PROSES PROFESIONALISASI KEPERAWATAN INDONESIA

LAPORAN
Disusun untuk Memenuhi Tugas Pelajaran Keperawatan Profesional

Oleh Ahmad Muajis

Tingkat II A

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

TANGERANG 2009

SEJARAH KEPERAWATAN
1. Sejarah Keperawatan di Luar Indonesia a. Zaman Purba Pada zaman ini orang percaya bahwa sesuatu yang ada di bumi mempunyai suatu kekuatan mistik yang dapat memengaruhi kehidupan manusia. Kepercayaan ini biasa disebut animisme. Mereka meyakini bahwa sakitnya seseorang disebabkan oleh kekuatan alam atau pengaruh kekuatan gaib seperti batu besar, gunung tinggi, pohon besar, sungai besar. Jiwa yang baik membawa kesehatan, jika yang jahat membawa kesakitan dan kematian (Calor, taylor, Lilis & Lemone,1997). Peran tabib dan perawat jelas berbeda, tabib adalah medicineman yang mengobati penyakit dengan jalan melantunkan nyanyian, memberi semangat dari ketakutan atau membuka otak untuk menghilangkan jiwa yang jahat (Dolan, Fitzpatrick & Herman, 1983). Perawat biasanya berperan sebagai ibu yang merawat familinya sewaktu sakit dengan memberikan perawatan fisik dan memberikan obat dari tumbuh-tumbuhan. Peran ini diteruskan sampai saat ini. b. Zaman Keagamaan Pada zaman ini, kuil menjadi pusat perawatan medis sebab orang percaya bahwa penyakit disebabkan oleh dosa dan kutukan Tuhan. Pemimpin agama dijunjung tinggi sebagai tabib, perawat dianggap sebagai budak dan mendapat penghargaan yang rendah karena pekerjaannya didasarkan perintah dari pempimpin agam yang berperan sebagai tabib. c. Permulaan Masehi Pada permulaan masehi, agama Kristen mulai berkembang. Pada masa ini keperawatan mengalami kemajuan yang berarti seiring dengan kepesatan perkembangan agama Kristen. Organisasi wanita pertama yang dibentuk pada saat itu dinamakan Deaconesses, mengunjungi orang-orang sakit dan anggota keagamaan laki-laki memberikan perawatan serta mengubur orang mati. Pada perang salib perawat laki-laki dan perempuan bertugas merawat orang-orang yang luka dalam peperangan tersebut.

Kemajuan profesi keperawatan pada masa ini juga terlihat jelas dengan berdirinya rumah sakit terkenal di Roma yang bernama Monastik hospital. Rumah sakit ini dilengkapi dengan fasilitas bangsal-bangsal perawatan untuk merawat orang sakit serta bangsalbangsal lain sebagai tempat merawat orang cacat, miskin dan yatim piatu. Seperti halnya di Eropa, pada pertengahan abad VI masehi keperawatan juga berkembang di benua Asia. Tepatnya di timur tengah seiring dengan perkembangan agama Islam. Tokoh keperawatan yang terkenal di dunia Arab pada masa ini adalah Rafidah. d. Permulaan Abad XVI Struktur dan orientasi masyarakat berubah dari orientasi keagamaan menjadi orientasi pada kekuasaan, yaitu perang, eksplorasi kekayaan alam, serta perkembangan pengetahuan. Akibatnya banyak gereja dan tempat ibadah ditutup, padahal tempat ini digunakan oleh ordo-ordo keagamaan untuk merawat orang sakit. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan keperawatan. Untuk memenuhi kebutuhan perawat, wanita yang pernah melakukan kejahatan dan telah berobat dapat diterima bekerja sebagai perawat. Akibat reputasi yang jelek ini, perawat menerima gaji yang rendah dengan jam kerja lama pada kondisi yang buruk (Taylor C.,dkk, 1989) e. Masa Sebelum Perang Dunia II Florence Nightingale (1820-1910) merupakan tokoh pembaharu perawatan pada saat itu dan bahkan sering disebut Ibu Perawatan. Pada waktu itu, Florence Nightingale sudah menyadari pentingnya suatu sekolah untuk mendidik para calon perawat, agar dapat diberikan pengetahuan, keterampilan dan pembinaan mental sehingga dihasilkan tenaga perawatan yang berbudi luhur, berpengetahuan luas dan terampil dalam melaksanakan perawatan. Beliau menetapkan struktur dasar sebagai prasyarat dalam pendidikan perawat : 1) Mendirikan sekolah perawat 2) Menentukan tujuan pendidikan perawat 3) Menetapkan pengetahuan yang harus dimiliki para calon sebagai dasar perawatan

Di samping itu, Florence Nightingale telah berpendapat bahwa. 1) Perlu persiapan pendidikan yang berlainan bagi perawat pelaksana dan perawat administrator atau supervisor. 2) Perlu diperhatikan bahwa harus ada perubahan tentang jam kerja perawat yang waktu itu berlangsung 12 jam/hari dan 7 hari/minggu. 3) Perlu diperhatikan peningkatan pendapatan perawat setiap 6 bulan, mengingat beban dan tanggung jawab mereka. Namun, secara menyeluruh perkembangan perawat dari zaman Florence Nightingale sampai pecah perang dunia II dinilai sangat kecil atau hampir tidak ada perubahan. Oleh Karena itu, masa ini sering disebut sebagai masa pemeliharaan. f. Masa Selama Perang Dunia II Selama perang, banyak kejadian yang merupakan “tekanan” bagi setiap bangsa di dunia. Tekanan perang ini mendorong manusia mengadakan perubahan-perubahan. Kemajuan teknologi dimaksudkan untuk berlomba menaklukan dunia. Penerapan teknologi modern dalam bidang pelayanan orang sakit telah mulai diperkenalkan waktu itu sebagai jawaban atas kebutuhan pelayanan kesehatan akibat penderitaan sakit selama perang. Timbulnya penyakit akibat perang, menyebabkan dibutuhkannya peningkatan pengetahuan dan keterampilan tenaga medis maupun perawat. Kemampuan satu bidang profesi tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan waktu itu. Inipun merupakan tantangan baru bagi perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan bersama dengan profesi lain. g. Masa Pasca Perang Dunia II Akibat Perang dunia II yang mengakibatkan banyaknya penderitaan bagi penduduk dunia telah menggugah semua pihak untuk memperbaiki keadaan dunia. Dasar pemikiran semula, “the nurse must give total patient care” dalam arti sempit telah berkembang, dalam arti luas perawat lebih menyadari atas makna totality of the individual client dari

sebelumnya. Oleh karena itu terjadi perubahan dari perawat bekerja sendiri menjadi bekerja team. Dalam dekade ini telah dilancarkan perjuangan untuk pengakuan keperawatan sebagai profesi. Lucille Brown (1948) menulis sebuah laporan tentang pengakuan perawat sebagai profesi merupakan titik tolak yang besar untuk kehidupan perawat dan profesi perawat. Ia memperhatikan penghargaan pada perawat dalam kaitannya dengan tanggung jawab sebagai penyelenggara pelayanan perawatan yang bermutu. Untuk itu disadari perlunya suatu pengelolaan pelayanan keperwatan yang baik untuk menjamin mutu dan sekaligus tersedia alat evaluasi keperawatan tersebut. h. Sejak Tahun 1950 Dalam mengacu proses profesionalisme, perlu pengembangan pendidikan keperawatan. Sebenarnya pendidikan keperawatan di tingkat universitas sudah ada sejak tahun 1909 di Universitas Minesota Amerika. Namun, pengakuan perawat sebagai profesi, baru terjadi tahun 1950, inipun baru pengakuan saja, belum memnuhi karakteristik profesi. Pendidikan perawat pada tingkat “Bachelor” dimulai tahun 1919. Pada tahun 1977 telah terdapat 3830 orang lulusan master di bidang keperawatan dan pada tahun 1972 terdapat 9 institusi yang melaksanakan program Doktor di bidang keperawatan. Di Thailand pendidikan keperawatan pada tingkat “Bachelor” dimulai tahun 1966, dan pada tingkat “Master” dimulai tahun 1986. Proses keperawatan yang dimulai tahun 1950 dianggap sebagai stadium embrio. Pada saat itu proses keperawatan belum dipahami dan juga belum bisa diterima, tetapi sudah dilakukan sehari-hari. Baru pada tahun 1955 Lydia Hall memberikan presentasinya tentang “Perawatan adalah suatu proses”. Pada hakikatnya keperawatan menyangkut empat hal pokok yaitu : 1) Nursing at the patient 2) Nursing to the patient 3) Nursing for the patient

4) Nursing with the patient Fase dalam proses keperawatn diidentifikasi oleh para dosen keperawatan Universitas Katolik Amerika pada tahun 1967 meliputi : pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Pengertian keperawatan menurut International Council of Nurses (ICN) pada tahun 1973 adalah, ”Fungsi yang unik dari perawat adalah menolong sesorang yang sakit atau sehat dalam usaha-usaha menjaga kesehatan atau penyembuhan atau untuk menghadapi sakaratul maut dengan tenang, yaitu usaha yang dapat dilakukan oleh pasien sendiri apabila dia cukup kuat, berkemampuan atau sadar dan melakukannya sedemikian rupa sehingga si pasien dalam waktu singkat dapat mandiri”. Untuk memperoleh pengakuan sebagai suatu profesi, menurut Taylor C, et al. (1997) keperawatan harus memiliki:
1) Perumusan body of knowledge yang baik

2) Berorientasi pada pelayanan yang kuat 3) Pengakuan keahlian oleh sebuah kelompok profesional 4) Kode etik 5) Organisasi profesi yang menetapkan standar 6) Pengembangan diri secara terus menerus 7) Otonomi

2. Sejarah Keperawatan di Indonesia a. Masa Sebelum Kemerdekaan Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, perawat berasal dari penduduk pribumi yang disebut Verpleger dengan dibantu Zieken Oppaser sebagai penjaga orang sakit. Mereka

bekerja pada rumah sakit Binnen Hospital di Jakarta yang didirikan pada tahun 1799 untuk memelihara kesehatan staf dan tentara Belanda. Usaha pemerintah Belanda pada masa itu antara lain membentuk Dinas Kesehatan Tentara dan Dinas Kesehatan Rakyat. Pendirian rumah sakit ini termasuk usaha Deandels mendirikan rumah sakit di Semarang dan Surabaya. Karena tujuannya hanya untuk kepentingan tentara belanda, maka tidak diikuti perkembangan keperawatan. Sebaliknya, Gubernur Jenderal Inggris, Raffless, sangat memperhatikan kesehatan rakyat. Semboyannya adalah kesehatan adalah milik manusia, ia melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki derajat kesehatan penduduk pribumi antara lain mengadakan pencacaran umum, membenahi cara perawatan pasien gangguan jiwa serta memperhatikan kesehatan dan perawatan para tahanan. Setelah pemerintah kolonial kembali ke tangan Belanda, usaha-usaha peningkatan kesehatan penduduk mengalami kemajuan. Pada tahun 1819 di Jakarta didirikan beberapa rumah sakit, salah satu diantaranya adalah Rumah Sakit Stadverband berlokasi di Glodok Salemba yang sekarang bernama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Saat ini RSCM menjadi rumah sakit pusat rujukan nasional dan pendidikan nasional. Pada kurun waktu 1816-1942 berdiri bebrapa rumah sakit swasta milik Misionaris Katolik dan Zending Protestan antara lain Rumah sakit PGI Cikini, Rumah Sakit St. Carolus Salemba, Rumah Sakit St. Boromeus Bandung dan Rumah Sakit Elisabeth Semarang. Bersamaan dengan berdirinya rumah sakit diatas, didirikan sekolah perawat. RS PGI Cikini tahun 1906 menyelenggarakan pendidikan juru rawat, RSCM tahun 1912 ikut menyelenggarakan pendidikan juru rawat. Itulah sekolah perawat pertama yang berdiri di Indonesia meskipun baru pendidikan okupasional. Kekalahan tentara sekutu dan kedatangan tentara Jepang tahun 1942-1945 menyebabkan perkembangan keperawatan mengalami kemunduran karena pekerja perawat pada masa Belanda dan Inggris sudah dikerjakan oleh perawat yang telah dididik, maka pada masa Jepang tugas perawat dilakukan oleh mereka yang tidak dididik untuk menjadi perawat. b. Masa Setelah Kemerdekaan 1) Periode tahun 1945-1962

Tahun 1945-1950 merupakan periode awal kemerdekaan dan merupakan masa transisi Pemerintah Republik Indonesia sehingga dapat dimaklumi jika masa ini boleh dikatakan tidak ada perkembangan. Demikian pula tenaga perawat yang digunakan diunit-unit pelayanan keperawatan adalah tenaga yang ada, pendidikan tenaga keperawtan masih meneruskan sistem pendidikan yang telah ada (lulusan pendidikan “Perawat” Pemerintah Belanda). Pendidikan keperawatan dari awal kemerdekaan sampai tahun 1953 masih berpola pada pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah Hindia Belanda. Sebagai contoh, sampai dengan tahun 1950 pendidikan tenaga keperawatan yang ada adalah pendidikan tenaga keperawatan dengan dasar pendidikan umum Mulo +3 tahun untuk mendapatkan ijazah A (perawat umum) dan ijazah B untuk perawat jiwa. Ada juga pendidikan perawat dengan dasar sekolah rakyat +4 tahun pendidikan yang lulusannya disebut mantri juru rawat. Baru pada tahun 1953 dibuka sekolah pengatur rawat dengan tujuan untuk menghasilkan tenaga keperawatan yang lebih berkualitas. Namun, pendidikan dasar umum tetap SMP yang setara dengan Mulo dengan lama pendidikan tiga tahun. Pendidikan ini dibuka di tiga tempat (yaitu di Jakarta, di Bandung dan di Surabaya), kecuali pendidikan perawat di Bandung, keduanya berada dalam institusi rumah sakit. Tahun 1955 di buka Sekolah Djuru Kesehatan (SDK) dengan pendidikan dasar umum sekolah rakyat ditambah pendidikan satu tahun dan Sekolah Pengamat Kesehatan yaitu sebagai pengembangan SDK ditambah pendidikan satu tahun. Ditinjau dari aspek pengembangannya sampai dengan tahun 1955 ini tampak pengembangan keperawatan tidak berpola, baik tatanan pendidikannya maupun pola ketenagaan yang diharapkan. Tahun 1962 dibuka Akademi Perawatan, yaitu pendidikan tenaga keperawatan dengan dasar pendidikan umum SMA di Jakarta, di RSUP Cipto Mangunkusumo yang sekarang kita kenal sebagai Poltekkes Jurusan Keperawatan Jakarta yang berada di Jalan Kimia No. 17 Jakarta Pusat. Sekalipun sudah ada keinginan bahwa pendidikan tenaga perawat berada pada pendidikan tinggi, namun konsep-konsep pendidikan tinggi belum tampak. Hal ini dapat ditinjau dari kelembagaannya yang

berada dalam organisasi rumah sakit, kegiatan institusi yang belum mencerminkan konsep pendidikan tinggi yaitu kemandirian dan pelaksanaan fungsi perguruan tinggi yang disebut Tri Dharma Perguruan Tinggi, di samping itu Akademi Keperawatan tidak berada dalam sistem pendidikan tinggi nasional namun, berada dalam struktur organisasi institusi pelayanan kesehatan yaitu rumah sakit. Demikian juga penerapan kurikulumnya yang masih berorientasi pada keterampilan tindakan dan belum dikenalkannya konsep-konsep keperawatan. 2) Periode tahun 1963-1982 Pada masa tahun 1963 hingga 1982 tidak terlalu banyak perkembangan di bidang keperawatan, sekalipun sudah banyak perubahan dalam pelayanan, tempat tenaga lulusan Akademi Keperawatan banyak diminati oleh rumah sakit-rumah sakit, khususnya rumah sakit besar. 3) Periode tahun 1983-sekarang Sejak adanya kesepakatan pada lokakarya nasional (Januari 1983) tentang pengakuan dan diterimanya keperawatan sebagai suatu profesi, dan pendidikannya berada pada pendidikan tinggi, terjadi perubahan mendasar dalam pandangan tentang pendidikan keperawatan. Pendidikan keperawatan bukan lagi menekankan pada penguasaan keterampilan, tetapi lebih pada penumbuhan, pembinaan sikap dan keterampilan profesional keperawatan, disertai dengan landasan ilmu pengetahuan khususnya ilmu keperawatan. Tahun 1983 merupakan tahun kebangkitan profesi keperawatan di Indonesia, sebagai perwujudan lokakarya tersebut di atas pada tahun 1984 diberlakukan kurikulum nasional untuk Diploma III Keperawatan. Dari sinilah awal pengembangan profesi keperawatan Indonesia, yang sampai saat ini masih perlu perjuangan, karena keperawatan di Indonesia sudah diakui sebagai suatu profesi maka pelayanan atau asuhan keperawatan yang diberikan harus didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan. Hal ini sejalan dengan tuntutan UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, terutama pada pasal 32 yang berbunyi :

Ayat 3: Pengobatan dan atau perawatan dapat dilakukan berdasarkan ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan atau cara lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Ayat 4: Pelaksanaan pengobatan dan atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. Tahun 1985 dibuka Program Studi Ilmu Keperawatan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan kurikulum pendidikan tenaga keperawatan jenjang S1 juga disahkan. Tahun 1992 merupakan tahun penting bagi profesi keperawatan karena pada tahun ini secara hukum keberadaan tenaga keperawatan sebagai profesi diakui dalam undangundang yaitu yang dikenal dengan Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan sebagai penjabarannya. Tahun 1995 dibuka lagi Program Studi Keperawatan di Indonesia, yaitu di Universitas Padjajaran Bandung dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia berubah menjadi Fakultas Keperawatan. Tahun 1998 dibuka kembali program Keperawatan yang ketiga yaitu Program Studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Kurikulum Ners disahkan, digunakannya kurikulum ini merupakan hasil pembaharuan kurikulum S1 Keperawatan tahun 1985. Tahun 1999 Program S1 kembali dibuka, yaitu Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) di Universitas Airlangga Surabaya, PSIK di Universitas Brawijaya Malang, PSIK di Universitas Hasanuddin Ujung Pandang, PSIK di Universitas Sumatera Utara, PSIK di Universitas Diponegoro Jawa Tengah, PSIK di Universitas Andalas, dan dengan SK Mendikbud No. 129/D/0/1999 dibuka juga Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan (STIK) di St. Carolus Jakarta. Pada tahun ini juga (1999) kurikulum DIII Keperwatan selesai diperbaharui dan mulai didesiminasikan serta diberlakukan secara nasional.

Tahun 2000 diterbitkan SK Menkes No. 647 tentang Registrasi dan Praktik Perawat sebagai regulasi praktik keperawatan sekaligus kekuatan hukum bagi tenaga perawat dalam menjalankan praktik keperawatan secara profesional.

PENDIDIKAN KEPERAWATAN
Selaras dengan perkembangan ilmu dan teknologi, pendidikan keperawatan tahap demi tahap mengalami peningkatan baik jenjang maupun mutu pendidikan. Pendidikan keperawatan yang dahulu hanya merupakan pendidikan dasar atau menengah, kini telah ditingkatkan pada jenjang pendidikan tinggi. Variasi jenjang pendidikan keperawatan yang ada saat ini seringkali membingungkan masyarakat, perawat, maupun para pejabat. Jenjang utama pendidikan keperawatan di Indonesia saat ini adalah Sekolah Perawat Kesehatan, Akademi atau Pendidikan Ahli Madya Keperawatan/Politeknik Kesehatan dengan tiga tahun program diploma keperawatan, dan Program strata satu keperawatan dan program S2 yang terkait dengan keperawatan. Pendidikan tenaga keperawatan di Indonesia secara umum bertujuan untuk menyediakan tenaga kesehatan dalam jumlah dan jenis yang sesuai, yang memiliki cirri-ciri berbudi luhur, tangguh, serdas, terampil, mandiri, memiliki rasa kesetiakawanan, bekerja keras, produktif, kreatif, inovatif, disiplin, serta berorientasi ke masa depan sesuai dengan asas profesionalismenya masing-masing (Pusdiknakes, 2001). Walaupun jumlah perawat dari pendidikan tinggi telah meningkat, namun kita perlu mencatat bahwa sebagian besar perawat berlatar belakang pendidikan menengah. Jumlah perawat di Indonesia menurut data dari Depkes RI (Republika, 2004) adalah sekitar 180 ribu orang dengan latar belakang pendidikan: 76,65 persen lulusan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), 22 persen perawat lulusan D3 Keperawatan, dan 2,35 persen lulusan S-1. Jumlah bidan adalah sekitar 70.600 orang dan 98 persen di antaranya adalah lulusan Program Pendidikan Bidan. Perkembangan pendidikan keperawatan pada saat ini dipengaruhi berbagai faktor nasional maupun internasional. Dari kaca mata nasional, situasi politik di tanah air dan kesadaran masyarakat terhadap hak-haknya telah memicu reformasi di berbagai bidang termasuk pendidikan. Maraknya ide desentralisasi/otonomi daerah juga telah memengaruhi bagaimana pengelolaan pendidikan keperawatan dan penempatan kerja lulusan harus diselenggarakan. Sementara tantangan dari kaca mat internasional telah mendorong kesadaran kita dalam upaya menyiapkan tenaga keperawatan yang handal dengan kompetisi global. Untuk ini undang-

undang harus disesuaikan di antaranya undang-undang tentang registrasi dan praktik keperawatan dan penyesuaian pendidikan sesuai dengan sistem pendidikan nasional yang baru (Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003). Bagian berikut akan membahas jenis pendidikan keperawatan yang ada di Indonesia, yaitu: Sekolah Perawat Kesehatan, Pendidikan Ahli Madya Keperawatan (Politeknik Kesehatan), Program Sarjana, dan Pasca- Sarjana Keperawatan. 1. Sekolah Perawat Kesehatan Dari beberapa jenis jenjang pendidikan keperawatan, Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) merupakan institusi yang telah menyumbang tenaga keperawatan dalam jumlah paling besar. Ini karena mayoritas pendidikan keperawatan di Indonesia pada saat didirikan adalah SPK. SPK sebelumnya bernama SPR (Sekolah Pengatur Rawat) yang mulai dirintis pada tahun 1960. Pada tahun yang sama juga mulai didirikan pendidikan dengan jenjang lebih tinggi, yaitu akademi perawatan yang saat ini menawarkan program diploma tiga keperawatan. Dasar pendidikan keperawatan pada awal kemerdekaan adalah sekolah dasar ditambah keperawatan yang lamanya bervariasi. Kemudian pada tahun 1960 mulai dikembangkan Sekolah Perawat Kesehatan (SPR) dengan latar belakang pendidikan SMP yang sekarang ini bernama SPK (Jahmono, 1993). Tujuan pendidikan SPK adalah meluluskan perawat kesehatan yng mampu sebagai pelaksana maupun pengelola keperawatan. Lama pendidikan dirancang tiga tahun. Pada masa tersebut pendirian SPK merupakan jawaban tepat bagi pemerintah untuk mencukupi kebutuhan jumlah tenaga keperawatan. Karena kebutuhan tenaga keperawatan masih sangat dibutuhkan, lulusan SPK rata-rata tidak mengalami kesulitan untuk mendapat pekerjaan. Hal ini yang menyebabkan salah satu animo untuk mendaftarkan diri ke SPK cukup besar pada masa itu. Permasalahan kesehatan lain kemudian muncul, tidak saja upaya untuk memenuhi tenaga keperawatan, tetapi juga penyediaan tenaga bidan. Untuk mencukupi tenaga bidan, pemerintah menyelenggarakan program pendidikan bidan satu tahun yang pesertanya diambil dari lulusan SPK. Penyelenggaraan ini diharapkan dapat menghasilkan tenaga bidan untuk ditempatkan di desa-desa (bidan desa).

Sistem Kesehatan Nasional (2004) menyatakan bahwa penyelenggaraan pendidikan vokasi, sarjana, dan profesi tingkat pertama adalah institusi pendidikan tenaga kesehatan yang telah diakreditasi oleh asosiasi institusi pendidikan kesehatan yang bersangkutan. Penyelenggaraan pendidikan profesi tingkat lanjutan adalah institusi pendidikan (university based) dan institusi pelayanan kesehatan (hospital based) yang diakreditasi oleh kolegium profesi yang bersangkutan. Dalam Sistem Pendidikan Nasional (Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003) dijelaskan apa yang dimaksud dengan pendidikan akademik, profesi dan vokasi yang semuanya diselenggarakan melalui pendidikan tinggi. Bila dilihat dari pernyataan dalam Sistem Pendidikan Nasional, dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan SPK sudah tidak sesuai lagi. Adanya tuntutan bahwa perawat harus dipersiapkan melalui pendidikan tinggi seperti tercantum dalam SKN yang lama dan yang baru (diatas) telah lama ditanggapi antara lain dengan mengonversikan SPK menjadi jenjang pendidikan diploma tiga dan menunjuk AKPER yang melaksanakan program ini (Nugroho Imam Santosa, 1992) dan dengan memberi kesempatan kepada perawat lulusan SPK untuk melanjutkan pendidikannya tanpa harus meninggalkan pekerjaannya. Namun, seperti diakui oleh beberapa pengelola dari Pusdiknakes bahwa daya serap upaya ini masih mengalami kendala. 2. Program Diploma Tiga Keperawatan Penyelenggaraan program diploma tiga keperawatan merupakan salah satu upaya antisipasi terhadap perkembangan pelayanan kesehatan. Program ini pertama-tama diselenggarakan pada tahun 1960-an, yaitu dengan berdirinya Akper Bandung. Persyaratan peserta adalah lulusan SMU atau lulusan SPR/SPK yang sudah bekerja. Tahun demi tahun pendirian Akper semakin berkembang dan untuk saat ini institusi pendidikan ini dapat ditemukan di setiap provinsi. Seperti halnya SPK, secara administrative program diploma tiga dibawah koordinasi Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan, Departemen Kesehatan. Pada beberapa tahun lalu, kurikulum program diploma tiga adalah kurikulum inti yang disusun oleh Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan, kurikulum yang disusun telah dikembangkan dengan Community Oriented Nursing Education atau pendidikan keperawatan yang berorientasi kepada masyarakat. Tujuan dari program diploma tiga keperawatan adalah menghasilkan tenaga perawat professional pemula yang mendapat sebutan ahli madya keperawatan yang merupakan manajer menengah dalam keperawatan yang diharapkan mampu sebagai pelaksana, pengelola, pendidik, dan partisipasi aktif dalam penelitian ilmiah. Peserta yang mengikuti program diploma terdiri dari peserta umum (lulusan SMU) dan peserta lulusan SPK. Untuk meningkatkan karier, para lulusan diploma setelah memenuhi persyaratan tertentu dapat melanjutkan ke program sarjana keperawatan. Adanya berbagai pendidikan kesehatan yang menawarkan berbagai program di lingkungan Depkes telah dinilai tidak efisien sehingga pada pertengahan tahun 1990-an. Departemen Kesehatan mulai mengembangkan system Multy-stream academy dengan berbagai institusi pendidikan dalam dalam lingkungan atau lokasi yang sama dipadukan menjadi “pendidikan satu atap.” Untuk mengadakan pengkajian/pendataan secara lebih mendalam, Departemen Kesehatan bekerja sama dengan P4D Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 19992000. Hasil dari pendataan ini dijadikan landasan untuk mengembangkan sistem pengelolaan akademi-akademi kesehatan menjadi politeknik kesehatan. Pembentukan politeknik kesehatan dikukuhkan dengan diterbitkannya Keputusan dari Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI Nomor 298/Menkes-Kesos/SK/IV/2001 (Pusdiknakes, 2004). Dalam keputusan Menkes Dan Kesejahteraan Sosial RI di atas dijelaskan bahwa pelaksanaan teknis institusi pendidikan ini tetap di bawah Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial dan pimpinan institusi adalah direktur yang secara administratif bertanggung jawab kepada Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial. Program yang dapat diselenggarakan adalah program diploma I, II, III dan IV. 3. Program S1 dan Pendidikan Keperawatan Lebih Tinggi Pendidikan pada tahap ini bersifat pendidikan akademik profesional (pendidikan keprofesian), menekankan pada penguasaan landasan keilmuan, yaitu ilmu keperawatan dan ilmu-ilmu penunjang, penumbuhan serta pembinaan sikap dan keterampilan profesional dalam keperawatan. Pada jenjang pendidikan ini, menghasilkan perawat generalis, terdapat

dua tahap program, yaitu tahap program akademik yang pada akhir pendidikan mendapat gelar akademik Sarjana Keperawatan (S.Kp.) dan tahap program keprofesian yang pada akhir pendidikan mendapat sebutan profesi “Ners” (Ns). Penyelenggaraan program sarjana keperawatan pada awalnya merupakan perwujudan dari Peraturan Pemerintah No. 27/1991, SK Mendikbud No. 0211/V/1982 dan 0212/U/1982 serta Direktorat Pendidikan Tinggi No. 048/DJ/Kep/1982, yang menyatakan tentang Pendidikan Tinggi. Penyelenggaraan ini juga sesuai dengan hasil salah satu lokakarya nasional, yaitu di bulan Januari 1983 yang menghasilkan consensus nasional tentang perawat sebagai profesi, sehingga tenaga keperawatan harus disiapkan melalui pendidikan tinggi. Program Strata 1 atau Sarjana Keperawatan mulai diselenggarakan pada tahun 1985 oleh Program Studi Ilmu Keperawatan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang sejak tahun 1995 menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK UI) berdasarkan SK Mendikbud RI No. 0332/0/1995 (FIK-UI, 2005). Karena kebutuhan tenaga keperawatan dari lulusan pendidikan tinggi yang mendesak, kemudian program S1 Keperawatan juga diselenggarakan oleh berbagai universitas yang lain, misalnya Universitas Gadjah Mada pada tahun 1998 mendirikan Program Studi Ilmu keperawatan. Salah satu kelebihan dari PSIK UGM adalah digunakannya Problem Based Learning sebagai metode pembelajaran. Tidak lama kemudian diselenggarakan program serupa di Universitas Airlangga yang pendiriannya berdasarkan SK Dirjen Dikti No. 122/Dikti/Kep/1999 tanggal 7 April 1999. Untuk saat ini beberapa universitas dan juga Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan telah menawarkan program S1 Keperawatan. Beberapa hal yang penting untuk kita perhatikan dari penyelenggaraan pendidikan tingkat sarjana keperawatan adalah bagaimana kita secara tepat mampu mengelola sumber daya tenaga tingkat sarjana ini setelah mereka menyelesaikan pendidikannya dan hal yang lain adalah bagaimana kita meningkatkan dan mempertahankan mutu pendidikan dan penelitian. Untuk mencetak perawat dengan kemampuan kepemimpinan, manajerial dan penelitian yang andal,, Universitas Indonesia melalui Program Studi Magister Ilmu keperawatan juga telah menawarkan Program S2 dengan kekhususan kepemimpinan dan manajemen keperawatan. Lama program ini adalah dua tahun (empat semester). Di masa mendatang kita berharap

bahwa universitas di tanah air juga mampu menyelenggarakan program S2 keperawatan ini dengan berbagai peminatan termasuk peminatan klinis guna menyiapkan perawat dengan kompetensi klinis tingkat tinggi (advanced nursing practice) dan perawat peneliti melalui program S3 keperawatan. 4. Pendidikan Spesialis Bidang Keperawatan Dalam memenuhi atau menjawab tuntutan kebutuhan masyarakat dan pembangunan kesehatan di masa depan, dan bertolak pada pandangan bahwa setiap saat dan tahap pengembangan perlu diupayakan untuk meningkatkan relevasi dan mutu asuhan keperawatan kepada masyarakat, maka dikembangkan pendidikan keperawatan pada jenjang spesialis. Pendidikan jenjang ini lebih merupakan pendidikan yang memperdalam pengetahuan dan keterampilan keprofesian. Sifat memperdalam ilmu pengetahuan keperawatan, walaupun lebih mengutamakan ilmu keperawatan klinik, namun tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dengan perkembangan kelompok-kelompok ilmu dasar dan penunjang, termasuk ilmu dasar keperawatan. Jenis pendidikan pada jenjang pendidikan ini didasarkan pada tuntutan kebutuhan pelayanan keperawatan, dan perkembangan ilmu keperawatan, khususnya keperawatan klinis. Dalam pengembangan jenjang pendidikan ini dicegah terjadinya fragmentasi yang berlebihan yang dapat merugikan masyarakat dan perkembangan profesi keperawatan. Penetapan jenis spesialisasi seyogyanya dilakukan secara bersama-sama oleh pihak yang bertanggung jawab terhadap pengembangan pendidikan tinggi keperawatan, pelayanan keperawatan dan kesehatan, serta organisasi profesi keperawatan. Program Pendidikan Spesialis bidang keperawatan yang ada saat ini adalah program pendidikan spesialis maternitas dan kedepan akan dikembangkan program spesialis lain sesuai dengan kebutuhan. 5. Pendidikan Keperawatan Berkelanjutan Perawat diwajibkan mempertahankan kemampuannya dalam menjalankan asuhan

keperawatan yang bermutu tinggi sesuai dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan terbaru, menyesuaikan dengan perubahan peran dan fungsi sesuai dengan kewenangan

keperawatan, mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru dan memodifikasi perilaku dan pemahaman profesionalismenya. Untuk itu, setiap perawat yang masih aktif menjalankan tugasnya harus senantiasa mempertahankan dan meningkatkan kemampuannya antara lain dengan mengikuti pendidikan keperawatan berkelanjutan. Pendidikan keperawatan berkelanjutan pada prinsipnya tidak selalu harus ditempuh dengan pendidikan formal, tetapi dapat pula ditempuh dengan mengikuti kursus jangka pendek atau pelatihan yang diselenggarakan oleh institusi pendidikan tinggi atau belajar mandiri/informal dengan mengikuti berbagai kesempatan yang diberikan oleh organisasi profesi atau badan lain yang berwenang. Dalam SK Menkes No. 674/Menkes/SK/IV/2000 tanggal 14 April 2000 tentang registrasi dan praktik keperawatan, dinyatakan dengan jelas bahwa setiap perawat diwajibkan selalu meningkatkan kemampuan keilmuwan dan/keterampilan bidang keperawatan melalui pendidikan dan/atau pelatihan; baik diselenggarakan oleh pemerintah maupun organisai profesi. Di masa mendatang kita berharap bahwa pendidikan keperawatan berkelanjutan/pelatihan bagi perawat akan dapat ditata secara lebih terkendali dan terencana dan tidak dijalankan hanya secara sporadik dan secara kebetulan. Tidak berlebihan bila untuk sekedar gambaran, penatalaksanaan pendidikan keperawatan berkelanjutan di Inggris sudah banyak ditawarkan sebagian besar oleh universitas/college bagi yang ingin mengikuti jalur formal baik berupa study days ataupun mengikuti modul-modul tertentu. Mereka tidak dapat menghindar dari kegiatan ini, karena seperti yang dipersyaratkan oleh NMC (the Nursing and Midwifery Council), perawat tidak dapat memperpanjang surat izin praktiknya bila tidak ada bukti bahwa mereka telah cukup mengikuti pendidikan keperawatan berkelanjutan. Perawat juga dapat mengikuti pendidikan berkelanjutan dengan cara belajar mandiri dari paket-paket yang terakreditasi yang ditawarkan oleh RCN (The Royal College of Nurses). Banyak perawat yang mengambil modul ini dalam rangka untuk mendapatkan ijazah S1-nya melalui degree pathways tetapi banyak juga yang hanya mengambil modul tanpa ingin memperoleh ijazah S1. Tentu saja hal-hal seperti ini membutuhkan kebijakan dan perangkat yang memadai. Barangkali gagasan seperti ini dapat kita terapkan di Indonesia, sehingga perawat kita dapat meningkatkan ilmunya sementara mereka masih tetap dapat bekerja, sehingga institusi

pelayanan tidak dirugikan dan kesejahteraan keluarga bagi perawat juga dapat dipertahankan karena mereka tidak perlu meninggalkan keluarga mereka. Terlepas dari jenjang pendidikan yang ditawarkan, sepertinya ada beberapa hal umum yang dihadapi oleh semua pendidikan keperawatan baik menengah atau tinggi. Hal ini antara lain disebabkan oleh berbagai perubahan sosial dan politik yang sama di tanah air kita. Berbagai persoalan yang kiranya dapat kita pakai sebagai bahan kajian kita bersama adalah: a. Upaya dalam mempertahankan mutu pendidikan keperawatan. Dalam 15 tahun terakhir, jumlah institusi pendidikan keperawatan di Indonesia meningkat dengan cepat dan sering kali hal ini menyulitkan kita untuk mengendalikan dan mempertahankan mutu pendidikan. Walaupun sudah ada sistem akreditasi bagi institusi pendidikan kesehatan, namun upaya ini dirasa masih jauh dari yang kita harapkan.
b. Arah dan kurikulum pendidikan keperawatan. Dalam situasi global saat ini, kita

berharap dapat mencetak tenaga keperawatan yang berkompetensi tinggi. Namun dampaknya, arah pendidikan sering kali menjadi kabur dan muatan kurikulum menjadi tidak jelas. Kurikulum seharusnya disusun dengan mendasarkan isi program pendidikan secara seimbang untuk memenuhi kebutuhan setempat (provinsi/daerah), nasional dan nternasional. c. Kesempatan untuk mengikuti pelatihan/pendidikan semakin meningkat secara umum, namun tidak semua perawat dapat mengakses kesempatan ini karena berbagai faktor antara lain persyaratan administratif, cara pengusulan, batasan usia dan pembatasan jumlah peserta yang dapat diterima serta keterbatasan dana dan komitmen dengan keluarga.
d. Keterbatasan tenaga pengajar dan fasilitas klinik. Jumlah doktor dan master

keperawatan masih sangat terbatas untuk kebutuhan pengajaran program sarjana keperawatan. Di pengajaran jenjang diploma, penyediaan jumlah tenaga pengajar dengan kualifikasi master (S2) dan sarjana keperawatan belum memadai. Hal ini juga terjadi di jenjang pendidikan SPK. Selain keterbatasan tenaga pengajar, sumber fasilitas pendidikan belum juga memadai seperti lahan praktik, peralatan

laboratorium, dan buku-buku keperawatan dan akses mahasiswa dalam menggunakan sarana elektronik (mis., jurnal-jurnal keperawatan). e. Siswa/mahasiswa keperawatan semakin dilibatkan dalam pengembangan kurikulum, membuat aturan/kebijakan dan evaluasi program. Upaya ini walau nampaknya berjalan lambat tetapi tetap mendapat perhatian. Perubahan sosial dan kedewasaan mahasiswa, dengan tuntutan mereka untuk mempunyai bagian dalam program pendidikan menyebabkan beberapa mahasiswa ikut aktif dalam pengendalian pengajaran maupun administratif.

PERKEMBANGAN TEORI KEPERAWATAN

Perkembangan sistematik dari keperawatan menuju kepada keperawatan sebagai profesi, bermula dari pandangan dan pernyataan dari Florence Nightingale yang mempunyai visi yang sangat maju tentang keperawatan. Dalam perkembangan teori keperawatan selanjutnya, muncul nama-nama besar ilmuwan keperawatan yang memberikan sumbangan yang sangat bermakna dalam perkembangan keperawatan.
1. Hildegard E. Peplau (1952)

Teori yang dikembangkannya, yaitu keperawatan psikodinamik (psychodynamic nursing), sangat dipengaruhi oleh model hubungan interpersonal, khususnya model psikoanalitik. Ia melihat bahwa keperawatan adalah suatu proses interpersonal yang bersifat terapeutik (significant therapeutic interpersonal process). Menurut Peplau, keperawatan adalah therapeutic yang mempunyai seni penyembuhan dalam membantu orang yang sakit atau orang yang membutuhkan perawatan kesehatan. Keperawatan dapat dianggap sebagai proses interpersonal sebab melibatkan interaksi antara 2 atau lebih individu dengan tujuan tertentu. Peplau mengenali 4 fase dalam hubungan interpersonal perawat-klien yang meliputi :
a. Fase orientasi

Fokusnya adalah fase menentukan atau menemukan masalah. Pertama kali perawat dan pasien bertemu masih sebagai orang yang asing satu sama lain, pasien dan keluarganya memiliki perasaan butuh bantuan profesional walaupun kebutuhan ini kadang-kadang tidak dapat dikenali atau dimengerti oleh mereka. Pada fase ini paling penting adalah perawat bekerja sama secara kolaborasi dengan pasien dan keluarganya dalam menganalisis situasi yang kemudian bersama-sama mengenali, memperjelas dan menentukan masalah yang ada. Setelah masalahnya diketahui, diambil keputusan bersama untuk menentukan tipe/jenis bantuan apa yang diperlukan. Perawat sebagai fasilitator dapat merujuk klien ke ahli lain sesuai dengan kebutuhan.

b. Fase identifikasi Fase ini fokusnya memilih bantuan profesional yang sesuai. Pada fase ini pasien merespon secara selektif ke orang-orang yang dapat memenuhi kebutuhannya, setiap pasien mempunyai respons berbeda-beda pada fase ini. Respons pasien terhadap keperawatan adalah : 1) Berpartisipasi dan interdependen dengan perawat, 2) Otonomi dan independen dari perawat, 3) Pasif dan dependen pada perawat. c. Fase ekploitasi Fase ini fokusnya adalah menggunakan bantuan profesional untuk alternatif pemecahan masalah. Pelayanan yang diberikan berdasarkan minat dan kebutuhan dari pasien, pasien mulai merasa sebagai bagian integral dari lingkungan pelayanan. Pada fase ini pasien mulai menerima informasi-informasi yang diberikan padanya tentang penyembuhannya, mungkin berdiskusi atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada perawat, mendengarkan penjelasan-penjelasan dari perawat, mendengarkan penjelasan-penjelasan dari perawat dan sebagainya. d. Fase resolusi Fokusnya adalah mengakhiri hubungan profesional. Pasien dan perawat dalam fase ini perlu untuk mengakhiri hubungan therapeutik mereka. 2. Florence Nightingale (1959) Nightingale sebagai pioner era modern dalam pengembangan keperawatan, mengembangkan teori keperawatan yang sangat dipengaruhi oleh pandangan filosofinya tentang interaksi manusia/klien dengan lingkungannya. Ia melihat penyakit sebagai proses pergantian atau perbaikan (reparative process). Upaya membantu proses perbaikan atau pergantian tersebut dapat dilakukan dengan mengadakan manipulasi lingkungan eksternal. Manusia mempunyai kemampuan alamiah terhadap proses penyembuhan.

3. Faye G. Abdellah (1960) Abdella mendefinisikan keperawatan (nursing) sebagai pelayanan kepada individu dan keluarga serta masyarakat yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan yang membentuk/menciptakan sikap dan kemampuan intelektual serta keterampilan teknik dari individu sehingga mempunyai keinginan yang dalam dan kemampuan untuk menolong manusia, baik sakit maupun sehat agar mampu menangani kebutuhan kesehatan.

4. Ida Jean Orlando (1961) Ia menggunakan hubungan interpersonal sebagai landasan teorinya. Perhatian utamanya adalah sifat unik dari setiap individu/klien, yaitu ekpresi klien, baik verbal maupun nonverbal, menunjukkan/mengisyaratkan kebutuhan. Kegiatan atau tindakan keperawatan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien. Teori keperawatan dari Orlando yang dikenal sebagai “disciplined professional respons theory”, menekankan pada hubungan timbal balik (reciprocal relationship) antara perawat dan pasien. 5. Ernestine Wiedenbach (1964) Perhatian utamanya adalah aspek kiat atau aspek praktik dari keperawatan. Menurut Wiedenbach keperawatan klinik (clinical nursing) mempunyai empat komponen, yaitu filsafat (philosophy), kemanfaatan/kegunaan (purpose), praktik, dan kiat (art). Pandangan ini yang melandasi pendapatnya bahwa pada praktik keperawatan terdapat tiga komponen, yaitu: a. Mengidentifikasi kebutuhan klien/pasien; b. Melaksnakan bantuan yang diperlukan; dan c. Mengevaluasi dan menyatakan (mensahkan) bahwa bantuan yang diberikan memang bermanfaat. Teori keperawatan dari Wiedenbach ini kemudian dikenal sebagai “the helping art of clinical nursing”.

6. Virginia Henderson (1966) Teori Henderson berfokus pada individu yang berdasarkan pandangannya, yaitu bahwa jasmani (body) dan rohani (mind) tidak dapat dipisahkan. Menurut pendapat Henderson, manusia adalah unik dan tidak ada dua manusia yang sama. Kebutuhan dasar individu tercermin dalam 14 komponen dari asuhan keperawatan dasar (basic nursing care). Virginia Henderson (1966) mengidentifikasi 14 komponen dalam asuhan keperawatan dasar (basic nursing care) pada tingkat asuhan individual, mengacu kepada aktivitas dalam kehidupan sehari-hari dari seseorang; perawat membantunya dengan fungsi-fungsi ini, atau membuat kondisi sehingga memungkinkan ia melakukan hal-hal berikut ini : a. Bernafas normal b. Minum dan makan secukupnya/adekuat c. Eliminasi melalui berbagai cara eliminasi
d. Bergerak dan menjaga sikap/memelihara postur tubuh yang menyenangkan (berjalan,

duduk, berbaring, dan bertukar dari suatu posisi ke posisi lain) e. Tidur dan istirahat f. Memilih pakaian yang sesuai, berpakaian dan tidak berpakaian g. Mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal melalui penyesuaian pakaian dan memodifikasi lingkungan h. Menjaga tubuh bersih, terawat baik, dan melindungi kulit i. Menghindari bahaya di lingkungan dan menghindari membahayakan orang lain j. Berkomunikasi dengan orang lain dalam mengekspresikan emosi, kebutuhan, kecemasan, dan lain sebagainya.
k. Mengerjakan sesuatu yang memberikan perasaan menyelesaikan sesuatu (sense of

accopmlishment)

l. Melakukan ibadah sesuai dengan keyakinannya m. Bermain atau berpartisipasi dalam berbagai bentuk rekreasi n. Belajar menemukan atau memenuhi rasa ingin tahu yang menuju kepada pertumbuhan normal dan sehat. 7. Mira Estrin Levine (1967) Levine melihat individu sebagai makhluk utuh (holistic beings) yang memiliki kemampuan merespons secara organismik sebagai upaya mengadaptasi diri terhadap lingkungan. Menurut pandangannya, intervensi keperawatan adalah bantuan terhadap klien secara holistik dan merupakan pusat kegiatan keperawatan, mempercepat proses adaptasi yang turut berperan dalam proses penyembuhan dan pemulihan kesehatan. Pada tahun 1973 ia mengemukakan 4 prinsip konservasi (conservation principles), yaitu: a. Conservation of energy, b. Conservation of structural integrity, c. Conservation of personal integrity, dan d. Conservation of social integrity. 8. Martha E. Roger (1970) Dasar teori Roger adalah ilmu tentang asal usul manusia dan alam semesta seperti antropologi, sosiologi, agama, filosofi, perkembangan sejarah dan mitologi. Teori Roger berfokus pada proses kehidupan manusia secara utuh. Ilmu keperawatan adalah ilmu yang mempelajari manusia, alam dan perkembangan manusia secara langsung. Lima asumsi yang mendasari teori Roger, adalah sebagai berikut : a. Manusia adalah kesatuan yang utuh, masing-masing mempunyai sifat dan karakter yang berbeda serta mempunyai proses hidup yang dinamis.
b. Manusia selalu berinteraksi dengan lingkungan; manusia adalah sistem terbuka, ia

akan memengaruhi dan dipengaruhi lingkungan sekitarnya.

c. Proses kehidupan manusia berjalan lambat, tidak dapat diubah dan tidak terarah, jalan hidup tiap individu berbeda.
d. Identitas individu merupakan gambaran dari seluruh proses kehidupannya sehingga

perkembangan manusia dapat dilihat dari tingkah lakunya. e. Manusia diciptakan dengan karakteristik dan keunikan tersendiri. 9. Dorothea E. Orem (1971) Orem melihat individu suatu kesatuan utuh yang terdiri atas suatu yang bersifat fisik, psikologik dan sosial, dengan derajat kemampuan mengasuh diri sendiri (self care ability) yang berbeda-beda. Berdasarkan pandangan ini, ia berpendapat bahwa kegiatan atau tindakan keperawatan ditujukan kepada upaya memacu kemampuan mengasuh diri sendiri. Ia menyatakan bahwa teorinya, yaitu “self-care deficit theory of nursing”, merupakan teori umum (general theory). Pada teori, ia menggambarkan kapan keperawatan diperlukan, keperawatan diberikan jika : a. Kemampuan kurang dibandingkan dengan kebutuhan, b. Kemampuan sebanding dengan kebutuhan, tetapi diprediksi untuk masa yang akan datang kemungkinan terjadi penurunan kemampuan dan peningkatan kebutuhan. Lima metode bantuan menurut Orem : a. Bertindak untuk orang lain b. Membimbing c. Memberikan dukungan fisik maupun psikis
d. Menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan perkembangan personal dalam

memenuhi kebutuhan saat ini dan yang akan datang e. Mengajarkan

10. Imogene F. King (1971) King memandang bahwa klien/pasien sebagai sistem perorangan (personal system) di dalam lingkungan, sebagai makhluk yang mempunyai daya bereaksi (reacting beings), makhluk yang berorientasi pada waktu (time-oriented beings), dan makhluk sosial (social beings) yang mempunyai kemampuan untuk mempersepsikan berpikir, memilih, menetapkan tujuan, dan memiliki kegiatan untuk mencapai tujuan, serta membuat keputusan. Keperawatan dilihat sebagai aksi, reaksi, interaksi dan transaksi dari proses interpersonal. King mendefinisikan keperawatan sebagai proses interaksi manusia (process of human interactions) antara perawat dan klien yang berkomunikasi untuk menentukan tujuan, mengeksplorasi sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan, mengeksplorasi sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan, serta menyepakati sumber-sumber yang digunakan dalam mencapai tujuan. Teori King dikenal sebagai “theory of goal attainment”. 11. Betty Newman (1972) Newman mengemukakan model sistem (system model) dalam pendidikan dan praktik keperawatan. Newman menggunakan pendekatan manusia utuh (total person approach), dengan memasukkan konsep holistik, pendekatan sistem terbuka (open system), dan konsep “stressor”. Model ini menganalisis interaksi empat variabel penunjang komunitas yang meliputi fisik, psikologi, sosial kultural dan spiritual. Adapun tujuan keperawatan adalah stabilitas klien dan keluarga dalam lingkungan yang dinamis. Empat konsep mayor dari teori newman :
a. Manusia.

Manusia merupakan suatu sistem terbuka yang selalu mencari

keseimbangan yang harmoni dan merupakan satu kesatuan dari variable-variabel fisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan, dan spiritual.
b. Lingkungan. Lingkungan adalah semua kekuatan, baik internal dan eksternal yang

dapat memengaruhi hidup dan perkembangan klien atau sistem klien.

c. Keperawatan. Secara umum, keperawatan merupakan profesi yang unik, mencakup

tentang respons manusia terhadap stresor yang merupakan konsep yang utama untuk mencapai stabilitas pasien. Newman mendefinisikan parameter dari keperawatan adalah individu, keluarga dan kelompok dalam mempertahankan tingkat yang maksimal dari sehat dengan intervensi untuk menghilangkan stres dan menciptakan kondisi yang optimal bagi pasien intervensi keperawatan bertujuan untuk menurunkan stresor melalui pencegahan primer, sekunder, dan tersier.
d. Kesehatan. Kesehatan adalah keadaan yang adekuat dalam suatu sistem stabilitas

yang merupakan keadaan yang baik. Sehat adalah kondisi terbebasnya dari gangguan pemenuhan kebutuhan dan sehat merupakan keseimbangan yang dinamis sebagai dampak dari keberhasilan menghindari atau mengatasi stresor. 12. Faye G. Abdellah (1973) Kontribusi Abdellah dalam teori keperawatan adalah pemanfaatan secara sistematik dari data riset dalam merumuskan dan memfasilitasi 21 masalah keperawatan. Model keperawatannya berdasarkan metode pemecahan masalah. 13. Sister Callista Roy (1976) Roy memandang individu sebagai makhluk bio-psiko-sosial yang harus dilihat sebagai suatu kesatuan utuh yang secara terus menerus berinteraksi dengan lingkungan, berespons terhadap lingkungan, dan beradaptasi dengan lingkungan. Keperawatan dilihat sebagai kegiatan atau tindakan yang ditujukan pada upaya menghilangkan stimuli dan memacu kemampuan adaptasi dari individu. Model keperawatan yang dikembangkannya selanjutnya dikenal sebagai “adaptation model”. 14. Madeleine Leiniger (1981) Leiniger menekankan bahwa mengasuh (caring) adalah tema sentral dari asuhan keperawatan, serta pengetahuan dan praktik keperawatan. Teorinya tentang keperawatan berdasarkan antropologi, adalah teori keperawatan lintas-budaya (Transcultural care theory) yang menekankan bahwa perilaku, nilai dan keyakinan individual dan kelompok berdasarkan

kebutuhan kulturalnya harus diperhatikan, agar asuhan keperawatan yang diberikan kepadanya efektif dan memuaskan. Dari uraian sepintas di atas digambarkan teori dalam keperawatan yang terjadi dengan pesat. Dan hal ini akan terus berlangsung, bahkan mungkin dalam kecepatan yang lebih tinggi, mengingat bahwa perkembangan ilmu-ilmu yang menopang ilmu keperawatan juga berkembang dengan pesat.

PERAWAT KE ARAH INDIVIDU
1. Praktik Keperawatan Mandiri Menurut konsorsium ilmu-ilmu kesehatan (1992) praktek keperawatan adalah tindakan mandiri perawat profesional atau ners melalui kerjasama yang bersifat kolaboratif baik dengan klien maupun tenaga kesehatan lain dalam upaya memberikan asuhan keperawatan yang holistic sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya pada berbagai tatanan, termasuk praktik keperawatan individu dan berkelompok. Sementara pengetahuan teoritik yang mantap dan tindakan mandiri perawat profesional dengan menggunakan pengetahuan teoritik yang mantap dan kokoh mencakup ilmu dasar dan ilmu keperawatan sebagai landasan dan menggunakan proses keperawatan sebagai pendekatan dalam melakukan asuhan keperawatan (pojok keperawatan CHS, 2002). 2. Tujuan Praktik Keperawatan Mandiri Tujuan praktik keperawatan sesuai yang dicanangkan WHO (1985) haru diupayakan pada pencegahan primer, peningkatan kesehatan pasien, keluarga dan masyarakat, perawatan diri, dan peningkatan kepercayaan diri. Praktik keperawatan meliputi lima area yang terkait dengan kesehatan (kozier & Erb, 1999), yaitu : a. Peningkatan kesehatan (Health Promotion) Peningkatan Kesehatan adalah kerangka aktivitas keperawatan. Kesadaran diri klien, kesadaran kesehatan, keterampilan kesehatan dan penggunaan semua sumber yang dipertimbangkan sebagai perawatan yang di berikan oleh perawat. Peningkatan kesehatan membantu masyarakat dalam mengembangkan sumber untuk memelihara atau meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan mereka. Tujuan kesehatan yang ingin diwujudkan adalah mencapai derajat kesehatan yang optimal. Fokus peningkatan kesehatan diarahkan untuk memelihara atau meningkatkan kesehatan umum individu keluarga dan komunitas.

b. Pencegahan penyakit Aktivitas pencegahan penyakit secara objektif untuk mengurangi risiko penyakit, untuk meningkatkan kebiasaan kesehatan yang baik dan untuk mempertahankan fungsi individu secara optimal. c. Pemeliharaan kesehatan (Health Maintenance) Kegiatan keperawatan dalam pemeliharaan kesehatan adalah kegiatan yang membantu klien memelihara status kesehatan mereka. Perawat melakukan aktivitas untuk membantu masyarakat mempertahankan status kesehatannya. d. Pemulihan kesehatan (Health Restoration) Pemulihan kesehatan berarti perawat membantu pasien meningkatkan kesehatan setelah pasien memiliki masalah kesehatan atau penyakit. e. Perawatan pasien menjelang ajal Area praktik keperawatan ini mencakup perawat memberikan rasa nyaman dan merawat orang dalam keadaan menjelang ajal. Kegiatan dapat dilakukan di rumah sakit, rumah, dan fasilitas kesehatan lainnya. 3. Unsur - Unsur Praktik Keperawatan Mandiri Walaupun praktik keperawatan itu kompleks, ia juga dinamis, selalu merespon terhadap perubahan kebutuhan kesehatan, dan terhadap kebutuhan-kebutuhan perubahan sistem pelayanan kesehatan. Menurut WHO (1996), unsur-unsur inti keperawatan tergambarkan dalam kegiatan-kegiatan berikut : 1. Mengelola kesehatan fisik dan mental serta kesakitan, kegiatannya meliputi pengkajian, monitoring, koordinasi dan mengelola status kesehatan setiap saat bekerjasama dengan individu, keluarga maupun masyarakat. Perawatan mengkaji kesehatan klien, mendeteksi penyakit yang akut atau kronis, melakukan penelitian dan menginterpretasikannya, memilih dan memonitor interprensi tarapeutik yang cocok, dan melakukan semua ini dalam hubungan yang suportif dan carring. Perawat harus bisa memutuskan kapan klien dikelola sendiri dan kapan harus dirujuk ke profesi lain. 2. Memonitor dan menjamin kualitas praktik pelayanan kesehatan. Tanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatan praktik professional, seperti memonitor kemampuan sendiri, memonitor efek-efek intervensi medis, mensupervisi pekerjaan-pekerjaan personil yang

kurang terampil dan berkonsultasi dengan orang yang tepat. Karena ruang lingkup dan kompleksitas praktik keperawatan maka diperlukan keterampilan-keterampilan dan pemecahan masalah, berfikir kritis serta bertinfak etis dan legal terhadap kualitas pelayanan yang diberikan dan tidak diskriminatif. 3. Memberikan bantuan dan caring. Caring adalah bagian yang terpenting dalam praktik keperawatan. Bantuan termasuk menciptakan suasana penyembuhan, memberikan kenyamanan membangun hubungan dengan klien melalui asuhan keperawatan. Peran membantu seharusnya menjamin partisipasi penuh dari klien dalam perencanaan asuhan, pencegahan, dan treatmen dan asuhan yang diberikan. Perawat memberikan informasi penting mengenai proses penyakit, gejala-gejalanya, dan efek samping pengobatan. 4. Penyuluhan-penyuluhan kepada individu, keluarga maupun masyarakat mengenai masalah-masalah kesehatan adalah fungsi penting dalam keperawatan. 5. Mengorganisir dan mengola sistem pelayanan kesehatan. Perawat berpartisipasi dalam membentuk dan mengola sistem pelayanan kesehatan, ini termasuk menjamin kebutuhan klien terpenuhi, mengatasi kekurangan staf, menghadapi birokrasi, membangun dan memelihara tim terapeutik, dan mendapatkan asuhan spesialis untuk pasien. Perawat bekerja intersektoral dengan rumah sakit, puskesmas, institusi pelayanan kesehatan lain, dan sekolah. Profesi keperawatan harus mempengaruhi strategi kebijaksanaan kesehatan, baik tingkat local, regional maupun internasional, aktif terlibat dalam program perencanaan, pengalokasian dana, mengumpulkan, menganalisis dan memberikan informasi kepada semua level. 4. Praktik Keperawatan di Rumah (Home Versing Practice / Home Care) Di beberapa negara maju, “home care” (perawatan di rumah), bukan merupakan konsep yang baru tapi telah dikembangkan oleh William Rathbon sejak tahun 1859 yang dia namakan perawatan di rumah dalam bentuk kunjungan tenaga keperawatan ke rumah untuk mengobati klien yang sakit dan tidak bersedia dirawat di rumah sakit. Dari beberapa literatur pengertian “home care” adalah perawatan di rumah merupakan lanjutan asuhan keperawatan di rumah sakit yang sakit termasuk dalam rencana pemulangan (discharge planning) dan dapat dilaksanakan oleh perawat dari rumah sakit semula, oleh perawat komunitas dimana pasien berada, atau tim keperawatan khusus yang menangani perawatan di rumah. Menurut

Warola, 1980 dalam pengembangan Model Praktik Mandiri Keperawatan di rumah yang disusun oleh PPNI dan Depkes, home care adalah pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien individu dan keluarga, direncanakan, dikoordinasikan, disediakan oleh pemberi pelayanan yang diorganisir untuk memberi pelayanan di rumah melalui staf atau pengaturan berdasarkan kerja (kotrak). Mekanisme Perawatan Kesehatan Di Rumah Pasien atau klien yang memperoleh pelayanan keperawatan di rumah dapat merupakan rujukan dari klinik rawat jalan, unit rawat inap rumah sakit, maupun puskesmas. Namun pasien atau klien dapat langsung menghubungi agensi pelayanan keperawatan di rumah atau praktik keperawatan perorangan untuk memperoleh pelayanan. Mekanisme yang harus dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Pasien atau klien pasca rawat inap atau rawat jalan harus diperiksa terlebih dahulu oleh dokter untuk menentukan apakah secara medis layak untuk di rawat di rumah atau tidak. 2. Selanjutnya apabila dokter telah menetapkan bahwa klien layak dirawat di rumah, maka di lakukan pengkajian oleh koordinator kasus yang merupakan staf dari pengelola atau agensi perawatan kesehatan dirumah, kemudia bersama-sama klien dan keluarga, akan menentukan masalahnya, dan membuat perencanaan, membuat keputusan, membuat kesepakatan mengenai pelayanan apa yang akan diterima oleh klien, kesepakatan juga mencakup jenis pelayanan, jenis peralatan, dan jenis sistem pembayaran, serta jangka waktu pelayanan. 3. Selanjutnya klien akan menerima pelayanan dari pelaksanaan keperawatan dirumah baik dari pelaksana pelayanan yang dikontrak atau pelaksana yang direkrut oleh pengelola perawatan di rumah. Pelayanan dikoordinir dan dikendalikan oleh koordinator kasus, setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga pelaksana pelayanan harus diketahui oleh koordinator kasus. 4. Secara periodik koordinator kasus akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelayanan yang diberikan apakah sudah sesuai dengan kesepakatan.

Persayaratan pasien atau klien yang menerima pelayanan perawatan dirumah : 1. Mempunyai keluarga atau pihak lain yang bertanggung jawab atau menjadi pendamping bagi klien dalam berinteraksi dengan pengelola. 2. Bersedia menandatangai persetujuan setelah diberikan informasi (Informed Consent). 3. Bersedia melakukan perjanjian kerja dengan pengelola perawatan kesehatan dirumah untuk memenuhi kewajiban, tanggung jawab, dan haknya dalam menerima pelayanan. 5. Lingkup Praktik Keperawatan Di Rumah. Lingkup praktik keperawatan mendiri meliputi asuhan keperawatan perinatal, asuhan keperawatan neonantal, asuhan keperawatan anak, asuhan keperawatan dewasa, dan asuhan keperawatan maternitas, asuhan keperawatan jiwa dilaksanakan sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawabnya. Keperawatan yang dapat dilakukan dengan : 1. Melakukan keperawatan langsung (direct care) yang meliputi pengkajian bio-psiko-sosiospiritual dengan pemeriksaan fisik secara langsung, melakukan observasi, dan wawancara langsung, menentukan masalah keperawatan, membuat perencanaan, dan melaksanakan tindakan keperawatan yang memerlukan ketrampilan tertentu untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang menyimpang, baik tindakan-tindakan keperawatan atau tindakantindakan pelimpahan wewenang (terapi medis), memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan dan melakukan evaluasi. 2. Mendokumentasikan setiap tindakan pelayanan yang di berikan kepada klien, dokumentasi ini diperlukan sebagai pertanggungjawaban dan tanggung gugat untuk perkara hukum dan sebagai bukti untuk jasa pelayanan keperawatan yang diberikan. 3. Melakukan koordinasi dengan tim yang lain kalau praktik dilakukan secara berkelompok. 4. Sebagai pembela atau pendukung (advokat) klien dalam memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan klien di rumah dan bila diperlukan untuk tindak lanjut kerumah sakit dan memastikan terapi yang klien dapatkan sesuai dengan standart dan pembiayaan terhadap klien sesuai dengan pelayanan atau asuhan yang diterima oleh klien. 5. Menentukan frekwensi dan lamanya keperawatan kesehatan di rumah dilakukan, mencakup berapa sering dan berapa lama kunjungan harus di lakukan.

SEGI PELAYANAN

Pelayanan keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-soiso-spiritual yang komprehensif, di tujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Pelayanan keperawatan yang di berikan berupa bantuan karena adaya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan dan kurangnya kemauan menuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri.

1. Kualitas Pelayanan Keperawatan Kualitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh banyak institusi kesehatan hampir selalu dapat memuaskan pasien, maka dari itu sering disebut sebagai pelayanan kesehatan yang berkualitas. Salah satu definisi menyatakan bahwa kualitas pelayanan kesehatan biasanya mengacu pada kemampuan rumah sakit, memberi pelayanan yang sesuai dengan standar profesi kesehatan dan dapat diterima oleh pasiennya. Aspek-aspek kualitas pelayanan keperawatan Menurut Parasuraman (dalam Tjiptono, 1997) aspek-aspek mutu atau kualitas pelayanan adalah : a. Keandalan (reliability) Yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat dan memuaskan, jujur, aman, tepat waktu, ketersediaan. Keseluruhan ini berhubungan dengan kepercayaan terhadap pelayanan dalam kaitannya dengan waktu. b. Ketanggapan (responsiveness) Yaitu keinginan para pegawai atau karyawan membantu konsumen dan memberikan pelayanan itu dengan tanggap terhadap kebutuhan konsumen, cepat memperhatikan dan mengatasi kebutuhan-kebutuhan.

c. Jaminan (assurance) Mencangkup kemampuan, pengetahuan, kesopanan dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki pada karyawan, bebas dari bahaya, resiko, keragu-raguan, memiliki kompetensi, percaya diri dan menimbulkan keyakinan kebenaran (obyektif). d. Empati atau kepedulian (emphaty) Meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan komunikasi yang baik dan memahami kebutuhan konsumen yang terwujud dalam penuh perhatian terhadap setiap konsumen, melayani konsumen dengan ramah dan menarik, memahami aspirasi konsumen, berkomunikasi yang baik dan benar serta bersikap dengan penuh simpati. e. Bukti langsung atau berujud (tangibles) Meliputi fasilitas fisik, peralatan pegawai, kebersihan (kesehatan), ruangan baik teratur rapi, berpakaian rapi dan harmonis, penampilan karyawan atau peralatannya dan alat komunikasi. Sedangkan menurut Depkes RI (dalam Onny, 1985) telah menetapkan bahwa pelayanan perawatan dikatakan berkualitas baik apabila perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien sesuai dengan aspek-aspek dasar perawatan. Aspek dasar tersebut meliputi aspek penerimaan, perhatian, tanggung jawab, komuniksi dan kerjasama. Selanjutnya masingmasing aspek dijelaskan sebagai berikut: a. Aspek penerimaan Aspek ini meliputi sikap perawat yang selalu ramah, periang, selalu tersenyum, menyapa semua pasien. Perawat perlu memiliki minat terhadap orang lain, menerima pasien tanpa membedakan golongan, pangkat, latar belakang sosial ekonomi dan budaya, sehingga pribadi utuh. Agar dapat melakukan pelayanan sesuai aspek penerimaan perawat harus memiliki minat terhadap orang lain dan memiliki wawasan luas. b. Aspek perhatian Aspek ini meliputi sikap perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan perlu bersikap sabar, murah hati dalam arti bersedia memberikan bantuan dan pertolongan kepada pasien dengan sukarela tanpa mengharapkan imbalan, memiliki sensitivitas dan

peka terhadap setiap perubahan pasien, mau mengerti terhadap kecemasan dan ketakutan pasien. c. Aspek komunikasi Aspek ini meliputi sikap perawat yang harus bisa melakukan komunikasi yang baik dengan pasien, dan keluarga pasien. Adanya komunikasi yang saling berinteraksi antara pasien dengan perawat, dan adanya hubungan yang baik dengan keluarga pasien. d. Aspek kerjasama Aspek ini meliputi sikap perawat yang harus mampu melakukan kerjasama yang baik dengan pasien dan keluarga pasien. e. Aspek tanggung jawab Aspek ini meliputi sikap perawat yang jujur, tekun dalam tugas, mampu mencurahkan waktu dan perhatian, sportif dalam tugas, konsisten serta tepat dalam bertindak. Joewono (2003) menyebutkan adanya delapan aspek yang perlu diperhatikan dalam pelayanan yaitu: a. Kepedulian, seberapa jauh perusahaan memperhatikan emosi atau perasaan konsumen. b. Lingkungan fisik, aspek ini menunjukkan tingkat kebersihan dari lingkungan yang akan dinikmati konsumen, ketika mereka menggunakan produk. c. Cepat tanggap, aspek yang menunjukkan kecepatan perusahaan dalam menanggapi kebutuhan konsumen. d. Kemudahan bertransaksi, seberapa mudah konsumen melakukan transaksi dengan pemberi servis. e. Kemudahan memperoleh informasi, seberapa besar perhatian perusahaan untuk menyajikan informasi siap saji. f. Kemudahan mengakses, seberapa mudah konsumen dapat mengakses penyedia servis pada saat konsumen memerlukannya. g. Prosedur, seberapa baik prosedur yang harus dijalankan oleh konsumen saat berurusan dengan perusahaan. h. Harga, aspek yang menentukan nilai pengalaman servis yang dirasakan oleh konsumen saat berinteraksi dengan perusahaan.

Sedangkan Soegiarto (1999) menyebutkan lima aspek yang harus dimiliki Industri jasa pelayanan, yaitu : a. Cepat, waktu yang digunakan dalam melayani tamu minimal sama dengan batas waktu standar. Merupakan batas waktu kunjung dirumah sakit yang sudah ditentukan waktunya. b. Tepat, kecepatan tanpa ketepatan dalam bekerja tidak menjamin kepuasan konsumen. Bagaimana perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien yaitu tepat memberikan bantuan dengan keluhan-keluhan dari pasien. c. Aman, rasa aman meliputi aman secara fisik dan psikis selama pengkonsumsian suatu poduk atau. Dalam memberikan pelayanan jasa yaitu memperhatikan keamanan pasien dan memberikan keyakinan dan kepercayaan kepada pasien sehingga memberikan rasa aman kepada pasien. d. Ramah tamah, menghargai dan menghormati konsumen, bahkan pada saat pelanggan menyampaikan keluhan. Perawat selalu ramah dalam menerima keluhan tanpa emosi yang tinggi sehingga pasien akan merasa senang dan menyukai pelayanan dari perawat. e. Nyaman, rasa nyaman timbul jika seseorang merasa diterima apa adanya. Pasien yang membutuhkan kenyaman baik dari ruang rawat inap maupun situasi dan kondisi yang nyaman sehingga pasien akan merasakan kenyamanan dalam proses penyembuhannya. Berdasarkan pandangan beberapa ahli diatas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek kualitas pelayanan keperawatan adalah sebagai berikut : a. Penerimaan meliputi sikap perawat yang selalu ramah, periang, selalu tersenyum, menyapa semua pasien. Perawat perlu memiliki minat terhadap orang lain, menerima pasien tanpa membedakan golongan, pangkat, latar belakang sosial ekonomi dan budaya, sehingga pribadi utuh. Agar dapat melakukan pelayanan sesuai aspek penerimaan perawat harus memiliki minat terhadap orang lain dan memiliki wawasan luas. b. Perhatian, meliputi sikap perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan perlu bersikap sabar, murah hati dalam arti bersedia memberikan bantuan dan pertolongan kepada pasien dengan sukarela tanpa mengharapkan imbalan, memiliki sensitivitas dan peka terhadap setiap perubahan pasien, mau mengerti terhadap kecemasan dan ketakutan pasien.

c.

Komunikasi, meliputi sikap perawat yang harus bisa melakukan komunikasi yang

baik dengan pasien, dan keluarga pasien. Adanya komunikasi yang saling berinteraksi antara pasien dengan perawat, dan adanya hubungan yang baik dengan keluarga pasien. d. e. Kerjasama, meliputi sikap perawat yang harus mampu melakukan kerjasama yang Tanggung jawab, meliputi sikap perawat yang jujur, tekun dalam tugas, mampu baik dengan pasien dan keluarga pasien. mencurahkan waktu dan perhatian, sportif dalam tugas, konsisten serta tepat dalam bertindak. 2. Jenis Pelayanan Keperawatan Di Rumah Jenis pelayanan keperawatan di rumah di bagi tiga kategori yaitu : a. Keperawatan klien yang sakit di rumah merupakan jenis yang paling banyak di laksanakan pada pelayanan keperawatan di rumah sesuai dengan alasan kenapa perlu di rawat di rumah. Individu yang sakit memerlukan asuhan keperawatan untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah tingkat keparahan sehingga tidak perlu dirawat di rumah sakit. b. Pelayanan atau asuhan kesehatan masyarakat yang fokusnya pada pomosi dan prevensi. Pelayanannya mencakup mempersiapkan seorang ibu bagaimana bayinya setelah melahirkan, pemeriksaan berkala tumbuh kembang anak, mengajarkan lansia beradaptasi terhadap proses menua, serta tentang diit mereka. c. Pelayanan atau asuhan spesialistik yang mencakup pelayanan pada penyakit-penyakit terminal misalnya kanker, penyakit-penyakit kronis seperti diabet, stroke, hipertensi, masalah-masalah kejiwaan, dan asuhan pada anak.

PERJALANAN KEPERAWATAN

Dalam perjalanan keprofesionalismeannya, ternyata keprofesionalismean keperawatan sulit tercapai bila pendidikan vocational lebih banyak dari pada pendidikan yang bersifat profesionalisme, dalam hal ini pendidikan tinggi keperawatan. Oleh karena itu, diperlukan adanya standarisasi kebijakan tentang pendidikan keperawatan yang minimal berbasis S1 Keperawatan. Terkait hal tersebut, Direktorat Pendidikan Tinggi mengeluarkan SK No 427/ dikti/ kep/ 1999, tentang landasan dibentuknya pendidikan keperawatan di Indonesia berbasis S1 Keperawatan. SK ini didasarkan karena keperawatan yang memiliki “body of knowladge” yang jelas, dapat dikembangkan setinggi-tingginya karena memilki dasar pendidikan yang kuat. Selain itu, jika ditelaah lagi, penerbitan SK itu sendiri tentu ada pihak-pihak yang terkait yang merekomendasikannya, dalam hal ini yakni Departemen Kesehatan ( DepKes) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jika dilihat dari hal ini, maka dapat disimpulkan adanya kolaborasi yang baik antara Depkes dan PPNI dalam rangka memajukan dunia keperawatan di Indonesia. Namun dalam kenyataannya tidaklah demikian. Banyak sekali kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Depkes yang sangat merugikan dunia keperawatan, termasuk kebijakan mengenai dibentuknya pendidikan keperawatan DIV di Politeknik-politeknik kesehatan (Poltekes), yang disetarakan dengan S1 Keperawatan, dan bisa langsung melanjutkan ke pendidikan strata dua (S2) dan juga. Padahal beberapa tahun lalu telah ada beberapa Program Studi Ilmu Keperawatan di negeri ini seperti PSIK Univesitas Sumatera Utara dan PSIK Universitas Diponegoro yang telah membubarkan dan menutup pendidikan DIV Keperawatan karena sangat jelas menghambat perkembangan profesi keperawatan. Selain itu masih beraktivitasnya poltekes-poltekes yang ada di Indonesia sekarang ini yang sebetulnya melanggar hukum Sistem Pendidikan Nasional yang ada tentang pendirian Poltekes, yakni Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Pendidikan Kedinasan, di mana pendirian Poltekes yang langsung berada dalam wewenang Depkes bertujuan dalam rangka mendidik pegawai negeri atau calon pegawai negeri di bidang kesehatan, sehingga setelah lulus, lulusanlulusan Poltekes tersebut akan langsung diangkat menjadi pegawai negeri. Sedangkan saat ini,

Poltekes bukan lagi merupakan Lembaga Pendidikan Kedinasan, sehingga para lulusannya tidak lagi mendapat ikatan dinas menjadi pegawai negeri. Oleh karena itu seharusnya Poltekespoltekes yang sekarang ada ini tidak dapat lagi melakukan aktivitasnya memberikan pendidikan keperawatan. Selain itu akhir-akhir ini Depkes telah membuat kebijakan yang mengghentikan utilisasi S1 Keperawatan, dan walaupun masih ada, mereka dijadikan perawat-perawat S1 yang siap dikirim ke luar negeri. Hal ini bertujuan untuk ”menggoalkan” DIV Keperawatan. Profesi Keperawatan secara sedikit demi sedikit melalui cara-cara yang sistematis dibawa pada jurang kehancuran. Tentunya kita sebagai calon-calon perawat profesional di masa depan tidak akan membiarkan profesi kita tidak dihargai di masa depan dan pelayanan kesehatan yang diterapkan sangat jauh dari pelayanan kesehatan standar yang seharusnya didapat oleh bangsa ini. Kini bangsa Indonesia diantara derasnya Reformasi, profesi perawat masih harus segera membeli seperangkat “alat material” untuk membenahi tatanan kehidupan baru dengan suara yang satu semangat solidaritas. Profesi kita sedang diuji dari zaman kezaman terus saja menimpa profesi kita, kini puncak akumulasi permasalahan telah tiba mari kita rubah, tengoklah beberapa fakta yang terjadi dulu hingga kini : Pertama, Perawat masih dijadikan warga kelas dua dinegeri sendiri dengan bukti masih banyaknya tenaga perawat yang menjalani tenaga Honorer atau tenaga kontrak (PKWT).cobalah anda Check sendiri fakta ini di rumah-rumah sakit, poliklinik, tambang-tambang, pengeboran minyak, puskesmas dan sarana-sarana Agency penyedia jasa tenaga kerja ( outsourching ) yang nota bene penyalur perawat di berbagai kota besar di Indonesia.masih saja menjalani praktek – praktek tak senonoh berbentuk perbudakan moden ( modern slavery ) ini jelas melanggar konstitusi kita, amanat UU No.13 tahun 2003 dan KepMenakerTrans No.100 tahun 2004 melarang untuk melakukan tindakan kontrak/honor atau bahkan PHL ( Pekerja Harian Lepas ). Tenaga kontrak sesungguhnya hanya diperuntukkan bagi buruh yang melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan itu pun hanya berlaku 2 tahun plus satu tahun sedangkan tenaga harian lepas untuk pekerjaan tertentu yang berubah-ubah dalam waktu dan volume pekerjaan serta upah didasarkan pada kehadiran. Praktek-praktek ini masih banyak menimpa para perawat Indonesia karena lemahnya posisi tawar (bargaining position ) perlu diketahui bahwa perawat

haram hukumnya untuk dikontrak terlebih menggunakan pihak ketiga, perawat secara tupoksi mengerjakan pekerjaan tetap dengan frekwensi terus-menerus dan bukan mengerjakan barang yang sedang diuji cobakan.perawat adalah seorang yang telah menempuh serta lulus pendidikan formal dalam bidang keperawatan yang program pendidikannya telah disyahkan oleh pemerintah. (AD/ART PPNI/INNA Munas VII manado) ia adalah tenaga professional dibidang perawatan kesehatan, ia bertanggung jawab atas perawatan, perlindungan dan pemulihan, ia berperan dalam pemeliharaan pasien gawat darurat yang mengancam nyawa, dan ia terlibat dalam riset medis dan perawatan sementara keperawatan adalah bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan. Ini adalah bentuk bantuan karena adanya kelemahan fisik dan atau mental dan bantuan atas ketidakmampuan melakukan kegiatan sehari-hari. Kedua, Harga diri perawat kian hari kian diinjak-injak tanpa pengakuan sama sekali, perawat bekerja secara terus-menerus 24 Jam dengan 2-3 Shift dengan segala resiko yang mengancam, norma-norma kesehatan dan keselamatan kerja ( UU 13/2003 pasal 85/86 ) tidak dijalankan oleh pemerintah melalui instansi-instansi yang mempekerjakan perawat hal ini diperparah lagi dengan sistem jaminan sosial yang tidak pernah merata, antara resiko dan pendapatan tidak berimbang, penghasilan/financial perawat dari dahulu hingga kini tak banyak mengalami suatu perubahan yang signifikan. Ini artinya professi perawat Indonesia lagi-lagi termarginalkan. Jika kita ingat kembali memori lama kita tentang peristiwa bencana alam / korban masal yang silih berganti menimpa bangsa kita justru tenaga Perawatlah yang dijadikan ujung tombak dalam garda medis bencana alam, berapa juta kasus yang sudah perawat tangani hinggi kini tak pernah dilihat oleh pemerintah namun mereka rasakan, mereka merasakan ketika keluarga mereka sedang dirawat, mereka rasakan ketika suatu beban pekerjaan mereka dapat terselesaikan oleh perawat sehingga tak jarang karir dan jabatan mereka meroket karena jasa perawat. Berapa banyak pula kasuskasus yang diangkat dipermukaan menyangkut kesejahteraan perawat di Rumah-rumah sakit, di Jakarta sudah terjadi Di RSU UKI, RS HAJI, RS Mata, AGD 118, RS DUREN SAWIT dan masih banyak lagi ibarat fenomena gunung es, yang menyoalkan masalah kesejahteraan, kejadian ini akan terus berlanjut sampai kapanpun sebelum nasib perawat dan keluarganya diperhatikan dan dibuatkan suatu aturan secara definitive untuk kesejahteraan para perawat.suatu perbandingan perawat Indonesia dengan perawat Kuwait yang mendapat gaji berkisar antara

Rp.10 juta s/d 14 juta perbulan, sedangkan rekan sejawat yang bekerja di Indonesia maksimum hanya Rp.800.000 s/d 1,5 jt perbulan ( data ketua PPNI yang bekerja dikuwait ),sekarang marilah kita tengok perbandingan gaji DPR disenayan, mereka sudah seringkali meneriakkan persetaraan gaji / study dengan DPR di jepang dan korea padahal gaji mereka sudah melebihi dari kebutuhan hidup, mengapa kita para perawat Indonesia tidak meneriakkan hal yang serupa?? Mungkin ini salah satu penyebab mengapa profesi lain memandang sebelah mata profesi perawat, selayaknya sesama tenaga kesehatan dengan standart pendidikan yang setara harus bersanding berdiri sejajar dengan profesi lain, kalau mereka bisa kenapa perawat tidak? ini tidak boleh dibiarkan berlarutlarut harus ada upaya kuat dan sama-sama kita perjuangkan dengan beberapa cara diantaranya dengan menggulirkan Upah Minimum sector Provinsi ( UMSP ) dibidang keperawatan, UU Ketenangakerjaan nomor 13 tahun 2003 telah mengamanatkan bahwa upah minimum harus didasarkan pada Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Justru pemerintah telah melanggar ketentuan ini. Melalui Peraturan Menteri Nomor 17, tahun 2005 PER-17/MEN/VIII/2005, komponen KHL hampir tidak pernah diterapkan di keperawatan,bahkan masih banyak perawat dengan gaji dibawah rata-rata UMP/R/S Akhirnya Kepmen 17/2005 menjadikan UPAH LAYAK bagi perawat, hanyalah omong kosong belaka. Perawat Indonesia harus mendapatkan kesejahteraan yang sama Seperti halnya upah PNS, TNI dan Polri, Upah Layak ini berlaku secara nasional. Pengabdian perawat sama dengan mereka bahkan lebih berat dari mereka. Upah Layak perawat selain memenuhi kebutuhan sandang dan pangan, Apakah tuntutan ini berlebihan? TIDAK!!. Kemudian segera bentuk unit-unit organisasi yang efektif untuk melakukan perlawanan yang serius.selain dari pada itu standart kompetensi melalui pengesahan UU praktik keperawatan.kemudian dibuka pintu eksodus selebar-lebarnya keluar negeri bagi perawat, dengan eksodus maka profesi perawat akan dipandang unggul dan dibutuhkan Negara , sebagaimana yang telah terjadi di Philipine dimana seorang dokter spesialis, pengacara, arsitek, profesi lainya berbondong-bondong kuliah keperawatan karena profesi ini pandang unggul dan terhormat (data PPNI) maka dari itu ayo bangkit dan lawan ketidak adilan ini. Ketiga, Lemahnya perlindungan Hukum dan persamaan pengakuan profesi dimata Publik. UU No.23 Tahun 1992 tentang kesehatan menegaskan bahwa ada pengakuan profesi keperawatan, ada suatu perbedaan kewenangan profesi antara dokter dan perawat. Hal ini seyogyanya menjadi acuan dalam penguatan Legal aspek profesi perawat dimata publik, namun rasanya UU dan

keputusan menteri kesehatan tersebut belum lah cukup menjawab semua tantangan global yang saat ini mengancam sendi kehidupan segenap anak bangsa, perawat memberikan kontribusi yang begitu besar terhadap bangsa ini,tokoh keperawatan Dunia Florence nightingle dan Siti Rufaidah telah merubah dunia dengan konsep kasih sayangnya secara holistic ditengah-tengah kecamuk perang dunia ke II waktu itu. Lemahnya perlindungan Hukum terhadap perawat Indonesia sangat jelas terlihat ketika para tenaga peawat yang sedang mengalami gugatan Hukum tak terbela, misalnya perawat AGD Dinkes DKI Jakarta yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan dini hari ( 1-6-08 ) di tabrak oleh oknum artis ibukota dan hingga kini kasusnya gantung di Pengadilan tinggi negeri jaksel tanpa ada advokasi dari pemerintah, itu adalah contoh kecil yang terjadi dan barangkali masih banyak kasus baik di dalam maupun diluar negri yang tak terungkap akibat sikap kelalaian pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA

Kusnanto,S.Kp, M.Kes. 2003.Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC Priharjo, Robert. 2008. Konsep dan Perspektif Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC http://klinis.wordpress.com/2007/12/28/kualitas-pelayanan-keperawatan/ http://oknurse.wordpress.com/2009/09/02/praktik-mandiri-perawat/ http://te-in.facebook.com/topic.php?uid=52607945966&topic=12634

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful