Kesalahan dalam Mengartikan Demokrasi sebagai Latar Belakang Berkembangnya Politik Dinasti oleh: Rizky Ananda Wulan Sapta

Rini, 1006694574

Data Publikasi: 1. Soemiarno, Slamet, Hari Kartono, Susiani Purbaningsih. 2010. Buku Ajar III, Bangsa, Budaya, dan Lingkungan Hidup di Indonesia. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. 2. Zulkieflimansyah. 2009. ³Dari Politik Dinasti, Nepotisme Kekuasaan ke Budaya Partisipisan´. www.rumahdunia.net/wmview.php (23 November 2010: 18.35).

Dewasa ini, politik dinasti semakin sering terdengar. Politik dinasti bagaikan suatu trend yang menandakan terjadinya perubahan-perubahan pada masyarakat, baik dalam aspek nilai dan norma yang berlaku maupun pandangan masyarakat itu sendiri. Selain itu, politik dinasti juga menggambarkan kondisi masyarakat yang semakin haus akan kekuasaan juga kekayaan. Hal tersebut diiringi dengan semakin berkembangnya paham demokrasi. Selanjutnya, muncul satu pertanyaan, apakah perkembangan demokrasi termasuk hal yang melatarbelakangi berkembangnya politik dinasti? Politik dinasti adalah politik yang bersifat menutup kemungkinan pihak luar untuk berpartisipasi sehingga politik tersebut seolah-olah hanya dihuni atau dinaungi oleh pihakpihak tertentu (Soemiarno, Slamet dkk., 2010: 123) . Definisi tersebut merupakan suatu gambaran atas realita yang ada dan berkembang di dunia perpolitikan Indonesia, dimana banyak sekali ditemui istri atau suami yang mencalonkan diri pada pemilihan kepala daerah atau wali kota yang pada periode sebelumnya istri atau suami dari calon tersebut memegang jabatan. Peristiwa tersebut merupakan suatu hal yang wajar dalam penerapan paham demokrasi. Demokrasi dapat didefinisikan sebagai pemerintah dari rakyat untuk rakyat dan kepada rakyat, dimana kedaulatan berada di tangan rakyat. Paham ini menjelaskan secara gamblang bahwa setiap individu memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat dengan cara -cara yang telah ditentukan, memilih dan dipilih dalam berbagai kesempatan juga membentuk organisasi-organisasi baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial juga budaya. Terdapat beberapa konsep yang berkaitan dengan demokrasi, diantaranya adalah kebebasan, kebersamaan, keteraturan dan accountability (Soemiarno, Slamet dkk., 2010: 40). Dengan selesainya rezim orde baru yang notabene bersifat otoriter, masyarakat merasa bebas, dimana hal ini sesuai dengan paham demokrasi yang telah diperjuangkan dengan

dimana seharusnya kebebasan ini masih dibatasi dengan adanya aturan-aturan yang berlaku. Tetapi demokrasi yang mereka agungagungkan tersebut bukanlah demokrasi yang mengandung konsep-konsep yang telah dijelaskan sebelumnya. Sehingga dapat disimpulkan politik dinasti mematikan paham demokrasi yang sebenarnya. 2010). yaitu tidak sesuai dengan kualifikasi dan aturan yang ada. Tetapi pihak yang mencalonkan diri tersebut justru menyalahi aturan. Masyarakat yang dulunya dipasung oleh rezim otoriter Soeharto. karena setiap orang berhak mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. bukan karena perkembangan paham demokrasi. politik dinasti merupakan hal yang bersifat negatif dan selanjutnya bisa merusak tatanan politik yang kini tengah berkembang. Melihat uraian di atas. banyak pihak yang berkaitan dengan politik dinasti berdalih bahwa politik dinasti merupakan penerapan demokrasi. Politik dinasti ini dapat berkembang karena masyarakat yang kurang memahami arti dari demokrasi. Pernyataan di atas menunjukkan masyarakat Indonesia belum siap menghadapi paham demokrasi yang berkembang dan hal ini menghasilkan penyalahartian paham demokrasi. melainkan posisi tersebut dikhususkan bagi pihak-pihak elite tertentu (Zuelklifmansyah.sekuat tenaga oleh masyarakat Indonesia dulu. Hubungan antara paham demokrasi dan politik dinasti adalah paham demokrasi yang disalahartikan akan berdampak pada berkembangnya politik dinasti. Hal ini dikarenakan masyarakat terbawa oleh euforia demokrasi. . Meskipun pada penerapannya. selanjutnya diberi kebebasan untuk melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan kemauannya.