Dampak Hegemoni Produk Cina Bagi Produk Domestik Indonesia Pasca Ratifikasi ASEAN-Cina Free Trade Area

(ACFTA)

Abstrak Tahun Baru 2010 menandai diberlakukannya Perjanjian Perdagangan ASEAN-Cina Free Trade Area, (ACFTA). Dengan kesepakatan ini, maka barang-barang antarnegara China dan ASEAN akan saling bebas masuk dengan pembebasan tarif hingga nol persen. Sejumlah pengusaha menilai, sektor usaha kecil dan menengah akan tergilas karena serbuan barangbarang murah dari China. Dalam konteks ini, kita tidak punya pilihan untuk menunda, apalagi mundur. Satu-satunya hal yang harus kita lakukan adalah berbenah, mempersiapkan diri, dan memenangi persaingan ini. Peningkatan daya saing produk domestik (yang menjadi harga mati untuk tidak tergilas oleh derasnya arus masuk produk-produk China ke Indonesia) harus dilakukan, selain itu kita juga harus memaksimalkan pengelolaan Intellectual Capital (IC) yang dimiliki oleh masing-masing perusahaan. Strategi ini mutlak diperlukan karena ACFTA ini merupakan pertanda dari munculnya era baru dalam ekonomi, dari old economy kepada new economy. Dalam old economy, kesejahteraan diciptakan melalui peningkatan unit produk dan sistem pengukurannya berdasarkan pada pendapatan (revenue), kos (cost), dan laba (profit). Sedangkan dalam new economy, kesejahteraan diciptakan melalui peningkatan incorporated value added dari produk dan jasa. Setiap perusahaan memiliki pengetahuan, keterampilan, nilai dan solusi yang unik yang dapat ditransformasikan ke dalam nilai di pasar. Jika pengelolaan sumberdaya tak berwujud (intangible resources) dapat membantu meraih keunggulan kompetitif, maka peningkatan produktivitas dan nilai pasar (market value) bukan lagi sebuah pilihan, tetapi adalah sebuah kepastian (Pulic and Kolakovic, 2003). Hal inilah yang disebut sebagai intellectual capital, yang menjadi kunci bagi perusahaan untuk memanangi kompetisi dalam ACFTA. IC adalah suatu istilah yang diberikan kepada kombinasi aktiva tidak berwujud dari pasar (intangible assets of market), intellectual property, human-centred dan infrastruktur yang memungkinkan perusahaan untuk bisa berfungsi (Brooking, 1996). IC umumnya diidentifikasikan sebagai perbedaan antara nilai pasar perusahaan (bisnis perusahaan) dan nilai buku dari aset perusahaan tersebut atau dari financial capitalnya. Hal ini berdasarkan suatu observasi bahwa sejak akhir 1980-an, nilai pasar dari bisnis kebanyakan dan secara khusus adalah bisnis yang berdasar pengetahuan telah menjadi lebih besar dari nilai yang dilaporkan dalam laporan keuangan berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh akuntan (Roslender & Fincham, 2004). Keywords: CAFTA, intellectual capital, efficiency, competitiveness.

Tuntutan munculnya suatu mekanisme perdagangan yang borderless. yang akhirnya akan bermuara pada meningkatnya neraca perdagangan Indonesia. jaringan distribusi untuk menjangkaunya. Tentu saja dengan setumpuk argumentasi untuk meyakinkan diri bahwa perusahaan dan industri kita dapat memetik keuntungan dari ACFTA. dan sebagainya adalah merupakan sumberdaya yang luar biasa akan memberikan dampak positif kepada organisasi ketika dikelola secara efektif. kita tidak lagi mempunyai pilihan dalam menghadapi situasi perdagangan internasional. telah memicu lahirnya berbagai kesepakatan yang membebaskan keluar masuknya barang dan jasa dari berbagai Negara seperti halnya barang dan jasa dari Cina. terutama industri kecil dan menengah. Sehingga sirkulasi produk Indonesia dalam kuantitas yang lebih masif dapat lebih ekspansif ke pasar Cina. Kekayaan tersebut. pasca pemerintah meratifikasi Asean-Cina Free Trade Area (ACFTA) yang mulai berlaku implementatif sejak awal tahun 2010 lalu. Bagaimana tidak. dan apa yang mereka butuhkan. tidak mengherankan apabila kemudian ACFTA ini menimbulkan polarisasi opini publik yang pecah dalam dua kubu yakni pro dan kontra dalam menanggapi ratifikasi ACFTA oleh pemerintah. tidak sedikit yang dengan penuh optimisme menyambut era ACFTA. pasar domestik Indonesia mulai didera oleh kompetisi yang sangat sengit dengan Cina. Kalangan yang kontra menilai bahwa kebijakan partisipasi Indonesia dalam ACFTA ini merupakan ajang bunuh diri. Kekayaan kita atas informasi tentang konsumen. Oleh karena itu. karena kapabilitas pasar domestik yang masih tertinggal jauh di belakang Cina. yang merupakan intangible resources . Siap atau tidak siap. ACFTA ditempatkan sebagai sebuah peluang besar untuk mengembangkan diri dan meningkatkan efisiensi produksi. Salah satunya (menurut saya) adalah karena kita memahami betul karakter konsumen kita..1 Latar Belakang Masalah Tahun 2010 lalu diwarnai situasi yang menegangkan dalam kiprah perdagangan Indonesia. belum siap dan tidak akan mampu bersaing dalam menghadapi derasnya arus masuk produk-produk China ke Indonesia Namun sebagian publik lain yang pro terhadap produk kebijakan ini beragumen bahwa sebenarnya kebijakan ini merupakan langkah strategis yang harus didukung. Selain itu. Karena kebijakan ini mengindikasikan komitmen Kabinet Indonesia Bersatu jilid II untuk menyukseskan proses debottlenecking arus ekspor barang Indonesia ke pasar Cina. Argumen yang diberikan rata-rata berkisar pada anggapan bahwa industri kita.BAB I PENDAHULUAN 1.

produk Cina tidak hanya telah berhasil membanjiri pasar domestik secara territorial tetapi juga telah berhasil merampas pangsa pasar domestik. laut dan udara. Indonesia mau tidak mau akan berusaha menerapkan berbagai strategi untuk merespon hegemoni China di kawasan Asia Timur. Namun sayangnya fakta yang terjadi malah sebaliknya. Inovasi yang berupa cara-cara kreatif. maupun harga. kuantitas. Prinsip bebas aktif menjadi landasan prinsipil dari kebijakan luar negeri. Indonesia juga menyadari kehadiran China sebagai great power yang memiliki pengaruh yang sangat kuat di kawasan Asia Timur. Karena kurang kompetitifnya produk Indonesia dalam spektrum pertarungan kualitas. Indonesia membutuhkan inovasi kebijakan luar negeri bebas aktif untuk mengantisipasi kehadiran China sebagai hegemoni. Indonesia memiliki landasan visi dalam melakukan hubungan luar negeri. Kedua. mendominasi perimbangan kekuatan sekaligus memaksimalkan kekuatan militernya di darat. China secara perlahan telah memperluas jangkauan pengaruhnya di kawasan. Keempat. superioritas nuklir yang ingin dimiliki untuk memastikan keunggulannya dari great power lainnya. akhirnya secara otomatis menyebabkan fenomena superioritas produk Cina di pasar domesik. Untuk menyesuaikan dan bertahan dalam pergeseran konstelasi politik internasional. Ketiga. Bahkan lebih jauh. menjadi dan mempertahankan keberadaanya sebagai hegemon di kawasan.adalah bagian penting dari intellectual capital yang diyakini merupakan driver bagi penciptaan nilai (value creation) bagi perusahaan. Visi ini tercantum dalam UUD 45 sebagai landasan konstitusional dan UU No. Jadi intinya. realita pasar membuktikan bahwa bagi konsumen lokal: produk Cina jauh lebih “magnetis” dibanding produk lokal dimana harga produk Cina yang jauh lebih murah telah menarik perhatian konsumen lokal yang notabene-nya memiliki daya beli rendah. baik secara militer maupun politik. Sebagai negara great power.2001). Kuota produk Cina dalam kuantitas super masif telah berhasil membanjiri pasar domestik Indonesia. 37 tentang Hubungan Luar Negeri sebagai landasan operasional. Pertama. China memiliki empat tujuan dasar yang ingin dicapai (Mearsheimer. Tujuan ini dapat dilihat dari jumlah anggaran pertahanannya yang besar dan mulai menggeser kekuatan lain di kawasan. . China sebagai great power memiliki tujuan untuk memaksimalkan kekayaannya. Sehingga konsumen lokal berbondong-bondong mengkonsumsi produk Cina.

luwes. Apa rekomendasi solutif untuk membuat Indonesia bisa “survive” dalam arena pertarungan dengan Cina tersebut? 1. Alternatif strategi yang baik untuk dikedepankan adalah dengan menciptakan proses distribusi ide yang seimbang. Cina dan negaranegara lain dalam suatu wadah untuk membangun saling kesepahaman dalam mengatasi tantangan global saat ini. Apa saja faktor yang menghambat perkembangan produk lokal sehingga kalah saing dengan produk Cina? 3. Inovasi yang berbeda dari biasanya yang menghadirkan terobosan-terobosan baru. 1. Kehadiran Cina sebagai great power di kawasan Asia Timur perlu dihadapi dengan inovasi kebijakan luar negeri Indonesia. Inovasi yang juga dapat memberikan stabilitas dan mendorong kesejahteraan kawasan. Proses distribusi ide yang seimbang dapat meminimalisir pradugapraduga yang keliru mengenai kebangkitan Cina.2 Rumusan Masalah Tulisan ini akan menyoroti tentang: 1.3 Tujuan dan Kegunaan penelitian . Suatu proses yang melibatkan Indonesia. Sejauh mana respon pemerintah dan pengusaha lokal dalam menanggapi “hegemoni produk Cina di pasar lokal” pasca ratifikasi ACFTA? 2. Inovasi ini juga diharapkan dapat mendorong Cina sebagai great power yang menyadari peran dan tanggung jawabnya untuk mewujudkan perkembangan positif dan perdamaian di kawasan Asia. dan berpandangan ke depan dalam mengantisipasi hegemoni Cina. Proses ini dapat dilakukan secara aktif melalui ASEAN dan berbagai konferensi tingkat tinggi lainnya dimana Indonesia memainkan peran sentral di dalamnya. Usaha membangun saling kesepahaman antara Indonesia dan Cina serta negara-negara lain di kawasan dapat membangun hubungan internasional yang solid dan harmonis antar negara. Inovasi yang dapat mengarahkan dan memanfaatkan kekuatan Cina ke dalam wadah yang bermanfaat demi kepentingan nasional Indonesia.

Untuk menganalisa dan memaparkan mengenai apa saja yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk melawan hegemoni produk Cina di pasar domestik pasca ratifikasi ACFTA.3. Sebagai sumbangan pemikiran bagi studi hubungan internasional mengenai penerapan ASEAN-Cina Free Trade Area (ACFTA) di Asia tenggara. Untuk menganalisa dampak dari hegemoni produk Cina di pasar domestik. 2. 2.1 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1. 1.4 Kerangka Dasar Teori . 1.1 Kegunaan Teoritis Adapun kegunaan teoritis dari penelitian ini adalah: 1. khususnya dampak hegemoni produk Cina di pasar Indonesia.3.3.2 Kegunaan Penelitian 1.2. 1.2 Kegunaan Praktis Kegunaan praktis penelitian ini adalah sebagai salah satu syarat dalam pembuatan tugas akhir guna menempuh sidang sarjana strata satu (S1) pada jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau.1. Sebagai referensi dan bahan kajian tambahan bagi pihak lain yang tertarik untuk mempelajari maupun mengetahui lebih jauh mengenai penerapan ACFTA di Indonesia khususnya dampak hegemoni produk Cina di pangsa pasar Indonesia serta kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia untuk siap bersaing di era ACFTA.2.3.

Seperti diketahui bahwa fenomena integrasi pasar kini telah melanda seluruh dunia (adanya Uni Eropa. perusahaan multinasional (MNCs) ataupun organisasi internasional. peneliti menggunakan pendekatan ekonomi internasional. tepatnya yaitu kerjasama dalam bidang perdagangan.Kerangka acuan dalam berpikir untuk memecahkan permasalah pokok yang diajukan dalam penelitian ini. Teori inilah yang dapat menjelaskan mengapa pengusaha domestik “kewalahan” menghadapi kompetisi dengan Cina. namun dengan biaya yang lebih murah dibandingkan negara saingannya. dimulai dengan Cina karena Cina kini merupakan “The Emerging Power” di Asia. actor yang dominan adalah pemerintah Indonesia dimana hubungan yang terjadi antara negara Indonesia. dll) maka sebagai negara yang berdaulat pasar bebas. aktor bukan negara. Konsep ini menyebutkan bahwa: “kebijakan suatu negara juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang merujuk pada situasi politik-ekonomi internasional”. . serta mampu membuat spesialisasi. Konsep “Variabel Sistemile” dalam Perumusan Kebijakan Luar Negeri yaitu untuk menganalis alasan di balik kebijakan Indonesia dalam meratifikasi ACFTA walaupun tanpa disertai oleh kesiapan pasar domestik tersebut-variabel yang paling relevan adalah Variabel Sistemile yang diadopsi dari pemikiran James N. Untuk membantu mengkaji permasalahan dalam penelitian ini. Dalam hai ini. Tingkat analisa ini berusaha menjelaskan hubungan-hubungan antar negara bangsa. Menurut Mochtar Mas’oed : Ekonomi politik internasional merupakan studi tentang saling keterkaitan dan interaksi antara fenomena politik dan ekonomi yang dilakukan oleh beberapa aktor seperti aktor negara. beserta negara-negara ASEAN lainnya merupakan kerjasama dalam bidang ekonomi. Rosenau dan disempurnakan oleh Holsti. dengan memproduksi komoditas unggulan yang tidak bisa diproduksi oleh negara lain. penulis menetapkan tingkat analisa negara bangsa dimana analisa ini mempercayai bahwa negara adalah aktor dominan dalam interaksi di dunia internasional. Cina. NAFTA. penulis memerlukan suatu kerangka teoritis yang berguna sebagai alat untuk menganalisa. suatu negara akan diuntungkan apabila mampu memproduksi barang dan jasa dalam kuota masif. Dalam penelitian ini. 2. 1. “Dalam mekanisme pasar bebas. Teori “Comparative Advantage” (Keunggulan Komparatif) karya David Ricardo yang mengatakan bahwa.

5 Hipotesa Berdasarkan kerangka berpikir di atas. Hubungan Internasional bertkaitan erat dengan aktivitas manusia baik secara individu maupun kelompok dari suatu negara yang berinteraksi secara resmi maupun tidak resmi dengan individu atau kelompok lainnya yang melintasi batas-batas wilayah negara. Hubungan internasional mempunyai cakupan diberbagai bidang kehidupan masyarakat internasional. maka peneliti menari hipotesa Hegemoni Produk Cina di Indonesia Berdampak Pada Produk Dalam Negeri Indonesia Terlebih Lagi Setelah Ratifikasi ASEAN-Cina Free Trade Area (ACFTA). Fakta-fakta hubungan internasional dapat dipilih dan ditata dengan dua acuan yaitu pelaku (aktor) dan interaksi. Variabel Independen: Diratifikasinya ASEAN-Cina Free Trade Area (ACFTA) oleh pemerintah Indonesia pada awal tahun 2010 yang lalu. Variabel dependen: 1. termasuk ke dalam ruang lingkup hubungan Internasional. Ratifikasi b.6 Definisi Konseptual Komunitas atau masyarakat Internasional yang terbentuk pada skala internasional. Salah satunya adalah kerjasama dibidang ekonomi. saling berinteraksi pada sebuah pola lingkungan. Lelland. hubungan Internasional adalah studi atau pengkajian tentang interaksi antara kesatuan-kesatuan sosial. Menurut Mc. 2. Meningkatnya penguasaan pasar domestik oleh produk Cina pasca ratifikasi ASEAN-Cina Free Trade Area (ACFTA) oleh pemerintah Indonesia. Adapun variabel yang penulis ambil yaitu: a.1. dengan indikator sebagai berikut: 1. Kerjasama ini dilakukan . termasuk studi tentang keadaan-keadaan yang berkaitan (relevant) yang mengelilingi interaksi.

termasuk Indonesia. Dengan demikian. aktor non-negara.Cina Free Trade Area (ACFTA) Penelitian ini menggunakan ASEAN-Cina Free Trade Area (ACFTA) sebagai suatu bentuk perjanjian perdagangan bebas antara kawasan Asia tenggara dengan negara Cina yang berupaya untuk menjalin kerjasama di bidang ekonomi antara negaranegara Asia Tenggara dengan Cina. ASEANCina Free Trade Area (ACFTA) yang merupakan kerjasama ekonomi yang mulai diterapkan di Indonesia sejak awal tahun 2010 yang lalu. Metode Penelitian . dapat dinyatakan bahwa ekonomi politik internasional memuat berbagai aksi atau tindakan. Peluang (opportunities) b.untuk memenuhi kebutuhan masing-masing negara dalam kehidupan masyarakat global.8 Metode dan Teknik Penelitian 1. ASEAN-Cina Free Trade Area (ACFTA) terdiri dari indikator-indikator sebagai berikut: a.8. 1. Produk Domestik di Indonesia Penelitian ini membahas tentang eksistensi produk dalam negeri Indonesia sebagai faktor utama yang diperhatikan pemerintah Indonesia pasca ratifikasi ACFTA yang telah dilakukan sehingga tidak tergilas oleh hegemoni produk Cina.7 Definisi Operasional Untuk memperjelas dan mempermudah peneliti dalam menganalisa permasalahan dalam penelitian ini.1. perusahaan-perusahaan internasional (MNCs) ataupun organisasi internasional. maka dibuat pembatasan definisi operasional sebagai berikut: 1. Hubungan antar negara dibidang ekonomi ini disebut hubungan ekonomi internasional. 1. ASEAN . Ancaman (threat) 2. reaksi serta interaksi keadaan ekonomi dan politik yang dilakukan oleh beberapa aktor seperti aktor negara.

perkembangan dan dampak hegemoni produk Cina di Indonesia dan ASEAN-Cina Free Trade Area (ACFTA). . Teknik Penelitian Dalam penelitian ini. Dampak hegemoni produk Cina di Indonesia akan menjelaskan bahwa pasca ratifikasi ASEAN-Cina Free Trade Area (ACFTA). laporan-laporan. teknik pengumpulan data.2. BAB II GAMBARAN UMUM HEGEMONI PRODUK CINA DAN ACFTA Bab ini berisikan kondisi. metode penelitian. asumsi. tujuan penelitian.8. latar belakang penelitian. artikel-artikel.9 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini menggunakan dampak hegemoni produk Cina bagi pangsa pasar Indonesia sebagai faktor utama yang diperhatikan pemerintah pasca ratifikasi ACFTA di Indonesia. hipotesis. identifikasi masalah. menelaah. kerangka analisia. pembatasan masalah. kemudian dilanjutkan dengan meneliti. 1. 1. kerangka konseptual. produk Cina semakin menguasai pasar domestik dengan kata lain lambat laun akan menggeser produk dalam negeri di pasaran. mmaupun sumber-sumber dari internet yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti.Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat eksplanatif yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk menjelaskan hubungan antara variabel-variabel yang berkenaan dengan masalah dan fenomena yang diteliti berdasarkan kerangka pemikiran yang digunakan. pendekatan. dimana pengumpulan data dilakukan dengan cara mengkaji dan mempelajari konsep-konsep serta informasi lain yang diperoleh dari berbagai sumber seperti buku-buku.10 Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisikan latar belakang penelitian. surat kabar. majalah. kegunaan penelitian. 1. lokasi dan waktu penelitian serta sistematika penulisan. definisi operasional. analisis data. perumusan masalah. peneliti menggunakan teknik pengumpulan data Studi Kepustakaan. dan menjelaskan dari faktor-faktor yang berhubungan dengan fenomena yang sedang diteliti.

nilai perdagangan ACFTA yang mencapai 200 milyar dollar AS. ACFTA saat ini merupakan salah satu blok perdagangan terbesar di dunia.9 milyar jiwa. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini berisikan kesimpulan berupa uraian secara singkat mengenai permasalahan yang diteliti dan saran yang peneliti ajukan untuk melengkapi hasil penelitian. dan investasi antara negara-negara anggota. tercantumlah 4 poin elementer yang menjadi landasan utama tujuan kerjasama negara-negara anggota ACFTA ini. Kamboja. membuat blok perdagangan ini pantas dianugerahi kategori sebagai blok perdagangan terbesar ke-3 setelah Uni Eropa dan NAFTA. Pembahasan Menurut peta perdagangan dunia. Memperkuat dan meningkatkan kerjasama ekonomi. Apalagi dilihat dari sisi volume perdagangan. 2. dalam formulasi tujuan blok perdagangan ini. perdagangan. Esensialnya. ACFTA pantas dinobatkan sebagai blok perdagangan dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Data ini mengindikasikan bahwa pasar ACFTA adalah blok perdagangan yang sangat potensial dan prosfektif.BAB III TANTANGAN DAN PELUANG EKONOMI INDONESIA PASCA RATIFIKASI ACFTA Bab ini berisikan tentang tantangan dan peluang ekonomi yang dihadapi Indonesia pasca ratifikasi ASEAN-Cina Free Trade Area (ACFTA). Ke-4 poin tersebut terdiri dari: 1. Dengan didukung jumlah akumulatif penduduk ASEAN plus Cina yang mencapai 1. Meliberalisasi secara progresif dan meningkatkan perdagangan barang dan jasa serta menciptakan suatu sistem yang transparan dan untuk mempermudah investasi . Sehingga kemudian. data itulah yang menstimulasi para kepala Negara ASEAN dan RRC untuk meratifikasi ACFTA pada tanggal 4 November 2002 yaitu dengan ditandatanginya Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation between the ASEAN and People’s Republic of China di Phnom Penh. BAB IV DAMPAK HEGEMONI PRODUK CINA BAGI PASAR DAMESTIK PASCA RATIFIKASI ACFTA Bab ini berisikan analisis tentang dampak hegemoni produk Cina bagi pasar domestik.

ikan. Namun tak diduga akhirnya ACFTA malah menyebabkan Indonesia terjerat dalam tentakel Cina.01/2004 tanggal 21 juli 2004 Tentang Penetapan Tarif Bea Masuk atas Impor Barang Dalam Kerangka EHP Bilateral Indonesia-China FTA).3. Laos. Keterlibatan Indonesia dalam ACFTA ini diyakini sebagai sebuah ajang bunuh diri bagi pasar domestik. tumbuhan. Data Januari hingga September 2009. Program ini bertujuan untuk mempercepat implementasi penurunan bea masuk barang. Lebih parah lagi.7 milyar karena ekspor Indonesia lebih rendah daripada impor dari Cina. publik domestik pun bergolak. Myanmar. sedangkan impor dari Cina ke Indonesia mencapai US$ 15. dan Vietnam) dan menjembatani kesenjangan pembangunan ekonomi diantara negara-negara anggota. lahirlah aksi-aksi demonstrasi menentang ACFTA – yang marak terjadi di awal hingga pertengahan tahun 2010. Ekspor Indonesia ke Cina sebesar US$11. telah membanjiri pasar Indonesia. produk Cina. baik legal maupun selundupan. 4. dan perabotan (SK Menkeu No 356/KMK. defisit perdagangan Indonesia-Cina mencapai US$1. • Kesepakatan Bilateral (Produk Spesifik) antara lain kopi. dairy products. minyak kelapa/CPO. Tema utama yang diangkat adalah “bahwa pelaku bisnis Indonesia. Cakupan produk yang masuk dalam EHP adalah: • Chapter 01 s. Artikel 6 Perjanjian ACFTA mencantumkan program penurunan tariff yang disebut Early Harvest Programme (EHP). Neraca perdagangan Indonesia-Cina terbukti defisit sejak tahun 2008.6 milyar.2 milyar pada tahun 2008. yang mayoritas UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) belum siap bertarung dengan Cina”. karena banyak pihak meragukan kapabilitas pelaku bisnis domestik untuk memenangkan pertarungan melawan Cina tersebut. . Tanpa ACFTA saja. dan buahbuahan (SK Menkeu No 355/KMK. Barang dari karet. Menggali bidang-bidang kerjasama yang baru dan mengembangkan kebijaksanaan yang tepat dalam rangka kerjasama ekonomi antara negara-negara anggota. Memfasilitasi integrasi ekonomi yang lebih efektif bagi para anggota ASEAN baru (Cambodia. jauh sebelum tahun 2010. Ini hanya sekelumit bukti otentik bahwa produk Indonesia terpuruk menghadapi serbuan produk Cina dengan harga murah dan jumlah yang jauh lebih banyak. sayuran.01/2004 tanggal 21 Juli 2004 Tentang Penetapan Tarif Bea Masuk atas Impor Barang dalam kerangka EHP ACFTA).d 08 : Binatang hidup. Coklat. Menyadari implikasi negatif tersebut.

pemerintah belum dapat sempat memformulasikan kebijakan yang dapat mengeliminasi dampak negatif tersebut secara signifikan. Pungli masih ditemui di jembatan timbang. Sehingga akhirnya pasar domestik seolah menjadi “gudang” barang Cina. pelabuhan. sebelum meliberalisasi pasar domestik. Dari analisis di lapangan. pemerintah kini masih memiliki banyak 'pekerjaan rumah' yang berkaitan dengan export chain di tahun 2011 ini. yaitu: 1. belum terintegrasinya UMKM dalam satu mata rantai pertambahan nilai dengan industri skala besar. dan pelayanan perijinan baik di pusat maupun daerah. Rendahnya lokal konten dalam proses produksi industri domestic. pemerintah tidak sempat mengidentifikasi seberapa jauh kesiapan sektor riil. Sayangnya. ekspor. Karena pengusaha domestik masih bergantung pada penggunaan bahan baku impor yang berkisar antara 28-90 persen. hal ini berarti jauh sebelum ACFTA efektif diberlakukan awal tahun 2010 lalu.5% dari biaya ekspor. UMKM. di samping juga permasalahan rendahnya produktivitas tenaga kerja industri. Namun sepanjang tahun 2010. sepanjang tahun 2010. dan industri domestik. jika disoroti lebih dalam. Dengan sangat gegabah mereka meratifikasi perjanjian ACFTA.Program tersebut telah berlaku implementatif terhitung sejak 1 Januari 2004. perjanjian ACFTA tak mungkin lagi dapat diabrogasi. Biaya mengurus kontainer di pelabuhan (THC) masih tertinggi di ASEAN. jalan raya. lemahnya daya saing produk ekspor Indonesia ternyata disebabkan oleh sejumlah faktor yang menyebabkan “ekonomi biaya tinggi” yang belum diatasi oleh pemeintah. kurang sehatnya iklim persaingan karena banyak subsektor industri yang beroperasi dalam kondisi . Pemerintah belum secara signifikan berhasil mengurangi sumber-sumber ekonomi biaya tinggi ini. Masih lemahnya penguasaan dan penerapan teknologi karena industri domestik masih banyak yang bertipe “tukang jahit” dan “tukang rakit”. Biaya pungutan liar (pungli) yang minimal 7. 3. 4. Namun semuanya sudah terlanjur terjadi. 2. Ini masih ditambah biaya parkir dan lewat kontainer yang dinilai memberatkan. Oleh karena itu. Kebijakan partisipasi Indonesia dalam ACFTA ini terlihat bagaikan keputusan yang sangat prematur tanpa disertai kesiapan untuk menanggung konsekwensinya.

bahkan sebagai negara agraris. dan masih terkonsentrasinya lokasi industri di pulau Jawa dan Sumatra. Pemerintah harus lebih serius untuk mengeliminasi faktor-faktor yang menyebabkan “ekonomi biaya tinggi”. Lebih jauh jika ingin disebut negara Industri. Indonesia belum mampu menjadi sentrum produk pertanian. sebagai contoh. maka dapat dibayangkan betapa besarnya profit yang mampu diraup oleh pelaku bisnis domestik apabila dapat menguasai pasar Cina. 6. atau masalah membanjirnya produk batik Cina yang menggeser batik lokal – Indonesia seolah tak bisa berbuat banyak untuk menekan Cina. Kurang signifikannya bargaining position Indonesia dalam melakukan diplomasi ekonomi dengan Cina. Sehingga akhirnya Cina pun berani melakukan manuver politis yang bersifat intimidatif untuk memaksa Indonesia membuat kebijakan yang bisa menguntungkan pengusaha Cina. Terutama dalam penyelesaian sengketa perdagangan serta mengupayakan terjadinya “FAIR TRADE” (Iklim pasar yang lebih adil . hubungan perdagangan IndonesiaCina masih diwarnai banyak hambatan.mendekati “monopoli”. Sehingga menyebabkan. misalnya saja tentang penetapan tariff 0%. Indonesia belum mampu menetapkan produk unggulannya. Indonesia masih di bawah tekanan Cina. Indonesia lebih sering mengalah dengan Cina. Kesimpulan Singkatnya. Peluang terbesar yang harus dipertimbangkan adalah bahwa Cina adalah pusat gravitasi perekonomian di Asia. walupun harus mengorbankan industri lokal. ACFTA merupakan sentrum tantangan sekaligus peluang. Seringkali dalam penyelesaian sengketa perdagangan. Serta pemerintah juga harus lebih percaya diri dalam kerangka diplomasi vis a vis dengan Cina. Bahkan dalam formulasi kebijakan perdagangan pun. dengan realitas pasar yang sangat luas dan prosfektif. Misalnya adanya kasus-kasus sengketa perdagangan Indonesia-Cina. Indonesia masih mengalami fenomena rendahnya keunggulan komparatif. 5. produk industri lokal pun masih belum bisa bersaing dengan produk Cina. kini Batik Cina pun kian menggeser eksistensi batik lokal. Oleh karena itu hendaknya pemerintah lebih mempertajam strategi untuk menyelamatkan pasar domestik dari hegemoni produk Cina.

Disamping itu. Ada beberapa hal yang dapat dielaborasi untuk bisa bersaing di era ACFTA dengan memaksimalkan pengelolaan intellectual capital diantaranya yaitu: Pertama. Liberalisasi pasar merupakan sebuah fenomena yang tak dapat terelakkan lagi. jalinan pelanggan dan jalur distribusi (relational/customer capital). lebih baik Indonesia segera berkomitmen untuk meningkatkan kompetensi. siapa. Selain itu. Sepertinya fenomena ini merupakan konsekwensi dari episode globalisasi. Maka karyawan harus ditempatkan sebagai kekayaan utama perusahaan dan dikelola secara efektif. Karyawan (human capital) adalah ruh dari organisasi.dan tidak bersifat predatoris terhadap pengusaha kecil lokal) sehingga eksistensi dan performa industri lokal dapat terjamin. Hubungan yang ‘manusiawi’ antara pemilik dengan karyawan akan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas organisasi. proporsional. pengelolaan karyawan. Karyawan adalah aset terpenting dalam industri. agar nantinya ketika menghadapi AEC 2015. tidak diskriminatif akan menggerakkan roda organisasi secara maksimal. karenanIndonesia tidak memiliki alternatif untuk tidak optimis. Indonesia harus menempa diri untuk berlaga di arena pertarungan ACFTA. Kita yang paham betul apa. Indonesia tidak gugup karena telah tertempa dengan baik. optimalisasi Intellectual Capital untuk dapat bersaing di era ACFTA juga harus dilakukan dengan menempatkan ACFTA sebagai peluang untuk meraih kesempatan bisnis secara lebih luas. Dalam diri mereka tersimpan segala hal yang dapat mengantarkan organisasi untuk bersaing dan memenangi persaingan. dan daya saing sebagai strategi untuk dapat survive dan diperhitungkan di arena kompetisi regional maupun global. Pengelolaan karyawan yang baik. dan bagaimana pelanggan kita. tetapi juga untuk bisa menguasai pasar China. Kedua. . sebelum nantinya Indonesia berkompetisi di arena “ASEAN ECONOMY COMMUNITY” (AEC) 2015. ACFTA ini merupakan suatu ajang “uji kapabilitas”. Optimisme ini harus dibangun. kita telah memiliki ‘kekayaan’ berupa jalinan pelanggan dan jalur distribusi. daripada terus mengkritik fenomena ini. Kita juga jauh lebih paham tentang jalur distribusi yang bisa jadi menjadi sumber inefisiensi dalam organisasi lain. Untuk memenangi persaingan di dalam negeri. Pengelolaan yang lebih baik atas customer capital ini akan meningkatkan loyalitas pelanggan dan dengan sendirinya akan menempatkan produk kita di dalam hati para pelanggan. bukan hanya memenangi persaingan di dalam negeri. kapabilitas.

Meskipun sepanjang tahun 2010 lalu. menjual keunikan. baik pasar lokal maupun internasional. maka produk itu akan memiliki daya saing yang tinggi di pasar. .Ketiga. Dengan mempertahankan dan menciptakan keunikankeunikan baru dalam setiap produk domestik. pemerintah belum mampu memformulasikan upaya solutif untuk menyelamatkan pasar domestik. namun di tahun 2011 ini diharapkan pemerintah mampu bekerja lebih baik agar pasar domestik bisa terus bertahan sepanjang ACFTA ini berlangsung. Salah satu daya tarik utama produk-produk lokal Indonesia adalah keunikannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful