Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan.

Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya, akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan manusia. Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu: (1) filosofis; (2) psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4) ilmu pengetahuan dan teknologi..Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas keempat landasan tersebut. 1.Landasan Filosofis Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran – aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini diuraikan tentang isi daridari masing-masing aliran filsafat, kaitannya dengan pengembangan kurikulum. a.Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu. b.Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu. c.Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu ? d.Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif. e.Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses. Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional. Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme. . Landasan Filosofis dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik dan terdidik untuk mencapai tujuan pendidikan. Pertanyaan tentang apa yang menjadi tujuan pendidikan, siapa pendidik dan terdidik, apa isi pendidikan tersebut membutuhkan jawaban yang esensial, yakni jawaban-jawaban filosofis. Terdapat perbedaan pendekatan antara ilmu dengan filsafat dalam mengkaji alam semesta. Ilmu menggunakan pendekatan analitik, menguraikan keseluruhan dalam bagian-bagian yang lebih kecil. Filsafat berupaya merangkum bagian-bagian ke dalam satu kesatuan yang menyeluruh. Ilmu berkenaan dengan fakta-fakta sebagaimana adanya (Das Sein), berusaha melihat sesuatu secara objektif. Sedangkan filsafat melihat segala sesuatu dari sebagaimana seharusnya (Das Sollen) dan faktor-faktor dalam filsafat sangat berpengaruh. Landasan filosofis berkaitan dengan pentingnya filsafat dalam membina dan mengembangkan kurikulum pada suatu lembaga pendidikan. Filsafat ini menjadi landasan utama bagi landasan lainnya. Perumusan tujuan dan isi kurikulum pada dasarnya bergantung pada pertimbangan-pertimbangan filosofis. Pandangan filosofis yang berbeda akan mempengaruhi dan mendorong aplikasi pengembangan kurikulum yang berbeda pula. Landasan

b. yakni sebagai proses (berfilsafat) dan sebagai hasil berfilsafat (sistem teori atau pemikiran). filsafat moral. membahas hakikat pengetahuan (sumber pengetahuan. Cabang Filsafat Umum terdiri atas: 1) Metafisika. filsafat religi. menyeluruh. dan estetika (hakikat keindahan). Cabang-cabang filsafat khusus atau filsafat terapan. 2) Epistemologi dan logika. Berdasarkan luas lingkup yang menjadi objek kajiannya. dan mendalam atau cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. dan hakikat penalaran (induktif dan deduktif). kesahihan pengetahuan. dan 2) Filsafat Khusus atau Filsafat Terapan. Dengan demikian filsafat memiliki manfaat dan memberikan kontribusi yang besar terutama dalam memberikan kajian sistematis berkenaan dengan kepentingan pendidikan. membahas hakikat kenyataan atau realitas yang meliputi (1) metafisika umum atau ontologi. filsafat ilmu. . Manusia yang bagaimanakah yang harus diwujudkan melalui usaha-usaha pendidikan itu? 3) Filsafat dan tujuan pendidikan memberi kesatuan yang bulat kepada segala usaha pendidikan. Dua dari lima definisi filsafat yang dikemukakan Titus menunjukkan pengertian di atas: “Phylosophy is a method of reflective thinking and reasoned inquiry. dan batas-batas pengetahuan). Dalam kaitannya dengan definisi filsafat sebagai proses. yaitu: 1) Filsafat pendidikan dapat menentukan arah akan dibawa ke mana anak-anak melalui pendidikan di sekolah? Sekolah ialah suatu lembaga yang didirikan untuk mendidik anak-anak ke arah yang dicita-citakan oleh masyarakat. Pengertian dan Cabang-Cabang Filsafat Istilah filsafat adalah terjemahan dari bahasa Inggris “phylosophy” yang berasal dari perpaduan dua kata Yunani Purba “philien” yang berarti cinta (love). Manfaat Filsafat Pendidikan Filsafat pendidikan pada dasarnya adalah penerapan dari pemikiran-pemikiran filsafat untuk memecahkan permasalahan pendidikan. dan “sophia” (wisdom) yang berarti kebijaksanaan. 1. Socrates mengemukakan bahwa filsafat adalah cara berpikir secara radikal. yaitu: 1) Filsafat Umum atau Fisafat Murni. Jadi secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau love of wisdom (Redja Mudyahardjo. bangsa. 2007:73). membahas hakikat nilai dengan cabang-cabangnya etika (hakikat kebaikan). … philosophy is a group of theories or system of thought” (Kurniasih dan Tatang Syaripudin. Kurikulum mempunyai hubungan yang erat dengan filsafat bangsa dan negara. dan filsafat pendidikan. filsafat sejarah. pembagiannya didasarkan pada kekhususan objeknya antara lain: filsafat hukum. kita mendapat gambaran yang jelas tentang hasil yang harus dicapai. Nasution (1982) mengidentifikasi beberapa manfaat filsafat pendidikan. filsafat dapat dibagi dalam dua cabang besar. 2001:83). 3) Aksiologi. filsafat ilmu. teologi (hakikat ketuhanan) dan antrofologi filsafat (hakikat manusia).filosofis ini juga berkenaan dengan tujuan pendidikan yang sesuai dengan filsafat negara. Secara operasional filsafat mengandung dua pengertian. metode mencari pengetahuan. dan negara. terutama dalam menentukan manusia yang dicitacitakan sebagai tujuan yang harus dicapai melelui pendidikan formal. Landasan Filosofis Pengembangan Kurikulum a. dan (2) metafisika khusus yang meliputi kosmologi (hakikat alam semesta). 2) Dengan adanya tujuan pendidikan yang diwarnai oleh filsafat yang dianut.

5) Citizenship. yaitu: 1) Self-Preservation. Filsafat atau pandangan hidup yang dianut oleh suatu bangsa atau kelompok masyarakat tertentu atau bahkan yang dianut oleh perorangan akan sangat mempengaruhi tujuan pendidikan yang ingin dicapai. c. mencegah penyakit. Dengan kata lain. Herbert Spencer (Nasution. yaitu penguasaan kecakapan pokok-pokok yang fundamental seperti: menulis. yaitu efisiensi dalam pekerjaan sehingga dalam waktu yang singkat dapat mencapai hasil yang banyak dan memuaskan. sehingga berguna bagi masyarakat. 7) Satisfaction of religious needs. hingga manakah tujuan itu tercapai. Dengan demikian. yaitu memanfaatkan waktu senggang dengan baik yang senantiasa bertambah panjang berhubung dengan industrialisasi yang lebih sempurna. yaitu usaha mengembangkan bangsa menjadi warga yang baik. Untuk itu harus ada kejelasan tentang pandangan hidup manusia atau tentang hidup dan eksistensinya. yaitu pemuasan kehidupan keagamaan. terutama dalam menentukan arah dan tujuan pendidikan. dan bernegara yaitu . Tujuan Pendidikan Nasional Indonesia bersumber pada pandangan hidup bermasyarakat. 5) Enjoying leisure time. 4) Maintaining proper social and political relationships. yaitu individu harus sanggup mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup dengan melakukan suatu pekerjaan. artinya setiap individu adalah makhluk sosial yang hidup dalam lingkungan masyarakat dan negara. The United States Office of Education (1918) telah mencanangkan tujuan pendidikan melalui “Seven Cardinal Principles”. Berkaitan dengan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan memuat pernyataan-pernyataan mengenai berbagai kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh peserta didik selaras dengan sistem nilai dan falsafah yang dianutnya. Sedangkan tujuan pendidikan sendiri pada dasarnya merupakan rumusan yang komprehensif mengenai apa yang seharusnya dicapai. 4) Vocational efficiency. filsafat suatu negara tidak bisa dipungkiri akan mempengaruhi tujuan pendidikan di negara tersebut. yaitu individu harus mampu menjadi ibu atau bapak yang sanggup bertanggung jawab atas pendidikan anaknya dan kesejahteraan keluarganya. 2) Command of fundamental processes. terdapat beberapa pendapat yang bisa dijadikan kaji banding sebagai sumber dalam merumuskan tujuan pendidikan. sebagai implikasi dari adanya perbedaan filsafat yang dianutnya. sistem nilai atau filsafat yang dianut oleh suatu komunitas akan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan rumusan tujuan pendidikan yang dihasilkannya. tujuan pendidikan di suatu negara akan berbeda dengan tujuan pendidikan di negara lainnya. dan hidup secara teratur. yaitu individu harus dapat menjaga kelangsungan hidupnya dengan sehat. dan berhitung. Filsafat akan menentukan arah ke mana peserta didik akan dibawa. membaca. yaitu mendidik anak-anak menjadi anggota keluarga yang berharga. 3) Rearing of family. 1982) mengungkapkan lima kajian sebagai sumber dalam merumuskan tujuan pendidikan.4) Tujuan pendidikan memungkinkan si pendidik menilai usahanya. 3) Worthy home membership. A 6) Worthy use of leisure. yaitu individu harus sanggup memanfaatkan waktu senggangnya dengan memilih kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan menambah kenikmatan dan kegairahan hidup. Oleh karena itu. berbangsa. Filsafat dan Tujuan Pendidikan Pandangan-pandangan filsafat sangat dibutuhkan dalam pendidikan. 2) Securing the necessities of life. yaitu sekolah diwajibkan mempertinggi taraf kesehatan murid-murid. 5) Tujuan pendidikan memberikan motivasi atau dorongan bagi kegiatan-kegiatan pendidikan. yaitu: 1) Health.

antara lain untuk melahirkan manusia yang beriman. berakhlak mulia. kepala sekolah. Ini berarti bahwa pendidikan di Indonesia harus membawa peserta didik agar menjadi manusia yang ber-Pancasila. Nilai-nilai filsafat Pancasila yang dianut bangsa Indonesia dicerminkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional seperti tertuang dalam UU No. Jawaban atas permasalahan tersebut akan sangat bergantung pada landasan filsafat mana yang digunakan sebagai asumsi atau sebagai titik tolak pengembangan kurikulum. yaitu Pancasila. berilmu. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. kreatif. Aliran-aliran Filsafat Pendidikan Pengembangan kurikulum membutuhkan filsafat sebagai acuan atau landasan berpikir. Dalam rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut. isi pendidikan. dan beramal dalam kondisi yang serasi. terdapat hubungan yang sangat erat antara kurikulum pendidikan di suatu negara dengan filsafat negara yang dianutnya. logika dan aksiologi berimplikasi terhadap konsep-konsep pendidikan yang meliputi rumusan tujuan pendidikan. peranan pendidik dan peserta didik. Rumusan tujuan tersebut merupakan keinginan luhur yang harus menjadi inspirasi dan sumber bagi para guru. bertaqwa. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. maka orientasi kurikulumnya disesuaikan dengan kepentingan dan sistem nilai yang dianut oleh negara Matahari Terbit tersebut. (2) isi atau materi pendidikan yang bagaimana yang seharusnya disajikan kepada siswa.Pancasila. membina dan mengembangkan kurikulum senantiasa konsekuen dan konsisten merefleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam rumusan tujuan pendidikan nasional. jelaslah bahwa peserta didik yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan kita. sehat. selaras. Dengan kata lain. metode pendidikan. epistemologi. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. maka kurikulum yang dianut pada masa itu sangat berorientasi pada kepentingan politik Belanda. penyusunan program pendidikan. peranan yang harus dilakukan pendidik/peserta didik senantiasa harus sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia. Kajian-kajian filosofis tentang kurikulum akan berupaya menjawab permasalahan-permasalahan sekitar: (1) bagaimana seharusnya tujuan pendididikan itu dirumuskan. Perumusan tujuan pendidikan. Sebagai contoh pada waktu Bangsa Indonesia dijajah oleh Belanda. Demikian pula pada saat negara kita dijajah Jepang. melaksanakan. maka kurikulum yang dikembangkan juga harus mencerminkan falsafah atau pandangan hidup yang dianut oleh bangsa tersebut. yaitu: Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. landasan dan arah yang ingin diwujudkan oleh pendidikan di Indonesia adalah yang sesuai dengan kandungan falsafah Pancasila itu sendiri. tersurat dan tersirat nilai-nilai yang terkandung dalam rumusan Pancasila. Di sinilah pentingnya filsafat sebagai pandangan hidup manusia dalam hubungannya dengan pendidikan dan pembelajaran. dan (4) bagaimana peranan yang seharusnya dilakukan pendidik dan peserta didik. d. karena apabila tidak semuanya konsep aliran filsafat dapat diadopsi dan diterapkan dalam sistem pendidikan kita. cakap. Kurikulum dan Filsafat Pendidikan Kurikulum pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. berbangsa dan bernegara. e. maka kurikulum pendidikan pun disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Keberadaan aliran-aliran filsafat lainnya dalam pengembangan kurikulum di Indonesia dapat digunakan sebagai acuan. akan tetapi hendaknya dipertimbangkan dan dikaji kesesuaiannya dengan nilai-nilai falsafah hidup bangsa Indonesia. Landasan filsafat tertentu beserta konsep-konsepnya yang meliputi konsep metafisika. pemilihan dan penggunaan pendekatan atau strategi pendidikan. dan seimbang. Karena tujuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh filsafat atau pandangan hidup suatu bangsa. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 2 dan 3). dan para pembuat kebijakan pendidikan agar dalam merencanakan. para pengawas pendidikan. mandiri. Konsep metafisika berimplikasi terhadap . berilmu. Melalui rumusan tujuan pendidikan nasional di atas. Oleh karena itu. (3) metode pendidikan apa yang seharusnya digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Setelah Indonesia mencapai kemerdekaannya yang secara bulat dan utuh menggunakan Pancasila sebagai dasar dan falsafah hidup dalam bermasyarakat.

dan pendidikan di Indonesia pada khususnya. Menurut Redja Mudyahardjo (1989) terdapat tiga sistem pemikiran filsafat yang sangat besar pengaruhnya dalam pemikiran pendidikan pada umumnya. sebagian besar manusia hanya sampai pada tingkat pendapat. 2) Realisme a) Konsep-konsep Filsafat (1) Metafisika (hakikat realitas): Realitas atau kenyataan yang sebenarnya bersifat fisik atau materi. (2) Humanologi (hakikat manusia): Hakikat manusia terletak pada apa yang dapat dikerjakannya. dan Pragmatisme. (4) Aksiologi (hakikat nilai): Tingkah laku manusia diatur oleh hukum alam yang diperoleh melalui ilmu. yaitu: Idealisme. konsep tentang hakikat pengetahuan berimplikasi terhadap isi A dan metode pendidikan. Cnderung mengabaikan dasar-dasar fisiologis dalam belajar. dan konsep aksiologi berimplikasi terutama terhadap perumusan tujuan umum pendidikan. Kebenaran hanya mungkin dapat dicapai oleh beberapa orang yang mempunyai akal pikiran yang cemerlang. Hakikat nilai bersifat absolut/mutlak. Realisme. Redja Mudyahardjo (2001) merangkum konsep-konsep ketiga aliran filsafat tersebut dan implikasinya terhadap pendidikan sebagai berikut: 1) Idealisme a) Konsep-konsep Filsafat (1) Metafisika (hakikat realitas): Realitas atau kenyataan yang sebenarnya bersifat spititual atau rohaniah. Jiwa merupakan sebuah organisme yang sangat kompleks yang mempunyai kemampuan berpikir. Manusia mungkin mempunyai kebebasan atau tidak mempunyai kebebasan. meskipun demikian setiap metode yang efektif mendorong belajar data diterima (eklektif). Tugas utama pendidik adalah A menciptakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik dapat belajar secara efisien dan efektif. (3) Epistemologi (hakikat pengetahuan): Pengetahuan yang benar diperoleh melalui intuisi dan pengingatan kembali melalui berpikir. (4) Aksiologi (hakikat nilai): Kehidupan manusia diatur oleh kewajiban moral yang diturunkan dari pandangan tentang kenyataan atau metafisika. Pendidik bekerja sama dengan alam dalam proses pengembangan kemampuan ilmiah.perumusan tujuan pendidikan terutama tujuan umum pendidikan yang rumusannya ideal dan umum. Kemampuan berpikir menyebabkan adanya kemampuan memilih. (4) Peranan peserta didik dan pendidik: Peserta didik bebas mengembangkan bakat dan kepribadiannya. dan kemudian tertuju pada pengembangan bakat dan kebajikan sosial. (3) Metode pendidikan: Metode pendidikan yang disusun adalah metode dialektik/dialogik. penyiapan keterampilan bekerja sesuatu mata pencaharian melalui pendidikan praktis. (3) Epistemologi (hakikat pengetahuan): Pengetahuan diperoleh melalui penginderaan dengan menggunakan pikiran. b) Konsep-konsep Pendidikan (1) Tujuan pendidikan: Tujuan pendidikan adalah dapat menyesuaikan diri secara tepat dalam hidup dan dapat melaksanakan tanggung jawab sosial . konsep hakikat manusia berimplikasi khususnya terhadap peranan pendidik dan peserta didik. dan pada taraf yang lebih rendah diatur oleh kebiasaan-kebiasaan atau adat-istiadat yang telah teruji dalam kehidupan. Kebenaran pengetahuan dapat dibuktikan dengan memeriksa kesesuaiannya dengan fakta. pertama-tama adalah pembentukan karakter. b) Konsep-konsep Pendidikan (1) Tujuan pendidikan: Tujuan-tujuan pendidikan formal dan informal. (2) Humanologi (hakikat manusia): Jiwa dikaruniai kemampuan berpikir/rasional. (2) Isi pendidikan: Pengembangan kemampuan berpikir melalui pendidikan liberal atau pendidikan umum.

A 3) Pragmatisme a) Konsep-konsep Filsafat (1) Metafisika (hakikat realitas): Suatu teori umum tentang kenyataan tidak mungkin dan tidak perlu. dan pendidikan praktis untuk kepentingan bekerja. dan pendidikan liberal yang menghilangkan pemisahan antara pndidikan umum dengan pendidikan praktis/vokasional. Kurikulum berisi unsure-unsur pendidikan liberal/pendidikan umum untuk mengembangkan kemmapuan berpikir. Ini berarti setiap manusia tumbuh secara berangsur-angsur mencapai kemampuan-kemampuan biologis. observasi kondisi-kondisi yang ada. Ini berarti tidak ada nilai yang absolut. Kenyataan yang sebenarnya adalah kenyataan fisik. (4) Aksiologi (hakikat nilai): Ukuran tingkah laku perorangan dan sosial ditentukan secara eksperimental dalam pengalaman-pengalaman hidup. (3) Metode pendidikan didasarkan pada pengalaman langsung maupu tidak langsung. perumusan dan elaborasi tentang suatu kesimpulan. peranan peserta didik adalah menguasai pengetahuan yang dapat berubah-ubah.(2) Isi pendidikan: Isi pendidikan adalah kurikulum komprehensif yang berisi semua pengetahuan yang berguna bagi penyesuaian diri dalam hidup dan tanggung jawab sosial. (4) Peranan peserta didik dan pendidik: Dalam hubungannya dengan pembelajaran. Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan. Segala sesuatu dalam alam dan kehidupan adalah berubah (becoming). psikologis dan sosial. Pembiasaan merupakan sebuah metode pokok yang dipergunakan oleh penganut realism. terdiri atas langkah-langkah: Penyadaran suatu masalah. (2) Humanologi (hakikat manusia): Manusia adalah hasil evolusi biologis. b) Konsep-konsep Pendidikan (1) Tujuan pendidikan: Tujuan pendidikan adalah memperoleh pengalaman yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah baru dalam kehidupan perorangan dan masyarakat. Peranan pendidik adalah mengawasi dan membimbing pengalaman belajar tanpa terlampau banyak mencampuri urusan minat dan kebutuhan peserta didik. (4) Peranan peserta didik dan pendidik: Peserta didik adalah sebuah organisme yang rumit yang mampu tumbuh. Dengan demikian tujuan pendidikan adalah pertumbuhan sepanjang hidup. . bertahap atau berurutan. (3) Metode pendidikan: Berpikir reflektif atau metode pemecahan masalah merupakan metode utamanya. dan sosial. dan memiliki kewenangan untuk mencapai hasil pendidikan yang dibebankan kepadanya. (3) Epistemologi (hakikat pengetahuan): Pengetahuan bersifat relatif dan terus berkembang. psikologis. Pengetesan melalui suatu eksperimen. Peserta didik perlu mempunyai disiplin mental dan moral untuk setiap tingkat kebajikan. Metode mengajar hendaknya bersifat logis. Pengetahuan yang benar adalah yang ternyata berguna bagi kehidupan. (2) Isi pendidikan: Isi pendidikan adalah kurikulum berisi pengalaman-pengalaman yang telah teruji serta minatminat dan kebutuhan-kebutuhan anak. Tujuan pendidikan tidak ditentukan dari luar kegiatan pendidikan tetapi terdapat dalam setiap proses pendidikan. terampil dan teknik mendidik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful