KAJIAN DRAMA

Analisis Naskah “Catatan Pemimpin” karya Dwi Suprabowo” dengan Menggunakan Teori Abrams

Disusun Oleh : Denny saputra Ferdiansyah Fajrin Indias Puspitasari Pipin Apriani Ratih Anggiani Arpi

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Bentuk Naskah : Tragedi. pertikaian. Penasehat 1 ang berupaya membela diri malah menancapkan pedangnya secara tidak sengaja ke perut Raja. Ia .BAB I PENDAHULUAN 1. terus bercakap-cakap dengan Penasehat sepanjang perjalanan. c. Raja yang tidak mengtahui niat tersebut. karena menurut kami teori ini lebih membahas secara dalam apabila diaplikasikan ke dalam naskah. Sinopsis Raja bergegas berkemas untuk meninggalkan kerajaannya. Raja kemudian mengurungkan niatnya untuk pergi dan memerintahkan Penagawal untuk kembali ke kerajaannya. Pada akhirnya Pengawal 1 berikrar mengantikan tahta kerajaan. Datanglah seorang penasehat kerajaan yang membantu Raja dalam uapaya kepergiannya dari kerajaan tersebut. Rajapun terbangun dari mimpinya. Penasehat 1 yang tidak tahu apa-apa datang dan mendapatkanserangan dari Raja. karena terdapat kesedihan. dan melakukan pembunuhan terhadap Penasehat dan pengawal 2. Mengapa memilih naskah ini ? Karena di dalam naskah ini terdapat pesan moral yang sangat tinggi yang bisa dijadikan panutan bagi kita semua. dan kematian. Teori yang digunakan Teori yang digunakan adalah Teori Abrams. b. Sebelumnya Penasehat telah merekrut Pengawal2 untuk turut berkhianat bersamanya. Serta teori ini lebih kami pahami. Latar Belakang a. BAB II . Namun ternyata Penasehat memiliki maksud lain yaitu ingin menggulingkan kekuasaan Raja tersebut. 2. Lantas terjadilah pembunuhan yang dilakukan oleh Penasehat terhadap Raja.easa rakyatnya tidak lagi ada yang memberikan simpati padaya sehinga ia berniat untuk pergi dari kerajaan tersebut.Berkat percakapan tersebut.

Fakta itu dapat berwujud aktivitas sosial tertentu. melainkan hasil dari proses sejarah yang terus berlangsung. berdasarkan sejarahnya (“Jean Piaget. Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling berkaitan satu sama lain sehingga membentuk strukturalisme genetik. Ia percaya bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur (Faruk 12). seni patung. seni rupa. menurut Faruk (12).PEMBAHASAN Teori Goldmann Goldmann menyebut teorinya sebagai teori strukturalisme genetik. Senada dengan Piaget. bukan dengan subjek lain di luar lingkungan historis (Goldmann 10-11). maupun kreasi kultural seperti filsafat. karya sastra yang dilihat sebagai sebuah struktur haruslah dikaitkan subjek historis. Istilah strukturalisme genetik sebenarnya merupakan istilah yang erat kaitannya dengan teori perkembangan psikologis oleh seorang psikolog anak bernama Jean Piaget—yang notabene mempengaruhi banyak pemikiran Goldmann dalam mencetuskan strukturalisme genetika—yang aslinya bernama epistemologi genetik (Goldmann 9. Untuk menopang teorinya. Fakta kemanusiaan adalah hasil dari perilaku manusia yang dapat dengan jelas dipahami (Goldmann 40). strukturasi. Goldmann mengatakan aktivitas-aktivitas tersebut sebagai upaya manusia mengubah dunia. proses strukturisasi dan destrukturisasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal karya sastra yang bersangkutan (Faruk 12). dan perilaku manusia. atau dengan kata lain adalah segala hasil aktivitas manusia atau perilaku manusia baik yang verbal maupun fisik. seni musik. “Jean Piaget. dimana tujuan dari aktivitas-aktivitas tersebut adalah untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik antara diri . Fakta Kemanusiaan (Human Facts) Prinsip dasar pertama dari strukturalisme genetik adalah fakta kemanusiaan. dan pengetahuan ilmiah tertentu. dalam pandangan strukturalisme genetika Goldmann. lalu apakah yang membedakannya dengan teori strukturalis yang lain? Menjawab pertanyaan ini Goldmann menulis: strukturalisme genetik menegaskan bahwa struktur-struktur. jika teori Goldmann adalah juga teori strukturalisme. Mungkin akan muncul pertanyaan. pandangan dunia. dan sastra (Faruk 12). Kategorikategori tersebut adalah fakta kemanusiaan.” Wikipedia). Goldmann berpendapat bahwa struktur yang dipercayainya terdapat dalam karya sastra bukanlah struktur yang statis. aktivitas politik tertentu. 1. yang sudah menjadi sebuah aspek universal dari pikiran. yang berusaha dipahami ilmu pengetahuan. subjek kolektif. epistemologi genetik mencoba untuk menjelaskan pengetahuan.” Wikipedia). Boelhower menambahkan. bisa menggantikan manusia sebagai sebuah subjek historis. Hal inilah menurut Boelhower yang membedakan strukturalisme Goldmann dengan strukturalisme komtemporer yang lain. Menurut Jean Piaget. pemahaman dan penjelasan. kepekaan.

Subjek dapat dibagi menjadi dua. Kenyataan bahwa individu-individu dalam kelompok yang bertanggung jawab terhadap proses keseimbangan telah mentrnsformasikan lingkungan sosial fisiknya sehingga terjadi proses yang mengganggu keseimbangan dalam proses strukturasi itu. Pandangan Dunia (World View) . sekaligus menjadikan proses tersebut sebagai genesis dari struktur karya sastra (Faruk 14). tetapi di lain pihak usaha itu tidak selalu berhasil karena menghadapi rintangan-rintangan yang antara lain: 1. dimana subjek trans-individual bukanlah individu-individu yang berdiri sendiri-sendiri. 2. 2. contohnya revolusi sosial. Kenyataan bahwa sektor-sektor kehidupan tertentu tidak menyandarkan dirinya pada integrasi dalam struktur yang dielaborasikan 2. yaitu melakukan proses akomodasi dengan struktur lingkungan tersebut. satu kolektivitas (Faruk 15). Menghadapi kendala seperti itu manusia akhirnya menyerah dan melakukan hal sebaliknya.manusia (sebagai subjek) dan dunia. Perilaku manusia di atas menjadi bermakna karena membuat mereka memperbaiki keseimbangannya (equilibrium) (Goldmann 40). Subjek Kolektif Telah dibahas sebelumnya bahwa fakta kemanusiaan merupakan hasil dari aktivitas manusia sebagai subjeknya. Strukturalisme genetika melihat subjek kolektif sebagai sesutau yang penting karena subjek kolektif mampu menghasilkan karya-karya kultural yang besar yang sering menjadi topik utama dalam karya sastra. politik dan ekonomi (Faruk 1415). Dalam hubungan manusia dengan lingkungannya (Faruk 13-14. selalu terjadi proses timbal-balik yang disebut dengan asimilasi dan akomodasi. sesuai dengan fakta yang dihasilkannya: subjek individual yang menghasilkan fakta individual (libidinal). Dalam proses strukturasi dan akomodasi yang terus-menerus itulah karya sastra memperoleh artinya. Di satu pihak. Goldmann 61). manusia berusaha mengasimilasi lingkunagn sekitarnya. Jika kita menggunakan terminology Goldmann. maka fakta-fakta sosial tersebut dihasilkan oleh subjek trans-individual (Goldmann 97). melainkan merupakan suatu kesatuan. Kenyataan bahwa semakin lama penstrukturan dunia eksternal itu semakin sukar dan bahkan tidak mungkin dilakukan 3. dan subjek kolektif yang menghasil fakta sosial (historis) (Faruk 14).

novel romantisme keputusasaan. Dari pernyataan di atas dapat kita simpulkan bahwa Goldmann ternyata memfokuskan perhatiannya pada hubungan antar tokoh dan antara tokoh dengan lingkungannya. Karena itulah strukturalisme genetik melihat karya sastra sebagai struktur koheren yang terpadu. perasaan dan tindakan dimana pada situasi tertentu membuat manusia menemukan diri mereka dalam situasi ekonomi dan sosial yang sama pada kelompok sosial tertentu (Goldmann 112). Hal itulah juga yang menurut Goldmann membedakan karya sastra dari filsafat dan sosiologi (Faruk 17). objek-objek. yang merupakan keseluruhan cara berfikir. dimana kesadaran tokohnya terlampau luas dari dunia sehingga menjadi berdiri sendiri dan terpisah dari dunia. Goldman mengatakan bahwa hampir seluruh karyanya penelitian dipusatkan pada elemen kesatuan. yaitu novel idealisme abstrak. nilai otentik hanya berbentuk konseptual dan abstrak .Pandangan dunia adalah sebuah perspektif yang koheren dan terpadu mengenai manusia dengan sesamanya dan dengan alam semesta (Goldmann 111). Transformasi mentalitas yang lama secara perlahan-lahan dan bertahap diperlukan demi terbangunnya mentalitas yang baru (Faruk 16. Pandangan dunia adalah fakta historis dan sosial. Itulah sebabnya. dan yang terakhir adalah novel pendidikan. Dengan begitu. dimana tokohnya masih ingin bersatu dengan dunia. Struktur Karya Sastra Sebagaimana yang disampaikan di atas. pandangan dunia tidak muncul dengan tiba-tiba. dan pencarian itu dilakukan oleh seorang pahlawan ( hero) yang problematik. namun karena persepsi tokoh tersebut bersifat subjektif. . Karena merupakan fakta sosial yang berasal dari interaksi antara subjek kolektif dengan sekitarnya. idealismenya menjadi abstrak. Dalam kaitannya dengan konsep struktur karya sastra. Goldmann berpendapat bahwa novel merupakan cerita tentang pencarian yang terdegradasi akan nilai-nilai yang otentik dalam dunia yang juga terdegradasi. Menurut Goldmann. dalam rangka menguak struktur yang koheren dan terpadu yang mengatur keseluruhan karya sastra (Faruk 17). Goldmann membagi novel dalam tiga jenis. 3. nilai-nilai tersebut hanya dapat dilihat dari kecederungan terdegradasinya dunia dan problematiknya sang hero. dan relasi-relasi secara imajiner pula. karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner. yang menampilkan pahlawan yang mempunyai kesadaran akan kegagalannya ketika ingin bersatu dengan dunia karena memilki interioritas (Faruk 19). Dalam bukunya The Sociology of Literature: Status and Problem of Method. dimana pengarang menciptakan semesta tokohtokoh. Yang dimaksud dengan nilai-nilai yang otentik itu adalah totalitas yang secara tersirat muncul dalam novel. karya sastra yang besar merupakan produk strukturasi dari subjek kolektif. Goldmann 112). serta hanya berada dalam kesadaran penulisnya (Faruk 18).

material things and events. kita mengetahui bahwa : pertama. Berkenaan dengan teori Universe itu. whether held to consist of people and actions. is derived from existing things-to be about. Dalam memahaminya harus juga desertai usaha menjelaskanya dengan menempatkannya dalam keseluruhan yang lebih besar. in almost all theories which aim to be comprehensive. sedangkan penjelasan adalah usaha untuk mengerti makna itu dengan menempatkannya dalam keseluruhan yang lebih besar. the work is taken to have a subject which. the artist. ada penikmat karya sastra (pembaca). Melalui teori Universe itu. ideas and feelings. the second common element is the artificer. This third element. Inilah sebenarnya konsep dialektika “pemahaman-penjelasan”. the artist product itself. kedua. has frequently been . or reflect something which either is. Third. Dialektika Pemahaman-Penjelasan Dalam perspektif strukturalisme genetik. 1. by one or another synonym. Setiap gagasan individual akan berarti jika ditempatkan dalam keseluruhan.4. ada semesta (alam) yang mendasari lahirnya karya sastra. dia mengatakan: “Four elements in the total situation of a work of art are discriminated and made salient. ada suatu karya sastra (karya seni). Untuk itu metode dialektik mengembangkan dua pasangan konsep yaitu “keseluruhan-bagian” dan “pemahaman-penjelasan” (Faruk 19-20). Namun teks sastra itu sendiri merupakan bagian dari keseluruhan yang lebih besar yang membuatnya menjadi struktur yang berarti. an objective state of affairs. Sebagai sebuah struktur. dimana pemahaman adalah usaha untuk mengerti identitas bagian. ketiga. Dialektik memandang bahwa tidak ada titik awal yang secara mutlak sahih dan tak ada persoalan yang secara mutlak pasti terpecahkan. karya sastra merupakan sebuah struktur koheren yang memiliki makna. Dengan kata lain. dan bagian tidak dapat dimengerti tanpa keseluruhan (Faruk 20). or super-sensible essences. keseluruhan tidak dapat dipahami tanpa bagian. there is the work. yang mana dengan mengidentifikasinya akan membantu kita memahami apa sebenarnya karya tersebut. And since this is a human product. Abrams mengetengahkan teori Universe-nya. Teori Abrams Dalam bukunya yang berjudul The Mirror and The Lamp (l971). dan keempat. an artifact. karya sastra terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil. Prinsip dasar metode dialektik yang membuatnya berhubungan dengan masalah koherensi di atas adalah pengetahuannya mengenai fakta-fakta kemanusiaan yang akan tetap abstrak apabila tidak dibuat konkret dengan mengintegrasikannya ke dalam keseluruhan. First. ada pencipta (pengarang) karya sastra. demikian juga keseluruhan hanya dapat dipahami dengan menggunakan fakta-fakta parsial yang terus bertambah. or signify. Dalam memahami makna itu Goldmann mengembangkan metode yang bernama metode dialektik. directly or deviously. or bears some relation to.

Cara pandang terhadap karya sastra semacam itu. but let us use the more neutral and comprehensive term. karya sastra bisa didekati dengan pendekatan ekspresif. lebih lanjut. sebagai artifak yang bisa dikenali ciri-ciri strukturnya bila pendekatan yang digunakan adalah pendekatan obyektif (Lewis. dijelaskan oleh Leary Lewis bahwa dalam memahami atau menelaah karya sastra bisa difokuskan pada : (a) pengarang bila pendekatan yang digunakan adalah pendekatan ekspresif. Sedangkan daya imajinatif adalah kemampuan pengarang untuk membayangkan. imajinasinya. universe. dan (d) karya sastra sebagai karya yang otonom. perasaan.denoted by that word-all-work. dilihat dari sisi pengarang. ‘nature’. spectators. pikiran. Dalam kaitan ini. mengkhayalkan. or readers to whom the work of art is addressed… (Abrams. Empat sudut pandang itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Sudut Pandang Ekspresif Secara ekspresif karya sastra (seni) merupakan hasil pengungkapan sang pencipta seni (artist) tentang pengalaman. instead. Daya kreatif adalah daya untuk menciptakan halhal yang baru dan asli. memperlihatkan masalah-masalah manusia yang substil (halus) dan bervariasi dalam karyakarya sastranya. norma-norma (tata nilai). Manusia penuh dengan seribu satu kemungkinan tentang dirinya. Dengan perkatan lain. yakni pendekatan yang berfokus pada diri penulis (pengarang). Realitas obyektif bisa berbentuk peristiwa-peristiwa. seorang pengarang berhadapan dengan suatu kenyataan yang ada dalam masyarakat (realitas obyektif). Berdasar teori itu. pandangan hidup dan bentukbentuk realitas obyektif yang ada dalam masyarakat. imaginatif (rekaan) dan dimaksudkan untuk menghadirkan keindahan. karya sastra (seni) merupakan karya kreatif. (c) pragmatis dan (d) obyektif. Untuk itu. Seorang pengarang yang memiliki daya imajinatif yang tinggi bila dia mampu memperlihatkan dan menggambarkan kemungkinan-kemungkinan kehidupan. dan sejenisnya. Bila seseorang pengarang merasa tidak . pandangannya. l971 : 6). (c) efek karya sastra terhadap pembaca bila pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pragmatis. atau kespontanitasnya (1976 : 46). (b) hubungan antara karya sastra dan universe yang melatarbelakangi lahirnya karya sastra itu bila pendekatan yang digunakan adalah pendekatan mimetik. Dalam kaitan dengan proses penciptaan karya sastra. (b) mimetik. Kedua daya itu akan menentukan berhasil tidaknya suatu karya sastra (1978 : 9). dan menggambarkan sesuatu atau peristiwa-peristiwa. For the final element we have the audience : the listeners. 1976 : 46). menurut Lewis. yakni : daya kreatif dan daya imajinatif. karya sastra dapat dipandang dari empat sudut pandang : (a) ekspresif.Dengan demikian. seorang pengarang berusaha untuk memperlihatkan kemungkinan tersebut. masalah-masalah. Esten menyatakan bahwa ada dua hal yang harus dimiliki oleh seorang pengarang. dan pilihanpilihan dari alternatif yang mungkin dihadapi manusia.

Setelah ada suatu sikap. Sebagai karya seni. mengukuhkan pandangan bahwa karya seni menyuguhkan nilai (seni) yang agung ketimbang karya-karya manusia lainnya dan harus dipandang sebagai “dirinya sendiri” sebab ia “mampu berdiri sendiri (self-sufficient) “. tidak memuaskan atau penuh dengan ketidakadilan. kemenarikan dan sejenisnya harus menyertai karya sastra (seni) itu. Para seniman Perancis. novel. Karena karya sastra (seni) dituntut untuk memberikan hiburan (entertainment). Tokoh-tokoh berikut perilaku yang menyertai dan segala aspek pendukung cerita itu merupakan hasil kreasi dari penciptanya. menyuguhkan cerita. yakni: “l’art pour l’art” yang dalam bahasa Inggrisnya “art for art’s sake” yang berarti “seni untuk seni”. yang pada gilirannya dapat memberikan hiburan kepada penikmatnya (Abrams. Hal inilah yang kemudian dia ungkapkan melalui karya sastra yang dia ciptakan. pada dasarnya tidak dilepaskan dari pemikiran Plato. Berbicara mengenai pandangan mimetik terhadap karya sastra itu. Refleksi ini terwujud karena adanya peniruan dan dipadukan dengan imajinasi pengarang terhadap realitas alam atau kehidupan manusia. l998). ia tidak menghadirkan manfaat atau mengajarkan moral. terutama di Perancis. maka keindahan. memang. karya sastra dicipta dengan menonjolkan aspek seninya (aspek estetis) dalam upaya untuk memberikan hiburan (entertainment) bagi penikmatnya. Dia ingin berpesan kepada pihak-pihak lain tentang sesuatu yang dianggap sebagai masalah atau persoalan manusia (Esten. Karya sastra. misalnya. Pandangan semacam ini berangkat dari pemikiran bahwa karya sastra merupakan refleksi kehidupan nyata. Pandangan tersebut. pada akhir abad 19. Tujuan akhir dari karya seni adalah hanya menyuguhkan keindahan. dengan caranya sendiri (misalnya. memberontak. pada waktu itu. mendobrak realitas obyektif yang. karya sastra (seni) menyaran pada dunia rekaan sang penciptanya. Dia mencoba untuk mengutarakan sesuatu terhadap realitas obyektif yang dia temukan. 1978 : 9-10). dia . Karena sifatnya yang kreatif-imaginatif. maka dia mencoba untuk mengangankan suatu “realitas” baru sebagai pengganti realitas obyektif yang sementara ini dia tolak. lewat kegiatan kepengarangan) memprotes.puas dengan realitas obyektif itu. Berangkat dari kegelisahan itu. Dengan demikian karya sastra pada hakikatnya adalah tanggapan seseorang (pengarang) terhadap situasi di sekelilingnya. Sudut Pandang Mimetik Secara mimetik dalam proses penciptaan karya sastra (seni). mungkin saja dia lalu merasa ‘gelisah’. sastrawan/seniman tentu saja telah melakukan pengamatan yang seksama terhadap kehidupan manusia dalam dunia nyata dan lalu membuat perenungan terhadap kehidupan itu sebelum menuangkan dalam karya sastra (seni)-nya. Dalam hubungan ini. kesegaran. Plato. dalam dialognya dengan . mungkin saja. sejalan dengan doktrin seni yang pernah berkembang di Eropa. menurutnya.

(b) adanya refleksi dari ide abadi dalam wujud dunia rekaan baik natural maupun artifisial. stress. Artinya. bagi seniman. dan sejenisnya dari tokoh yang jahat. mengemukakan bahwa semua karya seni (termasuk karya sastra) merupakan tiruan (imitation). misalnya novel. Aspek pragmatis (kebermanfaatan) yang dapat dipetik dari karya seni tersebut adalah antara lain : (a) perbuatan yang baik lambat laun akan membuahkan hasil yang baik pula. Karya seni yang menghibur dan bermanfaat harus dilihat secara simultan. l977). yakni: yang dapat ditiru (the imitable) dan tiruannya (the imitation) dan sejumlah hubungan antara keduanya. hal-hal yang tidak baik tentu harus kita tinggalkan. pesan-pesan moral yang dihadirkan oleh karya seni bisa dimanfaatkan oleh para penikmatnya sebagai bahan perenungan. bermoral-amoral. pada akhirnya ‘yang baik’ menang. penyakit (terkena bala). sedangkan ‘yang jahat’ kalah. Horace. Dalam kaitan ini. Walaupun. kegelisahan. berjaya. korupsi. misalnya. hubungan murid terhadap guru atau sebaliknya. ‘Tiruan’ merupakan istilah relasional. Menurut Horace. dianggap sebagai “model” kehidupan manusia. bahwa seni harus dulce et utile atau menghibur dan bermanfaat (Wellek & Warren. kita bisa melihat model-model atau pola-pola kehidupan yang baik-buruk. dalam proses penciptaan karya seni antara aspek hiburan dan kebermanfaatan harus dipertimbangkan. betatapun khayalnya. dan sebagainya).Socrates. sebaliknya. pada awalnya tokoh yang baik banyak menghadapi tantangan. ketidaknyamanan. dia hendaknya tidak menonjolkan aspek hiburan ketimbang aspek kebermanfaatan. hanya mementingkan kepentingan pribadi padahal yang bersangkutan seharusnya memikirkan kepentingan rakyat banyak. dan sejenisnya) akan berbuah ketidakbaikan. Sudut Pandang Pragmatis Pandangan terhadap karya sastra (seni) secara pragmatis ini menggeser doktrin “seni (hanya) untuk seni” sebagaimana terurai di atas. dalam persahabatan. santun-kasar. Sebagai model kehidupan. serakah. dan . novel hampir selalu menawarkan model kehidupan yang baik dikonfrontasikan dengan yang jelek. Secara pragmatis selain sebagai sarana hiburan. hubungan antar anak-anak. masalah. manipulasi. sehingga terjadi keseimbangan antara segi menghibur dan bermanfaat pada karya seni yang diciptanya. tersingkir dan lalu menderita. menyegarkan-menyebalkan atau sejenisnya (misalnya. mengetengahkan tesis dan kontratesisnya terhadap karya seni. (b) perbuatan yang tidak baik (sewenang-wenang. “Model-model” kehidupan dalam kategori baik bisa diadopsi dan dikembangkan dalam kita hidup bermasyarakat. l971 : 8). berbangsa dan bernegara. Kalau sastra (seni). Hubungan dua hal tadi terlihat dalam tiga kategori: (a) adanya ide-ide abadi dan ide-ide yang tidak bisa berubah (the eternal and unchanging Ideas). dan berbahagia. yang menyaran adanya dua hal. hubungan anak terhadap orang tua atau sebaliknya. jahat. tidak secara terpisah antara satu dengan yang lainnya. dan (c) adanya refleksi dari kategori kedua sebagaimana terlihat adanya suatu bayangan dalam air dan cermin dan karya-karya seni ( Abrams. memakan yang bukan haknya.

Sudut Pandang Obyektif Pandangan terhadap karya sastra secara obyektif menyatakan bahwa karya sastra (seni) merupakan dunia yang otonom. yang dapat dilepaskan dari pencipta dan lingkungan sosialbudaya zamannya. Dalam hal ini. 3. Janganlah lari dari masalah. 4. Amanat 1. Janganlah melakukan pengkhianatan. HASIL KERJA KELOMPOK 5 Dimensi sastra: Berikut adalah kajian naskah “Catatan sang Pemimpin” menggunakan teori Abrams : 1. Penokohan .hal-hal yang tidak nyaman lainnya. b. Tema Tema utama Tema sampingan : Politik : Pengkhianatan dan perebutan tahta kerajaan. c. (c) perbuatan yang baik akan mengalahkan perbuatan yang jahat. 2. Janganlah mudah percaya dengan omongan orang lain. Jadilah pemimpin yang mau mengayomi rakyatnya. 5. Objektif a. Berani brtanggung jawab atas segala perbuatan kita. karya sastra dapat diamati berdasarkan strukturnya.

adalah sosok ang setia pada Rajanya dan tidak ikur campur dalam kudeta yang dilakukan oleh penasehat. Suasana Memperihatinkan Yaitu saat Raja menjelaska suasana kerajaannya yang sedang carut-marut akibat adanya pemberontakan-pemberontakan dalam. tokoh Raja dalam naskah “Catatan sang Pemimpin” adalah sosok raja yang galak. di ruang kerajaan. Antagonis : Penasehat Penasehat yang ditampilkan pada naskah “Catatan sang Pemimpin” juga tidak dijelaskan secara fisik.Raja Protagonis : Tidak digambarkan denagn jelas sosok Raja yang ada pada naskah tersebut. karena menanggapi segala perkataan penasehat yang tidak sesuai dengan kemauannya dengan ketus . Raja tersebut juga adalah sosok Raja yang bertanggung jawab karena ia berniat kembali ke kerajaannya atas dasar pertimbangan ingin menangkap pemberontak dan menghentikan aksi pengungsiannya. Ia juga patuh terhadap perintah dari Raja Pengawal 2 Pengaal 2 pada lakon ini. d. dan di dalam sebuah kereta kuda. adalah sosok ang mudah tergiur dengan jabatan yang ditawarkan oleh penasehat andengan mudahnya pengawal 2 turut menjadi kaki tangan Penasehat untuk melakukn kudeta. di jalan yang ditelusuri Raja untuk meninggalkan kerjaan. Setting Waktu Dikatakan dalam naskah ini bahwa peristiwa tersebut terjadi pada saat Raja melakkan kegiatan berkemas untuk meninggalkan kerajaan dan sepanjang perjalanan meninggalkan kerajaan. Tempat Peristiwa ini terjadi di sebuah kerajaan yang sedang rusuh. Namun bila dilihat secara sifat. Utility Pengawal 1 Pengawal 1 pada naskah ini. . Penasehat di dalam lakon ini adalah sosok yang licik dan bermuka dua karena ingin menggulingkan kekuasaan sang Raja dan telah mempersiapkan rencana pembunuhan Raja. Hingga Raja terbangun dan melakukan pembunuhan terhadap penasehat dan pengawal 2. Penulis naskah hanya menjelaskan watak penasehat lewat dialog serta perbuatannya.

Penasehat. Hal nyata lain yang kemudian dijadikan inspirasi rekaan dalam drama tersebut adalah posisi pemimpin yang dirasa kurang menyadari tentang keadaan rakyatnya yang sebenarnya. dan Pengawal 2 e. Serta ketika Penasehat dibunuh oleh Raja. . Anti-klimaks : Raja terbangun dari tidurnya dan menghabisi Penasehat serta Pengawal 2. Climax : konflik memanas dan mencuat ketika raja mengetahui bahwa Penasehat berupaya melakukan kudeta. Alur Plot : Plot yang digunakan pada cerita ini adalah maju dengan tingkat kerapatan yang rapat. Begitu juga dengan kepemimpinan di Indonesia yang dirasa masih kurang cakap dalam mengemban tugasnya mengingat masih tingginya angka kriminalitas serta kemiskinan di kalangan bawah. 2. Bila diamati. Contohnya seperti percakapan Raja dengan Penasihat yang memperbincangan tentang kondisi ozon yang sudah bocor. unsur mimetik yang digambarkan pada naskah “Catatan Pemimpin” karya Dwi Suprabowo ini banak menggambarkan kejadian-kejadian yang terjadi khususnya di Indonesia. Conflik : konflik mulai hadir ketika Penasehat datang dan ingin melakukan kudeta. Conclusion : Pengawal 1 menggantikan tahta sebagai Raja.Menegangkan Yaitu saat terjadi pertikaian antara Penasehat dengan Raja dan Penasehat dengan Pengawal 2 yang menyebabkan ia mau berkhianat pada Rajanya sendiri. Sunyi Yaitu ketika pengawal 1 melihat jasad Raja. Raja tersebut dalam lakon ini beranggapan bahwa rakyatnya dalam keadaan baik-baik saja. Alur : Direction : Ketika Raja bercerita tentang keadaan kerajaanya. Mimetik Secara mimetik karya sastra pada hakikatnya adalah tanggapan seseorang (pengarang) terhadap situasi di sekelilingnya. Percakapan tersebut jelas mengisyaratkan hal yang sesungguhnya terjadi di dunia mengenai Global Warming yang terjadi di dunia. Namun pada kenyataannya ternyata rakyat sangat menderita.

hanya mementingkan kepentingan pribadi padahal yang bersangkutan seharusnya memikirkan kepentingan rakyat banyak) akan berbuah ketidakbaikan. Ekspresif Bila dilihat secara ekspresif. dan hal-hal yang tidak nyaman lainnya. stress. 4. (c) perbuatan yang baik akan mengalahkan perbuatan yang jahat. Sebagai contoh diaog berikut : Raja : Maksudmu mereka rela untuk menjadi pengantin bom ? hanya untuk menurunkanku dari tangkup kekuasaan? Secara ekspresif. mengingat pengarang merupakan . pengarang berusaha mengemas suatu amanat besar dalam cerita ini.3. dan dalam cerita ini digambarkan pada terbunuhnya tokoh Penasihat dan Pengawal 2 yang telah jelas melakukan tindakan penggulingan kekuasaan Raja. ketidaknyamanan. dalam ceita ini tergambar pada kesetiaan yang dilakukan oleh pengawal 1 tanpa adanya pengkhianatan yang kemudian pada akhir cerita ia bisa mendapatkan tahta sebagai Raja (b) perbuatan yang tidak baik (sewenang-wenang. menjadi tolak ukur yang menjadikan bahasa-bahasa sarat dengan kritik dimasukkan dalam dialog lakon “Catatan Pemimpin ini. Pengalaman-pengalaman pengarang tentang perpolitikan di Indonesia khususnya. Pragmatik Aspek pragmatis (kebermanfaatan) yang dapat dipetik dari karya seni tersebut adalah antara lain : (a) perbuatan yang baik lambat laun akan membuahkan hasil yang baik pula. penyakit (terkena bala). Dalam cerita ini digambarkan pada niat buruk Penasihat yan kemudian berhasih digagalkan oleh Raja. Penggulingan kekuasaan Raja oleh penasihatpun gagal. Khianat. nampaknya pengarang mengungkapkan pengetahuannya akan perpolitikan di Indonesia yang sedang gempar dengan aksi terorisme dengan bahasa yang khas dengan aroma kesastraan. kegelisahan. Dan segala bentuk kejahatan bisa ditaklukan.

Abrams. The Mirror and the Lamp. Lewis. Fort Worth : Harcourt Brace Press. Sumarjo.H. 1982. Oxford : Oxford University Press. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Bandung : Angkasa. New York: St. 1982.orang yang berkecimpung di dunia kebahasaan. M. Penjabaran kejadian nyata tersebut digambarkan secara lebih ekspresif pula oleh pengarang dalam kurun waktu serta perantara tokoh-tokoh yang luar biasa mengingat pada masa kerajaan seharusnya belum mengenal atau gempar masalah Bom.H.(Editor). 1971. Yogyakarta : C. Kata tersebut contohnya “pengantin bom”. Hoerip. Mursal.V. Jakarta : Sinar Harapaan. 1976. Satyagraha. M. 1978. 1993 . Leary. Nur Cahaya. . Martin’s Press. Yakop. A Glossary of Literary Terms. American Literature: A Study and Research Guide. Sejumlah Masalah Sastra. Kesusasteraan : Pengantar Teori dan Sejarah. Esten. DAFTAR PUSTAKA Abrams.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful