Laporan Akhir

1. RINGKASAN
dengan versi dokumen elektronik dari
Ringkasan, Laporan Utama, Laporan Studi
Sektoral dan Laporan Studi Pra-kelayakan
2. LAPORAN UTAMA
dengan versi dokumen elektronik dari Laporan
Utama, Laporan Studi Sektoral dan Laporan
Studi Pra-kelayakan
3. LAPORAN STUDI SEKTORAL
4. LAPORAN STUDI PRA-KELAYAKAN
Pendahuluan
Menanggapi permintaan dari Pemerintah Indonesia, Pemerintah Jepang memutuskan untuk
melaksanakan Studi Implementasi Tata Ruang Terpadu Wilayah Metropolitan Mamminasata
di Sulawesi Selatan Indonesia dan menugaskan pelaksanaannya pada Japan International
Cooperation Agency (JICA).
JICA mengirimkan Tim Studi ke Indonesia sejak April 2005 sampai Juni 2006. Tim Studi
terdiri dari KRI International Corp. dan Nippon Koei Co., Ltd. di bawah pimpinan Mr.
Hajime KOIZUMI sebagai Ketua Tim Studi.
Tim Studi telah melaksanakan serangkaian diskusi dengan instansi pemerintah baik pada
Tingkat Pusat maupun daerah, orang dan pakar yang berpengalaman dan para akademisi,
instansi swasta seperti perencana perkotaan dan LSM serta melaksanakan survey dan
pelatihan-pelatihan, Studi Lepang ke Curitiba, Brazil serta beberapa pilot proyek yang
partisipatif yaitu proyek penanaman pohon, barter sehat dalam pengelolaan sampah. Setelah
menyelesaikan tugas di Indonesia, Tim Studi kembali ke Jepang untuk melanjutkan kajian dan
menyusun Laporan Akhir ini.
Diharapkan laporan ini akan berkontribusi dalam implementasi Tata Ruang Terpadu
Metropolitan Mamminasata dan sekaligus juga menguatkan hubungan persahabatan antara ke
dua Negara.
Saya menghaturkan penghargaan yang setinggi-tingginya ke pada semua aparat pemerintah di
tingkat Pusat dan Daerah yang tirut terlibat atas kerjasama yang erat dan dukungan terhadap
Tim Studi selama pelaksanaan Studi ini.
Juli 2006
Takashi KANEKO
Wakil Ketua
Japan International Cooperation Agency
Juli 2006
Surat Penyerahan
Kepada
Yth. Mr. Takashi KANEKO
Wakil Ketua
Japan International Cooperation Agency
Dengan hormat kami sampaikan Laporan Akhir Studi Implementasi Tata Ruang Terpadu
Wilayah Metropolitan Mamminasata Propinsi Selatan Indonesia. Studi ini dilaksanakan oleh
Tim Studi dari KRI International Corp. and Nippon Koei Co., Ltd. bekerjasama dengan
counterpart yang ditugaskan oleh Departemen PU melalui Direktorat Jenderal Penataan
Ruang dan Badan Kerjasama Pembangunan Metropolitan Mamminasata (BKSPMM) Propinsi
Sulawesi Selatan.
Pelaksanaan Studi ini mengutamakan pendekatan partisipatif yang diterapkan dalam
serangkaian diskusi, dan tukar pendapat dengan para pihak terkait melalui enam kali
lokakarya, tujuh kali seminar dan lebih dari 30 kali pertemuan kelompok kerja. Telah pula
diberikan kesempatan berpartisipasi bagi generasi muda melalui seminar yang dihadiri oleh
mahasiswa, dan kesempatan bagi siswa SMU dan SMP untuk menuangkan impiannya lewat
lomba gambar tentang kota idaman masa depan di tahun 2020. Pendekatan partisipatif juga
diimplementasikan dalam beberapa proyek pilot yaitu proyek penanaman pohon, pengelolaan
sampah dengan sistem barter sehat dan pendidikan lingkungan..
Laporan akhir ini terdiri dari (a) Tata Ruang Terpadu Mamminasata (b) Studi Sektoral dan (3)
Studi Pra-Kelayakan untuk proyek-proyek prioritas pilihan. Diharapkan laporan-laporan ini
dapat bermanfaat dalam melancarkan implementasi rencana tata ruang dengan visi dan
sasaran yang sama yaitu menciptakan Metropolitan Mamminasata yang Clean, Creative and
Coordinated ( bersih, kreatif dan terkordinasi)
Tim Studi menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan dan kerjasama
dari berbagai pihak, para counterpart, instansi pemerintah dan swasta dan seluruh masyarakat
Mamminasata selama berlangsungnya Studi ini di Sulawesi Selatan. Laporan Akhir ini adalah
buah dari kerjasama semua orang yang terlibat dalam studi ini.
Hormat Kami
Hajime KOIZUMI
Ketua Tim Studi
Peta Wilayah Studi: Wilayah Metropolitan Mamminasata
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA,
PROVINSI SULAWESI SELATAN
INDONESIA
RINGKASAN
Daftar Isi
Pendahuluan
Surat Penyerahan
Peta Wilayah Studi: Wilayah Metropolitan Mamminasata
Latar Belakang S-1
Wilayah Metropolitan Mamminasata S-2
Tujuan Perencanaan Tata Ruang Mamminasata S-3
Kerangka Pembangunan S-3
Strategi Pengembangan Ruang S-5
Tata Ruang Mamminasata S-6
Rencana Pengembangan Ekonomi S-9
Perbaikan Prasarana Urban S-12
Peningkatan Prasarana Ekonomi S-14
Program Pembangunan S-16
Studi Pra Kelayakan S-18
Penguatan Institusi S-21
Rekomendasi Umum S-22
Lampiran 1 Daftar Anggota Studi
Lampiran 2 Proyek/Program Prioritas Jangka Pendek
Lampiran 3 Usulan Pedoman Pengendalian Tata Guna Lahan di Mamminasata untuk
Pengelolaan dan Pengendalian Pembangunan Perkotaan
Lampiran 4 Pembentukan Organisasi dan Administrasi Badan Pengelolaan
Pembangunan Mamminasata (BPPM)
Lampiran 5 Buku Sebaran Rencana Tata Ruang Terpadu
Versi Dokumen Elektronik
1. Laporan Ringkasan
2. Laporan Utama
3. Laporan Studi Sektoral
4. Laporan Studi Pra-Kelayakan
Nilai Tukar Mata Uang
US Dollar 1,00 = Rupiah 9.700.–
(Rata-rata di tahun 2005)
kecuali ditetapkan secara khusus
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 1
Ringkasan
Latar Belakang
1. Indonesia dengan jumlah penduduk 215 juta jiwa (2002), telah mencapai
pertumbuhan ekonomi yang mantap sejak akhir tahun 1990. Rata-rata PDB per kapita
mencapai Rp. 7.260.000 pada tahun 2003. Akan tetapi baik penduduk maupun ekonomi
terdistribusi tidak merata baik di tingkat regional maupun propinsi, sebagian besar
terkonsentrasi di P. Jawa. Kawasan
Metropolitan utama di Jawa seperti
Jakarta dan Surabaya telah
berkembang tanpa kordinasi yang
memadai, dengan tingkat perpindahan
penduduk yang cukup menyolok ke
wilayah metropolitan . Dalam rangka
pencapaian perkembangan sosial
ekonomi secara keseluruhan, dan juga
lebih harmonisnya pembangunan di
kawasan urban, semi urban dan rural
maka Pemerintah Indonesia melalui
Direktorat Jenderal Penataan Ruang
Departemen PU telah menyusun
perencanaan pada tingkat regional, propinsi dan Kabupaten. Studi ini bertujuan untuk
menjadi model perencanaan Tata Ruang untuk kota metropolitan dalam tingkat propinsi.
2. Propinsi Sulawesi Selatan (jumlah penduduk sekitar 8,3 juta jiwa) akhir-akhir ini
mencatat pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari pada
pertumbuhan Nasional. Akan tetapi rata-rata PDB per kepala masih pada tingkatan 60%
dari rata-rata nasional dengan produktivitas tenaga kerja yang rendah. Jumlah penduduk
Sulawesi Selatan sebanyak 3% dari populasi total nasional, namun hanya memberikan
kontribusi sebesar 2% dari GDP.
Tabel S-1: Perbandingan Sosio-Ekonomi
Sulawesi Selatan Wilayah Sulawesi Indonesia
Populasi (2003) (‘000) 8,253 15,382 215,276
Persentase Populasi (Sulawesi) 53% - -
Persentase Populasi (Indonesia) 3.8% 7.1% -
GRDP (2002) (juta rupiah) 36,550,293 69,193,213 1,610,011,612
Persentase GRDP (Sulawesi) 52% - -
Persentase GRDP (Indonesia) 2% 4% -
GRDP per kapita (2002) (Rp.) 4,412,138 4,487,962 7,262,048
Sumber: Buku Statistik Indonesia Tahun 2003, BPS
DKI Jakarta
East Kalimantan
East Jawa
West Jawa
North Sumatera
Sulawesi Selatan
Papua
Bali North Sulawesi
Central Sulawesi
Southeast Sulawesi
2% 3% 4% 5% 6% 7%
Indonesia: 4.0%
Change in GRDP (CAGR), 1999-2002
L
a
b
o
r

P
r
o
d
u
c
t
i
v
i
t
y

(
1
9
9
3

C
o
n
s
t
a
n
t

P
r
i
c
e
;

M
i
l
l
.

R
p
)
,

2
0
0
2
-5
0
5
10
15
20
25
0%
Indonesia: 4.25 Mill. Rp.
Gbr. S-1: Kondisi ekonomi tahun 1999-2002
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 2
Untuk memacu pertumbuhan ekonomi regional, pemprov memutuskan membentuk
rencana untuk pengembangan pusat wilayah Metropolitan Mamminasata, yang mencakup
daerah urban, semi-urban, dan rural di kota Makassar dan Kabupaten Maros, Gowa, dan
Takalar. JICA telah diminta untuk meng-upgrade rencana tata ruang yang ada, merancang
gambaran yang lebih jelas untuk tahun sasaran 2020 dan merekomendasikan
strategi-strategi untuk implementasi yang lebih realistis. (lihat Laporan Utama Bab 2)
3. Studi tersebut telah dilaksanakan oleh Tim JICA dengan bekerjasama dengan tenaga
ahli counterpart Indonesia seperti tercantum pada Annex 1. Tenaga ahli JICA dan Indonesia
mengorgasinasikan lima jenis kelompok kerja untuk diskusi dan kajian sektoral. Sebanyak
lebih dari 30 kali diskusi kelompok kerja telah dilaksanakan selama studi berlangsung.
Lokakarya juga dilaksanakan beberapa kali untuk saling mengenali sudut pandang
masing-masing tenaga ahli, akademisi dan LSM serta sektor terkait lainnya. Untuk
memahami sudut pandang generasi muda diadakan lomba gambar untuk murid SMP dan
SMA. Alih teknologi tenaga ahli JICA dilaksanakan melalui seminar-seminar dan
lokakarya. Pelatihan khusus interpretasi dan perencanaan dengan GIS juga telah
dilaksanakan. Studi lapang ke Curitiba Brazil juga telah memberikan pembelajaran yang
mendalam tentang perencanaan kota yang manusiawi dan ramah lingkungan.
Wilayah Metropolitan Mamminasata
4. Wilayah Metropolitan
Mamminasata yang terdiri dari
Makassar, Maros, Gowa, dan
Takalar memiliki luas sekitar
2,462 ঠ dengan estimasi
jumlah penduduk 2.25 juta jiwa
(2005). Wilayah Mamminasata
menyumbangkan 36% dari
PDB Sulsel, sedangkan Kota
Makassar memberikan
kontribusi hampir 77% dari
pertumbuhan ekonomi
Mamminasata. Dengan mudah
dapat dipahami peran yang akan dijalankan oleh Mamminasata dalam pembangunan
ekonomi Sulawesi Selatan. Akan tetapi dengan peran yang penting tersebut Mamminasata
masih tergolong kurang dinamis.
Change in GRDP (CAGR), 2000-03
Luwu Utara
Bantaeng
Bone
Bulukumba
Jeneponto
Majene
Mamuju
Pangkep
Parepare
Pinrang
Polmas
Selayar
Sidrap
Sinjai Soppeng Wajo
Mamminasata
Barru
0
1
2
3
4
5
6
7
8
-4% -2% 0% 2% 4% 6% 8%
South Sulawesi: 2.5%
Mill. Rp.
Makassar
76.8%
L
a
b
o
r

P
r
o
d
u
c
t
i
v
i
t
y

(
1
9
9
3

C
o
n
s
t
a
n
t

P
r
i
c
e
;

M
i
l
l
.

R
p
)
,

2
0
0
3
-8%
S South Sulawesi: 3.77 Mill. Rp.
-6%
Gbr. S-2: Kondisi ekonomi Mamminasata tahun 2000-2003
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 3
Tujuan Perencanaan Tata Ruang Mamminasata
5. Melalui serangkaian diskusi untuk mencapai kesepakatan antar wilayah, telah
dirumuskan empat tujuan perencanaan tata ruang Mamminasata yaitu (i) untuk menetapkan
target dan persepsi yang sama untuk Mamminasata ke depan untuk manfaat bagi semua
orang dan semua stakeholder, (ii) untuk menciptakan wilayah metropolitan yang harmonis
sejalan dengan perlindungan lingkungan dan peningkatan amenitas, (iii) untuk
meningkatkan standar hidup masyarakat, menjamin lapangan kerja dan layanan sosial yang
memadai dan (iv) dan sebagai model bagi pengembangan wilayah metropolitan lainnya di
Indonesia. Sasarannya adalah untuk menciptakan wilayah Metropolitan Mamminasata
yang nyaman untuk dihuni bagi generasi mendatang. Semua upaya stakeholder harus
diarahkan untuk menciptakan Clean, Creative and Coordinated Metropolitan
Mamminasata. (Lihat Bab 3)
Kerangka Pembangunan
6. Menjelang tahun 2020, jumlah penduduk Mamminasata akan mencapai 2,88 juta jiwa
dengan rata-rata peningkatan pertumbuhan 1,7%, yaitu pertambahan jumlah penduduk
sebanyak 630,000 jiwa dalam 15 tahun. Diagram penduduk akan menjadi lebih dekat
ke tipe pola urban dengan bentuk populasi piramida. Dengan skenario pertumbuhan
tingkat sedang, kerangka pembangunan di atur agar PDRB bertumbuh sebesar 7.1% per
tahun hingga mencapai sekitar Rp.13,9 trilyun pada tahun 2020. Kontribusi pertanian
terhadap ekonomi regional akan menurun dari 13,3% pada tahun 2005 ke sekitar 7.5%
pada tahun 2020 walaupun pertumbuhan produksi pertanian rata-rata 3% per tahun.
Kontribusi sektor pelayanan akan bertambah dari 51% ke 63% selama periode yang
direncanakan. Perhatian juga harus ditujukan pada perubahan sosial dan struktur ekonomi
wilayah (Lihat Bab 4.1 sampai 4.3)
Change in GRDP (CAGR), 2005-20
L
a
b
o
r

P
r
o
d
u
c
t
i
v
i
t
y

(
1
9
9
3

C
o
n
s
t
a
n
t

P
r
i
c
e
;

M
i
l
l
.

R
p
)
,

2
0
2
0
Agriculture
Manufacturing Industry
Electricity, Gas & Water
Supply
Trade, Restaurants & Hotel
Finance, Leasing & Business
Services
Services
Mining & Quarrying Transportation &
Communication
Construction
-10
0
10
20
30
40
50
60
0% 2% 4% 6% 8% 10% 12%
Average: 7.1%
Average: 11.23 Mill. Rp.
2005
2010
2015
2020
4% 6% 8% 10%
0
2
4
6
8
10
12
14
0% 2%
L
a
b
o
r

P
r
o
d
u
c
t
i
v
i
t
y

(
1
9
9
3

C
o
n
s
t
a
n
t

P
r
i
c
e
;

M
i
l
l
.

R
p
)

Change in GRDP (CAGR)
Gbr. S-3: Proyeksi kondisi ekonomi
Mamminasata (2005~2020)
Gbr. S-4: Pertumbuhan ekonomi sedang di
Mamminasata
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 4
7. Pengurangan tingkat kemiskinan masih merupakan isu yang perlu diangkat bagi
Mamminasata. Tingkat kemiskinan di Sulsel masih sekitar 16% (2002), sedangkan di
Mamminasata bervariasi antar wilayah (mis., 5.6% di Makassar dan 23.7% di Maros).
Ditetapkan angka sasaran untuk mengurangi tingkat kemiskinan ke level 3–14%,
tergantung kondisi masing-masing wilayah pada saat ini. Karena investasi pemerintah
hanya terbatas pada sekitar 3–4% dari PDB, maka sesuai dengan Petunjuk BAPPENAS,
sektor swasta perlu didorong untuk melakukan investasi dengan tujuan membuka lapangan
kerja dan pengembangan ekonomi yang diharapkan memberikan dampak pada
pengurangan tingkat kemiskinan (Lihat Bab 4.4 dan 4.5)
8. Walaupun ekonomi Mamminasata akan
bertumbuh dengan relatif tinggi dan kemiskinan akan
dikurangi, kerangka pembangunan ditetapkan dengan
memberikan perhatian yang sama atau bahkan lebih
pada perlindungan lingkungan dan amenitas. Hal ini
disebabkan karena ruang hijau dan areal hutan sudah
terlampau banyak berkurang, amenitas urban sangat
memburuk sementara kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sudah semakin
meningkat. Disarankan untuk meningkatkan luas ruang hijau Kota Makassar sampai dua
kali lipat dari 440 ha pada tahun 2005 ke 880 ha menjelang tahun 2020. Luas total ruang
hijau dan hutan di Mamminasata akan bertambah sebanyak 25.000 ha dalam 15 tahun.
Struktur ruang harus dibentuk dengan mempertimbangkan ruang hijau dan perlindungan
lingkungan, untuk melengkapi kebutuhan tata guna lahan untuk kebutuhan pertambahan
penduduk (lihat Bab 4.6 dan 4.7)
Tabel S-2: Kerangka Ruang Hijau Mamminasata
㩷 Mks㩷 Maros㩷 Gowa㩷 Takalar㩷 Total
(%)㩷 2.4㩷 44.5㩷 19.8㩷 19.0㩷 28.7
Saat ini*㩷
(ha)㩷 440㩷 46,620㩷 14,300㩷 10,450㩷 71,810
(%)㩷 5.0㩷 57.0㩷 33.0㩷 22.0㩷 38.0
Target ke depan
(ha)㩷 880㩷 59,440㩷 23,900㩷 12,590㩷 96,810
Kebutuhan areal
tambahan 㩷
(ha)㩷 +440㩷 +12,820㩷 +9,600㩷 +2,140㩷 +25,000
Catatan: *Ruang hijau termasuk hutan, semak belukar dan lapangan rumput yang diidentifikasi dari peta
yang disiapkan oleh BPN
Illustrasi ruang terbuka hijau
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 5
Strategi Pengembangan Ruang
9. Telah dikenal secara luas bahwa
Mamminasata diharapkan berfungsi
sebagai pembangunan administrasi,
sosial dan economi di kawasan Timur
Indonesia. Dengan melihat
ketersediaan sumberdaya regional,
disarankan agar Mamminasata ke
depan dapat berfungsi sebagai hub
logistik dan perdagangan. Di Sulawesi
Selatan Metropolitan Mamminasata
akan berkembang sebagai pusat
regional, sementara kota-kota besar
lainnya akan menjadi pusat
sub-regional. Mamminasata dan
Sulawesi Selatan akan dikembangkan
dalam bentuk klaster (mis., Klaster
Mamminasata dan Sulawesi Selatan),
untuk mendorong keterpaduan vertikal
dan horizontal dari kegiatan industri
Perlu diberikan nilai tambah pada setiap tahapan rantai nilai, utamanya pada indusri
pengolahan (Lihat Bab 5.1 sampai 5.3)
10. Sejalan dengan peningkatan ekonomi, perlu diberikan perhatian yang lebih besar
terhadap perlindungan lingkungan di Mamminasata. Karena polusi air dan udara semakin
bertambah dengan meningkatnya volume limbah cair domestik dan limbah padat demikian
pula kemacetan lalu lintas maka tindakan perlindungan lingkungan sangat dibutuhkan.
Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, penerapan 3R (reduction-reuse-recycling) dari
limbah padat dan pengelolaan lingkungan yang tepat sangat dibutuhkan untuk menciptakan
masarakat berorientasi siklus di Mamminasata. Dalam hal ini pendekatan partisipatoris
tidak dapat diabaikan demikian pula untuk perlindungan lingkungan. Tanpa pengelolaan
lingkungan yang sesuai, Mamminasata dapat terjerumus menjadi wilayah yang tidak sehat
dan tidak nyaman untuk dihuni (Lihat Bab 5.3 sampai 5.7)
Gbr. S-5: Struktur ruang di kalster Sulawesi Selatan
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 6
Sampah yang mengambang di pantai Drainase yang tersumbat oleh sampah buangan
Tata Ruang Mamminasata
11. Diusulkan definisi sonasi tata
guna lahan yang jelas untuk
Mamminasata, dalam hal ini lahan
diklasifikasikan ke dalam zona urban,
zona semi-urban, zona produktif dan
zona proteksi. Ke depan akan
dibutuhkan sekitar 7,000 ha lahan
untuk pemukiman. Sedangkan untuk
kebutuhan industri pengolahan yang
memiliki nilai tambah yang lebih tinggi,
dibutuhkan persiapan lahan tambahan
700 ha. Luas lahan untuk hutan dan
kawasan hijau seperti telah dibahas
sebelumnya akan mencapai sampai
97000 ha. Termasuk wilayah reboisasi
seluas 25000 ha. Dalam zoning tata
guna lahan perhatian khusus harus
diberikan untuk lahan-lahan riparian
yang ekosistemnya sensitif dan tidak
terpulihkan jika telanjur rusak. Dengan alasan inilah maka wilayah estuaria sungai Tallo
yang bermuara di sebelah utara kota Makassar ditetapkan sebagai area control pada zona
perencanaan urban dan pelarangan penggunaan lahan tersebut untuk industri, komersil dan
pemukiman. ( rincian dapat dilihat pada Bab 6.1)
12. Kota Makassar telah dipadati oleh pemukiman dan kegiatan komersil yang
menyisakan hanya sedikit sekali ruang hijau. Lalu lintas juga sudah sangat terbebani
Gbr. S-6: 9 area tata guna lahan di Mamminasata
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 7
dengan kepadatan yang tinggi. Dalam usulan tata ruang Mamminasata penduduk diarahkan
untuk tinggal di zona-zona sub-urban. Gambar memperlihatkan kondisi penduduk kota
Makassar dan kabupaten lainnya saat ini dan ke depan. Untuk menampung pertambahan
penduduk, pengembangan kota-kota baru di rencanakan di bagian Timur Makassar.
Gbr. S-7: Jumlah penduduk saat ini dan
pada tahun 2020 di
masing-masing wilayah
Gbr. S-8: Illustrasi perkembangan kota-kota baru
13. Di wilayah pusat kota Makasar ditemukan pemukiman padat yang tidak terkontrol
dan kegiatan komersil perdagangan, selain itu bangunan bersejarah, pepohonan dan
peninggalan budaya juga sudah mulai rusak. Misalnya, Fort Rotterdam dan sekitarnya
disarankan untuk direnovasi dengan merancang lebih banyak ruang hijau untuk amenitas
dan landsekap yang lebih baik. Demikian pula, lahan sepanjang jalan utama sebaiknya
dimanfaatkan dengan tingkat penggunaan yang lebih tinggi. Sejumlah aturan tata guna
lahan akan diperlukan untuk mengendalikan tata guna lahan di zona urban dan semi-urban.
Downtown area of Makassar, where many
historical heritages remains, will be conserved
under regulated development volume to
contribute to urban tourism enhancement, while
suburban area of Makassar, especially along
the major roads such as Jl. Pettarani and
Jl.Sultan Alauddin should be more highly
utilized in land use together with reallocation of
government office which is now scattering
around the roads.
Historical Buildings
Green Space
Green Space
Water-front
Downtown in Makassar
Gbr. S-9: Penggunaan lahan dengan
intensitas tinggi di sepanjang jalan utama
Gbr. S-10: Illustrasi renovasi pusat kota
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 8
14. Perkembangan kota yang semrawut tidak terarah sudah berlangsung, Makassar dan
pusat kota di Mamminasata sudah menjadi kota-kota yang tidak memiliki daya tarik
lingkungan. Beberapa inisiatif telah dilakukan
oleh sektor pemerintah dan swasta seperti
program keindahan kampung Kassi-kassi
dengan penghijauan dan bunga-bunga akan
tetapi hasilnya masih belum maksimal. Sampah
berserakan di mana-mana, sepanjang jalan,
kanal, sungai dan pantai yang menyebabkan
terkontaminasinya air dan perairan.
Pemeliharaan selokan dan saluran drainase
menurunkan kapasitas drainase dan
menyebabkan genangan dan banjir di tempat-tempat yang rendah. Karena tidak terdapat
Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik, maka kontaminasi akan semakin buruk jika
tidak segera diambil tindakan yang tepat baik oleh pemerintah maupun oleh penduduk
setempat. Proyek pilot yang diujicobakan dalam studi ini memperlihatkan bahwa dengan
sedikit investasi dan biaya rendah, pengelolaan limbah padat dapat meningkatkan
kesadaran masyarakat, mengurangi sampah dan meningkatkan kualitas lingkungan urban.
(Rincian dapat dilihat pada Bab 6.2)
Photo sebelum pilot proyek dimulai Photo saat pilot proyek berlangsung
Gamba rmemperlihatkan photo-photo sebelum dan sesudah program Kanal bersih
15. Aparat pemerintah, termasuk sektor lingkungan di Mamminasata telah memperoleh
pembelajaran yang berharga dari studi lapang di Curitiba Brazil. Yang penting
digaris-bawahi dari hasil studi lapang tersebut adalah bahwa walaupun dengan anggaran
dinas lingkungan hidup yang terbatas, pemerintah kota Curitiba telah berhasil
meningkatkan luas ruang hijau dengan partisipasi para pihak. Pendekatan partisipatoris
nampaknya efektif dan disarankan untuk diaplikasikan juga untuk konservasi lingkungan
hidup di Mamminasata, dan dengan demikian kesadaran masyarakat dapat ditingkatkan
sehingga mereka juga dapat ikut berbagi tanggung jawab. Karena peraturan lingkungan
relatif telah baku, maka sistem monitoring harus diperkuat. Selanjutnya setiap
Photo: Jalan di Kassi-Kassi
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 9
Kabupaten/kota di Mamminasata harus menentukan tindakan yang perlu dilakukan untuk
perbaikan lingkungan, baik secara individu maupun secara kolektif. biodiversitas dan
ekosistem harus dilindungi demi Mamminasata yang berkelanjutan. (Rincian pada Bab 6.3)
Photo Metropolitan Hijau Curitiba (Urbanscape of Curitiba City, Brazil)
Wawancara dengan mantan walikota Curitiba, BrazilÆ
Rencana Pengembangan Ekonomi
16. Pertanian masih merupakan
kegiatan ekonomi utama di
Mamminasata, walaupun
kontribusinya terhadap ekonomi
regional secara berangsur dikurangi.
Karena lahan pertanian terletak
sangat dekat dengan pusat konsumen
yaitu Makassar, maka pola tanam
juga sebaiknya berubah dari pola
tanam padi-padi-palawija ke
budidaya tanaman yang memiliki
nilai lebih tinggi seperti sayuran dan
buah. Karena lahan budidaya
pertanian akan berkurang
sehubungan dengan urbanisasi ke
wilayah irigasi dan non-irigasi, perubahan pola tanam semacam ini lebih rasional untuk
mempertahankan pertumbuhan pertanian yang lebih mantap. Untuk itu petani harus dibina
untuk membudidayakan tanaman yang memiliki nilai lebih tinggi. Peternakan juga perlu
didorong secara lebih strategis jika berdasarkan pada kenyataan bahwa kebutuhan daging
dan susu akan semakin bertambah seiring dengan meningkatnya standar hidup masyarakat,
utamanya di wilayah urban. Perikanan laut dalam, laut dangkal dan perikanan darat perlu
Gbr. S-11: Tata guna lahan Pertanian Tahun 2020
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 10
juga dikembangkan dengan teknologi maju berdasarkan pertimbangan adanya kebutuhan
potensial yang tinggi untuk ikan. Diharapkan dengan usulan pengemabngan pertanian
yang telah diajukan, maka pertanian di Mamminasata akan mencapai pertumbuhan yang
berkelanjutan pada rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 3% ( Lihat Bab7.1)
17. Industri pengolahan di Mamminasata
akan tetap tergantung terutama pada hasil
pertanian dan pertambangan yang terdapat di
Sulawesi Selatan. Kakao, vanilla, rumput laut
dan produk lokal lainnya adalah komoditi
ekspor, oleh karena itu harus diproses lebih
dahulu untuk memberikan nilai tambah pada
wilayah. Pengolahan kakao misalnya harus
ditingkatkan sejalan dengan rantai nilai.
Dengan perbaikan varitas dan kualitas kakao
Mamminasata dapat merebut posisi menjadi
produsen utama produk berbasis kakao.
Direncanakan juga untuk menempatkan
industri-industri pengolahan produk pertanian secara kolektif pada area tertentu di
Mamminasata sehingga membentuk klaster dengan memperhitungkan musim panen dari
produk potensial. Industri berbasis sumberdaya lokal lainnya seperti semen, marmer,
perabot dll juga akan diklasterkan sehingga dapat membentuk kompleks industri produk
perumahan. ( Bab 7.2)
Gbr. S-13: Sonasi industri di Mamminasata
Gbr. S-12: Illustrasi klaster berbasis kakao
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 11
18. Perdagangan harus dikembangkan
di Maminasata secara lebih strategis
sehubungan dengan pengembangan
pelabuhan dan Bandar udara. Walaupun
Makassar memiliki sejumlah besar
pergudangan akan tetapi hanya
menyimpan bahan baku yang bernilai
tambah rendah yang dijual langsung ke
pasar. Salah satu penyebab rendahnya nilai
tambah dalam perdagangan adalah karena
terbatasnya industri penunjang seperti
industri label dan pengemasan, kurangnya
sistem untuk mengembangkan pusat-pusat
logistik. Industri logistik harus
dikembangkan secara strategis sejalan
dengan perbaikan sistem transportasi.
Makassar juga diharapkan berfungsi
sebagai pusat finansial regional untuk
mendorong promosi industri logistik dan
industri pengolahan. (Bab 7.2)
19. Pariwisata juga merupakan salah satu industri yang akan
dikembangkan di Mamminasata. Matahari terbenamnya adalah
salah satu daya tarik yang terkenal di dunia. Sejumlah aset sejarah
dan budaya di Mamminasata juga menarik baik bagi turis
mancanegara maupun domestik. Penyelaman sekeliling pulau-pulau
lepas pantai juga cukup terkenal. Mamminasata memiliki juga daya
tarik pegunungan dalam jarak yang cukup dekat. Makassar juga
berfungsi sebagai pintu gerbang ke titik wisata Toraja. Meskipun
peningkatan jumlah turis asing secara drastis kemungkinannya
kecil, namun Mamminasata dapat mengharapkan peningkatan
jumlah turis domestik untuk MICE (meetings, incentives,
conventions and exhibitions). Celebes Convention Center, yang
sedang dalam tahap konstruksi akan berkontribusi besar dalam
meningkatkan wisata MICE. Dalam konteks ini juga Mamminasata
harus menciptakan lingkungan dan amenitas yang nyaman di setiap
wilayah. ( Lihat Bab 7.3)
Perbaikan Prasarana Urban
20. Prasarana urban di Mamminasata telah meningkat secara substansial dalam dekade
Molasse
Maize
Maize
Maize
Cement, Clinker
Cacao, Molasse, Maize
Cacao
Rice
Rice
Rice
Cacao
PareParePort
MakassarPort
Catatan: Semua jalur transportasi komoditas yang
tercantum pada peta menggunakan transportasi darat.
Gbr. S-14: Akumulasi barang ekspor ke
pelabuhan Makassar.
Sunset di Makassar
Illustrasi
Pusat Konvensi yang baru
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 12
yang lalu, termasuk penanggulangan banjir dan perbaikan drainase setelah rampungnya
dam dan waduk Bili-bili yang terletak di S. Jeneberang. Banjir pada hilir sungai Tallo,
S.Maros dan S. Pappa/Gamanti dapat dikontrol dengan membangun kawasan penyangga
dan sudetan. Perbaikan selanjutnya untuk sistem drainase harus diterapkan utamanya
melalui tindakan non-struktural dalam bentuk rehabilitasi selokan dan saluran yang ada,
penampungan sementara untuk air hujan badai dan pengaturan legal lainnya. Komunitas
urban didorong untuk turut bertanggung jawab dalam kebersihan kanal di wilayahnya.
(Lihat Bab 8.1)
Gbr. S-15: Rencana konseptual untuk perbaikan S. Tallo, S.Maros dan S.Pappa/Gamanti
21. Pasokan air bersih Mamminasata juga akan ditingkatkan. Persentase populasi
yang akan terlayani oleh air bersih olahan hanya terbatas sebanyak 70% di Makassar, 10%
di Maros, 11% di Gowa and 4% di
Takalar. Untuk Makassar dan Gowa,
pengembangan IPA (Instalasi
penjernihan Air) Somba Opu dari
kondisi saat ini 1,1 m
3
/detik ke
3,3 m
3
/detik) perlu dilakukan
bersamaan dengan penurunan
jumlah air hilang (di Makassar air
hilang berkisar 48%). Di Maros
dan Takalar, sistem pasokan air
lokal juga akan ditingkatkan untuk
memenuhi kebutuhan air bersih dan
untuk itu studi tingkat pra Studi
Kelayakan dilaksanakan dalam
studi ini (Lihat Bab 8.2 dan 11.1).
Gbr. S-16: Diagram Pasokan air bersih olahan
N
Retarding
Basin
Restriction on
Development
T
allo
R
.
Dike
Cut-off
Cut-off
T
a
llo
R
.
B
a
n
g
k
a
la
R
.
Maros R. Bantimurung R.
A
r
p
a
r
a
n
g
R
.
0 1 2 3 4 5km
Retarding
Basin
Restriction on
Development
Dike
Cut-off
N
Retarding
Basin
Restriction on
Development
Dike
Dike
G
am
anti (Biringkassi) R
.
P
a
p
p
a
R
.
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 13
Pada saat yang bersamaan, juga sudah harus
dimulai tahapan awal untuk perbaikan instalasi
pengolahan air limbah domestik misalnya (i) sistem
off-site untuk wilayah dengan kepadatan penduduk
lebih besar dari 100 orang/ ha, (ii) system on-site
untuk wilayah urban yang kurang padat, (iii) lubang
pelumeran untuk wilayah dengan air tanah dalam,
dan (iv) tangki septik dengan lubang pelumeran
untuk wilayah dengan air tanah dangkal.
Direkomendasikan pelaksanaan implementasi
bertahap untuk perbaikan saluran limbah cair
domestik. (Lihat Bab 8.2)
22. Kekurangan dalam
pembuangan limbah padat
memperlihatkan salah satu
persoalan serius yang harus
dikemukakan untuk
mengembalikan Mamminasata
yang bersih. Seperti telah dibahas
sebelumnya, jalan, selokan dan
kanal drainase penuh sampah dan
lokasi TPA (Tempat Pembuangan
Akhir) sampah di Makassar sudah
hampir penuh. Menurut
pengalaman, kesadaran masyarakat
harus dimulai di sekolah. Hasil
ujicoba program proyek pilot
pemilahan sampah berbasis
komunitas dan barter sehat atau
kanal bersih, harus direplikasi
secara sistematis. Karena lokasi
TPA baru akan dibangun dan
Kabupaten Gowa telah setuju
untuk membuka TPA baru untuk
Mamminasata maka seharusnya
diimplementasikan sebagai proyek
kerjasama regional. Dalam studi ini juga dilaksanakan kajian dalam tingkatan Pra Studi
kelayakan untuk pembangunan TPA. ( lihat Bab 8.3 dan 11.2)
Gbr. S-17: Sistem peningkatan
pengolahan limbah cair domestik
jangka panjang
Photo –photo pengelolaan sampah secara partisipatoris
Gbr. S-18: Illustrasi TPA di masa mendatang,
dikombinasikan dengan fungsi daur ulang
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 14
Peningkatan Prasarana Ekonomi
23. Kondisi pasokan listrik menurun secara
progresif karena meningkatnya kebutuhan dan
terlambatnya perampungan pembangkit baru, juga
kerusakan gardu induk fasilitas distribusi.
Beberapa industri manufaktur telah menutup
pabriknya karena kekurangan pasokan listrik.
Untuk menjamin pasokan listrik yang stabil, maka
perencanaan pembangkit listrik yang ada dan
penjadwalan pembiayaan harus dikaji ulang oleh
Produsen tenaga listrik independen (IPPs =
independent power producers). Dengan
meningkatnya harga minyak dalam beberapa
tahun terakhir ini, perencanaan PLTA akan
mengurangi ketergantungan tenaga listrik
terhadap minyak bumi. Demikian pula kapasitas
transformer harus diperbesar utamanya di gardu
induk Daya, Tello, Panakkukang and
Sungguminasa. Di lain pihak, konservasi energi
harus dipromosikan sebagai pengelolaan
kebutuhan. Telekomunikasi di Mamminasata dalam beberapa tahun ini menunjukkan
peningkatan yang besar, akan tetapi pelayanannya masih sangat mahal dan tidak dapat
diandalkan. Masih dibutuhkan pengembangan selanjutnya untuk mampu mendukung
Mamminasata menjadi hub logistik dan perdagangan regional. (Lihat Bab 9.1, 9.2 dan
11.4)
24. Kondisi lalulintas di Mamminasata
semakin memburuk terutama disebabkan
oleh meningkatnya volume lalulintas.
Hasil survey lalu lintas dan simulasi
memperlihatkan bahwa kemacetan akan
menjadi cukup serius sepanjang jalan-jalan
utama di Mamminasata, khususnya di
dalam dan sekitar kota Makassar, dan hal
ini menghambat pertumbuhan ekonomi
dan menurunkan kualitas lingkungan di
wilayah metropolitan.
Gbr. S-19: Grid transmisi di masa
mendatang
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
1,000 2,500 5,000 vehicles
Bone
Sinjai
Bulukumba
Bantaeng
Jeneponto
Makassar
Pangkep
Barru Soppeng
Other Kabupaten
MAMMINASATA
Metropolitan Area
Takalar
Gowa
Maros
Gbr. S-20 Jalur-jalur ideal di Mamminasata
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 15
397
6
4
1
7
9
766
710
95
1
1
7
1
1
1
2
3
845
6
2
8
1
0
3
8
8
9
4
6
4
6
52
6
3
6
5
3
6
5
3
6
5
2
4
2
5
3
3
4
2
5
1
8
6
9
7
9
7
1
0
5
7
0
5
4
73
2
8
1
3
4
5
1333
1000
10001
0
0
0
1
0
0
1
3
8
65
86
2
1
93
7
4
7
619
5
2
6
2
2
8
90 237
334
266
3
4
9
4
0
7
332
231593876
1226
3
0
3
6
3
7
9
5
5
208
9
8
2
9
9
6
5
8
58
5
7
2
9
27
3
0
3
6
4
4
1
0
1
7
40
3
7
8
226
273
403
101
66
1039
1
6
5
9
9
1
3
0
1
1
6
1
1
6
1
4
4
1
4
4
8
5
5
2
63
230
162
1
0
8
54
179
6
5
12
7
3
0
227
4
1
7
4
7
8
78
556
8
4
101
481
498 6
4
5
95
2
6
5
1 2672
9
3
1
4
6
4
4
35
3
3
4
8
1
1
1
4
4
1
2
7
5
1
3
8
6
415
7
6
136
129 265
208
1
8
9
583 238
1
3
3
3
4
2
5
252
355
813
3
3
1
204
440
607
1
1
9
5
8
1
252
3
2
6
2
92
4
6
5
5
2
0
5
2
3
9
6
5
5
1
5
1
2
5
4
2
5
4
2 116
6
0
4
567 6
4
1
VCR<2.00
2.00<VCR
scale: 1mm =30000(pcu)
392
6
1
2
7
5
266
210
15
9
9
8
9
9
3
64
0
4
1
8
5
8
4
5
2
7
3
0
6
29
9
3
5
7
3
5
7
3
5
7
2
3
6
5
4
0
4
2
6
1
8
1
8
2
8
2
9
4
7
2
5
2
65
2
4
0
3
4
8
1117
799
799
7
9
9
9
9
1
5
3
71
94
2
3
93
3
9
7
325
3
6
6
1
7
8
90 175
334
266
3
2
2
3
3
2
335
250596868
923
3
8
4
8
3
7
4
8
26
3
5
1
8
7
5
5
8
58
1
5
4
0
37
3
8
4
5
1
1
1
4
1
1
5
2
232
273
152
44
5
499
62
1
6
6
1
1
7
1
3
7
8
9
8
9
5
7
5
7
4
5
3
7
81
232
162
54
171
6
3
120
1
4
2
77
3
5
9
1
0
9
197
44
443
481 6
3
0
878
5
5
5
245
2
8
2
1
5
0
4
3
05
2
4
4
8
0
1
0
4
1
1
2
9
7
1
3
9
8
367
8
3
125
219 344
375
1
5
6
620 271
1
1
1
7
4
2
6
475
350
723
210
381
164
1
5
1
5
0
5
236
3
1
2
2
4
7
3
13
6
1
3
4
1
2
4
6
3
1
6
7
5
4
5
5
3
7
7
4
7
8
4
7
8 52
472 448
1
7
5
6
3
1
3
5
5
3
0
8
3
9
4
1
4
4
9
2
5
3
5
4
8
4
333
1
0
2
355
257
2
8
8 5
0
8
158
7
5
7
5
4
9
1
9
9
1
5
0
3
8
1
5
6
5
4
7
3
3
3
1
3
6
9
4
2
0
2
6
3
3
0
3
0
0
2.00<VCR
scale: 1mm =30000(pcu)
Tanpa peningkatan jalan Dengan peningkatan jalan
Gbr. S-21: Kondisi Lalu lintas tanpa dan dengan peningkatan jalan 2020
Melalui analisis simulasi terhadap volume lalu lintas telah diklarifikasikan bahwa
peningkatan jalan yang paling urgen adalah (i) Jalan tol Sutami antara pelabuhan Makassar
dan Bandar Udara Hasanuddin (yang akan dikerjakan dengan PFI) and (ii) Jl. Perintis
bersama Jl Urip Sumoharjo (studi pra
kelayakan dilaksanakan dalam studi ini).
Pada saat yang bersamaan Jalan
Trans-Sulawesi dan Mamminasata
Bypass juga harus segera dilaksanakan.
Beberapa proyek jangka pendek juga
akan termasuk yaitu (i) Jl. Alauddin,
(ii) Perpanjangan Jl. Hertasning baru
(iii) Jl. Malino, dan (iv) Jalan akses
Takalar. Perbaikan semacam itu harus
didesain untuk mendapatkan penampang
melintang jalan yang lebih baik dan
memiliki jalur hijau. Layanan
transportasi publik harus diperbaiki
dengan layanan bis dan terminal yang
Gbr. S-22: Rencana jaringan jalan keseluruhan
[Jangka panjang]
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 16
lebih baik. Yang dikombinasikan dengan layanan pete-pete dan becak untuk jarak pendek.
Pengelolaan kebutuhan lalu lintas juga disoroti untuk kota Makassar. Dengan penggantian
moda transportasi campuran, penggunaan kendaraan pribadi secara tepat, penggunaan
kendaraan yang lebih efisien dan perencanaan kota yang efektif untuk meminimalkan
beban lalulintas. ( Lihat Bab 9.3 dan 11.4)
Gbr. S-23: Desain konseptual Penampang jalan Jl. Perintis Kemerdekaan
25. Pelabuhan Makassar telah ditingkatkan untuk menyediakan layanan konteiner.
Dengan meningkatnya volume aliran kargo, otoritas pelabuhan (Pelindo IV) mengundang
investor swasta untuk konstruksi dan operasi pelabuhan laut baru yang terletak di sebelah
utara pelabuhan saat ini. Mereka bermaksud menarik investor dengan mengijinkan
pembangunan perumahan di atas lahan reklamasi untuk konstruksi pelabuhan. Walaupun
belum dapat dipastikan apakah ada investor yang tertarik pada operasi pelabuhan plus
perumahan, disarankan untuk lebih mengutamakan peningkatan produktifitas dermaga saat
ini dan juga mengkaji sistem pembiayaan berbasis kemitraan pemerintah-swasta
(public-private-partnership=PPP)) untuk pengembangan pelabuhan lebih lanjut. Di
Bandara Hasanuddin penumpang dan volume cargo yang ditangani meningkat dengan
nyata. Peningkatan pekerjaan diawali dengan desain yang cukup ambisius untuk memiliki
landasan pacu yang baru (3,100 m x 45 m), taxiway, tempat parkir untuk 17 pesawat, dan
bangunan terminal penumpang (48,500 ট). Sistem bantuan navigasi juga ditingkatkan.
Pengembangan di pelabuhan laut dan bandara akan memberikan dampak yang nyata untuk
mendorong Mamminasata menjadi hub logistic dan perdagangan di kawasan Timur
Indonesia. (Lihat Bab 9.3)
Program Pembangunan
26. Sejumlah proyek dan program telah direkomendasikan untuk pembangunan jangka
pendek, menengah dan panjang menuju tahun 2020. Program tersebut dikelompokkan
menjadi (i) program-program yang mendukung pembangunan ekonomi, (ii) program
pembangunan lingkungan hidup urban, (iii) program pembangunan prasarana ekonomi dan
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 17
(iv) program pengelolaan urban dan penguatan institusi. Demikian pula penyusunan
rencana tindak untuk usulan implementasi dalam jangka pendek, menengah dan panjang.
Dalam peningkatan lingkungan provement hidup dan penguatan institusional. Proyek/
program prioritas yang akan diimplementasikan dalam jangka pendek dicantumkan pada
Lampiran 2. Badan pengelola Pembangunan Mamminasata (BPPM) diharapkan berfungsi
untuk bertanggungjawab secara keseluruhan dalam tahap implementasi rencana tindak
( Lihat Bab 10.1 dan 10.2)
27. Pengaturan pembiayaan
untuk implementasi program
usulan perlu diatur secara tepat
antara pemerintah dan pihak-pihak
swasta. Walaupun anggaran
pembangunan pada tingkat
nasional, propinsi dan
Mamminasata agak terbatas, masih
memungkinkan untuk mengelola
investasi pemerintah dalam skala
yang memungkinkan untuk
melakukan pinjaman dengan
jangka pinjaman yang lebih panjang dan bunga rendah. Pihak swasta juga harus didorong
untuk melakukan investasi di sektor energi listrik dan jalan tol (lihat Bab 10.3)
10%
Transfer fund
10%
90%
Rp.
280
Mamminasata Budget
Rp.
1.8T
rillio
n
Origin Fund
20᧡
Routine
Expenditur
e
80%
Transfered
Revenue
80%
Development
20
South Sulawesi Budget
Rp.
850B
illion
Origin
Fund
52᧡
Routine
Expenditure 56%
Transfered
Revenue
48%
Development
expenditure
34%
National Budget
Total
revenue
Rp.
350Trillion
Routine
Expenditure
Rp.
184.4
Trillion
Development
Expenditure
Rp.
70.9
Trillion
Transfer
fund
Rp.
120
Trilli
on
18.9%
(49.3%)
expenditure
Rp
280
Billion
Gbr. S-25: Anggaran Pembangunan pada tingkat Nasional,
propinsi dan Mamminasata
(ii) Lingkungan urban &
program
pengembangan
prasarana
࡮Kontrol banjir dan drainase
࡮Air bersih dan limbah cair domestik
࡮Pengelolaan limbah padat
(iv) Pengelolaan urban/
Program Penguatan
institusi
࡮Penguatan organisasi
࡮Penguatan legislasi
࡮Sistem operasi pengelolaan urban
(i) Program Penunjang
Pembangunan Ekonomi
࡮Pertanian
࡮Industri
࡮Promosi Perdagangan dan investasi
࡮Pariwisata
Program
Pengembangan
Mamminasata
(iii) Program
Pengembangan
Infrastruktur Ekonomi
࡮Suplai listrik
࡮Layanan telekomunikasi
࡮Transportasi
Gbr. S-24: Empat Program Pengembangan
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 18
Table S-3: Pembiayaan untuk sector yang menguntungkan
Tabel S-4: Pembiayaan untuk sector semi dan non-profit
Studi Pra Kelayakan
28. Studi-studi pra kelayakan telah dilaksanakan untuk empat proyek prioritas pilihan
dalam rangka implementasi rencana pengembangan ruang di Mamminasata sesuai dengan
Lingkup Kerja Studi ini. Proyek pertama adalah peningkatan sistem penyediaan air di
Maros dan Takalar. Diusulkan sistem penyediaan air Bantimurung yang baru di Maros
dengan memanfaatkan mata air yang tersedia di Jamalah dengan kapasitas 180 lit/detik
1
.
Mata air ini dapat dimanfaatkan oleh 31.000 KK lain (sekitar 155.000 jiwa) yang
bermukim di bagian utara Maros melalui peningkatan rasio layanan penyediaan air
perpipaan dari 11,7% (2004) mencapai 61,0% (2010). Di Takalar, air tanah dari sumur
dalam akan diambil di tiga lokasi dengan total kapasitas 25 lit/detik untuk melayani 3.950
1
Penyediaan air harian Maksimum
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 19
KK tambahan melalui peningkatan rasio pelayanan dari yang saat ini 4,2% (2005) menjadi
50,0% di tahun 2010. Total perkiraan biaya untuk seluruh kegiatan peningkatan sistem
penyediaan air di Maros dan Takalar akan berjumlah US$ 20,8 juta.
Gbr. S-26: Peta Wilayah Pelayanan di Maros (kiri) dan Takalar (kanan)
29. Proyek kedua adalah peningkatan TPA untuk pengelolaan limbah padat. Desain
awal untuk usulan TPA baru di Pattallassang, Gowa telah dirancang. Sistem TPA
semi-aerobic diterapkan, dilengkapi dengan sarana-sarana yang memadai untuk pelindian,
pengendalian gas dan langkah-langkah perlindungan lingkungan lainnya. Proyek tersebut
juga memperlihatkan lokasi industri-industri daur ulang di Pattallassang. Setelah masa
penggunaan, TPA akan dimanfaatkan sebagai taman rekreasi atau lapangan olah raga. Total
biaya pembangunan TPA diperkirakan sekitar US$ 35,9 juta.
Gbr. S-27: Rancangan Perencanaan TPA Patallasang
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 20
30. Proyek ketiga adalah peningkatan kapasitas gardu induk dan rehabilitasi sistem
distribusi listrik. Meski beberapa peningkatan telah dilakukan baru-baru ini, namun
peningkatan tambahan dibutuhkan di gardu induk Panakkukang, Tanjung Bunga, Maros
dan Sungguminasa dengan kapasitas keseluruhan 180 MVA. Kemudian, penggantian dan
peningkatan jaringan distribusi voltase menengah/rendah dibutuhkan untuk menjaga
kestabilan penyediaan tenaga listrik di Mamminasata. Total perkiraan biaya untuk proyek
peningkatan kapasitas gardu induk dan rehabilitasi distribusi akan berjumlah sekitar
US$ 12,3 juta.
31. Proyek keempat adalah peningkatan Jalan Perintis-Urip dengan lebar jalan 42 m.
Untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di sepanjang jalan-jalan utama di Mamminasata,
Jalan Perintis-Urip harus ditingkatkan agar rasio volume-kapasitas (VCR) normal dapat
dijaga, walaupun jalan tol Ir. Sutami telah rampung. Di samping itu, peningkatan Jalan
Perintis-Urip diharapkan dapat berkontribusi terhadap perubahan tata guna lahan di
sepanjang jalan tersebut, dari yang sebelumnya digunakan secara serampangan menjadi
pengenalan tata guna lahan berkepadatan tinggi dan sedang seperti terlihat dalam gambar
berikut. Desain awal usulan peningkatan telah dipersiapkan, termasuk sarana-sarana terkait
dan relokasi utilitas-utilitas umum (seperti pipa air, jaringan listrik dan kabel-kabel
telekomunikasi). Total perkiraan biaya proyek akan mencapai jumlah US$61,2 juta,
termasuk biaya pembebasan lahan dan biaya relokasi sebesar US$ 20,1 juta. Evaluasi awal
perekonomian mengindikasikan bahwa tingkat EIRR (Economic Internal Rate of Return)
akan sebesar 30,6% dan bahwa program tersebut memiliki kelayakan ekonomi.
32. Total biaya konstruksi empat proyek prioritas akan mencapai jumlah US$ 110,1 juta
seperti dicantumkan pada tabel berikut. Kemungkinan akan diupayakan pula bantuan luar
negeri untuk membiayai implementasi proyek-proyek ini dalam satu paket.
Gbr. S-28: Gambaran Awal Penggunaan Lahan Sepanjang Jalan Perintis saat ini dan akan datang
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 21
Tabel S-5: Total Biaya Konstruksi Empat Proyek Prioritas
Nama Proyek Biaya Konstruksi
Juta US$ ( Milyar Rp. )
1. Peningkatan sistem penyediaan air bersih di Maros dan Takalar 20,8 (183)
2. Peningkatan TPA untuk pengelolaan limbah padat 35,9 (315)
3. Peningkatan kapasitas gardu induk dan rehabilitasi sistem distribusi listrik 12,3 (108)
4. Peningkatan Jalan Perintis-Urip 41,1 (360)
Total 110,1 (965)
Ket.: 1,00 Dollar US = 8.760 Rupiah (sesuai nilai tukar Mei 2006)
Biaya yang diindikasikan dalam tabel di atas tidak mencakup biaya untuk pembebasan lahan dan relokasi
Penguatan Institusi
33. Walaupun sejauh ini Badan Kerjasama Pembangunan Metropolitan Mamminasata
(BKSP-MM) telah mengambil inisiatif untuk penyusunan tata ruang akan tetapi
implementasi program usulan perlu dikordinasikan dan dikelola dalam kerangka legal dan
efektif oleh badan pengelola yang lebih kuat. Dalam konteks ini diharapkan dapat
ditetapkan Peraturan Presiden untuk implementasi Rencana Tata Ruang Metropolitan
Mamminasata. Demikian pula penyusunan peraturan untuk Pengelolaan Perkotaan juga
perlu dilakukan untuk pengendalian tata guna lahan di zona perencanaan urban dan semi
urban seperti Usulan draft Pedoman Pengendalian Tata Guna Lahan di mamminasata pada
Lampiran 3.
34. Penguatan institusi harus dimulai dengan pembentukan Badan Pengelola
Pembangunan Mamminasata (BPPM). Walaupun memerlukan waktu untuk
pembentukannya namun langkah-langkah awal perlu segera dimulai dengan
Divisi Prasarana dan
Lingkungan (Eselon III)
(5 orang)
Gubernur
Kepala Badan
(Eselon II)
BKSPMM
Ketua: Wakil Gubernur
Wakil Ketua: Walikota Makassar
Bupati Maros
Bupati Gowa
Bupati Takalar
Legal/Divisi Pembiayaan
(Eselon III)
(3 orang)
Divisi Database/Monitoring
(Eselon III)
(3 orang)
Sekretariat
Badan Pengelolaan Pembangunan Mamminasata (BPPM)
Advisory Committee
࡮ Private
࡮ Academic
Gbr. S-29: Organisasi BPPM (usulan)
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 22
pengorganisasian dan persiapan pengembangan kapasitas SDM bagi tenaga ahli pengelola
yang ditunjuk. Pengembangan SDM adalah kunci utama keberhasilan implementasi dan
manajemen serta pejabat terkait lainnya. Ketergantungan pada tenaga ahli dari luar
sebaiknya sedikit demi sedikit di kurangi sejalan dengan kemajuan program
pengembangan kapasitas SDM. (lihat Bab 12.2)
Rekomendasi Umum
35. Target ekonomi yang ditetapkan dalam kerangka pembangunan dapat dicapai jika
program usulan berhasil diimplementasikan. Perlu diingat bahwa semua stakeholder harus
memiliki persepsi visi yang sama dan masing-masing harus bertanggung jawab dalam
usaha merealisasikan program usulan. Masing-masing individu dan institusi harus
mengambil inisiatif dan bekerjasama satu sama lain untuk menciptakan wilayah
metropolitan yang nyaman untuk dihuni bagi generasi mendatang (lihat Bab 13.1 dan 13.2)
36. Rencana Tata ruang dan rencana tindak masing-masing Kabupaten/kota harus di kaji
oleh Kota Makassar, Kabupaten Maros, Gowa dan Takalar dengan mengacu pada rencana
tata ruang Mamminasata yang diusulkan, dengan demikian perencanaan masing-masing
akan terkordinasi dengan baik. Jika hal ini tidak direalisasikan maka rencana tata ruang
masing-masing Kabupaten/kota dan rencana Tata Ruang Mamminasata akan gagal. Untuk
acuan yang mudah dan terkordinasi maka diperlukan sistem data base yang dapat
digunakan bersama antar wilayah. Setiap wilayah juga harus sudah mulai membenahi
anggarannya dengan mengurangi pengeluaran rutin dan meningkatkan anggaran
pembangunannya (lihat Bab 13.2)
37. Kerjasama dan kemitraan dengan sektor swasta adalah kebutuhan vital untuk
keberhasilan implementasi rencana tata ruang Mamminasata dan rencana tata ruang
masing-masing wilayah Kabupaten/kota. Demikian pula kemitraan dengan sector
akademik harus ditingkatkan dan kearifan pemerintah, swasta dan akademik harus
dimobilisasi secara kolektif untuk merealisasikan creative Metropolitan Mamminasata.
Kolaborasi dengan LSM lokal juga perlu ditingkatkan utamanya dalam merealisasikan
clean Metropolitan Mamminasata. Isu-isu lingkungan juga perlu diangkat oleh stakeholder
di wilayahnya masing-masing. (lihat Bab 13.2)
38. Sudah perlu dimulai upaya dan langkah untuk mengimplementasikan rencana tindak
jangka pendek. Program tersebut akan membutuhkan pengaturan biaya anggaran baik pada
tingkat pusat, propinsi maupun tingkat kabupaten. Pembiayaan dari pihak luar juga akan
diperlukan. Dalam kerangka tersebut maka pemerintah propinsi dan BKSPMM harus
berkordinasi dengan lembaga donor internasional (lihat Bab 13.2)
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan
S - 23
39. Implementasi rencana tata ruang Mamminasata harus dipantau secara berkala dan
semua stakeholder harus mengambil buah pembelajaran. Karena kondisi sosial dan
ekonomi akan berubah dari tahun ke tahun maka direkomendasikan untuk mengadakan
kaji ulang terhadap usulan-usulan rencana tata ruang Mamminasata setiap lima tahun
berikutnya harus dilakukan pada sekitar tahun 2010. (lihat Bab 13.2)
LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Anggota Studi
Lampiran 2 Proyek/Program Prioritas Jangka Pendek
Lampiran 3 Usulan Pedoman Pengendalian Tata Guna Lahan di Mamminasata untuk
Pengelolaan dan Pengendalian Pembangunan Perkotaan
Lampiran 4 Pembentukan Organisasi dan Administrasi Badan Pengelolaan
Pembangunan Mamminasata (BPPM)
Lampiran 5 Buku Sebaran Rencana Tata Ruang Terpadu
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 1
A1-1
Lampiran 1
Daftar Anggota Studi
Departemen Pekerjaan Umum
Nama Posisi
Achmad Hermanto Dardak Direktur Jenderal, Direktorat Jenderal Penataan Ruang
Setia Budhy Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang
Bintarto Direktur Penataan Ruang Kawasan Timur Indonesia
Edison Kepala Sub-Direktorat Penataan Ruang Perkotaan dan Metropolitan
Shafik Ananta Inuman Kepala Seksi Penataan Ruang Metropolitan
Pertemuan Tingkat Tinggi Mamminasata
Nama Posisi
Syahrul Yasin Limpo Wakil Gubernur, Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan
Agus Arifin Nu’mang Wakil Ketua, DPRD Sulawesi Selatan
S. Ruslan Kepala BAPPEDA Propinsi Sulawesi Selatan
Ilham Arief Sirajuddin Walikota Makassar
Ichsan Yasin Limpo Bupati Gowa
Nadjamuddin Aminullah Bupati Maros
Ibrahim Rewa Bupati Takalar
I. Adnan Mahmud Ketua DPRD Makassar
Mallingkai Maknun Ketua DPRD Gowa
Burhanuddin Ketua DPRD Maros
Nafsah Baso Ketua DPRD Takalar
Syafruddin A. Pattiwiri Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman, Propinsi Sulawesi
Selatan
Syarif Burhanuddin Kepala Sub-Dinas Tata Ruang dan Program
Sri Wedari Harahap Kepala Seksi Penataan Ruang Propinsi dan Kawasan
Daftar Tenaga Ahli Nasional
Nama Posisi
M. Anas Dahlan Prasarana, BAPPEDA Propinsi Sulawesi Selatan
Yurnita Penataan Ruang, Propinsi Sulawesi Selatan
Muh. Masri Tiro Pembangunan Kawasan, Kota Makassar
Hasbi Nur Divisi Pemantauan dan Pengendalian, BAPEDALDA Propinsi
Shafik Ananta Inuman Kepala Seksi Penataan Ruang Metropolitan
STUDI IMPLEMENTASI
TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 1
A1-2
Daftar Anggota Tim Studi JICA
Nama Posisi
Hajime KOIZUMI Ketua Tim / Pembangunan & Penataan Ruang Regional
Hirohide KONAMI Penasehat Pengembangan Kapasitas – Pengelolaan Perkotaan
Keiro HATTORI Penasehat Pengembangan Kapasitas – Pengelolaan Lingkungan
Perkotaan
Takuya OKADA Wakil Ketua Tim / Perencanaan Perkotaan & Tata Guna Lahan
Akifumi WATANABE Wakil Ketua Tim / Pembangunan SDM & Kelembagaan
Akihisa KOJIMA Wakil Ketua Tim / Perencanaan Transportasi
Koki KANEDA Perencanaan Jalan
Kiminari TACHIYAMA Peramalan Kebutuhan Lalu Lintas
Koichi ARAKAWA Studi Lalu Lintas
Keishi ADACHI Ekonomi & Keuangan
Kensuke SAKAI Perencanaan Drainase, Air Bersih & Saluran Air Limbah
Satoshi HIGASHINAKAGAWA Perencanaan Pengelolaan Limbah Padat
M. TANIFUJI / M. KURODA Perencanaan Perumahan & Sarana Publik
Takeshi YAMASHITA Perencanaan Tenaga Listrik & Telekomunikasi
Ayako ISHIWATA Perencanaan Promosi Industri Regional
Yuki ISHIKAWA Perencanaan Promosi Pertanian dan Perikanan
Go KIMURA Perencanaan Promosi Pariwisata
Hiroto TSUGE Promosi Investasi & Perdagangan
Sachiyo TAKATA GIS & Tata Guna Lahan
Daikichi NAKAJIMA Pemetaan Topografi
Atsushi FUJINO Pengembangan Sosial
Dorothea AGNES Rampisela Pertimbangan Sosial & Perencanaan Partisipatoris
S. TERAMATSU / Y. KODA Perencanaan & Pertimbangan Lingkungan
Takayasu NAGAI Desain Jalan
Hiroaki TAKAHASHI Struktur Jalan dan Desain Jembatan
T. KAWAGOE / S. YAMAMOTO Perencanaan Sumber Daya dan Penyediaan Air
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 2
A2-1
Lampiran 2
Proyek/Program Prioritas Jangka Pendek
Program prioritas jangka pendek yang terpilih untuk diimplementasikan berdasarkan
pertimbangan sebagai berikut:
Proyek/program usulan untuk dilaksanakan pada tahun 2006 - 2010,
(i) Proyek/program yang akan berkontribusi terhadap Strategi Pembangunan
Mamminasata, khususnya terhadap peningkatan lingkungan perkotaan dan
prasarana ekonomi dasar,
(ii) Proyek/program yang akan berkontribusi terhadap penguatan kelembagaan,
khususnya terhadap pembentukan organisasi dan peraturan perundangan untuk
pengelolaan pemanfaatan lahan, dan
(iii) Proyek yang akan dipadukan untuk mencapai tujuan pembangunan yang sama.
Proyek-proyek prioritas yang diusulkan untuk mencapai lima target utama
pembangunan terpadu Mamminasata seperti tercantum di bawah ini.
Daftar Proyek/Program
Sektor Proyek/Program
1. Pembangunan Ekonomi 1.1 Peningkatan produktivitas pertanian dan diversifikasi
1.2 Peningkatan nilai tambah pengolahan
1.3 Penguatan perdagangan dan investasi
1.4 Pengembangan klaster komoditi-komoditi pilihan
1.5 Peningkatan daya tarik wisata
2.1 Perbaikan suplai air kota 2. Perbaikan Prasarana dan
Lingkungan Perkotaan 2.2 Pengolahan air limbah
2.3 Pengolahan limbah padat
2.4 Perbaikan penghijauan dan lingkungan tepian sungai
3.1 Perbaikan jalan arteri Mamminasata
3.2 Perbaikan manajemen lalu lintas
3. Perbaikan Prasarana
Ekonomi
3.3 Perbaikan transmisi dan distribusi energi
4. Penguatan Kelembagaan 4.1 Penguatan organisasi
4.2 Penguatan peraturan perundangan
4.3 Penguatan manajemen informasi
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 2
A2-2
Rencana Aksi Definisi
P
u
s
a
t
P
r
o
p
i
n
s
i
K
a
b
u
p
a
t
e
n
Pembangunan Ekonomi
1.1 Peningkatan
produktivitas pertanian
dan diversifikasi
Untuk meningkatkan penghasilan petani dengan meningkatkan produktivitas
pertanian melalui (i) peningkatan hasil panen, (ii) penerapan pemanfaatan
lahan intensif (iii) pengenalan pertanian yang dipadukan dan bercampur
dengan budidaya tambak, dan iv) pengembangan dan pengenalan ragam
tanaman unggulan.
Untuk memasok bahan baku dengan kuantitas dan kualitas yang memadai
untuk industri pengolahan hasil-hasil pertanian/perikanan, dengan jalan
meningkatkan pertalian antara industri-industri tersebut
Untuk memperkokoh sistem pemasaran komoditas, termasuk penyebarluasan
informasi pasar kepada para produsen dan pemberdayaan asosiasi/organisasi
produsen
(i) Peningkatan kualitas dan pengenalan hasil-hasil panen baru
(ii) Peningkatan produktivitas
(iii) Diversifikasi produk
(iv) Penguatan asosiasi/organisasi
9
9
9
9
9
9
9
1.2 Peningkatan nilai tambah
pengolahan
Memperkuat kapasitas lembaga pendukung industri dan pertalian antar pihak
terkait, sehingga fungsi dukungan terhadap pabrik dapat berjalan secara
efisien
(i) Pertalian antar lembaga diperkuat
(ii) Pembangunan sumber daya manusia untuk mendukung kegiatan
pengolahan
(iii) Lembaga-lembaga yang ada dimanfaatkan secara penuh dan kegiatan
O&P dilaksanakan sebagaimana mestinya
9
9
1.3 Penguatan perdagangan
dan investasi
Meningkatkan daya tarik Mamminasata sebagai lokasi investasi dengan
menyediakan insentif-insentif investasi dan juga untuk memperkokoh pertalian
antara produsen dan pasar (konsumen)
(i) Insentif-insentif investasi tersedia (pajak, penghargaan)
(ii) Pertalian antara produsen dan pasar diperkuat
9
1.4 Pengembangan klaster
komoditi-komoditi pilihan
Memperkuat pertalian regional dan sektor untuk meningkatkan nilai tambah
sumber daya lokal dan untuk mempromosikan pemanfaatan maksimal dari
sumber daya lokal tersebut
(i) Koordinasi regional diperkuat
(ii) Koordinasi hulu dan hilir diperkuat
(iii) Perbaikan kualitas
9
1.5 Peningkatan daya tarik
wisata
Meningkatkan daya tarik Fort Rotterdam dan daerah sekitarnya bagi para
wisatawan dan penduduk.
Meningkatkan daya tarik Fort Rotterdam dan daerah sekitarnya sebagai
“kawasan budaya dan sejarah” di kota tersebut
9 9
Perbaikan Prasarana dan Lingkungan Perkotaan
2.1 Perbaikan suplai air kota Tujuannya adalah untuk meningkatkan wilayah layanan penyediaan air di
wilayah Mamminasata secara keseluruhan, pemanfaatan IPA Somba Opu untuk
penyediaan air di Sungguminasa, dan menambah kapasitas pengelolaan
penyediaan air PDAM.
(i) Peningkatan kapasitas IPA Somba Opu (fase 2)
(ii) Perbaikan kehilangan air
(iii) Peningkatan kapasitas penyediaan air perpipaan Maros, Gowa, dan
Takalar
(iv) Peningkatan pengelolaan penyediaan air dan operasi (PDAM)
9
2.2 Pengolahan air limbah Tujuan dari pengolahan air limbah adalah untuk memperbaiki kualitas air kanal
dan lautan dan juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan
pentingnya pembersihan kanal.
(i) Sistem saluran air limbah off-site
(ii) Amenitas perkotaan (ruang hijau, taman)
(iii) Peningkatan kembali daerah perkotaan
9 9
9
9
9
9
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 2
A2-3
2.3 Pengolahan Limbah Padat Tujuan dari pengelolaan limbah padat adalah untuk menciptakan lingkungan
perkotaan yang bersih dengan membangun dan menata TPA, dan pada saat
yang sama, mengurangi volume sampah dengan memberdayakan masyarakat
(i) Pembangunan TPA untuk Makassar dan Gowa
(ii) Pengurangan buanganakhir
(iii) Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan limbah padat
(iv) Amenitas perkotaan (ruang hijau, taman)
9 9
9
9
9
9
2.4 Perbaikan penghijauan
dan lingkungan tepian
sungai
Tujuannya adalah untuk menciptakan kawasan hijau di daerah perkotaan dan
untuk melindungi kawasan hijau dalam zona semi perkotaan, yang diharapkan
dapat berdampak pada meningkatnya kenyamanan perkotaan.
(i) Peningkatan kawasan hijau di daerah perkotaan (Zona Perencanaan
Perkotaan) (taman, pohon-pohon di sepanjang jalan dan kanal/sungai)
(ii) Peningkatan kawasan hijau di luar daerah perkotaan (Zona Perencanaan
Semi Perkotaan & Zona Konservasi)
9
9
9
9
Perbaikan Prasarana Ekonomi
3.1 Perbaikan Jalan Arteri
Mamminasata
Tujuannya adalah untuk memperbaiki jalan arteri di Mamminasata, sehingga
kepadatan lalu lintas dapat dikurangi dan untuk mempercepat kegiatan
ekonomi.
Perbaikan jalan pilihan di wilayah Mamminasata
(i) Jl. Perintis (F/S, konstruksi) (jalan nasional)
(ii) Jl Hertasing(F/S, konstruksi) (jalan propinsi)
(iii) Jl. Abdullah Daeng Sirua (F/S, konstruksi) (jalan propinsi)
(iv) Trans-Sulawesi (F/S, konstruksi) (BOT)
(v) Bypass Mamminasa (F/S, konstruksi) (jalan nasional)
9
9
9
9
9
3.2 Perbaikan Manajemen
Lalu Lintas
Tujuannya adalah untuk memperbaiki manajemen lalu lintas dan sistem
transportasi publik.
(i) Layanan transportasi bis
(ii) Pengenalan manajemen lalu lintas (pete pete, becak, mobil, pedagang
kaki lima)
9
9
3.3 Perbaikan Transmisi dan
Distribusi Energi
Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan transmisi energi.
(i) Perluasan kapasitas trafo sub stasiun (Daya, Tello, Panakkukang,
Sungguminasa)
(ii) Peningkatan jaringan distribusi yang ada (rehabilitasi/peningkatan sarana
distribusi sebagai bentuk pengembangan kapasitas pemeliharaan)
9
Penguatan Kelembagaan
4.1 Penguatan Organisasi Untuk mendirikan sebuah organisasi permanen yang ditunjang oleh staf
berkualifikasi tinggi dan bekerja penuh untuk implementasi pembangunan
Mamminasata.
(i) Organisasi baru (Badan Pengelolaan Pembangunan Mamminasata:
BPPM) didirikan
(ii) BKSP dirombak
(iii) Pembentukan komite penasehat (swasta dan akademisi)
9
4.2 Penguatan Peraturan
Perundangan
Untuk merancang dan menetapkan peraturan perundangan (Perda Propinsi
atau SK Gubernur) untuk memperkuat pengelolaan pembangunan perkotaan,
khususnya pengendalian guna lahan, manajemen transportasi dan lingkungan.
(i) Penetapan Perpres “Rencana Tata Ruang Wilayah Metropolitan
Mamminasata”
(ii) Penetapan “Zoning Regulation” (Perda Propinsi)
(iii) Penetapan “Pengelolaan dan Pengendalian Transportasi”
(iv) Penetapan peraturan perundangan lain yang diperlukan menyangkut
pengelolaan perkotaan
9
4.3 Penguatan Manajemen
Informasi
Untuk membuat peta dan database yang dapat dijadikan dasar bagi
pengelolaan dan pengendalian perkotaan
(i) Database GIS
(ii) Peta
9
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-1
Lampiran 3
Usulan Pedoman Pengendalian Tata Guna Lahan di Mamminasata
untuk Pengelolaan dan Pengendalian Pembangunan Perkotaan
Rencana tata ruang wilayah Metropolitan Mamminasata telah menghasilkan suatu
rencana tata guna lahan yang memperlihatkan arah pembangunan wilayah metropolitan.
Agar rencana tata guna lahan tersebut dapat diterapkan dan ditaati, standar-standar
pengendalian harus ditetapkan secara jelas. Langkah-langkah pengendalian yang
diusulkan ádalah untuk (i) pengelompokan zonasi dan tata guna lahan, (ii) rasio tutupan
dan volume bangunan, dan (iii) guna bangunan. Tatanan guna lahan dan
langkah-langkah pengendalian diperlihatkan dalam skema di bawah ini.
Rencana tata ruang tersebut memperlihatkan tata guna lahan dari sudut pandang arah
pembangunan dan gambaran wilayah metropolitan masa depan. Di sisi lain, Pedoman
ini dipersiapkan untuk menyediakan definisi tata guna lahan dan langkah-langkah
pengendalian, termasuk hal-hal berikut.
(i) Tatanan Guna Lahan (zona, kawasan, tata guna lahan),
(ii) Pengendalian tutupan dan volume bangunan,
(iii) Pengendalian guna bangunan berdasarkan tata guna lahan, dan
(iv) Aturan lansekap yang mencakup kawasan khusus untuk kebutuhan spesifik.
Wilayah Metropolitan Mamminasata
Zona (kawasan pembangunan & lindung)
Kawasan (Pembangunan dan arahan pengendalian)
Guna lahan (standar & pengendalian pembangunan)
Pengendalian Tutupan &
Volume Bangunan
Pengendalian Guna
Bangunan
Aturan Lansekap
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-2
1 Pengendalian Tata Guna Lahan (Zonasi)
1.1 Tatanan Guna Lahan
Dengan berlangsungnya proses urbanisasi, maka pembangunan perkotaan akan sulit
dikendalikan bila hanya menetapkan zonasi berdasarkan tata guna lahan saja, seperti
guna lahan perumahan, komersial, industri, dan sebagainya. Untuk mengendalikan
urbanisasi, perlu ditunjukkan arahan pembangunan dan memperjelas langkah-langkah
pengendalian. Pembangunan perkotaan dikelola dalam tiga pengelompokan perkotaan,
yakni (i) zona, (ii) kawasan, dan (iii) tata guna lahan.
(1) Zona
Kawasan pembangunan (budidaya) dan lindung ditetapkan di wilayah Metropolitan
Mamminasata. Kawasan pembangunan dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu
(i) zona perencanaan perkotaan, (ii) zona perencanaan semi perkotaan, dan (iii) zona
hutan produksi yang merupakan kawasan budidaya. Kawasan lindung merupakan
zona konservasi yang ditetapkan dalam UU Penataan Ruang Nasional (UU No.
24/1992).
Pedoman umum zonasi yang dipersiapkan terangkum dalam tabel berikut.
(i). Zona Perencanaan
Perkotaan (kawasan
budidaya)
Kota atau daerah perkotaan dengan konsentrasi penduduk dan
menyediakan tempat untuk bekerja membutuhkan pembangunan
terpadu dan konservasi. Zona ini membutuhkan pembangunan
perkotaan seperti pengembangan kawasan permukiman, industri dan
fungsi perkotaan lainnya.
(ii). Zona Perencanaan
Semi Perkotaan
(kawasan budidaya)
Zona di luar Zona Perencanaan Perkotaan dimana terdapat beberapa
konstruksi bangunan yang telah atau akan dimulai dalam waktu dekat
Zona tersebut dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan
Wilayah Metropolitan Mamminasata
Zona (kawasan pembangunan & lindung)
Kawasan (arahan pembangunan & pengendalian)
Guna Lahan (standar & pengendalian pembangunan)
Zona Perencanaan
Perkotaan
Zona Perencanaan
Semi Perkotaan
Zona Hutan
Produksi
Zona Konservasi
Wilayah Metropolitan
Mamminasata
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-3
dan pembangunan perkotaan, bila dibiarkan tanpa rencana tata guna
lahan yang memadai
(iii). Zona Hutan Produksi
(kawasan budidaya)
Kawasan hutan saat ini yang dapat dimanfaatkan untuk
kegiatan-kegiatan ekonomi.
(iv). Zona Konservasi
(kawasan lindung)
Kawasan yang penting untuk lingkungan (hutan, air) dan ditetapkan
untuk tujuan perlindungan. Kegiatan-kegiatan pembangunan dibatasi
secara ketat.
(2) Kawasan
“Kawasan” dirancang untuk memperlihatkan arah pembangunan dan pengendalian.
Jenis kawasan bergantung pada karakteristik zonasi dan arah pembangunan. pedoman
umum diusulkan seperti diperlihatkan dalam tabel berikut.
(i). Kawasan Promosi
[Kat 1]
Kawasan terurbanisasi dengan tingkat konsentrasi penduduk yang
tinggi dan pembangunan perkotaan harus dikendalikan dengan baik
untuk menghindari semakin merosotnya lingkungan perkotaan.
Peningkatan amenitas perkotaan dan efisiensi pemanfaatan lahan
merupakan hal-hal yang diprioritaskan dalam pengendalian tata guna
lahan.
(ii). Kawasan Promosi
[Kat 2]
Kawasan dimana urbanisasi baru dimulai. Karena tingkat urbanisasi
masih rendah, maka pengendalian urbanisasi yang memadai perlu
diterapkan.
(iii). Kawasan Kendali Kawasan dengan pemanfaatan rendah, seperti rawa, daerah rawan
banjir/genangan, ruang terbuka hijau. Kegiatan-kegiatan pembangunan
diatur secara ketat.
(iv). Kawasan Prioritas
Pertanian
Kawasan beririgasi yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan pertanian.
Kegiatan-kegiatan pembangunan diatur secara ketat yang bertujuan
untuk melindungi produksi pertanian.
(v). Kawasan Pertanian dan
Permukiman
Kawasan dimana urbanisasi belum terjadi dan dimanfaatkan untuk
pertanian atau tidak dimanfaatkan. Urbanisasi dengan langkah-langkah
pengendalian diarahkan ke kawasan ini. Kota baru, kawasan industri,
pengembangan pendidikan/Litbang direncanakan di kawasan ini.
(vi). Kawasan Reboisasi Kawasan berbukit yang dikelilingi oleh hutan, padang rumput dan
membentuk hutan produksi dengan reboisasi intensif.
(vii). Kawasan Hutan Lindung Kawasan hutan saat ini yang harus dilindungi. Kegiatan-kegiatan
pembangunan diatur secara ketat.
(viii). Kawasan Cadangan
Tepi Air
Sungai, danau, laut. Kegiatan-kegiatan pembangunan diatur secara
ketat.
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-4
(3) Tata Guna Lahan
Tata guna lahan ditetapkan untuk pengendalian pembangunan kawasan perumahan,
komersial, industri dan kawasan hijau dan terbuka. Karena kawasan tersebut telah
terurbanisasi dan digunakan untuk beragam tujuan, maka tata guna lahan yang efisien
perlu diperkenalkan untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang nyaman. Untuk
mengendalikan pemanfaatan lahan, jalur tata guna lahan harus ditarik berdasarkan
blok atau daerah berklaster kecil.
Tata Guna Perumahan
Kawasan permukiman digunakan sebagai kawasan perumahan dan menunjang
kehidupan. Daerah ini juga meliputi tempat bagi pelaksanaan kegiatan masyarakat
dalam lingkungan terbatas. Oleh karena itu, kawasan perumahan dan permukiman
harus memenuhi norma-norma lingkungan yang sehat, aman, dan harmonis. Di
samping itu, kawasan permukiman juga harus bebas dari kebisingan, kotoran, polusi
udara, bau tak sedap, dan polusi lainnya.
Kawasan perumahan tidak berarti bahwa hanya pengembangan perumahan yang
dibolehkan. Perlu juga disediakan segala kegiatan yang dibutuhkan untuk penciptaan
kondisi kehidupan yang menarik, seperti kegiatan-kegiatan komersial dan
sarana-sarana publik. Kawasan ini juga harus mampu mendukung kelangsungan
proses sosialisasi nilai budaya yang terdapat dalam suatu komunitas khusus, dan
memastikan kemudahan untuk mengakses kantor-kantor dan pusat pelayanan. Dalam
kawasan perumahan, sarana-sarana lain seperti sarana pendidikan, kesehatan,
perbelanjaan, rekreasi juga dibutuhkan. Tipe perumahan ditentukan berdasarkan tipe
kawasan perumahan yang akan disediakan.
Tujuan
ƒ Menyediakan lahan untuk pembangunan kawasan permukiman
dengan tingkat kepadatan yang beragam di seluruh daerah perkotaan;
ƒ Mengakomodasi berbagai tipe permukiman untuk mendorong
pengadaan permukiman bagi seluruh lapisan masyarakat;
ƒ Mencerminkan pola pembangunan yang dibutuhkan oleh masyarakat
di kawasan permukiman saat ini dan di masa depan.
ƒ Kawasan perumahan dapat dibagi ke dalam (i) kawasan perumahan
ekslusif dan (ii) kawasan perumahan dominan. Kawasan pertama
bertujuan untuk menyediakan kawasan perumahan yang nyaman dan
syaratnya lebih ketat.
Tipe Rumah Tipikal
Kawasan
perumahan
gandeng
Perumahan individual dengan penempatan yang jarang untuk
mengembangkan rumah individual dengan mengakomodasi berbagai
ukuran pemetaan dan jenis konstruksi perumahan serta upaya untuk
meningkatkan kualitas lingkungannya, karakter dan kondisi kehidupan.
(rasio cakupan bangunan: 20~50%)
Kawasan Perumahan individual dengan tipe berderet dalam pemetaan kecil yang
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-5
perumahan
berderet
dibangun bersama dengan jalan akses lingkungan; kawasan ini merupakan
sebuah peluang peralihan antara unit perumahan individual dan perumahan
dengan tingkat kepadatan tinggi (rasio cakupan bangunan: 75% atau lebih
tinggi)
Kawasan
perumahan
apartemen
Unit perumahan individual bertingkat dengan tingkat kepadatan yang
beragam
Tata Guna Komersial
Kawasan komersial dan pelayanan merupakan sebuah kawasan yang diharapkan
dapat menarik peluang bisnis dan menyumbang nilai tambah lebih terhadap kawasan
perkotaan khusus. Kawasan ini harus memiliki akses yang baik ke lokasi perumahan
dan mudah dipasarkan.
Untuk kenyaman pengunjung, kawasan komersial dan pelayanan harus memenuhi
norma-norma lingkungan yang sehat, aman, harmonis, dan “menarik” serta
berwawasan bisnis. Oleh karena itu, aturan tentang kawasan ini harus memenuhi sisi
dimensi, intensitas dan desain yang diharapkan akan mampu menarik sebanyak
mungkin pengunjung. Sarana dan prasarana seperti air, TPS, jaringan jalan yang
memadai merupakan syarat-syarat lain yang harus disediakan. Tata guna lahan dalam
kawasan komersial dapat dikelompokkan seperti terlihat dalam tabel berikut.
Tujuan
ƒ Menyediakan lahan untuk mengakomodasi para pekerja toko, jasa,
rekreasi dan layanan masyarakat;
ƒ Menyediakan aturan yang jelas untuk kawasan komersial dan layanan
yang mencakup dimensi, intensitas, dan desain dalam mencerminkan
beragam pola pembangunan yang dikehendaki oleh masyarakat
Jenis Pemanfaatan di Kawasan Komersial
Pemerintahan
Menyediakan tempat untuk mengakomodasi para pekerja dalam jumlah
terbatas, sebagian besar memberikan layanan bagi penduduk dan juga
untuk kepentingan nasional dan internasional
Perkantoran
Kantor menyediakan tempat untuk mengakomodasi para pekerja dalam
jumlah terbatas, perdagangan eceran hanya merupakan kegiatan pendukung
dan pembangunan rumah dengan intensitas menengah hingga tinggi
diizinkan; kawasan ini diterapkan ke pusat untuk kegiatan-kegiatan besar
atau kawasan khusus dimana kegiatan-kegiatan komersial tidak
diperbolehkan.
Perbelanjaan
Perbelanjaan meliputi kegiatan perdagangan, belanja, dan berbagai
kegiatan layanan; kawasan ini dapat mencakup pengembangan
permukiman yang berorientasi kegiatan komersial dan apartemen; kegiatan
industri/pengolahan dengan intensitas menengah dilarang dalam skala kecil
hingga menengah.
Kawasan pusat
(kawasan wisata)
Pusat lokal dan tersier yang disediakan untuk kegiatan-kegiatan belanja dan
layanan lokal, meliputi toko-toko eceran dan perusahaan-perusahaan jasa
swasta dengan berbagai pilihan, yang memenuhi kebutuhan harian. Jenis
kegiatan ini memerlukan lokasi yang nyaman, dekat ke seluruh kawasan
perumahan, dan dapat mencegah efek-efek yang tidak diinginkan terhadap
perumahan yang berada didekatnya. Oleh karena itu, kawasan ini tersebar
di sekeliling kota; pusat-pusat perbelanjaan primer dan sekunder perkotaan
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-6
menyediakan tempat-tempat belanja yang sekali-kali dikunjungi oleh
anggota keluarga dan layanan yang dibutuhkan oleh para pengusaha yang
berada di berbagai tempat. Kawasan ini juga memiliki sejumlah besar toko
yang umumnya membangkitkan arus lalu lintas.
Tipe bangunan yang dapat didirikan di kawasan ini adalah:
ƒ Usaha komersial (eceran dan grosir): toko, toko kecil, toko grosir, dll;
ƒ Kantor: kantor pemerintah/swasta, perdagangan, dll;
ƒ Penginapan: hotel, pasanggrahan, motel, losmen, penginapan, dll;
ƒ Gudang: areal parkir, ruang pameran, gudang;
ƒ Gedung pertemuan: aula, gedung pertemuan;
ƒ Bangunan wisata (ruang tertutup): bioskop, taman bermain.

Tata Guna Industri
Kawasan industri merupakan sebuah kawasan perkotaan yang produktif. Kawasan
ini diharapkan dapat memberi nilai tambah pada kawasan perkotaan tertentu. Pada
saat yang sama, dampak kegiatan industri terhadap lingkungan perkotaan perlu
dikendalikan dengan membedakan kegiatan industri dari kegiatan perkotaan
lainnya.
Perhatian harus diberikan pada kemudahan untuk mendapatkan tenaga kerja dan
bahan baku, termasuk pemasaran barang-barang hasil olahan. Oleh karena itu,
lokasi yang dekat dari jaringan jalan dan pelabuhan merupakan faktor penting.
Dampak dari kegiatan-kegiatan industri terhadap lingkungan juga perlu
diperhatikan.
Tujuan ƒ Menyediakan ruang untuk kegiatan-kegiatan industri dan pengolahan,
mempertahankan keseimbangan antar lahan-lahan yang dimanfaatkan
secara ekonomis dan meningkatkan peluang kerja;
ƒ Mempromosikan fleksibilitas untuk industri-industri baru dan
proyek-proyek industri yang dikembangkan kembali;
ƒ Memastikan perkembangan industri berkualitas tinggi, dan
melindungi pemanfaatan lahan untuk industri dan non industri
Tipe-tipe Kawasan Industri
Kawasan
eksklusif industri
Menyediakan ruang untuk kegiatan-kegiatan industri dengan pemanfaatan
lahan yang ekstensif dan memprioritaskan sektor dasar pengolahan;
kawasan ini bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan lahan industri
secara efisien dengan standar pengembangan minimal, menjamin
keamanan properti dan masyarakat sekitar pada umumnya; kawasan ini
juga membatasi pemanfaatan lahan untuk non industri yang ada agar
mampu menyediakan lahan yang memadai untuk industri berskala besar
Kawasan semi
industri
Kawasan dimana berbagai jenis aktivitas dibolehkan, kecuali
kegiatan-kegiatan yang membahayakan lingkungan.
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-7
Tata guna Kawasan Hijau dan Terbuka
Kawasan terbuka memiliki norma-norma tersendiri menurut fungsi masing-masing,
yaitu untuk menjaga/melindungi sumberdaya alam dan buatan. Sebagai sebuah
kawasan terbuka, kawasan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat-tempat
rekreasi.
Tujuan
ƒ Kawasan untuk menjaga/melindungi lahan rekreasi selain bangunan
pendidikan, dan untuk menikmati keindahan visualnya.
ƒ Melestarikan dan menjaga lahan yang peka dan terancam;
ƒ Diterapkan pada lahan yang fungsi utamanya sebagai taman atau
ruang terbuka atau lahan individual yang pengembangannya harus
dibatasi untuk menerapkan kebijakan ruang terbuka dan untuk
menjaga kesehatan, keamanan dan kesejahteraan umum
Tipe-tipe Kawasan Hijau/Terbuka
Kawasan lindung
terbuka hijau
Kawasan untuk melindungi sumber daya alam dan lahan peka; kawasan ini
hanya boleh digunakan untuk kegiatan yang dapat membantu melestarikan
karakter alami lahan
Kondisi kawasan ini adalah sebagai berikut (*).
࡮ Kemiringan lahan di atas 40%;
࡮ Untuk lahan yang peka erosi, seperti Regosol, Litosol, Orgosol dan
Renzina, kemiringan lahan di atas 15%;
࡮ Daerah serapan air dengan ketinggian 1000 meter dari permukaan laut;
࡮ Dapat berupa sempadan sungai/danau/mata air dengan spesifikasi
sebagai berikut:
¾ Sempadan sungai di daerah perkotaan adalah sebuah kawasan di
sepanjang sungai yang cukup memadai untuk membangun jalan inspeksi
atau minimal 15 meter;
¾ Sempadan danau adalah lahan di sepanjang danau yang lebarnya
seimbang dengan bentuk dan kondisi fisik antara 50 – 100 m dari titik
tertinggi ke tanah. Kawasan ini sangat bermanfaat untuk menjaga
kelangsungan hidup danau.
Kawasan terbuka
hijau buatan
Diterapkan di taman dan sarana-sarana publik yang bertujuan untuk
memperluas paru-paru kota, mengatasi kurangnya udara segar di kota dan
menyediakan berbagai jenis hiburan yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Kondisi kawasan ini adalah sebagai berikut (*).
࡮ Kawasan ini umumnya berfungsi sebagai taman, taman bermain, dan
lapangan olah raga, dan untuk memberikan kesegaran untuk kota
(cahaya dan udara segar), serta sebagai paru-paru kota yang
menetralisir polusi udara;
࡮ Lokasi dan kebutuhan disesuaikan dengan satuan lingkungan
perumahan/kegiatan yang dilayani;
࡮ Lokasi dibuat sedemikian rupa agar kawasan ini mampu menjadi
faktor pembatas.
Kawasan terbuka
pengelolaan air
Ditujukan untuk mengendalikan pembangunan di daerah rawan banjir agar
kesehatan, keamanan, dan kesejahteraan umum terjaga, termasuk untuk
mengurangi bahaya banjir di kawasan yang teridentifikasi sebagai kawasan
pengendali banjir yang ditunjuk oleh pemerintah daerah; kawasan ini
dibuat untuk melestarikan karakter alam dalam kawasan banjir agar
pembelanjaan dana umum untuk biaya proyek pengendalian banjir dapat
dipangkas dan sebagai upaya perlindungan terhadap fungsi dan nilai dari
kawasan pengendali banjir dalam kaitannya dengan pelestarian atau
pengisian kembali air tanah, kualitas air, penanganan arus banjir, dan upaya
perlindungan hewan liar dan habitat.
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-8
Kondisi dari kawasan ini adalah sebagai berikut (*).
࡮ Kawasan ini memiliki kemampuan untuk menyerap air hujan,
sehingga kawasan ini berperan sebagai akuifer yang digunakan untuk
sumber air;
࡮ Kawasan ini memiliki curah hujan > 2000 mm/tahun dan permeabilitas
tanahnya > 27,7 mm/jam.
Catatan: * Pedoman dalam menyusun Zoning Regulation di daerah perkotaan dipersiapkan oleh Direktorat
Jenderal Penataan Ruang, Kementerian Permukiman dan Prasarana Wilayah
Tabel berikut menunjukkan usulan ukuran taman menurut jumlah penduduk.
Aturan-aturan Pertamanan
Guna Lahan Sarana/Jenis Target Pengembangan
Kawasan
Terbuka
Taman kota: Taman umum Ukuran: 10 ha/ 100.000 penduduk
Taman kota: taman atletik Ukuran: 15 ha/100.000 penduduk
Taman perumahan: skala medium Ukuran: 4 ha/40.000 penduduk
Taman perumahan: skala kecil Ukuran: 1 ha/100.000 penduduk
Tepi air (sungai, danau) Pemanfaatan wilayah perairan sebagai
taman atau untuk peningkatan akses.
Kawasan hijau Jalan, taman, ruang terbuka Lebih dari 20% dari kawasan
pengembangan baru (termasuk taman,
pohon-pohon jalan)
1.2 Pengendalian Tutupan/Volume Bangunan Menurut Tata Guna Lahan
Pengendalian tutupan dan volume bangunan penting untuk memelihara agar volume
bangunan tetap seimbang di daerah perkotaan. Rasio tutupan bangunan (rasio lantai
bangunan di tingkat dasar ke tanah) penting untuk menjaga lingkungan hidup seperti
ventilasi, sinar matahari, dan pencahayaan. Selain itu, rasio tutupan bangunan juga
penting untuk mencegah penyebaran kebakaran. Ruang antara bangunan akan
memperkecil resiko penyebaran kebakaran.
Volume bangunan juga penting untuk mengendalikan ketinggian bangunan. Semakin
besar volume bangunan, semakin tinggi bangunannya. Untuk kawasan komersial
volume bangunan tinggi dibolehkan agar lahan pemanfaatan lahan semakin efisien.
Di sisi lain, volume bangunan di kawasan permukiman atau pantai harus dijaga agar
tetap rendah untuk menjaga lingkungan.
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-9
Pedoman Tutupan dan Volume Bangunan (Contoh)
Kawasan Guna Lahan Rasio Tutupan
Bangunan (%)
Volume Bangunan (%)
Kawasan permukiman
(ketinggian rendah)
30, 40, 50, 60 50, 60, 80, 100, 150, 200
Kawasan permukiman
(Ketinggian tinggi)
30, 40, 50, 60 100, 150, 200, 300, 400, 500
Kawasan komersial 60, 80 200, 300, 400, 500, 600, 700, 800,
900, 1000, 1100, 1200, 1300
Kawasan industri 50, 60,80 80, 100, 150, 200
Catatan: Angka di atas: volume, angka di bawah: rasio tutupan bangunan, simbol tengah: guna lahan
Contoh Pengendalian Tutupan dan Volume Bangunan
Highway
City Planning Map
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-10
1.3 Tipe Bangunan yang Diizinkan
Tipe-tipe guna bangunan juga harus disebutkan dalam tata guna lahan. Kawasan
permukiman merupakan kawasan yang paling dikendalikan. Di sisi lain, kawasan
Semi-industri, tidak terlalu dikendalikan, dengan demikian hampir semua tipe
bangunan diizinkan. Pedoman umum guna bangunan diusulkan seperti terangkum
dalam tabel berikut.
Guna Bangunan Menurut Tata Guna Lahan (acuan)
Guna Lahan
Guna Bangunan
K
a
w
a
s
a
n

P
e
r
m
u
k
i
m
a
n

(
e
k
s
k
l
u
s
i
f
)
K
a
w
a
s
a
n

P
e
r
m
u
k
i
m
a
n

K
a
w
a
s
a
n

K
o
m
e
r
s
i
a
l

(
e
k
s
k
l
u
s
i
f
)

K
a
w
a
s
a
n

K
o
m
e
r
s
i
a
l

K
a
w
a
s
a
n

I
n
d
u
s
t
r
i

(
e
k
s
k
l
u
s
i
f
)

K
a
w
a
s
a
n

S
e
m
i
-
I
n
d
u
s
t
r
i


Sarana
Permukiman
Perumahan gandeng, deret, apartemen ż ż ż ż × ż
pendidikan TK, SD, SLTP, SMU ż ż ż ż × ż
Universitas, Sekolah Kejuruan × ż ż ż × ż
Keagamaan Mesjid, gereja, kuil ż ż ż ż ż ż
Kesejahteraan Klinik ż ż ż ż ż ż
Rumah Sakit ż ż ż ż × ż
Komersial Bioskop × × ż ż × ż
Hotel × × ż ż × ż
Pertokoan (skala kecil, rumah toko) ż ż ż ż ż ż
Pertokoan (skala besar, bangunan
tersendiri)
× × ż ż × ż
Hiburan (karaoke, klub malam) × × ż ż × ż
Hiburan (sarana tertutup) × × ż ż × ż
Gudang × × ż ż × ż
Olah Raga Golf, bowling × × ż ż ż
Publik Kantor pemerintah × × ż ż × ż
Industri Pabrik (bersambung dengan rumah) ż ż ż ż × ż
Pabrik (skala kecil) × × ż ż ż ż
Pabrik (tidak membahayakan lingkungan) × × ż ż ż ż
Pabrik (berbahaya bagi lingkungan) × × × × ż ×
Gudang
Berbahaya
Bahan kimia, minyak, gas × × × × ż ×
Catatan: ٤: diizinkan, ˜: tidak diizinkan
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-11
1.4 Pengendalian Dalam Wilayah Metropolitan Mamminasata
(1) Rencana Tata Guna Lahan dan Struktur Pengendalian
Berdasarkan tatanan pengendalian perkotaan serta definisinya, rencana tata guna
lahan dalam wilayah Metropolitan Mamminasata diusulkan seperti terlihat pada
gambar berikut.
Usulan Zonasi Guna Lahan
Struktur pengendalian Rencana Tata Ruang untuk wilayah Metropolitan
Mamminasata diperlihatkan dalam diagram-diagram berikut.
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-12
Arah pengembangan menyeluruh dan langkah pengendalian terangkum dalam
lampiran.
(2) Aturan Zona Perencanaan Perkotaan
Makassar ditetapkan sebagai Kawasan Promosi (Kat. 1) dalam Zona Perencanaan
Perkotaan dan Zona Kendali. Pada dasarnya, pembangunan dalam bentuk apa pun
dilarang dalam Zona Kendali. Kawasan Promosi (Kat. 1) dirancang untuk
mempromosikan tata guna lahan yang efisien dan efektif. Sedangkan Kawasan
Promosi (Kat.2) dalam Zona Perencanaan Perkotaan diterapkan pada pusat perkotaan
di wilayah kabupaten lainnya, kecuali Makassar, untuk membangun daerah perkotaan
dengan amenitas yang sangat baik.
Zona Hutan
Produksi
Zona Reboisasi
Struktur Pengendalian Zona Hutan produksi
Zona konservasi
Kawasan Hutan
Lindung (eksisting)
Kawasan
Cadangan Tepi Air
Struktur Pengendalian Zona Konservasi
Zona Perencanaan
Semi Perkotaan
Zona Prioritas
Pertanian
Kawasan Pertanian
& Permukiman
Zona Kendali
Tata Guna
Komersial
Tata Guna
Perumahan
Tata Guna
Komersial
Tata Guna
Industri
Taman
Tanpa Pemanfaatan
Struktur Pengendalian Zona Perencanaan Semi Perkotaan
Zona Perencanaan
Perkotaan
Kawasan Promosi
[Kat.1]
Kawasan Promosi
[Kat.2]
Kawasan
Kendali
Perumahan Komersial Industri Perumahan Komersial Industri Taman
Tanpa Pemanfaatan
Struktur Pengendalian Zona Perencanaan Perkotaan
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-13
Kawasan Promosi (Kat. 1)
Dalam kawasan promosi kategori 1 yang berada dalam zona perencanaan perkotaan,
sebagian besar kegiatan pembangunan diizinkan, namun jenis, skala dan kondisi
prasarana diatur untuk pengembangan industri.
Oleh karena kawasan pusat kota memiliki banyak peninggalan bersejarah, maka
dianggap memadai untuk mengembangkan kawasan wisata perkotaan. Kawasan ini,
pada dasarnya, dikembangkan dengan aturan tata guna lahan yang agak ketat, dengan
tutupan dan rasio lantai bangunan yang rendah untuk menjaga agar kondisi perkotaan
tetap menarik, meski hal ini tidak begitu efektif dari sudut pandang ekonomi tata guna
lahan.
Gambaran Pengembangan Renovasi Pusat Kota (Kawasan Promosi [Kat.1])
Kawasan Promosi (Kat. 1):Tata guna Komersial
Sebagai contoh sebuah model rencana penggabungan renovasi pusat kota dan tingkat
pemanfaatan lahan tinggi di pinggir kota disajikan yang menggambarkan konservasi
kawasan pusat kota dan pemanfaatan lahan yang lebih tinggi di sepanjang jalan
utama.
Kawasan pusat kota Makassar,
dimana terdapat banyak peninggalan
sejarah yang masih tersisa, akan
dilestarikan melalui pengaturan
volume pembangunan agar dapat
berkontribusi terhadap peningkatan
pariwisata perkotaan, sementara
kawasan di pinggir kota Makassar,
khususnya di sepanjang jalan-jalan
utama seperti Jl. Pettarani dan
Jl.Sultan Alauddin harus lebih
dimanfaatkan dalam tata guna lahan
yang disertai dengan relokasi kantor
pemerintah yang saat ini tersebar di
sekitar jalan-jalan tersebut.
Gambaran Pembangunan dengan Pemanfaatan Lahan Lebih Tinggi di Sepanjang Jalan Utama
Bangunan Bersejarah
Ruang Hijau
Ruang Hijau
Tepi Air
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-14
Kawasan Kendali (ruang terbuka, kawasan hijau)
Dalam kawasan kendali dalam zona perencanaan perkotaan, sebagian besar kegiatan
pembangunan diatur, kecuali pembangunan untuk tujuan pendidikan atau sosial
hingga ke skala tertentu.
Gambaran Pembangunan Konservasi Kawasan Rawa (Kawasan Kendali)
(3) Aturan Zona Perencanaan Semi Perkotaan (Kawasan Pertanian dan
Permukiman)
Dalam kawasan pertanian dan permukiman, pembangunan perkotaan hanya dapat
dilakukan bila memiliki izin-izin pembangunan. Untuk menghindari pembangunan
perkotaan yang tidak terkendali, maka hanya rencana pembangunan berskala besar
yang diizinkan di kawasan tersebut. Kawasan pengembangan minimal seluas 20 ha.
Kota baru akan dibangun sesuai dengan aturan ini.
Gambaran Pembangunan Kawasan Urbanisasi Baru
Kws. Konservasi
Instalasi Pengolahan Air Limbah
Taman Ramah
Lingkungan
Eco-Village
Percobaan Lingkungan/Pendidikan Masyarakat
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-15
(4) Pengelolaan Transportasi
Pengelolaan transportasi sangat dibutuhkan untuk pengembangan perkotaan.
Peraturan perundangan untuk pengelolaan transportasi sebagai bagian dari tata kota
juga harus diperkuat.
Peraturan Perundangan Pengelolaan Transportasi
Pokok Uraian
Struktur Jalan ࡮ Memperkenalkan struktur jalan yang ramah bagi pengguna.
࡮ Struktur jalan yang efisien untuk kendaraan bermotor dan pejalan kaki.
࡮ Lansekap (pohon, desain) harus ditetapkan.
Pengelolaan Lalu Lintas ࡮ Memperkenalkan pengelolaan jalan yang efisien melalui pengendalian
kendaraan dan penggunaan jalan (lajur terpisah menurut jenis
kendaraan).
࡮ Membatasi rute pete-pete, becak, sepeda motor, kendaraan pribadi,
kendaraan besar. Beberapa jalan tidak boleh digunakan oleh jenis
kendaraan tertentu. Pengendalian menurut fungsi dari jalan-jalan
tersebut dan zonasi daerah perkotaan.
࡮ Penetapan periode penggunaan jalan (misalnya, akhir pekan) hanya
untuk pejalan kaki pada kawasan tertentu.
࡮ Mengendalikan pedagang kaki lima.
࡮ Pengelolaan lampu lalu lintas yang memadai.
Parkir ࡮ Mengendalikan kegiatan memarkir kendaraan di sepanjang jalan yang
dapat mengganggu arus lalu lintas.
Rambu Jalan ࡮ Rambu jalan yang jelas, bukan hanya untuk masyarakat setempat tapi
juga untuk wisatawan. Desain dan lokasinya harus terlihat jelas.
Bebas hambatan ࡮ Struktur jalan dan pengelolaan lalu lintas yang secara sosial peduli
terhadap orang cacat.
Pengendalian Gas
Buangan
࡮ Mengendalikan gas buangan kendaraan.
Sebuah metode baru untuk konstruksi jalan juga penting untuk diadopsi, khususnya
yang menyangkut pemanfaatan lahan, sebab begitu rencana pengembangan jalan
diumumkan, orang-orang akan membeli tanah sehingga menyulitkan proses
pembebasan lahan dan konstruksi jalan.
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-16
2 Penyusunan Kelembagaan
Meski arahan umum dan pengendalian pembangunan perkotaan disebutkan dalam tata
guna lahan dan guna bangunan, namun beberapa aturan spesifik untuk beberapa
kawasan perlu diberlakukan agar dapat meningkatkan kelangsungan berbagai
kepentingan spesifik. Dengan demikian dibutuhkan penyusunan kelembagaan
tambahan.
(1) Pedoman Pengembangan Kota
Pedoman pengembangan kota dirancang untuk mencegah pembangunan yang tidak
diinginkan dan untuk menciptakan lingkungan kota yang ideal dengan menerapkan
larangan-larangan yang lebih kuat terhadap berbagai kegiatan pembangunan.
Pedoman ini juga bertujuan untuk mencegah terjadinya perselisihan antara pihak
pengembang dan penduduk sebelum proses konstruksi. Pedoman ini dipersiapkan
oleh pemerintah propinsi di tingkat kota besar dan kota kecil. Pedoman tersebut akan
mencakup hal-hal berikut.
࡮Desain lansekap (warna, desain, tinggi bangunan)
࡮Kepedulian lingkungan (lingkungan alam, budaya, sejarah).
࡮Pengumuman kepada Publik sebelum pembangunan dilaksanakan (utamanya
untuk pembangunan berskala besar)
࡮Konsultasi publik dari pihak pengembang kepada para penduduk
(2) Keseragaman Bangunan
Keseragaman bangunan dimaksudkan untuk
melengkapi standar minimal yang diatur dalam
Aturan Bangunan yang tidak mencakup hal-hal
dan kebutuhan-kebutuhan spesifik. Keseragaman
bangunan diberlakukan pada kawasan khusus
untuk memenuhi kebutuhan spesifik dari para
penduduk. Keseragaman ini didasarkan pada
Hukum Perdata dan harus memenuhi prosedur
hukum (persetujuan dari pemerintah dan
pengumuman kepada publik), sehingga setelah kesepakatan dicapai, bukan hanya
pihak penandatangan yang nantinya harus menaati kesepakatan tersebut tapi juga
pemilik lahan. Dalam proses perumusan kesepakatan tersebut, masyarakat, pihak
pengembang dan pemerintah, harus saling berkoordinasi di bawah prakarsa
pemerintah.
Keseragaman Tampak Depan
(Gambar Contoh)
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANG TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3
A3-17
(3) Guna Lahan Khusus
Standar tata guna lahan dan guna bangunan tidak akan memadai untuk mengendalikan
dan mengikuti rencana tata ruang, khususnya dalam wilayah metropolitan. Kawasan
khusus perlu ditetapkan untuk merealisasikan kebutuhan khusus seperti lansekap,
penghijauan, dan budaya. Beberapa kawasan khusus diusulkan seperti terangkum
dalam tabel berikut.
Contoh Guna Lahan Khusus
Jenis Guna Lahan
Khusus
Tujuan Hal-hal yang harus dikontrol
Pembangunan Vertikal
Kawasan promosi
Memudahkan pemanfaatan lahan secara efisien
dengan memperkenalkan pembangunan vertikal
dan mempertahankan ruang terbuka publik
Pemanfaatan, volume
Lansekap
Kawasan konservasi
Melestarikan lansekap buatan dalam daerah
perkotaan yang memiliki keindahan arsitektur
Kendali arsitektur (lahan, struktur) yang
mengganggu/mengacaukan lansekap
Lansekap alami
Kawasan konservasi
Melestarikan lansekap alami dalam daerah
perkotaan
Arsitektur, struktur tanah, warna arsitektur,
papan iklan
Penghijauan perkotaan
Kawasan konservasi
Melestarikan kawasan hijau dalam daerah
perkotaan
Arsitektur, struktur tanah, warna arsitektur,
papan iklan
Arsitektur budaya dan
sejarah
Kawasan konservasi
Mempertahankan dan melestarikan lansekap
budaya dan sejarah yang terdiri atas arsitektur
tradisional dan yang memiliki nilai arsitektur
tradisional
Arsitektur, struktur tanah, warna arsitektur,
renovasi dan perubahan struktur arsitektur,
papan iklan
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 4
A4-1
Lampiran 4
Pembentukan Organisasi dan Administrasi
Badan Pengelolaan Pembangunan Mamminasata (BPPM)
Masalah yang paling kritis di Mamminasata adalah masalah perlindungan ekosistem
dan lingkungan. Semakin parah tingkat kemerosotan lingkungan, akan semakin besar
pula biaya yang dibutuhkan untuk pemulihannya, lagipula beberapa ekosistem mungkin
tidak dapat dipulihkan seeprti kondisi semula. Masalah amenitas kota juga harus
diperhatikan, karena masyarakat berharap dapat tinggal dalam lingkungan yang lebih
nyaman dengan amenitas kehidupan perkotaan dan pedesaan. Sampah yang dihasilkan
dari berbagai kegiatan sosial dan ekonomi harus dikelola sebagaimana mestinya.
Rencana tata ruang wilayah masing-masing kabupaten telah dan sedang dirumuskan
namun dikerjakan masing-masing secara tersendiri dan masih kurang usaha untuk
menyelaraskan sebagai sebuah pengembangan ruang regional. Hampir seluruh
prasarana di Mamminasata direncanakan, dirancang dan dibangun untuk kepentingan
seluruh rakyat. Prinsip dasarnya menghendaki sebuah permufakatan bahwa prasarana
semacam itu dibangun bukan untuk kepentingan masing-masing wilayah, tapi untuk
kepentingan seluruh masyarakat Mamminasata.
Untuk mempromosikan pembangunan Mamminasata, perlu dibentuk sebuah kantor
tetap yang memiliki staf yang berkualitas dan memiliki kewenangan yang memadai.
1 Pembentukan organisasi
(i) Badan Pengelolaan Pembangunan Mamminasata (BPPM) dibentuk sebagai
organisasi fungsional dalam struktur pemerintahan Propinsi Sulawesi Selatan untuk
tujuan pengelolaan dan pengendalian pembangunan perkotaan Mamminasata.
(ii) Peraturan Presiden merupakan dasar bagi pembentukan Badan ini.
(iii) Badan ini dibentuk berdasarkan Perda Propinsi.
2 Posisi, Tugas Pokok dan Tugas Organisasi
(i) Wilayah kewenangan badan ini senantiasa terkait dengan pembangunan perkotaan
Mamminasata. (Hal ini akan ditetapkan sebagai persoalan antar wilayah dan
persoalan strategis yang penting)
(ii) Badan ini diposisikan sebagai organisasi fungsional dalam pemerintahan Propinsi
Sulawesi Selatan.
(iii) Tugas-tugas utamanya adalah untuk mengelola dan mengendalikan pembangunan
perkotaan Mamminasata melalui koordinasi dengan BKSPMM dan pihak-pihak
terkait lainnya. Susunan organisasi dapat dilihat pada gamabr berikut.
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 4
A4-2
(iv) Tugas-tugas pokok badan ini adalah (a) pengelolaan program aksi secara
menyeluruh untuk ditetapkan dalam Peraturan Presiden, (b) pengelolaan prasarana
dan lingkungan, (c) pengelolaan hukum dan keuangan, serta (d) pengelolaan sistem
informasi, termasuk pemantauan dan pengendalian.
Susunan Organisasi Pembangunan Perkotaan Mamminasata
3 Struktur Organisasi
Badan Pengelolaan Pembangunan Mamminasata (BPPM), yang dipimpin oleh Kepala
Badan, terdiri atas tiga (3) divisi, antara lain Divisi Prasarana dan Lingkungan, Divisi
Hukum dan Keuangan, dan Divisi Pengelolaan Database, seperti diperlihatkan berikut.
Gubernur
Badan Pengelola Pembangunan
Mamminasata
Pemerintah Provinci
(Badan Pengelola & Pengendali)
Seluruh pengelolaan
Pembangunan Mamminasata
(2006~)
x Prasarana/Lingkungan
x Hukum/Keuangan
D t b /P t
BKSP-MM (Mamminasata)
(Badan Koordinasi)
Dibentuk pada tahun 2003 sebagai
badan kerjasama Pembangunan
Mamminasata (Penguatan
BKSPMM, 2006~)
Ketua : Wakil Gubernur
Wakil Ketua : Walikota Makassar
Bupati Maros
Bupati Gowa
Bupati Takalar
Sekretariat : Sekretariat Daerah
atau Bappeda
Anggota : Pemerintah
Provinci, Kota/Kab.
Komisi Penasihat
(2006~)
x Akademisi
x Swasta
x Keuangan
Proyek Peningkatan
Lingkungan Hidup
Mamminasata
(sebagai pekerjaan umum,
PMU)
Dibentuk pada saat
pelaksanaan proyek (2007~)
x Departmen Pekerjaan
Umum
x BAPPEDA Provinci
x Instansi Provinci
Proyek Pembangunan
Perkotaan (Swasta)
Pembangunan perkotaan
oleh sektor swasta
x Investor
x Pengembang
x Lembaga Keuangan
Badan Usaha Pembangunan
Perkotaan Mamminasata
PPP
(Badan Pelaksana)
Dibentuk pada untuk jangka
panjang sejalan dengan
berkembangnya
pembangunan perkotaan
(2010~)
x Pembangunan perkotaan
(konstruksi)
Organisasi yang ada
Organisasi dengan status permanent yang akan
dib t k
Organisasi sementara atau berbasis proyek
koordinasi
Pengendalian & Pemantauan Pengendalian & Pemantauan
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 4
A4-3
Struktur Organisasi Badan Pengelolaan Pembangunan Mamminasata (BPPM)
Tugas dan fungsi BPPM diusulkan sebagai berikut.
Kepala Badan
(i) Kepala Badan bertugas untuk memimpin, mengkoordinasikan, menengahi dan
memudahkan pelaksanaan pembangunan perkotaan Mamminasata.
(ii) Dalam melaksanakan tugasnya seperti disebutkan pada poin (i), Kepala Badan
memiliki fungsi-fungsi berikut:
a. Menentukan kebijakan-kebijakan teknis menyangkut pembangunan
perkotaan dalam wilayah-wilayah tersebut.
b. Melakukan koordinasi dengan BKSPMM, termasuk menyelenggarakan
pertemuan sesuai dengan keperluan.
c. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan badan-badan lain yang
terkait dengan pembangunan perkotaan Mamminasata.
d. Melakukan koordinasi dengan Unit Pengelolaan Proyek dan
pengembang-pengembang swasta.
e. Pemberdayaan badan-badan dan staf-staf BPPM demi mewujudkan
pembangunan perkotaan yang berkesinambungan.
Sekretariat
(i) Sekretariat dipimpin oleh seorang sekretaris yang bertugas untuk menyediakan
jasa teknis dan administrasi bagi seluruh organisasi dalam wilayah kerja
BPPM.
(ii) Dalam melaksanakan tugasnya seperti yang disebutkan pada poin (i), sekretaris
memiliki fungsi-fungsi berikut:
a. Melakukan koordinasi, sinkronisasi, dan pemaduan kegiatan-kegiatan
badan tersebut.
Divisi
Prasarana/Lingkungan
(Eselon III)
Kepala Badan
(Eselon II)
Wakil Kepala Badan
Divisi Hukum/Keuangan
(Eselon III)
(3 anggota)
Divisi Database/Pemantauan
(Eselon III)
(3 anggota)
Sekretariat
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 4
A4-4
b. Melakukan koordinasi dalam perencanaan dan perumusan
kebijakan-kebijakan teknis.
c. Melakukan koordinasi dalam perumusan produk-produk hukum yang
menyangkut kewenangan badan tersebut.
d. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan rekan-rekan kerja yang ada
kaitannya dengan pembangunan perkotaan Mamminasata.
e. Menyediakan jasa bimbingan dan administrasi, persoalan-persoalan
administrasi organisasi dan pengelolaan karyawan, keuangan, penyediaan
peralatan dan kantor.
f. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai
dengan garis tugasnya.
Divisi Prasarana dan Lingkungan
(i) Divisi Prasarana/Lingkungan dipimpin oleh seorang Kepala Divisi yang
bertugas untuk melaksanakan bagian dari kewenangan-kewenangan badan ini
dalam bidang pembangunan prasarana dan pertimbangan lingkungan.
(ii) Dalam melaksanakan tugasnya seperti disebutkan pada poin (i), Divisi
Prasarana dan Lingkungan memiliki fungsi-fungsi berikut:
a. Merumuskan kebijakan-kebijakan teknis menyangkut pembangunan
prasarana untuk mewujudkan sistem prasarana yang efisien di
Mamminasata.
b. Merumuskan kebijakan-kebijakan teknis menyangkut lingkungan dan
amenitas untuk mempromosikan daerah perkotaan ramah lingkungan.
c. Mengendalikan dan memantau pembangunan prasarana (struktur fisik).
d. Mengendalikan dan memantau lingkungan perkotaan.
e. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan badan-badan lain yang ada
kaitannya dengan pembangunan perkotaan Mamminasata.
f. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai
dengan garis tugasnya.
Divisi Hukum dan Keuangan
(i) Divisi Hukum/Keuangan dipimpin oleh seorang Kepala Divisi yang bertugas
untuk melaksanakan bagian dari kewenangan-kewenangan badan ini dalam
bidang peraturan perundangan dan pendanaan pembangunan perkotaan.
(ii) Dalam melaksanakan tugasnya seperti disebutkan pada poin (i), Divisi Hukum
dan Keuangan memiliki fungsi-fungsi berikut:
a. Mempersiapkan peraturan perundangan yang dibutuhkan untuk
pengendalian dan pengelolaan perkotaan.
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 4
A4-5
b. Melaksanakan dan memantau pemberlakuan peraturan perundangan.
c. Merumuskan pedoman dan kebijakan pendanaan proyek.
d. Mempromosikan kemitraan pemerintah dan swasta.
e. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan badan-badan lain yang ada
kaitannya dengan pembangunan perkotaan Mamminasata.
f. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai
dengan garis tugasnya.
Divisi Database dan Pemantauan
(i) Divisi Database dan Pemantauan dipimpin oleh seorang Kepala Divisi yang
bertugas untuk melaksanakan bagian dari kewenangan-kewenangan badan ini
dalam bidang database dan pemantauan.
(ii) Dalam melaksanakan tugasnya seperti disebutkan pada poin (i), Divisi Database
dan Pemantauan memiliki fungsi-fungsi berikut:
a. Membangun dan memperbaharui database informasi perkotaan.
b. Mengumpulkan dan memperbaharui data sosial ekonomi.
c. Melakukan survei untuk pembangunan perkotaan.
d. Mengolah dan memperbaharui peta.
e. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pembangunan perkotaan.
f. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan badan-badan lain yang ada
kaitannya dengan pembangunan perkotaan Mamminasata.
g. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai
dengan garis tugasnya.
4 Susunan Kepegawaian
(i) Staf yang bekerja penuh, berstatus PNS dan ditugaskan sebagaimana mestinya
untuk Badan tersebut.
(ii) Staf dapat direkrut dan dipilih dari kalangan Pegawai Negeri Sipil serta dari
sektor swasta.
(iii) Tenaga ahli yang dibutuhkan oleh badan ini, antara lain tenaga ahli bidang
pengelolaan perkotaan, keuangan, lingkungan, prasarana, dan bidang hukum.
(iv) Gaji staf diambil dari APBD propinsi.
5 Pelatihan
(i) Staf perlu diberi pelatihan yang memadai.
(ii) OJT harus menjadi metode utama pelatihan.
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5
A5-1
Lampiran 5:
Buku Sebaran Rencana Tata Ruang Terpadu
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5
A5-2
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5
A5-3
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5
A5-4
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5
A5-5
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5
A5-6
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5
A5-7
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5
A5-8
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5
A5-9
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5
A5-10
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5
A5-11
STUDI IMPLEMENTASI
RENCANA TATA RUANGA TERPADU
WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5
A5-12

Laporan Akhir
1. RINGKASAN
dengan versi dokumen elektronik dari Ringkasan, Laporan Utama, Laporan Studi Sektoral dan Laporan Studi Pra-kelayakan

2. LAPORAN UTAMA
dengan versi dokumen elektronik dari Laporan Utama, Laporan Studi Sektoral dan Laporan Studi Pra-kelayakan

3. LAPORAN STUDI SEKTORAL 4. LAPORAN STUDI PRA-KELAYAKAN

Pendahuluan

Menanggapi permintaan dari Pemerintah Indonesia, Pemerintah Jepang memutuskan untuk melaksanakan Studi Implementasi Tata Ruang Terpadu Wilayah Metropolitan Mamminasata di Sulawesi Selatan Indonesia dan menugaskan pelaksanaannya pada Japan International Cooperation Agency (JICA). JICA mengirimkan Tim Studi ke Indonesia sejak April 2005 sampai Juni 2006. Tim Studi terdiri dari KRI International Corp. dan Nippon Koei Co., Ltd. di bawah pimpinan Mr. Hajime KOIZUMI sebagai Ketua Tim Studi. Tim Studi telah melaksanakan serangkaian diskusi dengan instansi pemerintah baik pada Tingkat Pusat maupun daerah, orang dan pakar yang berpengalaman dan para akademisi, instansi swasta seperti perencana perkotaan dan LSM serta melaksanakan survey dan pelatihan-pelatihan, Studi Lepang ke Curitiba, Brazil serta beberapa pilot proyek yang partisipatif yaitu proyek penanaman pohon, barter sehat dalam pengelolaan sampah. Setelah menyelesaikan tugas di Indonesia, Tim Studi kembali ke Jepang untuk melanjutkan kajian dan menyusun Laporan Akhir ini. Diharapkan laporan ini akan berkontribusi dalam implementasi Tata Ruang Terpadu Metropolitan Mamminasata dan sekaligus juga menguatkan hubungan persahabatan antara ke dua Negara. Saya menghaturkan penghargaan yang setinggi-tingginya ke pada semua aparat pemerintah di tingkat Pusat dan Daerah yang tirut terlibat atas kerjasama yang erat dan dukungan terhadap Tim Studi selama pelaksanaan Studi ini.

Juli 2006

Takashi KANEKO Wakil Ketua Japan International Cooperation Agency

Hormat Kami Hajime KOIZUMI Ketua Tim Studi . Pendekatan partisipatif juga diimplementasikan dalam beberapa proyek pilot yaitu proyek penanaman pohon. Takashi KANEKO Wakil Ketua Japan International Cooperation Agency Dengan hormat kami sampaikan Laporan Akhir Studi Implementasi Tata Ruang Terpadu Wilayah Metropolitan Mamminasata Propinsi Selatan Indonesia. para counterpart.Juli 2006 Surat Penyerahan Kepada Yth. dan tukar pendapat dengan para pihak terkait melalui enam kali lokakarya. Pelaksanaan Studi ini mengutamakan pendekatan partisipatif yang diterapkan dalam serangkaian diskusi. Mr. Creative and Coordinated ( bersih. tujuh kali seminar dan lebih dari 30 kali pertemuan kelompok kerja. Laporan akhir ini terdiri dari (a) Tata Ruang Terpadu Mamminasata (b) Studi Sektoral dan (3) Studi Pra-Kelayakan untuk proyek-proyek prioritas pilihan. instansi pemerintah dan swasta dan seluruh masyarakat Mamminasata selama berlangsungnya Studi ini di Sulawesi Selatan.. Ltd. kreatif dan terkordinasi) Tim Studi menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak. Telah pula diberikan kesempatan berpartisipasi bagi generasi muda melalui seminar yang dihadiri oleh mahasiswa. Studi ini dilaksanakan oleh Tim Studi dari KRI International Corp.. pengelolaan sampah dengan sistem barter sehat dan pendidikan lingkungan. and Nippon Koei Co. Laporan Akhir ini adalah buah dari kerjasama semua orang yang terlibat dalam studi ini. Diharapkan laporan-laporan ini dapat bermanfaat dalam melancarkan implementasi rencana tata ruang dengan visi dan sasaran yang sama yaitu menciptakan Metropolitan Mamminasata yang Clean. dan kesempatan bagi siswa SMU dan SMP untuk menuangkan impiannya lewat lomba gambar tentang kota idaman masa depan di tahun 2020. bekerjasama dengan counterpart yang ditugaskan oleh Departemen PU melalui Direktorat Jenderal Penataan Ruang dan Badan Kerjasama Pembangunan Metropolitan Mamminasata (BKSPMM) Propinsi Sulawesi Selatan.

Peta Wilayah Studi: Wilayah Metropolitan Mamminasata .

TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA. Laporan Ringkasan 2. Laporan Studi Sektoral 4. PROVINSI SULAWESI SELATAN INDONESIA RINGKASAN Daftar Isi Pendahuluan Surat Penyerahan Peta Wilayah Studi: Wilayah Metropolitan Mamminasata Latar Belakang Wilayah Metropolitan Mamminasata Tujuan Perencanaan Tata Ruang Mamminasata Kerangka Pembangunan Strategi Pengembangan Ruang Tata Ruang Mamminasata Rencana Pengembangan Ekonomi Perbaikan Prasarana Urban Peningkatan Prasarana Ekonomi Program Pembangunan Studi Pra Kelayakan Penguatan Institusi Rekomendasi Umum Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Daftar Anggota Studi Proyek/Program Prioritas Jangka Pendek Usulan Pedoman Pengendalian Tata Guna Lahan di Mamminasata untuk Pengelolaan dan Pengendalian Pembangunan Perkotaan Pembentukan Organisasi dan Administrasi Pembangunan Mamminasata (BPPM) Buku Sebaran Rencana Tata Ruang Terpadu Badan Pengelolaan S-1 S-2 S-3 S-3 S-5 S-6 S-9 S-12 S-14 S-16 S-18 S-21 S-22 Versi Dokumen Elektronik 1. Laporan Utama 3. Laporan Studi Pra-Kelayakan .

Nilai Tukar Mata Uang US Dollar 1.00 = Rupiah 9.– (Rata-rata di tahun 2005) kecuali ditetapkan secara khusus .700.

semi urban dan rural Change in GRDP (CAGR). Jumlah penduduk Sulawesi Selatan sebanyak 3% dari populasi total nasional.) 4. BPS S-1 . Kawasan Metropolitan utama di Jawa seperti Jakarta dan Surabaya telah berkembang tanpa kordinasi yang memadai.610.487. Dalam rangka pencapaian perkembangan sosial ekonomi secara keseluruhan. Akan tetapi rata-rata PDB per kepala masih pada tingkatan 60% dari rata-rata nasional dengan produktivitas tenaga kerja yang rendah. Mill.962 Indonesia 215. Akan tetapi baik penduduk maupun ekonomi terdistribusi tidak merata baik di tingkat regional maupun propinsi.8% GRDP (2002) (juta rupiah) 36.1% 69.3 juta jiwa) akhir-akhir ini mencatat pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari pada pertumbuhan Nasional.262. dan juga lebih harmonisnya pembangunan di kawasan urban.293 Persentase GRDP (Sulawesi) 52% Persentase GRDP (Indonesia) 2% GRDP per kapita (2002) (Rp. Rp.193. Studi ini bertujuan untuk menjadi model perencanaan Tata Ruang untuk kota metropolitan dalam tingkat propinsi. telah mencapai pertumbuhan ekonomi yang mantap sejak akhir tahun 1990.000 pada tahun 2003. 25 Indonesia: 4.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan Ringkasan Latar Belakang 1. Rp).0% Labor Productivity (1993 Constant Price. dengan tingkat perpindahan penduduk yang cukup menyolok ke wilayah metropolitan .276 1. Indonesia dengan jumlah penduduk 215 juta jiwa (2002). sebagian besar terkonsentrasi di P. Tabel S-1: Perbandingan Sosio-Ekonomi Wilayah Sulawesi 15. Sulawesi Selatan East Jawa 0 West Jawa Central Sulawesi 5% Southeast Sulawesi 0% 2% 3% 4% 6% 7% -5 2.612 7.011. 1999-2002 maka Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Penataan Ruang Gbr. S-1: Kondisi ekonomi tahun 1999-2002 Departemen PU telah menyusun perencanaan pada tingkat regional.382 7.260.138 Sumber: Buku Statistik Indonesia Tahun 2003. propinsi dan Kabupaten.25 Mill. Propinsi Sulawesi Selatan (jumlah penduduk sekitar 8.412. 7. Rata-rata PDB per kapita mencapai Rp. 2002 East Kalimantan 20 DKI Jakarta 15 10 Papua North Sumatera Bali North Sulawesi 5 Indonesia: 4. Jawa.550. namun hanya memberikan kontribusi sebesar 2% dari GDP.048 Sulawesi Selatan Populasi (2003) (‘000) 8.213 4% 4.253 Persentase Populasi (Sulawesi) 53% Persentase Populasi (Indonesia) 3.

Wajo Soppeng Barru Sinjai 3 Majene Bone Bulukumba Bantaeng Mamuju Selayar 2 Polmas Jeneponto 1 0 -8% -6% -4% -2% 0% 2% 4% 6% 8% masih tergolong kurang dinamis.8% 5 Parepare Pinrang 4 Sidrap Mill. Rp.25 juta jiwa (2005). Studi lapang ke Curitiba Brazil juga telah memberikan pembelajaran yang mendalam tentang perencanaan kota yang manusiawi dan ramah lingkungan. Gowa. merancang gambaran yang lebih jelas untuk tahun sasaran 2020 dan merekomendasikan strategi-strategi untuk implementasi yang lebih realistis.77 Mill.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan Untuk memacu pertumbuhan ekonomi regional. Rp. JICA telah diminta untuk meng-upgrade rencana tata ruang yang ada. Tenaga ahli JICA dan Indonesia mengorgasinasikan lima jenis kelompok kerja untuk diskusi dan kajian sektoral. Untuk memahami sudut pandang generasi muda diadakan lomba gambar untuk murid SMP dan SMA. 2000-03 Gbr. Pelatihan khusus interpretasi dan perencanaan dengan GIS juga telah dilaksanakan. Mill. S-2: Kondisi ekonomi Mamminasata tahun 2000-2003 pertumbuhan ekonomi Mamminasata. Alih teknologi tenaga ahli JICA dilaksanakan melalui seminar-seminar dan lokakarya. Lokakarya juga dilaksanakan beberapa kali untuk saling mengenali sudut pandang masing-masing tenaga ahli. pemprov memutuskan membentuk rencana untuk pengembangan pusat wilayah Metropolitan Mamminasata. sedangkan Kota Makassar memberikan kontribusi hampir 77% dari Change in GRDP (CAGR). dan rural di kota Makassar dan Kabupaten Maros.5% Labor Productivity (1993 Constant Price. Gowa. dan Mamminasata Takalar memiliki luas sekitar 2. Dengan mudah dapat dipahami peran yang akan dijalankan oleh Mamminasata dalam pembangunan ekonomi Sulawesi Selatan. Wilayah Metropolitan Mamminasata yang terdiri dari Makassar. Maros. dan Takalar. akademisi dan LSM serta sektor terkait lainnya. Wilayah Metropolitan Mamminasata 4. Rp). (lihat Laporan Utama Bab 2) 3. Wilayah Mamminasata menyumbangkan 36% dari PDB Sulsel. S South Sulawesi: 3.462 dengan estimasi jumlah penduduk 2. S-2 . Akan tetapi dengan peran yang penting tersebut Mamminasata 8 South Sulawesi: 2. semi-urban. 2003 7 Luwu Utara 6 Pangkep Makassar 76. Sebanyak lebih dari 30 kali diskusi kelompok kerja telah dilaksanakan selama studi berlangsung. Studi tersebut telah dilaksanakan oleh Tim JICA dengan bekerjasama dengan tenaga ahli counterpart Indonesia seperti tercantum pada Annex 1. yang mencakup daerah urban.

2020 12 Labor Productivity (1993 Constant Price. telah dirumuskan empat tujuan perencanaan tata ruang Mamminasata yaitu (i) untuk menetapkan target dan persepsi yang sama untuk Mamminasata ke depan untuk manfaat bagi semua orang dan semua stakeholder. (Lihat Bab 3) Kerangka Pembangunan 6. S-3: Proyeksi kondisi ekonomi Mamminasata (2005~2020) Gbr.9 trilyun pada tahun 2020. Rp). 2005-20 Change in GRDP (CAGR) Gbr.7%. Rp. Mill. (iii) untuk meningkatkan standar hidup masyarakat.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan Tujuan Perencanaan Tata Ruang Mamminasata 5.3) 60 Average: 7. yaitu pertambahan jumlah penduduk sebanyak 630.3% pada tahun 2005 ke sekitar 7.000 jiwa dalam 15 tahun. Restaurants & Hotel Transportation & Communication 6 2005 Average: 11.88 juta jiwa dengan rata-rata peningkatan pertumbuhan 1. Creative and Coordinated Metropolitan Mamminasata.1% per tahun hingga mencapai sekitar Rp. Rp) 2020 10 40 Manufacturing Industry Electricity. Menjelang tahun 2020. S-4: Pertumbuhan ekonomi sedang di Mamminasata S-3 . Perhatian juga harus ditujukan pada perubahan sosial dan struktur ekonomi wilayah (Lihat Bab 4.1 sampai 4. Leasing & Business Services 50 14 Labor Productivity (1993 Constant Price. jumlah penduduk Mamminasata akan mencapai 2. Semua upaya stakeholder harus diarahkan untuk menciptakan Clean. Gas & Water Supply 2015 30 8 2010 20 Mining & Quarrying Trade. Kontribusi sektor pelayanan akan bertambah dari 51% ke 63% selama periode yang direncanakan. Kontribusi pertanian terhadap ekonomi regional akan menurun dari 13. kerangka pembangunan di atur agar PDRB bertumbuh sebesar 7. Diagram penduduk akan menjadi lebih dekat ke tipe pola urban dengan bentuk populasi piramida.23 M ill.13. 10 Agriculture Construction 4 2 Services 8% 10% 12% 0 0% 2% 4% 6% 0 0% 2% -10 4% 6% 8% 10% Change in GRDP (CAGR).1% Finance. Melalui serangkaian diskusi untuk mencapai kesepakatan antar wilayah. (ii) untuk menciptakan wilayah metropolitan yang harmonis sejalan dengan perlindungan lingkungan dan peningkatan amenitas.5% pada tahun 2020 walaupun pertumbuhan produksi pertanian rata-rata 3% per tahun. Sasarannya adalah untuk menciptakan wilayah Metropolitan Mamminasata yang nyaman untuk dihuni bagi generasi mendatang. Dengan skenario pertumbuhan tingkat sedang. Mill. menjamin lapangan kerja dan layanan sosial yang memadai dan (iv) dan sebagai model bagi pengembangan wilayah metropolitan lainnya di Indonesia.

7% di Maros). Luas total ruang hijau dan hutan di Mamminasata akan bertambah sebanyak 25.7) Tabel S-2: Mks Saat ini* Target ke depan Kebutuhan areal tambahan (%) (ha) (%) (ha) (ha) 2. sektor swasta perlu didorong untuk melakukan investasi dengan tujuan membuka lapangan kerja dan pengembangan ekonomi yang diharapkan memberikan dampak pada pengurangan tingkat kemiskinan (Lihat Bab 4. 5.620 57.6 dan 4. tergantung kondisi masing-masing wilayah pada saat ini.900 +9.0 23.300 33.5) 8. sedangkan di Mamminasata bervariasi antar wilayah (mis.0 10.4 440 5.0 880 +440 Kerangka Ruang Hijau Mamminasata Maros 44. Walaupun ekonomi Mamminasata akan bertumbuh dengan relatif tinggi dan kemiskinan akan dikurangi. Tingkat kemiskinan di Sulsel masih sekitar 16% (2002)..590 +2. amenitas urban sangat memburuk sementara kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sudah semakin meningkat.140 Total 28.5 46.000 Catatan: *Ruang hijau termasuk hutan. untuk melengkapi kebutuhan tata guna lahan untuk kebutuhan pertambahan penduduk (lihat Bab 4.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan 7.0 12. maka sesuai dengan Petunjuk BAPPENAS. kerangka pembangunan ditetapkan dengan memberikan perhatian yang sama atau bahkan lebih pada perlindungan lingkungan dan amenitas. Hal ini disebabkan karena ruang hijau dan areal hutan sudah Illustrasi ruang terbuka hijau terlampau banyak berkurang.000 ha dalam 15 tahun.6% di Makassar dan 23. semak belukar dan lapangan rumput yang diidentifikasi dari peta yang disiapkan oleh BPN S-4 .440 +12. Struktur ruang harus dibentuk dengan mempertimbangkan ruang hijau dan perlindungan lingkungan. Disarankan untuk meningkatkan luas ruang hijau Kota Makassar sampai dua kali lipat dari 440 ha pada tahun 2005 ke 880 ha menjelang tahun 2020.4 dan 4.810 +25.450 22.7 71. Karena investasi pemerintah hanya terbatas pada sekitar 3–4% dari PDB.8 14.0 59. Ditetapkan angka sasaran untuk mengurangi tingkat kemiskinan ke level 3–14%.820 Gowa 19.600 Takalar 19. Pengurangan tingkat kemiskinan masih merupakan isu yang perlu diangkat bagi Mamminasata.0 96.810 38.

7) S-5 . Telah dikenal secara luas bahwa Mamminasata diharapkan berfungsi sebagai pembangunan administrasi. penerapan 3R (reduction-reuse-recycling) dari limbah padat dan pengelolaan lingkungan yang tepat sangat dibutuhkan untuk menciptakan masarakat berorientasi siklus di Mamminasata. Karena polusi air dan udara semakin bertambah dengan meningkatnya volume limbah cair domestik dan limbah padat demikian pula kemacetan lalu lintas maka tindakan perlindungan lingkungan sangat dibutuhkan. Di Sulawesi Selatan Metropolitan Mamminasata akan berkembang sebagai pusat regional.1 sampai 5. Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Klaster Mamminasata dan Sulawesi Selatan). disarankan agar Mamminasata ke depan dapat berfungsi sebagai hub logistik dan perdagangan..3) 10. Dalam hal ini pendekatan partisipatoris tidak dapat diabaikan demikian pula untuk perlindungan lingkungan.3 sampai 5. sosial dan economi di kawasan Timur Indonesia. Mamminasata dan Sulawesi Selatan akan dikembangkan dalam bentuk klaster (mis. Gbr. Mamminasata dapat terjerumus menjadi wilayah yang tidak sehat dan tidak nyaman untuk dihuni (Lihat Bab 5. Sejalan dengan peningkatan ekonomi. S-5: Struktur ruang di kalster Sulawesi Selatan untuk mendorong keterpaduan vertikal dan horizontal dari kegiatan industri Perlu diberikan nilai tambah pada setiap tahapan rantai nilai. Tanpa pengelolaan lingkungan yang sesuai. perlu diberikan perhatian yang lebih besar terhadap perlindungan lingkungan di Mamminasata. utamanya pada indusri pengolahan (Lihat Bab 5.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan Strategi Pengembangan Ruang 9. sementara kota-kota besar lainnya akan menjadi pusat sub-regional. Dengan melihat ketersediaan sumberdaya regional.

dalam hal ini lahan diklasifikasikan ke dalam zona urban. zona semi-urban.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan Sampah yang mengambang di pantai Drainase yang tersumbat oleh sampah buangan Tata Ruang Mamminasata 11. Dalam zoning tata guna lahan perhatian khusus harus diberikan untuk lahan-lahan riparian Gbr. Termasuk wilayah reboisasi seluas 25000 ha. zona produktif dan zona proteksi. Ke depan akan dibutuhkan sekitar 7. Diusulkan definisi sonasi tata guna lahan yang jelas untuk Mamminasata. Luas lahan untuk hutan dan kawasan hijau seperti telah dibahas sebelumnya akan mencapai sampai 97000 ha. Kota Makassar telah dipadati oleh pemukiman dan kegiatan komersil yang menyisakan hanya sedikit sekali ruang hijau. dibutuhkan persiapan lahan tambahan 700 ha.1) 12. S-6: 9 area tata guna lahan di Mamminasata yang ekosistemnya sensitif dan tidak terpulihkan jika telanjur rusak. Dengan alasan inilah maka wilayah estuaria sungai Tallo yang bermuara di sebelah utara kota Makassar ditetapkan sebagai area control pada zona perencanaan urban dan pelarangan penggunaan lahan tersebut untuk industri. ( rincian dapat dilihat pada Bab 6. Sedangkan untuk kebutuhan industri pengolahan yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Lalu lintas juga sudah sangat terbebani S-6 . komersil dan pemukiman.000 ha lahan untuk pemukiman.

Sultan Alauddin should be more highly utilized in land use together with reallocation of government office which is now scattering around the roads. Demikian pula. Sejumlah aturan tata guna lahan akan diperlukan untuk mengendalikan tata guna lahan di zona urban dan semi-urban. especially along the major roads such as Jl. S-9: Penggunaan lahan dengan intensitas tinggi di sepanjang jalan utama Gbr. Pettarani and Jl. selain itu bangunan bersejarah. Historical Buildings Green Space Water-front Green Space Gbr. pepohonan dan peninggalan budaya juga sudah mulai rusak. Misalnya. Downtown in Makassar Downtown area of Makassar. S-10: Illustrasi renovasi pusat kota S-7 . Dalam usulan tata ruang Mamminasata penduduk diarahkan untuk tinggal di zona-zona sub-urban. pengembangan kota-kota baru di rencanakan di bagian Timur Makassar. Untuk menampung pertambahan penduduk. Fort Rotterdam dan sekitarnya disarankan untuk direnovasi dengan merancang lebih banyak ruang hijau untuk amenitas dan landsekap yang lebih baik. while suburban area of Makassar. where many historical heritages remains. S-8: Illustrasi perkembangan kota-kota baru 13. Gambar memperlihatkan kondisi penduduk kota Makassar dan kabupaten lainnya saat ini dan ke depan.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan dengan kepadatan yang tinggi. Gbr. will be conserved under regulated development volume to contribute to urban tourism enhancement. S-7: Jumlah penduduk saat ini dan pada tahun 2020 di masing-masing wilayah Gbr. lahan sepanjang jalan utama sebaiknya dimanfaatkan dengan tingkat penggunaan yang lebih tinggi. Di wilayah pusat kota Makasar ditemukan pemukiman padat yang tidak terkontrol dan kegiatan komersil perdagangan.

sungai dan pantai yang menyebabkan terkontaminasinya air dan perairan. Beberapa inisiatif telah dilakukan oleh sektor pemerintah dan swasta seperti program keindahan kampung Kassi-kassi dengan penghijauan dan bunga-bunga akan tetapi hasilnya masih belum maksimal. termasuk sektor lingkungan di Mamminasata telah memperoleh pembelajaran yang berharga dari studi lapang di Curitiba Brazil. Karena peraturan lingkungan relatif telah baku. mengurangi sampah dan meningkatkan kualitas lingkungan urban. Sampah berserakan di mana-mana. Perkembangan kota yang semrawut tidak terarah sudah berlangsung. pemerintah kota Curitiba telah berhasil meningkatkan luas ruang hijau dengan partisipasi para pihak.2) Photo sebelum pilot proyek dimulai Photo saat pilot proyek berlangsung Gamba rmemperlihatkan photo-photo sebelum dan sesudah program Kanal bersih 15. maka sistem monitoring harus diperkuat. Proyek pilot yang diujicobakan dalam studi ini memperlihatkan bahwa dengan sedikit investasi dan biaya rendah. Pendekatan partisipatoris nampaknya efektif dan disarankan untuk diaplikasikan juga untuk konservasi lingkungan hidup di Mamminasata.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan 14. Yang penting digaris-bawahi dari hasil studi lapang tersebut adalah bahwa walaupun dengan anggaran dinas lingkungan hidup yang terbatas. Selanjutnya setiap S-8 . dan dengan demikian kesadaran masyarakat dapat ditingkatkan sehingga mereka juga dapat ikut berbagi tanggung jawab. Makassar dan pusat kota di Mamminasata sudah menjadi kota-kota yang tidak memiliki daya tarik lingkungan. Pemeliharaan selokan dan saluran drainase Photo: Jalan di Kassi-Kassi menurunkan kapasitas drainase dan menyebabkan genangan dan banjir di tempat-tempat yang rendah. Karena tidak terdapat Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik. kanal. pengelolaan limbah padat dapat meningkatkan kesadaran masyarakat. Aparat pemerintah. (Rincian dapat dilihat pada Bab 6. sepanjang jalan. maka kontaminasi akan semakin buruk jika tidak segera diambil tindakan yang tepat baik oleh pemerintah maupun oleh penduduk setempat.

Brazil Photo Metropolitan Hijau Curitiba (Urbanscape of Curitiba City. Karena lahan pertanian terletak sangat dekat dengan pusat konsumen yaitu Makassar.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan Kabupaten/kota di Mamminasata harus menentukan tindakan yang perlu dilakukan untuk perbaikan lingkungan. Perikanan laut dalam. (Rincian pada Bab 6. laut dangkal dan perikanan darat perlu S-9 . baik secara individu maupun secara kolektif. Brazil) Rencana Pengembangan Ekonomi 16. Untuk itu petani harus dibina untuk membudidayakan tanaman yang memiliki nilai lebih tinggi. walaupun kontribusinya terhadap ekonomi regional secara berangsur dikurangi. Peternakan juga perlu didorong secara lebih strategis jika berdasarkan pada kenyataan bahwa kebutuhan daging dan susu akan semakin bertambah seiring dengan meningkatnya standar hidup masyarakat. perubahan pola tanam semacam ini lebih rasional untuk mempertahankan pertumbuhan pertanian yang lebih mantap. maka pola tanam juga sebaiknya berubah dari pola tanam padi-padi-palawija ke budidaya tanaman yang memiliki nilai lebih tinggi seperti sayuran dan buah. Pertanian masih merupakan kegiatan ekonomi utama di Mamminasata. utamanya di wilayah urban. biodiversitas dan ekosistem harus dilindungi demi Mamminasata yang berkelanjutan. S-11: Tata guna lahan Pertanian Tahun 2020 sehubungan dengan urbanisasi ke wilayah irigasi dan non-irigasi.3) Wawancara dengan mantan walikota Curitiba. Karena lahan budidaya pertanian akan berkurang Gbr.

10 . Dengan perbaikan varitas dan kualitas kakao Mamminasata dapat merebut posisi menjadi produsen utama produk berbasis kakao.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan juga dikembangkan dengan teknologi maju berdasarkan pertimbangan adanya kebutuhan potensial yang tinggi untuk ikan. rumput laut dan produk lokal lainnya adalah komoditi ekspor.2) Gbr.1) 17. marmer. Pengolahan kakao misalnya harus ditingkatkan sejalan dengan rantai nilai. Diharapkan dengan usulan pengemabngan pertanian yang telah diajukan. maka pertanian di Mamminasata akan mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan pada rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 3% ( Lihat Bab7. Kakao. vanilla. Industri pengolahan di Mamminasata akan tetap tergantung terutama pada hasil pertanian dan pertambangan yang terdapat di Sulawesi Selatan. Industri berbasis sumberdaya lokal lainnya seperti semen. S-13: Sonasi industri di Mamminasata S . perabot dll juga akan diklasterkan sehingga dapat membentuk kompleks industri produk perumahan. oleh karena itu harus diproses lebih dahulu untuk memberikan nilai tambah pada wilayah. Gbr. ( Bab 7. S-12: Illustrasi klaster berbasis kakao Direncanakan juga untuk menempatkan industri-industri pengolahan produk pertanian secara kolektif pada area tertentu di Mamminasata sehingga membentuk klaster dengan memperhitungkan musim panen dari produk potensial.

STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Ringkasan

18. Perdagangan harus dikembangkan di Maminasata secara lebih strategis sehubungan dengan pengembangan pelabuhan dan Bandar udara. Walaupun Makassar memiliki sejumlah besar pergudangan akan tetapi hanya menyimpan bahan baku yang bernilai tambah rendah yang dijual langsung ke pasar. Salah satu penyebab rendahnya nilai tambah dalam perdagangan adalah karena terbatasnya industri penunjang seperti industri label dan pengemasan, kurangnya sistem untuk mengembangkan pusat-pusat logistik. Industri logistik harus dikembangkan secara strategis sejalan dengan perbaikan sistem transportasi. Makassar juga diharapkan berfungsi sebagai pusat finansial regional untuk mendorong promosi industri logistik dan industri pengolahan. (Bab 7.2)
19.

Rice

Rice

Pare Pare Port

Rice

Cacao

Cacao

Cacao, Molasse, Maize

Makassar Port
Cement, Clinker Maize Molasse Maize Maize

Catatan: Semua jalur transportasi komoditas yang tercantum pada peta menggunakan transportasi darat.

Gbr. S-14:

Akumulasi barang ekspor ke pelabuhan Makassar.

Pariwisata juga merupakan salah satu industri yang akan

dikembangkan di Mamminasata. Matahari terbenamnya adalah salah satu daya tarik yang terkenal di dunia. Sejumlah aset sejarah dan budaya di Mamminasata juga menarik baik bagi turis mancanegara maupun domestik. Penyelaman sekeliling pulau-pulau lepas pantai juga cukup terkenal. Mamminasata memiliki juga daya tarik pegunungan dalam jarak yang cukup dekat. Makassar juga berfungsi sebagai pintu gerbang ke titik wisata Toraja. Meskipun peningkatan jumlah turis asing secara drastis kemungkinannya kecil, namun Mamminasata dapat mengharapkan peningkatan jumlah turis domestik untuk MICE (meetings, incentives, conventions and exhibitions). Celebes Convention Center, yang sedang dalam tahap konstruksi akan berkontribusi besar dalam meningkatkan wisata MICE. Dalam konteks ini juga Mamminasata harus menciptakan lingkungan dan amenitas yang nyaman di setiap wilayah. ( Lihat Bab 7.3)
Illustrasi Pusat Konvensi yang baru Sunset di Makassar

Perbaikan Prasarana Urban 20. Prasarana urban di Mamminasata telah meningkat secara substansial dalam dekade

S - 11

STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Ringkasan

yang lalu, termasuk penanggulangan banjir dan perbaikan drainase setelah rampungnya dam dan waduk Bili-bili yang terletak di S. Jeneberang. Banjir pada hilir sungai Tallo, S.Maros dan S. Pappa/Gamanti dapat dikontrol dengan membangun kawasan penyangga dan sudetan. Perbaikan selanjutnya untuk sistem drainase harus diterapkan utamanya melalui tindakan non-struktural dalam bentuk rehabilitasi selokan dan saluran yang ada, penampungan sementara untuk air hujan badai dan pengaturan legal lainnya. Komunitas urban didorong untuk turut bertanggung jawab dalam kebersihan kanal di wilayahnya. (Lihat Bab 8.1)
Mar os R

N Restriction on Development
Ta llo

.

Bantimurung R. Retarding Basin

Dike

ara Arp

Dike

R.
Cut-off

R ng

Retarding Basin

.

Cut-off

Ba ng ka la R

.

Cut-off Dike
N

m Ga

ti (B an

. i) R ass gk irin

Restriction on Development

Retarding Basin

Restriction on Development

.

0

1

2

3

4

5km

Gbr. S-15:

Rencana konseptual untuk perbaikan S. Tallo, S.Maros dan S.Pappa/Gamanti

21. Pasokan air bersih Mamminasata juga akan ditingkatkan. Persentase populasi yang akan terlayani oleh air bersih olahan hanya terbatas sebanyak 70% di Makassar, 10% di Maros, 11% di Gowa and 4% di Takalar. Untuk Makassar dan Gowa, pengembangan IPA (Instalasi penjernihan Air) Somba Opu dari kondisi saat ini 1,1 m3/detik ke 3,3 m3/detik) perlu dilakukan bersamaan dengan penurunan jumlah air hilang (di Makassar air hilang berkisar 48%). Di Maros dan Takalar, sistem pasokan air lokal juga akan ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan untuk itu studi tingkat pra Studi Kelayakan dilaksanakan dalam Gbr. S-16: Diagram Pasokan air bersih olahan studi ini (Lihat Bab 8.2 dan 11.1).

S - 12

Pap pa R

Tallo R.

Dike

STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Ringkasan

Pada saat yang bersamaan, juga sudah harus dimulai tahapan awal untuk perbaikan instalasi pengolahan air limbah domestik misalnya (i) sistem off-site untuk wilayah dengan kepadatan penduduk lebih besar dari 100 orang/ ha, (ii) system on-site untuk wilayah urban yang kurang padat, (iii) lubang pelumeran untuk wilayah dengan air tanah dalam, dan (iv) tangki septik dengan lubang pelumeran untuk wilayah dengan air tanah dangkal. Direkomendasikan pelaksanaan implementasi bertahap untuk perbaikan saluran limbah cair domestik. (Lihat Bab 8.2)

Gbr. S-17: Sistem peningkatan pengolahan limbah cair domestik jangka panjang

22. Kekurangan dalam pembuangan limbah padat memperlihatkan salah satu persoalan serius yang harus dikemukakan untuk mengembalikan Mamminasata Photo –photo pengelolaan sampah secara partisipatoris yang bersih. Seperti telah dibahas sebelumnya, jalan, selokan dan kanal drainase penuh sampah dan lokasi TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah di Makassar sudah hampir penuh. Menurut pengalaman, kesadaran masyarakat harus dimulai di sekolah. Hasil ujicoba program proyek pilot pemilahan sampah berbasis komunitas dan barter sehat atau kanal bersih, harus direplikasi secara sistematis. Karena lokasi TPA baru akan dibangun dan Kabupaten Gowa telah setuju untuk membuka TPA baru untuk Mamminasata maka seharusnya Gbr. S-18: Illustrasi TPA di masa mendatang, dikombinasikan dengan fungsi daur ulang diimplementasikan sebagai proyek kerjasama regional. Dalam studi ini juga dilaksanakan kajian dalam tingkatan Pra Studi kelayakan untuk pembangunan TPA. ( lihat Bab 8.3 dan 11.2)

S - 13

S-19: Grid transmisi di masa Sungguminasa. 15 Other Kabupaten Barru 13 Soppeng 12 Bone Pangkep 14 11 5 Maros MAMMINASATA Metropolitan Area Makassar 1 3 2 10 Sinjai Gowa 4 6 9 8 Takalar 1. khususnya di dalam dan sekitar kota Makassar.000 2. konservasi energi mendatang harus dipromosikan sebagai pengelolaan kebutuhan. Di lain pihak. (Lihat Bab 9.14 .STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan Peningkatan Prasarana Ekonomi 23. S-20 Jalur-jalur ideal di Mamminasata S . Dengan meningkatnya harga minyak dalam beberapa tahun terakhir ini. Untuk menjamin pasokan listrik yang stabil. Tello.2 dan 11.4) 24.1. dan hal ini menghambat pertumbuhan ekonomi dan menurunkan kualitas lingkungan di wilayah metropolitan. Hasil survey lalu lintas dan simulasi memperlihatkan bahwa kemacetan akan menjadi cukup serius sepanjang jalan-jalan utama di Mamminasata. Kondisi pasokan listrik menurun secara progresif karena meningkatnya kebutuhan dan terlambatnya perampungan pembangkit baru. Masih dibutuhkan pengembangan selanjutnya untuk mampu mendukung Mamminasata menjadi hub logistik dan perdagangan regional. akan tetapi pelayanannya masih sangat mahal dan tidak dapat diandalkan. Demikian pula kapasitas transformer harus diperbesar utamanya di gardu induk Daya. maka perencanaan pembangkit listrik yang ada dan penjadwalan pembiayaan harus dikaji ulang oleh Produsen tenaga listrik independen (IPPs = independent power producers).000 vehicles Bantaeng Jeneponto 7 Bulukumba Gbr. perencanaan PLTA akan mengurangi ketergantungan tenaga listrik terhadap minyak bumi. Telekomunikasi di Mamminasata dalam beberapa tahun ini menunjukkan peningkatan yang besar. Beberapa industri manufaktur telah menutup pabriknya karena kekurangan pasokan listrik. 9. Kondisi lalulintas di Mamminasata semakin memburuk terutama disebabkan oleh meningkatnya volume lalulintas. Panakkukang and Gbr.500 5. juga kerusakan gardu induk fasilitas distribusi.

STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan VCR<2. dan (iv) Jalan akses Takalar.00 2. Alauddin. (ii) Perpanjangan Jl. Perintis bersama Jl Urip Sumoharjo (studi pra kelayakan dilaksanakan dalam studi ini). Perbaikan semacam itu harus didesain untuk mendapatkan penampang melintang jalan yang lebih baik dan memiliki jalur hijau. Pada saat yang bersamaan Jalan Trans-Sulawesi dan Mamminasata Bypass juga harus segera dilaksanakan. Malino. Hertasning baru (iii) Jl. S-22: Rencana jaringan jalan keseluruhan dengan layanan bis dan terminal yang [Jangka panjang] S .00<VCR scale: 1mm =30000(pcu) 6 32 2. Layanan transportasi publik harus diperbaiki Gbr. Beberapa proyek jangka pendek juga akan termasuk yaitu (i) Jl.00<VCR scale: 1mm =30000(pcu) 2 31 228 90 237 52 6 366 15 246 2 10 00 93 7 74 619 208 92 27 95 5 0 100 00 10 98 637 483 33 13 29 33 0 35 28 1 345 407 189 481 114 146 4127513 86 76 58 42 24 5 2 48 0 425 397 355 18 6 18 1 20 8 136 66 710 95 20 4 1 58 440101 252 1171 426 556 8 47 3 40 42 23 6 6 28508 8 392 7 78 78 101 2 51 66 607 350 37 5 125 66 333 210 15 210 4 48 381 44 6 23 505 75 75 417 158 9 10 152 150 2 15 359 355 49 84 60 4 22 6 0 64 52 448 499 151 2 54 2 54 53 5 5 84 11 6 119 10 3 9 44 257 5 7 37 62 8 41 8 64 4 8 47 164 232 273 27 3 894 10 38 45 1 527 58 4 472 89 8 47 62 13 0 16 5 6 11 4 14 97 57 82 8 13 179 39 153 63 52 12 7 171 81 12 0 65 70 22 7 526 230 86 77 71 553 08 29 9 37 30 6 13 7 16 6 11 7 14 4 99 492 57 75 403 72 3 219 34 92 3 3 47 455 415 2 876 33 267 593 231 240 348 332 156 150 10 4 1129713 98 83 93 133 5 2 583 238 4 498 5 481 6 25 303 2 17 11 38 18 3 30 79 9 58 9 79 33 1 9 36 26 300 79 9 93 7 39 32 5 26 13 2 473 57 465 334 266 90 178 175 334 266 520 341 61 37 29 40 523 316 8 74 58 87 620 11 17 8 271 48130 44 3 6 47 5 38 0 42 75 1017 5 114156 293 3 1 53 97 65443 71 349 64 533 96 28 2 4 52 4 2 55530 752 322 61 551 641 6 813 122 129 26 5 567 1 33 367 5 868 33 245 596 250 54 0 1 38 58 96 4 19 998 102 3 112 19 9 993 97 0 10 82 99 116 89 85 45 414 94 42 357 365 54 10 8 36 5 35 7 Tanpa peningkatan jalan Dengan peningkatan jalan Gbr.15 357 105 21 6 64 94 1 232 30 365 65 6 175 63 72 3 31 54 73 23 162 52 65 162 54 . S-21: Kondisi Lalu lintas tanpa dan dengan peningkatan jalan 2020 Melalui analisis simulasi terhadap volume lalu lintas telah diklarifikasikan bahwa peningkatan jalan yang paling urgen adalah (i) Jalan tol Sutami antara pelabuhan Makassar dan Bandar Udara Hasanuddin (yang akan dikerjakan dengan PFI) and (ii) Jl.

( Lihat Bab 9.3 dan 11.16 . Peningkatan pekerjaan diawali dengan desain yang cukup ambisius untuk memiliki landasan pacu yang baru (3. menengah dan panjang menuju tahun 2020. Yang dikombinasikan dengan layanan pete-pete dan becak untuk jarak pendek. Program tersebut dikelompokkan menjadi (i) program-program yang mendukung pembangunan ekonomi.500 ). Sejumlah proyek dan program telah direkomendasikan untuk pembangunan jangka pendek. Di Bandara Hasanuddin penumpang dan volume cargo yang ditangani meningkat dengan nyata. dan bangunan terminal penumpang (48.4) Gbr. (iii) program pembangunan prasarana ekonomi dan S . penggunaan kendaraan pribadi secara tepat. Pengembangan di pelabuhan laut dan bandara akan memberikan dampak yang nyata untuk mendorong Mamminasata menjadi hub logistic dan perdagangan di kawasan Timur Indonesia. taxiway. S-23: Desain konseptual Penampang jalan Jl. (ii) program pembangunan lingkungan hidup urban. Sistem bantuan navigasi juga ditingkatkan. Pelabuhan Makassar telah ditingkatkan untuk menyediakan layanan konteiner.100 m x 45 m).STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan lebih baik. Walaupun belum dapat dipastikan apakah ada investor yang tertarik pada operasi pelabuhan plus perumahan. otoritas pelabuhan (Pelindo IV) mengundang investor swasta untuk konstruksi dan operasi pelabuhan laut baru yang terletak di sebelah utara pelabuhan saat ini. disarankan untuk lebih mengutamakan peningkatan produktifitas dermaga saat ini dan juga mengkaji sistem pembiayaan berbasis kemitraan pemerintah-swasta (public-private-partnership=PPP)) untuk pengembangan pelabuhan lebih lanjut. Pengelolaan kebutuhan lalu lintas juga disoroti untuk kota Makassar. penggunaan kendaraan yang lebih efisien dan perencanaan kota yang efektif untuk meminimalkan beban lalulintas. Dengan meningkatnya volume aliran kargo. Perintis Kemerdekaan 25. (Lihat Bab 9. Mereka bermaksud menarik investor dengan mengijinkan pembangunan perumahan di atas lahan reklamasi untuk konstruksi pelabuhan. tempat parkir untuk 17 pesawat. Dengan penggantian moda transportasi campuran.3) Program Pembangunan 26.

17 . Proyek/ program prioritas yang akan diimplementasikan dalam jangka pendek dicantumkan pada Lampiran 2.3) S . menengah dan panjang. S-24: Empat Program Pengembangan 27. Demikian pula penyusunan rencana tindak untuk usulan implementasi dalam jangka pendek. Dalam peningkatan lingkungan provement hidup dan penguatan institusional. Pihak swasta juga harus didorong 52 Trillion Rp 280 Billion untuk melakukan investasi di sektor energi listrik dan jalan tol (lihat Bab 10. Walaupun anggaran pembangunan pada tingkat nasional. propinsi dan Mamminasata agak terbatas.1 dan 10. masih memungkinkan untuk mengelola investasi pemerintah dalam skala yang memungkinkan untuk Gbr.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan (iv) program pengelolaan urban dan penguatan institusi. Pengaturan pembiayaan untuk implementasi program usulan perlu diatur secara tepat antara pemerintah dan pihak-pihak swasta. S-25: Anggaran Pembangunan pada tingkat Nasional. Badan pengelola Pembangunan Mamminasata (BPPM) diharapkan berfungsi untuk bertanggungjawab secara keseluruhan dalam tahap implementasi rencana tindak ( Lihat Bab 10.2) (i) Program Penunjang Pembangunan Ekonomi Pertanian Industri Promosi Perdagangan dan investasi Pariwisata (ii) Lingkungan urban & program pengembangan prasarana Kontrol banjir dan drainase Air bersih dan limbah cair domestik Pengelolaan limbah padat Program Pengembangan Mamminasata (iii) Program Pengembangan Infrastruktur Ekonomi Suplai listrik Layanan telekomunikasi Transportasi (iv) Pengelolaan urban/ Program Penguatan institusi Penguatan organisasi Penguatan legislasi Sistem operasi pengelolaan urban Gbr. propinsi dan Mamminasata melakukan pinjaman dengan jangka pinjaman yang lebih panjang dan bunga rendah.

Studi-studi pra kelayakan telah dilaksanakan untuk empat proyek prioritas pilihan dalam rangka implementasi rencana pengembangan ruang di Mamminasata sesuai dengan Lingkup Kerja Studi ini.18 .000 jiwa) yang bermukim di bagian utara Maros melalui peningkatan rasio layanan penyediaan air perpipaan dari 11.950 1 Penyediaan air harian Maksimum S . Mata air ini dapat dimanfaatkan oleh 31. Diusulkan sistem penyediaan air Bantimurung yang baru di Maros dengan memanfaatkan mata air yang tersedia di Jamalah dengan kapasitas 180 lit/detik1.000 KK lain (sekitar 155.0% (2010). air tanah dari sumur dalam akan diambil di tiga lokasi dengan total kapasitas 25 lit/detik untuk melayani 3.7% (2004) mencapai 61.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan Table S-3: Pembiayaan untuk sector yang menguntungkan Tabel S-4: Pembiayaan untuk sector semi dan non-profit Studi Pra Kelayakan 28. Proyek pertama adalah peningkatan sistem penyediaan air di Maros dan Takalar. Di Takalar.

0% di tahun 2010. Sistem TPA semi-aerobic diterapkan. Gbr. Total biaya pembangunan TPA diperkirakan sekitar US$ 35.9 juta. dilengkapi dengan sarana-sarana yang memadai untuk pelindian. S-27: Rancangan Perencanaan TPA Patallasang S .8 juta. Gowa telah dirancang.2% (2005) menjadi 50.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan KK tambahan melalui peningkatan rasio pelayanan dari yang saat ini 4. pengendalian gas dan langkah-langkah perlindungan lingkungan lainnya. Gbr. TPA akan dimanfaatkan sebagai taman rekreasi atau lapangan olah raga. Desain awal untuk usulan TPA baru di Pattallassang. Proyek tersebut juga memperlihatkan lokasi industri-industri daur ulang di Pattallassang. Setelah masa penggunaan. Proyek kedua adalah peningkatan TPA untuk pengelolaan limbah padat. S-26: Peta Wilayah Pelayanan di Maros (kiri) dan Takalar (kanan) 29. Total perkiraan biaya untuk seluruh kegiatan peningkatan sistem penyediaan air di Maros dan Takalar akan berjumlah US$ 20.19 .

1 juta seperti dicantumkan pada tabel berikut. Jalan Perintis-Urip harus ditingkatkan agar rasio volume-kapasitas (VCR) normal dapat dijaga. namun peningkatan tambahan dibutuhkan di gardu induk Panakkukang.2 juta. Sutami telah rampung. Meski beberapa peningkatan telah dilakukan baru-baru ini. peningkatan Jalan Perintis-Urip diharapkan dapat berkontribusi terhadap perubahan tata guna lahan di sepanjang jalan tersebut. Di samping itu.20 . Kemungkinan akan diupayakan pula bantuan luar negeri untuk membiayai implementasi proyek-proyek ini dalam satu paket. Proyek ketiga adalah peningkatan kapasitas gardu induk dan rehabilitasi sistem distribusi listrik. Gbr. Total biaya konstruksi empat proyek prioritas akan mencapai jumlah US$ 110. Proyek keempat adalah peningkatan Jalan Perintis-Urip dengan lebar jalan 42 m. Total perkiraan biaya untuk proyek peningkatan kapasitas gardu induk dan rehabilitasi distribusi akan berjumlah sekitar US$ 12. penggantian dan peningkatan jaringan distribusi voltase menengah/rendah dibutuhkan untuk menjaga kestabilan penyediaan tenaga listrik di Mamminasata. dari yang sebelumnya digunakan secara serampangan menjadi pengenalan tata guna lahan berkepadatan tinggi dan sedang seperti terlihat dalam gambar berikut. Desain awal usulan peningkatan telah dipersiapkan. Maros dan Sungguminasa dengan kapasitas keseluruhan 180 MVA. termasuk biaya pembebasan lahan dan biaya relokasi sebesar US$ 20.6% dan bahwa program tersebut memiliki kelayakan ekonomi. S .STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan 30. walaupun jalan tol Ir. Kemudian. Tanjung Bunga. S-28: Gambaran Awal Penggunaan Lahan Sepanjang Jalan Perintis saat ini dan akan datang 32. termasuk sarana-sarana terkait dan relokasi utilitas-utilitas umum (seperti pipa air. Total perkiraan biaya proyek akan mencapai jumlah US$61. Evaluasi awal perekonomian mengindikasikan bahwa tingkat EIRR (Economic Internal Rate of Return) akan sebesar 30. 31.1 juta. jaringan listrik dan kabel-kabel telekomunikasi).3 juta. Untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di sepanjang jalan-jalan utama di Mamminasata.

Penguatan institusi harus dimulai dengan pembentukan Badan Pengelola Pembangunan Mamminasata (BPPM).9 12. Demikian pula penyusunan peraturan untuk Pengelolaan Perkotaan juga perlu dilakukan untuk pengendalian tata guna lahan di zona perencanaan urban dan semi urban seperti Usulan draft Pedoman Pengendalian Tata Guna Lahan di mamminasata pada Lampiran 3. Walaupun memerlukan waktu untuk pembentukannya namun langkah-langkah awal perlu segera dimulai dengan S .3 41.1 Ket. Peningkatan kapasitas gardu induk dan rehabilitasi sistem distribusi listrik 4. Peningkatan TPA untuk pengelolaan limbah padat 3.00 Dollar US = 8. Dalam konteks ini diharapkan dapat ditetapkan Peraturan Presiden untuk implementasi Rencana Tata Ruang Metropolitan Mamminasata.8 35. Peningkatan sistem penyediaan air bersih di Maros dan Takalar 2.1 110.: 1.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan Tabel S-5: Total Biaya Konstruksi Empat Proyek Prioritas Biaya Konstruksi Juta US$ ( Milyar Rp. Peningkatan Jalan Perintis-Urip Total 20. Gubernur Advisory Committee Private Academic Ketua: Wakil Ketua: BKSPMM Wakil Gubernur Walikota Makassar Bupati Maros Bupati Gowa Bupati Takalar Kepala Badan (Eselon II) Sekretariat Divisi Prasarana dan Lingkungan (Eselon III) (5 orang) Legal/Divisi Pembiayaan (Eselon III) (3 orang) Divisi Database/Monitoring (Eselon III) (3 orang) Badan Pengelolaan Pembangunan Mamminasata (BPPM) Gbr. Walaupun sejauh ini Badan Kerjasama Pembangunan Metropolitan Mamminasata (BKSP-MM) telah mengambil inisiatif untuk penyusunan tata ruang akan tetapi implementasi program usulan perlu dikordinasikan dan dikelola dalam kerangka legal dan efektif oleh badan pengelola yang lebih kuat.760 Rupiah (sesuai nilai tukar Mei 2006) Biaya yang diindikasikan dalam tabel di atas tidak mencakup biaya untuk pembebasan lahan dan relokasi Penguatan Institusi 33. ) (183) (315) (108) (360) (965) Nama Proyek 1. S-29: Organisasi BPPM (usulan) 34.21 .

Jika hal ini tidak direalisasikan maka rencana tata ruang masing-masing Kabupaten/kota dan rencana Tata Ruang Mamminasata akan gagal. propinsi maupun tingkat kabupaten. Untuk acuan yang mudah dan terkordinasi maka diperlukan sistem data base yang dapat digunakan bersama antar wilayah. (lihat Bab 13. Setiap wilayah juga harus sudah mulai membenahi anggarannya dengan mengurangi pengeluaran rutin dan meningkatkan anggaran pembangunannya (lihat Bab 13. Kerjasama dan kemitraan dengan sektor swasta adalah kebutuhan vital untuk keberhasilan implementasi rencana tata ruang Mamminasata dan rencana tata ruang masing-masing wilayah Kabupaten/kota. Program tersebut akan membutuhkan pengaturan biaya anggaran baik pada tingkat pusat. dengan demikian perencanaan masing-masing akan terkordinasi dengan baik. Perlu diingat bahwa semua stakeholder harus memiliki persepsi visi yang sama dan masing-masing harus bertanggung jawab dalam usaha merealisasikan program usulan. Masing-masing individu dan institusi harus mengambil inisiatif dan bekerjasama satu sama lain untuk menciptakan wilayah metropolitan yang nyaman untuk dihuni bagi generasi mendatang (lihat Bab 13. Dalam kerangka tersebut maka pemerintah propinsi dan BKSPMM harus berkordinasi dengan lembaga donor internasional (lihat Bab 13. swasta dan akademik harus dimobilisasi secara kolektif untuk merealisasikan creative Metropolitan Mamminasata. Kabupaten Maros. Kolaborasi dengan LSM lokal juga perlu ditingkatkan utamanya dalam merealisasikan clean Metropolitan Mamminasata. Target ekonomi yang ditetapkan dalam kerangka pembangunan dapat dicapai jika program usulan berhasil diimplementasikan. Ketergantungan pada tenaga ahli dari luar sebaiknya sedikit demi sedikit di kurangi sejalan dengan kemajuan program pengembangan kapasitas SDM.1 dan 13.22 .2) 38.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan pengorganisasian dan persiapan pengembangan kapasitas SDM bagi tenaga ahli pengelola yang ditunjuk.2) 37. Pembiayaan dari pihak luar juga akan diperlukan. Demikian pula kemitraan dengan sector akademik harus ditingkatkan dan kearifan pemerintah.2) Rekomendasi Umum 35. Sudah perlu dimulai upaya dan langkah untuk mengimplementasikan rencana tindak jangka pendek.2) S . (lihat Bab 12.2) 36. Rencana Tata ruang dan rencana tindak masing-masing Kabupaten/kota harus di kaji oleh Kota Makassar. Gowa dan Takalar dengan mengacu pada rencana tata ruang Mamminasata yang diusulkan. Pengembangan SDM adalah kunci utama keberhasilan implementasi dan manajemen serta pejabat terkait lainnya. Isu-isu lingkungan juga perlu diangkat oleh stakeholder di wilayahnya masing-masing.

Implementasi rencana tata ruang Mamminasata harus dipantau secara berkala dan semua stakeholder harus mengambil buah pembelajaran. Karena kondisi sosial dan ekonomi akan berubah dari tahun ke tahun maka direkomendasikan untuk mengadakan kaji ulang terhadap usulan-usulan rencana tata ruang Mamminasata setiap lima tahun berikutnya harus dilakukan pada sekitar tahun 2010.23 . (lihat Bab 13.2) S .STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Ringkasan 39.

LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Daftar Anggota Studi Proyek/Program Prioritas Jangka Pendek Usulan Pedoman Pengendalian Tata Guna Lahan di Mamminasata untuk Pengelolaan dan Pengendalian Pembangunan Perkotaan Pembentukan Organisasi dan Administrasi Pembangunan Mamminasata (BPPM) Buku Sebaran Rencana Tata Ruang Terpadu Badan Pengelolaan .

Propinsi Sulawesi Selatan Kepala Sub-Dinas Tata Ruang dan Program Kepala Seksi Penataan Ruang Propinsi dan Kawasan A1-1 . Direktorat Jenderal Penataan Ruang Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang Direktur Penataan Ruang Kawasan Timur Indonesia Kepala Sub-Direktorat Penataan Ruang Perkotaan dan Metropolitan Kepala Seksi Penataan Ruang Metropolitan Pertemuan Tingkat Tinggi Mamminasata Nama Syahrul Yasin Limpo Agus Arifin Nu’mang S. Anas Dahlan Yurnita Muh. Adnan Mahmud Mallingkai Maknun Burhanuddin Nafsah Baso Syafruddin A. Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan Wakil Ketua. DPRD Sulawesi Selatan Kepala BAPPEDA Propinsi Sulawesi Selatan Walikota Makassar Bupati Gowa Bupati Maros Bupati Takalar Ketua DPRD Makassar Ketua DPRD Gowa Ketua DPRD Maros Ketua DPRD Takalar Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman. Propinsi Sulawesi Selatan Pembangunan Kawasan. Ruslan Ilham Arief Sirajuddin Ichsan Yasin Limpo Nadjamuddin Aminullah Ibrahim Rewa I. Masri Tiro Hasbi Nur Shafik Ananta Inuman Posisi Prasarana. Kota Makassar Divisi Pemantauan dan Pengendalian. BAPPEDA Propinsi Sulawesi Selatan Penataan Ruang.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 1 Lampiran 1 Daftar Anggota Studi Departemen Pekerjaan Umum Nama Achmad Hermanto Dardak Setia Budhy Bintarto Edison Shafik Ananta Inuman Posisi Direktur Jenderal. BAPEDALDA Propinsi Kepala Seksi Penataan Ruang Metropolitan Posisi Wakil Gubernur. Pattiwiri Syarif Burhanuddin Sri Wedari Harahap Daftar Tenaga Ahli Nasional Nama M.

KAWAGOE / S.STUDI IMPLEMENTASI TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 1 Daftar Anggota Tim Studi JICA Nama Hajime KOIZUMI Hirohide KONAMI Keiro HATTORI Takuya OKADA Akifumi WATANABE Akihisa KOJIMA Koki KANEDA Kiminari TACHIYAMA Koichi ARAKAWA Keishi ADACHI Kensuke SAKAI Satoshi HIGASHINAKAGAWA M. Air Bersih & Saluran Air Limbah Perencanaan Pengelolaan Limbah Padat Perencanaan Perumahan & Sarana Publik Perencanaan Tenaga Listrik & Telekomunikasi Perencanaan Promosi Industri Regional Perencanaan Promosi Pertanian dan Perikanan Perencanaan Promosi Pariwisata Promosi Investasi & Perdagangan GIS & Tata Guna Lahan Pemetaan Topografi Pengembangan Sosial Pertimbangan Sosial & Perencanaan Partisipatoris Perencanaan & Pertimbangan Lingkungan Desain Jalan Struktur Jalan dan Desain Jembatan Perencanaan Sumber Daya dan Penyediaan Air A1-2 . KODA Takayasu NAGAI Hiroaki TAKAHASHI T. TANIFUJI / M. TERAMATSU / Y. YAMAMOTO Posisi Ketua Tim / Pembangunan & Penataan Ruang Regional Penasehat Pengembangan Kapasitas – Pengelolaan Perkotaan Penasehat Pengembangan Kapasitas – Pengelolaan Lingkungan Perkotaan Wakil Ketua Tim / Perencanaan Perkotaan & Tata Guna Lahan Wakil Ketua Tim / Pembangunan SDM & Kelembagaan Wakil Ketua Tim / Perencanaan Transportasi Perencanaan Jalan Peramalan Kebutuhan Lalu Lintas Studi Lalu Lintas Ekonomi & Keuangan Perencanaan Drainase. KURODA Takeshi YAMASHITA Ayako ISHIWATA Yuki ISHIKAWA Go KIMURA Hiroto TSUGE Sachiyo TAKATA Daikichi NAKAJIMA Atsushi FUJINO Dorothea AGNES Rampisela S.

1 1.5 2. dan (iii) Proyek yang akan dipadukan untuk mencapai tujuan pembangunan yang sama.2 1. Penguatan Kelembagaan 4.3 2.1 Lingkungan Perkotaan 2.3 4.3 Proyek/Program Peningkatan produktivitas pertanian dan diversifikasi Peningkatan nilai tambah pengolahan Penguatan perdagangan dan investasi Pengembangan klaster komoditi-komoditi pilihan Peningkatan daya tarik wisata Perbaikan suplai air kota Pengolahan air limbah Pengolahan limbah padat Perbaikan penghijauan dan lingkungan tepian sungai Perbaikan jalan arteri Mamminasata Perbaikan manajemen lalu lintas Perbaikan transmisi dan distribusi energi Penguatan organisasi Penguatan peraturan perundangan Penguatan manajemen informasi A2-1 .2 4.2 2. (i) Proyek/program yang akan berkontribusi terhadap Strategi Pembangunan Mamminasata. Daftar Proyek/Program Sektor 1.2010.3 1. Perbaikan Prasarana dan 2.1 4. Pembangunan Ekonomi 1. khususnya terhadap pembentukan organisasi dan peraturan perundangan untuk pengelolaan pemanfaatan lahan.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 2 Lampiran 2 Proyek/Program Prioritas Jangka Pendek Program prioritas jangka pendek yang terpilih untuk diimplementasikan berdasarkan pertimbangan sebagai berikut: Proyek/program usulan untuk dilaksanakan pada tahun 2006 .4 1. Perbaikan Prasarana 3. (ii) Proyek/program yang akan berkontribusi terhadap penguatan kelembagaan. Proyek-proyek prioritas yang diusulkan untuk mencapai lima target utama pembangunan terpadu Mamminasata seperti tercantum di bawah ini. khususnya terhadap peningkatan lingkungan perkotaan dan prasarana ekonomi dasar.1 Ekonomi 3.2 3.4 3.

(ii) penerapan pemanfaatan lahan intensif (iii) pengenalan pertanian yang dipadukan dan bercampur dengan budidaya tambak.1 Peningkatan produktivitas pertanian dan diversifikasi Untuk meningkatkan penghasilan petani dengan meningkatkan produktivitas pertanian melalui (i) peningkatan hasil panen. penghargaan) (ii) Pertalian antara produsen dan pasar diperkuat Memperkuat pertalian regional dan sektor untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal dan untuk mempromosikan pemanfaatan maksimal dari sumber daya lokal tersebut (i) Koordinasi regional diperkuat (ii) Koordinasi hulu dan hilir diperkuat (iii) Perbaikan kualitas Meningkatkan daya tarik Fort Rotterdam dan daerah sekitarnya bagi para wisatawan dan penduduk. dan Takalar (iv) Peningkatan pengelolaan penyediaan air dan operasi (PDAM) Tujuan dari pengolahan air limbah adalah untuk memperbaiki kualitas air kanal dan lautan dan juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pembersihan kanal. Untuk memasok bahan baku dengan kuantitas dan kualitas yang memadai untuk industri pengolahan hasil-hasil pertanian/perikanan. dan iv) pengembangan dan pengenalan ragam tanaman unggulan.3 Penguatan perdagangan dan investasi 1. termasuk penyebarluasan informasi pasar kepada para produsen dan pemberdayaan asosiasi/organisasi produsen (i) Peningkatan kualitas dan pengenalan hasil-hasil panen baru (ii) Peningkatan produktivitas (iii) Diversifikasi produk (iv) Penguatan asosiasi/organisasi Memperkuat kapasitas lembaga pendukung industri dan pertalian antar pihak terkait. taman) (iii) Peningkatan kembali daerah perkotaan 1. (i) Peningkatan kapasitas IPA Somba Opu (fase 2) (ii) Perbaikan kehilangan air (iii) Peningkatan kapasitas penyediaan air perpipaan Maros.5 Peningkatan daya tarik wisata Perbaikan Prasarana dan Lingkungan Perkotaan 2.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 2 Pembangunan Ekonomi 1. pemanfaatan IPA Somba Opu untuk penyediaan air di Sungguminasa. dan menambah kapasitas pengelolaan penyediaan air PDAM. dengan jalan meningkatkan pertalian antara industri-industri tersebut Untuk memperkokoh sistem pemasaran komoditas.4 Pengembangan klaster komoditi-komoditi pilihan 1. sehingga fungsi dukungan terhadap pabrik dapat berjalan secara efisien (i) Pertalian antar lembaga diperkuat (ii) Pembangunan sumber daya manusia untuk mendukung kegiatan pengolahan (iii) Lembaga-lembaga yang ada dimanfaatkan secara penuh dan kegiatan O&P dilaksanakan sebagaimana mestinya Meningkatkan daya tarik Mamminasata sebagai lokasi investasi dengan menyediakan insentif-insentif investasi dan juga untuk memperkokoh pertalian antara produsen dan pasar (konsumen) (i) Insentif-insentif investasi tersedia (pajak.2 Pengolahan air limbah A2-2 Pusat Rencana Aksi Definisi Kabupaten Propinsi .1 Perbaikan suplai air kota 2. Meningkatkan daya tarik Fort Rotterdam dan daerah sekitarnya sebagai “kawasan budaya dan sejarah” di kota tersebut Tujuannya adalah untuk meningkatkan wilayah layanan penyediaan air di wilayah Mamminasata secara keseluruhan. (i) Sistem saluran air limbah off-site (ii) Amenitas perkotaan (ruang hijau. Gowa.2 Peningkatan nilai tambah pengolahan 1.

konstruksi) (BOT) (v) Bypass Mamminasa (F/S. konstruksi) (jalan propinsi) (iii) Jl. dan pada saat yang sama. khususnya pengendalian guna lahan.4 Perbaikan penghijauan dan lingkungan tepian sungai Tujuan dari pengelolaan limbah padat adalah untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang bersih dengan membangun dan menata TPA. Sungguminasa) (ii) Peningkatan jaringan distribusi yang ada (rehabilitasi/peningkatan sarana distribusi sebagai bentuk pengembangan kapasitas pemeliharaan) Untuk mendirikan sebuah organisasi permanen yang ditunjang oleh staf berkualifikasi tinggi dan bekerja penuh untuk implementasi pembangunan Mamminasata.3 Perbaikan Transmisi dan Distribusi Energi Penguatan Kelembagaan 4. mengurangi volume sampah dengan memberdayakan masyarakat (i) Pembangunan TPA untuk Makassar dan Gowa (ii) Pengurangan buanganakhir (iii) Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan limbah padat (iv) Amenitas perkotaan (ruang hijau. (i) Layanan transportasi bis (ii) Pengenalan manajemen lalu lintas (pete pete. Abdullah Daeng Sirua (F/S. yang diharapkan dapat berdampak pada meningkatnya kenyamanan perkotaan. sehingga kepadatan lalu lintas dapat dikurangi dan untuk mempercepat kegiatan ekonomi. manajemen transportasi dan lingkungan. pedagang kaki lima) Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan transmisi energi. konstruksi) (jalan nasional) (ii) Jl Hertasing(F/S. konstruksi) (jalan nasional) Tujuannya adalah untuk memperbaiki manajemen lalu lintas dan sistem transportasi publik. pohon-pohon di sepanjang jalan dan kanal/sungai) (ii) Peningkatan kawasan hijau di luar daerah perkotaan (Zona Perencanaan Semi Perkotaan & Zona Konservasi) Tujuannya adalah untuk memperbaiki jalan arteri di Mamminasata. (i) Penetapan Perpres “Rencana Tata Ruang Wilayah Metropolitan Mamminasata” (ii) Penetapan “Zoning Regulation” (Perda Propinsi) (iii) Penetapan “Pengelolaan dan Pengendalian Transportasi” (iv) Penetapan peraturan perundangan lain yang diperlukan menyangkut pengelolaan perkotaan Untuk membuat peta dan database yang dapat dijadikan dasar bagi pengelolaan dan pengendalian perkotaan (i) Database GIS (ii) Peta Perbaikan Prasarana Ekonomi 3.1 Perbaikan Jalan Arteri Mamminasata 3. Panakkukang.2 Penguatan Peraturan Perundangan 4.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 2 2. Perintis (F/S. becak.2 Perbaikan Manajemen Lalu Lintas 3. (i) Peningkatan kawasan hijau di daerah perkotaan (Zona Perencanaan Perkotaan) (taman. (i) Organisasi baru (Badan Pengelolaan Pembangunan Mamminasata: BPPM) didirikan (ii) BKSP dirombak (iii) Pembentukan komite penasehat (swasta dan akademisi) Untuk merancang dan menetapkan peraturan perundangan (Perda Propinsi atau SK Gubernur) untuk memperkuat pengelolaan pembangunan perkotaan. Tello. taman) Tujuannya adalah untuk menciptakan kawasan hijau di daerah perkotaan dan untuk melindungi kawasan hijau dalam zona semi perkotaan.3 Pengolahan Limbah Padat 2. konstruksi) (jalan propinsi) (iv) Trans-Sulawesi (F/S. (i) Perluasan kapasitas trafo sub stasiun (Daya.3 Penguatan Manajemen Informasi A2-3 . Perbaikan jalan pilihan di wilayah Mamminasata (i) Jl.1 Penguatan Organisasi 4. mobil.

(iii) Pengendalian guna bangunan berdasarkan tata guna lahan. A3-1 . (i) Tatanan Guna Lahan (zona. Pedoman ini dipersiapkan untuk menyediakan definisi tata guna lahan dan langkah-langkah pengendalian. dan (iii) guna bangunan. Tatanan guna lahan dan langkah-langkah pengendalian diperlihatkan dalam skema di bawah ini. (ii) rasio tutupan dan volume bangunan. Langkah-langkah pengendalian yang diusulkan ádalah untuk (i) pengelompokan zonasi dan tata guna lahan. termasuk hal-hal berikut. dan (iv) Aturan lansekap yang mencakup kawasan khusus untuk kebutuhan spesifik. Di sisi lain. standar-standar pengendalian harus ditetapkan secara jelas.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 Lampiran 3 Usulan Pedoman Pengendalian Tata Guna Lahan di Mamminasata untuk Pengelolaan dan Pengendalian Pembangunan Perkotaan Rencana tata ruang wilayah Metropolitan Mamminasata telah menghasilkan suatu rencana tata guna lahan yang memperlihatkan arah pembangunan wilayah metropolitan. tata guna lahan). Wilayah Metropolitan Mamminasata Zona (kawasan pembangunan & lindung) Kawasan (Pembangunan dan arahan pengendalian) Guna lahan (standar & pengendalian pembangunan) Pengendalian Tutupan & Volume Bangunan Pengendalian Guna Bangunan Aturan Lansekap Rencana tata ruang tersebut memperlihatkan tata guna lahan dari sudut pandang arah pembangunan dan gambaran wilayah metropolitan masa depan. (ii) Pengendalian tutupan dan volume bangunan. kawasan. Agar rencana tata guna lahan tersebut dapat diterapkan dan ditaati.

perlu ditunjukkan arahan pembangunan dan memperjelas langkah-langkah pengendalian. (i). yakni (i) zona. Zona di luar Zona Perencanaan Perkotaan dimana terdapat beberapa konstruksi bangunan yang telah atau akan dimulai dalam waktu dekat Zona tersebut dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan (ii). Wilayah Metropolitan Mamminasata Zona (kawasan pembangunan & lindung) Kawasan (arahan pembangunan & pengendalian) Guna Lahan (standar & pengendalian pembangunan) (1) Zona Kawasan pembangunan (budidaya) dan lindung ditetapkan di wilayah Metropolitan Mamminasata. maka pembangunan perkotaan akan sulit dikendalikan bila hanya menetapkan zonasi berdasarkan tata guna lahan saja. 24/1992). industri. Kawasan lindung merupakan zona konservasi yang ditetapkan dalam UU Penataan Ruang Nasional (UU No.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 1 1. (ii) kawasan. komersial. (ii) zona perencanaan semi perkotaan. dan (iii) tata guna lahan. yaitu (i) zona perencanaan perkotaan. Untuk mengendalikan urbanisasi. Zona ini membutuhkan pembangunan perkotaan seperti pengembangan kawasan permukiman. Pembangunan perkotaan dikelola dalam tiga pengelompokan perkotaan. seperti guna lahan perumahan. Wilayah Metropolitan Mamminasata Zona Perencanaan Perkotaan Zona Perencanaan Semi Perkotaan Zona Hutan Produksi Zona Konservasi Pedoman umum zonasi yang dipersiapkan terangkum dalam tabel berikut. dan (iii) zona hutan produksi yang merupakan kawasan budidaya. dan sebagainya. industri dan fungsi perkotaan lainnya. Zona Perencanaan Semi Perkotaan (kawasan budidaya) A3-2 .1 Pengendalian Tata Guna Lahan (Zonasi) Tatanan Guna Lahan Dengan berlangsungnya proses urbanisasi. Zona Perencanaan Perkotaan (kawasan budidaya) Kota atau daerah perkotaan dengan konsentrasi penduduk dan menyediakan tempat untuk bekerja membutuhkan pembangunan terpadu dan konservasi. Kawasan pembangunan dikelompokkan ke dalam tiga kategori.

Kegiatan-kegiatan pembangunan diatur secara ketat yang bertujuan untuk melindungi produksi pertanian. Sungai. kawasan industri. Kawasan Hutan Lindung (viii). (2) Kawasan “Kawasan” dirancang untuk memperlihatkan arah pembangunan dan pengendalian. padang rumput dan membentuk hutan produksi dengan reboisasi intensif. Kegiatan-kegiatan pembangunan dibatasi secara ketat. maka pengendalian urbanisasi yang memadai perlu diterapkan. Kawasan dimana urbanisasi baru dimulai. Kegiatan-kegiatan pembangunan diatur secara ketat. danau. Kawasan [Kat 1] Promosi Kawasan terurbanisasi dengan tingkat konsentrasi penduduk yang tinggi dan pembangunan perkotaan harus dikendalikan dengan baik untuk menghindari semakin merosotnya lingkungan perkotaan. Zona Konservasi (kawasan lindung) Kawasan hutan saat ini kegiatan-kegiatan ekonomi. Kawasan Reboisasi (vii). Jenis kawasan bergantung pada karakteristik zonasi dan arah pembangunan. Kegiatan-kegiatan pembangunan diatur secara ketat. Kawasan Kendali (iv). laut. Kawasan Tepi Air Cadangan A3-3 . Kawasan berbukit yang dikelilingi oleh hutan. seperti rawa. Kawasan [Kat 2] Promosi (iii). bila dibiarkan tanpa rencana tata guna lahan yang memadai (iii). yang dapat dimanfaatkan untuk Kawasan yang penting untuk lingkungan (hutan. Urbanisasi dengan langkah-langkah pengendalian diarahkan ke kawasan ini. Kegiatan-kegiatan pembangunan diatur secara ketat. ruang terbuka hijau. (i). Zona Hutan Produksi (kawasan budidaya) (iv). (ii). daerah rawan banjir/genangan. Kota baru. Peningkatan amenitas perkotaan dan efisiensi pemanfaatan lahan merupakan hal-hal yang diprioritaskan dalam pengendalian tata guna lahan. Kawasan hutan saat ini yang harus dilindungi. Kawasan Pertanian dan Permukiman (vi). Kawasan Pertanian Prioritas (v). Kawasan beririgasi yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan pertanian. pengembangan pendidikan/Litbang direncanakan di kawasan ini.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 dan pembangunan perkotaan. Kawasan dengan pemanfaatan rendah. pedoman umum diusulkan seperti diperlihatkan dalam tabel berikut. Karena tingkat urbanisasi masih rendah. Kawasan dimana urbanisasi belum terjadi dan dimanfaatkan untuk pertanian atau tidak dimanfaatkan. air) dan ditetapkan untuk tujuan perlindungan.

bau tak sedap. jalur tata guna lahan harus ditarik berdasarkan blok atau daerah berklaster kecil. Di samping itu. Karena kawasan tersebut telah terurbanisasi dan digunakan untuk beragam tujuan. Oleh karena itu. dan harmonis. Tipe Rumah Tipikal Kawasan perumahan gandeng Perumahan individual dengan penempatan yang jarang untuk mengembangkan rumah individual dengan mengakomodasi berbagai ukuran pemetaan dan jenis konstruksi perumahan serta upaya untuk meningkatkan kualitas lingkungannya. sarana-sarana lain seperti sarana pendidikan. perbelanjaan. Kawasan ini juga harus mampu mendukung kelangsungan proses sosialisasi nilai budaya yang terdapat dalam suatu komunitas khusus. kawasan perumahan dan permukiman harus memenuhi norma-norma lingkungan yang sehat.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 (3) Tata Guna Lahan Tata guna lahan ditetapkan untuk pengendalian pembangunan kawasan perumahan. seperti kegiatan-kegiatan komersial dan sarana-sarana publik. komersial. Dalam kawasan perumahan. Tipe perumahan ditentukan berdasarkan tipe kawasan perumahan yang akan disediakan. kawasan permukiman juga harus bebas dari kebisingan. Untuk mengendalikan pemanfaatan lahan. Daerah ini juga meliputi tempat bagi pelaksanaan kegiatan masyarakat dalam lingkungan terbatas. karakter dan kondisi kehidupan. dan polusi lainnya. Kawasan pertama bertujuan untuk menyediakan kawasan perumahan yang nyaman dan syaratnya lebih ketat. aman. Tata Guna Perumahan Kawasan permukiman digunakan sebagai kawasan perumahan dan menunjang kehidupan. Mengakomodasi berbagai tipe permukiman untuk mendorong pengadaan permukiman bagi seluruh lapisan masyarakat. Mencerminkan pola pembangunan yang dibutuhkan oleh masyarakat di kawasan permukiman saat ini dan di masa depan. Kawasan perumahan tidak berarti bahwa hanya pengembangan perumahan yang dibolehkan. (rasio cakupan bangunan: 20~50%) Perumahan individual dengan tipe berderet dalam pemetaan kecil yang Kawasan A3-4 . maka tata guna lahan yang efisien perlu diperkenalkan untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang nyaman. Tujuan Menyediakan lahan untuk pembangunan kawasan permukiman dengan tingkat kepadatan yang beragam di seluruh daerah perkotaan. dan memastikan kemudahan untuk mengakses kantor-kantor dan pusat pelayanan. polusi udara. Perlu juga disediakan segala kegiatan yang dibutuhkan untuk penciptaan kondisi kehidupan yang menarik. kotoran. Kawasan perumahan dapat dibagi ke dalam (i) kawasan perumahan ekslusif dan (ii) kawasan perumahan dominan. kesehatan. industri dan kawasan hijau dan terbuka. rekreasi juga dibutuhkan.

yang memenuhi kebutuhan harian. TPS. Pusat lokal dan tersier yang disediakan untuk kegiatan-kegiatan belanja dan layanan lokal. jasa. Sarana dan prasarana seperti air. meliputi toko-toko eceran dan perusahaan-perusahaan jasa swasta dengan berbagai pilihan. dan “menarik” serta berwawasan bisnis. sebagian besar memberikan layanan bagi penduduk dan juga untuk kepentingan nasional dan internasional Kantor menyediakan tempat untuk mengakomodasi para pekerja dalam jumlah terbatas. Oleh karena itu. aman. Tujuan Menyediakan lahan untuk mengakomodasi para pekerja toko. dan berbagai kegiatan layanan.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 perumahan berderet dibangun bersama dengan jalan akses lingkungan. dan dapat mencegah efek-efek yang tidak diinginkan terhadap perumahan yang berada didekatnya. harmonis. kawasan ini diterapkan ke pusat untuk kegiatan-kegiatan besar atau kawasan khusus dimana kegiatan-kegiatan komersial tidak diperbolehkan. kawasan ini dapat mencakup pengembangan permukiman yang berorientasi kegiatan komersial dan apartemen. Untuk kenyaman pengunjung. intensitas dan desain yang diharapkan akan mampu menarik sebanyak mungkin pengunjung. intensitas. kawasan komersial dan pelayanan harus memenuhi norma-norma lingkungan yang sehat. dekat ke seluruh kawasan perumahan. Perbelanjaan meliputi kegiatan perdagangan. rekreasi dan layanan masyarakat. jaringan jalan yang memadai merupakan syarat-syarat lain yang harus disediakan. dan desain dalam mencerminkan beragam pola pembangunan yang dikehendaki oleh masyarakat Jenis Pemanfaatan di Kawasan Komersial Pemerintahan Menyediakan tempat untuk mengakomodasi para pekerja dalam jumlah terbatas. Menyediakan aturan yang jelas untuk kawasan komersial dan layanan yang mencakup dimensi. belanja. pusat-pusat perbelanjaan primer dan sekunder perkotaan Perkantoran Perbelanjaan Kawasan pusat (kawasan wisata) A3-5 . kawasan ini merupakan sebuah peluang peralihan antara unit perumahan individual dan perumahan dengan tingkat kepadatan tinggi (rasio cakupan bangunan: 75% atau lebih tinggi) Unit perumahan individual bertingkat dengan tingkat kepadatan yang beragam Kawasan perumahan apartemen Tata Guna Komersial Kawasan komersial dan pelayanan merupakan sebuah kawasan yang diharapkan dapat menarik peluang bisnis dan menyumbang nilai tambah lebih terhadap kawasan perkotaan khusus. Tata guna lahan dalam kawasan komersial dapat dikelompokkan seperti terlihat dalam tabel berikut. aturan tentang kawasan ini harus memenuhi sisi dimensi. Jenis kegiatan ini memerlukan lokasi yang nyaman. Kawasan ini harus memiliki akses yang baik ke lokasi perumahan dan mudah dipasarkan. perdagangan eceran hanya merupakan kegiatan pendukung dan pembangunan rumah dengan intensitas menengah hingga tinggi diizinkan. kegiatan industri/pengolahan dengan intensitas menengah dilarang dalam skala kecil hingga menengah. kawasan ini tersebar di sekeliling kota. Oleh karena itu.

taman bermain. losmen. Tata Guna Industri Kawasan industri merupakan sebuah kawasan perkotaan yang produktif. Tujuan Menyediakan ruang untuk kegiatan-kegiatan industri dan pengolahan. kecuali Kawasan industri semi A3-6 . dll. dll. Oleh karena itu. penginapan. kawasan ini bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan lahan industri secara efisien dengan standar pengembangan minimal. dll. Penginapan: hotel. motel. Gudang: areal parkir. Memastikan perkembangan industri berkualitas tinggi. kegiatan-kegiatan yang membahayakan lingkungan. Perhatian harus diberikan pada kemudahan untuk mendapatkan tenaga kerja dan bahan baku. perdagangan. Mempromosikan fleksibilitas untuk industri-industri baru dan proyek-proyek industri yang dikembangkan kembali. kawasan ini juga membatasi pemanfaatan lahan untuk non industri yang ada agar mampu menyediakan lahan yang memadai untuk industri berskala besar Kawasan dimana berbagai jenis aktivitas dibolehkan. Dampak dari kegiatan-kegiatan industri terhadap lingkungan juga perlu diperhatikan. menjamin keamanan properti dan masyarakat sekitar pada umumnya. dan melindungi pemanfaatan lahan untuk industri dan non industri Tipe-tipe Kawasan Industri Kawasan eksklusif industri Menyediakan ruang untuk kegiatan-kegiatan industri dengan pemanfaatan lahan yang ekstensif dan memprioritaskan sektor dasar pengolahan. ruang pameran. lokasi yang dekat dari jaringan jalan dan pelabuhan merupakan faktor penting. mempertahankan keseimbangan antar lahan-lahan yang dimanfaatkan secara ekonomis dan meningkatkan peluang kerja. termasuk pemasaran barang-barang hasil olahan. toko grosir. Pada saat yang sama. gedung pertemuan. toko kecil. pasanggrahan. Bangunan wisata (ruang tertutup): bioskop.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 menyediakan tempat-tempat belanja yang sekali-kali dikunjungi oleh anggota keluarga dan layanan yang dibutuhkan oleh para pengusaha yang berada di berbagai tempat. dampak kegiatan industri terhadap lingkungan perkotaan perlu dikendalikan dengan membedakan kegiatan industri dari kegiatan perkotaan lainnya. Kawasan ini juga memiliki sejumlah besar toko yang umumnya membangkitkan arus lalu lintas. Kantor: kantor pemerintah/swasta. Gedung pertemuan: aula. Tipe bangunan yang dapat didirikan di kawasan ini adalah: Usaha komersial (eceran dan grosir): toko. Kawasan ini diharapkan dapat memberi nilai tambah pada kawasan perkotaan tertentu. gudang.

penanganan arus banjir.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 Tata guna Kawasan Hijau dan Terbuka Kawasan terbuka memiliki norma-norma tersendiri menurut fungsi masing-masing. keamanan. Litosol. Kawasan terbuka hijau buatan Kawasan terbuka pengelolaan air Diterapkan di taman dan sarana-sarana publik yang bertujuan untuk memperluas paru-paru kota. kawasan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat-tempat rekreasi. keamanan dan kesejahteraan umum Tipe-tipe Kawasan Hijau/Terbuka Kawasan lindung terbuka hijau Kawasan untuk melindungi sumber daya alam dan lahan peka. Sempadan danau adalah lahan di sepanjang danau yang lebarnya seimbang dengan bentuk dan kondisi fisik antara 50 – 100 m dari titik tertinggi ke tanah. A3-7 . seperti Regosol. yaitu untuk menjaga/melindungi sumberdaya alam dan buatan. Orgosol dan Renzina. kawasan ini hanya boleh digunakan untuk kegiatan yang dapat membantu melestarikan karakter alami lahan Kondisi kawasan ini adalah sebagai berikut (*). kemiringan lahan di atas 15%. Ditujukan untuk mengendalikan pembangunan di daerah rawan banjir agar kesehatan. mengatasi kurangnya udara segar di kota dan menyediakan berbagai jenis hiburan yang dibutuhkan oleh masyarakat. dan untuk menikmati keindahan visualnya. Melestarikan dan menjaga lahan yang peka dan terancam. Daerah serapan air dengan ketinggian 1000 meter dari permukaan laut. Kondisi kawasan ini adalah sebagai berikut (*). Lokasi dibuat sedemikian rupa agar kawasan ini mampu menjadi faktor pembatas. serta sebagai paru-paru kota yang menetralisir polusi udara. Kawasan ini sangat bermanfaat untuk menjaga kelangsungan hidup danau. Kawasan ini umumnya berfungsi sebagai taman. Diterapkan pada lahan yang fungsi utamanya sebagai taman atau ruang terbuka atau lahan individual yang pengembangannya harus dibatasi untuk menerapkan kebijakan ruang terbuka dan untuk menjaga kesehatan. taman bermain. Sebagai sebuah kawasan terbuka. Lokasi dan kebutuhan disesuaikan dengan satuan lingkungan perumahan/kegiatan yang dilayani. dan untuk memberikan kesegaran untuk kota (cahaya dan udara segar). Tujuan Kawasan untuk menjaga/melindungi lahan rekreasi selain bangunan pendidikan. dan upaya perlindungan hewan liar dan habitat. Dapat berupa sempadan sungai/danau/mata air dengan spesifikasi sebagai berikut: Sempadan sungai di daerah perkotaan adalah sebuah kawasan di sepanjang sungai yang cukup memadai untuk membangun jalan inspeksi atau minimal 15 meter. kualitas air. Kemiringan lahan di atas 40%. kawasan ini dibuat untuk melestarikan karakter alam dalam kawasan banjir agar pembelanjaan dana umum untuk biaya proyek pengendalian banjir dapat dipangkas dan sebagai upaya perlindungan terhadap fungsi dan nilai dari kawasan pengendali banjir dalam kaitannya dengan pelestarian atau pengisian kembali air tanah. dan lapangan olah raga. Untuk lahan yang peka erosi. dan kesejahteraan umum terjaga. termasuk untuk mengurangi bahaya banjir di kawasan yang teridentifikasi sebagai kawasan pengendali banjir yang ditunjuk oleh pemerintah daerah.

Rasio tutupan bangunan (rasio lantai bangunan di tingkat dasar ke tanah) penting untuk menjaga lingkungan hidup seperti ventilasi. Aturan-aturan Pertamanan Guna Lahan Kawasan Terbuka Sarana/Jenis Taman kota: Taman umum Taman kota: taman atletik Taman perumahan: skala medium Taman perumahan: skala kecil Tepi air (sungai. Kawasan ini memiliki curah hujan > 2000 mm/tahun dan permeabilitas tanahnya > 27. pohon-pohon jalan) 1. volume bangunan di kawasan permukiman atau pantai harus dijaga agar tetap rendah untuk menjaga lingkungan.7 mm/jam.000 penduduk Pemanfaatan wilayah perairan sebagai taman atau untuk peningkatan akses.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 Kondisi dari kawasan ini adalah sebagai berikut (*). Catatan: * Pedoman dalam menyusun Zoning Regulation di daerah perkotaan dipersiapkan oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Kawasan ini memiliki kemampuan untuk menyerap air hujan. dan pencahayaan.000 penduduk Ukuran: 1 ha/100. Volume bangunan juga penting untuk mengendalikan ketinggian bangunan. ruang terbuka Target Pengembangan Ukuran: 10 ha/ 100. Semakin besar volume bangunan. Untuk kawasan komersial volume bangunan tinggi dibolehkan agar lahan pemanfaatan lahan semakin efisien. taman. Ruang antara bangunan akan memperkecil resiko penyebaran kebakaran. Kementerian Permukiman dan Prasarana Wilayah Tabel berikut menunjukkan usulan ukuran taman menurut jumlah penduduk.2 Pengendalian Tutupan/Volume Bangunan Menurut Tata Guna Lahan Pengendalian tutupan dan volume bangunan penting untuk memelihara agar volume bangunan tetap seimbang di daerah perkotaan. A3-8 . sinar matahari.000 penduduk Ukuran: 15 ha/100. Lebih dari 20% dari kawasan pengembangan baru (termasuk taman. rasio tutupan bangunan juga penting untuk mencegah penyebaran kebakaran. sehingga kawasan ini berperan sebagai akuifer yang digunakan untuk sumber air. danau) Kawasan hijau Jalan. Di sisi lain. Selain itu. semakin tinggi bangunannya.000 penduduk Ukuran: 4 ha/40.

60. 40. simbol tengah: guna lahan Contoh Pengendalian Tutupan dan Volume Bangunan A3-9 . 1100. 1200. 150. 60 60. 100. 80 50. 50. 300. 500 200.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 Pedoman Tutupan dan Volume Bangunan (Contoh) Kawasan Guna Lahan Kawasan permukiman (ketinggian rendah) Kawasan permukiman (Ketinggian tinggi) Kawasan komersial Kawasan industri Rasio Tutupan Bangunan (%) 30. 80. 1300 80. 1000. 50. 300. 150. 900. 200 100. 400. 200 City Planning Map Highway Catatan: Angka di atas: volume. 500. 40. 100. 800.80 Volume Bangunan (%) 50. angka di bawah: rasio tutupan bangunan. 200. 400. 60. 150. 700. 60 30. 600.

minyak. Sekolah Kejuruan Keagamaan Kesejahteraan Mesjid. SD. bowling Kantor pemerintah Pabrik (bersambung dengan rumah) Pabrik (skala kecil) Pabrik (tidak membahayakan lingkungan) Pabrik (berbahaya bagi lingkungan) Gudang Berbahaya Bahan kimia. klub malam) Hiburan (sarana tertutup) Gudang Olah Raga Publik Industri Golf. SLTP. dengan demikian hampir semua tipe bangunan diizinkan. deret. gereja. gas (skala besar. SMU Universitas. apartemen Kawasan Permukiman (eksklusif) × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × × Catatan: : diizinkan. rumah toko) Pertokoan tersendiri) Hiburan (karaoke. kawasan Semi-industri. Di sisi lain. Kawasan permukiman merupakan kawasan yang paling dikendalikan. bangunan Perumahan gandeng.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 1. Pedoman umum guna bangunan diusulkan seperti terangkum dalam tabel berikut. Guna Bangunan Menurut Tata Guna Lahan (acuan) Kawasan Komersial (eksklusif) Kawasan Industri (eksklusif) Kawasan Komersial Guna Bangunan Sarana Permukiman pendidikan TK. tidak terlalu dikendalikan. kuil Klinik Rumah Sakit Komersial Bioskop Hotel Pertokoan (skala kecil.3 Tipe Bangunan yang Diizinkan Tipe-tipe guna bangunan juga harus disebutkan dalam tata guna lahan. : tidak diizinkan A3-10 Kawasan Semi-Industri Kawasan Permukiman Guna Lahan .

Usulan Zonasi Guna Lahan Struktur pengendalian Rencana Tata Ruang untuk wilayah Mamminasata diperlihatkan dalam diagram-diagram berikut.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 1. rencana tata guna lahan dalam wilayah Metropolitan Mamminasata diusulkan seperti terlihat pada gambar berikut. A3-11 Metropolitan .4 (1) Pengendalian Dalam Wilayah Metropolitan Mamminasata Rencana Tata Guna Lahan dan Struktur Pengendalian Berdasarkan tatanan pengendalian perkotaan serta definisinya.

Kawasan Promosi (Kat.1] Kawasan Promosi [Kat.2) dalam Zona Perencanaan Perkotaan diterapkan pada pusat perkotaan di wilayah kabupaten lainnya.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 Zona Perencanaan Perkotaan Kawasan Promosi [Kat. A3-12 . 1) dalam Zona Perencanaan Perkotaan dan Zona Kendali. Sedangkan Kawasan Promosi (Kat. Pada dasarnya.2] Kawasan Kendali Perumahan Komersial Industri Perumahan Komersial Industri Taman Tanpa Pemanfaatan Struktur Pengendalian Zona Perencanaan Perkotaan Zona Perencanaan Semi Perkotaan Zona Prioritas Pertanian Kawasan Pertanian & Permukiman Zona Kendali Tata Guna Komersial Tata Guna Perumahan Tata Guna Komersial Tata Guna Industri Taman Tanpa Pemanfaatan Struktur Pengendalian Zona Perencanaan Semi Perkotaan Zona Hutan Produksi Zona konservasi Zona Reboisasi Kawasan Hutan Lindung (eksisting) Kawasan Cadangan Tepi Air Struktur Pengendalian Zona Hutan produksi Struktur Pengendalian Zona Konservasi Arah pengembangan menyeluruh dan langkah pengendalian terangkum dalam lampiran. (2) Aturan Zona Perencanaan Perkotaan Makassar ditetapkan sebagai Kawasan Promosi (Kat. 1) dirancang untuk mempromosikan tata guna lahan yang efisien dan efektif. kecuali Makassar. pembangunan dalam bentuk apa pun dilarang dalam Zona Kendali. untuk membangun daerah perkotaan dengan amenitas yang sangat baik.

sementara kawasan di pinggir kota Makassar. namun jenis. Kawasan ini. akan dilestarikan melalui pengaturan volume pembangunan agar dapat berkontribusi terhadap peningkatan pariwisata perkotaan. skala dan kondisi prasarana diatur untuk pengembangan industri. pada dasarnya.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 Kawasan Promosi (Kat. maka dianggap memadai untuk mengembangkan kawasan wisata perkotaan. Gambaran Pembangunan dengan Pemanfaatan Lahan Lebih Tinggi di Sepanjang Jalan Utama A3-13 . dimana terdapat banyak peninggalan sejarah yang masih tersisa. 1):Tata guna Komersial Sebagai contoh sebuah model rencana penggabungan renovasi pusat kota dan tingkat pemanfaatan lahan tinggi di pinggir kota disajikan yang menggambarkan konservasi kawasan pusat kota dan pemanfaatan lahan yang lebih tinggi di sepanjang jalan utama. Bangunan Bersejarah Ruang Hijau Tepi Air Ruang Hijau Gambaran Pengembangan Renovasi Pusat Kota (Kawasan Promosi [Kat. sebagian besar kegiatan pembangunan diizinkan. Oleh karena kawasan pusat kota memiliki banyak peninggalan bersejarah. dikembangkan dengan aturan tata guna lahan yang agak ketat. khususnya di sepanjang jalan-jalan utama seperti Jl.1]) Kawasan Promosi (Kat.Sultan Alauddin harus lebih dimanfaatkan dalam tata guna lahan yang disertai dengan relokasi kantor pemerintah yang saat ini tersebar di sekitar jalan-jalan tersebut. 1) Dalam kawasan promosi kategori 1 yang berada dalam zona perencanaan perkotaan. Kawasan pusat kota Makassar. dengan tutupan dan rasio lantai bangunan yang rendah untuk menjaga agar kondisi perkotaan tetap menarik. Pettarani dan Jl. meski hal ini tidak begitu efektif dari sudut pandang ekonomi tata guna lahan.

maka hanya rencana pembangunan berskala besar yang diizinkan di kawasan tersebut.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 Kawasan Kendali (ruang terbuka. Kws. pembangunan perkotaan hanya dapat dilakukan bila memiliki izin-izin pembangunan. Konservasi Percobaan Lingkungan/Pendidikan Masyarakat Eco-Village Instalasi Pengolahan Air Limbah Taman Lingkungan Ramah Gambaran Pembangunan Konservasi Kawasan Rawa (Kawasan Kendali) (3) Aturan Zona Perencanaan Semi Perkotaan (Kawasan Pertanian dan Permukiman) Dalam kawasan pertanian dan permukiman. Kota baru akan dibangun sesuai dengan aturan ini. kawasan hijau) Dalam kawasan kendali dalam zona perencanaan perkotaan. sebagian besar kegiatan pembangunan diatur. Gambaran Pembangunan Kawasan Urbanisasi Baru A3-14 . kecuali pembangunan untuk tujuan pendidikan atau sosial hingga ke skala tertentu. Untuk menghindari pembangunan perkotaan yang tidak terkendali. Kawasan pengembangan minimal seluas 20 ha.

kendaraan pribadi. Pengendalian menurut fungsi dari jalan-jalan tersebut dan zonasi daerah perkotaan. desain) harus ditetapkan. Struktur jalan dan pengelolaan lalu lintas yang secara sosial peduli terhadap orang cacat.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 (4) Pengelolaan Transportasi Pengelolaan transportasi sangat dibutuhkan untuk pengembangan perkotaan. Peraturan Perundangan Pengelolaan Transportasi Pokok Struktur Jalan Uraian Memperkenalkan struktur jalan yang ramah bagi pengguna. Beberapa jalan tidak boleh digunakan oleh jenis kendaraan tertentu. khususnya yang menyangkut pemanfaatan lahan. Desain dan lokasinya harus terlihat jelas. orang-orang akan membeli tanah sehingga menyulitkan proses pembebasan lahan dan konstruksi jalan. Rambu jalan yang jelas. Membatasi rute pete-pete. becak. kendaraan besar. bukan hanya untuk masyarakat setempat tapi juga untuk wisatawan. Pengelolaan Lalu Lintas Parkir Rambu Jalan Bebas hambatan Pengendalian Buangan Gas Sebuah metode baru untuk konstruksi jalan juga penting untuk diadopsi. Lansekap (pohon. Mengendalikan kegiatan memarkir kendaraan di sepanjang jalan yang dapat mengganggu arus lalu lintas. akhir pekan) hanya untuk pejalan kaki pada kawasan tertentu. Mengendalikan pedagang kaki lima. sebab begitu rencana pengembangan jalan diumumkan. Struktur jalan yang efisien untuk kendaraan bermotor dan pejalan kaki. Mengendalikan gas buangan kendaraan. Penetapan periode penggunaan jalan (misalnya. Memperkenalkan pengelolaan jalan yang efisien melalui pengendalian kendaraan dan penggunaan jalan (lajur terpisah menurut jenis kendaraan). Pengelolaan lampu lalu lintas yang memadai. sepeda motor. A3-15 . Peraturan perundangan untuk pengelolaan transportasi sebagai bagian dari tata kota juga harus diperkuat.

Pedoman tersebut akan mencakup hal-hal berikut. desain. (1) Pedoman Pengembangan Kota Pedoman pengembangan kota dirancang untuk mencegah pembangunan yang tidak diinginkan dan untuk menciptakan lingkungan kota yang ideal dengan menerapkan larangan-larangan yang lebih kuat terhadap berbagai kegiatan pembangunan. tinggi bangunan) Kepedulian lingkungan (lingkungan alam. bukan hanya pihak penandatangan yang nantinya harus menaati kesepakatan tersebut tapi juga pemilik lahan. Pedoman ini juga bertujuan untuk mencegah terjadinya perselisihan antara pihak pengembang dan penduduk sebelum proses konstruksi. sejarah). Dengan demikian dibutuhkan penyusunan kelembagaan tambahan. Desain lansekap (warna. namun beberapa aturan spesifik untuk beberapa kawasan perlu diberlakukan agar dapat meningkatkan kelangsungan berbagai kepentingan spesifik. harus saling berkoordinasi di bawah prakarsa pemerintah. pihak pengembang dan pemerintah.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 2 Penyusunan Kelembagaan Meski arahan umum dan pengendalian pembangunan perkotaan disebutkan dalam tata guna lahan dan guna bangunan. Keseragaman bangunan diberlakukan pada kawasan khusus untuk memenuhi kebutuhan spesifik dari para penduduk. Dalam proses perumusan kesepakatan tersebut. A3-16 . Pengumuman kepada Publik sebelum pembangunan dilaksanakan (utamanya untuk pembangunan berskala besar) Konsultasi publik dari pihak pengembang kepada para penduduk (2) Keseragaman Bangunan Keseragaman bangunan dimaksudkan untuk melengkapi standar minimal yang diatur dalam Aturan Bangunan yang tidak mencakup hal-hal dan kebutuhan-kebutuhan spesifik. masyarakat. Keseragaman ini didasarkan pada Keseragaman Tampak Depan Hukum Perdata dan harus memenuhi prosedur (Gambar Contoh) hukum (persetujuan dari pemerintah dan pengumuman kepada publik). Pedoman ini dipersiapkan oleh pemerintah propinsi di tingkat kota besar dan kota kecil. sehingga setelah kesepakatan dicapai. budaya.

struktur tanah. khususnya dalam wilayah metropolitan. struktur tanah. Contoh Guna Lahan Khusus Jenis Guna Lahan Khusus Pembangunan Vertikal Kawasan promosi Lansekap Kawasan konservasi Lansekap alami Kawasan konservasi Penghijauan perkotaan Kawasan konservasi Arsitektur budaya dan sejarah Kawasan konservasi Tujuan Memudahkan pemanfaatan lahan secara efisien dengan memperkenalkan pembangunan vertikal dan mempertahankan ruang terbuka publik Melestarikan lansekap buatan dalam daerah perkotaan yang memiliki keindahan arsitektur Melestarikan lansekap alami dalam daerah perkotaan Melestarikan kawasan hijau dalam daerah perkotaan Mempertahankan dan melestarikan lansekap budaya dan sejarah yang terdiri atas arsitektur tradisional dan yang memiliki nilai arsitektur tradisional Hal-hal yang harus dikontrol Pemanfaatan. Kawasan khusus perlu ditetapkan untuk merealisasikan kebutuhan khusus seperti lansekap. penghijauan. renovasi dan perubahan struktur arsitektur. warna arsitektur. Beberapa kawasan khusus diusulkan seperti terangkum dalam tabel berikut. papan iklan Arsitektur. dan budaya. struktur tanah. papan iklan Arsitektur. papan iklan A3-17 . warna arsitektur. struktur) yang mengganggu/mengacaukan lansekap Arsitektur. warna arsitektur.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 3 (3) Guna Lahan Khusus Standar tata guna lahan dan guna bangunan tidak akan memadai untuk mengendalikan dan mengikuti rencana tata ruang. volume Kendali arsitektur (lahan.

Semakin parah tingkat kemerosotan lingkungan. Rencana tata ruang wilayah masing-masing kabupaten telah dan sedang dirumuskan namun dikerjakan masing-masing secara tersendiri dan masih kurang usaha untuk menyelaraskan sebagai sebuah pengembangan ruang regional. lagipula beberapa ekosistem mungkin tidak dapat dipulihkan seeprti kondisi semula. Sampah yang dihasilkan dari berbagai kegiatan sosial dan ekonomi harus dikelola sebagaimana mestinya. (Hal ini akan ditetapkan sebagai persoalan antar wilayah dan persoalan strategis yang penting) (ii) Badan ini diposisikan sebagai organisasi fungsional dalam pemerintahan Propinsi Sulawesi Selatan. 1 Pembentukan organisasi (i) Badan Pengelolaan Pembangunan Mamminasata (BPPM) dibentuk sebagai organisasi fungsional dalam struktur pemerintahan Propinsi Sulawesi Selatan untuk tujuan pengelolaan dan pengendalian pembangunan perkotaan Mamminasata. dirancang dan dibangun untuk kepentingan seluruh rakyat.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 4 Lampiran 4 Pembentukan Organisasi dan Administrasi Badan Pengelolaan Pembangunan Mamminasata (BPPM) Masalah yang paling kritis di Mamminasata adalah masalah perlindungan ekosistem dan lingkungan. tapi untuk kepentingan seluruh masyarakat Mamminasata. Prinsip dasarnya menghendaki sebuah permufakatan bahwa prasarana semacam itu dibangun bukan untuk kepentingan masing-masing wilayah. akan semakin besar pula biaya yang dibutuhkan untuk pemulihannya. 2 Posisi. Hampir seluruh prasarana di Mamminasata direncanakan. (iii) Badan ini dibentuk berdasarkan Perda Propinsi. (ii) Peraturan Presiden merupakan dasar bagi pembentukan Badan ini. A4-1 . Masalah amenitas kota juga harus diperhatikan. perlu dibentuk sebuah kantor tetap yang memiliki staf yang berkualitas dan memiliki kewenangan yang memadai. (iii) Tugas-tugas utamanya adalah untuk mengelola dan mengendalikan pembangunan perkotaan Mamminasata melalui koordinasi dengan BKSPMM dan pihak-pihak terkait lainnya. karena masyarakat berharap dapat tinggal dalam lingkungan yang lebih nyaman dengan amenitas kehidupan perkotaan dan pedesaan. Untuk mempromosikan pembangunan Mamminasata. Tugas Pokok dan Tugas Organisasi (i) Wilayah kewenangan badan ini senantiasa terkait dengan pembangunan perkotaan Mamminasata. Susunan organisasi dapat dilihat pada gamabr berikut.

PMU) Dibentuk pada saat pelaksanaan proyek (2007~) Departmen Pekerjaan Umum BAPPEDA Provinci Instansi Provinci Badan Usaha Pembangunan Perkotaan Mamminasata PPP (Badan Pelaksana) Dibentuk pada untuk jangka panjang sejalan dengan berkembangnya pembangunan perkotaan (2010~) Pembangunan perkotaan (konstruksi) Organisasi yang ada Organisasi dengan status permanent yang akan dib t k sementara atau berbasis proyek Organisasi Susunan Organisasi Pembangunan Perkotaan Mamminasata 3 Struktur Organisasi Badan Pengelolaan Pembangunan Mamminasata (BPPM). (Badan Pengelola & Pengendali) Seluruh Pembangunan (2006~) pengelolaan Mamminasata koordinasi Prasarana/Lingkungan Hukum/Keuangan D t b /P t Pengendalian & Pemantauan Pengendalian & Pemantauan Proyek Pembangunan Perkotaan (Swasta) Pembangunan perkotaan oleh sektor swasta Investor Pengembang Lembaga Keuangan Proyek Peningkatan Lingkungan Hidup Mamminasata (sebagai pekerjaan umum. yang dipimpin oleh Kepala Badan. 2006~) Ketua : Wakil Gubernur Wakil Ketua : Walikota Makassar Bupati Maros Bupati Gowa Bupati Takalar Sekretariat : Sekretariat Daerah atau Bappeda Anggota : Pemerintah Provinci. Gubernur Komisi Penasihat (2006~) Akademisi Swasta Keuangan Badan Pengelola Pembangunan Mamminasata Pemerintah Provinci BKSP-MM (Mamminasata) (Badan Koordinasi) Dibentuk pada tahun 2003 sebagai badan kerjasama Pembangunan Mamminasata (Penguatan BKSPMM. seperti diperlihatkan berikut. dan Divisi Pengelolaan Database. serta (d) pengelolaan sistem informasi.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 4 (iv) Tugas-tugas pokok badan ini adalah (a) pengelolaan program aksi secara menyeluruh untuk ditetapkan dalam Peraturan Presiden. termasuk pemantauan dan pengendalian. antara lain Divisi Prasarana dan Lingkungan. Kota/Kab. Divisi Hukum dan Keuangan. (c) pengelolaan hukum dan keuangan. (b) pengelolaan prasarana dan lingkungan. A4-2 . terdiri atas tiga (3) divisi.

A4-3 . termasuk menyelenggarakan pertemuan sesuai dengan keperluan. mengkoordinasikan. sinkronisasi. Melakukan koordinasi dengan Unit Pengelolaan Proyek dan pengembang-pengembang swasta. b. c. Melakukan koordinasi. (ii) Dalam melaksanakan tugasnya seperti yang disebutkan pada poin (i). sekretaris memiliki fungsi-fungsi berikut: a. Melakukan koordinasi dengan BKSPMM. dan pemaduan kegiatan-kegiatan badan tersebut. Kepala Badan (i) Kepala Badan bertugas untuk memimpin.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 4 Kepala Badan (Eselon II) Wakil Kepala Badan Sekretariat Divisi Prasarana/Lingkungan (Eselon III) Divisi Hukum/Keuangan (Eselon III) (3 anggota) Divisi Database/Pemantauan (Eselon III) (3 anggota) Struktur Organisasi Badan Pengelolaan Pembangunan Mamminasata (BPPM) Tugas dan fungsi BPPM diusulkan sebagai berikut. Menentukan kebijakan-kebijakan teknis menyangkut pembangunan perkotaan dalam wilayah-wilayah tersebut. d. Sekretariat (i) Sekretariat dipimpin oleh seorang sekretaris yang bertugas untuk menyediakan jasa teknis dan administrasi bagi seluruh organisasi dalam wilayah kerja BPPM. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan badan-badan lain yang terkait dengan pembangunan perkotaan Mamminasata. menengahi dan memudahkan pelaksanaan pembangunan perkotaan Mamminasata. e. Kepala Badan memiliki fungsi-fungsi berikut: a. (ii) Dalam melaksanakan tugasnya seperti disebutkan pada poin (i). Pemberdayaan badan-badan dan staf-staf BPPM demi mewujudkan pembangunan perkotaan yang berkesinambungan.

c. Melakukan koordinasi dalam perumusan produk-produk hukum yang menyangkut kewenangan badan tersebut. (ii) Dalam melaksanakan tugasnya seperti disebutkan pada poin (i). Merumuskan kebijakan-kebijakan teknis menyangkut lingkungan dan amenitas untuk mempromosikan daerah perkotaan ramah lingkungan. f. Melakukan koordinasi dalam perencanaan dan perumusan kebijakan-kebijakan teknis. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai dengan garis tugasnya. Mengendalikan dan memantau lingkungan perkotaan. Menyediakan jasa bimbingan dan administrasi. c. Divisi Hukum dan Keuangan memiliki fungsi-fungsi berikut: a. Divisi Hukum dan Keuangan (i) Divisi Hukum/Keuangan dipimpin oleh seorang Kepala Divisi yang bertugas untuk melaksanakan bagian dari kewenangan-kewenangan badan ini dalam bidang peraturan perundangan dan pendanaan pembangunan perkotaan. keuangan. (ii) Dalam melaksanakan tugasnya seperti disebutkan pada poin (i). Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai dengan garis tugasnya. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan badan-badan lain yang ada kaitannya dengan pembangunan perkotaan Mamminasata. b. d.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 4 b. penyediaan peralatan dan kantor. persoalan-persoalan administrasi organisasi dan pengelolaan karyawan. Merumuskan kebijakan-kebijakan teknis menyangkut pembangunan prasarana untuk mewujudkan sistem prasarana yang efisien di Mamminasata. Mengendalikan dan memantau pembangunan prasarana (struktur fisik). Divisi Prasarana dan Lingkungan (i) Divisi Prasarana/Lingkungan dipimpin oleh seorang Kepala Divisi yang bertugas untuk melaksanakan bagian dari kewenangan-kewenangan badan ini dalam bidang pembangunan prasarana dan pertimbangan lingkungan. Divisi Prasarana dan Lingkungan memiliki fungsi-fungsi berikut: a. Mempersiapkan peraturan perundangan pengendalian dan pengelolaan perkotaan. f. e. d. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan rekan-rekan kerja yang ada kaitannya dengan pembangunan perkotaan Mamminasata. e. A4-4 yang dibutuhkan untuk .

Melakukan survei untuk pembangunan perkotaan. Membangun dan memperbaharui database informasi perkotaan. berstatus PNS dan ditugaskan sebagaimana mestinya untuk Badan tersebut. antara lain tenaga ahli bidang pengelolaan perkotaan. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan badan-badan lain yang ada kaitannya dengan pembangunan perkotaan Mamminasata. (ii) Dalam melaksanakan tugasnya seperti disebutkan pada poin (i). Melaksanakan dan memantau pemberlakuan peraturan perundangan. e. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pembangunan perkotaan. d. f. prasarana. c. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai dengan garis tugasnya. Mengolah dan memperbaharui peta. Merumuskan pedoman dan kebijakan pendanaan proyek. 4 Susunan Kepegawaian (i) Staf yang bekerja penuh. b. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan sesuai dengan garis tugasnya. Divisi Database dan Pemantauan memiliki fungsi-fungsi berikut: a. dan bidang hukum. Divisi Database dan Pemantauan (i) Divisi Database dan Pemantauan dipimpin oleh seorang Kepala Divisi yang bertugas untuk melaksanakan bagian dari kewenangan-kewenangan badan ini dalam bidang database dan pemantauan. (iv) Gaji staf diambil dari APBD propinsi. Mempromosikan kemitraan pemerintah dan swasta. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan badan-badan lain yang ada kaitannya dengan pembangunan perkotaan Mamminasata. c. (iii) Tenaga ahli yang dibutuhkan oleh badan ini. Mengumpulkan dan memperbaharui data sosial ekonomi. f. (ii) Staf dapat direkrut dan dipilih dari kalangan Pegawai Negeri Sipil serta dari sektor swasta.STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 4 b. e. (ii) OJT harus menjadi metode utama pelatihan. lingkungan. d. g. keuangan. Pelatihan (i) Staf perlu diberi pelatihan yang memadai. 5 A4-5 .

STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5 Lampiran 5: Buku Sebaran Rencana Tata Ruang Terpadu A5-1 .

STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5 A5-2 .

STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5 A5-3 .

STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5 A5-4 .

STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5 A5-5 .

STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5 A5-6 .

STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5 A5-7 .

STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5 A5-8 .

STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5 A5-9 .

STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5 A5-10 .

STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5 A5-11 .

STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANGA TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA Lampiran 5 A5-12 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful