BAB I Kata Pengantar Atas rahmat Allah SWT kami telah berhasil membuat sebuah makalah dengan judul

Pengetahuan dan Kebenaran untuk tugas pada mata kuliah Filsafat Ilmu di faklutas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Berdasarkan hal tersebut kami membuat makalah ini dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami berdasarkan dari kumpulan buku yang telah kami ambil. Akhir kata kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan atau bimbingan atas pembuatan makalah ini. Jakarta, 2011 Penulis

BAB II
1

ISI Pengetahuan dan Kebenaran

2.1 Definisi Pengetahuan Apa itu pengetahuan (knowledge)? Seberapa yakinkah manusia sebagai “penahu” mengetahui sesuatu? Apakah pengetahuan mengenai sesuatu itu merupakan gambaran lengkap mengenai sesuatu? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bagian dari perkara filsafat pengetahuan. Kita bisa memulai menjawabnya dengan membedakan berbagai pengetahuan yang kita kenal, katakan saja pengetahuan sehari-hari (1), pengetahuan filsafat (2), pengetahuan teologis (3), pengetahuan mistik (4), pengetahuan jurnalistik (5), dan pengetahuan ilmiah (6). Seluruh catatan yang ada di sini masih berupa refleksi pendahuluan, karena itu masih sangat jauh dari memadai. Sumbangan pemikiran dan gagasan Anda melalui kolom tanggapan akan memperkaya refleksi filosofis mengenai pengetahuan. Dalam Encyclopedia of Philosophy, pengetahuan didefinisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Menurut Sidi Gazalba, pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan mengetahui. Mengetahui itu hasil kenal, sadar, insaf, mengerti, benar dan pandai. Pengetahuan itu harus benar, kalau tidak benar maka bukan pengetahuan tetapi kekeliruan atau kontradiksi. Pengetahuan merupakan hasil suatu proses atau pengalaman yang sadar. 1. Jenis Pengetahuan 1. Pengetahuan biasa (common sense) yang digunakan terutama untuk kehidupan sehari-hari, tanpa mengetahui seluk beluk yang sedalamdalamnya dan seluas-luasnya.
2

3. bukan hanya untuk digunakan saja tetapi ingin mengetahui lebih dalam dan luas mengetahui kebenarannya. 4. bahwa ia tahu Manusia tidak tahu. sehingga yang dicari adalah sebab-sebab yang paling dalam dan hakiki sampai diluar dan diatas pengalaman biasa. Pengetahuan ini bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemelu kagama. adalah pengetahuan yang tidak mengenal batas. Pengetahuan filsafat. bahwa ia tidak tahu Manusia tidak tahu. 2. tetapi masih berkisar pada pengalaman untuk mengetahui hal yang dianggap penting saja 3.2. bahwa ia tahu Manusia tahu. kalau manusia sudah mengambil kesimpulan dari berbagai pengalamannya bahwa objek yang ingin diketahuinya itu sudah benar-benar diketahui. Pengetahuan agama. Pengetahuan ilmiah atau Ilmu. adalah pengetahuan yang diperoleh dengan carak husus. suatu pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para Nabi dan Rosul-Nya. Hakekat Pengetahuan Ada duateori yang digunakan untuk mengetahui hakekat Pengetahuan: 3 . Pengetahuan Ilmiah Adapun berbagai Pengertian Ilmu dapat dibedakan menjadi beberapa bagian diantara adalah : a. Gejala Mengetahui Gejala mengetahui manusia dapat dikelompokkan sebagai berikut : • • • • Manusia tahu. bahwa ia tidak tahu. Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh manusia itu sebenarnya baru ada.

manusia diajarkan tentang sejumlahp engetahuan baik yang terjangkau ataupun tidakterjangkau oleh manusia. 2. Empirisme. tetapi bersifat personal. teori ini mempunyai pandangan realistis terhada palam. Tokoh yang terkenal: John Locke (1632 – 1704). manusia memperoleh pengetahuan secara tiba-tiba tanpa melalui proses pernalaran tertentu. 4. Pengetahuan pokok adalah jiwa yang mempunyai kedudukan utama dalam alam semesta. Idealisme. George Barkeley (1685 -1753) dan David Hume. Henry Bergson menganggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi. 4. Pengetahuan adalah gambaran yang sebenarnya dariapa yang ada dalam alam nyata. Rasionalisme. Wahyu dalah pengetahuan yang bersumber dari Tuhan melalui hambanya yang terpilih untuk menyampaikannya (NabidanRosul).1. teori ini menerangkan bahwa pengetahuan adalah proses-proses mental/ psikologis yang bersifat subjektif. Sumber Pengetahuan Ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain : 1. Denganintuisi. Tokohnya adalah Rene Descartes (1596 –1650. Realisme. 4 . yaitu yang mengetahui (subjek). Baruch Spinoza (1632 –1677) dan Gottried Leibniz (1646 –1716). 2. Intuisi. yang diketahui (objek) dan cara mengetahui (pengalaman). Sebenarnya realisme dan idealisme mempunyai kelemahankelemahan tertentu. Pengetahuan merupakan gambaran subjektif tentang sesuatu yang ada dala malam menurut pendapat atau penglihatan orang yang mengalami dan mengetahuinya. Melalui wahyu atau agama. 3. Dalam hal ini harus ada 3 hal. menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman (empereikos = pengalaman). aliran ini menyatakan bahwa akal (reason) merupakan dasar kepastian dan kebenaran pengetahuan. walaupun belum didukung oleh fakta empiris.

persesuaian (agreement). yang berselaras dengan realitas. makaA = C. serta oleh Bertrand Russel pada abad Modern. Teori Korespondensi Teori kores pondensi (Correspondence Theory of Truth) menerangkan bahwa : Kebenaran atau sesuatu keadaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan/ pendapat dengan objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan/ pendapat tersebut. Ukuran Kebenaran a. Aristoteles dan Moore. Pelopornya Plato. Cara berfikiri lmiah yaitu logika induktif menggunakan teori korespondensi ini. Dengan demikian suatu pernyataan dianggap benar. jika pernyataan itu dilaksanakan atas petimbangan yang konsisten dan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya. Logika ini menjelaskan bahwa 5 . situasi (situation). dan truth is consistency. Jika A = B danB = C. Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan dengan fakta. Teori Koherensi Teori koherensi (The Coherence Theory of Truth) menganggap suatu pernyataan benar bila didalamnya tidak ada pertentangan. bersifat koheren dan konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar. Logika matematik yang deduktif memakai teori kebenaran koherensi ini. Dikembangkan lebih lanjut oleh IbnuSina. Kebenarana dalah fidelity to objective reality. Atau dengan bahasa latinnya: edaequatioin telectuset rei (kesesesuaian pikiran dengan kenyataan). truth is a systematic coherence. Rumusan kebenarana dalah. Teori ini dianut oleh aliran realis. Thomas Aquinas di abad skolastik. yang serasi dengan situasi aktual. b. kenyataan (realitas) danputusan (judgement).5. Dengan demikian ada lima unsur yang perlu yaitu pernyataan (statement).

kebenarannya tergantung pada kerja. Tokohnya adalah Charles S. Pierce (1839 –1914) dan diikuti oleh William James dan John Dewey ( 1859 –1952 ). Teori Pragmatisme Teori pragmatisme (the pragmatic theory of truth) menganggap suatu pernyataan. Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan (utility). dapat dikerjakan (workability). Suatu teori dianggap benar apabila telah dibuktikan (justifikasi) benar dan tahan uji (testable). Dalam teori kebenaran agama digunakan wahyu yang bersumber dari Tuhan. Oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutlak/ tetap. Kalau teori ini bertentangan dengan data terbaru yang benar atau dengan teori lama yang benar. kemudian dikembangkan oleh Benedictus Spinoza dan George Hegel. Teori ini digunakan oleh aliran metafisikus-rasionalis dan idealis. jika premis-premis yang digunakan juga benar. realitas dan kegunaan sebagai landasannya. c. Akibat/ hasilyang memuaskan bagi kaumpragmatis adalah : • Sesuai dengan keinginan dan tujuan • Sesuai dan teruji dengan suatu eksperimen • Ikut membantu dan mendorong perjuangan untukt etape ksis (ada). manfaat dan akibatnya. fakta. Teori ini sudah ada sejak pra Socrates. d. 6 . maka teori itu akan gugur atau batal dengan sendirinya. budi. Agama sebagai teori Ilmu Dan Pengetahuan kebenaran Ketiga teori kebenaran sebelumnya menggunakan akal. teori atau dalil itu memiliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupanmanusia.kesimpulan akan benar. Teori ini merupakan sumbangan paling nyata dari para filsup Amerika. dan akibat yang memuaskan (satisfactory consequence).

pada dimensi strukturalnya. Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. ataupun yang non ilmiah lainnya. Di sinilah perlunya pengembangan sikap dan kepribadian yang mampu meletakkan manusia dalam dunianya. sesuatu dianggap benar bila sesuai dan koheren dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak. pada dimensi fenomenalnya yaitu bahwa ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai masyarakat. 7 . sebagai proses dan sebagai produk. Penegasan di atas dapat kita pahami karena apa yang disebut ilmu pengetahuan diletakkan dengan ukuran. manusia dapat mencari dan menemukan kebenaran melalui agama. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahaptahap metode ilmiah. Kedua.Sebagai makluk pencari kebenaran. yaitu bahwa ilmu pengetahuan harus terstruktur atas komponen-komponen. yang diteliti atau dipertanyakan tanpa mengenal titik henti atas dasar motif dan tata cara tertentu. Dengan demikian. termasuk kebenaran. 1982). Apalagi terhadap fakta dan kenyataan yang berada dalam lingkup religi ataupun yang metafisika dan mistik. Ilmiah atau tidak ilmiah kemudian dipergunakan orang untuk menolak atau menerima suatu produk pemikiran manusia. Kriteria ilmiah dari suatu ilmu memang tidak dapat menjelaskan fakta dan realitas yang ada. sedang hasil-hasil temuannya diletakkan dalam satu kesatuan sistem (Wibisono. obyek sasaran yang hendak diteliti (begenstand). Agama dengan kitab suci dan haditsnya dapat memberikan jawaban atas segala persoalan manusia. Pertama. Tampaknya anggapan yang kurang tepat mengenai apa yang disebut ilmiah telah mengakibatkan pandangan yang salah terhadap kebenaran ilmiah dan fungsinya bagi kehidupan manusia.

1985). yaitu kebenaran yang berarti nyata-nyata terjadi di satu pihak. Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau pun langgeng. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral. Jadi ada 2 pengertian kebenaran. hubungan. Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. makna “kebenaran” dibatasi pada kekhususan makna “kebenaran keilmuan (ilmiah)”. Artinya. Proposisi maksudnya adalah makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement. Kebenaran pertama-tama berkaitan dengan kualitas pengetahuan. dan kebenaran dalam arti lawan dari keburukan (ketidakbenaran) (Syafi’i.BAB III ARTI KEBENARAN 3. sifat. hubungan dan nilai. 1985). Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui. Dalam bahasan ini. hal yang demikian itu karena kebenaran tidak dapat begitu saja terlepas dari kualitas. tak bermuara. dan nilai itu sendiri. sifat atau karakteristik. 1995). 1983). Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif. sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan (Wilardo. dapat melunturkan pengertian kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. setiap pengtahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui sesuatu objek 8 .1 Arti Kebenaran Kata kebenaran dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun abstrak (Hamami. Apabila subjek menyatakan kebenaran bahwa proposisi yang diuji itu pasti memiliki kualitas. Selaras dengan Poedjawiyatna (1987) yang mengatakan bahwa persesuaian antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang disebut kebenaran. Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran (Daldjoeni. Jika subjek hendak menuturkan kebenaran artinya adalah proposisi yang benar . melainkan bersifat nisbi (relatif).

Pengetahuan seperti ini memiliki inti kebenaran yang sifatnya subjektif. Mis alnya. Jika pendapat filsafat itu ditinjau dari sisi lain. Artinya sangat terikat pada subjek yang mengenal. Pengetahuan filsafat adalah sejenis pengetahuan yang pendekatanya melalui metodologi pemikiran filsafat yang bersifat mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran yang analistis. Adapun pengetahuan itu berupa berikut ini: 1. metodologi yang telah mendapatkan kesepakatan di antara para ahli yang sejenis. filsafat matematika atau geometri dari Phytagoras sampai sekarang masih tetap seperti eaktu Phytagoras itu pertama kali memunculkan pendapatnya pada abad VI SM. artinya dengan pendekatan filsafat yang lain sedah dapat dipastikan hasilnya akan berbeda atau bahkan bertentangan atau menghilangkan sama sekali. Dengan demikian. kenbenaran dalam pengetahuan ilmah selalu mengalami pembaharuan sesuai dengan hasil penelitian yang paling akhir dan mendapatkan persetujuan. Maksudnya kandungan kebenaran dari jenis pengetahuan ilmiah selalu mendapatkan revisi yaitu selalu diperkaya oleh hasil penemuan yang paling mutakhir. Dengan demikian. 2. adanya agreement konvensi para ilmuwan sejenis. pengetahuan tahap pertama ini memiliki sifat selalu benar sejauh sarana untuk memperoleh pengetahuan bersifat normal atau tidak ada penyimpangan. Pengetahuan biasa disebut juga Knowledge of the man in the street atau ordinary knowledge atau common sense knowledge.dilihat dari jenis pengetahuan yang dibangun. Sifat kebenaran yang terkandung dalam penegetahuan filsafati adalah absolute intersubjektif. Artinya. 9 . Maksudnya nilai kebenaran yang terkandung jenis pengetahuan filsafat pembenaran dari filsafat selalu merupakan pendapat yang selalu melekat pada pandangan filsafat dari seorang pemikir filsafat serta selalu mendapat kemudian yang menggunakan metodologi pemikiran yang sama pula. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang telah menetapkan objek yang khas dengan menerapkan atau hampiran metodologis yang khas pula. 3. kritis dan spekulatif.

atau keyakinan. kandungan maksud dari ayat kitab suci itu tidak dapat diubah dan sifanya absolut. Akan tetapi. Juka subjek yang berperan maka jenis pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran yang sifatnya subjektif. Artinya. jika seseorang membangunnya melalui indera atau sense experience. Artinya nilai kebenaran dari pnegetahuan yang dikandungnya sangat tergantung pada 10 . pengetahuan intuitif 4. Kebenaran kedua dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuanya itu. Maka pada saat ia membuktikan kebenaran pengetahuan itu harus melalui indera pula. Kebenaran pengetahuan ketiga adalah nilai kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atau ketergantungan terjadinya pengetahuan.4. intuisi. pengetahuan kepercayaan atau pengetahuan otoritatif dan pengetahuan yang lainnya. Jenis pengetahuan menurut kriteria karakteristiknya dibedakan dalam jenis pengetahuan seperti berikut ini: 1. Artinya bagaimana relasi atau hubungan antara subjek dan objek. Implikasi dari penggunaan alat untuk memperoleh pengetahuan melalui alat tertentu akan mengakibatkan karakteristik kebenaran yang dikandung oleh pengetahuan itu akan memiliki cara tertentu untuk membuktikanya. Kebenaran jenis pengetahuan adalah kebenaran pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan agama. Begitu juga dengan cara yang lain misalnya dengan indra kimiawi. pengetahuan indrawi 2. Pengetahuan agama memiliki sifat dogmatis. Implikasi makna dari kandungan kitab suci dapat berkembang secara dinamik sesuai dengan perkembangan waktu. Apakah ia membangun dengan penginderaan atau sense experience. pengetahuan akal budi 3. akal pikiran atau ratio. Artinya pernyataan dalam suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan yang telah tertentu sehingga pernyataan-pernyataan dalam ayat-ayat kitab suci agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk memahaminya itu.

Sifatnya objektif seperti pengetahuan tentang alam dan ilmu-ilmu alam. Teori-teori kebenaran yang telah terlembaga itu seperti berikut: 1. Plato melalui metode dialog membangun teori pengetahuan yang cukup lengkap sebagai teori pengetahuan yang paling awal. Teori kebenaran Sintaksis 5. Teori kebenaran Semantis 6. Teori kebenaran selalu paralel dengan teori pengetahuan yang dibangunnya. Teori kebenaran Pragmatis 4. Dari sini terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang trasenden. Teori Kebenaran Logis yang berlebihan 11 . Hal itu seperti yang dikemukakan seorang filusuf abad XX Jaspers yang dikutip oleh Hamersma (1985) mengemukakan bahwa sebenarnya para pemikir sekarang ini hanya melengkapi dan menyempurnakan filsafat plato dan filsafat Aristoteles. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan manusia yang transenden. Teori kebenaran Koherensi 3. Sejak itu teori pengetahuan berkembang terus dengan mendapatkan penyempurnaan sampai sekarang.subjek yang memiliki pengetahuan itu atau jika objek yang berperan . artinya tidak henti dari kebenaran itu terdapat diluar jangkauan manusia.2 Teori Tentang Kebenaran Dalam perkembangan pemikiran filsafat perbincangan tentang kebenaran sudah dimulai sejak Plato. kemudian diteruskan oleh Aristoteles. Meskipun demikian. Teori Kebenaran Non-Deskripsi 7. Teori kebenaran Korespondensi 2. apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran mungkin suatu saat akan hanya pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang lebih jati lagi dan demikian seterusnya.dengan kata lain. keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. 3.

Teori-teori di atas akan dijelaskan secara rinci pada uraian berikut: 1. atau antara pertimbangan (judgement) dan situasi yang pertimbangan itu berusaha untuk melukiskan. secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut (Suriasumantri. 1990). ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan. oleh karena atau kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yang sudah ditetapkan atau diingkari. Sekiranya orang lain yang mengatakan bahwa “kota Yogyakarta berada di pulau Sumatra” maka pernnyataan itu adalah tidak benar sebab tidak terdapat obyek yang sesuai dengan pernyataan tersebut. 1987). Teori Kebenaran Korespondensi Ujian kebenaran yang dinamakan teori korespondensi ini adalah teori yang paling diterima secara luas oleh kelompok realis. maka pertimbangan itu salah (Jujun. yakni kota Yogyakarta memang benar-benar berada di pulau Jawa. 2. 1990). karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu (Titus. Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri. Teori Kebenaran Koherensi Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar (Jujun. Menurut teori koresponden. 1990). Dalam hal ini maka secara faktual “kota Yogyakarta bukan berada di pulau Sumatra melainkan di pulau Jawa”. maka pertimbangan ini benar. artinya pertimbangan adalah benar jika 12 . Jadi. Menurut teori ini. kebenaran adalah kesetiaan kepada realita obyektif (fidelity to objective reality). Misalnya jika seorang mahasiswa mengatakan “kota Yogyakarta terletak di pulau Jawa” maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual. Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta. jika tidak.

Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yangberjudul “How to Make Ideals Clear”.I. yaitu yang koheren menurut logika. Misalnya. Lewis (Jujun. Bradley dan Royce memperluas prinsip koherensi sehingga meliputi dunia. Kelompok idealis. seperti Plato juga filosof-filosof modern seperti Hegel. dengan begitu maka tiap-tiap pertimbangan yang benar dan tiap-tiap sistem kebenaran yang parsial bersifat terus menerus dengan keseluruhan realitas dan memperolah arti dari keseluruhan tersebut (Titus. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. dapat ditarik kesimpulan yang menyalahi tiap kebenaran aritmatik tentang angka apa saja. maka tanpa melakukan kesalahan lebih lanjut. ia mengatakan bahwa koherensi yang sempurna merupakan suatu idel yang tak dapat dicapai. George Hobart Mead (1863-1931) dan C. 1987). Teori Kebenaran Pragmatis Teori pragmatik dicetuskan oleh Charles S.C Ewing (1951:62) menulis tentang teori koherensi. 1990) 13 .pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya. Ahli-ahli filasafat ini di antaranya adalah William James (1842-1910). yakni persetujuan antara suatu perkembangan dan suatu situasi lingkungan tertentu. Sebagaimana pendekatan dalam aritmatik. Seorang sarjana Barat A. bila kita menganggap bahwa “semua manusia pasti akan mati” adalah suatu pernyataan yang benar. Meskipun demikian perlu lebih dinyatakan dengan referensi kepada konsistensi faktual. John Dewey (1859-1952). Jika kita menganggap bahwa 2+2=5. sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama. akan tetapi pendapat-pendapat dapat dipertimbangkan menurut jaraknya dari ideal tersebut. dimana pernyataan-pernyataan terjalin sangat teratur sehingga tiap pernyataan timbul dengan sendirinya dari pernyataan tanpa berkontradiksi dengan pernyataan-pernyataan lainnya. maka pernyataan bahwa “si Hasan seorang manusia dan si Hasan pasti akan mati” adalah benar pula. 3.

kemungkinan dikerjakan (workability) atau akibat yang memuaskan (Titus. 1990). Bagi mereka ujian kebenaran adalah manfaat (utility). Akan tetapi karena kita dengan situasi yang sebenarnya. koherensi. Sehingga dapat dikatakan bahwa pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Secara historis pernyataan ilmiah yang sekarang dianggap benar suatu waktu mungkin tidak lagi demikian. disebabkan perkembangan ilmu itu sendiri yang menghasilkan pernyataan baru. Dihadapkan dengan masalah seperti ini maka ilmuan bersifat pragmatis selama pernyataan itu fungsional dan mempunyai kegunaan maka pernyataan itu dianggap benar. Pegangan pragmatis adalah logika pengamatan dimana kebenaran itu membawa manfaat bagi hidup praktis (Hadiwijono. intelektualisme dan rasionalisme. dan pragmatisme) itu lebih bersifat saling menyempurnakan daripada saling bertentangan. Teori Kebenaran Sintaksis 14 . 1987). kebenaran adalah persesuaian yang setia dari pertimbangan dan ide kita kepada fakta pengalaman atau kepada alam seperti adanya. Tetapi kriteria kebenaran cenderung menekankan satu atu lebih dati tiga pendekatan (1) yang benar adalah yang memuaskan keinginan kita. 1987). Kriteria pragmatisme juga dipergunakan oleh ilmuan dalam menentukan kebenaran ilmiah dalam prespektif waktu. 1980) dalam kehidupan manusia. sekiranya pernyataan itu tidak lagi bersifat demikian. maka pernyataan itu ditinggalkan (Jujun. 4. maka teori tersebut dapat digabungkan dalam suatu definisi tentang kebenaran. (3) yang benar adalah yang membantu dalam perjuangan hidup biologis. Oleh karena teori-teori kebenaran (koresponden. maka dapat diujilah pertimbangan tersebut dengan konsistensinnya dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang kita anggap sah dan benar.Pragmatisme menantang segala otoritanianisme. demikian seterusnya. (2) yang benar adalah yang dapat dibuktikan dengan eksperimen. atau kita uji dengan faidahnya dan akibat-akibatnya yang praktis (Titus.

Teori Kebenaran Non-Deskripsi Teori kebenaran non-deskripsi dikembangkan oleh penganut filsafat fungsionalisme karena pada dasarnya suatu statemen atau pernyataan itu akan 15 . Menurut teori kebenaran semantis bahwa suatu proporsisi memiliki nilai benar ditinjau dari segi arti atau makna. suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan itu mengikuti aturan-aturan sinaksis yang baku atau apabila proporsisi itu tdak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang diisyaratkan proporsisi itu tidak mempunyai arti. 6. teori ini memiliki tugas untuk menguak kesyahan proporsisi dalam referensinya. Oleh karena itu. Teori kebenaran emantis sebenarnya berpangkal atau mengacu pada pendapat Aristoteles sebagaimana yang dgambarkan oleh White (1978) seperti berikut ini: “To say of what is that is or of what is not. Selain itu juga arti yang dikemukakan itu memiliki arti yang bersifat definitive (arti yang jelas dengan menunjuk cirri yang khas dari sesuatu yang ada). Dengan demikian. is true”. terutama yang bgitu ketat terhadap pemakaian gramatikal. Arti ini menunjukkan makna yang sesungguhnya dengan menunjuk pada referensi atau kenyataan. 5.Para penganut teori kebenaran sintaksis berpangkal tolak pada keteraturan sintaksis atau garamatika yang dipakai ole suatu pernyataan atau tata bahasa yang melekatnya. Dengan demikian. Teori Kebenaran Semantis Teori kebanaran semantis dianut oleh faham filsafat Bertrand Russel sebagai kokoh pemula dari filsafat Analitika Bahasa. Teori ini berkembang diantara para pilsuf analisa bahasa. seperti Friederich Schleiermacher (1768-1834). Atau mengacu pada teori tradisional korespondensi yang mengatakan: “ …that truth consists in correspondence of what is said and what is fact. Apakah proporsisi yang merupakan pangkal tumpunya inti mempunyai pengacu (referent) yang jelas. teori kebenaran semantik menyatakan bahwa proporsisi itu mempunyai nilai kebenaran jika proporsisi itu memiliki arti.

Teori Kebenaran Logis yang berlebihan Teori ini dikembangkan oleh kaum Positivistik yang diawali oleh Ayer. Hal yang demikian itu sesungguhnya karena suatu pernyataan yang hendak dibuktikan nilai kebenaranya sebenarnya telah merupakan fakta atau data yang telah memiliki evidensi. Artinya. pernyataan yang hendak dibuktikan kebenaranya memiliki derajat logic yang sama dan masing-masing saling melingkupinya. 1984). Pada dasarnya menurut teori kebenaran ini adalah bahwa problem kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja. It is true that not many people are likely to do that “is away of agreeing with the opinion that not many people are likely to do that anda not a way of talking about the opnion . dan semua orang sepakat sehingga apabila kita membuktikanya lagi hal yang demikian itu hanya merupakan bentuk logis yang berlebihan. objek pengetahuan itu sendiri telah menunjukkan kejelasan dalam dirinya sendiri (Gallagher.mempunyai nilai benar yang sangat tergantung peran dan fungsi pada pernyataan itu. much less of talking about the sentence used to express the opinion. Dengan demikian . 7. Memiliki pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa pengetahuan akan memiliki nilai banar sejauh pernyataan itu memiliki fungsi yang sangat praktis dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan itu juga merupakan kesepakatan bersama untuk menggunakan praktis dalam kehidupan sehari-hari. 16 . dan hal ini akibatnya merupakan suatu pemborosan karena pada dasarnya apa. memberikan informasi yang sama. sesungguhnya setiap proporsisi yang bersifat logic dengan menunjukkan bahwa proporsisi itu mempunyai isi yang sama. White (1978) menggambarkan tentang kebenaran sebagaimana dikemukakanya berikut ini: “….to say.

Maksudnya. Ilum-ilmu kealaman pada umumnya menuntut kebenaran korespondensi karena fakta-fakta objektif sangat dituntut dalam pembuktian terhadap setiap proposisi atau pernyataan (statement) .3. pada dasarnya kebenarana dalam ilmu dapat digolongkan dalam dua jenis teori yaitu teori kebenaran koepondensi atau teori kebenaran kohensi. Prosedur baku yang harus dilalui adalah tahaan-tahapan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah. ilmu-ilmu social. yang pada hakikatnya berupa teori. Kebanaran data ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif. Kebenaran yang benar-benar lepas dari keinginan subjek. bahwa kebenaran dari suatu teori atau lebih tinggi dan aksioma atau paradigma. Mengacu pada status ontologisme objek. Akan tetapi. harus didukung oleh fakta-fakta yang berupa kenyataan dalam keadaan objektifnya. Sifat kebenaran ilmu memiliki sifat universal sejauh kebenaran ilmu itu dapat dipertahankan. Ilmu-ilmu tersebut menuntut konsistensi dan keherensi diantara proposisi-proposisi sehingga pembenaran bagi ilmu-ilmu itu mengikat teori kebenaran koherensi. Jadi agar kebenaran tersebut dapat muncul maka harus melalui proses-proses atau suatu prosedur. Pernyataan tersebut karena kebenaran ilmu harus selalu merupakan kebenaran 17 . Hal yang cukup penting dan perlu mendapatkan perhatian dalam kebenaran ini adalah kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan dan konvensi dari para ilmuwan di bidangnya. Selain itu ilmu menetapkan langkah-langkah ilmiah sesuai dengan objek yang dihadapinya itu. adalah setiap ilmu secara tegas menetapkan jenis objek secara ketat apakah objek itu berupa hal konkrit atau abstrak. Kenyataan yang dimaksud adalah kenyataan yang berupa suatu dapat dipakai sebagai acuan atau kenyataan yang pada mulanya merupakan objek dalam pembentukan pengetahuan ilmiah itu. Maksudnya. melalui metodologi ilmiah yang baku sesuai dengan sifat dasar ilmu. ilmu logika dan matematika.3 Sifat Kebenaran Ilmiah Suatu kebenaran ilmiah lahir dari hasil penelitian ilmiah. berbeda dengan ilmu-ilmu kemausiaan.

Kebenaran yang lama harus diganti oleh penemuan baru atau keduaduanya berjalan bersama dengan kekuatanya atas kebenaranya amasing-masing . Konfirmasi kemungkinan 18 .1 Cara Untuk Menemukan Kebenaran Ilmiah Untuk menentukan kebenaran Ilmiah (AR-lacey) adalah: 1. 2. Contoh yang lain adalah tentang peralihan teori tentang pusat alam raya dari bumi nmenjadi matahari atau bahkan teori baru yang menunjukkan bahwa pusat alam raya pada pusat galaksi bimasakti. Contoh kasus yang terjadi adalah teori geometri. Falsification/operasionalm 6. Menemukan kebenaran dari masalah 2. Pengamatan dan eksperimen 5. Apabila terdapat hal semacam ini. diperlukan suatu penelitian yang mendalam apabila hasilnya berbeda. Euklides dan teori geometri. Metode Hipotetico-dedukatif 4. Reinnan yang bersama-sama dengan Labocevsky tentang jumlah besar 3 sudut dari suatu segitiga.yang disepakati dalam konfensi sehingga keuniversalan sigat ilmu harus selalu harus masih dibatasi oleh penemuan baru atau penemuan lainnya yang hasilnya menolak pertemuan terdahulu atau bertentangan sama sekali. Pengamatan dan teori 3.

pragmatis. Teoriteori tersebut mencoba untuk menjelaskan tentang apa itu kebenaran. dan kebenaran logis yang berlebihan. semantis. non-deskripsi. 19 . koherensi. Teori-teori kebenaran ada tujuh.BAB IV KESIMPULAN Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaakan oleh manusia serta proses atau prosedur suatu penelitian ilmiah. untuk membuktikan kebenaran ilmiah dari suatu pernyataan ilmiah harus sesuai dengan sifat dasar metodologis yang digunakan dan sangat bergantung pada konvensi serta peran masyarakat dalam menentukan karakteristik kebenaran ilmiah tersebut. sintaksis. Dalam teori keilmuan. yakni korespondensi. Kebenaran ilmiah bersifat obyektif dan universal.

Gramedia. Jakarta. Bulan Bintang. 1995. Conteporary Theories of Education. I. Filsafat Saints & Bioetika. Kneller. Richard Pratte. 1951. Jakarta. Yogyakarta. 1995. Sari Sejarah Filsafat Barat II. 1951. Intext International Publisher. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. Harold H. Banjarmasin. Rapar. Jujun S. Living Issues in Philasophy. Persoalan-Persoalan Filsafat. Pengantar ke IImu dan Filsafat. _______________________. Scranton. 1990. M.. J. Jakarta.K. New York. Yogyakarta. dkk. London. 2008. 20 . Syafi’i. 1977. Movement of Thought in Modern Education. H. 1996. I.Si. Filsafat kehidupan (Prakata). Donald. Terj.DAFTAR PUSTAKA Awing. 1987. Tahu dan Pengetahuan. Horper and Brothers. The Fundamental Questions of Philosophy. 1985. 1987. Pengantar Filsafat. Kanisius. Rasyidi. George F. Arti Perkemabangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte. J. W. Bina Aksara. Yogyakarta. Bumi Aksara. Filsafat Ilmu. Pengantar Filsafat. Gadjah Mada Univercity Press.. Sebuah Pengantar Populer. Poedjawijatna. M. 1984 Koento. H. 1982. Jakarta.R. Four Philosophies and Their Practice in Education and Religion. Butler. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNLAM. Dharmono.C. Ilmu dalam Prespektif. 1980. Jakarta. A. Sumiasumantri (ed). Burhanuddin Salam. Bumi Aksara. Titus.H. Routledge and Kegan Paul. New York: John Witey and Sound. Kanisius. Hadiwijono.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful