Kodifikasi Hadis: Sebuah Telaah Historis

Abstrak,Nurun Najwah.Orisinalitas dan otentitas hadis sebagai sesuatu yang valid dari Nabi sering dipersoalkan para Inkarus-sunnah maupun Orientalis. Terlambatnya proses kodifikasi hadis dari masa Nabi, termasuk di antara dasar argumen penolakan mereka terhadap hadis. Tulisan ini mencoba menjawab persoalan tersebut, dalam tinjauan historis. Ternyata dapat dibuktikan bahwa penulisan hadis sudah ada dan banyak dilakukan--ada 52 sahabat--pada masa Nabi, hanya belum seluruhnya ditulis, karena adanya alasan-alasan yang argumentatif. Adanya al-Sahifah al-Sahihah (pertengahan abad I H) dan Nuskhah Suhail ibn Shalih (sepertiga awal abad 2 H), sebagai bukti sudah adanya tulisan-tulisan masa awal. Terjaganya tulisan-tulisan awal dengan dinukilnya tulisan-tulisan tersebut secara kitabah¶maupun oral transmission oleh generasi berikut dengan metode kutipan--yang bisa diandalkan--dan dengan metode komparatif sampai terkodifikasinya hadis secara resmi dan serentak, abad II-III H, juga sebagai bukti lain tidak perlunya meragukan orisinalitas seluruh tulisan hadis. I. Pendahuluan Peran hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam yang diakui oleh mayoritas madhhab, tidak dapat dinafikan. Terlebih banyak nas al-Qur¶an menegaskan tentang itu, seperti dalam Q.S. alHashr (59): 7; al-Nisa>¶ (4): 80,; al-Ahzab (33): 21, dan lain sebagainya. Hadis memang diperlukan untuk menjelaskan, dan menegaskan apa yang tertuang secara global dalam alQur¶an. Ada satu hal yang perlu dicatat, bahwa keberadaan hadis jelas berbeda dengan al-Qur¶an. Untuk kasus al-Qur¶an, hampir bisa dikatakan tidak ada tenggang waktu antara masa turun, penulisan dan kodifikasinya, bahkan Rasul sendiri telah menunjuk beberapa sahabatnya menjadi penulis wahyu. Sementara untuk hadis, kodifikasi hadis secara resmi, massal dan serentak -khususnya Kutub al-Sittah-- memiliki rentang yang cukup panjang dengan masa Nabi. Realitas tersebutlah yang mencuatkan pandangan beberapa pihak untuk mempersoalkan orisinalitas dan otentitas hadis Nabi. Oleh karena itu, dalam artikel ini penulis akan mengemukakan bagaimana dan kapan sebenarnya hadis mulai ditulis untuk kemudian dikodifikasikan dalam sebuah kitab. Berapa lama diperlukan untuk mentransmisi ³hadis´ dalam bentuk ³laporan tertulis´ qaul, fi¶il dan taqrir Nabi, sehingga akan dapat menampakkan perlu tidaknya mempersoalkan otentitas dan orisinalitas hadis Nabi.

B. Sekitar Penulisan Hadis 1. Masa Nabi dan Sahabat Tentang penulisan hadis pada masa awal, ada tiga pendapat yang berkembang. Pertama, mereka yang berpendapat bahwa masa Nabi dan sahabat, tidak ada tulisan ataupun catatan sama

sekali, sehingga tidak ada bukti tertulis yang diketahui para tabi¶in tentang hadis Nabi. Penulisan dan kodifikasi hadis baru dilakukan jauh setelah itu, yakni masa para tabi¶in, itupun atas perintah penguasa µAbbasiyyah (µUmar ibn µAbdul µAziz). Hal ini terbukti, tidak adanya bukti tertulis dari Nabi atau sahabat yang asli. Pandangan ini dipegangi kelompok yang mempersoalkan orisinalitas hadis Nabi. Kedua, pendapat yang dikemukakan Jumhur Ulama Hadis Sunni, yang menyatakan bahwa penulisan hadis sejak masa Nabi sudah dilakukan, hanya bersifat perseorangan, yang ditulis para sahabat tertentu untuk dirinya sendiri. Mereka berpandangan, tertundanya penulisan, kompilasi dan kodifikasi hadis, karena beberapa hal; yakni, minimnya sarana tulis dan kemampuan untuk menulis dengan baik, hafalan para sahabat yang kuat dan larangan Nabi untuk menulis hadis. Ketiga, pendapat yang menyatakan penulisan hadis sudah marak pada masa Nabi --meski tidak semua hadis sudah selesai ditulis--bahkan tercatat ada 52 sahabat yang memiliki tulisan Hadis, yang ini menjadi rintisan kodifikasi hadis. Argumen yang mereka pegangi adalah tradisi tulis menulis sudah ada bahkan telah marak pada masa Nabi, sebagai bukti : (I) Banyaknya penulis wahyu, mencapai 40 0rang (ii) Adanya penulis resmi untuk kenegaraan, seperti surat menyurat dan perjanjian-perjanjian (iii) Adanya izin Nabi yang membebaskan tawanan perang Badr dengan ditukar mengajar baca tulis pada 10 orang (iv) Adanya Hadis Riwayat Abu Daud, yang artinya ³ Mengapa engkau tidak mengajar wanita itu mengobati cacar, sebagaimana engkau mengajari mereka menulis?´ Dari tiga pendapat di atas, penulis cenderung mengikuti pandangan yang menyatakan bahwa penulisan hadis sudah ada sejak masa Nabi dan banyak dilakukan oleh para sahabat, sebagaimana tercatat dalam sejarah adanya manuskrip-manuskrip peninggalan abad 1 H dan banyaknya riwayat sahabat dan tabi¶in yang menyatakan pernah melihat dan meriwayatkan hadis-hadis dari tulisan para sahabat. Hanya saja, memang seluruh hadis Nabi belum tertulis dan tercatat pada masa awal secara tuntas. Dengan demikian, bila sejak masa Nabi tradisi tulis menulis sudah marak dan banyak sahabat yang menulis hadis, maka adanya alasan belum tertulisnya dan terkodifikasinya hadis secara tuntas masa Nabi atau alasan tertundanya kodifikasi hadis bukan karena kelangkaan sarana tulis, minimnya kemampuan menulis dan rendahnya kualitas tulisan mereka. Argumen yang mendasari adalah: pertama, karena sejarah telah mencatat keberhasilan penulisan al-Qur¶an secara tuntas dan pengkodifikasiannya masa sahabat. Kedua, seandainya para sahabat memiliki kemauan menulis hadis secara total, pasti tidak ada kesulitan untuk mewujudkannya, sebagaimana terhadap al-Qur¶an. Kalau para sahabat terbatas kemampuannya dalam menulis, mustahil al-Qur¶an selesai ditulis. Ketiga, untuk apa dilarang menulis hadis, kalau mereka tidak dianggap tidak memiliki kemampuan. Adanya larangan melakukan sesuatu berarti pula penegasan adanya kemungkinan besar sesuatu itu dapat dilakukan. Dengan demikian, adanya anggapan bahwa mayoritas umat pada saat itu minim kemampuan tulis dan baca serta lebih mengandalkan kemampuan verbal atau kekuatan ingatan, bukan berarti me-generalisasikan semua sahabat dalam taraf yang sama dari kapasitas kekuatan hafalan dan bahwa tidak ada yang

Inggris. karena para transmitter hadis memiliki metode komparasi dalam meriwayatkan hadis. Abu Sa¶id al-Khudhriy. namun bukan berarti bahwa realitas tersebut menafikan otentisitas suatu hadis. Oleh Azami. pertama dalam bentuk naskah yang lengkap. tabi¶in atau tabi¶i al. Adapun yang kedua. Dua naskah sahifah ini ditemukan oleh Muhammad Hamidullah di Berlin dan Damaskus. yang itu berarti pada pertengahan abad I H telah ada upaya kompilasi hadis. Zaid ibn Thabit. ada beberapa riwayat hadis yang menyatakan kebolehan dan larangan menulis Hadis yang disandarkan pada qauliyyah Nabi. 59 H). dan para murid-nyalah yang kemudian menukilkannya. Naskah ini merupakan naskah yang diterima Suhail dari ayahnya Abu Salih dan ayahnya menerima dari Abu Hurairah. Adapun catatan-catatan asli dari para sahabat. Di antara tulisan-tulisan hadis masa awal yang sampai kepada kita. Abu Musa al-Ash¶ari. Abu Hurairah. Anas bin Malik. Abu Bakar al-Siddiq. Di antara 52 sahabat yang memiliki catatan hadis ialah: Abu Umamah al-Bahili. Abu Rafi¶. al-Barra¶ bin Azib. Ali bin Abi Talib. dalam bentuk periwayatan dari sahabat. seperti: al-Sahifah al-Sahihah. Usaid bin Hudair. masa-masa awal Islam. 2. ialah Nuskhah Suhail ibn Salih (w. diedit dan diterbitkan beserta Disertasi Doktornya di Universitas Cambridge. 59 H). Sahifah ini memiliki nilai sejarah. dan paling banyak kita dapatkan bahwa catatan-catatan mereka telah dikutip oleh para murid dan seterusnya yang mereka kemudian mengkodifikasikannya dalam kitab hadis. sebagian besar tidak dapat kita temukan aslinya. Sebagai bukti yang lain yang menguatkan. dan Imam Bukhari menukil sebagian besar hadis dalam al-Shahifah al-Shahihah.tabi¶in yang menyatakan pernah melihat dan meriwayatkan dari tulisan dan catatan sahabat dan tabi¶in dari sahabat. sahabat yang menyertai Nabi selama 4 tahun. mengambil dua bentuk. dan ini dapat dibuktikan bahwa seringkali dalam tema tertentu yang sama . Abu Ayyub al-Ansari. Kebolehan dan Larangan Menulis Hadis Nabi Masalah boleh tidaknya menulis hadis Nabi. Damaskus.Ubay bin Ka¶ab. Naskah ini ditemukan dalam bentuk manuskrip oleh Muhammad Mustafa Azami pada tahun 1966 di Perpustakaan al-Zahiriyyah. Jabir bin µAbdullah. 138 H).bisa menulis dengan baik. Hal ini memperkuat bukti bahwa hadis sudah ditulis sejak dini. Jarir bin µAbdullah al-Bajali. Adapun naskah awal yang lain. Dalam hal ini ternyata. naskah tersebut diteliti. mengingat adanya anggapan hal tersebut sebagai salah satu faktor tertundanya kodifikasi hadis. . µAbdullah ibn µAbbas. karya Hammam bin Munabbih (40-101 H). Imam Ahmad bin Hanbal menukil semua hadis dari al-Sahifah alSahihah(138 hadis) tersebut dalam Musnad Ahmad. dsb. merupakan problem yang menarik untuk dikaji. µUthman bin Affan. Meski catatan atau tulisan tentang hadis dari para sahabat tidak kita temukan bentuk aslinya. sahifah ini berisi kompilasi hadis yang diambil Hammam dari catatan Abu Hurairah (w. µAbdullah ibn µUmar. Abu Shah. Jabir bin Samurah. Abdullah bin µAmr bin µAs. karena Hammam dipastikan bertemu sebelum meninggalnya Abu Hurairah (w. kita menemukan sumber jalur yang berbeda yang jumlahnya mencapai puluhan bahkan ratusan. µAishah. Abu Bakrah al-Thaqafi.

untuk menulis hadis-hadis . Nabi diberitahu bahwa banyak sahabat menulis hadis. hendaklah ia menghapusnya´. Abu Hurairah dan Yazid bin Thabit.a. (b) Melalui µAbd al-Rahman bin Zaid bin Aslam dari Zaid bin Aslam dari µAta¶ bin Yasar dari Abu Sa¶id al-Khudhriy: Artinya: ³Kami pernah minta izin Nabi SAW.Abu Sa¶id : (a) melalui Hammam dari Zaid bin Aslam dari µAta¶ bin Yasar dari Abu Sa¶id alKhudhriy dari Nabi bersabda: Artinya: ³Jangan kamu tulis ucapan-ucapanku.. melarang penulisan hadis. . Abu Hurairah berkata. Dalam jalur ini. yakni Abu Sa¶id al-Khudhriy. Nabi lalu bersabda: Artinya: ³Kitab selain kitab Allah? Tahukah kalian? Tidaklah tersesat umat-umat sebelum kalian. beliau bertanya: Apa yang kalian tulis? Hadis-hadis yang kami dengar dari engkau. 2). ada rawi yang dinilai lemah.yang meriwayatkan bahwa Nabi SAW. sahih al-isnad. Abu Hurairah Melalui Abd al-Rahman bin Zaid bin Aslam dari Zaid bin Aslam dari µAta¶ bin Yasar dari Abu Hurairah. maka beliau naik ke mimbar dan setelah membaca hamdallah. yakni µAbd al-Rahman. Larangan Menulis Ada tiga sahabat --yang populer-. dan barang siapa menulis ucapan-ucapanku selain alQur¶an. tetapi beliau tidak mengizinkannya ³. Jalur ini dinilai. Ada dua jalur sanad yang melalui sahabat Abu Sa¶id al-Khudhriy: 1).

1).´ 2). Nabi pun menunjuk mulutnya. Sanad ini lemah. µAbd al-Rahman. Zaid lalu mengatakan Rasul melarang untuk menulis hadis. tetapi kaum Quraisy menegurnya dengan alasan ³Engkau menulis segala apa yang Engkau dengar dari Nabi padahal Nabi manusia biasa yang berbicara pada saat marah dan lega´.kecuali karena kitab-kitab yang mereka tulis bersanma Kitabullah´. Mutalib berkata Zaid bin Thabit datang kepada Mu¶awiyyah. Mu¶awiyyah lalu menyuruh pembantunya menuliskan hadisnya. karena ada rawi yang da¶if. ³Kami mendengar banyak hal dari engkau apakah kami boleh menuliskannya? Jawab Nabi : Artinya: ³Tulislah dan tidak apa-apa´. 3). menyatakan bahwa ia menulis segala yang didengar dari Nabi dan menghafalkannya. b. dan ditanya tentang suatu hadis. di antaranya dari µAbdullah ibn µAmr ibn µAs. Kebolehan Menulis Ada beberapa riwayat yang menyatakan kebolehan menulis hadis-hadis Nabi. µAbdullah bin µAmr bin µAs µAbdullah bin µAmr bin µAs. Rafi¶ ibn Khudaij. karena Mutalib tidak langsung mendengar dari Zaid. tidaklah keluar dari mulut ini kecuali yang haq (benar). berdasar pentakhrijan para ulama. µAbdullah ibn µAmr ibn µAs lalu melapor kepada Nabi. Riwayat ini dianggap lemah. seraya menyatakan: Artinya: ´Tulislah. satu jalur sanad dari Abu Sa¶id melalui Hammam yang kualitasnya sahih. Zaid bin Thabit Dari Mutalib bin µAbdullah bin Hantab.Rafi¶ibn Khudaij Rafi¶ bertanya kepada Nabi. dua jalur lain melalui µAbdal-Rahman yang dianggap da¶if dan satu jalur riwayat Zaid dianggap tidak muttasil. . Abu Hurairah dan Ibnu Abbas. Demi Zat yang menguasai jiwaku. Dari beberapa jalur riwayat di atas.

(3) Larangan berlaku bagi orang yang dapat diandalkan hafalannya dan dikhawatirkan memiliki ketergantungan dengan tulisan. Abu Hurairah Pada peristiwa Fath al-Makkah. yang setelah itu kalian tidak tersesat´. Nabi lalu menyuruh para sahabat menuliskan: Artinya: ³Tuliskanlah untuk Abu Shah´. Ibnu µAbbas Bahwa tatkala Nabi sakit sangat parah. Sedang kebolehan berlaku bagi orang yang tidak bisa . Beliaupun bersabda: ³Tinggalkan aku. Umar berkata. sesungguhnya Nabi sedang sakit dan mereka telah memiliki alQur¶an.3). beberapa ulama menawarkan solusi untuk memahaminya: (I) Hadis yang melarang penulisan hadis (hanya satu hadis yang sahih) mauquf µalaih atau ditangguhkan. sehingga dapat diambil kehujjahannya. Nabi berpidato di hadapan umat Islam. 4). Berangkat dari beberapa riwayat yang muta¶aridah atau kontradiktif tersebut. dan terjadilah kegaduhan. tidak seyogyanya kalian bertikai di depanku. beliau berkata: Artinya: ´Bawakan kepadaku suatu kitab. bahwa larangan terhadap penulisan hadis berlaku khusus bila penulisan hadis dan al-Qur¶an dalam satu naskah sehingga menjadikan kekhawatiran bercampurnya tulisan hadis dan al-Qur¶an.´ Berdasar penelitian para ulama hadis beberapa riwayat di atas. maka larangan tersebut tidak berlaku lagi. sehingga tidak dijadikan hujjah. (2) Dengan metode al-jam¶u wa al-taufiq. Sehingga ketika ³illat´ yang tersirat tersebut tidak ada. Aku akan menuliskannya untuk kalian. ada seorang sahabat dari Yaman bernama Abu Shah meminta kepada Nabi agar dituliskan pidato Nabi. khususnya yang berasal dari Sahih Bukhari maupun Sahih Muslim berkualitas sahih. Ketika itu. Sehingga para sahabat berselisih pendapat.

Keesokan harinya beliau memanggilku seraya berkata µWahai puteriku bawalah ke sini tulisan-tulisan hadis yang ada padamu¶. seperti kasus Abu Shah. (ii) Banyaknya naskah yang hilang. Ketiga. karena al-Qur¶an sebagai kajian utama. ketika ada seseorang yang meminta nasehat kepada Ibrahim bin Yazid alTaimy (w. atau ada suatu laporan yang sampai kepada ayah?. ³Ayahku (Abu Bakar al-Siddiq) telah menulis hadis sebanyak 500 buah. sebenarnya mengarah pada realitas kebolehan menulis hadis Nabi. kebolehan bersifat khusus bagi yang mahir baca tulis. µApakah ayah sedang sakit. menghafal. 92 H). karena tidak saja mencakup qauliyyah Nabi. al-Qur¶an. Ibrahim menyatakan ³Jangan engkau abadikan riwayat dariku dengan tulisan´. sebagaimana kasus Abdullah ibn µAmr in µAs. Kemudian beliau membakarnya. semakin memperbesar kuantitas materi hadis yang harus ditulis. secara kuantitas materi hadis relatif jauh lebih banyak dari al-Qur¶an. dan ketika mereka menemukan satu persoalan mereka bisa langsung menyakan dan mendapatkan jawabannya dari Nabi. hanya saja pendapat kedua yang paling menukik dengan mensyaratkan ³illah´ tidak satu naskah dan tidak takut tercampur dengan al-Qur¶an. Adapun tentang persoalan ketiadaan naskah-naskah awal asli yang ditulis para sahabat yang sampai kepada kita. memahami dan mendalami apa yang tertuang dalam sumber utama. taqririyyah. Lalu aku bertanya. Ada beberapa alasan yang mendukung untuk itu: Pertama. Kedua. rusak dan musnah karena rentang masa yang panjang. bukan berarti menggoyahkan keyakinan bahwa mereka pernah menulis hadis Nabi. sebelum wafat beliau meminta tulisan-tulisan miliknya dan membakarnya seraya menyatakan ³Aku khawatir tulisan-tulisan itun dikuasai orang yang tidak bisa menempatkan pada tempatnya´. sengaja dimusnahkan oleh penulisnya karena kekhawatiran tersebarnya periwayatan hadis secara tidak benar. Kemudsian kuambilkan tulisan-tulisan hadis itu dan kuberikan kepada beliau. (4) Bahwa Larangan bersifat umum. fokus utama pada masa-masa awal Islam adalah mengkaji. Sebagaimana riwayat dari µAisyah. bahkan sifat khalqiyyah maupun khuluqiyyah Nabi. Ketiadaan naskah tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor: (i) Tulisan hadis tersebut.mengandalkan hafalannya. Pada suatu malam aku melihat ayahku membalik-balikkan badannya. adanya kekhawatiran tercampurnya tulisan al-Qur¶an dengan hadis. tetapi juga fi¶liyyah.´ Dalam kasus yang sama. maka dapat kita pahami mengapa penulisan hadis secara keseluruhan tidak selesai masa Nabi dan sahabat. Artinya para periwayat hadis dalam mentransmisikan hadis dengan mengkomparasikan periwayat-periwayat yang lain dan selektif terhadap nara sumber . diriwayatkan juga. Terlebih ketika mendapatkan satu realitas bahwa periwayatan hadis bisa dilakukan bil ma¶na juga. Berdasar data-data di atas. segala apa yang diajarkan dan disampaikan Nabi kepada para sahabat telah langsung diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Empat pandangan di atas meskipun agak berbeda. Keempat. (iii) Adanya upaya oral transmission yang dilakukan para periwayat untuk menukil hadis dari catatan tertulis maupun yang tidak dengan metode kutipan yang dapat dipertanggungjawabkan dan komparasi yang selektif. sehingga tidak dikhawatirkan melakukan kesalahan.

(iii) Kutipan langsung dengan membuang bagian yang tidak relevan dengan memberi tanda tiga titik. Kitab al-Sunan wa alAhkam wa al-Qadaya. w. karena aku mengkhawatirkan ilmu itu akan hilang dan lenyap. Jembatan waktu yang kosong antara proses penulisan dan kodifikasi adalah metode referensi atau kutipan yang dipakai. beliau menyatakan: ³Tuliskan kepadaku hadis dari Rasulullah yang ada padamu dan hadis yang ada pada µAmrah (Amrah binti Abdurrahman. Karena aku mengkhawatirkan lenyapnya ilmu itu dan hilangnya para ahli´ dan kepada Abu Bakar Muhammad ibn µAmr ibn Hazm. (2) Sejak abad I H. beliau berkirim surat yang isinya:´ Perhatikanlah hadis Rasulullah SAW. (ii) Mengutip kata per kata dan menambahkan sisi yang dianggap perlu di antara dua kurung. terbukti adanya Kitab Abu Rafi¶. yaitu: (I) Mengutip kata per kata secara langsung. yakni masa Khalifah ke-5 Dinasti µ Abbasiyyah. Dengan demikian. µUmar ibn µAbdul µAziz yang memerintahkan kepada semua gubernur dan ulama di wilayah kekuasaannya untuk mengumpulkan hadis-hadis Nabi.. Keempat metode kutipan tersebut dapat kita cermati dalam kitab-kitab hadis. legal dan kedinasan terhadap ulama yang berada di luar wilayah kekuasaannya.periwayatan. 98 H). C. dengan pertimbangan jabatan khalifah gaungnya lebih besar daripada seorang gubernur. Kodifikasi Hadis secara Resmi Ada beberapa pendapat yang berkembang mengenai kapan kodifikasi secara resmi dan serentak dimulai. Empat metode kutipan yang dipakai diakui secara ilmiah sebagai bukti keabsahan dan kebenaran sumber kutipan.´ Pendapat ketiga ini yang dianut Jumhur Ulama Hadis. yang menyatakan bahwa penulisan hadis telah ada sejak masa Nabi dan kompilasi hadis telah ada sejak awal khalifah Ali bin Abi Thalib (35 H). khalifah memerintah kepada para gubernur dan ulama dengan perintah resmi dan legal serta adanya tindak lanjut yang nyata dari para ulama masa itu untuk mewujudkannya dan kemudian menggandakan serta menyebarkan ke berbagai tempat. penulisan hadis yang sudah ada dan marak tetapi belum selesai ditulis pada .. (1) Kelompok Syi¶ah. ditulis di antara dua tanda kutip. Para ulama telah mengembangkan sistem referensi yang tidak kalah bagusnya dibandingkan dengan metode kutipan yang dikembangkan peneliti modern. yakni atas prakarsa seorang Gubernur Mesir µAbdul µAziz bin Marwan yang memerintahkan kepada Kathir bin Murrah. Kepada Ibnu Shihab al-Zuhri. yang kemudian disanggah Syuhudi Ismail dengan alasan bahwa perintah µAbdul µAziz bin Marwan bukan merupakan perintah resmi. lalu tulislah. mendasarkan pendapat Hasan al-Sadr (1272-1354 H). (3) Sejak awal abad II H. yakni mengambil intisari atau kandungan maknanya saja. (iv) Kutipan tidak langsung. seorang ulama HImsy untuk mengumpulkan hadis.

Baru pada pertengahan abad II H. karena tidak digandakannya hasil kodifikasi Ibn Amr ibn Hazm untuk disebarluaskan ke berbagai wilayah. koleksi acak tanpa sistematisasi bahan (b) berisi hadis yang tercampur dengan keputusan resmi yang diarahkan oleh khalifah. berdasar periwayatan.masa Nabi. meskipun bisa jadi inisiatif tersebut berasal dari ayahnya. sahabat. Adapun siapa kodifikator hadis pertama. Di antara kitab-kitab hadis yang lahir . da¶if) dalam satu kitab. catatan ataupun kitab-kitab hadis yang muncul dapat dikategorikan menjadi dua. karena penulisan tersebut bersifat individual. Demikian pandangan yang dirunut sebagian besar sejarawan dan ahli Hadis. Abdullah ibn Wahb (125-197 H) di Mesir. Namun pendapat ini ditolak µAjjaj al-Khatib. masih berbaurnya berbagai hadis dalam kualitas (sahih. mauquf dan maqtu¶). yakni oleh Khalid bin Ma¶dan (w. Terbukti adanya naskah kompilasi hadis dari abad I H. muncul nama Ibnu Shihab al-Zuhri (w. yakni masa µUmar bin µAbdul¶Aziz. atau tabi¶in tidak tersistematisasi dan merupakan koleksi acak. Rabi¶ bin Sabih (-160 H). ¶Abdullah ibn al-Mubarak (118-181 H) di Khurasan. Muhammad ibni Abdurrahman bin Dzi¶ib (80-158 H) di Makkah. 103 H). yang sampai kepada kita. Meski demikian. 123 H). Sufyan al-Thauri (97-161 H) di Kufah. sebagaimana pernyataannya: ´Umar bin µAbdul µAziz memerintahkan kepada kami menghimpun sunnah. ada juga yang berpendapat bahwa kodifikator hadis sebelum adanya instruksi kodifikasi dari Khalifah Umar ibn µAbdul µAzia telah dilakukan. Khalid telah menyusun kitab pada masa itu yang diberi kancing agar tidak terlepas lembaranlembarannya.´ Kemudian beliau mengirimkan satu buku kepada setiap wilayah yang berada dalam kekuasaannya. ditolak oleh banyak pihak. Malik bin Anas (93-179 H) dan Muhammad bin Ishaq (-151 H) di Madinah. yang mengarah pada sistematisa isi kitab berdasar tematema tertentu. di antara ulama hadis yang telah berkiprah ialah: Abdul Malik bin Abdul Aziz (-150 H) di Makkah. baru diupayakan kodifikasinya secara serentak. Sa¶id bin µArubah (-156 H) dan Hammad ibn Salamah (-167 H) di Basrah. hasan. Abdurrahman bin µAmr al-Auza¶i (88-157 H) di Sham. Jarir ibn Abdul Hamid (110-188 H) di Rayy. resmi dan massal pada awal abad II H. Khalid ibn Jamil al-¶Abd dan Ma¶mar ibn Rashid (95-153 H) di Yaman. IV. meski materi hadis masih berbaur dengan ucapan-ucapan sahabat maupun pendapat-pendapat tabi¶in ( hadith marfu¶. Adapun ulama yang berpandangan Muhammad Abu Bakr ibn Amr ibn Hazm yang mengkodifikasikan hadis pertama. Rasyid Ridha (1282-1354 H) berpendapat seperti itu. Pada awal abad II H. dan hal tersebut telah dilakukan jauh sebelumnya oleh para sahabat. spesifikasi buku. yakni al-Sahifah al-Sahihah. Gubernur Mesir yang pernah mengisyaratkan hal yang sama sebelumnya. Namun ada silang pendapat tentang siapa yang pertama kali menyusun kitab hadis dan mensistemasir sedemikian rupa. Hashim ibnu Bushair (104-183 H) di Wasit. Kitab-Kitab Hadis Awal Semangat ilmiah penulisan dan kodifikasi hadis telah melahirkan berbagai karya yang menghimpun hadis dalam waktu yang berdekatan di wilayah yang berbeda-beda. mengalami perubahan trend. lalu kami menulisnya menjadi beberapa buku. karena beliaulah yang pertama kali mengkompilasikan hadis dalam satu kitab dan menggandakannya untuk diberikan ke berbagai wilayah. (a) berisi catatan hadis an-sich.

Sunan. Satu spesifikasi yang kentara terlihat. mauquf dan maqtu. Ahmad bin. 1980. Kesimpulan Meskipun diakui banyak pihak kodiifikasi hadis secara total memiliki rentang waktu yang panjang dengan masa Nabi. DAFTAR PUSTAKA Al-µAsqalani.. Juz I. t.abad II H. Muhammad µAjjaj. Fath al-Ba<ri.th. Artinya. Yamin. Jakarta: Pustaka Hidayah. Hanbal.dsb. Musnad.. Muhammad Mustafa. Meski hal ini. Pada abad III H. Beirut: Da>r alFikr. kitab al-Muwatta¶ karya Imam Malik termasuk kitab tertua yang berhasil ditemukan. Kairo: Dar al-Ma¶arif. Adanya naskah-naskah awal. Al-Baghdadi. kitab disusun berdasar permasalahan tertentu yang dibagi menjadi bab-bab dan sub-sub bab. Muslim al-Hajjaj. Kairo: Da>r Ihya¶ al-Kutub al-¶Arabiyyah. menjadi indikasi dapat terjaganya hadis ke dalam bentuk tulisan. Sahih Muslim. Al-Khatib. Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi. tidak berlaku untuk semua hadis dalam kitab hadis. Azami. Juz I. Juz XII. Oleh karenanya untuk merujuk sebanyak mungkin satu tema hadis tertentu secara komprehensif adalah dengan mempergunakan sebanyak mungkin informasi dari berbagai kitab hadis qualified. Mustadrak. tetapi filterisasi terhadap µhadis¶ yang diragukan otentitasnya (naqd alhadi>s|) tetap diperlukan. al-Khatib. namun bukan berarti tidak ada tali pengait yang menjembatani keduanya. Dira>sat fi> al-Hadis| al-Nabawi wa Tarikh Tadwinih. 1956. hasan dan da¶if. 1992. Ibn Hajar. Masing-masing kitab memiliki kekhasan yang dimiliki pengarangnya. Mustakhraj. ----------Metodologi Kritik Hadis. 1989. tahqiq Muhammad Fuad al-Baqi. dipisahkan antara hadis marfu¶. V. tahqiq Ahmad Muhammad Shakir. terj. dipisahkan kualitas hadis sahih.. bisa diakui. Taqyid al-¶Ilm. adanya periwayatan dari kitab tertentu yang dikutip oleh banyak orang dan itu disampaikan kepada generasi berikutnya dengan metode referensi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan dengan metode komparasi antar riwayat. Musnad al-Imam Ahmad. walaupun orisinalitas hadis dalam kitab hadis secara umum. A. Sahih. Us}u>l al-Hadis µUlu>muh wa Mus}t}alahuh. 1949 M.p. Damaskus: t. Mustadrak. 1959. ada Kitab Jami¶. Beirut: al-Maktab al-Islami. Juz III. . kodifikasi hadis mengalami masa keemasan dengan munculnya beragam kitab-khususnya Kutub al-Sittah--dengan beragam metode penyusunan. Al-Naisaburi.

Sunan Abu Daud. Hyderabad: Dairah al-Ma¶arif. Sunan al-Darimi. Abu Zakariya Yahya bin Sharaf. Abdullah ibn µAbd.p. Jilid II. Ali Mustafa. Sahih Muslim bi Sharh al-Nawawi. Damaskus: t. Mesir: al-Matba¶ah al-Misriyyah. Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi. Al-Sijistany. 1950. Abu µAbdullah Muhammad bin Ahmad. 1955. Ya¶qub. 1924. Al-Zahabi. Juz I. Kritik Hadis. Juz VIII. Kitab Tadhkirah al-Huffaz. Abu Daud Sulaiman. Rahman.Al-Nawawi. Jakarta: Pustaka Firdaus. Juz I. 1349 H . 1996. .

naskah asli dari sejumlah ¡a¥³fah tersebut tidak ditemukan lagi karena telah ditelan sejarah. Pendahuluan Membahas masalah kodifikasi hadis. namun isinya terhimpun di dalam kitab-kitab hadis terutama di dalam Musnad Ahmad. ulama dan umat Islam pada saat itu.1 Pengumpulan dan penulisan tersebut dilakukan sejak masa sahabat dan tabi¶in yang ditulis di atas ¡a¥³fah-¡a¥³fah. secara kebetulan menemukan ¡a¥³fah ini di dalam dua manuskrip yang serupa di Damaskus dan Berlin.2 Keseluruhan deskripsi di atas merupakan bukti bahwa sahabat telah melakukan penulisan hadis Rasul saw. 2005). Kebenaran adanya ¡a¥³fah ¡adiqah dan ¡a¥³fah-¡a¥³fah lain diakui oleh ucapan Abu Hurairah. Di sini terhimpun seribu hadis Rasulullah saw. namun secara nyata tidak ada perintah secara resmi untuk melakukan penulisan hadis. 1 Ramli Abdul Wahid. h. yang dimaksud dengan kodifikasi hadis secara resmi ialah pengumpulan dan penulisan hadis-hadis atas perintah Khalifah atau penguasa daerah untuk disebarkan kepada masyarakat. 2 Ibid. Abdullah bin Amr menjelaskan bahwa ia menulis sendiri ¡a¥³fah ini.. Isi ¡a¥³fah tersebut secara keseluruhan mirip seperti yang ada dalam Musnad Ahmad dan banyak di antara hadis-hadisnya diriwayatkan dalam ¡a¥³¥ alBukhari pada bab-bab yang berbeda-beda. h. seorang peneliti terkemuka. ¢a¥³fah¡a¥³fah itu telah sampai kepada generasi berikutnya. Walau demikian. namun pengumpulan tersebut cenderung bersifat individual yang diperuntukkan untuk kepentingan masingmasing. (Bandung: Citapustaka Media. Mu¥ammad Humaidullah.KODIFIKASI HADIS SECARA RESMI Oleh : Andi Wiliandi 08 PEDI 1232 A. sahabat . ³tak seorang pun di antara sahabat Rasulullah saw. tabi¶in. 1 sejumlah ¡a¥³fah yang tersisa masih dapat dijumpai lagi. Kondisi ini memicu keterlambatan pembukuan hadis yang dapat diukur dari tenggang waktu masa Rasul.. yang lebih banyak menulis hadisnya daripadaku. kecuali Ibn Amr.. ¢a¥³fah dalam tulisan tangan Abdullah bin Amr tidak ditemui sekarang. Studi Ilmu Hadis. dikarenakan adanya kontroversi antara para sahabat. persis yang diriwayatkan dan dalam ¡a¥³fah Hammam dari Abu Hurairah. ¢a¥³fah ini mempunyai tempat khusus dalam pencatatan hadis karena ¡a¥³fah tersebut telah sampai kepada generasi sekarang dalam keadaan utuh dan selamat. 103. karena dia terus menuis dan aku tidak. Namun disayangkan. 97. Mengingat umat Islam pada masa itu telah memungkinkan untuk menulis hadis.

2 kodifikasi.. kodifikasi hadis secara resmi.dan tabiin yang cukup relatif panjang. 96 H). B. Kodifikasi Resmi Secara etimologi. 1994). kodifikasi diartikan 4 Mu¥ammad Mustafa Azami. C. . 13 H). h. Hadis Nabi. Kamus Arab-Indonesia. Penulisan hadis baru resmi dilaksanakan pada abad ke-2 H. yang hal ini dapat dilakukan dikarenakan kemampuan umat Islam secara teknis telah memungkinkan menuliskan hadis-hadis nabi saw. dan µAbdullah bin µAbb±s (w. hadis-hadis yang menganjurkan dan melarang penulisan hadis serta cara mengkompromikannya. Pencatatan hadis secara pribadi dan bukti-bukti pencatatan hadis zaman awal Islam Mengingat secara individual penulisan telah dilakukan oleh para sahabat sejak zaman Rasul saw. 5 ibid. 68 H).3 Hal tersebut diperintahkan atas dasar beberapa pertimbangan dan faktor-faktor yang mendorong sehingga dilaksanakan penulisan hadis secara resmi pada abad tersebut. jadi tidak ada perintah khusus dari Rasul saw. mencatat (pembukuan). dan Urwah bin Zubair (w. 74 H). 105 H)..6 Penulisan tersebut dilakukan atas dasar keinginan individual dan kepentingan pribadi masingmasing. Abu Sa¶id al-Khudri (w. diantaranya: Abu Ayub al-An¡ari (w. cet. sampai akhir abad pertama Hijriah. dan terakhir jasa µUmar ibn µAbd al-µAz³z dan Ibn Syihab az-Zuhr³ dalam kodifikasi. 132-200. atau dapat juga mengumpulkan undang-undang dan merangkainya atau mengaturnya. 6 Mu¥ammad Mustafa Azami. yang diprakarsai oleh Khalifah µUmar ibn µAbd al-µAz³z yang memerintah pada tahun 99-101 H. Ibrahim bin Yajid (w. h. Al-Munawwir. diantaranya: Aban bin µUsm±n (w. kodifikasi (tadwin) dapat diartikan menulis.7 Secara terminologi. (Yogyakarta: Pustaka Progressif. akan diuraikan beberapa penjelasan : pencatatan hadis secara pribadi dan bukti-bukti pencatatan hadis zaman awal Islam. 93 H). Namun kondisi ini menurut para sarjana dan ilmuan hadis hanya disebarkan lewat mulut ke mulut secara lisan. 52 H).5 Masa tabiin juga terdapat 52 orang yang menuliskan hadis. 7 Ahmad Warson Munawwir. h.9 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. µUmar bin µAbdul µAziz (w. faktor-faktor yang mendorong 3 Ibid. Hadis Nabi dan Kodifikasinya. h. 106. 435.4 Ada beberapa catatan yang mungkin dapat dijadikan bukti bahwa pada masa awal Islam telah dilakukan penulisan hadis. 3 sebagai menghimpun syariat-syariat dalam undang-undang dasar8. (Jakarta: Pustaka Firdaus. sehingga dapat ditelusuri ketika masa sahabat yang tercatat ada 50 orang sahabat yang menulis hadis. 1984). I. Ab Bakar as-¢idd³q (w. 201-234. Dalam makalah singkat ini. 101 H)..

Dalam catatan sejarah umumnya dipercayai bahwa orang-orang yang pertama memikirkan dan melakukan pengumpulan serta penulisan hadis secara resmi adalah µUmar ibn µAbd al-µAz³z. (Kairo. klasifikasi hukum penggolongan hukum dan undang berdasarkan asas-asas tertentu di buku undangundang yang baku. pembukuan. (Mesir: D±r al-µIlm Lil Malayin. Terdorong oleh rasa tanggung jawab untuk melestarikan hadis Nabi dan memelihara kemurniannya. 1979). maka berbicara masalah kodifikasi hadis harus bisa membedakan antara kodifikasi hadis yang bersifat individual/pribadi yang disebut juga dengan tadwin . al-Maurid: Qamus Inggris-Arab. 143. Ilyas dan Edwar E. 11 Berdasarkan keterangan di atas. faktur. Khalifah µUmar bin µAbd µAziz mengintruksikan kepada gubernurnya dan para ulama 8 Ilyas A. edisi ketiga. Ia mengirim instruksi kepada Gubernur Madinah Abu Bakar bin Mu¥ammad bin µAmr bin Hazm (w. Dengan demikian.. sekitar 70-80 H) agar menuliskan hadis selain dari hadis Abu Hurairah. 1968).). Apabila yang menjadi objek penghimpunan. mengumpul dan mencatat hadishadis Rasul saw. secara umum dapat disimpulkan bahwa kodifikasi ialah suatu proses dimana dilakukannya upaya penghimpunan. 85 H). dan pemberian nomor atau lambang pada perkiraan pos. Kodifikasi secara resmi seperti ini belum pernah dilakukan penguasa-penguasa sebelumnya. h. secara sederhana kodifikasi dapat diartikan sebagai usaha menghimpun. 117 H. pencatat dan pemberian tanda terhadap suatu objek tertentu.10 Dari beberapa pengertian diatas. ayah dari Khalifah µUmar kepada Katsir bin Murrah (w. 10 Departemen Pendidikan Nasional. namun menurut para ulama hadis. atau dokumen lain yang berfungsi sebagai alat untuk membedakan pos yang satu dengan yang lainnya dan termasuk satu golongan. al-Q±mus al-µA¡r : Inggris-Arab. jurnal. pengumpulan dan pencatatan itu adalah hadis-hadis. 578. 9 Munir Ba¶albaki. 190. 2007).kodifikasi diartikan sebagai perhimpunan berbagai peraturan menjadi undang-undang. h. (Jakarta: Balai Pustaka. 4 terkemuka untuk mengumpulkan dan membukukan hadis supaya disebarkan kepada masyarakat Islam. dalam buku. pengklasifikasian. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Elies Modern Press. disebutlah kodifikasi hadis. Di antara isinya adalah : Menurut riwayat lain redaksinya seperti berikut : Umar ibn µAbd al-µAz³z adalah Khalifah pertama dalam sejarah Islam yang mengambil kebijaksanaan untuk mengkodifikasi hadis. proses pencatatan norma yang telah dihasilkan oleh pembakuan dalam bentuk buku tata bahasa. h. kodifikasi Umarlah kodifikasi resmi pertama. Muhammad µAjj±j al-Khatib menemukan adanya perintah dari Gubernur Mesir µAbd al-µAz³z bin Marw±n (w. Ilyas.

Mereka berkata. diantaranya: µAbdull±h bin Amer dan Anas.¶ Berliau bersabda: 6 ³Tulisan selain Kitab Allah? Apakah kalian mengetahui? Bangsabangsa sebelum kalian tidak sesat kecuali karena mereka menulis tulisan lain bersama Kitab Allah´. 5 D. para gubernur dan ulama. Ada beberapa pendapat para sahabat dan tabiin yang melarang untuk menulis hadis. dan ada juga beberapa pendapat para sahabat dan tabiin yang membolehkan untuk menulis hadis. Saya hendak menghafalnya. dengan demikian terjadilah berbagai spekulasi dan argumentasi yang membedakan satu dengan lainnya dalam penulisan hadis. berkata. para ulama berusaha mengkompromikannya dengan menawarkan beberapa argumentasi seperti: Mu¥ammad µAjj±j al-Kha¯³b dalam konteks mengkompromikan perbedaan-perbedaan pendapat tersebut .a. µKami menulis hadis yang kami dengar dari engkau. Mencermati hal ini. µUmar bin µAbdul Az³z dan kebanyakan dari sahabat yang lainnya. ³Rasulullah saw. Mendatangi kami dan kami sedang menulis hadis. ³Saya menulis segala apa yang saya dengar dari Rasulullah saw. 11 Mu¥ammad µAjj±j al-Kha¯ib. (Beirut: D±r al-Fikr. Ibn Masµd dan Zaid bin ¤ ±bit.al-syakhshi yang dilakukan oleh para sahabat dan tabiin dengan kodifikasi hadis yang bersifat resmi yang disebut juga tadwin alrasmi yang dilakukan oleh µUmar ibn µAbd al-µAz³z. ya Rasulullah. Hadis-hadis yang menganjurkan dan melarang penulisan hadis serta cara mengkompromikannya. bersabda: ³Jangan kalian menulis (hadis) dariku. Abu Sa¶id al-Hudzri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. U¡ul al-Had³s: µUlumuhu wa Mu¡¯alah. diantaranya: Ibn µUmar. ³Engkau menulis segala sesuatu Adanya kontroversi tentang yang melarang dan membolehkan penulisan hadis-hadis. µApa yang sedang kalian tulis ini? Kami menjawab. 218. Hadis yang membolekan penulisannya Abdullah bin Amr bin al-Ash r. Adapun keterangan hadis yang melarang dan membolehkan penulisan hadis dapat diamati dari beberapa kutipan hadis dibawah ini : Hadis-hadis yang melarang menuliskannya. namun orang-orang Quraisy melarangku. ia berkata. ada beberapa kontroversi antara sahabat tentang larangan dan yang membolehkan penulisan hadis yang didasarkan kepada kekuatan dalil masing-masing mereka. Kemudian beliau bertanya. dan barangsiapa menulis dariku selain Alquran maka hendaklah ia menghapusnya´ Diriwayatkan dari Abu Hurairah. h. 1989).

Bahwa larangan penulisan hadis hanya terjadi pada masa-masa awal Islam. 306-308. d. yakni larangan menulis hadis berlaku khusus pada saat wahyu Alquran turun.yaitu : a. (Beirut: D±r alFikr. Bahwa larangan penulisan hadis itu ditujukan 7 kepada orang yang hafalannya bisa diandalkan.12 Lain halnya dengan Ibnu Hajar al-µAsqal±n³ dalam mengkompromikan pendapat ulama tersebut sebagai berikut : a. b. Sebagian ulama lainnya menggunakan metode alJamµu atau kompromi. Bahwa larangan penulisan hadis bersifat umum. Kebijaksanaan Nabi itu bertujuan agar yang kuat hafalan tidak membiasakan diri . yakni larangan menulis hadis berlaku bagi yang tidak cermat dalam mencatat. yaitu terbatas bagi orang yang pandai membaca dan menulis. maka terhapuslah larangan penulisan hadis tersebut. Sebagian ulama lainnya lagi menggunakan metode al-Jamµu atau kompromi. sedangkan kebolehan menulis hadis itu ditujukan kepada orang yang tidak kuat hafalannya. Kebijaksanaan Nabi itu bertujuan agar catatan wahyu Alquran terhindar dari yang bukan Alquran. b. sedang perintah kebolehan menulis hadis berlaku di luar saat tersebut. sebagaimana diungkapkan sebelumnya adalah mauquf. dan tidak dikhawatirkan berbuat kekeliruan. sedang kebolehan menulis hadis berlaku bagi yang 12 Mu¥ammad µAjjaj al-Khatib. sedangkan pembolehannya bersifat khusus. yakni larangan menulis hadis berlaku khusus bagi yang kuat hafalan. Namun ketika jumlah kaum muslimin semakin banyak dan mereka telah memahami Alquran dengan baik dan mampu membedakan antara Alquran dan hadis. karena dikhawatirkan hadis akan bercampur dengan Alquran. c. h. c. sedang kebolehan keizinan menulis hadis berlaku bagi yang tidak cermat dalam mencatat agar tidak mencampuradukkan catatan Alquran dengan hadis Nabi. as-Sunnah Qabla at-Tadw³n. sehingga tidak dapat dijadikan sebagai hujjah. Sebagian ulama menggunakan metode al-Jamµu atau kompromi. 8 tidak kuat hafalan. 1993). Bahwa sebahagian ulama berargumentasi bahwa hadis Abu Sa¶id al-Khudr³. tidak melakukan kesalahan dalam menulis.

Dari beberapa keterangan dan penjelasan di atas. 126. h. Melihat berbagai persoalan muncul di atas. Bahwa larangan penulisan hadis itu ditujukan kepada orang yang kuat hafalannya. d. Mutiara Widya. sebagai akibat . selain petunjuk Alquran. maka hal tersebut menuntut mereka untuk mendapat petunjuk dari hadis Nabi saw. b. Tidak ada lagi kekhawatiran bercampurnya hadis dengan Alquran.14 c. E. diantaranya adalah : a. Hadis yang melarang nasakh atau mansukh. menjelaskan bahwa selain faktor di atas. Bahwa larangan penulisan karena ditakutkan kesalahan dalam penulisan yang dilakukan orang yang tidak bagus tulisannya. Ulumul Hadis.13 b. 9 peperangan. maka secara ringkas dapat disimpulkan bahwa jalan tengah dari kontroversi tentang larangan dan perintah penulisan hadis pada intinya harus : a. Munculnya kekhawatiran akan hilang dan lenyapnya hadis karena banyak para sahabat yang meninggal dunia akibat usia atau karena seringnya terjadi 13 Nawer Yuslim. di dalam Studi Ilmu Hadis oleh H. Ramli Abdul Wahid. Faktor-faktor yang mendorong kodifikasi Ada beberapa hal yang mendorong µUmar bin µAbd al-µAziz mengambil inisiatif untuk memerintahkan para gubernur dan pembantunya untuk mengumpulkan dan menulis hadis. c. juga disebabkan adanya hadis mau«u¶. Melihat kembali hadis yang melarang penulisan tersebut itu apakah tergolong hadis ¬aif atau tergolong hadis ¢ahih.. d. Semakin maraknya kegiatan pemalsuan hadis yang dilatar belakangi oleh perpecahan politik dan perbedaan mazhab di kalangan umat Islam. Luasnya daerah Islam dan bertambahnya para mu¶allaf yang membutuhkan bimbingan keagamaan.bersandarkan pada catatan. 2001). (Jakarta: PT. Karena telah semakin luasnya daerah kekuasaan Islam disertai dengan semakin banyak dan kompleksnya permasalahan yang dihadapi umat Islam.15 sehingga keadaan tersebut ikut mendorong penulisan hadis. dalam artian cross chek ulang terhadap hadis tersebut. Senada dengan beberapa faktor-faktor yang telah dijelaskan di atas. karena Alquran ketika itu telah dibuktikan dan disebarluaskan. Hal ini upaya untuk menyelamatkan hadis dengan cara pembukuannya setelah melalui seleksi yang ketat harus segera dilakukan.

Beliau secara langsung menuliskan hadis-hadis yang di dengar dan diminatinya. (Jakarta: Gaya Media Pratama. (Beirut: D±r al-Fikr. 10 F. yaitu dengan mengeluarkan perintah secara resmi untuk pengumpulan dan pembukuan hadis. dapat terpelihara. sehingga menjadi pegangan umat sampat hari 16 Ibn Hajar al-µAsqal±n³. Pada masa itu telah berhasil dikumpulkan dan dibukukan hadishadis Nabi saw.. h.16 µUmar bin µAbd al-µAziz adalah seorang Khalifah ke-8 dari daulat Bani Umayyah. 1995). 68. 1996). Az-Zuhr³ adalah orang pertama yang memenuhi himbauan Khalifah µUmar bin µAbd . Jasa-jasa Mu¥ammad ibn Syihab az-Zuhr³ dalam kodifikasi hadis. 15 Ramli Abdul Wahid. dan mendesaknya kebutuhan untuk segera mengambil tindakan guna menyelamatkan hadis dari kemusnahan dan pemalsuan. terdorong untuk mengambil tindakan untuk mengkodifikasikan hadis secara resmi. beliau telah mempergunakannya dengan maksimal dan efektif untuk pemeliharaan hadis-hadis Nabi saw.terjadinya pergolakan politik.. Menurut pandangannya. dengan cara demikianlah hadis Nabi saw. Jasa-jasa Umar ibn Abdul Aziz dalam kodifikasi hadis. 14 Utang Ranuwijaya. 11 ini. 18. Ia memiliki perhatian cukup besar terhadap hadis Nabi saw. atau disebut juga dengan Abu Hafs alMadani al-Dimasyqi.. selain mendorong para ulama untuk melakukan hal yang sama. Kitab Ta¥z³b al-Ta¥z³b. Studi Ilmu Hadis. Salah satu kebijakan µUmar bin µAbd al-µAziz adalah menggalakkan para ulama dalam hal penulisan hadis serta memberi izin untuk itu. Nama lengkapnya adalah µUmar ibn µAbd al-µAziz ibn Marwan ibn al-Hakim ibn Abi al-µA¡ ibn Umayyah ibn µAbd Syam al-Quraisyi al-Umawi. Meskipun masa pemerintahan µUmar bin µAbd al-µAziz relatif singkat. Ibunya adalah Umm Ashim binti Ashim ibn Umar ibn Kha¯ab. Ilmu Hadis. 2. Az-Zuhr³ telah meninggalkan pengaruh dan jasa-jasa besar ke dalam bidang hadis. Atas prakarsa beliau dan bantuan para pembantunya beserta para ulama dan ahli hadis. yang sebelumnya belum ada perizinan secara resmi. yang sudah cukup lama. h. diantaranya adalah: a. Jasa µUmar ibn µAbd al-µAziz dan Ibn Syihab az-Zuhr³ dalam kodifikasi 1. h. maka µUmar bin µAbd al-µAziz sebagai seorang Khalifah yang memiliki tanggung jawab besar terhadap masalah agama. 104-105.

sekiranya tidak ada Ibn Shih±b. ³Ada sekitar 90 hadis yang diriwayatkan oleh az-Zuhr³ yang 12 berasal dari Nabi saw. c. yang diriwayatkan oleh para perawi lain. yang tidak diriwayatkan oleh seorang perawi lain pun dengan sanad yang baik.. az-Zuhr³ mengumpulkan orang dan mengajari mereka maupun juga pada musim panas dan . para ulama sepakat mengatakan bahwa azZuhr³ adalah orang yang pertama membukukan hadis secara resmi atas perintah Khalifah. Al-Laits ibn Saµad berkata: Said ibn µAbd ar-Rahman telah mengatakan kepadaku. dari kepunahan. Az-Zuhr³ telah berhasil mengumpulkan dan meriwayatkan sejumlah tertentu dari hadis Nabi saw. ³Wahai Abu al-Haris. b.´ Pendapat yang senada diungkapkan oleh al-H±fizh az-ªahab³. Menurut Imam Malik ibn Anas. bahkan dia bersedia memberikan bantuan materi terhadap mereka yang berkeinginan mempelajari hadis namun tidak mempunyai dana untuk itu. d. Kitab-kitab tersebut selanjutnya di kirim oleh Khalifah kepada para penguasa di daerah-daerah. sehingga dia senantiasa mendorong dan menggalakkan penyebutan sanad tatkala meriwayatkan hadis kepada para ulama dan penuntun hadis. Az-Zuhr³ telah memberikan perhatian yang besar dalam pengkajian ilmu hadis. Oleh sebab itu. tentu telah hilang sejumlah tertentu dari hadis.al-µAziz untuk membuktikan hadis. Az-Zuhr³ adalah orang yang sampai intens dan bersemangat dalam memelihara sanad hadis. Imam Muslim juga pernah mengatakan. Imam Malik berkata: ³Orang yang pertama kali melakukan penyebutan sanad hadis adalah Ibn Syih±b´.17 Yang dimaksud oleh Imam Malik adalah bahwa azZuhr³ adalah orang yang pertama dalam menggalakkan penyebutan sanad hadis tatkala meriwayatkannya. sehingga dia telah berhasil menghimpunnya dalam berbagai kitab. sehingga jerih payahnya tersebut telah menyelamatkan hadis-hadis Nabi saw.

Taqy³d al-µIlm. Hadis Nabi dan Kodifikasinya. Namun penulisan dan pembukuan secara resmi adalah pada awal abad ke-2 H. Al-Munawwir. 493. (terj. Ilyas dan Edwar E. 14 DAFTAR PUSTAKA Ahmad Warson Munawwir. d. dilakukan pembukuan hadis dengan harapan untuk menjaga kemurnian ajaran Islam selain itu untuk menyelamatkan hadis dari kehilangan yang disebabkan meninggalnya para perawi hadis. Melihat kembali hadis yang melarang penulisan tersebut itu apakah tergolong hadis «aif atau tergolong hadis ¡ahih. dalam artian cross chek ulang terhadap hadis tersebut. 1949. 13 Rasul saw. 1994. Hadis yang melarang di nasakh atau di mansukh. h. 1995. Berdasarkan hasil kompromi tersebut maka secara resmi berdasarkan intruksi dari Khalifah µUmar bin µAbd al-µAziz beserta para gubernurnya pada abad ke-2 H. Mesir: D±r al-µIlm Lil . Kamus Arab-Indonesia. yang pada akhirnya diselesaikan dengan mengambil jalan tengah. Jakarta: Balai Pustaka. Ilyas A. Bahwa larangan penulisan hadis itu ditujukan kepada orang yang kuat hafalannya. al-Maurid: Qamus Inggris-Arab. Yogyakarta: Pustaka Progressif.mereka diberinya makanan sesuai dengan musim tersebut. Kitab Ta¥z³b al-Ta¥z³b. Ibn Hajar al-µAsqal±n³. Bahwa larangan penulisan karena ditakutkan kesalahan dalam penulisan yang dilakukan orang yang tidak bagus tulisannya. 1968. 2007. c. Munir Ba¶albaki. yang dipimpin oleh Khalifah µUmar bin µAbd al-µAziz beserta para gubernurnya. I. Lambannya pembukuan hadis dilatar belakangi oleh kontroversi tentang adanya hadis Nabi saw. 1984. Ilyas. al-Q±mus al-µA¡r : Inggris-Arab. Al-Kha¯³b al-Bagd±d³. Elies Modern Press.) Ali Mustafa Ya¶cub. G. cet. dengan mengkaji kembali hadishadis tersebut dengan upaya : a. menghindari pemalsuan hadis serta gejolak politik yang mengakibatkan perpecahan dan bergejolaknya pertentangan antara sesama umat Islam. Kairo. Muhammad Mustafa Azami. as-Sunnah. Departemen Pendidikan Nasional. b. Damaskus: tp. hal ini ditandai dengan munculnya nama sahabat dan tabi¶in dalam menulis hadis. Kamus Besar Bahasa Indonesia. edisi ketiga. Penutup Penulisan hadis secara individual sudah dimulai sejak zaman 17 Mu¥ammad µAjj±j al-Kha¯³b. Beirut: D±r al-Fikr. yang membolehkan dan melarang penulisan hadis. Jakarta: Pustaka Firdaus.

1989. Abdul Wahid. Utang Ranuwijaya. 2001. 2005. Bandung: Citapustaka Media.Malayin. as-Sunnah Qabla at-Tadw³n. 15 . Beirut: Dar al-Fikr. Studi Ilmu Hadis. Beirut: D±r al-Fikr. __________________. Ulumul Hadis. Jakarta: Gaya Media Pratama. Ramli. Mu¥ammad µAjj±j al-Kha¯ib. Nawer Yuslim. Jakarta: PT. 1993. U¡ul al-Had³s: µUlumuhu wa Mu¡¯alah. Mutiara Widya. 1979. 1996. Ilmu Hadis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful