LAPORAN KASUS HEMATEMESIS DAN MELENA I. HEMATEMESIS Pada tanggal 17-11-2010 pukul 08.

53 pasien datang ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karanganyar dengan Keluhan : sesak nafas (+), Hematesis (+), Demam (+), Batuk berdahak, Lemas. A. IDENTITAS 1. Nama : Bp.Waluyo 2. Umur : 45 th 3. Alamat : Mojo Gedang 4. Masuk Rumah Sakit : 17-11-2010 5. Diagnosis = TB paru Duplex aktif, Hemoptoe B. ANAMNESA 1. Keluhan utama : Batuk berdahak + warna hitam 2. Riwayat Penyakit Dahulu : 3. Riwayat alergi : 4. Perjalanan penyakit : 1) 17-11-10 : Riwayat pemeriksaan yang positif : k Demam (+) 1 hari yang lalu k Sesak nafas (+) baru saja k Lemes k Batu Berdahak (+) hitam baru tadi pagi k BAB / BAK dbn Riwayat sakit (-) Diagnosis kerja = Hematemesis Tindakan = Pasang infuse Pengobatan atau terapi : k 0ksigen 4 L/mnt k Infus D 5% k Inj As.Tranexamat 2x500 mg k/p k Inj Ranitidin 2x1 gr k Inj Cefotaxim 2x1 gr k PCT 3x500 k Antacid Syr 3 CI k Lab = DR, GDS

2) 18-11-10

3) 19-11-10

4) 24-11-10

5) 25-11-10

6) 26-11-10

7) 27-11-10

8) 28-11-10 9) 29-11-10

Dokter = Enjang D : Antacid syr Kalnex inj Vitamin K inj Ulsikur Aminofilin Narfos RL : RL Kalnex Vit K Ulsikur Antasid RL : Raclonid inj Ulsikur inj Cefotaxim inj Diazepam inj Kalnex : Ulsikur Kalnex Antasid Aminofilin Narfos RL : Kalnex = 250 mg Vitel = 2x1 Ulsikur = 2x1 Antasid syrp = 3x1 Foto Rongten : Foto Rongten B 6 Inj P 2 A = 3x1 : Program pengobatan Lanjutkan : INH 400 = 1x1 MJG 200 = 1x1

24-11-10 : TD = 110/70 Suhu badan = 36. 18-11-10 : TD = 110/80 Suhu badan = 36. FISIK DIAGNOSTIK 1. 22-11-10 : TD = 130/80 Suhu badan = 36.10 C Nadi = 80 Muntah-muntah 6.50 C Nadi = 80 4. 27-11-10 : TD = 100/70 Suhu = 36. 26-11-10 : TD = 120/80 Suhu = 36.40 C Nadi = 80 10. 19-11-10 : TD = 110/50 Suhu badan = 36.40 C Nadi = 84 3. 23-11-10 : TD = 110/70 Suhu badan = 370 C Nadi = 80 8.P2A = 3x1 B6 Inj = 1x1 Codein = 3x1 C.60 C Nadi = 80 11.70 C Nadi = 80 9.20 C Nadi = 80 .30 C Nadi = 80 5.20 C Nadi = 80 7. 21-11-10 : TD = 110/70 Suhu badan = 36. 20-11-10 : TD = 110/70 Suhu badan = 36. 25-11-10 : TD = 110/70 Suhu badan = 36. 17-11-10 : TD = 110/70 2.

01 6. 29-11-10 : TD = 110/70 Suhu = 370 C Nadi = 80 D. Total Nilai 23.000 36 L = 14-18 g/% P = 12-16 g/% 5000-10.5 -0.9 9.0 ± 5.Diagnosis kerja = TB Paru. LBP ¼ 12.9 mg / 100 ml Dws = 6.09/ 100 ml 3.0 Jt/mm3 L = 40-43 Vol % L = 37-43 Vol % 0 -1 % 1-3 % 2-6 % 50-70 % 20-40 % 2-8 % 0 0 0 71 27 2 .0 ± 8.5 g/100 ml L = 42 u/L P = 32 u/L L=47 U/L P = 31 U/L 12 10600 4.9 ± 3.05 2.29 / 100 ml 2. 28-11-10 : TD = 120/70 Suhu = 36.5 Albumin Globulin SGPT/ALT SGPOT/AST Pemeriksaan Hematologi y HB y Leukosit y Eri y HCT Hitung Jenis y Basofil y y y y y EOS Batang Segmen Limfosit Mono 4. Pemeriksaan Laboratorium 1.680.5 ± 5.1 mg/ 100 mg P = 0.50 C Nadi = 80 13.4 Nilai Normal 10-50 mg/ 100 ml L = 0.45 7.6 -8.8 ± 1. KIMIA DARAH Tanggal 19-11-2010 Ureum Kreatinin Prot.79 / 100 ml Anak-anak = 6.7 ± 5.5 Jt/mm3 P = 4.1 1.000/ mm3 L = 4.

badan panas 2 hari.000 ± 300. IDENTITAS a. Febris B.000 MCV 74 MCH 25 MCHC 33 GDS 67 2. 20-11-10 : TD : 130/70 Suhu badan : 39r C Nadi = 85 2.2010 f. Riwayat Penyakit Dahulu : c. 22-11-10 : TD = Suhu badan = Nadi = 3. A.50 C Nadi = 84 5. 23-11-10 : TD = 110/80 Suhu badan = 36.000 ribu/ mm3 82-92 mm3 27-31 Pg 32-37 % Sampai 150 mg/ 100 ml .. Riwayat alergi : d. Alamat : Pojok. Abdul Rahman b.09. Diagnosis = Dysentri basiler. Perjalanan penyakit : 1.49 pasien datang ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar dengan keluhan diare dalam jumlah banyak. pasien mengalami keluhan BAB Lendir darah mulai kemarin sore. Nama : Bpk. perut sakit (+). Masuk Rumah Sakit : 20-11. Keluhan utama : Batuk berdahak + warna hitam b. 24-11-10 : TD = 110/80 Suhu badan = 36.y Trombosit 218. muntah (+).50 C Nadi = 89 KUE 4. 25-11-10 : TD = 110/80 150. MELENA Pada tanggal 20-11-2010 pukul 12. Imunologi/serologi : HBsAg : II.49 c. Mojo Gedang e. Umur : 50 tahun d. ANAMNESA a. Nomor RM : 19.

26-11-10 : TD = 140/80 Suhu badan = 360 C Nadi = 84 21-11-2010 Pemeriksaan Laboratorium Lab : Hb = 13.000 MCV = 87 MCH = 31 MCHC = 31 Serologi Widal = O H Typhi = Mcb Mcb Parathypi A B C 26-11-2010 Mcb Mcb - .200 Eri = 4.Suhu badan = 36.9 LEU = 14.000 HCT = 39 DC BOS = 0 E=0 Batang = 0 Segmen = 88 Limfosit = 11 Monosit = 1 Trombosit = 144.50 C Nadi = 84 6.550.

Diagnosis Akhir : Colitis Obat : 21-11-2010 RL Chek Hb Ranitidin Inj Calnex Inj PCT Metronidazol 22-11-2010 Suliston Vibillin Metronidazol Duamepet Kalnex 23-11-2010 Suliston Ni Cut NaCL 24-11-2010 CIL Sulul Vicilin Metronidazol Kaldex 25-11-2010 Sulsitin Vicilin Metronidazol Kalnex CIL .

27-11-2010 Diazepam Sulico Vicillin Metronidazol B2 RL 20-11-2010 Kalnex = III Vit K = II Kalkosid Inj = II Aminofel 6 OD = I RL = II Visikor Inj = II Cefotaxim = II Spluit 5 cc = V 3 cc = IV Aquadest = I 20-11-2010 Kalnex = IV RL = II Spluit 5 cc = IV 21-11-2010 Kalnex = III Vit K = II RL Infus = II Vit K = II Ranitidin = II Raclonid = II Cefotaxim = II Spluit 5 cc = V 3 cc = IV 22-11-2010 Antasid Syr Raclonid Cefotaxim .

20 C Nadi = 80 Diagnosis kerja = TB Paru.Spluit 5 cc 3 cc Kalnex Ulsikor Bp. LBP 1/4 Program pengobatan : Foto Rongten B 6 Inj P 2 A = 3x1 29-11-2010 TD = 110/70 Suhu = 370 C Nadi = 80 Program pengobatan : INH 400 = 1x1 MJG 200 = 1x1 P2A = 3x1 . Waluyo 26-11-2010 TD = 120/80 Suhu = 36.60 C Nadi = 80 Program pengobatan : Foto Rongten Kalnex = 250 mg Vitel = 2x1 Ulsikor = 2x1 Antasid syrp = 3x1 27-11-2010 TD = 100/70 Suhu = 36.

anenti. Kelainan pada lambung dan doudenum: gastritis hemoragika. Anamnesis . b. c. ulkus. Kelainan pada esofagus: varises. Penyakit darah: leukemia. Hemoptoe A. LANDASAN TEORI 1. lokasi yang tepat dari sumber perdarahannya c. koma.(sedang atau telah berlangsung. alkohol 4.B6 Inj = 1x1 Codein = 3x1 Diagnosis = TB paru Duplex aktif. esofagitis. kemungkinan penyebab utama dari perdarahan SMBA tersebut b. 2. banyak atau sedikit) d. keganasan.polip. trombositopeni. umumnya disebabkan perdarahan saluran makan bagian atas (SMBA) mulai dari esophagus sampai duodenum. Pengertian Hematemesis adalah muntah darah dan melena adalah buang air besar berdarah seperti aspal. Klasifkasi Umumnya sumber perdarahan ditentukan dalam dua golongan besar yaitu : a. keganasan. sindroma MalloryWeiss. kegagalan fungsi hati/jantung/ginjal Diagnosa perdarahan SMBA ditegakkan melalui a. Etiologi Penyebab-penyebab dari perdarahan saluran makan bagian atas antara lain : a. sifat perdarahannya. DIC. Perdarahan gastrointestinal bawah yang berasal dari daerah di bawah ligamnetum treitz 3. Penyakit sistemik: uremia. derajat gangguan yang ditimbulkan perdarahan SMBA pada organ lain seperti syok. e. Diagnosis Diagnosis pada gejala muntah darah dan buang air berdarah bertujuan mencari tahu tentang : a. d. Perdarahan gastrointestinal atas meliputi dari mulut hingga ligamentum treitz b. ulkus peptikum ventrikuli dan duodeni.

Pemeriksaan fisik Setibanya di rumah-sakit atau puskesmas. mual-mual atau muntah? 5) Apakah timbulnya perdarahan mendadak dan berapa banyaknya atau terjadi terus menerus tetapi sedikit-sedikit? 6) Apakah timbul hematemesis dahulu baru diikuti melena atau hanya melena saja? b. Bila pada palpasi ditemukan massa yang padat di daerah epigastrium. penyakit lambung atau penyakit lain? 2) Apakah perdarahan ini yang pertama kali atau sudah pernah mengalami sebelumnya? 3) Apakah penderita minum obat-obat analgetik antipiretik atau kortison? Apakah minum alkohol atau jamu-jamuan? 4) Apakah ada rasa nyeri di ulu hati sebelumnya. anemi. Pemeriksaan penunjang diagnostik . ikterus. Penderita dalam keadaan umum yang buruk atau syok perlu segera ditolong dan diatasi dahulu syoknya. edema tungkai dan sakral. Bila dugaan penyebab perdarahan SMBA adalah pecahnya varises esofagus. kegagalan ginjal atau kegagalan fungsi hati berupa koma. spider nevi. 5) suhu badan dan 6) apakah ada tanda-tanda syok. asites.Perlu dilakukan anamnesis yang teliti dan bila keadaan penderita lemah atau kesadarannya menurun dapat diambil alloanamnesa dari pengantarnya. Beberapa hal yang perlu ditanyakan antara lain : 1) Apakah penderita pernah menderita atau sedang dalam perawatan karena penyakit hati seperti hepatitis kronis. sirosis hati. penderita perlu segera diperiksa keadaan umumnya yaitu : 1) derajat kesadaran. ginekomasti. eritema palmarum. 4) pernapasan. c. sedangkan pemeriksaan penunjang diagnosis ditunda dahulu sampai keadaan umum membaik. venektasi dinding perut. payah jantung. perlu dipikirkan kemungkinan keganasan lambung atau keganasan hati lobus kiri. 3) nadi. perlu dicari tanda-tanda sirosis hati dengan hipertensi portal seperti: hepatosplenomegali. 2) tekanan darah.

doudenum. SGOT. a) Pemeriksaan endoskopik Pemeriksaan endoskopik dengan fiberpanendoskop dewasa ini juga sudah dapat dilakukan di beberapa rumah-sakit besar di Indonsia. 9) morfologi darah tepi dan fibrinogen. lambung.1) Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan laboratorik dianjurkan dilakukan sedini mungkin. fosfatase alkali. Dari publikasi pengarang-pengarang luar negeri dan juga ahli-ahli di Indonsia terbukti pemeriksaan endoskopik ini sangat penting untuk menentukan dengan tepat sumber perdarahan SMBA. 3) hematokrit. tergantung dari lengkap tidaknya sarana yang tersedia. 5) lekosit. Disarankan pemeriksaan-pemeriksaan seperti berikut: 1) Golongan darah. amoniak. polip atau tumor di esofagus. 4) jumlah eritrosit. diikuti dengan pemeriksaan lambung dan doudenum. koma atau syok adalah: kreatinin. 7) waktu perdarahan. globulin. SGPT. 6) trombosit. Pemeriksaan dilakukan dalam berbagai posisi dan diteliti ada tidaknya varises di daerah 1/3 distal esofagus. Pada endoskopik darurat dapat ditentukan sifat dari perdarahan yang sedang berlangsung. sebaiknya dengan kontras ganda. analisa gas darah. AntiHBS. sedangkan ahli-ahli lain melakukan terapi dengan laser endoskopik pada perdarahan lambung . 2) Hb. ureum. Beberapa ahli langsung melakukan terapi sklerosis pada varises esofagus yang pecah. gama GTkolinesterase. Mula-mula dilakukan pemeriksaan esofagus dengan menelan bubur barium. 10) Pemeriksaan tes faal hati bilirubin. gula darah sewaktu. 12) Pemeriksaan yang diperlukan pada komplikasi kegagalan fungsi ginjal. protein total. elektrolit. 11) HBSAg. 2) Pemeriksaan radiologik Pemeriksaan radiologik dilakukan sedini mungkin bila perdarahan telah berhenti. atau apakah terdapat ulkus. 8) waktu pembekuan. albumin.

Penanganan Hematemesis a. Pada hipovolemik ringan diberi transfusi sebesar 25% dari volume normal. Pada hipovolemik berat/syok.100 tetes atau dapat lebih cepat bila perdarahan masih terus berlangsung.1000cc perlu diberi infus Dextrose 5%. Tindakan umum b. Kecepatan transfusi berkisar pada 80 -. sebaiknya di bawah pengawasan tekanan vena sentral.dan esofagus. perlu segera ditransfusi. sebaiknya dalam bentuk darah segar.9%. Diagnosis banding a. Resusitasi 1) Infus/Transfusi darah Penderita dengan perdarahan 500 -. Malignansi 6. juga dapat dilakukan aspirasi serta biopsi untuk pemeriksaan sitologi. Ulkus gastric c. Gastritis erosive hemorrhagic d. Pemeriksaan ini memerlukan peralatan dan tenaga khusus yang sampai sekarang hanya terdapat dikota besar saja. Pada penderita sirosis hati dengan asites/edema tungkai sebaiknya diberi infus Dextrose 5%. Ringer laktat atau Nacl 0. b) Pemeriksaan ultrasonografi dan scanning hati Pemeriksaan dengan ultrasonografi atau scanning hati dapat mendeteksi penyakit hati kronik seperti sirosis hati yang mungkin sebagai penyebab perdarahan saluran makan bagian atas. Pada perdarahan yang tidak berhenti perlu . Keuntungan lain dari pemeriksaan endoskopik adalah dapat dilakukan pengambilan foto slide.50% dari volume normal. kadangkala diperlukan transfusi sampai 40 -. film atau video untuk dokumentasi. 5. Esofagitis erosi h. Varises esophagus e. Penderita dengan perdarahan yang masif lebih dari 1000 cc dengan Hb kurang dari 8g%. Gastropati hipertensi portal f. Sindroma Mallory-weiss g. Ulkus duodenum dan duodenitis erosive b.

2 gram tiap 6 jam melalui pipa nasogastrik. Sesudah air kurasan menjadi merah muda atau jernih.dipikirkan adanya DIC. dapat diberi infus plasma ekspander maksimal 1000 cc. atau 50 mg tablet tiap 12 jam.6 jam i. . 2) Lavas lambung Setelah keadaan umum penderita stabil. defisiensi faktor pembekuan path sirosis hati yang lanjut atau fibrinolisis primer. selang seling dengan Dextrose 5%. Bila air kurasan lambung tetap merah.Sedangkan pada perdarahan ulkus peptikum. maka disarankan dilakukan pemeriksaan endoskopi yang dapat menentukan lokasi perdarahannya. Pada perdarahan varises esofagus yang tidak berhenti setelah lavas air es.v.15 cc setiap jam disertai simetidin 200 mg tiap 4 -. kemudian per oral. Setiap pemberian 1000 cc darah perlu diberi 10 cc kalsium glukonas i. setelah perdarahan berhenti dapat mulai diberi susu + aqua calcis 50 -.2 jam. Bilamana darah belum tersedia. demikian juga simetidin dapat diberi per oral 200 mg tiap 4 ± 6 jam. b) pirenzepin 20 mg tiap 8 jam i. terutama pada penderita dengan ulkus peptikum dan gastritis hemoragika. untuk mencegah terjadinya keracunan asam sitrat. karena plasma ekspander dapat mempengaruhi agregasi trombosit. Pemberian asam traneksamat dan karbazokrom dapat pula diberikan. dan secara bertahap ditingkatkan pada diit makanan lunak/bubur saring dalam porsi kecil setiap 1 -.100 cc/jam. mula-mula setiap 30 menit 1 jam. Sebagai pengganti simetidin dapat diberikan : a) sucralfate sebanyak 1 -. dipasang pipa nasogastrik untuk aspirasi isi lambung dan lavas air es.v. gastritis hemoragika dan lainnya. 3) Hemostatika Yang dianjurkan adalah pemberian Vitamin K dalam dosis 10 . berguna untuk menetralkan dan menekan sekresi asam lambung yang berlebihan. Bila perdarahan berhenti. karena bermanfaat untuk memperbaikidefisiensi kompleks protrombin.v. diperlukan tindakan medik intensif yang akan dibicarakan kemudian. antasida diberikan dalam dosis lebih rendah setiap 3 -.4 jam 10 cc. 4) Antasida dan simetidin Pemberian antasida secara intensif 10 -.40 mg sehari parenteral. penderita terus dipuasakan.

c. b) Sterilisasi usus dan lavement usus Terutama pada penderita sirosis hati dengan perdarahan varises esofagus perlu dilakukan tindakan pencegahan terjadinya koma hepatikum/ensefalopati hepatik yang disebabkan antara lain oleh peningkatan produksi amoniak pada pemecahan protein darah oleh bakteri usus. Beta Bloker Pemberian obat-obat golongan beta bloker non selektif seperti propanolol.Selain itu perlu dilakukan lavement usus dengan air biasa setiap 12 -. . dianjurkan pemberian infus Comafusin Hepar 1000 -. Sterilisasi usus dengan antibiotika yang tidak dapat diserap misalnya Neomisin 4 x 1 gram atau Kanamycin 4 x 1 gram/hari.c) somatostatin dilarutkan dalam infus NaCl 0.4 mg dalam 50 cc air.9% dengan dosis 250 ug/jam.1500 cc per hari. Untuk pencegahan ensefalopati hepatik dapat diberi infus Aminofusin Hepar 1000 -. sehingga pembuatan amoniak oleh bakteri usus berkurang. Laktulosa atau sorbitol 200 gram/hari dalam bentuk larutan 400 cc yang bersifat laksansia ringan atau magnesiumsulfat 15g/400cc melalui pipa nasogastrik.24 jam. Dapat pula diberikan bubuk trombin (Topostasin) misalnya 1 bungkus tiap 2 jam melalui pipa nasogastrik. Tindakan khusus 1) Medik intensif a) Lavas air es dan vasopresor/trombin intragastrik Bila perdarahan tetap berlangsung.1500 cc per hari.Bila penderita telah berada dalam keadaan prekoma atau koma hepatikum. ii. oksprenolol. iii. sehingga di bawah pengawasan endoskopik dapat mengikuti langsung apakah perdarahannya berhenti dan apakah terbentuk gumpalan darah yang agak besar yang perlu aspirasi dengan endoskop. alprenolol ternyata dapat menurunkan tekanan vena porta pada penderita sirosis hati. Ada ahli yang menyemprotkan larutan trombin melalui saluran endoskop tepat di daerah perdarahan di lambung. dicoba lavas lambung dengan air es ditambah 2 ampul Noradrenalin atau Aramine 2 -. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan : i.

200 cc Dextrose 5%. Infus Vasopresin Vasopresin mempunyai efek kontraksi pada otot polos seluruh sistem baskuler sehingga terjadi penurunan aliran darah di daerah splanknik. Vasopresin terutama diberikan pada penderita perdarahan varises esofagus yang perdarahannya tetap berlangsung setelah lavas lambung dengan air es.akibat penurunan curah jantung sehingga aliran darah ke hati dan gastrointestinal akan berkurang. infark miokard. yang selanjutnya menyebabkan penurunan tekanan portal. Balontamponade . iv. Selain itu juga ada penderita yang mengeluh tentang kolik abdomen.100%. rasa mual. fibrilasi ventrikel dan kardiak arest pada penderita y penderita jantung koroner dan usia lanjut. maka selain di esofagus. Beberapa ahli lain menganjurkan pemberian infus vasopresin dengan dosis rendah.80%. diare. Cara pemberian vasopresin ialah 20 unit dilartkan dalam 100 -. yaitu 0. Efek samping pada pemberian secara cepat ini yang pernah dilaporkan adalah angina pektoris. Karena pembuluh darah arteri gastrika dan mesenterika ikut mengalami kontraksi.1 unit per menit untuk 8 jam berikutnya.2 unit vasopresin per menit untuk 16 jam pertama dan bila perdarahan berhenti setelah itu. y Efek vasopresin dalam menghentikan perdarahan SMBA berkisar antara 35 . karena efek vaso kontriksi dari vasopresin pada arteri koroner. juga pada penderita asma dan penderita gangguan irama jantung seperti bradikardi/AV Blok. Pada cara pemberian infus vasopresin dosis rendah lebih sedikit efek sampingyang ditemukan. perdarahan dalam lambung dan doudenum juga ikut berhenti.20 menit intravena. v. perdarahan ulang timbul pada 21 100% dan mortalitas berkisar pada 21 . Obat golongan beta bloker ini tidak dapat diberikan pada penderita syok atau payah jantung. dosis diturunkan 0. diberikan dalam 10 -.

bila mungkin telah diendoskopi.Tamponade dengan balon jenis Sengstaken Blakemore Tube atau Linton Nachlas Tube diperlukan pada penderita ± penderita varises esofagusyang perdarahannya tetap berlangsung setelah lavas lambung dan pemberian infus vasopresin. sambil penderita disuruh menelan sampai SB Tube masuk ke lambung. yang tidak dapat diberikan infus vasopresin. hingga garis ukuran pipa bagian luar menunjukkan 50 cm dekat lubang hidung. . SB Tube terdiri dari 2 balon. Prinsip bekerjanya SB atau LN Tube adalah mengembangkan balon di daerah kardia dan esofagus yang akan menekan. tidak koma/syok/gelisah dan kooperatif. y Balon lambung dikembangkan dengan 30 .50 cc udara dan SB Tube ditarik perlahan-lahan ke luar sampai balon lambung mencapai kardia dan terasa adanya tahanan pada penarikan lebih lanjut. Protokol pemasangan SB Tube : y Penderita secara klinis menderita perdarahan varises esofagus. y Keadaan umum cukup baik. Tindakan pemasangan balon ini merupakan pilihan pertama pada penderita jantung koroner dan usia lanjut. y SB Tube dimasukkan secara perlahan-lahan melalui lubang hidung. y Pemasangan dilakukan oleh dokter atau perawat yang berpengalaman. sedangkan LN Tube terdiri hanya dari 1 balon yang mengkompresi daerah distal esofagus dan kardia. Angka pada garis ukuran SB Tube di lubang hidung berkisar antara 40 .45 cm. kurang dari 12 jam setelah dirawat. y Pemasangan dilakukan sedini mungkin. dan dengan demikian menghentikan perdarahan di esofagus dan kardia. y Sebelumnya dilakukan lavas lambung untuk mengeluarkan isi lambung terutama gumpalan darah. y Balon SB sebelum dipasang harus dites tidak bocor dan kemudian diolesi dengan salep zylocain atau parafin. masing-masing untuk lambung dan esofagus.

sodium morrhuate melalui esofagoskop kaku atau serat optik. SB Tube dipasang maksimal48 jam. tetapi 25 . polidokanol.y SB Tube difiksasi dengan plester. Teknik penyuntikan dapat paravasal atau intravasal.sedangkan mortalitas berkisar antara 20 . maka metoda ini telah ditinggalkan. y Pemasangan SB Tube berkisar antara 12 . Terapi ini dapat dilakukan segera setelah hematemesis berhenti. Di sini perdarahan dapat .92% perdarahan varises esofagus. balon SB Tube yang belum ditarik keluar itu dapat segera dikembangkan kembali. Tube terpasang. Lavas lambung dan pemberian obat -obatan dapat dilakukan melalui pipa sentral. balon esofagus kemudian dikembangkan dengan 100 . Komplikasi pemasangan SB Tube adalah obstruksi laring serta asfiksi akibat migrasi balonke hipofaring dan ulserasi esofagus.24 jam. Sklerosis varises endoskopik Sejak 1970 ahli-ahli mencoba menghentikan perdarahan varises esofagus dengan penyuntikan bahan-bahan sklerotik seperti etanolamin. Karena pemakaian esofagoskop kaku membutuhkan anestesi umum.60%. Bila terjadi y perdarahan ulang. pemasangan SB Tube dapat menghentikan 55 . karena pemasangan terlalu lama. dan sebagai komplikasi dapat terjadi ruptur esofagus. Menurut laporan peneliti -peneliti. bila tindakan medik intensif lainnya tidak berhasil. Sekarang lebih banyak digunakan endoskop serat optik baik yang umum maupun yang khusus dengan 2 saluran. kemudian dicoba dikempeskan dari dikontrol tiap-tiap jam dengan lava lambung apakah terjadi perdarahan ulang. Sekret di hipofaring perlu diaspirasi secara berkala.60% penderita kemudian mengalami perdarahan ulang. vi. y Penderita dipuasakan selama SB. penghisapan perdarahan yang mungkin terjadi dapat dilakukan melalui saluran kedua. sehingga sewaktu penyuntikan dilakukan melalui saluran pertama. tetapi tergantung dari keahlian dokternya dapat dilakukan juga pada penderita yang sedang mengalami perdarahan akut.200 cc udara tergantung ukuran SB Tube.

dihentikan pada 80 . viii. Perdarahan varises esofagus umumnya segera berhenti. Bila perdarahan dapat dihentikan dengan SB Tube atau infus vasopresin. ditambah gel foam atau otolein.10 hari.100%. Embolisasi varises transhepatik Caranya.14%. perdarahan ulang terjadi pada 10 40% sedangkan mortalitas selama dirawat mencapai 30%. Koagulasi laser endoskopik Bila pemberian vasopresin. Selanjutnya sebanyak 30 -. Mortalitas penderita yang diterapi dalam stadium interval ini lebih rendah 4 . dengan tuntunan ultrasonografi dimasukkan jarum ke dalam hati sampai mencapai vena porta yang melebar. ulserasi. Seorang . effusi pleura. karena tekniknya sukar dan sering mengalami kegagalan yang disebabkan trombosis vena porta atau adanya asites. vii. striktur dan stenosis dari esofagus.3% (116 dari 127 penderita). kemudian disorong kateter melalui mandrin tersebut sepanjang vena porta sampai mencapai vena koronaria gastrika dan disuntikkan kontras angiografin.3 x terapi dengan jangka waktu 7 . Metoda ini belum banyak laporannya dalam kepustakaan. Hanya alat ini sangat mahal. Ada ahli yang melaporkan keberhasilan sampai 91.50 cc Dextrose 50% disuntikkan melalui kateter diikuti dengan suntikan trombin. Komplikasi metoda ini yang pernah dilaporkan adalah nyeri retrosternal. Demikian juga perdarahan SMBA lainnya seperti pada ulkus peptikum dan keganasan ternyata dapat dihentikan dengan koagulasi laser endoskopik. Pada transhepatik portalvenografi ini akan terlihat vena-vena kolateral utama termasuk varises esofagus. Varises yang luas umumnya membutuhkan 2 . Komplikasi yang membahayakan adalah perdarahan intraperitoneal dari bekas tusukan jarum tersebut. pemasangan SB Tube dan sklerosis varises endiskopik gagal dalam menghentikan perdarahan varises esofagus. mungkin dapat diterapkan terapi koagulasi dengan Argon/Neodym Yag Laser secara endoskopik. nekrosis. terapi sklerosis ini dilakukan beberapa hari kemudian. mediastinitis.

seperti ikterus. . dan lain-lain. setelah keadaan umum penderita membaik dan pemeriksaan diagnostik telah selesai dilakukan. kadar Hb. terjadi/tidaknya perdarahan ulang. tekanan darah selama Hemodinamik tidak stabil perawatan.peneliti melaporkan bahwa 5 bulan sesudah embolisasi timbul varises esofagus yang baru. Bila tidak diperlukan tindakan bedah darurat. 2) Tindakan khusus Setelah usaha-usaha medik intensif di atas mengalami kegagalan dan perdarahan masih berlangsung. Perdarahan dari ulkus peptikum ventrikuli atau duodeni serta keganasan SMBA yang tidak berhenti dalam 48 jam juga memerlukan tindakan bedah. encefalopati dan golongan menurut kriteria Child. Prognosis Pada umumnya penderita dengan perdarahan saluran makan bagian atas yang disebabkan pecahnya varises esofagus mempunyai faal hati yang buruk/terganggu sehingga setiap perdarahan baik besar maupun kecil mengakibatkan kegagalan hati yang berat. seperti pintasan portosistemik atau transeksi esofagus untuk perdarahan varises esofagus. dapat dilakukan tindakan bedah elektif setelah 6 minggu. Hasil penelitian Hernomo menunjukan bahwa angka Perdarahan aktif kematian penderita dengan perdarahan saluran makan bagian atas dipengaruhi oleh faktor kadar Hb waktu dirawat. Penilaian Awal dan Resusitasi Anamnesis dan pemeriksaan fisik Tanda vital Akses vena Selang nasogastrik Pemeriksaan laboratorium Hb. keadaan hati. trombosit Pemeriksaan hemostasis Cairan kristaloid Cairan koloid Trnsfusi darah Hemodinamik stabil Tidak ada perdarahan aktif 7. Ht. Banyak faktor yang mempengaruhi prognosis penderita seperti faktor umur. maka perlu dilakukan tindakan bedah darurat.

.Mengingat tingginya angka kematian dan sukarnya dalam menanggulangi perdarahan sakuran makan bagian atas maka perlu dipertimbangkan tindakan yang bersifat preventif terutama untuk mencegah terjadinya sirosis hati.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful