PENGONTROLAN PERALATAN LISTRIK MELALUI JALUR TELEPON BERBASIS KOMPUTER

SKRIPSI

diajukan untuk melengkapi sebagian persyaratan akademik guna memperoleh gelar Sarjana Teknik

Oleh: ROMADHANI NIM : 9941510102

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA

DARUSSALAM, BANDA ACEH
Maret, 2005

ii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi dengan judul : PENGONTROLAN PERALATAN LISTRIK MELALUI JALUR TELEPON BERBASIS KOMPUTER Yang dibuat untuk melengkapi sebagian persyaratan menjadi Sarjana Teknik pada Jurusan Teknik Elektro Universitas Syiah Kuala, sejauh yang saya ketahui bukan merupakan tiruan atau duplikasi dari skripsi yang sudah dipublikasikan dan atau dipakai untuk mendapatkan gelar Sarjana di lingkungan Universitas Syiah Kuala maupun di perguruan tinggi atau instansi manapun, kecuali bagian yang sumber informasinya dicantumkan sebagaimana mestinya.

Banda Aceh, 26 Maret 2005 Penulis,

Romadhani NIM: 9941510102

iii

PENGESAHAN Skripsi dengan judul : PENGONTROLAN PERALATAN LISTRIK MELALUI JALUR TELEPON BERBASIS KOMPUTER Dibuat untuk melengkapi sebagian persyaratan akademik pada Jurusan Teknik Elektro, guna memperoleh gelar Sarjana Teknik pada Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala. Skripsi ini telah disidangkan di hadapan dosen penguji pada tanggal 26 Maret 2005 dan dinyatakan telah memenuhi syarat suatu skripsi. Banda Aceh, 28 Maret 2005 Disetujui oleh, Dosen Pembimbing Co. Pembimbing

Hubbul Walidainy, ST., M.T. NIP. 132 282 989

Ir. Syahrizal, M.T. NIP. 132 133 744

Mengesahkan, Ketua Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala

Dr. Ir. Yuwaldi Away, M.Sc NIP. 131 878 532

iv

“… ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (Qs: Al-Ahqaaf-15)” Ibu dan Ayah, Berapa jauh jalan kau tempuh…Berapa lama usia kau jalani… Berapa banyak peluh kau tumpahkan…Seberapa pedih kau tanggung derita… Apakah pamrih yang kau harap…? Atau malah perih kau dapat…? Seribu pertanyaan tak ingin kau jawab Bukan engkau tak tahu jawabannya Tapi inginkan aku mencari jawaban sendiri Semua demi aku, anakmu Ibu dan Ayah, Kini aku telah sampai pada altar pertama cita-citaku Tiada kebanggan lain selain melihat anakmu berhasil Dan aku yakin, Inilah jawaban atas semua pertanyaan. Persembahanku untuk orang-orang tercinta; Ayahanda Salikin & Ibunda Sani, Kakanda Saliyem, Misriati, SanoEdi, Muryuwati, Subagiar, Sukino, serta Adinda Sarni atas semua dukungan moril dan materiil. Special Thanks for my beloved Sister; An emptyness that you’ve fill, gave me a new shape A shape that never create on the emptyness ordered Making sure that is a black emptyness You make me sure that black become sweet in the fill side An empty is an… heart The load is an… love You’re that sweet… Risha Ayu Hayruma Romadhani

v

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis diberi kesempatan untuk dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini, serta shalawat dan salam kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah membawa umatnya ke alam yang terang benderang seperti saat sekarang ini. Tugas Akhir dengan judul “Pengontrolan Peralatan Listrik Melalui Jalur Telepon Berbasis Komputer” ini ditulis untuk memenuhi salah satu persyaratan akademik guna mencapai derajat Strata-1 Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesarbesarnya, penghormatan dan kebanggaan untuk Ayahanda Salikin dan Ibunda Sani. Terimakasih untuk Kakanda Subagiar, Sukino, Saliyem, Misriati, Sano Edi, Muryuwati, dan tak lupa untuk Adinda Sarni yang turut memberikan dukungan moril dan materiil sehingga Tugas Akhir ini dapat terlaksana dengan baik. Dalam pelaksanaan dan penulisan Tugas Akhir ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Hubbul Walidainy, ST., M.T. selaku pembimbing utama dan Alm. Bapak Iskandar A. Harsadi, ST selaku Co-pembimbing, serta Bapak Ir. Syahrizal, M.T selaku Co-pembimbing pengganti. Terimakasih penulis haturkan kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dalam menyelesaikan penulisan Tugas Akhir ini. 1. Bapak Dr. Ir. Yuwaldi Away, M.Sc, selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unsyiah yang merangkap sebagai dosen penguji. 2. Bapak Ir. Syahrizal, M.T, selaku Sekretaris Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unsyiah yang merangkap sebagai dosen pembimbing. 3. Bapak Zulhelmi, ST, selaku Kepala Laboratorium Elektronika Fakultas Teknik Unsyiah yang merangkap sebagai dosen penguji. 4. Bapak Ismahadi, selaku Laboran Lab. Elektronika Fakultas Teknik Unsyiah.

vi

5. Dosen-dosen dan karyawan Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unsyiah. 6. Rekan-rekan mahasiswa angkatan ’98; Azis Maulana (Thanks for your device), Cut ampon, Irwanda. ST, Roni, Iswandi. ST, Mutia. Angkatan ’99; Maulida (thanks for your catridge), Asmalya (Thanks for your computer), Rijalulfikri (for your book), Khairuman, M. Nasir, Budi Amri. Angkatan ’00; Ahmad Fauzi (thanks for making my PCB), Nurul Afdal, Rahmad Sadli, Sri Marlina S, Cut Marlia S & Haidi Alfitrah (thanks for making my device picture). Angkatan ’01; Amalia, Rosna Gunadum, Nuriar Rosa (thanks all for your support, I’ll never forget it). Alm. M. Taufiq Hidayat dan Alm. Sona Sagita yang telah menjadi korban Tsunami tanggal 26 Desember 2004. Teman-teman yang turut membantu; Ray C Ayadhi, Cut KIS, Mursada, Mulia Rahman, Eko Ferdian, such and the gank in TP FAPERTA. 7. Seluruh teman-teman yang telah membantu terlaksananya penulisan Tugas akhir ini, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan.

Banda Aceh, 28 Maret 2005 Penulis,

Romadhani NIM. 9941510102

vii

ABSTRAK Mengontrol peralatan listrik dapat dilakukan dari jarak dekat maupun jarak jauh dengan memanfaatkan suatu media transmisi. Peralatan listrik yang umum digunakan adalah lampu listrik. Pengontrolan berupa menghidupkan dan mematikan lampu dapat menggunakan media transmisi jalur telepon. Tugas Akhir ini membahas perancangan sistem yang dapat digunakan untuk mengontrol delapan buah lampu listrik dengan memanfaatkan nada DTMF. Sistem yang dirancang terdiri dari pendeteksi nada dering, pengangkat telepon, dekoder nada DTMF, dan rangkaian penggerak untuk menghidupkan lampu. Sistem ini juga dilengkapi dengan program perekam telepon. Pendeteksi nada dering digunakan untuk mendeteksi adanya panggilan pada pesawat telepon penerima. Pengangkat telepon digunakan untuk menerima panggilan yang sedang berlangsung dan memutuskan panggilan jika telepon pengirim telah ditutup. Dekoder DTMF digunakan untuk mengubah nada DTMF menjadi data 4 bit. Sedangkan rangkaian penggerak digunakan sebagai saklar untuk menghubungkan lampu listrik dengan jaringan PLN. Mematikan dan menghidupkan lampu dilakukan dengan menekan nomor lampu yang dituju pada keypad pesawat telepon pengirim pada saat panggilan telah diterima. Perekam pesan dan program penggerak dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman Microsoft Visual Basic 6.0.

viii

ABSTRACT Electronic equipment can be done by using some transmition medium. Some of the device that commonly used is a lamp. The controlling idea is turn on and off a lamp from a distance through a media as phone line transmition. This Thesis discuss on designing a system that used to control lamp using DTMF. The system are consist of the ringing tone detector, phone answering, DTMF decoder, and a driving circuit for turning the lamp on. The system is also complete by a program for phone recording. A ringing tone detector commonly used to detect a call on a phone set. The phone answering use for receiving a call and closing the call when the phone sender is closed. DTMF decoder use to reverting DTMF tone to a 4 bit data. While that, the driver circuit use as a switch that connect the lamps to the electric source. Turning the lamp on or off are done by pushing the lamps number on the keypad of the phone set when it receive a call. The message recorder and driver program are made by using programming languages such as Ms. Visual Basic 6.0.

ix

DAFTAR ISI Halaman LEMBAR JUDUL ......................................................................................... i PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ...................................................... ii LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... iii PERSEMBAHAN .......................................................................................... iv KATA PENGANTAR ................................................................................... v ABSTRAK …….............................................................................................. vii ABSTRACT .................................................................................................... viii DAFTAR ISI .................................................................................................. ix DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xii DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiv BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................... 1 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 Latar Belakang ........................................................................ 1 Rumusan Masalah ................................................................... 2 Tujuan ..................................................................................... 2 Metodologi Penelitian ............................................................. 2 Sistematika Penulisan Laporan ............................................... 3

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN ...................................................... 5 2.1 2.2 Dual Tone Multi Frequency (DTMF) ..................................... 5 Teori Dasar Pesawat Telepon ................................................. 7 2.2.1 Catu Daya Pesawat Telepon ......................................... 7 2.2.2 Nada Dering (Ringing Tone)......................................... 8 2.2.3 Duplex Coil.................................................................... 9 2.3 2.4 2.5 Penerima/Dekoder DTMF MT8870 ........................................ 10 Parallel Printer Port (LPT1) .................................................... 13 Dioda dan Light Emiting Diode (LED) .................................. 15 2.5.1 Bahan Semikonduktor .................................................. 15 2.5.2 Semikonduktor tipe-N dan tipe-P.................................. 15

x

2.5.3 Dioda Persambungan .................................................... 16 2.5.4 Forward Bias dan Reverse Bias .................................... 17 2.5.5 Light Emiting Diode (LED) ......................................... 18 2.6 Transistor dan Phototransistor ................................................ 19 2.6.1 Transistor ...................................................................... 19 2.6.2 Phototransistor............................................................... 21 2.7 2.8 Switching................................................................................. 21 Microsoft Visual Basic 6.0....................................................... 22 2.8.1 Lingkungan Visual Basic .............................................. 23 2.8.2 Teknologi ActiveX........................................................ 26 BAB 3 PERANCANGAN DAN REALISASI ALAT .............................. 28 3.1 3.2 Diagram Blok Sistem .............................................................. 28 Perancangan Perangkat Keras (Hardware) ............................. 29 3.2.1 Pengkondisi Sinyal Dering ........................................... 30 3.2.2 Penerima/Dekoder DTMF MT8870 ............................. 31 3.2.3 Relay Pengangkat Telepon ........................................... 32 3.2.4 Penggerak danRelay Beban .......................................... 33 3.2.5 Pengawatan untuk Jalur Suara Masuk dan Keluar........ 34 3.3 Perancangan Perangkat Lunak (Software)............................... 36 3.3.1 Diagram Alir (Flowchart).............................................. 36 3.3.2 Perancangan Tampilan (Layout View).......................... 39 BAB 4 PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN ............................................ 41 4.1 Pengujian Sistem ..................................................................... 41 4.1.1 Pengujian Pengkondisi Sinyal Dering .......................... 41 4.1.2 Pengujian Dekoder DTMF ........................................... 43 4.1.3 Pengujian Sinyal Suara ................................................. 45 4.2 Pengujian Sistem Secara Keseluruhan .................................... 46 4.2.1 Pengujian Sistem Pengontrolan .................................... 47 4.2.2 Pengujian Sistem Perekaman ........................................ 48 4.3 Pembahasan ............................................................................. 48

xi

BAB 5 PENUTUP ....................................................................................... 52 5.1 5.2 Kesimpulan ............................................................................. 52 Saran ....................................................................................... 52

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 54 LAMPIRAN A. SKEMA RANGKAIAN LENGKAP ................................ 55 LAMPIRAN B. FOTO ALAT ...................................................................... 56 LAMPIRAN C. LIST PROGRAM PENGGERAK ................................... 57 LAMPIRAN D. DATA SHEET MT8870 .................................................... 70

xii

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1. Spektrum frekuensi nada DTMF ................................................ 5 Gambar 2.2. Susunan kombinasi nada DTMF pada tombol ........................... 6 Gambar 2.3. Sinyal paduan 697 Hz dan 1209 Hz untuk tombol ‘1’ ............... 7 Gambar 2.4. Pencatuan daya pesawat telepon sederhana ................................ 8 Gambar 2.5. Skema pesawat telepon DTMF ................................................... 9 Gambar 2.6. Duplex Coil ................................................................................. 9 Gambar 2.7. Konfigurasi pin IC MT8870 ....................................................... 10 Gambar 2.8. Diagram Fungsional MT8870 ..................................................... 11 Gambar 2.9. Diagram konektor DB-25 untuk LPT1........................................ 14 Gambar 2.10. Simbol dioda persambungan ..................................................... 16 Gambar 2.11. Bias pada dioda.......................................................................... 17 Gambar 2.12. Simbol LED............................................................................... 18 Gambar 2.13. Skema dan simbol transistor...................................................... 19 Gambar 2.14. Simbol Phototransistor............................................................... 21 Gambar 2.15. Rangkaian Switching ................................................................ 22 Gambar 3.1. Diagram blok sistem ................................................................... 28 Gambar 3.2. Rangkaian pengkondisi sinyal dering ......................................... 30 Gambar 3.3. Rangkaian dekoder DTMF MT8870 .......................................... 31 Gambar 3.4. Rangkaian penghubung jalur telepon ......................................... 32 Gambar 3.5. Pengawatan saklar gagang pada telepon Panaphone .................. 32 Gambar 3.6. Pemasangan relay untuk sistem pengangkatan telepon .............. 33 Gambar 3.7. Rangkaian penggerak dan relay beban lampu ............................ 34 Gambar 3.8. Pengawatan untuk jalur suara ..................................................... 35 Gambar 3.9. Diagram alir program penggerak ................................................ 37 Gambar 3.10. Tampilan Program .................................................................... 39 Gambar 3.11. Tampilan form About ............................................................... 40 Gambar 4.1. Rangkaian penguji sinyal dering ................................................. 42 Gambar 4.2. Pengujian rangkaian pengkondisi sinyal dering ......................... 43

xiii

Gambar 4.3. Pengujian dekoder DTMF .......................................................... 44 Gambar 4.4. Pengujian Data Dekoder ............................................................. 44 Gambar 4.5. Pengujian sinyal suara ................................................................ 45 Gambar 4.6. Pengaturan Volume Control pada proses pengujian suara ......... 46

xiv

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1. Kode yang dihasilkan MT8870 terhadap nada tombol ................... 12 Tabel 2.2. Konfigurasi Pin Konektor port paralel ........................................... 14 Tabel 4.1. Tegangan keluaran penguji sinyal dering terhadap posisi saklar pilih ............................................................................ 42 Tabel 4.2. Hasil pengujian dekoder DTMF ..................................................... 45

xv

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Listrik merupakan salah satu kebutuhan utama di saat ini. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya alat bantu pekerjaan manusia yang menggunakan listrik, sehingga hampir semua kegiatan manusia bergantung kepada listrik. Peralatan listrik itu sendiri sangat beragam bentuk dan fungsinya. Salah satu faktor yang menyebabkan semakin beragamnya peralatan listrik yang ada saat ini diakibatkan oleh kemajuan elektronika yang sangat pesat. Hampir semua peralatan listrik mempunyai sistem elektronika di dalamnya, sehingga dapat dikatakan listrik hampir tidak dapat dipisahkan dari elektronika. Sistem elektronika ini antara lain berfungsi sebagai pengontrol. Mengontrol suatu peralatan listrik dapat dilakukan dari jarak dekat atau jarak jauh, tergantung dari tujuan dan fungsinya. Pengontrolan jarak dekat yang paling sederhana adalah dengan mematikan atau menghidupkan peralatan listrik menggunakan saklar mekanik, hal ini telah umum digunakan dalam instalasi listrik. Lampu merupakan alat listrik yang sudah sangat umum, akan tetapi tidak umum bila lampu menyala atau mati di saat yang tidak tepat. Misalnya lampu masih menyala pada siang hari atau belum menyala pada malam hari. Mematikan dan menghidupkan lampu cukup dengan menggunakan saklar biasa, tetapi lain halnya jika seseorang tidak berada di tempat, misalnya ketika sedang bepergian. Untuk itu diperlukan suatu sistem yang dapat digunakan untuk mematikan dan menghidupkan lampu listrik dari jarak jauh. Pengontrolan jarak jauh dapat dilakukan dengan berbagai media perambatan, misalnya melalui kabel, gelombang radio, cahaya, suara, dan sebagainya. Jalur telepon merupakan media alternatif yang cukup baik untuk pengontrolan jarak jauh, karena luas wilayah kontrol meliputi daerah yang tersedia jalur telepon.

1

Dengan alasan tersebut, penulis hendak merancang suatu alat kontrol lampu listrik jarak jauh melalui jalur telepon berbasis komputer, sistem ini juga akan dilengkapi dengan program penjawab telepon yang akan merekam setiap pesan masuk yang tidak terjawab. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, untuk dapat membuat suatu sistem yang mampu mengontrol peralatan listrik dari jarak jauh dengan menggunakan jalur telepon, masalah yang harus ditemukan solusinya adalah: a. Merancang pengkondisi sinyal dering untuk mendeteksi adanya panggilan. b. Merancang sistem pengangkat telepon untuk menerima telepon secara otomatis. c. Membuat dekoder yang dapat mengkodekan nada DTMF (Dual Tone Multi Frequency) ke dalam data 4 bit. d. Merancang rangkaian penggerak untuk pensaklaran lampu. e. Membuat program penggerak, termasuk program penjawab dan perekam telepon. 1.3 Tujuan Perancangan ini bertujuan untuk merealisasikan suatu alat yang dapat menghidupkan dan mematikan lampu listrik dari jarak jauh melalui jalur telepon, mengangkat dan menjawab telepon secara otomatis, serta dapat merekam pesan yang masuk berbasiskan komputer. 1.4 Metodologi Penelitian Dalam perancangan ini, dilakukan beberapa tahapan pelaksanaan sebagai berikut.

2

1.

Studi literatur Tahapan ini mempelajari dasar teori yang menunjang, yaitu dasar teori tentang nada DTMF, dekoder nada DTMF, pesawat telepon, port LPT1, serta teori dasar komponen-komponen yang digunakan.

2.

Perancangan perangkat keras dan perangkat lunak Pada tahapan ini dirancang masing-masing blok pembangun sistem, pengujian pada project board. Perangkat lunak dirancang dengan menggunakan Microsoft Visual Basic 6.0.

3.

Pembuatan alat Tahapan ini meliputi tata letak komponen, dilanjutkan dengan membangun sistem secara keseluruhan pada Printed Circuit Board (PCB), setelah sebelumnya diuji pada papan project board.

4.

Pengujian alat Pengujian dilakukan per sub sistem, meliputi pengujian pendeteksi nada dering, dekoder DTMF, serta penggerak relay beban lampu. Kemudian dilanjutkan dengan menguji sistem secara keseluruhan dengan menggunakan perangkat lunak yang telah dibuat.

1.5

Sistematika Penulisan Laporan Sistematika penulisan laporan Tugas Akhir ini terdiri atas beberapa bagian

yang terangkum ke dalam lima bab, yaitu sebagai berikut: BAB 1 PENDAHULUAN Pendahuluan berisikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan laporan. BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN Berisi tinjauan pustaka dari berbagai sumber yang mencakup teori dasar nada DTMF, pesawat penerima telepon, dekoder nada DTMF, komunikasi data paralel dengan terminal LPT1, teori dasar komponen yang digunakan, dan pemrograman Microsoft Visual Basic 6.0.

3

BAB 3 PERANCANGAN DAN REALISASI ALAT Bagian ini membahas perancangan sistem yang dibuat secara umum, terdiri atas diagram blok sistem, perancangan hardware (perangkat keras), dan perancangan software (perangkat lunak). BAB 4 PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini akan dijelaskan langkah-langkah pengujian sistem yang telah selesai dibuat, baik pengujian per bagian maupun pengujian secara keseluruhan. BAB 5 PENUTUP Penutup berisikan kesimpulan dari hasil perancangan ini serta saran-saran yang dapat digunakan untuk pengembangan sistem yang telah dibuat.

4

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1

Dual Tone Multi Frequency (DTMF) Suatu metode tradisional untuk melakukan pemanggilan telepon adalah

dengan memutar piringan angka guna mengirimkan sederetan pulsa ke sentral telepon. Sentral akan mengenali deretan pulsa ini sebagai nomor telepon yang akan dituju, kemudian sentral akan mengirimkan sinyal dering ke telepon tujuan tersebut. Cara ini tidak saja lambat, tetapi pulsa tersebut akan mengalami banyak distorsi pada saluran yang cukup panjang. Metode yang dipakai saat ini memanfaatkan kombinasi nada untuk mengkodekan nomor tujuan. Nada ini dikenal dengan Dual Tone Multi Frequency (DTMF). DTMF merupakan penjumlahan dari dua kelompok nada, yakni kelompok nada rendah dengan frekuensi 697-941 Hz dan kelompok nada tinggi dengan frekuensi 1209-1633 Hz. Masing-masing kelompok mempunyai empat nada tunggal, nada-nada tungggal ini dipilih sedemikian rupa, sehingga frekuensi harmonik yang mungkin timbul tidak akan mengganggu frekuensi lainnya. Spektrum frekuensi nada DTMF diperlihatkan pada Gambar 2.1 berikut ini.

Amplitudo Group nada rendah 2 dB a

Group nada tinggi b c d

685 709

756 784

837 887

925 957

f (Hz)
1189 1229 1314 1358 1453 1501 1607 1659

697

770

852

941

Gambar 2.1. Spektrum frekuensi nada DTMF (MITEL 1997) Masing-masing nada tunggal pada DTMF standar hanya boleh mempunyai penyimpangan frekuensi sebesar ± 1,5 % + 2 Hz. Sebagai contoh, nada tunggal

5

697 Hz akan mempunyai pita frekuensi dari 685 Hz sampai 709 Hz. Pita frekuensi a, b, c, dan d pada Gambar 2.1 merupakan frekuensi harmonik kedua dari kelompok nada rendah yang mungkin timbul, pita frekuensi a, b, c, dan d tidak akan mengganggu pita frekuensi kelompok nada tinggi karena letaknya di luar pita frekuensi nada tinggi. Kelompok nada tinggi mempunyai penguatan sebesar 2 dB dari kelompok nada rendah. Hal ini disebabkan kelompok nada tinggi lebih mudah mengalami pelemahan di sepanjang jalur telepon dibandingkan dengan kelompok nada rendah, sehingga penguatan ini akan mengimbangi pelemahan yang terjadi. Penjumlahan dari dua kelompok nada DTMF menghasilkan 16 kombinasi nada. Kombinasi ini mewakili karakter 0-9, *, #, serta karakter tambahan A, B, C, dan D seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.2 berikut ini (MITEL 1997).

Grup Nada Frekuensi Tinggi (Hz) 1209 1336 1477 1633 Grup Nada Frekuensi Rendah (Hz) 697 770 852 941 1 4 7 2 5 8 0 3 6 9 # A B C D

*

Keterangan : Tombol A, B, C, dan D tidak tersedia pada keypad telepon standar, dan hanya digunakan untuk keperluan khusus.

Gambar 2.2. Susunan kombinasi nada DTMF pada tombol (MITEL 1997) Jika dilakukan penekanan pada salah satu tombol, akan dihasilkan perpaduan dari dua kelompok nada yang mewakili tombol tersebut. Sebagai contoh, penekanan terhadap tombol ‘1’ akan menghasilkan paduan frekuensi 697 Hz dengan 1209 Hz. Frekuensi paduan untuk tombol ‘1’ diperlihatkan oleh osiloskop seperti pada Gambar 2.3 di bawah ini (Paul 2004).

6

Amplitudo

Waktu

Gambar 2.3.

Sinyal paduan 697 Hz dan 1209 Hz untuk tombol ‘1’ (Paul 2004)

2.2

Teori Dasar Pesawat Telepon Pesawar telepon merupakan pesawat komunikasi full-duplex, artinya

komunikasi yang dapat melayani dua pembicaraan sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Prinsip dari pesawat telepon adalah mengubah gelombang suara menjadi gelombang listrik yang dilakukan oleh mikrofon, dan mengirimkan gelombang listrik tadi ke penerima, untuk kemudian diubah menjadi gelombang suara lagi yang dilakukan oleh speaker. 2.2.1 Catu Daya Pesawat Telepon Agar pesawat telepon dapat bekerja diperlukan sumber arus searah (DC), tegangan ini dikirim dari sentral telepon. Tegangan ini dikirim melalui jalur telepon setelah melalui induktor dan tahanan (sekitar 2000 sampai 4000 ohm). Sentral telepon lama menggunakan tahanan sekitar 400 ohm. Gambar 2.4 berikut ini merupakan skema pencatuan daya pesawat telepon.

7

5H Hook Switch

2uF Audio 2uF

200 Jalur Telepon 200

TIP MIC RING Speaker

-48VDC

5H

Gambar 2.4.

Pencatuan daya pesawat telepon sederhana. (Engdahl 1998)

Saat on-hook (gagang tertutup), antara TIP dan RING terdapat beda tegangan sebesar 48V. Pada saat off-hook (gagang diangkat), terjadi hubungan tertutup dan arus akan mengalir. Adanya pembebanan pada pesawat telepon mengakibatkan tegangan jatuh. Beda tegangan antara TIP dan RING saat off-hook berkisar 4-8 volt, ini merupakan tegangan normal agar pesawat telepon dapat bekerja (Engdahl 1998). 2.2.2 Nada Dering (Ringing Tone) Untuk mengetahui adanya panggilan, sentral telepon mengirimkan sinyal dering melalui jalur telepon. Sinyal ini berupa arus bolak-balik (AC) dengan tegangan 40 – 150 volt, dengan frekuensi 20 – 40 Hz. Sinyal dikirim tiap 2 dan 4 detik. Nada dering hanya dikirim saat telepon dalam keadaan on-hook. Gambar 2.5 menunjukkan skema pesawat telepon yang telah disederhanakan (Engdahl 2000). Ringer (pendering) dipasang sebelum saklar gagang, jadi ringer selalu dalam keadaan terhubung dengan jalur telepon. Pendering tidak sensitif terhadap tegangan DC catu daya pada jalur, jadi pendering hanya berbunyi saat sinyal dering dikirim. Dalam keadaan on-hook ketika sinyal dering dikirimkan, telepon belum bekerja. Ketika gagang diangkat, saklar gagang terhubung dan terjadi loop

8

tertutup pada jalur telepon, sentral mendeteksi loop tertutup ini dan mematikan sinyal dering serta menghubungkan telepon ke telepon pemanggil (Brain 2002).

Gambar 2.5. Skema pesawat telepon DTMF (Brain 2002) 2.2.3 Duplex Coil Duplex coil merupakan kumparan yang mengizinkan sinyal-sinyal mikrofon dan speaker melalui jalur yang sama tanpa saling mengganggu. Tanpa duplex coil diperlukan empat jalur untuk satu telepon, masing-masing dua untuk jalur mikrofon dan speaker. Gambar 2.6 berikut ini memperlihatkan skema pemasangan speaker dan mikrofon pada duplex coil.

a Phone line MIC c b Speaker

Gambar 2.6. Duplex Coil (Simanjuntak 1993) Kumparan a, b, dan c merupakan duplex coil yang dililit bersama dalam satu inti besi tunggal. Belitan a dan b mempunyai tap tengah yang terhubung langsung dengan mikrofon. Saat berbicara mikrofon menghasilkan arus, arus ini

9

melewati belitan a dan b dengan seragam tetapi berbeda fase 1800 satu sama lain terhadap tap tengah, belitan c menerima induksi arus mikrofon dari belitan a dan b, tetapi karena a dan b berbeda fase 1800 induksi pada c akan saling meniadakan, sehingga tidak ada arus yang mengalir pada belitan c. Jika sinyal suara dari telepon pengirim masuk, sinyal ini melewati belitan a dan b dengan seragam, tetapi pada tap tengah sinyal ini berbeda fase 1800 satu sama lain sehingga tidak ada arus yang masuk ke mikrofon. Sedangkan pada belitan c timbul arus induksi akibat sinyal yang mengalir melalui belitan a dan b. Duplex coil saat ini banyak digantikan dengan penggeser fase elektronik yang berfungsi sama (Simanjuntak 1993). 2.3 Penerima/Dekoder DTMF MT8870 Dekoder DTMF mempunyai fungsi mengkodekan nada DTMF menjadi logika biner 4 bit. Fungsinya merupakan kebalikan dari generator nada DTMF yang mengkodekan keenambelas tombol dalam enambelas pasang nada. Dekoder ini memeriksa nada yang masuk dan mengubahnya menjadi logika biner. IC (Integrated Circuit) dekoder DTMF MT8870 merupakan produk dari MITEL. IC ini dikemas dalam bentuk DIP (Dual In-line Package) 18 pin. Gambar 2.7 menunjukkan konfigurasi pin pada IC MT8870.

ININ+ GS VRef INH PWDN OSC1 OSC2 VSS

1 2 3 4 5 6 7 8 9

18 17 16 15 14 13 12 11 10

VDD St/GT ESt StD Q4 Q3 Q2 Q1 TOE

Gambar 2.7. Konfigurasi pin IC MT8870 (MITEL 1997)

10

Secara umum, prinsip dekoder nada DTMF adalah memecahkan nada menjadi komponen nada tunggalnya dan kemudian diubah menjadi kode logika. Pemecahan nada gabungan menjadi nada tunggal dapat memakai sekumpulan Band Pass Filter (BPF), yaitu filter yang hanya melewatkan frekuensi-frekuensi tertentu. Dekoder DTMF generasi awal memakai filter LC , filter aktif, serta teknik Phase Locked Loop (PLL) untuk mendekodekan nada DTMF ini. Dekoder DTMF Generasi kedua menggunakan teknologi CMOS (Common Metal Oxide Semiconductor) untuk mengkodekan masing-masing nada yang sebelumnya telah dipisahkan oleh BPF analog. Dekoder DTMF generasi ketiga menggunakan teknologi Thick Film Hybrid yang menempatkan BPF analog aktif dan CMOS dalam satu kemasan. Dekoder generasi keempat ditandai dengan diterapkannya teknologi filter switched capacitor, teknologi inilah yang masih dipakai hingga sekarang. Pada awalnya penerima DTMF memakai filter dan dekoder yang terpisah, sehingga dua IC harus digunakan untuk mendekodekan nada DTMF menjadi kode digital. MT8870 adalah penerima DTMF yang mengintegrasikan filter dan dekoder dalam satu kemasan tunggal. Filter analog sudah sepenuhnya digantikan oleh filter switched capacitor dari bahan silikon. Gambar 2.8 memperlihatkan diagram fungsional dari MT8870.
VDD VSS

VRef

Bias Circuit

Chip bias/Power Dial tone filter 350/ 440 Hz Notches 3 rd order Sw. Cap. Digital detect circuit Dial tone filter 350/ 440 Hz Notches 3 rd order Sw. Cap. St Steering logic GT

Chip Ref./Voltage GS INAnti aliasing nd filter 2 order cont. RC Dial tone filter 350/ 440 Hz Notches 3 rd order Sw. Cap.

Q1

IN+

+

Code converter and output latches

Q2

Q3 Q4

Chip clock

OSC1

OSC2

St/GT

ESt

StD

TOE

Gambar 2.8. Diagram Fungsional MT8870 (MITEL 1997)

11

Sinyal masukan diambil langsung dari jalur telepon setelah melewati kapasitor coupling. Op-amp internal merupakan buffer bagi sinyal masukan, selain alasan fleksibelitas karena penguatan dapat diatur. Tahapan selanjutnya adalah mencegah frekuensi harmonik yang mungkin muncul dengan Low Pass Filter (LPF). Frekuensi nada panggilan 350 dan 440 Hz ditolak pada tahapan ke tiga. Dua buah BPF membagi nada komposit menjadi komponen kelompok nada atas dan kelompok nada bawah. Komparator mengubah gelombang sinus menjadi gelombang segi empat. Gelombang segi empat ini diteruskan ke rangkaian pendeteksi digital yang akan menghitung periode rata-rata dari dua gelombang segi empat yang masuk. Sebagai detak referensi, rangkaian ini memerlukan osilator eksternal yang dapat diperoleh dengan sebuah kristal 3,579 MHz. Konverter akan mengubah keluaran pendeteksi digital menjadi kode biner 4 bit dari 0000 hingga 1111 yang mewakili keenambelas tombol. Data biner ini dikeluarkan pada terminal Q1-Q4. Tabel 2.1 memperlihatkan kode biner yang dihasilkan oleh MT8870 terhadap nada tombol. Tabel 2.1. Kode yang dihasilkan MT8870 terhadap nada tombol. (MITEL 1997) frendah (Hz) 697 697 697 770 770 770 852 852 852 941 941 941 697 770 852 941 ftinggi (Hz) 1209 1336 1477 1209 1336 1477 1209 1336 1477 1209 1336 1477 1633 1633 1633 1633 Tombol 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 * # A B C D Sembarang TOE 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 Q1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 Z Q2 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 Z Q3 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 Z Q4 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 Z

12

TOE mengizinkan Q1-Q4 untuk mengeluarkan data apabila TOE diberi logika tinggi. Pemberian logika rendah pada TOE mengakibatkan Q1-Q4 memiliki impedansi tinggi (Z), ini artinya TOE merupakan Enabled keluaran. Steering Logic diperlukan untuk mengatur pewaktuan dan pengendalian sinyal yang dikodekan, seperti mendeteksi apakah sinyal sahih atau tidak. Lembaran data pada lampiran menerangkan secara lengkap tentang hal ini (MITEL 1997). 2.4 Parallel Printer Port (LPT1) IBM-PC menyertakan tiga adaptor antarmuka dalam produknya, termasuk di dalamnya Parallel Printer Port untuk jenis mikrokomputer PC/XT/AT, port ini disebut dengan LPT1. LPT1 dirancang khusus untuk printer yang menggunakan antarmuka port paralel. Bukan hanya itu, LPT1 dapat digunakan sebagai jalur I/O umum untuk devais atau aplikasi yang kompatibel dengannya (Harries 1998). Standar lama LPT1 yang dikeluarkan tahun 1981 mempunyai tiga mode operasi, yaitu mode Centronics (kompatibilitas), mode Nibble, dan mode Byte. Standar baru yang dikeluarkan tahun 1994 tetap mempertahankan ketiga mode di atas dengan tambahan dua mode, yaitu mode EPP (Enhanced Parallel Port) dan mode ECP (Extended Capability Port). Mode kompatibilitas digunakan untuk transfer data dari komputer ke printer dengan handshaking, EPP dan ECP dapat meningkatkan kecepatan pengaturan handshaking tersebut. Mode Nibble merupakan mode menerima data 4 bit dari devais lain ke komputer. Sedangkan mode Byte menggunaakan fitur bidirectional parallel untuk menerima 1 byte (8 bit) data dari devais lain ke komputer. IEEE 1284 merupakan standar yang menentukan tiga konektor berbeda yang digunakan pada port paralel. 1284 tipe A adalah konektor DB-25, yaitu konektor 25 pin yang umum dipakai untuk LPT1. 1284 tipe B adalah konektor Centronics, merupakan konektor 36 pin yang umum ditemukan pada printer. 1284 tipe C merupakan konektor Centronics dalam ukuran yang lebih kecil. Tabel 2.2 berikut menunjukkan konfigurasi pin-pin konektor tersebut. Sedangkan Gambar 2.9 menunjukkan diagram bentuk konektor DB-25 betina.

13

Tabel 2.2. Konfigurasi Pin Konektor port paralel (Budiharto 2004) Pin DB25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18-25 Pin Centronics 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 32 31 36 19-30 Signal nStrobe Data 0 Data 1 Data 2 Data 3 Data 4 Data 5 Data 6 Data 7 nAck Busy Paper-Out/End Select nAuto-Linefeed nError/nFault nInitialize nSelect-Printer/In Ground Arah I/O In/Out Out Out Out Out Out Out Out Out In In In In In/Out In In/Out In/Out Gnd Register Control Data Data Data Data Data Data Data Data Status Status Status Status Control Status Control Control Invert Yes

Yes Yes Yes

D7

D6

D5

D4

D3

D2

D1

D0

13

12

11

10

9

8

7

6

5

4

3

2

1

25

24

23

22

21

20

19

18

17

16

15

14

S7

S6

S5

S4

S3

C3

C2

C1

C0

Gambar 2.9. Diagram konektor DB-25 untuk LPT1 (Harries 1996)

Port paralel mempunyai 3 alamat, yaitu 3BCH-3BFH (956-959 desimal), 378H-37FH (888-895 desimal), dan 278H-27FH (632-639 desimal), masingmasing untuk LPT0, LPT1, dan LPT2. LPT0 merupakan alamat dasar yang

14

diperkenalkan sejak munculnya port paralel pada kartu video, namun kemudian alamat ini tidak pernah digunakan lagi. Alamat yang umumnya digunakan saat ini adalah 378H sebagai alamat port printer dan 278H untuk alamat port paralel lainnya (Budiharto 2004). 2.5 Dioda dan Light Emitting Diode (LED) Komponen elektronika yang hanya mengizinkan arus mengalir pada satu arah disebut dioda. Dioda dipergunakan secara luas untuk penyearah tegangan bolak-balik (AC) ke tegangan searah (DC). LED merupakan dioda pemancar cahaya, yaitu komponen semikonduktor yang akan mengeluarkan energi cahaya bila dikenakan bias maju kepadanya. LED masih memiliki sifat umum dioda, tetapi dengan fungsi yang berbeda. Berikut akan dijelaskan teori dasar pembentukan dioda dan LED. 2.5.1 Bahan Semikonduktor Semikonduktor merupakan bahan yang tidak bisa digolongkan ke dalam bahan isolator juga tidak dapat digolongkan ke dalam bahan konduktor. Contoh bahan semikonduktor adalah atom silikon dan germanium. Atom silikon dan germanium murni memiliki empat elektron valensi. Pada suhu nol mutlak, elektron valensi tidak memperoleh energi untuk melepaskan diri menjadi elektron bebas. Semakin naik suhu atom, semakin banyak energi yang diperoleh atom untuk melepaskan elektron valensi menjadi elektron bebas. Tetapi pada suhu ruangan sekalipun atom silikon hanya mempunyai sedikit elektron bebas, keadaan ini membuat silikon bukan isolator yang baik dan bukan konduktor yang baik. Dengan alasan itu, silikon dan germanium disebut semikonduktor. 2.5.2 Semikonduktor tipe-N dan tipe-P Suatu cara untuk menambah jumlah elektron bebas adalah dengan membuat kelebihan pasangan elektron valensi dalam ikatan kovalen atomatomnya. Suatu atom donor dengan lima elektron valensi ditambahkan (dopping) untuk membuat ikatan kovalen kelebihan satu elektron. Hal ini membuat bahan

15

semikonduktor mempunyai banyak elektron bebas pada suhu ruangan. Bahan semikonduktor seperti ini disebut dengan semikonduktor tipe-N (tipe negatif). Hole adalah suatu kekosongan elektron pada suatu lintasan atom. Hole terjadi apabila sebuah elektron meninggalkan lintasannya menjadi elektron bebas. Silikon murni pada suhu ruangan juga tidak menghasilkan banyak hole. Cara untuk menambah jumlah hole adalah dengan membuat kekurangan pasangan elektron valensi dalam ikatan kovalennya. Suatu atom donor dengan tiga elektron valensi ditambahkan untuk membuat ikatan kovalen kekurangan satu elektron. Hal ini membuat bahan semikonduktor memiliki banyak hole. Semikonduktor ini disebut dengan semikonduktor tipe-P (tipe positif). 2.5.3 Dioda Persambungan Komponen baru terbentuk apabila separuh semikonduktor tipe-P dan separuh semikonduktor tipe-N menyatu dalam sebuah kristal. Persambungan atau junction adalah daerah pertemuan tipe-P dan tipe-N. Kristal P-N seperti ini dinamakan dioda. Gambar 2.10 (a) adalah diagram dioda persambungan, sedangkan Gambar 2.10 (b) merupakan simbol umum dioda persambungan.

P Kosong N +++- + - - +++- + - - +++- + - - (a) (b)

Lapisan

Gambar 2.10. Simbol dioda persambungan (a) Diagram dioda persambungan. (b) Simbol dioda persambungan (Malvino 1994) Elektron pada tipe-N berdifusi ke segala arah, termasuk ke daerah P, elektron bebas yang meninggalkan N menciptakan ion positif, apabila elektron bebas itu memasuki P maka akan mengisi kekosongan hole, sehingga menjadi ion

16

negatif. Satu elektron bebas yang berdifusi akan menciptakan sepasang ion. Pada Gambar ion ditandai dengan lingkaran bermuatan. Depletion layer (lapisan kosong) tercipta akibat ion positif dan negatif memenuhi daerah persambungan. Lapisan ini mengosongkan daerah sekitar persambungan dari elektron bebas dan hole. Beda potensial pada lapisan kosong disebut potential barrier. Pada suhu kamar potential barrier adalah sekitar 0,7 V untuk dioda silikon dan 0,3 V untuk dioda germanium (Malvino 1994). 2.5.4 Forward Bias dan Reverse Bias Dioda yang diberi sumber tegangan pada kedua kutubnya dinamakan dioda yang dibias. Forward bias (bias maju) terjadi apabila kutub N dioda dikenai tegangan negatif dan kutub P dikenai tegangan positif, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.11 (a). Reverse bias (bias mundur) terjadi apabila kutub N dikenai tegangan positif dan kutub P dikenai tegangan negatif, Gambar 2.11 (b) menunjukkan skema dioda pada bias mundur.
P Kosong N +++- + - - +++- + - - +++- + - - Lapisan

P Kosong N +++- + - - +++- + - - +++- + - - -

Lapisan

(a)

(b)

Gambar 2.11. Bias pada dioda (a) Dioda dalam forward bias (b) Dioda dalam reverse bias (Malvino 1994)

Dioda dalam keadaan bias maju akan menghasilkan arus yang besar, sebab elektron dari sumber menambahkan energi pada N untuk menembus lapisan pengosongan dan mengisi elektron valensi pada P untuk kemudian kembali ke sumber. Bias mundur pada dioda akan memaksa elektron bebas dalam daerah N berpindah dari junction ke terminal positif sumber, hole dalam daerah P juga

17

bergerak menjauhi junction ke arah terminal negatif. Akibatnya lapisan kosong menjadi semakin lebar. Pelebaran lapisan kosong akan terhenti saat potensial lapisan kosong sama dengan potensial sumber. Akibat pelebaran lapisan kosong, hampir tidak ada arus yang melewati dioda. Fungsi ini menjadikan dioda sebagai penghantar satu arah, yaitu saat dioda dalam keadaan bias maju (Malvino 1994). 2.5.5 Light Emiting Diode (LED) Elektron bebas pada dioda memiliki tingkat energi yang lebih tinggi dibanding hole. Saat bias maju, elektron bebas melintasi junction dan jatuh ke hole. Saat itu elektron jatuh dari tingkat energi yang lebih tinggi ke tingkat energi yang lebih rendah, dalam proses ini suatu energi dilepas oleh elektron tersebut dalam bentuk panas dan cahaya. Silikon dan germanium merupakan bahan tidak tembus cahaya, sehingga dioda dengan bahan ini tidak dapat memperlihatkan efek pemancaran cahaya. Dengan menggunakan unsur lain seperti galium, arsen, dan fosfor, dioda dapat memancarkan cahaya merah, hijau, kuning, biru, jingga, atau inframerah (tak tampak). Dioda jenis ini dinamakan Light Emiting Diode (LED), atau dioda pemancar cahaya. Gambar 2.12 berikut ini memperlihatkan simbol LED.

Anoda

Katoda

Gambar 2.12. Simbol LED (Malvino 1994) LED digunakan secara luas sebagai lampu indikator, display (penampil) pada seven-segment (misalnya layar kalkulator), dan lain sebagainya. Sedangkan LED yang memancarkan cahaya inframerah umumnya digunakan sebagai media transfer data yang tidak memerlukan cahaya tampak, misalnya remote control, alarm, optocoupler, dan lain sebagainya (Malvino 1994).

18

2.6

Transistor dan Phototransistor Transistor merupakan komponen aktif yang dapat menguatkan tegangan

dan arus, transistor menggantikan tabung-tabung hampa yang digunakan secara luas sejak tahun 1951. Phototransistor adalah transistor yang sensitif terhadap cahaya. Digunakan secara luas untuk sensor cahaya, optocoupler (gabungan LED dan phototransistor), dan lain sebagainya. 2.6.1 Transistor Transistor dapat diandaikan suatu gabungan dari dua buah dioda dalam satu kristal. Sebuah transistor NPN (negatif-positif-negatif) terdiri atas dua semikonduktor tipe-N dan sebuah semikonduktor tipe-P berada diantaranya. Gambar 2.13 (a )dan (b) masing-masing menunjukkan diagram transistor dan simbol transistor. Transistor PNP (positif-negatif-positif) merupakan komplemen dari transistor NPN, berfungsi sama tetapi dalam penggunaannya dibias terbalik.
c e n p n c b e b c p c b e b (a) (b)

e

p

n

Gambar 2.13. Skema dan simbol transistor (a) Skema transistor NPN dan PNP (b) Simbol transistor NPN dan PNP (Malvino 1994)

Emitor (e) di-dopping sangat banyak, berfungsi untuk mengemisikan atau menginjeksikan elektron ke dalam basis. Basis (b) di-dopping sangat sedikit, basis melewatkan sebagian besar elektron-elektron yang diinjeksikan emitor ke

19

kolektor. Kolektor (c) mempunyai tingkat dopping menengah, diantara tingkat dopping basis dan emitor. Kolektor merupakan bagian terbesar dari tiga bagian tersebut, sebab kolektor harus mendisipasikan panas lebih banyak dibanding emitor dan basis. Dalam pemakaian, dioda e-b dibias maju dan dioda c-e dibias mundur. Seharusnya tidak ada arus yang mengalir pada dioda c-e, tetapi emitor menginjeksikan elektronnya ke basis. Basis yang penuh dengan elektron hasil injeksi emitor terdifusi ke lapisan pengosongan kolektor. Pada lapisan ini, elektron bebas didorong oleh medan lapisan pengosongan ke dalam daerah kolektor. Akhirnya elektron ini dapat mengalir ke kawat luar kembali ke sumber tegangan. Besarnya arus yang mengalir pada emitor kira-kira sama dengan besar arus yang mengalir ke kolektor. Tepatnya, arus kolektor merupakan penjumlahan arus emitor dengan arus basis. Hampir semua transistor, kurang dari 5% dari elektron yang diinjeksikan emitor berekombinasi dengan lubang basis untuk menghasilkan arus basis. Hubungan antara arus basis (IB) dengan arus kolektor (IC) disebut dengan beta dc (βdc). βdc merupakan hasil bagi arus kolektor dengan arus basis. Karena itu, βdc transistor lebih besar dari 20, biasanya antara 50 sampai 100, beberapa transistor mempunyai βdc = 1000. Notasi βdc sering ditulis hFE pada data-sheet. βdc menunjukkan seberapa besar penguatan transistor tersebut. Kenaikan arus pada basis menyebabkan kenaikan arus pada kolektor, perbandingan arus basis dan kolektor telah dinyatakan di atas dengan β dc. Ini berarti kenaikan arus basis yang kecil menyebabkan kenaikan arus yang besar pada kolektor. Ada suatu saat arus kolektor tak lagi naik walau arus basis tetap naik, hal ini dinamakan transistor dalam keadaan saturasi. Saat ini, arus kolektor maksimal, sebab antara kolektor dan emitor seakan merupakan hubungan singkat. Transistor pada saat saturasi sengaja digunakan untuk keperluan saklar elektronik (Malvino 1994).

20

2.6.2

Phototransistor Sebuah transistor dengan basis dibiarkan terbuka sementara kolektor

dibias mundur dan emitor dibias maju, mempunyai arus kolektor yang sangat kecil. Arus ini dihasilkan oleh pembawa arus bocor permukaan dan pembawa minoritas (hole pada tipe-P dan elektron pada tipe-N). Dengan membuka sedikit sambungan (junction) kolektor untuk diberi cahaya, dapat dibuat sebuah phototransistor. Gambar 2.14 merupakan simbol dari phototransistor.

(a)

(b)

Gambar 2.14. Simbol Phototransistor (a) Phototransistor dengan hubungan basis (b) Phototransistor dengan basis terbuka (Malvino 1994) Arus kecil pada kolektor yang dihasilkan oleh pembawa minoritas menghasilkan arus balik pada basis (IR). Arus balik ini berfungsi sebagai suatu sumber arus diantara kolektor dan basis. Penghubung basis yang terbuka (Gambar 2.14 b) membuat semua arus balik diperkuat. Arus yang diperkuat mengalir pada kolektor, yang disebut arus kolektor (ICEO). Arus kolektor ini merupakan hasil kali dari βdc dengan IR. Intensitas cahaya mempengaruhi harga IR. Semakin tinggi intensitas cahaya yang jatuh ke persambungan, semakin besar harga IR, sehingga ICEO juga bertambah. Sifat ini membuat phototransistor digunakan sebagai sensor cahaya yang peka (Malvino 1994). 2.7 Switching Switching atau pensaklaran diperlukan untuk menyesuaikan tegangan logika TTL (Transistor Transistor Logic) yang berasal dari terminal LPT1 ke

21

tegangan jala-jala. Beban yang akan dikontrol bekerja pada tegangan jala-jala, sebesar 220 volt, sedangkan tegangan logika TTL hanya berkisar dari 0-5 volt. Untuk itu diperlukan relay, yaitu saklar yang digerakkan oleh tegangan. Relay terdiri atas elektromagnetik dan saklar. Apabila elektromagnetik diaktifkan oleh tegangan, saklar NO (normally open) akan terhubung dan saklar NC (normally closed) akan terputus. Tegangan kerja relay berkisar pada 5-24 volt, tergantung dari jenisnya. Relay seharusnya tidak dihubungkan langsung dengan LPT1, sebab arus keluaran dari TTL tidak akan cukup untuk menggerakkan elektromagnetik pada relay. Untuk itu digunakan transistor sebagai buffer, transistor akan menghasilkan arus kerja relay yang berkisar pada 100 mA, dibandingkan dengan arus keluaran TTL yang hanya berkisar pada 3 mA pada logika high. Transistor juga difungsikan sebagai saklar, yang beroperasi pada titik kerja saturasi. Gambar 2.15 memperlihatkan rangkaian switching (Engdahl 1996).

V cc

Fasa

NO Relay

NC Tegangan jala-jala 220V

Input logika TTL Netral R 4,7k Transistor C9013 B eban lampu pijar 220V

Gambar 2.15. Rangkaian Switching (Engdahl 1996)

2.8

Microsoft Visual Basic 6.0 Visual Basic merupakan aplikasi bahasa pemrograman komputer yang

interaktif, dan merupakan pengembangan terakhir dari bahasa BASIC (Beginners

22

All-purpose Simbolic Code). Berbeda dari BASIC yang berbasis DOS (Disk Operating System), Visual Basic berjalan diatas Microsoft Windows. Tanpa menghilangkan sintaks-sintaks yang umum dipakai pada BASIC, Visual Basic disempurnakan dengan menambah kaidah-kaidah pemrograman yang cukup handal. Microsoft Visual Basic 6.0 mempunyai beberapa versi, versi yang berada di pasaran saat ini diantaranya: a. Standard Edition / Learning Edition Ini adalah versi standar yang sudah mencakup berbagai dasar dari Visual Basic 6.0 untuk mengembangkan aplikasi. b. Professional Edition Versi ini memberikan berbagai sarana ekstra yang dibutuhkan oleh programmer profesional. Seperti kontrol-kontrol tambahan, dukungan untuk pemrograman internet, kompiler untuk membuat file Help, serta sarana untuk mengembangkan database dengan lebih baik. c. Enterprise Edition Versi ini dikhususkan untuk para programmer yang ingin mengembangkan aplikasi remote computing atau client/server. Versi ini biasanya digunakan untuk membuat aplikasi pada jaringan. 2.8.1 Lingkungan Visual Basic Visual Basic dari Microsoft memiliki tampilan yang mirip dengan tampilan bahasa pemrograman visual lainnya, seperti Visual C++, Visual FoxPro, Microsoft Acces, dan lain sebagainya. Lingkungan kerja Visual Basic memiliki bagian-bagian utama, yaitu: 1. Control Menu. Control Menu merupakan menu yang memanipulasi ukuran jendela tampilan Visual Basic. Control Menu merupakan menu dasar yang terdapat pada hampir setiap aplikasi Windows.

23

2. Menu Menu berisi semua perintah Visual Basic. Isi menu ini merupakan perintah umum yang terdapat pada hampir semua aplikasi Windows. 3. Toolbar Toolbar merupakan jendela yang berisi banyak icon yang masing-masing mewakili perintah tertentu. Toolbar khusus untuk Visual Basic ini tidak terdapat pada semua aplikasi Windows. 4. Form Windows Forms merupakan daerah kerja utama tempat melaksanakan rancangan program visual. Di sini tempat meletakkan semua objek interaktif, dan merupakan interface visual pemrogram dengan komputer. 5. ToolBox Toolbox merupakan jendela yang berisi semua objek atau kontrol yang diperlukan dalam membangun sebuah aplikasi. Lewat toolbox inilah pengguna berinteraksi dengan komputer, semua komponen kontrol nantinya diletakkan pada form windows. 6. Project Explorer Project Explorer mengandung semua file pada aplikasi Visual Basic. File ini dalam bentuk proyek, yaitu keseluruhan file Visual Basic yang berisi rancangan form, modul, class, dan lain sebagainya. 7. Properties Windows Properties mengandung semua informasi mengenai objek yang terdapat pada aplikasi Visual Basic yang sedang dibuat. Pengaturan objek dapat diperluas melalui properties-nya, pengaturan objek seperti mengubah warna, nama, ukuran, dan lain sebagainya dapat dilakukan di sini. 8. Layout Windows Layout adalah tampilan yang menunjukkan preview suatu aplikasi yang sedang dibuat. Seperti letak form, dan ukuran form terhadap layar komputer dapat dilihat tanpa harus menjalankan (running) program yang sedang dibuat.

24

9. Code Windows Code Windows merupakan salah satu bagian yang penting dalam pemrograman Visual Basic, semua perintah yang diberikan ke objek ditulis pada jendela ini. Tanpa ada perintah yang ditulis, suatu objek tidak akan melakukan apa-apa pada saat dijalankan. Pada Toolbox terdapat kumpulan semua objek pembangun aplikasi, objek dapat dipilih sesuai dengan rancangan yang diinginkan. Objek ini berkaitan satu dengan lainnya melalui Code Windows. Objek yang sering digunakan dalam pemrograman Visual Basic diantaranya: a. Command Button Command button merupakan icon tombol, sesuai dengan namanya, fungsinya adalah untuk memberikan perintah tertentu pada aplikasi atau objek lainnya apabila tombol itu ditekan oleh mouse. Untuk berhubungan dengan objek atau aplikasi lain, terlebih dahulu diberikan kode perintah yang sesuai pada jendela kode. b. Label Label merupakan teks yang ditampilkan pada Form. Ukuran, warna, atau jenis huruf teks Label dapat diubah pada jendela properti. Fungsi Label tidak hanya untuk menuliskan teks pada Form, lebih dari itu digunakan sebagai teks variabel, Label akan menampilkan hasil perintah dalam bentuk teks dari objek yang berhubungan dengannya. c. TextBox Textbox merupakan suatu input string, dapat berupa angka atau huruf. Textbox dapat dihubungkan ke objek yang akan melaksanakan tugasnya sesuai dengan input yang diberikan padanya. Selain itu Textbox dapat menampilkan hasil perintah objek lain dalam bentuk teks. d. ComboBox Combo Box merupakan komponen kontrol yang menampilkan daftar input secara kombo. Combobox dapat bersifat fixed (tetap), artinya daftar input yang ada padanya tidak dapat ditambah apabila program berjalan. Combobox

25

juga dapat bersifat variable (berubah), artinya daftar input dapat ditambah pada saat program sedang berjalan tanpa menghilangkan daftar input yang sudah ada. Fixed atau variable suatu Combobox diatur pada propertinya. e. Timer Timer digunakan apabila suatu perintah ingin dilaksanakan berulang-ulang. Waktu tunda pengulangan perintah dapat diatur pada properti Timer. Perintah yang ingin diulang dihubungkan dengan Timer, dimulai dengan pengaktifan timer yang menandai pengulangan dimulai, aplikasi tersebut akan diulang sampai Timer dinonaktifkan oleh satu perintah lain. Fungsi Timer sangat penting untuk mengambil suatu data yang realtime atau data yang berubah sepanjang waktu (Kurniadi 2000). 2.8.2 Teknologi ActiveX Sebuah program besar seperti program multimedia, idealnya harus terdiri atas beberapa modul. Modul-modul ini harus hidup pada program lain, misalnya program game membutuhkan modul untuk memutar film dan suara. Modul ini harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dipakai untuk aplikasi game lainnya. Penukaran teknologi seperti ini akan menjadi lebih mudah dan praktis, daripada harus membuat sendiri modul terpisah untuk setiap aplikasi yang mungkin diselesaikan dalam waktu yang relatif lama. ActiveX diciptakan atas dasar ide ini. ActiveX adalah sebuah modul yang memiliki sub-sub yang dapat diakses program lain. Program itu nantinya yang akan mengatur jalannya ActiveX. Sebuah aplikasi untuk memainkan suara misalnya, memerlukan ActiveX untuk memainkan suara dengan sub-subnya yaitu Play, Stop, Pause, Record dan lainnya. Selain itu, ActiveX juga mempunyai atribut, yaitu sebuah variabel string yang menyimpan lokasi dimana letak file suara yang hendak dimainkan atau dimana suara hendak disimpan. Dengan ini, program yang yang memanfaatkan ActiveX hanya cukup mengisi atribut yang menyimpan alamat file suara, kemudian memanggil sub-Play untuk memainkannya.

26

ActiveX dibagi menjadi dua bagian, yaitu ActiveX yang memiliki user interface dan yang tidak. ActiveX yang memiliki user interface memiliki kontrolkontrol seperti tombol, teks, dan lainnya. Contohnya seperti ActiveX Multi Media Control yang memiliki tombol Play, Stop, Pause, Record, Save dan lain sebagainya. ActiveX dapat dikontrol melalui Visual Basic. Dengan mengambil kontrol ActiveX yang dibutuhkan, Visual basic dapat digunakan untuk memainkan lagu, memutar film, membuat aplikasi teks editor, grafik, dan lain sebagainya (Nalwan 2004)

27

BAB 3 PERANCANGAN DAN REALISASI ALAT 3.1 Diagram Blok Sistem Gambar 3.1 berikut ini menunjukkan diagram blok sistem rancangan secara umum.

PESAWAT TELEPON PENGIRIM JALUR TELEPON RELAY PENGHUBUNG JALUR PESAWAT TELEPON PENERIMA

PENGKONDISI SINYAL DERING

RELAY TUKAR LINE-OUT/LINE-IN

DEKODER DTMF MT8870

HOOK RELAY

S3 LPT1 C0 LPT1 C3 LPT1 S4...S7 LPT1 C1 LPT1 Line-in/Line-out Soundcard D0...D7 LPT1

TAMPILAN PROGRAM PENGONTROL

Speaker Aktif

PENGGERAK RELAY BEBAN LAMPU

Gambar 3.1. Diagram blok sistem Saat terjadi proses dialling, sentral telepon mengirimkan sinyal dering berupa sinyal AC dengan tegangan 50-100 volt. Tegangan ini kemudian dideteksi oleh pengkondisi sinyal dering hingga menghasilkan tegangan logika rendah (≈ 0 volt), sinyal ini kemudian diteruskan ke terminal S3 pada port LPT1 komputer. Program pada komputer akan mengenali sinyal ini sebagai sinyal dering. Komputer akan mengeluarkan logika tinggi melalui terminal C0 untuk mengaktifkan Hook Relay (Relay pengangkat telepon), dan mengirimkan logika

28

tinggi ke terminal C3 untuk mengaktifkan relay penghubung jalur yang akan menghubungkan dekoder DTMF dan relay tukar dengan jalur telepon, serta meng-enable keluaran dekoder DTMF. Pada saat ini, program komputer akan memberitahu penelepon bahwa ia terhubung ke perekam dan dapat segera meninggalkan pesannya. Untuk melakukan pengontrolan lampu, penelepon harus memasukkan password pada keypad di pesawat teleponnya pada saat telepon penerima telah diangkat. Jika password benar maka akan terdengar nada tertentu yang menunjukkan penelepon telah terhubung ke sistem penggontrol lampu. Pada saat ini penelepon dapat menghidupkan atau mematikan lampu tertentu. Jika ingin menghidupkan lampu tertentu, penelepon harus menekan tombol bintang disertai nomor lampu yang dituju. Jika ingin mematikan lampu tertentu, penelepon harus menekan tombol pagar disertai nomor lampu yang dituju. Sebagai contoh jika ingin menghidupkan lampu 2, penelepon harus menekan tombol * dan tombol 2. Sinyal dari dekoder DTMF yang terdiri atas 4 bit data dimasukkan ke terminal S4...S7. Sinyal untuk menghidupkan/mematikan lampu sebanyak 8 bit dikeluarkan lewat terminal D0...D7. Sinyal data ini dihubungkan ke penggerak relay sebelum dapat mengontrol lampu. Sinyal-sinyal suara, baik untuk dikirim maupun diterima dihubungkan melalui line-out dan line-in pada terminal kartu suara komputer. Sinyal suara ini diambil langsung dari jalur telepon. Untuk menghindari feedback yang tidak diinginkan, sinyal suara yang masuk dan keluar diatur bergantian melalui relay yang dikontrol komputer melalui terminal C1 LPT1. Speaker aktif digunakan untuk memonitor suara dan mendengarkan hasil rekaman. Layout view merupakan tampilan dimana pengguna dapat berinteraksi dengan sistem secara langsung, misalnya memutar rekaman, mematikan atau menghidupkan lampu secara langsung. Program penggerak dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman Microsoft Visual Basic 6.0 3.2 Perancangan Perangkat Keras (Hardware) Pada bagian berikut ini akan dijelaskan secara terperinci tentang semua bagian perangkat keras yang membangun sistem. Perangkat keras ini merupakan

29

bagian dari tiap-tiap blok diagram yang telah dijelaskan sebelumnya. Perancangan tidak termasuk pesawat telepon dan komputer, kecuali bagian-bagian yang diubah pada pesawat telepon akan dibahas pada bagian ini. 3.2.1 Pengkondisi Sinyal Dering Tegangan 50-100 volt AC dikirim melalui jalur telepon ke pesawat penerima oleh sentral jika ada panggilan. Komputer harus mengenali tegangan ini sebagai sinyal dering. Untuk itu dibuat suatu pengkondisi sinyal yang harus mengeluarkan tegangan logika TTL (0 dan 5 volt) sebagai masukan ke terminal LPT1. Gambar 3.2 merupakan skema rangkaian yang dimaksud.

+5v Penyearah jembatan 10k 10k Dari jalur telepon 470uF 3V optocoupler A Ke Terminal S3 LPT1

1uF/120V

B

Gambar 3.2. Rangkaian pengkondisi sinyal dering Kapasitor 1 µF mencegah tegangan DC masuk ke rangkaian, karena jalur telepon mengandung tegangan DC. Penyearah jembatan menyearahkan arus bolak-balik sinyal dering menjadi arus searah positif. Tahanan 10 kΩ dipasang secara seri untuk membatasi arus, sehingga cukup aman untuk rangkaian. Dioda zener mempertahankan tegangan agar tidak lebih besar dari 3 volt. Sedangkan kapasitor 470 µF digunakan untuk meratakan pulsa positif yang dihasilkan penyearah jembatan. Optocoupler terdiri atas LED dan phototransistor. Dalam keadaan normal (LED mati), phototransistor dalam keadaan cuttoff, sehingga terminal A terhubung ke tegangan 5 volt melalui tahanan 10 kΩ. Sinyal dering yang masuk akan menyalakan LED dan menyebabkan phototransistor saturasi. Dalam

30

keadaan ini titik A terhubung ke tanah dan mempunyai logika rendah. Keluaran pengkondisi sinyal ini langsung dihubungkan ke terminal S3 LPT1 pada komputer. 3.2.2 Penerima/Dekoder DTMF MT8870 Rangkaian yang mengkodekan nada DTMF menjadi data biner 4 bit menggunakan IC MT8870 diperlihatkan pada Gambar 3.3. Dioda zener 3,3 V yang dipasang berhadapan berfungsi melindungi IC dari tegangan masuk yang lebih besar dari 3,3 V yang mungkin terjadi karena masuknya sinyal dering. Kristal 3,579 MHz diperlukan sebagai referensi bagi osilator internal pada IC, osilator internal menghasilkan frekuensi bagi penghitung-penghitung digital untuk keperluan filter pada IC.

+5v 0.1uF Dari jalur telepon 100k MT8870 2 IN VDD SI/GT 18 17 0.1uF 370k ESt 16 S4...S7 LP T1

3.3v 3.3v

100k 3 4 1 GS Vref IN +

8 3.579545 MHz 7

OSC1 OSC2

11 D0 12 D1 13 D2 14 D3 10 TOE 9 VSS

C3 LP T1

Gambar 3.3. Rangkaian dekoder DTMF MT8870 TOE pada IC dihubungkan ke port C3 LPT1, pada saat telepon diangkat secara otomatis program akan mengeluarkan logika tinggi ke TOE untuk mengenable keluaran D0..D3. Dalam keadaan TOE berlogika rendah, keluaran D0...D3 mempunyai impedansi tinggi (D0...D3 tidak terhubung ke S4...S7 LPT1). Port C3 juga mengaktifkan relay penghubung jalur telepon, yang akan menghubungkan jalur telepon ke rangkaian dekoder DTMF serta ke kartu suara pada komputer.

31

Hal ini untuk melindungi dua alat tersebut dari sinyal dering. Gambar 3.4 berikut ini adalah rangkaian penghubung yang dimaksud.
+5V Ke dekoder dan kartu suara Relay Dari jalur telepon Dari terminal C3 LPT1 C9013 5,6k

Gambar 3.4. Rangkaian penghubung jalur telepon Terminal IN- dan IN+ pada Gambar 3.3 masing-masing merupakan masukan membalik dan tak-membalik dari op-amp internal, terminal GS adalah keluaran op-amp yang dimaksud. Ketiga terminal ini membentuk pengatur penguatan (gain) untuk sinyal DTMF yang masuk. Terminal IN- digunakan sebagai masukan DTMF melalui tahanan seri 100 kΩ. Antara terminal GS dan INdipasang tahanan 100 kΩ, ini membentuk rangkaian umpan balik guna mengatur penguatan. Penguatan yang terjadi sesuai dengan persamaan A = - Rf/Rs sehingga penguatannya -1, nilai minus menunjukkan bahwa fase sinyal dibalik. Terminal IN+ dihubungkan ke tegangan referensi internal. 3.2.3 Relay Pengangkat Telepon Dalam perancangan ini digunakan pesawat penerima telepon merek Panaphone tipe KX-TS5SI yang mempunyai konfigurasi saklar gagang seperti pada Gambar 3.5.

On Hook

Off Hook

Sakelar gagang

Rangkaian Telepon

Gambar 3.5. Pengawatan saklar gagang pada telepon Panaphone

32

Rangkaian elektronika telepon tidak dibahas dalam perancangan ini. Dengan kedudukan saklar tersebut, dua buah relay jenis SPDT (Single Pole Double Throw) atau relay satu kutub dua arah yang diaktifkan oleh satu sinyal logika tinggi dapat dihubungkan paralel dengan saklar gagang seperti pada Gambar 3.6.

+ 12V Relay 1 C0 LPT1

5,6k C9013

Sakelar gagang

Rangkaian Telepon

Relay 2

Gambar 3.6. Pemasangan relay untuk sistem pengangkatan telepon Pada perancangan ini digunakan dua buah relay SPDT yang banyak terdapat di pasaran, tetapi dapat juga digunakan satu buah relay DPST (Double Pole Single Throw) atau satu buah relay DPDT (Double Pole Double Throw). Port C0 LPT1 merupakan masukan dari transistor penggerak C9013 melalui R 5,6 kΩ. Dalam keadaan normal (C0 berlogika rendah), transistor dalam keadaan cuttoff sehingga relay 1 dan 2 tidak aktif. Dengan masuknya sinyal dering setelah beberapa saat, program mengirimkan logika tinggi ke port C0 dan menyebabkan transistor saturasi, relay akan aktif dan menghubungkan kontakkontak NO-nya sehingga terjadi off-hook. 3.2.4 Penggerak dan Relay Beban Beban yang dikontrol dalam sistem ini adalah berupa delapan buah lampu. Dalam perancangan ini digunakan delapan buah lampu pijar 1 watt / 220 volt. Suatu relay yang digerakkan oleh transistor dipakai untuk masing-masing lampu,

33

sehingga total relay yang digunakan sebanyak delapan buah. Penggerak dan relay beban diperlihatkan pada Gambar 3.7.

+ 12V

Relay 1 D0...D7 LPT1 R 4,7k D0 C9013

Lampu 1

+ 12V

Relay 8

Lampu 8

R 4,7k D7 C9013

Jala-jala F PLN N

F N

Gambar 3.7. Rangkaian penggerak dan relay beban lampu Dalam Gambar 3.7 hanya diperlihatkan dua buah relay untuk menghemat tempat, relay lainnya identik. 3.2.5 Pengawatan untuk Suara Masuk dan Keluar Mesin penjawab yang dirancang merupakan suatu program yang dijalankan pada komputer, bukan mesin penjawab konvensional yang umum dijual di pasaran. Karena itu pengawatan untuk suara dapat langsung dipasang pada line-in dan line-out pada kartu suara komputer. Jalur mikrofon pada headset dapat langsung dihubungkan ke line-out, sedangkan jalur speaker dihubungkan langsung ke line-in. Dengan demikian suara yang terdengar di speaker merupakan masukan untuk kartu suara, sedangkan suara yang dihasilkan kartu suara merupakan masukan bagi mikrofon di headset.

34

Jika berbicara pada pesawat telepon, suara yang diucapkan di depan mikrofon akan terdengar juga pada speaker. Pemasangan secara langsung seperti yang telah dijelaskan di atas dapat mengakibatkan umpan balik positif yang menimbulkan osilasi yang tidak diinginkan berupa suara suing. Untuk menghindari hal tersebut, jalur suara dihubungkan hanya pada saat diperlukan, yaitu sinyal masuk dan sinyal keluar dihubungkan secara bergantian. Sebuah relay dapat digunakan untuk keperluan itu, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 3.8 berikut ini.

+ 12V Ke line-out Ke line-in C1 LPT1 Relay

R 4,7k C9013

Ke jalur telepon

0.1uF

Gambar 3.8. Pengawatan untuk jalur suara. Pada rangkaian tersebut jalur suara tidak dihubungkan ke headset, tetapi langsung dihubungkan ke jalur telepon. Hal ini dikarenakan jalur telepon telah mengandung sinyal-sinyal suara yang diperlukan, yang merupakan gabungan dari sinyal dikirim dan sinyal diterima. Kapasitor 0.1 µF mencegah tegangan DC catu masuk ke jalur suara. Saat sinyal dering dideteksi, beberapa saat kemudian gagang diangkat secara otomatis. Pada saat ini port C1 belum mengirimkan logika tinggi. Program penjawab akan memperdengarkan suara jawaban ke line-out. Suara penjawab telah direkam sebelumnya dan disimpan dalam file berekstensi WAV. Suara ini berisi pemberitahuan bawah telepon telah terhubung ke perekam, dan penelepon

35

dapat langsung meninggalkan pesannya setelah terdengar nada mulai. Pada saat inilah program segera mengirimkan logika tinggi ke terminal C1 LPT1 yang membuat relay aktif memutuskan line-out dan menghubungkan line-in ke jalur telepon. 3.3 Perancangan Perangkat Lunak (Software) Perangkat lunak merupakan program penggerak guna terlaksananya fungsi perangkat keras yang telah dirancang sebelumnya agar bekerja sesuai dengan fungsinya. Dalam merancang perangkat lunak, dua bagian utama yang harus dibuat adalah flowchart (diagram alir) dan layout view (tampilan program). Diagram alir merupakan bagian terpenting, di sini logika program penggerak secara garis besar ditentukan. Program dibuat dengan Microsoft Visual Basic 6.0. 3.3.1 Diagram Alir (Flowchart) Diagram alir program secara keseluruhan ditampilkan pada Gambar 3.9 di halaman berikut ini. Diagram alir program membentuk sebuah loop tertutup, artinya program tidak akan selesai pada langkah tertentu melainkan selalu kembali ke awal setelah selesai melakukan suatu proses. Program akan dihentikan hanya jika pengguna menekan button “Keluar” pada tampilan program. Pertamakali dihidupkan, program akan menginisialisasi driver input/output dalam bentuk file ‘io.dll’. File ini didapat secara terpisah dari paket Ms. Visual Basic. Driver ini mengizinkan Visual Basic berkomunikasi dengan devais luar melalui port LPT1. Setelah selesai inisialisasi program segera menampilkan status lampu saat itu. Sebenarnya status lampu itu lebih tepat disebut status D0...D7, sebab data diambil bukan dari nyala lampu melainkan diambil langsung dari bit D0...D7. Jika hendak mengambil status lampu langsung dari nyala lampu, misalnya menggunakan sensor cahaya, akan diperlukan 8 bit masukan. Hal ini tidak dimungkinkan mengingat interface yang digunakan adalah LPT1 yang hanya memiliki 5 bit masukan dan semuanya telah dipergunakan.

36

M ulai

R eset C 0...C 3 LPT1

T am pilkan status lam pu ke m onitor

Ada sinyal dering?

tidak

ya Aktifkan pengangk at, penjaw ab dan perek am

T ek an passw ord?

tidak

W ak tu 1 m enit?

tidak

ya Batalkan perekam an dan ak tifkan pengontrolan

ya R ekam an berhenti dan disim pan

T elepon ditutup

Tekan tom bol bintang?

tidak

T ekan tom bol pagar?

tidak

Tekan tom bol 0?

tidak

W aktu 10 detik?

tidak

ya

ya

ya

ya

Tekan salah satu no. lam pu?

tidak

Tekan salah satu no. lam pu?

tidak

T elepon ditutup

ya

ya

tidak Lam pu yang dituju sedang m ati?

tidak Lampu yang dituju sedang hidup?

ya H idupkan lampu y ang dituju

ya M atikan lam pu y ang dituju

tidak

T ekan tombol 9?

tidak

T ek an tom bol 9?

ya

ya

H idupkan s em ua lampu

M atikan s em ua lam pu

Gambar 3.9. Diagram alir program penggerak.

37

Program dalam keadaan standby menunggu masuknya sinyal dering. Saat ada panggilan dan sinyal dering dikirim oleh sentral, program akan mengaktifkan pengangkat telepon dan segera memperdengarkan suara penjawab ke penelepon. Sesaat setelah suara penjawab selesai, penelepon dapat segera meninggalkan pesan yang durasinya dibatasi hingga satu menit. Pada saat ini program juga menunggu masukan password agar dapat terhubung ke sistem pengontrolan. Apabila penelepon tidak memasukkan password pengontrolan, perekaman akan terus berlangsung selama satu menit, walau penelepon telah selesai meninggalkan pesan dan menutup teleponnya sebelum satu menit, atau bahkan tidak meninggalkan pesan sama sekali. Hal ini dibuat karena IC MT8870 yang digunakan sebagai dekoder tidak mempunyai fasilitas untuk mendeteksi penutupan pesawat telepon pengirim. Setelah satu menit, program akan menutup telepon penerima dan menghentikan rekaman serta menyimpan rekaman tersebut dalam file berekstensi WAV. Penelepon akan terhubung ke sistem pengontrolan jika saat penjawab telepon aktif menekan password yang telah ditentukan, dalam perancangan ini digunakan lima digit password, yaitu 12345. Password ini tidak dapat diganti tanpa mengubah source program. Setelah terhubung ke sistem pengontrolan, penelepon dapat mematikan atau menghidupkan kedelapan lampu yang diinginkan. Untuk menghidupkan lampu tertentu, penelepon harus menekan tanda bintang, diikuti nomor lampu yang dimaksud. Untuk mematikan lampu tertentu, penelepon harus menekan tanda pagar, diikuti nomor lampu yang dimaksud. Sebagai contoh jika ingin menghidupkan lampu nomor 3 maka penelepon harus menekan tombol * lalu tombol 3. Jika kebetulan lampu nomor 3 memang sedang hidup, program akan mengabaikan perintah menghidupkan lampu nomor 3 dan menunggu perintah selanjutnya. Untuk menghidupkan semua lampu, tombol yang harus ditekan penelepon adalah * dan 9, sedangkan untuk mematikan semua lampu, penelepon harus menekan tombol # dan 9. Setelah melaksanakan satu perintah di atas, program akan terus menunggu perintah mematikan atau menghidupkan lampu yang lain dengan cara yang sama, sampai penelepon menekan tombol 0 yang artinya penelepon mengakhiri

38

hubungan ke pengontrolan. Jika penelepon tidak menekan tombol 0 atau lupa menekan tombol 0 sementara teleponnya telah ditutup, atau melakukan pengontrolan lampu tidak dengan cara yang telah disebutkan, maka dalam waktu 10 detik sistem pengontrolan akan ditutup secara otomatis. 3.3.2 Perancangan Tampilan (Layout View) Bagian kedua dari perancangan perangkat lunak adalah perancangan tampilan program. Tampilan ini digunakan untuk memberi beberapa perintah langsung ke komputer sekaligus menunjukkan beberapa status yang terjadi saat itu. Tampilan dibuat agar pengguna mudah berinteraksi dengan program. Gambar 3.10 adalah tampilan program yang telah dibuat. Tampilan dibuat dalam bentuk form tunggal berisi empat frame (bingkai) dengan fungsi yang berbeda.

Gambar 3.10. Tampilan Program Bingkai pertama adalah “Waktu Angkat”, digunakan untuk memasukkan variabel waktu pengangkatan telepon, default-nya diberikan selama lima detik. Bingkai “Rekaman” menunjuk-kan status rekaman dan tiga buah tombol perintah,

39

yaitu perintah memutar rekaman, berhenti memutar, dan menghapus rekaman. Status rekaman menunjukkan apakah ada rekaman baru yang masuk atau tidak, juga menunjukkan apakah rekaman telah dihapus. Bingkai “Status Lampu” menunjukkan keadaan lampu saat itu, apakah lampu hidup atau mati. Penunjukkan status ini tidak diambil dari kondisi lampu yang sebenarnya, tetapi dari terminal yang mengontrol kedelapan lampu tersebut yaitu port D0...D7 LPT1. Bingkai “Kontrol Lampu” berisi tombol-tombol perintah menghidupkan atau mematikan lampu melalui form. Kelompok tombol ‘Menghidupkan Lampu’ digunakan untuk menghidupkan lampu, demikian juga kelompok tombol ‘Mematikan Lampu’ digunakan untuk mematikan lampu sesuai dengan nomor yang ditekan. Tombol ‘Menghidupkan Semua Lampu’ digunakan untuk menghidupkan semua lampu. Tombol ‘Mematikan Semua Lampu’ digunakan untuk mematikan semua lampu. Suatu status tambahan yaitu ‘Mode’ pada bagian kiri bawah form menampilkan status yang sedang dikerjakan oleh program, seperti mendeteksi dering, terhubung ke perekam, telepon ditutup, dan lain-lain. Command ‘About’ menampilkan copyright pembuat program seperti yang diperlihatkan pada Gambar 3.11 berikut ini.

Gambar 3.11. Tampilan form About

40

BAB 4 PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengujian Sistem Pengujian sistem merupakan bagian penentuan bagi keberhasilan sistem yang telah dirancang sebelumnya. Suatu sistem dikatakan berhasil jika pengujian yang dilakukan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Walaupun dalam berbagai kasus pengujian sistem sering didapat hasil yang menyimpang, sistem dikatakan cukup berhasil bila penyimpangan itu dalam batas yang bisa ditolerir. Pengujian dilakukan dengan dua metode, yaitu pengujian sub-sistem dan pengujian sistem secara keseluruhan. Dalam pengujian sub-sistem, suatu blok sistem tertentu diuji terpisah dari sistem keseluruhan. Pengujian per sub-sistem memberikan kemudahan dalam mencari gangguan yang mungkin terjadi jika subsistem itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pengujian secara keseluruhan akan memberikan keluwesan, tetapi jika terjadi gangguan memerlukan waktu yang lama untuk menemukan penyebabnya. Karena itu dalam perancangan ini kedua metode tersebut akan digunakan. Jika pengujian semua sub-sistem berhasil akan dilanjutkan ke pengujian sistem secara keseluruhan untuk mengetahui kinerja keseluruhan, sekaligus menentukan keberhasilan perancangan yang telah dibuat. 4.1.1 Pengujian Pengkondisi Sinyal Dering Pengkondisi sinyal dering merupakan bagian pertama dari sistem, sebab dari sub-sistem inilah diagram alir program dimulai. Suatu rangkaian pengkondisi sinyal yang telah dibahas sebelumnya diuji responnya terhadap sinyal dering. Sinyal dering mempunyai tegangan AC antara 50 sampai 100 volt dengan frekuensi 20 Hz sampai 60 Hz. Untuk itu, dibuat suatu alat uji yang dapat mengeluarkan tegangan tersebut. Frekuensi keluaran alat uji ini tidak dapat diatur, frekuensi yang dihasilkan mengikuti frekuensi jala-jala, yaitu sekitar 50 Hz. Gambar 4.1 merupakan alat penguji yang dimaksud.

41

Sakelar pilih F Dari jala-jala PLN (220 VAC/50 Hz) N Transformator Step-Down Transformator Step-Up 220V 12V 9V 6V 3V

12V

110V

Ke Pengkondisi sinyal dering

Gambar 4.1. Rangkaian penguji sinyal dering Transformator step-down merupakan transformator penurun tegangan yang biasa digunakan untuk adaptor tegangan. Transformator ini menurunkan tegangan jala-jala dari 220 V ke 12 V. Melalui saklar pilih tegangan ini kembali dinaikkan oleh transformator step-up. Transformator step-up merupakan transformator yang sama dengan transformator step-down dengan pemasangan yang dibalik. Terminal 110 V pada transformator step-up dipilih sebagai keluaran dari rangkaian penguji ini. Terminal skunder transformator step-down merupakan terminal yang dapat dipilih melalui saklar pilih, yaitu terminal 3, 6, 9, dan 12 volt sebagai masukan untuk transformator step-up. Pemilihan ini dimaksudkan untuk mendapatkan range tegangan dering. Berikut ini tabel pengukuran yang didapat dengan merubah posisi saklar pilih dari 3 V ke 12 V. Tabel 4.1. Tegangan keluaran penguji sinyal dering terhadap posisi saklar pilih Posisi Saklar Pilih (V) 3 6 9 12 Tegangan Keluaran (V) 25 50 74 95

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa tegangan keluaran rangkaian penguji paling rendah adalah 25 V, dan paling tinggi 95 V. Ini menunjukkan bahwa

42

rentang tegangan telah mencukupi untuk mewakili sinyal dering dengan level paling rendah ke level paling tinggi. Selanjutnya diadakan pengujian terhadap rangkaian pengkondisi sinyal dering dengan menggunakan tegangan dering buatan ini. Terminal keluaran rangkaian penguji dihubungkan dengan masukan rangkaian pengkondisi sinyal dering seperti pada Gambar 4.2
Sakelar pilih F Dari jala-jala PLN (220 VAC/50 Hz) N Transformator Step-Down Transformator Step-Up 220V 12V 9V 6V 3V

110V

+5v Penyearah jembatan 10k 10k 3V Optocoupler A B 470uF

1uF/120V

Gambar 4.2. Pengujian rangkaian pengkondisi sinyal dering Dengan mengubah-ubah posisi saklar pilih mulai dari 3 V sampai dengan 12 V, terminal A-B yang dihubungkan ke port S3 LPT1 tetap mengeluarkan tegangan logika rendah. Hal ini menunjukkan bahwa rangkaian pengkondisi sinyal tetap bekerja dengan tegangan dering yang minimum hingga maksimum. 4.1.2 Pengujian Dekoder DTMF Rangkaian dekoder DTMF yang telah dibahas sebelumnya diuji dengan menggunakan pesawat telepon dan tegangan catu tiruan menggunakan catu daya dan tahanan seperti pada Gambar 4.3 berikut.

43

Penyearah jembatan F 220V N 1k Ring 12V 2200uF 1k

Tip Pesawat telepon

Dekoder DTMF MT8870

4x LED

Gambar 4.3. Pengujian dekoder DTMF Ketika diukur dalam keadaan on-hook, tegangan antara Tip dan Ring sekitar 12 V, dan dalam keadaan off-hook sekitar 3 V. Tegangan 3 V pada saat off-hook sudah mencukupi untuk membuat pesawat telepon bekerja dengan baik. Masukan dekoder DTMF langsung diparalelkan dengan terminal TIP dan RING, sedangkan data keluaran dihubungkan ke peraga LED seperti pada Gambar 4.4 berikut.

Dari TIP dan RING pesawat telepon

Dekoder DTMF MT8870

Q1 Q2 Q3 Q4

LED1

LE D2

LED3

LE D4

Gambar 4.4. Pengujian Data Dekoder Penekanan terhadap tombol keypad telepon akan merubah nyala LED sesuai dengan data yang dikeluarkan oleh dekoder. Tabel 4.2 merupakan hasil yang diperoleh dari pengujian ini. Berdasarkan tabel 4.2, LED yang menyala menunjukkan logika tinggi (1), LED yang mati menunjukkan logika rendah (0). Hasil pengujian sesuai dengan data-sheet yang disertakan oleh MITEL pada IC dekoder MT8870, seperti yang ditunjukkan pada tabel 2.1. Pengujian terbatas dari tombol 1 sampai tombol #,

44

tidak termasuk tombol A, B, C, dan D karena tombol tersebut hanya terdapat pada telepon dengan fungsi khusus. Tabel 4.2. Hasil pengujian dekoder DTMF Penekanan Tombol Telepon 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 * # 4.1.3 Pengujian Sinyal Suara Pengujian ini dilakukan untuk memastikan bahwa sinyal suara yang dikandung oleh jalur telepon dapat digunakan sebagai masukan perekam, dan sinyal suara yang dikirim juga dapat terdengar baik di pesawat telepon. Dalam pengujian ini, pesawat telepon, catu daya, dekoder, line-out, serta line-in dihubungkan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.5 berikut ini LED 1 Mati Mati Mati Mati Mati Mati Mati Hidup Hidup Hidup Hidup Hidup LED 2 Mati Mati Mati Hidup Hidup Hidup Hidup Mati Mati Mati Mati Hidup LED 3 Mati Hidup Hidup Mati Mati Hidup Hidup Mati Mati Hidup Hidup Mati LED 4 Hidup Mati Hidup Mati Hidup Mati Hidup Mati Hidup Mati Hidup Mati

+ 12V Line-in Line-out Relay

C1 LPT1 S4...S7 LPT1

R 4,7k C9013 0.1uF Tip Ring Pesaw at Telepon

Dekoder DTMF F 12V N 220V 1k 2200uF 1k

Q 1...Q 4

Gambar 4.5. Pengujian sinyal suara

45

Pengujian dimulai dengan memberikan logika rendah pada terminal S3 LPT1 sebagai sinyal dering yang sedang masuk. Lima detik kemudian komputer mengangkat telepon secara otomatis dan memperdengarkan suara penjawab. Pada saat ini suara dari speaker headset didengar. Pengaturan volume suara dapat dilakukan pada Volume Control pada komputer. Pengaturan volume yang tepat pada saat bar volume dan wave berada di posisi tengah, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.6. Setelah penjawab selesai, perekaman dimulai. Saat ini perekaman diuji dengan cara berbicara pada mikrofon headset telepon. Dengan pengaturan bar volume line-in yang tepat, suara akan jelas terdengar pada saat rekaman diputar. Pengaturan volume line-in yang tepat pada saat bar volume line-in berada pada posisi tengah seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.6.

Gambar 4.6. Pengaturan Volume Control pada proses pengujian suara 4.2 Pengujian Sistem Secara Keseluruhan Bagian ini membahas tentang pengujian sistem secara keseluruhan. Bagian-bagian sub-sistem yang telah dibahas di atas dirangkai sehingga membentuk sistem yang lengkap. Skema rangkaian sistem selengkapnya diperlihatkan pada Skema Rangkaian Lengkap pada Lampiran A.

46

Pengujian dilakukan pada jaringan PABX di Fakultas Teknik Elektro Universitas Syiah Kuala. Waktu tunda diatur selama lima detik pada form, dengan kondisi nyala lampu di-set secara acak. Pengujian diawali dengan memanggil telepon penerima menggunakan pesawat telepon di tempat lain. Nada dering yang terdengar mempunyai durasi selama satu detik dengan waktu tunda tiap empat detik. Status ‘Mode’ yang diamati baru mendeteksi adanya nada dering setelah dua kali terdengar nada dering. Saat itu hitungan waktu angkat baru dimulai, yaitu selama lima detik. Pengujian juga dilakukan dengan memanggil pesawat telepon penerima dengan menggunakan handphone (telepon selular). Pengujian dengan menggunakan handphone tidak berbeda jauh dibanding pengujian dengan menggunakan pesawat telepon biasa, kecuali respon penekanan tombol terasa agak lambat. 4.2.1 Pengujian Sistem Pengontrolan Pada saat telepon telah diangkat secara otomatis, terdengar nada dan suara jawaban yang menyatakan bahwa penelepon terhubung ke perekam. Pada saat ini dimasukkan password untuk masuk ke sistem pengontrol lampu, yaitu 12345. Sesaat setelah memasukkan password terdengar nada yang menandakan password benar dan penelepon telah terhubung ke sistem pengontrol. Pengujian pengontrolan lampu dilakukan dengan mencoba menghidupkan lampu secara berurutan dari lampu-1 hingga lampu-8, dan mematikan lampu secara berurutan setelah itu. Pengujian selanjutnya mencoba mematikan dan menghidupkan lampu secara acak. Pengujian ini tidak mengalami hambatan dan berjalan sebagaimana yang diharapkan. Pengujian selanjutnya mencoba menghidupkan dan mematikan lampu tidak dengan cara di atas, tetapi menekan nomor-nomor lampu secara langsung setelah terhubung ke sistem pengontrolan. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah sistem merespon penekanan ini. Dalam pengujian ini, telepon secara otomatis ditutup setelah 10 detik tanpa merespon tombol-tombol nomor yang ditekan. Penekanan tombol 0 akan menutup telepon.

47

4.2.2

Pengujian Sistem Perekaman Pada saat telepon telah diangkat dan terdengar suara jawaban, pesan

ditinggalkan setelah terdengar nada mulai berbicara. Pesan dapat ditinggalkan dengan durasi selama 30 detik, setelah 30 detik telepon akan ditutup secara otomatis. Pengujian dilakukan sebanyak tiga kali untuk mengetahui apakah rekaman yang lama dihapus oleh rekaman yang baru, atau rekaman yang baru ditambahkan ke rekaman yang lama tanpa menghapusnya. Untuk mendengarkan hasil rekaman, tombol ‘Putar’ pada form ditekan dan suara dapat didengar melalui speaker aktif. Pada percobaan ini rekaman-rekaman yang lama tidak dihapus oleh rekaman yang baru, tetapi ditambahkan yang paling di depan baru sehingga program berurutan memperdengarkan rekaman kemudian

memperdengarkan rekaman-rekaman yang lebih lama. 4.3 Pembahasan Waktu tunda untuk mengangkat telepon tidak akurat seperti yang diinginkan. Sistem baru mendeteksi adanya sinyal dering setelah dua periode nada dering terdengar. Penyebab dari hal ini disebabkan oleh sinyal dering yang tidak kontinu, sinyal dering dengan durasi selama satu detik dikirim setiap empat detik. Kapasitor dengan nilai 470 μF pada sub-sistem pengkondisi sinyal dering memerlukan waktu beberapa saat untuk mengisi muatan hingga penuh, waktu pengisian tergantung dari tegangan dering yang masuk, durasi sinyal dering, serta periode pengiriman sinyal dering. Jika kapasitor belum penuh, kapasitor bertindak sebagai konduktor yang dapat mengalirkan tegangan dering ke ground. Tegangan dering selama dua periode akan membuat kapasitor penuh sehingga dapat mengaktifkan optocoupler dan sistem mendeteksi adanya sinyal dering. IC MT8870 tidak dilengkapi dengan pendeteksi penutupan pesawat telepon pengirim, sehingga sistem tidak dapat mengetahui apakah telepon pengirim telah ditutup atau belum. Dengan demikian, apabila penelepon memanggil pesawat telepon penerima, dan menutup kembali teleponnya setelah penjawab telepon aktif, maka sistem tidak membatalkan aktivitasnya, tetapi dalam waktu 30 detik secara otomatis sistem akan menutup telepon.

48

Demikian juga saat proses dialling sedang dilaksanakan, satu-satunya sinyal dari sentral yang dapat diteksi oleh sistem adalah sinyal dering. Sinyal dering ini akan berhenti apabila telepon diangkat. Apabila telepon diangkat secara manual pada saat sedang terjadi proses dialling, sistem seharusnya dapat membatalkan pendeteksian sinyal dering dan menonaktifkan fungsi Timer pengangkat telepon yang ada pada perangkat lunaknya. Ide yang diambil sebelumnya adalah dengan mendeteksi matinya sinyal dering pada saat telepon diangkat secara manual. Jika sinyal dering yang dikirim oleh sentral merupakan sinyal kontinu, tidak ada kesulitan untuk menerapkan ide ini pada sistem. Tetapi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa sinyal dering yang dikirim oleh sentral merupakan sinyal yang terputus dalam periode waktu tertentu. Apabila ide di atas diterapkan pada sistem, kesulitan akan muncul karena sinyal dering yang terputus diantara dua periode itu mempunyai efek yang sama dengan sinyal dering yang terputus pada saat telepon diangkat. Sistem akan mengartikan bahwa telepon telah diangkat secara manual pada saat dering terputus diantara dua periode, dan hal ini tidak dikehendaki. Penggunaan kapasitor juga tidak menyelesaikan masalah di atas, sebab kapasitor berkapasitas besar memerlukan waktu pengisian yang lama dengan waktu pembuangan yang lama. Artinya, disamping waktu tunda pengangkatan telepon tidak akurat seperti yang telah dibahas sebelumnya, efek waktu pembuangan pada kapasitor yang lama akan membuat sistem tetap mendeteksi adanya sinyal dering, walaupun sinyal dering telah terputus karena telepon telah diangkat. Penggunaan kapasitor berkapasitas kecil juga tidak efektif diterapkan, sebab pemilihan nilai kapasitor yang tepat untuk konstanta waktu yang tepat merupakan pilihan yang kritis untuk menyelesaikan masalah ini. Kapasitor harus dapat menyimpan tegangan yang cukup sampai periode dering selanjutnya, jika tidak efeknya akan sama dengan putusnya sinyal dering akibat telepon telah diangkat. Hal inilah yang menjadi masalah, sebab standarisasi periode pengiriman sinyal dering berbeda-beda untuk tiap sentral .

49

Masalah di atas dapat diatasi jika sistem yang kita buat dapat mendeteksi sinyal call progress yang dikirim dari sentral. Sistem yang dibuat sekarang tidak dapat mendeteksi sinyal call progress tersebut. Oleh karena itu sistem tetap akan mendeteksi sinyal dering walaupun telepon telah diangkat secara manual, dan segala aktivitas yang berhubungan dengannya tidak akan dibatalkan. Perangkat lunak yang dibuat mengandung beberapa sub-routin atau fungsi yang selalu dipanggil oleh routin utamanya. List perangkat lunak selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran B pada halaman 54. Fungsi BitStatus digunakan untuk mengambil data per bit pada port LPT1, data yang diambil tidak dipengaruhi oleh keadaan bit lain pada port yang sama. Misalnya dalam proses mendeteksi sinyal dering, data yang diambil adalah logika rendah dari pengkondisi sinyal dering, data ini diambil lewat port S3 LPT1, data 1 bit ini tidak akan dipengaruhi oleh kondisi bit-bit yang lain pada port Status. Fungsi OutPort merupakan kebalikan dari fungsi BitStatus, fungsi ini mengeluarkan data per bit tanpa mempengaruhi keadaan bit lain pada port yang sama. Misalnya mengeluarkan logika tinggi pada port D8 LPT1 untuk menghidupkan lampu 8 tidak akan mempengaruhi keadaan bit yang lain pada port Data. Fungsi HidupLampu digunakan untuk mengirimkan logika tinggi ke port D0...7 guna menghidupkan lampu 1 sampai 8 sesuai sesuai dengan data yang dikirim. Pada fungsi HidupLampu terjadi pengecekan kondisi nyala lampu, apabila lampu yang dituju memang sudah menyala, maka perintah menghidupkan lampu akan diabaikan dan fungsi kembali memanggil routin utama. Fungsi MatiLampu digunakan untuk mengirimkan logika rendah ke port D0...7 guna mematikan lampu 1 sampai 8 sesuai sesuai dengan data yang dikirim. Pada fungsi, seperti halnya fungsi HidupLampu, pada fungsi MatiLampu ini juga terjadi pengecekan kondisi nyala lampu, apabila lampu yang dituju memang sudah mati, maka perintah mematikan lampu akan diabaikan dan fungsi kembali memanggil routin utama. Fungsi KirimSuara digunakan untuk mengirimkan suara ke jalur telepon, fungsi ini selalu dipanggil saat pengiriman status lampu yang sedang dikontrol

50

maupun saat pesawat telepon diangkat secara otomatis. Status lampu yang sedang dikontrol dikirim dalam bentuk rekaman suara. Sistem yang dibuat tidak dapat memberitahu status nyala lampu secara keseluruhan. Cara yang dapat digunakan untuk mengetahuinya adalah dengan mematikan atau menghidupkan semua lampu, untuk kemudian menghidupkan atau mematikannya satu per satu sesuai dengan kebutuhan. Sistem yang telah dibuat hanya berfungsi sebagai switching. Peralatan yang akan dikontrol tidak hanya sebatas lampu listrik, tetapi semua peralatan listrik yang dapat difungsikan dengan cara switching. Misalnya motor-motor pompa air, kulkas, atau motor untuk menggerakkan pintu gerbang, dan lain sebagainya.

51

BAB 5 PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan perancangan yang telah selesai dilaksanakan dan pengamatan yang telah dilakukan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Secara teknis jalur telepon dapat digunakan untuk media pengontrolan jarak jauh dengan memanfaatkan nada DTMF yang tersedia pada setiap pesawat telepon tekan. 2. Berdasarkan pengujian yang dilakukan, sistem pengontrolan dapat diaktifkan baik dari pesawat telepon biasa maupun dari handphone (telepon selular). 3. Pengujian dengan menggunakan handphone mempunyai respon penekanan tombol yang lebih lambat dibandingkan dengan menggunakan pesawat telepon. 4. Hasil rekaman yang didapat mempunyai kualitas suara yang cukup baik. Ukuran file penyimpanan rekaman tergantung pada kapasitas hardisk yang dipakai. Rekaman dengan durasi 1 menit menghasilkan file berukuran 650 Kb. 5. Jika program ditutup, lampu yang dikontrol akan tetap berada pada kondisi terakhir, selama aliran listrik yang mensuplai komputer tidak terputus. 5.2 Saran Saran-saran yang dapat digunakan untuk pengembangan sistem ini lebih lanjut adalah sebagai berikut: 1. IC MT8870 yang digunakan sebagai dekoder DTMF tidak dapat mendeteksi penutupan telepon pengirim dan dengan menggunakan IC jenis MT8888 masalah ini dapat diatasi. 2. Perancangan ini menggunakan port LPT1 sehingga terminal keluaran dan masukan terbatas. Dengan keluaran dekoder DTMF sebanyak 4 bit, lampu yang dapat dikontrol adalah sebanyak 24 = 16 buah. Dengan memanfaatkan PPI (Programmable Pheripheral Interface) yang mempunyai terminal masukan dan keluaran yang lebih banyak hal ini dapat dilaksanakan. Untuk

52

keperluan khusus, lampu yang dikontrol dapat lebih banyak lagi dengan menggunakan multiplekser sesudah dekoder DTMF. 3. Perekaman akan menghasilkan sebuah file yang kontinu, hal ini kurang efektif bila rekaman yang masuk sangat banyak. Dengan modifikasi program, file yang dihasilkan dapat dibuat sebanyak rekaman yang masuk.

53

DAFTAR PUSTAKA Brain, Marshall 2002 'How Telephones Work' viewed 29 Agustus 2004, <http://electronics.howstuffworks.com> Budiharto, Widodo 2004, Interfacing Komputer dan Mikrokontroler, Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta Engdahl, Tomi 1996, ‘Simple Circuit and Program to Show How to Use PC Parallel Port Output Capabilities’, viewed 12 Mei 2004, <http://www.hut.fi/misc/electronics/circuits> Engdahl, Tomi 1998 'Telephone line audio interface circuits' viewed 23 Agustus 2004, <http://splat.foo.is/electronics/teleinterface.htm> Engdahl, Tomi 2000 'Telephone ringing circuits' viewed 29 Agustus 2004, <http://ourworld.compuserve.com/homepages/Bill_Bowden/page11.htm> Harries, Ian 1996, ‘IBM-PC Parallel Printer Port Programming Considerations’, viewed 17 Mei 2004, <http://www.doc.ic.ac.uk/~ih/doc/par/doc.htm> Harries, Ian 1998, ‘Interfacing to the IBM-PC Parallel Printer Port’, viewed 17 Mei 2004, <http://www.doc.ic.ac.uk/~ih/doc/par/doc/intro.htm> Kurniadi, Adi 2000, Pemrograman Microsoft Visual Basic 6, Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta Malvino., Barmawi 1994, Prinsip-Prinsip Elektronika Jilid 1, Edisi Ketiga, Penerbit Erlangga, Jakarta MITEL 1997, Aplication of the MT8870 Integrated DTMF Receiver Nalwan, Agustinus 2004, Membuat Program Profesional secara Cepat dengan VB, Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta Paul, 'DTMF Generator/Decoder' viewed 22 <http://www.boondog.com//tutorials/dtmf/dtmf.htm> Agustus 2004,

Simanjuntak, Tiur LH 1993, Dasar-dasar Telekomunikasi, Penerbit Alumni, Bandung.

54

1

2

3

4 Jala-jala PLN

LAMPIRAN A. SKEMA RANGKAIAN LENGKAP
Ke saklar gag ang telep on +1 2V D Relay

8x R 5 ,6 k

8x C901 3

8x Dio da

8x R elay

8x Lamp u 1W /220 V

F

N

D

Lin e-in s oun dc ard Lin e-out sou nd card Grou nd 12 V Relay C 90 13 5,6 k 1u F/2 5V

Relay C90 13 5,6 k

+12 V

+12 V

C

0.1 uF

10 0k

MT88 70 2 10 0k St/GT INVDD

+5 V 18 17

C 0.1 uF 37 0k LPT1 Ko mpu ter 13 25 12 24 11 23 10 22 9 21 8 20 7 19 6 18 5 17 4 16 3 15 2 14 1 DB25

+12 V

+5 V R elay

3 4 1 C90 13 3,5 79 Mhz 5,6 k 7 8

GS Vref IN+ 11 Q1 Q2 Q3 Q4 TOE OSC 2 VSS 11 11 12 13 14 10 9

+12 V

OSC 1

+12 V
B

B

+5 V 1u F/1 20 V TIP RING 10 k 47 0u F/2 5V 3,3 V 10 k PC8 17

+12 V

+12 V

A

Title SKEMATIK LENGKAP RANGKAIAN PENGONTROL LAMPU LISTRIK Size Legal Date: File: 1 2 3 22 -Dec-2 00 4 G:\CLIENT\TUGAS_ AK.SCH 4 Sh eet of Drawn B y: ROMADHANI Numb er Revision

+12 V

A

55

LAMPIRAN B. FOTO ALAT

56

LAMPIRAN C. LIST PROGRAM PENGGERAK
Public Declare Sub PortOut Lib "io.dll" (ByVal Port As Integer, ByVal Value As Byte) Public Declare Function PortIn Lib "io.dll" (ByVal Port As Integer) As Byte ''Deklarasi "io.dll" untuk inisialisasi port LPT1 Public Declare Function DeleteFile Lib "kernel32.dll" Alias "DeleteFileA" (ByVal lpFileName As String) As Long ''Deklarasi "kernel32.dll" untuk mengambil fungsi hapus file Function BitStatus(PortAddress, BitYouWant) As Integer ''fungsi mendeteksi data per bit pada port LPT1 If PortAddress = 888 Then NumOfBits = 8 ElseIf PortAddress = 889 Then NumOfBits = 5 ElseIf PortAddress = 890 Then NumOfBits = 4 End If ReDim PortBits(NumOfBits) As Integer PortNum = PortIn(PortAddress) For i = 1 To NumOfBits PortBits(i) = PortNum Mod 2 PortNum = Fix(PortNum / 2) Next i BitStatus = PortBits(BitYouWant) End Function Sub OutPort(PortAddress, OutNum) ''sub mengeluarkan data per bit ke port LPT1 PortState = PortIn(PortAddress) PortNum = PortState + OutNum PortOut PortAddress, PortNum If OutNum = 0 Then Call PortOut(PortAddress, 0) End Sub Private Sub Command1_Click() FrmAbout.Show End Sub Private Sub Form_Load() ComboDelay.AddItem "1" ComboDelay.AddItem "5" ComboDelay.AddItem "10" ComboDelay.AddItem "15" ComboDelay.AddItem "20" ComboDelay.AddItem "25" ComboDelay.AddItem "30" ComboDelay.AddItem "35" ComboDelay.AddItem "40" ComboDelay.AddItem "45" ComboDelay.AddItem "60" Label3.Caption = "Belum ada aktivitas panggilan"

57

Call PortOut(890, 11) ''reset port Control (out) Timer1.Enabled = True End Sub Private Sub Timer1_Timer() 'timer pendeteksi dering Dim DeteksiDering As Byte DeteksiDering = BitStatus(889, 4) If DeteksiDering = 0 Then Label3.Caption = "Mendeteksi Sinyal Dering..." Delay Timer6.Enabled = True Timer1.Enabled = False End If End Sub Sub Delay() ''fungsi untuk menghitung delay angkat untuk timer 2 Dim IntervalDelay As Long IntervalDelay = ComboDelay * 1000 Timer2.Interval = IntervalDelay Timer2.Enabled = True End Sub Private Sub Timer2_Timer() ''timer pengaktif pengangkat telepon Timer6.Enabled = False Timer3.Enabled = True Timer2.Enabled = False Call PortOut(890, 2) ''menghubungkan dekoder DTMF ke jalur telepon ''dan mengaktifkan relay pengangkat telepon End Sub Private Sub Timer3_Timer() 'timer penjawab telepon TimerPass1.Enabled = True Label3.Caption = "Penjawab Telepon Aktif!!!" MMControl1.FileName = "C:\Romadhani\Program Tugas Akhir\Pembuka.wav" MMControl1.Command = "Open" MMControl1.DeviceType = "WaveAudio" MMControl1.Command = "Play" Timer4.Interval = 4500 Timer4.Enabled = True Timer3.Enabled = False End Sub Private Sub Timer4_Timer() 'timer untuk proses merekam TimerTundaTutup.Interval = 10000 TimerTundaTutup.Enabled = True CommandPlay.Enabled = True MMControl1.Command = "Stop" MMControl1.Command = "Close" Call PortOut(890, 0) ''menukar posisi jalur ke line-in MMControl2.DeviceType = "WaveAudio" MMControl2.RecordMode = mciRecordInsert

58

MMControl2.FileName = "C:\Romadhani\Program Tugas Akhir\Rekaman.wav" MMControl2.Command = "open" MMControl2.Command = "record" Label3.Caption = "Sedang merekam pembicaraan" End Sub Private Sub Timer5_Timer() ''timer pengontrolan lampu Dim VarKontrol As Byte VarKontrol = PortIn(889) MMControl1.Command = "Stop" MMControl1.Command = "close" Label3.Caption = "Pengontrolan Aktif" TimerTundaTutup.Interval = 10000 TimerTundaTutup.Enabled = True If VarKontrol = 63 Then ''jika tekan tanda bintang menghidupkan lampu TimerTundaTutup.Enabled = False Timer7.Enabled = True Timer5.Enabled = False End If If VarKontrol = 79 Then ''jika tekan tanda pagar mematikan lampu TimerTundaTutup.Enabled = False Timer8.Enabled = True Timer5.Enabled = False End If If VarKontrol = 47 Then ''jika tekan 0 telepon ditutup TimerTundaTutup.Enabled = False TimerTundaTutup.Interval = 1 TimerTundaTutup.Enabled = True End If End Sub Private Sub Timer6_Timer() 'timer pembatalan panggilan Dim VariabelBatal As Byte VariabelBatal = BitStatus(889, 4) If VariabelBatal = 1 Then 'gagang ditutup panggilan batal Label3.Caption = "Panggilan batal atau telepon telah diangkat" Timer1.Enabled = True Timer2.Enabled = False End If End Sub Private Sub Timer7_Timer() 'timer menghidupkan lampu Dim VariabelHidup As Byte VariabelHidup = PortIn(889) Label3.Caption = "Perintah menghidupkan lampu..." MMControl3.Command = "stop" MMControl3.Command = "close" TimerTundaTutup.Interval = 10000 TimerTundaTutup.Enabled = True

59

If VariabelHidup = 159 Then MMControl3.FileName = "C:\Romadhani\Program Tugas Akhir\Hidup1.wav" Call HidupLampu(1, 1) End If If VariabelHidup = 175 Then MMControl3.FileName = "C:\Romadhani\Program Tugas Akhir\Hidup2.wav" Call HidupLampu(2, 2) End If If VariabelHidup = 191 Then MMControl3.FileName = "C:\Romadhani\Program Tugas Akhir\Hidup3.wav" Call HidupLampu(3, 4) End If If VariabelHidup = 207 Then MMControl3.FileName = "C:\Romadhani\Program Tugas Akhir\Hidup4.wav" Call HidupLampu(4, 8) End If If VariabelHidup = 223 Then MMControl3.FileName = "C:\Romadhani\Program Tugas Akhir\Hidup5.wav" Call HidupLampu(5, 16) End If If VariabelHidup = 239 Then MMControl3.FileName = "C:\Romadhani\Program Tugas Akhir\Hidup6.wav" Call HidupLampu(6, 32) End If If VariabelHidup = 255 Then MMControl3.FileName = "C:\Romadhani\Program Tugas Akhir\Hidup7.wav" Call HidupLampu(7, 64) End If If VariabelHidup = 15 Then MMControl3.FileName = "C:\Romadhani\Program Tugas Akhir\Hidup8.wav" Call HidupLampu(8, 128) End If If VariabelHidup = 31 Then MMControl3.FileName = "C:\Romadhani\Program Tugas Akhir\hidupsemua.wav" Call PortOut(888, 255) Timer5.Enabled = True Timer7.Enabled = False CommandSemuaHidup.Enabled = False CommandSemuaMati.Enabled = True End If

60

If VariabelHidup = 79 Then ''jika tekan tanda pagar ke perintah mematikan Timer8.Enabled = True Timer7.Enabled = False End If End Sub Private Sub Timer8_Timer() ''timer mematikan lampu Dim VariabelMati As Byte VariabelMati = PortIn(889) Label3.Caption = "Perintah mematikan lampu..." MMControl3.Command = "stop" MMControl3.Command = "close" TimerTundaTutup.Interval = 10000 TimerTundaTutup.Enabled = True If VariabelMati = 159 Then MMControl3.FileName = "C:\Tugas Akhir Romadhani\Program Akhir\Mati1.wav" Call MatiLampu(1, -1) End If If VariabelMati = 175 Then MMControl3.FileName = "C:\Tugas Akhir Romadhani\Program Akhir\Mati2.wav" Call MatiLampu(2, -2) End If If VariabelMati = 191 Then MMControl3.FileName = "C:\Tugas Akhir Romadhani\Program Akhir\Mati3.wav" Call MatiLampu(3, -4) End If If VariabelMati = 207 Then MMControl3.FileName = "C:\Tugas Akhir Romadhani\Program Akhir\Mati4.wav" Call MatiLampu(4, -8) End If If VariabelMati = 223 Then MMControl3.FileName = "C:\Tugas Akhir Romadhani\Program Akhir\Mati5.wav" Call MatiLampu(5, -16) End If If VariabelMati = 239 Then MMControl3.FileName = "C:\Tugas Akhir Romadhani\Program Akhir\Mati6.wav" Call MatiLampu(6, -32) End If If VariabelMati = 255 Then MMControl3.FileName = "C:\Tugas Akhir Romadhani\Program Akhir\Mati7.wav" Call MatiLampu(7, -64) End If Tugas

Tugas

Tugas

Tugas

Tugas

Tugas

Tugas

61

If VariabelMati = 15 Then MMControl3.FileName = "C:\Tugas Akhir Romadhani\Program Tugas Akhir\Mati8.wav" Call MatiLampu(8, -128) End If If VariabelMati = 31 Then MMControl3.FileName = "C:\Romadhani\Program Tugas Akhir\matisemua.wav" Call PortOut(888, 0) CommandSemuaHidup.Enabled = True CommandSemuaMati.Enabled = False Timer5.Enabled = True Timer7.Enabled = False End If If VariabelMati = 63 Then ''jika tekan tanda bintang ke perintah menghidupkan Timer7.Enabled = True Timer8.Enabled = False End If End Sub Private Sub TimerPass1_Timer() If PortIn(889) = 159 Then TimerPass2.Enabled = True TimerPass1.Enabled = False End If End Sub Private Sub TimerPass2_Timer() If PortIn(889) = 175 Then TimerPass3.Enabled = True TimerPass2.Enabled = False End If End Sub Private Sub TimerPass3_Timer() If PortIn(889) = 191 Then TimerPass4.Enabled = True TimerPass3.Enabled = False End If End Sub Private Sub TimerPass4_Timer() If PortIn(889) = 207 Then TimerPass5.Enabled = True TimerPass4.Enabled = False End If End Sub Private Sub TimerPass5_Timer() If PortIn(889) = 223 Then Call PortOut(890, 2) ''kembalikan posisi jalur ke line-out Timer3.Enabled = False

62

Timer4.Enabled = False Timer5.Enabled = True MMControl3.FileName = "C:\Romadhani\Program Tugas Akhir\hubungkontrol.wav" MMControl3.DeviceType = "WaveAudio" MMControl3.Command = "Open" MMControl3.Command = "Play" MMControl1.Command = "Stop" MMControl1.Command = "Close" MMControl2.Command = "Stop" MMControl2.Command = "Close" TimerPass5.Enabled = False End If End Sub Private Sub TimerStatusLampu_Timer() ''timer untuk menampilkan status nyala lampu If BitStatus(888, 1) = 1 Then LabelA.ForeColor = &HFF0000 LabelA.Caption = "HIDUP" CmdHidup1.Enabled = False CmdMati1.Enabled = True CommandSemuaMati.Enabled = True Else LabelA.ForeColor = &HFF& LabelA.Caption = "MATI" CmdHidup1.Enabled = True CmdMati1.Enabled = False CommandSemuaHidup.Enabled = True End If If BitStatus(888, 2) = 1 Then LabelB.ForeColor = &HFF0000 LabelB.Caption = "HIDUP" CmdHidup2.Enabled = False CmdMati2.Enabled = True CommandSemuaMati.Enabled = True Else LabelB.ForeColor = &HFF& LabelB.Caption = "MATI" CmdHidup2.Enabled = True CmdMati2.Enabled = False CommandSemuaHidup.Enabled = True End If If BitStatus(888, 3) = 1 Then LabelC.ForeColor = &HFF0000 LabelC.Caption = "HIDUP" CmdHidup3.Enabled = False CmdMati3.Enabled = True CommandSemuaMati.Enabled = True Else LabelC.ForeColor = &HFF& LabelC.Caption = "MATI" CmdHidup3.Enabled = True CmdMati3.Enabled = False CommandSemuaHidup.Enabled = True End If

63

If BitStatus(888, 4) = 1 Then LabelD.ForeColor = &HFF0000 LabelD.Caption = "HIDUP" CmdHidup4.Enabled = False CmdMati4.Enabled = True CommandSemuaMati.Enabled = True Else LabelD.ForeColor = &HFF& LabelD.Caption = "MATI" CmdHidup4.Enabled = True CmdMati4.Enabled = False CommandSemuaHidup.Enabled = True End If If BitStatus(888, 5) = 1 Then LabelE.ForeColor = &HFF0000 LabelE.Caption = "HIDUP" CmdHidup5.Enabled = False CmdMati5.Enabled = True CommandSemuaMati.Enabled = True Else LabelE.ForeColor = &HFF& LabelE.Caption = "MATI" CmdHidup5.Enabled = True CmdMati5.Enabled = False CommandSemuaHidup.Enabled = True End If If BitStatus(888, 6) = 1 Then LabelF.ForeColor = &HFF0000 LabelF.Caption = "HIDUP" CmdHidup6.Enabled = False CmdMati6.Enabled = True CommandSemuaMati.Enabled = True Else LabelF.ForeColor = &HFF& LabelF.Caption = "MATI" CmdHidup6.Enabled = True CmdMati6.Enabled = False CommandSemuaHidup.Enabled = True End If If BitStatus(888, 7) = 1 Then LabelG.ForeColor = &HFF0000 LabelG.Caption = "HIDUP" CmdHidup7.Enabled = False CmdMati7.Enabled = True CommandSemuaMati.Enabled = True Else LabelG.ForeColor = &HFF& LabelG.Caption = "MATI" CmdHidup7.Enabled = True CmdMati7.Enabled = False CommandSemuaHidup.Enabled = True End If If BitStatus(888, 8) = 1 Then LabelH.ForeColor = &HFF0000 LabelH.Caption = "HIDUP" CmdHidup8.Enabled = False

64

CmdMati8.Enabled = True CommandSemuaMati.Enabled = True Else LabelH.ForeColor = &HFF& LabelH.Caption = "MATI" CmdHidup8.Enabled = True CmdMati8.Enabled = False CommandSemuaHidup.Enabled = True End If If PortIn(888) = 255 Then CommandSemuaHidup.Enabled = False End If If PortIn(888) = 0 Then CommandSemuaMati.Enabled = False End If End Sub Sub HidupLampu(Bit, Data) ''Fungsi untuk menghidupkan lampu Call KirimSuara If BitStatus(888, Bit) = 0 Then Call OutPort(888, Data) Timer5.Enabled = True Timer7.Enabled = False Else Timer5.Enabled = True Timer7.Enabled = False End If End Sub Sub MatiLampu(Bit, Data) ''Fungsi untuk mematikan lampu Call KirimSuara If BitStatus(888, Bit) = 1 Then Call OutPort(888, Data) Timer5.Enabled = True Timer8.Enabled = False Else Timer5.Enabled = True Timer8.Enabled = False End If End Sub Sub KirimSuara() MMControl3.Command = "Open" MMControl3.DeviceType = "WaveAudio" MMControl3.Command = "Play" End Sub Private Sub TimerTundaTutup_Timer() ''timer pewaktu untuk menutup telepon Timer2.Enabled = False Timer3.Enabled = False Timer4.Enabled = False Timer5.Enabled = False Timer6.Enabled = False

65

Timer7.Enabled = False Timer8.Enabled = False Timer1.Enabled = True Label3.Caption = "Telepon ditutup" Call SimpanRekam Call PortOut(890, 11) TimerTundaTutup.Enabled = False End Sub Sub SimpanRekam() MMControl2.Command = "stop" MMControl2.Command = "save" MMControl2.Command = "close" Label5.ForeColor = &HFF0000 Label5.Caption = "Ada rekaman baru" Label3.Caption = "Telepon ditutup" End Sub Private Sub CommandPlay_Click() ''command untuk memutar rekaman CommandStop.Enabled = True CommandHapus.Enabled = False MMControl2.FileName = "C:\Romadhani\Program Tugas Akhir\Rekaman.wav" MMControl2.Command = "Open" MMControl2.DeviceType = "WaveAudio" MMControl2.Command = "Play" CommandPlay.Enabled = False Label5.Caption = "Sedang memutar rekaman..." End Sub Private Sub CommandStop_Click() ''Command untuk menghentikan memutar rekaman CommandHapus.Enabled = True CommandPlay.Enabled = True MMControl2.Command = "stop" MMControl2.Command = "close" CommandStop.Enabled = False Label5.ForeColor = &H0& Label5.Caption = "Tidak ada rekaman baru" End Sub Private Sub CommandKeluar_Click() Dim KonfirmasiKeluar As Integer KonfirmasiKeluar = MsgBox("Yakin ingin Keluar?", vbYesNo, "Keluar") If KonfirmasiKeluar = 6 Then Call PortOut(890, 11) ''reset port control End End If End Sub Private Sub CommandHapus_Click() ''command untuk menghapus rekaman Dim Hapus As Integer Dim X As Byte

66

Hapus = MsgBox("Yakin ingin Menghapus Rekaman?", vbYesNo, "Hapus Rekaman") If Hapus = 6 Then CommandStop.Enabled = False CommandPlay.Enabled = False CommandHapus.Enabled = False X = DeleteFile("C:\Romadhani\Program Tugas Akhir\Rekaman.wav") If X = 1 Then MsgBox "File Rekaman.wav telah dihapus!", , "Hapus Rekaman" Else MsgBox "File tidak ada, penghapusan gagal.", , "Hapus Rekaman" End If Label5.ForeColor = &HFF& Label5.Caption = "Rekaman telah dihapus" End If End Sub Private Sub CmdHidup1_Click() If BitStatus(888, 1) = 0 Then Call OutPort(888, 1) End If End Sub Private Sub CmdHidup2_Click() If BitStatus(888, 2) = 0 Then Call OutPort(888, 2) End If End Sub Private Sub CmdHidup3_Click() If BitStatus(888, 3) = 0 Then Call OutPort(888, 4) End If End Sub Private Sub CmdHidup4_Click() If BitStatus(888, 4) = 0 Then Call OutPort(888, 8) End If End Sub Private Sub CmdHidup5_Click() If BitStatus(888, 5) = 0 Then Call OutPort(888, 16) End If End Sub Private Sub CmdHidup6_Click() If BitStatus(888, 6) = 0 Then Call OutPort(888, 32) End If End Sub

67

Private Sub CmdHidup7_Click() If BitStatus(888, 7) = 0 Then Call OutPort(888, 64) End If End Sub Private Sub CmdHidup8_Click() If BitStatus(888, 8) = 0 Then Call OutPort(888, 128) End If End Sub Private Sub CmdMati1_Click() If BitStatus(888, 1) = 1 Then Call OutPort(888, -1) End If End Sub Private Sub CmdMati2_Click() If BitStatus(888, 2) = 1 Then Call OutPort(888, -2) End If End Sub Private Sub CmdMati3_Click() If BitStatus(888, 3) = 1 Then Call OutPort(888, -4) End If End Sub Private Sub CmdMati4_Click() If BitStatus(888, 4) = 1 Then Call OutPort(888, -8) End If End Sub Private Sub CmdMati5_Click() If BitStatus(888, 5) = 1 Then Call OutPort(888, -16) End If End Sub Private Sub CmdMati6_Click() If BitStatus(888, 6) = 1 Then Call OutPort(888, -32) End If End Sub Private Sub CmdMati7_Click() If BitStatus(888, 7) = 1 Then Call OutPort(888, -64) End If End Sub

68

Private Sub CmdMati8_Click() If BitStatus(888, 8) = 1 Then Call OutPort(888, -128) End If End Sub Private Sub CommandSemuaHidup_Click() Call PortOut(888, 255) CommandSemuaHidup.Enabled = False End Sub Private Sub CommandSemuaMati_Click() Call PortOut(888, 0) CommandSemuaMati.Enabled = False End Sub

69

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.