You are on page 1of 13

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN : HERNIA

DISUSUN OLEH: Kelompok 5 Arthy Pitherany S Miftakhul Khoiroh Tri Murti (1.08.008) (1.08.043) (1.08.067)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN TELOGOREJO SEMARANG 20011

I. KONSEP DASAR

A. Pengertian a. Hernia merupakan prostusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan yang terdiri atas cincin, kantong, dan isi hernia (Syamsu & Wim, 2005). b. Hernia adalah keluarnya isi tubuh (biasanya abdomen) melalui defek atau bagian terlemah dari dinding rongga yang bersangkutan (Dermawan, 2010, hlm.91). c. Hernia adalah protrusi abnormal organ, jaringan atau bagian organ melalui struktur yang secara normal berisi bagian ini (Ester, 2002, hlm.53).

B. Etiologi Hal yang mengakibatkan hernia adalah : a. Kelemahan abdomen b. Peningkatan tekanan intra abdomen c. Bawaan sejak lahir d. Kebiasaan mengangkat benda yang berat (heavy lifting) e. Kegemukan (marked obesity) f. Batuk g. Terlalu mengejan saat buang air kecil/besar h. Ada cairan di rongga perut (ascites) i. Peritoneal dialysis j. Ventriculoperitoneal shunt k. Riwayat keluarga ada yang menderita hernia

C. Klasifikasi Hernia Klasifikasi hernia menurut letaknya : a. Hernia Inguinal, dibagi menjadi : 1. Hernia Indirek atau lateral : hernia ini terjadi melalui cincin inguinal dan melewati korda spermatikus melalui kanalis inguinalis, dapat menjadi sangat besar dan sering turun ke skrotum. Umumnya terjadi pada pria. Benjolan tersebut bisa mengecil, menghilang pada waktu tidur dan bila menangis, mengejan, mengangkat benda berat atau berdiri dapat tumbuh kembali.

2. Hernia Direk atau medialis : hernia ini melewati dinding abdomen di area kelemahan otot, tidak melalui kanal seperti pada hernia inguinalis dan femoralis indirek. Lebih umum terjadi pada lansia. Hernia ini disebut direkta karena langsung menuju anulus inguinalis eksterna sehingga meskipun arteri inguinalis interna ditekan bila klien berdiri atau mengejan, tetap akan timbul benjolan. Pada klien terlihat adanya massa bundar pada arteri inguinalis eksterna yang mudah mengecil bila klien tidur. Karena besarnya defek pada dinding posterior maka hernia ini jarang menjadi irreponible. b. Hernia Femoralis Hernia femoralis terjadi melaui cincin femoral dan lebih umumnya pada wanita. Ini mulai sebagai penyumbat lemak di kanalis femoral yang membesar dan secara bertahap menarik peritonium dan hampir tidak dapat dihindari kandung kemih masuk kedalam kantong. c. Hernia Umbilikal Hernia umbilikal pada umumnya terjadi pada wanita karena peningkatan tekanan abdominal, biasanya pada klien obesitas dan multipara. d. Hernia Insisional Hernia insisional terjadi pada insisi bedah sebelumnya yang telah sembuh secara tidak adekuat, gangguan penyembuhan luka kemungkinan disebabkan oleh infeksi, nutrisi tidak adekuat, distensi ekstrem atau obesitas. Usus atau organ lain menonjol melalui jaringan parut yang lemah. Klasifikasi hernia berdasarkan terjadinya : a. Hernia Kongenital (bawaan) Hernia kongenital terjadi pada pertumbuhan janin usia lebih dari 3 minggu testis yang mula-mula terletak di atas mengalami penurunan (desensus) menuju ke skrotum. Pada waktu testis turun melewati inguinal sampai skrotum prosesus vaginalis peritoneal yang terbuka dan berhubungan dengan rongga peritoneum mengalami obliterasi dan setelah testis sampai pada skrotum, prosesus vaginalis peritoneal seluruhnya tertutup (obliterasi). Bila ada gangguan obliterasi maka seluruh prosesus vaginalis peritoneal terbuka, terjadilah hernia inguinalis lateralis. b. Hernia Akuisitas (didapat) Hernia yang terjadi setelah dewasa atau pada usia lanjut. Disebabkan karena adanya tekanan intraabdominal yang meningkat dan dalam waktu yang lama, misalnya batuk

kronis, konstipasi kronis, gangguan proses kencing (hipertropi prostat, striktur utera), asites, dan sebagainya. Klasifikasi hernia menurut sifatnya : a. Hernia Reponible/Reducible Bila isi hernia dapat keluar masuk, usus keluar jika berdiri/mengejan dan masuk lagi jika berbaring/didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri/gejala obstruksi usus. b. Hernia Irreponible Bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan kedalam rongga karena perlekatan isi kantong pada peritoneum kantong hernia, tidak ada keluhan nyeri/tanda sumbatan usus, hernia ini disebut juga hernia akreta. c. Hernia Strangulata/Inkaserata Bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia, isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali kedalam rongga perut disertai akibat yang berupa gangguan pasase/vaskularisasi.

D. Patofisiologi Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batuk yang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus ke daerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal dan kegemukan. Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat kecil pada dinding abdominal, kemudian terjadi hernia. Karena organ-organ selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah. Hernia terdiri dari tiga unsur yaitu kantong hernia yang terdiri dari peritoneum, isi hernia (usus, omentum, kadang berisi organ intraperitoneal lain atau organ ekstraperitoneal seperti ovarium, apendiks divertikel dan buli-buli), dan struktur yang menutupi kantong hernia yang dapat berupa kulit (skrotum), umbilikus, paru dan sebagainya. Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau didapat, lebih banyak terjadi pada pria dari pada wanita. Faktor yang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka, peningkatan tekanan intraabdomen (pada kehamilan, batuk kronis, pekerjaan mengangkat berat, mengejan saat defekasi kelemahan otot dinding perut karena usia. dan miksi akibat BPH) dan

Secara patofisiologi pada hernia indirek, sebagian usus keluar melalui duktus spermatikus sebelah lateral dari arteri epigastrika inferior mengikuti kanalis inguinalis yang berjalan miring dari lateral atas ke medial, masuk kedalam skrotum. Juga disebut hernia inguinalis lateralis atau Oblique dan biasanya merupakan kelemahan kongenital. Karena usus keluar dari rongga perut masuk kedalam skrotum dan jelas tampak dari luar maka hernia inguinalis disebut pula ³Hernia Eksternal´. Jika lubang hernia cukup besar maka isi hernia (usus) dapat didorong masuk lagi keadaan ini disebut hernia reponible. Jika isi hernia tidak dapat masuk lagi disebut hernia inkaserata, pada keadaan ini terjadi bendungan pembuluh darah yang disebut strangulasi. Akibat gangguan sirkulasi darah akan terjadi kematian jaringan setempat yang disebut infark. Infark pada usus disertai dengan rasa nyeri dan perdarahan disebut infark hemoragik. Bagian usus yang nekrotik berwarna merah kehitam-hitaman dengan dinding yang menebal akibat bendungan dalam vena. Darah dapat juga masuk ke dalam isi hernia (usus) atau kedalam kantong hernia. Akibat infeksi kuman yang ada dalam rongga usus yang terbendung, maka mudah terjadi pembusukan atau gangren.

E. Manifestasi Klinik Hernia a. Manifestasi hernia inguinalis, sebagai berikut :  Tampak adanya benjolan di lipat paha atau perut bagian bawah dan benjolan bersifat temporer yang dapat mengecil dan menghilang yang disebabkan oleh keluarnya suatu organ.  Bila isinya terjepit akan menimbulkan perasaan nyeri di tempat tersebut disertai perasaan mual.  Nyeri yang diekspresikan sebagai rasa sakit dan sensasi terbakar. Nyeri tidak hanya didapatkan di daerah inguinal tapi menyebar ke daerah panggul, belakang kaki, dan daerah genital yang disebut Reffered Pain. Nyeri biasanya meningkat dengan durasi dan insensitas dari aktivitas/kerja yang berat. Nyeri akan mereda atau menghilang jika istirahat. Nyeri akan bertambah hebat jika strangulasi karena suplai darah ke daerah hernia terhenti sehingga kulit menjadi merah dan panas. b. Hernia femoralis kecil mungkin berisi dinding kandung kencing sehingga menimbulkan gejala sakit kencing (disuria) disertai hematuria (kencing darah) disamping benjolan dibawah sel paha. c. Hernia diafragmatika menimbulkan perasaan sakit di daerah perut disertai sesak nafas.

d. Bila klien mengejan atau batuk maka benjolan hernia akan bertambah besar.

F. Pemeriksaan Diagnostik a. Pemeriksaan darah lengkap : menunjukkan peningkatan sel darah putih, serum elektrolit dapat menunjukkan hemokosentrasi (peningkatan hematokrit), ketidakseimbangan elektrolit. Pemeriksaan koagulasi darah : mungkin memanjang, mempengaruhi homeostatis intraoperasi atau postoperasi. b. Pemeriksaan urine Munculnya sel darah merah atau bakteri yang mengindikasi infeksi. c. Elektrokardiografi (EKG) Penemuan akan sesuatu yang tidak normal memberikan prioritas perhatian untuk memberikan anestesi. d. Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/obstruksi usus. dan

G. Komplikasi a. Ileus b. Terjadinya peningkatan antara isi hebura dengan dinding kartona hernia, sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. c. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia, akibat makin bertambah/banyaknya usus yang masuk. d. Bila inkaserata dibiarkan makan akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis.

H. Penatalaksanaan Medik Penatalaksanaan medik pada hernia inguinalis, antara lain : a. Terapi Konservatif 1. Resposisi Tindakan memasukkan kembali isi hernia ketempatnya semula secara hati-hati dengan tindakan yang lembut tetapi pasti. Tindakan ini hanya dapat dilakukan pada hernia reponibilis dengan menggunakan kedua tangan. Tangan yang satu melebarkan leher hernia sedangkan tangan yang lain memasukkan isi hernia melalui leher hernia tadi. 2. Pemakaian penyangga/sabuk hernia

Pemakaian batalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia yang telah direposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harus dipakai seumur hidup. b. Terapi Operatif 1. Herniotomi Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai kelehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan jika ada perlengketan, kemudian diresposisi, kantong hernia dijahit, ikat setinggi mungkin lalu dipotong. 2. Hernioplasti Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. c. Medikasi 1. Pemberian analgesik untuk mengurangi nyeri 2. Pemberian antibiotik untuk menyembuhkan infeksi d. Aktivitas dan diet 1. Aktivitas Hindari mengangkat barang yang berat sebelum atau sesudah pembedahan. 2. Diet Tidak ada diet khusus, tetapi setelah operasi diet cairan sampai saluran gastrointestinal berfungsi lagi, kemudian makanan dengan gizi seimbang. Tingkatkan masukan serat dan tinggi cairan untuk mencegah sembelit dan mengejan selama buang air besar. Hindari kopi, teh, coklat, minuman berkarbonasi, minuman beralkohol, dan setiap makanan atau bumbu yang memperburuk gejala. e. Terapi pembedahan Dapat dilakukan herniotomi dan herniografi (menjahit kantong hernia). Tindakan pembedahan lebih efektif pada hernia reponibel karena dikawatirkan terjadi komplikasi. Kondisi usus harus diperhatikan pada hernia inkarserata atau strangulata, bila terjadi nekrosis harus direseksi.

I. Pathway

II. KONSEP ASKEP A. Pengkajian 1. Menurut Doengoes dalam Suratun (2010, hlm.323) data yang diperoleh: a. Aktivitas/Istirahat Klien dilakukan anamnese mengenai riwayat pekerjaan, mengangkat beban berat, duduk dan mengemudi dalam waktu yang lama, membutuhkan papan matras untuk tidur. Pada pemeriksaan fisik klien mengalami penurunan rentang gerak, tidak mampu melakukan aktivitas yang biasa, atrofi otot, gangguan dalam berjalan. b. Sirkulasi Apakah klien mempunyai riwayat penyakit jantung, edeme pulmonal, penyakit vaskular perifer. c. Eliminasi Apakah klien mengalami konstipasi, adanya inkontinensia atau retensi urine. d. Makanan/Cairan Apakah klien mengalami gangguan bising usus, mual, muntah, nyeri abdomen, malnutrisi atau obesitas. e. Nyeri/Kenyamanan Apakah klien mengalami nyeri di daerah benjolan hernia walaupun jarang dijumpai, kalau ada biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau daerah peri umbilikal berupa nyeri viseral karena regangan pada mesenterium sewaktu segmen usus halus masuk ke dalam kantong hernia. f. Keamanan Apakah klien mempunyai riwayat alergi terhadap makanan dan obat-obatan. g. Pernapasan Apakah klien mempunyai riwayat batuk kronik (penyakit paru obstruksi menahun).

2. Pemeriksaan fisik Tanda yang diketahui selama pemeriksaan fisik mencakup: a. Nyeri tekan b. Atrosi otot pada bagian tubuh yang terkena gangguan dalam benjolan c. Konstipasi (mengalami kesulitan dalam defekasi) d. Kelemahan otot

B. Diagnosa Keperawatan Pre Operasi 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik. 2. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur operasi. Post Operasi 1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi. 2. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi. 3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.

C. Intervensi Keperawatan Pre operasi 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik. Tujuan: Nyeri hilang/ berkurang Kriteria hasil: 
Klien tampak rileks  Tanda-tanda vital dalam batas normal  Skala nyeri 0-2

INTERVENSI a. Catat keluhan nyeri, termasuk lokassi, lamanya, intensitas (skala 0-10). R/ Nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan dengan gejala nyeri pasien sebelumnya dimana dapat membantu mendiagnosa. b. Kaji ulang faktor yang meningkatkan atau menurunkan nyeri. R/ Membantu dalam membuat diagnosa dan kebututan terapi. c. Catat petunjuk nyeri non verbal, contoh: gelisah, menolak bergerak, berhati-hati dengan abdomen, takikardi, berkeringat. Selidiki ketidaksesuaian antara petunjuk verbal dan non-verbal. R/ Petunjuk non-verbal dapat berupa fisiologis dan psikologis dan dapat digunakan dalam menghubungkan petunjuk verbal untuk mengidentifikasi luas/ beratnya masalah. d. Bantu latihan rentang gerak aktif/ pasif. R/ Menurunkan kekakuan sendi, meminimalkan nyeri/ ketidaknyamanan.

e. Berikan obat sesuai indikasi. Misal: Aseraminofen (tylenol) R/ Meningkatkan kenyamanan dan istirahat.

2. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur operasi. Tujuan: Pasien dapat menghilangkan atau mengurangi perasaan khawatir dan tegang yang dialami. Kriteria hasil: 
Pasien dapat menggambarkan gejala yang merupakan indikator ansietas.  Pasien dapat meneruskan aktivitas yang dibutuhkan meskipun ada kecemasan.  Pasien dapat mengkomunikasikan kebutuhan dan perasaan negatif secara tepat.

INTERVENSI a. Jelaskan kembali proses penyakit dan prognosis serta pembatasan kegiatan. R/ pengetahuan dasar yang memadai memungkinkan untuk membuat pilihan yang tepat. Dapat meningkatkan kerjasama pasien mengenai program pengobatan dan mendapatkan penyembuhan yang optimal. b. Diskusikan mengenai pengobatan dan juga efek sampingnya. R/ menurunkan risiko komplikasi/trauma. c. Anjurkan untuk melakukan evaluasi medis secara teratur. R/ mengevaluasi perkembangan dari bagian tubuh yang terkena/ komplikasi dari efek samping obat. d. Berikan informasi mengenai tanda-tanda yang perlu untuk dilaporkan pada evaluasi seperti: nyeri. R/ perkembangan dari proses penyakit mungkin memerlukan tindakan/ pembedahan lebih. Post Operasi 1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontinuitas jaringan akibat tindakan operasi. Tujuan: Nyeri hilang atau berkurang Kriteria Hasil: 
Klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang  Tanda-tanda vital normal  Pasien tampak tenang dan rileks

INTERVENSI a. Pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri. R/ Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan. b. Anjurkan klien istirahat ditempat tidur. R/ Istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri. c. Atur posisi pasien senyaman mungkin. R/ Posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri. d. Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam. R/ Relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman. e. Kolaborasi untuk pemberian analgetik. R/ Analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.

2. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi. Tujuan: Tidak terjadi infeksi. Kriteria hasil: 
Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.  Luka bersih tidak lembab dan kotor.  Tanda-tanda vital normal

INTERVENSI a. Pantau tanda-tanda vital. R/ Jika ada peningkatan tanda-tanda vital besar kemungkinan adanya gejala infeksi karena tubuh berusaha intuk melawan mikroorganisme asing yang masuk maka terjadi peningkatan tanda vital. b. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik. R/ Perawatan luka dengan teknik aseptik mencegah risiko infeksi. c. Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll. R/ Untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial. d. Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.

R/ Penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal membuktikan adanya tanda-tanda infeksi. e. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik. R/ Antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. Tujuan: Klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total. Kriteria hasil: 
Perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.  Pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa

dibantu. 
Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.

INTERVENSI a. Rencanakan periode istirahat yang cukup. R/ Mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal. b. Berikan latihan aktivitas secara bertahap. R/ Tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini. c. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan. R/ Mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali. d. Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien. R/ Menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.

DAFTAR PUSTAKA

Dermawan, Deden & Tutik. R. 2010. Keperawatan medikal bedah (sistem pencernaan). Yogyakarta: Gosyen Publishing Doengoes, Marilynn E. (1999). Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC. Suratun. (2010). Asuhan keperawatan klien gangguan sistem gastrointestinal. Jakarta: CV. Trans Info Media.
http://www.scribd.com/doc/15813781/ASUHAN-KEPERAWATAN-KLIEN-DENGAN HERNIA#fullscreen:off