REFERAT Anestesi dan Hipertensi

Pembimbing : dr. Nangti Komarudin S, SpB FInaCS

Disusun oleh : Yonathan Heru Agnes Lindasari Eudon Muliawan 2009-061-036 2009-061-042 2009-061-059

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH - ANESTESI RSUD SYAMSUDIN, SH PERIODE 18 OKTOBER 2010 20 NOVEMBER 2010 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK ATMA JAYA

Akhir kata. Penulis menyadari bahwa referat ini masih belum sempurna. 2 November 2010 Penulis . Tim penulis juga berterima kasih kepada dr. masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki.An serta rekan-rekan mahasiswa kepaniteraan klinik yang telah membimbing tim penulis selama ini sehingga tim penulis dapat menyelesaikan referat ini dengan baik. Oleh karena itu penulis berharap seluruh dokter konsulen serta rekanrekan mahasiswa kepaniteraan untuk dapat memberi saran dan kritik yang membangun sehingga penulis dapat memperbaiki kesalahan.KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya sehingga tim penulis dapat menyelesaikan referat ini tepat pada waktunya. semoga refrat ini dapat bermanfaat dan menambah ilmu bagi semua yang membacanya. Sukabumi. Pracahyo Sp. baik yang disadari maupun yang tidak disadari.

2 Manajemen Anastesia 2.2.4.4.1 Pendahuluan Tinjauan pustaka Hipertensi 2.2 Definisi 2.1 Berdasarkan etiologi 2.3.DAFTAR ISI Kata pengantar Daftar isi Bab Bab I II 2.2 Berdasarkan tingkat keparahan 2.1.3 Klasifikasi Hipertensi 2.3 Anestesi Regional 2.1 Premedikasi 2.1.1 Induksi 2.2.2.2.2.4 Terapi untuk Hipertensi 2.4.1.1.3 Pemulihan Bab III Kesimpulan i ii 1 2 Daftar pustaka .1.3.2.2.2 Observasi 2.4 Anestesi Umum 2.2 Maintenance 2.

pelaksanaan maupun pemulihan anestesi dengan penyulit hipertensi. hipertensi berarti memiliki risiko berupa1 : Pasien hipertensi biasanya memiliki komorbiditas yang menambah resiko anestesi. khususnya apakah pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol harus dianestesi atau harus ditunda operasinya. hipertensi tersebut dapat saja mempengaruhi hasil.BAB I PENDAHULUAN Hipertensi atau darah tinggi merupakan suatu masalah kesehatan yang cukup sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam keseharian kita sebagai praktisi medis. perlengkapan. Permasalahan seputar hipertensi tidak hanya seputar kualitas hidup dari orang itu sendiri namun juga berkaitan dengan tindakan-tindakan medis yang terkadang perlu untuk dilakukan pada orang tersebut. bagi masyarakat awam pun hipertensi telah menjadi suatu istilah yang lumrah dan telah dimengerti. cara. Walaupun prevalensi hipertensi di kalangan penduduk tinggi. Tindakan seperti pembedahan misalnya akan terpengaruh oleh keadaan hipertensi tersebut terutama dalam permasalahan di bidang anestesiologi. seperti aterosklerosis yang menuju ke penyakit arteri koronaria atau penyakit serebrovaskular. Hipertensi yang tidak atau kurang tertangani dengan baik menunjukkan respon kardiovaskular yang berlebihan. penulis juga berharap dengan refrat ini maka kita dapat mengerti hal-hal apa sajakah yang perlu diperhatikan dalam perencanaan. Berapa lama pengobatan harus diberikan sebelum pasien dapat dijadwal ulang untuk operasi juga masih belum jelas. dan kelainan endokrin. renal. obatobatan maupun komplikasi dari tindakan tersebut. belum ada pedoman yang jelas untuk manajemen hipertensi perioperatif. . Oleh karena itu penulis mengambil judul ³Anestesi dan Hipertensi´ sebagai judul refrat ini karena penulis melihat pentingnya peranan keadaan hipertensi dalam pelaksanaan anestesi. Bagi anestesiologi. yang dapat memicu kejadian miokardial atau serebrovaskular intraoperatif.

2 Definisi Hipertensi adalah kelainan dimana tingkat basal dari tekanan arteri lebih tinggi dari yang diharapkan untuk umur dan jenis kelamin individu.1.1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Hipertensi primer atau esensial Hipertensi jenis ini merupakan hipertensi yang paling sering terjadi.3. Rumus dasar yang digunakan.3 Klasifikasi Hipertensi Klasifikasi dari hipertensi itu sendiri di bagi menurut beberapa kriteria tertentu yaitu berdasarkan etiologi hipertensi dan tingkat keparahannya : 2. 2. Hipertensi jenis ini di sebut juga sebagai hipertensi idiopatik karena penyebabnya yang tidak di ketahui dengan jelas. b. angka prevalensinya terjadi pada lebih dari 90% kasus. Diagnosis dari hipertensi harus dibuat berdasarkan dua kali pengukuran atau lebih pada waktu yang berbeda. tekanan darah sistolik normal kira-kira adalah [Umur (tahun) + 100]. Organ-organ yang dapat mempengaruhi hingga terjadinya hipertensi dan penyakit pada sistem organ tersebut yang mendasarinya ialah : .1 Hipertensi 2.3 Berdasarkan etiologi Berdasarkan etiologinya hipertensi di bagi menjadi : a. Hipertensi sekunder Hipertensi jenis ini diasosiasikan dengan penyakit tertentu yang mendasari hipertensi ini. Ini merupakan salah satu komorbiditas yang paling sering dialami oleh anestesiologis untuk pasien yang akan menjalani operasi dan anestesi.1.

3. glomerulonefritis kronik. Cushing¶s syndrome. hiperplasia adrenal kongenital.4 Berdasarkan tingkat keparahan Berdasarkan tingginya tekanan darah yang terukur maka hipertensi di bagi menjadi kategori normal. penyakit polikistik. Conn¶s syndrome. akromegali. dan tumor yang memproduksi renin y Sistem Endokrin Diantaranya seperti kelainan pada phaechromocytoma. dan hiperparatiroidisme y Neurogenik Diantaranya seperti kelainan pada hipertensi intrakranial akut.1.y Sistem kardiovaskular Diantaranya seperti kelainan pada koarktasio aorta dan stenosis arteri renalis y Renal Diantaranya seperti kelainan pada pielonefritis kronik. prehipertensi. hiperrefleksia autonom 2. hipertensi stage I dan hipertensi stage II seperti yang terlihat pada tabel berikut Kategori Normal Prehipertensi Hipertensi stage I Tekanan Sistolik Tekanan Diastolik (mmHg) <120 120-139 140-159 (mmHg) <80 80-89 90-99 100 Hipertensi stage II 160 2.4 Terapi untuk Hipertensi Obat antihipertensi oral dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme kerjanya yaitu di bagi menjadi :  Diuretik .1.

Ada bukti bahwa resiko kardiovaskular dapat dikurangi dengan penggunaan -blokade perioperatif. minoxidil  Calcium channel blockers Contoh obat antihipertensi calcium channel blockers yaitu seperti amlodipine. valsartan.  Vasodilator langsung Contoh obat antihipertensi vasodilator langsung yaitu seperti hidralazine. loop diuretik (bemetanide. Pasien yang mendapat obat anti hipertensi harus diinstruksikan untuk melanjutkan pengobatannya sampai dengan hari operasi.Contoh obat antihipertensi diuretik yaitu seperti diuretik tiazid (klorotiazid. nifedipine. Meskipun demikian. beberapa anestesiologis memberhentikan penggunaan . Maka dari itu. isinopril  Angiotensin II receptor antagonists Contoh obat antihipertensi angiotensin II receptor antagonists yaitu seperti losartan. frusemide). potassium-sparing diuretic (amiloride)  Adrenergic receptor blockers Contoh obat antihipertensi adregenic reseptor blockers yaitu seperti prazosin dan phenoxybenzamine  dan blocker Contoh obat antihipertensi  dan blocker yaitu seperti labetalol Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors Contoh obat antihipertensi ACE inhibitors yaitu seperti captopril. metildopa. ACE-inhibitor dan Angiotensin II receptor antagonists memiliki potensi untuk berinteraksi dengan obat anestesi dan menyebabkan hipotensi. hidroklorotiazid). reserpin. verapamil  Agonis 2 sentral dan obat lain yang berefek sentral 2 Contoh obat antihipertensi agonis sentral dan obat lain yang berefek sentral yaitu seperti klonidin. felodipine. dan pengobatan harus dimulai lagi sesegera mungkin pada periode post operasi. enalapril. diltiazem.

2 Manajemen Anastesia Sejauh ini tidak ada teknik anestesi maupun obat-obatan yang di temukan lebih baik pada kasus dengan hipertensi. Saturasi oksigen. Pengobatan antihipertensi sebaiknya tetap diberikan hingga pagi hari sebelum dilakukannya pembedahan. Tekanan darah. urine output. pengalaman dan kecenderungan dari dokter anestesi itu sendiri. 2. 2. dan suhu jika diperlukan. 2.2.1 Premedikasi Untuk mencegah terjadinya takikardi dan hipertensi diperlukan sedasi dan anti ansietas yang adekuat.2. Obat-obatan seperti ACE inhibitor dan antagonis reseptor angiotensin II dapat di berikan 2.3 Anestesi Regional Anestesi regional. Oleh karena itu teknik yang menggunakan keteterisasi dapat memberikan analgesia yang efektif dan memperkecil gangguan hemodinamik yang muncul. Hal yang lain ialah observasi persyarafan perifer.2 Observasi Observasi yang harus dilakukan ialah EKG. pemilihan dilakukan atas dasar kebutuhan dari pelaksanaan pembedahan dan juga kemampuan. terutama jika tekanan darah preoperatif tidak terlampau tinggi. dalam bentuk blok sentral neuroaksial dan blok syaraf perifer.obat anti hipertensi tersebut pada hari operasi. Hipotensi yang disebabkan dari anesthesia spinal dapat menyebabkan efek yang buruk pada pasien hipertensi dengan gangguan berat dari target organ . Pada pasien dengan fungsi ventrikel kanan yang menurun yang akan dilakukan pembedahan besar harus di lakukan monitoring dari vena sentral dengan pemasangan CVP monitor atau/dan kateterisasi arteri pulmonal. tidak menyebabkan permasalahan pada hemodinamik yang biasanya muncul pada anestesi umum.2. dan capnography.

dan pada kasus yang berat diperlukan vasopressin untuk mengembalikan keadaan hipotensi tersebut Penting untuk memastikan bahwa blokade anstesi regional telah efektif sebelum pembedahan dapat dimulai: rasa nyeri dari blokade yang tidak adekuat dapat menyebabkan stimulus yang poten dari hipertensi dan juga takikardi Harus juga di persiapkan untuk melakukan anastesi umum jika blok anestesi regional tidak adekuat.1 Induksi Dokter bedah haruslah siap untuk memulai operasi segera setelah induksi dari anesthesia. Pergunakan kombinasi dari opioid (contoh: fentanyl) dengan thiopentone atau propofol untuk induksi. dan pemulihan. pengukuran tekanan darah yang sering dan penggunaan vasopressor Hipotensi yang disebabkan karena blokade dari syaraf sentral haruslah di perbaiki dengan cairan intravena dan/atau vasopressor seperti efedrin atau fenilefedrin. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian cairan preloading. Pasien semacam ini dapat mungkin resisten terhadap vasopressor umum. Hal ini mempersingkat jarak waktu antara induksi dan insisi dari bedah dimana tekanan darah cenderung untuk menurun.tertentu.2. maintenance.4. Anesthesia yang menggunakan bahan berbasis opioid dapat dengan lebih menjaga stabilitas dari kardiovaskular namun dapat dibandingkan thiopentine maupun propofol. dimana perlu diperhatikan beberapa hal yang berkenaan dengan permasalahan hipertensi 2.4 Anestesi Umum Tahap dalam anestesi umum di bagi menjadi induksi. Pasien yang sangat gelisah terkadang memerlukan penenang baik dengan komunikasi dan/atau sedasi dalam bentuk midazolam atau propofol infus maupun dosis bolus. Jangan melakukan sedasi yang berlebih untuk membantu blok yang tidak adekuat tersebut. .2. hindari penggunaan ketamine karena dapat meyebabkan hipertensi dan takikardi. 2.

4. obat-obatan tersebut haruslah diberikan kurang lebih 90 detik sebelum intubasi dilakukan.5mg/kg dan esmolol IV 0. hydralazine) dapat di berikan jika tekanan darah tetap tinggi walaupun telah di berikan premedikasi dan pengobatan antihipertensi. Hal ini harus diperhatikan jika selama pembedahan diperlukan anesthesia yang bersifat hipotensif 2. Obat-obatan yang dapat menurunkan respon simpatis selama instrumentisasi dari jalan nafas diantaranya seperti ligocain IV 11.2. observasi dari tingkatan relaksasi otot dengan menggunakan stimulator syaraf perifer. Pastikan tercapainya kedalaman anastesi dengan membuat konsentrasi end-tidal dari gas anastesi yang di inhalasi lebih dari 1 MAC sebelum di lakukan intubasi Melakukan blokade neuromuscular yang adekuat sebelum dilakukan intubasi.4. . isoflurane dan sevoflurane lebih di anjurkan dibandingkan halotane karena efek depresi miokardial yang lebih rendah. 2.5-1 mg/kg. etomidate dapat lebih menguntungkan untuk digunakan pada aspek ini. Menjaga kedalaman anestesi menggunakan obat anastesi opioid dan yang mudah menguap.2 Maintenance Dalam maintenance anestesi umum perlu diperhatikan untuk menjaga CO2 dalam batas normal dan oksigenasi yang adekuat.menyebabkan depresi pernafasan pada post operasi. Antihipertensi yang diberikan secara intravena (contoh esmolol.2. Untuk penggunaan zat blokade neuromuskuar di sarankan untuk digunakan zat yang secara kardiovaskular lebih stabil (contoh vecuronium dan rocuronium) l Karena batas bawah dari autoregulasi aliran darah ke otak lebih tinggi dari pada pasien normal.3 Pemulihan Tahap pemulihan ini terkadang tidak begitu diperhatikan walaupun sebenarnya sama pentingnya dengan induksi dan maintenance.

pengamatan harus tetap dilanjutkan selama periode post operasi sampai jelas bahwa pasien secara kardiovaskular telah stabil. Pemberian pengobatan antihipertensi dapat dimulai kembali sesegera mungkin. . dan pengobatan dari hipertensi dapat dilanjutkan jika diperlukan.Pemberian tambahan dosis dari lignocain IV atau esmolol dapat membantu menurunkan respon simpatis saat dilakukan ekstubasi Pasien dengan hipertensi harus segera di ekstubasi. pasien yang memerlukan puasa yang diperpanjang harus dapat diberikan medikasi antihipertensi dalam bentuk parenteral. segera setelah reflex proteksi jalan nafas telah kembali hal ini dimaksudkan untuk mencegah batuk dan hambatan pada ETT Tekanan darah dan laju jantung harus di observasi secara ketat di PACU.

harus segera diperbaiki dengan menggunakan cairan intravena dan/atau vasopressor seperti efedrin atau fenilefedrin. isoflurane dan sevoflurane lebih di anjurkan dibandingkan halotane karena efek depresi miokardial yang lebih rendah. pengalaman dan kecenderungan dari dokter anestesi itu sendiri. pemilihan dilakukan atas dasar kebutuhan dari pelaksanaan pembedahan dan juga kemampuan. Sedangkan pada anestesi umum lebih dianjurkan untuk mempergunakan kombinasi dari opioid (contoh: fentanyl) dengan thiopentone atau propofol untuk induksi. Pengobatan antihipertensi sebaiknya tetap diberikan hingga pagi hari sebelum dilakukannya pembedahan.BAB III KESIMPULAN Sejauh ini tidak ada teknik anestesi maupun obat-obatan yang di temukan lebih baik pada kasus dengan hipertensi. Menjaga kedalaman anestesi menggunakan obat anastesi opioid dan yang mudah menguap. . hindari penggunaan ketamine karena dapat meyebabkan hipertensi dan takikardi. Sedangkan pada tahap pemulihan pemberian tambahan dosis dari lignocain IV atau esmolol dapat membantu menurunkan respon simpatis saat dilakukan ekstubasi. Pada saat terjadi hipotensi akibat dari anestesi regional. Dalam maintenance anestesi umum perlu diperhatikan untuk menjaga CO2 dalam batas normal dan oksigenasi yang adekuat.

DAFTAR PUSTAKA 1 Siregar FA. Gemari 2009. 2006. 3 4 Gorlin RJ. . Facial Clefting and Its Syndromes. Rumsey N. European Journal of Orthodontics 1998. Roberton¶s Textbook of Neonatology. Pruzinsky S. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins. Rennie JM. Tidak. 2005. 99(X):645.Tertangani 8 9 Sari LA. The Molecular Basis of Hydrolethalus Syndrome. [online] 2009 Juli 13 [cited 10 April 2010] Available from: URL: http://kesehatan. Pengaruh Nilai dan Jumlah Anak pada Keluarga terhadap Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS). Birth Defects 1971. 2 Azahari R. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. editor. Helsinki: National Institute for Health and Welfare. 7:4-59. 10 Honkala H. Manalu SF. 6. USU Digital Library 2003. 20:407-24. Plast Reconstr Surg 1993. Jakarta : EGC. 92 (6):1045±51. 2009.000 Penderita Bibir Sumbing Tidak Tertangani. Sandy JR. 6 Turner SR. Sadler TW. Psychological Aspects of Cleft Lip and Palate. 7 Kompas.Bibir.Sumbing. com.com/read/2009/07/13/10043881/6. 4th ed. Revitalisasi Program KB Nasional Harus Dilakukan. Mulliken JB. 10th ed. Fetal Cleft Lip and Palate: Sonographic Diagnosis and Postnatal Outcome. Langman¶s Medical Embryology. USA: Churchill Livingstone.000.Penderita. 5 Benacerraf BR. 2002.kompas. Cervenka J.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful