BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Sistem gastrointestinal berjalan mulai dari mulut ke anus, yang berfungsi untuk ingesti dan pendorongan makanan, pencernaannya, serta penyerapan zat-zat gizi yang penting bagi pertumbuhan dan kehidupan. Saluran GI berawal di rongga mulut berlanjut ke esofagus dan lambung dimana makanan sementara disimpan sampai di salurkan ke usus halus. Setelah diserap di usus makanan disalurkan ke usus besar (colon dan rectum). Organ-organ tambahan sistem GI meliputi hati, pankreas, kandung empedu dan apendik. Jika salah satu organ GI terganggu maka akan menimbulkan gangguan, salah satunya apendik. Apendik cenderung menjadi tersumbat atau rentan terhadap infeksi bila pengosongan mukusnya tidak efektif dan lumennya yang kecil kira-kira 7% dari populasi akan mengalami apendikdisitis. Apendikdisitis sering terjadi antara 20 dan 30 tahun. Untuk itu diperlukan adanya kerjasama dalam melaksanakan ASKEP pada klien dengan apendiksitis baik perawat, individu dan keluarga, sehingga tercapai keperawatan yang komprehensif. B. Tujuan 1. Tujuan Umum Melalui makalah ini diharapkan kelompok mampu melaksanakan Askep pada klien apendik. 2. a. b. apendiktomi c. Mampu membuat rencana asuhan keperawatan pada klien post apendiktomi. Tujuan Khusus Mampu menjelaskan tentang konsep apendiksitis. Mampu melakukan pengkajian pada klien post Setelah membaca makalah ini kelompok diharapkan :

1

d. e.

Mampu melaksanakan implementasi keperawatan pada Mampu melaksanakan evaluasi keperawatan.

klien post appendiktomi.

C. Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah studi literatur dimana penyusun menggunakan buku-buku sumber sebagai bahan acuan dalam pembuatan makalah ini. D. Sistematika Penulisan BAB I : PENDAHULUAN A. B. C. D. BAB II A. B. C. D. E. F. G. H. I. BAB III BAB IV Latar Belakang Tujuan Metode Penulisan Sistematika Penulisan Gambaran Umum Pengertian Penyebab Gambaran Klinis Klasifikasi Pathofisiologi Evaluasi Diagnostik Penatalaksanaan Komplikasi

: TINJAUAN TEORITIS

Tinjauan Teoritis Asuhan Keperawatan : TINJAUAN KASUS : PENUTUP Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA

2

BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Gambaran Umum Apendix merupakan organ tambahan pada sistem pencernaan. Apendiks panjangnya kira-kira 10 cm (4 inchi), melekat pada sekum tepat dibawah katup ileosekal, apendix berisi mukus dan mengosongkan diri secara teratur, kedalam sekum, karena pengosongan yang tidak efektif dan lumen yang kecil apendix cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi. Kira-kira 7% dari populasi akan mengalami apendixitis pada waktu yang bersamaan dalam hidup mereka. Pria lebih sering mengalami apendixitis, dibandingkan wanita, dan remaja lebih sering mengalami daripada orang dewasa, meskipun sering terjadi pada usia berapapun, apendixitis paling sering terjadi antara usia 20 dan 30 tahun (Brunner dan Suddarth, Keperawatan Medikal Bedah 2002. 1097) B. Pengertian Apendixitis adalah peradangan apendix yang relatif sering dijumpai yang dapat timbul tanpa sebab yang jelas atau timbul setelah obstruksi apendix oleh tinja, atau akibat terpuntirnya apendix atau pembuluh darahnya. (Curwin, Patohofisiologi, 2001. 529) C. Penyebab Penyebab dari apendixitis ialah terjadinya obstruksi pada lumen apendix. Obstruksi pada Lumen apendix biasanya diakibatkan oleh: Fecalith Cacing Pembesaran jaringan limpoid Infeksi Virus Efek samping dari tindakan barium enema. Biji-bijian Tumor

3

terdapatnya nyeri tekan dan nyeri lepas. 4 . Apendixitis akut : yaitu apendixitis yang timbul secara tiba-tiba dan dirasakan sangat hebat.D. mual. terjadi distensi abdomen akibat ileus paralitik. Apabila apendix telah ruptur nyeri menjadi menyebar. E. Apendixitis kronis : yaitu apendixitis yang timbul secara yang dirasakan hilang timbul dan diketahuinya dalam kondisi yang sudah berat. yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa dikuadran kanan bawah. Nyeri pada saat berkemih menunjukan letak ujung apendix dekat dengan kandung kemih atau ureter adanya kekakuan pada bagian bawah otot rektus kanan dapat terjadi. 2. muntah dan hilangnya nafsu makan. Gambaran Klinis Nyeri pada daerah abdomen kuadran kanan bawah dan biasanya disertai oleh demam ringan. Klasifikasi Apendixitis dapat diklasifikasikan berdasarkan munculnya gejala sebagai berikut : 1. bila ujung apendix ada pada pelvis. tandatanda ini dapat diketahui hanya dengan pemeriksaan rektal. Tanda Rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri. Bila apendix melingkar di belakang sekum perasaan nyeri dan nyeri tekan dapat terasa didaerah lumbar.

F. H.000/mm3 kanan bawah abdomen atau adanya aliran udara terlokalisasi. Apendixtomy dilakukan untuk menurunkan resiko terjadi perforasi. apendixitis telah ditegakan. Pathofisisologi Obstruksi lumen apendix oleh berbagai penyebab menghambat dan menyumbat pengeluaran mukus dari lumen apendix Terjadi reaksi inflamasi/infeksi Peningkatan tekanan intra luminal Nyeri abdomen atas/ Menyebar hebat secara progresif Dalam beberapa jam nyeri terlokalisasi di kuadran kanan bawah Aliran darah ke dalam apendix menurun Hipoxia pada jaringan lumen apendix Nekrosis Gangren Perforasi dalam jangka waktu 24-36 jam G. Penatalaksanaan Pada kasus apendixitis pembedahan diindikasikan bila diagnosa. ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ 5 . Evaluasi Diagnostik Pada pemeriksaan laboratium. antibiotik dan cairan intravena diberikan sampai pembedahan dilakukan. didapatkan peningkatan jumlah Pemeriksaan USG menunjukan adanya densitas pada kuadran leukosit lebih dari 10.

dan pekerjaan klien serta data lain yang diperlukan. adakah kebiasaan didalam anggota keluarga yang dapat e. c. d. umur.I. Perlu dikumpulkan data-data yaitu nama. TINJAUAN TEORI ASUHAN KEPERAWATAN : I. Keluhan Utama. Identitas Klien. Riwayat pernah diberi bubur barium enema. Riwayat Kesehatan. Perlu dikaji adanya rasa nyeri pada abdomen daerah kuadran kanan bawah. Riwayat Kesehatan Keluarga menyebabkan apendix.  6 . Kembangkan dari keluhan utama dengan menggunakan PQRST. Perforasi terjadi 24 jam setelah awitan nyeri insiden terjadinya apendix perforasi lebih tinggi pada anak dan lansia. Pemeriksaan Fisik. Riwayat kebiasaan memakan-makanan biji-bijian. b. alamat. Riwayat diit tinggi serat. Pengkajian a. Sistem Percernaan Adanya takipneu dan pernafasan dangkal akibat adanya rasa nyeri. Kaji Kaji apakah pernah klien dioperasi pada bagian abdomen. Riwayat Kesehatan Dahulu. f. Komplikasi Komplikasi utama pada apendixitis adalah terjadi apendix perforasi yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses.  Adanya takikardi juga akibat perasaan nyeri.  Sistem Pernafasan Sistem Kardiovaskular.

Pada preoperasi . pendengaran dan wicara Suhu tubuh meningkat karena adanya proses infeksi. nyeri tekan dan lepas pada abdomen kuadran kanan bawah.Pada post operasi : Sering ditemukan adanya inkontinensia urine 7 . Gejala ini berlangsung 1-2 hari selanjutnya nyeri tersebut bergeser ke daerah kuadran kanan bawah. nyeri tekan dan nyeri lepas (+).  Sistem Endokrin Sistem Genitourinaria : Tidak ditemukan adanya kelainan akibat pengaruh anastesi.  Sistem muskuloskeletal Ditemukan adanya kekakuan otot pada daerah abdomen dan pada daerah ekstermitas terjadi kelemahan otot karena kurangnya suplai nutrisi akibat proses infeksi yang terjadi pada daerah usus.  Sistem Integumen Sistem penglihatan. Tidak ditemukan adanya pembesaran kelenjar thyroid  .  Tidak ditemukan adanya kelainan pada kasus appendiktomie. nausea dan atau tanpa vomitus. adanya perasaan ingin defekasi atau flatus yang sering. Nyeri atau perasan tidak enak pada daerah epigastrium atau tidur terlentang dengan lutut ditekuk nyeri umbilikal diikuti dengan anorexia. Pada palpasi di daerah kuadran kanan bawah terasa ada yg membengkak dan klien merasa nyeri.  Sistem Persarafan Ditemukan adanya rasa nyeri.- Pada inspeksi terlihat perilaku klien berhati-hati dan atau Penurunan atau tidak adanya bising usus. disertai spasme otot (detense musculer (+)).

Data Penunjang 1) Pemeriksaan Laboratorium Ditemukan leukositosis. Data Spiritual Mengidentifikasikan tentang keyakinan hidup. peran diri. Data Sosial Berisi hubungan dan pola interaksi antara pasien dan keluarga serta masyarakat selama ia menderita sakit. Meningkat karena akan menghadapi prosedur operasi dan karena kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit dan cara perawatan. j. Gaya komunikasi Konsep diri Pada dasarnya tidak ada gangguan kecuali ketika klien merasa nyeri.g. optimisme terhadap kesembuhan penyakitnya dan gangguan dalam melaksanakan ibadah. harga diri. ileus terlokalisir. Data Psikologis 1) 2) Status emosi Kecemasan Klien labil karena adanya rasa nyeri. 2) Rontgen Foto abdomen dapat dinyatakan adanya pengerasan material pada appendik. i. pada pemeriksaan urine normal tetapi eritrosit/leukosit mungkin ada. neutropil meningkat sampai 70%. Yang dikaji adalah gambaran diri. 3) 4) dan ideal diri. h. identitas diri 8 .

inflamasi peritonium dengan cairan asing. Kolaborasi pemberian terapi antiemetik. Kaji ulang skala nyeri. Berikan latihan mobilisasi secara bertahap. lunak. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus akibat inflamasi/adanya insisi bedah Intervensi : • • • • 2. Gangguan pemenuhan aktivitas berhubungan dengan kelemahan Intervensi : • • • • Bantu klien memenuhi kebutuhan aktivitasnya. pra operasi. Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan aktivitas klien. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul 1. Kolaborasi pemberian analgetik.II. Lakukan test veeding bila BU dan flatus (+) Berikan makanan secara bertahap mulai dari cair. nasi biasa dengan diit TKTP. Lakukan teknik distraksi : berikan posisi nyaman sesuai keinginan klien. Berikan pembatasan tentang pentingnya mobilisasi dini. Monitor BU dan flatus setiap satu jam Monitor adanya kembung dan muntah Lanjutkan pemberian nutrisi parenteral. status hipermetabolik (demam). Bimbing dan ajarkan klien teknik relaksasi nafas dalam (Pursed Lips Breathing) dan batuk efektif. Intervensi : • • • • • • 3. Resiko kekurangan nutrisi berhubungan dengan muntah. 9 . cara dan waktunya. pembatasan pasca operasi (puasa).

Pertahankan posisi semi fowler. selanjutnya setiap hari dengan teknik aseptik dan antiseptik. Monitor kepatenan jalan napas. 10 . Anjurkan keluarga untuk mendampingi klien saat tidur. Berikan kesempatan pada klien untuk memenuhi aktivitasnya. Intervensi : • • • • • 5. irama. Ganti sprei dan pakaian yang kotor serta potong kuku klien Lakukan perawatan luka (ganti verban) mulai hari ke-3. Miringkan kepala klien ke salah satu sisi Bila perlu lakukan suctioning. Monitor tanda-tanda vital dan tanda-tanda infeksi di sekitar luka. Pola nafas tidak efektif berhubungan denagn akumulasi sekret akibat efek samping anasthesi. Kolaborasi pemberian antibiotik dan antivirus Kolaborasi pemeriksaan hematokrit. pola dan bunyi nafas. Intervensi : • • • • • 6. membaca dll yang dapat memberikan ketenangan saat tidur. Atur program pengobatan dan perawatan sehingga tidak mengganggu waktu tidur klien. kebutuhan Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya luka post operasi tindakan/prosedur invasif. Intervensi : • • • • Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk tidur. respiratory rate. Berikan terapi O2 sesuai dengan kbutuhan. Hb dan leukosit ulang. Anjurkan berdo’a.• 4. Gangguan kebutuhan istirahat dan tidur berhubungan dengan adanya rasa nyeri.

Kolaborasi untuk pemberian obat tidur.• • Anjurkan klien untuk tidak melakukan aktivitas sebelum tidur dan anjurkan untuk minum susu hangat. Evaluasi Evaluasi terdiri dari evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Tujuan telah tercapai dengan waktu yang ditentukan dalam intervensi. 11 . Terjadi penurunan kondisi klien. 2. bila diperlukan. IV. Pelaksanaan/Implementasi Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah direncanakan dan pelaksanaannya berdasarkan urutan waktu tindakan yang dilakukan. Evaluasi ini ditujukan untuk menilai perkembangan klien berupa catatan SOAPIER yang dibuat untuk menentukan apakah : 1. Tujuan hanya tercapai sebagian 3. III.

Nama Umur Jenis kelamin Suku/Bangsa Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat Tanggal Masuk Tanggal Pengkajian No. 51 Carangan Ciledug : 26 April 2004 : 27 Mei 2004 : 04133107 : Post op Appendictomi per Laparotomi atas Indikasi Apendiksitis Perforasi. 01/01 No. 51 Carangan Ciledug : Ayah klien 12 . Inpres III RT. E : 10 tahun : Perempuan : Sunda/Indonesia : Islam : : Pelajar : Jl.BAB III TINJAUAN KASUS Pengumpulan Data 1. Nama Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat Hubungan dgn klien Identitas Penanggung Jawab : Tn. CM Diagnosa medis Biodata Klien : An. Biodata a. Inpres III RT. J : 42 tahun : Islam : SLTA : Wiraswasta : Jl. b. 01/01 No.

Nyeri dirasakan oleh klien seperti diirisiris dan terasa perih. Nyeri dirasakan hanya terlokalisasi pada daerah operasi. skala nyeri klien 3 (skala 1-5) nyeri dirasakan + 2 menit dan terasa setiap 10-15 menit sekali. Riwayat kesehatan keluarga Di dalam keluarga klien. e. 13 . serta penyakit lain seperti asma. maupun DM. lalu klien diberi obat dan pulang. Riwayat masuk RS Sekitar 10 hari sebelum masuk RS klien mengeluh sakit perut. b. c. Pada tanggal 22 Mei 2004 klien dilakukan operasi yang kedua kalinya dengan laparatomi explorasi + ileotomi terminal dan colostomi asenden. Riwayat kesehatan lalu Klien belum pernah menderita penyakit yang sama dan belum pernah menderita penyakit yang berat yang menyebabkan klien dirawat di RS. Riwayat Kesehatan a. nyeri dirasakan berkurang bila klien tidur dengan posisi terlentang dengan kaki ditekuk. Pada saat didata klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi.2. Tanggal 26 April 2004. nyeri dirasakan bertambah berat bila klien berubah posisi atau tidur dengan kaki diluruskan. kembung dan perut terasa mengeras.i apendicsitis perforasi. tidak ada yang menderita penyakit yang sama dengan klien. 2 hari sebelum masuk RS perutnya semakin kembung dan mengeras dan esoknya klien muntah-muntah. hepatitis. Klien didiagnosa typoid abdominalis. d. lalu dibawa ke klinik kesehatan. klien dibawa ke RSU Tangerang dan esoknya dilakukan laparatomy + appendictomy a. TBC. Keluhan utama Keluhan waktu didata Nyeri daerah luka operasi.

Sistem Cardiovaskuler Hate Rate : 96x/menit. mukosa hidung tampak merah muda dan tidak ada pembengkakan. tidak ada pembengkakan maupun perdarahan gusi.menit. tidak ada pembesaran tonsil. pengembangan rongga dada simetris. Sistem pernafasan Bentuk dan ukuran hidung simetris. bunyi jantung S1 dan S2 terdengar murni reguler. semakin ke ujung getaran terasa semakin lemah. tidak teraba pembesaran hepar maupun limpa. c. Sistem Pencernaan Bibir tampak kering dan agak pecah-pecah./menit merata pada setiap region. tidak ada sumbatan pada lubang hidung. tidak terdapat adanya penumpukan sekret. Suara paru terdengar bersih. Pemeriksaan Fisik a. terdapat luka kolostomi dibawah kanan umbilikus. tidak ada pembesaran konkha. 14 . CRT 2 detik. pada pemeriksaan perkusi pada setiap region bunyi usus terdengar resonan. Bentuk dada simetris. gigi sudah tumbuh lengkap 20 buah. tidak ada penggunaan otot-otot pernafasan tambahan. lidah agak kotor. b. Bising usus (+) 8x. conjungtiva tampak anemis. tidak ada pengeluaran abnormal dari lubang hidung. refleks menelan baik. tidak terdapat pernafasan cuping hidung. respirasi 24x. palatum tidak ada kelainan. tidak ada penumpukan cairan pada rongga abdomen. Pengembangan paru sempurna. akral teraba hangat dan tidak ada cyanosis. pada pemeriksaan fokal premitus getaran teraba simetris antara paru kanan dan kiri.3. Pada pemeriksaan vaskularisasi. pada pemeriksaan perkusi ukuran jantung terletak antara intercosta II sampai intercosta V. nadi pada ekstermitas teraba dengan jelas dan tidak mudah menghilang. pada periksa ketuk suara paru terdengar resonan. tidak ada nyeri pada penekanan rongga sinus.

15 . tidak mengeluarkan darah/pus. luka tampak basah.70C. d.keadaan anus bersih dan tidak terdapat luka. Warna kulit sawo matang. Berat badan dan tinggi badan tidak terkaji. terdapat luka pada abdomen yaitu bekas operasi laparatomi explorasi dan colostomi + illeostomi. keadaan luka tampak kemerahan. suhu 36. Pemeriksaan refleks : Bisep (+) Trisep (+) Patella (+) Babinsky (-) e. tidak ada ketombe. Sayatan horizontal sepanjang + 15 cm. Keadaan stoma tampak kemerahan. pada sayatan terpasang agraf sebanyak 20 buah. kulit teraba hangat. Sistem Integumen Kesadaran Orientasi orang : klien dapat menyebutkan orang yang berdiri di Kulit kepala bersih. feces keluar + 20 cc setiap jam. Luka laparatomi explorasi terletak pada abdomen kuadran bawah. terdapat pus pada luka sebelah kanan. Luka kolostomi terletak pada kuadran kanan bawah dengan diameter + 7 cm. Sistem Persyarafan : Compos mentis depannya Orientasi tempat : klien mengatakan ia berada di RSU Tangerang Orientasi waktu : klien mampu menyebutkan hari apa sekarang Pemeriksaan nervus cranial I-XII tidak ada kelainan. Keadaan kulit sekitar luka tampak kemerahan dan terdapat alergi bekas pemasangan heperfik. feces merembes pada luka yang berada di bawahnya. tidak ada luka pada kulit kepala. rambut agak kotor.

refleks pupil (+). lordosis maupun skoliosis. refleks kornea (+). tidak terdapat adanya nyeri tekan ataupun nyeri ketuk pada kandung kemih. tidak ada kekakuan sendi. fungsi pengecapan klien masih baik. Keadaan otot hipotoni. keadaan uretra bersih. tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening jugularis. kekuatan otot 4 g. tidak ada peradangan ataupun kelainan-kelainan. tidak ada oedema pada ekstremitas. ekstermitas kanan dan kiri simetris. Pada saat dikaji kandung kemih tampak kosong. tidak ada makrosefalus/mikrosefalus. terdapat pembesaran kelenjar getah bening femoralis. tidak ada serumen. tidak terdapat nyeri pada pemeriksaan perkusi ginjal.f. 5 5 4 Sistem Genitourinaria Tidak ada oedema pada palpebra. tidak ada kelainan. h. 16 . terbukti klien mampu membaca papan nama perawat pada jarak 36 cm. i. Keadaan tulang belakang tidak ada kifosis. Keadaan genital tidak ada kelainan. tidak ada pengeluaran abnormal dari lubang telinga. kemampuan klien menghirup masih baik. bentuk pupil bulat isokor. tidak ada keluhan yang berhubungan dengan masalah reproduksinya. daun telinga teraba lunak. Bentuk hidung simetris. bentuk telinga simetris. Fungsi pendengaran masih baik. Sistem Muskuloskeletal Bentuk kepala normal. fungsi penglihatan masih baik. Sistem Endokrin Tidak teraba pembesaran kelenjar tiroid. lubang telinga bersih. ginjal tidak teraba. tidak ada penumpukan cairan pada abdomen. setiap sendi dapat bergerak dengan bebas. Sistem Panca Indera Bentuk mata simetris. tidak ada deformitas.

dan ia puas dengan jenis kelaminnya. Sosial Klien mau menerima kehadiran perawat dengan senang hati. Klien tampak cemas. dan dengan keadaannya sekarang klien mengatakan ia tidak bisa membantu ibunya di rumah. Pengkajian Psikososial Spiritual (Klien dan Keluarga) a. klien mau menerima kehadiran anggota keluarganya dan klien akrab dengan klien lain yang sekamar dengannya. yang harus memberi contoh pada adiknya. • Peran : Klien mengatakan ia adalah anak pertama. 1) 2) Psikologis Status emosi : Emosi klien tampak stabil Kecemasan : Klien tampak tenang. 3) • Konsep diri Body Image : Klien mengatakan semua bagian tubuhnya ia sukai.4. 17 . klien juga mengatakan tidak menjadi masalah bagi dirinya dengan keadaannya yang terdapat luka kolostomi. : Klien berharap ia segera sembuh dan kembali melanjutkan sekolahnya agar ia bisa mencapai cita-citanya. dan tidak ada yang mengejeknya. • • Identitas Ideal diri : Klien mengatakan ia adalah seorang perempuan. keluarganya sekarang mau menerima keadaannya sekarang. • Harga diri : Klien mengatakan bahwa semua anggota keluarga menghargai dirinya. keluarga sering menanyakan keadaan klien. dan kemungkinan penyembuhan klien. b. keluarga tampak gelisah.

tidak ada pantangan makan. GENOGRAM : 10 th Keterangan : = Laki-laki = Perempuan + = Meninggal 5. Aktifitas Sehari-Hari No 1 Pola Aktivitas Di Rumah Nutrisi 3x sehari. hanya habis ¼ nya. Minum 5-6 gelas kecil sehari (+ 1250-1500 cc). klien merasa perutnya mual dan tegang. makanan yang disukai : rujak yang pedas. tidak suka minum 4-5 gelas kecil sehari (1000-1250 cc) air putih. jenis air putih. lauk sayur dan buah. = Garis keturunan = Tinggal serumah = Klien 18 . klien juga berharap agar ia cepat sembuh dan segera pulang ke rumah agar ia dapat meneruskan sekolahnya. 3x sehari. kadangkadang makan buah. kadang-kadang susu Di RS Bubur saring/bubur sum.c. porsi kecil Makan habis. jenis makanan : nasi. Spiritual Klien meyakini bahwa ia sakit sakit karena ia sedang diuji oleh Tuhan.

2 Eliminasi BAK 4-5x sehari. Klien sekolah siang antara pukul 11.00-08. 3 Personal Hygiene -Mandi -Gosok gigi -Cuci rambut -Gunting kuku Istirahat dan tidur Tidur malam Klien tidur dari jam 22. Klien hanya tiduran di tempat tidur. konsistensi lunak. Tidur siang 5 Aktivitas sehari-hari Klien jarang tidur siang. warna kuning tengguli. kadang terbangun pada malam menggunakan obat tidur. tidak ada darah/nanah.00-06. 1x sehari hanya dilap Belum pernah 1 minggu 1x 3xsehari pakai pasta gigi Jarang 4 Klien tidur dari Jam 22. hari karena nyeri pada tidur nyenyak dan jarang luka operasi. Feces keluar dari kolostomi. 19 . terbangun pada malam hari. bau khas tidak ada kesulitan saat BAB. minum susu kadang-kadang. bau khas. tidak ada kesulitan pada saat BAK. tidak 3xsehari pakai susun.00. tidak ada kelainan saat BAK. warna kuning.00. tidak ada kesulitan untuk memulai tidur. bentuk cair. warna kuning tua.kopi. BAB 1-2x sehari. warna kuning tua.00Klien jarang tidur siang. 2-3xsemingu pakai sampho 1 minggu 1x (Peptisol) 2-3x sehari. kurang nyenyak.

600/mm3 : 359.000/mm3) Ultra sonografi 20 . sepulang sekolah klien main dengan teman sebayanya.000-450.000 : 40% (N : 150. Pemeriksaan Penunjang a.7 gr% : 18.00 gr% : 5. : 13.000/mm3) (N : 36-46%) 21 Mei 2004 Hemoglobin Leukosit Hematokrit 22 Mei 2004 Hemoglobin Leukosit Trombosit Hematokrit b. Laboratorium : 9. 6.30.16.100/mm3 : 27% (N : 12-14 gr%) (N : 4000-10.

sedangkan lambung dalam keadaan kosong Rangsangan pada refleks Masalah Gangguan rasa nyaman : nyeri ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan ↓ ↓ ↓ ↓ 21 . DO : -Klien tampak meringis -Skala nyeri 3 (skala 15) -HR : 98x/menit -Terdapat luka operasi pada abdomen bawah + 15 cm 2 DS : Klien mengatakan jika ia makan perutnya terasa mual dan terasa tegang.7. -Nyeri bertambah bila ia berubah posisi/bila tidur dengan kaki diluruskan. bradikinin dan prostaglandin Merangsang reseptor nyeri delta C Rangsang nyeri disampaikan ke radix posterior medulla spinalis Spinotalamicus Talamus Cortex cerebri Nyeri dipersepsikan Proses operasi (laparatomy) Bising usus menurun Puasa Peningkatan asam lambung. Analisa Data No 1 DS : -Klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi -Nyeri dirasakan seperti teriris dan terasa perih. DO : -Klien hanya menghabiskan makanannya ¼ porsi -Jenis makanan klien Data Senjang Kemungkinan Penyebab dan Dampak Appendiksitis perforasi Operasi laparatomi explorasi Terputusnya kontinuitas jaringan Merangsang pengeluaran histamin.

-Klien mengatakan takut ada apa-apa apabila ia merubah posisinya. DO : -Klien tampak meringis bila ia merubah posisinya. -Tidak ada kekuan sendi.bubur saring/bubur sumsum -Perut klien terasa tegang -Refleks menelan baik. -Klien mengatakan sehari-hari ia hanya di tempat tidur. -Massa otot isotoni -Kekuatan otot 5 5 4 4 vomiting center di hipotalamus Adanya mual Nafsu makan ↓ Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan Adanya luka operasi Nyeri bila berubah posisi Klien merasa takut untuk merubah posisi Kemampuan melakukan aktifitas sehari-hari ↓ Intoleransi aktivitas Intoleransi aktifitas ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ 4 DS : -Klien mengatakan Adanya luka operasi Nyeri Gangguan pemenuhan ↓ 22 . -Bising usus (+) 8x/menit 3 DS : -Klien mengatakan nyeri bertambah bila klien merubah posisinya.

DO : -Klien tampak lemas -Klien tampak mengantuk -Konjungtiva pucat. ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ 23 . -Operasi yang sekarang Resiko penyebaran infeksi. Merangsang pengaktifan RAS (Reticulo Activity System) Mudah terjaga Sering terbangun tengah malam Tahap tidur tidak terlalu Kebutuhan tidur tidak perpenuhi Gangguan pemenuhan istirahat dan tidur Terputusnya kontinuitas jaringan Merupakan port of entry Reaksi pertahanan tubuh dengan ↑ suplay darah dan leukosit pada daerah luka Reaksi inflamasi/ peradangan Akumulasi pus sebagai produksi dari reaksi peradangan Merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri Resiko penyebaran infeksi ↓ istirahat dan tidur.tidurnya kurang nyenyak. DO : -Terdapat luka operasi laparatomi explorasi + 15 cm dengan posisi horizontal di bawah umbilicus. -Terdapat luka kolostomi dan ileostomi dengan diameter + 7 cm pada abdomen kuadran bawah. -Klien mengatakan ia sering terbangun tengah malam karena nyeri. ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ 5 DS : -Keluarga mengatakan feces yang keluar pada kolostomi kadang merembes pada balutan luka laparatomi.

600/mm3 6 DS : -Keluarga sering menanyakan keadaan klien. -Luka dalam keadaan basah. Kurangnya informasi dari petugas kesehatan Kurangnya pengetahuan tentang penyakit klien Stressor bagi klien/ Keluarga Koping inefektif Cemas Gangguan rasa aman : cemas ↓ ↓ ↓ ↓ 24 . dan kemungkinan penyembuhan klien. -Keluarga mengatakan tidak mengetahui keadaan penyakit klien. DO : -Keluarga tampak cemas. -Stoma tampak kemerahan -Feces dari stoma kadang-kadang merembes ke balutan laparatomi. -Keadaan luka terpasang Agraf sebanyak 20 buah. -Suhu 370C -Leukosit 18. kemerahan dan tampak ada pus.merupakan operasi yang kedua.

DO : -Klien tampak meringis Tujuan Tupan : Rasa nyaman terpenuhi dalam waktu 4 hari. -Nyeri bertambah bila ia berubah posisi/bila tidur dengan kaki diluruskan. • klien. semi fowler memudahkan drainase cairan/luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan.RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. • Perubahan posisi dan ajarkan klien teknik relaksasi nafas dalam (pursed lips breathing) dan batuk efektif. • Intervensi yang -Nyeri dirasakan seperti -Klien dapat • Mengkaji ulang rasa nyeri (skala 1-5) • Memberikan nyeri (skala 1-5) diberikan dapat lebih tepat guna untuk menangani nyeri • Menurunkan laju obat Analgetik sesuai indikasi 25 . Tupen : Klien dapat mengalami rasa nyeri dalam waktu 2 hari dengan kriteria : mempraktekan teknik relaksasi nafas dalam (pussed lips breathing) -Klien dapat mempraktekkan teknik distraksi. E DENGAN POST OP LAPARATOMI EXPLORASI ATAS INDIKASI APENDIKSITIS PERFORASI NO 1 Diagnosa Keperawatan Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan ditandai dengan : DS : -Klien mengeluh nyeri pada daerah luka operasi teriris dan terasa perih. Berikan posisi nyaman sesuai keinginan pasokan O2 kepada jaringan serta meningkatkan supai O2 ke otak. -Klien mengatakan • Berikan obat • Kaji ulang rasa Perencanaan Intervensi Bimbing dan Rasional Meningkatkan Implementasi • Membimbing • • ajarkan klien teknik relaksasi nafas dalam (pursed lips breathing) dan batuk efektif. • Memberikan posisi nyaman sesuai keinginan klien.

• Pemberian nutrisi kembung dan muntah. Tupen : Berat badan klien dapat bertahan dan naik dalam waktu 4 hari dengan kriteria : -BB tidak turun dan dapat meningkat. • Berikan makanan 26 mempercepat proses absorpsi. pemberian nutrisi parenteral. • Menandakan adanya gangguan pada daerah abdomen. • Meningkatkan kerja organ pencernaan. • Melanjutkan Tupan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi dalam 1 minggu. • Memberikan secara bertahap dengan bubur saring. (Analgetik) metabolik dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/lokal. . DO : -Klien hanya menghabiskan nyeri berkurang. • Lanjutkan perenteral mempercepat proses absorbsi makanan dalam tubuh. pemberian nutrisi parenteral. • Monitor bising • Memonitor usus dan flatus setiap bising usus dan flatus setiap jam. yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan. -Klien mengatakan mual berkurang atau hilang. Monitor adanya peristaltik usus dapat menyebabkan adanya muntah dan kembung. ditandai dengan : DS : Klien mengatakan jika ia makan perutnya terasa mual dan terasa tegang.-Skala nyeri 3 (skala 15) -HR : 98x/menit -Terdapat luka operasi pada abdomen bawah + 15 cm 2 Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rangasangan pada refleks vomiting center di hipotalamus. -Porsi makan • jam. • Penurunan • Melakukan monitor adanya kembung dan muntah.

terapi sesuai indikasi. • Kolaborasi • Menurunkan • Memberikan mual/muntah. diit TKTP. Tupan : ADL terpenuhi dalam waktu 1 minggu. -Bising usus (+) 8x/menit -Klien terkadang muntah bila selesai makan.makanannya ¼ porsi -Jenis makanan klien bubur saring/bubur sumsum -Perut klien terasa tegang -Refleks menelan baik. • Memberikan • Berikan latihan dilakukan bertahap dapat bersifat tepat dan efektif. klien tetap terpenuhi. Tupen : Klien dapat memenuhi kebutuhan seharihari. 3 -BB : 23 kg Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari menurun ditandai dengan: DS : -Klien mengatakan nyeri bertambah bila meningkat ½ porsi. • Libatkan keluarga dalam memenuhi 27 . • Bantu klien • Menjaga ADL • Membantu klien memenuhi kebutuhan aktivitasnya. • Melibatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan mobilisasi secara bertahap. pemberian terapi antiemetik. • Dapat memandirikan keluarga dalam perawatan klien di latihan mobilisasi secara bertahap. -Intake output stabil. • Mobilisasi yang memenuhi kebutuhan aktivitasnya.

klien merubah posisinya. • Berikan rumah. 4 Gangguan pemenuhan Tupan : • Ciptakan 28 • Stimulus • Menjaga . kesempatan klien untuk memenuhi kebutuhannya. -Massa otot isotoni -Kekuatan otot 5 5 4 4 kebutuhan aktivitas klien. pengajaran pada klien bagaimana pemenuhan ADL secara mandiri. • Memberikan aktivitas klien. -Tidak ada kekuan sendi. • Memberikan kesempatan klien untuk memenuhi kebutuhannya aktivitasnya. -Klien mengatakan takut ada apa-apa apabila ia merubah posisinya. DO : -Klien tampak meringis bila ia merubah posisinya. -Klien mengatakan sehari-hari ia hanya di tempat tidur.

• Memberikan kesempatan kepada klien untuk melaksanakan REM dan non REM secara bertahap tanpa gangguan. Memberikan rasa tenang dan aman bagi lingkungan yang tenang dan nyaman untuk tidur. • Anjurkan klien pada keluarga untuk mendampingi klien saat tidur. • Memberikan program therapi dan perawatan sebelum waktu istirahat. • klien. susu hangat membuat RAS non aktif sebagai akibat kerja triptopan dalam protein dan susu. • Menganjurkan klien untuk tidak untuk tidak melakukan aktifitas sebelum tidur dan anjurkan klien untuk minum susu hangat. -Klien mengatakan ia sering terbangun tengah malam karena nyeri. • Aktivitas sebelum tidur akan menstimulasi kerja otak untuk tetap terjaga. • Menganjurkan untuk menemani klien saat menjelang tidur.istirahat : tidur berhubungan dengan rangsangan RAS (Reticulo Activity System) ditandai dengan : DS : -Klien mengatakan tidurnya kurang nyenyak. • Atur program pengobatan dan perawatan sehingga tidak mengganggu tidur klien. -Klien mengetahui cara penanganan gangguan istirahat : tidur. ` 29 melakukan aktifitas menjelang tidur. Tupen : Klien dapat melakukan tindakan untuk memenuhi kebutuhan istirahat tidur selama 2 hari dengan kriteria : -Klien mengatakan nyeri berkurang saat menjelang tidur. lingkungan yang tenang dan nyaman untuk tidur. • Anjurkan keluarga lingkungan yang besar akan membuat RAS tetap terjaga. DO : -Klien tampak lemas -Klien tampak mengantuk -Konjungtiva pucat Kebutuhan istirahat tidur terpenuhi selama 4 hari. .

terdapat jaringan baru). serta tanda infeksi sekitar luka. -Terdapat luka Penyebaran infeksi tidak terjadi selama 1 minggu. • Monitor TTV serta yang efektif dan optimal akan mencegah infeksi serta penyebaran infeksi. 30 . • Mengganti laken pakaian serta potong kuku klien.5 Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan akumulasi pus sebagai akibat produksi dari reaksi peradangan ditandai dengan : DS : -Keluarga mengatakan feces yang keluar pada kolostomi kadang merembes pada balutan luka laparatomi. pakaian. serta kuku klien yang panjang dapat menjadi perantara mikroorganisme patogen. • Memonitor TTV perawatan luka dengan teknik aseptik dan antiseptik. • TTV yang tidak stabil menandakan adanya reaksi tubuh untuk proteksi terhadap peradangan. dan pakaian serta potong kuku klien. DO : -Terdapat luka operasi laparatomi explorasi + 15 cm dengan posisi horizontal di bawah umbilicus. • Melakukan • Lakukan • Perawatan luka perawatan luka dengan teknik aseptik dan antiseptik. Tupen : Infeksi dapat ditanggulangi selama 5 hari dengan kriteria : -Keadaan luka baik (kering. • Ganti laken dan • Laken. tanda infeksi sekitar luka.

kemerahan dan tampak ada pus.kolostomi dan ileostomi dengan diameter + 7 cm pada abdomen kuadran bawah. -Luka dalam keadaan basah.600/mm3 31 . -Stoma tampak kemerahan -Feces dari stoma kadang-kadang merembes ke balutan laparatomi. -Suhu 370C -Leukosit 18. -Keadaan luka terpasang Agraf sebanyak 20 buah. -Operasi yang sekarang merupakan operasi yang kedua.

dan kekuatan kepribadian dapat membantu dalam perkembangan kemampuan koping. -Keluarga mengatakan tidak mengetahui keadaan penyakit klien. dengan kriteria : -Keluarga dapat mengerti tindakan yang dilakukan pada klien. • Kaji tingkat cemas. ditandai dengan : DS : -Keluarga sering menanyakan keadaan klien. -Keluarga merasa tenang terhadap perawatan yang diberikan pada klien. Tupen : Keluarga mengerti tindakan yang dilakukan pada klien. • Kaji tingkat • Kebiasaan • Mengkaji tingkat penggunaan mekanisme koping. ekspresi verbal perasaan tentang prognosa dan pengaruh pada gaya hidup. • Sistem pendukung kepribadian. klien mengontrol lingkungan. • Rentang cemas • Mengkaji tingkat ekspresi verbal perasaan tentang prognosa dan pengaruh pada gaya hidup. dari sedang keberat. .6 Gangguan rasa aman : cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit klien. kemampuan menjelaskan masalah. DO : -Keluarga tampak cemas Tupan : Rasa cemas tidak dirasakan oleh keluarga dalam waktu 1 minggu. kemampuan menjelaskan masalah. dan kemungkinan penyembuhan klien. pemecahan masalah diperlukan untuk koping dengan penyakit penggunaan mekanisme koping. cemas. • Kaji kepribadian. tingkat cemas akan tinggi akan gatal beradaptasi kebiasan dan kemampuan koping. sumber untuk koping dengan stress dan kecemasan. • Mengkaji sumber untuk koping dengan stress dan kecemasan. • tidak Memberikan • Berikan informasi • Berikan dukungan informasi penerimaan menyesuaikan/memutus kan sikap tanpa penerimaan tidak menyesuaikan/memutusk an sikap tanpa perasaan 32 emosional ketika mengungkapkan.

lingkungan yang mencegah kecemasan.kecewa. perasaan kecewa. ketidak sadaran atau marah. • Memberikan dan meningkatkan istirahat dan ketenagaan. • Mengurangi cemas teknik relaksasi seperti penyimpangan lingkungan. meningkatkan pemahanan ssakit dan petunjuk untuk diikuti prognosa penyakit dan pengaruhnya perubahan gaya hidup mengontrol gejala dengan pengobatan dan keluhan obat berpantang. situasi kemajemukan. ketidak sadaran atau marah. 33 . musik. • Ciptakan • Penurunan • Menciptakan lingkungan yang mencegah kecemasan. situasi kemajemukan. kegiatan relaksasi otot. • Menganjurkan relaksasi seperti penyimpangan lingkungan. • Berikan informasi informasi prognosa • Dapat penyakit dan pengaruhnya perubahan gaya hidup mengontrol gejala dengan pengobatan dan keluhan obat berpantang. kegiatan relaksasi otot. • Anjurkan teknik kecemasan dengan menghindari rangsangan tambahan.

-Berikan makanan secara bertahap. O: -Keadaan luka basah. -Klien meringis saat dilakukan perawatan luka -Skala nyeri 3 (skala 1-5) A: Masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi yang belum tercapai. S: Klien mengatakan sudah dapat miring kiri-miring 34 II 28-5-04 III 28-5-04 .CATATAN PERKEMBANGAN NO. A: Masalah sebagian teratasi. O: -Porsi makan habis ¼ porsi -Klien tidak muntah setelah selesai makan. I: -Kaji ulang skala nyeri -Berikan obat sesuai indikasi. P: Lanjutkan intervensi yang belum tercapai I: -Lanjutkan pemberian nutrisi parenteral. -Lakukan perawatan luka S: Klien mengatakan masih merasa mual dan tidak nafsu makan.DP TANGGAL EVALUASI I 28-5-04 S: Klien mengatakan masih terasa nyeri jika dilakukan perawatan luka operasi.

pus (-). A: Masalah sebagian teratasi. adanya kemerahan pada sekitar luka. A: V 28-5-04 Masalah teratasi. O: Keadaan luka basah. P: 35 . O: -Klien tampak dalam posisi setengah duduk. -Berikan kesempatan klien untuk memenuhi kebutuhan IV 28-5-04 aktivitasnya. S: Keluarga mengatakan cairan dari stoma kadang merembes pada luka laparatomi. A: Masalah sebagian teratasi. -Klien terlihat lebih segar. -Klien tampak meringis saat berubah posisi. O: -Klien tampak tertidur pada sore hari.kanan dan duduk. -Klien dapat/mau makan sendiri. S: -Klien mengatakan dapat tidur pada malam hari -Klien mengatakan masih terasa sekit pada luka operasi. P: Lanjutkan intervensi yang belum tercapai I: -Berikan latihan mobilisasi secara bertahap.

O: Keluarga tampak menerima tindakan yang dilakukan pada klien. II 29-5-04 S: Klien mengatakan tidak nafsu makan karena merasa kenyang. -Berikan therapi sesuai indikasi. VI 28-5-04 -Monitor TTV serta tanda-tanda infeksi pada luka S: Keluarga mengerti tindakan yang dilakukan pada klien. I: -Lakukan perawatan luka extra pagi-petang. -Klien meringis dan menangis saat dilakukan perawatan luka -Pus (-) A: Masalah sebagian teratasi P: Lanjutkan intervensi yang belum tercapai. S: Klien mengatakan daerah luka op masih terasa nyeri.Lanjutkan intervensi. A: I 29-5-04 Masalah teratasi. O: -Terdapat distensi abdomen. O: -Keadaan luka basah. 36 . I: -Lakukan perawatan luka extra pagi-sore. kemerahan.

S: Keluarga mengatakan cairan dari stoma merembes pada luka laparatomi. 37 . -Berikan therapi sesuai program. I: -Lakukan perawatan luka extra pagi-sore.-Porsi makan habis ½ porsi A: Masalah sebagian teratasi. I: -Berikan diit TKTP secara bertahap. P: Lanjutkan intervensi. adanya kemerahan pada sekitar luka. -Monitor TTV. tanda-tanda peradangan sistemik. pus (-). P: Lanjutkan intervensi. V 31-5-04 -Lanjutkan pemberian nutrisi parenteral. O: Keadaan luka op basah. A: Masalah sebagian teratasi.

Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rangasangan pada refleks vomiting center di hipotalamus. 4. Gangguan pemenuhan istirahat : tidur berhubungan dengan rangsangan RAS (Reticulo Activity System). 6. Dilakukan untuk menurunkan resiko terjadinya perforasi laparatomi explorasi atas indikasi apendiksitis perforasi. 2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan. 5. Gangguan rasa aman : cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit klien. Pada kasus apendiksitis pembedahan dapat diindikasikan bila diagnosa telah ditegakkan. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari menurun. 38 . atau akibat terpuntirnya apendix atau pembuluhnya. Dimana ditemukan diagnosa keperawatan : 1. 3. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan akumulasi pus sebagai akibat produksi dari reaksi peradangan.BAB IV PENUTUP Kesimpulan : Apendiksitis adalah peradangan apendix yang relatif sering dijumpai yang dapat timbul tanpa sebab yang jelas atau timbul setelah obstruksi apendix oleh tinja.

Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : 2002. Jakarta : 2000. 2. Penerbit EGC. Elizabeth J. Penerbit EGC. Marilynn. Suddarth Brunner. Patofisiologi. Doengoes. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : 1999. 39 . Corwin.DAFTAR PUSTAKA 1. 3. Penerbit EGC.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful