KONSEP KEMISKINAN DAN STRATEGI PENANGGULANGANNYA

i Rate This PENDAHULUAN Kemiskinan merupakan permasalahan kemanusiaan purba. Ia bersifat laten dan aktual sekaligus. Ia telah ada sejak peradaban manusia ada dan hingga kini masih menjadi masalah sentral di belahan bumi manapun. Kemisikinan merupakan faktor dominan yang mempengaruhi persoalan kemanusiaan lainnya, seperti keterbelakangan, kebodohan, ketelantaran, kematian dini. Problema buta hurup, putus sekolah, anak jalanan, pekerja anak, perdagangan manusia (human trafficking) tidak bisa dipisahkan dari masalah kemiskinan. Berbagai upaya telah dilakukan, beragam kebijakan dan program telah disebar-terapkan, berjumlah dana telah dikeluarkan demi menanggulangi kemiskinan. Tak terhitung berapa kajian dan ulasan telah dilakukan di universitas, hotel berbintang, dan tempat lainnya. Pertanyaannya mengapa kemisikinan masih menjadi bayangan buruk wajah kemanusiaan kita hingga saat ini? Meskipun penanganan kemiskinan bukan usaha mudah, diskusi dan penggagasan aksi-tindak tidak boleh surut kebelakang. Untuk meretas jalan pensejahteraan, pemahaman mengenai konsep dan strategi penanggulangan kemisikinan masih harus terus dikembangkan. KEMISKINAN Berdasarkan definisi kemiskinan dan fakir miskin dari BPS dan Depsos (2002), jumlah penduduk miskin pada tahun 2002 mencapai 35,7 juta jiwa dan 15,6 juta jiwa (43%) diantaranya masuk kategori fakir miskin. Secara keseluruhan, prosentase penduduk miskin dan fakir miskin terhadap total penduduk Indonesia adalah sekira 17,6 persen dan 7,7 persen. Ini berarti bahwa secara rata-rata jika ada 100 orang Indonesia berkumpul, sebanyak 18 orang diantaranya adalah orang miskin, yang terdiri dari 10 orang bukan fakir miskin dan 8 orang fakir miskin (Suharto, 2004:3). Pengertian Kemiskinan 1. Kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak (BPS dan Depsos, 2002:3).
2. Kemiskinan merupakan sebuah kondisi yang berada di bawah garis nilai standar

kebutuhan minimum, baik untuk makanan dan non makanan, yang disebut garis kemiskinan (poverty line) atau batas kemiskinan (poverty threshold). Garis kemiskinan adalah sejumlah rupiah yang diperlukan oleh setiap individu untuk dapat membayar kebutuhan makanan setara 2100 kilo kalori per orang per hari dan kebutuhan nonmakanan yang terdiri dari perumahan, pakaian, kesehatan, pendidikan, transportasi, serta aneka barang dan jasa lainnya (BPS dan Depsos,2002:4). 3. Kemiskinan pada umumnya didefinisikan dari segi pendapatan dalam bentuk uang ditambah dengan keuntungan-keuntunan non-material yang diterima oleh seseorang.

Kemiskinan konsekuensial. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (pangan. 4. 2001). (b) sumber keuangan (pekerjaan. kerusakan lingkungan. (d) jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan.2004:6). kesehatan). keadaan kesehatan yang buruk. Kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial. 5. 3. dan tingginya jumlah penduduk. sandang dan papan) 2. sanitasi.Secara luas kemiskinan meliputi kekurangan atau tidak memiliki pendidikan. Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan. kemiskinan memiliki berbagai dimensi: 1. dkk. 2004). (c) organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama (koperasi. Kemiskinan yang terjadi akibat kejadian-kejadian lain atau faktor-faktor eksternal di luar si miskin. Sedangkan negara-negara berkembang seringkali semakin terpinggirkan oleh persaingan dan pasar bebas yang merupakan prasyarat globalisasi 2. Kemiskinan subsisten (kemiskinan akibat rendahnya pembangunan). kemiskinan pedesaan (kemiskinan akibat peminggiran pedesaan dalam proses pembangunan). seperti konflik. 4. kekurangan transportasi yang dibutuhkan oleh masyarakat (SMERU dalam Suharto dkk. David Cox (2004:1-6) membagi kemiskinan kedalam beberapa dimensi: 1. Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga). barang. Pemenang umumnya adalah negara-negara maju. air bersih dan transportasi). anak-anak. organisasi sosial). 3. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massal. dan kelompok minoritas. Dimensi Kemiskinan Kemiskinan merupakan fenomena yang berwayuh wajah. Menurut SMERU (2001). alat produksi. perumahan. Kemiskinan yang dialami oleh perempuan. Fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan (Depsos. partai politik. kredit). Kemiskinan yang diakibatkan globalisasi.. dan (f) informasi yang berguna untuk kemajuan hidup (Friedman dalam Suharto. (e) pengetahuan dan keterampilan. pendidikan. kemiskinan perkotaan (kemiskinan yang sebabkan oleh hakekat dan kecepatan pertumbuhan perkotaan). Basis kekuasaan sosial meliputi: (a) modal produktif atau asset (tanah. Kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan. . dan jasa. Globalisasi menghasilkan pemenang dan pengkalah. 4. Kemiskinan sosial. bencana alam.

Suharto. wanita korban tindak kekerasan rumah tangga. Sejak ahli ekonomi “menemukan” pendapatan nasional (GNP) sebagai indikator dalam mengukur tingkat kemakmuran negara pada tahun 1950-an. social. 2004:7-8). Tidak adanya akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan 8. Social Accounting Matrix (SAM) oleh Pyatt dan Round (1977). 3). kelompok marjinal dan terpencil)(Suharto. Dintaranya adalah kombinasi garis kemiskinan dan distribusi pendapatan yang dikembangkan Sen (1973). Karena indikator GNP dan pendapatan memiliki kelemahan dalam memotret kondisi kemajuan dan kemiskinan suatu entitas sosial. Those prices quietly register the prevailing economic and purchasing power in the system – but they are silent about the distribution. Pengukuran kemiskinan yang berpijak pada perspektif “kemiskinan pendapatan” (income poverty) – yang menggunakan pendapatan sebagai satu-satunya indikator “garis kemiskinan” – juga merupakan bukti dari masih kuatnya dominasi model ekonomi neo-klasik di atas.5. Seperti halnya GNP. GNP is one-dimensional: it fails to capture the cultural.2002b). And what is more serious. Seperti dinyatakan oleh Satterthwaite (1997:13-14) sedikitnya ada tiga kelemahan penggunaan pendapatan sebagai indikator kemiskinan: 1). 1997. Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental. menyatakan: GNP reflects market prices in monetary terms. . 2002a. misalnya. It misses the extent to which households face other forms of deprivation due to the strategies they adopt to keep their incomes above the poverty line. 2). Meskipun GNP dapat dijadikan ukuran untuk menelaah performa pembangunan suatu negara. Tidak dilibatkannya dalam kegiatan sosial masyarakat. 1998). subsistence agriculture. unpaid services. Physical Quality of Life Index (PQLI) yang dikembangkan Morris (1977) (lihat Suharto. 7. hingga kini hampir semua ilmu sosial selalu merujuk pada pendekatan tersebut manakala berbicara masalah kemajuan suatu negara. 9. janda miskin. political and many other choices that people make. banyak ahli menunjukkan beberapa kelemahan dari indikator ini. character or quality of economic growth. sejak tahun 1970-an telah dikembangkan berbagai pendekatan alternatif. Haq (1995:46). human capital. Hampir semua pendekatan dalam mengkaji kemiskinan masih berporos pada paradigma modernisasi (the modernisation paradigm) yang kajiannya didasari oleh teori-teori pertumbuhan ekonomi. The concept of poverty based only on income fails to pay sufficient attention to the social and health dimensions of poverty as well as to other forms of deprivation associated with poverty. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan keterbatasan sumber alam. GNP also leaves out all activities that are not monetised – household work. pendekatan income poverty juga memiliki beberapa kekurangan. Ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial (anak telantar. 6. dkk. The equation of poverty with income level obscures the underlying causes of poverty. 2001. The use of income as the only measure of poverty minimises the involvement of the poor in determining what should be done to reduce poverty. dan the production-centred model yang berporos pada pendekatan ekonomi neo-klasik ortodox (orthodox neoclassical economics) (Elson.

Kedua perspektif tersebut masih belum menjangkau variabel-variabel yang menunjukkan dinamika kemiskinan. tempat tinggal dan bantuan-bantuan mendesak lainnya. the poor are seen almost as passive victims and subjects of investigation rather than as human beings who have something to contribute to both the identification of their condition and its improvement (Suharto. perspektif kemiskinan yang bersifat multidimensional dan dinamis muncul sebagai satu isu sentral dalam prioritas pembangunan. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orang miskin adalah manajer seperangkat asset yang ada diseputar diri dan lingkungannya. Kini. baik pendekatan modernisasi yang dipelopori oleh para pendahulunya. Munculnya isu ini tidak saja telah melahirkan perubahan pada fokus pengkajian kemiskinan. Sebagaimana ditunjukkan oleh studi Suharto (2002a:69): There is a growing body of literature documenting that people who live in conditions which put their principal source of livelihood at recurrent threat will adopt strategic adaptation to minimise risk. melainkan pula telah melahirkan tantangan bagi para pembuat kebijakan untuk merekonsktruksi keefektifan program-program pengentasan kemiskinan. Suharto (2002a) menunjukkan bahwa: In its standardised conception of poverty. Sebagaimana dikaji oleh Suharto (2002a:61-62). Amartya Sen. Sistem pengukuran serta indikator yang digunakannya terpusat untuk meneliti “kondisi” atau “keadaan” kemiskinan berdasarkan variabel-variabel sosial-ekonomi yang dominan. for example. pendekatan yang digunakan UNDP berporos pada ide-ide heterodox dari paradigma popular development yang memadukan model kebutuhan dasar (basic needs model) yang dikembangkan oleh Paul Streeten dan konsep kapabilitas (capability) yang dikembangkan oleh Pemenang Nobel Ekonomi 1998. salah satu lembaga dunia. seperti Human Development Index (HDI) dan Human Poverty Index (HPI). Keadaan di atas terutama terjadi pada orang miskin yang hidup di negara yang tidak menerapkan sistem negara kesejahteraan (welfare state) yang dapat melindungi dan menjamin kehidupan dasar warganya terhadap kondisi-kondisi yang memburuk yang tidak mampu ditangani oleh dirinya sendiri. 2002a:68). sosial dan budaya si miskin. maupun pendekatan popular development yang digunakan UNDP belakangan ini. yakni UNDP. terutama yang menyangkut kerangka konseptual dan metodologi pengukuran kemiskinan. Metodanya masih berfokus pada “outcomes” dan kurang memperhatikan aspek aktor atau pelaku kemiskinan serta sebab-sebab yang mempengaruhinya.Pada tahun 1990-an. Kesadaran akan pentingnya penanganan kemiskinan lokal yang berkelanjutan yang menekankan pada penguatan solusi-solusi yang ditemukan oleh orang yang bersangkutan semakin mengemuka. setelah pendekatan-pendekatan di atas dianggap belum memenuhi harapan dalam mengkaji dan menangani kemiskinan. Kelangsungan hidup individu dalam situasi ini seringkali tergantung pada keluarga yang secara bersama-sama dengan jaringan sosial membantu para anggotanya dengan pemberian bantuan keuangan. memperkenalkan pendekatan “pembangunan manusia” (human development) dalam mengukur kemajuan dan kemiskinan. . keduanya masih melihat kemiskinan sebagai individual poverty dan bukan structural and social poverty. Namun demikian. The ways in which people plan strategically such coping behaviour critically determine their chances of survival as well as future economic well-being. Pendekatan ini lebih memfokuskan pada pengidentifikasian “apa yang dimiliki oleh orang miskin” ketimbang “apa yang tidak dimiliki orang miskin” yang menjadi sasaran pengkajian. bila dicermati. Pendekatan yang digunakan UNDP relatif lebih komprehensif dan mencakup faktor ekonomi.

hak-hak kepemilikan yang diperlukan guna mendukung dan menjamin kehidupan (Ellis. strategi penanganan masalah ini pada dasarnya merupakan kemampuan segenap anggota keluarga dalam mengelola atau memenej berbagai asset yang dimilikinya. Sedangkan rumahtangga menunjuk pada sekumpulan orang yang hidup satu atap namun tidak selalu memiliki hubungan darah. migrasi tenaga kerja dan mekanisme “uang kiriman” (remittances). teknologi. makanan dan pendapatan (Chamber. Asset relasi rumah tangga atau keluarga (household relation assets). pelayanan. Dalam konteks keluarga miskin. misalnya meningkatkan keterlibatan wanita dan anak- anak dalam keluarga untuk bekerja membantu ekonomi rumah tangga. air. 2. simpanan.COPING STRATEGIES: KONSEPSI DAN DIMENSI Secara umum coping strategies dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang dalam menerapkan seperangkat cara untuk mengatasi berbagai permasalahan yang melingkupi kehidupannya. 1998). sawah. dan pemberi kredit informal dalam proses dan sistem perekonomian keluarga. misalnya memanfaatkan lembaga-lembaga sosial lokal. Chambers dan Conway (1992) menjelaskan berbagai komponen dan interaksi antara berbagai aspek mata pencaharian yang menunjang kehidupan. Moser mengistilahkannya dengan nama “asset portfolio management”. lembaga-lembaga sosial. menurut Moser (1998). relasi jender. Asset modal manusia (human capital assets). barang-barang. Suatu mata pencaharian meliputi pendapatan (baik yang bersifat tunai maupun barang). Orang menunjuk pada kemampuan mencari nafkah (livelihood capabilities). Suatu kehidupan ditunjang oleh interaksi antara orang. informasi. Kerangka ini meliputi berbagai pengelolaan asset seperti: 1. Baik anggota keluarga maupun rumahtangga umumnya memiliki kesepakatan untuk menggunakan sumber-sumber yang dimilikinya secara bersama-sama. misalnya memanfaatkan status kesehatan yang dapat menentukan kapasitas orang untuk bekerja atau keterampilan dan pendidikan yang menentukan kembalian atau hasil kerja (return) terhadap tenaga yang dikeluarkannya. Asset produktif (productive assets). sawah. arisan. 1995) .ternak. tanaman. 4. pekerjaan. Asset tenaga kerja (labour assets). Keluarga dan Mata Pencaharian Sebagian besar penelitian mengenai coping strategies menggunakan keluarga atau rumahtangga sebagai unit analisis. tabungan) dan sumbersumber (tanah. Berdasarkan konsepsi ini. misalnya menggunakan rumah. tanaman untuk keperluan hidupnya. asset nyata dan asset tidak nyata. binatang ternak). sedangkan aset tidak nyata menunjuk pada klaim dan akses yang merupakan kesempatan-kesempatan untuk menggunakan sumber. Keluarga menunjuk pada hubungan normatif antara orang-orang yang memiliki ikatan biologis. Asset modal sosial (social capital assets). Konsep mata pencaharian (livelihood) sangat penting dalam memahami coping strategis karena merupakan bagian dari atau bahkan kadang-kadang dianggap sama dengan strategi mata pencaharian (livelihood strategies). Meskpun istilah keluarga dan rumahtangga sering dipertukarkan. kelompok etnis. 3. asset nyata menunjuk pada simpanan (makanan. keduanya memiliki sedikit perbedaan. misalnya memanfaatkan jaringan dan dukungan dari sistem keluarga besar. Moser (1998:4-16) membuat kerangka analisis yang disebut “The Asset Vulnerability Framework”. 5. emas.

jikalau lautan. apatis. Kemudian. kurang berjiwa wiraswasta sebagai penyebab seseorang miskin. Si miskin akan menjadi tergantung. Di Indonesia. Di sini. Pendekatan lainnya. Sejalan dengan pendekatan ini. korup. Garis kemiskinan yang sering dijadikan rujukan internasional antara lain sebesar $1 atau $2 AS per hari per kapita. banyak orang percaya memberi kail akan lebih baik. karena dapat menggambarkan kemiskinan lebih tepat dan akurat (lihat Suharto. operasionalisasi kemiskinan biasanya dirumuskan berdasarkan indikator-indikator masukan (input indicators). tidak dengan serta merta ia dapat mengumpulkan ikan. Produk UNDP yang dikenal luas untuk mengukur kemajuan dan kemiskinan adalah HDI (Human Development Index) dan HPI (Human Poverty Index). indikator komposit biasanya terdiri dari angka melek hurup. Dengan demikian. atau politik. Saat ini. Pendekatan ini menghasilkan dua cara dalam mengukur kemiskinan. Sering dikatakan bahwa memberi ikan kepada si miskin tidak dapat menyelesaikan masalah. Perumusan kebijakan sosial adalah salah satu piranti penciptaan keadilan yang sangat penting dalam mengatasi kemiskinan.000 per kapita per bulan. Seringkali kemiskinan diartikan dengan merujuk pada faktor-faktor yang menyebabkannya. Meskipun orang punya kail. Konsep kemiskinan memiliki wayuh arti. Meskipun kedua cara memiliki keunggulan dan kelemahan. . atau buta hurup. penanganan kemiskinan memerlukan pendekatan makro kelembagaan. kalau ia tidak memiliki cara mengail ikan tentunya tidak akan memperoleh ikan. Seseorang dikatakan miskin. Badan Pusat Statistik (BPS) biasanya mengeluarkan garis kemiskinan yang disesuaikan dengan wilayah pedesaan dan perkotaan serta kabupaten/kota di Indonesia. Cara pertama adalah dengan menyusun indikator tunggal. IKAN DAN KAIL Penanggulangan kemiskinan dapat diibaratkan dengan analogi ikan dan kail. kemiskinan dilihat dari gejala atau hasil (outcome) yang ditimbulkannya. ekonomi. atau akses kepada air bersih. angka harapan hidup. Cara kedua adalah dengan menyusun indikator komposit. paternalistik sebagai penyebab kemiskinan.INDIKATOR MASUKAN DAN KELUARAN Kemiskinan memiliki dimensi yang luas. garis kemiskinan yang bisa dipakai secara luas adalah Rp. rumah tidak layak huni. Benarkah? Analogi ini perlu diperluas. sungai dan kolam dikuasai kelompok “elit”. Pemberian keterampilan (capacity building) kemudian menjadi kata kunci dalam proses pemberdayaan masyarakat. Selain pendapatan atau pengeluaran. Bank Dunia adalah badan internasional yang seringkali menggunakan cara ini. cara kedua dapat dipandang sebagai pendekatan yang lebih baik. melihat kemiskinan dari indikator keluaran (output indicators). pada konsep mengenai kemiskinan kebudayaan dan kemiskinan struktural. 2003). Misalnya. tanpa memperhatikan perbedaan wilayah. Si miskin akan lebih mandiri. cara kedua melibatkan aspek pendidikan dan kesehatan. Yang kedua menilai bahwa struktur sosial yang tidak adil. Badan dunia yang menggunakan cara kedua adalah UNDP (United Nations Development Programme). kalau memiliki pendapatan rendah. Yang pertama melihat budaya kemiskinan seperti malas. kalau cara pertama mengukur kemiskinan hanya dari aspek ekonomi. Memberi kail saja ternyata tidak cukup. Setelah orang punya kail dan memiliki keterampilan mengkail.100. seperti pendapatan atau pengeluaran yang kemudian dibakukan menjadi “garis kemiskinan” (poverty line). tergantung dari perspektif yang digunakan: apakah bermatra sosio-kultural. misalnya. psikologi. Karenanya.

Caroline O. pp. World Development. kemiskinan akan lebih mudah didekati. kemudian dikembangkan program anti kemiskinan bernama PEMANDU (Pemandirian Masyarakat Terpadu). 2 Maret Chambers.1. Vol. “Urban Poverty: Reconsidering its Scale and Nature”. Edi (2002). No. dkk.1. David (1997). Bandung: Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial. Robert (1995). Jakarta: CBS BPS/Badan Pusat Statistik dan Depsos/Departemen Sosial (2002).. July. Penduduk Miskin (Poor Population). Institut Pertanian Bogor (IPB). Coping Strategies dan Keberfungsian Sosial: Mengembangkan Pendekatan Pekerjaan Sosial dalam Mengkaji dan Menangani Kemiskinan. Setelah kemiskinan dapat dipotret secara akurat. strategi anti kemiskinan dapat dikembangkan. Vol. Sustainable Rural Livelihoods: Practical Concepts for the 21st Century. Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang tidak mudah diatasi. Konsep ini dirumuskan dalam tiga aspek: kemampuan keluarga miskin memenuhi kebutuhan dasar. Edi (2003).PELEPAS Penelitian yang melibatkan penggunaan indikator komposit pernah dilakukan Tim STKS Bandung dan Depsos RI dengan menggunakan konsep keberfungsian sosial (lihat Suharto. Penduduk Fakir Miskin Indonesia 2002. bantuan pendidikan dan tunjangan kesehatan secara simultan. PEMANDU terdiri dari program langsung dan tidak langsung. Komite Penanggulangan Kemiskinan bisa memulai agendanya dari pendekatan seperti ini. IDS Bulletin. The Journal of Development Studies. (1998). Berita Resmi Statistik Penduduk Miskin.N. Vol. Robert and Gordon Conway (1992). menjalankan peran sosial. No. Poverty and Livelihood: Whose Reality Counts. Discussion Paper 347.35. “Outline of Presentation on Poverty Alleviation Programs in the Asia-Pacific Region” makalah yang disampaikan pada International Seminar on Curriculum Development for Social Work Education in Indonesia. 2004). dengan pendekatan yang tepat. Frank (1998). Brighton: Institute of Development Studies Ellis. yang dilakukan secara simultan dan berkelanjutan. Strategi tersebut sebaiknya menyentuh pendekatan langsung dan tidak langsung. Discussion Paper 296.28. “Paradigma Baru Studi Kemiskinan” dalam Media Indonesia. “Household Strategies and Rural Livelihood Diversification”. Penanggulangan kemiskinan memerlukan pemahaman mengenai dimensi dan pengukuran kemiskinan yang operasional. Makalah yang disampaikan pada Seminar “Kemiskinan dan Keberfungsian Sosial: Merancang-Kembangkan Program Pembangunan Kesejahteraan Sosial yang Bernuansa Pekerjaan Sosial”. Suharto. pp. Program tidak langsung difokuskan pada Pemda melalui advokasi kebijakan Zona Bebas Fakir Miskin (ZBFM). Bogor 17 Desember Suharto. Jakarta:BPS Cox. Namun. 04/Th. Program langsung diarahkan pada keluarga fakir miskin melalui pemberian modal usaha.II/9. “The Asset Vulnerability Framework: Reassessing Urban Poverty Reduction”. 10 September . dan menghadapi goncangan. Brighton: Institute of Development Studies Chamber. No.26.1-19 Satterthwaite. mikro dan makro.1-38 Moser. Berdasarkan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA BPS (Badan Pusat Statistik) (1999). David (2004).

Christchurch 28 November-1 December 2001. 2 Maret Suharto. Kebijakan Sosial dan Pekerjaan Sosial: Spektrum Pemikiran. Suharto. Suharto. Kemiskinan dan Keberfungsian Sosial: Studi Kasus Rumah Tangga Miskin di Indonesia. (2004). April 2nd. Tinggalkan Balasan Cancel reply Top of Form Alamat surel anda tidak akan ditampilkan. r Anda dapat merespon. Bandung: Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial. Kemiskinan dan Keberfungsian Sosial: Studi Kasus Keluarga Miskin di Indonesia. Pembangunan. makalah yang disajikan pada New Zealand Asian Studies Society 14th International ——– (2002a). Edi dkk. Profiles and Dynamics of the Urban Informal Sector: A Study of Pedagang Kakilima in Conference. (2004). or trackback dari website anda. Indonesia.0 feed. Edi (1998). 2010 6:19 pm dan di isikan dibawah Uncategorized. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2. Like Be the first to like this post.. Bandung: Lembaga Studi Pembangunan (LSP) STKS. Palmerston North: Massey University in Bandung.98/2. Bandung: Suharto.Suharto. makalah yang disampaikan pada International Seminar on Curriculum Development for Social Work Education in Indonesia. Human Development Strategy: The Quest for Paradigmatic and Pragmatic Intervention for the Urban Informal Sector. Edi dkk. Edi (1997). Required fields are marked * Nama * Email * Bottom of Form . working paper no. Canterbury University. Bandung: STKSPress • • • • Share this: StumbleUpon Digg Reddit • Tulisan ini dikirim pada pada Jumat. “Social Welfare Problems and Social Work in Indonesia: Trends and Issues” (Masalah Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial di Indonesia: Kecenderungan dan Isu). Edi (2004).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful