1

PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI LEMBAGA TERAPI ANAK ALTISMA KUDUS

SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata 1 untuk meraih gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Nama Mahasiswa NIM Program Studi

: Erianawati : 1124000048 : S1 Kurikulum Teknologi Pendidikan

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

2

PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada : Hari Tanggal : :

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Hardjono NIP. 130781006

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

Mengetahui : Ketua Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan

Drs. Haryanto NIP. 131404301

3

PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : Rabu : 29 Juni 2005

Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. Siswanto, MM NIP. 130515769 Pembimbing I

Dra. Nurussaadah, Msi NIP. 131469642 Anggota Penguji Penguji I

Drs. Hardjono NIP.130781006 Pembimbing II

Drs. Kustiono, M.Pd NIP. 131998682 Penguji II

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

Drs. Hardjono NIP.130781006 Penguji III

Drs. Suripto, M.si NIP. 131413233

4

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi atau tugas akhir ini benarbenar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang,

Erianawati NIM. 1124000048

S. Baihaqi) “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila mengerjakan suatu pekerjaan dilakukan secara itqon (professional)” (HR. Alam Nasyrah : 6) “Carilah ilmu walaupun (keberadaan ilmu) di negeri Cina.” (Q.” (HR.5 MOTTO DAN PERSEMBAHAN “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan. Baihaqi) PERSEMBAHAN Ayahanda dan Ibunda kami tercinta Kakanda dan Adinda kami tercinta Teman-teman kami TP Angkatan 2000 dan Almamater . sesungguhnya mencari ilmu itu wajib bagi orang-orang Islam.

Kata Kunci: Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) berbunyi: “Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapat pengajaran. dan disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). Untuk itu peran pendidik (orang tua. 1987). Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menggambarkan anakanak yang menderita ketidakmampuan untuk ‘stop. karena media visual (gambar) merupakan alat bantu komunikasi yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak.6 ABSTRAK Erianawati. look.. 2005. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. Pembimbing I Drs. salah satunya adalah dengan terapi. pengasuhan dan penanganan secara khusus sejak dini. M. memakan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. listen and think’ (Abikoff. Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. terutama media visual. Agar perkembangan anak hiperaktif bisa kembali seperti anak normal atau setidaknya bisa berkurang hiperaktifitasnya dan dapat berkomunikasi/menjalin hubungan baik dengan orang-orang disekitarnya maka anak hiperaktif perlu mendapatkan pendidikan.” Kata tiap-tiap menunjukkan bahwa semua warga negara Indonesia termasuk anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus berhak untuk memperoleh pendidikan. Si. Di dalam pembelajaran anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus tidak lepas dari penggunaan media. guru. Walaupun dibutuhkan kesabaran. Kelemahan tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menggunakan strategi kognitif yang terorganisir sehingga sulit memusatkan dan mempertahankan perhatian. salah satunya adalah anak hiperaktif. . Hardjono. Perilaku mereka tidak diatur melalui aturan yang jelas. energi. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Terkait dengan pembelajaran anak hiperaktif penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perencanaan. Suripto. Pembimbing II Drs. namun dengan dilakukannya terapi secara intensif akan membantu penyembuhannya dan secara bertahap hiperaktifitasnya akan berkurang. dan orang dewasa lain) sangat diperlukan dalam upaya penyembuhan anak hiperaktif.

Pembelajaran ini bertujuan untuk membantu anak dalam generalisasi dan supaya anak menguasai berbagai konsep seperti warna. Guru Pembimbing/Terapis dan Orang Tua Siswa. jelas dan konsisten dan dengan suara netral . terutama media visual (gambar). Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup Identifikasi benda. besaran dan lain-lain. Sedangkan dalam membelajarkan anak hiperaktif digunakan sistem pembelajaran lovaas one on one (pembelajaran satu guru satu murid). Cara membelajarkannya dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu untuk memenuhi kebutuhan informasi sesuai dengan permasalahan penelitian. Penelitian ini dilakukan di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus dengan sasaran penelitian anak hiperaktif. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi. wawancara dan dokumentasi. 2) mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). kognitif. Autis dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi. identifikasi bentuk. interaksi sosial dan aktivitas imajinasi (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan kelainan perilaku. yang termasuk kategori hiperaktif disini adalah Speech Delayed dan Hiperaktif (SD & H). identifikasi huruf. Untuk itulah dalam membelajarkan anak hiperaktif tidak lepas dari penggunaan media. bentuk. ukuran.7 Adapun tujuan penelitian ini untuk: 1) mengetahui bagaimana merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). identifikasi angka dan identifikasi kata kerja. afektif dan psikomotorik pada anak. arah. 3) mengetahui bagaimana evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). sedangkan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi yaitu anak yang mengalami gangguan perilaku tetapi ringan (hiperaktif ringan) dan kurang kokonsentrasi. dan beri perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan. sehingga anak dapat menangkap pesan. Dalam memberikan perintah/instruksi ini harus disampaikan dengan singkat. Autis dan Hiperaktif (A & H) dan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi (NH & KK). yaitu cara pengambilan informan penelitian yang bukan didasarkan atas strata. identifikasi warna. Disamping itu untuk meningkatkan kemampuan bahasa. mencocokkan (matching). Dan metode yang digunakan dalam pengajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. Metode pengumpulan data adalah metode observasi. Dan dengan informan peneliti 6 (enam) orang yang terdiri dari Kepala Terapi. peneliti memperoleh gambaran bahwa perencanaan pembelajaran (kurikulum) anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah menggunakan kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. Speech Delayed dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan terlambat bicara dan kelainan perilaku. Pemilihan informan penelitian dilakukan dengan cara sampel bertujuan (purposive sample).

Disamping itu dapat meningkatkan kemampuan bahasa. identifikasi bentuk dan identifikasi kata kerja dimana kasusnya sama yaitu kurangnya ketelitian anak dalam membaca gambar dan gangguan dalam pemahaman bahasa. dokter anak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media visual (gambar) memudahkan anak dalam memahami konsep dan membantu dalam generalisasi. Apabila dalam pembelajaran. tetapi dengan adanya media visual (gambar) dan prompt (bantuan/arahan) dari terapis dapat membantu mengurangi/menghilangkan gangguan pemahaman bahasa pada anak. . guru pembimbing/terapis. Apabila anak sulit untuk diajarkan maka cukup diberi iming-iming. maka berikan prompt (bantuan/arahan) pada anak dan setiap kali anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar maka berikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan). seperti hadiah untuk menarik minat mereka belajar. orang tua siswa. Berdasarkan evaluasi proses dari hasil pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada 6 anak hiperaktif dapat disimpulkan bahwa pelajaran yang masih sering mengalami kendala/hambatan adalah identifikasi benda.8 (cukup keras. Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah evaluasi proses yaitu evaluasi yang dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. psikolog anak. Hal ini terbukti dengan 75 % anak hiperaktif berhasil menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru pembimbing/terapis melalui media visual (gambar) ini. Saran dari penulis kepada pihak-pihak yang terkait diantaranya yaitu kepala terapi. maka mengajar tanpa prompt dan memberikan reinforce respons yang benar saja. tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami. dan Departemen Pendidikan Nasional hendaknya aktif dalam meningkatkan kinerjanya serta mendukung program terapi ini sehingga dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. afektif dan psikomotorik pada anak.. psikiater anak. Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespon dengan benar. anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan. kognitif.

Drs. Rektor Universitas Negeri Semarang. Siswanto. 5. Drs. baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan. Ketua Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan. Msi. segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga skripsi yang berjudul “Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus” telah terselesaikan. tidak lepas dari peranan berbagai pihak. Hardjono. pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini. . Haryanto. Soegito. Menyadari keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian. maka dalam penyusunan skripsi ini. MM. MM. SH. A T. oleh karenanya pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada : 1. 4. Suripto. Skripsi ini disusun dalam rangka menyelesaikan studi strata satu untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Semarang.9 KATA PENGANTAR Dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan rasa syukur Alhamdulillah. Drs. 3. 2. Drs. pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini. Drs.

Para Guru Pembimbing Terapi Anak Bermasalah Al Tisma Kudus yang telah meluangkan waktu guna memberi arahan dalam wawancara yang diperlukan dalam penelitian ini. Kepala Terapi Anak Bermasalah Al Tisma Kudus yang telah memberikan ijin penelitian dan informasi yang berguna bagi penulis. Penulis . Bapak dan Ibu-ku. 8. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan yang telah memberikan pengalaman. Amin Akhirnya peneliti mengharapkan semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembacanya. terima kasih ku ucapkan atas do’a dan kasih sayang serta pengertian dan perhatiannya selama ini. Semoga semua bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.10 6. ilmunya kepada penulis. 10. 7. 9. yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Ibu Nur Halimah. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai. Semarang.

.......................................1 Permasalahan ........................................ E.......................................... XVIII BAB I PENDAHULUAN A................ D..........7 Pembatasan Permasalahan ....... iii HALAMAN PERNYATAN ...........................................................9 Tujuan Penelitian ........................................9 .............................................................................................................. F............................................. xvi DAFTAR GAMBAR ......................................v ABSTRAK ...........9 Rumusan Permasalahan ......................................................................................................6 Penegasan Istilah ................................................................................................................... B.......................................xi DAFTAR TABEL ................................................6 Identifikasi Permasalahan .................................................................................................. G.......... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................... C.............. xvii DAFTAR LAMPIRAN ..11 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ... Latar Belakang Permasalahan........................... iv HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................... ix DAFTAR ISI ..................................................................................................... vi KATA PENGANTAR ...........

....16 6....... Manfaat Penelitian ... Media Pembelajaran ..................12 1................... Pengertian Media Pembelajaran ...............................18 1...... Tujuan Pembelajaran ...........25 5........................................................... Masalah Anak Hiperaktif dan Penyelesaiannya ........................................................ Anak Hiperaktif ...10 Sistematika Skripsi .... Asumsi Proses Pembelajaran ......................... Pengertian Hiperaktif ...........................16 5....................24 4.................................................... Cara Menangani Anak Hiperaktif ......... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ....... Pengertian Belajar dan Pembelajaran ............................... Hakekat Pembelajaran ..10 BAB II KAJIAN PUSTAKA A...........................26 C.........................17 B........... Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran ..... Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran . Ciri-ciri Hiperaktif ..................... Unsur-unsur Dinamis dalam Pembelajaran ....................18 2......... Ciri-ciri Pembelajaran .............................................12 2................................ Peranan Media Pembelajaran ..........39 .....15 4.....................................................27 2.........................................................19 3..........12 H.... Manfaat Media Pembelajaran .......27 1......................15 3.................... I.............................31 4.....29 3............

.. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data.. Media Visual .....................................80 2............91 C........................................45 3................................................................................................................ Pengertian Media Visual ....99 ....... Fungsi Media Visual ..................... Evaluasi .. Pengembangan Media Visual ............................................50 Penggunaan Media Visual dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif 80 E............................... Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif ........................ Bentuk Media Visual (Gambar) ... Pengembangan Kurikulum ........................................... Penggunaan Media Visual ..........................................44 1.......................................... Teknik Pengumpulan Data .........................81 3.............89 B.......................44 2.............................96 E..................48 5... Pendekatan dan Prosedur Penelitian .......... Pelaksanaan Pembelajaran ...............................87 BAB III METODE PENELITIAN A..........80 1.................13 D................ Teknik Analisis Data ............................................................ Latar dan Sasaran Penelitian ......92 D............45 4............

..............................101 2......................... 147 1...................................... PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR ........... 125 3...... DESKRIPSI INFORMASI PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN DI MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ........................... DESKRIPSI SETTING PENELITIAN ........ 134 C............ EVALUASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS . 147 DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ......... PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR ....... 124 DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS 2.. ANALISIS DATA .......................... 107 B.......... DESKRIPSI HASIL PENELITIAN ....................................... PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ..... PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ........................14 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A...... 123 1........................101 1.....................................................................

....................... Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus ...........101 3..... 164 LAMPIRAN-LAMPIRAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN D......... 163 DAFTAR PUSTAKA .................................... DESKRIPSI HASIL PENELITIAN ............................. Saran ...101 ..................................................................... 148 3........... DESKRIPSI SETTING PENELITIAN ....... 158 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A............................. 162 B....................................15 2.............. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DI MEDIA VISUAL (GAMBAR) TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ........................................................... SIMPULAN .............................................................................

............ 107 E........................ PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ...... 123 4............ PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ...................................... 125 6....................................... EVALUASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ......................................................................................... 134 F.................................................................. DESKRIPSI INFORMASI PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .... PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL GAMBAR DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ................. 147 .......................... 147 4.. ANALISIS DATA ....................... PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS ..................................16 4................ 124 5.........

................. 158 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A...........................................................................................................................17 5.. Saran ............................................................. 163 DAFTAR PUSTAKA ..................................... 148 6... SIMPULAN ............... Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus . 164 LAMPIRAN-LAMPIRAN ........................ 162 B........................... PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS .............................

.105 ..... Data Siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus Tahun 2001-2004 ...1.............104 4..........................2.103 4.....................................18 DAFTAR TABEL Tabel Hal 4... Data Terapis Tahun 2004/2005 ....... Data Siswa Hiperaktif ............3.........................

... Grafik perbandingan jumlah aktivitas “tak terarah” Hal anak hiperaktif dan anak normal .........1......19 DAFTAR GAMBAR Gambar 2......... 29 ...........................

.............. Bagan analisis data kualitatif ......1.20 DAFTAR BAGAN Bagan Hal 3.................................... 98 ....

........... Hasil Wawancara ....................................................................................................................... Lembar Penilaian ....... Denah Tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus ................................207 6...167 2............... Pedoman Kurikulum ...175 5.............................. Surat Keterangan Penelitian ...... Pedoman Wawancara ............................................168 3........21 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Hal 1....................................... Permohonan Ijin Penelitian .213 7...................................................169 4.................................................................................. Hasil Dokumentasi ..214 8..................215 ..................................................................

tentang Pendidikan Luar Biasa pasal 3 ayat (1) “Jenis kelainan peserta didik terdiri atas kelainan fisik dan/atau mental. Salah satu upaya Pemerintah dalam memantapkan pembangunan di bidang pendidikan adalah disahkannya Undang-Undang No. tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 8 ayat (1) berbunyi: “Warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa.” Selanjutnya ayat (2) berbunyi: “Ciri khas satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat tetap diindahkan.” Sebagai tindak lanjut dari Undang-undang tersebut sudah diterbitkan pula Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2003.” . 72 Tahun 1991. dan/atau kelainan perilaku. Latar Belakang Permasalahan Pendidikan adalah usaha sadar untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak didik yang terarah menuju tercapainya pendidikan nasional. Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) berbunyi: “Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapat pengajaran.” Kata tiap-tiap menunjukkan bahwa semua warga negara Indonesia termasuk anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus/berkelainan berhak untuk memperoleh pendidikan. selanjutnya pasal 47 ayat (1) berbunyi: “Masyarakat sebagai mitra pemerintah berkesempatan seluas-luasnya dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.22 BAB I PENDAHULUAN A.

look. Pada tahun 1996 NIMH menyebutkan beberapa gejala utama hiperaktifitas: Perasaan gelisah. .23 Peraturan Pemerintah tahun 2002 tentang Pendidikan Luar Biasa yang merupakan penyempurnaan terhadap PP PLB. listen and think’ (Abikoff. sosial dan pola pengasuhan anak oleh orang tua. terjadinya disfungsi metabolisme. pada salah satu pasalnya berbunyi bahwa anak yang memerlukan perhatian khusus. dikatakan pada beberapa referensi bahwa penyebab terjadinya hiperaktifitas bersifat multi faktorial dimulai dari faktor genetik. Perilaku mereka tidak diatur melalui aturan yang jelas. Penyebab pasti hiperaktifitas pada anak tidak dapat disebutkan dengan jelas. tidak bisa duduk dengan tenang. perkembangan otak saat perinatal. menjawab pertanyaan yang belum selesai ditanyakan dan tidak sabaran menunggu giliran. lingkungan fisik. guru dan orang-orang yang berpengaruh di sekitarnya. selalu menggerakkan tangan dan kaki tanpa maksud tertentu. Kelemahan tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menggunakan strategi kognitif yang terorganisir sehingga sulit memusatkan dan mempertahankan perhatian. terburu-buru. antara lain adalah hiperaktif. Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menggambarkan anakanak yang menderita ketidakmampuan untuk ‘stop. ketidak teraturan hormonal. tingkat kecerdasan (IQ). perkembangan otak saat kehamilan. sehingga perlu pelayanan pendidikan khusus. 1987).

National Institute of Mental Health (2003). Perrin dkk. hal ini dapat berlanjut hingga masa remaja bahkan saat dewasa. bergerak tanpa arah dan tujuan. Dalam perkembangannya seorang anak dengan kelainan ini akan terjadi depresi. Jika tidak tertangani dengan segera akan berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan dalam bersosialisasi serta kemampuan menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. dan tidak pernah menyelesaikan suatu pekerjaan dengan tuntas. Pengelompokan ADHD merujuk gejala yang paling menonjol yang terjadi meliputi kurang perhatian. seperti rendahnya kemampuan akademis di sekolah. menyatakan bahwa hiperaktifitas (sebagai bagian dari ADHD) adalah kelainan perilaku yang bersifat neurologis tersering yang terjadi pada masa kanak-kanak.24 James M. yang ditandai dengan: kurangnya perhatian pada satu bentuk kegiatan tertentu. Anak-anak dengan ADHD biasanya juga disertai dengan berbagai kendala fungsional lainnya. dan merupakan suatu bentuk kelainan perilaku dengan jumlah kejadian gangguan afektif yang bersifat kronis terbanyak pada anak-anak usia sekolah. Data dari NIMH (2001). menyebutkan beberapa hal yang berhubungan dengan ADHD: . problem hubungan interpersonal baik dengan keluarga atau dengan lingkungan di sekitarnya (teman sepermainan) dan cenderung kurang percaya diri (minder). Gangguan hiperaktif merupakan salah satu kelainan yang sering dijumpai pada kasus-kasus psikiatri anak. hiperaktifitas (bagian terbesar) dan impulsifitas. rendah diri dan beberapa masalah emosi yang tidak terkendali. tidak dapat duduk dengan tenang.

Akibatnya anak hiperaktif yang IQ nya normal atau di atas normalpun tidak mendapat pendidikan yang maksimal atau sesuai dengan kebutuhan. demikian juga dengan kebutuhan guru-gurunya. Gejala-gejala ADHD biasanya ditemukan pada usia prasekolah atau sekolah dasar dan menetap hingga remaja bahkan terkadang berlanjut hingga dewasa. Diperkirakan diderita 4. pengasuhan dan penanganan secara khusus sejak dini. 5. gangguan hubungan personal. ADHD sering disertai dengan terjadinya gangguan depresi. salah satunya adalah dengan terapi. Laki-laki lebih sering 2 sampai 3 kali dari pada perempuan. 4. ketergantungan obat dan perilaku anti sosial. lebih-lebih terhadap anak hiperaktif yang disertai IQ di bawah rata-rata. gangguan kecemasan.1 persen anak usia 9 hingga 17 tahun selama periode 6 bulan. 3. Selama ini pelayanan pendidikan untuk anak hiperaktif atau anak yang ber kebutuhan khusus lainnya di Indonesia lebih cenderung dimasukkan kependidikan anak terbelakang mental/tunagrahita. padahal anak hiperaktif memerlukan pendidikan spesifik. Agar perkembangan anak hiperaktif bisa kembali seperti anak normal atau setidaknya bisa berkurang hiperaktifitasnya dan dapat berkomunikasi/menjalin hubungan baik dengan orang-orang disekitarnya maka anak hiperaktif perlu mendapatkan pendidikan. 2. Anak dengan ADHD lebih sering mengalami trauma dibandingkan dengan anak normal. .25 1.

namun dengan dilakukannya terapi secara intensif akan membantu penyembuhannya dan secara bertahap hiperaktifitasnya akan berkurang. . kemampuan menerima pengetahuan (Cognitive Ability) anak hiperaktif 20% masih menunjukkan kemampuan berpikir yang normal atau di atas normal. Berdasarkan uraian di atas. terutama dalam pembelajaran anak hiperaktif. dan orang dewasa lain) sangat diperlukan dalam upaya penyembuhan anak hiperaktif. sedangkan 80% menunjukkan IQ di bawah rata-rata (ringan. Dengan menggunakan media visual dapat meningkatkan efektifitas dan efesiensi proses pembelajaran. maka penulis tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul: “Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus”. tidak lepas dari penggunaan media. Amerika Serikat. Dalam pembelajaran anak hiperaktif di tempat-tempat terapi di Jawa Tengah termasuk di Kudus. energi. dan berat). karena media visual (gambar) merupakan alat bantu komunikasi yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak. terutama media visual. sedang. dan disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners). guru. memakan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. Untuk itu peran pendidik (orang tua. Walaupun dibutuhkan kesabaran.26 Menurut penelitian di Virginia University.. Pendidikan melalui media visual adalah metode/cara untuk memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dapat dilihat daripada sesuatu yang didengar atau dibacanya.

Permasalahan Dari uraian diatas. timbul permasalahan “Bagaimana cara menggunakan media visual (gambar) dalam pembelajaran anak hiperaktif ?” mengingat betapa pentingnya media tersebut demi perkembangan mereka. memanfaatan sesuatu untuk tujuan tertentu.27 B. media gambar dan media proyeksi (Daryanto. (KBBI. 1989:569). Media ini dapat berupa: media bentuk papan. yaitu sebagai berikut: 1. cara. Penggunaan Secara harfiah. Media Visual Media adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai dengan lebih baik. 1999:569) 2. . Penegasan Istilah Berkaitan dengan judul di atas ditegaskan pengertian masing-masing istilah. penggunaan dapat diartikan proses. Tapi dalam hal ini hanya dikhususkan pada media gambar. Melalui media visual. 1993:27). diharapkan proses pembelajaran akan mendorong tumbuhnya perhatian dan pencapaian hasil belajar yang lebih baik bagi siswa. lebih sempurna (Depdikbud. C. Media visual adalah semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar mengajar yang bisa dinikmati lewat panca-indera mata.

Pembelajaran Pembelajaran merupakan interaksi antara guru dengan siswa untuk mencapai suatu tujuan. 1996:10). Identifikasi Permasalahan Untuk mengajarkan anak hiperaktif dalam rangka mencapai tujuan instruksional diperlukan sistem lingkungan belajar.28 3. (b) bahan pengajaran. 1999:8). Dalam pembelajaran ada pengakuan terhadap kemampuan siswa untuk belajar dan kemampuan ini akan terwujud apabila dibantu dan dibimbing oleh guru (Tim MKDK. Org. . Kids Health. 4. Komponen lingkungan belajar menurut Sudjana (1997:1) mencakup (a) tujuan pengajaran. Terapi Anak Al Tisma Kudus Adalah salah satu bentuk pelayanan pendidikan nonformal dalam rangka penyembuhan gangguan perilaku dan pemusatan perhatian yang khusus menangani anak berkebutuhan khusus di Kudus. Mengacu pada pengertian istilah di atas maka pengertian judul di atas adalah pemanfaatan media visual (gambar) untuk pembelajaran anak hiperaktif. Hiperaktif Hiperaktif merupakan gangguan pemusatan perhatian yang disertai gejala hiperaktivitas motorik. salah satunya adalah anak hiperaktif. D. 5. atau yang dikenal sebagai ADD (Attention Deficit Disorder) atau ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder) (Keluarga.

Berdasarkan uraian di atas. sehingga dapat memotivasi anak untuk belajar. Komponen-komponen ini saling berinteraksi secara bervariasi dalam proses belajar. Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yakni metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar. Pentingnya peran pendidik (orang tua. Pentingnya penggunaan media visual dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran anak hiperaktif mengingat betapa bandelnya dan sulitnya anak hiperaktif untuk diatur sehingga diharapkan dengan penggunaan media visual ini dapat menarik minat mereka untuk belajar. 2. Untuk dapat mencapai tujuan instruksional peranan guru dalam menggunakan metode serta media jelas akan menolong siswa dalam belajar memahami suatu materi pelajaran tersebut. . Di dalam pembelajaran. (d) penilaian pengajaran. 3. berbagai permasalahan yang memperkuat alasan penelitian dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1.29 (c) metodologi pengajaran. guru. Masih banyaknya bentuk media visual yang digunakan dalam pembelajaran yang harus diketahui oleh seorang guru terutama dalam membimbing anak hiperaktif. khususnya anak hiperaktif masih dalam tahap konkret-operasional yaitu pola berpikir anak masih terbatas pada benda-benda konkret yang dapat dilihat dan diraba. dan orang dewasa) dalam upaya pengembangan potensi anak terutama anak hiperaktif demi masa depan mereka nantinya.

maka peneliti memberi batasan masalah antara lain: 1. sebagai populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua siswa hiperaktif yang berjumlah ± 6 orang siswa. Pembatasan Permasalahan Dalam penelitian ini untuk menghindari terjadinya pembiasan.30 E. Merancang materi pembelajaran. pelaksanakan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran yang hanya dibatasi dengan menggunakan media visual (gambar) saja. F. 2. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Penelitian dilakukan pada anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. Bagaimanakah evaluasi pembelajaran anak hiperaktif media visual (gambar). dengan menggunakan G. Tujuan Penelitian Berdasarkan atas permasalahan yang diajukan. maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: . Rumusan Permasalahan Dalam penelitian ini yang menjadi rumusan masalah adalah: Bagaimanakah merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar).

Manfaat Praktis: diharapkan para Pendidik/Guru (terutama pembimbing anak hiperaktif) dapat mengembangkan media pembelajaran melalui media visual: merancang media. 2. 4. I. Manfaat Penelitian Ada beberapa manfaat dalam penelitian ini.31 1. Manfaat bagi orang tua: memberikan wawasan yang lebih luas tentang anak hiperaktif dan cara mengatasinya. 3. memilih model penggunaan media visual yang cocok bagi kebutuhan siswa. H. yaitu: 1. 2. Manfaat bagi Peneliti: menambah pengetahuan tentang pembelajaran khususnya dalam penggunaan media visual bagi anak hiperaktif. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Untuk mengetahui bagaimana mengevaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Untuk mengetahui bagaimana merancang pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Sistematika Skripsi Skripsi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bagian Awal Skripsi. Manfaat Teoritis: menambah wawasan tentang kependidikan dalam penggunaan media visual (gambar) sebagai media pembelajaran. berisi: . 3.

BAB III. Abstrak. Bagian Isi Skripsi. Simpulan dan Saran Bagian Akhir Sripsi.32 Halaman Judul. Permasalahan. Halaman Pernyataan. Metode Penelitian Dalam bab ini diuraikan tentang Pendekatan dan Prosedur Penelitian. Latar dan Sasaran Penelitian. BAB IV. Manfaat Penelitian dan Sistematika Skripsi. Daftar Isi. dan Teknik Analisis Data. Anak Hiperaktif. berisi: BAB I. Media Pembelajaran. Kata Pengantar. Pembatasan Penegasan Permasalahan. Tujuan Rumusan Permasalahan. Kajian Pustaka Pokok-pokok yang tercakup dalam kajian pustaka ini adalah uraian tentang Hakekat Pembelajaran. berisi: Daftar Pustaka dan Lampiran-lampiran. BAB II. Halaman Motto dan Persembahan. Halaman Persetujuan Pembimbing. Daftar Gambar. Media Visual dan Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif. Istilah. Halaman Pengesahan. Penelitian. dan Daftar Lampiran. Identifikasi Permasalahan. Daftar Tabel. Teknik Pengumpulan Data. Pendahuluan Dalam bab ini dijelaskan tentang Latar Belakang Permasalahan. BAB V. . Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab ini menerangkan Hasil Penelitian dan Pembahasan.

baik yang menyangkut pengetahuan. . sikap dan tingkah laku ketrampilan. pemahaman. Menurut Badawi (1985:59) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh perubahan tingkah laku baru individu secara keseluruhan sebagai hasil perjalanan individu dalam berinteraksi dengan lingkungan. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk perubahan pengetahuan. serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada diri individu yang sedang belajar. Seperti yang dikemukakan oleh Djamarah dan Zain (2002:11).169 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat Pembelajaran 1. ketrampilan maupun sikap. tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku. bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Batasan tentang teori belajar yang dikemukakan para ahli tergantung sudut pandang yang dipakai masing-masing dalam memberi arti belajar karena itu banyak dijumpai pengertian-pengertian tentang belajar. Perubahan tingkah laku itu terjadi secara sadar. bersifat kontinyu. kebiasaan. bersifat positif serta bertujuan dan berarah. Menurut Sujana (2000:28) pengertian belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan perubahan pada diri seseorang. Artinya. kecakapan. bahwa: Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan.

. Usaha pemahaman mengenai makna belajar ini akan diawali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. jadi tidak bersifat verbalistik. mendengarkan. to follow direction”. maka dapat diterangkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan. Cronbach memberikan difinisi: “Learning is shown by a change in behavior as a result of experience”. to read. kalau subjek belajar itu mengalami atau melakukannya. afektif dan psikomotor. mengamati. Geoch. Dengan adanya pengertian-pengertian belajar di atas belajar dapat diartikan sebagai tindakan atau usaha individu yang merupakan suatu proses dalam berinteraksi dengan lingkungan agar memperoleh pengetahuan dalam rangka mendapatkan perubahan tingkah laku baik yang berupa kognitif. dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca. meniru dan lain sebagainya. Perubahan-perubahan tersebut bersifat kontinyu. baik yang disadari maupun yang timbul sendiri akibat praktek. Harold Spears memberikan batasan: “Learning is to observe. positif. to imitate. Juga belajar itu akan lebih baik. to listen. latihan dan bukan secara kebetulan.170 Selain itu dalam bukunya Sardiman (2000:20). berarah dan bertujuan serta terdapat dua aspek yang sama yaitu adanya perubahan tingkah laku dan pengalaman yang mempengaruhi beberapa faktor. c. mengatakan: “Learning is a change in performance as a result of practice”. to try something themselves. b. pengalaman. Dari ketiga definisi di atas. antara lain dapat diuraikan sebagai berikut: a.

Artinya bila guru mengajar ia lebih mempersiapkan dirinya supaya berhasil dalam menyampaikan materi pelajaran. Oleh karena itu istilah mengajar yang dianggap berkonotasi “teacher centered” diganti dengan istilah pembelajaran. sikap. kebiasaan. mampu melakukan evaluasi belajar dll. tanpa memperhatikan bahwa siswa-siswanya dapat belajar atau tidak. Ia harus menguasai materi. Menurut Rohani (1997:24) pembelajaran adalah usaha sadar guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan. Menurut para pakar pendidikan. Perubahan itu tidak hanya pada pengetahuan saja akan tetapi dalam kecepatan. 1996:10). menguasai metode mengajar. agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Guru berfungsi sebagai fasilitator. ketrampilan. Istilah “pembelajaran” merupakan pengganti istilah “mengajar”.171 Belajar diharapkan terjadi perubahan-perubahan pada individu yang belajar. praktek mengajar di sekolah-sekolah pada umumnya lebih banyak berpusat pada guru. Sesuai dengan pengertian pembelajaran. yaitu orang yang menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang mendukung agar siswa dapat mewujudkan kemampuan belajarnya. dan ketrampilan yang didapat dari hasil proses belajar yang diberikan. dan sikap. . yaitu usaha sadar guru untuk membantu siswa atau anak didik. Dengan ini guru diharapkan selalu ingat bahwa tugasnya adalah membelajarkan siswa atau dengan kata lain membuat siswa dapat belajar untuk mencapai hasil yang optimal. (Tim MKDK. penguasaan diri.

3. 2000:25) dapat dikemukakan sebagai berikut: a. c. Tujuan Pembelajaran Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. b. baik secara fisik maupun psikologis. ketrampilan. Oleh karena itu pembelajaran pasti mempunyai tujuan.172 2. baik kuantitas maupun kualitas. Tingkah laku itu meliputi pengetahuan. e. d. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik. f. Ciri-ciri Pembelajaran Ciri-ciri pembelajaran (Tim MKDK. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa. . Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar. dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. Tujuan pembelajaran adalah membantu para siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah.

1) Faktor biologis (jasmaniah) Faktor biologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan keadaan fisik atau jasmani individu yang bersangkutan. 2) Faktor psikologis (rohaniah) Faktor biologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan kondisi mental seseorang. 5. Faktor internal terdiri dari faktor biologis dan faktor psikologis. alat bantu pembelajaran. Unsur-unsur Dinamis dalam Pembelajaran Unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran kongruen dengan unsur-unsur dalam belajar. dan pada upaya guru menyiapkan bahan pembelajaran. dan kondisi atau kesiapan siswa mengikuti pembelajaran baik fisik maupun psikologis. Faktor internal. a. dan pada suatu ketika dapat menurun atau hilang. yaitu faktor internal dan faktor eksternal. yaitu kondisi mental yang mantap dan stabil dimana kondisi ini tampak dalam bentuk sikap mental yang positif dalam menghadapi segala hal. Faktor ini merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Unsurunsur ini kadang-kadang baik. juga terdapat pada diri guru (motivasi dan kesiapan membelajarkan siswa). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dibagi menjadi dua. Artinya unsur-unsur yang diperlukan dalam belajar yang keadaannya dapat berubah-ubah.173 4. yaitu kondisi fisik yang normal dan kondisi kesehatan fisik. terutama hal-hal yang berkaitan dalam proses . suasana pembelajaran.

Selain berkaitan erat dengan sikap mental yang positif. Asumsi Proses Pembelajaran Dalam proses pembelajaran. kemauan/minat. faktor lingkungan masyarakat. d. Bahwa proses pembelajaran lebih efektif apabila menggunakan metoda dan teknik yang tepat. Bahwa dalam proses pembelajaran harus terjadi interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru. . Bahwa pembelajaran harus melihat pentingnya produk dan proses secara seimbang. b. Adapun asumsi-asumsi tersebut adalah sebagai berikut: a. faktor psikologis ini meliputi intelegensi/tingkat kecerdasan. 6. faktor lingkungan sekolah. Bahwa inti proses pembelajaran adalah kegiatan belajar siswa secara optimal. daya ingat dan daya konsentrasi.174 belajar. Faktor eksternal Faktor eksternal merupakan faktor yang bersumber dari luar individu itu sendiri. bakat. Bahwa proses pembelajaran direncanakan dan dilaksanakan sebagai suatu sistem. dan faktor waktu. c. e. diasumsikan terjadi situasi atau kegiatan tertentu yang menyebabkan guru dan siswa menjadi aktif dan kreatif. b. Faktor eksternal meliputi faktor lingkungan keluarga.

Media dalam kawasan teknologi pendidikan merupakan sumber belajar yang berupa gabungan dari bahan dan peralatan. Media mengandung pesan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa tidak menjadi bosan dalam meraih tujuan-tujuan belajar. artinya alat yang dapat dilihat dan didengar yang dipakai dalam proses pembelajaran dengan maksud untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif dan efisien. Media Pembelajaran 1.175 B. Apapun yang disampaikan oleh guru sebaiknya menggunakan media. Menurut Daryanto (1993:1) bahwa media adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat disampaikan dengan lebih baik dan lebih sempurna. 2002: 6). Bahan di sini merupakan barangbarang yang biasanya disebut perangkat lunak atau software yang di dalamnya terkandung pesan-pesan untuk disampaikan dengan mempergunakan peralatan (Sadiman. 2002:19). Pengertian Media Pembelajaran Media disebut juga alat-alat audio visual. . Dengan penggunaan alatalat ini guru dan siswa dapat berkomunikasi lebih mantap dan hidup serta interaksinya bersifat banyak arah. paling tidak yang digunakannnya adalah media verbal yang berupa kata-kata yang diucapkan dihadapan siswa. Kata media berasal dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman.

176 AECT (Association of Education and Communication Technology) memberikan batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. dan memadatkan informasi. membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar. maka dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran. menyajikan dengan menarik dan terpercaya. perasaan. Briggs (1970) dalam Sadiman (2002:6) menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. didengar dan dibaca. Dari beberapa batasan pengertian media tersebut di atas. Manfaat Media Pembelajaran Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru. Penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses belajar mengajar dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. 2. Sedangkan NEA (National Education Association) menyatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio-visual serta peralatannya. Media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman. Media hendaknya dapat dimanipulasi. . memudahkan penafsiran data. dilihat. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar.

Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. c. Kualitas hasil pelajaran dapat ditingkatkan bilamana integrasi kata dan gambar sebagai media pengajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan dengan baik. spesifik dan jelas. Pengajaran dapat diberikan kapan dan di mana diinginkan atau diperlukan terutama jika media pengajaran dirancang untuk penggunaan secara individu.177 Menurut Kemp & Dayton (1985:3-4) dampak positif dari penggunaan media pembelajaran adalah sebagai berikut: a. . Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses belajar dapat ditingkatkan. d. umpan balik dan penguatan. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif. Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat e. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa. g. beban guru untuk penjelasan yang berulang-ulang mengenai isi pelajaran dapat dikurangi bahkan dihilangkan sehingga ia dapat memusatkan perhatian kepada aspek penting lain dalam proses belajar mengajar. Pengajaran bisa lebih menarik. b. h. f.

Membuat hasil belajar lebih bermakna bagi berbagai kemampuan siswa. g. j. e. Memperluas wawasan dan pengalaman siswa yang mencerminkan pembelajaran non verbalistik dan membuat generalisasi yang tepat. Meningkatkan rasa saling pengertian dan simpati dalam kelas. f. Melengkapi pengalaman yang kaya dengan pengalaman itu konsep-konsep yang bermakna dapat dikembangkan. d. Hubungan guru-siswa tetap merupakan elemen paling penting dalam sistem pendidikan modern saat ini. Meyakinkan diri bahwa urutan dan kejelasan pikiran yang siswa butuhkan jika mereka membangun struktur konsep dan sistem gagasan yang bermakna.178 Dale (1969:180) mengemukakan bahwa bahan-bahan audio-visual dapat memberikan banyak manfaat asalkan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran. . Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak telah mereka pelajari. Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa. Membuahkan perubahan signifikan tingkah laku siswa. b. i. Menunjukkan hubungan antara mata pelajaran dan kebutuhan pelajaran dan minat siswa dengan meningkatnya motivasi belajar siswa. c. h. Guru harus selalu hadir untuk menyajikan materi pelajaran dengan bantuan media apa saja agar manfaat berikut ini dapat terealisasi: a. Mendorong pemanfaatan yang bermakna dari mata pelajaran dengan jalan melibatkan imajinasi dan partisipasi aktif yang mengakibatkan meningkatnya hasil belajar.

Metode mengajar akan lebih bervariasi. b. tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa. d. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pengajaran c. dan lain-lain. oleh karena itu mengurangi verbalisme. tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati. apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap. mendemonstrasikan. yaitu: a. melakukan. Memperbesar perhatian siswa. c. Encyclopedia of Educational Research dalam Hamalik (1994:15) merinci manfaat media pembelajaran sebagai berikut: a. sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar.179 Sudjana & Rivai (1992:2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa. memerankan. b. . d. Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berpikir.

maka dapat disimpulkan bahwa manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut: a. f. film. . Obyek atau benda yang terlalu besar untuk ditampilkan di ruang kelas dapat diganti dengan gambar. terutama melalui gambar hidup. g. ruang. c. Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar. slide. Kejadian langka yang terjadi di masa lalu atau terjadi sekali dalam puluhan tahun dapat ditampilkan melalui rekaman video. film. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain. b. atau gambar. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses hasil belajar. dan waktu. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu. foto. dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.180 e. radio. atau model. Dari beberapa batasan manfaat media pembelajaran di atas. foto. slide. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera. Obyek atau benda yang terlalu kecil yang tidak tampak oleh indera dapat disajikan dengan bantuan mikroskop. interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya. film. realita. dan membantu efisiensi dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar. slide disamping secara verbal.

Tujuan Media yang dipilih hendaknya menunjang pencapaian tujuan pengajaran. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka. slide. serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru. Kejadian atau percobaan yang dapat membahayakan dapat disimulasikan dengan media seperti komputer. Peristiwa alam seperti meletusnya gunung berapi atu proses yang dalam kenyataan memakan waktu lama seperti proses kepompong menjadi kupukupu dapat disajikan dengan teknik-teknik rekaman seperti time-lapse untuk film. atau komputer. kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang. slide. masyarakat. video. 1993:3) a. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran. atau simulasi komputer. d. film. . 3. dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata. gambar. dan pemilihan media mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut: (Daryanto. b.181 Obyek atau proses yang amat rumit seperti peredaran darah dapat ditampilkan secara kongkret melalui film. Ketepatgunaan Hendaknya dipilih ketepatan dan kegunaannya untuk menyampaikan pesan yang hendak dikomunikasikan atau diinformasikan. dan video.

Tingkat kemampuan siswa Media yang dipilih hendaknya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. pendekatan terhadap pokok masalah. Alat untuk memperjelas bahan pengajaran pada saat guru menyampaikan pelajaran. besar kecilnya kelompok atau jangkauan penggunaan media tersebut. d. . e. jika media sudah rusak atau kurang jelas/terganggu sehingga mengganggu proses transfer informasi (tidak menarik. direncanakan untuk perorangan atau kelompok. Mutu teknis Kualitas media harus dipertimbangkan. f.182 c. 4. Ketersediaan Apakah media yang diperlukan tersedia atau tidak. apakah ada pengganti yang relevan. b. artinya media tersebut berisikan bahan-bahan yang harus dipelajari para siswa baik individual maupun kelompok. Alat untuk mengangkat atau menimbulkan persoalan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan oleh para siswa dalam proses belajarnya. Peranan Media Pembelajaran Peranan media dalam proses pembelajaran dapat ditempatkan sebagai: a. c. detail kurang bisa dipahami). Sumber belajar bagi siswa. Biaya Biaya yang dikeluarkan hendaknya seimbang dengan hasil yang diharapkan dan tergantung kemampuan dana yang tersedia.

Tidak ada alat bantu yang paling baik untuk semua tujuan. Siswa tidak mungkin aktif menemukan sendiri suatu kesimpulan. Empat prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam menggunakan media pembelajaran adalah sebagai berikut: a. Media yang digunakan hendaknya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai b. artinya media tanpa guru suatu hal yang mustahil dapat meningkatkan kualitas pengajaran. Hendaknya menguasai /mengenal dengan baik media yang akan digunakan c. yang nantinya akan bermanfaat bagi mereka terutama anak-anak yang mempunyai kelainan khusus seperti anak hiperaktif. Peranan guru masih tetap diperlukan sekalipun media telah merangkum semua bahan pengajaran yang diperlukan oleh siswa. Prinsip Penggunaan Media Pembelajaran Untuk menunjang terjadinya keaktifan siswa dalam belajar. Alat bantu yang digunakan hendaknya dipilih secara obyektif. karena tergantung situasi-kondisi dan ada keuntungan-kerugian dari masing-masing media. . 5. persoalan media dan sumber sangat penting. yang mungkin mereka hadapi kelak. Dengan adanya media dan bimbingan dari orang-orang yang ada disekitarnya (guru dan oranng tua siswa) dapat mempermudah siswa dalam memahami suatu pelajaran. Disamping itu dapat membuat mereka terlatih memecahkan permasalahanpermasalahan yang riil.183 Sungguhpun demikian media sebagai alat dan sumber pembelajaran tidak bisa menggantikan guru sepenuhnya. tanpa adanya bantuan media dan sumber belajar (guru dan buku-buku pelajaran). tidak didasarkan atas selera atau kesenangan pribadi gurunya d.

d. Tidak semua sekolah mempunyai buku sumber. suka membuat keributan. Anak Hiperaktif 1. Hal ini sering kali dikeluhkan oleh orang tua dan guru. setidaknya pada dua tempat dan suasana yang berbeda. c. membangkang dan destruktif yang menetap. Sedangkan Tailor (1989) mengatakan bahwa kata 'hiperaktif' merupakan suatu terminologi yang mencakup beberapa kelainan perilaku meliputi: perasaan gelisah. dan menjadi alasan sehingga si anak dirujuk untuk mendapatkan pendidikan. C. aktifitas yang berlebihan. Bahan pengajaran yang dijelaskan guru kurang dipahami siswa. perasaan yang meletup-letup. . atau tidak semua bahan pengajaran ada dalam buku sumber. Pengertian Hiperaktif Hiperaktif atau yang dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) atau Attention Deficit Disorder (ADD) menurut National Medical Series (1996) adalah suatu peningkatan aktifitas motorik hingga pada tingkatan tertentu yang menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi. gangguan perhatian. b. pengasuhan dan penanganan secara khusus. Terbatasnya sumber pengajaran. Guru tidak bergairah untuk menjelaskan bahan pengajaran melalui penuturan kata-kata (verbal) akibat terlalu lelah disebabkan telah mengajar cukup lama. Kurangnya perhatian siswa akibat kebosanan mendengarkan uraian guru.184 Pada waktu berlangsungnya pengajaran hendaknya penggunaan media digunakan guru pada situasi sebagai berikut: a.

185 Lissauer & Clayden (2001) menyatakan bahwa pada anak dengan hiperaktif terjadi disorganisasi afektif. kurang sopan. Wenar (1994) menyebutkan bahwa anak dengan kelainan hiperaktif dalam aktifitas sehari-hari (24 jam) lebih tinggi dibandingkan dengan anak normal bahkan saat tidur sekalipun. mudah marah. Tidak jarang mereka dengan kelainan ini disertai adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan. tidak menghiraukan mainan atau sesuatu miliknya. Mereka biasanya bertindak 'nekat' dan impulsif. sulit bergaul dan sering tidak disukai teman sebayanya. tidak mampu berkonsentrasi dan sering tidak tuntas dalam mengerjakan sesuatu serta berusaha menghindari pekerjaan yang membutuhkan daya konsentrasi tinggi. sering menggerak-gerakkan tangan dan kaki di saat duduk meski tanpa tujuan tertentu. Mereka sering menunjukkan tindakan anti sosial sehingga orangtua. guru dan lingkungannya memperlakukan dengan tidak tepat dan tidak menyelesaikan masalah. dan suka menyela pembicaraan serta mencampuri urusan orang lain. Pada umumnya prestasi akademik mereka tergolong rendah dan minder. Tetapi dikatakan bahwa perilaku ini berangsur berkurang dengan bertambahnya umur. Sering kurang memperhatikan. tidak bisa duduk dengan tenang. Pada anak ini menunjukkan perilaku yang berlebihan dalam menjalankan tugas/pekerjaannya. gejala hiperaktif yang muncul sangat dipengaruhi (tergantung) oleh situasi dan kondisi yang berlaku yang dihadapi. tetapi tidak didapatkan kelainan otak yang spesifik. seperti yang terlihat pada gambar diagram berikut: . penurunan kontrol diri dan aktifitas yang berlebihan secara nyata.

Grafik perbandingan jumlah aktivitas “tak terarah” anak hiperaktif dan anak normal.melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikir lebih dahulu. Anak-anak yang hiperaktif jumlah aktivitas “tak terarah” -nya lebih banyak daripada jumlah aktivitas “tak terarah” anak-anak yang normal. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang anak yang menderita hiperaktif adalah mereka yang mempunyai gangguan perilaku yang berlebihan.1. Ciri-ciri Hiperaktif Ada 3 gejala utama atau primary symtoms pada penderita ADHD (Barkley. tidak bisa konsentrasi pada satu hal dan kadang bersikap impulsif . Seperti: sering tidak berhasil menyelesaikan tugas.186 Jumlah “aktivitas tak terarah” Anak yang hiperaktif Anak normal 3 5 7 9 11 13 Usia anak (tahun) Gambar 2. anak tampak tidak mendengarkan apa yang dikatakan lawan bicaranya. tidak dapat . Inattention/ tidak adanya perhatian Yaitu kesulitan untuk memusatkan perhatian pada hal yang sedang dilakukannya. 1990 menyebut hal ini sebagai ‘the holy trinity of ADHD’): a. akan tetapi tingkat aktivitas semua anak semakin terkendali dengan meningkatnya usia. 2.

kesulitan dalam mengorganisir pekerjaan (tetapi tidak berhubungan dengan kelemahan kognitif). Impulsivity/impulsivitas Yaitu ketidakmampuan individu untuk mengontrol perilakunya. gagal untuk menunggu giliran dalam situasi bermain atau kelompok. mempunyai kesulitan untuk mempertahankan perhatian pada kegiatan bermain. Hyperactivity/ hiperaktivitas Gejala ketiga ini meliputi semua kecenderungan penderita untuk melakukan suatu aktivitas secara berlebihan. Gejala-gejala tersebut akan semakin memburuk pada situasi-situasi yang menuntut adanya perhatian. baik aktivitas secara motoris maupun verbal. sering melakukan hal lain sebelum satu hal selesai. dengan kata lain penderita sering menuruti dorongan hatinya. selalu bergerak seperti digerakkan oleh mesin atau selalu ‘on the go’. tanda-tanda gangguan bisa sedikit atau tidak sama sekali. atau ketika anak di dalam situasi ‘face to face’. . sering menggumamkan katakata yang tidak jelas maksudnya. c. perlu banyak pengawasan. Seperti: sering bertindak sebelum berpikir. tidak bisa tetap duduk. jika anak cukup banyak menerima penguatan atau kontrol yang ketat. b. selalu bergerak (melompat berlebihan). Di lain pihak. Sering.187 konsentrasi. perhatian mudah dialihkan oleh stimulus dari luar. sering berteriak di kelas dan mudah menginterupsi pembicaraan orang lain (misal menjawab pertanyaan sebelum selesai diajukan). gelisah (juga dalam tidur). anak tersebut oleh orang lain akan dianggap sebagai anak yang menyusahkan atau nakal. Seperti: tidak bisa duduk tenang.

kemampuan belajar lemah.188 3. susah bergaul. dan sebagainya sehingga mengalami kesulitan dalam membaca. sering kacau dalam menanggapi citra yang diterima. Karena mengalami luka di otak mereka sering tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan. Ia sulit menggabungkan satu hal dengan hal lainnya. misalnya: “m” dengan “w”. Daya pikir penangkapannya lemah sehingga sulit untuk menghadapi pelajaran matematika. emosinya menjadi mudah terangsang. sering tidak dapat berkonsentrasi dan pelupa. kurang kendali diri. tidak dapat berencana atau menduga apa akibat yang dilakukannya. Perilaku yang sulit diduga itu kadang membuat orang tua. . Adakalanya mereka sulit mengerti pembicaraan orang secara umum. khususnya ketika masuk ke suasana kelas yang dinamis. Ia sulit menentukan mana yang penting dan mana yang harus diprioritaskan terlebih dulu selain sulit menyelesaikann pelajaran. Masalah Anak Hiperaktif dan Penyelesaiannya Beberapa masalah yang dihadapi anak hiperaktif (Setiawani. 2000:138). Ia juga mengalami kesulitan dalam mengutarakan pikiran dan perasaan melalui kata-kata. Kadangkala mereka sadar harus mematuhi peraturan. antara lain: a. Masalah intelek Anak hiperaktif jelas mengalami gangguan dalam otak. “d” dianggap “b” atau “p” dianggap “q”. apalagi terhadap petunjuk yang mengandung langkah-lanngkah atau tahapantahapan. guru atau teman-temannya merasa khawatir. tetapi tidak mampu mengendalikan diri.

dan kebiasaan tidur mereka bermacam-macam: ada yang bermimpi sambil berjalan. Mereka tidak dapat berolahraga dengan banyak gerak dan banyak tenaga. seperti berolah raga atau lompat tali. . Sebaliknya gerakan tenang pun bermasalah. kurang sabar. bulu. tidak sabar menunggu. debu dan bahan kosmetik. mewarnai atau menggambar. bermain kasar. sepertinya sedang begitu sibuk melakukan sesuatu sehingga tidak dapat beristirahat. mereka tidak dapat menggunakan alat tulis dengan baik. suka merusak. seperti: coklat. Anak hiperaktif juga peka terhadap bahan kimia. gula dan gandum. semangatnya kuat. suka berteriak dan ribut.189 b. tidak takut bahaya. tetapi sebentar kemudian marah dan sedih. misalnya bila disuruh menulis. daging. kadang begitu senang dan ceria.. Masalah biologis Mereka suka sekali berlari-lari dan sulit untuk menyuruh mereka diam. susu. kedelai. c. Juga emosi sering berubah-ubah sehingga tidak mudah diduga. Mereka juga sensitif terhadap makanan tertentu. Seorang ahli berpendapat bahwa yang sangat dibutuhkan mereka adalah melatih mereka untuk dapat mengendalikan diri. babi. meraba dan menyentuh benda-benda untuk merasakan lingkungan di sekitarnya. jagung. bila berbaris selalu berebutan. obat. Mereka sulit tidur dengan nyenyak dan mudah terbangun. telor ayam. Pernyataan emosinya sangat ekstrim dan kurang kendali diri. mengigau atau mengompol. Masalah emosi Anak hiperaktif umumnya bersifat egois. dan sembrono sehingga besar kemungkinan bisa mengalami kecelakaan. dan emosional.

Obat-obat yang dipakai pada anak yang di diagnosis sebagai hiperkinetik adalah obat penggiat (stimulan) sistem saraf pusat. Sebaliknya. Penggunaan obat Hiperaktivitas merupakan akibat keterlambatan perkembangan atau penyimpangan. masuk ke kamar orang lain. mencela pembicaraan orang. kalau obat penenang diberikan kepada anak yang hiperaktif atau obat yang akan memperlambat atau menidurkan kita. Ia bisa mencuri uang orang tua atau permen di toko. Namun. Masalah moral Karena mengalami berbagai masalah seperti di atas. tidak mengembalikan barang yang dipinjam. seperti Ritalin. kerap kali digunakan untuk mengatasi hiperaktivitas.190 d. obat itu akan memacu dan menyebabkan kita hiperaktif. yang mengaktifkan bagian- . Dekedrine. Apabila orang yang normal menggunakannya. 2000:139). obat-obat di atas adalah obat penggiat. biasanya obat itu justru menambah tingkat aktivitasnya dan tidak dapat tidur semalam suntuk. mencuri dengar pembicaraan telepon orang lain sehingga kesan orang banyak adalah anak ini bermasalah dan bermoral rendah. Ada beberapa cara dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi anak hiperaktif (Setiawani. obat ini nampaknya “memperlambat” anak yang hiperaktif. Penggiat sistem saraf pusat. maka mereka pun tidak memiliki kepekaan dalam hati nurani. antara lain: a. atau Cylert. Misalnya. anak tidak memiliki daya kontrol secukupnya untuk mencegah perilakunya atau membuat dia dapat duduk tenang atau berkonsentrasi lama. Pengobatan tertentu berdampak berlawanan dari harapan.

tidak dapat konsentrasi. Ia kurang aktif dan lebih mampu berkonsentrasi dalam waktu yang lebih lama. obat itu menggiatkannya yang memberi kendali pada anak. Dengan kata lain. tetapi juga memperbaiki rentang perhatian dan mengurangi kebingungannya. hiperaktivitas kognitif (misalnya rentang perhatian sempit. Ia dapat mengontrol dirinya lebih baik. Anak-anak hiperaktif biasanya mengalami kesulitan besar di ruang kelas. Maka. sebagian besar gejala hiperaktifnya berkurang dan umumnya akan . Pengobatan tidak membuat anak lebih pandai atau dapat belajar lebih cepat melainkan menghilangkan gejala hiperaktivitas yang mengganggu. Akibat pengobatan hiperaktivitas: 1) Obat itu akan “membuat dia tenang”. ia tidak pernah menerima informasi. Akibatnya kalau ia ditanya atau harus melakukan sesuatu. Penampilannya buruk. anak lebih mudah diurus dan menampakkan sedikit masalah dalam kaitannya dengan sekolah. Hal itu kerap kali terjadi pada anak hiperaktif di kelas. kontrolnya setara dengan “motor”nya. Pada umumnya. ia tidak berhasil. Obat itu tidak hanya membantu anak duduk tenang dan mengurangi kegaduhan. Ia tidak dibuat tenang atau “dibius”. mudah bingung) merupakan kendala terbesar dalam nilai sekolahnya. Obat secara tidak langsung menguntungkan anak karena memberi kontrol lebih banyak.191 bagian badan tertentu. Obat membantu mengendalikan gejala-gejala hiperaktif yang mengganggu. sebab ia mudah terganggu atau tidak dapat memperhatikan guru cukup lama dan oleh karena itu.

b. Kalau ini terjadi. Kalau ini terjadi. Pengaturan makanan Selama 50 tahun yang lalu beberapa laporan mengkaitkan hiperaktivitas dengan alergi makanan. berarti ia memang hiperaktif dan dosisnya sesuai. banyak dilakukan studi tentang diet atau gizi makanan atas perilaku hiperaktivitas. Selama mengobati anak. Maka jika terjadi reaksi 2. 3) Mungkin anak nampak mengantuk atau kecapaian. dosis obat itu ditambah. tetapi tidak menerima cukup obat.192 menampakkan perbaikan positif. Kalau ini terjadi. barangkali ia hiperaktif tetapi meminum obat terlalu banyak. Kedua pakar teori dalam bidang ini adalah Ben Feingold dan Lendon Smith. Biasanya kita dapat melihat satu diantara akibat-akibat di atas dalam 1 sampai 7 hari sesudah anak mulai minum obat. Karena banyak obat diberikan untuk mengatasi kesulitan sekolah dan terutama diberikan selama jam-jam sekolah (yakni sebelum makan pagi dan makan siang). Lalu diperiksa dampaknya dan jika tak ada akibat positif. dan mungkin jatuh tertidur waktu melihat TV.3 dan 4. Anak tidak menampakkan perubahan apa pun. sangat penting untuk tetap berhubungan dengan dokter. hubungilah dokter. Hendaknya orang tua jangan menambah atau mengurangi dosis obat anak tanpa konsultasi dengan dokter. maka perlu mendapatkan laporan dari gurunya. anak itu mungkin hiperaktif. Kalau terjadi. Banyak dokter mulai dengan dosis obat terendah. Akhir-akhir ini. anak itu tidak hiperaktif dan pengobatan harus dihentikan. 2) Tidak terjadi apa-apa. 4) Anak mungkin menjadi lebih aktif. .

dikalengkan. Jika anak tidak memperlihatkan aktivitas yang meningkat atau kesulitan perhatian. kecuali butilat hidroksitoluena yang memperlihatkan reaksi bertentangan bagi beberapa anak. makanan itu harus dihentikan. kismis. sari buah ataupun sebagai bahan makanan-seperti : apel. murbei hitam. jeruk manis. Daftar buah-buahan dan sayur-sayuran yang harus disingkirkan dari diet anak-anak dalam semua bentuknya-segar. jika tidak ada reaksi yang tidak menyenangkan. Diat ini tidak berkaitan dengan pengawet makanan. murbei. makanan dalam Kelompok I dapat berangsur-angsur dimakan. persik. Buah-buahan dan sayursayuran yang tidak menimbulkan reaksi kurang baik pada anak dapat dimasukkan dalam diet. dapat ditambahkan jenis makanan lain. Kelompok II terdiri dari segala jenis makanan yang mengandung warna atau aroma sintetis (buatan). makanan tersebut dapat dimasukkan dalam dietnya. tomat. Makanan baru dalam Kelompok II harus diperhatikan.193 Diet Feingold Menurut Diet Feingold. Tetapi semua makanan yang mengandung warna atau aroma buatan harus dijauhkan dari diet anak. dibekukan. nektarin. Tetapi kalau timbul reaksi yang kurang baik. Makanan kelompok I mengandung salsilat dan meliputi buahbuahan dan sayur-sayuran. Kalau anak memperlihatkan reaksi yang menggembirakan atas Diet Feingold sesudah 4 sampai 6 minggu. yakni harus dicoba selama 3 atau 4 hari. dikeringkan. mentimun. ada dua kelompok makanan yang harus dihindari anak hiperaktif. aberikos. ceri. . anggur.

Smith Dr. Pola makanan ini disebut diet pencegahan. diberi warna atau diawetkan. Pendekatan Gizi Dr. Hal ini umumnya mencakup makanan yang telah dikemas. Namun. ditambahai. Gula dan makanan “asal-asalan” tidak . lebih baik jangan disantap. dibakukan. 2) Diet itu harus ditaati dengan ketat. 100% 3) Tidak ada batasan terhadap banyak makanan yang manis buatan sendiri. Kalau meragukan. dokter anak harus selalu dihubungi sebelum penngobatan diganti atau dikurangi. perlu diamati rata-rata selama 1 sampai 3 minggu. Pada umumnya produksi dagang sedapat mungkin harus dihindari. 6) Dalam beberapa hal. diemulsikan. Lendon Smith berpendapat bahwa setiap orang harus mengikuti pola makanan umum sebagai bagian program sepanjang hidup. obat yang digunakan untuk mengontrol perilaku hiperaktif dapat dihentikan setelah anak menjalani diet selama 2 atau 3 minggu. diproses. Feingold memberi beberapa petunjuk bagi orang tua yang anaknya menjalankan diet.194 Dr. 4) Semua etiket makanan harus dibaca dengan cermat. Beberapa di antaranya seperti berikut: 1) Semua makanan harian yang dimakan anak harus dicatat. ia memberikan saran khusus untuk mengendalikan gejala-gejala hiperaktivitas. Disamping diet umum ini. Diet Pencegahan itu terdiri atas 3 bagian: 1) Bahan-bahan anti gizi hendaknya dihindari. 5) Kalau nampak ada perbaikan.

daging ayam. keju putih. misalnya: di kamar atau di ruang bermain. d. tepung putih. Bila lingkungan tempat tinggalnya sangat bising. 3) Mulailah setiap hari dengan vitamin dan mineral (diandaikan anak kekurangan bahan-bahan tersebut). sayur mayur (seperti kacang panjang. dan miju-miju). c. dalam jumlah kecil. tetapi sebaliknya untuk membina dan mengajar anak tentang apa yang harus mereka lakukan. Anak jangan dimanjakan kalau tahu bahwa penyebab hiperaktifnya karena masalah biologis. madu. air tebu. keras. Orang tua harus bertahan dengan peraturan yang telah diberikan dan menuntut anak agar menaatinya. sirup. buncis. buah-buahan mentah. sebaiknya pindah rumah agar anak itu dapat bertumbuh dalam situasi yang baik. jagung. gula tebu. diktator atau berhati baja. gandum yang dibungkus. Tunjukkan dengan mantap dan wibawa bahwa orang tua ingin ditaati oleh anak-anaknya. susu pasterisasi. telur. Di antaranya sebagai berikut: sayuran segar (mentah). kacangkacangan. Hindarkan pemanjaan. 2) Makanan alami harus disantap 4 atau 6 kali sehari. es krim yang diperdagangkan. ikan.195 diperkenankan. Beberapa makanan yang harus dihilangkan yakni: gula putih dan gula coklat. Menciptakan lingkungan yang tenang Usahakan untuk menciptakan suasana yang tenang di tempat anak itu biasa bergerak. Sikap bertahan ini bukan berarti kejam. .

Terapi perilaku. pilihlah acara teve yang beradegan lembut dan baik. Memilih acara teve dengan hati-hati Acara teve yang menampilkan adegan kekerasan. Cara Menangani Anak Hiperaktif Anak hiperaktif perlu diterapi agar tidak menghambat perkembangan kecerdasan dan sosialnya. orang tua atau guru tidak seharusnya bersikap acuh dan menyerah. Cegahlah anak untuk meniru adegan-adegan yang tidak baik. f. Bila orang tua tidak putus asa. . energi dan biaya yang tidak sedikit. Memang dibutuhkan kesabaran. walaupun harus dilakukan berulang-ulang. Perlu ada kesabaran untuk mengajarkan hal ini. maka itu akan mengurangi keonaran. namun biasanya kalau terapi dilakukan secara intensif maka perkembangannya akan maju secara bertahap. terapi konsentrasi. terapi wicara. obatobatan bahkan keluarganya pun perlu mendapat terapi untuk meneruskan terapi di rumah dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak-anak hiperaktif (Clerq. g. 4. lagu yang ribut dan sinar yang bergerak menyilaukan. Membimbing dalam kebenaran Meski anak hiperaktif sering tidak mampu menguasai diri dan perilakunya. anak akan mempunyai harapan untuk disembuhkan. Oleh sebab itu. Setiap perilaku yang tidak dapat diterima harus dicegah. 1994:158).196 e. Gunakan tenaga ekstra dengan tepat Anak ini kurang dapat mengendalikan diri dan apabila sikap agresifnya dapat disalurkan dalam aktivitas yang tepat. dapat merangsang anak dan mengakibatkan mereka emosional. kemudian tentukan suatu standar yang sesuai dengan kebenaran.

197 a. dan belajar. hal ini tidak berarti meningkatkan ketrampilan sosial interpersonal. Whalen & Henker. Dengan adanya keterbatasan-keterbatasan ini. Hanya ada sedikit bukti bahwa pengobatan stimulan selam jangka-panjang bisa mengubah hasil akhir anak-anak . Bagaimanapun juga beberapa kerugian akan tetap timbul dengan pendekatan medis ini. Selain itu juga perlu disadari bahwa terapi yang efektif adalah terapi yang melibatkan semua pihak. guru. Menurut Abikoff (1987) pengobatan nampaknya hanya mempunyai sedikit pengaruh terhadap kemampuan kognitif seperti penalaran. Pendekatan kognitif-behavioral nampaknya memberikan jawaban yang efektif. ada banyak kepentingan klinis yang terkait dengan intervensi terapi alternatif yang berusaha untuk memberikan taktik dan ketrampilan kepada anak-anak ADHD yang memungkinkan mereka untuk mengatasi permasalahan dengan lebih efektif. Terapi Anak Perawatan yang paling banyak dipakai untuk menangani anak-anak hiperaktif sampai sekarang adalah medikasi psikostimulan. Dengan pengobatan. 1980) menunjukkan perbaikan yang penting dalam hal gejalagejala utama gangguan. Medikasi Psikostimulan Kemanjuran klinis jangka-pendek dari obat-obat ini telah dicatat dengan baik. sebagian besar anak-anak dan remaja ADHD (60-90%. Selanjutnya. dengan self-instruction training (training instruksi kepada diri sendiri) dan social problem-solving strategies (strategi pemecahan masalah sosial). pemecahan masalah. walaupun pengobatan menghilangkan perilaku yang mengganggu dalam kelas. orang tua. dokter dan psikologi.

Berdasarkan pendekatan ini pada teori Vygotsky dan Luria (1962) yang menekankan pentingnya pengaruh bahasa dan pikiran pada tingkah laku. karena anak diminta untuk berhenti secara periodik dan mengevaluasi penampilannya. Luria mengemukakan tiga tahap: 1) Tahap pertama: tingkah laku anak dokontrol oleh bahasa orang lain. anak memperoleh kontrol diri dengan menggunakan instruksi diri secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam (covert self-instructions). dikembangkan oleh Meichenbaum dan Goodman (1971). 3) Tahap ketiga: pada usia sekitar 5-6 tahun. . Tujuannya adalah untuk memotivasi anak untuk menjembatani secara verbal.198 ini: riset menunjukkan bahwa ketrampilan belajar dan sosial yang rendah serta prestasi akademis yang buruk. mengintegrasikan teknik-teknik kognitif (menyederhanakan proses pemecahan masalah) dan prinsip-prinsip mempelajari tingkah laku (modeling dan behavioral rehearsal). Self-Instruction Training-Latihan Instruksi Diri. Selama terapi. dialog internal ini (instruksi diri atau self-instruction) digunakan sebagai titik awal untuk mencapai perubahan perilaku. tetap ada pada masa remaja dan awal masa dewasa. Teknik instruksi diri dan self-monitoring digunakan untuk mengurangi respon impulsif. Self-instruction training. 2) Tahap kedua: anak mengatur perilakunya dengan bicara keras-keras pada dirinya sendiri (self-instructing aloud). terutama orang tua. pemikiran dan tindakannya sendiri.

199

Lima tahap belajar melalui proses modeling bisa dibedakan dalam situasi belajar ini: 1) Model orang dewasa melakukan suatu tugas dengan instruksi verbal yang keras (cognitive modeling) 2) Anak melakukan tugas yang sama dengan instruksi yang keras dari model orang dewasa (overt extern guidance) 3) Anak melakukan tugas dengan instruksi sendiri yang keras (external selfinstruction) 4) Anak melakukan tugas dengan membisikkan instruksi-diri (whispering external self-instruction) 5) Anak melakukan tugas dengan instruksi-diri intern (covert self-instructions) Instruksi-diri atau self-instruction mendukung dan mengatur tingkah laku anak. Melalui 5 tahap modeling ini, anak belajar untuk menunda perilaku: ‘stoplook-do’ (berhenti-lihat-lakukan). Verbalisasi sedikit demi sedikit akan hilang dengan adanya latihan dan pengulangan (behavioral rehearsal) sampai semuanya diinternalisasi : berpikir dan bertindak akan menjadi proses yang otomatis. Social Problem-Solving Skills Training-Latihan Ketrampilan Pemecahan Masalah Sosial. Terapi ini menekankan pada perkembangan strategi kognitif untuk meningkatkan kontrol diri dan respon sosial dalam menyelesaikan suatu masalah. Untuk mengembangkan srategi kognitif ini diperlukan modeling secara verbal, latihan dan penguatan sosial (social reinforcement), yang dilakukan dalam kelompok kecil (3 sampai 8 orang) atau secara individual. Tujuan dari terapi ini

200

adalah untuk mengembangkan kompetensi dan interaksi interpersonal yang memadai. Terapis memberikan suatu problem dan menunjukkan beberapa perilaku yang efektif untuk menghadapi masalah tersebut. Setelah itu terapis menanyakan pada anggota kelompok satu demi satu, bagaimana respon mereka terhadap permasalahan tersebut. b. Terapi Orang Tua Terapi ini menekankan pada parents monitoring (memonitor/supervisi oleh orang tua) dan parents management skills. Orang tua dilatih untuk berinteraksi dengan anaknya yang menderita ADHD dengan menggunakan penguat yang positif, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anaknya. Misalnya: memuji perilaku anak yang sesuai, memberi peraturan yang jelas pada anak, selalu mengawasi atau mengontrol perilaku anaknya. Disamping itu terapis juga sebaiknya memberikan penjelasan tentang latar belakang dan perkembangan aspek-aspek ADHD pada guru. Hal ini dengan tujuan agar guru tidak bersikap menolak anak didiknya yang menderita ADHD. Bantuan yang dapat diberikan untuk mereka yang hiperaktif Org. Kids Health, 1999:8) yakni: a. Dengan mengadakan kontak agar pada waktu tertentu menguasai emosinya, tidak boleh dikerasi karena akan bertambah melawan. b. Dengan diajak bicara dengan pendekatan individual sebelum memberikan pertanyaan/tugas. (Keluarga.

201

c. Anak yang kesulitan berkonsentrasi untuk memulai tugas dilakukan dengan menatap mata anak, memberikan instruksi secara individual, menyuruh mengulangi perintah dan tugasnya. Sementara bagi anak yang tidak dapat menyelesaikan tugas sehingga kehilangan konsentrasi maka berikan tugas menjadi porsi-porsi kecil.

D. Media Visual 1. Pengertian Media Visual Media Visual (Daryanto, 1993:27), artinya semua alat peraga yang digunakan dalam proses belajar yang bisa dinikmati lewat panca-indera mata. Media visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi. Dengan demikian media visual dapat diartikan sebagai alat pembelajaran yang hanya bisa dilihat untuk memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan akan isi materi pelajaran. Pendidikan melalui media visual adalah metoda/cara untuk memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dapat dilihat daripada sesuatu yang didengar atau dibacanya.

202

2. Fungsi Media Visual Levie & Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu fungsi atensi, fungsi efektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau teks materi pelajaran. Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras. Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. 3. Penggunaan Media Visual Selama proses belajar mengajar kita cenderung menggunakan pancaindera penglihatan, kita memakai mata kita untuk memperoleh informasi, isyarat, tanda atau hal yang menarik perhatian kita, kenyataan ini mempunyai arti yang

grafis atau slide yang asli untuk membuat master copy (duplikat asli yang pertama kali). b. Visual digunakan untuk menekankan informasi sasaran (yang terdapat teks) sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. untuk itu harus jelas dan terang. Visual tidak boleh meragukan. harus terlihat perbandingannya dengan obyek lain yang sudah dikenal. kalau mungkin gerakan gambar. c. karton. Gunakan grafik untuk menggambar ikhtisar keseluruhan materi sebelum menyajikan unit demi unit pelajaran untuk digunakan oleh siswa mengorganisasikan informasi. Usahakan visual itu sesederhana mungkin dengan menggunakan gambar garis. yaitu : a. Gambar realistis harus digunakan secara hati-hati karena gambar yang amat rinci seringkali mengganggu perhatian siswa untuk mengamati apa yang seharusnya diperhatikan. . bagan. Penampilan visual tidak boleh mengganggu. Media visual haruslah sesuai dengan kenyataan dan dapat diterima. artinya obyek-obyek yang masih asing atau belum dikenal hendaklah ditampilkan sedini mungkin.203 penting untuk keperluan belajar dan mengajar. Prinsip umum untuk penggunaan efektif media visual. Untuk mendapatkan gambaran tentang ukuran dan bentuknya. Media visual tidak boleh terlalu ramai dan kacau supaya informasi yang dimaksudkan dapat tertangkap jelas oleh siswa. gunakan yang asli (master) untuk membuat setiap turunan/kopi/duplikat untuk menjaga kualitas gambar. Kemampuan penglihatan harus dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan proses belajar mengajar.. gambar dan tulisan yang diproyeksikan harus dapat dibaca. dan diagram.

k. h.204 d. tempat atau obyek. Unsur-unsur pesan dalam visual itu harus ditonjolkan dan dengan mudah dibedakan dari unsur-unsur latar belakang untuk mempermudah pengolahan informasi. memberi nama orang. Warna dan pemberian bayangan digunakan untuk mengarahkan perhatian dan membedakan komponen-komponen. kemiskinan. Visual yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan gagasan khusus akan efektif apabila jumlah obyek dalam visual yang akan ditafsirkan dengan benar dijaga agar terbatas. g. Warna harus digunakan secara realistik. Caption (keterangan gambar) harus disiapkan terutama untuk menambah informasi yang sulit dilukiskan secara visual. e. dan semua obyek dan aksi yang dimaksudkan dilukiskan secara realistik sehingga tidak terjadi penafsiran ganda. amat membantu untuk mempelajari materi yang agak kompleks j. menghubungkan kejadian atau aksi dalam lukisan dengan visual sebelum atau sesudahnya. Visual yang diproyeksikan harus dapat terbaca dan mudah dibaca. m. Ulangi sajian visual dan libatkan siswa untuk meningkatkan daya ingat. khususnya diagram. Hindari visual yang tak berimbang. . Gunakan gambar untuk melukiskan perbedaan konsep-konsep f. l. i. dan menyatakan apa yang orang dalam gambar itu sedang kerjakan. Visual. n. seperti lumpur. pikirkan atau katakan. Tekankan kejelasan dan ketepatan dalam semua visual.

gambar dan lain-lain yang ada disekitar kita. seperti majalah. chart. gambar/ilustrasi. dibaca. bagan. Pesan atau informasi yang panjang atau rumit harus dibagi-bagi ke dalam beberapa bahan visual. antara lain prinsip kesederhanaan. atau konsep yang ingin disampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk. Foto menghadirkan ilustrasi melalui gambar yang hampir menyamai kenyataan dari sesuatu obyek atau sesuatu. dan gabungan dari dua bentuk atau lebih. Bahan-bahan grafis. dan warna juga perlu dipertimbangkan Kesederhanaan Kesederhanaan mengacu kepada jumlah elemen yang terkandung dalam suatu visual. papan informasi. garis. iklan-iklan. seperti foto. Tataan dapat dimengerti. ruang. penekanan.205 Pengembangan Media Visual Visualisasi pesan. Bentuk. mempunyai banyak gagasan untuk merancang bahan visual yang menyangkut penataan elemen-elemen visual yang akan ditampilkan. keterpaduan. tekstur. dan dapat menarik perhatian sehingga ia mampu menyampaikan pesan yang diinginkan oleh penggunaannya. Sementara itu. Dalam proses penataan itu harus diperhatikan prinsip-prinsip desain. grafik merupakan representasi simbolis dan artistik sesuatu obyek atau situasi. Keterpaduan Keterpaduan mengacu kepada hubungan yang terdapat di antara elemenelemen visual yang ketika diamati akan berfungsi secara bersama-sama. informasi. grafik. Elemen- . sketsa/gambar garis. dan keseimbangan. Jumlah elemen yang lebih sedikit memudahkan siswa menangkap dan memahami pesan yang disajikan visual itu.

Keseimbangan seperti ini menampakkan dua bayangan visual yang sama dan sebangun. . Garis Garis digunakan untuk menghubungkan unsur-unsur sehingga dapat menuntun perhatian siswa untuk mempelajari suatu urutan-urutan khusus. hubungan-hubungan. pemilihan bentuk sebagai unsur visual dalam penyajian pesan. Oleh karena itu. informasi atau isi pelajaran perlu diperhatikan. Dengan menggunakan ukuran. seringkali konsep yang ingin disajikan memerlukan penekanan terhadap salah satu unsur yang akan menjadi pusat perhatian siswa.206 elemen itu harus saling terkait dan menyatu sebagai suatu keseluruhan sehingga visual itu merupakan suatu bentuk menyeluruh yang dapat dikenal yang dapat membantu pemahaman pesan dan informasi yang dikandungnya. atau ruang penekanan dapat diberikan kepada unsur terpenting. Penekanan Meskipun penyajian visual dirancang sesederhana mungkin. warna. perspektif. Keseimbangan Bentuk atau pola yang dipilih sebaiknya menempati ruang penayangan yang memberikan persepsi keseimbangan meskipun tidak seluruhnya simetris tetapi memberikan kesan dinamis dan dapat menarik perhatian disebut keseimbangan formal. Bentuk Bentuk yang aneh dan asing bagi siswa dapat membangkitkan minat dan perhatian.

207 Tekstur Tekstur adalah unsur visual yang dapat menimbulkan kesan kasar atau halus. Warna Warna merupakan unsur visual yang penting. foto. Warna digunakan untuk memberi kesan pemisahan atau penekanan. alat permainan visual edukatif dan berbagai media visual gambar lainnya. (2) nilai warna (tingkat ketebalan dan ketipisan warna itu dibandingkan dengan unsur lain dalam visual tersebut). gambar chart berseri (flipchart). Tujuan utama penampilan berbagai jenis media visual (gambar) ini adalah untuk memvisualisasikan konsep yang ingin disampaikan kepada siswa/anak. dan (3) intensitas atau kekuatan warna itu untuk memberikan dampak yang diinginkan. menunjukkan persamaan dan perbedaan. biru. warna dapat mempertinggi tingkat realisme obyek atau situasi yang digambarkan. Bentuk Media Visual (Gambar) Ada berbagai bentuk media visual (gambar) yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama anak hiperaktif yaitu media gambar yang meliputi gambar chart. yaitu (1) pemilihan warna khusus (merah. . tetapi ia harus digunakan dengan hati-hati untuk memperoleh dampak yang baik. Tekstur dapat digunakan untuk penekanan suatu unsur seperti halnya warna. kuning. dan menciptakan respons emosional tertentu. atau untuk membangun keterpaduan. Disamping itu. Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan ketika menggunakan warna. dan sebagainya). 5.

2) Chart berseri/flip chart adalah satu kesatuan informasi yang dituangkan dalam beberapa tahapan atau dibuat berseri . diagram. Fungsi chart adalah untuk menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan dengan cara yang lebih visualisasi agar lebih mudah dimengerti dengan melalui penjelasan gambar. Gambar Chart Chart adalah sebuah lembaran kertas yang berisi informasi dalam bentuk gambar dan tulisan. Keuntungan menggunakan gambar chart: 1) Menghemat waktu dalam proses belajar mengajar (tidak perlu menggambar/menulis lagi di papan tulis.208 a. grafik dan sebagainya yang berguna untuk memperjelas materi pelajaran yang diajarkan oleh guru di depan siswa. tabel. tetapi gunakan alat penunjuk yang berupa: batang bambu kecil panjang. cukup menempelkan saja) 2) Dapat digunakan berulangkali. angka. 4) Semua guru bisa membuatnya. Jenis chart ada 2 yakni: 1) Chart tunggal adalah satu kesatuan informasi yang dituangkan dalam satu lembar. 3) Biaya tidak terlalu mahal dan relatif murah. atau pulpen yang tangkainya bisa diperpanjang seperti antene radio. . Untuk mengajar/menjelaskan kepada siswa kita jangan menunjuk gambar chart dengan tangan langsung karena ini bisa menghalangi gambar yang ditampilkan.

rengat. memperlama proses yang cepat dan sebagainya). mempercepat proses yang memakan waktu lama. memperbesar ukuran yang kecil. perbedaannya adalah pada chart berseri (flipchart) serangkaian beberapa lembar gambar merupakan satu komponen/kesatuan informasi yang disajikan secara berurutan dengan cara ditumpuk/dibendel dan dijepit menjadi satu. b. ukuran dan waktu (maksudnya adalah memperkecil ukuran yang besar. 3) Perlu tempat yang cukup untuk penyimpanan.209 5) Bisa mengatasi ruang. sehingga sebelum lembar pertama telah jelas baru boleh dibuka lembaran berikutnya sehingga ada hubungan kesatuan dari lembar pertama ke lembar berikutnya. 2) Perlu perawatan yang baik karena kertas mudah rusak (kena air. lembab. 6) Bisa memperjelas masalah. Kerugian menggunakan gambar chart: 1) Untuk membuat chart yang baik dan tepat diperlukan waktu persiapan/pembuatan yang cukup lama. 4) Kurang bisa menggambarkan unsur gerak atau proses. 5) Perlu ketrampilan menggambar. . Gambar chart berseri (flipchart) Gambar chart berseri (flipchart) sebenarnya sama dengan chart tunggal. Ciri khas dari flipchart adalah lembaran-lembaran gambar chart adalah berurutan di mana satu bendel merupakan satu kesatuan yang utuh. informasi sebelumnya yang terdapat pada lembar-lembar chart dibawahnya tidak boleh dilihat oleh siswa. luka dan sobek).

brosur-brosur dan buku-buku. penulisan. hanya perbedaannya gambar ini didapatkan dengan peralatan yang dinamakan kamera foto sehingga obyek yang digambar sesuai dengan apa yang ada. berukuran besar/terlalu kecil yang tidak memungkinkan dibawa ke kelas. akurat. . alamiah. Gambar fotografi dapat diperoleh dari berbagai sumber. ilustrasi. foto yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut dapat digunakan oleh guru secara efektif dalam kegiatan belajar mengajar. majalah-majalah. dramatisasi. bacaan. realistis. kongkret. Gambar. misalnya dari surat-surat kabar. dimensi/skala benar dan akurat. Foto dapat membatasi ruang. Foto Hasil pemotretan fotografi adalah merupakan media (alat bantu mengajar) gambar juga.210 Flipchart disajikan lembar demi lembar sehingga minat dan konsentrasi siswa terarah pada penjelasan gambar chart yang dijelaskan oleh guru tersebut. kegiatan seni. pada setiap jenjang pendidikan dan berbagai disiplin ilmu. Membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan berbahasa. kejadian yang sudah tidak mungkin diulangi bisa digantikan dengan media foto ini. c. kartun. Obyek yang tidak mungkin dibawa ke kelas. dan pernyataan kreatif dalam bercerita. lukisan. waktu dan ukuran. menulis dan menggambar. serta membantu mereka menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi bacaan dari buku teks. Gambar fotografi itu pada dasarnya membantu mendorong para siswa dan dapat membangkitkan minatnya pada pelajaran. Foto merupakan media visual yang efektif karena lebih nyata.

kejelasan dan ukuran yang memadai. foto haruslah dipilih dan digunakan sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. dan teknik pengambilan dann pemrosesan yang baik. Dengan demikian foto bisa memenuhi fungsinya untuk membangkitkan motivasi dan minat siswa. Disamping siswa dapat menggunakan foto secara perorangan. mengembangkan kemampuan siswa berbahasa. Foto disesuaikan dengan tingkat usia siswa. Sudjana & Rivai (1991) menguraikan beberapa kriteria pemilihan foto untuk tujuan pengajaran. dan menarik. foto dapat digunakan dengan efektif. atau perbedaan gaya arsitek dari berbagai negara dan zaman. misalnya. kualitas artistik. dan membantu siswa menafsirkan serta mengingat isi pelajaran yang berkenaan dengan foto-foto tersebut. validitas.211 Sebagai media pengajaran. yaitu mendukung pencapaian tujuan pengajaran. pewarnaan yang efektif. Diskusi tentang jenis-jenis spesies tertentu dari binatang akan berjalan efektif apabila disertai dengan foto-foto berbagai jenis binatang yang termasuk spesies yang sedang dibicarakan. Selanjutnya. Foto harus jelas . Foto yang digunakan sebagai media pegajaran harus artistik dalam arti foto tersebut mempertimbangkan faktor-faktor seperti komposisi. foto harus cukup besar dan jelas untuk kelompok siswa yang dihadapi. foto dapat pula digunakan secara berkelompok terutama untuk melancarkan kegiatan diskusi tentang isi pelajaran. Untuk menunjukkan berbagai jenis gaya bangunan (arsitek) Islam. Foto benarbenar melukiskan konsep atau pesan isi pelajaran yang ingin disampaikan sehingga dapat memperlancar pencapaian tujuan. sederhana atau tidak rumit sehingga siswa tidak salah menafsirkan pesan dalam foto itu.

dan cara memperolehnya pun mudah sekali tanpa perlu mengeluarkan biaya. kereta api. boneka dan mainan. misalnya foto-foto mengenai benda-benda atau obyek yang akrab dengan kehidupan siswa seperti binatang. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari gambar fotografi dalam hubungannya dengan kegiatan pengajaran. antara lain: 1) Mudah dimanfaatkan di dalam kegiatan belajar mengajar. surat kabar dan bahan-bahan grafis lainnya. bukanlah foto sesuatu obyek atau peristiwa yang dibuat-buat atau didramatisasi: foto seorang petani di desa kita yang sedang menuai padi dengan pisau alat panen merupakan kenyataan yang sesungguhnya.212 karena dengan ketajaman dan kontras yang baik yang dapat memberikan ketepatan dan rincian yang memadai untuk menggambarkan kenyataan yang ditampilkannya.” Disamping itu. karena praktis tanpa memerlukan perlengkapan apa-apa. tidak berarti foto mengenai obyek yang kurang akrab dengan siswa tidak boleh disajikan. dibandingkan dengan seorang petani dari desa kita yang memanen padi di sawah dengan “mesin traktor penggiling padi. Dengan memanfaatkan kalender bekas. 2) Harganya relatif lebih murah daripada jenis-jenis media pengajaran lainnya. . dan lain-lain. Namun demikian. majalah. Mungkin foto tentang sesuatu obyek yang asing bagi siswa dapat menarik perhatian siswa karena baru pertama kalinya berkumpul dan siswa ingin mengetahui lebih jauh tentang obyek itu. foto-foto untuk tujuan pengajaran harus dapat memikat perhatian siswa. Kebenaran foto atau validitas foto menggambarkan keadaan yang sesungguhnya.

Namun demikian. Kelemahan gambar fotografi antara lain: 1) Beberapa gambarnya sudah cukup memadai akan tetapi tidak cukup besar ukurannya bila dipergunakan untuk tujuan pengajaran kelompok besar. 3) Gambar fotografi bagaimana pun indahnya tetap tidak memperlihatkan gerak seperti halnya gambar hidup. . 4) Gambar fotografi dapat menerjemahkan konsep atau gagasan yang abstrak menjadi lebih realistik. Karakteristik dari gambar fotografi: 1) Gambar fotografi itu adalah dua dimensi. dari ilmu-ilmu sosial sampai ilmu-ilmu eksakta. untuk berbagai jenjang pengajaran dan berbagai disiplin ilmu. gambar fotografi dapat mengubah tahap-tahap pengajaran. dari lambang kata (verbal symbols) beralih kepada tahapan yang lebih kongkret yaitu lambang visual (visual symbols). dengan maksud guna meningkatkan daya efektifitas proses belajar mengajar. sehingga sukar untuk melukiskan bentuk sebenarnya yang berdimensi tiga. kecuali bilamana diproyeksikan melalui proyektor opek. dari sudut pandang pembelajaran hal itu menjadi amat penting terutama untuk mata pelajaran yang rumit. Mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. beberapa gambar fotografi seri yang disusun secara berurutan dapat memberikan kesan gerak dapat saja dicobakan.213 3) Gambar fotografi bisa dipergunakan dalam banyak hal. 2) Gambar fotografi adalah berdimensi dua. Menurut Edgar Dale. Kecuali bilaman dilengkapi dengan beberapa seri gambar untuk objek yang sama atau adegan yang diambil dilakukan dari berbagai sudut pemotretan yang berlainan.

Dalam hal ini guru hendak menetapkan kegunaan-kegunaan gambar yang secara relatif memadai. 6) Gambar datar dapat melayani berbagai mata pelajaran. kualitas artistik. dan memilihnya yang terbaik untuk tujuan khusus pengajaran. Dari sudut pandang ini ada dua macam pertimbangan. Dalam memilih gambar fotografi ada lima kriteria untuk tujuan pengajaran. 5) Gambar datar memberi kesempatan untuk diamati rinciannya secara individual. bahwa untuk menilai dan memilih gambar datar yang baik harus menampilkan satu gagasan utama. pertama dari sudut pendidikan dan kedua dari sudut seni. Dengan satu pusat perhatian maka seluruh adegan akan mendukung kepada pesan apa yang ingin disampaikan. memerlukan pengamatan rincian gambar yang tekun. yaitu harus memadai untuk tujuan pengajaran. 4) Gambar datar menekankan gagasan pokok dan impresi. . validitas serta menarik. Ada beberapa kriteria dalam memilih gambar-gambar yang memenuhi persyaratan bagi tujuan pengajaran. untuk menyatakan bahwa gambar itu tidak bergerak. misalnya gambar yang memperlihatkan adegan di jalan raya sangat efektif. 3) Gambar datar dapat memberi kesan gerak.214 2) Gambar datar adalah medium yang “diam” oleh sebab itu dalam hal ini seringkali dipergunakan istilah gambar tetap atau gambar diam. misalnya hasil pemotretan jagat raya dengan benda-benda langitnya. kejelasan dan ukuran yang cukup. segala macam objek dapat dipotret dari yang kongkret sampai kepada gagasan yang abstrak.

Gambar berwarna harus dipilih betul menurut kenyataan. Dalam pada itu. bagian informasi atau satu konsep jelas yang mendukung tujuan serta kebutuhan pengajaran. misi. Jadi pusat perhatian dari suatu gambar adalah gagasan. Artinya gambar itu mempunyai pusat perhatian yang jelas sehingga memberikan keseimbangan kepada gambar secara keseluruhan. gambar-gambar itu harus memenuhi persyaratan artistik yang bermutu. Di samping itu gambar fotografi hendaknya realistik dan hidup. dan alamiah misalnya merah. kedudukan dan arah garisgaris. Keefektifan suatu gambar ditentukan oleh sejauh mana baiknya gagasan dikomunikasikan melalui gambar-gambar itu.215 Pertama gambar fotografi itu harus cukup memadai. Gambar-gambar yang memenuhi persyaratan mutu seni juga harus memenuhi faktor-faktor: 1) Komposisi yang baik. biru. 2) Pewarnaan yang efektif. merupakan ciri fundamental efektivitas gambar yang baik atau pengorganisasian ke seluruh unsur-unsur gambar yang baik. Sedikit unsur terdapat di dalam gambar adalah cocok bagi anak-anak usia muda. Kedua. berarti pemakaian warna-warna secara harmonis merupakan ciri kedua dari kualitas artistik suatu gambar. dan harus cukup besar sehingga rinciannya bisa diamati untuk dipelajari. artinya untuk tujuan pengajaran yaitu harus menampilkan gagasan. pesan yang ingin dikomunikasikan bukan bersifat fisik. pemakaian cahaya.. pewarnaan yang bagus. Demikian pula pola gambarnya harus sederhana dan gagasannya tidak kompleks. untuk memilih gambar fotografi perlu memperhitungkan kesesuaiannya dengan tingkat usia siswa. . bayangan serta pewarnaan.

gambar fotografi untuk tujuan pengajaran harus cukup besar dan jelas. lebih pantas dipajang daripada untuk tujuan pengajaran. Gambar yang tajam dan kontras mempunyai kelebihan. yaitu terhadap bendabenda yang akrab dengan kehidupan mereka. 3) Teknik pemotretan yang unggul bernilai lebih dari komposisi dan pewarnaan. antara lain: . Bilamana ukuran gambar terlalu kecil maka akan sulit diamati. pemahaman dan daya tarik terhadap gambar merosot dan perhatian siswa kepada gambar pun hilang. sehingga tampak jelas ke seluruh siswa. Keempat. Kelima memikat perhatian kepada anak-anak. kapal terbang dan sebagainya. Gambar-gambar yang representatif dari bidang studi tertentu yang menampilkan pesan yang benar menurut ilmu. kereta api. Yang tidak kurang pentingnya adalah besarnya gambar. misalnya binatang-binatang. Memikat perhatian bagi anak-anak cenderung kepada hal-hal yang diminatinya. Warna-warna campuran hanya dipergunakan bila ingin menonjolkan makna tertentu terhadap gagasan yang ditampilkan ke depan. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam mempergunakan gambargambar fotografi sebagai media visual pada setiap kegiatan pengajaran. perahu.216 hijau dan violet. karena ketepatan dan rinciannya menggambarkan kenyataan secara lebih baik. merupakan gambar-gambar yang tepat untuk maksud pengajaran yang sahih. Ketiga. Gambar-gambar fotografi yang melukiskan suasana dramatis atau mencekam. adegan yang ideal. validitas gambar. anakanak.

sebab keefektifan pemakaian gambar-gambar fotografi di dalam proses belajar mengajar memerlukan keterpaduan. Keterampilan jenis . akan tetapi tidak menghasilkan kesan atau impresi visual yang jelas. Melalui gambar itulah mereka memperoleh kejelasan tentang istilah verbal. Jumlah gambar yang sedikit tetapi selektif.217 1) Pergunakanlah gambar untuk tujuan-tujuan pelajaran yang spesifik. daripada mempergunakan banyak gambar tetapi tidak efektif. 4) Kurangilah penambahan kata-kata pada gambar. Misalnya gambar-gambar candi gaya Jawa Tengah dan Jawa Timur. oleh karena gambar-gambar itu justru sangat penting dalam mengembangkan kata-kata atau cerita. apa yang membedakan ciri-ciri satu sama lain. akan mengakibatkan para siswa merasa dirongrong oleh sekelompok gambar yang memikat mereka. seni grafis dan bentuk-bentuk kegiatan lainnya. 5) Mendorong pernyataan yang kreatif. 2) Padukan gambar-gambar kepada pelajaran. Banyaknya ilustrasi gambar secara berlebihan. melalui gambar-gambar para siswa akan didorong untuk mengembangkan keterampilan berbahasa lisan dan tulisan. lebih baik daripada dua kali mempertunjukkan gambar-gambar yang serabutan tanpa pilih-pilih. 3) Pergunakanlah gambar-gambar itu sedikit saja. yaitu dengan cara memilih gambar tertentu yang akan mendukung penjelasan inti pelajaran atau pokok-pokok pelajaran. atau dalam menyajikan gagasan baru. siswa akan menjelaskan mengapa bentuknya tidak sama. Tujuan khusus itulah yang mengarahkan minat siswa kepada pokok-pokok terpenting dalam pelajaran.

Alat ini dapat berbentuk balok-balok dalam berbagai macam ukuran. Dalam kegiatan bermain ini anak membentuk sesuatu. 6) Mengevalusi kemajuan kelas. Terdiri dari semua alat permainan yang dibuat dengan berbagai macam bahan seperti plastik. dalam upaya memperoleh hasil tes yang komprehensif serta menyeluruh. 2) Ditujukan terutama untuk anak-anak pra sekolah dan berfungsi mengembangkan berbagai aspek perkembangan kecerdasan dan motorik anak. Jadi guru bisa mempergunakan gambar datar. Alat Permainan Visual Edukatif Alat permainan edukatif adalah alat permainan yang dirancang khusus untuk kepentingan pendidikan dan mempunyai beberapa ciri yaitu: 1) Dapat digunakan dalam berbagai cara. kayu. bisa juga dengan memanfaatkan gambar-gambar baik secara umum maupun secara khusus. d. maksudnya dapat dimainkan dengan bermacam-macam tujuan. . slides atau transparan untuk melakukan evaluasi hasil belajar siswa. manfaat dan menjadi bermacam-macam bentuk. 3) Segi keamanan sangat diperhatikan baik dari bentuk maupun penggunaan cat 4) Membuat anak terlibat secara aktif 5) Sifatnya konstruktif. gabungan bermacam-macam bahan yang dapat digunakan untuk mencipta bangunan. Macam-macam alat permainan visual edukatif: 1) Alat edukatif untuk membangun.218 keterbacaan visual dalam hal ini sangat diperlukan bagi siswa dalam “membaca” gambar-gambar itu. Pemakaian instrumen tes secara bervariasi akan sangat baik dilakukan.

Karena kegiatan ini bermanfaat untuk melatih ketekunan. kayu dan sebagainya. plastik. Misalnya kertas. Alat permainan edukatif yang mengandung unsur konsep . mengembangkan kreativitas. Kegiatan ini sangat baik diberikan pada anak yang mempunyai gangguan/berkebutuhan khusus seperti hiperaktif dan autisme. besaran dan lain-lain.E. Tidak jarang anak mampu menguasai bahasa yang canggih karena kemampuan ingatan pendengarannya bagus sehingga kita tidak perlu terlalu takut untuk menggunakan bahasa yang umumnya digunakan orang dewasa. ini maka kosa kata yang didapat juga tak ternilai. Dengan rentang perhatian yang terbatas dan masih sulit diatur atau masih sulit belajar dengan “serius”. mengisi waktu luang. Misalnya dalam memperkenalkan warna dan ukuran bisa digunakan kegiatan bermain memancing ikan yang terdiri dari bermacam-macam warna dan ukuran. Pada usia prasekolah anak perlu menguasai berbagai konsep seperti warna.P. konsentrasi (pemusatan perhatian). anak usia prasekolah terutama anak hiperaktif akan lebih mudah belajar pengenalan konsep-konsep ini apabila dilakukan sambil bermain (melalui kegiatan bermain). koordinasi mata dengan tangan. Misalnya: membuat rumah-rumahan dengan balok kayu atau potongan lego. arah. ukuran. menyusun kepingan-kepingan kayu bergambar dan yang semacamnya.219 menciptakan bangunan tertentu dengan alat permainan yang tersedia. karena anak akan merasa senang dan tanpa ia sadari ternyata ia sudah banyak belajar. bentuk dan ukuran. Peralatan ini terbuat dari berbagai macam bahan. menggambar. bentuk. Melalui kegiatan bermain dengan A. 2) Alat permainan edukatif untuk melatih berbagai macam pengertian mengenai warna.

Dengan alat permainan ini anak-anak akan mengenal konsep warna. bila terlalu sulit bagi anak untuk mengingat nama segi empat dapat diganti dengan istilah kotak atau tahu. segi tiga dan segi enam. posisi benda (di atas. segi empat. Kata “lingkaran” diganti menjadi bundar. warna. Beberapa contoh alat permainan edukatif yang dapat mengembangkan ketrampilan gerakan halus dan koordinasi mata dan tangan: 1) Lotto-lotto berwarna 2) Alat permainan menara gelang ganda bentuk bulat. belajar hukum sebab akibat. bentuk dan ukuran. di bawah.220 bentuk tidak perlu mendapat penekanan berlebih. dan di samping). Model puzzle lain adalah suatu gambar tertentu yang kemudian dipotong-potong. 3) Puzzle (mainan bongkar pasang). jumlah. sekaligus melatih motorik halus. bintang. 4) Tangga bentuk silinder dan kubus. oval dan sebagainya). Dengan bermain dan secara tidak khusus disebutkan nama bentuknya. juga melalui pengulangan bermain dengan alat ini akan membuat anak makin memiliki konsep dan mengenal nama bentuk tersebut dengan spontan. segi empat. segi tiga. 6) Papan-papan hitung 7) Papan paku (dengan pengawasan cermat) . yaitu suatu sarana menyalurkan energi dan agresivitas anak. Dengan memainkan alat permainan ini anak belajar tentang bentuk. 5) Papan-papan pasak. Yang paling sederhana adalah papan bentuk (lingkaran. setelah gambar tersebut ditebarkan di meja. anak diminta menyatukan kembali. Misalnya.

12) Materi yang berorientasi pada kegiatan yang bersifat akademik. Dalam bermain pura-pura anak menirukan kegiatan orang yang pernah dijumpainya dalam kehidupan sehari-hari. dapat meningkatkan kosa kata serta belajar mengelompokkan berdasarkan fungsinya. Misalnya: main rumah-rumahan. pola bentuk untuk dijiplak (sebagai persiapan membuat huruf). ketekunan. 11) Alat permainan yang bersifat konstruksi. yaitu untuk mengembangkan kreativitas. antara lain mengembangkan kemampuan anak untuk berdaya cipta (kreatif). 10) Berbagai macam miniatur binatang. Materi tersebut meliputi: kertas dan pensil. dapat dengan contoh atau berdasarkan kreasinya sendiri. bentuk angka-angka (untuk memperkenalkan bentuk angka) dan sebagainya. Yaitu materi yang membawa anak untuk kesiapan akademik bagi anak. polisi dan penjahat. melatih ketrampilan motorik halus. orang (tokoh) yang bermanfaat untuk bermain peran sekaligus meningkatkan pengetahuan anak. Kalau ia berhasil. alat permainan LASY. misalnya balok meja. daya tahan. anak dapat menyusun suatu bentuk tertentu. jadi batman atau kesatria baja hitam. mendapat pujian dari orang lain yang akan meningkatkan keinginan anak bekerja lebih baik lagi. . sejenis atau sama. akan menimbulkan rasa puas. Dapat juga anak melakukan peran imajinatif atau dongeng. Manfaat yang bisa diperoleh melalui kegiatan bermain ini. melatih konsentrasi.221 8) Biji untuk meronce 9) Kartu berpasangan. Dengan alat permainan tersebut.

pertama dengan mencobanya bersama kita dan kemudian ia akan memperhatikan kita menggunakan jari untuk menelusuri bentuk huruf secara benar. gunting dan tutup setiap guntingan foto dengan plastik bening sehingga terbungkus rapi. Permainan ini membantu si kecil untuk membedakan secara visual dan mengingat-ngingat letak kartu sehingga ia tidak hanya sekedar menebak saja selama permainan ini. Tujuannya adalah mencari pasangan setiap foto itu. Huruf-huruf ini akan terasa menonjol bila diraba oleh si kecil. 3) Huruf-huruf Amplas Cara membuatnya siapkan beberapa lembar amplas. Lalu ajaklah si kecil memainkan permainan “konsentrasi” dengan cara mengocok tumpukan foto itu. Susunlah tiap huruf tersebut di atas karton tebal. mengenal bunyi huruf dan membedakan bunyi. lalu potong. Cara membuatnya potret berbagai benda yang dikenal si kecil dan cetak dua buah untuk masing-masing foto. atau meletakkannya dengan posisi terbalik di atas meja dan membuka secara bergantian dua kartu sekaligus. Kita bisa . 2) Foto-foto berpasangan. Kegiatan: suruh anak untuk menunjuk beberapa benda dan menyebutkan huruf awal serta bunyinya dengan demikian anak akan dapat mengenal abjad. Suruhlah ia meraba huruf-huruf itu. Tempelkan foto-foto itu di karton/kertas tebal.222 Alat permainan visual edukatif ciptaan Montessori: Aktivitas Bahasa 1) Album Foto Abjad Terbuat dari foto berbagai obyek dan di bawah foto ditulis huruf awalnya.

Misalnya: saya buah. 5) Buku Teka-teki Abjad Cara membuat buku teka-teki yaitu dimana satu halaman berisi petunjuk dan halaman selanjutnya berisi jawaban. Kita juga bisa membuat huruf besar dan huruf kecil dari lembaran amplas kemudian memainkan permainan “konsentrasi” untuk memasangkan huruf besar dengan huruf kecil. bantulah si kecil menentukan obyeknya. dan beri tiga atau empat petunjuk. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk anak-anak yang baru mulai belajar membaca dengan mengenal tulisan. Bagian depan kulkas misalnya bisa dijadikan tempat untuk menempelkan huruf-huruf dengan menggunakan magnet. 6) Tabel Tugas Memberikan tugas pada anak bisa mendorong keinginannya untuk mandiri dan memberikan kepuasan saat tugasnya telah selesai dilaksanakan. saya berwarna kuning. gambar . Untuk mengatur tugas anak dapat dibuat tabel penuh warna agar lebih menarik. saya rasanya asam. atau langsung memasangkan huruf besar dan huruf kecil bersama-sama. Kegiatan ini dapat membuat anak berpikir kritis dan berpikir imajinatif. Tabel tugas bisa dibuat dengan menggunakan amplop bertuliskan nama anak dan kartu bergambarkan tugas mereka. Untuk buku atau kartu permainan. Kegiatan ini bisa membantu si kecil mengenal abjad 4) Dinding Kata Dinding kata ini dapat dibuat di berbagai tempat. Untuk anak yang lebih kecil.223 membimbing jarinya untuk menelusuri setiap huruf saat kita menyebutkan nama huruf tersebut.

Meski hasil guntingannya tidak rapi. di ujung benang tadi. sehingga posisinya seperti jarum jam. dan gunting kemudian tempelkan gambar-gambar benda dan gambarlah sebuah anak panah di karton. menyortir gambar-gambar itu atau memilih foto atau gambar makanan bisa mengembangkan ketrampilannya dalam mebedakan obyek secara visual. 8) Jam Gambar Cara membuatnya yaitu gambarlah sebuah lingkaran di karton tebal. 7) Menyortir Gambar-gambar Ajaklah si kecil mengumpulkan gambar berbagai jenis makanan yang ia sukai dan yang tidak ia sukai dari majalah dan menempelkannya untuk dijadikan hiasan kolase. dan anak panah bisa diputar. Cara menggunakannya anak harus menemukan gambar di kartu itu . Jadi pastikan setiap tugas ditampilkan dengan gambar yang sesuai. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan anak pada tulisan dan membedakan secara visual. Lubangi anak panah tadi sehingga terbentuk lubang yang menembus pusat lingkaran ke belakang. Setelah selesai.224 merupakan suatu pesan. Lalu. lubangi pusat lingkaran itu. setelah itu tempelkan sepotong karton tebal di bawahnya. Masukkan benang yang sudah diikatkan ke sebatang lidi kecil ke lubang itu hingga ujung benangnya menembus ke belakang. ikatkan lagi lidi kecil sehingga anak panah dan lingkaran saling menempel. Sedangkan menggunting dan menempel gambar adalah latihan yang tepat untuk mengembangkan ketrampilan motorik halusnya. letakkan di atas lingkaran.

Kegiatan ini bisa membantunya memahami bahwa semua huruf terbentuk dari garis lurus dan lengkungan. Tanyakan pada anak. 9) Garis dan lengkungan Cara membuatnya adalah guntinglah garis lurus yang panjang dan pendek serta setengah lingkaranyang besar dan kecil dari karton. Kemudian tempelkan angka tersebut secara berurutan pada selembar kertas berwarna. (jawabannya huruf besar “R” serta huruf besar dan kecil dari “p”). Aktivitas Matematika 1) Deretan angka Cara membuat deretan angka dengan menggunting angka-angka pada kalender bekas dan menaruhnya di sebuah kotak. Mulailah dengan satu garis lurus yang panjang dan pendek serta satu buah bentuk setengah lingkaran berukuran kecil. huruf apa saja yang bisa dibuat dari potongan tersebut. 2) Kwartet angka. dan berikan beberapa guntingan kertas itu kepada si kecil sekaligus. Hal ini membantu anak bisa belajar menghitung hingga angka 100.225 yang bunyi konsonan awalnya sama dengan gambar yang tertunjuk oleh anak panah. mintalah anak untuk menghitung jumlah benda yang sesuai dengan angka yang tertera pada masing-masing kartu. Usahakan agar kertas tidak terlalu panjang agar anak bisa menyelesaikannya dengan baik. Lalu pasangkan benda tersebut dengan angkanya. Kartu tersebut bisa dibuat dalam ukuran yang . Kumpulkan bermacammacam benda. Buatlah kartu-kartu dengan angka di dalamnya.

3) Tusuk Gigi Anak-anak yang masih kecil biasanya berpikir bahwa angka selalu statis. Jelaskanlah padanya bahwa jumlah tusuk gigi pada setiap susunan tersebut tetaplah empat. mintalah anak untuk menyusun empat angka dengan empat cara yang berbeda. Hitunglah jumlah tusuk gigi itu bersama-sama saat ia menyusun (dan menempelkan) tusuk gigi dengan cara yang berbeda. Misalnya. kemudian tanyakan jam berapa kepada anak sesuai dengan gambar atau anak diminta menunjukkan/mengarahkan arah jarum jam sesuai yang kita perintahkan. empat tusuk gigi bisa disusun menjadi sebuah rumah. Perkenalkanlah semua uang jenis logam. Siapkan beberapa tusuk gigi.226 cukup besar sehingga seluruh benda itu bisa diletakkan semuanya di atas kartu. Buatlah jiplakan dari kedua sisi uang logam. 5) Menjiplak uang logam. dibariskan berjajar atau membentuk satu garis lurus. letakkan uang logam di bawah kertas putih dan bantulah ia menjiplak dengan menggunakan krayon. pada empat lembar kertas yang berbeda. Aktivitas ini dapat membantu si kecil yang baru mengenal uang logam . atau menjadi persegi panjang. Lalu. maka ajaklah anak untuk melakukan kegiatan dengan tusuk gigi. Jadi menurut mereka angka 5 atau 7 tidak dapat ditampilkan dengan cara lain dan masih tetap merupakan 5 atau 7. Setelah itu. 4) Jam tiruan Buatlah jam tiruan dari kertas kardus. Untuk belajar memahami bahwa sebuah angka tetap sama meski diatur dengan cara berbeda.

b) Belajar menyusun kalimat. yang dilakukan oleh anak sendiri. serta kombinasinya. suku kata. dan huruf melalui pelajaran persiapan membaca permulaan. c) Melatih kesabaran anak. .227 Alat-alat yang diperlukan untuk pendidikan persiapan permulaan membaca dan menulis dan persiapan permulaan berhitung/matematika: 1) Balok bangunan Fungsi/kegunaan: a) Mengenal bentuk-bentuk benda serta hubungannya antara satu dengan yang lainnya. b) Sebagai alat untuk mendorong anak dalam membangun sesuatu dengan daya fantasi dan kreatifitasnya. suku kata. 2) Kotak merjan Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan 5 macam bentuk dan warna. kata. b) Memberi variasi dalam cara memantapkan pengertian bilangan. kata. 3) Kotak baca Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan kalimat.

jingga. hijau. ungu. nila. b) Bahan terbuari dari triplek c) Warna yang digunakan adalah Papan penampang berwarna abu-abu Kepingan geometris sesui dengan yang tersebut diatas. biru. putih dan hitam) Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari papan penampang dan kepingan setengah lingkaran.228 Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari: Kotak bertutup yang dapat dibuka Tutup kotak yang di dalamnya terdapat gambar yang bertuliskan “nina beli buku” Isi kotak papan baca 1 Kepingan kalimat “nina beli buku” 2 Set kepingan kata “nina beli buku” 2 Set kepingan suku kata “nina beli buku” 2 Set kepingan huruf “nina beli buku” 4) Papan pengenalan warna Fungsi/kegunaan: Memperkenalkan 9 macam warna (yang terdiri dari warna merah. d) Jumlah 1 papan penampang dengan 9 lubang lingkaran 9 potong kepingan setengah lingkaran . kuning.

daun dan sebagainya. buah kecil.229 5) Papan nuansa warna Fungsi/kegunaan: Mengenalkan nuansa 5 jenis warna. buah nanas. alas pohon. 6) Boneka Fungsi/kegunaan: Alat peraga untuk kegiatan bermain sandiwara boneka. . masing-masing dengan urutan warna yang paling muda dan meningkat ke warna paling tua. 7) Papan geometris Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan bentuk-bentuk geometris b) Melatih otot-otot jari anak c) Untuk latihan menulis Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari papan penampang dan9 potongan-potongan bentuk geometris b) Bahan terbuat dari papan triplek 8) Pohon hitung Fungsi/kegunaan: a) Memperkenalkan konsep bilangan b) Menanamkan pengertian tentang perbandingan (lebih banyak kurang) Spesifikasi alat: Unsur-unsur pada pohon hitung adalah pohon. dan isi pohon yang terdiri dari bentuk bunga.

10) Kotak pos Fungsi/kegunaan: a) Mengenal bentuk-bentuk geometris (benda 3 dimensi) dengan beberapa penampang b) Melatih keseimbangan otot untuk memasukkan bentuk-bentuk geometris pada penampang yang benar. pensil-buku. sendok-garpu. c) Membandingkan bentuk-bentuk geometris 11) Lotto gambar benda berpasangan Fungsi/kegunaan: Mengenalkan hubungan antara benda-benda yang berpasangan. penggorengan-sodet. Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari Papan penampang yang bergambar Kepingan yang bergambar berpasangan: Daun-bunga. papan/setrika-setrikaan b) Bahan terbuat dari triplek dan harbort . rok-baju. kaos kaki-sepatu. meja-kursi.230 9) Papan pengenalan angka Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan angka 91-5) sebagai lambang bilangan b) Melatih anak untuk mengenal angka dan menghitung sendiri banyaknya paku jamur sebagai angka. raket-kok. tatakan-cangkir.

231 12) Loto gambar benda yang sama Fungsi/kegunaan: Mengenalkan persamaan dan perbedaan bentu antara benda-benda Spesifikasi alat: a) Unsur alat terdiri dari papan tempat keping bergambar dan isi berupa 12 keping bergambar b) Bahan dari triplek dilapis formika 13) Serbuk berwarna Fungsi/kegunaan: a) Bahan untuk menggambar b) Finger painting Spesifikasi alat: a) Unsur dari serbuk berwarna ¼ (seperempat) kilogram setiap warna. kuning dan biru. kuning dan coklat. d) Jumlah terdiri 1 set dengan 3 ukuran (besar-sedang-kecil) . merah. b) Bahan yang digunakan adalah sepuluh kue c) Warna: merah. hijau. 14) Kuas gambar Fungsi/kegunaan: Alat pencetus pengungkapan ekspresi menggambar anak Spesifikasi alat: a) Unsur terdiri dari tangkai dan bulu-bulu kuas b) Bahan yang digunakan adalah kayu dan ijuk/rambut c) Tiga macam warna.

dimana pada bagian kiri memuat gambar dari berbagai benda dan pada bagian kanan memuat nama dari benda itu. biru Beberapa media pembelajaran visual lainnya yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama belajar membaca asosiasi antara arti dan kata. .232 15) Plastisin Fungsi/kegunaan: Alat untuk membentuk dan melatih otot-otot jari anak Spesifikasi alat: a) Unsur dari barang yang lunak dan dapat dibentuk b) Bahan terbuat dari Tanah liat atau plastisin c) Warna: merah. yaitu: 1) Peralatan yang terbuat dari sehelai karton. Spesifikasi alat: a) Bahan terbuat dari kayu. hijau. hijau. Dan dua buah panah yang terbuat dari karton yang dapat digerakkan ke atas dan ke bawah melalui pita/tali. jingga. jingga d) Jumlah menurut keperluan 16) Gambang Fungsi/kegunaan: a) Mengenalkan salah satu alat musik pukul pada anak b) Sebagai alat untuk membangkitkan/memupuk rasa senang pada musik.kuning. Tugas anak adalah menggerakkan panahpanah itu sehingga panah kanan menunjukkan nama (kata) dari benda yang ditunjuk oleh panah kiri. kuning. biru. logam dan karet (penahan logam) b) Warna: merah. ungu.

4) Alat ini terdiri dari 8 sampai 12 helai kartu yang masing-masing berbentuk ikan. Agar ikan dapat dikail. ikan dibalikkan (dengan dikail) tiap kali anak menangkap seekor ikan. Tugas anak mencari kata yang sesuai dengan gambar atau sebaliknya. karena adanya sambungan tertentu antara kartu gambar dan kartu kata. . Cara menggunakannya: ikan diletakkan dengan kata disebelah atas dan anak membacanya. jika benar ikan boleh ditahan. Tugas anak adalah menggabungkan kartu gambar dan kata sesuai dengan bentuknya 3) Satu set kwartet yang terdiri atas 5 atau 6 atau 7 helai kartu. Tugas anak adalah menyusun kartu-kartu ini dalam sebuah lingkaran. ikatkan sebuah magnet kecil. nama dibacanya jika salah ikan dikembalikan dalam kolam. Beberapa media pembelajaran visual lainnya yang dapat membantu proses belajar mengajar terutama analisa sintese. dimana bagian muka dari kartu memuat gambar dan bagian belakang kartu memuat nama (kata) dari gambar itu. Alat ini bersifat self corrective.233 2) Gambar penghubung. Tiap kartu terdiri dari dua bagian. yaitu: 1) Alat yang terbuat dari dua helai kartu (satu set mainan kwartet) dimana kartu yang satu memuat nama (kata) dan kartu yang satunya lagi memuat gambar. dimana bagian kiri memuat kata dan bagian kanan memuat gambar atau dua bagian memuat suku kata. jepitlah masing-masing dengan sebuah paperclip pada ujung tali pengail. Untuk mengontrol benar atau tidak dalam membacanya.

Guru menunjukkan huruf (lambang): siswa menyebut kata-kata yang mulai/berakhir dengan huruf itu. tidak menghiraukan gambar. agar anak menangkap struktur kata dengan cepat. Tugas anak adalah menyusun kata. kata disusunnya menurut gambar. Misal untuk huruf n: nasi-nangka-aminiman-taman. dsb . Sedangkan anak yang telah maju. 2) Satu set mainan kwartet. Ia menyusun kata atas strukturnya. yaitu kartu yang memuat huruf/lambang.234 Tujuannya: agar anak belajar cepat mengidentifikasi benda dan nama. Set ini adalah merupakan self corrective (dapat mengoreksi diri sendiri) 3) Peralatan yang membantu proses mengenal lambang dan bunyi. Cara menggunakannya: Huruf ditunjukkan: Siswa mengucapkan bunyinya (bukan namanya) Guru menyebut bunyi siswa menunjukkan hurufnya. dimana tiap kartu dipotong menjadi dua bagian. Bagi anak yang lambat. Dimana titik yang agak besar pada bagian atas dari kartu menunjukkan bagian atas dari huruf. Bagi anak demikian gambar hanya berfungsi sebagai alat pengontrol. Panah menunjukkan dimana harus memulai jika ia menulis huruf.

Lemari ini diberikan sebuah dasar. agar kuat dan awet. dipinggir kiri dan kanan ada pita tempat menggerakkan huruf ke atas dan ke bawah. Hendaknya instruksi pada anak itu jelas agar tidak membingungkan anak. 4) Sebuah dadu yang dibuat dari karton tebal. 6) Alat ini terdiri dari sehelai karton dibagi dua bagian. anak membaca dari atas ke bawah. . Cara menggunakannya dadu dijatuhkan ke lantai. anak menyebut bunyi huruf itu/kata yang mulai/berakhir dengan “s”. au dll. dibungkus dengan kain dril. 7) “Lemari huruf” yaitu merupakan alat untuk menyusun kata. Agar mudah menarik laci untuk mengambil huruf yang diperlukan. Kalau anak melihat huruf “n” lalu menyebut nama mobil maka ia berarti belum tahu bahwa huruf n adalah lambang untuk bunyi n. Dipakai 30 buah kotak agar ada tempat bagi huruf-huruf seperti j. dibuat dari kotak korek api dijadikan satu lemari (direkatkan) dan tiap kotak merupakan sebuah laci. tiap laci diberi manyi. dibuat dari karton. kalau jatuh dengan huruf “s” ke atas.235 Dalam hal ini tidak perlu mengetahui bagaimana menulis kata yang disebutnya mungkin anak menyebut kata baru yang belum diajarkan. ai. e. Justru disinilah terletak kemajuan anak. Dengan tujuan agar anak membaca kata-kata dengan cepat. 5) Flash card yaitu kartu yang memuat kata dan yang ditunjukkan kepada anak untuk dilihat selama sekejap mata saja. maka yang penting adalah mengenal bunyi huruf sebagai bunyi pertama/terakhir dalam sebuah kata. Cara menggunakannya: dengan menggerakkan huruf “s” melalui pita.

tugas anak menyusun kata dengan huruf dalam laci itu. Dengan alat ini mereka dapat menguji kekuatan sendiri yaitu dapat dipakai oleh 1-2 orang. 9) Teknik strip story. Hal-hal yang terjadi pada anak tiap kali ia menyusun sebuah kata: Anak memikirkan kata mana yang akan disusun Anak menganalisa kata itu Anak mengidentifikasi tiap bunyi dalam kata itu dengan hurufnya. 8) Papan Kantong Diperlukan papan triplek/karton tebal dan kartu kata dengan panjang triplek kira-kira 90 cm dan tinggi 60 cm. Setelah pekerjaan selesai. jika dua orang dapat dilakukan dengan bekerja sama. ini berarti bahwa kunci untuk kepandaian membaca telah ada padanya. pada papan dilekatkan deretan kantong karton tinggi 5 cm. saling membantu dan mengoreksi. Dapat mempermahir siswa menyusun kata-kata menjadi satu untaian kalimat . Kalau anak telah dapat mengerjakan hal ini dengan lancar. anak harus mengembalikan huruf pada tempatnya masingmasing. pada deretan kantong dapat dipindah-pindahkan beberapa karton-karton kecil yang bertuliskan kata-kata.236 Pada laci yang berisi huruf “a” ditempelkan huruf “a”. yaitu berupa kartu-kartu kata dibuat dengan karton yang ditulis kata-kata.

Kurikulum SLB Tuna Rungu dan Tunagrahita Penyusunan program layanan pendidikan dan pengajaran diambil dari kurikulum tersebut dengan mempertimbangkan kemampuan dan ketidakmampuan (kebutuhan) anak. dengan bertitik tolak pada kebutuhan masing-masing anak berdasarkan hasil identifikasi. Kurikulum SLB Tuna Rungu e.237 E. Kurikulum Taman Kanak-kanak (usia 4-5 tahun) c. Pelayanan pendidikan bagi anak hiperaktif akan lebih baik apabila dimulai sejak dini (intervensi dini). Kemampuan dasar bahasa/komunikasi c. Oleh karena itu kurikulum dapat dipilih. yaitu: a. Kurikulum Sekolah Dasar d. serta proses perkembangan dan tingkat pencapaian programpun juga tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Kurikulum bagi anak hiperaktif dititik beratkan pada pengembangan kemampuan dasar. dan . Sehingga untuk mengembangkan kurikulum mengacu pada: a. Pengembangan Kurikulum Anak hiperaktif memiliki kemampuan yang berdeferensiasi. Kemampuan dasar kognitif b. Kemampuan dasar bina diri. dimodifikasi dan dikembangkan sendiri oleh guru pembimbing/terapis. dengan modifikasi. Penggunaan Media Visual (Gambar) dalam Pembelajaran Anak Hiperaktif 1. Program Pengembangan kelompok bermain (usia 2-3 tahun) b.

informasi dan pengertian tentang “sesuatu” . Respon anak c. Pelaksanaan Pembelajaran Dalam membelajarkan anak hiperaktif digunakan sistem pembelajaran lovaas one on one (pembelajaran satu guru satu murid) yang didasari oleh model perilaku kondisioning operant (Operant Conditioning) dimana efektifitas pengajaran berkaitan dengan kontrol terhadap antecedent/perilaku yang lalu dan konsekwensi. meliputi kemampuan: membaca. menulis. yaitu: a. sehingga anak dapat menangkap pesan. Berhenti sejenak dilanjutkan dengan perintah selanjutnya Sedangkan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Yaitu dengan memberikan reinforcement yang positif sebagai kunci dalam merubah perilaku. hukuman.238 d. Dalam teknisnya program loovas (Discrete Trial Training/DTT dari Lovaas) ini terdiri dari 4 bagian. 2. Stimuli dari guru agar anak berespons b. sedangkan perilaku buruk dihilangkan (melalui time out. atau dengan kata “tidak”). dan matematika (berhitung). maka kurikulum dapat ditingkatkan pada kemampuan pra akademik dan kemampuan akademik. Sosialisasi Apabila kemampuan dasar tersebut dapat dicapai oleh anak dengan mengacu pada kemampuan anak yang sebaya dengan usia biologi/kalendernya. Sehingga perilaku yang baik dapat terus dilakukan. Konsekwensi d.

gambar angka dan gambar kata kerja. Persiapkan perhatian dan beri perintah “Tunjuk … (nama benda gambar tersebut)”. Kegiatan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual gambar. Prompt (bantuan/arahkan) anak untuk menunjuk gambar tersebut dan beri reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi gambar: Gambar diletakkan di meja di depan anak. Media visual (gambar) itu mencakup gambar benda. dan kartu gambar c. terutama media visual (gambar). Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya . persiapkan perhatian dan beri sebuah gambar. Melabel gambar: Duduk di kursi berhadapan dengan anak . Katakan “Ini apa?” Prompt (bantuan/arahkan) anak untuk melabel (menyebutkan nama bendabenda) gambar tersebut dan beri reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. meliputi: 1) Identifikasi Benda a.239 tersebut. gambar huruf. gambar bentuk. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. gambar warna. Materi yang diajarkan adalah menunjuk dan menyebutkan gambar b.

Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. kartu angka. Prompt (bantu) anak untuk meletakkan benda yang diberikan di atas atau di depan benda yang cocok/sesuai. Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. Materi yang diajarkan adalah mengidentifikasi gambar-gambar dan melabel (menyebutkan nama) benda-benda dan gambar-gambar. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk warna yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya.240 tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. dan beri reinforcer (hadiah/pujian). kartu huruf. b. Materi yang diajarkan adalah mencocokkan gambar b. Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna c. Beri sebuah benda yang cocok/sesuai dengan salah satu benda di hadapan anak dan berikan perintah “Samakan”. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama warna)”. benda berwarna. 2) Mencocokkan (Matching) a. 3) Identifikasi warna a. Kurangi sedikit . Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi warna: Letakkan bahan-bahan berwarna di meja di hadapan anak. Proses/Prosedur pembelajaran: Letakkan benda (benda-benda) pada meja di hadapan anak. dan berbagai bentuk. c.

Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah bentuk. Melabel bentuk: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah benda berwarna. Kurangi sedikit demi . Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk bentuk yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel warna yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Katakan “Warna apa (ini)?”. Katakan “Bentuk apa (ini)?”. Materi yang diajarkan adalah identifikasi bentuk dan melabel bentuk b. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama bentuk)”. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Melabel warna: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi bentuk: letakkan sebuah bentuk (berbagai bentuk) pada meja dihadapan anak. 4) Identifikasi Bentuk a. Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar c. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel bentuk yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya.241 demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja.

Proses/Prosedur pembelajaran: . Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk bentuk yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel bentuk yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama huruf)”. Materi yang diajarkan adalah identifikasi angka dan melabel angka b. 5) Identifikasi huruf a. Materi yang diajarkan adalah identifikasi huruf dan melabel huruf b. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. 6) Identifikasi angka a. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja.242 sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi huruf: Letakkan huruf (-huruf) pada meja dihadapan anak. Katakan “Huruf apa (ini)?”. Media yang akan digunakan adalah kartu-kartu angka c. Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf c. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah bentuk. Melabel bentuk: Duduk dikursi berhadapan dengan anak.

Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk gambar yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (gambar aktivitas orang)”. Proses/Prosedur pembelajaran: Identifikasi kata kerja: Letakkan gambar aktivitas orang pada meja dihadapan anak. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Persiapkan perhatian dan katakan “Tunjuk … (nama angka)”. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah angka.243 Identifikasi angka: Letakkan angka (-angka) pada meja dihadapan anak. Media yang digunakan adalah foto/Gambar aktivitas orang c. Materi yang diajarkan adalah identifikasi kata kerja. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya . Katakan “Angka (ber) apa (ini)?”. 7) Identifikasi kata kerja a. melabel kata kerja dan menirukan gambar b. Melabel angka: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel angka yang dimaksud dan reinforce responsnya. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menunjuk angka yang benar dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya.

reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Persiapkan perhatian anak dan beri perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar). Persiapkan perhatian dan perlihatkan sebuah gambar.244 tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. Melabel kata kerja: Duduk dikursi berhadapan dengan anak. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk menirukan aktivitas seperti dalam gambar. Kurangi sedikit demi sedikit prompt hingga akhirnya tanpa promt sepanjang percobaan berikutnya dan berikan reinforce respons yang benar saja. 3. Hal ini dilakukan pembimbing dengan cara memberi reward atau demonstrasi secara verbal dan . Katakan “Gambar apa (ini)?”. Prompt (bantu/arahkan) anak untuk melabel gambar yang dimaksud dan reinforce (beri hadiah/pujian) responsnya. Evaluasi Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif meliputi: a) Evaluasi proses Evaluasi proses ini dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang atau pembelajaran yang sedang berlangsung seketika itu juga.

Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif yang menjadi contoh kasus. Hal ini dapat dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi bersama atau case conference. maka kelanjutan program dan kesinambungan program ditingkatkan dengan bertolak dari kemampuan akhir yang dikuasai anak. Apabila tujuan program pendidikan dan pengajaran telah tercapai dan dapat dikuasai anak. Di samping itu untuk mengetahui sejauh mana program yang dicapai anak dapat diketahui dengan cara adanya catatan khusus/buku penghubung.245 konkrit. . c) Evaluasi Catur Wulan Evaluasi ini disebut juga dengan evaluasi program yang dimaksud sebagai tolak ukur keberhasilan program secara menyeluruh. b) Evaluasi Bulanan Evaluasi ini bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah. sebaliknya apabila program belum dapat terkuasai oleh anak maka diadakan pengulangan program (remedial) atau meninjau ulang apa yang menyebabkan ketidak berhasilan pencapaian program.

Pendekatan dan Prosedur Penelitian Fokus penelitian ini adalah perencanaan. Untuk mengkaji masalah tersebut dipilih pendekatan kualitatif. yaitu para guru dan peneliti dianggap mengetahui tentang pembelajaran pada anak hiperaktif khususnya dalam penggunaan media visual (gambar). tingkah laku dan tindakan para pelaku dalam peristiwa belajar dan mengajar di tempat Terapi Anak. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam penelitian deskriptif ini: pengumpulan data.246 BAB III METODE PENELITIAN A. Landasan ini digunakan untuk menjaring data informan. karena data-data yang terkumpul berupa uraian kata-kata dan gambar (Moleong. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran pada anak hiperaktif yang dikhususkan pada penggunaan media visual (gambar) saja. pendekatan kualitatif dapat menghasilkan data . Alasan digunakan pendekatan kualitatif karena lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan yang tidak terkonsep sebelumnya tentang keadaan di lapangan yang sebenarnya. penyusunan data dan analisis data yang diperoleh. Fokus ini mengarahkan perhatian kepada aktivitas. 2001:2) dalam penelitian kualitatif dapat dikemukakan definisi mengenai metodelogi kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong. kreativitas. 2000:5).

Sedangkan data sekunder yaitu data yang cara mendapatkannya tidak secara langsung melalui sumbernya. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya terhadap pihak yang memerlukan data meliputi para guru Terapi Anak Al Tisma Kudus. diperoleh dari (1) Kepala Terapi Anak. Sebagai langkah pertama yang dilaksanakan peneliti adalah mengadakan studi pendahuluan di lokasi penelitian. Dari hasil studi pendahuluan dilakukan identifikasi mengenai pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di lokasi penelitian. Untuk memperoleh data perencanaan. berkenaan dengan informasi . Langkah ketiga adalah pelaksanaan penelitian untuk mengambil data yang diperlukan dalam penelitian dengan menggunakan teknik: wawancara. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). untuk menyaring data tentang perencanaan.247 secara utuh dari informan dan perilaku yang dapat diamati sebagian dari suatu keutuhan. yaitu di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. dan pendekatan kualitatif lebih peka dan dapat menyesuaikan dengan berbagai penajaman pengaruh bersama maupun terhadap pola-pola nilai yang dihadapi selama penelitian berlangsung. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif khususnya dengan menggunakan media visual (gambar) digunakan dua sumber yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. observasi partisipan dan pengumpulan dokumen. sebagai landasan struktural formal untuk dilaksanakannya penelitian. Langkah kedua adalah pengurusan izin penelitian pada pihak-pihak terkait.

pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual . Latar dan Sasaran Penelitian Sesuai dengan pendekatan metodelogis yang digunakan. Autis dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi. Dengan mempertimbangkan hal ini. yakni dengan memilih sebuah kasus pembelajaran anak hiperaktif di Kota Kudus. B. terutama dengan melihat dari segi kualitas tempat terapi dan aksesibilitas. Pemilihan latar penelitian ini ditentukan dengan mendasarkan pada kelayakan informasi-informasi yang diperoleh dalam proses penelitian di lapangan. Sasaran kajian dalam penelitian ini adalah perencanaan. Termasuk kategori hiperaktif disini adalah Speech Delayed dan Hiperaktif (SD & H). Speech Delayed dan Hiperaktif yaitu anak dengan gangguan terlambat bicara dan kelainan perilaku. serta sejarah berdirinya LembagaTerapi Anak Al Tisma Kudus.248 tentang berbagai kegiatan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar dan (2) dokumentasi tentang statistik jumlah siswa. telah dapat dipilih sebuah kasus di tempat terapi sebagai latar penelitian ini yaitu Terapi Anak Al Tisma Kudus. sedangkan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi yaitu anak yang mengalami gangguan perilaku tetapi ringan (hiperaktif ringan) dan kurang kokonsentrasi. latar penelitian ditentukan secara purposif. interaksi sosial dan aktivitas imajinasi (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan kelainan perilaku. Autis dan Hiperaktif (A & H) dan Normal Hiperaktif dan Kurang Konsentrasi (NH & KK).

wawancara mendalam. Ketiga. Teknik Wawancara Mendalam Wawancara merupakan memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dan responden dengan menggunakan panduan wawancara (Dian. kajian diarahkan pada faktor pendorong dan penghambat yang muncul dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). pola komunikasi siswa. . karakteristik guru dan siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). sasaran kajian diarahkan pada perencanaan. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. Kedua. observasi partisipan dan dokumentasi. 2. Teknik Pengumpulan Data Sesuai dengan permasalahan dan pendekatan penelitian. yang meliputi bangunan fisik sekolah. Pengamatan Fisik Terfokus Pengamatan fisik terfokus adalah dengan bantuan alat kamera foto digunakan sebagai teknik untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan halhal fisik yang sesuai dengan masalah penelitian. materi pendidikan. 1. maka teknik yang dipilih untuk mengumpulkan data di lapangan adalah teknik : pengamatan fisik terfokus. aktivitas belajar pada siswa dan penggunaan media visual (gambar).249 (gambar). pertama sasaran kajian diarahkan pada kondisi lingkungan fisik. alat-alat pembelajaran yakni media visual (gambar) dan proses belajar mengajar. 1996:66). Secara khusus. C.

faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). Dengan demikian proses wawancara akan terarah dan tidak akan menyimpang jauh dari sasaran maupun tujuan yang telah direncanakan. Dalam pelaksanaan wawancara dilakukan dengan cara terpimpin yaitu pewawancara membuat kerangka dan garis besar mengenai pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara antara lain: identitas informan (baik informan kunci atau informan pelengkap). pengetahuan tentang proses belajar mengajar. perencanaan. Hal ini dilakukan untuk menjaring data-data secara lebih jelas dan mendalam untuk kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai laporan hasil penelitian. upaya pemecahan masalah dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar). maka dibuat suatu pedoman wawancara. . Agar dalam pelaksanaan wawancara berjalan dengan lancar dan sistematis. Wawancara yang dilakukan peneliti adalah wawancara mendalam.250 Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan (Moleong. 2001:135). Di dalam pelaksanaan wawancara dilakukan lebih dari satu kali dengan mewawancarai informan kunci kemudian ke informan pelengkap secara berurutan sesuai dengan keadaan informan dalam konteks wawancara yang sebenarnya. yaitu wawancara dengan menggunakan bahasa campuran (bahasa daerah dan bahasa Indonesia) dan melibatkan emosi pada kebebasan dalam sifat kekeluargaan.

selama berlangsungnya wawancara dilakukan pencatatan dengan mempergunakan buku catatan di lapangan dan mempergunakan alat perekam (tape recorder) merupakan alat yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. Observasi partisipan yaitu pengamatan menjadi anggota penuh dari kelompok yang diamati. Teknik observasi partisipan dilakukan peneliti dengan melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran. 1996:60). Karena tujuan wawancara adalah untuk memperoleh data yang sangat dibutuhkan dalam proses penelitian. 3. Teknik wawancara mendalam ini dilakukan dengan para informan kunci. . khususnya Kepala Terapi Anak yang memiliki pengetahuan.251 sehingga informan yang diperlukan terjaring semua. sehingga mempunyai dua peranan yaitu sebagai pengamatan dan menjadi anggota kelompok yang diamati (Moleong. pengalaman dan wawasan yang cukup luas. Teknik Observasi Partisipan Observasi dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala atau fenomena yang diselidiki dengan menggunakan mata sebagai alat tanpa ada pertolongan alat standar lain (Dian. 2001:126). terutama pada saat proses pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) dengan tujuan untuk mengetahui ciri mengenai kondisi dan informasi yang diperlukan. Hasil catatan dan rekaman dari wawancara tersebut nantinya akan menjadi data yang diperlukan dalam penelitian yang berguna untuk pengecekan verifikasi data yang diperoleh dari sumber data yang lain.

. Teknik Studi Dokumentasi Teknik studi dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan data-data sekunder dari dokumen-dokumen yang mungkin ada dapat mendukung perolehan data dalam penelitian ini. yaitu setting latar. berkaitan dengan aspek fisik dan dokumen administrasi. berkaitan dengan berdirinya. peneliti menggunakan proses pengamatan peran serta atau partisipasi. maka ada beberapa aspek yang akan diamati meliputi tiga hal. Di samping menggunakan alat tulis dalam pelaksanaan metode observasi ini dibantu dengan kamera foto untuk memperkuat argumentasi dengan gambar visual hasil rekaman kamera foto tersebut. 2001:161). Studi dokumentasi dilakukan dengan menelusuri catatan yang ada di daerah penelitian baik yang dimiliki sekolah maupun pihak-pihak yang berkenaan dengan sekolah tersebut. pelaku dan aktivitas dalam situasi pembelajaran. sehingga peneliti relatif lebih bebas dalam membuat catatan yang diperlukan berdasarkan pedoman observasi yang telah direncanakan. Latar yang diamati meliputi situasi umum fisik yang relevan. dengan menelusuri data arsip atau dokumen yang berada di kantor Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus (Moleong.252 Dalam mengumpulkan informasi. 4. Berkaitan dengan penelitian ini. Sedangkan aktivitas yang dimaksud adalah perilaku guru dan murid dalam situasi pembelajaran. Teknik dokumentasi digunakan untuk menjaring data aspek kesejarahan. Pelaku yang dimaksud disini adalah guru dan murid.

menafsir dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. dan dicari tema atau polanya. difokuskan pada hal yang penting. Berikut ini tahapan analisis data yaitu sebagai berikut: a Pengumpulan data Peneliti mencatat semua data secara obyektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan. menganalisis. oleh sebab itu laporan tersebut perlu direduksi. b Reduksi data Yaitu memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan focus penelitian. . dirangkum. mempelajari. Teknik Analisis Data Analisis data menurut Payton dalam Moleong (1991:103) adalah proses mengatur urutan data. dan disusun lebih sistematis sehingga lebih mudah dikendalikan. yaitu dimulai dari lapangan atau fakta empiris dengan terjun kelapanagan. Disamping itu laporan sebagai bahan mentah juga perlu disingkatkan direduksi. Menurut Miles dan Hoberman dalam Rachman (1999:120) peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil wawancara di lapangan. Analisis data di dalam penelitian kualitatif dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Analisis data dilakukan secara induktif. mengorganisasikannya kedalam suatu pola. dipilih hal-hal yang pokok. kategori dan satu uraian dasar.253 D. Data yang diperoleh dalam lapangan ditulis dalam bentuk uraian terinci yang akan terus bertambah sejalan bertambahnya waktu penelitian.

tema. dan sebagainya (Milles dan Hoberman. Penarikan kesimpulan merupakan bagian dari satu kegiatan konvigurasi yang utuh. . Hasil dari data-data yang telah didapatkan dari laporan penelitian selanjutnya digabungkan dan disimpulkan serta diuji kebenarannya. model. sehingga kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Untuk itu peneliti berusaha mencari pola. Sejak semula peneliti berusaha mencari makna dari data yang diperoleh. Kesimpulan adalah tinjauan ulang pada catatan di lapangan atau kesimpulan dapat ditinjau sebagai makna-makna yang muncul dari data yang harus diuji kebenarannya.254 c Penyajian data (display data) Yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Untuk menampilkan data-data tersebut agar lebih menarik maka diperlukan penyajian yang menarik pula. matrik. diagram. Dalam pelaksanaan penelitian penyajian-penyajian data yang lebih baik merupakan suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid. kekokohannya dan kecocokannya. disajikan langkah terakhir adalah kesimpulan-kesimpulan. Dalam penyajian ini dapat dilakukan melalui berbagai macam visual. 2000:17) d Pengambilan keputusan atau verifikasi Yaitu data-data dari hasil penelitian setelah direduksi. hipotesis dan sebagainya. hubungan. halhal yang sering muncul. Verifikasi data yaitu pemeriksaan tentang besar dan tidaknya hasil laporan penelitian. yaitu yang merupakan validitasnya (Milles dan Hoberman. chart network. 2000:19). grafik. misalnya gambar. persamaan.

Karena data yang dikumpulkan banyak maka diadakan reduksi data. PENGUMPULAN DATA REDUKSI DATA SAJIAN DATA PENGAMBILAN KEPUTUSAN ATAU VERIFIKASI Bagan 3.1. Pertamatama peneliti di lapangan dengan mengadakan wawancara atau observasi yang disebut di tahap pengumpulan data. Apabila ketiga tahapan tersebut selesai dilakukan diambil suatu keputusan atau verifikasi.255 Tahapan analisis data kualitatif tersebut dapat dilihat dalam bagan di bawah ini. selain itu pengumpulan data juga digunakan untuk penyajian data. Setelah direduksi kemudian diadakan sajian data. . Sumber: Milles dan Hoberman dalam Rahman (1999:20) Keempat komponen tersebut saling mempengaruhi dan terkait. Analisis Data Kualitatif.

2) triangulasi (triangulation) dan 3) pengecekan anggota (member checking). Dalam hal ini digunakan teknik 1) keikutsertaan di lapangan dalam rentang waktu yang panjang (prolonged engagement). Foto-foto terhadap objek pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media visual (gambar) dan observasi terhadap data-data ini dimaksudkan untuk mendukung kebenarannya antara hasil wawancara dengan kenyataan yang sebenarnya yang ada pada lapangan. 1) Keikutsertaan di Lapangan dalam Rentang Waktu yang Panjang Dalam penelitian ini untuk menguji kepercayaan terhadap data yang telah dikumpulkan dari informan utama yaitu Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Setelah tahapan analisis data dilakukan. Menurut Moleong (2001:173) untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan. . maka perlu mengadakan keikutsertaan dalam rentang waktu yang panjang. Adapun maksud utama adanya perpanjangan di lapangan ini untuk mengecek kebenaran data yang diberikan baik dari informan utama maupun informan penunjang. perlu diperhatikan juga keabsahan data yang terkumpul. Sebagai langkah untuk mendukung kebenaran data secara akurat maka peneliti juga mengadakan pemotretan terhadap tempat terapi.256 E. Selain itu peneliti juga mengadakan pengamatan terhadap data-data mengenai sarana prasarana dan proses belajar mengajar. bahan belajar. kegiatan ketika proses belajar berlangsung.

. 3) Pengecekan Anggota Peneliti mengadakan pengecekan anggota dengan tujuan untuk menguji terhadap derajat kepercaan tentang data-data yang diberikan oleh informan utama. peneliti telah memperoleh kelengkapan data dan akurasi data tentang pelaksanaan kegiatan pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. sebagai latar dalam penelitian ini. (2) membandingkan data hasil dari informan utama (primer) dengan informasi yang diperoleh dari informan lainnya (sekunder). maka peneliti melaksanakan pemeriksaan dengan teknik mencari informasi dari sumber lain.257 2) Triangulasi Untuk pemeriksaan keabsahan data yang telah dikumpulkan agar memperoleh kepercayaan dan kepastian data. Hal ini dapat dicapai dengan jalan: (1) membandingkan data informasi hasil observasi dengan informasi dari hasil wawancara kemudian menyimpulkan hasilnya. Menurut Patton dalam Moleong (2001:178) triangulasi dengan sumber lain berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. karena anggota yang dimaksudkan adalah guru-guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus.. Pelaksanaan pengecekan anggota ini lebih banyak dilaksanakan peneliti secara informan. sehingga informasi yang diberikan oleh informan utama pada penelitian dapat mewakili validitas dan mendapatkan derajat kepercayaan yang tinggi. (3) membandingkan hasil wawancara dari informan dengan didukung dokumentasi sewaktu penelitian berlangsung. Dari kegiatan ini.

Tinjauan Historis Terapi Anak Al Tisma Kudus Terapi Anak Al Tisma Kudus didirikan sejak Maret tahun 2001. 259 Gebog Kudus. c. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN 1. hiperaktif. disphasia (anak yang mengalami gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam).258 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. b. dibantu oleh beberapa guru pembimbing/terapis. Letak Geografis Terapi Anak Al Tisma Kudus Secara geografis Terapi Anak Al Tisma Kudus terletak disudut kota di Jalan Besito Gang II RT. speech delayed (terlambat bicara). dan kurang stimulasi. gangguan konsentrasi. Walaupun lokasi terapi ini terletak disudut kota dan ditengah-tengah perkampungan akan tetapi sangat mudah apabila ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum. 06 / RW. down sindrome. 07 No. . seperti autisme. merupakan salah satu tempat terapi untuk anak berkebutuhan khusus. Bagan Organisasi Terapi Anak Al Tisma Kudus dipimpin oleh Kepala Terapi. microcepalus (anak yang lahir dengan ukuran lingkar kepala kurang dari standart kelahiran). IQ rendah. retardasi mental (idiot). Deskripsi Setting Penelitian a. Bagan Organisasi Terapi Anak Al Tisma Kudus.

dokter spesialis metabolitas Departemen Pendidikan Nasional Dan tenaga ahli yang lain seperti: ahli gizi.259 Adapun personal dari Terapi Anak Al Tisma Kudus. . Guru pembimbing/terapis di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus yang bergelar ahli madya hanya 1 orang dan lainnya adalah tamatan SMA. Adapun pihak-pihak terkait yang diajak kerjasama dalam Terapi Anak Al Tisma Kudus ini. termasuk hiperaktif yaitu: Psikolog anak Psikiater anak Dokter. (Sumber: Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus. 2004) Mekanisme kerja yang dilakukan adalah semua terapis melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing. d. terutama dalam memberikan solusi untuk menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus. Keadaan Guru. dimana setiap terapis memegang satu-dua anak dengan sistem pembelajaran individual (lovaas one on one – satu guru satu murid) di bawah kendali dan supervisi Kepala Terapi. yaitu terdiri dari 7 terapis termasuk didalamnya Kepala Terapi yang juga merangkap sebagai terapis. Sarana dan Prasarana Terapi Anak Al Tisma Kudus. 2004). 1) Keadaan Guru Terapi Anak Al Tisma Kudus dipimpin oleh 1 Kepala Terapi yang juga merangkap sebagai terapis dengan dibantu 6 guru pembimbing/terapis yang berjenis kelamin perempuan semua. dlsb. dokter spesialis syaraf. meliputi dokter spesialis yang menangani gangguan perkembangan anak. (Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus. Siswa.

00 – 12. Adinda Ayuditya dan Fakhari Husaini Kepala Terapis Terapis 3. Alvin dan Galih Terapis 4. sedangkan yang masih diterapi sampai saat ini kurang lebih ada 15 siswa. dan siswa lainnya yang dirasa sudah sembuh cukup diterapi di rumah dengan masih tetap berkonsultasi dengan pihak terapi.2004) 2) Keadaan Siswa Pada tahun 2001– 2004 jumlah siswa secara keseluruhan yang diterapi di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus berjumlah 24 siswa. dan Fahmi Qoulani Terapis 5.1.00 – 15. 7. 6. Data Terapis Tahun 2004/2005 NO NAMA TERAPIS ANAK KETERANGAN 1.00 WIB Session II dilaksanakan pada pukul 10. Sari Naja. 2.00 WIB .260 Tabel 4. Sumarni Yuliana Wijayanti Ida Lestariningrum Sahrul dan Hilmi Anis dan Martika Agusta Fahmi dan Bagas Terapis Terapis Terapis (Profil Pendidikan Terapi Anak Al Tisma Kudus.00 WIB Session IV dilaksanakan pada pukul 15.00 WIB Session III dilaksanakan pada pukul 13. Andi Kumala.00 – 17. Mikail Hima. Purwati Dimas. Terapi dilaksanakan setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat dan dalam satu hari dibagi dalam 4 session yaitu: Session I dilaksanakan pada pukul 08. Nur Halimah Endang Sulastri Troy Khusnul Ma’ali.00 – 10.

Haidar Hilmi Agusta Fahmi Fahmi Qoulani Bagas Alvin Anis Mayong. Mejobo. Hal ini tentu tidak terlepas dari pembinaan yang diberikan baik oleh kepala terapi maupun para guru pembimbing/terapis di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Terapi Anak Al Tisma Kudus sudah bisa terbilang sukses. Kds Mejobo. Kds Bae. 8. 13. 11. Adinda Ayu Ditya Gebog. Kds Lk Lk Lk Lk Lk Autis Speech Delayed Hiperaktif Disphasia Speech Delayed & Hiperaktif 6. Data Siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus Tahun 2001-2004 NO 1. 7. Tabel 4. 3. Kds Pr 5 th Down Sindrome .2. Kds Besito. Kds Gebog. 12. terbukti dengan banyaknya siswa dengan berbagai jenis berkebutuhan khusus yang disembuhkan melalui terapi ini dan semakin banyaknya orang tua yang ingin anaknya diterapi disini. akan tetapi dengan terbatasnya guru/terapis mengakibatkan banyak anak yang ditolak. NAMA ALAMAT KEL. 10. Jpr Kudus Kota Pati Loram. Kds Gebog. 5. Kds Mejobo. Kds Bae. Kds Lk Lk Lk Lk Lk Lk Lk Lk 8 th 10 th 5 th 9 th 9 th 7 th 8 th 6 th IQ rendah & Autis Autis & Hiperaktif ADD Autis Microcepalus IQ rendah Autis & Hiperaktif Speech Delayed dan Hiperaktif 14. UMUR 7 th 6 th 7 th 7 th 8 th JENIS KELAINAN Dimas Adi Nugraha Naja Khusnul Ma’ali Mikail Hima Galih Ds. Andy Kumala Ferdinan Troy M. yang selalu berupaya keras dalam penyembuhan mereka. Kds Langgar Dalam. 4. 2.261 Sejak berdiri hingga saat sekarang ini. 9.

Hanif Al Falih Sadath Haidar Ahmad Fatih Nia Famison (Icon) Tito Angguraji Rizal A. Kds Jepara Langgar dalam. 18. 23. UMUR 7 th 8 th 10 th 8 th 6 th 10 th JENIS KELAINAN Khusnul Ma’ali Galih Ferdinan Troy Alvin Anis Martika Lk Lk Lk Lk Lk Pr Hiperaktif Speech Delayed & Hiperaktif Autis & Hiperaktif Autis & Hiperaktif Speech Delayed dan Hiperaktif Normal Hiperaktif & Kurang Konsentrasi 3) Keadaan Sarana dan Prasarana Terapi Anak Al Tisma Kudus Terapi Anak Al Tisma Kudus dilaksanakan di rumah pribadi Kepala Terapi dengan 5 ruang kelas. Kds Gebog. 22. 4.3. NAMA KEL. 19. 16. 20. . 3.262 15. Data Siswa Hiperaktif NO 1. 21. 6. Kds Gebog. Kds Langgar dalam. 17. Kds Besito. 2. 5. yakni sebagai berikut: Tabel 4. Kds Bae. Fachrul Meka Firanita Martika Besito. 24. Kds Lk Lk Lk Pr Lk Lk Lk Lk Pr Pr 9 th 5 th 6 th 7 th 6 th 7 th 7 th 7 th 9 th 10 th Gejala Autis Gejala Autis ADD IQ rendah Gangguan Konsentrasi Gangguan Konsentrasi Retardasi Mental Kurang Stimulasi Retardasi Mental Normal Hiperaktif & Kurang Konsentrasi (Profil Terapi Anak Al Tisma Kudus. Kds Gebog. 2001-2004) Dari data tersebut yang termasuk dalam kategori hiperaktif dan sebagai sasaran penelitian ada 6 siswa. Kds Prambatan.

Disamping itu meja yang digunakan untuk belajar dirancang khusus agar siswa tidak leluasa bergerak dan tetap konsentrasi pada pelajaran. seperti gambar angka. gambar benda-benda disekitar kita.263 Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus mempunyai perlengkapan pembelajaran seperti di Taman Kanak-kanak (TK). Karena dilembaga terapi ini khusus menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti autisme. dimana media ini sangat berguna sekali untuk menarik perhatian siswa dalam belajar dan membantu siswa memahami materi pelajaran. buku-buku cerita. buku-buku pelajaran. balok kayu dlsb. speech delayed. gambar warna. maupun media pembelajaran seperti papan tulis. gambar sayur-sayuran. model/benda-benda tiruan dan berbagai media visual (gambar). gambar binatang. gambar huruf. Akan tetapi karena terbatasnya tempat menjadikan tempat terapi ini tidak mempunyai sarana bermain diluar. Begitu juga dengan kursi guru dibuat sejajar dengan siswa dengan tujuan agar perhatian siswa tidak mudah teralihkan saat belajar. foto/gambar aktivitas orang dlsb yang kebanyakan media itu dibuat sendiri dengan sangat sederhana. down sindrome dan gangguan lainnya. maka dengan sistem pembelajaran yang digunakan yaitu lovaas one on one (satu guru satu murid) mengharuskan setiap siswa belajar di ruangan tersendiri dimana ruangan tersebut tidak diperbolehkan adanya gambargambar/benda yang dipajang yang bisa menarik perhatian siswa. . disamping itu juga untuk membantu kita dalam berkomunikasi dengan siswa. papan planel. hiperaktif. gambar buah-buahan. gambar alat transpotasi. baik itu alat-alat permainan seperti puzzle.

264 Ada satu alat yang sangat penting untuk menenangkan anak yang hiperaktifnya tergolong berat yang bernama Bean Back. berikut ini disajikan deskripsi penemuan data mengenai tahap perencanaan. maupun catatan lapangan lebih lanjut dapat dipahami. wawancara dan dokumentasi. Deskripsi Informasi Pelaksanaan Proses Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. maka dalam sub bagian ini akan disajikan informasi. . kamera. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). Memang kelihatan kejam tapi itulah salah satu cara yang efektif untuk menenangkan mereka dan mengenalkan pada mereka bahwa alat ini tidak menakutkan dan membahayakan bagi dirinya. wawancara dan dokumentasi. Langkah ini dilakukan supaya data mentah yang pengambilannya memanfaatkan tape recorder. 2. 3 guru pembimbing/terapis dan 2 orang tua siswa. Alat ini terdiri dari dua matras dimana penggunaanya anak di jepit antara dua matras tersebut dan ditindih oleh seorang guru. wawancara dan dokumentasi. Adapun informan yang dimintai keterangan sebanyak enam orang yang terdiri dari berbagai unsur yang terkait dalam pelaksanaan pembelajaran di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Sesuai dengan rancangan awal yang menyebutkan bahwa metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi. Penyajian data dilakukan secara berurutan dari hasil observasi. data dari hasil observasi. yaitu kepala terapi.

6) Walaupun dalam menangani anak hiperaktif tidak jauh berbeda dengan menangani anak berkebutuhan khusus lainnya. Informan Penelitian I Nama : Ibu Nh sebagai Kepala Terapi dan merangkap sebagai guru pembimbig/terapis anak yang bernama Ferdinan Troy. (Ibu Nh. 12) Pendekatan yang digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus yaitu dengan menggunakan pendekatan individual (lovaas one on one . Yl. (Ibu Nh. akan tetapi pendekatan dan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif sama dengan pendekatan dan metode yang digunakan dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus lainnya. sesuai dengan etika penelitian menyebutkan nama hanya dengan menyebutkan inisial saja yaitu Nh. sehingga anak dapat menangkap pesan. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan . informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut.pembelajaran satu guru satu murid). Ut. Sedangkan metode yang digunakan dalam pengajaran anak hiperaktif adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Secara umum Kepala Terapi mempunyai tugas mengkoordinator dan bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan terapi mulai dari pengelolaan terapi. penataan segala administrasi hingga peningkatan sumber daya manusia bagi guru/terapis di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus. Ed. Nr. manajemen keuangan.265 Demi menjaga kenyamanan informan paska memberi informasi. Pr.

penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang. 4. alat-alat belajar. 13) Menurut Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus dalam upaya membelajarkan anak hiperaktif tidak mudah. Kemampuan untuk meningkatkan ketahanan konsentrasi anak. Beberapa pra syarat yang harus dilakukan dan dipersiapkan oleh seorang guru pembimbing anak hiperaktif sebelum mengerjakan/melaksanakan kegiatan belajar mengajar yakni: 1. ketelatenan. Oleh karena anak hiperaktif pada umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain.266 menggunakan media visual (gambar-gambar). karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. b) Ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster. (Ibu Nh. 2. Maka guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak hiperaktif. Guru pembimbing sebagai model untuk anak hiperaktif harus memiliki kepekaan. kreatif dan konsisten di dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. . Mengupayakan adanya kontak mata yang sejajar antara guru-siswa 3. Menciptakan situasi yang kondusif untuk pembelajaran meliputi: a) Emosi yang stabil dari anak hiperaktif. ventilasi dan penerangan yang cukup). Mengupayakan kepatuhan dari anak hiperaktif dan pemahaman bahasa reseptif. Hal yang terpenting sebelum guru melaksanakan kegiatan pembelajaran adalah mengkondisikan anak dalam keadaan kestabilan emosi.

“bola” dan “merah”. Maka materi pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata “ambil”. 16) Pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: a) Terstruktur Artinya dalam pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Seorang guru pembimbing anak hiperaktif harus memiliki dedikasi. ketelatenan. Pembimbing harus menyadari dan memahami tujuan apa yang akan dicapai dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Setelah kemampuan tersebut dikuasai.267 5. 14) Kurikulum pembelajaran anak hiperaktif yang digunakan di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus sama dengan kurikulum yang digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu Kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. tidak menggunakan aksesoris yang berlebihan. (Ibu Nh. (lamp) (Ibu Nh. Berbicara dengan singkat dan artikulasi yang jelas. keuletan. dan kreativitas di dalam membelajarkan anak didiknya. Setelah . Sebagai contoh untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna dari instruksi “Ambil bola merah”. Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran untuk anak hiperaktif. dapat menarik perhatian siswa. harus tegas dan sabar dalam menghadapi siswa. ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya.

c) Terprogram Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evalusi. Namun. Apabila anak berperilaku positif/memberi respon positif terhadap sesuatu stimulan (rangsangan). demikian pula apabila anak berperilaku negatif (reinforcement). ruang. b) Terpola Terpola disini maksudnya dalam kegiatan anak hiperaktif harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur. merespon dan memperlakukan anak sesuai dengan karakter dan kemampuan yang dimiliki masing-masing anak hiperaktif. Sedangkan arti konsisten bagi anak adalah tetap dalam mempertahankan dan menguasai kemampuan sesuai dengan stimulan yang muncul dalam ruang dan waktu yang berbeda. bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang. maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan). bila diartikan secara bebas konsisten mencakup tetap dalam berbagai hal.268 anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi “Ambil bola merah” kedalam perbuatan kongkrit. Orang tua pun dituntut konsisten . tetap dalam bersikap. supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). dan waktu. Konsisten bagi guru pembimbing berarti. baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya). d) Konsisten Konsisten memiliki arti “Tetap”. mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. dapat dilatih dengan kondisi dilingkungannya.

yakni dengan bersikap dan memberikan perlakuan terhadap anak sesuai dengan program pendidikan yang telah disusun bersama antara pembimbing dan orang tua sebagai wujud dari generalisasi pembelajaran di sekolah dan di rumah. 17) Sarana belajar sangat diperlukan. terapi perilaku dan pendidikan bagi anak hiperaktif harus dilaksanakan secara berkesinambungan. karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. program pendidikan dan pelaksanaannya. (Ibu Nh. Dan kebetulan anak yang diterapi di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah kebanyakan anak usia prasekolah maka sarana belajarnyapun dsesuaikan dengan usia pendidikan anak yaitu berupa: Alat peraga: pengenalan warna. sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus konkrit. simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu). huruf dan angka. binatang. tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan di rumah dan lingkungan sekitar anak. buah. Kesimpulannya. bentuk.269 dalam pendidikan bagi anaknya. kendaraan. Alat bantu komunikasi: berupa gambar-gambar yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak . Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah. e) Kontinyu Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran. benda-benda sekitar. Karena pola pikir anak hiperaktif pada umumnya adalah pola pikir konkrit.

dsb) dengan tujuan untuk membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler dan belajar secara intensif . tali. dlsb Mainan edukatif (Ibu Nh. Dimana evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian yang setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. menggunting. padat dan konsisten. Disamping itu juga mengadakan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. 15) Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah: evaluasi proses yang dilakukan dengan cara seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga. dengan memberi reward (hadiah/pujian)untuk respons yang benar. tetapi melalui tata cara pengajaran untuk anak bermasalah (kelas kecil dengan jumlah guru besar atau satu guru satu murid. 19) Setelah anak diterapi secara terpadu dan terstruktur.270 Alat bantu pengembangan motorik halus: cara memegang pensil. dsb Alat bantu pengembangan motorik kasar: bola. dengan alat visual/gambar/kartu. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. (Ibu Nh. mewarna. dan memperlihatkan hasil yang menggembirakan (berperilaku seperti anak normal) kemudian anak dipersiapkan dan diperkenalkan pada pengajaran dengan kurikulum sekolah biasa. instruksi yang jelas.

Menjembatani instruksi guru dan anak 2. berinteraksi/bersosialisasi dengan teman sebayanya dan harus mengerti instruksi guru dengan cepat. (Ibu Nh. dan dikelas anak harus berbagi dengan teman-temannya dengan bahasa guru yang berbeda dengan terapisnya dan bersifat klasikal. Membantu anak belajar bermain/berinteraksi dengan teman-temannya 5. Walaupun anak sudah patuh dan dapat berkonsentrasi pada saat terapi. 20) Tugas seorang shadow/guru pembimbing khusus (GPK) adalah: 1. sehingga dapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnya. Untuk itu dalam sekolah anak harus didampingi guru pembimbing/terapis sampai ia benar-benar bisa mandiri dan mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. Menjadi media informasi antara guru dan orang tua dalam membantu anak mengejar ketinggalan dari pelajaran dikelasnya. Mengendalikan perilaku anak dikelas 3.271 pelajaran yang tertinggal di kelas reguler. Membantu anak untuk tetap berkonsentrasi 4. Guru pembimbing khusus adalah seseorang yang dapat membantu guru kelas dalam mendampingi anak yang . Ia perlu belajar mengenal dan mengikuti peraturan disekolahnya. Anak biasa ditangani dengan guru khusus sendirian. tetapi di sekolah umum anak masih memerlukan waktu penyesuaian untuk dapat mengikuti tatacara pengajaran yang berbeda dengan pada saat terapi. Guru pembimbing/shadow bukanlah asisten anak disekolah yang bertugas membantu anak dalam segala hal. Akan tetapi banyak persepsi yang salah mengenai guru pembimbing khusus ini.

sarana pendidikan. Tingkat kelebihan (streng) dan kekurangan (weakness) yang dimiliki anak 5. lingkungan (keluarga. Kesehatan dan kestabilan emosi anak 7. metode. sehingga proses pengajaran dapat berjalan lancar tanpa gangguan. Tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa 4. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif. disamping itu agar anak tidak terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan agar dia tahu bahwa dihadapannya itu ada orang yang sedang memperhatikannya. yaitu: 1. Guru kelas tetap mempunyai wewenang penuh akan kelasnya serta bertanggung jawab atas terlaksananya peraturan yang berlaku. kurikulum. Setelah anak bisa diam agak lama baru Ibu Nh mulai pelajaran dengan menunjukkan gambar satu . sekolah dan masyarakat). Kecerdasan/IQ 6. 22) Sebagai contoh dalam penanganan anak hiperaktif dan pembelajarannya dengan menggunakan media visual (gambar) dapat dilihat pada Ibu Nh yang juga terjun langsung sebagai terapis/guru pembimbing Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan autis (hanya tertarik pada dunianya sendiri) dan hiperaktif. Berat-ringannya kelainan/gejala 2. Terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru.272 bermasalah pada saat diperlukan. (Ibu Nh. Usia pada saat diagnosis 3. dalam penanganannya Ibu Nh menempatkan anak ini diruangan khusus (ruangan kosong) dan didudukkan di meja kursi khusus tujuannya agar anak ini agar tidak terlalu banyak gerak (hiperaktif) dan tetap kontak mata dengan terapis.

21) Informan Penelitian II Nama : Ibu Pr. karena kebanyakan tingkah mereka itu sama yaitu tergolong anak yang hiperaktif. Untuk itulah Ibu Nh selalu mempersiapkan media visual (gambar) dan mainan edukatif di samping sebelum pelajaran dimulai. sehingga mendapinginya di sekolah (Ibu Nh. Ibu Ed dan Ibu Yl (Guru Pembimbing/Terapis) Ibu Pr sebagai guru pembimbing/terapis Galih dan Alvin Ibu Ed sebagai guru pembimbing/terapis Khusnul Ma’Ali Ibu Yl sebagai guru pembimbing/terapis Anis dan Martika Melihat tingkah laku anak berkebutuhan khusus sekilas kita tidak bisa membedakan tergolong tipe apa yang diderita mereka. tetapi dalam memberikan materi harus cepat dan cekatan karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. yang membedakan hanyalah apakah dia itu tergolong hiperaktif ringan atau hiperaktif berat.273 persatu dihadapan anak tanpa distraksi/gambar lain dimulai dari materi yang mudah ke yang sulit (disesuaikan dengan kurikulum) dan disesuaikan dengan kemampuan anak. Walaupun sistem dan metode pembelajaran yang digunakan untuk membelajarkan Ibu Nh . karena anak ini cukup cerdas dan cepat tanggap maka semua materi yang diberikan dengan menggunakan media visual (gambar) tidak mengalami kendala/hambatan dalam membelajarkannya. Sehingga hasil pembelajarannya cukup memuaskan dan anak ini bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya walaupun tingkat kehiperaktifitasannya sedikit berkurang akan tetapi masih bisa dikendalikan dan seringkali mengucapkan kata-kata yang tidak jelas arah tujuannya.

dalam menyampaikan lebih dipertajam bahasanya agar dia lebih memahami maksud dari ucapan/perintah kita. Karena Alvin mempunyai gangguan autis dan hiperaktif Ibu Pr menekankan agar selalu kontak mata dengan Alvin agar ia tidak mempunyai kesempatan untuk asyik dengan dunianya sendiri (misalnya melamun atau sibuk dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak menganggap ada orang dihadapannya). karena . Sedangkan Martika lebih mengkonsentrasikan anak itu pada tugas yang diberikan. sehingga anak itu mengerti/maksud dari perintah Ibu Pr. Sedangkan untuk Galih karena dia mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif Ibu Pr menekankan dalam berkomunikasi. Ibu Ed dan Ibu Yl) Ibu Pr sebagai pembimbing anak yang tergolong hiperaktif yaitu Alvin dan Galih dirasakan ada perbedaan dalam penanganannya. tentunya ini harus dengan prompt. Sedangkan Ibu Ed dalam menangani Khusnul Ma’Ali yang mempunyai gangguan autis dan hiperaktif dengan cara menatap mata si anak dan memegangi kedua tangannya agar tidak bergerak kesana kemari sampai anak itu benar-benar bisa tenang. bagaimana caranya agar anak itu mau berbicara dan mau menirukan apa yang Ibu Pr ucapkan. Dan Ibu Yl dalam menangani Anis yang mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif dan Martika yang mempunyai gangguan normal hiperaktif (hiperaktif ringan) dan kurang konsentrasi dirasakan tidak jauh berbeda antara keduanya. Kalau Anis.274 anak berkebutuhan khusus sama tapi dalam penanganan mereka (untuk membuat mereka tenang dan konsentrasi pada pelajaran) berbeda-beda tergantung dari tipe apa yang diderita anak itu (Ibu Pr.

Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming. baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada.275 anak itu seringkali mengabaikan tugas yang diberikan dan tidak jarang dalam menyampaikan perintah cukup pintar. Menurut (Ibu Ed dan Ibu Yl) cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas yaitu: Pertama kita berusaha menenangkan mereka. Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Setelah bisa duduk lebih lama. kemudian ajaklah untuk duduk diam. alat peraga dan konsep/cara membelajarkan anak hiperaktif (Ibu Pr). seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Pegang kedua tangannya dengan lembut. walaupun sebenarnya anak itu . tetapi tidak semudah itu karena ditengah-tengah pelajaran anak sudah mulai banyak gerak sehingga konsentrasi buyar. Selanjutnya yang paling penting dalam membelajarkan anak hiperaktif adalah mempersiapkan konsentrasi anak (Ibu Ed) dan tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri (Ibu Yl). Sebelum mengajarkan anak hiperaktif yang harus dipersiapkan terlebih dahulu adalah program pembelajaran. Disampaikan secara tegas dan lugas (Ibu Pr). harus diulang-ulang.

diluar rumah. jelas. mengenal nama-nama benda disekitar kita dan aktifitas orang. (Ibu Yl) Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup berhitung (mengenal angka). balok kayu dlsb dalam membelajarkan anak hiperaktif juga harus menggunakan alat bantu pengajaran terutama media visual (gambar). karena media visual (gambar) ini sangat penting untuk menarik perhatian/minat mereka dalam belajar.276 Agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar maka dalam berkomunikasi dengan anak hiperaktif dapat dilakukan dengan cara: • Menatap mata si anak dengan tanpa bicara berbelit-belit karena itu akan menyulitkan anak untuk memahami perkataan kita (Ibu Yl) • Berbicara harus singkat. dan bermakna dan apabila ada yang tidak dimengerti oleh anak kita gunakan gambar (visual) yang kita ibaratkan apa yang kita ucapkan untuk membantu kita dalam berkomunikasi (Ibu Pr dan Ibu Ed) Disamping menggunakan mainan edukatif seperti puzzle. alat transportasi dan berbagai hal yang belum mereka ketahui. lalu kita tingkatkan tahap demi . binatang. buah-buahan. (Ibu Pr) Hampir semua mata pelajaran dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu. tegas. membaca (mengenal huruf). Cara membelajarkannya dikelas: dengan disampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain. mengenal berbagai gambar yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu gambar sayur-sayuran. Gambargambar itu mencakup bidang: gambar-gambar yang ada dilingkungan yaitu didalam rumah.

(Ibu Ed) • Dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual itu akan menarik minat mereka dalam belajar. Sedangkan menurut (Ibu Ed) kesulitannya adalah apabila kita memperkenalkan pada gambar yang terlihat asing bagi mereka. anak akan lebih tertarik untuk melihat dan memperhatikan apa yang kita sampaikan. (Ibu Ed) Faktor yang mendukung penggunaan media visual (gambar) dalam pembelajaran anak hiperaktif adalah • Untuk membimbing anak dalam memahami suatu benda atau hal yang baru (Ibu Yl) • Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa memungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah/membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi. untuk itu pada saat akan mengeluarkan gambar tidak diperkenankan mengeluarkan banyak. Dan menurut (Ibu Yl) kesulitannya yaitu pada awal-awalnya anak mulai .277 tahap jumlah-jumlah apa yang kita berikan ( dimulai dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit sesuai dengan kurikulum yang ada). tetapi harus satu terlebih dahulu. (Ibu Pr) Menurut (Ibu Pr) kesulitan pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar) adalah apabila dalam penanganannya anak pertama kali. sulit memperhatikan. kita harus berusaha mengulangi sampai benar-benar anak itu tahu/memahami. dengan tingkahnya yang tidak bisa diam dan konsentrasinya yang mudah pudar. kemudian ditambah lagi sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak itu tadi. Anak selalu dalam kondisi yang tidak tenang. apalagi jika gambar-gambar itu berwarna.

Tidak hanya memperkenalkan pada suatu media tapi untuk mulai pembelajarannya saja itu sulit. walaupun dalam mengartikan gambar dengan dua kata ia masih agak sulit (Ibu Pr) Sedangkan Khusnul Ma’ali terbukti dengan hiperaktifitasnya mulai berkurang. Dan dalam pelajaran tidak ada kendala. kotak menjadi otak tetapi dia cukup pintar terbukti kalau nilai-nilainya itu baik. (Ibu Yl) . Dan untuk Martika walaupun dia kurang konsentrasi dalam belajar dan penangkapannya itu kurang tetapi dengan ketelatenan dan pembelajaran yang berulang-ulang hasilnyapun cukup memuaskan. (Ibu Ed). Dan Anis terbukti kalau sudah bisa bicara walaupun cedal dan dalam membaca hurufnya ada yang dihilangkan seperti biru menjadi bi u. sehingga waktu dua jam itu hanya digunakan untuk menenangkan anak. dan dia masih suka mengoceh sendiri yang tidak jelas arah tujuannya. Terbukti sekarang Alvin sudah bisa dikendalikan emosinya dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik walaupun dia masih bingung membedakan antara jantan dan betina tetapi dengan prompt akhirnya dia mengerti juga. putih menjadi uti. Dan Galih kosa kata bicaranya sudah mulai meningkat.278 ditangani. sudah bisa berkonsentrasi dan dapat diajak komunikasi. Dan hasil dari pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) ini dirasakan sudah cukup berhasil. dia bisa mengikuti dengan baik. walaupun awalnya ia agak kesulitan membedakan bentuk lingkaran dan oval.

baik itu di tempat terapi maupun dirumah. Dengan demikian kita akan tahu perkembangan anak tiap harinya. Ia suka mengoceh sendiri seperti orang latah dan bicaranya tidak jelas arah tujuannya (Ibu Ut).(Ibu Ut). walaupun anak cenderung lebih tidak konsentrasi. manja karena diajari oleh orang tuanya sendiri. jam kurang tidur dan yang paling penting adalah hasil dari diagnosa dokter. tetapi kita harus tetap konsisten untuk mengajarinya pada jam yang sudah ditentukan (Ibu Nr) dan apabila masih sulit untuk diatasi salah satunya jalan adalah dengan memberikan obat penenang dari dokter yang tentunya penggunaannya sesuai dengan resep dokter. biasanya ia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). kontak matanya. Di rumah sebaiknya orang tua juga menyediakan perlengkapan pembelajaran seperti yang ada di tempat terapi untuk mengajarkan/mengulang kembali apa yang diajarkan di tempat terapi. dari situlah mungkin dokter akan menganjurkan untuk membawa ke tempat-tempat terapi anak yang khusus menangani anak yang bermasalah (mempunyai gangguan perkembangan) untuk membantu kesembuhan mereka (Ibu Nr). .(Ibu Nr dan Ibu Ut) Anak hiperaktif akan terlihat jelas saat ia mulai terlambat berbicara.279 Informan Penelitian III Ibu Nr dan Ibu Ut (orang tua siswa) Seorang anak diketahui hiperaktif biasanya ketika anak itu mulai tumbuh yaitu menginjak usia 2 tahun. perilakunya. Saat diketahui itulah sebaiknya anak dibawa ke dokter anak. Ciri-cirinya dapat dilihat dari gerakan-gerakannya.

menyusunnya dalam satuan-satuan yang selanjutnya akan dikategorikan. Dan untuk menunjang kelancaran alangkah baiknya jika satu keluarga juga ikut diet (Ibu Ut). dipelajari dan ditelaah maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data. Ed. maka biasakanlah dulu anak makan dengan masakan/makanan yang dibuat sendiri. Pr. Yl. Berkaitan dengan proses analisis data tersebut maka pada bagian ini akan disajikan urutan proses analisis data dari mulai penyusunan satuan-satuan. .280 Selain itu orang tua juga harus memperhatikan makanan yang dimakan anaknya yang hiperaktif sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi. hasil observasi dan hasil dokumentasi dibawah ini disajikan data yang kemudian akan dilakukan kategorisasi. 1998: 103). Sedangkan proses analisis data telah dilakukan sejak penyusunan deskripsi penemuan data pada sub bab IV A. Setelah dibaca. biografi. foto. dokumen berupa laporan. catatan lapangan dan komentar peneliti. Karena kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif. ANALISIS DATA Proses analisis data dimulai dari menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber wawancara. artikel dan sebagainya (Moleong. Berdasarkan data temuan hasil wawancara dengan keenam informan penelitian yaitu (Nh. gambar. Nr dan Ut). B. jika anak menangis minta dibelikan makanan maka selaku orang tua adalah memberi pengertian bahwa makanan itu tidak boleh agar cepat sembuh (Ibu Nr).

Dimana hal tersebut juga dikuatkan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Dalam membelajarkan anak hiperaktif kami menggunakan kurikulum yang sudah banyak digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia yang tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemampuan anak. dan tidak mampuannya. serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. . Kategori perencanaan. Setelah pemrosesan satuan (unityzing). langkah selanjutnya adalah analisis data. Perencanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Berdasarkan hasil observasi. usia anak.281 Sedangkan analisis data mengenai tiap-tiap satuan dari sumber data akan disajikan dalam laporan. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus dapat disajikan sebagai berikut: 1. Kategorisasi ini didasarkan pada tujuan dan kemiripan isi dengan menggunakan kriteria tertentu. kurikulum yang digunakan untuk pembelajaran anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus mengacu pada kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia (Lamp).

Dimana guru yang satu (terapis) duduk berhadapan dengan anak memberikan materi pelajaran dan guru yang satunya lagi (asisten terapis) duduk dibelakang anak/memangku anak dan memegangi anak sambil mengarahkan. alat-alat belajar. Pelaksanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Berdasarkan hasil observasi di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dilakukan dikamar khusus bebas distraksi. Metode ini memberikan gambaran konkrit tentang . dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak. Sedangkan metode yang digunakan di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini adalah perpaduan dari metode yang ada. ventilasi dan penerangan yang cukup). Pembelajaran ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dimana pembelajarannya setiap satu guru memegang satu murid atau dua guru memegang satu murid dan ini berlaku bagi anak yang masih sangat sulit untuk dikendalikan (hiperaktif berat) dan bersifat sementara sampai tingkat kehiperaktifitasan anak sedikit berkurang. penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang.282 2. Dimana hal tersebut juga dikemukakan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Pembelajaran anak hiperaktif dilakukan diruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster.

seperti yang dikemukakan oleh para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. diantaranya adalah Ibu Yl yang menjelaskan bahwa penggunaan media visual (gambar) sangat diperlukan untuk membimbing anak dalam memahami suatu benda atau hal yang baru. karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif.pembelajaran satu guru satu murid). anak akan jadi lebih tertarik untuk . Sedangkan metode yang kami gunakan adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Sedangkan Ibu Pr menjelaskan bahwa media visual itu sangat diperlukan karena disamping anak ini hiperaktif ia juga kehilangan konsentrasi.283 “sesuatu”. Dimana hal tersebut juga dikemukakan oleh Kepala Terapi yang menjelaskan sebagai berikut: Disini kami dalam membelajarkan anak hiperaktif mengggunakan pendekatan individual (lovaas one on one . informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. dan dengan gambar-gambar yang berwarna. dan biasanya juga diimbangi dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. sehingga anak dapat menangkap pesan. sehingga anak dapat menangkap pesan. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar-gambar). apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif divisualkan lewat gambar-gambar. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Disamping mainan edukatif penggunaan media visual (gambar) sangat mutlak diperlukan dalam pembelajaran anak hiperaktif.

Sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. disamping itu cara yang termudah untuk menyampaikan kepada anak supaya mengerti adalah dengan menggunakan media visual (gambar). terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu. Hampir semua mata pelajaran dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar). . benda berwarna. Identifikasi benda dan melabel (menyebutkan) gambar Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. dan berbagai bentuk. kartu angka. tak terkecuali di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini. dan kartu gambar. Lalu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya itu memungkinkan penggunaan media visual itu akan lebih menarik minat anak dalam belajar. Hal senada juga dikemukakan oleh Ibu Ed yang menjelaskan sebagai berikut: Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah/membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi.284 melihat dan memperhatikan apa yang disampaikan. Mencocokkan (Matching) Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. 2. pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus itu mencakup: 1. kartu huruf.

Apabila disaat pelajaran berlangsung konsentrasi anak mulai hilang dan anak sulit untuk dikendalikan maka guru biasanya akan memegangi kedua tangan atau pipi (sekitar kepala) anak itu. melabel kata kerja dan menirukan gambar Media yang digunakan adalah foto/gambar aktivitas orang Menurut Kepala Terapi Anak yang juga terjun langsung dalam mengajar anak hiperaktif. Identifikasi bentuk dan melabel bentuk Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar 5.285 3. bila perlu kaki anak dijepit di antara paha guru atau tungkai guru/terapis menjepit/merangkum kursi di belakang anak . Identifikasi kata kerja. Identifikasi angka dan melabel angka Media yang digunakan adalah kartu-kartu angka 7. cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas dengan menggunakan media (visual) gambar adalah sebagai berikut: Setelah anak bisa diam agak lama baru memulai pelajaran dengan menunjukkan gambar satu persatu dihadapan anak tanpa distraksi/gambar lain dimulai dari materi yang mudah ke yang sulit (disesuaikan dengan kurikulum) dan disesuaikan dengan kemampuan anak dan dalam memberikan materi harus cepat dan cekatan karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. Identifikasi huruf dan melabel huruf Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf 6. Identifikasi warna dan melabel warna Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna 4.

286 dan menatap anak itu dan mengatakan “… (nama anak) lihat” dan mengatakan “Tidak…”. bukannya ditertawakan karena lucu. Tindakan dan kata-kata inilah yang selalu diucapkan guru untuk mencegah/melarang anak yang berbuat sesuka hati bahwa perbuatannya itu salah/tidak benar dan untuk melarang/menyuruh diam disaat anak mengoceh sendiri. antara lain adalah Ibu Pr yang menjelaskan sebagai berikut: Gambar-gambar yang sudah kita dapatkan kita potong-potong dalam bentuk kecil-kecil kemudian kita sampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain. sebab dengan ditertawakan akan membuat anak itu merasa bangga karena merasa diperhatikan dan merasa bahwa apa yang dilakukannya/diucapkannya itu benar/baik. bisa berupa imbalan/hadiah. lugas dan setiap kali respon yang diberikan oleh anak harus kita kasih reinforcer. lalu kita tingkatkan tahap demi tahap jumlahjumlah apa yang kita berikan. Cara membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) ini juga diperjelas oleh para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Dan dalam mengajar kita sampaikan secara tegas. tepuk tangan dan acungan jempol. Sebaliknya apabila anak sudah mulai mengerti dengan maksud kita dan berusaha memperbaiki tindakannya yang salah baru kita katakan “ya”. . applaus.

Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Hal senada juga diperkuat oleh Ibu Yl yang menjelaskan bahwa cara membelajarkan anak hiperaktif yang dilakukan adalah menyuruh anak untuk duduk dan memusatkan perhatian mereka dengan menatap mata anak dan memegang kedua tangannya. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Setelah bisa duduk lebih lama. Pegang kedua tangannya dengan lembut.287 Sedangkan menurut Ibu Ed cara adalah: membelajarkan anak hiperaktif di kelas Pertama kita berusaha menenangkan mereka. Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming. setelah anak diam beberapa lama baru kita mulai pembelajarannya secara bertahap dimulai dari yang mudah/sederhana sampai ke yang rumit sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. Sedangkan berdasarkan hasil observasi. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. guru dalam memberikan perintah/instruksi pada anak adalah dengan disampaikan secara singkat. tegas dan bukan membentak) tujuannya agar anak mudah memahami. . jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. kemudian ajaklah untuk duduk diam..

“masukken” atau “masuppin” karena ini akan membingungkan anak. selanjutnya untuk menyuruh anak menirukan gambar guru memberikan perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar)”. Ingin mengajarkan imitasi beda dengan mengikuti perintah sederhana (satu-tahap). Jelas maksudnya guru dalam memberikan perintah sesuai dengan apa yang ingin diajarkan. Dan dalam perintah sederhana : instruksi “Tepuk tangan” berarti tangan guru/terapis diam sama sekali. Sedangkan konsisten maksudnya dalam memberikan perintah/instruksi kata yang diucapkan harus persis sama untuk instruksi selanjutnya. Misalnya dalam pelajaran Imitasi: instruksi “Tiru” berarti guru/terapis memberikan contoh (misal: tepuk tangan). Untuk itu dalam membelajarkan anak hiperaktif harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. hemat kata dan hemat gerakan. . karena anak hiperaktif mempunyai gangguan perlambatan dalam menangkap pesan seperti suara radio gelombang pendek (suara hilang timbul) sehingga anak hanya menangkap sepotong-potong. Apabila materi pelajaran identifikasi gambar maka guru memberikan perintah “Tunjuk … (nama gambar tersebut)” dan apabila materi pelajaran melabel (menyebutkan) guru memberi perintah “Ini apa?” atau “Apa ini?” dan apabila materi pelajaran mencocokkan (matching) guru memberi perintah “Samakan” atau “Kasih ke Ibu”.288 Singkat maksudnya dalam memberikan perintah guru hanya mengucapkan satu kata (kata kuncinya saja) dan bukan kalimat yang panjang. Misalnya instruksi “masukkan” jangan diganti “masukkin”.

Dalam memberikan perintah/instruksi ini guru menyampaikan dengan singkat. Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespon dengan benar. . kemudian guru memberi perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan. anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan. kemudian diajak untuk duduk diam. Apabila dalam pembelajaran.289 Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang diperoleh dari para terapis/guru pembimbing di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus di atas. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. guru memberikan prompt (bantuan/arahan) pada anak dan setiap kali anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar guru memberikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan). tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami. Dengan cara menatap mata anak dan memegangi kedua tangannya dengan lembut. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. maka guru mengajar tanpa prompt dan memberikan reinforce respons yang benar saja. guru mulai pelajaran dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. maka dapat disimpulkan bahwa cara membelajarkan anak hiperaktif dikelas adalah: Pertama guru mempersiapkan perhatian anak dan berusaha menenangkan mereka. Apabila anak sulit untuk diajarkan maka berilah dia iming-iming. Setelah keadaan tenang dan bisa duduk lebih lama.

tetapi diluar jangkauan anak. menirukan gambar/melakukan aktivitas guru biasanya memulai dengan memerintahkan anak untuk mengambil sesuatu yang ada di sekitar/diruang kelas kemudian anak diajarkan pada hal-hal yang lebih spesifik dan anak diperintahkan meniru guru (misalnya minum dari gelas. Jika anak meminta benda tersebut. 3. Sedangkan dalam pelajaran identifikasi warna guru juga menggunakan tehnik insidental (berkebetulan).290 Berdasarkan hasil observasi di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus dengan menggunakan catatan lapangan. yaitu: 1. Guru memegang satu gambar dan meletakkan beberapa gambar dihadapan anak lalu anak disuruh memilih gambar yang sesuai dengan gambar yang dipegang guru. Guru meletakkan sebuah benda dihadapan anak dan berbagai macam gambar yang berbeda (max 5 gambar) dan anak disuruh mencocokkan/memilih gambar yang sesuai dengan benda. Dengan cara mengatur benda-benda yang berlainan warna. . Dalam identifikasi kata kerja. 2. Guru meletakkan dua kelompok gambar yang mempunyai gambar berpasangan dan anak disuruh mencocokkan/memasangkan gambar-gambar itu. menggosok gigi. makan dengan menggunakan sendok dan garpu. ada berbagai macam cara yang digunakan guru dalam mengajar mata pelajaran mencocokkan (matching). maka guru akan menanyakan terlebih dahulu apa warna benda tersebut sebelum memberikannya. dlsb). melepas sepatu..

Evaluasi proses dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung. dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. Evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian. Sedangkan evaluasi bulanan bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus Dari hasil observasi dan wawancara dengan Kepala Terapi. dimana lembar penilaian ini setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus ini adalah evaluasi proses dan evaluasi bulanan. dengan memberi reward (hadiah/pujian) untuk respons yang benar.291 3. untuk itulah anak harus dibantu/diarahkan (prompt setengah/sebagian/ringan) (nilai P++) hingga akhirnya anak mendapatkan nilai A yang berarti anak benar-benar menguasai. dan apabila anak mengalami kendala/hambatan dalam menerima pelajaran maka anak mendapatkan nilai P yang berarti belum bisa atau nilai P+ yang berarti sudah mulai/sesekali bisa. dengan ketentuan penilaian yaitu jika anak menguasai materi pelajaran atau memberikan respons benar maka anak mendapat nilai A. Hal ini dapat . Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif yang menjadi contoh kasus. dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga.

Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. matching buahbuahan dan matching sayuran. matching huruf besar. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A . 3. yang hanya dikhususkan pada mata pelajaran dengan menggunakan media visual (gambar).292 dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusi bersama (case conference) Berdasarkan lembar penilaian pada 6 anak hiperaktif dari evaluasi proses. gambar buah-buahan. maka diperoleh hasil evaluasi pembelajaran sebagai berikut: Khusnul Ma’ali 1. anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik bahkan ia melaksanakannya dengan waktu yang cepat ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A dan A+. 2. matching bentuk. gambar sayuran dan alat transportasi. matching binatang. anak menunjukkan tingkat penguasaan yang baik terbukti selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna.

kotak. 5. akan tetapi ia agak sulit membedakan antara lingkaran dan oval sehingga harus diulang beberapa kali baru ia memahami . segitiga.293 4. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10 anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik 7. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. ini terbukti bahwa pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa menjawab dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan. wajik. . lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. oval.

Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda ada beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang.294 Galih 1. P++ dan sampai mendapatkan nilai A. matching bentuk. 2. Dalam identifikasi gambar binatang anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A akan tetapi ada beberapa gambar binatang yang sulit dipahaminya diantaranya adalah ayam betina karena anak belum mengerti dan belum bisa membedakan mana ayam jantan dan mana ayam betina yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga ia harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan) dan bahkan ia sudah mulai/sesekali bisa. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan . P++ sampai akhirnya ia mendapatkan nilai A yaitu benar-benar bisa/menguasai. Dalam identifikasi buah-buahan dan alat transportasi anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. matching binatang. matching huruf besar. alat transportasi. P+. ini terbukti dengan ia mendapatkan nilai P. gambar buah-buahan. Sedangkan dalam identifikasi buah-buahan ada yang mudah dikuasai dan ada yang masih sulit dikuasai/dimengerti dan ini membutuhkan prompt terbukti pada buah tomat anak mendapatkan nilai P+.

2. untuk angka 1.9. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. 3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4.6.295 baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. wajik. akan tetapi setelah menginjak angka 5 dan 8 anak mengalami kesulitan ia sulit menghafal sampai 3 kali pertemuan baru ia hafal terbukti pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ . Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10. segitiga. kotak.3.10 anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6.7. lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. oval.4.

Ferdinan Troy 1. akan tetapi dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan dua kata atau lebih anak masih mengalami kesulitan seperti main bola. meniup harmonika dlsb. lari dlsb anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. membaca.296 dimana anak sudah mulai/sesekali bisa dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan hingga anak mendapatkan nilai A dimana ia benar-benar telah menguasai. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan satu kata seperti memasak. 7. ini terbukti bahwa pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa menjawab dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda anak tidak mengalami masalah saat ditanya bahkan ia langsung bisa menjawab tanpa diberi prompt oleh karena itu ia mendapatkan nilai A+ 2. Mencocokkan (Matching) Karena dalam pembelajaran mencocokkan (matching) adalah merupakan hal yang paling mudah anak tidak mengalami masalah saat disuruh mengerjakan tugas sehingga ia mendapatkan nilai A .

297

3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10, anak juga tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik, dan materinyapun ditingkatkan mulai dari penjumlahan dan pengurangan sesuai dengan pelajaran di sekolah.

298

7. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. Alvin 1. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang, gambar buah-buahan, alat transportasi anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A, akan tetapi sama halnya yang dialami Galih ada beberapa gambar binatang yang sulit dipahaminya diantaranya adalah ayam betina karena anak belum mengerti dan belum bisa membedakan mana ayam jantan dan mana ayam betina yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga ia harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan) dan bahkan ia sudah mulai/sesekali bisa, ini terbukti dengan ia mendapatkan nilai P, P+, P++ sampai akhirnya ia mendapatkan nilai A yaitu benar-benar bisa/menguasai. 2. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna, matching huruf besar, matching bentuk, matching binatang, matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A.

299

3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 5. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10, anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik, akan tetapi ia mengalami kesulitan saat disuruh menulis angka. 7. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan

300

pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A, walaupun kadang-kadang arah pembicaraannya mulai tidak jelas dan ngelantur kemana-mana. Anis 1. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang, gambar sayuran, gambar buah-buahan dan alat transportasi hanya gambar sayuran yang masih sulit dikuasai/dimengerti oleh anak dan ini membutuhkan prompt terbukti pada buah tomat anak mendapatkan nilai P+, P++ dan sampai mendapatkan nilai A. 2. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. 3. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang, oval, kotak, segitiga, wajik, lingkaran dan trapesium) anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A

akan tetapi untuk angka 5 anak mengalami kesulitan ia sulit menghafal sampai 3 kali pertemuan baru ia hafal terbukti pertemuan pertama ia mendapatkan nilai P+ dimana anak sudah mulai/sesekali bisa dan pertemuan selanjutnya anak mendapatkan nilai P++ dimana anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan hingga anak mendapatkan nilai A dimana ia benar-benar telah menguasai. kotak menjadi otak dlsb. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6. mungkin dalam menyampaikannya saja yang salah dan selalu ada saja huruf yang dihilangkan. putih menjadi uti. .301 5. anak tidak mengalami kendala saat ditanya walaupun angkanya diacak ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A sehingga anak dapat dinyatakan telah menguasai materi dengan baik. seperti biru menjadi bi u. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja sebenarnya anak tidak mengalami kendala ia cepat menguasai materi yang diberikan hanya saja karena anak ini cedal dan pemahaman bahasanya kurang. Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10. 7.

P++ dan A dimana anak sesekali bisa dan harus diberi prompt hingga akhirnya tanpa prompt. bebek untuk itu tidak jarang disertai dengan prompt hingga ia benarbenar bisa membedakan. angsa. Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan terutama gambar binatang selalu ada saja nama yang terbalik seperti itik. lingkaran dan trapesium) anak masih sulit membedakan antara lingkaran dan oval ini terbukti dengan nilai yang didapat P+.302 Martika 1. Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 4. Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna. 2. segitiga. matching bentuk. 3. kotak. matching binatang. Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. oval. matching buahbuahan dan matching sayuran anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. wajik. . matching huruf besar.

dapat disimpulkan bahwa dalam menangani anak hiperaktif salah satu cara yang terbaik adalah dengan dibawa ke tempat terapi anak yang khusus menangani anak bermasalah (gangguan perkembangan) dan cara yang paling mudah bagi guru pembimbing/terapis dalam menangani/membelajarkan anak hiperaktif adalah dengan menggunakan media visual (gambar) karena dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual (gambar) itu akan lebih menarik minat anak dalam belajar. Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A. anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti bahwa 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 7. . Identifikasi angka Dalam pembelajaran identifikasi angka 1-10. Dan dengan gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan penggunaaan media visual (gambar) akan mewujudkan tujuan komunikasi dari anak. Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak dinyatakan telah menguasai materi dengan baik ini terbukti karena selama 3 kali pertemuan pertama dan seterusnya mendapatkan nilai A 6.303 5. Dari hasil wawancara diatas. disamping itu anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners).

dan tidak mampuannya. usia anak. Perencanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak. pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) di tempat terapi anak. 1. (lamp) Hal ini diperkuat oleh teori Sobur (1986:125) bahwa hanya “terapi terarah” yang dapat membantu anak keluar dari masalah hiperaktif.304 C. serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. tahapan-tahapannya disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Setelah keseluruhan data yang ditemukan peneliti pada latar penelitian dilakukan proses analisis komparatif antar informan peneliti maupun dengan menggunakan catatan lapangan dan dokumentasi selanjutnya peneliti menyajikan kesimpulan tentang perencanaan. 1992:200) . Kurikulum pembelajaran untuk anak hiperaktif disesuaikan dengan tingkat perkem bangan kemampuan anak. Fungsi otaknya yang terganggu harus dilatih dengan terapi kesibukan. Dimana sekolah-sekolah khusus itu mengatur program yang akan memenuhi kebutuhan anak. Hal ini diperkuat oleh teori Clerq (1994:126) bahwa terapi individu yang diterapkan. 1989:73) Kurikulum yang digunakan untuk pembelajaran anak hiperaktif ditempattempat terapi anak mengacu pada kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. (Bryn. Pada umumnya terapi perilaku bersifat pendidikan (Singgih.

dapat disarankan latihan-latihan untuk mengurangi kebanyakan gerak ini. 1989:73) Pembelajaran ini dilakukan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dimana pembelajarannya setiap satu guru memegang satu murid atau dua guru memegang satu murid dan ini berlaku bagi anak yang masih sangat sulit untuk dikendalikan (hiperaktif berat) dan bersifat sementara sampai tingkat hiperaktifitas anak sedikit berkurang. Hal ini diperkuat oleh teori Taylor (1988:125) bahwa anak hiperaktif perlu diterapi langsung untuk mengubah perilakunya yaitu dengan sistem pengajaran satu guru satu murid. tata ruang yang diusahakan jangan terlalu ramai dengan bermacam-macam benda. penempatan atau tata ruang belajar dan penataan struktur ruang. Pelaksanaan Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Pelaksanaan pembelajaran anak hiperaktif dilakukan dikamar khusus bebas distraksi yaitu ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan (poster. alatalat belajar. Misalnya. Dilakukan dengan cara guru yang satu (terapis) duduk berhadapan dengan anak memberikan materi pelajaran dan guru yang satunya lagi (asisten terapis) duduk dibelakang anak/memangku anak dan memegangi anak sambil mengarahkan. Dengan cara dipangku/dipegang tangannya sambil muka berhadap-hadapan untuk dilatih . ventilasi dan penerangan yang cukup). Hal ini juga diperkuat oleh teori Sobur (1986:125-126) bahwa disamping perlunya pemeriksaan medis.305 2. Dengan dimasukkan di kelas-kelas kecil itu anak-anak hiperkinetik akan memperoleh perhatian dan pengawasan yang diperlukan (Bryn. yang memudahkan beralih perhatian.

setiap kali dimulai dengan tiga menit. apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif divisualkan lewat gambar. yaitu menempatkan anak dalam ruangan kecil yang tidak ada rangsangan-rangsangan (misalnya gambar-gambar dan sebagainya). Disamping itu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya memungkinkan penggunaan media visual (gambar) itu akan lebih menarik . lama kelamaan hiperaktifnya dapat diatasi. Pada hari-hari pertama mungkin hanya berhasil selama sepuluh menit. Metode ini memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. Ruangan seperti itu tidak memungkinkan anak untuk pegang ini pegang itu. Dan dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. lalu ditambah menjadi empat menit dst. Itu sudah bagus. terutama media visual (gambar). informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. karena dengan gambargambar itu anak lebih mudah belajar memahami. sehingga anak dapat menangkap pesan. Sedangkan metode yang digunakan adalah perpaduan dari metode yang ada. Bila latihan ini dilakukan secara intensif. Untuk itulah dalam membelajarkan anak hiperaktif tidak lepas dari penggunaan media. Ada cara lain untuk mengatasi anak-anak semacam ini. memungkinkan anak untuk mengatasi kemampuannya berbicara yang masih terbatas. Makin lama jangka waktu latihan ini makin meningkat. dimana penerapannya disesuaikan kondisi dan kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak.306 konsentrasi. Misal. Hal ini diperkuat dengan teori Sobur (1986:254) bahwa bentuk “tidak verbal” suatu gambar. Anak didudukkan dipojok dan diusahakan untuk menarik perhatiannya kepada suatu kesibukan.

1986:259). dengan tujuan: Agar anak belajar cepat mengidentifikasi benda dan namanya. . dan sebagainya. seperti pengetahuan alam dan matematika (Sobur. dan kartu gambar.307 perhatian/minat mereka dalam belajar. Ahli-ahli seni rupa menyatakan bahwa gambar bisa meningkatkan kapasitas belajar dalam hal lain yang tak berkaitan dengan seni. Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:43) bahwa dalam mengidentifikasi benda dan nama digunakan alat yang merupakan satu set mainan kuartet. bisa berupa kuartet buah-buahan. perkakas rumah. Sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. Identifikasi benda dan melabel (menyebutkan) gambar Media yang digunakan adalah foto dari berbagai benda. Hal ini juga diperkuat oleh Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:22) bahwa fungsi gambar adalah untuk: Menarik perhatian anak Mengadakan motivasi dan merangsang anak Memberikan suatu latar belakang pada bacaan Merangsang percakapan (ekspresi) dan diskusi Mendidik sifat kritis pada anak Memperkenalkan kata-kata baru. pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) itu mencakup: 1. Agar anak belajar menangkap struktur kata dengan cepat. alat-alat dapur. tumbuh-tumbuhan. binatang.

308 2. Mencocokkan (Matching) Media yang digunakan adalah benda-benda dan gambar yang identik. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. kemudian diajak untuk duduk diam. kartu huruf. dan berbagai bentuk. Identifikasi huruf dan melabel huruf Media yang digunakan adalah kartu-kartu huruf 6. Jauhkan segala sesuatu yang mungkin mengganggu . Identifikasi kata kerja. Dengan cara menatap mata anak dan memegangi kedua tangannya dengan lembut. benda berwarna. kartu angka. Identifikasi warna dan melabel warna Media yang digunakan adalah kertas warna dan benda-benda berwarna 4. Identifikasi angka dan melabel angka Media yang digunakan adalah kartu-kartu angka 7. Hal ini diperkuat oleh teori Sobur (1986:69) bahwa cara menolong anak agar dapat belajar dengan baik adalah dengan mengajak anak untuk bisa berkonsentrasi. melabel kata kerja dan menirukan gambar Media yang digunakan adalah foto/gambar aktivitas orang Cara guru membelajarkannya di kelas dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut adalah: Pertama guru mempersiapkan perhatian anak. dengan berusaha menenangkan mereka. 3. Identifikasi bentuk dan melabel bentuk Media yang digunakan adalah berbagai bentuk dan gambar 5. Anak-anak harus membiasakan diri memusatkan perhatiannya kepada pelajaran selama waktu belajar.

Dalam memberikan perintah/instruksi ini guru menyampaikan dengan singkat. kemudian guru memberi perintah/instruksi sesuai dengan materi yang akan diajarkan. “Waktu bermain bermainlah. Seorang pendidik pernah berkata “Play while you play. baru guru mulai pelajaran dengan mengambil satu gambar dan meletakkan di atas meja di depan anak. Apabila materi pelajaran identifikasi gambar maka . and study while you study. work while you work. Singkat maksudnya dalam memberikan perintah guru hanya mengucapkan satu kata (kata kuncinya saja) dan bukan kalimat yang panjang.” Apabila seseorang betul-betul memusatkan perhatian sepenuhnya pada sesuatu tanpa merasa terganggu oleh suasana sekitar untuk beberapa saat. (75). tegas dan bukan membentak) agar anak mudah memahami.” Artinya. dan bisa duduk lebih lama. karena anak hiperaktif mempunyai gangguan perlambatan dalam menangkap pesan seperti suara radio gelombang pendek (suara hilang timbul) sehingga anak hanya menangkap sepotong-potong. Hal ini juga diperkuat oleh teori Pearce (1990:74) bahwa latihan konsentrasi dapat membantu dengan meminta anak hiperaktif untuk berkonsentrasi pada suatu tugas selama beberapa detik dan kemudian meningkatkan waktunya secara bertahap selama beberapa minggu dan selalu mengakhiri setiap sesi konsentarsi dengan catatan keberhasilan Setelah keadaan anak tenang. jelas dan konsisten dan dengan suara netral (cukup keras. maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut mampu berkonsentrasi. waktu bekerja bekerjalah sungguh-sungguh dan waktu belajar benarbenarlah belajar.309 konsentrasi si anak.

Sedangkan konsisten maksudnya dalam memberikan perintah/instruksi kata yang diucapkan harus persis sama untuk instruksi selanjutnya. Teori yang mendukung adalah konsistensi dianggap sebagai dasar mengatasi anak hiperaktif. Ingin mengajarkan imitasi beda dengan mengikuti perintah sederhana (satu-tahap). yaitu: .310 guru memberikan perintah “Tunjuk … (nama gambar tersebut)” dan apabila materi pelajaran melabel (menyebutkan) guru memberi perintah “Ini apa?” atau “Apa ini?” dan apabila materi pelajaran mencocokkan (matching) guru memberi perintah “Samakan” atau “Kasih ke Ibu”. Sebaliknya. Dan dalam perintah sederhana : instruksi “Tepuk tangan” berarti tangan guru/terapis diam sama sekali. selanjutnya untuk menyuruh anak menirukan gambar guru memberikan perintah “Berdiri … (perintahkan anak menirukan aktivitas dalam gambar)”. “masukken” atau “masuppin” karena ini akan membingungkan anak. 1991:40) Ada berbagai macam cara yang digunakan guru dalam mengajar mata pelajaran mencocokkan (matching). (Fontenelle. Misalnya dalam pelajaran Imitasi: instruksi “Tiru” berarti guru/terapis memberikan contoh (misal: tepuk tangan). Misalnya instruksi “masukkan” jangan diganti “masukkin”. Dengan cara yang konsisten kemungkinan akan keberhasilan teknik-teknik yang diterapkan. hemat kata dan hemat gerakan. Untuk itu dalam membelajarkan anak hiperaktif harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. pendekatan yang tidak konsisten hampir pasti gagal dan menimbulkan kesulitan perilaku. Jelas maksudnya guru dalam memberikan perintah sesuai dengan apa yang ingin diajarkan.

Jika anak meminta benda tersebut. 5. dlsb). melepas sepatu. menirukan gambar/melakukan aktivitas guru biasanya memulai dengan memerintahkan anak untuk mengambil sesuatu yang ada di sekitar/diruang kelas kemudian anak diajarkan pada hal-hal yang lebih spesifik dan anak diperintahkan meniru guru (misalnya minum dari gelas.. Dalam identifikasi kata kerja. Guru meletakkan dua kelompok gambar yang mempunyai gambar berpasangan dan anak disuruh mencocokkan/memasangkan gambar-gambar itu. Guru memegang satu gambar dan meletakkan beberapa gambar dihadapan anak lalu anak disuruh memilih gambar yang sesuai dengan gambar yang dipegang guru. maka guru akan menanyakan terlebih dahulu apa warna benda tersebut sebelum memberikannya. Dengan cara mengatur benda-benda yang berlainan warna. maka guru memberikan prompt (bantuan/arahan) pada anak untuk menunjuk atau melabel atau mencocokkan gambar atau menirukan aktivitas seperti dalam gambar tersebut sesuai dengan materi yang diajarkan pada . 6. tetapi diluar jangkauan anak. Apabila dalam pembelajaran. Sedangkan dalam pelajaran identifikasi warna guru juga menggunakan tehnik insidental (berkebetulan). anak masih tahap pengenalan atau mengalami kesusahan. makan dengan menggunakan sendok dan garpu. Guru meletakkan sebuah benda dihadapan anak dan berbagai macam gambar yang berbeda (max 5 gambar) dan anak disuruh mencocokkan/memilih gambar yang sesuai dengan benda. menggosok gigi.311 4.

hadiah. hukuman. pelukan atau beberapa patah kata. Dalam konteks ini pemberian ganjaran merupakan sarana Bantu untuk belajar. Alat itu antara lain: pujian. teladan dan contoh. diantaranya: Perhatian Perhatian dapat diberikan dengan banyak cara: pandangan. sentuhan. karena anak terbiasa dengan pemberian hadiah/iming-iming sebelum anak melakukan sesuatu (agar anak melakukan sesuatu) dan kebiasaan itu harus dihilangkan dengan cara mengganti hadiah yang berupa benda riil itu dengan pujian/tepukan. senyuman. Alat pendidikan itu adalah upaya/siasat yang sengaja dibuat dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Hal ini diperkuat oleh Nur’aeni. . Hal ini juga diperkuat oleh teori Fontenelle (1991:90) bahwa hadiah atau ganjaran sangat berguna dalam mengatasi beberapa kesulitan akibat hiperaktivitas. (1997:136-137) bahwa penguat (reinforcemen)t adalah alat pendidikan yang menyebabkan tingkah laku individu lain yang kita hadapi (anak didik peserta didik) akan terpatri. Hal inilah yang menjadi salah satu cara untuk menghilangkan kebiasaan anak dari sifat manja. Hadiah/ganjaran diberikan pada orang yang telah melakukan suatu kebaikan. bukan penyuapan. Dan apabila anak sudah mulai menguasai materi pelajaran/merespons dengan benar guru biasanya mengajar tanpa prompt dan hanya memberikan reinforce respons yang benar saja. Hal ini diperkuat dengan teori Pearce (1990:28) bahwa ganjaran memiliki banyak bentuk yang berbeda. ganjaran.312 saat itu dan setiap kali anak melakukan/merespons dengan benar tak jarang guru memberikan reinforce (hadiah/pujian/tepukan).

sebab dengan ditertawakan akan membuat anak itu merasa bangga karena merasa diperhatikan dan merasa bahwa . bukannya ditertawakan karena lucu. bila perlu kaki anak dijepit di antara paha guru atau tungkai guru/terapis menjepit/merangkum kursi di belakang anak dan menatap anak itu dan mengatakan “… (nama anak) lihat” dan mengatakan “Tidak…” tindakan dan kata-kata inilah yang selalu diucapkan guru untuk mencegah/melarang anak yang berbuat sesuka hati bahwa perbuatannya itu salah/tidak benar dan untuk melarang/menyuruh diam disaat anak mengoceh sendiri.313 Pujian Hadiah khusus Hadiah khusus digunakan sebagai cara untuk mendukung dan menguatkan setiap pujian yang diberikan. hal inilah yang menguji kesabaran guru dalam membimbing anak hiperaktif. Hal yang terbaik dalam memberikan hadiah khusus adalah menggunakan satu/dua hal secara teratur sebagai ganjaran dan menyimpannya sebagai hadiah khusus untuk membuatnya lebih diharapkan dan berharga. kadang ia suka mengoceh sendiri tak jelas arah tujuannya dan menoleh/bergerak kesana kemari walaupun sudah dihalangi meja. Disaat pelajaran berlangsung tak jarang konsentrasi anak mulai hilang. kondisi anak dan akibat sampingan yang mungkin timbul. Hal tersebut juga diperkuat oleh Nur’aeni (1997:141) bahwa pendidik/orang tua harus jeli dalam memilih alat-alat pendidikan yang sesuai dengan harapan. biasanya guru akan memegangi kedua tangan atau pipi (sekitar kepala) anak itu. suasana sekitar.

Dan apabila anak sudah mulai mengerti dengan maksud kita dan berusaha memperbaiki tindakannya yang salah. cukup kita katakan “ya”. Inilah yang dimaksud dengan disiplin. Ada banyak cara untuk mengatakan tidak: Dengan nada suara yang tajam Dengan bentakan yang keras Mengatakan “tidak” dengan berbisik Menggoyangkan jari Mengerutkan dahi dan memasang wajah marah Berpaling dan tidak memberikan perhatian. dimana hal ini diperkuat oleh teori Pearce (1990:8) adalah mungkin untuk mengatakan “ya” dan memberikan pujian setiap kali seorang anak melakukan sesuatu yang baik dan sebagai akibatnya kita tidak perlu mengatakan “tidak”. Hal ini diperkuat dengan teori Pearce (1990:7) bahwa dengan mengatakan “tidak” dapat secara bertahap memperkenalkan anak dengan gagasan bahwa ada batas mengenai berapa banyak kebutuhan yang dapat dipenuhi. seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Dan apabila anak masih tetap sulit untuk diajak dian dan diajar maka guru akan memberi anak itu imingiming. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui pengelolaan dan penanganan yang serius dibarengi dengan upaya mengatasi tingkat gangguan . dan anak akan secara bertahap pula mengetahui batasan dari apa yang dapat diterima dan apa yang tidak dapat diterima.314 apa yang dilakukannya/diucapkannya itu benar/baik.

Menurut Bloom (Handbook on Formative and Sumative Evaluation of Student Learning) mengemukakan bahwa “Evaluasi adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar penetapan ada tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau anak didik. dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga.. Evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian. dengan tujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. dengan memberi reward (hadiah/pujian) untuk respons yang benar. Evaluasi Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian). . 3. Evaluasi proses dilakukan seketika pada saat proses kegiatan berlangsung.” Evaluasi pembelajaran anak hiperaktif yang umum digunakan di tempattempat terapi anak adalah evaluasi proses dan evaluasi bulanan. Sedangkan evaluasi bulanan bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah.315 dapat membantu mengarahkan kondisi hiperaktif untuk menunjang hal-hal positif perkembangan anak. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak hiperaktif guna mendapatkan pemecahan masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak hiperaktif .

Begitu juga dengan gambar tomat mungkin karena bentuk dan warnanya hampir sama dengan gambar lain misal: jeruk sehingga anak masih bingung membedakan dan ragu untuk menjawab. . Hanya gambar binatang dan gambar sayuran saja yang masih membingungkan anak hal ini dikarenakan adanya kesamaan dalam gambar dan anak masih belum bisa membedakannya seperti ayam jantan dan ayam betina. matching binatang. alat transportasi. matching buahbuahan dan matching sayuran anak tidak mengalami kendala/hambatan karena pelajaran ini termasuk yang paling mudah hanya saja anak dituntut untuk lebih teliti dalam memasangkan gambar. matching huruf besar. 3) Identifikasi warna Dalam pembelajaran identifikasi warna anak tidak mengalami kendala/hambatan. gambar buah-buahan. matching bentuk. yang ia tahu adalah hanya ayam saja sehingga anak harus dibantu (prompt setengah/sebagian/ringan).316 Berdasarkan lembar penilaian dari evaluasi proses maka dapat disimpulkan bahwa hasil evaluasi pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada 6 anak hiperaktif di tempat Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah sebagai berikut: 1) Identifikasi Benda Dalam pembelajaran identifikasi benda dari beberapa jenis gambar yang diajarkan yaitu gambar binatang. 2) Mencocokkan (Matching) Dalam pembelajaran mencocokkan (matching) baik itu matching warna.

Setelah mengenal huruf-huruf dengan namanya. huruf “s” sebagai “es”. menulis itu pekerjaan yang sukar. 5) Identifikasi huruf Dalam pembelajaran identifikasi huruf (A sampai dengan Z) terutama huruf besar anak menguasai materi dengan baik. lingkaran dan trapesium) anak sering dibingungkan antara lingkaran dan oval karena bentuknya yang hampir sama. Hal ini diperkuat dengan teori Fontenelle (1991:20) bahwa beberapa anak yang tergolong hiperaktif memperlihatkan kekurangan-kekurangan motoris-perseptual (kekurangan motoris-visual dan koordinasi motoris halus atau koordinasi tangan-mata). wajik. Dalam pelajaran ini hambatan/kendala yang dialami anak hanya dalam penulisannya. huruf “e” sebagai “e”. yaitu suka terbalik-balik dan tidak rapi. segitiga. oval. maka semua aktivitas tangan dan pensil itu sulit. Tulisan tangannya biasanya jelek. Kesulitan dalam bidang ini biasanya mempengaruhi kecakapan menulis. dan seterusnya. Bagi anak ini. Hal ini diperkuat oleh Pakasi dalam bukunya Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An (1981:3) bahwa dengan metode eja. huruf diperkenalkan kepada anak dengan namanya dalam abjad. maka si anak belajar merangkai suku kata dan dirangkai lagi menjadi kata. Ia sukar . kotak. Misal huruf “b” disebut atau dilafalkan sebagai “be”.317 4) Identifikasi Bentuk Dalam pembelajaran identifikasi bentuk (bintang. Tetapi dengan prompt (arahan/bantuan) lama-lama anak menjadi tahu dan memahami. bukan dengan bunyinya. Pengajaran menulis diberikan bersamasama dengan pengajaran membaca.

Dan kerap kali ia membalikkan huruf dan angka. sering tidak menyelesaikan pekerjaan tulis. ditengah. anak tidak mengalami kendala saat ditanya bahkan ia cepat hafal walaupun ditanya sampai beberapa kali pertemuan dan angkanya diacak. meniup harmonika dlsb. membaca. anak kadang-kadang sudah mulai/sesekali bisa atau anak sudah bisa tetapi dengan prompt setengah/sebagian/ringan yaitu angka 5 dan 8.318 menyalin dari papan tulis sebab mengabaikan huruf-huruf dan kata-kata biasanya pekerjaannya tampak teledor dan acak-acakan. lari dlsb anak tidak mengalami kendala/hambatan. akan tetapi ada angka dimana anak mengalami kesulitan menghafal. 6) Identifikasi angka Dari pembelajaran identifikasi angka 1-10. . putih menjadi uti. Karena ia harus berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan kertas dan pensil. ia “lambat” dalam menulis. Mungkin tulisannya mula-mula rapi. padahal perilaku ini wajar bagi semua anak. 7) Identifikasi kata kerja Dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan satu kata seperti memasak. atau dibelakang karena kesulitan dalam berbicara seperti kata biru menjadi bi u. tetapi makin lama makin jelek. akan tetapi dalam pembelajaran identifikasi kata kerja dengan dua kata atau lebih anak masih mengalami kesulitan seperti main bola. kotak menjadi otak dlsb. Dan untuk anak yang mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) tidak jarang dia mengucapkan kata dengan menghilangkan satu huruf entah itu didepan.

identifikasi bentuk. identifikasi angka. Simpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab di muka. Dimana dalam membelajarkannya dengan menunjukkan gambar satu persatu di depan anak dengan disertai prompt (bantuan/arahan) dan reinforce (hadiah/pujian) untuk respons yang benar. identifikasi huruf. Dalam pembelajaran anak hiperaktif dilaksanakan dengan menggunakan sistem individual (lovaas one on one) dan dengan metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”. dan identifikasi kata kerja. informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. kemudian prompt dan reinforce itu dikurangi sedikit demi sedikit sampai tidak menggunakan sama sekali dan anak benar-benar menguasai materi pelajaran. mencocokkan (matching). . Salah satunya adalah dengan penggunaan media visual (gambar). Kurikulum yang digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus adalah kurikulum dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia. penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. identifikasi warna.319 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Pembelajaran dengan menggunakan media visual mencakup Identifikasi benda. 2. sehingga anak dapat menangkap pesan.

Saran Berdasarkan hasil penelitian tentang Pembelajaran Anak Hiperaktif dengan Menggunakan Media Visual (Gambar) di Lembaga Terapi Anak Al Tisma Kudus. Kepada Terapi disarankan untuk lebih terbuka kepada masyarakat 4. Kepada peneliti lain disarankan untuk mengadakan penelitian tentang Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dengan objek penelitian yang berbeda dan dengan topik yang berbeda. Kepada Guru Pembimbing/Terapis disarankan untuk lebih memperdalam konsep pembelajaran anak berkebutuhan khusus baik itu dalam perencanaan. Hal ini terbukti dengan 75 % anak hiperaktif berhasil menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru pembimbing/terapis melalui media visual (gambar) ini.320 3. pelaksanaan dan evaluasi. maka disarankan sebagai berikut: 1. tidak hanya menggunakan media visual (gambar) saja tetapi juga dengan menggunakan media lain. kognitif. dapat disimpulkan bahwa media visual (gambar) memudahkan anak dalam memahami konsep dan membantu dalam generalisasi. 2. Disamping itu dapat meningkatkan kemampuan bahasa. 3. B. Dari hasil pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) pada anak hiperaktif. afektif dan psikomotorik pada anak. Kepada Kepala Terapi disarankan untuk mengembangkan materi pelajaran dan metode pembelajarannya. .

Arsyad. Memahami dan Mengatasi Anak Overaktif. Hakim. Teori-teori Belajar. 1996. 1991. Konseling dan Psikoterapi. Daryanto. Singgih D. Linda De. 1994. 1993. Yogyakarta: Penerbit FIP-IKIP. Tarsito Bandung. Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktek. Belajar Secara Efektif. Badawi. Jakarta: Rineka Cipta. Pedoman Pelayanan Pendidikan Bagi Anak Austik. Strategi Belajar Mengajar. 1996. 1997. Jakarta: Raja Grafindo.321 DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Media Pembelajaran. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. 2002. 1992. Fontenelle. Wilis. 2000. Jakarta: Erlangga. Media Visual untuk Pengajaran Teknik. Clerq. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Rineka Cipta. Suharsimi. Jakarta: Gunung Mulia. . Jakarta: Bina Aksara Arikunto. Djamarah. Jakarta: Puspa Swara. Kelompok Belajar sebagai Teknik Bimbingan dan Penyuluhan Metode pengajaran. Aswan 2000. Depdiknas. Syaiful Bahri dan Zain. Suharsimi. Dahar. Azhar. Thursan. Tingkah Laku Abnormal. Ahmad. Jakarta: Grasindo. Don H. Jakarta: Gunung Mulia. 2002. Gunarsa. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. 1985. Suharsimi. Arikunto. 1986. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Bandung: Angkasa . Jakarta: Gramedia. Intervensi Dini bagi Anak Bermasalah. Sobur. Jakarta: Bhratara Karya Aksara. Soemiarti. Jakarta: Grasindo Pakasi. Pearce. Betty B. Media Instruksional Edukatif. Lexy. Arief. Setiawani. John. Alex. Ahmad. Mary Go. Menerobos Dunia Anak. Jakarta: Rohani. Jakarta: Rineka Cipta. 2001. Bandung: Yayasan Kalam Hidup. 2002. 2000. Soepartinah. 1989. 1986.322 Lask. Anak Masa Depan. Metodelogi Penelitian. 1984. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Bagaimana Binarupa Aksara. Semarang: STIMIK Dian Nuswantoro. 1997. Sadiman. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. 1996. Bryn. 1981. Osman. Jakarta: Rineka Cipta. Dian Retno. Bandung: Remaja Rosdakarya. Moleong. Jakarta: Raja Grafindo Persada Sardiman. Metodelogi Penelitian Kualitatif. 1997. Jakarta: Rineka Cipta. 2000. Memahami dan Mengatasi Masalah Anak Anda. Belajar Membaca dan Menulis I In dan A An. Mengatasi Perilaku yang Buruk. Patmonodewo. Ngatidriatun. 2003. Lemah Belajar dan ADHD. 1990. Nur’aeni. Pendidikan Anak Prasekolah. Media Pendidikan.

2001. Jakarta: DepDikBud Sumber : Keluarga. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Sudjana. http//www. Org. Helping Children with Special Needs : The Hiperactive Child. 1999. . Mary. Weaver. http//www. 2000. http//www. Jakarta: Gramedia Tim Redaksi Puspa Swara.google. Unika. Nana dan Rivai. Sunday School Smart Pages. Jakarta: Primamedia Pustaka. Mengatasi Problem Psikologi Balita. Kiat Membantu Anak Hiperaktif. Ahmad. Jakarta: Puspa Swara.google. 1992. 1988. 1995. Bandung: Sinar Baru Algensindo Sugianto T. 2004. Gospel Light. Evaluasi Hasil Belajar dan Pengajaran Remedial.323 Soemardji & Sutaryadi.com. 2003. Jakarta: Graha Sucof. Media Pengajaran. Wes & Sheryl Haystead. Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC Pada Penyandang Autisme Gangguan Perkembangan Pada Anak. Agar Anak Tangkas Mengatasi Hidup. Semarang. Mainan dan Permainan. Taylor. Mayke. Yayasan Autisma Indonesia. Semiloka Mengenal dan Membimbing Anak Hiperaktif. Ventura. Edward T. Anak yang Hiperaktif.com. 1998. 1994. Eric. Bermain.com Tan dan Chan. Bandung: Sinar Baru. Kegiatan Untuk Anak Dini Usia. Hal 65. UNS Surakarta. Jakarta: Prestasi Pustaka. 2000. Sudjana.google. Kids Healt. Unika. 1997.

karena penelitian saya adalah pembelajaran khusus untuk anak hiperaktif. Apa yang mendorong/menggerakkan hati anda sehingga ingin mendirikan Terapi Anak? Apakah ada pihak-pihak terkait yang diajak bekerja sama dalam menyelenggarakan program terapi anak ini? 4. seperti yang kita ketahui bahwa tidak mudah seseorang itu membimbing anak yang mempunyai kebutuhan khusus apalagi anak itu tergolong hiperaktif. 7.324 PEDOMAN WAWANCARA PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS A. apakah dalam hal ini diperlukan kiat-kiat khusus seperti diadakan pelatihan dalam membimbing anak sebelum mengajar di kelas? 9. apakah sama penanganan dan sistem pembelajaran anak hiperaktif dengan anak berkebutuhan khusus lainnya? 13. . 6. 8. Selain penanganan khusus anak hiperaktif (terapi) apakah disini juga memberikan pelayanan lain seperti terapi (konsultasi) orang tua dalam menangani anaknya dirumah. ada bermacam-macam tipe anak berkebutuhan khusus. Pendekatan dan metode apakah yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif? 14. Adakah kriteria khusus (syarat-syarat) dalam membimbing anak hiperaktif? 15. tipe apa saja yang diterapi disini dan bagaimana anda mengetahui kalau anak itu tergolong tipe itu? 12. sedangkan di tempat terapi anak ini ada bermacam-macam anak berkebutuhan khusus. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri? 2. Berapa rata-rata umur mereka dan kebanyakan anak nomor berapa yang diterapi disini? 11. 1. 3. Ada berapa ruang kelas yang digunakan untuk mengajar? Apakah ruangan ini juga didesain khusus untuk membelajarkan anak hiperaktif agar anak lebih konsentrasi dalam belajar? 5. Melihat cerita anda tadi. Ada berapa jumlah siswa yang diterapi disini? 10. Tolong beri penjelasan tentang jadwal terapi disini? Apakah tugas anda sebagai Kepala Terapi Anak? Ada berapa jumlah guru yang membantu anda mengajar disini? Bagaimana cara mencari guru untuk mengajar anak berkebutuhan khusus. Sebelumnya saya mau tanya. Wawancara dengan Kepala Terapi Anak Al Tisma Kudus.

gedung/perlengkapannya. Apakah selama ini ada hambatan/kendala dalam mengelola tempat terapi anak ini baik itu dari administrasinya. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? . apalagi mereka juga memerlukan perhatian yang ekstra? 21. Wawancara dengan guru pembimbing/pengajar (terapis) Terapi Anak Al 1. selain di tempat terapi anak itu sendiri? Lalu bagaimana cara mensiasatinya agar anak itu juga bisa menerima pelajaran di sekolah umum. Apakah pesan anda pada para orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/ anak berkebutuhan khusus lainnya? B. Disamping sebagai kepala terapi anda juga ikut mengajar/sebagai terapis. SMA) sesuai dengan umur anak dan tingkat kemampuan anak. para guru/terapis dan siswanya? 24. lalu bagaimana hasilnya? 22. Tisma Kudus Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? 2. Sarana pembelajaran apa saja yang disediakan disini khusus digunakan dalam membelajarkan anak hiperaktif? 19. Apakah prinsip-prinsip yang digunakan dalam pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? 18. Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian). Bagaimanakah cara merancang pembelajaran anak hiperaktif ? 17. SMP. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak hiperaktif)? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran? 3. Apa yang menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan dan pengajaran bagi anak hiperaktif. Jika anak itu sudah dikatakan cukup sembuh (tingkat aktifitasnya berkurang) apakah pihak sekolah menyarankan agar anak itu juga disekolahkan disekolah reguler/formal (TK.325 pengaturan makanan dan pemberian obat pada anak hiperaktif yang tentunya dengan persetujuan dokter? 16. menurut anda? 23. Bagaimana cara mengevaluasi pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? 20. Bagaimana cara anda menanganinya dan mengajarkannya terutama dengan menggunakan media visual (gambar). dan dari data yang saya terima anda mengajar Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan Autis dan Hiperaktif. SD.

Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? 10. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? 15. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? 14. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? 9. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? 11. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? 16. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? 5. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? 6. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? . Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? 12.326 4. 8. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? 13. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? 7.

Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak? 10. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? 20. Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? 8. Umur berapa anak anda diterapi disini? 11. Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? 9. 5. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? 18. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? 14. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? 19. meja kursi . 2. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? 4. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? . dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi anak? 12. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? C. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). Apakah disamping anak anda diterapi disini. alat/media pembelajaran dan mainan? 13. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? 6. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? 3. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? 7. Wawancara dengan orang tua siswa Terapi Anak Al Tisma Kudus 1.327 17.

Apa yang mendorong/menggerakkan hati anda sehingga ingin mendirikan Terapi Anak ? J. Dan alhamdulillah siswanya juga cukup banyak dan tidak sedikit pula siswa yang berhasil saya tangani. Pertama sih saya tidak kepikiran untuk mendirikan terapi ini. lalu saya coba untuk mendirikan terapi untuk anak berkebutuhan khusus.328 15. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? HASIL WAWANCARA PENGGUNAAN MEDIA VISUAL (GAMBAR) DALAM PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF DI TEMPAT TERAPI ANAK AL TISMA KUDUS Wawancara Dengan Kepala Terapi Anak Ibu Nur Halimah III. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? 20. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? 17. . lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? 18. Terapi Anak ini berdiri sejak Maret tahun 2001 T. setelah dipikir-pikir kenapa saya tidak menolong mereka kalau saya saja berhasil menyembuhkan anak saya. justru ide ini muncul dari temanteman saya yang juga mempunyai anak berkebutuhan khusus seperti anak saya yang alhamdulillah sekarang dia sudah sembuh. tentunya ini dengan bantuan para pengajar. karena tidak hanya anak hiperaktif saja yang diterapi disini tetapi juga anak autisme dan anak-anak yang berkebutuhan khusus lainnya (mempunyai kelainan dalam dirinya) tentunya itu semua dengan dukungan dari suami dan keluarga saya. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. T. Sejak kapan Terapi Anak ini berdiri? J. Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? 19. Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? 16. mereka mengeluh pada saya tentang anak mereka dan saya disuruh membantu menyembuhkan mereka. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif.

Apakah tugas anda sebagai Kepala Terapi Anak? J. dan kesembuhan anakanaknya (siswa-siswi) walaupun dalam hal ini juga menjadi tanggung jawab guru pembimbing/terapis. Karena saya yang mendirikan terapi anak ini sekaligus sebagai kepala dan terapis disini. dan kebetulan mereka perempuan semua. dokter spesialis metabolitas. pihak-pihak terkait yang juga sangat menunjang dalam penyelenggaraan terapi anak ini.00 WIB Session III dilaksanakan pada pukul 13. baik itu sebagai administrator.asal bisa digunakan untuk membelajarkan mereka dan lebih mengkonsentrasikan mereka pada pelajaran. Dimana setiap satu-dua bulan sekali Badan Psikiater dan Psikologi Anak selalu mengadakan seminar tentang anak-anak berkebutuhan khusus.00 – 12. Tolong beri penjelasan tentang jadwal terapi disini? J. dokter spesialis syaraf. disamping itu saya juga harus bertanggung jawab terhadap perkembangan terapi ini. T. Ada berapa ruang kelas yang digunakan untuk mengajar? Apakah ruangan ini juga didesain khusus untuk membelajarkan anak hiperaktif agar anak lebih konsentrasi dalam belajar? J. Ada berapa jumlah guru yang membantu anda mengajar disini? J. dengan begitu pengetahuan kita akan bertambah tentang anak-anak yang berkebutuhan khusus dan cara menanganinya. T.00 – 15. Departemen Pendidikan Nasional. fasilitator. Guru yang mengajar disini ada 6.00 WIB Session IV dilaksanakan pada pukul 15.00 – 17. Ada 5 kelas.00 WIB Jadi setiap membelajarkan anak itu dilaksanakan selama ± 2 jam. T. Bagaimana cara mencari guru untuk mengajar anak berkebutuhan khusus. dan tenaga ahli yang lain seperti: ahli gizi. dokter disini meliputi dokter spesialis yang menangani gangguan perkembangan anak. maupun koordinator serta peningkatan sumber daya manusia bagi guru/terapis. Ada. disitu kita mengemukakan masalah yang kita hadapi selama ditempat terapi untuk menemukan solusinya.329 T. diantaranya: Psikolog anak. dlsb. T. Apakah ada pihak-pihak terkait yang diajak bekerja sama dalam menyelenggarakan terapi anak ini? J. Psikiater anak.00 WIB Session II dilaksanakan pada pukul 10. T. otomatis semua tugas menjadi tanggung jawab saya. Terapi disini dilaksanakan setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat dan dalam satu hari dibagi dalam 4 session yaitu: Session I dilaksanakan pada pukul 08. Dokter. Di desain sih nggak. Karena dalam membelajarkan anak hiperaktif itu harus di ruangan yang kosong tanpa ada hiasan dinding yang bisa mengganggu konsentrasi mereka pada pelajaran.00 – 10. seperti yang kita ketahui bahwa tidak mudah seseorang itu membimbing anak yang mempunyai kebutuhan .

330

khusus apalagi anak itu tergolong hiperaktif, apakah dalam hal ini diperlukan kiat-kiat khusus seperti diadakan pelatihan dalam membimbing anak sebelum mengajar di kelas? J. Mengingat terapi anak ini berada di kota kecil dengan biaya yang tidak banyak, saya tidak mengharuskan seseorang yang membantu saya untuk mengajar disini orang yang mempunyai gelar sarjana, tetapi saya ingin membantu mereka yang benar-benar membutuhkan pekerjaan, cukup dengan diberi pengarahan sedikit dan buku panduan tentang membelajarkan anak yang berkebutuhan khusus mereka akan cepat tanggap dan mengerti apa yang harus mereka kerjakan, maka dari itu kebanyakan mereka adalah lulusan SMA. Sedangkan untuk pelatihan, pertama saya suruh mereka untuk membantu terapis lainnya mengajar, sambil melihat dan memahami cara mengajar anak yang benar, karena cara mengajar ini tidak seperti cara mengajar di Taman Kanak-kanak yang siswanya adalah anak-anak normal akan tetapi yang dihadapi nanti adalah anak yang sulit diatur dan mempunyai berbagai macam masalah. Setelah mereka memahami cara mengajar yang benar baru saya beri wewenang untuk mengajar sendiri dan berhasil tidaknya dalam pengajaran itu tergantung dari dirinya sebagai terapis/guru pembimbing. T. Ada berapa jumlah siswa yang diterapi disini? J. Sejak saya mendirikan terapi ini sampai sekarang jumlah siswa yang diterapi disini kurang lebih ada 24 anak, sedangkan yang masih diterapi sampai saat ini kurang lebih ada 15 anak, dan siswa lainnya yang dirasa sudah sembuh cukup diterapi di rumah dengan masih tetap berkonsultasi dengan pihak terapi. T. Berapa rata-rata umur mereka dan kebanyakan anak nomor berapa yang diterapi disini? J. Umur mereka rata-rata 5 sampai 10 tahun. Dan kebanyakan dari mereka adalah anak pertama (sulung), dan ada juga lho anak yang sepupunya juga diterapi disini tetapi masalahnya berbeda yang satunya IQ rendah sedangkan sepupunya mengidap autis dan hiperaktif. Selain itu disini ada juga anak kembar tetapi kembarannya itu normal, dan ada juga yang kakak adik diterapi disini dan kedua-duanya itu mempunyai masalah autisme. T. Melihat cerita anda tadi, ada bermacam-macam tipe anak berkebutuhan khusus, tipe apa saja yang diterapi disini dan bagaimana anda mengetahui kalau anak itu tergolong tipe itu? J. Tipe anak yang diterapi disini banyak, ada yang hiperaktif, autis, ADD, speech delayed (terlambat bicara), disphasia (anak yang mengalami gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam), IQ rendah, microcepalus (anak yang lahir dengan ukuran lingkar kepala kurang dari standart kelahiran), down sindrome, gangguan konsentrasi, retardasi mental (idiot), dan kurang stimulasi. Dan untuk mengetahui tergolong tipe apa anak itu, biasanya kami melihat dari tingkah lakunya selang beberapa hari setelah anak diterapi disini, atau kalau nggak biasanya dari psikiater atau psikolog kami sudah diberitahu kalau anak itu tergolong tipe ini.

331

T. Sebelumnya saya mau tanya, karena penelitian saya adalah pembelajaran khusus untuk anak hiperaktif, sedangkan di tempat terapi anak ini ada bermacam-macam anak berkebutuhan khusus, apakah sama penanganan dan sistem pembelajaran anak hiperaktif dengan anak berkebutuhan khusus lainnya? J. Penanganan dan sistem pembelajarannya itu sama, akan tetapi karena pertama kali anak dibawa di tempat terapi ini dengan permasalahan yang berbeda-beda, mungkin cara penanganan pertama itu saja yang berbeda, Misalnya anak hiperaktif berat dengan hiperaktif ringan, anak hiperaktif berat lebih sulit penanganannya dibandingkan dengan anak hiperaktif ringan dan biasanya kami menangani anak yang hiperaktif berat dengan bantuan alat “been back” yang tujuannya agar hiperaktifnya itu berkurang, sedangkan anak yang tergolong hiperaktif ringan cukup dengan diarahkan saja tanpa menggunakan alat “been back”. Pernah ada anak yang bernama Anis dia tergolong speech delayed (terlambat bicara), selama enam tahun tidak mau berbicara dan bagaimana cara kita membuat anak itu mau bicara dan

melenturkan lidah yang kaku itu, dan alhamdulillah setelah melalui terapi dia mau berbicara walaupun bicaranya cedal akibat lama tidak bicara. T. Pendekatan dan metode apakah yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif? J. Disini kami dalam membelajarkan anak hiperaktif mengggunakan pendekatan individual (lovaas one on one - pembelajaran satu guru satu murid). Sedangkan metode yang kami gunakan adalah metode yang memberikan gambaran konkrit tentang “sesuatu”, sehingga anak dapat menangkap pesan, informasi dan pengertian tentang “sesuatu” tersebut. Untuk itu sangat penting dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar-gambar), karena dengan gambar-gambar itu anak lebih mudah belajar memahami. T. Adakah kriteria khusus (syarat-syarat) dalam membimbing anak hiperaktif? J. Dalam upaya membelajarkan anak hiperaktif tidak mudah. Guru pembimbing sebagai model untuk anak hiperaktif harus memiliki kepekaan, ketelatenan, kreatif dan konsisten di dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh karena anak hiperaktif pada umumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain. Maka guru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak hiperaktif. Ada beberapa pra syarat yang harus dilakukan dan dipersiapkan oleh seorang guru pembimbing anak hiperaktif sebelum mengerjakan/melaksanakan kegiatan belajar mengajar yakni: 6. Menciptakan situasi yang kondusif untuk pembelajaran yang meliputi: c) Emosi yang stabil dari anak hiperaktif.

d) Ruangan yang tidak terlalu banyak rangsangan. 7. 8. Mengupayakan adanya kontak mata yang sejajar antara guru-siswa Kemampuan untuk meningkatkan ketahanan konsentrasi anak.

332

9.

Mengupayakan kepatuhan dari anak hiperaktif dan pemahaman bahasa reseptif.

10. Pembimbing harus menyadari dan memahami tujuan apa yang akan dicapai dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaran untuk anak hiperaktif. T. Selain penanganan khusus anak hiperaktif (terapi) apakah disini juga memberikan pelayanan lain seperti terapi (konsultasi) orang tua dalam menangani anaknya dirumah, pengaturan makanan dan pemberian obat pada anak hiperaktif yang tentunya dengan persetujuan dokter? J. Disini kami memberikan pelayanan konsultasi bagi orang tua, karena ini sangat penting untuk mengetahui perkembangan anaknya dirumah. Melalui bimbingan para guru/terapis serta kerjasama yang baik dengan orang tua dan orang-orang disekitarnya, dapat dikembangkan potensi anak. Akan tetapi pelayanan pengaturan makanan dan pemberian obat adalah wewenang dokter, dan kami ditempat terapi hanya menjalankannya saja apa yang dianjurkan oleh dokter dan menjalankan proses penyembuhannya (terapinya) untuk mempersiapkan anak sekolah di sekolah reguler. T. Bagaimanakah cara merancang pembelajaran anak hiperaktif ? J. Dalam membelajarkan anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya kami menggunakan kurikulum yang sudah banyak digunakan di tempat-tempat terapi lainnya yaitu dari Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC yang diselenggarakan oleh Yayasan Autisme Indonesia yang tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemampuan anak, dan tidak mampuannya, usia anak, serta memperhatikan sumber daya/lingkungan yang ada. Mungkin mbak Eri nanti bisa lihat sendiri di buku panduan yang sudah saya berikan. T. Apakah prinsip-prinsip yang digunakan dalam pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? J. Pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: f) Terstruktur Yaitu pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Setelah dikuasai, kemudian ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya. Contohnya untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna dari instruksi “Ambil bola merah”. Maka materi pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata “ambil”, “bola” dan “merah”. Setelah anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi “Ambil bola merah” kedalam perbuatan kongkrit. g) Terpola Terpola disini maksudnya dalam kegiatan anak hiperaktif harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur, baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya)

333

Namun, bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang; dapat dilatih dengan kondisi dilingkungannya, supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). h) Terprogram Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evalusi. Sebab dalam program materi pendidikan harus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan pada kemampuan anak. i) Konsisten Artinya: apabila anak berperilaku positif memberi respon positif terhadap sesuatu stimulan (rangsangan), maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan), demikian pula apabila anak berperilaku negatif (reinforcement). Hal tersebut juga dilakukan dalam ruang dan waktu lain yang berbeda secara tetap dan tepat, dalam arti respon yang diberikan harus sesuai dengan perilaku sebelumnya. j) Kontinyu Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran, program pendidikan dan pelaksanaannya. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan di rumah dan lingkungan sekitar anak. Kesimpulannya, terapi perilaku dan pendidikan bagi anak hiperaktif harus dilaksanakan secara berkesinambungan, simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu). T. Sarana pembelajaran apa saja yang sangat diperlukan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. Sarana belajar itu sangat diperlukan dalam pembelajaran anak hiperaktif, karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara konkrit bagi anak hiperaktif. Karena pola pikir anak hiperaktif pada umumnya adalah pola pikir konkrit, sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus konkrit. Dan kebetulan anak yang diterapi disini adalah kebanyakan anak usia prasekolah maka sarana belajarnyapun dsesuaikan dengan usia pendidikan anak yaitu berupa: alat peraga: pengenalan warna, bentuk, huruf dan angka, benda-benda sekitar, buah, binatang, kendaraan, alat bantu komunikasi: berupa gambar-gambar yang mewujudkan tujuan komunikasi dari anak, alat bantu pengembangan motorik halus: cara memegang pensil, menggunting, mewarna, dsb, alat bantu pengembangan motorik kasar: bola, tali, dlsb, dan ditambah berbagai macam mainan edukatif T. Untuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian). Bagaimana cara mengevaluasi pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif? J. Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran anak hiperaktif disini adalah: evaluasi proses yang dilakukan dengan cara seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilaku menyimpang pada saat itu juga, dengan memberi

Walaupun anak sudah patuh dan dapat berkonsentrasi pada saat terapi. T. Benar. instruksi yang jelas. SD. SMP. Anak biasa ditangani dengan guru khusus sendirian. anak dipersiapkan dan diperkenalkan pada pengajaran dengan kurikulum sekolah biasa. selain di tempat terapi anak itu sendiri? Lalu bagaimana cara mensiasatinya agar anak itu juga bisa menerima pelajaran di sekolah umum. berinteraksi/bersosialisasi dengan teman sebayanya dan harus mengerti instruksi guru dengan cepat. lalu bagaimana hasilnya? J. Setelah anak diterapi secara terpadu dan terstruktur. Dimana evaluasi ini dicatat dalam lembar penilaian yang setiap harinya dibawa anak pulang untuk panduan belajar dirumah. karena dia mempunyai gangguan autis yang hanya tertarik pada dunianya sendiri dan hiperaktif. apalagi mereka juga memerlukan perhatian yang ekstra? J. Pertama kali Troy (begitu nama panggilan Ferdinan Troy) dibawa kesini saya melihat bahwa kasus anak ini sama dengan kasus yang dialami anak saya dulu. Disamping sebagai kepala terapi anda juga ikut mengajar/sebagai terapis. SMA) sesuai dengan umur anak dan tingkat kemampuan anak. Ia perlu belajar mengenal dan mengikuti peraturan disekolahnya. saya mencoba untuk menenangkan anak ini agar tidak terlalu banyak gerak (hiperaktif) dengan saya tempatkan diruangan khusus dan saya dudukkan di meja kursi khusus tujuannya agar anak ini tetap kontak mata dengan saya dan tidak asyik dengan dunianya sendiri dan agar dia tahu bahwa . tetapi melalui tata cara pengajaran untuk anak bermasalah (kelas kecil dengan jumlah guru besar atau satu guru satu murid. sehingga dapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnya. dan dari data yang saya terima anda mengajar Ferdinan Troy yang mempunyai gangguan Autis dan Hiperaktif.334 reward (hadiah/pujian)untuk respons yang benar. Jika anak itu sudah dikatakan cukup sembuh (tingkat aktifitasnya berkurang) apakah pihak sekolah menyarankan agar anak itu juga disekolahkan disekolah reguler/formal (TK. dan dikelas anak harus berbagi dengan teman-temannya dengan bahasa guru yang berbeda dengan terapisnya dan bersifat klasikal. Bagaimana cara anda menanganinya dan mengajarkannya terutama dengan menggunakan media visual (gambar). dan untuk mengetahui sampai sejauh mana program yang dicapai anak. Disamping itu kami juga mengadakan evaluasi bulanan yang bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah atau orang tua di rumah. tetapi di sekolah umum anak masih memerlukan waktu penyesuaian untuk dapat mengikuti tatacara pengajaran yang berbeda dengan pada saat terapi. Untuk itu dalam sekolah anak harus didampingi guru pembimbing/terapis sampai benar-benar ia bisa mandiri dan mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. padat dan konsisten. T. dengan alat visual/gambar/kartu. dsb) dengan tujuan untuk membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler dan belajar secara intensif pelajaran yang tertinggal di kelas reguler.

para guru/terapis dan siswanya? J. kesehatan dan kestabilan emosi anak. gedung/perlengkapannya. tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa.335 dihadapannya itu ada orang yang sedang memperhatikannya. kurangnya sarana dan prasarana dalam belajar. karena ocehannya ini suka ngelantur kemana-mana tanpa jelas. Menurut saya yang menjadi penentu keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anak hiperaktif. sarana pendidikan. karena guru hanya membantu di tempat terapi dan tanpa kerjasama antara orang tua siswa dan guru tidak mungkin sukses dalam penyembuhan itu. tingkat kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak. antara lain: terbatasnya ruang dalam belajar. sekolah dan masyarakat). lingkungan (keluarga. usia pada saat diagnosis. kurangnya tenaga pengajar. Apakah selama ini ada hambatan/kendala dalam mengelola terapi anak ini baik itu dari administrasinya. dll padahal masih banyak orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya untuk diterapi disini dan terpaksa saya tolak. yang terakhir adalah terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru. Dan hasilnya bisa mbak Eri lihat sendiri di lembar penilaian. T. tetapi jangan lupa orang tua juga harus ikut andil dalam penyembuhan anaknya dirumah.tetapi ya itu kita sebagai terapis harus cepat dan cekatan dalam memberikan materi karena kalau lama sedikit konsentrasi anak akan buyar dan dia mulai banyak gerak lagi. metode. Setelah anak ini bisa diam agak lama baru saya mulai pelajaran dengan saya tunjukkan gambargambar. Apakah pesan anda pada para orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/anak berkebutuhan khusus lainnya? J. kecerdasan/IQ. diantaranya: berat-ringannya kelainan/gejala. Apa yang menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan dan pengajaran bagi anak hiperaktif. Untuk itulah kita harus siap dengan media visual (gambar) disamping kita dan mainan edukatif. Wawancara Dengan Guru Pembimbing/Pengajar (Terapis) . Pesan saya kepada para orang tua yang mempunyai anak bermasalah segeralah bawa ke dokter spesialis anak dari situ mungkin dokter akan menyarankan ke psikiater/psikolog anak dan cari informasi tentang terapi khusus untuk menangani anak yang berkebutuhan khusus. T. kurikulum. dan saya berusaha tenang dan tidak tertawa setiap anak ini mengoceh. T. Saya kira masih banyak sekali hambatan-hambatan dalam mengelola sekolah ini. Alhamdulillah sekarang dia bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya walaupun saya masih mendapinginya di sekolah. setiap dia menoleh dan mulai bergerak saya usahakan agar menatap saya . dan ternyata anak ini cukup cerdas dan cepat tanggap pada materi yang saya berikan sehingga tidak ada kendala dalam membelajarkannya. menurut anda? J.

Kira-kira jumlahnya ada 7 anak yaitu Autis klasik. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. T. T. Disampaikan secara tegas. sehingga ia autis dan hiperaktif.336 Ibu Purwati T. Kami mempersiapkan program yang diberikan secara sistematis. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak hiperaktif)? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran ? J. sedangkan Galih speech delayed (terlambat bicara) dan mengerti/maksud dari perintah saya tentunya ini harus dengan prompt. Ada. applaus. lugas dan setiap kali respon yang diberikan oleh anak harus kita kasih reinforcer bisa berupa imbalan/hadiah. hiperaktif dan gangguan konsentrasi. Bicara dengan anak hiperaktif tidak boleh dengan bertele-tele harus singkat. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. Kalau Alvin mempunyai gangguan hiperaktif. T. apabila ada bahasa yang tidak dimengerti oleh anak kita buatkan bentuk visualnya yaitu gambar-gambar yang kita ibaratkan apa yang kita ucapkan. alat peraga dan cara/konsep membelajarkan anak hiperaktif. tepuk tangan dan acungan jempol. autis. T. tegas dan bermakna. Sedangkan untuk Galih karena dia mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif saya menekankan pada bicara. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? J. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? . T. Karena Alvin mempunyai gangguan autis dan hiperaktif saya menekankan agar selalu kontak mata dengan Alvin agar ia tidak mempunyai kesempatan untuk asyik dengan dunianya sendiri (misalnya melamun atau sibuk dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak menganggap ada orang dihadapannya). Yang tergolong hiperaktif itu ada dua anak yaitu Alvin dan Galih. bagaimana caranya agar anak itu mau berbicara dan mau menirukan apa yang saya ucapan.

Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. T. T. Gambar-gambar itu mencakup bidang: gambar-gambar yang ada dilingkungan itu yaitu didalam rumah. Dan hampir semua mata pelajaran menggunakan media visual. sulit memperhatikan. karena mainan itu bukan mainan biasa tetapi mainan edukatif yang tujuannya memang digunakan untuk belajar. dan biasanya juga diimbangi dengan gangguan pemahaman bahasa yang teramat dalam. kemudian ditambah lagi sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak itu tadi. nah apa yang tidak diketahui oleh anak hiperaktif kita visualkan lewat gambar-gambar itu tadi. Media visual itu sangat diperlukan karena disamping anak ini hiperaktif ia juga kehilangan konsentrasi. mengenal berbagai gambar yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu gambar sayur-sayuran. mainan juga digunakan untuk membelajarkan anak hiperaktif. buah-buahan. apakah itu bahasa Indonesia ataupun matematika. binatang. tetapi harus satu terlebih dahulu. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? J.337 J. media itu berupa kertas. diluar rumah. Ya. Anak selalu dalam kondisi yang tidak tenang. . Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. T. Media itu ada yanng sedikit dibeli dan banyak yang dibuat sendiri. Ya. faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? J. papan tulis dan bisa dibuat dengan tangan. T. lalu kita tingkatkan tahap demi tahap jumlah-jumlah apa yang kita berikan. gambar-gambar dikomputer yang dicetak. Biasanya untuk pertama kalinya anak yang mengalami hiperaktifitas dalam penanganannya anak pertama kali. alat transportasi dan berbagai hal yang belum mereka ketahui. lha pada saat mau mengeluarkan alat peraga dan gambar itu tadi tidak diperkenankan mengeluarkan banyak. anak akan jadi lebih tertarik untuk melihat dan memperhatikan apa yang kita sampaikan. terus dengan gambar-gambar yang berwarna. Cara membelajarkannya dikelas: gambar-gambar yang sudah kita dapatkan kita potong-potong dalam bentuk kecil-kecil kemudian kita sampaikan satu persatu di depan anak tanpa distraksi/gambar lain.

tepuk tangan. tidak . Tidak. karena kita memberikan hadiah (reinforcer) pada anak karena mereka melakukan respon baik dan itu akan kita berikan pada saat anak menjalani terapi pada awal penanganan. hadiah-hadiah itu bisa diganti dengan jalan-jalan/apa saja setelah proses penanganan terapi. tidak dihilangkan dan hadiah-hadiah itu dikurangi/diganti tidak berupa riil/benda. Tidak ada.338 T. T. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. justru obat tersebut sangat membantu mereka dalam berkonsentrasi T. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. mungkin bahkan jika anak itu kepatuhannya sudah mulai pulih. semua anak disini disamping penanganan terapi. tahap demi tahap. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? J. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. hingga ia melakukan gerakan-gerakan itu ditempat lingkungan sosialnya. justru cara termudah untuk menyampaikan anak supaya mengerti adalah pakai gambar visual. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. T. Mungkin dengan menghubungi dokter untuk meningkatkan dosisnya. T. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? J. ciuman. Ya. kita bekerja sama dengan dokter untuk menyembuhkan anak tersebut. T. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? J. konsep perhatiannya sudah mulai membaik dan semuanya sudah mulai ada titik kesembuhan. Tidak. tengah pertengahan sesi pemberian hadiah mulai dikurangi. Ya. tetapi diganti dengan pujian. itu tidak akan terjadi asal para terapis dan orang tua konsisten dengan apa yang kita berikan. semua anak hiperaktif selalu kesulitan dalam bergaul karena tingkat aktivitasnya yang sangat tinggi.

dan dia masih suka mengoceh sendiri yang tidak jelas arah tujuannya. hambatan kami dalam membelajarkan anak hiperaktif adalah jika anak itu memang dalam proses penanganan dan baru beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang baru kita berikan. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. T. Caranya kita mulai perkenalkan secara satu persatu dengan media visual (gambar-gambar) dan tentunya harus diikuti dengan aktifnya orang tua di rumah. selalu memberikan yang terbaik dan jangan lupa jika ada yang merasa putranya mengalami gangguan perkembangan cepat dibawa ke ahlinya. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. Pesan saya kepada orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya jangan lupa untuk selalu mengawasi mereka dimanapun anak itu berada. . Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. Ya di tempat terapi ini sangat membutuhkan kerja sama orang tua wali. salah sendiri karena melakukan kegiatan yang tidak sama dengan anak lain. Dan Galih kosa kata bicaranya sudah mulai meningkat. Ya saya rasa sudah cukup berhasil. jika tidak aktif apa yang dihasilkan. sehingga kalau dilihat dari amatan awam anak itu memang kelihatan berbeda. mereka selaku orang tua dan kami selaku terapis. T.339 ada yang melakukan sama seperti anak itu tadi. Ada. mereka juga tidak bisa melakukan interaksi dia juga kadang asyik dengan dirinya sendiri. karena disini modalnya adalah sistem orang tua aktif. T. bukannya mereka disisihkan tetapi mereka memang tersisih. apa yang diharapkan tidak sesuai dengan harapan semua. Buktinya sekarang Alvin sudah bisa dikendalikan emosinya dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik walaupun dia masih bingung membedakan antara jantan dan betina tetapi dengan prompt akhirnya dia mengerti juga. T. walaupun dalam mengartikan gambar dengan dua kata ia masih agak sulit. Selaku guru pembimbing/terapis kita berikan program sosialisasi dengan tahapan-tahapan dengan tidak secara langsung dengan jumlah teman yang banyak diatas 5 orang tetapi dibawah 5 mungkin bahkan bisa dimulai dari jumlah 2 orang dalam ruang lingkup yang sempitbukan diarea luar rumah yang lebih luas. karena kondisi tingkat kehiperaktifitasannya itu yang belum bisa ditempatkan diluar ruang sempit. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif terutama Alvin dan Galih sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J.

340

Ibu Endang Sulastri
T. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. Disini saya menangani 2 siswa yang mempunyai tipe hiperaktif dan autis. Namanya Khusnul Ma’Ali T. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu (anak yang berbeda tipe)? Bagaimana cara menangani anak yang hiperaktif terutama saat pembelajaran? J. Ada. Dalam menangani anak hiperaktif kita berusaha untuk menenangkannya dengan cara menatap mata si anak dan memegangi kedua tangannya agar tidak bergerak kesana kemari sampai anak itu benar-benar bisa tenang. T. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. Pertama alat pembelajarannya dulu kita persiapkan kemudian konsentrasi anak, setelah anak mulai konsentrasi baru kita mulai pelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada, akan tetapi sebelum melanjutkan ke materi selanjutnya kita ulangi materi sebelumnya sekedar untuk mengingatkannya kembali.

IV. T.

Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas

(langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda?
J. Sebenarnya sih sama saja dalam menghadapi berbagai tipe anak berkebutuhan khusus, cuma bagaimana cara/usaha kita menenangkan anak agar bisa konsentrasi dalam pelajaran.

Pertama kita berusaha menenangkan mereka. Pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Setelah bisa duduk lebih lama, baru dimulai pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang sudah ada, tetapi tidak semudah itu karena ditengah-tengah pelajaran anak sudah mulai banyak gerak sehingga konsentrasi buyar. Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. Apabila anak sulit untuk diajarkan berilah dia iming-iming, seperti hadiah untuk menarik minat mereka untuk belajar. Jadi intinya dalam mengajarkan anak hiperaktif yaitu bagaimana anak itu bisa konsensentrasi pada pelajaran.

341

T. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif, bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. Dengan menatap mata si anak dengan tanpa bicara berbelit-belit karena itu akan menyulitkan anak untuk memahami perkataan kita. T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? J. Ya, karena itu sangat penting untuk menarik perhatian mereka dalam belajar. Salah satunya yang paling penting disini adalah menggunakan media gambar. Kebanyakan gambar-gambar itu dibuat sendiri entah itu kita ambil dari majalah-majalah/buku atau kita ambil dari komputer yang kemudian dilaminating agar tidak cepat rusak/kotor. T. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. Tentu saja ya, terutama mainan edukatif seperti puzzle, balok kayu, dlsb, karena ini penting untuk mengasah kecerdasan mereka, kita jadi tahu sampai sejauh mana mereka kemampuan mereka untuk menyelesaiannya. T. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas?

J.

Pembelajaran mencakup

dengan

menggunakan (mengenal

media

visual

berhitung

angka),

membaca

(mengenal huruf), mengenal nama-nama benda disekitar kita dan aktifitas orang. Dan saya rasa semua mata pelajaran menggunakan sesuai media dengan visual itu. Cara kita

membelajarkannya

kurikulum

ajarkan/perkenalkan dari gambar yang sederhana sampai gambar yang rumit, mungkin adik nanti bisa lihat cara membelajarkan anak hiperaktif dikelas dan kalau untuk lebih jelasnya lagi bisa melihat di buku Pelatihan Tatalaksana Perilaku (Metode Lovaas) dan COMPIC disitu lengkap sudah ada kurikulumnya dan cara pembelajarannya.
T. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif, faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu?

342

J.

Karena anak hiperaktif juga mempunyai gangguan pemahaman dalam bahasa kemungkinan dengan menggunakan media visual akan mempermudah /membantu kita dalam

berkomunikasi/berinteraksi. Lalu dengan gangguan konsentrasi dalam belajar dan tingkat keaktifannya itu memungkinkan penggunaan media visual itu akan lebih menarik minat mereka dalam belajar. T. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. Kesulitannya adalah apabila kita memperkenalkan pada gambar yang terlihat asing bagi mereka, dengan tingkahnya yang tidak bisa diam dan konsentrasinya yang mudah pudar, kita harus berusaha mengulangi sampai benar-benar anak itu tahu/memahami. T. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. Tidak ada

T. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar, salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya, karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu, lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. Benar, untuk itu sedikit demi sedikit kita harus menghilanginya/menggantinya karena reiforcer itu kan tidak harus berupa benda riil tetapi bisa berupa pujian, tepuk tangan dll. T. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka, yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. Tidak pasti, tergantung dari kondisi anak apakah anak itu mudah ditangani atau tidak.

T. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? J. Tidak ya, karena itu obat penenang (konsentrasi)

T. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif, karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? J. Sesuai dengan petunjuk dokter, mungkin orang tua diminta konsultasi dengan dokter.

T. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal, apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya?

343

J.

Ya, terutama kendalanya dalam berkomunikasi, tetapi itu tidak penting, bagi anak kecil asalkan bisa diajak bermain mereka akan enjoy aja. Dan kami disini sebagai terapis memberikan program sosialisasi dimulai dari ruang lingkup yang kecil.

T. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. Tentu saja, hal itu sangat penting untuk mengetahui perkembangan si anak.

T. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. Pasti ada, salah satunya apabila anak itu sulit untuk berkonsentrasi. Perhatian anak dalam belajar kadang belum dapat bertahan untuk waktu yang lama dan masih berpindah pada obyek/kegiatan lain yang lebih menarik bagi anak. Hal inilah yang dapat mengakibatkan waktu pembelajaran terbuang dengan sia-sia, karena hanya cukup untuk menenangkan anak saja. Dan biasanya yang kami lakukan adalah: Waktu untuk belajar bagi anak ditingkatkan secara bertahap Kegiatan dibuat semenarik mungkin, dan bervariasi Istirahat sebentar kemudian dilanjutkan kembali, dimaksudkan untuk mengurangi kejenuhan pada anak. T. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif (Khusnul Ma’Ali) sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J. Saya rasa bisa dibilang cukup berhasil. Terbukti dengan hiperaktifitasnya mulai berkurang, sudah bisa berkonsentrasi dan dapat diajak komunikasi. Dan dalam pelajaran tidak ada kendala, dia bisa mengikuti dengan baik, walaupun awalnya ia agak kesulitan membedakan bentuk lingkaran dan oval. T. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. Diharapkan apa yang dipelajari di tempat terapi diulang lagi dirumah.

Ibu Yuliana Wijayanti
T. Sudah berapa anak/siswa yang anda tangani (pegang/ajar) selama ini? Tipe apa saja itu? Siapakah anak yang tergolong hiperaktif? J. Disini saya mengajar dua orang siswa dan semuanya hiperaktif, yaitu Anis dan Martika. Kalau Anis mempunyai gangguan speech delayed (terlambat bicara) dan hiperaktif sedangkan Martika mempunyai gangguan normal hiperaktif (hiperaktif ringan) dan kurang konsentrasi. T. Adakah perbedaan dalam menangani anak-anak itu? Bagaimana cara menanganinya terutama saat pembelajaran?

Ada. Bagaimanakah cara membelajarkan anak hiperaktif di kelas (langkah-langkah membelajarkan anak hiperaktif) agar mereka menurut pada anda? J. bagaimana cara anda mengatasinya agar proses belajar mengajar ini berjalan dengan lancar? J. Hampir semua dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar) terutama dalam mengenalkan suatu benda atau hal lain dalam membimbing anak untuk melakukan sesuatu. Yang dilakukan adalah menyuruh anak untuk duduk dan memusatkan perhatian mereka dengan menatap mata anak dan memegang kedua tangannya. T. kebanyakan media itu adalah media visual gambar yang dibuat sendiri. Apa yang anda persiapkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak hiperaktif? J. T. Cara pembelajarannya dengan bertahap dimulai dari yang mudah/sederhana sampai ke yang rumit sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. karena memang anak itu seringkali mengabaikan tugas yang kita berikan dan tidak jarang dalam kita menyampaikan perintah harus diulang-ulang. tapi keduanya mudah diatur koq. Yang pertama kita siapkan adalah media pembelajarannya dulu.344 J. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif harus dengan menggunakan alat bantu pengajaran (media pembelajaran)? Media apa saja yang digunakan? Apakah media itu juga dirancang (dibuat) sendiri? J. dalam menyampaikan kita lebih mempertajam bahasa kita agar dia lebih memahami maksud dari ucapan/perintah kita. siswanya dalam berkonsentrasi. Ya. baru kita mulai kegiatan belajar mengajar dan tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri T. Selain media apakah juga menggunakan mainan dalam membelajarkan anak hiperaktif? J. materi pembelajarannya. T. Sedangkan untuk Martika kita lebih mengkonsentrasikan anak itu pada tugas yang kita berikan. Ya. Bahasa (bicara dengan anak hiperaktif) merupakan kendala utama dalam membelajarkan anak hiperaktif. T. Hanya saja kalau Anis. setelah anak diam beberapa lama baru kita mulai pembelajarannya. apabila ada yang tidak dimengerti oleh anak kita gunakan gambar untuk membantu kita dalam berkomunikasi/berinteraksi. Mencakup apa saja pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) tersebut? Dan dalam mata pelajaran apa saja menggunakan media visual (gambar) tersebut? Lalu bagaimana cara membelajarkannya di kelas? J. tentunya mainan edukatif T. . Bicara dengan anak hiperaktif harus tegas dan jelas.

faktor apa saja yang mendukung penggunaan media visual (gambar) itu? J. apakah ada banyak hambatan/kendala dalam mereka . lalu bagaimana cara menghilangkan pemberian hadiah itu dan apakah ada cara lain agar mereka mau belajar tanpa pemberian hadiah? J. salah satu jalan harus disertai dengan pemberian hadiah untuk menarik minat mereka dalam belajar. tetapi bisa diganti dengan pujian. apakah anak itu mudah untuk diatasi ataukah sulit untuk diatasi/ditenangkan untuk konsentrasi. T. Apakah kesulitan anda pertama kali dalam memperkenalkan anak pada suatu media visual (gambar)? J. Mengapa media visual (gambar) itu sangat diperlukan/diutamakan dalam pembelajaran anak hiperaktif. T. Apakah ada faktor penghambat/kendala dalam membelajarkan anak hiperaktif dengan menggunakan media visual (gambar)? Bagaimana cara mengatasinya? J. yang tentunya sesuai dengan anjuran dokter? J. T. Seperti yang anda jelaskan tadi bahwa apabila anak itu sulit untuk diajak belajar. karena tingkat aktivitasnya yang tinggi? Kita akan menghubungi dokter untuk diminta meningkatkan dosisnya. tepuk tangan. Tergantung dari kondisi anak. karena hadiah itu tidak hanya berupa benda. Untuk membimbing anak dalam memahami sesuatu baik itu dalam memahami suatu benda atau ucapan. Tidak ada. ciuman. Tidak.345 T. Berkaitan dengan kehidupan sosialnya apakah anda juga mengamati bagaimana cara anak hiperaktif itu bergaul dengan temannya sesama hiperaktif atau anak lain yang normal. Tidak hanya memperkenalkan pada suatu media tapi untuk mulai pembelajarannya saja itu sulit. sehingga waktu dua jam itu hanya digunakan untuk menenangkan anak. Kesulitannya yaitu pada awal-awalnya anak mulai ditangani. Apakah anda juga menggunakan obat penenang sebelum mengajarkan pada mereka. Apakah obat itu tidak mengganggu mereka dalam konsentrasi belajar (misalnya bisa mengakibatkan anak itu mengantuk atau malah malas belajar)? Tidak. karena kalau sudah terbiasa mereka pasti akan menagih janjinya dan tidak mau belajar sebelum minta sesuatu. Apakah dengan pemberian hadiah itu tidak berakibat buruk bagi mereka nantinya. T. justru cara yang paling mudah dalam menyampaikan materi pelajaran adalah menggunakan media visual (gambar) bahkan media ini sangat membantu kita dalam berkomunikasi pada anak. justru obat tersebut sangat membantu mereka dalam berkonsentrasi T. Bagaimana jika obat itu tidak mempunyai pengaruh sedikitpun dalam menenangkan anak hiperaktif. T.

berteriak. baik itu masalah perilaku maupun emosi anak yang tidak stabil Cara mengatasinya: Memberikan reinforcement. memberontak. Disini kami mencoba untuk mengajarkan sosialisasi pada anak dimulai dengan kelompok kecil anatara 2-3 orang disitu kita mengamati tingkah anak sambil mungkin diadakan suatu permainan. banyak sekali masalah yang ditimbulkan si anak. Apakah anda dalam mengajarkan anak hiperaktif sudah dirasakan cukup berhasil dalam membimbing mereka? Bagaimana perkembangannya sekarang? J.346 bergaul? Dan anda sebagai guru pembimbing apa yang anda ajarkan berkaitan dengan sosialisasi anak hiperaktif agar anak itu bisa bergaul seperti anak-anak lainnya dan tidak dijauhi oleh teman-temannya? J. Tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiri Menyiapkan kegiatan yang menarik dan positif Menciptakan situasi yang kondusif bagi anak. tantrum dsb. Alhamdulillah cukup berhasil. Terbukti kalau Anis sudah bisa bicara walaupun cedal dan dalam membaca hurufnya ada yang dihilangkan seperti biru menjadi bi u. untuk itu lembar penilaian selalu dibawa pulang tujuannya agar orang tua mengulang apa yang diajarkan diterapi. putih menjadi uti. misalnya: menangis. Apakah dalam membelajarkan anak hiperaktif anda juga mengajak kerja sama orang tua mereka untuk melanjutkan pembelajaran di rumah? J. Selama anda mengajar disini apakah ada hambatan dalam mengajarkan anak hiperaktif? Dan bagaimana cara memecahkan masalah itu? J. Maka cara mengatasinya: Berusaha mencari dan menemukan penyebabnya Berusaha menenangkan anak dengan cara tetap bersikap tenang Setelah kondisi emosinya mulai membaik. sehingga orang tua dan kita sebagai terapis bisa mengetahui perkembangan si anak baik dirumah maupun ditempat terapi. T. mungkin ia cenderung asik dengan dunianya sendiri/permainannya sendiri. destruktif. Ada. tertawa tanpa sebab yang jelas. T. Sedangkan apabila emosi anak dalam keadaan tidak stabil. terutama kendalanya dalam berkomunikasi dan dalam ia bersikap. Dan untuk . tidak menyakiti diri. kegiatan dapat dilanjutkan. kotak menjadi otak tetapi dia cukup pintar terbukti kalau nilai-nilainya itu baik. mengamuk. Ya. Ya itu pasti orang tua harus aktif dalam membelajarkan anaknya dirumah. terutama dalam mengendalikan anak untuk belajar.

T. Ya T. Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? J. dia mengoceh sendiri T. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? J. Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? J. Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? J. T. perilakunya. ada 3 T. Umur berapa anak anda diterapi disini? . Ya. kalau nggak salah usia 4. lalu kami mencari petunjuk seorang dokter untuk dibawa kemana anak saya yang mengalami gangguan perkembangan ini. V. oleh dokter kami dianjurkan untuk dibawa ke pusat terapi khusus untuk menangani anak bermasalah.5 tahun. sering. T. Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? J. Wawancara Dengan Orang Tua Siswa Ibu Nur T. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? J. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak berkebutuhan khusus? J. Sejak usia mendekati 2 tahun T. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? J. jam kurang tidur dan yang tambah yakin dari kami adalah dari diagnosa dokter. Anak pertama T.347 Martika walaupun dia kurang konsentrasi dalam belajar dan penangkapannya itu kurang tetapi dengan ketelatenan dan pembelajaran yang berulang-ulang hasilnyapun cukup memuaskan. Punya. T. Pesan saya kepada orang tua yang mempunyai anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya usahakan untuk membimbing anaknya di rumah dengan tegas dan disiplin. Kami waktu itu tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Dari gerakan-gerakannya. tidak ada yang dia tirukan. Apakah pesan anda terhadap orang tua anak hiperaktif/berkebutuhan khusus lainnya dalam membimbing/membelajarkan anak mereka di rumah? J. khususnya hiperaktif/autisma. Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? J. T. kontak matanya. Ya. Dari koran.

Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? . Ya saya selaku orang tua selalu meluangkan waktu untuk membimbing dan mengajari anak saya. Ada. Ya. manja karena diajari oleh orang tuanya sendiri di rumah. karena ini berhubungan dengan perkembangan anak kami maka kami harus bekerja sama dengan terapis dan dokter. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif . Ya tentu. T. kami menyediakan fasilitas lengkap untuk anak kami yang mempunyai gangguan perkembangan autis dan hiperaktif ini. Perubahannya memang sangat mencolok sekali. Ya. Apakah disamping anak anda diterapi disini. Yang kami lakukan kami membiasakan dulu dengan masakan-masakan/makanan-makanan yang kami buat sendiri. Ya kami memperhatikan sekali pola makanan yang dikonsumsi oleh anak kami.5 tahun T. meja kursi . dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi? J. lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? J. T.348 J. Umur 4. buktinya anak saya sekarang sudah sembuh dan baik. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? J. T. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? J. kami selalu konsultasi dan berobat ke dokter setiap 2 bulan sekali. berinisiatif untuk mengungkapkan keinginannya/pendapatnya sendiri. anak cenderung lebih tidak konsentrasi. dan kami cara mengatasinya adalah kami tetap harus konsisten untuk mengajarinya pada jam yang sudah ditentukan. alat/media pembelajaran dan mainan? J. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? J. jika anak kami menangis minta dibelikan makanan kami selaku orang tua adalah memberi pengertian bahwa makanan itu tidak boleh agar cepat sembuh. T. T. perkembangan bicaranya dia sudah bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dalam bentuk kalimat. T. Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? J. T.

T. Ya. T. Sebelumnya saya bawa kedokter kemudian oleh dokter disuruh dibawa ke tempat terapi. tolong masukkanlah ke tempat-tempat terapi karena disitulah tempatnya dan penanganan yang tepat agar anak anda menjadi manusia yang berguna. mulai kapan anak anda yang hiperaktif itu berbicara dan mengikuti/menirukan siapa? J. menjadi seorang anak yang anda inginkan dan anak itu inginkan. Anak nomor berapa yang hiperaktif itu? J. Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi terutama dalam mengucapkan kata-kata (berbicara). karena memang ada satu anak yang bermasalah dari keluarga kami sehingga keluarga yang lainpun harus tahu bahwa ada saudaranya yang tidak boleh makan makanan itu. . T. T. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. jadi harus menghormatinya. Hambatan-hambatan itu ada pada awal sebelum penanganan tetapi setelah terjadi penanganan anak kami sudah mulai berinteraksi. hak pendidikan yang sama dengan anak yang tidak mempunyai gangguan perkembanngan. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? J. T. T. sudah sembuh. Sebelum anak anda dibawa ke tempat terapi apa yang sudah anda lakukan dalam menangani anak anda? Apakah cara ini berhasil? J. ada 2 orang. Apakah dia mempunyai saudara? Berapa jumlahnya? J. Tidak. Ya. Karena anak itu banyak gerak dan sulit diatur. Kurang lebih berumur 2 tahun. Apa yang meyakinkan anda bahwa anak anda tergolong hiperaktif? J. Ibu Utami T. sudah pulih dan bergaul dengan siapa saja.349 J. VI.2 T. Sejak kapan anda mengetahui anak anda hiperaktif? J. T. Ya. sekeluarga alangkah baiknya memang mendukung dan keluarga kami juga mendukung. tapi mungkin anak saya yang hiperaktif ini lebih diperhatikan lagi. Anak no. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? J. Apakah anda membedakan anak anda yang hiperaktif dengan saudara-saudaranya yang lain? J. dia berbicara sejak dia mulai mengoceh tapi bicaranya itu tidak jelas sampai akhirnya saya bawa ke tempat terapi ini. jadi kalau ingin makan makanan yang dibeli di luar makanannya harus ngumpet. Pesan saya pada orang tua yang mempunyai anak hiperaktif tolong bahwa tiap anak mempunyai hak yang sama.

Dulu sih tidak pernah. perilakunya sudah mulai bisa dikendalikan. demi perkembangan dan kesembuhan anak saya setiap ada seminar/pelatihan tentang anak bermasalah saya berusaha untuk mengikutinya. Ya. T. T. Ya saya berusaha untuk meluangkan waktu untuk membelajarkannya dirumah. Apakah anda juga memperhatikan makanan yang dimakan anak anda sesuai dengan anjuran dokter dan guru ditempat terapi bahwa ada makanan yang harus dihindarkan/dijauhkan dari anak hiperaktif? J. dirumah anda juga meluangkan waktu untuk membimbing dia seperti yang diajarkan di tempat terapi? J. Darimana anda tahu bahwa disini adalah tempat terapi anak berkebutuhan khusus? J. Kita tahu bahwa kebanyakan makanan yang dijual terbuat dari bahan yang dilarang untuk dimakan anak hiperaktif . Ya T. Apakah disamping anak anda diterapi disini. Ya. Apakah selama anda mengajarkan dirumah ada hambatan-hambatan/ kendala? Bagaimana cara memecahkan/mengatasinya? J. mulai dari dia sudah bisa diajak berkomunikasi. karena sebelum dibawa ke tempat terapi saya merujuk ke dokter. Apakah dirumah juga disediakan tempat khusus untuk belajar baik itu ruangan. Umur berapa anak anda diterapi disini? J. dan tidak seaktif dulu. alat/media pembelajaran dan mainan? J. mungkin karena diajarkan sendiri oleh orang tuanya jadi anak itu menjadi manja dan sulit konsentrasi akibatnya saya selalu memberikan obat penenang sebelum mengajarkan anak saya di rumah. T.350 T. Umur 5 tahun T. Banyak sekali dan hasilnya cukup memuaskan walaupun itu memerlukan waktu yang cukup lama. dan dari tempat terapi sendiri juga menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Apakah ada perubahan sikap dari anak anda selama diterapi dan bagaimana hasilnya? J. T. Ya. T. T. T. tetapi setelah anak saya mulai diterapi. Apakah anda sering mengikuti seminar-seminar/pelatihan khusus menangani anak hiperaktif? J. Dari teman saya yang juga mempunyai anak seperti saya. Apakah disamping terapi anda juga membawa anak anda ke dokter dan menggunakan obat penenang dalam mengatasi anak hiperaktif tentunya sesuai dengan resep dokter? Apakah hal ini juga anda konsultasikan dengan guru/kepala dari sekolah khusus anak hiperaktif? J. lalu bagaimana anda menyikapinya dan bagaimana jika anak anda merengek minta dibelikan makanan itu? . meja kursi .

Jadi tidak anak saya yang bermasalah saja yang diet tetapi semua anggota keluarga ikut diet. Ya. untuk itu peran anggota keluarga juga sangat penting dalam mengajarkan dia berkomunikasi. saya mencoba untuk membuat makanan sendiri sesuai dengan anjuran dokter. tetapi kalau dengan orang dewasa kendalanya dalam berkomunikasi. Dan dalam proses terapi jangan lupa anak juga diterapi dirumah untuk itu sebagai orang tua kita harus sabar dalam menghadapi anak. Dengan adanya makanan yang dilarang untuk anak hiperaktif apakah di dalam keluarga anda juga diterapkan hal yang serupa agar tidak “ngiming-ngimingi” anak anda yang hiperaktif? J. mungkin dari situ akan merujuk ke tempat terapi. Setelah dipikir-pikir itu baik juga untuk semuanya. Adakah kendala/hambatan-hambatan pada diri anak anda dalam bersosialisasi (bergaul) baik itu dengan orang dewasa atau teman sebayanya. karena anak kecil itu kan nggak tahu apa-apa asal bisa diajak bermain mereka senang saja. apabila disitu ada yang ingin makan saya suruh menghindar. terutama dengan anggota keluarga yang lainnya? J. T. Saya sarankan kepada orang tua yang mempunyai anak bermasalah seperti saya ini untuk dibawa ke dokter anak atau ke psikiater anak. T. T.351 J. Apakah pesan anda pada para orang tua lainnya yang mempunyai anak hiperaktif? J. Kalau dengan teman sebaya sih enggak. apalagi setelah mengetahui anak saya ada yang bermasalah. HASIL DOKUMENTASI PEMBELAJARAN ANAK HIPERAKTIF . Selama ini saya mengajarkan pada anak-anak saya untuk tidak membiasakan jajan diluar rumah. tidak di depan anak saya yang hiperaktif.

352 Wawancara dengan Kepala Terapi Pemusatan perhatian pada anak Melabel nama buah Menulis huruf Menulis angka Menunjuk angka .

353 Belajar Menabung Melabel Angka Melabel warna Menyebutkan nama binatang Mencocokkan benda Pemberian reinforcer (hadiah) berupa krupuk .

354 Melabel nama binatang Pemberian reinforcer (pujian) Membaca suku kata Menyelesaikan mainan puzzle Belajar membaca MACAM-MACAM MEDIA VISUAL (GAMBAR) .

355 Gambar alat transportasi Gambar benda dengan jumlah yang lebih banyak Gambar warna Gambar angka Gambar buah-buahan Gambar huruf .

356 Gambar aktivitas orang (kata kerja) Gambar suku kata Gambar arah jarum jam Gambar nama benda Gambar aktivitas orang secara bertahap Gambar aktivitas orang secara bertahap .

3.357 Macam-macam mainan edukatif “Been Back” Alat untuk mengurangi hiperaktifitas pada anak PEDOMAN KURIKULUM Kemampuan Mengikuti Tugas/Pelajaran Duduk mandiri di kursi Kontak mata saat dipanggil “Galih” Kontak mata ketika diberi perintah “Lihat [(ke) sini]” Berespons terhadap arahan “Tangan ke bawah” 1. Kemampuan Bahasa Reseptif 1. Kemampuan Imitasi (Meniru) Imitasi gerakan motorik kasar Imitasi tindakan (aksi) terhadap benda Imitasi gerakan motorik halus Imitasi gerakan motorik mulut 1. 4. 4. 2. 2. 3. Mengikuti perintah sederhana (satutahap) .

Menggunakan serbet/tissue 8. Kemampuan Pre-Akademik 1. 14. Melepas sepatu 4. 6. Toilet-training untuk buang air kecil 8. 11. Gambar-gambar yang identik . 15. 7. 3. 14. 10. Melepas kaos kaki 5. 9. Melepas baju 7. 5. Minum dari gelas 2. 13. 4. 12. 12. 8. 12. 9. Mencocokkan 2. Benda dengan gambar Warna. orang lain. 2. Identifikasi bagian-bagian tubuh Identifikasi benda-benda Identifikasi gambar-gambar Identifikasi orang-orang dekat (familier)/anggota keluarga Mengikuti perintah kata kerja Identifikasi kata-kata kerja pada gambar Identifikasi benda-benda di lingkungan Menunjuk gambar-gambar dalam buku Identifikasi benda-benda menurut fungsinya Identifikasi kepemilikan Identifikasi suara-suara di lingkungan Kemampuan Bahasa Ekspresif Menunjuk sesuatu yang diingini sebagai respons dari “Mau apa?” Menunjuk secara spontan benda-benda yang diingini Imitasi suara dan kata Menyebutkan (melabel) benda-benda Menyebutkan (melabel) gambargambar Mengatakan (secara verbal) bendabenda yang diinginkan Menyatakan atau dengan isyarat “ya” dan “tidak” untuk sesuatu yang disukai (diingini) dan yang tidak disukai (tidak diingini) Menyebutkan (melabel) orang-orang dekat (familier)/anggota keluarga Membuat pilihan Saling menyapa Menjawab pertanyaan-pertanyaan sosial Menyebutkan (melabel) kata kerja di gambar. angka Benda-benda yang non-identik Asosiasi (hubungan) antara berbagai benda Menyelesaikan aktivitas sederhana secara mandiri Identifikasi warna-warna Identifikasi berbagai bentuk Identifikasi huruf-huruf Identifikasi angka-angka Menyebut (menghafal) angka 1 sampai 10 Menghitung benda-benda 1. 5. 4. bentuk. huruf. 6. Makan dengan menggunakan sendok dan garpu 3. 7. 11. 10. 8. orang lain dan diri sendiri Menyebutkan (melabel) benda sesuai fungsinya Menyebutkan (melabel) kepemilikan 4. 3. 7. Melepas celana 6. Kemampuan Bantu-diri 1. 10. dan diri sendiri Menyebutkan (melabel) kata kerja di gambar. 9. 5. 11. 6. Benda-benda yang identik 3. 13.358 2.

Juga mudah dievaluasi terapis (atau waktu-waktu tertentu) yang mana yang selalu mendapat P atau A. Masing-masing terapis menggunakan ball point dengan warna tinta yang berbeda. 2. tetapi harus konsisten). dinilai P. P++.. atau A-. Bila dalam 3 instruksi pertama berturut-turut. atau P+. : …………………………………………………………………….. untuk pencatatannya tanggal ditulis hanya sekali dan bagian tanggal berikutnya dicoret supaya mudah terlihat dan mudah dievaluasi. Bila dalam 1 session seorang terapis melakukan suatu aktivitas lebih dari satu siklus. Bila suatu aktivitas telah mendapatkan 3 x 3 A. Yaitu 3 terapis pada 3 session (kesempatan/waktu belajar) yang berbeda-beda secara berurutan memperoleh nilai A (yaitu berturut-turut 3 instruksi pertama mendapat 3 respons yang benar semua).359 LEMBAR PENILAIAN Kategori Instruksi Respon Benar : ……………………………………………………………………. Sehingga mudah terlihat berapa kali seorang terapi telah melakukan suatu aktivitas. Dapat juga digunakan kode misalnya APP. Catatan : 1. 1/lebih respons salah. Hal ini dapat dikerjakan dengan tujuan untuk membedakan apakah anak memang benar-benar belum bisa atau sudah mulai /sesekali bisa atau bisa dengan prompt setengah/sebagian/ringan. A. dan mudah dievaluasi sudah berapa kali seorang (dan keseluruhan) terapis telah mendapatkan nilai A (achieved). 3. aktivitas tersebut dimasukkan ke dalam program dan lembar penilaian. . Suatu aktivitas dinyatakan telah dikuasai anak bila memenuhi kriteria 3 x 3 A.. 4. : …………………………………………………………………….-. AAP (bila AAA cukup ditulis dengan A saja). dan lain-lain (sesuai kesepakatan seluruh terapis dan orang tua.

. kemudian imbalan.360 Yang dimaksud satu siklus yaitu pada instruksi #1 dan #2 anak tidak berespons atau berespons salah. kemudian dengan instruksi #3 + prompot.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful