Penjajahan Inggris

July 14th, 2010 · Buku Sekolah Gratis · Sejarah 2 SMA Bahasa - Ernawati dan Ismawati 3 comments - Tags: penjajahan inggris, penjajahan inggris di indonesia

Berbicara mengenai penjajahan Inggris di Indonesia, kita tidak bisa melepaskan ingatan pada sosok Thomas Stamford Raffles. Dia adalah letnan gubernur jenderal Jawa yang mendasarkan kekuasaannya pada kebebasan dan persamaan manusia. Perhatiannya ditujukan pada kesejahteraan penduduk asli sebagai tanggung jawab pemerintah. Oleh karena itu, banyak kebijakannya yang cenderung tidak mengekspolitasi penduduk seperti para penguasa Belanda. Kehidupan Ekonomi Salah satu kebijakannya yang terkenal adalah landrente atau pajak tanah. Kebijakan itu antara lain menarik pajak sebesar 2/5 dari hasil bumi yang dimiliki seseorang. Pertimbangannya adalah bahwa semua tanah diyakini sebagai milik pemerintah Inggris dan rakyat hanyalah penyewa. Besarnya pajak itu ditentukan oleh kesuburan tanah rakyat dan bisa dibayar dengan uang atau hasil bumi lainnya seperti padi. Selain itu ia juga meletakkan dasardasar bagi perkembangan perekonomian, sistem uang, dan menjadikan desa sebagai pusat administrasi. Ternyata, pelaksanaan landrente mengalami kesulitan karena adanya penolakan dari para bangsawan. Kita tahu bahwa para bangsawan adalah pemilik tanah yang telah berlangsung secara turun-temurun. Para bangsawan merasa dirugikan apabila kebijakan itu benar-benar dilaksanakan oleh Raffles. Apalagi rakyat belum siap dengan monetisasi yang hendak diterapkan untuk menggantikan sistem inatura atau sistem tradisional yang telah lama dikenal rakyat. Secara garis besar, kebijakan landrente yang dijalankan oleh Raffles gagal mendatangkan keuntungan bagi Inggris. Kehidupan ekonomi penduduk sangat dipengaruhi oleh struktur feodal yang bercirikan bendara (para raja, bangsawan, dan keluarganya) dan abdi (rakyat). Secara tradisional, rakyat harus menyerahkan upeti kepada para bangsawan keraton. Selain itu rakyat harus membersihkan keraton, mencarikan rumput untuk kuda-kuda kerajaan, dan melakukan penjagaan. Hubungan bendara dan abdi jelas sangat memberatkan rakyat. Apalagi penguasa dan pengusaha kolonial juga mempunyai tuntutan yang tidak dikenal di dalam ikatan atau kontrak. Bagi rakyat ini sangat memberatkan karena mereka tidak hanya menghasilkan untuk dikonsumsi sendiri tetapi juga memproduksi untuk kepentingan penguasa kolonial, lokal, dan pengusaha.

pada tanggal 13 Agustus 1814 Inggris menyetujui bahwa semua harta dan kekuasaannya di Hindia Belanda dikembalikan kepada Belanda. Raffles menyerahkan sebagian wilayah kepada Pangeran Natakusuma. Raffles pun kembali ke Inggris dan Hindia Belanda kembali jatuh ke dalam kekuasaan negeri Belanda. Serah terima kekuasaan dilaksanakan antara Letnan Gubernur John Fendall (Inggris) kepada Tiga Komisaris Belanda (Cornelis Elout. Kesulitan mulai dihadapi oleh Raffles setelah Lord Minto meninggal dunia pada bulan Juni 1814. Sumber : Imtam Rus Ernawati dan Nursiwi Ismawati. Raffles mengadakan pembaruan sistem pengadilan dengan sistem juri seperti di Inggris dan menata kehidupan politik pemerintahan di Jawa. Jakarta : Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. sementara itu kedaulatan Kesultanan Cirebon diserahkan kepada Inggris. Raffles berhasil mendekati dan memengaruhi beberapa daerah atau kerajaan untuk bekerja sama dengan Inggris. Buijskes. 2009. h. mengasingkan Sultan Hamengku Buwono II ke Pinang dan menggantikannya dengan Hamengku Buwono III dari Yogyakarta (1811).Kehidupan Politik Kebijakan politik yang diterapkan Raffles di Hindia Belanda banyak dipengaruhi teori liberalisme. untuk memperlemah Kesultanan Yogyakarta. Raffles juga memperkecil wilayah Kesunanan Surakarta. meski tidak terbukti. Pada tahun 1812. Kesultanan Banten dihapuskan. Bahkan. Selain itu. Keputusan ini diperkuat dengan Kongres Wina pada tahun 1815 yang menyebutkan bahwa Inggris harus mengembalikan Jawa dan kekuasaan Hindia Belanda lainnya kepada Belanda sebagai bagian dari persetujuan yang mengakhiri Perang Napoleon. Sejarah Kelas XI Program Bahasa. Kekuasaan Inggris atas Hindia Belanda semakin lemah setelah negara-negara yang melawan Napoleon membuat perjanjian untuk mendirikan kerajaan Belanda yang baru. dan van der Capellen) pada bulan Agustus 1816. . Misalnya. Raffles membagi Jawa ke dalam delapan belas keresidenan dan mengurangi kekuasaan kekuasaan para bupati. Akhirnya. Inggris sukses menerapkannya di India. ia dituduh telah melakukan korupsi. 49–51.

hanya uang logam India Batavia (1799-1806) yang berlaku umum. tetapi juga oleh Pemerintah Lokal di Ambon. Pada waktu yang hampir bersamaan penguasa VOC di Ceylon (Srinlanka) juga menerbitkan instrumen sejenis pada tahun 1785 dan seterusnya. HW . Banda. Perancis 1701. dikarenakan kesulitan uang kecil dari bahan logam. satu-satunya sumber tertulis Belanda yang melaporkan penerbitan uang kertas darurat oleh penguasa VOC di Pulau Banda pada tahun 1659. Pada masa ini. masih memakai lambang VOC. Di lain hal surat hutang VOC di Amboina 1805. Ketika Indonesia berada dibawah pengawasan kerjaan Hollandia (1806-1811). Uang “Surat Hutang Kompeni 1782” Ini beredar dalam jumlah hampir tidak terbatas sehingga turun nilainya menjadi 85%. Inggris 1694. VOC mengeluarkan beberpa emisi surat Hutang (Kredietbrieven) dengan pecahan berbeda-beda. Selama masa kekosongan yang panjang (1659-1782) Bank pertama Bataviaasch Bank Courant (1746) dan Bank Van Leening mengeluarkan surat-surat bank dalam berbagai pecahan (1748-1752). Beberapa waktu setelah pengeluaran uang kertas karton darurat Kota Leiden 1576 dan saham pertama VOC di dunia 1606. Uang kertas Banda 1659 ini mendahului penerbitan uang kertas modern bangsa-bangsa barat: Swedia 1661. semua jenis uang logam dan kertas menampilkan lambang (monogram) LN (Lodewijk Napoleon). terutama para pedagang yang memperkenalkan berbagai jenis mata uang logam asing sebagai alat pembayaran dalam perdagangan dengan penduduk setempat sampai pengedaran mata uang logam khusus berlaku di kepulauan Nusantara 1602-1799. Inggris. yang juga berlaku di Banda dan Ternate sebagai Bagian Pemerintahan Maluku. Beberapa tahun sebelum pembubarannya. Instrumen moneter ini sering dianggap sebagai uang kertas pertama di Indonesia. Terkecuali. Meskipun kertas telah dikenal di Indonesia pada abad XVII. VOC menyadari perlunya alat pembayaran dari kertas untuk transaksi besar yang dikenal sebagai “Surat Hutang Kompeni” (Compagnie Kredietbrieven) pada tahun 1782. Setelah pengambilalihan kekuasaan VOC di Indonesia oleh Republik Batavia (17991806) tidak ada penerbitan Surat Hutang oleh pemerintah pusat di Batavia. Pemalsuan atas surat Hutang 1782 ini merupakan yang pertama kali di Indonesia. sumber-sumber tertulis asing terutama dari bangsa Belanda dengan perwakilan dagang dan kekuasaannya Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) 1602–1799 tidak pernah menyebutkan penggunaan uang kertas tetapi uang logam sebagai alat pembayaran utama di kepulauan Nusantara. dan Jepang). tidak dipergunakan uang kertas. dan Ternate. Yang terkenal diantaranya adalah uang kertas Probolinggo (Probolinggo Paper) 1810. Sejak kedatangan bangsa-bangsa asing. yang berkaitan dengan kebijakan Gubernur Jenderal Mr. Antara tahun 17821799. uang kertas tidak hanya diterbitkan oleh Pemerintah Pusat di Batavia. Norwegia 1695.Sejarah Uang kertas Indonesia JAMAN PEMERINTAHAN BELANDA 1610 – 1811 Masa awal perkembangan uang kertas di Indonesia tak lepas dari pengaruh imperialisme asing (Belanda.

d. Usul Daendels tidak efektif bahkan penggantinya Letnan Gubernur Raffles (1811-1816) yang memberlakukan kurs ketat menyebabkan penurunan nilainya s. Tampaknya masa yang singkat ini. Pembukuan dilakukan dalam Dollar Spanyol pada awalnya tetapi segera digantikan oleh Rupee dan Ropi Jawa (Java Rupee) sebagaimana terlihat diatas uang kertas terbitan Inggeris (termasuk oleh Lombard Bank 1814). Uang kertas Probolinggo 1810 merupakan hipotik Han Tik Ko.Daendels (1808-1811) menjual tanah negara dan hak kekuasaannya kepada perorangan. hanya sedikit jumlah uang kertas yang dikeluarkan seperti halnya uang logam pecahan besar. . 60%. JAMAN PEMERINTAHAN INGGRIS 1811-1816 Pemerintah Letnan Gubernur Raffles (1811-1816) menghadapi masalah kesulitan keuangan yang diwariskan oleh Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811). yang dapat ditukar dengan perak selama 10 tahun. Kapitan Cina (17991811) di Pasuruan. Kenyatannya uang Probolinggo mengalami inflasi sampai 50% dibawah nominal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful