Definisi Good Corporate Governance (GCG

)

Sebagai sebuah konsep, GCG ternyata tak memiliki definisi tunggal. Komite Cadburry, misalnya,
pada tahun 1992 - melalui apa yang dikenal dengan sebutan Cadburry Report - mengeluarkan definisi tersendiri tentang GCG. Menurut Komite Cadburry, GCG adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada para shareholders khususnya, dan stakeholders pada umumnya. Tentu saja hal ini dimaksudkan pengaturan kewenangan Direktur, manajer, pemegang saham, dan pihak lain yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu. Center for European Policy Studies (CEPS), punya formula lain. GCG, papar pusat studi ini, merupakan seluruh sistem yang dibentuk mulai dari hak (right), proses, serta pengendalian, baik yang ada di dalam maupun di luar manajemen perusahaan. Sebagai catatan, hak di sini adalah hak seluruh stakeholders, bukan terbatas kepada shareholders saja. Hak adalah berbagai kekuatan yang dimiliki stakeholders secara individual untuk mempengaruhi manajemen. Proses, maksudnya adalah mekanisme dari hak-hak tersebut. Adapun pengendalian merupakan mekanisme yang memungkinkan stakeholders menerima informasi yang diperlukan seputar aneka kegiatan perusahaan. Sejumlah negara juga mempunyai definisi tersendiri tentang GCG. Beberapa negara mendefinisikannya dengan pengertian yang agak mirip walaupun ada sedikit perbedaan istilah. Kelompok negara maju (OECD), umpamanya mendefinisikan GCG sebagai cara -cara manajemen perusahaan bertanggung jawab pada shareholder-nya. Para pengambil keputusan di perusahaan haruslah dapat dipertanggungjawabkan, dan keputusan tersebut mampu memberikan nilai tambah bagi shareholders lainnya. Karena itu fokus utama di sini terkait dengan proses pengambilan keputusan dari perusahaan yang mengandung nilai-nilai transparency, responsibility, accountability, dan tentu saja fairness. Sementara itu, ADB (Asian Development Bank) menjelaskan bahwa GCG mengandung empat nilai utama yaitu: Accountability, Transparency, Predictability dan Participation. Pengertian lain datang dari Finance Committee on Corporate Governance Malaysia. Menurut lembaga tersebut GCG merupakan suatu proses serta struktur yang digunakan untuk mengarahkan sekaligus mengelola bisnis dan urusan perusahaan ke arah peningkatan pertumbuhan bisnis dan akuntabilitas perusahaan. Adapun tujuan akhirnya adalah menaikkan nilai saham dalam jangka panjang tetapi tetap memperhatikan berbagai kepentingan para stakeholder lainnya. Lantas bagaimana dengan definisi GCG di Indonesia? Di tanah air, secara harfiah, governance kerap diterjemahkan sebagai ³pengaturan.´ Adapun dalam kont ks GCG, governance sering juga e disebut ³tata pamong´, atau penadbiran - yang terakhir ini, bagi orang awam masih terdengar janggal di telinga. Maklum, istilah itu berasal dari Melayu. Namun tampaknya secara umum di kalangan pebisnis, istilah GCG diartikan tata kelola perusahaan, meskipun masih rancu dengan terminologi manajemen. Masih diperlukan kajian untuk mencari istilah yang tepat dalam bahasan Indonesia yang benar. Kemudian, ³GCG´ ini didefinisikan sebagai suatu pola hubungan, sistem, dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan (BOD, BOC, RUPS) guna memberikan nilai tambah kepada pemegang saham secara berkesinambungan dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan norma yang berlaku.

Adanya perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham.Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Good Corporate Governance merupakan: 1. Kemudian hak berperan serta dalam pengambilan keputusan mengenai perkembangan strategis dan perubahan mendasar atas perusahaan serta ikut menikmati keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam pertumbuhannya. Dari pengertian di atas pula. Komisaris. Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan. tampak beberapa aspek penting dari GCG yang perlu dipahami beragam kalangan di dunia bisnis. berikut pengukuran kinerjanya. 3. Adanya keseimbangan hubungan antara organ-organ perusahaan di antaranya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). dan direksi. 2. Direksi. serta n. . manajeme pengawasan. Adanya hak-hak pemegang saham untuk mendapat informasi yang tepat dan benar pada waktu yang diperlukan mengenai perusahaan. tanggung jawab pengelola/pengurus perusahaan. pertanggungjawaban kepada para pemegang saham dan stakeholders lainnya. Suatu sistem pengecekan dan perimbangan kewenangan atas pengendalian perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang: pengelolaan yang salah dan penyalahgunaan aset perusahaan. Keseimbangan ini mencakup hal-hal yang berkaitan dengan struktur kelembagaan dan mekanisme operasional ketiga organ perusahaan tersebut (keseimbangan internal) Adanya pemenuhan tanggung jawab perusahaan sebagai entitas bisnis dalam masyarakat kepada seluruh stakeholder. terutama pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing melalui keterbukaan informasi yang material dan relevan serta melarang penyampaian informasi untuk pihak sendiri yang bisa menguntungkan orang dalam (insider information for insider trading). Pemegang Saham dan Para Stakeholder lainnya. Tanggung jawab ini meliputi hal-hal yang terkait dengan pengaturan hubungan antara perusahaan dengan stakeholders (keseimbangan eksternal). pencapaian. Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang peran dewan komisaris. yakni. Di antaranya.

fairness menjadi jiwa untuk memonitor dan menjamin perlakuan yang adil di antara beragam kepentingan dalam perusahaan. Pasalnya. isu yang sering mencuat adalah pertentangan dalam menjalankan prinsip ini. dan responsibility. Syarat itu berupa peraturan dan perundang-undangan yang jelas. Perbincangan prinsip ini sendiri sangatlah menarik. Di antara (litigation abuse) ini adalah penyalahgunaan ketidakefisienan lembaga peradilan dalam mengambil keputusan sehingga pihak yang tidak beritikad baik mengulur ngulur waktu kewajiban yang harus dibayarkannya atau bahkan dapat terbebas dari kewajiban yang harus dibayarkannya. KKN. tanpa ada pengecualian. Bentuk kecurangan ini bisa berupa insider trading (transaksi yang melibatkan informasi orang dalam). fairness memerlukan syarat agar bisa diberlakukan secara efektif. penyakit yang timbul dalam praktek pengelolaan perusahaan. Di tengah situasi seperti ini. Setelah definisi serta aspek penting GCG terpaparkan di atas. Semisal. lewat prinsip fairness. Fairness juga diharapkan memberi perlindungan kepada perusahaan terhadap praktek korporasi yang merugikan seperti disebutkan di atas.Empat Prinsip Utama Corporate Governance yang dikandung dalam GCG. Pendek kata. maupun antara pemegang saham pengendali (pemegang saham pendiri. Hal ini dinilai penting karena akan menjadi penjamin adanya perlindungan atas hak-hak pemegang saham manapun. Transparency (Keterbukaan Informasi) Transparansi bisa diartikan sebagai keterbukaan informasi. penerbitan saham baru. ada beberapa manfaat yang diharapkan bisa dipetik. adanya kekhawatiran perusahaan bahwa jika ia terlalu terbuka. Namun seperti halnya sebuah prinsip. accountability. konsisten dan dapat ditegakkan secara baik serta efektif. maka strateginya dapat diketahui pesaing sehingga membahayakan kelangsungan usahanya. akuisisi. fraud (penipuan). Peraturan perundang undangan ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menghind penyalahgunaan lembaga ari peradilan (litigation abuse). berasal dari benturan kepentingan.dari berbagai bentuk kecurangan. Apa saja manfaat itu? Fairness diharapkan membuat seluruh aset perusahaan dikelola secara baik dan prudent (hatihati). Di sini secara umum ada empat prinsip utama yaitu: fairness. transparency. tegas. Fairness (Kewajaran) Secara sederhana kewajaran (fairness) bisa didefinisikan sebagai perlakuan yang adil dan setara di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang berlaku.khususnya pemegang saham minoritas . atau pengambil-alihan perusahaan lain. Baik perbedaan kepentingan antara manajemen (Dewan Komisaris dan Direksi) dengan pemegang saham. baik dalam proses pengambilan keputusan maupun dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan. di Indonesia biasanya mayoritas) dengan pemegang saham minoritas (pada perusahaan publik biasanya pemegang saham publik). Wajarkah kekhawatiran seperti itu? . dilusi saham (nilai perusahaan berkurang). Fairness juga mencakup adanya kejelasan hak-hak pemodal. 2. atau keputusan-keputusan yang dapat merugikan seperti pembelian kembali saham yang telah dikeluarkan. Biasanya. maka berikut adalah prinsip 1. sehingga muncul perlindungan kepentingan pemegang saham secara fair (jujur dan adil). sistem hukum dan penegakan peraturan untuk melindungi hak-hak investor . merger.

perusahaan harus menyediakan informasi yang cukup. Padahal. wewenang. 3. Komisaris Utama mengambil peran berikut wewenang yang seharusnya dijalankan direksi. struktur. merupakan salah implementasi prinsip ini.Menurut peraturan di pasar modal Indonesia. dan tepat waktu kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan tersebut. serta direksi. sebetulnya tidak perlu muncul jika kita mampu menjabarkan kriteria informasi material secara spesifik bagi masing-masing perusahaan. Setiap perusahaan. Selanjutnya. kewajiban. yang dimaksud informasi material dan relevan adalah informasi yang dapat mempengaruhi naik turunnya harga saham perusahaan tersebut. . Salah satuny stakeholder a. sistem dan pertangungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif. wewenang dan tanggung jawab dalam anggaran dasar perusahaan dan Statement of Corporate Intent (Target Pencapaian Perusahaan di masa depan) Bila prinsip accountability ini diterapkan secara efektif. serta Kejelasan fungsi. Kemudian. akan dimungkinkan terhindarnya benturan kepentingan (conflict of interest) berbagai pihak dalam manajemen. jelas. Beberapa bentuk implementasi lain dari prinsip accountability antara lain: Praktek Audit Internal yang Efektif. jika prinsip transparansi dilaksanakan dengan baik dan tepat. Atau justru sebaliknya. atau yang mempengaruhi secara signifikan risiko serta prospek usaha perusahaan yang bersangkutan. Dalam mewujudkan transparansi ini sendiri. para investor harus dapat mengakses informasi penting perusahaan secara mudah pada saat diperlukan. Kewajiban untuk memiliki Komisaris Independen dan Komite Audit sebagaimana yang ditetapkan oleh Bursa Efek Jakarta. Mengingat definisi ini sangat normatif maka perlu ada penjelasan operasionalnya di tiap perusahaan. hak. dan dapat diperbandingkan. maka dimungkinkan terjadinya efisiensi pasar. diharapkan pula dapat mempublikasikan informasi keuangan serta informasi lainnya yang material dan berdampak signifikan pada kinerja perusahaan secara akurat dan tepat waktu. dapat mengetahui risiko yang mungkin terjadi dalam melakukan transaksi dengan perusahaan. Masalah yang sering ditemukan di perusahaan-perusahaan Indonesia adalah mandulnya fungsi pengawasan Dewan Komisaris. Selain itu. Accountability (Dapat Dipertanggungjawabkan) Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi. Karenanya. berupaya memberdayakan fungsi pengawasan Dewan Komisaris. akurat. dan tanggung jawab antara pemegang saham. maka ada kejelasan fungsi. konsisten. Ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari penerapan prinsip ini. tepat waktu. diperlukan kejelasan tugas serta fungsi organ perusahaan agar tercipta suatu mekanisme pengecekan dan perimbangan dalam mengelola perusahaan. hak. kekhawatiran di atas. Dengan adanya kejelasan inilah maka perusahaan akan terhindar dari kondisi agency problem (benturan kepentingan peran). kewajiban. karena adanya informasi kinerja perusahaan yang diungkap secara akurat. Tepatnya. dewan komisaris.

Kebijakan perusahaan mengelola limbah sebelum dibuang ke tempat umum. kebijakan tersebut merupakan bentuk jaminan kelangsungan usaha karena akan mendapat dukungan pengamanandari masyarakat sekitar lingkungan. dan kerjasama aktif antara perusahaan dan para stakeholders harus dikembangkan dalam upaya bersama menciptakan kekayaan. dan kemampuan mencetak laba lebih terjamin. lewat prinsip responsibility ini juga diharapkan membantu peran pemerintah dalam mengurangi kesenjangan pendapatan dan kesempatan kerja pada segmen masyarakat yang belum mendapatkan manfaat dari mekanisme pasar. Peran stakeholders dalam corporate governance: Hak-hak para pemangku kepentingan (stakeholders) harus diakui sesuai peraturan perundangan yang berlaku. 2. Di luar hal itu. Ini merupakan bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat. dan persaingan yang sehat. Lewat sertifikat ini. Dari sisi Pemerintah. Prinsip-prinsip di atas perlu diterjemahkan ke dalam lima aspek yang dijabarkan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) sebagai pedoman pengembagan kerangka kerja legal. Penerapan prinsip ini diharapkan membuat perusahaan menyadari bahwa dalam kegiatan operasionalnya seringkali ia menghasilkan eksternalitas (dampak luar kegiatan perusahaan) negatif yang harus ditanggung oleh masyarakat. institutional. pertumbuhan. perusahaan telah mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku (Peraturan Perlindungan Konsumen). kebijakan ini menjamin mereka untuk hidup layak tanpa merasa terancam kesehat nnya tercemar. hubungan industrial. dari sisi konsumen. perusahaan memenuhi peraturan perundang -undangan lingkungan hidup. standar penggajian. dan regulatory untuk corporate governance di suatu negara. mereka akan merasa yakin bahwa makanan yang dikonsumsinya itu halal dan tidak merasa dibohongi perusahaan. dan keberlanjutan perusahaan. Hak-hak pemegang saham dan fungsi kepemilikan: Hak-hak pemegang saham harus dilindungi dan difasilitasi. kesehatan/ keselamatan kerja. Perlakuan setara terhadap seluruh pemegang saham Seluruh pemegang saham termasuk : pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing harus diperlakukan setara. 3. Dari sisi perusahaan. Responsibility (Pertanggungjawaban) Pertanggungjawaban perusahaan adalah kesesuaian (patuh) di dalam pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang berlaku. perlindungan lingkungan hidup. Dari sisi masyarakat. Sebaliknya dari sisi perusahaan. a Demikian pula dari sisi Pemerintah. kebijakan tersebut akan menjamin loyalitas konsumen sehingga kelangsungan usaha. Seluruh pemegang saham harus diberikan kesempatan yang sama untuk mendapatkan perhatian bila hak-haknya dilanggar. Peraturan yang berlaku di sini termasuk yang berkaitan dengan masalah pajak.4. Ini juga merupakan pertanggungjawaban kepada publik. Beberapa contoh mengenai hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut : Kebijakan sebuah perusahaan makanan untuk mendapat sertifikat ³HALAL´. . Lima aspek tersebut antara adalah: 1. pekerjaan. yang pada akhirnya memberi manfaat maksimal bagi pemegang saham.

Mengurangi biaya modal (cost of capital). serta akuntabilitas dan loyalitas Direksi dan Komisaris terhadap perusahaan dan pemegang saham. Tanggung jawab Pengurus Perusahaan (Corporate Boards): Pengawasan Komisaris terhadap pengelolaan perusahaan oleh Direksi harus berjalan efektif. Bahkan jikapun perusahaan tidak bergantung pada sumber daya dan modal asing. Mengurangi agency cost. Meningkatkan nilai saham perusahaan sekaligus dapat meningkatkan citra perusahaan tersebut kepada publik luas dalam jangka panjang. berdasarkan kerangka aturan dan peraturan yang berlaku (Tri Gunarsih. Di samping hal-hal tersebut di atas. serta remunerasi eksekutif. GCG memberikan kerangka acuan yang memungkinkan pengawasan berjalan efektif sehingga tercipta mekanisme checks and balances di perusahaan. ataupun berupa biaya pengawasan yang timbul untuk mencegah terjadinya hal tersebut. termasuk situasi keuangan. Esensi . Untuk meningkatkan akuntabilitas. Disklosur dan transparansi: Disklosur atau pengungkapan yang tepat waktu dan akurat mengenai segala aspek material perusahaan. Karakter investasi ini ditandai dengan terbukanya peluang bagi perusahaan mengakses dana melalui µpool of investors¶ di seluruh dunia. 4. Suatu perusahaan dan atau negara yang ingin menuai manfaat dari pasar modal global. komite audit. Menciptakan dukungan para stakeholder (para pihak yang berkepentingan) dalam lingkungan perusahaan tersebut terhadap keberadaan dan berbagai strategi dan kebijakan yang ditempuh perusahaan. dan governance perusahaan. Manfaat dan Faktor Penerapan GCG corporate governance adalah peningkatan kinerja perusahaan melalui sepervisi atau pemantauan kinerja manajemen dan adanya akuntabilitas manajemen terhadap shareholders dan pemangku kepentingan lainnya. yaitu sebagai dampak dari pengelolaan perusahaan yang baik tadi menyebabkan tingkat bunga atas dana atau sumber daya yang dipinjam oleh perusahaan semakin kecil seiring dengan turunnya tingkat resiko perusahaan. kepemilikan. Biaya -biaya ini dapat berupa kerugian yang diderita perusahaan sebagai akibat penyalahgunaan wewenang ( wrong-doing).4. 2003). dan jika kita ingin menarik modal jangka panjang yang. antara lain diperlukan auditor. 2. penerapan prinsip dan praktik GCG akan dapat meningkatkan keyakinan investor domestik terhadap perusahaan. karena umumnya mereka mendap jaminan bahwa mereka juga at mendapat manfaat maksimal dari segala tindakan dan operasi perusahaan dalam menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan. Seberapa jauh perusahaan memperhatikan prinsip-prinsip dasar GCG telah semakin menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan investasi. Terutama sekali hubungan antara praktik corporate governance dengan karakter investasi internasional saat ini. disertai adanya tuntutan strategik terhadap manajemen. yaitu suatu biaya yang harus ditanggung pemegang saham sebagai akibat pendelegasian wewenang kepada pihak manajemen. GCG juga dapat: 1. kinerja. maka penerapan GCG secara konsisten dan efektif akan mendukung ke arah itu. 5. 3.

b. tetapi juga dalam jangka panjang dapat menjadi pilar utama pendukung tumbuh kembangnya perusahaan sekaligus pilar pemenang era persaingan global. Terdapatnya sistem hukum yang baik sehingga mampu menjamin berlakunya supremasi hukum yang konsisten dan efektif. Faktor Eksternal Yang dimakud faktor eksternal adalah beberapa faktor yang berasal dari luar perusahaan yang sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan GCG. Terdapatnya budaya perusahaan (corporate culture) yang mendukung penerapan GCG dalam mekanisme serta sistem kerja manajemen di perusahaan. faktor eksternal dan internal. Beberapa faktor dimaksud antara lain: a. Dukungan pelaksanaan GCG dari sektor publik/ lembaga pemerintahaan yang diharapkan dapat pula melaksanakan Good Governance dan Clean Government menuju Good Government Governance yang sebenarnya. c. e. Akan tetapi. Faktor Internal Maksud faktor internal adalah pendorong keberhasilan pelaksanaan praktek GCG yang berasal dari dalam perusahaan. Manajemen pengendalian risiko perusahaan juga didasarkan pada kaidah -kaidah standar GCG. . Bahkan dapat dikatakan bahwa perbaikan lingkungan publik sangat mempengaruhi kualitas dan skor perusahaan dalam implementasi GCG.Manfaat GCG ini bukan hanya untuk saat ini. ada dua faktor yang memegang peranan. d. Di sini. b. Di antaranya: a. Terdapatnya sistem audit (pemeriksaan) yang efektif dalam perusahaan untuk menghindari setiap penyimpangan yang mungkin akan terjadi. Terbangunnya sistem tata nilai sosial yang mendukung penerapan GCG di masyarakat. semacam benchmark (acuan). Ini penting karena lewat sistem ini diharapkan timbul partisipasi aktif berbagai kalangan masyarakat untuk mendukung aplikasi serta sosialisasi GCG secara sukarela. keberhasilan penerapan GCG juga memiliki prasyarat tersendiri. d. Berbagai peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan perusahaan mengacu pada penerapan nilai-nilai GCG. Hal lain yang tidak kalah pentingnya sebagai prasyarat keberhasilan implementasi GCG terutama di Indonesia adalah adanya semangat anti korupsi yang berkembang di lingkungan publik di mana perusahaan beroperasi disertai perbaikan masalah kualitas pendidikan dan perluasan peluang kerja. Adanya keterbukaan informasi bagi publik untuk mampu memahami setiap gerak dan langkah manajemen dalam perusahaan sehingga kalangan publik dapat memahami dan mengikuti setiap derap langkah perkembangan dan dinamika perusahaan dari waktu ke waktu. c. Terdapatnya contoh pelaksanaan GCG yang tepat (best practices) yang dapat menjadi standard pelaksanaan GCG yang efektif dan profesional. e. Dengan kata lain.

Dalam banyak kasus. DK juga gagal untuk mewakili kepentingan stakeholders lainnya selain daripada kepentingan pemegang saham mayoritas. tetapi juga memberi investor maupun kreditor gambaran yang fair serta akurat tentang apa yang sebenarnya terjadi. maka sudah dapat dipastikan perusahaan tersebut tidak akan mampu bertahan lama dalam persaingan bisnis global dewasa ini. yang seharusnya berkewajiban moral memberikan data keuangan yang jujur . Untuk menjamin pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) diperlukan anggota DK yang memiliki integritas. serta peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit. seperti yang dialami oleh raksasa bisnis Enron Inc. Komite Audit mempunyai fungsi membantu Dewan Komisaris untuk (i) . di Indonesia sering terjadi anggota DK sama sekali tidak menjalankan peran pengawasannya yang sangat mendasar terhadap Dewan Direksi (DD).Di luar dua faktor di atas. Yang pasti. kredibilitas. sistem kontrol berlapis-lapis ternyata tak bisa mencegah sekelompok pimpinan yang memuaskan ketamakannya untuk kepentingan sendiri. Begitu pula. Eksekutif Enron Inc. Komite Audit terdiri dari sedikitnya tiga orang. Dalam pelaksanaan tugasnya. Perusahaan Akuntan besar sekaliber Andersen gagal melakukannya. serta yang tidak memiliki hubungan bisnis (kontraktual) ataupun hubungan lainnya dengan pemegang saham mayoritas (pemegang saham pengendali) dan Dewan Direksi (manajemen) baik secara langsung maupun tidak langsung. transparansi dan penjelasan. jika berbagai prinsip dan aspek penting GCG dilanggar suatu perusahaan. bahwa banyak anggota DK tidak memiliki kemampuan dan tidak dapat menunjukkan independensinya. DK seringkali dianggap tidak memiliki manfaat. aspek lain yang paling strategis dalam mendukung penerapan GCG secara efektif sangat tergantung pada kualitas. ternyata tidak melakukan tugas itu. diketuai oleh Komisaris Independen perusahaan dengan dua orang eksternal yang independen serta menguasai dan memiliki latar belakang akuntansi dan keuangan. perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham. karena DK merupakan inti dari corporate governance yang bertugas untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan. dan integritas berbagai pihak yang menggerakkan organ perusahaan. Dalam prakteknya. skill. kemampuan. meski perusahaan itu memiliki lingkungan kondusif bagi pertumbuhan bisnisnya. Komisaris independen diusulkan dan dipilih oleh pemegang saham minoritas yang bukan merupakan pemegang saham pengendali dalam RUPS. serta mewajibkan terlaksananya akuntabilitas.sebagaimana keharusan perusahaan publik. Peranan Komite Audit Keberadaan Komite Audit diatur melalui Surat Edaran Bapepam Nomor SE03/PM/2002 (bagi perusahaan publik) dan Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP103/MBU/2002 (bagi BUMN). Pada prinsipnya Corporate Governance menyangkut kepentingan para pemegang saham. tidak cacat hukum dan independen. mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan. di AS beberapa waktu lalu. peranan semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam corporate governance. ternyata gagal menjalankan perannya. Peranan Dewan Komisaris Dewan Komisaris (DK) memegang peranan penting dalam implementasi Good Corporate Governance (GCG). independent auditor yang semestinya tidak hanya memastikan bahwa laporan keuangan sebuah perusahaan sesuai aturan dan standar akuntansi. Dalam kasus Enron ini. hal ini dapat dilihat dalam fakta.

Informasi akuntansi keuangan sebagai produk dari proses governance. dan memimpin suatu investigasi khusus. canggih. beragam dan yang terpenting independen yang menjalankan fungsinya secara efektif dan dibantu oleh Komite Audit adalah yang paling baik untuk ditempatkan dalam memastikan implementasi Good Corporate Governance berjalan dengan baik sehingga kecurangan (fraud) maupun keterpurukan bisnis dapat dihindari. Perusahaan kemudian menunjuk Audit Committtee dari keanggota Board of Director. Penggunaan informasi ekuntansi untuk menyeleksi perusahaan yang akan dijadikan target takeover adalah contoh dari penggunaan informasi akuntansi secara implisit. penggunaan informasi akuntansi secara eksplisit dan implisit. Proses pelaporan keuangan bagi perusahaan umumnya diatur oleh pemerintah atau sistim hukum yang berlaku (kalau di Amerika SEC). Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara diantaranya adalah pengeluaran untuk dirinya manajemen. Peran dan tanggung jawab Komite Audit akan dituangkan dalam Charter Komite Audit yang secara umum dikelompokkan menjadi tiga bagian besar.dibawah ini dijelaskan mengenai informasi akuntansi keuangan sebagai produk dari proses Governance. Laporan keuangan juga akan diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (audit eksternal) untuk di periksa apakah dalam menyiapkan laporan keuangan sudah sesuai dengan aturan dan prinsip yang berlaku.meningkatkan kualitas Laporan Keuangan. misalmya mengevaluasi dan menentukan komposisi auditor eksternal. corporate governance. dan risk and control management. sehingga tidak memiliki otoritas eksekusi apapun (hanya sebatas rekomendasi kepada DK). suatu Dewan Komisaris yang aktif. serta (iv) Mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian Dewan Komisaris/Dewan Pengawas. (iii) meningkatkan efektifitas fungsi internal audit (SPI) maupun eksternal audit. Bagan 1 menfokuskan kepada kasus Amerika dan bisa aplikasikan ke negra laannya. Sistim akuntansi keuangan menyediakan informasi yang penting untuk Governance Mechanisms . yaitu financial reporting. Kewenangan Komite Audit dibatasi oleh fungsi mereka sebagai alat bantu DK. Proses bagaimana informasi akuntansi lahir dan merupakan tanggung jawab dapat dilihat pada bagan 1. selanjut harus mengaju pada prinsip Akuntansi Yang Berterima Umum ( GAAP). yang membantu memecahkan masalah keagenen. informasi akuntansi keuangan dihasilakan oleh manajemen dan manajemen mengetahui informasi ini akan digunakan sebagai input dalam proses Governance. dimana manajer berusaha untuk meningkatkan incentive mereka dalam rangka memakmurkan dirinya dan menagabaikan tugas utamanya yaitu memaksimumkan kemakmuran pemilik. Penggunaan perjanjian yang berbasiskan dasar akuntansi dalam kontrak obligasi adalah salah contoh dari penggunaan informasi akuntansi secara eksplicit. ahli. Pada akhirnya. yang mengawasi . (Alison) PERAN AKUNTANSI DALAM CORPORATE GOVERNANCE Agency Problem lahir dari adanya pemisahan antara manajemen dan penyandang dana. Penggunaan informasi akuntansi dalam Governance Mechanisms bisa dalam bentuk implisit atau eksplisit. (ii) menciptakan iklim disiplin dan pengendalian yang dapat mengurangi kesempatan terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan perusahaan. Informasi akuntansi keuangan merupakan produk dari proses Governance. kecuali untuk hal spesifik yang telah memperoleh hak kuasa eksplisit dari DK.

. khususnya perjanjian peminjaman dan pelunasan hutang. Contoh penggunaan informasi akuntansi adalah berapa bunga harus dikenakan pada perusahaan didasarkan atas kekuatan keu angan perusahaan dan ini didasarkan atas data akuntansi. Engel dan Smith.penyelesaian laporan keuangan dan berkomunikasi dengan auditor eksternal sebagai wakil dari investor. DeFond. Bushman. Dechow. Core. efektivitas dan profitabilitas. 2000). Sweeney. kompensasi yang berbasiskan laporan keuangan hanya merupakan bagian kecil dari insentif yang ada. Penelitian pendahuluan yang dilakukan oleh Smith dan Warner (1979) dan Leftwich (1983) mendokumentasikan keberadaan dan fungsi akuntansi dalam perjanjian kontrak hutang antara kreditor dan perusahaan. Kedua adalah menguji tentang efektivitas mekanisme pengawasan spesifik terhadap proses pelaporan keuangan. Francis.ini termasuk kajian tentang kualitas audit (contoh. Kelompok pertama mengkaji tentang kualitas disclosure dengan biaya modal (contoh.. Press dan Weintrop. khususnya terhadap kreditor. Data akuntansi di analisa yang dijadikan rasio-rasio keuangan dan dikelompokan atas beberapa aspek diantaranya likuiditas. 1996. Penelitian lainnya juga mengembangkan literature tentang isu lainya yang berhubungan dengan kualitas sistim pelaporan keuangan. Teoh. 1997. 1994). penggunaan informasi akuntansi secara eksplisit pada perjanjian hutang masih berlanjut. Dechow. Becker. Lopez-De-Silanes. 2000. Shleifer and Vishny.3 . Hasil peneitiannya tidak bervariasi. 1998. Berlawanan dengan literature tentang peran informasi akuntansi dalam kompensasi diatas. Peasnell. Ini merupakan gambaran peran informasi akuntansi dalam mekanisme Governance. Sloan dan Sweeney. 2000). peran informasi akuntansi pada kontrak keuangan telah terus berlangsung perkembangannya dan mendapat sambutan yang mengembirakan. Literature ini di bagi atas tiga kelompok. Botosan. Area . 1999. 1990. Murphy. 1996.. Lang and Lundholm. 2000). Penggunaan Informasi Akuntansi secara eksplisit dalam Corporate Governance Penggunaan informasi akuntansi secara eksplisit dalam kontrak antara manajemen dan individu atau lembaga yang memberikan dana pada perusahaan merupakan contoh dari penggunaan informasi akuntansi dalam mekanisme Governance.. Wong and Welch. Guay and Verrecchia. 1985. khususnya penggunaan informasi akuntansi sebagai alat ukur kinerja manajemen pada kontrak mengenai sistim kompensasi untuk manajemen. Beasley. ada yang menemukan tingka disclosure mempengaruhi biaya hutang dan sebagaian lagi todak. Carcello dan Neal. Insentif yang berdasarkan kenaikan harga saham cendrung sebagai dasar mereka investor untuk memberikan insentif pada manajemem (penelitian tentang isu ini telah dilakukan peneliti diantaranya adalah . Corporate Governance dijadikan sebagai ukuran apakah perusahan yang dijadikan sample trasfaran atau tidak. Jiambalvo dan Subramanyam. 1998. Feroz. Area terakhir mengkaji sebab dan akibat gagalnya proses pelaporan keuangan penelitian ini memfokuskan pada factor-faktor yang mempengaruhi manajemen earning (contoh. solvabiltias. Banyak peneliti yang mengkaji bagaimana kualitas sistim pelaporan keuangan dihubungkan dengan bentuk dan mekanisme Governance lainnya (diantaranya adalah La Porta. 2000 ). 1991. penelitian pada area ini memfokuskan pada pada implikasi pemilihan metode akuntansi yang digunakan(contoh. 1999) dan kualitas BOD dan Komite Audit ( contoh. Maydew dan Sparks. Sloan dan Sweeney 1996). Pope dan Young. Park dan Pastena. Rangan. Chen. 1996. Tapi. 1999) dan manipulasi earning (contoh. dan Botosan dan Plumlee.

Walaupun sebagian kecil melaporkan bahwa ada pengaruh perusahaan yang menjadi target CalPERS terhadap tingkat pengembalian jangka panjang (Nesbitt. Dalam konteks bahwa investor bersedia berinvestasi pada perusahaan merupakan fungsi information efficiency dan tingkat likuiditas pasar modal. kajian tentang peran informasi akuntansi dalam mekanisme Corporate Governance yaitu Legal Protection dan Large Investor. 1994. investor yang memiliki saham besar tidak mempunyai hak suara mayoritas di dewan komisaris dan mungkin harus mengambil tindakan yang lebih drastis seperti takeover atau proxy contest untuk merebut control BOD dan mendisiplinkan manajemen. Investor tidak bisa membawa masalah tersebut ke pengadilan karena manajemen telah melakukan kecurangan atau kegiatan yang tidak sesuai dengan apa yang digariskan oleh investor (pemilik). Dari penelitian-penelitian tersebut. beberapa penelitian telah mendokumentasikan peran informasi akuntansi dalam menjalankan hak legal investor dalam melawan menajem. Carleton. penelitian akuntansi yang berbasiskan pasar modal dan memfokuskan penggunaan informasi akuntansi dalam penilaian surat-surat berharga merupakan implikasi pada isu Corporate Governance.Pengunaan informasi akuntansi secara implisit dalam Corporate Governance Penggunaan informasi akuntansi secara implisit dalam mekanisme Corporate Governance merupakan peran informasi akuntansi yang paling penting. tak seorang penelitipun berani . Informasi akuntansi juga memainkan peran penting dalam menjalankan hak kreditor dalam kasus tidak di lunasinya hutang perusahaan atau dalam kondisi bankrut. informasi akuntansi secara implisit memfasilitasi jalanya mekanisme Governance adalah large investor. Bahkan informasi akuntansi kelihatannya secara langsung memfasilitasi jalanya mekanisme Governance spesifik. Selain Penelitian yang dilakukan oleh peneliti diatas. Ada dua area paling. Penelitian mendokumentasikan bahwa masalah akuntansi dan pengungkapan sangat berhubungan dengan perkara hokum pemegang saham dan bahwa manajemen melakukan seolah-olah mereka memenage strategi pelaporan keuangan untuk mengurangi biaya yang berhubungan dengan perkara hukum investor (contoh . Penelitian yang menemukan tidak adanya pengaruh aktivisme investor institusi terhadap kinerja perusahaan dilakukan banyak peneliti yaitu Daily. Nelson dan Weisbach (1997) dan lain-lain. 1984. Penelitian juga menemukan bahwa pengukuran kinerja akuntansi berhubungan keputusan takeover (Palepu. penelitian akademik memyimpulkan bahwa BOD menggunaka kenerja laba akuntansi sebagai input untuk keputusan memberhentikan manajemen (Weisbach. Elstrand dan Dalton (1996). valuasi dan peran akuntansi menjadi saling berhubungan. Penelitian empiris mendukung bahwa informasi akuntansi secara implisit digunakan dalam mekanisme Governance yang beragam.1986). Dalam kategori legal protection. Large investor bisa mempengaruhi tindakan manajemen melalui Board of Diretor. 1998). Tapi hasil Nesbitt (1994) di kounter oleh Guercio dan Hawkins (1997) yang menyimpulkan bahwa masih ada perusahaan yang menjadi target CalPERS (perusahaan yang mempunyai kinerja tidak bagus) mempunyai pengaruh positif terhadap tingkat pengembalian. Tapi. Bear dan Sias (1997). dalam banyak kasus. Opler dan Sokobin`s (1997). 1988). Kellogg.1988). yaitu atoritas untuk menggunakan manajemen atau meberhentikannya . Philbrick dan Schipper. Tapi. proxy contests (DeAngelo. dan institutional investor activism (Opler dan Sokobin. 1994. Skinner. daripada memfokuskan pada peran governance akuntansi melalui peranya dalam menfasilitasi informational efficiency harga saham.. Secara umum melaporkan tidak ada bukti yang meyakinkan aktivisme investor mempengaruhi kinerja perusahaan. Dalam kategori kedua. Karena sistim pelaporan keuangan adalah mekanisme internal utama yang memberi fasilitas komunikasi antara manajemen dan investor. 1994). John. banyak peneliti lain yang menguji pengaruh institutional investor activism terhadap kinerja perusahaan telah banyak dilakukan dengan menggunakan informasi akuntansi. Dalam kontek ini. Sehingga. Skinner 1996). Francis.

tapi aktivisme ini bisa merubah budaya perusahaan sehingga mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Sumber : HUBUNGAN INFORMASI AKUNTANSI KEUANGAN DAN MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE oleh : Desi Ilona dan Zaitul. Bukti empiris menyimpulkan bahwa sudah tiga perubahan yaitu (i) perubahan komposisi dewan komisaris. informasi akuntansi secara implisit digunakan baik untuk menunjukan apakah aksi governance melawan manajemen dibutuhkan dan untuk membantu menentukan pengeluaran untuk stakeholder lainnya jika terjadi masalah hukum dan penurunan kinerja keuangan. dan Coffee (1997). Perubahan budaya memang tidak dapat di uji secara langsung. Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta . (ii)komite nominasi dan kompensasi yang berasal dari dewan komisaris independen dan (iii) pemisahan posisi pimpinan dewan komisaris dengan CEO. Brickley.menyimpulkan bahwa aktivisme investor institusi memberikan dampak positif terhadap kinerja perusahaan. Walaupun aktivisme investor institusi tidak berdampak positif terhadap kinerja perusahaan. Tapi tidak ada jaminan dengan banyak komposisi komisaris independen dan pemisahan posisi pimpinan dewan komisaris dengan CEO akan meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan (Klein. Black dan Coffee (1994). Coles. dan Jarrell (1997). Investor institusi sangat mendukung yang duduk di dewan komisaris adalah komisaris independen. Seperti yang dikemukan oleh Gordon (1997b). Dari penjelasan diatas dapat di simpulkan bahwa informasi akuntansi mensuplai input yang paling penting ke dalam mekanisme Corporate Governance. Tapi melalui perubahaan Governance yang didukung oleh institusi akan berdampak terhadap kinerja perusahaan. 1997b).

Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan tanggung jawab Direksi dan Dewan Komisaris terkait pengelolaan risiko dalam perusahaan. maka pada saat itulah manajemen risiko terintegrasi dalam proses pengambilan keputusan. Direk Dewan KOmisaris serta Komite si. Dalam artikel ini. terkait harus bekerjasama dengan manajemen dalam mempromosikan dan secara aktif mengembangkan budaya perusahaan dalam memahami konsep pengelolaan risiko serta penerapannya. termasuk komitmen terhadap pengawasan risiko. Kunci dalam membentuk pesan yang tepat adalah transparan. jika kita melakukan penilaian risiko serta membandingkannya dengan manfaat yang kita peroleh secara cukup akurat dari keputusan kita dalam mengelola risiko tersebut. . Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan pertemuan berkala dengan Komite ataupun unit terkait. dan apa yang harus di perhatikan oleh Dewan Komisaris terkait fungsinya melakukan pengawasan terhadap pengelolaan Direksi. Jangan lupa. Tapi. Kejelasan Peranan & Wewenang Banyak perusahaan yang mendelegasikan pengawasan terhadap risiko kepada Komite Audit atau Komite Risiko. serta secara sungguh-sungguh menunjukkan kepeduliannya terhadap pengelolaan risiko di perusahaan. Perusahaan pasti harus menghadapi risiko dalam menjalankan bisnis. juga penting agar dilakukan pelatihan dan penilaian kepatuhan secara berkala. memberikan masukan dan umpan balik terhadap laporan risiko yang disampaikan. termasuk pengambilan keputusan. Walaupun tugas dapat didelegasikan. Kebijakan dan pros edur manajemen risiko. Tapi apa sebenarnya yang harus dilakukan? Menjabarkan apa yang menjadi tanggung jawab tentu tidak terlalu sulit. Untuk itu.PENGAWASAN RISIKO: By: daniri panduan untuk direksi dan dewan komisaris Mas Achmad Daniri Ketua Komite Nasional Kebijakan Governance. dan komunikasi. Faktor inilah yang membentuk budaya perusahaan dan mengalir dalam setiap aktivitas dan interaksi yang dilakukan oleh seluruh karyawan. dalam merumuskan strategi dan melakukan aktivitas operasional harian. yang sulit adalah melakukan implementasinya. bahaya jika kita menghindari risiko secara berlebihan ataupun terlalu berani mengambil risiko. Direksi dan Dewan Komisaris perlu melakukan tindakan yang dapat meyakini mereka bahwa risiko memang telah dikelola dengan memadai. akan diulas tindakan apa yang harus diambil oleh Direksi dalam membangun sistem pengelolaan risiko yang memadai. namun harus dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dan memiliki pengaruh dalam mengukur kesuksesannya. Manajemen risiko yang komprehensif sebaiknya tidak dipandang sebagai penghalang kemajuan perusahaan atau sebagai fungsi yang terpisah dari fungsi operasional. serta etika dan panduan perilaku harus terlebur dalam strategi dan operasi perusahaan. Visi pimpinan terhadap perusahaan. dan bahwa sistem manajemen risiko yang ada telah memadai dan efektif. konsisten. Dorongan Dari Pimpinan Dan Budaya Perusahaan Salah satu faktor utama dalam pengeloalaan dan peng awasan risiko yang efektif adalah dorongan dan pesan yang disampaikan oleh pimpinan perusahaan (tone from the top). etika yang baik dan non-kompromi terhadap ketidakpatuhan harus dikomunikasikan secara efektif. tidak demikian halnya dengan tanggung jawab. dan Angela Indirawati Simatupang Anggota Tim Penyusun Pedoman Umum GCG. dan terus mendorong perbaikan yang berkelanjutan dalam proses manajemen risiko.

Mereview ekspektasi dari setiap fungsi yang terkait dengan manajemen risiko dan memastikan adanya persamaan persepsi terhadap peran dan tanggungjawab masing masing. Mereview jenis-jenis risiko yang dihadapi perusahaan. tentunya perlu didukung dengan keberadaan komposisi dan kualifikasi Direksi dan Dewan Komisaris secara kolektif. ada beberapa tindakan yang perlu dilakukan. termasuk kualifikasi personil yang bertanggung jawab. 2. 9. sehingga dapat dinilai apakah sumber daya yang ada dapat menjalankan cakupan pekerjaan yang dituntut dari fungsi manajemen risiko. Mereview laporan yang disampaikan oleh auditor internal. Sehingga. memadai dan memungkinkan Direksi serta Dewan Komisaris melakukan pengelolaan dan pengawasan risiko. 10. penasihat hukum. termasukn seberapa besar risiko yang sanggup ditanggung oleh perusahaan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. 4. penting bagi Direksi dan Dewan Komisaris untuk mendapatkan informasi yang memadai dari dalam perusahaan terkait risiko yang ada. maka sulit bagi Direksi dan Dewan Komisaris melakukan pengambilan k eputusan yang well-informed. sehingga meningkatkan risiko pengambilan keputusan yang tidak tepat. 3. Mereview kualitas dan bentuk pelaporan risiko. . regulator yang relevan dengan risiko yang dihadapi perusahaan serta terkait dengan fungsi manajemen risiko. dan apakah proses untuk menangani serta melakukan eskalasi permasalahan telah memadai. serta pelatihan eksternal mengenai praktik-praktik governansi dan manajemen risiko yang baik. serta tindakan penanganan yang diperlukan. Mereview implementasi dari kebijakan dan prosedur manajemen risiko. Komunikasi Kemampuan Direksi dan Dewan Komisaris terkait manajemen risik juga o dipengaruhi terwujudnya komunikasi yang memadai. Mereview apakah fungsi manajemen risiko yang ada telah cukup independen. 7. auditor eksternal. Pelatihan Agar Direksi dan Dewan Komisaris dapat melakukan pengelolaan dan pengawasan terhadap sistem manajemen risiko. pengelolaannya. diperlukan pengetahuan yang cukup memadai terhadap risiko yang dihadapi perusahaan dan praktik manajemen risiko. Mereview kecukupan distribusi informasi kepada seluruh karyawan mengenai manajemen risiko. Mereview kebijakan dan prosedur manajemen risiko sehingga dapat diketahui apakah sudah memadai dan komprehensif. termasuk kemungkinan terjadinya dan dampak risiko tersebut. antara lain: 1. 5. sehingga pada saat risiko memiliki dampak diluar besaran yang dapat ditolerir. akurat dan relevan. 8. apakah sistem manajemen risiko sudah diterapkan secara efektif. Komposisi & Kualifikasi Yang Memadai Selain dengan pengetahuan yang memadai.Pemantauan Dalam melakukan pengawasan atau pemantauan terhadap sistem manajemen risiko. Tanpa adanya alur informasi yang dapat memastikan adanya distribusi informasi terkait risiko secara tepat waktu. harus dilakukan suatu aktivitas untuk mengelola risiko tersebut. Mereview toleransi risiko perusahaan. Mereview disain dari fungsi manajemen risiko. 6.

Aktivitas-aktivitas diatas jika dilakukan. dan hal ini tercermin salah satunya dari terlaksananya manajemen risiko yang baik. jauh sebelum risiko tersebut menjadi sebuah kenyataan dan mengakibatkan krisis bagi perusahaan. merupakan aktualisasi pengelolaan dan pengawasan manajemen risiko yang baik. Direksi dan Dewan Komisaris harus menanyakan dan berdiskusi dengan manaj men apa saja risiko e material yang mungkin dihadapi oleh perusahaan di masa yang akan datang. Hal ini juga sesuai dengan rekomendasi Komite Nasional Kebijakan Governance seperti tertuang dalam Pedoman Umum GCG Indonesia. Dalam melakukan review terhadap manajemen risiko. Mengantisipasi risiko di masa depan merupakan elemen penting dalam menghindari atau memitigasi risiko yang ada. Dewan Komisaris dan Direksi mempunyai tanggung jawab dalam menjaga kelangsungan usaha perusahaan dalam jangka panjang. . dan juga sebagai bukti akuntabilitas dalam melaksanakan fungsinya. dan ini harus terakomodir dalam struktur dan sistem manajemen risiko yang ada.Antisipasi Risiko Direksi Dan Dewan Komisaris Juga harus memastikan adanya kegiatan yang berkelanjutan dalam perusahaan untuk menilai dan menganalisis area-area yang berpotensi menjadi berisiko bagi perusahaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful