KRITIK MATAN HADIS

MAKALAH
Ditulis Dalam Rangka Memenuhi Sebagian Tugas Mata Kuliah Studi Al-Qur¶an:Metodologi dan Tematik

Oleh :

NAMA NPM
Dosen Pembimbing

:SRI TATIK HANDAYANI : 1000491
: Prof.DR.Hj ENIZAR,M.Ag

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PROGRAM PASCA SARJANA (S2) STAIN JURAI SIWO METRO 2010 / 2011

Thahir al-jawabi. Tunisia. Kedua unsur itu begitu penting artinya. µamm. hal 6 2 Al-Sanusi. pemeliharaan teks. disamping sebagai sumber ajaran Islam yang secara langsung terkait dengan keharusan mentaati Rasulullah saw. dan bahkan merusak eksistensi dan kualitas suatu hadis. yang sangat memerlukan keberadaan sanad. Target akhir pengkajian ilmu hadis sesungguhnya terarah pada matan hadis. lambang perekat riwayat. Muthlaq. kitab yang mengkoleksi ) berkedudukan sebagai perangkat bagi proses pengutipan. 2 1 M. juga karena fungsi sebagai penjelas (bayan) bagi ungkapan-ungkapan Al-Qur¶an yang mujmal.2 I. demikian sebaliknya matan. vol. Syarh Shahih Muslim. 4. 1994. Juhul al-Muhaddisin fi naqdi matni al-hadis al-nabawi al-syarif . sedangkan yang lain ( sanad. dan kritiknya. Karenaya suatu berita yang tidak memilki sanad tidak dapat disebut sebagai hadis. Latar Belakang Hadis (sunah) bagi umat Islam menempati urutan kedua sesudah Al-Qur¶an. dan antara yang satu dengan yang lainya saling berkaitan erat. Bairut: Dar al-Kutub. muasasah µabd karim 1986. PENDAHULUAN A. . Kebutuhan umat Islam terhadap hadis (sunah) sebagai sumber ajaran agama terpusat pada subtansi doktrinal yang tersusun secara verbal dalam komposisi teks (redaksi) matan hadis. dan sebagainya.1 Dalam studi hadis persoalan sanad dan matan merupakan dua unsur yang penting yang menentukan keberadaan dan kualitas suatu hadis. sehingga kekosongan salah satunya akan berpegaruh.

181 H) sebagai pemberi legitimasi atas keberadaan matan hadis selaku bagaian integral dari ajaran Islam.3 Melihat hasil evaluasi ulama muhadisin terhadap kritik matan hadis befokus pada data dugaan syadz atau temuan ilat (sebab). muqadimah al-jami¶ al-shahih jilid I. B. Praktisi hukum Islam (fuqaha) justru menerapkan paradigma qath¶i zhanni yang pola dikotominya beroriantasi pada strata khabar mutawatir masyhur untuk kategori qath¶i dan khabar ahad untuk kategori zhanni. Tujuan Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk menghimpun kaidah-kaidah kritik internal hadis yang terfokus pada metode kritik matan hadis. perilaku perawi. Parameter kritik matan hadis semakin mengundang hasil yang kontrofersial bila memperhadapkan substansi ajaran hadis dengan instrument aqli. (W. berkomposisi dengan pengantar matan berupa kisah (sabab wurudul hadis) dan rangkaian sanad. 3 Muslim bin al-Hajjaj. mesir 1955. asas-asas syariat dan lain-lain. peran strategi sanad seperti penegasan Muhammad Ibn Sirrin (W. 110 H) dan Abdullah bin Al-mubarak. praktek keagamaan penduduk madinah. metodologi kritik hadis di kalangan orientalis dan contoh dari kritik hadis ilmuan muslim kontemporer. seperti qiyas.3 Matan hadis dalam tradisi penyajiannya mencerminkan narasi verbal tentang sesuatu yang datang dari atau disandarkan kepada Rasulullah (hadis marfu¶) atau kepada narasumber sahabat (hadis) atau yang bersumber kepada Tabiin (hadis maqtu¶). hal 14-15 .

6 Dalam literatur Arab kata ³an-naqd´ dipakai untuk arti ³kritik´ atau ³memisahkan yang baik dari yang buruk. yang disebut sesudah habis disebutkan sanad. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka) hlm. 466 8 Atar Semi.roomforum. al ± KarimIbn Abdullah [t. hanya saja istilah ini belum populer di kalangan mereka.7. Matan menurut hadis adalah pengunjung sanad.com/journal/item/28 5 4 . Pendidikan dan Kebudayaan. sahabat. yakni sabda Nabi Muhammad SAW. Pengertian Matan dan Kritik Matan Hadis Menurut bahasa Matan hadis berasal dari bahasa Arab yang artinya panggung Jalan (muka jalan).8 Dalam konteks tulisan ini kata ³kritik´ dipakai untuk menunjuk kepada kata an-naqd dalam studi hadis. ataupun tabi'in.4 II.7 Kata ³kritik´ berasal dari bahasa Yunani krites yang artinya ³seorang hakim. 9 http://elkhalil. Berdasarkan pada Ibn Mnzur.. baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi maupun perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi. ( Dep.5 Matan hadits ialah pembicaraan (kalam) atau materi berita yang diover oleh beberapa sanad.htm 7 Kata "kritik" berkonotasi pengertian bersifat tidak lekas percaya.435 Muhammad tahrir Al ± Jawabai. Kritik Sastra (Bandung: Angkasa. tajam dalam penganalisaan.9 Dari arti kebahasaan tersebut.th]). kata "Kritik" bisa diartikan upaya membedakan antara yang benar (asli) dan yang salah (palsu) . 1987) hlm.multiply. baik pembicaraan itu berasal dari sabda Rasulullah saw. Juhud Al Muhaddisin fi Naqd Matn Al ± hadist Al ± Nabawi al ± Syarif ( Tunis : Muassat A. tanah yang tinggi dan keras4. krinein berarti ³menghakimi´. hal 88 . ada uraian baik buruk terhadap suatu karya.com/al-hadist-f3/arti-sanad-dan-matan-hadis-t9.89 6 http://kafilahcinta. Lizan Al ± Arab Juz III.Kata ³an-naqd´ ini telah digunakan oleh beberapa ulama hadis sejak awal abad kedua Hijriah. kriterion berarti ³dasar penghakiman´. KRITIK MATAN HADIS A. Hlm 434 .

juhud al-Muhaditsin. karena otoritas nubuwwah dan penerimaan mandat risalah dijamin terhindar dari salah berkata atau melanggar norma. 10 Al-Jawabi. dan mencermati matam-matan hadits sepanjang sahih sanadnya untuk tujuan mengakui validitas atau menilai lemah dan upayta menyingkap kemuskilan pada matan hadits yang shahih serta mengatasi gejala kontrad iksi antar matan dengan mengaplikasikan tolok ukur yang detail. 11 Dari beberapa definisi diatas.10 Sedangkan sebagai disiplin Ilmu Kritik hadits adalah: Penetapan status cacat atau adil pada perawi hadits dengan mengunakan idiom khusus berdasarkan bukti-bukti yang mudah diketahui oleh ahlinya. 10 11 Abbas. Hasjim. hlm 94 .5 perumusan definisi kritik hadits di atas hakikatnya kritik hadits bukan digunakan untuk menilai salah atau membuktikan ketidak benaran sabda Rasulullah Saw. Kritik Matan Hadits ( Yogyakarta : Teras) hlm. dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan kritik matan hadis (naqd al-matn) dalam konteks ini ialah usaha untuk menyeleksi matan-matan hadis sehingga dapat ditentukan antara matan-matan hadis yang sahih atau yang lebih kuat dan yang tidak.

Menurut ulama hadis. yaitu salah seorang perawinya bertentangan dalam periwayatannya dengan perawi lain yang dianggap lebih akurat dan lebih dapat dipercaya. Adapun kaidah-kaidah yang harus dipenuhi oleh suatu matan yang berkualitas shahih adalah sebagai berikut : Terhindar dari syudzudz (kejanggalan). dan Terhindar dari Illat (cacat) y y Menururt Shalah al Din al Adlabi ada 4 tolak ukur penelitian keshohihan matan hadits: Tidak bertentangan dengan petunjuk Al Qur¶an. y y Hadits tersebut tidaklah berilah qadinah. Tidak bertentangan dengan akal sehat. yaitu cacat yang diketahui oleh para ahli hadits sehingga mereka menolaknya. y y y . suatu hadis dikatakan berkualitas shahih (dalam hal ini shahih li zatih) apabila sanad dan matannya sama-sama berkualitas shahih. Tidak bertentangan dengan hadits yang kualitasnya lebih baik. ia harus tidak bersifat syadz. Kaidah dalam Kritik Matan Syarat-syarat untuk menerima hadits-hadits Nabi yang shahih (baik) yang berhubungan dengan matan: Mengenai matan hadits itu sendiri.6 B.

H 128. Op. Metodelogi PenelitianHadis Nabi. (Beirut : Dar ± al Afaq al ± Jadidah. op. 1403 H/ 1983 M).13 Meskipun tolak ukur tersebut tampak menyeluruh tetapi tingkat ukurannya ditentukan oleh ketetapan metodologis dalam penerapannya.7 y Susunan pernyataanmya menunjukkan ciri-ciri sabda kenabian. Isinya bertentangan dengan akal sehat dan sangat sulit diinterpretasikan secara rasional. Tidak bertentangan dengan hukum al qur¶an yang telah muhkam. Cit. Isinya bertentangan dengan sejarah pasti. Tidak bertentangan dengan hadits mutawatir. Manhaj Naql matn. Al Khatib al Baghdadi menjelaskan bahwa hadits yang yang maqbul haruslah: Tidak bertentangan dengan akal sehat. 238 Salahud-Din bin Ahmad Al-Adabi.12 Menurut ulama jumhur 4 unsur tolak ukur di atas adalah tolak ukur unsur untuk meneliti kepalsuan suatu hadits. oleh karena itu kecerdasan pengetahuan dan kecermatan dalam penelitian. Isinya bertentangan dengan hukum dan sunnatullah. hlm. Cit. h 237 ± 238 dalam M syuhudi Isma¶il. 13 . Isinya bertentangan dengan petunjuk Al Qur¶an ataupun hadits mutawatir yang telah menjadi suatu petunjuk secara pasti. tanda-tanda matan hadits yang palsu (maudlu) adalah: Susunannya bahasa rancu. y Isinya barada diluar kewajaran diukur dari petunjuk umum ajaran Islam.. 12 y y y Salah Al ± Din bin Ahmad Al ± Adabi. y y y y y y Isinya bertentangan dengan tujuan pokok ajaran Islam.

Seorang periwayat hadis disebut hafiz dan 'alim. 126 15 Muhammad 'Ajjaj al-Khatib. mengganti atau menukar dari aslinya. 14 Salah Al ± Din bin Ahmad Al ± Adabi. menambah. 1403 H/1983 M). Manhaj Naqd al Matn (Beirut : Dara al ± Afaq al ± Jadidah. apabila dia meriwayatkan hadis dari hafalannya yang didengar. baik mengurangi. (Beirut. y y Tidak bertentangan dengan dalil yang sudah pasti. Dia juga harus menjaga hafalannya semenjak dia mendengar hadis tersebut dari gurunya (tahammul) sampai dia membacakan kembali pada orang lain ( alAda').14 C. Persyaratan Dasar Kritikus Salah satu persyaratan hadis shahih yang harus dipenuhi oleh seorang reriwayat hadis adalah dhabit. Tidak bertentangan dengan hadits ahad yang kualitas keshohihan lebih kuat.8 y Tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan ulama masa lalu (ulama salaf). 1998). hlm. 305 . h. Seorang periwayat dikatakan fahim apabila meriwayatkan hadis dari pengertian dan pemahannya (ma'nawi).15 Seorang kritikus pasti mengetahui hal tersebut dan hal itu dapat dijadikan dasar persyaratan seorang kritikus matan hadis. Dar el-Fikr. Pengertian dhabit adalah seorang periwayat memahami apa yang didengar dan menghafalnya ketika dibacakan.Ushul al-Hadis. Seorang periwayat juga harus dapat memelihara catatan hadisnya dari perubahan.

penggabungan atau pen-tarjih-an antara hadis yang tampak bertentangan. Kesalahan dalam menukil 2. Adanya riwayat bi al-ma'na yang berkonskuensi pada adanya riwayat yang maknanya jauh dari apa yang disabdakan Nabi saw. Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy¶as. Kedua. Al-Sijastani. membedakan antara ungkapan yang bermakna sebenarnya dan yang bersifat majaz. Adanya upaya perawi untuk merafa'kan hadits hingga sampai pada Nabi dari apa yang sebenarnya merupakan perkataan sahabat. tidak sekadar memahami hadis -hadis yang kontradiktif satu dengan yang lainnya. Keempat. Dikoreksi dan diberi nomor oleh Sidqi Muhammad Jamil. t. yakni : pertama. membedakan antara sarana yang berubah dan sasaran yang tetap. Semarang: Toha Putra. Upaya Mengatasi Hadis yang Kontradiktif Menurut Hamzah Abu al-Fath.16 Dalam konteks yang lebih luas. Ketiga. 16 . dan kondisinya ketika diucapkan serta tujuannya. Ketujuh. yang saling bertentangan. memahami hadis hendaknya harus sesuai dengan petunjuk Alquran. memahami hadis dengan mempertimbangkan latar belakangnya situasi. Bagaimana Memahami Hadits Nabi. 3. pada dasarnya tidak ada sabda-sabda Rasulullah saw. membedakan antara alam gaib dan alam kasat mata. ada beberapa petunjuk yang mesti menjadi pegangan dalam memahami hadis-hadis Nabi seperti yang ditulis oleh Yusuf Qardhawi dalam bukunya.9 D. Sunan Abi Dawud. dll.th. Keenam. Kelima. Adapun pertentangan-pertentangan yang nampak tersebut dipicu oleh hal-hal berikut: 1. Juz I. menghimpun hadis yang terjalin dalam tema yang sama.

Cit. 1992. M Syuhudi Ismail. 18 H.cit hal 121 19 Muhammad Mustafa Azami. setidaknya sudah taraf shahih. Muhammad Musthafa. Jakarta: Pustaka Hidayah. Studies in Hadith Metodology and Literature. 3. A. minimal hasan. Metodologi Kritik Hadis di Kalangan Orientalis M. Metodologi Kritik Hadis. 1977). Syuhudi Ismail mengungkapkan langkah ± langkah dalam kegiatan penelitian matan hadis..10 Kedelapan. Tidak hanya shahih sanadnya. namun shahih matannya. 17 . Op. matan lafal yang semakna.18 Dalam menyikapi perbedaan lafal dapat diteliti dengan metode perbandingan (muqarranah)/comparison.20 Azami.17 Memahami hadis dengan memerhatikan delapan hal itu dengan catatan bahwa sumber-sumbernya sudah dipastikan keshahihannya. memastikan makna dan konotasi kata-kata dalam hadis. Terj. 2. Meneliti kandungan matan. Loc. 52 20 Ahmad Fudhaili. Meneliti susunan. Meneliti matan dengan melihat kualitas sanadnya. 19 Yang dimaksud kritik matan pada masa Nabi SAW. E. meski tidak shahih seratus persen. Yamin. h. dan dalam konteks hadis-hadis shahih inilah pemahaman terhadap hadis dilakukan. dan pertanyaan silang atau rujuk silang dan tambahan (Ziyadah)/cross question and cross referense. adalah sikap kritis para sahabat terhadap segala sesuatu yang dinilai janggal pada pemahaman mereka.( Indiana: Islamic Teaching Center Indianapolis. Metodelogi Peneiitia Hadis Nabi. antara lain sebagai berikut : 1.

Perbandingan antara hadis-hadis dari berbagai murid seorang guru (syeikh) 2. Cet. h. 62-161 22 Muhammad Mustafa Azami. Maqayis Naqd Matn al-Sunnah. Perbandingan antara satu hadis dengan hadis yang lain yang terkesan kontradiktif. dan pertanyaan silang dan rujuk silang atau tambahan (Ziyadah)/cross question and cross referense adalah metode kritik matan hadis yang telah dibakukan oleh ulama-ulama ahli hadis. Perbandingan antara tradisi lisan dengan dokumen tertulis. 3.21 Sedangkan menurut Muhammad Musthafa Azami metode ini diterapkan dengan empat cara: 1. Perbandingan antara pernyataan-pernyataan dari seorang ulama yang dikeluarkan pada waktu yang berlainan. Op. 1984). 3. H. 52 .11 Metode perbandingan (muqarranah)/comparrison dan pertanyaan silang dan rujuk silang atau tambahan (Ziyadah)/cross question and cross referense dapat dilakukan dengan cara : 1.22 Metode perbandingan (muqarranah)/comparrison. Perbandingan antara hadis dengan ayat al-Qur'an yang berkaitan. Ke-I. Cit.(Riyadh: tt. Studies in Hadith Metodology and Literatur. 4. Perbandingan antara hadis dengan ayat-ayat al-Qur'an 2. 21 Musfir 'Azamullah al-Dumainy. Perbandingan antara beberapa riwayat (jalur sanad) yang mempunyai tema yang sama.

ada juga yang agak longgar.Bani) Keterhindaran dari sydz dan illat. ada yang ketat dalam menvonis suatu sanad hadis. .12 F. Selain itu Muhammad Al ± Ghazali tidak mensyaratkan kesambungan sanad sebagai salah satu syarat kesahihan sanad hadis. Demikian pula tentang keterhindaran sanad dari syaz dan illat sebagai salah satu syarat kesahihan sanad hadis sudah merupakan kesepakatan Muhadditsin. Hadis yang terdapat dalam Sahih Al Bukhari. Kritik Hadis Ilmuan Muslim Kontemporer (Muhammad Al ± Ghazali dan Nashiruddin Al . maka sanad hadis tersebut semakin baik dan kuat. Dngan adanya jalur pendukung baik pada tingkat sahabat (musyahid) maupun pada tingkat (mutabi¶) sampai pada tingkat musanif . bab al mayyit yu¶ azzab bibuka¶i ahlih : : . dan sanad hadis tersbut mmiliki musyahid dan muttabi¶ . ³Orang yang meninggal diazab karna di tangisi yang hidup (keluarganya)´ Hadis diatas telah memenuhi kriteria kesahihan sanad. maka dapat disimpulkan bahwa hadis itu diriwayatkan secara makna. Namun. terdapat dalam kitab janaiz. dalam hal ini muhaddisi terbagi dua. Dari 37 jalur sanad hadis yang di teliti terlihat bahwa redaksi matan hadis tersbut memiliki perbdaan satu dengan lainnya. baik dilihat dari kebersambungan sanad maupun dari kapasitas dan kwalitas parawi. menurut Muhammad Al ± Ghazali merupakan persyaratan kesahihan matan.

13 Sementara menurut Muhammad Al Ghazali. Argumen Muhammad Al Ghazali ini didasari oleh pendapat Aisy ah yang mengkritik sahabat yang meriwayatkan hadis diatas. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri. yaitu jalur kelima dan ketujuh yang terdapat dalam sahih muslim . Karena itu Muhammad Alghazali. metode yang ditempuh oleh aisyah dapat dijadikan dasar untuk menguji kesahihan disebuah hadis. dan yang lainnya harus ditolak. riwayat dari Aisyah.Menurut Aisyah riwayat mereka bertentangan dengan pesan Alquran surat Al An¶am : 164 Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah. (QS Al ± An¶am : 164) Dalam riwayat aisyah disebutkan bahwa mayit yang disiksa dalam kubur adalah orang yahudi. Demikianlah aisyah dengan tegas dan berani menolak periwayatan suatu hadis yang bertentang dengan Alquran. padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali. dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. yaitu menghadapkannya dnganh nas-nas Alquran. dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan". dari 37 jalur sanad hadis diatas hanya dua jalur yang dapat diterima. Metode yang ditempuh aisyah dalam menentukan kualitas hadis kemudian oleh ulama¶ hadis . bukan orang mukmin.

Al syafi¶i dengan ikhtilaf al hadis-nya. muhadditsin klasik justru meletakkan hadis sebagai penjelasan wahyu yang tidak mungkin salah dan tidak mungkin dibatalakan oleh Alquran. . maka dikumpulkan bahwa hadis itu diriwayatkan bi al-lafaz. Menurut Muhammmad Al-ghazali. berusaha menta¶wil hadis-hadis yang kelihatan bertentangan. kegiatan kritik matan hadis berupa perbandingan atau mencocokkan matan hadis yang diketahui oleh seorang sahabat dengan sahabat yang lainnya. atau membandingkannya dengan Alquran. Apabila hadis yang diperbandingkan itu sama redaksinya. menurut AlGhazali adalah imam al-syafi¶i. Sebaliknya apabila redaksi matan hadis itu memiliki perbedaan dan perbedaan itu tidak menyebabkan perubahan makna itulah kemudian yang dikenal dengan hadis riwayat bi al-ma¶na. baik terhadap sesama hadis maupun dengan Alquran.14 dikembangkannya menjadi metode kritik matan hadis. Didalam karyakaryanya kelihatan betul bahwa ia ingin membawa hadis kembali kebawah pengayoman prinsip-prinsip Alquran. Sebagai pelapor pendapat tersebut. Pada masa sahabat. kemudian menyimpulkan bahwa tidak ada hadis yang bertentangan. Muhammad Al-Ghazali berusaha meluruskan pendapat yang mengutamakan hadis dari pada Alquran.

penilaiannya terhadap hadis dapat dicontohkan melalui hadis berikut. maka (kamu harus memakai) pendapat para sahabatku. Sebuah hadis harus terdiri dari unsur sanad dan matan. maka (kamu harus memakai) Sunnah daripadaku yang berjalan. Hadis yang dibicarakan ini belum pernah ditemukan sanadnya. Syekh Nashiruddin al-Albani (1986: 80) menilai bahwa hadis ini tidak ada dasar dan sumbernya ( ). Hadis yang ada sanadnya adalah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas. ³Selagi kamu telah diberi kitab Allah. Dan perbedaan (pendapat) para sahabatku itu merupakan rahmat bagi kamu´. Apabila tidak ada keterangan dalam Sunnah. Sesungguhnya para sahabatku itu ibarat bintang-bintang di langit. kamu akan mendapatkan petunjuk. . Berikut ini adalah contoh hadis : "Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat". Apabila tidak ada keterangan dalam kitab Allah.15 Sedangkan menurut Nashiruddin Al ± Bani. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk meninggalkannya. Mana yang kamu ambil pendapatnya. maka ia harus diamalkan. sebab memang bukan sabda Nabi SAW.

Dengan demikian. Dilihat dari segi kandungannya. yakni matrûk (tertolak). Pertentangan membuka peluang terjadinya perpecahan. khususnya mengenai kesaan Allah adalah tidak boleh. hadis tersebut kualitasnya sangat daif. padahal ia tidak pernah bertemu dengan Ibn Abbas. bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat. Adh-Dhahhâk diklaim menerima hadis tersebut dari Ibn Abbas. Ibn Hajar al-`Asqalânî (852 H/1449 M) dalam Tahdzîb at-Tahdzîb (1404 H/1984 M. Bahkan al-Albani menilainya sebagai hadis palsu. I: 427) menyebutkan bahwa Juwaibir dinilai sebagai munkar. . Sedang perbedaan pendapat dalam masalah fiqh yang bersifat furu`iyah (bukan prinsip) adalah boleh saja. Di antara periwayat dalam sanadnya bernama Juwaibir dan adh-Dhahhak. matrûk. Perbedaan pendapat dalam masalah aqidah dan tauhid. Hal ini belum tentu. Dalam ilmu fiqh ada lembaga ijtihad sebagai bentuk pengakuan adanya perbedaan pendapat itu. II: 123) dan adz-Dzahabî (748 H/1347 M) dalam Mîzân al-I`tidâl fî Naqd ar-Rijâl (1382 H/1963 M. sebab boleh jadi perbedaan pendapat justru menjadi laknat. al-Khathib al-Baghdadî (463 H/1072 M) dalam kitabnya al-Kifâyah fî `Ilm ar-Riwâyah. sehingga tidak mau bekerja sama apalagi bersatu. Bukankah perbedaan pendapat itu biasanya merupakan pemicu awal terjadinya pertentangan. dan dzâhib al-hadîts (pemalsu hadis).16 Hadis ini diriwayatkan Baihaqi (458 H/1067 M) dalam kitabnya al-Madkhal ilâ as-Sunan al-Kubrâ.

A. 3. Kesimpulan PENUTUP Dari isi diatas dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu : 1.17 III. baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi maupun perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi. ataupun tabi'in. baik pembicaraan itu berasal dari sabda Rasulullah saw. Sedangkan Syekh Nashiruddin al-Albani menilai sebuah hadis harus terdiri dari unsur sanad dan matan. 2. Matan hadits ialah pembicaraan (kalam) atau materi berita yang diover oleh beberapa sanad.. Dalam literatur Arab kata ³an-naqd´ dipakai untuk arti ³kritik´ atau ³memisahkan yang baik dari yang buruk. sahabat. Dalam meriwayatkan matan hadis argumen Muhammad Al Ghazali didasari oleh pendapat Aisyah yang mengkritik sahabat yang meriwayatkan hadis dengan menggunakan perbandingan Alquran. Para ulama¶ hadits menetapkan beberapa syarat untuk menyeleksi antara hadis-hadis yang sahih dan yang maudhuµ para pakar hadis menetapkan ciri-ciri hadis shahih sebagai tolok ukurnya. .

Jakarta : 1995. Juz I. Juhud Al Muhaddisin fi Naqd Matn Al ± hadist Al ± Nabawi al ± Syarif ( Tunis : Muassat A. 1992. Muhammad tahrir Al ± Jawabai. Perempuan di Lembaran Suci.Ushul al-Hadis.com/journal/item/28 http://kafilahcinta. Yamin. Lizan Al ± Arab Juz III. Cet. Studies in Hadith Metodology and Literature.htm Ibn Mnzur. muasasah µabd karim 1986 Muhammad 'Ajjaj al-Khatib. Muhammad Mustafa Azami. Muhammad Mustafa Azami. Jakarta: Pustaka Hidayah. Juz I. 1403 H/1983 M). al ± KarimIbn Abdullah [t. 1977). Sunan Abi Dawud.(Riyadh: tt. Manhaj Naqd al Matn (Beirut : Dara al ± Afaq al ± Jadidah. . muqadimah al-jami¶ al-shahih jilid I. Syuhudi Ismail.multiply. http://elkhalil. 466 M. Diberi nomor oleh Muhammad Fu¶ad µAbd al-Baqi.18 DAFTAR PUSTAKA Ahmad Fudhaili. Metodologi Kritik Hadis. (Beirut. A. Dikoreksi dan diberi nomor oleh Sidqi Muhammad Jamil. Semarang: Toha Putra Azami. Kritik atas hadis-hadis shaheh.roomforum.th]). Cet. Studies in Hadith Metodology and Literatur. Musfir 'Azamullah al-Dumainy. Dar el-Fikr. Al-Sijastani.( Indiana: Islamic Teaching Center Indianapolis. 1992. Juhul al-Muhaddisin fi naqdi matni al-hadis al-nabawi al-syarif . Terj. 2005). M. Thahir al-jawabi. Tunisia. Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi. mesir 1955 Prof.I Al-Naisaburi. Sahih Muslim. Beirut: dar all-Fikr.com/al-hadist-f3/arti-sanad-dan-matan-hadist9. Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy¶as. 1998). Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka) hlm. Dep. Gema Insani Press. H. Ke-I Muslim bin al-Hajjaj. 1984). Maqayis Naqd Matn al-Sunnah. Muhammad Musthafa. Hadis Nabi Menurut Pembela Pengingkar dan Pemalsunya. (Yogyakarta: Pilar Media. Ke. Dr. Salah Al ± Din bin Ahmad Al ± Adabi.

19 Subhi Shalih. .VIII Syaikh Muhammad Al Ghazali. Studi Kritik Atas Hadits Nabi SAW : Antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual. Lihat juga dalam Mahmud Tahhan. Hlm. Taysir Musthalah Al-Hadits.145. (Surabaya: al-Hidayah). Penj. 1997). Ulum Al-Hadits Wa Mustholahuhu. Muhammad Al Baqir. 1985. 1993). (Beirut: Dar Al-Ilm Li AlMalayin. cet. (Bandung: Mizan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful