PEMBAHASAN 1.

Latar Belakang Kemunculan Khawarij Pada beberapa kurun terakhir ini, ummat Islam di Indonesia khususnya banyak dikejutkan oleh berbagai aksi terorisme yang merusak dan meluluhlantahkan tatanan sosial, ekonomi dan politik, pertahanan dan keamanan bangsa Indonesia yang mengatasnamakan perjuangan Islam. Islam telah dibajak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang justru merugikan umat Islam sendiri menurut kacamata nasional, regional bahkan global, sehingga terjadi pandangan miring dan negatif bahwa umat Islam identik dengan kekerasan dan terorisme. Padahal Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, pembawa kedamaian, kejahteraan dan ketentraman bagi alam semesta. Ulama terkenal dari Timur Tengah memberikan fatwa bahwa perbuatan teror adalah haram hukumnya dan termasuk ajaran kaum khawarij. Khawarij adalah aliran kalam pertama dalam sejarah Islam pada abad ke 1 hijriah. Aliran khawarij ini juga merupakan kelompok sektarian utama yang ketiga di luar sunni dan syi'ah di bidang politik. Munculnya aliran khawarij ini berawal dari masalah politik, walaupun pada akhirnya kebanyakan ulama dan cendikiawan lebih memfokuskan pembahasan aliran khawarij dalam disiplin ilmu kalam (theologi), karena dalam perkembangannya kaum khawarij lebih banyak bercorak theologis. Kemunculan aliran khawarij dilatarbelakangi oleh adanya pertikaian politik antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan yang pada waktu itu menjabat gubernur Syam (Suriah/Syria). Muawiyah menolak untuk membaiat Ali yang terpilih sebagai khalifah, sehingga Ali mengerahkan bala tentara untuk memerangi Muawiyah. Sebaliknya Muawiyah juga mengumpulkan pasukannya untuk menghadapi Ali. Pertempuaran terjadi antara kedua belah pihak di Shiffin. Pasukan Ali bin Abi Thalib memperlihatkan tanda akan menang dan berhasil mendesak pasukan Muawiyah. Amr bin Ash yang ikut berperang dari pihak Muawiyah bisa membaca situasi dan mengusulkan kepada Muawiyah agar memerintahkan pasukannya untuk mengangkat

1

karena beliau tahu permintaan damai tersebut hanya sebagai strategi tipu muslihat dan akal busuk lawan yang terdesak dan hampir kalah dalam perang. Keputusan Ali bin Abi Thalib menerima arbitrase ternyata tidak didukung semua pengikutnya. 2 . Mereka yang tidak setuju dengan sikap Ali keluar dari barisan Ali dan mengangkat Abdullah bin Wahab al-Risbi sebagai pemimpin mereka yang baru.mushaf al-Qur'an dengan ujung tombak sebagai isyarat genjatan senjata minta untuk damai dengan mengadakan arbitrase (tahkim atau penjurian).S. Mereka inilah kemudian dikenal dengan kaum khawarij. walaupun sebenarnya Ali sendiri tidak setuju untuk mengangkat Abu Musa AlAsy'ary sebagai mediator karena beliau bukan diplomatik yang mengerti politik dan strategi. Kaum khawarij memandang diri mereka sebagai orang-orang yang keluar dari rumah semata-mata untuk berjuang di jalan Allah. Akhirnya perundingan damai tersebut dimenangkan oleh kubu Muawiyah bin Abi Sufyan dan membawa petaka serta kerugian pihak Ali bin Abi Thalib. Sebagai mediator atas usul sebagian pengikut Ali diangkat Abu Musa AlAsy'ary. Pengertian Khawarij Khawarij adalah bentuk jamak (plural) dari kharij (bentuk isim fail) artinya yang keluar. Pada mulanya Ali bin Abi Thalib tidak mau menerima tawaran genjatan senjata tersebut.4 : 100 yang pengertiannya keluar dari rumah untuk berjuang di jalan Allah. 2. Kelompok ini kemudian memisahkan diri ke Harurah suatu desa dekat Kufah. Dinamai demikian karena kelompok ini adalah orang-orang yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib sebagai protes terhadap Ali yang mnyetujui perdamaian dengan mengadakan arbitrase dengan Muawiyah bin Abi Sufyan. Pendapat lain mengatakan bahwa khawarij berasal dari kata kharaja. akan tetapi karena didesak sebagian pengikutnya terutama para qurra dan huffaz.khurujan didasarkan atas Q. Dari pihak Muawiyah diwakili oleh Amr bin Ash seorang diplomatik ulung sekaligus politikus dan ahli strategi. akhirnya diputuskanlah untuk mengadakan arbitrase.

Adapun. Al-Ajaridah dipimpin oleh Abdul Karim bin Ajarrad f. Terlepas dari berapa banyak subsekte pecahan khawarij. 3. baik secara internal kaum Khawarij sendiri. Al-Ibadiyah dipimpin oleh Abdullah bin Ibad al-Murri al-Tamimi h. yaitu : a. seperti dikutip Bagdadi. An-Nadjat dipimpin oleh Najdah bin Amir al-Hanafi d. mengatakan bahwa sekte ini telah pecah menjadi 22 subsekte. Para pengamat berbeda pendapat tentang jumlah sekte yang terbentuk akibat perpecahan yang terjadi dalam tubuh Khawarij. Al-Asfarayani. Al-Bagdadi mengatakan bahwa sekte ini telah terpecah menjadi 18 subsekte. Al-Saalabiyah g. apakah ia masih dianggap mukmin atau telah menjadi kafir. Al-Azriqah dipimpin oleh Nafi bin Azraq al-Hanafi al-Hanzali c. tokoh-tokoh yang disebutkan di atas sepakat bahwa subsekte Khawarij yang besar terdiri dari delapan macam. Pemikiran Khawarij 3 . Al-Baihasiyah e. Tampaknya. maupun secara eksternal dengan sesame kelompok Islam lainnya.Dengan demikian khawarij adalah aliran (firqah) yang keluar dari jamaah (almufaraqah li al-jamaah) disebabkan ada perselisihan pendapat yang bertentangan dengan prinsip yang mereka yakini kebenarannya. Perkembangan Khawarij Radikalitas yang melekat pada watak dan perbuatan kelompok Khawarij menyebabkan mereka sangat rentan pada perpecahan. doktrin theology (ilmu kalam) ini tetap menjadi primadona dalam pemikiran mereka. sedangkan doktrin-doktrin lain hanya pelengkap saja 4. Al-Muhakkimah dipimpin oleh abdullah bin Wahab al-Risbi b. As-Sufriyah dipimpin oleh Zaid bin Asfar Semua subsekte itu membicarakan persoalan hokum bagi orang yang berbuat dosa besar.

Dengan demikian Khalifah sebelum Ali ( Abu Bakar. e. pelaku dosa besar adalah musyrik dan orang yang tidak terlibat ikut serta bersama mereka dalam perang adalah orang kafir. Utsman r. Abul Hasan Al ‘Asy’ari ketika menceritakan pokok ajaran khawarij menyatakan: “Mereka (Khawarij) seluruhnya sepakat Khalifah tidak harus berasal dari keturunan arab. dianggap telah Khalifah atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh ummat 4 . setiap orang muslim berhak menjadi khalifah apabila sudah memenuhi syarat. islam. apa bila kami memberontak maka kami menjadi muslim. Pengikut Naafi’ bin Al Azraq menyatakan: Kami masih musyrik selama masih berada di negeri syirik. c. Mereka menghalalkan pembunuhan wanita dan anak-anak kaum muslimin dan memvonis mereka dengan syirik” f. a. baik dengan kekerasan senjata atau tidak. Keimanan yang kuat tanpa disertai wawasan keilmuan yang luas menimbulkan fanatisme dan radikal. Abul Hasan Al Asy’ari menuliskan catatan tentang khawarij: “Mereka memandang (wajib) menggulingkan penguasa yang lalim dan mencegah mereka menjadi penguasa dengan segala cara yang mereka mampui . dan Utsman) adalah sah. menyeleweng.Corak pemikiran khawarij dalam memahami nash (al-Qur'an dan hadis) cenderung tekstual dan parsial. b. tetapi setelah tahun ketujuh dari masa kekhalifahannya. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi millieu para penganut aliran khawarij yang mayoritas berasal dari suku Badawi yang rata-rata dalam kondisi kehidupan keras dan statis. Mengkafirkan pelaku dosa besar dan memberlakukan hukum orang kafir didunia dan akhirat padanya. Mereka juga menyatakan: Orang yang menyelisihi kami dalam madzhab adalah musyrik. dengan pedang atau tidak denga pedang” Sedangkan Ibnul Jauzi menyatakan: “Terus saja Khawarij memberontak terhadap pemerintah. ia Mewajibkan menggulingkan pemimpin (pemerintah) yang berbuat dianggap telah menyeleweng dzolim dan jahat dan melarang mereka menjadi penguasa dengan segala cara yang mereka mampu. Mereka memiliki beraneka ragam madzhab.a. Khalifah Ali adalah sah tetapi setelah terjadi Arbitrase (tahkim). d. sehingga dalam menetapkan suatu hukum terkesan dangkal dan sektarian. sehingga mudah memvonis bersalah terhadap setiap orang yang tidak sepaham dan sejalan dengan alirannya. Umar.

termasuk orang yang mengusahakannya menjadi khalifah. mereka tidak berpendapat demikian”. Setelah itu menghalalkan darah dan harta orang yang menyelisihinya. khususnya tentang kepala Negara (khilafah) Mereka menolak untuk dipimpin orang yang dianggap tidak pantas. h. Amar ma’ruf nahi mungkar. n. dan social. Mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka dan memaksa orang lain mengikuti kebidahannya. i. Adanya wa’ad dan wa’id ( orang yang baik harus masuk surga. tujuan mereka. doktrin yang dikembangkan kaum Khawarij dapat dikategorikan dalam tiga kategori: politik. sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang artinya : Memerangi kaum muslimin dan membiarkan penyembah berhala (Ahlul Autsan)“. p. Dikumandangkanlah sikap bergerilya untuk membunuh mereka. m. menghalalkan darah dan harta mereka Mengingkari adanya syafaat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam Mencari-cari kesalahan para ulama salaf dan salafi. Dari poin a sampai poin e dikategorikan sebagai doktrin politik sebab membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan masalah kenegaraan. Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari Tuhan. Quran adalah makhluk. teologi. Bila dianalisis secara mendalam. j. k. g. l. Memalingkan ayat-ayat Al-Quran yang tampak mutasabihat (samar). karena mereka terhadap pelaku dosa besar yang belum bertaubat sebelum wafatnya. memandang para ulama tersebut sebagai batu sandungan dalam jalan mewujudkan sedangkan yang jahat harus masuk neraka). Membenci kaum muslimin dan mengkafirkan mereka serta Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng.menyatakan semua dosa besar adalah kekufuran kecuali sekte Al Najdaat. 5 .sesuatu yang tidak pernah mereka halalkan dari orang kafir asli. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: “Mereka mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka dan menghalalkan darinya –dengan dalih telah murtad menurut anggapan mereka. Jalan pintas yang ditempuhnya adalah membunuhnya. o.

tidak ada maksud menentangnya. dapat diprediksikan bahwa kelompok Khawarij pada dasarnya merupakan orang-orang baik. sebagaimana dilakukan kelompok Khawarij. Sebab-Sebab Penyimpangan Khawarij Diantara sebab-sebab penyimpangan Khawarij adalah: a. Kemudian menyatakan: ‘Utsman. karena mukmin itu hanyalah yang baik dan takwa.Dibuat pulalah doktrin teologi tentang dosa besar sebagaimana tertera pada poin f sampai j. keberadaan mereka sebagai kelompok minoritas penganut garis keras yang aspirasinya dikucilkan dan diabaikan penguasa. namum mereka memahami dari Al Qur’an dengan salah sehingga meyakini bahwa sesuatu itu mengharuskan pengkafiran para pecandu dosa. Adapun doktrin-doktrin selanjutnya yakni dari poin k sampai poin m dapat dikategorikan sebagai doktrin teologis social. Karena mereka berhukum dengan selain hukum Islam’. Ali dan orang yang mendukung mereka bukan mukmin. Doktrin ini memperlihatkan kesalehan asli kelompok Khawarij sehingga sebagian pengamat mengganggap doktrin ini lebih mirip dengan Mu’tazilah. meskipun kebenaran adanya doktrin dalam wacana kelompok Khawarij patut dikaji lebih mendalam. maka ia telah kafir. Kedua: Ali dan Utsman dan semua yang mendukung keduanya dulu berbuat demikian 6 . Sehingga kebidahan mereka memiliki alur sebagai berikut: Pertama : Siapa yang menyelisihi Al Qur’an dengan amalannya atau pendapat yang salah. Bodoh dan tidak faham tafsir Al Qur’an. bila doktrin teologis-sosial ini benar-benar merupakan doktrin Khawarij. Dapat diasumsikan bahwa orang-orang yang keras dalam pelaksanaan ajaran ajaran agama. 5. ditambah oleh pola pikirnya yang simplisitis telah menjadikan ekstrim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mereka bersikap menyatakan: “Bid’ah pertama terjadi seperti bidah khawarij hanyalah disebabkan kesalah fahaman mereka terhadap Al Qur’an. cenderung berwatak tekstualis/skripturalis sehingga menjadi fundamentalis. Namun. Hanya saja. Kesan skripturalis dan fundamentalis itu tidak tampak pada doktrin-doktrin Khawarij pada poin j sampai p . Mereka menyatakan: ‘Siapa yang tidak baik dan takwa maka ia kafir dan kekal dineraka’.

Sehingga seorang yang berbuat salah menurut mereka pasti berdosa. melaknat dan menghalalkan memerangi Ali bin Abi Thalib dan ‘Utsman bin Affaan serta orang-orang yang loyal terhadap keduanya”. Kemudian beliau berkata: “Dari sini muncullah banyak sekte ahlil bid’ah dan sesat. d. Mereka menganggap kesalahan dan dosa satu hal yang tidak mungkin terpisah. jamaah. Sebagaimana dilakukan ahlu bid’ah dari Khawarij dan selainnya”.Kemudian beliau menjelaskan bahwa sikap wara’ tidak lurus tanpa disertai ilmu yang banyak dan pemahaman yang baik dalam pernyataan beliau: “Oleh karena itu orang yang bersikap wara’ membutuhkan ilmu yang banyak terhadap Al Qur’an dan Sunnah dan pemahaman yang benar terhadap agama. Tidak mengikuti Sunnah dan pemahaman para sahabat dalam menerapkan Al Qur’an dan Sunnah. c.b. maka sikap wara’ yang rusak tersebut merusak lebih banyak dari kebaikannya. Memandang satu kesatuan antara kesalahan dan dosa. Wara’ tanpa ilmu. Kaum Khawarij dengan sebab berpalingnya mereka dari Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjadikan yang mungkar menjadi ma’ruf dan 7 . karena khawarij bersikap wara’ dari kedzaliman dan dari semua yang mereka yakini kedzaliman dengan bercampur baur dengan kedzaliman tersebut menurut prasangka mereka hingga mereka meninggalkan kewajiban berupa shalat jum’at. haji dan jihad (bersama kaum muslimin) serta sikap menasehati dan rahmat kepada kaum muslimin. Al Imam Al Bukhari menyatakan yang artinya : “Ibnu Umar memandang mereka (Khawarij) sebagai makhluk terjelek dan menyatakan: ‘Sunguh mereka mengambil ayat-ayat yang turun untuk orang kafir lalu menerapkannya untuk kaum mukminin“. Pemilik wara’ seperti ini telah diingkari para imam. contohnya amar ma’ruf nahi mungkar adalah sesuatu yang dituntut dalam syari’at (Mathlab Syar’i) yang memiliki ketentuan. sebagaimana dilakukan khawarij yang mengkafirkan. Ada sekelompok mereka yang mencela salaf dan melaknat mereka dengan keyakinan para salaf tersebut telah berbuat dosa dan pelaku dosa tersebut pantas dilaknat bahkan terkadang mereka menghukuminya sebagai fasik atau kafir. Keliru dan rancu memahami wasilah dan maqaasid (tujuan syar’i). e. batasan dan wasilah (sarana) tertentu. seperti imam empat madzhab”. Bila tidak. Syaikhul Islam menyatakan: ” Orangorang sesat menjadikan kesalahan dan dosa satu kesatuan yang tidak terpisahkan”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: “Sikap wara’ ini menjerumuskan pemiliknya ke kebidahan besar.

DAFTAR PUSTAKA Rozak. 1968. mereka mengkafirkan orang lain hanya dengan sebab perbuatan dosa dan kejelakan. Jakarta : UI Press. Konsekuensi dari vonis kafir dengan sebab perbuatan dosa ini adalah menghalalkan darah kaum muslimin dan harta mereka dan (menganggap) negeri Islam negeri kafir dan negeri merekalah negeri iman”. Sejarah.Kedua: pada Khawarij dan ahli bidah. 1995 Al-Syahristani. 1988. 1986. Syalabi. A. Mereka memiliki dua kekhususan masyhur yang membuat mereka menyempal dari jamaah muslimin dan imam mereka: Pertama: keluar dari Sunnah dan mereka jadikan yang tidak jelek dianggap kejelekan dan yang tidak baik dianggap kebaikan. Fiqh Siyasah : Ajaran. Abdul dan Rosihon Anwar.. Suyuthi Pulungan. Raja Grafindo Persada. Sejarah. 2007. Harun Nasution. Oleh karena itu Syaikhul Islam menyatakan: “Kebidahan yang pertama kali muncul dan paling dicela dalam Sunnah dan atsar adalah bidah khawarij. Bandung: Pustaka Setia. Ilmu Kalam. Analisa Perbandingan. Al-Milal wa al-Nihal. Sejarah Kebudayaan Islam 2. Jakarta : Pustaka al-Husna.p. J. 8 . Teologi Islam : Aliran-aliran. Cairo : t. Analisa dan Pemikiran.sebaliknya yang yang ma’ruf jadi mungkar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful