LAPORAN PENDAHULUAN MIOMA UTERI

A. Definisi Myoma uteri adalah tumor jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat, sehingga dalam kepurtakaan disebut dengan lemiona, fibrimioma. (Arif, M. 1999; 387) Myoma uteri adalah neoplasma jinak berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya. (Hanfia, W. 1999) Myoma uteri (Tumor Otot Polos) uterus adalah pertumbuhan jinak yang berkembang dari sel-sel otot dalam dinding uterus. ( Hamilton Paris, Mary : 1995) Mioma uteri adalah neoplasma yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya sehingga dapat disebut juga leiomioma, fibromioma, atau fibroid. (Ilmu Kandungan, 1999) Mioma uteri adalah tumor yang paling umum pada traktus genitalis. (Derek Llewellyn- Jones, 1994). Mioma uteri adalah tumor jinak otot rahim, disertai jaringan ikatnya. (www. Infomedika. htm, 2004). Mioma uteri terbatas tegas, tidak berkapsul, dan berasal dari otot polos jaringan fibrosus, sehingga mioma uteri dapat berkonsisten padat jika jaringan ikatnya dominan dan berkonsentrasi lunak jika otot rahim yang dominan. Mioma uteri biasa juga disebut leiomioma uteri, fibroma uteri, fibroleiomioma, mioma fibroid atau mioma simpel. Mioma terdiri atas serabut- serabut otot polos yang diselingi dengan jaringan ikat dan dikelilingi kapsul yang tipis. Tumor ini dapat berasal dari setiap bagian duktus muller, tetapi paling sering terjadi pada miomatreium. Disini beberapa tumor dapat timbul secara serentak. Ukuran tumor dapat bervariasi dari sebesar kacang polong sampai sebasar bola kaki. Degenarasi ganas mioma uteri, ditandai dengan terjadinya perlunakan serta warna yang keabu- abuan, terutama jika mioma tumbuh dengan cepat atau ditemukan pada pot menopause. Adanya bagian nekrotik, lunak dan perdarahan pada

Dipercayai bahwa mioma merupakan sebuah tumor monoklonal yang dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik tunggal. hal itu pasti bukan mioma uteri tetapi kemungkinan besar kista ovarium dan resiko untuk mengalami keganasan sangat besar. Bentuk mikroskopis sering sulit dibedakan dengan mioma uteri yang hiperselluler. Estrogen. Dengan demikian mioma uteri tidak dijumpai sebelum menarke dan akan mengalami regresi setelah menopause. Mioma uteri tidak memberikan tanda dan gejala klinik yang bermakna namun lebih sering pada dekade ke-4 serta pada wanita kulit hitam dan sekitar 5 – 10 % merupakan submukosa. sehingga terjadi pembesaran uterus. karena diduga berhubungan dengan aktivitas estrogen. Mioma sering terjadi pada wanita nulipara atau wanita yang hanya mempunyai satu orang anak. atau bahkan bertambah besar maka kemungkinan besar mioma uteri tersebut telah mengalami degenerasi ganas menjadi sarkoma uteri. Kejadian mioma uteri sukar ditetapkan karena tidak semua mioma uteri memberikan keluhan dan memerlukan tindakan operasi. Mioma uteri terjadi kira – kira 5% wanita selama masa reproduksi. Bila ditemukan pembesaran abdomen sebelum menarke. Sebagian besar mioma uteri ditemukan pada masa reproduksi. . Selsel tumor mempunyai abnormalitas kromosom. adalah estrogen. maka dinding uterus menebal.potongan mioma perlu diwaspadai adanya proses ganas. 1. Tumor ini tumbuh dengan lambat dan mungkin baru dideteksi secara klinis pada kehidupan dekade ke-4. di samping faktor predisposisi genetik. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor. Marshall (1998). khususnya pada kromosom lengan. Diet dan lemak tubuh juga berpengaruh terhadap resiko terjadinya mioma. Bila berasal dari miometrium. B. Mioma uteri merupakan tumor jinak yang paling sering ditemukan satu dari empat wanita selama masa reproduksi yang aktif. progesteron dan human growth hormone. Pada dekade ke-4 ini insidennya mencapai kira – kira 20%. Sato (1998) dan Chiaffarino menemukan bahwa resiko mioma meningkat seiring bertambahnya indeks massa tubuh dan konsumsi daging dan ham. Etiologi Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga merupakan penyakit multifaktorial.

Umur Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun. yang juga mempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak daripada miometrium normal. Mioma uteri akan mengecil pada saat menopause dan pengangkatan ovarium.Mioma uteri dijumpai setelah menarke. Aktivitas enzim ini berkurang pada jaringan miomatous. Seringkali terdapat pertumbuhan tumor yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen eksogen.5%) dan hiperplasia endometrium (9. memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari leiomioma selama kehamilan mingkin merupakan hasil dari aksi sinergistik antara HPL dan Estrogen. Progesteron menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu: mengaktifkan 17B hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor. 2. Adanya hubungan dengan kelainan lainnya yang tergantung estrogen seperti endometriosis (50%). tetapi hormon yang mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa yaitu HPL. adenomyosis (16. Paritas Lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanirta yang relatif infertil. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis antara 35 – 45 tahun. Progesteron Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen.8%). terlihat pada periode ini. ada beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi terjadinya mioma uteri. 2. yaitu : 1. 3. ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. perubahan fibrosistik dari payudara (14. Dalam Jeffcoates Principles of Gynecology. 17B hidroxydesidrogenase: enzim ini mengubah estradiol (sebuah estrogen kuat) menjadi estron (estrogen lemah). tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah infertilitas menyebabkan mioma uteri atau .3%).Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas. Hormon pertumbuhan Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan.

Patofisiologi Jika tumor dipotong. Terlepas dari faktor ras. 4. Warnanya abu keputihan. Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor progesteron. Antara tumor dan miometrium normal. faktor pertumbuhan epidermal dan insulin-like growth factor yang distimulasi oleh estrogen. kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma. Lebih daripada itu tumor ini kadang-kadang berkembang setelah menopause bahkan setelah ooforektomi bilateral pada usia dini. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan faktor pertumbuhan lain. angka kejadian mioma uteri tinggi. dimana mioma uteri muncul setelah menarke. Namun bukti-bukti masih kurang meyakinkan karena tumor ini tidak mengalami regresi yang bermakna setelah menopause sebagaimana yang disangka. khususnya wanita berkulit hitam. Anderson dkk. 3. Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat mengurangi ukuran mioma. atau apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi. Fungsi ovarium : Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma. telah mendemonstrasikan munculnya gen yang distimulasi oleh estrogen lebih banyak pada mioma daripada miometrium normal dan mungkin penting pada perkembangan mioma.lingkar didalam matriks jaringan ikat. C. tersusun atas berkas-berkas otot jalinmenjalin dan melingkar. Faktor ras dan genetik Pada wanita ras tertentu.sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertilitas. akan menonjol diatas miometrium sekitarnya karena kapsulnya berkontraksi. terdapat lapisan jaringan . berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause. Pada bagian perifer serabut otot tersusun atas lapisan konsentrik serta serabut otot normal yang mengelilingi tumor berorientasi sama.

tempat masuknya pembuluh darah kedalam mioma. Pada pemeriksaan mikroskopis. D. dengan dikuti ekstravasasi darah diseluruh tumor yang memberikan gambaran seperti daging sapi mentah.1% terjadi perubahan tumor menjadi sarkoma. dapat terjadi komplikasi. atau kialsifikasi dapat terjadi kapanpun oleh ahli ginekologi pada abad ke –19 disebut sebagai “batu rahim”. mungkin menjadi degenerasi kistik. Mula – mula terjadi degenerasi hyalin. Pada kehamilan. berarti pertumbuhan tumor tersebut selalu melampaui suplai darahnya.areolar tipis yang membentuk pseudokapsul. Pathway . kelompok – kelompok sel otot berbentuk kumparan dengan inti panjang dipisahkan menjadi berkas – berkas oleh jaringan ikat. Ini menyebabkan degenerasi. Kurang dari 0. Karena seluruh suplai darah mioma berasal dari beberapa pembuluh darah yang masuk ke pseudokapsul. terutama pada bagian tengah mioma.

E. Klasifikasi .

sesuai dengan lokasinya dibagi menjadi tiga jenis yaitu:  Mioma Uteri Subserosa Lokasi tumor di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai tonjolan saja. lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus urinarius. Corporal (91%). Di dalam otot rahim dapat besar. merupakan lokasi paling lazim. 1. dapat pula sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai. sehingga mioma akan terlepas dari uterus sebagai massa tumor yang bebas dalam rongga peritoneum. lunak (jaringan otot rahim dominan). padat (jaringan ikat dominan). omentum atau mesenterium di sekitarnya menyebabkan sistem peredaran darah diambil alih dari tangkai ke omentum. Isthmica (7. umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan infeksi. Mioma yang cukup besar akan mengisi rongga peritoneal sebagai suatu massa. tetapi bila besar akan menyebabkan uterus berbenjol-benjol. Lokasi Cerivical (2. Pertumbuhan ke arah lateral dapat berada di dalam ligamentum latum dan disebut sebagai mioma intraligamenter. Akibatnya tangkai makin mengecil dan terputus. Mioma jenis ini dikenal sebagai jenis parasitik. Kadang kala tumor tumbuh sebagai mioma subserosa dan kadang-kadang sebagai mioma submukosa. 2. uterus bertambah besar dan berubah bentuknya. Biasanya multipel apabila masih kecil tidak merubah bentuk uterus.  Mioma Uteri Submukosa .2%). Mioma sering tidak memberikan gejala klinis yang berarti kecuali rasa tidak enak karena adanya massa tumor di daerah perut sebelah bawah. Lapisan Uterus Mioma uteri pada daerah korpus.6%).  Mioma Uteri Intramural Disebut juga sebagai mioma intraepitelial. Perlengketan dengan usus. dan seringkali tanpa gejala.Klasifikasi mioma dapat berdasarkan lokasi dan lapisan uterus yang terkena.

Perdarahan sulit untuk dihentikan sehingga sebagai terapinya dilakukan histerektomi. Dapat pula bertangkai maupun tidak. dan hipermenorrhea. Besarnya mioma uteri. Perdarahan abnormal ini dapat dijelaskan oleh karena bertambahnya area permukaaan dari endometrium yang menyebabkan .Terletak di bawah endometrium. Perubahan-perubahan pada mioma uteri. Sebaliknya pada jenis submukosa walaupun hanya kecil selalu memberikan keluhan perdarahan melalui vagina. Manifestasi Klinis Hampir separuh dari kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan pelvik rutin. Tumor ini memperluas permukaan ruangan rahim. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya gejala klinik meliputi : 1. F. Gejala klinik terjadi hanya pada sekitar 35 % – 50% dari pasien yang terkena. Pada penderita memang tidak mempunyai keluhan apa-apa dan tidak sadar bahwa mereka sedang mengandung satu tumor dalam uterus. Mioma bertangkai dapat menonjol melalui kanalis servikalis. metroragi. Adapun gejala klinik yang dapat timbul pada mioma uteri: • Perdarahan abnormal Merupakan gejala klinik yang sering ditemukan (30%). Pada mioma uteri subserosa ataupun intramural walaupun ditemukan cukup besar tetapi sering kali memberikan keluhan yang tidak berarti. Lokalisasi mioma uteri. Bentuk perdarahan yang ditemukan berupa: menoragi. 3. Dari sudut klinik mioma uteri submukosa mempunyai arti yang lebih penting dibandingkan dengan jenis yang lain. 2. Perdarahan dapat menyebabkan anemia defisiensi Fe. dan pada keadaan ini mudah terjadi torsi atau infeksi.

• Infertilitas. distorsi dan kongesti dari pembuluh darah di sekitarnya dan ulserasi dari lapisan endometrium. Perdarahan kontinyu pada pasien dengan mioma submukosa dapat menghalangi implantasi. Pengaruh kehamilan dan persalinan pada mioma uteri : −Cepat bertambah besar. • Nyeri.gangguan kontraksi otot rahim. • Penekanan rahim yang membesar : −Terasa berat di abdomen bagian bawah. • Gangguan pertumbuhan dan perkembangan kehamilan. −Submukosa mioma terlahir. −Infeksi pada mioma. mungkin karena pengaruh hormon estrogen yang meningkat dalam kehamilan. −Torsi bertangkai. disebabkan oleh kompresi tumor yang menyebabkan edema ekstremitas bawah. −Terasa nyeri karena tertekannya saraf. obstruksi ureter dan hidronefrosis. hemorrhoid. Terdapat peningkatan insiden aborsi dan kelahiran prematur pada pasien dengan mioma intramural dan submukosa. dapat disebabkan oleh : −Penekanan saraf. • Kongesti vena. Kehamilan dengan disertai mioma uteri menimbulkan proses saling mempengaruhi. retensi urine. −Gejala intestinal: konstipasi dan obstruksi intestinal. akibat penekanan saluran tuba oleh mioma yang berlokasi di cornu. −Gejala traktus urinarius: urine frequency. . nyeri dan dyspareunia.

−Degenerasi merah dan degenerasi karnosa : tumor menjadi lebih lunak. −Distosia tumor yang menghalangi jalan lahir. −Mioma subserosum yang bertangkai oleh desakan uterus yang membesar atau setelah bayi lahir. −Persalinan prematuritas. torsi menyebabkan gangguan sirkulasi dan nekrosis pada tumor. Bisa terjadi gangguan sirkulasi sehingga terjadi perdarahan. −Kehamilan dapat mengalami keguguran. −Atonia uteri terutama paska persalinan .kadang hanya punya anak satu. terjadi torsi (terpelintir) pada tangkainya. −Inersia uteri terutama pada kala I dan kala II. dan berwarna merah. Wanita hamil merasakan nyeri yang hebat pada perut (abdoment akut). −Gangguan proses persalinan. −Mioma yang lokasinya dibelakang dapat terdesak kedalam kavum douglasi dan terjadi inkarserasi. Terutama pada mioma uteri sub mucosum. berubah bentuk. −Sering terjadi abortus. terutama pada mioma yang besar dan letak sub serus. Akibat adanya distorsi rongga uterus. perdarahan banyak. terutama pada mioma yang letaknya didalam dinding rahim. −Terjadi kelainan letak janin dalam rahim. −Pada kala III dapat terjadi gangguan pelepasan plasenta dan perdarahan. . Pengaruh mioma pada kehamilan dan persalinan : −Subfertil (agak mandul) sampai infertil (mandul) dan kadang. −Tertutupnya saluran indung telur sehingga menimbulkan infertilitas. terutama pada mioma yang letaknya diservix.

Kuretase jika mioma masih kecil. setelah torsi dapat terjadi nekrosis dan infeksi. Penatalaksanaan 1. 3. bila mioma banyak 6. Torsi tangkai mioma dari :   Mioma uteri subserosa. Miomectomi/ pengangkatan mioma saja tanpa mengangkat rahim. 4. Perdarahan sampai terjadi anemia. G. Pada mioma uteri kecil tidak menimbulkan keluhan. Hysterectomi/ pengangkatan rahim: bila mioma besar. 2. Pemberian GkRH agonis selama 6 minggu 3.−Kelainan letak plasenta. Radioterapi 7. Mioma uteri submukosa. tidak diberikan terapi hanya diobservasi tiap 3-6 bulan untuk menilai pembesaran 2. Nekrosis dan infeksi. jaringan rahim yang sehat sedikit. Komplikasi 1. terutama pada mioma yang sub mukus dengan intra mural. −Plasenta sukar lepas (retensio plasenta). 4. H. Pemberian estrogen untuk pasien setelah menopause dan observasi setelah 6 bulan .sedang 5. Pengaruh timbal balik mioma dan kehamilan. syaratnya bila penderita belum punya anak.

8.   Waktu yang tepat untuk operasi adalah kehamilan 16 – 20 minggu. pecah. maka :  Tumor ovarium dalam kehamilan yang lebih besar dari telur angsa harus dikeluarkan. Bila tumor agak besar dan lokasinya agak bawah akan menghalangi persalinan. tumor sekaligus diangkat. penanganan yang dilakukan : − − Coba reposisi. Penanganan berdasarkan pada kemungkinan adanya keganasan. Bila tidak bisa persalinan diselesaikan dengan sectio cesarea dan jangan lupa. I.  Nyeri perut bila terinfeksi. Operasi yang dilakukan pada umur kahamilan dibawah 20 minggu harus diberikan substitusi progesteron : − − Beberapa hari sebelum operasi. kemungkinan torsi dan abdomen akut dan kemungkinan menimbulkan komplikasi obstetrik. Anamnesis   Timbul benjolan di perut bagian bawah dalam waktu yang relatif lama. . terpuntir. Asuhan Keperawatan Pengkajian 1. kalau perlu dalam narkosa. Beberapa hari setelah operasi. Kadang-kadang disertai gangguan haid. sebab ditakutkan korpus luteum terangkat bersama tumor yang dapat menyebabkan abortus.   Operasi darurat apabila terjadi torsi dan aboment akut. Pengobatan Hormon: bila masih menginginkan anak. buang air kecil atau buang air besar.

 Konsistensi padat. Gejala klinis  Adanya rasa penuh pada perut bagian bawah dan tanda massa yang padat kenyal.  Dalam sebagian besar kasus. terutama saat menstruasi. kenyal. tetapi kedua pemeriksaan itu lebih mahal dan tidak memvisualisasi uterus sebaik USG. lebih lanjut uterus membesar dan berbentuk tak teratur. permukaan tumor umumnya rata. Pemeriksaan dalam Teraba tumor yang berasal dari rahim dan pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas dan ini biasanya ditemukan secara kebetulan. mioma mudah dikenali karena pola gemanya pada beberapa bidang tidak hanya menyerupai tetapi juga bergabung dengan uterus.2. . Untungnya. Pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan bimanual didapatkan tumor tersebut menyatu dengan rahim atau mengisi kavum Douglasi. 5. Pemeriksaan fisik   Palpasi abdomen didapatkan tumor di abdomen bagian bawah. lokasi mioma. 3. leiomiosarkoma sangat jarang karena USG tidak dapat membedakannya dengan mioma dan konfirmasinya membutuhkan diagnosa jaringan. Pemeriksaan penunjang  USG.    Adanya perdarahan abnormal. mobil. ketebalan endometriium dan keadaan adnexa dalam rongga pelvis. 4. Nyeri. Infertilitas dan abortus. untuk menentukan jenis tumor. 6. Pemeriksaan luar Teraba massa tumor pada abdomen bagian bawah serta pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas. Mioma juga dapat dideteksi dengan CT scan ataupun MRI.

tes fungsi hati.d Kurangnya pengetahuan tentang penyakit.   Laparaskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.  Tes kehamilan. Kriteria Hasil : . perilaku berhati-hati. Intervensi Keperawatan 1. 4. Cemas b. 3. Nyeri b. DS : Klien menyatakan ada benjolan di perut bagian bawah rasa berat TTV. gangguan sirkulasi darah pada mioma akibat nekrosis dan peradangan. Resiko tinggi infeksi b.d. kreatinin darah. Laboratorium : darah lengkap. Nyeri b.d gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma akibat nekrosis dan peradangan. gula darah. Ditandai dengan : • DO : Klien tampak gelisah. prognosis dan kebutuhan pengobatan.  Histerografi dan histeroskopi untuk menilai pasien mioma submukosa disertai dengan infertilitas. • dan terasa sakit. 2.d tidak adekuat pertahanan tubuh akibat anemia. Foto BNO/IVP pemeriksaan ini penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter. perut terasa mules. ekspresi tegang. urine lengkap. Diagnosa keperawatan 1. Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh b.d perdarahan pervaginam berlebihan. ureum. Tujuan : nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam.

2. Tanda vital dalam batas normal : Suhu : 36-37 0C. tidak kooperatif dalam mengikuti DS : Klien menyatakan takut dan tidak mengetahui tentang pengobatan. Diastole : 70-80 mmHg Intervensi : • Kaji riwayat nyeri. Ditandai dengan : • DO : Klien tampak gelisah. tegang. Tujuan : Setelah 2x15 menit tatap muka pengetahuan klien tentang penyakitnya bertambah dan cemas berkurang. durasi dan intensitas Bantu pasien mengatur posisi senyaman mungkin. tertawa. prognosis. • • • Evaluasi/ kontrol pengurangan nyeri Ciptakan suasana lingkungan tenang dan nyaman. Kolaborasi untuk pemberian analgetik sesuai indikasi. Monitor tanda-tanda vital Ajarkan pasien penggunaan keterampilan manajemen nyeri mis : (skala 0-10) dan tindakan pengurangan yang dilakukan. Kriteria Hasil : • • • • Klien mengatakan rasa cemas berkurang Klien kooperatif terhadap prosedur/ berpartisipasi. dan kebutuhan pengobatan. • penyakitnya. . RR : 16-24x/m. eksprei wajah rileks. Klien mengerti tentang penyakitnya. mendengarkan musik dan sentuhan terapeutik. Klien tampak rileks. • • • dengan teknik relaksasi. TD : Sistole : 100-130 mmHg. mis : lokasi nyeri. frekuensi.• • • Klien menyatakan nyeri berkurang (skala 3-5) Klien tampak tenang. TTV.d kurang pengetahuan tentang penyakit. Cemas b. N : 80-100 x/m.

Nadi : 80- 100x/m. dan pengobatan serta Monitor tanda-tanda vital. Resiko tinggi kekurngan volume cairan tubuh b. • .: Sistole: 100-130 mmHg. R: 16-24 x/m TD. Seperti turgor kulit Pendarahan berhenti. yang pernah mengalami penyakit yang sama. Tanyakan tentang pengalaman klien sendiri/ orang lain sebelumnya Dorong klien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya Ciptakan lingkungan tenang dan terbuka dimana pasien meraa aman Berikan informasi tentang penyakitnya. Kriteria Hasil : • Tidak ditemukan tanda-tanda kekuranga cairan.37 oC. Berikan kesempatan klien untuk bertanya tentang hal-hal yang belum Minta pasien untuk umpan balik tentang apa yang telah dijelaskan. Libatkan orang terdekat sesuai indikasi bila memungkinkan. • • jelas. • • unuk mendiskusikan perasaannya. Ditandai dengan : • DO : adanya perdarahan pervaginam Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam tidak terjadi kekurangan volume cairan tubuh. perdarahan pervaginam berlebihan. • • 3. Diastole : 70-80 mmHg Intervensi : • • Kaji ulang tingkat pemahaman pasien tentang penyakitnya.• Tanda-tanda vital dalam batas normal : Suhu : 36. demam. • prosedur secara jelas dan akurat.d. keluaran urine 1 cc/kg BB/jam. membran mukosa kering. prognosi. kurang.

Tujuan : Infeksi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan perawatan selama 2x 24 jam. pertahanan tubuh tidak adekuat akibat penurunan haemoglobin (anemia). trombo. Pantau masukan dan haluaran/ monitor balance cairan tiap 24 jam. Hb. Lakukan cuci tangan yang baik sebelum tindakan keperawatan. .l/hari Kolaborasi untuk pemberian cairan parenteral dan kalau perlu transfusi sesuai indikasi. Ditandai dengan : • DO : Kadar Haemoglobin kurang dari normal. kreatinin. • • Intervensi : • • • • • Kaji adanya tanda-tanda infeksi.• Tanda-tanda vital dalam batas normal : Suhu : 36-370C. Evaluasi nadi perifer.d. Resiko tinggi infeksi b. color. Monitor tanda-tanda vital. leko. 4. suhu : 36-370 C fungsiolesia. Monitor tanda-tanda vital dan kadar haemoglobin serta leukosit. Nadi : 80 – 100 x/m. pemeriksaan laboratorium. Diastole : 70-80 mmHg Intervensi : • • • • • • Kaji tanda-tanda kekurangan cairan. ureum. RR :16-24 x/m. TD : Sistole : 100-130 mmHg. Anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Observasi pendarahan Anjurkan klien untuk minum + 1500-2000 . dolor dan Kadar haemoglobin dalam batas normal : 11-14 gr% Pasien tidak demam/ menggigil. Gunakan teknik aseptik pada prosedur perawatan. Kriteria Hasil : • Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi seperti rubor.

.• • Batasi pengunjung untuk menghindari pemajanan bakteri. Kolaborasi dengan medis untuk pemberian antibiotika.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful