Artikel : Ekonomi Islam - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits - NULL, Kode Etik Pengembangan Modal oleh : Prof.Dr.

Abdullah al-Mushlih & Prof.Dr.Shalah ash-Shawi Bahasan Pertama: Larangan Memperdagangkan Barang Haram Telah dijelaskan sebelumnya bahwa asal dari jual beli adalah halal, kecuali bila ada dalil yang mengharamkannya, berdasarkan firman Allah, artinya: "Dan Allah menghalalkan jual beli serta mengharamkan riba." (AlBaqarah: 275). Telah diriwayatkan nash-nash atau dalil tegas yang mengha-ramkan banyak bentuk jual beli, seperti jual beli minuman keras, bangkai, babi dan sejenisnya. Tidak diragukan lagi bahwa apabila Allah mengharamkan sesuatu, pasti Allah juga mengharamkan menjualnya. Maka semua keuntungan yang berasal dari penjualan itu juga haram, karena dianggap cara mencari rizki yang kotor, berasal dari usaha yang rusak. Di antara nash-nash yang menun-jukkan kesimpulan itu adalah sebagai berikut: Diriwayatkan oleh Jabir y bahwa ia pernah mendengar Rasulullah a bersabda: "Sesungguhnya Allah mengharamkan menjual minuman keras, bangkai, daging babi dan patung." Dalam lanjutan hadits: "Semoga Allah memerangi orang-orang Yahudi (terdahulu). Ketika Allah mengharamkan lemak hewan, mereka melelehkannya kemudian menjual dan memakan hasilnya." Dari Ibnu Abbas y diriwayatkan bahwa Nabi a pernah bersabda: "Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi. Ketika Allah mengharamkan lemak hewan, mereka kemudian menjual dan memakan hasilnya. Dan sesungguhnya apabila Allah melarang suatu kaum memakan sesuatu maka Ia pun melarang hasilnya." Diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Abbas y bahwa ada seorang lelaki yang memberi hadiah kepada Nabi satu wadah minuman keras. Nabi a bertanya kepadanya, "Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah telah mengharamkan minuman keras." Orang itu menjawab: "Tidak." Lalu lelaki itu membisikkan sesuatu kepa-da temannya. Rasulullah a

Apa dia tidak mengetahui bahwa Rasulullah a telah bersabda. Karena nilai jual itu ditentukan oleh penghalalan syariat. "Sesungguhnya yang telah diharamkan oleh Allah untuk diminum juga diharamkan untuk dijual." Beliau bersabda." Komoditi yang diharamkan itu asalnya tidaklah memiliki nilai jual alias tidak berharga menurut syariat. Rasulullah a keluar dan bersabda. Perdagangan Perhiasan Emas dan Perak Termasuk yang berkaitan dengan pembicaraan tentang per-dagangan komoditi haram atau barang-barang syubhat yang amat perlu untuk diketahui dan dikaji secara mendetail hal-hal yang masih samar di antaranya adalah perdagangan yang amat populer sekarang ini dengan adanya trend kaum lelaki yang mengenakan (memakai) perhiasan emas. karena mereka telah mencampakkan segala macam kode etik dari perhi-tungan mereka secara total. Perdagangan itu menjadi sebuah perniagaan yang amat menguntungkan sekali dan memberikan banyak uang kepada para pedagangnya. Beliau berkata. 'Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi. mereka mengolahnya kemudian menjual dan memakan hasilnya. "Apa yang engkau bisikkan kepadanya?" Lelaki itu menjawab. Bagi mereka sama saja antara proyek perjudian dengan proyek pembangunan. " Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas y bahwa Ibnu Abbas menceritakan. bukan sekedar bisa diterima dan dinilai memiliki harga jual oleh masyarakat. "Umar y pernah mendengar berita bahwa ada seorang lelaki yang menjual minuman keras. "Aku menyuruhnya menjualnya saja. bahwa ketika diturunkan ayat-ayat terakhir surat al-Baqarah." Maka lelaki itupun membuka tutup wadah minuman itu dan menumpahkan seluruh isinya. Ketika Allah mengharamkan lemak hewan. baik itu emas murni atau sekedar sepuhan emas. "Diharamkan memperdagangkan minuman keras.bertanya lagi. 'Semoga Allah melaknat si Fulan itu. Sejauh mana perdagangan itu diboleh-kan? Apakah hukumnya sudah pasti sehingga tidak pantas lagi diperdebatkan dan tidak ada lagi perselisihan di dalamnya? Atau masih termasuk perkara syubhat dan masalah yang menjadi objek ijtihad? Itulah yang kami . Amatlah jelas bahwa persoalan ini merupakan keistimewaan ekonomi Islam.' Arti mengolahnya di sini adalah melelehkannya. Dari Aisyah i diriwayatkan. Karena ekonomi buatan manusia tidak membeda-kan antara yang halal dengan yang haram.

baik itu yang berbentuk cincin. qassiy dan bejana perak. "Rasulullah a melarang tujuh hal: mengenakan cincin emas. Di antara dalil-dalil itu misalnya: Rasulullah a melarang mengenakan cincin emas." Demikian juga sabda Nabi a yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan yang lainnya. sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi 'auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. bahkan mengancam kaum lelaki yang mengenakannya. model lain). Diri-wayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dengan sanad kedua perawi tersebut. Pakaian adalah yang biasa dikenakan." Para ahli hadits telah menjadikan pengharaman kedua barang itu sebagai judul bab dalam buku-buku mereka. lalu mengambil emas dan meletakkan di tangan kiri. dari al-Barra bin Azib bahwa ia menceritakan. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim juga. Karena banyak hadits-hadits yang shahih dan tegas yang mengharamkan emas murni itu bagi mereka. Arti Memakai Arti pakaian atau perhiasan dalam konteks ini adalah segala sesuatu yang melekat di badan dan dikenakan. dibaj (sutera.canangkan untuk dijelaskan dalam lembar-lembar berikut ini. istibraq (sejenis sutera tebal). kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya dua barang ini diharamkan untuk kaum lelaki umatku. atau kalung emas. dari Abu Musa al-Asy'ari: "Diharamkan mengenakan sutera dan emas bagi kaum lelaki umatku. mahkota dan sejenisnya. Dan pakaian takwa itulah yang baik. Diharamkannya Emas Murni Bagi Kaum Lelaki Para ulama telah bersepakat tentang diharamkannya emas murni bagi kaum lelaki. gelang. atau melekat di pakaian itu sendiri sehingga terlihat." Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan yang lainnya. Maka hendaklah kamu bersyukur(kepada Allah). maitsirah berwarna merah. bahwa Nabi melarang me-ngenakan cincin emas. Allah q berfirman: "Hai anak Adam. namun dihalalkan bagi kaum wanita mereka. baik itu baju atau baju besi. sutera." (Al-A'raf: 26). ."(Al-Anbiya’: 80). dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah a pernah mengambil sehelai sutera dan meletakkannya di tangan kanan. Allah juga berfirman: "Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu. guna memelihara kamu dalam peperangan. dari Abu Hurairah.

al-Gazhali dan sebagian ulama Syafi'iyah. Para ulama berbeda pendapat tentang arti terpotong-potong: apakah artinya berjumlah sedikit sebesar cincin wanita. Ini adalah pendapat kalangan Syafi'iyah dan Malikiyah. Ada beberapa pendapat di kala-ngan mereka: Ada yang berpendapat hukumnya boleh apabila hanya sedi-kit dan hanya sebagai hiasan sampingan. pendapat ter-akhir inilah yang paling tepat. Dalam Sunan Ibnu Majah. Ada juga yang mengharamkannya secara mutlak. dengan alasan-alasan sebagai berikut: Adapun dibolehkannya emas dalam jumlah sedikit adalah berdasarkan dalil-dalil berikut: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya. Bab: Diharamkannya mengenakan emas dan diharamkannya emas bagi kaum lelaki. Sesuai dengan konsekuensi teori yang ada. Ada juga ulama yang mengharamkan hiasan emas secara mutlak.Dalam Shahih Muslim disebutkan. Abu Daud dan an-Nasa’i dari hadits Muawiyah bahwa Rasulullah a me-larang menggunakan emas kecuali yang terpotong-potong. bukan menjadi tujuan utama. Ada juga yang mengharamkan hiasan emas secara mutlak dan membolehkan hiasan perak juga tanpa batasan. Ini adalah pendapat kalangan Hanafiyah: Ada juga ulama yang membatasi hiasan yang sedikit dan hanya sampingan itu. hiasan telapak tangan dan . kalau jumlahnya hanya pa-ling banyak empat jengkal atau kurang. namun membolehkan perak bila jumlahnya sedikit. namun membolehkan hiasan perak tanpa batasan sama sekali. seperti bendera. bahwa ukurannya juga hanya empat jengkal saja atau kurang. Bab: Larangan mengenakan cincin emas. Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah dan ulama yang mengikuti pendapat beliau. kalung dan antingnya? Atau yang sedikit dan menjadi hiasan tambahan bukan hiasan utama bagi kaum lelaki. Menghiasi Pakaian dengan Emas dan Perak Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menghiasi pakaian dengan emas dan perak. Ada juga yang membolehkan emas bila jumlahnya sedikit dan hanya sebagai hiasan tambahan. Dalam Sunan an-Nasa’I disebutkan. Bab: Diharamkannya cincin emas bagi kaum lelaki dan dihapusnya hukum pembo-lehannya di awal Islam. Ini adalah pendapat Ibnu Hazm.

Karena di situ digabungkan antara haramnya sutera dengan haramnya emas. Emas adalah salah satu dari dua barang yang diseiringkan oleh Nabi dalam menyebutkan keharamannya bagi kaum lelaki. Keringanan motif dan rumbai-rumbai dari sutera juga merupakan keringanan untuk emas dengan indikasi . tidak bagi kaum wanita. juga berlaku bagi jenis lain-nya dengan cara yang sama. namun dihalalkan bagi kaum wanita mereka." Demikian juga yang diriwayatkan oleh Muslim." Yang dalam bentuk potongan itu adalah emas dan perak. jelas kesimpulan yang bertentangan dengan alur kalimat dan bertentangan juga dengan keumuman berbagai dalil yang menjelaskan dibolehkannya emas bagi kaum wanita. Indikator dalam kedua hadits ini bahwa masing-masing dari motif. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Umar bin alKhaththab y bahwa Nabi a pernah melarang me-ngenakan sutera kecuali seukuran dua jari. Emas dan sutera sama derajat keharamannya. tiga atau empat jari.sejenisnya? Yang membuktikan bahwa artinya adalah yang sedikit dan menjadi hiasan tambahan bukan hiasan utama bagi kaum lelaki yaitu dalil berikut: Emas yang dibolehkan untuk kaum wanita bersifat umum. baik itu yang terpotong-potong maupun yang utuh. Dialamatkan-nya larangan mengenakan sutera untuk kaum lelaki dan larangan mengenakan emas untuk kaum wanita. Padahal jelas bahwa keduanya itu halal bagi kaum wanita. Maka keringanan yang diberikan pada salah satunya bila jumlahnya sedikit." Emas yang hanya dijadikan sebagai hiasan tambahan dibo-lehkan sebagaimana sutera yang dijadikan sebagai hiasan tam-bahan. hiasan dan rumbai-rumbai (dari sutera) dibolehkan karena jumlahnya sedikit dan hanya merupakan hiasan tambahan. Bahwa berbagai riwayat lain dari hadits itu mengunggulkan pendapat bahwa yang dimaksud dalam hadits itu adalah kaum lelaki. Bahwasanya Nabi a menjadikan sutera dan emas dalam satu hukum melalui sabda beliau. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Muawiyah bahwa Rasulullah a melarang menge-nakan sutera dan emas kecuali dalam bentuk potongan. Sehingga larangan dan pengecualian itu hanya untuk kaum lelaki. "Diharamkan mengenakan sutera dan emas bagi kaum lelaki umatku. dari Asma binti Abi Bakar bahwa Rasulullah pernah mengenakan jubah yang memiliki dua lubang lengan yang dihiasi dengan sutera tipis. bukan kaum wanita.

Gunakanlah perak itu untuk bermain-main. Dan barangsiapa yang ingin mengenakan cincin dari api Neraka kepada orang yang dikasihinya. hendaknya ia mengenakan kepadanya cincin dari emas. Namun hendaknya kalian mengenakan perak. maka itu dilarang berdasarkan nash-nash umum yang mengharamkan (kaum lekaki) mengenakan emas. Barangsiapa yang ingin mengenakan gelang dari api Neraka kepada orang yang dikasihinya. bukan jumlah sedikit yang hanya menjadi hiasan sampingan. Dalil-dalil umum yang dijadikan alasan oleh mereka yang melarangnya dikhususkan oleh hadits-hadits larangan terhadap emas selain yang terpotong-terpotong seperti disebut sebelumnya. Sementara alasan bahwa emas yang digunakan sebagai hiasan itu meskipun sedikit tetapi bisa menyebabkan terjadinya tabdzir dan sikap sombong. tiga atau empat jengkal. maka itu berdasarkan dalil-dalil berikut: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya dan Abu Daud dari hadits Abu Qatadah bahwa Nabi a pernah bersabda: "Barangsiapa yang ingin mengalungi orang yang dikasihinya dengan kalung dari api neraka. Kesimpulan demikian diambil untuk mengkompromikan antara nash-nash yang ada dan untuk dapat mengamalkan semua dalil yang ada. Namun selain itu. Keumuman dalil-dalil yang mengharamkan sutera juga dikhusus-kan oleh riwayat yang memberi keringanan untuk sutera dengan ukuran dua. silakan kalian gunakan sekehendak hati kalian." Artinya.dalil yang sama. itu ditafsirkan bila cincin ter-sebut terbuat dari emas saja. Bisa dijawab. maka hendaknya ia mengalungi kekasihnya dengan kalung dari emas. Itu hanyalah dalil logika yang bertentangan dengan nash. hendaknya ia mengenakan kepadanya gelang dari emas. Syariat telah memberikan keringanan pada rumbai-rum-bai. Adapun alasan dengan larangan Rasulullah terhadap orang yang mengenakan cincin dari emas. Rumbairumbai itu sendiri terkadang terbuat dari campuran sutera dan terkadang dari campuran emas. Sementara berkaitan dengan dibolehkannya mengenakan perhiasan perak tanpa batasan sebagai perhiasan mubah. bahwa apabila sampai pada batas bermewah-mewahan. sehingga tidak dapat dijadikan acuan. tetap dibolehkan. .

apalagi bila harus bertentangan dengan dalil-dalil umum lainnya. maka harus ditambahkan huruf ta' diakhirnya. Sedangkan pembolehan perak secara bebas dalam masalah bejana adalah tidak ada. Sementara secara etimologi. Pakaian emas dan perak dibolehkan seca-ra mutlak bagi kaum wanita. atau hanya sebagai hiasan sam-pingan. seperti hiasan pada sebilah pedang. . Karena qiyas itu juga dengan perbedaan alasan yang jelas. Dalam hadits sudah disebutkan dibolehkannya perak untuk dijadikan perhiasan secara terpisah. Dalil lain adalah penggunaan kaidah istishab bara’ah ashliyah (asal dari segala sesuatu dihukumi dengan hukum terakhir yang melekat padanya sebelum mengalami perubahan). Maka mana mungkin bisa dibuat qiyas dengan adanya perbedaan yang jelas antara emas dan perak ini? Lemahnya alasan yang menyamakan antara pakaian berhias perak dengan emas karena kedua hiasan itu sama-sama diharam-kan dalam bentuk bejana. tetapi tidak boleh lebih berat dari satu mitsqal. Karena di sini kata itu tidak menggunakan ta'. Adapun hadits: "Silahkan buat dari perak. Emas sedikit yang hanya menjadi hiasan sampingan dibolehkan." adalah hadits lemah yang tidak bisa dijadikan hujjah. bukan wanita atau istri. tanpa ada perbedaan pendapat. seperti cincin. bukan wanita. Karena qiyas itu bertolakbelakang dengan nash. Semen-tara perak justru dibolehkan sebagai perhiasan tersendiri maupun sebagai hiasan sampingan.Yang dimaksudkan dengan kekasih dalam hadits itu adalah anak bayi. Asal dari sega-la yang diciptakan oleh Allah adalah halal kecuali bila ada dalil yang mengalihkannya dari halal menjadi haram. menjadi fa'ilah atau habibah agar tidak menjadi rancu. bila yang diinginkan adalah jenis kelamin perempuan. Lemahnya qiyas perak dengan emas dalam keharaman. kata habib (kekasih) yang dise-butkan dalam hadits timbangan katanya adalah fa'il yang memi-liki arti sebagai objek (yang dikasihi). Juga dibolehkan bagi kaum lelaki sebatas yang diperlukan saja. Kalau kata ini digunakan sebagaimana layaknya nama-nama biasa. maka yang dimaksudkan adalah jenis kelamin laki-laki. Bab tentang pakaian itu cakupannya lebih luas dari bab tentang bejana. sementara orang dewasa menge-nakannya sendiri. Karena anak kecillah yang biasanya dipakaikan perhiasan.

Menyepuh sesuatu. kalaupun warnanya tetap ada tetapi tidak dijadikan ukuran. Sesuatu yang terkonsumsi dianggap tidak ada. Kalau berasal dari perak murni.Pakaian Bercat Emas dan Perak Arti Sepuh dan Cat Serta Perbedaan Antara Keduanya Mayoritas ulama berpendapat bahwa sepuhan dengan cat itu sama saja. Kalau berupa perhiasan wanita. Namun kalangan Hambaliyah membedakan antara kedua-nya. Dengan dasar itu semua: Kalau dari emas murni seperti yang berbentuk jam misalnya. hukumnya haram bagi kaum lelaki tanpa ada perbedaan pendapat. Malikiyah dan juga pendapat yang zhahir dari kalangan Syafi'iyah. bila tidak berupa emas atau perak murni. seperti kalung dan gelang lalu dikenakan oleh kaum lelaki. Lebih jelas lagi . Hukum Mengenakan Sesuatu yang Disepuh dengan Emas dan Perak Ada dua pendapat di kalangan ahli fiqih: Pendapat pertama: haram. maka terkumpullah alasan keharaman lain. Ini adalah madzhab Hanafiyah. Yang paling tepat menurut penulis adalah pendapat tera-khir. sikap sombong dan sikap yang menyakiti hati orang-orang yang miskin. tidak menjadi masalah me-nurut pendapat yang paling benar di kalangan ulama. yakni dibolehkannya mengenakan emas dengan jumlah sedikit dan dibolehkannya perak tanpa batasan ukuran. Ini adalah pendapat yang kuat menurut kalangan Hambaliyah. Pendapat kedua: Boleh. kecuali warnanya sudah luntur dan tidak tersisa sedikitpun dengan cara dibakar. Karena sepuhan itu adalah hiasan sampingan yang terkon-sumsi sehingga tidak dikatakan murni. Orang-orang yang meniru kaum wanita dilaknat melalui lisan Nabi a. berdasarkan pendapat dalam persoalan sebelumnya yang juga penulis unggulkan. yakni menyerupai wanita. Adapun cat adalah mengubah emas atau perak men-jadi semacam lempengan tipis lalu digunakan untuk mengecat atau menyampul sesuatu. seperti sikap berlebihan. Wallahu a'lam. karena dengan cara itu hilanglah sebab keharamannya. Mereka menyatakan. artinya mencatnya dengan emas atau perak. "Sepuh artinya menaruh sesuatu ke dalam emas atau perak yang sudah dicairkan untuk mengambil warnanya.

juga dibolehkan menurut pendapat ulama yang paling benar. Kalau hanya sepuhan emas atau hanya mengandung po-tongan emas kecil. Namun kalau jumlahnya banyak. Mereka tentu saja tidak secara nekat merobek dan merusak milik orang lain kalau barang itu adalah halal. "Tidakkah engkau tahu bahwa kita dilarang memakan sedekah?" Diriwayatkan oleh Abu Daud dari hadits Jabir bahwa ia berkata. lalu kami buang ke selokan. maka menjadi ha-ram hukumnya." Diriwayatkan juga bahwa Umar. Seperti halnya minuman keras. haram diminum dan haram juga diminumkan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Sabda Nabi a kepada Hasan bin Ali ketika anak kecil itu memakan sebi-ji kurma sedekah (sedekah itu haram bagi sanak keluarga Rasul). puh. Di antara dalil mereka dalam hal itu yaitu: Dalil-dalil umum yang menunjukkan haramnya emas dan sutera bagi kaum lelaki. karena kaum mus-limin diperintahkan untuk memelihara anak-anak mereka. Pengharaman itu tidak dikecualikan bagi umur tertentu. Kalau sesuatu itu haram dikenakan.kehalalannya bila hanya berupa sepuhan perak saja. Itulah pendapat yang dijadikan sandaran Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Memberi Hiasan Emas dan Perak Kepada Anak Kecil Yang dimaksud dengan anak kecil adalah anak yang belum baligh dari kalangan kaum lelaki. "Puh." Yakni agar anak itu melepehkan atau meludahkan kurma itu kembali. maka juga haram dipa-kaikan kepada orang lain. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memberikan hiasan emas dan perak kepada mereka. Semua kisah di atas mengandung pelajaran perlunya mem-biasakan anak kecil berpegang pada hukum-hukum syariat sehingga ia terbiasa dan mengenalnya secara baik. Ada dua pendapat di kalangan mereka: Pertama: Haram. . Namun dosanya ditanggung oleh orang yang memakaikan emas itu kepada si anak kecil. Beliau bersabda. Ibnu Mas'ud dan Hudzai-fah pernah merobek pakaian sutera yang dikenakan anak kecil. "Kami biasa mengeluarkan kembali makanan meski sudah berada di mulut anak-anak kecil.

Karena minuman keras dan babi memang secara mutlak tidak boleh dimiliki. "Hai orang-orang yang beriman. bahwa perbedaan tersebut sama sekali tidak berpengaruh. Yakni selama mereka masih anak-anak hingga mereka dewasa. karena adanya nash-nash shahih yang menjelaskan bahwa wali anak kecil dituntut untuk mengajak si anak mening-galkan perbuatanperbuatan haram dan untuk melaksanakan per-buatan wajib. Diqiyaskannya memakai sutera dan emas ini dengan minuman keras dan babi jelas merupakan qiyas dengan alasan yang berbeda (qiyas batil). Ini adalah pendapat kalangan Malikiyah dan Syafi'iyah. Di antara dalil-dalil mereka terhadap keputusan itu adalah: Karena anak kecil belum mencapai usia taklif. Kita telah menyaksikan bagaimana Rasulullah mencegah al-Hasan memakan kurma dari kurma sedekah bahkan beliau mengeluarkan kurma yang sudah berada dalam mulut al-Hasan." (At-Tahrim: 6). Wallahu a'lam. Perbuatan anakanak kecil itu sama hukumnya dengan perbuatan orang dewasa. Pendapat itu dibantah bahwa anak kecil itu meskipun belum mendapatkan beban taklif.Pendapat kedua: boleh. Perbuatan para sahabat sendiri telah diriwayatkan sebagai contoh praktis dari bimbingan Nabi a yang mulia ini. Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index. Alasan ini dibantah. Hanya saja tanggungjawab dan dosanya ditang-gung oleh para wali mereka. Ia terbebaskan dari beban hukum.php/?pilih=indexekonomi&id=67&section=e008 . Yang jelas bagi kami melalui pemaparan ini adalah keung-gulan pendapat kalangan Hanafiyah dan Hambaliyah tentang ha-ramnya memberi hiasan emas dan sutera kepada anak kecil. Allah q berfirman: Artinya. Lain halnya dengan emas dan sutera. akan tetapi walinya diperintahkan untuk membantu dirinya menegakkan hukum Allah dan RasulNya..php Versi Online : index. peliharalah diri kalian dan keluar-gamu dari siksa Neraka.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful