STUDY KASUS KONTROL ANEMIA IBU HAMIL

|
STUDI KASUS KONTROL FAKTOR BIOMEDIS TERHADAP KEJADIAN ANEMIA IBU HAMIL DI PUSKESMAS BANTIMURUNG RINGKASAN Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan faktor umur ibu, ANC, jarak kelahiran, paritas dan keluhan ibu hamil terhadap kejadian anemia di wilayah puskesmas Bantimurung. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus kelola dengan sampel ibu hamil dan bersalin sebanyak 128 responden yang diambil secara purposive sampling. Uji statistik yang digunkan adalah analisis Odds Ratio, dan logistik regresi. Hasil penelitian yang diperoleh sekitar 83.6 % responden mengalami anemia, dengan ANC sebagian besar kurang dari 4 kali (72.7%). Hasil analisis bivariat ditemukan banhwa ANC tidak signifikan terhadap anemia, OR. 1.251 (95%CI.0.574-2.729), demikian juga dengan keluhan dengan OR 1.354, 95 % CI. 0.673-2.725. begitu juga paritas kurang dari satu dan lebih 4 tidak berefek terhadap anemia pada ibu hamil dengan OR 1.393 , 95%CI.0.474-4.096. Sedangkan jarak kelahiran bermakna terhadap kejadian anemia dengan OR 2.343, 95% CI.1.146-4.790. dan variabel Umur dengan OR 2.801, 95% CI 1.089-7.207. Kesimpulan variabel yang berhubungan adalah jarak kelahiran dan umur ibu hamil, sedangkan variabel paritas, ANCdan adanya keluhan tidak bermakna. Dengan demikian maka disarankan bahwa untuk menekan kejadian anemia dengan berbagai dampaknya maka pengaturan jarak kelahiran sangat diperlukan melalui perencanaan kelahiran melalui keluarga berencana, begitu juga dengan umur ibu, sangat penting untuk diperhatikan melahirkan pada usia 20- 35 tahun. (J Med Nus. 2004; 25:71-75) LATAR BELAKANG Sampai saat ini tingginya angka kematian ibu di Indonesia masih merupakan masalah yang menjadi prioritas di bidang kesehatan. Di samping menunjukkan derajat kesehatan masyarakat, juga dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan kualitas pelayanan kesehatan. Penyebab langsung kematian ibu adalah trias perdarahan, infeksi, dan keracunan kehamilan. Penyebab kematian langsung tersebut tidak dapat sepenuhnya dimengerti tanpa memperhatikan latar belakang (underlying factor), yang mana bersifat medik maupun non medik. Di antara faktor non medik dapat disebut keadaan kesejahteraan ekonomi keluarga, pendidikan ibu, lingkungan hidup, perilaku, dan lain-lain. Kerangka konsep model analisis kematian ibu oleh Mc Carthy dan Maine menunjukkan bahwa angka kematian ibu dapat diturunkan secara tidak langsung dengan memperbaiki status sosial ekonomi yang mempunyai efek terhadap salah satu dari seluruh faktor langsung yaitu perilaku kesehatan dan perilaku reproduksi, status kesehatan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan.1 Ketiga hal tersebut akan berpengaruh pada tiga hasil akhir dalam model yaitu kehamilan, timbulnya komplikasi kehamilan/persalinan dan kematian ibu.

perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal. Penelitian selama tahun 1978-1980 di 12 rumah sakit pendidikan/rujukan di Indonesia menunjukkan prevalensi wanita hamil dengan anemia yang melahirkan di RS pendidikan /rujukan adalah 30. produksi ASI rendah).86%.11 Affandi 12 menyebutkan bahwa anemia kehamilan di Indonesia berdasarkan data Departemen Kesehatan tahun 1990 adalah 60%. Di samping itu.9 Soeprono.10 menyebutkan bahwa dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan abortus. partus lama. atonia. Risiko kematian maternal. dan angka kematian perinatal meningkat. demikian juga WHO 6b menyatakan bahwa anemia merupakan sebab penting dari kematian ibu. gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim. sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah. dkk 7 menunjukkan bahwa angka kematian ibu adalah 70% untuk ibu-ibu yang anemia dan 19. tetapi pada umumnya banyak penelitian yang menunjukkan prevalensi anemia pada wanita hamil yang lebih besar dari 50%. menurut model Mc Carthy dan Maine 1 merupakan faktor penting dalam terjadinya kematian ibu. gangguan proses persalinan (inertia. berat badan bayi lahir rendah. dan lain-lain).4 Grant 5 menyatakan bahwa anemia merupakan salah satu sebab kematian ibu. angka prematuritas. Anemia pada kehamilan juga berhubungan dengan meningkatnya kesakitan ibu. Pada wanita hamil.13 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa prevalensi anemia pada kehamilan secara global 55% dimana secara bermakna tinggi pada trimester ketiga dibandingkan dengan trimester pertama dan kedua kehamilan. Prevalensi tersebut meningkat dengan bertambahnya paritas. Status kesehatan ibu.Dari model Mc Carthy dan Maine tersebut dapat dilihat bahwa setiap upaya intervensi pada faktor tidak langsung harus selalu melalui faktor penyebab yang langsung. Kematian ibu 15-20% secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan anemia. dan gangguan pada janin (abortus. daya tahan terhadap infeksi dan stres kurang. Anemia karena defisiensi zat besi merupakan penyebab utama anemia pada ibu hamil dibandingkan dengan defisiensi zat gizi lain. Prevalensi anemia pada wanita hamil di Indonesia berkisar 20-80%. BBLR. perdarahan atonis). Penyakit atau gizi yang buruk merupakan faktor yang dapat mempengaruhi status kesehatan ibu. anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. dismaturitas. Oleh karena itu anemia gizi pada masa kehamilan sering diidentikkan dengan anemia gizi besi Hal ini juga diungkapkan oleh Simanjuntak tahun 1992 bahwa sekitar 70 % ibu hamil di Indonesia menderita anemia gizi. mikrosomi. Rao (1975) melaporkan bahwa salah satu sebab kematian obstetrik tidak langsung pada kasus kematian ibu adalah anemia. Juga banyak dilaporkan bahwa prevalensi anemia pada trimester III berkisar 50-79%.3. .9 Hal yang sama diperoleh dari hasil SKRT 1986 dimana prevalensi anemia ringan dan berat akan makin tinggi dengan bertambahnya paritas. partus imatur/prematur). kematian perinatal. Penelitian Chi.7% untuk mereka yang non anemia.

Sedangkan laporan data di Kabupaten Maros khususnya di Kecamatan Bantimurung anemia ibu hamil pada tahun 1999 sebesar 31.5–70%. 2) Kekurangan Hb dalam darah mengakibatkan kurangnya oksigen yang dibawa/ditransfer ke sel tubuh maupun ke otak. Pada usia kehamilan sebelum 24 minggu dibandingkan kontrol mengemukakan bahwa anemia merupakan salah satu faktor kehamilan dengan risiko tinggi.POPULASI DAN SAMPEL 1.3 % di Kabupaten Pinrang dan 28. DESAIN PENELITIAN DAN UNIT ANALISIS Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kelola untuk melihat gambaran status kesehatan ibu hamil serta faktor-faktor yang berhubungan dengan masalah kesehatan tersebut.5%. Prevalensi anemia yang tinggi dapat membawa akibat negatif seperti: 1) gangguan dan hambatan pada pertumbuhan. Populasi Populasi rujukan adalah semua ibu hamil yang ada di wilayah kerja Puskesmas Bantimurung kabupaten Maros pada periode Agustus – September 2004. serta formulir pemeriksaan ibu hamil.5% sedangkan data SKRT tahun 1995 turun menjadi 50. Maros.65%. Sampel diambil secara purposive sampling. Pada tahun 1999 didapatkan anemia gizi pada ibu hamil sebesar 39. baik sel tubuh maupun sel otak.3% (1997).73%. Studi di Kualalumpur memperlihatkan terjadinya 20 % kelahiran prematur bagi ibu yang tingkat kadar hemoglobinnya di bawah 6. Pada SKRT tahun 1992 dengan angka anemia ibu hamil sebesar 63. Maros pada saat penelitian dilaksanakan.17% 14. Sumber : Data primer METODE PENELITIAN A. Unit analisis adalah ibu hamil dan ibiu nifas yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Bantimurung kab. .7% di Kabupaten Soppeng dan tertinggi adalah di Kabupaten Bone 68.5 – 71. prevalensi anemia tahun l970–an adalah 46. Sampel Sampel adalah ibu hamil dan ibu bersalin yang berada di wilayah kerja Puskesmas Bantimurung Kab.5gr/dl.9%.4 gr/dl. Propinsi Sulawesi Selatan berdasarkan SKRT pada tahun 1992 prevalensi anemia gizi khususnya pada ibu hamil berkisar 45.2% dan pada tahun 1994 meningkat menjadi 76. 2. B.74% dan pada tahun 2001 sebesar 68. dengan jumlah sampel yang berhasil diperoleh sebanyak 128 ibu hamil. pada tahun 2000 meningkat menjadi 76.Indonesia. kelahiran prematur dan kematian perinatal meningkat pada wanita hamil dengan kadar hemoglobin kurang dari 10. Instrument studi terdiri dari kuesioner. Studi lain menunjukkan bahwa risiko kejadian BBLR.6% (1996) dan Kabupaten Bulukumba sebesar 67. Pada ibu hamil dapat mengakibatkan efek buruk pada ibu itu sendiri maupun pada bayi yang dilahirkan.

2. Hasil analisis uji statistik diperoleh nilai OR sebesar 1.251 dengan nilai lower 0.393 dengan nilai lower 0.729.089 dan upper 7. Hasil analisis uji statistik diperoleh nilai OR sebesar 1.5%) orang yang menderita anemia.Umur Ibu dengan Anemia Analisis umur ibu dengan Kejadian Anemia di Wilayah Kerja Puskesmas Bantimurung Kabupaten Maros Tahun 2004 dan responden yang paling banyak menderita anemia adalah responden dengan umur < 20 tahun dan >35 tahun sebanyak 20 (74.Pengolahan Data Anlisis hubungan ANC dengan kejadian anemia yang paling banyak menderita anemia adalah responden dengan ANC < 4 kali dengan jumlah 53 (57.343 dengan nilai lower 1.790. Hasil analisis uji statistik diperoleh nilai OR sebesar 1.1%) orang dan pada umur 20-35 tahun sebanyak 51 (50. PENGOLAHAN.146 dan upper 4. DAN ANALISIS DATA 1. Keluhan dengan Anemia Analisis hubungan keluhan dengan kejadian anemia dan responden yang paling banyak menderita anemia adalah yang memiliki keluhan dengan jumlah 39 (59.1%) orang dan terendah pada responden yang tidak memiliki keluhan dengan jumlah 32 51.207.Jarak Kelahiran dengan Anemia Analisis Jarak Kelahiran dengan Kejadian Anemia di Wilayah Kerja Puskesmas Bantimurung Kabupaten Maros Tahun 2004 dan responden yang paling banyak menderita anemia adalah responden dengan jarak kelahiran < 2 tahun sebanyak 41 (66.6%)orang.C. Hasil analiis uji statistik diperoleh nilai OR sebesar 2.5%) orang.474 dan upper 4. Hasil analiis uji statistik diperoleh nilai OR sebesar 2.1%) orang dan terendah pada responden dengan jarak kelahiran ³ 2 tahun sebanyak 30 (45.574 dan upper 2.725.5%)orang.673 dan upper 2. 5. . Paritas dengan Anemia Analisis Paritas dengan Kejadian Anemia di Wilayah Kerja Puskesmas Bantimurung Kabupaten Maros Tahun 2004 dan responden yang paling banyak menderita anemia adalah pada paritas 2-3 dengan jumlah 61 (62.801 dengan nilai lower 1.354 dengan nilai lower 0.4%). 3.5%) orang dan terendah pada responden yang paritas < 1/>4 dengan jumlah 10 (54.0%) orang dan terendah pada responden dengan ANC ³ 4 kali sebanyak 18 orang (51.

Keadaan ini akan berlangsung sementara dan biasanya hilang dengan sendirinya pada kehamilan lebih dari 3 bulan. 1 kali pada trimester II dan 2 kali pada trimester III. mual. Parietas Parietas adalah jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir hidup maupun lahir mati.096.Karena selama hamil zat – zat gizi akan terbagi untuk ibu dan untuk janin yang dikandungnya.474 dan nilai upper 4. Keluhan Selama Hamil Kehamilan adalah peristiwa alami yang melibatkan perubahan fisik dan emosional dari seorang ibu. Hasil analisis hububgan ANC dengan kejadian anemia didapatkan OR sebesar 1. 3. Hal ini dikarenakan kondisi ibu masih belum pulih dan pemenuhan kebutuhan zat – zat gizi belum optimal. A N C dengan Kejadian Anemia Antenatal care adalah pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dan janinnya oleh tenaga professional meliputi pemeriksaan kehamilan sesuai dengan standar pelayanan yaitu minimal 4 kali pemeriksaan selama kehamilan.725. Jarak kelahiran adalah waktu sejak ibu hamil sampai terjadinya kelahiran berikutnya. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara parites dengan kejadian anemia pada ibu hamil. C.251 dengan nilai lower 0.393 dan nilai lower 0. kadang – kadang muntah. Dari hasil analisis hubungan keluhan selama hamil dengan kejadian anemia didapatkan nilai 1 berada antara batas bawah dan batas atas yaitu nilai lower 0.673 dan nilai upper 2. Pembahasan 1. sudah harus memenuhi kebutuhan nutrisi janin yang dikandung. maka tidak terdapat hubungan antara faktor keluhan ibu selama hamil dengan kejadian anemia. karena nilai 1 berada antara batas bawah dan batas atas dengan OR sebesar 1. . 2.574 dan nilai upper 2. Jarak Kelahiran. 1 kali pada trimester satu. Jarak kelahiran yang terlalu dekat dapat menyebabkan terjadinya anemia. Seorang ibu yang sering melahirkan mempunyai risiko mengalami anemia pada kehamilan berikutnya apabila tidak memperhatikan kebutuhan nutrisi.B. Analisis Multivariat Analisis Regresi Logistik Antara Jarak Kelahiran dan Umur Penderita di Wilayah Kerja Puskesmas Bantimurung Kabupaten Maros Tahun 2004 Analisis hubungan Regresi logistik antara jarak kelahiran dan umur penderita diwilayah kerja puskesmas Bantimurung. oleh karena nilai 1 berada diantara batas bawah dan batas atas maka tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pemeriksaan ANC dengan kejadian anemia pada ibu hamil.729. utamanya pada umur kehamilan 1 – 3 bulan pertama kebanyakan ibu hamil mengalami beberapa keluhan seperti pusing. 4. Dengan pemeriksaan ANC kejadian anemia pada ibu dapat dideteksi sedini mungkin sehingga diharapkan ibu dapat merawat dirinya selama hamil dan mempersiapkan persalinannya. Dan menunjukkan bahwa dari dua variabel yang memiliki risiko kejadian anemia setelah dilakukan uji lebih lanjut diperoleh bahwa umur memilki pengaruh lebih besar terhadap kejadian anemia.

089 dan nilai upper 7. Umur ibu kurang dari 20 tahun dan lebih 35 tahun berisiko lebih besar untuk menderita anemia 2.Berdasarkan analisis data diperoleh bahwa reponden paling banyak menderita anemia pada jarak kehamilan < 2 tahun. Jarak kelahiran kurang dari dua tahun berisiko lebih besar untuk menderita anemia 4. Hasil uji memperlihatkan bahwa jarak kelahiran mempunyai risiko lebih besar terhadap kejadian anemia. untuk menekan kejadian anemia pada ibu hamil. Umur reproduksi yang sehat dan aman adalah umur 20 – 35 tahun.343 dengan nilai lower 1. karena nilai 1 berada antara batas bawah dan batas atas dengan OR sebesar 2. Adanya keluhan tidak berisiko lebih besar untuk menderita anemia. Meskipun secara statistik ANC tidak bermakna. B. misalnya kebiasaan ibu serta faktor sosial budaya yang lain. Sedangkan pada usia > 35 tahun terkait dengan kemunduran dan penurunan daya tahan tubuh serta berbagai penyakit yang sering menimpa diusia ini. namun tetap sangat diperlukan adanya kunjungan yang teratur bagi ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya. Umur Umur seorang ibu berkaitan dengan alat – alat reproduksi wanita. sebagai upaya deteksi dini kelainan kehamilan.801 dengan nilai lawer 1. Kehamilan diusia < 20 tahun dan diatas 35 tahun dapat menyebabkan anemia karena pada kehamilan diusia < 20 tahun secara biologis belum optimal emosinya cenderung labil. 5. Hasil analisis didapatkan bahwa umur ibu pada saat hamil sangat berpengaruh terhadap kajadian anemia. . dengan OR sebesar 2. Perencanaan kehamilan/persalinan sangat penting dilaksanakan pada umur 20 sampai 35 tahun. 2.146 dan nilai upper 4. SARAN 1. Paritas > 3 orang tidak berisiko lebih besar untuk menderita anemia 5. ANC ibu hamil kurang dari 4 kali tidak berisiko untuk menderita anemia 3.790. Perlu penelitian lanjutan terhadap variabel lain yang belum diteliti dalam penelitian ini. 4.207. mentalnya belum matang sehingga mudah mengalami keguncangan yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan zat – zat gizi selama kehamilannya. Program KB sangat diperlukan untuk mengatur jarak kelahiran sehingga kelahiran berikutnya dapat lebih dari dua tahun. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis status kesehatan ibu hamil di Kecamatan Bantimurung Kab Maros didapatkan : 1. KESIMPULAN DAN SARAN A. 3.

8. Vol. Feb 1994. Kematian Ibu pada Dua Belas Rumah Sakit Pendidikan di Indonesia : Sebuah Analisis Epidemiologi. Buletin Gizi 2 (13) 1989. 4 Oktober 1981. hal. Seminar Hak dan Kesehatan Reproduksi. Bradman GV. 1 Januari 1991. 12. 26-29. Procd 1990. Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia.P. Studies in Family Planning Vol 23 Number 1 January/February 1992. 10. Berkala Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Jilid XX Nomor 4 Desember 1988. Maternal Health and Safe Motherhood Programme : Research Progress report 1987-1992. Study Nutritional Anemia. hal. 1-4. Kematian Maternal. Soejoenoes A. 1992. Report of the WHO Informasl Consultation on Hookworm Infection and Anemia in Girls and Women. Vol. Jurnal Jaringan Epidemiologi Nasional. . 121-135. Anemia pada Wanita Hamil. Vijayaraghavan. 11. Maternal Health and Safe Motherhood Programme Division of Family Health WHO Geneva. 83-89. Depkes. hal. pp. 1995. Affandi B. 9 April 1983. 1 Januari 1981. Beberapa Hasil Pengamatan Klinik pada Ibu Hamil dengan Anemia (Satu Studi di Rumah Sakit Pendidikan/rujukan di Indonesia). 1983. 37-42. Grant J. Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Hutabarat H. Unicef 6a. Anemia Akibat Kurang Zat Besi. 5. 2. WHO Report. Soeprono R. 13. Masalah dan Program Penanggulangannya. 1981. Pratomo H dan Wiknjosastro GH. Tahun 17 No. McCarthy J and Maine D. 1992. 31(2). 182-189. 1981. ____. 5-35. Report of Working Group on Anemia. Edisi 1 tahun 1995. Prevalence of Anaemia in Pregnancy. pp. hal. Medika. Situasi Anak-anak di Dunia 1991. Vol. Kerja sama Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi. Keadaan. WHO. 1995. Yogyakarta 1-2 Mei 1995. Kesehatan Reproduksi. 1988. 223-235. Vijayalakshmi P. 1994. Husaini MA. Ind. hal. Pengalaman Puskesmas dalam Upaya Keselamatan Ibu : Pilot Project di Beberapa Puskesmas. Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia. hal. 1994. Thangaleela T. Hak Reproduksi dan Realita Sosial. hal. Ristrini. Rao NP 1990. Jakarta 10 Maret 1989. pp. 23-33. 1989. 1989. 1992. 9. Nair KM. _____. 2 No. 1994. Geneva 5-7 December 1994 7. 7 No. Evaluation Of National Nutritional Anaemia Prophylaxis Programme. 4. Chi IC. Prevalensi Anemia Gizi. 6b. An Assessment of Information Compilation for Supporting and Formulating National Policy and Program. 1-8. Schitosomiasis and Intestinal Parasites Unit Division of Control of Tropical Disease. pp 17020. 1991. Husaini MA dan kawan-kawan. J. 57. 3.DAFTAR RUJUKAN 1. A Framework for Analyzing the Determinants of Maternal Mortality. 7 No. The Indian Journal of Nutrition and Dietetics.