KERTAS KEBIJAKAN

Strategi Pembangunan Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim: Status dan Kebijakan Saat Ini
Kata Pengantar oleh Prof. Ir. Rachmat Witoelar
(Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim)

Kata Pengantar
KESADARAN bahwa perubahan iklim merupakan masalah pembangunan yang penting dan harus segera mendapatkan penanganan telah ditunjukkan oleh semua kalangan di Indonesia. Termasuk kelompok generasi muda dan masyarakat terdampak langsung di berbagai pelosok Nusantara. Kesadaran tersebut berkembang dari berbagai momentum kebijakan pemerintah sejak tahun 2007 dan gejala-gejala alam yang ekstrem beberapa tahun belakangan yang telah menimbulkan dampak-dampak buruk terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Di tengah kesadaran yang makin deras tersebut, pengembangan sains dan kebijakan untuk menangani masalah perubahan iklim perlu terus ditingkatkan. Perubahan iklim membutuhkan basis ilmiah yang kuat yang kemudian diterjemahkan ke dalam produkproduk kebijakan baik di tingkat nasional maupun daerah. Baik kajian ilmiah maupun produk kebijakan yang sudah dibuat oleh berbagai kalangan di Indonesia belum banyak diketahui oleh legislatif dan masyarakat luas. Dengan latar belakang inilah saya menilai tulisanini menjadi penting untuk dibaca dan disebarluaskan. Tulisanini merangkum permasalahan mendasar perubahan iklim di Indonesia dimana kebutuhan untuk beradaptasi sama pentingnya dengan kebutuhan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca atau yang disebut mitigasi perubahan iklim. Tulisanini juga dengan cermat memaparkan kajian dan langkah kebijakan yang telah dibuat oleh berbagai lembaga pemerintah dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Kesadaran dan pengetahuan yang baik mengenai perubahan iklim tentu tidak serta merta menyelesaikan masalah. Keduanya harus diikuti dengan kerjasama yang mantap antarlembaga dan kelompok terkait, khususnya antara lembaga pemerintah dan legislatif¸ sehingga kebijakan yang dibuat akan mencapai sasaran secara efektif, yaitu masyarakat Indonesia yang memiliki daya tahan terhadap dampak negatif perubahan iklim dan yang menjalankan kegiatan ekonomi dengan emisi gas rumah kaca serendah mungkin. Besar harapan saya bahwa tulisanini dapat menjadi dasar untuk tindak lanjut dialog kebijakan baik antara pemerintah dan legislatif maupun antara pemerintah dengan pemangku kepentingan yang lain. Kontribusi positif dan aktif dari semua pihak akan membuat kita mampu memetik peluang dari berbagai tantangan yang dihadirkan oleh perubahan iklim. Rachmat Witoelar Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim

Kata Pengantar
PERUBAHAN Iklim telah menjadi salah satu masalah global yang terpenting saat ini. Indonesia tidak hanya merupakan salah satu penyumbang gas emisi rumah kaca, terutama dari penebangan hutan dan pengalihan lahan gambut, dengan keberadaan 18.000 lebih pulau dan sektor pertaniannya yang kuat ia juga sangat terpengaruh oleh dampak-dampak perubahan iklim. Sebagai suatu Negara dengan ekonomi yang tumbuh, Indonesia harus menyesuaikan kebijakan lingkungan dengan kepentingan bisnis vital untuk membentuk kerangka “pro-pertumbuhan, pro-orang miskin, pro-lingkungan” yang berkelanjutan. Ini jelas bukan pekerjaan gampang. Desentralisasi dan kewenangan yang saling tumpang tindih membutuhkan adanya pendekatan-pendekatan yang inovatif seperti mekanisme anggaran dan insentif yang efektif yang didasarkan pada realita di lapangan. Di lain pihak, sektor usaha seperti green technology dan energi yang terbarukan tumbuh perlahan, menciptakan peluang bagi Indonesia dan perusahaan-perusahaan asing untuk mengintensifkan perdagangan bilateral mereka. Sementara memang memahami kompleksitas masalah perubahan iklim seringkali sangat menantang, sangatlah penting bagi para pembuat kebijakan untuk mampu menghargai argumen-argumen dan faktor-faktor penentu perubahan iklim. Bahasa ilmiah, pemangku kepentingan yang tak terhitung jumlahnya, kebijakan nasional dan perundingan internasional menyulitkan mereka untuk memahami betul soal ini. Seri Kertas Kebijakan tentang perubahan iklim ini menyediakan jawaban atas tantangan-tantangan yang dimaksud di atas. Masing-masing menggambarkan hambatan yang terbentang di depan kita dan apa yang harus dilakukan oleh Indonesia dalam rangka mitigasi emisi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah. Dengan bekerjasama dengan beberapa pakar terkemuka Kertas-kertas Kebijakan ini disusun dalam beberapa bulan belakangan agar Anda pun menjadi ahli di bidang perubahan iklim. Selamat membaca. Salam hangat, David Vincent Henneberger Editor, FNS Jakarta

Daftar Isi
Strategi Pembangunan Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim: Status dan Kebijakan Saat Ini
Penulis: Fabby Tumiwa

Pengantar ............................................................................................... 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Perubahan Iklim di Indonesia ................................................. Profil dan Peluang Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Indonesia .................................................................................... Strategi Adaptasi dan Mitigasi untuk Menghadapi Perubahan Iklim ........................................................................ Komitmen untuk Menurunkan Emisi GRK ........................... Strategi Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca 26 dan 41 persen ..................................................................... Mekanisme Pendanaan untuk Aksi Perubahan Iklim di Indonesia ................................................................................ Tantangan Implementasi Program Aksi mengatasi Perubahan Iklim ........................................................................

9 14 19 36 45 49 54 60 68

Rekomendasi Kebijakan .......................................................................
3

Kebijakan berbasis Lingkungan Hidup dan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia: Tantangan dan Kesempatan
Penulis: Kurnya Roesad Supervised by Mubariq Ahmad

Pendahuluan .......................................................................................... 79 1. Pembangunan Indonesia Sebagai Gerakan Menuju Ekonomi Rendah Karbon ......................................................... 81 2. Tantangan dan Kesempatan untuk Berbagai Sektor di Indonesia ................................................................................ 95 3. Tantangan Penerapan Kebijakan dalam Program Adaptasi, Kehutanan dan Energi ........................................... 105 Kesimpulan ............................................................................................. 116 Rekomendasi Kebijakan ....................................................................... 118 Pengantar Perubahan Iklim
Penulis: IGG Maha Adi

Ringkasan Eksekutif ............................................................................. Pengantar ............................................................................................... 1. Isu-isu Utama ............................................................................ A. Deforestasi ........................................................................ B. Konversi Lahan Gambut ................................................ C. Konsumsi Energi .............................................................. D. Tata Ruang ........................................................................ 2. Regulasi Internasional ............................................................. 3. Kebijakan Berbasis Perubahan Iklim ..................................... 4. Dampak Perekonomian Nasional ........................................... 5. Peranan Stakeholder Utama ................................................... 6. NAMA dan Target Emisi Indonesia ....................................... 7. Peranan NGO ............................................................................. Glosarry ..................................................................................................
4

131 134 137 137 141 146 148 151 155 157 160 162 164 168

KERTAS KEBIJAKAN

Strategi Pembangunan Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim: Status dan Kebijakan Saat Ini
Fabby Tumiwa

Strategi Pembangunan Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim: Status dan Kebijakan Saat Ini

Fabby Tumiwa

Strategi Pembangunan Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim: Status dan Kebijakan Saat Ini Penulis: Fabby Tumiwa Desain cover & tata letak: Freshwater Communication Dicetak di Indonesia. Penerbit: Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit, Indonesia Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dipersilakan mengutip atau memperbanyak sebagian isi buku ini dengan seizin tertulis dari penulis dan/atau penerbit. Indeks ISBN: 978-979-1157-29-2 Copyright © 2010. Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit Jl. Rajasa II No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta 12110 Tel.: 62-21-7256012-13 Fax: 62-21-7203868 E-mail: Indonesia@fnst.org www.fnsindonesia.org

Pengantar

INDONESIA adalah negara kepulauan dengan jumlah pulau mencapai lebih dari 13 ribu, dan panjang kawasan pesisir mencapai 80 ribu km. Dengan total populasi mencapai 231 juta, diperkirakan sekitar 41,6 juta orang tinggal di kawasan pesisir pantai dengan ketinggian dibawah 10 meter atau yang dikenal sebagai Low Elevation Coastal Zone (McGranahan, dkk, 2007). Menurut Dahuri dan Dutton (2000), kawasan pesisir pulau-pulau utama di Indonesia adalah tempat beroperasinya berbagai industri, aktivitas ekonomi dan infrastruktur. Diperkirakan aktivitas di kawasan pesisir menyumbang 25 persen Pendapatan Domestik Bruto dan menyerap 15 persen tenaga kerja (MoE, 2007). Kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global berpotensi menciptakan kerugian ekonomi bagi Indonesia. Berdasarkan proyeksi kenaikan permukaan air laut setinggi 1,1 meter pada tahun 2100 akan mengakibatkan hilangnya 90,260 km2 kawasan pesisir dengan potensi kerugian ekonomi sebesar US$ 25,56 milyar (Susandi, 2008).

9

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia, yang merupakan salah satu negara penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) yang cukup signifikan di dunia. Emisi GRK yang terbesar disumbangkan oleh kegiatan penggundulan hutan (deforestasi) dan perubahan tata guna lahan. Luas Indonesia mencapai hampir 2 juta kilometer persegi, dengan luas cakupan hutan yang mencapai 88,49 juta hektar pada tahun 2005, yang telah berkurang dari 116.65 juta hektar pada tahun 1990 (WRI, 2006). Indonesia adalah negara peringkat kedua, setelah Brasil, untuk tingkat kehilangan wilayah tutupan hutan (Hansen et al, 2009). Badan PBB untuk Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan selama periode 2000-2005, Indonesia kehilangan 1,87 juta hektar per tahun kawasan hutan. Adapun data resmi deforestasi dari Kementerian Kehutanan (2010) menunjukkan laju deforestasi yang beragam pada kurun 1990-2010, dengan rata-rata laju deforestasi tahunan sebesar 1,9 juta ha (tabel 1). Berkurangnya tutupan hutan terjadi karena proses konversi kawasan hutan dan alih fungsi hutan secara massal untuk kegiatan produksi kayu, perkebunan, pertambangan, dan pertanian.

10

Tabel 1.

Laju Deforestasi Indonesia (1990 – 2010)
19901996 1,87 1,37 19962000 3,51 2,83 20002003 1,08 0,78 20032006 1.17 0.76 2010 (Projected) 1.125 0.770

Laju Deforestasi (juta ha/th) Indonesia Inside designated forest Outside designated forests

0,50

0,68

0,30

0.41

0.355

Sumber: Data Kementerian Kehutanan (2010)

Hutan Indonesia menyimpan potensi penyimpan karbon. Sebagai negara dengan luas hutan tropis ketiga di dunia setelah Brazil dan Republik Demokratik Congo, Indonesia memiliki potensi sebagai penyimpan dan penyerap karbon yang besar. Selain itu kawasan hutan dan laut Indonesia juga menyimpan keanekaragaman hayati yang melimpah. Indonesia tercatat sebagai negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati terbesar kelima di dunia. Indonesia memiliki sekitar 10 persen spesies bunga di dunia, 12 persen mamalia, 16 persen reptil dan amfibi, 17 persen jenis burung. Kawasan laut Indonesia yang seluas 33 juta hektar adalah habitat bagi 450 spesies karang (coral), dan mengandung 25 persen spesies ikan di dunia, termasuk varietas ikan karang yang
11

langka. Keanekaragaman hayati yang kaya dan kawasan hutan yang bernilai konservasi tinggi memberikan pelayanan ekosistem dan menjadi sumber penghidupan bagi jutaan orang yang kehidupannya bergantung pada hutan dan laut.1 Perekonomian Indonesia juga sangat bergantung pada sumberdaya alam, khususnya dari ekosistem laut dan hutan. Keberlanjutan kawasan-kawasan ekosistem tersebut tidak hanya terancam oleh faktor-faktor tradisional antara lain: peningkatan jumlah penduduk, perkembangan industri, dan urbanisasi. Faktorfaktor tersebut mempercepat proses konversi lahan, penggundulan hutan skala besar, kebakaran lahan, kerusakan habitat asli hewan dan tumbuhan, kerusakan daerah tangkapan air dan eksploitasi sumberdaya kelautan, tetapi saat ini berbagai ancaman tersebut juga akan semakin diperburuk oleh adanya perubahan iklim. Dari penjelasan tentang relasi antara pembangunan dan ketersediaan sumber daya alam, fenomena perubahan iklim yang sedang terjadi menambah kompleksitas tantangan pengelolaan sumber daya alam dan ekonomi Indonesia. Situasi ini bukannya tidak disadari oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia. Di tingkat pengembangan pengetahuan, dalam dua dekade terakhir terakhir terdapat berbagai penelitian dan kajian tentang dampak
1

Kementerian Kehutanan dalam publikasinya pada tahun 2000 memperkirakan sekitar 30 juta orang bergantung kehidupannya secara langsung pada sektor hutan.

12

perubahan iklim di Indonesia yang dilakukan oleh berbagai institusi akademis dan non-akademis. Dalam tiga tahun terkahir kajiankajian tentang pilihan kebijakan dan strategi untuk mendukung pembangunan rendah emisi di Indonesia juga semakin beragam. Hasilnya adalah berbagai produk kebijakan dan dokumen strategi untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Tulisan ini bermaksud menyajikan informasi tentang kajiankajian terbaru adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, serta perkembangan terbaru kebijakan publik dalam ranah perubahan iklim di Indonesia. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada para pembaca tentang wacana dan upaya pemerintah Indonesia untuk menghadapi perubahan iklim.

13

1

Perubahan Iklim di Indonesia

IKLIM di Indonesia pada dasarnya ditentukan oleh sirkulasi monsun (monsoon circulation) Asia dan Australia yang dicirikan oleh sistem angin dekat permukaan yang berubah arah hampir sekitar setengah tahun sekali. Perubahan tersebut menyebabkan pula perubahan musim yang utama yakni musim penghujan dan musim kemarau. Dalam literatur mengenai monsun Asia (Johnson, 1992), dikenal adanya summer monsoon dalam periode Juni-Juli-Agustus (JJA) dan winter monsoon dalam periode Desember-Januari-Februari (DJF). Periode ini kurang lebih sama dengan apa yang dikenal masyarakat awam di Indonesia dengan istilah “musim Timur“, yang identik dengan musim kemarau dan “musim Barat“ untuk musim penghujan, khususnya di Pulau Jawa. Meskipun periode DJF umumnya merupakan periode hujan di Indonesia, hal ini tidaklah berlaku sama di seluruh wilayah Indonesia. Sedikitnya terdapat tiga pola curah hujan tahunan di

14

Indonesia yakni pola monsunal, ekuatorial dan lokal (Aldrian and Susanto, 2003). Untuk pola monsunal, umumnya periode DJF merupakan periode puncak hujan, sedangkan untuk pola ekuatorial terdapat dua puncak periode hujan di sekitar April-Mei dan Oktober-November, dan untuk pola lokal umumnya periode puncak hujan terjadi di sekitar Juni-Juli. Dengan mempertimbangkan kondisi geografis, topografi, dan iklim, Indonesia merupakan negara yang rentan terhadap dampak dari fenomena perubahan iklim. Dampak perubahan iklim sudah mulai dirasakan di Indonesia dalam satu abad terakhir. Pada umumnya berbagai negara di kawasan Asia mengalami kenaikan rata-rata suhu permukaan 1-3°C dalam satu abad terakhir. Di Indonesia, efek pemanasan global dapat ditengarai dari kecenderungan kenaikan temperatur dan kelembaban relatif di seluruh kawasan Indonesia. Selain itu, perubahan iklim dapat terdeteksi dari perubahan curah hujan yang terkait dengan frekuensi kejadian cuaca dan iklim ekstrim selama periode 1981 sampai dengan 2007 (DNPI, 2010). Ketiadaan data historis temperatur yang handal menyebabkan upaya untuk mengukur kenaikan temperatur permukaan di Indonesia lebih sukar. Walaupun demikian terdapat sejumlah penelitian yang mencoba mendapatkan gambaran kenaikan temperatur di Indonesia. Kajian Hulme dan Sheard (1999) menemukan bahwa sejak 1900, temperatur permukaan Indonesia naik sebesar 0.3°C sejak 1900. Kajian tim ICCSR (Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap) BAPPENAS mengemukakan temperatur permukaan di Indonesia selama abad 20 mengalami kenaikan sebesar 0,5°C (ICCSR, 2009). Dalam hal curah hujan, Hulme dan Sheard (1999)
15

menyimpulkan curah hujan berkurang 2 hingga 3 persen secara umum di seluruh Indonesia. Walaupun demikian Boer dan Faqih (2004) menemukan bahwa terdapat variabilitas antar kawasan dimana terjadi penurunan curah hujan di bagian selatan Indonesia (Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara) dan kenaikan curah hujan di bagian utara Indonesia (sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi). Selain itu terjadi pergeseran tingkat presipitasi pada dua musim (kemarau dan penghujan). Di bagian selatan Indonesia, curah hujan di musim penghujan bertambah, sedangkan curah hujan di musim kemarau berkurang. Situasi yang terbalik terjadi di kawasan utara Indonesia. Yang perlu diperhatikan bahwa variabilitas curah hujan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh El Nino-Southern Oscilation (ENSO),2 dimana: (i) musim kemarau menjadi lebih panjang daripada situasi normal selama periode El Nino, dan lebih pendek saat periode La Nina; (ii) awal musim penghujan mengalami kemunduran saat periode El Nino, dan lebih awal saat periode La Nina; (iii) penurunan curah hujan yang signifikan pada musing kemarau terjadi saat periode El Nino, dan kenaikan yang signifikan saat periode La Nina. Sejumlah kajian ilmiah memperkirakan bahwa fenomena ENSO2 akan lebih sering terjadi dengan intensitas yang

2

El Nino – Southern Oscillation (ENSO) adalah gejala penyimpangan (anomali) pada suhu permukaan Samudra Pasifik di pantai Barat Ekuador dan Peru yang lebih tinggi daripada rata-rata suhu normalnya. Gejala ini lebih umum dikenal di kalangan awam dengan nama El Niño (bahasa Spanyol, dibaca: “El Ninyo” yang berarti “anak laki-laki kecil”). Gejala penyimpangan di tempat yang sama tetapi berupa penurunan suhu dikenal sebagai La Niña (dibaca “La Ninya”). Istilah ini pada mulanya digunakan untuk menamakan arus laut hangat yang kadang16

semakin tinggi di masa yang akan datang akibat pemanasan iklim global. Kajian ICCSR (2009) menyatakan selang/ interval ENSO yang sebelumnya terjadi dalam 3-7 tahun akan menjadi lebih pendek, 2-3 tahun sebagaimana yang juga ditunjukkan oleh kecenderungan tahun-tahun terakhir. Hal ini berarti Indonesia cenderung akan mengalami variabilitas cuaca yang semakin tinggi di masa yang akan datang, yang menghasilkan dampak yang cukup luas terhadap berbagai aspek sosial, ekonomi dan lingkungan, seperti tingkat produksi pertanian, dan kondisi cuaca ekstrim. Sejumlah kajian ilmiah menunjukkan bahwa Indonesia akan mengalami kenaikan temperatur secara bertahap. Kajian yang dilakukan oleh Boer dan Faqih (2004) memperkirakan kenaikan temperatur dari 0,2°C menjadi 0,3°C per dekade. Kajian ICCSR, berdasarkan pada model iklim yang telah dikembangkan secara global, memproyeksikan kenaikan temperatur 0.8-1°C pada kurun waktu 2020-2050, relatif terhadap acuan basis tahun 19601990. Adapun pada kurun waktu 2070-2100, kenaikan temperatur di Jawa-Bali berkisar antara 2-3°C, dan kenaikan yang tertinggi terjadi di Sumatra sebesar 4°C.

kadang mengalir dari Utara ke Selatan antara pelabuhan Paita dan Pacasmayo di daerah Peru yang terjadi pada bulan Desember. Kejadian ini kemudian semakin sering muncul yaitu setiap tiga hingga tujuh tahun serta dapat mempengaruhi iklim dunia selama lebih dari satu tahun. 17

Selain itu juga diperkirakan akan terjadi kenaikan temperatur permukaan laut sebagai akibat meningkatnya temperatur permukaan. Kenaikan temperatur permukaan laut diperkirakan sebesar 0,65°C pada 2030, 1,1°C pada 2050 dan 2,15°C pada 2100. Salah satu dampak langsung dari kenaikan temperatur permukaan laut adalah berpindahnya stok ikan dari perairan Indonesia (ICCSR, 2009). Adapun untuk curah hujan, kajian tim ICCSR menunjukkan hasil yang bervariasi untuk setiap kawasan dan kepulauan di Indonesia pada periode 2010-2050 dan 2070-2100, dengan kecenderungan kenaikan curah hujan pada bulan-bulan basah, dan penurunan pada bulan-bulan transisi.3 Salah satu dampak peningkatan laju pemanasan global adalah kenaikan permukaan air laut, sebagai akibat meluruhnya lapisan es di kutub. Dari hasil kajian dan pengamatan, Indonesia akan mengalami kenaikan permukaan air laut 0,6-0,8 cm per tahun (ICCSR, 2009). Dengan ribuan pulau kecil, serta ribuan kilometer kawasan pesisir, diperkirakan Indonesia akan kehilangan wilayah daratan yang cukup signifikan sebagai dampak kenaikan muka air laut. Kenaikan ini, ditambah dengan faktor penurunan tanah, akan berdampak pada intrusi air laut dan genangan air pada kota-kota besar Indonesia, khususnya yang terletak di pesisir Jawa bagian utara, seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

3

Pembahasan tentang hal ini dapat dibaca secara lebih lengkap pada naskah: ICCSR (2010): Basis Saintifik: Analisa Proyeksi Suhu dan Curah Hujan, Bappenas, Jakarta. 18

2

Profil dan Peluang Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Indonesia

INDONESIA memproduksi gas rumah kaca dalam jumlah yang signifikan. Emisi GRK Indonesia berkontribusi sebesar 5 persen dari total emisi GRK dunia. Kontribusi tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kontribusi kepada Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, sebesar 0,6 persen pada tahun 2005. Indikator ini menunjukkan bahwa laju kenaikan emisi GRK jauh diatas kenaikan PDB, serta memberikan indikasi arah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tidak berkelanjutan. Berdasarkan data yang dikumpulkan pada tahun 2008 oleh CDIAC (Carbon Dioxide Information Analysis Center), jika dilihat hanya dari emisi karbondioksoida (CO2) dari sektor energi, maka Indonesia merupakan pengemisi ke-15 dunia dengan total emisi sebesar 397 juta ton CO2 di tahun 2007. Sementara data yang dikumpulkan oleh World Resource Institute (WRI), untuk tahun 2005

19

tanpa dimasukkannya sektor kehutanan dan perubahan tataguna lahan, maka total emisi gas rumah kaca Indonesia tahun tersebut adalah 586,3 juta ton setara CO2, dan jika emisi dari kehutanan dan perubahan tataguna lahan diperhitungkan maka akan menjadi 2.045,3 juta ton setara CO2. Emisi Indonesia di akhir dekade 1990-an sempat meningkat cukup tinggi sebagai akibat terjadinya kebakaran lahan dan hutan di tahun 1997/1998. Diperkirakan sekitar 24 milyar stok karbon tersimpan di vegetasi dan tanah, dimana sekitar 80 persen dari stok karbon tersebut tersimpan di kawasan hutan (KLH, 2003). Kontribusi utama peningkatan emisi gas rumah kaca berasal perubahan lahan dan perubahan tata guna lahan (kebakaran hutan, penebangan liar, degradasi lahan gambut, penggundulan hutan, dan lain sebagainya). Walaupun demikian, emisi GRK dari sektor energi juga mengalami peningkatan dramatis dalam kurun waktu dua dekade terakhir. Emisi GRK dari sektor-sektor lainnya juga mengalami kenaikan, walaupun tidak sebesar kenaikan dari kedua sektor utama tersebut.

20

Gambar 1. Profil dan Proyeksi Emisi Gas Rumah Kaca Indonesia (2005 – 2030)

Kajian Dewan Nasional Perubahan Iklim dan McKinsey (DNPI, 2010) mengindikasikan tingkat emisi GRK tahunan Indonesia mencapai 2,1 Giga ton (Gt)4 pada tahun 2005. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan diperkirakan pada tahun 2030 emisi GRK akan mencapai 3,3 Gt per tahun. Perhitungan dan proyeksi emisi GRK Indonesia ditampilkan pada gambar 1.

4

1 Giga ton = 1.000.000.000 ton; 1 ton = 1000 kg.

21

Penggunaan lahan dan perubahan tata guna lahan dan kehutanan (LULUCF) serta degradasi lahan gambut masing-masing menjadi penyumbang emisi GRK yang terbesar. Sebanyak 1,61 Gt setara CO2 atau 78 persen emisi GRK Indonesia tahun 2005 bersumber dari kedua sektor ini. Penyumbang emisi GRK terbesar ketiga adalah dari sektor pertanian, yakni sebesar 0,13 Gt, di tempat ke empat adalah sektor pembangkit listrik yang menyumbang 0,11 Gt, di urutan kelima sektor minyak dan gas bumi yang menyumbang 0,095 Gt, ke enam adalah sektor transportasi sebesar 0,06 Gt, sedangkan dua sektor lain yaitu semen dan bangunan masingmasing menyumbang 0,025 Gt setara CO2. Jumlah emisi GRK dari tiga sektor energi (pembangkit listrik, minyak dan gas bumi, serta transportasi) mencapai 0,265 Gt setara CO2 atau sekitar 13 persen dari total emisi GRK Indonesia.

Emisi Lahan Gambut
Emisi dari lahan gambut menyumbang 38 persen total emisi GRK Indonesia pada tahun 2005 dan proyeksi berdasarkan skenario business as usual, emisi tahunan dari lahan gambut akan mengalami kenaikan sebesar 20 persen, dari 772 MtCO2e5 pada 2005 menjadi 972 MtCO2e pada 2030 jika tidak ada langkah tindakan yang diambil untuk menguranginya. Terlepasnya karbon dari lahan gambut tropis merupakan suatu tantangan tersendiri

5

Million ton CO2 equivalent = Juta ton setara karbondioksida (CO2). 22

bagi Indonesia yang memiliki 5 persen luas lahan gambut dari luas seluruh lahan gambut dunia, dan 50 persen dari luas seluruh lahan gambut yang berada di kawasan tropis. Terlepasnya emisi dari lahan gambut disebabkan oleh dekomposisi lahan gambut akibat konversi lahan untuk pemanfaatan lain, terutama untuk penanaman pohon penghasil bubur kertas (pulp) dan perkebunan kelapa sawit; serta kebakaran lahan gambut yang sangat dipengaruhi oleh faktor musim. Walaupun menjadi sumber emisi GRK yang besar, potensi penurunan emisi GRK dari lahan gambut sesungguhnya tergantung pada pilihan tindakan-tindakan yang diambil, serta dapat dilakukan dengan biaya yang relatif rendah. Secara keseluruhan terdapat peluang pengurangan emisi GRK sebesar 566 MtCO2e pada sektor gambut dengan melakukan berbagai tindakan, termasuk diantaranya pencegahan pembakaran, rehabilitasi lahan gambut, serta pengelolaan air pada perkebunan kayu yang ada dan perkebunan kelapa sawit yang ada saat ini atau secara umum pada kawasan gambut yang dipakai untuk pertanian. Pencegahan kebakaran gambut dengan sejumlah cara diantaranya menghindari pembakaran saat pembukaan lahan, penggunaan teknologi tepat guna untuk gambut secara manual, memperkuat regulasi dan penegakan hukum, serta membangun kesadaran masyarakat, dan sejumlah tindakan lainnya, dapat mengurangi emisi hingga 320 MtCO2e pada 2030 dengan biaya

23

sekitar US$ 0,35 per tCO2e. Tindakan pengelolaan air dirawa lahan gambut berpotensi mengurangi emisi hingga 80 MtCO2e dengan biaya US$ 0,85 per tCO2e. Adapun rehabilitasi lahan gambut, misalnya dilahan bekas mega proyek penanaman padi (rice estate) sejuta hektar di lahan gambut Kalimantan Tengah, dapat menurunkan emisi GRK sebesar 180 tCO2e dengan biaya US$ 5,21 per tCO2e.

Emisi dari Pemanfaatan Lahan dan Alih Guna Lahan Kehutanan
Emisi yang dihasilkan dari kegiatan pemanfaatan lahan dan alihfungsi lahan kehutanan (Land Use, Land-Use Change and Forestry, LULUCF) menyumbang lebih dari 35 persen total emisi karbon di Indonesia, yaitu sebesar 745 MtCO2e pada tahun 2005. Kontribusi LULUCF diperkirakan akan tetap siginifikan walaupun emisi bersih LULUCF akan menurun menjadi 670 MtCO2e pada tahun 2030 atau berkurang 18 persen dibandingkan emisi 2005. Namun demikian, emisi bruto tahunan diperkirakan tetap pada angka yang tinggi yaitu lebih dari 1.080 MtCO2e. Penurunan emisi sebesar 170 MtCO2e berasal dari kenaikan potensi penyerapan karbon dari kawasan hutan yang dihutankan kembali, dan dari ekspansi penanaman pohon untuk produksi kayu dan kebun tumbuhan skala besar. Sektor LULUCF berpotensi menurunkan emisi GRK pada tahun 2030 secara signifikan, melampaui peningkatan emisi

24

dari sektor ini dengan skenario business as usual. Hal ini dapat terjadi karena kegiatan penanaman yang dilakukan sebagai upaya konservasi (bukan untuk produksi), dan penanaman hutan serta reboisasi secara efektif dapat menciptakan penyerap karbon baru; yang mampu menyimpan lebih banyak karbon daripada yang dilepaskan ke atmosfir. Potensi pengurangan tahunan sektor LULUCF mencapai 1.204 MtCO2e pada tahun 2030. Dari jumlah ini upaya menghentikan deforestasi dan degradasi hutan (termasuk melalui skema REDD, Reducing Emission from Deforestation and forest Degradation) dapat menyumbang penurunan emisi sebesar 811 MtCO2e. Tindakan penanaman hutan dan reboisasi dapat menurunkan emisi sebesar 280 MtCO2e, sedangkan tindakan untuk mencegah pembakaran hutan dapat berkontribusi pada penurunan emisi sebesar 43 MtCO2e. Kajian DNPI (2010) merekomendasikan sembilan pilihan tindakan sebagai langkah penting untuk melakukan penurunan emisi GRK pada tahun 2010-2030, antara lain: 1. Penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD) memiliki potensi penurunan emisi terbesar, yaitu 570 MtCO2e, dimana upaya untuk mencegah konversi lahan hutan ke pertanian skala kecil berpotensi menurunkan emisi 190 MtCO2e. Biaya penurunan untuk mencegah laju deforestasi sangat bervariasi, berkisar antara US$ 1 hingga $30 per tCO2e. Biaya terendah untuk tindakan pencegahan konversi lahan

25

menjadi lahan pertanian skala kecil, sedangkan biaya terbesar terjadi pada upaya untuk mencegah konversi hutan menjadi kawasan hutan tanaman industri (pohon untuk produksi pulp) dan/atau perkebunan kelapa sawit, yang mendekati US$ 30 per tCO2e emisi yang dapat dihindarkan. 2. Kegiatan aforestasi dan reforestasi (penanaman dan menghutankan kembali bekas lahan hutan) memberikan kemungkinan penurunan emisi sebesar 300 MtCO2e pada 2030, dengan biaya sebesar US$ 5 hingga 6 per tCO2e, yang dapat dilakukan dengan menghutankan kembali lahan dan hutan yang terdegradasi seluas 10 juta hektar, diluar program GERHAN (Gerakan Reboisasi Hutan Nasional) Kementerian Kehutanan yang telah dicanangkan sebelumnya. Tindakan pengurangan emisi karbon karena degradasi kawasan di kawasan hutan produksi dengan menerapkan konsep pengelolaan hutan berkelanjutan (sustainable forest management) berpotensi menurunkan emisi sebesar 200 MtCO2e, dengan biaya sekitar US$ 2 per tCO2e. Budidaya hutan (silviculture) secara intensif sebagai kegiatan untuk meningkatkan riap pertumbuhan yang berarti juga dapat meningkatkan kemampuan penyerapan tumbuhan dari hutan produksi berpotensi mengurangi emisi sebesar 100 MtCO2e, dengan biaya US$ 10 per tCO2e.

3.

4.

26

5.

Pencegahan kebakaran hutan, berpotensi mengurangi 43 MtCO2e pada 2030, dengan biaya sebesar US$ 5 per tCO2e.

Pilihan penurunan emisi karbon dan biaya untuk masing-masing tindakan dari sektor LULUCF ditampilkan pada gambar 2.

Gambar 2. Pilihan aksi dan biaya penurunan emisi dari sektor LULUCF

Emisi dari Sektor Energi
Proyeksi emisi GRK dari sektor energi tahun 2020 dan 2030 menunjukan adanya potensi kenaikan yang signifikan. Emisi sektor

27

energi secara kumulatif disumbang oleh pembangkit listrik, produksi minyak dan gas bumi serta sektor transportasi. Dibandingkan tahun 2005, emisi GRK dari pembangkit listrik diperkirakan naik hampir 4 kali lipat pada 2020 menjadi 370 MtCO2e, dan 7 kali lipat pada tahun 2030 menjadi 810 MtCO2e. Kenaikan ini disebabkan oleh peningkatan laju elektrifikasi dari 60 persen menjadi 100 persen yang diperkirakan terjadi sebelum tahun 2030, dan kenaikan permintaan tenaga listrik karena meningkatnya usaha manufaktur dan jasa. Konsumsi tenaga listrik diperkirakan meningkat dari 120 Terrawatt-hour (TWh) pada tahun 2005, menjadi 970 TWh pada tahun 2030. Dalam dua dekade ke depan diperkirakan lebih dari 80 persen pembangkit tenaga listrik yang beroperasi membakar bahan bakar fossil (batubara, minyak dan gas bumi), dimana 66 persen diantaranya adalah pembangkit listrik tenaga batubara. Pemerintah Indonesia juga merencanakan untuk mengoptimalkan pemanfaatan panas bumi (geothermal) dengan mentargetkan beroperasinya 9 Gigawatt (GW) Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) pada tahun 2030. Sektor ketenagalistrikan memiliki potensi pengurangan emisi sebesar 260 MtCO2e, dimana sekitar 225 MtCO2e bisa didapatkan dari peningkatan pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan seperti optimalisasi panas bumi (geothermal), pemanfaatan

28

biomassa untuk pembangkit listrik, pembangkit listrik tenaga nuklir, dan penggunaan teknologi pembangkit batubara bersih, yaitu teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Tambahan penurunan emisi sebesar 47 MtCO2e bisa diperoleh dengan melaksanakan tindakan-tindakan pengelolaan disisi permintaan (demand side management), yang dapat menurunkan tingkat permintaan tenaga listrik. Biaya pengurangan emisi GRK di sektor pembangkit listrik bervariasi antara US$ 10 hingga 40 per tCO2e. Penambahan kapasitas panas bumi dari yang telah direncanakan sebelumnya sebesar 6 GW pada 2020 membutuhkan biaya US$ 27 per tCO2e, pemanfaatan limbah biomassa yang berasal dari limbah pengolahan kayu, limbah kelapa sawit, limbah pertanian dan lain sebagainya, membutuhkan biaya US$ 45 per tCO2e. Pembangunan PLTU batubara dengan teknologi CCS diperkirakan membutuhkan biaya US$ 10 per tCO2e, sedangkan pembangunan PLTN membutuhkan biaya US$ 14 per tCO2e.6 Emisi dari sektor transportasi diperkirakan meningkat 7 kali lipat pada 2030 menjadi 443 MtCO2e, dari 60 MtCO2e pada

6

Hingga saat ini aplikasi PLTU batubara dengan CCS belum dilaksanakan secara komersial dan diperkirakan baru matang dan layak secara komersial setelah 2020. Perhitungan dan analisis yang dilakukan dalam studi DNPI (2010) untuk PLTU batubara dengan CCS menggunakan estimasi investasi, sementara untuk PLTN berdasarkan investasi saat ini.

29

2005. Kenaikan ini disumbang oleh peningkatan jumlah kendaraan bermotor pribadi dan komersial sebesar 3 kali lipat dari jumlah saat ini, yang berkorelasi dengan bertambahnya konsumsi bahan bakar minyak untuk sektor transportasi. Terdapat potensi untuk menurunkan emisi sektor transportasi sampai dengan 100 MtCO2e pada tahun 2030 melalui tiga pilihan mitigasi utama, yaitu dengan : (1) perbaikan sistem pembakaran internal mesin; (2) peralihan dari kendaraaan bertenaga BBM ke kendaraan hibrida dan listrik; dan (3) dengan mengadopsi bahan bakar biodiesel yang terbuat dari kelapa sawit. Tiga perempat dari total potensi penurunan emisi (atau 75 MtCO2e) berasal dari penyempurnaan mesin pembakaran internal konvensional (internal combustion engines – ICE) di semua kelas kendaraan yang dapat didorong melalui standar efisiensi bahan bakar yang lebih tinggi, yang dapat dicapai dengan biaya negatif. Pilihan seperti pemanfaatan biodiesel dari kelapa sawit menambah pengurangan sebesar 10 MtCO2e, dengan biaya mencapai US$ 100 per tCO2e, sedangkan penerapan mobil listrik membutuhkan biaya US$ 300 per tCO2e. Emisi GRK dari fasilitas produksi dan pengolahan minyak dan gas bumi akan meningkat dari 122 MtCO2e pada tahun 2005 menjadi 135 MtCO2e pada 2020, dan 137 MtCO2e pada 2030. Kajian emisi karbon DNPI terbatas pada produksi, termasuk gas flaring dan pengolahan minyak, tetapi belum memperhitungkan emisi dari

30

pengembangan cadangan minyak dan gas bumi, pengangkutan dan petrokimia, serta konsumsi minyak dan gas yang tergantung pada penggunaan masing-masing sektor. Sektor minyak dan gas bumi memiliki peluang untuk menurunkan emisi GRK Indonesia hingga 30 persen (41 MtCO2e) sampai dengan tahun 2030 melalui upaya yang terfokus pada tiga upaya mitigasi, yaitu : (1) perbaikan proses pemeliharaan dan pengendalian, (2) program-program hemat energi dan efisiensi energi, serta (3) penurunan pemanfaatan kembali gas suar bakar (flaring). Biaya penurunan emisi terbesar terjadi pada upaya pemanfaatan gas flaring, sebesar US$ 28 per tCO2e. Penerapan cogeneration (cogen) pada kilang pengolahan dapat menambah biaya US$ 6 per tCO2e. Perbaikan proses pemeliharaan dan pengendalian lintas sub-sektor produksi dan pengilangan dalam menghasilkan pengurangan sedikit lebih besar dari 7 MtCO2e dan bersifat positif laba netto (-103 USD per tCO2e sehingga dapat menaikkan keuntungan selama masa waktu penurunan emisi.

Emisi dari Pertanian
Pertanian adalah sektor dengan emisi tertinggi ketiga di Indonesia, setelah LULUCF dan gambut, dengan emisi mencapai 132 MtCO2e pada tahun 2005 (berdasarkan tata guna lahan saat itu). Emisi dari
31

sektor ini diperkirakan akan meningkat sampai dengan 25 persen menjadi 164 MtCO2e pada tahun 2030. Potensi pengurangan untuk sektor ini diperkirakan mencapai kurang lebih 105 MtCO2e setiap tahunnya atau sekitar 63 persen dari emisi sektor terkait pada tahun 2030. Penyempurnaan pengelolaan pengairan dan pupuk untuk pertanian padi menawarkan potensi pengurangan yang signifikan sebesar 45 MtCO2e atau 43 persen dari emisi sektor tersebut. Peluang pengurangan sektor pertanian yang ketiga berasal dari pemulihan lahan yang rusak (yaitu lahan pertanian yang telah rusak akibat gangguan berlebihan, erosi, hilangnya bahan-bahan organik, gangguan kadar garam atau asam), yang akan berkontribusi terhadap penurunan emisi sebesar 35 MtCO2e. Biaya pengurangan rata-rata di sektor pertanian mencapai US$ 5 per tCO2e. Pemulihan lahan yang rusak melalui pembentukan wadah penyerapan karbon (meningkatkan bahan organik dalam tanah) memerlukan biaya sebesar US$ 13,8 per tCO2e, sementara perbaikan pengelolaan pengairan padi dan pengelolaan pupuk padi menghabiskan biaya masing-masing sebesar US$ 7 dan $ 21,7 per tCO2e setiap tahunnya.

Emisi Semen
Emisi sektor semen diperkirakan akan mengalami peningkatan tiga kali lipat dari 26 MtCO2e pada tahun 2005 menjadi 75 MtCO2e
32

pada tahun 2030. Hal ini akan didorong oleh peningkatan produksi bahan semen yang signifikan di Indonesia dari 31 juta ton pada tahun 2005 menjadi 125 juta ton pada tahun 2030. Sebagian besar emisi ini dihasilkan oleh produksi arang besi (clinker), unsur penting dalam produksi semen. Proses tersebut melibatkan proses pengapuran batu kapur dan tanah liat, reaksi kimia yang melepaskan CO2e dalam jumlah yang signifikan sebagai produk sampingan. Mengganti arang besi dengan bahan pengganti seperti limbah batubara (fly ash) atau limbah dari pembuatan logam (slag) dapat menurunkan secara signifikan emisi langsung dari sektor semen. Dengan adanya teknologi-teknologi lain, sektor semen dapat menurunkan lebih lanjut emisinya sampai dengan 12 persen atau 9 MtCO2e pada tahun 2030. Meskipun penggantian arang besi terus menjadi peluang terbesar untuk pengurangan sekitar 7,5 MtCO2e dengan biaya rata-rata negatif sebesar US$ -25 per tCO2e, memasukan bahan-bahan bakar alternatif, khususnya dari limbah industri dan kota, dapat menurunkan lebih lanjut emisi dari sektor semen sampai dengan 4,5 MtCO2e dengan biaya rata-rata yang tidak terlalu tinggi sebesar US$ 8 per tCO2e.

Emisi Bangunan
Emisi dari sektor bangunan akan meningkat dari 71 MtCO2e pada tahun 2005 menjadi 215 MtCO2e pada tahun 2030, didorong oleh

33

pertumbuhan konsumsi energi rumah tangga dan komersial sebesar 5–7 persen setiap tahunnya. Dengan menggunakan teknologi-teknologi yang ada, sektor bangunan dapat menurunkan emisinya sampai dengan 22 persen pada tahun 2030, yaitu sebesar 48 MtCO2e – dengan sebagian besar penurunan (lebih dari 70 persen) tidak memerlukan biaya atau biaya pengurangan negatif. Kajian emisi karbon DNPI menyimpulkan bahwa secara keseluruhan Indonesia memiliki potensi pemotongan emisi hingga 2,3 GtCO2e per tahun pada tahun 2030 untuk semua sektor penghasil emisi, dengan tingkat biaya yang bervariasi dari skenario business as usual (gambar 3). Lebih dari setengah potensi penurunan emisi tersebut dapat dilakukan tanpa perlu biaya tambahan atau biaya negatif. Hasil perhitungan ini memberikan indikasi secara teoritis bahwa Indonesia dapat menurunkan emisinya secara signifikan. Indonesia sangat mungkin melakukan perpindahan model pembangunan dari jalur pembangunan emisi karbon tinggi menuju pembangunan emisi karbon rendah, tanpa perlu mengorbankan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Sektor kehutanan dan pembangkit listrik menjadi dua sektor terbesar yang dapat berkontribusi terhadap penurunan emisi GRK. Untuk mencapai hal ini, diperlukan kebijakan pembangunan dan implementasi yang mendesak.
34

Gambar 3. Potensi pengurangan emisi GRK dan kurva biaya pada tahun 2030

35

3

Strategi Adaptasi dan Mitigasi untuk Menghadapi Perubahan Iklim

Indonesia meratifikasi United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) melalui penetapan UU No. 6/1994. Indonesia juga telah menandatangani Protokol Kyoto tahun 1997, dan meratifikasinya pada tahun 2004 melalui UU No. 17/2004. Dengan meratifikasi Protokol Kyoto, maka Indonesia dapat berpartisipasi dalam pengembangan proyek Clean Development Mechanism (CDM), yang dimulai pada 2005, melalui pembentukan CDM Designated National Authority (DNA) di Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Pada tahun 2009, DNA berpindah ke DNPI. Dalam empat hingga lima tahun terakhir, isu perubahan iklim telah mendapatkan perhatian yang lebih luas dalam penyusunan kebijakan dan program pembangunan jangka panjang. Sejumlah kajian tentang dampak perubahan iklim terhadap berbagai sektor dan bidang serta peri-kehidupan masyarakat Indonesia juga telah

36

dilakukan. Secara umum strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim adalah integrasi program aksi keduanya kedalam rencana pembangunan nasional jangka panjang, menengah dan jangka pendek, yang dituangkan dalam program kerja kementerian dan kelembagaan. Proses pengintegrasian tersebut terjadi melalui beberapa tahap dan proses. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005 – 2025, perubahan iklim dinyatakan sebagai tantangan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dan pengurangan kemiskinan. Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009 juga mengidentifikasi dampak perubahan iklim di Indonesia terhadap upaya untuk mencapai target-target yang ditetapkan dalam rencana pembangunan tersebut. Walaupun demikian, strategi pembangunan nasional yang dituangkan dalam RPJMN 2004-2009 belum secara lengkap mempertimbangkan aksi untuk melaksanan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim secara sektoral dan lintas-sektoral. Perhatian terhadap fenomena perubahan iklim semakin meningkat di kalangan pemangku kepentingan di Indonesia, termasuk pembuat kebijakan, menjelang Konferensi para Pihak ke-13 (COP-13) dari Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) di Bali pada Desember tahun 2007. Untuk pertama kalinya, pemerintah mengeluarkan naskah Rencana Aksi Nasional menghadapi Perubahan Iklim (RAN-PI), yang mencakup situasi fenomena perubahan iklim di Indonesia dan usulan rencana aksi
37

mitigasi gas rumah kaca dan adaptasi terhadap peningkatan pemanasan global dan perubahan iklim, melalui koordinasi antarsektor pembangunan. Lebih kurang enam bulan setelah COP 13, dengan mempertimbangkan perlunya meningkatkan koordinasi pelaksanaan pengendalian perubahan iklim dan untuk memperkuat posisi Indonesia di forum perundingan internasional dalam pengendalian perubahan iklim, Presiden RI membentuk Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) melalui Peraturan Presiden No. 46/2008. Presiden RI menjadi Ketua DNPI, yang dibantu oleh dua orang Wakil Ketua, yakni Menko Perekonomian dan Menko Kesra, 17 Menteri terkait dan Kepala BMKG sebagai anggota. Untuk melaksanakan mandatnya, maka Presiden menunjuk seorang Ketua Harian, Kepala Sekretariat, dan dibantu oleh Kelompok-kelompok Kerja (Pokja) sebagai pelaksana kegiatan Dewan sehari-hari. Upaya untuk mengoperasionalkan rekomendasi dalam RAN-PI kedalam RPJMN 2004-2009 coba dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) melalui penyusunan naskah National Development Planning: Indonesia Response to Climate Change. Naskah yang kemudian dikenal sebagai “Yellow Book” ini mulai diperkenalkan secara terbatas saat berlangsungnya COP 13, tetapi baru dipublikasikan secara penuh pada tahun 2008. Yellow Book juga ditujukan sebagai dokumen perantara (bridging document) yang mempertimbangkan berbagai isu sektoral dan lintas sektoral yang sensitif terhadap perubahan
38

iklim, sekaligus untuk mempertajam program pembangunan yang dituangkan dalam RPJMN 2004-2009, dan sebagai masukan dalam merumuskan RPJMN 2010-2014. Naskah “Yellow Book” Bappenas berusaha mengintegrasikan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dalam perencanaan pembangunan nasional. Selain itu ditetapkan juga prioritas sektor untuk adaptasi yaitu: (i) pertanian dan (ii) daerah pesisir, pulaupulau kecil, kelautan dan perikanan; dan mitigasi yaitu: (i) energi dan pertambangan, (ii) kehutanan. Lebih daripada itu, isi yang terpenting dari “Yellow Book” adalah daftar proyek dari sektorsektor prioritas dan non-prioritas yang terkait dengan perubahan iklim. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) juga telah menyelesaikan penyusunan Second National Communication (SNC) pada tahun 2009. Sesuai dengan Konvensi Perubahan Iklim, pelaporan inventori gas rumah kaca dalam bentuk National Communication merupakan salah satu bentuk tanggung jawab negara berkembang. National Communication Indonesia yang pertama dibuat pada tahun 1994, dengan basis emisi tahun 1990. SNC mencakup inventori emisi GRK pada rentang tahun 2000-2005. Pada dasarnya SNC merupakan dokumen inventori emisi GRK dari berbagai sektor di Indonesia, dimana yang dihitung adalah emisi GRK bersih. SNC menjadi dokumen acuan bagi penentuan kebijakan dan prioritas aksi mitigasi perubahan iklim.

39

Dalam upaya mengintegrasikan lebih lanjut perubahan iklim dalam pembangunan nasional, BAPPENAS menyusun dokumen kebijakan perencanaan sektoral yang disebut Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR). Menurut BAPPENAS, “peta jalan sektoral” bertujuan mengintegrasikan perubahan iklim kedalam perencanaan pembangunan sektoral dan lintas sektor, serta untuk mempercepat implementasi berbagai sektor yang relevan untuk menghadapi perubahan iklim. ICCSR mencakup jangka waktu pembangunan selama 20 tahun, dengan prioritas pembangunan yang ditentukan sesuai dengan rencana pembangunan jangka menengah 5 tahunan. Dalam formulasi strategi adaptasi, ICCSR mengintegrasikan kerangka penilaian resiko akibat pemanasan global dan dampak perubahan iklim yang telah terjadi dan akan terjadi di Indonesia untuk menentukan tingkat ancaman bahaya iklim (climate hazards) dan dampaknya pada sektor-sektor yang relevan. Prioritas dan rencana aksi adaptasi ditentukan berdasarkan pada tingkat dampak yang terjadi. Adapun strategi mitigasi dicapai melalui proses analisa terhadap skenario laju emisi GRK pada setiap sektor berdasarkan kajian tingkat pertumbuhan emisi dari sektor-sektor tersebut, dan dilakukan analisa terhadap skenario mitigasi untuk setiap sektor (energi, transportasi, industri, kehutanan dan limbah/sampah). Naskah ICCSR merinci berbagai rencana kegiatan untuk sektor-sektor energi, industri, transportasi, limbah, kehutanan,

40

sampah, pertanian, kelautan dan perikanan, air serta kesehatan yang dikategorikan dalam 3 kelompok aktivitas. Sesuai dengan rencananya, berbagai rencana aksi yang telah dikaji seharusnya diimplementasikan sebagai rangkaian program kerja pada kementerian dan lembaga yang terkait, sesuai dengan prioritas pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang berlaku selama 5 tahun. Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) telah melakukan kajian Indonesia GHGs Abatement Cost Curve, untuk melakukan identifikasi berbagai peluang dan pilihan-pilihan aksi mitigasi untuk menurunkan emisi GRK Indonesia berdasarkan biaya penurunan (abatement cost) dari setiap aksi mitigasi tersebut. Laporan kajian DNPI ini telah dipublikasi dan dapat dipakai sebagai salah satu acuan untuk menetapkan prioritas kebijakan dan rencana aksi untuk mencapai target penurunan emisi GRK sebesar 26 dan 41 persen, sebagaimana telah digariskan oleh Presiden RI. Sesuai dengan profil emisi GRK maka Reducing Emission from Deforestation and Degradation (REDD) adalah salah satu bentuk program mitigasi GRK yang penting bagi Indonesia. Untuk mengimplementasikan program REDD plus di Indonesia, pada 20 September 2010, Presiden mengeluarkan Keputusan Presiden yang menetapkan pembentukan Satuan Tugas REDD. Satuan Tugas ini akan dipimpin oleh Kuntoro Mangkusubroto, kepala UKP4 (Unit Kerja Presiden untuk Pengendalian dan Pengawasan Pembangunan), dengan sejumlah pejabat yang mewakili kementerian dan lembaga

41

yang relevan sebagai anggotanya (Bappenas, KLH, Kementerian Keuangan, Kementerian Kehutanan, Badan Pertanahan Nasional dan DNPI). Tugas Satgas REDD sebagaimana yang dicantumkan dalam Kepres adalah memastikan terbentuknya strategi nasional untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD plus) dan rencana nasional untuk aksi pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan.7 Sebagai bagian dari tugas dibawah Satgas REDD, sebuah Strategi Nasional Penurunan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (Stranas REDD plus) juga baru dipublikasikan.8 Stranas REDD plus mencoba mengidentifikasi penyebab terjadinya deforestasi dan degradasi hutan dan perumusan strategi yang diperlukan untuk menekan penyebab tersebut dalam rangka mengurangi emisi serta peningkatan serapan dan simpanan karbon dari kegiatan konservasi hutan, pengelolaan hutan secara lestari, restorasi ekosistem, dan berbagai usaha peningkatan produktivitas hutan produksi dan hutan tanaman. Naskah ini juga menyajikan tahapan pelaksanaan REDD+ di Indonesia, yang secara umum dibagi dalam tiga tahap: (1) penyusunan strategi yang mencakup strategi nasional dan rencana
7 8

http://www.thejakartapost.com/news/2010/09/24/kuntoro-mangkusubrotochairs-redd-task-force.html Draft pertama Naskah Stranas REDD tertanggal 23 September 2010. Naskah ini disusun oleh Bappenas, bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian. 42

aksi nasional REDD plus; (2) membangun kesiapan dan pelakasanaan tindakan awal berupa pembangunan infrastruktur prasyarat REDD+, pemenuhan kondisi pemungkin dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan awal; dan (3) implementasi yang mencakup pengarusutamaan REDD+ dalam pembangunan, integrasi REDD+ ke dalam RPJMN dan implementasi penuh, terutama di daerah-daerah percontohan berdasarkan kriteria yang ditentukan. Dalam naskah Stranas REDD plus yang pertama, belum dicantumkan rencana aksi yang rinci untuk diimplementasikan di masing-masing tahap. Dalam hal teknologi untuk mitigasi perubahan iklim, pada tahun 2009, Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah menyelesaikan kajian kebutuhan teknologi untuk mitigasi perubahan iklim (Technology Needs Assessment for Climate Change Mitigation, TNA). Kajian ini telah berhasil mengidentifikasi prioritas teknologi untuk mitigasi GRK untuk 7 sektor Indonesia: Energi, Kelautan, Kehutanan, Industri, Pertanian, Persampahan, dan Transportasi. Selain opsi pilihan teknologi, TNA juga melakukan analisis marginal abatement cost untuk pilihan teknologi di setiap sektor. Untuk mendukung pembuatan Strategi Nasional Adaptasi dan Rencana Aksi Adaptasi menghadapi perubahan iklim, DNPI telah menyelesaikan Adaptation Science and Policy Study.9 Kajian

9

Kajian ini berjudul Adaptation Science and Policy Studies, yang dilakukan oleh

43

mencoba mengidentifikasi berbagai kajian dan analisis yang telah dilakukan oleh berbagai institusi yang terkait dengan adaptasi perubahan iklim di Indonesia. Melalui kajian ini, dicoba untuk mengidentifikasi celah (gap) dan kebutuhan untuk mengembangkan strategi adaptasi, kebutuhan strategi pendanaan serta kebutuhan teknologi untuk Indonesia. Sejumlah kementerian sektoral, misalnya Kementerian Pertanian dan Kementerian Kelautan dan Perikanan juga telah membuat kajian terkait dengan identifikasi tantangan dan pilihanpilihan adaptasi di sektor pertanian, dan strategi adaptasi untuk kelautan dan kawasan pesisir. Dengan penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa kajian untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di Indonesia telah cukup banyak dan beragam. Berbagai kajian ini dapat menjadi acuan dalam perumusan strategi dan rencana aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di Indonesia.

DNPI dan LAPI ITB, atas dukungan UK Aid dan British Council. Kajian ini dimulai pada Maret 2010 dan diselesaikan pada Juli 2010.

44

4

Komitmen untuk Menurunkan Emisi GRK

“INDONESIA berkomitmen untuk menurunkan emisi gas-gas rumahkaca sebanyak 26 persen dari level “business as usual”, pada tahun 2020, atau 41 persen bila ada bantuan keuangan dari negara-negara maju.” Pengumuman ini dibuat oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di pertemuan G20 di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, pada September 2009. Komitmen ini kembali ditegaskan oleh Presiden SBY saat berpidato pada COP-15 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Copenhagen, Denmark, Desember 2009 . Dalam pidatonya, Presiden SBY juga menyampaikan komitmen Indonesia untuk mewujudkan “ekonomi rendah karbon.” Walaupun gagal mencapai kesepakatan yang mengikat semua Negara Pihak, COP15 menghasilkan Copenhagen Accord, yang merupakan deklarasi politik yang diinisiasi oleh 23 pemimpin negara maju dan negara berkembang yang melakukan diskusi pada saat COP 15 berlangsung. Sifat Copenhagen Accord tidak mengikat, dan bukanlah hasil yang berasal dari proses negosiasi multilateral
45

yang transparan dan demokratis. Walaupun demikian, Copenhagen Accord merupakan hasil terbaik yang bisa didapat, yang memuat komitmen nyata tetang target pembatasan kenaikan suhu global, dan komitmen pendanaan untuk mitigasi perubahan iklim hingga 2020. Sebagai tindak lanjutnya, UNFCCC memberikan batas waktu hingga 31 Januari 2010 kepada negara-negara anggota UNFCCC untuk menyampaikan rencana penurunan emisi GRK masingmasing.10 Sebagai bentuk dukungan, melalui surat tanggal 19 Januari 2010 pemerintah Indonesia melalui Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) menyampaikan kepada Sekretariat UNFCCC dukungan pada Copenhagen Accord tersebut, dan komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi. Surat ini disusul dengan usulan target resmi Indonesia untuk dilampirkan pada Copenhagen Accord pada tanggal 30 Januari 2010, dengan merinci sektorsektor yang terlibat dalam inisiatif penurunan emisi ini. Mengingat target yang disampaikan adalah target sukarela sesuai dengan kapasitas RI sebagai negara berkembang dan karenanya memang tidak dimintakan adanya detail rencana pencapaian target tersebut seperti yang dicantumkan dalam Appendix II Copenhagen Accord. Dalam surat yang dikirimkan oleh Rachmat Witoelar, Ketua Harian DNPI kepada Sekretaris Eksekutif UNFCCC, Yvo de Boer,

10

Hingga saat ini terdapat 138 negara, yang mewakili sekitar 86 persen emisi global tahun 2005, yang telah menyampaikan dukungannya terhadap Copenhagen Accord dan menyampaikan target penurunan emisi GRK. 46

Indonesia merinci 7 bentuk aksi untuk pencapaian penurunan emisi 26% dari skenario BAU pada tahun 2020, yaitu:
• • • • • • • Pengelolaan lahan gambut yang menjamin keberlanjutannya Penurunan laju deforestasi dan degradasi lahan hutan. Pengembangan proyek penyerapan emisi karbon di sektor kehutanan dan pertanian Promosi penghematan dan efisiensi energi Pengembangan dan pemanfaatan sumber energi alternatif dan terbarukan Penurunan limbah padat dan cair Perpindahan kepada moda transportasi rendah emisi

Salah satu upaya yang telah dilakukan Indonesia saat ini adalah dengan ditandatanganinya Letter of Intent (LoI) dengan pemerintah Norwegia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) global akibat deforestasi, degradasi hutan dan konversi lahan gambut di Indonesia. Implementasi LoI akan dilaksanakan dalam 3 tahapan yaitu tahap 1 hingga akhir 2010, tahap 2 selama tahun 2011-2013 dan tahap 3 sejak 2014 hingga akhir tahun 2016. Upaya yang lebih terstruktur adalah memadukan target penurunan 26 persen dan dokumen roadmap kedalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2010-2014 dan prioritas kerja pemerintah untuk 2010 yang dituangkan dalam Inpres 1/2010. Hasilnya adalah skenario penurunan emisi 26 dan 41 persen dari 7 sektor pada tahun 2020, yang dapat dilihat pada tabel 2.
47

Tabel 2.

Profil Emisi Indonesia 2005 dan 2020 dengan Skenario Penurunan Emisi 26 persen dan 41 persen (dalam giga ton)
Target Penurunan emisi 26% Emisi 0,280 0,048 0,392 0,008 0,001 0,008 0,030 0,767 0,3 1,0 26 0,0 0,3 0,003 0,004 0,008 0,01 0,422 13,3 0,31 1,6 0,03 9,5 0,057 2,03 1,07 11,02 0,11 0,14 0,28 0,38 15,01 % dari BAU Emisi % dari BAU Skenario 26% 0,81 0,20 0,10 0,05 0,06 (0,01) 0,97 2,18 Target tambahan penurunan emisi 15% Profil Emisi 2020

Sektor

Profil Emisi

Emisi 2005 1,09 0,25 0.49 0,06 0,06 1,00 2,95

BAU 2020

Skenario 41% 0,75 0,17 (0,21) 0,05 0,06 (0,02) 0,96 1,76

Lahan Gambut

0,83

48

Sampah

0,17

Kehutanan

0,65

Pertanian

0,05

Industri

0,05

Transportasi

-

Energi

0,37

Total

2,12

Sumber: Mubariq Ahmad (Prisma, Vol 3, 2010)

5

Strategi Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca 26 dan 41 persen

DALAM rangka melaksanakan penurunan emisi GRK sebagaimana yang telah ditargetkan, pemerintah Indonesia melalui BAPPENAS menyusun Rencana Aksi Nasional untuk Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) yang akan dituangkan dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres).11 Dalam naskah lampiran Perpres RAN-GRK dinyatakan bahwa rencana ini adalah turunan dari Strategi Pembangunan Nasional yang Berkelanjutan, dengan cakupan penurunan emisi secara langsung, peningkatan kapasitas penyerapan, dan kegiatankegiatan yang secara tidak langsung menurunkan emisi GRK. Dinyatakan pula bahwa RAN GRK tidak menghambat pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan, serta merupakan komitmen Indonesia pada upaya penurunan emisi di tingkat global. Mengingat RAN GRK juga dipakai sebagai sarana koordinasi dalam usaha

11

Hingga tulisan ini dibuat, rancangan Peraturan Presiden sudah dibahas di Sekretariat Negara. Diharapkan Perpres tersebut akan dikeluarkan pada akhir bulan Oktober mendatang. 49

mengoptimalkan akses terhadap potensi pendanaan domestik dan internasional. Dasar penyusunan RAN-GRK adalah usulan dari kementerian/ lembaga dalam RPJMN 2010-2014 dan RPJPN 2005-2025, yang kemudian dalam forum koordinasi perencanaan penyusunan RANGRK untuk menjabarkan rencana penurunan emisi GRK nasional sebesar 26 persen dari skenario business as usual. Program yang diprioritaskan adalah yang pelaksanaannya memakai dana dari sumber APBN dan APBD (termasuk pinjaman), swasta, masyarakat, dengan sejumlah kriteria yaitu: efektifitas penggunaan biaya dengan prinsip biaya termurah penurunan emisi GRK secara terintegrasi, kemudahan dalam implementasi, dan sejalan dengan prioritas pembangunan nasional. RAN-GRK menetapkan enam bidang dengan target penurunan emisi 26 persen dan 41 persen. Untuk melaksanakan target penurunan tersebut, RAN-GRK juga menetapkan Kementerian/ Lembaga yang bertanggung jawab melaksanakan rencana aksi, sesuai dengan program di masing-masing kementerian/lembaga. Rencana dan target penurunan emisi 26 dan 41 persen yang dinyatakan dalam RAN-GRK ditampilkan pada tabel 3. Sejalan dengan perkembangan negosiasi di tingkat internasional, target penurunan emisi sukarela yang telah dijadikan target oleh Indonesia nantinya dapat dikategorikan sebagai selffunded NAMA atau unilateral NAMA, yaitu sebesar 26% yang ditargetkan untuk dicapai dengan pendanaan dalam negeri (dana pemerintah maupun swasta). Adapun supported NAMA yaitu sebesar 15% yang merupakan selisih antara 26% dan 41% yang direncanakan dapat dicapai dengan adanya dukungan pendanaan internasional. Upaya penurunan emisi di luar kegiatan yang telah
50

dikategorikan sebagai upaya pencapaian target 26% dan 41% pada dasarnya dapat dikategorikan sebagai crediting NAMA ataupun tetap dilaksanakan sebagai bagian dari Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM, clean development mechanisms) yang merupakan bagian dari pasar karbon (carbon market).

Tabel 3.
Rencana Aksi

Target Penurunan Emisi GRK per Bidang 2010 – 2020 (Draft)
K/L Pelaksana

Bidang

Rencana

Penurunan Emisi

(GtCO2e) 41% 1,039 Pengendalian kebakaran hutan dan lahan, pengelolaan jaringan dan tata air, Rehabilitasi hutan dan lahan, HTI, logging, HR, Pemberantasan pencegahan illegal deforestasi, Kementerian Kehutanan, KLH, Kementerian PU, Kementerian Pertanian

51 pemberdayaan masyarakat

26%

Kehutanan

dan

0,672

Lahan Gambut

Pertanian efisiensi pupuk organic 0,056 dengan lebih kualitas transportasi, demand side management, efisiensi energi, pengembangan renewable energi 0,005 renewable energi 0,078 Pembangunan TPA, pengelolaan Efisiensi energi, penggunaan Kementerian Perindustrian Kementerian PU dan KLH tinggi, memperbaiki TDM, standar efisiensi BBM Penggunaan biofuel, mesin Kementerian Perhubungan, Kementerian ESDM, Kementerian PU air irigasi, penggunaan Pertanian, KLH

0,008

0,011

Introduksi varitas pada rendah emisi,

Kementerian

Energi

dan

0,038

transportasi

52 1,189

Industri

0,001

Limbah

0,048

sampah dengan 3R, dan pengolahan limbah terpadu di perkotaan

Total

0,767

Sumber: Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (Draft, 3 Oktober 2010)

Satu hal yang perlu dipahami adalah pelaksanaan upaya penurunan emisi bagi negara berkembang seperti Indonesia dapat dilaksanakan secara paralel antara satu jenis NAMA dengan jenis NAMA yang lain selama kegiatannya tidak dilakukan di dua kategori yang berbeda. Oleh karena itu penting untuk dapat segera disusun dan disepakati kegiatan atau aksi di tiap sektor yang masuk ke dalam kategori pencapaian target 26% dan juga yang masuk dalam kategori pencapaian target hingga 41% dengan pendanaan internasional. Dengan tersusunnya daftar ini maka upaya penurunan emisi dapat dilaksanakan dengan lebih efektif dan efisien.

53

6

Mekanisme Pendanaan untuk Aksi Perubahan Iklim di Indonesia
Kebutuhan Pendanaan

Mekanisme pendanaan perubahan iklim merupakan salah satu komponen vital yang memungkinkan sebuah negara melaksanakan strategi penurunan emisi GRK (mitigasi), maupun strategi untuk mengatasi dampak perubahan iklim (adaptasi). Untuk dapat melakukan mitigasi dan adaptasi yang efektif sehingga mencapai target penurunan emisi, maka perlu diketahui pendanaan yang dibutuhkan untuk memenuhi target mitigasi emisi GRK yang hendak dicapai serta potensi pengurangan emisi yang tersedia untuk setiap jenis aksi di setiap sektor/bidang. Pemerintah Indonesia juga telah menyusun kebijakan untuk mendukung program aksi setiap sektor yang melaksanakan mitigasi dan kebutuhan anggaran untuk melaksanakan program aksi tersebut. Semakin besar target penurunan emisi suatu sektor, semakin besar pula anggaran yang akan diberikan untuk sektor tersebut.
54

Perhitungan tentang kebutuhan dana untuk melakukan strategi dan tindakan adaptasi untuk sektor-sektor prioritas hingga kini belum tersedia. Hal ini terjadi karena perhitungan biaya adaptasi dipengaruhi oleh berbagai variable yang cukup kompleks. Sifat adaptasi yang unik dan spesifik untuk kawasan tertentu membuat perhitungan kebutuhan dan untuk adaptasi harus dilakukan secara hati-hati. Berbeda dengan adaptasi, perhitungan kebutuhan dana untuk aksi/tindakan mitigasi relatif lebih mudah dilakukan. Perhitungan biaya untuk aksi mitigasi dapat ditemukan dalam Studi NEEDS (National Economic, Environment and Development Study) oleh DNPI dan Sekretariat UNFCCC, ICCSR, lndonesia GHGs Abatement Cost Curve, dan kajian-kajian lain yang telah dilakukan di Indonesia, dengan mudah ditemukan perhitungan biaya untuk aksi mitigasi. Menurut kajian Second National Communication (KLH, 2009), penurunan emisi 26 persen hingga 2020 akan menimbulkan biaya sebesar 83,3 triliun rupiah per tahun. Adapun penurunan emisi 41 persen akan menimbulkan biaya sebesar 168,3 triliun rupiah per tahun. Nilai ini setara dengan 1.4 persen dan 2.8 persen proyeksi PDB Indonesia pada tahun 2010. Perhitungan Indonesia GHGs Abatement Cost Curve oleh DNPI mengindikasikan kebutuhan biaya tahunan untuk melaksanakan seluruh pilihan aksi mitigasi mencapai 12,84 milyar Euro atau 180 triliun rupiah setiap tahunnya hingga 2030, dengan biaya penurunan

55

rata-rata sebesar 6 Euro per ton CO2e. Total biaya penurunan emisi tersebut setara dengan 5,6 persen total GDP Indonesia pada tahun 2005. Sementara itu kajian ICCSR untuk mitigasi di sektor semen, transportasi (penggantiaan moda transportasi), limbah/sampah (skenario optimis), dan kehutanan (LULUCF) dalam mencapai target penurunan emisi 26 persen, memperkirakan dibutuhkan total biaya US$ 26,89 milyar. Apabila aksi lahan gambut dimasukkan, maka kebutuhan biaya mencapai US$ 36,619 milyar pada tahun 2020. ICCSR belum menghitung kebutuhan dana dan biaya adaptasi untuk sub-sektor pembangkit listrik.

Sumber pendanaan
Menurut kajian National Economic, Environment, and Development Study (NEEDS) yang dilakukan oleh DNPI, terdapat sumber-sumber pendanaan untuk aksi perubahan iklim di Indonesia terdiri dari: (i) sumber dana yang sudah ada saat ini (existing sources of funds) dan (ii) sumber dana potensial di masa depan. Sumber dana yang tersedia saat ini berasal dari: (i) dana pemerintah (APBN/APBD), (ii) Dana dari badan/lembaga multilateral dan bilateral (ODA), (iii) Dana hibah dari lembaga multilateral dan bilateral untuk perubahan iklim; (iv) dana swasta/organisasi filantropi (nasional dan internasional). Sumber pendanaan yang potensial di masa mendatang termasuk diantaranya sumber-sumber pendanaan

56

swasta asing dan domestik, serta pendanaan dari sumber-sumber pasar karbon, misalnya dari proyek Clean Development Mechanism (CDM), carbon offsets, dan lain sebagainya. Dalam hal pembiayaan perubahan iklim, sejak 2008 pemerintah Indonesia telah menerima pinjaman dalam bentuk development program loans (DPL), serta climate change policy loan (CCPL), dari pemerintah Perancis (AfD), Jepang (JICA) dan yang baru masuk pada tahun 2010 berasal dari Bank Dunia. Hingga tahun 2010, jumlah pinjaman DPL/CCPL dari tiga institutsi tersebut telah mencapai 2 milyar USD. Pinjaman-pinjaman tersebut tidak ditujukan untuk sebuah proyek tertentu, tetapi pinjaman yang dikelola oleh Kementerian Keuangan sebagai bagian dari anggaran pemerintah ditujukan untuk membantu pemerintah Indonesia mengembangkan kebijakan dan program yang dapat membantu Indonesia menuju pembangunan rendah karbon, dan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan. Terkait dengan pinjaman tersebut pemerintah juga telah memberikan komitmennya untuk menyelesaikan serangkaian kebijakan dan langkah terkait dengan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Dalam praktis dana DPL dan CCPL dipakai sebagai penutup defisit anggaran pemerintah. Selain pinjaman program, tersedia juga pinjaman proyek misalnya proyek di sektor listrik dan panas bumi (geothermal) dan tenaga air (hydro power) yang berasal dari lembaga-lembaga keuangan multilateral dan bilateral, seperti misalnya World Bank, Asia Development Bank, KfW (Kreditanstalt fur Wiederaufbau/
57

Bank Jerman), JICA (Japan International Corporation Agency), dan sebagainya. Selain itu terdapat juga seeds fund sebagai modal bergulir dan pinjaman lunak yang ditujukan untuk proyek-proyek yang ramah terhadap lingkungan, seperti program IEPC yang didukung oleh KfW dan PAE yang didanai oleh JBIC (JICA). Sejumlah dana hibah yang juga tersedia untuk Indonesia untuk dua hingga empat tahun mendatang, sebagian besar ditujukan untuk aksi-aksi mitigasi, diantaranya Climate Investment Fund (CIF), yang terdiri dari Clean Technology Fund dan Forest Investment Program, sebagai bagian dari program yang dikelola oleh World Bank dan ADB, yang ditujukan untuk mendukung proyek-proyek energi terbarukan di Indonesia. Untuk program REDD, tersedia dana hibah UN-REDD, yang saat ini dikelola oleh UNDP. Dana ini bertujuan untuk membantu pemerintah Indonesia dalam mempersiapkan implementasi program REDD. Selain itu terdapat juga dana Technical Assistance dari Global Environmental Facility (GEF) untuk pengembangan panas bumi, efisiensi energi, dan restorasi ekosistem kehutanan.

Institusi Pendanaan Iklim
Untuk memobilisasi pendanaan perubahan iklim dari sumbersumber dana-dana publik, khususnya dari institusi bilateral dan multilateral dan dana dari pemerintah Indonesia sendiri, dibentuk Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) pada tahun 2009 oleh
58

pemerintah Indonesia dibawah koordinasi BAPPENAS. Dana yang dikelola ICCTF diperuntukkan bagi pendanaan program-program mitigasi dan adapatasi yang sesuai dengan sectoral roadmap BAPPENAS. Selain ICCTF, dibentuk juga Indonesia Green Investment Fund (IGIF) oleh Kementerian Keuangan. Pengelolaan IGIF dilakukan oleh unit Pusat Investasi Pemerintah (PIP), salah satu unit dibawah Kementerian Keuangan. Tujuan dari IGIF adalah menarik pendanaan dan mendorong investasi yang bersumber dari sektor swasta dan yang berbasis pasar (market based funding) untuk mendanai proyek-proyek investasi rendah emisi karbon. IGIF dirancang sebagai instrumen koordinasi dengan pendanaan swasta dalam memenuhi kebutuhan investasi skala besar. Model institusi ICCTF dan IGIF merupakan hal baru, terlebih lagi dalam hal pendanaan untuk pembiayaan program atau proyek perubahan iklim. Pembentukan fasilitas semacam ini boleh jadi menempatkan Indonesia pada jajaran terdepan diantara negaranegara berkembang lain dalam hal kesiapan untuk mengakses danadana internasional yang berada dibawah UNFCCC, maupun yang berada diluar UNFCCC di masa yang akan datang. Kedua lembaga ini, minimal telah mengadopsi standar tata kelola keuangan dengan standar internasional dalam struktur institusi maupun prinsipprinsip operasinya, yang merupakan tuntutan terbesar dari negaranegara donor internasional saat ini.

59

7

Tantangan Implementasi Program Aksi mengatasi Perubahan Iklim

SEBAGAIMANA yang telah disampaikan oleh Presiden RI pada pertemuan G-20 tahun 2009 lalu, Indonesia berkomitmen melaksanakan konsep ekonomi rendah karbon, yang kemudian dituangkan kedalam target penurunan emisi GRK sebesar 26 dan 41 persen dari business as usual. Disisi lain, pertumbuhan ekonomi, pengurangan kemiskinan dan pengangguran adalah tantangan yang harus dihadapi di dalam negeri. Keinginan untuk berperan dalam menyelesaikan pemanasan global dan prioritas di dalam negeri melahirkan tantangan baru. Tantangan tersebut adalah bagaimana menyusun kebijakan dan program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang mendukung strategi pro-growth, pro-poor & pro-job, yang sekaligus dapat pula mendukung pencapaian pembangunan ekonomi yang rendah karbon (ERK), yang merupakan konsep baru di dalam wacana pembangunan Indonesia. Setelah hampir setahun penurunan emisi dicanangkan, masih terdapat tantangan untuk adanya dukungan komitmen melakukan
60

penurunan emisi GRK secara suka rela dari berbagai kalangan. Salah satu isu yang menjadi wacana perdebatan akhir-akhir ini adalah terkait program penurunan GRK yang merupakan turunan dari kesepakatan Indonesia dan Norwegia. Masih terdapat sejumlah kalangan pengusaha dan akademisi yang mempertanyakan manfaat langsung dari komitmen Indonesia dalam melakukan penurunan emisi GRK. Sejumlah kalangan yang kontra terhadap rencana ini menganggap mitigasi GRK bukanlah tanggung jawab Indonesia sebagai negara berkembang. Pihak ini menganggap bahwa komitmen Presiden kepada masyarakat dunia dikuatirkan dapat menurunkan keunggulan ekonomi Indonesia, menghambat investasi dan menutup peluang usaha.12 Penolakan tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah saat ini yaitu bagaimana agar keinginan politis yang kuat untuk membawa Indonesia menempuh jalur ERK mendapatkan dukungan dari kalangan yang lebih luas, baik birokrasi, masyarakat sipil, dan pengusaha. Salah satu caranya adalah mengkomunikasikan gagasan ERK kepada seluruh pemangku kepentingan secara intensif, termasuk juga kepada pemerintah daerah, serta berupaya
12

Sofyan Wanandi, salah satu pengusaha terkemuka yang secara terbuka menentang pernjanjian kerjasama Indonesia dengan Norwegia yang memasukan aksi moratorium di sektor kehutanan. Berita ini dapat dilihat di: http://www. suarakarya-online.com/news.html?id=261322; Sejumlah akademisi juga mempertanyakan tentang justifikasi ilmiah dari rencana moratorium tersebut terhadap target penurunan emisi yang telah dicanangkan oleh pemerintah: http://www.thejakartapost.com/news/2010/09/03/skepticism-mounts-benefitsmoratorium.html 61

memberikan keyakinan bahwa pilihan untuk melaksanakan ERK serta upaya-upaya mewujudkan green growth di Indonesia sesungguhnya memiliki nilai positif dan baik untuk mencapai keunggulan ekonomi di masa mendatang. Argumentasi yang berdasar pada biaya dan manfaat secara jujur perlu disampaikan mengingat implementasi di tahap awal biasanya berat. Dukungan dari pemangku kepentingan diperlukan, dengan mempertimbangkan bahwa berbagai kebijakan dan peraturan yang akan disusun untuk mencapai tingkat penurunan emisi yang telah ditargetkan perlu dilaksanakan oleh berbagai pihak yang terkait. Selain itu perlu diwaspadai pula bahwa implementasi berbagai kebijakan ini dalam jangka pendek akan menimbulkan ongkos sosial dan politik, yang dapat beresiko memukul balik pemerintah saat ini. Oleh karena itu, upaya penjelasan dan penyebar-luasan informasi kebijakan perlu dilakukan secara pro-aktif. Begitu pula kajian paska implementasi serta keteguhan untuk mengawal komitmen ini diperlukan guna meredam berbagai efek distorsi yang dapat menarik mundur Indonesia dari jalur pembangunan yang berbasis pada ekonomi rendah karbon. Tantangan lainnya adalah mencapai keseimbangan dalam melaksanakan program adaptasi dan mitigasi. Sejauh ini, wacana yang lebih mengemuka adalah aksi mitigasi. Pidato Presiden di forum G20 tahun 2009 lalu lebih banyak menekankan komitmen Indonesia untuk melakukan mitigasi, tetapi hanya sedikit saja mengangkat kebutuhan untuk adaptasi. Rendahnya prioritas terhadap adaptasi
62

sedikit banyaknya tercermin dalam bentuk kerjasama bilateral dan multilateral serta berbagai aktivitas institusi pemerintah dan non-pemerintah yang menangani perubahan iklim akhir-akhir ini. Terdapat kesan bahwa prioritas untuk mitigasi lebih didahulukan, ketimbang adaptasi. Padahal ancaman perubahan iklim di berbagai sektor dan wilayah Indonesia cukup serius, sesuai dengan hasil kajian yang telah dilakukan selama ini. Dalam konteks adaptasi perubahan iklim, koordinasi dan integrasi program antar sektor masih merupakan tantangan yang besar. Sejauh ini pemerintah telah mendorong kebijakan dan strategi adaptasi di tingkat sektoral dengan upaya integrasi antar-sektor yang minim. Sejumlah sektor yang rentan terhadap perubahan iklim berusaha membuat penilaian kerentanan (vulnerability assessment) dan merumuskan strategi dan program adaptasi sektoral. Mengingat adaptasi perubahan iklim memiliki dimensi lokalitas tetapi juga lintas sektoral, dan saling kait mengkait maka salah satu solusi yang dapat ditawarkan untuk mengatasi hambatan ini adalah mempercepat proses koordinasi antar sektor untuk mendorong pengarusutamaan adaptasi dalam perencanaan pembangunan nasional, membentuk jaringan informasi ancaman bencana akibat perubahan iklim, serta strategi adaptasi yang terintegrasi di berbagai sektor. Untuk itu perlu memperbesar alokasi pendanaan pada APBN/APBD untuk aksi-aksi adaptasi, dan juga peran institusi yang dibentuk khusus untuk menangani

63

perubahan iklim, yaitu DNPI perlu dioptimalkan,13dengan dukungan dari BAPPENAS dan Kementerian Keuangan yang vital untuk mendorong integrasi antar-sektor tersebut dalam konteks integrasi perencanaan pembangunan dan penganggaran. Dengan terdapatnya rencana untuk penyusunan Peraturan Presiden tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) sebagai dasar hukum untuk mencapai penurunan emisi 26 dan 41 persen, tantangan yang dihadapi saat ini adalah: (i) bagaimana konsistensi kebijakan pasca 2014, setelah pemerintahan Presiden Yudhoyono berakhir; (ii) bagaimana menurunkan target pengurangan emisi setiap sektor yang telah ditetapkan menjadi program-program sektoral yang rinci dan dapat memberikan hasil penurunan emisi yang dapat diukur, dilaporkan dan diverifikasi (MRV-able); (iii) bagaimana menerjemahkan dan menurunkan berbagai target penurunan emisi sektoral kedalam rencana pembangunan provinsi, dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Kekuatiran tentang konsistensi implementasi rencana aksi paska 2014 sangatlah beralasan, mengingat target penurunan

13

Sesuai dengan Pasal 3, Peraturan Presiden No. 46/2008, dua dari empat tugas DNPI adalah: (a) Merumuskan kebijakan nasional, strategi, program dan kegiatan pengendalian perubahan iklim; (b) Mengkoordinasikan kegiatan dalam pelaksanaan tugas pengendalian perubahan iklim yang meliputi kegiatan adaptasi, mitigasi, alih teknologi dan pendanaan. 64

emisi adalah program utama dari pemerintahan saat ini dan belum tentu menjadi komitmen rezim sesudahnya. Sudah lazim didengar jargon: “ganti pimpinan, ganti kebijakan.” Resiko bahwa pemerintah Indonesia paska 2014 tidak melanjutkan rencana ini, atau melanjutkan dengan prioritas yang lebih rendah, tetap saja ada. Ditambah lagi Copenhagen Accord bukanlah keputusan yang mengikat bagi para pihak yang memberikan dukungannya, demikian juga target penurunan emisi secara sukarela yang disampaikan oleh negara-negara pendukung Copenhagen Accord. Dalam rangka menghadapi kemungkinan inilah, implementasi rencana aksi penurunan emisi dalam lima tahun mendatang (20102014) mempunyai nilai penting untuk memberikan indikasi dan bukti bahwa target tersebut dapat tercapai (achievable). Keberhasilan melaksanakan penurunan emisi sekaligus juga meletakkan landasan yang kuat untuk kesinambungan pelaksanaan rencana aksi ini untuk periode lima tahun berikutnya. Dengan demikian target penurunan emisi 26 persen dari skenario business as usual pada tahun 2020 dan peta jalan untuk mewujudkan ekonomi rendah karbon dapat terwujud. Tantangan selanjutnya adalah merealisasikan target penurunan emisi di masing-masing bidang dan sektor kedalam program kerja instansi kementerian/lembaga yang mendapatkan tugas (lihat tabel 2), dengan hasil yang terukur dan dapat diverifikasi. Saat ini sejumlah strategi dan rencana aksi yang mendukung penurunan emisi tertera dalam naskah ICCSR yang dikembangkan oleh Bappenas. Walaupun dokumen ICCSR terlihat cukup komprehensif,
65

namun berbagai program aksi yang diindikasikan dalam program ini tidak dapat serta merta dilaksanakan oleh kementerian lembaga yang bersangkutan. Pelaksanaannya masih memerlukan koordinasi dan kerjasama antar instansi, diluar instansi yang bertanggung jawab terhadap target tersebut. Sebagai contoh untuk bidang energi yang salah satu rencana aksinya adalah pengembangan energi terbarukan. Rencana yang terindikasi adalah meningkatkan penetrasi energi terbarukan untuk produksi tenaga listrik. Penanggung jawab bidang ini adalah Kementerian ESDM. Diperkirakan tidak mudah bagi Kementerian ESDM mencapai target yang dibebankan kepada mereka dengan pertimbangan bahwa investasi pembangkit listrik dari energi terbarukan sangat bergantung pada berbagai kebijakan insentif fiskal dan non-fiskal yang tidak berada dalam kendali Kementerian ESDM, melainkan Kementerian Keuangan. Implementasinya juga cukup banyak, selain BUMN ada juga pihak swasta. Rencana aksi penurunan emisi melalui peningkatan efisiensi mesin kendaraan bermotor, yang juga merupakan tanggung jawab Kementerian Perhubungan juga membutuhkan koordinasi dan kerjasama dengan Kementerian Perindustrian yang mengatur produksi dan standar industri otomotif. Konsekuensi dari rencana aksi ini adalah menaikkan standar kendaraan bermotor yang beredar di Indonesia, dan pembatasan produk-produk kendaraan yang boros BBM. Untuk itu tidak saja dibutuhkan standar industri yang lebih tinggi, tetapi juga kebijakan dan aturan perdagangan yang lebih ketat, serta berbagai kebijakan disinsentif yang mendorong konsumen membeli kendaraan bermotor yang boros BBM.
66

Sejumlah rencana aksi juga membutuhkan kerjasama dan kemampuan Pemerintah Daerah untuk mengimplementasikannya. Misalnya rencana penurunan emisi melalui perbaikan kualitas transportasi publik di perkotaan dan memperbaiki transport demand management (TDM) khususnya di kota-kota besar. Dalam era otonomi daerah, kebijakan transportasi perkotaan adalah tanggung jawab dari pemerintah daerah. Oleh karenanya, rencana ini harus sepenuhnya mendapatkan dukungan dari Pemda yang perlu dituangkan dalam perencanaan dan prioritas pembangunan daerah serta alokasi anggaran yang memadai dalam APBD-nya. Berbagai contoh lain dapat dilihat pada sejumlah bidang lainnya, misalnya pengelolaan lahan gambut dan kehutanan, serta pengelolaan limbah/sampah kota. Tantangan lain adalah implikasi biaya dari pelaksanaan sejumlah rencana aksi yang dituangkan dalam RAN-GRK. Beberapa rencana aksi yang dipilih sepertinya tidak didasarkan pada prinsip marginal abatement cost, yang merupakan syarat penting dalam menentukan prioritas aksi dalam kondisi sumberdaya yang terbatas. Contoh di sektor energi misalnya peningkatan konsumsi bio-fuel. Implementasi aksi mungkin tidak terlalu tepat sebagai bagian dari pencapaian target karena biaya penurunan emisi dari aksi ini sebenarnya relatif tinggi, sebagaimana yang disajikan pada kurva biaya DNPI.14

14

Laporan Indonesia GHGs Abatement Cost Curve oleh DNPI dan McKinsey menghitung abatement cost untuk pemanfaatan bio-diesel dari minyak sawit mencapai 100 USD per tCO2e (exhibit 21, hal. 30). 67

Akses pendanaan untuk mitigasi perubahan iklim relatif lebih mudah didapatkan, dibandingkan akses pendanaan untuk adaptasi. Keterbatasan perhitungan biaya untuk adaptasi secara nasional dan lintas sektor sebagai dasar untuk prioritas aksi mempersulit alokasi dana untuk adaptasi dan selanjutnya proses penggangaran. Dengan terbatasnya komitmen dunia internasional untuk menyediakan dana adaptasi untuk perubahan iklim, termasuk mekanisme pendanaan yang saat ini tersedia dibawah UNFCCC, menyebabkan program-program adaptasi sepertinya harus didanai dari anggaran pemerintah (APBN/APBD) atau pinjaman luar negeri. Tantangan saat ini adalah menetapkan prioritas aksi yang akan didanai, dengan mempertimbangkan keterbatasan ruang fiskal pada anggaran yang ada, serta tarik-menarik dengan prioritas untuk aksi mitigasi yang telah ditetapkan sebagai kebijakan nasional. Kebijakan fiskal memiliki peran penting dalam mendorong tercapainya target penurunan emisi rumah kaca. Kajian Green Paper on Economic and Fiscal Policy Strategies for Climate Change in Indonesia, yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan merekomendasikan penerapan pajak/pungutan karbon pada bahan bakar fossil dengan potensi pendapatan sebesar 95 triliun rupiah per tahun. Penerapan kebijakan ini dapat menjadi pendorong bagi pencapaian sejumlah rencana aksi dalam RAN-GRK misalnya efisiensi energi, efisiensi bahan bakar kendaraan, dan penetrasi energi terbarukan, dan sebagainya. Selain itu, pajak karbon ini dapat menjadi sumber pendanaan domestik untuk kegiatan adaptasi dan mitigasi.

68

Walaupun rekomendasi ini baik dalam konteks kebijakan perubahan iklim, pelaksanaannya membutuhkan sejumlah reformasi kelembagaan dan aturan perpajakan, serta kebijakan harga energi domestik. Selain itu diperlukan strategi untuk melakukan persuasi kepada publik, mengantisipasi penolakan dari sektor industri dan bisnis, serta efek penurunan kesejahteraan pada kelompok masyarakat miskin.

69

Rekomendasi Kebijakan

1.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, perubahan iklim sangat erat kaitannya dengan pembangunan dan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, strategi dan kebijakan mengenai perubahan iklim harus meliputi strategi dan kebijakan adaptasi serta mitigasi yang saling terkait yang tidak dapat dilepaskan dari upaya pengentasan kemiskinan dan penanggulangan serta pengendalian bencana. Rencana Aksi Nasional untuk Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca sebagai acuan kegiatan pencapaian target sukarela penurunan emisi dapat segera diterjemahkan dalam kebijakan dan rencana kegiatan di masing-masing sektor dengan mempertimbangkan pilihan aksi dengan biaya terendah (least cost options), terutama bagi kegiatan yang dicanangkan dengan sumber pendanaan dalam negeri.

2.

70

3.

Implementasi di tingkat sektor dalam bentuk program kementerian dan lembaga memerlukan kebijakan dan petunjuk pelaksanaan yang lebih operasional. Karenanya, program kerja di kementerian dan lembaga terkait untuk tahun 2011 penting difokuskan pada upaya ini sehingga target pencapaian dapat ditetapkan dan menjadi salah satu indikator penilaian dan kinerja dari kementerian dan lembaga terkait serta kepastian dalam alokasi anggaran (APBN/APBD). Akuntabilitas dan transparansi merupakan hal yang tidak dapat dikesampingkan, karenanya perlu dikembangkan peraturan mengenai standar MRV (pengukuran, pelaporan dan verifikasi) di setiap kementerian dan lembaga sehingga pencapaian target sukarela dapat dipertanggungjawabkan, termasuk di tingkat internasional bagi kegiatan yang didukung dengan dana internasional. Koordinasi implementasi rencana aksi dan juga perumusan arah, strategi dan kebijakan mengenai perubahan iklim merupakan hal penting dan karenanya fungsi serta peran DNPI sesuai dengan Peraturan Presiden no. 46/2008 harus optimal dengan adanya dukungan dari sektor, kementerian dan lembaga terkait. Program pengembangan kapasitas harus segera dilakukan bagi:

4.

5.

6.

71

a.

Kementerian dan lembaga pemerintah pusat untuk dapat (a) mengintegrasikan strategi mitgasi dan adaptasi perubahan iklim ke dalam perencanaan program kegiatan di kementerian dan lembaga, serta (b) membuat program kerja yang terukur dan terjangkau dengan pemantauan dan evaluasi kinerja secara kualitatif dan kuantitatif. Pemerintah daerah (Pemda) untuk dapat mengintegrasikan konsep dan pendekatan ekonomi rendah karbon dalam perencanaan pembangunan daerah.

b.

7.

Pentingnya kajian lebih lanjut terkait dengan sumber pembiayaan domestik baik bagi adaptasi maupun mitigasi dengan pengembangan instrumen fiskal dan non-fiskal, peningkatan peran perbankan maupun pasar karbon untuk mendorong pembangunan rendah karbon dan penurunan emisi secara nyata. Perlu segera disusun mekanisme koordinasi dan penguatan kelembagaan pendanaan perubahan iklim yang ada (ICCTF dan IGIF) dengan mekanisme dan institusi keuangan lain). Penting pula untuk segera disusun mekanisme pengawasan (oversight mechanisms) untuk memastikan tata kelola dan efektivitas investasi dan pembiayaan serta tercapainya sasaran integritas sosal dan kelestarian lingkungan dalam pelaksanaannya.

8.

72

9.

Penting untuk dilakukan edukasi di tingkat kementerian dan lembaga, pemerintah daerah dan publik untuk mendorong terlaksananya upaya penurunan emisi secara nyata. Perlu dikembangkannya kegiatan dan proyek uji coba di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota sebagai bentuk lanjutan dari edukasi yang telah dilaksanakan untuk dapat mencapai target sukarela penurunan emisi GRK.

10.

Rekomendasi khusus terkait dengan fungsi anggaran dan pengawasan pembangunan DPR:
11. Perlu dipastikan kesesuaian anggaran dalam hal jumlah dan peruntukannya di tingkat kementerian dan lembaga untuk pelaksanaan program dan kegiatan penurunan emisi GRK.

12. Perlu dipastikan keseimbangan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dalam program pembangunan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang sesuai dengan kondisi spesifik di tiap sektor dan wilayah.

73

KERTAS KEBIJAKAN

Kebijakan berbasis Lingkungan Hidup dan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia: Tantangan dan Kesempatan
Kurnya Roesad

Kebijakan Berbasis Lingkungan Hidup Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia: Tantangan dan Kesempatan

&

Kurnya Roesad Supervised by Mubariq Ahmad

Kebijakan berbasis Lingkungan Hidup dan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia: Tantangan dan Kesempatan Penulis: Kurnya Roesad Supervised by Mubariq Ahmad Desain cover & tata letak: Freshwater Communication Dicetak di Indonesia. Penerbit: Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit, Indonesia Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dipersilakan mengutip atau memperbanyak sebagian isi buku ini dengan seizin tertulis dari penulis dan/atau penerbit. Indeks Copyright © 2010. Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit Jl. Rajasa II No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta 12110 Tel.: 62-21-7256012-13 Fax: 62-21-7203868 E-mail: Indonesia@fnst.org www.fnsindonesia.org

Kebijakan berbasis Lingkungan Hidup dan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia: Tantangan dan Kesempatan1
Kurnya Roesad Supervised by Mubariq Ahmad
Pendahuluan
MENGATASI perubahan iklim merupakan agenda utama bagi pembangunan dunia internasional saat ini. Negara besar yang sedang berkembang seperti Indonesia menjadi salah satu kontributor terbesar emisi Gas Rumah Kaca (GHG/ Greenhouse Gas emissions), tetapi juga menjadi korban yang terkena dampak langsung dari perubahan iklim itu. Untuk menghadapi masalah ini, para pembuat kebijakan berbasis lingkungan di Indonesia harus memperhatikan keseimbangan dua hal. Pertama adalah perlunya pertumbuhan ekonomi yang baik untuk mencapai tujuan tradisional pembangunan ekonomi yaitu; menciptakan kesejahteraan, membuka lapangan

1

Kurnya Roesad, RMAP/ Crawford School of Economics and Government, ANU

79

pekerjaan, dan meningkatkan pendapatan. Yang kedua adalah menjaga kualitas lingkungan hidup untuk mempertahankan kelangsungan sumber daya alam yang ada. Makalah ini menunjukkan bahwa kebijakan lingkungan hidup yang komprehensif – dalam kerangka strategi pertumbuhan ekonomi rendah karbon- menjadi penting untuk mencapai dua tujuan tadi. Bagian pertama makalah ini akan menjelaskan latar belakang kebijakan pertumbuhan ekonomi rendah karbon dan bagaimana profil dan proyeksi emisi Indonesia menentukan kemungkinan dan tantangan mitigasi iklim. Bagian ke dua membahas secara khusus segi ekonomi- keuntungan yang mungkin diperoleh dan biaya yang harus dikeluarkan baik secara keseluruhan maupun sektoral, apabila kebijakan mitigasi iklim itu diterapkan di Indonesia. Bagian ke tiga akan menguraikan tantangan yang harus dihadapi dalam penerapan kebijakan dengan prioritas pada sektor tertentuadaptasi, kehutanan dan energi. Bagian terakhir merangkum semua hasil temuan.

80

1

Pembangunan Indonesia Sebagai Gerakan Menuju Ekonomi Rendah Karbon

MENGATASI perubahan iklim global telah menjadi agenda utama dalam pembangunan dunia saat ini. Hampir seluruh lembaga pembangunan dan keuangan multilateral mengakui kesimpulan ilmiah dari Panel Antarbangsa Mengenai Perubahan Iklim (IPCC/ Intergovernmental Panel on Climate Change) yang menyatakan bahwa perubahan iklim sedang terjadi dan emisi yang dihasilkan dari aktivitas manusia (antropogenik) menjadi penyebab utama. Seperti dikemukakan dalam catatan IPCC 2007 dibawah ini:

“Kenaikan suhu dalam sistem iklim adalah hal yang tidak dapat dipungkiri lagi. Observasi telah membuktikan adanya peningkatan temperatur atmosfer dan laut di seluruh dunia, mencairnya salju dan es dalam spektrum luas, dan naiknya rata-rata suhu dan permukaan

81

air laut <….> Sebagian besar dari pemanasan global yang terjadi dalam kurun waktu 50 tahun terakhir disebabkan meningkatnya emisi gas gumah kaca dan besar kemungkinan adanya peningkatan suhu rata-rata yang disebabkan aktivitas manusia (antropogenik) di setiap benua (kecuali Antartika) <….> Pemanasan antropogenik yang terjadi dalam tiga dekade terakhir sangat mungkin karena adanya pengaruh berskala global di mana perubahan fisik dan sistem biologis banyak terjadi” (IPCC, halaman 72).

Tinjauan terbaru tentang emisi CO2 menunjukkan bahwa tanpa usaha mitigasi yang kolaboratif, dunia akan mengalami bencana besar di mana temperatur air laut rata-rata menjadi 50 Celsius lebih tinggi dibandingkan masa pra-industri (IPCC 2009). Dengan kearifan konvensional hal itu di atasi dengan menstabilkan emisi gas rumah kaca global pada angka 450 ppm dari ekuivalen CO2 untuk menjaga pemanasan global tetap pada 20 Celsius, atau pada tingkatan di mana kebudayaan manusia dapat beradaptasi dari akibat terburuk perubahan iklim dengan biaya relatif rendah (Stern 2006, World Bank 2010c) Konsekuensi fisik dari perubahan iklim global termasuk perubahan pola curah hujan, naiknya permukaan air laut (diperburuk dengan adanya gelombang badai), terjadinya cuaca ekstrim dengan intensitas dan frekuensi yang makin tinggi, dan meningkatnya prevalensi penyakit akibat vektor (organisma seperti nyamuk aedes aegypti sebagai perantara penyakit Demam Berdarah/ vector-borne
82

disease)- dan juga terjadinya peningkatan fenomena bencana berskala dunia, seperti perputaran balik Arus Teluk (Gulf Stream) atau mencairnya lapisan es Greenland. Kegagalan ekonomi yang disebabkan pemanasan global cukup besar dan substansial. Tinjauan (Review) Stern (2006) mengemukakan dalam kerangka business-as-usual (BAU); bila langkah-langkah serius menuju mitigasi iklim tidak dilakukan, maka dunia harus menginvestasikan satu persen dari total GDP (Gross Domestic Products) per tahun untuk memitigasi akibat terburuk dari perubahan iklim. Bank Dunia memperhitungkan bahwa 75 sampai 80% dari kerusakan lingkungan yang disebabkan perubahan iklim harus ditanggung negara-negara berkembang (Bank Dunia 2010c) Akibat ekonomis yang harus ditanggung negara-negara berkembang terlihat jelas dengan adanya penurunan produktivitas ekonomi. Penurunan ini khususnya dialami sektor perikanan dan pertanian, dalam bentuk penurunan produktivitas perikanan dan pertanian, kerusakan infrastruktur, hilangnya area dan pemukiman produktif karena tergenangnya lahan, punahnya spesies mahluk hidup, dan menurunnya integritas ekosistem sebagai sistem pendukung kehidupan (Ahmad, 2010). Akibat lain adalah meningkatnya tekanan-tekanan pada sistem pengelolaan kesehatan dan air, perubahan pola perdagangan, perubahan aliran dana investasi internasional, dan peningkatan pola migrasi. Semua faktor ini akan meningkatkan kerentanan negara berkembang terhadap kemungkinan adanya guncangan.
83

Akibat dari perubahan iklim global memang sangat nyata, dan Indonesia harus menghadapi komunitas internasional di mana sebagian besar perekonomian negara-negara maju ini bertitik tolak dari jalur pertumbuhan ekonomi rendah karbon. Sebagian besar negara dunia, terutama yang berekonomi maju, telah memiliki komitmen untuk mengusahakan reduksi emisi. Walaupun COP 15 di Copenhagen gagal mendapatkan titik temu dalam membuat kebijakan yang mengikat dalam hal penanggulangan perubahan iklim setelah periode pertama Protokol Kyoto berakhir tahun 2012 nanti, komunitas internasional tidak mencoret masalah perubahan iklim dari agenda utama mereka. Komunike Copenhagen (Copenhagen Accord?) berhasil membuat negara-negara berkembang (developing economies) menyusun komitmen baru untuk mereduksi emisi, di mana mereka memiliki tujuan yang sama dengan negara-negara maju (developed economies). Semua menyusun target ambisius menyangkut energi terbarukan untuk mencapai target emisi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Tabel 1 : Target Emisi dan Energi Terbarukan di Negara Tertentu.
Target Reduksi Emisi Australia China Indonesia 5-25% di bawah emisi pada tahun 2000 40-45% di bawah emisi 2005 dalam intensitas emisi 26-41% di bawah (business as usual) BAU Target Energi Terbarukan 20% pada tahun 2020, dari 8% di tahun 2007 15% pada tahun 2020, dari 8% di tahun 2006 15% pada tahun 2025 (termasuk nuklir)

84

Japan Korea Malaysia Singapore Thailand Philippines USA

25 % di bawah emisi 1990 30% di bawah BAU

16TwH pada tahun 2014 6.08 % pada tahun 2020, dari 2.7 % di tahun 2009 Target akan diumumkan pada tahun 2011

16% di bawah BAU 30% di bawah BAU 20% pada tahun 2022 perbaikan100% dibandingkan angka 2005 – 2015 17% di bawah BAU Tidak Ada Target Nasional, 30 negara bagian telah punya target masing-masing yang ditentukan sebelumnya 5% pada tahun 2020, dari 3% di tahun 2010

Vietnam

Sumber:

Rangkuman yang disarikan dari dokumen nasional, usulan kepada UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) dan “Olz and Beerepoot” (2010), sebagaimana diuraikan dalam data Bank Dunia, (2010c)

Komitmen untuk mereduksi emisi gas rumah kaca perlu didukung oleh kebijakan politik yang kongkrit untuk mencapai tujuan ambisius itu. Semua negara harus mengadopsi strategi ekonomi rendah karbon dengan membuat dan memakai produk berkarbon rendah atau dengan intensitas karbon yang rendah, dan menghitung faktor lingkungan dalam menentukan harga produk (pricing environmental externalities).
85

Tren emisi menunjukkan bahwa usaha mereduksi emisi merupakan hal yang sulit dicapai. Yang harus digaris-bawahi di sini adalah emisi harus dilihat sebagai akibat (corollary) dari hasil pertumbuhan. Emisi selalu mengacu pada pertumbuhan GDP di hampir semua negara (lihat Tabel 2). Untuk menurunkan emisi ke tingkatan di bawah angka skenario BAU (business-as-usual), pertumbuhan ekonomi, pada tatanan tertentu, harus dipisahkan dari emisi. Untuk mencapainya, ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, pola produksi harus decarbonized (produk yang dihasilkan rendah karbon atau kandungan karbonnya dikeluarkan). Hal ini dicapai dengan efisiensi energi dan diarahkan supaya sumber energi bersih lebih banyak digunakan. Kedua, perbaikan perilaku konsumtif harus diarahkan pada tingkatan berkelanjutan.
Tabel 2: GDP, Pertumbuhan Emisi dan Energi (%)
20002005

Angka Pertumbuhan Tahunan Ratarata Dunia Pertumbuhan Emisi Pertumbuhan GDP Pertumbuhan Energi

1971-1990

1990-2000

2.1 3.4 2.4

1.1 3.2 1.4

2.9 3.8 2.7

OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) 86

Pertumbuhan Emisi Pertumbuhan GDP Pertumbuhan Energi

0.9 3.2 1.5

1.2 2.7 1.6

0.7 2.1 0.8

Non-OECD Pertumbuhan Emisi Pertumbuhan GDP Pertumbuhan Energi 4.2 3.8 3.8 0.9 4 1 5.5 6.2 4.6

Sumber:

Garnaut, Howes, Jotzo, Sheehan (2008)

Strategi pertumbuhan rendah karbon di suatu negara tergantung dari mitigasi iklim dan kemampuannya beradaptasi, yang juga bergantung dari profil emisi negara itu. Indonesia menjadi korban, tapi juga kontributor perubahan iklim. Sektor pertanian negara ini masih signifikan. Hal ini membuat Indonesia rentan terhadap pola perubahan cuaca ekstrim. Usaha untuk mengurangi kemiskinan akan sangat bergantung pada langkah-langkah adaptasi dengan menjaga sistem produksi cadangan pangan. Dengan kata lain, Indonesia, berada paling
87

depan sebagai negara yang memiliki hutan hujan terbesar di dunia, dengan aktivitas pengrusakan hutan (deforestation) yang menjadi penyebab utama tingginya emisi gas rumah kaca.

Gambar 1: 25 Negara dengan Emisi CO2 Tertinggi (2004) Sumber: International Energy Agency (2007) [www.iea.org]

Data tren emisi menunjukkan bahwa Indonesia termasuk dalam 25 negara penghasil emisi terbesar, bila emisi berbasis hutan termasuk dalam perhitungan penyebab emisi. Berdasarkan pada hitungan pembakaran bahan bakar fosil, Indonesia termasuk dalam 25 negara penghasil emisi CO2 terbesar, atau pada urutan ke 16 bila Uni Eropa dihitung sebagai satu negara. Tetapi bila pengrusakan hutan dan perubahan tata guna lahan (land use change) dimasukkan dalam perhitungan penyebab tingginya emisi
88

CO2 yang dihasilkan satu negara, maka Indonesia menjadi salah satu negara penghasil emisi CO2 terbesar di dunia2. Profil emisi Indonesia menunjukkan bahwa tata guna lahan dan perubahan tata guna lahan dan kehutanan (LULUCF) mengambil porsi terbesar, diikuti oleh kebakaran lahan gambut, dan penggunaan energi.

Gambar 2: Sektor Emisi 2005 Source: Indonesia Communication to the UNFCCC, 2009.

Second

National

2

Banyak keraguan yang menyertai pendataan emisi dari sumber-sumber berbasis kehutanan. Data terkini dari Kementrian Kehutanan menunjukkan bahwa pengrusakan hutan (deforestation) yang terjadi saat ini hanya sepertiga dari angka rata-rata sekitar akhir 1990an.

89

Catatan: • Peat fire: kebakaran lahan gambut • LULUCF (Land Use, Land Use Change and Forestry): Penggunaan Lahan, Perubahan Tata guna lahan dan Kehutanan • Waste: buangan/ sampah • Agriculture: pertanian • Industry: Industri • Energy: Energi

Emisi CO2 per kapita Indonesia memang tidak terlalu tinggi bila dibandingkan dengan angka internasional, yaitu 2t CO2 per kapita. Tapi data ini juga menunjukkan bahwa Indonesia masih harus mengejar ketinggalan di bidang pertumbuhan ekonomi. Fakta juga menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia menggunakan intensitas karbon yang lebih tinggi. Hal ini ditunjukkan dari data pertumbuhan emisi CO2 per kapita yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan GDP per kapita. Angka pertumbuhan per tahun emisi CO2 per kapita naik 3,3 kali lipat selama tahun 1980 sampai 2004. Dalam kurun waktu yang sama angka pertumbuhan tahunan GDP per kapita meningkat hanya 2,3 kali lipat, sementara peningkatan pemakaian energi per orang meningkat 2,1 kali lipat (lihat Gambar 3). Berarti intensitas karbon dari pemakaian energi itu meningkat pula.
90

Gambar 3: Angka Pertumbuhan Tahunan GDP, Penggunaan Energi dan Emisi per Kapita Sumber: International Energy Agency (2007) [http://www.iea.org/]

Kita akan melihat lebih jauh lagi kenapa hal ini terjadi. Tabel 3 menunjukkan bahwa meningkatnya intensitas karbon dari produksi dan konsumsi listrik disebabkan meningkatnya penggunaan bahan bakar batubara. Sektor industri dan listrik berperan paling besar dalam menyebabkan tingginya emisi karena penggunaan batubara.

91

Tabel 3: Emisi CO2 di Indonesia thn 2006 (dalam juta t CO2) Sumber Bahan Bakar Fosil Total Pertumbuhan Persentase Emisi 1990(%) 2006 (%) 29 192

Kelompok Konsumsi Industri

Batubara BBM 50.73 23.08

Gas 22.32

Total Emisi 96.13

Listrik

57.49 23.22

9.12

89.82

27

309

Transportasi

72.35

0.01

72.36

22

127

Lainnya* Diantaranya; Residensial

0.06 44.95

31.29

76.3

23

60

0.06 25.76

0.04

25.86

8

41

Total

86.8 179.6

69.6

334.61

100

Catatan:

* ‘Lainnya’ termasuk produsen yang tidak teralokasi dalam kelompok di atas, dan industri yang menggunakan energi lainnya. IEA 2008 Annexes

Sumber:

92

Gambaran tren emisi ini menunjukkan bahwa Indonesia harus menghadapi dua tantangan besar. Pertama; dalam jangka pendek dan menengah, masalah utama adalah bagaimana mereduksi emisi dari LULUCF (Tata guna lahan, Perubahan Tata guna lahan dan Kehutanan), termasuk didalamnya penanggulangan kebakaran lahan gambut. Kedua; dalam jangka panjang, mitigasi emisi yang berhubungan dengan penggunaan energi akan jadi hal penting di masa depan, dengan catatan bahwa pemerintah dapat menjaga keseimbangan pasokan energi- yang didapat dari usaha yang bergantung pada penggunaan bahan bakar batubara yang lebih murah- dan mengusahakan target energi terbarukan. Indonesia sudah berkomitmen untuk mereduksi emisi menjadi 26% lebih rendah dari skenario BAU pada tahun 2020. Tabel 4 merupakan ilustrasi skenario itu. Dimulai dengan angka emisi tahun 2005, menurut scenario BAU, emisi total akan meningkat dari 2,12 menjadi 2,95 giga ton (gt) pada tahun 2020. Reduksi emisi menjadi 26% lebih rendah dari angka BAU pada tahun 2020. Hal ini akan membuat sektor kehutanan menjadi kontributor terbesar dalam mengurangi total emisi, diikuti oleh lahan gambut, sampah/ limbah, dan energi. Sebanyak 15% reduksi emisi dapat dicapai bila bantuan internasional diberikan secara substansial. Hal ini dilakukan khususnya untuk proyek-proyek berbiaya besar seperti instalasi geothermal, yang memerlukan investor asing berskala global untuk pembangunannya (Ahmad 2010a).

93

Tabel 4:

Proyeksi Emisi Indonesia di tahun 2020

Emisi (Gt) BAU 2020 1.09 0.25 0.49 0.06 0.06 0.008 1 2.95 0.767 0.030 0.3 1 26 0.001 0 0.008 0.3 0.003 0.004 0.008 0.010 0.422 0.392 13.3 0.310 0.040 1.6 0.030 0.280 9.5 0.057 2.03 1.07 11.02 0.11 0.14 0.28 0.36 15.01 Giga ton % dari BAU Giga ton % dari BAU

Target Reduksi (26%) Skenario Emisi 26% 0.81 0.2 0.1 0.05 0.06 -0.01 0.97 2.18

Target Reduksi (15%)

2005

41% 0.75 0.17 -0.21 0.05 0.06 -0.02 0.96 1.76

Gambut

0.83

Sampah

0.17

Kehutanan

0.65

94

Pertanian

0.05

Industri

0.05

Transportasi

Energi

0.37

Total

2.12

Source: Ahmad (2010a)

2

Tantangan dan Kesempatan untuk Berbagai Sektor di Indonesia

YANG menjadi pertanyaan besar sekarang adalah; Apakah reduksi emisi ini bisa dilakukan tanpa mengganggu perekonomian dan kesejahteraan masyarakat? Berapa biaya yang harus dikeluarkan dan apa keuntungan menggunakan strategi pertumbuhan rendah karbon bagi perekonomian Indonesia? Para ahli ekonomi akan setuju bahwa implementasi kebijakan berbasis lingkungan dan pertumbuhan ekonomi akan saling melengkapi, bila biaya memadai dari konsekuensi sosial dan lingkungan sudah diperhitungkan. Carbon pricing (penetapan harga karbon) dianggap sebagai instrumen penting untuk mencapai tujuan itu. Dengan membayar untuk emisi karbon (dan komponen gas rumah kaca lainnya), sistem insentif dirubah sedemikian rupa sehingga produsen/ individu pemangku

95

kepentingan harus menanggung resiko kerusakan lingkungan karena aktivitas ekonomi mereka. Harga barang dengan intensitas karbon tinggi akan terdorong naik, sehingga emisi bisa ditekan. Pertama, karena kebutuhan konsumen akan bergerak ke arah produk dengan intensitas emisi yang lebih rendah. Kedua, para pemasok harus mencari produk yang menghasilkan emisi lebih rendah, misalnya produk yang menggunakan teknologi efisiensi energi, atau menggunakan listrik berbahan dasar energi terbarukan. Ketiga, para investor harus berinvestasi pada proyek-proyek yang menghasilkan produk dengan intensitas emisi lebih rendah. Sistem carbon pricing akan memberikan insentif finansial bagi wiraswasta yang mengembangkan produk baru dengan intensitas emisi lebih rendah (Sterner 2003, Helm dan Hepburn 2009, IMF 2008). Pemasukkan dari carbon pricing akan dapat digunakan untuk mengganti biaya yang harus dikeluarkan untuk program mitigasi. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pemasukkan itu dapat digunakan untuk mengurangi pajak lain, dan mungkin akan mengubah biaya menjadi keuntungan. Pemasukkan ini, paling tidak, dapat mengganti sebagian dari biaya pengawasan terhadap kemungkinan terjadinya polusi, dan meningkatkan prospek mendapatkan keuntungan ganda (double dividend) melalui introduksi penerapan pajak karbon/ carbon tax (IMF 2008).

96

Boks 1: Pengalaman Internasional menerapkan carbon pricing Skema European Emissions Trading (ETS) adalah skema bisnis/ perdagangan emisi gas rumah kaca (GHG) terbesar di dunia. Didirikan pada tahun 2005 bersamaan dengan mulai diberlakukannya target reduksi emisi gas rumah kaca menurut Protokol Kyoto. ETS membatasi emisi dari 11.500 instalasi energi dan industri di 25 negara yang terbagi dalam enam sektor industri utama. ETS terkendala beberapa masalah, yang berujung pada ketidakstabilan harga produk, tetapi beberapa temuan menunjukkan bahwa skema itu membantu mereduksi emisi (sebanyak 2 s/d 5% dibawah angka business-as-usual BAU, menurut Ellerman, et al., 2010). Lembaga di luar ETS adalah RGGI (Regional Greenhouse Gas Initiative) yang didirikan pada tahun 2005 oleh tujuh negara bagian di Amerika Utara untuk pertama kali membentuk program yang mengatur pembatasan dan perdagangan untuk mengurangi emisi CO2 di Amerika Serikat. Berbeda dengan Uni Eropa, perizinan dikeluarkan dengan cara dilelang. Harga penawaran ditetapkan sangat rendah mulai dari US$1.86 di tahun 2008 sampai US$ 3.51 dengan kelonggaran penetapan batas akhir periode pemberlakuan izin (2009-2011). Selandia Baru sudah meregulasi penerapan skema ETS mulai tahun 2008 dan memberlakukan skema transisi mulai 1 Juli 2010. Pada periode transisi ini (1 Juli 2010– 31 Desember 2012), peserta ETS dapat membeli unit emisi dengan harga tetap, yaitu NZ$ 25 per unit. Sektor-sektor energi dan industri

97

yang menggunakan bahan bakar fosil cair dapat membelinya setengah harga. Penerapan pajak karbon secara global memang baru terbatas di negaranegara Eropa. Sejumlah negara di Eropa (seperti Jerman, semua negara di Semenanjung Skandinavia, dan Perancis) telah menerapkan pajak bahan bakar, dan pajak energi dan emisi untuk bahan-bahan dengan kandungan karbon. Denmark adalah negara yang pertama kali di dunia, memberlakukan pajak karbon untuk bahan bakar fosil pada awal 1990an. Penerapan regulasi ini yang antara lain menyebabkan Denmark berhasil menurunkan 5% emisinya sejak 1990, walaupun rata-rata pertumbuhan tahunan sedikit di atas 2%. Jerman memberlakukan pajak listrik. Di negara-negara tersebut, berbagai kemudahan/ potongan pajak diberlakukan untuk industri. Di sektor perlistrikan, dua negara yaitu Finlandia dan Jerman mencoba memberlakukan pajak berdasarkan jenis dan sumber produksi tenaga listrik. Tetapi Pengadilan Uni Eropa memutuskan hal itu sebagai diskriminasi terhadap penggunaan energi import (Sumber: Bank Dunia, 2010 dan Sterner, 2003).

Usaha terkini untuk membuat model makroekonomis mensimulasi akibat dari implementasi kebijakan mitigasi terhadap perekonomian Indonesia. Kementrian Keuangan melalui Green Paper (2009) mensimulasi efek penerapan pajak karbon bagi perekonomian Indonesia. Pajak karbon untuk pembakaran bahan bakar fosil akan mereduksi emisi, dan pada saat yang sama mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan.
98

Beberapa kebijakan perlu menyertai implementasi pajak tersebut. Pertama; pajak itu diberlakukan pada konsumen pengguna listrik dan bahan bakar. Kedua; pemasukan digunakan untuk mengurangi pajak lainnya dan penyediaan dana untuk langkah-langkah pengurangan kemiskinan. Secara spesifik, pemasukan dari pajak karbon dapat digunakan lagi untuk mengurangi pajak penjualan. Pajak karbon akan ditetapkan sejumlah Rp 80.000,- per ton emisi CO2. Regulasi ini diharapkan dapat mereduksi emisi yang diakibatkan pembakaran bahan bakar fosil sebanyak kurang lebih 10% di bawah angka business-as-usual BAU. Tambahan reduksi dapat dihasilkan melalui pemberlakuan kebijakan khusus seperti dukungan terhadap penggunaan tenaga geothermal atau penjualan izin ekspor karbon, yang diharapkan dapat menghasilkan antara US$ 2 sampai 3 miliar pada tahun 2020, dalam bentuk pendapatan per tahun pajak ekspor, dengan perhitungan dolar saat ini (Kementrian Keuangan, 2009). Berbagai model upaya reduksi emisi pemerintah dan proyekproyek usaha pengembangan emisi rendah karbon dari Bank Dunia, dilakukan berdasarkan berbagai skenario kebijakan untuk mensimulasi dampak ekonominya3. Pertama, beberapa model penetapan harga karbon digunakan untuk memperhitungkan dampak sosial dan ekonomis dari REDD (Reduction of Emissions from Deforestation and Forest Degradation) yang bertujuan
3 Penjelasan berikut ini sangat tergantung pada (validitas) data Ahmad (2010b)

99

mengurangi emisi akibat deforestasi dan kerusakan hutan. Hasil terbaik adalah Indonesia mendapat pemasukan dari REDD dengan menetapkan harga US$ 20 untuk setiap ton emisi ekuivalen CO2 (tCO2e). Perhitungan ini mengasumsikan distribusi pemasukan dengan pembagian yang proporsional antara pemerintah dengan rumah tangga, dengan memperhatikan perbandingan rumah tangga di daerah dan kota besar, di lokasi di Jawa dan luar Jawa. Walaupun melambat dalam skala nasional, ekonomi tumbuh positif di beberapa daerah, menandakan aliran distribusi pendapatan dari pusat ke daerah. Kedua, kebijakan untuk secara bertahap mengurangi subsidi bahan bakar mulai tahun 2010 dan benar-benar menghapus subsidi itu di tahun 2015, menghasilkan pertumbuhan positif, pengurangan kemiskinan, dan penurunan emisi. Hal ini mengasumsikan bahwa satu penerapan kebijakan dapat menjamin 100% dari pengeluaran yang dihemat dapat dikembalikan dalam bentuk pertumbuhan ekonomi melalui belanja pemerintah. Ketiga, kebijakan untuk meningkatkan efisiensi energidengan mengurangi intensitas karbon- di sektor penggunaan listrik dapat memberikan hasil positif, bila biaya teknologi ditanggung pemerintah, dengan menggunakan anggaran negara untuk “membayar” penerapan pengetahuan dari luar negeri. Keempat, peningkatan efisiensi energi di sektor manufaktur swasta juga dapat memberikan manfaat bila berdasarkan asumsi
100

tertentu. Bila efisiensi energi bisa ditingkatkan 10% dari tahun 2010 sampai 2015 dengan biaya sampai 0,5% dari total hasil pada tahun 2015, maka tujuan mendorong pertumbuhan (ekonomi), mengurangi kemiskinan dan mereduksi emisi dapat dicapai. Biaya investasi diasumsikan dibayarkan kepada investor asing oleh pemerintah. Sektor-sektor yang termasuk di sini adalah tekstil, makanan dan minuman, semen, logam dan karet.
Tabel 5: Hasil dari Model Analisa CGE (Computable General Equilibrium)
GDP (% relatif untuk kasus dasar) 0.4 Kemiskinan (%) Reduksi emisi (% relatif untuk kasus dasar) -10.1

Kajian Model Ekonomi

MoF Green Paper 2009 (Indonesia 3-E Model) Skenario Ekonomi Rendah Karbon 2010 (Dynamic Inter-Regional CGE Model) - REDD

-0.6

-0.04

-2.54

-0.32

- Penghapusan subsidi bertahap - Sektor Listrik - Peningkatan efisiensi energi

3.46

-7.61

-0.01

0.45

-2.81

-0.02

101

- Efisiensi energi sektor swasta

0.05

-1.04

-0.06

Sumber: Catatan:

MoF (2009), Ahmad (2010b) - Skenario terbaik dipilih untuk dimasukkan dalam tabel ini. - MoF (Minister of Finance) - REDD (Reduction of Emissions from Deforestation and Forest Degradation)

Model ini mengilustrasi bahwa tujuan menghasilkan pertumbuhan (ekonomi) rendah karbon dapat dicapai melalui berbagai cara. Implementasi kebijakan berdasarkan beragam pilihan penggabungan instrumen fiskal (baik dengan penerapan pajak karbon, maupun penghapusan subsidi energi) dan teknologi (misalnya melalui investasi pada teknologi peningkatan efisiensi energi di sektor pembangkit tenaga dan manufaktur) dapat memberikan hasil ekonomi positif dan peningkatan kesejahteraan sosial. Serangkaian simulasi itu memperlihatkan satu temuan bahwa setiap kebijakan harus didukung oleh kebijakan tambahan untuk melengkapinya, untuk menjamin adanya kompensasi sosial dan distribusi hasil yang adil. Penghapusan subsidi harus dibarengi dukungan yang tepat sasaran untuk rakyat miskin. Kebijakan REDD yang efektif memerlukan mekanisme yang efektif pula dalam transfer fiskal antar daerah, dan penerapan kebijakan berbasis hutan yang tegas dan koheren dari pemerintah.
102

Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI 2009) juga menghitung potensi biaya dan keuntungan berbagai sektor dalam melakukan upaya mitigasi. DNPI memperkirakan bahwa Indonesia berpotensi untuk mengurangi emisi gas-gas rumah kaca (GHG) sampai 2,3 Gt per tahun pada tahun 2030. Hitungan itu diproyeksikan sebagai 7 persen dari total emisi (dunia) di tahun 2030. Kajian itu menemukan lebih dari 150 kemungkinan pengurangan emisi gas untuk enam sektor utama yaitu; kehutanan dan lahan gambut, semen, pembangkit tenaga, pertanian, transportasi, dan bangunan. Lebih dari 80% dari kemungkinan ini berasal dari sektor kehutanan dan lahan gambut. Tidak seperti di banyak negara, biaya pengurangan emisi itu relatif rendah atau hanya sekitar 3 Euro per ton ekuivalen CO2 pada tahun 2030 (DNPI 2009)4. Tabel 6 menunjukkan biaya pengurangan masing-masing sektor. Yang perlu diketahui adalah Indonesia akan menjadi target yang sangat menarik bagi investor energi bersih, bila hanya melihat dari rendahnya biaya pengurangan emisi.

4

Estimasi biaya ini tidak termasuk biaya implementasi dan transaksi, di mana untuk beberapa upaya pengurangan emisi, perhitungannya akan sangat signifikan (DNPI 2009, hal. 13).

103

Tabel 6 :

Potensi dan Biaya Penurunan Emisi
Potensi Reduksi Biaya Reduksi Rata-rata

MtCO2e/tahun

EUR/MtCO2 e

Kehutananan

1100

7

L. Gambut

700

6

Pembangkit

220

19

Pertanian

105

5

Transportasi

100

-80

Bangunan

50

-38

Semen

10

-5

Sumber:

DNPI 2009

104

3

Tantangan Penerapan Kebijakan dalam Program Adaptasi, Kehutanan dan Energi

RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Indonesiadokumen kebijakan utama pemerintah menyangkut rencana pembangunan ekonomi- memasukkan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dalam proses pembuatan kebijakan. Dokumen perencanaan pemerintah itu mencatat dalam agenda pengembangan program jangka panjangnya, pentingnya hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan masalah pengelolaan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan pengrusakan lingkungan dibatasi sebagai akibat pengelolaan yang tidak efektif atas sumber daya alam. Terkurasnya sumber daya alam secara cepat dan polusi yang terjadi akan menimbulkan akibat sosial dalam bentuk penurunan kualitas hidup, khususnya kesehatan, dan berkurangnya keamanan cadangan pangan. Bidang-bidang yang diprioritaskan termasuk pengurangan degradasi lingkungan dan polusi, pembuatan sistem peringatan dini menyangkut prediksi atas bencana besar

105

seperti tsunami, dan peningkatan kapasitas institusi terkait dalam penanggulangan bencana alam (Bappenas 2009, hal. 1-45). Tantangan adaptasi terhadap akibat kerusakan lingkungan diprioritaskan pada sektor-sektor5 berikut; pertanian, yang diutamakan adalah masalah keamanan cadangan pangan. Hilangnya produktivitas- terutama dalam produksi beras- dikhawatirkan terjadi karena berubahnya kondisi cuaca, sementara kegagalan panen disebabkan konversi lahan. Sektor kesehatan perlu berinvestasi dalam memperkuat kapasitas institusional untuk mengantisipasi merebaknya penyakit yang berhubungan dengan perubahan cuaca, seperti penyakit gangguan pernapasan atas dan penyakit yang disebabkan virus (viral-based diseases). Hal ini juga memerlukan investasi memadai di bidang infrastruktur sanitasi. Pengelolaan resiko bencana perlu membangun sistem peringatan dini untuk mengantisipasi terjadinya bencana seperti banjir atau bencana lain yang berhubungan dengan perubahan cuaca.

5

Penjelasan berikut berdasarkan rangkuman yang disusun Ahmad (2010).

106

Masalah pengelolaan air termasuk memperbaiki pengelolaan dan perlindungan terhadap batas perairan (watershed). Perubahan pola hujan memerlukan peningkatan efisiensi sistem pengelolaan, penyimpanan dan distribusi air. Dari profil emisi dan skenario proyeksi emisi yang telah dibahas di atas, jelas terlihat bahwa masalah-masalah sektor kehutanan dan mitigasi energi harus menjadi prioritas bagi Indonesia. Sebagai dokumen perencanaan utama pemerintah, RPJM memprioritaskan sektor kehutanan pada program penanggulangan perubahan iklim. Kebijakan yang diterapkan bertujuan untuk memperkuat kapasitas institusi dan kerjasama antar lembaga untuk menangani lahan gambut dan rehabilitasi hutan, dengan target 500.000 hektar per tahun. Juga melalui penerapan kebijakan yang tepat, meningkatkan usaha menurunkan tingkat deforestasi, dan mengoptimalkan pendanaan melalui mekanisme yang ada seperti IHPH (Izin Hak Pengelolaan Hutan), PSDH dan Dana Reboisasi/ penanaman kembali (Bappenas 2009, halaman I-56). Skema REDD+ (program pengurangan emisi akibat deforestasi dan kerusakan hutan) memungkinkan Indonesia menerima insentif financial dari negara-negara maju untuk menghentikan perubahan penggunaan hutan untuk mencegah terlepasnya karbon ke atmosfer. Pemerintah sedang mengembangkan proyek percobaan dengan skema REDD di hutan-hutan di propinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Sejumlah
107

proyek tersebut akan mengukur usaha deforestasi, kerangka institusi dan legalitasnya, dan pembentukan mekanisme insentif REDD. Indonesia telah menanda-tangani perjanjian dengan pemerintah Norwegia untuk bekerja sama mengurangi pengrusakan/ deforestasi di hutan dan lahan gambut Indonesia. Norwegia berjanji untuk menyediakan US$ 1 milyar yang akan dibayarkan berdasarkan tingkat reduksi emisi di sektor kehutanan. Pemerintah saat ini sedang dalam proses membentuk badan khusus untuk menangani aliran dana dari REDD+ dan lembaga keuangan Norwegia. Yang patut dipertanyakan adalah; sampai sejauh mana dana yang berasal dari skema REDD dapat digunakan untuk memberdayakan masyarakat setempat dan mendorong mereka berpartisipasi dalam program perlindungan hutan. Sekitar 10 juta dari 35 juta penduduk miskin Indonesia tinggal di sekitar area hutan. Kurang lebih seperempat bagian dari penghasilan mereka bergantung pada sumber-sumber hutan, termasuk keragaman hayati (biodiversity) di dalamnya (Ahmad, 2010). Proyek- proyek REDD di masa depan perlu memperhatikan hak komunitas lokal untuk mengakses sumber daya hutan dan perlunya menjaga fungsi pemisahan karbon (carbon sequestration functions) hutan itu (Ahmad, 2010). Sejumlah kebijakan yang pernah maupun yang sedang diterapkan sekarang ini kurang berhasil mencapai tujuan itu. Distorsi (penyimpangan) penerapan kebijakan menyebabkan insentif
108

yang dihasilkan tidak dapat digunakan untuk program konservasi dan pendayagunaan (panen) hasil hutan yang berkesinambungan. Sebagai contoh, penghasilan yang didapat dari pajak dan insentif tidak digunakan sebagai instrumen insentif, tetapi hanya sebagai sarana pengumpulan dana. Sementara sistem pajak kehutanan tidak melindungi usaha pemeliharaan lingkungan lahan hutan dan produktivitas hutan di masa depan, tetapi hanya untuk mendapatkan keuntungan dari penebangan hutan jangka pendek (short-run forest depletion) (Bank Dunia, 2006). Skema REDD+ dapat membuat kerangka institusional untuk mengubah struktur insentif dan arah pengelolaan hutan Indonesia. Kementrian Keuangan (2009) merekomendasi pembentukan mekanisme keuangan regional untuk aktivitas penanganan perubahan iklim, dan secara khusus untuk membuat mekanisme aliran dana REDD. Mekanisme ini mengatur pembayaran berdasarkan performa pemerintahan regional (terutama tingkat kecamatan), melalui perbaikan sistem DAK (Dana Alokasi Khusus). Pembayaran dihubungkan dengan keberhasilan yang dicapai dan akibat yang ditimbulkan dari pelaksanaan program. Pemerintah regional memiliki otoritas penuh untuk membuat dan mengimplementasi proyek tersebut, sementara pemerintah pusat berfungsi sebagai penghubung utama dengan aspek internasional maupun nasional skema itu (Kementrian Keuangan, 2009). Tantangan yang dihadapi sektor energi adalah mengamankan ekspansi jaringan dan pasokan listrik, tapi pada saat yang sama,
109

mengurangi intensitas karbon dari aktivitas pembangkit tenaga (listrik). Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, emisi dan energi per kapita Indonesia meningkat, terutama karena meningkatnya pemakaian batubara untuk campuran energi. Bila dilihat hanya dari sudut pandang finansial, batubara adalah pilihan yang paling baik dan berkelanjutan, karena ketersediaan batubara yang cukup banyak di Indonesia. Realitas yang ada di Indonesia adalah; pemadaman listrik adalah hal biasa. Perusahaan yang beroperasi menemui banyak hambatan infrastruktur, yang mempengaruhi keputusan menyangkut investasi. Penjatahan penggunaan tenaga listrik menyebabkan ketidakpastian investasi dan hasil keputusannya, dan pada akhirnya berimbas pada hasil emisi. Manifestasi dari ketidakpastian ini adalah proporsi dari perusahaan yang berinvestasi di bidang pengadaan tenaga listrik (captive power), yaitu yang memiliki kapasitas pembangkit tenaga listrik sendiri. Tenaga listrik yang dijual ke PLN berjumlah 6620 MW di tahun 2005, dibandingkan dengan kapasitas instalasi PLN yang berjumlah 22.284 MW (IEA 2008). Prevalensi dari pengadaan listrik swasta di Indonesia ini juga berkontribusi pada angka emisi yang lebih tinggi, karena hampir semua pasokan listrik dari luar jaringan PLN itu bergantung pada sumber daya tidak terbarukan (non-renewable sources). Tetapi ketergantungan pada pembangkit tenaga berbahan dasar batubara ini tidaklah berkesinambungan dan Indonesia perlu lebih memberdayakan berbagai sumber-sumber non-fosil yang
110

ada. Termasuk sumber-sumber geothermal atau micro-hydro, yang menunjukkan potensi pengembangan paling baik. Saat ini, hanya sekitar dua persen dari potensi energi terbarukan yang digunakan. Dalam Energy Blueprint 2005-2025, pemerintah menyusun target ambisius memberdayakan energi terbarukan. Pada tahun 2025, ditargetkan 17% dari total penggunaan energi harus berasal dari sumber-sumber energi terbarukan, dengan fokus perhatian pada pengembangan energi geothermal (IEA 2008). Pemerintah berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi energi geothermal dari 1.100 MW di tahun 2010 ke 5.000 MW di tahun 2014 (RPJM 2009). Beberapa kebijakan telah diterapkan untuk meningkatkan investasi di bidang pengembangan geothermal. Pertama, insentif pajak bagi investasi geothermal dan energi terbarukan lainnya telah diberlakukan. Kedua, ada dukungan finansial melalui anggaran negara untuk eksplorasi energi terbarukan. Ketiga, aturan penetapan harga jual dari pasokan energi geothermal tersebut sudah dikeluarkan6. Kebijakan-kebijakan ini juga dibarengi rencana pemerintah untuk membuka jalan mekanisme pendanaan
6 Keputusan Presiden No. 4/ 2010 menugaskan PLN untuk mempercepat pembangunan instalasi pembangkit tenaga menggunakan energi terbarukan, batubara dan gas, dan memberi mandat pada PLN untuk mengembangkan dan membeli tenaga listrik dari sumber energi terbarukan (Januari 2010). Peraturan Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) No. 32/ 2009 tentang Standar Harga Jual Tenaga Listrik oleh PT PLN dari Pusat Pembangkit Tenaga Listrik Geothermal (Desember 2009). Peraturan Menteri ESDM No. 31/ 2009 tentang harga pembelian tenaga listrik dengan energi terbarukan (November 2009). Peraturan Menteri Keuangan No. 24/ 2010 tentang insentif pajak untuk pengembangan energi terbarukan yang dikeluarkan pada Januari 2010 (Bank Dunia 2010b).

111

perubahan iklim dari komunitas internasional. Pinjaman sejumlah US$ 400 juta akan disalurkan ke Indonesia melalui CTF (Clean Technology Fund) sebagai usaha menarik dana dari pihak lainnya untuk investasi geothermal (Ahmad 2010, Bank Dunia 2010). Hal yang menghubungkan ke tiga prioritas penanganan masalah kehutanan, energi dan adaptasi adalah penyediaan investasi dan peraturan yang jelas untuk proyek infrastruktur. Masalah investasi berbasis iklim di Indonesia masih menjadi perhatian. Walaupun Indonesia memperbaiki peringkatnya menurut penilaian Doing Business Ratings-Indonesia berada di peringkat 122 tahun 2010, naik dari peringkat 129 di tahun 2009- masih banyak kekhawatiran pihak investor khususnya yang berhubungan dengan masalah pelaksanaan kontrak dan penegakan peraturan (Bank Dunia 2010a). Korupsi masih menjadi hambatan besar, walaupun Indeks Transparency International menunjukkan bahwa Indonesia sedikit memperbaiki peringkatnya (RPJM 2009). Kualitas infrastruktur di Indonesia juga berada di peringkat yang relatif rendah, seperti yang terlihat di Tabel 7 (ADB, ADBI 2009).
Tabel 7: Kualitas Infrastruktur, Negara-negara Tertentu
Rel KA Pela buhan Tenaga Listrik Kese luruhan

Negara

Jalan

Bandara

Dunia

3.8

3.0

4.0

4.7

4.6

3.8

112

G7 Asia Asia Timur Asia Tenggara Singapura Hong Kong Malaysia Korea Thailand China Indonesia Vietnam

5.7 3.7 4.7 4.2 6.6 6.4 5.7 5.8 5.0 4.1 2.5 2.6

5.4 3.6 4.8 3.2 5.6 6.2 5.0 5.8 3.1 4.1 2.8 2.4

5.4 3.9 4.8 4.3 6.8 6.6 5.7 5.2 4.4 4.3 3.0 2.8

5.8 4.6 5.1 5.1 6.9 6.7 6.0 5.9 5.8 4.4 4.4 3.9

6.4 4.1 5.3 4.7 6.7 6.7 5.8 6.2 5.5 4.7 3.9 3.2

5.7 3.8 4.6 4.2 6.7 6.3 5.6 5.6 4.8 3.9 2.8 2.7

Skor: 1 = belum berkembang, 7 = ekstensif, standard internasional Sumber: ADB dan ADBI (2009)

113

Mengatasi ketidakpastian peraturan dan implementasi kebijakan sangat penting untuk investasi di bidang energi terbarukan. Proyek berbiaya besar seperti pengembangan energi geothermal dihitung dengan penetapan harga awal yang tinggi (high initial fixed costs), dan pelaksanaannya perlu mengikuti aturan kontrak yang rumit. Investor memerlukan jaminan bahwa investasi mereka akan kembali dan mekanisme resiko mitigasi di antara pihak terkait perlu diterapkan. Sebagai tambahan, adanya pengurangan harga energi jelas mendistorsi upaya memberikan isyarat yang tepat bagi para investor. Subsidi bahan bakar dan listrik yang diterapkan sekarang tidak hanya meningkatkan pemborosan konsumsi energi, tetapi juga mendistorsi tujuan pemberian insentif untuk produksi energi bersih. Selama pengadaan tenaga listrik berbahan bakar fosil dan batubara diproduksi dengan biaya rendah- yang tidak mencerminkan “harga sebenarnya dari pengadaan tenaga listrik”, dan dengan memasukkan biaya pemeliharaan lingkungan untuk pengadaan tenaga listrik- maka energi terbarukan tidak akan kompetitif. Karena pemerintah Indonesia menghadapi kendala anggaran, maka investasi energi terbarukan bergantung pada investasi swasta domestik dan asing. Memperbaiki iklim investasi menjadi hal yang sangat penting. Mekanisme subsidi internasional seperti CTF bisa menyediakan sumber daya yang bermanfaat untuk mulai membuka jalan investasi energi terbarukan berskala besar, dan dapat digunakan untuk membiayai penetapan harga awal yang
114

tinggi dari produksi energi terbarukan, juga membantu pemerintah menerapkan program kompensasi sosial untuk masyarakat miskin. Pada akhirnya, faktor-faktor ekonomi yang bersifat politis dan political will akan menentukan dalam menggerakkan reformasi kebijakan dan peraturan. Implementasi yang efektif dari reformasi itu adalah proses politik yang membutuhkan negosiasi dan koordinasi anggaran, dan pelaksanaan proyek pada berbagai tingkatan di lintas lembaga, antara pemerintah Jakarta dan daerah, dan antara pemerintah dan parlemen. Pengawasan arus uang dan sumber daya pada tingkatan berbeda ini, dapat menjadi sumber kekuasaan dan korupsi. Hal ini bisa terjadi terutama dalam proyek-proyek pembangunan rendah karbon seperti REDD dan energi terbarukan. Mengusahakan transparansi dalam pengelolaan arus uang dari sumber internasional, dan efektivitas pelaksanaan proyek, menjadi tantangan utama yang harus diatasi para pembuat kebijakan.

115

Kesimpulan

MAKALAH ini menunjukkan dan membuktikan bahwa kebijakan berbasis lingkungan yang komprehensif- dalam kerangka strategi ekonomi rendah karbon- adalah hal yang penting untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan di Indonesia. Bagian pertama makalah ini menjelaskan bagaimana kebijakan pertumbuhan ekonomi rendah karbon, dan profil dan skenario proyeksi emisi Indonesia menentukan kemungkinan dan tantangan mitigasi yang harus dihadapi. Bagian kedua menyoroti segi khusus dari ekonomikeuntungan dan biaya secara keseluruhan dan sektoral bila kebijakan mitigasi diiplementasikan di Indonesia. Berbagai pilihan penerapan kebijakan ekonomi dapat mendorong pertumbuhan dan mengurangi kemiskinan dan emisi. Pengelolaan emisi dari hutan dan lahan gambut dapat menghasilkan kemungkinan mitigasi terbaik bagi Indonesia.

116

Bagian ke tiga menyoroti tantangan penerapan kebijakan yang terjadi dalam prioritas sektor-sektor tertentu- adaptasi, kehutanan, dan energi. Hambatan yang mengikat ke tiga sektor ini adalah ketidakpastian peraturan dan investasi yang menyangkut investasi infrastruktur. Profil dan pengurangan biaya emisi Indonesia membuka banyak kemungkinan untuk menarik minat mekanisme keuangan internasional berbasis iklim untuk mulai menanamkan investasi berskala besar di bidang pengembangan teknologi rendah karbon. Tetapi tetap perlu memperkuat konsensus politik domestik demi kelangsungan implementasi strategi pembangunan rendah karbon. Kapasitas institusi domestik- secara spesifik yang menyangkut perbaikan iklim investasi dan penegakan peraturan- perlu diperkuat untuk menarik minat lebih banyak investor swasta. Oleh sebab itu, menerapkan strategi pembangunan rendah karbon perlu melewati proses reformasi yang kompleks. Perlu koordinasi kebijakan di beberapa bidang utama; fiskal (carbon pricing), kebijakan investasi dan teknologi, reformasi sektor energi/ kehutanan, dan reformasi struktural yang lebih luas. Pengaturan pelaksanaan serangkaian upaya reformasi ini membutuhkan pertimbangan politis, dan bergantung pada faktor-faktor ekonomi yang bersifat politis yang menggerakkan proses reformasi itu.

117

Rekomendasi Kebijakan

BANTUAN dan investasi donatur asing seperti FNS dan investor swasta Jerman harus disalurkan ke program yang menjadi prioritas utama pemerintah Indonesia. Berikut ini beberapa rekomendasi utama yang dirangkum dari dokumen kebijakan GOI, dengan memperhatikan kemungkinan investasi bagi pemerintah dan swasta Jerman. Pertama, berikan dukungan kebijakan dalam pengembangan instrumen ekonomi dan kerangka peraturan untuk mendukung pembangunan rendah karbon. Saat ini, kapasitas dan keahlian dalam mengadopsi instrumen pajak yang mendorong pertumbuhan berbasis lingkungan (green growth) masih terbatas. Pepajakan berbasis lingkungan adalah bidang kebijakan yang relatif belum berkembang di Indonesia. Dengan meningkatnya kemungkinan pendanaan melalui produk dan jasa yang terkait dengan keuangan karbon, maka keahlian untuk pengelolaannya perlu dikembangkan. The Green Paper dari
118

Kementrian Keuangan dapat digunakan sebagai dasar pembentukan kebijakan yang kokoh, karena sudah membahas berbagai pilihan kebijakan fiskal untuk mengatasi masalah keuangan berbasis iklim. Jerman memiliki cukup pengalaman dalam reformasi kebijakan fiskal berbasis lingkungan sejak tahun 1990an, sehingga mampu memberikan bantuan teknis yang diperlukan. Kedua, lakukan investasi melalui dukungan kebijakan untuk membangun kapasitas pengkajian regional. Ada kebutuhan untuk memperkuat institusi secara menyeluruh dan memperkuat kerangka kebijakan untuk penanggulangan masalah perubahan iklim dan lingkungan, terutama pada tingkat regional. Pertumbuhan pembangunan rendah karbon di tingkat regional harus terintegrasi ke dalam rencana pembangunan nasional dan proses penyusunan anggaran. Membangun kapasitas keuangan regional untuk menghasilkan produk-produk yang bersifat analitis untuk mendukung proses penyusunan kebijakan adalah salah satu bidang investasi utama bagi donatur Jerman. Ke tiga, lakukan investasi melalui dukungan kebijakan untuk membangun mekanisme keuangan dan fiskal regional untuk penyaluran dana REDD. Menerapkan kebijakan untuk mitigasi emisi dari perubahan tata guna lahan dan sektor kehutanan dalam kerangka REDD, akan menjadi pilar utama dari program pembangunan berbasis iklim bagi Indonesia di tahun-tahun mendatang. Untuk menjamin efektivitas pengawasan dan aliran dana dari pusat ke daerah, pemerintah
119

perlu membangun mekanisme keuangan regional untuk mengelola proses ini. Mekanisme ini terbagi dalam dua elemen. Pertama, perlu ada sistem transfer fiskal lintas kelembagaan pemerintah yang efektif untuk penyaluran dana dari tingkat nasional ke tingkat regional. Ke dua, perlu ada mekanisme insentif yang memadai untuk memastikan pembayaran melalui skema REDD tersalur ke hasil proyek yang diinginkan. Ke tiga, mekanisme ini harus memiliki kerangka yang efisien untuk pengelolaan keuangan berbasis hutan, termasuk skema insentif bagi para pemangku kepentingan (stakeholders) untuk mengawasi aliran dana REDD. Pendanaan studi dan pengembangan kerangka fiskal dan insentif yang terintegrasi ini adalah salah satu bidang potensial bagi sumber dana Jerman. Ke empat, berikan dukungan kebijakan dan lakukan investasi dengan memperkuat kerangka institusi dan peraturan untuk meningkatkan pasokan energi terbarukan di Indonesia. Potensi energi terbarukan Indonesia begitu besar. Tetapi pengambilan pasokan energi terbarukan terjadi sangat lambat karena berbagai masalah struktural yang menyangkut sektor pengadaan listrik, masalah iklim investasi, dan kurangnya kemampuan teknis dalam memajukan sumbersumber energi hijau (green energy). Sejak 1990an, Jerman telah memulai program ambisius untuk mengembangkan produksi energi terbarukan dalam skala besar. Bantuan dalam penerapan kebijakan dan keahlian teknis dapat
120

diberikan pada pemerintah untuk mengambil sari pelajaran dengan konteks Indonesia. Salah satu bidang pembahasan yang penting adalah mengadopsi Feed in Tariffs (FITs) untuk memfasilitasi proyek-proyek energi terbarukan seperti energi geothermal dan membuat proyek-proyek itu menarik secara finansial bagi investor. Hal ini membutuhkan koordinasi kebijakan yang rumit, dan para ahli Jerman akan dapat memberikan masukan yang bermanfaat. Ke lima, berbagi dengan para ahli teknis Jerman dalam pengembangan perusahaan skala kecil dan menengah, dan menghubungkannya dengan proyekproyek energi terbarukan di daerah pedalaman. Pasokan energi dari daerah terpencil di Indonesia, pada tatanan tertentu, akan bergantung pada produsen energi non-jaringan berskala kecil berbasis komunitas. Jerman memiliki banyak pengalaman dalam mengembangkan pertumbuhan usaha berskala kecil dan menengah di Indonesia. Jerman dan GTZ juga berpengalaman mengembangkan sejumlah proyek micro-hydropower. Menghubungkan dua masalah ini dengan, misalnya, berinvestasi di sektor finansial domestik untuk penilaian dan pengembangan skema green micro-finance, akan menjadi lahan investasi yang menjanjikan. Ke enam, berikan dukungan kebijakan dan bantuan teknis dalam membangun kapasitas domestik untuk pendanaan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur adalah tantangan utama mencapai tujuan mitigasi dan adaptasi. Tanpa investasi memadai untuk membangun infrastruktur ‘hijau’ (green infrastructure)- seperti instalasi pembangkit energi geothermal
121

atau sistem transportasi cepat massal- Indonesia akan berada di posisi buruk untuk dapat mengsukseskan pertumbuhan rendah karbon. Jaminan dan pembagian resiko, dan mekanisme mitigasi juga penting untuk memberikan insentif tambahan bagi investor yang menanamkan uangnya dalam proyek-proyek tersebut. Serangkaian fasilitas ini dapat dibangun dengan mendirikan lembaga LEDFF (Low- Emission Development Financing Facility) seperti usulan Dewan Nasional Perubahan Iklim DNPI dan United Nations Framework Convention on Cimate Change UNFCCC (2009). IGIF (Indonesian Green Investment Fund) di bawah Kementrian Keuangan didirikan pada tahun 2009 untuk memenuhi fungsi itu. Para ahli teknis Jerman akan membantu pemerintah dalam menarik minat sumber-sumber swasta dan berbasis pasar untuk pendanaan program/ proyek pembangunan emisi rendah. Ke tujuh, jaga hubungan baik dan berikan dukungan kebijakan untuk reformasi ekonomi dan pemerintahan secara menyeluruh di Indonesia, berdasarkan kebutuhan yang digerakkan oleh pemangku kepentingan domestik. Seperti yang terjadi di banyak negara, reformasi pembangunan ekonomi dan rendah karbon adalah proses yang berlangsung terus-menerus. Proses itu juga rumit, dan sulit diimplementasikan dalam urutan yang benar, dan juga membutuhkan ketelitian dalam pengkajiannya. Dialog melalui kebijakan yang transparan dan jujur adalah cara yang paling tepat untuk mencapai tujuan itu.

122

Referensi:
Asian Development Bank 2009, The Economics of Climate Change in Southeast Asia: a Regional Review, Manila. ADB and ADBI, 2009. “ Infrastructure for a Seamless Asia.” Asian Development Bank, Manila, and Asian Development Bank Institute, Tokyo. Ahmad, Mubariq (2010). “Turning Climate Change into Opportunity: Indonesia’s Strategy Toward Low Carbon Economy.” Draft Working Paper, World Bank Jakarta, Environment Unit: Jakarta Ahmad, Mubariq (2010a). “Ekonomi Perubahan Iklim.” In: Prisma Vol.29, No.2, April 2010 Ahmad Mubariq (2010b).Low Carbon Economy Scenarios: Results of Dynamic IR-CGE Model Simulations in Comparison with Baseline. Presentation to the Fiscal Policy Office: Jakarta BAPPENAS (Indonesian National Planning and Development Agency). 2009. National Medium Term Development Program for 2009-2014. DNPI (Indonesian National Climate Change Council) (2009). “Indonesia’s Greenhouse Gas Abatement Cost Curve. “ DNPI: Jakarta. DNPI (Indonesian National Climate Change Council) and UNFCCC (2009). “ National Economic, Environment and Development Study (NEEDS). Indonesia Country Study.” Final Report, December 2009: Jakarta Dethier, Jean-Jacques, Maximillian Hirn, Stephanie Straub (2010). ‘Explaining enterprise performance in developing countries with business climate

123

survey data.” In: The World Bank Research Observer Advance Access published September 2, 2010. Ellerman et al 2010 carbon finance http://www.caissedesdepots.fr/en/news/allthe-news/half-year-2009-2010-sales-up-10-on-a-reported-basis-03-likefor-like/pricing-carbon-the-book-of-reference-presentation.html Garnaut, Ross, Stephen Howes, Frank Jotzo and Peter Sheenan. 2008. “ Emissions in the Platinum Age: The Implications of Rapid Development for Climate Change Mitigation.” In: Oxford Review of Economic Policy, Volume 24, Number2, 2008, pp.377-401. Garnaut, Ross. 2008. “ The Garnaut Climate Change Review. “ Cambridge University Press: Cambridge. Helm, Dieter, and Cameron Hepburn.2009. “ The Economics and Politics of Climate Change.” Oxford University Press: Oxford IMF. 2008. “The Fiscal Policy Implications of Climate Change.” Paper prepared by the Fiscal Affairs Department, February 22, 2008. IMF: Washington D.C. www.imf.org/external/np/pp/eng/2008/022208.pdf International Energy Agency. 2008. “Energy Policy Review of Indonesia.” OECD/ IEA: Paris International Energy Agency (IEA). 2009. “ Sectoral Approaches in Electricity – Building Bridges to a Safe Climate.” IEA/OECD: Paris Ministry of Environment (2007). “ National Action Plan For Climate Change.” Ministry of Environment and BPPT (2009). “ Indonesia’s Technology Needs Assessment on Climate Change.” Ministry of Environment 2009. “ Second National Climate Change Communication.”

124

Ministry of Finance (2009). “ Green Paper on Economic and Fiscal Policy Options For Climate Change Mitigation. OECD/IEA (2009). “World Energy Outlook 2009.” OECD/IEA; Paris. Resosudarmo, Budi (2009). “IRSA-INDONESIA 5.” Presentation at World Bank Office Jakarta. Stern, Nicholas Herbert (2007). “ The Economics of Climate Change: The Stern Review.” Great Britain Treasury, 2007. World Bank (2006). “ Sustaining Economic Growth, Rural Livelihoods, and Environmental Benefits – Strategic Options for Forest Assistance.” World Bank: Jakarta World Bank. 2007. “Spending for Development: Making the Most of Indonesia’s New Opportunities.” World Bank Office Jakarta. World Bank (2009). “ Low Carbon Growth Country Studies – Getting started. Experience From Six Countries.” ESMAP Brief. World Bank (2009a). “ Climate Change and the World Bank Group. Phase 1: an Evaluation of World Bank Win-Win Energy Policy Reforms.” The World Bank: Washington D.C. World Bank (2010a). Indonesia: Climate Change Policy Loan. World Bank Jakarta Memorandum Document. April 2010 World Bank (2010b). “Doing Business 2010.” Downloaded from http://www. doingbusiness.org/~/media/FPDKM/Doing%20Business/Documents/ Annual-Reports/English/DB10-FullReport.pdf. World Bank: Washington D.C. World Bank 2010c, World development report 2010: development and climate change, Oxford University Press, New York

125

KERTAS KEBIJAKAN

Pengantar Perubahan Iklim
IGG Maha Adi

Pengantar Perubahan Iklim

IGG Maha Adi

Pengantar Perubahan Iklim Penulis: IGG Maha Adi Desain cover & tata letak: Freshwater Communication Dicetak di Indonesia. Penerbit: Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit, Indonesia Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dipersilakan mengutip atau memperbanyak sebagian isi buku ini dengan seizin tertulis dari penulis dan/atau penerbit. Indeks Copyright © 2010. Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit Jl. Rajasa II No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta 12110 Tel.: 62-21-7256012-13 Fax: 62-21-7203868 E-mail: Indonesia@fnst.org www.fnsindonesia.org

Ringkasan Eksekutif

TAHUN 2005, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia menerbitkan laporan State of the World’s Forest dan menempatkan Indonesia di urutan ke delapan negara yang memiliki hutan terluas di dunia, tetapi dengan tingkat deforestasi 1,8 juta ha per tahun atau 2 persen setiap tahun, antara periode 2000-2005. Sektor kehutanan juga menjadi penyumbang emisi gas-gas rumah kaca (GRK) terbesar di Indonesia, dengan 64% dari total emisi. Kajian terhadap emisi dari lahan gambut menunjukkan data yang lebih tinggi, sebagaimana dinyatakan dalam studi oleh Wetlands International dan University of Greifswald pada tahun 2008, dimana Indonesia mengemisikan 500 juta ton gas-gas rumah kaca dari lahan gambut pertahun, atau yang tertinggi di dunia di atas Uni Eropa (173 juta ton) dan Rusia (151 juta ton) Dari sektor eksploitasi dan konsumsi energi, emisi yang dilepaskan mencapai 9% atau sebesar 275 Mton CO2e dari total

131

emisi GRK Indonesia pada tahun 2005 yang mencapai 3,014 Mton CO2e. Tetapi, pemakaian energi meningkat rata-rata 7% setiap tahun, dan tahun 2007, misalnya, lebih dari 75% masyarakat Indonesia mengkonsumsi energi berbasis fosil, yaitu minyak bumi, gas, dan batubara. Bila tidak diikuti program pengurangan emisi, maka dalam skenario normal sampai tahun 2030, sumber emisi utama akan didominasi sektor transportasi, industri, dan pembangkit listrik dengan persentase rata-rata 20% yang merupakan implikasi langsung dari transisi menuju negara industri maju. Hasil kajian ADB tentang dampak perubahan iklim di Asia Tenggara menyimpulkan bahwa kawasan ini mempunyai peranan penting dalam pengurangan emisi gas rumah kaca global di masa mendatang. Dalam skenario emisi tinggi, suhu tahunan rata-rata di empat negara—Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam— diperkirakan meningkat rata-rata 4,8°C sampai tahun 2100 dari tingkat suhu rata-rata pada tahun 1990; permukaan laut dunia rata-rata diperkirakan meningkat 70 sentimeter selama periode yang sama, dengan konsekuensi yang mengerikan bagi kawasan ini; dan Indonesia, Thailand, serta Vietnam diperkirakan akan mengalami cuaca yang lebih kering dalam 2–3 dekade mendatang. Biaya rata-rata perubahan iklim untuk empat negara di Asia Tenggara—jika dunia terus “melakukan kegiatan seperti biasanya” dan jika semua dampak pasar dan bukan pasar dan resiko bencana

132

besar dipertimbangkan—akan sama dengan hilangnya 6,7% Produk Domesik Bruto (PDB) setiap tahunnya hingga tahun 2100. Kerugian ini lebih dari dua kali lipat dari angka kerugian rata-rata di tingkat global. Hingga akhir abad ini, biaya ekonomi secara keseluruhan per tahun rata-rata dapat mencapai 2,2% dari PDB jika hanya dampak pasar yang dipertimbangkan; jika dampak non-pasar ikut dihitung maka bisa mencapai 5,7% dari PDB; dan bisa naik hingga 6,7% dari PDB jika risiko-risiko bencana besar ikut dihitung. Hal ini terjadi karena keempat negara termasuk Indonesia, memiliki garis pantai yang relatif panjang, konsentrasi populasi yang tinggi di daerah pesisir, ketergantungan yang tinggi akan pertanian dan sumber daya alam, kapasitas adaptasi yang relatif rendah, dan kebanyakan memiliki iklim tropis dibandingkan negara-negara lain di dunia. Dengan stabilisasi gas rumah kaca pada tingkat 450–550 ppm, biaya ekonomi secara keseluruhan karena pemanasan global menjadi jauh lebih rendah.

133

Pengantar

PENGARUH manusia terhadap perubahan iklim global telah dilaporkan berbagai penelitian sejak paruh pertama abad ke-20. Pengaruh tersebut semakin kuat berdasarkan berbagai penelitian dari sampel di seluruh dunia. Salah satu laporan Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) tahun 1990, mempertegas menguatnya pengaruh aktivitas manusia tersebut. Saling terhubung sebagai satu kesatuan iklim global, maka perubahan iklim akan mempengaruhi semua negara dan kawasan di dunia, namun dengan dampak yang berbeda-beda tergantung posisi geografis, program mitigasi dan tingkat adaptasi yang dilakukan. Tahun 2004 Indonesia meratifikasi Protokol Kyoto yang memberi kesempatan kepada pemerintah untuk membenahi pendataan iklim secara nasional, serta mendapatkan berbagai skema insentif sesuai yang diatur dalam protokol. Namun, meskipun kewajiban negara-negara industri maju untuk menurunkan emisinya bersifat mengikat, laju kenaikan emisi gas rumah kaca ternyata tidak dapat
134

ditekan, bahkan dampak perubahan iklim menyebabkan kerugian yang sangat tinggi di berbagai belahan dunia. Hasil kajian Panel Antar-pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) tahun 2007 misalnya, menunjukkan 11 dari 12 tahun terpanas sejak tahun 1850 terjadi dalam waktu kurun 12 tahun terakhir. Kenaikan temperatur total dari tahun 1850-1899 sampai dengan tahun 2001-2005 adalah 0,76°C. Muka air laut rata-rata global telah meningkat dengan laju rata-rata 1,8 mm per-tahun dalam rentang waktu antara tahun 1961 sampai 2003. Kenaikan total permukaan air laut yang berhasil dicatat pada abad ke20 diperkirakan 0,17 m. Laporan IPCC juga menyatakan bahwa kegiatan manusia ikut berperan dalam pemanasan global sejak pertengahan abad ke-20. Pemanasan global akan terus meningkat dengan percepatan yang lebih tinggi pada abad ke-21 apabila tidak ada upaya penanggulangannya. Indonesia memiliki karakteristik geografis dan geologis yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, karena merupakan negara kepulauan dengan sekitar 17.500 pulau besar dan kecil, memiliki garis pantai sepanjang 81.000 kilometer atau terpanjang di dunia, daerah pantai yang luas dan besarnya populasi penduduk yang tinggal di daerah pesisir, memiliki hutan yang luas namun sekaligus menghadapi ancaman kerusakan hutan, rentan terhadap bencana alam, dan kejadian cuaca ekstrim, memiliki tingkat polusi yang tinggi di daerah urban, memiliki ekosistem yang rapuh seperti area pegunungan dan lahan gambut, serta kegiatan ekonomi yang masih sangat menggantungkan diri pada bahan bakar fosil dan
135

produk hutan, serta memiliki kesulitan untuk beralih ke bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan. Data kejadian bencana yang dicatat dalam the OFDA (Office of US Foreign Disaster Assistance)/ CRED (Center for Research on Environmental Decisions) International Disaster Database mengungkapkan sepuluh kejadian bencana terbesar di Indonesia yang terjadi dalam periode waktu antara tahun 1907 dan 2007, terjadi setelah tahun 1990-an dan sebagian besar merupakan bencana yang terkait dengan iklim, khususnya banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan epidemi penyakit. Hal ini menunjukkan bahwa kejadian bencana terkait iklim mengalami peningkatan baik dari sisi frekuensi maupun intensitasnya. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh 10 bencana terbesar tersebut mencapai hampir 26 miliar dolar dan sekitar 70% merupakan kerugian akibat bencana yang terkait dengan iklim. Pada sisi lain, hutan Indonesia sebagai penyimpan karbon terbesar, masih mengalami laju deforestasi yang cukup tinggi, peningkatan pemakaian bahan bakar minyak dan batubara sebagai energi utama dalam pembangunan, penundaan implementasi program energi ramah lingkungan, serta laju konversi hutan menjadi peruntukan lain, semakin memperparah dampak negatif perubahan iklim terhadap Indonesia. Seluruh uraian di atas menunjukkan bahwa upaya sistematis dan integratif untuk memperlambat laju pemanasan global bersama masyarakat dunia, disertai upaya meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, sudah merupakan suatu keharusan.
136

1
A.

Isu-isu Utama

Deforestasi

HUTAN menutupi 30% daratan bumi, dan hutan mewakili 77% stok karbon yang tersimpan di dalam seluruh vegetasi dan 39% dari seluruh karbon yang tersimpan di dalam tanah. Hutan menyimpan karbon dua kali lipat jumlah karbon di atmosfer, dan hutan tropis adalah penyimpan karbon paling besar, setara dua kali lipat dari hutan jenis lainnya. Berdasarkan data Departemen Kehutanan, luas kawasan hutan Indonesia pada tahun 2007 adalah 120,35 juta ha dengan komposisi: Hutan Produksi 48%, Hutan Konservasi 17%, Hutan Lindung 28%, Hutan Produksi Konversi 7%. Dari luasan tersebut, 53,9 juta ha diantaranya terdegradasi dengan berbagai tingkatan, yang tersebar pada Hutan Konservasi (11,4 juta ha), Hutan Lindung (17,9 juta ha), dan Hutan Produksi (24,6 juta ha). Diyakini pula,
137

bahwa tahun 2009 sekitar 42 juta ha hutan sudah gundul atau habis ditebang.1 Tahun 2005, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menerbitkan laporan State of the World’s Forest dan menempatkan Indonesia di urutan ke delapan negara yang memiliki hutan terluas di dunia, tetapi dengan tingkat deforestasi 1,8 juta ha pertahun atau 2 persen setiap tahun, antara periode 2000-2005. Laju kerusakan ini adalah yang kedua tercepat di dunia saat itu, di bawah Brasil.2 Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pada tahun 2007 melakukan interpretasi citra Landsat7 ETM+, dengan menggunakan data pemotretan citra satelit tahun 2004 – 2006 yang digeneralisasi menjadi data tahun 2005, menunjukan bahwa tutupan hutan pada seluruh region di Indonesia menjadi sekitar 83 juta hektar. Walaupun dengan catatan, masih ada sekitar 33 juta hektar yang belum dapat diidentifikasi sebagai hutan maupun nonhutan karena areanya tertutup oleh awan. Hutan tropis merupakan stok karbon (carbon stock) terbesar di bumi, dan tiap satu hektare rata-rata menyimpan karbon 200 t CO2 ha-1 tahun-1, bahkan hutan gambut kedalaman 1 meter dapat menyimpan karbon 600 metrik ton, dibandingkan dengan

1 2

http://www.antaranews.com/berita/1264315996/menhut-42-juta-ha-hutan-indonesiagundul Food and Agriculture Organization of the United Nations.2007. State of the World’s Forest 2007. Rome,Italy.

138

kebun kelapa sawit 9-18 t CO2 ha-1 tahun-1. Dengan demikian, konversi lahan gambut di Indonesia akan menyebabkan dampak yang sangat penting bagi iklim dunia, karena luasnya mencapai 56% dari total luas gambut di dunia. 3 Kondisi tutupan hutan di pulau Kalimantan dan Papua memiliki kecenderungan menurun dari tahun ke tahun, sedangkan di kawasan lainnya tutupan hutan mengalami penurunan maupun peningkatan luas. Walaupun demikian, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penghitungan di atas, seperti besar-kecilnya data yang tidak dapat diolah karena tertutup awan serta perbedaan metode yang digunakan dalam melakukan analisis. Sejauh ini, data hasil interpretasi citra satelit tahun 2003 masih menjadi acuan penghitungan tutupan hutan dan menjadi sumber data resmi yang digunakan di Departemen Kehutanan.4 Penyumbang emisi GRK terbesar di Indonesia adalah sektor kehutanan sebesar 64% dari total emisi.5 Namun beberapa sumber menyatakan bahwa tingkat deforestasi di Indonesia menurun selama satu dekade terakhir. Data NGO World Growth menyebut pengurangan itu dari 1,7% per tahun selama dekade 1990-an menjadi sekitar 0,5% per tahun

3 4 5

Singleton, Ian. 2008. Dampak Lingkungan Akibat Pembangunan Kelapa Sawit. PanEco/ Yayasan Ekosistem Lestari. Forest Watch Indonesia. 2009. Perkembangan Tutupan Hutan Indonesia. http://fwi. or.id/. WWF Indonesia. 2008. Perubahan Iklim, Bisakah Dicegah? Bandung.

139

dalam periode 2000-2010, sedangkan Kementerian Lingkungan Hidup mencontohkan penurunan itu terjadi dari 2 juta hektare per tahun pada 2007 menjadi 1,02 juta ha per tahun pada 2008.6 Kementerian Lingkungan Hidup juga mengungkapkan 72,5 juta ha hutan harus dipertahankan dari pembalakan dan konversi, sesuai kebijakan presiden untuk melakukan moratorium hutan alam dan gambut, peraturan kehutanan seperti kawasan konservasi, hutan lindung, hutan produksi dengan kelerengan lahan lebih dari 40° dan peraturan penataan ruang.7 Dalam 72,5 juta ha termasuk lebih dari 28 juta kawasan berstatus hutan produksi, yang didalamnya terdapat 6,2 juta ha lahan gambut. Selain itu, juga terdapat 21,5 juta ha lebih berupa hutan primer. Keberadaan sejumlah lahan gambut dan hutan primer juga ditemukan dalam kawasan areal penggunaan lain sehingga ada 4,7 juta ha hutan areal penggunaan lain yang juga harus dipertahankan. Dalam dokumen nota kesepahaman (letter of intent) antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Norwegia yang ditandatangani pada 26 Mei 2010, disebutkan bahwa penghentian pengeluaran izin baru konversi hutan alam dan gambut ditetapkan selama dua tahun, dan dimulai pada 1 Januari 2011. Dokumen itu juga menyebutkan bahwa program uji coba provinsi REDD Plus (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation)

6 7

Dimuat di berbagai media massa, antara lain lihat di http://sains.kompas.com/ read/2010/06/23/02274636/Luas.Hutan.Harus.68.Persen Idem

140

yang pertama dimulai pada Januari 2011, yang dilanjutkan uji coba REDD plus untuk provinsi kedua pada 2012. Mulai Januari 2011 juga telah dioperasionalkan instrumen pendanaan oleh pemerintah Norwegia sebesar 200 juta dolar AS sampai 2014.8

B.

Konversi Lahan Gambut

GAMBUT merupakan tanah hasil akumulasi timbunan bahan organik dengan komposisi lebih dari 65% (enam puluh lima prosen) yang terbentuk secara alami dalam jangka waktu ratusan tahun dari lapukan vegetasi yang tumbuh di atasnya yang terhambat proses dekomposisinya karena suasana anaerob dan basah. Indonesia memiliki luas lahan gambut sekitar 20,6 juta ha atau 10,8% dari total luas daratan dan sebagian besar tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Lahan gambut hanya meliputi 3% dari luas daratan di seluruh dunia, namun menyimpan 550 Gigaton Karbon atau setara dengan 30% karbon tanah, 75% dari seluruh karbon atmosfir, setara dengan seluruh karbon yang dikandung biomassa (massa total makhluk hidup) daratan dan setara dengan dua kali simpanan karbon semua hutan di seluruh dunia.9 Situs Scientific American mengklaim kemampuan gambut menyimpan karbon total mencapai 500 miliar metriks ton atau dua kali lipat dibandingkan

8 9

http://www.antaranews.com/berita/1281445152/menhut-tegaskan-moratorium-hutanmulai-2011. Agus, Fahmudin dan I.G. Made Subiksa. 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Balai Penelitian Tanah, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor.

141

total penyimpanan oleh seluruh jenis hutan yang ada di bumi. Gas-gas rumah kaca utama yang keluar dari lahan gambut adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrogen oksida (N2O). Keberadaan air merupakan kunci kemampuan ekosistem gambut menyimpan karbon. Proses pembusukan dan penguraian bahan-bahan organik di lahan gambut berlangsung sangat lambat karena prosesnya berlangsung nir-oksigen (anaerob). Karena kecepatan oksigen di air melambat sampai 10 ribu kali dibandingkan di udara, maka proses pelapukan zat organik berlangsung sangat lama. Tetapi, sekali saja gambut dikeringkan airnya, maka mikroorganisme dengan cepat akan membusukkan semua bahan organik, sehingga mereka menghasilkan karbon sebagai dampak sampingan proses situ. Karena bahan organik gambut tersedia sangat melimpah, maka gambut akan menjadi emiter terbesar gas rumah kaca.10 Restorasi sistem drainase hutan gambut sangat penting, karena akan berfungsi mengulangi proses penyimpanan karbon oleh gambut. Ekosistem lahan gambut sangat penting dalam sistem hidrologi kawasan hilir suatu daerah aliran sungai (DAS), karena mampu menyerap air sampai 13 kali lipat dari bobotnya. Dalam keadaan hutan alami, lahan gambut berfungsi sebagai penambat

10

Lihat http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=peat-and-repeat-rewetting-carbon-sinks, diunduh tanggal 17 Agustus 2010, pkl. 17.00 wib.

142

(sequester) karbon, sehingga berkontribusi dalam mengurangi gas rumah kaca di atmosfer, walaupun proses penambatan berjalan sangat pelan setinggi 0-3 mm gambut per tahun (Parish et al., 2007) atau setara dengan penambatan 0-5,4 t CO2 ha-1 tahun-1. Apabila hutan gambut ditebang dan didrainase, maka karbon tersimpan pada gambut mudah teroksidasi menjadi gas karbon dioksida, salah satu gas rumah kaca terpenting. Selain itu lahan gambut juga mudah mengalami penurunan permukaan (subsiden) apabila hutan gambut dibuka. Oleh karena itu diperlukan kehatihatian dan perencanaan yang matang apabila mengkonversi hutan gambut. Karena variabilitas lahan gambut sangat tinggi, baik dari segi ketebalan gambut, kematangan maupun kesuburannya, tidak semua lahan gambut layak untuk dijadikan areal pertanian. Dari 20,6 juta ha lahan gambut di pulau-pulau utama Indonesia, hanya sekitar 6 juta ha yang layak untuk pertanian. Kerusakan ekosistem gambut akan berdampak besar terhadap lingkungan setempat (in situ) maupun lingkungan sekelilingnya (ex situ). Kejadian banjir di hilir DAS merupakan salah satu dampak dari rusaknya ekosistem gambut. Sesuai dengan Keputusan Presiden No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, lahan gambut dengan ketebalan lebih dari 3 meter ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Tahun 2009 Menteri Pertanian menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian No.14/Permentan/PL-120/2/2009 tentang Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Budidaya Kelapa Sawit, yang melarang konversi gambut tebal di atas tiga meter dan gambut
143

mentah. Namun dengan berbagai peraturan yang ada, menurut studi yang dilakukan Wetlands International dan University of Greifswald, pada tahun 2008 Indonesia mengemisikan 500 juta ton gas-gas rumah kaca dari lahan gambut pertahun, atau yang tertinggi di dunia, di atas Uni Eropa (173 juta ton) dan Rusia (151 juta ton). 11
Annual CO2 emissions[8][9] (in thousands of metric tons) 29,321,302 6,538,367.00 5,838,381.00 1,612,362.00 1,537,357.00 1,254,543.00 787,936.00 557,340.00 539,617.00 Percentage of global total 100% 22.30% 19.91% 5.50% 5.24% 4.28% 2.69% 1.90% 1.84%

Rank

Country World

1 2 3 4 5 6 7 8

China United State India Russia Japan Germany Canada United Kingdom

11

Wetlands International.2009. Global Peatland CO2 Picture: Peatland status and drainage related emissions in all countries of the world (updated August, 2009). Wageningen, Netherlands.

144

9 10 11 12 13 14 15

South Korea Iran Mexico Italy South Africa Saudi Arabia Indonesia

503,321.00 495,987.00 471,459.00 456,428.00 433,527.00 402,450.00 397,143.00

1.72% 1.69% 1.61% 1.56% 1.48% 1.37% 1.35%

Gambar 1. Daftar negara-negara emiter terbesar dunia tahun 2007 (Sumber: CDIAC untuk PBB, 2008)

Gambar 2. Emisi dari sektor kehutanan manjadi sumber emisi ketiga terbesar di dunia. Sepuluh negara menjadi penyumbang 80% emisi dari sektor kehutanan, dan dua negara yaitu Brasil dan Indonesia menyumbangkan lebih dari 50% emisi tersebut (Sumber: World Resources Institute/CAIT, 2007).
145

C.

Konsumsi Energi

SEBAGAI bentuk komitmen yang tinggi terhadap penurunan emisi gas-gas rumah kaca, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden No.5 tahun 2005 tentang Kebijakan Energi Nasional. Beleid ini, antara lain, memberikan wewenang kepada Dewan Energi Nasional (DEN) untuk menyusun cetak biru energi yang akan dipakai pemerintah Indonesia untuk menetapkan berbagai kebijakan energi di masa mendatang. Dalam Perpres tersebt diatur pula bauran energi (mix energy) nasional tahun 2025, yang menetapkan batas penggunaan minyak bumi kurang dari 20%. Pada dekade 1970-an Indonesia merupakan salah satu produsen minyak bumi yang diperhitungkan dunia, dan bergabung sebagai anggota Negara-negara Eksportir Minyak Bumi (OPEC). Indonesia menikmati kenaikan harga minyak mentah dunia pada era 1970-an dan rata-rata mampu memproduksi 1,3 juta barel perhari, tetapi terus menurun hingga mencapai rata-rata 900 ribu barel perhari. Tahun 2004, jumlah impor mulai lebih besar dibandingkan jumlah ekspor, yaitu rata-rata ekspor 400 ribu barel, dibandingkan volume impor sekitar 500 ribu barel. Karena volume impor melebihi produksi dalam negeri serta ekspor, maka sejak tahun 2004 Indonesia telah menjadi net-oil importer. Tahun 2003 batas konsumsi BBM 60 juta kiloliter atau setara satu juta barel per hari (bph) tercapai, sedangkan produksi total BBM sekitar 0,8 juta bph sedangkan sisanya merupakan produk
146

non BBM (pelumas, LPG, bahan baku petrokimia, dan sebagainya). Jadi sekitar 20% dari BBM yang digunakan di dalam negeri berasal dari impor. Jika sektor minyak bumi dan sektor BBM digabung, Indonesia defisit 12 juta KL (20% kali 60 juta KL). Untuk menutup defisit ini, paling tidak produksi minyak bumi Indonesia harus ditingkatkan menjadi 1,25 juta bph. Sementara itu, permintaan BBM akan masih terus tumbuh, apalagi jika harga BBM tetap relatif lebih murah dari energi alternatifnya, sehingga penggunaan BBM secara besar-besaran tidak dapat dihindarkan.12 Data yang disajkan dalam laporan tentang perubahan iklim di Indonesia tahun 2007 menunjukkan, sektor energi hanya menyumbang 9% atau sebesar 275 Mton CO2e dari total emisi GRK Indonesia pada tahun 2005 sebesar 3.014 Mton CO2e. Tetapi, pemakaian energi meningkat rata-rata 7% setiap tahun, dan tahun 2007, misalnya, lebih dari 75% masyarakat Indonesia mengkonsumsi energi berbasis fosil, yaitu minyak bumi, gas, dan batubara.13 Peningkatan konsumsi energi berbasis fosil itu, diperkirakan akan meningkatkan emisi sampai 3 (tiga) kali lipat dan menjadi sektor penyumbang emisi GRK terbesar di Indonesia.14 Tanpa adanya usaha-usaha diversifikasi dan konservasi energi, emisi GRK dari sektor pembangkit pada tahun 2025 akan naik menjadi enam

12 13 14

http://dbm.djmbp.esdm.go.id/old/portal-dpmb/modules/_news/news_detail.php Maritje, Hutapea. 2009. Energy and Climate Change in Indonesia. Paper presented at Workshop on Climate Change and Energy, Bangkok, 26-27 March, 2009. PEACE.2007. Indonesia and Climate Change: Working Paper on Currenct Status and Policies. Jakarta, March 2007.

147

kali lipat dari emisi GRK pada saat ini, menjadi sebesar 2.167 juta ton CO2e. Sedangkan dengan asumsi usaha-usaha diversifikasi dan konservasi energi berjalan sesuai dengan rencana, emisi GRK dari sektor energi pada tahun 2025 akan naik 3 (tiga) kali lipat dari emisi GRK saat ini, yaitu sebesar 1.100 juta ton CO2e.15

D.

Penataan Ruang

KESALAHAN dalam penataan ruang, baik di tingkat nasional maupun daerah dapat menyebabkan meningkatnya kerentanan terhadap dampak perubahan iklim. Banyak alih fungsi hutan lindung menjadi perumahan di tepi pantai, dapat mengancam kawasan pantai itu menjadi lebih rentan terhadap gelombang laut.

Gambar 3. Skenario normal konsumsi berbagai jenis energi di Indonesia sampai 2030

15

Lestari, Gita. 2007. Pengarusutamaan Isu Perubahan Iklim di Sektor Energi. http://lead. co.id/. Jakarta.

148

Gambar 4. Sumber-sumber utama emisi gas rumah kaca pada skenario normal sampai tahun 2030

Menurut dokumen RAN-PI (Rencana Aksi Nasional – Perubahan Iklim), komposisi bauran energi (mix energy) yang diharapkan bisa tercapai pada tahun 2025 sesuai dengan Peraturan Presiden No.5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, adalah: minyak bumi 20%, batu bara 33%, gas alam 30%, bahan bakar nabati (biofuel) 5%, panas bumi 5%, sumber energi baru terbarukan lainnya 5%, dan batu bara yang dicairkan (liquified coal) sebesar 2%. Tanpa melakukan upaya penurunan emisi, diperkirakan emisi CO2 dari sektor energi di Indonesia bisa mencapai 1.200 juta Ton pada tahun 2025. Dengan melakukan upaya diversifikasi sumber energi (dengan target penggunaan energi baru dan terbarukan sebesar 17% dari komposisi energi nasional) dan upaya konservasi,
149

maka emisi CO2 ditargetkan bisa turun hingga 17% terhadap skenario Business as Usual (BAU).16 Bila dilakukan maksimalisasi panas bumi hingga mencapai 8,4% dari energi nasional (melebihi target PERPRES yang sebesar 2%) emisi CO2 akan turun lebih jauh menjadi 20%. Sedangkan penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) pada sektor pembangkit listrik akan mampu menekan emisi CO2 hingga 37% pada tahun 2025.17

16 17

Laporan lengkap lihat, Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup.2007. Rencana Aksi Nasional Menghadapi Perubahan Iklim. Jakarta. Hal. 33-35. Idem

150

2

Regulasi Internasional

KEKHAWATIRAN dampak perubahan iklim mulai dibahas serius oleh PBB pada Konferensi PBB untuk Lingkungan dan Pembangunan (UNCED), atau lebih dikenal dengan Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro, Brasil tahun 1992. Salah satu pakta lingkungan yang dihasilkan oleh KTT Bumi adalah United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), dengan tujuan utama menstabilkan gas-gas rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang dapat mencegah dampak membahayakan dari pengaruh manusia pada sistem iklim global. Pada tahun-tahun awal pendiriannya, UNFCCC bersifat legally non-binding, karena tidak mengatur adanya kewajiban yang mengikat bagi negara-negara anggota untuk membatasi emisi gas-gas rumah kaca pada tingkat tertentu, maupun untuk menetapkan mekanisme pelaksanaannya. Mulai tahun 1995 para pihak yang terlibat dalam UNFCCC bertemu secara teratur dalam
151

sebuah konferensi yang kelak dikenal dengan nama Conference on Parties (COP). COP-1 diadakan di Berlin, dan dalam konferensi ini negaranegara industri maju sepakat untuk mengikatkan diri mereka dengan kewajiban mengurangi emisi sampai tingkat tertentu beserta tenggat waktu, dan didukung kebijakan serta ukuranukuran yang jelas untuk memenuhi target tersebut. Kedua hasil penting dari COP-1 inilah yang dikenal sebagai Berlin Mandate (Mandat dari Berlin) yang akan menentukan negosiasi dalam COP selanjutnya. Untuk menjawab skeptisisme yang menyatakan bahwa perubahan iklim tidak memiliki basis sains yang dapat dipertanggungjawabkan serta dipenuhi oleh ketidakpastian, maka dalam COP-2 di Swiss, para menteri yang dari negara-negara yang telah meratifikasi Berlin Mandate memperkuat komitmen mereka dengan menandatangani Minister Declaration untuk menyatakan bahwa perubahan iklim akibat dampak manusia telah terjadi, serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Langkah bersejarah dalam negosiasi perubahan iklim global terjadi pada COP-3 di Tokyo tahun 1997, ketika seluruh anggota sepakat menandatangani sebuah protokol memuat kewajiban setiap negara untuk memenuhi batas maksimal emisi gasgas rumah kaca, dan tenggat pelaksanaannya. Para pihak yang menandatangani Protokol Kyoto dibagi dua yaitu negara-negara industri maju yang digolongkan dalam Annex I dengan kewajiban
152

memenuhi target emisi (legally binding), dan Annex B yang terdiri dari negara-negara berkembang tanpa kewajiban mengikat. Hal-hal pokok yang diatur Protokol Kyoto adalah: Kepastian target emisi untuk setiap negara anggota, Kerangka umum perdagangan karbon, dan Komitmen untuk mengadakan COP selanjutnya yang diikuti penetapan sanksi bagi negara yang tidak berhasil memenuhi target mereka. Sampai bulan Juli 1996, protokol sudah diratifikasi oleh 164 pemerintah di seluruh dunia dan hampir semua negara industri maju, kecuali oleh dua negara yaitu Amerika dan Australia, yang sudah menandatangani protokol tetapi gagal mendapatkan dukungan para wakil rakyat di dalam negeri untuk meratifikasinya. Indonesia meratifikasi Protokol Kyoto tanggal 3 Desember 2004 pengesahan DPR RI terhadap Undang-Undang No.17 tahun 2004 tentang Pengesahan Kyoto Protokol Desain Protokol Kyoto sebenarnya ditujukan kepada targettarget di tingkat nasional, tetapi setiap anggota mempunyai tiga mekanisme lain untuk mencapai targetnya melalui kerjasama dengan negara lain, yaitu: • Perdagangan Emisi Internasional (IET) • Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM) • Joint Implementation (JI) Mekanisme IET didasarkan oleh ide pembatasan emisi di negara-negara Annex I, sedangkan CDM dan JI adalah mekanisme
153

berbasis proyek. Bila CDM diterapkan berdasarkan ide meningkatkan pembatasan produksi emisi di negara-negara Annex B, maka JI mempunyai ide yang sama, tetapi diterapkan di negara Annex I. Jumlah proyek yang telah mendapatkan sertifikat reduksi emisi dalam mekanisme CDM di Indonesia, hingga Januari 2010 terhitung hanya enam proyek, sangat kecil dibandingkan Cina dan India yang berjumlah ratusan.18 Tahun 1988 juga menjadi tahun bersejarah bagi negosiasi iklim global, ketika Badan Meteorologi Dunia dan UNEP mendirikan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). Lembaga ini ditugaskan untuk menyediakan basis data ilmiah terkait perubahan iklim, dan menjadi basis negosiasi dalam perundingan di konferensi UNFCCC.19 Tahun 2007 IPCC dan Al Gore menerima Nobel Perdamaian atas upaya mereka dalam program perubahan iklim global. Pada COP-13 di Bali tahun 2007, pemerintah Australia akhirnya meratifikasi Protokol Kyoto dan resmi mengikatkan dirinya pada kewajiban pengurangan emisi gas rumah kaca, sedangkan Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara industri di dunia yang belum meratifikasi protokol. Per-bulan Oktober 2009 atau dua bulan menjelang COP-15 di Copenhagen, sebanyak 187 pemerintahan telah resmi meratifikasi protokol.
18 19 Untuk CDM dan status proyek di seluruh dunia, lihat http://www.cdmpipeline.org / dan http://cdm.unfccc.int/ Untuk sejarah lengkap IPCC, lihat http://www.ipcc.ch/, dan sejarah lengkap UNFCCC, lihat, http://www.unfccc.int/

154

3

Kebijakan Berbasis Perubahan Iklim

PEMERINTAH Indonesia berusaha menunjukkan keseriusannya menanggulangi dampak perubahan iklim global melalui berbagai kebijakan. Tahun 2007 pemerintah menyelesaikan Rencana Aksi Nasional-Menghadapi Perubahan Iklim (RAN-PI) yang memuat pedoman bagi institusi atau lembaga terkait dalam melaksanakan berbagai upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Salah satu kelemahan RAN ini adalah sifatnya yang tidak mengikat, sehingga kementerian masih dapat mengeluarkan kebijakan yang menghambat bahkan kontra-produktif terhadap program mitigasi perubahan iklim. Hingga kini, paling tidak sudah tercatat empat regulasi yang diterbitkan Departemen Kehutanan berkaitan dengan perubahan iklim dan perdagangan karbon. Pertama, Peraturan Menteri Kehutanan No. P.14/Menhut-II/2004 tentang Tata Cara Aforestasi dan Reforestasi dalam Kerangka Pembangunan Bersih. Kedua,

155

Peraturan Menteri Kehutanan No. P.68/Menhut-II/2008 tentang Penyelenggaraan Demontration Activities Pengurangan Emisi Karbon dari Deforestasi dan Degradasi Hutan. Ini biasa disebut program REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation). Ketiga, Peraturan Menteri Kehutanan No. P.30/Menhut-II/2009 tentang Tata Cara Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan. Terakhir, Peraturan Menteri Kehutanan No. P.36/MenhutII/2009 tentang Perizinan Usaha Pemanfaatan Penyerapan dan/atau Penyimpanan Karbon pada Hutan Produksi dan Hutan Lindung. Peraturan Pemerintah No.46 Tahun 2008 tentang Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) yang bertujuan untuk mengkoordinasikan pelaksanaan pengendalian perubahan iklim dan untuk memperkuat posisi Indonesia di forum internasional dalam pengendalian iklim. Dengan pembentukan DNPI, maka koordinasi program perubahan iklim di tingkat nasional berada di tangan DNPI dan Presiden.

156

4

Dampak terhadap Perekonomian Nasional

STUDI global yang diungkapkan dalam Stern Report terhadap dampak perubahan iklim terhadap perekonomian menyimpulkan, konsekuensi yang timbul dari efek perubahan iklim yang ekstrim adalah kenaikan nilai belanja antara 5%-20% dari Gross World Product (Produk Global Bruto). Apakah program berbasis mitigasi dan adaptasi perubahan iklim akan menguntungkan atau merugikan perekonomian Indonesia dan memperlambat pertumbuhan ekonomi saat ini? Pemerintah Indonesia belum merilis hasil studi khusus tentang dampak perubahan iklim terhadap aspek-aspek perekonomian Indonesia, tetapi ADB telah menerbitkan hasil studi serupa tahun 2009, untuk kawasan Asia Tenggara. Kesimpulannya, kawasan Asia Tenggara kemungkinan menderita perubahan iklim lebih besar daripada rata-rata global.

157

Asia Tenggara berkontribusi sebanyak 12% terhadap total emisi gas rumah kaca di dunia pada tahun 2000. Dan dengan pertumbuhan ekonomi dan populasi yang cepat angka kontribusi ini diperkirakan akan terus meningkat. Kawasan ini mempunyai peranan penting dalam pengurangan emisi gas rumah kaca global di masa mendatang. Dalam skenario emisi tinggi, suhu tahunan ratarata di empat negara—Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam— diperkirakan meningkat rata-rata 4,8°C sampai tahun 2100 dari tingkat suhu rata-rata pada tahun 1990; permukaan laut dunia rata-rata diperkirakan meningkat 70 sentimeter selama periode yang sama, dengan konsekuensi yang mengerikan bagi kawasan ini. Indonesia, Thailand, serta Vietnam diperkirakan akan mengalami cuaca yang lebih kering dalam 2–3 dekade mendatang.20 Menurut ADB, biaya rata-rata perubahan iklim untuk keempat negara itu—jika dunia terus “melakukan kegiatan seperti biasanya” dan jika semua dampak pasar dan bukan pasar dan resiko bencana besar dipertimbangkan—akan sama dengan hilangnya 6,7% Produk Domesik Bruto (PDB) setiap tahunnya hingga tahun 2100. Kerugian ini lebih dari dua kali lipat kerugian rata-rata global. Hingga akhir abad ini, biaya ekonomi secara keseluruhan per tahun rata-rata dapat mencapai 2,2% dari PDB jika hanya dampak pasar yang

20

ADB. 2009. Ekonomi Perubahan Iklim di Asia Tenggara: Tinjauan Regional. Intisari. Manila, Filipina, April, 2009.

158

dipertimbangkan; jika dampak non-pasar ikut dihitung maka bisa mencapai 5,7% dari PDB; dan bisa naik hingga 6,7% dari PDB jika risiko-risiko bencana besar ikut dihitung. Hal ini terjadi karena keempat negara tersebut memiliki garis pantai yang relatif panjang, konsentrasi populasi yang tinggi di daerah pesisir, ketergantungan yang tinggi akan pertanian dan sumber daya alam, kapasitas adaptasi yang relatif rendah, dan kebanyakan memiliki iklim tropis dibandingkan negara-negara lain di dunia. Dengan stabilisasi gas rumah kaca pada tingkat 450–550 ppm, biaya ekonomi secara keseluruhan karena pemanasan global menjadi jauh lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa biaya jika tidak melakukan tindakan, dan karenanya manfaat dari melakukan tindakan, bisa sangat besar di empat negara tersebut.21 Krisis ekonomi Asia tahun 1997-1998 dan krisis ekonomi global 2007-2009, menawarkan peluang untuk memulai suatu transisi untuk mewujudkan ekonomi yang tahan iklim dan rendah karbon di Asia Tenggara. Program-program stimulus hijau dapat sekaligus menopang ekonomi, menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, mengurangi emisi karbon, dan menyiapkan kawasan secara lebih baik dalam menghadapi pengaruh-pengaruh perubahan iklim yang terburuk.

21

Idem

159

5

Peranan Stakeholder Utama

UPAYA Mitigasi dan Adaptasi perubahan iklim membutuhkan kerjasama yang kuat di antara sektor-sektor pembangunan. Kedua upaya tersebut membutuhkan sumber dana yang cukup besar. Untuk mencapai kepada kondisi tersebut pada tahun 1990, telah dibentuk Komisi Nasional Perubahan Iklim (melalui Kepmen No. 07/MENKLH/1/1990 tentang Pembentukan Komite Pemantauan dan Evaluasi Dampak Perubahan Iklim pada Lingkungan). Pada Tahun 1992 komite tersebut dibubarkan dan diganti berdasarkan Kepmen No. 35/MENKLH/8/1992 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Komite Nasional Iklim dan Lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan kelancaran pelaksanaan tugas-tugas di bidang lingkungan hidup dan dampaknya. Bulan April 2003, Kementrian Negara Lingkungan Hidup kembali membentuk Komisi Nasional dan Tim Teknis Perubahan Iklim (Kepmen No. 53 Tahun 2003) dalam rangka mengantisipasi perubahan iklim di tingkat tingkat dan koordinasi serta kerjasama berbagai pemangku kepentingan. Dampak penting perubahan iklim terhadap kehidupan dan pembangunan, telah mendorong Presiden Susilo Bambang
160

Yudhoyono menetapkan Peraturan Presiden No. 46 Tahun 2008 tentang Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI). Otoritas nasional untuk mengintegrasikan rencana, strategi dan implementasi program terkait perubahan iklim dan pengawasannya, berada di tangan DNPI yang diketuai langsung Presiden Republik Indonesia. Dewan ini adalah koordinator tingkat nasional untuk seluruh sektor strategis pembangunan dalam mengarus-utamakan (mainstreaming) program-program berbasis perubahan iklim. Berpedoman RAN-PI, para menteri atau pemimpin lembaga negara dapat menyusun sendiri rencana aksi kementeriannya, yang disesuaikan dengan rencana aksi nasional. Di dalam era otonomi daerah, dimungkinkan pula gubernur atau bupati membentuk sebuah lembaga seperti DNPI menyusun cetak biru program tentang perubahan iklim dan memberi masukan untuk tingkat daerah. Selain DNPI, ada pula Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang tugas pokoknya antara lain menyusun dan merumuskan kebijakan pembangunan nasional. Pertengahan tahun 2009, Bappenas menerbitkan Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR) yang merupakan dokumen strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk sembilan sektor pemerintahan seperti kehutanan, energi, industri, kesehatan, transportasi, limbah, pertanian, perikanan dan kelautan, dan sumberdaya air. Strategi itu diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam menyusun kebijakan terkait perubahan iklim. 22

22

Lihat, Bappenas. 2009. Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR), Synthesis Report. Jakarta, December,2009.

161

6

NAMA dan Target Emisi

SALAH satu dokumen penting yang dihasilkan oleh Bali Road Map adalah Bali Action Plan yang antara lain memuat NAMA (Nationally Appropriate Mitigation Action), yang merujuk pada serangkaian tindakan kebijakan dan aksi dari pemerintah untuk mengurangi emisi gas-gas rumah kaca. Implementasi NAMA berbedabeda setiap negara, sesuai prinsip “common but differentiate responsibilities and respective capabilities”. Fokus NAMA Indonesia adalah mengintegrasikan kebijakan berbasis perubahan iklim dengan aspek-aspek pembangunan ekonomi lainnya yang berbasis pro growth, pro job, pro poor dan pro environment. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di bawah NAMA antara lain pemantauan pengurangan emisi (pengurangan lahan kritis hingga 51% pada tahun 2012), menambah sumber-sumber energi ramah lingkungan dalam bauran energi nasional seperti geothermal, untuk mengurangi emisi sektor energi sebesar 17% pada tahun 2025, dan konversi limbah menjadi energi. Program lain adalah meningkatkan

162

partisipasi swasta dalam CDM, dan program pengelolaan pesisir dan kelautan secara integratif.23 Dalam pertemuan G-20 di Pittsburgh Amerika Serikat tahun 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi secara sukarela sebesar 26 % pada tahun 2020, berbasis tingkat emisi tahun 2005. Komitmen ini lebih tinggi dari Jepang dan Australia (25%) bahkan dari Amerika Serikat (17%). Pemerintah memiliki tujuh sektor prioritas penurunan emisi sampai tahun 2020 yaitu sektor energi yang diupayakan mampu menurunkan emisi karbon sebesar 1 persen. Sektor transportasi dan industri yang diperkirakan mendukung penurunan emisi karbon masing-masing 0,3 persen dan 0,01 persen. Lalu ada pula sektor pertanian yang diharapkan menyumbang penurunan emisi sebesar 0,3 persen, sektor kehutanan 13,3 persen, pengelolaan limbah 1,6 persen dan pengelolaan lahan gambut yang bisa mencapai 9,6 persen. Menurut perhitungan Bappenas, penurunan emisi karbon hingga 26 persen pada 2020 membutuhkan dana Rp 83,3 triliun. Dalam skenario pemerintah, bila target itu dibantu oleh negara lain, lembaga donor internasional dan dana program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), maka pengurangan emisi karbon bisa mencapai 41% pada 2020.24

23 24

Bratasida, Liana. 2008. What is ‘nationally appropriate mitigation action?’. Presentation at OECD Annex I Expert Group, Paris, May 5-6 2008. http://www.antaranews.com/berita/1261581375/penurunan-emisi-26-persen-butuh-rp833-triliun

163

7

Peranan NGO

BANYAK NGO yang terlibat dalam menangani masalah-masalah perubahan iklim dan dampaknya di Indonesia, baik pada tingkat kebijakan maupun aktivitas di akar rumput. Beberapa di antara NGO-NGO utama itu adalah: WWF Indonesia, telah berada di Indonesia sejak tahun 1961 dan merupakan salah satu NGO lingkungan terbesar dan terlama yang beroperasi di Indonesia. Lembaga konservasi ini memiliki 25 kantor perwakilan area tersebar di seluruh Indonesia, dan memiliki berbagai program antisipasi perubahan iklim, misalnya program restorasi lahan gambut di Taman Nasional Sebangau, Kalimatan Tengah. WWF juga mendorong adanya pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan, dan perlindungan spesies. Program WWF yang paling lama dan paling terkenal adalah proteksi kawasan hutan tropis di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,

164

dan Papua, untuk mengurangi illegal logging, program sertifikasi hutan, dan mencegah konversi hutan yang bernilai konservasi tinggi (HCVF). Mereka juga bekerjasama erat dengan kelompok masyarakat sipil, seperti masyarakat adat, media-massa, dan berbagai institusi pendidikan. The Nature Conservancy (TNC), baru saja menyelesaikan model penerapan REDD di kawasan hutan Berau, Kalimantan Timur. Hasil evaluasinya akan diserahkan kepada Kementerian Kehutanan agar dapat dipakai sebagai model REDD di Indonesia. Program prestisius yang dilaksanakan TNC di Indonesia adalah peluncuran Coral Triangle Initiative (CTI) pada bulan Mei, 2009 yang merupakan program enam negara untuk melindungi kawasan laut terkaya di dunia. The Conservancy juga masih aktif melakukan penelitian di berbagai kawasan perairan laut Indonesia, dan membantu pemerintah dengan menyediakan dana, staf ahli, manajemen, data, dan informasi ilmiah yang diperlukan untuk melindungi kawasan yang memiliki sensitivitas ekologis tinggi. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) adalah NGO yang didirikan tahun 1999 dan khusus menangani masalahmasalah yang berkaitan dengan masyarakat adat, terutama berhubungan dengan tuntutan kedaulatan ekonomi, budaya, dan politik. Di tingkat internasional, AMAN diakui oleh forum permanen PBB untuk masalah-masalah masyarakat adat. Dalam isu perubahan iklim, AMAN menuntut pemerintah Indonesia untuk

165

menyelesaikan berbagai masalah-masalah terkait masyarakat adat sebelum pelaksanaan berbagai mekanisme yang diputuskan dalam negosiasi iklim seperti REDD dan REDD Plus. Anggota AMAN saat ini mencapai 1.163 komunitas masyarakat, dan mengklaim mewakili lebih dari 17 juta anggota. Dalam nota kesepahaman tentang hibah US$ 1 miliar antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Norwegia, AMAN adalah salah satu NGO yang dimintai pendapat dan pertimbangannya. Greenpeace Indonesia, dikenal karena aksi-aksi langsung di lapangan. Greenpeace Indonesia berafiliasi dari Grenpeace Asia dan Greenpeace International. Kampanye Greenpeace yang terkenal di Indonesia adalah upaya mereka menghentikan pembangunan pembangkit listrik bertenaga batubara, dan kampanye mencegah konversi hutan tropis dan lahan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit. Kedua kampanye ini telah membawa dampak internasional yang sangat luas terhadap produksi minyak sawit maupun para pembelinya di luar negeri. Tekanan Greenpeace sangat kuat terhadap pasar internasional, agar menolak produkproduk yang dihasilkan dengan cara menghancurkan hutan tropis dan melepaskan lebih banyak emisi karbon. Tekanan Greenpeace Indonesia juga membantu munculnya komitmen Presiden untuk melakukan moratorium penebangan hutan alam dan pembukaan lahan gambut mulai tahun 2011. Civil Society Forum (CSF), adalah gabungan dari 23 NGO dan dibentuk menjelang berlangsungnya COP-13 di Bali tahun

166

2007. Beberapa NGO yang bergabung ke CSF antara lain Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Sawit Watch, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Yayasan Telapak, Lembaga Alam Tropika (Latin), Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), dan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam). Isu-isu yang ditangani CSF umumnya berkaitan dengan keadilan iklim, termasuk didalamnya isu-isu seperti hutang iklim (climate debt), produksi dan konsumsi, dan hak asasi manusia. Dalam beberapa isu, sikap CSF sangat keras terutama menyangkut penolakan kebijakan hutang luar negeri untuk membiayai program perubahan iklim.

167

Glossary

Adaptasi

Tindakan penyesuaian oleh sistem alam atau manusia yang berupaya mengurangi kerusakan terhadap dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim

Antropogenik

Buatan

manusia

atau

kejadian

yang

disebabkan oleh manusia Atmosfer Lapisan gas yang melingkupi satu planet, seperti bumi. Perubahan Iklim Perubahan rata-rata jangka panjang yang ditentukan oleh nilai tengah parameter cuaca dalam mengukur kondisi iklim dan variabilitasnya. Parameter tersebut antara lain termasuk suhu udara, curah hujan, dan kecepatan angin
168

Bali Road Map

Dikenal pula sebagai Peta Jalan Bali adalah dokumen kesepakatan aksi yang dihasilkan sidang COP-13/UNFCCC tahun 2007 di Bali, yang terdiri dari lima hal pokok yaitu komitmen pasca 2012, adaptasi, tranfer teknologi, REDD, dan CDM

CDM

Clean

Development

Mechanism

atau

Mekanisme Pembangunan Bersih adalah mekanisme dalam Protokol Kyoto yang membantu negara-negara industri untuk memenuhi target pernurunan emisi dan membantu untuk berkelanjutan. Efek Rumah Kaca Dampak yang ditimbulkan gas rumah kaca ketika menahan radiasi balik matahari yang dipancarkan bumi dalam bentuk panas sehingga memanaskan atmosfer bumi Gas Rumah Kaca (GRK) Gas-gas yang menyebabkan terjadinya efek rumah kaca. Beberapa GRK utama di atmosfer adalah uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), metana (CH4), ozon (O3), dinitrogen oksida (N2O), dan chlorofluorocarbon (CFC)
169

negara-negara tujuan

berkembang pembangunan

mencapai

IPCC

Intergovernmental Panel on Climate Change, terdiri atas panel ahli yang dibentuk oleh gabungan badan-badan PBB, dan terdiri dari para ahli berbagai ilmu yang berhubungan dengan perubahan iklim, dan bertanggung jawab untuk memberikan informasi dan basis ilmiah untuk UNFCCC.

Mitigasi

Tindakan untuk mengurangi emisi GRK dan untuk meningkatkan penyimpanan karbon dalam rangka mengatasi perubahan iklim

NAMA

Nationally Appropriate Mitigation Action atau Aksi Mitigasi yang Layak secara Nasional, adalah tindakan sukarela yang dilakukan oleh negara berkembang untuk mengurangi emisi karbonnya sejalan dengan konteks ekonomi, lingkungan, tersebut. sosial, dan politik negara

PDB

Produk Domestik Bruto adalah perangkat ukur pendapatan nasional dengan memasukkan nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu

REDD

Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation,
170

sebuah

mekanisme

untuk mengurangi emisi GRK dengan cara memberikan kompensasi kepada pihak-pihak yang melakukan pencegahan deforestasi dan degradasi hutan REDD Plus Kerangka kerja REDD yang lebih luas dengan memasukkan konservasi hutan, pengolahan hutan lestari atau peningkatan cadangan karbon agar partisipasi untuk menerapkan REDD semakin luas serta untuk memberikan penghargaan kepada negara-negara yang sudah melindungi hutannya Protokol Kyoto Kesepakatan internasional agar negaranegara industri dapat mengurangi emisi GRK secara kolektif sebesar 5,2 persen selama periode 2008-2012 berdasarkan tingkat emisi tahun 1990 UNFCCC United Nations Framework Convention on Climate Change atau Konvensi PBB untuk Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim adalah penjanjian yang disepakati tahun 1992 untuk mendesak negara-negara yang berkepentingan agar menstabilkan GRK pada tingkat yang tidak membahayakan manusia.

171

Fabby Tumiwa lahir di Manado pada tahun 1976. Fabby berlatar belakang pendidikan teknik elektro dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Mendirikan Institute for Essential Services Reform (IESR) pada tahun 2007 dan saat ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif. Sebelum bergabung dengan IESR, Fabby sempat berkiprah di sejumlah organisasi non-pemerintah (NGO) di Indonesia. Dia selama ini juga dikenal publik sebagai ahli analisa energi dan ketenagalistrikan Indonesia. Komentar, tulisan serta analisanya juga dipublikasikan di berbagai media baik cetak dan elektronik, selain diundang sebagai nara sumber di berbagai seminar dan konferensi internasional. Kurnya Roesad adalah penerima beasiswa PhD di Environment and Resource Management Program at the Crawford School of Economics and Government, Australian National University (ANU). Ia juga penerima penghargaan Australian Leadership. Ruang lingkup penelitiannya adalah ekonomi lingkungan dan kebijakan energi. Terkait dengan studi PhDnya, ia sempat bekerja di Jakarta sebagai peneliti di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan kemudian menjadi ekonom di kantor World Bank. Mubariq Ahmad mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia pada tahun 1985, kemudian mendapatkan gelar Master International Trade and Finance dari Columbia University pada tahun 1990 dan mendapatkan gelar Ph.D dalam bidang Natural Resources and Environmental Economics di Michigan State University pada tahun 1997. Sejak tahun 2009 sampai saat ini, Mubariq Ahmad menjadi konsultan/penasehat senior untuk bidang Kebijakan Perubahan Iklim di World Bank cabang Jakarta. Sebelumnya Mubariq aktif terlibat dalam berbagai proyek dan institusi internasional seperti menjadi Direktur Eksekutif WWF Indonesia dan Indonesian Eco-labelling Institutes, serta mengepalai proyek Manajemen Sumber Daya Natural yang dibiayai oleh USAID. IGG Maha Adi, adalah salah satu pendiri dan sekarang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ). Setelah menamatkan sarjana Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB, ia berkarir sebagai wartawan di Majalah Tempo dan editor di majalah National Geographic-Indonesia. Tahun 2010 ia mendapatkan gelar master ilmu lingkungan dari Universitas Indonesia, dan sekarang mengajar berbagai pelatihan di bidang komunikasi lingkungan dan jurnalisme lingkungan serta penulis lepas.

Friedrich-Naumann-Stiftung (FNS) didirikan pada 1958 oleh Presiden pertama Republik Federal Jerman, Theodor-Heuss. Ia menamakan lembaga ini sesuai dengan nama seorang pemikir Jerman, Friedrich-Naumann (1860-1919), yang memperkenalkan pendidikan kewarganegaraan di Jerman untuk mewujudkan warga yang sadar dan terdidik secara politik. FNS mengawali kegiatannya di Indonesia pada 1969 dan memulai kerja sama resminya dengan pemerintah Indonesia sejak 26 April 1971. FNS membagi pengetahuan dan nasihat kepada para politisi, pembuat keputusan, masyarakat sipil, dan masyarakat secara umum. Lembaga ini bekerja sama dengan lembaga-lembaga pemerintahan, organisasi masyarakat dan institusi-institusi pendidikan untuk berbagi pengetahuan dan membantu menciptakan perubahan yang positif dan damai pada masyarakat di negara-negara itu.

Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit Jl. Rajasa II No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta 12110 p. +62 21 725 6012-13 f. +62 21 7203868 email. indonesia@fnst.org www. fnsindonesia.org

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times