# ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL TURUNAN FUNGSI PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA

(Suatu Penelitian di Kelas XI IPA MAN Model Gorontalo)

JURNAL PENELITIAN

Oleh

NELY MACHMUD NIM: 703608024

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO 2010
1

Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Dalam Menyelesaikan Soal-Soal Turunan Fungsi Pada Pembelajaran Matematika Di MAN Model Gorontalo Tahun 2010 Nely Machmud
ABSTRACT : This study serves to illustrate problem-solving abilities of students of grade XI science in MAN Model Gorontalo in the material derivative of the function in learning mathematics. Beside the picture is also made to the students' problem-solving skills class XI IPA MAN Model Gorontalo which is seen from the junior high school and MTS. Preview of the ability of the results is also supported by factors that affect the ability of solving math problems on the material derivative of a function in learning mathematics. Qualitative research was conducted in MAN Model Gorontalo in the second semester for academic year 2009-1010, with the case study. Data of this research were collected from tests and interviews. Problem-solving abilities captured includes four indicators they are problem solving abilities to understand problems, develop plans, implement plans and re-examine the results have been obtained. Results of data analysis indicated that problem-solving abilities of students of grade XI IPA MAN Model Gorontalo overall were low. This is showed by percentage, it was 60.42% for students who have the ability to understand the problems; it was 30.83% for students who able to plan ; for the ability to execute the plan is 26.25%, while 17.08% of students who are capable of re-examine the results have been obtained. This result was also followed by problem-solving abilities of school students who reviewed the origin of MTs and junior high school. Both groups also showed lower results in every indicator of problemsolving. However, when compared to both groups, problem-solving abilities of a group of students from junior high school students' abilities better than that derived from the MTs. There are several factors that affect students' problem-solving ability in the material derivative of the function in learning mathematics. These factors include a lack of mastery of students on the basic concepts of mathematics, a lack of mastery of students in the concept of derivative of the function itself and its not systematic steps in working on the settlement in derivative functions. Kata-kata kunci : kemampuan, pemecahan masalah, turunan fungsi. Pendahuluan Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendasar bagi setiap orang di belahan bumi manapun. Demikian pentingnya sektor pendidikan tersebut, maka dunia pendidikan perlu melakukan berbagai terobosan yang kelak diharapkan dapat melahirkan manusia yang memiliki sejumlah kompetensi dan sumber daya yang
2

3

4

mata pelajaran matematika khususnya turunan fungsi sekaligus memudahkan untuk melakukan solusi atau pemecahan terhadap berbagai permasalahan kemampuan belajar siswa. Fokus Penelitian Peneliti ingin mengetahui bagaimana kemampuan pemecahan masalah siswa kelas XI IPA MAN Model Gorontalo tersebut ditinjau dari sekolah asal mereka. Kemampuan pemecahan masalah siswa tersebut didasarkan pada empat kemampuan yaitu kemampuan memahami masalah, kemampuan menyusun rencana, kemampuan melaksanakan rencana, kemampuan memeriksa kembali hasil yang diperoleh. Kemampuan siswa ini dibedakan atas kemampuan siswa XI IPA MAN Model Gorontalo yang berasal dari sekolah SMP dan MTs. Penelitian ini juga difokuskan pada faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan soal-soal turunan fungsi. Pertanyaan Penelitian Masalah ini akan dirinci dalam bentuk rumusan sebagai berikut : 1. Bagaimanakah kemampuan pemecahan masalah siswa kelas XI IPA MAN Model Gorontalo dalam menyelesaikan soal-soal Turunan Fungsi dalam pembelajaran matematika. 2. Bagaimanakah kemampuan pemecahan masalah siswa asal SMP dalam menyelesaikan masalah dalam menyelesaikan soal-soal Turunan Fungsi dalam pembelajaran matematika. Bagaimanakah kemampuan pemecahan masalah siswa asal MTs dalam menyelesaikan masalah dalam menyelesaikan soal-soal Turunan Fungsi dalam pembelajaran matematika. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan soal-soal Turunan Fungsi dalam pembelajaran matematika.

3.

4.

LANDASAN TEORI 2.1 Hakikat Pembelajaran Matematika Dalam Kamus Bahasa Indonesia matematika di artikan sebagai ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam menyelesaikan masalah mengenai bilangan (KUBI, 1995 : 637). Disamping pengertian tersebut, Suriasumantri (1994 : 190) mengemukakan bahwa matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna, dari pernyataan yang ingin disampaikan.

5

6

7

8

berikut: a) Pemberian informasi, perintah dan pertanyaan oleh guru mestinya hanya sekitar 10 sampai dengan 30 % selebihnya berasal dari siswa; b) Siswa mencari informasi, mencari dan memilih serta menggunakan sumber informasi; c) Siswa mengambil insiatif lebih banyak; d) Siswa mengajukan pertanyaan; e) Siswa berpartisipasi dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran; f) Ada penilaian diri dan ada penilaian sejawat. Kesiapan siswa dalam belajar disiapkan guru selama tahap pendahuluan, baik dengan memberikan motivasi, maupun revisi atas kemungkinan bahan yang telah mereka pelajari namun ada miskonsepsi sebagai apersepsi bagi konsep atau prinsip baru yang akan dipelajari dalam tahap kedua. Tahap pengembangan merupakan tahap utama dalam hal siswa belajar materi baru. Syaban (2010) menuturkan bahwa sikap dan cara berpikir seperti ini dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran matematika karena matematika memiliki struktur dan keterkaitan yang kuat dan jelas antar konsepnya sehingga memungkinkan siapapun yang mempelajarinya terampil berpikir rasional. Pemecahan masalah memerlukan strategi dalam menyelesaikannya. Kebenaran, Penalaran matematis penting untuk mengetahui dan mengerjakan matematika. 2.3 Kemampuan Pemecahan Masalah (Problem Solving) Masalah merupakan suatu konflik, hambatan bagi siswa dalam menyelesaikan tugas belajarnya di kelas. Namun masalah harus diselesaikan agar proses berpikir siswa terus berkembang. Semakin banyak siswa dapat menyelesaikan setiap permasalahan matematika,maka siswa akan kaya akan variasi dalam menyelesaikan soal-soal matematika dalam bentuk apapun baik yang rutin maupun yang tidak rutin. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari suatu yang namanya masalah, sehingga pemecahan masalah merupakan fokus utama dalam pembelajaran matematika (Depdiknas, 2007). Sebagian besar ahli pendidikan matematika menyatakan bahwa masalah adalah pertanyaan yang harus dijawab atau direspon siswa (Krismanto, 2003: 5). Tidak semua pertanyaan merupakan suatu masalah. Santyasa (2008: 4) menegaskan bahwa pemecahan masalah dibangun oleh konsep-konsep pemecahan dan pemecahan masalah. Pemecahan masalah (problem solving) adalah upaya individu atau kelompok untuk menemukan jawaban berdasarkan pemahaman yang telah dimiliki sebelumnya dalam rangka memenuhi tuntutan situasi yang tak lumrah (Krulik & Rudnick dalam Santyasa, 2008: 4). Jadi aktivitas pemecahan masalah diawali dengan konfrontasi dan berakhir apabila sebuah jawaban telah diperoleh sesuai dengan kondisi masalah. Polya (1985) mengartikan pemecahan masalah sebagai suatu usaha untuk mencari jalan keluar dari kesulitan guna mencapai tujuan yang tidak begitu mudah untuk dicapai. Sementara Dahar (1989) mengatakan bahwa kegiatan pemecahan masalah itu sendiri merupakan keinginan manusia dalam menerapkan konsep-konsep dan aturanaturan yang diperoleh sebelumnya. National Council of Suvervisor of Mathematics (Branca, 1980) mengatakan bahwa pembelajaran untuk memecahkan masalah adalah alasan prinsip untuk pengajaran matematika.

9

Branca (dalam Saptuju, 2005: 34) mengungkapkan tiga interprestasi umum tentang pemecahan masalah, yaitu: 1) pemecahan masalah sebagai tujuan; 2) pemecahan masalah sebagai proses; dan 3) pemecahan masalah sebagai ketrampilan dasar. Sumarmo (2005: 6) menyebutkan pemecahan masalah matematik mempunyai dua makna yaitu: a) Sebagai suatu pendekatan pembelajaran, yang digunakan untuk menemukan kembali (reinvention) dan memahami materi/konsep/prinsip matematika; b) Sebagai tujuan atau kemampuan yang harus dicapai, yang dirinci dalam indikator: (1) mengidentifikasi kecukupan data untuk pemecahan masalah, (2) membuat model matematik dari suatu situasi atau masalah sehari-hari dan menyelesaikannya, (3) memilih dan menerapkan strategi untuk menyelesaikan masalah matematika dan atau di luar matematika, (4) menjelaskan atau menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan asal, serta memeriksa kebenaran hasil atau jawaban, (5) menerapkan matematika secara bermakna. Menurut Polya (Ruseffendi, 1991) ada empat langkah dalam pemecahan masalah, yaitu : a) memahami masalah yang meliputi; mengetahui semua arti kata yang digunakan dan mengetahui apa yang diketahui dan ditanyakan, b). menyusun strategi pemecahan, yang meliputi; mencari pola/aturan; menyusun prosedur penyelesaian (membuat konjektur), c) melaksanakan strategi yang dipilih dan d) memeriksa kembali prosedur dan hasil penyelesaian yang meliputi; menganalisis dan mengevaluasi prosedur yang digunakan dan apa ada prosedur lain yang lebih efektif. Metodologi Penelitian Latar Penelitian Lokasi yang dijadikan sebagai objek penelitian ini adalah seluruh Siswa Kelas XI IPA MAN Model Gorontalo. Penelitian ini dilakukan selama + tiga bulan, melalui tahapan; 1) studi pendahuluan; 2) pengumpulan data; 3) analisis data; dan 4) penulisan hasil penelitian. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan studi kasus, pendekatan ini digunakan untuk menelusuri kasus secara mendalam. Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dirumuskan maka jenis penelitian ini bersifat deskriptif. Data dan Sumber Data Data utama dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa menyelesaikan soalsoal turunan fungsi. Siswa yang dijadikan objek penelitian adalah siswa kelas XI IPA MAN Gorontalo. Prosedur Pengumpulan Data Teknik yang dilakukan dalam rangka pengumpulan data dalam penelitian ini diuraikan berikut ini. Tes Wawancara Analisis Data

-

10

Menurut Moleong, (1990: 190) langkah-langkah dalam menganalisis data kualitatif adalah sebagai berikut: 1. Reduksi Data 2. 3. Penyajian Data Penarikan Kesimpulan

Pengecekan Keabsahan Data Pelaksanaan tehnik pemeriksaan didasarkan pada sejumlah kriteria yang digunakan yaitu: derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), ketergantungan (dependibility) dan kepastian (confirmability). Hasil Penelitian Dan Pembahasan Dari hasil penelitian di atas ditemukan beberapa hal tentang kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan soal-soal turunan fungsi. Temuan tersebut diuraikan berikut ini. a) Kemampuan memahami masalah ketidakmampuan memahami masalah siswa dalam penyelesaian soal ditentukan oleh beberapa hal berikut ini.  Kemampuan mengidentifikasi informasi dalam soal
 Unsur yang diketahui dan ditanyakan tidak sesuai dengan informasi yang ada (copying error)

Kemampuan menyusun rencana Kemampuan siswa dalam menyusun rencana dipengaruhi oleh beberapa hal berikut ini  Ketidakmampuan dalam melakukan penyederhanaan    c) Ketidakmampuan dalam membentuk model matematika Ketidakmampuan dalam menguasai konsep turunan fungsi Ketidakmampuan siswa menggunakan konsep-konsep pendukung Kemampuan melaksanakan rencana Permasalahan kemampuan melaksanakan rencana yang teridentifikasi dari analisis lembar jawaban siswa diuraikan berikut ini.  Kesalahan dalam penyusunan rencana 

b)

Rendahnya penguasaan siswa terhadap konsep turunan fungsi Rendahnya penguasaan siswa terhadap konsep matematika dasar dan materi prasyarat

11

d)

Kemampuan memeriksa kembali hasil yang telah diperoleh

Penutup Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data seperti yang telah diuraikan, penelitian ini menyimpulkan bahwa: Pertama, kemampuan pemecahan masalah siswa kelas XI IPA MAN Model Gorontalo masih rendah. Hal ini ditunjukkan oleh prosentase pada masing kemampuan pemecahan masalah yang cukup rendah Kedua, kemampuan pemecahan masalah siswa kelas XI IPA MAN Model Gorontalo yang berasal dari SMP masih rendah. Hal ini ditunjukkan oleh prosentase pada masing kemampuan pemecahan masalah yang cukup rendah. Ketiga, kemampuan pemecahan masalah siswa kelas XI IPA MAN Model Gorontalo yang berasal dari MTs masih rendah. Hal ini ditunjukkan oleh prosentase pada masing kemampuan pemecahan masalah yang cukup rendah. Keempat, faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan pemecahan masalah diantaranya adalah penguasaan terhadap konsep dasar matematika dan materi prasyarat, kurangnya penguasaan siswa terhadap konsep turunan fungsi dan sistematika dalam langkah-langkah penyelesaian. Daftar Pustaka As’ari A.R., 2000, Peningkatan mutu pendidikan Matematika. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Peningkatan kualitas pendidikan Matematika pada Pendidikan Dasar, Malang: UM Malang. Arikunto, Suharsimi. 2008. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara. Bell, Frederick H. (1979) Teaching and Learning Mathematics (In Secondary Schools). Iowa: WM. C. Brown Company Publisher Bloom, Benjamin S. 1982. Human Characterictics and School Learning. New York: McGraw-Hill Book Company. Charless, Randall I & Silver Edward A, 1989, The Teaching and Assessing of Mathematical Problem Solving. The NCTM Inc: Virginia. Dahar, R.W., 1998, Teori-Teori Belajar, Jakarta: Erlangga. Depdiknas, 2003. Pedoman Umum Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Matematika, Jakarta : Depdiknas. Depdiknas, 2007. Garis-garis Besar Program Pengajaran Matematika Kurikulum 1994 SMP, Jakarta: Depdikbud.
12

Depdikbud. 1993. Kurikulum Pendidikan Dasar GBPP Matematika SD. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar Djadisastra, Jusuf, 1985. Metode-Metode Mengajar, Bandung : Tarsito. Djamarah, S.B (2005). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Rinaka Cipta; Jakarta. Fatimah, N. Siti, 2007, Model Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Solving untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis, PPS UPI Bandung: Tidak diterbitkan Hudoyo, Herman, 1988. Mengajar Belajar Matematika, Jakarta : Depdikbud-P2LPTK Hudoyo, Herman, 2003. Pengembangan Kurikulum Dan Pembelajaran Matematika Kontemporer. Malang: IMSTEP.Generatif. UPI: BANDUNG. Disertasi tidak diterbitkan Ikatan Alumni UGM, 2007, Prosiding Seminar Nasional Matematika. Jurusan Pendidikan Matematika UPI KUBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia),1995. Edisi II, Cetakan IV, Jakarta: Balai Pustaka. Kurniati, Lia, 2006, Pembelajaran dengan Pendekatan Pemecahan Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Pemalaran Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis UPI Bandung: tidak diterbitkan. Nyimas Aisyah, 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pengkey, F, S. 1980. Metodologi Pengajaran Matematika, Manado : IKIP. Soedjadi, R. 1995. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Suharsaputra, Uhar. 2004. Pengembangan dan penggunaan Model Pembelajaran Arias dalam meningkatkan Kualitas Pembelajaran. Makalah. Suherman, Herman. 2009. Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi Siswa. Bandung: F.PMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. http://educare.efkinpunla.net. Suryabrata, Sumadi. 1982. Proses Belajar Mengajar di PI, Yogyakarta: Andi Off Set. Sujono, 1988. Pengajaran Matematika Untuk Sekolah Menengah, Jakarta: Direktorat Pendidikan Tinggi. Sriawati, Euis. 2008. Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Kemampuan Pemecahan Masalah Melalui Tekhnik SQ4R dan Peta Konsep Siswa Madrasah Aliyah. Tesis tidak diterbitkan. Sudjana, 1996. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Sumarmo, U. 1994. Suatu Alternatif Pengajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah pada Guru dan Siswa SMA di Kodya Bandung. Laporan Penelitian. IKIP Bandung: Tidak diterbitkan. Sumarmo, U 2005. Pembelajaran Matematika untuk Mendukung Pelaksanaan Kurikulum Tahun 2002. Makalah yang disampaikan pada Seminar Pendidikan Matematika, FPMIPA Universitas Negeri Gorontalo, 7 Agustus. Suriasumantri, J.S., 1994. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Yogyakarta: Pustaka, Sinar Harapan.

13

Wetzel, David R. 2008. Math and Problem Solving Skills. The Article in Homeschooling, 30 Mei. Ads by Google. Wirasto, 1980. Matemátika Modern Sekolah Dasar, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. Winkel, WS, 1984. Psikologi Pendidikan Dan Evaluasi Belajar, Jakarta : Gramedia.

14