Pneumonia pada Anak 1. Pada bayi. Pada kelompok usia ini, pneumonia biasanya disebabkan oleh virus.

Jika penyebabnya bakteri, berbagai macam bakteri dapat menjadi penyebabnya tetapi jenis yang berbahaya adalah yang disebabkan staphylococcus aureus, yang dapat menyebabkan terbentuknya abses dan empiema. Bayi Nampak lebih sakit dibandingkan dengan pada bronchitis. Bayi cenderung pucat dan kolaps dengan rintihan waktu ekspirasi. Kegelisahan bayi disebabkan oleh hipoksia otak. Pengobatan: bayi harus dirawat dengan oksigen yang dipantau kadarnya secara teratur. Bila penyebabnya tidak diketahui maka kombinasi atibiotika yang dapat digunakan adalah flukloksasilin dan ampisilin. Mungkindiperlukan sedasi dan pemberian minum dengan pipa lambung apabila minum dengan botol menyebabkan sesak. 2. Pada anak. Sebagian besar kasus pneumonia pada usia lebih dari dua tahun disebabkan pneumokokus, tetapi sebagian disebabkan oleh staph. Aureus atau H.influenzae. Anak nampak pucat dan gelisah dengan rintihan waktu ekspirasi. Dapat juga terjadi nyeri pleura dan bila nyeri pleura dijalarkan ke perut maka dapat menyerupai apendisitis. Pengobatan: antibiotika pilihan pertama ialah benzilpensilin yang mula-mula diberikan dengan suntikan, kemudian dapat digunakan fenoksimetil penisilin. Oksigen sering kali tidak diperlukan. Pneumonia yang disebabkan mycoplasma pneumonia mempunyai gejala yang sama dengan pneumonia yang disebabkan bakteri dan virus. Tes serologis dapat menegakkan diagnosis. Pneumonia yang disebabkan M.pneumoniae responsit dengan eritromisin atau tetrasiklin. Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur, hipostatik, aspirasi, dan benda asing. 1. Pneumonia pada anak seringkali bersamaan terjadinya proses infeksi akut pada bronchus dan disebut bronchopneumonia. 2. Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronchus (bronchopneumonia). Dalam pelaksanaan program P2 ISPA semua bentuk pneumonia (baik pneumonia maupun bronchopneumonia) disebut Pneumonia. Pneumonia berdasarkan anatomic : 1. Pneumonia lobaris adalah radang paru-paru yang mengenai sebagian besar/seluruh lobus paruparu. 2. Pneumonia lobularis (bronchopneumonia) adalah radang pada paru-paru yang mengenai satu/beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrate. 3. Pneumonia interstitialis (bronkhiolitis) adalah radang pada dinding alveoli (interstitium) dan peribronkhial dan jaringan interlobular. 1. Pneumonia lobaris Gejala yang Nampak secara mendadak namunterkadang didahului oleh infeksi traktus respiratorus bagian atas. Pada anak usia besar sering disertai badan menggigil dan pada bayi disertai kejang. Suhu naik cepat sampai 39-40 derajat, napas sesak, disertai pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut serta nyeri pada dada. Terdapat batuk kering yang kemuadian menjadi batuk produktif. Pada pengkajian fisik kelainan khas tampak setelah 1-2 hari, inspeksi dan palpasi menunjukkan pergeseran toraks yang terkena berkurang. Pada permulaan suara napas melemah sedangkan pada perkusi tidak jelas ada kelainan. Setelah terjadi kongesti, terdengar ronki basah yang segera hilang setelah terjadi konsolidasi, kemudian pada perkusi jelas terdengan keredupan dengan suara pernapasan sub-bronkial sampai bronchial. Pada stadium resolusi, ronki terdengar lebih jelas. Tanpa pengobatan dapat sembuh dengan krisis 5-9 hari. 2. Bronkopneumonia Komplikasi yang dapat terjadi adalah empiema, otitis media akut. Komplikasi lain yang terjadi adalah atelektasis, emfisema, atau komplikasi seperti meningitis. Komplikasi tidak terjadi bila diberikan antibiotik secara tepat.

Sehingga menimbulkan : 1. Abses otak. maka sputum yang berlebihan akan masuk ke dalam tuba eustachius. Kortikosteroid à bila banyak lender. 2. 3. Antibiotika à berdasarkan etiologi. Osteomielitis. 4. 3. Emfisema. 2. anoreksia. 2. Cairan.Patofisiologi Bronkhopneumonia : 1. 2. 2. morbili. Fungus. 3. Meningitis. Efusi pleura. 6. Keadaan yang dapat menyebabkan bronchopneumonia adalah pertusis. Suhu dapat naik secara mendadak (38 ± 40 ºC). 6. 5. Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Bronkopneumonia 1. Streptococcus. 4. Lumen bronkhiolus terisi eksudat dan sel epitel yang rusak. paska bedah atau kondisi terminal. Sesak nafas. Otitis media akut (OMA) terjadi bila tidak diobati. Komplikasi : Bila tidak ditangani secara tepat akan menimbulkan: 1. 2. penyakit lain yang disertai dengan infeksi saluran pernafasan atas. dapat disertai kejang (karena demam tinggi). Bronkhopneumonia lebih sering merupakan infeksi sekunder. Batuk mula-mula kering kemudian produktif.9 % = 3 : 1 ditambah larutan KCl 10 mEq/500 ml cairan infuse. Penatalaksanaan : 1. Gejala khas : 1. Foto thorak = bercak infiltrate pada satu lobus/beberapa lobus. 2. Gejala Klinis : 1. gizi buruk. sehingga menghalangi masuknya udara ke telinga tengah dan mengakibatkan hampa udara. Gelisah. Obat-obatan : 1. Oksigen. Staphylococcus. 3. mortalitas dapat menurun. Reaksi radang pada bronchus dan alveolus dan sekitarnya. Pemeriksaan laboratorium = lekositosis. 2. Basil colli. Prognosis : Dengan pemberian antibiotik yang tepat. Kadang-kadang muntah dan diare. Endokarditis. 7. Pneumococcus. 7. 3. 5. 4. pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung. emfisema hal ini disebabkan karena menurunnya kapasitas fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan. Dinding bronkhiolus yang rusak mengalami fibrosis dan pelebaran. Hemovirus Influenza. Sebagian jaringan paru-paru mengalami etelektasis/kolaps alveoli. kalori dan elektrolit à glukosa 10 % : NaCl 0. 3. Sianosis pada mulut dan hidung. kemudian gendang telinga akan tertarik ke dalam dan timbul efusi. Pengkajian Riwayat Kesehatan : . 5. Etiologi : 1. 4. cepat lelah. Pseudomonas. 6. Biasanya didahului infeksi saluran pernafasan bagian atas.

Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi. Observasi tingkat kesadaran. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan. stridor. nyeri dada. Dx. Rencana tindakan : 1. b. 10. cuping hidung. Dx. pernafasan cuping hidung. tanda-tanda sianosis setiap 2 jam. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah. 2. 4. sianosis. 8. demam. 5. Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat. Kelolaa pemberian antibiotic dan obat lain sesuai program. status pernafasan. 2) Toleransi/kemampuan memahami tindakan. 3) Kesiapan/kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya. 2. takhipnea. 5. pernafasan cepat dan dangkal. imunosupresi. Psikososial : 1) Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit bronchopneumonia. penumpukan secret. Ciptakan lingkungan yang tenang dan kenyamanan pasien. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit. Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi. malnutrisi. 9. : Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan.1) Adanya riwayat infeksi saluran pernafasan sebelumnya/batuk. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus. takhipnea. morbili. 2) Auskultasi paru adanya ronchi basah. demam. pertukaran gas secara optimal dan oksigenasi jaringan secara adekuat. Pengetahuan Keluarga. AGD abnormal. 3. Beri posisi fowler/semi fowler. Intervensi a. . 3. Lakukan perkusi. dispnea. 5. Beri posisi yang nyaman yang memudahkan pasien bernafas. Beri therapy oksigen sesuai program. 7. gelisah. 8. 7. Tujuan : Pasien memperlihatkan perbaikan ventilasi. 3) Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas. 4) Pengalaman berpisah dengan keluarga/orang tua. 3. Tujuan : Jalan nafas efektif. 4) Roentgen dada abnormal (bercak konsolidasi yang tersebar pada kedua paru). Pemeriksaan Fisik : 1) Demam. penumpukan secret. 5) Batuk produktif. Monitor analisa gas darah untuk mengkaji status pernafasan. 3. 6. 3) Koping. Bantu membatukkan sekresi/pengisapan lender. 4. 5) Tingkat kecemasan. 4) Koping keluarga. 4) Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernafasan. Monitor status respiratori setiap 2 jam. tingkat perkembangan. pertusis. 2. ventilasi paru adekuat dan tidak ada penumpukan secret. Monitor analisa gas darah. Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam. sukar menelan. 6. 2. muntah. Sediakan sputum untuk kultur/test sensitifitas. Beri oksigen sesuai program. 6. pilek. Cegah terjadinya kelelahan pada pasien. seperti . vibrasi dan postural drainage setiap 4 ± 6 jam. LED meningkat. Rencana Tindakan : 1. 5) Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya. 4. 3) Laboratorium lekositosis. : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus. takipnea. sianosis. Beri minum yang cukup. Faktor Psikososial/Perkembangan : 1) Usia. Diagnosa Keperawatan 1. 2) Pengalaman keluarga dalam menangani penyakit saluran pernafasan. kaji adanya peningkatan status pernafasan dan bunyi nafas abnormal. Ciptakan lingkungan yang nyaman sehingga pasien dapat tidur tenang. 2) Anoreksia.

Beri minum peroral secara hati-hati. 2. Tujuan : Pasien akan mempertahankan cairan tubuh yang normal. Lakukan oral hygiene. Dorong ibu untuk selalu mensupport anaknya dengan cara ibu selalu berada di dekat anaknya. 2. 3. 7. : Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi. Dx. manfaat. : Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit. istirahat dan aktifitas yang sesuai. Beritahu tempat yang harus dihubungi bila kambuh. 4. f. monitor keakuratan tetesan infuse. nyeri dada. d. 5. Bantu orang tua untuk mengembangkan rencana asuhan di rumah . : Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat. 3. Beri reinforcement untuk perilaku yang positif.c. 2. Bantu pasien pada posisi yang nyaman baginya. Implementasi . Beri reinforcement untuk perilaku yang positif. Beri O2 sesuai program. 5. takipnea. Observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam. 2. turgor kulit. 3. Kaji toleransi fisik pasien. 2. 5. Bantu menekan dada pakai bantal saat batuk. Bantu pasien dalam aktifitas dari kegiatan sehari-hari. Dx. Kelola pemberian antipiretik dan antibiotic. 4. Tujuan : Anak dapat beraktifitas secara normal dan orang tua tahu tahap-tahap yang harus diambil bila infeksi terjadi lagi. jika suhu naik beri kompres dingin. kesadaran menurun. 5. Monitor keseimbangan cairan à membrane mukosa. Rencana Tindakan : 1. 4. Tujuan : Kecemasan teratasi. Beri pemenuhan kebutuhan energi. Tujuan : Suhu tubuh dalam batas normal. demam. Dx. Ajarkan pemberian antibiotic sesuai program. Rencana Tindakan : 1. Rencana Tindakan : 1. 3. 6. keseimbangan diit. Sediakan permainan yang sesuai usia pasien dengan aktivitas yang tidak mengeluarkan energi banyak à sesuaikan aktifitas dengan kondisinya. g. 3. Rencana Tindakan : 1. nadi cepat. Jelaskan dengan bahasa sederhana tentang tindakan yang dilakukan à tujuan. : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah. 4. : Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi. Rencana Tindakan : 1. Kelola pemberian antipiretik dan anlgesik serta antibiotic sesuai program. dapat batuk efektif dan suhu normal. 4. 4. Catat intake dan out put cairan. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang perawatan anak dengan bronchopneumonia. e. Pertahankan keakuratan tetesan infuse sesuai program. Ajarkan cara mendeteksi kambuhnya penyakit. Dx. : Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam. Cek suhu setiap 4 jam. Rencana Tindakan : 1. 3. Beri kompres dingin. 2. Anjurkan ibu untuk tetaap memberi cairan peroral à hindari milk yang kental/minum yang dingin à merangsang batuk. Tujuan : Pasien akan memperlihatkan sesak dan keluhan nyeri berkurang. Dx. Tujuan : Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kondisi. 4. Dx. h. Fasilitasi rasa aman dengan cara ibu berperan serta merawat anaknya. Usahakan pasien dapat istirahat/tidur yang cukup. Kaji tingkat kecemasan anak. bagaimana dia merasakannya. Tekankan perlunya melindungi anak kontak dengan anak lain sampai dengan status RR kembali normal. dispnea. tanda-tyanda vital.

Pediatrics for nurses.Prinsip implementasi : 1. beri O2 sesuai program. Tata laksana medis ‡ Penisilin 50. Tingkatkan istirahat pasien dan aktifitas disesuaikan dengan kondisi pasien. (1992). Semarang: IKIP Semarang Press. maka dapat diberikan koreksi sesuai dengan hasil analisis gas darah arteri. 5. 5. Kepustakaan Ngastiah. Analisa gas darah normal. 3. ‡ Pemberian oksigen dengan cairan intravena. . Perlu partisipasi orang tua dalam merawat anaknya di RS. biasanya diperlukan campuran glucose 5%. Observasi status hidrasi untuk mengetahui keseimbangan intake dan out put. Dr. ditambah dengan kloramfenikol 50-70 mg/kgBB/hari atau diberikan antibiotik yang mempunyai spectrum luas seperti ampisilin. pengobatan ini diteruskan sampai bebas demam 4-5 hari. dan NaCl 0. lakukan fisioterapi dada setiap 4 ± 6 jam dan lakukan pengeluaran secret melalui batuk atau pengisapan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran: EGC Speirs. 4.9% dalam perbandingan 3:1 ditambah larutan KCl 10mEq/500 ml/botol infuse.000 U/kgBB/hari. 2. fungsi pernafasan baik. (2008). Sidhartani Zain).L. Observasi status pernafasan seperti bunyi nafas dan frekuensi setiap 2 jam. ‡ Karena sebagian besar pasien jatuh ke dalam asidosis metabolik akibat kurang makan dan hipoksia. Monitor suhu tubuh. Evaluasi Hasil evaluasi yang ingin dicaapai : 1. 2. Beri pengetahuan pada orang tua tentang bagaimana merawat anaknya dengan bronchopneumonia. A. Perawatan anak sakit. (Terj. Jalan nafas efektif. 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful