You are on page 1of 9

Arsitektur Tradisional Ternate ± Tidore dan Halmahera (Studi Analisa Konstruksi Tradisional

)
Posted on 10 April 2007 by ANTO LATIF DOA (Oleh : Adhi Mursid) Indonesia memiliki banyak sekali arsitektur lokal semacam ini, dengan ragamnya yang amat kaya tersebar di seantero kepulauan kita. Berjenis arsitektur lokal di pelbagai daerah di Indonesia ini, jelas merupakan sumber-sumber informasi bagi pengetahuan khususnya tentang bangunanbangunan dan lingkungan fisik yang khas dari masyarakat pribumi daerah yang bersangkutan.

PENDAHULUAN Sudah diakui, bahwa dunia kini memiliki satu corak arsitektur. Perwujudannya adalah ³Arsitektur Modern´ yang disebut pula sebagai Arsitektur ³Gaya Internasional´. Corak ini merupakan hasil dari kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad 19 dan 20 yang mengakibatkan sebagian kebutuhan dan persyaratan hidup menjadi relatif sama pada masyarakat-masyarakat di dunia. Pemilikan teknik bangunan, teknologi membangun. bahan bangunan produk industri serta standar pendidikan arsitek/teknisi yang sama, terpakai dan berlaku di mana-mana, yang kemudian memperkuat kecenderungan wajah arsitektur di kota-kota dan kota-kota besar di dunia menjadi senada dan sebahasa. Asal usul gaya ini dan sejarah perkembangannya, sudah lama difikirkan dan ditulis orang, dan kini sudah merupakan pengetahuan tentang sejarah arsitektur dunia. Di pihak lain, walaupun belum (atau tidak) dimasukkan dalam bagian pengetahuan tentang sejarah arsitektur dunia tersebut di atas, sesungguhnya di bagian-bagian lain di dunia ini masih ada lagi arsitektur dengan corak yang sangat berbeda dengan corak modern. Banyak orang belum pernah tahu, bahkan memang orang belum memberikan nama pada arsitektur jenis ini. Kita boleh menamakannya arsitektur diaiek (vernacular), arsitektur tanpa nama (anonymus), arsitektur pedesaan (rural), arsitektur asli (indigenous), arsitektur alamiah (spontaneous), atau apa pun, tapi yang jelas ia adalah arsitektur lokal, setempat, sangat khas, yang dibangun menurut tradisi budaya masyarakat yang bersangkutan.

Bangunan-bangunan hunian itu didirikan menurut konsep-konsep. kalau kita mengamati bangunan-bangunan dalam ³enclave´ arsitektur lokal sekarang ini. nilai-nilai dan norma-norma yang diwariskan nenek moyang mereka. Perwujudan bentuk sebagai hasilnya seperti terlihat saat ini dapat dianggap tidak berbeda jauh dari perwujudan bentuk hasil tradisi yang sama pada masa-masa yang lampau walaupun perubahan-perubahan kecil maupun besar bisa saja terjadi pada masa yang silam.hutan di dataran tinggi Sulawesi Tengah. mungkin akan segera dipindahkan dan . paling tidak. arsitektur lokal seperti yang dimaksud di atas dalam tulisan ini akan disebut sebagai arsitektur tradisional karena pernyataan bentuknya sesuai dengan kaidah-kaidah yang diakui bersama atau masih dianut oleh sebagian besar anggota masyarakat sebagai tradisi yang turun temurun. apa yang sedang terjadi pada kantong-kantong arsitektur tradisional kita ? Beberapa kasus dapat disebutkan berikut Ini : ² Masyarakat To Lore yang sudah ribuan tahun beranak pinak dan hidup serasi dengan tanah dan. dll). ia dapat dianggap sebagai perwujudan tradisi mereka yang sama di masa lampau. Kini. bangunanbangunan tambahan. Dengan demikian.Arsitektur-arsitektur lokal ini pada dasarnya berkaitan erat dengan hunian atau tempat tinggal beserta bangunan-bangunan dan struktur pelengkapnya (lumbung. tempat pemujaan. Atas dasar anggapan ini. yang dianggap oleh para anggota masyarakat setempat sebagai bangunan yang struktur dan bentuknya adalah sesuai dengan tradisi budaya mereka.

. Penelitian ini masih merupakan penelitian awal dari serentetan rencana penelitian serupa yang akan dilakukan pada sebanyak mungkin arsitektur tradisional daerah-daerah lain di Indonesia. perkantoran dll. Penelitian-penelitian awal ini dilaksanakan dalam kerangka ³Pra-Penelitian Sejarah Arsitektur Indonesia´ oleh Jurusan llmu-ilmu Sejarah. baik pada tingkat kota.dimukimkan kembali ke daerah lain. tidak lagi bersama-sama dengan keluarga-keluarga lain semasyarakat. kecamatan maupun kabupaten. yang selain dimukimkan kembali akibat daerah pemukiman asalnya termasuk hutan yang di-´konsesikan´ mereka juga diajar untuk tinggal satu keluarga dalam satu rumah. akan menimbulkan dekadensi kebudayaan dan punahnya suatu tradisi lama sebelum kita mengenalnya secara mendalam. ² Contoh lain adalah program ³turun ke tanah´ yang dilaksahakan terhadap masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan Timur. Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Tidakkah pemisahan secara drastis semacam ini. atau pembangunan ³fasilitas´ baru bagi lingkungan (shopping center. ² Banyak sekali lingkungan dan bangunan tradisional harus dibongkar dan dihancurkan akibat dilaksanakannya rencana pelebaran jalan. Cepat atau lambat kemungkinan besar^masyarakat Badui Dalam akan mengalami pula gilirannya. Hutan dan lembah di lereng Gunung Nokilalaki tempat mereka bermukim ini akan dijadikan cagar alam dan taman nasional ³Lore Kalamanta´. Halmahera dan sekitarnya yang dipaparkan dalam tulisan ini.). Keinginan untuk memperbanyak usaha melakukan pencatatan dan perekaman pengetahuan tentang arsitektur tradisional adalah dalam rangka menyelamatkan pengetahuan ini agar tidak musnah bersamaan dengan musnahnya arsitektur itu sendiri. ² Program ³pemukiman kembali´ yang teratur dan terarah terhadap masyarakat Badui Luar di Jawa Barat dari daerah asalnya di Kanekes ke Gunung Tunggal merupakan contoh yang sejenis dengan kasus masyarakat To Lore. merupakan realisasi dari keinginan dan usaha tersebut di atas. Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa bangunan-bangunan dan lingkungan tradisional kini berada dalam masa transisi di mana ia sedang mengalami perubahan-perubahan besar yang mengandung unsur kecenderungan untuk punah. Penelitian arsitektur tradisional di Ternate.

b. 2. Untuk . a. Halmahera dan sekitarnya. Menentukan contoh-contoh yang kiranya mewakili bentuk hunian atau lingkungan suatu wilayah dengan bantuan kepustakaan yang ada serta wawancara di lapangan. Ruang Lingkup. Metode Penelitian. Penelitian awal ini berusaha merekam arsitektur tradisional sebagaimana ia dibangun dan sebagaimana adanya dari beberapa lokasi di Ternate. Pengertian arsitektur. baik alamiah maupun manusiawi. Sebagai tahap paling awal penelitian ini membatasi diri pada perekaman kenyataan-kenyataan fisik saja dari bangunanbangunan yang berkaitan dengan hunian atau tempat hnggal beserta bangunan-bangunan lain sebagai pelengkapnya. la mencakup bagianbagian yang teraga dan juga yang tidak teraga.PENELITIAN-PENELITIAN AWAL YANG TELAH DILAKSANAKAN 1. demikian pula arsitektur tradisional sebenarnya luas sekali. la mengandung standar-standar fisik dan simbolik dan ia memiliki pula banyak aspek. Melakukan pengukuran terhadap bangunan secara keseluruhan dan detail-detail bagian-bagian yang dianggap penting dalam arti mengandung telaah yang kaya dan majemuk.

c. e. dilakukan wawancara dengan orang-orang terpandang yang tahu dalam bidang yang bersangkutan dengan menggunakan pita kaset. Menghubungkan data-data pengukuran dengan keterangan-keterangan hasil wawancara maupun literatur dan menuangkannya dalam bentuk ³penggambaran kembali´. Cempaka (Sahu). Hasil-hasil Penelitian Awal Hasil-hasil penelitian awal ini merupakan arsitektur-arsitektur daerah-daerah Siko dan Facei di Ternate. Hasil yang diperoleh adalah data-data dalam bentuk gambar-gambar yang terukur dan terskala sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. adanya bagian-bagian yang pernah diubah atau perubahan-perubahan akibat pengaruh ikiim dan cuaca. Taraudu (Sahu). warna. 3. Untuk mencatat kemungkinan adanya varian dalam suatu µpenyelesaian arsitektural. Dokiri di Tidore. . Katana (Tobelo) dan Galela di . tekstur. d. hubungan-hubungan konstruksi dan bentukbentuk hiasan yang rumit.mendapatkan kesan-kesan yang menyeluruh digunakan alat potret sehingga terekam keterangan visual seperti suasana gelap/terang.

Dari hasil rekaman yang sudah dikumpulkan. sifat-sifatnya dan jumlah yang berhasil diamati. sebagai benkut : .Halmahera. dapat diambil kesimpulan-kesimpulan sementara yang menunjukkan sifat-sifat umum arsitektur tradisional Halmahera dan sekitarnya. Oleh karena itu hasil-hasil ini perlu dianggap sebagai hasil yang masih bersifat sementara. Gambar-gambar dan keterangan-keterangan yang diberikan di sini. akan makin memperhalus hasil yang dapat diperoleh. Sesungguhnya makin beragam dan majemuk serta makin banyak jumlah obyek yang diamati. diambil dan merupakan sebagian kecil dari bahan laporan data. Pada penelitian awal yang telah dilakukan ini masih dianggap bahwa obyek yang diamati terlampau sedikit sehingga dalam menarik hasil daripadanya peneliti banyak melakukan ³rampatan´ (generalization). KESIMPULAN-KESIMPULAN SEMENTARA Pra-penelitian yang hanya mengamati kenyataan-kenyataan fisik ini sangat dibatasi oleh obyek yang ada.

bambu untuk tulangan utama dinding. Bangunan-bangunan tempat tinggal umumnya konsentris. Bahan bangunan yang dipakai adalah bahan bangunan lokal. dan untuk dinding (pelepahnya). yang langsung terdapat di daerah itu seperti : kayu untuk rangka rumah. Bentuk bangunan adalah geometris. Bangunan-bangunan ini sebagian berdiri dengan lantai diangkat ±90 -150 cm di atas tanah (Siko. bentuk tetap segi delapan. Tiang-tiang utama rangka rumah dan tulangan dasar dinding berdiri di atas umpak batu. b. Galela). f. dengan bagian yang tertinggi berbentuk pelana mengindikasikan bilik dalam sebagai bagian yang terpenting dari rumah. bambu dan kombinasi dari keduanya. untuk bahan dinding/lantai (bambu belah). Pacei. daun nipah untuk bahan atap. . terdiri dari bagian inti di tengah (bilik dalam) dan bagian-bagian luar yang mengelilingi bagian inti (bilik luar).a. (c) Struktur bangunan adalah s¶stem rangka (skeleton) dari kayu. d. e. Taraudu) dan sebagian lagi berlantai langsung di atas tanah (Dokiri. Katana. untuk tulangan dasar dari dinding.

KEMUNGKINAN-KEMUNGKINAN PENELITIAN LEBIH LANJUT Dalam Laporan Pra-penelitian Sejarah Arsitektur Indonesia. Kemungkinan-kemungkinan tersebut adalah sebagai berikut : 1. yang jelas berlaku pula bagi kelanjutan penelitian awal terhadap arsitektur tradisional Ternate dan Halmahera. Bangunan-bangunan memberikan asosiasi pada bentuk kapal. telah disebut kemungkinankemungkinan penelitian lebih lanjut. perekaman ini pada waktu-waktu tertentu di masa yang akan datang perlu dikerjakan lagi secara berkala tapi terus menerus agar dapat menghasilkan rekaman-rekaman yang dapat memperlihatkan po/a perubahannya di kemudian hari. Penyelesaian-penyelesaian detail sambungan konstruksi dan ke-mampuan membuat aneka ragam ornamen cukup unik. .g. Langkah selanjutnya adalah meneliti perangai seseorang atau sekelompok masyarakat tersebut. merupakan rekaman dari keadaannya pada satu waktu tertentu. Perekaman terus menerus ini akan dapat memberikan petunjuk akan arah-arah perubahan yang disukai oleh seseorang atau sekelompok masyarakat yang bersangkutan. menun-jukkan adanya potensi pertukangan yang besar (skilled). Rekaman-rekaman yang telah diperoleh. dalam menghadapi setiap bentuk perubahan di tengah-tengah pembangunan ini. h. Dengan perkataan lain.

Rekaman-rekaman yang telah diperoleh. merupakan rekaman petunjuk-petunjuk untuk menyempurnakan metode penelitian yang dianut sebelumnya. Hasil dari kegiatan ini akan mencakup berbagai bidang keilmuan. Dengan metode yang disempurnakan ini penelitian-penelitian serupa dapat segera diterapkan pada daerah-daerah lain guna memperkaya jumlah obyek yang diamati sehingga dengan demikian generalisasi yang terpaksa telah di-lakukan pada hasil-hasil penelitian yang sekarang dapat diper-halus. Data lengkapnya tersusun dalam : · Laporan Pra-Penelitian Sejarah Arsitektur Indonesia. 281/PSSR/DPPM/1977. yang pada gilirannya merupa-kan bagian dari environmental communication. · Laporan Data Studi Arsitektur Tradisional Aceh. Penelitian ini pun dapat membuka mata ke arah kenyataan akan adanya hubungan timbal balik antara ³kepercayaan´ (yakni hu-bungan kejiwaan antara manusia dengan alam lingkungannya) dengan pemanfaatan atau pengolahan benda. Fakultas Sastra.2. . kaidah-kaidah linguis-tik atau penciptaan simbol-simbol. Pra-Penelitian Sejarah Arsitektur Indonesia. 3. Maluku Utara. Iniversitas Indonesia 1978-1979. Sumba. Hal ini menunjuk kepada gejala-gejala semiologik/semiotika. Proyek Study Sektoral / Regional No. Jurusan llmu-ilmu Sejarah Indonesia.