ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL TURUNAN FUNGSI PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA

(Suatu Penelitian di Kelas XI IPA MAN Model Gorontalo)

JURNAL PENELITIAN

Oleh

NELY MACHMUD NIM: 703608024

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO 2010
1

Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Dalam Menyelesaikan Soal-Soal Turunan Fungsi Pada Pembelajaran Matematika Di MAN Model Gorontalo Tahun 2010 Nely Machmud
ABSTRACT : This study serves to illustrate problem-solving abilities of students of grade XI science in MAN Model Gorontalo in the material derivative of the function in learning mathematics. Beside the picture is also made to the students' problem-solving skills class XI IPA MAN Model Gorontalo which is seen from the junior high school and MTS. Preview of the ability of the results is also supported by factors that affect the ability of solving math problems on the material derivative of a function in learning mathematics. Qualitative research was conducted in MAN Model Gorontalo in the second semester for academic year 2009-1010, with the case study. Data of this research were collected from tests and interviews. Problem-solving abilities captured includes four indicators they are problem solving abilities to understand problems, develop plans, implement plans and re-examine the results have been obtained. Results of data analysis indicated that problem-solving abilities of students of grade XI IPA MAN Model Gorontalo overall were low. This is showed by percentage, it was 60.42% for students who have the ability to understand the problems; it was 30.83% for students who able to plan ; for the ability to execute the plan is 26.25%, while 17.08% of students who are capable of re-examine the results have been obtained. This result was also followed by problem-solving abilities of school students who reviewed the origin of MTs and junior high school. Both groups also showed lower results in every indicator of problemsolving. However, when compared to both groups, problem-solving abilities of a group of students from junior high school students' abilities better than that derived from the MTs. There are several factors that affect students' problem-solving ability in the material derivative of the function in learning mathematics. These factors include a lack of mastery of students on the basic concepts of mathematics, a lack of mastery of students in the concept of derivative of the function itself and its not systematic steps in working on the settlement in derivative functions. Kata-kata kunci : kemampuan, pemecahan masalah, turunan fungsi. Pendahuluan Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendasar bagi setiap orang di belahan bumi manapun. Demikian pentingnya sektor pendidikan tersebut, maka dunia pendidikan perlu melakukan berbagai terobosan yang kelak diharapkan dapat melahirkan manusia yang memiliki sejumlah kompetensi dan sumber daya yang
2

profesional sesuai dengan bidang tugas masing-masing. Lembaga pendidikan sebagai institusi yang dapat mengembangkan potensi manusia sesuai dengan tujuan pendidikan nasional Departemen Pendidikan Nasional (2003: 8) merumuskan tujuan pendidikan yaitu untuk mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Secara konseptual harapan-harapan tersebut menjadi sebuah kerangka teori yang secara umum sudah dipahami oleh seluruh penyelenggara pendidikan. Akan tetapi, realitas yang terjadi di lapangan jika dilakukan kajian secara langsung pada lokasi-lokasi institusi pendidikan, maka harapan tersebut belum secara keseluruhan dapat teraktualisasikan. Hal ini disebutkan dalam setiap institusi pendidikan belum secara keseluruhan menjadikan siswanya memiliki kemampuan yang lebih baik. Salah satu disiplin ilmu yang diharapkan menjadi landasan kompetensi siswa khususnya pada jenjang pendidikan lanjutan atas adalah bidang ajar matematika. Mata pelajaran matematika termasuk dalam rumpun mata pelajaran dengan tingkat kesulitan yang tinggi sebagaimana yang dirasakan siswa. Oleh karena itu, upaya untuk membelajarkan siswa khususnya bidang ajar matematika pada masing-masing institusi pendidikan selalu menjadi perhatian guru. Perkembangan informasi dan teknologi yang menuntut adanya insan yang memiliki kemampuan dan daya saing yang tinggi menggeser peran matematika pada posisi bukan saja sebagai mata pelajaran hitungan tetapi lebih kompleks mengantarkan matematika pada posisi sebagai mata pelajaran yang mempersiapkan manusia yang siap menghadapi setiap persoalan secara kritis, sistematis, terencana dan logis. Untuk itu pula pola pembelajaran matematika dewasa ini makin berkembang. National Council of Teachers of Matematics atau NCTM (2000) menggariskan, bahwa siswa harus mempelajari matematika melalui pemahaman dan aktif membangun pengetahuan baru dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Untuk mewujudkan hal itu dirumuskan ada lima tujuan umum pembelajaran matematika, yaitu: pertama, belajar untuk berkomunikasi (mathematical communication); kedua, belajar untuk bernalar (mathematical reasoning); ketiga, belajar untuk memecahkan masalah (mathematical problem solving); keempat, belajar untuk mengaitkan ide (mathematical connections); dan kelima, pembentukan sikap positif terhadap matematika (positive attitudes toward mathematics). Semua itu lazim disebut mathematical power (daya matematika). Kecenderungan akan rendahnya kemampuan siswa dalam mata pelajaran matematika bukan hanya kabar burung yang tersebar dalam dunia pendidikan. Banyak data yang diungkapkan tentang rendahnya hasil belajar matematika yang mengindikasikan kemampuan siswa rendah. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan sebelum penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemampuan matematika di MAN Model Gorontalo adalah rendah. Hal ini tergambarkan dari perolehan siswa pada semester ganjil tahun pelajaran 2009-2010 dimana rata-rata nilai kelas X adalah 5,63, rata-rata nilai matematika kelas XI 6,21 dan rata-rata nilai kelas XII adalah 5,27. Hasil ini diikuti juga dengan kenyataan bahwa masih banyak siswa yang sulit dalam menyelesaikan tugas-tugas pembelajarannya khususnya dalam pemecahan masalah matematika dengan topik-topik tertentu. Di sisi lain bahwa bahan ajar matematika antara topik satu dengan yang lainnya saling
3

berkaitan, sehingga kegagalan siswa pada topik tertentu akan sangat mempengaruhi kelanjutan pembelajaran topik berikutnya, sehingga berpengaruh pula pada tercapainya ketuntasan belajar siswa, kondisi ini tentunya harus disikapi oleh guru dengan menentukan pilihan terhadap metode yang akan dikembangkan dalam pembelajaran matematika. Berpijak pada permasalahan tersebut, maka guru merasa perlu untuk berupaya memperbaiki metode pembelajarannya. Salah satunya adalah menggunakan metode penyelesaian masalah. Penggunaan metode tersebut pada topik-topik tertentu misalnya turunan fungsi menjadi sangat tepat apalagi jika dikaitkan dengan model pembelajaran dewasa ini, yang mengharapkan para siswa lebih aktif, maka pemecahan masalah khususnya pada topik turunan fungsi dianggap sangat tepat untuk mengembangkan kompetensi pembelajaran matematika terhadap siswa. Secara konseptual Conney (dalam Hudojo, 2003: 152) menyatakan bahwa mengajar siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah memungkinkan siswa itu menjadi lebih analitis dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan. Mengacu pada pandangan tersebut, maka latihan penyelesaian masalah pada mata pelajaran matematika tidak sekedar sebagai bagian dari pengetahuan konsep pembelajaran matematika, akan tetapi juga dapat berkorelasi dengan penentuan pilihan dan pengambilan keputusan penyelesaian masalah dalam kehidupan sehari-hari. Di MAN Model Gorontalo khususnya pada kelas XI program IPA masih ditemukan kemampuan siswa dalam mengerjakan turunan fungsi masih sangat beragam antara yang tuntas dengan yang belum tuntas. Memperhatikan kondisi tersebut, maka penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan melakukan analisis perbandingan antara kemampuan siswa kelas XI IPA, yang secara khusus membandingkan antara siswa asal SMP dan MTs dalam hal kompetensi atau kemampuannya pada topik turunan fungsi melalui pendekatan penyelesaian masalah. Selain persoalan tentang metode pembelajaran, masalah pembelajaran matematika juga di MAN Model Gorontalo juga dipengaruhi oleh karakteristik siswa MAN Model Gorontalo sendiri yang berasal dari dua jenis sekolah yaitu SMP dan MTs. Pada pembelajaran matematika, siswa kedua jenis sekolah tersebut menunjukkan kemampuan awal yang sama. Hal ini ditunjukkan pada penyelesaian soal-soal yang diberikan maupun diskusi dan tanya jawab yang berlangsung selama pembelajaran. Dengan alasan-alasan ini, peneliti akan mencoba untuk menganalisis kemampuan pemecahan masalah siswa dalam pembelajaran matematika yang secara khusus difokuskan pada materi turunan fungsi. Kemampuan ini pun ditinjau berdasarkan asal sekolah siswa yaitu SMP dan MTs. Identifikasi kemampuan siswa yang dilihat dari sekolah asal baik SMP maupun MTs dimaksudkan sebagai bentuk komparatif antara kemampuan siswa, dimana siswa yang tercatat mengikuti pendidikan di MAN Model Gorontalo tidak saja berasal dari MTs sesuai dengan jenjang pendidikan tetapi juga terdapat siswa asal SMP. Oleh karena itu, untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah pada topik turunan fungsi dianggap perlu untuk melakukan analisis kemampuan dengan pertimbangan latar belakang pendidikan sebelumnya dengan harapan agar dapat menghasilkan kemampuan siswa secara lebih khusus pada
4

mata pelajaran matematika khususnya turunan fungsi sekaligus memudahkan untuk melakukan solusi atau pemecahan terhadap berbagai permasalahan kemampuan belajar siswa. Fokus Penelitian Peneliti ingin mengetahui bagaimana kemampuan pemecahan masalah siswa kelas XI IPA MAN Model Gorontalo tersebut ditinjau dari sekolah asal mereka. Kemampuan pemecahan masalah siswa tersebut didasarkan pada empat kemampuan yaitu kemampuan memahami masalah, kemampuan menyusun rencana, kemampuan melaksanakan rencana, kemampuan memeriksa kembali hasil yang diperoleh. Kemampuan siswa ini dibedakan atas kemampuan siswa XI IPA MAN Model Gorontalo yang berasal dari sekolah SMP dan MTs. Penelitian ini juga difokuskan pada faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan soal-soal turunan fungsi. Pertanyaan Penelitian Masalah ini akan dirinci dalam bentuk rumusan sebagai berikut : 1. Bagaimanakah kemampuan pemecahan masalah siswa kelas XI IPA MAN Model Gorontalo dalam menyelesaikan soal-soal Turunan Fungsi dalam pembelajaran matematika. 2. Bagaimanakah kemampuan pemecahan masalah siswa asal SMP dalam menyelesaikan masalah dalam menyelesaikan soal-soal Turunan Fungsi dalam pembelajaran matematika. Bagaimanakah kemampuan pemecahan masalah siswa asal MTs dalam menyelesaikan masalah dalam menyelesaikan soal-soal Turunan Fungsi dalam pembelajaran matematika. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan soal-soal Turunan Fungsi dalam pembelajaran matematika.

3.

4.

LANDASAN TEORI 2.1 Hakikat Pembelajaran Matematika Dalam Kamus Bahasa Indonesia matematika di artikan sebagai ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam menyelesaikan masalah mengenai bilangan (KUBI, 1995 : 637). Disamping pengertian tersebut, Suriasumantri (1994 : 190) mengemukakan bahwa matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna, dari pernyataan yang ingin disampaikan.

5

Matematika sebagai salah satu disiplin ilmu yang diajarkan di sekolah diharapkan dapat mengembangkan kompetensi atau kemampuan siswa dalam menganalisis setiap permasalahan yang dialaminya kemudian, karena secara umum dapat dideskripsikan bahwa matematika memiliki ciri tersendiri sebagai disiplin ilmu yang tidak mudah untuk diajarkan kepada siswa, sehingga aktivitas pembelajaran yang dikembangkan oleh guru harus sesuai dengan tingkat perkembangan dan keinginan para siswa sebagai objek didik. Suherman (1993:134) mengemukakan bahwa matematika merupakan bagian ilmu pengetahuan yang diberikan untuk dipelajari oleh siswa sekolah formal, yaitu SD, SLTP, dan SLTA. Menurut Soedjadi (1995:1) matematika adalah bagian atau unsur pengetahuan yang dipilih antara lain dengan pertimbangan atau berorentasi pada pendidikan. Menurut Hudoyo (1988 : 2-3), bahwa matematika adalah ilmu yang berkenaan dengan ide-ide atau gagasan-gagasan, struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur secara hierarkis sehingga matematika berkaitan dengan konsep-konsep abstrak dan penalarannya deduktif. Disamping itu, Sujono (1988 : 4) menjelaskan pula bahwa matematika sebagai (a) cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematis; (b) bagian pengetahuan manusia tentang bilangan dan kalkulasi; (c) matematika membantu orang dalam menginterpretasikan secara tepat berbagai ide dan kesimpulan; (d) ilmu pengetahuan tentang penalaran yang logic dan masalah-masalah yang berhubungan dengan bilangan. Menurut Reyt., et al. (1998:4) matematika adalah (1) studi pola dan hubungan study of patterns and relationships dengan demikian masing-masing topik itu akan saling berjalinan satu dengan yang lain yang membentuknya, (2) cara berpikir way of thinking yaitu memberikan strategi untuk mengatur, menganalisis dan mensintesa data atau semua yang ditemui dalam masalah sehari-hari, (3) Suatu seni an art yaitu ditandai dengan adanya urutan dan konsistensi internal, dan (4) sebagai bahasa a language dipergunakan secara hati-hati dan didefinisikan dalam term dan symbol yang akan meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi akan sains, keadaan kehidupan riil, dan matematika itu sendiri, serta (5) sebagai alat a tool yang dipergunakan oleh setiap orang dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Memperhatikan pendapat di atas, maka matematika adalah suatu disiplin ilmu yang berpotensi untuk melatih kemampuan berpikir dalam menganalisis simbol-simbol atau fenomena yang abstrak untuk dikongkritkan secara terstruktur sehingga menjadi landasan dalam pemecahan berbagai permasalahan yang dihadapi. Heinich., et al. (1996:21) mengemukakan “adaptation of media and specially designed mean can contribute enormously to effective instructional …”.Hal tersebut mengandung maksud bahwa media yang sesuai dan dirancang khusus akan dapat memberikan dukungan yang sangat besar terhadap efektifitas pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran matematika juga dimulai dari yang sederhana ke kompleks. Menurut Karso (1993:124) matematika mempelajari tentang pola keteraturan, tentang struktur yang terorganisasikan. Konsep-konsep matematika tersusun secara hirarkis, terstruktur, logis, dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks. Skemp (1971:36) menyatakan bahwa dalam belajar matematika meskipun kita telah membuat semua konsep itu menjadi baru dalam pikiran kita sendiri, kita hanya bisa
6

melakukan semua ini dengan menggunakan konsep yang kita capai sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut dalam matematika terdapat topik atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau konsep selanjutnya. Menurut Chickering dan Gamson (Bonwell dan Eison, 1991:1) dalam belajar aktif siswa harus melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mendengarkan, untuk bisa terlibat aktif para siswa itu harus terlibat dalam tugas yang perlu pemikiran tingkat tinggi seperti tugas analisis, sintesis, dan evaluasi. Secara lebih khusus lagi Wirasto (1980 : 9) mengemukakan a) Penanaman pengertian (concept formation). Anak harus tahu jelas setiap kata yang dipakai; b) Penggunaan logis setiap dalil harus dibuktikan, dengan cara bagaimana dalil itu didapatkannya; c)Kecakapan memecahkan masalah matematika atau problem solving. Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka pembelajaran matematika dengan karakter yang melekat di dalamnya menjadi sumber pengetahuan yang diharapkan dapat mengembangkan potensi wawasan konsep yang secara realitas dapat melatih peserta didik untuk mengembangkan kemampuan analisisnya dalam memecahkan masalah yang dihadapi. 2.2 Kemampuan Siswa dalam Pembelajaran Matematika Kemampuan secara umum diasumsikan sebagai kesanggupan untuk melakukan atau menggerakkan segala potensi yang dimiliki agar dapat memaknai atau menangkap segala peristiwa yang terjadi disekitarnya. Dalam Kamus Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2007: 707) kemampuan didefenisikan sebagai kesanggupan, kecakapan atau kekuatan berusaha. Dengan demikian maka kemampuan yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kemampuan yang berorientasi pada kecakapan seorang siswa dalam melakukan tugas-tugas belajarnya, yang secara khusus sesuai dengan topik kajian ini adalah kemampuan dalam pemecahan masalah fungsi turunan pada mata pelajaran matematika. Mencermati uraian di atas, maka kemampuan yang dimaksudkan adalah kemampuan belajar yang bersifat tetap dalam sejarah kehidupan manusia secara umum dan siswa secara khusus, karena sepanjang kehidupannya selalu mengejar kemampuan menurut bidang dan kemampuan masing-masing. Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Taksonomi Bloom, dikemukakan mengenai teori Bloom (2003 : 11) menyatakan bahwa, tujuan belajar siswa diarahkan untuk mencapai ketiga ranah. Ketiga ranah tersebut adalah ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam proses kegiatan belajar mengajar, maka melalui ketiga ranah ini pula akan terlihat tingkat keberhasilan siswa dalam menerima hasil pembelajaran atau ketercapaian siswa dalam penerimaan pembelajaran. Dalam kaitan dengan kemampuan siswa ini ada beberapa aspek yang perlu dipahami dan diketahui terutama oleh guru sebagaimana yang dikemukakan oleh Winkel (tt.h : 248) yakni : a. Penerimaan adalah kemampuan mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan rangsangsangan itu, seperti buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleg guru.

7

b. Tanggapan yakni kemampuan memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan. c. Pengorganisasian kemampuan memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten. Pengorganisasian juga mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan. Nilai- nilai yang diakui dan diterima ditempatkan pada suatu skala nilai mana yang pokok dan selalu harus diperjuangkan, mana yang tidak begitu penting. Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka kemampuan siswa terhadap materi pelajaran, khususnya pada topik fungsi turunan mata pelajaran matematika, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dalam hal menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan menganalisis dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu masalah dalam pembelajaran matematika yang sering dikeluhkan oleh para guru dan masyarakat adalah rendahnya hasil belajar siswa. Secara teoritis, hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik fakor dari dalam maupun faktor dari luar. Menurut Suryabrata (1982: 27) yang termasuk faktor internal adalah faktor fisiologis dan faktor psikologis(misalnya kecerdasan motivasi berkemampuan dan kemampuan kognitif), sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah faktor lingkungan dan instrumental (misalnya guru, kurikulum dan model pembelajaran). Bloom (1982: 11) mengemukakan tiga faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu kemampuan kognitif, motivasi berkemampuan dan kualitas pembelajaran. Studi Suharsaputra (2004) menyimpulkan banyak guru yang menguasai materi suatu subyek dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Hal itu terjadi menurut Uhar, karena kegiatan belajar mengajar tidak didasarkan pada suatu model pembelajaran tertentu sehingga mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi rendah. Diduga kuat, rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika juga terkait erat dengan persoalan metode ataupun model pembelajaran. Gradler mendefinisikan belajar sebagai “ the process by which humans acquire the range and variety of skills, knowledge, and attitude that set the spesies apart from others”. Sementara D, Sudjana mendefinisikan belajar , “suatu perubahan dalam disposisi atau kecakapan baru peserta didik karena adanya usaha yang dilakukan dengan sengaja dari pihak luar”. Beberapa pengertian di atas meskipun menggunakan formulasi yang berbedabeda, sesungguhnya mempunyai esensi yang sama. Setidaknya terdapat empat hal yang menjadi unsur penyusun definisi belajar, yakni; (1) Adanya perubahan dalam perilaku, ketrampilan, pengetahuan, sikap, dan kemampuan bereaksi. (2) perubahan yang terjadi bersifat relative tetap. (3) Perubahan tersebut bukan karena kematangan atau kondisi sesaat. (4) Perubahan terjadi akibat latihan yang diperkuat dan atau pengalaman. Menurut Sudjana, pengajaran diartikan sebagai proses belajar mengajar yang merupakan interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang dirancang sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Yakni kemampuan yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya (Nana Sudjana: 1996). Menurut As’ari (2000), perilaku pembelajaran matematika yang diharapkan seharusnya adalah sebagai
8

berikut: a) Pemberian informasi, perintah dan pertanyaan oleh guru mestinya hanya sekitar 10 sampai dengan 30 % selebihnya berasal dari siswa; b) Siswa mencari informasi, mencari dan memilih serta menggunakan sumber informasi; c) Siswa mengambil insiatif lebih banyak; d) Siswa mengajukan pertanyaan; e) Siswa berpartisipasi dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran; f) Ada penilaian diri dan ada penilaian sejawat. Kesiapan siswa dalam belajar disiapkan guru selama tahap pendahuluan, baik dengan memberikan motivasi, maupun revisi atas kemungkinan bahan yang telah mereka pelajari namun ada miskonsepsi sebagai apersepsi bagi konsep atau prinsip baru yang akan dipelajari dalam tahap kedua. Tahap pengembangan merupakan tahap utama dalam hal siswa belajar materi baru. Syaban (2010) menuturkan bahwa sikap dan cara berpikir seperti ini dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran matematika karena matematika memiliki struktur dan keterkaitan yang kuat dan jelas antar konsepnya sehingga memungkinkan siapapun yang mempelajarinya terampil berpikir rasional. Pemecahan masalah memerlukan strategi dalam menyelesaikannya. Kebenaran, Penalaran matematis penting untuk mengetahui dan mengerjakan matematika. 2.3 Kemampuan Pemecahan Masalah (Problem Solving) Masalah merupakan suatu konflik, hambatan bagi siswa dalam menyelesaikan tugas belajarnya di kelas. Namun masalah harus diselesaikan agar proses berpikir siswa terus berkembang. Semakin banyak siswa dapat menyelesaikan setiap permasalahan matematika,maka siswa akan kaya akan variasi dalam menyelesaikan soal-soal matematika dalam bentuk apapun baik yang rutin maupun yang tidak rutin. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari suatu yang namanya masalah, sehingga pemecahan masalah merupakan fokus utama dalam pembelajaran matematika (Depdiknas, 2007). Sebagian besar ahli pendidikan matematika menyatakan bahwa masalah adalah pertanyaan yang harus dijawab atau direspon siswa (Krismanto, 2003: 5). Tidak semua pertanyaan merupakan suatu masalah. Santyasa (2008: 4) menegaskan bahwa pemecahan masalah dibangun oleh konsep-konsep pemecahan dan pemecahan masalah. Pemecahan masalah (problem solving) adalah upaya individu atau kelompok untuk menemukan jawaban berdasarkan pemahaman yang telah dimiliki sebelumnya dalam rangka memenuhi tuntutan situasi yang tak lumrah (Krulik & Rudnick dalam Santyasa, 2008: 4). Jadi aktivitas pemecahan masalah diawali dengan konfrontasi dan berakhir apabila sebuah jawaban telah diperoleh sesuai dengan kondisi masalah. Polya (1985) mengartikan pemecahan masalah sebagai suatu usaha untuk mencari jalan keluar dari kesulitan guna mencapai tujuan yang tidak begitu mudah untuk dicapai. Sementara Dahar (1989) mengatakan bahwa kegiatan pemecahan masalah itu sendiri merupakan keinginan manusia dalam menerapkan konsep-konsep dan aturanaturan yang diperoleh sebelumnya. National Council of Suvervisor of Mathematics (Branca, 1980) mengatakan bahwa pembelajaran untuk memecahkan masalah adalah alasan prinsip untuk pengajaran matematika.

9

Branca (dalam Saptuju, 2005: 34) mengungkapkan tiga interprestasi umum tentang pemecahan masalah, yaitu: 1) pemecahan masalah sebagai tujuan; 2) pemecahan masalah sebagai proses; dan 3) pemecahan masalah sebagai ketrampilan dasar. Sumarmo (2005: 6) menyebutkan pemecahan masalah matematik mempunyai dua makna yaitu: a) Sebagai suatu pendekatan pembelajaran, yang digunakan untuk menemukan kembali (reinvention) dan memahami materi/konsep/prinsip matematika; b) Sebagai tujuan atau kemampuan yang harus dicapai, yang dirinci dalam indikator: (1) mengidentifikasi kecukupan data untuk pemecahan masalah, (2) membuat model matematik dari suatu situasi atau masalah sehari-hari dan menyelesaikannya, (3) memilih dan menerapkan strategi untuk menyelesaikan masalah matematika dan atau di luar matematika, (4) menjelaskan atau menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan asal, serta memeriksa kebenaran hasil atau jawaban, (5) menerapkan matematika secara bermakna. Menurut Polya (Ruseffendi, 1991) ada empat langkah dalam pemecahan masalah, yaitu : a) memahami masalah yang meliputi; mengetahui semua arti kata yang digunakan dan mengetahui apa yang diketahui dan ditanyakan, b). menyusun strategi pemecahan, yang meliputi; mencari pola/aturan; menyusun prosedur penyelesaian (membuat konjektur), c) melaksanakan strategi yang dipilih dan d) memeriksa kembali prosedur dan hasil penyelesaian yang meliputi; menganalisis dan mengevaluasi prosedur yang digunakan dan apa ada prosedur lain yang lebih efektif. Metodologi Penelitian Latar Penelitian Lokasi yang dijadikan sebagai objek penelitian ini adalah seluruh Siswa Kelas XI IPA MAN Model Gorontalo. Penelitian ini dilakukan selama + tiga bulan, melalui tahapan; 1) studi pendahuluan; 2) pengumpulan data; 3) analisis data; dan 4) penulisan hasil penelitian. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan studi kasus, pendekatan ini digunakan untuk menelusuri kasus secara mendalam. Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dirumuskan maka jenis penelitian ini bersifat deskriptif. Data dan Sumber Data Data utama dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa menyelesaikan soalsoal turunan fungsi. Siswa yang dijadikan objek penelitian adalah siswa kelas XI IPA MAN Gorontalo. Prosedur Pengumpulan Data Teknik yang dilakukan dalam rangka pengumpulan data dalam penelitian ini diuraikan berikut ini. Tes Wawancara Analisis Data

-

10

Menurut Moleong, (1990: 190) langkah-langkah dalam menganalisis data kualitatif adalah sebagai berikut: 1. Reduksi Data 2. 3. Penyajian Data Penarikan Kesimpulan

Pengecekan Keabsahan Data Pelaksanaan tehnik pemeriksaan didasarkan pada sejumlah kriteria yang digunakan yaitu: derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), ketergantungan (dependibility) dan kepastian (confirmability). Hasil Penelitian Dan Pembahasan Dari hasil penelitian di atas ditemukan beberapa hal tentang kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan soal-soal turunan fungsi. Temuan tersebut diuraikan berikut ini. a) Kemampuan memahami masalah ketidakmampuan memahami masalah siswa dalam penyelesaian soal ditentukan oleh beberapa hal berikut ini.  Kemampuan mengidentifikasi informasi dalam soal
 Unsur yang diketahui dan ditanyakan tidak sesuai dengan informasi yang ada (copying error)

Kemampuan menyusun rencana Kemampuan siswa dalam menyusun rencana dipengaruhi oleh beberapa hal berikut ini  Ketidakmampuan dalam melakukan penyederhanaan    c) Ketidakmampuan dalam membentuk model matematika Ketidakmampuan dalam menguasai konsep turunan fungsi Ketidakmampuan siswa menggunakan konsep-konsep pendukung Kemampuan melaksanakan rencana Permasalahan kemampuan melaksanakan rencana yang teridentifikasi dari analisis lembar jawaban siswa diuraikan berikut ini.  Kesalahan dalam penyusunan rencana 

b)

Rendahnya penguasaan siswa terhadap konsep turunan fungsi Rendahnya penguasaan siswa terhadap konsep matematika dasar dan materi prasyarat

11

d)

Kemampuan memeriksa kembali hasil yang telah diperoleh

Penutup Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data seperti yang telah diuraikan, penelitian ini menyimpulkan bahwa: Pertama, kemampuan pemecahan masalah siswa kelas XI IPA MAN Model Gorontalo masih rendah. Hal ini ditunjukkan oleh prosentase pada masing kemampuan pemecahan masalah yang cukup rendah Kedua, kemampuan pemecahan masalah siswa kelas XI IPA MAN Model Gorontalo yang berasal dari SMP masih rendah. Hal ini ditunjukkan oleh prosentase pada masing kemampuan pemecahan masalah yang cukup rendah. Ketiga, kemampuan pemecahan masalah siswa kelas XI IPA MAN Model Gorontalo yang berasal dari MTs masih rendah. Hal ini ditunjukkan oleh prosentase pada masing kemampuan pemecahan masalah yang cukup rendah. Keempat, faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan pemecahan masalah diantaranya adalah penguasaan terhadap konsep dasar matematika dan materi prasyarat, kurangnya penguasaan siswa terhadap konsep turunan fungsi dan sistematika dalam langkah-langkah penyelesaian. Daftar Pustaka As’ari A.R., 2000, Peningkatan mutu pendidikan Matematika. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Peningkatan kualitas pendidikan Matematika pada Pendidikan Dasar, Malang: UM Malang. Arikunto, Suharsimi. 2008. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara. Bell, Frederick H. (1979) Teaching and Learning Mathematics (In Secondary Schools). Iowa: WM. C. Brown Company Publisher Bloom, Benjamin S. 1982. Human Characterictics and School Learning. New York: McGraw-Hill Book Company. Charless, Randall I & Silver Edward A, 1989, The Teaching and Assessing of Mathematical Problem Solving. The NCTM Inc: Virginia. Dahar, R.W., 1998, Teori-Teori Belajar, Jakarta: Erlangga. Depdiknas, 2003. Pedoman Umum Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Matematika, Jakarta : Depdiknas. Depdiknas, 2007. Garis-garis Besar Program Pengajaran Matematika Kurikulum 1994 SMP, Jakarta: Depdikbud.
12

Depdikbud. 1993. Kurikulum Pendidikan Dasar GBPP Matematika SD. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar Djadisastra, Jusuf, 1985. Metode-Metode Mengajar, Bandung : Tarsito. Djamarah, S.B (2005). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Rinaka Cipta; Jakarta. Fatimah, N. Siti, 2007, Model Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Solving untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis, PPS UPI Bandung: Tidak diterbitkan Hudoyo, Herman, 1988. Mengajar Belajar Matematika, Jakarta : Depdikbud-P2LPTK Hudoyo, Herman, 2003. Pengembangan Kurikulum Dan Pembelajaran Matematika Kontemporer. Malang: IMSTEP.Generatif. UPI: BANDUNG. Disertasi tidak diterbitkan Ikatan Alumni UGM, 2007, Prosiding Seminar Nasional Matematika. Jurusan Pendidikan Matematika UPI KUBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia),1995. Edisi II, Cetakan IV, Jakarta: Balai Pustaka. Kurniati, Lia, 2006, Pembelajaran dengan Pendekatan Pemecahan Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Pemalaran Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis UPI Bandung: tidak diterbitkan. Nyimas Aisyah, 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pengkey, F, S. 1980. Metodologi Pengajaran Matematika, Manado : IKIP. Soedjadi, R. 1995. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Suharsaputra, Uhar. 2004. Pengembangan dan penggunaan Model Pembelajaran Arias dalam meningkatkan Kualitas Pembelajaran. Makalah. Suherman, Herman. 2009. Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi Siswa. Bandung: F.PMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. http://educare.efkinpunla.net. Suryabrata, Sumadi. 1982. Proses Belajar Mengajar di PI, Yogyakarta: Andi Off Set. Sujono, 1988. Pengajaran Matematika Untuk Sekolah Menengah, Jakarta: Direktorat Pendidikan Tinggi. Sriawati, Euis. 2008. Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Kemampuan Pemecahan Masalah Melalui Tekhnik SQ4R dan Peta Konsep Siswa Madrasah Aliyah. Tesis tidak diterbitkan. Sudjana, 1996. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Sumarmo, U. 1994. Suatu Alternatif Pengajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah pada Guru dan Siswa SMA di Kodya Bandung. Laporan Penelitian. IKIP Bandung: Tidak diterbitkan. Sumarmo, U 2005. Pembelajaran Matematika untuk Mendukung Pelaksanaan Kurikulum Tahun 2002. Makalah yang disampaikan pada Seminar Pendidikan Matematika, FPMIPA Universitas Negeri Gorontalo, 7 Agustus. Suriasumantri, J.S., 1994. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Yogyakarta: Pustaka, Sinar Harapan.

13

Wetzel, David R. 2008. Math and Problem Solving Skills. The Article in Homeschooling, 30 Mei. Ads by Google. Wirasto, 1980. Matemátika Modern Sekolah Dasar, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. Winkel, WS, 1984. Psikologi Pendidikan Dan Evaluasi Belajar, Jakarta : Gramedia.

14

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful