DAFTARPUSTAKA

KEGIATAN HIBAH KOMPETISI KONTEN MATAKULIAH E-LEARNING USU-INHERENT 2006

BUKU AJAR

PERPINDAHAN PANAS

Disusun Oleh: ZUHRINA MASYITHAH, ST, MSc. BODE HARYANTO, ST, MT

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Judul%20dll.html (1 of 7)5/8/2007 3:24:04 PM

DAFTARPUSTAKA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2006

DAFTAR PUSTAKA Foust, A.S., et a1., Principles of Unit Operations, John Wiley & Sons, New York, 1980. Geankoplis, C.J., Transport Process and Unit Operations, A11yn and Bacon Inc., 1987. Holman, J.P., Heat Transfer, Mc Graw Hill, New York, 1987. Incropera, F.P., dan Dewitt, D.P., Fundamental of Heat and Mass Transfer, John Wiley & Sons, 2002. Kern, D.Q., Process Heat Transfer, Mc Graw Hill, New York, 1950. McCabe, Smith dan Harriots, Unit Operations in Chemical Engineering, Mc Graw Hill,1985.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Judul%20dll.html (2 of 7)5/8/2007 3:24:04 PM

DAFTARPUSTAKA

LAMPIRAN

INFORMASI UMUM
Judul Mata Kuliah Nomor Kode/SKS Dosen Pengampu Anggota Perpindahan Panas TKK- 301/ 3 SKS Dr. Ir. Rosdanelli, MT Zuhrina Masyithah, ST, MSc. Bode Haryanto, ST, MT Erni Misran, ST, MT Mata kuliah ini berisi uraian mengenai Dasar-dasar Perpindahan Panas Steady dan Unsteady; Perpindahaan Panas ke Fluida yang Tak Berubah Fasa; Perpindahan Panas ke Fluida yang Disertai dengan Perubah Fasa; Peralatan Penukar Panas; Operasi dan Peralatan Evaporasi; Kristalisasi Setelah mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami dasar-dasar perpindahan panas pada keadaan steady dan unsteady, dapat menyelesaikan masalah perpindahan panas ke fluida yang tak berubah fasa dan ke fluida yang disertai dengan perubahan fasa, rancangan proses dan evaluasi peralataan pertukaraan panas tanpa dan disertai dengan perubahan fasa; rancangan proses dan evaluasi peralataan evaporasi efek tunggal dan ganda; serta proses kristalisasi

Deskripsi Singkat

Tujuan Instruksional Umum

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Judul%20dll.html (3 of 7)5/8/2007 3:24:04 PM

DAFTARPUSTAKA

Bahan bacaan

Geankoplis, C.J., Transport Processes and Separation Process Principles, Edisi ke-3, PTR, New Jersey, 1987. McCabe, W.L., Smith, J.C. dan Harriott, P., Unit Operations of Chemical Engineering, Edisi ke-4, McGraw-Hill, Singapore, 1985. Richardson, J.F., Harker, J.H. dan Backhurst, J.R., Coulson & Richardson’s Chemical Engineering Vol. 1, Edisi ke-5, BH, Oxford, 1996.

LAMPIRAN

GBPP DAN SAP

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Judul%20dll.html (4 of 7)5/8/2007 3:24:04 PM

DAFTARPUSTAKA

LAMPIRAN

BAHAN PRESENTASI

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Judul%20dll.html (5 of 7)5/8/2007 3:24:04 PM

DAFTARPUSTAKA

LAMPIRAN

BUKU AJAR PERPINDAHAN PANAS

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Judul%20dll.html (6 of 7)5/8/2007 3:24:04 PM

DAFTARPUSTAKA

LAMPIRAN

UMPAN BALIK

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Judul%20dll.html (7 of 7)5/8/2007 3:24:04 PM

DAFTARPUSTAKA

KATA PENGANTAR Buku Ajar Perpindahan Panas ini merupakan salah satu keluaran dari kegiatan HIBAH KOMPETISI KONTEN MATAKULIAH E-LEARNING, USU-INHERENT 2006, untuk matakuliah PERPINDAHAN PANAS. Mata kuliah ini diajarkan pada Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik USU. Konten e-learning yang dikembangkan untuk mata kuliah ini bertujuan untuk memperoleh metode pembelajaran yang lebih baik untuk mata kuliah perpindahan panas yang mengkombinasikan kegiatan mengajar di kelas, aktivitas laboratorium dan penggunaan konten e-learning. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi yang mendukung terlaksananya kegiatan ini. Semoga buku ajar yang dihasilkan ini dapat bermanfaat.

Medan, Desember 2006 Penyusun,

Zuhrina Masyithah, ST, MSc. Bode Haryanto, ST, MT

DAFTAR ISI

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Daftar%20Isi%20Buku%20Ajar.html (1 of 3)5/8/2007 3:24:05 PM

DAFTARPUSTAKA

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I Pendahuluan 1.1.Pancaran (Radiasi) 1.2.Hantaran (Konduksi) 1.3.Aliran (Konveksi) BAB II Perpindahan Panas Konduksi 2.1.Konduksi Keadaan Steady 2.1.1.Dinding Datar 2.1.2.Sistem Radial-Silinder BAB III Perpindahan Panas Konveksi 3.1. Konveksi Alamiah 3.2. Konveksi Paksa 3.3. Gabungan Konduksi dan Konveksi BAB IV Alat Penukar Kalor 4.1. Alat Penukar Kalor Pipa 4.2. Penukar Kalor Pelat 4.3. Penukar Kalor Pendingin Udara 4.4. Analisa Alat Penukar Kalor Pipa Ganda BAB V Perpindahan Kalor disertai Perubahan Fasa 5.1. Perpindahan Kalor dari Uap yang Mengembun 5.2. Perpindahan Kalor ke Zat Cair yang Mendidih BAB VI Proses Evaporasi 6.1. Pendahuluan 6.2. Jenis-Jenis Evaporator 6.3. Kapasitas Evaporator 6.4. Ekonomi Evaporator

i ii 1-1 1-2 1-4 1-6 2-1 2-2 2-4 2-6 3-1 3-4 3-7 3-14 4-1 4-2 4-5 4-5 4-8 5-1 5-1 5-9 6-1 6-1 6-5 6-21 6-25

BAB VII BAB VIII

Evaporator Efek Ganda 7.1. Kapasitas dan Ekonomi Evaporator Kristalisasi

7-1 7-5 8-1

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Daftar%20Isi%20Buku%20Ajar.html (2 of 3)5/8/2007 3:24:05 PM

DAFTARPUSTAKA

8.1. Prinsip Kristalisasi Daftar Pustaka Lampiran : Umpan Balik Quiz Soal Ujian Tengah Semester Soal Ujian Akhir Semester Tugas dan Soal-soal Latihan

8-4

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/Daftar%20Isi%20Buku%20Ajar.html (3 of 3)5/8/2007 3:24:05 PM

PERPINDAHAN PANAS

BAB I PENDAHULUAN

Perpindahan ka1or dari suatu zat ke zat lain seringkali terjadi dalam industri proses. Pada kebanyakan pengerjaan, diperlukan pemasukan atau pengeluaran ka1or, untuk mencapai dan mempertahankan keadaan yang dibutuhkan sewaktu proses berlangsung. Kondisi pertama yaitu mencapai keadaan yang dibutuhkan untuk pengerjaan, terjadi umpamanya bila pengerjaan harus berlangsung pada suhu tertentu dan suhu ini harus dicapai dengan ja1an pemasukan atau pengeluaran ka1or. Kondisi kedua yaitu mempertahankan keadaan yang dibutuhkan untuk operasi proses, terdapat pada pengerjaan eksoterm dan endoterm. Disamping perubahan secara kimia, keadaan ini dapat juga merupakan pengerjaan secara a1ami. Dengan demikian. pada pengembunan dan penghabluran (krista1isasi) ka1or harus dikeluarkan. Pada penguapan dan pada umumnya juga pada pelarutan, ka1or harus dimasukkan. Ada1ah hukum a1am bahwa ka1or itu suatu bentuk energi. Sama seperti bentuk lain dari energi, jumlah ka1or juga dinyatakan da1am suatu gaya kali suatu jarak yaitu Newton ka1i meter atau Nm. 1 Nm dinamakan 1 Joule. Untuk memberikan sedikit gambaran mengenai besarnya energi 1 Joule tersebut, bisa diperhatikan dari ha1 berikut: Untuk penguapan 1 kg air, diperlukan cukup banyak energi yaitu perubahan zat cair ke dalam uap ini kira-kira membutuhkan energi 2.225.000 Joule = 2,25 MJ. Pada pembakaran 1 kg minyak akan terbebas kira-kira 45 MJ. Ka1or mengalir dengan sendirinya dari suhu yang tinggi ke suhu yang rendah. Akan tetapi, gaya dorong untuk a1iran ini ada1ah perbedaan suhu. Bila sesuatu benda ingin dipanaskan, maka harus dimi1iki sesuatu benda lain yang lebih panas, demikian pula ha1nya jika ingin mendinginkan sesuatu, diperlukan benda lain yang lebih dingin.
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/01%20Bab%201%20Pendahuluan.html (1 of 7)5/8/2007 3:24:05 PM

PERPINDAHAN PANAS

Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi tidak musnah yaitu seperti hukum asas yang lain, contohnya hukum kekekalan masa dan momentum, ini artinya kalor tidak hilang. Energi hanya berubah bentuk dari bentuk yang pertama ke bentuk yang ke dua. Bila diperhatikan misalnya jumlah energi kalor api unggun kayu yang ditumpukkan, semua ini .menyimpan sejum1ah energi dalam yang ditandai dengan kuantitas yang lazim disebut muatan kalor bahan. Apabila api dinyalakan, energi terma yang tersimpan di dalam bahan tadi akan bertukar menjadi energi kalor yang dapat kita rasakan. Energi kalor ini mengalir jika terdapat suatu perbedaan suhu. Bila diperhatikan sebatang logam yang dicelupkan ke dalam suatu tangki yang berisi air kalor. Karena suhu awal logam ialah T1 dan suhu air ialah T2, dengan T2 >> T1, maka logam dikatakan lebih dingin daripada air. Ha1 yang penting dalam sistem yang terdiri dari air dan logam ialah adanya suatu perbedaan suhu yang nyata yaitu (T2- T1). Kalor dapat diangkut dengan tiga macam cara yaitu: 1. Pancaran, sering juga dinamakan radiasi. 2. Hantaran, sering juga disebut konduksi. 3. Aliran, sering juga disebut radiasi. 1.1. Pancaran (Radiasi) Yang dimaksud dengan pancaran (radiasi) ia1ah perpindahan ka1or mela1ui gelombang dari suatu zat ke zat yang lain. Semua benda memancarkan ka1or. Keadaan ini baru terbukti setelah suhu meningkat. Pada hakekatnya proses perpindahan ka1or radiasi terjadi dengan perantaraan foton dan juga gelombang elektromagnet. Terdapat dua teori yang berbeda untuk menerangkan bagaimana proses radiasi itu terjadi. Semua bahan pada suhu mutlak tertentu akan menyinari sejumlah energi ka1or tertentu. Semakin tinggi suhu bahan tadi maka semakin tinggi pula energi ka1or yang disinarkan. Proses radiasi adalah fenomena permukaan. Proses radiasi tidak terjadi pada bagian da1am bahan. Tetapi suatu bahan apabila menerima sinar, maka banyak ha1 yang boleh terjadi. Apabila sejumlah energi ka1or menimpa suatu permukaan, sebahagian akan dipantulkan, sebahagian akan diserap ke da1am bahan, dan sebagian akan menembusi bahan dan terus ke luar. Jadi da1am mempelajari perpindahan ka1or radiasi akan dilibatkan suatu fisik permukaan.
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/01%20Bab%201%20Pendahuluan.html (2 of 7)5/8/2007 3:24:05 PM

PERPINDAHAN PANAS

Bahan yang dianggap mempunyai ciri yang sempurna ada1ah jasad hitam. Disamping itu, sama seperti cahaya lampu, adaka1anya tidak semua sinar mengenai permukaan yang dituju. Jadi da1am masalah ini kita mengena1 satu faktor pandangan yang lazimnya dinamakan faktor bentuk. Maka jumlah ka1or yang diterima dari satu sumber akan berbanding langsung sebahagiannya terhadap faktor bentuk ini. Dalam pada itu, sifat terma permukaan bahan juga penting. Berbeda dengan proses konveksi, medan a1iran fluida disekeliling permukaan tidak penting, yang penting ialah sifat terma saja. Dengan demikian, untuk memahami proses radiasi dari satu permukaan kita perlu memahami juga keadaan fisik permukaan bahan yang terlibat dengan proses radiasi yang berlaku. Proses perpindahan kalor sering terjadi secara serentak. Misa1nya sekeping plat yang dicat hitam. La1u dikenakan dengan sinar matahari. Plat akan menyerap sebahagian energi matahari. Suhu plat akan naik ke satu tahap tertentu. Oleh karena suhu permukaan atas naik maka kalor akan berkonduksi dari permukaan atas ke permukaan bawah. Da1am pada itu, permukaan bagian atas kini mempunyai suhu yang lebih tinggi dari suhu udara sekeliling, maka jumlah kalor akan disebarkan secara konveksi. Tetapi energi kalor juga disebarkan secara radiasi. Dalam hal ini dua hal terjadi, ada kalor yang dipantulkan dan ada kalor yang dipindahkan ke sekeliling.

Gambar 1.1. Perpindahan panas radiasi (a) pada permukaan, (b) antara permukaan dan lingkungan

Berdasarkan kepada keadaan terma permukaan, bahan yang di pindahkan dan dipantulkan ini dapat berbeda. Proses radiasi tidak melibatkan perbedaan suhu. Keterlibatan suhu hanya terjadi jika terdapat dua permukaan yang mempunyai suhu yang berbeda. Dalam hal ini, setiap permukaan akan menyinarkan energi kalor secara radiasi jika permukaan itu bersuhu T dalam unit suhu mutlak. Lazimnya jika terdapat satu permukaan lain yang saling berhadapan, dan jika
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/01%20Bab%201%20Pendahuluan.html (3 of 7)5/8/2007 3:24:05 PM

PERPINDAHAN PANAS

permukaan pertama mempunyai suhu T1 mutlak sedangkan permukaan kedua mempunyai suhu T2 mutlak, maka permukaan tadi akan saling memindahkan kalor . Selanjutnya juga penting untuk diketahui bahwa : 1. Kalor radiasi merambat lurus. 2. Untuk perambatan itu tidak diperlukan medium (misalnya zat cair atau gas) 1.2. Hantaran (Konduksi) Yang dimaksud dengan hantaran ialah pengangkutan kalor melalui satu jenis zat. Sehingga perpindahan kalor secara hantaran/konduksi merupakan satu proses pendalaman karena proses perpindahan kalor ini hanya terjadi di dalam bahan. Arah aliran energi kalor, adalah dari titik bersuhu tinggi ke titik bersuhu rendah.

Gambar 1.2. Perpindahan panas konduksi dan difusi energi akibat aktivitas molekul

Sudah diketahui bahwa tidak semua bahan dapat menghantar kalor sama sempurnanya. Dengan demikian, umpamanya seorang tukang hembus kaca dapat memegang suatu barang kaca, yang beberapa cm lebih jauh dari tempat pegangan itu adalah demikian panasnya, sehingga bentuknya dapat berubah. Akan tetapi seorang pandai tempa harus memegang benda yang akan ditempa dengan sebuah tang. Bahan yang dapat menghantar ka1or dengan baik dinamakan konduktor. Penghantar yang buruk disebut isolator. Sifat bahan yang digunakan untuk menyatakan bahwa
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/01%20Bab%201%20Pendahuluan.html (4 of 7)5/8/2007 3:24:05 PM

PERPINDAHAN PANAS

bahan tersebut merupakan suatu isolator atau konduktor ialah koefisien konduksi terma. Apabila nilai koefisien ini tinggi, maka bahan mempunyai kemampuan mengalirkan kalor dengan cepat. Untuk bahan isolator, koefisien ini bernilai kecil. Pada umumnya, bahan yang dapat menghantar arus listrik dengan sempurna (logam) merupakan penghantar yang baik juga untuk kalor dan sebaliknya. Selanjutnya bila diandaikan sebatang besi atau sembarang jenis logam dan salah satu ujungnya diulurkan ke dalam nyala api. Dapat diperhatikan bagaimana kalor dipindahkan dari ujung yang panas ke ujung yang dingin. Apabila ujung batang logam tadi menerima energi kalor dari api, energi ini akan memindahkan sebahagian energi kepada molekul dan elektron yang membangun bahan tersebut. Moleku1 dan elektron merupakan alat pengangkut kalor di dalam bahan menurut proses perpindahan kalor konduksi. Dengan demikian dalam proses pengangkutan kalor di dalam bahan, aliran elektron akan memainkan peranan penting . Persoalan yang patut diajukan pada pengamatan ini ialah mengapa kadar alir energi kalor adalah berbeda. Hal ini disebabkan karena susunan molekul dan juga atom di dalam setiap bahan adalah berbeda. Untuk satu bahan berfasa padat molekulnya tersusun rapat, berbeda dengan satu bahan berfasa gas seperti udara. Molekul udara adalalah renggang seka1i. Tetapi dibandingkan dengan bahan padat seperti kayu, dan besi , maka molekul besi adalah lebih rapat susunannya daripada molekul kayu. Bahan kayu terdiri dari gabungan bahan kimia seperti karbon, uap air, dan udara yang terperangkat. Besi adalah besi. Kalaupun ada bahan asing, bahan kimia unsur besi adalah lebih banyak. 1.3. Aliran (Konveksi) Yang dimaksud dengan aliran ialah pengangkutan ka1or oleh gerak dari zat yang dipanaskan. Proses perpindahan ka1or secara aliran/konveksi merupakan satu fenomena permukaan. Proses konveksi hanya terjadi di permukaan bahan. Jadi dalam proses ini struktur bagian dalam bahan kurang penting. Keadaan permukaan dan keadaan sekelilingnya serta kedudukan permukaan itu adalah yang utama. Lazimnya, keadaan keseirnbangan termodinamik di dalam bahan akibat proses konduksi, suhu permukaan bahan akan berbeda dari suhu sekelilingnya. Dalam hal ini dikatakan suhu permukaan adalah T1 dan suhu udara sekeliling adalah T2 dengan Tl>T2. Kini
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/01%20Bab%201%20Pendahuluan.html (5 of 7)5/8/2007 3:24:05 PM

PERPINDAHAN PANAS

terdapat keadaan suhu tidak seimbang diantara bahan dengan sekelilingnya. Perpindahan kalor dengan jalan aliran dalam industri kimia merupakan cara pengangkutan kalor yang paling banyak dipakai. Oleh karena konveksi hanya dapat terjadi melalui zat yang mengalir, maka bentuk pengangkutan ka1or ini hanya terdapat pada zat cair dan gas. Pada pemanasan zat ini terjadi aliran, karena masa yang akan dipanaskan tidak sekaligus di bawa kesuhu yang sama tinggi. Oleh karena itu bagian yang paling banyak atau yang pertama dipanaskan memperoleh masa jenis yang lebih kecil daripada bagian masa yang lebih dingin. Sebagai akibatnya terjadi sirkulasi, sehingga kalor akhimya tersebar pada seluruh zat.

Gambar 1.3. Perpindahan panas konveksi. (a) konveksi paksa, (b) konveksi alamiah, (c) pendidihan, (d) kondensasi

Pada perpindahan kalor secara konveksi, energi kalor ini akan dipindahkan ke sekelilingnya dengan perantaraan aliran fluida. Oleh karena pengaliran fluida melibatkan pengangkutan masa, maka selama pengaliran fluida bersentuhan dengan permukaan bahan yang panas, suhu fluida akan naik. Gerakan fluida melibatkan kecepatan yang seterusnya akan menghasilkan aliran momentum. Jadi masa fluida yang mempunyai energi terma yang lebih tinggi akan mempunyai momentum yang juga tinggi. Peningkatan momentum ini bukan disebabkan masanya akan bertambah. Malahan masa fluida menjadi berkurang karena kini fluida menerima energi kalor.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/01%20Bab%201%20Pendahuluan.html (6 of 7)5/8/2007 3:24:05 PM

PERPINDAHAN PANAS

Fluida yang panas karena menerima kalor dari permukaan bahan akan naik ke atas. Kekosongan tempat masa bendalir yang telah naik itu diisi pula oleh masa fluida yang bersuhu rendah. Setelah masa ini juga menerima energi kalor dari permukan bahan yang kalor dasi, masa ini juga akan naik ke atas permukaan meninggalkan tempat asalnya. Kekosongan ini diisi pula oleh masa fluida bersuhu renah yang lain. Proses ini akan berlangsung berulang-ulang. Dalam kedua proses konduksi dan konveksi, faktor yang paling penting yang menjadi penyebab dan pendorong proses tersebut adalah perbedaan suhu. Apabila perbedaan suhu .terjadi maka keadaan tidak stabil terma akan terjadi. Keadaan tidak stabil ini perlu diselesaikan melalui proses perpindahan kalor. Dalam pengamatan proses perpindahan kalor konveksi, masalah yang utama terletak pada cara mencari metode penentuan nilai h dengan tepat. Nilai koefisien ini tergantung kepada banyak faktor. Jumlah kalor yang dipindahkan, bergantung pada nilai h. Jika cepatan medan tetap, artinya tidak ada pengaruh luar yang mendoromg fluida bergerak, maka proses perpindahan ka1or berlaku. Sedangkan bila kecepatan medan dipengaruhi oleh unsur luar seperti kipas atau peniup, maka proses konveksi yang akan terjadi merupakan proses perpindahan kalor konveksi paksa. Yang membedakan kedua proses ini adalah dari nilai koefisien h-nya.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/01%20Bab%201%20Pendahuluan.html (7 of 7)5/8/2007 3:24:05 PM

BAB II

BAB II PERPINDAHAN PANAS KONDUKSI

Pada perpindahan panas secara konduksi, kalor/panas mengalir tanpa disertai gerakan zat, tetapi melaui satu jenis zat. Arah aliran energi kalor dari titik bersuhu tinggi ke titik bersuh rendah. Tidak semua bahan dapat menghantar kalor sama sempurnanya. Konduktor: bahan yang dapat menghantar kalor dengan baik. Isolator: penghantar kalor yang buruk. Koefisien konduksi terma, k: § sifat bahan yang digunakan untuk menyatakan bahwa bahan tersebut merupakan suatu isolator atau konduktor § menunjukkan berapa sepat kalor mengalir dalam suatu bahan kkonduktor>kisolator Konduksi panas mengikuti Hukum Fourier yang dapat dinyatakan dengan persamaan yang berikut: atau:

q = laju perpindahan panas dT/dx = gradien suhu ke arah perpindahan panas Dalam persamaan di atas Hukum Fourier telah dinyatakan dalam bentuk persamaan laju alir, yang bentuk umumnya adalah:
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/02%20Perpindahan%20panas%20konduksi.html (1 of 7)5/8/2007 3:24:06 PM

BAB II

Dengan demikian persamaan konduksi panas mendefinisikan tahanan terhadap konduksi panas k adalah konduktiviti panas suatu zat, yang besarnya tergantung pada temperatur zat itu. Biasanya perubahan k dapat diperkirakan cukup dengan fungsi liniar

2.1. Konduksi Keadaan Steady (Tunak) Persamaan neraca energi:

Analisa satu dimensi arah sumbu x ditunjukkan sebagai berikut:

Kuantitas energi panas adalah sebagai berikut: Energi masuk : Energi yang dibangkitkan : Perubahan energi dalam Energi keluar = Pada keadaan steady, distribusi suhu konstan, suhu hanya merupakan fungsi posisi dan akumulasi = 0, sehingga:
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/02%20Perpindahan%20panas%20konduksi.html (2 of 7)5/8/2007 3:24:06 PM

BAB II

Untuk konduksi keadaan steady, hukum Fourier dapat diintegrasi:

2.1.1.Dinding Datar Sistem dengan lebih dari satu macam bahan, seperti dinding lapis rangkap, analisisnya akan menjadi seperti berikut:

Untuk gradien suhu seperti gambar di atas, laju perpindahan panas:

Aliran panas pada setiap bagian adalah sama. Jika ketiga persamaan akan diselesaikan bersamaan, maka aliran kalor dapat dituliskan:

Analogi listrik dapat digunakan untuk memecahkan persoalan yang lebih rumit. Digunakan R, tahanan termal/panas/kalor, untuk menyatakan :
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/02%20Perpindahan%20panas%20konduksi.html (3 of 7)5/8/2007 3:24:06 PM

BAB II

Sehingga:

= penurunan suhu total melintas keseluruhan tebing Aliran kalor melalui beberapa tahanan dalam susunan seri mempunyai analogi dengan arus listrik yang mengalir melalui beberapa tahanan listrik dalam rangkaian seri. Aliran kalor melalui beberapa tahanan dalam susunan paralel:

Jika suhu awal dan akhir kedua lapisan sama:

2.1.2. Sistem Radial-Silinder

Suatu silinder, dimana: r1= jari-jari dalam r0=jari-jari luar
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/02%20Perpindahan%20panas%20konduksi.html (4 of 7)5/8/2007 3:24:06 PM

BAB II

L=panjang Ti-To=beda suhu Laju perpindahan panas dapat ditentukan dari Hukum Fourier dengan penyesuaian rumus luas menjadi:

Konsep tahanan termal dapat juga digunakan untuk dinding lapis rangkap seperti gambar di atas:

Contoh 4.2-1 (Geankoplis, 1987). Panjang tabung untuk koil pendingin Tabung silinder berdinding tipis dari karet dengan ID 5 mm dan OD 20 mm digunakan sebagai koil pendingin. Air pendingin dalam tabung mengalir pada suhu 274,9 K. Sebanyak 14,65 W panas harus dipindahkan dengan pendinginan ini. Hitung panjang tabung yang diperlukan, jika suhu permukaan luar tabung 297,1 K. Penyelesaian: Dari App. A-3 Geankoplis, 1987: Khardbutter= 0,151 W/m.K

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/02%20Perpindahan%20panas%20konduksi.html (5 of 7)5/8/2007 3:24:06 PM

BAB II

r1 = 5/100 = 0,005 m; r2 = 20/1000 = 0,02 m Ambil L= 1 m. Tanda negatif menunjukkan bahwa arah aliran panas adalah dari r2, dinding luar ke r1, dinding dalam. Panjang tabung yang diperlukan: Contoh 4.3-1 (Geankoplis, 1987). Aliran panas melalui dinding isolasi ruang pendingin Ruang pendingin dilapisi dengan 12,7 mm kayu pine; 101,6 mm cork board dan lapisan terluar 76,2 mm concrete. Temperatur permukaan luar 255,4 K (ruang pendingin) dan permukaan luar concrete 297,1 K. Nilai: kpine = 0,151 W/m.K kcorkboard = 0,0433 W/m.K kconcrete = 0,762 W/m.K Hitung panas yang hilang (dalam W) untuk 1 m2, dan temperatur antara pine dan cork board. Penyelesaian: T1 = 255,4 K; T4= 297,1 K; kA= 0,151 kB= 0,0433 kC= 0,762 ; xA= 0,0127 m ; xB= 0,1016 m ; xC= 0,0762 m

Tahanan masing-masing material: Dengan cara yang sama: Untuk menghitung temperatur T2, antara pine dan cork board:
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/02%20Perpindahan%20panas%20konduksi.html (6 of 7)5/8/2007 3:24:06 PM

BAB II

Contoh 4.3-2 (Geankoplis, 1987). Panas yang hilang dari isolasi pipa. Pipa stainless stell berdinding tipis (A) mempunyai k= 21,63 W/m.K dengan ID=0,0254 m dan OD = 0,0508 m. Pipa dilapisi asbestos (B) sebagai isolasi setebal 0,0254 m dengan k=0,2433 W/ m.K. Temperatur permukaan dalam pipa 811 K dan permukaan luar isolasi 310,8 K. Untuk pipa 0,305 m panjang, hitung: a. Panas yang hilang b. Temperatur antara pipa dengan isolasi

Penyelesaian: T1= 811 K; T2 = T antara; T3=310,8 K Luas permukaan pada L=0,305 m:

Tahanan masing-masing:

Laju perpindahan panas: Untuk menghitung temperatur T2: Hanya terjadi penurunan T yang kecil melintasi pipa, karena nilai k yang tinggi.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/02%20Perpindahan%20panas%20konduksi.html (7 of 7)5/8/2007 3:24:06 PM

BAB III

BAB III PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI

Perpindahan panas antara suatu permukaan padat dan suatu fluida berlangsung secara konveksi. Konveksi panas dapat dihitung dengan persamaan pendinginan Newton: …(3.1) Persamaan (3.1) mendefinisikan tahanan panas terhadap konveksi. Koefisien pindah panas permukaan h, bukanlah suatu sifat zat, akan tetapi menyatakan besarnya laju pindah panas di daerah dekat pada permukaan itu. Fluks Kalor: Adalah laju perpindahan panas persatuan luas (q/A). Fluks kalor boleh didasarkan atas luas permukaan luar atau dalam pipa. Suhu arus rata-rata: Adalah suhu yang dicapai apabila keseluruhan fluida yang mengalir melalui penampang itu dikeluarkan lalu dicampur secara adiabatik.

Koefisien perpindahan kalor menyeluruh: Jika terjadi konduksi dan konveksi secara berturutan, maka berbagai tahanan panas yang tersangkut dapat dijumlahkan untuk memperoleh koefisien pindah panas keseluruhan U. Persamaan perpindahan panas menjadi:

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (1 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

Th= suhu fluida panas Tc=suhu fluida dingin Th – Tc = gaya dorong atau beda suhu lokal menyeluruh A = luas permukaan dalam/luar pipa U = koefisien pindah panas keseluruhan berdasarkan A = faktor proporsionalitas antara q/A dan •T Jika A = Ao, luas permukaan luar tabung, maka U = Uo, koefisien yang didasarkan atas luas permukaan luar. Koefisien perpindahan panas individual, h: Merupakan koefisien perpindahan panas untuk masing-masing fluida.

T = suhu rata-rata lokal Tw= suhu dinding yang dalam kontak dengan fluida

Nilai h bila diterapkan: § Untuk sisi panas (bagian dalam tabung) Th=suhu fluida panas Twh=suhu dinding panas § Untuk sisi dingin (bagian luar tabung)

Tc=suhu fluida dingin

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (2 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

Twc=suhu dinding dingin Koefisien pindah panas permukaan dapat diperkirakan dari fungsi-fungsi empiris, yang tersusun dari bilangan-bilangan tanpa dimensi, dengan bentuk umum: Nu = K Rep Prq Grr (L/d)s dimana K = bilangan tetap. Nu = angka Nusselt, rasio antara diameter tabung terhadap tebal ekivalen lapisan laminar

h k D X

=koefisien konveksi =konduktivitas panas =diameter tabung =tebal lapisan film (lapisan batas laminar)

Korelasi untuk menentukan nilai h dipengaruhi oleh: § § § § Sifat fisika fluida Jenis dan kecepatan aliran Perbedaan temperatur Geometri sistem

Beberapa nilai h dapat dilihat pada Tabel 4.1-2 Geankoplis, 1987. Perpindahan panas konveksi dapat dikelompokkan kepada dua bahagian: 1. Konveksi bebas/alamiah § Contohnya adalah pemanasan aliran udara yang melalui radiator, pemanasan air dalam ketel. § Fluida panas yang menerima panas akan naik ke atas, kekosongan tempat massa fluida yang telah naik diisi oleh massa fluida yang bersuhu rendah. § Aliran fluida terjadi akibat perbedaan densitas, dan perbedaan densitas akibat
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (3 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

adanya gradien suhu di dalam massa fluida itu. 2. Konveksi paksa § Jika aliran fluida digerakkan oleh piranti mekanik seperti pompa dan pengaduk. § Aliran/perpindahan panas tidak bergantung pada gradien densitas. § Contohnya aliran kalor melalui pipa panas.

3.1. Konveksi Alamiah Pada perbatasan suatu permukaan dan suatu fluida akan terjadi perpindahan panas secara konduksi dan konveksi. Biasanya temperatur permukaan itu cukup tinggi untuk menimbulkan pula radiasi. Tanpa adanya aliran yang dipaksakan terhadap fluida, maka sekitar permukaan akan terjadi konveksi secara alamiah. Perbedaan temperatur antara bagian-bagian fluida menyebabkan perbedaan densiti dan karena itu timbul gerakan dan aliran dalam fluida. Aliran alamiah ini memperbesar perpindahan panas yang semula sampai tercapai keadaan yang tecap. Cara perpindahan panas semacam ini disebut konveksi alamiah atau konveksi bebas. Besarnya koefisien perpindahan panas harus didapat dari hasil percobaan. Banyak penyelidikan telah dilakukan untuk menentukan koefisien pindah panas itu. Jika berbagai hasil penyelidikan itu dikumpulkan, ternyata dapat diperoleh persamaan empiris dalam bilangan-bilangan tanpa dimensi, salah satu di antaranya adalah bilangan Grashof, yang dibuat untuk menunjukkan sifatsifat konveksi bebas . Bentuk umum: Bilangan-bilangan tanpa dimensi itu adalah:

Dimana: L =panjang pipa • =viskositas fluida ρ =densitas fluida g =percepatan gravitasi
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (4 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

Cp β hc k

=kapasitas panas =koefisien ekspansi termal =koefisien konveksi =konduktivitas termal

Hasil percobaan itu sering juga dinyatakan sebagai nomogram (alignment chart) atau grafik.

Persamaan empiris dan nomogram itu dapat dipakai guna memperkirakan koefisien perpindahan panas untuk konveksi bebas. Karena terdapat berbagai persamaan dan nomogram, maka haruslah dicari yang keadaan sistemnya sama dengan sistem yang sedang ditinjau. Bagaimana beraneka ragamnya persamaan-persamaan itu dapat dilihat dari contoh-contoh di bawah ini. Untuk bidang tegaklurus dan silinder tegak lurus Aliran bergolak: Aliran berlapis:

Untuk silinder mendatar Untuk lempeng mendatar yang dipanaskan, menghadap ke atas, atau lempeng mendatar, yang didinginkan, menghadap ke bawah:

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (5 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

Untuk lempeng mendatar yang dipanaskan, menghadap ke bawah atau lempeng mendatar, yang didinginkan, menghadap ke atas:

3.2. Konveksi Paksa Seperti telah diketahui fluida sekitar benda, yang seluruhnya diliputi oleh fluida itu, mengalami dua macam hambatan, yaitu hambatan gesekan dan hambatan bentuk. Dalam bilangan Reynolds yang sangat rendah hanya hambatan gesekan yang berpengaruh. Jika bilangan Reynolds bertambah besar, baik hambatan gesekan maupun hambatan bentuk berpengaruh, akan tetapi pengaruh hambatan gesekan makin lama makin berkurang dan hambatan bentuk lebih berpengaruh. Pengaruh aliran ini juga terlihat pada perpindahan panas antara fluida dan benda-benda yang terendam. Persamaan-persamaan empiris tentang koefisien pindah panas antara benda dan fluida hanya berlaku untuk benda dengan bentuk tertentu. Jika dalam alat dikehendaki pertukaran panas, maka perpindahan panas selalu terjadi secara konveksi paksa; karena laju panas yang dipindahkan naik dengan adanya aliran atau pengadukan. Juga di sini pada waktu yang sama berlangsung perpindahan panas secara konduksi, konveksi dan radiasi. Dalam hal ini radiasi biasanya terjadi pada permukaan luar yang berhubungan dengan lingkungan yang tetap temperaturnya. Seringkali salah satu fluida dalam sebuah penukar-panas mengalir dalam pipa, sedang fluida yang lain mengalir dalam ruang anulus sebuah pipa yang lebih besar atau dalam ruang sebuah shell yang memuat banyak pipa, Perpindahan panas berlangsung secara radial terhadap pipa. Antara fluida di dalam pipa dan permukaan dinding pipa sebelah dalam, panas dipertukarkan secara konveksi, kemudian panas menjalar secara konduksi melalui logam dinding pipa. Di luar pipa terjadi lagi konveksi. Perhitungan dilakukan dengan persamaan yang berikut:
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (6 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

Kalau persamaan di atas diterapkan di satu tempat, maka U adalah koefisien perpindahan panas keseluruhan setempat dan ∆T adalah selisih temperatur fluida di dalam pipa dan fluida di luar pipa di tempat itu. Luas permukaan perpindahan panas A, harus dihitung sesuai dengan keadaan sistem. Begitu juga koefisien perpindahan panas keseluruhan harus dihitung melalui penjumlahan masing-masing tahanan panas, sesuai dengan persoalannya.

Karena terjadi perpindahan panas, maka sepanjang pipa fluida yang panas berkurang temperaturnya dan fluida yang dingin naik temperaturnya. Pada ujung keluar pipa itu akan terdapat selisih temperatur yang berbeda dengan pada ujung awal. Begitu juga besarnya koefisien perpindahan panas konveksi akan berubah, karena temperatur fluida berbeda. Untuk menerapkan persamaan pindah panas pada satu alat, maka haruslah ada harga yang dirata-ratakan. Biasanya selisih temperatur dirata-ratakan secara logaritma antara kedua ujung alat menjadi: (Selisih temperatur rata-rata logaritma) Dalam hal ini U dianggap tidak berubah banyak antara kedua ujung alat itu. Kalau U sangat berbeda di kedua tempat itu, maka dilakukan rata-rata dengan persamaan yang berikut: U dihitung dari jumlah tahanan panas keseluruhan. Besarnya koefisien pindah panas secara konveksi diperkirakan dari persamaan-persamaan empiris. Untuk konveksi dalam pipa sudah tentu persamaan empirisnya lain daripada untuk konveksi luar pipa. Banyak buku yang memuat keterangan tentang koefisien pindah panas, baik dalam bentuk persamaan, maupun dalam bentuk nomogram. Dalam mencari persamaan-persamaan empiris itu harus diperhatikan sifat fluida, sifat aliran, jenis perpindahan panas (pemanasan atau pendinginan), letak pipa dan lain sebagainya. Sebab untuk keadaan yang berlainan mungkin berlaku persamaan yang lain pula, dan haruslah ditemukan persamaan yang keadaan berlakunya sama dengan masalah yang dihadapi.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (7 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

Koefisien pindah panas sebuah alat penukar panas mengalami perubahan selama pemakaian. Sewaktu masih baru permukaan logam pipa-pipa itu bersih. Selama pemakaian pada permukaan itu akan tertentuk lapisan kotoran atau kerak. Biarpun tipis lapisan itu merupakan tahanan tambahan terhadap perpindahan panas. Lapisan ini terutama timbul pada permukaan yang berhubungan dengan air. Besarnya tahanan karena pengotoran itu dapat dihitung dari persamaan yang berikut:

di mana Ud adalah koefisien pindah panas keseluruhan untuk alat yang kotor dan untuk alat yang bersih, sedang hd koefisien pindah panas untuk lapisan kotoran atau kerak. Menurut teori "dua lapisan" pada permukaan yang berhubungan dengan fluida terdapat, suatu lapisan tipis fluida, yang keadaan alirannya berlapis, biarpun agak berjauhan dari permukaan fluidanya mengalir secara bergolak. Pada dinding pipa yang kedua belah permukaannya terdapat fluida, didapati dua lapisan batas itu. Karena keadaan dalam lapisan batas itu berlapis, maka tahanan terhadap perpindahan panas di 1apisan lebih besar daripada di daerah yang bergolak. Selisih temperaturpun lebih besar. Karena itu untuk perhitungan-perhitungan, seluruh tahanan pindah panas dianggap berada dalam lapisan batas. Untuk perhitungan selisih temperatur selalu diambil antara permukaan dan tengah-tengah aliran yang bergolak. Pada dasarnya rumus empiris untuk konveksi paksa meliputi benda mempunyai bentuk umum yang sama dengan rumus empiris untuk konveksi dalam pipa, yaitu:

Persamaan-persamaan itu dapat juga disajikan dalam bentuk grafik. Dalam menggunakan persamaan-persamaan itu, arah perpindahan panas perlu terus diingat. Persamaan empiris hanya memberikan cara untuk memperkirakan besarnya koefisien pindah panas. Tahanan panas konveksi digambarkan sebagai terpusat dalam lapisan batas fluida pada permukaan padat. Karena itu dalam menggunakan persamaan empiris semua sifat fisis fluida dinilai sesuai dengan temperatur lapisan batas itu. Karena persamaan empiris itu dinyatakan dengan bilangan tanpa dimensi maka sistem satuan
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (8 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

mana yang digunakan tidak menjadi soal, asalkan tetap hanya satu sistem satuan yang dipakai. Banyak data telah diperoleh dalam percobaan-percobaan untuk menentukan koefisien pindah panas h. Data dapat disajikan dalam grafik atau sebagai persamaan. Di bawah ini akan diberikan berbagai contoh persamaan empiris yang sering dijumpai dengan batas-batas berlakunya. Aliran laminar Untuk aliran berlapis (laminar) dalam pipa tegak atau datar, di mana konveksi bebas dapat diabaikan, berlaku persamaan: Re < 2100 Dimana: L =adalah panjang pipa di mana terjadi perpindahan panas; m. d =diameter pipa; m • =viskositas fluida pada suhu rata-rata; Pa.s b • w =viskositas fluida pada suhudinding; Pa.s =kapasitas panas; J/kg.K =koefisien perpindahan panas rata-rata =konduktivitas termal; W/m.K

Cp hc k

Faktor (•/• w) digunakan sebagai koreksi, jika viskositas fluida di dekat dinding dan di tengah pipa terlalu berbeda. Semua sifat fluida dihitung pada suhu rata-rata kecuali • w Untuk fluida masuk dan keluar pada T berbeda, T rata-rata secara aritmetik: Tw= suhu dinding Tbi= suhu fluida masuk Tbo=suhu fluida keluar Aliran turbulen Untuk aliran bergolak (turbulen) dalam pipa yang bersih berlaku persamaan:
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (9 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

hL

= koefisien konveksi didasarkan pada •Tm.

Beda suhu rata-rata logaritmik,LMTD, •Tm Merupakan selisih suhu rata-rata secara logaritma pada kedua ujung peralatan.

Bilangan Grashof tidak ada dalam persamaan di atas, karena nilai bilangan Reynolds terlalu tinggi untuk adanya pengaruh konveksi bebas. Sifat-sifat fluida harus dinilai pada temperatur rata-rata antara temperatur masuk dan keluar. Persamaan-persamaan empiris yang ada pada waktu ini belum mencakup semua keadaan yang dijumpai dalam praktek. Banyak hal yang tidak dapat di hitung koefisiep pindah panasnya. Dalam hal ini h harus diperkirakan dari data empiris, yang biasanya dalam buku-buku referensi diberikan sebagai batas-batas nilai. Data yang dilaporkan dalam buku maupun dalam majalah banyak berguna dalam memperkirakan koefisien pindah panas secara konveksi.

Nila h untuk udara, Ptotal= 1 atm, aliran turbulen Nilai h untuk air, T=4-105oC, aliran turbulen

Nilai h aliran fluida yang melintasi plat datar
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (10 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

Aliran laminar : Re < 3.105; Pr > 0,7

Aliran turbulen: Re > 3.105; Pr > 0,7

Nilai h untuk aliran melintasi bola Sebuah bola yang akan dipanaskan atau didinginkan oleh fluida yang mengalir tegak lurus terhadap sumber bola. 1 < Re < 70.000 0,6 < Pr < 400 Nilai h aliran udara yang mengalir tegak lurus terhadap silinder tunggal dan udara yang mengalir tegak lurus pada silinder, digunakan: Nilai K dan n diperoleh dari daftar berikut: Re n 1-4 0,33 4-40 0,385 40-4000 0,466 4000-40000 0,618 40000-250000 0,805

K 0,891 0,821 0,615 0,174 0,0239

Nu 0,891-1,42 1,4 – 3,4 3,43 – 29,6 29,5 – 121 121 - 529

3.3. Gabungan Konduksi dan Konveksi Terdapat dua jenis fluida pada kedua sisi permukaan padatan. T1 = suhu fluida panas T2 = suhu fluida dingin

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (11 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

Laju perpindahan panas (gambar a):

Koefisien perpindahan panas menyeluruh, U, gabungan konduksi dan konveksi, dihitung melalui penjumlahan masing-masing tahanan panas, sesuai dengan persoalannya.

U dalam W/m2.K

Laju perpindahan panas (gambar b):

A1 = 2p.L.r1 = luas permukaan dalam tabung Aalm = luas permukaan rata-rata tabung Ao = luas permukaan luar tabung

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (12 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

Contoh 4.5-1. (Geankoplis, 1987). Pemanasan udara dalam aliran turbulen. Udara pada 206,8 kPa dan temperatur rata-rata 477,6 K akan dipanaskan melalui pipa dengan ID 25,4 mm dan kecepatan 7,62 m/dt. Sebagai media pemanas digunakan steam pada 488,7 K diluar pipa. Karena koefisien konveksi steam besar sedangkan tahanan dinding pipa sangat kecil, dianggap temperatur dinding pipa yang kontak dengan udara juga 488,7 K. Hitung : a. Koefisien perpindahan panas untuk L/D > 60. b. Fluks panas (q/A)

Penyelesaian: Dari App. A.3. Geankoplis 1987, udara pada 477,6 K: mb = 2,6.10-5 Pa.s k = 0,03894 W/m Pr = 0,686 Pada 488,7 K, mw = 2,64.10-5 Pa.s
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (13 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

mb = 2,6.10-5 Pa.s = 2,6.10-5 kg/m.dt

(a) Aliran turbulen:

(b)

Contoh soal 4.5-2 (Geankoplis, 1987). Pemanasan air menggunakan steam dan penyelesaian dengan trial and error. Air mengalir melalui pipa horizontal 1” sch 40, pipa baja pada temperatur rata-rata 65,6 oC dan kecepatan 2,44 m/dt. Air akan dipanaskan dengan steam pada 107,8 oC diluar dinding pipa. Koefisien sisi uap diperkirakan ho = 10500 W/m2.K. a. Hitung hi untuk air didalam pipa. b. Hitung U, koefisien perpindahan panas keseluruhan, didasarkan atas permukaan dalam pipa. c. Hitung q untuk 0,305 m pipa.

Penyelesaian: Dari App. A-5 (Geankoplis, 1987): 1” sch 40 : ID= 0,0266 m dan OD = 0,0334 m. Air pada T = 65,6 oC dari App. A.2 : NPr = 2,72 r = 0,98 (1000) = 980 kg/m3 k = 0,633 W/m.K µ = 4,32.10-4 Pa.S
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (14 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

TRIAL I Temperatur dinding pipa diperlukan, dan diasumsikan berada diantara 65,6oC dan 107,8 oC, diambil 80 oC = Tw. •w,80oC = 3,56.10-4 Pa.s Nre air pada temperatur rata-rata:

(b) Untuk L=0,305 m

K untuk baja adalah 45 W/m.K

Tahanan menjadi: Penurunan temperatur melalui lapisan air: =16,1oC Sehingga Tw=65,5+16,1=81,7oC Ini sangat dekat dengan nilai Trial I yaitu 80oC. Sifat fisika yang berubah adalah mw jika dilakukan Trial II yaitu mw,80oC= 3,56.10-4 menjadi mw,81,7oC=3,53.10-4.

Tetapi efeknya terhadap hi cukup kecil dan dapat diabaikan, sehingga tidak diperlukan trial ke-2.
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (15 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

(c)

Soal latihan. Suatu aliran minyak bumi, sebanyak 1 kg/detik, dipanaskan dalam tungku dan keluar tungku pada temperatur 300oC melalui pipa baja 4 inci sch. 40, yang terpasang dalam udara terbuka. Pipa ini hendak diinsulasi dengan lapisan asbes. Berapa tebal lapisan asbes, agar temperatur permukaan asbes dapat mencapai 50oC, dan penurunan temperatur minyak bumi besarnya 0,1 oC/m panjang pipa. Analisa Keadaan masalah digambarkan pada sketsa berikut. Arah perpindahan panas adalah radial.

Perpindahan panas mengikuti persaman: Dimana: = tahanan panas konveksi dalam pipa
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (16 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

= tahanan konduksi panas melalui pipa = tahanan konduksi panas melalui asbes = tahanan panas konveksi bebas dalam udara Untuk menghitung besarnya tahanan panas, perlu dikumpulkan keterangan dan data dari pustaka sbb: Pipa 4” sch. 40 mempunyai ukuran sbb: ID = 102 mm OD = 114 mm Tebal dinding = 6,02 mm Luas permukaan = 0,358 m2/m Harga konduktivitas panas, k, ialah: Baja (300 oC) = 43 W/m.K Asbes (100 oC) = 0,178 W/m.K Keterangan tentang udara: K (kering) = 26,6 mW/m.K r(lembab) = 1,107 kg/m3 Cp (lembab) = 1,07 kJ/kg.K µ(lembab) = 19,0 N.detik/m2 Tf diambil 35 oC = 308 K β= koefisien ekspansi termal = 1/Tf = 1/308 Keterangan tentang minyak bumi: K = 0,138 W/m.K r (100 oC) = 890 kg/m3 Cp (100 oC) = 1,97.103 J/kg.K µ (100 oC) = 0,27.10-3 N.detik/m2 Pada permukaan luar insulasi asbes terjadi konveksi bebas. Untuk perhitungan pertama tahanan
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (17 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

konveksi bebas tidak perlu diikut sertakan, karena temperatur permukaan diketahui yaitu 50 oC. Rencana: Persaman pokok untuk perpindahan panas adalah: Yang ditanyakan adalah tebal insulasi. Besaran ini terdapat dalam tahanan panas R. Jadi q dan ∆T harus diketahui terlebih dahulu. Q diperoleh dari penurunan temperatur minyak bumi sebesar G.Cp. ∆T Watt/m.pipa. ∆T = 0,1 oC ∆T diperoleh dari selisih temperatur keseluruhan 300 – 50 = 250 oC Dari keempat tahanan panas R1 dan R2 dapat dihitung, karena semua keterangan diketahui, R4 untuk sementara tidak diperlukan. Substitusi harga besaran-besaran di atas ke dalam persamaan perpindahan panas, memberikan harga untuk R3, yang kemudian menghasilkan tebal insulasi. Penyelesaian: Untuk dapat memilih persamaan empiris untuk menghitung h, maka bilangan Reynold harus dihitung. Untuk minyak bumi perhitungan adalah sebagai berikut. G = 1 kg/dt D = 0,102 m m= 0,27 . 10-3 N.det/m2 Dipakai persamaan berikut Nre = 46.200

Tahanan konduksi melalui dinding pipa:
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (18 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

Kp=43 W/m.K

Tahanan konduksi melalui insulasi: ka= 0,178 W/m.K

Laju perpindahan panas permeter pipa:

R = R1 + R2 + R3 1,27=0,0109+0,0004+R3 d= 0,7 (0,114 + d) = 0,08 + 0,7 d d = 0,08/0,3 = 0,267 m d ins = 0,114 + (2. 0,267) = 0,647 m Penilaian: Hasil perhitungan diatas perlu diperiksa dengan tahanan konveksi bebas. Kalau dimisalkan temperatur udara 20 oC, maka temperatur lapisan batas udara Tf pada permukaan insulasi dapat diambil Tf = ½ (50+20) = 35 oC Perhitungan tahanan konveksi bebas: b= 0,647 m

Berlaku 103 < Gr.Pr < 109 , sehingga dipakai persamaan Nu = 0,525 (Gr.Pr)1/4 Menurut perhitungan ini temperatur permukaan insulasi besarnya = 20 + 33 = 53 oC.
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (19 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

Perbedaan sebesar 3 oC atau lebih kurang 6% masih baik untuk perhitungan rancangan seperti ini. Kalau temperatur udara bukan 20 oC, akan tetapi lebih tinggi maka temperatur permukaan insulasi akan lebih tinggi dari 50 oC. Untuk mempertahankannya pada 50 oC, harus diadakan perhitungan tebal insulasi lagi, yang berarti insulasi harus dipertebal.

Soal Latihan Gas karbondioksida kering sebanyak 8,0 .10-3 m3/detik, pada tekanan mutlak 2 bar dan temperatur 60 oC, hendak didinginkan menjadi 40 oC. Gas berada dalam pipa tembaga ukuran 1” dengan dinding BWG no.16. Setiap pipa berada dalam pipa tembaga yang lain dengan ukuran 1,5” dan dinding BWG no.14. Air mengalir melalui ruang anulus antara kedua pipa dengan kecepatan 0,3 m/detik. Air mengalir berlawanan arah dengan gas dan masuk pada 25 oC. Gas masuk dengan kecepatan 5,7 m/detik. Berapakah banyaknya dan panjang pipa yang diperlukan?. Analisa: s Perhitungan dilakukan dengan persamaan
s s

Banyaknya pipa terdapat adlam luas permukaan A Faktor lain harus dihitung. Jika ada faktor yang tidak dapat dihitung, lakukan trial (cobacoba). Q dapat dihitung dari laju alir dan penurunan temperatur gas CO2. U dihitung dengan menghitung masing-masing tahanan panas dan menjumlahkannya. •Tm dapat dihitung dari kenaikan temperatur ini dan laju alirnya, berdasarkan anggapan semua energi gas diserap oleh air.

s

s s

Rencana: 1. Hitung laju perpindahan panas q 2. Hitung selisih temperatur rata-rata •Tm 3. Hitung koefisien perpindahan panas keseluruhan, U 4. Hitung luas permukaan

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (20 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

Penyelesaian: Semua keterangan didapat dari lampiran atau pustaka. Gas CO2 dianggap gas ideal. 1. Laju perpindahan panas

Berat 1 m3 gas pada 2 bar, 60 oC:

Pada kondisi standar: P1 = 1 atm = 1,013 bar V1 = 22,415 cm3/mol = 22,415 m3/kgmol T1 = 273,15 K N1 = 1 kgmol Kondisi 2: P2 = 2 bar V2 = 1 m3/n2 kgmol T2 = 273+60 = 333 K N2 = kgmol

Cp CO2 diperhitungkan pada temperatur rata-rata = ½ (60+40) = 50 oC
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (21 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

Dengan interpolasi didapat harga = 0,208 Btu/lb.oF = 874 J/kg. oC Berat keseluruhan gas: Jadi panas yang dipindahkan: Q = 25,4.10-3 (874) (60-40) = 445 J/dt

2. Selisih temperatur Luas penampang dalam pipa 1,5” : Luas penampang luar pipa 1” : Luas penampang anulus : 9,03.10-4 – 5,07.10-4 = 3,96.10-4 m2 Luas penampang dalam pipa 1” : Dengan kecepatan 5,7 m/dt tiap pipa dapat mengalirkan: 3,53 .10-4 (5,7) = 20,1.10-4 m3/dt Jadi diperlukan pipa sebanyak: Luas total penampang anulus menjadi 4 (3,96 .10-4) = 15,8 . 10-4 m2. Banyaknya air yang mengalir: (15,8 . 10-4) (0,3) (1000) = 0,474 kg/detik Cp(25 oC) air = 4180 J/kg.K Kenaikan temperatur air ialah: Temperatur keluar air menjadi 25,22 oC

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (22 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

3. Koefisien perpindahan panas Untuk dapat memilih persamaan empiris yang akan digunakan, selalu perlu diketahui apakah aliran laminar atau turbulen. Sehingga Nre harus dihitung.

Untuk CO2: k=0,105 BTU.ft/ft2.oF.jam=0,0105(1,73)=0,0182 W/m.K Cp=874 J/kg.oC µ= 1,6.10-5 N/dt.m2

Untuk aliran air: Luas penampang anulus = 3,96.10-4 m2 Diameter anulus = diameter setara de = 4 x faktor bentuk S Untuk perpindahan panas De=4(0,5.10-2)meter=2,0.10-2 m m25 oC = 0,967.10-3 N.dtk/m2 Persamaan yang akan digunakan: Dengan menggunakan grafik, untuk L/d = 60 (perkiraan) terbaca dari grafik untuk absis Nre = 6300: Untuk air didapat keterangan: d=de=2.10-2 m k= 0,606 W/m.K m = 0,967.10-3 N.dtk/m2 Cp = 4,180 J/kg.K
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (23 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB III

Faktor

diperkirakan mendekati 1, karena temperatur pipa diperkirakan hampir sama dengan temperatur air.

Untuk pipa tembaga: Keliling pipa 1” rata-rata: Tahanan dinding pipa permeter pipa: Tahanan keseluruhan : Tahanan dinding pipa: Tahanan air: Tahanan gas: A=0,1587 m2 Luas permukaan pipa: 0,080 m2/m Panjang pipa yang diperlukan:

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/03%20perpindahan%20panas%20konveksi.html (24 of 24)5/8/2007 3:24:08 PM

BAB IV

BAB IV ALAT PENUKAR KALOR

Apabila kita berhubungan dengan dua macam zat cair atau gas di da1am proses yang akan saling bertukar ka1ornya, maka kita perlu membincangkan tentang atat penukar ka1or yang bersesuaian dengan material yang akan kita pindahkan. Pada industri-industri kimia, a1at penukar ka1or biasanya digunakan untuk pemanasan dan pendinginan proses serta a1iran produk. Ana1isa dan desain yang dilakukan digunakan untuk mengaplikasikan secara praktis prinsip-prinsip dasar yang sudah dibahas sebelumnya. Lazimnya a1at penukar ka1or adalah sistim yang digunakan penukaran ka1or diantara dua fluida yang dibatasi oleh dinding pemisah. Pada kebanyakan sistem kedua fluida ini tidak mengalami kontak langsung. Kontak langsung a1at penukar ka1or terjadi sebagai contoh pada gas kalor yang terfluidisasi da1am cairan dingin untuk meningkatkan temperatur cairan atau mendinginkan gas. Sa1ah satu a1at penukar ka1or yang sederhana terdiri dari pipa panjang di da1am suatu pipa kedua. Kalor akan bertukar diantara fluida di da1am dan di luar pipa yaitu yang berada pada daerah anulus. Kemudian di estimasi koefisien perpindahan kalor diantara kedua a1iran.

Alat penukar kalor berdasarkan fungsinya dapat digolongkan pada beberapa nama: 1. Exchanger: Memanfaatkan perpindahan kalor diantara dua fluida proses (steam dan air pendingin tidak termasuk sebagai fluida proses, tetapi merupakan utilitas).

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (1 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB IV

2. Heater: Berfungsi memanaskan fluida proses, dan sebagai bahan pemanas a1at ini menggunakan steam. 3. Cooler: Berfungsi mendinginkan fluida proses, dan sebagai bahan pendingin digunakan air. 4. Condenser: Berfungsi untuk mengembunkan uap atau menyerap ka1or laten penguapan. 5. Boiler : Berfungsi untuk membangkitkan uap. 6. Reboiler : Berfungsi sebagai pensup1ai kalor yang diperlukan bottom produk pada distilasi. Steam biasanya digunakan sebagai media pemanas. 7. Evaporator: Berfungsi memekatkan suatu larutan dengan cara menguapkan airnya. 8. Vaporizer: Berfungsi memekatkan cairan selain dari air.

Beberapa jenis a1at penukar ka1or yang banyak dipakai akan dibahas berikut ini. 4.1. Alat penukar ka1or pipa a. Penukar ka1or pipa ganda (double pipe heat exchanger) Adalah a1at perpindahan ka1or yang terdiri dari dua pipa konsentris (pipa kecil sebagai sentra1, yang dibungkus oleh pipa yang lebih besar). Dimana satu fluida menga1ir lewat pipa da1am sedangkan fluida yang lain menga1ir lewat anutus, antara dinding pipa da1am dan dinding pipa luar. Alat ini digunakan da1am industri ska1a kecil. dan umumnya digunakan da1am ska1a laboratorium. Pipa ganda ini terdiri dari beberapa bagian:
s s s s

Gland (sambungan) Return head Return bend Tee

Ukuran standar yang biasa terdapat pada Penukar ka1or pipa ganda: Diameter luar, in Diameter dalam, in

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (2 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB IV

2 2½ 3 4

1¼ 1¼ 2 3

b. Penukar kalor pipa-tabung (shell and tube heat exchanger) Pada Gambar 4.1 terlihat suatu sketsa secara bagan dari jenis penukar ka1or ini. Seluruh alat terdiri dari seberkas pipa yang dipasang diantara plat pipa. Kadang-kadang medium yang akan didinginkan dibawa mela1ui pipa dan medium yang akan dipanaskan dibawa seke1i1ing pipa. Adakalanya hal yang sebaliknya berlaku. Pilihan ini bergantung kepada berbagai keadaan yaitu sifat ada media (cair atau gas), viskositas, terdapatnya kotoran padatan, dan sebagainya. Dinding ba1ik vertikal di sekitar pipa, memaksa medium yang mengalir di sekeliling pipa, untuk berubah arah beberapa ka1i. Dengan demikian dapat dicegah sudut mati dalam aparat, akan tetapi dengan demikian dapat pula memperbesar kecepatan aliran, yang dapat lebih memperlancar lagi pertukaran kalor. Untuk menyangga beda muai antara pipa dan mantel, terdapat berbagai macam sistem. Gambar 4.1 memperlihatkan beberapa penyelesaian yang mungkin di1akukan. Kesemuanya dibedakan berdasarkan jalur pemasukan dan pengeluaran bahan yang akan dipanaskan atau didinginkan. Untuk luas per1ukan perpindahan kalor antara 100-200 ft2 digunakan penukar kalor jenis pipa ganda.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (3 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB IV

Gambar 4.1. Penukar kalor pipa tabung (shell and tube heat exchanger) Sedangkan untuk luas lebih besar dari 200 ft2 pemakaian pipa ganda akan memerlukan tempat yang luas, dan karena banyaknya sambungan, titik tempat terjadinya kebocoran semakin banyak. Industri ska1a besar memerlukan alat perpindahan kalor dengan luas perpindahan kalor yang besar. Untuk itu lebih sesuai digunakan penukar kalor pipa tabung.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (4 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB IV

Keuntungan dari tipe ini:
s s s s s

Konfigurasi alat ini memberikan luas permukaan yang besar dalam volume yang kecil. Mempunyai bentuk yang baik untuk operasi bertekanan. Menggunakan teknik fabrikasi yang sudah baik. Dapat dikonstruksi dari sejumlah besar material. Mudah dibersihkan.

4.2. Penukar kalor pe1at Alat penukar ka1or ini terdiri dari beberapa pelat yang tersusun di da1am bingkai yang besar. Zat yang satu menga1ir mela1ui rusuk-rusuk diantara kedua pelat sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4.2. Biasanya a1at ini digunakan terutama pada industri makanan dan minuman karena alat ini mudah dibersihkan dan diperiksa kembali. 4.3. Penukar ka1or pendingin udara Pemakaian alat ini adalah apabi1a air pendingin yang digunakan terbatas, sehingga udara digunakan sebagai pcndingin. (Gambar 4.3)

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (5 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB IV

Gambar 4.2. Penukar kalor pelat
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (6 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB IV

Gambar 4.3. Penukar kalor pendingin udara Masalah utama da1am perancangan alat perpindahan ka1or adalah: 1. Dot faktor (tahanan kotoran) Tahanan kotoran adalah kotoran (kerak) yang terbentuk selama penukar kalor dioperasikan dan akan menyebabkan koefisien perpindahan kalor menjadi berkurang.

RD (hitung) UC

= dot faktor = koefisien perpindahan ka1or dalam keadaan bersih.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (7 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB IV

UD

= koefisien perpindahan kalor dalam keadaan kotor RD(ketentuan) = dot faktor maksimum. yang dihitung bila kedua permukaan

pipa tidak dibersihkan. Harga ini merupakan batas tahanan yang maksimum, dimana setelah itu kalor yang diijinkan menjadi 1ebih kecil dari yang dibutuhkan. Bila dimisa1kan fluida yang 1ewat ada1ah fluida organik, maka harga RD=O,001 (ketentuan, Tabel 12, Kern, 1965). Nilai RD (hitung) harus 1ebih besar dari RD (ketentuan). Berkisar antara 100% - 125% RD(ketentuan). 2. Penurunan tekanan Terjadi dalam masing-masing aliran, dalam batas-batas yang diizinkan yaitu:
s s

Untuk aliran uap dan gas, ∆P antara 0,5-2 psi Untuk a1iran liquida (cairan), •P antara 5-10 psi.

4.4. Analisa Alat Penukar Kalor Pipa Ganda Pada Alat Penukar Kalor Pipa Ganda aliran di da1am pipa dapat berupa aliran searah sepanjang pipa maupun aliran berlawanan. A1iran searah ini di sebut cocurrent flow dan a1iran berlawanan disebut countercurrent flow. Analisa-analisa kedua kasus ini agak berbeda. Kita mulai dengan kesetimbangan kalor pada aliran dingin, sebagai berikut: ...(4.1) dQh =(wCp)C.dTC = CCdTC dimana C = wCp

Pada pernyataan ini dQh adalah kadar diferensial dimana kalor dipindahkan ke fluida dingin dari fluida panas melewati bagian diferensia1 dari penukar kalor. W merupakan laju alira masa (mass

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (8 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB IV

f1ow rate) dan Cp adalah kapasitas kalor persatuan masa, dan bukan kapasitas kalor molar. Jika tidak ada kehilangan panas dari penukar kalor. maka kesetimbangan untuk aliran panas hampir sama dengan aliran dingin. dQh = -(wCp)HdTH = -CHdTH ...(4.2)

Kalor dipindahkan dari saluran panas ke aliran dingin melewati susunan tahanan termal. Terdapat tahanan konveksi pada permukaan pipa yang memisahkan dua aliran, dan tahanan konduksi dihubungkan dengan dinding pipa itu sendiri. Tahanan-tahanan seri ini ditambahkan dan didefinisikan bahwa koefisien perpindahan kalor keseluruhan, U, adalah: dQh = U.dA.(TH -TC) ...(4.3) Dimana dA adalah luas pem1ukaan diferensia1 yang memisahkan kedua aliran. Pendefinisian U meliputi pemilihan apakah kita menggunakan permukaan da1am atau permukaan 1uar dari pipa dalam untuk mendefinisikan dA. Kita sekarang mendefinisikan perbedaan temperatur diantara bagian panas dan dingin sebagai: d(TH-TC)=d(•T) Dari persamaan (4.1) dan (4.2) dapat ditu1is: dan Substitusi persamaan (4.1) dan (4.2) dipero1eh: …(4.6) Kesetimbangan panas persamaan (4.6) ada1ah diferensial, berlaku untuk setiap titik disepanjang aksis penukar ka1or. Untuk kesetimbangan panas keseluruhan, panas yang hi1ang disamakan dengan f1uida panas untuk dibandingkan dengan fluida dingin, dan diperoleh: ...(4.7)
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (9 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM

...(4.4)

…(4.5)

BAB IV

Sehingga persamaan (4.6) dapat ditulis sebagai: Dimana: ...(4.8) ∆T1 dan •T2 adalah perbedaan temperatur diantara kedua aliran pada ujung penukar panas, sedangkan ∆T adalah perbedaan temperatur lokal diantara a1iran panas dan dingin. Persamaan ( 4.8 ) dapat ditulis menjadi: ...(4.9) Persamaan diferensial untuk dT dapat diintegrasikan jika diasumsikan bahwa v ada1ah konstan disepanjang pipa, sehingga diperoleh: …(4.11) Jika persamaan-persamaan ini diatur kemba1i dapat diselesaikan laju perpindahan panas keseluruhan, dengan hasil: ...(4.12) Da1am persamaan (4.12) kita mendefmisikan apa yang disebut log-mean temperature difference (LMTD, temperatur rata-rata logaritmik) sebagai: ...(4.13) Hasil ini sama dengan definisi yang sudah diutarakan pada ana1isa a1at penukar ka1or sebelumnya pada suatu penukar kalor single-tube. Untuk aliran counter current diperoleh hasil yang sama, dengan sedikit perubahan tanda. Selanjutnya diberikan dua contoh Untuk membedakan operasi cocurrent dengan counter current. Diasumsikan bahwa koefisien keseluruhan U diketahui dan tidak tergantung pada arah aliran untuk bentuk geometri dan laju alir kedua aliran yang ditentukan.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/04%20Alat%20penukar%20kalor.html (10 of 10)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB 5

BAB V PERPINDAHAN KALOR DISERTAI PERUBAHAN FASA

Perubahan fasa mencakup: Penambahan atau pengurangan energi termal dalam jumlag yang agak banyak, pada suhu tetap atau hampir tetap. 5.1.
s

Perpindahan kalor dari uap yang mengembun (kondensasi)

Uap kondensasi mungkin terdiri dari sati zat saja, mungkin berupa campuran zat mampu kondensasi dan zat tak mampu kondensasi, atau campuran dua zat mampu kondensasi atau lebih. Rugi-rugi gesekan di dalam kondenser biasanya cukup kecil, sehingga kondensasi itu dapat dikatakan merupakan proses tekanan tetap. Suhu kondensasi hanya bergantung pada tekanan sehingga proses kondensasi zat murni merupakan proses isotermal.

s

s

Uap dapat mengembun menurut salah satu dari dua cara berikut: 1. Kondensasi tetes (dropwise condensation)

s

Kondensat mula-mula membentuk inti nukleasi (tetesan). Tetesan-tetesan bergabung sehingga membesar dan mengalir ke bawah tabung karena pengaruh gaya gravitasi. Sangat tidak stabil dan sangat sukar dipertahankan sehingga metode ini jarang dipakai.

s

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (1 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB 5
s

Terjadinya bergantung pada sifat zat cair. Contoh: logam cair, nitrobenzen, gliserin.

2. Kondensasi film (film-type condensation)

§

Lebih sering terjadi

§ Kondensat cair itu membentuk film atau suatu lapisan sinambung yang lalu mengalir di atas permukaan tabung karena pengaruh gaya gravitasi. 5.1.1. Koefisien untuk kondensasi film Asumsi:
s

Satu-satunya tahanan terhadap aliran kalor adalah yang disebabkan oleh lapisan kondensat yang mengalir ke bawah dalam aliran laminar karena pengaruh gaya gravitasi. Kecepatan zat air pada dinding adalah nol. Suhu dinding dan suhu uap konstan. Kondensat meninggalkan tabung pada suhu kondensasi.

s s s

1. Tabung Vertikal

= koefisien lokal = konduktivitas termal untuk kondensat film = tebal film Koefisien rata-rata untuk tabung vertikal, selama aliran kondensat di dalam film itu laminar, ialah: …(5.1) Dimana:
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (2 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB 5

mf, rf, kf = viskositas, densitas, konduktivitas lapisan film. g = percepatan gravitasi. = pembebanan kondenat pada dasar tabung (lb/ft.jam). Suhu rujukan untuk menentukan mf, rf, kf : …(5.2) Dimana Tf = suhu rujukan Th = suhu uap yang kondensasi Tw = suhu permukaan luar dinding tabung Bentuk ekivalen persamaan (5.1) dengan yang dieliminasi:

2. Tabung Horizontal …(5.4) …(5.5) Dimana: Γ= pembebanan kondensat persatuan panjang tabung, lb/ft. N = jumlah tabung dalam susunan. Pada tabung horizontal, alir an film kondensat itu dapat dikatakan selalu laminar. Catatan: 1. Persamaan (5.1) dan (5.3) untuk tabung vertikal diturunkan dengan pengandaian bahwa

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (3 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB 5

aliran kondensat itu laminar, 2. Bila kecepatan fase uap di dalam kondenser itu cukup besar, seret uap itu juga dapat menimbulkan keturbulenan pada lapisan kondensat sehingga koefisien film kondensasi menjadi jauh lebih besar. Maka untuk perhitungan praktis, koefisien pada persamaan (5.1) an (5.3) dibuat masing-masing 1,76 dan 1,13.

Contoh 13.1. (Mc Cabe, dkk 1985) Pada sebuah kondensor selongsong dan tabung (Shell and Tube) yang menggunakan tabung te, baga vertikal dengan diameter ¾ in 16 BWG, klorobenzene mengkondensasi pada tekanan atmosfer di dalam selongsongnya. Kalor laten kondensasi klorobenzen adalah 139,7 BTU/lb. Panjang tabung 5 ft. Air pendingin dengan suhu rata-rata 175 oF mengalir di dalam tabung. Jika koefisien sisi air adalah 400 BTU/jam.ft2.oF. a. Berapakah laju kondensasi klorobenzen dan pembebanan kondensat. b. Berapakah koefisien itu dalam kondenser horizontal yang mempunyai tabung sebanyak itu juga, jika jumlah tabung rata-rata dalam susunan vertikal adalah 6. Abaikan faktor pengotoran dan tahanan dinding tabung.

Penyelesaian: Persamaan (5.3) berlaku, tetapi sifat-sifat kondensat harus dievaluasi pada suhu rujukan Tf, yang diberikan oleh persamaan (5.2). Dalam menghitung Tf, suhu dinding Tw harus ditaksir dari h, yaitu koefisien film kondensat. Karena itu diperlukan perhitungan coba-coba (trial and error). Besaran dalam persamaan (5.3) yang dapat langsung ditentukan adalah: l= 139 BTU/lb g = 4,17.108 ft/jam2 L = 5 ft Suhu kondensi Th adalah 270 oF

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (4 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB 5

Suhu dinding Tw tentulah berada diantara 175 dan 270 oF. I. Dianggap Tw = 205 oF

Penurunan suhu ∆T = 270 – 205 = 65 oF Suhu rujukan, dari persamaan (5.2) ialah: Tf = 27- ¾ (270 – 205) = 221 oF Densitas dan konduktivitas termal zat cair hanya mengalami perubahan kecil dengan suhu sehingga dianggap tetap pada nilai-nilai berikut: rf = 65,4 lb/ft3 kf = 0,083 BTU/ft.jam. oF Viskositas film itu adalah: mf = 0,3 (2,42) = 0,726 lb/ft.jam (lamp. 13 Mc Cabe dkk, 1985)

(lamp. 10 Mc Cabe dkk, 1985)

Taksiran pertama h, dengan menggunakan koefisien 1,13 sebagaimana disarankan:

Suhu dinding didapatkan dari persamaan :

Do=0,75/12 = 0,0625 ft

Suhu dinding : Tw=175+33 = 208 oF

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (5 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB 5

Nilai ini cukup dekat dengan taksiran 205 oF sehingga perhitungan selanjutnya tidak diperlukan lagi. Koefisien h = 179 Btu/ft2.jam.oF Selanjutnya diperiksa apakah aliran itu laminar seluruhnya. Luas permukaan luar setiap tabung ialah: Ao = 0,1963 (5) = 0,9815 ft2 Laju perpindahan kalor menyeluruh menjadi: = 179 (0,9815) (270 – 208) = 10.893 Btu/jam. mT = laju kondensasi total. Pembebanan kondensat: dan b. Untuk kondensor horizontal digunakan pers. (5.5) Koefisien untuk klorobenzen mungkin lebih besar dari bagian (a) sehingga suhu dinding Tw sekarang diperkirakan 215 oF. N=6 •To = 270 – 215 = 55 oF Do = 0,0625 ft mf = 0,28 (2,42) = 0,68 lb/ft.jam

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (6 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB 5

Tw = 175 + 43 = 218 oF Nilai ini sesuai dengan nilai taksiran 215 oF sehingga tidak diperlukan lagi trial berikutnya. Koefisien h ialah 270 Btu/ft2.jam. oF.

5.2. Perpindahan kalor ke zat cair yang mendidih Contohnya pada operasi evaporasi, distilasi, pembangkitan uap, pengolahan minyak bumi, pengendalian suhu pada reaksi kimia zat cair yang mendidih. Untuk tabung horizontal yang terbenam didalam zat cair mendidih. …(5.7) Dimana: = koefisien perpindahan panas = viskositas uap = penurunan suhu melintas uap = konduktivitas termal uap = densitas zat cair, densitas uap Do = diameter luar tabung pemanasan = selisih rata-rata antara entalpi zat cair dan entalpi uap panas lanjut.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (7 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB 5

…(5.8) = kalor laten penguapan Cp = kalor spesifik uap pada tekanan tetap = panjanng gelombang-gelombang yang terkecil yang amplitudonya dapat berkembang pada antar muka datar yang horizontal. …(5.9) = tegangan antarmuka antara zat cair dan uap. Contoh 13.2 McCabe dkk, 1985: Freon (CCl3F) didihkan pada tekanan atmosfer dengan tabung tercelup horizontal yang diameter luarnya 1,25 in. Titik didih normal freon ialah 74,8 oF. Dinding tabung berada pada suhu 300 oF. Sifat-sifat freon 11 adalah sebagai berikut: = 91,3 lb/ft3 = 78,3 Btu/lb = 0,013 cP = 19 dyne/cm Cp = 0,145 Btu/lb.oF kv=BTU/ft.jam.oF Hitung koefisien perpindahan kalor, ho, dan fluks kalor q/A. Penyelesaian: = 0,013 (2,42) = 0,0314 lb/ft.jam = 300 – 74,8 = 225,2 oF Suhu film uap rata-rata = (300+74,8)/2 = 187,4 oF
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (8 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB 5

= 91,3 lb/ft3; BM=137,5 ; Do = 1,25/12 = 0,104 ft Pada suhu film rata-rata: Pada titik didih: Dari persamaan (5.8) : Dari persamaan (5.9) anggap gc/g = 1 lb/lbf.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/05%20kalor%20%20perubahan%20fasa.html (9 of 9)5/8/2007 3:24:09 PM

BAB VI

BAB VI PROSES EVAPORASI

6.1. Pendahuluan Evaporasi adalah salah satu kaedah utama dalam industri kimia untuk memekatkan larutan yang encer. Pengertian umum dari evaporasi ini adalah menghilangkan air dari larutan dengan mendidihkan larutan didalam tabung yang sesuai yang disebut evaporator. Evaporasi bertujuan untuk memekatkan larutan yang terdiri dari zat terlarut yang tidak mudah menguap dan pelarut yang mudah menguap. Dalam kebanyakan proses evaporasi, pelarut yang digunakan adalah air. Evaporasi dilaksanakan dengan menguapkan sebagian dari pelarut sehingga didapatkan larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi. Evaporasi tidak sama dengan pengeringan; dalam evaporasi sisa penguapan adalah zat cair, kadang-kadang zat cair yang sangat viskos, dan bukan zat padat. Evaporasi berbeda pula dari distilasi karena disini uapnya biasanya komponen tunggal, dan walaupun uap itu merupakan campuran, dalam proses evaporasi ini tidak ada usaha untuk memisahkannya menjadi fraksi-fraksi. Evaporasi berbeda dari kristalisasi dalam hal penekanannya disini ialah pada pemekatan larutan dan bukan pembuatan zat padat atau kristal. Dalam situasi-situasi tertentu, misalnya pada penguapan air asin untuk membuat garam, garis pemisah antara evaporasi dan krista1isasi tidaklah dapat dikatakan tegas. Sebab evaporasi kadangkadang menghasilkan lumpur kristal di dalam larutan induk. Lazimnya, dalam evaporasi, zat cair pekat itulah yang merupakan produk yang berharga dan uapnya biasanya dikondensasikan dan dibuang. Tetapi, dalam suatu situasi tertentu, kebalikannyalah yang benar. Air yang mengandung mineral seringkali diuapkan untuk

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (1 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

mendapatkan hasil yang bebas zat padat untuk umpan ketel didih, karena persyaratan khusus proses, dan untuk konsumsi manusia. Teknik ini biasa disebut disti1asi air (water distillation), tetapi dari segi teknik proses itu adalah evaporasi. Proses-proses evaporasi skala besar sudah banyak dikembangkan dan digunakan untuk membuat air minum dari air laut. Di sini hasil yang dikehendaki adalah air kondensasi. Hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan air dalam umpan yang dipulihkan, sebagian besar dikembalikan ke laut. Tabulasi perbedaan evaporasi dengan pengeringan, distilasi dan kristalisasi:
Proses (1≠2) Evaporasi ≠ Pengeringan No.Proses 1. 2. Evaporasi ≠ Distilasi 1. Keterangan Sisa penguapan adalah zat cair, kadang-kadang zat cair yangsangat viskos Sisa penguapan adalah zat padat Uap biasanya komponen tunggal. Jika uap berupa campuran, tidak ada usaha untuk memisahkan menjadi fraksi-fraksinya Uap sering berupa campuran dan akan dipisah menjadi fraksi-fraksinya. Permasalahan disini adalah pemekatan larutan Permasalahan: pembuatan zat padatatau kristal.

2. Evaporasi ≠ Kristalisasi 1. 2.

Evaporasi ≈Kristalisasi : contohnya pada penguapan air asin untuk membuat garam Evaporasi ≈ Distilasi : contohnya pada penguapan air yang mengandung mineral untuk umpan ketel (boiler). Biasa disebut distilasi air, tetapi dari segi proses adalah evaporasi. Penyelesaian praktis terhadap masalah evaporasi sangat ditentukan oleh karakteristik zat cair yang akan dikonsentrasikan. Variasi dalam karakteristik cairan itulah (yang menuntut keahlian dan pengalaman para insinyur dalam merancang dan mengoperasikan evaporator) yang menyebabkan operasi ini meluas dari perpindahan kalor sederhana menjadi suatu seni tersendiri. Berikut ini adalah beberapa sifat penting dari zat cair yang divaporasikan. Konsentrasi

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (2 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

Walaupun cairan encer yang diumpankan ke dalam evaporator mungkin cukup encer sehingga beberapa sifat fisiknya sama dengan air, tetapi jika konsentrasinya meningkat, larutan itu akan makin bersifat individual. Densitas dan viskositasnya meningkat bersamaan dengan kandungan zat padatnya, hingga larutan itu menjadi jenuh, atau jika tidak, menjadi terlalu lamban sehingga tidak dapat melakukan perpindahan kalor yang memadai. Jika zat cair jenuh didihkan terns, maka akan terjadi pembentukan kristal; kristal-kristal ini harus dipisahkan karena. Bisa menyebabkan tabung evaporator tersumbat. Titik didih larutanpun dapat meningkat dengan sangat cepat bila kandungan zat padatnya bertambah, sehingga suhu didih larutan jenuh mungkin jauh lebih tinggi dari titik didih air pada tekanan yang sama. Pembentukan busa Beberapa bahan tertentu, lebih-Iebih zat-zat organik, membusa pada waktu diuapkan. Busa yang stabi1 akan ikut ke luar evaporator bersama uap, dan menyebabkan banyaknya bahan yang terbawa ikut. Dalam hal-hal yang ekstrim, keseluruhan masa zat cair itu mungkin meluap ke dalam saluran uap keluar dan terbuang.

Kepekaan terhadap suhu Beberapa bahan kimia berharga, bahan kimia farmasi, dan bahan rnakanan dapat rusak bila dipanaskan pada suhu sedang selama waktu yang singkat saja. Dalam mengkonsentrasikan bahanbahan seperti itu diperlukan teknik khusus untuk mengurangi suhu zat cair dan menurunkan waktu pemanasan. Kerak Beberapa larutan tertentu menyebabkan pembentukan kerak pada permukaan pemanasan. Hal ini menyebabkan koefisien menyeluruh makin lama makin berkurang sampai akhimya kita terpaksa menghentikan operasi evaporator untuk membersihkannya. Bi1a kerak itu keras dan tak dapat larut, pembersihan itu tidak mudah dan memakan biaya.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (3 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

Bahan konstruksi Bila memungkinkan, evaporator sebaiknya dibuat dari baja. Akan tetapi, banyak larutan yang merusak bahan-bahan besi, atau menjadi terkontaminasi oleh bahan itu. Karena itu digunakan juga bahan-bahan konstruksi khusus seperti tembaga, nikel, baja tahan karat, aluminium, grafit tak-tembus, dan timba1. Oleh karena bahan-bahan ini relatif mahal, maka laju perpindahan kalor harus tinggi agar dapat menurunkan biaya pokok peralatan. Banyak karakteristik lain zat cair juga perlu mendapat perhatian dari perancang evaporator, antara lain kalor spesifik, kalor konsentrasi, titik beku, pembebasan gas pada waktu mendidih, sifat racun, bahaya ledak, radioaktivitas, dan persyaratan operasi steril (suci hama. Oleh karena adanya variasi dalam sifat-sifat zat cair maka dikembangkan berbagai jenis rancangan evaporator. Evaporator mana yang dipilih untuk suatu masalah tertentu bergantung terutarma pada karakteristik zat cair itu.

6.2. Jenis-Jenis Evaporator Kebanyakan evaporator dipanaskan menggunakan uap yang dikondensasikan di atas tabungtabung logarm. Bahan yang dievaporasikan biasanya mengalir di dalam tabung. Uap yang digunakan biasanya adalah uap bertekanan rendah, dibawah 3 atm abs; zat cair yang mendidih biasanya berada da1am vakum sedang, yaitu sampai kira- kira 0,05 atm abs. Berkurangnya suhu didih zat cair menyebabkan beda suhu antara uap dan zat cair yang mendidih itu meningkat, dengan demikian laju perpindahan kalor di da1am evaporator itu meningkat pula. Bila kita menggunakan satu evaporator saja, uap dari zat cair yang mendidih dikondensasikan dan dibuang. Metoda ini disebut sebagai evaporasi efek-tunggal (single-effect evaporation). Walaupun sederhana, namun proses ini tidak efektif dalam penggunaan uap. Untuk menguapkan l lb air dari larutan, diperlukan 1 sampai 1,3 lb uap. Jika uap dari satu evaporator dimasukkan ke dalam rongga uap (steam chest) evaporator kedua, dan uap dari evaporator kedua dimasukkan ke dalam kondenser, maka operasi ini akan menjadi efek dua ka1i atau efek-dua (double effect).

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (4 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

Ka1or uap yang semula digunakan lagi da1am efek yang kedua, dan evaporasi yang didapatkan oleh satu satuan masa uap yang diumpankan ke da1am efek pertama, menjadi harmpir lipat dua. Efek ini dapat ditambah lagi dengan cara yang sama. Metoda yang umum digunakan untuk meningkatkan evaporasi per lb uap dengan menggunakan sederatan evaporator antara penyediaan uap dan kondenser itu disebut sebagai evaporasi efek-berganda (multiple effect evaporation). Jenis-jenis utama evaporator tabung dengan pemasukan uap yang lazim dipakai adalah: 1. Evaporator tabung horizontal 2. Evaporator.vertikal tabung panjang a. Aliran ke atas (film-panjat) b. Aliran ke bawah (film-jatuh) c. Sirkulasi paksa . 3. Evaporator film aduk 6.2.1 Evaporator Tabung-Horizontal Evaporator tabung-horizontal sebagaimana yang ditunjukkan pada Gambar 6.1 adalah merupakan evaporator jenis klasik yang telah lama digunakan. Larutan yang akan dievaporasikan berada di luar tabung horizontal dan uap mengalir di dalam tabung horizontal. Tabung horizontal diliputi dan dikelilingi oleh sirkulasi yang alami dari cairan yang mendidih sehingga meminimumkan pengadukan cairan. Sebagai hasilnya maka pada evaporator jenis ini dijumpai koefisien perpindahan panas keseluruhan yang lebih rendah berbanding pada evaporator jenis lain, ini bermanfaat khususnya untuk mengevaporasikan larutan yang viskos. Koefisien keseluruhan yang berada antara 200-400 Btu/jam.ft2.0F (1100-2300 W/m2K) akan didapatkan, yang tergantung pada perbedaan suhu keseluruhan, suhu didih, dan sifat larutan yang dievaporasikan. Evaporator tabung horizontal biasanya digunakan untuk kapasitas yang kecil dan untuk mengevaporasikan larutan yang encer dan larutan ini tidak berbusa dan tidak meninggalkan deposit padatan pada tabung evaporator .

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (5 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (6 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

Gambar 6.1. Evaporator Tabung Horizontal

6.2.2. Evaporator Satu Lintas Dan Evaporator Sirkulasi Evaporator dapat dioperasikan sebagai unit satu lintas atau sebagai unit sirkulasi. Evaporator satu 1intas dan evaporator sirku1asi ditunjukkan pada Gambar 6.2 dan Gambar 6.3 secara berturutan. Evaporator ini merupakan pengembangan dari evaporator tabung-panjang. Pada kedua evaporator ini larutan mendidih di dalam tabung vertika1 dan media pemanas di luar tabung vertikal. Media pemanas yang digunakan biasanya uap yang terkondensasi. Pada evaporator satu lintas, cairan umpan dilewatkan melalui tabung hanya satu kali lewat saja, uapnya lepas dan keluar dari unit itu sebagai cairan pekat. Seluruh evaporasi dilaksanakan dalam satu lintas (lawatan) saja. Pendidihan atau pemanasan cairan di dalam tabung akan menyebabkan aliran naik ke atas melewati tabung, dan cairan yang tidak menguap mengalir ke bawah dan keluar melalui anulus yang terletak di bahagian dasar evaporator. Pada instalasi yang besar, terdapat beberapa lubang keluaran cairan atau produk dan tidak hanya satu seperti ditunjukkan pada Gambar 6.2.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (7 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (8 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

Gambar 6.2. Evaporator satu lintas

Rasio evaporasi terhadap umpan dalam unit satu lintas itu adalah terbatas, sehingga evaporator jenis ini sesuai untuk operasi efek berganda, di mana pemekatan tota1 terbagi-bagi dalam beberapa efek. Evaporator film aduk (agitated film evaporator) selalu dioperasikan dalam satu lintas saja; tetapi evaporator film jatuh (falling-film evaporator) dan evaporator film panjat (climbing film-evaporator) dapat pula dioperasikan dengan cara ini. Suhu zat cair dapat dijaga rendah dengan mengoperasikan unit ini dalam vakum tinggi. Dengan sekali lewatan cepat melalui tabung-tabung evaporator, cairan pekat itu hanya sebentar saja berada dalam suhu didihnya, dan dapat didinginkan dengan cepat begitu keluar dari evaporator.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (9 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (10 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

Gambar 6.3. Evaporator sirkulasi

Pada evaporator sirkulasi (circulation evaporator) terdapat suatu kolam zat cair di dalam alat itu. Umpan masuk akan bercampur dengan zat cair di dalam kolam, dan campuran itu lalu dialirkan melalui tabung-tabung evaporator. Zat cair yang tidak menguap dikeluarkan dari tabung dan kembali ke kolam, sehingga hanya sebagian saja dari keseluruhan evaporasi yang berlangsung dalam satu lewatan. Evaporasi sirkulasi paksa semuanya dioperasikan dengan cara ini, evaporator film panjat biasanya adalah unit sirkulasi. Cairan pekat dari evaporator sirkulasi dikeluarkan dari kolam. Semua cairan dalam kolam, oleh karena itu, harus selalu berada dalam konsentrasi maksimum. Oleh karena zat cair yang masuk tabung itu mengandung beberapa bagian cairan pekat di dalam setiap bagian umpan, maka konsentrasi, serta densitas, viskositas, dan titik didihnya selalu mendekati maksimum. Akibatnya, koefisien perpindahan kalornya akan cenderung rendah. Evaporator sirkulasi tidak terlalu cocok untuk memekatkan zat cair yang peka terhadap panas. Dengan menggunakan vakum yang cukup baik, suhu zat cair lindak dapat dijaga pada tingkat yang tidak merusak, tetapi zat cair itu akan berulang kali berada dalam kontak dengan tabung panas. Sebagian dari zat cair itu dengan demikian, akan terpanaskan hingga suhu yang kelewat tinggi. Walaupun waktu menetap (residence time) zat cair itu dalam zone pemanasan barangkali singkat saja, sebagian dari zat cair itu mungkin tertahan di dalam evaporator selama beberapa waktu. Pemanasan yang terlalu lama atas sebagian kecil sajapun dari bahan peka-panas seperti makanan akan dapat menyebabkan keseluruhan produk itu rusak. Evaporator sirkulasi, di lain pihak, dapat beroperasi dengan jangkau konsentrasi yang cukup luas antara umpan dan cairan pekat dalam satu unit saja, dan cocok pula untuk evaporasi efek tunggal. Alal ini dapat dioperasikan dengan sirkulasi alamiah, dimana aliran berlangsung melalui tabung
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (11 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

dengan disebabkan oleh perbedaan densitas, dapat pula dengan sirkulasi paksa, di mana aliran dilaksanakan dengan pompa. Pada evapoator satu lintas dan juga evaporator sirkulasi, tabung-tabung didalamnya dipasang secara rolling dan welding dan tidak secara packing seperti pada evaporator tabung horizontal. Kedua evaporator satu lintas dan evaporator sirku1asi juga mempunyai kelebihan operasional berbanding dengan evaporator tabung horizontal. Pada kedua jenis ini, sirkulasi alami yang dihasilkannya mempunyai kecepatan 1 hingga 3 ft/detik sehingga koefisien perpindallan panas pada evaporator ini lebih tinggi dibandingkan evaporator tabung horizontal yaitu pada rentang 200- 500 Btu/jam.ft2.oF (1100-2800 W/m2K) tergantung kepada baik sifat larutan, perbedaan suhu keseluruhan, maupun titik didih larutan. Evaporator ini dapat digunakan untuk larutan yang membentuk deposit padatan, karena padatan yang terbentuk di dalam tabung dapat dihilangkan dengan pembersihan mekanis. Evaporator ini juga dapat menangani cairan yang viskos, akan tetapi untuk evaporator jenis sirkulasi, maka aliran sirkulasi yang terjadi akan bergerak dengan lambat, dan koefisien perpindahan panasnya menjadi kecil. Sehingga kedua-dua evaporator vertikal ini adalah sangat berguna untuk kebanyakan proses evaporasi, akan tetapi tidak sesuai untuk digunakan untuk mengevaporasikan larutan yang sangat viskos, larutan yang mudah membentuk busa atau untuk menguapkan larutan dalam masa yang singkat.

6.2.3. Evaporator Sirkulasi Paksa Evaporator sirkulasi paksa mempunyai bentuk seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6.4 dan Gambar 6.5. Gambar 6.4 merupakan evaporator sirkulasi paksa dengan elemen pemanas tersusun vertikal dan berada di dalam tabung.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (12 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (13 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

Gambar 6.4. Evaporator Sirkulasi Paksa dengan Pemanas Vertikal di dalam Tabung

Gambar 6.5 merupakan evaporator sirkulasi paksa dengan elemen pemanas tersusun horizontal dan terletak terpisah dengan tabung. Pada evaporator sirkulasi paksa, caitan yang akan dievaporasikan dipompakan melewati penukar panas (heat exchanger) dimana media pemanas mengelilingi pipa-pipa yang membawa cairan yang akan dievaporasikan. Gabungan penurunan tekanan dan head hidrostatik di dalam alat ini adalah cukup besar untuk mencegah larutan mendidih di dalam pipa penukar panas, sehingga uap yang dihasilkan akan tersembur keluar, pada saat cairan memasuki ruang kosong di dalam tabung.
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (14 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

Gambar 6.5. Evaporator Sirkulasi Paksa dengan Elemen Pemanas Terpisah Horizontal

Karena kecepatan semburan ada1ah tinggi, di dalam ruang kosong diletakkan sekat yang berguna untuk memisahkan uap dari larutan yang masih ada. Desain sekat yang tepat diperlukan untuk mencegah penggabungan gelembung-gelembung kecil cairan dan juga untuk mencegah perubahan arah dari aliran cairan. Evaporator sirkulasi paksa yang moderen biasanya ditengkapi dengan pemanas yang terletak di luar tabung sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 6.5, dari pada evaporator dengan permukaan perpindahan panas yang terletak di da1am badan tabung sebagaimana ditunjukkan pada Gambar
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (15 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

6.4. Penggunaan pemanas di luar tabung akan menjadikan evaporator ini lebih sering digunakan karena pembersihan pipa-pipa pemanas dan penggantian pipa-pipa yang mengalami korosi lebih mudah dilakukan. Evaporator sirkulasi paksa dengan elemen pemanas terpisah juga merupakan evaporator yang berbentuk lebih kompak sehingga dapat dipasang pada ruang dengan tinggi atap yang rendah. Dalam mengevaporasikan cairan umpan, adalah merupakan hal yang penting untuk mencegah pendidihan di dalam pipa-pipa elemen pemanas, untuk mengurangi terbentuknya endapan-endapan padatan di dalam pemanas. Pada evaporator dengan pemanasan di luar , pendidihan dapat dengan mudah dicegah dengan cara meletakkan pemanas pada posisi yang lebih rendah dibandingkan letak ruang pelepasan. Hal ini tidak dapat dilakukan dengan mudah jika permukaan penukar panas berada di dalam badan evaporator. Pada evaporator sirkulasi paksa, koefisien perpindahan panas akan bergantung kepada kecepatan sirkulasi, titik didih, dan sifat-sifat sistem. Pada tingkat sirkulasi yang rendah, pendidihan akan terjadi disepanjang pipa-pipa pemanas. Pendidihan ini akan meningkatkan kejatuhan larutan dan menjadikan koefisien pendidihan menjadi dua ka1i lebih besar berbanding dengan tanpa pendidihan. Fraksi dari cairan yang menguap ketika melewati pipa akan menjadi kecil, sehingga kecepatan sirkulasi keseluruhan yang melalui pipa adalah beberapa kali lebih besar dari kecepatan umpan.

6.2.4. Evaporator Vertikal Tabung Panjang Contoh evaporator vertikal tabung panjang dengan alian zat cair ke atas terlihat pada Gambar 6.6. Tabung-tabungnya biasanya mempunyai panjang 12 hingga 20 ft dengan diameter 1 sampai 2 inci. Bagian-bagian utama evaporator jenis ini ialah : ( 1) sebuah penukar panas jenis tabung dengan uap dalam selongsong, dan zat cair yang akan dipekatkan di dalam pipa/tabung, (2) sebuah separator (pemisah) atau ruang uap (vapour space) untuk memisahkan zat cair yang terbawa ikut dari uap, dan (3) bila a1at ini dioperasikan sebagai unit sirkulasi, sebuah kaki pemulang (return leg) untuk mengembalikan zat cair dari separator ke bagian bawah penukar panas.
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (16 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

Alat itu mempunyai lubang masuk masing-masing untuk zat cair umpan dan untuk uap, lubang keluar masing-masing untuk uap, cairan pekat, kondensat uap, dan gas takmampu kondensasi yang terkandung dalam uap. Zat cair dan uap mengalir ke atas di dalam tabung sebagai akibat dari peristiwa didih zat cair yang terpisah kembali ke dasar tabung dengan gravitasi. Umpan encer, biasanya pada suhu disekitar suhu kamar, masuk ke dalam sjstem dan bercampur dengan zat cair yang kembali dari separator. Umpan jtu mengalir ke atas di dalam tabung sebagai zat cair pada jarak tertentu, yang tidak panjang, sambil menerima kalor dari uap. Di dalam zat cair itu terbentuk gelembung-gelembung sehingga meningkatkan kecepatan liniernya dan meningkatkan laju perpindahan panas. Di dekat puncak tabung, gelembung itu bertambah besar dengan cepat. Pada zone ini gelembung uap berganti-ganti dengan potongan zat cair dalam tabung naik dengan cepat melalui tabung dan keluar dengan kecepatan tinggi dari ujung atas tabung. Dari tabung itu, campuran zat cair selanjutnya masuk ke dalam separator. Diameter separator itu lebih besar dari diameter penukar panas, sehingga kecepatan linier uap menjadi jauh berkurang. Untuk membantu pemisahan tetes-tetes zat cair, uap itu dibuat menumbuk seperangkat sekat, lalu mengalir melewati sekat itu sebelum keluar dari separator. Evaporator seperti Gambar 2.6 hanya dapat bekerja sebagai unit sirkulasi saja. Fraksi yang diuapkan pada evaporator ini biasanya lebih besar dibandingkan pada operasi sirkulasi paksa. Jika diperlukan, penukar panas dari evaporator ini dapat diletakkan di luar badan evaporator, agar pembersihan lebih mudah djlakukan. Walaupun evaporator ini tidak dapat digunakan untuk zat cair yang viskos, akan tetapi evaporator vertikal tabung panjang sangat efektif untuk memekatkan cairan yang mempunyai kecenderungan untuk berbusa. Busa itu akan pecah bila campuran zat cair dan uap berkecepatan tinggi menumbuk sekat di bagian kepala uap. Selain itu evaporator ini juga sangat berguna untuk digunakan menangani material yang sensitif terhadap panas karena evaporator ini dapat dioperasikan tanpa proses resirkulasi. Tingkat evaporasi tiap-tiap lewatan (pass) pada jenis ini juga jauh lebih tinggi dibandingkan jenis-jenis evaporator sirkulasi lainnya dan evaporasi masih dapat ditingkatkan dengan menambah panjang tabung-tabung pemanas atau dengan
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (17 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

mendinginkannya. Masalah yang mungkin timbul dalam mengoperasikan evaporator ini adalah pada saat mendistribusikan zat cair ke dalam tabung-tabung atau tube. Pendistribusian harus dilakukan dengan hati-hati untuk menjaga level cairan, misalnya dengan menyemprotkan cairan ke dinding tabung. Koefisien perpindahan panas evaporator ini dapat dihitung dengan menggunakan persamaan Nusselt.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (18 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

Gambar 6.6. Evaporator Vertikal Tabung Panjang

6.2.5. Evaporator Film Jatuh Masalah pemekatan bahan-bahan yang sangat peka terhadap panas, seperti air jeruk, dan yang mengharuskan waktu kontak yang singkat sekali dengan permukaan panas dapat diatasi dengan
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (19 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

evaporator film jatuh. Pada evaporator film-jatuh satu lintas, zat cair masuk dari atas, lalu mengalir ke bawah di dalam tabung panas itu dalam bentuk film, kemudian keluar dari bawah. Tabung-tabungnya biasanya agak besar, berdiameter 2 hingga 10 inci. Uap yang keluar dari zat cair itu biasanya terbawa turun bersama zat cair, dan keluar dari bagian bawah unit itu. Evaporator ini bentuknya menyerupai sebuah penukar panas jenis tabung, yang panjang, vertikal, dan dilengkapi dengan separator zat cair uap di bawah, dan distributor/penyebar zat cair di atas. Masalah utama dengan evaporator film-jatuh ialah dalam mendistribusikan zat cair itu secara seragam menjadi film di bagian dalam tabung. Hal ini dilakukan dengan menggunakan seperangkat plat logam berlubang-lubang (perforasi) yang ditempatkan lebih tinggi di atas plat tabung yang dipasang dengan teliti agar benar-benar horisontal. Tabung-tabung itu diberi sisip pada ujungnya yang memungkinkan zat cair mengalir dengan teratur ke setiap tabung itu. Atau, dapat pula dipasang distributor 'kalajengking' dengan lengan-lengan radial untuk menyemprotkan umpan dengan laju stedi ke dalam permukaan dalam setiap tabung. Cara lain ialah dengan menggunakan nosel penyemprot di dalam setiap tabung. Bila sirkulasi dapat dilakukan tanpa menimbulkan kerusakan pada zat cair, distribusi zat cair pada lubang itu dapat dipercepat dengan melakukan daur ulang zat cair itu ke puncak tabung. Hal ini memungkinkan volume aliran yang lebih besar melalui tabung dibandingkan dengan pada operasi sekali lintas. Untuk mendapatkan perpindahan kalor yang baik, angka Reynolds fi1m-jatuh harus lebih besar dari 2000 pada setiap titik di dalam tabung. Selama berlangsung evaporasi, kuantitas zat cair berkurang secara kontinu selama ia mengalir dari puncak tabung ke dasarnya, sehingga jum1ah pemekatan yang dapat dilaksanakan da1am satu lewatan terbatas seka1i. Evaporator filmjatuh tanpa sirku1asi dengan waktu tinggal yang sangat singkat dapat menangani produk-produk yang peka yang tidak dapat ditangani dengan cara lain. Alat ini juga sesuai sekali untuk memekatkan zat cair viskos. 6.2.6. Evaporator Film Turbulen Akhir-akhir ini banyak dikembangkan evaporator modern yang bertujuan untuk menangani bahan yang viskos, peka, dan korosif. Evaporator film-turbulen sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 6.7 merupakan evaporator yang banyak digunakan untuk tujuan tersebut karena dapat menangani
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (20 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

baik bahan yang viskos, berlumpur bahkan kering. Pada evaporator ini, tahanan pokok terhadap perpindahan panas menyeluruh dari uap kepada zat cair yang mendidih di dalam evaporator terletak pada sisi-sisi zat cair. Oleh karena itu, setiap cara yang dapat mengurangi tahanan itu akan memberikan perbaikan yang berarti terhadap koefisien perpindahan panas menyeluruh. Dalam evaporator tabung panjang, lebih-lebih yang menggunakan sirkulasi paksa, kecepatan zat cair di dalam tabung itu tinggi. Zat cair itu sangat turbulen, dan laju perpindahan kalorya besar. Cara lain untuk meningkatkan keturbulenan ada1ah dengan pengadukan mekanik terhadap film zat cair itu, seperti dalam evaporator pada Gambar 6.7. Evaporator itu merupakan modifikasi daripada evaporator film jatuh yang mempunyai tabung tunggal bermantel, di mana di dalam tabung itu terdapat sebuah pengaduk. Umpan masuk dari puncak bagian bermantel dan disebarkan menjadi film tipis yang sangat turbulen dengan bantuan daun-daun vertika1 agitator (pengaduk) itu. Konsentrat keluar dari bawah bagian bermantel, uap naik dari zone penguapan masuk ke dalam bagian tak bermantel yang diametemya agak lebih besar dari tabung evaporasi. Di dalam separator, zat cair yang terbawa ikut dilemparkan ke arah luar oleh daun-daun agitator, sehingga menumbuk plat-plat vertikal yang stasioner. Tetesan-tetesan itu bergabung (koalesensi) pada plat ini dan kembali ke bagian evaporasi. Uap bebas zat cair itu lalu keluar melalui lubang ke luar pada bagian atas unit itu.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (21 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

Gambar 6.7. Evaporator film Turbulen

Keunggulan utama dari evaporator film aduk ialah kemampuannya menghasilkan laju perpindahan kalor yang tinggi pada zat cair viskos. Produk evaporasi bisa mencapai viskositas sampai setinggi 1000 P pada suhu evaporasi. Sebagaimana juga pada evaporator jenis lain, koefisien menye1uruh turun dengan cepat bila viskositas naik, tetapi dalarn rancang ini penurunan itu cukup 1ambat. Dengan bahan-bahan yang sangat viskos, koefisien itu nyata lebih besar dari yang didapatkan
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (22 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

pada evaporator sirkulasi paksa, dan jauh lebih besar daripada unit sirkulasi alamiah. Evaporator fi1m aduk sangat efektif dengan produk viskos yang peka panas, seperti gelatin, lateks karet, antibiotika dan sari buah. Kelemahannya ialah biayanya yang tinggi, adanya bagian-bagian dalam yang bergerak, yang mungkin memerlukan perawatan dan pemeliharaan dan kapasitas setiap unitnya kecil, jauh di bawah kapsitas evaporator bertabung banyak.

6.3. Kapasitas Evaporator Untuk evaporator jenis tabung dengan pemanasan uap, maka performa evaporator diukur berdasarkan atas kapasitas evaporator tersebut. Kapasitas didefinisikan sebagai banyaknya pon air yang diuapkan perjam. Jika zat cair dievaporasikan, kesan kedalaman cairan dan percepatan perlu untuk diketahui, demikian juga halnya dengan kesan dari konsentrasi zat cair sewaktu berada pada titik didihnya. Untuk larutan ideal, kesan konsentrasi dapat diestimasi dengan menggunakan hukum Raoult dan Dalton sebagai berikut:

dimana a dan b merupakan simbol untuk menyatakan solute (zat terlarut) dan solvent (pelarut) secara berturutan. Jika zat terlarut bersifat non volatil dan untuk operasi evaporasi, maka laju perpindahan panas q melalui permukaan pemanasan suatu evaporator, menurut definisi dari koefisien perpindahan kalor menyeluruh, yaitu hasil kali dari tiga faktor: luas permukaan perpindahan panas, A; koefisien perpindahan panas menyeluruh, U; dan penurunan suhu menyeluruh ∆T; atau:

Jika umpan masuk evaporator itu berada pada suhu didih sesuai dengan tekanan absolut ruang uapnya, semua kalor yang berpindah melalui permukaan pemanas dapat digunakan untuk evaporasi, dan kapasitasnya menjadi q. Jika umpannya dingin, kalor yang diperlukan untuk memanaskannya sampai suhu didih mungkin cukup tinggi, sehingga kapasitasnya untuk suatu nilai q tertentu akan berkurang sesuai dengan itu, karena kalor yang digunakan untuk
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (23 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

memanaskan umpan tidak dapat digunakan untuk evaporasi. Sebaliknya, jika umpan itu berada pada suhu di atas titik didih pada ruang uap, sebagian dari umpan akan menguap secara spontan melalui penyeimbangan adiabatik dengan tekanan ruang-uap, dan kapasitas evaporator akan lebih besar dari yang ditunjukkan q. Proses ini disebut evaporasi kilatan (f1ash evaporation). Penurunan suhu nyata melintas permukaan pemanasan bergantung pada larutan yang diuapkan, pada perbedaan tekanan antara rongga uap-pemanas dan ruang uap hasil evaporasi di atas zat cair mendidih itu, serta pada kedalaman zat cair itu di atas permukaan pemanasan. Pada beberapa evaporator, kecepatan zat cair di dalam tabung juga dipengaruhi oteh penurunan suhu karena adanya rugi gesekan di dalam tabung yang meningkatkan tekanan efektif zat cair itu. Bila zat cair itu mempunyai karakteristik seperti air murni, titik didihnya dapat dibaca dari tabel uap, jika tekanannya diketahui, sebagaimana jika kita membaca suhu uap yang kondensasi. Namun, dalam evaporator nyata titik didih larutan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu kenaikan titik didih dan tinggi tekan zat cair . Tekanan uap kebanyakan larutan dalam air lebih kecil dari tekanan uap air pada suhu yang sama. Akibatnya untuk suatu tekanan tertentu, titik didih larutan lebih tinggi dari titik didih air mumi. Kenaikan titik didih di atas titik didih air ini dikenal sebagai kenaikan titik didih larutan. Nilainya kecil untuk larutan encer dan larutan koloida organik, tetapi bisa sampai setinggi 150oF pada larutan pekat garam anorganik. Kenaikan titik didih ini harus dikurangkan dari penurunan suhu yang diramalkan dari tabel uap. Untuk larutan pekat, kenaikan titik didih itu dapat dicari dengan mudah dengan menggunakan aturan empirik yang dikenal sebagai kaedah Duhring yang menyatakan bahwa titik didih suatu larutan tertentu merupakan fungsi linier dari titik didih air mumi pada tekanan yang sama. Jadi, jika titik didih larutan digambarkan terhadap titik didih air pada tekanan yang sama, akan didapat suatu garis lurus. Untuk konsentrasi yang berlainan, kita dapatkan pula garis-garis yang berbeda. Jika jangkau tekanan terlalu besar, kaedah ini tidak eksak, tetapi dalam jangkau yang sedang, garis-garis itu sangat mendekati lurus, walaupun tidak selalu harus sejajar.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (24 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

Jika kedalaman zat cair di dalam evaporator itu cukup besar, titik didih yang berkaitan dengan tekanan di dalam ruang uap ialah titik didih lapisan permukaan zat cair itu saja. Suatu tetesan zat cair yang berada pada jarak Z ft di bawah permukaan berada pada tekanan ruang uap di tambah tinggi-tekan Z ft zat cair, dan karena itu titik didihnya lebih tinggi. Disamping itu, bila kecepatan zat cair itu besar, rugi gesekan di dalam tabung akan meningkatkan lagi tekanan rata-rata zat cair itu. Dalam evaporator nyata, oleh karena itu, titik didih zat cair di dalam tabung lebih tinggi dari titik didih yang ditunjukkan oleh tekanan ruang uap. Kenaikan titik didih ini akan menyebabkan kekurangan penurunan suhu rata-rata antara uap dan zat cair dan mengurangi kapasitas. Besarnya pengurangan tidak dapat ditaksir secara kuantitatif, tetapi efek kualitatif daripada tinggi-tekan zat cair itu dapat diabaikan, lebih-lebih bila tinggi permukaan dan kecepatan zat cair itu tinggi. Fluks kalor dan kapasitas evaporator dipengaruhj oleh perubahan beda suhu maupun perubahan koefisien perpindahan kalor. Penurunan suhu itu ditentukan oleh sifat-sifat uap dan zat cair yang mendidih, dan kecuali karena pengaruh tinggi tekan hidrostatik, bukanlah merupakan fungsi konstruksi evaporator. Tetapi, koefisien menyeluruh sangat dipengaruhi oleh rancang evaporator dan metode operasinya. Tahanan menyeluruh terhadap uap dan zat cair mendidih ialah jumlah dari lima macam tahanan tersendiri: tahanan film uap; dua buah tahanan kerak, yaitu di dalam tabung dan di luar tabung; tahanan dinding tabung; dan tahanan dari zat cair yang mendidih. Koefisien menyeluruh ialah kebalikan dari tahanan menyeluruh itu. Pada kebanyakan evaporator, faktor penggotoran uap kondensasi dan tahanan dinding tabung biasanya sangat kecil, dan biasanya diabaikan dalam perhitungan evaporator. Tetapi, dalam evaporator film aduk, dinding tabung biasanya agak tebal, sehingga tahanannya mungkin merupakan bagian yang cukup penting dari keseluruhan tahanan. Koefisien film uap selalu tinggi, juga jika kondensasi itu kondensasi film. Untuk mendapatkan kondensasi tetes, dan dengan demikian koefisien yang lebih tinggi lagi, kepada arus uap itu biasanya ditambahkan promotor. Oleh karena adanya gas yang tak-mamppu kondensassi dapat menyebabkan turunnya koefisien film uap, maka harus ada ventilasi untuk membuang gas-gas tak-mampu kondensasi itu dari rongga uap pemanas dan mencegah udara masuk bila tekanan uap lebih rendah dari tekanan atmorfir .

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (25 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

Koefisien sebelah zat cair sangat bergantung pada kecepatan zat cair itu di atas permukaan panas. Pada kebanyakan evaporator, dan lebih-lebih pada yang menangani zat cair viskos, tahanan pada sisi zat cairlah yang menentukan laju perpindahan kalor menyeluruh ke zat cair yang mendidih itu. Dalam evaporator sirkulasi alamiah, koefisien sisi zat cair untuk larutan encer dalam air adalah antara 200 dan 600 Btu/ft2.jam.0F. 6.4. Ekonomi Evaporator Ekonomi ada1ah banyaknya pon yang diuapkan per pon uap yang diumpankan ke da1am unit itu. Pada evaporator efek tunggal, ekonominya hampir selalu kurang dari satu, tetapi pada alat efek berganda, ekonominya mungkin jauh lebih besar. Konsumsi uap, dalam pon per jam, juga tidak kalah pentingnya. Nilai konsumsi uap merupakan hasil bagi antara kapasitas dengan ekonomi evaporator. Faktor utama yang mempengaruhi sistim ekonomi evaporator ialah banyaknya efek. Melalui suatu perancangan yang baik, entalpi penguapan uap=pemanas ke efek pertama dapat digunakan satu kali atau beberapa kali, bergantung pada jumlah efeknya. Ekonomi evaporator juga dipengaruhi oleh suhu umpan. Jika suhu umpan lebih rendah dari titik didih di dalam efek pertama, beban pemanasan itu akan menggunakan sebagian dari entalpi penguapan uap pemanas, dan hanya sebagian yang tersisa untuk evaporasi. Jika suhu umpan lebih tinggi dari titik didih, kilat yang terjadi akan menyebabkan evaporasi lebih tinggi dari yang bisa dibangkitkan oleh entalpi penguapan uap itu. Secara kuantitatif, ekonomi evaporator adalah semata-mata masalah neraca entalpi. 6.4.1. Neraca Entalpi Evaporator Efek Tunggal Pada evaporator efek tunggal, ka1or laten kondensasi uap pemanas berpindah melalui permukaan pemanasan dan menguapkan air dari 1arutan yang mendidih. Ada dua neraca entalpi yang diperlukan, satu untuk uap-pemanas, dan satu lagi untuk sisi-cairan atau uap larutan.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (26 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

Gambar 6.8. Neraca bahan dan neraca enta1pi pada evaporator . ms mf =laju aliran uap pemanas dan laju aliran kondensat =laju aliran cairan encer, atau umpan

m =1aju a1iran cairan pekat mf –m =laju aliran uap cairan ke da1am kondensor, andaikan tidak ada zat padat yang mengendap dari cairan itu. Ts T Tf =suhu kondensassi uap pemanas =suhu zat cair yang mendidih di da1am evaporator =dan suhu umpan.

Dimisalkan selanjutnya bahwa tidak ada kebocoran atau zat cair yang terbawa ikut bersama uap, dan bahwa aliran gas yang tak mampu kondensasi dapat diabaikan, dan bahwa rugi ka1or
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (27 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

evaporator itu tidak perlu diperhitungkan. Uap pemanas yang masuk kedalam rongga uap pemanas itu bisa panas lanjut, dan kondensatnya biasanya keluar dari rongga itu agak dingin lanjut di bawa hingga didihnya. Namun, keduanya, baik panas lanjut uap maupun dingin lanjut kondensat itu kecil, dan dapat diabaikan dalam penyusunan neraca entalpi. Kesalahan kecil yang mungkin diakibatkannya akan dikompensasikan oleh kesalahan karena mengabaikan rugi kalor dari rongga uap-pemanas. Dengan pengandaian ini, selisih antara entalpi uap pemanas dan kondensat hanyalah λ , yaitu kalor laten kondensasi uap. Neraca entalpi sisi uap ialah: s

…(6.1) dimana: qs = laju perpindahan kalor melalui permukaan pemanasan dari uap pemanas. Hv Hc Λ s = enta1pi spesifik uap pemanas = entalpi spesifik uap kondensat = kalor laten kondensasi uap pemanas = laju aliran uap pemanas

ms

Neraca entalpi untuk sisi cairan ialah: …(6.2) dimana: q = laju perpindahan kalor dari permukaan pemanasan ke zat cair . Hv = entalpi spesifik uap cairan Hf H = entalpi spesifik cairan encer = entalpi spesifik cairan pekat.

Jika tidak ada rugi kalor, kalor yang berpindah dari uap pemanas ke tabung harus sama dengan kalor yang berpindah dari tabung pemanas ke cairan, dan qs = q.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (28 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

BAB VI

Jadi dengan menggabungkan persamaan 6.1 dan 6.2: Jika kalor pengenceran zat cair yang akan dipekatkan itu cukup besar sehingga tidak dapat diabaikan, entalpi tidak linier dengan konsentrasi pada suhu tetap. Sumber yang terbaik untuk mendapatkan nilai Hf dan H untuk digunakan pada persamaan 6.2 ialah diagram entalpi-konsentrasi, dimana entalpi dalam Btu per pon atau joule per gram larutan, digambarkan grafiknya terhadap konsentrasi, dalam fraksi massa atau persen bobot zat terlarut. Isoterm-isoterm pada gambar itu menunjukkan entalpi sebagai fungsi konsentrasi pada suhu tetap.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/06%20Evaporasi.html (29 of 29)5/8/2007 3:24:11 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

BAB VII EVAPORATOR EFEK GANDA

Beberapa ciri evaporator efek ganda:
s s s s s s s

Terdiri dari dua atau lebih evaporator yang dihubungkan satu sama lain. Uap dari satu efek berfungsi sebagai medium pemanas bagi efek berikutnya. Efek I : efek tempat mengumpankan uap mentah. Tekanan ruang uap cairannya paling tinggi. Efek terakhir: tekanan ruang uap cairan minimum. Tekanan antara uap dan unit kondenser, terbagi pada dua efek atau lebih. Masing-masing efek bekerja sebagai evaporator efek tunggal. Masing-masing mempunyai beda suhu melintas permukaan yang berkaitan dengan penurunan tekanan pada efek itu. Kondisi steadi, akumulasi=0. Pada suhu, konsentrasi, tekanan uap, tekanan kondenser, tinggi cairan yang ditentukan/dijaga: konsentrasi cairan dapat diubah hanya dengan mengubah laju alir umpan: Ø produk terlalu encer : laju alir umpan dikurangi. Ø produk terlalu kental: laju umpan ditambah. Jika umpan pada titik didihnya: Ø Seluruh kalor muncul sebagai kalor laten dalam uap yang keluar dari efek pertama. Ø Suhu kondensat yang meninggalkan efek kedua hampir sama dengan suhu uap dari zat cair mendidih di dalam efek pertama. Ø Kondisi steady: seluruh kalor yang digunakan untuk membuat uap pada efek yang pertama harus diserahkan lagi ketika uap ini kondensasi pada efek ke-2.

s

s

s

Cara pengumpanan:
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (1 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

1. Umpan maju
s s

Konsentrasi zat cair meningkat dari efek pertama hingga efek terakhir. Memerlukan satu pompa untuk umpankan ke efek satu dan satu pompa lagi untuk

mengeluarkan zat cair dari efek terakhir. 2. Umpan mundur § Zat cair diumpankan ke efek terakhir, berurutan hingga efek pertama.

§ Memerlukan satu pompa disetiap efek, karena aliran berlangsung dari tekanan rendah ke tekanan tinggi. 3. Umpan campuran § Zat cair masuk dalam suatu efek pertama, mengalir ke ujung deret lalu dipompakan lagi ke efek pertama untuk pemekatan akhir. § Sebagian dari pompa-pompa yang digunakan pada umpan mundur tidak diperlukan lagi. 4. Umpan paralel § § § Contohnya dalam evaporator kristalisasi, dimana dihasilkan lumpur kristal dan cairan induk. Umpan dimasukkan secara paralel ke setiap efek. Tidak terdapat perpindahan zat cair dari efek satu ke efek lain.

Perbandingan penguapan larutan NaOH pada efek tunggal dan ganda.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (2 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

s s

Keadaan awal dan akhir untuk masing-masing cara evaporasi adalah sama. Masing-masing menggunakan uap larutan jenuh. Penguap tunggal: Hanya dijumpai sekali kenaikan titik didih sebesar 54 – 48 = 6 oC. Untuk pemanasan digunakan selisih temperatur sebesar 72 oC.

s

s

Penguap efek dua Terdapat dua kali kerugian karena kenaikan titik didih dengan jumlah 9+6 = 15 oC Selisih temperatur untuk pemanasan berkurang menjadi 62 oC.

s

Penguap efek tiga Kerugian karena kenaikan titik didih naik lagi menjadi 6 + 8 + 9 = 23 oC. Jumlah selisih temperatur yang berguna berkurang lagi menjadi 55 oC.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (3 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (4 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (5 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

7.1. Kapasitas dan ekonomi evaporator efek ganda
s

Kapasitas total evaporator efek ganda biasanya tidak lebih besar dari efek tunggal yang luas permukaannya sama dengan salah satu efek itu. Kalor yang berpindah di dalam ketiga efek (untuk efek 3).

s

s

Kapasitas total sebanding dengan laju perpindahan kalor total qT dan diperoleh dari: Andaikan luas permukaan tiap efek adalah A ft2, koefisien menyeluruh U juga sama pada setiap efek, persamaan diatas dapat dituliskan kembali: penurunan suhu total antara uap pemanas dalam efek pertama dan uap cairan dalam efek terakhir. Ekonomi evaporator efek berganda bergantung pada masalah neraca kalor dan bukan pada laju perpindahan kalor. Kapasitas evaporator efek berganda berkurang karena kenaikan titik didih.

s

s

s

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (6 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

Contoh 16-3 Mc-Cabe dkk, 1985 Sebuah evaporator efek ganda tiga sirkulasi paksa akan diumpankan dengan 60.000 lb/jam larutan NaOH 10% pada suhu 180 oF. Cairan pekat yang dikehendaki adalah NaOH 50 %. Evaporator tersebut menggunakan uap jenuh pada 50 lbf/in2 abs, dan suhu kondensasi uap dari efek ke-3 adalah 100 oF. Urutan pengumpanan adalah II,III,I. Radiasi dan pendinginan lanjut kondensat dapat diabaikan. Koefisien menyeluruh setelah dikoreksi dengan kenaikan titik didih diberikan pada tabel berikut: EFEK KOEFISIEN MENYELURUH W/m2. oC BTU/ft2.jam oF I 700 3970 II 1000 5680 III 800 4540 Ditanya: a. Permukaan pemanasan yang dibutuhkan dalam setiap efek, andaikan A1=A2=A3. b. Konsumsi uap c. Ekonomi uap

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (7 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

Penyelesaian: Mf = 60.000 lb/jam Laju evaporasi total dapat dihitung dari neraca massa menyeluruh, andaikan tidak ada zat padat yang hilang pada waktu melalui evaporator. Neraca bahan (lb/jam) Umpan Cairan Pekat Air diuapkan Padat 6000 6000 Air 54000 6000 48000 Total 60000 12000 48000

Untuk dapat mengestimasi konsentrasi dan BPE, dianggap evaporasi pada masing-masing efek adalah sama yaitu: 48000/3 = 16000 lb/jam Konsentrasi larutan pada masing - masing efek: Cf = 10 % NaOH = 0,1 fraksi massa C1 = 50% NaOH = 0,5

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (8 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

Uap pada 50 lbf/in2, Ts=281 oF dan ls=924 BTU/lb

(lamp 8 Mc Cabe dkk, 1985)

Kondensat pada efek ke III berada pada suhu 100 oF. Tekanan kondensat = 0,95 lbf/in2. Dari Gambar 16-4 McCabe dkk, 1985: Efek I C1= 0,5 Titik didih air = 281 oF Titik didih larutan = 357 oF BPE1 = 357 – 281 = 76 oF Efek III C3= 0,214 Titik didih air = 100 oF Titik didih larutan = 113 oF BPE1 = 113 - 100 = 13 oF Efek II C2= 0,136 Titik didih air (=suhu umpan masuk) = 180 oF Titik didih larutan = 187 oF BPE1 = 187 – 180 = 7 oF Penurunan suhu total:

Penurunan suhu bersih: 181 – (76+7+13) = 85 oF 85 oF ini harus dijabarkan untuk ketiga efek. Penurunan suhu uap pemanas: Suhu larutan di dalam efek I sama dengan suhu uap cairan panas lanjut keluar.
EFEK I T (suhu didih) 33 T’ (suhu kondensasi) 76

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (9 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

EFEK II EFEK III

23 29

7 13

T1 = 281 – 33 = 248 oF T1’ = 248 – 76 = 172 oF T2 = 172 – 23 = 149 oF T2’ = 149 – 7 = 142 oF T3 = 142 – 29 = 113 oF T3’ = 113 – 13 = 100 oF Selanjutnya ditabulasikan data entalpi, suhu dan flow rate sebagai berikut:
Arus Uap pemanas Umpan ke I Uap hasil dari I Kondensat dari I Zat cair dari I Umpan ke II Uap hasil dari II Zat cair dari II Kondensat dari II Uap hasil dari III Kondensat dari III Suhu (oF) 281 113 248 281 248 180 149 149 172 113 142 Suhu Jenuh (oF) 281 0,214 172 0,5 0,10 142 0,136 100 Konsentrasi Entalpi (BTU/lb) 1174 67 1171 249 250 135 1126 102 140 1111 110 Flow Rate (lb/jam) ms 12000+X X ms 12000 60000 Y 60000-Y X 48000-X-Y Y

Neraca Entalpi X = laju evaporasi yang sebenarnya di efek I Y = laju evaporasi yang sebenarnya di efek II Neraca entalpi ada efek II Uap hasil dari I + Umpan ke II = Uap hasil dari II + Zat cair dari II + Kondensat dari II (1171.X) + (60000)(135) = (1126.Y) + 102 (60000 – Y) + (140.X) X – 0,993 Y = -1920 …(1) Neraca entalpi ada efek III Zat cair dari II + Zat cair dari II = Uap hasil dari III + Umpan ke I + Kondensat dari II
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (10 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

(1126.Y) + 102 (60000 – Y) = 1111(48000 – X - Y) +(12000 + X)67 + (110.Y) X + 1,940 Y = 46000 …(2)

(1) dan (2) : X + 1,940 Y = 46000 X – 0,993 Y = -1920 2,933 Y = 47920 Y = 16340 lb/jam X = 46000 – (1,940)(16340) = 14300 lb/jam Laju penguapan pada efek III: 48000 – X – Y = 48000 – 14300 – 16340 = 17360 lb/jam Bebas panas: = (14300)(1171) – (12000+14300)(67) + (12000)(250) = 17.983.000 BTU/jam q2=(14300)(1171) – (14300)(140) = 14.743.000 BTU/jam q3=(16340)(1126) – (16340)(110) = 16.601.000 BTU/jam Sehingga luas permukaan: Luas rata-rata =

Luas permukaan tidak sama. Sehingga dilakukan perhitungan kembali terhadap konsentrasi, penurunan suhu, eltalpi, laju evaporasi, beban kalor dan luas permukaan perpindahan kalor, sehingga didapat luas permukaan yang nilainya cukup berdekatan satu sama lain.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (11 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

Pembetulan suhu, entalpi dan laju aliran.
Arus Uap pemanas Umpan ke I Uap hasil dari I Kondensat dari I Zat cair dari I Umpan ke II Uap hasil dari II Zat cair dari II Kondensat dari II Uap hasil dari III Kondensat dari III Suhu (oF) 281 113 245 281 246 180 149 149 170 114 142 Suhu Jenuh (oF) 281 0,228 170 0,5 0,10 142 0,137 100 Konsentrasi 1174 68 1170 249 249 135 1126 101 138 1111 110 Entalpi (BTU/lb) ms 12000+X X ms 12000 60000 Y 60000-Y X 48000-X-Y Y Flow Rate (lb/jam)

Hasil: a. Luas permukaan tiap efek = 719 ft2 b. Konsumsi uap, ms = c. Ekonomi =

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (12 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

Contoh 10.3 Foust, 1960. Sebuah evaporator efek ganda tiga digunakan untuk memekatkan larutan NaOH 5% menjadi 50 %. Digunakan umpan maju dengan umpan masuk pada suhu 60 oF. Uap tersedia pada tekanan 125 psia dan ejektor pada 1 psia. Luas permukaan pemanasan pada ketiga efek adalah sama dan cukup besar untuk menghasilkan 20000 lb/jam produk pekat. Koefisien menyeluruh setelah dikoreksi dengan kenaikan titik didih diberikan pada tabel berikut: EFEK BTU/ft2.jam oF I 800 II 500 III 300 Ditanya: d. Permukaan pemanasan yang dibutuhkan dalam setiap efek, andaikan A1=A2=A3. e. Konsumsi uap f. Ekonomi uap

Penyelesaian: Produk pekat 20000 lb/jam Laju evaporasi total dapat dihitung dari neraca massa menyeluruh, andaikan tidak ada zat padat yang hilang pada waktu melalui evaporator. Neraca bahan (lb/jam) Umpan Cairan Pekat Air diuapkan Padat 10000 10000 Air 190000 10000 180000 Total 200000 20000 180000

Untuk dapat mengestimasi konsentrasi dan BPE, dianggap evaporasi pada masing-masing efek adalah sama yaitu: 180000/3 = 60000 lb/jam Konsentrasi larutan pada masing - masing efek:

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (13 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

Cf = 5% NaOH = 0,05 fraksi massa C3 = 50% NaOH = 0,5 Uap pada 125 psia, Ts=344,2 oF dan ls=875 BTU/lb Hvap = 1191,02 BTU/lb Hliq = 315,55 BTU/lb Kondensat keluar dari ejektor pada 1 psia, Ts = 101,5 oF Dari Gambar 16-4 McCabe dkk, 1985: Efek I C1= 0,071 Titik didih air = 344,2 oF Titik didih larutan = 347 oF BPE1 = 347 – 344,2 = 2,8 oF Efek III C3= 0,5 Titik didih air (suhu keluar ejektor) = 101,5 oF Titik didih larutan = 172 oF BPE1 = 172 – 101,5 = 70,5 oF Efek II C2= 0,125 Tidak adaketerangan yang jelas. Titik didih air = 200 oF (Trial) Titik didih larutan = 210 oF BPE1 = 210 – 200 = 10 oF (lamp.8) (Gbr. 16-4) (lamp 8 Mc Cabe dkk, 1985)

Penurunan suhu total:

Penurunan suhu bersih: 242,7 – (2,8+70,5+10) = 159,4 oF

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (14 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

159,4 oF ini harus dijabarkan untuk ketiga efek. Penurunan suhu uap pemanas: Suhu larutan di dalam efek I sama dengan suhu uap cairan panas lanjut keluar.
EFEK I EFEK II EFEK III T (suhu didih) 30,28 48,45 80,74 T’ (suhu kondensasi) 2,8 10 70,5

T1 = 344,2-30,28 = 313,92 oF T1’ = 313,92 – 2,8 = 311,12 oF T2 = 311,12 – 48,45 = 262,63 oF T2’ = 262,63 – 10 = 252,63 oF T3 = 252,63 – 80,74 = 171,89 oF T3’ = 171,89 – 70,5 = 101,5 oF

Selanjutnya ditabulasikan data entalpi, suhu dan flow rate sebagai berikut:
Arus Uap pemanas Umpan ke I Uap hasil dari I Kondensat dari I Zat cair dari I Uap hasil dari II Zat cair dari II Kondensat dari II Uap hasil dari III Kondensat dari III Zat cair dari III Suhu (oF) 344,2 60 313,92 344,2 313,92 262,63 262,63 311,12 171 252,63 171,89 0,05 Suhu Jenuh (oF) Konsentrasi Entalpi (BTU/lb) 1191,02 28,06 1182,8 315,55 283,98 1164,86 231,32 281,08 1105,85 221,15 139,79 Flow Rate (lb/jam) ms 200000 X ms 200000-X Y 200000-X-Y X 180000-X-Y Y 20000

0,071 0,125

0,5

Neraca Entalpi X = laju evaporasi yang sebenarnya di efek I
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (15 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

Y = laju evaporasi yang sebenarnya di efek II Neraca entalpi ada efek I (ms)(1192,02) + (200000)(28,06) = (X)(1182,8) + (ms)(315,55) + (200000 – X)(283,98) (1191,02 – 315,55) ms = 51.184.000 + 898,82 X Efek II (X)(1182,8) + (200.000 – X)(283,98) = (Y)(1164,86) + (200.000 – X – Y)(231,32) + (X)(281,08) (849,06)(X) + 10.532.000 = 933,54 (Y) …(2) …(1)

Efek III (Y)(1164,86) + (200.000 – X – Y)(231,32) = (180.000 – X – Y )(1105, 85) + (20000)(139,79) + (Y)(221,15) (1818,24)(Y) = 155.584.800 – 874,53 (X) …(3) (2) dan (3) X + 12.404,3 = 1,0995 Y - X + 177.906,7 = 2,0751 Y + 190.311 = 3,1786 Y = 59872,58 lb/jam X = 53425,6 lb/jam Laju penguapan pada efek III: 180000 – X – Y = 66701,82 lb/jam Kebutuhan steam, ms = 113.315,13 lb/jam Luas permukaan:

Luas permukaan tidak sama. Sehingga dilakukan perhitungan kembali terhadap konsentrasi, penurunan suhu, eltalpi, laju evaporasi, beban kalor dan luas permukaan perpindahan kalor, sehingga

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (16 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

didapat luas permukaan yang nilainya cukup berdekatan satu sama lain.

TRIAL II

T1 = 344,2 - 48,38 = 295,82 oF T1’ = 295,82 – 2,8 = 292,22 oF T2 = 292,22 – 37,6 = 254,62 oF T2’ = 254,62 – 10 = 244,62 oF T3 = 244,62 – 73,5 = 171,92 oF T3’ = 171,92 – 70,5 = 101,5 oF

Luas permukaan rata-rata = 2580 ft2 Konsumsi uap, ms = 111.074,08 lb/jam Ekonomi =

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (17 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

EVAPORATOR EFEK BERGANDA

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/07%20Evaporator%20efek%20berganda.html (18 of 18)5/8/2007 3:24:12 PM

Bab 8

BAB VIII KRISTALISASI

Kristalisasi atau penghabluran ialah peristiwa pembentukan partikel-partikel zat padat di dalam suatu fase homogen. Kristalisasi dapat terjadi sebagai: a. Pembentukan partikel padat di dalam uap, seperti dalam pembentukan salju b. Pembekuan (solidification) di dalam lelehan cair sebagaimana dalam pembuatan kristal tunggal yang besar, atau c. Kristalisasi dari larutan cair.

Pembahasan kita hanya akan dibatasi pada situasi yang terakhir ini aja yaitu kristalisasi dari larutan cair. Konsep dan prinsip yang diuraikan disini berlaku baik untuk kristalisasi zat terlarut (solute) di dalam larutan jenuh maupun kristalisasi sebagian dari pelarut (solvent) itu sendiri, sebagaimana dalam hal pembekuan kristal es dari air laut atau larutan garam encer lainnya. Kristalisasi dari larutan sangat penting dalam industri karena banyaknya ragam bahan yang dpasarkan dalam bentuk kristal. Penggunaannya sangat luas karena dua hal: 1. Kristal yang terbentuk dari larutan yang tak murni selalu murni. 2. Kristalisasi merupakan metode yang praktis untuk mendapatkan bahan-bahan kimia murni dalam kondisi yang memenuhi syarat untuk pengemasan dan penyimpanan.

Dalam kristalisasi dari larutan sebagaimana dilaksanakan dalam industri, campuran dua fase cairan induk (mother liquor) dan kristal dari segala ukuran, yang mengisi kristalisator
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (1 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM

Bab 8

(crystallizer) dan dikeluarkan sebagai hasil, disebut magma. Tujuan kristalisasi yang utama adalah mendapatkan perolehan yang memuaskan serta kemurnian yang tinggi, untuk itu hal-hal yang menjadi pertimbangan: 1. Jika kristal itu akan diproses lebih lanjut, maka ukuran yang wajar dan cukup seragam diperlukan untuk kemudahan filtrasi (penyaringan), pencucian, pelaksanaan reaksi dengan bahan kimia lain, pengangkutan, serta penyimpanan kristal. 2. Jika kristal itu akan dipasarkan sebagai hasil akhir, untuk dapat diterima langganan, masing-masing kristal itu harus kuat, tidak menggumpal, besarnya seragam, dan tidak melekat dalam kemasan.

Untuk mencapai tujuan ini, maka distribusi ukuran kristal (crystal size distribution, CSD) harus dikendalikan dengan ketat, dan itulah yang menjadi tujuan utama dalam perancangan dan operasi kristalisator. Geometri Kristal Kristal adalah suatu benda mati yang sangat terorganisasi. Kristal dicirikan oleh kenyataan bahwa partikel-partikel pembentuknya (yang bisa berupa atom, molekul atau ion) tersusun dalam suatu susunan tiga dimensi yan beraturan yang disebut kisi (lattice). Akibat dari susunan pertikel seperti itu, bila kristal dibiarkan terbentuk tanpa gangguan dari kristal lain atau benda luar, kristal itu akan berupa polihedron yang mempunyai sudut-sudut tajam dan sisi yang rata, yang disebut muka (face). Walaupun ukuran relatif muka dan sudut berbagai kristal dari bahan yang sama mungkin sangat berbeda-beda, namun sudut-sudut yang dibentuk oleh muka-muka yang sebanding pada semua kristal dari bahan yang sama selalu sama dan merupakan karakteristik (ciri) dari bahan itu. Sistem Kristalografi Oleh karena semua kristal dari setiap bahan tertentu mempunyai sudut antarmuka yang sama
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (2 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM

Bab 8

walaupun terdapat perbedaan besar dalam tingkat perkembangan masing-masing muka, bentuk kristal diklasifikasikan atas dasar sudut-sudut ini. Ada tujuh kristal, yaitu kubus, heksagonal, trigonal, tetragonal, ortorombik, monoklin, dan triklin. Satu bahan tertentu dapat terkristalisasi di dalam dua kelas yang berbeda atau lebih, bergantung pada kondisi kristalisasi. Kalsium karbonat misalnya, paling umum terdapat di alam dalam bentuk heksagonal (sebagai kalsit) tetapi juga terdapat dalam bentuk ortorombik (aragonit). Kristal Invarian Pada keadaan ideal, kristal yang tumbuh setiap memelihara keserupaan geometriknya selama pertumbuhan. Kristal demikian disebut kristal invarian. Pada Gambar 28-1 Mc Cabe et al., 1985, terlihat penampang kristal invarian selama pertumbuhannya. Setiap poligon di dalam gambar tersebut menunjukkan sosok (outline) kristal pada beberapa waktu yang berbeda. Oleh karena kristal tersebut invarian, semua poligon itu mempunyai keserupaan geometrik dan garis putusputus yang menghubungkan sudut-sudut poligon itu dengan pusat kristal itu merupakan garis lurus. Titik pusat harus dianggap sebagai lokasi inti asal tempat kristal itu tumbuh. Laju pertumbuhan setiap muka diukur dengan kecepatan translasi muka itu dalam berpindah menjauhi pusat pada arah tegak lurus terhadap muka itu. Kecuali jika kristal itu berbentuk polihedron beraturan, laju perpindahan berbagai muka kristal invarian itu tidaklah sama.

8.1. Prinsip Kristalisasi
Kristalisasi dapat dianalisis dari sudut pandangan kemurnian, perolehan, kebutuhan energi, laju nukleasi dan laju pertumbuhan. Kemurnian hasil Kristal yang baik, terbentuk dengan baik, biasanya hampir murni, tetapi masih mengandung cairan induk bila dikeluarkan dari magma akhir, dan jika panen itu mengandung agregat kristal, massa zat padat itu mungkinmengandunng cairan induk bersama kristal. Bila cairan induk yang terkandung yang kemurniannya rendah itu dikeringkan, terjadi kontaminasi, dan derajat kontaminasi ini bergantung pada banyak dan derajat ketakmurnian cairan induk yang terkandung
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (3 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM

Bab 8

bersama kristal. Dalam prakteknya, sebagian besar cairan induk yang terkandung itu dipisahkan dari kristal dengan cara filtrasi dan sentrifugasi, sedang sisanya dikeluarkan dengan mencucinya dengan pelarut segar. Efektivitas langkah pemurnian bergantung pada ukuran dan keseragaman kristal. Keseimbangan dan Perolehan Keseimbangan di dalam proses kristalisasi dapat dicapai bila larutan itu jenuh, dan hubungan keseimbangan untuk kristal induk adalah kurva kelarutan. Data kelarutan sebagai fungsi suhu diberikan pada gambar berikut. Kebanyakan bahan mengikuti kurva yang serupa dengan kurva 1; artinya kelarutannya meningkat hampir secepat peningkatan suhu. Beberapa bahan mengikuti kurva seperti kurva 2, dimana kelarutan berubah sedikit saja dengan suhu; adapula yang mengikuti kurva kelarutan terbalik (inverted solubility curve) pada kurva 3, yang berarti bahwa kelarutannya berkurang bila suhu dinaikkan.

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (4 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM

Bab 8

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (5 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM

Bab 8

Banyak bahan anorganik yang penting-penting mengkristalisasi dengan air kristal. Pada beberapa sistem, terbentuk beberapa macam hidrat, bergantung pada konsentrasi dan suhu, dan keseimbangan dalam sistem itu bisa rumit. Diagram fase untuk sistem magnesium sulfat-air terlihat pada gambar 28-3 ( Mc Cabe, 1985) di atas. Konsentrasi magnesium sulfat bebas air (anhydrous) dalam fraksi massa digambarkan digambarkan grafiknya terhadap suhu dalam derajat Fahrenheit. Keseluruhan luas di bawah dan sebelah kiri garis penuh menunjukkan larutan tak jenuh magnesium sulfat di dalam air. Garis putus-putus eag-f-hij menunjukkan solidifikasi (pembekuan) larutan cair membentuk berbagai fase zat padat. Luas pae menunjukkan campuran es dan larutan jenuh. Setiap larutan yang mengandung kurang dari 16,5 persen MgSO4 akan mengendapkan es bila suhunya mencapai garis pa. Garis patah-patah abcdq ialah kurva kelarutan. Setiap larutan yang mengandung lebih dari 16,5% akan mengendapkan, pada waktu pendinginan, zat padat bila suhu mencapai garis ini. Zat padat yang terbentuk pada titik a disebut etetik (eutectic). Zat padat itu terdiri dari campuran mekanik yang akrab antara es dan MgSO4.12H2O.
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (6 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM

Bab 8

Antara titik a dan b kristalnya adalah MsSO4.12H2O; antara b dan c fase zat padat adalah MgSO4.7H2O (garam epsom); antara c dan d kristalnya adalah MgSO4.6H2O; dan di atas titik d kristal itu adalah MgSO4.H2O. Di dalam daerah cihb, sistem keseimbangan terdiri dari campuran larutan jenuh dan kristal MgSo4.7H2O. Dalam daerah dljc, campuran itu terdiri dari larutan jenuh dan kristal MgSO4.6H2O. Dalam daerah qdk, campuran itu adalah larutan jenuh dan MgSO4. H2O.

Perolehan Pada kebanyakan proses kristalisasi, kristal dan cairan induk berada pada waktu yang cukup lama sehingga mencapai keseimbangan, dan cairan induk itu jenuh pada suhu akhir proses itu. Perolehan dari proses itu dapat dihitung dari konsentrasi awal dan kelarutan pada suhu akhir. Jika selama proses itu terjadi penguapan yang cukup besar, kuantitasnya harus diketahui atau dapat diperkirakan. Bila laju pertumbuhan kristal itu lambat, diperlukan waktu yang agak panjang untuk mencapai keseimbangan. Hal ini sangat besar bila larutan itu viskos atau dimana kristal itu mengumpul di dasar kristalisator sehingga hanya sedikit saja permukaan kristal yang terkena larutan lewat jenuh. Dalam situasi demikian, cairan induk akhir mungkin sangat lewat jenuh dan perolehan yang didapatkan akan lebih kecil dari menurut hasil perhitungan dari kurva kelarutan. Jika kristal itu bebas air, perhitungan perolehan itu sederhana, karena fase padat itu tidak mengandung pelarut. Bila panen itu mengandung air kristal, air yang terdapat bersama kristal itu harus diperhitungkan, karena air ini tidak terkandung di dalam larutan . Data kelarutan itu biasanya diberikan sebagai bagian massa bahan bebas air perseratus bagian dari massa pelarut total atau dalam persen massa zat terlarut bebas air. Data ini tidak memperhitungkan air kristalisasi. Kunci dalam perhitungan perolehan zat terlarut
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (7 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM

Bab 8

bebas air ialah menyatakan semua massa dan konsentrasi sebagai garam hidrasi dan air bebas. Oleh karena kuantitas yang terakhir ini yang tetap berada dalam fase cair selama berlangsungnya kristalisasi, konsentrasi atau kuantitas yang didasarkan atas air bebas dapat dikurangkan untuk memberikan hasil yang benar.

Contoh 28-1. Mc Cabe, dkk, 1985. Suatu larutan yang terdiri dari 30 persen MgSO4 dan 70 persen H2O didinginkan sampai 60 oF. Selama pendinginan, 5 persen dari total air yang terdapat di dalam sistem itu menguap. Berapa kilogram kristal yang didapat per kilogram campuran semula? Penyelesaian: Dari gambar diagram fasa terlihat bahwa kristal itu adalah MgSO4.7H2O dan bahwa konsentrasi cairan induk pada suhu 60 oF adalah 24,5 persen MgSO4 bebas air dan 75,5 persen H2O.

Misalkan larutan awal 1000 kg. Air total = 70 % x 1000 = 700 kg Penguapan = 5 % x 700 = 35 kg BM MgSO4 = 120,4 BM 7H2O = 126,1 BM MgSO4.7H2O = 246,5
file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (8 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM

Bab 8

MgSO4.7H2O (cairan induk+kristal):

Air bebas = 1000 – 35 – 614 = 351 kg Dalam 100 kg cairan induk: MgSO4.7H2O dan H2O mempunyai perbandingan 24,5% MgSO4 dan 75,5 % H2O. MgSO4.7H2O = Air bebas = 100 – 50,16 = 49,84 kg Dalam 1000 kg larutan awal, MgSO4.7H2O pada cairan induk:

Panen akhir adalah 614 – 353 = 261 kg kristal per 1000 kg larutan awal.

Contoh 12-11.1 Geankoplis, 1987 Larutan garam 10.000 kg dengan 30 % berat Na2CO3 didinginkan hingga suhu 293 K. Kristal garam yang terbentuk Na2CO3.10H2O. Hitung kristal hasil Na2CO3.10H2O jika data kelarutan

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (9 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM

Bab 8

adalah 21,5 kg Na2CO3/100 kg air total, pada: a. Asumsi tidak ada air yang menguap. b. Asumsi bahwa 3 % dari total larutan hilang karena penguapan air.

Penyelesaian: BM Na2CO3 = 106 BM 10H2O= 180,2 BM Na2CO3.10H2O = 286,2 W = kg air yang menguap S = kg cairan induk C = kg kristal Na2CO3.10H2O. a) W = 0 Neraca massa air …(1) fraksi berat air dalam kristal. Neraca massa Na2CO3 …(2)

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (10 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM

Bab 8

Dari (1) dan (2): C = 6370 kg Na2CO3.10H2O S = 3630 kg larutan induk b) W = 0,3 (10000) = 300 kg H2O

Neraca massa air …(3) Neraca massa Na2CO3 …(4) Dari (3) dan (4): C = 6630 kg Na2CO3.10H2O S = 3070 kg larutan induk

file:///D|/E-Learning/Perpindahan%20Panas/Textbook/08%20Kristalisasi.html (11 of 11)5/8/2007 3:24:13 PM

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.