You are on page 1of 7

Dasar Hukum Pemeriksaan

Ada beberapa peraturan yang dijadikan sebagai payung hukum oleh Badan Pemer
iksa Keuangan dalam melaksanakan pemeriksaan keuangan negara y aitu:
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Amandemen
ke-3.
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara.
5. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemer iksa Keuangan.
6. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1 Tahun 2007 tentang Standar
Pemeriksaan Keuangan Negara

Tujuan Pemeriksaan
Untuk memberikan opini atas tingkat kewajaran informasi keuangan yang
disajikan dalam laporan keuangan mendasarkan kepada kriteria:
1. Kesesuaian LKPD dengan standar akuntansi pemerintah dan atau prinsip-
prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam berbagai peraturan perundang-
undangan.
2. Kecukupan pengungkapan (adequate disclosure)
3. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan
4. Efektivitas sistem pengendalian intern.

Lingkup Pemeriksaan
Untuk mencapai tujuan pemeriksaan tersebut, maka pemeriksaan atas Laporan
Keuangan Kementerian/Lembaga, meliputi pengujian atas:
1. Laporan Realisasi Anggaran
2. Neraca (tidak termasuk Neraca Awal)
3. Laporan Aliran Kas
4. Catatan atas Laporan Keuangan

Siklus Pemeriksaan
Siklus pemeriksaan merupakan serangkaian kegiatan pemeriksaan dari suatu
tahap ke tahap lainnya dalam suatu pemeriksaan. Siklus pemeriksaan
adalah sebagai berikut:
1. Penyusunan RKP;
2. Perencanaan Pemeriksaan;
3. Pelaksanaaan Pemeriksaan;
4. Pelaporan Hasil Pemeriksaan;
5. Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan;
6. Evaluasi Pemeriksaan.

Metodologi Pemeriksaaan

Sasaran Pemeriksaan
Pemeriksaan Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga meliputi pengujian atas
saldo atas akun-akun yang ada di neraca dan transaksi-transaksi pada Laporan
Realisasi Anggaran. Pengujian atas laporan keuangan bertujuan untuk menguji
semua pernyataan (asersi) dalam informasi keuangan, efektifitas pengendalian
intern dan kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang berlaku yang
meliputi:
a. Keberadaan dan keterjadian
b. Kelengkapan
c. Hak dan kewajiban
d. Penilaian dan alokasi
e. Penyajian dan pengungkapan
f. Ketaatan dan kepatuhan
Selain itu, sasaran pemeriksaan dilakukan atas tindak lanjut yang telah
dilakukan oleh Kementerian/Lembaga terhadap hasil pemeriksaan BPK RI tahun
sebelumnya.
Prosedur Pemeriksaan

Tanggal
Ref
Langkah Pemeriksaan & Paraf
KKP
Auditor
PENERIMAAN
1. Penerimaan
a. Umum
1) Buat lead schedule yang berisi saldo pos
penerimaan di LRA KN/Lembaga.
2) Lakukan koordinasi dengan tim LKPP untuk
memastikan bahwa saldo penerimaan di LK
KN/Lembaga sesuai dengan saldo yang
tercantum dalam neraca LKPP.
3) Buat supporting schedule yang berisi rincian per
jenis penerimaan, maupun jumlah penerimaan
per unit akuntansi tingkat eselon I, wilayah, dan
satuan kerja.
4) Catatan : Kolom Adjustment (lead dan
supporting schedule) diisi berdasarkan hasil
pengujian substantif.
5) Lakukan prosedur pengujian SPI dan Pengujian
Substantif terkait pos L/K yang diperiksa
Untuk setiap akun yang diperiksa lakukan asersi
keberadaan dengan melakukan pengujian atas
saldo akun dengan mengambil 20 transaksi
ditelusuri ke dokumen sumbernya dan asersi
kelengkapan dengan melakukan pengujian ataas
20 dokumen sumber ditelusuri sampai ke
pencatatan, dan pelaporan angka di laporan
keuangan.
b. Pengujian Pengendalian Pendapatan.
1) Pengendalian pencatatan
pendapatan/penerimaan pembiayaan telah
didukung oleh Surat Ketetapan (SK) yang
disetujui dan surat tanda setoran (STS) berupa
surat setoran pajak (SSP), surat setoran bukan
pajak (SSBP), dan/atau dokumen penerimaan
Tanggal
Ref
Langkah Pemeriksaan & Paraf
KKP
Auditor
lainnya yang dipertanggungjawabkan.
a) Teliti dasar
penetapan pendapatan/penerimaan
pembiayaan, baik itu peraturan yang berasal
dari kementerian/lembaga tersebut maupun
penetapan jumlah dana yang diterima
seperti peraturan tentang DAU, DAK dan
lain-lain, SKPD, SKRD dan sebagainya.
b) Identifikasi
pendapatan/penerimaan pembiayaan yang
tidak jelas dasar hukumnya dan teliti sebab
dan akibatnya.
c) Identifikasi
pendapatan/penerimaan pembiayaan yang
jelas dasar hukumnya, tetapi tidak dapat
diperoleh serta teliti sebab dan akibatnya.
2) Pengendalian atas STS atau dokumen
penerimaan lainnya.
a) Teliti apakah STS atau dokumen
penerimaan lainnya apakah telah bernomor
seri (prenumbered).
b) Teliti apakah dokumen tersebut
mengungkapkan kejelasan penyetoran
meliputi tanggal penyetoran, nilai
penyetoran, jenis pendapatan/penerimaan
pembiayaan, tempat penyetoran, dan
identitas penyetor, serta dasar hukum
pendapatan/penerimaan pembiayaan
tersebut dan informasi lain yang diperlukan.
c) dan telah dipertanggungjawabkan
dengan semestinya.
3) Pengendalian nilai
pendapatan/penerimaan pembiayaan.
Teliti secara uji petik apakah realisasi
pendapatan/penerimaan pembiayaan telah
dilakukan rekonsiliasi antara satuan kerja
kementerian negara/lembaga dan kas umum
negara/unit Direktorat Jenderal Perbendaharaan
terkait.
4) Prosedur verifikasi intern atas
Tanggal
Ref
Langkah Pemeriksaan & Paraf
KKP
Auditor
pendapatan/penerimaan pembiayaan telah
dijalankan.
a) Teliti apakah pemerintah telah
membuat prosedur verifikasi intern atas STS
atau dokumen penerimaan lainnya. Jika
prosedur verifikasi intern atas dokumen
penerimaan tidak ada, teliti apakah terdapat
prosedur pengendalian alternatif yang
memadai.
b) Teliti apakah prosedur verifikasi
intern tersebut dilakukan secara efektif dan
teliti hasil verifikasi intern tersebut.
5) Pengendalian ketepatan waktu
pencatatan pendapatan/penerimaan
pembiayaan.
a) Teliti apakah terjadi tenggang
waktu penerimaan kas dan penyetoran
pendapatan dengan melihat informasi
tanggal bukti penerimaan (STS/lainnya).
b) Teliti ketepatan pencatatan
pendapatan/penerimaan pembiayaan
apakah telah sesuai dengan periode
pelaporan (cut off period).
c) Teliti persetujuan atas pengurangan
dan/atau penundaan pembayaran
pendapatan daerah/penerimaan pembiayaan
dan teliti dasar hukumnya.
6) Pengendalian pendapatan/penerimaan
pembiayaan yang melalui bendahara
penerimaan.
Teliti pengendalian pendapatan/penerimaan
pembiayaan yang melalui bendahara
penerimaan apakah telah memadai, khususnya
untuk menjamin bahwa penerimaan tersebut
telah disetorkan kepada kas umum negara
secara lengkap dan tepat waktu.
Evaluasi prosedur untuk memperoleh pendapatan
dimulai dari inisiasi untuk memperoleh
pendapatan sampai dengan pelaporannya pada
L/K. Buat bagan alurnya dan identifikasikan
Tanggal
Ref
Langkah Pemeriksaan & Paraf
KKP
Auditor
kelemahan-kelemahan pengendalian yang
dijumpai dan cari sebab akibatnya
c. Pengujian Subtantif atas Transaksi Pendapatan
dan Penerimaan
1) Telaah jurnal pendapatan, buku besar dan
berkas induk piutang atau neraca saldo untuk
jumlah penerimaan (pendapatan/penerimaan
pembiayaan) yang besar atau tidak biasa dan
pertimbangkan bukti pembayaran yang
memiliki risiko tidak tercatat seperti pada saat
volume pendapatan /penerimaan pembiayaan
cukup banyak.
2) Telusuri pencatatan penerimaan tersebut ke
salinan SK penerimaan dan STS
3) Telusuri SK penetapan penerimaan ke STS dan
pencatatannya ke buku jurnal dan berkas induk
piutang
4) Teliti realisasi pendapatan /penerimaan
pembiayaan yang dilaporkan pada laporan
realisasi anggaran dan pastikan bahwa: (1)
telah benar penjumlahan vertikal dan
horizontalnya; (2) telah benar
pembandingannya dengan anggarannya; (3)
telah benar dibandingkan dengan pendapatan
pada semua laporan realisasi anggaran SKPD;
dan (4) telah diungkapkan secara memadai
dalam catatan atas laporan keuangan. Apabila
jumlah yang dibandingkan tidak sama, teliti
sebab dan akibatnya.
5) Hitung ulang informasi di dalam bukti
penerimaan (STS/lainnya) secara uji petik, dan
bandingkan dengan laporan penerimaan terkait.
6) Teliti dokumen yang mendukung pencatatan
transaksi penerimaan dan pastikan bahwa
pencatatan penerimaan telah dilakukan kepada
akun/perkiraan yang tepat sesuai bagan
perkiraan standar yang telah ditetapkan
7) Teliti SK penerimaan yang belum ada STS-nya.
8) Bandingkan antara tanggal pencatatan
penerimaan dengan tanggal STS.
Tanggal
Ref
Langkah Pemeriksaan & Paraf
KKP
Auditor

Pelaporan Hasil Pemeriksaan


Pelaporan pemeriksaan merupakan tahap setelah tim pemeriksa
menyelesaikan pemeriksaan di lapangan. Tahap pelaporan dimulai setelah
adanya TP sebagai kumpulan indikasi permasalahan yang ditemukan
dalam pemeriksaan di lapangan dan diakhiri setelah penyampaian
Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) kepada lembaga perwakilan dan pemilik
kepentingan lain.Pada tahap pelaporan, TP beserta dokumentasi pemeriksaan
lainnya diolah menjadi LHP melalui proses pembahasan untuk menghasilkan
laporan yang sesuai dengan SPKN dan bermanfaat bagi pihak yang memiliki
kepentingan terhadap LHP.

Mekanisme Pelaporan Hasil Pemeriksaan


Pelaporan hasil pemeriksan meliputi enam tahap:
1. Penyusunan konsep LHP;
2. Penganalisisan dan pereviuan konsep LHP oleh pengendali teknis;
3. Penganalisisan dan pereviuan konsep LHP oleh penanggung jawab;
4. Perolehan tanggapan atas konsep LHP dari pimpinan entitas yang
diperiksa;
5. Pembahasan konsep LHP dengan pemberi tugas;
6. Penerbitan dan penyampaian LHP.