REFERAT

KERATOUVEITIS

Disusun Oleh: Akhmad Irawan NIM. 02.34892.00085.09

Pembimbing: dr. Yulia Anita, Sp.M LABORATORIUM ILMU PENYAKIT MATA PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2009

dengan insidensi pertahun bervariasiantara 8.4 Secara anatomis uvea dapat dibedakan menjadi uvea anterior yang terdiri dari iris dan badan silier. terletak antara retina dan sklera. Uveitis anterior merupakan salah satu radang di dalam bola mata yang paling sering dijumpai. Kejadian paling sering adalah keratitis yang menyebabkan uveitis anterior.5 . yaitu iris. Struktur uvea terdiri dari 3 bagian. namun angka tersebut meningkat menjadi 1% pada kelompok populasi HLA-B27 positif. Keratouveitis biasanya terjadi karena keratitis yang kemudian menyebabkan adanya uveitis. Sesuai dengan pembagian anatomisnya tersebut. 1 Insiden pada keratouveitis hampir sama banyaknya dengan insiden kejadian uveitis anterior. Angka prevalensi uveitis anterior sekitar 0.2 TUJUAN Di dalam tulisan ini akan dijelaskan mengenai keratouveitis yang berupa uveitis akut disertai dengan keratitis.KERATOUVEITIS PENDAHULUAN Keratouveitis sering digunakan untuk menyatakan adanya gabungan peradangan antara keratitis dan uveitis. Umur penderita biasanya bervariasi antara usia prepubertal – 50 tahun.000 penduduk. serta uvea posterior yang terdiri dari koroid. Lebih spesifik lagi adalah uveitis anterior DEFINISI Uveitis anterior adalah proses radang yang mengenai uvea bagian anterior. badan silier. maka uveitis juga dibedakan menjadi: 3. Uveitis anterior akuta pada HLA-B27 positif lebih sering terjadi pada orang Kaukasia dibandingkan orang Jepang.19%. dan koroid yang merupakan jaringan vaskuler di dalam mata.4.212 setiap 100. 3. Hal ini terjadi lebih dikarenakan struktur anatomis dari kornea dan traktus uvea yang saling berdekatan.

ataupun iatrogenik. Gbr. 2.4 1. 2. 1. Penyebab non spesifik (non infeksi) atau reaksi hipersensitivitas Disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap mikroorganisme atau antigen yang masuk kedalam tubuh dan merangsang reaksi antigen antibodi dengan predileksi pada traktus uvea. Berdasarkan asalnya: • Eksogen Pada umumnya disebabkan oleh karena trauma. disebut korioretinitis. . Berdasarkan spesifitas penyebab: Penyebab spesifik (infeksi) Disebabkan oleh virus. fungi. bakteri. Pembagian Uveitis menurut anatomi ETIOLOGI3. atau kedua-duanya (iridosiklitis). Uveitis posterior Apabila mengenai jaringan koroid (koroiditis). Panuveitis apabila mengenai ketiga lokasi tersebut diatas.ataupun parasit yang spesifik. Sering disertai dengan retinitis. Uveitis anterior Apabila mengenai iris (iritis). badan silier (siklitis).1. operasi intra okuler.

dan penderita sembuh sempurna diluar serangan tersebut. • Residif Apabila serangan terjadi lebih dari dua kali disertai penyembuhan yang sempurna di antara serangan-serangan tersebut.4 Seperti semua proses radang. 3. Gbr 2. uveitis anterior ditandai dengan adanya dilatasi pembuluh darah yang akan menimbulkan gejala hiperemia silier (hiperemi perikorneal atau pericorneal vascular injection). Injeksi silier . Berdasarkan reaksi radang yang terjadi: Non granulomatosa Infiltrat yang terjadi terdiri dari sel plasma dan limfosit.• Endogen Dapat disebabkan oleh fokal infeksi di organ lain ataupun reaksi autoimun. Granulomatosa Infiltrat yang terjadi terdiri dari sel epiteloid dan makrofag. PATOFISIOLOGI DAN KOMPLIKASI3. 4. Berdasarkan perjalanan penyakit: • Akut Apabila serangan terjadi satu atau dua kali. • Kronis Apabila serangan terjadi berulang kali tanpa pernah sembuh sempurna di antaranya.

Peningkatan permeabilitas ini akan menyebabkan eksudasi ke dalam akuos humor. Gbr 3. Dapat pula terjadi perlekatan pada bagian tepi pupil. disebut sebagai keratic precipitate (KP). biasanya dijumpai pada jenis granulomatosa. Apabila proses radang berlangsung lama (kronis) dan berulang. yaitu partikel-partikel kecil dengan gerak Brown (efek tyndal). fibrin. Pada proses keradangan yang lebih akut. sehingga terjadi peningkatan konsentrasi protein dalam akuos humor. maka selsel radang dapat melekat pada endotel kornea. proses keradangan akan berjalan terus dan menimbulkan berbagai komplikasi. yaitu : • mutton fat KP : besar. • punctate KP : kecil. ataupun dengan endotel kornea yang disebut sinekia anterior. . Kedua gejala tersebut menunjukkan proses keradangan akut. kelabu. Pada pemeriksaan biomikroskop (slit lamp) hal ini tampak sebagai akuos flare atau sel. dapat dijumpai penumpukan selsel radang di dalam BMD yang disebut hipopion. terdiri atas makrofag dan pigmen-pigmen yang difagositirnya. dan fibroblas dapat menimbulkan perlekatan antara iris dengan kapsul lensa bagian anterior yang disebut sinekia posterior. terdiri atas sel limfosit dan sel plasma. dikenal dengan hifema. Sel-sel radang. Ada dua jenis keratic precipitate. terdapat pada jenis non granulomatosa. Mutton fat KP Apabila tidak mendapatkan terapi yang adekuat. ataupun migrasi eritrosit ke dalam BMD. putih.

GEJALA KLINIK3. Perlekatan-perlekatan tersebut. 3. Bila uveitis anterior monokuler dengan segala komplikasinya tidak segera ditangani. terutama yang mengenai badan silier. Pada anamnesa penderita mengeluh: • • Mata terasa seperti ada pasir. Selanjutnya tekanan dalam bola mata semakin meningkat dan akhirnya terjadi glaukoma sekunder. disebut oklusio pupil. dapat timbul endoftalmitis (peradangan supuratif berat dalam rongga mata dan struktur di dalamnya dengan abses di dalam badan kaca) ataupun panoftalmitis (peradangan seluruh bola mata termasuk sklera dan kapsul tenon sehingga bola mata merupakan rongga abses). Mata merah disertai air mata. dapat pula terjadi symphatetic ophtalmia pada mata sebelahnya yang semula sehat. Apabila keradangan menyebar luas.5 1. Sinekia Posterior Pada uveitis anterior juga terjadi gangguan metabolisme lensa.4.yang disebut seklusio pupil. Komplikasi ini sering didapatkan pada uveitis anterior yang terjadi akibat trauma tembus. ditambah dengan tertutupnya trabekular oleh sel-sel radang.4.5 Gbr 4. atau seluruh pupil tertutup oleh sel-sel radang. . akan menghambat aliran aquos humor dari bilik mata belakang ke bilik mata depan sehingga aquos humor tertumpuk di bilik mata belakang dan akan mendorong iris ke depan yang tampak sebagai iris bombans. yang menyebabkan lensa menjadi keruh dan terjadi katarak komplikata.

dan keratic precipitate. 2. Pada penderita ini sebaiknya dilakukan skin test untuk pemeriksaan tuberkulosis dan toksoplasmosis. hifema bila proses sangat akut. bentuk tidak teratur. • • • • bombans. Iris edema dan warna menjadi pucat. yaitu dilatasi pembuluh darah siliar sekitar Bilik mata depan keruh (flare). penglihatan akan banyak menurun. Sementara bagi penderita yang tidak responsif diusahakan untuk menemukan diagnosis etiologinya melalui pemeriksaan laboratorium. • • • katarak komplikata. bila telah terjadi glaukoma limbus. Konjungtiva merah. kadang-kadang disertai kemosis. Tekanan intra okuler meningkat. 3. Pupil menyempit. terkadang didapatkan iris Dapat pula dijumpai sinekia posterior ataupun sinekia anterior. baik saat ditekan ataupun digerakkan. Nyeri bertambah Fotofobia. kecuali bila telah terjadi hebat bila telah timbul glaukoma sekunder. umumnya tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut. Pemeriksaan laboratorium Penderita uveitis anterior akut dengan respon yang baik terhadap pengobatan non spesifik. • • sekunder. terutama bila telah terjadi katarak komplikata. Penglihatan kabur atau menurun ringan.• Nyeri. negatif. Hiperemia perikorneal. Untuk kasus-kasus yang . disertai adanya hipopion atau Sudut BMD menjadi dangkal bila didapatkan sinekia. refleks lambat sampai Lensa keruh. Dari pemeriksaan fisik didapatkan: • • • • Kelopak mata edema disertai ptosis ringan. penderita menutup mata bila terkena sinar Blefarospasme.

rekurens (berulang). perlu dilakukan tes untuk sifilis. sekaligus untuk meningkatkan aliran darah sehingga resorbsi selsel radang dapat lebih cepat. Dengan kompres hangat. Pada dugaan kasus toksoplasmosis.4 Tujuan utama dari pengobatan uveitis anterior adalah untuk mengembalikan atau memperbaiki fungsi penglihatan mata. berat. midriatikum sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya sinekia. Kacamata hitam bertujuan untuk mengurangi fotofobi. DIAGNOSIS BANDING Beberapa penyakit yang memberikan gejala menyerupai uveitis anterior antara lain konjungtivitis akut dan glaukoma akut. TERAPI3. Tujuan pemberian midriatikum adalah agar otot- otot iris dan badan silier relaks. Kompres hangat. sehingga dapat mengurangi nyeri dan mempercepat panyembuhan. ataupun melepaskan sinekia yang telah ada. Midriatikum yang biasanya digunakan adalah: • Sulfas atropin 1% sehari 3 kali tetes . atau granulomatosa. 2. Adapun terapi uveitis anterior dapat dikelompokkan menjadi: Terapi non spesifik 1. 3. Penggunaan kacamata hitam. bilateral. Penderita muda dengan arthritis sebaiknya dilakukan tes ANA. Selain itu. diharapkan rasa nyeri akan berkurang. pengobatan tetap perlu diberikan untuk mencegah memburuknya penyakit dan terjadinya komplikasi yang tidak diharapkan. uretritis. Apabila sudah terlambat dan fungsi penglihatan tidak dapat lagi dipulihkan seperti semula. foto Rontgen untuk mencari kemungkinan tuberkulosis atau sarkoidosis. dan gangguan pencernaan. terutama akibat pemberian midriatikum. radang yang konsisten. dilakukan pemeriksaan HLA-B27 untuk mencari penyebab autoimun. Midritikum/sikloplegik. dilakukan pemeriksaan IgG dan IgM. Pada kasus psoriasis.

Karena penyebab yang tersering adalah bakteri. perlu diberikan midriatikum. maka obat yang sering diberikan berupa antibiotik. prednisolone succinate 25 mg (1 ml). yaitu glaukoma sekunder pada penggunaan lokal selama lebih dari dua minggu. triamcinolone acetonide 4 mg (1 ml).1 % atau prednisolone 1 %. lalu diturunkan 5 mg tiap hari. Anti inflamasi yang biasanya digunakan adalah kortikosteroid. Bila belum berhasil dapat diberikan sistemik prednisone oral mulai 80 mg per hari sampai tanda radang berkurang.• • 4. Terapi terhadap komplikasi Sinekia posterior dan anterior Untuk mencegah maupun mengobati sinekia posterior dan sinekia anterior. sebab proses radang yang terjadi adalah sama tanpa memandang penyebabnya. Terapi spesifik Terapi yang spesifik dapat diberikan apabila penyebab pasti dari uveitis anterior telah diketahui. • Dewasa : Lokal berupa tetes mata kadang dikombinasi dengan steroid. Anak : prednison 0. tetapi terapi non spesifik seperti disebutkan diatas harus tetap diberikan. Anti Homatropin 2% sehari 3 kali tetes Scopolamin 0. Walaupun diberikan terapi spesifik. Bila radang sangat hebat dapat diberikan subkonjungtiva atau periokuler: dexamethasone phosphate 4 mg (1ml). Pada pemberian kortikosteroid.2% sehari 3 kali tetes inflamasi. Per oral dengan Chloramphenicol 3 kali sehari 2 kapsul • Anak : Chloramphenicol 25 mg/kgbb sehari 3-4 kali.5 mg/kgbb sehari 3 kali. . dan komplikasi lain pada penggunaan sistemik. methylprednisolone acetate 20 mg. perlu diwaspadai komplikasi-komplikasi yang mungkin terjadi. dengan dosis sebagai berikut: Dewasa : Topikal dengan dexamethasone 0. seperti yang telah diterangkan sebelumnya. Subkonjungtiva kadang juga dikombinasi dengan steroid.

Uveitis granulomatosa berlangsung berbulan-bulan sampai tahunan. PROGNOSIS3. yang disesuaikan dengan keadaan dan jenis katarak serta kemampuan ahli bedah.25 % .Glaukoma sekunder Glaukoma sekunder adalah komplikasi yang paling sering terjadi pada uveitis anterior. Komplikasi ini sering dijumpai pada uveitis anterior kronis. tetapi TIO masih tetap tinggi.5 Dengan pengobatan. Terapi yang diperlukan adalah pembedahan. kadang-kadang dengan remisi dan eksaserbasi. Glaukoma sudut tertutup: iridektomi perifer atau laser iridektomi.0. serangan uveitis non granulomatosa umumnya berlangsung beberapa hari sampai minggu dan sering kambuh. Terapi yang harus diberikan antara lain: • • Terapi konservatif: Timolol 0. dan dapat menimbulkan kerusakan permanen dengan penurunan penglihatan nyata walau dengan pengobatan yang terbaik. Katarak komplikata.4. .5 % 1 tetes tiap 12 jam. Glaukoma sudut terbuka: bedah filtrasi. acetazolamide 250 mg tiap 6 jam Terapi bedah: Dilakukan bila tanda-tanda radang telah hilang. bila telah terjadi perlekatan iris dengan trabekula (Peripheral Anterior Synechia atau PAS) dilakukan bedah filtrasi.

Anonym. Jakarta: Media Aesculapius FKUI. www. Vaughan. www. 2001. 2008.DAFTAR PUSTAKA 1.co. 2002. Keratouveitis and Keratitis. Ilmu Penyakit Mata edisi–2. Hal: 56 . Jakarta: Widya Medika.uveitis. Mansjoer. Daniel G et al. 2009. Hal: 113 – 116 5. di akses 20 April 2009. di akses 20 April 2009 3.kalbe. Kapita Selekta edisi-3 jilid-1.net/keratouveitis_and_keratitis. Ilyas. Sidarta.htm.id/files/cdk/files/15GambaranKlinisUveitis93.htm. Hal: 129 – 152 4. 2002. Oftalmologi Umum edisi-14. Anonim. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Arif M. 2.