok dikembangkan di lahan gambut. pengolahan tanah minimum (minimum tillage). Suprihatno et al. Pola usahatani yang diterapkan petani dapat berupa monokultur seperti padi – bera. Konsep agroforestry dan penggunaan mulsa merupakan sebagian contoh konsep meniru alam. Alihamsyah et al. sayur-sayuran. padi + palawija/sayuran. Dari segi perakaran diupayakan menanam tanaman yang menyebar merata di tanah pada berbagai kedalaman. 1999. pemberian amelioran hanya pada lubang tanam untuk efisiensi dan penggunaan pupuk organik padat (POP) untuk mengurangi pemakaian pupuk anorganik serta menananam varietas adaptif. (4) Pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik tanah mineral di bawah lapisan gambut. pemanfaatan limbah pertanian seperti abu serbuk gergaji dan pupuk kandang sebagai amelioran sehingga dapat mengurangi penggunaan kapur. yaitu memadukan beberapa teknik budidaya ramah lingkungan seperti pembukaan lahan tanpa bakar. Menurut Sabiham (2007) melaporkan bahwa beberapa kunci pokok penggunaan gambut berkelanjutan : (1) Legal aspek yang mendukung pengelolaan lahan gambut. sayuran+palawija. Salah satu upaya dapat dilaksanakan untuk memanfaatkan lahan gambut dan mengurangi resiko terjadinya kebakaran di lahan gambut/bergambut adalah memperpendek masa bera.Bertitik tolak dari uraian tersebut. .. (3) Pengelolaan air yang memadai sesuai tipe luapan dan hidro topografi. Pengelolaan lahan gambut yang berwawasan lingkungan sangat perlu dipraktekan mengingat lahan gambut merupakan salah satu lahan untuk masa depan apabila diperhatikan cara pengelolaan yang tepat.

Hama tikus umumnya bersarang di lahan-lahan tidur yang tidak digarap petani. hara. Sedangkan lahan usaha ditata dengan sistem surjan.palawija dapat berhasil baik. Penganekaragaman sumber hara terutama yang berasal dari bahan organik yang tersedia secara lokal menjadi salah satu ciri upaya mempertahankan keberlanjutan Sistem usahatani berbasis Padi Sistem usahatani yang berkembang di tingkat petani lahan gambut adalah di lahan pekarangan ditanami dengan tanaman hortikultura seperti rambutan. atau kambing. maka pola sawit dupa akan sulit terlaksana.Konsep LEISA berupaya memanfaatkan sinergi berbagai komoditi seperti pemilihan tumpang sari yang saling mendukung dalam memanfaatkan ruang. hanya sebagian kecil ditata sebagai sawah/tegalan. kambing dan sapi. Hal ini akan berdampak masa bera yang diperpanjang. Budidaya campuran berbagai varietas atau jenis diupayakan selain untuk tujuan tersebut di atas juga untuk mengurangi resiko kegagalan. Dengan sistem tata air mikro yang telah dikembangkan di lahan pasang surut dan pembuatan pintu air”flapgate” yang dikembangkan Balittra. sedangkan di lahan usaha diusahakan tanaman palawija/sayuran. Pola tanam digunakan petani di Desa Kantan Atas dan Pinang Habang adalah padikedelai. Budidaya padi dengan ikan secara terintegrasi (Mina padi) merupakan praktek yang mendukung keberlanjutan. Hasil-hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh Balittra menunjukkan bahwa pola tanam padi unggul. padi-kacang tanah. . kedelai-kacang tanah. Penataan lahan pada lahan bergambut cukup beragam antar lokasi. air dan enerji surya. Integrasi ternak – tanaman selalu diusahakan sepanjang hal itu memungkinkan. Tetapi karena petani tidak semuanya mengusahakan padi unggul maka muncul beberapa masalah di lapangan. Sistem Usahatani berbasis komoditas Hortikultura Di lahan pekarangan ditanam tanaman keras/hortikultura dan ternak ayam. penanaman padi unggul dapat dilaksanakan. Pola ”Sawit Dupa” (sekali mawiwit dua kali panen). sisa pakan dan kotoran ternak dijadikan bahan untuk pupuk organik sebagai upaya untuk mengembalikan kesuburan tanah baik secara fisik maupun kimiawi. namun sistem usahataninya relatif serupa.bera atau padi-padi. Selama pola tanam di lahan petani tidak bisa disepakati. Tanaman atau limbah tanaman dijadikan pakan ternak dan limbah ternak dalam bentuk urine. Sebenarnya menurut petani khususnya petani transmigrasi. Bagian tabukan (bawah) ditanami padi. peluang untuk meningkatkan intensitas pertanaman sangat besar. mangga. yaitu pola padi unggul – padi lokal sudah berkembang. Lahan bergambut dengan dengan tipe luapan B/C (Rasau Jaya II) umumnya ditata sebagai surjan. sedangkan di guludan ditanami tanaman hortikultura. ternak ayam buras atau itik dipelihara dengan skala rumah tangga 5-20 ekor per KK atau ternak sapi. walang sangit menjadi penyebab kegagalan panen padi unggul oleh petani. Masalah hama tanaman seperti tikus.

pupuk kandang. pepaya dan obat-obatan.4 ton/ha padi IR 66. Pola tanam yang umum dijumpai adalah padi-palawija pada lahan sawah dan palawijapalawija pada surjan dengan periode tanam Agustus/September-Januari/PebruariMei/Juni. dan gulma. Demikian juga menurut Maas (1999) bahwa pertanian di lahan gambut dengan ketebalan 20 – 50 cm di Pangkoh 10 (Kalimantan Tengah) dengan pengaturan muka air pada tingkat tersier yang berupa penandonan air di musim hujan dan pembukaan tabat di musim kemarau. Pemanfaatan lahan gambut oleh sebagian besar telah dilakukan petani untuk pertanaman palawija dan hortikultura. dan pada demfarm dapat menghasilkan 4. sehingga sebelum mereklamasi lahan gambut perlu diketahui sifat spesifik gambut. Lahan bergambut dengan tipe luapan C ditata sebagai lahan tadah hujan. Pengelolaan air 1. lidah buaya. demikian pula di desa Siantan Hulu Kalimantan Barat dilakukan pola tanam palawija/ sayuran. Noorginayuwati et al.Agustus. peranan dan fungsinya bagi lingkungan. Drainase Drainase merupakan prasyarat untuk usaha pertanian. Kalampangan (Kalimantan Tengah). Pola tanam yang diusahakan petani Sawi-Sawi. (2006) melaporkan bahwa sistem usahatani berbasis sayuran dapat diusahakan pada lahan gambut dangkal seperti di Desa Kelampangan kecamatan Sebangau Kalimantan Tengah. dapat bertanam 2 kali setahun dengan hasil 2 – 3 ton/ha gabah kering. Bertanam di lahan gambut sama dengan bertanam sistem hidroponik (Notohadiprawiro. Mamuju Utara (Sulawesi Barat). kubis dan bayam. Pengembangan pertanian sayuran yang tergolong berhasil telah dilakukan petani di Siantan Hulu dan Rasau Jaya (Kalimantan Barat). Sebagian petani menanam palawija dan sayuran pada periode Juni. 1994). . seperti abu serbuk gergajian. surjan dan tegalan dengan pola tanam Padi-Palawija dan Palawija-Palawija.Pembuatan surjan dan pengolahan tanah harus hati-hati sesuai dengan kaedah konservasi gambut dengan mempertahankan lapisan gambut tetap dalam keadaan lembab serta tidak melakukan pembakaran. Kangkung. Gambut tebal sampai dengan 350 cm ternyata cocok untuk budidaya sayuran. walaupun hal tersebut bukanlah suatu yang mudah untuk dilakukan mengingat sifat dari gambut yang bisa mengalami penyusutan dan kering tidak balik akibat drainase. bawang daun. Pemupukan yang diperlukan sangat berat dengan abu kayu dan kotoran ternak sebagai pupuk utama dan dengan abu bakaran gambut serta serasahan. abu sisa tanaman. tepung kepala usang dan tepung ikan. Sistem usahatani di lahan gambut Mamuju Utara terdiri dari lahan pekarangan tanaman cacao dan jeruk sedangkan di lahan usaha diusahakan tanaman jeruk secara monokultur maupun tumpang sari dengan tanaman sayuran atau palawija. Perbaikan tingkat kesuburan dan kemasaman tanah gambut dilakukan petani dengan memberikan bahan amelioran. terutama bawang daun. Pengalaman petani sayuran yang mengusahakan lahan gambut tebal di daerah Sungai Slamet (Pontianak) menunjukkan produksi mantap dicapai setelah 15 tahun.

menunjukkan layu pada keadaan udara panas. 2000).1982). distribusi dan jumlah evapotranspirasi (Lucas. Bagi tanaman perkebunan. Pengetahuan tentang tahapan tersebut akan mempermudah irigasi pada saat yang tepat sehingga mengurangi terjadinya stress air dan penggunaan air yang optimum. 2.. Intensitas drainase bervariasi tergantung kondisi alami tanah dan curah hujan. jumlah air hujan.26 ton kopral/ha (Thampan. RSUP menunjukkan bahwa kelapa hybrida PB 121 pada umur 4 tahun (4-5 tahun setelah tanam adalah 1. Kemampuan menahan yang rendah juga juga merupakan masalah bagi untuk tanaman pohon-pohonan atau tanaman semusim yang rentan terhadap kerebahan (lodging) (Radjagukguk. usaha perbaikan drainase dilakukan dengan pembuatan kanal primer. Angka ini sementara 5 kali lebih besar dari hasil yang dicapai di negara asalnya Afrika dimana PB 121 pada umur 4 tahun menghasilkan 0. 1990). 3. pengaturan irigasi harus mempertimbangkan saat dan kebutuhan tanaman dan disesuaikan dengan ketersediaan air tanah diatas water table. 1992). Penggenangan Untuk meminimalkan terjadinya subsidence. langkah yang bisa dilakukan adalah tetap mempertahankan kondisi tergenang tersebut dengan mengadopsi tanaman-tanaman sejenis . Subsidence dan dekomposisi bahan organik dapat menimbulkan masalah apabila bahan mineral di bawah lapis gambut terdiri dari lempeng pirit atau pasir kuarsa. Tanaman mempunyai tahapan pertumbuhan yang sensitif terhadap stress air yang berbeda. Irigasi Ketika batas kritis air dapat dikontrol pada level optimum untuk pertumbuhan tanaman. Sayuran berdaun banyak. Untuk penanaman tanaman semusim.Drainase yang baik untuk pertanian gambut adalah drainase yang tetap mempertahankan batas air kritis gambut akan tetapi tetap tidak mengakibatkan kerugian pada tanaman yang akan berakibat pada hasil. Hasil penelitian sementara di PT. 1981 dalam Sudradjat dan Qusairi. sehingga pengolahan tanah sulit dilakukan secara mekanis atau dengan ternak. irigasi perlu dilakukan terutama bagi tanaman tertentu. Setelah drainase dan pembukaan lahan gambut. Curah hujan yang tinggi (4000-5000 mm per tahun)(Ambak dan Melling. Hal ini penting untuk memasok kebutuhan air tanaman dan menghindari sifat kering tidak balik. umumnya terjadi subsidence yang relatif cepat yang akan berakibat menurunya permukaan tanah. Kondisi ini mungkin merupakan pengaruh dari dangkalnya profil tanah yang dapat dicapai oleh akar tanaman dan kehilangan air akibat transpirasi yang lebih cepat daripada tanah mineral (Ambak dan Melling. kanal sekunder dan kanal tersier. pengelolan air bukan merupakan suatu masalah kecuali pada tahap awal pertumbuhan tanaman. 2000) membutuhkan sistem drainase untuk meminimalkan pengaruh banjir. Jika batas kritis air tidak dapat terkontrol dan lebih rendah dari kebutuhan air semestinya.5 ton kopra/ha). Kerapatan lindak yang rendah berakibat kemampuan menahan (bearing capacity) tanah gambut juga rendah.

1990). Terjadinya pembakaran bahan organik menjadi abu berakibat penghancuran tanah serta menurunkan permukaan tanah. Pengelolaan Tanah Tanah gambut sebenarnya merupakan tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman bila ditinjau dari jumlah pori-pori yang berkaitan dengan pertukaran oksigen untuk pertumbuhan akar tanaman. namun akan menurunkan serapan Ca dan Mg (Mawardi et al. kangkung (Ipomoea aquatica) dan seledri air. dalam melepaskan haranya berlangsung secara bertahap dan lama. 2. 2000). 1. tetapi kapasitas tukar kation rendah. Tampaknya. Pembakaran berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman pada tahun pertama dan meningkatkan serapan P tanaman. Kapasitas memegang air yang tinggi daripada tanah mineral menyebabkan tanaman bisa berkembang lebih cepat. Bahan pembenah tanah Pemberian pupuk dan amandemen dalam komposisi dan takaran yang tepat dapat mengatasi masalah keharaan dan kemasaman tanah gambut. Di Sumatera Barat ditemukan bahan amelioran baru Harzburgite yang defositnya cukup besar dan kandungan Mg yang tinggi (27. kurang mobil dalam tanaman dan kelarutan yang menurun ketika terjadi peningkatan pH akibat penggenangan. bayam cina (Amaranthus hybridus). Untuk itulah perlunya usaha untuk mengelola tanah tersebut dengan semestinya. Unsur hara yang umumnya perlu ditambahkan dalam bentuk pupuk adalah N. Kejenuhan basanya tinggi. pemberian kotoran ayam memungkinkan untuk memperbaiki sifat fisika dan kimia tanah gambut. Di Florida ketika tanaman tertentu tidak bisa dibudidayakan karena perubahan musim. penggenangan dilakukan dan digunakan untuk budidaya tanaman air tersebut (Ambak dan Melling. kejenuhan basa yang rendah dan miskin unsur hara baik mikro maupun makro menyebabkan tanah gambut digolongkan sebagai tanah marginal (Limin et al. K. P. Zn dan Mo. Pupuk kandang khususnya kotoran ayam dibandingkan dengan kotoran ternak yang lainnya mengandung beberapa unsur hara makro dan mikro tertentu dalam jumlah yang banyak. abu hasil pembakaran gambut itu sendiri akan berpengaruh menurunkan kemasaman tanah.07% MgO) yang merupakan bahan potensial untuk ameliorasi lahan gambut (Mawardi et al. Sebagai amandemen. Pemberian Cu diduga lebih efektif melalui daun (foliar spray) karena sifat sematannya yang sangat kuat pada gambut. memasok unsur hara dan mempercepat pembentukan lapis olah yang lebih baik sifat fisikanya (Radjagukguk. 2001). Pada jagung . 2001). 2000).21 – 32. Akan tetapi dengan keberadaan sifat inheren yang lain seperti kemasaman yang tinggi.hidrofilik atau tanaman toleran air yang memberikan nilai ekonomi seperti halnya Eleocharis tuberosa. Ca. Pembakaran Pembakaran merupakan cara tradisional yang sering dilakukan petani untuk menurunkan tingkat kemasaman tanah gambut. Kotoran ayam. Mg serta sejumlah unsur hara mikro terutama Cu.

Khususnya gambut tebal (> 1 m ) belum berhasil dimanfaatkan untuk budidaya padi sawah. diperoleh hasil gabah padi (ditanam secara sawah) yang sangat rendah apabila tebal gambut > 80 cm. potensi pengembangan lahan gambut untuk pertanian adalah sebagai berikut : Pemilihan jenis tanaman 1. Kunci keberhasilan budidaya padi sawah pada lahan gambut terletak pada keberhasilan dalam pengelolaan dan pengendalian air. yaitu perbaikan tanah dengan penggunaan input yang terjangkau oleh petani seperti pengolahan tanah. Ditunjukkan pula bahwa ada kesamaan antara pola perubahan kejenuhan Ca. disamping faktor kesuburan alami gambut juga sangat ditentukan oleh tingkat manajemen usaha tani yang akan diterapkan.5-1 m). Leiwakabessy dan Wahjudin (1979) dalam Radjagukguk (1990) menunjukkan hubungan erat antara ketebalan gambut dan produksi gabah padi sawah. dan yang paling tinggi apabila ketebalan gambut 50 cm. akan berbeda dengan produktivitas lahan dengan tingkat manajemen tinggi yang dikerjakan oleh swasta atau perusahaan besar (Subagyo et al. penanganan substansi toksik dan pemupukan unsur makro dan mikro (Radjagukguk. Pada gambut tebal dan sangat tebal. pH dan kandungan abu bersama ketebalan gambut dengan perubahan tingkat hasil gabah. Pada percobaan pot dengan tanah yang diambil dari lapis 0-20 cm. 2001). 1990). 2000). penanganan sejumlah kendala fisik yang merupakan faktor pembatas. pemupukan. kesuburan serta pengelolaan tanah dan air. mengakibatkan rendahnya produktivitas bahkan kegagalan panen. 1992 dalam Darung et al. Potensi pengembangan pertanian pada lahan gambut. kejenuhan Mg. Padi sawah Budidaya padi sawah selalu diupayakan oleh petani transmigrasi untuk memenuhi kebutuhan pangannya. 1996). 1996) Dengan manajemen tingkat sedang (Abdurachman dan Suriadikarta. asam-asam organik menghambat pertumbuhan. Tidak terbentuknya gabah menurut Andriesse (1988) dan Driessen (1978) berkaitan dengan defisiensi . terutama akar. Akan tetapi budidaya padi sawah di lahan gambut dihadapkan pada berbagai masalah terutama menyangkut kendala-kendala fisika. Pada tanah sawah dengan kandungan bahan organik tinggi. pengapuran dan pemberantasan hama dan penyakit. dengan pengelolaan usaha tani termasuk tingkat rendah (low inputs) sampai sedang (medium inputs). tata air mikro. Pada pengelolaan lahan gambut pada tingkat petani. Sehingga kemungkinan tingkat kemasaman dan suplai Ca yang rendah serta kandungan abu yang rendah merupakan faktor pembatas utama pertumbuhan padi sawah pada gambut tebal. karena mengandung sejumlah kendala yang belum dapat diatasi. Padi kurang sesuai pada gambut sedang (1-2 m) dan tidak sesuai pada gambut tebal (2-3 m) dan sangat tebal (lebih dari 3 m). tanaman padi tidak dapat membentuk gabah karena kahat unsur hara mikro Subagyo et al. pemberian kotoran ayam sampai 14 ton/ha pada tanah gambut pedalaman bereng bengkel dapat meningkatkan jumlah tongkol (Limin.manis. Lahan gambut yang sesuai untuk padi sawah adalah gambut dengan (20-50 cm gambut) dan gambut dangkal (0.

3. Tanaman perkebunan sesuai ditanam pada ketebalan gambut 1-2 m dan sangat tebal (2-3 m) (Subagyo et al. Sebelum penanaman. Pengelolaan kesuburan tanah yang utama adalah pemberian pupuk makro dan mikro (Radjagukguk. karet. Percobaan-percobaan yang dilakukan oleh PT. Komoditas lain yang berpotensi ekonomi untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan domestik adalah tanaman industri/keras seperti kelapa. pisang dapat tumbuh dengan drainase 80-100 cm dan menghasilkan 25-40 ton/ha walaupun dengan pengelolaan yang agak sulit (Andriesse. sagu. rambutan (Ambak dan Melling. 1990). 2000) sedangkan di daerah pantai Ivory dengan gambut termasuk oligotropik. Sagu bisa beradaptasi dengan baik dan memberikan hasil bagus tanpa pemberian input pupuk (Ahmad dan Sim. 2000). RSUP di Indragiri Hilir. 1992). nanas (Ananas cumosus) merupakan tanaman yang menunjukkan adaptasi yang tinggi pada gambut berdrainase. Di Malaysia. Pengusahaan tanaman-tanaman ini kebanyakan dikembangkan di propinsi Riau dengan memanfaatkan gambut tebal.000 pohon/ha yang ditanam diantara jalur kelapa. Sistem drainase yang tepat sangat menentukan keberhasilan budidaya tanaman perkebunan di lahan tersebut. tumpangsari kelapa nenas memberikan prospek yang sangat cerah (Sudradjat dan Qusairi. Tanaman perkebunan dan industri Budidaya tanaman-tanaman perkebunan berskala besar banyak dikembangkan di lahan gambut terutama oleh perusahaan-perusahaan swasta. dilakukan pemadatan tanah dengan menggunakan alat-alat berat. walaupun umur tanaman sampai menghasilkan buah sangat lama (15-20 tahun). Nanas bisa beradaptasi dengan baik pada keadaan kemasaman yang tinggi dan tingkat kesuburan yang rendah.Cu yang akan menyebabkan meningkatnya aktivitas racun fenolik dan menyebabkan male sterility pada tanaman padi. Untuk jenis-jenis pohon buah banyak ditemukan di Sumatra dan Kalimantan seperti jambu air (Eugenia) Mangga (Mangosteen). 1996). Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman tahunan yang cukup sesuai pada lahan gambut dengan ketebalan sedang hingga tipis dengan hasil sekitar 13 ton/ha pada tahun ketiga penanaman (Ambak dan Melling. lada dan tanaman obat (Abdurachman dan Suriadikarta. penanaman nanas dengan kerapatan 20. 2. 1976) pada gambut dengan minimum drainase. Dari hasil sementara menunjukkan bahwa. Tanaman pangan (palawija) dan tanaman semusim lainnya . kopi dan kelapa. Tanaman rami dan obat-obatan tumbuh dan berproduksi baik pada gambut sedang dan kurang baik pada gambut sangat dalam (3-5 m) (Subagyo et al. 1988) . kopi. 2000). diantara tanaman perkebunan yang lain seperti kelapa sawit. 1996). menunjukkan bahwa tanaman nenas tumbuh dengan baik dan mulai berbuah 14 bulan setelah tanam.

Di daerah Kalampangan yang merupakan penghasil sayuran untuk Palangkaraya Kalimantan Tengah.29 ton/ha pada varietas Pioneer-12 (Manti et al. 2001). kangkung. 1996). 1988). Satsiyati (1992) dalam Abdurachman dan Suriadikarta (2000) menyebutkan beberapa tanaman hortikultura yang berpotensi ekonomi untuk dikembangkan di lahan gambut eks PLG yaitu cabai. melinjo. bawang daun. Beberapa vegetasi seperti halnya rumput-rumputan atau leguminose dapat dibiarkan untuk tumbuh disekeliling tanaman kecuali pada lubang tanam pokok seperti halnya pada perkebunan kelapa sawit dan kopi. Sementara untuk tanaman sayuran.25 hektar (Limin et al. terong. sukun. petani setempat mengembangkan sayuran diantaranya sawi. Di Bengkulu. semangka dan nenas . tomat. Di samping itu beberapa lahan gambut yang termasuk lahan bongkor bisa diusahakan untuk berbagai tanaman seperti cabai besar/keriting/kecil. rambutan. Kedalaman saluran disesuaikan dengan kedalaman air tanah dan ketinggian air dipertahankan 20 cm dari permukaan tanah agar gambut . mentimun. 2000). dan buah-buahan (mangga. pembakaran seresah bisa dilakukan pada tempat yang khusus dengan ukuran 3 X 4 m. permukaan tanah harus dipertahankan agar tidak gundul. paria. Untuk tanaman hortikultura. hanya melalui rembesan air tanah >50 cm di bawah permukaan tanah pada musim kemarau dan <>et al. 2001). jagung sayur. sawi. Beberapa jenis legume menjalar seperti Canavalia maritima dapat tumbuh dengan unsur hara minimum (Singh. Cassava (Manihot esculenta) atau tapioka menghasilkan lebih dari 50 ton/ha dengan pengelolaan yang baik dan merupakan tanaman pangan yang penting pada gambut oligotropik tropis dengan drainase yang baik (Andriesse. kacang panjang. seledri. Pembakaran seperti yang dilakukan pada perkebunan nanas harus mempertimbangkan pengaruhnya terhadap kebakaran lingkungan sekitarnya. 1986) dan menunjukkan toleransi yang tinggi terhadap kemasaman. jagung manis. penanaman jagung dengan penerapan teknologi yang spesifik untuk lahan gambut (teknologi Tampurin) diperoleh hasil 3. nanas dan pisang) karena lahan gambut tersebut termasuk tipe luapan C/D (tidak dipengaruhi air pasang surut.Tanah gambut yang sesuai untuk tanaman semusim adalah gambut dangkal dan gambut sedang. Pengelolaan air perlu diperhatikan agar air tanah tidak turun terlalu dalam atau drastis untuk mencegah terjadinya gejala kering tidak balik (Subagyo et al. Akan lebih baik bila penyiangan terhadap gula dikembalikan lagi ke dalam tanah (dibenamkan) yang akan berfungsi sebagai kompos sehingga selain bisa memberikan tambahan hara juga dapat membantu mempertahankan penurunan permukaan tanah melalui subsidence (Ambak dan Melling. mentimun yang diusahakan secara monokultur dalam skala kecil dalam lahan kurang lebih 0. nangka. Teknis Bertanam Untuk menghindari penurunan permukaan tanah (subsidence) tanah gambut melalui oksidasi biokimia. pepaya. Dasar tempat pembakaran diberi lapisan tanah mineral/liat setebal 20 cm dan sekelilingnya dibuat saluran selebar 30 cm. Tanaman pangan memerlukan kondisi drainase yang baik untuk mencegah penyakit busuk pada bagian bawah tanaman dan meminimalkan pemakaian pupuk. 2000).

api tidak menyebar Ardjakusuma et al (2001). Demikian pula lingkungan di sekitar kubah gambut menjadi terganggu. Dampak lebih jauh dari pembukaan lahan gambut yang dilakukan secara besar-besaran dengan membuat saluran drainase berukuran besar adalah bahwa saluran-saluran tersebut menjadi jalan untuk masuknya kegiatan pembalakan ke dalam hutan.0 m). Potensi pengembangan pertanian pada lahan gambut. Di beberapa tempat. akan berbeda dengan produktivitas lahan dengan tingkat manajemen tinggi yang dikerjakan oleh swasta atau perusahaan besar (Subagyo et al. Akibatnya. disamping faktor kesuburan alami gambut juga sangat ditentukan oleh tingkat manajemen usahatani yang akan diterapkan. 2000). dengan pengelolaan usaha tani termasuk tingkat rendah (low inputs) sampai sedang (medium inputs). Pada pengelolaan lahan gambut pada tingkat petani.tetap cukup basah. Pembukaan lahan gambut besar-besaran untuk pengembangan lahan pertanian yang dikombinasikan dengan pengembangan wilayah melalui proyek transmigrasi banyak dilakukan pada gambut tebal (ketebalan gambut >2. Hal tersebut dapat dicermati secara mudah dari Peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) pada lahan gambut. Di dalam peta tersebut. Akibatnya. yang pada musim hujan kebanjiran dan pada musim kemarau kekeringan. penebangan hutan menjadi sangat intensif. tata air . terjadi berbagai fenomena perubahan sifat gambut yang sangat drastis. tanpa memperhatikan sifat gambut yang mudah rusak. terutama di daerah dengan gambut lebih tipis (ketebalan <> Perubahan sifat yang drastis ini mengakibatkan lahan gambut tidak dapat dipakai sebagai lahan budi daya sehingga banyak yang ditinggalkan begitu saja oleh para pemiliknya. Ekosistem Lahan Gambut Pada saat mengembangkan hutan rawa gambut harus memerhatikan ekosistem lahan gambut yang sangat unik dan rapuh/rentan. Seharusnya pada bagian kubah gambut ini dijadikan daerah konservasi sebagai tempat cadangan/resapan air untuk daerah yang berada di sekitarnya. Ini dimaksudkan agar pada waktu pembakaran. ada alokasi hutan tanaman industri (HTI) yang berada pada ekosistem kubah gambut. yaitu perbaikan tanah dengan penggunaan input yang terjangkau oleh petani seperti pengolahan tanah. 1996) Dengan manajemen tingkat sedang (Abdurachman dan Suriadikarta. Akibat yang ditimbulkan oleh kesalahan alokasi ini adalah kawasan hutan tanaman industri pada kubah gambut tersebut mempunyai produktivitas yang rendah. Pembukaan lahan gambut ini dimulai dengan pembuatan saluran berukuran sangat besar. yang disusul fenomena kebakaran hutan dan lahan gambut yang asapnya telah menyebabkan persoalan lingkungan yang serius hingga memancing protes negara-negara tetangga.

Universitas Sriwijaya. Ir.blogspot. Abdul Madjid. Program Pascasarjana. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Palembang. Diposkan oleh Dr. MS di 21:31 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 5) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Indonesia. pengapuran dan pemberantasan hama dan penyakit. (2) Kesuburan Tanah. potensi pengembangan lahan gambut dapat dilakukan dengan baik. Program Magister (S2). pemupukan. Program Pascasarjana. Palembang. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Program Pascasarjana. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). 2009.mikro. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. R. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Indonesia. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Program Magister (S2). (Bagian 5 dari 5 Tulisan) . Propinsi Sumatera Selatan. http://dasar2ilmutanah. Indonesia. Universitas Sriwijaya. A. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya.com. Program Studi Ilmu Tanaman.

Soil and rice. 1988. Bogor-Indonesia. K. Bogor. tekstur debu lempung. Peat soils. On the Defective Grain Formation of Sawah Rice on Peat. dan Melling.). (3) Untuk pengembangan lahan gambut yang berkelanjutan perlu dilakukan pengolahan tanah. konsistensi tidak lekat-agak lekat. DAFTAR PUSTAKA Abdurachman dan Suriadikarta. pp: 763-779. pengapuran dan pemberantasan hama dan penyakit. (2) Ada beberapa hal yang dapat menghambat perkembangan lahan gambut sebagai lahan pertanian diantaranya : 1) Sifat fisik. 6-10 May 1991. Tropical Peat. Nature and Management of Tropical Peat Soils. Palangkaraya. L. Andriesse. Sarawak. 1978.5 m. Aminuddin (Ed. dan H. Of The International Symposium on Tropical Peatlands 2223 November 1999. Driessen. hal 119. 1989. IRRI. Management Practices for Sustainable Cultivation of Crop Plants on Tropical Peatlands. .. ketebalan lebih dari 0. serta memilih tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan gambut yang ada. Constrainsts and opportunities for alternative use options of tropical peat land. BB Litbang SDLP (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Andriesse. 2) Sifat Kimia. Malaysia. tidak berstruktur.. Ambak.M. 3: 20 – 44. In: IRRI.0) kandungan unsur hara rendah. 1976.P. Proc. Pengembangan Tanaman Melonn di Lahan Gambut Dengan Budidaya Inovatif. Jurnal Litbang Pertanian 19 (3). Kuching.M. Inst. J. In B. Kalimantan. Philippines. kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir. Kesimpulan (1) Tanah gambut atau tanah organik adalah tanah yang berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput rawa. Asie E R. Proceedings of International Symposium on Tropical Peatland. Driessen. 2000.. dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas.P. tata air mikro. 2000. umumnya bersifat sangat asam (pH 4. Soil Res. 2004.Y. P. Los Banos. FAO Soils Bulletin 59. pemupukan. warna coklat hingga kehitaman. P. Bull. 4) Keadaan air tanah dan 5) Kebakaran lahan gambut. Pemanfaatan Lahan Rawa eks PLG Kalimantan Tengah untuk Pengembangan Pertanian Berwawasan Lingkungan. J. 3) Sifat Biologi.III. Suhardjo.

Jakarta 23-26 November 1999. Yanti R. Malaysia. 1994.. 2000. A. Maas A. Lim.Rafiq. 31 Oktober – 1 November 2001. Badan Litbang PU. Purwanto. Bilan W S dan J. Characterization. dan Limin. 2006. Sumber daya fisik wilayah dan tata guna lahan: Histosol. International Symposiumon tropical peatland. Kerjasama Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Dati I. 2004. Indonesia. A. Noorginayuwati. T. Mutalib. Layuniati. 1986. S. Jaya.. FAO-Unesco. 14-21.S. Pertanian Lahan Gambut . S. 6-10 May 1991. Jamal. J. Pertumbuhan dan Hasil Jagung Pada Lahan Gambut dengan Penerapan Teknologi Tampurn. pp. Utilization of Inland Peat for Food Crop Commodity Development Requires High Input and is Detrimental to Peat Swamp Forest Ecosystem. 1991. 2001. Kanisius. 1994. Serawak. S. Inoue.Tukijo. Penggalian Kearifan Lokal Petani untuk Pengembangan Lahan Gambut di Kalimantan. T. of the 12th Int. Finlad. 2001. Wong and L. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Rielley. Proc. Hardjowigeno. Y. Bogor-Indonesia. FAO Rome Published By ISRIC. A. A. 2004. Dalam Proc. Potensi dan Peluang Pemanfaatan Harzeburgite sebagai Amelioran Lahan Gambut. Limin. 6.Jumberi.. Prosiding Seminar Nasional Memantapkan Rekayasa Paket Teknologi Pertanian dan Ketahanan Pangan dalam Era Otonomi Daerah. Pertemuan Teknis Kegiatan Pengajian Tahapan Pengembangan Lahan Rawa Pasang Surut. Azwar dan Tambidjo. 1999. 20 Oktober 1994. E. Peat Congress: Wise Use of Peatland. Yogyakarta. Hal. M. Gambut pedalaman untuk lahan pertanian. A. distribution and utilization of peat in Malaysia. Noor. . Wageninagan 140 hal. Pengembangan Lahan Pasang Surut Untuk Tujuan Pertanian. M.Aa. Dwijono.O.H. Enviromental change caused by development of peatland landscapes in Central Kalimantan.. Darmanto.. Alwi. International Symposium on Tropical Peatlands 22-23 November 1999. Proc. Karakterisasi dan Identifikasi Masalah Lahan bongkor Untuk Perluasan Areal Tanam di Wilayah Kerja C PLBT Kalimantan Tengah. Makalah ”Temu Pakar dan Lokakarya Nasional Optimasi pemanfaatan Sumberdaya Lahan Rawa”. M. Potensi dan Kendala. Notohadiprawiro. Soil Map of the world. Bandung..Fakultas Pertanian IPB. Laporan Hasil Penelitian Balittra 2006. Koonvai. Arto. Kalimantan Tengah dengan Fakultas Pertanian IPB. Bogor. J. ISSN 1411-0067. 1986. 660-667. Mawardi. Bengkulu. Kuching. 86-94. Gonggo B M.

H. UK. Key to Soil Taxonomy. dan A. Chemical Characteristics Of The Upper 30 Cm Of Peat Soils From Riau. Karakteristik Wilayah dan Perancangan Model Penataan Lahan dan Komoditas di Lahan Rawa Pasang Surut. Samara Publishing Ltd. pp.). Indonesia. Eds J. Serawak. Tropical Peatlands: Carbon Stores. Wösten. Malaysia. Rajah dan Lee. And Problems For Sustainability. 1986. 148-182 In M. Singh. and I P. 2nd InternSoils Management Workshop Thailand/Malaysia 7-18 April 1986.S. CRIFC.In Biodiversity And Sustainability Of Tropical Peatlands. K. G. 7th edition. Carbon Gas Emissions and Contribution to Climate Change Processes. Biodiversity and Sustainability of Tropical Peat and Peatland. Soil Survey Staff. Page. 2005. held in Palangkaraya.W.Nugroho. Laporan Hasil Penelitian Balittra. Sabiham. Y. J. Malaysia. 2007. Soil hydraulic properties of Indonesian peat. H. Soil Res. Tie. USDA Washington DC.A. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Perubahan Sifat-Sifat Fisik dan Kimia tanah Gambut Akibat Reklamasi Lahan Gambut untuk Pertanian.H. Peat soil of Indonesia: Location.L.E. B.S. Workshop gambut HGI. Soewono. C. F. In: Rieley and Page (Eds. 2006. Radjagukguk. ATA 106. Padman. Vasander and M. 2001. Jauhiainen. 4-8 sept. AR. 3: 74-92. S... Esterle. R. Samara Publishing Ltd. pp. B. Experinces on the Cultivation and Management of Oil Palm on Deep Peat in United Plantation Berhard. Pertanian di Lahan Gambut Berbasis Pasar dan Lingkungan. Radjagukguk. Bogor. . 1995.O. Riza. Siegert.. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan (2) :1-15. 2007. 1990. Kuching. 45-54. Bull. In. Environmental Importance and sustainability of Tropical Peat and Peatlands.O. Y.V. 2008. Makalah Utama disimpulkan pada Seminar Nasional Pertanian Lahan Rawa di kapuas. In: Rieley and Page (Eds. Rieley. Cardigan.J.S. 1997..E. Proceedings Of The International Symposium On Biodiversity. Fertility Management For Sustainable Agriculture On Tropical Ombrogenous Peat. International Symposium on Tropical Peatland. 1976. 1997.. S. Formation of lowland peat domes in Serawak. Proc. Inst. Extent and distribution of peatsoils of Indonesia. Central Kalimantan. Tan. pp.P. 6-10 May 1991. Widjaja-Adhi. F. Stahlhut. 1988. 3-4 juli. Classification. Widjaja-Adhi.. 1997. Gianinazzi and IPG. H. 1991. Palangkaraya 20-2 1 Sept 2005. Proc. Sebuah Pengalaman Pertanian Gambut dari Kalbar.). Hooijer. Third meeting cooperative resarch on problem soils. 147-156 In Biodiversity and sustainability of tropical peat and peatland. Pengembangan Lahan Secara berkelanjutan Sebagai Dasar dalam Pengelolaan Gambut di Indonesia. Hidayat.G. G. S. Suhardjo. Page. A. And S. And J. Rieley. Soekardi M. Sagiman. Bogor. Limin. J. Wüst.

1991. Stevenson. Yusuf dan Hifnalisa. 1992. Marsoedi dan Karama.J. Makalah Seminar Bioteknologi PPI Perancis. Widjaja-Adhi. held in Palangkaraya. 10:59-64. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Fertility management for sustainable agriculture on tropical ombrogenous peat. Ind. 45-54. 1988. 1998. I P. Seminar Pengembangan Terpadu kawasan Rawa Pasang Surut di Indonesia 5 September 1992. Indonesia. Dev. Bogor. Jurnal Agrista (2) : 22-28. 30 –Juni-1 Juli. Widodo. Rieley. 26 September 1996.E. 1997. New York. In: J. L. 1995.Suryanto..In Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands. Page. S. Developing tropical peatlands for agriculture.).S. Physical And Chemical Characteristic Of Peat Soil Of Indonesia. 1997. Penilaian sifat fisis tanah dan kimia gambut Teunom Aceh Barat. Inc. and S.O. Rieley and S. Page (Eds. Kalimantan Tengah. IPB. MS di 21:19 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 1) .E. 1990 Di Institute Agronomique Meditererranee (IAM) Montpellier. Proceedings of the international Symposium on Biodiversity. Widjaja-Adhi. 1996. 1994. 2004.G. Soewono. Eds J. Proceedings of the International Symposium on Biodiversity. Genesis. Prospek Pengembangan Lahan Gambut untuk Pertanian dalam Seminar Pengembangan Teknologi Berwawasan Lingkungan untuk Pertanian pada Lahan Gambut. 1974. F. Environmental importance and sustainability of Tropical Peat and Peatlands. Pertumbuhan dan Hasil Padi Gogo CV. Tim Institut Pertanian Bogor.O. Central Kalimantan 4-8 September 1999. Diversifikasi Usaha Perkebunan Pada Lahan Gambut Dengan Kelapa Sebagai Tanaman Utama (Suatu Pandangan terhadap pemanfaatan Lahan Gambut).. Central Kalimantan. Palangka Raya. Abdul Madjid. John Wiley and Sons. Sudradjat daan Qusairi. Cardigan. Samara Publishing Ltd. Akta Grasia 7. Agric. Subagyo. I P. Laporan Survai Produktivitas Tanah Dan Pengembangan Pertanian Daerah Palangka Raya.1.G. 7-10 Yardha A. Res. J. Bogor.Cirata terhadap 3 Jenis Media Tanam dan Ukuran Pupuk Urea. Ir. Prospek Gambut Sebagai Sumberdaya Alam Dalam Pengembangan Bioteknologi Di Indonesia. 443 p. Composition. environmental importance and sustainability of tropical peat and peatlands. and Reactions. Diposkan oleh Dr. Biodiversity and Sustainability Of Tropical Peat And Peatland. UK. 4-8 sept. Humus Chemistry. pp. S.

... PENDAHULUAN Lahan rawa di Indonesia cukup luas dan tersebar di tiga pulau besar.... Propinsi Sumatera Selatan... Pembukaan lahan rawa pasang surut dilakukan berkaitan dengan program pemukiman transmigrasi yang dimulai sejak Pelita I (orde baru) sekitar tahun 1969 melalui program Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut (P4S)...... PENGELOLAAN KESUBURAN PADA TANAH SULFAT MASAM...................................... Indonesia.............. Indonesia...................... dan Irian Jaya (Papua)..... Program Studi Ilmu Tanaman..................... 55 I......................... Palembang.... Pemanfaatan lahan pasang surut untuk pertanian merupakan pilihan yang strategis dalam mengimbangi penciutan lahan produktif ................ KESIMPULAN. Program Pascasarjana.. Program Studi Ilmu Tanaman.. yang terdiri atas lahan rawa pasang surut sekitar 20 juta ha dan lahan lebak 13.......... Program Pascasarjana......Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.....4 juta ha....... Menurut Widjaja-Adhi et al...... *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah.............. Propinsi Sumatera Selatan. PERMASALAHAN PADA TANAH SULFAT MASAM .... 3 BAB III........... Palembang.. yaitu di Sumatera.. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) DAFTAR ISI BAB I............................... ** : Program Studi Ilmu Tanaman.4 juta ha. Kalimantan... PENDAHULUAN ...................... Program Pascasarjana. Universitas Sriwijaya.................. Universitas Sriwijaya...................... (1992) luas lahan rawa Indonesia ± 33.... Indonesia... 19 BAB IV........ Program Magister (S2)....... Propinsi Sumatera Selatan....... Universitas Sriwijaya............ 1 BAB II......... 25 BAB V..... Palembang.. RINGKASAN HASIL-HASIL PENELITIAN TANAH SULFAT MASAM............... 54 DAFTAR PUSTAKA ........................... Program Magister (S2)...... Program Magister (S2).........................

lahan rawa dibagi menjadi lima tipologi lahan. Teknologi itu antara lain adalah teknologi pengelolaan tanah. teknologi mengatasi hama dan penyakit.5 juta ha di Kalimantan dan 0. Potensi lahan rawa yang masih besar ini sebaiknya dapat dimanfaatkan untuk menunjang persiapan pengembangan sistem ketahanan pangan dan agribisnis yang menjadi program utama sektor pertanian. teknologi ameliorasi tanah dan pemupukan. khususnya untuk pertanian. (1999) sampai saat ini lahan rawa yang telah dibuka 2. A. dan kerjasama dengan Belanda (LAWOO) tahun delapan puluhan. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar- . untuk kepentingan jangka pendek. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan (Widjaja-Adhi. 5) lahan rawa lebak. 2) lahan sulfat masam. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Berdasarkan macam dan tingkat kendala dalam pengembangan dan pengelolaan. dan model usahatani. kelembagaan pedesaan yang minim. pengembangan yang seimbang dan pengelolaan yang sesuai dengan karakteristik.. terutama swasta dalam pemanfaatan lahan rawa seyogyanya dapat lebih ditingkatkan.9 ha di Sumatera. Sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pertanian (1999). terutama pengelolaan tanah dan air yang tepat. Lahan rawa. perumahan. industri dan pembangunan lainnya. Sejak proyek P4S tahun tujuh puluhan dan dilanjutkan dengan proyek penelitian Badan Litbang Pertanian Swamp I. Proyek Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Terpadu (ISDP) dan Proyek Pertanian PLG tahun sembilan puluhan telah banyak teknologi pengelolaan lahan rawa yang dihasilkan (Suriadikarta dan A. Sehingga perhatian berupa investasi. Lahan rawa di Irian Jaya (Papua) sampai saat ini masih belum dibuka untuk pertanian. Menurut Sudiadikarta et al. Pemanfaatan yang bijak. baik rawa pasang surut maupun bukan pasang surut (lebak) dapat dijadikan basis pengembangan sistem ketahanan pangan. dan kurangnya perhatian pemerintah dalam pemeliharaan jaringan tata air makro secara konsisten. 1999). 1. 4) lahan salin atau pantai.di pulau Jawa yang dialihfungsikan untuk pembangunan sektor non pertanian seperti. 1995a dan 1995b). tata air mikro. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.4 juta ha.Abdurachman. infrastruktur yang terbatas. 2009. Terjadinya lahan bongkor akibat reklamasi yang kurang tepat merupakan pengalaman kegagalan yang tidak perlu terulang lagi dalam pengembangan lahan rawa yang masih memungkinkan untuk pengembangan pertanian. yaitu 1) lahan potensial. sifat dan kelakuannya. Swamp II. 3) lahan gambut. diharapkan dapat mengembalikan lahan rawa menjadi lahan pertanian yang berproduktivitas tinggi. Pengembangan lahan rawa memerlukan perencanaan pengelolaan dan pemanfaatan yang baik dan memerlukan penerapan teknologi yang sesuai. jalan raya. penggunaan varietas yang adaptif. R. Berbagai kegagalan telah didokumentasikan namun keberhasilan juga telah dicapai sepanjang pengembangan lahan rawa. Namun penerapan teknologi pertanian lahan rawa umumnya tidak dapat diterapkan secara berkelanjutan disebabkan ada beberapa kendala yaitu : modal petani yang rendah. menengah maupun jangka panjang.

Dasar Ilmu Tanah. Universitas Sriwijaya. Program Pascasarjana. Pada kondisi tergenang. Bercak kuning pucat ini merupakan senyawa hasil (produk) oksidasi pirit yang sering disebut dengan jarosit. akan teroksidasi bila kondisi berubah menjadi aerob. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. 1986). memiliki lapisan pirit yang belum teroksidasi (bahan sulfidik) atau sudah teroksidasi (horison sulfurik) pada kedalaman 0-50 cm. Palembang.com. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Tanah sulfat masam merupakan tanah liat rawa dan seringkali memiliki lapisan gambut tipis < 20 cm. Abdul Madjid. Menurunnya permukaan air tanah akibat pembuatan saluran drainase primer-sekunder-tersier menyebabkan oksigen masuk ke dalam pori tanah dan akan mengoksidasi pirit membentuk asam sulfat. yaitu warna kelabu dengan bercak kuning pucat (jerami). Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Program Pascasarjana. Indonesia. 1986. Propinsi Sumatera Selatan. http://dasar2ilmutanah. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Magister (S2). MS di 02:21 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 2) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Diposkan oleh Dr. yang diartikan sebagai lempung yang berwarna seperti warna pada bulu kucing. Universitas Sriwijaya. Pirit yang semula stabil dan tidak berbahaya pada kondisi anaerob atau tergenang. Tanah sulfat masam terbagi menjadi sulfat masam potensial dan sulfat masam aktual. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang. Ir. Universitas Sriwijaya. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. PERMASALAHAN PADA TANAH SULFAT MASAM Pertama kali tanah sulfat masam dikenal dengan sebutan cat clay yang diambil dari asal kata katteklei (bahasa Belanda). kemasaman tanah dapat dikurangi namun disisi lain muncul masalah . Langenhoff. Istilah tanah sulfat masam sendiri digunakan karena berkaitan dengan adanya bahan sulfida (pirit) dalam tanah ini yang apabila teroksidasi menghasilkan asam sulfat sehingga menyebabkan tanah menjadi masam sampai sangat masam (pH 2-3). (2) Kesuburan Tanah. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Palembang. ion hidrogen dan Fe3+. Program Studi Ilmu Tanaman. Apabila oksidasi pirit berlangsung cepat maka akan terbentuk mineral jarosit berupa bercakbercak karatan berwarna kuning jerami (Dent.blogspot. Sulfat masam potensial dapat berubah menjadi sulfat masam aktual bila tanah mengalami drainase yang berlebihan akibat reklamasi.

keracunan besi fero (Fe2+), Al, Mn, Hidrogen sulfida, CO2, dan asam organik. Masalah fisik yang sering dijumpai adalah terhambatnya perkembangan akar tanaman pada horison sulfurik karena tanaman kekurangan air, pematangan tanah terhambat serta saluran drainase tertutup oleh deposit oksida besi. Pada kondisi seperti ini, pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme tanah terhambat. Jenis tanaman yang dapat tumbuh dan berkembang akan sangat terbatas dengan hasil rendah. Proses kimia pada tanah sulfat masam: Proses kimia pada tanah sulfat masam dapat dikelompokkan menjadi dua bagian penting. Pertama, proses kimia yang terjadi dalam keadaan reduktif, antara lain pembentukan pirit, reduksi besi feri menjadi fero, serta reduksi senyawa beracun. Kedua, proses kimia pada kondisi oksidatif, yang terpenting adalah oksidasi pirit. a. Proses reduksi Pada kondisi aerob, sumber elektron utama bagi aktivitas mikroorganisme pendekomposisi bahan organik adalah oksigen. Bila keadaan berubah menjadi anaerob, oksigen di dalam tanah secara perlahan menghilang. Namun demikian, dekomposisi bahan organik oleh bakteri anaerob tetap berlangsung dengan memanfaatkan elektron yang dilepaskan dalam proses reduksi nitrat, oksida mangan, oksida besi, dan sulfat. Dalam proses reduksi selalu memanfaatkan proton, sehingga pH tanah akan meningkat. Proses kimia penting yang terjadi adalah : Pembentukan pirit. Pirit (FeS2) adalah mineral berkristal kubus dari senyawa besi-sulfida yang terkumpul di dalam endapan marin kaya bahan organik dan diluapi air mengandung senyawa sulfat (SO4-) dari air laut. Bentuk kristal pirit sangat halus bervariasi dari <> 2 mikron hingga > 100 mikron (Van Dam dan Pons, 1972). Kandungan pirit dalam endapan marin mencapai 5%, tetapi umumnya 1-4% (Van Breemen, 1972). Pembentukan pirit memerlukan persyaratan tertentu : (1) Lingkungan anaerob : Reduksi sulfat hanya dapat terjadi pada kondisi yang sangat anaerob seperti pada sedimen tergenang dan kaya bahan organik. Dekomposisi bahan organik oleh bakteri anaerob menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat masam sehingga menyebabkan lingkungan bertambah masam (Pons et al., 1982); (2) Sulfat terlarut : Sumber utama sulfat adalah air laut atau air payau pasang; (3) Bahan organik : Oksidasi bahan organik menghasilkan energi yang sangat diperlukan oleh bakteri pereduksi sulfat. Ion sulfat bertindak sebagai sumber elektron bagi respirasi bakteri kemudian direduksi menjadi sulfida. Jumlah sulfida yang terbentuk berkaitan langsung dengan jumlah bahan organik yang dimetabolisme oleh bakteri; (4) Jumlah besi : Tanah dan sedimen mengandung besi oksida dan hidroksida dalam jumlah yang banyak, yang akan tereduksi menjadi Fe2+, yang sangat larut pada pH sekitar normal atau dijerap oleh senyawa organik yang larut; (5) Waktu : Waktu yang diperlukan untuk pembentukan pirit pada kondisi alami masih belum

banyak diketahui. Reaksi antara padatan FeS dan S berjalan sangat lambat, memerlukan waktu bulanan bahkan tahunan untuk menghasilkan sejumlah pirit. Namun demikian, pada kondisi yang sesuai, Fe2+ larut dan ion polisulfida dapat membentuk pirit dalam beberapa hari (Howarth, 1979 dalam Dent, 1986). Reaksi keseluruhan pembentukan pirit dari besi oksida (Fe2O3) sebagai sumber Fe digambarkan sebagai berikut : Pada kondisi tergenang atau anaerob, selain terbentuk ion mono-karbonat, di dalam tanah atau sedimen juga mengandung karbonat yang berasal dari koral atau binatang laut. Karbonat akan menetralisir kemasaman tanah dan mempertahankan pH sekitar netral. Pirit adalah zat yang hanya ditemukan di tanah di daerah pasang surut saja. Zat ini dibentuk pada waktu lahan digenangi oleh air laut yang masuk pada musim kemarau. Pada saat kondisi lahan basah atau tergenang, pirit tidak berbahaya bagi tanaman. Akan tetapi, bila terkena udara (teroksidasi), pirit berubah bentuk menjadi zat besi dan zat asam belerang yang dapat meracuni tanaman. Pirit dapat terkena udara apabila: =>Tanah pirit diangkat ke permukaan tanah (misalnya pada waktu mengolah tanah, membuat saluran, atau membuat surjan). =>Permukaan air tanah turun (misalnya pada musim kemarau). Gejala keracunan zat besi pada tanaman: · Daun tanaman menguning jingga · Pucuk daun mengering · Tanamannya kerdil · Hasil tanaman rendah. Ciri-ciri tingginya kadar besi dalam tanah: · Tampak gejala keracunan besi pada tanaman · Ada lapisan seperti minyak di permukaan air · Ada lapisan merah di pinggiran saluran. Belerang menyebabkan air tanah menjadi asam, bahkan lebih asam daripada cuka. Akibat yang ditimbulkan adalah: · Tanaman mudah terserang penyakit · Hasil panen rendah · Tanaman lebih mudah kena keracunan besi. Tingkat kemasaman tanah diukur dengan angka pH. Makin rendah angka pH, makin asam air atau tanahnya. Tanaman padi menyukai pH antara 5-6 dan padi tidak dapat hidup jika berada pada pH di bawah 3. Pirit di dalam tanah dapat ditandai dengan: · Adanya rumput purun atau rumput bulu babi, menunjukkan ada pirit di dalam tanah yang telah mengalami kekeringan dan menimbulkan zat besi dan asam belerang. · Bongkah tanah berbecak kuning jerami ditanggul saluran atau jalan, menunjukkan adanya pirit yang berubah warna menjadi kuning setelah terkena udara.

=> Adanya sisa-sisa kulit atau ranting kayu yang hitam seperti arang dalam tanah. Biasanya di sekitamya ada becak kuning jerami. => Tanah berbau busuk (seperti telur yang busuk), maka zat asam belerangnya banyak. Air di tanah tersebut harus dibuang dengan membuat saluran cacing dan diganti dengan air baru dari air hujan atau saluran. Kedalaman pirit diukur dengan cara berikut ini: · Gali lubang sedalam 75 cm atau lebih. · Ambillah gumpalan tanah mulai dari kedalaman 10 cm, 20 cm, 30 cm, dan seterusnya sampai ke bagian bawah. · Gumpalan tanah tersebut ditandai dan dicatat sesuai dengan asal kedalaman. · Setiap gumpalan tanah ditetesi air peroksida. Bila keluar buih meledak-ledak menunjukkan adanya pirit dalam tanah tersebut. · Cara lain dengan menyimpan gumpalan tanah tadi di tempat teduh. Diamati setelah 3 minggu, jika ada becak warna kuning jerami, maka tanah tersebut mengandung pirit. Cara ini diulang sedikitnya di 20 tempat untuk setiap hektar lahan, guna memastikan kedalaman piritnya. Sehingga sewaktu mengolah tanah, pirit tidak teroksidasi, karena dapat meracuni tanaman. Reduksi Fe3+menjadi Fe2+. Pada sebagian tanah masam, penggenangan akan mengakibatkan pH meningkat hingga 6-7 setelah beberapa minggu. Pada kondisi seperti ini, proses terpenting adalah reduksi Fe3+ menjadi Fe2+ (Ponnamperuma, 1972; Patrick dan Reddy, 1978). Pada tanah sulfat masam muda, peningkatan pH dari 3,0-3,5 menjadi 5,5-6,0 berkaitan dengan tingkat pelarutan Fe2+ yang dicapai. Pada tanah sulfat masam yang telah lanjut, pH meningkat sangat lambat setelah penggenangan bahkan kadang-kadang tidak mencapai 5,5-6,0. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh : (1) lambatnya proses reduksi dan (2) tidak adanya bahan yang akan direduksi seperti misalnya oksida besi feri. Pada kondisi pertama, maka setelah penggenangan tidak akan terjadi perubahan nilai Eh atau pH yang drastis. Pada kasus kedua, nilai Eh akan menurun tanpa meningkatkan pH. Menurut Dent (1986), tanah sulfat masam yang sudah tua mengandung besi dalam bentuk kristal goetit dan hematit yang stabil sehingga sulit tereduksi. Sebaliknya tanah sulfat masam yang masih muda kaya akan koloid besi, sehingga diperkirakan mempunyai kadar besi terlarut yang tinggi setelah penggenangan. Reduksi oksida Fe3+ dengan bahan organik sebagai donor elektron akan mengkonsumsi 4 proton : Konsten et al., (1990) melaporkan bahwa tanah sulfat masam di Kalimantan ada yang tidak menunjukkan peningkatan pH setelah penggenangan. Hal ini disebabkan tanah tersebut mempunyai kandungan oksida Fe3+ yang rendah dibandingkan kapasitas netralisasi oleh tanah. Reduksi sulfat. Proses reduksi sulfat menjadi sulfida dapat terjadi pada kondisi pH di atas 4 hingga 5, pada pH di bawah itu reaksi terjadi sangat lambat dan bahkan tidak ada. Reduksi sulfat seringkali terjadi pada tanah sulfat masam yang masih muda dan sulfat masam lanjut yang lama tergenang. Reduksi sulfat ini sangat berkaitan dengan adanya hasil dekomposisi bahan organik yang masih baru. H2S yang terbentuk sangat beracun bagi tanaman, pada konsentrasi 0,1 mg l-1 H2S sudah dapat meracuni tanaman padi dalam larutan hara (Mitsui, 1964 dalam van Breemen, 1993). Reaksi yang terjadi digambarkan sebagai berikut :

Kecepatan penurunan pH akibat oksidasi pirit tergantung pada : (1) jumlah pirit. meliputi reaksi-reaksi kimia dan biologis (Dent. Pada pH di bawah 4. berbagai tingkatan oksidasi yang berlangsung tidak terjadi pada titik yang sama. secara perlahan berubah menjadi unsur beracun dan merupakan sumber kemasaman tanah bila kondisi tanah berubah menjadi oksidatif. Pirit yang semula tidak berbahaya pada kondisi tergenang. 1993). 1986).7. Kecepatan oksidasi pirit cenderung bertambah dengan menurunnya pH tanah. c. Hasil oksidasi pirit Oksidasi pirit oleh Fe3+ menghasilkan ion (H+) yang kemudian sebagian digunakan lagi untuk mengoksidasi Fe2+ menjadi Fe3+. dan gipsum. Pada pH > 4. (3) kecepatan perubahan bahan hasil oksidasi. misalnya dalam bentuk goetit yang lambat laun akan berubah menjadi hematit (Dent. besi oksida.5 reaksi oksidasi kimia ini berjalan sangat lambat dengan waktu paruh 1. Reaksi oksidasi pirit dengan oksigen pada tanah sulfat masam berlangsung dalam beberapa tahapan. van Breemen (1976) menduga bahwa oksigen bereaksi dengan Fe2+ terlarut membentuk Fe3+ terlebih dahulu sebelum bertemu dengan pirit.b. namun ada tidaknya reaksi di antara mereka sangat dipengaruhi oleh kelarutan Fe3+. oksida dan hidroksida Fe3+ akan mengendap. yaitu pada Eh diatas 400 mV dan pH kurang dari 3. Pirit biasanya terdapat di dalam inti dari ped. Reklamasi lahan rawa melalui pembuatan saluran drainase mengakibatkan perubahan kimia di dalam tanah sulfat masam. Perbedaan yang besar antara pasang surutnya air laut serta musim kemarau yang panjang menyebabkan pirit teroksidasi secara alami. dan gipsum terdapat pada permukaan ped dan ruang pori. Di dalam tanah. Reaksi pembentukannya sebagai berikut : . Pada tahap awal. Proses oksidasi Proses utama yang terjadi bila tanah sulfat masam teroksidasi adalah oksidasi pirit. besi oksida. karena Fe3+ hanya larut pada nilai pH di bawah 4 dan Thiobacillus ferrooxidans tidak tumbuh pada pH yang tinggi. Pengujian secara mikro-morfologi menunjukkan bahwa ada perbedaan/batas yang nyata antara lokasi beradanya pirit dan bahan hasil oksidasinya seperti jarosit. Besi oksida dan pirit di dalam tanah mungkin secara fisik berada pada tempat yang berdekatan. Kecepatan oksidasi pirit oleh Fe3+ sangat dipengaruhi oleh pH. (2) kecepatan oksidasi. Jarosit [KFe3(SO4)2(OH)6] merupakan endapan berwarna kuning pucat hasil oksidasi pirit pada kondisi yang sangat masam. 1986). Hasil akhir dari oksidasi pirit adalah hidroksida Fe3+. Kalsium karbonat dan basa dapat ditukar merupakan bahan penetralisir kemasaman dimana reaksinya dengan asam sulfat berjalan cepat(van Breemen. proses oksidasi terhambat oleh suplai O2. sedangkan jarosit.000 hari. oksigen terlarut secara lambat bereaksi dengan pirit menghasilkan 4 molekul H+ per molekul pirit yang dioksidasi : Pada nilai pH kurang dari 3. dan (4) kapasitas netralisasi.

Mo. 1993). Masalahnya dimulai pada saat direklamasi. Sebagian besar dari sulfur terlarut hilang bersama air drainase atau berdifusi ke lapisan di bawahnya yang kemudian akan direduksi kembali menjadi sulfida. atau sangat sulit diatasi. bila pH meningkat maka aluminium akan mengendap sebagai hidroksida atau basic sulfate (van Breemen.94. Gipsum terbentuk pada tanah sulfat masam melalui reaksi netralisasi kemasaman oleh kalsium karbonat : Ion hidrogen (proton) yang dihasilkan dari oksidasi pirit menyebabkan kondisi tanah yang sangat masam. dan tanah bagian atas menjadi kering dan terbuka. Unsur-unsur tersebut akan terlepas kembali saat pirit teroksidasi. H2S.5) dan tanah marin yang tidak masam (pH 4. 1993) menunjukkan bahwa konsentrasi unsur Cu. Pb. sekunder. Meningkatnya kandungan silika dan Al3+ terlarut mempengaruhi karakteristik tanah dan air tanah. 1976). Satawathananont (1986 dalam van Breemen. Bercak merah dan coklat pada sulfat masam adalah goetit yang kadang-kadang berasosiasi dengan jarosit dan hematit (van Breemen. masih banyak unsur lain seperti gas SO2. Lebih lanjut ia mengamati tanah yang diinkubasi pada nilai potensial redoks dan pH yang terkontrol dalam suasana masam yang oksidatif selama dua minggu. 1973). Pirit yang terbentuk dalam suasana reduksi dalam endapan laut di dekat pantai dengan kandungan bahan organik tinggi.9) dibandingkan pada tanah sulfat masam yang sudah berkembang (pH 3.8 (Dent.9) di Bangkok. apabila tanah sulfat masam dibuka untuk pertanian. pH yang sangat rendah menyebabkan penghancuran kisi-kisi mineral liat sehingga silikat dan Al3+ terlepas. 1965 dalam van Breemen. Keluarnya unsur-unsur beracun tersebut dari tanah melalui air drainase ke perairan umum dapat menyebabkan polusi dan mengancam kehidupan biota sungai/laut. Al3+ dan asam-asam organik yang dilepaskan sebagai akibat teroksidasinya pirit. dengan tujuan untuk mengeringkan wilayah agar tanah sulfat masam yang semula basah atau tergenang menjadi tanah yang relatif lebih kering yang siap digunakan sebagai lahan pertanian. berasal dari vegetasi pantai seperti api-api dan bakau/mangrove. 1986). Selain unsur mikro. Cd. logam berat yang larut air lebih tinggi pada tanah berpirit dibandingkan tanah lanjut/tua. Kandungan pirit di tanah sulfat masam temyata di kemudian hari menjadi permasalahan utama yang berat. Ni. Sebagian kecil tertahan dalam bentuk jarosit atau gipsum. jarosit tidak stabil dan mudah berubah menjadi goetit dan terhidrolisa menjadi oksida besi. seperti saluran primer. . Hasil pengujian mikroskopi terhadap irisan tipis dan difraksi sinar X menunjukkan bahwa bercak kuning yang merupakan karakteristik tanah sulfat masam didominasi oleh jarosit dan goetit.. yaitu dengan penggalian saluran-saluran drainase besar.2 hingga 3. yaitu tetap dalam kondisi tereduksi. Zn. permukaan air tanah menjadi turun. Di lapangan. Pb yang menggantikan sulfida (Deer et al. Aktivitas Al3+ terlarut berkorelasi secara langsung dengan pH. dan tersier. Zn. Sulfat merupakan salah satu hasil oksidasi pirit yang sangat sedikit dijerap oleh profil tanah. nilai pH tanah sulfat masam berkisar antara 3. maka tanah bagian atas ini mengalami oksidasi. Beberapa unsur mikro seperti Ni dan Co ikut terakumulasi di dalam sedimen karena mensubstitusi Fe dalam pirit atau unsur Cu. Akibat adanya oksigen di udara.Pada pH di atas 4. Akibat adanya saluran-saluran drainase tersebut. dan As terdapat dalam jumlah yang lebih tinggi pada tanah berpirit yang aerasinya baik (pH 2. sementara tanah bagian bawah masih tetap berada di lingkungan air tanah. Fe2+.

16-20. Ratarata kandungan bahan organik sangat tinggi sampai sangat tinggi sekali (9. baik pada SMP dari Sumatera maupun SMP dari Kalimantan.59-0. dengan rata-rata termasuk sangat tinggi sekali (7. Akibat penurunan air tanah.0-4. baik di lapisan atas maupun lapisan bawah. ditunjukkan oleh daya hantar listrik yang bervariasi dari 7. setengah matang sampai hampir matang. dan cenderung meningkat di lapisan bawah. dan debu 20-50%. tekstur liat berdebu sampai liat. karena memiliki reaksi masam ekstrim. Tekstur seluruh lapisan tanah menunjukkan halus. pirit bersifat stabil sesuai dengan suasana lingkungan pembentukannya. dan cenderung makin masam di lapisan-Iapisan bawah.320 dS/m). Reaksi tanah lapisan atas rata-rata sangat masam sekali (pH 4. sedangkan lapisan bawahnya liat berdebu atau liat. Sementara kandungan liat SMP dari Kalimantan. Hasil akhirnya merupakan tanah ber-reaksi masam ekstrim (pH <3.54%) di lapisan atas. Sulfat masam potensial Data profil sulfat masam potensial (SMP) menunjukkan adanya lapisan gambut permukaan yang tipis. dan sangat tinggi (30-31) di lapisan bawah.0). tekstur liat berdebu sampai liat. pirit yang berada di tanah bagian atas ikut terbuka (exposed) di lingkungan yang aerob. Tanaman padi yang ditanam di tanah ini tidak menghasilkan gabah yang berarti. Rasio C/N di seluruh lapisan tanah bervariasi dari tinggi sampai sangat tinggi.8). Lapisan bawah tereduksi. Kandungan N tinggi (0. yaitu tekstur tanah SMP dari Sumatera mempunyai kandungan liat antara 40-75%. dengan debu 25-60%.3). Dengan demikian.5 atau kurang) sampai sangat masam (very strongly acid) (pH 4. . dan sangat tinggi (6.253-7. atau purun tikus (Fimbristylis sp. dan warnanya kelabu tua sampai kelabu gelap. sekitar 0-12/16 cm.0). menghasilkan asam sulfat dan senyawa besi bebas bervalensi 3 (Fe-III). Vegetasi alami yang mampu tumbuh adalah yang toleran terhadap kemasaman tinggi. sehingga menjadi lahan bongkor dan ditutupi semak-semak lebat. reaksi tanah sangat masam-agak masam (pH >4. dan gelam (Melaleuca leucadendron).5-4. Reaksi tanah di seluruh lapisan bervariasi dari masam ekstrim (extremely acid) (pH 3.8).>4.70%) di lapisan atas.000 dS/m.). Tanah sulfat masam aktual. Kandungan garam. dan banyak kandungan ionion yang bersifat racun/toksik.5-3. tanah bagian atas teroksidasi relatif lebih tipis sekitar 25-75 cm. dan menurun menjadi rendah sampai sedang (0. tekstur umumnya liat berdebu. dan warnanya kelabu tua sampai coklat kekelabuan. Profil tanah sulfat masam potensial.17-0.28%) di lapisan bawah. terdapat di Delta pulau Petak biasanya berupa purun (Lepironia mucronata).61%) di lapisan bawah. dan mengalami oksidasi. dengan data terbatas yang hanya berasal dari SMP Kalimantan.31-6. Rata-rata C/N tergolong tinggi (16-24) di lapisan atas.0).Dalam kondisi reduksi. tidak termasuk lapisan gambut tipis di permukaan tanah bervariasi sedang sampai sangat tinggi. tekstur tanah lapisan atas termasuk liat berdebu. dan umumnya berwarna kelabu-kelabu gelap. Kandungan bahan organik.000-21. sehingga tidak sesuai untuk tanaman pertanian. hampir mentah (practically unripe) sampai mentah. dan di lapisan bawah masam ekstrim sampai sangat masam sekali (pH 3.5). reaksi tanah masam-agak masam (pH >4. Lahan ini banyak ditinggalkan petani transmigran. bervariasi antara 40-85%.

Kandungan fosfat tersedia (P2O5 Bray-I) tergolong sedang sampai tinggi (17.5 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas.35-2.12%) di lapisan atas. menunjukkan nilai tinggi sampai sangat tinggi (31. dan tinggi (28. dan menurun menjadi rendah sampai sedang di lapisan bawah. Kapasitar tukar kation tanah. dan rendah (1.8. Kandungan N rata-rata tergolong sedang (0. hanya berasal dari lahan rawa di Kalimantan. Kandungan pirit (FeS2) sangat rendah (0. Rataratanya tinggi (58 mg/100 g tanah) di lapisan atas.3 ppm) di lapisan atas.5.6).7-32. Rasio C/N .05-8.0-28.01 cmol(+)/kg tanah) maupun di lapisan bawah (4. dengan kandungan fraksi liat 35-70%. dan sedang sampai tinggi (29-60 mg/100 g tanah) di lapisan bawah. tergolong sedang (0. 1974-1978.93%). Kejenuhan AI di semua lapisan umumnya sangat bervariasi dari sangat rendah sampai sangat tinggi. Jumlah basa. rata-rata kandungan P2O5 potensial di lapisan atas termasuk sangat tinggi (115 mg/100 g tanah).02 cmol(+)/kg tanah) pada SMP dari Kalimantan.43-0.61-7.91-5. sehingga tekstur tanah lapisan atas tergolong liat berdebu. Sebaliknya kandungan Ca-dapat tukar rendah sampai sedang. Basa dapat tukar yang dominan di seluruh lapisan tanah adalah Mg dan Na masing-masing untuk Mg termasuk sangat tinggi (10.22-0. baik di lapisan atas (5. baik di lapisan atas (2. baik di lapisan atas maupun lapisan bawah. dan sedang sampai sangat tinggi (55-84%) di lapisan bawah. dan debu 25-60%.8-3. Kandungan Na tergolong sangat tinggi sampai sangat tinggi sekali. tidak menyebutkan adanya SMA karena data relatif berumur tua. Kandungan K2O tergolong sedang (32-35 mg/100 g tanah) di lapisan atas.14. Sementara kandungan P2O5 di seluruh lapisan pada SMP dari Kalimantan.95 cmol(+)/kg tanah).49%) di seluruh lapisan. dan sedang (15. dan rendah sampai sedang (30-47%) di lapisan bawah. Sulfat masam aktual Data Sulfat Masam Aktual (SMA) yang tersedia. dan cenderung menurun di lapisan-Iapisan bawah. Oleh karena itu. dan di lapisan bawah liat. sementara lapisan bawah antara kedalaman 20-120 cm menunjukkan pH antara 1.3 cmol(+)/kg tanah).0 ppm) di lapisan bawah. Kejenuhan basa tergolong rendah sampai sedang (35-49%) di lapisan atas. maupun lapisan bawah (4.11-7. Sementara kandungan K-dapat tukar. Kandungan bahan organik di seluruh lapisan bervariasi tinggi sampai sangat tinggi.2-17. dan rendah (20 mg/100 g tanah) di lapisan bawah.89. sehingga tergolong ber-reaksi masam ekstrim.84 cmol(+)/kg tanah). Lapisan atas berreaksi sangat masam sekali (pH 3. Seluruh lapisan tanah memiliki tekstur halus. Tanah mempunyai lapisan gambut permukaan yang tipis.34-6. sekitar 0-12 cm. dan di lapisan bawah sedang (33 mg/100 g tanah). Sementara data analisis yang berasal dari Sumatera. pada SMP dari Sumatera. dan rata-ratanya rendah (32-35%) di lapisan atas. dengan pH rata-rata 2.9-32.61 cmol(+)/kg tanah).64 cmol(+)/kg tanah) di seluruh lapisan.44-1.51-10. dan termasuk tinggi (7. tergolong tinggi (18.Kandungan fosfat potensial (P2O5-HCI) pada SMP dari Sumatera bervariasi dari rendah sampai sangat tinggi di lapisan atas.31%) di lapisan bawah.7 cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah karena pengaruh kandungan bahan organik yang sangat tinggi.19 cmol(+)/kg tanah.5-62. bervariasi dari rendah sampai sangat tinggi. sehingga rata-ratanya tergolong sangat tinggi (7.

6 ppm) di lapisan bawah. Kapasitas tukar kation tanah bervariasi dari tinggi sampai sangat tinggi. rata-rata jumlah basa. MS di 02:04 1 komentar Label: Kesuburan Tanah . R. dan rata-ratanya sangat tinggi (8.1 cmol(+)/kg tanah). sebagian besar sangat rendah sampai sedang. sehingga rata-ratanya tinggi (67-71%) baik di lapisan atas maupun lapisan bawah. dan rendah (12. Mg terdapat dalam jumlah tinggi sampai sangat tinggi sekali. Sebaliknya kandungan K2O potensial (HCl 25%). sebagian besar tinggi sampai sangat tinggi di semua lapisan.49-4. dan rata-ratanya tergolong rendah (3.30-9. Ir. Kejenuhan AI di semua lapisan umumnya bervariasi dari sedang sampai sangat tinggi. Demikian juga Na terdapat dalam jumlah tinggi sampai sangat tinggi sekali di seluruh lapisan. baik di lapisan atas maupun lapisan bawah tergolong tinggi (21. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Diposkan oleh Dr. dan cenderung menurun di lapisan bawah.07%) di kedua lapisan tanah. Karena itu. http://dasar2ilmutanah. Kandungan fosfat potensial (P2O5-HCI 25%) di lapisan atas bervariasi dari rendah sampai sangat tinggi. Seperti pada tipe. Sedangkan K-dapat tukar tergolong tinggi (0. Kandungan fosfat tersedia (P Bray-I) di seluruh lapisan sangat rendah sampai sedang. dan rata-ratanya termasuk tinggi (45 mg/100 g tanah). Karena itu rasio C/N rata-rata tergolong tinggi (25) di lapisan atas. sebagian rendah sampai sedang. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.9-29.85-1.5-37.12 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas dan lapisan bawah. baik di lapisan atas maupun lapisan bawah. Jumlah basa-basa di semua lapisan sampai sedalam 180 cm sangat bervariasi dari rendah sampai sangat tinggi sekali.com.25 cmol(+)/kg tanah) di semua tapisan. A. Sebaliknya kandungan Ca-dapat tukar umumnya bervariasi dari sangat rendah sampai sedang.87 cmol(+)/kg tanah).37 cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah. rata-ratanya termasuk sedang (19. Kandungan P2O5 lapisan bawah.2 cmol(+)/kg tanah) di seluruh lapisan karena kontribusi dari bahan organik. dan bertambah besar di lapisan bawah. dan rata-ratanya tergolong tinggi (33. Kejenuhan basa di seluruh lapisan tanah sangat bervariasi. sebagian sangat rendah. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. dan rendah (0. sehingga rata-ratanya tergolong sangat tinggi (73-81 mg/100 g tanah). Dasar-Dasar Ilmu Tanah. dan cenderung semakin rendah ke lapisan bawah. Oleh karena itu. Kandungan pirit (FeS2) menunjukkan rata-rata sangat rendah (0.3 ppm) di lapisan atas. 2009. dan sangat tinggi (39) di lapisan bawah.89 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas. sehingga rata-ratanya termasuk sangat tinggi sekali (9.blogspot. sehingga rata-ratanya rendah (17 mg/100 g tanah).bervariasi dari tinggi sampai sangat tinggi. dan sebagian lagi sangat tinggi.tipe lahan sebelumnya. Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. basa dapatttukar yang dominan di seluruh lapisan adalah Mg dan Na. Abdul Madjid. (2) Kesuburan Tanah. dengan rata-rata sedang (40-42%).70-14.

Program Pascasarjana. pengelolaan tanah dan air. sifat kimia tanahnya kurang menguntungkan bagi usaha pertanian. 2006). ** :Program Studi Ilmu Tanaman. adalah lahan sulfat masam. Palembang. Program Pascasarjana. yakni penataan lahan. oleh karena itu pirit di dalam tanah di upayakan tetap stabil dengan cara penerapan teknologi olah lahan konservasi. Olah tanah konservasi merupakan salah satu teknologi yang dapat menjawab atau mengatasi masalah yang berpeluang muncul dalam pengembangan kawasan lahan eksPLG di Kalteng sebagai lahan produksi pangan (Simatupang. Palembang. . Indonesia. dan penanaman tanaman varietas toleran (Simatupang. Indonesia. Indonesia. Lahan sulfat masam di mana kandungan besinya cukup tinggi dan ditemukan pada lapisan tanah tidak terlalu dalam (<50>Pirit tidak berbahaya apabila tidak terekspos ke permukaan tanah dan tidak memgalami oksidasi. Palembang. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman.0 dan menghasilkan besi ferro (Fe 2+) yang bersifat racun bagi tanaman padi. Terjadinya oksidasi pirit akan memasamkan tanah sehingga pH tanah turun sampai di bawah 3.0). Dicirikan dengan terdapatnya lapisan sulfida (pirit-FeS2) yang kadarnya >2% di dalam tanah dengan kedalaman bervariasi. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. Penyiapan lahan sistem olah tanah konservasi merupakan teknologi yang dapat mengendalikan dan mengkonservasi pirit yang terdapat pada lapisan tanah. 2006). Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman.>Ada tiga komponen teknologi yang harus diterapakan secara bersama-sama. Program Pascasarjana. RINGKASAN HASIL-HASIL PENELITIAN TANAH SULFAT MASAM Salah satu tipologi lahan yang dijumpai di lahan rawa pasang surut. Program Magister (S2). *** :Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya.Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh:Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: * :Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. diantaranya kemasaman tanah sangat tinggi (pH tanah <4.

setelah gulma mati kemudian direbabkan menggunakan alat bantu (seperti drum. Difusi oksigen akan memperbaiki aerasi tanah . meningkat pendapatan petani. Sistem olah tanah konservasi di lahan sulfat masam sangat erat hubungnannya dengan terdapatnya lapisan sulfidik (pirit) di dalam tanah hendaknya dipertahankan tetap dalam keadaan stabil. tadak terekspos (terangkat ke permukaan tanah) sehingga pirit tidak mengalami oksidasi (Simatupang. Herbisida digunakan bertujuan untuk lahan menjadi siap untuk ditanam dan sekaligus untuk mengendalikan pertumbuhan gulma di areal pertanaman sebagai lahan ditanami (Simatupang. oleh karenannya dalam penerapannya berkaitan dengan penggunaan herbisida sebagai komponen utama untuk untuk mengendalikan gulma sehingga lahan menjadi siap untuk ditanami. dilain pihak gulma tumbuh cepat dan subur di lahan pasang surut. paraquat.24-1. penerapan teknologi tanpa olah tanah merupakan langkah yang strategis. 2006).28. 2006). Selain itu. dan sulfo sat). Sistem olah tanah konservasi dapat diterapkan sebagai pengganti sistem olah tanah yang mengguanakan banyak tenaga kerja. teknologi TOT ini juga dapat mendukung sistem usahatani yang berkelanjutan (Simatupang. 2006). Maka untuk memacu usaha peningkatan produksi dan untuk mengendalikan kegagalan usahatani padi karena timbulnya keracunan besi. Tahapan kegiatan dalam penerapan sistem penyiapan tanpa olah tanah: vegetasi (gulma dan sisa tanaman sebelumnya) disemprot dengan herbisida (glyfostat. ternyata penerapan teknologi tanpa olah tanah menggunakan herbisida dapat meningkatkan hasil padi 30-47% dibanding hasil padi yang didapat dengan teknologi yang diterapkan oleh petani umumnya. Teknologi olah tanah konservasi erat kaitannya dengan pengelolaan gulma. 2006). R/C-ratio 1. Melalui penerapan teknologi ini revitalisasi pembangunan pertanian di kawasan lahan eks-PLG diharapkan memberikan hasil yang optimal. 2006). digilas dengan roda traktortanagn) sampai rata dengan permukaan tanah untuk memudahkan pelaksanaan tanam padi (Simatupang. 2006). dilain pihak tenaga kerja sulit diperoleh (langka) dan upahnya relatif mahal. Selanjutnya. Bertujuan untuk mengatasi dan mengendalikan terjadinya degradasi kesuburan tanah terutama pada lahan-lahan marginal seperti lahan rawa pasang surut sehingga produktivitas lahan dapat dipertahankan dan berkelanjutan (Simatupang.Olah tanah konservasi merupakan teknologi penyiapan lahan yang menganut kepada prinsip konservasi tanah dan air. dan memberikan kontribusi yang besar dalam usaha peningkatan produksi dan penyediaan pangan nasional (Simatupang. Berdasarkan penelitian berlokasi SP-I Palingkau di kawasan lahan eks-PLG. Di kawasan lahan rawa pasang surut. Sistem mekanisasi pada pengolahan tanah akan menyebabkan pengusikan tanah yang juga akan memperlancar difusi oksigen ke dalam tanah. mengurangi penggunaan tenaga kerja sampai 28% dan teknologi tanpa olah tanah mampu mengendalikan keracunan besi pada tanaman padi. tenaga kerja merupakan salah satu kendala dalam sistem usahatani sehingga untukk mengatasi masalah tersebut sistem penyiapan lahan tanpa olah tanah merupakan cara yang lebih tepat (Simatupang. batang pisang atau kelapa. 2006).

dan asamasam organik. kapur. P. atau pupuk kandang sebagai bahan amelioran pada tanah sulfat masam. bahan penukar atau penetral sangat efisien bila hanya untuk sumber kemasaman yang berada dalam kompleks pertukaran. terlebih lagi bila dalam tanah tersebut terkandung bahan sulfidik. tanah tidak reaktif lebih tanggap daripada tanah reaktif. Takaran gambut sampai 10% belum mampu melonggarkan tanah atau memperbaiki laju perembihannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) Tanah sulfat masam paling cocok digunakan untuk padi sawah. Pengaruh ppuk lebih sangkil apabila kombinasi dengan pemberian bahan amelioran seperti kapur.yang berdampak pada perubahan suasana tanah. Untuk itu perlu dilakukanlah penelitian hubungan antara potensi kemasaman dengan laju pengeluaran asam pada berbagai ayunan kondisi air oleh Sutanto (2001). (b) melihat pengaruh air laut. guna mengurangi kontak antara asam yang timbul dengan tanah. dolomit. dan K) menunjukkan lebih baik. (e) Kejituan pemberian amelioran sangat ditentukan oleh tingkat reaktifitas tanah. Pembilasan dapat dikerjakan dengan air biasa ataupun air yang mengandung ion. CO2. Pada kondisi tergenang tanaman (seperti padi) mengalami keracunan Fe2+. (d) Pembilasan garam terlarutkan. Gejala kahat hara N. (c) Air laut dapat berfungsi sebagai amelioran dengan jalan menukarkan sumber kemasaman dalam kompleks pertukaran dengan kation basa (Ca dan Mg serta K) yang ada dalam air laut tersebut. P. batuan fosfat alam. Hasil-hasil pertanian di tanah sulfat masam menunjukkan pemberian pupuk berpengaruh positif terhadap hasil tanaman. . Proses perubahan suasana ini selalu menyebabkan pemasaman pada tanah. Tata air yang berfungsi sebagai saluran pengatus tanpa keberadaan sistem pengatur muka air tanah dapat menyebabkan tanah rawa menjadi over drain sehingga status tanah yang semula reduktif berubah menjadi oksidatif. hasil oksidasi pirit yang bersifat masam sangat diperlukan sebelum tanah sulfat masam diberi amelioran dan pupuk. Tujuan penelitian ini adalah: (a) mengetahui peran gambut dalam memperbaiki sifat fisik tanah. dan terutama P dan B sering dialami tanaman budidaya (lahan kering) merana dan kerdil akibat kemasaman dan keracunan ion Al3+ dan Fe3+ yang tinggi. Tahana (status) hara pada tanah sulfat masam tergolong rendah bahkan sangat rendah. maka pembilasan perlu segera dilaksanakan. K. Keragaan tanaman yang diberi pupuk lengkap (N. (c) melihat pengaruh pengolahan tanah secara mekanisasi terhadap evolusi kejenuhan aluminium di tanah sulfat masam potensial pada sistem sawah dan palawija. Pembilasan sisa air laut sangat dibutuhkan untuk menghindari plasmolisis akar tanaman. akan lestari bila kadar pirit awal <1%> (b) Perbaikan sifat fisika tanah dapat dikerjakan dengan pemberian bahan gambut hingga takaran yang mampu mencegah tanah bersifat kohesif bila kering. atau sejenis lainnya. H2S.

Dimana: Y = hasil padi (dalam ton gabah/ha) dan X = takaran kapur (dalam ton kapur/ha) Rangkaian penelitian di alhan sulfat masam tipe luapan B. Al dapat ditukar. Berdasarkan kadar pirit.8 ton gabah/ha. Padahal kadar pirit tertinggi di tanah sulfat masam antara 5-7 % sehingga untuk menetralkannya diperlukan 200-400 ton kapur (Sutrisno. kalimantan tengah menunjukkan pemberian kapur 1. MK 90. kalimantan Selatan dengan pemberian kapur 2 ton CaCO3/ha dapat meningkatkan hasil padi sebesar 20 % (4. Pemberian kapur. Dalam rangkaian penelitian ini juga ditunjukkan bahwa pengaruh residu kapur dapat diperoleh sampai masa tanam ketiga.83 ton GKG/ha). Tambahan kapur susulan/ulangan sampai takaran 10 ton/ha setiap musim tanam secara terus-menerus berhasil meningkatkan hasil padi hingga mencapai 4.28 ton GKG/ha). 2. Dengan kata lain.336 + 1. pemberian kapur tidak diperlukan setiap musim tanam (Noor.862 X.65 ton GKG/ha) yang apabila dipadukan dengan pelumpuran hasil padi meningkat 52 % (5.14. Penelitian lain di lahan sulfat masam tipe C. 1997). atau batuan fosfat alam banyak disarankan untuk menetralisir kondisi kemasaman dan keracunan oleh H+. Pengaruh pemberian kapur hingga takaran 3 ton/ha berhasil meningkatkan hasil padi sampai tanam ke empat. Vietnam menunjukkan pemberian kapur hingga sebesar 3 ton kapur/ha tidak berpengaruh terhadap pH tanah. P. 1990. Thailand (1982) merekomendasikan bahwa pemberian kapur cukup hanya beberapa ton saja untuk perbaiakn kondisi kemasaman dan tahanan hara tanah yang rendah. P dan Ca pada tanam ke 1.5.5 ton CaO/ha dapat meningkatkan hasil padi sebesar 30 % berturut-turut hasil pada MH 89/90. Hasil Simposium internasional tanah sulfat masam kedua di bangkok. serapan N. peningkatan serapan serapan N.5 diperlukan jumlah kapur yang besar sekali antara 15-20 ton kapur/ha.5 ton kapur/ha memberikan respon yang linier mengikuti persamaan : Y = 1. Laporan-laporan penelitian tentang pengaruh kapur menunjukkan hasil beragam. 1996. tetapi pada takaran 6-10 ton/ha hanya dapat meningkatkan hasil sampai pada tanam kedua selanjutnya menurun untuk tanam ketiga dan keempat.00 dan 3. diperlukan sekitar 50 ton kapur/ha. dan atau Fe3+. tetapi sebaliknya pada tanam ke 2 terjadi peningkatan pH. karena apabila ditujukan untuk menaikkan pH mencapai 5. Barambai. 2000). Al3+. MK 90/91 mencapai 3. Unit Tatas. Pemberian kapur .Prinsip dasar pemberian kapur pada tanah sulfat masam adalah untuk menekan kemasaman tanah terutama akibat kelarutan Al3+ yang tinggi dan juga untuk kemepanan pemupukan. Pemberian kapur pada lahan budidaya yang telah mantap pada Kebun Percobaan Unit Tatas. dan Ca dan penurunan serapan Fe. Maas. untuk menetralkan 1 % pirit yang apabila terdegradasi menghasilkan potensi kemasaman setara dengan 35 cmol (+)/kg. dolomit. penurunan Al. Pemberian dolomit atau kapur tidak mesti untuk mencapai pH 5. Kapuas sampai dengan 1. Penelitian di lahan sulfat masam. Noor dan Saragih.

50 ton kapur/ha dapat meningkatkan hasil padi sebesar 90 % (2.2009. 1982). Pemberian P saja hanya meningkatkan hasil padi sebesar 25 % (1.76 ton GKG/ha) (Arulando dan Pheng. Ir. Hasil penelitia menunjukkan juga bahwa pengaruh residu P masih tampak sampai dengan tanam ketiga (Noor. dan sebagainya. fosfat alam dapat dipilah antara yang bereaksi lemah (soft). Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. teapi pada takaran >2 ton kapur/ha pengaruh pemberian P tidak muncul secara jelas. Semenanjung Malaysia menunjukkan pemberian fosfat alam setara 100 kg P2O5/ha yang dikombinasikan dengan kapur 2 ton/ha dapat meningkatkan hasil padi sebesar 15 % (4. juga sifat reaksi yang ditimbulkannya. tetapi perbedaan hasil sangat kecil. Abdul Madjid. Hasil penelitian di lahan sulfat masam pada sistem reklamasi garpu Unit Tatas. Mg. terkait dengan sifat kimia tanah sulfat masam yang tinggi dalam menyemat (fixation) P.50 ton GKG/ha) dan kapur saja hanya meningkatkan hasil padi sebesar 60 % (2. fosfat alam bersifat pelepas P lambat (slow release) sehingga cocok untuk tanah-tanah masam. Selain kandungan unsur ikutan yang tinggi seperti Ca. sedang dan kuat (strong).Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. R. Pemberian 90 kg P2O5/ha yang dikombinasikan dengan 1.22 ton GKG/ha). Thailand (1982) banyak dikemukakan tentang pengaruh pemberian fosfat alam terhadap perubahan kimia dan hasil padi di lahan sulfat masam. Hasil penelitian di lahan sulfat masam pada sistem jaringan tat air Samuda Kedah. MS di 01:28 0 komentar Label: Kesuburan Tanah .09 GKG/ha) dan tanpa kapur meningkatkan hasil padi hanya sebesar 5 % (3. (2) Kesuburan Tanah. Banyak laporan yang menyatakan munculnya gejala kahat P pada tanaman yang dibudidayakan di lahan sulfat masam.susulan/ulangan lebih sangkil dibandingkan secara tunggal dalam jumlah kapur yang sama. Pengaruh fosfat alam selain tergantung pada mutu dan kadar P-nya. Pupuk fosfat alam adalah bahan galian yang sebagian besar mengandung kalsium fosfat yang disebut apatit (Ca10(PO4)6F2) berbentuk serbuk (prill) yang dapat digunakan langsung.blogspot.Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. terutama oleh Al3+. A. Dalam simposium internasional tanah sulfat masam di Bangkok. Fe3+.06 ton KG/ha). http://dasar2ilmutanah. Berdasarkan kuat lemahnya reaksi. Hal ini sebagaimana dikemukakan diatas.Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Kalimantan Tengah menunjukkan tanggapan P muncul secara jelas pada pemberian bersaam dengan kapur. Pemberian P dalam bentuk fosfat alam menunjukkan lebih unggul dibandingkan dengan bentuk superfosfat (TSP atau SP-36).38 ton GKG/ha) dibandingkan dengan kontrol (1. 1996).com/. Diposkan oleh Dr. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.

(Bagian 4. Indonesia. Program Pascasarjana. . Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. Program Magister (S2). Pengelolaan Bahan Organik Pengelolaan bahan organik di lahan sulfat masam memegang peranan penting. dan tererosi/terlindi. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Universitas Sriwijaya. Universitas Sriwijaya. Walaupun pada umumnya kadar bahan organik di lahan sulfat masam cukup tinggi. Palembang. Indonesia. PENGELOLAAN KESUBURAN PADA TANAH SULFAT MASAM A. Program Pascasarjana. Penyiapan lahan dengan membakar umum. Penekanan terhadap oksidasi pirit ini penting artinya bagi pertumbuhan tanaman yang peka terhadap peningkatan kemasaman dan kadar meracun kation-kation seperti Al3+. khususnya yang berasosiasi dnegan gambut.A dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. tetapi di beberapa tempat kadar bahan organik tanah mengalami kemerosotan karena pembakaran atau terbakar. Palembang. tidak saja dilakukan oleh petani atau peladangyang miskin. Dalam konteks tanah sulfat masam. tetapi juga oleh perusahaan perkebunan yang bermodal besar karena dianggap mudah dan lebih murah. Mn2+. kompos humus (bahan organik) mempunyai fungsi untuk menurunkan atau mempertahankan suasana reduksi karena dapat mempertahankan kebasahan tanah sehingga oksidasi pirit dapat ditekan. perombakan alamiah. Universitas Sriwijaya.A dari 5 Tulisan) IV. Indonesia. Program Pascasarjana. tetapi sekaligus berperan dalam menekan oksidasi pirit. Bahan organik tidak hanya berperanan dalam memperbaiki fisik tanah.A) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman.Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4. dan anion-anion seperti sulfida dan sisa-sisa asam organik. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Fe2+. Propinsi Sumatera Selatan. terangkut melalui tanaman.

(2) Kesuburan Tanah. 1998b). Produktivitas dan kesuburan tanah rawa pasang surut berkaitan erat dengan ketebalan lapisan gambut atau kadar bahan organik tanah (Notohadiprawiro.68 % P. terutama pada tipe luapan c untuk mempertahankan kebasahan tanah dan potensial redoks. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Abdul Madjid.96 % N.Penyiapan lahan secara konvensional oleh petani petani tradisional dengan sistem tajakpuntal-hambur sebagaimana dkemukakan di atas merupakan kearifan lokal (indigenous knowledge) dalam pengelolaan bahan organik yang patut dikembangkan.64 % K (Balittra.B) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4.74 % organik karbon.B yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Hasil analisis kompos dari purun (Eleocharis sp. Lahan-lahan gambut yang mempunyai lapisan pirit di bawahnya (seperti jenis tanah Sulfihemist. A. Diposkan oleh Dr. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 0. kerisan (Rhynchospora corymbosa) menunjukkan mengandung ratarata 31. 2001). burabura (Panicum repens).com. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Pada lahan sulfat masam yang lapisan atasnya berupa gambut atau lahan-lahan gambut yang dibawahnya terdapat lapisan pirit keberadaan lapisan piritnya perlu dipertahankan setebal antara 15-25 cm (Noor. R.). Kadar bahan organik tanah di sulfat masam perlu dipertahankan pada taraf 5 %.blogspot. MS di 01:23 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4. Bersambung ke bagian 4. dan 0. http://dasar2ilmutanah.B dari 5 Tulisan) Keterangan: . 2009. 1. 2001). dan Sulfohemist) merupakan lahan yang sangat berbahaya dan beresiko serta sukar penulihan kembali apabila terdegradasi bila dibandingkan jenis lahan sulfat masam seperti Sulfaquent. Proses pengomposan praktis diserahkan kepada kebesaran alam dengan memanfaatkan mikroorganisme perombak anaerob. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Ir.

4) bentuk kemasaman. Al. Indonesia. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan kebutuhan kapur menurut (Mc Lean. biasanya dari satu minggu sampai beberapa minggu. kelarutan Fe. Universitas Sriwijaya.0 N banyak dipertanyakan. Indonesia. Penetapan kebutuhan kapur dengan metode inkubasi dilakukan dengan mencampurkan kapur dan tanah serta air dalam beberapa dosis kapur selama beberapa waktu tertentu. 1986). Menurut Mc. Hal ini disebabkan reaksi antara kation-kation asam yang dapat dititrasi berlangsung sangat lambat. (Bagian 4. yaitu : 1) kebutuhan kapur berdasarkan metode inkubasi. Karena tingkat keracunan untuk suatu jenis tanaman mempunyai variasi lebar dalam tanah yang berbeda maka Al-dd tidak digunakan sebagai parameter yang menentukan keracunan tetapi persentase kejenuhannya. .05 N untuk mencapai pH tertentu lebih rendah jika dibandingkan dengan metode inkubasi dan Al-dd KCl 1 N. 2) kandungan liat.* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.B dari 5 Tulisan) B. Kaptan digunakan untuk meningkatkan pH tanah sedangkan Rock Phosphate untuk memenuhi kebutuhan hara P-nya. tetapi cara ini lambat tidak sesuai untuk analisis rutin (Al-Jabri. Indonesia. Program Pascasarjana. Pemupukan tanpa perbaikan tanah tidak akan efisien bahkan tidak respon. Palembang. dan Mn serta rendahnya ketersediaan unsur hara terutama P dan K dan kejenuhan basa yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman (Dent. Teknologi Ameliorasi dan Pemupukan pada Lahan Sulfat Masam Ameliorasi tanah sulfat masam untuk memperbaiki sifat kimia dan fisik tanah harus dilakukan terlebih dahulu sebelum pemupukan dilaksanakan. Penetapan kebutuhan kapur untuk tanah sulfat masam dapat dilakukan melalui beberapa metode. 2) metode titrasi. Program Pascasarjana. dan 7) waktu. Mg. Bahan amelioran yang dapat digunakan adalah kaptan dan Rock Phosphate. Lean (1982 dalam Al-Jabri 2002). kelemahan metode ini adalah terjadinya akumulasi garam (Ca. 1982. Penetapan kebutuhan kapur berdasarkan Al-dd KCl 1. Universitas Sriwijaya. Oleh karena itu tanah seperti ini memerlukan bahan pembenah tanah (amelioran) untuk memperbaiki kesuburan tanahnya sehingga produktivitas lahannya meningkat. Propinsi Sumatera Selatan. Produktivitas tanah sulfat masam biasanya rendah. Program Magister (S2). ** : Program Studi Ilmu Tanaman. tetapi sebagian besar dari kemasaman tanah tidak dinetralisir oleh basa. Program Pascasarjana. disebabkan oleh tingginya kemasaman (pH rendah). sebab tingkat keracunan Al bervariasi dengan tanaman dan tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. Palembang. 2002) adalah 1) derajat pelapukan dari tipe bahan induk. 3) kandungan bahan organik. Program Studi Ilmu Tanaman. 2002). *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. dan 3) berdasarkan Al-dd. Walaupun kebutuhan kapur dengan metode titrasi lebih rendah. 5) pH tanah awal. dalam Al-Jabri. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. 6) penggunaan metode kebutuhan kapur. Palembang. Lalu kebutuhan kapur ditentukan pada nilai pH tertentu. dan K) sehubungan dengan aktivitas mikroba sehingga takaran kapurnya lebih tinggi. Penetapan kebutuhan kapur berdasarkan metode titrasi dengan NaOH 0.

hasil ini tidak berbeda nyata dengan pemberian 135 kg P2O5/ha dan kaptan 1. tanah sulfat masam umumnya ketersediaan hara P dan K rendah namun bila bahan organiknya tinggi maka P dan K biasanya tinggi pula.7 t/ha dan 3. PLG Kalimantan Tengah (Suriadikarta dan Sjamsidi. Pemberian Rock Phosphate pada tanah sulfat masam juga menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata dengan penggunaan TSP... kapur 1 t/ha dan pupuk kandang 5 t/ha memberikan hasil 3. Pemberian 90 kg P2O5/ha dan kaptan 500 kg/ha menghasilkan 2. hal ini disebabkan terjadinya proses penyanggaan Rock Phophate dalam media yang sangat masam. Sedangkan pemupukan P berdasarkan kepada kebutuhan P untuk mencapai 0.0 t/ha GKG pada tanah sulfat masam potensial di Kecamatan Telang.5 t/ha GKG. Tanah sulfat masam di Pulau Petak sangat respon terhadap pemupukan P baik yang berasal dari TSP maupun dari Rock Phosphate.21 t/ha GKG.4 t/ha GKG (Supardi et al. 2001).65% dan kadar P2O5 total 28. Sumatera Selatan. Hasil itu dapat dipahami karena tanah sulfat masam aktual di Belawang piritnya telah mengalami oksidasi sehingga Al-dd tinggi dan P tersedia rendah. (1986) di kebun percobaan Unitatas BARIF pemberian 135 kg P2O5/ha. respon pemupukan P dan K tertinggi dicapai pada perlakuan P optimum (100 kg P/ha). Hasil penelitian pemupukan P dan kapur pada tanah sulfat masam pada beberapa lokasi penelitian disajikan pada Tabel 4. 1999). Sumatera Selatan dapat meningkatkan kadar P tersedia. pemberian kapur didasarkan kepada metode inkubasi untuk mencapai pH 5 (Hartatik et al. sedangkan di Palingkau Kalimantan Tengah dengan dosis yang sama dapat memberikan masing-masing 3. Pemupukan P-alam hingga 60% erapan maksimum P dalam tanah sulfat masam Sumber Agung dan Sumber Rejo di Pulau Rimau. 1999 dan Supardi et al. Kabupaten Muba. menghasilkan bentuk P yang meta-stabil seperti Dicalsium phophate yang tersedia untuk tanaman. Pemupukan P diberikan 100 kg TSP/ha atau 125 kg SP36/ha yang setara dengan 200 kg RP/ha (Hartatik. 2001).000 kg kaptan/ha. namun belum . Hasil penelitian di lahan rawa menunjukkan pupuk kalium cukup diberikan 100 kg KCl/ha untuk tanaman padi sawah. Christmas. dan 4 t kapur/ha. tetapi kalau diberikan 75 kg P2O5/ha hasil yang diperoleh hanya 3. Di Belawang kebutuhan kapurnya lebih tinggi yaitu sebesar 4 t/ha.79 t/ha GKG. (1999).Hasil penelitian di rumah kaca dan lapangan ternyata pemberian dosis kapur berdasarkan titrasi dan inkubasi dapat diaplikasikan pada tanah sulfat masam potensial bergambut di Lamunti ex. Di Lamunti.02 ppm P dalam larutan tanah. Rock Phosphate yang baik mutunya untuk tanah ini adalah Rock Phosphate Maroko Ground karena mempunyai kandungan Ca yang tinggi yaitu 27. 52 kg K/ha. Hasil penelitian Manuelpillei et al.3.8% (Suriadikarta dan Sjamsidi. dan 120 kg N/ha dapat meningkatkan hasil tanaman padi menjadi 2. 2000). ex PLG Kalimantan Tengah P-alam setara dengan 150 kg P2O5/ha rata-rata dapat memberikan hasil 4. 50 kg K2O/ha. dan Aljazair. Subiksa et al. Ciamis.24 t/ha GKG.000 kg/ha. menunjukkan pemberian dolomit 2 t/ha dan SP-36 200-300 kg/ha dapat menghasilkan rata-rata 4. K 78 kg/ha. 1. Dalam penelitian pada tanah sulfat masam potensial di Tabung Anen Kalimantan Selatan pemberian pupuk P + kalium + bahan organik dan kapur masing-masing sebesar 43 kg P/ha. Pada tanah sulfat masam aktual kadar P dan K dalam tanah sangat rendah sehingga pemupukan P dan K sangat diperlukan.. P-alam yang telah dicoba untuk tanah sulfat masam dan memberikan hasil yang sama baiknya adalah P-alam Tunisia.45 t/ha GKG terjadi delapan kali lipat peningkatan bila dibandingkan dengan kontrol (tanpa P dan Kaptan). 2000).

Tingginya kadar Fe dan Al bentuk amorf pada tanah sulfat masam mempengaruhi distribusi fraksi Panorganik (Setyorini. pH. kadar pirit. Alo. 2009. R. Fed. pencucian intensif tanah lapisan atas. terlihat bahwa fraksi Fe-P dan AlP mendominasi jumlah P anorganik pada tanah sulfat masam potensial sedangkan fraksi Al-P dan Ca-P dominan pada sulfat masam aktual. Dari hasil penelitian Konsten dan Sarwani (1990). dan amorf serta sulfat dalam tanah. (2) Kesuburan Tanah. Oleh karena itu diperlukan kehati-hatian dalam mereklamasi atau melakukan pencucian/drainase di tanah sulfat masam potensial.C) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* . Diposkan oleh Dr. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa erapan P maksimum pada tanah sulfat masam aktual mencapai 2. Ditinjau dari distribusi bentuk P-anorganik pada tanah sulfat masam diatas. Bersambung ke bagian 4.000 µg P/g sedangkan pada sulfat masam potensial sedikit lebih rendah yaitu sekitar 1. dijenuhi oleh Al dan mempunyai pH antara 3 dan 4. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Al dan Fe. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.dapat menurunkan kadar unsur beracun Fe2+. Abdul Madjid. jumlah Al-dd sampai 60 mmol/g. 2001). Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan P pada tanah sulfat masam antara lain pH. MS di 01:16 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4. diperoleh bahwa oksidasi pirit setelah reklamasi membuat tanah di daerah tersebut sangat masam.C yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.666 µg P/g. Potensi kemasaman sangat tinggi dengan kandungan pirit mencapai 8%. dan pirit. Ir. Kemasaman tanah aktual untuk tanah pH kurang dari 4 adalah 20 mmol/100 g yang setara dengan keperluan kapur 15 t/ha. Kemasaman tanah aktual dari tanah sulfat masam di Pulau Petak diduga dengan titrasi cepat pada pH 5.5. yang dikombinasikan dengan pemberian kapur dan pupuk kalium. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Ald. 2001). di Pulau Petak Kalimantan Selatan.com. serta bahan organik. Nilai erapan maksimum yang tinggi pada sulfat masam aktual dari pada sulfat masam potensial diakibatkan perbedaan kadar dan jenis liat. Adanya garam-garam besi bebas dan Al menyebabkan keracunan tanaman dan defisiensi K dan Ca sangat sering terjadi. Feo. A. Fe-Al oksida. Unsur beracun diatas ditemukan dalam jumlah yang lebih tinggi pada tanah sulfat masam potensial yang baru teroksidasi dibandingkan tanah sulfat masam aktual (Setyorini. http://dasar2ilmutanah.blogspot. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. apalagi jika kandungan liat tinggi. Selanjutnya Konsten dan Sarwani (1990) mengemukakan bahwa untuk mengatasi kemasaman aktual yang tinggi dapat dilakukan dengan drainase dangkal.

(2000) sampai saat ini telah dilepas secara resmi 11 varietas yang cocok di lahan pasang surut (Tabel 4. Indonesia. Dari 11 varietas di atas nampaknya yang akan cocok untuk di lahan sulfat masam adalah Mahakam. Namun walaupun banyak tanaman pangan. Menurut Suwarno et al. sayuran. Program Pascasarjana. Gelombang. Namun untuk tanah sulfat masam aktual dimana kadar Al dan Fe sangat tinggi lebih baik ditanami varietas lokal yang telah adaptif seperti varietas Ceko. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Lalan. Propinsi Sumatera Selatan. nanas.C dari 5 Tulisan) C. dan tanaman industri dapat tumbuh di lahan rawa sulfat masam faktor pemasaman perlu dipertimbangkan. ** : Program Studi Ilmu Tanaman.Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4. Talang. Universitas Sriwijaya. Kapuas. Padi dan palawija Penelitian adaptabilitas tanaman padi sawah telah lama dilakukan di lahan pasang surut khususnya pada tanah sulfat masam dan pertumbuhan tanaman padi lebih baik pada tanah sulfat masam dibandingkan pada tanah gambut dalam. Lematang. nangka. Palembang. Program Magister (S2). kedelai. Tanaman tersebut dapat tumbuh baik bila tanahnya masih SMP dan sistem tata air mikro seperti saluran drainase dan ameliorasi tanah dilakukan dengan baik sesuai kondisi lahannya. Jalawara. kacang panjang. Indonesia. Universitas Sriwijaya.. Program Studi Ilmu Tanaman. jeruk. Indonesia.4). Propinsi Sumatera Selatan. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. palawija (jagung. . Propinsi Sumatera Selatan. dan semangka). kacang tanah. dan kacang hijau). 2000).C dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Banyuasin. pisang. Penelitian dimulai sejak sebelum Proyek Swamps sampai berakhir pada Proyek ISDP tahun 2000. Sei Lilin. dan terong). tomat. Universitas Sriwijaya. Palembang. Program Magister (S2). buah-buahan (rambutan. Penggunaan Varietas yang Adaptif Tanaman yang dapat diusahakan dilahan sulfat masam antara lain tanaman padi. a. dan tanaman industri (kelapa dan lada) (Suwarno et al. Program Pascasarjana. dan Dendang. Palembang. (Bagian 4. sayuran (cabe. Batang hari. kubis. buah-buahan. Program Magister (S2).

dan Dempo. 1990).. Tanaman industri/perkebunan Hasil penelitian di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah ex PLG tanaman industri/perkebunan yang dapat beradaptasi di lahan sulfat masam adalah kopi. Jenis sayuran yang telah diteliti pada tanah sulfat masam adalah tomat varietas Ratna dan Intan dengan potensi hasil masing-masing 18. komoditas hortikultura mampu memberikan pendapatan lebih besar dari pada tanaman pangan dengan rincian 65.2 t/ha biji kering. 82-157 dengan potensi hasil 15. 1990).6. Lokon. Hasil penelitian Proyek Swamps di lahan pekarangan lahan sulfat masam di Karang Agung Ulu (1987/1988). Mengingat kondisi kesuburan tanah sulfat masam sangat beragam maka pemupukan perlu disesuaikan dengan hasil analisis tanahnya. Petsai yang sesuai hanya ada satu varietas yaitu No. . Rinjani.dan Bayur. a. kacang tanah 3. dan kacang hijau 1. dan jagung yang sesuai adalah varietas Arjuna dengan hasil 3-4 t/ha biji pipilan kering.6 t/ha. Tanaman palawija umumnya ditanam di lahan pekarangan sebagai kebun campuran dengan tanaman buah-buahan dan sayuran.6% untuk tanaman pangan (Subiksa dan Basa.4 dan 6. Tanaman buah-buahan ditanam di pekarangan pada guludan adalah pisang. dan rambutan atau jeruk. Tanam sayuran dan pisang cepat memberikan kontribusi terhadap pendapatan petani terutama pada tahun pertama mereka tinggal di tempat pemukiman baru. 1999).4 t/ha.2. b. kelapa. Dosis pemupukan tanaman sayuran dan buah-buahan disajikan pada Tabel 4. c. Kelapa Tanaman kelapa merupakan komoditas tanaman di lahan pasang surut. Sayuran dan buah-buahan Teknik penggunaan amelioran dan pengelolaan hara terpadu serta penggunaan benih bermutu dengan waktu tanam yang tepat merupakan persyaratan utama keberhasilan sayuran di lahan rawa (Satsiyati et al.5. Namun keberadaan lokasi pengembangan yang terletak jauh dipedalaman dan tidak didukung oleh infrastruktur dan sarana menjadi hambatan untuk pemasaran hasil sayuran. sebagai sentra produksi kelapa sebaran tanaman kelapa di Provinsi Riau diperkirakan > 60% (Mahmud. 1990). Selanjutnya bawang merah varietas Ampenan dan Bima dapat beradaptasi cukup baik pada tanah sulfat masam dengan potensi hasil 6.15 ton umbi kering/ha (Sutater et al.54 t/ha dan 13. nangka. Jenis kelapa yang sesuai adalah kelapa lokal.. dan lada.4% untuk tanaman sayuran dan 34. Varietas kedelai tersebut mampu memberikan hasil 1. yang dikenal memiliki daya adaptasi dan toleransi terhadap lingkungan tumbuh sangat luas.5 t/ha. Varietas kedelai yang cocok untuk tanah sulfat masam adalah varietas Wilis.4 t/ha.

Pupuk yang diberikan untuk tanaman kelapa masing.5 t/ha dan jahe putih besar varietas gajah produksi 4. Sedangkan untuk jahe putih kecil atau emprit produksi 4. pemupukan. pembuatan saluran cacing di kanan dan di kiri tanaman memberikan hasil tertinggi yaitu 140. Pada lahan potensial pengapuran dengan takaran 2-3 kg/tanaman dapat mempengaruhi produksi buah lada sampai panen ke-3 (panen pertama 28 bulan).5-5. dan dari uji produksi di Kalimantan Tengah juga menunjukkan produksi yang baik yaitu mencapai 200-300 g/rumpun.7). Petaling II. . kedua. temulawak. Pemberian pupuk N. Produksi tanaman kencur juga cukup baik di Karang Agung Ulu dapat mencapai 11.0 kg/rumpun. c. kencur (obat reumatik pegel linu). temu giring (obat panas dan batuk).9 t/ha. dan bangle di lokasi pasang surut cukup baik pertumbuhannya dan dapat dikembangkan secara monokultur dan tumpangsari dengan tanaman palawija atau tanaman tahunan yang tidak terlalu tinggi tingkat naungannya (Anonimous. Sedangkan pada lahan sulfat masam.masing diberikan per pohon. Sebagai contoh untuk ternak. 1999). dan temulawak dapat menekan berkembangnya bakteri di kotorannya. 300. Lada Tanaman lada varietas Petaling I.6 t/ha. dan hortikultura.2-20. 1993 dan Anonimous.5-23. tergantung kepada umur tanaman (Tabel 4.5 ton gambut/hektar memberikan hasil 15. palawija.9-8. Temu-temuan Jenis tanaman temu-temuan di antaranya jahe. lengkuas. dan penambahan lapisan gambut akan memberikan pertumbuhan dan produksi rimpang yang optimum. sehingga bau limbah dapat ditekan.7-1. Demikian juga dari Kalimantan Tengah produksi jahe putih kecil cukup baik 0. 1993) dengan pemupukan 45 kg N + 36 kg P2O5 + 50 kg K2O + 200 kg kapur + 1. kunyit. dan K paling tinggi pada umur tanaman kelapa 3 tahun. pH tanah normal dan tidak tahan genangan air. lempuyang (pegel linu) temu ireng dan bangle (obat cacing). Persyaratan tumbuh tanaman temutemuan menghendaki tanah yang gembur dan subur. jahe. pembuatan saluran cacing yang intensif. Di Karang Agung Ulu dan Karang Agung Tengah produksi kelapa rata-rata berkisar 7-18 butir/pohon/periode petik dan 10-17 butir/pohon/periode petik. kencur. dan LDK dapat tumbuh dan beradaptasi baik di lahan pasang surut potensial maupun sulfat masam aktual Karang Agung Ulu. temulawak. Namun ada juga yang ditanam secara monokultur di guludan seperti di Riau. dan ketiga. P.1 t/ha. dan 230 gram per pohon masing-masing pada panen pertama. sehingga upaya perbaikan tanah meliputi pemberian kaptan. jahe merah di Karang Agung Ulu (Anonimous. Produksi temu-temuan cukup bagus. b.Tanaman kelapa dapat ditanam tumpangsari dengan tanaman kopi. Temu-temuan diharapkan dapat menunjang sistem usahatani di lahan pasang surut yang mempunyai fungsi ganda dapat dimanfaatkan sebagai bumbu dan dapat digunakan sebagai obat alternatif baik untuk manusia maupun ternak. jahe dapat mencegah gejala tetelo (ND). di antaranya kunyit.

Indonesia.com. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Program Pascasarjana.D) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4.D yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. 2009. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Universitas Sriwijaya. Program Studi Ilmu Tanaman. Diposkan oleh Dr.22 kg/pohon (Anonimous.blogspot. Indonesia. Program Magister (S2). dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Universitas Sriwijaya. Propinsi Sumatera Selatan. Propinsi Sumatera Selatan. Karena lada memerlukan bahan organik tinggi maka pengembangan di lahan bergambut tipis lebih sesuai untuk tanaman lada produktif. Indonesia. Program Magister (S2). Palembang. A. R. pemupukan tiga kali setahun dengan interval empat bulan sekali dengan takaran 512 g urea + 880 g TSP + 600 g KCl + 60 g kiserit per pohon memberikan hasil tertinggi yaitu 1. Ir. Abdul Madjid. Universitas Sriwijaya. Palembang. . MS di 01:08 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4.D dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.Saluran cacing ini ditujukan untuk menjamin drainase yang baik agar kelembaban tanah tidak berlebihan bagi tanaman lada. (2) Kesuburan Tanah. Palembang. Program Magister (S2). *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. 1993). Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Pascasarjana. Tiang panjat seperti lamtoro gung (Leucaena sp. Bersambung ke bagian 4.) dan waru-waruan dengan pemangkasan empat kali setahun memberikan pertumbuhan yang baik terhadap lada di Karang Agung Ulu ini. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. http://dasar2ilmutanah. Program Pascasarjana.

ameliorasi. dan Kalimantan Selatan serta Kalimantan Barat. a. yaitu: 1) sistem garpu. Dalam pelaksanaannya reklamasi mencakup pekerjaan penebangan hutan dan pembakaran. Sistem reklamasi lahan rawa di Indonesia telah dilakukan sejak proyek P4S yang dimulai awal Pelita I di lahan rawa pasang surut pantai timur Sumatera. Menurut Subagjo dan Widjaja-Adhi (1998) selama PJP I telah ditetapkan lima sistem jaringan tata air makro. . konstruksi jalan. palawija. dan pemupukan. Kegiatan reklamasi dimulai dari perencanaan. Sistem reklamasi jaringan tertutup adalah cara pembukaan lahan yang jaringan tata airnya tidak berhubungan satu sama lain (zonasi). Cara reklamasi seperti ini umumnya berhasil dalam meningkatkan produktivitas lahan rawa. Pengelolaan Tanah dan Air Pengelolaan tanah dan air (soil and water management) merupakan kunci utama untuk keberhasilan pengembangan pertanian di lahan rawa pasang surut. penelitian dan pelaksanaan di lapangan. air. dan 5) kombinasi garpu dengan sisir. Pada sistem tertutup ini pembuatan saluran atau handil sangat hati-hati dengan memperhatikan karakteristik tanah dan tipe luapan air sungai. termasuk tanah sulfat masam. penataan lahan. Sistem ini seperti yang dilakukan oleh petani Suku Banjar di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dan Suku Bugis di Pulau Sumatera.D dari 5 Tulisan) D. 1995). Keuntungan dari sistem kolam ini adalah asamasam atau racun dapat diendapkan dalam kolam tersebut tidak masuk ke dalam lahan pertanian dan memelihara aliran sewaktu air surut. 3) sisir tunggal. dan hidrologi serta aspek lingkungan. Sistem jaringan tata air tersebut sebenarnya tidak berlaku umum tetapi tergantung kepada tipologi lahan dan tipe luapan di daerah itu. 2) tangga. iklim. Sistem jaringan tata air selain dibedakan menurut bentuknya dapat pula dibedakan menurut hubungan tata air. 4) sisir berpasangan. Sistem kolam ini telah dilaksanakan di Pulau Petak dan Barabai Kalimantan Selatan. yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. terutama padi. Handil itu dibuat tegak lurus sungai ke arah hutan mengikuti garis kontur sehingga handil itu tidak selalu lurus dan panjangnya tergantung air pasang masuk (4-10 km). Jaringan tata air makro Pengembangan lahan rawa meliputi kegiatan reklamasi dan pengelolaan. dan pembuatan saluran drainase (Widjaja-Adhi. Selain kelima sistem tersebut UGM telah mengkombinasikan dengan pembuatan kolam pada ujung saluran primer atau sekunder (Gambar 1) yang disebut dengan sistem kolam. dan tanaman buah-buahan. Penelitian yang mendukung perencanaan reklamasi sangat diperlukan terutama penelitian sumberdaya lahan meliputi tanah. Pengelolaan tanah dan air ini meliputi jaringan tata air makro maupun mikro. Kalimantan Tengah.(Bagian 4.

(1995) sedikitnya terbuka lima peluang fungsi dari jaringan pengairan rawa. dan sulfat akan muncul ke permukaan dan dengan adanya air hujan akan meningkatkan kemasaman (pH) air di saluran. Pengelolaan air makro yaitu penguasaan air di tingkat kawasan . pengaturan pintu air sebaiknya mulai dilakukan di tingkat tersier ke bawah. dan (3) pengelolaan air tingkat tersier yaitu mengkaitkan antara pengelolaan air makro dan pengelolaan air mikro (Widjaja-Adhi dan Alihamsyah. tetapi untuk tersier sebaiknya tidak dianjurkan. Pembuatan tata ruang sebelum saluran dibuat perlu memperhatikan dan mempertimbangkan pola penggunaan lahan hipotetik yang dikemukakan oleh Widjaja-Adhi. Pada tahap saluran primer dan sekunder mungkin fungsi ini dapat diberlakukan. Dalam rancangan infrastruktur hidrologi. Pembuatan pintu air pada saluran primer atau sekunder seperti dilahan ex-PLG sangat tidak efisien karena mengganggu fungsi transportasi masyarakat sekitar sehingga akhirnya dijebol. Selanjutnya dalam pembuatan saluran baik primer. yaitu 1) berfungsi sebagai saluran drainase. 4) berfungsi sebagai konservasi sumberdaya air rawa. (2) pengelolaan air mikro. pemasok air. 1998). tinggi air di saluran rata. 3) sebagai alat trasportasi. (1992). Dimensi dan kedalaman saluran perlu dipertimbangkan sehubungan dengan keadaan hidrologi di daerah tersebut. Menurut Harjono. Untuk mencapai jaringan tata air ini hendaknya berpegang kepada pola penggunaan lahan dan pola pemanfaatan sekaligus diharapkan dapat berfungsi sebagai saluran drainase. Saluran dengan mempertimbangkan garis kontur maka aliran air dapat mengalir dengan baik. dan konservasi sumber air. Al. Fungsi jaringan tata air sebagai alat transportasi perlu dipertimbangkan pada tahapan mana ini dapat diberlakukan. peningkatan pendapatan dan lapangan kerja. mendukung proses reklamasi. 2) sebagai pemasukan air.Berdasarkan hasil penelitian Badan Litbang Pertanian bahwa lahan pasang surut memiliki prospek yang besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian terutama dalam kaitannya dalam mendukung program ketahanan pangan dan agribisnis melalui peningkatan dan diversifikasi produksi. sebab penurunan muka air yang drastis akan mengakibatkan teroksidasi lapisan pirit. Selain itu penurunan permukaan air yang drastis juga akan menyebabkan gambut kering tak balik (irrevisible drying) sehingga akan mempercepat penurunan permukaan gambut (subsidence) dan atau cepat hilangnya lapisan gambut. pengelolaan air di lahan pasang surut dibedakan ke dalam : (1) Pengelolaan air makro. besi. Hal ini akan sangat berpengaruh dalam proses pencucian bahan-bahan beracun dari lahan ke saluran dan seterusnya ke sungai berjalan lancar. Pembuatan saluran harus mengikuti atau memperhatikan garis kontur dan tipologi lahannya. Namun untuk mendukung kearah pengembangan pertanian yang berhasil dan berkesinambungan dilahan pasang surut ada dua hal penting yang harus diperhatikan dalam reklamasi lahan. 1998). dimensi dan cara pembuatan salurannya disesuaikan dengan fisiografi dan kondisi lahan sehingga menunjang kelestarian dan produktivitas lahan. sekunder dan tersier perlu memperhatikan tata letak. dan 5) sebagai pendukung bagi proses reklamasi. yaitu pemanfaatan jaringan tata air berikut salurannya dan tata ruang untuk penataan lahannya (Widjaja-Adhi dan Alihamsyah.

(1999). baik dari hujan maupun dari air pasang. b. kemudian air tersebut dikeluarkan setelah pengolahan tanah selesai. Hasil penelitian Subagyono et al. Usaha pencucian ini akan berjalan baik apabila terdapat cukup air segar. saluran kuarter biasanya dibuat di setiap batas pemilikan lahan. kawasan retarder dan sepadan sungai/laut dan saluran intersepsi bila diperlukan serta kawasan tampung hujan. (2) mengatur tinggi muka air di saluran dan secara tidak langsung di petakan lahan. sedangkan di dalam petakan lahan dibuat saluran cacing dengan interval 3-12 m dan di sekeliling petakan lahan tergantung pada kondisi lahannya. Semakin tinggi tingkat keracunan. (2) mencegah pertumbuhan tanaman liar pada padi sawah. Saluran itersepsi dimaksudkan untuk menampung aliran permukaan dan sebagai tempat memproses air yang mengandung bahan beracun agar tidak memasuki areal pertanian. (3) mencegah terjadinya bahan beracun bagi tanaman melalui penggelontoran dan pencucian. Dalam hal ini. Sistem pengelolaan air di . Untuk lebih memperlancar keluar masuknya air pada petakan lahan yang sekaligus memperlancar pencucian bahan racun. sistem pengelolaan tata air mikro mencakup pengaturan dan pengelolaan tata air di saluran kuarter dan petakan lahan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan sekaligus memperlancar pencucian bahan beracun. Kawasan retarder dimaksudkan untuk mengurangi terjadinya banjir di daerah hulu sungai termasuk mengurangi kedalaman dan lama genangan air dilahan lebak dangkal dan tengahan. Widjaja-Adhi (1995) menganjurkan pembuatan saluran cacing pada petakan lahan dan di sekeliling petakan lahan. Pengelolaan air tingkat tersier ditujukan untuk mengatur saluran tersier agar berfungsi: (1) memasukkan air irigasi. Saluran ini dibuat di daerah perbatasan lahan kering dan rawa menyerupai waduk panjang serta diarahkan untuk menyalurkan kelebihan air ke sungai di bagian hilirnya. Hasil penelitian Suriadikarta et al. Tata Air Mikro Sistem pengelolaan tata air mikro berfungsi untuk : (1) mencukupi kebutuhan evapotranspirasi tanaman. (1999) pencucian bahan beracun dari petakan lahan dilakukan dengan memasukkan air ke petakan lahan sebelum tanah dibajak. Oleh karena itu. (4) mengatur tinggi muka air. dan (5) menjaga kualitas air di petakan lahan dan di saluran. Kawasan tampung hujan dimaksudkan sebagai daerah sumber air untuk irigasi. Kawasan tampung hujan sebaiknya dialokasikan pada lahan gambut di bagian hulu sungai karena gambut memiliki daya menahan dan melepas air tinggi. dan (3) mengatur kualitas air dengan membuang bahan beracun yang terbentuk di petakan lahan serta mencegah masuknya air asin ke petakan lahan. air di petakan lahan perlu diganti setiap dua minggu pada saat pasang besar. Oleh karena itu.reklamasi yang bertujuan mengelola berfungsinya jaringan drainase/irigasi (navigasisekundertersier). seyogyanya lebak dalam dapat dimanfaatkan sebagai kawasan retarder dengan jalan diperdalam dan alirannya diarahkan ke sungai di bagian hilirnya. yaitu antara 300-800% bobotnya. semakin rapat pula jarak antar saluran cacing tersebut.

Aliran satu arah dikombinasikan dengan pengolahan tanah memakai traktor tangan dan pemberian dolomit pada lahan sulfat masam dalam satu unit tata air saluran sekunder (50 ha) oleh Proyek ISDP (1997). 1999). dan Al3+ keluar dari lahan usaha dan pH tanah menjadi lebih baik. Nilai pH air tanah meningkat dari rata-rata 4. Hal yang perlu mendapat perhatian khusus dalam sistem tata air adalah sinkronisasi antara tata air makro dan mikro (Subagyono et al. Tata air pada lahan yang bertipe luapan A dan B perlu diatur dalam sistem aliran satu arah (one way flow system). Skesta kedua sistem tata air tersebut dapat dilihat pada Gambar 2 dan 3. saluran air perlu ditabat/disekat dengan stoplog untuk menjaga permukaan air tanah agar sesuai dengan kebutuhan tanaman serta memungkinkan air hujan tertampung dalam saluran tersebut.tingkat tersier dan mikro tergantung kepada tipe luapan air pasang dan keracunan di petakan lahan. . Untuk keperluan pengaturan tata air ini perlu dibangun pintu-pintu yang sesuai sebagai pengendali air. penerapan aliran sistem satu arah untuk pencucian hanya akan berjalan efektif jika kondisi saluran tersier. tipe luapan.4 pada pada saat panen (Widjaja-Adhi dan Alihamsyah. Pada saluran irigasi pintu klep membuka ke arah dalam sedang pada saluran drainase pintu klep membuka ke arah luar. 1998)..8 pada saat penanaman dan 5. Hasil penelitian pengelolaan tata air mikro dengan cara tersebut pada lahan sulfat masam dengan berbagai sistem penataan lahan di Karang Agung Ulu oleh Djayusman et al. Misalnya. dan pola pemanfaatannya seperti pada tipologi sulfat masam potensial dengan tipe luapan A. sehingga pencucian lahan dapat berlangsung dengan efektif. Sedangkan kandungan Fe++ 160 ppm pada saat tanam dan 72 ppm pada saat panen. Pintu klep (flapgate) dipasang berlawanan arah. c. Pencucian lahan dimaksudkan agar unsur yang bersifat racun bagi tanaman seperti Fe2+. karena pirit akan lebih stabil tidak mengalami oksidasi dan tanaman padi dapat tumbuh dengan baik. (1995) menunjukkan adanya peningkatan kualitas lahan dan hasil tanaman dari musim ke musim. Pada sistem aliran satu arah dirancang saluran irigasi dan saluran drainase secara terpisah. Pintu air tersebut dapat berupa stoplog maupun pintu ayun atau pintu engsel (flapgate).2 pada saat sebelum pengolahan tanah menjadi rata-rata 4.44 t/ha GKP. dan primer semuanya dalam kondisi baik dan arah aliran tidak bolak-balik.26 t/ha GKP sedangkan varietas Cisangarung dapat mencapai 9. Penataan air di lahan petani dapat dilakukan dengan sistem aliran satu arah (one-way flow system) dan sistem aliran yang sifatnya bolak-balik (twoway flow system). maka pola pemanfaatan lahan dapat dilaksanakan dengan sistem surjan. Dalam melakukan penataan lahan perlu diperhatikan hubungan antara tipologi lahan. sekunder. sedangkan untuk lahan bertipe luapan C dan D. maka penataan lahan sebaiknya untuk sawah. Penataan lahan Penataan lahan perlu dilakukan untuk membuat lahan tersebut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dikembangkan. dapat secara cepat meningkatkan kualitas lahan dan memberikan hasil yang baik bagi tanaman padi dan palawija. sulfat. Tetapi bila tipe luapan B. Hasil rata-rata ubinan padi varietas Cisadane mencapai 6.

Sistem surjan dapat digunakan untuk tanaman padi. Untuk tanah sulfat masam potensial pengolahan tanah dan pembuatan guludan sebaiknya dilakukan secara hati-hati dan bertahap. Abdul Madjid. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. dan 5-9 tabukan. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. dan tanaman industri (kencur. sedangkan guludan ditanami dengan palawija.blogspot. Dari Tabel diatas ditunjukkan bagaimana pola pemanfaatan lahan dalam kaitannya tipologi lahan dan tipe luapan. Hal ini dilakukan untuk menghindari oksidasi pirit.6 m. palawija.E) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4. A. MS di 00:59 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4. Bersambung ke bagian 4. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. http://dasar2ilmutanah. Untuk tanah gambut tekstur lapisan tanah dibawahnya sangat menentukan dalam pola pemanfaatan lahannya. 2009. Ir. R. Universitas Sriwijaya.5-0. . Program Magister (S2). Program Studi Ilmu Tanaman. Tabukan surjan ditanami padi sawah. dan tinggi 0. Diposkan oleh Dr. Sistem surjan adalah salah satu contoh usaha penataan lahan untuk melakukan diversifikasi tanaman dilahan rawa. (2) Kesuburan Tanah. Setiap ha lahan dapat dibuat 6-10 guludan. sedangkan tabukan dibuat dengan lebar 15 m. kopi. Lebar guludan 3-5 m. Indonesia.E dari 5 Posting) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Pascasarjana.E yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. dan kelapa). Guludan dibuat secara bertahap dan tanahnya diambil dari lapisan atas. Sistem surjan baik dilakukan pada tipe luapan B dan C sedangkan tipe luapan D lebih baik untuk sistem pertanian lahan kering. sayuran atau buah-buahan. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. sayuran. Propinsi Sumatera Selatan. Palembang.com.

Program Magister (S2). Kemasaman yang rendah tersebut berdampak negatif terhadap sifat kimia tanah dan aktivitas mikroba tanah. yang tersebar di pulau Kalimantan. Dilihat luasan. Tapi dalam kenyataannya. Propinsi Sumatera Selatan. lahan tersebut sebenarnya mempunyai potensi untuk pengembangan tanaman pangan dan tahunan. 1992). dan Irian (Nugroho et al. terutama pada musim kemarau. (Bagian 4. bagi tanah.7 ha lahan berpirit tersebut. Universitas Sriwijaya. diperkirakan terdapat sekitar 6. Program Pascasarjana. Propinsi Sumatera Selatan. Di Indonesia. topografi dan ketersediaan air. bila tergenang pada musim hujan. Indonesia. . Sebagian lahan tersebut telah dibuka untuk pemukiman transmigrasi. Pembukaan lahan pada tanah tersebut selalu dibarengi dengan pembuatan saluran air untuk kepentingan transportasi dan dranase/irigasi kawasan tersebut. dan umumnya dibawah potensi produksi tanaman. kualitas kimia perairan dan biota-biota yang berada baik di dalam tanah itu sendiri maupun yang berada di badan-badan air. Topografi termasuk kategori datar (<3%) style=""> air yang bervariasi tergantung tipe luapan air. pengelolaan air tak terkendali dengan baik. banyak terdapat di daerah rawa. Pada kondisi tergenang senyawa tersebut bersifat stabil. Palembang. dimana hasil oksidasi tersebut tercuci ke perairan tersebut. Indonesia. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Proses tersebut meningkatkan pembentukan besi ferro dan sulfida. Tanah-tanah yang sudah teroksidasi ini. Program Studi Ilmu Tanaman. yang dapat meracuni tanaman padi. Sumatera. Akibatnya terjadi oksidasi senyawa pirit.E dari 5 Posting) E.. Pengelolaan Lahan Sulfat Masam Melalui Aktivitas Mikroorganisme Tanah sulfat masam merupakan tanah yang mengandung senyawa pirit (FeS2). namun bila telah teroksidasi maka akan memunculkan problem. Palembang. yang menghasilkan asam sulfat. Mensvoort dan Dent (1998) menyebutkan bahwa senyawa pirit tersebut merupakan sumber masalah pada tanah tersebut. palawija dan buah-buahan dengan hasil yang bervariasi. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2).** : Program Studi Ilmu Tanaman. Permukaan air tanah turun di bawah permukaan lapisan pirit. Program Pascasarjana. membuat pH tanah sangat masam. dan ditanami padi. baik pada pasang surut maupun lebak. akan terjadi proses reduksi. Mikroorganisme sangat berperan dalam pembentukan tanah tersebut.

Selain itu. baik kimia.. Mencegah atau memperlambat terjadi proses oksidasi. Wako et al.  Mengurangi suplai oksigen melalui penggenangan. Karena itu perlu dilakukan upaya penanggulangan agar dampak negatif tersebut dapat ditekan seminimal mungkin tanpa banyak mengurangi tingkat produksi padi.01 Mole fraksi (1%). berdasarkan hasil penelitian Arkesteyn (1980). Kemasaman ini menyebabkan masalah pada organisme lain dan melarutkan logam-logam berat. Ditinjau dari aspek biologi. Hasil pengujian Polford et al.0 (optimal 3. Reaksi oksidasi dan reduksi pada tanah tersebut dipengaruhi berbagai aspek. karena itu pendekatan pengelolaan tanah sulfat masam melalui mikroorganisma dapat didekati melalui: 1. Menurut Anonim (2002b). sehingga lahan tidak layak digunakan untuk pertanian. adanya udara mempercepat oksidasi S yang menyebabkan pH turun kurang dari 1. Adanya proses oksidasi senyawa pirit dan proses reduksi dari hasil oksidasi tersebut membawa berbagai dampak negatif bagi pertumbuhan tanaman dan lingkungan sekitarnya.5’ dichlorophenylmethane) dan deterjen efektif mencegah kerja bakteri pengoksidasi Thiobacillus ferrooxidans. maka tanah tersebut membutuhkan pengelolaan yang tepat dan terintregasi dari berbagai aspek. Untuk itu perlu dipelajari proses-proses oksidasi dan reduksi dari senyawa pirit tersebut agar diketahui cara-cara pengelolaannya yang sesuai.5-5.Dilihat dari potensi dan dampaknya. Namun aktivitas kedua bakteri tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya. Menurut Anonim (2002b). pemberian NaN3 dan N-ethylmaleimide (NEM) mampu menghambat oksidasi Fe2+ dan So. biologi maupun fisika tanah. besi . sehingga kerja bakteri pengoksidasi terhambat. yaitu mencegah kerja dari bakteri pengoksidasi tersebut.2’ dyhydrpxy 5. karena adanya saling ketergantungan satu sama lain antara bakteri dan lingkungannya.3). (1984 diacu dalam Mensvoort dan Dent 1998) menyebutkan bahwa kondisi optimum untuk oksidasi pirit sama dengan kondisi optimum untuk oksidasi besi oleh Thiobacillus ferrooxidans yaitu konsentrasi oksigen > 0. melalui:  Pemberian bakterisida. Aktivitas bakteri pengoksidasi dapat ditekan melalui pemberian bakterisida yang spesifik. Dalam proses oksidasi-reduksi pada tanah sulfat masam. Karena itu dalam pengelolaan tanah sulfat masam dapat didekati melalui pemanfaatan peranan kedua bakteri tersebut. bakteri tersebut adaptif pada pH rendah (optimum untuk pertumbuhannya 2-3) dengan konsentrasi besi ferro yang tinggi. terlihat betapa besarnya peran dari mikroorganisma. (1988) mendapatkan bahwa bakterisida seperti Panasida (2. pembentukan pirit atau H2S sangat ditentukan olek aktivtas bakteri pereduksi sulfat Desulfovibro sp. pH 1. maka kecepatan oksidasi senyawa pirit sangat ditentukan oleh peran dari bakteri pengoksidasi pirit yang disebut Thiobacillus sp. tetapi berguna untuk menghambat Streptomyces scabies penyebab penyakit pada kentang. (1984) dan Jaynes et al. temperatur 5-55oC (optimal 30oC). Sedangkan dalam kondisi reduksi.

selanjutnya dapat mengendapkan logam-logam toksik sebagai logam sulfida. Menurut Mills (2002). Menurut Anonim (2002b).5 didominasi oleh bakteri metalogenium. Pada pH 3. Ini artinya pada pH diatas 4.5-3. dimana pada pH dibawah 4. asam tersebut dihasilkan oleh aktivitas fermentasi dari bakteri anaerob lainnya.+ SO4.5. reduksi sulfat tersebut dimedia oleh organisme yang diketahui secara kolektif sebagai bakteri pereduksi sulfur (SRB). SRB merupakan bakteri obligat anaerob yang menggunakan H2 atau organik sebagai donor elektron (chemolithotrophic). Menurut Beckett et.4. Dalam kondisi alamiah.+ H2S  H2S tersebut berguna untuk mengendapkan Cu. yaitu berjalan sangat lambat. Mempercepat proses reduksi sulfat dan besi. Zn. bakteri pengoksidasi pirit lainnya seperti Leptospirillum ferrooxidans atau genus Metallogenium gagal diisolat. Selain itu. pada percobaan lab dengan media agar. Menurut Anonim (2002a) dan Gadd (1999). yang menggunakan sulfate. Menurut Mills (2002) bakteri tersebut berasal dari genus Desulfovibrio dan Desulfotomaculum yang merupakan organisme heterotrophic.tersebut digunakan sebagai donor elektron. bakteri pereduksi sulfat dapat mereduksi sulfat pada kondisi anaerob menjadi sulfida. Beberapa gas dihasilkan dalam oksidasi-reduksi sulfur tersebut dan tervolatilisasi ke atmosfer dengan jumlah kurang dari 5% dari total residu sulfur. Menurut Saida (2002). Hasil penelitian Arkesteyn (1980) menunjukkan bahwa adanya penambahan kapur mencegah pemasaman. thiosulphate (S2O3) dan sulfide (SO3-) atau ion yang mengandung sulfur tereduksi sebagai terminal aseptor elektron dalam proses metabolisme. SO2 dari lahan basah bergabung dengan yang berasal dari industri dapat membentuk . kemampuan oksidasi secara biologi tidak berbeda dengan secara kimia. dengan suhu optimal 30-35oC.0. karena meningkatnya populasi bakteri lainnya yang dapat menyaingi dalam pengambilan berbagai kebutuhan hidupnya seperti oksigen dan lainnya. Pada percobaan tersebut. Kelompok organisme pereduksi sulfat ini secara generik diberi nama awal dengan “desulfo”. reduksi sulfat ke sulfide dalam lingkungan anarobik dilakukan oleh bakteri dan fungi. dimana SO42. terjadi suksesi bakteri dengan perubahan pH tanah. (diacu dalam Sullivan et al. Bakteri tersebut memerlukan subtrat organik yang berasal dari asam organik berantai pendek seperti asam laktat atau asam piruvat. Cd sebagai metal sulfide. adanya ion Ca yang berasal dari kapur akan menetralkan ion sulfat membentuk gipsum (CaSO4) sehingga menurunkan aktivitas ion sulfat.5-4. al.0 akibatnya aktivitas bakteri pengoksidasi terhambat. Hasil reduksi tersebut dikeluarkan dari lahan melalui air drainase saat air surut. Laktat digunakan oleh SRB selama respirasi anaerobik untuk menghasilkan acetat dengan reaksi berikut: 2 CH3CHOHCOO. 2. sehingga pH meningkat diatas 5. Dua gas terpenting adalah SO2 dan H2S. dengan menciptakan kondisi lingkungan yang diperlukan oleh bakteri tersebut.0.sebagai aseptor elektron. oksidasi kimia (tanpa bakteri) lebih rendah dibanding tanah yang diberi bakteri Thiobacillus ferrooxidans (oksidasi biologi). 2002).  2CH3COO. pH yang cocok untuk habitat Thiobacillus ferrooxidans adalah 1.  Pemberian kapur. sedangkan pada pH netral didominasi oleh bakteri Thiobacillus thioparus. dimana pengaruh pH pada konsentrasi besi direpleksikan dengan energi yang dihasilkan.+ 2HCO3. bakteri tersebut dapat tumbuh sampai pH 2 dan meningkatkan pH media menjadi 6.

Pada kondisi aerobik. A.blogspot. http://dasar2ilmutanah. Diposkan oleh Dr. pemutusan suplai oksigen melalui penggenangan dan pemberian kapur agar terjadi suksesi bakteri. (2) Kesuburan Tanah. Adanya senyawa pirit merupakan salah satu penciri tanah sulfat masam dan merupakan sumber masalah pada tanah tersebut. 4.F) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4. Proses oksidasi senyawa pirit dan reduksi dari ion atau senyawa yang dihasilkannya terjadi secara kimia dan biologi.F dari 5 Posting) Keterangan: . Abdul Madjid. Kecepatan oksidasi dan reduksi secara kimia berjalan lambat.formasi hujan asam. Adanya bantuan bakteri pengoksidasi atau pereduksi sebagai katalisator mempercepat reaksi tersebut beberapa ratus sampai juta kali. R. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. MS di 00:52 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4. Sedangkan pada proses reduksi. aktivitas mikroorganisma tanah dan kehidupan biota perairan menjadi terganggu. 1.com. 2009. 2. Ir. kelarutan logam-logam meningkat. perlu dirangsang dengan pemberian bahan organik sebagai sumber elektron dan energi serta penggenangan untuk memutus suplai oksigen sebagai aseptor elektron. Adanya oksidasi senyawa pirit menyebabkan tanah menjadi masam.F yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. H2S mungkin dikonsumsi oleh pengoksidasi S. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Pengelolaan tanah sulfat masam dapat dilakukan melalui pengendalian aktivitas mikroorganisma yaitu menghambat aktivitas bakteri pengoksidasi melalaui pemberian bakterisida. dimana SO2 diserap secara kimia. basa-basa tercuci. Bersambung ke bagian 5. 5. 3. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.

terutama petani transmigrasi dari Jawa dan Bali. Surjan mengandung pengertian meninggikan sebagian tanah dengan menggali atau mengeruk tanah di sekitarnya. Dalam praktiknya sebagian tanah lapisan atas diambil atau digali dan digunakan untuk meninggikan bidang tanah disampingnya secara memanjang sehingga terbentuk surjan. tetapi mereka menggunakan istilah tembokan yang falsafahnya sedikit berbeda (Sarwani et al.* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Indonesia. Berdasarkan cara pengambilan dan penyusunan lapisan tanah yang dibentuk surjan.. Universitas Sriwijaya. Palembang. Propinsi Sumatera Selatan. Propinsi Sumatera Selatan. sedang wilayah yang digali atau di bawah disebut tabukan atau ledokan (sunkens beds). Propinsi Sumatera Selatan. kedelai. 1993: 1994). Lahan bagian atas di tanami tanaman palawija (jagung. Indonesia. Program Pascasarjana. Program Studi Ilmu Tanaman. surjan dapat dibagi menjadi . Penyiapan dan Pengelolaan Surjan Sistem budidaya surjan (surjan = bahasa jawa yang artinya berjajar/berbaris berselang-seling seperti lurik) disarankan khususnya hanya untuk lahan pasang surut tipe B (wilayah yang hanya terluapi pada saat pasang tunggal) dan tipe c atau D (wilayah yang tidak terluapi pasang sama sekali) yang mempunyai muka air tanah tinggi.F dari 5 Posting) F. Budidaya tanaman lahan kering (palawija) di lahan pasang surut di aats sering mengalami cekaman kelebihan air. Masyarakat tani setempat seperti di kalimantan tidak banyak mengenal sistem budidaya surjan ini. Sistem surjan ini banyak diterapkan oleh petani di Kalimantan dan Sumatera. Program Magister (S2). Palembang. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Pertanian dengana sistem surjan banyak berkembang di lahan rawa. Palembang. sedang lahan bagian bawah (ledokan/tabukan) ditanami padi sawah. dan juga tanaman perkebunan. Budidaya surjan ini juga abnyak dilakukan petani rawa Malaysia (Mensvoort. Indonesia. hortikultura. Program Pascasarjana. kacang-kacangan. dan umbi-umbian). 1996). Program Pascasarjana. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Magister (S2). 1986). (Bagian 4. Universitas Sriwijaya. Tri. buah-buahan. Tujuan pokok dari sistem surjan di lahan pasang surut ini adalah untuk membagi risiko kegagalan usaha tani sehingga dapat bertahan apabila tanaman padinya gagal (Tim FTP UGM. Wilayah bagian lahan yang ditinggikan disebut tembokan (raise beds). dengan sistem surjan maka kebasahan atau genangan air yang tidak disukai tanaman lahan kering dapat terhindarkan. Universitas Sriwijaya. 1996.

Propinsi Sumatera Selatan. Pada model tradisional lapisan surjan dibuat dengan meletakkan bagian yang digali ke lapisan atas secara runtut sehingga kemungkinan besar lapisan atas surjan terdiri dari lapisan bawah (subsoil). Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya. surjan dapat dibagi menjadi dua cara pembuatan yaitu : 1) dibuat sekaligus. Perikanan . dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.G dari 5 Posting) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Diposkan oleh Dr. Berdasarkan sistem pembuatan. A. Propinsi Sumatera Selatan. Pada model inovatif dan kreatif lapisan surjan disusun sesuai dengan urutan asal. R. http://dasar2ilmutanah. Universitas Sriwijaya. Model tradisional sangat berbahaya apabila lapisan bawah yang diletakkan sebagai lapisan atas surjan merupakan lapisan berkadar pirit tinggi. dan 2) dibuat secara bertahap. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bersambung ke bagian 4.dua model atau tipe : 1) model tradisional dan 2) model inovatif dan kreatif. Program Magister (S2). Propinsi Sumatera Selatan. (Bagian 4. Palembang. Indonesia. Ir. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Universitas Sriwijaya. Palembang.G) Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam* Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4. Abdul Madjid. Indonesia.blogspot. Pembuatan surjan banyak memerlukan tenaga kerja yaitu sekitar 500 HOK per hektar. Palembang. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah. Program Studi Ilmu Tanaman. Indonesia. Program Pascasarjana. Program Pascasarjana.g yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.com. Program Pascasarjana. (2) Kesuburan Tanah. Program Magister (S2).G dari 5 Posting) G. MS di 00:48 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4. Program Studi Ilmu Tanaman. 2009.

Sedangkan di wilayah Kalimantan yang mewakili lahan pasang surut dan sulfat masam di daerah Parit Keladi dan Palingkau. titik berat diberikan kepada optimasi pemanfaatan lahan dengan berbagai komoditas. kesesuaian komoditas. tembakang. Untuk mengatasi penurunan pH di waktu hujan. produksi benih ikan. Sistem usahatani perikanan diartikan sebagai penelitian di lahan petani (Kasrino et al. Ikan tersebut dapat beradaptasi dengan perubahan pH air kolam yang pada umumnya turun di waktu hujan. Jumlah kapur yang ditambahkan pada lahan potensial 5 t/ha. 4) pengapuran kolam baru dilaksanakan dengan dosis 5-10 ton kaptan/ha.2 m. lahan pasang surut di tepi Sungai Musi Mariana. lahan lebak. dan pemanfaatan sumberdaya secara optimal guna meningkatkan kesejahteraan petani. 1988). Tujuan tersebut dapat dicapai melalui penerapan teknologi atau paket teknologi usahatani yang sesuai dengan kondisi biofisik dan sosio-ekonomi yang ada di daerah (Manwan dan Oka. 3) setelah penggalian kolam selesai lalu pembuatan galengan kolam disusun seperti tangga (2-3 tangga) lalu guludan itu ditutup dengan tanah lapisan atas yang kita simpan itu. Dalam usahatani terpadu. dan lahan lebak di Kayu Agung Sumatera Selatan. ikan diberi tambahan pakan pelet dan sisa makanan. lahan Salin di Delta Upang. Pada pemeliharaan yang dilakukan polikultur diharapkan ikan dapat memanfaatkan organisme plankton seperti ikan nila sedangkan organisme yang hidup di dasar kolam diharapkan dapat menjadi makanan ikan patin. maka pembuatan kolam harus dilakukan sebagai berikut : 1) lapisan atas tanah 0-10 cm dikupas kemudian hasil tanah kupasan tersebut ditempatkan pada lokasi yang aman. 1989) yang bertujuan untuk meningkatkan produksi. dan nila merah. lele. Dalam kegiatan komponen dititik beratkan kepada perekayasaan tata air dan manajemen kolam. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: . 2) penggalian kolam dilakukan sampai kedalaman tertentu biasanya antara 1-1. dan sistem budidaya. lahan pasang surut mempunyai pH air yang relatif lebih baik 4-5 dibandingkan dengan lahan sulfat masam dengan hasil produksi yang bervariasi. Sungai Lempung di Lubuk Lampan mewakili rawa banjiran. Penelitian perikanan menunjang program usahatani dibagi atas dua jenis kegiatan yaitu (1) penelitian perikanan yang bersifat komponen dan (2) penelitian dalam usahatani terpadu. Penelitian ikan telah dilakukan di lahan potensial.Penelitian komponen perikanan dalam sistem usahatani di lahan pasang surut dan rawa telah dilakukan sejak 1985/86 di Kertamulia Patratani mewakili lahan rawa. Sedangkan untuk monokultur. pendapatan. Air tersebut menyebabkan pH air kolam turun mendadak sampai <3 sehingga menyebabkan ikan mati. Kendala yang sering dijumpai pada kolamkolam yang dibangun di lahan pasang surut yang ber-pH air 4 adalah rembesan air dari pematang dan masuknya air hujan yang jatuh dari tepi pematang ke dalam kolam. Jenis ikan yang dipelihara antara lain ikan patin.. 1989 dan Partohardjo. gurame. lahan potensial di Karang Agung Ulu. sedangkan pada lahan sulfat masam dosis pengapuran sekitar 10 t/ha.

MS.. Kampus Unsri Indralaya.com...  Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bag. Abdul Madjid... A. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.. Univ. Pertanian. 2009..  Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bag. Fak.06/14 (19) .blogspot. Dosen Jurusan Tanah. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Ir. Propinsi Sumatera Selatan Lihat profil lengkapku Blog Archive • ▼ 2009 (61) o ▼ 06/14 . Diposkan oleh Dr.  Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bag. (2) Kesuburan Tanah..Madjid. Abdul Madjid. Ir. Sriwijaya. R.  Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bag. MS di 00:15 0 komentar Label: Kesuburan Tanah Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Langgan: Entri (Atom) Label • • • • • • • • • • Biologi Tanah (23) Definisi Tanah (2) Fisika Tanah (7) Kesesuaian Lahan (2) Kesuburan Tanah (21) Kimia Tanah (14) Klasifikasi Tanah (3) Kunci Jawaban Ujian (2) Nilai Mata Kuliah (2) Soal Ujian Akhir Semester (2) About Me Dr. o ► 06/07 ..06/21 (5)  Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bag. http://dasar2ilmutanah. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) DasarDasar Ilmu Tanah.

. Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bag.. Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bag.05/31 (12)  BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI.  BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI.Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bag..  TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia..  TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia..  TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia. Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4......  TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia. Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 3.  BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI..... Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4.....06/07 (8)  Kunci Jawaban Ujian Akhir Semester SISDAL  Ujian Akhir Semester MK: DDIT  Ujian Akhir Semester Mata Kuliah: SISDAL  PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1)  PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2)  PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3)  PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4)  PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5) o ► 05/24 ..... Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4.  BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI. Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4.. Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4..  BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK HAYATI.. Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4... Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 1... Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bag.  TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia.. Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4......  Prospek Pupuk Hayati Mikoriza                    ....... Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 2..... Hasil Evaluasi Proses Pembelajaran MK: DDIT Kunci Jawaban Ujian Akhir Semester mk: DDIT Nilai Evaluasi MK: SISDAL o ► 05/31 ........ Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bag.  TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia... Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 5.

.03/30 (1) o ► 03/02 .o► 04/26 .03/02 (2) o ► 02/10 ..12/02 (2) o ► 11/18 .  Kadar dan Serapan Hara Tanaman o ► 04/19 .12/09 (5) o ► 11/25 .04/26 (12)  Penilaian Kelas Kesesuaian Lahan (Bagian I: Tanama.11/18 (4) o ► 11/04 .05/03 (4)  Mineral Tanah  Kadar Hara Mikro Tanaman  Kisaran Kadar Kecukupan Hara Mikro Essensial Tanam....04/12 (1) • ► 2008 (8) o ► 03/23 .. o ► 04/05 .03/09 (2) o ► 02/24 .11/25 (6) o ► 11/11 .  Survei Tanah (Bagian I: Kerapatan Pengamatan setia.11/11 (2) • Design by: FinalSense .02/17 (3) ► 2007 (19) o ► 12/02 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful