BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kesehatan merupakan salah satu aspek dari kehidupan masyarakat. Mutu hidup, produktivitas tenaga kerja, angka kesakitan dan kematian yang tinggi pada bayi dan anak anak, menurunnya daya kerja fisik serta terganggunya perkembangan mental adalah akibat langsung atau tidak langsung dari masalah gizi kurang. Sebagaimana diketahui bahwa salah satu masalah gizi yang paling utama pada saat ini di Indonesia adalah kurang kalori dan protein, hal ini banyak ditemukan pada bayi dan anak yang masih kecil. Keadaan juga diperparah karena anak dan bayi merupakan golongan rentan.3 Terjadinya kerawanan gizi pada bayi selain disebabkan makanan yang kurang juga karena Air Susu Ibu (ASI) banyak diganti dengan susu formula dengan cara dan jumlah yang tidak memenuhi kebutuhan. Hal ini pertanda adanya perubahan sosial dan budaya yang negatif dipandang dari segi gizi. Pertumbuhan dan perkembangan bayi sebagian besar ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung di dalam ASI tersebut. ASI tanpa bahan makanan lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan sampai usia sekitar enam bulan.5 Setelah itu, ASI hanya berfungsi sebagai sumber protein, vitamin, dan mineral utama untuk bayi yang telah mendapat makanan tambahan yang berupa beras. Dalam pembangunan bangsa, peningkatan kualitas manusia harus dimulai sedini mungkin, yaitu sejak masih bayi, salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI semaksimal mungkin merupakan kegiatan penting dalam pemeliharaan anak dan persiapan generasi penerus di masa depan. Akhir-akhir ini sering dibicarakan tentang peningkatan penggunaan ASI. Dukungan politis dari pemerintah terhadap peningkatan penggunaan ASI termasik ASI EKSLUSIF telah memadai, hal ini terbukti dengan telah dicanangkannya Gerakan Nasional Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu (GNPP-ASI) oleh Bapak Presiden pada hari Ibu tanggal 22 Desember 1990 yang bertemakan "Dengan Asi, kaum ibu mempelopori peningkatan kualitas manusia Indonesia". Dalam pidatonya presiden menyatakan juga bahwa ASI sebagai makanan tunggal harus diberikan sampai bayi berusia

1

enam bulan. Pemberian ASI tanpa pemberiaan makanan lain ini disebut dengan menyusui secara ekslusif. Selanjutnya bayi perlu mendapatkan makanan pendamping ASI kemudian pemberian ASI di teruskan sampai anak berusia dua tahun.5 ASI merupakan makanan yang bergizi sehingga tidak memerlukan tambahan komposisi. Disamping itu ASI mudah dicerna oleh bayi dan langsung terserap. Diperkirakan 80% dari jumlah ibu yang melahirkan ternyata mampu menghasilkan air susu dalam jumlah yang cukup untuk keperluan bayinya secara penuh tanpa makanan tambahan selama enam bulan pertama. Bahkan ibu yang gizinya kurang baik pun sering dapat menghasilkan ASI cukup tanpa makanan tambahan selama tiga bulan pertama.12 ASI sebagai makanan yang terbaik bagi bayi tidak perlu diragukan lagi, namun akhirakhir ini sangat disayangkan banyak diantara ibu-ibu meyusui melupakan keuntungan menyusui. Selama ini dengan membiarkan bayi terbiasa menyusu dari alat pengganti, padahal hanya sedikit bayi yang sebenarnya menggunakan susu formula. Kalau hal yang demikian terus berlangsung, tentunya hal ini merupakan ancaman yang serius terhadap upaya pelestarian dari peningkatan penggunaan ASI. Menurut hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003, didapati data jumlah pemberian ASI eksklusif pada bayi di bawah usia dua bulan hanya mencakup 64% dari total bayi yang ada. Persentase tersebut menurun seiring dengan bertambahnya usia bayi. Yakni, 46% pada bayi usia 2-3 bulan dan 14% pada bayi usia 4-5%. Yang lebih memprihatinkan, 13% bayi di bawah dua bulan telah diberi susu formula dan satu dari tiga bayi usia 2-3 bulan telah diberi makanan tambahan.14 Penelitian Dr. Parma dkk di Rumah Sakit Umum Dr. M. Jamil Padang tahun 1978 1979 di dapatkan bahwa lama pemberian ASI saja sampai 4-6 bulan pada ibu yang karyawan adalah 12,63% dan pada ibu rumah tangga sebanyak 21,27%. Apabila dilihat dari pendidikannya ternyata 75% dari ibu-ibu yang berpendidikan tamat SD telah memberikan makanan pendamping ASI yang terlalu dini pada bayi. Berbagai alasan dikemukakan oleh ibu-ibu mengapa keliru dalam pemanfaatan ASI secara Eksklusif kepada bayinya, antara lain adalah produksi ASI kurang, kesulitan bayi dalam menghisap, keadaan puting susu ibu yang tidak menunjang, ibu bekerja, keinginan untuk disebut modern dan pengaruh iklan/promosi pengganti ASI dan tidak kalah pentingnya adalah anggapan bahwa semua orang sudah memiliki pengetahuan tentang manfaat ASI. 2

2

Dari data laporan tahunan Puskesmas di wilayah kerja Lubuk Kilangan tahun 2009, didapatkan angka pencapaian pemberian ASI eksklusif sebanyak 6,10 % (110 orang) dari target yang seharusnya dicapai sebanyak 100 % (1808).13

1.2 Perumusan Masalah

1. Apa faktor yang menyebabkan rendahnya angka pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja puskesmas Lubuk Kilangan? 2. Langkah±langkah apa saja yang dilakukan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Lubuk Kilangan?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Melakukan identifikasi masalah pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan. 2. Menemukan penyebab utama rendahnya pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan. 3. Mencarikan upaya pemecahan masalah dan alternatif pemecahan masalah agar pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan dapat terlaksana dengan baik.

1.4 Manfaat Penulisan

1. Teridentifikasinya masalah Pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan. 2. Ditemukannya penyebab utama tidak terlaksananya pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan. 3. Diperolehnya upaya pemecahan masalah dan alternatif pemecahan masalah agar Pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan dapat terlaksana dengan baik.

3

BAB II GAMBARAN UMUM PUSKESMAS

2.1 Sejarah Puskesmas13 Puskesmas Lubuk Kilangan ini didirikan diatas tanah wakaf yang diberikan KAN yang pada tahun 1981 dengan Luas tanah 270 M2 dan Gedung Puskesmas sendiri didirikan pada tahun 1983 dengan luas bangunan 140 M2 dimana saat itu Pimpinan Pusksmas yang pertama adalah dr. Meiti Frida dan pada tahun itu juga Puskesmas mempunyai 1 buah Pustu Baringin. Pembangunan Puskesmas ini dibiayai dari APBN. Pelayanan yang diberikan saat itu meliputi BP, KIA dan Apotik. Dengan Jumlah pegawai yang ada pada saat itu sekitar 10 orang dan sampai saat ini telah mengalami pergantian Pimpinan Puskesmas sebanyak 11 kali. Pada Tahun 1997 telah dilakukan rehabilatasi Puskesmas secara maksimal, karena adanya keterbatasan lahan, rumah dinas paramedis yang ada pada saat itu dijadikan kantor dan juga ada penambahan beberapa ruangan pelayanan lainnya. Saat sekarang kondisi bangunan Puskesmas Lubuk Kilangan sudah permanen terdiri dari beberapa ruangan kantor seperti: BP, KIA, Gigi, Labor, KB, Apotik, Imunisasi dengan jumlah pegawai yang ada sebanyak 52 orang termasuk Pustu. Walaupun demikian bangunan Puskesmas Lubuk Kilangan saat sekarang masih belum mempunyai gudang obat dan gudang gizi (PMT), ruangan khusus Pelayanan Lansia. Pelayanan Puskesmas Lubuk Kilangan yang diberikan saat ini adalah 6 Pelayanan Dasar yaitu: Yankes, P2P, Kesga, Promkes, Kesling dan Program inovatif (untuk Puskesmas Lubuk Kilangan saat sekarang Program inovatif Belum berjalan).

2.2 Kondisi Geografis 13 Wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan meliputi seluruh Wilayah Kecamatan Lubuk Kilangan dengan luas Daerah 85,99 Km2 yang terdiri dari 7 kelurahan dengan luas: 4

65 Km2 : 1.32 Km2 : 1. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Solok c. Kelurahan Baringin : 19. Kelurahan Padang Besi d.1 Km2 : 4. Kel ahan Bat Gadang b.29 Km2 : 52.1 Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Kilangan 5 .a.87 Km2 : 3. Kelurahan Bandar Buat e. Kel ahan Indarung c.85 Km2 g.91 Km2 : 2. Kelurahan Koto Lalang f. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pauh b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bungus Teluk Kabung Gambar 2. Kelurahan Tarantang Adapun batas-batas Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Kilangan adalah sebagai berikut: a. Sebelah Barat berbatas dengan Kecamatan Lubuk Begalung d.

610 KK : 10.3 Kondisi Demografi Jumlah Penduduk Kecamatan Lubuk Kilangan adalah 43. Kelurahan Padang Besi d.828 jiwa dan 1.532 Jiwa yang terdiri dari 10. Kelurahan Batu Gadang b. Kelurahan Batu Gadang f. Kelurahan Koto Lalang f.532 Jiwa : 904 : 542 : 3506 : 4410 6 : 4 RW/ 18 RT : 12 RW/ 44 RT : 4 RW/ 20RT : 11 RW/ 40 RT : 7 RW/ 27 RT : 2 RW/ 5 RT : 2 RW/ 7 RT . Kelurahan Bandar Buat b.2. Kelurahan Koto Lalang e. Kelurahan Bandar Buat e.172 jiwa dan 2. Kelurahan Tarantang : 11. Kelurahan Indarung d.378 jiwa dan 1.489 KK : 1. Kelurahan Baringin g.211 jiwa dan 1. Kelurahan Tarantang Sasaran Puskesmas  Jumlah penduduk  Bayi (0-11 Bulan)  Bayi (6-11 Bulan)  Anak Balita (24-60 Bulan)  Balita (0-60 Bulan) : 43.743 KK : 6. Kelurahan Indarung c.550 KK : 5. Kelurahan Baringin g.632 KK : 6.707 KK dengan perincian sebagai berikut: a.669 jiwa dan 2.048 jiwa dan 439 KK Dengan jumlah 42RW dan 161 RT dengan perincian sebagai berikut: a.226 jiwa dan 244 KK : 2. Kelurahan Padang Besi c.

Sarana Kesehatan : 995 : 949 : 949 : 1808 : 3138 : 9287 : 3 Unit : 4 Unit : 23 Unit : 15 Unit Puskesmas Lubuk Kilangan memiliki sarana:  Puskesmas Induk  Puskesmas Pembantu - : 1 Unit : 3 Unit Pustu Indarung Pustu Batu Gadang Pustu Baringin : 1 Unit : 1 Unit : 4 Unit : 2 Unit : 2 Unit : 1 Unit : 1 Unit  Rumah Sakit PT Semen Padang  Mobil Puskesmas Keliling  Motor Dinas  Komputer  Mesin Tik  Laptop  LCD/Infocus c. Prasarana Kesehatan  Posyandu Balita  Posyandu Lansia : 41 Buah : 11 Buah 7 . Ibu Hamil (Bumil)  Ibu Nifas (Bufas)  Ibu Bersalin  Ibu meneteki (Buteki)  Lansia  WUS 2.4 Sarana dan Prasarana a. Sarana Pendidikan  SMU/SMK  SLTP  SD  TK b.

yaitu Jawa dan Batak. juga ada suku lainnya.451 Jiwa) dan Kristen dan Katolik (80 Jiwa). Mayoritas agama yang dianut masyarakatnya adalah Islam( 43. Kader Kesehatan  Praktek Dokter Swasta  Praktek Bidan Swasta  Pos UKK  Pengobatan Tradisional  Toga 2.6 Kondisi Sosial. Kondisi Ekonomi 8 .5 Ketenagaan y y y y y y y y y y y y y y : 164 Orang : 5 orang : 21 orang : 3 Pos : 38 Buah : 27 Buah Dokter Umum Dokter Gigi Sarjana Kesehatan Masyarakat Akper SPK Akbid Bidan (D I) Asisten Apoteker AKL AAK Perawat Gigi Pekarya Kesehatan SMA SMP : 4 Orang : 2 Orang : 3 Orang : 6 Orang : 6 Orang : 6 Orang : 13 Orang : 2 Orang : 1 Orang : 1 Orang : 2 Orang : 3 Orang : 2 Orang : 1 Orang 2. Budaya dan Ekonomi Penduduk a. b. Kondisi Sosial dan Budaya Suku terbesar yang ada di Kecamatan Lubuk Kilangan adalah Suku Minang.

AmKl P2M y y y y y y y y Pj. SKM :Yusnidar Pj. Dezilia Arzie KOORDINATOR YANKESMAS Drg. Amd. Promkes :Frisna Devi. Dezilia Arzie KEUANGAN Hj. KIA Ibu Pj. Imunisasi :Ermayani Pj. TB Paru dan Kusta :Damsiar Pj. Diare :Marina Yulia Ningsih Pj.Kep Pj.Mata pencaharian penduduk umumnya adalah pegawai negeri. Laboratorium : Esi Susanti.AmAk Pj. Kesehatan Lingkungan :Ernawati. Rabies : Marini MS. Gudang Obat : Widani Yulesphina Pj. Kesehatan Olah Raga Marini MS. BP Gigi Pj. Amd. Euis Yoyo Drg. Lansia :Marry Denita Wati : Renita. MR Pj. Afridawati :Titin Haryani    Pj. Afridawati Dr. Erliza HB 9 .Kep Pj.D KOORDINATOR YAN MEDIK Dr. KIA Anak Pj.7 Struktur Puskesmas STRUKTUR ORGANISASI PUSKESMAS LUBUK KILANGAN PIMPINAN PUSKESMAS DEWAN PENYANTUN Drg Euis Yoyo. BP Pj. KB Pj. P3K/IGD Pj. dan tani 2. Campak : Marry Denita Wati     Pj. ISPA Pj. Afridawarni Hayati PERLENGKAPAN & Inventaris Desmiavita. Apotik : Elva Nora : Nelwida :Sefnita :Drg.SKM Pj. Surveilans : Marry Denita Wati Pj. buruh. Reni Angraini Dr. SP2TP :Yusmawarni : Hj. Malaria :Adsemar Tati Budi Pj. swasta. Kesehatan Jiwa : Marini MS PUSTU INDARUNG Mortianis PUSTU BATU GADANG Fitriani PUSTU BARINGIN Hj. Gizi Pj. CAMAT TATA USAHA YESSI GUSMINARTI. Fitri Dewi : Damsiar : Yessi Gusminarti. SKM Pj. SKM PERENCANAAN Drg. DBD :Adsemar Tati Budi Pj. Afridawati             Pj.

 Merangsang vitamin.6 ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal. ekonomis. seperti calsium. y ASI mengandung laktosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu buatan.BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3. yang berguna sebagai makanan bagi bayinya. laktosa dan garam-garam anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu.  Memudahkan penyerahan berbagai jenis mineral.  Memudahkan terjadinya pengendapan calsium-cassienat. magnesium.1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein.2 Kebaikan ASI dan Menyusui ASI sebagai makanan bayi mempunyai kebaikan/sifat sebagai berikut:9 y ASI merupakan makanan alamiah yang baik untuk bayi. praktis. 10 Sedangkan ASI Ekslusif adalah perilaku dimana hanya memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sampai umur 6 (enam) bulan tanpa makanan dan ataupun minuman lain kecuali sirup obat. mudah dicerna dan memiliki komposisi zat gizi yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pencernaan bayi. Di dalam usus laktosa akan difermentasi menjadi asam laktat yang bermanfaat untuk:  Menghambat pertumbuhan bakteri yang bersifat patogen. pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menghasilkan asam organik dan mensintesa beberapa jenis 10 . 3.

bahwa ia dapat memberikan ³kehidupan´ kepada bayinya. Complemen C3 dan C4. yaitu: y (10) Suatu rasa kebanggaan dari ibu. y ASI tidak mengandung beta-lactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi pada bayi. Antistapiloccocus. lactobacillus. Lysozyme. yang dapat merangsang serabut 11 . Gerakan tersebut merangsang kelenjar Pituitary Anterior untuk memproduksi sejumlah prolaktin. y Proses pemberian ASI dapat menjalin hubungan psikologis antara ibu dan bayi. 3. y Dengan menyusui. Bifidus. dimana hisapan puting dapat merangsang kelenjar Pituitary Posterior untuk menghasilkan hormon oksitosin.3 Produksi ASI Proses terjadinya pengeluaran air susu dimulai atau dirangsang oleh isapan mulut bayi pada puting susu ibu. seperti: Immunoglobin. bagi rahim ibu akan berkontraksi yang dapat menyebabkan pengembalian keukuran sebelum hamil y y Mempercepat berhentinya pendarahan post partum. Lactoferrin. hormon utama yang mengandalkan pengeluaran ASI. menyusui dengan bayi juga dapat memberikan keuntungan bagi ibu. Proses pengeluaran air susu juga tergantung pada Let Down Reflex. y Mengurangi kemungkinan kanker payudara pada masa yang akan datang. Selain memberikan kebaikan bagi bayi.y ASI mengandung zat pelindung (antibodi) yang dapat melindungi bayi selama 5-6 bulan pertama. bagi perkembangan psikis dan emosional antara ibu dan anak. y Hubungan yang lebih erat karena secara alamiah terjadi kontak kulit yang erat. Dengan menyusui maka kesuburan ibu menjadi berkurang untuk beberapa bulan sehingga dapat menjarangkan kehamilan.

yang secara perlahan-lahan bertemu di dalam areola dan membentuk sinus lactiferous. mewakili tenunan kelenjar yang mengsekresi dimana setiap selnya mampu memproduksi susu. yang tidak kaku letaknya dan dengan mudah dihisap (masuk kedalam) mulut bayi. tetapi berlainan dengan ASI Mature dimana protein yang utama adalah casein sedangkan pada colostrum protein yang utama adalah 12 . y Komposisi colostrum dari hari ke hari berubah. anggur tersebut terpencet dan mengeluarkan susu ke dalam ranting yang mengalir ke cabang-cabang lebih besar. Merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuningkuningan. y Merupakan suatu laksatif yang ideal untuk membersihkan mekonium usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya. lebih kuning dibandingkan ASI Mature. bila sel-sel Myoepithelial di dalam dinding alveoli berkontraksi. 12 Kegagalan dalam perkembangan payudara secara fisiologis untuk menampung air susu sangat jarang terjadi. Pusat dari areola (bagan yang berpigmen) adalah putingnya. ASI dapat dibagi menjadi 3 yaitu: A. dari masa laktasi. y Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI Mature. Secara visual payudara dapat digambarkan sebagai setangkai buah anggur.otot halus di dalam dinding saluran susu agar membiarkan susu dapat mengalir secara lancar. Berdasarkan waktu diproduksi. Susu diproduksi pada akhir ranting dan mengalir kedalam cabang-cabang besar menuju saluran ke dalam puting. y Disekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat. Colostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae yang mengandung tissue debris dan redual material yang terdapat dalam alveoli dan ductus dari kelenjar mamae sebelum dan segera sesudah melahirkan anak. Payudara secara fisiologis merupakan tenunan aktif yang tersusun seperti pohon tumbuh di dalam puting dengan cabang yang menjadi ranting semakin mengecil.

B. C. PH lebih alkalis dibandingkan ASI Mature. sehingga hidrolisa protein di dalam usus bayi menjadi kurang sempurna. yang dikatakan komposisinya relatif konstan. Air Susu Mature y ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya. y Total energi lebih rendah dibandingkan ASI Mature yaitu 58 kalori/100 ml colostrum. Disekresi dari hari ke 4 ± hari ke 10 dari masa laktasi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah. Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi) y y Merupakan ASI peralihan dari colostrum menjadi ASI Mature. sedangkan kadar lemak dan karbohidrat semakin tinggi. y y y Bila dipanaskan menggumpal. sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap infeksi. y Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan dengan ASI Mature. y Terdapat trypsin inhibitor. y Volume semakin meningkat. tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya baru konstan. 13 . y Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI Mature yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama. ASI Mature tidak. y Kadar protein semakin rendah. tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ASI Mature baru akan terjadi pada minggu ke 3 ± ke 5. y Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam. y Vitamin larut lemak lebih tinggi. Lemaknya lebih banyak mengandung Cholestrol dan lecitin di bandingkan ASI Mature. yangakan menambah kadar antobodi pada bayi.globulin.

Karena itu selama kurun waktu tersebut ASI mampu memenuhi kebutuhan gizinya. 12 9 14 . riboflavum dan karoten. Setelah 6 bulan volume pengeluaran air susu menjadi menurun dan sejak saat itu kebutuhan gizi tidak lagi dapat dipenuhi oleh ASI saja dan harus mendapat makanan tambahan. B12 Ginding Protein) Faktor resisten terhadap staphylococcus. bahkan ada yang mengatakan pada ibu yangs sehat ASI merupakan makanan satusatunya yang diberikan selama 6 bulan pertama bagi bayi. yaitu: Antibodi terhadap bakteri dan virus. y Merupakan cairan putih kekuning-kuningan. lactoperoxidese) Protein (lactoferrin. siap diberikan pada bayi tanpa persiapan yang khusus dengan temperatur yang sesuai untu bayi. macrophag. granulocyle. Apabila tidak ada kelainan. karena mengandung casienat. Complement ( C3 dan C4 ) 3. Volume: 300 ± 850 ml/24 jam Terdapat anti microbaterial factor. kelenjar-kelenjar pembuat ASI mulai menghasilkan ASI. pada hari pertama sejak bayi lahir akan dapat menghasilkan 50-100 ml sehari dari jumlah ini akan terus bertambah sehingga mencapai sekitar 400-450 ml pada waktu bayi mencapai usia minggu kedua.4 Volume Produksi ASI Pada minggu bulan terakhir kehamilan. Jumlah tersebut dapat dicapai dengan menyusui bayinya selama 4±6 bulan pertama. lymhocycle type T) Enzim (lysozime. Cell (phagocyle.y Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi. y ASI merupakan makanan yang mudah didapat. selalu tersedia. y y y Tidak menggumpal bila dipanaskan.

volume susu terbanyak yang dapat diperoleh adalah 5 menit pertama. Penyedotan/penghisapan oleh bayi biasanya berlangsung selama 15-25 menit. 400-600 ml dalam 6 bulan kedua. laktoferin dan sel-sel darah putih. meskipun kedua anak tersebut tumbuh dengan kecepatan yang sama. yang sangat penting untuk pertahanan tubuh bayi terhadap serangan 15 . Ukuran payudara tidak ada hubungannya dengan volume air susu yang diproduksi. Penyebabnya mungkin dapat ditelusuri pada masa kehamilan dimana jumlah pangan yang dikonsumsi ibu tidak memungkinkan untuk menyimpan cadangan lemak dalam tubuhnya. 3. Akan tetapi penelitian yang dilakukan pada beberpa kelompok ibu dan bayi menunjukkan terdapatnya variasi dimana seseorang bayi dapat mengkonsumsi sampai 1 liter selama 24 jam. 8 12 Selama beberapa bulan berikutnya bayi yang sehat akan mengkonsumsi sekitar 700-800 ml ASI setiap hari. dengan akibat yang fatal bagi bayi yang masih sangat muda.Dalam keadaan produksi ASI telah normal. Produksi ASI dari ibu yang kekurangan gizi seringkali menurun jumlahnya dan akhirnya berhenti. Di daerah-daerah dimana ibu-ibu sangat kekurangan gizi seringkali ditemukan ³marasmus´ pada bayi-bayi berumur sampai enam bulan yang hanya diberi ASI.5 Komposisi ASI Kandungan colostrum berbeda dengan air susu yang mature. meskipun umumnya payudara yang berukuran sangat kecil. Akan tetapi kadang-kadang terjadi bahwa peningkatan jumlah produksi konsumsi pangan ibu tidak selalu dapat meningkatkan produksi air susunya.8 Pada ibu-ibu yang mengalami kekurangan gizi. Konsumsi ASI selama satu kali menysui atau jumlahnya selama sehari penuh sangat bervariasi. karena colostrum lebih banyak mengandung imunoglobin A (IgA). terutama yang ukurannya tidak berubah selama masa kehamilan hanya memproduksi sejumlah kecil ASI. jumlah air susunya dalam sehari sekitar 500-700 ml selama 6 bulan pertama. dan 300-500 ml dalamtahun kedua kehidupan bayi. yang kelak akan digunakan sebagai salah satu komponen ASI dan sebagai sumber energi selama menyusui.

8 .6 1.9 1 : 1. lebih banyak.6 0.Biotin .8 3.Ig A (mg) Kolostrum 58 2.9 41 43 145 82 64 340 2. National Research Council Washington tahun 1980 diperoleh perkiraan komposisi Kolostrum ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml seperti tertera pada tabel berikut: Tabel 1 Komposisi Kolostrum. mengandung vitamin dan lebih banyak mengandung mineral-mineral natrium (Na) dan seng (Zn).05 0.Laktoferin (mg) .Asam Nikotinmik (mg) .1 5 0.1 0.13 0.3 140 218 330 364 5.25 1.5 Susu Sapi 65 3.Vit B6 (mg) .Vit B2 (mg) .06 0.Vit A (mg) . ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml Zat-zat Gizi Energi (K Cal) Protein (g) .9 151 Laktosa (g) Lemak (g) Vitamin .1 0.Asam folat .2 75 14 40 160 12-15 246 0.5 187 161 167 142 7.02 0.07 6 4 16 .3 4.Laktamil bumil (mg) .Vit B1 (mg) .penyakit (Infeksi).3 2. Berdasarkan sumber dari food and Nutrition Boart.Kasein (mg) .04 0.Kasein/whey .9 1.Asam pantotenik .2 4. lebih sedikit mengandung lemak dan laktosa.05 5.Vit B12 1.9 30 75 183 0.4 1 : 1.5 39 ASI 70 0.

Vit K (mg) 85 40 70 4 14 35 40 40 100 4 15 57 15 14 130 108 14 70 12 120 145 58 30 Mineral . sehingga akan membetuk gumpalan yang lunak dan lebih mudah dicerna serta diserapoleh usus bayi. Sebagian besar dari protein tersebut adalah kasein. yang lebih mudah dicerna dan diserap oleh bayi dibandingkan dengan lemak susu sapi. Sekitar setengah dari energi yang terkandung dalam ASI berasal dari lemak.Vit D (mg) .Kalsium (mg) . Kandungan kasein yang tinggi akan membentuk gumpalan yang relatif keras dalam lambung bayi.Fosfor (mg) .Klorin (mg) . sebab ASI mengandung lebih banyak enzim pemecah lemak (lipase)..Zat besi (ferrum) (mg) . dari satu fase laktasi air susu yang pertama kali keluar hanya mengandung sekitar 1 ± 2% lemak dan terlihat encer.Magnesium (mg) . ASI dan susu sapi dapat dilihat pada tabel 1.Potassium (mg) .Vit Z .Tembaga (mg) . Bila bayi diberi susu sapi.Vit C . Air susu yang encer ini akan membantu memuaskan 17 . dan sisanya berupa protein whey yang larut.Sulfur (mg) 74 48 22 Perbandingan komposisi kolostrum. Dimana susu sapi mengandung sekitar tiga kali lebih banyak protein daripada ASI. sedangkan ASI walaupun mengandung lebih sedikit total protein. namun bagian protein ³whey´nya lebih banyak. Kandungan total lemak sangat bervariasi dari satu ibu ke ibu lainnya.Sodium (mg) .

segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya 4 Kehamilan (antenatal) : 4 Adapun upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut pada masa 18 . bila kulitnya sering terkena sinar matahari. Air susu berikutnya disebut ³Hand milk´. Di samping fungsinya sebagai sumber energi.6 Manajemen Laktasi Manajemen laktasi adalah upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. kalium. 8 3. Vitamin D yang terlarut dalam air telah ditemukan terdapat dalam susu. Jumlahnya dalam ASI tak terlalu bervariasi dan terdapat lebih banyak dibandingkan dengan susu sapi. tetapi dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi. Hanya sedikit terdapat vitamin D dal m lemak susu. ASI juga mengandung lebih sedikit natrium. mengandung sedikitnya tiga sampai empat kali lebih banyak lemak. Dalam pelaksanaannya terutama dimulai pada masa kehamilan. ASI mengandung lebih sedikit kalsium daripada susu sapi tetapi lebih mudah diserap. fosfor dan chlor dibandingkan dengan susu sapi. sehingga penting diperhatikan agar bayi. Di dalam usus asam laktat tersebut membantu mencegah pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan dan juga membantu penyerapan kalsium serta mineral-mineral lain. jumlah ini akan mencukupi kebutuhan untuk bahan-bahan pertama kehidupannya. juga di dalam usus sebagian laktosa akan diubah menjadi asam laktat. semua vitamin yang diperlukan bayi selama empat sampai enam bulan pertama kehidupannya dapat diperoleh dari ASI. Ini akan memberikan sebagian besar energi yang dibutuhkan oleh bayi. 8 Laktosa (gula susu) merupakan satu-satunya karbohidrat yang terdapat dalam air susu murni. banyak memperoleh air susu ini. meskipun fungsi vitamin ini merupakan tambahan terhadap vitamin D yang terlarut lemak. tetapi a penyakit polio jarang terjadi pada anak yang diberi ASI.rasa haus bayi waktu mulai menyusui. Apabila makanan yang dikonsumsi ibu memadai.

Kebaikan dan mutu ASI yang dapat dihasilkan oleh ibu tidak sesuai dengan kebutuhan bayi. dan akibatnya bayi akan menderita gangguan gizi. tiap kali sampai payudara terasa kosong. Hal ini sesuai dengan kebijaksanaan PP-ASI yaitu ASI diberikan selama 2 tahun dan baru pada usia 4 bulan bayi mulai di beri makanan pendamping ASI. di samping bahaya pemberian susu botol. Betapapun tingginya dan baiknya mutu ASI sebagai makanan bayi. y Memperhatikan gizi/makanan ditambah mulai dari kehamilan trimester kedua sebanyak 1 1/3 kali dari makanan pada saat belum hamil. Di samping itu. manfaatnya bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi sangat ditentukan oleh jumlah ASI yang dapat diberikan oleh ibu. ASI sebagai makanan tunggal harus diberikan sampai bayi berumur 6 bulan. perlu dipantau kenaikan berat badan ibu hamil. y Perawatan payudara mulai kehamilan umur enam bulan agar ibu mampu memproduksi dan memberikan ASI yang cukup. y Pemeriksaan kesehatan. Menyusui sangat baik untuk bayi dan ibu.y Memberikan penerangan dan penyuluhan tentang manfaat dan keunggulan ASI. Payudara yang dihisap sampai kosong merangsang produksi ASI yang cukup. kehamilan dan payudara/keadaan puting susu. kiri dan kanan secara bergantian. Dengan menysusui akan terjalin hubungan kasih sayang antara ibu dan anak. manfaat menyusui baik bagi ibu maupun bayinya. Adapun makanan bayi umur 0-6 bulan adalah sebagai berikut y 2 Susui bayi segera dalam 30 menit setelah lahir (Inisiasi dini) Kontak fisik dan hisapan bayi akan merangsang produksi ASI. ASI saja sudah dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi. apakah ada kelainan atau tidak. paling lambat usia 6 bulan karena ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi pada 6 bulan pertama. y y Berikan Kolostrum Berikan ASI dari kedua payudara. Pada periode ini. 19 . karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi.

jika makanan ibu terus menerus tidak mengandung cukup zat gizi yang diperlukan tentu pada akhirnya kelenjar-kelenjar pembuat air susu dalam buah dada ibu tidak akan dapat bekerja dengan sempurna.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi Produksi ASI Adapun hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI antara lain adalah: a. telur dan kacang-kacangan. Terlebih jika pada masa kehamilan ibu juga mengalami kekurangan gizi. dan akhirnya akan berpengaruh terhadap produksi ASI. o Berikan ASI 8-12 kali setiap hari. b. Makanan Ibu Makanan yang dimakan seorang ibu yang sedang dalam masa menyusui tidak secara langsung mempengaruhi mutu ataupun jumlah air susu yang dihasilkan. yaitu setara dengan 3 piring nasi dan 1 butir telur. 3. Karena itu tambahan makanan bagi seorang ibu yang sedang menyusui anaknya mutlak diperlukan. Unsur gizi dalam 1 liter ASI setara dengan unsur gizi yang terdapat dalam 2 piring nasi ditambah 1 butir telur. Bahan makanan sumber vitamin juga diperlukan untuk menjamin kadar berbagai vitamin dalam ASI. Dalam tubuh terdapat cadangan berbagai zat gizi yang dapat digunakan bila sewaktu-waktu diperlukan. Ketentraman Jiwa dan Pikiran 20 . maka akan terjadi kemunduran dalam pembuatan ASI. Dan walaupun tidak jelas pengaruh jumlah air minum dalam jumlah yang cukup. Apabila ibu yang sedang menyusui bayinya tidak mendapat tamabahan makanan. termasuk pada malam hari. Dianjurkan disamping bahan makanan sumber protein seperti ikan.o Berikan ASI setiap kali meminta/menangis tanpa jadwal. Akan tetapi. Agar Ibu menghasilkan 1 liter ASI diperlukan makanan tamabahan disamping untuk keperluan dirinya sendiri. Jadi diperlukan kalori yang setara dengan jumlah kalori yang diberikan 1 piring nasi untuk membuat 1 liter ASI.

masuk ke peredaran darah dan sampai pada kelenjar± kelenjar pembuat ASI. kurang percaya diri. ibu dan anak berada dalam keadaan selamat dan sehat. Bayi secara otomatis menghisap puting susu ibu dengan bantuan lidahnya. terus ke lobus anterior.Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional. Pada ibu ada 2 macam. dan gangguan pikiran. Dari lobus ini akan mengeluarkan hormon prolaktin. maka bayi akan memutar kepalanya kearah payudara ibu. Waktu bayi menghisap payudara ibu. mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya. y Let-down Refleks (Refleks Milk Ejection) Refleks ini membuantu melancarkan keluarnya ASI. tekanan jiwa. terjadi rangsangan neurohormonal pada puting susu dan aerola ibu. Refleks memutarnya kepala bayi ke payudara ibu disebut: ´rooting reflex´ (reflex menoleh). Pengaruh persalinan dan klinik bersalin Banyak ahli mengemukakan adanya pengaruh yang kurang baik terhadap kebiasaan memberikan ASI pada ibu-ibu yang melahirkan di rumah sakit atau klinik bersalin lebih menitikberatkan upaya agar persalinan dapat berlangsung dengan baik. misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi. c. Sering makanan pertama yang 21 . Rangsangan ini diteruskan ke hypophyse melalui nervus vagus. reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. reflek tersebut adalah: y Reflek Prolaktin Reflek ini secara hormonal untuk memproduksi ASI. Bila bayi didekatkan pada payudara ibu. Ibu yang selalu dalam keadaan gelisah. Masalah pemberian ASI kurang mendapat perhatian. Bayi tidak cukup mendapat ASI dan akan menangis. Kelenjar ini akan terangsang untuk menghasilkan ASI. Let-down reflex mudah sekali terganggu. Tangisan bayi ini justru membuat ibu lebih gelisah dan semakin mengganggu let down reflex.

Melatih semua staf pelayanan kesehatan dengan ketrampilan. e. KB.diberikan justru susu buatan atau susu sapi. perawatan payudara. Hal ini memberikan kesan yang tidak mendidik pada ibu. alat kontrasepsi yang paling tepat digunakan adalah alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). Pengurutan tersebut diharapkan apablia terdapat penyumbatan pada duktus laktiferus dapat dihindarkan sehingga pada waktunya ASI akan keluar dengan lancar.8 Upaya peningkatan Pemberian ASI Eksklusif 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui : 1. d. karena hal ini dapat mengurangi jumlah produksi ASI bahkan dapat menghentikan produksi ASI secara keseluruhan. 3. Bagi ibu yang dalam masa menyusui tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi pil yang mengandung hormon estrogen. 3. Penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen dan progesteron. Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan penatalaksanaannya melalui unit rawat jalan kebidanan dengan memberikan penyuluhan: manfaat ASI dan rawat gabung. Mempunyai kebijakan tertulis tentang menyusui. Oleh karena itu. 2. yaitu hormon yang dapat merangsang produksi ASI. senam hamil dan senam payudara. 22 . yaitu dengan mengurut payudara selama 6 minggu terakhir masa kehamilan. Perawatan Payudara Perawatan fisik payudara menjelang masa laktasi perlu dilakukan. dan ibu selalu beranggapan bahwa susu sapi lebih dari ASI. makanan ibu hamil. yaitu IUD atau spiral. Karena AKDR dapat merangsang uterus ibu sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kadar hormon oksitosin. Pengaruh itu akan semakin buruk apabila disekitar kamar bersalin dipasang gambar-gambar atau poster yang memuji penggunaan susu buatan.

Membentuk dan membantu pengembangan kelompok pendukung ibu menyusui. Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI kepada bayi baru lahir. bayi disusui setelah ibu sadar. payudara. melalui penyuluhan yang dilakukan di ruang perawatan. Melaksanakan rawat gabung yang merupakan tangung jawab bersama antara dokter. Memberikan ASI kepada bayi tanpa dijadwal. 6. 5.4. melanjutkan penyuluhan agar ibu tetap menyusui sampai anak berusia 2 tahun. Tidak memberikan dot atau kempeng. yang dilakukan di ruang bersalin. Memperlihatkan kepada ibu-ibu bagaimana cara menyusui dan cara mempertahankannya. 10. perawat dan ibu. seperti adanya pojok laktasi yang memantau kesehatan ibu nifas dan bayi. dan demonstrasi perawatan bayi. Membantu ibu-ibu mulai menyusui bayinya dalam waktu 30 menit setelah melahirkan. bidan. 9. 8. Apabila ibu mendapat narkose umum. 7. dll. 23 .

Adapun Program Kesehatan Lingkungan di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan diantaranya adalah : y Survey Perumahan dan Lingkungan y Inspeksi dan Sanitasi Air Bersih y Pemeriksaan dan Pengawasan Tempat-Tempat Umum (TTU) / Tempat Pengolahan Makanan (TPM) y Pengawasan Pestisida dan Insektisida y Pengawasan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) 24 . yaitu: 1. 2. 3 Poskeskel lainnya masih dalam proses. Promosi Kesehatan13 Program promosi kesehatan meliputi: y y y y y y Posyandu balita sebanyak 41 buah. Poskeskel sebanyak 4 buah dari 7 Kelurahan yang ada. Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebanyak 27 buah. Pengobatan Tradisional (BATRA) sebanyak 38 buah. Pos Upaya Kesehatan Kerja (UKK) sebanyak 3 buah. Posyandu lansia sebanyak 11 buah.1 Program Puskesmas13 Puskesmas Lubuk Kilangan memiliki 6 program dasar yang merupakan program pokok kerja Puskesmas.BAB IV PEMBAHASAN 4. Namun hanya 1 Poskeskel yang memilki sarana dan prasarana walaupun belum berjalan optimal.1. Namun program ini belum dapat dilaksanakan secara efektif sehingga belum ada data yang akurat mengenai keadaan kesehatan lingkungan di Puskesmas Lubuk Kilangan. 1 Analisis Situasi 4. Kesehatan lingkungan 13 Program kesehatan lingkungan diwujudkan dalam 1 (satu) buah klinik sanitasi.

Gizi13 Adapun kegiatan yang dilaksanakan oleh Program Gizi di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan baik didalam dan diluar gedung diantaranya adalah : y Kegiatan penimbangan dilakukan di Posyandu dan Puskesmas setiap bulannya. y y Kegiatan Pojok Gizi (Pozi) yang dilakukan dua kali dalam seminggu. y MP-ASI diberikan kepada bayi 6-11 bulan berupa bubur susu dan balita 12-24 bulan berupa biskuit.y Klinik Sanitasi y Kunjungan Sekolah y Pengambilan Sampel y Pencatatan dan Pelaporan 3. PMT-Pemulihan diberikan kepada balita dengan status gizi kurus dan sangat kurus dari keluarga miskin. y Pemantauan gizi buruk dilakukan setiap bulan dengan memantau perubahan status gizi balita buruk. Indarung dan Tarantang yang hasilnya baik. y Distribusi vitamin pada bayi dan anak balita yang dilaksanakan pada bulan Februari dan Agustus. y Pemeriksaan Yodium dilaksanakan dua kali di Kelurahan Bandar Buat. y Penimbangan missal dilakukan pada bulan Februari dan belum semua balita ditimbang. y Kegiatan survey cepat GAKY berupa kegiatan untuk mengetahui pemetaan GAKY tahun 2008 25 . y Penyuluhan gizi dilakukan didalam dan diluar gedung Puskesmas dilaksanakan minimal satu kali dalam seminggu. y Pemberian tablet Fe pada ibu hamil (bumil) dan ibu nifas (bufas) dimana hasil pencapaian program ini sudah mencapai target. y Pemetaan Kadarzi dilakukan di tujuh Kelurahan dan hasilnya belum mencapai target keluarga Kadarzi.

SMP (4 unit). Puskesmas memiliki Puskesmas pembantu berjumlah 3 unit di kelurahan Indarung. Angka kunjungan Puskesmas Lubuk Kilangan meningkat dari tahun ke tahun. SD (23 unit). KIA serta Posyandu sangat diperlukan dalam kerjasama untuk membantu meningkatkan pemberian ASI eksklusif. Kasus terbanyak adalah infeksi saluran pernafasan atas setiap tahunnya. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit 13 Program pencegahan dan pemberantasan penyakit di Puskesmas Lubuk Kilangan diwujudkan dengan pemberian imunisasi rutin untuk bayi. 6.1. Lintas Program Pada dasarnya setiap kegiatan Puskesmas baik di dalam maupun di luar gedung yang melibatkan masyarakat terwujud dari sinkronisasi beberapa program puskesmas. SMU/SMK (3 unit).4. Pengobatan13 Puskesmas Lubuk Kilangan adalah Puskesmas rawat jalan yang melayani pasien dari dalam dan luar wilayah kerja Puskesmas. 26 .2 Kerjasama Lintas Program dan Lintas Sektor13 a. wanita usia subur. 5. KIA dan KB13 Jumlah ibu hamil (bumil) yang berada di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan adalah 995 orang sedangkan bayi (0-11 bulan) berjumlah 904 orang dan bayi (6-11 bulan) berjumlah 542 orang. 4. Balai Pengobatan. Peran promkes. Lembaga pendidikan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan meliputi TK (15 unit). Dalam penyelenggaraannya. dan anak sekolah serta pelaksanaan surveilans dan pendekatan epidemiologi kasus penyakit yang berpotensi wabah. Batu Gadang dan Baringin. penanganan masalah gizi memerlukan peran serta program lain di puskesmas.

532 jiwa. 1.743 KK : 6. Kerjasama ini yang belum terjalin dengan baik sedangkan idealnya dalam peningkatan pembrian ASI eksklusif harus ada kerjasama. 3 Sarana dan Prasarana13 Puskesmas ini terdiri dari satu bagian utama dan satu bagian kantor. swasta. Di bagian depan terdapat bangunan kantor yang terdiri dari ruang tata usaha. 1. serta ruang Kepala Puskesmas. Angka ini tentu tidak relevan dengan cakupan wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan yang memiliki jumlah penduduk 43. Apotik. 4. dan LSM. KIA. ruang pertemuan. Gigi. ruangan staf administrasi. sehingga pencegahan dan penanggulangannya tidak dapat ditangani oleh sektor kesehatan saja melainkan perlu dukungan secara komprehensif dari berbagai sektor. 4. seperti sektor pemerintah. Labor. Bagian utama terdiri atas beberapa ruangan yang digunakan untuk BP. Imunisasi dengan jumlah pegawai yang ada sebanyak 52 orang termasuk Pustu. Lintas Sektor Penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif sangat kompleks.211 jiwa dan 1. angka ini didapatkan dari tujuh kelurahan yang menjadi tanggung jawab Puskesmas ini dengan rincian sebagai berikut: a. Kelurahan Bandar Buat b. Walaupun demikian bangunan Puskesmas Lubuk Kilangan saat ini masih belum mempunyai gudang obat dan gudang gizi (PMT) dan ruangan khusus pelayanan lansia.172 jiwa dan 2. KB. 4.610 KK 27 .b. Kelurahan Padang Besi : 11. Ketenagaan dan Struktur Organisasi 13 Puskesmas Lubuk Kilangan yang didirikan pada tahun 1983 dengan luas bangunan 140 m2 memiliki 52 orang staf.

550 KK : 5. Dalam laporan tahunan puskesmas tahun 2008. Berdasarkan data bagian gizi puskesmas lubuk kilangan dan berdasarkan laporan tahunan puskesmas lubuk kilangan tahun 2009. Kelurahan Batu Gadang f. Kelurahan Koto Lalang e. Kelurahan Baringin g. Kelurahan Indarung d. Kelurahan Tarantang : 10. 2. didapatkan data bahwa target sasaran CDR TB Paru 65 orang. Di sini terdapat kesenjangan yaitu sebesar -8%. laporan tahunan Puskesmas Lubuk Kilangan tahun 2008-2009. sedangkan yang tercapai hanya 13 orang (19%).10 %).c.378 jiwa dan 1. Rendahnya cakupan penemuan TB Paru (CDR= Case Detection Rate).489 KK : 1. Beberapa masalah di Puskesmas Lubuk Kilangan yang ditemui antara lain : 1. Sedangkan target yang ditetapkan Dinas Kesehatan Kota 28 . dan wawancara dengan kepala dan penanggung jawab program-program di Puskesmas.632 KK : 6. Pada tahun 2009 dari 1808 sasaran. Pencapaian D/S di puskesmas Lubuk Kilangan masih jauh dari target (65%) yaitu 57%.669 jiwa dan 2. Pencapaian CDR TB Paru masih jauh di bawah target. 3.2 Identifikasi Masalah Proses identifikasi masalah dilakukan melalui observasi. Rendahnya pemberian ASI eksklusif pada bayi Dari 1501 sasaran ibu yang menyusui hanya sekitar 143 orang pada tahun 2008. hanya sekitar 110 orang yang memberikan hanya ASI eksklusif (6.828 jiwa dan 1.048 jiwa dan 439 KK 4.226 jiwa dan 244 KK : 2. Rendahnya D/S Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan.

penimbangan bayi dan balita.3 Penentuan Prioritas Masalah Banyaknya masalah yang ditemukan dalam program Puskesmas tidak memungkinkan untuk diselesaikan sekaligus atau seluruhnya. Dalam hal ini metode yang kami gunakan adalah teknik scoring. melakukan 3M. 4.Padang yaitu sebesar 70%. balita. Kurangnya pencapaian PHBS rumah tangga di Kelurahan Tarantang di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan. 4. namun angka ini masih jauh di bawah target. Kriteria nilai yang digunakan adalah sebagai berikut : y Urgensi: merupakan masalah yang penting untuk diselesaikan Nilai 1 Nilai 2 Nilai 3 Nilai 4 Nilai 5 : tidak penting : kurang penting : cukup penting : penting : sangat penting 29 . serta makan buah dan sayur. mencuci tangan dengan air dan sabun. penggunaan jamban sehat. Indikator yang belum mencapai target tersebut adalah diantaranya pemberian ASI eksklusif. 5. Dari masalah tersebut akan dibuat plan of action untuk meningkatkan dan memperbaiki mutu pelayanan. Dari laporan PHBS di Kelurahan Tarantang didapatkan hanya 4 indikator yang mencapai indonesia sehat 2010. Di tahun 2009 angka penemuan kasus meningkat menjadi 22%. dan anak-anak. sehingga perlu dilakukan prioritas masalah yang merupakan masalah terbesar. Tingginya angka kejadian ISPA Angka kejadian ISPA tertinggi selama dua tahun terakhir berdasarkan data tahunan 2008 dan 2009. Penderita terbanyak adalah bayi. yaitu 65 %.

y Intervensi Nilai 1 Nilai 2 Nilai 3 Nilai 4 Nilai 5 : tidak mudah : kurang mudah : cukup mudah : mudah : sangat mudah y Biaya Nilai 1 Nilai 2 Nilai 3 Nilai 4 Nilai 5 : tidak mahal : kurang mahal : cukup murah : murah : sangat murah y Kemungkinan meningkatkan mutu Nilai 1 Nilai 2 Nilai 3 Nilai 4 Nilai 5 : sangat rendah : rendah : cukup sedang : tinggi : sangat tinggi 30 .

10 % dari target pencapaian 100 % dari ibu yang menyusui. Hal ini terlihat dari pencapaian ASI eksklusif selama periode Januari s/d Desember 2009 hanya sebanyak 110 bayi. Ini menunjukkan masih rendahnya presentase pencapaian 6. Dari tabel penilaian prioritas masalah di atas. Rendahnya D/S Posyandu di wilayah kerja Puskesmas 5 4 3 4 14 III Lubuk Kilangan. Rendahnya pemberian ASI eksklusif pada bayi 4 4 4 4 16 I Masalah yang menjadi prioritas utama adalah rendahnya pemberian ASI eksklusif pada bayi. 31 .1 Prioritas Masalah Kriteria Tingginya ISPA Kurangnya pencapaian PHBS rumah tangga di Kelurahan Tarantang di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan Rendahnya cakupan 4 3 3 3 13 IV 4 3 4 4 15 II angka kejadian Urgensi Intervensi Biaya Mutu Total Rank 3 3 3 3 12 V penemuan TB Paru (CDR= Case Detection Rate). kami mengambil prioritas utama untuk Plan Of Action yaitu rendahnya pemberian ASI eksklusif pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan. Penulis menganggap perlu untuk meningkatkan upaya pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan karena perbedaan antara target dan pencapaiannya terdapat kesenjangan yang cukup besar.Tabel 4.

4. 2. dan upaya pemecahan masalah tidak tercapainya pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan. 3. Metode y Promosi pemberian ASI eksklusif ke masyarakat berupa sosialisasi melalui penyuluhan masih kurang. Tidak tercapainya pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan berdasarkan hasil observasi. Belum semua kader posyandu mendapatkan pelatihan. y Pengetahuan kader posyandu yang masih terbatas mengenai manfaat pemberian ASI eksklusif.4 Analisis Sebab Akibat Masalah Berdasarkan penilaian prioritas di atas. Lingkungan. Manusia. 32 . kami menganggap perlunya pengidentifikasian. Material y Media dan alat peraga. y Lokasi Posyandu masih sulit dicapai dan tidak strategis untuk dijangkau oleh masyarakat. y y Masyarakat kurang termotivasi dalam pemberian ASI eksklusif. analisis. y Kurangnya motivasi dari petugas untuk mengingatkan pemberian ASI eksklusif. poster mengenai pemberian ASI eksklusif jumlahnya masih terbatas. wawancara dengan Pimpinan Puskesmas dan pemegang program KIA ibu dan anak serta masyarakat diperoleh permasalahan sebagai berikut : 1. seperti leaflet. y Pengetahuan dan peran serta masyarakat dalam pemberian ASI eksklusif masih kurang. 4.

Untuk menunjukkan hubungan sebab akibat. poster mengenai pemberian ASI eksklusif jumlahnya masih terbatas. y Belum semua mendapatkan pelatihan. 33 . y Pengetahuan kader posyandu yang masih terbatas mengenai manfaat pemberian ASI eksklusif. maka dibuat diagram sebab akibat (diagram tulang ikan) sebagai berikut : Lingkungan dan tidak strate is untuk dijangkau ole masyarakat ¢ £ ¡ Material osyandu mas sulit dicapai y y Lokas Media dan alat peraga. ¢     Rendahnya Tingkat Pemberian ASI Ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Kilangan Metode dari petugas y Promosi eksklusif berupa pemberian ke ASI masyarakat melalui sosialisasi kader posyandu penyuluhan masih kurang. Manusia y Kurangnya motivasi untuk mengingatkan pemberian ASI eksklusif. seperti leaflet. y Pengetahuan dan peran serta masyarakat dalam pemberian ASI eksklusif masih kurang.

Penyediaan media dan alat peraga. Rencana : Pertemuan kepala Puskesmas dan Dinas kesehatan Kota tentang penyediaan media dan alat peraga ii. Rencana : Pembuatan video tentang ASI eksklusif dan manajemen laktasi. seperti leaflet dan poster penyuluhan ASI eksklusif vi. Material a. : Petugas Puskesmas : Terlaksananya pembuatan video tentang ASI eksklusif dan manajemen laktasi. Pelaksana : Pimpinan Puskesmas & Dinas Kesehatan Kota iii.4. 5. Sasaran v. seperti poster. Pembuatan video tentang ASI eksklusif dan manajemen laktasi i. Indikator : Tersedianya video tentang ASI eksklusif dan manajemen laktasi. Pelaksana iii. Target : Mei 2010 : Dinas Kesehatan Kota : Dinas Kesehatan Kota menyediakan media dan alat peraga. vi. Pelaksanaan iv. leaflet tentang penyuluhan ASI eksklusif di puskesmas dan posyandu. ii. 34 . Target : Petugas Puskesmas : Juni 2010. Indikator : Tersedianya media peraga. Pelaksanaan iv. 1. Alternatif Pemecahan Masalah. Sasaran v. seperti leaflet dan poster penyuluhan ASI Eksklusif untuk ibu hamil dan ibu menyusui i. b. serta diputarnya video ASI eksklusif dan manajemen laktasi pada saat penyuluhan di dalam atau di luar gedung.

Target : Pelatihan kader Posyandu : Petugas puskesmas : Mei 2010. Pelaksana iii. iv. Manusia. Indikator : Kader Posyandu mendapatkan pelatihan tentang pemberian ASI eksklusif dan dapat menerapkan hasil pelatihan pada saat penyuluhan. vi. Indikator : Posyandu didirikan di tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan mudah diakses oleh transporatsi. 3. 35 . ii.2. iii. Sasaran v. i. : Kader Posyandu : Kader posyandu mengerti tentang pemberian ASI eksklusif vi. Lingkungan Lokasi Posyandu sebaiknya di tempat yang mudah di jangkau oleh masyarakat. Metode Perlu dilakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif di lingkungan Puskesmas Lubuk Kilangan sesuai waktu yang telah ditentukan. Pelatihan kader Posyandu tentang pemberian ASI eksklusif i. Rencana : Mencari lokasi Posyandu di tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Pelaksanaan iv. Rencana ii. v. 4. Pelaksana Pelaksana Sasaran Target : Lurah dan Tokoh Masyarakat : Juni 2010 : Lurah dan Tokoh Masyarakat : Adanya lokasi posyandu yang strategis sehingga mudah di akses oleh ibu hamil dan ibu menyusui.

Ibu hamil. Pelaksanaan : Setiap Bulan. Indikator : Penyuluhan ASI eksklusif terlaksana 1 kali sebulan secara rutin dan lancar. iv. 36 . Target : Kader posyandu. Pelaksana : Petugas puskesmas iii. Sasaran : Kader posyandu. Rencana : Melakukan penyuluhan. dan penyebaran leaflet tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif kepada masyarakat. Ibu hamil. vi. dan Ibu menyusui v.i. pemutaran video. ii. dan Ibu Menyusui mengetahui akan pentingnya pemberian ASI eksklusif.

yang menyebabkan rendahnya tingkat pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan adalah media dan alat peraga. metode. Dari faktor manusia yang menyebabkan rendahnya tingkat pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan adalah kurangnya motivasi dari petugas untuk mengingatkan pemberian ASI eksklusif. Dari faktor lingkungan. diperlukan pelatihan kader Posyandu tentang pemberian 37 . Kesimpulan Sesuai dengan kondisi dan situasi yang ditemui dalam pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan Kota Padang. yaitu faktor manusia. seperti leaflet. poster mengenai pemberian ASI eksklusif jumlahnya masih terbatas. 1. rendahnya tingkat pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan disebabkan secara tidak lansung oleh lokasi Posyandu masih sulit dicapai dan tidak strategis untuk dijangkau oleh masyarakat. belum semua kader posyandu mendapatkan pelatihan serta masyarakat kurang termotivasi dalam pemberian ASI eksklusif. Sedangkan dari faktor material. Dan dari faktor metode. pengetahuan dan peran serta masyarakat dalam pemberian ASI eksklusif masih kurang. material. yang menyebabkan Belum semua kader posyandu mendapatkan pelatihan adalah promosi pemberian ASI eksklusif ke masyarakat berupa sosialisasi melalui penyuluhan masih kurang.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. dan lingkungan. pengetahuan kader posyandu yang masih terbatas mengenai manfaat pemberian ASI eksklusif. Berdasarkan analisis sebab akibat masalah di atas. Dari faktor manusianya. maka diperlukan alternatif pemecahan masalah dari berbagai faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan. maka dapat disimpulkan rendahnya tingkat pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan Kota Padang disebabkan oleh beberapa faktor.

3.ASI eksklusif. seperti leaflet dan poster penyuluhan ASI Eksklusif untuk ibu hamil dan ibu menyusui. 4. Serta pembuatan video tentang ASI eksklusif dan manajemen laktasi untuk membantu proses penyuluhan. perlunya penyediaan media dan alat peraga. Setiap bulan Puskesmas sebaiknya membahas kemajuan dan perkembangan program pemberian ASI melalui puskesmas (Lokmin). 5. Sedangkan dari metode diperlukan Perlu dilakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif di lingkungan Puskesmas Lubuk Kilangan sesuai waktu yang telah ditentukan. Dari faktor materialnya. 2. Perlu adanya pelatihan kader tentang pemberian ASI eksklusif. 2. Puskesmas diharapkan membuat perencanaan kegiatan dan anggaran untuk sosialisasi tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif. Puskesmas harus memprioritaskan pengembangan pemberian ASI eksklusif baik SDM maupun sarana dan prasarana penunjang untuk kegiatan tersebut. Sedangkan dari faktor lingkungan diperlukannya lokasi Posyandu sebaiknya di tempat yang mudah di jangkau oleh masyarakat. Saran 1. lokakarya mini 38 .

Kepada semua pihak yang telah membantu sehingga laporan ini dapat tersusun. telah dilakukan identifikasi terhadap berbagai masalah yang ada di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan Padang. Dalam hal ini kegiatan lebih difokuskan pada Upaya Peningkatan Tingkat Pemberian ASI eksklusif. kami ucapkan banyak terima kasih.BAB VI PENUTUP Melalui kegiatan kepaniteraan klinik dibagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas ini. hasil ini berupa masukan kepada semua pihak untuk dapat berpartisipasi ke depan dalam upaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Disamping itu. Hasil dari kegiatan ini agar dapat dimanfaatkan oleh pimpinan puskesmas Lubuk Kilangan dalam meningkatkan target pencapaian pemberian ASI eksklusif. 39 .

. Bahan Kuliah Gizi Dalam Daur Kehidupan. Ilmu Gizi. Mochtadi Deday. Puspita Theresia. 1994 9. Gizi untuk Bayi. Winarno F. Diakses dari www. Depkes RI. 1992 10. Jakarta. Depkes RI. Depkes RI. Depkes RI. 14.DAFTAR PUSTAKA 1. Bhratara. 1995 11. 1985 2. Djaeni Ahmad Soediaotama.com 40 . manajemen Laktasi. 1977 12. Faktor Gizi. Dian Rakyat. Yayasan Essentia Medika. (terjemahan).G. Moehji Sjahmien. Petunjujk Pelaksanaan Peningkatan ASI Ekslusif. Pedoman Pemberian MP-ASI. Akzi. Banda Aceh. Jakarta 1995 4. Jakarta. Jakarta 1992 6. Jakarta. dan Balita.Z. Moehji Sjahmien. Yogyakarta. Ilmu Gizi II. Pemeliharaan Gizi Bayi dan Balita. Jakarta. Panduan 13 Pesan dasar Gizi Bayi. Gizi dan Makanan Bagi Bayi dan Anak Sapihan. Laporan Tahunan Puskesmas Lubuk Kilangan tahun 2009. 1992 8. Bhratara. Sinar Harapan. Jakarta. Sinar Harapan. 1990 13. Bharatara. Djaeni Ahmad Sedjaoetama. Air Susu Ibu.kesehatan reproduksi. Jakarta. 1997 7. Suharyono dan Ebrahim G. Bhratara Karya Aksara. 1992 3. Jakarta. 1994 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful