BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH Manusia bila dilihat dari perkembanganya sejak awal tidak lepas dari pendidikan, baik pendidikan yang bersifat formal maupun non normal. Manusia lahir ke dunia sangatlah lemah, namun Allah telah memberikan potensi fitrah kepada anak manusia sebagai sarana dalam hidupnya untuk menjadi manusia yang dewasa. Hanya saja kedewasaan manusia tidaklah berjalan mulus tanpa halangan dan rintangan, sehingga perlu adanya bimbingan dan arahan secara terus menerus untuk membantu proses pendewasaan agar potensi anak tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan sasaran.Untuk itulah perlu adanya pendidikan yang berperan sebagai sarana pendewasaan, karena pendewasaan inilah yang merupakan tujuan pendidikan. Pada hakikatnya pendidikan adalah usaha sadar yang bertujuan untuk mengubah sikap dan tingkah laku seseorang atau anak didik. Dalam hal ini Langeveld berpendapat : “ Mendidik anak memberi pertolongan secara sadar dan sengaja kepada anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhanya menurut awal kedewasaandalam arti dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab sosial atas segala tindakanya menurut pilihannya sendiri “1. Dengan demikian pendidikan merupakan usaha sadar, disengaja dan secara aktif membantu perkembangan anak didik untuk menjadi manusia dalam arti utuh. Untuk
1

Suwarno, Pengantar umum pendidikan (Jakarta;Aksara baru : 1988), Hal 3

1

mencapai “manusia utuh” maka diperlukan pembelajaran yang kondusif, hal ini tidak lepas dengan peran guru dan siswa. Upaya yang dilakukan oleh guru dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran seperti:

1. Peningkatan kualitas guru agama itu sendiri,karena dengan kualitas guru agama yang baik, maka setiap proses belajar akan mudah terkendali dan dapat meningkatkan mutu pendidikan agama 2. Peningkatan sarana dan prasarana sebagai penunjang pelaksanaan pendidikan agama 3. Meningkatkan hubungan dengan masyarakat, seperti : a. Mendorong dan meningkatkan hubungan yang baik antara pihak sekolah dengan orang tua siswa. b. Mengusahakan bantuan moral dan material dari orang tua dan masyarakat guna memperlancar proses belajar mengajar. 4. Usaha peningkatan atau perbaikan kurikulum, a. Menerapkan metode pengajaran yang memungkinkan siswa lebih aktif. b. Melatih siswa untuk berdiskusi.2 Adapun usaha lain yang harus dilakukan adalah mengadakan evaluasi yang kemudian dilanjutkan dengan renovasi terhadap lembaga pendidikan yang dikelolanya, supaya pendidikan tidak berjalan kebelakang melainkan berjalan kedepan, sebagai mana dikatakan oleh Abdul Manan: “Pendidikan harus hidup, terbuka dan tumbuh tidak hanya mengawetkan nilai lama, tetapi harus mempelajari nilai baru. Ia memiliki kemampuan untuk selalu memperbarui diri sendiri karena terbuka inovasi. Ia berjalan kedepan tidak kebelakang”.3 Dengan demikian.seorang guru khususnya guru agama merupakan pondasi yang sangat penting dalam kehidupan peserta didik, sehingga mereka diharuskan selalu meningkatkan kualitas kemampuan dalam berkomunikasi
2 3

Ibid hal 30 Ibid hal 83

2

dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, sesama orang tua, atau wali peserta didik dan masyarakat sekitar, karena dia harus mampu mengajar sekaligus mendidik para muridnya untuk menjadi manusia yang dewasa jasmani dan rohani lahir dan batin. Disisi lain, bila di perhatikan kurikulum yang di gunakan di MI Sunan Giri 02 sejak tahun 2003 memadukan antara kurikulum dari Kementrian agama dan kurikulum dari pendidikan nasional. Selain juga memberikan materi tambahan pelajaran tentang baca tulis al’quran, praktek wudlu dan shalat setiap hari, mengemban kepribadian, mengontrol perkembangan peserta didik, pekerja sama dengan wali peserta didik melalui laporan buku harian. Hal ini nampaknya berdampak positif terhadap perkembangan kelembagaannya. Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas,maka kami tertarik untuk mengkaji dan meneliti tugas akhir atau skripsi dengan judul : Upaya Guru Agama Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Di Madrasah Ibtidaiyah Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang.

B. RUMUSAN MASALAH Permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini berkisar pada hal-hal yang berkaitan dengan upaya guru agama di sekolah tingkat dasar, sedangkan permasalahannya adalah : 1. Apa saja yang dilakukan oleh guru agama dalam meningkatkan

kualitas pembelajaran di MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare ?

3

2.

Faktor-faktor apa saja yang menunjang dan menghambat usaha

guru agama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare ? 3. Usaha-usaha apa saja yang dilakukan oleh guru agama dalam

meningkatkan kualitas pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah Sunan Giri 02 di Arjowilangun kalipare?

C. TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian ini adalah : 1. Untuk mendeskripsikan secara jelas usaha yang dilakukan oleh

guru agama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah Sunan Giri 02 di Arjowilangun kalipare Malang. 2. usaha Untuk mendeskripkan faktor yang menunjang dan menghambat guru agama Islam dalam rangka meningkatkan kualitas

pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah Sunan Giri 02 di Arjowilangun kalipare malang. 3. Untuk mendeskripkan usaha yang akan dilakukan guru untuk

meningkatkan kualitas pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah Sunan Giri 02 di Arjowilangun Kalipare Malang.

D. MANFAAT PENELITIAN Hasil penelitian tentang usaha guru agama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di MI Sunan Giri 02 diharapkan akan berguna :

4

1.

Bagi para guru di MI Sunan Giri 02 dan para guru di sekolah lain

sebagai penambahan khazanah ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan pembelajaran. 2. Bagi para guru agama sebagai pedoman acuan dalam rangka tentang upaya guru dalam meningkatkan kualitas

meningkatkan mutu belajar siswa, terutama berkaitan dengan upaya meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. 3. Bagi lembaga – lembaga pemerintah yang terkait sebagai bahan

masukan dengan harapan dapat digunakan untuk menyusun suatu konsepsi tentang pelaksanaan system pendidikan yang lebih baik pada masa-masa yang akan datang. 4. Bagi penulis, untuk menambah wawasan dan pengetahuan dan

menerapkan apa yang telah diperoleh dibangku kuliah kedalam kehidupan bermasyarakat.

E. DEFINISI OPERASIONAL 1. Usaha adalah kegiatan dengan mengerahkan Tenaga, pikiran, atau

badan untuk mencapai suatu maksud pekerjaan (perbuatan, prakarsa, ikhtiar, daya upaya) untuk mencapai sesuatu.4 2. 3. Guru agama adalah guru yang mengajarkan mata pelajaran agama.5 Meningkatkan adalah menaikan (derajat, taraf, dan sebagainya)

mempertinggi, memperhebat (produksi, dsb).6
4 5

Depdikbud RI, Kamus besar bahasa Indonesia edisi ketiga (Jakarta: balai pustaka: 2007), hal 603 Ibid hal 77 6 Ibid hal 950

5

4.

Kualitas adalah :1. Tingkat baik buruknya sesuatu; kadar. 2.

Derajat atau taraf (kepandaian, kecakapan, dsb) ; mutu.7 5. Pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan, menjadikan orang

atau mahkluk hidup belajar.8

F. SISTIMATIKA PEMBAHASAN Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan menyeluruh tentang pembahasan skripsi ini yang berjudul : Upaya Guru Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Di Mi Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang secara singkat dapat di lihat pada sistematika pembahasan yang terdiri dari lima bab,dan tiap-tiap bab di bagi lagi menjadi sub bab yang satu dengan yang lain saling berhubungan. Bab I : menyedian pendahuluan yang mencangkup latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,definisi operasional dan sistematika pembahasan. Dalam bab ini berisikan pokokpokok masalah yang akan dibahas dan diteliti, segala permasalahan dan perumusannya serta scop terjabarnya di dalamnya. Bab II: berisikan kajian-kajian eroristis terdiri dari tiga sub bab. Pertama yaitu pembahasan tentang tugas dan tanggung jawab guru Agama dalam melaksanakan pembelajaran. Kedua mengetahui seberapa factor penunjang dan penghambat pembelajaran. Ketiga yaitu gambaran secara rinci

7 8

Ibid hal 1198 Ibid hal 17

6

upaya yang di lakukan guru Agama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Bab III : berisikan tentang metode penelitian, dan metode yang di gunakan pada penulisan ini adalah metode informen, metode pengumpulan data, metode interview, metode dokumentasi dan metode analisa data. Bab IV : merupakan hasil penelitian yang terdiri dari latar belakang objek penelitian, penyajian dan analisa data. Bab V : penutup dari keseluruhan skripsi yang terdiri dari kesimpulan dan saran-saran

7

BAB II KAJIAN PUSTAKA

1. Tugas Dan Tanggung Melaksanakan Pembelajaran Tugas guru agama

Jawab

Guru

Agama

Dalam

sangat

berat,

karena

disamping

ia

menyampaikan materi agama, seorang guru agama harus menjalankan apa yang disampaikannya. Sedangkan menyampaikan materi agama agar anak didik bias mengerti dan paham bukan merupakan perbuatan yang mudah, apalagi dimasa sekarang anak remaja sudah banyak yang mengalami kemerosotan beragama, sehingga timbul dehadensi moral. Banyak anak-anak remaja sekarang yang berani terhadap kedua orang tuanya, tidak hormat kepada bapak ibu guru di sekolah, perbuatanya tidak enak didengar, yang semuanya itu disebabkan karena mereka tidak mau menjalankan agamanya dengan baik dan benar. Oleh sebab itu seorang guru agama harus menghadapi dengan sabar dan tawakal. Tidak boleh putus dalam menghadapi tantangan tersebut. Karena semua itu merupakan tanggungjawab guru agama yaitu mendidik anak supaya menjadi anak yang taat kepada Allah dan Rosul-Nya. 1. Sosok guru agama dalam melaksanakan pembelajaran Setiap guru mempunyai pribadi masing-masing. Zakiyah Darajat menyatakan “Bahwa kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak (ma’nawi), sukar dilihat atau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan atau bekasnya dalam segala aspek dan segi kehidupan. Misalnya dalam tindakannya, ucapan, cara bergaul, berpakaian dan dalam

8

menghargai setiap persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang berat9. Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari unsur psikis dan fisik. Dalam makna demikian, seluruh sikap dan perbuatan seseorang merupakan suatu gambaran dari kepribadian orang itu, asal dilakukan secara sadar. Sebagai teladan, guru agama harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan profik dan idola, seluruh kehidupanya adalah figure yang paripurna. Itulah kesan terhadap guru sebagai sosok yang ideal. Guru adalah Spiritual father atau bapak rohani bagi seorang anak didik, ia telah memberikan santapan jiwa dengan ilmu pendidikan akhlak, dan membenarkannya terhadap apa yang dilakukan oleh anak didik. Oleh karena itu, menghormati guru berarti menghormati anak didik kita, menghargai guru berarti penghargaan terhadapat anak-anak kita. Dengan guru itulah mereka hidup dan berkembang, sekiranya setiap guru itu menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Profil guru yang ideal sosok yang mengabdikan diri berdasarkan panggilan jiwa, panggilan hati nurani, bukan karena tuntutan uang belaka, yang membatasi tugas dan tanggung jawabnya sebatas dinding sekolah. Tapi, jangan hanya menuntut pengabdian guru, kesejahteraannya juga patut ditingkatkan. Guru yang ideal selalu ingin bersama anak didik di dalam dan di luar sekolah. Bila melihat anak didiknya menunjukkan sikap seperti sedih, murung, suka berkelahi, malas belajar, jarang turun ke
9

Saiful Bahri Jamarah, Guru dan anak didik: dalam interaksi edukatif (Jakarta: 2000), hal. 40

9

sekolah, sakit, dan sebagainya, guru merasa prihatin dan tidak jarang pada waktu tertentu guru harus menghabiskan waktunya untuk memikirkan bagaimana berkembangan pribadi anak didiknya. Jadi, kemuliaan hati seorang guru tercermin dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sekadar simbol atau semboyan yang terpampang di kantor dewan guru. Iri, koruptor, munafik, suka mengunjing, suap menyuap, malas dan sebagainya, bukanlah cerminan kemuliaan hati seorang guru. Semua itu adalah perbuatan tercela yang harus disingkirkan dari jiwa guru. Guru dengan kemuliaannya, dalam menjalankan tugas, tidak mengenal lelah. Hujan dan panas bukan rintangan bagi guru yang penuh dedikasi dan loyalitas untuk turun ke sekolah agar dapat bersatu jiwa dalam perpisahan raga dengan anak didik. Raga guru dan anak didik boleh terpisah, tetapi jiwa keduanya tidak dapat dipisahkan. Guru dan anak didik adalah “Dwi Tunggal”. Oleh karena itu, dalam benak guru hanya ada satu kiat bagaimana mendidik anak didik agar menjadi manusia dewasa susila yang cakap dan berguna bagi agama, nusa, dan bangsa di masa yang akan datang. Posisi guru dan anak didik boleh berbeda, tetapi keduanya tetap seiring dan setujuan, bukan seiring tapi tidak setujuan. Sering dalam arti kesamaan langkah dalam mencapai tujuan bersama. Anak didik berusaha mencapai cita-citanya dan guru dengan ikhlas mengantar dan mmbimbing anak didik ke pintu gerbang cita-citanya. Itulah barangkali sikap guru yang

10

tepat sebagai sosok pribadi yang mulia. Pendek kata, kewajiban guru adalah menciptakan “khairunnas” yakni manusia yang baik. Guru memang menempati kedudukan yang terhormat dimata masyarakat. Kewibawaanlah yang menyebabkan guru di hormati, sehingga masyarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik anak didik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia. Dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat, maka dipundak guru diberikan tugas dan tanggung jawab yang berat. Tapi lebih berat lagi mengemban tanggungjawab. Sebab tanggung jawab guru tidak hanya sebatas dinding sekolah, tetpi juga di luar sekolah. Pembinaan yang harus guru berikan tidak hanya secara kelompok (klasikal), tetapi juga secara individual. Hal ini mau tidak mau menuntut guru agar selalu memperhatikan sikap, tingkah laku, dan perbuatan anak didiknya, tidak hanya dilingkungan sekolah tetapi diluar skeolah sekalipun. 2. Ciri-ciri guru agama dalam melaksanakan pembelajaran Berbicara tentang cirri-ciri guru agama dalam melaksanakan pembelajaran, tidak bias dilepaskan dari kajian terhadap berbagai asumsi yang melandasi keberhasilan guru itu sendiri. Para ulama telah memformulasikan ciri-ciri dan tugas guru agama yang diharapkan agar berhasil dalam menjalankan tugas-tugas pembelajaranya. Menurut Abdurrahman Al Nahlawy bahwa ciri-ciri guru agama sebagai berikut : a. Hendaknya tujuan, tingkah laku dan pola piker guru bersifat Robbani (Qs. Ali Imran : 79).

11

b. Ikhlas, yakni bermaksud mendapatkan keridhoan Allah, mencapai dan menegakkan kebenaran. c. Sabar dalam mengajar berbagai ilmu kepada peserta didik. d. Jujur dalam menyampaikan apa yang diserukannya, dalam arti menerapkan anjuranya pertama-tama pada dirinya sendiri. e. Senantiasa membekali dirinya dengan ilmu dan bersedia mengkaji dan mengembangkanya. f. Mampu menggunakan berbagai metode belajar secara bervariasi, menguasainya dengan baik, mampu menentukan dan memilih metode belajar yang sesuai dengan materi pelajaran dan situasi pembelajaran. g. Mampu mengelola peserta didik, tegas dalam bertindak, dan meletakkan masalah secara professional. h. Mempelajari kehidupan psikis peserta didik seluas dengan masa perkembanganya. i. Tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang mempengaruhi jiwa, keyakinan dan pola berfikir peserta didik, memahami problem kehidupan modern dan bagaimana cara islam menjalani dan mengahadapinya. j. Bersikap adil diantara peserta didik10. Dari pendapat ulama tersebut, dapat dipahami bahwa ada beberapa kemampuan dan perilaku yang perlu dimiliki oleh guru agama agar dalam menjalankan tugas kepribadiannya dapat berhasil secara optimal. Budi pekerti guru maha penting dalam pendidikan watak murid. Guru harus menjadi suri teladan, karena anak-anak bersifat suka meniru. Di antara tujuan pendidikan ialah membentuk akhlak baik pula. Guru yang tidak berakhlak baik tidak mungkin dipercayakan pekerjaan mendidik. Yang dimaksud dengan akhlak baik dalam Ilmu Pendidikan Islam adalah akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam, seperti di contohkan oleh pendidik utama, Muhammad SAW.

10

Muhaimin, Nur Ali, Suti’ah, Paradigma pendidikan islam : upaya mengefektifkan pendidikan agama islam di sekolah (bandung: 2004), hal 96

12

Di antara akhlak guru tersebut Zakiyah Daradjat berpendapat diantaranya adalah : a. Mencintai jabatannya sebagai guru. Tidak semua orang yang menjadi guru karena “panggilan jiwa”. Di antara mereka ada yang menjadi guru karena “terpaksa” misalnya karena keadaan ekonomi, dorongan teman atau orang tua, dan sebagainya. Dalam keadaan bagaimanapun seorang guru harus berusaha mencintai pekerjaannya. Dan pada umumnya kecintaan terhadap pekerjaan guru akan bertambah besar apabila dihayati benar-benar keindahan dan kemuliaan tugas itu. Yang paling baik adalah apabila seseorang menjadi guru karena didorong oleh panggilan jiwa.

b. Bersikap adil terhadap semua muridnya. Anak-anak tajam pandangannya terhadap perlakuan yang tidak adil. Guruguru, lebih-lebih yang masih muda, kerapkali bersikap pilih kasih, guru laki-laki lebih memperhatikan anak perempuan yang cantik atau anak yang pandai daripada yang lain. Hal itu jelas tidak baik. Oleh karena itu guru harus memperlakukan sekalian anak dengan cara yang sama.

c. Berlaku sabar dan tenang. Di sekolah guru kerapkali merasakan kekecewaan karena murid-murid kurang mengerti apa yang diajarkan. Murid-murid yang tidak mengerti kadang-kadang menjadi pendiam atau sebaliknya membuat keributankeributan. Hal itu sudah terang mengecewakan guru atau malah mungkin menyebabkannya putus asa. Dalam keadaan demikian guru harus tetap tabah, sabar sambil berusaha mengkaji masalahnya dengan tenang, sebab mungkin juga kesalahan terletak pada dirinya yang kurang simpatik atau cara mengajarnya yang kurang terampil atau bahan pelajaran yang belum terkuasai olehnya.

d. Guru harus berwibawa. Anak-anak ribut berbuat sekehendaknya, lalu guru merasa jengkel, berteriak sambil memukul-mukul meja. Keterlibatan hanya dapat di kembalikannya dengan kekerasan, tetapi ketertiban karena kekerasan senantiasa bersifat semu. Guru yang semacam ini tidak berwibawa. Sebaliknya, ada juga guru yang sesaat ketika ia memasuki dan menghadap dengan tenang kepada murid-murid yang lagi ribut, segera kelas menjadi

13

tenang, padahal ia tidak kekerasan. Ia mampu menguasai anak-anak seluruhnya. Inilah guru yang berwibawa.

e. Guru harus gembira. Guru yang gembira memiliki sifat humor, suka tertawa dan suka memberi kesempatan tertawa kepada anak-anak. Sebab apabila pelajaran diselingi oleh humor, gelak dan tertawa, niscaya jam pelajaran terasa pendek saja. Guru yang gembira biasanya tidak lekat kecewa. Ia mengerti, bahwa anakanak tidak bodoh, tetapi belum tahu. Dengan gembira ia mencoba menerangkan pelajaran sampai anak itu memahaminya.

f. Guru harus bersikap manusiawi. Guru adalah manusia yang tak lepas dari kekurangan dan cacat. Ia bukan manusia sempurna. Oleh karena itu ia harus berani melihat kekurangankekurangannya sendiri dan segera memperbaikinya. Dengan demikian pandangannya tidak picik terhadap kelakuan manusia umumnya dan anakanak khususnya. Ia dapat melihat perbuatan yang salah menurut ukuran yang sebenarnya. Ia meberikan hukuman yang adil dan suka memaafkan apabila anak insaf akan kesalahannya.

g. Bekerja sama dengan guru-guru lain. Pertalian dan kerja sama yang erat antara guru-guru lebih berharga daripada gedung yang molek dan alat-alat yang cukup. Sebab apabila guru-guru saling bertentangan, anak-anak akan bingung dan tidak tahu apa yang di perbolehkan dan apa yang dilarang. Oleh karena itu kerja sama antara guru-guru itu sangat penting. Suasana di kalangan guru sebagian besar bergantung pada sikap dan kebijaksanaan guru kepala. Oleh karena itu kepala sekolah hendaknya jangan bersikap seperti majikan terhadap bawahannya.Malahan ia harus mengabdi kepada guru-guru lain, artinya ia harus mengurus dan siap sedia memperjuangkan kepentingan guru-guru lainnya.

h. Bekerja sama dengan masyarakat Guru harus mempunyai pandangan luas. Ia harus bergaul dengan segala golongan manusia dan secara aktif berperan serta dalam masyarakat supaya sekolah tidak terpencil. Sekolah hanya dapat berdiri di tengahtengah masyarakat, apabila guru rajin bergaul, suka mengunjungi orang

14

tua murid-murid, memasuki perkumpulan-perkumpulan dan turut serta dalam kejadian-kejadian yang penting dalam lingkungannya, maka masyarakat akan rela memberi sumbangan-sumbangan kepada sekolah berupa gedung, alat-alat, hadiah-hadiah jika diperlukan oleh sekolah11.

3.

Tugas guru dalam melakukan pembelajaran Guru sebagai pekerjaan profesi, secara holistic berada pada

tingkatan tertinggi dalam system pendidikan nasional, karena guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya memiliki otonomi yang kuat. Adapun tugas guru sangat banyak seperti mengajar dan membimbing para muridnya, memberikan penilaian hasil belajar peserta didiknya,

mempersiapkan administrasi pembelajaran yang diperlukan, dan kegiatan lain yang berkaitan dengan pembelajaran. Disamping itu guru haruslah senantiasa berupaya meningkatkan dan mengembangkan ilmu yang menjadi bidang studinya agar tidak ketinggalan jaman, ataupun yang

terkait dengan tugas kemanusiaan dan kemasyarakatan secara umum diluar sekolah. Roestiyah N. R. menginventarisir tugas guru secara garis besar sebagai berikut : a. Mewariskan kebudayaan dalam bentuk kecakapan, kepandaian dan pengalaman empiril, kepada para muridnya. b. Membentuk kepribadian anak didik sesuai dengan nilai dasar negra. c. Mengantarkan anak didik menjadi warga negra yang baik. d. Menyerahkan dan membimbing anak sehingga memiliki kedewasaan berbicara, bertindak dan bersikap. e. Memfungsikan diri sebagai penguhubung antara sekolah dan masyarakat lingkungan. f. Harus mampu mengontrol dan menegakkan disiplin baik untuk dirinya, maupun murid dan orang lain.

11

Zakiyah Darajat, Dkk, Ilmu pendidikan islam, (Jakarta: 1992),hal 42-44

15

g. Mengfusikan diri sebagai administrator dan sekaligus manajer yang disenangi. h. Melakukan tugasnya dengan sempurna sebagai amanat profesi. i. Membuat perencanaan dan pelaksanaan kurikulum serta evaluasi keberhasilanya. j. Membimbing anak untuk belajar memahami dan menyelesaikan masalah yang dihadapi anaknya. k. Merangsang anak didik untuk memiliki semangat yang tinggi dalam pembelajaran.12 Dengan memiliki poin-poin tersebut, diketahui bahwa tugas guru tidak ringan. Profesi guru harus berdasarkan panggilan jiwa, sehingga dapat menunaikan tugas dengan baik dan ikhlas. Berdasarkan pengamatan menunjukkan hampir tidak ada guru yang benar yang tidak menginginkan kesuksesan anak didiknya, atau menjadi sampah masyarakat. Pendidikan yang benar dapat mendorong guru selalu memberikan perhatian kepada persoalan yang dialami oleh anak didik. Di berbagai kesempatan pada guru yang tinggi dedikasinya tidak

mempedulikan hambatan yang dihadapinya. Mereka abaikan kesulitan cuaca panas atau dingin, hujan lebat atau gerimis, gelap, bahkan sakit yang mungkin sempat dia rasakan, dan lain-lain, yang penting tetp dapat memberikan pelayanan memadai pada tiap orang yang dibawah tanggung jawabnya. Walaupun, kadang-kadang sang guru menghadapi anak didik yang berlaku tidak pada tempatnya, seperti kurang sopan, kasar, tidak memberikan penghargaan, dan lain-lain. Sifat dan sikap seperti ini tetap dicerminkan oleh guru, karena mereka menjadi guru adalah pilihan utama keluar dari lubuk hati yang dalam. Tentu berbeda bila seseorang menjadi
12

Ibid hal 12

16

guru adalah karena merasa tidak mungkin diterima bekerja di tempat lain, atau karena situasi terpaksa, guru yang seperti ini tentu dedikasinya rendah. Sekiranya setiap guru memiliki sikap posotif dan utuh seperti itu, niscaya keadaan pendidikan di suatu daerah memiliki prospek yang cerah. Guru seperti itulah yang harus dilahirkan oleh lembaga pendidikan guru yang ada. Jadi tugas dan tanggung jawab guru bukan sekedar mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didik. Melainkan ebih dari itu, yakni guru berkewajiban membentuk watak dan jiwa anak didik yang sebenarnya sangat memerlukan masukan posotif dalam bentuk ajaran agama, ideologi, dan lain-lain. Memberikan bimbingan sehingga anak didik memiliki jiwa dan watak yang baik, mampu membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang halal mana yang haram, adalah termasuk tugas guru. Dalam melaksanakan tugasnya guru bukanlah sebatas kata-kata, akan tetapi juga dalam bentuk perilaku, tindakan, contoh-contoh. Sikap dan tingkah laku jauh lebih efektif dibanding dengan perkataan yang tidak dibarengi dengan amal nyata. Ada beberapa poin yang menjadi tanggung jawab seorang guru, antara lain : mematuhi norma dan nilai kemanusian, menerima tugas mendidik bukan sebagai beban, tetapi dengan gembira dan sepenuh hati, menyadari benar akan apa yang dikerjakan dan akibat dari setiap akibat dari setiap perbuatannya itu, belajar dan mengajar memberikan penhargaan kepada orang lain termasuk kepada anak didik, bersikap arif bijaksana dan cermat serta hati-hati, dan sebagai orang

17

beragama melakukan kesemua yang tersebut diatas berdasarka taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 4. Tanggung jawab guru dalam melakukan pembelajaran

Sesungguhnya guru yang bertanggung jawab memiliki beberapa sifat, yang menurut Wens Tanlain dan kawan-kawan (1989:31) ialah : 1. Menerima dan mematuhi norma, nilai-nilai kemanusian; 2. Memikul tugas mendidik dengan bebas, berani, gembira (tugas bukan menjadi beban baginya); 3. Sadar akan nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatannya serta akibat-akibat yang timbul (kata hati); 4. Menghargai orang lain, termasuk anak didik; 5. Bijaksana dan hati-hati (tidak nekad, tidak sembrono, tidak singkat akal); dan
6. Takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa13.

Guru adalah orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik. Pribadi susila yang cakap adalah yang diharapkan pada diri setiap anak didik tidak ada seorang gurupun yang mengharapkan anak didiknya menjadi sampang masyarakat. Untuk itulah guru dengan penuh dedikasi dan loyalitas berusaha membimbing dan membina anak didik agar dimassa mendatang menjadi orang yang berguna bagi nusa dan
13

Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan anak didik:dalam interaksi edukatif (Jakarta: 2000).hal. 3536

18

bangsa. Setiap hari guru meluangkan waktu demi kepentingan anak didik. Bila suatu ketika ada anak tidak hadir sekolah, guru menanyakan kepada anak-anak yang hadir, apa sebabnya tidak hadir. Anak didik yang sakit, belum menguasai bahan pelajaran, berpakaian sembarangan, berbuat yang tidak baik, terlambat membayar uang sekolah, tak punya pakaian seragam, bertindak asusila, dan sebagainya, semuanaya menjadiperhatian guru14. Karena besarnya tanggung jwab guru terhadap anak didiknya. Hujan dan panas bukanlah menjadi penghalang bagi guruuntuk selalu hadir ditengah-tengah anak didiknya. Guru tidak pernah memusuhi anak didiknya meskipun suatu ketika ada anak didiknya yang berbuat kurang sopan pada orang lain. Bahkan dengan sabar dan bijaksana guru memberikan nasihat bagaimana cara bertingkah laku yang sopan pada orang lain. Karena profesinya sebagai guru adalah berdasarkan panggilan jiwa, maka bila guru nelihat anak didiknya senang berkelahi, meminum minuman keras, menghisap ganja datang kerumah-rumah bordil, dan sebagainya, guru merasa sakit hati. Siang atau malam selalu memikirkan bagaimana caranya agaranak didiknya itu dapat dicegah dari berbuatan yang kurang baik, asusila, dan amoral. Guru seperti itulah yang diharapkan untuk mengabdikan diri di lembaga pendidikan. Bukan guru yang hanya menuangkan ilmu pengetahuan ke dalam otak anak didik. Sementara jiwa dan wataknya tidak terbina. Memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik adalah
14

Ibid hal. 35-36

19

suatu perbuatan yang mudah, tetapi untuk membentuk jiwa dan watak anak didik itulah yang sukar, sebab anak didik yang dihadapi adalah makhluk hidup yang memiliki otak da potensi yang perlu dipengaruhi dengan sejumlah norma hidup sesuai ideologi, falsafah dan bahkan agama. Menjadi tanggung jawab guru untuk memberikan sejumlah norma itu kepada anak didik agar tahu mana perbuatan susila dan asusila, mana perbuatan yang bermora dan amoral. Semua norma itu tidak mesti harus guru berikan ketika di kelas, di luar kelas pun sebaiknya guru contohkan melalui sikap, tingkah laku, dan perbuatan. Pendidikan dilakukan tidak semata-mata dengan perkataan, tetapi dengan sikap, tingkah laku, dan perbuatan. Anak didik lebih banyak menilai apa yang guru tampilkan dalam pergaulan di sekolah dan di masyarakat daripada apa yang guru katakan, tetapi baik perkataan maupun apa yang guru tampilkan, keduanya menjadi penilaian anak didik. Jadi, apa yang guru katakan harus guru praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, guru memerintahkan kepada anak didik agar hadir tepat pada waktunya. Bagaimana anak didik mematuhinya sementara guru sendiri tidak disiplin dengan apa yang pernah dikatakan. Perbuatan guru yang demikian mendapat protes dari anak didik. Guru tidak bertanggung jawab atas perkataannya. Anak didik akhirnya tidak percaya lagi kepada guru dan anak didik cenderung menentang perintahnya. Inilah sikap dan perbuatan yang ditunjukkan oleh anak didik.

20

Jadi guru harus bertanggung jawab atas segala sikap tingkah laku dan perbuatanya dalam rangka membina jiwa dan watak anak didik. Dengan demikian, tanggung jawab guru adalah untuk membentuk anak didik agar menjadi anak yang bersusila, yang cakap, beragama bagi agama, nusa, dan bangsa dimasa yang akan datang.

2.

Faktor Penunjang Dan Penghambat Pembelajaran Noehdi Nasution, dkk. Sebagaimana disitir Djamrah (2002 : 141)

memandang bahwa belajar bukanlah suatu aktifitas yang berdiri sendiri, banyak faktor lain yang berkesinambungan yang ikut terlibat langsung didalamnya. Beberapa factor yang mempengaruhi proses pembelajaran adalah:

1.

Faktor Intern (faktor guru)

Factor ini mempunyai pengaruh terhadap kualitas pembelajaran, yang meliputi : kemampuan dasar yang dimiliki oleh guru, baik bidang kogniktif (intelektual) seperti penguasaan bahan, keteladanan, sikap mencintai profesinya, dan bidang perilaku seperti ketrampilan mengajar, menilai hasil belajar, dan lain-lain. Guru sebagai suatu profesi menuntut kepada guru untuk mengembangkan profesionalitas diri sesuai perkembangan ilmu

pengetahuan dan tekhnologi. Mendidik mengajar, dan melatih anak didik adalah tugas guru sebagai profesi. Guru sebagai teladan berarti merumuskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak

21

didik,sebagai pengejar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi kepada anak didik Banyak kegiatan yang guru lakukan dalam interaksi pembelajaran, diantaranya memahami prinsip-prinsip pembelajaran, menyiapkan bahan dan sumber belajar, memilih metode, alat, dan alat bantu pembelajaran, memilih pendekatan, dan mengadakan evaluasi setelah akhir kegiatan pembelajaran. Semua kegiatan yang dilakukan guru harus didekati dengan pendekatan system. Sebab pembelajaran adalah suatu system yang melibatkan sejumlah komponen pembelajaran. Tidak ada satupun dari komponen itu dapat guru abaikan dalam perencanaan pembelajaran, karena semuanya saling terkait dan saling menunjang dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran. 2. a. Faktor ekstern, terbagi menjadi dua : Faktor siswa

Hal yang mempengaruhi kualitas pembelajaran pendidikan agama ang dating dari siswa diantaranya kemampuan siswa, motivasi belajar, minat, perhatian, sikap dan kebiasaan belajar dan beribadah. Siswa mempunyai kemampuan intelektual yang berbeda satu dengan yang lainnya. Adakalahnya siswa yang cepat belajar hamperhampir selalu dapat mengerjakan tugas-tugas lebih cepat dibandingkan teman-temannya dalam waktu yang ditetapkan. Dan sebaliknya ada siswa yang sangat sulit untuk belajar, mereka membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memahami pelajaran yang disampaikan

22

Setiap siswa diharapkan menerapkan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif, tetapi tidak tertutup kemungkinan adanya siswa yang memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang tidak diharapkan. Oleh karenanya hal ini akan mempengaruhi proses pembelajaran yang ada di sekolah dan tentunya akan berpengaruh pada kebiasaan beribadah dalam mengamalkan ilmu yang diperolehnya. Siswa yang bermasalah akan mempengaruhi proses pembelajaran, sering kali tidak mempunyai motivasi atau dorongan yang kuat untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Kegiatan belajar dilakukan hanya sebagai formalitas saja sehingga minat atau perhatian siswa terhadap pelajaran sangat rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh factor anak itu sendiri, keluarga atau orang tua, dan lain-lain b. Faktor lingkungan

Factor ini turut mempengaruhi kualitas pembelajaran pendidikan agama. Adapun kondisi lingkungan tersebut antara lain : 1) Suasana belajar

Suasana belajar yang lebih demokratis lebih kondusif bagi pencapaian hasil belajar yang optimal dibandingkan dengan suasana belajar yang kaku dan disiplin yang ketat dengan otoritas ada pada guru. Dalam suasana belajar demokratis, siswa memiliki kebebasan untuk belajar, mengajukan pendapat, berdialog dengan teman sekelas dan lain-lain. Sebaiknya perasaan cemas dan khawatir sering tidak menumbuhkan kreatifitas dalam belajar.

23

2)

Fasilitas dan sumber belajar yang tersedia

Seringkali guru merupakan satu-satunya sumber belajar dikelas. Situasi ini kurang menunjang kualitas pengajaran, sehingga hasil belajar yang dicapai siswa tidak optimal. Kelas harus diusahakan sebagai laboratorium belajar bagi siswa. Artinya kelas harus menyediakan berbagai sumber belajar seperti buku pelajaran, alat peraga dan lain-lain. 3) Faktor pendekatan belajar (approach to

learning), yakni upaya belajar yang meliputi strategi dan metode yang digunakan untuk melakukan kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien.

3. Upaya Yang Dilakukan Guru Agama Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran 1. Membuat perangkat pembelajaran Sesuai dengan Kurikulum Pendidikan Dasar 9 tahun dan SMU, bahwa dalam penyusunan program pembelajaran, perlu diperhatikan komponen-komponen penting sebagai berikut : a. Penguasaan materi

Penguasaan materi bagi guru merupakan hal yang sangat menentukan, khususnya dalam proses pembelajaran yang melibatkan guru mata pelajaran. b. Analisis Materi Pelajaran (AMP)

24

Analisis Materi Pelajaran adalah hasil dari kegiatan yang berlangsung sejak seseorang guru mulai meneliti isi GBPP, kemudian mengkaji materi dan menjabarkannya serta mempertimbangkan penyajiannya.  AMP adalah salah satu

bagian dari rencana kegiatan pembelajaran yang berhubungan erat dengan materi pelajaran dan strategi penyajiannya.  Analisis materi pelajaran

berfungsi sebagai acuan untuk menyusun program pembelajaran yaitu program tahunan, program catur wulan, program satuan pelajaran atau persiapan mengajar, dan rencana pembelajaran. c. catur wulan Program tahunan dan program catur wulan merupakan bagian dari program pembelajaran. Program tahunan memuat alokasi waktu untuk setiap pokok pembahasan dalam satu tahun pelajaran. Program tahunan berfungsi sebagai acuan untuk membuat program catur wulan. Program catur wulan berfungsi sebagai berikut :  Acuan menyusun Program tahunan dan program

program satuan pelajaran atau persiapan mengajar.  kegiatan pembelajaran. Acuan kalender

25

Untuk

mencapai

efisiensi dan efektivitas penggunaan waktu belajar efektif yang tersedia. d. Persiapan mengajar Persiapan mengajar merupakan salah satu bagian dari program pengajaran yang memuat satuan bahasa untuk disajikan dalam beberapa kali pertemuan. Persiapan mengajar dapat digunakan sebagai acuan untuk menyusun rencana pelajaran, sehingga dapat bergungsi sebagai acuan bagi guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran agar lebih terarah dan berjalan efisien dan efektif. Persiapan mengajar yang baik harus memenuhi kriteria :  mengacu pada GBPP  Proses belajar Materi dan tujuan

mengajar menunjang pembelajaran aktif dan mengacu pada analisis materi pelajaran (AMP).  antara tujuan, materi dan alat penilaian   atau dipahami. Hal – hal yang perlu diperhatikan : Dapat dilaksanakan. Mudah dimengerti Terdapat keselarasan

26

Persiapan mengajar dapat terdiri dari beberapa kali

pertemuan dan minimal menggunakan waktu 4 jam pelajaran.  Penilaian proses belajar dilakukan selama proses belajar

mengajar dengan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai.  Ulangan harian diadakan pada setiap akhir bahan atau

kajian pokok bahasan.  Pada setiap pertemuan terdapat kegiatan : Pendahuluan yang meliputi motivasi dan apersepsi yaitu

menanyakan materi pelajaran yang lalu atau melakukan koreksi dengan lingkungan atau mata pelajaran yang lain. Kegiatan inti yaitu pengembangan konsep dan penerapan

(latihan soal-soal). Penutup berupa kesimpulan, penguasaan atau penekanan

atau penguatan materi. e. Rencana pembelajaran Rencana pembelajaran merupakan persiapan guru mengajar untuk tiap pertemuan. Rencana pembelajaran berfungsi sebagai acuan untuk

melaksanakan proses belajar mengajar dikelas agar lebih efektif dan efisien. Komponen utama rencana pembelajaran : • • Tujuan pembelajaran. Materi pelajaran.

27

• • f.

Kegiatan pembelajaran. Alat penilaian proses Analisis hasil ulangan harian Ulangan harian adalah tes yang dilakukan pada akhir satuan

bahasan atau pokok bahasan atau satuan pelajaran. Ulangan harian berfungsi untuk mendapatkan umpan balik tentang tingkat daya serap siswa terhadap materi pelajaran untuk satu satuan bahasan baik secara perseorangan maupun klasikal atau kelompok, yang bertujuan untuk : • Menentukan telah tercapai atau tidaknya ketuntasan belajar

baik perseorangan maupun klasikal • • 2. Menentukan program perbaikan dan pengayaan. Menentukan nilai kemajuan belajar siswa. Meningkatkan kompetensi professional Kompetensi professional guru adalah sejumlah kompetensi yang berhubungan dengan profesi yang menuntut berbagai keahlian dibidang pendidikan atau keguruhan. Kompetensi professional merupakan

kemampuan dasar guru dalam pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia, bidang studi yang dibinanya, sikap yang tepat tentang lingkungan proses belajar mengajar dan mempunyai ketrampilanketrampilan teknik mengajar.

28

Beberapa komponen kompetensi profesional guru adalah sebagai berikut: 1. Penguasaan bahan pelajaran beserta konsep-konsep 2. Pengelolaan program belajar mengajar 3. Pengelolaan kelas 4. Pengelolaan dan penggunaan media serta sumber belajar 5. Penguasaan landasan-landasan pendidikan 6. Kemampuan menilai prestasi belajar mengajar 7. Memahami prinsip-prinsip pengelolaan lembaga dan program pendidikan disekolah 8. menguasai metode berpikir 9. meningkatkan kemampuan dan menjalankan misi professional 10. Memberikan bantuan dan bimbingan kepada peserta didik 11. Memiliki wawasan tentang penelitian pendidikan 12. mampu menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran 13. mampu memahami karakteristik peserta didik 14. Mampu menyelenggarakan administrasi sekolah 15. Memiliki wawasan tentang inovasi pendidikan 16. Berani mengambil keputusan 17. Memahami kurikulum dan perkembangannya 18. Mampu bekerja berencana dan terprogram 19. Mampu menggunakan waktu secara tepat15 Guru adalah salah satu faktor penting dalam penyelenggaraan pendidikan disekolah. Oleh karena itu meningkatkan mutu pendidikan, berarti meningkatkan mutu guru. “Undang-undang no. 14 tahun 2005 pasal 1 ayat (1) menyatakan guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. sebagai seorang profesional guru harus memiliki kopetensi keguruan yang cukup”.16 Kompetensi keguruan itu tampak kepada kemampuannya menerapkan
15 16

sejumlah konsep, dan kerja sebagai guru, mampu

Djam’an Satori Profesi keguruan (Jakarta: 2007),hal 2.36 Ibid hal 39

29

mendemonstrasikan sejumlah setrategi maupun pendekatan pengajaran yang menarik dan interaktif, disiplin, jujur dan konsisten. Kompetensi profesional berkaitan dengan bidang studi menurut Slamet PH terdiri dari: a. Memahami mata pelajaran yang telah dipersiapkan untuk mengajar. b. Memahami standar kompetensi dan standar isi mata pelajaran yang tertera dalam peraturan materi serta bahan agar yang ada dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). c. Memahami struktur, konsep, dan metode keilmuan yang menaungi materi ajar. d. Memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait. e. Menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari17 Peranan guru sangat menentukan keberhasilan proses

pembelajaran, guru yang digugu dan ditiru adalah suatu profesi yang mengutamakan intelektualitas, kepandaian, kecerdasan, keahlian

berkomunikasi, kebijaksanaan dan kesabaran tinggi. “Sejalan dengan hal itu UU No. 14 tahun 2005 Bab II pasal 2 aya (1) menyatakan guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidian anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.18 . Profesional, dan profesional berarti melakukan sesuatu sebagai pekerjaan pokok sebagai profesi dan bukan sebagai pengisi waktu luang atau sebagai hoby belaka. Profesi berarti menyatakan secara publik dan dalam bahasa latin disebut “profession” yang digunakan untuk
17 18

Ibid hal 39 Ibid hal 40

30

menunjukkan pernyataan publik yang dibuat oleh seseorang yang bermaksud menduduki suatu jabatan publik. Guru yang terjamin kualitasnya diyakini mampu melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik. Penjaminan mutu guru perlu dilakukan dari waktuke waktu demi terselenggaranya layanan pembelajaran yang berkualitas. Guru yang bermutu niscaya mampu melaksanakan pendidikan, pengajaran dan pelatihan yang efektif dan efisien. Guru yang professional diyakini mampu memotivasi siswa untuk mengoptimalkan potensinya dalam kerangka pencapaian standart pendidikan yang di tetapkan. Kompetensi professional menurut Usman (2004) meliputi :

1. Penguasaan terhadapat landasan pendidikan, dalam kompetensi ini termasuk : a. memahami tujuan pendidikan b. mengetahui fungsi sekolah di masyarakat c. mengenal prinsip psikologi pendidikan 2. Menguasai bahan pengajaran, artinya guru harus memahami dengan baik materi pendidikan yang diajarkan. Penguasaan terhadap materi pokok yang ada pada kurikulum maupun bahan pengayaan. 3. Kemampuan menyusun program pengajaran, mencangkup kemampuan menetapkan kompetensi belajar, mengembangkan bahan pelajaran dan mengembangkan strategi pembelajaran.
4. Kemampuan menyusun perangkat penilaian hasil belajar dan proses

pembelajaran. Kompetensi yang di maksud adalah kopmpetensi profeional pendidikan.19

Kompetensi profesional mengacu pada perbuatan (performance) yang di bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam melaksanakan tugas-tgas kependidikan. Mengenai perangkat kompetensi professional biasanya di bedakan profil kompetensi yaitu mengacu kepada
19

Ibid hal 41

31

berbagai aspek kompetensi yang dimiliki seseorang tenaga profesional pendidikan dan spectrum kompetensi yaitu mengacu kepada variasi kualitatif dan kuantitatif. Perangkat yang dimiliki oleh korps tenaga kependidikan yang dibutuhkan mengoperasikan dan mengembangkan system pendidikan. 3. Mengikuti work shop Work shop pendidikan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan belajar kelompok yang terjadi dari sejumlah petugas pendidikan yang sedang memecahkan suatu masalah melalui percakapan dan berkerja sama secara kelompok maupun bersifat perseorangan. Ciri-ciri work shop antara lain : a. Masalah yang dibahas bersifat “life centred” dan muncul dari peserta sendiri (guru latih). b. Selalu menggunakan secara maksimal aktivitas mental dan fisik dalam kegiatannya, sehingga tercapai taraf pertumbuhan profesi yang lebih tinggi dan lebih baik dari semula, terjadi perubahan yang berarti pada diri mereka setelah mengikuti kegiatan ini. c. Metode yang digunakan dalam bekerja adalah “metode pemecahan masalah, musyawarah, dan penyelidikan”. d. Diadakan berdasarkan kebutuhan bersama. e. Menggunakan nara sumber- resource perseonthe resource material yang memberi bantuan besar sekali dalam mencapai hasil. f. Senantiasa memelihara kehidupan seimbang disamping memperkembangkan pengetahuan, kecakapan, perubahan tingkah laku.20 Jika dilihat dari kegiatannya, mengikuti work shop adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang harus diikuti oleh guru agama.
20

Ibid hal 41

32

4.

Melanjutkan studi kejenjang yang lebih tinggi Tantangan pendidikan islam terkait dengan tantangan dunia

pendidikan di Indonesia pada umumnya, teruatama dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia, yaitu : a. Era kompetitif yang disebabakan oleh meningkatnya

standar dunia kerja. b. Jika kualitas pendidikan menurun maka kualitas sumber

daya manusia juga menurun dan lemah pula dalam hal keimanan dan ketaqwaan serta penguasaan iptek. c. Kemajuan tekhnologi informasi menyebabkan banjirnya

informasi yang tidak terakses dengan baik oleh para pendidik dan pada giliranya berpengaruh pada hasil pendidikan. d. e. Dunia pndidikan tertinggal dalam hal metodologi. Kesenjangan antara dunia pendidikan dengan kenyataan

empiris perkembangan masyarakat. Berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan pada umumnya juga harus dihadapi oleh pendidikan agama sebagai bagian dari proses pendidikan bangsa. Kalau dunia pendidikan di Indonesia memerlukan berbagai inovasi agar tetap berfungsi optimal ditengah arus perubahan, maka pendidikan agama juga memerlukan berbagai upaya inovasi agar eksistensinya tetap bermakna bagi kehidupan bangsa. Untuk menjawab berbagai masalah dan tantangan tersebut, maka setiap calon guru termasuk guru agama, perlu dipersiapkan dengan

33

berbagai kemampuan di LPTK, dan untuk calon guru agama dipersiapkan di Fakultas atau Jurusan Tarbiyah, sebagaimana tertuang dalam PP no. 38 tahun 1992 bahwa calon tenaga pendidikan agama pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dididik sebagai calon guru mata pelajaran di lembaga pendidikan tenaga keguruan (pasal 14 ayat 1). Sedangkan yang dimaksud dengan lembaga pendidikan tenaga keguruan dalam ayat tersebut adalah perguruan tinggi. Kesimpulan dari pemaparan di atas adalah bahwa guru harus mau melanjutkan studi di jenjang yang lebih tinggi dalam rangka menyiapkan sumberdaya manusia agar guru agama mempunyai kemampuan untuk menjawab berbagai tantangan yang ada.

34

BAB III METODE PENELITIAN

A.

Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif, artinya prosedur

‘penelitian yang menghasilkan data deskripsi berupa kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang adapat diamati’.21 Data atau informasi itu dapat berbentuk gejala yang sedang berlangsung, reproduksi ingatan, pendapat yang bersifat teoritis atau praktis dan lain-lain. Penelitian kualitatif (Qualitative Research) adalah ‘suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas social, sikap, kepercayaan,persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok’.22 Dengan demikian, penelitian kualitatif bersifat induktif, karena bertolak dari data yang bersifat individual atau khusus, untuk merumuskan kesimpulan umum. Penelitian kualitatif tidak dimulai dari hipotesis

21 22

Lexy J. Moelong, Metodepenelitian kualitatif (Bandung, rosdakarya: 2000), hal 31 Nana Syaodih Sukmadiana, MMetode penelitian pendidikan (Bandung, Rosdakarya, 2007),hal 60

35

sebagai generalisasi, untuk diuji kebenaranya melalui pengumpulan data yang bersifat khusus, yang merupakan proses bersifat deduktif. Mengingat jenis penelitian ini kualitatif, maka apabila di kaitkan dengan objek penelitian akan menghasilkan deskripsi dan analisis tentang kegiatan atau proses pembelajaran yang berada di MI Sunan Giri 02 Kalipare Malang pada tahun pelajaran 2010 – 2011.

B.

Informan Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan

informasi tentang situasi dan kondisi latar.23 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan informan adalah 1. Orang yang memberikan informasi. 2. Orang yang menjadi sumber data dalam penelitian ; nara sumber.24 Informan dalam penelitian ini meliputi beberapa unsur yaitu : Kepala sekolah MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malamg

yang bertanggung jawab terhadap semua pelaksanaan pendidikan dan mengetahui segala yang berhubungan dengan lembaga tersebut. Guru bidang studi agama islam Wakasek kesiswaan yang mengetahui dan menangani secara

langsung kegiatan siswa MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang Adapun data yang penulis peroleh dari informan diatas antara lain:
23 24

Opcit hal 90 Opcit hal 432

36

1. Latar belakang berdirinya MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang 2. Faktor Penunjangdan penghambat pembelajaran 3. Usaha guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang

C.

Teknik Pengumpulan Data Setelah obyek penelitian ditentukan, maka selanjutnya peneliti

mengadakan pengumpulan data dari obyek tersebut. Adapun pengumpulan data ini diperlukan beberapa cara, antara lain : 1. Metode Observasi atau Pengamatan Menurut Arikunto, bahwa “Metode observasi atau pengamatan adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti dan sistematis”.25 Metode ini dipergunakan untuk memperoleh data dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap obyek yang diteliti. Metode observasi adalah “teknik pengumpulan data dimana penyelidikan mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa alat) terhadap gejala-gejala yang dihadapai (diselidiki) baik pengamatan itu dilaksanakan dalam situasi buatan yang harus diadakan”.26 Sedang yang diobservasi adalah keadaan guru dan siswa MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang dalam melaksanakan
25 26

Suharsimi Arikunto, Metode penelitian suatu pendekatan praktek (Rineka cipta: 1997),hal 113 Sutrisno Hadi, Metode research I, (Yogyakarta, Andi Offset: 1997), hal 95

37

pembelajaran. Adapun data yang penulis peroleh dari metode ini antara lain : 1) Letak geografis MI Sunan Giri 02 Arjowilangun

Kalipare Malang. 2) Kegiatan pelaksanaan pembelajaran di MI Sunan

Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang. 2. Metode Interview Metode ini digunakan untuk memperoleh informasi dari reponden dengan cara Tanya jawab secara langsung.27 Dalam menetapkan metode ini penulis menggunakan pedoman interview yang telah disusun terlebih dahulu agar data-data dapat diperoleh dengan baik dan untuk menjaga agar tidak terjadi penyimpangan dalam interview. Interview adalah “suatu proses Tanya jawab lisan dalam mana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yaitu satu dapat melihat yang lain dan mendengarkan dengan telinganya sendiri, tampaknya merupakan alat pengumpulan informasi langsung tentang beberapa jenis data social”.28 Sedangkan dari interview ini adalah kepala MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang, guru agama serta pihak-pihak yang terkait dengan lembaga tersebut.

27 28

Opcit hal 33 Opcit hal 192

38

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode interview bebas terpimpin, dimana dalam pelaksanaannya penulis berbicara tanpa meninggalkan pedoman yang telah dipersiapkan sebelumnya. Penulis menggunakan metode ini ditujukan untuk memperoleh data tentang keadaan dan kondisi sekolah secara umum serta beberapa kebijaksanaan lain dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang, diantaranya 1. pembelajaran 2. pembelajaran 3. Usaha yang dilakukan guru agama dalam faktor penghambat pelaksanaan Faktor penunjang pelaksanaan

meningkatkan kualitas pembelajaran 3. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi adalah suatu metode untuk

mengumpulkan data dengan jalan mengadakan penelitian dengan catatan-catatan atau dokumen-dokumen yang ada hubunganya dengan pokok masalah yang sedang dibicarakan.29 Metode tersebut digunakan untuk mengambil data-data yang bersifat tertulis dan mengambil hal-hal yang erat hubungannya dengan data yang diperlukan dalam mengumpulkan obyek pengkajian dalam skripsi ini. Adapun yang penulis peroleh dati metode ini adalah :
29

Opcit hal 113

39

1)

Data tentang keadaan gedung dan sarana prasarana MI

Sunan Giri 02 2) 3) Data guru dan staf. Data siswa MI Sunan Giri 02

D.

Metode Analisa data Mengingat jenis penelitiannya adalah kualitatif, maka analisa data

yang digunakan menggunakan deskriptif kualitatif. Pengertian deskriptif adalah suatu “metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu system pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang”.30 Sedangkan penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data skripsi berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang perilaku yang diamati.31 Dari pengertian di atas dapat disimpulkan maksud dari diskriptif kualitatif adalah suatu metode dalam penelitian pada suatu kelompok atau obyek yang dapat menghasilkan data skripsi berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang atau perilaku yang diamati. Adapun cara yang di tempuh. Dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Reduksi Data . Reduksi data merupakan cara analisis data dengan menulis data yang di peroleh dilapangan dalam bentuk uraian atau laporan yang terkunci.32 . Data yang berhubungan dengan kualitas pembelejaran baik data yang
30 31

Opcit hal 103 Opcit hal 36 32 S. Nasution, metode penelitian naturalistic Kualitatif.(bandung,1996) hal.129

40

tertulis maupun data dalam bentuk uraian di rankum, kemudian disusun secara sistematis sehingga lebih mudah di pahami. b. Display Data. Display data bertujuan untuk mempermudah dalam melihat gambaran keseluruan untuk mengambil kesimpulasn yang tepat mengenai data, maka karena itu agar dapat melihat gambaran keseluruhanya dari penelitian itu di usahakan membuat ringkasan.33 dalam pembuatan ringkasan peneliti mendiskripsikan dan menjelaskan mengenai pelaksanaan pembelajaran di MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang. c . Mengambil Kesimpulan dan Verifikasi . Sejak mulanya peneliti berusaha untuk mencari makna data yang di kumpulkanya. Untuk itulah mencari pola, tema, hubungan persamaan,hal hal yang sering timbul, hipotesis, dan sebagainya jadi dari data yang diperoleh sejak awal peneliti mencoba mengambil kesimpulan.

Kesimpulan itu mula - mula masih sangat tentatif, akan tetapi dengan bertambahnya data, maka kesimpulan lebih jelas. Jadi kesimpulan senantiasa di varifikasi oleh peneliti selama penelitian berlansung.

33

Ibid.hal 129

41

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. LATAR BELAKANG OBYEK PENELITIAN 1. Profil MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang Lembaga Pendidikan MI Sunan Giri 02 dibagun di atas tanah waqof seluas 700 m2, yang berdampingan dengan masjid jamik dukuh Pangganglele. Pada mulanya lembaga MI Sunan Giri 02, dibangun dengan swadaya masyarakat, kemudian pada tahun 1995 gedung MI Sunan Giri 02 direhab total berlantai 2 dengan bantuan YDSI Kabupaten Malang.34
Sejak tahun 2002 Lembaga Pendidikan MI Sunan Giri 02 mengalami perkembangan pendidikan yang cukup pesat, dengan adanya beberapa tambahan tenaga guru pengajar muda dari latar belakang pendidikan pesantren modern (AlMawaddah Gontor dan Al-Amien Prenduan Sumenep Madura ) yang mempunyai semangat serta inovatif yang cukup tinggi. Sebelum tahun 2002 MI Sunan Giri

34

Wawancara dengan Penurus MI Sunan Giri 02, Ahmad Ngatino, 30 Oktober 2010

42

02 Arjowilangun Kalipare Malang kegiatan pembelajarannya dimulai dari pukul 07.15 sampai dengan 12.00 wib, kemudian tahun 2002 sampai sekarang berubah menjadi foolday. Hal ini terjadi atas persetujuan para pengurus syistem

pendidikan di lembaga MI Sunan Giri 02 berubah menjadi foolday school, yang mana aktivitas belajar mengajar dimulai pada pukul 06.45 sampai dengan 14.00 WIB. Sepertinya hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Pangganglele, apalagi program Plus ( TPQ ) dimasukkan ke dalam kurikulum satuan pendidikan di lembaga pendidikan MI Sunan Giri 02 Arjowilangun.

Awal mula berdirinya lembaga pendidikan dasar MI Sunan Giri 02 pada tahun 1964, dengan nama MINU. Lembaga pendidikan ini berada di dukuh Pangganglele Desa Arjowilangun Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang. Lembaga ini didirikan oleh para tokoh muslim dukuh pangganglele tersebut, karena mayoritas masyarakat pangganglele beragama Islam dan keinginan masyarakat untuk mencetak kader-kader muslim dari tingkat pendidikan dasar MI. Nama MINU tidak bertahan lama hanya bertahan sekitar 7 tahun, karena selalu mendapat teror dari salah satu organisasi politik yang pernah berjaya pada waktu itu. Akhirnya pada tahun 1971 nama MINU berganti dengan nama SDI ( Sekolah Dasar Islam) Seperti halnya MINU nama

SDI juga tidak berumur panjang. Pada tahun 1979 SDI berubah lagi dengan nama MI Sunan Giri 02. Nampaknya nama MI Sunan Giri 02 dirasa lebih memuaskan di hati masyarakat pangganglele, karena lebih identik dengan bahasa keagamaan dibandingkan dengan nama SDI yang universal.

43

Adanya Ide untuk Mengubah Sistem Pembelajaran, mula-mula MI Sunan Giri 02 sistem pembelajarannya biasa-biasa saja seperti halnya sekolah-sekolah lain yang menggunakan kurikulum dari DEPAG (sekarang Kementerian agama). Pada waktu itu (tahun 2003) Kepala MI yang sekarang masuh menempuh pendidikan di Pesantren Tarbiyatul Mu’alimin al amin” Sumenep Madura untuk menyelesaikan studinya mendapatkan gelar Strata Satu (S-1). Beliau mempunyai gambaran dan angan-angan bilamana MI yang ada di Kampungnya (dipimpin oleh Ayahnya) diajak berubah system pendidikannya seperti di “Al Amin’ yakni memadukan kurikulum dari DEPAG dan DIKNAS serta manambah muatan agama yang dijadikan kurikulum terpadu. Tahun 2004 Beliau lulus dan kembali ke Kampung dengan niat mengamalkan ilmunya, masih dengan semangat yang sama yaitu merubah system pembelajaran. Tanpa disangka ternyata impian itu telah dirintis satu tahun sebelumnya oleh Bpk. Drs. Ali Masngut, SH seorang tokoh masyarakat sekaligus Guru Agama di SD Negeri yang letaknya tidak jauh dari MI Sunan Giri 02 bersama dua orang temannya yang lebih dulu pulang dari pesantren yang sama yaitu “Al Amin” Madura. Bersama dengan kedua temannya dan dibantu oleh Bpk. Drs. Ali Masngut, SH system pembelajaran yang baru terus dikembangkan. Selang beberap bulan kemudian datang lagi dua orang yaitu adik dan saudara sepupunya yang kemudian diminta untuk mengajar. Dan pada tahun 2005

44

beliau diangkat sebagai Kepala MI Sunan Giri 02 untuk menggantikan Ayahnya hingga sekarang. 2. Visi Misi dan tujuan Dalam rangka mensukseskan program pemerintah untuk memajukan pendidikan bangsa dan demi menghasilkan generasi yang mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas, tentunya dengan IPTEK yang didasari dengan IMTAQ yang kuat, maka MI Sunan Giri 02 Arjowilangun mempunyai Visi, Misi, dan tujuan sebagai berikut : a. Visi

“Mencetak lulusan MI/SD Plus Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare unggul dalam bidang IMTAQ dan IPTEK yang berguna bagi Bangsa, Agama dan Masyarakat” Sedangkan tujuan dari visi tersebut adalah : 1. Lingkungan Madrasah yang kondusif terhadap pendidikan dan pembelajaran. 2. Kegiatan di madrasah menunjukkan kultur keislaman 3. Inovasi kurikulum yang mampu mengoptimalkan multi kecerdasan siswa 4. Prestasi akademik dan non akademik yang semakin meningkat 5. Peningkatan mutu lulusan 6. Sarana prasarana pengembangan Sumber Daya Pendidikan yang memadai 7. Kegiatan-kegiatan ilmiah dilakukan secara terus menerus 8. Kebiasaan siswa yang menunjukkan pribadi mandiri dan cinta tanah air 9. Kerjasama dengan masyarakat terjalin dengan saling menguntungkan.35 a. Misi

35

Dokumen Sekolah MI Sunan Giri 02, 4 Novermber 2010.

45

“Mengadakan (KBM) secara disiplin, melaksabakan praktek ibadah setiap hari dengan tepat waktu” Misi tersebut bila dihubungkan dengan tujuan sekolah adalah : “Menyiapkan generasi kedepan yang sesuai dengan perkembangan zaman yang saat ini menuntut kita untuk terampil, cekatan, luwes dan terbentuknya generasi dengan jiwa mandiri. Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, ketrampilan dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Terbentuknya moral dan mental yang kokoh, kreatif, inovatif dan bertanggung jawab.”36 c. Tujuan Untuk merealisasikan visi dan misi madrasah, maka tujuan yang akan dicapai antara lain : 1. Membentuk siswa yang berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki 2. Menghasilkan lulusan yang berkualitas, berprestasi, berakhlakul karimah dan bertaqwa kepada Allah 3. Terlaksananya kehidupan madrasah yang islami 4. Mewujudkan madrasah yang mandiri 5. Tersedianya sarana prasarana pendidikan yang memadai 6. Tercapainya program-program madrasah 7. Mampu menciptakan lingkungan yang bersih, indah nyaman dan aman yang kondusif terhadap pendidikan dan pembelajaran 8. Mampu menjadi madrasah berprestasi yang selalu menjadi pilihan pertama masyarakat 9. Mampu mengembangkan kurikulum yang diberlakukan secara kreatif 10. Mampu mengembangkan kemampuan dan kinerja tenaga kependidikan 11. Mampu menciptakan inovasi pembelajaran sehingga KBM berjalan efektif dan efisien 12. Mampu melaksanakan penilaian secara berkelanjutan 13. Mampu meningkatkan perolehan nilai di atas standar kelulusan 14. Terciptannya budaya baca yang semakin meningkat 15. Mengoptimalkan fungsi layanan bimbingan dan konseling 16. Mengembangkan minat dan bakat melalui ekstra kurikuler 17. Memiliki system manejemen dan job deskripsi organisasi yang jelas

36

Ibid

46

18. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat guna mutu madrasah baik fisik maupun non fisik melalui kerjasama yang saling menguntungkan.37

3. Struktur organisasi MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang Struktur organisasi adalah penyusunan atau penempatan orang-orang dalam suatu kelompok yang berkaitan erat dengan hak dan kewajiban serta tanggung jawab pada suatu lembaga atau instansi tersebut. Karena organisasi dipandang sebagai bentuk hubungan kerja sama yang harmonis dan didasarkan atas tanggung jawab untuk mencapai suatu tujuan. Adanya struktur organisasi yang jelas akan dapat memudahkan untuk

melaksanakan tanggung jawab yang dipikulnya, karena pada akhirnya akan menghasilkan bidang-bidang serta job description dari masingmasing bidang. TABEL I STRUKTUR ORGANISASI

Kepala MI Sunan Giri 02
Mujib Syaiful Hamdani, S.Pdi

Waka Kurikulum Suwanto, A.Ma

Waka Kesiswaan Khoirul Anwar, S.Pdi

Tata Usaha Umi Hani’ Khabibah, S.Pdi

Wali Kelas

37

Dokumen Sekolah

GURU

SISWA MI SUNAN GIRI 02 ARJOWILANGUN KALIPARE 47 MALANG

38

Tabel di atas dapat dianalisis bahwa, organisasi sekolah merupakan salah satu factor yang harus dimiliki oleh setiap lembaga pendidikan. Hal ini dimaksudkan untuk melancarkan semua pelaksanaan program kerja dari lembaga pendidikan tadi, masing-masing bagian dari struktur keorganisasian yang ada saling bekerja sama di dalam melaksanakan tugasnya.

4. Data murid MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang Adapun data murid MI Sunan Giri 02 Arjowilangun seperti pada table berikut. TABEL II DATA SISWA MI SUNAN GIRI 02 ARJOWILANGUN KALIPARE MALANG TAHUN PELAJARAN 2010/2011 No 01 02 03 04 05 06 Kelas I II III IV V VI Jumlah Laki-laki 15 15 12 12 15 11 80 Jumlah Perempuan 17 5 20 17 7 7 73 Jumlah 32 20 32 29 22 18 15339

38 39

Ibid Ibid

48

Dilihat dari tabel di atas dapat diketahui keadaan murid MI Sunan Giri 02 selalu mengalami peningkatan pada setiap tahunnya. Apabila dilihat dari jumlah muridnya muali dari tahun pelajaran 2005/ 2007 (kelas VI) hingga tahun pelajaran 2010/ 2011, dapat di uraikan sebagai berikut
• • • • • •

Tahun Pelajaran 2005/ 2006 kelas VI berjumlah 18 murid Tahun Pelajaran 2006/ 2007 kelas V berjumlah 22 murid Tahun Pelajaran 2007/ 2008 kelas IV berjumlah 29 murid Tahun Pelajaran 2008/ 2009 kelas III berjumlah 32 murid Tahun Pelajaran 2009/ 2010 kelas II berjumlah 20 murid Tahun Pelajaran 2010/ 2011 kelas I berjumlah 32 murid Meskipun peningkatan jumlah murid MI Sunan Giri 02 tidak

banyak, tetapi dari tahun ke tahun selalu bertambah, kecuali pada tahun pelajaran 2009/ 2010 mengalami penurunan hingga hampir 40%. Hal ini disebabkan jumlah anak usia sekolah pada tahun tersebut memang berkurang, tetapi apabila di bandingkan dengan sekolah lain seluruh Desa Arjowilangun jumlah tersebut sudah banyak, karena rata-rata jumlah murid di sekolah lain masih dibawah jumlah murid MI Sunan Giri 02. Anak didik merupakan unsur penting dalam proses belajar mengajar, murid-murid MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang sangat beragam, mereka tidak hanya berasal dari masyarakat

Arjowilangun saja, akan tetapi juga berasal dari luar desa Arjowilangun

49

yaitu dari Kalipare dan Arjosari dan Tumpak miri, walaupun rumah mereka cukup jauh dari sekolah MI Sunan Giri 02 Arjowilangun ini namun semangat mereka untuk belajar di lembaga ini cukup tinggi

5. Sarana Prasarana MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang Sedangkan sarana dapat dilihat pada table berikut:

TABEL III Keadaan gedung dan sarana prasarana MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare Malang NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Ruang Ruang Kepala Sekolah Ruang TU Ruang Guru Ruang Komputer Ruang Belajar Kamar Mandi/WC guru Kamar Mandi/WC siswa Gudang Kantin Sekolah Jumlah 1 1 2 1 6 1 4 1 1 Luas 4x4 m 2x3 m 4x6 m 4x6 m 5x6 m 2x2 m 2x2 m 2x2 m 3x3 m Kualitas Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

50

10 Masjid

1

20x20 m2

Baik40

Dilihat dari tabel diatas, dapat diketahui keadaan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh MI Sunan Giri 02 sudah cukup, tinggal melengkapi kekurangannya khususnya perpustakaan (ruang baca) yang belum ada. Ruang Kepala Sekolah terdiri dari 1 meja dan kursi, 1 unit komputer, 1 lemari buku (rak), ruang tamu dan data-data yang dipasang di dinding. Ruang TU terdiri dari 1 unit meja kursi, 1 buah lemari buku (besar), 1 buah rak buku, 1 buah lemari piala (etalase). Ruang guru terdiri dari 8 pasang meja dan kursi guru, 1 buah lemari (loker), 3 buah lemari, data pembagian jam pelajaran, 1 unit televisi. Ruang komputer terdiri dari 10 unit komputer dan 1 buah papan tulis. Ruang belajar yang berjumlah 6 masing-masing terdiri dari meja dan kursi sejumlah murid pada masingmasing kelas 2 buah papan tulis,1 buah meja dan kursi guru, 1 buah pengeras suara, 1 buah lemari buku, gambar-gambar sebagai media belajar, 2 buah rak sandal, 1 buah lemari (loker), 1 buah rak perpustakaan kelas, 1 buah tempat sampah. Jumlah kamar mandi dan guru sudah layak mencukupi. Gudang berisikan peralatan Drum Band dan benda-benda yang sudahtidak pergunakan lagi, tetapi masih perlu. Kantin sekolah cukup baik, dan masjid dalam keadaan baik, bahkan masjid yang berada di MI Sunan Giri baru dibangun dan merupakan bangunan masjid paling bagus se desa Arjowilangun. B. PENYAJIAN DAN ANALISA DATA
40

Ibid

51

Penyajian dan analisa data ini didasarkan dari hasil observasi, interview, dan dokumentasi yang meneliti peroleh di lapangan. Adapun uraiandari penyajian dan analisa data sebagaimana tertuang dalam rumusan masalah sebagai berikut: 1. Yang harus dilakukan oleh guru Agama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran a. Perencanaan secara tertulis Untuk menyajikan data pada hal ini, penulis mengambil contoh pada salah satu guru agama di MI Sunan Giri 02 yang mengajar mata pelajaran Al Qur’an dan hadis yang bernama Ust. Khoirul Anwar,S.Pd.I. Beliau memberikan perencanaan dalam

pembelajarannya yang terdiri atas silabus, RPP dan kisi-kisi soal pada semester I tahun pelajaran 2010/ 2011 sebagaimana terlampir.

52

SILABUS
Nama Madrasah Kelas / Semester Mata Pelajaran Standar Kompetensi Kompetensi Dasar (1) • Menerjemahkan Surah alKafirun,atTakasur dan alMa’un • Memahami isi kandungan surah alKafirun,atTakasur, dan al: MI SUNAN GIRI 02 ARJOWILANGUN KALIPARE :V/1 : Al-Qur’an dan Hadist : Memahami Arti Surah-surah Pendek Materi pokok/Pembe lajaran Sumber/Bahan/ Alat (7) • Buku alQur’an Hadist MI kls V Terbitan Putratama bintang Timur Surabaya. Terjemaannya terbitan

Indikator

Kegiatan Pembelajaran (4) Siswa mendengarkan terjemahan Surah alKafirun, at-takasur, dan al-Ma’un dari guru. • Siswa menerjemahkan Surah al-Kafirun, at-Takasur, dan al-Ma’un dengan bimbingan guru.

Penilaian (5) Tugas individual dan tugas kelompok dengan unjuk kerja, tes lisan, serta tes tertulis

Alokasi Waktu (6) 24 jam pelajaran 12 X pertemuan

(2) (3) Arti Surah al- • Mampu Kafirun, attakasur, dan al-Ma’un menerjemahkan Surah al-kafirun, at-Takasur, dan al-Ma’un dengan baik dan benar • Mampu memahami kandungan Surah alkafirun, at-Takasur, dan al-Ma’un secara baik dan benar

53

Ma’un • Menunjukkan isi kandungan Surah alKafirun,atTakasur dan alMa’un

• Mampu menunjukkan isi kandungan Surah al-Kafirun, atTakasur, dan alMa’un

Siswa menunjukkan kandungan Surah alKafirun, at-Takasur, dan al-Ma’un dengan bimbingan guru.

Depag RI 2006 • Buku tajwid • Buku-buku lain yang relevan

Standar Kompetensi : Memahami arti Hadis Tentang Menyayangi Anak Yatim (1) • Menerjemahkan hadis tentang menyayangi anak yatim • Memahami isi kandungan hadis tentang (2) Arti hadis tentang menyayangi anak yatim (3) • Mampu menerjemahkan hadis tentang menyayangi anak yatim dengan baik dan benar • Mampu memahami kandungan hadis (4) • Siswa mendengarkan menyayangi anak yatim dari guru. • Siswa menerjemahkan hadis tentang menyayangi anak yatim (5) Tugas dan tugas kelompok dengan unjuk kerja, tes lisan, (6) 8 jam Pelajaran 4 X pertemuan (7) • Buku AlQur’an Hadist MI Kls V Terbitan Putratama bintang timur

terjemahan hadis tentang individual

54

menyayangi anak yatim • Menunjukkan isi kandungan hadis tentang menyayangi anak yatim

tentang menyayangi anak yatim secara benar dan fasih

dengan bimbingan guru. • Siswa memahami hadis tentang menyayangi anak yatim dengan bimbingan guru • Siswa menunjukkan rasa simpati kepada anak yatim dalam kehidupan sehari-hari

serta tes tertulis

Surabaya • Terjemah Riyadhus Shalihin • Buku-buku lain yang relevan41

41

Dokument Sekolah

55

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Mata Pelajaran Kelas/ Semester Pertemuan keAlokasi Waktu

: Al-Qur’an dan Hadis : IV/ 1 : 6-9 : 8 jam pelajaran

Madrasah Ibtidaiyah : MI Sunan Giri 02 Arjowilangun Kalipare

Standar Kompetensi : Memahami arti surah pendek I. Kompetensi Dasar 1. 2. 3. II. Indikator 1. 2. benar 3. benar III. Tujuan Pembelajaran 1. 2. 3. benar IV. Materi Ajar Siswa dapat membaca Surah al-Qadr dengan benar dan fasih Siswa dapat menerjemahkan Surah al-Qadr dengan baik dan benar Siswa dapat memahami kandungan Surah al-Qadr dengan baik dan Mampu memahami kandungan Surah al-Qadr secara baik dan Mampu membaca Surah al-Qadr dengan benar dan fasih Mampu menerjemahkan Surah Surah al-Qadr dengan baik dan Membaca surah al-Qadr Menerjemahkan Surah al-Qadr Memahami isi kandungan Surah al-Qadr

56

Arti Surah al-Qadr V. Metode Belajar 1. 2. 3. 4. Informasi Tanya jawab Demonstrasi Praktik

VI. Sumber Belajar 1. Buku Cinta Al-Qur’an dan Hadis MI 5 terbitan PT Tiga Serangkai

Pustaka Mandri, Solo 2. 3. 4. Al-Qur’an dan terjemahnya terbitan Depag RI 2006 Buku tajwid Buku-buku lain yang relevan

VII. Langkah-langkah Pembelajaran A. 1. Kegiatan Awal (Apersepsi) Guru memberi salam dan memulai pelajaran dengan

mengucapkan basmalah serta berdo’a bersama. 2. Guru menjelaskan secara singkat materi yang akan

dipelajari dengan kompetensi dasarnya. 3. Guru menjelaskan secara singkat langkah-langkah

pembelajaran yang akan dilaksanakan B. 1. Kegiatan Inti Guru menuliskan, memasang paparan, mengenai

Surah al-Qadr sehingga mudah dilihat oleh siswa.

57

2.

Guru menerjemahkan tulisan, paparan, mengenai

Surah al-Qadr dengan suara jelas dan perlahan-lahan ayat demi ayat. Siswa diminta untuk menirukan bacaan guru ayat demi ayat. Hal ini hendaknya dilakukan secara berulang-ulang. 3. Guru membimbing siswa untuk menerjemahkan

Surah al-Qadr mulai ayat pertama sampai dengan ayat terakhir secara berulang-ulang hingga hafal. 4. Guru menunjuk beberapa siswa kedepan kelas untuk

menerjemahkan Surah al-Qadr yang ada tulisan, paparan. 5. Guru meminta siswa untuk mendengarkan

terjemahnya Surah al-Qadr dari teman-temannya. 6. Guru meminta siswa yang mendengarkan untuk

menyimak terjemahan teman-temannya. Apabila terjadi kesalahan, hendaknya mereka membetulkannya. Para siswa memberikan apresiasi kepada teman-temannya jika bacaannya benar. 7. 8. Guru menjelaskan kandungan Surah al-Qadr. Guru meminta siswa untuk mendengarkan

penjelasan tersebut. 9. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya tentang

permasalahan yang belum dipahami dengan baik. 10. Guru memberi tugas kepada siswa mengenai

terjemahan dan kandungan Surah al-Qadr. C. Kegiatan Akhir (Penutup)

58

1.

Guru mengevaluasi tentang proses dan hasil

kegiatan belajar mengajar tersebut 2. Guru mengajak siswa membuat kesimpulan tentang

kandungan Surah al-Qadr. 3. Guru menutup pelajaran dengan bacaan hamdallah,

berdo’a bersama-sama, dan mengucapkan salam. VIII. Penilaian A. Tes Lisan

Siswa diminta menerjemahkan dan menjelaskan kandungan Surah alQadr satu persatu. B. Tes Tertulis

Guru memberikan beberapa soal tertulis, sebagaimana yang terdapat ada buku Cinta Al-Qur’an dan Hadis MI 5 halaman 67-68. C. Tes Perbuatan

Siswa diminta menerapkan kandungan Surah al-Qadr dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada bulan Ramadhan.

Kalipare, ……………………….

Mengetahui, Kepala Madrasah

Guru Al-Qur’an dan Hadis

Mujib Syaiful Hamdani, S.Pd.I 59

Khoirul Anwar H , S.Pd.I

LATIHAN SOAL A. Pilihlah jawaban yang benar ! 1. a. b. c. d. 2. Surah al-Qadr turun sesudah Surah ………….. al-Humazah asy-Syams az-Zalzlah ‘Abasa Nama al-Qadr diambil dari kata ‫ﺍﻠﻗﺪﺮ‬ yang berarti ………

a. Kedisiplinan b. Kesejahteraan c. Kemuliaan d. Kemakmuran 3. Salah satu keutamaan Lailatul Qadr adalah …. ….

a. Dibukanya pintu surga b. Diturunkannya Al-Qur’an c. Diciptakannya Nabi Adam a.s. d. Dibangkitkannya manusia dari kubur 4. Arti kata ‫ ﺍﻨﺯﻠﻧﻪ‬adalah ………..

a. Kami telah menurunkannya b. Kami telah menyediakannya c. Kami telah menciptakannya

60

d. Kami telah mengampuninya 5. Yang dimaksud ‫ ﺍﻠﺮﻮﺡ‬adalah ……….

a. Nabi Muhammad saw b. Allah SWT c. Malaikat Jibril d. Orang yang sudah mati 6. a. b. c. d. 7. Lafal-lafal berikut ini yang berarti seribu bulan adalah ……….. .‫ﻜﻞﺍﻤﺮ‬ .‫ﺴﻟﻢ‬ .‫ﺧﻴﺮﻤﻦ‬ .‫ﺍﻟﻒﺷﻬﺮ‬ Menurut riwayat yang mutawatir, Lailatul Qadr terjadi pada …….

Bulan Ramadhan. a. b. c. d. 8. a. b. c. d. Selama Sepuluh hari kedua Sepuluh hari terakhir Sepuluh hari pertama

............‫ﻟﻴﻟﺔﺍﻟﻗﺩﺮﺧﻴﺮﻤﻦ‬ . ‫ﻜﻞﺍﻤﺮ‬ . ‫ﺴﻟﻢ‬ . ‫ﻤﻄﻟﻊﺍﻟﻓﺟﺭ‬ . ‫ﺍﻟﻒﺷﻬﺮ‬

61

9. a. b. c. d. 10. a. b. c. d.

Salah satu tanda terjadinya Lailatul Qadr adalah ……. Langit bersinar cerah Langit berawan, tetapi tidak hujan Hewan-hewan bebas berkeliaran Rezeki manusia berlimpah pada hari itu Malam Qadar adalah malam yang penuh Kehidupan Kesibukan Kesejahteraan kekeluargaan ‫ﺴﻟﻢ‬ , artinya …….

B. Isilah titik-titik di bawah ini dengan tepat ! 1. Surah al-Qadr terdiri dari ……. Ayat. 2. Lailatul Qadr terjadi pada malam bulan …….. 3. Kitab yang diturunkan pada malam qadar adalah …….. 4. Beribadah pada malam qadar nilainya lebih baik daripada ……bulan. 5. Para malaikat turun pada malam qadar untuk …… 6. Allah SWT. Menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw. Dengan perantara …….. 7. Arti kata

‫ﻤﻄﻟﻊﺍﻟﻓﺟﺭ‬

Adalah ………..

8. Pada malam qadar diturunkan kesejahteraan hingga …………. 9. Dalam surah al-Qadr, lafal

‫ﻟﻴﻟﺔﺍﻟﻗﺩﺭ‬

disebut sebanyak …….. kali.

10. Orang yang beribadah dengan ikhlas pada malam qadar akan mendapatkan ………… dari Allah swt.

62

C. Jawablah dengan singkat ! 1. Apa yang dimaksud malam qadar ? 2. Terjemahkan ayat berikut ini ! ‫ﻭﻤﺎﺍﺪﺮﻚﻤﺎﻟﻴﻟﺔﺍﻟﻗﺪﺮ‬ 3. Sebutkan tiga keistimewaan yang terjadi pada malam qadar ! 4. Sebutkan tanda-tanda terjadinya Lailatul Qadr ! 5. Terjemahkan ayat berikut ini ! ‫ﺴﻟﻡﻫﻲﺤﺘﻰﻣﻄﻟﻊﺍﻟﻔﺠﺮ‬

63

a.

Perencanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran yang penulis amati adalah Ust. Khoirul Anwar Harifudin, S.Pd.Iyang memberikan pelajaran Al-Qur’an Hadist pada bab terakhir semester I tentang memahami arti Syrat Al-Qadar. Beliau melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat, meskipun sesekali sambil mengingatkan para muridnya untuk mengingatkan pelajaran yang telah lampau yang masih terkait dengan pelajaran b. Evaluasi

Guru mengevaluasi tentang proses dan hasil kegiatan belajar mengajar yang dilakukan pada hari itu. Siswadiminta untuk menerjemahkan dan menjelaskan kandungan surat al aad satu persatu 2. Faktor penunjang dan penghambat pembelajaran Agama a. Faktor penunjang pelaksanaan pembelajaran Agama Dari hasil interview dengan para guru agama di MI Sunan Giri 02 Arjowilangun dapat penulis simpulkan tentang factor-faktor yang menunjang pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut: 1. Sarana tempat ibadah [ masjid ]

64

Masjid jami’ Al falah berada di tengah tengah sekolah sehingga dapat digunakan saecara maksimal sebagain sarana praktek ibadah untuk pembelajaran agama di MI Sunan Giri 02 Arjowilangun. 2. Dukungan dari seluruh guru mata pelajaran untuk saling bekerjasama dalam menciptakan anak didik mesenantiasa

melaksanakan kegiata keagamaan. b. faktor-faktor penghambat pelaksanaan pembelajaran Agama 1. Faktor orang tua yang kurang memperhatikan pembelajaran anak di sekolah, sehingga anak dibiarkan saja tanpa menghiraukan kegiatan anak dalam melaksanakan kegiatan keagamaannya sehari hari. . 2. Faktor lingkungan, yaitu lingkungan tempat ia tinggal atau bermain yang kurang kondusif dan jauh dari nilai-nilai agama. 3. Faktor sarana dan prasarana yan g kurang memadai, terutama perpustakaan yang belum memenuhi persyaratan, sehingga untuk menumbuhkan inat baca pada anak mengalami kesulitan. 4. Faktor kemajuan teknologiyang kurang terkontropl, sebagai contoh; dengan maraknya permainan game, tayangan televise, sehingga

anak sering lalai, Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar agama terkalahkan karena asyiknya bermain atau menonton televisi. 3. Usaha-usaha yang dilakukan guru agama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran

65

a. Mengintensifkan kegiatan pembelajaran dengan cara: 1. Belajar membaca al Qur’an Kegiatan belajar membaca al Qur’an di MI Sunan Giri dimulai sejak anak didikmulai masuk sekolah. Pembelajaran membaca al Qur’an ini dilakukan secara intensif dengan menggunaka metode Qiro’ati, dimulai dari jilid terendah yaitu jilid I sampai dengan jilid VI. Kemidian dilanjutkandengan pelajaran ghorib dan tajwid. Dari hasil obserfasi, penulis memperoleh data bahwa siswa MI Sunan Giri 02 rata-rata kelas III atau IV sudah lancer membaca al Qur’an bahkan kelas IV atau kelas VI sudah mahir dalam membaca al Qur’an dengan bertajwid dan faham tentang bacaan-bacaan ghorib.. 2. Kegiatan hafalan surat-surat pendek (juz ‘Amma) Hafalan surat-surat pendek telah ada pada kurikulum dari Kementerian Agama, tetapi di MI Sunan Giri 02 menambahkan materi hafalan tersebut pada kegiatan hafalan surat –surat pendek dengan target hafalannya sebagai berikut; Surat Al Fatihah, Al Ikhlas, Annas, Al Falaq, Al Lahab, An nashr, Al Kafirun, Al Kautsar, Al Ma’un, Al Quroisy, Al Fiil, Al Ashr, Al Takatsur, Al Qori’ah, Al Adiyat, Al Zalzalah, Al Bayyinah, Al Qodar, Al Alaq, AtTin, Al Isyiroh, Ad Dhuha,, Al Lail, As Syams, Al Balad, Al Ghosyiyah,Al Fajr, Al A’la, At Thoriq,Al buruj, Al Insyqoq, AlMuthoffifin, Al Infitor, At Takwir, Abasa, An Naziat, An Naba, Ayat Kursi, Al Baqoroh 284-286, Luqman 12-19, Al jumu’ah, Al Kahfi 107-110, Al Isro’ 23-37, Al Hasyr 18-24.42

42

Ibid

66

Target hafalan tersebut ditempuh selama belajar di MI Sunan Giri 02 artinya dihafalkan mulai dari kelas I sampai dengan kelas VI (sesuai dengan target kelas masing-masing). 3. Kegiatan hafalan do’a harian Hafalan do’a harian sebagaimana hafalan surat-surat pendek juga telah ada dalam kurikulum dari Kementerian Agama. Namun demikian MI Sunan Giri 02 membuat target hafalannya ditambah, diantaranya sebagai berikut: Do’a Asmaul Husna, sebelum belajar, sebelum tidur, sebelum makan, sesudah makan, masuk kamar mandi,keluar kamar mandi, masuk masjid, keluar masjid, memakai baju, melepas baju, naik kendaraan, sesudah adzan, sesudah wudlu, masuk rumah, keluar rumah,akan baca al-qur’an, setelah baca al-qur’an,ketemu sesame muslim,bercermin,turun hujan, bersin, melihat keindahan,melihat kejelekan, masuk shof, tertimpa musibah, mengelami kesulitan,berbuka puasa, melihat kuburan,mohon perlindungan, bubar majelis, qunut,mimpi baik, mimpi buruk, mohon keselamatan,untuk ibu bapak.43 Untuk memudahkan hafalan do’a, anak didik selalu mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya do’a mau makan diucapkan setiap kali mau makan, begitupun sesudahnya do’a diucapkan sesudah makan, do’a masuk kamar mandi dan do’a keluar dari kamar mandi, do’a masuk masjid dan do’a keluar dari masjid, do’a berwudhu,dan sebagainya. 4. Kegiatan sholat dhuha dan sholat Dhuhur berjamaah Kegiatan sholat dhuha dilaksanakan sebelum anak didik memulai aktifitas pelajaran. Diusahakan anak datang kesekolah
43

Ibid

67

sudah dalam keadaan suci (berwudlu) dari rumah. Sholat dhuha dilaksanakan mulai dari kelas I sampai kelas VI bersama-sama setiap pagi bersama-sama dengan bapak dan ibu gurunya. Sedangkan sholat dhuhur dilaksanakan pada waktu istirahat kedua, yaitu antara pukul 11.30 sampai dengan 12.30 wib dengan cara di kelompokkan antara kelas rendah dan kelas tinggi. Kelas rendah yaitu kelas I sampai dengan kelas III (kelompok I). Kelompok I melaksanakan sholat dengan melafalkan doa dengan suara keras sampai selesai, dengan tujuan untuk menghafal bacaan-bacaan sholat yang di dampingi oleh beberapa guru untuk membimbing dan mengawasi jalannya kegiatan tersebut. Kelompok II (kelas tinggi) melaksanakan sholat berjamaah bersama bapak dan ibu guru dengan tidak mengeraskan suara. Pada kelompok II ini anak didik di rasa telah mampu melaksanakan sholat serta hafal seluruh bacaan-bacaan sholat. 5. Melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan silabus. Proses pembelajaran selalu mengikuti kurikulum yang berlaku, agar proses pembelajaran selalu berada di atas garis dan tidak menyimpang dari tujuan yang telah di tetapkan oleh pemerintah. 6. Mengadakan evaluasi Evaluasi di lakukan untuk mengetahui sejauh mana materi pembelajaran dapat di terima dan dilaksanakan dengan baik yang

68

berhubungan

dengan

teori

maupun

praktek

dalam

rangka

mengevaluasi hasil pembelajaran dengan cara: 1. Pembelajaran yang berhubungan dengan teori di lakukan melalui test tulis, dan test lisan serta memperagakan pelajaran yang terkait dengan materi pelajaran. 2. Pembelajaran yang berhubungan dengan materi pelajaran

tambahan (intensif) ‘seperti pada poin 1’ dengan cara menjalin hubungan melalui murid untuk saling bekerja sama mengawasi dan melaporkan kegiatan anak dalam penerapan kegiatan

keagamaan baik di sekolah maupun di luar sekolah (dirumah) melalui buku laporan harian.

69

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan Setelah penulis mengamati dan meneliti dari beberapa aspek yang

berkaitan

dengan

usaha guru

agama

dalam

meningkatkan

kualitas

pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah 02 Arwowilangun Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang maka penulis berkesimpulan bahwa: 1. Usaha yang di lakukan guru agama dalam meningkatkan kualitas

pembelajaran adalah membuat perencanaan secara tertulis di antaranya yaitu : a. Membuat silabus

Contoh yang diambil adalah silabus yang dibuat oleh Ustad Khoirul Anwar yaitu kelas V semester I pada mata pelajaran al Qur’an dan Hadits, standart kompetensi memhami arti surah-surah pendek dan memahami arti hadits tentang menyayangi anak yatim. b. Membuat perencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)

70

RPP yang dibuat mata pelajaran al Qur’an dan Hadits kelas V semester I pada pertemuan ke 6 – 9 dengan standart kompetensi memahami arti surah pendek. c. Evaluasi

Evaluasi dilakukan dengan memberikan latihan soal obyektif dan subyektif untuk mengetahui hasil capaian proses pembelajaran yang dilakukan. 2. Faktor penunjang dan penghambat pembelajaran agama a. Faktor penunjang pelaksanaan pembelajaran agama diantaranya masjid sebagai sarana praktek shalat, dukungan seluruh guru mata pelajaran untuk saling bekerja sama dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan. b. Faktor penghambat pelaksanaan pembelajaran diantaranya faktor orang tua yang kurang memperhatikan kegiatan pembelajaran anak di sekolah, faktor lingkungan yang kurang kondusif, sarana dan prasarana yang kurang memadai, kemajuan teknologi yang kurang terkontrol, seperti tanyangan televisi, dan lain-lain. 3. Usaha yang dilakukan guru agama dalam meningkatkan kualitas

pembelajaran a. Mengintensifkan kegiatan belajar membaca al Qur’an dengan metode Qiro’ati mulai jilid terendah hingga fasih membaca al Qur’an.

71

b. Kegiatan hafalan surat-surat pendek (Juz ‘Amma). c. Kegiatan hafalan do’a. d. Kegiatan shalat dhuha dan shalat dhuhur berjamaah setiap hari. e. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan silabus dengan tujuan tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan. f. Mengadakan evaluasi baik secara tertulis maupun aplikasi. B. Saran-saran Agar usaha guru agama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di MI Sunan Giri 02 dapat tercapai hendaknya melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. Kepala Sekolah dan guru agama hendaknya bisa membangun kerja

sama dengan wali murid dengan sebaik-baiknya agar dapat tercapai tujuan pembelajaran. 2. Guru agama hendaknya selalu meningkatkan kompetensi

professional agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. 3. Hendaknya bagi wali murid bisa bekerjasama dengan baik dengan

pihak sekolah untuk bersama-sama mengawasi anak dalam menanamkan dan mengamalkan pendidikan agama.

72

4.

Hendaknya

siswa

selalu

mempunyai

kesadaran

untuk

mengamalkan ajaran agamanya sesuai dengan pembelajaran yang didapatkan baik di sekolah maupun di luar sekolah.

73

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful