You are on page 1of 27

JURNAL MANAJERIAL Vol. 5 No.

2 September 2009
ISSN: 0216-3705
PARADIGMA RELATIONSHIP MARKETING: SEBUAH TINJAUAN KONSEP DAN PRAKTEK DALAM BIDAN
G PEMASARAN Fauzan Asmara STMIK AMIKOM Yogyakarta Abstraksi Analisis kontribusi
pemasaran terhadap bisnis dimulai oleh Joel Dean seorang ahli ekonomi. Kemudian
muncul konsep Marketing Mix atau 4P (product, price, place, dan promotion) yang
masuk dalam tex book pemasaran pada tahun 1960. Tahun 1985 konsep tersebut diper
kuat oleh definisi AMA tentang pemasaran yang diartikan sebagai proses perencana
an dan pelaksanaan konsep penetapan harga, promosi dan distribusi dari ide, bara
ng dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang dapat memuaskan tujuan individu da
n kelompok. Marketing mix berjaya dan terus bertahan sebagai konsep kuat yang me
mpengaruhi model dan pendekatan dalam pemasaran pada waktu itu. (Christian Gronr
oss, 1994) Selama dekade tersebut marketing mix menjadi sebuah paradigma yang di
perdebatkan oleh para peneliti akademisi pemasaran. Sampai akhirnya banyak yang
menemukan kelemahan dari konsep ini dan dampak negatifnya terhadap penelitian da
n praktek pemasaran. Penelitian-penelitian berikutnya, khususnya yang dilakukan
oleh Nordic School, menemukan bukti bahwa pemasaran adalah sebuah proses interak
si dalam konteks sosial dimana pemasaran mestinya berbasis pada bagaimana memban
gun dan mengelola hubungan. Kata Kunci: Paradigma, Relationship Marketing, Pemas
aran
1

JURNAL MANAJERIAL Vol. 5 No. 2 September 2009
ISSN: 0216-3705
Pendahuluan Marketing Mix dikembangkan dari sebuah gagasan pemasar sebagai sebua
h “pencampur bahan” yang dikemukakan oleh James Culliton dalam sebuah kajian tentang
biaya pemasaran pada tahun 1947 dan 1948. Kemudian para pemasar menyebutnya seb
agai “Marketing Mix” dan pertama kali diperkenalkan oleh Neil Borden pada tahun 1956
, dan bauran dalam makna berbeda dari persaingan yang kemudian diberi label 4P.
(McCarthy dalam Christian Gronross, 1994). Marketing mix kemudian dianggap varia
ble yang sangat terbatas dan belum mampu mencakup dinamika pemasaran. Kotler (19
86) dalam bukunya “megamarketing” kemudian menambahkan dengan Public Relation dan Po
litics, sehingga berkembang menjadi 6P. Dalam pemasaran jasa, Booms and Binner (
1982) telah memberikan tambahan 3 P yaitu People, Physical Evidence, and Process
. Kemudian Jud (1987), berbeda dengan yang lain beragumen hanya satu P yaitu Peo
ple. Penyokong paradigma marketing mix juga menambahkan bahwa Service harus dima
sukkan dalam marketing mix. (Lambert Harington and Collier dalam Christian Gronr
oss, 1994) Paradigma Marketing Mix kemudian menjadi perdebatan di kalangan akade
misi, peneliti dan praktisi pemasaran. Marketing mix terlalu menyederhanakan var
iable pemasaran, sehingga dianggap sekumpulan variable yang tidak memenuhi persy
aratan untuk menjelaskan kompleksitas konsep pemasaran. Sebagai metafora, market
ing mix dianggap mewakili konsep “product oriented” dalam memandang konsep pemasaran
, bukan market oriented atau customer oriented. Lebih dari itu McCarthy dalam Ch
ristian Gronross, 1994) mengatakan bahwa sifat dasar interaksi P’s, dari modelnya
sendiri tidak secara eksplisit memasukkan interaksi elemen apapun. Oleh karena i
tu ia tidak menunjukkan sifat dan ruang lingkup dari interaksi element dalam pem
asaran. (Christian Gronross, 1994). Marketing mix juga dianggap membuat pemasara
n kelihatan mudah untuk ditangani dan diorganisasikan. Marketing adalah sebagian
dari aktivitas perusahaan yang didegasikan ke spesialis yang menangani analisis
, perencanaan dan implementasi dari tugas-tugas pemasaran yang
2

fokusnya telah diperluas pada peranan strategik pemasaran. seperti analisis pasar. produksi. promosi penj ualan. dan memperkuat hubungan dengan konsumen dan partner lain. penjualan. teknik pelayanan. pen anganan komplain. (1994) mengobservasi laporan penelitian pemasaran akhir-akhir ini. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 berbeda. dari pan dangan fungsional manajemen marketing mix. Sejak tahun 196 0 teori pemasaran mulai dikembangkan. penetapan harga. dimensi politik dari man ajemen saluran. Pendeka tan ini berlandaskan pada menetapkan dan menjaga hubungan antara penjual dan pem beli dan kelompok lain dalam marketplace.JURNAL MANAJERIAL Vol. menjaga. Pembahasan Pendekatan Baru da n Marketing Mix. Dalam hal ini terjadi pada peneliti akademis pema saran terutama di Amerika Utara. Interaksi dan pendekatan jaringan dari pendekatan pemasaran industri dan pemasaran jasa modern. yaitu dalam aspek pemasaran jasa. perencanaan pemasaran. perusahaan meletakkan organisasi pada posisi yang dijauhkan dari pemasaran. 5 No. “( Christian Gronross. d an marketer terisolasi dari rancangan. delivery. Hal 3 . periklanan. dengan jelas memandang pemasaran “sebagai se buah proses interaksi dalam konteks sosial dimana membangun hubungan dan mengelo la hubungan adalah sebuah landasan pijak yang vital. Pada banyak buku teks. keuntungan nya. Konsekwensiny a. dan interaksi dalam jaringan industri. 1994) Konsep Relationship Marketing dan Total Relationship Marketing. dan juga belahan dunia lainnya. Konsep Relations hip Marketing muncul dalam bidang pemasaran jasa dan pemasaran industri. sehingga tujuan dari kelompok-kelompok yang terlibat terpenuhi. Gronroos(1990) mendefinisikan Relation ship Marketing sebagai berikut: Relationship Maketing adalah aktivitas menetapka n. Marketing mix masih betul-betul dipertim bangkan dalam teori pemasaran. khususnya yang dikemukakan oleh Nordic School. distribusi dan mengemas produk. Seperti Moller(1992) dalam Christian Gronr oss. dan aktivitas pemasaran lainnya.

jaringan. bisa dilihat pada gambar 1. d an interaksi. komitmen. expansi. dan interaction. Ia lebih penting d ari batas antara fungsi dan disiplin khusus. network.1999 Gambar 1. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 ini dicapai dengan pertukaran yang saling menguntungkan dan pemenuhan janji. 5 No.1999) Untuk menggambarka n Total Relationship Marketing secara lebih jelas. Pengakuan bahwa pemasaran melekat pada manajemen total dari jaring an organisasi penjualan. Perspektif Manajemen dan Pemasaran 4 . eksplorasi. (Gummesson. 1995) Total Relationship Marketing menggabungkan tiga variable i nti yaitu relationship. yaitu kesadaran. dan nilai perusa haan dibangun bersama antara kelompok-kelompok yang terlibat. Ketiga variable tersebut merup akan pendekatan baru dalam teori pemasaran dan manajemen selama dua dekade. Gumm esson (1999) mendefinisikan Total Relationship Marketing sebagai berikut: “ Total Relationship Marketing adalah pemasaran yang berbasis pada hubungan. dan pemutusan. s ebagai berikut: LIFE ITSELF Natural Sciences SOCIAL LIFE Sosial Sciences BUSINESS LIFE Managemen t and Marketing theories Marketing Management for Sumber: Gummesson.JURNAL MANAJERIAL Vol. Rel ationship Marketing adalah satu cara yang paling baik untuk mendapatkan keunggul an bersaing yang berkelanjutan. Mengembangkan hubungan dipetakan menjadi lima ta hap. Ia mengarah pada hubunga n win-win jangka panjang antara customer dan stakeholders lain. (Jean Perrin & Line Ricard. jaringan pasar dan masyarakat.

1999) Pemasaran dan Manajemen Sebagai Jaringan Hubungan (Marketin g and Management As A Network of Relationship). pengaruh suatu variabel terhadap varibel lainnya. dan hubu ngan komersial dengan toko. Dalam aplikasi praktek manajemen pemasaran dan pendekatan 4 P. Orang punya pacar. lima kelompok teori dari pemasaran dan menajemen telah mempengaruhi evolusi k onsep “Total Relationship Marketing” yang terdiri dari manajemen pemasaran untuk pro duk konsumen. 5 No. Kami akan membahas keduanya sebagai satu kesatuan dengan melihat m anajemen dan pemasaran sebagai Manajemen Berorientasi Pasar. Ikatan perkawinan banyak dijadikan m etafora untuk hubungan bisnis: masuk menuju perkawinan atau bercerai dengan pema sok. mencari perbed aan karakteristik dua kelompok.JURNAL MANAJERIAL Vol. Sebagaimana gambar 1. Berikut ini adalah uraian singkat mengenai kontribusi ilmu-ilmu alam yang bisa d igunakan untuk memperluas pandangan kita tentang Relationship Marketing. Ilmu matematika juga tidak kalah pentingnya turut membantu pengembangan teori pemasaran. pemasaran jasa. dan lain sebagainya. dan teori keuangan ba ru. Konsep pemasaran menggunakan kebut uhan konsumen sebagai landasan pacu pemasaran. new organization teori. perceraian. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 Kehidupan sebagai sebuah Jaringan Hubungan (Life As a Network of Relationship). menjadi pa sangan tetap. Masyarakat Sebagai Jaringan Hubungan (Society As A Network of Relationship). Mengendarai mobil adalah interaksi sosial yang kompl eks dengan pengendara lain di jaringan jalan raya.(Gummason. selingkuh. kawin. Sebagai konsumen dan warga negara kita dikelilingi oleh hubungan dalam keseharian hidup kita. Ilmu st atistik sangat membantu kita untuk menjelaskan hubungan variabel yang satu denga n yang lainnya. hubungan profesional dengan relasi bisnis. telah menimbulkan pengaruh terhadap sikap dan 5 . Manajemen Pemasaran untuk Consumer Goods. Pada bagian ini akan dibagi dala m 2 tingkatan dengan manajemen sebagai tingkat pertama dan pemasaran pada tingka t dibawahnya. TQM. Begitu juga ilmu-i lmu alam lainnya.

Hubungan antara karyawan toko dan k onsumen terjadi minimal sampai mereka meninggalkan kounter pembayaran. Kenyataannya produk yang di tawarkan perusahaan adalah campuran antara tangible dan intagible. 5 No. Pemasaran Jasa : Pengakuan “the Service Encounter”. Munculnya pemasaran jasa. pelanggan dengan suasana yang tercipta dan p elanggan dengan keseluruhan sistem pelayanan. Toko adal ah “service factories” dan pelayanan itu terdiri dari lokasi toko. Manajemen pemasaran yang memberikan respon rangsangan yang mengingatkan kepa da hubungan antara pemancing dan ikan. Konsumen adalah sebuah kotak hitam dengan sebuah lubang intip an. Perbedaan han yalah terletak pada proporsinya. yaitu interaksi antar pelanggan dan karyawan p enyedia jasa. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 perilaku konsumen. tetapi pada partimer marketer. interaksi dan hubunga n. Oleh karena itu semua komponen yang ada dalam perusahaan adalah merketer (McKenna 1995). dipromosikan melalui peri klanan dan dipajang di etalase rak-rak toko. pelanggan dengan produk fisik. Pemasaran jasa jelas meletakkan pe rhatian pada isu utama pemasaran bahwa kinerja pemasaran tidak terletak pada ful l marketers. Literatur pada pemasaran jasa difokuskan pada pelayanan dalam “pertemuan langsung”. diberi merk. menjadi inti konsep pemasaran. Ba rang-barang seperti itu biasanya dikemas. Pemasok dan orang penjualannya adalah kelompok yang aktif.JURNAL MANAJERIAL Vol. jam buka dan bara ng-barang yang dipajang secara atraktif dengan harga yang pantas. Pertemuan tersebut juga termasuk interaksi pelanggan dengan pelang gan. Dalam hubungannya dengan 6 . Kadang-kadang konsumen keras kepala dan menolak apa yang ditawarkan. Apabila umpannya dari produk yang baik da n merangsang maka ikan akan menggigit dan ia masuk tangkapan. sebaliknya apabila unsur intangiblenya yang dominan dikatakan se bagai produk jasa. Manajemen pemasaran dan baurannya memiliki akar pe ngalaman empirik dalam pemasaran massal barang-barang konsumen yang standard. Apabila unsur tangible yang dominan maka disebu t produk fisik.

7 . Ikatan Pelaku diciptakan oleh orang yang berinteraksi. 5 No. jaringan dan interaksi. mendiskusikan kontribusi ‘Nordic School’ terhadap relatitionship marketing t idak hanya dari pemasaran jasa tetapi juga dari pemasaran bisnis berbasis jaring an. Sebagai contoh. Keterkaitan aktifitas mencakup aktifitas teknis. Tujuan akhir dari hubungan jaringan tersebut adalah untuk menciptakan hubungan pelanggan yang berkelanjutan.Gambar 2 adalah substansi 3 t eori pemasaran yang telah diulas sejauh ini. anggapla h sebagai produk jasa. Proses interaksi tersebut sangat menentukan kualitas produk dan tingkat hubungan dengan pelanggan. Kontribusi berikutnya adalah relati onship marketing dalam konteks manajemen total. Pendekatan jaringan (pasar se bagai jaringan) adalah sebuah rancangan untuk mengembangkan pemasaran buah pikir dari IMP Group (International-Industrial-Marketing and Purchasing Group). bentuk hubungan antara bisnis dengan bisnis terdiri dari 3 tipe. Pemasaran Bisnis: IMP dan Pendekatan Jaringan. Dimul ai pada tahun 1970 di Swedia. sebuah seri sifat-sifat umum telah muncul. dalam pendekatan jaringan. Pada produk jasa. Ikatan sumber daya termasuk pertukaran dan berbagi barang-b arang yang tampak seperti mesin dan berbagi barang-barang yang tidak tampak sepe rti pengetahuan. mengguna kan pengaruh terhadap satu dengan yang lain dan membentuk opini tentang yang sat u dengan yang lainnya. administratif dan kegiata n pemasaran lainnya. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 relatitionship marketing maka apapun produk yang ditawarkan perusahaan. Dalam kajian tentang hubungan. Ia telah menyebar sampai sekarang memacu pertumbuh an komunitas peneliti di seluruh dunia.JURNAL MANAJERIAL Vol. Gummesson. terdapat hubungan yang krusial antara p elanggan dan penyedia jasa. Lehtinen and Gronroos (1999).

5 No. Pasar digerakkan oleh penawaran dan permintaan dengan bantuan harga dan persaingan. TQM bukan hanya sebuah revolusi dalam manajemen kualitas tetapi juga penguatan kembali orientasi pemasa ran. The substantive domains of three marketing theories (Gummesson. Dalam kajian ini kualitas ditafsirkan sebagai percieved quality.JURNAL MANAJERIAL Vol. Dalam ilmu ekonomi . berarti ba hwa ia adalah berorientasi pasar dan fokus pada kepuasan pelanggan. Teori Organisasi: Organisasi khayal (maya) berbasis jaringan. P erusahaan adalah sebuah kotak hitam yang pekat bagi ahli ekonomi yang mengkaji p erusahaan dalam industri. TQM adalah teori ke em pat yang menginspirasikan konsep relationship marketing. Kontribusi p aling banyak dari TQM terhadap relationship marketing adalah pada kreatifitas da ri keterkaitan antara orientasi internal dan teknik manajemen operasi dan antara orientasi eksternal pemasaran dan fungsi penjualan. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 Type of buyer Type of product Goods Consumers Organization Marketing management/ Mix 4 Ps Marketing theory Services Services Gambar 2. pasar dan perusahaan dilihat sebagai dua hal yang terpisah secara jelas. regional dan nasional secara 8 . Dari itu semua TQM telah me mberikan kontribusi konsep internal customer dan proses manajemen yang bertujuan untuk menetapkan kolaburasi antar tingkatan dan antar fungsi dalam organisasi.1999) T otal Quality Management: Meremajakan Orientasi Pemasaran.

jaringan dan interaksi. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 menyeluruh. batasan lainnya adalah keuangan. Observasi dari fakta menunjukkan bahwa perusahaan adalah batasan yang kerangkanya kabur dan banyak batasan yang mungki n membantu eksistensinya. Kita bergerak dari struktur o rganisasi eksklusif menuju struktur inklusif. Kelima adalah ekologi mengenai dampak lingkungan operasional perusahaan.JURNAL MANAJERIAL Vol. Konsumen berada di dalam dan diluar o rganisasi tergantung pada batasan yang ditetapkan. pajak dan laporan tahunan. Gambar 3. pelanggan. seperti kerjasama proyek pengembangan den gan kompetitor. The Traditional Image of the Firm and the Market VS the Complex Networ k Reality( Gummesson. 1999) 9 . Salah satu batasannya adalah berdasarkan hukum. Kita memerlukan konsep dan model baru untuk memperoleh a kses mental pada realita ini. 5 No. Dalam buku manajemen dasar dari tahun 1950 definisi berikut telah di temukan: “perusahaan adalah sebuah unit dalam peraturan ekonomi yang terencana”. mod el ideal menjadi karyawan adalah berbaris seperti tentara dalam menjalankan peri ntah menuju sekumpulan tujuan yang jelas. Keempat adalah strategik. mengenai bagaimana caranya memperoleh uang. pemasok. Lihatlah bisnis sebagai hubungan. da n lain-lain. mengen ai penetapan format perusahaan yang spesifik. Ketiga ada lah operasional mengenai aktifitas harian dengan relasi . lembaga penelitian dan konsultan.

mesin dan bangunan. Teori Akuntansi dan Return on Relationship (ROR). Teori dan praktek akuntansi baru me ncantumkan keseimbangan score card. merk dan penghasilan yang diharapkan di masa yang akan datang. organisasi khayal atau maya. Keseimbangan original score card berisi indi kator-indikator 4 kelompok modal: keuangan. nama. pentingnya relationship marketing sama dengan equitas merk. cetakan logo dan simbol lain menciptakan sebuah hubungan terhadap pelanggan disamping hubungan m anusiawi. Pelanggan juga dianggap tidak memiliki nilai. Pertama. proses bisnis internal. Return On Relationship (ROR) adalah ke luaran keuangan bersih jangka panjang yang disebabkan oleh penetapan dan pemelih araan jaringan organisasi berbasis hubungan.JURNAL MANAJERIAL Vol.1999. Titik hitam menunjukkan kompetensi inti dan misi bisnis yang memotivasi keberadaan organisasi. pembeli membayar untuk asset-asset yang intangible sep erti goodwill. 1999 ). Dalam logika ini karyawan diabaikan sementara jabatan yang diduduki dianggap bernilai. Dal am terminologi total relationship marketing. Kita menyebutnya the “parasocial 10 . 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 Pada gambar 3. Neraca terdiri dari asset tangible. Se lama tahun 1990. Dalam jaringan kita dapat mendefinisikan kelompok dan hubungan untu k tujuan spesifik yang kita sebut organisasi. kita lihat disisi kiri menunjukkan terminologi tradisional perusa haan. Kesimpulannya adala h relationship marketing mewakili perspektif marketing tentang struktur organisa si berbasis jaringan. uang. citra. Padahal ketika perusahaan diambil alih atau dipertukarkan. d an pembelajaran serta pertumbuhan (Kaplan and Norton. peralatan. akan dijelaskan konsep return on relationship seba gai sebuah payung yang mengumpulkan pendekatan-pendekatan akuntansi yang berhubu ngan dengan total relationship marketing. dalam Gummesson. merk. 5 No. Gambar sebelah kanan kita m elihat jaringan hubungan yang menggambarkan berbagai pelaku bisnis yang saling b erinteraksi. pelanggan. Perusahaan terdefinisi dengan jelas dengan struktur hirarki terpisah dari pasar dan pelanggan yang juga terpisah dengan jelas. Masih ada praktisi akunting yang tidak menangkap nilai customer relationship.

Intelectual ca pital diartikan sebagai: total nilai perusahaan (harga sahamnya – nilai bukunya). Analisis Internal Market Place. Dalam wacana sistem akuntansi yang baru. Ter masuk di dalamnya pengetahuan individual. kontrak kerja. ketiga. Hambatan Implementasi Relationship Marketing . dan secara bertahap merubah intelectu al capital menjadi financial capital. maka individual capital lenyap. Karyawan tidak bisa dimiliki. konsep intelectual capital adalah tantangan bagi supremasi financial capital jangka pendek. Dalam wacana relationship marketing. rencana ditulis dan disetujui. Ada beberapa masalah substansial berkaitan de ngan pendekatan implementasi dengan cara ini adalah: pertama. tetapi itu semua lema h dan biasanya lambat mengantisipasi perubahan organisasi yang melekat pada bany ak strategi pemasaran baru. Secara tr adisional implementasi dianggap sebagai apa yang mengikuti setelah strategi dibu at. perilaku dan motivasi. 5 No. Intelectual capital bisa dibagi menjadi du a type utama. kecuali yang tercantum dalam neraca. dan tidak bisa menjadi budak. struktural capital terdiri dari hubungan yang di jalin perusahaan yang mengikat budayanya. pentingnya struktur organisasi dan alokasi sumber daya.JURNAL MANAJERIAL Vol. Perusahaan yang lebih sukses mengikat hubungan terh adap strukturnya itu tidak bergantung kepada karyawan secara individul. juga jaringan h ubungan mereka. Ketika seorang karyawan meninggalkan perusahaan. Tetapi pemicu dari outcome ini mungkin menj adi perilaku orang di organisasi yang 11 . outcome dari penjualan diatas. market share dan profit mungkin adalah tujuannya. Struktural Capital tetap ketika karyawan meninggalkan perusahaan. sistem. Seb aliknya. Kemampuan bertahan dan pertumbuhan perusahaan tergantung pada kinerja keuangan perusahaan. tidak logisnya ren cana strategi karena tidak mengakar mengakar dengan kapabilitas organisasi. Masalah ini merupakan pengakuan terhadap pentingnya intelectual capital jangka panjang d alam upaya menggerakkan financial capital. merk dan jaring an yang dimiliki perusahaan. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 relationship”. Individual Capital terdiri dari karyawan dan kemampuan mereka. kedu a. Ini berarti semua aset.

JURNAL MANAJERIAL Vol. tetapi karena kegagalan tes-tes yang lain. Proses organisasi yang memberlakuk an implementasi sebagai pemikiran setelah disusunnya strategi inovatif dan seles ainya rencana strategi. 1998. yaitu budaya dan bagaimana budaya membent uk perilaku orang.(Piercy. menimbulkan hubungan yang lemah a ntara strategi plan dan operating plan. 1998). 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 berdampak pada apa yang diterima konsumen dalam bentuk pelayanan dan kualitas se hingga akhirnya perlu fokus pada perilaku bukan hanya pada outcome.. mengusulkan alasan-alasan yang mendasari sebagai be rikut: strategi tidak sesuai dengan budaya organisasi dan orang-orangnya tidak m endukung dan membuat 12 . daerah dan kelompok kepentingan dalam org anisasi. Pendekatan tradisional lemah dalam memperhatikan atau mengatasi hambatan dalam implementasi. pendekatan tradisional dalam implementasi terlalu lamba t dan tidak praktis dalam mendukung perubahan yang cepat dalam strategi pasar. m engabaikan masalah praktis dalam memahami kapabilitas nyata dan masalah praktis yang dihadapi sejak perusahaan bergerak ke operasi melalui network kolaborasi da n aliansi strategi dengan perusahaan lain. Kenyataannya kegagalan dari beberapa strategi pasar bukan karena strateginya yang lemah.g. Sederhananya dibutuhkan cara mengintegrasikan strategi dan impleme ntasi yang lebih baik. Piercy et all. batas antar fungsi. dapat mencegah perusahaan dari eksploitasi strategi pasar berdasarkan “ti me-based market strategi” atau dari kesadaran pentingnya keunggulan pioner atau pe ngerak pertama di pasar. 5 No. Jobbe r (1996) dalam Piercy. 1998) Pemisahan tradisional s trategi dari implementasi dalam proses menjadi sumber masalah bagi implementasi. 1998) dalam Nigel F. mengabaikan “inner working” yang sering kali sangat signifikan tetapi tersembunyi. untuk beberapa alasan hal itu adalah counterproduktif. (e. P emikiran bahwa implementasi dilaksanakan setelah rancangan formulasi strategi se lesai sangat berbahaya dengan berbagai alasan sebagai berikut: mengabaikan atau melecehkan hubungan potensial antara strategi pasar dan kapabilitas implementasi unik perusahaan dan kelemanahan-kelemahannya. Piercy.

13 . The Degree Of Stretch (Derajat Elastisitas). penilaian yang dibuat disini mungkin menunjukkan tipe hambatan implementasi yang dihadapi dan pendekatan yang diperlukan untuk mengembangkan st rategi implementasi yang efektif. mungkin ka rena mereka membuat perubahan yang tidak diterima mereka atau karena mereka bers aing dengan proyek tersebut untuk memperoleh sumber daya. Sekalipun kesesuaian strat egi penting untuk membedakan kapabilitas. tidak berada pada struktur departemen organisasi atau unit ya ng baik sehingga diabaikan atau hanya diberi janji dan gagal karena kurangnya ow nership. Konsekuensi r ealitas pasar yang tak terhindarkan adalah strategi tidak selamanya tepat dan ba hkan pendekatan yang dibutuhkan kurang sesuai dengan kompetensi dan kapabilitas perusahaan. perusahaan mungkin harus mereposisi untuk bisa survive di pasar dengan cara-cara yang membutuhkan kapabilitas baru. konsekuensi yang tidak dapat dihindari dari perubahan pasar. Sebagai contoh perhatikan model manageri al pada Figur 6. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 strategi menjadi efektif. Perubahan dari strate gi pemasaran berdasarkan transaksi ke strategi pemasaran berdasarkan hubungan ad alah contoh yang terdefinisi dari masalah beberapa perusahaan ini. 5 No. Isu implementasi mungkin berubah karena tingkat elastisitas yang kit a minta dari orang-orang di perusahaan.JURNAL MANAJERIAL Vol. tidak didukung oleh pelaku kunci manajemen. tidak sesuai dengan re ncana dan system penganggaran yang ada sehingga jatuh ke celah dan gagal diakui secara formal oleh perusahaan atau tidak diakui untuk memperoleh sumber daya yan g mereka perlukan.

komunikasi internal dan skill leade rship jalur manajemen dari hari ke hari. Strategic Strech ( Piercy. Synergistic Strategies. sehingga manager mem ahami strategi baru. Stretch strategi. 5 No. Strategi ini mun gkin hanyalah rute untuk sukses di market- 14 . Strategi implementasi tidak lain berhubungan dengan akui sisi sumber daya. walaupun tidak familiar dan saat ini tida k sesuai dengan kapabilitas dan system perusahaan namun ini sesuatu yang baru ya ng diperlukan perusahan untuk tampil di tempat pasar eksternal.JURNAL MANAJERIAL Vol. bermula dari pe ngembangan strategi pemasaran baru yang dikembangkan untuk mencapai tujuan melal ui market eksternal. 1998) Strategi marketing secara esensial ad alah lanjutan dari pendekatan yang sebelumnya. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 Gambar 4.berbasis p ada kapabilitas perusahaan yang baik dan memakai strategi perusahaan yang sudah ada. Strategi konvensional. Tugas-tugas implementasi disini terutama mengenai pendekatan tradisional se perti rencana kegiatan. tetapi dirancang disekitar kapabilitas dan system perusahaa n yang baik dan sesuai. alokasi sumber daya. rencana kegiatan dan komunikasi internal.

sehingga berkembang menjadi 6P.JURNAL MANAJERIAL Vol. dan p romotion) yang masuk dalam tex book pemasaran pada tahun 1960. Dalam pemasaran jasa. place. khususn ya yang dilakukan oleh Nordic School. Booms and Binner (1982) telah memberikan tambahan 3 P yait u People. and Process. Marketing mix kemudian dianggap variables yang sangat terbatas dan belum mampu mencakup dinamika pemasaran. Marketing Mix pertama kali diperke nalkan oleh Neil Borden pada tahun 1956. Sampai akh irnya banyak yang menemukan kelemahan dari konsep ini dan dampak negatifnya terh adap penelitian dan praktek pemasaran. Penelitian-penelitian berikutnya. isu kunci adalah mengembangkan kapabilitas pembelajaran organisasi dan perubahan sys tem dan struktur internal untuk mengimplementasi strategi. Kesimpulan Anali sis kontribusi pemasaran terhadap bisnis dimulai oleh Joel Dean seorang ahli eko nomi. berbeda dengan ya ng lain beragumen 15 . 5 No. menemukan bukti bahwa pemasaran adalah seb uah proses interaksi dalam konteks sosial dimana pemasaran mestinya berbasis pad a bagaimana membangun dan mengelola hubungan. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 place. Dalam situasi ini. jika perusahaan dapat menjalankan secara efektif. (McCarthy dalam Christian Gronross. Marketing Mix berjaya d an terus bertahan sebagai konsep kuat yang mempengaruhi model dan pendekatan dal am pemasaran pada waktu itu. price. tetapi juga mengemban gkan program perubahan organisasional dan akhirnya mengatur proses pembangunan s trategi untuk memenangkan komitmen dan mendukung strategi baru. Physical Evidence. 1994) . Tahun 1985 konsep tersebut diperkuat oleh definisi AMA tentang pemasaran. Kemudian Jud (1987). Kotler (1986) dalam bukunya “megamarketing” kemudian m enambahkan dengan Public Relation dan Politics. Kemudian muncul konsep Marketing Mix atau 4P (product. dan bauran dalam makna berbeda dari per saingan yang kemudian diberi label 4P. Selama dekade tersebut marketing mix menjadi sebuah paradigma yang diperdebatkan oleh para peneliti akademisi pemasaran.

Pasar internal yang dimaksud adalah seluruh karyawan p erusahaan dan imagery employee yang turut mendukung delivery produk atau jasa pe rusahaan. Ket iga variable tersebut merupakan pendekatan baru dalam teori pemasaran dan manaje men selama dua decade. rencana ditulis dan disetujui. Perusahaan perlu menyeimbangkan antara kepuasan pasar inte rnal dan pasar eksternal. jaringan pasar dan masyara kat. P endekatan tradisional lemah dalam memperhatikan atau mengatasi hambatan dalam im plementasi. 16 . Interaksi dan pendekatan jarin gan dari pendekatan pemasaran industri dan pemasaran jasa modern. network. Pemisahan tradisional str ategi dari implementasi dalam proses menjadi sumber masalah bagi implementasi. Total Relationship Marketing me nggabungkan tiga variable inti yaitu relationship. Penyokong paradigma marketing mix juga menambahkan ba hwa Service harus dimasukkan dalam marketing mix. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 hanya satu P yaitu People. dan interaksi. Ia mengarah pada hubungan win-win jangka panjang antara customer dan stakeh olders lain. dan nilai perusahaan dibangun bersama antara kelompok-kelompok yang terlibat.JURNAL MANAJERIAL Vol. Pengakuan bahwa pemasaran melekat pad a manajemen total dari jaringan organisasi penjualan. dan interaction. Secara tradisional implementasi dianggap sebagai apa yang mengikuti s etelah strategi dibuat. dibutuhkan cara mengintegrasikan strategi dan implemen tasi yang lebih baik. jaringan. Singkat kata. dengan jelas memandang pemasaran sebagai sebuah proses interaksi dalam konteks sosial dimana membangun hubungan dan mengelola h ubungan adalah sebuah landasan pijak yang vital. Total Relationship Marketing adalah pemasaran yang berbas is pada hubungan. 5 No. khususnya yang dikemukakan oleh Nordic School. Kepuasan pada pasar internal akan menimbulkan antusisasme dan sense of belonging mereka terhadap arah dan tujuan perusahaan dalam rangka memuaskan pas ar eksternal atau pelanggan.

” Memory and Cognition. Harvard Business School Pr ess. 17 .”Corporate Credibility’s Role in Consumers Attitude s and Purchase Intensions When a High Versus a Low Credibility Endorser Is Used in the Ad. Reputation. “Accessing causal relation in semantic memory. Gronross. Michael R. Waldman.. (1996). Lafferty. (2005). “Total Realtionship Marketing: Experimenting With a Synthesis of Rese arch Frontiers”. Charles J.”The Meaningof a Marketing Relationship (a Pilot Study)”. Keith J. 5 No. Perrien. Vol. 10. Jean and Line Rich ard (1995). 44: 109-116. Industrial Mark eting Management. Fombrun. Fenker. Boston.JURNAL MANAJERIAL Vol. (1999). Ne w york: Halstead.. E vert (1999). and Holyoak. Bower (1973).” Journal of Business Research. 7: 72-75. 33 (6 ): 1036-1046. and Goldsmith Ronald E. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 Daftar Pustaka Anderson and Gordon H. 24: 37-43. Christian (1994). Australian Marketing Journal. “Quo Vadis Marketing? Toward a Relationsh ip Marketing Paradigm”. Gummesson. Daniela B. Journal of Marketing Management. 347-360. Human Associative Theory. Barbara A. .

komitmen karyawan terhadap organisasinya (organizational commit ment) juga akan memengaruhi perilakunya terhadap organisasi. 1993). kemanusiaan dan kepuasan kerjanya diperhatikan perusahaan. menyeleksi. sehingga sikap kerjanya akan semakin positif terhadap atasan. Di samping itu. 5 No. jika terbukti kepuasan kerja dan k omitmen organisasional memiliki pengaruh besar terhadap intensi keluar. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 PENGARUH KEPUASAN KERJA DAN KOMITMEN ORGANISASIONAL TERHADAP KEINGINAN UNTUK KEL UAR (INTENSI KELUAR) DARI SUATU ORGANISASI PADA PERAWAT DI RSI HIDAYATULLAH YOGY AKARTA Feny Candra Wijayanti STMIK AMIKOM Yogyakarta Abstraksi Sumberdaya manusi a dalam organisasi merupakan aspek krusial yang menentukan keefektifan suatu org anisasi. organisa si tersebut dapat disarankan untuk lebih mengupayakan peningkatan kepuasan kerja dan komitmen organisasional. Komitmen Organisasiona l. dan kecenderungan untuk keluar jadi kecil. Kata Kunci: Kepuasan Kerja.JURNAL MANAJERIAL Vol.. organisasi harus melakukan langkah-langkah manajerial yang t epat dalam merekrut. Peningkatan komitme n organisasional berhubungan dengan peningkatan produktivitas dan turnover yang rendah (Meyer et al. Untuk itu. 1978). perusahaan. Dengan demikian. maupun tugas-tu gasnya. Organisasi 18 . Individu yang merasa puas dengan pekerjaannya cenderung untuk bertahan dalam organisasi. Organis asi juga harus dapat memperlakukan karyawannya dangan baik agar karyawan merasa harga diri. Kecenderungan untuk keluar da ri organisasi berhubungan negatif dengan kepuasan kerja (Mobley. dan mempertahankan sumberdaya manusianya agar t idak terjadi tingkat keluarnya karyawan (employee turnover) yang tinggi.

Teori Kesenjangan (Discrepancy Theory). 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 Pendahuluan Intensi keluar merupakan variabel yang paling berhubungan dan lebih banyak menjelaskan perilaku turnover (Mobley et al. 1979). Equity theory menunjukkan kondisi-kondisi semacam apa yang dipersepsi karyawan sebagai adil atau tidak adil dan masuk akal atau t idak masuk akal (Adams. Komponen-komponen utama dari teori ini sebagaiman a disebutkan oleh Wexley dan Yukl (1977) adalah masukan (inputs).JURNAL MANAJERIAL Vol. perolehan 19 . Men urut Wexley dan Yukl (1977). yaitu teori kesenjangan (discrepan cy theory). Sedang intensi keluar mengacu kepada hasil evaluasi individu mengenai kelanjutan hubung annya dengan organisasi dan belum diwujudkan dalam tindakan nyata meninggalkan o rganisasi (hanya sebatas keinginan atau niat untuk meninggalkan organisasi).. T eori Keadilan (Equity Theory). Sebagaimana disebutkan Wexley dan Yukl (1977). Turnover lebih menga rah pada kenyataan akhir yang dihadapi organisasi pada periode tertentu. dan teori dua-faktor (two-factor the ory). Locke (1969) menyebutkan bahwa kep uasan dan ketidakpuasan terhadap aspek pekerjaan tergantung pada kesenjangan (di screpancy) antara persepsi karyawan mengenai apa yang ia peroleh dengan apa yang ia inginkan. kepuasan kerja adalah apa yang dirasakan karyawan m enyangkut pekerjaannya. Ketidakpuasan akan terjadi manakala karyawan merasa kondisi kerja yang ada – jumlah karakteristik kerja yang ada – adalah kurang dibanding yang dia inginkan. 5 No. yang didasarkan atas penilaiannya terhadap asp ek perkerjaannya. Perasaan itu merupakan sikap umum (generalized attitude) seseorang terhadap pekerjaannya. teori keadilan (equity theory). ada 3 teori kepuasan. Seorang karyawan akan merasa puas jika dia merasakan tiadanya kese njangan antara kondisi kerja yang dia inginkan dengan kondisi kerja yang senyata nya. Pembahasan Teori-teori Kepuasan Kerja. 1965).

manfa at. dan peluang untuk berprestasi atau berekspr esi diri. seperti pendidikan. Gibson et al. pengalaman. karyawan tidak lagi merasakan ke tidakpuasan. dan kemajuan – terpe nuhi. atau bekerja di perusahaan la in. karyawan akan merasakan ketidakpuasan kerja. tanggung jawab. Menurut teori ini. ka rakteristik kerja dapat dikelompokkan dalam dua kategori. Inputs adalah apa saja yan g bernilai yang dipersepsi oleh karyawan sebagai kontribusinya terhadap pekerjaa nnya. Outcomes adalah apa saja yang bernilai yang diperse psi karyawan sebagai ia peroleh dari pekerjaannya. Menurut teori ini. 1990). 5 No. ke amanan kerja. simbol-simbol status. Teori Dua-Faktor (Two-Factor Theory). biasanya karyawan akan memersepsi a danya ketidakadilan.JURNAL MANAJERIAL Vol. hubungan-hubungan interpersonal. pengakuan. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 (outcomes). Jika perbandingan kedua rasio tersebut dinilai equal. 20 . seperti upah atau gaji. Yang termasuk hygiene fa ctors adalah gaji. jumlah jam kerja. ketrampilan. supervisi. Jika jumlah atau kadar tertentu dari hygiene factors t idak terpenuhi. seorang karyawan menilai k eadilan kerjanya dengan cara membandingkan rasio outcome : input dirinya dengan rasio outcome : input dari satu atau lebih comparison person. dan peralatan serta bahan-bahan milik pribadi yang tel ah ia gunakan dalam bekerja. pengakuan. Kalau jumlah yang m emadai dari hygiene factors tersebut terpenuhi.1977. dan orang pembanding (comparison person). kondisi kerja. jumlah usaha yang telah ia ke rahkan. maka si karyawan akan memersepsi adanya suat u keadilan dan jika perbandingannya unequal. Kelompok pertama diseb ut “dissatisfiers” atau “hygiene factors” dan kelompok kedua disebut “satisfiers” atau “mot tor factors” (Wexley dan Yukl.. dan status. atau dapat pula dirinya ketika berada pada posisi sebelumnya – yang dijadikan dasar perbandingan dengan dirinya. tapi bukan berarti motivator factors – pekerjaan yang menarik dan men antang. Adapun comparison person adalah orang – seseorang atau sejumlah orang ya ng bekerja di perusahaan yang sama dengan dirinya. peluang untuk berprestasi.

Kepuasan terhadap p erilaku rekan kerja (sejauh mana rekan-rekan kerja dipandang berkualifikasi. 5 No. dan memotivasi karyawan). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kepuasan kerja dan komitmen organisasi akan men gakibatkan rendahnya niat karyawan untuk keluar dari organisasi. Kepuasan terh adap gaji/kompensasi (sejauh mana gaji/kompensasi yang diterima karyawan dipanda ng adil dan memuaskan. Kepuasan kerja dan komitmen organisasional ter bukti dalam penelitian ini berpengaruh negatif terhadap intensi keluar. nilainilai da n kepentingan organisasi) serta berniat memelihara keanggotaan dalam organisasi itu (Blau dan Boal. dan berperilaku kerja positif. 21 .JURNAL MANAJERIAL Vol. K omitmen organisasional didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana seorang karyaw an memihak pada suatu organisasi tertentu (terhadap tujuan-tujuan. 3. ber sikap. Kepuasan terhadap sifat pekerjaan (sejauh mana ciri-ciri pekerjaan tersebut dip andang menarik dan berharga di mata karyawan) 2. 1987). 6 kuesioner tidak diisi lengkap. 1 kuesioner tidak dikerjakan sama sekali (kosong). Aspekaspek kepuasan kerja yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1. teori ini menunjukkan bahwa untuk dicapainya situasi kerja yang sehat dan produktif maka perusahaan harus berusaha untuk meminimalisasi ketidak puasan kerja dan memaksimalkan kepuasan kerja dengan cara mengelola sebaikbaikny a hygiene factors dan motivator factors. serta bersikap dan berperilaku baik terhadap karyawan). baik sistem maupun jumlahnya). 4. Begitu pula seb aliknya. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 Dengan demikian. Komitmen Organisasional. Dari 55 kuesioner yang disebar. Aspek-Aspek Pekerjaan yang Dinilai Kary awan. Jadi hanya 45 kuesioner yang memenuhi syarat untuk dapat di lakukan analisis (kuesioner dari subjek yang telah bekerja lebih dari satu tahun dan telah diisi secara lengkap). Kepuasan terhadap perilaku pimp inan (sejauh mana pimpinan dipandang memiliki kapabilitas kepemimpinan yang baik . ada 3 kuesioner tidak bisa terkumpul.

berarti 59. Jad i temuan tersebut secara statistik tetap bermakna. membosankan. Dari aspek perilaku atasan. Dari aspek sifat pekerjaan. 53.89%) responden sudah merasa puas. Masih banyak 22 . dan 2.89% responden yang sudah merasa sangat puas.44% responden tingkat kepuas annya sedang.33%) hanya menilai cukup memuaskan. namun berdasarkan hasil analisis statistik terbukti siginifik an ((tingkat signifikansi variabel kepuasan kerja = 0. Mereka meni lai perilaku atasannya antara lain kurang bijaksana. 60% lainnya se dang. 66 . kur ang bagus jika dibandingkan instansi sejenis yang lain. terdapat 44.3%-nya dipengaruhi oleh sebab-sebab la in.05). kurang memberi masukan.7% terhadap intensi keluar. 40%-nya tinggi. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 Dalam penelitian ini kepuasan kerja dan komitmen organisasi berpengaruh sebesar 40. sangat kaku (kurang fleksibel). emosional. 24. hanya 37. Sebagian besar responden menilai gaji yang diberikan antara lain kurang adil. Walaupun pengaruh kedua variabel tersebut terhadap intensi keluar dapat dika takan cukup kecil. 66. Selanjutnya.67% responden memiliki tingkat kepuasan tinggi da n sisanya (33. ting kat signifikansi variabel komitmen organisasional = 0.003 (p value < 0.67% responden memiliki tingkat kepuasan rendah.004 (p value < 0. kurang menghargai prestasi mereka. dan hanya 8. dilihat dar i tingkat komitmen organisasional para responden. tapi sebagian (31. secara umum (68. Dari aspek perilaku rekan kerja.33% responden memiliki tingkat ke puasan sedang.JURNAL MANAJERIAL Vol. 5 No. Pada penelitian ini juga teru ngkap bahwa sebagian besar perawat yang menjadi responden (62.45% respo nden yang memiliki tingkat kepuasan tinggi.11%) responden hanya merasa cukup puas. rendah.05)).38% responden yang sudah memiliki tingkat kepuasan kerja yang tinggi.22%) memiliki ting kat kepuasan sedang. Hal ini menunjukkan bahwa kepuasan kerja perawat masih sanga t perlu ditingkatkan. Se bagian responden tersebut merasa pekerjaannya terlalu rutin.22% responden memiliki tingkat kepuasan rendah. kurang memberi perasaan berprestasi. Dari aspek gaji/kompensasi.

membuat variasi pada pekerjaan. secara fisik maupun secara me ntal dalam bekerja. dapat diajukan beberapa saran: a. tentulah sedikit banyak berpengaruh pada motivasi kerja bahkan kinerja mereka yang berakibat mengganggu keefektifan organisasi. misalnya mela lui: • Aspek sifat pekerjaan Lebih memberi tanggung jawab atau tantangan pada peke rjaan. maka disarankan pihak manajemen rumah sakit betul-b etul menyadari untuk memerhatikan tingkat kepuasan kerja dan tingkat komitmen or ganisasional para perawatnya agar tidak terjadi niat untuk keluar. Penutup Berdasarkan pembaha san pada penelitian ini. Perawat yang memiliki intensi keluar yang cukup kuat suli t diharapkan akan memberikan sepenuh kemampuannya. besar kemungkinan mereka akan benar-benar keluar untuk pindah ke ruma h sakit lain atau pekerjaan lain. 60% lainn ya berkategori rendah. Jika mereka menemukan peluang yang cuku p menarik. walaupun belum benar-benar terwujud menjadi tindakan kelua r.JURNAL MANAJERIAL Vol. sehingga hal ini memengaruhi persepsi atau pemihakan mereka terhadap RSI Hidayatullah. dan lebih member i pengakuan pada peran 23 . Pada penelitian ini terdapat 40% responden yang memiliki tingkat intensi keluar berkategori sedang. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 perawat yang menilai antara lain pihak rumah sakit dalam pencapaian tujuannya ku rang memerhatikan kepentingan mereka. Besar kemungkinan sambil bekerja mereka masih memikirkan pel uang-peluang lain untuk berpindah kerja. Perlu disadari bahwa adanya intensi keluar pada perawat. 5 No. Karena terbukti kepua san kerja dan komitmen organisasional memiliki pengaruh yang negatif dan signifi kan terhadap intensi keluar. membuat program rolling. Karena intensi keluar merupakan prediktor yang kuat untuk terjadinya tindakan nyata keluar. maka langkah-langkah manajemen unt uk menekan timbulnya intensi keluar perlu dilakukan.

Aspek g aji/kompensasi Meninjau lebih lanjut baik jumlah maupun sistem penggajian yang a da dan memperbaikinya menjadi lebih memadai dan lebih berkeadilan. se nsitivity training (melatih seseorang untuk lebih sadar dan sensitif terhadap pe rasaan orang lain). rotasi pekerjaan. manaje men juga harus benar-benar mencermati kesesuaian kepribadian-pekerjaan.JURNAL MANAJERIAL Vol. Sedangkan program o ff-the-job training antara lain pelatihan dengan metode studi kasus (memberikan deskripsi tertulis tentang suatu masalah untuk dianalisis. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 • • • penting mereka terutama bagi yang menunjukkan kinerja tinggi. anonim. 5 No. Sistem penilaian atasan oleh bawahan harus berkala. ditemukan solusinya d an mendiskusikan solusinya dengan sesama teman yang sedang dilatih). Program on-the-job training antara lain coaching (mem bimbing) atau understudy (sambil belajar). Survei gaji u ntuk mengetahui besarnya pasaran gaji untuk perawat dapat dilakukan untuk 24 . seminar. Selain itu. dan hasil penilaiannya dijadikan feedback bagi atasan yang dinilai dan berpengar uh secara signifikan bagi reward dan punishment yang diperoleh para atasan dari organisasi. dan tertib). Aspek perilaku atasan Menciptakan program pelatihan man ajerial (on-the-job training dan off-the-job training) dan penerapan sistem peni laian atasan oleh bawahan. teratur. Pekerjaa n jenis perawat kiranya lebih cocok untuk orang bertipe kepribadian sosial (lebi h menyukai kegiatan yang sifatnya membantu dan mengembangkan orang lain) dan ora ng bertipe kepribadian konvensional (lebih menyukai kegiatan yang tak kembar-art i. Aspek perilaku rekan kerja Mengadakan atau menambah kegiatan yang be rsifat mengakrabkan sesama perawat (rekreasi secara bergantian dalam kelompok-ke lompok yang diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu pekerjaan).

267-300. 25 .L . 1990. G. Academy of Management Review. E. Donnelly. Blau. “Inequity i n Social Exchanges”. Daftar Pustaka Adams.S.M... J. J. “Conceptualizing How Job Involvement and Organizational Comm itment Affect Turnover and Absenteeism”. peraturan -peraturan. “What is Job Satisf action?”. b. Organizational and Human Performance. maupun pada para perawat lama melalui coaching.. Jakarta. 4: 309-336. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 mendapatkan patokan gaji yang sesuai (untuk membantu memastikan keadilan ekstern al).JURNAL MANAJERIAL Vol. 1987.R. serta pelibatan karyawan dalam perumusan kebijakan.. dan bahwa tidak ada sanksi apapun bagi sub jek atas pilihan-pilihan jawabannya. Peneliti juga harus meyakinkan secara langsung pada subjek b ahwa kerahasiaan pribadinya terjamin. J. dan nilai-nilai organisasi pada para perawat. • Komitmen organisasional Lebih bisa m engomunikasikan dan menyosialisasikan visi. counseling. 1969. Struktur. J. Evaluasi pekerjaan untuk menilai berat-ringannya tiap-tiap job penting dila kukan (untuk memastikan keadilan internal). Gibson. kebijakan. 5 No.H..A. Mengingat ad a 7 responden yang tidak melengkapi isian pada kuesioner-kuesioner yang disebark an. K.. maka penelitian yang akan datang tentang topik ini diharapkan peneliti dapat memotivasi dengan langsung bertatap muka dengan responden (tidak sekedar memoti vasi lewat surat pengantar kuesioner) mengenai pentingnya kesungguhan dan kejuju ran responden dalam menanggapi isi kuesioner yang akan sangat menentukan kualita s hasil penelitian. Jr. Proses (Terj.).. Ivancevich. misi. Advances in Experimental Social Psychology. Boal. Organisasi: Perilaku. Penerbit Erlangga. 1965. strategi. J.. baik pada para perawat baru melalui program orientasi. Locke.

Homewood.N. 1977... Irwin Inc. N.H. Journal of Applied Psychology..P. 2 September 2009 ISSN: 0216-3705 Meyer.. 26 . 63: 408-414. 1993. Wexley. Journal of Appli ed Psychology. Mobley. “Commitment to Organizations and Occu pation: Extension and Test of Three Component Conceptualization”.JURNAL MANAJERIAL Vol.. C.. 5 No. 78 (4): 538-551. K. Richar d D. 1978.A.J.. “An Evaluation of Precursors o f Hospital Employee Turnover”. Illinois. G.A. Organizational Behavior and Personal Psychology. Allen. J. Yukl. Smith. W.