BABII TINJAUANPUSTAKA

1. TINJAUAN TENT ANG Aegle marmelos 1.1 KlasiiIkasi dan Tata Nama

Divisi Anak divisi Kelas Bangsa Suku

Marga

: Spermatophyta : Angiospermae

: Dicotyledoneae : Geraniales

: Rutaceae

: Aegle

Jenis : Aegle marmelos (L) COIT. (Heyne, 1987, Backer, 1965, Bailey, 1983) 1.2 Nama Daerah (Heyne, 1987)

Sumatera : Bila, bilak

Jawa : Kawista, maja, maja ingus, bila paek, maja galepung,

maja gedang, maja lumut, majapait, maos.

Nusa Tenggara : Wabila, dilak

Sulawesi Timor

: Bila :Dilak

5

6

1.3 Habitat dan Morfologi

Pohonnya pendek, pokok lurns, tingginya hingga 15 Ill, dahan banyak berduri. Duri berada dalam ketiak daun, panjangnya 2-3 em. Tumbuh liar eli Jawa Tengah dan Jawa Timur pada ketinggian kurang 300 m diatas permukaan Iaut dan ditanam di dataran rendah di seluruh J awa.

Daunnya bertangkai panjang, bertiga, beringgit, bertitik tembus cahaya.

Bunga berwarna putih dan wangi. Buahnya seperti buah peer, warna kuning keIabu, berbau peer drops, penampangnya bergaris tengah 5-12,5 em. Buah bum, beruang 5-10, bulat panjang, kulit sangat keras, dengan lubang berisi minyak terbang, banyak lendir yang 1ekat dan menjadi keras jika dikeringkan. Biasanya yang dijual adalah yang setengah matang, diiris-iris dan dijemur. Biji berjumlah 6 sampai 10 buah melekat pada sudut dalam tiap keping, panjang, bergerombo1 rapat dan berbulu domba. Dahan atau kulit yang dibelah mengandung getah putih-kuning, dimulut terasa manis kemudian ditenggorokan terasa tajam.

(Heyne, 1987, Sastroamidjojo, 1988)

1.4 Khasiat dan Kegunaan

Seeara tradisional tanaman ini mempunyai khasiat dan kegunaan (Heyne, 1987, Sastroamidjojo, 1988) antara lain:

a. Obat pada hypochondria dan penyakit jantung

b. Pengobatan gangguan peneemaan dan radang usus

7

c. Obat anti hamil (anti fertilitas) pada wanita

d. Menyembuhkan luka-luka, penyakit kulit dan biang keringat

e. Obat disentri dan obat pencahar

f Mempunyai daya menguatkan (tonik) 1.5 Kandungan Kimia

Daunnya mengandung rutasin, aegelin, alkaloid dan marmelosin (Heyne, 1987, Sastroamidjojo, 1988).

2. TINJAUAN TENT ANG TOKSISIT AS

Ada suatu konsep yang menyatakan bahwa semua senyawa adalah racun, tidak ada satupun yang bukan racun. Takaran (dosis) yang tepatlah yang membedakan antara racun dan obat.

Konsep lain menyatakan bahwa tidak ada zat kimia yang benar-benar aman, dernikian pula tidak ada zat kimia yang seharusnya dianggap sebagai benar-benar berbahaya. Konsep tersebut menunjukkan bahwa zat kimia apapun dapat tidak membahayakan jika kadar zat kimia tersebut tidak terlalu besar. Pada kadar yang cukup besar dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan. (Donatus, 1990).

Keadaan keracunan tarnpak dari adanya gejala sakit atau simptom yang bennacam-macam, mulai dari efek lokal yang terbatas sampai sindrom yang komplek yang dapat mengakibatkan matinya organisme. Simptom, dapat terlihat di

8

dalam semua fungsi badan tergantung dari sifat zat, jalan penyerapannya, lamanya pemberian dan terutama besamya do sis. Dalam beberapa keadaan zat penyebab keracunan dapat kita ketahui meIalui gejala keracunannya, tetapi seringkali suatu simptom tidak spesifik untuk suatu zat tertentu. (Koeman, 1987).

Suatu zat kimia sedikit banyak dapat menimbulkan suatu efek yang tidak diinginkan jika kadar dati zat kimia tersebut yang masuk dalam mekanisme biologi tertentu cukup besar. Sehingga satu-satunya faktor yang paling penting yang menentukan potensi bahaya atau amannya suatu senyawa adalah hubungan antara kadar zat kimia tersebut dan efek yang ditimbulkannya atas mekanisme biologi tertentu (Loomis, 1978).

Banyak obat memiliki aksi tambahan (aksi sampingan atau efek sampingan) disamping aksi pokoknya. Aksi tambahan tersebut mungkin diinginkan mungkin tidak, dan lazimnya suatu zat kimia dapat menjadi obat jika aksi yang tidak diinginkan tidak signifikan bila dibandingkan dengan aksi yang diinginkan. Efek obat yang tidak diinginkan dia1rui berkaitan dengan dosis obatnya. Jika do sis dinaikkan, maka intensitas efek yang tidak diinginkanjuga naik. (Loomis, 1978).

Batas keamanan suatu senyawa adalah kisaran dosis antara dosis yang menimbulkan efek letal dan dosis yang menimbu1kan efek yang diinginkan. Batas keamanan ini disebut indeks terapi dan diperoleh dengan percobaan. Hasil dati percobaan tersebut dapat digambarkan dengan dua kurva melalui hubungan dosis

9

atau kadar (skala log) vs% kumulatif respon. Salah satu kurva menggambarkan

data yang diperoleh yang dimaksudkan untuk efek terapi obat, sedang kurva kedua

menggambarkan data yang diperoleh untuk efek letal obat.

Contoh hubungan antara dosis atau kadar vs % kumuIatifrespon dapat dilihat pada

gambar nomer l , dimana kurva A menggambarkan respon terapi kumulatif dan

A

B

Lq so

,L_--------~--~~r---_r--_.--·--_r~~\,"i~1

U;,.;._ D_ .1Ml hAar (.JraJe iba) ........... -

Gambar 1: Hubungan antara dosis vs% kumulatif respon (Loomis, 1978)

Efek biologi yang disebabkan oleh zat kimia bergantung pada macam efek yang

ditimbulkannya yaitu efek yang segera timbal balik (reversibel), efek yang tidak

segera timbal balik (irreversibel) dan efek yang tak berbalik (non reversibel).

Sebagian besar kerusakau jaringan karena suatu zat kimia akan timbal balik jib

10

pemberian zat kimia itu dihentikan, sehingga kadamya akan berkurang. Tetapi ada

efek-efek tertentu yang bertahan lama dalam jaringan melebihi keberadaan zat itu

sendiri. Dalam hal ini, kesembuhan dari efek biologi yang disebabkan oleh zat

kimia, tidak sejajar dengan berkurangnya kadar zat kimia yang bertanggungjawab

atas timbulnya efek (Loomis, 1978).

3. PERJALANAN RACUN DALAM TUBUB

Untuk memberikan gambaran perjalanan racun sejak masuk ke dalam

tubuh sampai keluar tubuh seperti terlihat pada skema berikut:

Racun (senyawa induk)

absorbsi

Sel sasaran reseptor

Gambar 2: Skema petjalanan racun di dalam tubuh (Donatus, 1990)

11

Masuknya racun ke dalam tubuh dapat melalui jalur intravaskular dan ekstravaskular. Jalur intravaskular adalah bila racun itu langsung masuk ke dalam pembuluh darah seperti intravena, intrakardial, dan intraarteri. Dengan cara tersebut racun akan segera tersebar atau terdistribusi ke cairan atau jaringan tubuh. Berbeda dengan ekstravaskular, masuknya racun ke dalam tubuh tidak langsung masuk ke dalam pembuluh darah, melainkan melalui tahap absorpsi terlebih dahulu. Termasuk ke dalam jalur ekstravaskular meliputi cara per oral, intramuskular, intra peritonial, subkutan, inhalasi dan lain sebagainya. Jadi beda antara intravaskular dan ekstravaskular terletak pada ada tidaknya fase absorpsi racun untuk mencapai sirkulasi darah (Klaassen, 1986).

Racun yang berada dalam sirkulasi darah atau sirkulasi sistemik (seluruh sirkulasi darah kecuali vena portal), selanjutnya akan mengalami distribusi ke tempat aksi (sel sa saran atau reseptor) dan terjadi antaraksi antara racun dan sel sasaran atau reseptor (Ritschel, 1986).

Sebelum diekskresi racun mungkin mengalami metabolisme menjadi suatu metabolit. Metabolit yang terbentuk dapat bersifat toksik atau tidak toksik. Metabolik toksik biasanya lebih tidak polar daripada senyawa induknya. Karena itu metabolit ini akan mengalami redistribusi melalui sirkulasi darah ke tempat aksi tertentu dan berantaraksi sehingga timbul efek toksik yang tak diinginkan (Ritschel, 1986).

12

Jadi ada kaitan yang erat antara perjalanan racun di dalam tubuh dan toksisitasnya. Absorpsi racun yang efektif menentukan kecepatan dan kadar racun yang ada dalam sirkulasi darah. Distribusi racun yang efektif menentukan kecepatan dan kadar racun yang ada dalam tempat aksi tertentu, dan eleminasi yang efektif menentukan kadar racun serta lama tinggal racun di temp at aksinya (Donatus, 1990).

4. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUBI TOKSISITAS

Efek toksik zat beracun terjadi akibat antaraksi zat beracun dan tempat aksinya. Tingkat ketoksikan zat beracun tersebut ditentukan oleh keberadaanya ditempat aksi dan keefektifan antaraksinya dengan aksi itu. Sedangkan keberadaan zat beracun ditempat aksi tertentu ditentukan oleh keefektifan translokasi (absorpsi, distribusi, eliroinasi)nya di dalam tubuh. Dengan demikian faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan translokasi dan keefektifan antaraksinya dengan tempat aksi tertentu akan mempengaruhi ketoksikan zat beracun.

Pada dasamya, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi ketoksikan zat beracun dapat digolongkan menjadi dua (Donatus, 1990), yaitu faktor-faktor yang berasal dari zat beracunnya (faktor intrinsik zat beracun) dan berasal dari makhluk hidupnya (faktor intrinsik makhluk bidup ).

13

4.1 Faktor Intrinsiik Zat Beracun

Pada dasamya zat beracun adalah zat kimia, karena itu toksisitasnya tidak lepas dari sifat fisika dan kimia bawaan dari zat beracun tersebut. Pada sisi lain efek toksik zat beracun diawali dengan masuknya zat beracun ke dalam tubuh. Dengan demikian selain faktor kimia tadi, aneka ragam faktor yang berkaitan dengan pemberian (exposure) zat beracunn terhadap makhluk hidup, juga merupakan penentu ketoksikannya (Donatus, 1990).

4.1.1 Faktor Kimia

Dapat digolongkan menjadi dua yaitu sifat fisika-kimia dan struktur kimia.

1. Sifat fisika kimia

Di dalam tubuh terdapat aneka ragam membran biologi yang merupakan penghalang bagi translokasi zat beracun yang memiliki sifat kimia yang khas. Senyawa yang tak polar, temyata mampu melintas semua membran biologis dengan cepat. Ketakpolaran suatu senyawa ditentukan oleh tingkat ionisasi zat beracun dalam larutan. Sedangkan tingkat ionisasi ditentukan oleh harga pKa zat beracun dan pH medium dimana zat beracun tersebut terlarut. Selain itu karena komponen lipid membran bertanggung jawab pada permeabilitas membran terhadap suatu zat kimia, maka keterlarutan zat beracun di dalam lipid, juga merupakan penentu kemampuannya melintas membran biologi (Donatus, 1990).

14

2. Struktur kimia

Aksi biologi suatu zat kimia berkaitan erat dengan struktur kimia dari zat kimianya dan komponen-komponen kimia yang ada pada tempat aksinya. Kesesuaian struktur ini merupakan salah satu penentu keefektifan antaraksi antara zat beracun dengan temp at tertentu maupun tempat metabolismenya. Untuk dapat berantaraksi dengan tempat aksi (reseptor, makromolekul atau biopolimer) atau tempat aktif enzim, maka pertama kali zat beracun harns memiliki afinitas terhadap tempat aksi khas. Selain itu agar antaraksi tersebut dapat menimbu1kann efek tertentu, maka zat beracun harus memiliki aktifitas intrinsik, yaitu kemampuan menyebabkan perubahan di dalam molekul reseptor atau tempat aksi lain (misalnya perubahan konformasi reseptor), yang merupakan tingkat awal sederetan respons perubahan biokimia baik fungsional atau struktural (Donatus, 1990).

4.1.2 Kondisi Pemberian

Yang dimaksud dengan kondisi pemberian yaitu semua faktor menentukan keberadaan zat racun di tempat aksi tertentu di dalam tubuh, berkaitan dengan pemberiannya pada diri makhluk hidup. Termasuk didalamnya adalah jenis pemberian, jalur pemberian, lama dan kekerapan pemberian, waktu pemberian dan juga takaran pemberian.

15

1. Jenis pemberian

Ada 2 jenis yaitu pemberian akut dan kronis. Pemberian akut berkaitan dengan peristiwa tunggal dilnana sejumlah zat racun masuk ke dalam makhluk hidup. Sedangkan pemberian kronis terjadi pada pemberian berulang kali sehingga menyebabkan efek toksik yang kumulatif Berdasarkan atas jenis kondisi pemherian tersebut maka dikenal apa yang disebut toksisitas akut dan toksisitas kronis (Donatus, 1990)

2. Jalur pemberian

Jalur pemberian akan menentukan ketersediaan zat racun pada tempat aksinya. Hal ini berkaitan dengan keefektifan absorpsi zat beracun, semakin efektif absorpsinya berarti semakin cepat dan besar kadar racun yang berada di sirkulasi sistemik untuk didistribusikan ketempat aksinya. Jalur pemherian intravena menimbulkau efek toksik tanpa memerlukan absorpsi racun. Keefektifan absorpsi racun setelah jalur intravena berturut-turut adalah: inhalasi, intraperitonial, subkutan, intramuskular, dermal dan oral (Donatus, 1990).

3. Lama dan kekerapan pemberian

Lama pemberian zat beracun yaitu batas kurun waktu pemberian suatu zat beracun terhadap makhluk hidup. Sedangkan kekerapan pemberian adalah batas pemherian zat beraeun terhadap makhluk hidup setiap satuan waktu,

16

dengan dosis serta melalui jalur pemberian tertentu. Kekerapan dan lama pemberian juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi ketoksikan suatu racun. Maksudnya senyawa toksik yang diberikan sekali atau pemberian akut selama satu kurun waktu tertentu, mungkin akan menimbulkan efek toksik yang berbeda dengan yang ditimbulkan oleh pemberian berulang atau pemberian kronis (Donatus, 1990).

4. Waktu pemberian

Waktu pemberian akan berpengaruh pada ketersediaan zat racun ditempat aksinya, yang dikenal sebagai faktor diurnal. Maksudnya ketersediaan zat beracun ditempat aksi tertentu, mungkin dapat beragam karena perbedaan waktu pemberian, misalnya di pagi, siang atau sore hari. Keadaan ini mungkin berkaitan dengan adanya perbedaan kecepatan metabolisme zat beracun diantara waktu pemberian itu (Donatus, 1990).

5. Dosis pemberian

Dosis merupakan salah satu faktor penting yang menentukan ketoksikan suatu zat beracun. Sebagaimana pemah dikatakan oleh Paracelsus bahwa yang membedakan antara racun dan obat adalah ketepatan dosisnya. Pemyataan ini mengandung makna bahwa ada hubungan antara dosis pemberian dengan efek yang ditimbulkan. Bila sederetan dosis zat beracun diberikan pada subyek makhluk hidup, maka akan ditemukan batas efek minimum dan batas toksik

17

minimum Keadaan ini berkaitan dengan ketersediaan zat beracun atau metabolitnya ditempat aksi tertentu (Donatus, 1990).

4.2 Faktor Intrinsik Makhluk Hidup

Meliputi keadaan fisiologi dan keadaan patologi, penyimpanan racun makanan di dalam diri makhluk hidup, genetika dan kapasitas fungsional cadangan (Donatus, 1990).

4.4.1 Keadaan Fisiologi

Keadaan fisiologi banyak berkaitan dengan keefektifan antaraksi antara zat beracun dan sel sasaran serta ketersediaan zat beracun disel sa saran. Diantaranya yaitu berat badan, umur, suhu tubuh, kecepatan pengosongan lambung, kecepatan alir darah, status gizi, kehamilan, genetika, jenis kelamin, kapasitas fungsional cadangan, penyimpangan zat beracun dan ritme sirkadian diurnal.

1. Berat badan

Kondisi fisiologis ini berkaitan dengna kadar racun didalam tubuh. Seseorang dengan berat badan yang besar racun cenderung kecil, sebaliknya untuk individu dengan berat badan rendah. Karena itu pada umumnya dosis yang diperlukan agar ketersediaan racun di sel sasarannya dapat menimbulkan efek toksik, relatif besar bagi individu dengan berat badan yang besar (Donatus, 1990).

18

2. Umur

Bayi memiliki komposisi tubuh yang berbeda dengan individu dewasa, temtama berkaitan dengan jumlah dan distribusi cairan tubuh dan lemak. Selain itu fungsi hati dan ginjal pada bayi belum berkembang dengan sempuma. Pada usia lanjut fraksi massa tubuh berkurang sedang jaringan lemak meningkat, kecepatan aliran darah ke berbagai organ berkurang, demikian juga fungsi ginjal dan kecepatan eliminasi (Shargel dan Yu, 1988).

3. Jenis kelamin dan kehamilan

Kedua keadaan ini menimbulkan perbedaan dan perubahan sistem hormon, terutama berkaitan dengan kapasitas metabolisme (Balls, Riddel dan Worden, 1983).

4. Suhu tubuh

Berkurangnya suhu tubuh (hipoterroi) mungkin akan mempengaruhi translokasi zat beracun di dalam tubuh. Demikian pula kondisi hipertermi Kedua kondisi ini mungkin akan menyebabkan perubahan volume distribusi, dengan demikian juga akan menentukan ketersediaan racun ditempat aksinya (Donatus, 1990).

5. Kecepatan pengosongan lam bung

Kondisi ini erat kaitannya dengan keefektifan absorpsi zat beracun dari . saluran cerna. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan pengosongan

19

lambung meliputi jumlah dan jenis makanan yang padat, jumlah cairan, pH, posisi tubuh, adanya tekanan (stress) atau antaraksi dengan senyawa lain. Semak:in cepat pengosongan lam bung pada umumnya semakin cepat pula absorpsi zat racun. Dengan demikian keberadaannya di sirkulasi darah semak:in cepat. Karena itu kecepatan pengosongan lambung juga merupakan faktor penting yang dapat menentukan ketoksikan zat beracun (Donatus, 1990).

6. Kecepatan alir darah

Translokasi racun makanan di dalam tubuh bergantung pada kecepatan aliran darah, karena perfusi jaringan bergantung pada pasok darah di sekitar jaringan. Kecepatan aliran darah dipengaruhi o1eh berbagai faktor meliputi keadaan istirahat, hipotermi, syok. Gangguan jantung akan mengurangi kecepatan aliran darah sedang olahraga meningkatkan kecepatan aliran darah. Adanya perubahan kecepatan aliran darah karena berbagai faktor tersebut tentunya akan mempengaruhi keefektifan absorpsi, distribusi, dan eliminasi zat beracun di dalam tubuh. Akibatnya akan mempengaruhi ketersediaan zat beracun di sel sasaran (Donatus, 1990).

7. Status gizi

Status gizi seseorang dapat mempengaruhi aktivitas sistem enznn pemetabolisme senyawa asing. Terutama di negara yang berkembang banyak

20

dijumlai kondisi mal gizi karena kekurangan protein atau vitamin. Ketidakcukupan sintesis protein, dapat menyebabkan bipoalbuminemi dan mengurangi kecepatan metabolisme senyawa asing. Gangguan terhadap sintesis protein akan menyebabkan perubahan volume distribusi zat beracun, sehingga fraksi zat beracun yang terikat protein menjadi lebih tinggi. Akibatnya ketersediaan zat beracun di tempat aksinya mungkin juga dapat meningkat. Dengan cara demikian ketoksikan zat beracun mungkin juga dapat meningkat. Keadaan ini juga dapat terjadi karena penumpukan zat beracun di dalam tubuh akibat berkurangnya kapasitas metabolisme.

8. Irama sirkadian dan diurnal

"Jam biologis" yang mengendalikan irama aneka ragam proses bidup di dalam tubuh, dibagi menjadi dua yaitu irama sirkadian dan irama diurnal. Irama sirkadian ialah aktivitas di dalam tubuh yang disebabkan oleh irama endogen (hormonal), sedang irama diurnal disebabkan oleh penyelaras-penyelaras ekstemal misalnya gelap-terang, tidur-bangun dl1 (Ritschel, 1986). Seperti telah diungkapkan sebelumnya kondisi saat pemberian dapat mempengaruhi keefektifan metabolisme dan ekskresi beberapa senyawa asing, keadaan ini berkaitan dengan faktor diurnal Dengan demikian faktor irama sirkadian dan diurnal, erat kaitannya dengan saat pemberian racun pangan, terutama dalam hubungan dengan ketersediaan racun di tempat aksinya. Satu jenis zat

21

beracun mungkin dapat berbeda ketoksikannya bila saat pemberian racun itu berbeda, misalnya yang diberikan pagi dan rnalam hari. Keadaan ini dapat terjadi akibat faktor irama diurnal Dengan demikian akan mempengaruhi ketersediaan racun di tempat aksi (Donatus, 1990).

9. Faktor genetika

Faktor genetika dapat mempengaruhi toksisitas racun, Pengaruh tersebut disebabkan oleh cacat genetika pada sistem metabolisme, deposisi atau tempat aksi racun negatif bagi individu terhadap toksisitas racun makanan. Berdampak positif bila cacat genetika menyebabkan individu resisten terhadap toksisitas racun makanan. Berdampak negatif bila cacat genetika menyebabkan individu lebih rentan terhadap toksisitas racun makanan (Donatus, 1990).

10. Penyimpanan zat beracun dalam diri makhluk hidup

Protein, lemak dan tulang merupakan tempat penyimpanan senyawa di dalam tubuh, sehingga memungkinkan tetjadinya penumpukan atau akumulasi racun dalam tempat penyimpanannya terutama bila interval masuknya racun lebih kecil daripada harga tYmya (Donatus, 1990).

11. Kapasitas fungsional cadangan

Pada dasamya berbagai organ memiliki kapasitas cadangan yang akan digunakan bila sebagaian : kapasitas fungsional organ tidak dapat bekerja

22

sebagaimana mestinya. Misa1nya bila sebagian sel-sel hati mengalami kerusakan, maka tidak berarti bahwa secara keseluruhan hati tidak mampu menjalankan berbagai fungsinya. Fungsi sel yang rusak itu dapat digantikan oleh sel-sel yang lain, yang sebelum teIjadinya kemsakan sengaja tidak melakukan aktivitas fungsional tertentu. Jadi organ hati dikatakan memi1iki kapasitas fungsional cadangan. Namun adanya kapasitas fungsional cadangan ini tidak selalu memberikan manfaat, terutama bila dikaitkan dengan ketoksikan zat beracun. Hal ini disebabkan adanya kapasitas fungsional cadangan itu justru dapat menutupi efek toksik zat beracun yang masih dalam tingkat ringan (Donatus, 1990).

4.2.2 Keadaan Patologi

Termasuk keadaan patologi adalah penyakit hati, ginjal.

1. Penyakit Hati

Hati adalah tempat utama metabolisme zat beracun dalam tubuh. Oleh karena itu benar jika dikatakan bahwa penyakit yang mempengaruhi hati adalah penyakit yang banyak mempengaruhi metabolisme. Penurunan kemampuan hati untuk memetabolisme zat beracun tersebut disebabkan karena penurunan aktivitas enzim dalam bati, berubahnya aliran darah hepatik, hipoalbuminemia yang menyebabkan pengikatan plasma terhadap zat racun menurun (Gibson dan Skett, 1991).

23

2. Penyakit ginjal

Ginjal merupakan organ yang paling penting dalam pengaturan kadar .cairan tubuh, keseimbangan elektrolit dan ekskresi metabolit-metabolit sisa dan zat racun dari tubuh. Gangguan fungsi ginjal menyebabkan kemampuan ginjal membersihkan zat racun dalam tubuh menjadi berkurang. Hal tersebut memungkinkan keberadaanya di tempat aksi, dan menyebabkan toksisitas. Jadi pada dasarnya gangguan fungsi ginjal dapat mempengaruhi keefektifan ekskresi dan distribusi zat beracun (Shargel dan Yu, 1988, Donatus, 1990).

5. METODE PENGUJIAN TOKSIKOWGI

Prinsip-prinsip umum yang dipakai dalam metode pengujian toksikologi sebagai berikut. Pertama, agar suatu zat kimia dapat menimbulkan efek biologi, zat kimia itu harus segera berikatan dengan sel-sel biologi tersebut. Kedua, tiap-tiap senyawa kimia mempunyai takaran dan dosis tertentu, dimana di bawah dosis tersebut tidak dihasilkan efek-efek yan~ dapat diamati terhadap semua sistem biologik, Dosis yang dapat menghasilkan efek signifikan pada semua sistem biologik juga dipunyai oleh senyawa itu.

Di antara kedua dosis itulah terletak dosis-dosis dimana senyawa akan menghasilkan suatu efek yang signifikan terhadap beberapa tipe sistem biologi.

24

Ketiga, sel-sel dalam berbagai macam spesies yang memiliki fimgsi serupa dan memiliki jalur metabolik yang serupa, pada umumnya dengan can yang sarna akan dipengaruhi oleh zat kimia tertentu.

Keempat, pembahan kecil yang terjadi pada struktur suatu zat kimia akan sangat berpengaruhpada aksi biologiknya (Loomis, 1978).

Pada umumnya segala metode uji toksikologi dapat dibagi menjadi dua golongan. Pertama, terdiri dari uji toksikologi yang dirancang untuk mengevaluasi rancangan keseluruhan efek umum suatu senyawa pada hewan eksperimental, seperti uji toksisitas akut, uji toksisitas kronis, uji toksisitas subkronis, Kedua, terdiri dari uji toksikologi yang dirancang untuk mengevaluasi dengan rinci tipe toksisitas spesifik, seperti uji potensi, uji teratogenik, uji reproduksi, uji mutagenik, uji perilaku, uji kemampuan tumorigenisitas dan karsinogenisitas, uji untuk menentukan efek lokal suatu zat pada kulit (Loomis, 1978).

5.1 Tujuan Studi Toksisitas

Sebagai langkah awal untuk melindungi konsumen terhadap kemungkinan bahaya keracunan, ada manfaat yang dapat diperoleh dari studi toksisitas ini antara lain:

1. Untuk mendapatkan gejala-gejala yang mungkin timbul akibat pemberian suatu bahan.

2. Untuk mengetahui batas keamanan dari suatu bahan.

25

3. Untuk mengetahui derajat kematian hewan coba akibat pemberian suatu bahan. 5.2 Macam Studi Toksisitas

Banyak macam studi toksisitas yang dapat dilakukan dalam rangka menunjang keamanan suatu obat, antara lain:

5.2.1 Toksisitas Akut

Uji toksisitas akut adalah uji tunggal yang dilakukan terhadap bahan-bahan kimia dengan sifat-sifat biologik tertentu dengan cara pemberian bahan tersebut kepada hewan coba dalam satu kali percobaan. Uji ini hampir selalu dilakukan pada setiap program skrining. Uji berawal dari pemberian berbagai dosis bahan obat kepada satu jenis spesies binatang. Untuk pelaksanaannya harus ditentukan cara-cara pemberiannya, larutan bahan obat serta pemilihan binatang coba yang tepat (Loomis, 1978).

Pemeriksaan toksisitas akut biasanya dilakukan dengan menggunakan tikus atau mencit sebagai binatang coba. Semua binatang yang dipakai untuk percobaan toksisitas akut harus berada dalam kondisi sehat dan dapat diamati selama periode waktu tertentu. Percobaan diawali dengan penentuan dosis bahan obat, dilakukan atas dasar toksisitas yang diharapkan dapat dipelajari dari struktur senyawa atau dari senyawa-senyawa yang berstruktur serupa yang sudah pernah dicoba sebelumnya (Loomis, 1978).

26

Tolok ukur yang digunakan untuk uji toksisitas akut adalah letal dose 50%, yaitu besamya dosis yang dalam kondisi spesifik dapat menyebabkan kematian separo dari jumlah populasi hewan uji dalam suatu waktu tertentu (Loomis, 1978).

5.2.2 Teksisitas Kronik

Dilakukan dalam selang waktu 1-4 minggu untuk toksisitas kronik jangka pendek (seringkali disebut sebagai toksisitas subkronik) atau 3-24 bulan untuk toksisitas kronik jangka panjang.

Tujuan utama toksisitas kronik adalah untuk menguji keamanan suatu obat. Studi ini penting karena dapat untuk mengamati kemungkinan adanya gejala yang tidak atau belum terlihat pada studi toksisitas akut dengan dosis tunggal. Pengamatan gejala juga dilakukan sebagaimana yang tercantum dalam toksisitas akut, selain itu juga dilakukan pemeriksaan kemungkinan tetjadinya pertambahan atau penurunan berat badan (Loomis, 1978).

5.2.3 Toksisitas Spesiflk

Meliputi uji iritasi, alergenitas, karsinogenitas, teratogenitas, fertilitas maupun uji terhadap kulit, mata dan kebiasaan.

Kesulitan yang sering timbul pada uji toksisitas spesifik adalah lama pengamatan yang harus dilakukan serta hewan coba yang biasanya tidak hanya terdiri dari satu jenis saja (Loomis, 1978).

27

6. HIPOTESA

Daun maja berasal dari tanaman Aegle marmelos (L). Corr. dari suku Rutaceae, diketahui mempunyai kandungan kimia yang diduga bersifat toksis -. Daun ini digunakan masyarakat sebagai obat tradisional.

Melalui uji toksisitas akut yang terukur dalam LD50 dapat ditentukan katagori toksisitas dari infusa daun maja.