BATIK BAKARAN

Pada tahun 1975, batik bakaran nyaris hilang dari peredaran pasar tradisional. Pasalnya, Sutarsih yang berusia 86 tahun, satu-satunya generasi keempat pembatik bakaran, tak mampu lagi membatik. Namun, Bukhari, putra ke-12 Sutarsih, yang mewarisi kemampuan membatik, berusaha keras menjadikan batik bakaran kembali ´bermasa depan´. Bukhari Wiryo Satmoko, nama lengkap pria yang lahir di Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, ini tidak sekadar mengembalikan batik bakaran di peredaran pasar tradisional, tetapi sampai ke pasar nasional dan internasional

Dia memang akrab dengan batik. Sejak masih duduk di kelas III Sekolah Rakyat, Bukhari kerap dianggap suka ngrusuhi atau mengganggu ibunya yang sedang membatik.

Saat sang ibu beristirahat, Bukhari kecil mengambil canting dan melanjutkan motif batik di kain yang dikerjakan ibunya. Bukannya menjadi rangkaian batik yang indah, motif-motif karya Bukhari itu tidak berbentuk dan malam batiknya mblobor.

Kejadian itu terus berulang hingga sang ibu sering marah. Namun, dari waktu ke waktu sang ibu pun bisa melihat bahwa hasil lanjutan motif Bukhari semakin baik. Bahkan, Bukhari kerap menelurkan motif lain yang berbeda dengan pakem batik bakaran.

´Saya mulai jarang membatik bersama Ibu setelah duduk di Sekolah Teknik Juwana. Soalnya, lebih asyik mengutak-atik mesin ketimbang canting he-he,´ kenangnya.

Kondisi itu berjalan hingga Bukhari duduk di STM 2 Semarang. Namun, baru dua bulan di sekolah itu, dia harus pulang ke rumah dan tak lagi melanjutkan sekolah. Ia harus menjaga ibunya yang sakit keras karena seorang kakak Bukhari meninggal tertimpa paku bumi. Sang ibu tak memperkenankan Bukhari melanjutkan sekolah teknik karena takut kejadian serupa menimpa putra bungsunya itu. Peristiwa itulah yang kembali mendekatkan Bukhari dengan cinta pertamanya, batik.

Mengajari

istri

Tahun 1975 ia menikah dengan Tini. Untuk menghidupi keluarga, Bukhari mengerjakan tambak. Ia mengajari istrinya membatik dan berharap Tini tak sekadar menjadi ibu rumah tangga, tetapi turut menopang ekonomi rumah tangga.

Pada tahun-tahun itu pula Desa Bakaran Wetan krisis generasi pembatik bakaran. Sejak sakit, ibunda Bukhari tak lagi membatik. Bukhari memanfaatkan situasi ´genting´ itu dengan mengembangkan batik bersama istrinya.

´Semula saya memproduksi dua kain batik per bulan dan menjualnya di pasar tradisional. Waktu itu harganya masih murah, Rp 3.000-Rp 8.000 per lembar,´ ujar Bukhari, generasi kelima pembatik bakaran.

Menurut dia, meski tak selaris saat Juwana menjadi pelabuhan besar pada zaman para kakekbuyut, masyarakat tetap meminati batik bakaran. Bahkan, sejumlah orang yang mengira batik bakaran sudah tak lagi diproduksi mengaku kaget bisa menemukannya.

´Mereka mendatangi rumah saya untuk memesan batik. Dari waktu ke waktu pesanan bertambah sehingga batik bakaran tenar kembali,´ katanya.

batik bakaran menjadi komoditas perdagangan di Pelabuhan Juwana dan menjadi tren pakaian para pejabat Kawedanan Juwana. mereka dapat menambah penghasilan keluarga Rp 15.´ katanya. ´Usaha itu saya tutup selama dua tahun. atau mburuh di kota-kota lain. tradisi manganan atau makan bersama terus berkembang dan menjadi salah satu sarana menjalin keguyuban warga. Ia mengambil nama kakeknya. Melestarikan legenda Sukses Bukhari melestarikan batik bakaran dan meningkatkan perekonomian warga sekitar berdampak pula pada kelestarian legenda tentang batik bakaran. Jakarta. Turiman Tjokro Satmoko. Bukhari memaparkan. Pemkab Pati menerima usulan itu dengan menggalakkan program pemakaian batik bagi pegawai negeri sipil (PNS) pada hari-hari tertentu. Tenaga kerja Lonjakan permintaan pasar pada era 1980-an itu menyebabkan Bukhari menambah tenaga kerja dari dua orang menjadi 20 pembatik. tetapi sampai ke Surabaya. Bukhari memberi merek batiknya ´Tjokro´.Agar batik bakaran lebih dikenal luas. saat itu harga bahan baku batik meningkat berlipat-lipat sehingga harga batik menjadi sangat tinggi. pada era Tjokro.´ kata penerima penghargaan Byasana Bhakti Upapradana dari Gubernur Jateng pada 1994 ini. Alasannya. Dalam penyamarannya di Desa Bakaran. para ibu rumah tangga itu tak mempunyai pekerjaan tetap ketika ditinggal suaminya melaut. batik bakaran kembali bangkit. Industri rumah tangga batik yang dia kembangkan mulai dari nol itu terkena imbas krisis moneter. Rembang. serta Kanada dan Amerika Serikat. Bandung. sedangkan yang lain harus diajari lebih dulu. Nyi Danowati membuat langgar tanpa mihrab yang . Menurut Bukhari. penjaga pusaka dan pengurus seragam Kerajaan Majapahit akhir abad ke-14. bertani. Pemasaran batik produknya tak hanya di Pati. Ia datang ke Desa Bakaran untuk mencari tempat persembunyian karena dikejar-kejar prajurit Kerajaan Demak. Hal Ini mengakibatkan batik bakaran tak laku. Pada tahun 1998 Bukhari terpaksa menutup usaha batik dan memberhentikan para pekerjanya. sejarah batik bakaran terkait erat dengan kisah Nyi Danowati atau Nyai Ageng Siti Sabirah. sepi pembeli. ´Sebagian kecil di antara mereka sudah bisa membatik. Alasannya. Blora.000 per hari. Tenaga pembatik itu berasal dari para ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya. Tahun 2006 Bukhari mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Pati untuk melestarikan dan meningkatkan pemasaran batik bakaran. Tak mengherankan jika omzet Bukhari mencapai Rp 40 juta±Rp 60 juta per bulan. Bukhari bisa mempunyai tenaga kerja harian dan borongan sebanyak 52 orang. Dengan membatik.000-Rp 30. Semarang. Mereka mampu memproduksi 400-600 lembar batik bakaran per bulan. Melalui promosi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pati dan gethok tular para pembeli. Program itu meningkatkan pemasaran batik bakaran di daerah Pati sekaligus juga di luar Pati. Melalui legenda itu. Baru pada tahun ketiga saya mulai memproduksi batik lagi dalam skala kecil dibantu istri dan seorang pembatik.

Sido Mukti. dan jambu alas. Nogo Royo. Blebak Duri. Merak Ngigel. tempat warga menggelar tradisi manganan. Dan beberapa motif pesisir yang lain corak tersebut pada umumnya berbeda dengan corak batik daerah lain. ornament maupun warnanya. Manggaran. MOTIF BATIK TULIS BAKARAN BERDASARKAN GEOGRAFIS DAN FILOSOFis. ungker Cantel. dan akar kudu sebagai pewarna sawo matang. motif gelombang cinta. begisar. yaitu warna yang mendominasi batik Bakaran Wetan adalah hitam dan coklat. Puspo Baskora. Sido Rukun. Aliran Tengahan. Keterampilan itu tak lepas dari buah didikan Nyi Banoewati. Unsur corak/motifnya beraliran pada corak motif batik Tengahan dan bathik Pesisir. Padas Gempal. Banyak budaya ditemukan di Juwana. Misalnya. Karya batik ini juga mampu mengangkat citra daerah. Serta pada setiap motif mempunyai makna yang sangat filosofis. juwana. Dan Jenis motif tengahan ini diindikasikan pada corak batik. Motif-motif itu mirip dengan motif batik dari Jawa Timur. bahan-bahan itu sudah sulit didapat. dan sampai kini menjadi pepunden. Kopi Pecah. blebak lung. Saat ini. Sedangkan beraliran batik tulis pesisir karena secara geografis letak wilayah Desa tersebut memang terdapat dipesisir pantai dan aliran pesisir ini diindikasikan pada motif batik tulis. motif batik Nyi Danowati yang masih berkembang hingga kini adalah motif sekar jagad.´ kata Bukhari. peksi papua. Rawan. desa Bakaran mampu menjadi ikon Pati yaitu dengan karya budaya masyarakat. Dan sampai saat ini corak batik bakaran sangat khas dan unik yang motifnya sangat berbeda dengan batik-batik lain walaupun asal mulanya dari budaya batik yang sama yaitu budaya keraton. ´Sayangnya. Kedele Kecer. pohon druju.Truntum. Gandrung. Namtikar. Bregat Ireng. kulit pohon tingi yang menghasilkan warna coklat.Motif batik tulis Bakaran bila dilihat dari segi warna mempunyai mempunyai ciri tersendiri. Dan beberapa motif tengahan yang lain. Salah satu karya budaya masyarakat yang mampu menjadi perhatian masyarakat luas adalah karya batik tulisnya.disebut Sigit. padas gempal. Seni batik bakaran ini berjalan sejak zaman majapahit yaitu antara abad 14 sampai sekarang. gandrung. Gringsing. . loek Chan. AKAR BUDAYA BATIK BAKARAN Bakaran adalah sebuah desa yang ada di kecamatan Juwana kabupaten Pati. Sejarah Masyarakat Keterampilan membatik tulis bakaran di Desa Bakaran Wetan itu punya sejarah yang melegenda. Dahulu. Di halaman Sigit itulah Bukhari mengajar membatik kepada warga sekitar. Desa ini ada 2 yakni Bakaran Wetan dan Bakaran Kulon. Kawung Tanjung. kayu tegoran untuk warna kuning. Liris. pewarna batik motif itu menggunakan bahan-bahan alami. blebak Urang. Selain motif-motif bakaran kuno. Menurut dia. Megel Ati. kembang rowo. dan limaran. Bukhari juga mengembangkan motif kontemporer berdasarkan kekhasan daerah dan tren yang dilihatnya berkembang di masyarakat. Blebak Kopik. Misalnya. baik dari segi gambar. terutama didaerah ini. Hal ini disebabkan karena sudah terjadi perpaduan kebudayaan pedalaman dan pesisir yang akhirnya karya masyarakat ini sangat unik. karena yang memperkenalkan batik tulis pada wilayah Desa Bakaran adalah dari kalangan kerajaan Majapahit. penjaga museum pusaka dan pembuat seragam prajurit pada akhir Kerajaan Majapahit abad ke-14. magel ati. Limanan. sehingga masyarakat menjulikinya daerah seni budaya.

Bersama Ki Dukut. Ia melanjutkan perjalanan hingga ke kawasan rawa-rawa yang penuh pohon druju atau sejenis semak berduri. batik tulis bakaran banyak peminat. padas gempal. motif batik yang diajarkan Nyi Banoewati adalah motif batik Majapahit. Ki Dukut menyetujui usulan itu. Coretan itu membentuk motif garis-garis pendek. Nyai Banoewati adalah salah seorang abdi dalem yang sudah memeluk agama Islam. sedangkan lahan Nyi Banoewati sempit. ia mampu membuka lahan yang sangat luas. Akhirnya Sang abdi dalem ini ketahuan dan melarikan untuk menyelamatkan diri dari hukuman raja dan sergapan prajurit. Di Bakaran Wetan itulah Nyi Danowati membangun permukiman baru. perempuan yang konon berparas ayu itu pergi menyusuri pantai utara Jawa Timur dan Jawa Tengah. sedang milik Kek Truno bernama Bakaran Kulon. Misalnya. ´Motif khusus yang diciptakan Nyi Baneowati sendiri adalah motif gandrung. Misalnya. Nyi Banoewati dan dua saudaranya berpisah dengan Ki Dalang Becak. Nyi Banoewati mengadakan perjanjian dengan Ki Dukut. sekar jagat. Daerah milik Nyi Banoewati dinamai Bakaran Wetan. Sejumlah warga yang semula tidak mau menempati daerah berawa-rawa itu mulai tertarik membangun permukiman di sekitar rumah Nyi Banoewati. Jadilah kawasan Nyi Banoewati lebih luas sehingga sebagian kawasan diberikan kepada Kek Truno yang tidak mau babat alas. Tak kurang akal. bahan-bahan pewarna itu sudah sulit ditemui. Meskipun kesulitan bahan pewarna. kekasihnya. magel ati. Lantaran Ki Dukut itu seorang lelaki. Di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Waktu itu Joko Pakuwon berhasil menemukan Nyi Banoewati. Secara lebih luas lagi. Sayangnya. Motif itu terinspirasi dari pertemuan dengan Joko Pakuwon. Di pendopo dan pelataran Sigit itulah Nyi Danowati melaksanakan aktifitas agamanya dan mengajar warga membatik. motif-motif khas itu perlu mendapat perlakuan khusus dalam pewarnaan. Nyi Banoewati / Nyai Ageng Siti Sabirah (begitu masyarakat menyebutnya) mendirikan masjid tanpa mihrab supaya tidak diketahui prajurit Majapahit yang disebut Sigit. Nyi Banoewati menyempurnakan garis-garis itu menjadi motif garis silang yang melambangkan kegandrungan atau kerinduan yang tidak terobati. sedang Ki Dalang Becak menetap di Tuban. mereka juga . Kerajaan Majapahit diambang keruntuhannya karena wilayahnya sudah hampir dikuasahi oleh kerajaan Islam Demak Bintoro. Ki Truno. Di sela-sela waktunya. kayu tegoran warna kuning. Kedatangan Joko Pakuwon membuat Nyi Banoewati yang sedang membatik melonjak gembira sehingga secara tidak sengaja tangan Nyi Banoewati mencoret kain batik dengan canting berisi malam.Waktu itu. Nyi Banoewati membuka lahan di daerah rawa-rawa itu sebagai tempat tiras pandelikan atau tempat persembunyian. kulit pohon tingi yang menghasilkan warna coklat. Nyi Banoewati bersama tiga saudaranya. Waktu itu.. Pewarnanya pun harus menggunakan bahan-bahan alami. dan Ki Dalang Becak. dan akar kudu warna sawo matang. Saat ini warga Bakaran selain melestarikan motif Nyi Banoewati. yaitu Ki Dukut. Ia meminta sebagian lahan Ki Dukut dengan cara menentukan batas lahan melalui debu hasil bakaran yang terjatuh di jarak terjauh.´ katanya. dan limaran. kawasan itu dikenal sebagai Drujuwana (hutan druju) atau Juwana. Adapun Ki Dukut yang kawasannya sangat sempit itu menamakan daerah itu Pedukuhan Alit atau Dukutalit. batik bakaran menjadi komoditas perdagangan antarpulau melalui Pelabuhan Juwana dan menjadi tren pakaian para pejabat Kawedanan Juwana. di tiras pandelikan. yang memang saat itu aktifitasnya disibukkan dengan membatik. Ketiga desa itu sampai sekarang tetap ada dan saling berbatasan satu dengan yang lain. Yang saat itu warga keraton sangat melarang keras warganya untuk beragama Islam.

ini di rendam dulu dengan lerak. Motif remek ini mencirikan kekhasan batik bakaran. Diantara warna klasiiknya bakaran adalah warna putih. Kain sebelum digambari dan dicantingi.mengembangkan aneka macam motif kontemporer. Sang abdi ini bersama ketiga bersaudara (ki dalang. seni tangan ini dikembangkan oleh sang abdi dalem dari keraton yang bertugas merawat gedung pusaka yang mempunyai keahlian membatik untuk keperluan gedung pusaka itu. 10. Melorod atau menghilangkan malam pada kain yang sudah terwarna. 6. Pencoletan. 8. medel. Bila sudah selesai maka corak batik sudah bisa dinikmati. nerusi. Diantara prosesnya adalah. 11. kain dicantingi sesuai desain gambar kain. Jadi setiap motif batik ada maksud dan tujuan yang diharapkan pembatik. Nyogo. ada yang satu minggu. 2. Medel. ada yang satu bulan ada yang 40 hari. BATIK YUWANA ³ BATIK TULIS BAKARAN PATI (sebuah corak budaya pesisir) Batik bakaran ini sudah eksis sejak zaman Majapahit pada abad 14 m yang lalu. jambu alas. hitam dan cokelat. Biasanya motif tersebut menggambarkan kondisi masyarakat yang ada dan memberikan pesan moral pada masyarakat. nembok. Medel ini adalah nyelup (merendam kain dalam air yang sudah diberi warna sampai beberapa kali) 7. 9. Ada yang puasa 3 hari. Medel ini adalah mbironi/ memberi warna biru pada kain. nyogo. 3. Pencantingan. Warna sogo bakaran adalah warna cokelat klassik. sehingga suatu ketika atau secara tiba-tiba tidak tersadari mendapat gambaran/ bayangan motif batik yang akan dibuat. Nyogo adalah pemberian warna sogo. ngering. Kemudian setelah digambar. Setelah decanting dengan malam. Dalam pelarian ini sampailah pada suatu . sablon dsb. Dan ada juga menunjukkan latar belakang si perajin itu sendiri. Pelorodan ini dengan menggodok kain di air yang mendidih yang sudah dikasih obat pelorodan. printing. dan teknik dalam pembuatan batik bakaran. Dengan tujuan agar nanti setelah diwarnai tidak akan pudar/ Penggambaran dikain. Nemboki. Setelah melakukan puasa ini perajin melakukan pertapaan/ nyep dengan tujuan mendapatkan inspirasi/ ilham. dan blebak urang. Atau ada pesan-pesan yang terkandung didalam motif tersebut. Ada beberapa proses. Gambar ini sebagai motif batik yang diinginkan. 1. Nerusi. Proses ini bertahap mulai tahap pertama sampai terakhir. Tahapan-tahapan tersebut dikerjakan perajin secara manual tanpa ada alat-alat baru seperti cap. 4. kain diberi obat pengunci warna supaya tidak luntur atau pudar warnanya. dan nglorod. Yakni menuangkan gambar yang sebelumnya digambar dikertas. yakni mulai dari nggirah. Setelah pewarnaan selesai. mbironi. gelombang cinta. Proses pendesainan. Warna ini merupakan warna klasikknya bakaran. Ceritanya. antara lain motif pohon druju (juwana). 5. kain ditembok dengan malam penuh. kedele kecer. Proses ini adalah membuat gambar motif di kertas sebelum digambar di kain. Proses Pembatikan Menurut tutur masyarakat dulu nyai ageng Sabirah dan para perajin sekitar sebelum pembatikan melakukan ritual dulu. nyolet. Pengekuman kain. ada yang setelah diwedel ada yang langsung. nyimplong. ki truno) melarikan menyelamatkan diri menyusuri pantai utara kearah barat atas desakan raja dan prajuri karena saat itu seluruh warga keraton Majapahit dilarang memeluk Islam. kidukut. Penembokan kain ini untuk membuat motif retak/ motif remek pada kain. Nerusi ini memberikan titik-titik pada motif. Pencoletan ini merupakan pemberian warna bervariasi. ´Banoewati´ adalah nama dari sang abdi dalem tersebut. Langkah terakhir adalah Ngolrod. Setelah dilorod kain dikeringkan dan sudah bisa dinikmati motifnya.

dan limaran. pohon dsb. putih dan cokelat. dan limaran. hasil produksi perajin batik di Desa Bakaran Wetan. Sementara pakaian batik tulis. gringsing. nerusi. dan merak bambu. Perajin batik Bakaran "Tjokro". bahkan dari negara lain seperti Malaysia dan China. Santoso. Bahkan. ngering. magel ati. Sekarang ini batik bakaran sudah ada yang dipatenkan oleh Ditjen HAKI sebagi motif batik milik pati. para perajin atau pemilik motif enggan mematenkan karena tidak mempunyai dana. dan nglorod. Sehingga sampai pada saat ini batik berkembang dibakaran dan sebagai ikon Pati. Ke17 motif itu semuanya adalah motif klassik. Banyak perajin beranggapan lebih baik mengunakan dana untuk tambahan modal ketimbang mematenkan motif. Motif-motif itu merupakan karya baru atau pengembangan motif-motif batik Bakaran klasik.air. kupu dadap. Bukhari. sidorukun. Di Rembang. perajin kini membuat inovasi batik . Selain itu. benalu. Yang kedua motif modern yang ciri khasnya adalah motif aktual berupa bunga." kata dia. di Pati mengatakan. Kabupaten Pati. "Para perajin juga beranggapan dipatenkan atau tidak dipatenkan itu sama saja. Batik klassiknya bakaran adalah berwarna antara hitam. pring sedapur. harganya rata-rata di atas Rp 100. saat ini mereka sedang berupaya mengembangkan batik kombinasi cap dan tulis untuk membuka persaingan dengan produk tekstil batik asal China yang harganya murah. apalagi jika itu dari negara lain. liris.000 per potong. Sehingga corak motifnya memperlihatkan karakter masyarakat. diantara teknik dan prosesnya adalah nggirah. rawan. sidomukti. mengemukakan. Hal itu menyebabkan motif-motif Bakaran mudah ditiru dan diklaim perajin batik dari luar daerah. KOMPAS . yang warnanya bervariasi yang merupakan hasil inovasi masyarakat. nembok. yakni Juwana tepatnaya didesa Bakaran. prenjak. Kecamatan Juwana. kolibri. pematenan motif batik tidak lagi menjadi perhatian utama para perajin. Motif-motif batik yang belum dipatenkan itu antara lain motif garuda. Batik ini teknik perajinannya adalah sangat tradisional sekali. waktu tersebut sangat cukup bagi perajin luar daerah atau negara lain untuk meniru dan mematenkan terlebih dahulu motif batik Bakaran yang sedang populer.tinggal dan mengembangkan keahlian membatiknya. Selama ini tak pernah ada tindakan dari pemerintah kepada pelaku-pelaku yang meniru motif yang sudah dipatenkan.000 per potong.warga setempat menyebutnya . motif blebak kopik. Yang menjadi khasnya lagi batik bakaran adalah motif ³retak atau remek´. Terhitung semuanya berjumlah 17 motif yang terpatenkan. Didesa inilah nyii Banoewati atau nyai Sabirah . seperti motif gandrung. Pakaian jadi bercorak batik asal China harga paling murah Rp 40. mbironi. Batik bakaran sudah terpatenkan Batik ini merupakan wujud ekspresi masyarakat pesisir pati. yakni motif klassik dan motif terkini/ modern. Tergolong ada 2 jenis motif batik bakaran. saat ditemui. KERAJINAN BATIK BAKARAN 90 Motif Batik Bakaran Belum Dipatenkan PATI.Sebanyak 90 motif dari 108 motif batik Bakaran. nyimplong.daerah. Motif klassik adalah batik yang motifnya abstrak dan berupa simbol-simbol yang mempunyai cerita unik dalam pembuatannya. proses pematenan membutuhkan waktu sekitar dua tahun. medel. ikan. Padahal. Rabu (6/10). hingga kini belum dipatenkan. kopi pecah. padas gumpal. dan lain sebagainya. truntum. Ketua Koperasi Batik Lasem. Diantaranya adalah. nyogo. sekar jagat.

(hen) Batik Bakaran ialah sebuah pelarian adalah awal mula munculnya Batik Bakaran. Hal itu menyebabkan pengembangan batik lambat. Jenis dan corak batik tradisional sangat banyak. "Rencananya. Kala itu Majapahit melarang beredarnya agama Islam di bawah pemerintahannya kerajaan yang mengabut Hindu. Nyi Sabilllah atau Nyi Danauwati adalah pemrakarsa Batik Bakaran Wetan yang telah ada sejak tahun 1471 M. Kondisi batik bakaran kini memprihatinkan. seperti jins. Dinas Perdagangan dan Perindustrian membekali para perajin dengan berbagai ilmu perbatikan. perlu ada regenerasi secara konsisten. Ada sekitar 30 motif batik bakaran yang perlu diselamatkan dari kepunahan. Corak dan variasi batik sesuai dengan filosofi dan budaya setiap daerah. Jumlah perajin pada era 1990 sebanyak 400-an orang. yaitu dominan hitam dan coklat. Sekretaris Prodi D3 Desain Arsitektur Undip . Itu pun hanya sebagai pekerjaan sambilan. Pemkab Pati mulai membina intensif dan membantu dengan jaringan sistem pemasaran modern. Keempat. Zaman dulu. Penerimaan batik di masyarakat belum semasif mode pakaian lain." ujarnya. Batik bakaran adalah warisan sejarah dan budaya Pati yang tidak banyak ditemukan di daerah lain. Selain itu. Pelariannya dari prajurit Majapahit menyebabkan dia mengungsi di Desa Bakaran Wetan. Batik bakaran yang merupakan komoditas kerajinan khas Pati diharapkan mampu menjadi ikon Pati dan menjadi bidang usaha yang menjanjikan. Dari segi warna. Jadi. Sukawi Pengajar Arsitektur. Dalam persembunyiannya. Ada beberapa langkah melestarikan batik bakaran. tetapi juga tas dan sandal. Untuk menjadikan kain batik sebagai jati diri perlu inovasi terusmenerus terhadap mode batik. Ketiga. Jangan sampai hak paten itu diambil alih negeri lain. kini tinggal 70-an orang. Nyi Sabillah mengajarkan keahliannya membatik kepada masyarakat sekitar. pemkab dapat memfasilitasi dan mengupayakan untuk mengajukan hak paten atas puluhan motif batik bakaran. Busana yang luwes dan mudah dipadupa-dankan dengan busana masa kini. Motif bakaran dapat pula diterapkan ke atas keramik dan produk kerajinan kuningan khas Pati untuk menguatkan batik tersebut sebagai identitas Pati. Nyi Sabillah mendirikan langgar tanpa mighraf agar terhindar dari prajurit Majapahit. Harga batik kombinasi lebih murah dan terjangkau.kombinasi untuk memenuhi permintaan konsumen dalam jumlah banyak. Kondisi itu kian parah seiring dengan penurunan jumlah perajin. untuk mengisi aktivitas kesehariannya. Kedua. produk itu akan dikembangkan tidak hanya dalam bentuk baju atau pakaian jadi. Tidak ada salahnya merancang batik agar terlihat keren dan gaul. motif batik tulis bakaran berciri khas. Pertama. batik bakaran menjadi simbol priayi yang banyak diburu sebagai lambang kekayaan. Dia dikejar-kejar prajurit Majapahit disebabkan oleh agama yang saat itu beliau peluk. mencanangkan penggunaan seragam batik bakaran bagi para PNS sekali sepekan.

. By: OCAL Stop Sign By: OCAL Traffic Light By: OCAL Traffic Light: Green By: OCAL Traffic Light: Red By: OCAL Traffic Light: Yellow By: OCAL Sweden By: OCAL Passo Carrabile By: OCAL Svg Road Signs By: OCAL Svg Road Signs By: OCAL Road Sign By: OCAL Svg Road Signs By: OCAL No U Turn Sign By: OCAL One Way Sign By: OCAL Traffic Likely Road Signs By: OCAL Slippery Road Sign By: OCAL Intersecting Road Sign By: OCAL Stop Sign By: OCAL Stop Sign By: OCAL Train Road Signs By: OCAL Stop Sign By: OCAL Watch For Bicycles Sign By: OCAL Yield Sign By: OCAL Ped Xing By: OCAL Traffic Lights Ahead Sign By: OCAL ..Directional Sign Continue Straig.

KLIPINK SEJARAH BATIK BAKARAN Nama Kelas : Tiya Widi Astuti : X AK.I SMK NASIONAL PATI TAHUN AJARAN 2010/2011 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful