S TANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK (SAK ETAP) ; TANTANGAN DAN KEBUTUHAN BAGI UMKM LATAR

BELAKANG Informasi menjadi satu komoditas yang memegang peranan yang sangat penting. Dapat dikatakan bahwa salah satu faktor yang menentukan perkembangan perekonomian adalah tersedianya arus informasi yang lancar dan mudah didapatkan. Tidak terkecuali bagi para pelaku bisnis, informasi menjai dasar pedoman bagi mereka untuk mengambil keputusan, baik untuk kepentingan internal maupun eksternal perusahaan. Laporan keuangan adalah informasi yang berguna bagi pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan atau yang biasa disebut stakeholder. Informasi akuntansi sangat bermanfaat bagi UKM, karena merupakan alat yang digunakan oleh pengguna informasi untuk pengambilan keputusan, (Nicholls dan Holmes, 1988). Informasi akuntansi dapat digunakan untuk mengukur dan mengkomunikasikan informasi keuangan perusahaan yang sangat diperlukan oleh pihak manajemen dalam merumuskan berbagai keputusan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi. Selain itu informasi akuntansi juga berguna dalam rangka menyusun berbagai proyeksi, misalnya proyeksi kebutuhan uang kas di masa yang akan datang, mengontrol biaya, mengukur dan meningkatkan produktivitas dan memberikan dukungan terhadap proses produksi (Johnson & Kaplan, 1987). Gordon dan Miller dalam Gudono (2007), berpendapat bahwa i nformasi akuntansi merupakan salah satu alat yang digunakan manajemen untuk membantu menghadapi persaingan bisnis. Informasi akuntansi menghasilkan informasi yang relevan dan tepat waktu untuk perencanaan, pengendalian, pembuatan keputusan dan evaluasi kinerja. Informasi akuntansi memungkinkan manajemen untuk mengimplementasikan strategi dan melakukan aktivitas operasional yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi secara keseluruhan. Idrus (2000), menyatakan bahwa para pengusaha kecil tidak memiliki pengetahuan akuntansi, dan banyak diantara mereka yang belum memahami pentingnya pencatatan dan pembukuan bagi kelangsungan usaha. Pengusaha kecil memandang bahwa proses akuntansi tidak terlalu penting untuk diterapkan. Berbagai penelitian seputar penggunaan informasi akuntansi pada UKM yaitu; Philip (1977) dalam Hadiyahfiriyah, (2006), mengungkapkan banyak kelemahan dalam praktik

Yahya dan Haron dalam Murniati (2002) meneliti hubungan pengetahuan akuntansi dan kepribadian wirausaha terhadap penggunaan informasi akuntansi. Sementara Holmes dan Nicholls (1988). Karena. antara lain disebabkan rendahnya pendidikan. Grace. meneliti tentang faktor yang mempengaruhi penggunaan informasi akuntansi pada perusahaan kecil yang dilakukan di Australia pada 928 perusahaan kecil. skala usaha. sector industri dan umur perusahaan berpengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi pada UKM. skala usaha. laporan arus kas.1 (SFAC 1) . yang meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan informasi akuntansi pada perusahaan kecil. khususnya akuntansi keuangan pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia masih rendah dan memiliki banyak kelemahan (Wahdini. umur perusahaan dan skala usaha berpengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi. Laporan keuangan yang terdiri atas neraca. kurangnya pemahaman terhadap Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dari manajer pemilik dan karena tidak adanya peraturan yang mewajibkan penyusunan laporan keuangan bagi UMKM. Suhairi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan akuntansi seorang wirausaha mempunyai pengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan antara lain. laporan perubahan ekuitas dan ditambahkan catatan atas laporan keuangan sebagai bagian yang tidak dipisahkan dari masing-masing laporan keuangan itu sendiri dianggap terlalu sulit diterapkan bagi UMKM. Praktek akuntansi. menemukan bahwa pendidikan manajer. laporan laba rugi. antara lain pendidikan dan overload standar akuntansi. Kelemahan itu. pendidikan manajer/pemilik. pelatihan akuntansi. Temuan ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Wichman (1984) yang menyatakan bahwa terjadinya permasalahan dalam penerapan akuntansi karena kurangnya pengetahuan pemilik atau manajer perusahaan tentang akuntansi. Hal ini juga membuktikan bahwa perusahaan kecil di Indonesia cenderung untuk memilih normal perhitungan (tanpa menyusun laporan keuangan) sebagai dasar perhitungan pajak. (2006). biaya yang dikeluarkan untuk menyusun laporan keuangan jauh lebih besar daripada kelebihan pajak yang harus dibayar.akuntansi pada UKM disebabkan beberapa faktor. Di Indonesia kajian tentang penggunaan informasi akuntansi pada usaha kecil relatif belum banyak di lakukan. (2003) dan Hadiyah Fitriyah. masa memimpin dan umur perusahaan berpengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi pada UMKM. 2006). Padahal menurut Statement of Financial Accounting Concepts No. masa memimpin. menemukan bahwa pendidikan manajer. Murniati (2002) menemukan bahwa Masa memimpin perusahaan.

Pada awalnya. namun mereka juga mengizinkan kepada UMKM untuk mengikuti standar akuntansi yang berlaku di . International Accounting Standards Board (IASB) sebagai suatu lembaga yang memiliki wewenang untuk mengembangkan dan menyusun standar akuntansi yang diperuntukkan bagi UMKM. dimana standar tersebut menjadi pedoman atas penyusunan laporan keuangan yang diterima dan diaplikasikan secara umum serta kewajiban dan tanggung jawab pihak manajemen untuk melaporkannya pihak±pihak yang terkait. kreditor dan pengguna laporan keuangan lainnya untuk memprediksi jumlah. bunga. diciptakan suatu standar dan prosedur yang disebut Generally Accepted Accounting Standard (GAAP). telah ditetapkan dan diidentifikasi dari tujuan pelaporan akuntansi keuangan itu sendiri bahwa laporan keungan harus memuat informasi-informasi : 1. Sehingga akan menjadi hal yang mustahil untuk mempersiapkan laporan keuangan yang dapat diperbandingkan. penarikan.pars. 2002). 5-8 dijelaskan bahwa dalam usahanya untuk menetapkan fondasi dari pelaporan akuntansi keuangan. Membantu investor. Membantu para investor. Menggambarkan secara jelas sumber daya ekonomi yang memiliki entitas bisnis dan klaim atas entitas bisnis tersebut (kewajiban perusahaan untuk mentransfer sumber daya kepada entitas lainnya dan pemilik modal). 3. Laporan-laporan ini diharapkan disajikan secara wajar dan menggambarkan secara jelas kondisi finansial operasional perusahaan. setiap perusahaan dituntut untuk mengembangkan standarnya sendiri. IASB menyadari bahwa di sebagian negara-negara berkembang dimana IFRS telah diterapkan. IASB percaya bahwa IFRS cocok untuk diaplikasikan semua entitas. Oleh karena itu. Tanpa adanya standar-standar ini. yang mengadaptasinya hanya entitas yang memiliki instrumen keuangan atau sekuritas yang diperdagangkan kepada publik. efek atas transaksi atau peristiwa (event) dan keadaan yang dapat mengubah sumber daya tersebut. Untuk memudahkan dalam memahami laporan keuangan. hanya dua atau tiga negara Uni Eropa yang juga menerapkan IFRS untuk UMKM-nya. jatuh tempo yang akan didapat dari instrumen keuangan atau pinjaman. Di Eropa. Kemudian. 2. kreditor. Sebagian besar negara lainnya menyetujui IFRS. proses penjualan. dan ketidakpastian atas potensi arus kas dari dividen. kredit. maka dibutuhkan suatu standar akuntansi. dimana semua perusahaan yang tercatat di bursa sudah mengadaptasi IFRS sejak tahun 2005 (Uni European Decision. atau keputusan-keputusan lain. waktu. dan para pengguna dari laporan keuangan juga dituntut untuk memahami praktek akuntansi dan pelaporannya yang diterapkan oleh perusahaan. dan pengguna laporan keuangan lainnya untuk membuat keputusan investasi.

dimana hal ini menjadi tujuan dari IASB. baik dengan standarnya atau hukum yang berlaku di negara masingmasing maupun peraturan pemerintah. 5. Kenyataan ini tentunya tidak hanya terjadi di Eropa saja. Menghadapi masalah terkait laporan keuangan bagi UMKM. UMKM merupakan sektor yang dianggap berisiko tinggi (high risk) dan memiliki keuntungan yang kecil (low profit). Standar nasional yang ada tidak selalu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dari external users dari laporan keuangan. Sebagian besar telah memasukkan dan/atau mengkombinasikan. Standar akuntansi untuk UMKM masing-masing negara tidak dapat diperbandingkan. namun juga dapat terjadi di seluruh dunia. Standar nasional untuk UMKM tidak konsisten dengan kerangka dasar dan standar yang ditetapkan oleh IASB. Kesulitan yang dialami UMKM dalam mendapatkan bantuan kredit beberapa diantaranya adalah adanya prosedur pengajuan yang sulit dan diangggap berbelit-belit seperti adanya persyaratan jaminan (collateral) dan laporan keuangan yang diminta oleh pihak perbankan. 4.negaranya masing-masing. Indonesia sendiri selaku anggota dari IASB telah mengadopsi IFRS for SMEs tersebut. IASB selaku badan yang berwenang dalam pengembangan akuntasi akhirnya mengeluarkan suatu standar akuntansi untuk UMKM yang kemudian dinamakan IFRS For Small Medium Entities (IFRS for SMEs) yang diperkenalkan tahun 2009 kemarin. 2. 3. . Tidak ada konvergensi dan dan keselarasan atau kemiripan dengan IFRS. Standar nasional untuk UMKM di tiap negara tidak memberikan kemudahan untuk transisi kedalam IFRS bagi entitas±entitas yang ingin memasuki pasar modal. jaminan UMKM yang terbatas. Hal-hal yang dilihat oleh IASB atas permasalahan ini mencakup: 1. Dalam perspektif perbankan. namun tidak ada yang melakukannya dengan cara yang sama. Jika hal ini terus berlanjut maka di Eropa sendiri akan muncul beragam standar akuntansi nasional yang ditujukan untuk UMKM. Banyak dari negara-negara tersebut berusaha untuk menyelaraskan standar akuntansi masing-masing dengan IFRS. dan UMKM yang potensial untuk dibiayai sulit didapat. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) melalui Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) telah merancang suatu standar pelaporan keuangan bagi UMKM yang kemudian dinamakan dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada tahun 2009.

dari hasil survei tentang profil UMKM yang dilakukan oleh Bank Indonesia terdapat permasalahan maupun kendala UMKM yang dilihat dari perspektif UMKM itu sendiri maupun dari perbankan. Permasalahan lanjutan (advanced problems) antara lain pengenalan dan penetrasi pasar ekspor yang belum optimal. Dengan pemahaman atas permasalahan di atas. serta kesiapan termasuk strategi yang akan dilakukan dan . antara lain berupa permasalahan modal. Namun disadari bahwa agar kemampuan akses UMKM tersebut dapat diwujudkan diperlukan perencanaan yang komprehensif. prosedur kontrak penjualan serta peraturan yang berlaku di negara tujuan ekspor Permasalahan antara (intermediate problems) yaitu. Permasalahan tersebut manajemen keuangan. pengembangan produk dan akses pemasaran. Dari sisi UMKM beberapa variabel penting yang masih rendah kinerjanya antara lain : a) Kemampuan UMKM untuk mengelola keuangan b) Ketepatan waktu dan jumlah perolehan kredit c) Tenaga kerja yang terampil Sedangkan dari sisi perbankan variabel-variabel UMKM yang berkinerja rendah di antaranya adalah: a) Kemampuan pengelolaan keuangan b) Kapasitas pemasaran c) Keterampilan tenaga kerja d) Kontrol kualitas produksi Pengembangan akses UMKM terhadap sumber-sumber perkreditan formal terutama perbankan merupakan salah satu alternatif untuk memperkokoh basis pembangunan UMKM. sumber daya manusia. permasalahan hukum yang menyangkut hak paten. Sementara itu. kurangnya pemahaman terhadap desain produk yang sesuai dengan karakter pasar. agunan dan kete rbatasan dalam kewirausahaan. bentuk badan hukum yang umumnya non formal. permasalahan dari instansi terkait untuk menyelesaikan masalah dasar agar mampu menghadapi persoalan lanjutan secara lebih baik.ANALISIS DAN SINTESIS Analisis Permasalahan UMKM Permasalahan yang bersifat klasik dan mendasar pada UMKM (basic problems). akan dapat ditengarai berbagai problem UMKM dalam tingkatan yang berbeda sehingga solusi dan penanganannya pun seharusnya berbeda pula.

c) Ketidakpastian ketersedian bahan baku utama dan bahan tambahan (penolong) serta. atau mudah dipengaruhi oleh perubahan perekonomian dunia. 2) Dari aspek pemilikan modal (Capital) sebagian besar UMKM ditandai dengan : a) Kecilnya rata-rata pemilikan aset. 5) Kondisi perekonomian (Condition of economics). Hal ini menyebabkan kesulitan bagi perbankan untuk mengetahui seberapa jauh dan seberapa besar kemampuan membayar dari UMKM.penyediaan sumberdaya. 3) Dari aspek pemilikan agunan (Collateral) yang nyata terlihat adalah rendahnya kemampuan UMKM untuk memberikan agunan. Dalam kondisi yang demikian kalangan perbankan cenderung meningkatkan kehati-hatiannya dalam menyalurkan kredit yang berakibat pada semakin kecilnya peluang pembiayaan untuk kegiatan-kegiatan yang dinilai berisiko tinggi. . beberapa fenomena yang terlihat adalah berkaitan dengan ketiga aspek di atas. b) terbatasnya rata-rata pemilikan modal UMKM serta. baik dikarenakan terbatasnya pemilikan aset berharga dan atau kurangnya legalitas aset yang dimiliki oleh UMKM 4) Dari aspek kemampuan membayar (Capacity of repayment). 6) Dari aspek lingkungan yang perlu diperhatikan antara lain. c) perkembangan dari kedua aspek tersebut sangat rendah. a) Adanya sebagian kebijakan fiskal dan moneter yang belum sepenuhnya mendukung pemberdayaan UMKM atau pengembangan produksi UMKM. d) Peralatan dan teknologi produksi yang digunakan sangat sederhana sampai dengan setengah modern. karena rendahnya saving akibat kecilnya laba bersih yang diperoleh. kondisi perekonomian nasional selama dekade tahun 2000-an ini diindikasikan dari ketidakpastian akibat perubahanperubahan perekonomian dunia yang adakalanya bersifat ekstrem seperti kemungkinan naiknya harga BBM. sehingga produktifitasnya relatif rendah. b) Rendahnya kualitas SDM terutama dilihat dari kemampuan manajemen modern. tarif dasar listrik dan lain-lain. Sebagaimana diketahui bahwa kelemahan UMKM masih sangat banyak antara lain : 1) Dari aspek karakter (Character) UMKM ditandai dengan : a) Belum baiknya sistem administrasi usaha terutama sistem administrasi keuangan. yaitu UMKM pada umumnya merupakan perusahaan keluarga yang cenderung belum memisahkan administrasi keuangan keluarga dengan keuangan perusahaan.

Hal ini membentuk paradigma bagi pelaku UMKM untuk tidak . d) Adanya kebijakan dari Pemerintah Daerah yang kurang sesuai dengan kepentingan pemberdayaan UMKM Analisis Penyebab Rendahnya Praktek Akuntansi oleh UMKM Dari berbagai permasalahan diatas dapat dilihat berbagai macam penyebab rendahnya pelaksanaan praktek akuntansi oleh UMKM di Indonesia a) Rendahnya pendidikan Salah satu aspek yang paling mendasar sehingga praktek akuntansi oleh UMKM begitu rendah yaitu kebanyakan para pelaku UMKM memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Sehingga permodalannya pun mayoritas dari modal pribadi pelaku UMKM. Isi dari standar akuntansi keuangan dinilai terlalu kompleks (overload) dan tidak relevan bagi UMKM. dibutuhkan suatu standar akuntansi keuangan yang lebih sederhana dan lebih relevan bagi keuangan UMKM. Para pelaku UMKM dituntut untuk mampu bekerja secara professional.b) Kurangnya kelembagaan yang mendukung pengembangan keahlian. Oleh karena itu. Hal ini akan mengakibatkan campur aduk kepentingan dalam pengelolaan keuangan perusahaan. Karena mayoritas pelaku UMKM memiliki peran ganda sebagai pemilik dan pengelola usahanya. pasar dan informasi bagi UMKM. b) Kurangnya pemahaman terhadap standar akuntansi Standar akuntansi mengatur cara penyusunan suatu laporan keuangan yang berterima umum. Namun. Tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara adminstrasi dan operasional akan mempengaruhi keberlangsungan usaha perusahaan. teknologi. perencanaan keuangan UMKM akan lebih jelas dan dapat dikendalikan.standar akuntansi keuangan yang ada selama ini sangat sulit diterapkan oleh pelaku UMKM. c) Prasarana tidak selalu tersedia atau tidak sesuai dengan yang diperlukan dalam rangka pengembangan produksi dan pasar UMKM serta. Informasi akuntansi didapatkan dari suatu laporan keuangan. Pendidikan merupakan elemen terpenting dalam membentuk paradigma pelaku UMKM akan pentingnya praktek akuntansi bagi kelangsungan usaha mereka. c) Tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara administrasi dan operasional Kebanyakan pelaku UMKM berperan sebagai pemilik dan pengelola atas usahanya tersebut. d) Sebagian besar permodalannya berasal dari modal pribadi. Dengan adanya laporan keuangan.

Namun. tetapi untuk pengendalian aset. Penyediaan informasi akuntansi bagi usaha kecil juga diperlukan khususnya untuk akses subsidi pemerintah dan akses tambahan modal bagi usaha kecil dari kreditur (Bank). pengendalian. Informasi akuntansi yang bisa didapatkan melalui laporan keuangan sangat penting dilakukan oleh para pelaku UMKM. Akibatnya. mengingat laporan keuangan diperlukan untuk keberlangsungan usaha UMKM maka paradigm tersebut haruslah diubah. Informasi akuntansi memungkinkan manajemen untuk mengimplementasikan strategi dn melakukan aktivitas operasional yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi secara keseluruhan. penetapan harga dan lain-lain. Masih banyak usaha kecil menengah (UKM) yang belum menyelenggarakan pencatatan atas laporan keuangan usahanya. SAK ETAP Sebagai Standar Akuntansi Keuangan Bagi UM KM Melihat kondisi permasalahan yang dihadapi UMKM tersebut. pembuatan keputusan dan evaluasi kinerja perusahaan. sehingga mereka tidak merasa perlu untuk membuat suatu laporan keuangan. termasuk bagi usaha kecil (Magginson et al. Karena akan banyak sekali manfaat yang diperoleh dari ketersediaan laporan keuangan yang dapat menjadikan UMKM tidak hanya menjadi Usaha Kecil dan Menengah terus tetapi diproyeksikan menjadi suatu usaha yang lebih besar dan professional. Hal ini jelas berbanding terbalik dengan manfaat yang diperoleh pelaku UMKM. Perlunya penyusunan laporan keuangan bagi UKM sebenarnya bukan hanya untuk kemudahan memperoleh kredit dari kreditur. Untuk menyusun suatu laporan keuangan yang memenuhi standar yang berlaku membutuhkan cost yang tidak sedikit. kewajiban dan modal serta perencanaan pendapatan dan efisiensi biaya-biaya yang terjadi yang pada akhirnya sebagai alat untuk pengambilan keputusan perusahaan. mereka memang sulit mendapatkan kredit.memerlukan informasi akuntansi. antara lain keputusan pengembangan pasar. Informasi akuntansi dapat menjadi dasar yang andal bagi pengambilan keputusan ekonomis dalam pengelolaan usaha kecil.. Informasi akuntansi menghasilkan informasi yang relevan dan tepat waktu untuk perencanaan. 2000). Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mengeluarkan suatu standar akuntansi keuangan yang diberi nama Standar . e) Perbandingan cost and benefit (beban dan manfaat) Salah satu yang mengakibatkan kurangnya praktek akuntansi oleh UMKM yaitu karena perbandingan cost dan benefit. Karena mereka tidak perlu informasi tersebut hanya mereka. Pentingnya Standar Akuntansi Keuangan Bagi UMKM Informasi akuntansi mempunyai peranan penting untuk mencapai keberhasilan usaha.

Untuk menciptakan UMKM yang memiliki kapasitas dalam persaingan global. UMKM harus memiliki suatu kompetensi tersendiri. SIMPULAN Berdasarkan data dan pembahasan diatas yang telah dilakukan dapatlah diketahui bahwa untuk membangun ekonomi Indonesia yang berbasis UMKM. hadirnya SAK ETAP tetap menjadi suatu pengharapan bagi UMKM agar mampu melakukan pencatatan dan pelaporan akuntansi dalam menjalankan usahanya. Dengan adanya SAK ETAP. UMKM akan menunjukkan kapasitas . berkualitas. Ketersediaan akan informasi akuntansi merupakan salah satu penunjangnya. Informasi akuntansi didapatkan dari laporan keuangan yang disusun oleh pelaku UMKM. disamping memudahkan UMKM untuk mengakses permodalan dari lembaga keuangan formil juga dapat menjadi sebagai pengukur kinerja serta evaluasi terhadap pencapaian perusahaan. SAK ETAP ini digadang-gadang akan menjadi suatu pedoman pelaporan keuangan bagi UMKM. SAK ETAP ini berbeda dengan PSAK yang dikeluarkan IAI selama ini. UMKM harus menjadi suatu entitas profesional baik itu dari segi kualitas manajemen maupun kualitas produknya. PSAK yang mengadopsi IFRS sebagai acuan penyusunannya. Maka sepatutnya pula lah UMKM sebagai pelaku dari penggerak ekonomi wajib diberdayakan. dan professional guna menghadapi persaingan dalam krisis global. Munculnya SAK ETAP sebagai standar akuntansi keuangan bagi UMKM diharapkan mampu membantu UMKM sebagai infrastruktur dalam keberlangsungan usahanya. Karena untuk mengembangkan usahanya menjadi lebih sukses dan besar. UMKM harus merubah paradigma terhadap pentingnya informasi akuntansi yang awalnya hanya sebagai formalitas unntuk mendapatkan modal/kredit dari lembaga keuangan menjadi kebutuhan bagi UMKM untuk keberlangsungan usahanya (going concern).Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP).akan diperuntukkan untuk entitas usaha besar. Dengan adanya laporan keuangan. Sebenarnya SAK ETAP ini pun merupakan hasil adopsi IAI terhadap IFRS For SMEs yang dikeluarkan oleh IASB yang diperuntukkan untuk entitas bisnis kecil dan menengah. Sehingga mampu bersaing dan bertahan ditengah krisis global dan persaingan dengan negaranegara lain. apakah SAK ETAP ini merupakan suatu kebutuhan bagi UMKM? Apakah SAK ETAP tidak overload bagi masyarakat UMKM? Walaupun begitu. UMKM dituntut mampu mengimplementasikan SAK ETAP sebagai pedoman dalam melakukan praktek akuntansinya. Namun pertanyaan kemudian. menengah maupun kecil yang telah terdaftar di pasar modal.

berkualitas dan profesional. berkompeten. .terhadap perekonomian Indonesia yang tidak hanya sebagai usaha tradisional melainkan berubah menjadi usaha yang mapan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful