1

PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI LEMBAGA TERAPI ANAK ALTISMA KUDUS

SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata 1 untuk meraih gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Nama Mahasiswa NIM Program Studi

: Erianawati : 1124000048 : S1 Kurikulum Teknologi Pendidikan

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

2

PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada : Hari Tanggal : :

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Hardjono NIP. 130781006

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

Mengetahui : Ketua Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan

Drs. Haryanto NIP. 131404301

3

PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : Rabu : 29 Juni 2005

Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. Siswanto, MM NIP. 130515769 Pembimbing I

Dra. Nurussaadah, Msi NIP. 131469642 Anggota Penguji Penguji I

Drs. Hardjono NIP.130781006 Pembimbing II

Drs. Kustiono, M.Pd NIP. 131998682 Penguji II

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

Drs. Hardjono NIP.130781006 Penguji III

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

4

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi atau tugas akhir ini benarbenar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang,

Erianawati NIM. 1124000048

” (Q. sesungguhnya mencari ilmu itu wajib bagi orang-orang Islam.5 MOTTO DAN PERSEMBAHAN “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan.” (HR. Alam Nasyrah : 6) “Carilah ilmu walaupun (keberadaan ilmu) di negeri Cina.S. Baihaqi) PERSEMBAHAN Ayahanda dan Ibunda kami tercinta Kakanda dan Adinda kami tercinta Teman-teman kami TP Angkatan 2000 dan Almamater . Baihaqi) “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila mengerjakan suatu pekerjaan dilakukan secara itqon (professional)” (HR.

” Kata tiap-tiap menunjukkan bahwa semua warga negara Indonesia termasuk anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus berhak untuk memperoleh pendidikan. Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menggambarkan anakanak yang menderita ketidakmampuan untuk ‘stop. listen and think’ (Abikoff. Perilaku mereka tidak diatur melalui aturan yang jelas. memakan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. Walaupun dibutuhkan kesabaran. 2005. M. Pembimbing I Drs. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Pembimbing II Drs.. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. guru. Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. look. energi. Suripto. salah satunya adalah anak hiperaktif. pengasuhan dan penanganan secara khusus sejak dini. Kelemahan tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menggunakan strategi kognitif yang terorganisir sehingga sulit memusatkan dan mempertahankan perhatian. Hardjono.6 ABSTRAK Erianawati. salah satunya adalah dengan terapi. . Si. dan disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). Agar perkembangan anak hiperaktif bisa kembali seperti anak normal atau setidaknya bisa berkurang hiperaktifitasnya dan dapat berkomunikasi/menjalin hubungan baik dengan orang-orang disekitarnya maka anak hiperaktif perlu mendapatkan pendidikan. dan orang dewasa lain) sangat diperlukan dalam upaya penyembuhan anak hiperaktif. Untuk itu peran pendidik (orang tua. terutama media visual. Kata Kunci: Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) berbunyi: “Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapat pengajaran. 1987). Terkait dengan pembelajaran anak hiperaktif penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perencanaan. Di dalam pembelajaran anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus tidak lepas dari penggunaan media. karena media visual (gambar) merupakan alat bantu komunikasi yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak. namun dengan dilakukannya terapi secara intensif akan membantu penyembuhannya dan secara bertahap hiperaktifitasnya akan berkurang.

terutama media visual (gambar). Cara membelajarkannya dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. sedangkan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi yaitu anak yang mengalami gangguan perilaku tetapi ringan (hiperaktif ringan) dan kurang kokonsentrasi. bentuk. Pembelajaran ini bertujuan untuk membantu anak dalam generalisasi dan supaya anak menguasai berbagai konsep seperti warna. Autis dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi. afektif dan psikomotorik pada anak. yaitu cara pengambilan informan penelitian yang bukan didasarkan atas strata. Untuk itulah dalam membelajarkan anak hiperaktif tidak lepas dari penggunaan media. Pemilihan informan penelitian dilakukan dengan cara sampel bertujuan (purposive sample). arah. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Autis dan Hiperaktif (A & H) dan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi (NH & KK). Speech Delayed dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan terlambat bicara dan kelainan perilaku. Dan metode yang digunakan dalam pengajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. 3) mengetahui bagaimana evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu untuk memenuhi kebutuhan informasi sesuai dengan permasalahan penelitian. sehingga anak dapat menangkap pesan. yang termasuk kategori hiperaktif disini adalah Speech Delayed dan Hiperaktif (SD & H). besaran dan lain-lain. identifikasi huruf. karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup Identifikasi benda. Disamping itu untuk meningkatkan kemampuan bahasa. wawancara dan dokumentasi. Dan dengan informan peneliti 6 (enam) orang yang terdiri dari Kepala Terapi. Metode pengumpulan data adalah metode observasi. interaksi sosial dan aktivitas imajinasi (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan kelainan perilaku. mencocokkan (matching). ukuran. identifikasi bentuk. Sedangkan dalam membelajarkan anak hiperaktif digunakan sistem pembelajaran lovaas one on one (pembelajaran satu guru satu murid). Guru Pembimbing/Terapis dan Orang Tua Siswa. kognitif. jelas dan konsisten dan dengan suara netral . peneliti memperoleh gambaran bahwa perencanaan pembelajaran (kurikulum) anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah menggunakan kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. identifikasi warna. 2) mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Penelitian ini dilakukan di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus dengan sasaran penelitian anak hiperaktif. identifikasi angka dan identifikasi kata kerja. dan beri perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan.7 Adapun tujuan penelitian ini untuk: 1) mengetahui bagaimana merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi. Dalam memberikan perintah/instruksi ini harus disampaikan dengan singkat.

Apabila anak sulit untuk diajarkan maka cukup diberi iming-iming. Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespon dengan benar. Saran dari penulis kepada pihak-pihak yang terkait diantaranya yaitu kepala terapi. psikiater anak. tetapi dengan adanya media visual (gambar) dan prompt (bantuan/arahan) dari terapis dapat membantu mengurangi/menghilangkan gangguan pemahaman bahasa pada anak. Berdasarkan evaluasi proses dari hasil pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada 6 anak hiperaktif dapat disimpulkan bahwa pelajaran yang masih sering mengalami kendala/hambatan adalah identifikasi benda. dokter anak. afektif dan psikomotorik pada anak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media visual (gambar) memudahkan anak dalam memahami konsep dan membantu dalam generalisasi. dan Departemen Pendidikan Nasional hendaknya aktif dalam meningkatkan kinerjanya serta mendukung program terapi ini sehingga dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. seperti hadiah untuk menarik minat mereka belajar. maka mengajar tanpa prompt dan memberikan reinforce respons yang benar saja. identifikasi bentuk dan identifikasi kata kerja dimana kasusnya sama yaitu kurangnya ketelitian anak dalam membaca gambar dan gangguan dalam pemahaman bahasa. Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah evaluasi proses yaitu evaluasi yang dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. kognitif. Hal ini terbukti dengan 75 % anak hiperaktif berhasil menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru pembimbing/terapis melalui media visual (gambar) ini. anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan.8 (cukup keras. orang tua siswa. maka berikan prompt (bantuan/arahan) pada anak dan setiap kali anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar maka berikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan).. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami. Apabila dalam pembelajaran. psikolog anak. . Disamping itu dapat meningkatkan kemampuan bahasa. guru pembimbing/terapis.

baik secara langsung maupun secara tidak langsung. 5. A T. Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan. tidak lepas dari peranan berbagai pihak. oleh karenanya pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada : 1. Suripto. Siswanto.9 KATA PENGANTAR Dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan rasa syukur Alhamdulillah. Drs. Hardjono. Drs. Msi. SH. pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini. Rektor Universitas Negeri Semarang. 2. Drs. MM. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian. Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan. Soegito. Menyadari keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki. Skripsi ini disusun dalam rangka menyelesaikan studi strata satu untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Semarang. . maka dalam penyusunan skripsi ini. Haryanto. pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini. 3. 4. MM. Ketua Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Drs. Drs. segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga skripsi yang berjudul “Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus” telah terselesaikan.

9. Penulis . Semoga semua bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Ibu Nur Halimah. Kepala Terapi Anak Bermasalah Al Tisma Kudus yang telah memberikan ijin penelitian dan informasi yang berguna bagi penulis. Amin Akhirnya peneliti mengharapkan semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembacanya. terima kasih ku ucapkan atas do’a dan kasih sayang serta pengertian dan perhatiannya selama ini. 10. yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semarang.10 6. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan yang telah memberikan pengalaman. Para Guru Pembimbing Terapi Anak Bermasalah Al Tisma Kudus yang telah meluangkan waktu guna memberi arahan dalam wawancara yang diperlukan dalam penelitian ini. ilmunya kepada penulis. Bapak dan Ibu-ku. 7. 8.

.......................................................................................................... D............1 Permasalahan ..........6 Penegasan Istilah ............................. G...................................................................................... C................................................................xi DAFTAR TABEL .............................. XVIII BAB I PENDAHULUAN A.........11 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................9 Tujuan Penelitian ......... xvii DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................................................7 Pembatasan Permasalahan ................................................................................................ vi KATA PENGANTAR ...................................................................................... B...................................................................... xvi DAFTAR GAMBAR ............. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................v ABSTRAK .9 ............................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................. ix DAFTAR ISI ..................................9 Rumusan Permasalahan .................. iv HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................... Latar Belakang Permasalahan...6 Identifikasi Permasalahan ................................................................. F.................. E... iii HALAMAN PERNYATAN ..........................................................................

...........16 5......................... Anak Hiperaktif ........... Asumsi Proses Pembelajaran ........................15 4........31 4...................................15 3................................................................................................ Ciri-ciri Hiperaktif ...................... Media Pembelajaran ......... Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran .......... Ciri-ciri Pembelajaran ..............................25 5.......... Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran ............................ Manfaat Media Pembelajaran .10 BAB II KAJIAN PUSTAKA A......................26 C..................... Pengertian Hiperaktif .... Peranan Media Pembelajaran ...................................................................................12 H..........16 6................................17 B............................. Pengertian Belajar dan Pembelajaran ...............12 1....................... Masalah Anak Hiperaktif dan Penyelesaiannya ............. Tujuan Pembelajaran .......39 ............ Hakekat Pembelajaran . Manfaat Penelitian ..... Unsur-unsur Dinamis dalam Pembelajaran ........................... Pengertian Media Pembelajaran .................10 Sistematika Skripsi ....... Cara Menangani Anak Hiperaktif ............24 4..12 2........................... I.................... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ....................27 2...............19 3..........29 3..........................18 2...............................18 1.....27 1........

..........................................................................13 D..................................... Bentuk Media Visual (Gambar) .................... Media Visual ..... Evaluasi .................... Pelaksanaan Pembelajaran .........91 C.......87 BAB III METODE PENELITIAN A.............................. Penggunaan Media Visual .................50 Penggunaan Media Visual dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif 80 E.............................................. Pengembangan Media Visual ...........80 2...81 3............................ Pengembangan Kurikulum ....................... Teknik Pengumpulan Data ... Pengertian Media Visual ......................................................45 3.....................................................80 1....................48 5.44 1..............................99 ...44 2......... Teknik Analisis Data ......................................................................89 B.................. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif . Fungsi Media Visual .......................96 E............. Latar dan Sasaran Penelitian ............................92 D....45 4..... Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data.... Pendekatan dan Prosedur Penelitian ....................................................................................

............. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN ............ ANALISIS DATA ..................................................... PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ...................... 107 B.................................. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ............................................ DESKRIPSI SETTING PENELITIAN ..... 147 DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .101 1............................... EVALUASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ........................... 134 C.... PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR ....... PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR ....101 2............ DESKRIPSI INFORMASI PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN DI MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ................. 123 1........... 147 1........................................................ 125 3.......... 124 DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS 2.......14 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.........

.............................................. Saran .........................................101 3..................................................................... Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus .......................15 2................... 163 DAFTAR PUSTAKA ....................... 148 3................. 164 LAMPIRAN-LAMPIRAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN D......................................... DESKRIPSI SETTING PENELITIAN ... PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ......................... 158 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A................101 .......................... SIMPULAN . 162 B.............................................. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN ......................

......... 125 6... EVALUASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ........................... 147 .......................... PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .......................................................................................................................... PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .......... DESKRIPSI INFORMASI PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS . 123 4........................................... ANALISIS DATA .............. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ..................16 4....... 107 E.......................... 134 F.... 147 4........................................... 124 5..............................................................

.. SIMPULAN ............................ 148 6........................................ PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ....... 158 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A....................... Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus ...................................... 163 DAFTAR PUSTAKA ........................17 5................................. Saran ............ 162 B........................ 164 LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................................................

.2.........3.........105 ............... Data Terapis Tahun 2004/2005 ........ Data Siswa Hiperaktif .......104 4. Data Siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus Tahun 2001-2004 ............................1.......................................18 DAFTAR TABEL Tabel Hal 4.103 4...............

.............. 29 .1...................................19 DAFTAR GAMBAR Gambar 2. Grafik perbandingan jumlah aktivitas “tak terarah” Hal anak hiperaktif dan anak normal ...

........ Bagan analisis data kualitatif .1................20 DAFTAR BAGAN Bagan Hal 3....... 98 .............................

............................................................. Lembar Penilaian ...................................................167 2......................... Surat Keterangan Penelitian ................................................. Denah Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus ....................... Hasil Dokumentasi ............175 5..................213 7.. Pedoman Wawancara ......................................................21 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Hal 1..............................169 4........... Hasil Wawancara ............................168 3.....................................215 ............................... Pedoman Kurikulum ..........................................214 8.............. Permohonan Ijin Penelitian ........................................207 6.........

Salah satu upaya Pemerintah dalam memantapkan pembangunan di bidang pendidikan adalah disahkannya Undang-Undang No. 20 Tahun 2003. 72 Tahun 1991.” Selanjutnya ayat (2) berbunyi: “Ciri khas satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat tetap diindahkan.” Kata tiap-tiap menunjukkan bahwa semua warga negara Indonesia termasuk anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus/berkelainan berhak untuk memperoleh pendidikan.22 BAB I PENDAHULUAN A. tentang Pendidikan Luar Biasa pasal 3 ayat (1) “Jenis kelainan peserta didik terdiri atas kelainan fisik dan/atau mental. Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) berbunyi: “Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapat pengajaran. dan/atau kelainan perilaku. tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 8 ayat (1) berbunyi: “Warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa. selanjutnya pasal 47 ayat (1) berbunyi: “Masyarakat sebagai mitra pemerintah berkesempatan seluas-luasnya dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.” Sebagai tindak lanjut dari Undang-undang tersebut sudah diterbitkan pula Peraturan Pemerintah No.” . Latar Belakang Permasalahan Pendidikan adalah usaha sadar untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak didik yang terarah menuju tercapainya pendidikan nasional.

Pada tahun 1996 NIMH menyebutkan beberapa gejala utama hiperaktifitas: Perasaan gelisah. guru dan orang-orang yang berpengaruh di sekitarnya. ketidak teraturan hormonal. tingkat kecerdasan (IQ). lingkungan fisik. listen and think’ (Abikoff. Penyebab pasti hiperaktifitas pada anak tidak dapat disebutkan dengan jelas. . terburu-buru.23 Peraturan Pemerintah tahun 2002 tentang Pendidikan Luar Biasa yang merupakan penyempurnaan terhadap PP PLB. sehingga perlu pelayanan pendidikan khusus. dikatakan pada beberapa referensi bahwa penyebab terjadinya hiperaktifitas bersifat multi faktorial dimulai dari faktor genetik. Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menggambarkan anakanak yang menderita ketidakmampuan untuk ‘stop. antara lain adalah hiperaktif. terjadinya disfungsi metabolisme. look. perkembangan otak saat kehamilan. selalu menggerakkan tangan dan kaki tanpa maksud tertentu. pada salah satu pasalnya berbunyi bahwa anak yang memerlukan perhatian khusus. menjawab pertanyaan yang belum selesai ditanyakan dan tidak sabaran menunggu giliran. 1987). Kelemahan tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menggunakan strategi kognitif yang terorganisir sehingga sulit memusatkan dan mempertahankan perhatian. sosial dan pola pengasuhan anak oleh orang tua. Perilaku mereka tidak diatur melalui aturan yang jelas. tidak bisa duduk dengan tenang. perkembangan otak saat perinatal.

yang ditandai dengan: kurangnya perhatian pada satu bentuk kegiatan tertentu. hiperaktifitas (bagian terbesar) dan impulsifitas. bergerak tanpa arah dan tujuan. Data dari NIMH (2001). National Institute of Mental Health (2003). Perrin dkk. tidak dapat duduk dengan tenang. menyatakan bahwa hiperaktifitas (sebagai bagian dari ADHD) adalah kelainan perilaku yang bersifat neurologis tersering yang terjadi pada masa kanak-kanak. dan merupakan suatu bentuk kelainan perilaku dengan jumlah kejadian gangguan afektif yang bersifat kronis terbanyak pada anak-anak usia sekolah. Gangguan hiperaktif merupakan salah satu kelainan yang sering dijumpai pada kasus-kasus psikiatri anak.24 James M. Jika tidak tertangani dengan segera akan berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan dalam bersosialisasi serta kemampuan menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. hal ini dapat berlanjut hingga masa remaja bahkan saat dewasa. Pengelompokan ADHD merujuk gejala yang paling menonjol yang terjadi meliputi kurang perhatian. problem hubungan interpersonal baik dengan keluarga atau dengan lingkungan di sekitarnya (teman sepermainan) dan cenderung kurang percaya diri (minder). Anak-anak dengan ADHD biasanya juga disertai dengan berbagai kendala fungsional lainnya. seperti rendahnya kemampuan akademis di sekolah. menyebutkan beberapa hal yang berhubungan dengan ADHD: . Dalam perkembangannya seorang anak dengan kelainan ini akan terjadi depresi. rendah diri dan beberapa masalah emosi yang tidak terkendali. dan tidak pernah menyelesaikan suatu pekerjaan dengan tuntas.

Agar perkembangan anak hiperaktif bisa kembali seperti anak normal atau setidaknya bisa berkurang hiperaktifitasnya dan dapat berkomunikasi/menjalin hubungan baik dengan orang-orang disekitarnya maka anak hiperaktif perlu mendapatkan pendidikan. . pengasuhan dan penanganan secara khusus sejak dini. 5. gangguan kecemasan. padahal anak hiperaktif memerlukan pendidikan spesifik. salah satunya adalah dengan terapi. 4. Laki-laki lebih sering 2 sampai 3 kali dari pada perempuan. Diperkirakan diderita 4. lebih-lebih terhadap anak hiperaktif yang disertai IQ di bawah rata-rata. Selama ini pelayanan pendidikan untuk anak hiperaktif atau anak yang ber kebutuhan khusus lainnya di Indonesia lebih cenderung dimasukkan kependidikan anak terbelakang mental/tunagrahita. demikian juga dengan kebutuhan guru-gurunya. ketergantungan obat dan perilaku anti sosial. 3. Gejala-gejala ADHD biasanya ditemukan pada usia prasekolah atau sekolah dasar dan menetap hingga remaja bahkan terkadang berlanjut hingga dewasa. ADHD sering disertai dengan terjadinya gangguan depresi.1 persen anak usia 9 hingga 17 tahun selama periode 6 bulan. Akibatnya anak hiperaktif yang IQ nya normal atau di atas normalpun tidak mendapat pendidikan yang maksimal atau sesuai dengan kebutuhan. Anak dengan ADHD lebih sering mengalami trauma dibandingkan dengan anak normal.25 1. 2. gangguan hubungan personal.

dan berat). Amerika Serikat.26 Menurut penelitian di Virginia University. Untuk itu peran pendidik (orang tua. terutama media visual. Dalam pembelajaran anak hiperaktif di tempat-tempat terapi di Jawa Tengah termasuk di Kudus. memakan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. tidak lepas dari penggunaan media. guru. dan orang dewasa lain) sangat diperlukan dalam upaya penyembuhan anak hiperaktif. maka penulis tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul: “Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus”. sedang. namun dengan dilakukannya terapi secara intensif akan membantu penyembuhannya dan secara bertahap hiperaktifitasnya akan berkurang. . Pendidikan melalui media visual adalah metode/cara untuk memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dapat dilihat daripada sesuatu yang didengar atau dibacanya. energi. sedangkan 80% menunjukkan IQ di bawah rata-rata (ringan. terutama dalam pembelajaran anak hiperaktif. Dengan menggunakan media visual dapat meningkatkan efektifitas dan efesiensi proses pembelajaran. Walaupun dibutuhkan kesabaran. kemampuan menerima pengetahuan (Cognitive Ability) anak hiperaktif 20% masih menunjukkan kemampuan berpikir yang normal atau di atas normal. dan disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). Berdasarkan uraian di atas.. karena media visual (gambar) merupakan alat bantu komunikasi yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak.

Tapi dalam hal ini hanya dikhususkan pada media gambar. Media ini dapat berupa: media bentuk papan. media gambar dan media proyeksi (Daryanto. 1993:27). (KBBI. Media Visual Media adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai dengan lebih baik. Media visual adalah semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar mengajar yang bisa dinikmati lewat panca-indera mata. cara. memanfaatan sesuatu untuk tujuan tertentu.27 B. Melalui media visual. yaitu sebagai berikut: 1. 1989:569). . C. timbul permasalahan “Bagaimana cara menggunakan media visual (gambar) dalam pembelajaran anak hiperaktif ?” mengingat betapa pentingnya media tersebut demi perkembangan mereka. Permasalahan Dari uraian diatas. lebih sempurna (Depdikbud. Penggunaan Secara harfiah. 1999:569) 2. diharapkan proses pembelajaran akan mendorong tumbuhnya perhatian dan pencapaian hasil belajar yang lebih baik bagi siswa. penggunaan dapat diartikan proses. Penegasan Istilah Berkaitan dengan judul di atas ditegaskan pengertian masing-masing istilah.

4. . 1999:8). Org. Mengacu pada pengertian istilah di atas maka pengertian judul di atas adalah pemanfaatan media visual (gambar) untuk pembelajaran anak hiperaktif. Pembelajaran Pembelajaran merupakan interaksi antara guru dengan siswa untuk mencapai suatu tujuan.28 3. Kids Health. atau yang dikenal sebagai ADD (Attention Deficit Disorder) atau ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder) (Keluarga. D. Dalam pembelajaran ada pengakuan terhadap kemampuan siswa untuk belajar dan kemampuan ini akan terwujud apabila dibantu dan dibimbing oleh guru (Tim MKDK. Komponen lingkungan belajar menurut Sudjana (1997:1) mencakup (a) tujuan pengajaran. 5. salah satunya adalah anak hiperaktif. 1996:10). Identifikasi Permasalahan Untuk mengajarkan anak hiperaktif dalam rangka mencapai tujuan instruksional diperlukan sistem lingkungan belajar. Hiperaktif Hiperaktif merupakan gangguan pemusatan perhatian yang disertai gejala hiperaktivitas motorik. (b) bahan pengajaran. Terapi Anak Al Tisma Kudus Adalah salah satu bentuk pelayanan pendidikan nonformal dalam rangka penyembuhan gangguan perilaku dan pemusatan perhatian yang khusus menangani anak berkebutuhan khusus di Kudus.

khususnya anak hiperaktif masih dalam tahap konkret-operasional yaitu pola berpikir anak masih terbatas pada benda-benda konkret yang dapat dilihat dan diraba. Masih banyaknya bentuk media visual yang digunakan dalam pembelajaran yang harus diketahui oleh seorang guru terutama dalam membimbing anak hiperaktif. .29 (c) metodologi pengajaran. berbagai permasalahan yang memperkuat alasan penelitian dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yakni metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar. 2. guru. sehingga dapat memotivasi anak untuk belajar. Pentingnya penggunaan media visual dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran anak hiperaktif mengingat betapa bandelnya dan sulitnya anak hiperaktif untuk diatur sehingga diharapkan dengan penggunaan media visual ini dapat menarik minat mereka untuk belajar. Di dalam pembelajaran. 3. Pentingnya peran pendidik (orang tua. Untuk dapat mencapai tujuan instruksional peranan guru dalam menggunakan metode serta media jelas akan menolong siswa dalam belajar memahami suatu materi pelajaran tersebut. Berdasarkan uraian di atas. Komponen-komponen ini saling berinteraksi secara bervariasi dalam proses belajar. (d) penilaian pengajaran. dan orang dewasa) dalam upaya pengembangan potensi anak terutama anak hiperaktif demi masa depan mereka nantinya.

Merancang materi pembelajaran. maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: . Penelitian dilakukan pada anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. F. Bagaimanakah evaluasi pembelajaran anak hiperaktif media visual (gambar). maka peneliti memberi batasan masalah antara lain: 1. Rumusan Permasalahan Dalam penelitian ini yang menjadi rumusan masalah adalah: Bagaimanakah merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). 2. sebagai populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua siswa hiperaktif yang berjumlah ± 6 orang siswa.30 E. Pembatasan Permasalahan Dalam penelitian ini untuk menghindari terjadinya pembiasan. dengan menggunakan G. Tujuan Penelitian Berdasarkan atas permasalahan yang diajukan. pelaksanakan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran yang hanya dibatasi dengan menggunakan media visual (gambar) saja.

Untuk mengetahui bagaimana mengevaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Manfaat bagi orang tua: memberikan wawasan yang lebih luas tentang anak hiperaktif dan cara mengatasinya. 3. 2. I. berisi: . Sistematika Skripsi Skripsi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bagian Awal Skripsi. 3. memilih model penggunaan media visual yang cocok bagi kebutuhan siswa. 4. Untuk mengetahui bagaimana merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). 2. H.31 1. Manfaat bagi Peneliti: menambah pengetahuan tentang pembelajaran khususnya dalam penggunaan media visual bagi anak hiperaktif. Manfaat Penelitian Ada beberapa manfaat dalam penelitian ini. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Manfaat Teoritis: menambah wawasan tentang kependidikan dalam penggunaan media visual (gambar) sebagai media pembelajaran. yaitu: 1. Manfaat Praktis: diharapkan para Pendidik/Guru (terutama pembimbing anak hiperaktif) dapat mengembangkan media pembelajaran melalui media visual: merancang media.

BAB III. Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab ini menerangkan Hasil Penelitian dan Pembahasan. Istilah. dan Teknik Analisis Data. BAB IV. Abstrak. dan Daftar Lampiran. Anak Hiperaktif. Halaman Pernyataan. Media Pembelajaran. BAB V. Halaman Motto dan Persembahan. Halaman Persetujuan Pembimbing. Media Visual dan Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif. berisi: Daftar Pustaka dan Lampiran-lampiran. Teknik Pengumpulan Data. Simpulan dan Saran Bagian Akhir Sripsi. Daftar Tabel. Latar dan Sasaran Penelitian. Daftar Gambar. Kajian Pustaka Pokok-pokok yang tercakup dalam kajian pustaka ini adalah uraian tentang Hakekat Pembelajaran. berisi: BAB I. Pendahuluan Dalam bab ini dijelaskan tentang Latar Belakang Permasalahan. Halaman Pengesahan. Metode Penelitian Dalam bab ini diuraikan tentang Pendekatan dan Prosedur Penelitian. Manfaat Penelitian dan Sistematika Skripsi. BAB II. Pembatasan Penegasan Permasalahan. Kata Pengantar. Daftar Isi. Identifikasi Permasalahan. Tujuan Rumusan Permasalahan. Permasalahan.32 Halaman Judul. Bagian Isi Skripsi. Penelitian. .

tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku. Seperti yang dikemukakan oleh Djamarah dan Zain (2002:11). sikap dan tingkah laku ketrampilan. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Batasan tentang teori belajar yang dikemukakan para ahli tergantung sudut pandang yang dipakai masing-masing dalam memberi arti belajar karena itu banyak dijumpai pengertian-pengertian tentang belajar. serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada diri individu yang sedang belajar. Perubahan tingkah laku itu terjadi secara sadar. baik yang menyangkut pengetahuan. kebiasaan. bersifat kontinyu. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk perubahan pengetahuan. ketrampilan maupun sikap. Menurut Sujana (2000:28) pengertian belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan perubahan pada diri seseorang.169 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. kecakapan. Menurut Badawi (1985:59) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh perubahan tingkah laku baru individu secara keseluruhan sebagai hasil perjalanan individu dalam berinteraksi dengan lingkungan. bersifat positif serta bertujuan dan berarah. bahwa: Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya. pemahaman. Hakikat Pembelajaran 1. .

to imitate. Juga belajar itu akan lebih baik. latihan dan bukan secara kebetulan. Dari ketiga definisi di atas.170 Selain itu dalam bukunya Sardiman (2000:20). to read. mengamati. c. Usaha pemahaman mengenai makna belajar ini akan diawali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. berarah dan bertujuan serta terdapat dua aspek yang sama yaitu adanya perubahan tingkah laku dan pengalaman yang mempengaruhi beberapa faktor. afektif dan psikomotor. Geoch. to listen. maka dapat diterangkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan. Harold Spears memberikan batasan: “Learning is to observe. Dengan adanya pengertian-pengertian belajar di atas belajar dapat diartikan sebagai tindakan atau usaha individu yang merupakan suatu proses dalam berinteraksi dengan lingkungan agar memperoleh pengetahuan dalam rangka mendapatkan perubahan tingkah laku baik yang berupa kognitif. meniru dan lain sebagainya. baik yang disadari maupun yang timbul sendiri akibat praktek. mengatakan: “Learning is a change in performance as a result of practice”. Perubahan-perubahan tersebut bersifat kontinyu. antara lain dapat diuraikan sebagai berikut: a. Cronbach memberikan difinisi: “Learning is shown by a change in behavior as a result of experience”. jadi tidak bersifat verbalistik. . b. to try something themselves. dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca. pengalaman. to follow direction”. positif. kalau subjek belajar itu mengalami atau melakukannya. mendengarkan.

Guru berfungsi sebagai fasilitator. dan sikap. mampu melakukan evaluasi belajar dll. Sesuai dengan pengertian pembelajaran. Istilah “pembelajaran” merupakan pengganti istilah “mengajar”. Menurut Rohani (1997:24) pembelajaran adalah usaha sadar guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan. Menurut para pakar pendidikan. 1996:10). Artinya bila guru mengajar ia lebih mempersiapkan dirinya supaya berhasil dalam menyampaikan materi pelajaran. (Tim MKDK. menguasai metode mengajar. kebiasaan. Oleh karena itu istilah mengajar yang dianggap berkonotasi “teacher centered” diganti dengan istilah pembelajaran. sikap. praktek mengajar di sekolah-sekolah pada umumnya lebih banyak berpusat pada guru. Perubahan itu tidak hanya pada pengetahuan saja akan tetapi dalam kecepatan. tanpa memperhatikan bahwa siswa-siswanya dapat belajar atau tidak. yaitu usaha sadar guru untuk membantu siswa atau anak didik. Ia harus menguasai materi. ketrampilan. agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Dengan ini guru diharapkan selalu ingat bahwa tugasnya adalah membelajarkan siswa atau dengan kata lain membuat siswa dapat belajar untuk mencapai hasil yang optimal. penguasaan diri. . yaitu orang yang menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang mendukung agar siswa dapat mewujudkan kemampuan belajarnya.171 Belajar diharapkan terjadi perubahan-perubahan pada individu yang belajar. dan ketrampilan yang didapat dari hasil proses belajar yang diberikan.

Tujuan pembelajaran adalah membantu para siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa. baik secara fisik maupun psikologis. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa. baik kuantitas maupun kualitas. e. 3. . f. c. ketrampilan. 2000:25) dapat dikemukakan sebagai berikut: a. b.172 2. Tujuan Pembelajaran Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. Ciri-ciri Pembelajaran Ciri-ciri pembelajaran (Tim MKDK. d. Oleh karena itu pembelajaran pasti mempunyai tujuan. Tingkah laku itu meliputi pengetahuan. dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran.

5. 2) Faktor psikologis (rohaniah) Faktor biologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan kondisi mental seseorang. Unsur-unsur Dinamis dalam Pembelajaran Unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran kongruen dengan unsur-unsur dalam belajar. Faktor ini merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. dan pada suatu ketika dapat menurun atau hilang. a. Faktor internal terdiri dari faktor biologis dan faktor psikologis. terutama hal-hal yang berkaitan dalam proses . dan kondisi atau kesiapan siswa mengikuti pembelajaran baik fisik maupun psikologis. yaitu kondisi mental yang mantap dan stabil dimana kondisi ini tampak dalam bentuk sikap mental yang positif dalam menghadapi segala hal. dan pada upaya guru menyiapkan bahan pembelajaran. juga terdapat pada diri guru (motivasi dan kesiapan membelajarkan siswa). 1) Faktor biologis (jasmaniah) Faktor biologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan keadaan fisik atau jasmani individu yang bersangkutan. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dibagi menjadi dua. Artinya unsur-unsur yang diperlukan dalam belajar yang keadaannya dapat berubah-ubah.173 4. yaitu faktor internal dan faktor eksternal. yaitu kondisi fisik yang normal dan kondisi kesehatan fisik. suasana pembelajaran. Unsurunsur ini kadang-kadang baik. Faktor internal. alat bantu pembelajaran.

Bahwa proses pembelajaran lebih efektif apabila menggunakan metoda dan teknik yang tepat. Faktor eksternal meliputi faktor lingkungan keluarga. Bahwa pembelajaran harus melihat pentingnya produk dan proses secara seimbang. dan faktor waktu. d. Asumsi Proses Pembelajaran Dalam proses pembelajaran. e. faktor psikologis ini meliputi intelegensi/tingkat kecerdasan. b. b. Bahwa proses pembelajaran direncanakan dan dilaksanakan sebagai suatu sistem. bakat. faktor lingkungan masyarakat. Adapun asumsi-asumsi tersebut adalah sebagai berikut: a. 6. diasumsikan terjadi situasi atau kegiatan tertentu yang menyebabkan guru dan siswa menjadi aktif dan kreatif. faktor lingkungan sekolah.174 belajar. Bahwa dalam proses pembelajaran harus terjadi interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru. c. kemauan/minat. daya ingat dan daya konsentrasi. Bahwa inti proses pembelajaran adalah kegiatan belajar siswa secara optimal. Selain berkaitan erat dengan sikap mental yang positif. . Faktor eksternal Faktor eksternal merupakan faktor yang bersumber dari luar individu itu sendiri.

Dengan penggunaan alatalat ini guru dan siswa dapat berkomunikasi lebih mantap dan hidup serta interaksinya bersifat banyak arah. Media mengandung pesan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa tidak menjadi bosan dalam meraih tujuan-tujuan belajar. Media dalam kawasan teknologi pendidikan merupakan sumber belajar yang berupa gabungan dari bahan dan peralatan. Media Pembelajaran 1. Pengertian Media Pembelajaran Media disebut juga alat-alat audio visual.175 B. paling tidak yang digunakannnya adalah media verbal yang berupa kata-kata yang diucapkan dihadapan siswa. Menurut Daryanto (1993:1) bahwa media adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat disampaikan dengan lebih baik dan lebih sempurna. Bahan di sini merupakan barangbarang yang biasanya disebut perangkat lunak atau software yang di dalamnya terkandung pesan-pesan untuk disampaikan dengan mempergunakan peralatan (Sadiman. 2002:19). . 2002: 6). artinya alat yang dapat dilihat dan didengar yang dipakai dalam proses pembelajaran dengan maksud untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif dan efisien. Kata media berasal dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman. Apapun yang disampaikan oleh guru sebaiknya menggunakan media.

Penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses belajar mengajar dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar. . dilihat. Media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman. Manfaat Media Pembelajaran Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. maka dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran. 2. menyajikan dengan menarik dan terpercaya. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Briggs (1970) dalam Sadiman (2002:6) menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.176 AECT (Association of Education and Communication Technology) memberikan batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. Dari beberapa batasan pengertian media tersebut di atas. dan memadatkan informasi. Sedangkan NEA (National Education Association) menyatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio-visual serta peralatannya. memudahkan penafsiran data. Media hendaknya dapat dimanipulasi. perasaan. didengar dan dibaca.

Pengajaran bisa lebih menarik. c. Kualitas hasil pelajaran dapat ditingkatkan bilamana integrasi kata dan gambar sebagai media pengajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan dengan baik. h. Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat e. d. Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan. spesifik dan jelas. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif. f.177 Menurut Kemp & Dayton (1985:3-4) dampak positif dari penggunaan media pembelajaran adalah sebagai berikut: a. beban guru untuk penjelasan yang berulang-ulang mengenai isi pelajaran dapat dikurangi bahkan dihilangkan sehingga ia dapat memusatkan perhatian kepada aspek penting lain dalam proses belajar mengajar. g. Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. . Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa. umpan balik dan penguatan. Pengajaran dapat diberikan kapan dan di mana diinginkan atau diperlukan terutama jika media pengajaran dirancang untuk penggunaan secara individu. b.

d. i. c. Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak telah mereka pelajari. g. Membuat hasil belajar lebih bermakna bagi berbagai kemampuan siswa. Hubungan guru-siswa tetap merupakan elemen paling penting dalam sistem pendidikan modern saat ini. Menunjukkan hubungan antara mata pelajaran dan kebutuhan pelajaran dan minat siswa dengan meningkatnya motivasi belajar siswa. Guru harus selalu hadir untuk menyajikan materi pelajaran dengan bantuan media apa saja agar manfaat berikut ini dapat terealisasi: a. Meningkatkan rasa saling pengertian dan simpati dalam kelas. Membuahkan perubahan signifikan tingkah laku siswa. b. h.178 Dale (1969:180) mengemukakan bahwa bahan-bahan audio-visual dapat memberikan banyak manfaat asalkan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran. Memperluas wawasan dan pengalaman siswa yang mencerminkan pembelajaran non verbalistik dan membuat generalisasi yang tepat. Meyakinkan diri bahwa urutan dan kejelasan pikiran yang siswa butuhkan jika mereka membangun struktur konsep dan sistem gagasan yang bermakna. j. . Mendorong pemanfaatan yang bermakna dari mata pelajaran dengan jalan melibatkan imajinasi dan partisipasi aktif yang mengakibatkan meningkatnya hasil belajar. Melengkapi pengalaman yang kaya dengan pengalaman itu konsep-konsep yang bermakna dapat dikembangkan. e. Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa. f.

d. . oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pengajaran c. oleh karena itu mengurangi verbalisme. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru. memerankan. Memperbesar perhatian siswa. b. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar. Encyclopedia of Educational Research dalam Hamalik (1994:15) merinci manfaat media pembelajaran sebagai berikut: a. d. Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berpikir. apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran.179 Sudjana & Rivai (1992:2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa. melakukan. c. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. dan lain-lain. sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga. Metode mengajar akan lebih bervariasi. yaitu: a. mendemonstrasikan. tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati. b. tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru.

c. Kejadian langka yang terjadi di masa lalu atau terjadi sekali dalam puluhan tahun dapat ditampilkan melalui rekaman video. film. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain. foto. Obyek atau benda yang terlalu kecil yang tidak tampak oleh indera dapat disajikan dengan bantuan mikroskop. dan waktu. radio.180 e. dan membantu efisiensi dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses hasil belajar. realita. maka dapat disimpulkan bahwa manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut: a. Obyek atau benda yang terlalu besar untuk ditampilkan di ruang kelas dapat diganti dengan gambar. Dari beberapa batasan manfaat media pembelajaran di atas. b. g. . slide. dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya. atau model. terutama melalui gambar hidup. f. slide disamping secara verbal. film. film. slide. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera. ruang. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. atau gambar. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu. foto. Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa. interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya.

Peristiwa alam seperti meletusnya gunung berapi atu proses yang dalam kenyataan memakan waktu lama seperti proses kepompong menjadi kupukupu dapat disajikan dengan teknik-teknik rekaman seperti time-lapse untuk film. d. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran. 3. gambar. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran. slide. slide. Tujuan Media yang dipilih hendaknya menunjang pencapaian tujuan pengajaran. 1993:3) a. masyarakat. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka.181 Obyek atau proses yang amat rumit seperti peredaran darah dapat ditampilkan secara kongkret melalui film. atau simulasi komputer. video. serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru. . b. Ketepatgunaan Hendaknya dipilih ketepatan dan kegunaannya untuk menyampaikan pesan yang hendak dikomunikasikan atau diinformasikan. dan video. dan pemilihan media mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut: (Daryanto. atau komputer. film. kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang. dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata. Kejadian atau percobaan yang dapat membahayakan dapat disimulasikan dengan media seperti komputer.

jika media sudah rusak atau kurang jelas/terganggu sehingga mengganggu proses transfer informasi (tidak menarik. Mutu teknis Kualitas media harus dipertimbangkan. Alat untuk mengangkat atau menimbulkan persoalan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan oleh para siswa dalam proses belajarnya. Ketersediaan Apakah media yang diperlukan tersedia atau tidak. Alat untuk memperjelas bahan pengajaran pada saat guru menyampaikan pelajaran. pendekatan terhadap pokok masalah. . Tingkat kemampuan siswa Media yang dipilih hendaknya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. artinya media tersebut berisikan bahan-bahan yang harus dipelajari para siswa baik individual maupun kelompok. c. 4.182 c. b. d. direncanakan untuk perorangan atau kelompok. f. apakah ada pengganti yang relevan. Peranan Media Pembelajaran Peranan media dalam proses pembelajaran dapat ditempatkan sebagai: a. Biaya Biaya yang dikeluarkan hendaknya seimbang dengan hasil yang diharapkan dan tergantung kemampuan dana yang tersedia. besar kecilnya kelompok atau jangkauan penggunaan media tersebut. e. detail kurang bisa dipahami). Sumber belajar bagi siswa.

tanpa adanya bantuan media dan sumber belajar (guru dan buku-buku pelajaran). Empat prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam menggunakan media pembelajaran adalah sebagai berikut: a. Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran Untuk menunjang terjadinya keaktifan siswa dalam belajar. tidak didasarkan atas selera atau kesenangan pribadi gurunya d. artinya media tanpa guru suatu hal yang mustahil dapat meningkatkan kualitas pengajaran. . Disamping itu dapat membuat mereka terlatih memecahkan permasalahanpermasalahan yang riil. Dengan adanya media dan bimbingan dari orang-orang yang ada disekitarnya (guru dan oranng tua siswa) dapat mempermudah siswa dalam memahami suatu pelajaran.183 Sungguhpun demikian media sebagai alat dan sumber pembelajaran tidak bisa menggantikan guru sepenuhnya. Tidak ada alat bantu yang paling baik untuk semua tujuan. Media yang digunakan hendaknya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai b. Hendaknya menguasai /mengenal dengan baik media yang akan digunakan c. karena tergantung situasi-kondisi dan ada keuntungan-kerugian dari masing-masing media. yang nantinya akan bermanfaat bagi mereka terutama anak-anak yang mempunyai kelainan khusus seperti anak hiperaktif. persoalan media dan sumber sangat penting. yang mungkin mereka hadapi kelak. Alat bantu yang digunakan hendaknya dipilih secara obyektif. Peranan guru masih tetap diperlukan sekalipun media telah merangkum semua bahan pengajaran yang diperlukan oleh siswa. 5. Siswa tidak mungkin aktif menemukan sendiri suatu kesimpulan.

dan menjadi alasan sehingga si anak dirujuk untuk mendapatkan pendidikan. . c. d. setidaknya pada dua tempat dan suasana yang berbeda. gangguan perhatian.184 Pada waktu berlangsungnya pengajaran hendaknya penggunaan media digunakan guru pada situasi sebagai berikut: a. Bahan pengajaran yang dijelaskan guru kurang dipahami siswa. Tidak semua sekolah mempunyai buku sumber. atau tidak semua bahan pengajaran ada dalam buku sumber. C. Hal ini sering kali dikeluhkan oleh orang tua dan guru. b. Anak Hiperaktif 1. membangkang dan destruktif yang menetap. Pengertian Hiperaktif Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menurut National Medical Series (1996) adalah suatu peningkatan aktifitas motorik hingga pada tingkatan tertentu yang menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi. Guru tidak bergairah untuk menjelaskan bahan pengajaran melalui penuturan kata-kata (verbal) akibat terlalu lelah disebabkan telah mengajar cukup lama. Kurangnya perhatian siswa akibat kebosanan mendengarkan uraian guru. pengasuhan dan penanganan secara khusus. suka membuat keributan. aktifitas yang berlebihan. Sedangkan Tailor (1989) mengatakan bahwa kata 'hiperaktif' merupakan suatu terminologi yang mencakup beberapa kelainan perilaku meliputi: perasaan gelisah. Terbatasnya sumber pengajaran. perasaan yang meletup-letup.

kurang sopan. Wenar (1994) menyebutkan bahwa anak dengan kelainan hiperaktif dalam aktifitas sehari-hari (24 jam) lebih tinggi dibandingkan dengan anak normal bahkan saat tidur sekalipun. tidak bisa duduk dengan tenang. Tidak jarang mereka dengan kelainan ini disertai adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan. sering menggerak-gerakkan tangan dan kaki di saat duduk meski tanpa tujuan tertentu. Mereka sering menunjukkan tindakan anti sosial sehingga orangtua. gejala hiperaktif yang muncul sangat dipengaruhi (tergantung) oleh situasi dan kondisi yang berlaku yang dihadapi. tetapi tidak didapatkan kelainan otak yang spesifik. Pada anak ini menunjukkan perilaku yang berlebihan dalam menjalankan tugas/pekerjaannya. tidak menghiraukan mainan atau sesuatu miliknya. Sering kurang memperhatikan. sulit bergaul dan sering tidak disukai teman sebayanya. Tetapi dikatakan bahwa perilaku ini berangsur berkurang dengan bertambahnya umur. dan suka menyela pembicaraan serta mencampuri urusan orang lain. seperti yang terlihat pada gambar diagram berikut: .185 Lissauer & Clayden (2001) menyatakan bahwa pada anak dengan hiperaktif terjadi disorganisasi afektif. Pada umumnya prestasi akademik mereka tergolong rendah dan minder. Mereka biasanya bertindak 'nekat' dan impulsif. mudah marah. penurunan kontrol diri dan aktifitas yang berlebihan secara nyata. guru dan lingkungannya memperlakukan dengan tidak tepat dan tidak menyelesaikan masalah. tidak mampu berkonsentrasi dan sering tidak tuntas dalam mengerjakan sesuatu serta berusaha menghindari pekerjaan yang membutuhkan daya konsentrasi tinggi.

Anak-anak yang hiperaktif jumlah aktivitas “tak terarah” -nya lebih banyak daripada jumlah aktivitas “tak terarah” anak-anak yang normal. Seperti: sering tidak berhasil menyelesaikan tugas. akan tetapi tingkat aktivitas semua anak semakin terkendali dengan meningkatnya usia. Inattention/ tidak adanya perhatian Yaitu kesulitan untuk memusatkan perhatian pada hal yang sedang dilakukannya. tidak bisa konsentrasi pada satu hal dan kadang bersikap impulsif . Ciri-ciri Hiperaktif Ada 3 gejala utama atau primary symtoms pada penderita ADHD (Barkley. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang anak yang menderita hiperaktif adalah mereka yang mempunyai gangguan perilaku yang berlebihan.1.melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikir lebih dahulu. 2.186 Jumlah “aktivitas tak terarah” Anak yang hiperaktif Anak normal 3 5 7 9 11 13 Usia anak (tahun) Gambar 2. anak tampak tidak mendengarkan apa yang dikatakan lawan bicaranya. Grafik perbandingan jumlah aktivitas “tak terarah” anak hiperaktif dan anak normal. 1990 menyebut hal ini sebagai ‘the holy trinity of ADHD’): a. tidak dapat .

gelisah (juga dalam tidur). Seperti: tidak bisa duduk tenang. selalu bergerak seperti digerakkan oleh mesin atau selalu ‘on the go’. . baik aktivitas secara motoris maupun verbal. Hyperactivity/ hiperaktivitas Gejala ketiga ini meliputi semua kecenderungan penderita untuk melakukan suatu aktivitas secara berlebihan. kesulitan dalam mengorganisir pekerjaan (tetapi tidak berhubungan dengan kelemahan kognitif). mempunyai kesulitan untuk mempertahankan perhatian pada kegiatan bermain. c. Seperti: sering bertindak sebelum berpikir. tidak bisa tetap duduk. anak tersebut oleh orang lain akan dianggap sebagai anak yang menyusahkan atau nakal. dengan kata lain penderita sering menuruti dorongan hatinya. tanda-tanda gangguan bisa sedikit atau tidak sama sekali. selalu bergerak (melompat berlebihan). Sering. atau ketika anak di dalam situasi ‘face to face’. perlu banyak pengawasan.187 konsentrasi. sering berteriak di kelas dan mudah menginterupsi pembicaraan orang lain (misal menjawab pertanyaan sebelum selesai diajukan). gagal untuk menunggu giliran dalam situasi bermain atau kelompok. jika anak cukup banyak menerima penguatan atau kontrol yang ketat. sering melakukan hal lain sebelum satu hal selesai. Di lain pihak. perhatian mudah dialihkan oleh stimulus dari luar. Impulsivity/impulsivitas Yaitu ketidakmampuan individu untuk mengontrol perilakunya. Gejala-gejala tersebut akan semakin memburuk pada situasi-situasi yang menuntut adanya perhatian. b. sering menggumamkan katakata yang tidak jelas maksudnya.

Ia sulit menentukan mana yang penting dan mana yang harus diprioritaskan terlebih dulu selain sulit menyelesaikann pelajaran. Karena mengalami luka di otak mereka sering tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan. “d” dianggap “b” atau “p” dianggap “q”. Ia sulit menggabungkan satu hal dengan hal lainnya. tidak dapat berencana atau menduga apa akibat yang dilakukannya. tetapi tidak mampu mengendalikan diri. kemampuan belajar lemah. sering tidak dapat berkonsentrasi dan pelupa. . Ia juga mengalami kesulitan dalam mengutarakan pikiran dan perasaan melalui kata-kata. khususnya ketika masuk ke suasana kelas yang dinamis. Masalah Anak Hiperaktif dan Penyelesaiannya Beberapa masalah yang dihadapi anak hiperaktif (Setiawani. Adakalanya mereka sulit mengerti pembicaraan orang secara umum. antara lain: a. sering kacau dalam menanggapi citra yang diterima. 2000:138). susah bergaul. kurang kendali diri.188 3. Kadangkala mereka sadar harus mematuhi peraturan. Perilaku yang sulit diduga itu kadang membuat orang tua. Daya pikir penangkapannya lemah sehingga sulit untuk menghadapi pelajaran matematika. dan sebagainya sehingga mengalami kesulitan dalam membaca. apalagi terhadap petunjuk yang mengandung langkah-lanngkah atau tahapantahapan. Masalah intelek Anak hiperaktif jelas mengalami gangguan dalam otak. misalnya: “m” dengan “w”. guru atau teman-temannya merasa khawatir. emosinya menjadi mudah terangsang.

jagung. susu. babi. obat.. bulu. mereka tidak dapat menggunakan alat tulis dengan baik. Seorang ahli berpendapat bahwa yang sangat dibutuhkan mereka adalah melatih mereka untuk dapat mengendalikan diri. suka merusak. sepertinya sedang begitu sibuk melakukan sesuatu sehingga tidak dapat beristirahat. seperti berolah raga atau lompat tali. tidak sabar menunggu. daging. . telor ayam. kedelai. Mereka juga sensitif terhadap makanan tertentu. Masalah emosi Anak hiperaktif umumnya bersifat egois. Anak hiperaktif juga peka terhadap bahan kimia. bermain kasar. Mereka sulit tidur dengan nyenyak dan mudah terbangun. mengigau atau mengompol. Masalah biologis Mereka suka sekali berlari-lari dan sulit untuk menyuruh mereka diam. dan emosional. misalnya bila disuruh menulis. dan kebiasaan tidur mereka bermacam-macam: ada yang bermimpi sambil berjalan. kurang sabar. Mereka tidak dapat berolahraga dengan banyak gerak dan banyak tenaga. suka berteriak dan ribut. tidak takut bahaya. tetapi sebentar kemudian marah dan sedih. seperti: coklat. gula dan gandum. bila berbaris selalu berebutan. dan sembrono sehingga besar kemungkinan bisa mengalami kecelakaan. debu dan bahan kosmetik. kadang begitu senang dan ceria. meraba dan menyentuh benda-benda untuk merasakan lingkungan di sekitarnya. mewarnai atau menggambar. Sebaliknya gerakan tenang pun bermasalah. Juga emosi sering berubah-ubah sehingga tidak mudah diduga. Pernyataan emosinya sangat ekstrim dan kurang kendali diri. c.189 b. semangatnya kuat.

Ada beberapa cara dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi anak hiperaktif (Setiawani. Dekedrine. Misalnya. antara lain: a. yang mengaktifkan bagian- . atau Cylert. Penggiat sistem saraf pusat. 2000:139). Masalah moral Karena mengalami berbagai masalah seperti di atas. tidak mengembalikan barang yang dipinjam.190 d. kerap kali digunakan untuk mengatasi hiperaktivitas. masuk ke kamar orang lain. obat ini nampaknya “memperlambat” anak yang hiperaktif. obat-obat di atas adalah obat penggiat. biasanya obat itu justru menambah tingkat aktivitasnya dan tidak dapat tidur semalam suntuk. mencela pembicaraan orang. obat itu akan memacu dan menyebabkan kita hiperaktif. Apabila orang yang normal menggunakannya. maka mereka pun tidak memiliki kepekaan dalam hati nurani. Penggunaan obat Hiperaktivitas merupakan akibat keterlambatan perkembangan atau penyimpangan. Obat-obat yang dipakai pada anak yang di diagnosis sebagai hiperkinetik adalah obat penggiat (stimulan) sistem saraf pusat. Pengobatan tertentu berdampak berlawanan dari harapan. mencuri dengar pembicaraan telepon orang lain sehingga kesan orang banyak adalah anak ini bermasalah dan bermoral rendah. Sebaliknya. Namun. Ia bisa mencuri uang orang tua atau permen di toko. anak tidak memiliki daya kontrol secukupnya untuk mencegah perilakunya atau membuat dia dapat duduk tenang atau berkonsentrasi lama. seperti Ritalin. kalau obat penenang diberikan kepada anak yang hiperaktif atau obat yang akan memperlambat atau menidurkan kita.

obat itu menggiatkannya yang memberi kendali pada anak. Pengobatan tidak membuat anak lebih pandai atau dapat belajar lebih cepat melainkan menghilangkan gejala hiperaktivitas yang mengganggu. Ia kurang aktif dan lebih mampu berkonsentrasi dalam waktu yang lebih lama. ia tidak pernah menerima informasi. tidak dapat konsentrasi. Dengan kata lain. Maka. hiperaktivitas kognitif (misalnya rentang perhatian sempit. Hal itu kerap kali terjadi pada anak hiperaktif di kelas. Ia dapat mengontrol dirinya lebih baik. sebagian besar gejala hiperaktifnya berkurang dan umumnya akan . Ia tidak dibuat tenang atau “dibius”.191 bagian badan tertentu. Akibatnya kalau ia ditanya atau harus melakukan sesuatu. Obat membantu mengendalikan gejala-gejala hiperaktif yang mengganggu. ia tidak berhasil. Pada umumnya. Obat secara tidak langsung menguntungkan anak karena memberi kontrol lebih banyak. Anak-anak hiperaktif biasanya mengalami kesulitan besar di ruang kelas. Akibat pengobatan hiperaktivitas: 1) Obat itu akan “membuat dia tenang”. tetapi juga memperbaiki rentang perhatian dan mengurangi kebingungannya. anak lebih mudah diurus dan menampakkan sedikit masalah dalam kaitannya dengan sekolah. Obat itu tidak hanya membantu anak duduk tenang dan mengurangi kegaduhan. sebab ia mudah terganggu atau tidak dapat memperhatikan guru cukup lama dan oleh karena itu. Penampilannya buruk. kontrolnya setara dengan “motor”nya. mudah bingung) merupakan kendala terbesar dalam nilai sekolahnya.

Anak tidak menampakkan perubahan apa pun. berarti ia memang hiperaktif dan dosisnya sesuai. maka perlu mendapatkan laporan dari gurunya. anak itu mungkin hiperaktif. Kalau ini terjadi. Maka jika terjadi reaksi 2. 4) Anak mungkin menjadi lebih aktif. hubungilah dokter. Lalu diperiksa dampaknya dan jika tak ada akibat positif. 3) Mungkin anak nampak mengantuk atau kecapaian. Biasanya kita dapat melihat satu diantara akibat-akibat di atas dalam 1 sampai 7 hari sesudah anak mulai minum obat. barangkali ia hiperaktif tetapi meminum obat terlalu banyak. b. Hendaknya orang tua jangan menambah atau mengurangi dosis obat anak tanpa konsultasi dengan dokter. Karena banyak obat diberikan untuk mengatasi kesulitan sekolah dan terutama diberikan selama jam-jam sekolah (yakni sebelum makan pagi dan makan siang). dosis obat itu ditambah. banyak dilakukan studi tentang diet atau gizi makanan atas perilaku hiperaktivitas. Selama mengobati anak.3 dan 4.192 menampakkan perbaikan positif. Banyak dokter mulai dengan dosis obat terendah. 2) Tidak terjadi apa-apa. sangat penting untuk tetap berhubungan dengan dokter. Kedua pakar teori dalam bidang ini adalah Ben Feingold dan Lendon Smith. Akhir-akhir ini. Kalau ini terjadi. . dan mungkin jatuh tertidur waktu melihat TV. anak itu tidak hiperaktif dan pengobatan harus dihentikan. Kalau terjadi. Kalau ini terjadi. tetapi tidak menerima cukup obat. Pengaturan makanan Selama 50 tahun yang lalu beberapa laporan mengkaitkan hiperaktivitas dengan alergi makanan.

Kalau anak memperlihatkan reaksi yang menggembirakan atas Diet Feingold sesudah 4 sampai 6 minggu. dikeringkan. dapat ditambahkan jenis makanan lain. nektarin. Diat ini tidak berkaitan dengan pengawet makanan. ada dua kelompok makanan yang harus dihindari anak hiperaktif. makanan itu harus dihentikan. Tetapi semua makanan yang mengandung warna atau aroma buatan harus dijauhkan dari diet anak. kecuali butilat hidroksitoluena yang memperlihatkan reaksi bertentangan bagi beberapa anak. Daftar buah-buahan dan sayur-sayuran yang harus disingkirkan dari diet anak-anak dalam semua bentuknya-segar. ceri. anggur. tomat. aberikos. makanan dalam Kelompok I dapat berangsur-angsur dimakan. mentimun. sari buah ataupun sebagai bahan makanan-seperti : apel. . persik. Makanan baru dalam Kelompok II harus diperhatikan. makanan tersebut dapat dimasukkan dalam dietnya. dikalengkan. dibekukan. Kelompok II terdiri dari segala jenis makanan yang mengandung warna atau aroma sintetis (buatan). Buah-buahan dan sayursayuran yang tidak menimbulkan reaksi kurang baik pada anak dapat dimasukkan dalam diet. yakni harus dicoba selama 3 atau 4 hari. murbei hitam. Tetapi kalau timbul reaksi yang kurang baik.193 Diet Feingold Menurut Diet Feingold. Jika anak tidak memperlihatkan aktivitas yang meningkat atau kesulitan perhatian. kismis. jika tidak ada reaksi yang tidak menyenangkan. jeruk manis. murbei. Makanan kelompok I mengandung salsilat dan meliputi buahbuahan dan sayur-sayuran.

Smith Dr. ditambahai. lebih baik jangan disantap. dibakukan. Feingold memberi beberapa petunjuk bagi orang tua yang anaknya menjalankan diet. 2) Diet itu harus ditaati dengan ketat. diemulsikan. Disamping diet umum ini. diberi warna atau diawetkan. Diet Pencegahan itu terdiri atas 3 bagian: 1) Bahan-bahan anti gizi hendaknya dihindari. ia memberikan saran khusus untuk mengendalikan gejala-gejala hiperaktivitas. Pendekatan Gizi Dr. Hal ini umumnya mencakup makanan yang telah dikemas.194 Dr. diproses. 6) Dalam beberapa hal. 100% 3) Tidak ada batasan terhadap banyak makanan yang manis buatan sendiri. 5) Kalau nampak ada perbaikan. obat yang digunakan untuk mengontrol perilaku hiperaktif dapat dihentikan setelah anak menjalani diet selama 2 atau 3 minggu. Beberapa di antaranya seperti berikut: 1) Semua makanan harian yang dimakan anak harus dicatat. Kalau meragukan. Gula dan makanan “asal-asalan” tidak . Pada umumnya produksi dagang sedapat mungkin harus dihindari. Namun. 4) Semua etiket makanan harus dibaca dengan cermat. dokter anak harus selalu dihubungi sebelum penngobatan diganti atau dikurangi. Pola makanan ini disebut diet pencegahan. perlu diamati rata-rata selama 1 sampai 3 minggu. Lendon Smith berpendapat bahwa setiap orang harus mengikuti pola makanan umum sebagai bagian program sepanjang hidup.

Sikap bertahan ini bukan berarti kejam. Bila lingkungan tempat tinggalnya sangat bising. keju putih. diktator atau berhati baja. es krim yang diperdagangkan. 2) Makanan alami harus disantap 4 atau 6 kali sehari. kacangkacangan. susu pasterisasi. dan miju-miju). 3) Mulailah setiap hari dengan vitamin dan mineral (diandaikan anak kekurangan bahan-bahan tersebut). Beberapa makanan yang harus dihilangkan yakni: gula putih dan gula coklat. tepung putih. sirup. . d. Di antaranya sebagai berikut: sayuran segar (mentah). daging ayam. air tebu. misalnya: di kamar atau di ruang bermain. keras. telur. tetapi sebaliknya untuk membina dan mengajar anak tentang apa yang harus mereka lakukan. jagung. buncis. buah-buahan mentah.195 diperkenankan. ikan. Orang tua harus bertahan dengan peraturan yang telah diberikan dan menuntut anak agar menaatinya. gandum yang dibungkus. Tunjukkan dengan mantap dan wibawa bahwa orang tua ingin ditaati oleh anak-anaknya. Anak jangan dimanjakan kalau tahu bahwa penyebab hiperaktifnya karena masalah biologis. sebaiknya pindah rumah agar anak itu dapat bertumbuh dalam situasi yang baik. Hindarkan pemanjaan. c. madu. sayur mayur (seperti kacang panjang. gula tebu. dalam jumlah kecil. Menciptakan lingkungan yang tenang Usahakan untuk menciptakan suasana yang tenang di tempat anak itu biasa bergerak.

Cegahlah anak untuk meniru adegan-adegan yang tidak baik. obatobatan bahkan keluarganya pun perlu mendapat terapi untuk meneruskan terapi di rumah dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak-anak hiperaktif (Clerq. . kemudian tentukan suatu standar yang sesuai dengan kebenaran. Membimbing dalam kebenaran Meski anak hiperaktif sering tidak mampu menguasai diri dan perilakunya. Setiap perilaku yang tidak dapat diterima harus dicegah. anak akan mempunyai harapan untuk disembuhkan. Bila orang tua tidak putus asa. maka itu akan mengurangi keonaran. lagu yang ribut dan sinar yang bergerak menyilaukan. f. pilihlah acara teve yang beradegan lembut dan baik. namun biasanya kalau terapi dilakukan secara intensif maka perkembangannya akan maju secara bertahap. walaupun harus dilakukan berulang-ulang. Perlu ada kesabaran untuk mengajarkan hal ini. orang tua atau guru tidak seharusnya bersikap acuh dan menyerah. Oleh sebab itu. Gunakan tenaga ekstra dengan tepat Anak ini kurang dapat mengendalikan diri dan apabila sikap agresifnya dapat disalurkan dalam aktivitas yang tepat. Terapi perilaku. terapi wicara. energi dan biaya yang tidak sedikit. Memang dibutuhkan kesabaran. 1994:158). g. 4. dapat merangsang anak dan mengakibatkan mereka emosional. Cara Menangani Anak Hiperaktif Anak hiperaktif perlu diterapi agar tidak menghambat perkembangan kecerdasan dan sosialnya. terapi konsentrasi.196 e. Memilih acara teve dengan hati-hati Acara teve yang menampilkan adegan kekerasan.

197 a. Selanjutnya. hal ini tidak berarti meningkatkan ketrampilan sosial interpersonal. Dengan adanya keterbatasan-keterbatasan ini. dan belajar. guru. pemecahan masalah. Bagaimanapun juga beberapa kerugian akan tetap timbul dengan pendekatan medis ini. orang tua. Medikasi Psikostimulan Kemanjuran klinis jangka-pendek dari obat-obat ini telah dicatat dengan baik. Dengan pengobatan. dengan self-instruction training (training instruksi kepada diri sendiri) dan social problem-solving strategies (strategi pemecahan masalah sosial). Hanya ada sedikit bukti bahwa pengobatan stimulan selam jangka-panjang bisa mengubah hasil akhir anak-anak . Terapi Anak Perawatan yang paling banyak dipakai untuk menangani anak-anak hiperaktif sampai sekarang adalah medikasi psikostimulan. sebagian besar anak-anak dan remaja ADHD (60-90%. Selain itu juga perlu disadari bahwa terapi yang efektif adalah terapi yang melibatkan semua pihak. ada banyak kepentingan klinis yang terkait dengan intervensi terapi alternatif yang berusaha untuk memberikan taktik dan ketrampilan kepada anak-anak ADHD yang memungkinkan mereka untuk mengatasi permasalahan dengan lebih efektif. Pendekatan kognitif-behavioral nampaknya memberikan jawaban yang efektif. walaupun pengobatan menghilangkan perilaku yang mengganggu dalam kelas. Menurut Abikoff (1987) pengobatan nampaknya hanya mempunyai sedikit pengaruh terhadap kemampuan kognitif seperti penalaran. dokter dan psikologi. 1980) menunjukkan perbaikan yang penting dalam hal gejalagejala utama gangguan. Whalen & Henker.

198 ini: riset menunjukkan bahwa ketrampilan belajar dan sosial yang rendah serta prestasi akademis yang buruk. Berdasarkan pendekatan ini pada teori Vygotsky dan Luria (1962) yang menekankan pentingnya pengaruh bahasa dan pikiran pada tingkah laku. 2) Tahap kedua: anak mengatur perilakunya dengan bicara keras-keras pada dirinya sendiri (self-instructing aloud). Selama terapi. dialog internal ini (instruksi diri atau self-instruction) digunakan sebagai titik awal untuk mencapai perubahan perilaku. anak memperoleh kontrol diri dengan menggunakan instruksi diri secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam (covert self-instructions). mengintegrasikan teknik-teknik kognitif (menyederhanakan proses pemecahan masalah) dan prinsip-prinsip mempelajari tingkah laku (modeling dan behavioral rehearsal). . Self-instruction training. 3) Tahap ketiga: pada usia sekitar 5-6 tahun. Luria mengemukakan tiga tahap: 1) Tahap pertama: tingkah laku anak dokontrol oleh bahasa orang lain. Tujuannya adalah untuk memotivasi anak untuk menjembatani secara verbal. terutama orang tua. Self-Instruction Training-Latihan Instruksi Diri. dikembangkan oleh Meichenbaum dan Goodman (1971). karena anak diminta untuk berhenti secara periodik dan mengevaluasi penampilannya. Teknik instruksi diri dan self-monitoring digunakan untuk mengurangi respon impulsif. pemikiran dan tindakannya sendiri. tetap ada pada masa remaja dan awal masa dewasa.

199

Lima tahap belajar melalui proses modeling bisa dibedakan dalam situasi belajar ini: 1) Model orang dewasa melakukan suatu tugas dengan instruksi verbal yang keras (cognitive modeling) 2) Anak melakukan tugas yang sama dengan instruksi yang keras dari model orang dewasa (overt extern guidance) 3) Anak melakukan tugas dengan instruksi sendiri yang keras (external selfinstruction) 4) Anak melakukan tugas dengan membisikkan instruksi-diri (whispering external self-instruction) 5) Anak melakukan tugas dengan instruksi-diri intern (covert self-instructions) Instruksi-diri atau self-instruction mendukung dan mengatur tingkah laku anak. Melalui 5 tahap modeling ini, anak belajar untuk menunda perilaku: ‘stoplook-do’ (berhenti-lihat-lakukan). Verbalisasi sedikit demi sedikit akan hilang dengan adanya latihan dan pengulangan (behavioral rehearsal) sampai semuanya diinternalisasi : berpikir dan bertindak akan menjadi proses yang otomatis. Social Problem-Solving Skills Training-Latihan Ketrampilan Pemecahan Masalah Sosial. Terapi ini menekankan pada perkembangan strategi kognitif untuk meningkatkan kontrol diri dan respon sosial dalam menyelesaikan suatu masalah. Untuk mengembangkan srategi kognitif ini diperlukan modeling secara verbal, latihan dan penguatan sosial (social reinforcement), yang dilakukan dalam kelompok kecil (3 sampai 8 orang) atau secara individual. Tujuan dari terapi ini

200

adalah untuk mengembangkan kompetensi dan interaksi interpersonal yang memadai. Terapis memberikan suatu problem dan menunjukkan beberapa perilaku yang efektif untuk menghadapi masalah tersebut. Setelah itu terapis menanyakan pada anggota kelompok satu demi satu, bagaimana respon mereka terhadap permasalahan tersebut. b. Terapi Orang Tua Terapi ini menekankan pada parents monitoring (memonitor/supervisi oleh orang tua) dan parents management skills. Orang tua dilatih untuk berinteraksi dengan anaknya yang menderita ADHD dengan menggunakan penguat yang positif, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anaknya. Misalnya: memuji perilaku anak yang sesuai, memberi peraturan yang jelas pada anak, selalu mengawasi atau mengontrol perilaku anaknya. Disamping itu terapis juga sebaiknya memberikan penjelasan tentang latar belakang dan perkembangan aspek-aspek ADHD pada guru. Hal ini dengan tujuan agar guru tidak bersikap menolak anak didiknya yang menderita ADHD. Bantuan yang dapat diberikan untuk mereka yang hiperaktif Org. Kids Health, 1999:8) yakni: a. Dengan mengadakan kontak agar pada waktu tertentu menguasai emosinya, tidak boleh dikerasi karena akan bertambah melawan. b. Dengan diajak bicara dengan pendekatan individual sebelum memberikan pertanyaan/tugas. (Keluarga.

201

c. Anak yang kesulitan berkonsentrasi untuk memulai tugas dilakukan dengan menatap mata anak, memberikan instruksi secara individual, menyuruh mengulangi perintah dan tugasnya. Sementara bagi anak yang tidak dapat menyelesaikan tugas sehingga kehilangan konsentrasi maka berikan tugas menjadi porsi-porsi kecil.

D. Media Visual 1. Pengertian Media Visual Media Visual (Daryanto, 1993:27), artinya semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar yang bisa dinikmati lewat panca-indera mata. Media visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi. Dengan demikian media visual dapat diartikan sebagai alat pembelajaran yang hanya bisa dilihat untuk memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan akan isi materi pelajaran. Pendidikan melalui media visual adalah metoda/cara untuk memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dapat dilihat daripada sesuatu yang didengar atau dibacanya.

202

2. Fungsi Media Visual Levie & Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu fungsi atensi, fungsi efektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau teks materi pelajaran. Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras. Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. 3. Penggunaan Media Visual Selama proses belajar mengajar kita cenderung menggunakan pancaindera penglihatan, kita memakai mata kita untuk memperoleh informasi, isyarat, tanda atau hal yang menarik perhatian kita, kenyataan ini mempunyai arti yang

Kemampuan penglihatan harus dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan proses belajar mengajar. Gambar realistis harus digunakan secara hati-hati karena gambar yang amat rinci seringkali mengganggu perhatian siswa untuk mengamati apa yang seharusnya diperhatikan. . harus terlihat perbandingannya dengan obyek lain yang sudah dikenal. Prinsip umum untuk penggunaan efektif media visual. bagan. kalau mungkin gerakan gambar. gunakan yang asli (master) untuk membuat setiap turunan/kopi/duplikat untuk menjaga kualitas gambar. Media visual tidak boleh terlalu ramai dan kacau supaya informasi yang dimaksudkan dapat tertangkap jelas oleh siswa. b. c. Untuk mendapatkan gambaran tentang ukuran dan bentuknya. Gunakan grafik untuk menggambar ikhtisar keseluruhan materi sebelum menyajikan unit demi unit pelajaran untuk digunakan oleh siswa mengorganisasikan informasi.. Penampilan visual tidak boleh mengganggu. grafis atau slide yang asli untuk membuat master copy (duplikat asli yang pertama kali). karton. yaitu : a. Usahakan visual itu sesederhana mungkin dengan menggunakan gambar garis. Visual digunakan untuk menekankan informasi sasaran (yang terdapat teks) sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. Visual tidak boleh meragukan. untuk itu harus jelas dan terang. artinya obyek-obyek yang masih asing atau belum dikenal hendaklah ditampilkan sedini mungkin.203 penting untuk keperluan belajar dan mengajar. dan diagram. Media visual haruslah sesuai dengan kenyataan dan dapat diterima. gambar dan tulisan yang diproyeksikan harus dapat dibaca.

Warna dan pemberian bayangan digunakan untuk mengarahkan perhatian dan membedakan komponen-komponen. k. Hindari visual yang tak berimbang. memberi nama orang. e. Tekankan kejelasan dan ketepatan dalam semua visual. i. kemiskinan. amat membantu untuk mempelajari materi yang agak kompleks j. Unsur-unsur pesan dalam visual itu harus ditonjolkan dan dengan mudah dibedakan dari unsur-unsur latar belakang untuk mempermudah pengolahan informasi. l. tempat atau obyek.204 d. . Ulangi sajian visual dan libatkan siswa untuk meningkatkan daya ingat. Caption (keterangan gambar) harus disiapkan terutama untuk menambah informasi yang sulit dilukiskan secara visual. menghubungkan kejadian atau aksi dalam lukisan dengan visual sebelum atau sesudahnya. dan semua obyek dan aksi yang dimaksudkan dilukiskan secara realistik sehingga tidak terjadi penafsiran ganda. Warna harus digunakan secara realistik. Visual yang diproyeksikan harus dapat terbaca dan mudah dibaca. seperti lumpur. Visual yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan gagasan khusus akan efektif apabila jumlah obyek dalam visual yang akan ditafsirkan dengan benar dijaga agar terbatas. m. n. khususnya diagram. g. dan menyatakan apa yang orang dalam gambar itu sedang kerjakan. Visual. pikirkan atau katakan. h. Gunakan gambar untuk melukiskan perbedaan konsep-konsep f.

antara lain prinsip kesederhanaan. Elemen- . Keterpaduan Keterpaduan mengacu kepada hubungan yang terdapat di antara elemenelemen visual yang ketika diamati akan berfungsi secara bersama-sama. grafik. Sementara itu. iklan-iklan. gambar dan lain-lain yang ada disekitar kita. Bentuk.205 Pengembangan Media Visual Visualisasi pesan. atau konsep yang ingin disampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk. Foto menghadirkan ilustrasi melalui gambar yang hampir menyamai kenyataan dari sesuatu obyek atau sesuatu. dan keseimbangan. dibaca. Dalam proses penataan itu harus diperhatikan prinsip-prinsip desain. dan warna juga perlu dipertimbangkan Kesederhanaan Kesederhanaan mengacu kepada jumlah elemen yang terkandung dalam suatu visual. seperti majalah. garis. seperti foto. Bahan-bahan grafis. dan gabungan dari dua bentuk atau lebih. tekstur. keterpaduan. Jumlah elemen yang lebih sedikit memudahkan siswa menangkap dan memahami pesan yang disajikan visual itu. informasi. sketsa/gambar garis. gambar/ilustrasi. mempunyai banyak gagasan untuk merancang bahan visual yang menyangkut penataan elemen-elemen visual yang akan ditampilkan. grafik merupakan representasi simbolis dan artistik sesuatu obyek atau situasi. penekanan. papan informasi. Tataan dapat dimengerti. ruang. bagan. chart. dan dapat menarik perhatian sehingga ia mampu menyampaikan pesan yang diinginkan oleh penggunaannya. Pesan atau informasi yang panjang atau rumit harus dibagi-bagi ke dalam beberapa bahan visual.

seringkali konsep yang ingin disajikan memerlukan penekanan terhadap salah satu unsur yang akan menjadi pusat perhatian siswa. atau ruang penekanan dapat diberikan kepada unsur terpenting. Dengan menggunakan ukuran. Keseimbangan seperti ini menampakkan dua bayangan visual yang sama dan sebangun. .206 elemen itu harus saling terkait dan menyatu sebagai suatu keseluruhan sehingga visual itu merupakan suatu bentuk menyeluruh yang dapat dikenal yang dapat membantu pemahaman pesan dan informasi yang dikandungnya. informasi atau isi pelajaran perlu diperhatikan. pemilihan bentuk sebagai unsur visual dalam penyajian pesan. Garis Garis digunakan untuk menghubungkan unsur-unsur sehingga dapat menuntun perhatian siswa untuk mempelajari suatu urutan-urutan khusus. Penekanan Meskipun penyajian visual dirancang sesederhana mungkin. Oleh karena itu. warna. perspektif. hubungan-hubungan. Keseimbangan Bentuk atau pola yang dipilih sebaiknya menempati ruang penayangan yang memberikan persepsi keseimbangan meskipun tidak seluruhnya simetris tetapi memberikan kesan dinamis dan dapat menarik perhatian disebut keseimbangan formal. Bentuk Bentuk yang aneh dan asing bagi siswa dapat membangkitkan minat dan perhatian.

foto. . menunjukkan persamaan dan perbedaan. Tujuan utama penampilan berbagai jenis media visual (gambar) ini adalah untuk memvisualisasikan konsep yang ingin disampaikan kepada siswa/anak. alat permainan visual edukatif dan berbagai media visual gambar lainnya. Tekstur dapat digunakan untuk penekanan suatu unsur seperti halnya warna. biru. (2) nilai warna (tingkat ketebalan dan ketipisan warna itu dibandingkan dengan unsur lain dalam visual tersebut). yaitu (1) pemilihan warna khusus (merah. Warna digunakan untuk memberi kesan pemisahan atau penekanan. tetapi ia harus digunakan dengan hati-hati untuk memperoleh dampak yang baik. gambar chart berseri (flipchart). kuning. warna dapat mempertinggi tingkat realisme obyek atau situasi yang digambarkan. 5. Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan ketika menggunakan warna. dan (3) intensitas atau kekuatan warna itu untuk memberikan dampak yang diinginkan. Warna Warna merupakan unsur visual yang penting. atau untuk membangun keterpaduan. dan sebagainya).207 Tekstur Tekstur adalah unsur visual yang dapat menimbulkan kesan kasar atau halus. Bentuk Media Visual (Gambar) Ada berbagai bentuk media visual (gambar) yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama anak hiperaktif yaitu media gambar yang meliputi gambar chart. dan menciptakan respons emosional tertentu. Disamping itu.

. cukup menempelkan saja) 2) Dapat digunakan berulangkali. tabel. Gambar Chart Chart adalah sebuah lembaran kertas yang berisi informasi dalam bentuk gambar dan tulisan. Fungsi chart adalah untuk menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan dengan cara yang lebih visualisasi agar lebih mudah dimengerti dengan melalui penjelasan gambar. Jenis chart ada 2 yakni: 1) Chart tunggal adalah satu kesatuan informasi yang dituangkan dalam satu lembar. tetapi gunakan alat penunjuk yang berupa: batang bambu kecil panjang.208 a. Keuntungan menggunakan gambar chart: 1) Menghemat waktu dalam proses belajar mengajar (tidak perlu menggambar/menulis lagi di papan tulis. Untuk mengajar/menjelaskan kepada siswa kita jangan menunjuk gambar chart dengan tangan langsung karena ini bisa menghalangi gambar yang ditampilkan. angka. 2) Chart berseri/flip chart adalah satu kesatuan informasi yang dituangkan dalam beberapa tahapan atau dibuat berseri . grafik dan sebagainya yang berguna untuk memperjelas materi pelajaran yang diajarkan oleh guru di depan siswa. atau pulpen yang tangkainya bisa diperpanjang seperti antene radio. 3) Biaya tidak terlalu mahal dan relatif murah. diagram. 4) Semua guru bisa membuatnya.

rengat. mempercepat proses yang memakan waktu lama. 4) Kurang bisa menggambarkan unsur gerak atau proses. luka dan sobek). . 5) Perlu ketrampilan menggambar.209 5) Bisa mengatasi ruang. perbedaannya adalah pada chart berseri (flipchart) serangkaian beberapa lembar gambar merupakan satu komponen/kesatuan informasi yang disajikan secara berurutan dengan cara ditumpuk/dibendel dan dijepit menjadi satu. informasi sebelumnya yang terdapat pada lembar-lembar chart dibawahnya tidak boleh dilihat oleh siswa. Kerugian menggunakan gambar chart: 1) Untuk membuat chart yang baik dan tepat diperlukan waktu persiapan/pembuatan yang cukup lama. memperlama proses yang cepat dan sebagainya). memperbesar ukuran yang kecil. b. lembab. Ciri khas dari flipchart adalah lembaran-lembaran gambar chart adalah berurutan di mana satu bendel merupakan satu kesatuan yang utuh. 6) Bisa memperjelas masalah. ukuran dan waktu (maksudnya adalah memperkecil ukuran yang besar. sehingga sebelum lembar pertama telah jelas baru boleh dibuka lembaran berikutnya sehingga ada hubungan kesatuan dari lembar pertama ke lembar berikutnya. 2) Perlu perawatan yang baik karena kertas mudah rusak (kena air. Gambar chart berseri (flipchart) Gambar chart berseri (flipchart) sebenarnya sama dengan chart tunggal. 3) Perlu tempat yang cukup untuk penyimpanan.

Obyek yang tidak mungkin dibawa ke kelas. kegiatan seni. kartun. dramatisasi. waktu dan ukuran. kejadian yang sudah tidak mungkin diulangi bisa digantikan dengan media foto ini. kongkret. c. penulisan. akurat. . alamiah. pada setiap jenjang pendidikan dan berbagai disiplin ilmu. Gambar fotografi itu pada dasarnya membantu mendorong para siswa dan dapat membangkitkan minatnya pada pelajaran. dimensi/skala benar dan akurat. ilustrasi. realistis. berukuran besar/terlalu kecil yang tidak memungkinkan dibawa ke kelas. dan pernyataan kreatif dalam bercerita. Membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan berbahasa. Gambar. brosur-brosur dan buku-buku. foto yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut dapat digunakan oleh guru secara efektif dalam kegiatan belajar mengajar. bacaan. majalah-majalah. Foto dapat membatasi ruang. Gambar fotografi dapat diperoleh dari berbagai sumber.210 Flipchart disajikan lembar demi lembar sehingga minat dan konsentrasi siswa terarah pada penjelasan gambar chart yang dijelaskan oleh guru tersebut. Foto merupakan media visual yang efektif karena lebih nyata. serta membantu mereka menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi bacaan dari buku teks. misalnya dari surat-surat kabar. hanya perbedaannya gambar ini didapatkan dengan peralatan yang dinamakan kamera foto sehingga obyek yang digambar sesuai dengan apa yang ada. menulis dan menggambar. lukisan. Foto Hasil pemotretan fotografi adalah merupakan media (alat bantu mengajar) gambar juga.

211 Sebagai media pengajaran. misalnya. Foto yang digunakan sebagai media pegajaran harus artistik dalam arti foto tersebut mempertimbangkan faktor-faktor seperti komposisi. Foto disesuaikan dengan tingkat usia siswa. Foto benarbenar melukiskan konsep atau pesan isi pelajaran yang ingin disampaikan sehingga dapat memperlancar pencapaian tujuan. Untuk menunjukkan berbagai jenis gaya bangunan (arsitek) Islam. Disamping siswa dapat menggunakan foto secara perorangan. foto haruslah dipilih dan digunakan sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. foto dapat pula digunakan secara berkelompok terutama untuk melancarkan kegiatan diskusi tentang isi pelajaran. foto dapat digunakan dengan efektif. yaitu mendukung pencapaian tujuan pengajaran. sederhana atau tidak rumit sehingga siswa tidak salah menafsirkan pesan dalam foto itu. dan membantu siswa menafsirkan serta mengingat isi pelajaran yang berkenaan dengan foto-foto tersebut. Diskusi tentang jenis-jenis spesies tertentu dari binatang akan berjalan efektif apabila disertai dengan foto-foto berbagai jenis binatang yang termasuk spesies yang sedang dibicarakan. pewarnaan yang efektif. foto harus cukup besar dan jelas untuk kelompok siswa yang dihadapi. Selanjutnya. dan menarik. Sudjana & Rivai (1991) menguraikan beberapa kriteria pemilihan foto untuk tujuan pengajaran. mengembangkan kemampuan siswa berbahasa. dan teknik pengambilan dann pemrosesan yang baik. atau perbedaan gaya arsitek dari berbagai negara dan zaman. Foto harus jelas . validitas. Dengan demikian foto bisa memenuhi fungsinya untuk membangkitkan motivasi dan minat siswa. kejelasan dan ukuran yang memadai. kualitas artistik.

” Disamping itu. karena praktis tanpa memerlukan perlengkapan apa-apa. Dengan memanfaatkan kalender bekas. antara lain: 1) Mudah dimanfaatkan di dalam kegiatan belajar mengajar. majalah. dan cara memperolehnya pun mudah sekali tanpa perlu mengeluarkan biaya. tidak berarti foto mengenai obyek yang kurang akrab dengan siswa tidak boleh disajikan. Mungkin foto tentang sesuatu obyek yang asing bagi siswa dapat menarik perhatian siswa karena baru pertama kalinya berkumpul dan siswa ingin mengetahui lebih jauh tentang obyek itu.212 karena dengan ketajaman dan kontras yang baik yang dapat memberikan ketepatan dan rincian yang memadai untuk menggambarkan kenyataan yang ditampilkannya. dibandingkan dengan seorang petani dari desa kita yang memanen padi di sawah dengan “mesin traktor penggiling padi. 2) Harganya relatif lebih murah daripada jenis-jenis media pengajaran lainnya. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari gambar fotografi dalam hubungannya dengan kegiatan pengajaran. Kebenaran foto atau validitas foto menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. . foto-foto untuk tujuan pengajaran harus dapat memikat perhatian siswa. Namun demikian. misalnya foto-foto mengenai benda-benda atau obyek yang akrab dengan kehidupan siswa seperti binatang. dan lain-lain. boneka dan mainan. kereta api. surat kabar dan bahan-bahan grafis lainnya. bukanlah foto sesuatu obyek atau peristiwa yang dibuat-buat atau didramatisasi: foto seorang petani di desa kita yang sedang menuai padi dengan pisau alat panen merupakan kenyataan yang sesungguhnya.

Karakteristik dari gambar fotografi: 1) Gambar fotografi itu adalah dua dimensi. dengan maksud guna meningkatkan daya efektifitas proses belajar mengajar. Kecuali bilaman dilengkapi dengan beberapa seri gambar untuk objek yang sama atau adegan yang diambil dilakukan dari berbagai sudut pemotretan yang berlainan. kecuali bilamana diproyeksikan melalui proyektor opek. dari sudut pandang pembelajaran hal itu menjadi amat penting terutama untuk mata pelajaran yang rumit. 4) Gambar fotografi dapat menerjemahkan konsep atau gagasan yang abstrak menjadi lebih realistik. Namun demikian. Menurut Edgar Dale. . sehingga sukar untuk melukiskan bentuk sebenarnya yang berdimensi tiga. Mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. gambar fotografi dapat mengubah tahap-tahap pengajaran. dari lambang kata (verbal symbols) beralih kepada tahapan yang lebih kongkret yaitu lambang visual (visual symbols). untuk berbagai jenjang pengajaran dan berbagai disiplin ilmu. 2) Gambar fotografi adalah berdimensi dua. 3) Gambar fotografi bagaimana pun indahnya tetap tidak memperlihatkan gerak seperti halnya gambar hidup. beberapa gambar fotografi seri yang disusun secara berurutan dapat memberikan kesan gerak dapat saja dicobakan. dari ilmu-ilmu sosial sampai ilmu-ilmu eksakta. Kelemahan gambar fotografi antara lain: 1) Beberapa gambarnya sudah cukup memadai akan tetapi tidak cukup besar ukurannya bila dipergunakan untuk tujuan pengajaran kelompok besar.213 3) Gambar fotografi bisa dipergunakan dalam banyak hal.

misalnya hasil pemotretan jagat raya dengan benda-benda langitnya. bahwa untuk menilai dan memilih gambar datar yang baik harus menampilkan satu gagasan utama. Dalam memilih gambar fotografi ada lima kriteria untuk tujuan pengajaran. 4) Gambar datar menekankan gagasan pokok dan impresi. memerlukan pengamatan rincian gambar yang tekun. dan memilihnya yang terbaik untuk tujuan khusus pengajaran. . Dari sudut pandang ini ada dua macam pertimbangan. Dalam hal ini guru hendak menetapkan kegunaan-kegunaan gambar yang secara relatif memadai.214 2) Gambar datar adalah medium yang “diam” oleh sebab itu dalam hal ini seringkali dipergunakan istilah gambar tetap atau gambar diam. 6) Gambar datar dapat melayani berbagai mata pelajaran. pertama dari sudut pendidikan dan kedua dari sudut seni. 3) Gambar datar dapat memberi kesan gerak. misalnya gambar yang memperlihatkan adegan di jalan raya sangat efektif. kejelasan dan ukuran yang cukup. untuk menyatakan bahwa gambar itu tidak bergerak. 5) Gambar datar memberi kesempatan untuk diamati rinciannya secara individual. segala macam objek dapat dipotret dari yang kongkret sampai kepada gagasan yang abstrak. kualitas artistik. validitas serta menarik. Dengan satu pusat perhatian maka seluruh adegan akan mendukung kepada pesan apa yang ingin disampaikan. yaitu harus memadai untuk tujuan pengajaran. Ada beberapa kriteria dalam memilih gambar-gambar yang memenuhi persyaratan bagi tujuan pengajaran.

bayangan serta pewarnaan. misi. artinya untuk tujuan pengajaran yaitu harus menampilkan gagasan. bagian informasi atau satu konsep jelas yang mendukung tujuan serta kebutuhan pengajaran. Jadi pusat perhatian dari suatu gambar adalah gagasan.. gambar-gambar itu harus memenuhi persyaratan artistik yang bermutu. Keefektifan suatu gambar ditentukan oleh sejauh mana baiknya gagasan dikomunikasikan melalui gambar-gambar itu. dan harus cukup besar sehingga rinciannya bisa diamati untuk dipelajari. . Kedua. Gambar-gambar yang memenuhi persyaratan mutu seni juga harus memenuhi faktor-faktor: 1) Komposisi yang baik. 2) Pewarnaan yang efektif. Demikian pula pola gambarnya harus sederhana dan gagasannya tidak kompleks. pewarnaan yang bagus. berarti pemakaian warna-warna secara harmonis merupakan ciri kedua dari kualitas artistik suatu gambar. Gambar berwarna harus dipilih betul menurut kenyataan. merupakan ciri fundamental efektivitas gambar yang baik atau pengorganisasian ke seluruh unsur-unsur gambar yang baik. Artinya gambar itu mempunyai pusat perhatian yang jelas sehingga memberikan keseimbangan kepada gambar secara keseluruhan. pesan yang ingin dikomunikasikan bukan bersifat fisik. kedudukan dan arah garisgaris. dan alamiah misalnya merah.215 Pertama gambar fotografi itu harus cukup memadai. biru. untuk memilih gambar fotografi perlu memperhitungkan kesesuaiannya dengan tingkat usia siswa. pemakaian cahaya. Sedikit unsur terdapat di dalam gambar adalah cocok bagi anak-anak usia muda. Di samping itu gambar fotografi hendaknya realistik dan hidup. Dalam pada itu.

anakanak. adegan yang ideal. Gambar-gambar yang representatif dari bidang studi tertentu yang menampilkan pesan yang benar menurut ilmu. Warna-warna campuran hanya dipergunakan bila ingin menonjolkan makna tertentu terhadap gagasan yang ditampilkan ke depan. validitas gambar. kapal terbang dan sebagainya. Bilamana ukuran gambar terlalu kecil maka akan sulit diamati. Gambar-gambar fotografi yang melukiskan suasana dramatis atau mencekam. lebih pantas dipajang daripada untuk tujuan pengajaran. Yang tidak kurang pentingnya adalah besarnya gambar. antara lain: . Memikat perhatian bagi anak-anak cenderung kepada hal-hal yang diminatinya. Ketiga.216 hijau dan violet. pemahaman dan daya tarik terhadap gambar merosot dan perhatian siswa kepada gambar pun hilang. sehingga tampak jelas ke seluruh siswa. merupakan gambar-gambar yang tepat untuk maksud pengajaran yang sahih. yaitu terhadap bendabenda yang akrab dengan kehidupan mereka. karena ketepatan dan rinciannya menggambarkan kenyataan secara lebih baik. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam mempergunakan gambargambar fotografi sebagai media visual pada setiap kegiatan pengajaran. gambar fotografi untuk tujuan pengajaran harus cukup besar dan jelas. kereta api. 3) Teknik pemotretan yang unggul bernilai lebih dari komposisi dan pewarnaan. Keempat. perahu. Kelima memikat perhatian kepada anak-anak. misalnya binatang-binatang. Gambar yang tajam dan kontras mempunyai kelebihan.

oleh karena gambar-gambar itu justru sangat penting dalam mengembangkan kata-kata atau cerita. 2) Padukan gambar-gambar kepada pelajaran. Keterampilan jenis . 4) Kurangilah penambahan kata-kata pada gambar. siswa akan menjelaskan mengapa bentuknya tidak sama. akan tetapi tidak menghasilkan kesan atau impresi visual yang jelas. daripada mempergunakan banyak gambar tetapi tidak efektif. Melalui gambar itulah mereka memperoleh kejelasan tentang istilah verbal.217 1) Pergunakanlah gambar untuk tujuan-tujuan pelajaran yang spesifik. 5) Mendorong pernyataan yang kreatif. yaitu dengan cara memilih gambar tertentu yang akan mendukung penjelasan inti pelajaran atau pokok-pokok pelajaran. 3) Pergunakanlah gambar-gambar itu sedikit saja. seni grafis dan bentuk-bentuk kegiatan lainnya. akan mengakibatkan para siswa merasa dirongrong oleh sekelompok gambar yang memikat mereka. Jumlah gambar yang sedikit tetapi selektif. Tujuan khusus itulah yang mengarahkan minat siswa kepada pokok-pokok terpenting dalam pelajaran. sebab keefektifan pemakaian gambar-gambar fotografi di dalam proses belajar mengajar memerlukan keterpaduan. Misalnya gambar-gambar candi gaya Jawa Tengah dan Jawa Timur. melalui gambar-gambar para siswa akan didorong untuk mengembangkan keterampilan berbahasa lisan dan tulisan. atau dalam menyajikan gagasan baru. apa yang membedakan ciri-ciri satu sama lain. lebih baik daripada dua kali mempertunjukkan gambar-gambar yang serabutan tanpa pilih-pilih. Banyaknya ilustrasi gambar secara berlebihan.

bisa juga dengan memanfaatkan gambar-gambar baik secara umum maupun secara khusus. gabungan bermacam-macam bahan yang dapat digunakan untuk mencipta bangunan. Alat Permainan Visual Edukatif Alat permainan edukatif adalah alat permainan yang dirancang khusus untuk kepentingan pendidikan dan mempunyai beberapa ciri yaitu: 1) Dapat digunakan dalam berbagai cara. Alat ini dapat berbentuk balok-balok dalam berbagai macam ukuran. kayu. dalam upaya memperoleh hasil tes yang komprehensif serta menyeluruh. Dalam kegiatan bermain ini anak membentuk sesuatu. 3) Segi keamanan sangat diperhatikan baik dari bentuk maupun penggunaan cat 4) Membuat anak terlibat secara aktif 5) Sifatnya konstruktif. manfaat dan menjadi bermacam-macam bentuk. Terdiri dari semua alat permainan yang dibuat dengan berbagai macam bahan seperti plastik. slides atau transparan untuk melakukan evaluasi hasil belajar siswa. 2) Ditujukan terutama untuk anak-anak pra sekolah dan berfungsi mengembangkan berbagai aspek perkembangan kecerdasan dan motorik anak. maksudnya dapat dimainkan dengan bermacam-macam tujuan. Pemakaian instrumen tes secara bervariasi akan sangat baik dilakukan. d. 6) Mengevalusi kemajuan kelas. . Jadi guru bisa mempergunakan gambar datar. Macam-macam alat permainan visual edukatif: 1) Alat edukatif untuk membangun.218 keterbacaan visual dalam hal ini sangat diperlukan bagi siswa dalam “membaca” gambar-gambar itu.

Kegiatan ini sangat baik diberikan pada anak yang mempunyai gangguan/berkebutuhan khusus seperti hiperaktif dan autisme. Misalnya kertas. mengembangkan kreativitas. Dengan rentang perhatian yang terbatas dan masih sulit diatur atau masih sulit belajar dengan “serius”. Karena kegiatan ini bermanfaat untuk melatih ketekunan. anak usia prasekolah terutama anak hiperaktif akan lebih mudah belajar pengenalan konsep-konsep ini apabila dilakukan sambil bermain (melalui kegiatan bermain). Pada usia prasekolah anak perlu menguasai berbagai konsep seperti warna. konsentrasi (pemusatan perhatian). kayu dan sebagainya. 2) Alat permainan edukatif untuk melatih berbagai macam pengertian mengenai warna. bentuk. Peralatan ini terbuat dari berbagai macam bahan. plastik. besaran dan lain-lain.E. Melalui kegiatan bermain dengan A. menyusun kepingan-kepingan kayu bergambar dan yang semacamnya. Tidak jarang anak mampu menguasai bahasa yang canggih karena kemampuan ingatan pendengarannya bagus sehingga kita tidak perlu terlalu takut untuk menggunakan bahasa yang umumnya digunakan orang dewasa. karena anak akan merasa senang dan tanpa ia sadari ternyata ia sudah banyak belajar. menggambar. ukuran. mengisi waktu luang. koordinasi mata dengan tangan. ini maka kosa kata yang didapat juga tak ternilai.219 menciptakan bangunan tertentu dengan alat permainan yang tersedia. Alat permainan edukatif yang mengandung unsur konsep . arah. bentuk dan ukuran. Misalnya dalam memperkenalkan warna dan ukuran bisa digunakan kegiatan bermain memancing ikan yang terdiri dari bermacam-macam warna dan ukuran. Misalnya: membuat rumah-rumahan dengan balok kayu atau potongan lego.P.

6) Papan-papan hitung 7) Papan paku (dengan pengawasan cermat) . juga melalui pengulangan bermain dengan alat ini akan membuat anak makin memiliki konsep dan mengenal nama bentuk tersebut dengan spontan. posisi benda (di atas. segi tiga. sekaligus melatih motorik halus. segi empat. jumlah. 4) Tangga bentuk silinder dan kubus. 3) Puzzle (mainan bongkar pasang). Dengan memainkan alat permainan ini anak belajar tentang bentuk. warna. anak diminta menyatukan kembali. Yang paling sederhana adalah papan bentuk (lingkaran. Beberapa contoh alat permainan edukatif yang dapat mengembangkan ketrampilan gerakan halus dan koordinasi mata dan tangan: 1) Lotto-lotto berwarna 2) Alat permainan menara gelang ganda bentuk bulat. belajar hukum sebab akibat. bintang. oval dan sebagainya). bila terlalu sulit bagi anak untuk mengingat nama segi empat dapat diganti dengan istilah kotak atau tahu.220 bentuk tidak perlu mendapat penekanan berlebih. Model puzzle lain adalah suatu gambar tertentu yang kemudian dipotong-potong. segi tiga dan segi enam. dan di samping). Misalnya. Dengan bermain dan secara tidak khusus disebutkan nama bentuknya. di bawah. segi empat. Kata “lingkaran” diganti menjadi bundar. setelah gambar tersebut ditebarkan di meja. Dengan alat permainan ini anak-anak akan mengenal konsep warna. bentuk dan ukuran. 5) Papan-papan pasak. yaitu suatu sarana menyalurkan energi dan agresivitas anak.

Kalau ia berhasil. 12) Materi yang berorientasi pada kegiatan yang bersifat akademik. polisi dan penjahat. Manfaat yang bisa diperoleh melalui kegiatan bermain ini. mendapat pujian dari orang lain yang akan meningkatkan keinginan anak bekerja lebih baik lagi. anak dapat menyusun suatu bentuk tertentu. Materi tersebut meliputi: kertas dan pensil. Dapat juga anak melakukan peran imajinatif atau dongeng. jadi batman atau kesatria baja hitam. Dalam bermain pura-pura anak menirukan kegiatan orang yang pernah dijumpainya dalam kehidupan sehari-hari. ketekunan. antara lain mengembangkan kemampuan anak untuk berdaya cipta (kreatif). 10) Berbagai macam miniatur binatang. dapat dengan contoh atau berdasarkan kreasinya sendiri. sejenis atau sama. Misalnya: main rumah-rumahan. melatih konsentrasi. . dapat meningkatkan kosa kata serta belajar mengelompokkan berdasarkan fungsinya. akan menimbulkan rasa puas. misalnya balok meja. pola bentuk untuk dijiplak (sebagai persiapan membuat huruf). 11) Alat permainan yang bersifat konstruksi. bentuk angka-angka (untuk memperkenalkan bentuk angka) dan sebagainya.221 8) Biji untuk meronce 9) Kartu berpasangan. yaitu untuk mengembangkan kreativitas. Dengan alat permainan tersebut. daya tahan. Yaitu materi yang membawa anak untuk kesiapan akademik bagi anak. melatih ketrampilan motorik halus. orang (tokoh) yang bermanfaat untuk bermain peran sekaligus meningkatkan pengetahuan anak. alat permainan LASY.

Huruf-huruf ini akan terasa menonjol bila diraba oleh si kecil. 2) Foto-foto berpasangan. Susunlah tiap huruf tersebut di atas karton tebal. mengenal bunyi huruf dan membedakan bunyi. Tempelkan foto-foto itu di karton/kertas tebal.222 Alat permainan visual edukatif ciptaan Montessori: Aktivitas Bahasa 1) Album Foto Abjad Terbuat dari foto berbagai obyek dan di bawah foto ditulis huruf awalnya. Lalu ajaklah si kecil memainkan permainan “konsentrasi” dengan cara mengocok tumpukan foto itu. gunting dan tutup setiap guntingan foto dengan plastik bening sehingga terbungkus rapi. pertama dengan mencobanya bersama kita dan kemudian ia akan memperhatikan kita menggunakan jari untuk menelusuri bentuk huruf secara benar. Cara membuatnya potret berbagai benda yang dikenal si kecil dan cetak dua buah untuk masing-masing foto. Kita bisa . atau meletakkannya dengan posisi terbalik di atas meja dan membuka secara bergantian dua kartu sekaligus. Tujuannya adalah mencari pasangan setiap foto itu. Suruhlah ia meraba huruf-huruf itu. lalu potong. Kegiatan: suruh anak untuk menunjuk beberapa benda dan menyebutkan huruf awal serta bunyinya dengan demikian anak akan dapat mengenal abjad. Permainan ini membantu si kecil untuk membedakan secara visual dan mengingat-ngingat letak kartu sehingga ia tidak hanya sekedar menebak saja selama permainan ini. 3) Huruf-huruf Amplas Cara membuatnya siapkan beberapa lembar amplas.

atau langsung memasangkan huruf besar dan huruf kecil bersama-sama. Tabel tugas bisa dibuat dengan menggunakan amplop bertuliskan nama anak dan kartu bergambarkan tugas mereka. 6) Tabel Tugas Memberikan tugas pada anak bisa mendorong keinginannya untuk mandiri dan memberikan kepuasan saat tugasnya telah selesai dilaksanakan. Untuk buku atau kartu permainan. saya berwarna kuning.223 membimbing jarinya untuk menelusuri setiap huruf saat kita menyebutkan nama huruf tersebut. Bagian depan kulkas misalnya bisa dijadikan tempat untuk menempelkan huruf-huruf dengan menggunakan magnet. gambar . Kegiatan ini bisa membantu si kecil mengenal abjad 4) Dinding Kata Dinding kata ini dapat dibuat di berbagai tempat. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk anak-anak yang baru mulai belajar membaca dengan mengenal tulisan. dan beri tiga atau empat petunjuk. Untuk mengatur tugas anak dapat dibuat tabel penuh warna agar lebih menarik. 5) Buku Teka-teki Abjad Cara membuat buku teka-teki yaitu dimana satu halaman berisi petunjuk dan halaman selanjutnya berisi jawaban. saya rasanya asam. Kegiatan ini dapat membuat anak berpikir kritis dan berpikir imajinatif. Misalnya: saya buah. Kita juga bisa membuat huruf besar dan huruf kecil dari lembaran amplas kemudian memainkan permainan “konsentrasi” untuk memasangkan huruf besar dengan huruf kecil. Untuk anak yang lebih kecil. bantulah si kecil menentukan obyeknya.

di ujung benang tadi. setelah itu tempelkan sepotong karton tebal di bawahnya. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada tulisan dan membedakan secara visual. Masukkan benang yang sudah diikatkan ke sebatang lidi kecil ke lubang itu hingga ujung benangnya menembus ke belakang. ikatkan lagi lidi kecil sehingga anak panah dan lingkaran saling menempel. dan anak panah bisa diputar. sehingga posisinya seperti jarum jam. Setelah selesai. 8) Jam Gambar Cara membuatnya yaitu gambarlah sebuah lingkaran di karton tebal. Jadi pastikan setiap tugas ditampilkan dengan gambar yang sesuai. Sedangkan menggunting dan menempel gambar adalah latihan yang tepat untuk mengembangkan ketrampilan motorik halusnya. Lubangi anak panah tadi sehingga terbentuk lubang yang menembus pusat lingkaran ke belakang.224 merupakan suatu pesan. Lalu. menyortir gambar-gambar itu atau memilih foto atau gambar makanan bisa mengembangkan ketrampilannya dalam mebedakan obyek secara visual. lubangi pusat lingkaran itu. Cara menggunakannya anak harus menemukan gambar di kartu itu . 7) Menyortir Gambar-gambar Ajaklah si kecil mengumpulkan gambar berbagai jenis makanan yang ia sukai dan yang tidak ia sukai dari majalah dan menempelkannya untuk dijadikan hiasan kolase. Meski hasil guntingannya tidak rapi. letakkan di atas lingkaran. dan gunting kemudian tempelkan gambar-gambar benda dan gambarlah sebuah anak panah di karton.

dan berikan beberapa guntingan kertas itu kepada si kecil sekaligus. Usahakan agar kertas tidak terlalu panjang agar anak bisa menyelesaikannya dengan baik. Buatlah kartu-kartu dengan angka di dalamnya. Mulailah dengan satu garis lurus yang panjang dan pendek serta satu buah bentuk setengah lingkaran berukuran kecil. 2) Kwartet angka.225 yang bunyi konsonan awalnya sama dengan gambar yang tertunjuk oleh anak panah. Lalu pasangkan benda tersebut dengan angkanya. Kumpulkan bermacammacam benda. Kemudian tempelkan angka tersebut secara berurutan pada selembar kertas berwarna. Kegiatan ini bisa membantunya memahami bahwa semua huruf terbentuk dari garis lurus dan lengkungan. 9) Garis dan lengkungan Cara membuatnya adalah guntinglah garis lurus yang panjang dan pendek serta setengah lingkaranyang besar dan kecil dari karton. Tanyakan pada anak. huruf apa saja yang bisa dibuat dari potongan tersebut. mintalah anak untuk menghitung jumlah benda yang sesuai dengan angka yang tertera pada masing-masing kartu. Kartu tersebut bisa dibuat dalam ukuran yang . (jawabannya huruf besar “R” serta huruf besar dan kecil dari “p”). Aktivitas Matematika 1) Deretan angka Cara membuat deretan angka dengan menggunting angka-angka pada kalender bekas dan menaruhnya di sebuah kotak. Hal ini membantu anak bisa belajar menghitung hingga angka 100.

Lalu. letakkan uang logam di bawah kertas putih dan bantulah ia menjiplak dengan menggunakan krayon. 4) Jam tiruan Buatlah jam tiruan dari kertas kardus. Jelaskanlah padanya bahwa jumlah tusuk gigi pada setiap susunan tersebut tetaplah empat. Setelah itu. Hitunglah jumlah tusuk gigi itu bersama-sama saat ia menyusun (dan menempelkan) tusuk gigi dengan cara yang berbeda. pada empat lembar kertas yang berbeda. Untuk belajar memahami bahwa sebuah angka tetap sama meski diatur dengan cara berbeda. 5) Menjiplak uang logam. dibariskan berjajar atau membentuk satu garis lurus. atau menjadi persegi panjang. empat tusuk gigi bisa disusun menjadi sebuah rumah. Jadi menurut mereka angka 5 atau 7 tidak dapat ditampilkan dengan cara lain dan masih tetap merupakan 5 atau 7. Perkenalkanlah semua uang jenis logam. maka ajaklah anak untuk melakukan kegiatan dengan tusuk gigi. kemudian tanyakan jam berapa kepada anak sesuai dengan gambar atau anak diminta menunjukkan/mengarahkan arah jarum jam sesuai yang kita perintahkan. Misalnya.226 cukup besar sehingga seluruh benda itu bisa diletakkan semuanya di atas kartu. mintalah anak untuk menyusun empat angka dengan empat cara yang berbeda. 3) Tusuk Gigi Anak-anak yang masih kecil biasanya berpikir bahwa angka selalu statis. Aktivitas ini dapat membantu si kecil yang baru mengenal uang logam . Buatlah jiplakan dari kedua sisi uang logam. Siapkan beberapa tusuk gigi.

b) Sebagai alat untuk mendorong anak dalam membangun sesuatu dengan daya fantasi dan kreatifitasnya. b) Belajar menyusun kalimat. yang dilakukan oleh anak sendiri. dan huruf melalui pelajaran persiapan membaca permulaan.227 Alat-alat yang diperlukan untuk pendidikan persiapan permulaan membaca dan menulis dan persiapan permulaan berhitung/matematika: 1) Balok bangunan Fungsi/kegunaan: a) Mengenal bentuk-bentuk benda serta hubungannya antara satu dengan yang lainnya. c) Melatih kesabaran anak. b) Memberi variasi dalam cara memantapkan pengertian bilangan. kata. 3) Kotak baca Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan kalimat. suku kata. suku kata. serta kombinasinya. 2) Kotak merjan Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan 5 macam bentuk dan warna. kata. .

jingga. nila. hijau.228 Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari: Kotak bertutup yang dapat dibuka Tutup kotak yang di dalamnya terdapat gambar yang bertuliskan “nina beli buku” Isi kotak papan baca 1 Kepingan kalimat “nina beli buku” 2 Set kepingan kata “nina beli buku” 2 Set kepingan suku kata “nina beli buku” 2 Set kepingan huruf “nina beli buku” 4) Papan pengenalan warna Fungsi/kegunaan: Memperkenalkan 9 macam warna (yang terdiri dari warna merah. d) Jumlah 1 papan penampang dengan 9 lubang lingkaran 9 potong kepingan setengah lingkaran . putih dan hitam) Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari papan penampang dan kepingan setengah lingkaran. kuning. ungu. b) Bahan terbuari dari triplek c) Warna yang digunakan adalah Papan penampang berwarna abu-abu Kepingan geometris sesui dengan yang tersebut diatas. biru.

. dan isi pohon yang terdiri dari bentuk bunga. buah nanas. buah kecil. daun dan sebagainya. 6) Boneka Fungsi/kegunaan: Alat peraga untuk kegiatan bermain sandiwara boneka. alas pohon. 7) Papan geometris Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan bentuk-bentuk geometris b) Melatih otot-otot jari anak c) Untuk latihan menulis Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari papan penampang dan9 potongan-potongan bentuk geometris b) Bahan terbuat dari papan triplek 8) Pohon hitung Fungsi/kegunaan: a) Memperkenalkan konsep bilangan b) Menanamkan pengertian tentang perbandingan (lebih banyak kurang) Spesifikasi alat: Unsur-unsur pada pohon hitung adalah pohon.229 5) Papan nuansa warna Fungsi/kegunaan: Mengenalkan nuansa 5 jenis warna. masing-masing dengan urutan warna yang paling muda dan meningkat ke warna paling tua.

penggorengan-sodet. kaos kaki-sepatu. rok-baju. sendok-garpu.230 9) Papan pengenalan angka Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan angka 91-5) sebagai lambang bilangan b) Melatih anak untuk mengenal angka dan menghitung sendiri banyaknya paku jamur sebagai angka. pensil-buku. tatakan-cangkir. c) Membandingkan bentuk-bentuk geometris 11) Lotto gambar benda berpasangan Fungsi/kegunaan: Mengenalkan hubungan antara benda-benda yang berpasangan. 10) Kotak pos Fungsi/kegunaan: a) Mengenal bentuk-bentuk geometris (benda 3 dimensi) dengan beberapa penampang b) Melatih keseimbangan otot untuk memasukkan bentuk-bentuk geometris pada penampang yang benar. Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari Papan penampang yang bergambar Kepingan yang bergambar berpasangan: Daun-bunga. raket-kok. papan/setrika-setrikaan b) Bahan terbuat dari triplek dan harbort . meja-kursi.

kuning dan coklat. merah. d) Jumlah terdiri 1 set dengan 3 ukuran (besar-sedang-kecil) . kuning dan biru. b) Bahan yang digunakan adalah sepuluh kue c) Warna: merah. hijau. 14) Kuas gambar Fungsi/kegunaan: Alat pencetus pengungkapan ekspresi menggambar anak Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari tangkai dan bulu-bulu kuas b) Bahan yang digunakan adalah kayu dan ijuk/rambut c) Tiga macam warna.231 12) Loto gambar benda yang sama Fungsi/kegunaan: Mengenalkan persamaan dan perbedaan bentu antara benda-benda Spesifikasi alat: a) Unsur alat terdiri dari papan tempat keping bergambar dan isi berupa 12 keping bergambar b) Bahan dari triplek dilapis formika 13) Serbuk berwarna Fungsi/kegunaan: a) Bahan untuk menggambar b) Finger painting Spesifikasi alat: a) Unsur dari serbuk berwarna ¼ (seperempat) kilogram setiap warna.

kuning. ungu. yaitu: 1) Peralatan yang terbuat dari sehelai karton.232 15) Plastisin Fungsi/kegunaan: Alat untuk membentuk dan melatih otot-otot jari anak Spesifikasi alat: a) Unsur dari barang yang lunak dan dapat dibentuk b) Bahan terbuat dari Tanah liat atau plastisin c) Warna: merah. . Dan dua buah panah yang terbuat dari karton yang dapat digerakkan ke atas dan ke bawah melalui pita/tali.kuning. Tugas anak adalah menggerakkan panahpanah itu sehingga panah kanan menunjukkan nama (kata) dari benda yang ditunjuk oleh panah kiri. jingga. biru Beberapa media pembelajaran visual lainnya yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama belajar membaca asosiasi antara arti dan kata. Spesifikasi alat: a) Bahan terbuat dari kayu. hijau. biru. dimana pada bagian kiri memuat gambar dari berbagai benda dan pada bagian kanan memuat nama dari benda itu. hijau. logam dan karet (penahan logam) b) Warna: merah. jingga d) Jumlah menurut keperluan 16) Gambang Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan salah satu alat musik pukul pada anak b) Sebagai alat untuk membangkitkan/memupuk rasa senang pada musik.

Cara menggunakannya: ikan diletakkan dengan kata disebelah atas dan anak membacanya.233 2) Gambar penghubung. Tugas anak mencari kata yang sesuai dengan gambar atau sebaliknya. yaitu: 1) Alat yang terbuat dari dua helai kartu (satu set mainan kwartet) dimana kartu yang satu memuat nama (kata) dan kartu yang satunya lagi memuat gambar. ikan dibalikkan (dengan dikail) tiap kali anak menangkap seekor ikan. Beberapa media pembelajaran visual lainnya yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama analisa sintese. Tugas anak adalah menggabungkan kartu gambar dan kata sesuai dengan bentuknya 3) Satu set kwartet yang terdiri atas 5 atau 6 atau 7 helai kartu. Alat ini bersifat self corrective. dimana bagian kiri memuat kata dan bagian kanan memuat gambar atau dua bagian memuat suku kata. Tugas anak adalah menyusun kartu-kartu ini dalam sebuah lingkaran. Agar ikan dapat dikail. ikatkan sebuah magnet kecil. karena adanya sambungan tertentu antara kartu gambar dan kartu kata. Untuk mengontrol benar atau tidak dalam membacanya. 4) Alat ini terdiri dari 8 sampai 12 helai kartu yang masing-masing berbentuk ikan. nama dibacanya jika salah ikan dikembalikan dalam kolam. Tiap kartu terdiri dari dua bagian. jepitlah masing-masing dengan sebuah paperclip pada ujung tali pengail. jika benar ikan boleh ditahan. . dimana bagian muka dari kartu memuat gambar dan bagian belakang kartu memuat nama (kata) dari gambar itu.

tidak menghiraukan gambar. Sedangkan anak yang telah maju. Bagi anak yang lambat. Guru menunjukkan huruf (lambang): siswa menyebut kata-kata yang mulai/berakhir dengan huruf itu.234 Tujuannya: agar anak belajar cepat mengidentifikasi benda dan nama. 2) Satu set mainan kwartet. Tugas anak adalah menyusun kata. Bagi anak demikian gambar hanya berfungsi sebagai alat pengontrol. agar anak menangkap struktur kata dengan cepat. Set ini adalah merupakan self corrective (dapat mengoreksi diri sendiri) 3) Peralatan yang membantu proses mengenal lambang dan bunyi. Cara menggunakannya: Huruf ditunjukkan: Siswa mengucapkan bunyinya (bukan namanya) Guru menyebut bunyi siswa menunjukkan hurufnya. Panah menunjukkan dimana harus memulai jika ia menulis huruf. Ia menyusun kata atas strukturnya. yaitu kartu yang memuat huruf/lambang. dimana tiap kartu dipotong menjadi dua bagian. Misal untuk huruf n: nasi-nangka-aminiman-taman. dsb . kata disusunnya menurut gambar. Dimana titik yang agak besar pada bagian atas dari kartu menunjukkan bagian atas dari huruf.

Cara menggunakannya dadu dijatuhkan ke lantai. 4) Sebuah dadu yang dibuat dari karton tebal. Agar mudah menarik laci untuk mengambil huruf yang diperlukan. maka yang penting adalah mengenal bunyi huruf sebagai bunyi pertama/terakhir dalam sebuah kata. dibungkus dengan kain dril. anak membaca dari atas ke bawah. Cara menggunakannya: dengan menggerakkan huruf “s” melalui pita. ai. dipinggir kiri dan kanan ada pita tempat menggerakkan huruf ke atas dan ke bawah. tiap laci diberi manyi. Kalau anak melihat huruf “n” lalu menyebut nama mobil maka ia berarti belum tahu bahwa huruf n adalah lambang untuk bunyi n. Hendaknya instruksi pada anak itu jelas agar tidak membingungkan anak. au dll. 7) “Lemari huruf” yaitu merupakan alat untuk menyusun kata.235 Dalam hal ini tidak perlu mengetahui bagaimana menulis kata yang disebutnya mungkin anak menyebut kata baru yang belum diajarkan. . agar kuat dan awet. dibuat dari kotak korek api dijadikan satu lemari (direkatkan) dan tiap kotak merupakan sebuah laci. 5) Flash card yaitu kartu yang memuat kata dan yang ditunjukkan kepada anak untuk dilihat selama sekejap mata saja. Dengan tujuan agar anak membaca kata-kata dengan cepat. dibuat dari karton. Lemari ini diberikan sebuah dasar. kalau jatuh dengan huruf “s” ke atas. Justru disinilah terletak kemajuan anak. e. anak menyebut bunyi huruf itu/kata yang mulai/berakhir dengan “s”. Dipakai 30 buah kotak agar ada tempat bagi huruf-huruf seperti j. 6) Alat ini terdiri dari sehelai karton dibagi dua bagian.

pada papan dilekatkan deretan kantong karton tinggi 5 cm. Kalau anak telah dapat mengerjakan hal ini dengan lancar. 9) Teknik strip story. Hal-hal yang terjadi pada anak tiap kali ia menyusun sebuah kata: Anak memikirkan kata mana yang akan disusun Anak menganalisa kata itu Anak mengidentifikasi tiap bunyi dalam kata itu dengan hurufnya. ini berarti bahwa kunci untuk kepandaian membaca telah ada padanya. Dengan alat ini mereka dapat menguji kekuatan sendiri yaitu dapat dipakai oleh 1-2 orang. saling membantu dan mengoreksi. Setelah pekerjaan selesai. 8) Papan Kantong Diperlukan papan triplek/karton tebal dan kartu kata dengan panjang triplek kira-kira 90 cm dan tinggi 60 cm. anak harus mengembalikan huruf pada tempatnya masingmasing. yaitu berupa kartu-kartu kata dibuat dengan karton yang ditulis kata-kata. tugas anak menyusun kata dengan huruf dalam laci itu. pada deretan kantong dapat dipindah-pindahkan beberapa karton-karton kecil yang bertuliskan kata-kata. jika dua orang dapat dilakukan dengan bekerja sama.236 Pada laci yang berisi huruf “a” ditempelkan huruf “a”. Dapat mempermahir siswa menyusun kata-kata menjadi satu untaian kalimat .

serta proses perkembangan dan tingkat pencapaian programpun juga tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Kurikulum bagi anak hiperaktif dititik beratkan pada pengembangan kemampuan dasar. Sehingga untuk mengembangkan kurikulum mengacu pada: a. dimodifikasi dan dikembangkan sendiri oleh guru pembimbing/terapis. Kemampuan dasar bina diri. Pengembangan Kurikulum Anak hiperaktif memiliki kemampuan yang berdeferensiasi. Kemampuan dasar bahasa/komunikasi c. Program Pengembangan kelompok bermain (usia 2-3 tahun) b. Kurikulum Sekolah Dasar d. Kurikulum Taman Kanak-kanak (usia 4-5 tahun) c. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif 1. Kemampuan dasar kognitif b. dengan modifikasi. yaitu: a. Kurikulum SLB Tuna Rungu dan Tunagrahita Penyusunan program layanan pendidikan dan pengajaran diambil dari kurikulum tersebut dengan mempertimbangkan kemampuan dan ketidakmampuan (kebutuhan) anak. Oleh karena itu kurikulum dapat dipilih.237 E. Pelayanan pendidikan bagi anak hiperaktif akan lebih baik apabila dimulai sejak dini (intervensi dini). dan . Kurikulum SLB Tuna Rungu e. dengan bertitik tolak pada kebutuhan masing-masing anak berdasarkan hasil identifikasi.

atau dengan kata “tidak”). Berhenti sejenak dilanjutkan dengan perintah selanjutnya Sedangkan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Sosialisasi Apabila kemampuan dasar tersebut dapat dicapai oleh anak dengan mengacu pada kemampuan anak yang sebaya dengan usia biologi/kalendernya. Pelaksanaan Pembelajaran Dalam membelajarkan anak hiperaktif digunakan sistem pembelajaran lovaas one on one (pembelajaran satu guru satu murid) yang didasari oleh model perilaku kondisioning operant (Operant Conditioning) dimana efektifitas pengajaran berkaitan dengan kontrol terhadap antecedent/perilaku yang lalu dan konsekwensi. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” . sedangkan perilaku buruk dihilangkan (melalui time out. yaitu: a. Respon anak c. menulis. hukuman. Dalam teknisnya program loovas (Discrete Trial Training/DTT dari Lovaas) ini terdiri dari 4 bagian. meliputi kemampuan: membaca. Sehingga perilaku yang baik dapat terus dilakukan. Stimuli dari guru agar anak berespons b. 2. maka kurikulum dapat ditingkatkan pada kemampuan pra akademik dan kemampuan akademik. sehingga anak dapat menangkap pesan. dan matematika (berhitung). Konsekwensi d. Yaitu dengan memberikan reinforcement yang positif sebagai kunci dalam merubah perilaku.238 d.

Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media. Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. Prompt (bantuan/arahkan) anak untuk menunjuk gambar tersebut dan beri reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Materi yang diajarkan adalah menunjuk dan menyebutkan gambar b. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya . meliputi: 1) Identifikasi Benda a. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi gambar: Gambar diletakkan di meja di depan anak. gambar bentuk. terutama media visual (gambar). karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. Persiapkan perhatian dan beri perintah “Tunjuk … (nama benda gambar tersebut)”. persiapkan perhatian dan beri sebuah gambar. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. dan kartu gambar c. Katakan “Ini apa?” Prompt (bantuan/arahkan) anak untuk melabel (menyebutkan nama bendabenda) gambar tersebut dan beri reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. gambar warna. Media visual (gambar) itu mencakup gambar benda.239 tersebut. Melabel gambar: Duduk di kursi berhadapan dengan anak . gambar huruf. Kegiatan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual gambar. gambar angka dan gambar kata kerja.

Beri sebuah benda yang cocok/sesuai dengan salah satu benda di hadapan anak dan berikan perintah “Samakan”. benda berwarna. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama warna)”. dan beri reinforcer (hadiah/pujian). Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Kurangi sedikit . c. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk warna yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya.240 tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna c. Prompt (bantu) anak untuk meletakkan benda yang diberikan di atas atau di depan benda yang cocok/sesuai. dan berbagai bentuk. Proses/Prosedur pembelajaran: Letakkan benda (benda-benda) pada meja di hadapan anak. b. 3) Identifikasi warna a. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi warna: Letakkan bahan-bahan berwarna di meja di hadapan anak. Materi yang diajarkan adalah mencocokkan gambar b. kartu huruf. 2) Mencocokkan (Matching) a. Materi yang diajarkan adalah mengidentifikasi gambar-gambar dan melabel (menyebutkan nama) benda-benda dan gambar-gambar. kartu angka.

Katakan “Bentuk apa (ini)?”. Melabel warna: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Melabel bentuk: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah benda berwarna.241 demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah bentuk. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama bentuk)”. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar c. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk bentuk yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel warna yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Katakan “Warna apa (ini)?”. Kurangi sedikit demi . Materi yang diajarkan adalah identifikasi bentuk dan melabel bentuk b. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel bentuk yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. 4) Identifikasi Bentuk a. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi bentuk: letakkan sebuah bentuk (berbagai bentuk) pada meja dihadapan anak.

Media yang akan digunakan adalah kartu-kartu angka c. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk bentuk yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Katakan “Huruf apa (ini)?”. Materi yang diajarkan adalah identifikasi huruf dan melabel huruf b. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel bentuk yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah bentuk.242 sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Materi yang diajarkan adalah identifikasi angka dan melabel angka b. Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf c. 6) Identifikasi angka a. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi huruf: Letakkan huruf (-huruf) pada meja dihadapan anak. 5) Identifikasi huruf a. Melabel bentuk: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama huruf)”. Proses/Prosedur pembelajaran: .

Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk angka yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Melabel angka: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk gambar yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah angka. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama angka)”. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel angka yang dimaksud dan reinforce responsnya. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi kata kerja: Letakkan gambar aktivitas orang pada meja dihadapan anak. Katakan “Angka (ber) apa (ini)?”. melabel kata kerja dan menirukan gambar b. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya . Materi yang diajarkan adalah identifikasi kata kerja. Media yang digunakan adalah foto/Gambar aktivitas orang c. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (gambar aktivitas orang)”.243 Identifikasi angka: Letakkan angka (-angka) pada meja dihadapan anak. 7) Identifikasi kata kerja a.

Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel gambar yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Melabel kata kerja: Duduk dikursi berhadapan dengan anak.244 tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Evaluasi Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif meliputi: a) Evaluasi proses Evaluasi proses ini dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang atau pembelajaran yang sedang berlangsung seketika itu juga. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah gambar. 3. reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Katakan “Gambar apa (ini)?”. Persiapkan perhatian anak dan beri perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar). Hal ini dilakukan pembimbing dengan cara memberi reward atau demonstrasi secara verbal dan . Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menirukan aktivitas seperti dalam gambar. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja.

sebaliknya apabila program belum dapat terkuasai oleh anak maka diadakan pengulangan program (remedial) atau meninjau ulang apa yang menyebabkan ketidak berhasilan pencapaian program. . Apabila tujuan program pendidikan dan pengajaran telah tercapai dan dapat dikuasai anak.245 konkrit. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif yang menjadi contoh kasus. maka kelanjutan program dan kesinambungan program ditingkatkan dengan bertolak dari kemampuan akhir yang dikuasai anak. Hal ini dapat dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi bersama atau case conference. c) Evaluasi Catur Wulan Evaluasi ini disebut juga dengan evaluasi program yang dimaksud sebagai tolak ukur keberhasilan program secara menyeluruh. Di samping itu untuk mengetahui sejauh mana program yang dicapai anak dapat diketahui dengan cara adanya catatan khusus/buku penghubung. b) Evaluasi Bulanan Evaluasi ini bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah.

Untuk mengkaji masalah tersebut dipilih pendekatan kualitatif. yaitu para guru dan peneliti dianggap mengetahui tentang pembelajaran pada anak hiperaktif khususnya dalam penggunaan media visual (gambar).246 BAB III METODE PENELITIAN A. pendekatan kualitatif dapat menghasilkan data . Adapun kegiatan yang dilakukan dalam penelitian deskriptif ini: pengumpulan data. Alasan digunakan pendekatan kualitatif karena lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan yang tidak terkonsep sebelumnya tentang keadaan di lapangan yang sebenarnya. Landasan ini digunakan untuk menjaring data informan. kreativitas. 2001:2) dalam penelitian kualitatif dapat dikemukakan definisi mengenai metodelogi kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. penyusunan data dan analisis data yang diperoleh. tingkah laku dan tindakan para pelaku dalam peristiwa belajar dan mengajar di tempat Terapi Anak. karena data-data yang terkumpul berupa uraian kata-kata dan gambar (Moleong. Fokus ini mengarahkan perhatian kepada aktivitas. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran pada anak hiperaktif yang dikhususkan pada penggunaan media visual (gambar) saja. 2000:5). Bogdan dan Taylor (dalam Moleong. Pendekatan dan Prosedur Penelitian Fokus penelitian ini adalah perencanaan.

dan pendekatan kualitatif lebih peka dan dapat menyesuaikan dengan berbagai penajaman pengaruh bersama maupun terhadap pola-pola nilai yang dihadapi selama penelitian berlangsung. Sebagai langkah pertama yang dilaksanakan peneliti adalah mengadakan studi pendahuluan di lokasi penelitian. sebagai landasan struktural formal untuk dilaksanakannya penelitian. Langkah kedua adalah pengurusan izin penelitian pada pihak-pihak terkait. Dari hasil studi pendahuluan dilakukan identifikasi mengenai pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di lokasi penelitian. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif khususnya dengan menggunakan media visual (gambar) digunakan dua sumber yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). Sedangkan data sekunder yaitu data yang cara mendapatkannya tidak secara langsung melalui sumbernya. Langkah ketiga adalah pelaksanaan penelitian untuk mengambil data yang diperlukan dalam penelitian dengan menggunakan teknik: wawancara. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya terhadap pihak yang memerlukan data meliputi para guru Terapi Anak Al Tisma Kudus. diperoleh dari (1) Kepala Terapi Anak. observasi partisipan dan pengumpulan dokumen. yaitu di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. untuk menyaring data tentang perencanaan.247 secara utuh dari informan dan perilaku yang dapat diamati sebagian dari suatu keutuhan. berkenaan dengan informasi . Untuk memperoleh data perencanaan.

terutama dengan melihat dari segi kualitas tempat terapi dan aksesibilitas. Sasaran kajian dalam penelitian ini adalah perencanaan. telah dapat dipilih sebuah kasus di tempat terapi sebagai latar penelitian ini yaitu Terapi Anak Al Tisma Kudus. interaksi sosial dan aktivitas imajinasi (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan kelainan perilaku.248 tentang berbagai kegiatan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar dan (2) dokumentasi tentang statistik jumlah siswa. Latar dan Sasaran Penelitian Sesuai dengan pendekatan metodelogis yang digunakan. Speech Delayed dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan terlambat bicara dan kelainan perilaku. Autis dan Hiperaktif (A & H) dan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi (NH & KK). Termasuk kategori hiperaktif disini adalah Speech Delayed dan Hiperaktif (SD & H). B. yakni dengan memilih sebuah kasus pembelajaran anak hiperaktif di Kota Kudus. latar penelitian ditentukan secara purposif. Pemilihan latar penelitian ini ditentukan dengan mendasarkan pada kelayakan informasi-informasi yang diperoleh dalam proses penelitian di lapangan. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual . Dengan mempertimbangkan hal ini. sedangkan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi yaitu anak yang mengalami gangguan perilaku tetapi ringan (hiperaktif ringan) dan kurang kokonsentrasi. serta sejarah berdirinya LembagaTerapi Anak Al Tisma Kudus. Autis dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi.

sasaran kajian diarahkan pada perencanaan. 1. kajian diarahkan pada faktor pendorong dan penghambat yang muncul dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). materi pendidikan. 2. Ketiga. C. karakteristik guru dan siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). observasi partisipan dan dokumentasi. wawancara mendalam. Teknik Pengumpulan Data Sesuai dengan permasalahan dan pendekatan penelitian. . yang meliputi bangunan fisik sekolah. maka teknik yang dipilih untuk mengumpulkan data di lapangan adalah teknik : pengamatan fisik terfokus. 1996:66). alat-alat pembelajaran yakni media visual (gambar) dan proses belajar mengajar. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. Kedua. aktivitas belajar pada siswa dan penggunaan media visual (gambar). Teknik Wawancara Mendalam Wawancara merupakan memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dan responden dengan menggunakan panduan wawancara (Dian.249 (gambar). Pengamatan Fisik Terfokus Pengamatan fisik terfokus adalah dengan bantuan alat kamera foto digunakan sebagai teknik untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan halhal fisik yang sesuai dengan masalah penelitian. pola komunikasi siswa. pertama sasaran kajian diarahkan pada kondisi lingkungan fisik. Secara khusus.

upaya pemecahan masalah dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). yaitu wawancara dengan menggunakan bahasa campuran (bahasa daerah dan bahasa Indonesia) dan melibatkan emosi pada kebebasan dalam sifat kekeluargaan. Di dalam pelaksanaan wawancara dilakukan lebih dari satu kali dengan mewawancarai informan kunci kemudian ke informan pelengkap secara berurutan sesuai dengan keadaan informan dalam konteks wawancara yang sebenarnya. Wawancara yang dilakukan peneliti adalah wawancara mendalam.250 Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan (Moleong. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). Dalam pelaksanaan wawancara dilakukan dengan cara terpimpin yaitu pewawancara membuat kerangka dan garis besar mengenai pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara antara lain: identitas informan (baik informan kunci atau informan pelengkap). Hal ini dilakukan untuk menjaring data-data secara lebih jelas dan mendalam untuk kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai laporan hasil penelitian. maka dibuat suatu pedoman wawancara. . Agar dalam pelaksanaan wawancara berjalan dengan lancar dan sistematis. pengetahuan tentang proses belajar mengajar. Dengan demikian proses wawancara akan terarah dan tidak akan menyimpang jauh dari sasaran maupun tujuan yang telah direncanakan. 2001:135). perencanaan.

1996:60). 3. 2001:126). Hasil catatan dan rekaman dari wawancara tersebut nantinya akan menjadi data yang diperlukan dalam penelitian yang berguna untuk pengecekan verifikasi data yang diperoleh dari sumber data yang lain. sehingga mempunyai dua peranan yaitu sebagai pengamatan dan menjadi anggota kelompok yang diamati (Moleong. Observasi partisipan yaitu pengamatan menjadi anggota penuh dari kelompok yang diamati. selama berlangsungnya wawancara dilakukan pencatatan dengan mempergunakan buku catatan di lapangan dan mempergunakan alat perekam (tape recorder) merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. . Teknik Observasi Partisipan Observasi dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala atau fenomena yang diselidiki dengan menggunakan mata sebagai alat tanpa ada pertolongan alat standar lain (Dian.251 sehingga informan yang diperlukan terjaring semua. Teknik observasi partisipan dilakukan peneliti dengan melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran. terutama pada saat proses pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) dengan tujuan untuk mengetahui ciri mengenai kondisi dan informasi yang diperlukan. khususnya Kepala Terapi Anak yang memiliki pengetahuan. pengalaman dan wawasan yang cukup luas. Teknik wawancara mendalam ini dilakukan dengan para informan kunci. Karena tujuan wawancara adalah untuk memperoleh data yang sangat dibutuhkan dalam proses penelitian.

yaitu setting latar. pelaku dan aktivitas dalam situasi pembelajaran.252 Dalam mengumpulkan informasi. peneliti menggunakan proses pengamatan peran serta atau partisipasi. dengan menelusuri data arsip atau dokumen yang berada di kantor Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus (Moleong. . Teknik Studi Dokumentasi Teknik studi dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan data-data sekunder dari dokumen-dokumen yang mungkin ada dapat mendukung perolehan data dalam penelitian ini. 4. Studi dokumentasi dilakukan dengan menelusuri catatan yang ada di daerah penelitian baik yang dimiliki sekolah maupun pihak-pihak yang berkenaan dengan sekolah tersebut. maka ada beberapa aspek yang akan diamati meliputi tiga hal. 2001:161). Berkaitan dengan penelitian ini. Sedangkan aktivitas yang dimaksud adalah perilaku guru dan murid dalam situasi pembelajaran. sehingga peneliti relatif lebih bebas dalam membuat catatan yang diperlukan berdasarkan pedoman observasi yang telah direncanakan. Latar yang diamati meliputi situasi umum fisik yang relevan. berkaitan dengan berdirinya. berkaitan dengan aspek fisik dan dokumen administrasi. Pelaku yang dimaksud disini adalah guru dan murid. Di samping menggunakan alat tulis dalam pelaksanaan metode observasi ini dibantu dengan kamera foto untuk memperkuat argumentasi dengan gambar visual hasil rekaman kamera foto tersebut. Teknik dokumentasi digunakan untuk menjaring data aspek kesejarahan.

. b Reduksi data Yaitu memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan focus penelitian. dipilih hal-hal yang pokok. kategori dan satu uraian dasar. dan dicari tema atau polanya. dan disusun lebih sistematis sehingga lebih mudah dikendalikan. yaitu dimulai dari lapangan atau fakta empiris dengan terjun kelapanagan. Data yang diperoleh dalam lapangan ditulis dalam bentuk uraian terinci yang akan terus bertambah sejalan bertambahnya waktu penelitian. Berikut ini tahapan analisis data yaitu sebagai berikut: a Pengumpulan data Peneliti mencatat semua data secara obyektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan. difokuskan pada hal yang penting. menafsir dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. Analisis data di dalam penelitian kualitatif dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. dirangkum. oleh sebab itu laporan tersebut perlu direduksi. Disamping itu laporan sebagai bahan mentah juga perlu disingkatkan direduksi. mempelajari. menganalisis. mengorganisasikannya kedalam suatu pola. Analisis data dilakukan secara induktif.253 D. Menurut Miles dan Hoberman dalam Rachman (1999:120) peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil wawancara di lapangan. Teknik Analisis Data Analisis data menurut Payton dalam Moleong (1991:103) adalah proses mengatur urutan data.

254 c Penyajian data (display data) Yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Kesimpulan adalah tinjauan ulang pada catatan di lapangan atau kesimpulan dapat ditinjau sebagai makna-makna yang muncul dari data yang harus diuji kebenarannya. matrik. yaitu yang merupakan validitasnya (Milles dan Hoberman. Sejak semula peneliti berusaha mencari makna dari data yang diperoleh. Untuk menampilkan data-data tersebut agar lebih menarik maka diperlukan penyajian yang menarik pula. kekokohannya dan kecocokannya. dan sebagainya (Milles dan Hoberman. Penarikan kesimpulan merupakan bagian dari satu kegiatan konvigurasi yang utuh. 2000:19). Hasil dari data-data yang telah didapatkan dari laporan penelitian selanjutnya digabungkan dan disimpulkan serta diuji kebenarannya. Dalam penyajian ini dapat dilakukan melalui berbagai macam visual. hipotesis dan sebagainya. . diagram. sehingga kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. grafik. chart network. persamaan. Verifikasi data yaitu pemeriksaan tentang besar dan tidaknya hasil laporan penelitian. misalnya gambar. model. hubungan. tema. halhal yang sering muncul. Dalam pelaksanaan penelitian penyajian-penyajian data yang lebih baik merupakan suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid. disajikan langkah terakhir adalah kesimpulan-kesimpulan. Untuk itu peneliti berusaha mencari pola. 2000:17) d Pengambilan keputusan atau verifikasi Yaitu data-data dari hasil penelitian setelah direduksi.

. Analisis Data Kualitatif. Apabila ketiga tahapan tersebut selesai dilakukan diambil suatu keputusan atau verifikasi. Setelah direduksi kemudian diadakan sajian data. selain itu pengumpulan data juga digunakan untuk penyajian data.255 Tahapan analisis data kualitatif tersebut dapat dilihat dalam bagan di bawah ini. Pertamatama peneliti di lapangan dengan mengadakan wawancara atau observasi yang disebut di tahap pengumpulan data. Karena data yang dikumpulkan banyak maka diadakan reduksi data.1. PENGUMPULAN DATA REDUKSI DATA SAJIAN DATA PENGAMBILAN KEPUTUSAN ATAU VERIFIKASI Bagan 3. Sumber: Milles dan Hoberman dalam Rahman (1999:20) Keempat komponen tersebut saling mempengaruhi dan terkait.

bahan belajar. perlu diperhatikan juga keabsahan data yang terkumpul.256 E. Adapun maksud utama adanya perpanjangan di lapangan ini untuk mengecek kebenaran data yang diberikan baik dari informan utama maupun informan penunjang. kegiatan ketika proses belajar berlangsung. maka perlu mengadakan keikutsertaan dalam rentang waktu yang panjang. Menurut Moleong (2001:173) untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan. 2) triangulasi (triangulation) dan 3) pengecekan anggota (member checking). . Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Setelah tahapan analisis data dilakukan. Foto-foto terhadap objek pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media visual (gambar) dan observasi terhadap data-data ini dimaksudkan untuk mendukung kebenarannya antara hasil wawancara dengan kenyataan yang sebenarnya yang ada pada lapangan. Selain itu peneliti juga mengadakan pengamatan terhadap data-data mengenai sarana prasarana dan proses belajar mengajar. Dalam hal ini digunakan teknik 1) keikutsertaan di lapangan dalam rentang waktu yang panjang (prolonged engagement). Sebagai langkah untuk mendukung kebenaran data secara akurat maka peneliti juga mengadakan pemotretan terhadap tempat terapi. 1) Keikutsertaan di Lapangan dalam Rentang Waktu yang Panjang Dalam penelitian ini untuk menguji kepercayaan terhadap data yang telah dikumpulkan dari informan utama yaitu Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus.

sehingga informasi yang diberikan oleh informan utama pada penelitian dapat mewakili validitas dan mendapatkan derajat kepercayaan yang tinggi. 3) Pengecekan Anggota Peneliti mengadakan pengecekan anggota dengan tujuan untuk menguji terhadap derajat kepercaan tentang data-data yang diberikan oleh informan utama. Dari kegiatan ini. maka peneliti melaksanakan pemeriksaan dengan teknik mencari informasi dari sumber lain. sebagai latar dalam penelitian ini. Menurut Patton dalam Moleong (2001:178) triangulasi dengan sumber lain berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.. Hal ini dapat dicapai dengan jalan: (1) membandingkan data informasi hasil observasi dengan informasi dari hasil wawancara kemudian menyimpulkan hasilnya. peneliti telah memperoleh kelengkapan data dan akurasi data tentang pelaksanaan kegiatan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Pelaksanaan pengecekan anggota ini lebih banyak dilaksanakan peneliti secara informan. . karena anggota yang dimaksudkan adalah guru-guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus.257 2) Triangulasi Untuk pemeriksaan keabsahan data yang telah dikumpulkan agar memperoleh kepercayaan dan kepastian data. (2) membandingkan data hasil dari informan utama (primer) dengan informasi yang diperoleh dari informan lainnya (sekunder). (3) membandingkan hasil wawancara dari informan dengan didukung dokumentasi sewaktu penelitian berlangsung.

259 Gebog Kudus. retardasi mental (idiot).258 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Setting Penelitian a. speech delayed (terlambat bicara). Tinjauan Historis Terapi Anak Al Tisma Kudus Terapi Anak Al Tisma Kudus didirikan sejak Maret tahun 2001. Bagan Organisasi Terapi Anak Al Tisma Kudus dipimpin oleh Kepala Terapi. disphasia (anak yang mengalami gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam). microcepalus (anak yang lahir dengan ukuran lingkar kepala kurang dari standart kelahiran). down sindrome. c. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN 1. hiperaktif. seperti autisme. 06 / RW. merupakan salah satu tempat terapi untuk anak berkebutuhan khusus. Letak Geografis Terapi Anak Al Tisma Kudus Secara geografis Terapi Anak Al Tisma Kudus terletak disudut kota di Jalan Besito Gang II RT. 07 No. dibantu oleh beberapa guru pembimbing/terapis. Bagan Organisasi Terapi Anak Al Tisma Kudus. Walaupun lokasi terapi ini terletak disudut kota dan ditengah-tengah perkampungan akan tetapi sangat mudah apabila ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum. IQ rendah. dan kurang stimulasi. gangguan konsentrasi. b. .

dokter spesialis metabolitas Departemen Pendidikan Nasional Dan tenaga ahli yang lain seperti: ahli gizi. dimana setiap terapis memegang satu-dua anak dengan sistem pembelajaran individual (lovaas one on one – satu guru satu murid) di bawah kendali dan supervisi Kepala Terapi. meliputi dokter spesialis yang menangani gangguan perkembangan anak. dokter spesialis syaraf. (Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus. Keadaan Guru. d. .259 Adapun personal dari Terapi Anak Al Tisma Kudus. Sarana dan Prasarana Terapi Anak Al Tisma Kudus. terutama dalam memberikan solusi untuk menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus. 2004) Mekanisme kerja yang dilakukan adalah semua terapis melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing. dlsb. Adapun pihak-pihak terkait yang diajak kerjasama dalam Terapi Anak Al Tisma Kudus ini. Guru pembimbing/terapis di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus yang bergelar ahli madya hanya 1 orang dan lainnya adalah tamatan SMA. (Sumber: Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus. yaitu terdiri dari 7 terapis termasuk didalamnya Kepala Terapi yang juga merangkap sebagai terapis. 1) Keadaan Guru Terapi Anak Al Tisma Kudus dipimpin oleh 1 Kepala Terapi yang juga merangkap sebagai terapis dengan dibantu 6 guru pembimbing/terapis yang berjenis kelamin perempuan semua. termasuk hiperaktif yaitu: Psikolog anak Psikiater anak Dokter. Siswa. 2004).

00 WIB Session III dilaksanakan pada pukul 13.1. Sari Naja. Nur Halimah Endang Sulastri Troy Khusnul Ma’ali. dan Fahmi Qoulani Terapis 5. Adinda Ayuditya dan Fakhari Husaini Kepala Terapis Terapis 3. 7. Andi Kumala.00 – 17. sedangkan yang masih diterapi sampai saat ini kurang lebih ada 15 siswa.260 Tabel 4. Data Terapis Tahun 2004/2005 NO NAMA TERAPIS ANAK KETERANGAN 1. Mikail Hima.00 WIB .00 – 12.00 – 10.00 – 15. dan siswa lainnya yang dirasa sudah sembuh cukup diterapi di rumah dengan masih tetap berkonsultasi dengan pihak terapi. 6. Terapi dilaksanakan setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat dan dalam satu hari dibagi dalam 4 session yaitu: Session I dilaksanakan pada pukul 08. 2. Purwati Dimas. Sumarni Yuliana Wijayanti Ida Lestariningrum Sahrul dan Hilmi Anis dan Martika Agusta Fahmi dan Bagas Terapis Terapis Terapis (Profil Pendidikan Terapi Anak Al Tisma Kudus.2004) 2) Keadaan Siswa Pada tahun 2001– 2004 jumlah siswa secara keseluruhan yang diterapi di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus berjumlah 24 siswa. Alvin dan Galih Terapis 4.00 WIB Session II dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB Session IV dilaksanakan pada pukul 15.

Kds Bae. Hal ini tentu tidak terlepas dari pembinaan yang diberikan baik oleh kepala terapi maupun para guru pembimbing/terapis di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Andy Kumala Ferdinan Troy M. terbukti dengan banyaknya siswa dengan berbagai jenis berkebutuhan khusus yang disembuhkan melalui terapi ini dan semakin banyaknya orang tua yang ingin anaknya diterapi disini. Kds Langgar Dalam. 9. Jpr Kudus Kota Pati Loram. Tabel 4. 5. Kds Bae. 7. 3. 11. Kds Besito. Kds Gebog. Data Siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus Tahun 2001-2004 NO 1. 13. NAMA ALAMAT KEL. UMUR 7 th 6 th 7 th 7 th 8 th JENIS KELAINAN Dimas Adi Nugraha Naja Khusnul Ma’ali Mikail Hima Galih Ds. Kds Mejobo. Mejobo. Kds Gebog. akan tetapi dengan terbatasnya guru/terapis mengakibatkan banyak anak yang ditolak. 10. Kds Lk Lk Lk Lk Lk Lk Lk Lk 8 th 10 th 5 th 9 th 9 th 7 th 8 th 6 th IQ rendah & Autis Autis & Hiperaktif ADD Autis Microcepalus IQ rendah Autis & Hiperaktif Speech Delayed dan Hiperaktif 14. Kds Pr 5 th Down Sindrome . Kds Lk Lk Lk Lk Lk Autis Speech Delayed Hiperaktif Disphasia Speech Delayed & Hiperaktif 6. Adinda Ayu Ditya Gebog. Terapi Anak Al Tisma Kudus sudah bisa terbilang sukses. yang selalu berupaya keras dalam penyembuhan mereka. Kds Mejobo.2. 8. 12. 2. Haidar Hilmi Agusta Fahmi Fahmi Qoulani Bagas Alvin Anis Mayong.261 Sejak berdiri hingga saat sekarang ini. 4.

5. 19. . 22. 23. Hanif Al Falih Sadath Haidar Ahmad Fatih Nia Famison (Icon) Tito Angguraji Rizal A. NAMA KEL. Kds Gebog. Kds Gebog. 4. 21. Fachrul Meka Firanita Martika Besito. UMUR 7 th 8 th 10 th 8 th 6 th 10 th JENIS KELAINAN Khusnul Ma’ali Galih Ferdinan Troy Alvin Anis Martika Lk Lk Lk Lk Lk Pr Hiperaktif Speech Delayed & Hiperaktif Autis & Hiperaktif Autis & Hiperaktif Speech Delayed dan Hiperaktif Normal Hiperaktif & Kurang Konsentrasi 3) Keadaan Sarana dan Prasarana Terapi Anak Al Tisma Kudus Terapi Anak Al Tisma Kudus dilaksanakan di rumah pribadi Kepala Terapi dengan 5 ruang kelas. 20. yakni sebagai berikut: Tabel 4. 3. Data Siswa Hiperaktif NO 1. Kds Jepara Langgar dalam. Kds Langgar dalam. 2001-2004) Dari data tersebut yang termasuk dalam kategori hiperaktif dan sebagai sasaran penelitian ada 6 siswa. Kds Gebog.262 15. 24. Kds Bae.3. 2. 18. 16. 17. 6. Kds Besito. Kds Prambatan. Kds Lk Lk Lk Pr Lk Lk Lk Lk Pr Pr 9 th 5 th 6 th 7 th 6 th 7 th 7 th 7 th 9 th 10 th Gejala Autis Gejala Autis ADD IQ rendah Gangguan Konsentrasi Gangguan Konsentrasi Retardasi Mental Kurang Stimulasi Retardasi Mental Normal Hiperaktif & Kurang Konsentrasi (Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus.

hiperaktif. foto/gambar aktivitas orang dlsb yang kebanyakan media itu dibuat sendiri dengan sangat sederhana. gambar huruf. Karena dilembaga terapi ini khusus menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti autisme. Akan tetapi karena terbatasnya tempat menjadikan tempat terapi ini tidak mempunyai sarana bermain diluar. down sindrome dan gangguan lainnya. baik itu alat-alat permainan seperti puzzle. . dimana media ini sangat berguna sekali untuk menarik perhatian siswa dalam belajar dan membantu siswa memahami materi pelajaran. papan planel. speech delayed. gambar buah-buahan. maka dengan sistem pembelajaran yang digunakan yaitu lovaas one on one (satu guru satu murid) mengharuskan setiap siswa belajar di ruangan tersendiri dimana ruangan tersebut tidak diperbolehkan adanya gambargambar/benda yang dipajang yang bisa menarik perhatian siswa. gambar sayur-sayuran. model/benda-benda tiruan dan berbagai media visual (gambar). Disamping itu meja yang digunakan untuk belajar dirancang khusus agar siswa tidak leluasa bergerak dan tetap konsentrasi pada pelajaran. seperti gambar angka. buku-buku cerita. disamping itu juga untuk membantu kita dalam berkomunikasi dengan siswa. gambar benda-benda disekitar kita. balok kayu dlsb. buku-buku pelajaran. gambar alat transpotasi. Begitu juga dengan kursi guru dibuat sejajar dengan siswa dengan tujuan agar perhatian siswa tidak mudah teralihkan saat belajar.263 Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus mempunyai perlengkapan pembelajaran seperti di Taman Kanak-kanak (TK). gambar binatang. maupun media pembelajaran seperti papan tulis. gambar warna.

berikut ini disajikan deskripsi penemuan data mengenai tahap perencanaan. Alat ini terdiri dari dua matras dimana penggunaanya anak di jepit antara dua matras tersebut dan ditindih oleh seorang guru. Memang kelihatan kejam tapi itulah salah satu cara yang efektif untuk menenangkan mereka dan mengenalkan pada mereka bahwa alat ini tidak menakutkan dan membahayakan bagi dirinya. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). data dari hasil observasi. Adapun informan yang dimintai keterangan sebanyak enam orang yang terdiri dari berbagai unsur yang terkait dalam pelaksanaan pembelajaran di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. wawancara dan dokumentasi. yaitu kepala terapi. kamera. . Sesuai dengan rancangan awal yang menyebutkan bahwa metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi. 3 guru pembimbing/terapis dan 2 orang tua siswa. wawancara dan dokumentasi. Penyajian data dilakukan secara berurutan dari hasil observasi. 2. Langkah ini dilakukan supaya data mentah yang pengambilannya memanfaatkan tape recorder. maupun catatan lapangan lebih lanjut dapat dipahami.264 Ada satu alat yang sangat penting untuk menenangkan anak yang hiperaktifnya tergolong berat yang bernama Bean Back. Deskripsi Informasi Pelaksanaan Proses Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. wawancara dan dokumentasi. maka dalam sub bagian ini akan disajikan informasi.

Ut. 12) Pendekatan yang digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus yaitu dengan menggunakan pendekatan individual (lovaas one on one . Nr. Sedangkan metode yang digunakan dalam pengajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. (Ibu Nh. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. 6) Walaupun dalam menangani anak hiperaktif tidak jauh berbeda dengan menangani anak berkebutuhan khusus lainnya. Informan Penelitian I Nama : Ibu Nh sebagai Kepala Terapi dan merangkap sebagai guru pembimbig/terapis anak yang bernama Ferdinan Troy. Ed. manajemen keuangan. sesuai dengan etika penelitian menyebutkan nama hanya dengan menyebutkan inisial saja yaitu Nh.pembelajaran satu guru satu murid).265 Demi menjaga kenyamanan informan paska memberi informasi. Yl. akan tetapi pendekatan dan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif sama dengan pendekatan dan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus lainnya. Secara umum Kepala Terapi mempunyai tugas mengkoordinator dan bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan terapi mulai dari pengelolaan terapi. penataan segala administrasi hingga peningkatan sumber daya manusia bagi guru/terapis di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan . sehingga anak dapat menangkap pesan. (Ibu Nh. Pr.

alat-alat belajar. Menciptakan situasi yang kondusif untuk pembelajaran meliputi: a) Emosi yang stabil dari anak hiperaktif. Beberapa pra syarat yang harus dilakukan dan dipersiapkan oleh seorang guru pembimbing anak hiperaktif sebelum mengerjakan/melaksanakan kegiatan belajar mengajar yakni: 1. ketelatenan. Mengupayakan adanya kontak mata yang sejajar antara guru-siswa 3. (Ibu Nh. kreatif dan konsisten di dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. 2. 4.266 menggunakan media visual (gambar-gambar). karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. ventilasi dan penerangan yang cukup). Guru pembimbing sebagai model untuk anak hiperaktif harus memiliki kepekaan. Oleh karena anak hiperaktif pada umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain. Maka guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak hiperaktif. Mengupayakan kepatuhan dari anak hiperaktif dan pemahaman bahasa reseptif. 13) Menurut Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus dalam upaya membelajarkan anak hiperaktif tidak mudah. . Kemampuan untuk meningkatkan ketahanan konsentrasi anak. Hal yang terpenting sebelum guru melaksanakan kegiatan pembelajaran adalah mengkondisikan anak dalam keadaan kestabilan emosi. penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang. b) Ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster.

Berbicara dengan singkat dan artikulasi yang jelas. keuletan. Setelah kemampuan tersebut dikuasai. ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya. Seorang guru pembimbing anak hiperaktif harus memiliki dedikasi. (Ibu Nh. 16) Pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: a) Terstruktur Artinya dalam pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Pembimbing harus menyadari dan memahami tujuan apa yang akan dicapai dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran untuk anak hiperaktif. dan kreativitas di dalam membelajarkan anak didiknya. 14) Kurikulum pembelajaran anak hiperaktif yang digunakan di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus sama dengan kurikulum yang digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu Kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. harus tegas dan sabar dalam menghadapi siswa. Setelah . Maka materi pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata “ambil”.267 5. ketelatenan. “bola” dan “merah”. tidak menggunakan aksesoris yang berlebihan. Sebagai contoh untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna dari instruksi “Ambil bola merah”. (lamp) (Ibu Nh. dapat menarik perhatian siswa.

Apabila anak berperilaku positif/memberi respon positif terhadap sesuatu stimulan (rangsangan). demikian pula apabila anak berperilaku negatif (reinforcement). Konsisten bagi guru pembimbing berarti. Orang tua pun dituntut konsisten . b) Terpola Terpola disini maksudnya dalam kegiatan anak hiperaktif harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur. dapat dilatih dengan kondisi dilingkungannya. maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan). baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya). dan waktu. Sedangkan arti konsisten bagi anak adalah tetap dalam mempertahankan dan menguasai kemampuan sesuai dengan stimulan yang muncul dalam ruang dan waktu yang berbeda. tetap dalam bersikap. mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. bila diartikan secara bebas konsisten mencakup tetap dalam berbagai hal. supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). d) Konsisten Konsisten memiliki arti “Tetap”. ruang. c) Terprogram Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evalusi. Namun. bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang.268 anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi “Ambil bola merah” kedalam perbuatan kongkrit. merespon dan memperlakukan anak sesuai dengan karakter dan kemampuan yang dimiliki masing-masing anak hiperaktif.

huruf dan angka. binatang. (Ibu Nh.269 dalam pendidikan bagi anaknya. bentuk. sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus konkrit. Alat bantu komunikasi: berupa gambar-gambar yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak . kendaraan. terapi perilaku dan pendidikan bagi anak hiperaktif harus dilaksanakan secara berkesinambungan. Karena pola pikir anak hiperaktif pada umumnya adalah pola pikir konkrit. tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan di rumah dan lingkungan sekitar anak. e) Kontinyu Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran. buah. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah. yakni dengan bersikap dan memberikan perlakuan terhadap anak sesuai dengan program pendidikan yang telah disusun bersama antara pembimbing dan orang tua sebagai wujud dari generalisasi pembelajaran di sekolah dan di rumah. benda-benda sekitar. simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu). Dan kebetulan anak yang diterapi di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah kebanyakan anak usia prasekolah maka sarana belajarnyapun dsesuaikan dengan usia pendidikan anak yaitu berupa: Alat peraga: pengenalan warna. karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. Kesimpulannya. 17) Sarana belajar sangat diperlukan. program pendidikan dan pelaksanaannya.

dengan memberi reward (hadiah/pujian)untuk respons yang benar. 19) Setelah anak diterapi secara terpadu dan terstruktur. tetapi melalui tata cara pengajaran untuk anak bermasalah (kelas kecil dengan jumlah guru besar atau satu guru satu murid. dsb Alat bantu pengembangan motorik kasar: bola. tali. dan memperlihatkan hasil yang menggembirakan (berperilaku seperti anak normal) kemudian anak dipersiapkan dan diperkenalkan pada pengajaran dengan kurikulum sekolah biasa. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. Disamping itu juga mengadakan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. 15) Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah: evaluasi proses yang dilakukan dengan cara seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga. menggunting.270 Alat bantu pengembangan motorik halus: cara memegang pensil. dengan alat visual/gambar/kartu. dsb) dengan tujuan untuk membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler dan belajar secara intensif . Dimana evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian yang setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. instruksi yang jelas. dlsb Mainan edukatif (Ibu Nh. mewarna. (Ibu Nh. padat dan konsisten.

Akan tetapi banyak persepsi yang salah mengenai guru pembimbing khusus ini. Anak biasa ditangani dengan guru khusus sendirian. berinteraksi/bersosialisasi dengan teman sebayanya dan harus mengerti instruksi guru dengan cepat.271 pelajaran yang tertinggal di kelas reguler. tetapi di sekolah umum anak masih memerlukan waktu penyesuaian untuk dapat mengikuti tatacara pengajaran yang berbeda dengan pada saat terapi. Menjembatani instruksi guru dan anak 2. Membantu anak untuk tetap berkonsentrasi 4. Menjadi media informasi antara guru dan orang tua dalam membantu anak mengejar ketinggalan dari pelajaran dikelasnya. Untuk itu dalam sekolah anak harus didampingi guru pembimbing/terapis sampai ia benar-benar bisa mandiri dan mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. (Ibu Nh. Guru pembimbing/shadow bukanlah asisten anak disekolah yang bertugas membantu anak dalam segala hal. Walaupun anak sudah patuh dan dapat berkonsentrasi pada saat terapi. Ia perlu belajar mengenal dan mengikuti peraturan disekolahnya. Mengendalikan perilaku anak dikelas 3. Membantu anak belajar bermain/berinteraksi dengan teman-temannya 5. dan dikelas anak harus berbagi dengan teman-temannya dengan bahasa guru yang berbeda dengan terapisnya dan bersifat klasikal. sehingga dapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnya. Guru pembimbing khusus adalah seseorang yang dapat membantu guru kelas dalam mendampingi anak yang . 20) Tugas seorang shadow/guru pembimbing khusus (GPK) adalah: 1.

kurikulum. dalam penanganannya Ibu Nh menempatkan anak ini diruangan khusus (ruangan kosong) dan didudukkan di meja kursi khusus tujuannya agar anak ini agar tidak terlalu banyak gerak (hiperaktif) dan tetap kontak mata dengan terapis. Kecerdasan/IQ 6. sekolah dan masyarakat).272 bermasalah pada saat diperlukan. Tingkat kelebihan (streng) dan kekurangan (weakness) yang dimiliki anak 5. metode. Terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru. disamping itu agar anak tidak terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan agar dia tahu bahwa dihadapannya itu ada orang yang sedang memperhatikannya. Usia pada saat diagnosis 3. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif. Kesehatan dan kestabilan emosi anak 7. sarana pendidikan. (Ibu Nh. 22) Sebagai contoh dalam penanganan anak hiperaktif dan pembelajarannya dengan menggunakan media visual (gambar) dapat dilihat pada Ibu Nh yang juga terjun langsung sebagai terapis/guru pembimbing Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan autis (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan hiperaktif. lingkungan (keluarga. Berat-ringannya kelainan/gejala 2. Setelah anak bisa diam agak lama baru Ibu Nh mulai pelajaran dengan menunjukkan gambar satu . Guru kelas tetap mempunyai wewenang penuh akan kelasnya serta bertanggung jawab atas terlaksananya peraturan yang berlaku. yaitu: 1. Tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa 4. sehingga proses pengajaran dapat berjalan lancar tanpa gangguan.

karena anak ini cukup cerdas dan cepat tanggap maka semua materi yang diberikan dengan menggunakan media visual (gambar) tidak mengalami kendala/hambatan dalam membelajarkannya. sehingga mendapinginya di sekolah (Ibu Nh. Walaupun sistem dan metode pembelajaran yang digunakan untuk membelajarkan Ibu Nh . 21) Informan Penelitian II Nama : Ibu Pr.273 persatu dihadapan anak tanpa distraksi/gambar lain dimulai dari materi yang mudah ke yang sulit (disesuaikan dengan kurikulum) dan disesuaikan dengan kemampuan anak. Sehingga hasil pembelajarannya cukup memuaskan dan anak ini bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya walaupun tingkat kehiperaktifitasannya sedikit berkurang akan tetapi masih bisa dikendalikan dan seringkali mengucapkan kata-kata yang tidak jelas arah tujuannya. karena kebanyakan tingkah mereka itu sama yaitu tergolong anak yang hiperaktif. Untuk itulah Ibu Nh selalu mempersiapkan media visual (gambar) dan mainan edukatif di samping sebelum pelajaran dimulai. Ibu Ed dan Ibu Yl (Guru Pembimbing/Terapis) Ibu Pr sebagai guru pembimbing/terapis Galih dan Alvin Ibu Ed sebagai guru pembimbing/terapis Khusnul Ma’Ali Ibu Yl sebagai guru pembimbing/terapis Anis dan Martika Melihat tingkah laku anak berkebutuhan khusus sekilas kita tidak bisa membedakan tergolong tipe apa yang diderita mereka. tetapi dalam memberikan materi harus cepat dan cekatan karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. yang membedakan hanyalah apakah dia itu tergolong hiperaktif ringan atau hiperaktif berat.

Ibu Ed dan Ibu Yl) Ibu Pr sebagai pembimbing anak yang tergolong hiperaktif yaitu Alvin dan Galih dirasakan ada perbedaan dalam penanganannya. Karena Alvin mempunyai gangguan autis dan hiperaktif Ibu Pr menekankan agar selalu kontak mata dengan Alvin agar ia tidak mempunyai kesempatan untuk asyik dengan dunianya sendiri (misalnya melamun atau sibuk dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak menganggap ada orang dihadapannya). Sedangkan Martika lebih mengkonsentrasikan anak itu pada tugas yang diberikan. tentunya ini harus dengan prompt. karena . Kalau Anis.274 anak berkebutuhan khusus sama tapi dalam penanganan mereka (untuk membuat mereka tenang dan konsentrasi pada pelajaran) berbeda-beda tergantung dari tipe apa yang diderita anak itu (Ibu Pr. Dan Ibu Yl dalam menangani Anis yang mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif dan Martika yang mempunyai gangguan normal hiperaktif (hiperaktif ringan) dan kurang konsentrasi dirasakan tidak jauh berbeda antara keduanya. sehingga anak itu mengerti/maksud dari perintah Ibu Pr. Sedangkan Ibu Ed dalam menangani Khusnul Ma’Ali yang mempunyai gangguan autis dan hiperaktif dengan cara menatap mata si anak dan memegangi kedua tangannya agar tidak bergerak kesana kemari sampai anak itu benar-benar bisa tenang. bagaimana caranya agar anak itu mau berbicara dan mau menirukan apa yang Ibu Pr ucapkan. Sedangkan untuk Galih karena dia mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif Ibu Pr menekankan dalam berkomunikasi. dalam menyampaikan lebih dipertajam bahasanya agar dia lebih memahami maksud dari ucapan/perintah kita.

kemudian ajaklah untuk duduk diam. walaupun sebenarnya anak itu . Sebelum mengajarkan anak hiperaktif yang harus dipersiapkan terlebih dahulu adalah program pembelajaran. baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. harus diulang-ulang. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Pegang kedua tangannya dengan lembut.275 anak itu seringkali mengabaikan tugas yang diberikan dan tidak jarang dalam menyampaikan perintah cukup pintar. Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. tetapi tidak semudah itu karena ditengah-tengah pelajaran anak sudah mulai banyak gerak sehingga konsentrasi buyar. Selanjutnya yang paling penting dalam membelajarkan anak hiperaktif adalah mempersiapkan konsentrasi anak (Ibu Ed) dan tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri (Ibu Yl). Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming. Setelah bisa duduk lebih lama. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Menurut (Ibu Ed dan Ibu Yl) cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas yaitu: Pertama kita berusaha menenangkan mereka. alat peraga dan konsep/cara membelajarkan anak hiperaktif (Ibu Pr). Disampaikan secara tegas dan lugas (Ibu Pr).

membaca (mengenal huruf). balok kayu dlsb dalam membelajarkan anak hiperaktif juga harus menggunakan alat bantu pengajaran terutama media visual (gambar). jelas. mengenal berbagai gambar yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu gambar sayur-sayuran. tegas. lalu kita tingkatkan tahap demi . binatang. karena media visual (gambar) ini sangat penting untuk menarik perhatian/minat mereka dalam belajar. (Ibu Pr) Hampir semua mata pelajaran dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu. Cara membelajarkannya dikelas: dengan disampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain.276 Agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar maka dalam berkomunikasi dengan anak hiperaktif dapat dilakukan dengan cara: • Menatap mata si anak dengan tanpa bicara berbelit-belit karena itu akan menyulitkan anak untuk memahami perkataan kita (Ibu Yl) • Berbicara harus singkat. Gambargambar itu mencakup bidang: gambar-gambar yang ada dilingkungan yaitu didalam rumah. mengenal nama-nama benda disekitar kita dan aktifitas orang. diluar rumah. (Ibu Yl) Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup berhitung (mengenal angka). dan bermakna dan apabila ada yang tidak dimengerti oleh anak kita gunakan gambar (visual) yang kita ibaratkan apa yang kita ucapkan untuk membantu kita dalam berkomunikasi (Ibu Pr dan Ibu Ed) Disamping menggunakan mainan edukatif seperti puzzle. alat transportasi dan berbagai hal yang belum mereka ketahui. buah-buahan.

Dan menurut (Ibu Yl) kesulitannya yaitu pada awal-awalnya anak mulai . apalagi jika gambar-gambar itu berwarna. (Ibu Pr) Menurut (Ibu Pr) kesulitan pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar) adalah apabila dalam penanganannya anak pertama kali. dengan tingkahnya yang tidak bisa diam dan konsentrasinya yang mudah pudar. (Ibu Ed) Faktor yang mendukung penggunaan media visual (gambar) dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah • Untuk membimbing anak dalam memahami suatu benda atau hal yang baru (Ibu Yl) • Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa memungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah/membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi. Sedangkan menurut (Ibu Ed) kesulitannya adalah apabila kita memperkenalkan pada gambar yang terlihat asing bagi mereka. kemudian ditambah lagi sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak itu tadi. tetapi harus satu terlebih dahulu. anak akan lebih tertarik untuk melihat dan memperhatikan apa yang kita sampaikan. sulit memperhatikan. Anak selalu dalam kondisi yang tidak tenang. (Ibu Ed) • Dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual itu akan menarik minat mereka dalam belajar. untuk itu pada saat akan mengeluarkan gambar tidak diperkenankan mengeluarkan banyak.277 tahap jumlah-jumlah apa yang kita berikan ( dimulai dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit sesuai dengan kurikulum yang ada). kita harus berusaha mengulangi sampai benar-benar anak itu tahu/memahami.

Dan hasil dari pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) ini dirasakan sudah cukup berhasil. dia bisa mengikuti dengan baik. (Ibu Yl) . walaupun awalnya ia agak kesulitan membedakan bentuk lingkaran dan oval. walaupun dalam mengartikan gambar dengan dua kata ia masih agak sulit (Ibu Pr) Sedangkan Khusnul Ma’ali terbukti dengan hiperaktifitasnya mulai berkurang.278 ditangani. Dan dalam pelajaran tidak ada kendala. (Ibu Ed). Dan untuk Martika walaupun dia kurang konsentrasi dalam belajar dan penangkapannya itu kurang tetapi dengan ketelatenan dan pembelajaran yang berulang-ulang hasilnyapun cukup memuaskan. Terbukti sekarang Alvin sudah bisa dikendalikan emosinya dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik walaupun dia masih bingung membedakan antara jantan dan betina tetapi dengan prompt akhirnya dia mengerti juga. sehingga waktu dua jam itu hanya digunakan untuk menenangkan anak. kotak menjadi otak tetapi dia cukup pintar terbukti kalau nilai-nilainya itu baik. Dan Anis terbukti kalau sudah bisa bicara walaupun cedal dan dalam membaca hurufnya ada yang dihilangkan seperti biru menjadi bi u. putih menjadi uti. dan dia masih suka mengoceh sendiri yang tidak jelas arah tujuannya. Dan Galih kosa kata bicaranya sudah mulai meningkat. Tidak hanya memperkenalkan pada suatu media tapi untuk mulai pembelajarannya saja itu sulit. sudah bisa berkonsentrasi dan dapat diajak komunikasi.

manja karena diajari oleh orang tuanya sendiri.(Ibu Ut). Ia suka mengoceh sendiri seperti orang latah dan bicaranya tidak jelas arah tujuannya (Ibu Ut). Saat diketahui itulah sebaiknya anak dibawa ke dokter anak.(Ibu Nr dan Ibu Ut) Anak hiperaktif akan terlihat jelas saat ia mulai terlambat berbicara. walaupun anak cenderung lebih tidak konsentrasi. dari situlah mungkin dokter akan menganjurkan untuk membawa ke tempat-tempat terapi anak yang khusus menangani anak yang bermasalah (mempunyai gangguan perkembangan) untuk membantu kesembuhan mereka (Ibu Nr). perilakunya. jam kurang tidur dan yang paling penting adalah hasil dari diagnosa dokter. Dengan demikian kita akan tahu perkembangan anak tiap harinya. baik itu di tempat terapi maupun dirumah.279 Informan Penelitian III Ibu Nr dan Ibu Ut (orang tua siswa) Seorang anak diketahui hiperaktif biasanya ketika anak itu mulai tumbuh yaitu menginjak usia 2 tahun. biasanya ia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). tetapi kita harus tetap konsisten untuk mengajarinya pada jam yang sudah ditentukan (Ibu Nr) dan apabila masih sulit untuk diatasi salah satunya jalan adalah dengan memberikan obat penenang dari dokter yang tentunya penggunaannya sesuai dengan resep dokter. . Ciri-cirinya dapat dilihat dari gerakan-gerakannya. kontak matanya. Di rumah sebaiknya orang tua juga menyediakan perlengkapan pembelajaran seperti yang ada di tempat terapi untuk mengajarkan/mengulang kembali apa yang diajarkan di tempat terapi.

Setelah dibaca. B. biografi. gambar. jika anak menangis minta dibelikan makanan maka selaku orang tua adalah memberi pengertian bahwa makanan itu tidak boleh agar cepat sembuh (Ibu Nr). Dan untuk menunjang kelancaran alangkah baiknya jika satu keluarga juga ikut diet (Ibu Ut). Pr. Berdasarkan data temuan hasil wawancara dengan keenam informan penelitian yaitu (Nh. foto. Nr dan Ut). catatan lapangan dan komentar peneliti. . menyusunnya dalam satuan-satuan yang selanjutnya akan dikategorikan. ANALISIS DATA Proses analisis data dimulai dari menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber wawancara. Yl. dokumen berupa laporan. 1998: 103).280 Selain itu orang tua juga harus memperhatikan makanan yang dimakan anaknya yang hiperaktif sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi. artikel dan sebagainya (Moleong. dipelajari dan ditelaah maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data. hasil observasi dan hasil dokumentasi dibawah ini disajikan data yang kemudian akan dilakukan kategorisasi. Sedangkan proses analisis data telah dilakukan sejak penyusunan deskripsi penemuan data pada sub bab IV A. Berkaitan dengan proses analisis data tersebut maka pada bagian ini akan disajikan urutan proses analisis data dari mulai penyusunan satuan-satuan. Karena kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif. Ed. maka biasakanlah dulu anak makan dengan masakan/makanan yang dibuat sendiri.

langkah selanjutnya adalah analisis data. kurikulum yang digunakan untuk pembelajaran anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus mengacu pada kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia (Lamp). Kategori perencanaan. Perencanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Berdasarkan hasil observasi.281 Sedangkan analisis data mengenai tiap-tiap satuan dari sumber data akan disajikan dalam laporan. dan tidak mampuannya. Setelah pemrosesan satuan (unityzing). Kategorisasi ini didasarkan pada tujuan dan kemiripan isi dengan menggunakan kriteria tertentu. serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. Dimana hal tersebut juga dikuatkan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Dalam membelajarkan anak hiperaktif kami menggunakan kurikulum yang sudah banyak digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia yang tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemampuan anak. usia anak. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus dapat disajikan sebagai berikut: 1. .

Dimana guru yang satu (terapis) duduk berhadapan dengan anak memberikan materi pelajaran dan guru yang satunya lagi (asisten terapis) duduk dibelakang anak/memangku anak dan memegangi anak sambil mengarahkan. Pembelajaran ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dimana pembelajarannya setiap satu guru memegang satu murid atau dua guru memegang satu murid dan ini berlaku bagi anak yang masih sangat sulit untuk dikendalikan (hiperaktif berat) dan bersifat sementara sampai tingkat kehiperaktifitasan anak sedikit berkurang.282 2. alat-alat belajar. dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak. Dimana hal tersebut juga dikemukakan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Pembelajaran anak hiperaktif dilakukan diruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster. Metode ini memberikan gambaran konkrit tentang . Sedangkan metode yang digunakan di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini adalah perpaduan dari metode yang ada. Pelaksanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Berdasarkan hasil observasi di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dilakukan dikamar khusus bebas distraksi. ventilasi dan penerangan yang cukup). penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang.

karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. dan biasanya juga diimbangi dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. Dimana hal tersebut juga dikemukakan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Disini kami dalam membelajarkan anak hiperaktif mengggunakan pendekatan individual (lovaas one on one . Sedangkan Ibu Pr menjelaskan bahwa media visual itu sangat diperlukan karena disamping anak ini hiperaktif ia juga kehilangan konsentrasi. apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif divisualkan lewat gambar-gambar. sehingga anak dapat menangkap pesan. anak akan jadi lebih tertarik untuk . informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. seperti yang dikemukakan oleh para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar-gambar). diantaranya adalah Ibu Yl yang menjelaskan bahwa penggunaan media visual (gambar) sangat diperlukan untuk membimbing anak dalam memahami suatu benda atau hal yang baru. Disamping mainan edukatif penggunaan media visual (gambar) sangat mutlak diperlukan dalam pembelajaran anak hiperaktif.pembelajaran satu guru satu murid). karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. dan dengan gambar-gambar yang berwarna. Sedangkan metode yang kami gunakan adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. sehingga anak dapat menangkap pesan. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut.283 “sesuatu”.

Sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. Hal senada juga dikemukakan oleh Ibu Ed yang menjelaskan sebagai berikut: Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah/membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi. kartu angka. dan kartu gambar. 2. Lalu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya itu memungkinkan penggunaan media visual itu akan lebih menarik minat anak dalam belajar. pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus itu mencakup: 1. benda berwarna.284 melihat dan memperhatikan apa yang disampaikan. disamping itu cara yang termudah untuk menyampaikan kepada anak supaya mengerti adalah dengan menggunakan media visual (gambar). tak terkecuali di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini. dan berbagai bentuk. kartu huruf. terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu. . Mencocokkan (Matching) Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. Hampir semua mata pelajaran dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Identifikasi benda dan melabel (menyebutkan) gambar Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda.

bila perlu kaki anak dijepit di antara paha guru atau tungkai guru/terapis menjepit/merangkum kursi di belakang anak . melabel kata kerja dan menirukan gambar Media yang digunakan adalah foto/gambar aktivitas orang Menurut Kepala Terapi Anak yang juga terjun langsung dalam mengajar anak hiperaktif. Identifikasi warna dan melabel warna Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna 4. Identifikasi bentuk dan melabel bentuk Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar 5. Identifikasi kata kerja. Identifikasi angka dan melabel angka Media yang digunakan adalah kartu-kartu angka 7. Apabila disaat pelajaran berlangsung konsentrasi anak mulai hilang dan anak sulit untuk dikendalikan maka guru biasanya akan memegangi kedua tangan atau pipi (sekitar kepala) anak itu. cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas dengan menggunakan media (visual) gambar adalah sebagai berikut: Setelah anak bisa diam agak lama baru memulai pelajaran dengan menunjukkan gambar satu persatu dihadapan anak tanpa distraksi/gambar lain dimulai dari materi yang mudah ke yang sulit (disesuaikan dengan kurikulum) dan disesuaikan dengan kemampuan anak dan dalam memberikan materi harus cepat dan cekatan karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi.285 3. Identifikasi huruf dan melabel huruf Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf 6.

Cara membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) ini juga diperjelas oleh para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. bisa berupa imbalan/hadiah. Tindakan dan kata-kata inilah yang selalu diucapkan guru untuk mencegah/melarang anak yang berbuat sesuka hati bahwa perbuatannya itu salah/tidak benar dan untuk melarang/menyuruh diam disaat anak mengoceh sendiri. applaus.286 dan menatap anak itu dan mengatakan “… (nama anak) lihat” dan mengatakan “Tidak…”. Sebaliknya apabila anak sudah mulai mengerti dengan maksud kita dan berusaha memperbaiki tindakannya yang salah baru kita katakan “ya”. . sebab dengan ditertawakan akan membuat anak itu merasa bangga karena merasa diperhatikan dan merasa bahwa apa yang dilakukannya/diucapkannya itu benar/baik. bukannya ditertawakan karena lucu. tepuk tangan dan acungan jempol. antara lain adalah Ibu Pr yang menjelaskan sebagai berikut: Gambar-gambar yang sudah kita dapatkan kita potong-potong dalam bentuk kecil-kecil kemudian kita sampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain. Dan dalam mengajar kita sampaikan secara tegas. lugas dan setiap kali respon yang diberikan oleh anak harus kita kasih reinforcer. lalu kita tingkatkan tahap demi tahap jumlahjumlah apa yang kita berikan.

Sedangkan berdasarkan hasil observasi. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. Pegang kedua tangannya dengan lembut. Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. guru dalam memberikan perintah/instruksi pada anak adalah dengan disampaikan secara singkat. setelah anak diam beberapa lama baru kita mulai pembelajarannya secara bertahap dimulai dari yang mudah/sederhana sampai ke yang rumit sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit. Setelah bisa duduk lebih lama. tegas dan bukan membentak) tujuannya agar anak mudah memahami. . baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Hal senada juga diperkuat oleh Ibu Yl yang menjelaskan bahwa cara membelajarkan anak hiperaktif yang dilakukan adalah menyuruh anak untuk duduk dan memusatkan perhatian mereka dengan menatap mata anak dan memegang kedua tangannya. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan.287 Sedangkan menurut Ibu Ed cara adalah: membelajarkan anak hiperaktif di kelas Pertama kita berusaha menenangkan mereka. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.. kemudian ajaklah untuk duduk diam.

Apabila materi pelajaran identifikasi gambar maka guru memberikan perintah “Tunjuk … (nama gambar tersebut)” dan apabila materi pelajaran melabel (menyebutkan) guru memberi perintah “Ini apa?” atau “Apa ini?” dan apabila materi pelajaran mencocokkan (matching) guru memberi perintah “Samakan” atau “Kasih ke Ibu”. Sedangkan konsisten maksudnya dalam memberikan perintah/instruksi kata yang diucapkan harus persis sama untuk instruksi selanjutnya.288 Singkat maksudnya dalam memberikan perintah guru hanya mengucapkan satu kata (kata kuncinya saja) dan bukan kalimat yang panjang. . Jelas maksudnya guru dalam memberikan perintah sesuai dengan apa yang ingin diajarkan. karena anak hiperaktif mempunyai gangguan perlambatan dalam menangkap pesan seperti suara radio gelombang pendek (suara hilang timbul) sehingga anak hanya menangkap sepotong-potong. Untuk itu dalam membelajarkan anak hiperaktif harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan dalam perintah sederhana : instruksi “Tepuk tangan” berarti tangan guru/terapis diam sama sekali. Misalnya instruksi “masukkan” jangan diganti “masukkin”. selanjutnya untuk menyuruh anak menirukan gambar guru memberikan perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar)”. Ingin mengajarkan imitasi beda dengan mengikuti perintah sederhana (satu-tahap). hemat kata dan hemat gerakan. “masukken” atau “masuppin” karena ini akan membingungkan anak. Misalnya dalam pelajaran Imitasi: instruksi “Tiru” berarti guru/terapis memberikan contoh (misal: tepuk tangan).

Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespon dengan benar. Dalam memberikan perintah/instruksi ini guru menyampaikan dengan singkat. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. Apabila anak sulit untuk diajarkan maka berilah dia iming-iming. tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami. kemudian diajak untuk duduk diam.289 Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang diperoleh dari para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus di atas. guru memberikan prompt (bantuan/arahan) pada anak dan setiap kali anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar guru memberikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan). Setelah keadaan tenang dan bisa duduk lebih lama. guru mulai pelajaran dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. Dengan cara menatap mata anak dan memegangi kedua tangannya dengan lembut. kemudian guru memberi perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Apabila dalam pembelajaran. . maka dapat disimpulkan bahwa cara membelajarkan anak hiperaktif dikelas adalah: Pertama guru mempersiapkan perhatian anak dan berusaha menenangkan mereka. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. maka guru mengajar tanpa prompt dan memberikan reinforce respons yang benar saja. anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan.

2. Sedangkan dalam pelajaran identifikasi warna guru juga menggunakan tehnik insidental (berkebetulan). Dengan cara mengatur benda-benda yang berlainan warna. 3. dlsb). menggosok gigi. Jika anak meminta benda tersebut. tetapi diluar jangkauan anak. yaitu: 1. menirukan gambar/melakukan aktivitas guru biasanya memulai dengan memerintahkan anak untuk mengambil sesuatu yang ada di sekitar/diruang kelas kemudian anak diajarkan pada hal-hal yang lebih spesifik dan anak diperintahkan meniru guru (misalnya minum dari gelas.. maka guru akan menanyakan terlebih dahulu apa warna benda tersebut sebelum memberikannya. Dalam identifikasi kata kerja. ada berbagai macam cara yang digunakan guru dalam mengajar mata pelajaran mencocokkan (matching). Guru memegang satu gambar dan meletakkan beberapa gambar dihadapan anak lalu anak disuruh memilih gambar yang sesuai dengan gambar yang dipegang guru. Guru meletakkan dua kelompok gambar yang mempunyai gambar berpasangan dan anak disuruh mencocokkan/memasangkan gambar-gambar itu. melepas sepatu. makan dengan menggunakan sendok dan garpu. . Guru meletakkan sebuah benda dihadapan anak dan berbagai macam gambar yang berbeda (max 5 gambar) dan anak disuruh mencocokkan/memilih gambar yang sesuai dengan benda.290 Berdasarkan hasil observasi di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus dengan menggunakan catatan lapangan.

dengan memberi reward (hadiah/pujian) untuk respons yang benar. Hal ini dapat . Sedangkan evaluasi bulanan bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. dimana lembar penilaian ini setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. dan apabila anak mengalami kendala/hambatan dalam menerima pelajaran maka anak mendapatkan nilai P yang berarti belum bisa atau nilai P+ yang berarti sudah mulai/sesekali bisa. dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif yang menjadi contoh kasus. untuk itulah anak harus dibantu/diarahkan (prompt setengah/sebagian/ringan) (nilai P++) hingga akhirnya anak mendapatkan nilai A yang berarti anak benar-benar menguasai. evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini adalah evaluasi proses dan evaluasi bulanan. Evaluasi proses dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung. Evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak.291 3. dengan ketentuan penilaian yaitu jika anak menguasai materi pelajaran atau memberikan respons benar maka anak mendapat nilai A. Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Dari hasil observasi dan wawancara dengan Kepala Terapi.

yang hanya dikhususkan pada mata pelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. matching binatang.292 dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi bersama (case conference) Berdasarkan lembar penilaian pada 6 anak hiperaktif dari evaluasi proses. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A . Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. 3. anak menunjukkan tingkat penguasaan yang baik terbukti selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. matching buahbuahan dan matching sayuran. anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik bahkan ia melaksanakannya dengan waktu yang cepat ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A dan A+. matching bentuk. maka diperoleh hasil evaluasi pembelajaran sebagai berikut: Khusnul Ma’ali 1. matching huruf besar. gambar buah-buahan. 2. gambar sayuran dan alat transportasi.

segitiga. kotak. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. oval. wajik.293 4. akan tetapi ia agak sulit membedakan antara lingkaran dan oval sehingga harus diulang beberapa kali baru ia memahami . lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. ini terbukti bahwa pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa menjawab dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan. 5. Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10 anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik 7. . Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6.

Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. matching huruf besar. matching binatang. P++ sampai akhirnya ia mendapatkan nilai A yaitu benar-benar bisa/menguasai. matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan . Dalam identifikasi gambar binatang anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A akan tetapi ada beberapa gambar binatang yang sulit dipahaminya diantaranya adalah ayam betina karena anak belum mengerti dan belum bisa membedakan mana ayam jantan dan mana ayam betina yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga ia harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan) dan bahkan ia sudah mulai/sesekali bisa. 2. ini terbukti dengan ia mendapatkan nilai P. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda ada beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. gambar buah-buahan. Dalam identifikasi buah-buahan dan alat transportasi anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. alat transportasi. P++ dan sampai mendapatkan nilai A. P+.294 Galih 1. matching bentuk. Sedangkan dalam identifikasi buah-buahan ada yang mudah dikuasai dan ada yang masih sulit dikuasai/dimengerti dan ini membutuhkan prompt terbukti pada buah tomat anak mendapatkan nilai P+.

oval. segitiga. wajik. lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. untuk angka 1. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. 3.2. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang.6. Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10.9.7. akan tetapi setelah menginjak angka 5 dan 8 anak mengalami kesulitan ia sulit menghafal sampai 3 kali pertemuan baru ia hafal terbukti pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ .3. kotak.295 baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4.10 anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik.4.

7. lari dlsb anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. membaca. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan satu kata seperti memasak. Mencocokkan (Matching) Karena dalam pembelajaran mencocokkan (matching) adalah merupakan hal yang paling mudah anak tidak mengalami masalah saat disuruh mengerjakan tugas sehingga ia mendapatkan nilai A .296 dimana anak sudah mulai/sesekali bisa dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan hingga anak mendapatkan nilai A dimana ia benar-benar telah menguasai. Ferdinan Troy 1. akan tetapi dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan dua kata atau lebih anak masih mengalami kesulitan seperti main bola. meniup harmonika dlsb. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda anak tidak mengalami masalah saat ditanya bahkan ia langsung bisa menjawab tanpa diberi prompt oleh karena itu ia mendapatkan nilai A+ 2. ini terbukti bahwa pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa menjawab dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan.

297

3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10, anak juga tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik, dan materinyapun ditingkatkan mulai dari penjumlahan dan pengurangan sesuai dengan pelajaran di sekolah.

298

7. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Alvin 1. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang, gambar buah-buahan, alat transportasi anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A, akan tetapi sama halnya yang dialami Galih ada beberapa gambar binatang yang sulit dipahaminya diantaranya adalah ayam betina karena anak belum mengerti dan belum bisa membedakan mana ayam jantan dan mana ayam betina yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga ia harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan) dan bahkan ia sudah mulai/sesekali bisa, ini terbukti dengan ia mendapatkan nilai P, P+, P++ sampai akhirnya ia mendapatkan nilai A yaitu benar-benar bisa/menguasai. 2. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna, matching huruf besar, matching bentuk, matching binatang, matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A.

299

3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10, anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik, akan tetapi ia mengalami kesulitan saat disuruh menulis angka. 7. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan

300

pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A, walaupun kadang-kadang arah pembicaraannya mulai tidak jelas dan ngelantur kemana-mana. Anis 1. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang, gambar sayuran, gambar buah-buahan dan alat transportasi hanya gambar sayuran yang masih sulit dikuasai/dimengerti oleh anak dan ini membutuhkan prompt terbukti pada buah tomat anak mendapatkan nilai P+, P++ dan sampai mendapatkan nilai A. 2. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. 3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A

akan tetapi untuk angka 5 anak mengalami kesulitan ia sulit menghafal sampai 3 kali pertemuan baru ia hafal terbukti pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan hingga anak mendapatkan nilai A dimana ia benar-benar telah menguasai. seperti biru menjadi bi u. 7. kotak menjadi otak dlsb. putih menjadi uti. anak tidak mengalami kendala saat ditanya walaupun angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik. mungkin dalam menyampaikannya saja yang salah dan selalu ada saja huruf yang dihilangkan. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10.301 5. . Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja sebenarnya anak tidak mengalami kendala ia cepat menguasai materi yang diberikan hanya saja karena anak ini cedal dan pemahaman bahasanya kurang.

wajik. matching huruf besar. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. segitiga. matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. bebek untuk itu tidak jarang disertai dengan prompt hingga ia benarbenar bisa membedakan. lingkaran dan trapesium) anak masih sulit membedakan antara lingkaran dan oval ini terbukti dengan nilai yang didapat P+. angsa. matching bentuk. P++ dan A dimana anak sesekali bisa dan harus diberi prompt hingga akhirnya tanpa prompt. 2. matching binatang. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. kotak. .302 Martika 1. 3. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan terutama gambar binatang selalu ada saja nama yang terbalik seperti itik. oval.

Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. dapat disimpulkan bahwa dalam menangani anak hiperaktif salah satu cara yang terbaik adalah dengan dibawa ke tempat terapi anak yang khusus menangani anak bermasalah (gangguan perkembangan) dan cara yang paling mudah bagi guru pembimbing/terapis dalam menangani/membelajarkan anak hiperaktif adalah dengan menggunakan media visual (gambar) karena dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual (gambar) itu akan lebih menarik minat anak dalam belajar. anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 7. Dari hasil wawancara diatas. Dan dengan gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan penggunaaan media visual (gambar) akan mewujudkan tujuan komunikasi dari anak. . disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A.303 5. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10.

pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di tempat terapi anak. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Setelah keseluruhan data yang ditemukan peneliti pada latar penelitian dilakukan proses analisis komparatif antar informan peneliti maupun dengan menggunakan catatan lapangan dan dokumentasi selanjutnya peneliti menyajikan kesimpulan tentang perencanaan. 1. dan tidak mampuannya. tahapan-tahapannya disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada.304 C. 1989:73) Kurikulum yang digunakan untuk pembelajaran anak hiperaktif ditempattempat terapi anak mengacu pada kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. Kurikulum pembelajaran untuk anak hiperaktif disesuaikan dengan tingkat perkem bangan kemampuan anak. Fungsi otaknya yang terganggu harus dilatih dengan terapi kesibukan. 1992:200) . (lamp) Hal ini diperkuat oleh teori Sobur (1986:125) bahwa hanya “terapi terarah” yang dapat membantu anak keluar dari masalah hiperaktif. Perencanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak. (Bryn. usia anak. Hal ini diperkuat oleh teori Clerq (1994:126) bahwa terapi individu yang diterapkan. Dimana sekolah-sekolah khusus itu mengatur program yang akan memenuhi kebutuhan anak. Pada umumnya terapi perilaku bersifat pendidikan (Singgih.

tata ruang yang diusahakan jangan terlalu ramai dengan bermacam-macam benda. Dilakukan dengan cara guru yang satu (terapis) duduk berhadapan dengan anak memberikan materi pelajaran dan guru yang satunya lagi (asisten terapis) duduk dibelakang anak/memangku anak dan memegangi anak sambil mengarahkan. Hal ini diperkuat oleh teori Taylor (1988:125) bahwa anak hiperaktif perlu diterapi langsung untuk mengubah perilakunya yaitu dengan sistem pengajaran satu guru satu murid. alatalat belajar. Pelaksanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dilakukan dikamar khusus bebas distraksi yaitu ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster. penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang. Dengan cara dipangku/dipegang tangannya sambil muka berhadap-hadapan untuk dilatih . Misalnya. Dengan dimasukkan di kelas-kelas kecil itu anak-anak hiperkinetik akan memperoleh perhatian dan pengawasan yang diperlukan (Bryn. 1989:73) Pembelajaran ini dilakukan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dimana pembelajarannya setiap satu guru memegang satu murid atau dua guru memegang satu murid dan ini berlaku bagi anak yang masih sangat sulit untuk dikendalikan (hiperaktif berat) dan bersifat sementara sampai tingkat hiperaktifitas anak sedikit berkurang. ventilasi dan penerangan yang cukup). dapat disarankan latihan-latihan untuk mengurangi kebanyakan gerak ini. yang memudahkan beralih perhatian. Hal ini juga diperkuat oleh teori Sobur (1986:125-126) bahwa disamping perlunya pemeriksaan medis.305 2.

Itu sudah bagus. Metode ini memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Anak didudukkan dipojok dan diusahakan untuk menarik perhatiannya kepada suatu kesibukan. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. lalu ditambah menjadi empat menit dst. yaitu menempatkan anak dalam ruangan kecil yang tidak ada rangsangan-rangsangan (misalnya gambar-gambar dan sebagainya). Sedangkan metode yang digunakan adalah perpaduan dari metode yang ada. lama kelamaan hiperaktifnya dapat diatasi. sehingga anak dapat menangkap pesan. terutama media visual (gambar). setiap kali dimulai dengan tiga menit. Bila latihan ini dilakukan secara intensif. Untuk itulah dalam membelajarkan anak hiperaktif tidak lepas dari penggunaan media. Misal. Makin lama jangka waktu latihan ini makin meningkat. Pada hari-hari pertama mungkin hanya berhasil selama sepuluh menit. apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif divisualkan lewat gambar. karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak. Ruangan seperti itu tidak memungkinkan anak untuk pegang ini pegang itu.306 konsentrasi. memungkinkan anak untuk mengatasi kemampuannya berbicara yang masih terbatas. Hal ini diperkuat dengan teori Sobur (1986:254) bahwa bentuk “tidak verbal” suatu gambar. Disamping itu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual (gambar) itu akan lebih menarik . Ada cara lain untuk mengatasi anak-anak semacam ini. Dan dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam.

bisa berupa kuartet buah-buahan. Ahli-ahli seni rupa menyatakan bahwa gambar bisa meningkatkan kapasitas belajar dalam hal lain yang tak berkaitan dengan seni. Identifikasi benda dan melabel (menyebutkan) gambar Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. dengan tujuan: Agar anak belajar cepat mengidentifikasi benda dan namanya. Sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. Hal ini juga diperkuat oleh Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:22) bahwa fungsi gambar adalah untuk: Menarik perhatian anak Mengadakan motivasi dan merangsang anak Memberikan suatu latar belakang pada bacaan Merangsang percakapan (ekspresi) dan diskusi Mendidik sifat kritis pada anak Memperkenalkan kata-kata baru. Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:43) bahwa dalam mengidentifikasi benda dan nama digunakan alat yang merupakan satu set mainan kuartet. seperti pengetahuan alam dan matematika (Sobur. dan sebagainya. . binatang. 1986:259). dan kartu gambar.307 perhatian/minat mereka dalam belajar. perkakas rumah. tumbuh-tumbuhan. alat-alat dapur. pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) itu mencakup: 1. Agar anak belajar menangkap struktur kata dengan cepat.

Dengan cara menatap mata anak dan memegangi kedua tangannya dengan lembut. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Identifikasi angka dan melabel angka Media yang digunakan adalah kartu-kartu angka 7. Identifikasi bentuk dan melabel bentuk Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar 5. Anak-anak harus membiasakan diri memusatkan perhatiannya kepada pelajaran selama waktu belajar. Identifikasi kata kerja. melabel kata kerja dan menirukan gambar Media yang digunakan adalah foto/gambar aktivitas orang Cara guru membelajarkannya di kelas dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut adalah: Pertama guru mempersiapkan perhatian anak.308 2. kemudian diajak untuk duduk diam. dan berbagai bentuk. Identifikasi warna dan melabel warna Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna 4. kartu angka. Mencocokkan (Matching) Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. kartu huruf. Hal ini diperkuat oleh teori Sobur (1986:69) bahwa cara menolong anak agar dapat belajar dengan baik adalah dengan mengajak anak untuk bisa berkonsentrasi. Jauhkan segala sesuatu yang mungkin mengganggu . 3. Identifikasi huruf dan melabel huruf Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf 6. dengan berusaha menenangkan mereka. benda berwarna.

309 konsentrasi si anak. maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut mampu berkonsentrasi. dan bisa duduk lebih lama. “Waktu bermain bermainlah. Seorang pendidik pernah berkata “Play while you play. kemudian guru memberi perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Apabila materi pelajaran identifikasi gambar maka . (75). Hal ini juga diperkuat oleh teori Pearce (1990:74) bahwa latihan konsentrasi dapat membantu dengan meminta anak hiperaktif untuk berkonsentrasi pada suatu tugas selama beberapa detik dan kemudian meningkatkan waktunya secara bertahap selama beberapa minggu dan selalu mengakhiri setiap sesi konsentarsi dengan catatan keberhasilan Setelah keadaan anak tenang. tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. waktu bekerja bekerjalah sungguh-sungguh dan waktu belajar benarbenarlah belajar. Dalam memberikan perintah/instruksi ini guru menyampaikan dengan singkat. and study while you study. karena anak hiperaktif mempunyai gangguan perlambatan dalam menangkap pesan seperti suara radio gelombang pendek (suara hilang timbul) sehingga anak hanya menangkap sepotong-potong.” Artinya. work while you work.” Apabila seseorang betul-betul memusatkan perhatian sepenuhnya pada sesuatu tanpa merasa terganggu oleh suasana sekitar untuk beberapa saat. baru guru mulai pelajaran dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. Singkat maksudnya dalam memberikan perintah guru hanya mengucapkan satu kata (kata kuncinya saja) dan bukan kalimat yang panjang.

Teori yang mendukung adalah konsistensi dianggap sebagai dasar mengatasi anak hiperaktif. Misalnya instruksi “masukkan” jangan diganti “masukkin”.310 guru memberikan perintah “Tunjuk … (nama gambar tersebut)” dan apabila materi pelajaran melabel (menyebutkan) guru memberi perintah “Ini apa?” atau “Apa ini?” dan apabila materi pelajaran mencocokkan (matching) guru memberi perintah “Samakan” atau “Kasih ke Ibu”. “masukken” atau “masuppin” karena ini akan membingungkan anak. hemat kata dan hemat gerakan. (Fontenelle. Jelas maksudnya guru dalam memberikan perintah sesuai dengan apa yang ingin diajarkan. Sebaliknya. 1991:40) Ada berbagai macam cara yang digunakan guru dalam mengajar mata pelajaran mencocokkan (matching). Sedangkan konsisten maksudnya dalam memberikan perintah/instruksi kata yang diucapkan harus persis sama untuk instruksi selanjutnya. Ingin mengajarkan imitasi beda dengan mengikuti perintah sederhana (satu-tahap). Misalnya dalam pelajaran Imitasi: instruksi “Tiru” berarti guru/terapis memberikan contoh (misal: tepuk tangan). Dengan cara yang konsisten kemungkinan akan keberhasilan teknik-teknik yang diterapkan. selanjutnya untuk menyuruh anak menirukan gambar guru memberikan perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar)”. yaitu: . Untuk itu dalam membelajarkan anak hiperaktif harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan dalam perintah sederhana : instruksi “Tepuk tangan” berarti tangan guru/terapis diam sama sekali. pendekatan yang tidak konsisten hampir pasti gagal dan menimbulkan kesulitan perilaku.

. Jika anak meminta benda tersebut. Guru meletakkan sebuah benda dihadapan anak dan berbagai macam gambar yang berbeda (max 5 gambar) dan anak disuruh mencocokkan/memilih gambar yang sesuai dengan benda. menirukan gambar/melakukan aktivitas guru biasanya memulai dengan memerintahkan anak untuk mengambil sesuatu yang ada di sekitar/diruang kelas kemudian anak diajarkan pada hal-hal yang lebih spesifik dan anak diperintahkan meniru guru (misalnya minum dari gelas. Sedangkan dalam pelajaran identifikasi warna guru juga menggunakan tehnik insidental (berkebetulan). maka guru akan menanyakan terlebih dahulu apa warna benda tersebut sebelum memberikannya. 6.311 4. dlsb). anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan. menggosok gigi. Apabila dalam pembelajaran. melepas sepatu. Guru meletakkan dua kelompok gambar yang mempunyai gambar berpasangan dan anak disuruh mencocokkan/memasangkan gambar-gambar itu. Dengan cara mengatur benda-benda yang berlainan warna. 5. maka guru memberikan prompt (bantuan/arahan) pada anak untuk menunjuk atau melabel atau mencocokkan gambar atau menirukan aktivitas seperti dalam gambar tersebut sesuai dengan materi yang diajarkan pada . Dalam identifikasi kata kerja. Guru memegang satu gambar dan meletakkan beberapa gambar dihadapan anak lalu anak disuruh memilih gambar yang sesuai dengan gambar yang dipegang guru. makan dengan menggunakan sendok dan garpu. tetapi diluar jangkauan anak.

Hal inilah yang menjadi salah satu cara untuk menghilangkan kebiasaan anak dari sifat manja. Hal ini diperkuat dengan teori Pearce (1990:28) bahwa ganjaran memiliki banyak bentuk yang berbeda. Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespons dengan benar guru biasanya mengajar tanpa prompt dan hanya memberikan reinforce respons yang benar saja. bukan penyuapan. hukuman. . Alat itu antara lain: pujian. Dalam konteks ini pemberian ganjaran merupakan sarana Bantu untuk belajar. Hal ini juga diperkuat oleh teori Fontenelle (1991:90) bahwa hadiah atau ganjaran sangat berguna dalam mengatasi beberapa kesulitan akibat hiperaktivitas. Hal ini diperkuat oleh Nur’aeni. teladan dan contoh. sentuhan. ganjaran. Hadiah/ganjaran diberikan pada orang yang telah melakukan suatu kebaikan. senyuman. hadiah. diantaranya: Perhatian Perhatian dapat diberikan dengan banyak cara: pandangan. karena anak terbiasa dengan pemberian hadiah/iming-iming sebelum anak melakukan sesuatu (agar anak melakukan sesuatu) dan kebiasaan itu harus dihilangkan dengan cara mengganti hadiah yang berupa benda riil itu dengan pujian/tepukan. Alat pendidikan itu adalah upaya/siasat yang sengaja dibuat dilaksanakan untuk mencapai tujuan. (1997:136-137) bahwa penguat (reinforcemen)t adalah alat pendidikan yang menyebabkan tingkah laku individu lain yang kita hadapi (anak didik peserta didik) akan terpatri. pelukan atau beberapa patah kata.312 saat itu dan setiap kali anak melakukan/merespons dengan benar tak jarang guru memberikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan).

biasanya guru akan memegangi kedua tangan atau pipi (sekitar kepala) anak itu. bukannya ditertawakan karena lucu. kondisi anak dan akibat sampingan yang mungkin timbul.313 Pujian Hadiah khusus Hadiah khusus digunakan sebagai cara untuk mendukung dan menguatkan setiap pujian yang diberikan. Disaat pelajaran berlangsung tak jarang konsentrasi anak mulai hilang. hal inilah yang menguji kesabaran guru dalam membimbing anak hiperaktif. Hal yang terbaik dalam memberikan hadiah khusus adalah menggunakan satu/dua hal secara teratur sebagai ganjaran dan menyimpannya sebagai hadiah khusus untuk membuatnya lebih diharapkan dan berharga. bila perlu kaki anak dijepit di antara paha guru atau tungkai guru/terapis menjepit/merangkum kursi di belakang anak dan menatap anak itu dan mengatakan “… (nama anak) lihat” dan mengatakan “Tidak…” tindakan dan kata-kata inilah yang selalu diucapkan guru untuk mencegah/melarang anak yang berbuat sesuka hati bahwa perbuatannya itu salah/tidak benar dan untuk melarang/menyuruh diam disaat anak mengoceh sendiri. kadang ia suka mengoceh sendiri tak jelas arah tujuannya dan menoleh/bergerak kesana kemari walaupun sudah dihalangi meja. Hal tersebut juga diperkuat oleh Nur’aeni (1997:141) bahwa pendidik/orang tua harus jeli dalam memilih alat-alat pendidikan yang sesuai dengan harapan. suasana sekitar. sebab dengan ditertawakan akan membuat anak itu merasa bangga karena merasa diperhatikan dan merasa bahwa .

seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar.314 apa yang dilakukannya/diucapkannya itu benar/baik. Dan apabila anak masih tetap sulit untuk diajak dian dan diajar maka guru akan memberi anak itu imingiming. Ada banyak cara untuk mengatakan tidak: Dengan nada suara yang tajam Dengan bentakan yang keras Mengatakan “tidak” dengan berbisik Menggoyangkan jari Mengerutkan dahi dan memasang wajah marah Berpaling dan tidak memberikan perhatian. Dan apabila anak sudah mulai mengerti dengan maksud kita dan berusaha memperbaiki tindakannya yang salah. dimana hal ini diperkuat oleh teori Pearce (1990:8) adalah mungkin untuk mengatakan “ya” dan memberikan pujian setiap kali seorang anak melakukan sesuatu yang baik dan sebagai akibatnya kita tidak perlu mengatakan “tidak”. Inilah yang dimaksud dengan disiplin. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui pengelolaan dan penanganan yang serius dibarengi dengan upaya mengatasi tingkat gangguan . Hal ini diperkuat dengan teori Pearce (1990:7) bahwa dengan mengatakan “tidak” dapat secara bertahap memperkenalkan anak dengan gagasan bahwa ada batas mengenai berapa banyak kebutuhan yang dapat dipenuhi. cukup kita katakan “ya”. dan anak akan secara bertahap pula mengetahui batasan dari apa yang dapat diterima dan apa yang tidak dapat diterima.

3. dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga. dengan tujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. Evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian.. Evaluasi proses dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung. dengan memberi reward (hadiah/pujian) untuk respons yang benar. Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian).” Evaluasi pembelajaran anak hiperaktif yang umum digunakan di tempattempat terapi anak adalah evaluasi proses dan evaluasi bulanan. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif .Menurut Bloom (Handbook on Formative and Sumative Evaluation of Student Learning) mengemukakan bahwa “Evaluasi adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar penetapan ada tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau anak didik. . Sedangkan evaluasi bulanan bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah.315 dapat membantu mengarahkan kondisi hiperaktif untuk menunjang hal-hal positif perkembangan anak.

matching buahbuahan dan matching sayuran anak tidak mengalami kendala/hambatan karena pelajaran ini termasuk yang paling mudah hanya saja anak dituntut untuk lebih teliti dalam memasangkan gambar. Begitu juga dengan gambar tomat mungkin karena bentuk dan warnanya hampir sama dengan gambar lain misal: jeruk sehingga anak masih bingung membedakan dan ragu untuk menjawab. matching huruf besar. matching bentuk. Hanya gambar binatang dan gambar sayuran saja yang masih membingungkan anak hal ini dikarenakan adanya kesamaan dalam gambar dan anak masih belum bisa membedakannya seperti ayam jantan dan ayam betina. alat transportasi.316 Berdasarkan lembar penilaian dari evaluasi proses maka dapat disimpulkan bahwa hasil evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada 6 anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah sebagai berikut: 1) Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga anak harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan). 2) Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. . gambar buah-buahan. matching binatang. 3) Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak tidak mengalami kendala/hambatan.

dan seterusnya. huruf diperkenalkan kepada anak dengan namanya dalam abjad. maka si anak belajar merangkai suku kata dan dirangkai lagi menjadi kata.317 4) Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. oval. Misal huruf “b” disebut atau dilafalkan sebagai “be”. Hal ini diperkuat oleh Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:3) bahwa dengan metode eja. huruf “e” sebagai “e”. 5) Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak menguasai materi dengan baik. maka semua aktivitas tangan dan pensil itu sulit. Kesulitan dalam bidang ini biasanya mempengaruhi kecakapan menulis. bukan dengan bunyinya. Hal ini diperkuat dengan teori Fontenelle (1991:20) bahwa beberapa anak yang tergolong hiperaktif memperlihatkan kekurangan-kekurangan motoris-perseptual (kekurangan motoris-visual dan koordinasi motoris halus atau koordinasi tangan-mata). kotak. yaitu suka terbalik-balik dan tidak rapi. huruf “s” sebagai “es”. Tulisan tangannya biasanya jelek. Bagi anak ini. lingkaran dan trapesium) anak sering dibingungkan antara lingkaran dan oval karena bentuknya yang hampir sama. Tetapi dengan prompt (arahan/bantuan) lama-lama anak menjadi tahu dan memahami. Dalam pelajaran ini hambatan/kendala yang dialami anak hanya dalam penulisannya. Ia sukar . Pengajaran menulis diberikan bersamasama dengan pengajaran membaca. segitiga. Setelah mengenal huruf-huruf dengan namanya. menulis itu pekerjaan yang sukar. wajik.

7) Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan satu kata seperti memasak. . membaca. anak kadang-kadang sudah mulai/sesekali bisa atau anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan yaitu angka 5 dan 8. 6) Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10. padahal perilaku ini wajar bagi semua anak. meniup harmonika dlsb. kotak menjadi otak dlsb. akan tetapi ada angka dimana anak mengalami kesulitan menghafal. lari dlsb anak tidak mengalami kendala/hambatan. ditengah. Dan untuk anak yang mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) tidak jarang dia mengucapkan kata dengan menghilangkan satu huruf entah itu didepan. Karena ia harus berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan kertas dan pensil. sering tidak menyelesaikan pekerjaan tulis. akan tetapi dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan dua kata atau lebih anak masih mengalami kesulitan seperti main bola. atau dibelakang karena kesulitan dalam berbicara seperti kata biru menjadi bi u. Dan kerap kali ia membalikkan huruf dan angka. ia “lambat” dalam menulis.318 menyalin dari papan tulis sebab mengabaikan huruf-huruf dan kata-kata biasanya pekerjaannya tampak teledor dan acak-acakan. Mungkin tulisannya mula-mula rapi. putih menjadi uti. anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak. tetapi makin lama makin jelek.

Dalam pembelajaran anak hiperaktif dilaksanakan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dan dengan metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Kurikulum yang digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. kemudian prompt dan reinforce itu dikurangi sedikit demi sedikit sampai tidak menggunakan sama sekali dan anak benar-benar menguasai materi pelajaran. identifikasi huruf. Simpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab di muka. Salah satunya adalah dengan penggunaan media visual (gambar). dan identifikasi kata kerja. Dimana dalam membelajarkannya dengan menunjukkan gambar satu persatu di depan anak dengan disertai prompt (bantuan/arahan) dan reinforce (hadiah/pujian) untuk respons yang benar. identifikasi warna. mencocokkan (matching). identifikasi angka. Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup Identifikasi benda. sehingga anak dapat menangkap pesan. identifikasi bentuk.319 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. 2. .

320 3. afektif dan psikomotorik pada anak. Kepada Kepala Terapi disarankan untuk mengembangkan materi pelajaran dan metode pembelajarannya. Kepada peneliti lain disarankan untuk mengadakan penelitian tentang Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dengan objek penelitian yang berbeda dan dengan topik yang berbeda. Disamping itu dapat meningkatkan kemampuan bahasa. Kepada Guru Pembimbing/Terapis disarankan untuk lebih memperdalam konsep pembelajaran anak berkebutuhan khusus baik itu dalam perencanaan. . tidak hanya menggunakan media visual (gambar) saja tetapi juga dengan menggunakan media lain. maka disarankan sebagai berikut: 1. dapat disimpulkan bahwa media visual (gambar) memudahkan anak dalam memahami konsep dan membantu dalam generalisasi. Kepada Terapi disarankan untuk lebih terbuka kepada masyarakat 4. Saran Berdasarkan hasil penelitian tentang Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Hal ini terbukti dengan 75 % anak hiperaktif berhasil menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru pembimbing/terapis melalui media visual (gambar) ini. B. 3. Dari hasil pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada anak hiperaktif. kognitif. 2. pelaksanaan dan evaluasi.

Gunarsa. Strategi Belajar Mengajar. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Tarsito Bandung. Arikunto. Azhar. Kelompok Belajar sebagai Teknik Bimbingan dan Penyuluhan Metode pengajaran. Aswan 2000. Jakarta: Gunung Mulia. Suharsimi. Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktek. Pedoman Pelayanan Pendidikan Bagi Anak Austik. Badawi. Jakarta: Erlangga. 1986. 1993.321 DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Jakarta: Grasindo. Jakarta: Rineka Cipta. Hakim. Jakarta: Raja Grafindo. 2002. Media Visual untuk Pengajaran Teknik. 2000. Depdiknas. Teori-teori Belajar. Dahar. Tingkah Laku Abnormal. Belajar Secara Efektif. Fontenelle. Memahami dan Mengatasi Anak Overaktif. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. 1996. Linda De. Konseling dan Psikoterapi. 1992. Ahmad. Djamarah. 1985. 2002. Jakarta: Puspa Swara. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Media Pembelajaran. Singgih D. Syaiful Bahri dan Zain. Suharsimi. Jakarta: Bina Aksara Arikunto. 1991. Jakarta: Gunung Mulia. 1996. 1997. . 1994. Clerq. Yogyakarta: Penerbit FIP-IKIP. Jakarta: Rineka Cipta. Suharsimi. Daryanto. Arsyad. Wilis. Don H. Thursan.

Jakarta: Rineka Cipta. Alex.322 Lask. Jakarta: Gramedia. Dian Retno. 1997. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Sobur. Arief. Soemiarti. Jakarta: Bhratara Karya Aksara. Mengatasi Perilaku yang Buruk. Intervensi Dini bagi Anak Bermasalah. 2003. Osman. Bryn. Memahami dan Mengatasi Masalah Anak Anda. Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An. 1997. 1981. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: Rineka Cipta. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bagaimana Binarupa Aksara. Metodelogi Penelitian. 1996. 1984. Bandung: Yayasan Kalam Hidup. 1990. 1986. 2001. Ahmad. Ngatidriatun. Menerobos Dunia Anak. Mary Go. Sadiman. Betty B. Media Pendidikan. Semarang: STIMIK Dian Nuswantoro. Jakarta: Raja Grafindo Persada Sardiman. 2000. Pearce. Moleong. Nur’aeni. Jakarta: Rineka Cipta. Soepartinah. Jakarta: Grasindo Pakasi. Setiawani. Lexy. 2002. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Patmonodewo. Jakarta: Rohani. Lemah Belajar dan ADHD. Media Instruksional Edukatif. 1989. John. Anak Masa Depan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Bandung: Angkasa . 2000.

Hal 65. 1995. Kegiatan Untuk Anak Dini Usia. Jakarta: Prestasi Pustaka. Kids Healt. Mary. Kiat Membantu Anak Hiperaktif. Jakarta: Gramedia Tim Redaksi Puspa Swara. Evaluasi Hasil Belajar dan Pengajaran Remedial. Ahmad. Yayasan Autisma Indonesia. 2004. Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC Pada Penyandang Autisme Gangguan Perkembangan Pada Anak. Bandung: Sinar Baru Algensindo Sugianto T. Unika. 1988. Sudjana. Mengatasi Problem Psikologi Balita. Mayke.323 Soemardji & Sutaryadi. Sudjana. Jakarta: Puspa Swara. . Semiloka Mengenal dan Membimbing Anak Hiperaktif. Agar Anak Tangkas Mengatasi Hidup. Anak yang Hiperaktif. Sunday School Smart Pages. Unika. Semarang. http//www. Taylor. 2001. UNS Surakarta. Edward T. http//www.com.google. 1997. Helping Children with Special Needs : The Hiperactive Child. 1994. Ventura. Mainan dan Permainan. 1999. Weaver. 2003. Org.google. Bermain. Nana dan Rivai.com. Media Pengajaran.google. 2000. Jakarta: Graha Sucof. Jakarta: DepDikBud Sumber : Keluarga. 1998. Gospel Light. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Eric.com Tan dan Chan. Jakarta: Primamedia Pustaka. Bandung: Sinar Baru. Wes & Sheryl Haystead. 1992. 2000. http//www.

apakah dalam hal ini diperlukan kiat-kiat khusus seperti diadakan pelatihan dalam membimbing anak sebelum mengajar di kelas? 9. 1. Ada berapa ruang kelas yang digunakan untuk mengajar? Apakah ruangan ini juga didesain khusus untuk membelajarkan anak hiperaktif agar anak lebih konsentrasi dalam belajar? 5. Ada berapa jumlah siswa yang diterapi disini? 10. seperti yang kita ketahui bahwa tidak mudah seseorang itu membimbing anak yang mempunyai kebutuhan khusus apalagi anak itu tergolong hiperaktif. 8. apakah sama penanganan dan sistem pembelajaran anak hiperaktif dengan anak berkebutuhan khusus lainnya? 13. Sebelumnya saya mau tanya. Wawancara dengan Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus. Adakah kriteria khusus (syarat-syarat) dalam membimbing anak hiperaktif? 15.324 PEDOMAN WAWANCARA PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS A. ada bermacam-macam tipe anak berkebutuhan khusus. 6. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri? 2. Pendekatan dan metode apakah yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif? 14. Apa yang mendorong/menggerakkan hati anda sehingga ingin mendirikan Terapi Anak? Apakah ada pihak-pihak terkait yang diajak bekerja sama dalam menyelenggarakan program terapi anak ini? 4. Melihat cerita anda tadi. Tolong beri penjelasan tentang jadwal terapi disini? Apakah tugas anda sebagai Kepala Terapi Anak? Ada berapa jumlah guru yang membantu anda mengajar disini? Bagaimana cara mencari guru untuk mengajar anak berkebutuhan khusus. karena penelitian saya adalah pembelajaran khusus untuk anak hiperaktif. . 7. sedangkan di tempat terapi anak ini ada bermacam-macam anak berkebutuhan khusus. Berapa rata-rata umur mereka dan kebanyakan anak nomor berapa yang diterapi disini? 11. Selain penanganan khusus anak hiperaktif (terapi) apakah disini juga memberikan pelayanan lain seperti terapi (konsultasi) orang tua dalam menangani anaknya dirumah. 3. tipe apa saja yang diterapi disini dan bagaimana anda mengetahui kalau anak itu tergolong tipe itu? 12.

Tisma Kudus Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? 2. Sarana pembelajaran apa saja yang disediakan disini khusus digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif? 19. Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian). Disamping sebagai kepala terapi anda juga ikut mengajar/sebagai terapis. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? . Bagaimana cara anda menanganinya dan mengajarkannya terutama dengan menggunakan media visual (gambar). gedung/perlengkapannya. para guru/terapis dan siswanya? 24. menurut anda? 23.325 pengaturan makanan dan pemberian obat pada anak hiperaktif yang tentunya dengan persetujuan dokter? 16. dan dari data yang saya terima anda mengajar Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan Autis dan Hiperaktif. selain di tempat terapi anak itu sendiri? Lalu bagaimana cara mensiasatinya agar anak itu juga bisa menerima pelajaran di sekolah umum. Bagaimana cara mengevaluasi pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? 20. SMA) sesuai dengan umur anak dan tingkat kemampuan anak. Bagaimanakah cara merancang pembelajaran anak hiperaktif ? 17. SMP. apalagi mereka juga memerlukan perhatian yang ekstra? 21. lalu bagaimana hasilnya? 22. SD. Apa yang menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan dan pengajaran bagi anak hiperaktif. Apakah pesan anda pada para orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/ anak berkebutuhan khusus lainnya? B. Wawancara dengan guru pembimbing/pengajar (terapis) Terapi Anak Al 1. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak hiperaktif)? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran? 3. Jika anak itu sudah dikatakan cukup sembuh (tingkat aktifitasnya berkurang) apakah pihak sekolah menyarankan agar anak itu juga disekolahkan disekolah reguler/formal (TK. Apakah prinsip-prinsip yang digunakan dalam pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? 18. Apakah selama ini ada hambatan/kendala dalam mengelola tempat terapi anak ini baik itu dari administrasinya.

Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? 9. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? 15. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? 7. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? 6.326 4. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? 10. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? . Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? 11. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? 5. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. 8. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? 13. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? 14. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? 12. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? 16. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar.

2. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? 20. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? C.327 17. Umur berapa anak anda diterapi disini? 11. Apakah disamping anak anda diterapi disini. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? 3. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? 14. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? . 5. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? 19. meja kursi . Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak? 10. Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? 6. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? 18. Wawancara dengan orang tua siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus 1. alat/media pembelajaran dan mainan? 13. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? 9. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? 7. Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? 8. dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi anak? 12. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? 4.

tentunya ini dengan bantuan para pengajar. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? 17. . lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? 18. Apa yang mendorong/menggerakkan hati anda sehingga ingin mendirikan Terapi Anak ? J. T. Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? 19. karena tidak hanya anak hiperaktif saja yang diterapi disini tetapi juga anak autisme dan anak-anak yang berkebutuhan khusus lainnya (mempunyai kelainan dalam dirinya) tentunya itu semua dengan dukungan dari suami dan keluarga saya. setelah dipikir-pikir kenapa saya tidak menolong mereka kalau saya saja berhasil menyembuhkan anak saya. Terapi Anak ini berdiri sejak Maret tahun 2001 T. Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? 16. Pertama sih saya tidak kepikiran untuk mendirikan terapi ini. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif. lalu saya coba untuk mendirikan terapi untuk anak berkebutuhan khusus. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri? J.328 15. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? 20. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? HASIL WAWANCARA PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS Wawancara Dengan Kepala Terapi Anak Ibu Nur Halimah III. mereka mengeluh pada saya tentang anak mereka dan saya disuruh membantu menyembuhkan mereka. justru ide ini muncul dari temanteman saya yang juga mempunyai anak berkebutuhan khusus seperti anak saya yang alhamdulillah sekarang dia sudah sembuh. Dan alhamdulillah siswanya juga cukup banyak dan tidak sedikit pula siswa yang berhasil saya tangani.

Apakah tugas anda sebagai Kepala Terapi Anak? J. seperti yang kita ketahui bahwa tidak mudah seseorang itu membimbing anak yang mempunyai kebutuhan . otomatis semua tugas menjadi tanggung jawab saya. Dokter.00 WIB Session II dilaksanakan pada pukul 10. Ada berapa ruang kelas yang digunakan untuk mengajar? Apakah ruangan ini juga didesain khusus untuk membelajarkan anak hiperaktif agar anak lebih konsentrasi dalam belajar? J.00 WIB Session IV dilaksanakan pada pukul 15. dokter spesialis syaraf. Ada berapa jumlah guru yang membantu anda mengajar disini? J.00 WIB Jadi setiap membelajarkan anak itu dilaksanakan selama ± 2 jam. T. dan tenaga ahli yang lain seperti: ahli gizi.329 T. baik itu sebagai administrator. Terapi disini dilaksanakan setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat dan dalam satu hari dibagi dalam 4 session yaitu: Session I dilaksanakan pada pukul 08. fasilitator. dlsb. T.00 WIB Session III dilaksanakan pada pukul 13. Guru yang mengajar disini ada 6. Karena saya yang mendirikan terapi anak ini sekaligus sebagai kepala dan terapis disini. T. Di desain sih nggak. dokter spesialis metabolitas. dan kesembuhan anakanaknya (siswa-siswi) walaupun dalam hal ini juga menjadi tanggung jawab guru pembimbing/terapis. Departemen Pendidikan Nasional. Dimana setiap satu-dua bulan sekali Badan Psikiater dan Psikologi Anak selalu mengadakan seminar tentang anak-anak berkebutuhan khusus. dan kebetulan mereka perempuan semua. Psikiater anak. Ada 5 kelas. T. Ada. pihak-pihak terkait yang juga sangat menunjang dalam penyelenggaraan terapi anak ini. Tolong beri penjelasan tentang jadwal terapi disini? J.00 – 10. dengan begitu pengetahuan kita akan bertambah tentang anak-anak yang berkebutuhan khusus dan cara menanganinya.00 – 15.asal bisa digunakan untuk membelajarkan mereka dan lebih mengkonsentrasikan mereka pada pelajaran. disitu kita mengemukakan masalah yang kita hadapi selama ditempat terapi untuk menemukan solusinya. disamping itu saya juga harus bertanggung jawab terhadap perkembangan terapi ini. Karena dalam membelajarkan anak hiperaktif itu harus di ruangan yang kosong tanpa ada hiasan dinding yang bisa mengganggu konsentrasi mereka pada pelajaran. diantaranya: Psikolog anak. maupun koordinator serta peningkatan sumber daya manusia bagi guru/terapis. dokter disini meliputi dokter spesialis yang menangani gangguan perkembangan anak. T.00 – 12.00 – 17. Bagaimana cara mencari guru untuk mengajar anak berkebutuhan khusus. Apakah ada pihak-pihak terkait yang diajak bekerja sama dalam menyelenggarakan terapi anak ini? J.

330

khusus apalagi anak itu tergolong hiperaktif, apakah dalam hal ini diperlukan kiat-kiat khusus seperti diadakan pelatihan dalam membimbing anak sebelum mengajar di kelas? J. Mengingat terapi anak ini berada di kota kecil dengan biaya yang tidak banyak, saya tidak mengharuskan seseorang yang membantu saya untuk mengajar disini orang yang mempunyai gelar sarjana, tetapi saya ingin membantu mereka yang benar-benar membutuhkan pekerjaan, cukup dengan diberi pengarahan sedikit dan buku panduan tentang membelajarkan anak yang berkebutuhan khusus mereka akan cepat tanggap dan mengerti apa yang harus mereka kerjakan, maka dari itu kebanyakan mereka adalah lulusan SMA. Sedangkan untuk pelatihan, pertama saya suruh mereka untuk membantu terapis lainnya mengajar, sambil melihat dan memahami cara mengajar anak yang benar, karena cara mengajar ini tidak seperti cara mengajar di Taman Kanak-kanak yang siswanya adalah anak-anak normal akan tetapi yang dihadapi nanti adalah anak yang sulit diatur dan mempunyai berbagai macam masalah. Setelah mereka memahami cara mengajar yang benar baru saya beri wewenang untuk mengajar sendiri dan berhasil tidaknya dalam pengajaran itu tergantung dari dirinya sebagai terapis/guru pembimbing. T. Ada berapa jumlah siswa yang diterapi disini? J. Sejak saya mendirikan terapi ini sampai sekarang jumlah siswa yang diterapi disini kurang lebih ada 24 anak, sedangkan yang masih diterapi sampai saat ini kurang lebih ada 15 anak, dan siswa lainnya yang dirasa sudah sembuh cukup diterapi di rumah dengan masih tetap berkonsultasi dengan pihak terapi. T. Berapa rata-rata umur mereka dan kebanyakan anak nomor berapa yang diterapi disini? J. Umur mereka rata-rata 5 sampai 10 tahun. Dan kebanyakan dari mereka adalah anak pertama (sulung), dan ada juga lho anak yang sepupunya juga diterapi disini tetapi masalahnya berbeda yang satunya IQ rendah sedangkan sepupunya mengidap autis dan hiperaktif. Selain itu disini ada juga anak kembar tetapi kembarannya itu normal, dan ada juga yang kakak adik diterapi disini dan kedua-duanya itu mempunyai masalah autisme. T. Melihat cerita anda tadi, ada bermacam-macam tipe anak berkebutuhan khusus, tipe apa saja yang diterapi disini dan bagaimana anda mengetahui kalau anak itu tergolong tipe itu? J. Tipe anak yang diterapi disini banyak, ada yang hiperaktif, autis, ADD, speech delayed (terlambat bicara), disphasia (anak yang mengalami gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam), IQ rendah, microcepalus (anak yang lahir dengan ukuran lingkar kepala kurang dari standart kelahiran), down sindrome, gangguan konsentrasi, retardasi mental (idiot), dan kurang stimulasi. Dan untuk mengetahui tergolong tipe apa anak itu, biasanya kami melihat dari tingkah lakunya selang beberapa hari setelah anak diterapi disini, atau kalau nggak biasanya dari psikiater atau psikolog kami sudah diberitahu kalau anak itu tergolong tipe ini.

331

T. Sebelumnya saya mau tanya, karena penelitian saya adalah pembelajaran khusus untuk anak hiperaktif, sedangkan di tempat terapi anak ini ada bermacam-macam anak berkebutuhan khusus, apakah sama penanganan dan sistem pembelajaran anak hiperaktif dengan anak berkebutuhan khusus lainnya? J. Penanganan dan sistem pembelajarannya itu sama, akan tetapi karena pertama kali anak dibawa di tempat terapi ini dengan permasalahan yang berbeda-beda, mungkin cara penanganan pertama itu saja yang berbeda, Misalnya anak hiperaktif berat dengan hiperaktif ringan, anak hiperaktif berat lebih sulit penanganannya dibandingkan dengan anak hiperaktif ringan dan biasanya kami menangani anak yang hiperaktif berat dengan bantuan alat “been back” yang tujuannya agar hiperaktifnya itu berkurang, sedangkan anak yang tergolong hiperaktif ringan cukup dengan diarahkan saja tanpa menggunakan alat “been back”. Pernah ada anak yang bernama Anis dia tergolong speech delayed (terlambat bicara), selama enam tahun tidak mau berbicara dan bagaimana cara kita membuat anak itu mau bicara dan

melenturkan lidah yang kaku itu, dan alhamdulillah setelah melalui terapi dia mau berbicara walaupun bicaranya cedal akibat lama tidak bicara. T. Pendekatan dan metode apakah yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif? J. Disini kami dalam membelajarkan anak hiperaktif mengggunakan pendekatan individual (lovaas one on one - pembelajaran satu guru satu murid). Sedangkan metode yang kami gunakan adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”, sehingga anak dapat menangkap pesan, informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar-gambar), karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. T. Adakah kriteria khusus (syarat-syarat) dalam membimbing anak hiperaktif? J. Dalam upaya membelajarkan anak hiperaktif tidak mudah. Guru pembimbing sebagai model untuk anak hiperaktif harus memiliki kepekaan, ketelatenan, kreatif dan konsisten di dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh karena anak hiperaktif pada umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain. Maka guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak hiperaktif. Ada beberapa pra syarat yang harus dilakukan dan dipersiapkan oleh seorang guru pembimbing anak hiperaktif sebelum mengerjakan/melaksanakan kegiatan belajar mengajar yakni: 6. Menciptakan situasi yang kondusif untuk pembelajaran yang meliputi: c) Emosi yang stabil dari anak hiperaktif.

d) Ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan. 7. 8. Mengupayakan adanya kontak mata yang sejajar antara guru-siswa Kemampuan untuk meningkatkan ketahanan konsentrasi anak.

332

9.

Mengupayakan kepatuhan dari anak hiperaktif dan pemahaman bahasa reseptif.

10. Pembimbing harus menyadari dan memahami tujuan apa yang akan dicapai dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran untuk anak hiperaktif. T. Selain penanganan khusus anak hiperaktif (terapi) apakah disini juga memberikan pelayanan lain seperti terapi (konsultasi) orang tua dalam menangani anaknya dirumah, pengaturan makanan dan pemberian obat pada anak hiperaktif yang tentunya dengan persetujuan dokter? J. Disini kami memberikan pelayanan konsultasi bagi orang tua, karena ini sangat penting untuk mengetahui perkembangan anaknya dirumah. Melalui bimbingan para guru/terapis serta kerjasama yang baik dengan orang tua dan orang-orang disekitarnya, dapat dikembangkan potensi anak. Akan tetapi pelayanan pengaturan makanan dan pemberian obat adalah wewenang dokter, dan kami ditempat terapi hanya menjalankannya saja apa yang dianjurkan oleh dokter dan menjalankan proses penyembuhannya (terapinya) untuk mempersiapkan anak sekolah di sekolah reguler. T. Bagaimanakah cara merancang pembelajaran anak hiperaktif ? J. Dalam membelajarkan anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya kami menggunakan kurikulum yang sudah banyak digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia yang tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemampuan anak, dan tidak mampuannya, usia anak, serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. Mungkin mbak Eri nanti bisa lihat sendiri di buku panduan yang sudah saya berikan. T. Apakah prinsip-prinsip yang digunakan dalam pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? J. Pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: f) Terstruktur Yaitu pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Setelah dikuasai, kemudian ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya. Contohnya untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna dari instruksi “Ambil bola merah”. Maka materi pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata “ambil”, “bola” dan “merah”. Setelah anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi “Ambil bola merah” kedalam perbuatan kongkrit. g) Terpola Terpola disini maksudnya dalam kegiatan anak hiperaktif harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur, baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya)

333

Namun, bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang; dapat dilatih dengan kondisi dilingkungannya, supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). h) Terprogram Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evalusi. Sebab dalam program materi pendidikan harus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan pada kemampuan anak. i) Konsisten Artinya: apabila anak berperilaku positif memberi respon positif terhadap sesuatu stimulan (rangsangan), maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan), demikian pula apabila anak berperilaku negatif (reinforcement). Hal tersebut juga dilakukan dalam ruang dan waktu lain yang berbeda secara tetap dan tepat, dalam arti respon yang diberikan harus sesuai dengan perilaku sebelumnya. j) Kontinyu Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran, program pendidikan dan pelaksanaannya. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan di rumah dan lingkungan sekitar anak. Kesimpulannya, terapi perilaku dan pendidikan bagi anak hiperaktif harus dilaksanakan secara berkesinambungan, simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu). T. Sarana pembelajaran apa saja yang sangat diperlukan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. Sarana belajar itu sangat diperlukan dalam pembelajaran anak hiperaktif, karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. Karena pola pikir anak hiperaktif pada umumnya adalah pola pikir konkrit, sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus konkrit. Dan kebetulan anak yang diterapi disini adalah kebanyakan anak usia prasekolah maka sarana belajarnyapun dsesuaikan dengan usia pendidikan anak yaitu berupa: alat peraga: pengenalan warna, bentuk, huruf dan angka, benda-benda sekitar, buah, binatang, kendaraan, alat bantu komunikasi: berupa gambar-gambar yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak, alat bantu pengembangan motorik halus: cara memegang pensil, menggunting, mewarna, dsb, alat bantu pengembangan motorik kasar: bola, tali, dlsb, dan ditambah berbagai macam mainan edukatif T. Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian). Bagaimana cara mengevaluasi pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? J. Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif disini adalah: evaluasi proses yang dilakukan dengan cara seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga, dengan memberi

Setelah anak diterapi secara terpadu dan terstruktur. T. dsb) dengan tujuan untuk membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler dan belajar secara intensif pelajaran yang tertinggal di kelas reguler. SMP. tetapi di sekolah umum anak masih memerlukan waktu penyesuaian untuk dapat mengikuti tatacara pengajaran yang berbeda dengan pada saat terapi. saya mencoba untuk menenangkan anak ini agar tidak terlalu banyak gerak (hiperaktif) dengan saya tempatkan diruangan khusus dan saya dudukkan di meja kursi khusus tujuannya agar anak ini tetap kontak mata dengan saya dan tidak asyik dengan dunianya sendiri dan agar dia tahu bahwa . SMA) sesuai dengan umur anak dan tingkat kemampuan anak. karena dia mempunyai gangguan autis yang hanya tertarik pada dunianya sendiri dan hiperaktif. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. dan dikelas anak harus berbagi dengan teman-temannya dengan bahasa guru yang berbeda dengan terapisnya dan bersifat klasikal.334 reward (hadiah/pujian)untuk respons yang benar. Jika anak itu sudah dikatakan cukup sembuh (tingkat aktifitasnya berkurang) apakah pihak sekolah menyarankan agar anak itu juga disekolahkan disekolah reguler/formal (TK. lalu bagaimana hasilnya? J. dan dari data yang saya terima anda mengajar Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan Autis dan Hiperaktif. Ia perlu belajar mengenal dan mengikuti peraturan disekolahnya. Pertama kali Troy (begitu nama panggilan Ferdinan Troy) dibawa kesini saya melihat bahwa kasus anak ini sama dengan kasus yang dialami anak saya dulu. Disamping itu kami juga mengadakan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. selain di tempat terapi anak itu sendiri? Lalu bagaimana cara mensiasatinya agar anak itu juga bisa menerima pelajaran di sekolah umum. instruksi yang jelas. SD. Disamping sebagai kepala terapi anda juga ikut mengajar/sebagai terapis. Bagaimana cara anda menanganinya dan mengajarkannya terutama dengan menggunakan media visual (gambar). dengan alat visual/gambar/kartu. tetapi melalui tata cara pengajaran untuk anak bermasalah (kelas kecil dengan jumlah guru besar atau satu guru satu murid. T. berinteraksi/bersosialisasi dengan teman sebayanya dan harus mengerti instruksi guru dengan cepat. anak dipersiapkan dan diperkenalkan pada pengajaran dengan kurikulum sekolah biasa. Benar. Untuk itu dalam sekolah anak harus didampingi guru pembimbing/terapis sampai benar-benar ia bisa mandiri dan mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. Anak biasa ditangani dengan guru khusus sendirian. apalagi mereka juga memerlukan perhatian yang ekstra? J. Walaupun anak sudah patuh dan dapat berkonsentrasi pada saat terapi. sehingga dapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnya. padat dan konsisten. Dimana evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian yang setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah.

Alhamdulillah sekarang dia bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya walaupun saya masih mendapinginya di sekolah. kurangnya sarana dan prasarana dalam belajar. diantaranya: berat-ringannya kelainan/gejala. Menurut saya yang menjadi penentu keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif.tetapi ya itu kita sebagai terapis harus cepat dan cekatan dalam memberikan materi karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. kurangnya tenaga pengajar. kesehatan dan kestabilan emosi anak. usia pada saat diagnosis. setiap dia menoleh dan mulai bergerak saya usahakan agar menatap saya . Apakah pesan anda pada para orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/anak berkebutuhan khusus lainnya? J. tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa. Setelah anak ini bisa diam agak lama baru saya mulai pelajaran dengan saya tunjukkan gambargambar. karena ocehannya ini suka ngelantur kemana-mana tanpa jelas. T. dan saya berusaha tenang dan tidak tertawa setiap anak ini mengoceh. sekolah dan masyarakat). Apa yang menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan dan pengajaran bagi anak hiperaktif. Pesan saya kepada para orang tua yang mempunyai anak bermasalah segeralah bawa ke dokter spesialis anak dari situ mungkin dokter akan menyarankan ke psikiater/psikolog anak dan cari informasi tentang terapi khusus untuk menangani anak yang berkebutuhan khusus. yang terakhir adalah terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru.335 dihadapannya itu ada orang yang sedang memperhatikannya. Untuk itulah kita harus siap dengan media visual (gambar) disamping kita dan mainan edukatif. kecerdasan/IQ. Saya kira masih banyak sekali hambatan-hambatan dalam mengelola sekolah ini. Wawancara Dengan Guru Pembimbing/Pengajar (Terapis) . antara lain: terbatasnya ruang dalam belajar. metode. dll padahal masih banyak orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya untuk diterapi disini dan terpaksa saya tolak. T. gedung/perlengkapannya. T. para guru/terapis dan siswanya? J. lingkungan (keluarga. dan ternyata anak ini cukup cerdas dan cepat tanggap pada materi yang saya berikan sehingga tidak ada kendala dalam membelajarkannya. karena guru hanya membantu di tempat terapi dan tanpa kerjasama antara orang tua siswa dan guru tidak mungkin sukses dalam penyembuhan itu. tingkat kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak. menurut anda? J. kurikulum. Dan hasilnya bisa mbak Eri lihat sendiri di lembar penilaian. tetapi jangan lupa orang tua juga harus ikut andil dalam penyembuhan anaknya dirumah. Apakah selama ini ada hambatan/kendala dalam mengelola terapi anak ini baik itu dari administrasinya. sarana pendidikan.

T. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. hiperaktif dan gangguan konsentrasi. T. Bicara dengan anak hiperaktif tidak boleh dengan bertele-tele harus singkat. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. alat peraga dan cara/konsep membelajarkan anak hiperaktif. tepuk tangan dan acungan jempol. T. Disampaikan secara tegas. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? . sedangkan Galih speech delayed (terlambat bicara) dan mengerti/maksud dari perintah saya tentunya ini harus dengan prompt. T. applaus. T. autis. Kami mempersiapkan program yang diberikan secara sistematis. bagaimana caranya agar anak itu mau berbicara dan mau menirukan apa yang saya ucapan. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak hiperaktif)? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran ? J. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? J.336 Ibu Purwati T. Sedangkan untuk Galih karena dia mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif saya menekankan pada bicara. apabila ada bahasa yang tidak dimengerti oleh anak kita buatkan bentuk visualnya yaitu gambar-gambar yang kita ibaratkan apa yang kita ucapkan. tegas dan bermakna. sehingga ia autis dan hiperaktif. Kira-kira jumlahnya ada 7 anak yaitu Autis klasik. lugas dan setiap kali respon yang diberikan oleh anak harus kita kasih reinforcer bisa berupa imbalan/hadiah. Yang tergolong hiperaktif itu ada dua anak yaitu Alvin dan Galih. Kalau Alvin mempunyai gangguan hiperaktif. Ada. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. Karena Alvin mempunyai gangguan autis dan hiperaktif saya menekankan agar selalu kontak mata dengan Alvin agar ia tidak mempunyai kesempatan untuk asyik dengan dunianya sendiri (misalnya melamun atau sibuk dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak menganggap ada orang dihadapannya). bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J.

buah-buahan. papan tulis dan bisa dibuat dengan tangan. Cara membelajarkannya dikelas: gambar-gambar yang sudah kita dapatkan kita potong-potong dalam bentuk kecil-kecil kemudian kita sampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain. alat transportasi dan berbagai hal yang belum mereka ketahui. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. . Anak selalu dalam kondisi yang tidak tenang. mainan juga digunakan untuk membelajarkan anak hiperaktif. faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? J.337 J. terus dengan gambar-gambar yang berwarna. Ya. Media visual itu sangat diperlukan karena disamping anak ini hiperaktif ia juga kehilangan konsentrasi. T. lha pada saat mau mengeluarkan alat peraga dan gambar itu tadi tidak diperkenankan mengeluarkan banyak. kemudian ditambah lagi sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak itu tadi. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. mengenal berbagai gambar yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu gambar sayur-sayuran. Biasanya untuk pertama kalinya anak yang mengalami hiperaktifitas dalam penanganannya anak pertama kali. diluar rumah. gambar-gambar dikomputer yang dicetak. tetapi harus satu terlebih dahulu. Ya. apakah itu bahasa Indonesia ataupun matematika. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. nah apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif kita visualkan lewat gambar-gambar itu tadi. Gambar-gambar itu mencakup bidang: gambar-gambar yang ada dilingkungan itu yaitu didalam rumah. lalu kita tingkatkan tahap demi tahap jumlah-jumlah apa yang kita berikan. Media itu ada yanng sedikit dibeli dan banyak yang dibuat sendiri. T. sulit memperhatikan. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? J. anak akan jadi lebih tertarik untuk melihat dan memperhatikan apa yang kita sampaikan. binatang. T. T. dan biasanya juga diimbangi dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. Dan hampir semua mata pelajaran menggunakan media visual. karena mainan itu bukan mainan biasa tetapi mainan edukatif yang tujuannya memang digunakan untuk belajar. media itu berupa kertas.

Ya. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. tetapi diganti dengan pujian. Tidak. tidak . justru cara termudah untuk menyampaikan anak supaya mengerti adalah pakai gambar visual. tengah pertengahan sesi pemberian hadiah mulai dikurangi. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. mungkin bahkan jika anak itu kepatuhannya sudah mulai pulih. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. hingga ia melakukan gerakan-gerakan itu ditempat lingkungan sosialnya. kita bekerja sama dengan dokter untuk menyembuhkan anak tersebut. tidak dihilangkan dan hadiah-hadiah itu dikurangi/diganti tidak berupa riil/benda. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? J.338 T. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? J. semua anak hiperaktif selalu kesulitan dalam bergaul karena tingkat aktivitasnya yang sangat tinggi. Ya. Mungkin dengan menghubungi dokter untuk meningkatkan dosisnya. semua anak disini disamping penanganan terapi. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. Tidak ada. T. hadiah-hadiah itu bisa diganti dengan jalan-jalan/apa saja setelah proses penanganan terapi. T. tepuk tangan. konsep perhatiannya sudah mulai membaik dan semuanya sudah mulai ada titik kesembuhan. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. tahap demi tahap. Tidak. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? J. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. itu tidak akan terjadi asal para terapis dan orang tua konsisten dengan apa yang kita berikan. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. ciuman. justru obat tersebut sangat membantu mereka dalam berkonsentrasi T. T. T. karena kita memberikan hadiah (reinforcer) pada anak karena mereka melakukan respon baik dan itu akan kita berikan pada saat anak menjalani terapi pada awal penanganan.

Caranya kita mulai perkenalkan secara satu persatu dengan media visual (gambar-gambar) dan tentunya harus diikuti dengan aktifnya orang tua di rumah. Dan Galih kosa kata bicaranya sudah mulai meningkat. salah sendiri karena melakukan kegiatan yang tidak sama dengan anak lain. mereka selaku orang tua dan kami selaku terapis. hambatan kami dalam membelajarkan anak hiperaktif adalah jika anak itu memang dalam proses penanganan dan baru beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang baru kita berikan. bukannya mereka disisihkan tetapi mereka memang tersisih.339 ada yang melakukan sama seperti anak itu tadi. dan dia masih suka mengoceh sendiri yang tidak jelas arah tujuannya. Ada. . Selaku guru pembimbing/terapis kita berikan program sosialisasi dengan tahapan-tahapan dengan tidak secara langsung dengan jumlah teman yang banyak diatas 5 orang tetapi dibawah 5 mungkin bahkan bisa dimulai dari jumlah 2 orang dalam ruang lingkup yang sempitbukan diarea luar rumah yang lebih luas. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. T. T. selalu memberikan yang terbaik dan jangan lupa jika ada yang merasa putranya mengalami gangguan perkembangan cepat dibawa ke ahlinya. Ya di tempat terapi ini sangat membutuhkan kerja sama orang tua wali. karena kondisi tingkat kehiperaktifitasannya itu yang belum bisa ditempatkan diluar ruang sempit. T. apa yang diharapkan tidak sesuai dengan harapan semua. karena disini modalnya adalah sistem orang tua aktif. T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. sehingga kalau dilihat dari amatan awam anak itu memang kelihatan berbeda. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. walaupun dalam mengartikan gambar dengan dua kata ia masih agak sulit. Buktinya sekarang Alvin sudah bisa dikendalikan emosinya dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik walaupun dia masih bingung membedakan antara jantan dan betina tetapi dengan prompt akhirnya dia mengerti juga. mereka juga tidak bisa melakukan interaksi dia juga kadang asyik dengan dirinya sendiri. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif terutama Alvin dan Galih sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. Ya saya rasa sudah cukup berhasil. jika tidak aktif apa yang dihasilkan. Pesan saya kepada orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya jangan lupa untuk selalu mengawasi mereka dimanapun anak itu berada.

340

Ibu Endang Sulastri
T. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. Disini saya menangani 2 siswa yang mempunyai tipe hiperaktif dan autis. Namanya Khusnul Ma’Ali T. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak yang berbeda tipe)? Bagaimana cara menangani anak yang hiperaktif terutama saat pembelajaran? J. Ada. Dalam menangani anak hiperaktif kita berusaha untuk menenangkannya dengan cara menatap mata si anak dan memegangi kedua tangannya agar tidak bergerak kesana kemari sampai anak itu benar-benar bisa tenang. T. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. Pertama alat pembelajarannya dulu kita persiapkan kemudian konsentrasi anak, setelah anak mulai konsentrasi baru kita mulai pelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada, akan tetapi sebelum melanjutkan ke materi selanjutnya kita ulangi materi sebelumnya sekedar untuk mengingatkannya kembali.

IV. T.

Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas

(langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda?
J. Sebenarnya sih sama saja dalam menghadapi berbagai tipe anak berkebutuhan khusus, cuma bagaimana cara/usaha kita menenangkan anak agar bisa konsentrasi dalam pelajaran.

Pertama kita berusaha menenangkan mereka. Pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Setelah bisa duduk lebih lama, baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada, tetapi tidak semudah itu karena ditengah-tengah pelajaran anak sudah mulai banyak gerak sehingga konsentrasi buyar. Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming, seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Jadi intinya dalam mengajarkan anak hiperaktif yaitu bagaimana anak itu bisa konsensentrasi pada pelajaran.

341

T. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif, bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. Dengan menatap mata si anak dengan tanpa bicara berbelit-belit karena itu akan menyulitkan anak untuk memahami perkataan kita. T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? J. Ya, karena itu sangat penting untuk menarik perhatian mereka dalam belajar. Salah satunya yang paling penting disini adalah menggunakan media gambar. Kebanyakan gambar-gambar itu dibuat sendiri entah itu kita ambil dari majalah-majalah/buku atau kita ambil dari komputer yang kemudian dilaminating agar tidak cepat rusak/kotor. T. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. Tentu saja ya, terutama mainan edukatif seperti puzzle, balok kayu, dlsb, karena ini penting untuk mengasah kecerdasan mereka, kita jadi tahu sampai sejauh mana mereka kemampuan mereka untuk menyelesaiannya. T. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas?

J.

Pembelajaran mencakup

dengan

menggunakan (mengenal

media

visual

berhitung

angka),

membaca

(mengenal huruf), mengenal nama-nama benda disekitar kita dan aktifitas orang. Dan saya rasa semua mata pelajaran menggunakan sesuai media dengan visual itu. Cara kita

membelajarkannya

kurikulum

ajarkan/perkenalkan dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit, mungkin adik nanti bisa lihat cara membelajarkan anak hiperaktif dikelas dan kalau untuk lebih jelasnya lagi bisa melihat di buku Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC disitu lengkap sudah ada kurikulumnya dan cara pembelajarannya.
T. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif, faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu?

342

J.

Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah /membantu kita dalam

berkomunikasi/berinteraksi. Lalu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya itu memungkinkan penggunaan media visual itu akan lebih menarik minat mereka dalam belajar. T. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. Kesulitannya adalah apabila kita memperkenalkan pada gambar yang terlihat asing bagi mereka, dengan tingkahnya yang tidak bisa diam dan konsentrasinya yang mudah pudar, kita harus berusaha mengulangi sampai benar-benar anak itu tahu/memahami. T. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. Tidak ada

T. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar, salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya, karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu, lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. Benar, untuk itu sedikit demi sedikit kita harus menghilanginya/menggantinya karena reiforcer itu kan tidak harus berupa benda riil tetapi bisa berupa pujian, tepuk tangan dll. T. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka, yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. Tidak pasti, tergantung dari kondisi anak apakah anak itu mudah ditangani atau tidak.

T. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? J. Tidak ya, karena itu obat penenang (konsentrasi)

T. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif, karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? J. Sesuai dengan petunjuk dokter, mungkin orang tua diminta konsultasi dengan dokter.

T. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal, apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya?

343

J.

Ya, terutama kendalanya dalam berkomunikasi, tetapi itu tidak penting, bagi anak kecil asalkan bisa diajak bermain mereka akan enjoy aja. Dan kami disini sebagai terapis memberikan program sosialisasi dimulai dari ruang lingkup yang kecil.

T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. Tentu saja, hal itu sangat penting untuk mengetahui perkembangan si anak.

T. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. Pasti ada, salah satunya apabila anak itu sulit untuk berkonsentrasi. Perhatian anak dalam belajar kadang belum dapat bertahan untuk waktu yang lama dan masih berpindah pada obyek/kegiatan lain yang lebih menarik bagi anak. Hal inilah yang dapat mengakibatkan waktu pembelajaran terbuang dengan sia-sia, karena hanya cukup untuk menenangkan anak saja. Dan biasanya yang kami lakukan adalah: Waktu untuk belajar bagi anak ditingkatkan secara bertahap Kegiatan dibuat semenarik mungkin, dan bervariasi Istirahat sebentar kemudian dilanjutkan kembali, dimaksudkan untuk mengurangi kejenuhan pada anak. T. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif (Khusnul Ma’Ali) sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. Saya rasa bisa dibilang cukup berhasil. Terbukti dengan hiperaktifitasnya mulai berkurang, sudah bisa berkonsentrasi dan dapat diajak komunikasi. Dan dalam pelajaran tidak ada kendala, dia bisa mengikuti dengan baik, walaupun awalnya ia agak kesulitan membedakan bentuk lingkaran dan oval. T. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. Diharapkan apa yang dipelajari di tempat terapi diulang lagi dirumah.

Ibu Yuliana Wijayanti
T. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. Disini saya mengajar dua orang siswa dan semuanya hiperaktif, yaitu Anis dan Martika. Kalau Anis mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif sedangkan Martika mempunyai gangguan normal hiperaktif (hiperaktif ringan) dan kurang konsentrasi. T. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran?

T. Ya. Hanya saja kalau Anis. setelah anak diam beberapa lama baru kita mulai pembelajarannya.344 J. tentunya mainan edukatif T. apabila ada yang tidak dimengerti oleh anak kita gunakan gambar untuk membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. siswanya dalam berkonsentrasi. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. baru kita mulai kegiatan belajar mengajar dan tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri T. Sedangkan untuk Martika kita lebih mengkonsentrasikan anak itu pada tugas yang kita berikan. Ya. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? J. . Cara pembelajarannya dengan bertahap dimulai dari yang mudah/sederhana sampai ke yang rumit sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. dalam menyampaikan kita lebih mempertajam bahasa kita agar dia lebih memahami maksud dari ucapan/perintah kita. materi pembelajarannya. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? J. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? J. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. tapi keduanya mudah diatur koq. Hampir semua dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu. Ada. T. kebanyakan media itu adalah media visual gambar yang dibuat sendiri. T. karena memang anak itu seringkali mengabaikan tugas yang kita berikan dan tidak jarang dalam kita menyampaikan perintah harus diulang-ulang. Yang dilakukan adalah menyuruh anak untuk duduk dan memusatkan perhatian mereka dengan menatap mata anak dan memegang kedua tangannya. Yang pertama kita siapkan adalah media pembelajarannya dulu. Bicara dengan anak hiperaktif harus tegas dan jelas. T.

Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. Tidak hanya memperkenalkan pada suatu media tapi untuk mulai pembelajarannya saja itu sulit. Untuk membimbing anak dalam memahami sesuatu baik itu dalam memahami suatu benda atau ucapan. tetapi bisa diganti dengan pujian. T. T.345 T. justru cara yang paling mudah dalam menyampaikan materi pelajaran adalah menggunakan media visual (gambar) bahkan media ini sangat membantu kita dalam berkomunikasi pada anak. karena hadiah itu tidak hanya berupa benda. Tidak ada. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka . faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? J. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? Tidak. ciuman. Tidak. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. T. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. apakah anak itu mudah untuk diatasi ataukah sulit untuk diatasi/ditenangkan untuk konsentrasi. sehingga waktu dua jam itu hanya digunakan untuk menenangkan anak. Tergantung dari kondisi anak. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. justru obat tersebut sangat membantu mereka dalam berkonsentrasi T. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. T. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? Kita akan menghubungi dokter untuk diminta meningkatkan dosisnya. tepuk tangan. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. T. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. Kesulitannya yaitu pada awal-awalnya anak mulai ditangani.

Disini kami mencoba untuk mengajarkan sosialisasi pada anak dimulai dengan kelompok kecil anatara 2-3 orang disitu kita mengamati tingkah anak sambil mungkin diadakan suatu permainan. Alhamdulillah cukup berhasil. Dan untuk . banyak sekali masalah yang ditimbulkan si anak. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. kotak menjadi otak tetapi dia cukup pintar terbukti kalau nilai-nilainya itu baik. memberontak. Sedangkan apabila emosi anak dalam keadaan tidak stabil. tantrum dsb. sehingga orang tua dan kita sebagai terapis bisa mengetahui perkembangan si anak baik dirumah maupun ditempat terapi. Ya itu pasti orang tua harus aktif dalam membelajarkan anaknya dirumah. terutama dalam mengendalikan anak untuk belajar.346 bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? J. Ya. Terbukti kalau Anis sudah bisa bicara walaupun cedal dan dalam membaca hurufnya ada yang dihilangkan seperti biru menjadi bi u. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. mengamuk. tidak menyakiti diri. Maka cara mengatasinya: Berusaha mencari dan menemukan penyebabnya Berusaha menenangkan anak dengan cara tetap bersikap tenang Setelah kondisi emosinya mulai membaik. putih menjadi uti. terutama kendalanya dalam berkomunikasi dan dalam ia bersikap. destruktif. untuk itu lembar penilaian selalu dibawa pulang tujuannya agar orang tua mengulang apa yang diajarkan diterapi. kegiatan dapat dilanjutkan. Ada. berteriak. mungkin ia cenderung asik dengan dunianya sendiri/permainannya sendiri. tertawa tanpa sebab yang jelas. T. Tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri Menyiapkan kegiatan yang menarik dan positif Menciptakan situasi yang kondusif bagi anak. T. baik itu masalah perilaku maupun emosi anak yang tidak stabil Cara mengatasinya: Memberikan reinforcement. misalnya: menangis. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J.

V. sering. Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? J. Sejak usia mendekati 2 tahun T. lalu kami mencari petunjuk seorang dokter untuk dibawa kemana anak saya yang mengalami gangguan perkembangan ini. kontak matanya. Dari gerakan-gerakannya.5 tahun. khususnya hiperaktif/autisma. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). T. T. Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? J. perilakunya. T. T. Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? J. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak berkebutuhan khusus? J. ada 3 T. T. Pesan saya kepada orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya usahakan untuk membimbing anaknya di rumah dengan tegas dan disiplin. Kami waktu itu tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Wawancara Dengan Orang Tua Siswa Ibu Nur T. jam kurang tidur dan yang tambah yakin dari kami adalah dari diagnosa dokter. kalau nggak salah usia 4. Ya. Anak pertama T. Ya T. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. dia mengoceh sendiri T. Ya. Punya. Dari koran.347 Martika walaupun dia kurang konsentrasi dalam belajar dan penangkapannya itu kurang tetapi dengan ketelatenan dan pembelajaran yang berulang-ulang hasilnyapun cukup memuaskan. Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? J. Umur berapa anak anda diterapi disini? . Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? J. Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? J. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? J. oleh dokter kami dianjurkan untuk dibawa ke pusat terapi khusus untuk menangani anak bermasalah. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? J. tidak ada yang dia tirukan.

Ya. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? J. Ya kami memperhatikan sekali pola makanan yang dikonsumsi oleh anak kami. T. Apakah disamping anak anda diterapi disini. meja kursi . jika anak kami menangis minta dibelikan makanan kami selaku orang tua adalah memberi pengertian bahwa makanan itu tidak boleh agar cepat sembuh. Ada. karena ini berhubungan dengan perkembangan anak kami maka kami harus bekerja sama dengan terapis dan dokter. buktinya anak saya sekarang sudah sembuh dan baik. T. Ya. dan kami cara mengatasinya adalah kami tetap harus konsisten untuk mengajarinya pada jam yang sudah ditentukan. Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? . perkembangan bicaranya dia sudah bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dalam bentuk kalimat. Perubahannya memang sangat mencolok sekali. Yang kami lakukan kami membiasakan dulu dengan masakan-masakan/makanan-makanan yang kami buat sendiri. kami selalu konsultasi dan berobat ke dokter setiap 2 bulan sekali. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif . T. manja karena diajari oleh orang tuanya sendiri di rumah. Umur 4. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? J. alat/media pembelajaran dan mainan? J. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. T. T. lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? J.348 J. Ya saya selaku orang tua selalu meluangkan waktu untuk membimbing dan mengajari anak saya. Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? J. dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi? J. kami menyediakan fasilitas lengkap untuk anak kami yang mempunyai gangguan perkembangan autis dan hiperaktif ini. T. anak cenderung lebih tidak konsentrasi. Ya tentu. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? J. T. berinisiatif untuk mengungkapkan keinginannya/pendapatnya sendiri.5 tahun T.

Kurang lebih berumur 2 tahun. Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? J. VI. T. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? J. Anak no. Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? J. menjadi seorang anak yang anda inginkan dan anak itu inginkan. Ya. Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? J. Tidak. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? J. Karena anak itu banyak gerak dan sulit diatur. hak pendidikan yang sama dengan anak yang tidak mempunyai gangguan perkembanngan. jadi harus menghormatinya. ada 2 orang. T. sekeluarga alangkah baiknya memang mendukung dan keluarga kami juga mendukung. T. dia berbicara sejak dia mulai mengoceh tapi bicaranya itu tidak jelas sampai akhirnya saya bawa ke tempat terapi ini. T. T. jadi kalau ingin makan makanan yang dibeli di luar makanannya harus ngumpet. Ya. Sebelumnya saya bawa kedokter kemudian oleh dokter disuruh dibawa ke tempat terapi. Pesan saya pada orang tua yang mempunyai anak hiperaktif tolong bahwa tiap anak mempunyai hak yang sama.2 T. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? J. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). karena memang ada satu anak yang bermasalah dari keluarga kami sehingga keluarga yang lainpun harus tahu bahwa ada saudaranya yang tidak boleh makan makanan itu. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? J. Hambatan-hambatan itu ada pada awal sebelum penanganan tetapi setelah terjadi penanganan anak kami sudah mulai berinteraksi. Ya.349 J. tolong masukkanlah ke tempat-tempat terapi karena disitulah tempatnya dan penanganan yang tepat agar anak anda menjadi manusia yang berguna. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? J. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? J. . Ibu Utami T. sudah sembuh. T. T. tapi mungkin anak saya yang hiperaktif ini lebih diperhatikan lagi. sudah pulih dan bergaul dengan siapa saja.

Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? J. mulai dari dia sudah bisa diajak berkomunikasi. karena sebelum dibawa ke tempat terapi saya merujuk ke dokter. Umur 5 tahun T. alat/media pembelajaran dan mainan? J. meja kursi . T. Ya T. T. Dulu sih tidak pernah. Banyak sekali dan hasilnya cukup memuaskan walaupun itu memerlukan waktu yang cukup lama. Ya. demi perkembangan dan kesembuhan anak saya setiap ada seminar/pelatihan tentang anak bermasalah saya berusaha untuk mengikutinya. tetapi setelah anak saya mulai diterapi. T. dan dari tempat terapi sendiri juga menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Ya saya berusaha untuk meluangkan waktu untuk membelajarkannya dirumah. Ya. T. Apakah disamping anak anda diterapi disini. Dari teman saya yang juga mempunyai anak seperti saya. T. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak berkebutuhan khusus? J. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif .350 T. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? J. lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? . Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? J. T. perilakunya sudah mulai bisa dikendalikan. mungkin karena diajarkan sendiri oleh orang tuanya jadi anak itu menjadi manja dan sulit konsentrasi akibatnya saya selalu memberikan obat penenang sebelum mengajarkan anak saya di rumah. Ya. dan tidak seaktif dulu. T. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? J. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? J. dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi? J. Umur berapa anak anda diterapi disini? J.

T. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. Kalau dengan teman sebaya sih enggak. tidak di depan anak saya yang hiperaktif. mungkin dari situ akan merujuk ke tempat terapi. T. saya mencoba untuk membuat makanan sendiri sesuai dengan anjuran dokter. Saya sarankan kepada orang tua yang mempunyai anak bermasalah seperti saya ini untuk dibawa ke dokter anak atau ke psikiater anak. apalagi setelah mengetahui anak saya ada yang bermasalah. Setelah dipikir-pikir itu baik juga untuk semuanya.351 J. T. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? J. Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? J. Jadi tidak anak saya yang bermasalah saja yang diet tetapi semua anggota keluarga ikut diet. untuk itu peran anggota keluarga juga sangat penting dalam mengajarkan dia berkomunikasi. apabila disitu ada yang ingin makan saya suruh menghindar. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? J. Selama ini saya mengajarkan pada anak-anak saya untuk tidak membiasakan jajan diluar rumah. HASIL DOKUMENTASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF . tetapi kalau dengan orang dewasa kendalanya dalam berkomunikasi. Dan dalam proses terapi jangan lupa anak juga diterapi dirumah untuk itu sebagai orang tua kita harus sabar dalam menghadapi anak. karena anak kecil itu kan nggak tahu apa-apa asal bisa diajak bermain mereka senang saja. Ya.

352 Wawancara dengan Kepala Terapi Pemusatan perhatian pada anak Melabel nama buah Menulis huruf Menulis angka Menunjuk angka .

353 Belajar Menabung Melabel Angka Melabel warna Menyebutkan nama binatang Mencocokkan benda Pemberian reinforcer (hadiah) berupa krupuk .

354 Melabel nama binatang Pemberian reinforcer (pujian) Membaca suku kata Menyelesaikan mainan puzzle Belajar membaca MACAM-MACAM MEDIA VISUAL (GAMBAR) .

355 Gambar alat transportasi Gambar benda dengan jumlah yang lebih banyak Gambar warna Gambar angka Gambar buah-buahan Gambar huruf .

356 Gambar aktivitas orang (kata kerja) Gambar suku kata Gambar arah jarum jam Gambar nama benda Gambar aktivitas orang secara bertahap Gambar aktivitas orang secara bertahap .

Mengikuti perintah sederhana (satutahap) . Kemampuan Imitasi (Meniru) Imitasi gerakan motorik kasar Imitasi tindakan (aksi) terhadap benda Imitasi gerakan motorik halus Imitasi gerakan motorik mulut 1. Kemampuan Bahasa Reseptif 1. 4. 2.357 Macam-macam mainan edukatif “Been Back” Alat untuk mengurangi hiperaktifitas pada anak PEDOMAN KURIKULUM Kemampuan Mengikuti Tugas/Pelajaran Duduk mandiri di kursi Kontak mata saat dipanggil “Galih” Kontak mata ketika diberi perintah “Lihat [(ke) sini]” Berespons terhadap arahan “Tangan ke bawah” 1. 4. 3. 3. 2.

Gambar-gambar yang identik . 6. 7.358 2. 14. 11. 5. 7. Minum dari gelas 2. Toilet-training untuk buang air kecil 8. 11. 10. orang lain. 4. 12. 13. orang lain dan diri sendiri Menyebutkan (melabel) benda sesuai fungsinya Menyebutkan (melabel) kepemilikan 4. angka Benda-benda yang non-identik Asosiasi (hubungan) antara berbagai benda Menyelesaikan aktivitas sederhana secara mandiri Identifikasi warna-warna Identifikasi berbagai bentuk Identifikasi huruf-huruf Identifikasi angka-angka Menyebut (menghafal) angka 1 sampai 10 Menghitung benda-benda 1. Benda-benda yang identik 3. Kemampuan Pre-Akademik 1. huruf. 6. 13. Kemampuan Bantu-diri 1. Melepas celana 6. 12. dan diri sendiri Menyebutkan (melabel) kata kerja di gambar. Identifikasi bagian-bagian tubuh Identifikasi benda-benda Identifikasi gambar-gambar Identifikasi orang-orang dekat (familier)/anggota keluarga Mengikuti perintah kata kerja Identifikasi kata-kata kerja pada gambar Identifikasi benda-benda di lingkungan Menunjuk gambar-gambar dalam buku Identifikasi benda-benda menurut fungsinya Identifikasi kepemilikan Identifikasi suara-suara di lingkungan Kemampuan Bahasa Ekspresif Menunjuk sesuatu yang diingini sebagai respons dari “Mau apa?” Menunjuk secara spontan benda-benda yang diingini Imitasi suara dan kata Menyebutkan (melabel) benda-benda Menyebutkan (melabel) gambargambar Mengatakan (secara verbal) bendabenda yang diinginkan Menyatakan atau dengan isyarat “ya” dan “tidak” untuk sesuatu yang disukai (diingini) dan yang tidak disukai (tidak diingini) Menyebutkan (melabel) orang-orang dekat (familier)/anggota keluarga Membuat pilihan Saling menyapa Menjawab pertanyaan-pertanyaan sosial Menyebutkan (melabel) kata kerja di gambar. 7. 9. 15. 2. Menggunakan serbet/tissue 8. 11. 10. 3. 5. 5. Melepas kaos kaki 5. 14. 9. 4. Mencocokkan 2. Benda dengan gambar Warna. Makan dengan menggunakan sendok dan garpu 3. 12. Melepas baju 7. 8. 10. 3. 9. 8. bentuk. Melepas sepatu 4. 6.

P++. AAP (bila AAA cukup ditulis dengan A saja). atau P+. 4. .. 3. Suatu aktivitas dinyatakan telah dikuasai anak bila memenuhi kriteria 3 x 3 A. Bila dalam 3 instruksi pertama berturut-turut. 1/lebih respons salah. Catatan : 1. Bila dalam 1 session seorang terapis melakukan suatu aktivitas lebih dari satu siklus.-.. : ……………………………………………………………………. Juga mudah dievaluasi terapis (atau waktu-waktu tertentu) yang mana yang selalu mendapat P atau A. Hal ini dapat dikerjakan dengan tujuan untuk membedakan apakah anak memang benar-benar belum bisa atau sudah mulai /sesekali bisa atau bisa dengan prompt setengah/sebagian/ringan. Bila suatu aktivitas telah mendapatkan 3 x 3 A. Yaitu 3 terapis pada 3 session (kesempatan/waktu belajar) yang berbeda-beda secara berurutan memperoleh nilai A (yaitu berturut-turut 3 instruksi pertama mendapat 3 respons yang benar semua). A. aktivitas tersebut dimasukkan ke dalam program dan lembar penilaian. : ……………………………………………………………………. Dapat juga digunakan kode misalnya APP. untuk pencatatannya tanggal ditulis hanya sekali dan bagian tanggal berikutnya dicoret supaya mudah terlihat dan mudah dievaluasi.. dinilai P. dan mudah dievaluasi sudah berapa kali seorang (dan keseluruhan) terapis telah mendapatkan nilai A (achieved). Sehingga mudah terlihat berapa kali seorang terapi telah melakukan suatu aktivitas. tetapi harus konsisten). Masing-masing terapis menggunakan ball point dengan warna tinta yang berbeda. atau A-.359 LEMBAR PENILAIAN Kategori Instruksi Respon Benar : ……………………………………………………………………. dan lain-lain (sesuai kesepakatan seluruh terapis dan orang tua. 2.

kemudian imbalan.360 Yang dimaksud satu siklus yaitu pada instruksi #1 dan #2 anak tidak berespons atau berespons salah. kemudian dengan instruksi #3 + prompot. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful