LAPORAN PRAKTIKUM OBSERVASI DAN WAWANCARA

NAMA : FERA RAHAYUNINGTYAS NIM : 07320211 KELAS : I ASISTEN :FITRI AYU KUSUMANINGRUM

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2009 Halaman Pengesahan

Laporan Praktikum Observasi dan Wawancara

Telah disetujui dan disahkan pada tanggal :

Yogyakarta, ........................... 2009

Mengesahkan, Kepala Laboratorium

Menyetujui, Asisten

Miftahun Ni’mah Suseno, S.Psi., M. A., Psi I.Judul

Fitri Ayu Kusumaningrum

Laporan Praktikum Observasi. II.Tujuan Observasi 1. Untuk mengetahui sikap kepemimpinan yang dimiliki observee dalam Focus Group Disscusion serta interaksinya dalam kelompok. III.Definisi Operasional A. Definisi Menurut Yukl (1994) beberapa definisi tentang kepemimpinan yang dianggap cukup mewakili dari sekian banyak definisi tentang kepemimpinan antara lain : a. Kepemimpinan adalah perilaku, dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal). ( Hembill dan Coons,1957) b. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, seperti diarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu. ( Tannenbaum, Weschler dan Massarik, 1961) c. Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada bawahan dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi. ( Kantz dan Kahn, 1978) d. Kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan dan interaksi ( Stogdill,1974) e. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas-aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan. ( Rauch dan Behling, 1984) f. Kepemimpinan adalah sebuah proses memberi arti (pengarahan yang berarti) terhadap usaha kolektif, dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran ( Jacobs dan Jacques, 1990)

3

g. Para pemimpin adalah mereka yang secara konsisten memberi kontribusi yang efektif terhadap orde sosial, dan yang diharapkan dan dipersepsikan melakukannya. ( Hosking, 1988). Dalam pandangan tradisional, menurut Riyono & Zulaifah (1997), kepemimpinan selalu dikaitkan dengan kriteria keturunan atau usia atau senioritas. Kelemahan pandangan ini tampak jelas karena ia pesimistik karena kepemimpinan hanya bisa terjadi secara ascribed (anugerah dari Sana) bukan sesuatu yang bisa dicapai (achived). Menurut Gibson, Ivancevich, & Donnelly (1997) mengatakan bahwa ketika seorang individu berusaha mempengaruhi perilaku lainnya dalam suatu kelompok tanpa menggunakan bentuk paksaan, kita menggambarkan usaha ini sebagai kepemimpinan. Bernard (Dalam Yukl, 1994), memberikan definisi kepemimpinan sebagai suatu interaksi antar anggota suatu kelompok. Pemimpin merupakan agen perubahan, orang yang perilakunya akan lebih mempengaruhi orang lain daripada perilaku orang lain yang mempengaruhi mereka. Kepemimpinan timbul ketika satu anggota kelompok mengubah motivasi / kompetensi anggota lainnya didalam kelompok.
Robert & Hunt (Dalam Riyono & Zulaifah,1997) mengatakan bahwa seorang pemimpin adalah orang yang perilakunya dapat mempengaruhi atau menentukan perilaku anggota lain dalam kelompoknya. Lebih lanjut lagi dikatakan bahwa seorang pemimpin mampu mempertahankan motivasi para pengikutnya, jadi bukan sekedar mempengaruhi dalam sesaat saja. Seorang pemimpin biasanya akan memberika pengaruh yang berjangka panjang / long lasting influence bukan sekedar menggunakan power / kekuasaannya untuk mempengaruhi pengikutnya.

B. Aspek Menurut George. R. Terry, 1994, aspek-aspek yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah :  Kekuatan (enersi)

Pemimpin harus mempunyai kekuatan jasmani dan rohani  Keseimbangan emosi Pemimpin harus dapat menguasai perasaannya dalam keadaan apapun yang dihadapinya  Pengetahuan tentang hubungan manusia Pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk mengetahui sifat serta tingkah lakunya dalam pergaulan  Motivasi pribadi Keinginan menjadi pemimpin harus datang dari dirinya sendiri dan ini berakibat pada timbulnya kegairahan dalam bekerja  Kecakapan berkomunikasi Pemimpin harus pandai menyampaikan informasi dan maksudmaksudnya kepada pihak lain sehingga timbul kerjasama yang harmonik dengan orang lain  Kecakapan mengajar Pemimpin yang baik adalah guru yang baik. Oleh karena itu dibutuhkan kecakapan untuk mengajar, baik dengan keteladanan maupun dengan petunjuk-petunjuk yang disampaikan kepada bawahannya  Kecakapan bergaul Pemimpin harus mau bekerjasama dengan yang dipimpin, serta dapat menyesuaikan diri dengan mereka sehingga memperoleh kepercayaan dan kesetiaan, dan dengan sukarela mau bekerja. Pemimpin harus dapat mengembangkan rasa saling menghargai dengan bawahan. Menurut Nawawi Hadari (2004) proses kepemimpinan akan berlangsung efektif, bilamana kepribadian pemimpin memiliki aspek-aspek sebagai berikut:

5

1. Mencintai kebenaran dan beriman pada Tuhan Yang Maha Esa. Pemimpin yang mencintai kebenaran berarti selalu berpihak pada obyektivitas, sehingga dalam mengambil keputusan selalu didasarkan pada kepentingan kelompok/organisasi dan terarah pada pencapaian tujuan. Kebenaran yang obyektifitas itu tidak saja disandarkan pada fakta yang bersifat empiris, tetapi juga berdasarkan petunjuk dan norma-norma dari ajaran agama. Para pemimpin yang mencintai kebenaran dan beriman pada Tuhan Yang Maha Esa, juga merupakan pemimpin yang kepribadiannya mencintai keadilan, yang tidak lain adalah pemimpin yang jujur 2. Dapat dipercaya dan mampu mempercayai orang lain. Sifat adil dan jujur akan menumbuhkan kepercayaan orang-orang yang dipimpin pada pemimpinnya. Pemimpin yang dipercaya dan yang mampu mempercayai orang lain, akan berkembang menjadi percaya diri. Pemimpin tersebut harus yakin bahwa dirinya memiliki Dengan kamapuan kemampuan dalam itu mempengaruhi, pemimpin dapat mengarahkan, menjelaskan, mengendalikan dan membimbing orang yang dipimpinnya.

membimbing, mengarahkan dan mengawasi secara baik para anggotanya dalam melaksanakan tugas masing-masing. 3. Mampu bekerja sama dengan orang lain. Pemimpin yang dipercaya, mempercayai orang lain dan percaya diri selalu bersedia dan mampu memelihara kebersamaan. Dalam kebersamaan itu selalu mampu menjalin kerja sama dengan setiap anggota itu selalu mampu menjalin kerja sama dengan setiap anggota kelompok/organisasinya. Pemimpin yang efektif tidak menjauhkan diri atau mengasingkan diri dari anggota kelompok, karena merasa dirinya lebih penting. Dalam kerja sama itu setiap

orang akan memberikan sumbangan berupa usaha, karya dan prestasinya, sesuai dengan posisi dan kemampuannya masingmasing. 4. Ahli di bidangnya dan berpandangan luas didasari oleh kecerdasan (inteligensi) yang memadai. Seorang pemimpin harus mengetahui tentang seluk-beluk bidang yang dijelajahi atau menjadi garapan kelompoknya. Perkataan mengetahui berarti pemimpin perlu memiliki ketrampilan dan bahkan keahlian di bidang yang dikelola organisasinya. Dengan pengetahuan, pengalaman dan inteligensi yang memadai, seorang pemimpin akan memiliki wawasan yang cukup luas dalam menghadapi berbagai masalah. 5. Senang bergaul, ramah tamah, suka menolong, dan memberikan petunjuk serta terbuka pada kritik orang lain. Setiap pemimpin harus menampilkan kepribadian senang bergaul, ramah tamah, dan suka menolong, sebagai prasyarat untuk dapat mewujudkan hubungan manusiawi yang efektif. Kepemimpinan hanya terwujud dalam pergaulan antar sesame manusia, yang akan berlangsung secara efektif, jika pemimpin bersifat dan bersikap ramah tamah, suka menolong dan terbuka terhadap kritik. Pemimpin yang suka menolong tidak akan mempersulit urusan yang mudah, bagi orang lain yang memerlukannya. Sebaliknya selalu berusaha mempermudah urusan yang sulit, semata-mata karena senang menolong orang lain. 6. Memiliki semangat untuk maju, pengabdian dan kesetiaan yang tinggi, seta kreatif, dan penuh inisiatif. Sikap dan sifat pengabdian dan kesetiaan mendorong pemimpin selalu kreatif dan penuh inisiatif semata-mata untuk kemajuan dan perkembangan kelompok/organisasi, atas dasar kepentingan

7

bersama. Dalam keadaan itu kehidupan kelompok/organisasi tidak berlangsung rutin dan statis, karena selalu ada gagasan baru yang positif dan realitas untuk dilaksanakan. 7. Bertanggung jawab dalam mengambil keputusan, konsekuen, berdisiplin, dan bijaksana. Pemimpin merupakan penggerak roda organisasi, yang

dilaksanakan oleh anggota organisasi yang taat pada keputusan dan perintahnya. Oleh karena itu pemimpin harus berani menetapkan keputusan dan memrintahkan pelaksanaanya, agar kegiatan tidak tertunda-tunda. Keputusan yang harus ditetapkan kerap kali juga untuk suatu kepentingan yang mendesak, yang mengharuskan pemimpin menetapkannya secara cepat. C. Indikator 1. Membuka pembicaraan pada forum. 2. Memberikan instruksi mengenai tugas yang akan dikerjakan. 3. Meminta pendapat kepada anggota kelompoknya. 4. Ikut mengerjakan tugas tersebut. 5. Memberikan semangat kepada anggota kelompok yang lain

6. Tidak memotong pembicaraan orang lain 7. Memberikan gagasan 8. Membagi-bagi tugas 9. Mengambil keputusan 10. Berbicara sopan 11. Mampu berkomunikasi dengan semua anggota kelompok 12. Mengajak untuk membuat tugas 13. Mampu menjelaskan hasil karya yang di buat 14. Memberikan solusi dalam masalah yang muncul 15. Mampu menjalin kerja sama dengan setiap anggota kelompok.

D. Faktor Yang Mempengaruhi Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemimpin Menurut Gibson, Ivancevich dan Donnelly (1997) dari hasil studi yang dilakukan Likert, menemukan beberapa criteria kepemimpinan yang

9

efektif, yaitu antara lain: a. Produktivitas yang tinggi ditandai dengan tercapainya tujuan organisasi. b. Kepuasan kerja dari anggota organisasi. c. Rendahnya tingkat turnover, absensi dan rasa kecewa pada anggota. d. Biaya e. Bahan yang dibuang f. Motivasi karyawan dan manajerial Keberhasilan seorang pemimpin menurut Yukl (1994) ditandai dengan meningkatnya solidaritas antar kelompok, mampu memberikan kontribusi terhadap efisiensi dan kejelasan peran bawahannya, mampu mengoraganisir aktivitas-aktivitas karyawan, adanya kesiapan karyawan dalam menghadapi perubahan dan krisis, dan pemimpin tersebut telah mampu memperbaiki kualitas hidup kerja karyawannya. Keberhasilan seorang pemimpin juga tidak lepas dari adanya rasa percaya diri yang ditanamkan pada masing-masing karyawan sehingga meningkatkan ketrampilan dan memberi kontribusi terhadap pertumbuhan psikologis dan pengembangan mereka. Dalam pandangan tradisonal, menurut Riyono dan Zulaifah (1997) kepemimpinan selalu dikaitkan dengan criteria keturunan atau usia / senioritas. Kelemahan pandangan ini tampak jelas karenaa ia pesimistik karena kepemimpinan hanya bisa terjadi secara ascribed (anugerah dari Sana) bukan sesuatu yang bisa di capai (achieved). IV.Bentuk dan Metode Observasi a. Bentuk Observasi Teknik pencatatan pada saat mengobservasi adalah menggunakan covert, non partisipan, dan contrived (buatan).

a. Covert diamati.

:

observee tidak sadar bahwa dirinya sedang

b. Non partisipan: observer tidak ikut serta dalam kegiatan yang sedang diobservasi. c. Contrived observee. Sedangkan untuk desain observasi ini, menggunakan desain FGD (Focus Group Discussion). Artinya merupakan salah satu group exercise yang menempatkan observee dalam tugas pemecahan masalah secara kelompok. Dalam FGD observee langsung diberikan tugas secara kelompok untuk mendiskusikannya atau keputusan agar menghasilkan sesuai rumusan, rekomendasi, tertentu : observer mengendalikan situasi yang dialami oleh

permasalahannya. Sebelum mengerjakan tugas, observee diberi sedikit arahan cara mengerjakannya (perlakuan / intervensi) oleh pendamping. Dalam diskusi ini observer dapat mengamati perilaku observee dalam berinteraksi dengan observee lain, dan perilaku observee yang muncul merupakan perilaku aktual. b. Metode Pencatatan Data Observasi  Anecdotal Record Anecdotal Record = Daftar Riwayat Kelakuan Berisi catatan mengenai perilaku-perilaku luar biasa yang dianggap penting (typical behavior). Biasanya digunakan untuk mengamati perilaku secara mendetail mengenai tugas tertentu yang memiliki keunikan. Prinsip anecdotal record adalah pencatatan dilakukan segera (secepatnya setelah peristiwa terjadi) tentang apa dan bagaimana kejadiannya (faktual), bukan bagaimana menurutnya (interpretatif). Keuntungan metode pencatatan ini observer dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai apa yang diamatinya. Kekurangannya umumnya waktu yang digunakan lama.  Check list Yaitu pencatatan terhadap ada/ tidak adanya suatu perilaku tertentu

11

yang disajikan dalam bentuk daftar statement perilaku. Digunakan ketika perilaku yang tampil telah diketahui perwujudannya seperti apa, dan ketika tidak memerlukan indikasi frekuensi/kualitas karakteristik.  Rating Scale Yaitu perluasan dari check list. Yang membedakannya adalah pada rating scale observer mengindikasikan judgement dalam bentuk frekuensi dan atau kualitas karakteristik performa, sedangkan pada check list hanya ditulis hadir tidaknya perilaku. V.Hasil Temuan Lapangan A. Identitas Observee 1. Nama observee 2. Usia 3. Jenis kelamin 4. Ciri Fisik : Ambar Eko Hendratmo : 19 tahun : Laki-laki : - lesung pipi sebelah kiri - kurus - tinggi ± 172 cm - kulit coklat 5. Pekerjaan B. Identitas Observer 1. Nama observer 2. NIM 3. Jenis kelamin 4. Usia 5. Pendidikan 6. Asisten C. Waktu dan Tempat 1. Waktu a. Hari / Tanggal b. Pukul : Rabu / 18 Maret 2009 : 10.00 – 11.15 WIB : Fera Rahayuningtyas : 07320211 : Perempuan : 19 tahun : S-1 Psikologi : Fitri Ayu Kusumaningrum : Mahasiswa S-1 Arsitektur

2. Tempat Laboratorium Observasi I, lantai 4. 1. Anecdotal Record Baris 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. Uraian Tema ruangan,

Observee memasuki ruangan kemudian duduk, Memasuki beberapa saat kemudian fasilitator mempersilakan (S1, L, B 1) untuk memperkenalkan diri dengan menyebutkan

namanya. Dia memperkenalkan diri “ nama saya Memperkenalkan diri, Eko.” Sambil melihat sekelilingnya. yang Saat (S1, L, B 4-5) lain Memperhatikan teman mendengarkan observee

memperkenalkan diri, dia mengetuk-ngetukkan yang lain, (S1, L, B 6jempolnya ke meja. Beberapa saat melihat 7) sekeliling, kembali. kemudian Ketika memainkan jempolnya fasilitator menginstruksikan

untuk mematikan HP, dia pun mengambil HPnya dari saku celana, kemudian mematikannya. Dan melihat Kembali observee-observee yang lain juga. ke mengetuk-ngetukkan tangannya

meja. Saat fasilitator meminta untuk membuat kelompok, dia kemudian melipat tangannya sambil mengedipkan mata kepada observee yang lain. Saat sudah bergabung dengan teman sekelompoknya, dia duduk dan bertopang dagu. Kemudian ngobrol dengan teman sebelahnya. Membuka Fasilitator pun memberikan penjelasan tentang pembicaraan, (S1, L, B tugas yang harus dilakukan oleh para observee 20) dalam kelompok yaitu membuat menara dari sedotan. Dia mendengarkan penjelasan sambil melihat fasilitator. Setelah selesai, dia mulai mengambil sedotan dan memberikan gagasan Memberikan gagasan,

13

27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57.

untuk memulai membuat menara, kemudian (S1, L, B 26-27) melihat teman sekelompoknya yang berbicara dan Memperhatikan teman mulai membuat menara bagian bawah. Beberapa yang sedang berbicara, saat dia menyamakan tinggi sedotan dan bersama (S1, L, B 28) teman yang lain mengaitkan sedotan dengan Bekerjasama lain yang sedang memberikan gagasan dan (S1, L, B 30-32) memulai membuat lagi. Ada teman yang lain yang berbicara dan dia mendengarkannya. Kemudian membuat menara lagi sambil ngobrol Berkomunikasi dengan dengan teman yang lain. Kemudian mencoba teman sekelompoknya, berbagai bentuk sedotan agar bisa kokoh. (S1, L, B 36-37) Kemudian mendengarkan temannya yang sedang memberikan gagasan. Kemudian menanyakan Meminta pendapat yang lainnya. Berbicara dengan teman sebelahnya kepada yang lainnya, dan mulai membuat kembali dan mengaitkan (S1, L, B 40-41) sedotan dengan teman sebelahnya. Mendengarkan teman yang sedang bicara, tersenyum dan mulai membuat kembali. Mengaitkan sedotan dengan selotip dan dibantu dengan teman sebelahnya. Ngobrol dengan teman sebelahnya. Melihat Berkomunikasi dengan kelompok yang lain. Kemudian berdiri sambil teman sekelompoknya, mendengarkan teman yang sedang bicara. (S1, L, B 47-52) Menambah sedotan diatasnya. Duduk sebentar, kemudian berdiri kembali. Ngobrol dengan teman sebelahnya dan menyambung sedotan kembali. Melihat kelompok yang lain dan menggerakgerakkan sedotan. Mendengarkan teman yang Memperhatikan teman lain yang sedang memberikan gagasan kemudian yang sedang berbicara, menempelkan sedotan dibagian bawah. Berbicara (S1, L, B 54-55) dengan teman sebelahnya dan mengaitkan dengan selotip. Kemudian mendengarkan teman yang teman sekelompoknya,

58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88.

sedotan

dengan

temannya.

Tersenyum

dan

membuat kembali. Kemudian melihat teman yang lain, ngobrol dan tersenyum. Mengaitkan sedotan kembali dan mendengarkan teman yang lain. Kemudian memberikan ide dan tersenyum. Memberikan ide dan Melanjutkan membuat kembali. Ngobrol dengan ikut membuat menara, teman yang lain, membuat yang lain. Memegang (S1, L, B 62-64) kening sambil mendengarkan yang lain. Berdiri dan memeriksa menara sambil melihat-lihat bentuk menara. Mengaitkan sedotan kembali dan melihat menara lagi. Kemudian melihat-lihat menara dari sebelah kanan dan kiri. Meminta Mengajak teman yang selotip kepada teman yang lain dan menempelkan lain ikut mengerjakan, ke menara. Melihat menara dan menempelkan (S1, L, B 69-71) selotip kembali. Garuk-garuk pipi, melihat kelompok lain. Kemudian memberikan ide, Memberikan ide, (S1, berdiri, mulai membuat kembali dan tersenyum. L, B 73) Meminta selotip kemudian memasangkan sedotan. Agak membungkuk kemudian duduk. Berdiri kembali dan membungkukkan badannya sambil membuat menara, ke dari duduk meja teman kembali temannya. sambil yang teman kembali. Mendengarkan kemudian mendengarkan lain,kemudian ngobrol kepala gagasan membuat dengan

Menyandarkan

menara

Kemudian Afan memberitahukan bahwa waktu yang sedang berbicara, untuk membuat menara telah habis. Dia duduk (S1, L, B 81-82) sambil melihat Afan, tertawa, kemudian melihat kelompok yang lain. Sambil mendengarkan Afan dan Tasya yang sedang memberikan instruksi untuk memberikan tanggapan atau kesan atas apa

15

89. 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119.

yang sudah dilakukan saat membuat menara, dia tersenyum melihat dan teman melihat yang sedotan. sedang alis mata. Kemudian memberikan Kemudian

komentar, menaikkan

ngobrol dengan teman sebelahnya. Memutar- Berkomunikasi dengan mutarkan sedotan, sambil melihat teman yang teman sebelahnya, (S1, lain. Tersenyum lagi dan mengetuk-ngetukkan L, B 92-93) sedotan ke meja. Melihat teman yang sedang memberikan Afan, komentar dengan kemudian teman tersenyum sebelahnya, sedotan. kembali sambil memainkan sedotan. Melihat ngobrol tersenyum sambil melipat-lipat

Memasukkan sedotan yang berada di meja kemudian memasukkan ke dalam tempatnya. Mengeluarkan dilihat. lakukan satu sedotan tiba lagi kemudian dia untuk teman Memberi tanggapan, tersenyum, memutar-mutarkan sedotan sambil Kemudian adalah giliran memberikan tanggapan, “pertama yang dia ngobrol dengan sekelompoknya, awalnya belum ada gambaran (S1, L, B 106-115) apa yang akan dilakukan dengan sedotan-sedotan itu, tapi dengan masukan-masukan dari yang lain juga, akhirnya mendapatkan ide untuk membuat seperti ini. Disini komukasi sangat penting dan sangat berguna, walaupun sebelumnya tidak ada koordinasi namun kita langsung mengerjakan tugas masing-masing dan saling membantu.” Setelah selesai, dia melihat ke meja, tersenyum, memainkan sedotan kemudian melihat teman yang sedang berkomentar. Melipat-lipat sedotan kemudian mengetuk-ngetukkannya ke meja

120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150.

sambil melihat sedotan yang sedang dimainkan. Kemudian melihat yang sedang berkomentar, sesekali tersenyum kemudian ngobrol dengan teman sebelahnya. Menggerak-gerakkan sedotan sambil melihat yang sedang berkomentar, sedikit tersenyum dan memainkan sedotan kembali. Kemudian Afan menanyakan apa sebenarnya maksud dari kegiatan tersebut dan meminta observee untuk menjawab satu per satu. Kemudian dia memperhatikan yang sedang bicara, tersenyum dan memainkan sedotan. Memperhatikan teman Menutup mulut kemudian memainkan sedotan yang sedang berbicara, kembali, melihat ke atas, tersenyum kecil. (S1, L, B 129) Melihat fasilitator, tersenyum kembali, menggerak-gerakkan sedotan sambil tersenyum. Kemudian giliran dia untuk berkomentar kembali, dia menjawab “kegiatan ini membuat kita agar berpikir cepat dan menambah kreatifitas.” Setelah Memberikan selesai dia memainkan sedotan kembali, tanggapan, (S1, L, B tersenyum, kemudian ngobrol dengan teman 136-137) sebelahnya, tersenyum dan melihat sekeliling. Kemudian memainkan sedotan kembali, ngucek- Berkomukasi menyambungkannya. Menyambungkan sedotan L, B 139-140) lagi dan melihat sekeliling. Tersenyum, kemudian memegang yang hidung. menilai Memasukkan kekokohan sedotan menara. kedalam tempat gunting sambil melihat fasilitator sedang Tersenyum kemudian ngobrol dengan teman sebelahnya, kemudian tepuk tangan sambil tersenyum dan berkata “yes” karena menara Berkomunikasi dengan dengan ngucek mata. Memainkan sedotan lagi dan teman sebelahnya, (S1,

17

151. 152. 153. 154. 155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162.

buatan

kelompoknya sedotan Sambil

menang. ke

Kemudian teman sebelahnya, (S1, sambil L, B 148-149) dia sedotan

menempelkan tersenyum.

mulut

memegang

melihat Afan dan Tasya. Tersenyum saat dibagi snak kepada kelompoknya. Garuk-garuk hidung kemudian memegang sedotan kembali. Saat fasilitator mengucapkan terima kasih atas bantuan observee yang bersedia meluangkan waktu, dia bertopang dagu dan tersenyum. Kemudian para observee dipersilakan pulang, dia pun mengambil Kegiatan tas dan barang bawaannya, kemudian keluar observee ruangan. 162) selesai, keluar

ruangan, (S1, L, B 160-

2. Check List No Indikator Kesimpulan Ya 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Membuka pembicaraan pada forum. Memberikan instruksi mengenai tugas yang akan dikerjakan. Meminta pendapat kepada anggota kelompoknya. Ikut mengerjakan tugas tersebut. Memberikan semangat kepada anggota kelompok yang lain Tidak memotong pembicaraan orang lain Memberikan gagasan Membagi-bagi tugas Mengambil keputusan Berbicara sopan Mampu berkomunikasi dengan semua anggota √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Tidak -

kelompok 12. 13. 14. 15. Mengajak untuk membuat tugas Mampu menjelaskan hasil karya yang di buat Memberikan solusi dalam masalah yang muncul Mampu menjalin kerja sama dengan setiap anggota kelompok √ √ √ √ -

3. Rating Scale No Indikator HTP 1. 2. Membuka pembicaraan pada forum. Memberikan instruksi mengenai tugas yang akan dikerjakan. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Meminta pendapat kepada anggota kelompoknya. Ikut mengerjakan tugas tersebut. Memberikan semangat kepada anggota kelompok yang lain Tidak memotong pembicaraan orang lain Memberikan gagasan Membagi-bagi tugas Mengambil keputusan √ √ √ √ √ √ √ √ ||||| ||||| ||||| ||||| || || ||||| |||| ||| || || ||||| ||||| ||||| ||||| ||||| ||| √ ||| √ || √ Frekuensi JR KD SR SL | Turus

10. Berbicara sopan 11. Mampu berkomunikasi dengan semua anggota kelompok

19

12. Mengajak untuk membuat tugas 13. Mampu menjelaskan hasil karya yang di buat 14. Memberikan solusi dalam masalah yang muncul 15. Mampu menjalin kerja sama dengan setiap anggota kelompok √ √ √

√ |||||

||

Keterangan : 1. HTP : hampir tidak pernah Frekuensi : 0 % - 20 % 2. JR : jarang Frekuensi : 21 % - 40 % 3. KD : kadang-kadang Frekuensi : 41 % - 60 % 4. SR : sering Frekuensi : 61 % - 80 % 5. SL : selalu Frekuensi : 81 % - 100 % VI.Pembahasan Berdasarkan hasil observasi ketika membuat menara dari sedotan, observee menunjukkan indikator-indikator dalam kepemimpinan. Dia membuka pembicaraan ketika sudah bergabung dengan teman sekelompoknya, berdasarkan aspek senang bergaul, ramah tamah, suka menolong, dn memberi petunjuk serta terbuka pada kritik orang lain. Setiap pemimpin harus menampilkan kepribadian senang bergaul, ramah tamah, dan suka menolong, sebagai prasyarat untuk dapat mewujudkan

hubungan manusiawi yang efektif. Kepemimpinan hanya terwujud dalam pergaulan antar sesama manusia, yang akan berlangsung secara efektif, jika pemimpin bersifat dan bersikap ramah tamah, suka menolong dan terbuka terhadap kritik. Pemimpin yang suka menolong tidak akan mempersulit urusan yang mudah, bagi orang lain yang memerlukannya. Sebaliknya selalu berusaha mempermudah urusan yang sulit, semata-mata karena senang menolong orang lain. Salah satunya membuka pembicaraan ketika sudah bergabung dengan teman-teman sekelompoknya, sehingga terwujud aspek diatas tersebut. Seorang pepimpin juga harus mampu memberikan instruksi mengenai tugas yang akan dikerjakan. Hal ini juga muncul pada observee. Berdasarkan aspek kepemimpinan, pemimpin harus yakin bahwa dirinya memiliki kemampuan dalam mempengaruhi, mengarahkan, mengendalikan dan membimbing orang yang dipimpinnya. Dengan kemampuan itu pemimpin dapat menjelaskan, membimbing, mengarahkan dan mengawasi secara baik para anggotanya dalam melaksanakan tugas masing-masing. Meminta pendapat kepada anggota kelompoknya. Indikator tersebut juga muncul pada observee dan sesuai dengan aspek kepemimpinan mengenai kemampuan teknis yaitu kecakapan-kecakapan pemimpin dalam hal merencana, mengorganisir, melimpahkan, memberi nasehat, membuat keputusan, mengawasi dan bekerjasama. Indikator ikut mengerjakan tugas merupakan indikator yang paling banyak muncul. Berdasarkan aspek mampu bekerja sama dengan orang lain, pemimpin yang dipercaya, mempercayai orang lain dan percaya diri selalu bersedia dan mampu memelihara kebersamaan. Dalam kebersamaan itu selalu mampu menjalin kerja sama dengan setiap anggota itu selalu mampu menjalin kerja sama dengan setiap anggota kelompok/organisasinya. Pemimpin yang efektif tidak menjauhkan diri atau mengasingkan diri dari anggota kelompok, karena merasa dirinya lebih penting. Dalam kerja sama itu setiap orang akan memberikan

21

sumbangan berupa usaha, karya dan prestasinya, sesuai dengan posisi dan kemampuannya masing-masing. Memberikan semangat kepada anggota kelompok yang lain juga muncul dalam observee. Seperti yang di kemukakan Robert & Hunt (Dalam Riyono & Zulaifah,1997) mengatakan bahwa seorang pemimpin adalah orang yang perilakunya dapat mempengaruhi atau menentukan perilaku anggota lain dalam kelompoknya. Lebih lanjut lagi dikatakan bahwa seorang pemimpin mampu mempertahankan motivasi para pengikutnya, jadi bukan sekedar mempengaruhi dalam sesaat saja. Seorang pemimpin biasanya akan memberika pengaruh yang berjangka panjang / long lasting influence bukan sekedar menggunakan power / kekuasaannya untuk mempengaruhi pengikutnya. Sesuai definisi mengenai kepemimpinan juga yaitu proses mempengaruhi aktifitas-aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan. ( Rauch dan Behling, 1984). Sebagai pemimpin yang baik juga harus dapat mendengarkan orang yang sedang berbicara seperti tidak memotong pembicaraan orang lain. Seperti aspek kecakapan bergaul yaitu pemimpin harus mau bekerjasama dengan yang dipimpin, serta dapat menyesuaikan diri dengan mereka sehingga memperoleh kepercayaan dan kesetiaan, dan dengan sukarela mau bekerja. Pemimpin harus dapat mengembangkan rasa saling menghargai dengan bawahan. Observee juga menunjukkan sikap tersebut. Berdasarkan aspek kemampuan teknis yaitu kecakapan-kecakapan pemimpin dalam hal merencana, mengorganisir, melimpahkan, memberi nasehat, membuat keputusan, mengawasi dan bekerjasama. Sesuai dengan indikator memberikan gagasan, membagi-bagi tugas, mengambil keputusan, berbicara sopan, mampu berkomunikasi dengan semua anggota kelompok, mengajak untuk membuat tugas dan mengajak untuk membuat tugas. Indikator-indikator tersebut juga muncul pada diri observee. Namun ada dua indikator yang tidak muncul pada observee yaitu

mampu menjelaskan hasil karya yang di buat dan memberikan solusi dalam masalah yang muncul. Menurut Stogdill (Dalam Yukl,1994) faktorfaktor yang mempengaruhi kepemimpinan terdiri dari : • • • • • • • Ciri-ciri individu Perilaku individu Pengaruh terhadap orang lain Pola-pola interaksi Hubungan peran Tempatnya pada suatu situasi Persepsi dari orang lain mengenai keabsahan pengaruh tersebut

Hal tersebut dapat terjadi karena salah satu faktor di atas, mungkin karena pengaruh dari orang lain seperti ada orang yang lebih dominan sikap kepemimpinannya dalam kelompok tersebut. Observee juga menunjukkan indikator mampu menjalin kerja sama dengan setiap anggota kelompok, dengan tetap berkomunikasi dan saling membantu dalam membuat menara dari sedotan. Sesuai aspek mampu bekerja sama dengan orang lain. Pemimpin yang dipercaya, mempercayai orang lain dan percaya diri selalu bersedia dan mampu memelihara kebersamaan. Dalam kebersamaan itu selalu mampu menjalin kerja sama dengan setiap anggota itu selalu mampu menjalin kerja sama dengan setiap anggota kelompok/organisasinya. Pemimpin yang efektif tidak menjauhkan diri atau mengasingkan diri dari anggota kelompok, karena merasa dirinya lebih penting. Dalam kerja sama itu setiap orang akan memberikan sumbangan berupa usaha, karya dan prestasinya, sesuai dengan posisi dan kemampuannya masing-masing. Berdasarkan pembahasan tersebut, hal-hal di atas menunjukkan adanya sikap kepemimpinan observee dalam Focus group disscusion. VII.Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan

23

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa observee menunjukan sikap kepemimpinan sesuai pada indikator dan sesuai dengan tujuan laporan praktikum. 2. Saran 1. Bagi Observer Observer datang lebih awal dan sudah bersama observee, ruangan observasi lebih di tata kembali agar observer tidak terhalangi oleh observer yang lain, cctvnya lebih difungsikan kembali agar observer tidak kesulitan dalam melihat observee jika posisinya membelakangi observer dan suara observeenya dapat terdengar jelas. 2. Bagi Obsevee Observee ditempatkan pada tempat tunggu yang sudah disediakan agar ketika fasilitator memanggil dapat langsung masuk ke ruang observee.

Lampiran 1. Hasil dari Rating Scale 1. Indikator 1) : 1/ 22 x 100% 4,55 % =

2. Indikator 2) : 2/ 22 x 100% 9,09 % 3. Indikator 3) : 3/ 22 x 100% 13,64 % 4. Indikator 4) : 22/ 22 x 100% 5. Indikator 5) : 2/ 22 x 100% 9,09 % 6. Indikator 6) : 9/ 22 x 100% 40,91 % 7. Indikator 7) : 3/ 22 x 100% 13,64 % 8. Indikator 8) : 2/ 22 x 100% 9,09 % 9. Indikator 9) : 2/ 22 x 100% 9,09 % 10. Indikator 10) : 10/22 x 100% % 11. Indikator 11) : 18/ 22 x 100% = % 12. Indikator 12) : 5/ 22 x 100% % 13. Indikator 13) : 0/ 22 x 100% 14. Indikator 14) : 0/ 22 x 100% 15. Indikator 15) : 2/ 22 x 100% =0% =0% = =

= = = 100 % = = = = = 45,45 81,82 22,73

= 9,09 %

25

I.

Judul Laporan Praktikum Wawancara.

II.

Latar Belakang Masalah Di masa sekarang sudah banyak yang memiliki kendaraan bermotor. Bahkan di setiap rumah pasti mempunyai kendaraan bermotor, setidak-tidaknya memiliki satu kendaraan. Namun sekarang kita sering menjumpai pengguna jalan yang melanggar tata tertib lalu lintas. Mulai dari yang tidak memakai helm, melanggar lampu merah, belok sembarangan, kebut-kebutan, sampai anak-anak di bawah umur yang belum mempunyai SIM sudah mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya. Tasca, 2002 mengatakan bahwa seorang pengendara harus lulus lisensi, meningkatkan keamanan saat berkendaraan, wajib memakai pengaman saat berkendara, mentaati setiap peraturan atau rambu-rambu yang ada dijalan, dan hukuman bagi pengendara yang buruk. Dapat dilihat pada kenyataannya masih banyak kecelakaan yang disebabkan oleh kesalahan pengendara yang menyebabkan kerugian pada orang lain. Seperti melanggar lampu merah, menyalip kendaraan lain dari kiri, melewati marka jalan, dll. Seiring dengan berkembangnya zaman diikuti dengan kemajuan transportasi yang membuat masyarakat banyak menggunakan kendaraan bermotor. Hal itu diikuti juga dengan semakin meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas. Hal itu disebabkan oleh pengendara yang memiliki

sifat aggressive driving.

III.

Tujuan Untuk mengetahui aggressive driving pada individu.

IV.

Metode Metode yang digunakan yaitu semi terstruktur. Yaitu ada daftar pertanyaan secara tertulis, namun dapat menambah pertanyaan secara spontan (probing) agar mendapat data yang lebih mendalam. Alat pencatat data berupa MP3.

V.

Pedoman Wawancara a. Definisi Menurut Tasca (Pardiningsih, 2008) aggressive driving adalah suatu perilaku mengemudi disebut agresif jika dengan sengaja meningkatkan risiko akan terjadinya kontak fisik yang membahayakan, dan termotivasi dengan ketidaksabaran, ketidakpatuhan terhadap rambu-rambu lalu lintas, segi emosional dan untuk menghemat waktu. b. Aspek-aspek dan Indikator Menurut Johnson, Stardiling, dan Meandows (Pardiningsih, 2008), beberapa aspek yang terkandung dalam aggressive driving antara lain: 1. Lapse adalah kesalahan yang tidak tampak saat sedang berperilaku, terkait dengan hilangnya konsentrasi saat akan menetapkan jalur yang akan ditempuh untuk mencapai suatu tujuan (tempat) ketika sedang mengemudi. Lapse terjadi lebih dahulu sebelum error. Selain itu lapse seringkali merupakan sumber dari ketidaknyamanan para pengemudi, tetapi bukan salah satu yang membahayakan jiwa. Beberapa sumber menyatakan bahwa

27

sebagian besar yang melakukan lapse adalah pengemudi wanita. Secara spesifik umur juga mempengaruhi hal ini. Sebagai contoh ketika seseorang lupa atau tidak mengetahui secara pasti dimana letak lapangan atau tempat parkir dan tidak ingat rute jalan yang dituju ketika berkendara. Indikator perilaku: 1.Mengantuk saat mengemudi kendaraan 2.Lelah 3.Tidak mengerti peraturan rambu-rambu lalu lintas. 4.Tidak tahu jalur yang digunakan (salah jalur) 5.Mengobrol di jalan 2. Error adalah perilaku menyimpang ataupun kesalahan yang dilakukan tanpa sengaja. Error merupakan salah satu contoh kesalahan pengemudi pada pelaksanaannya walaupun sebelumnya telah direncanakan oleh pengemudi tersebut. Contohnya, ketika seseorang salah memberi tanda ketika akan berbelok dan menyalip kendaraan lain dari sebelah kiri. Indikator perilaku : 1.Lupa menyalakan lampu di malam hari. 2.Lupa membawa SIM dan STNK. 3.Lupa menaikkan standar motor. 4.Belok secara mendadak. 5.Mengerem mendadak. 6. Lupa menyalakan dan mematikan lampu tanda belok. 3. Violation adalah dengan sengaja melakukan kesalahan dengan maksud melanggar hukum. Violation merupakan salah satu bentuk perilaku yang secara tipikal mengarah pada aggressive driving. Dalam hal ini violation lebih didefinisikan sebagai bentuk penyimpangan yang disengaja. Violation merupakan

penyimpangan norma-norma dan perilaku mengemudi di jalan. Sebagai contoh seorang pengemudi yang memacu kendaraannya dengan kecepatan yang tinggi dan melanggar rambu-rambu lalu lintas karena berkendara dalam keadaan mabuk (dalam pengaruh alkohol). Contoh lainnya yaitu ketika seorang pengemudi memotong atau berpindah jalur dengan tiba-tiba ketika terjebak macet. Indikator : 1.Tidak memakai helm dan sabuk pengaman. 2.Tidak mempunyai SIM 3.Memodifikasi kendaraan. 4.Mengebut di jalan. 5.Menerobos lampu merah. 6.Berhenti di tempat sembarangan. 7.Parkir di tempat sembarangan. 8.Menyalip kendaraan dari arah kiri. 9.Menggunakan ponsel pada waktu mengemudi. 10.Melawan jalur kendaraan. 11.Menerobos jalur kereta api. 12.Melanggar rambu lalu lintas. 13.Mengemudi kendaraan pada saat dipengaruhi minuman beralkohol c. Daftar Pertanyaan 1. Menanyakan nama, kemudian menjalin raport dengan testee. 2. Apakah kamu bersedia jika wawancara ini direkam? 3. Sudah punya SIM belum? 4. Kendaraannya masih seperti keluaran pabrik atau gimana? (di modifikasi) 5. Ketika mengendarai kendaraan bermotor, apa yang menjadi

29

kebiasaanmu? 6. Kalau naik motor pakai helm tidak? 7. Kalau mau belok biasanya menyalain lampu reting tidak? 8. Kalau ada yang menyalip, tapi mengagetkan apa yang kamu lakukan? 9. Di lampu merah yang ada detikannya, biasanya nunggu sampai lampu hijau atau gimana? 10. Kalau pergi-pergi tapi tempat tujuannya belum tahu pasti, kamu biasanya suka melanggar aturan tidak? 11. Misal sedang terburu-buru, kamu mengendarai kendaraannya gimana? 12. Mengucapkan terima kasih atas waktunya dan kesediaannya di wawancara, data-data sangat berguna untuk saya. d. Faktor yang Mempengaruhi Menurut Tasca (Pardiningsih, 2008) ada beberapa faktor yang mempengaruhi aggressive driving antara lain: 1. Usia dan Jenis Kelamin Umur pengemudi menjadi suatu prediktor yang signifikan terhadap aggressive driving, dimana pengemudi yang umurnya lebih tua lebih sedikit melakukan aggressive driving (atau berbagai macam pelanggaran). Wanita lebih memandang peraturan lalu lintas sebagai sesuatu yang penting dan layak untuk ditaati. Hal ini menyebabkan wanita memiliki perasaan yang lebih kuat untuk melaksanakan kewajiban mematuhi peraturan lalu lintas bahkan disituasi yang tidak membahayakan atau tidak berisiko. 2. Faktor Sosial Berdasarkan perspektif belajar sosial, agresi adalah suatu respon yang dipelajari melalui observasi atau meniru orang lain yang relevan secara sosial. Oleh karena itu, agresi adalah hasil dari norma-norma, penghargaan, hukuman, dan model dari individu yang telah diarahkan. Pada sebagian pengemudi agresif, mereka

mempelajari perilaku mereka dari orang tua, teman sebaya, media dan pengalaman selama mengemudi dijalan. Dari bukti yang tersedia rata-rata orang memaklumi perilaku tersebut karena pada kenyataannya memang tidak ada undang-undang yang secara tegas mengatur tentang aggressive driving. 3. Kepribadian Setiap individu mempunyai sifat atau ciri yang mengatur mereka untuk bertindak secara teratur dan terus-menerus dalam berbagai situasi. Salah satu sifat atau ciri kepribadian yang cenderung tampak pada aggressive driving adalah sensation seeking. Sensation seeking merupakan kebutuhan bervariasi individu yang terdiri atas sensasi kompleks, pengalaman dan kesediaan untuk mengambil risiko, baik secara fisik maupun sosial untuk mendapatkan pengalaman itu. 4. Gaya Hidup Konsep dari gaya hidup lebih mengarah kepada kelompokkelompok perilaku khusus yang ditunjukkan oleh individu dengan kepribadian-kepribadian tertentu. Penelitian yang membahas hal tersebut memfokuskan studinya pada pengemudi-pengemudi muda, dimana ditemukan timbulnya suatu perilaku mengemudi berisiko tinggi disebabkan oleh karakteristik gaya hidup mereka yang menunjukkan agresi. 5. Sikap Pengemudi/ Pengguna Kendaraan Bermotor Pengemudi akan melaporkan pelanggaran lalu lintas jika mereka menemukan situasi yang menghalangi mereka atau ketika pengemudi lain menunjukkan sikap permusuhan secara langsung. Pengemudi yang menilai diri mereka memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengendalikan kendaraan akan mudah terpancing emosinya untuk marah ketika merasa terganggu dengan pengemudi lain, sebaliknya, pengemudi yang mementingkan keselamatan diri mereka akan lebih sedikit terganggu oleh permusuhan dengan

31

pengemudi lain. 6. Faktor Lingkungan Faktor lingkungan seperti lampu merah dapat menjadi pemicu perilaku dari pengemudinya, misal sebentar atau lamanya waktu lampu merah menyala dengan lampu hijau. Kendaraan lampu hijau yang cepat menyala menyebabkan pengemudi memiliki perilaku yang tidak sabar dan cenderung membunyikan klakson secara cepat, sering dan lama. Sementara pada lampu hijau yang lama menyala, pengemudi cenderung bisa menyesuaikan. VI. Deskripsi Subjek A. Interviewee 1 1. Nama 2. Jenis kelamin 3. Pekerjaan 4. Usia berjilbab. B. Interviewee 2 1. Nama 2. Jenis Kelamin 3. Usia 4. Pekerjaan 5. Ciri Fisik : Nita Septiani : Perempuan : 20 tahun : Mahasiswa : Kulit putih, Rambut ikal panjang sebahu, tinggi 160 cm. VII. Hasil Wawancara A. Waktu dan Tempat 1. Interviewee 1 - Waktu : 6 Mei 2009, durasi 13:26 : Winda Lestari : Perempuan : Mahasiswa : 19 tahun : Kulit putih, tinggi 160 cm, gigi gingsul,

5. Ciri-ciri khusus

- Tempat

: Ruang Laboratorium 04.09, Lantai 4 Fakultas

Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia 2. Interviewee 2 -Waktu - Tempat : 10 Mei 2009, 4:56 : Kos Bu Mala, Jl. Kaliurang km.10, Yogyakarta.

B. Hasil Wawancara Berdasarkan (interviewee 1), hasil wawancara tidak dengan interviewee perilaku

interviewee

menunjukkan

aggressive driving walaupun dia tidak memiliki SIM (S1, P, B 40, Hal 36) saat ini namun dia akan membuat ketika pulang ke rumah serta sangat berhati-hati saat mengendarai motor. Hal ini dapat dilihat pada pernyataannya yaitu hanya fokus pada jalan saja (S1, P, B 74, Hal 37), menyalip dari kanan (S1, P, B 94, Hal 38), belum pernah ketilang Polisi (S1, P, B 271-272, Hal 43), lebih memilih menunggu lampu merah walaupun sedang terburu-buru (S1, P, B 120-122, Hal 38-39), kalau mau belok menghidupkan lampu sign dulu (S1, P, B 136, Hal 39), tidak pernah jalan berlawanan arah (S1, P, B 236-242, Hal 42). Hal tersebut tidak menunjukkan adanya aggressive driving, namun sangat berhati-hati ketika sedang mengendarai motor. VIII. Pembahasan Dari hasil wawancara terhadap interviewee, interviewee tidak menunjukkan sikap aggressive driving walaupun dia tidak memiliki SIM saat ini namun dia akan membuat ketika pulang ke rumah serta sangat berhati-hati saat mengendarai motor. Menurut Tasca (Pardiningsih, 2008) aggressive driving adalah suatu perilaku mengemudi disebut aggresif jika dengan sengaja meningkatkan risiko akan terjadi kontak fisik yang membahayakan,

33

dan termotivasi dengan ketidaksabaran, ketidakpatuhan terhadap rambu-rambu lalu lintas, segi emosional dan untuk menghemat waktu. Ada tiga aspek yang mempengaruhi aggressive driving yang dikemukakan oleh Johnson, Stardiling, dan Meandows (Pardiningsih, 2008), yaitu : Lapse (kesalahan yang tidak tampak), Error (kesalahan yang dilakukan dengan tidak sengaja), dan Violation (kesalahan yang dilakukan dengan sengaja). Berdasarkan jenis kelamin wanita lebih memandang peraturan lalu lintas sebagai sesuatu yang penting dan layak untuk ditaati. Hal ini menyebabkan wanita memiliki perasaan yang lebih kuat untuk melaksanakan kewajiban mematuhi peraturan lalu lintas bahkan disituasi yang tidak membahayakan atau tidak berisiko. Dapat dilihat dari interviewee yang belum pernah ditilang Polisi (S1, P, B 271-272, Hal 43), menggunakan helm (S1, P, B 50, Hal 36), Tidak mengebut (S1, P, B 79, Hal 37). Menurut Johnson, Stardiling, dan Meandows (Pardiningsih, 2008), beberapa aspek yang terkandung dalam aggressive driving. Salah satunya violation (kesalahan yang dilakukan dengan sengaja), interviewee menunjukkan hal ini yaitu tidak mempunyai SIM (S1, P, B 40, Hal 36), dan mengerem mendadak (S1, P, B 248, Hal 43). Selain itu dari faktor lingkungan seperti lampu merah dapat menjadi pemicu perilaku dari pengemudinya, misal sebentar atau lamanya waktu lampu merah menyala dengan lampu hijau. Kendaraan lampu hijau yang cepat menyala menyebabkan pengemudi memiliki perilaku yang tidak sabar dan cenderung membunyikan klakson secara cepat, sering dan lama. Namun interviewee lebih memilih menunggu lampu merah walaupun sedang terburu-buru (S1, P, B 120-122, Hal 38-39), dari pada menerobos lampu merah. Namun walaupun interviewee menunjukkan indikator aggressive driving, seperti tidak memiliki SIM dan mengerem mendadak, hal ini tidak membuat interviewee termasuk dalam

aggressive driving. Karena selain itu, interviewee menunjukkan sikap mematuhi lalu lintas dan berhati-hati ketika mengendarai motor.

IX.

Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa interviewee tidak menunjukan aggressive driving dilihat dari perilaku ketika mengendarai motor yang sangat hati-hati dan mematuhi lalu lintas. B. Saran 1. Bagi Interviewee Suaranya agak lebih keras agar dapat masuk ke alat perekam dengan baik karena kondisi ruangan bising. 2. Bagi Interviewer Mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, jadi ketika intervieweenya tidak mempunyai kendaraan di sini, sudah siap dengan pertanyaan yang lain tapi masih berhubungan dengan tujuan wawancara.

35

Lampiran 1. Verbatim Interviewee 1 Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Uraian ER: Assalamu’alaikum mbak, EE: Wa’alaikumsalam, ER: Mbak Winda ya? EE: Iya. UII, saya disini untuk berlatih Tema Pembukaan P, B 1-2, Hal 35) Introduction (S1, P, B 3dengan

mengucapkan salam (S1,

ER: Perkenalkan saya Fera dari Psikologi 16, Hal 35) wawancara…praktikum wawancaranya? EE: Boleh. ER: Bisa tolong agak dikerasin sedikit suaranya suaranya? EE: Boleh. ER: Hee.. makasih, Mbak Winda kuliah dimana? EE: Di UII Farmasi 2006. ER: Oiya,, sebelumnya ini wawancara e… kerahasiaannya kami jaga, Mbak bisa mengeksplorasi apa yang ingin Mbak utarakan disini. E… disini saya lihat wawancara,

saya e… meminta untuk direkam boleh,

21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51

ada EE: Iya.

kursus

Bahasa

Inggris

sama Menjalin raport dengan menanyakan kegiatannya (S1, P, B 21-32, Hal 3536)

Jama’ah Al Ghuroba? ER: E… ini salah satu hobi dari Mbak apa? EE: E…berorganisasi. ER: O… berorganisasi, kalau kursus Bahasa Inggrisnya bukan termasuk hobi apa kesenangan Mbak? EE: Hee,, ga. ER: Bendahara ya Mbak? EE: Iya. ER: Sering melakukan kegiatan di… EE: Sering.

Guessing game Informational probes

ER: E…disini kan dalam berorganisasi Leading Mbak EE: Iya. ER: Mbak sendiri udah punya SIM apa Pertanyaan tertutup belum? EE: Belum. ER: O…belum,, tapi e…sering kendaraan motor atau mobil? Tidak mempunyai SIM pakai (S1, P, B 40, Hal 36) Mirror probes, tertutup sering e…apa… banyak menggunakan kendaraan?

EE: E…sering, tapi kalau misalnya kebawah pertanyaan gitu belum pernah, belum pernah, bipolar biasanya di bonceng gitu. ER: Berarti cuma kos ke kampus aja? EE: He’e.. Reflective probes

ER: Terus kalau bonceng gitu Mbak pakai Clearinghouse probes keamanan gitu ga? EE: E…helm. ER: Selalu..selalu pakai? Menggunakan helm(S1, P, B 50, Hal 36)

37

52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82

EE: Selalu. kos ke kampus, Mbak selalu dibonceng atau pernah mengendarai di depan sendiri? EE: Mengendarai. ER: Mengendarai sendiri? EE: Iya…

Pertanyaan

tertutup

ER: Oiya..kalau misalnya di..apa ke, dari Pertanyaan tertutup

Clearinghouse probes

ER: Kendaraan yang biasanya Mbak pakai Pertanyaan tertutup itu masih orisinil yang sesuai dari Kendaraan pabrik atau gimana? EE: Insya Allah masih orisinil. ER: Belum ada yang di modif-modif? EE: Belum. ER: Terus lakuin? EE: Maksudnya? ER: Ya misalnya nyanyi, mainan HP, atau apa liat-liat kanan-kiri atau apa gitu? EE: Hehe.. ga pernah. ER: Ga pernah, cuma fokus ke jalan aja? EE: Iya. Mbak pakai berapa? EE: E…50 paling. ER: Itu paling kenceng? EE: 60 paling kenceng. km.10 sampai km.14 aja? EE: Iya. Mirror probes, pertanyaan tertutup B 74, Hal 37) Pertanyaan terbuka Reflective probes Tidak mengebut (S1, P, Pertanyaan tertutup ketika Mbak mengendarai Pertanyaan terbuka kendaraan itu, apa yang biasanya Mbak 63-65, Hal 37) Clearinghouse probes tidak dimodifikasi (S1, P, B

ER: Biasanya kecepatan rata-rata yang Fokus pada jalan (S1, P,

ER: Kalau..ini cuma daerah sini aja kan, B 79, Hal 37)

83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113

ER: Nah itu kan kalau pagi atau agak-agak Pertanyaan terbuka siang itu kan rame tu, biasanya e.. di saat Mbak terburu-buru dan ramai apa yang Mbak bakal lakuin, ketika Mbak naik motor? EE: E…biasa aja sih, paling juga nyepetin Mempercepat kendaraan. ER: Nyepetin aja? EE: He’e. nyalip biasanya kanan atau kiri? EE: E..kanan. kendaraan 88-91, Hal 37-38) probes Pertanyaan tertutup Menyalip dari kanan (S1, laju ketika

terburu-buru (S1, P, B

ER: E…menyalip-nyalip karena… kalau Clearinghouse

ER: E..saat Mbak ini apa…mau nyalip itu P, B 94, Hal 38) ngasih kode dulu atau langsung nyalip Clearinghouse probes aj? EE: E…biasanya kan kalau, kalau misalnya e…didepan naik mobil gitu biasanya mereka yang kasih kode kan? ER: He’e. EE: Biasanya kalau dia udah kasih kode kita boleh nyalip. ER: Ga Mbak yang ngasih kode dulu Pertanyaan tertutup terus… EE: Ga. ER: Kalau dari kiri pernah? EE: Ga pernah. ga? EE: Belum pernah. ER: Belum pernah,hehe…ehm, kalau di Mirror probes lampu merah kan di bawah itu ada yang Pertanyaan tertutup Restatement probes Tidak menyalip dari kiri Pertanyaan tertutup

ER: Ga pernah, pernah ketilang Polisi apa (S1, P, B 108, Hal 38)

39

114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144

pakai menitan, kalau yang disini kan ga ada… EE: Iya ER: Itu biasanya Mbak lebih memilih Pertanyaan tertutup nunggu atau kalau misal keburu Tidak menerobos lampu merah (S1, P, B 120122, Hal 38-39) Mirror probes, langsung nerobos aja? EE: Nunggu aja. ER: Nunggu aja, pernah nerobos juga ga? EE: Ga, soalnya saya ga berani. Hehe..

ER: Oo…kalau Mbak pergi ke, misal ke clearinghouse probes atas gitu yang lebih atas Mbak belum Pertanyaan terbuka tahu tempatnya itu e…Mbak biasanya gimana naik motornya? EE: Maksudnya? ER: Bakalan pelan-pelan terus nyari-nyari Pertanyaan tertutup atau kenceng dulu aja ntar kalau kirakira udah nyampe tempatnya ntar belok tiba-tiba atau gimana gitu? EE: E..pelan-pelan sambil nyari-nyari. ER: Terus kira-kira kalau mau belok Pertanyaan tertutup gimana? E…ngidupin lampu sign dulu Menghidupkan atau… EE: Ngidupin lampu sign dulu. ada orang naik motornya tu kenceng banget nyalip, terus Mbak kaget, apa yang Mbak rasain tu? EE: Degdegan, hehe.. ER: Terus? EE: Takut. ER: Gimana? Nudging probes 39) lampu sign (S1, P, B 136, Hal

ER: Pernah ga Mbak ini…ngrasain misalnya Pertanyaan terbuka

145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175

EE: Takut. ER: Ya…apa, berpengaruh ga sama apa… Pertanyaan tertutup keadaan Mbak naik motornya? EE: E… kalau saya merasa lebih…naik motornya jadi lebih pelan malah. ER: Ooo…lebih pelan EE: Karena takut itu ER: Tapi ga pernah ya yang Mbak sendiri Pertanyaan tertutup yang ini yang apa namanya yang ngedahuluin bikin kaget orang? EE: Ga, hehe.. ER: E… kan kalau mbak di klakson juga Pertanyaan terbuka kaget juga ya? EE: He’e. ER: Nah itu Mbak ini ga e…keseringan Pertanyaan tertutup Mbak bunyiin klakson tu gimana? EE: Kenapa? ER: Bunyiin klaksonnya itu diwaktu Pertanyaan tertutup dibutuhin aja apa misalnya buru-buru terus apa agak ngalangin ne terus di klakson atau gimana? EE: Kalau misalnya ngalangin ga pernah ya, ngalangin misalnya ada orang di depan terus ngalangin, nglakson orang tu ga pernah, paling pas perlu aja, kalau misalnya e…di…di lampu merah dah gitu belum jalan gitu, diklakson aja. ER: Terus misal Mbak ne yang di klakson Clearinghouse probes orang, tin..tin..tin.. karena mungkin agak kepinggiran atau agak ke tengah atau gimana itu Mbak bakalan gimana? Clearinghouse probes

41

176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 ER:

Ya bakal kesel, terus malah lebih kenceng, apa apa pasrah aja minggir atau gimana? EE: Paling minggir, hehe. Ga pernah yang langsung ini, Pertanyaan tertutup Tidak mengebut (S1, P, B 182, Hal 40) ah..ngebut aja? EE: Ga pernah. pernah apa, dapet kecelakaan atau? EE: E…kalau di.. kalau ditempatku dulu pernah. ER: Di Bangka? EE: Di Belitung. ER: Oo… di Belitung. EE: He’e..pernah jatuh di…di sekolahan gitu. ER: Di SMA? EE: He’e. ER: Terus itu Mbak yang naik motor atau Restatement probes yang bonceng? EE: Yang naik motor, itu soalnya habis hujan terus licin kan, terus e...banyakbanyak air kaya gitu, e… kepleset gitu lho motornya. ER: Gara…nge-rem apa kena batu? EE: Nge-rem, ER: Oo... EE: Tanahnya tu licin terus ngePertanyaan tertutup remnya...jadi e... jatuh. ER: Minggir gitu. EE: He’e. Pertanyaan tertutup Pertanyaan tertutup Mirror probes Pertanyaan tertutup

ER: E…apa, waktu Mbak naik motor itu Pertanyaan tertutup

207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237

ER: Terus masih sekolah apa ini apa e... Pertanyaan tertutup langsung dibawa balik? EE: E... waktu itu se ga apa-apa, cuman kotor ya kena air jadi pulang dulu baru balik sekolah. ER: Itu ada trauma tersendiri ga sama naik Reflective probes motor? EE: Ga, hehe, ga ada trauma se. ER: Nyantai-nyatai aja? EE: Iya. ER: E... kan pernah kecelakaan tu, kalau Pertanyaan tertutup misal ga? EE: Ga pernah. ER: Ga pernah, cuma nyaksikin...nyaksiin Mirror kecelakaan tu pernah? EE: Belum pernah. ER: Belum pernah juga, terus kalau Mbak di Mirror probes jalan terus ada orang yang tiba-tiba belok, Mbak kan nge-rem mendadak tu? EE: He’e ER: Mbak bakalan nglakson dia apa Pertanyaan tertutup ngebiarin dia belok dengan seenaknya itu? EE: Ngebiarin dia paling. ER: Ngebiarin dia? EE: Iya, hehe... ER: Kalau jalan balik arah pernah juga? EE: Belum pernah Pertanyaan tertutup Tidak salah jalur (S1, P, Mirror probes probes, pertanyaan tertutup Mbak yang naik motor terusnyebabin orang kecelakaan pernah Pertanyaan tertutup

43

238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268

ER: Misal jalannya tu ke sana cuma Mbak B 236-242, Hal 42) lewat sebelah kiri ke sini? EE: Belum pernah ketemu orang seperti itu. ER: Kalau Mbak sendiri...kalau Mbak Pertanyaan tertutup sendiri? EE: Belum pernah. ER: Belum pernah juga, Mbak kalau ini Mirror apa kecepatan 60 itu kan lumayan kenceng juga kalau di jalan sepi, itu pernah nge-rem mendadak apa ga? EE: Pernah. ataugimana? EE: Karena depannya yang nge-rem, karena misalnya kan terlalu deket gitu orangnya nge-rem mendadak terus saya juga nge-rem. ER: E...ga..ga terus yang karena Mbak lupa Pertanyaan tertutup atau o... ini harusnya belok sini terus nge-rem itu pernah apa ga? EE: Pernah, kalau kelewatan jalan gitu kan? ER: He’e. EE: Iya. ER: Terus gimana biasanya yang lain, pada Restatement probes gimana, yang kendaraan yang belakangnya? EE: E... paling nglaksonin juga. ER: Kalau ini, apa misalnya ada polisi.. EE: Iya. ER: Terus di... ada razia SIM STNK tapi Mengerem mendadak (S1, P, B 248, Hal 43) probes, misal di jalan tu mbak lagi 60, pakai pertanyaan tertutup

ER: Itu karena depannya yang nge-rem Clearinghouse probes

269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 EE:

Mbak kebetulan lewat situ... EE: Iya. ER: Gimana Mbak? EE: Ini maksudnya seandainya soalnya saya belum pernah mengalami. ER: O... belum pernah. EE: Iya. ER: Oiya, kalau apalagi ya, emm... Pertanyaan tertutup kendaraan sendiri di rumah ada? EE: Kenapa? ER: Kendaraan pribadi. EE: Iya, motor. ER: Mbak di rumah sering naik motor juga Pertanyaan tertutup kan? EE: Maksudnya di sini apa...? ER: Di rumah di Belitung. EE: Iya sering. ER: Itu e… jaraknya da... kaya yang di sini Pertanyaan tertutup apa lebih, agak lebih jauh lagi? EE: Jaraknya agak lebih jauh lagi. ER: Misal dari sini kemana gitu? EE: E... dari sini ke... ER: Paling jauh Mbak ngendarai motor di Belitung maksudnya? EE: Kalau e… misalnya dari sini ke Pantai Depok itu bisa. ER: Kemana? EE: Pantai Depok. ER: Pantai Depok, o... Mbak pernah, pernah Mirror ngendarain di depan? Maksudnya jaraknya kalau dari probes, pertanyaan tertutup Informational probes Pertanyaan tertutup apa... Tidak Hal 43) pernah ditilang Polisi (S1, P, B 271-272,

45

300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330

Belitung itu. ER: He’e... jarak mbak ngendarain motor di Reflective probes Belitung itu dari, misalnya dari sini sampai ke Pantai Depok? EE: Iya. ER: Itu Mbak yang di depan? EE: Iya. ER: Dengan kecepatan yang sama kaya di Clearinghouse probes sini atau ada yang lebih lagi? EE: Kecepatan yang sama. ER: 50-60 aja? EE: Iya. ER: Berarti ga apa... di saat sepi pun Mbak Pertanyaan tertutup tetap segitu? EE: Iya, hehe. ER: E... kalau SIM, Mbak ingin… punya Pertanyaan tertutup keinginan untuk buat SIM ga? EE: Punya, soalnya saya pulangnya cuma satu tahun sekali jadi rencananya mau buat pas tahun depan gitu. ER: O... tahun depan... EE: Pas balik lagi ke sana. ER: Emm, terus bawa motor lagi ke sini? EE: Iya. ER: Kalau Mbak bawa motor ke sini, Mbak Informational probes juga bakalan dari sini ke kampus aja atau keliling Jogja… gimana? EE: E… kayaknya ga deh kalau keliling Jogja, hehe... ER: Ga... maksudnya jalan-jalan ke agak ke Pertanyaan tertutup bawah lagi? Pertanyaan tertutup Tidak mengebut (S1, P, B 308-310, Hal 45) Restatement probes

331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354

EE: Iya. ER: Mbak pernah, pernah sampai Pertanyaan tertutup mengetahui apa… letak-letak di Jogja, jalan-jalan misalnya agak ke Amplaz atau ke Malioboro, Mbak tahu jalannya kan? EE: Tahu. ER: Pernah di bonceng sampai situ apa Pertanyaan tertutup pernah naik motor sampai situ? EE: Pernah di bonceng. ER: Cuma di bonceng aja? EE: He’e. ER: Ga pernah coba buat ngendarai sendiri? EE: Ga pernah. ER: E... ya udah Mbak saya kira cukup, Penutupan atas informasinya, datanya ini sangat 46) berguna untuk saya untuk latihan praktikum ini... EE: Iya. ER: Dan terima kasih, wassalamu’alaikum Closing (S1, P, B 352354, Hal 46) wr. wb. EE: Wa’alaikumsalam wr. wb. 2. Verbatim Interviewee 2 (Significant Other) dan salam wawancaranya ini dulu, terima kasih (S1, P, B 346-350, Hal Clearinghouse probes Mirror probes

Baris 1 2 3 4

Uraian ER: Assalamu’alaikum Mbak? EE: Wa’alaikumsalam. Kenalin nama saya Opening

Tema dengan

mengucap salam (S2, P, Fera Perkenalan dan menjalin

ER: Selamat sore, maaf ganggu waktunya. B 1-2, Hal 46)

47

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35

Rahayuningtyas, dari Psikologi UII. report (S2, P, B 3-13, Saya disini akan mewawancarai Mbak Hal 46) untuk mengkroscek kembali data yang saya peroleh dari Mbak Winda. E…. Mbak tenang aja karena informasi Mbak beri… kasih untuk kami akan dijaga kerahasiaannya. Oiya… sebelumnya boleh ga wawancara ini saya rekam? EE: Emm… boleh. ER: Dengan Mbak Nita Septiani ya? EE: Iya Mbak. ER: Nama panggilannya siapa Mbak? EE: Em… panggil aja Nita. ER: Mbak kuliah dimana? EE: Em… aku kuliah di Farmasi UII. ER: O… di Farmasi UII. EE: Iya. ER: Mbak kenal dengan Mbak Winda Pertanyaan tertutup Lestari? EE: E… Winda anak Farmasi juga kan, iya kenal, dia sekampus sama aku kok. ER: Terus ada hubungan apa Mbak Nita Pertanyaan tertutup dengan Mbak Winda? EE: Saya bersahabat dengan Winda, ya lumayan deket lah. ER: O… temen deket ya? EE: Iya Mbak. ER: Sudah berapa lama Mbak kenal dengan Informational probes Mbak Winda? EE: Kira-kira dari pertama kuliah disini lah, Teman dekat interviewee Pertanyaan tertutup Mirror probes Informational probes Informational probes Personal inquiries

36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66

ya dari tahun 2006 saya kenal dia, (S2, P, B 35-38, Hal 46) berarti sekitar 3 tahunan, terus lamalama jadi temen deket deh. ER: O… gitu, kira-kira Mbak tahu ga Pertanyaan tertutup kebiasaannya Mbak Winda, termasuk saat dia mengendarai motor? EE: Ya jelas tahu dong Mbak, kan dia kalau Mengetahui pergi ke kampus atau pergi maen dan interviewee kok. siapa Mbak? EE: Ya gantian, kadang aku yang di depan, tapi kadang juga dia yang di depan. Cuma seringnya sih aku, kalau aku capek baru gantian. ER: Kalau misalnya Mbak Winda yang di Clearinghouse probes depan, biasanya gimana sih dia naik motornya? EE: E…ya dia kalau dia naik motornya Tidak mengebut (S2, P, lumayan pelan ya menurutku ga B 55-59, Hal 48) pernah lebih dari 60 km/ jam, soalnya juga cuma di kampus aja jadi ga kenceng-kenceng amat, e… kalau misal pergi juga sih, dia juga cuma sekitar jakal atas e… ga pernah sampai ke bawah-bawah. ER: Terus kalau naik motor gitu pakai helm Pertanyaan tertutup ga? EE: Kalau dia tu rajin banget pakai helmnya Menggunakan helm (S2, Mbak, mau jauh apa deket juga pakai P, B 65-67, Hal 48) 45, Hal 47-48) kebiasaan ketika

kemana pun dia pasti bareng ma aku berkendara (S2, P, B 42ER: Terus yang biasanya ngendarai motor Restatement pobes

49

67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97

helm. ER: O… jadi kemana-mana selalu pakai Clearinghouse probes helm ya Mbak? EE: Iya. punya SIM apa belum? EE: E… setauku sih belum ya, soalnya dia Tidak mempunyai SIM juga ga ada motor disini. Katanya sih (S2, P, B 73, Hal 48) baru mau bikin pas e… besok dia mau pulang ke Belitung sekalian bawa motor ke sini. ER: E… selama Mbak kenal dengan Mbak Pertanyaan tertutup Winda pernah ga dia ketilang? sih e… ga pernah ketilang tu mba. ketilang juga ga? EE: Setahuku sih ya Mbak ga juga, soalnya kalau ada apa-apa sama dia, dia pasti cerita sama aku. ER: O… selalu curhat gitu ya Mbak ya, Pertanyaan tertutup kalau nglanggar lalu lintas pernah ga? EE: Uh… dia tu tertib banget sama lalu Tidak melanggar lampu lintas, ga pernah nglanggar lampu merah, menaati tata tertib merah, kalo ngendarain motor aja lalu lintas (S2, P, B 89Mbak di pinggir, pokoknya dia tu 93, Hal 49) tertib banget deh Mbak. ER: O… gitu, jadi hati-hati banget ya Mbak Clearinghouse probes kalau naik motornya? hehe… Menaati tata tertib lalu Hal 49) EE: Iya, dia tu udah hati-hati, tertib juga… lintas (S2, P, B 96-97, Tidak Hal 49) melanggar lalu EE: Ketilang, kalau dia lagi pergi sama aku lintas (S2, P, B 80-81, ER: Terus kalau lagi ga sama Mbak pernah Restatement probes Menggunakan helm (S2, P, B 70, Hal 48)

ER: Mbak tahu ga, Mbak Winda itu sudah Pertanyaan tertutup

98 99 100 101 102 103 104 ER EE S1 S2 P B Hal

ER: E… terima kasih Mbak atas waktunya Appreciation (S2, P, B dan kesediaannya untuk wawancara, 98-101, Hal 49) informasi yang Mbak berikan sangat berguna untuk kelengkapan data saya. EE: Iya sama-sama ya Mbak. ER: Iya, Assalamu’alaikum wr. wb. EE: Wa’alaikumsalam. : Interviewer : Interviewee : Subjek 1 (interviewer) : Subjek 2 (significant other) : Perempuan : Baris : Halaman Closing (S2, P, B 103104, Hal 49)

Keterangan :

51

Daftar Pustaka As’ad. 1986. Kepemimpinan Efektif Dalam Perusahaan. Yogyakarta : Liberty Yogyakarta. Bima Taufan, Andika. 2008. Skripsi : Proses Pengembangan Kepemimpinan Profetik. Universitas Islam Indonesia. Kartono, Kartini. 1994. Pemimpin dan Kepemimpinan. PT. Raja grafindo Persada, Jakarta. Kusumadewi, Wijayani. 2002. Hubungan Antara Gaya Kepemimpinan

Demokratis Dengan Komitmen Organisasi. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia. Najih, Achmad. 2000. Hubungan Antara Fungsi Kepemimpinan Dengan Kepuasan Kerja Karyawan PT Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Nawawi, Hadari. 2004. Kepemimpinan Yang Efektif. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Pardiningsih, Nopiyanti. 2008. Hubungan antara Risk Taking Behavior dengan Aggressive Driving. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia. Available at http://72.14.235.132/search? q=cache:6bo1WguvUzgJ:dhimaskasep.files.wordpress.com/2008/03/09b-

teori kepemimpinan.pdf+kepemimpinan+filetype:pdf&hl=id&ct=clnk&cd=13& gl=id&lr=lang_id.

53

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful