Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS

)

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia
©2010 Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)

ISBN: 978-979-3764-60-3

Diterbitkan oleh: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)

Tim Penyusun:
Penanggung Jawab Ketua Tim Pengarah Sekretaris Anggota : Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana, SE, MA : Dr. Ir. Lukita Dinarsyah Tuwo, MA : Dra. Nina Sardjunani, MA : Dr. Ir. RR. Endah Murniningtyas, MSc; Dr. Ir. Taufik Hanafi, MUP; Dr. Ir. Subandi, MSc; DR. Drs. Arum Atmawikarta, SKM, MPH; Dr. Ir. Edi Effendi Tedjakusuma, MA; Dra. Tuti Riyati, MA; Ir. Budi Hidayat, M.Eng.Sc; Ir. Wahyuningsih Darajati, MSc; Dra. Rahma Iryanti, MT; Dadang Rizki Ratman, SH, MPA : Australian Agency for International Development (AusAID) Asian Development Bank (ADB)

Mitra Pendukung

Kata Pengantar

Sepuluh tahun yang lalu, pada bulan September tahun 2000, saat berlangsungnya pertemuan Persatuan Bangsa-Bangsa di New York, Kepala Negara dan perwakilan dari 189 negara menyepaka Deklarasi Milenium yang menegaskan kepedulian utama secara global terhadap kesejahteraan masyarakat dunia. Tujuan Deklarasi yang disebut Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals-MDGs) menempatkan manusia sebagai fokus utama pembangunan dan mengar kulasi satu gugus tujuan yang berkaitan satu sama lain ke dalam agenda pembangunan dan kemitraan global. Se ap tujuan dijabarkan ke dalam satu sasaran atau lebih dengan indikator yang terukur. Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang, Tujuan Pembangunan Milenium digunakan sebagai acuan dalam perumusan kebijakan, strategi, dan program pembangunan. Pemerintah Indonesia telah mengarus-utamakan MDGs dalam pembangunan sejak tahap perencanaan dan penganggaran hingga pelaksanaannya. Hal ini dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2005-2009 dan 2010-2014, dan Rencana Kerja Tahunan berikut dokumen anggarannya. Berlandaskan strategi pro-growth, pro-jobs, pro-poor, dan pro-environment, alokasi dana dalam anggaran pusat dan daerah untuk mendukung pencapaian berbagai sasaran MDG terus meningkat se ap tahunnya. Di samping itu, kemitraan produk f Pemerintah dengan organisasi masyarakat madani dan sektor swasta mempunyai kontribusi pen ng terhadap percepatan pencapaian MDGs. Setelah krisis ekonomi tahun 1997/1998 Indonesia telah melaksanakan sejumlah reformasi di berbagai bidang, sebagai dasar yang kuat bagi bangsa Indonesia untuk kembali ke masa pertumbuhan ekonomi yang nggi dan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang posi f dan berkualitas serta penguatan ins tusi demokrasi dan sosial selama sepuluh tahun terakhir, telah mendukung pencapaian MDGs. Indonesia telah berhasil mencapai beberapa sasaran MDG. Misalnya, dalam hal penanggulangan kemiskinan, jumlah penduduk berpenghasilan kurang dari USD 1,00 per hari menurun dari 20,6 persen pada tahun 1990 menjadi 5,9 persen pada tahun 2008. Untuk beberapa sasaran MDG lainnya kemajuan yang berar telah dicapai, sehingga kita yakin beberapa sasaran MDG tersebut dapat diwujudkan pada tahun 2015. Perha an khusus akan diberikan terhadap beberapa sasaran MDG seper penurunan angka kema an ibu melahirkan dan rasio luas kawasan tertutup pepohonan agar pada tahun 2015 sasaran-sasaran tersebut dapat dicapai.

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

iii

Tahun 2010 merupakan momentum yang sangat pen ng bagi Indonesia untuk mewujudkan komitmen terhadap kesepakatan global MDGs. Indonesia akan bekerja lebih keras untuk terus meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup rakyat Indonesia sehingga dengan sendirinya sasaran MDGs dapat dicapai pada waktunya. Untuk itu, Pemerintah Indonesia menyusun Peta Jalan Percepatan Pencapaian MDGs. Peta Jalan ini berisi rincian mengenai keadaan masa kini, tantangan yang dihadapi, serta kebijakan dan strategi pembangunan nasional. Berbagai gagasan yang perlu dilaksanakan untuk mempercepat pencapaian sasaran MDGs disajikan pula dalam Peta Jalan ini. Berbagai informasi yang disajikan dalam buku ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pemahaman yang lebih baik mengenai tantangan yang dihadapi dan langkah yang harus dilaksanakan dalam rangka mencapai semua sasaran MDGs di Indonesia. Bersamaan dengan itu, Pemerintah Indonesia terus membangun suasana yang memungkinkan segenap komponen masyarakat, organisasi masyarakat madani, dan sektor swasta untuk dapat berpar sipasi secara produk f dalam suatu gerakan masyarakat berbasis akar rumput demi kemaslahatan seluruh masyarakat Indonesia. Keberhasilan dalam pencapaian MDGs sangat tergantung pada tatakelola yang baik, kemitraan produk f dari segenap komponen masyarakat, dan penerapan pendekatan menyeluruh untuk mewujudkan pertumbuhan yang inklusif dan peningkatan layanan publik, serta pemberdayaan masyarakat di seluruh daerah. Akhirul kalam, kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan kontribusinya dalam penyusunan Peta Jalan ini. Kita berharap semoga apa yang kita lakukan bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana, SE, MA Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)

iv

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

Dr. M. SE. serta kepada semua pihak yang telah membantu yang dak dapat disebutkan satu persatu. Subandi. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia v .D. Kepada seluruh anggota Tim Penyusun disampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih se nggi. M. MA. Ir.Ec. dan Sap a Novadiana. Dr. Ir. Sanjoyo. terutama kepada Alan S. Rd. Wismana Adi Suryabrata. ST. Ir. MSc. Wendy Hartanto. ST. Ph. Ir. SH.Sc. Tu Riya . Ir. M. MSc.).Kom. Drs.Lic (Econ. MPIA. Rr. Nila Moeloek. MA yang telah mengkoordinasikan penyusunan dan sekaligus melakukan quality assurance atas substansi Peta Jalan ini. Ir.Sc. Drs. Dr. Ir. MT. Yahya Rahmana Hidayat. MRP. MM. SH. Tommy Hermawan. MSc. Budi Hidayat. MSc. Prof. Nur Hygiawa Rahayu. MSc. SE. Mohammad Sjuhdi Rasjid. MEM. Ir. Hjalte Sederlof. Ir. atas bimbingan dalam proses penyusunan dokumen ini. Ir. dan Dr. Dra. MSc. Dr. informasi dan penyiapan naskah. Endah Murniningtyas. ST. MSc. Dr. Dr. Dr. MPM. Mon y Girianna. Dadang Rizki Ratman. MA. MPS. Emmy Soeparmijatun. Arif Haryana. Ph. Msi. Wynandin Imawan. MIDS. Sri Yan . MA. MA yang telah memberikan kontribusi dalam penyediaan data. ME. Penghargaan dan ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada: – – Prof. Ir. Dr. SP. Rahma Iryan . MCP. Randy R. H. – Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada mitra pembangunan dari Asian Development Bank (ADB) dan Australian Agency for Interna onal Development (AusAID) yang telah membantu penyusunan Peta Jalan ini. Hidayat Syarief. Ph. MA. MAP. Nugroho Tri Utomo. MPM. MSc. MA. MARS. Ahmad Taufik. DEA.D.Ucapan Terima Kasih Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) Indonesia 20102015. MIA. Dr.D. ST. Wahyuningsih Daraja . MSIE. Sularsono. MA. Susunan keanggotaan Tim tercantum pada Lampiran 4 Peta Jalan ini. Dr. Yosi Diani Tresna. SE. Lukita Dinarsyah Tuwo. S. Maliki. Edi Effendi Tedjakusuma. MPA. MADM. Nina Sardjunani. Taufik Hanafi MUP. Siliwan . Ir. MPM. Imam Subek . Dra. Ph. Dr. Hadiat. Ir. Wrihatnolo. disusun oleh Tim yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis/Kelompok Kerja yang bertanggung jawab kepada Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS. ST. Tri Dewi Virgiyan . MPA.ngginya atas kerja keras dan kontribusinya sehingga Peta Jalan ini dapat tersusun dengan baik. Prouty. Ir. M. Erwin Dimas.Ec. Basah Hernowo. MS. Ir. MA dan Dra. MPH. Woro Srihastu Sulistyaningrum. Fithriyah. SKM.Eng. Arum Atmawikarta. MSc. Benny Azwir. Riza Hamzah. utusan khusus Presiden untuk MDGs. Ir. Ir. ST. MSIE. Rooswan Soeharno dr. Dr. Dr. Mahatmi Parwitasari Saronto. S. Happy Hardjo. Dr. MPH.

SE. Alisjahbana. Dr.Semoga Peta Jalan ini dapat digunakan oleh semua pihak yang berkepen ngan baik di lingkungan pemerintahan maupun para pemangku kepen ngan (stakeholders) lainnya dalam upaya mempercepat pencapaian sasaran-sasaran MDGs pada tahun 2015. September 2010 Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Prof. MA vi Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Jakarta. Armida S.

.......................... xv DAFTAR KOTAK .................................................................................................. TUJUAN 2: MENCAPAI PENDIDIKAN DASAR UNTUK SEMUA .......... Target 3A: Menghilangkan ke mpangan gender di ngkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005................. laki-laki maupun perempuan dimanapun dapat menyelesaikan pendidikan dasar ............................................................... Target 2A: Menjamin pada 2015 semua anak.......Daftar Isi KATA PENGANTAR ................................................................................................................................ xviii PENDAHULUAN ....... v DAFTAR ISI ............................................. xiv DAFTAR TABEL ..................................................................................................................... TUJUAN 1: MENANGGULANGI KEMISKINAN DAN KELAPARAN .................................................................................................. TINJAUAN STATUS PENCAPAIAN TARGET MDGS ........................................................ Target 1A: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk dengan ngkat pendapatan kurang dari USD 1............................................................................................................ RINGKASAN STATUS PENCAPAIAN MDGS DI INDONESIA ............................................................................................................. TUJUAN 3: MENDORONG KESETARAAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN ................................................................................................................................................................................................................00 (PPP) per hari dalam kurun waktu 1990-2015................. 101 Target 4A: Menurunkan Angka Kema an Balita (AKBA) hingga dua-per ga dalam kurun waktu 1990-2015......................................... dan di semua jenjang pendidikan dak lebih dari tahun 2015...................... 1 9 15 23 25 48 57 69 71 87 89 TUJUAN 4: MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN ANAK ............................. 103 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia vii ..................... termasuk perempuan dan kaum muda .............................. ix DAFTAR PETA...... xvii DAFTAR SINGKATAN .............. iii UCAPAN TERIMA KASIH ............................................................ vii DAFTAR GAMBAR......................................................................... Target 1B: Menciptakan kesempatan kerja penuh dan produk f dan pekerjaan yang layak untuk semua..................... Target 1C: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun waktu 1990-2015 .............................................................................................................................

................................TUJUAN 5: MENINGKATKAN KESEHATAN IBU ............... 121 Target 5A: Menurunkan Angka Kema an Ibu hingga ga-perempat dalam kurun waktu 1990 ............. 147 Target 6A: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV/AIDS hingga tahun 2015 ...... 123 Target 5B: Mewujudkan akses kesehatan reproduksi bagi semua pada tahun 2015 .........................................2015 ..................... 149 Target 6B: Mewujudkan akses terhadap pengobatan HIV/AIDS bagi semua yang membutuhkan sampai dengan tahun 2010................................................................. 214 Target 7D: Mencapai peningkatan yang signifikan dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh pada tahun 2020 .. 124 TUJUAN 6: MEMERANGI HIV/AIDS.................. 264 270 275 281 286 viii Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia ............................................... dapat diprediksi................................................ berbasis peraturan............................ 255 LAMPIRAN 1: RINGKASAN STATUS INDIKATOR MDGS MENURUT PROVINSI .......... 185 Target 7B: Mengurangi laju kehilangan keragaman haya ........ LAMPIRAN 2: DEFINISI INDIKATOR MDGS ............ 235 Target 8A: Mengembangkan sistem keuangan dan perdagangan yang terbuka.... 247 Target 8F: Bekerjasama dengan swasta dalam memanfaatkan teknologi baru. 238 Target 8D: Menangani utang negara berkembang melalui upaya nasional maupun internasional untuk dapat mengelola utang dalam jangka panjang ..................... DAFTAR PUSTAKA ................ 183 Target 7A: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan yang berkesinambungan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumberdaya lingkungan yang hilang.................. terutama teknologi informasi dan komunikasi ............................................................................................ LAMPIRAN 3: MDGS KESEHATAN............................................ dan dak diskrimina f ............................. 230 TUJUAN 8: MEMBANGUN KEMITRAAN GLOBAL UNTUK PEMBANGUNAN ................................ 150 Target 6C: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru Malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015 ................................................................................................................... 209 Target 7C: Menurunkan hingga separuhnya proporsi penduduk tanpa akses terhadap air minum layak dan sanitasi layak pada 2015 .................................................................................. LAMPIRAN 4: SUSUNAN KEANGGOTAAN PENYUSUNAN PETA JALAN (ROADMAP) NASIONAL PERCEPATAN PENCAPAIAN MDGS TAHUN 2010 . 163 TUJUAN 7: MEMASTIKAN KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP .............................................. dan mencapai pengurangan yang signifikan pada 2010 .................. MALARIA DAN PENYAKIT MENULAR LAINNYA ....

..................... Tahun 2007 ..................... 52 Proporsi Pekerja Rentan terhadap Total Jumlah Pekerja.. Gambar 1............. Tahun 1992—2009 .......... 59 Prevalensi Anak Balita Kekurangan Gizi.............. Tahun 2007 .....3................ Tahun 2002-2008 .....4....... Gambar 1...... 26 Kecenderungan Jangka Panjang dalam Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia...7.. Gambar 1.. Gambar 1.... Tahun 2010 ...... 37 Laju Pertumbuhan PDB Per Tenaga Kerja (Persen)............ Gambar 2..................13. Tahun 2007/2008 . 51 Rasio Kesempatan Kerja terhadap Penduduk Usia Kerja.. Gambar 1............................. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia ix .. Tahun 1990-2009 .......... Menurut Provinsi......12...... Tahun 1990............. Tahun 1989-2007 .............4.................................... Gambar 2.... 31 Pemanfaatan Dana Hibah PNPM oleh Komunitas Sesuai Bidang Kegiatan ..... Menurut Provinsi. Gambar 1.... Gambar 1....................... Gambar 1....................................8.... 50 Rasio Kesempatan Kerja terhadap Penduduk Usia Kerja.... 53 Target MDG dan Perkembangan Prevalensi Kekurangan Gizi pada Balita................... Menurut Kelompok Pendapatan.......... Diukur dengan Menggunakan Indikator Garis Kemiskinan Nasional.... Gambar 1................16....................... Tahun 2009 .................5............................. 2006 dan 2009.. 74 Distribusi Guru di Perkotaan..... Tahun 1990-2009 ......................... 30 Distribusi Penduduk Miskin di Indonesia di Daerah Perkotaan dan Perdesaan.................................................1... Gambar 2......................15.... 78 Gambar 1.... Gambar 1... 61 Kecenderungan Skor PPH di Perdesaan dan Perkotaan....................... 28 Persentase Penduduk di Bawah Garis Kemiskinan Nasional dengan Wilayah Geografis Utama di Indonesia...............14..........................10.........Daftar Gambar Gambar 1.................. Kemajuan dalam Mengurangi Kemiskinan Ekstrem (USD 1........ 29 Persentase Penduduk di Bawah Garis Kemiskinan Nasional..............................1.............. 64 Kecenderungan Angka Par sipasi Murni (APM) dan Angka Par sipasi Kasar (APK) SD dan SMP (termasuk Madrasah).... Perdesaan dan Daerah Terpencil di Indonesia...11.............................00/kapita/hari) Dibandingkan dengan Target MDG ..............2. 61 Perkembangan Asupan Kalori Rata-rata Rumah Tangga di Perdesaan dan Perkotaan................. Gambar 1............... Tahun 1990-2009 .......... Gambar 1.........................6...3...... Tahun 2002 – 2010 ... 60 Prevalensi Anak Balita Kekurangan Gizi....9................. 2002-2009..................... Gambar 2.. 27 Perkembangan Indeks Kedalaman Kemiskinan......2................. 72 Angka Par sipasi Murni SD dan SMP (termasuk Madrasah) Menurut Provinsi........ Tahun 1990-2010 ........... Menurut Provinsi........................ 73 Kecenderungan Pendidikan Ter nggi yang Pernah Diiku oleh Penduduk Usia 16-18 Tahun.. Tahun 1995-2008 ..... Gambar 1... Tahun 2010 ... Gambar 1..................................

..... 91 Gambar 3... Kecenderungan Nasional dan Proyeksi Angka Kema an Ibu.... Kecenderungan CPR pada Perempuan Menikah Usia 15-49 Tahun.................................4................................................Gambar 3......... Pelayanan Con nuum Care dalam Siklus Kehidupan ........... Pelayanan Antenatal K1 dan K4........ Tahun 1991-2015 . 129 Gambar 5. Tahun 2007 ...... Tahun 1992-2009 .......................................... 130 Gambar 5.. 107 Gambar 4...........9... 132 x Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .......... Kecenderungan dan Proyeksi Angka Kema an Anak Balita............ 125 Gambar 5.. Menurut Provinsi..... Tahun 2007 ..........7.................... Tahun 2004-2009 ......2.................6.................... Alur Panduan Program Kelangsungan Hidup ....7.... 105 Gambar 4..... 93 Gambar 3.. Kunjungan Pelayanan Antenatal... 128 Gambar 5....................... SM/MA/Paket C............. 104 Gambar 4.. Tahun 1991-2007 ...... 91 Gambar 3......... Tahun 2009 .................... dan PT...6................................... Tahun 2007 .... 131 Gambar 5. Kema an Dini pada Anak-anak Menurut Karakteris k Demografi..... Penyebab Kema an Ibu..................6.. Persentase Anak Usia 1 Tahun yang Diimunisasi Campak...8...3...................... 129 Gambar 5........................................... Penyebab Utama Kema an Bayi (0-11 bulan) di Indonesia. 111 Gambar 4..................3...2......5.2............ tahun 2007 . Kecenderungan Nasional Persalinan Ditolong oleh Tenaga Kesehatan Terla h.......................... Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Laki-laki dan Perempuan....... Menurut Provinsi............... 106 Gambar 4.................................................................... Indeks Paritas Gender (IPG) Angka Par sipasi Murni SD/MI/ Paket A dan SMP/MTs/Paket B......9............ Tahun 1991-2007. Tingkat Par sipasi Angkatan Kerja (TPAK) Laki-laki dan Perempuan.......................... Con nuum Care ....................................... Tahun 2007 .............. 107 Gambar 4......................................10....................4..........................................1......5............................ Indeks Paritas Gender (IPG) Angka Par sipasi Murni SM/MA/ Paket C......... Tahun 2007................ 127 Gambar 5......... Persentase Persalinan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Menurut Karakteris k Latar Belakang.....4... 109 Gambar 4...... 127 Gambar 5..... Tahun 2007 ..............1..... Tahun 2004-2009 ......... 1993—2009 .. Menurut Provinsi... 93 Gambar 3...................11...............................3........ Puncak Risiko Kema an pada Masa Sekitar Kelahiran ....... Konsep Dasar Kesehatan Seksual dan Reproduksi .................... Pencapaian Indikator Con nuum Care .............. Tahun 1991-2025 125 Gambar 5.....10...... Perkembangan Indeks Paritas Gender (IPG) Angka Par sipasi Murni SD/MI/Paket A.................. 115 Gambar 5....... 110 Gambar 4................................. Penyebab Utama Kema an Balita (0-59 bulan)...................... Bayi dan Neonatal...............1. Tahun 2009 .... Tahun 2009 . 109 Gambar 4.........................5............................... 94 Gambar 4......... Upah Rata-rata Bulanan Buruh/Karyawan/Pegawai dan Pekerja Bebas Nonpertanian Laki-laki dan Perempuan . Tahun 2007 ............................................... Tahun 2001 ................ Persentase Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Terla h.. SMP/MTs/Paket B............... Bayi dan Balita Antarprovinsi..................... Menurut Provinsi... 92 Gambar 3..................... Persentase Distribusi Perempuan Menikah Usia 15-49 Tahun Menurut Cara Kontrasepsi yang Digunakan............ 126 Gambar 5............... Disparitas Angka Kema an Neonatal...8....................................................

....... 137 Persentase Perempuan Usia 15-19 Tahun yang Pernah Melahirkan Menurut Karakteris k Latar Belakang..................... 152 Kecenderungan Jumlah Kumula f Kasus HIV Baru di Indonesia... 154 Persentase Perempuan dan Laki-laki Muda Usia 15-24 dengan Pengetahuan Komprehensif Mengenai HIV/AIDS................................................ Tahun 2007 ..................................2..... Tahun 1980-2025 .............. Contracep ve Prevalence Rate Menurut Cara. Tahun 1990-2009 ..12.................................................. 151 Distribusi Infeksi HIV di Indonesia.......1. Gambar 6... 151 Jumlah Kasus AIDS di Indonesia............. Tahun 2006–2009 ............................ Gambar 6.......................... Gambar 6........... Tahun 2007 ..... 157 Kecenderungan (Proyeksi) Kasus Epidemik HIV di Indonesia............... Tahun 2004-2008 .. Tahun 2007 ..... 133 Kecenderungan Unmet Need............ 157 Pendanaan Program Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia.15............. Tahun 2009...... Menurut Provinsi.............7.. 136 Age Specific Fer lity Rate (ASFR) 15-19 Tahun................ 165 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia xi .......................................................... Gambar 6...... Gambar 6.......18............ Gambar 6. 156 Cakupan ART pada Ibu Hamil untuk Mencegah Penularan dari Ibu ke Anak..... 157 Kecenderungan Kasus Epidemik HIV di Indonesia dengan Opsi Cakupan Program................. Tahun 19902020 ... Gambar 6......... Gambar 6..... Gambar 6........ Tahun 2007 .......................................10........19... 152 Persentase Kumula f Kasus AIDS di Indonesia........................Gambar 5. Tahun 2007................... Tahun 2009 ...13... Menurut Provinsi...... Gambar 5....... Wilayah Asia Tenggara........................13....................................... 134 Unmet Need Menurut Karakteris k Latar Belakang......5.........3.....000 Penduduk di Indonesia.............. 153 Persentase Perempuan dan Laki-laki Tidak Menikah yang Menggunakan Kondom Kali Terakhir Berhubungan Seksual............... Tahun 2009 ...... Gambar 6......................... Gambar 5..........6............ Tahun 1989-2009 ....... 155 Cakupan Intervensi ART di Indonesia............ Gambar 6.......................... Gambar 6..................... Menurut Karakteris k Latar Belakang............ Tahun 2002/2003 Dan 2007 .. 158 Angka Kejadian Malaria (API) di Indonesia. 137 Kasus AIDS Per 100.............. Menurut Kelompok Populasi............8..............16................... Tahun 2006-2009 .... Tahun 2007............................................. 135 Angka Fer litas Total (TFR) Di Negara-negara Asia Tenggara... Menurut Provinsi............ Tahun 2007 ................ 132 Contracep ve Prevalence Rate pada Perempuan Menikah Usia 15-49 Tahun Menurut Karakteris k Latar Belakang......................17............ Tahun 2010–2020 ......... Tahun 2002/2003 dan 2007 .........12..............................14.................14................. Menurut Kelompok Usia............................. Gambar 5...........................4...... Tahun 2007 .................................... Menurut Kelompok Populasi........... Menurut Provinsi.. Gambar 5............. 133 Unmet Need Menurut Tujuan Penggunaan........11......................... Gambar 6..... Gambar 5.............9... Gambar 5.............. 154 Persentase Pengetahuan yang Benar dan Komprehensif Mengenai AIDS pada Laki-laki dan Perempuan Usia 15-24 Tahun............. Gambar 5.... Tahun 1991-2007 .. Gambar 6.................

Jumlah Kasus Malaria yang Dioba Melalui Program Gebrak Malaria........ Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Sumber Air Minum Layak di Perkotaan........... Gambar 7... Perkembangan Impor.............4.......... Gambar 7............ Tahun 1993-2009 ............... Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses terhadap Sumber Air Minum Layak............. Gambar 7........... Tahun 2007 .............. Gambar 6..................................... Menurut Provinsi.....2008 ............2...............7....15..........................17..... Gambar 7........... Gambar 7......... Perkotaan dan Total Perdesaan dan Perkotaan........... Menurut Provinsi............... Gambar 7.......... Gambar 6...... Gambar 6.......................................5....... Ekspor......................................................11.......................... Gambar 6.....................9.... Tahun 1993-2009 .............................................................. Pertumbuhan PDB dan Rasio 166 168 173 f 173 174 175 189 190 192 193 195 199 210 217 217 219 220 222 222 231 232 xii Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .13...... Tahun 1992-2009...... Tahun 2009......................... Gambar 8...................... Pendanaan Strategi Stop TB.....1..3.......... Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses Sumber Air Minum Nonperpipaan yang Terlindungi di Perdesaan................. Proporsi Rumah Tangga Kumuh Perkotaan.... Gambar 7........................... Tahun 1997-2008 ..Gambar 6..........000 Penduduk di Indonesia.... Menurut Provinsi............. Tahun 2009..... Jumlah Konsumsi BPO di Indonesia.. Angka Penemuan Kasus (CDR) dan Angka Keberhasilan Pengobatan (SR) Nasional untuk TB (%)....18................. Tahun 2009 ....................12..........20..15. Tahun 2009 ...................... Menurut Provinsi......... Gambar 7........... Tahun 2009 ............. Gambar 7......... Perdesaan dan Total. Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Sanitasi yang Layak di Perdesaan......14...... Gambar 7........................................... Perkotaan dan Total Perdesaan dan Perkotaan............... Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses terhadap Sanitasi yang Layak di Perdesaan... Proporsi Rumah Tangga Kumuh Perkotaan.. Persentase Tutupan Hutan dari Luas Daratan di Indonesia dari Tahun 1990 ................6....1...............19..... Kawasan Lindung Perairan Indonesia ..8....................... Angka kasus Malaria dan Parasit Menurut Wilayah Di Indonesia............... Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses terhadap Sumber Air Minum Perpipaan............... Rencana Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Indonesia pada Tahun 2020 .. Produksi Perikanan Tangkap di Indonesia................... Jumlah Jenis Ikan Tawar dan Jenis Ikan Laut yang Dilindungi dan Terancam Punah Per Tahun ..................... Menurut Provinsi..... Tahun 1993 dan 2009 ........................................................ Jumlah Pemakaian Berbagai Jenis Energi Periode 1990-2008 (dalam Juta SBM) ... Gambar 7............ Kecenderungan Nasional Jumlah Total Kasus TB dan Kasus TB BTA Posi di Indonesia. Gambar 7.......... Gambar 7.. Gambar 6...... Jumlah Kasus BTA Posi f Per 100........... Tahun 2008 .......................10.......................... Tahun 1997-2009 .................................. Tahun 2009 ......... Tahun 1995-2009 ............ Gambar 7. Perkotaan dan Total Perdesaan dan Perkotaan...................16........ Indonesia............. Gambar 7..........

....5....................... Persentase Penduduk yang Memiliki PSTN dan Telepon Seluler pada Periode 2004-2009 ................. Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Komputer dan Akses Internet Menurut Provinsi (2009) ........... 241 243 248 256 257 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia xiii ............................3........................................... Perkembangan Pinjaman Luar Negeri Terhadap PDB dan Debt Service Ra o pada Periode 1996-2009 . Gambar 8............................... Loan to Deposit Ra o (LDR dalam Persen) di Bank Umum dan BPR.......................................... Ekspor dan Impor Terhadap PDB sebagai Indikator MDG untuk Keterbukaan Ekonomi......................... 2000-2009 .4...................... Gambar 8.............................................................2..... Gambar 8............Gambar 8.................

......Daftar Peta Peta 1.........2........... Peta 7.................. Tahun 2010 ....................1....1. Menurut Provinsi. Tahun 2009............ 218 Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses ke Fasilitas Sanitasi yang Layak...... Persebaran Penduduk di Bawah Garis Kemiskinan Nasional... Usia 15-24 Tahun........ Peta 3.......... Tahun 2009 ..... Peta 7... Menurut Provinsi...... Menurut Provinsi...............1.... Menurut Provinsi............... Menurut Provinsi............ Tahun 2009 .. 92 Persebaran Upah Rata-rata Pekerja Perempuan Sebagai Persentase Upah Rata-rata Pekerja Laki-laki.. 95 Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses terhadap Sumber Air Minum yang Layak.......... Peta 3.............2....... Agustus 2009.......... 30 Persebaran Angka Melek Huruf antara Laki-laki dan Perempuan....... 223 xiv Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia ............

..... Output... Tabel 2. dan Target Peningkatan Layanan Persalinan Kebidanan dan Dukungan Manajemen Program Gizi dan KIA..1....................1.. Menurut Daerah Kota-Desa. Kontribusi Energi Per Kelompok Pangan dalam Pola Makan Rata-rata (Kalori/kapita/hari).......... Prioritas..... Tabel 6...................4................... Prevalensi Anak Balita Kekurangan Gizi dan Kegemukan Berdasarkan Karakteris k Sosial Ekonomi..3..........6.. dan Target untuk Program Kependudukan dan KB................3..... Output... Prioritas.......... Jumlah dan Proporsi Guru Berdasarkan Tingkat Sekolah dan Kualifikasi Akademik Di Indonesia............ Tahun 2010-2014 ................. Prioritas................................... Target Terkait Pengurangan Prevalensi Kekurangan Gizi.. Output.....1.... Tabel 6...................... Tahun 2010-2014 .............. Tahun 2010-2014.. Tahun 2004-2008...................... Output..... Tabel 1. Prioritas......................... Tabel 6.............2...3...7..... Prioritas.. Prioritas................. Prioritas.............................5........ Prioritas..............2...................... dan Target Kinerja Pendidikan..3......... Tahun 2010-2014......... Output... Tahun 2007 .. Tabel 5...................................... Tabel 1.. Output............ Luas Kawasan Perkebunan di Indonesia (Ha) ....................... Prioritas....................... dan Indikator Kinerja Pengelolaan Sumber Daya Alam......... Tahun 2010-2014 . 38 41 56 60 62 63 67 78 85 99 120 143 143 144 163 167 171 176 182 190 191 192 204 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia xv .......................... Tahun 2007 ....... Tabel 7............. Tabel 5........1...1.........1......... Tahun 2010-2014 ....................... dan Target Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi.................... Alokasi Anggaran dan Jumlah Kecamatan yang Ditargetkan PNPM Sepanjang 2007-2010 ................................................... Tahun 2010-2014 ............ dan Target untuk Mengurangi Kemiskinan........................... Tahun 2010-2014 .. Tahun 2000-2005 (dalam Gg Co2e) .. Tahun 2010-2014 ........ Tahun 2010-2014 . Komponen Strategi TB Nasional ............................................. Tahun 2010-2014 . dan Target Pengendalian Malaria...... Prioritas............................ Tabel 4........... Kawasan Lindung Perairan (2009) ...4.................. Output............................................... Output...... Tabel 1...... Prevalensi Anak Balita Kekurangan Gizi............. Output..... dan Indikator Kinerja Bidang Pendidikan................ Tahun 2009................. Tabel 5.......... Ketenagakerjaan dan Poli k... Tabel 1.......................................... Tahun 2010-2014 .................. Tabel 6...................................................................... Strategi Kampanye Gebrak Malaria ..............1....... dan Target Bidang Ketenagakerjaan....2...... Output...... Tabel 6................ Tabel 1..............2....... Tabel 3................... Prioritas..... Output............... Tahun 2010-2014..4........... Output........................ Output... dan Target Upaya Penurunan Tingkat Morbiditas dan Mortalitas Penyakit TB.. Tabel 2........ dan Target Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Anak......... Tabel 7...5.......... Tabel 7....... Prioritas.... Ringkasan Emisi Gas Rumah Kaca dari Semua Sektor........ Tabel 1................................................ Prioritas............. dan Target Pengendalian Penyebaran HIV/AIDS..........Daftar Tabel Tabel 1.............2............................................. Tabel 7..

................................ Tabel 7................. Tabel L............. Tabel 7.... 2000 – 2009 ...............1................. Tahun 2010-2014 ....3....................................... dan Target Peningkatan Akses Air Minum dan Sanitasi Layak.............5........................ Indikator Terpilih untuk Kondisi Bank Umum di Indonesia........... Kotak 1..... 2003 – 2009 .. Prioritas......... Output...... Indikator Terpilih untuk Kondisi BPR di Indonesia......... Prioritas....6........1... Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri ......... Tabel 8................... Output............ Tabel 8... Tahun 2010-2014 .. Tabel L..........3...... Prioritas... dan Target Bidang Kesehatan..................... dan Target untuk Pelayanan Kesehatan........................1........ Prioritas.......... Pilihan Target Pelaksanaan Tahunan RPJMN untuk Penggunaan Sumber Energi Secara Berkelanjutan. Tahun 2010 Dan 2014 . Tabel 8................................. Urutan 10 Negara yang Menjadi Tujuan Utama Ekspor Nonmigas Indonesia dan 10 Negara Utama Asal Impor Nonmigas Indonesia Tahun 2009 .7....... Output. dan Target untuk Pelayanan Kesehatan........2.. Outcome........................ dan Target Penurunan Rumah Tangga Kumuh Perkotaan Melalui Penanganan Permukiman Kumuh. Tabel L. Tahun 2010-2014 .... Tahun 2010-2014 ..................................2...... 207 229 234 242 243 244 279 279 279 37 xvi Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia ........... Prioritas.. Output..Tabel 7...

......................................................... Kotak 8........1.................................................... Mul Donor Trust Fund ........................... Kotak 4.... Kotak 2. Bantuan Operasional Sekolah. Kotak L.......................... Kemitraan yang Efek f dalam Pengendalian TB: Memberdayakan Pengidap TB dan Masyarakat dalam Program DOTS . Kotak 7.......................................... Jamkesmas: Mengatasi Hambatan Pembiayaan untuk Mengakses Pelayanan Kesehatan .... Kotak 6...........................................2................................................................... 2010-2014 ...............Daftar Kotak Kotak 1................1................................ Kotak 6.... 59 80 113 159 177 208 226 227 254 276 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia xvii . Pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)......................2..... Kotak 7... Indonesia Climate Change Trust Fund .........1........ Kotak 7............1...............................2......................................1.......................................... Standar Pengukuran Status Gizi .......... Kontak Kulit Ke Kulit dan Inisiasi Menyusui Dini Mengurangi Kema an Bayi Hingga 22 Persen ...............................1...................... Perawatan dan Pengobatan HIV/AIDS bagi Populasi Rentan ........... Mobilisasi Masyarakat untuk Meningkatkan Upaya Pencegahan......... Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP)..3..........

Komunikasi dan Mobilisasi Sosial) Artemisinin-based combina on therapy Air Condi on (pengatur udara) Asian Development Bank Annual Development Plan (Rencana Pembangunan Tahunan) ASEAN Economic Community ASEAN Free Trade Area Acquired Immuno-defeciency Syndrome Australia Indonesia Basic Educa on Program Angka Kema an Balita Angka Kecukupan Gizi Angka Kema an Bayi The ASEAN Korea Free Trade Agreement Angka Kema an Ibu Annual Malaria Incidence Antenatal Care Alat/Obat Kontrasepsi Annual Parasite Incidence The Asia Pacific Economic Coopera on Forum Areal Penggunaan Lain (areas for other uses) Angka Par sipasi Murni Angka Par sipasi Sekolah An retroviral (obat an retrovirus) An retroviral Therapy (Terapi An retrovirus) Air Susu Ibu Age Specific Fer lity Rate The Associa on of Southeast Asian Na ons Stop Buang Air Besar Sembarangan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional / Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Biodiversity Ac on Plan of Indonesia Bayi Berat Lahir Rendah Berat Badan per Umur Behavioral Change Communica on (Komunikasi Perubahan Perilaku) Bacillus Calme e-Guérin Back Log Figh ng Bantuan Langsung Tunai Barrels of Oil Equivalent (Setara Barel Minyak) xviii Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Communica on and Social Mobiliza on (Advokasi.Daftar Singkatan ACFTA ACSM ACT AC ADB ADP AEC AFTA AIDS AIBEP AKABA AKG AKB AKFTA AKI AMI ANC Alokon API APEC APL APM APS ARV ART ASI ASFR ASEAN BABS BAPPENAS BAPI BBLR BB/U BCC BCG BLF BLT BOE The ASEAN-China Free Trade Agreement Advocacy.

Perbatasan dan Kepulauan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Energi Baru Terbarukan Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia xix . pertusis dan tetanus Debt Service Ra o Dengue Shock Syndrome (Sindroma Renjatan Dengue) Daerah Ter nggal.BOK BOS BKKBN BPK BPLHD BPO BPS BSM BSNP BWA CAIRNS CBE CDM CDR CEACR CEPT CFCs CH4 CITES CLTS CO2 CO-BILD CPR CSO CSR DAK DAS Desa Siaga DOTS DPD DPR DPRD DPT3 DSR DSS DTPK Ditjen P2PL EBT Biaya Operasional Kesehatan Bantuan Operasional Sekolah Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Badan Pemeriksa Keuangan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Bahan Perusak Ozon Badan Pusat Sta s k Beasiswa Miskin Badan Standardisasi Nasional Pendidikan Broadband Wireless Access (Akses Nirkabel Broadband) Coali on of Agricultural Expor ng Na ons Lobbying for Agricultural Trade Liberaliza on (koalisi negara pengekspor hasil-hasil pertanian untuk melobi liberalisasi perdagangan pertanian) Compulsory Basic Educa on (Wajib Belajar Pendidikan Dasar) Clean Development Mechanism Case Detec on Rate (Angka Penemuan Kasus) Commi ee of Experts on the Applica on of Conven ons and Recommenda ons The Common Effec ve Preferen al Tariff Chlorofluorocarbons (Klorofluorokarbon) Metana Conven on on Interna onal Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna Community-Led Total Sanita on Karbon Dioksida Community-Based Ini a ves Housing Local Development Contracep ve Prevalence Rate (Angka Pemakaian Kontrasepsi) Community Social Organiza on Corporate Social Responsibility Dana Alokasi Khusus Daerah Aliran Sungai Pemberdayaan dan pelibatan masyarakat dalam pemberantasan dan pengendalian ‘malaria’ dan penyakit lain yang merupakan masalah utama kesehatan Directly Observed Treatment. Short-course Dewan Perwakilan Daerah Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tiga kali vaksinasi untuk mencegah penyakit menular pada manusia: di eri.

Educa on and Communica ons (Informasi.ECED EEO EFA G-20 G-33 GATT Gebrak Malaria Gerdunas Gerhan GHG GMP GPI GRK HAM HCFC HDI HFC HIV/AIDS HKM HL HP HPK HPT IBSAP ICCSR ICCTF ICT IDAI IDHS IDI IDU IEC IJEPA IKG ILO IMF IMR Early Childhood Educa on and Development (Pendidikan Anak Usia Dini / PAUD) Equal Employment Opportunity Educa on for All (pendidikan untuk semua) Forum 20 negara industri dan berkembang untuk membahas isu-isu ekonomi global Ketua koalisi negara berkembang yang mendukung fleksibilitas pembukaan pasar terbatas terkait masalah-masalah pertanian General Agreement on Trade and Tariffs (Perjanjian Umum Tarif dan Perdagangan) Gerakan Berantas Malaria Gerakan Terpadu Nasional (untuk TB) Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan Green House Gasses (Gas Rumah Kaca) Growth Monitoring Prac ce (Prak k Pemantauan Pertumbuhan dan Perkembangan) Gender Parity Index (Indeks Paritas Gender) Gas Rumah Kaca Hak Asasi Manusia Hydrochlorofluorocarbon (Hidroklorofluorokarbon) Human Development Indices (Indeks Pengembangan Manusia/IPM) Hidroflorokarbon Human Immuno-deficiency Virus / Acquired Immuno-deficiency Syndrom Hutan Kemasyarakatan Hutan Lindung Hutan Produksi Hutan Produksi yang bisa dikonversi Hutan Produksi Terbatas Indonesia Biodiversity Strategi and Ac on Plan Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap (Peta Jalan Sektoral Perubahan Iklim Indonesia) Indonesia Climate Change Trust Fund Informa on and Communica on Technology (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Ikatan Dokter Anak Indonesia Indonesia Demographic Health Survey (Survei Demografi Kesehatan Indonesia/ SDKI) Ikatan Dokter Indonesia Injec ng Drug Users (Pengguna Napza Sun k/Penasun) Informa on. Pendidikan dan Komunikasi) Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement Indeks Kesetaraan Gender Interna onal Labor Organiza on Interna onal Monetary Fund Infant Mortality Rate (Angka Kema an Bayi) xx Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .

A tudes and Prac ce (Survei tentang Pengetahuan.IMS INHERENT INPRES IPCC IPG IPPA IPPF IPTP IRS ISTC ITN IUD IUATLD IUCN IUPHHK IUPHHK-RE Jamkesmas Jamsostek JNPK JTB K3 K1 K4 KAP KB KKB KemDiknas Kemenag Kemkes KPP KIA KIP KN1 KN4 KJKS KPA KPAN KPAD KPH KPHK Infeksi Menular Seksual Indonesia Higher Educa on Network (lembaga pendidikan nggi guna mendukung kegiatan peneli an dan pengembangan) Intruksi Presiden Intergovernmental Panel on Climate Change Indeks Paritas Gender (Gender Parity Index/GPI) Interna onal Planned Parenthood Associa on (Federasi Keluarga Berencana Internasional) Interna onal Planned Parenthood Federa on (Perkumpulan Keluarga Berencana Internasional) Intermi ent Preven ve Treatment for Pregnant Women Indoor Residual Spraying (Penyemprotan dengan Efek Residu) Interna onal Standard for TB Care Insec cide-Treated Bed-Nets (Kelambu Berinsek sida) Intra-Uterine Device The Interna onal Union Against Tuberculosis and Lung Interna onal Disease Interna onal Union for Conserva on of Nature Ijin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu Ijin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu-Restorasi Ekosistem Jaminan Kesehatan Masyarakat Jaminan Sosial Tenaga Kerja Jaringan Nasional Pela han Klinik Jumlah Tangkapan yang diperbolehkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kunjungan (antenatal) sedikitnya satu kali selama kehamilan Kunjungan (antenatal) sedikitnya empat kali selama kehamilan Knowledge. Sikap dan Perilaku) Keluarga Berencana Kependudukan dan Keluarga Berencana Kementerian Pendidikan Nasional Kementerian Agama Kementerian Kesehatan Kementerian Pemberdayaan Perempuan Kesehatan Ibu dan Anak Kampung Improvement Program Kunjungan Neonatal Pertama Kunjungan Neonatal Keempat Koperasi Jasa Keuangan Syariah Kawasan Pelestarian Alam Komisi Penanggulangan AIDS Nasional Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Kesatuan Pengelolaan Hutan Kesatuan Pemangkuan Hutan Konservasi Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia xxi .

KPS KPU KS-1 KSA KSP KUR LDR LDU LISDES LJK LKBB LLIN LMIC LMVD LOA LPG LPTK LSM LSL LULUCF MA MDGs MDR-TB MDTFs MGRS MI MKJP MMR MMT MNCH MoNE MoRA MPS MSS MSY MT MTBS MTEF NAMA 11 NIN NO NGL 45 Keluarga Pra-Sejahtera Komisi Pemilihan Umum Keluarga Sejahtera-1 Kawasan Suaka Alam Koperasi Simpan Pinjam Kredit Usaha Rakyat Loan to Deposit Ra o La han Dasar Umum Listrik Pedesaan Lembaga Jasa Keuangan Lembaga Keuangan Bukan Bank Long-Las ng Insec cidal Nets (Kelambu dengan Insek sida Tahan Lama) Lower Middle Income Country Lembaga Modal Ventura Daerah Log Over Area Liquid Petroleum Gas Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Lembaga Swadaya Masyarakat Laki-laki berhubungan Sex dengan Laki-laki Land Use.AKI) Methadone Maintenance Therapy (Terapi Perawatan dengan Metadon) Maternal Neonatal and Child Health Ministry of Na onal Educa on (Kementerian Pendidikan Nasional) Ministry of Religious Affairs (Kementerian Agama) Making Pregnancy Safes Minimum Service Standards (Standar Pelayanan Minimum) Maximum Sustainable Yield Madrasah Tsanawiyah Manajemen Terpadu Balita Sakit Medium-Term Expenditure Framework Koalisi negara berkembang untuk mencapai fleksibilitas dalam membatasi pembukaan pasar bagi perdagangan barang-barang industri Na onal Iden fica on Number (Nomor Iden fikasi Nasional) Nitrogen Oksida Natural Gasoline-45 xxii Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Land Use Change and Forestry Madrasah Aliyah Millennium Development Goals (Tujuan Pembangunan Milenium) Mul drug-Resistant TB (TB yang resisten berbagai macam obat) Mul -Donor Trust Funds (dana amanat mul donor) Mul centre Growth Refrence Study Madrasah Ib daiyah Metode Kontrasepsi Jangka Panjang Maternal Mortality Ra o (Angka Kema an Ibu .

NPL NPOA NTP NTT NTB NU NUSSP OAT OBF ODHA ODP ODS OECD OMS ORS ORT P2DTK P4K PA PB PAKEM PAUD Perdaki PDB PDAM PDPI PFM PFC PHBS PISA PISEW PKH PKK PMTCT PNC PNPM PNPI POSYANDU PONED PONEK PPH PPIP/RIS Non-Performing Loan (kredit bermasalah) Na on Plan of Ac on Na onal TB Program Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Nahdatul Ulama Neighborhood Upgrading and Shelter Sector Program Obat An Tuberkulosis Oil-Based Fuels Orang dengan HIV/AIDS Ozone Deple ng Poten al Ozone Deple ng Substances Organiza on of Economic and Coopera on Organisasi Masyarakat Sipil Oral Rehydra on Solu ons Oral Rehydra on Therapy (Terapi Rehidrasi Oral) Program Percepatan Pembangunan Daerah Ter nggal dan Khusus Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi Peserta KB Ak f Peserta KB Baru Pembelajaran Ak f. Efek f dan Menyenangkan Pendidikan Anak Usia Dini Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia Produk Domes k Bruto Perusahaan Daerah Air Minum Persatuan Dokter Paru Indonesia Public Finance Management (Manajemen Keuangan Publik) Power Factor Correc on Perilaku Hidup Bersih Sehat Program for Interna onal Student Assessment Program Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah Program Keluarga Harapan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Preven ng Mother to Child Transmission (Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak) Postnatal Care (Pelayanan Postnatal) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Dewan Nasional Perubahan Iklim Pos Pelayanan Terpadu Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar Pelayanan Obstetri Neonatal Komprehensif Pola Pangan Harapan Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan / Rural Infrastructure Support Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia xxiii . Krea f.

PPLK PPLS PPP PPP PPSP PSTN PIK PKB PKBR PKBI PLKB PLN PUG PUS PT Puskesmas RANMAPI RAN-PG RASKIN RBM RDA Riskesdas Ris RIS-SPAM Renstra Rusunawa RPJMN RS RPJPN Sakernas SANIMAS SBM SBM SCC SD SDKI SF6 SKPD SKPG SKRRI SKRT SMA Perubahan Penggunaan Lahan dan Kehutanan Pendataan Program Layanan Sosial Purchasing Power Parity (Paritas Daya Beli) Public Private Partnership Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman Public Switched Telephone Network (Jaringan Telpon Tetap dengan Kabel) Pusat Informasi dan Konseling Penyuluh Keluarga Berencana Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Petugas Lapangan Keluarga Berencana Perusahaan Listrik Negara Pengarusutamaan Gender Pasangan Usia Subur Perguruan Tinggi Pusat Kesehatan Masyarakat Rencana Aksi Nasional untuk Menghadapi Perubahan Iklim Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi Beras Miskin Roll Back Malaria Recommended Dietary Allowance (Angka Kecukupan Gizi/AKG) Riset Kesehatan Dasar Risiko Tinggi Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum Rencana Strategis Rumah Susun Sederhana Sewa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Rumah Sakit Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Survei Angkatan Kerja Nasional Sanitasi Berbasis Masyarakat School-Based Management (Manajemen Berbasis Sekolah/MBS) Setara Barel Minyak Short Course Chemotherapy Sekolah Dasar Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (Indonesia Demography Health Survey/IDHS) Sulfur Hexafluoride Satuan Kerja Perangkat Daerah Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia Survei Kesehatan Rumah Tangga Sekolah Menengah Atas xxiv Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .

SMP SNP SOP SPM SRH SRAN SSK Susenas STBM TAC TB TBA TFR TIK TIMSS TT TPA TPAK TPT UATLD UMKM UNCBD UNDP UNFCCC UNICEF UNSD UNGASS UPP UU USAID VCT WAN WB WBP WBG WHO WiMAX WPP WPS WTO WUS Sekolah Menengah Pertama Standar Nasional Pendidikan Standard Opera ng Procedure Standar Pelayanan Minimum Sexual and Reproduc ve Health (Kesehatan Seksual dan Reproduksi) Strategi Rencana Aksi Nasional Strategi Sanitasi Kota/Kabupaten Survei Sosial Ekonomi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Total Allowable Catch Tuberkulosis Tradi onal Birth A endant (Penolong Persalinan Tradisional) Total Fer lity Rate Teknologi Informasi dan Komunikasi Third Interna onal Mathema cs Science Study Tetanus Toxic (Vaksin) Tempat Pemrosesan Akhir Tingkat Par sipasi Angka Kerja Tingkat Pengangguran Terbuka The Interna onal Union Against Tuberculosis and Lung Disease Usaha Mikro. Kecil dan Menengah United Na on Conven on on Biological Diversity The United Na ons Development Programme United Na ons Framework Conven on on Climate Change United Na ons Childrens’ Fund United Na ons Sta s cs Division United Na ons General Assembly Urban Poverty Project Undang-undang United States Agency for Interna onal Development Voluntary Counseling and Tes ng (Penyuluhan dan Pengujian Sukarela) Wide Area Network The World Bank (Bank Dunia) Warga Binaan Pemasyarakatan The World Bank Group World Health Organiza on Worldwide Interoperability for Microwave Access Wilayah Pengelolaan Perikanan Wanita Penjaja Sex World Trade Organiza on Wanita Usia Subur Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia xxv .

.

Pendahuluan .

2 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .

Pemerintah Indonesia telah mengarusutamakan MDGs dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN 2005-2025). maju. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2005-2009 dan 2010-2014). MDGs yang didasarkan pada konsensus dan kemitraan global ini. Rencana Pembangunan Tahunan Nasional (RKP). mewujudkan masyarakat berakhlak mulia. pengurangan prevalensi penyakit menular. Komitmen Indonesia untuk mencapai MDGs adalah mencerminkan komitmen Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan memberikan kontribusi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dunia. damai. MDGs yang menempatkan pembangunan manusia sebagai fokus. dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. 4. pencapaian pendidikan dasar. dan dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. 5. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 3 . memiliki tenggat waktu (2015) dan indikator kemajuan yang terukur. dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan BangsaBangsa (PBB) sebanyak 189 negara anggota PBB sepakat untuk mengadopsi Deklarasi Milenium yang kemudian dijabarkan dalam kerangka prak s Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals/MDGs). kesetaraan gender. mewujudkan Indonesia aman. adil dan makmur. perbaikan kesehatan ibu dan anak. untuk menyelesaikan dan mengupayakan pencapaian 8 Tujuan Pembangunan Milenium . Saat ini. serta dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). pelestarian lingkungan hidup. bere ka. mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan. Untuk mencapai visi tersebut dilaksanakan melalui delapan Misi Pembangunan Nasional sebagai berikut: 1. bermoral. Karena itu. juga menekankan kewajiban negara maju untuk mendukung penuh upaya tersebut. mewujudkan masyarakat demokra s berlandaskan hukum. dengan memperha kan tantangan yang dihadapi dalam 20 tahun mendatang. mewujudkan bangsa yang berdaya-saing. dan bersatu.Pendahuluan Pada September 2000. MDGs merupakan acuan pen ng dalam penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan Nasional.terkait pengurangan kemiskinan. 3. berbudaya. 2. tersisa waktu sekitar 5 tahun bagi negara berkembang anggota PBB. Prioritas Pembangunan Nasional Berdasarkan kondisi bangsa Indonesia saat ini. dan kerjasama global. maka Visi Pembangunan Nasional tahun 2005-2025 adalah: Indonesia yang mandiri.

maju. krea vitas. (vii) iklim investasi dan usaha. dan inovasi teknologi. yang adil dan demokra s. di bidang perekonomian. hukum.6. dan yang ngkat kesejahteraan rakyatnya meningkat. (viii) energi. dan (iii) memperkuat dimensi keadilan di semua bidang. (ii) pendidikan. pada saat ini pembangunan nasional telah sampai pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN ke-2) tahun 2010-2014. (v) ketahanan pangan. RPJMN ke-4 (2020-2025) ditujukan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri. kuat. 3. dan keamanan. Di samping sebelas prioritas nasional tersebut di atas. terluar. (ii) memperkuat pilar-pilar demokrasi. Strategi untuk melaksanakan visi dan misi tersebut dijabarkan secara bertahap dalam periode lima tahunan yang tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). mewujudkan Indonesia asri dan lestari. dan Berkeadilan. dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompe f di berbagai wilayah yang didukung oleh SDM berkualitas dan berdaya saing. maju. 2. dan mewujudkan Indonesia berperan pen ng dalam pergaulan dunia internasional. Visi dan Misi Pembangunan Nasional 2010-2014 dirumuskan dan dijabarkan lebih operasional ke dalam sejumlah program prioritas nasional sebagai berikut: (i) reformasi birokrasi dan tata kelola. RPJMN ke-3 (2015-2019) ditujukan untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pencapaian daya saing kompe f perekonomian berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan iptek yang terus meningkat. 7. dan berbasiskan kepen ngan nasional. Visi ini dijabarkan melalui ga Misi Pembangunan Nasional yaitu: (i) melanjutkan pembangunan menuju Indonesia yang sejahtera. 4. terdepan. RPJMN ke-2 (2010-2014) ditujukan untuk lebih memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan pada upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan iptek serta penguatan daya saing perekonomian. Visi Pembangunan Nasional tahun 2010-2014 adalah sebagai berikut: Terwujudnya Indonesia yang Sejahtera. RPJMN ke-1 (2005-2009) diarahkan untuk menata kembali dan membangun Indonesia di segala bidang yang ditujukan untuk menciptakan Indonesia yang aman dan damai. Dengan memperha kan tahapan pembangunan periode lima tahunan tersebut di atas. mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri. upaya untuk mewujudkan Visi dan Misi Pembangunan Nasional juga melalui pencapaian prioritas nasional lainnya di bidang poli k. (xi) kebudayaan. (iii) kesehatan. (iv) penanggulangan kemiskinan. dan di bidang kesejahteraan rakyat. dan pascakonflik. 4 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . (x) daerah ter nggal. (vi) infrastruktur. adil. 8. Demokra s. Tahapan pembangunan lima tahunan tersebut secara ringkas adalah sebagai berikut: 1. (ix) lingkungan hidup dan bencana.

Kenaikan harga pangan yang menjadi pengeluaran rumah tangga terbesar di kelompok masyarakat menengah bawah dan miskin semakin menimbulkan beban. dibandingkan dengan pertumbuhan sebelum krisis yang sebesar 5-6 persen. Pada gilirannya. Meskipun masih banyak tantangan dan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia. memberikan pelajaran bahwa globalisasi yang memiliki dua sisi berbeda berupa peluang sekaligus tantangan. Perubahan iklim yang ekstrem telah meningkatkan curah hujan nggi. menyebabkan nelayan yang dak bisa melaut serta mengganggu kesehatan masyarakat. Indonesia telah mampu memperbaiki status ekonominya menjadi negara berpendapatan menengah. Berbagai krisis dan tantangan global tersebut. Saat ini. Pemerintah tetap bertekad untuk memenuhi komitmen pencapaian target dan sasaran MDGs tepat waktu. Hal tersebut dilakukan untuk mempercepat pencapaian tujuan-tujuan nasional tersebut. Beberapa di antaranya yang terpen ng adalah gejolak harga minyak. Bangsa Indonesia juga telah bekerja secara konsisten selama dekade terakhir untuk mencapai target-target MDG.Pembangunan Indonesia Pascakrisis Global dan Capaian Target MDGs Dalam lima tahun terakhir. Dalam lingkungan global yang kurang menguntungkan tersebut Indonesia secara bertahap terus menata dan membangun di segala bidang. Krisis ekonomi global telah berpengaruh pula terhadap kinerja perekonomian dalam negeri. berdampak pada kegagalan pertanian dan kerusakan aset masyarakat. evaluasi kemajuan kinerja pencapaian MDGs tersebut berguna dalam menyesuaikan perencanaan agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat miskin dan kelompok rentan. Pertumbuhan ekonomi yang posi f serta penguatan ins tusi demokrasi selama sepuluh tahun terakhir. pencapaian MDGs sampai saat ini dapat dikelompokkan ke dalam ga kategori pencapaian MDGs. perubahan iklim global serta (kembali) terjadinya krisis keuangan global 2007/2008. Menetapkan sasaran terukur yang berkaitan dengan MDGs yang dapat dimonitor dan dievaluasi kemajuannya telah terbuk efek f dalam meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya. dan (c) target yang masih memerlukan upaya keras untuk pencapaiannya. Dengan memperha kan kecenderungan dan capaian target-target MDGs. Indonesia adalah bangsa demokra s berpenduduk ke ga terbesar di dunia. di tengah kondisi negara yang belum sepenuhnya pulih dari krisis ekonomi tahun 1997/1998. Alokasi dana dalam anggaran nasional dan daerah sebagai upaya mendukung pencapaian tujuan pembangunan milenium di Indonesia telah meningkat dari tahun ke tahun. (b) target yang telah menunjukkan kemajuan signifikan. pada gilirannya memperkuat posisi bangsa untuk mempercepat pencapaian MDGs. Tingkat pertumbuhan menurun menjadi sekitar 4-5 persen. melipu : (a) target yang telah dicapai. harus dihadapi oleh sebuah bangsa dalam kesiapan penuh di segala bidang. harga pangan. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 5 . Indonesia menghadapi tantangan global yang dak ringan.

9 persen pada 2009. • • Target MDGs yang telah menunjukkan kemajuan signifikan mencakup: • MDG 1 . dan rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15-24 tahun telah mencapai 99. MDG 4 .95.Indonesia telah berhasil mengembangkan perdagangan serta sistem keuangan yang terbuka. MDG 2 . Debt Service Ra o juga telah dikurangi dari 51 persen pada tahun 1996 menjadi 22 persen pada tahun 2009.9 persen pada tahun 2008.Prevalensi balita kekurangan gizi telah berkurang hampir setengahnya.6 persen pada 1996 menjadi 10. MDG 3 . kemajuan signifikan telah dicapai dalam mengurangi rasio pinjaman luar negeri terhadap PDB dari 24.Target untuk kesetaraan gender dalam semua jenis dan pendidikan diperkirakan akan tercapai. • • • • Target MDGs yang telah menunjukkan kecenderungan pencapaian yang baik namun masih memerlukan kerja keras untuk pencapaian target pada tahun 2015.0 persen pada tahun 2000 menjadi 73.73 persen dan 101. telah menurun dari 20. MDG 6 .99 persen pada tahun 2009. dari 31 persen pada tahun 1989 menjadi 18. Pada saat yang sama.5 persen diperkirakan akan tercapai. Rasio APM perempuan terhadap laki-laki di SD/MI/Paket A dan SMP/MTs/ Paket B berturut-turut sebesar 99.Tingkat kemiskinan ekstrem. berdasarkan aturan.6 persen pada tahun 1990 menjadi 5.0 persen. mencakup: • MDG 1 .terbuk dengan adanya kecenderungan posi f dalam indikator yang berhubungan dengan perdagangan dan sistem perbankan nasional. 6 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . dari target 70.000 kelahiran pada tahun 2007 dan diperkirakan target 32 per 1. dan penurunan prevalensi tuberkulosis dari 443 kasus pada 1990 menjadi 244 kasus per 100.Target MDGs yang telah dicapai. Dengan demikian maka target 2015 sebesar 100 diperkirakan akan tercapai.000 kelahiran pada tahun 2015 dapat tercapai.47 persen pada 2009. mencakup: • MDG 1 . MDG 3 .16 dan 102.33 persen (2010) menjadi 8-10 persen pada tahun 2014.1 persen pada tahun 2009.Indonesia telah menaikkan ukuran untuk target pengurangan kemiskinan dan akan memberikan perha an khusus untuk mengurangi ngkat kemiskinan yang diukur terhadap garis kemiskinan nasional dari 13. bisa diprediksi dan non-diskrimina f . MDG 8 .85 persen.Angka par sipasi murni untuk pendidikan dasar mendeka 100 persen dan ngkat melek huruf penduduk melebihi 99.4 persen pada tahun 2007.Angka kema an balita telah menurun dari 97 per 1.Rasio APM perempuan terhadap laki-laki di SM/MA/Paket C dan pendidikan nggi pada tahun 2009 adalah 96. yaitu proporsi penduduk yang hidup dengan pendapatan per kapita kurang dari USD 1 per hari. Target 2015 sebesar 15.000 penduduk pada tahun tahun 2009.Terjadi peningkatan penemuan kasus tuberkulosis dari 20.000 kelahiran pada tahun 1991 menjadi 44 per 1.

namun tetap berkomitmen untuk meningkatkan tutupan hutan. Indonesia bersama Cina. kemitraan yang produk f pada semua ngkat masyarakat dan penerapan pendekatan yang komprehensif untuk mencapai pertumbuhan yang pro-masyarakat miskin. meningkatkan alokasi sumber daya.000 kelahiran hidup. telah mengurangi keter nggalan Indonesia dari negara-negara maju. yaitu dua puluh negara yang menguasai 85 persen Pendapatan Domes k Bruto (PDB) dunia. Indonesia juga sejak 2008 tergabung dalam kelompok Group-20 atau G-20. Diperlukan perha an khusus. jumlah.Indonesia memiliki ngkat emisi gas rumah kaca yang nggi. Oleh karena itu. pertumbuhan dan persebaran penduduk akan menjadi salah satu per mbangan pen ng. serta perlindungan bagi hak-hak reproduksi. untuk mencapai target MDG pada tahun 2015. Negara-negara maju yang tergabung dalam OECD (Organiza on of Economic and Coopera on Development) mengakui dan mengapresiasi kemajuan pembangunan Indonesia. khususnya di antara kelompok risiko nggi pengguna narkoba sun k dan pekerja seks. Dalam merancang pencapaian MDGs ke depan. pendekatan desentralisasi untuk mengurangi disparitas serta memberdayakan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. jumlah penduduk Indonesia Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 7 .000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Inisiatif Baru dalam Melangkah ke Depan Keberhasilan dalam pencapaian MDGs di Indonesia tergantung pada pencapaian tata pemerintahan yang baik.Angka kema an ibu menurun dari 390 pada tahun 1991 menjadi 228 per 100. India. Percepatan pencapaian tujuan dan sasaran MDGs memerlukan penanganan masalah kependudukan secara komprehensif dan terpadu. Saat ini. memperbaiki koordinasi antar pemangku kepen ngan. • • Keberhasilan pembangunan Indonesia. MDG 7 . Brazil.19 persen yang memiliki akses sanitasi yang layak. Kemajuan pembangunan ekonomi dalam lima tahun terakhir. meningkatkan pelayanan publik. MDG 6 . mencakup perluasan akses pelayanan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana. Diperlukan upaya keras untuk mencapai target pada tahun 2015 sebesar 102 per 100.• MDG 5 . memberantas pembalakan liar dan mengimplementasikan kerangka kerja kebijakan untuk mengurangi emisi karbon dioksida paling sedikit 26 persen selama 20 tahun ke depan. yang memiliki peranan sangat pen ng dan menentukan dalam membentuk kebijakan ekonomi global. Saat ini hanya 47. dan Afrika Selatan diundang untuk masuk dalam kelompok ‘enhanced engagement countries’ atau negara yang makin di ngkatkan keterlibatannya dengan negara-negara maju. Tingkat kenaikan juga sangat nggi di beberapa daerah di mana kesadaran tentang penyakit ini rendah.73 persen rumah tangga yang memiliki akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan 51.Jumlah penderita HIV/AIDS meningkat. telah menuai berbagai prestasi dan penghargaan dalam skala global.

provinsi dan kabupaten akan terus di ngkatkan untuk mendukung intensifikasi dan perluasan program-program pencapaian MDGs.6 juta jiwa (Proyeksi Penduduk Indonesia 2005-2025). Alokasi dana pemerintah pusat. Meningkatkan kerjasama terkait konversi utang (debt swap) untuk pencapaian MDGs dengan negara-negara kreditor. Mekanisme untuk perluasan inisia f CSR (Corporate Social Responsibility) akan diperkuat dalam rangka mendukung pencapaian MDGs. termasuk organisasi masyarakat dan khususnya kelompok perempuan. organisasi masyarakat sipil dan sektor swasta dapat berpar sipasi secara produk f dalam pembangunan yang mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Selain itu. Dukungan untuk perluasan pelayanan sosial di daerah ter nggal dan daerah terpencil akan di ngkatkan. dan lingkungan hidup.97 persen per tahun pada kurun waktu 1980-1990 menjadi 1. namun diperkirakan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 akan menjadi sekitar 247. telah memberikan kontribusi nyata terutama di bidang pendidikan.2 persen berada di Pulau Jawa yang memiliki luas hanya 7 persen dari total luas Indonesia. tak kurang dari 80 persen industri terkonsentrasi di Pulau Jawa. dan menjadi 1. Ke depan gerakan masyarakat yang mengakar di akar rumput tersebut akan terus diperha kan untuk mempercepat pencapaian MDGs dan meningkatnya kesejahteraan secara berkelanjutan.49 persen per tahun pada kurun waktu 1990-2000. telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan jumlahnya pada tahun tahun 1971. Langkah-langkah untuk mempercepat pencapaian MDGs selama lima tahun ke depan sebagaimana diamanatkan oleh Inpres Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan. Dari jumlah tersebut. kesehatan. air bersih. khususnya pendidikan dan kesehatan akan dikembangkan untuk meningkatkan sumber pembiayaan dalam mendukung upaya pencapaian MDGs.adalah 237. peningkatan koordinasi upaya-upaya untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.5 juta jiwa (hasil sementara Sensus Penduduk 2010. • • • • • • 8 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Pemerintah berkomitmen untuk menjaga lingkungan sosial-ekonomi dan budaya di mana semua warga negara. Akan dirumuskan mekanisme pendanaan untuk memberikan insen f kepada pemerintah daerah yang berkinerja baik dalam pencapaian MDGs. Meski terjadi penurunan laju pertumbuhan penduduk dari 1. Dalam upaya percepatan pencapaian MDGs peran serta masyarakat. Kemitraan Pemerintah dan Swasta (KPS atau Public Private Partnership/PPP) di sektor sosial. sekitar 60. melipu : • Pemerintah menyusun Peta Jalan Percepatan Pencapaian MDGs yang akan digunakan sebagai acuan seluruh pemangku kepen ngan melaksanakan percepatan pencapaian MDGs di seluruh Indonesia.30 persen per tahun pada tahun 2005. BPS). Pemerintah provinsi menyiapkan “Rencana Aksi Daerah Percepatan Pencapaian MDGs” yang digunakan sebagai dasar bagi perencanaan.

Ringkasan Status Pencapaian MDGs di Indonesia .

.

Berbagai kebijakan dan program pemerintah untuk menjawab tantangan tersebut adalah: (i) perluasan akses yang merata pada pendidikan dasar khususnya bagi masyarakat miskin.5 persen pada tahun 2015. menjadi setengahnya. meningkatkan infrastruktur pendukung.Ringkasan Status Pencapaian MDGs di Indonesia MDG 1: MENANGGULANGI KEMISKINAN DAN KELAPARAN Indonesia telah berhasil menurunkan ngkat kemiskinan. Prevalensi kekurangan gizi pada balita telah menurun dari 31 persen pada tahun 1989 menjadi 18. sehingga Indonesia diperkirakan dapat mencapai target MDG sebesar 15. Pada ngkat sekolah dasar (SD/MI) secara umum disparitas par sipasi pendidikan antarprovinsi semakin menyempit dengan APM di hampir semua provinsi telah mencapai lebih dari 90. Tantangan utama dalam percepatan pencapaian sasaran MDG pendidikan adalah meningkatan pemerataan akses secara adil bagi semua anak. Kemajuan juga telah dicapai dalam upaya untuk lebih menurunkan lagi ngkat kemiskinan. Bahkan Indonesia menetapkan pendidikan dasar melebihi target MDGs dengan menambahkan sekolah menengah pertama sebagai sasaran pendidikan dasar universal. Pada tahun 2008/09 angka par sipasi kasar (APK) SD/MI termasuk Paket A telah mencapai 116. dan memperkuat sektor pertanian. untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berkualitas di semua daerah. sebagaimana diukur oleh indikator USD 1.0 persen. MDG 2: MENCAPAI PENDIDIKAN DASAR UNTUK SEMUA Upaya Indonesia untuk mencapai target MDG tentang pendidikan dasar dan melek huruf sudah menuju pada pencapaian target 2015 (on-track). Kebijakan alokasi dana pemerintah bagi sektor pendidikan minimal sebesar 20 persen dari jumlah anggaran nasional akan diteruskan untuk mengakselerasi pencapaian pendidikan dasar universal pada tahun 2015. (ii) peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan. sebagaimana diukur oleh garis kemiskinan nasional dari ngkat saat ini sebesar 13. Perha an khusus perlu diberikan pada: (i) perluasan fasilitas kredit untuk usaha mikro. Prioritas ke depan untuk menurunkan kemiskinan dan kelaparan adalah dengan memperluas kesempatan kerja.23 persen. (iii) peningkatan akses penduduk miskin terhadap pelayanan sosial. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 11 . dan menengah (UMKM). kecil. dan (iv) perbaikan penyediaan proteksi sosial bagi kelompok termiskin di antara yang miskin.4 persen pada tahun 2007.33 persen (2009) menuju targetnya sebesar 8-10 persen pada tahun 2014. baik laki-laki maupun perempuan.00 per kapita per hari. (ii) pemberdayaan masyarakat miskin dengan meningkatkan akses dan penggunaan sumber daya untuk meningkatkan kesejahteraannya.77 persen dan angka par sipasi murni (APM) sekitar 95. dan (iii) penguatan tatakelola dan akuntabilitas pelayanan pendidikan.

kinerja penurunan angka kema an ibu secara global masih rendah.99 pada tahun 2009. Prioritas ke depan dalam mewujudkan kesetaraan gender melipu : (1) peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan. terutama di daerahdaerah miskin dan terpencil. dan rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun telah mencapai 99. Disamping itu.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. sehingga diperlukan kerja keras untuk mencapai target tersebut. Oleh sebab itu. beberapa faktor seper risiko nggi pada saat kehamilan 12 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Target pencapaian MDG pada tahun 2015 adalah sebesar 102 per 100. angka kema an ibu melahirkan (MMR/Maternal Mortality Ra o) menurun dari 390 pada tahun 1991 menjadi 228 per 100. MDG 4: MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN ANAK Angka kema an bayi di Indonesia menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dari 68 pada tahun 1991 menjadi 34 per 1. Prioritas ke depan adalah memperkuat sistem kesehatan dan meningkatkan akses pada pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat miskin dan daerah terpencil. (2) perlindungan perempuan terhadap berbagai ndak kekerasan. Di bidang ketenagakerjaan. Di Indonesia.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. MDG 5: MENINGKATKAN KESEHATAN IBU Dari semua target MDGs.73 dan 101. menjadi 17. Namun demikian. Demikian pula dengan target kema an anak diperkirakan akan dapat tercapai. terlihat adanya peningkatan kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor nonpertanian. dan (3) peningkatan kapasitas kelembagaan PUG dan pemberdayaan perempuan.85.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 diperkirakan dapat tercapai.9 persen. masih terjadi disparitas regional pencapaian target. yang mencerminkan adanya perbedaan akses atas pelayanan kesehatan. Indonesia sudah secara efek f menuju (on-track) pencapaian kesetaraan gender yang terkait dengan pendidikan pada tahun 2015.000 kelahiran hidup. Walaupun pelayanan antenatal dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terla h cukup nggi.MDG 3: MENDORONG KESETARAAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN Berbagai kemajuan telah dicapai dalam upaya meningkatkan kesetaraan gender di semua jenjang dan jenis pendidikan. proporsi kursi yang diduduki oleh perempuan di DPR pada Pemilu terakhir juga mengalami peningkatan. sehingga target sebesar 23 per 1. Rasio angka par sipasi murni (APM) perempuan terhadap lakilaki di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama berturutturut sebesar 99.

yaitu pengguna narkoba sun k dan pekerja seks. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 13 . Proporsi rumah tangga kumuh perkotaan menurun dari 20.81 persen (1993) menjadi 51.73 persen pada tahun 1993 menjadi 47. Selain itu. pengendalian penyakit harus melibatkan semua pemangku kepen ngan dan memperkuat kegiatan promosi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.85 pada tahun 2009. Di samping itu. Angka kejadian malaria per 1. pengendalian penyakit Tuberkulosis yang melipu penemuan kasus dan pengobatan telah mencapai target. pemberantasan pembalakan hutan. walaupun upaya peningkatan luas hutan. Upaya untuk penurunan proporsi rumah tangga kumuh dilakukan melalui penanganan pemukiman kumuh. Sementara itu. informasi dan edukasi kepada masyarakat. MDG 7: MEMASTIKAN KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP Tingkat emisi gas rumah kaca di Indonesia cukup nggi. terutama untuk melayani jumlah penduduk perkotaan yang terus meningkat.75 persen pada tahun 1993 menjadi 12. peningkatan pelayanan keluarga berencana dan penyebarluasan komunikasi. pelayanan obstetrik yang komprehensif. Untuk daerah perdesaan. perlu dilakukan upaya untuk memperjelas peran dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber daya air dan pengelolaan sistem air minum dan sanitasi yang layak. MDG 6: MEMERANGI HIV/AIDS.000 penduduk menurun dari 4. Proporsi rumah tangga dengan akses air minum layak meningkat dari 37. Upaya untuk mengakselerasi pencapaian target air minum dan sanitasi yang layak terus dilakukan melalui investasi penyediaan air minum dan sanitasi. terutama pada kelompok risiko nggi.12 persen pada tahun 2009.19 persen (2009). penyediaan air minum dan sanitasi dilakukan melalui upaya pemberdayaan masyarakat agar memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan infrastruktur dan pembangunan sarana. Ke depan. proporsi rumah tangga dengan akses sanitasi layak meningkat dari 24. Jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan di Indonesia meningkat dua kali lipat antara tahun 2004 dan 2005. upaya peningkatan kesehatan ibu diprioritaskan pada perluasan pelayanan kesehatan berkualitas. Pendekatan untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini terutama diarahkan pada upaya pencegahan dan pengarusutamaan ke dalam sistem pelayanan kesehatan nasional.dan aborsi perlu mendapat perha an. dan komitmen untuk melaksanakan kerangka kebijakan penurunan emisi karbon dioksida dalam 20 tahun ke depan telah dilakukan. Upaya menurunkan angka kema an ibu didukung pula dengan meningkatkan angka pemakaian kontrasepsi dan menurunkan unmet need yang dilakukan melalui peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi.68 pada tahun 1990 menjadi 1. MALARIA DAN PENYAKIT MENULAR LAINNYA Tingkat prevalensi HIV/AIDS cenderung meningkat di Indonesia.71 persen pada tahun 2009. Sementara itu.

mitra bilateral dan sektor swasta untuk mencapai pola pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada penurunan ngkat kemiskinan (pro-poor). 14 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .9 persen pada tahun 2009. Sementara itu. Hal ini ditunjukkan dengan menurunnya rasio pinjaman luar negeri pemerintah terhadap PDB dari 24.6 persen pada tahun 1996 menjadi 10. Bersamaan dengan ini. Debt Service Ra o Indonesia juga telah menurun dari 51 persen pada tahun 1996 menjadi 22 persen pada tahun 2009. Jakarta Commitment telah ditandatangani bersama 26 mitra pembangunan pada tahun 2009. Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan pinjaman luar negeri pemerintah terhadap PDB. sekitar 82. dan akses pada telepon selular.41 persen dari penduduk Indonesia mempunyai akses pada telepon seluler. Indonesia telah mendapat manfaat dari mitra pembangunan internasional. Untuk meningkatkan efek fitas kerjasama dan pengelolaan bantuan pembangunan di Indonesia. jaringan PSTN.MDG 8: MEMBANGUN KEMITRAAN GLOBAL UNTUK PEMBANGUNAN Indonesia merupakan par sipan ak f dalam berbagai forum internasional dan mempunyai komitmen untuk terus mengembangkan kemitraan yang bermanfaat dengan berbagai organisasi mul lateral. Untuk meningkatkan akses komunikasi dan informasi. Pada tahun 2009. dan komunikasi internet telah meningkat sangat pesat selama lima tahun terakhir. sektor swasta telah membuat investasi besar dalam teknologi informasi dan komunikasi.

30% • ► Bank Dunia dan BPS BPS.6% 11.2 2.60% (1990) 2.8b 3.00 (PPP) per kapita per hari Indeks Kedalaman Kemiskinan 20.5% ► ► ► 1.0% (2007)** 15.Tinjauan Status Pencapaian Target-target MDG Indikator Acuan Dasar Saat Ini Target MDG 2015 Status Sumber Tujuan 1.4% (2007)** 13.4 Laju pertumbuhan PDB per tenaga kerja Rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas Proporsi tenaga kerja yang berusaha sendiri dan pekerja bebas keluarga terhadap total kesempatan kerja 3. Susenas ** Kemkes.5 BPS.24% (2009) 62% (2009) PDB Nasional dan Sakernas 1. Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan Target 1A: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk dengan ngkat pendapatan kurang dari USD 1 (PPP) per hari dalam kurun waktu 1990-2015 Proporsi penduduk dengan pendapatan kurang dari USD 1.90% (2008) 1. termasuk perempuan dan kaum muda 1.8 Prevalensi balita dengan berat badan rendah / kekurangan gizi Prevalensi balita gizi buruk Prevalensi balita gizi kurang 31.1 10.2% (1989)* 23.9% * BPS.21% (2010) Berkurang Target 1B: Mewujudkan kesempatan kerja penuh dan produk f dan pekerjaan yang layak untuk semua. Riskesdas.70% (1990) 5.0% (1989)* 7.7 71% (1990) 64% (2009) Menurun ► Target 1C: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun waktu 1990-2015 1. Sakernas 1.52% (1990) 65% (1990) 2.4% (2007)** 5.8a 1. 2007 Status : • Sudah tercapai Akan tercapai ▼ Perlu perha an khusus Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 15 .8% (1989)* 18. Susenas 1.

06 (1993) 98.40% Laki-laki: 99.16 (2009) 102.9 17.00 ● ● ► ► BPS.86 (1993) 93.Rasio APM perempuan/ laki-laki di Perguruan Tinggi 3.73 (2009) 101.99 (2009) 96.Rasio APM perempuan/laki-laki di SMP .Rasio APM perempuan/ laki-laki di SD .00% 2.1a Rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15-24 tahun 100.Rasio APM perempuan/ laki-laki di SMA .27 (1993) 99. perempuan dan laki-laki 88.00% ► BPS.95 (2009) 99.85 (2009) 100.70% (1992)** 62.1.00 100.47% (2009) Perempuan: 99.50% 35.1 Angka Par sipasi Murni (APM) sekolah dasar Proporsi murid kelas 1 yang berhasil menamatkan sekolah dasar Angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun.00 100.47% (2009) 61. laki-laki maupun perempuan di manapun dapat menyelesaikan pendidikan dasar 2.60% (1990) 100.400 Kkal/kapita/hari .00% (1990)* 95. Susenas 100.32% ▼ ▼ BPS.00 ● Status : • Sudah tercapai Akan tercapai ▼ Perlu perha an khusus 16 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .1 Rasio perempuan terhadap laki-laki di ngkat pendidikan dasar. menengah dan nggi . Susenas Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua Target 2A: Menjamin pada 2015 semua anak-anak.3 96.86% (2009) 8. dan di semua jenjang pendidikan dak lebih dari tahun 2015 3.2 100.67 (1993) 74.000 Kkal/kapita/hari Acuan Dasar Saat Ini Target MDG 2015 Status Sumber 1.00% (2008)** 99.Lanjutan Tinjauan Status Pencapaian Target-target MDG Indikator Proporsi penduduk dengan asupan kalori di bawah ngkat konsumsi minimum: . Susenas 2.44 (1993) 99.00 100.00% ► ► *Kemdiknas **BPS.55% 100.21% (1990) 14. Susenas Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan Target 3A: Menghilangkan ke mpangan gender di ngkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005. Susenas *Kemdiknas ** BPS.2.00% (1990) 64.23% (2009)* 93.

2 23 4.3a 47.4% (2007) Meningkat ▼ 5.50% (1990) Saat Ini 33.1 Angka Kema an Balita per 1.90% (2009) Target MDG 2015 Meningkat Status Sumber BPS.000 perempuan usia 15-19 tahun 390 (1991) 40.3 Meningkat KPU Tujuan 4: Menurunkan Angka Kema an Anak Target 4A: Menurunkan Angka Kema an Balita (AKBA) hingga dua per ga dalam kurun waktu 19902015 4. 2007 4. SDKI 1991. SDKI 1991. SDKI 1991.000 kelahiran hidup Angka Kema an Bayi (AKB) per 1.3 49.2a Menurun BPS.7% (1991) 61.1 Angka Kema an Ibu per 100. Susenas 1992-2009 ▼ ► 5.Indikator Kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor nonpertanian Proporsi kursi yang diduduki perempuan di DPR Acuan Dasar 29.34% (2009) 102 BPS. cara modern Angka kelahiran remaja (perempuan usia 15-19 tahun) per 1.5% (1991) 44 (2007) 34 (2007) 19 (2007) 67.000 kelahiran hidup Angka Kema an Neonatal per 1.3 Meningkat Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu Target 5A: Menurunkan Angka Kema an Ibu hingga ga per empat dalam kurun waktu 1990-2015 5.000 kelahiran hidup Persentase anak usia 1 tahun yang diimunisasi campak 97 (1991) 68 (1991) 32 (1991) 44. 2007 5.2 ► ► 3.45% (2009) 17.70% (1992) 228 (2007) 77.1% (1991) 57.4 67 (1991) 35 (2007) Menurun ► BPS.4% (2007) Meningkat ► BPS. semua cara Angka pemakaian kontrasepsi (CPR) pada perempuan menikah usia 15-49 tahun saat ini. Sakernas Lanjutan Tinjauan Status Pencapaian Target-target MDG 3.2 Meningkat Target 5B: Mewujudkan akses kesehatan reproduksi bagi semua pada tahun 2015 5.000 kelahiran hidup Proporsi kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan terla h Angka pemakaian kontrasepsi /CPR bagi perempuan menikah usia 15-49.24% (1990) 12. 2007 Status : • Sudah tercapai Akan tercapai ▼ Perlu perha an khusus Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 17 . SDKI 1991.0% (2007) 32 ► ► ► ► 4. 2007 BPS.

SDKI 1991.1 kunjungan: .4% (2007) Menurun ▼ ▼ Es masi KemKes 2006 BPS.1 Prevalensi HIV/AIDS (persen) dari total populasi Penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko nggi terakhir Proporsi jumlah penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS Perempuan: 9.5% Laki-laki: 14.Lanjutan Tinjauan Status Pencapaian Target-target MDG Indikator Cakupan pelayanan Antenatal (sedikitnya satu kali kunjungan dan empat kali kunjungan) .4 kunjungan: Unmet Need (kebutuhan keluarga berencana/KB yang dak terpenuhi) Acuan Dasar Saat Ini Target MDG 2015 Status Sumber 5.6 9.0% 56.3% Laki-laki: 18.3 .8% (2002/03) Meningkat ▼ 6.Belum Menikah - Meningkat ▼ BPS. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Target 6A: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV/AIDS hingga tahun 2015 6.2 12.6% Laki-laki: 1.2% (2009) Perempuan: 10.5 75. SKRRI 2002/2003 & 2007 6. SDKI 2007 .5% (2007) Meningkat Meningkat ► ► ▼ BPS.Menikah - Meningkat ▼ BPS. per 30 November 2009 6.1% (2007) Menurun Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS.5 - Meningkat ▼ Status : • Sudah tercapai Akan tercapai ▼ Perlu perha an khusus 18 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . 2010.7% (1991) 93.0% (1991) 12. 2007 5.4% (2007) 0.3% 81. SKRRI 2007 Target 6B: Mewujudkan akses terhadap pengobatan HIV/AIDS bagi semua yang membutuhkan sampai dengan tahun 2010 Proporsi penduduk terinfeksi HIV lanjut yang memiliki akses pada obat-obatan an retroviral 38.7% (2007) Perempuan: 2.4% (2009) Kemkes.

9 6.16 (2008) 17. SDKI 2007 6.9c 6.6b 6. prevalensi dan ngkat kema an akibat Tuberkulosis Angka kejadian Tuberkulosis (semua kasus/100. Kemkes 2008 BPS.000 penduduk): Angka kejadian Malaria di Jawa & Bali (API) Angka kejadian Malaria di luar Jawa & Bali (AMI) Proporsi anak balita yang dur dengan kelambu berinsek sida Angka kejadian.10a ● ● * Laporan TB Global WHO.77 (2008) 3. Kemkes 2008 AMI.85 (2009) 0. 2009 ** Laporan Kemkes 2009 6.0% 343 (1990) 443 (1990) 92 (1990) 228 (2009) 244 (2009) 39 (2009) Dihen kan. 2009 6.17 (1990) 24.6c Angka kejadian dan ngkat kema an akibat Malaria Angka kejadian Malaria (per 1.10b 87. mulai berkurang 4.000 penduduk) Proporsi jumlah kasus Tuberkulosis yang terdeteksi dan dioba dalam program DOTS Proporsi jumlah kasus Tuberkulosis yang terdeteksi dalam program DOTS Proporsi kasus Tuberkulosis yang dioba dan sembuh dalam program DOTS 20.0% (2009)** 85.68 (1990) 0.7 Meningkat 6.0% Status : • Sudah tercapai Akan tercapai ▼ Perlu perha an khusus Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 19 .6 6.3% Rural: 4.9a ● ● ● Laporan TB Global WHO.6a 6.1% (2009)** 70.5% Urban: 1.0% (2000)* 91.10 (1990) 1.000 penduduk) Tingkat kema an karena Tuberkulosis (per 100.Indikator Acuan Dasar Saat Ini Target MDG 2015 Status Sumber Lanjutan Tinjauan Status Pencapaian Target-target MDG Target 6C: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru Malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015 6.10 6.6% -2007 Menurun Menurun Menurun ► ► ► ▼ Kemkes 2009 API.0% (2000)* 73.000 penduduk/tahun) Tingkat prevalensi Tuberkulosis (per 100.9b 6.

5 26.Lanjutan Tinjauan Status Pencapaian Target-target MDG Indikator Acuan Dasar Saat Ini Target MDG 2015 Status Sumber Tujuan 7: Memas kan Kelestarian Lingkungan Hidup Target 7A: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan yang berkesinambungan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumberdaya lingkungan yang hilang Rasio luas kawasan tertutup pepohonan berdasarkan hasil pemotretan citra satelit dan survei foto udara terhadap luas daratan Jumlah emisi karbon dioksida (CO2) Jumlah konsumsi energi primer (per kapita) Intensitas Energi 7.28 SBM/ USD 1.3 ► 7. 7.83% (2008) ► 7.98 (1991) 3.2b. Menurun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral 7.1 SBM/ USD 1.711.2d.08% (1998) 4.1 59.7 metrik ton (1992) 66.000 (1990) 0.332.45% (2008) 0 CFCs (2009) Berkurang 26% pada 2020 Menurun ▼ Kementerian Lingkungan Hidup 7.416.2c.64 SBM (1991) 5.000 (2008) 1.6 0. 7.5% (2000) 8.2 1.074 1.40% (2008) Meningkat ► Kementerian Kehutanan 7.35% (2009)** Meningkat ► * Kementerian Kehutanan ** Kementerian Kelautan & Perikanan Status : • Sudah tercapai Akan tercapai ▼ Perlu perha an khusus 20 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .626 Gg Gg CO2e CO2e (2008) (2000) 2.14% (1990)* 4.3 SBM (2008) 2.43% (2008) Meningkat ▼ Kemenhut 7.2a.40% (1990) 26. Elas sitas Energi Bauran energi untuk energi terbarukan Jumlah konsumsi bahan perusak ozon (BPO) dalam metrik ton Proporsi tangkapan ikan yang berada dalam batasan biologis yang aman Rasio luas kawasan lindung untuk menjaga kelestarian keanekaragaman haya terhadap total luas kawasan hutan Rasio kawasan lindung perairan terhadap total luas perairan teritorial Menurun 0 CFCs dengan mengurangi HCFCs dak melebihi batas Kementerian Lingkungan Hidup Kementerian Kelautan & Perikanan 7.70% (1990) 52.4 91.6 (2008) 3.

6a 8.55% Target 7D:Mencapai peningkatan yang signifikan dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh (minimal 100 juta) pada tahun 2020 7.82% 55.71% (2009)** 49.59% (1996) 51.89% (2009) 22.87% ▼ ▼ ▼ ▼ ▼ ▼ 7. perkotaan dan perdesaan Perkotaan Perdesaan 37.8a 7.9b 76.19% (2009) 69.12 Rasio pinjaman luar negeri terhadap PDB Rasio pembayaran pokok utang dan bunga utang luar negeri terhadap penerimaan hasil ekspor (DSR) 24.29% 65.50% (2009) 72.Indikator Acuan Dasar Saat Ini Target MDG 2015 Status Sumber Lanjutan Tinjauan Status Pencapaian Target-target MDG Target 7C: Menurunkan hingga setengahnya proporsi rumah tangga tanpa akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan sanitasi layak hingga tahun 2015 Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap air minum layak.8b 75.96% (2009) BPS.64% (1993) 11. dapat diprediksi dan dak diskrimina f 8. Susenas 7.41% BPS. berbasis peraturan.80% (2009) 109.9 62.75% (1993) 12.00% (2009) Berkurang ► ► Kementerian Keuangan Laporan Tahunan BI 2009 8.82% (2009) 45.12% (2009) 6% (2020) ▼ BPS.10% (1993) 47.8 68.10 Proporsi rumah tangga kumuh perkotaan 20.60% (1990) 45.30% (2003) 39.81% 7.51% (2009) 33. 2009 Target 8D: Menangani utang negara berkembang melalui upaya nasional maupun internasional untuk dapat mengelola utang dalam jangka panjang 8.61% (1993) 24.81% (1993) 53.12a Berkurang Status : • Sudah tercapai Akan tercapai ▼ Perlu perha an khusus Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 21 .00% (1996) 10.72% (2009) 51.6c Rasio Ekspor + Impor terhadap PDB (indikator keterbukaan ekonomi) Rasio pinjaman terhadap simpanan di bank umum Rasio pinjaman terhadap simpanan di BPR 41.80% (2000) 101.00% (2009) Meningkat Meningkat Meningkat ► ► ► BPS & Bank Dunia Laporan Perekonomian BI 2008. Susenas Tujuan 8: Mengembangkan Kemitraan Global untuk Pembangunan Target 8A: Mengembangan sistem keuangan dan perdagangan yang terbuka. perkotaan dan perdesaan Perkotaan Perdesaan Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi layak.6b 8. Susenas 7.73% (1990)* 50.9a 7.58% (1993) 31.

00% ► 8.65% (2009) Meningkat ► 8.41% (2009) 100.51% (2009) 50. Susenas 2009 8.16a Proporsi rumah tangga yang memiliki komputer pribadi - 8. terutama teknologi informasi dan komunikasi Proporsi penduduk yang memiliki jaringan PSTN (kepadatan fasilitas telepon per jumlah penduduk) Proporsi penduduk yang memiliki telepon seluler 4.02% (2004) Kementerian Komunikasi dan Informaka 2010 Kementerian Komunikasi dan Informaka 2010 BPS.16 Proporsi rumah tangga dengan akses internet - 11.00% ▼ 8. Susenas 2009 BPS.79% (2004) 82.14 3.Lanjutan Tinjauan Status Pencapaian Target-target MDG Indikator Acuan Dasar Saat Ini Target MDG 2015 Status Sumber Target 8F Bekerja sama dengan swasta dalam memanfaatkan teknologi baru.32% (2009) Meningkat ▼ Status : • Sudah tercapai Akan tercapai ▼ Perlu perha an khusus 22 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .15 14.

Pulang dari Ladang Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan .

24 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .

21 persen (Susenas) Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 25 . Indeks Kedalaman Kemiskinan: Acuan dasar (1990) : 2.60 persen (Bank Dunia/BPS) Saat ini (2008) : 5.00 (PPP) per hari dalam kurun waktu 1990-2015 Indikator 1.1.PPP) per kapita per hari: Acuan dasar (1990) : 20.Target 1A: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk dengan tingkat pendapatan kurang dari USD 1.00 (Purchasing Power Parity .70 persen (Susenas) Saat ini (2010) : 2.90 persen (Bank Dunia/BPS 2009) Target (2015) : 10.30 persen – telah tercapai 1. Proporsi penduduk di bawah USD 1.2.

8 12. 2008 Meskipun ngkat kemiskinan ekstrem Sudah tercapai.4 8. Susenas (berbagai tahun) dan Bank Dunia. Perubahan ini menyebabkan garis kemiskinan meningkat dan setara dengan dengan USD 1. biaya kesehatan yang pada awalnya hanya memperhitungkan standar biaya kesehatan di Puskesmas.9 7.00/ Kapita/Hari) Dibandingkan dengan Target MDG 25 20 14. Berdasarkan Susenas bulan Maret 2010.2).6 Persentase 15 9. Indonesia telah mencapai dan melebihi Target 1 untuk pengentasan kemiskinan ekstrem.1 menyajikan kecenderungan penurunan persentase penduduk yang diperkirakan memiliki ngkat konsumsi di bawah USD1. ngkat kemiskinan secara umum cenderung terus menurun selama periode 1976-1996 (Gambar 1. meningkat dari garis kemiskinan tahun 2009 yang sebesar Rp 200.2 7.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan Status Saat Ini Tingkat kemiskinan ekstrem (menggunakan ukuran USD 1.9 persen pada tahun 2008. Krisis ekonomi 26 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 2015 . di ngkatkan menjadi biaya perawatan pada dokter umum. Gambar 1. garis kemiskinan nasional adalah sebesar Rp 211. Indonesia juga menggunakan garis kemiskinan nasional. Kecenderungan ini diharapkan berkelanjutan hingga tahun 2015 dan seterusnya.9 9.2). penghitungan garis kemiskinan dilakukan dengan memperbaiki kualitas komoditas nonmakanan.3 7.6 persen pada tahun 1990 menjadi 5.6 5.726. Demikian juga dengan biaya transport yang semula hanya mencakup biaya transport dalam kota. Sebelum tahun 1998 garis kemiskinan nasional dihitung dengan menggunakan kualitas komoditas nonmakanan yang rela f lebih rendah. Gambar 1. Dengan menggunakan garis kemiskinan nasional yang berlaku.00 (PPP) per kapita per hari seper yang se ap tahun diukur oleh Bank Dunia/BPS selama 1990-2008. Akan tetapi. di ngkatkan menjadi biaya transport antar kota sesuai dengan perkembangan pola pergerakan (mobilitas) penduduk.262.8 20.7 2006 2007 6.5 (PPP) serta mengakibatkan jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan meningkat pada tahun 1998 (Gambar 1.1: Kemajuan dalam Mengurangi Kemiskinan Ekstrem (USD1.00 (PPP) per kapita per hari) telah berkurang di Indonesia dari 20.0 9. Ar nya. di ngkatkan menjadi biaya pendidikan SMP.5 6.0 6.2 Target: 10. terutama melipu perubahan penghitungan biaya pendidikan yang awalnya hanya biaya SD.9 2008 2009 10 5 0 1990 1993 1996 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2010 2011 2012 2013 2014 Sumber: BPS. sejak tahun 1998.

Meskipun ngkat kemiskinan telah menurun.91.0 35. ngkat kemiskinan melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 24.9 32. indeks Kedalaman Kemiskinan di daerah perdesaan adalah sebesar 3.7 37.3 28. Dalam kurun waktu 2002-2010.02 juta.0 49. Indeks kedalaman kemiskinan sempat meningkat pada tahun 2006. kesenjangan cenderung menurun sebagai dampak posi f dari langkah stabilisasi harga yang dilakukan.7 17. yaitu 0. Indikator ini sangat dipengaruhi oleh fluktuasi pengeluaran yang biasanya mengiku perubahan harga komoditas dasar dan indeks harga konsumen.2 21. Gambar 1.6 Keterangan: * Sejak tahun 1998 terjadi perubahan metode penghitungan kemiskinan dengan memperbaiki kualitas komoditas non makanan. perlu dilakukan berbagai upaya untuk bisa mempercepat laju penurunan penduduk miskin.4 16. Pada tahun 2009.3 1998* 1976 1978 1980 1981 1984 1987 1990 1993 1996 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 13. Setelah 2006. Namun demikian.6 60 50 40 54. Indeks Kedalaman Kemiskinan nasional adalah sebesar 2.6 24.27 persen.1 15. Untuk itu.8 16.3 Sumber: BPS.2 47.2 11. dibandingkan dengan penurunan dari tahun 2008 ke 2009 pada periode yang sama yang mencapai 1. Diukur dengan Menggunakan Indikator Garis Kemiskinan Nasional 31.1 18.3 40.5 30 19.82 persen.6 23. Susenas (berbagai tahun) Jumlah Penduduk Miskin (dalam Juta) % Penduduk Miskin Indeks Kedalaman Kemiskinan adalah indikator yang mengukur kesenjangan pengeluaran rata-rata penduduk miskin terhadap garis kemiskinan nasional.3 36. seiring dengan perekonomian yang telah pulih dan dengan dilaksanakan berbagai program penanggulangan kemiskinan.05.3 39.4 18. Selain itu. yang menunjukkan indeks Kedalaman Kemiskinan yang lebih nggi dibandingkan dengan di daerah perkotaan yang besarnya 1.33 persen (2010). sehingga dampak kenaikan harga pada masyarakat miskin juga berkurang (Gambar 1.1 35.2 48.4 20 10 0 26.2 17.5 dan pada tahun 2010 menurun lagi menjadi 2.0 16.7 14.2: Kecenderungan Jangka Panjang dalam Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia. Pada tahun 1998. Sementara itu.3).2 35.4 17. dan perkembangan harga-harga meningkat secara tajam.pada 1997/98 mengakibatkan peningkatan secara dras s jumlah orang Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan dan hal ini juga dipengaruhi oleh perubahan metode penghitungan kemiskinan. perkembangan kesenjangan menunjukkan penurunan. pada tahun 2010.2 persen. ke ka ngkat pertumbuhan PDB dicatat nega f.1 37.0 27.5 33.4 37.2. jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan masih besar yaitu 31. 15.0 38.9 38.4 13.1 30. Pemerintah Indonesia juga mengama indeks Kedalaman Kemiskinan yang ada di daerah perdesaan dan di perkotaan.9 22.2 25.0 40. penurunan angka kemiskinan dari Maret 2009 ke Maret 2010 mengalami pelambatan. Indeks Kedalaman Kemiskinan ter nggi ditemukan di Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 27 . pada waktu terjadi kenaikan harga BBM dan bahan konsumsi dasar lainnya.5 42. ngkat kemiskinan nasional berhasil diturunkan menjadi 13. Pada tahun 2009.

2 Sumber: BPS. Orang miskin. akses mereka terhadap pelayanan publik perlu di ngkatkan dan perlu upaya pemberdayaan masyarakat miskin agar lebih mampu berpar sipasi dalam berbagai kegiatan pembangunan. Perkembangan Indeks Kedalaman Kemiskinan. Aceh (4. orang miskin memiliki berbagai kelemahan.87). dan seringkali membuat mereka sulit keluar dari kemiskinan. penyandang cacat. sehingga kemiskinan kemungkin besar akan diwariskan ke generasi berikutnya.3. pelayanan pendidikan. pekerja serabutan. Papua (11. kecuali dilaksanakan kebijakan komprehensif dan program bantuan yang dapat memutus siklus kemiskinan.94). dak selalu memiliki akses ke layanan yang berkualitas.9 2. orang miskin adalah mereka yang: • dak dapat memperoleh pendapatan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dasar dan mencapai ketahanan pangan seper yang didefinisikan dalam garis kemiskinan nasional.0 2. tempat nggal dan infrastruktur. nelayan pesisir. dengan karakteris k yang berbeda serta penyebab yang sangat bervariasi antardaerah. buruh tani.8 2. Di samping meningkatkan kesempatan kerja bagi masyarakat miskin. serta perlu adanya program perlindungan sosial. air bersih.26).Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan perdesaan provinsi Papua Barat (12.5 2.1 3. dan Nusa Tenggara Timur (4.52). kemiskinan di Indonesia memiliki banyak sisi dan bersifat mul dimensi. Yogyakarta (4. Secara umum. tunawisma maupun pekerja sektor informal. biasanya adalah penganggur. Hal ini perlu menjadi perha an karena masyarakat miskin dan hampir miskin yang merupakan dua kelompok pendapatan (quin le) terendah dalam masyarakat umumnya memiliki akses yang lebih rendah terhadap 28 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . sanitasi.4 3. Maluku (6.74). dak diberdayakan untuk mengakses dan memanfaatkan sumber daya untuk mendukung mata pencaharian mereka atau untuk berpar sipasi sebagai anggota terhormat masyarakat. dan dak mampu mengatasi goncangan eksternal terhadap sumber penghasilan mereka. Gambar 1. dipas kan menghadapi kendala khusus dalam masyarakat di mana mereka nggal. Sulawesi Tengah (4.9 3. Gorontalo (6. termasuk pelayanan kesehatan.51).0 2.8). tahun 2002 – 2010 Indeks Kedalaman Kemiskinan 3. pemulung.47). Susenas (berbagai tahun) 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Kemiskinan dak hanya dilihat dari sisi ekonomi. • • • Selain itu.

Demikian pula. Pulau Sumatera menempa peringkat kedua dalam hal persentase jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan (21. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 29 . provinsi yang memiliki ngkat kemiskinan di atas rata-rata nasional adalah Provinsi Aceh. Sulawesi Tenggara dan Gorontalo juga tercatat memiliki ngkat kemiskinan lebih nggi dari ngkat nasional. Persentase Penduduk di Bawah Garis Kemiskinan Nasional dengan Wilayah Geografis Utama di Indonesia. Papua Barat (34.5).5% Papua 3. Bengkulu dan Lampung.3% Sumatera 21.21 persen) dan Bali (4. Di Pulau Jawa dan Bali. Dari 33 provinsi. Provinsi Sulawesi Tengah. Permasalahan penurunan ngkat kemiskinan di berbagai provinsi ini dak hanya terkait dengan peningkatan efek vitas program penanggulangan kemiskinan.48 persen). listrik. Maluku 1. Hal ini terutama berlaku untuk beberapa daerah yang terisolasi. Provinsi Jawa Tengah.3% Bali & Nusa Tenggara 7.1% Gambar 1.44 persen). dan antarprovinsi di Indonesia.air bersih. Secara absolut. Provinsi yang masih memiliki ngkat kemiskinan dua kali lipat lebih dari rata-rata nasional (13. terpencil. terutama di beberapa kabupaten yang ngkat kemiskinannya sangat nggi.4.83 persen) menetap di Pulau Jawa. Untuk pulau Sumatera. sementara 16 provinsi lainnya sudah memiliki ngkat kemiskinan di atas rata-rata nasional (Gambar 1. Yogyakarta dan Jawa Timur juga memiliki ngkat kemiskinan di atas rata-rata nasional. tetapi juga tergantung pada pembangunan ekonomi lokal dan penciptaan kesempatan kerja. Sumatera Selatan. yang juga menjadi kantong kemiskinan.88 persen) dan Maluku (27. Bali dan Nusa Tenggara Timur serta Sulawesi merupakan wilayah dengan peringkat ke ga dan keempat yang memiliki persentase jumlah penduduk yang masih hidup di bawah garis kemiskinan (Gambar 1. Tahun 2010 Sumber: BPS. sekolah. Di Pulau Sulawesi. Sementara itu.02 juta penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan pada tahun 2010.88 persen).4% Sulawesi 7. begitu pula yang berlaku untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).33 persen). Tiga provinsi dengan ngkat kemiskinan terendah pada tahun 2010 adalah Jakarta (3. 17 provinsi memiliki ngkat kemiskinan di bawah rata-rata nasional. Persebaran ngkat kemiskinan antar pulau secara geografis dapat dilihat pada Peta 1. Jawa 55. sanitasi. pelayanan kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya. jumlah masyarakat miskin masih cukup besar dan tersebar dak merata antarpulau. kesenjangan masih menjadi tantangan dalam menurunkan ngkat kemiskinan.74 persen). adalah Papua (36.8% Masih terjadi kesenjangan ngkat kemiskinan yang signifikan antarprovinsi di Indonesia. Susenas 2010.6% Kalimantan 3.4).1. bagian terbesar (55. Dari 31. Kalimantan Selatan (5.80 persen).

6 23.3 8.5 4. Tahun 2010 35 34.6 13.1 18.2 Persentase 27. mengakibatkan bahwa kehidupan (dan termasuk berusaha) di perkotaan menjadi lebih efek f.6 16.6 15. Tingkat kemiskinan di daerah perdesaan Indonesia adalah 16.0 23.9 36.1 9. Susenas 2010.8 7. Susenas 2010. namun rata-rata penurunan ngkat kemiskinannya hanya sebesar 0.7 Gambar 1.7 9.7 8.9 5.4 9.3 11. yaitu lebih rendah dibandingkan penurunan yang terjadi di daerah perkotaan.56 persen pada tahun 2010. Tingkat kemiskinan di daerah perdesaan secara signifikan masih lebih nggi dibandingkan dengan di daerah perkotaan di Indonesia. Secara jangka panjang terdapat kecenderungan adanya migrasi desa-kota dan proses urbanisasi yang semakin meningkat di sebagian besar negara.2 6.5 11.8 17. Menurut Provinsi.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan 30 25 20 15 10 5 - Sumber: BPS.6).3 18.1 18. termasuk Indonesia.87 persen pada tahun 2010 dengan rata-rata penurunan ngkat kemiskinan sebesar 1 persen per tahun.2 7. Persebaran Penduduk di Bawah Garis Kemiskinan Nasional. Peta 1. Tahun 2010 Sumber: BPS.5 Persentase Penduduk di Bawah Garis Kemiskinan Nasional.56 persen pada tahun 2010 dibandingkan dengan hanya 9.87 persen di wilayah perkotaan (Gambar 1.9 21.8 40 .1 8.1.72 persen pada tahun 1998 menjadi 16.5 16.3 15.92 persen pada tahun 1998 menjadi 9. 30 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia DKI Jakarta Bali Kalimantan Selatan Bangka Belitung Kalimantan Tengah Banten Kalimantan Timur Kepulauan Riau Jambi Riau Kalimantan Barat Sulawesi Utara Maluku Utara Sumatera Barat Jawa Barat Sumatera Utara Sulawesi Selatan INDONESIA Sulawesi Barat Jawa Timur Sumatera Selatan Jawa Tengah DI Yogyakarta Sulawesi Tenggara Sulawesi Tengah Bengkulu Lampung Aceh Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Gorontalo Maluku Papua Barat Papua Rata-rata nasional 3.76 persen per tahun. Hal ini telah mengakibatkan penurunan ngkat kemiskinan perkotaan dari 21.0 9. Sementara itu.3 13.3 11. Menurut Provinsi. walaupun ngkat kemiskinan perdesaan juga mengalami penurunan dari 25.5 6.0 21. Adanya investasi swasta dan kesempatan kerja yang meningkat lebih cepat di daerah perkotaan dan adanya penyediaan pelayanan publik di kawasan perkotaan yang kepadatan penduduknya lebih nggi.

Susenas (berbagai tahun).7 10 11. 4 20 Persentase 21.4 persen rumah tangga petani bergantung pada tabungan mereka sendiri (Sensus Pertanian.1 19.8 19. sehingga pendapatan petani serta produk vitasnya lebih rendah. Produk vitas dan pendapatan dari mereka yang bekerja di sektor pertanian umumnya dak seimbang dengan percepatan peningkatan pendapatan yang dicapai pada sektor lain. namun sektor ini hanya menyumbang 13-15 persen dari PDB. dan umumnya menggunakan sistem padat karya.6 9. 2003).6 13.9 15 13.30 25.1 14.8 20. Kecil dan Menengah (UMKM).6. Masyarakat miskin di daerah perdesaan di pulau Jawa sering kali dak memiliki lahan garapan dan bekerja sebagai buruh tani. tapi mereka menggunakan teknik pertanian tradisional.8 16. masih terjadi kesulitan untuk mengakses kredit formal. Di daerah dengan kepadatan penduduk yang jauh lebih rendah dibandingkan Pulau Jawa.5 21.3 9. Di banyak daerah.2 20.9 18.9 Gambar 1. • Sekitar 43-45 persen dari tenaga kerja nasional ak f di sektor pertanian.5 13.4 13. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 31 .0 20. Hanya 3.0 24.4 17. • • • Banyak masyarakat miskin bekerja di sektor informal sebagai pekerja di Usaha Mikro.5 5 14.6 14.8 persen dari seluruh rumah tangga petani pada tahun 2003. Pada masa dan setelah masa krisis ekonomi 2010 - Sumber: BPS. Di banyak daerah terpencil. Sekitar 98 persen dari semua unit usaha di Indonesia diklasifikasikan sebagai UMKM.7 11. Persentase Penduduk Miskin di Daerah Perkotaan dan Perdesaan di Indonesia.1 persen keluarga petani yang memperoleh pinjaman dari bank dan lembaga pinjaman nonbank. Tahun 1990-2010 16. lahan/tanah garapan dak sesubur tanah/lahan di pulau Jawa.1 13.8 10. UMKM memainkan peran strategis dalam perekonomian nasional dan menyediakan lapangan kerja bagi hampir 80 persen tenaga kerja Indonesia. kehutanan serta sektor perikanan. Keberadaan UMKM ini sangat pen ng dalam berbagai usaha di bidang pertanian. Kondisi ini menunjukkan bahwa produk vitas tenaga kerja di sektor pertanian hanya seper ga dari mereka yang bekerja di industri dan sektor lain.5 21. sering secara musiman memiliki penghasilan yang rendah.4 25 20.3 12. orang miskin memiliki akses terhadap tanah.7 1990 1993 1996 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Perkotaan Perdesaan Lebih dari 63 persen masyarakat miskin tergantung pada sektor pertanian.8 22. sementara 85.7 26. Jumlah tersebut adalah 1.8 12. dan pada tahun 2006 jenis usaha ini menyumbangkan hampir 58 persen terhadap PDB.

kabupaten. sementara pemerintah telah menerapkan reformasi demokrasi dan desentralisasi tanggung jawab untuk melaksanakan pembangunan kepada pemerintah daerah. memperkuat pelayanan publik 32 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Selama periode pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (20042009). Kewenangan yang lebih besar telah diberikan kepada pemerintahan desa. adanya perkembangan dan kemajuan UMKM akan sangat membantu masyarakat miskin keluar dari kemiskinan. Prioritas diberikan dalam peningkatan investasi untuk mencapai pertumbuhan yang pro-masyarakat miskin dan menciptakan lapangan kerja dengan memperbaiki lingkungan usaha. sebuah ngkat desentralisasi fiskal yang lebih nggi dibandingkan semua negara di Asia Timur. pembangunan infrastruktur. kecuali Cina (Bank Dunia 2007). walikota. Desentralisasi fiskal juga telah dilembagakan. kota dan provinsi sementara pemilu demokra s telah diadakan untuk semua anggota DPRD dan kepala desa. pemerintah provinsi dan kabupaten telah menghabiskan total 40 persen dari semua dana publik di Indonesia. UMKM terbuk tangguh dan mampu menyediakan lapangan kerja bagi orang miskin yang jumlahnya meningkat. Ibu dan Anak-anak Kembali dari Kebun Sejak tahun 2000 program-program nasional untuk mengurangi kemiskinan telah dilaksanakan. Dengan demikian. pemerintah memusatkan perha an pada pelaksanaan berbagai kebijakan dan program untuk mendorong pertumbuhan yang pro-masyarakat miskin. Pada tahun 2006. bupa serta gubernur. menciptakan pekerjaan dan mengurangi kemiskinan. yang mengakibatkan peningkatan dras s dalam transfer dana pemerintah pusat ke pemerintah daerah.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan tahun 1997/1998.

yang pada saat ini masih menghadapi keterbatasan dalam memperoleh akses ke layanan ekonomi. pemulihan global yang sudah mulai terjadi diharapkan akan meningkatkan investasi asing dan domes k pada tahun 2010 ini. selama 2009 terjadi penurunan investasi asing langsung (foreign direct investment) akibat adanya pertumbuhan nega f dalam perekonomian global. Sementara itu. Tantangan Tantangan utama adalah untuk mempertahankan dan bahkan menurunkan lagi target pengurangan proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan ( ngkat kemiskinan) pada tahun 2015 serta mengurangi kesenjangan dalam ngkat kemiskinan antarprovinsi dan kabupaten. yang dipandang sebagai komponen pen ng dari agenda nasional yang komprehensif untuk memutuskan siklus kemiskinan. kebijakan yang bersifat afirmasi dilaksanakan oleh pemerintah melalui program-program dalam Klaster 1 yang bersifat bantuan sosial dan pemenuhan kebutuhan dasar sehingga terjadi akumulasi aset sosial pada masyarakat miskin. 5. Program ini Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 33 . dan pada gilirannya akan merangsang pertumbuhan ekonomi masyarakat secara luas. Sementara itu. Dalam kaitan ini. Selanjutnya. menghasilkan peningkatan peluang juga bagi masyarakat miskin untuk berpar sipasi dalam pertumbuhan ekonomi. Inisia f nasional yang terkait dengan kesehatan dan pendidikan disajikan secara lebih rinci dalam bagian-bagian dari Roadmap yang berkaitan dengan MDGs 2. meski hal ini merupakan tantangan tersendiri mengingat secara global terjadi penurunan kinerja perekonomian pada saat ini. dengan program utamanya adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Tantangannya kemudian adalah menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. 6 dan 7. dilaksanakan program pemberdayaan usaha mikro dan kecil yang dilaksanakan melalui Klaster 3. Selanjutnya. pemerintah telah melaksanakan program bantuan dan perlindungan sosial untuk memberikan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin yang menjadi korban terparah dalam krisis ekonomi tersebut. Pemerintah dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan ngkat pertumbuhan yang nggi dalam rangka memperluas kesempatan kerja. 4. UMKM berpotensi besar untuk meningkatkan kesempatan kerja bagi masyarakat miskin. untuk memutus lingkaran kemiskinan diperlukan upaya untuk memperkuat ketersediaan pendidikan dan pelayanan kesehatan serta perlindungan sosial bagi masyarakat miskin. Investasi yang lebih baik oleh pemerintah maupun swasta dibutuhkan untuk mempercepat pertumbuhan. kesehatan. dalam Klaster 2 dilakukan program-program yang bersifat memberdayakan kaum miskin. penyediaan air dan sanitasi) dan meningkatkan kualitas lingkungan serta pengelolaan sumber daya alam. termasuk kesempatan kerja bagi masyarakat miskin. Sebagai respon langsung atas krisis ekonomi pada tahun 1998 dan untuk melindungi mereka yang rentan terhadap perubahan ekonomi tersebut. informasi pasar dan teknologi. yang dikenal dengan PNPM Mandiri.(pendidikan. seper kredit. untuk mendorong kegiatan ekonomi bagi masyarakat miskin dan sekaligus memperluas kesempatan kerja. Meskipun telah terjadi peningkatan investasi swasta dalam beberapa tahun terakhir. Namun.

Kebijakan dan Strategi Indonesia berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan di semua daerah. 34 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Empat tantangan utama untuk meningkatkan efek vitas program pengurangan kemiskinan di Indonesia adalah: (i) peningkatan kapasitas untuk perencanaan dan penganggaran yang berpihak pada masyarakat miskin dalam rangka mengubah strategi pengentasan kemiskinan ke dalam ndakan yang efek f pada ngkat komunitas. dan (iv) memperkuat kapasitas lokal untuk koordinasi. Menteri Sosial. mencakup upaya mencapai pertumbuhan yang berpihak pada masyarakat miskin dan berkelanjutan. tetapi dibutuhkan kepas an bahwa semua pemerintah daerah memiliki kapasitas untuk memanfaatkan dana publik secara efek f (Bank Dunia 2007). Desentralisasi fiskal merupakan potensi untuk meningkatkan penyediaan layanan publik serta mendukung pencapaian tujuan nasional untuk pengentasan kemiskinan. Menteri Koperasi dan UKM serta Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). seluruh kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan dikoordinasikan melalui Tim Nasional yang diketuai oleh Wakil Presiden RI dan beranggotakan kementerian teknis terkait. sehingga masyarakat miskin dapat berpar sipasi dalam proses pembangunan serta dapat memanfaatkan aset yang mereka miliki sebagai bekal untuk meningkatkan kesejahteraannya. beasiswa pendidikan bagi keluarga miskin dan bantuan langsung tunai kepada orang miskin. monitoring dan evaluasi program penanggulangan kemiskinan. Untuk melaksanakan itu semua. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Pemerintah berkomitmen untuk membangun lingkungan yang lebih kondusif bagi semua pihak yang bekerja untuk mengurangi kemiskinan dan mencapai tujuan pembangunan nasional. yaitu antara lain Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan melipu pemberian subsidi beras. Hal ini diharapkan dapat mengurangi ngkat kemiskinan nasional menjadi 8-10 persen pada tahun 2014 sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. (ii) meningkatkan ketepatan sasaran program penanggulangan kemiskinan. kecamatan dan desa. memberdayakan kaum miskin dan meningkatkan pelayanan publik. Pendekatan mul dimensi akan terus diterapkan. (iii) membangun kemitraan antara semua pemangku kepen ngan untuk memberdayakan masyarakat lokal terkait penggunaan sumber daya secara lebih efek f. Pemerintah terus berupaya untuk melembagakan perlindungan sosial ini ke dalam program kemiskinan dalam Klaster 1 sebagai cara memutus siklus kemiskinan dan meminimalkan dampak guncangan ekonomi pada masyarakat miskin. memberdayakan masyarakat serta meningkatkan pelayanan sosial dasar bagi semua lapisan masyarakat. dan meningkatkan keberdayaan mereka. Menteri Kesehatan. menciptakan lapangan kerja. Desentralisasi telah membawa tantangan baru baik bagi pemerintah pusat maupun daerah di Indonesia untuk secara efek f mengkoordinasikan program-program bagi pengurangan kemiskinan dan memanfaatkan sumber daya fiskal secara efek f untuk mendorong pertumbuhan inklusif. pelayanan kesehatan. Menteri Keuangan. Tantangan dalam pelaksanaan kebijakan bantuan dan perlindungan sosial adalah meningkatkan ketepatan sasaran. Menteri Pendidikan Nasional.

irigasi. Memperbaiki lingkungan usaha dengan menyempurnakan berbagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan yang berpihak pada masyarakat miskin. maka prioritas akan diberikan untuk peningkatan usaha berbasis organisasi petani dan intensifikasi produksi pertanian melalui peneli an dan upaya b. Perbaikan proses pengolahan pascapanen untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian akan diprioritaskan dalam rangka memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesempatan kerja di bidang pengolahan (nonpertanian) di daerah perdesaan. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 35 . c. Dalam kaitan dengan ini pertumbuhan PDB ditargetkan mencapai angka 6. selanjutnya meningkat menjadi 7 persen pada tahun 2014. mengurangi proses birokrasi dan memprioritaskan harmonisasi peraturan pemerintah pusat dan daerah yang berhubungan dengan investasi. yaitu: 1. Kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan yang berpihak pada masyarakat miskin yang berkelanjutan yang menjadi dasar untuk menyediakan lapangan kerja produk f.Prioritas nasional untuk mengurangi kemiskinan dilaksanakan melalui ga kebijakan utama. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diperkuat kapasitas petani dan kelompok tani untuk meningkatkan akses mereka pada teknologi dan informasi pasar dan memperkuat posisi tawar mereka di pasar. Di samping itu. pelabuhan. penganggaran dan pelaksanaan proyekproyek infrastruktur akan dipercepat dengan perha an khusus untuk mengurangi waktu yang dibutuhkan dalam penyelesaian hal-hal yang berkaitan dengan hak atas tanah. kemitraan swasta-publik pada proyek-proyek infrastruktur besar juga diprioritaskan. mencakup: menyempurnakan kerangka kerja regulasi. Investasi publik di sektor pertanian akan di ngkatkan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kegiatan ramah lingkungan dan kesempatan kerja di industri perdesaan.8 persen pada 2011-2013. sekaligus meningkatkan peluang di sektor industri. agroindustri juga akan memberikan kontribusi dalam mempercepat transisi pola kerja. sarana komunikasi) dan penghijauan/perbaikan lingkungan serta dilengkapi dengan kegiatan sektor nonpertanian (perdagangan. penekanan juga akan diberikan untuk memperkuat ketahanan pangan di ngkat rumah tangga melalui peningkatan ketersediaan komoditas pangan yang memenuhi standar kualitas yang nggi dan bergizi. Di samping meningkatkan nilai tambah. Strategi untuk mendorong pertumbuhan di sektor pertanian akan diintegrasikan dengan perbaikan infrastruktur pendukung (jalan. termasuk masyarakat miskin.6. Proses perencanaan. Pada saat yang bersamaan. termasuk bagi kaum miskin. Komponen-komponen dalam strategi untuk mencapai pertumbuhan yang berpihak pada masyarakat miskin adalah: a. Dukungan pendanaan untuk memperbaiki infrastruktur yang akan mendorong kegiatan ekonomi dan menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat. industri). mengurangi ketergantungan pada sektor pertanian.3 . Perha an khusus akan diberikan untuk memas kan bahwa peraturan pemerintah daerah (Perda) jangan sampai mengurangi ngkat kepercayaan investor dan mempercepat proses persetujuan investasi swasta. Mengingat hampir dua per ga dari masyarakat miskin berada pada sektor pertanian.

2 juta per rumah tangga per tahun untuk rumah tangga yang memenuhi kriteria kemiskinan dan persyaratan kesehatan dan pendidikan. Beasiswa akan diberikan untuk anak-anak dari rumah tangga miskin untuk bisa bersekolah baik di sekolah umum maupun madrasah di semua ngkatan pendidikan. Untuk kelancaran pelaksanaan PKH. Programprogram tersebut terutama adalah: (i) Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) akan di ngkatkan untuk memberikan layanan yang lebih baik tanpa biaya kepada masyarakat miskin dan mendeka miskin. Kementerian Kesehatan akan meningkatkan jumlah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebanyak 9. Tujuan dari program ini adalah untuk: meningkatkan kondisi sosial-ekonomi rumah tangga termiskin. Program ini menyediakan dana hingga Rp2. Kemsos bekerjasama dengan kementerian/lembaga di ngkat nasional serta pemerintah daerah dalam rangka penyediaan pelayanan pendidikan dan kesehatan. Rencananya PKH akan diperluas pelaksanaannya selama ga tahun ke depan untuk memberikan bantuan kepada 1. Penyelenggara program ini adalah Kementerian Sosial (Kemsos). 2.Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama akan memperluas pemberian beasiswa bagi masyarakat miskin. Selain itu. b. (ii) (iii) Beasiswa untuk Anak-anak dari Rumah Tangga Miskin . yaitu memiliki ibu hamil/baru melahirkan. Program-program kesehatan dan pendidikan terutama yang ditujukan untuk masyarakat dan siswa miskin akan terus dilaksanakan dan disempurnakan. Pemberdayaan masyarakat untuk mendukung percepatan penurunan kemiskinan melalui PNPM Mandiri (Klaster 2). ibu yang baru melahirkan dan anak-anak di bawah usia 6 tahun dari rumah tangga termiskin serta meningkatkan akses dan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan bagi rumah tangga termiskin.000 unit sampai dengan tahun 2014. Kebijakan afirmasi (affirma ve ac on) untuk memberdayakan masyarakat miskin dan memutus siklus kemiskinan: a. pada tahun 2014 ditargetkan 95 persen rumah sakit akan memberikan pelayanan kesehatan rujukan bagi pasien penduduk miskin dan hampir miskin peserta program Jamkesmas. anak balita dan anak usia sekolah pendidikan dasar. meningkatkan kesehatan dan status gizi ibu hamil.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan peningkatan perluasan dan akses terhadap lahan/tanah. Memperkuat Pelayanan dan Perlindungan Sosial (Klaster 1). meningkatkan ngkat pendidikan anak-anak dari rumah tangga termiskin. Untuk mendukung perluasan cakupan program. Pemerintah akan meningkatkan dukungan untuk 36 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Program Keluarga Harapan (PKH) akan diperkuat dan diperluas untuk menyediakan bantuan tunai bersyarat kepada rumah tangga sangat miskin. Dukungan pemerintah untuk memperkuat penyediaan pelayanan kesehatan dan pendidikan akan diperluas.17 juta rumah tangga miskin pada tahun 2014.

7. dirumuskan untuk membangun kemandirian masyarakat dan mengurangi kemiskinan.03% kegiatan di ngkat lokal.Bantuan Jalan Desa Gambar 1.000 desa di wilayah Indonesia. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri adalah program pembangunan berbasis masyarakat atau Community Driven Development (CDD). Ekonomi pelaksanaan PNPM Mandiri juga mencerminkan 10.1. Bagian terbesar dari hibah desa digunakan untuk memperbaiki infrastruktur transportasi desa (Gambar 1. Pada tahun 2010 PNPM Mandiri mencakup 6. Kotak 1.84% 3. Program ini dimulai pada tahun 2006 untuk mengkoordinasikan dan mensinergikan beberapa program pemberdayaan masyarakat yang dikelola oleh berbagai kementerian teknis. Pedoman ini memberikan fondasi dasar dan mekanisme untuk memberdayakan masyarakat dan mengelola pelaksanaan semua kegiatan.12% 55.890 fasilitator masyarakat telah dimobilisasi untuk mendukung pelaksanaan di ngkat masyarakat dan total Rp 10. Proses pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui fasilitasi dan pela han. telah disusun pedoman umum serta petunjuk pelaksana khusus. Program ini juga akan memanfaatkan Sistem Informasi Manajemen (SIM) terintegrasi yang menghubungkan SIM dari berbagai sub-program PNPM Mandiri dan mendukung analisis efek vitas pelaksanaan PNPM Mandiri Pada tahun 2009 pelaksanaan PNPM Mandiri In telah mencapai 6.81% Pendidikan 11. memperkuat kemampuan masyarakat untuk merumuskan dan melaksanakan kegiatan pembangunan. Hibah langsung diberikan sebesar Rp1.89% Kesehatan 13. Lembaga dan forum musyawarah komunitas.0 miliar per kecamatan per tahun. Hibah tersebut disalurkan ke masyarakat di ngkat desa untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang telah disepaka sebagai hasil proses pengambilan keputusan yang par sipa f. semua kecamatan di Indonesia. PNPM . Harmonisasi berbagai proyek ke dalam Akses/ Transportasi 1.16% pergeseran dari pendekatan proyek ke pendekatan Energi program.408 kecamatan.7).59% Lingkungan PNPM Mandiri telah mengurangi tumpang ndih 0.1 triliun per tahun dan cakupannya akan diperluas mencapai 78.1). Integrasi program berbasis pemberdayaan masyarakat ke dalam PNPM Mandiri.Program PNPM Mandiri rata-rata sebesar Rp 12.55% Selain membangun kemandirian masyarakat.328 kecamatan. Peran pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil dalam melaksanakan PNPM Mandiri akan di ngkatkan (Kotak 1.5 sampai Rp3.35 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 37 . dana wali amanah serta rencana aksi masyarakat akan dipergunakan sebagai alat untuk memperluas pembangunan berbasis masyarakat dan pengentasan kemiskinan. Pemanfaatan dana hibah PNPM oleh komunitas sesuai bidang kegiatan Sosial Pertanian 3. Sekitar 17. Untuk mendukung pelaksanaan PNPM Mandiri.

0 485.Bantuan Biaya Siswa Sebuah evaluasi dampak PNPM Mandiri tahun 2007 menunjukkan bahwa program telah memberikan manfaat yang signifikan. Alokasi anggaran dan jumlah kecamatan yang ditargetkan PNPM sepanjang 2007-2010 2007 PNPM SubPrograms PNPM Perdesaan PNPM Perkotaan PPIP/RIS PISEW P2DTK TOTAL Total (Miliar Rupiah) 1.993 838 2.831 Total (Rupiah Miliar) 4.805 885 215 237 186 6. (ii) PNPM Kegiatan Perikanan dan Kelautan yang dilaksanakan di 133 kecamatan di 120 kabupaten pada 33 provinsi.000 kegiatan ekonomi mikro telah menerima pinjaman mikro.800 dukungan staf (termasuk fasilitator).371 1.4 2010 Kecamatan 4. antara lain: i) ngkat pengangguran di lokasi PNPM adalah 1. ii) konsumsi rata-rata per rumah tangga meningkat. dan (iii) PNPM Agribisnis (PUAP) yang dilaksanakan pada tahun 2009 di 9. Tabel 1.1. Lebih dari itu.000 desa untuk mendukung pengembangan dan perluasan agribisnis.7 persen kesempatan untuk meningkat di atas garis kemiskinan nasional.145 479 237 186 6.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan Lanjutan Kotak 1.0 6.841 1. terdapat juga beberapa program PNPM pendukung yang sedang dilaksanakan. iii) kemiskinan berkurang dan rumah tangga miskin yang berpar sipasi di kecamatan memiliki 9. Ini termasuk: (i) PNPM Generasi sebagai inisia f untuk meningkatkan kapasitas generasi mendatang.2-11.0 499.5 387. fasilitas kesehatan.0 950. sekitar 650. Di samping program in PNPM Mandiri.408 Total (Miliar Rupiah) 9.414.994 3. triliun dari sumber pemerintah daerah dan pusat sedang disalurkan sebagai hibah (block grant) kepada masyarakat (Tabel 1.3 195.1 1.835 Kecamatan 1.328 38 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .421. PNPM Generasi . PNPM telah menciptakan kesempatan kerja bagi 21. berbagai infrastruktur telah dihasilkan dari PNPM Mandiri. Selain itu.834 955 792 186 4. termasuk perbaikan jalan desa.5 310.1.987.355.284.884 desa dan pada tahun 2010 akan mencapai 10.5 persen lebih rendah daripada di daerah kontrol. dan iv) akses terhadap fasilitas kesehatan meningkat sebesar 11 persen di daerah PNPM.8 550. Sekitar 62 juta hari kerja dari kegiatan telah dilaksanakan dan menyediakan lapangan kerja sementara bagi anggota masyarakat yang secara langsung terlibat dalam kegiatan pembangunan.767 Total (Miliar Rupiah) 6. fasilitas air bersih dan sanitasi.4 1.0 52.688.9 10.737.1).605. yang selama 2009 diterapkan di 164 kecamatan di 21 kabupaten di lima provinsi dan pada tahun 2010 akan dilaksanakan di 189 kecamatan di 25 kabupaten di lima provinsi.3 2009 Kecamatan 4.0 12. Hingga kini.4 2008 Kecamatan 2.1 1.5 497.509.

semua koordinasi kebijakan pengentasan kemiskinan akan diintensi an melalui pembentukan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan di bawah koordinasi kantor Wakil Presiden RI melalui Peraturan Presiden RI Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. melaksanakan. Upaya tersebut akan didukung oleh pelaksanaan suatu sistem pemantauan dan evaluasi yang akurat sehingga tercapai efek vitas program untuk pengentasan kemiskinan yang lebih baik. Kebijakan untuk Peningkatan Efek vitas Program Penanggulangan Kemiskinan: a. Kebijakan dan instrumen fiskal akan disempurnakan untuk memperbaiki dukungan kepada pemerintah daerah dalam memerangi kemiskinan dan menyediakan b. dan (iii) melalui perluasan Program Kredit Untuk Rakyat (KUR) (Klaster 3). Program KUR akan diperluas dengan menyalurkan dana melalui lembaga keuangan mikro lokal untuk meningkatkan akses usaha kecil dan menengah serta koperasi dalam memperoleh kredit. peternakan. (ii) penyediaan layanan informasi dan konsultasi bisnis.782 juta peminjam. Peningkatan koordinasi semua program penanggulangan kemiskinan yang terdapat dalam ga klaster merupakan kunci bagi pengentasan kemiskinan yang efek f. Upaya terpadu untuk pengentasan kemiskinan juga akan melibatkan kemitraan sektor swasta melalui CSR dan jenis-jenis pendanaan lainnya seper zakat. memonitor dan mengevaluasi program-program pengurangan kemiskinan. Sektor pengguna KUR terbesar adalah perdagangan. Peningkatan kapasitas lokal untuk merencanakan. koordinasi pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan di ngkat provinsi dan kabupaten/kota dilakukan melalui Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan di seluruh provinsi dan kabupaten/kota.103 triliun untuk sekitar 2. Dana penjaminan akan terus diberikan dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada Perum Jamkrindo dan PT Askrindo. begitu pula dengan sektor pen ng lainnya seper pertanian. c. direncanakan alokasi kredit dalam program KUR akan meningkat menjadi Rp 20 triliun per tahun. infaq dan sodaqoh. perikanan dan kehutanan. Selain itu. restoran dan hotel.c. Fasilitas untuk meningkatkan kapasitas UMKM dan koperasi akan diperluas melalui (i) kewirausahaan dan penguatan kapasitas manajemen bisnis. Prioritas akan diberikan untuk meningkatkan koordinasi kebijakan dan program untuk mengurangi kemiskinan.23 juta per pinjaman. tetapi dibutuhkan langkah-langkah untuk memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam merencanakan dan melaksanakan program-program pengentasan kemiskinan dengan par sipasi ak f masyarakat miskin dan meningkatkan komunikasi di antara semua pemangku kepen ngan terkait. Karena itu. Ukuran rata-rata pinjaman adalah Rp 7. Selama 2010-2014. Desentralisasi telah memindahkan proses pengambilan keputusan kebijakan publik yang lebih dekat dengan masyarakat. 3. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 39 . Upaya ini didukung dengan meningkatkan kapasitas dan fungsi dari berbagai kementerian teknis dan kantor-kantor pemerintah di ngkat nasional. perha an khusus akan diberikan kepada provinsi dan kabupaten/kota yang memiliki ngkat kemiskinan ter nggi. Penyaluran kredit di bawah KUR dari Mei 2008 sampai Mei 2010 mencapai Rp 20.

Dalam rangka melaksanakan kebijakan penanggulangan kemiskinan yang telah dijelaskan di atas dan terutama untuk mencapai target pengurangan kemiskinan pada tahun 2015. sehingga dapat mempertahankan dan bahkan menurunkan sesuai target MDG dengan ukuran USD 1.5 juta rumah tangga yang diklasifikasikan atas rumah tangga sangat miskin. telah dialokasikan dana dari Pemerintah Pusat dan Daerah untuk mendukung pencapaiannya.00 (PPP). pendanaan untuk pencapaian target-target tersebut juga dilakukan dengan memobilisasi dana dari pihak swasta melalui CSR. Peranan kebijakan fiskal telah berubah untuk memberikan dukungan bagi pertumbuhan yang lebih berkualitas. Memperbaiki target program kemiskinan.A. Kelompok ini sangat rentan terhadap shocks (seper karena kesehatan yang buruk. terutama di ngkat lokal dengan menggunakan basis data masyarakat miskin yang terus diperbarui. Dengan seluruh upaya dan sumber daya. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengentaskan masyarakat miskin keluar dari kemiskinan. konsolidasi fiskal akan diimbangi dengan peningkatan investasi (publik dan swasta) infrastruktur yang pen ng untuk menanggulangi kemiskinan dan sektor sosial (yaitu kesehatan dan pendidikan). Untuk mencapai target dan output yang telah disusun dalam RPJMN yang pada dasarnya juga diarahkan untuk pencapaian target-target dalam MDGs. jumlah rumah tangga sasaran berdasarkan Survei Pendataan Program Perlindungan Sosial tahun 2008 (PPLS 2008) adalah 17. d. data ini akan dimutakhirkan se ap 3 tahun sekali. 40 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Ketepatan sasaran program untuk target kelompok miskin dan hampir miskin dalam program penanggulangan kemiskinan akan terus disempurnakan secara sistema s. Pemerintah telah menyusun dan akan melaksanakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 yang berisi program dan kegiatan dengan targettarget spesifik untuk masing-masing kegiatan seper pada Tabel 1. Saat ini. khususnya Target 1. Selain itu. kelompok miskin dan hampir miskin menjadi sasaran program penanggulangan kemiskinan dari pemerintah. banjir. dan konflik) karena mereka dak memiliki dana yang cukup untuk mengatasi apabila kondisi tersebut terjadi.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan layanan di ngkat masyarakat. Agar hal ini terjadi. Oleh sebab itu.2 di bawah ini. Keseluruhan kegiatan ini akan dilaksanakan di bawah koordinasi Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan di ngkat Pusat dan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi dan Kabupaten/Kota di ngkat daerah. rumah tangga miskin dan rumah tangga hampir miskin. bencana kebakaran. Untuk keperluan targe ng yang lebih baik.

Prioritas Pembinaan. Tahun 2010-2014 59% 70.000 44.868 9.500 klinik KB pemerintah dan swasta (juta) Jumlah PUS anggota kelompok usaha ekonomi produk f yang menjadi peserta KB mandiri 2010 2011 2012 2013 2014 Terumuskannya kebijakan pembiayaan dan jaminan kesehatan Tabel 1.000 66.80 3. dan Target untuk Mengurangi Kemiskinan.97 4.89 3.8 13.000 Sumber: RPJMN 2010-2014 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 41 .5% 100% Pelayanan Kesehatan Dasar bagi Masyarakat Miskin (Jamkesmas) Pelayanan Kesehatan Rujukan bagi Masyarakat Miskin (Jamkesmas) Meningkatnya pelayanan kesehatan dasar bagi penduduk miskin di puskesmas 8.500 klinik pemerintah dan swasta (juta) Jumlah peserta KB ak f miskin (KPS dan KS-I) dan rentan lainnya yang mendapatkan pembinaan dan alokon gra s melalui 23.2 12.05 Pengembangan kebijakan dan pembinaan kesetaraan ber-KB 11.000 88.75 3.9 12.2.5 12. Pengembangan dan Pembiayaan Jaminan Kesehatan Output Persentase penduduk (termasuk seluruh penduduk miskin) yang memiliki jaminan kesehatan Jumlah puskesmas yang memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi penduduk miskin Persentase rumah sakit yang melayani pasien penduduk miskin peserta program Jamkesmas Jumlah peserta KB baru miskin (KPS dan KS-I) dan rentan lainnya yang mendapatkan pembinaan dan alokon gra s melalui 23.1 Meningkatnya pembinaan dan kemandirian ber-KB keluarga Pra-S dan KS-1 22.608 8.481 8. dan kemandirian ber-KB 3.737 8.3% 84.000 110.000 Meningkatnya pelayanan kesehatan rujukan bagi penduduk miskin di rumah sakit 75 80 85 90 95 Meningkatnya pembinaan. Prioritas. Output.4% 94. kesertaan.

2 Prioritas Output Jumlah mitra kerja yang memberikan bantuan modal dan pembinaan kewirausahaan kepada kelompok usaha ekonomi produk f Jumlah mitra kerja yang menjadi pendamping kelompok usaha ekonomi produk f 2010 2011 2012 2013 2014 Peningkatan Kemandirian ber-KB Keluarga Pra-S dan KS-1 34 34 34 34 34 3 3 3 3 3 Penyediaan Subsidi Pendidikan SD/SDLB Berkualitas Penyediaan Subsidi Pendidikan SMP/SMPLB Tersalurkannya subsidi pendidikan bagi siswa SD/SDLB Jumlah siswa SD/SDLB 2.000 540.396 714.298 miskin Penyediaan Layanan Kelembagaan Tersedianya keluasan dan kemerataan akses PT yang bermutu dan berdaya saing internasional Jumlah mahasiswa penerima beasiswa miskin Jumlah siswa miskin penerima beasiswa miskin MI Jumlah siswa miskin penerima beasiswa miskin MTs Jumlah siswa miskin penerima beasiswa miskin MA 65. MTs.220 3.780 3.000 640.000 70 .000 320.346.000 69.210 Tercapainya keluasan dan kemerataan akses SMP bermutu dan berkesetaraan gender di semua kabupaten dan kota Jumlah siswa SMP/ SMPLB sasaran beasiswa miskin 966.840 1. MA Penyediaan Subsidi Pendidikan Madrasah Bermutu 640.000 540.640.000 540.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan Lanjutan Tabel 1.000 540.000 540.417 560.000 320. dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di semua kabupaten dan kota Penyediaan dan Jumlah siswa SMA Peningkatan 378.767.000 320.370.000 67.064 1.000 Tersedianya beasiswa miskin MI.000 320.700 Tercapainya perluasan dan pemerataan akses pendidikan SMA bermutu. berkesetaraan Penyediaan dan gender dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.358 645.282 sasaran beasiswa miskin 3.200 3.653 800.783 501.535 390.195.000 67.100 1. berkesetaraan Kegiatan gender.000 42 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .275. di semua kabupaten dan kota Peningkatan Jumlah siswa SMK Pendidikan SMK sasaran beasiswa 305.476 475.000 320.916.103.020 1.898 614.000 640.000 640.000 640.395.000 Pendidikan SMA sasaran beasiswa miskin Tercapainya perluasan dan pemerataan akses pendidikan SMK bermutu.

538 59.538 59.000 Tersedianya pekerjaan untuk sementara waktu bagi penganggur dan terbangunnya sarana fisik yang dibutuhkan masyarakat Jumlah penganggur yang mempunyai pekerjaan sementara Jumlah kabupaten/ kota yang menyelenggarakan program pengurangan pengangguran sementara 24.000 210.000 orang 90.516.000 1.000 orang 90.538 Terlaksananya pemberian bantuan Tunai Bersyarat bagi RTSM (PKH) Bantuan tunai bersyarat (PKH) 816.404.000 210.000 210.5 juta Terwujudnya redistribusi tanah 210.538 59.116.000 Penyediaan Jumlah RTS subsidi beras untuk masyarakat penerima RASKIN (dengan 15 kg per miskin (RASKIN) RTS selama 12 bulan) Pengelolaan pertanahan Provinsi Terlaksananya redistribusi tanah (bidang) Penyediaan beras untuk seluruh rumah tangga sasaran dengan jumlah yang memadai dalam 1 tahun Target tahunan akan ditentukan berdasarkan hasil Pendataan Program Perlindungan Sosial 17.2 Tersedianya beasiswa mahasiswa miskin Jumlah mahasiswa miskin penerima beasiswa PTA Jumlah RTSM yang mendapatkan bantuan tunai bersyarat/PKH (RTSM) 59.000 4.000 1.000 210.000 orang Pengembangan dan Peningkatan Perluasan Kesempatan Kerja 231 kab/ kota 360 kab/ kota 360 kab/ kota 360 kab/ kota 360 kab/ kota Memfasilitasi pekerja anak untuk kembali ke dunia pendidikan atau memperoleh pela han keterampilan Berkurangnya jumlah anak yang bekerja pada bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak Peningkatan Perlindungan Pekerja Perempuan dan Penghapusan Pekerja Anak Jumlah pekerja anak yang ditarik dari BPTA Persentase pekerja anak yang ditarik dari BPTA yang dikembalikan ke dunia pendidikan dan/atau memperoleh pela han keterampilan 3.900 8.300 5.538 59.000 orang 90.000 1.000 1.400 100% 100% 100% 100% 100% Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 43 .600 6.Prioritas Penyediaan Subsidi Pendidikan Tnggi Islam (PTA) Output 2010 2011 2012 2013 2014 Lanjutan Tabel 1.170.000 orang 90.

Pengaturan.2 Prioritas Pengaturan.226 Pengaturan.940 kec.094 di 805 kec.946 kec.500 desa 7.900 2. Pengawasan dan Penyelenggaraan dalam Pengembangan Permukiman 237 237 237 237 237 Percepatan penanggulangan kemiskinan melalui pembangunan infrastruktur & pemberdayaan masyarakat desa (RIS PNPM+PPIP) Jumlah desa ter nggal yang terbangun prasarana dan sarana lingkungan permukiman 210 kab/kota (SANIMAS) 3. kec. di 460 kec. 4.949 kec.237 1. di 460 kec.237 1. 4. Pengawasan.968 desa 552 desa di 1. 2 kab/ kota/ 9 kec. 4.450 1. serta Pengelolaan Pengembangan Sanitasi Lingkungan Pembangunan prasarana dan sarana air limbah dengan sistem on-site (kab/ kota) 30 kab/kota sistem on-site 35 kab/kota sistem on-site 40 kab/kota sistem on-site 45 kab/kota sistem on-site 50 kab/kota sistem on-site 44 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . 482 desa di 460 kec. Pembinaan. Nias dan Nias Selatan (kecamatan) 237 kecamatan (RISE) Jumlah kecamatan yang dilayani oleh infrastruktur pendukung kegiatan ekonomi dan sosial 4. Pengembangan Sumber Pembiayaan dan Pola Investasi. 4.943 kec. Pembinaan.791 kec. dan Pengawasan dalam Penataan Bangunan dan Lingkungan Termasuk Pengelolaan Gedung dan Rumah Negara serta Penyelenggaraan Bangunan Gedung dan Penataan Kawasan/ Lingkungan Permukiman Output 2010 2011 2012 2013 2014 Pemberdayaan masyarakat dan percepatan penanggulangan kemiskinan & pengangguran di kelurahan/ kecamatan (PNPM Perkotaan) Jumlah kelurahan/ desa yang mendapatkan pendampingan pemberdayaan sosial 8. Pembinaan.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan Lanjutan Tabel 1. Pemberdayaan masyarakat dan percepatan penanggulangan kemiskinan & pengangguran di kecamatan dan desa/(PNPM-Perdesaan) Peningkatan Kemandirian Masyarakat Perdesaan (PNPM-MP) Cakupan penerapan PNPM-MP dan Penguatan PNPM Cakupan wilayah kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana krisis di Kab.482 desa 4.

000 usaha Peningkatan realisasi penyaluran kredit program (KKP-E dan KUR). Pengembangan Sumber Pembiayaan dan Pola Investasi. Pengawasan. serta Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Output 4.000 10.472 1.165 500 700 813 Meningkatnya keberdayaan dan kemandirian 2 juta usaha skala mikro di seluruh kawasan minapolitan pesisir. Pembinaan.000 usaha 120 kab/ kota 480 orang 800.000 usaha 120 kab/ kota 480 orang 800.5 untuk pertanian triliun (KKP-E dan KUR) Rp 2 triliun Rp 2 triliun Rp 2 triliun Rp 2.000 10.2 Jumlah desa yang terfasilitasi 1. pembiayaan syariah. dan pengembangan Gapoktan PUAP Realisasi penyaluran kredit program Rp 1.650 desa (PAMSIMAS) 2010 2011 2012 2013 2014 Lanjutan Tabel 1.000 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 45 . Jumlah kelompok usaha mikro di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang bankable Pengembangan sarana usaha mikro LKM (unit) Dana Pemberdayaan Masyarakat Desa/ PNPM MK Tenaga pendamping Kelompok Usaha Mikro (usaha) 100 unit 100 unit 100 unit 100 unit 100 unit Pelayanan Usaha dan Pemberdayaan Masyarakat 120 kab/ kota 480 orang 800.000 10.000 usaha 120 kab/ kota 480 orang 800.5 triliun Pengembangan Agribisnis Perdesaan (PUAP) dan Penguatan Kelembagaan Ekonomi Perdesaan lewat LM3 Realisasi penyaluran pembiayaan Syariah dan pembiayaan Rp 4 triliun Rp 5 triliun Rp 6 triliun Rp 7 triliun Rp 8 triliun komersial untuk sektor pertanian (triliun) Jumlah sentrasentra usaha pertanian di perdesaan Jumlah Gapoktan PUAP (unit) 200 200 200 200 200 10. dan 1 unit BLU pembiayaan.Prioritas Pengaturan. pengembangan sentra usaha pertanian perdesaan. pembiayaan komersial.000 usaha 120 kab/ kota 480 orang 800.000 10. beroperasinya sarana usaha mikro di 300 kabupaten/kota pesisir.

yang didukung pengembangan sinergi dan kerja sama dengan lembaga keuangan/ pembiayaan lainnya. 5 MOU 5 MOU 5 MOU 5 MOU 5 MOU Perluasan pelayanan kredit/ pembiayaan bank bagi koperasi dan UMKM. 186 kec. 10 Prov. 80 kab**) 4. 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 46 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .596 desa 80 kab **) 80 kab **) 80 kab **) Meningkatnya jumlah desa wisata melalui PNPM bidang pariwisata Jumlah desa wisata 200 450 550 450 350 Tersedianya anggaran penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Persentase tersedianya anggaran penjaminan KUR 100% 100% 100% 100% 100% Meningkatnya koordinasi kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Koordinasi Kebijakan Kredit Persentase rekomendasi Usaha Rakyat 60% 65% 70% kebijakan KUR yang (KUR) terimplementasikan Kerja sama pembiayaan yang melibatkan bank dan lembaga keuangan/ pembiayaan lainnya (MOU) Terfasilitasinya Lembaga Penjaminan Kredit Daerah (LPKD) yang melakukan co.2 Prioritas Pengembangan Kebijakan. 7 Prov. 8 Prov. 9 Prov. Koordinasi dan Fasilitasi Penguatan Kelembagaan Pemerintah Daerah Ter nggal (P2DTK/ SPADA)–PNPM Peningkatan PNPM Mandiri Bidang Pariwisata Dukungan Penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Output 2010 2011 2012 2013 2014 Meningkatnya pemulihan dan pertumbuhan sosial ekonomi daerah-daerah ter nggal Jumlah kab.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan Lanjutan Tabel 1. 10 Prov. kec dan desa daerah ter nggal 51 kab.guarantee dengan lembaga penjaminan nasional (Prov) Jumlah Koperasi yang dapat mengakses kredit/ pembiayaan bank melalui linkage Jumlah LKM (koperasi dan BPR) yang melakukan kerjasama pembiayaan dengan Bank 75% 80% Meningkatnya jangkauan pelayanan kredit/pembiayaan bank bagi koperasi dan UMKM.

Meningkatnya kapasitas dan jangkauan lembaga keuangan bukan bank untuk menyediakan pembiayaan usaha bagi koperasi dan UMKM.200 orang 1. termasuk LKM yang berbadan hukum koperasi. sewa guna usaha. termasuk untuk akreditasi dan ser fikasi pelayanan LKM.200 orang 1.000 pengelola LKM 1.Prioritas Output Jumlah Lembaga Penjaminan Kredit Daerah 2010 2 2011 2 2012 2 2013 3 2014 3 Lanjutan Tabel 1. perusahaan modal ventura.000 pengelola LKM 1. disertai dengan pengembangan jaringan informasinya. Jumlah SDM Pengelola KSP/KJKS yang berser fikat (orang) Jumlah LDP KJK dan TUK yang diperkuat (unit) Jumlah Manajer/ kepala cabang KJK yang diikutkan diklat dan ser fikasi kompetensi LKM (orang) 1. Jumlah LKM yang terda ar dan terakreditasi sesuai ketentuan hukum tentang LKM.000 pengelola LKM 1. Peningkatan kapasitas kelembagaan dan kualitas layanan lembaga keuangan mikro (LKM). Jumlah lembaga pembiayaan bukan bank yang dibentuk 100 KSP/KJKS 1 LMVD 100 KSP/ KJKS 1 LMVD 100 KSP/ KJKS 1 LMVD 100 KSP/ KJKS 1 LMVD 100 KSP/ KJKS 1 LMVD Meningkatnya kapasitas kelembagaan LKM. 100 LKM 100 LKM 100 LKM 100 LKM 100 LKM Meningkatnya kapasitas dan kualitas layanan LKM Jumlah pengelola LKM yang mengiku pela han. pegadaian. dalam mendukung pembiayaan bagi koperasi dan UMKM.2 Peningkatan peran lembaga keuangan bukan bank.000 pengelola LKM 1. anjak piutang. seper KSP/KJKS.200 orang - 2 Unit 2 Unit 2 Unit 2 Unit 900 orang 900 orang 900 orang 900 orang 900 orang Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 47 .200 orang 1.200 orang 1.

Rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas: Acuan dasar (1990) : 65 persen (Sakernas) Saat ini (2009) : 62 persen (Sakernas) 1. Laju pertumbuhan PDB per tenaga kerja: Acuan dasar (1990) : 3.000 orang 1.7. pela han dan penyuluhan perkoperasian bagi anggota dan pengelola koperasi. termasuk perempuan dan kaum muda Indikator 1.000 orang 1.5. Proporsi tenaga kerja yang berusaha sendiri dan pekerja keluarga terhadap total kesempatan kerja: Acuan dasar (1990) : 71 persen (Sakernas) Saat ini (2009) : 64 persen (Sakernas) Status Saat Ini Kondisi ketenagakerjaan di Indonesia sejak tahun 1970-an dipengaruhi oleh transisi demografi dalam struktur penduduk dan dua krisis ekonomi yang terjadi yaitu tahun 1997/1998 dan 2007/2008.000 orang Sumber: RPJMN 2010-2014 - 1.4.2 Prioritas Revitalisasi sistem pendidikan. Output 2010 2011 2012 2013 2014 Sistem pendidikan.24 persen 1. dalam stuktur penduduk yang didominasi usia muda pada tahun 1970-an menjadi didominasi usia menengah dewasa ini telah mendorong jumlah 48 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan Lanjutan Tabel 1. serta calon anggota dan kader koperasi semakin efek f.000 orang 1.000 orang 1.750 orang 1.750 orang Target 1B: Menciptakan kesempatan kerja penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak untuk semua. Jumlah peserta peningkatan pemahaman koperasi di kalangan masyarakat kelompok strategis (orang) Jumlah peserta pendidikan dan pela han peningkatan pemahaman koperasi pada SDM koperasi (orang) 1. serta calon anggota dan kader koperasi.750 orang 1.750 orang 1. Transisi demografi. pela han dan penyuluhan perkoperasian bagi anggota dan pengelola koperasi.52 persen Saat ini (2009) : 2.

dan jasa sangat berfluktuasi. Berkaitan dengan hal tersebut. sektor pertanian juga mengalami pertumbuhan yang ter nggi sebesar 12.5 persen. Setelah krisis (post-crisis) pertumbuhan ngkat produk vitas tenaga kerja cenderung mengalami penurunan.02 juta. dan yang terendah di tahun 1998 sebesar -12. dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 2. dibandingkan setelah krisis sebesar 20–23 persen PDB.15 persen. Sejak 1997 penciptaan lapangan kerja tersendat oleh dua krisis ekonomi yang cukup serius. Krisis ekonomi 1997/1998 telah memicu depresi perekonomian nasional sehingga lapangan kerja sektor formal berkurang cukup besar. pada ngkat sebelum krisis. Dalam sepuluh tahun terakhir. Pertumbuhan PDB per tenaga kerja pada masa sebelum krisis 1997/1998 (periode 19901995) rela f lebih nggi yaitu sebesar 5. Hal ini berar rata-rata peningkatan jumlah penduduk usia kerja per tahun sebesar 3.41 persen pada tahun 2010. Apabila pada tahun 1971 jumlah penduduk usia kerja berjumlah 63. pertumbuhan PDB per tenaga kerja di sektor industri.36 persen per tahun untuk kurun waktu 10 tahun.91 persen. yaitu menjadi rata-rata 3.36 persen pada tahun 1999.68 persen dan yang terendah tahun 2001. Rendahnya laju pertumbuhan produk vitas tenaga kerja setelah krisis tersebut antara lain disebabkan oleh rendahnya akumulasi modal per tenaga kerja pada periode pasca krisis. Dibutuhkan waktu satu dekade untuk memulihkan ngkat kegiatan ekonomi per penduduk.4 persen per tahun. Berbeda dengan industri dan pertanian. Di sektor industri laju pertumbuhan ter nggi terjadi tahun 1995.penduduk usia kerja meningkat dengan cepat. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 49 . maka pada tahun 2010 ini diperkirakan telah mencapai 171. dan sebaliknya proporsi pekerja informal telah menurun dalam beberapa tahun terakhir. sebesar 18. Walaupun berbagai rintangan dan hambatan menghadang di tengah jalan.50 persen. yaitu tahun 1995.42 persen dibandingkan dengan pada masa setelah krisis (periode 1998/1999—2008).53 persen. besaran investasi sekitar 28–31 persen PDB.89 persen pada tahun 1996 menjadi 6. Tingkat pengangguran terbuka telah berhasil diturunkan dari 8. di sektor jasa. termasuk perempuan dan kaum muda” secara rinci adalah sebagai berikut: 1. pertanian. Krisis ekonomi global 2007/2008 juga telah menghambat pertumbuhan ekonomi nasional dan oleh karena itu juga penciptaan lapangan kerja. Jumlah pengangguran terbuka meningkat dari 4. tahun 1990-2009 cukup bervariasi.10 persen pada tahun 2001 menjadi sebesar 7. Sebelum krisis. pencapaian target MDG juga menunjukkan perkembangan yang selaras. Indikator lainnya seper proporsi pekerja formal secara keseluruhan meningkat. Pertumbuhan produk domes k bruto per tenaga kerja.34 juta. Berbagai indikator “penciptaan kesempatan kerja penuh dan produk f dan pekerjaan yang layak untuk semua. sebesar -0. namun kecenderungan jangka panjang penciptaan lapangan kerja masih menunjukkan arah yang posi f. Sementara itu laju pertumbuhan penduduk dalam kurun waktu yang sama hanya sebesar rata-rata 2. Pada tahun yang sama. diukur dari pendapatan per kapita.

tahun 2006. 1996.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan pertumbuhan produk vitas tenaga kerja yang ter nggi terjadi setelah krisis ekonomi. yang telah mendorong pengurangan kemiskinan dan taraf kehidupan yang lebih baik. tahun 1990. dengan pendidikan formal rata-rata kurang dari enam tahun. Sakernas dan Sta s k Indonesia. Terdapat pergeseran dalam produk vitas tenaga kerja. Pertumbuhan ekonomi yang kuat antara 1990-1997 dan antara 20042008 memungkinkan pertumbuhan lapangan kerja melampaui pertumbuhan angkatan kerja. ranking Indonesia menjadi 35 dari 56 negara. telah membantu dalam memfasilitasi mobilitas tenaga kerja lintas sektor. Tingkat Pertumbuhan Produk vitas Pekerja (persen). Kesempatan kerja yang tercipta telah menyerap tenaga kerja yang baru memasuki pasar kerja. Secara implisit hal ini terlihat dari semakin baiknya urutan daya saing Indonesia. Interna onal Labor Organiza on (ILO) mendefinisikan rasio tenaga kerja terhadap penduduk (employment-to-popula on ra o. peningkatan investasi dalam pengembangan pela han dan keterampilan pekerja. Di Indonesia penduduk usia kerja didefinisikan sebagai penduduk berusia 15 tahun ke atas. Sebelumnya. khususnya di sektor pertanian. Sementara itu. Menurut laporan IMD-World Compe veness Yearbook tahun 2010. diiringi dengan meningkatnya kualitas dan kompetensi pekerja. Indonesia menempa ranking ke-52. 50 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 2009 . 2. Tingkat pertumbuhan produk vitas pekerja (%) Gambar 1. Namun dengan meningkatnya ngkat pendidikan angkatan kerja khususnya untuk periode 2005-2009. 1999-2009 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Pertanian Industri Jasa Total Menurut World Employment Report tahun 2005. Tahun 1990--2009 25% 20% 15% 10% 5% 0% -5% -10% -15% -20% Sumber: BPS. rendahnya produk vitas tenaga kerja Indonesia disebabkan karena sebagian besar angkatan kerja masih berpendidikan rendah. EPR) sebagai proporsi penduduk usia kerja yang bekerja di suatu negara. Selain itu.57 persen pada tahun 2005. Investasi di sektor pertanian telah memberikan andil terhadap peningkatan produk vitas pekerja. produk vitas pekerja Indonesia semakin membaik. penciptaan kesempatan kerja lebih kepada pekerjaan informal.8.99 persen (Gambar 1.8) . Rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia kerja dalam kurun waktu 1990-2009 mengalami perubahan yang rela f kecil dan cukup dinamis. sebesar 10. 1993. pertumbuhan yang terendah pada tahun 1998 sebesar -13. Namun pada saat krisis ekonomi.

penurunan rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia kerja merupakan keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan taraf pendidikan menengah seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat atas pen ngnya pendidikan. Tahun 1990-2009 EPR Perkotaan EPR Perdesaan EPR Total Sumber: BPS. serta membaiknya ngkat pendapatan masyarakat. Hal ini juga terlihat dari pertumbuhan bukan angkatan kerja yang lebih besar dibandingkan dengan angkatan kerja. 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Gambar 1. rasio laki-laki berkisar 77-80 persen. terdapat penurunan rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia kerja dari 65 persen menjadi 62 persen.9 menunjukkan bahwa selama sepuluh tahun terakhir rasio tenaga kerja terhadap penduduk usia kerja di Indonesia berada pada kisaran 59-64 persen. Selama dua dekade ini. Dari kondisi tersebut. Sakernas. Indikator lain yang menggambarkan adanya perbaikan adalah meningkatnya proporsi angkatan kerja dengan ngkat pendidikan yang lebih nggi dalam pasar kerja Indonesia. berkisar antara 54-58 persen dan di perdesaan antara 63-70 persen.Besarnya lapangan kerja informal memungkinkan menjadi peredam dinamika perubahan pasar kerja. Gambar 1. untuk kelompok usia 15-19 tahun. Di perkotaan. serta turunnya rasio ngkat par sipasi angkatan kerja antara 2000-2009.9. Tingkat keberlanjutan sekolah yang meningkat ditunjukkan oleh semakin banyaknya siswa SMP yang melanjutkan sekolah ke ngkat SMA. 1990-2009 Secara nasional. sedangkan rasio perempuan hanya sekitar 41-48 persen. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 51 . Sementara itu. Pertumbuhan penduduk usia kerja yang lebih nggi dibandingkan dengan pertumbuhan angkatan kerja mengindikasikan adanya preferensi yang lebih nggi untuk melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya dibandingkan untuk mencari pekerjaan setelah lulus sekolah. dan menjadi peredam naik turunnya rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia kerja. rasio tenaga kerja terhadap penduduk usia kerja di perkotaan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan. Rasio Kesempatan Kerja Terhadap Penduduk Usia Kerja.

56 0.67 0.57 0.69 0. Sulawesi Selatan dan DKI Jakarta (Gambar 1.54 0.64 0.66 0.65 0.75 0.74 0. yaitu dari 80 persen menjadi 74 persen. provinsi lain juga mengalami penurunan meskipun dak sebesar kedua provinsi tersebut.70 0. Rasio tenaga kerja yang bekerja di sektor tersebut berkurang dari 71 persen pada tahun 1990 menjadi 64 persen tahun 2009.68 0.56 0.57 0.59 0.53 0. rasionya menurun dari sebesar 66 persen menjadi 55 persen.62 0. tahun 2009 menjadi sebesar 67 persen.58 0. Pada tahun 1990.65 0.66 0.65 0.70 0.57 0.68 0. Maluku. 52 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .66 0. Tahun 1990.66 0. Pada periode yang sama untuk Provinsi Aceh. dan Provinsi Lampung dari 70 persen menjadi 63 persen. Provinsi Riau menurun rela f kecil dari 58 persen menjadi 57 persen. Agustus 2009 Agustus 2006 Agustus 2009 3.72 0.70 0. dari 33 provinsi di Indonesia Provinsi Bengkulu dan Aceh rasio penurunannya cukup besar.52 0.63 0.67 0.6 0. Rasio Kesempatan Kerja Terhadap Penduduk Usia Kerja.74 0.6 0. Tetapi untuk perkotaan.48 0.55 0. rasio tenaga kerja terhadap penduduk usia kerja di Bengkulu sebesar 79 persen.69 0.63 0.59 0. Selain Provinsi Bengkulu dan Aceh.67 0.67 0. Sakernas.67 0.6 0. proporsinya meningkat dari 44 persen menjadi 49 persen.77 0.58 0.65 0.64 0.61 0.6 0. yaitu Provinsi Bali. Menurut Provinsi.67 0.59 0.57 0.63 0.57 0.69 0.62 0.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan Penurunan rasio tenaga kerja terhadap penduduk usia kerja pada ngkat provinsi sangat berfluktuasi.63 0.52 0. 2006 dan 2009 Bengkulu Nusa Tenggara Timur Bali Kalimantan Tengah DI Yogyakarta Kalimantan Barat Papua Jawa Tengah Sulawesi Tenggara Lampung Nusa Tenggara Barat Kalimantan Selatan Jawa Timur Aceh Sumatera Utara Sulawesi Tengah Jambi Sumatera Selatan INDONESIA Kalimantan Timur Sumatera Barat Sulawesi Utara Jawa Barat Riau Maluku Sulawesi Selatan DKI Jakarta Maluku Utara Papua Barat Gorontalo Sulawesi Barat Bangka Belitung Kepulauan Riau Banten 1990 0.63 0.70 0.54 Sumber: BPS. Agustus 2006.63 0. Membaiknya kualitas lapangan kerja yang tercipta mendorong adanya penurunan proporsi tenaga kerja yang berusaha sendiri dan pekerja keluarga (pada umumnya merupakan pekerja informal) terhadap total kesempatan kerja.10.64 0.68 0.75 0.65 0. 1990.10). Sebagian besar provinsi mengalami penurunan rasio tenaga kerja terhadap penduduk usia kerja.79 0.59 0.66 0.59 0.62 0.51 0.72 0. Pada tahun 2009.59 0.64 0.57 0. Di perdesaan proporsi pekerja rentan juga menurun mengiku pola nasional.61 0.70 0.70 0.63 0. Sebagai contoh.66 0. Provinsi Sulawesi Tenggara dari 70 persen menjadi 67 persen.58 0.59 0.64 0.55 0.59 0. Papua. Namun demikian terdapat 5 provinsi yang mengalami peningkatan.67 0.57 0.67 0. Gambar 1.59 0.51 0.62 0.62 0.57 0.63 0.

Meningkatnya pekerja di sektor jasa dan kemajuan dalam capaian pendidikan perempuan antara lain ikut memberi kontribusi bagi kenaikan pertumbuhan lapangan kerja di kalangan perempuan. Proporsi Pekerja Rentan Terhadap Total Jumlah Pekerja. Tahun 1990-2009 1990 1991 1992 1993 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Nop-05 Agust-06 Agust-07 Agust-08 Agust-09 Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan Total Sumber: BPS . ketentuan pekerja kontrak dan outsourcing telah Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 53 .9 persen per tahun untuk periode 2008-2009. Sebagian besar mereka yang berusaha sendiri dan pekerja keluarga adalah perempuan. memberikan upah tetap. dan memiliki perlindungan yang memadai. ke dakpas an hak kepemilikan proper . Tantangan Memperluas kesempatan kerja formal seluas-luasnya.2 persen per tahun karena perempuan di perdesaan mampu meninggalkan pekerjaan berkualitas rendah dan keluar dari angkatan kerja (World Bank Report. pekerja formal juga mempunyai lebih banyak kesempatan untuk memupuk keterampilan. Faktorfaktor yang memberikan kontribusi terhadap lemahnya iklim investasi secara keseluruhan telah terdokumentasikan dengan baik dan mencakup lambannya pemulihan yang antara lain persoalan infrastruktur. Lapangan kerja tersebut tumbuh sebesar 1. Menurunnya rasio tenaga kerja yang bekerja di sektor informal ini dimungkinkan oleh tumbuhnya lapangan kerja berupah dan meningkatnya produk vitas pekerja. 2005). Pemulihan investasi yang belum berjalan baik merupakan kendala bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih nggi. sementara laki-laki hanya sebesar 62 persen. serta kondisi kerja yang lebih baik. rasio lapangan kerja (di sektor informal) di Indonesia menurun 0. sistem hukum dan birokrasi. Selama periode pertumbuhan yang nggi (1990-1997 dan 2004-2008).90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Gambar 1. ke dakpas an dalam lingkungan hubungan industrial.11. Jumlah tersebut pada tahun 2009 mencapai 67 persen. sehingga memiliki peluang yang besar untuk mendapatkan upah yang lebih nggi. (1990-2009) Lapangan kerja formal memang menjadi tumpuan dan harapan sebagian besar penduduk karena mampu menampung pekerja pada ‘pekerjaan yang tergolong baik’. Lebih dari itu. termasuk ketentuan biaya pesangon akibat pemutusan hubungan kerja (PHK). Sakernas.

Bila pertumbuhan sektor formal mengalami kelambatan. komponen penentuan Upah Minimum Regional (UMR) dak hanya melihat pada sisi kenaikan inflasi saja. tetapi diimbangi dengan aspek produk vitas dan pencapaian target pekerjaan. termasuk ekonomi perdesaan. Perpindahan pekerja dari kegiatan di sektor tradisional yang sangat banyak dan berproduk vitas rendah ini juga mendorong peningkatan upah dan output pekerja. Salah satu tantangan yang harus dihadapi adalah memindahkan ‘surplus tenaga kerja’ keluar dari sektor tradisional atau informal ke pekerjaanpekerjaan yang lebih produk f dan memberikan upah yang lebih nggi. Iklim usaha yang baik di perdesaan akan meningkatkan revitalisasi pertanian. Kebijakan ini ditargetkan kepada sebagian dari penganggur yang memang dak mempunyai akses kepada 54 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Menciptakan kesempatan kerja melalui program-program pemerintah. Kebijakan ini terus didorong agar perekonomian dapat tumbuh dan berkembang lebih baik. Sebaiknya. Pergeseran upah saat ini lebih banyak ditentukan oleh aspek kenaikan ngkat harga dibandingkan dengan kenaikan produk vitas. Produk vitas belum menjadi determinan utama dalam penentuan upah. Peran Pemerintah lebih dituntut untuk menciptakan iklim hubungan industrial yang kondusif dalam rangka mendorong terciptanya perundingan bersama antara pekerja dan pengusaha. Dalam jangka waktu tertentu perbaikan iklim investasi dan usaha akan mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi. Mempersempit kesenjangan upah antarpekerja pada ngkatan yang sama. lebih banyak tenaga kerja memasuki sektor informal. Pemerintah terus mendorong penciptaan lapangan kerja formal dengan meningkatkan pertumbuhan investasi dan perluasan usaha. berbagai kebutuhan dan kepen ngan pekerja dan pengusaha dapat diwujudkan. Memperlancar perpindahan pekerja dari pekerjaan yang produk vitasnya rendah ke pekerjaan yang produk vitasnya lebih nggi. Kebijakan dan Strategi Menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya melalui investasi dan perluasan usaha. meskipun hal terakhir ini bukanlah faktor satu-satunya yang pen ng. Memperbaiki kondisi dan mekanisme hubungan industrial untuk mendorong kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. sehingga para pekerja dalam lapangan kerja informal (termasuk keluarganya) akan mengalami ke dakpas an. Perbaikan iklim investasi merupakan salah satu yang memperoleh prioritas secara nasional. menciptakan lapangan kerja. dan peningkatan produk vitas. baik di perkotaan maupun di perdesaan. Sistem hubungan industrial yg didesentralisasikan melalui serikat perkerja yang kuat dengan menyempurnakan pelaksanaan hak dalam melakukan collec ve bargaining untuk mencapai hubungan industrial yang harmonis.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan mempengaruhi daya saing di beberapa industri utama padat pekerja. Melalui proses berunding dan bermusyawarah pada ngkat bipar t. serta mempersempit kesenjangan upah dan produk vitas pekerja.

kegiatan ekonomi. Pengangguran dak hanya terdapat di daerah perkotaan tetapi juga terdapat di daerah-daerah yang kegiatan ekonominya masih ter nggal. Kebijakan ini dilakukan melalui berbagai program pembangunan infrastruktur sederhana, program pembangunan infrastruktur skala menengah dan besar yang telah banyak memberi manfaat dalam menciptakan kesempatan kerja, dan pengembangan kredit mikro untuk usaha mikro dan rumah tangga. Meningkatkan kualitas pekerja. Kemampuan tenaga kerja Indonesia masih dirasakan sebagai kendala utama bagi perkembangan usaha. Rendahnya keahlian ini akan mempersempit ruang bagi kebijakan Indonesia untuk meningkatkan ketahanan ekonominya. Daya saing dan produk vitas Indonesia hingga saat ini masih jauh ter nggal dibandingkan dengan negaranegara Asia Tenggara lainnya. Salah satu upaya meningkatkan produk vitas pekerja adalah dengan meningkatkan kualitas atau keterampilan pekerja. Meningkatkan produk vitas pekerja pertanian. Perha an kepada pekerja di sektor pertanian dapat diwujudkan dalam bentuk peningkatan produk vitas yang memungkinkan sektor pertanian menerima jumlah pekerja lebih banyak, tanpa penurunan ngkat kesejahteraan. Cara yang diberikan antara lain: (a) memperluas jangkauan pengelolaan sektor pertanian dengan mengembangkan riset dalam memperluas usaha pertanian, sehingga meningkatkan output dan nilai tambah di pertanian dan (b) memberikan pengetahuan dan keterampilan pekerja, seper pendidikan, pela han, dan penyuluhan pertanian. Perbaikan pengetahuan dan keterampilan ini pada waktunya dapat memberikan dampak kepada peningkatan produksi hasil pertanian. Bila dua hal ini dapat berkembang dengan baik, tenaga kerja muda yang selama ini dak berminat bekerja di sektor pertanian akan memasuki sektor pertanian, sehingga akan tercipta lapangan kerja produk f yaitu pekerjaan yang baik (decent work). Mengembangkan jaminan sosial dan memberdayakan pekerja. Strategi untuk memberikan perlindungan sosial bagi pekerja antara lain dengan mengembangkan program-program jaminan sosial yang memberikan manfaat terbaik bagi pekerja. Untuk pekerja informal, adalah dengan melindungi dari lingkungan kerja dan pemanfaatan kerja yang dak proporsional. Keberpihakan juga diberikan kepada kelompok pekerja yang “lemah” berupa bantuan peningkatan keterampilan agar produk vitasnya meningkat, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya. Bantuan juga dapat diberikan kepada pekerja yang masuk dalam kelompok benar-benar miskin (paling miskin). Bentuk subsidi atau bantuan dana bergulir kepada tenaga kerja miskin merupakan salah satu cara mengurangi pekerja miskin di perdesaan. Selain itu, pekerjaanpekerjaan melalui padat karya produk f dengan membentuk kelompok usaha bersama, dapat dijadikan alterna f yang dapat dipilih. Melalui program-program pemberdayaan ini, dalam jangka menengah atau jangka panjang pekerja informal yang tergolong miskin yang awalnya dak produk f, dalam jangka waktu tertentu dapat melakukan kegiatan ekonomi yang lebih produk f.

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

55

Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan

Menerapkan peraturan ketenagakerjaan utama. Deklarasi ILO tentang prinsip-prinsip dan hakhak mendasar di tempat kerja, telah menyepaka perlunya menerapkan dan memberlakukan standar ketenagakerjaan utama (pokok). Standar ini merupakan bentuk-bentuk dasar hak asasi manusia (HAM) dan in dari pekerjaan yang layak, dengan memberikan kebebasan berorganisasi, membentuk serikat pekerja, memperoleh keselamatan dan kesehatan kerja (K3), dak melakukan kerja paksa dan membatasi usia minimum bekerja. Dalam rangka menciptakan kesempatan kerja formal seluas-luasnya, pemerintah menargetkan sekitar 11,7 juta lapangan kerja baru selama periode 2010-2014. Iklim investasi dan iklim usaha merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional, yang diharapkan dapat memberikan lapangan kerja baru bagi penduduk usia kerja yang mengharapkan pekerjaan yang lebih baik. Kegiatannya melipu antara lain: (i) kepas an hukum;(ii) penyederhanaan prosedur; (iii) sistem logis k nasional untuk menjamin kelancaran arus barang; (iv) pengembangan kawasan ekonomi khusus; dan (v) kebijakan ketenagakerjaan, terkait dengan penyempurnaan peraturan. Di samping prioritas tersebut, pemerintah juga mengucurkan dana untuk membiayai berbagai kegiatan pembangunan, di antaranya untuk memfasilitasi tenaga kerja memperoleh pekerjaan yang kualitas pekerjaannya lebih baik. Berikut sasaran-sasaran pembangunan hingga tahun 2014, yang pelaksanaannya antara lain dilakukan oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, sektor perbankan, dunia usaha dan masyarakat.

Tabel 1.3. Prioritas, Output, dan Target Bidang Ketenagakerjaan, Tahun 2010-2014

Prioritas
Pertumbuhan Ekonomi (%) Pertumbuhan Investasi (%) Pertumbuhan PDB sisi Produksi (%) - Pertanian - Industri Pengolahan - Lainnya

Output
Meningkat Meningkat

Target 2010
5,5 - 5,6 7,2 - 7,3

2011
6,0 - 6,3 7,9 - 10,9

2012
6,4 - 6,9 8,4 - 11,5

2013
6,7 - 7,4 10,2 - 12,0

2014
7,0 - 7,7 11,7 - 12,1

Meningkat

3,3 - 3,4 4,2 - 4,3 6,5 - 6,7

3,4 - 3,5 5,9 - 5,4 7,0 - 7,3 7,3 - 7,4

3,5 - 3,7 5,7 - 6,5 7,3 - 7,7 6,7 - 7,0

3,6 - 3,8 6,2 - 6,8 7,5 - 8,4 6,0 - 6,6

3,7 - 3,9 6,5 - 7,3 7,8 - 8,6 5,0 – 6,0

Sumber: RPJMN 2010-2014

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) (%)

Menurun

7,6

56

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

Target 1C: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun waktu 1990-2015
Indikator
1.8. Prevalensi balita dengan berat badan rendah / kekurangan gizi: Acuan dasar (1989) : 31,00 persen (Susenas) Saat ini (2007) : 18,4 persen (Riskesdas) Target (2015) : 15,5 persen 1.8a. Prevalensi balita gizi buruk: Acuan dasar (1989) : 7,20 persen (Susenas) Saat ini (2007) : 5,4 persen (Riskesdas) Target (2015) : 3,6 persen 1.8b. Prevalensi balita gizi kurang: Acuan dasar (1989) : 23,80 persen (Susenas) Saat ini (2007) : 13,0 persen (Riskesdas) Target (2015) : 11,9 persen 1.9. Proporsi penduduk dengan asupan kalori di bawah ngkat konsumsi minimum: 1.9a. 1400 Kkal/kapita/hari Acuan dasar (1990) : 17,00 persen (Susenas) Saat ini (Maret (2009) : 14,47 persen (Susenas) Target (2015) : 8,5 persen 1.9b. 2000 Kkal/kapita/hari: Acuan dasar (1990) : 64,21 persen (Susenas) Saat ini (2009) : 61,86 persen (Susenas) Target (2015) : 35,32 persen

Status Saat Ini
Keadaan gizi masyarakat telah menunjukkan kecenderungan yang semakin membaik, hal ini ditunjukkan dengan menurunnya prevalensi kekurangan gizi pada anak balita atau balita dengan berat badan rendah. Kasus kekurangan gizi pada anak balita yang diukur dengan prevalensi anak balita gizi kurang dan gizi buruk digunakan sebagai indikator kelaparan, karena mempunyai keterkaitan yang erat dengan kondisi kerawanan pangan di masyarakat dan berdampak nyata terhadap pencapaian tujuan MDGs lainnya, seper angka kema an anak dan akses terhadap pendidikan. Sejak tahun 1989 pemerintah telah mengumpulkan data anthropometri untuk berat badan menurut umur (BB/U) anak balita. Data tersebut digunakan untuk menentukan status gizi

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

57

Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan

Pojok Gizi

balita dengan menggunakan standard Pusat Nasional Sta s k Kesehatan Amerika Serikat (US Na onal Center for Health Sta s c, NCHS) yang direkomendasikan WHO. Dengan menggunakan standar tersebut prevalensi kekurangan gizi pada balita dapat digolongkan ke dalam gizi kurang dan gizi buruk. Berdasarkan standar NCHS prevalensi kekurangan gizi pada balita adalah sebesar 37,5 persen, dan data ini telah digunakan dalam semua laporan resmi Pemerintah termasuk dalam laporan MDGs. Target MDG yang ditetapkan adalah setengah dari angka kurang gizi pada tahun 1989 yaitu sebesar 18,75 persen. Pada tahun 2006, secara resmi WHO mengeluarkan standar baru untuk menilai tumbuh kembang anak 0-5 tahun. Standar ini dikembangkan berdasarkan studi yang cukup lama antara tahun 1997 sampai 2003 yang disebut Mul centre Growth Reference Study (MGRS). Tujuan dari MGRS adalah untuk membuat kurva baru pertumbuhan dan perkembangan anak di seluruh dunia, dan telah direkomendasikan secara global untuk dimanfaatkan dalam penilaian status gizi pada balita. Standar baru WHO ini digunakan untuk menganalisis data anthropometri hasil Riskesdas 2007. Selain itu dilakukan juga analisis ulang terhadap data anthropometri tahun 1989 sampai tahun 2005 untuk menentukan prevalensi kekurangan gizi, agar diperoleh perbandingan data se ap tahunnya. Berdasarkan penghitungan dengan menggunakan standar WHO prevalensi kekurangan gizi pada balita adalah sebesar 31,0 persen sehingga target MDG ditetapkan sebesar 15,5 persen. Sampai saat ini, Indonesia telah membuat kemajuan yang bermakna dalam upaya perbaikan gizi selama dua dasawarsa terakhir ini yang ditunjukkan dengan menurunnya prevalensi

58

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

kekurangan gizi pada anak balita dari 31,0 persen pada tahun 1989 menjadi 21,6 persen pada tahun 2000. Angka prevalensi tersebut meningkat kembali menjadi 24,5 persen pada tahun 2005, namun pada tahun 2007 angka prevalensi kekurangan gizi anak balita kembali menurun menjadi 18,4 persen (Riskesdas 2007). Dengan melihat kecenderungan ini diharapkan target MDG sebesar 15,5 persen dapat tercapai pada tahun 2015 (Gambar 1.12). Berdasarkan hal tersebut, sasaran yang ditetapkan pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2010-2014 adalah menurunnya prevalensi kekurangan gizi (terdiri dari gizi-kurang dan gizi-buruk) pada anak balita menjadi 15,0 persen.
40
31,0

29,8 27,7 26,1 22,8 21,6 21,8 23,2 23,2 24,5 18,4

30

Target MDG tahun 2015

Gambar 1.12. Target MDG dan Perkembangan Prevalensi Kekurangan Gizi pada Balita, Tahun 1989-2007

Persentase

20

15,5

10
23,8 7,2 21,7 8,1 15,4 12,3 14,8 11,3 13,9 8,9 13,2 8,4 15,0 6,8 14,6 8,6 14,5 8,7 14,8 9,7 13,0 5,4

0

Gizi Kurang

Gizi Buruk

Kekurangan gizi

Sumber: BPS, Susenas berbagai tahun; Kemkes, Riskesdas 2007, menggunakan standar WHO (2005).

1989

1992

1995

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2005

2007

Kotak 1.2. Standar pengukuran status gizi Indeks antropometri berdasarkan berat badan menurut umur (BB/U) pada anak balita 0-59 bulan secara berkala dikumpulkan melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dari tahun 1989 sampai dengan 2005. Informasi berat badan menurut umur dianalisis menjadi status gizi dengan menggunakan rujukan the US Na onal Center for Health Sta s c (NCHS) yang direkomendasikan oleh World Health Organiza on (WHO). Angka status gizi menurut rujukan NCHS/WHO ini sudah dipergunakan secara luas di Indonesia. Pada April 2006, WHO mengeluarkan standar baru secara resmi untuk menilai tumbuh kembang anak 0-5 tahun. Standar ini dikembangkan dari studi yang cukup lama antara tahun 1997 sampai 2003 yang disebut Mul centre Growth Reference Study (MGRS). Tujuan dari MGRS adalah untuk membuat kurva baru pertumbuhan dan perkembangan anak di seluruh dunia. Standar ini dibuat berdasarkan sampel anak yang dirandom dari populasi di 6 negara: Brazil, Ghana, India, Norwegia, Oman, dan Amerika yang terdiri dari 8.500 anak sehat yang diberi ASI. Perhitungan standar ditentukan berdasarkan dua jenis survei: longitudinal terhadap anak umur 0-24 bulan dan survei cross-sec onal anak usia 18-71 bulan. Standar antropometri yang dihasilkan dari analisis dengan menggunakan MGRS diperoleh data yang dianggap baik, karena dipilih sampel anak yang berasal dari keluarga sehat dan sejahtera, nggal di lingkungan yang memungkinkan anak mencapai potensi pertumbuhan gene knya. Ibu dari anak yang dijadikan sampel merupakan ibu yang memprak kkan pemberian ASI dan berperilaku dak merokok. Perbedaan antara standar WHO 2005 dan rujukan NCHS/WHO adalah pada populasi dan metodologi. Standar WHO 2005 telah direkomendasikan secara global untuk digunakan dalam penilaian status gizi pada balita. Standar WHO 2005 ini mencakup indeks antropometri: Berat Badan menurut Umur (BB/U), Panjang Badan atau Tinggi Badan menurut Umur (PB/U atau TB/U), Berat Badan menurut Panjang Badan atau Tinggi Badan (BB/PB atau BB/TB), dan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Keseluruhan indeks antropometri ini dibedakan menurut jenis kelamin. Setelah dilakukan berbagai agenda sosialisasi oleh WHO mengenai standar baru ini, Indonesia sepakat untuk menggunakan standar WHO.

2015

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

59

Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan

Disparitas prevalensi kekurangan gizi pada balita antarprovinsi masih merupakan masalah. Walaupun pada ngkat nasional prevalensi balita kurang gizi telah hampir mencapai target MDG, namun masih terjadi disparitas antarprovinsi, antara perdesaan dan perkotaan, dan antarkelompok sosial-ekonomi. Menurut data Riskesdas tahun 2007, disparitas antarprovinsi dalam prevalensi kekurangan gizi pada balita berkisar dari 10,9 persen (DI Yogyakarta) sampai dengan 33,6 persen (Nusa Tenggara Timur). Selain Nusa Tenggara Timur, daerah-daerah yang memiliki prevalensi balita kekurangan gizi jauh di atas target MDG adalah Maluku (27,8 persen), Sulawesi Tengah (27,6 persen), Kalimantan Selatan (26,6 persen), dan Aceh (26,5 persen) (Gambar 1.13).
Gambar 1.13. Prevalensi Anak Balita Kekurangan Gizi, Menurut Provinsi, Tahun 2007
33,6

40
10,9 11,4 12,4 12,9 15,0 15,8 16,0 16,6 16,7 17,4 17,5 17,6 18,2 18,3 18,4 18,9 19,3 20,2 21,2 21,4 22,5 22,7 22,7 22,8 23,2 24,2 24,8 25,4 25,4 26,5 26,6 27,6 27,8

35 30 25
Persentase

TARGET 2015

20 15 10 5 0

15,5 11,9

3,6
DI Yogyakarta Bali Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Sulawesi Utara Jawa Tengah Banten Bengkulu Jawa Timur Lampung Sulawesi Selatan Sumatera Selatan Bangka Belitung INDONESIA Jambi Kalimantan Timur Sumatera Barat Papua Riau Kalimantan Barat Sulawesi Tenggara Sumatera Utara Maluku Utara Papua Barat Kalimantan Tengah Nusa Tenggara Barat Gorontalo Sulawesi Barat Aceh Kalimantan Selatan Sulawesi Tengah Maluku Nusa Tenggara Timur

Sumber: Kemkes, Riskesdas 2007

Gizi Buruk

Gizi Kurang

Kekurangan Gizi

Lebih lanjut, kesenjangan status gizi balita terjadi antardaerah. Anak balita di perdesaan yang menderita gizi kurang masih berkisar pada angka 20,4 persen, sedangkan di perkotaan sebesar 15,9 persen. Data ini menunjukkan bahwa prevalensi kekurangan gizi pada anak balita terutama di daerah perdesaan masih berada di atas target MDG. Data pada Tabel 1.4 menunjukkan bahwa prevalensi balita gizi buruk masih sebesar 5,4 persen yang berar target MDGs 3,6 persen masih belum dapat dicapai baik untuk daerah perkotaan maupun perdesaan dengan prevalensi berturut-turut sebesar 4,2 dan 6,4 persen. Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa semakin rendah pendapatan maka akan semakin nggi prevalensi kekurangan gizi, seper terlihat pada Gambar 1.14.
Tabel 1.4. Prevalensi Anak Balita Kekurangan Gizi, Menurut Daerah Kota-Desa, Tahun 2007
Sumber: Kemkes, Riskesdas 2007

Daerah
Perdesaan Perkotaan Indonesia

Gizi Buruk
6,4 4,2 5,4

Gizi Kurang
14 11,7 13

Total
20,4 15,9 18,4

60

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

Terlebih lagi.5 15. (iii) promosi pola hidup sehat. 2. Berdasarkan ukuran asupan kalori harian rata-rata per kapita (daily dietary energy intake).020 Kkal/kapita/hari 2.000 Kkal per kapita per hari. Data Susenas 2002-2007 menunjukkan bahwa rerata asupan kalori penduduk adalah sebesar 1.4 15 Persentase 13.14. Riskesdas 2007.970 1.9 11.040 2.010 2.1 20 19.050 2.1 0 Kuin l 1 Kuin l 2 Gizi Buruk Kuin l 3 Gizi Kurang Kuin l 4 Kekurangan Kuin l 5 Sumber: Kemkes.25 22.007 2. Selain itu pemerintah juga merumuskan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009 untuk sektor kesehatan yang antara lain melipu program perbaikan gizi masyarakat.15). Kenyataan ini menegaskan bahwa upaya peningkatan dan perbaikan konsumsi terutama bagi masyarakat miskin masih sangat mendesak untuk dilakukan.980 1.038 Kkal per kapita per hari (Gambar 1.8 9. pemerintah telah melaksanakan berbagai program dan kegiatan sebagaimana telah dirumuskan dalam Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RAN PG) tahun 2006-2010.2 4.990 1.038 Gambar 1. Perkembangan Asupan Kalori Ratarata Rumah Tangga di Perdesaan dan Perkotaan. (ii) pencegahan penyakit yang berhubungan dengan gizi seper diare. angka ini meningkat menjadi 2. Untuk menanggulangi ngginya prevalensi kekurangan gizi khususnya pada anak balita.15.986 Kkal per kapita per hari pada tahun 2002 yang berar masih di bawah angka kecukupan minimum yaitu sebesar 2. perbaikan gizi masyarakat di Indonesia menunjukkan peningkatan yang bermakna.7 5 5. Tahun 2002-2008 Sumber: BPS. Tahun 2007 10 6. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 61 . dan HIV dan AIDS. Jumlah penduduk dengan asupan kalori harian kurang dari 2. 986 2. Pemerintah Indonesia mempunyai komitmen untuk memperbaiki status gizi masyarakat. terutama masyarakat miskin.5 18. penduduk miskin pada umumnya mengkonsumsi makanan yang dak aman sehingga berdampak buruk terhadap kesehatan dan status gizi mereka.960 1. malaria. Menurut Kelompok Pendapatan. Susenas (berbagai tahun).950 2002 2005 2007 2008 1.8 12.000 1. TBC.030 2.7 Gambar 1. Pada tahun 2008.7 4.1 16.000 kalori masih nggi.6 13.7 5. dan (iv) perbaikan ketahanan pangan.015 2. Prevalensi Anak Balita Kekurangan Gizi. Kegiatan pada RAN PG antara lain sebagai berikut (i) peningkatan kesadaran gizi keluarga (kadarzi) melalui penyuluhan dan pemantauan perkembangan di masyarakat.

4 14.8 5.1 17.4 persen. Tahun 2007 Prevalensi Status Gizi (%) Indikator Perbedaan Sosial-Ekonomi Gender Laki-laki Perempuan Tingkat Pendidikan Kepala Keluarga Tidak pernah bersekolah/ dak lulus Sekolah Dasar Lulus Sekolah Dasar Lulus Sekolah Menengah Pertama Lulus Sekolah Menengah Atas Sarjana Tingkat Pendapatan Per Kapita Kuin l 1 Kuin l 2 Kuin l 3 6.3 3.5.1 19. Tabel 1.5 persen.6 22.8 5.6 18.9 21.8 9.6 13. kesadaran dan komitmen pemerintah baik pusat maupun daerah akan pen ngnya penanggulangan masalah gizi merupakan faktor yang menentukan keadaan gizi masyarakat.3 7.5 4. sanitasi dan air bersih.5 3.7 19.5 persen yang terdiri dari 5. Secara khusus.6 5. Asupan makanan yang diperparah dengan pengasuhan anak yang salah menyebabkan anak balita menderita kekurangan gizi.8 persen gizi kurang (Tabel 1. prevalensi kekurangan gizi pada balita menurun dengan meningkatnya pendidikan dan ngkat pendapatan kepala keluarga (Riskesdas 2007).0 Gizi Buruk Gizi Kurang Gizi Buruk + Gizi Kurang Kegemukan (Obes) Sumber: Kemkes.8 13.7 4. dan (iii) terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan.4 13.7 persen gizi buruk dan 13. Masyarakat miskin memiliki kemampuan yang sangat rendah untuk mendapatkan pangan yang dibutuhkan dalam jumlah dan kualitas yang memadai.6 3.9 6.1 persen yang terdiri dari gizi buruk 6.7 persen dan gizi kurang 15. Prevalensi Anak Balita Kekurangan Gizi dan Kegemukan Berdasarkan Karakteris k Sosial Ekonomi.3 5.1 16.7 3.8 12. Riskesdas 2007 Kuin l 4 Kuin l 5 62 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .0 13.4 19. Dari Tabel 1.7 5.5 13.4 8. data Riskesdas Tabel 1.).3 12. Masih terbatasnya akses yang memadai bagi masyarakat miskin dan berpendidikan rendah dalam memperoleh pangan yang bergizi dan aman.6 4.0 5.2 4.9 12.7 5. terutama disebabkan oleh kemiskinan.3 11.5 terlihat bahwa prevalensi balita kekurangan gizi pada kelompok miskin masih berada di atas target MDG 18.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan Tantangan Masih rendahnya status gizi balita dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan sosial-budaya masyarakat seper : (i) kesulitan dalam mendapatkan makanan yang berkualitas. Secara umum. sedangkan pada kelompok penduduk miskin kuin l 2 berjumlah 19.2 4.7 4.5 menyajikan data prevalensi kekurangan gizi pada balita di njau dari berbagai karakteris k dan latar belakang keluarga. Selain itu.6 4.1 15.9 11.8 15.5.9 3.7 4. Jumlah balita kekurangan gizi pada masyarakat sangat miskin kuin l 1 mencapai sekitar 22.8 5. (ii) perawatan dan pengasuhan anak yang dak sesuai karena rendahnya pendidikan ibu.5 18.

56 31. yang menunjukkan bahwa sumber utama dari konsumsi makanan di Indonesia adalah dari padi-padian terutama beras.50 103.73 40.46 60.18 1.93 246.34 113.02 49.96 70.30 109. tantangan dalam perbaikan gizi masyarakat adalah perbaikan pola konsumsi pangan sesuai kaidah asupan gizi seimbang dengan mendorong percepatan diversifikasi konsumsi.39 73.92 289.08 2.49 46.9 kg per kapita per tahun.72 69. Tabel 1.11 66.42 36.89 56.41 40.61 236. Meskipun kontribusi padi-padian dalam konsumsi pangan masih cukup nggi.014.04 2. Pola konsumsi pangan yang dak mencukupi kebutuhan energi dan gizi akan mengakibatkan terjangkitnya penyakit serius dan bahkan kema an sehingga masalah asupan makanan yang dak seimbang saat ini mendapat perha an utama. Tingginya proporsi sumber karbohidrat dalam pola konsumsi pangan penduduk menunjukkan bahwa kemiskinan adalah faktor utama yang menyebabkan kekurangan gizi.93 51.59 41.926.47 38.08 66.27 43.08 44. Hal ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi yang membaik dan berkurangnya ketergantungan kepada padipadian sebagai sumber energi.986. Fenomena ini sesuai dengan data dari asupan kalori yang menunjukkan bahwa rumah tangga berpendapatan rendah yang mengkonsumsi kalori jauh di bawah kebutuhan minimum 2. Dengan demikian.007.16 219.75 16.05 39.24 41. Tahun 2004-2008 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 63 .35 40.95 234.94 17.13 56.20 64.45 47.91 45.8 persen.48 52.01 239. Belum seimbangnya pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia.80 62. namun data Susenas menunjukkan tejadinya penurunan.58 48. Susenas . tantangan yang dihadapi adalah memberdayakan masyarakat miskin dan berpendidikan rendah untuk dapat meningkatkan akses terhadap pangan yang bergizi dan aman.06 2005 1. 2004-2008 * dak termasuk beralkohol Tabel 1. sementara asupan dari sumber pangan lainnya seper daging dan sayur mayur masih tetap rendah yang berar terjadi ke dak-seimbangan pola konsumsi pangan penduduk.74 2007 953.009.71 41.60 53.87 17.000 kalori/kapita/hari. Berdasarkan ulasan tersebut. 90 kg dan 45 kg.73 19.16 52.17 38.69 18.25 52. sementara di Malaysia.024.97 39.87 110.65 2006 992.6.08 246.64 38.85 241.85 2.14 216.6 menggambarkan bahwa secara rata-rata ngkat konsumsi pangan masyarakat Indonesia telah mencapai ngkat asupan kalori minimum sebesar 2. Kontribusi Energi per Kelompok Pangan dalam Pola Makan RataRata (Kalori/Kapita/Hari).17 Sumber: BPS.2007 menunjukkan bahwa anak balita yang pendek (stun ng) sangat erat kaitannya dengan kemiskinan adalah sekitar 36. Kelompok Pangan Padi-padian Umbi-umbian Ikan Daging Telur dan susu Sayur-sayuran Kacang-kacangan Buah-Buahan Minyak dan Lemak Bahan minuman Bumbu-bumbuan Konsumsi lainnya Makanan jadi *) Jumlah 2004 1.000 Kkal per hari.038. masing-masing angka konsumsi adalah 80 kg.81 48.83 1.01 47.91 2008 968.67 114.75 47.84 233. Thailand dan Jepang.96 46. Konsumsi beras masyarakat Indonesia adalah sekitar 104.60 45. Tabel ini juga menggambarkan kontribusi jumlah kalori masing-masing kelompok pangan terhadap keseluruhan asupan kalori per kapita per hari.

Susenas.6 80.16).0 81.0 74. berbagai tahun. Gambar 1.1 77. dari 40 persen pada tahun 2002/2003 menjadi 32 persen pada tahun 2007.9 83. Dalam kurun waktu 2002-2007 kualitas konsumsi pangan masyarakat cenderung membaik yang ditunjukkan dengan meningkatnya skor PPH dari 77. Untuk menekan angka kema an pada bayi. UNICEF dan WHO telah menyarankan bahwa pemberian ASI pada bayi dilakukan secara eksklusif selama 6 bulan.6 pada tahun 2007.0 Sumber: BPS.0 85.16. Akan tetapi. Pemberian susu botol biasanya akan meningkatkan risiko penyakit.0 68. 2005).0 72.9 86. dan hanya 41 persen bayi di bawah usia empat bulan yang menerima ASI eksklusif. Pemberian ASI harus diteruskan sampai usia dua tahun dengan memberikan makanan pendamping ASI setelah bayi berusia 6 bulan (WHO Anthropometric Standard. Penurunan pemberian ASI yang digan kan dengan pemberian susu botol saat ini sangat lazim terjadi di Indonesia. Kecenderungan Skor PPH di Perdesaan dan Perkotaan. Perbaikan kualitas konsumsi pangan terjadi baik di wilayah perdesaan maupun perkotaan. terutama diare.8 79. Tiga dari sepuluh anak (28 persen) memperoleh susu botol pada usia dua bulan.0 76.2 Skor PPH 82. terutama di daerah-daerah yang mempunyai ngkat sanitasi rendah.0 80. hasil survei mengungkapkan bahwa bayi usia kurang dari dua bulan yang memperoleh ASI eksklusif mengalami penurunan dari 64 persen menjadi 48 persen. 64 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Dengan demikian. Pada tahun 2007 di Indonesia terdapat hanya sekitar 32 persen bayi di bawah usia enam bulan yang menerima ASI eksklusif. 2002 Perdesaan 2005 Perkotaan Indonesia 2007 Masih rendahnya pemberian ASI eksklusif. Survei Kesehatan Demografi Indonesia (SDKI) menunjukkan bahwa jumlah bayi di bawah usia enam bulan yang memperoleh ASI eksklusif menunjukkan penurunan sebesar 8 persen. masih terdapat perbedaan kualitas konsumsi pangan antarwilayah yang ditunjukkan dengan lebih rendahnya skor PPH masyarakat perdesaan dibandingkan dengan masyarakat perkotaan (Gambar 1. yang disebabkan oleh kesulitan dalam mensterilisasi botol-botol.0 84. Lebih lanjut.5 pada tahun 2002 menjadi 83. tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan kualitas konsumsi pangan masyarakat baik di perdesaan maupun di perkotaan melalui percepatan diversifikasi/penganekaragaman konsumsi pangan sehingga skor PPH mendeka angka 100. Dengan demikian.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan Masih rendahnya kualitas konsumsi pangan sebagaimana yang diukur oleh skor Pola Pangan Harapan (PPH).0 77. yang berar meningkat sebanyak 11 persen dibandingkan SDKI tahun 2002-2003 (17 persen). Tahun 2002-2009 88.0 70.0 78.6 81. memperluas pemberian ASI eksklusif merupakan tantangan dalam upaya perbaikan gizi balita.5 75.

tantangannya adalah merevitalisasi atau menggiatkan kembali posyandu terutama dengan memberdayakan masyarakat. Dari sudut pandang kelembagaan.Masih rendahnya peranan masyarakat dalam menanggulangi kekurangan gizi. Menurunnya fungsi Posyandu ditunjukkan dengan: (i) rendahnya cakupan pelayanan di Posyandu terutama pada keluarga miskin. Tidak adanya lembaga yang mampu mengkordinasikan dan menyelaraskan kebijakan gizi di berbagai daerah dan ngkat administrasi. Advokasi dan sosialisasi untuk mengubah perilaku dalam mengatasi masalah kekurangan gizi belum dilakukan secara op mal. hal ini ditunjukkan dengan adanya disparitas dalam status gizi antar daerah. sistem pelayanan melalui posyandu merupakan mekanisme utama untuk pemberian layanan gizi pada ngkat masyarakat. memantau dan mengevaluasi serta mendanai program perbaikan gizi. (ii) kurangnya pela han teknis dan profesional dalam menangani kasus kekurangan gizi. Tidak memadainya pengembangan kebijakan gizi dan perencanaan program serta pengelolaannya. baik dalam kapasitas maupun dalam hubungan kelembagaan. (ii) penyediaan makanan tambahan untuk ibu hamil dan menyusui. Hal tersebut antara lain disebabkan oleh: (i) kurangnya tenaga gizi di Puskesmas. Peran serta masyarakat dalam menanggulangi kekurangan gizi terutama pada anak balita dilakukan melalui kegiatan di Posyandu. Meningkatkan akses penduduk miskin. terutama anak balita dan ibu hamil untuk memperoleh makanan yang aman dan bergizi cukup serta mendapatkan intervensi pelayanan lainnya seper suplementasi gizi. Lembaga ketahanan pangan nasional belum berfungsi secara efek f dalam mengatasi masalah kelaparan dan penanggulangan gizi.5 persen pada tahun 2015 dan untuk meningkatkan jumlah penduduk yang mengkonsumsi kalori sesuai angka kecukupan adalah sebagai berikut: 1. Selain itu sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG) dak lagi berfungsi dengan baik. (iii) pemberian layanan kesehatan dak difokuskan pada pemberian layanan gizi yang tepat. Selain itu terdapat perbedaan komitmen dari pemerintah daerah dalam menghadapi kasus kelaparan dan kekurangan gizi. (iii) pengembangan Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 65 . (iv) menurunnya par sipasi masyarakat. tantangan yang ada adalah mengembangkan kelembagaan yang mempunyai kewenangan kuat dalam menanggulangi masalah kelaparan dan kekurangan gizi secara holis k. kegiatan Posyandu mengalami penurunan sejak desentralisasi diberlakukan sebagaimana ditunjukkan dengan adanya disparitas kekurangan gizi antar daerah. Namun. Dengan demikian. Kebijakan dan Strategi Kebijakan dan strategi dalam rangka menurunkan prevalensi kekurangan gizi pada balita menjadi 15. (ii) menurunnya kegiatan pemantauan pertumbuhan anak (growth monitoring prac ces) dan kehadiran anak di Posyandu. mengelola. Sampai dengan awal tahun 1990. dan (v) kurangnya kemampuan ins tusional dinas kesehatan kabupaten dan kota untuk merencanakan. Lemahnya kelembagaan yang bertanggung-jawab dalam upaya perbaikan pangan dan gizi. Mengembangkan bantuan khusus untuk penduduk miskin bagi provinsi dan kabupaten dengan prevalensi kekurangan gizi nggi termasuk: (i) pemberian makanan tambahan untuk bayi dan anak balita.

dan (iii) percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal melalui perbaikan teknologi budidaya dan teknologi pengolahan pangan dan advokasi pola gizi seimbang. terutama untuk mempromosikan pemberian ASI eksklusif dan prak k pemberian makanan pada bayi. (iv) meningkatkan program suplementasi zat gizi mikro yang ditujukan khususnya bagi anak balita dan ibu hamil. (iii) memperkuat sistem kewaspadaan pangan dan gizi termasuk sistem kewaspadaan dini (early warning system). pemerintah menetapkan sasaran pembangunan untuk mengurangi kasus kekurangan gizi pada anak balita menjadi kurang dari 15. Memas kan terwujudnya ketahanan pangan di ngkat daerah melalui: (i) peningkatan produksi dan produk vitas pertanian. 4. Fungsi dari lembaga ini antara lain: (i) menyelaraskan dan mengkordinasikan kegiatan penanggulangan kelaparan dan kekurangan gizi pada berbagai sektor terkait. akses dan sistem penanganan masalah pangan. (ii) mengintergrasikan kegiatan pelayanan gizi pada pendidikan anak usia dini (PAUD). 3. Berdasarkan hal tersebut akan diperkuat lembaga baik di pusat maupun daerah yang bertanggung jawab terhadap ketahanan pangan dan gizi di daerahnya. Strategi lainnya yang juga akan dikembangkan melipu : (i) sosialisasi dan advokasi sehubungan dengan perilaku hidup sehat. dan (v) memberlakukan sanksi bagi pelanggar hukum dan perundang-undangan tentang pangan dan gizi. Masalah kerawanan pangan dan rendahnya status gizi masyarakat merupakan masalah mul sektor. Memperkuat pemberdayaan masyarakat dan merevitalisasi posyandu. Memperkuat lembaga di ngkat pusat dan daerah yang mempunyai kewenangan kuat dalam merumuskan kebijakan dan program bidang pangan dan gizi. Meningkatkan ketahanan pangan pada ngkat daerah terutama untuk mengurangi diparitas ketahanan pangan antar daerah. Memperkuat program pangan dan gizi pada ngkat akar rumput melalui hal-hal sebagai berikut: (i) merevitalisasi posyandu dengan mengutamakan pemberdayaan masyarakat termasuk mengak an kembali prak k pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan program pemberian makanan tambahan di taman kanak-kanak dan sekolah dasar. (ii) perbaikan sistem distribusi. Dalam RPJMN 2010-2014. Kegiatan-kegiatan 66 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . (iv) mengintegrasikan dan menyelaraskan kegiatan perbaikan gizi dalam program penanggulangan kemiskinan. dan (v) peningkatan akses untuk mendapatkan layanan kesehatan dasar. air minum yang aman dan fasilitas sanitasi. dan (iii) mengembangkan kegiatan gizi melalui masyarakat dengan memberdayakan lembaga masyarakat setempat seper kelompok pengajian dan organisasi perempuan lainnya. (ii) melakukan advokasi kepada para pemangku kepen ngan terutama pada pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan komitmen dan alokasi sumberdaya dalam menanggulangi kekurangan gizi. air. 2. dan (ii) investasi pada prasarana dasar (kesehatan. baik sektor ekonomi sosial budaya dan poli k. Dengan demikian kebijakan dan program yang dirumuskan harus bersifat holis k . sanitasi) terutama di daerah perdesaan dan perkampungan miskin di wilayah perkotaan.0 persen. sehingga memerlukan suatu kelembagaan yang mempunyai kewenangan yang kuat dan mampu menyelaraskan dan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan di bidang pangan dan gizi.

7.7. (vi) pengelolaan pengurangan kasus kurang gizi di rumah sakit dan Puskesmas. Sejalan dengan kebijakan dan strategi tersebut di atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014 menetapkan prioritas program dan sasaran sebagaimana terlihat pada Tabel 1. (iii) pemberian makanan pelengkap bagi ibu hamil dan menyusui. Prioritas. Renstra Kemkes 2010-2014 dan Inpres Nomor 3/2010 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 67 .Gizi Buruk Jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan surveilans gizi Persentase balita di mbang berat badannya (D/S) Jumlah balita gizi kurang GAKIN mendapatkan PMT pemulihan Jumlah penyediaan bufferstock MP-ASI untuk daerah bencana Persentase keluarga SADAR gizi 2010 100 100 65 75 75 100 100 65 100 100 60 2011 100 100 67 78 78 100 100 70 100 100 65 2012 100 100 70 80 80 100 100 75 100 100 70 2013 100 100 75 83 83 100 100 80 100 100 75 2014 100 100 100 85 85 100 100 85 100 100 80 Sumber: RPJMN 2010-2014. Tahun 2010-2014 Prioritas Meningkatkan kualitas penanganan masalah gizi masyarakat Output Persentase balita gizi buruk yang mendapat perawatan Persentase balita GAKIN 6-24 bulan mendapat MP-ASI Persentase bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI eksklusif Cakupan garam beryodium Persentase 6-59 bulan dapat kapsul vitamin A Persentase Puskesmas yang menyelengarakan pemantauan status gizi dan SKD KLB. (v) pendidikan gizi dan peningkatan keluarga sadar gizi (kadarzi). (iv) penguatan program gizi masyarakat melalui Posyandu.yang akan dilaksanakan melipu : (i) peningkatan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Output. Target Terkait Pengurangan Prevalensi Kekurangan Gizi. dan (vii) penguatan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG). Tabel 1. (ii) pemberian makanan pelengkap dan tambahan untuk anak-anak usia 6-24 bulan.

.

Murid Sekolah Dasar dan Taman Kanak-Kanak Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua .

.

47 persen (Susenas) Sasaran (2015) : 100.Target 2A: Menjamin pada 2015 semua anak.00 persen (Kemdiknas) Saat ini (2008) : 93.00 persen (Susenas) Sasaran (2015) : 100.70 persen (Susenas) Saat ini (2009) : 95.00 persen Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 71 . Angka Par sipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A: Acuan dasar (1992) : 88.00 persen 2. perempuan dan laki-laki: Acuan dasar (1990) : 96.60 persen (Susenas) Saat ini (2009) : 99.1. laki-laki maupun perempuan dimanapun dapat menyelesaikan pendidikan dasar Indikator: 2. Proporsi murid kelas 1 yang berhasil menamatkan SD/MI: Acuan dasar (1990) : 62.23 persen (Kemdiknas) Sasaran (2015) : 100. Angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun.3.00 persen 2.2.

Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua

Status Saat Ini
Suasana di Ruang Kelas

Pemerintah Indonesia menempatkan pendidikan sebagai salah satu dari elemen paling pen ng dalam pertumbuhan ekonomi dan penanggulangan kemiskinan. Ukuran dan struktur sistem pendidikan di Indonesia menggambarkan besarnya keragaman budaya bangsa. Pada tahun 2008, terdapat lebih dari 55,8 juta siswa yang terda ar di berbagai jenis dan jenjang pendidikan, termasuk sekitar 29,5 juta siswa sekolah dasar dan madrasah ib daiyah (SD/MI), dan lebih dari 3,5 juta guru di sekitar lebih dari 300 ribu sekolah2. Sistem pendidikan di Indonesia merupakan ke ga terbesar di Asia dan keempat terbesar di dunia (setelah Cina, India, dan Amerika Serikat). Sejak tahun 2000, manajemen sistem pendidikan didesentralisasikan sehingga pemerintah daerah mempunyai kewenangan dan tanggung jawab yang lebih besar dalam penyelenggaraan pendidikan dasar. Dengan besar dan kompleksnya sistem tersebut Indonesia berhasil menunjukkan kemajuan yang berar dalam mencapai tujuan MDG. Indonesia menetapkan sasaran pembangunan pendidikan dasar melebihi sasaran yang ditetapkan dalam MDG dengan menambahkan jenjang sekolah menengah pertama termasuk madrasah tsanawiyah (SMP/MTs) sebagai sasaran. Berbagai kebijakan dan program telah diluncurkan dalam upaya mempercepat pencapaian tujuan MDGs pada tahun 2015. Sebelum MDGs ditetapkan, pada tahun 1994 pemerintah Indonesia mencanangkan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun (Compulsory Basic Educa on/CBE) yang bertujuan untuk memas kan semua warga negara yang berusia 7–15 tahun mendapatkan pendidikan dasar sampai lulus jenjang SMP/MTs. UUD 1945 dan UndangUndang Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga mengharuskan pemerintah untuk mengadakan layanan pendidikan dasar tanpa dipungut biaya. Sejalan dengan hal tersebut, Rencana Strategis - RENSTRA pendidikan nasional 2005-2009 dan Rencana Kerja Pendidikan Untuk Semua (Educa on for All/EFA) telah diselaraskan.

Persentase

74,2

73,1

76,0

77,5

78,3

79,9

81,1

82,2

82,3

80

88,7

92,5

Gambar 2.1. Kencenderungan Angka Par sipasi Murni (APM) dan Angka Par sipasi Kasar (APK) SD dan SMP (Termasuk Madrasah), Tahun 1992-2009

116,6 96,2 95,1

108,1

108,1

107,3

107,2

107,1

107,3

107,1

106,0

102,0

105,3

106,0

106,9

120

107,4

107,6

110,0

115,7

92,7

92,5

92,2

92,3

92,9

91,6

91,3

88,7

92,2

91,6

100

92,7

92,6

93,0

93,3

93,5

94,9

70,5

65,7

64,4

61,1

55,6

57,9

20

0

Sumber: BPS, Susenas dan Sta s k Kemdiknas.

1992

42,0

1993

46,8

40

1994

50,1

1995

51,0

1996

54,6

1997

1998

57.0

1999

59,2

2000

60,2

2001

60,6

2002

61,7

2003

63,5

2004

65,2

2005

65,4

2006

66,5

60

2007

71,6

2008

72,3

APM-SD/MI
2

APK-SD/MI

APM-SMP/MTs

APK-SMP/MTs

Kementerian Pendidikan Nasional, 2009, Indonesia Educa onal Sta s cs in Brief 2007/2008.

72

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

2009

74,5

95,2

98,1

116,8

Didukung oleh peraturan perundangan, pembangunan pendidikan di Indonesia berhasil mengurangi kesenjangan antara laki-laki dan perempuan, antarkelompok pendapatan, dan antardaerah terutama pada ngkat sekolah dasar. Angka par sipasi kasar (APK) ngkat sekolah dasar (SD/MI) telah melampaui angka 100 persen (universal coverage) pada awal tahun 1980-an, dan tetap nggi meskipun terjadi krisis keuangan pada akhir tahun 1990. Pada tahun 2008/09 APK SD/MI termasuk Paket A telah mencapai 116,77 persen dan angka par sipasi murni (APM) sekitar 95,23 persen. Pada tahun yang sama, APK dan APM jenjang SMP/MTs/Paket B masing-masing adalah 98,11 persen dan 74,52 persen (Gambar 2.1). Pada ngkat sekolah dasar (SD/MI), disparitas par sipasi pendidikan antarprovinsi sudah sangat kecil. Susenas 2009 menunjukkan bahwa APM SD/MI di semua provinsi telah mencapai lebih dari 90,0 persen, kecuali Provinsi Papua dengan APM sebesar 76,09 persen (Gambar 2.2). Perlu dicatat bahwa angka APM 100 persen pada ngkat sekolah dasar dak mungkin tercapai terutama karena terdapat banyak anak usia di bawah 7 tahun telah masuk sekolah dasar (SD/MI), dan sebagian usia 12 tahun sudah menjadi siswa pada sekolah menengah pertama (SMP/MTs). Dengan demikian, untuk mengukur pencapaian sasaran pendidikan universal bagi anak usia 7-12 tahun dapat digunakan angka par sipasi sekolah (APS)3 . Pada tahun 2008 APS kelompok usia 7-12 mencapai sekitar 97,8 persen.
100 80 60 40 20 0

95,23

Gambar 2.2. Angka Par sipasi Murni SD (Termasuk Madrasah) Menurut Provinsi, Tahun 2009

Perse entase

Bali

Banten

Aceh

Riau

Nusa Te enggara Timur

Bengkulu

Jambi

DKI Jakarta

Kali imantan Barat

Maluku

Papua Barat

INDONESIA

Nusa Tenggara Barat

Jawa Barat

Lampung

S Sulawesi Utara

Maluku Utara

Kalim mantan Selatan

Kalim mantan Tengah

Kalim mantan Timur

Sul lawesi Tengah

Sulaw Tenggara wesi

Sum matera Selatan

Ba angka Belitung

Su umatera Utara

Su umatera Barat

DI Yogyakarta

Ke epulauan Riau

S Sulawesi Barat

Jawa Tengah

Jawa Timur

Sul lawesi Selatan

Gorontalo

Papua
Sumber: BPS, Susenas 2009 dan Kemdiknas 2008/2009

Jumlah murid kelas 1 sekolah dasar (SD/MI) yang berhasil lulus menunjukkan perkembangan yang membaik. Data Susenas menggambarkan bahwa anak usia 16-18 tahun yang menyelesaikan pendidikan sekolah dasar (SD/MI) meningkat dari 87,8 persen pada tahun 1995 menjadi 93,0 persen pada tahun 2008 (Gambar 2.3). Hal ini menunjukkan adanya penurunan angka putus sekolah pada ngkat sekolah dasar termasuk madrasah ib daiyah.

3

Angka Par sipasi Sekolah (APS) usia 7-12 tahun (APS 7-12) didefinisikan sebagai banyaknya anak usia 7-12 tahun yang sekolah baik di ngkat SD/MI dan sederajat maupun di ngkat SMP/MTs dan sederajat.

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

73

Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua

Gambar 2.3. Kecenderungan Pendidikan Ter nggi Yang Pernah Diiku Oleh Penduduk Usia 16-18 Tahun, Tahun 1995-2008

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 1995 2007 2000 2008 2006
LulusSD/MI

93,0 87,8 75,7

46,7 Lulus SMP/MTs

Sumber: BPS, Susenas 1995, 2000, 2006, 2007, 2008.

0

1

2

3

4

5

6

Lulus SD/MI

7

8

9

Lulus SMP/MTs

10

Angka melek huruf penduduk Indonesia berusia 15-24 tahun terus mengalami peningkatan. Angka melek huruf telah digunakan sebagai indikator tercapainya Educa on for All (EFA) dan MDG dan berperanan pen ng dalam meningkatkan standar hidup masyarakat. Melek huruf merupakan prasyarat utama yang memungkinkan seseorang mengakses informasi dan pengetahuan serta memiliki kemampuan untuk memperoleh pekerjaan demi kehidupan yang lebih baik. Data Susenas tahun 1992-2009 menunjukkan bahwa angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun meningkat dari 96,70 persen pada tahun 1992 menjadi 99,47 persen pada tahun 2009. Pada kurun waktu 1995-2006, angka melek huruf untuk kelompok paling miskin meningkat tajam dari 92,9 persen (1995) menjadi 97,8 persen (2006) untuk kelompok usia 15-24 tahun (UNESCO, 2006). Peningkatan angka melek huruf terjadi antara lain karena peningkatan par sipasi sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan meningkatnya proporsi siswa yang menamatkan SD/MI/Paket A. Selain peningkatan akses untuk memperoleh pendidikan, kualitas pendidikan juga menjadi perha an pemerintah. Diukur berdasarkan standar internasional, kualitas pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah. Lulusan pendidikan dasar sembilan tahun dak memiliki kecakapan yang cukup untuk berkarya dengan baik di dalam kehidupan dan di dunia kerja. Hasil Third Interna onal Mathema cs Science Study (TIMSS 2003) menunjukkan prestasi murid Indonesia berada di peringkat ke-34 dari 45 negara. Pada tahun 2006, Program for Interna onal Student Assessment (PISA) yang menguji kesiapan anak berusia 15 tahun menunjukan ratarata skor kemampuan membaca anak-anak Indonesia baru mencapai 393 di bawah rata-rata skor anak-anak di negara OECD yaitu sebesar 492. Hal ini menyebabkan Indonesia berada pada peringkat ke-44 dari 57 negara. Rendahnya kemampuan membaca anak berusia 15 tahun antara lain disebabkan oleh kurangnya buku bacaan dan rendahnya minat baca.

74

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

Tantangan
Meningkatkan pemerataan akses secara adil bagi semua anak, baik anak laki-laki maupun perempuan, untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berkualitas di semua daerah merupakan tantangan utama dalam percepatan pencapaian sasaran MDG bidang pendidikan. Banyak faktor kri s yang menentukan baik pada sisi permintaan (demand) maupun sisi penawaran/layanan (supply). Dari sisi permintaan, faktor kemiskinan menjadi penyebab utama rendahnya akses untuk memperoleh pendidikan. Dari sisi pelayanan, beberapa faktor yang menghalangi pencapaian sasaran-sasaran MDG bidang pendidikan adalah: (i) keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan termasuk perlengkapan belajar-mengajar; (ii) belum semua guru memenuhi kualifikasi akademik dan memiliki mo vasi untuk bertugas di daerah terpencil dan ter nggal; (iii) kurikulum yang kurang relevan dan proses belajar-mengajar yang berkualitas rendah; dan (iv) keterbatasan dana untuk operasional sekolah. Selain itu, lemahnya tatakelola pendidikan berkontribusi terhadap rendahnya akses anak-anak terhadap pendidikan yang berkualitas. Menjangkau anak-anak yang dak terjangkau yang terutama disebabkan oleh kemiskinan merupakan tantangan utama dalam mencapai target MDG bidang pendidikan. Bagi masyarakat miskin, biaya pendidikan seringkali memberatkan sehingga menyebabkan anakanak dak dapat bersekolah. Angka par sipasi sekolah anak-anak usia 7-12 tahun sekitar 97,80 persen menunjukkan bahwa ada sekitar dua persen anak-anak usia tersebut yang belum sekolah. Kemiskinan adalah faktor utama rendahnya angka par sipasi pendidikan dasar, di mana 70 persen siswa yang dak bersekolah disebabkan oleh ke dakmampuan keuangan (AIBEP 2008). Tidak sedikit anak-anak yang terpaksa bekerja dan meninggalkan sekolah. Berbagai program pemerintah yang bertujuan untuk membantu biaya untuk orang tua dak mampu dan meningkatkan sarana seper BOS, BOS Buku, dan BSM (Beasiswa Siswa Miskin) telah memberikan kontribusi dalam meningkatkan pemerataan akses pendidikan. Pelaksanaan program BOS secara nasional telah memberikan dampak posi f terhadap pemerataan akses pendidikan, terutama bagi masyarakat miskin baik di perdesaan maupun perkotaan. Penyediaan dana BOS ditujukan untuk mendukung implementasi kebijakan pendidikan dasar tanpa dipungut biaya. Akan tetapi, keluarga miskin masih menghadapi kesulitan untuk memenuhi biaya pendidikan seper biaya transportasi, buku, dan pakaian seragam4 (Bappenas, 2009). Dengan demikian, tantangan besar yang dihadapi adalah memas kan bahwa anakanak yang berasal dari kelompok masyarakat miskin dapat mempunyai kesempatan dan akses terhadap pendidikan dasar berkualitas dengan memas kan bahwa program-program ini diperkuat, dipercepat dan lebih difokuskan pada daerah dan kelompok masyarakat yang sangat memerlukan untuk mengurangi disparitas ngkat par sipasi yang tajam antarprovinsi dan kabupaten/kota.

4

Banyak sekolah di Indonesia mensyaratkan murid-muridnya untuk memakai enam seragam berbeda dalam satu minggu (misalnya merah dan pu h, ba k, gamis, pramuka, olah raga). Di banyak negara, hanya satu seragam yang disyaratkan untuk mengurangi beban orang tua.

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

75

Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Meningkatkan kesiapan anak bersekolah (school readiness) untuk menurunkan angka putus sekolah dan meningkatkan angka kelulusan pada jenjang pendidikan dasar. Berbagai peneli an mengemukakan bahwa kabupaten/kota dengan ngkat par sipasi taman kanakkanak yang nggi cenderung memiliki angka putus sekolah yang rendah di ngkat sekolah dasar. Keikutsertaan anak-anak pada program pengembangan dan pendidikan anak usia dini (early childhood educa on and development-ECED) telah meningkatkan kesiapan anak untuk mengiku pendidikan di sekolah dasar karena potensi anak yang melipu kemampuan kogni f, emosional dan sosial terbina dengan baik. Program pendidikan anak usia dini (PAUD) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) bekerja sama dengan pemerintah daerah belum serasi dengan program sejenis seper Bina Keluarga Balita (BKB) yang dikembangkan oleh instansi lain. Oleh karena itu, hanya sebagian kecil dari 28 juta anak Indonesia antara usia 0-6 tahun yang dapat ikut serta dalam program ini. Kemdiknas melaporkan sekitar 27 persen anak usia 4-6 tahun mendapatkan layanan pendidikan pra-sekolah termasuk PAUD. Keikutsertaan anak-anak di perdesaan lebih rendah daripada anak-anak di perkotaan dengan kesenjangan ngkat par sipasi mencapai 15 persen di beberapa provinsi. Selain itu, banyak anak-anak miskin yang dak terjangkau oleh program ini, ditunjukkan oleh jumlah siswa Taman Kanak-Kanak (TK) yang berasal dari kelompok masyarakat mampu mencapai lebih dari ga kali lipat dari jumlah siswa TK yang berasal dari kelompok masyarakat dak mampu. Oleh karena itu, tantangan utama yang dihadapi adalah memperluas program pengembangan dan pendidikan anak usia dini (PAUD) secara holis k dan terintegrasi dengan jangkauan yang

76

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

lebih luas di semua daerah terutama untuk kalangan dak mampu. Hal ini ditujukan untuk memas kan anak-anak mempunyai kesiapan yang memadai untuk bersekolah sehingga dapat menurunkan angka putus sekolah dan meningkatkan kualitas belajar-mengajar. Meningkatkan kualitas pendidikan nonformal bagi anak-anak putus sekolah dan yang dak mampu mengenyam pendidikan formal di sekolah. Pendidikan nonformal mempunyai peran yang pen ng dalam memberi kesempatan pendidikan kepada anak yang sama sekali dak mampu bersekolah maupun putus sekolah karena alasan ekonomi atau lainnya untuk dapat kembali masuk ke sekolah. Penyelenggaraan program nonformal yang dikenal dengan Paket A dan Paket B atau program kesetaraan, terutama untuk anak-anak dari keluarga miskin, merupakan unsur pen ng dalam mempercepat kemajuan dalam mencapai tujuan MDG bidang pendidikan di Indonesia. Akan tetapi penyelenggaraan program ini masih menghadapi masalah rendahnya kualitas dan cakupan program. Dengan demikian, tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan akses dan kualitas program kesetaraan untuk anak laki-laki dan perempuan terutama di daerah miskin, ter nggal, dan terpencil. Menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai termasuk buku dan peralatan belajar-mengajar merupakan salah satu tantangan untuk mencapai tujuan MDG bidang pendidikan. Masih banyak ditemukan ruang-ruang kelas SD/MI yang rusak, terutama di daerah terpencil, terisolir, kepulauan, dan perbatasan. Rehabilitasi ruang kelas SD/MI yang diperluas melalui DAK sejak tahun 2005 belum seluruhnya tuntas. Selain itu, sampai saat ini belum semua sekolah mampu menyediakan buku mata pelajaran yang dibutuhkan bagi peserta didik. Pada tahun 2008, diperkirakan proporsi SD dan SMP yang memiliki perpustakaan masing-masing baru mencapai sekitar 32 persen dan 63 persen. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang ditujukan agar pendidikan memenuhi standar yang ditetapkan, termasuk standar sarana dan prasarana pendidikan. Untuk memantau pelaksanaan standar nasional dibentuk suatu lembaga mandiri, yaitu Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Selain itu, pemerintah juga mengembangkan standar pelayanan minimal (SPM) untuk pendidikan dasar yang mendefinisikan “kualitas dan kuan tas” dari layanan pendidikan yang harus tersedia. Implementasi SPM harus dikaitkan secara jelas dengan tanggung jawab provinsi dan kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pendidikan agar secara bertahap memenuhi SNP. Untuk itu, percepatan pengadaan sarana dan prasarana untuk memenuhi SPM akan diarahkan pada daerah miskin dan ter nggal. Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana yang berkualitas melipu percepatan penuntasan rehabilitasi gedung sekolah yang rusak; peningkatan ketersediaan buku mata pelajaran dan peralatan belajar-mengajar; serta peningkatanketersediaan dan kualitas perpustakaan sehingga dapat memenuhi standar pelayanan minimal (SPM). Meningkatkan tenaga guru yang memenuhi standar kualifikasi akademik di seluruh wilayah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Terdapat hubungan erat antara kualifikasi akademik guru dengan keberhasilan pendidikan dan kualitas hasil belajar. Pemerintah menyadari bahwa

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

77

49 24.607.83 20. 4/ S1 32.60 Total 100 100 100 100 100 Sumber: Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Hal ini mengakibatkan proses-belajar mengajar dak berjalan sebagaimana mes nya.88 ≥ Dipl. Jumlah dan Proporsi Guru Berdasarkan Tingkat Sekolah dan Kualifikasi Akademik di Indonesia. 2010 Catatan: *) dak termasuk guru madrasah SMA / SMK TOTAL Gambar 2. pada tahun 2009. 4 / S1 14. Bahkan sekitar 66 persen sekolah di daerah terpencil dan ter nggal mengalami kekurangan guru (Gambar 2.79 36.633 1.876 961.70 25.4 persen dari 2.637 341. Pada bulan Desember 2005.083 11.806 535. terdapat distribusi guru yang dak merata baik di daerah perkotaan maupun perdesaan.81 50.590 Total 223.Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua perbaikan kualitas dak mungkin dapat dilaksanakan apabila kesejahteraan tenaga pengajar dak terjamin.110.497.35 73.120 ≥ Dipl.26 7. Tahun 2009 Jumlah Guru Tingkat Pendidikan TK SD SMP ≤ SMA 119.54 Proporsi (%) Diploma 1-3 31. sekitar 57.294 101.13 46.6 juta guru masih belum memiliki kualifikasi akademik sesuai dengan yang ditetapkan (Tabel 2. Berdasarkan uraian di atas.972 341. beberapa guru memiliki beban kerja yang berlebih.422 1. Distribusi Guru di Perkotaan. Sebagai akibat dari kekurangan tenaga guru di daerah terpencil.984 374.311 ≤ SMA 53.96 89. Perdesaan dan Daerah Terpencil di Indonesia.917 2.915 475. Kemdiknas.1. Data Kemdiknas menunjukkan bahwa sekitar 37 persen daerah perdesaan dan 21 persen daerah perkotaan mengalami kekurangan guru. Tahun 2007/2008 80% 60% 40% 55% 20% 17% 0% -21% -20% -40% -60% -80% -34% -37% -66% 68% 52% Sumber: Indikator Pendidikan di Indonesia.08 758.601 Diploma 1-3 71. Akan tetapi. Tabel 2.890 29.4.659 502. Total Perkotaan Perdesaan Terpencil Kekurangan Kelebihan 78 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .78 3. Kemdiknas 2007/2008. DPR telah mengesahkan Undang-Undang Guru dan Dosen (Undang-Undang Nomor 14/2005) yang mensyaratkan guru untuk memiliki kualifikasi minimum akademik sedikitnya empat tahun untuk pendidikan diploma (D4) atau Sarjana (S1).08 20. tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan kualifikasi akademik dan profesionalisme guru serta meningkatkan pemerataan distribusinya.4).728 29.1). Selain itu.02 5.378 364.

Pemerintah berupaya untuk mengatasi kesenjangan tersebut dengan menyediakan Dana Alokasi Khusus (DAK) bagi pemerintah daerah yang digunakan untuk merehabilitasi sekolah dasar yang rusak.4 persen menjadi 20 persen dari total pengeluaran pemerintah. untuk mengurangi beban biaya operasional sekolah. dan antara daerah kaya dan miskin belum sepenuhnya berkeadilan sehingga menimbulkan kesenjangan kualitas sekolah yang cukup besar di lingkungan dengan status sosial ekonomi yang berbeda. namun sebagian besar sangat ditentukan oleh kecerdasan emosional. toleran.Melakukan pengayaan kurikulum pendidikan dasar untuk meningkatkan kualitas siswa yang melipu so -skill dan kecerdasan jamak (mul ple intellegences). alokasi biaya pendidikan meningkat dari 2. terlalu menekankan pada kemampuan kogni f. spiritual. Dari tahun 2001 sampai dengan 2009. Buku-buku dan materi pelajaran lainnya dak mendukung pengembangan moral karakter anak. Kurikulum pada sistem pendidikan dasar dianggap cenderung hanya memberikan teori. Dana hibah BOS diberikan kepada sekolah dasar dan sekolah menengah pertama berdasarkan jumlah murid. Padahal keberhasilan seseorang dalam menjalani hidup dan kehidupan dak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual (IQ) dan keterampilan teknis (hard skill). Semua sekolah dasar dan sekolah menengah pertama memenuhi syarat untuk memperoleh dana BOS tanpa memandang kemampuan keuangan mereka. Kebutuhan yang terus meningkat dan keterbatasan sumber daya menuntut peningkatan efisiensi alokasi pada tahap perencanaan dan penganggaran di samping efisiensi teknis dalam pelaksanaan anggaran. Intervensi kebijakan yang dibiayai melalui berbagai sumber perlu diselenggarakan secara harmonis dan transparan agar dak menimbulkan fragmentasi strategi kebijakan. serta Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 79 . Secara keseluruhan. baik negeri maupun swasta. Mengembangkan sistem pembiayaan dan mekanisme transfer yang lebih baik untuk meningkatkan efisiensi. Selain itu peningkatan transfer alokasi anggaran pendidikan ke daerah juga mengakibatkan terjadinya pengurangan anggaran pendidikan di beberapa daerah (efek subs tusi). pemerintah juga telah menyediakan dana BOS yang disalurkan langsung ke sekolah-sekolah termasuk madrasah. akuntabilitas. diperlukan upaya untuk terus menyelaraskan penyaluran sumber daya dari pusat dan daerah ke sekolah. alokasi sumber daya antara sekolah negeri dengan swasta. tantangan yang dihadapi adalah memperbaiki kurikulum dan meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar dengan memperkuat pengayaan so -skill dan pendidikan akhlak mulia yang didukung oleh lingkungan sekolah yang kondusif. pengeluaran biaya pendidikan. Sejak tahun 2005. Dengan demikian.7 persen dari PDB atau dari 11.8 persen menjadi 3. dan keadilan dalam pembiayaan serta untuk menjamin pemerataan akses terhadap pendidikan dasar berkualitas. Kurikulum dan proses pembelajaran dak memberdayakan murid-murid untuk mengembangkan kecerdasan jamak (mul ple intellegences) yang dak hanya mencakup kecerdasan intelektual tetapi juga emosional dan spiritual. Walaupun demikian. pemerintah telah meningkatkan anggaran pendidikan secara signifikan. semangat juang. dan dak memberikan bekal yang memadai pada pengembangan keterampilan untuk bisa menjalani kehidupan dengan baik (life skill). dan sosial serta so skill seper disiplin. Pembangunan watak atau karakter dak dirancang dan dikembangkan dengan baik dalam struktur dan proses belajar-mengajar. dan kemampuan komunikasi. temasuk sumber-sumber daya di daerah telah meningkat ga kali lipat sejak tahun 2000. Untuk itu. Sejalan dengan rencana reformasi pendidikan untuk mempercepat upaya pencapaian tujuan MDG bidang pendidikan.

Pada tahun 2005. Alokasi per siswa meningkat dari Rp 235. dan kondisi empiris di lapangan (evidence-based decision making).8 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 12.000 80 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . maupun kabupaten/kota. Pada tahun 2009. Program BOS ditujukan untuk mengurangi beban biaya pendidikan terutama untuk masyarakat miskin. Dengan desentralisasi pendidikan tanggung jawab utama.9 juta siswa atau hampir seluruh siswa SD/MI dan SMP/MTs pada 2008. tantangan yang dihadapi untuk mewujudkan pembiayaan pendidikan yang berkeadilan adalah merumuskan alokasi dan mekanisme penyaluran dana yang efisien. anggaran yang disediakan untuk BOS mencapai Rp 19. Meningkatkan akuntabilitas dan efisiensi manajemen pendidikan dalam era desentralisasi. Berdasarkan paparan tersebut di atas. tantangan yang dihadapi adalah memperkuat manajemen dan tatakelola pendidikan dengan meningkatkan kapasitas lembaga dan meningkatkan kemitraan publik dan swasta. kemitraan publik dan swasta dalam penyelenggaraan pendidikan belum berkembang seper yang diharapkan terutama dalam menangani mereka yang terpinggirkan dan kurang terlayani (underserved). dan akuntabel sehingga pendidikan dasar yang bermutu dapat terjangkau oleh semua. Pemerintah baik pusat maupun daerah masih mengalami kendala rendahnya kapasitas untuk melaksanakan tugas dan peran baru seiring dengan pelaksanaan desentralisasi pendidikan.5 triliun pada tahun 2008.5 juta siswa dan meningkat menjadi 41. provinsi. dan pengelolaan sumber daya pendidikan didelegasikan kepada pemerintah daerah. yang memberikan insen f kepada kepala sekolah dan guru untuk menjaga dan meningkatkan jumlah murid. desentralisasi pendidikan memerlukan kapasitas manajemen daerah yang lebih kuat. efek f. Untuk mencapai tujuannya. program BOS mencakup sekitar 34.000 menjadi Rp254. Keputusan Indonesia untuk mendesentralisasikan pemerintahan telah mengubah bentuk dan ngkat pemberian layanan masyarakat termasuk pendidikan.000 untuk SD/MI dan dari Rp 324. baik negeri maupun swasta. sehingga diharapkan terjadi efisiensi dan efek vitas dalam penyelenggaraan pendidikan karena pelayanan menjadi lebih dekat dengan masyarakat yang dilayani.500 menjadi Rp 354.6 juta siswa yang terdiri dari sekitar 73 persen siswa SD/MI dan 27 persen siswa SMP/MTs.1. manajemen dan tatakelola pendidikan belum efek f dan berjalan op mal. data yang berkualitas. Program yang dimulai tahun 2005 dan dibiayai dari pengurangan subsidi bahan bakar minyak ini dikembangkan berdasarkan pelajaran yang ditarik dari pengalaman internasional dan dari berbagai program pemerintah terutama Program Bantuan Biaya Sekolah dan Beasiswa untuk mengatasi dampak krisis ekonomi tahun 1997 terhadap pendidikan. berdasarkan jumlah murid. Dana tersebut disalurkan langsung ke sekolah sehingga memungkinkan pimpinan sekolah mengelola dan memilih kegiatan apa saja yang terbaik untuk sekolahnya.Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua pendanaan dan manajemen ganda. Sejak tahun 2006 sampai tahun 2009 alokasi dana BOS semakin meningkat yang menunjukkan keberlangsungan program ini. Proses transisi menuju desentralisasi masih belum terprogram secara sistema s sehingga dak terdapat acuan untuk melakukan evaluasi dan benchmarking terhadap kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh lembaga-lembaga pemerintah baik di pusat.1 triliun yang mencakup sekitar 42. Dana BOS diberikan kepada seluruh sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Selain itu. Bantuan Operasional Sekolah Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) merupakan sebuah reformasi kebijakan yang sangat signifikan dalam pembiayaan pendidikan. Anggaran yang dialokasikan untuk program BOS meningkat dari Rp 4. Kotak 2. Perumusan kebijakan pembangunan pendidikan masih belum sepenuhnya didukung oleh sistem informasi yang memadai. wewenang. Dengan demikian. Akan tetapi.

antara lain: (i) pengembangan sekolah satu atap (gabungan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di daerah tertentu). Prioritas untuk Meningkatkan Pemerataan Akses: a.1. melalui: (i) rehabilitasi sekolah dan ruang kelas yang rusak. (iii) pengadaan peralatan belajar-mengajar termasuk peralatan teknologi informasi dan komunikasi. Prioritas untuk mencapai tujuan MDG bidang pendidikan dikelompokkan menjadi ga bentuk kebijakan: (i) meningkatkan pemerataan akses. dan (iv) pengembangan perpustakaan. kampanye dan advokasi perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat/orang tua akan manfaat pendidikan. Program BOS ini menunjukkan komitmen pemerintah terhadap undang-undang yang menegaskan perlunya pendidikan dasar yang bermutu tanpa dipungut biaya. dan (iii) penggabungan sekolah-sekolah kecil. telah terjadi pergeseran fokus kebijakan ke arah perbaikan kualitas mengingat pencapaian akses universal hampir terwujud. besaran ini meningkat lagi menjadi Rp 397. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 81 . Perha an akan diberikan dalam merasionalkan dan mempercepat secara bersamaan pengadaan prasarana sekolah dan sarana belajar-mengajar yang memadai dan memenuhi standar pelayanan minimal (SPM). terutama bagi orang tua yang kurang mampu sehingga mereka mempunyai mo vasi dan keinginan yang lebih besar untuk menyekolahkan anaknya melalui pendidikan yang berkualitas minimal sampai jenjang SMP/MTs.000 per siswa SMP/MTs. Selain itu.000–575.000 per siswa SD/MI dan Rp 570. terutama di daerah-daerah miskin. Undang-undang Dasar 1945 dan Undangundang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa se ap anak mempunyai hak mendapatkan pendidikan yang layak dan pemerintah wajib untuk membiayainya tanpa memungut biaya.000-400. Pada tahun 2009. Untuk pendidikan dasar. Merumuskan dan melaksanakan kebijakan pada ngkat nasional dan daerah untuk mempercepat pengadaan prasarana dan sarana belajar-mengajar yang memadai. dan (iii) memperkuat tatakelola dan akuntabilitas. Konsolidasi dari strategistrategi yang ada dan pengenalan strategi-strategi baru yang pro-masyarakat miskin akan terus dikembangkan agar tujuan MDG bidang pendidikan dapat dicapai pada tahun 2015. Berbagai studi menunjukkan bahwa program BOS sangat membantu dalam meningkatkan kemampuan sekolah untuk menyelenggarakan proses pembelajaran yang lebih baik. (ii) pengembangan sekolah berkelompok (cluster school).Lanjutan Kotak 2. strategi. (ii) pengadaan buku teks untuk memenuhi rasio satu paket buku untuk satu murid. Kebijakan dan Strategi Sebagian besar kebijakan reformasi pendidikan. terpencil dan ter nggal. Secara khusus untuk daerah terpencil dan perbatasan upaya pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan dilakukan melalui. (ii) meningkatkan mutu dan relevansi. dan sasaran pembangunan pendidikan terutama yang berkaitan dengan pencapaian MDG telah dirumuskan dalam RPJMN (2010-2014). termasuk madrasah dan pesantren. untuk SMP/MTs dalam kurun waktu 2005-2008. 1.

2. Mempercepat dan memperluas layanan PAUD yang holis k dan terintegrasi terutama di daerah perdesaan atau di daerah ter nggal. akan dikembangkan kebijakan yang mensyaratkan agar semua Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan/LPTK meninjau ulang mata pelajaran dan kurikulum sesuai dengan kompetensi yang disyaratkan 82 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Selain itu par sipasi masyarakat dalam perencanaan. (ii) peningkatan efisiensi dan kualitas program kesetaraan melalui perbaikan kurikulum dan penjaminan mutu penyelenggaraan program sehingga setara dengan pendidikan formal. (ii) meningkatkan program taman kanak-kanak satu atap apabila hal tersebut layak. c.Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua b. dan (iii) memberlakukan standar pelayanan minimal dalam penyelenggaraan PAUD yang holis k dan terintegrasi. provinsi. Pemerintah daerah akan didorong untuk mengalokasikan anggaran guna mendukung peningkatan layanan PAUD yang holis k dan terintegrasi terutama di daerah miskin dan ter nggal. Prioritas untuk Meningkatkan Kualitas dan Relevansi: a. pemantauan. Kapasitas pemerintah daerah dan sekolah dalam mengelola dana BOS akan di ngkatkan. Akan dikembangkan pula kebijakan dalam rangka sinkronisasi antara sistem pendidikan formal dan nonformal dalam pelaksanaan PAUD. e. efisiensi. Langkah-langkah lain yang dilakukan termasuk: (i) melaksanakan advokasi mengenai pen ngnya pengembangan dan pendidikan anak dini usia (early childhood educa on and development) kepada orang tua dan masyarakat luas. dan evaluasi pelaksanaan BOS akan di ngkatkan dengan memperkuat peran Komite Sekolah. Strategi yang akan ditempuh melipu : (i) peningkatan penggunaan fasilitas dan sumber daya sekolah formal untuk penyelenggaraan pendidikan nonformal secara efisien. Meningkatkan program kesetaraan yang bermutu. Strategi ini juga ditempuh untuk mengatasi masalah ke daksetaraan alokasi dana dan sumber daya pendidikan antardaerah. dan (iii) peningkatan koordinasi dari program kesetaraan antara Kemdiknas dan Kementerian Agama (Kemenag). Kebijakan pendanaan yang berpihak pada masyarakat miskin adalah sangat pen ng untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan yang berkualitas. Kabupaten/ kota yang mempunyai kapasitas fiskal nggi akan didorong untuk menyediakan dana pendamping. Mempercepat peningkatan kualitas pendidikan dan pela han guru. dan pusat untuk merencanakan dan memantau peningkatan kinerja program. Memas kan bahwa mekanisme pembiayaan pendidikan lebih pro-masyarakat miskin untuk lebih menjamin terwujudnya pembiayaan pendidikan yang adil. Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal ini termasuk peningkatan jumlah beasiswa untuk murid dak mampu terutama di daerah dengan angka par sipasi pendidikan yang rendah. d. Peningkatan kapasitas akan dilakukan pada ngkat daerah. Jangkauan program kesetaraan (Paket A dan B) akan difokuskan bagi anak-anak putus sekolah dan anak-anak usia sekolah yang dak mampu menempuh pendidikan formal karena berbagai kendala terutama kendala ekonomi. dan akuntabilitas pelaksanaan program BOS. Meningkatkan efek vitas.

Dalam rangka peningkatan kualitas manajemen dan proses belajarmengajar pela han MBS akan di ngkatkan bagi para kepala sekolah dan pengawas. dan peningkatan peran serta masyarakat. Selain itu dilakukan pula: (i) pengembangan pengajaran mul -kelas terutama di sekolah dasar/madrasah kecil guna meningkatan kualitas. Hubungan kelembagaan antara LPTK dengan sekolah percontohan akan diperkuat. Kebijakan ini akan diperkuat dengan pengembangan fasilitas belajar-mengajar dan penggunaan teknologi komunikasi dan informasi (ICT) serta perbaikan pengelolaan pendidikan. spiritual. b. Program ser fikasi guru akan dikembangkan dan dilaksanakan dengan lebih seksama untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan antara lain dengan melakukan evaluasi kinerja setelah guru mendapat ser fikat profesi. perbatasan. Kebijakan pengangkatan guru dikembangkan untuk mengatasi distribusi guru yang dak merata. Sejalan dengan itu kualitas pela han bagi guru yang belum ditempatkan dan yang sudah mengajar akan di ngkatkan untuk memperbaiki metode dan proses belajar-mengajar berdasarkan prak k terbaik seper Pembelajaran Ak f. kebijakan nasional sehubungan dengan pengangkatan dan penempatan guru akan dilaksanakan sesuai amanah Undang-Undang Guru dan Dosen. Kapasitas ins tusional pemerintah daerah akan diperkuat dengan memperluas jangkauan program pengembangan kapasitas dalam manajemen pendidikan termasuk analisa. dan penggunaan sumber daya yang efek f dan efisien. Para guru dan kepala sekolah akan dilibatkan dalam desain kurikulum pendidikan guru. Meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam mengelola program pendidikan dasar. pemantauan dan evaluasi. Perbaikan kurikulum dan perbaikan kualitas belajar-mengajar. kabupaten/kota. Untuk memas kan adanya kesesuaian strategi dan rencana pengembangan sumber daya manusia. dan sosial anak berkembang dengan baik. 3. Secara khusus kurikulum dan proses belajarmengajar akan diperkaya dengan pembangunan moral dan karakter. Materi pela han mencakup penilaian kinerja guru. Meningkatkan pela han manajemen berbasis sekolah (MBS) bagi para kepala sekolah dan pengawas. akan dilakukan penilaian kebutuhan yang lengkap mengenai kualifikasi guru di ngkat sekolah. perencanaan dan penganggaran. Prioritas untuk Memperkuat Tatakelola dan Akuntabilitas: a. c. monitoring dan pengawasan. emosional. dan provinsi. Dalam upaya mengatasi kekurangan guru di daerah terpencil. dan (ii) pelembagaan proses yang berkesinambungan dalam memantau indikator prestasi sekolah melalu sistem informasi pengelolaan pendidikan. perencanaan dan pengelolaan keuangan. dan ter nggal. dan Menyenangkan (PAKEM). serta pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan. Reformasi menyeluruh akan dilakukan untuk perbaikan kurikulum dan proses belajar-mengajar yang memungkinkan potensi kecerdasan intelektual. Krea f. efisiensi dan efek vitas pengajaran.berdasarkan Undang-Undang tentang Guru dan Dosen. Efek f. Tujuannya adalah untuk memas kan adanya: (i) perencanaan yang pro-masyarakat miskin dan berwawasan gender. dan (ii) pemberlakuan Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 83 .

Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua SPM. provinsi. penyebaran dan advokasi kepada pemangku kepen ngan. Kemenag. pendanaan dan pengembangan kualitas sumberdaya manusia akan dirumuskan dan ditetapkan dengan jelas. Selain itu akan diperluas peningkatan kapasitas daerah dalam pengembangan kebijakan. perencanaan. c. Selain itu dilakukan pula pengembangan organisasi pada ngkat provinsi. (vi) penetapan indikator tatakelola dan akuntabilitas pada ngkat daerah sesuai dengan standar yang ada. Meningkatkan Par sipasi Masyarakat. Sehubungan dengan strategi tersebut di atas akan dikembangkan strategi pengembangan staf pada ngkat pusat. dan (vii) peningkatan kualitas data dan informasi. serta antara sekolah dan orangtua. perencanaan. di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014 telah ditetapkan prioritas. b. (iii) pengembangan evaluasi berbasis kinerja dan sistem penjaminan mutu. dunia usaha. (iv) penguatan sistem informasi manajemen pendidikan. provinsi. pengelolaan. Peranan dan wewenang masing-masing ngkatan administrasi (pemerintah pusat. Upaya meningkatkan par sipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan dilakukan melalui: (i) perbaikan dalam pemberian informasi. dan sekolah untuk melaksanakan reformasi dan desentralisasi pendidikan secara efek f. Peningkatan akuntabilitas manajemen sumber daya pendidikan dilakukan antara lain melalui: (i) penelaahan atas efisiensi biaya dan mekanisme pembiayaan. pemerintah kabupaten/kota. Sejalan dengan kebijakan dan strategi tersebut di atas. serta pembentukan Dewan Pendidikan Nasional dilakukan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dan memperkuat tatakelola di bidang pendidikan. Pengakuan terhadap peran masyarakat madani dalam pembangunan pendidikan melalui penguatan Dewan Pendidikan Provinsi dan Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota. (ii) pengembangan dan pelembagaan pembiayaan berbasis kinerja (performance-based budge ng) yang terkait dengan kualitas pendidikan dasar. dan daerah. pemerintah provinsi. dan target kinerja pendidikan yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh Kemdiknas. manajemen keuangan berbasis output. dan kabupaten/kota) dalam pengembangan kebijakan. 84 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . output. (v) penguatan sistem pelaporan keuangan disertai dengan mekanisme yang efek f untuk menjamin adanya tanggung jawab bersama antara pusat dan daerah. monitoring dan evaluasi serta mobilisasi sumberdaya untuk pencapaian sasaran MDG.2). dan (ii) peningkatan kemitraan pemerintah-swasta dalam penyelenggaraan pendidikan dengan merumuskan peranan yang jelas untuk orangtua dan masyarakat dalam manajemen berbasis sekolah (MBS). terutama di kabupaten/kota yang kinerjanya kurang memuaskan serta di daerah terpencil dan ter nggal. Meningkatkan akuntabilitas manajemen sumber daya pendidikan. kabupaten/kota. dan peran ak f masyarakat (Tabel 2.

000 28.000 28. Output.000 28.791.0% Penyediaan subsidi Pendidikan bagi SD/SDLB 27.591 Penyediaan Persentase Buku Buku Ajar yang Ajar jenjang Bermutu dan SD/sederajat terjangkau yang dibeli hak ciptanya– Total 78 Mata Pelajaran Tersedianya kurikulum dan model belajarmengajar Persentase penerapan kurikulum sekolah yang telah disempurnakan 100% - - - - Penyediaan Sistem dan Kurikulum Belajar Mengajar 10% 15% 25% 65% 100% Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 85 .8% 96.543 3.7% 95.2.919 3. Prioritas. dan Target Kinerja Pendidikan.085.211.2% 95.681.973.820 27.322 3.803 3.000 Penyediaan Subsidi Pendidikan Madrasah Ib daiyah 3. Tahun 2010-2014 95.555.006.Prioritas Peningkatan Akses dan Mutu Sekolah Dasar (SD/MI) Output Tercapainya pemerataan akses terhadap pendidikan SD yang Bermutu di Semua Kab/Kota APM Jenjang SD/ sederajat Tersedia dan tersalurkannya subsidi pendidikan bagi siswa SD/ SDLB Jumlah Siswa SD/SDLB yang menerima BOS Tersedia dan tersalurkannya subsidi pendidikan bagi siswa MI/ Diniyah Ula Jumlah Siswa MI/ Diniyah Ula yang menerima BOS Tersedianya Buku Ajar yang berkualitas dan terjangkau 2010 2011 2012 2013 2014 Tabel 2.736.3% 95.626.672.

Prioritas Output Tersedianya pendidik dan tenaga kependidikan yang berkualifikasi bagi jenjang SD/ MI di seluruh Kabupaten/Kota Persentase Kepala SD/MI yang Mengiku Pela han Kepala Sekolah Menguatnya tata kelola dan sistem pengendalian manajemen di Ditjen MPDM 2010 2011 2012 2013 2014 Peningkatan Mutu dan Kesejahteraan Pendidik dan Tenaga Kependidikan bagi jenjang Sekolah Dasar 15% 25% 45% 70% 90% Sumber: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 20102014.2. pengawasan.Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua Lanjutan Tabel 2. Peningkatan Kapasitas Manajemen bagi Pendidikan Dasar Peran serta masyarakat dalam perencanaan. pelaksanaan. dan pendanaan pendidikan melalui Dewan Pendidikan meningkat meningkat meningkat meningkat meningkat 86 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . dan Rencana Strategis Kementerian Agama Tahun 2010-2014. Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010-2014.

hari Pendidikan Nasional dan HUT Surabaya ke-716 Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan . 11 mei 2009 yang digelar dalam rangka hari Kar ni.SUPERNETS : Seribu perempuan berinternet bersama di Atrium TP 3 Surabaya.

.

99 (Susenas) Sasaran (2015) : 100. dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun 2015 Indikator: 3.67 (Susenas) Saat ini (2009) : 96. menengah.00 Rasio APM perempuan/laki-laki di SMP/MTs/Paket B: Acuan dasar (1993) : 99.Target 3A: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005.73 (Susenas) Sasaran (2015) : 100.86 (Susenas) Saat ini (2009) : 101.27 (Susenas) Saat ini (2009) : 99.16 (Susenas) Sasaran (2015) : 100. Rasio perempuan terhadap laki-laki di ngkat pendidikan dasar.00 Rasio APM perempuan/laki-laki di SM/MA/Paket C: Acuan dasar (1993) : 93.00 • • Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 89 .1. dan nggi: • Rasio APM perempuan/laki-laki di SD/MI/Paket A: Acuan dasar (1993) : 100.

pada SD/MI/Paket A sudah mencapai lebih dari 90 persen.45 persen Sasaran (2015) : Meningkat 3.Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan • Rasio APM perempuan/laki-laki di pendidikan nggi (PT): Acuan dasar (1993) : 74. pada SMP/MTs/Paket B sebesar 101. agar setara dengan kaum laki-laki dalam pembangunan. terlihat bahwa sasaran MDG untuk mencapai kesetaraan gender di bidang pendidikan pada semua jenjang. APM baik perempuan maupun laki-laki. Proporsi kursi yang diduduki perempuan di DPR: Acuan dasar (1990) : 12. pada SM/MA/Paket C sebesar 96.00 3. untuk SMP/MTs/Paket B dan SM/MA/Paket C.95 (Susenas) Sasaran (2015) : 100.90 persen (KPU. Diukur dengan indeks paritas gender/IPG (Gender Parity Index/GPI) angka par sipasi murni (APM) atau rasio APM perempuan terhadap laki-laki. kesetaraan gender di bidang pendidikan telah menunjukkan kemajuan yang signifikan.50 persen (KPU. dengan IPG berkisar pada angka 100. Dalam kurun waktu tersebut IPG APM pada pendidikan dasar dan menengah berkisar pada angka 95-105.85 (Susenas) : 100. diperkirakan akan tercapai. Di bidang pendidikan. 90 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Pada tahun 2009.95 (Susenas 2009). Berbagai upaya telah dilakukan. sementara IPG APM untuk pendidikan nggi berfluktuasi dengan kecenderungan peningkatan yang signifikan.3.06 (Susenas) Saat ini (2009) : 102. 2009) Sasaran (2015) : Meningkat Status Saat Ini Salah satu tujuan pembangunan manusia di Indonesia adalah mencapai kesetaraan gender dengan membangun sumber daya manusia.00 perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15-24 : 98.16.99. Dengan menggunakan indikator ini. IPG pada SD/MI/Paket A telah mencapai 99. dan pada pendidikan nggi 102. Rasio melek huruf tahun: Acuan dasar (1993) Saat ini (2009) Sasaran (2015) 3. 1990) Saat ini (2009) : 17. kesetaraan gender telah mencapai kemajuan yang signifikan.1 menunjukkan perkembangan IPG APM dalam kurun waktu tahun 1993-2009. terutama dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan.73.1a. Dalam periode yang sama. Berdasarkan data Susenas dari tahun 1993 sampai 2009. Kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor nonpertanian: Acuan dasar (1990) : 29.2. Gambar 3. APM perempuan dan laki-laki meningkat tajam dengan laju yang hampir sama.24 persen Saat ini (Agustus 2009) : 33. tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan.44 (Susenas) : 99.

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 91 . IPG pada SMP/MTs/ Paket B berkisar antara 89.17 (Gorontalo).2. MA dan Paket C IPG SMP. Untuk SM/MA/Paket C. Menurut Provinsi. dan Gorontalo (Gambar 3. Disparitas antarprovinsi masih merupakan masalah utama. MTs dan Paket B IPG PT Sumber: BPS. Kepulauan Riau. Jawa Barat. SM/MA/Paket C. dan Sulawesi Barat (7 provinsi). Data Susenas 2009 menunjukkan bahwa IPG APM pada SD/MI/Paket A berkisar antara 96.22 (Kepulauan Riau). Untuk ngkat SMP/MTs/Paket B. Perkembangan Indeks Paritas Gender (IPG) Angka Par sipasi Murni SD/Mi/Paket A. Bangka Belitung Sumatera Selatan Nusa Tenggara Timur DI Yogyakarta Gorontalo 0 Gambar 3.60 (Papua Barat) dan 143. terutama pada ngkat pendidikan menengah. 120 100 80 60 40 20 Papua Maluku Utara Bali DKI Jakarta Riau Lampung Papua Barat Banten Kepulauan Riau Sulawesi Selatan Aceh Jawa Timur Kalimantan Barat Sumatera Utara INDONESIA Jawa Barat Nusa Tenggara Barat Sulawesi Tenggara Kalimantan Selatan Maluku Kalimantan Timur Sulawesi Utara Kalimantan Tengah Sulawesi Barat Jawa Tengah Jambi Bengkulu Sumatera Barat Sulawesi Tengah Kep. provinsi dengan IPG lebih dari 110 adalah DI Yogyakarta.120 110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 0 Gambar 3. Di beberapa provinsi. Susenas berbagai tahun. Riau.39 (Papua Barat) dan 102. Nusa Tenggara Timur. sedangkan pada SM/MA/Paket C berkisar antara 68.3). yang berar APM perempuan lebih nggi dari APM laki-laki. sedangkan provinsi dengan IPG kurang dari 90 adalah DKI Jakarta. dan PT. Tahun 2009 IPG SD/MI/Paket A IPG SMP/MTs/Paket B Sumber: BPS. Sumatera Selatan.54 (Papua) dan 116. Bangka Belitung.2).1. IPG melebihi angka 110.5 (Kepulauan Riau) yang menunjukkan bahwa rasio APM perempuan terhadap laki-laki hampir sama di semua provinsi. Nusa Tenggara Timur.Susenas 2009. SMP/MTs/ Paket B. dan Papua Barat (Gambar 3. Nusa Tenggara Barat. Papua. MI dan Paket A IPG SM. Tahun 1993—2009 IPG SD. provinsi dengan IPG lebih dari 110 adalah Sumatera Barat. Indeks Paritas Gender (IPG) Angka Par sipasi Murni SD/MI/Paket A dan SMP/MTs/Paket B. Jawa Timur.

hanya berkisar sekitar 50 persen. Tahun 2009 Sumber: BPS. perempuan yang 92 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Sebagai gambaran. Persebaran Angka Melek Huruf Antara Laki-laki dan Perempuan. Di bidang ketenagakerjaan. Hal ini disebabkan oleh lebih banyaknya perempuan yang memilih untuk mengurus rumah tangga jika dibandingkan dengan laki-laki. Susenas 2009. Usia 15-24 Tahun.3.Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan Gambar 3. Pada tahun 2009. Menurut Provinsi. IPG nasional untuk melek huruf kelompok usia 15-24 tahun hampir mendeka angka 100. Susenas 2009.55 persen. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) dari tahun 2004 sampai tahun 2009 menunjukkan bahwa TPAK perempuan dak menunjukkan peningkatan yang signifikan.1. ngkat par sipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan lebih rendah dibandingkan dengan TPAK laki-laki. Namun.4).1). ngkat melek huruf untuk perempuan dalam kelompok usia ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan ngkat melek huruf pada laki-laki (Peta 3. Menurut Provinsi. Angka tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan TPAK laki-laki yang rata-rata 84 persen selama periode yang sama (Gambar 3. Tahun 2009 180 160 140 120 100 80 60 40 20 Papua Barat DKI Jakarta Nusa Tenggara Barat Jawa Barat Jawa Timur Papua Bali Banten Lampung Maluku Utara DI Yogyakarta INDONESIA Sulawesi Selatan Jawa Tengah Kalimantan Tengah Sumatera Utara Kalimantan Selatan Kalimantan Barat Sulawesi Tenggara Aceh Sulawesi Tengah Bengkulu Maluku Gorontalo Kalimantan Timur Sulawesi Utara Jambi Riau Sumatera Selatan Bangka Belitung Sumatera Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Barat Kepulauan Riau 0 Sumber: BPS. Angka melek huruf perempuan dan laki-laki kelompok usia 15-24 tahun hampir mencapai sasaran MDG. Peta 3. Indeks Paritas Gender (IPG) Angka Par sipasi Murni SM/MA/Paket C. pada Agustus 2009. dengan ngkat melek huruf pada kelompok perempuan sebesar 99. di 15 provinsi.40 persen dan ngkat melek huruf pada laki-laki sebesar 99. sehingga perempuan lebih banyak berada di luar angkatan kerja.

65 2009 Sumber: BPS.41 48.99 14. 50.47 2009 Sumber: BPS. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 93 . sementara TPT laki-laki menurun lebih lambat (1. Sakernas berbagai tahun.72 2004 2005 2006 Laki-Laki 2007 Perempuan 2008 83.35 10.08 50. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Laki-laki Dan Perempuan.77 Gambar 3.11 8. ngkat pengangguran terbuka (TPT) perempuan menunjukkan penurunan yang signifikan selama periode 2004-2009.47 persen pada tahun 2009.02 persen pada tahun 2004 menjadi sebesar 33. TPAK perempuan yang lebih rendah dibandingkan laki-laki dak berar bahwa kondisi tersebut adalah kondisi yang buruk.6 persen).29 persen menjadi 7.23 48.mengurus rumah tangga mencapai sekitar 31.03 84. menjadi 8. Tingkat Par sipasi Angkatan Kerja (TPAK) Laki-laki Dan Perempuan.4. Data Sakernas menunjukkan bahwa kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan nonpertanian mengalami peningkatan. Gambar 3. TPT perempuan menurun lebih dari 6 persen. Hal yang sama juga terjadi pada kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan secara total.45 persen pada tahun 2009.52 8.5).59 7.22 83.5. yang terdiri dari buruh/karyawan/pegawai. dari sebesar 29. dari 14. Sakernas berbagai tahun.8 juta. Yang termasuk pekerja upahan di sektor nonpertanian adalah buruh/karyawan/pegawai dan pekerja bebas yang bekerja di lapangan kerja di luar sektor pertanian.51 8. Tahun 2004-2009 49. sementara laki-laki hanya 1.08 86.47 83. Laki-Laki Perempuan Persentase perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor nonpertanian memperlihatkan kecenderungan meningkat.25 51.94 84.51 persen.71 persen pada tahun 2005.5 juta orang.71 12. Tahun 2004-2009 9.89 13.29 8.69 9. Oleh karena itu. Sementara itu. dalam periode yang sama (Gambar 3.11 2004 2005 2006 2007 2008 7. yaitu dari 9.

5 juta menjadi 0.115. Antara kedua tahun tersebut jumlah buruh/karyawan/pegawai perempuan meningkat dari 7.6. Walaupun besaran upah nominal perempuan tersebut meningkat. Sementara itu.166 1.1 juta dan di sektor nonpertanian meningkat dari hanya 0. yang mengalami peningkatan dari 29. upah pekerja bebas perempuan di sektor nonpertanian juga meningkat.Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan pekerja bebas. namun data menunjukkan masih adanya kesenjangan upah yang besar antara perempuan dan laki-laki. Kesenjangan upah terbesar ditunjukkan oleh upah pekerja bebas di sektor nonpertanian. upah bulanan rata-rata pekerja perempuan pada tahun 2009 meningkat 61 persen dibandingkan dengan tahun 2004. terutama di Nusa Tenggara Barat (Peta 3. Upah Rata-rata per bulan (Rp.6). namun upah tersebut hanya sebesar 78 persen dari upah pekerja laki-laki. Upah Rata-Rata Bulanan Buruh/ Karyawan/Pegawai dan Pekerja Bebas Nonpertanian Laki-aki dan Perempuan 1.9 juta. dan yudika f).200 1.255 1.000 800 600 400 200 2004 2005 2006 2007 2008 2009 915 677 540 930 689 609 824 715 593 633 396 732 1. menunjukkan adanya peningkatan yang cukup berar . Kesenjangan upah juga terjadi di ngkat provinsi.8 juta menjadi 10.5 juta. meningkat dari Rp 676.183 menjadi Rp 396. Kemajuan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan juga diukur berdasarkan proporsi perempuan di lembaga-lembaga publik (legisla f. dari Rp 277.45 persen pada tahun 2009.400 1. Data Sakernas menunjukkan bahwa dalam periode 2004-2009. Sakernas berbagai tahun.098. kemajuan yang 94 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .2).600 1. Buruh/karyawan/pegawai laki-laki Buruh/karyawan/pegawai perempuan Pekerja bebas non-pertanian laki-laki Pekerja bebas non-pertanian perempuan Di ngkat nasional. upah rata-rata pekerja perempuan yang dikategorikan sebagai buruh/ karyawan/pegawai. Tingkat upah pekerja perempuan telah meningkat. Sementara itu.6 juta menjadi 2.) Gambar 3.611 menjadi Rp 1. dengan upah rata-rata pekerja perempuan hanya sekitar 54 persen dari upah pekerja laki-laki (Gambar 3. namun diskriminasi upah masih terjadi.098 277 267 294 337 355 Sumber: BPS.083 974 893 1. Di provinsi tersebut upah rata-rata pekerja perempuan hanya 58 persen dari upah pekerja laki-laki.55 persen pada tahun 2004 menjadi 33. di Provinsi Sulawesi Utara upah rata-rata pekerja perempuan lebih nggi daripada upah pekerja laki-laki. baik di sektor pertanian maupun nonpertanian.364. ekseku f. dari 1. Di bidang poli k. jumlah pekerja bebas perempuan di sektor pertanian meningkat.448 1. Sementara itu.

Di ngkat provinsi. Proporsi perempuan dari jumlah keseluruhan pegawai negeri adalah 44.8 persen pada tahun 2004 menjadi 27. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Poli k. dan agensi makanan dan obat-obatan.7 persen posisi senior (Eselon 1) dan 7. Sakernas.2. Walaupun demikian. HAM. hanya ada satu wakil gubernur perempuan. kesehatan. Namun. Agustus 2009 dicapai antara lain adalah dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Komisi Pemilihan Umum (KPU). Menurut Provinsi. disusul dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Dewan Perwakilan Daerah. Delapan dari partai-partai tersebut mencalonkan perempuan lebih dari 40 persen untuk posisi calon anggota legisla f. Data dari kantor Kejaksaan Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 95 . yang meningkat dari 19. keterwakilan perempuan di dalam komisikomisi di DPR RI untuk periode 2009 – 2014 lebih merata.3 persen pada periode 2004 –2009). Undang-Undang tersebut mengamanatkan dengan jelas 30 persen keterwakilan perempuan dalam kepengurusan partai poli k di ngkat pusat dan daerah dalam da ar yang diajukan untuk calon anggota legisla f.Peta 3. ngkat keikutsertaan perempuan dalam posisi manajemen senior di lembaga-lembaga ekseku f dan yudika f masih rendah.5 persen. dan keamanan. sementara di ngkat kabupaten. sementara keterwakilan terendah berada di komisi III yang menangani legislasi dan hukum/undang-undang. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pada tahun 2008.3 persen pada tahun 2009. Agustus 2009 Sumber: BPS. hasil pemilihan umum 2009 menunjukkan keterwakilan perempuan di DPR hanya sebesar 17. Dalam hal pengambilan keputusan. persentase tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan periode sebelumnya (11.1 persen posisi Eselon 2 diisi oleh perempuan. kurang dari 10 perempuan mengisi posisi sebagai walikota/bupa .9 persen. Selain itu. Demikian pula halnya dengan anggota DPD perempuan. Kenaikan persentase keterwakilan perempuan di DPR tersebut merupakan hasil kompe si tanpa perekayasaan poli k. hanya 8. Kuota untuk calon anggota legisla f perempuan sebagaimana diamanatkan oleh undangundang telah dipenuhi oleh seluruh partai poli k yang mengiku pemilihan umum 2009. Keterwakilan ter nggi berada di komisi IX yang menangani tenaga kerja dan transmigrasi. kependudukan. Persebaran Persentase Upah Ratarata Pekerja Perempuan Terhadap Upah Rata-rata Pekerja Laki-laki.

Hampir semua provinsi telah mencapai target IPG APM di semua jenjang pendidikan (SD/MI/Paket A.Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan Agung menunjukkan bahwa 5. Indonesia telah mera fikasi Konvensi ILO Nomor 100 mengenai Pengupahan Sama Bagi Buruh Laki-laki dan Perempuan untuk Pekerjaan yang Sama melalui Undang-Undang (UU) Nomor 80 Tahun 1957. IPG APM melebihi angka 110. terutama yang berada di wilayah ter nggal dan terpencil. IPG APM tersebut lebih rendah dari 90.2 persen). SMP/MTs/Paket B. dibandingkan dengan 559 hakim perempuan5. tergantung keadaannya. terutama di bidang pendidikan. Namun demikian. Fokus utama diberikan pada kelompok anak yang berasal dari keluarga miskin. namun di beberapa provinsi masih terdapat kesenjangan IPG APM. Dengan demikian. Undang-Undang Nomor 13 5 Sumber: Pengadilan Tinggi 96 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . upaya peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. yang berar bahwa APM perempuan lebih rendah daripada APM laki-laki. telah dira fikasi dengan UU Nomor 21 Tahun 1999 dan di ndaklanju dengan dikeluarkannya Panduan Kesempatan dan Perlakuan yang Sama Dalam Pekerjaan di Indonesia (Equal Employment Opportunity atau EEO) pada tahun 2005. di beberapa provinsi lainnya.208 hakim laki-laki. maka perwakilan perempuan dalam posisi-posisi ini pen ng untuk di ngkatkan. Tantangan Di ngkat nasional. yaitu Konvensi ILO Nomor 111 tentang Diskriminasi dalam Pekerjaan dan Jabatan. sementara pada Pengadilan Agama terdapat 3. tantangan yang masih dihadapi adalah masih ngginya kesenjangan gender di ngkat provinsi. terutama pada jenjang sekolah menengah. Konvensi lainnya yang berkaitan dengan ini. Indonesia telah memiliki berbagai perangkat peraturan perundang-undangan untuk memas kan perlakuan yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam pekerjaan. Meningkatkan kesetaraan gender di semua jenjang pendidikan di semua provinsi merupakan tantangan utama dalam pencapaian sasaran gender MDGs bidang pendidikan.208 orang (40. sebagaimana halnya di bidang ketenagakerjaan. Dengan demikian. yang berar APM perempuan lebih nggi daripada APM laki-laki. sedangkan perempuan hanya 2. Terjadinya disparitas IPG APM antarprovinsi dan rendahnya IPG APM di beberapa provinsi tersebut disebabkan oleh banyak faktor. Di beberapa provinsi. Sementara itu. dan SM/MA/Paket C). sementara perha an khusus juga diperlukan untuk daerah yang secara geografis berbeda dan memiliki karakteris k serta nilai-nilai budaya yang berbeda. terutama kemiskinan. Melaksanakan penegakan hukum untuk memas kan perlakuan tanpa diskriminasi antara laki-laki dan perempuan untuk memperoleh pekerjaan dan dalam pekerjaannya merupakan tantangan utama yang dihadapi di bidang ketenagakerjaan. tantangan yang dihadapi adalah dak hanya meningkatkan APM perempuan namun juga laki-laki. dan par sipasi perempuan dalam ranah legisla f dan poli k.490 jaksa penuntut adalah laki-laki.

2/2008. melalui harmonisasi peraturan perundangan dan pelaksanaannya di semua ngkat pemerintahan. Dalam hal ini perlu diperha kan bahwa perlindungan kepada pekerja perempuan ini dak berujung pada pemberian perlindungan yang berlebihan. Oleh karena itu. namun sebagian besar perempuan kurang memiliki pengetahuan yang memadai dalam bidang poli k dan pengambilan keputusan. upaya peningkatan kesetaraan gender di semua bidang juga harus sudah mulai mengintegrasikan isu gender ke dalam seluruh strategi bantuan dari masing-masing mitra pembangunan. dan pemberdayaan. dengan melibatkan seluruh pemangku kepen ngan. melalui upaya-upaya pencegahan. (2) perlindungan perempuan terhadap berbagai ndak kekerasan. Memberikan perlindungan bagi pekerja perempuan di tempat kerjanya untuk memas kan hak-haknya terpenuhi. Perlu diperha kan pula peningkatan par sipasi perempuan dalam pembuatan keputusan di ngkat nasional. Walaupun jumlah calon legisla f perempuan di partai-partai poli k meningkat sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang No. sangat diperlukan. serta terlaksananya koordinasi dan pemantauan yang komprehensif untuk menjamin penegakan hukum dan peraturan ketenagakerjaan di ngkat provinsi dan kabupaten/kota. ekonomi. perluasan jaminan sosial bagi pekerja perempuan di sektor informal juga harus menjadi perha an. Meningkatkan par sipasi perempuan pada lembaga-lembaga legisla f dan lembagalembaga poli k. Hal ini disebabkan oleh lemahnya perencanaan yang berkaitan dengan masalah-masalah pokok gender yang diselaraskan dengan kebutuhan perempuan di bidang poli k. Selain itu.Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan juga telah menegaskan bahwa se ap tenaga kerja memiliki kesempatan dan perlakuan yang sama tanpa diskriminasi. termasuk mengintegrasikan perspek f gender ke dalam siklus perencanaan dan penganggaran di seluruh kementerian dan lembaga. Di samping itu. sehingga dapat menimbulkan keengganan bagi pemberi kerja untuk mempekerjakan tenaga kerja perempuan. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 97 . Perempuan (pemilih dan calon legisla f) hendaknya diberi peluang untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan di bidang poli k. dan (3) peningkatan kapasitas kelembagaan PUG dan pemberdayaan perempuan melalui penerapan strategi PUG. diperlukan penegakan hukum dan koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. maka kebijakan peningkatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan diarahkan pada: (1) peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan. Selain itu. dan sosial. baik untuk calon anggota legisla f laki-laki maupun perempuan. Kebijakan dan Strategi Berdasarkan tantangan sebagaimana tersebut di atas. untuk memas kan sinergitas peraturan ketenagakerjaan nasional dengan daerah. pelayanan. kurangnya pela han yang berkualitas dalam bidang hukum dan melek poli k (poli cal literacy) berkontribusi terhadap rendahnya par sipasi perempuan dalam lembaga-lembaga poli k. dan kabupaten. baik untuk memperoleh pekerjaan maupun dalam pekerjaannya. Pendidikan poli k yang sensi f gender. provinsi.

untuk memas kan bahwa laki-laki dan perempuan mampu berpar sipasi tanpa diskriminasi dalam angkatan kerja. daerah dan perusahaan. d) Mengupayakan perlindungan sosial bagi kelompok perempuan yang bekerja di kegiatan ekonomi informal. dan (iv) penyelenggaraan pemerintah daerah. 98 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . b) Memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah terutama dalam penegakan undang-undang dan peraturan ketenagakerjaan. gender. gender.Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan Dalam rangka mencapai arah kebijakan tersebut. (iii) poli k. maka Pemerintah akan memperkuat pengawasan ketenagakerjaan melalui peningkatan jumlah. dan antar ngkat sosial ekonomi. c) Untuk menunjang strategi di atas. 2. dengan meningkatkan: (i) pemihakan pada siswa dan mahasiswa yang berasal dari keluarga miskin melalui pemberian bantuan beasiswa bagi siswa dan mahasiswa miskin. (ii) ketenagakerjaan. Strategi yang akan dilaksanakan dalam bidang pendidikan adalah sebagai berikut: a) Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dalam rangka mengurangi kesenjangan taraf pendidikan antarwilayah. dan (vi) peningkatan advokasi dan capacity building bagi daerah dan satuan pendidikan yang ter nggal. antara lain berupa pendidikan kecakapan hidup untuk penduduk usia sekolah yang putus sekolah atau dak melanjutkan sekolah. Hal ini dilakukan antara lain dengan memberikan subsidi iuran bagi kelompok masyarakat miskin dan rentan dalam skema jaminan sosial nasional. kapasitas dan kompetensi tenaga pengawas untuk memas kan terlaksananya pengawasan dan penegakan aturan ketenagakerjaan (core labor standards) dengan lebih baik. 1. (ii) pemihakan kebijakan bagi daerah dan satuan pendidikan yang ter nggal (underprivileged). termasuk menyelaraskan kebijakankebijakan dan peraturan-peraturan ketenagakerjaan. Strategi untuk mengatasi tantangan-tantangan dalam bidang ketenagakerjaan adalah sebagai berikut: a) Mengutamakan penegakan hukum yang ada. (iii) pengalokasian sumberdaya yang lebih memihak kepada daerah dan satuan pendidikan yang ter nggal. (iv) pemihakan kebijakan pendidikan yang responsif gender di seluruh jenjang pendidikan. (v) pengembangan instrumen untuk memonitor kesenjangan antarwilayah. dan antar ngkat sosial ekonomi. termasuk kebijakan yang melindungi pekerja perempuan di ngkat nasional. b) Meningkatkan akses dan kualitas pendidikan nonformal yang responsif gender. maka prioritas yang perlu dipilih untuk meningkatkan kesetaraan gender dikelompokkan dalam empat bidang yaitu: (i) pendidikan. Kebijakan dan peraturan di bidang ketenagakerjaan yang melindungi dan menjamin hak-hak pekerja perempuan harus proporsional untuk menghindari terjadinya perlindungan berlebihan agar pemberi kerja dak menjadi enggan untuk mempekerjakan tenaga kerja perempuan.

80 > 0. Prioritas. c) Meningkatkan pendidikan pemilih bagi calon legisla f perempuan. Ketenagakerjaan dan Poli k. Komisi Pemilihan Umum. baik provinsi maupun kabupaten/ kota. ketenagakerjaan. Kegiatan yang dilakukan antara lain meningkatkan akses perempuan untuk memperoleh pendidikan dan pela han keterampilan di bidang yang dimina nya sehingga pekerja perempuan mempunyai kualitas dan kompetensi yang memadai di bidang pekerjaannya. b) Menyusun modul pendidikan pemilih untuk kelompok perempuan. Peta jalan MDG telah pula diintegrasikan ke dalam RPJMN 2010 – 2014 terutama pada bidang pendidikan.85 > 0. dan poli k. antara lain: a) Meningkatkan kerjasama dengan organisasi masyarakat sipil (OMS) dalam peningkatan par sipasi poli k perempuan. Output. Kementerian Agama. pemantauan.97 > 0.98 > 0.98 1 1 1 1 Target 2010-2010 2010 2011 2012 2013 2014 Tabel 3.90 1 > 0.98 > 0. 4. program.80 > 0. dengan target sebagai berikut: Prioritas Output Bidang Pendidikan Rasio APM peserta didik perempuan/laki-laki pada SD/SDLB Rasio APM peserta didik perempuan/laki-laki pada MI Meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan Rasio APM peserta didik perempuan/laki-laki pada SMP/ SMPLB Rasio APM peserta didik perempuan/laki-laki pada MTs Rasio APK peserta didik perempuan/ laki-laki pada SMA/SMK/SMLB Rasio APK peserta didik perempuan/ laki-laki pada MA > 0. dan Indikator Kinerja Bidang Pendidikan. dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. miskin. pemilih pemula dan lansia. implementasi.97 > 0.98 > 0.1. dan evaluasi dari kebijakan. Kementerian Dalam Negeri.85 > 0. melalui pengembangan pedoman umum untuk Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam mengintegrasikan perspek f gender ke dalam proses perencanaan.97 > 0. penganggaran. dan kegiatan pembangunan di ngkat lokal. Strategi untuk menjamin kesetaraan gender dalam bidang poli k dilaksanakan melalui peningkatan pendidikan dan par sipasi poli k untuk perempuan. Tahun 2010-2014 > 0. Strategi untuk melaksanakan pengarusutamaan gender pada penyelenggaraan pemerintah daerah.e) Meningkatkan kualitas pekerja dan calon tenaga kerja perempuan.97 > 0.85 > 0.90 > 0.95 1 1 1 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 99 . cacat.98 > 0. yang akan dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional.98 > 0.98 1 1 > 0.98 > 0. dan d) Meningkatkan pendidikan poli k bagi kader perempuan yang menjadi anggota partai poli k. 3.

04 97.08 2012 1.0 60% 68% 75% 85% 95% 50% 60% 70% 80% 85% - 100 100 100 400 k) 5 5 5 5 25 k) - 10 10 10 40 k) Keterangan: k) kumula f.12 1.05 2014 1. cacat. miskin.05 2013 1. dan lansia Jumlah kegiatan pendidikan pemilih bagi caleg perempuan Target 2010 1.12 1. Renstra KPU 2010-2014.0 98.1.Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan Lanjutan Tabel 3. Renstra Kemdagri 2010-2014. Jumlah kader parpol perempuan yang mendapatkan pendidikan poli k Bidang Ketenagakerjaan Meningkatkan perlindungan perempuan terhadap berbagai ndak kekerasan Persentase perusahaan yang memenuhi norma kerja perempuan dan anak Jumlah pengawas ketenagakerjaan dalam pengawasan norma kerja perempuan dan anak yang di ngkatkan kapasitasnya - 100 150 200 500 k) 10% 20% 25% 30% 40% Sumber: RPJMN 2010-2014. pemilih pemula.12 2011 1. 120 150 180 240 990 k) 100 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Renstra Kementerian Agama 2010-2014.8 98.12 1. Prioritas Output Rasio APK peserta didik perempuan/ laki-laki pada Perguruan Tinggi Rasio APK peserta didik perempuan/ laki-laki pada Perguruan Tinggi Agama (PTA) Rasio kesetaraan gender penuntasan buta aksara Rasio guru perempuan : laki-laki yang berser fikat pendidik di sekolah umum Rasio guru perempuan : laki-laki yang berser fikat pendidik di madrasah Bidang Poli k Jumlah paket kerjasama dengan organisasi masyarakat sipil dalam peningkatan par sipasi poli k perempuan Jumlah modul pendidikan pemilih untuk kelompok perempuan.6 97.12 1. Renstra Kemdiknas 2010-2014. dan Renstra Kemnakertrans 2010-2014.0 98.04 1.

“Antre Mendapatkan Vitamin A” Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak .

.

000 kelahiran hidup: : 68 (SDKI) : 34 (SDKI) : 24 (RPJMN 2010-2014) : 23 6 Angka Kema an Bayi: ngkat kema an antara kelahiran hingga umur satu tahun dalam 1. Angka Kema an Balita per 1.000 kelahiran hidup: Acuan dasar (1991) : 97 (SDKI) Saat ini (2007) : 44 (SDKI) Target (2015) : 32 4.Target 4A: Menurunkan Angka Kematian Balita (AKBA) hingga dua-pertiga dalam kurun waktu 1990-2015 Indikator 4.2.1. Angka Kema an Bayi6 Acuan dasar (1991) Saat ini (2007) Target Nasional (2014) Target (2015) (AKB) per 1. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 103 .000 kelahiran hidup.

angka kema an balita (AKBA) mencapai 97 kema an per 1.000 kelahiran hidup 81 80 68 60 57 58 46 40 32 30 46 35 26 20 19 44 34 AKB: 24 AKBA: 32 AKB: 23 Target RPJMN Target MDGs 2014 2015 20 0 Sumber: BPS. Angka kema an neonatal per 1. SDKI berbagai tahun.000 kelahiran hidup.Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak 4.0 persen (SDKI) Target Nasional (2014) : 93 persen (RKP 2011) Status Saat Ini Kesehatan anak di Indonesia terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu sebagai akibat dari perbaikan layanan kesehatan dan higiene.000 kelahiran hidup (Gambar 4. (AKBA) Terdapat perbedaan signifikan pada angka kema an bayi antarprovinsi. Gambar 4.2a. Perbedaan dras s seper ini mengindikasikan bahwa penyebab kema an bayi bersifat unik di masing-masing daerah. di mana provinsi dengan AKB ter nggi memperlihatkan angka kema an bayi hampir empat kali lebih nggi dibandingkan dengan provinsi yang memiliki angka kema an terendah. yang diiringi dengan penurunan angka kema an bayi dan anak.1). Persentase anak usia 1 tahun yang diimunisasi campak: Acuan dasar (1991) : 44.000 kelahiran hidup. Bayi dan Neonatal . Kecenderungan dan Proyeksi Angka Kema an Anak Balita. Pada tahun 2002-2003. dan pada tahun 2007 AKB tercatat 34 kema an per 1. angka kema an bayi (AKB) mencapai 68 kema an per 1. Angka kema an bayi ter nggi ditemui di Sulawesi Barat (74). Pada tahun 1991. angka tersebut menurun menjadi 35 kema an per 1.3. Nusa Tenggara Barat 104 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. pada tahun 2002/2003 angka kema an tersebut jauh menurun menjadi 46 kema an per 1.000 kelahiran hidup (SDKI berbagai tahun). Dengan ngkat penurunan seper ini. (AKB) 2003 2007 2011 AK-Neonatal Expon. (AK-Neonatal) 2015 AKBA Expon.1. dan pada tahun 2007 turun menjadi 44 kema an per 1. Tingkat kema an anak balita juga memperlihatkan penurunan.5 persen (SDKI) Saat ini (2007) : 67. Indonesia diharapkan mampu mencapai target MDG untuk menurunkan angka kema an bayi. Pada tahun 1991. 1991 1995 1999 AKB Expon. Tahun 1991-2015 120 100 97 Per 1.000 kelahiran hidup: Acuan dasar (1991) : 32 (SDKI) Saat ini (2007) : 19 (SDKI) Target nasional (2014) : 15 (RPJMN 2010-2014) 4.

2. terdapat kesenjangan yang nggi pada angka kema an balita di Indonesia.3 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 105 .(72). kesenjangan sosial ekonomi sangat menentukan kelangsungan hidup anak. 25 46 47 37 39 42 46 43 39 43 28 39 26 35 46 34 72 57 46 58 34 31 30 39 35 23 13 16 24 34 28 23 25 17 27 20 18 14 15 19 14 19 15 21 25 14 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 45 67 62 47 47 52 65 55 46 58 36 49 32 22 45 58 38 92 80 59 34 75 38 43 69 53 62 69 96 93 74 62 64 44 Gambar 4. bayi dan neonatal diperlihatkan pada Gambar 4. angka kema an balita. Sedangkan provinsi dengan AKB terendah adalah DI Yogyakarta (19). Aceh (25).2. Berdasarkan latar belakang karakteris k demografis. tetapi juga di dalam provinsi. Sulawesi Tengah (60). Jawa Tengah dan Kalimantan Timur (26 masing-masing) dan DKI Jakarta (28) seper terlihat pada Gambar 4. dan Maluku (59). SDKI 2007. Sementara itu. Tahun 2007 26 24 28 22 60 41 41 52 74 59 46 51 16 22 25 32 36 21 24 19 41 34 Angka Kema an Neonatal (NN) Angka kema an bayi (1q0) Angka kema an balita (5q0) Sumber: BPS. Bayi dan Balita Antarprovinsi. Disparitas Angka Kema an Neonatal. Tidak hanya antarwilayah dan antarprovinsi.

bayi dan neonatal dipengaruhi oleh keadaan demografi serta status sosial dan ekonomi. kendala geografi. Tahun 2007 Sumber: BPS. Status ekonomi keluarga juga berkorelasi nega f.Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak Gambar 4. The Global Burden of Disease: 2004 update 2008. (2). Makin nggi persentase ibu dengan ANC yang adekuat dan jumlah kelahiran ditolong tenaga kesehatan profesional. SDKI 2007.3. 2008. makin rendah angka kema an balita dan bayi. For under nutri on: Black et al. akses 7 WHO. Ditemui korelasi posi f antara jumlah dan jarak kelahiran dan peluang terjadinya kema an. Usia ibu mempengaruhi faktor-faktor biologis yang dapat menyebabkan komplikasi selama masa kehamilan dan pada saat persalinan yang pada gilirannya akan mempengaruhi peluang anak untuk bertahan hidup. Gambar 4. di mana angka kema an anak pada keluarga kaya lebih rendah jika dibandingkan dengan angka pada rumah tangga miskin. Lancet. 106 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Angka kema an balita.3 memperlihatkan perbandingan terbalik antara ngkat pendidikan ibu dengan angka kema an anak. Sekitar 35 persen kema an balita mempunyai latar belakang yang berkaitan dengan kejadian kekurangan gizi. AKBA akan menurun seiring dengan bertambahnya interval kelahiran. Kema an Dini pada AnakAnak Menurut Latar Belakang Karakteris k Demografi. Anak-anak dari ibu dengan ngkat pendidikan rendah pada umumnya mempunyai ngkat kema an lebih nggi dibanding anak-anak dari ibu yang berpendidikan lebih nggi.7 Di samping itu. transportasi.

dan kerentanan terhadap penyakit. perkembangan kogni f yang terhambat. harus diperha kan secara seksama bahwa penyebab utama kema an neonatal sangat erat kaitannya dengan permasalahan selama masa kehamilan.4 dan 4. Penyakit utama penyebab kema an pada anak adalah pneumonia. Kema an neonatal menjadi prioritas dalam strategi pembangunan kesehatan Indonesia karena masalah neonatal merupakan penyebab lebih dari seper ga kema an anak dan hampir separuh dari total kema an bayi. Kema an akibat penyakit menular ‘tradisional’ telah berhasil diturunkan secara signifikan. malaria dan campak. dan postnatal. Bahkan kekurangan gizi yang ringan dan sedang sekalipun merupakan ancaman terhadap keberlangsungan hidup dan merupakan penyebab utama sebagian besar kema an anak. Penyebab utama kema an anak berhubungan dengan masalah perinatal. Tujuan mengurangi angka kema an anak dak dapat dicapai tanpa kerja keras menurunkan kema an neonatal .yakni kema an yang terjadi selama masa empat minggu pertama kehidupan bayi. dan anak-anak berhubungan erat dan harus dikelola secara terpadu. neonatal. serta perawatan bayi baru lahir terutama pada usia satu bulan pertama kehidupan. Risiko utama lainnya adalah kurangnya asupan gizi dan gizi buruk. memberikan kontribusi yang besar terhadap penurunan kema an anak.informasi. Secara umum. diare.5). pada saat persalinan. diare dan pneumonia. dan diterapkan lebih intensif. prematuritas dan infeksi. keterbukaan daerah (adanya listrik. Tingginya angka kesakitan merupakan risiko utama. permasalahan terkait berat badan lahir rendah. bayi yang baru lahir. Pemahaman berbagai intervensi teknis dasar untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak serta pemahaman tentang hubungan keseluruhan intervensi merupakan prasyarat untuk menentukan pilihan strategis kebijakan dan program di sektor kesehatan. pasar dan fasilitas dasar lain). dan mengingat tenggat untuk mencapai tujuan MDGs ini semakin dekat. Penyebab kema an neonatal merupakan penyebab utama kema an pada bayi. yang berakibat sebagai gangguan pertumbuhan. termasuk kekurangan zat gizi mikro. terutama pada penduduk miskin di mana prevalensi penyakit infeksi cukup nggi. maka perubahan perilaku dan intervensi yang bersifat preven f untuk menurunkan kema an neonatal ini perlu dikembangkan. pelayanan persalinan. dikomunikasikan. seper tercermin pada Gambar 4. Seiring dengan semakin ngginya kema an yang disebabkan oleh faktor-faktor penyebab yang dapat dicegah. keempat faktor ini berkontribusi pada sekitar 75 persen kema an bayi. diiku oleh diare dan pneumonia (Gambar 4. yang berawal dari pelayanan keluarga berencana. Dalam penetapan strategi. pelayanan antenatal. seper asfiksia. Model ini menuntut ketersediaan dan Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 107 . Tingginya angka kema an neonatal juga mencerminkan buruknya kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Konsep dari pelayanan con nuum of care pada kesehatan ibu dan anak didasarkan pada asumsi bahwa kesehatan dan kesejahteraan perempuan.6 yang menggambarkan con nuum of care selama siklus kehidupan. ketersediaan air bersih dan sanitasi.

2% Pneumonia 12.2% Pneumonia 12. 108 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Penyebab Utama Kema an Bayi (0-11 bulan) di Indonesia.7% Diare 15.7% Diare 17.7% Meningi s 4. Tahun 2007 Tidak Tetanus diketahui 1.5.Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak Pemantauan Tumbuh Kembang Bayi di Posyandu Gambar 4. Riskesdas 2007.4.0% Gambar 4.7% 4.7% 3.7% Kema an neonatal 46.7% Kema an neonatal 46.7% Meningi s 3. Penyebab Utama Kema an Balita (0-59 bulan) di Indonesia. Tahun 2007 Kelainan bawaan 5.2% Sumber: Kemkes.5% Tidak Tetanus diketahui 1.5% Kelainan bawaan 5.

namun terdapat penurunan ASI eksklusif dan penggunaan oralit pada diare (Gambar 4.9 61.4 ISPA & Demam ke Fasilitas 56.0 35. Pencapaian Indikator Con nuum of Care 65.0 Linakes 2 hari pasca salin 2002/03 ASI Eksklusif 2007 32. karena awal yang sehat menghasilkan kehidupan yang lebih sehat dan produk f.6. 93.7). SDKI 2002/03-2007. dewasa muda dan seterusnya. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 109 .7.1 100 90 73.3 60. persalinan.0 40.3 61. dan (b) untuk bayi yang baru lahir dalam masa kanak-kanak.3 Gambar 4.Gambar 4.4 70 60 50 40 30 20 10 0 CPR ANCK1 93. Pencapaian indikator con nuum of care di Indonesia pada kurun waktu 2002/3–2007 menunjukkan sedikit peningkatan pada semua komponen.3 80 66.5 Oralit pada Diare 34. Pelayanan Con nuum of Care dalam Siklus Kehidupan Sumber: Kerber et al (2007).8 Imunisasi Campak (0-11 bln) Sumber: BPS.0 70. dan seterusnya.7 67.8 63. akses terhadap pelayanan kesehatan esensial dan kesehatan reproduksi (a) untuk perempuan dari remaja hingga kehamilan.

ADB)8 . Data SDKI 2007 menunjukkan bahwa terdapat 18 provinsi dengan cakupan imunisasi campak lebih rendah dari rata-rata nasional. Imunisasi campak mempunyai dampak langsung terhadap kema an anak. Provinsi dengan cakupan terendah adalah Sumatera Utara (36. Provinsi yang menunjukkan kesenjangan yang besar antara wilayah perdesaan dan perkotaan melipu Papua. pengelolaan diare.8). dan asupan gizi yang baik. penyediaan kelambu berinsek sida an malaria. mengeringkan dan menjaga kehangatan bayi baru lahir. Peningkatan sebesar 3 persen poin pada cakupan imunisasi dapat menurunkan jumlah kema an anak balita sebesar satu per seribu kelahiran hidup (UNSD 2009. Meningkatkan cakupan imunisasi dapat menurunkan angka kema an anak.6 persen). Puncak Risiko Kema an pada Masa Sekitar Kelahiran Sumber: Kementerian Kesehatan RI. akses air bersih dan sanitasi yang baik.9 persen). balita yang diimunisasi campak pada tahun 2004 dan 2007 menurut tempat nggal di perkotaan dan perdesaan. prak k pemberian makan yang adekuat. dan persentase anak usia 1 tahun yang telah diimunisasi dapat digunakan sebagai indikator yang baik terhadap kualitas sistem pelayanan kesehatan anak. 110 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . persalinan dibantu tenaga kesehatan. Selain intervensi pada bayi baru lahir. inisiasi menyusui dini dan ASI eksklusif. Berdasarkan data dari Susenas 2009. Intervensi tersebut termasuk seper imunisasi tetanus toksoid. dan akses pelayanan perawatan. yaitu di bawah 67. Sedangkan provinsi dengan cakupan ter nggi adalah DIY dengan cakupan 94. Gorontalo dan Sulawesi Barat. Gambar 4.9 persen).8 persen (Gambar 4. resusitasi. pneumonia dan malaria. Serangkaian intervensi ini memperkirakan bahwa 63 persen kema an anak dapat dicegah melalui cakupan 99 persen ketersediaan intervensi yang efek f.8. dan jika diperlukan. dan Papua (49. imunisasi. Sementara beberapa provinsi lain menunjukkan cakupan 8 Hasil hubungan regresi imunisasi campak oleh UNSD-ADB.Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak Suatu studi tentang kelangsungan hidup anak memperkirakan bahwa cakupan universal (99 persen) dari 16 intervensi kesehatan bayi baru lahir terbuk bisa mencegah sampai 72 persen dari seluruh kema an bayi yang baru lahir. perawatan bayi dengan berat badan lahir rendah. menunjukkan bahwa cakupan di perdesaan cenderung ter nggal dibandingkan dengan di perkotaan. Aceh (40. serta pengobatan infeksi.0 persen.9). secara signifikan dapat mengurangi kema an anak (Gambar 4. akses pelayanan darurat obstetri dan neonatal (PONED dan PONEK). 2009. Program lainnya antara lain mencakup peningkatan akses air minum layak dan sanitasi layak. Imunisasi campak hanya merupakan salah satu program penanggulangan kema an anak.

masing-masing telah meningkat sebanyak 6.8 71. Imunisasi campak pada daerah yang dak dapat mencapai target cakupan.4 69. jangkauan cakupan beberapa jenis imunisasi mengalami penurunan.8 72. Jambi dan Kalimantan Tengah.8 Gambar 4.9 66.6 76.3 79.5 57.2 80.6 67.5 61.6 78. jangkauan beberapa program imunisasi utama . Menurut Provinsi.0 58.0 50.0 51. yaitu pemberian vaksinasi campak untuk meningkatkan cakupan terhadap anak-anak usia 12-36 bulan yang belum divaksinasi – yang hanya akan dilakukan bagi anak-anak yang belum divaksinasi sampai usia satu tahun. yaitu di area yang selama 3 tahun berturut-turut dak dapat mencapai target yang ditetapkan.9 85.2 50.3 74. Tahun 2007 Sumber: BPS.8 51. dan hepa s . di Indonesia mulai tahun 2008 telah dilakukan pemberian dosis kedua campak pada anak sekolah.9. Kenda demikian. dan campak dari masing-masing 74 dan 76 persen menjadi 70 persen. Secara keseluruhan. Persentase Anak Usia 1 Tahun yang Diimunisasi Campak. Kalimantan Timur. Jangkauan cakupan imunisasi lengkap masih tercatat di bawah 50 persen. 100 80 Persen Cakupan 60 40 20 0 Sumatera Utara Aceh Papua Maluku Maluku Utara Papua Barat Sulawesi Tengah Kalimantan Selatan Jambi Sulawesi Barat Sumatera Selatan Lampung Nusa Tenggara Timur Riau Bangka Belitung Kalimantan Barat Gorontalo Sulawesi Selatan INDONESIA Sumatera Barat DKI Jakarta Sulawesi Tenggara Jawa Tengah Jawa Timur Jawa Barat Banten Kepulauan Riau Nusa Tenggara Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Bengkulu Sulawesi Utara Bali DI Yogyakarta 36.8 58. dan 72 persen. Untuk melengkapi imunisasi campak pada anak usia 1 tahun.2 60. 17. Namun demikian. dan 7 persen.9 65.8 77.6 64.1 77. 88 persen. sehingga mencapai 82 persen.0 74.2 74. Di samping itu. Bali. Selama periode 2002-2005.0 67. dilakukan melalui program Back Log Figh ng (BLF). tanpa memperhitungkan status vaksinasi anak-anak usia tersebut di kawasan dimaksud. Sedangkan cakupan imunisasi campak untuk anak usia 12-23 bulan hanya akan merupakan sampel pada survei yang dilakukan untuk menilai cakupan imunisasi campak untuk bayi (<12 bulan) dari program tahun sebelumnya.9 64.8 59.5 94.yaitu TB. jangkauan cakupan program imunisasi telah meningkat secara bertahap. Hal itu menunjukkan bahwa saat ini Indonesia tengah menggalakkan kampanye kesehatan terbesar Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 111 .9 49.0 58. hal ini diiku oleh turunnya ngkat pemberian imunisasi polio. dilaksanakan Crash Program Campak yang merupakan kampanye vaksinasi yang dilakukan untuk mencakup semua anak berusia 6-59 bulan. DPT3.di perdesaan lebih nggi daripada di perkotaan seper Sulawesi Utara. SDKI 2007.6 40.

pemantauan tumbuh kembang anak. dan intervensi gizi pada anak seraya memperha kan faktor-faktor risiko lingkungan. imunisasi. malaria. dan gizi buruk . Menyusui telah diprak kkan hampir secara menyeluruh di Indonesia. layak. Manfaat pemberian ASI baik bagi ibu maupun anak tak terbantahkan dan hasilnya dipengaruhi oleh durasi dan intensitas menyusui. perilaku pencarian pelayanan kesehatan yang sesuai. 18. sementara kekurangan zat gizi mikro.Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak dalam sejarah untuk mengatasi ancaman wabah polio yang tersebar di seluruh daerah. di mana 95 persen anak balita yang mendapatkan ASI untuk beberapa waktu. Intervensi gizi yang cost-effec ve. Kondisi saat ini. terutama dalam penyediaan air. 112 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Gizi yang baik sangat dibutuhkan bagi kesehatan dan kelangsungan hidup anak-anak dengan strategi efek f berdasarkan infant feeding prac ces. MTBS merupakan salah satu cara yang paling cost-effec ve untuk penanganan penyakit pada balita. Kebijakan dan strategi kesehatan di Indonesia difokuskan pada intervensi-intervensi in melipu antara lain: imunisasi. pendekatan difokuskan pada perbaikan gizi dan upaya pencegahan. penyediaan asupan gizi yang memadai pada saat sakit dan saat menderita gizi buruk. serta peningkatan komunikasi untuk perubahan perilaku. dan dapat diterapkan secara luas adalah pemberian ASI eksklusif selama kurang lebih 6 bulan yang bersifat melindungi.akan menerima vaksin oral polio. serta pelaksanaan pengobatan yang tepat. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) sudah terbuk dapat menurunkan AKB. dan hanya 62 persen bayi mulai menyusui pada hari pertama setelah lahir. Usia anak mulai menerima makanan pelengkap juga mempengaruhi status gizi mereka. Di ngkat keluarga. serta penyediaan asupan vitamin A. Se ap balita . meningkatkan dan mendukung peningkatan gizi. serta promosi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di ngkat keluarga dan masyarakat. mencakup imunisasi. Indonesia telah mengadopsi pendekatan MTBS untuk mengatasi diare. dan yodium yang memadai. serta unsur promosi kesehatan. dan pencegahan penyakit. pemberian makanan pelengkap yang sesuai dan melanjutkan pemberian ASI selama 2 tahun. zat besi. Pendekatan ini juga melipu penyuluhan perawatan bayi/anak dan peningkatan kualitas pelayanan rujukan bagi balita sakit. pneumonia. Strategi utama untuk mencapai hasilhasil ini mencakup penggalakan pemberian ASI. hanya 44 persen bayi yang diletakkan pada dada/payudara Ibu dalam kurun waktu satu jam setelah melahirkan (sesuai rekomendasi).4 persen balita masih mengalami kekurangan gizi.yang merupakan penyebab kema an yang utama.5 persen pada tahun 2007 (SDKI). manajemen terpadu balita sakit (MTBS). pelayanan antenatal. Namun. Pendekatan ini melipu perawatan terpadu penyakit utama pada balita dengan elemen-elemen gizi. Kemajuan yang dicapai dalam menurunkan angka kema an anak dan bayi mencerminkan perluasan cakupan dan perbaikan mutu layanan yang berkesinambungan. sanitasi dan polusi dalam ruangan. campak. seper yang ditunjukkan oleh konsumsi suplemen vitamin A pada anak usia 6-59 bulan selama 6 bulan terakhir turun dari 75 persen pada tahun 2002/2003 menjadi 68. perawatan medis sederhana.yang secara keseluruhan berjumlah 24 juta anak .

Kementerian Kesehatan sudah merancang kegiatan berbasiskan masyarakat untuk menekankan perlunya dukungan sebaya (peer) dan keluarga untuk kegiatan menyusui. asosiasi profesi dan LSM untuk meningkatkan kepedulian mereka tentang pen ngnya pemberian ASI dan memo vasi semua pihak untuk mentaa peraturan internasional tersebut. Instruksi ini mendorong pemerintah untuk membuat peraturan cara mempromosikan ASI eksklusif. 3 / 2010 tentang Pelaksanaan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui. sehingga diperlukan akselerasi perawatan bagi bayi baru lahir. Jaringan Nasional Pela han Klinik (JNPK) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah mengembangkan video pela han klinis tentang menyusui dini untuk para petugas kesehatan. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. pemerintah Indonesia menggan rekomendasi lamanya tentang pemberian ASI dari empat bulan menjadi 6 bulan (Kementerian Kesehatan. Dengan mengadopsi protokol WHO-UNICEF untuk Rumah Sakit Sayang Bayi (Baby-FriendlyHospitals). Untuk mempromosikan pemberian ASI. yang dikenal sebagai intervensi yang paling efek f dalam mengurangi kema an bayi baru lahir (Pediatric. promosi pemberian ASI eksklusif bisa menjadi kebijakan yang pen ng dalam menurunkan angka kema an bayi baru lahir. Angka inisiasi menyusui dini dan pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih rendah. Pada tahun 2008. Peraturan ini akan menyertai upaya klinis dalam mempromosikan inisiasi menyusui dini. penyedia layanan dan masyarakat luas. dan Nomor 1177/Menkes/PB/XII/2008. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 113 .1. tentang Pemberian Asi Selama Jam Kerja di Tempat Kerja untuk Meningkatkan Pemberian Asi pada Bayi. 2006). 2002c). Upaya advokasi harus ditujukan kepada anggota parlemen. protokol klinik mengenai perawatan bayi baru lahir satu jam sejak dilahirkan telah direvisi dengan penambahan untuk segera menempatkan bayi di atas dada ibu untuk kontak kulit ke kulit dan membantu ibu mengenali kemampuan alamiah bayinya untuk menyusui. dan bayi tetap disusui hingga tahun kedua usianya (WHO. Pada ngkat masyarakat. dan Menteri Kesehatan. 2005). Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memberlakukan Peraturan Menteri No. Kebijakan tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Untuk mengurangi ngkat kesakitan dan kema an anak-anak. survei terakhir (SDKI 2007) menemukan bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif hanya terjadi pada 32 persen dari total keseluruhan bayi yang dilahirkan. maka Indonesia harus mengiku peraturan Internasional mengenai Pemasaran Bahan Penggan Air Susu Ibu atau Interna onal Code of Marke ng of Breatmilk Subs tutes. telah diterbitkan Surat Keputusan Bersama antara Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. pemerintah. Namun hingga kini. hipotermia dan masalah pernafasan. 3/2010 diterbitkan dan merekomendasikan perlunya menerbitkan peraturan untuk mempromosikan ASI eksklusif dengan melibatkan kementerian terkait. direktur rumah sakit. Pada tahun 2003. misalnya dalam satu jam pertama sejak bayi dilahirkan. Dan pada tahun 2010. Manfaat inisiasi menyusui dini yaitu melindungi bayi baru lahir dari infeksi. diare.Kotak 4. Makanan padat hanya boleh dikenalkan setelah bayi berusia 6 bulan. petugas kesehatan dan masyarakat. Kontak kulit ke kulit dan inisiasi menyusui dini mengurangi kema an bayi hingga 22 persen Indonesia adalah salah satu negara di Asia yang mengalami kemajuan paling pesat dalam hal pengurangan kema an balita. pada tahun 2010. Nomor 48/ Men. Untuk mensasar para pembuat kebijakan mengenai promosi pemberian ASI eksklusif. Dengan demikian. Badan PBB untuk Dana Anak-anak (UNICEF) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan bahwa bayi harus diberi ASI sedikitnya selama 6 bulan setelah dilahirkan.PP/XI/2008. hal ini lebih rendah dibandingkan hasil survei serupa (SDKI 2002/03). Promosi pemberian ASI dengan inisiasi dini kontak kulit ke kulit juga mensasar para pembuat kebijakan. Instruksi Presiden RI No.27/MEN/XII/2008. Sebuah studi yang dipublikasikan di Pediatrics tahun 2006 menunjukkan bahwa prak k ini dapat mengurangi kema an bayi baru lahir hingga 22 persen. angka kema an bayi baru lahir dan bayi masih tetap memperlambat keseluruhan kemajuan Indonesia dalam mengurangi angka kema an balita. Nomor PER. Salah satu metode yang efek f adalah kontak kulit ke kulit dan inisiasi menyusui dini bagi bayi baru lahir dalam masa satu jam pertama sejak bayi dilahirkan. dan informasi tentang ini harus ditujukan kepada para pembuat kebijakan. yaitu 40 persen.

45 persen nggal di lingkungan berisiko nggi. dan hanya sekitar 30 persen dari ibu 9 10 11 12 13 Desa Siaga adalah desa yang memiliki kapasitas sumber daya dan kesiapan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan dan mencapai status desa sehat. MTBS . melipu sumber daya manusia. Untuk mempertahankan dan memperluas upaya cakupan imunisasi. Riset kesehatan dasar (Riskesdas 2007) melaporkan bahwa sekitar 20 persen kelahiran dak memiliki akses ke layanan kesehatan yang layak.Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak Meningkatkan penyediaan layanan kesehatan dasar dan memperkuat sistem rujukan merupakan bagian dari strategi utama. cuci tangan. yang tanpa ini semua akan menghambat pencapaian cakupan imunisasi dan memperlambat upaya perluasan jangkauan. yang sebagian prakarsanya telah diperkenalkan yaitu: Pada pelayanan kesehatan dasar: revitalisasi pelayanan kesehatan primer. dan dapat diterapkan secara luas yang dilaksanakan oleh penyedia layanan yang terla h dengan dukungan sumber daya yang kuat. layak. peran serta masyarakat.merancang program informasi dan perubahan perilaku yang memanfaatkan peran keluarga dan melibatkannya dalam meningkatkan kesejahteraan anak (seper inisiasi menyusui dini. dan keterlibatan keluarga. pengendalian faktor risiko lingkungan (akses terhadap air bersih dan sanitasi) – semua memerlukan penguatan jaringan sistem pelayanan kesehatan. peningkatan sistem informasi pada layanan KIA.60 persen anak-anak dak memiliki akses ke layanan kesehatan yang layak ke ka sakit dan 40 persen dak terlindung dari penyakit yang dapat dicegah. keuangan. pela han staf. serta kecukupan anggaran. dan (iv) keluarga . serta sumber daya materiil lainnya yang dapat dialokasikan ataupun direlokasi sesuai kebutuhan untuk menjaga momentum pen ng dalam pelaksanaan intervensi kunci. perencanaan sektoral terintegrasi. sinkronisasi pada intervensi efek f yang berbasis fakta menuju universal coverage. terutama pengerahan tenaga kesehatan untuk memperluas cakupan KIA dan Desa Siaga9. deteksi dini dan perawatan segera bagi balita sakit atau Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)13 . kualitas pembinaan akan di ngkatkan. sementara pada saat yang sama kebanyakan bayi lahir di Indonesia berisiko nggi. layanan pemeriksaan kesehatan masyarakat di ngkat desa. Yang termasuk tantangan utama antara lain: (i) pengawasan program.Manajemen Terpadu Balita Sakit 114 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . pendanaan dan promosi MTBS di ngkat akar rumput. perbaikan gizi. serta memperluas ketersediaan layanan bank darah di rumah sakit. berbasis masyarakat. meningkatkan fasilitas dan prasarana PONED11 di puskesmas-puskesmas. PONED: Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar. Tantangan Meskipun kemajuan dalam penurunan kema an anak (dan bayi) telah cukup menggembirakan. (ii) tata kelola. Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan pen ng di semua aspek kebijakan dan program utama terkait kesehatan anak. dan lain sebagainya). PosYanDu – Pos Pelayanan Terpadu. revitalisasi posyandu10 dalam meningkatkan promosi kesehatan dan program pencegahan. Sedangkan pada sistem rujukan: PONEK12 di rumah sakit akan di ngkatkan jumlahnya (hingga lebih dari 300 rumah sakit pada tahun 2010). Masalah dalam pelayanan kesehatan. Dilaporkan juga bahwa 35 . perbatasan dan kepulauan. PONEK: Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif. rumah sakit akan didorong untuk menciptakan lingkungan sayang bayi dan ibu. sementara sekitar 30 . dan pemberian prioritas pembangunan di daerah yang ter nggal. (iii) penekanan pada intervensi gizi yang cost-effec ve.

dan (vi) memperkuat strategi terkait kesehatan neonatal dan ibu (vii) mengurangi kesenjangan geografis.menerapkan prak k kesehatan yang baik. (ix) jenis lantai dari rumah bukan tanah (lantai tahan air). Kebijakan dan Strategi Perha an khusus diberikan pada pengembangan dan perluasan intervensi-intervensi kunci sebagai berikut: (i) konsolidasi program vaksinasi.air bersih. serta aspek sosial-ekonomi dan gender. Menyusui. serta kesenjangan status kesehatan antar daerah.10. Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) dengan tujuan akhir mencapai ekuitas dan cakupan semesta. (ii) pemberian ASI secara eksklusif untuk bayi 0-6 bulan.3 persen pada tahun 2007. Tantangan lain yang memerlukan perha an dalam pembangunan kesehatan dan mempercepat pencapaian target MDG adalah dampak perubahan iklim global terkait dengan kesehatan. (iii) kebiasaan merokok. (iii) menjamin penguatan program gizi yang terfokus. Panduan Program Alur Kelangsungan Hidup Sehat Sakit Ibu yang mendeteksi penyakit Ibu melakukan perawatan sendiri Ibu memberikan perawatan lanjutan Perbaikan Kesehatan & Kelangsungan Hidiup DI LUAR RUMAH Layanan kesehatan informal Imunisasi. menyapih. Riskesdas tahun 2007 menemukan bahwa 65 persen bayi dan anak-anak memiliki akses terhadap air bersih dan 71 persen terhadap sanitasi dasar. air/sanitasi dan layanan preven f lainnya di masyarakat Ibu mencari pengobatan di luar Fasilitas kesehatan memberikan perawatan Layanan kesehatan "Barat" Publik & Swasta Ibu menerima rujukan Fasilitas Rujukan Fasilitas kesehatan memberikan perawatan Sumber: USAID/BASICS Project. dan perilaku preven f lainnya DI DALAM RUMAH Gambar 4. termasuk strategi komunikasi untuk perubahan perilaku dan PHBS14 . Faktor risiko kema an bayi dan anak sangat terkait dengan kesehatan lingkungan . menjaga kebersihan. (ii) menerapkan strategi MTBS. (iv) ak vitas fisik. Sekitar 54 persen rumah tangga menggunakan bahan bakar padat penyebab polusi dalam rumah tangga. (viii) kepadatan penduduk per area lantai.10). sanitasi dasar dan ngkat polusi dalam ruangan. (vi) penggunaan sanitasi yang baik. (v) konsumsi buah-buahan dan sayuran. (iv) memperkuat peran keluarga. dan (x) kepemilikan asuransi kesehatan. (v) membenahi berbagai fasilitas kesehatan. sosial-ekonomi maupun aspek gender terhadap status kesehatan anak dan gizi. Target pencapaian PHBS di ngkat rumah tangga masih rendah yaitu 36. (vii) akses ke air minum meningkat. 1996. 14 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melipu 10 indikator: (i) persalinan dibantu oleh tenaga kesehatan terampil. melalui pendekatan kelangsungan hidup anak (Gambar 4. sistem desentralisasi kesehatan. kebijakan perdagangan dan pasar bebas. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 115 . Upaya pencapaian indikator con nuum of care dipandang pen ng untuk difokuskan pada peningkatan akses pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin serta penduduk yang berada di Daerah Ter nggal.

tetapi juga biaya operasional dan perawatan. b) Memperkuat struktur manajemen di ngkat pusat dan daerah. Hasil-hasil program imunisasi dapat tetap dipertahankan jika program tersebut mempunyai dukungan sumber daya memadai dan dak hanya mencakup vaksin atau perangkat dan mata rantai pendingin (cold chains). penetapan norma dan standar. e) Menyelenggarakan konseling bagi Ibu dan caregivers mengenai bagaimana cara merawat balita sakit. d) Melaksanakan MTBS di ngkat keluarga dan masyarakat guna mengop malkan upaya mencari pelayanan dan pemanfaatan layanan kesehatan. c) Menjamin Ketersediaan obat esensial terkait MTBS. e) Pemerintah. 2. Strategi untuk mengatasi masalah-masalah utama imunisasi untuk mencapai target cakupan imunisasi campak 93 persen pada tahun 2014 sesuai RKP 2011 dan cakupan nasional imunisasi lengkap 90 persen pada 2014 (melipu semua desa) antara lain melipu : a) Memas kan program imunisasi dengan sumber daya yang memadai. pengadaan vaksin dan peralatan. b) Mempertahankan sentralisasi pelaksanaan program hingga ngkat tertentu— dalam penyusunan kebijakan. Biaya-biaya ini akan meningkat seiring dengan meluasnya jangkauan. dalam rencana pembangunan jangka menengah telah menyusun target nasional tahunan untuk dimonitor pencapaiannya mencakup imunisasi campak dan imunisasi lengkap bagi bayi (usia 0-11 bulan) sebagaimana tercantum pada tabel pentahapan pencapaian target tahunan RPJMN (Tabel 4. serta meningkatkan pembinaan di ngkat fasilitas. memperkuat koordinasi dengan program-program kesehatan anak lainnya dan mengharmonisasikan peraturanperaturan yang ada.batas wilayah provinsi dan kabupaten). serta bagaimana dan kapan harus kembali ke pelayanan kesehatan untuk kunjungan ulang. meningkatkan pendanaan MTBS. 116 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . serta perencanaan upaya surveilans penyakit. Strategi untuk mengatasi masalah-masalah dalam pelaksanaan MTBS adalah sebagai berikut: a) Melakukan pela han berfokus pada MTBS bagi petugas kesehatan yang melayani anak-anak di fasilitas kesehatan ngkat pertama. d) Memas kan bahwa petugas teknis imunisasi dilibatkan dalam penyusunan skema reformasi sehingga fitur-fitur yang sangat pen ng bagi kualitas imunisasi serta per mbangan-per mbangan efek vitas turut dimasukkan. cara pemberian ASI atau memberi makanan.1). mengurangi ngkat turnover pegawai. yang dapat meningkatkan kinerja secara cepat dan berkesinambungan. staf dan pela hannya serta biaya-biaya yang dibebankan oleh fasilitas kesehatan guna menjamin prasarana vaksinasi. c) Mempertahankan peran pemerintah pusat dalam analisis dan pelaksanaan pemantauan penyakit (menyadari bahwa penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin dak mengenal batas-batas poli k .Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak 1.

b) Mendukung tumbuh kembang anak melalui penyediaan informasi bagi keluarga dan masyarakat tentang pemberian makanan. hal itu dinilai sebagai intervensi yang rela f mahal sehingga digunakan sebagai pelengkap bagi intervensi-intervensi lainnya. BCC merupakan cara untuk menyikapi berbagai alasan tentang mengapa perilaku tertentu dak boleh dilakukan .peningkatan asupan makanan. c) Memperkenalkan komunikasi untuk perubahan perilaku (Behavior Change Communica on-BCC).dan menunjukkan cara mengatasi penolakan dan memo vasi prak k yang diinginkan. dan e) Mengupayakan strategi pemberian makanan tambahan. Meta-analisis dari 4 uji kontrol acak di Afrika. Pemberian makanan tambahan merupakan ndakan pen ng dalam situasi keterbatasan akses memperoleh makanan di kalangan kelompok rentan dalam keluarga rawan pangan yang berpotensi menjadi penyebab mbulnya gizi buruk. gizi yang memadai selama masa sakit dan menderita gizi buruk. Hal itu disebabkan baik oleh keyakinan mereka sendiri maupun persepsi kalangan yang dekat dengan mereka. ketahanan pangan. Berbagai permasalahan pen ng yang dapat ditangani keluarga antara lain sebagai berikut: a) Melindungi anak-anak di daerah endemis malaria dengan kelambu yang mengandung insek sida. Hal dilakukan melalui: (i) penyediaan rekomendasi tentang perawatan individu anak-anak. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 117 . a) 4. perawatan anak.8 persen menjadi 32 persen pada 201415 melipu : Menekankan pemberian ASI secara eksklusif dan pemberian makanan pelengkap yang sesuai. dan pemberian suplemen langsung – yang dapat memberikan pengaruh signifikan pada morbiditas maupun mortalitas anak. dan perpaduan ga strategi utama . Meski upaya penyuluhan dapat menyampaikan pesan pendidikan gizi yang benar secara teknis dan mudah dipahami. Sebaliknya. atau karena masalah prak s lain yang ada. masyarakat belum tentu memprak kkannya sesering atau sebaik yang diharapkan. Meskipun demikian. d) Mengupayakan intervensi gizi mikro. Strategi untuk menangani permasalahan gizi utama dalam mencapai target nasional untuk menurunkan stun ng pada balita dari 36. dan upaya memperoleh layanan kesehatan. (ii) pengembangan rencana kegiatan masyarakat untuk mendukung keluarga dalam menjaga proses tumbuh kembang anak. Ini merupakan salah satu intervensi kesehatan anak yang paling murah. serta penyediaan asupan gizi mikro yang cukup.baik yang bersifat prak s semata maupun yang berupa norma sosial atau persepsi budaya . 15 16 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014.3. Suatu meta-analisis16 menunjukkan bahwa kelambu yang mengandung insek sida berhubungan dengan penurunan angka kema an anak sebesar 17 persen bila dibandingkan dengan populasi kontrol yang dak memakai kelambu atau memakai kelambu yang dak mengandung insek sida. melalui komunikasi antarpribadi atau melalui media massa.

ASI dan cairan lebih banyak saat sedang sakit. termasuk ASI. 118 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . BCG. dan sebagainya. malaria. Beberapa strategi telah diperkenalkan di Indonesia untuk 5 tahun ke depan. bimbingan. dan sebagainya). ndak lanjut. deteksi dan pengobatan infeksi. resistensi terhadap obat. ASI eksklusif. Muntaber. melalui: a) Dukungan untuk menerapkan strategi kelangsungan hidup untuk bayi baru lahir dan anak-anak dengan menekankan pelayanan kehamilan dan persalinan. Berbagai peneli an yang mengkaji faktorfaktor peyebab kema an anak menemukan bahwa keterlambatan upaya pencarian perawatan berkontribusi pada 70 persen kasus kema an anak. f) 5. Penguatan masyarakat melalui perubahan perilaku melalui peningkatan PHBS di ngkat rumah tangga dari 50 persen menjadi 70 persen pada tahun 2014 (RPJMN 2010-2014). pelayanan dasar bagi semua bayi yang baru lahir (termasuk inisiasi menyusui dini dan ASI eksklusif. program perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). namun 16-65 persen caregivers dak memberikannya. kegagalan terapi. pemberian makanan pelengkap untuk bayi berusia 6-24 bulan. Anak-anak membutuhkan makanan. Mengiku saran petugas kesehatan dalam perawatan. menjaga kehangatan. b) Dukungan yang berfokus pada pendekatan pelayanan esensial obstetrik dan neonatal untuk pencegahan dan perawatan segera pada komplikasi kehamilan. 6. Pela han bagi para ibu dalam perawatan demam malaria di rumah dan peningkatan akses perawatan akan dapat memberikan dampak yang signifikan. Uji kontrol acak menemukan bahwa pemberian makanan bergizi lengkap kepada anak yang sedang menderita muntaber dapat meningkatkan asupan energi dan penyerapan gizi. kecuali kasus yang sangat berat. dan perawatan tali pusat). e) Memberikan perawatan yang tepat di rumah kepada anak yang menderita infeksi. dan penyalahgunaan sisa obat. melalui program komunikasi perubahan perilaku dan KIE melipu cuci tangan. di eri. persalinan maupun masa neonatal (yang melipu pela han. dan rujukan. Terapi rehidrasi oral dapat mencegah kema an akibat diare dalam semua kasus diare. c) Mengenali anak sakit yang memerlukan perawatan dan mencari perawatan pada fasilitas/tenaga kesehatan yang tepat. d) Memberikan lebih banyak makanan dan minuman. serta perawatan khusus bagi bayi yang baru lahir dengan berat badan di bawah normal. Tidak mematuhi anjuran petugas kesehatan tentang perawatan dan rujukan dapat mengakibatkan perawatan yang dak lengkap. pertusis. kepada anakanak sakit. tetanus.Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak b) Memas kan bahwa anak-anak menerima imunisasi lengkap (Hepa s. dan infeksi tanpa komplikasi dapat ditangani di rumah dengan perawatan baik. Memperkuat Pelayanan Kesehatan Neonatal dan Ibu. dan campak) sebelum berusia satu tahun. vaksin polio oral.

penanggulangan penyakit menular. peningkatan fasilitas hingga menjadi PONED dan PONEK. sepsis dan kelainan kongenital). dan menjamin tersedianya biaya operasional kesehatan untuk rumah sakit dan puskesmas yang disebut BOK (Biaya Operasional Kesehatan). bayi dan pola pengasuhan anak telah ditetapkan dalam rencana pembangunan nasional jangka menengah sebagaimana yang disajikan dalam tabel berikut: Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 119 . Untuk mendukung strategi tersebut. gender dan pemberdayaan perempuan. yaitu pelayanan yang terintegrasi/terpadu. mekanisme distribusi. Advokasi kebijakan bagi provinsi-provinsi dengan ngkat pencapaian target MDGs goal 4 yang masih rendah untuk: a) Meningkatkan lokasi sumber daya yang memadai dengan memper mbangkan daya serap. pendidikan. 9. target nasional untuk bayi yang baru lahir. ter nggal.c) Sasaran masalah komplikasi kehamilan dan kelahiran dan masa neonatal yang berfokus pada penyebab utama kema an ibu dan neonatal (asfiksia. vaksinasi dan dukungan pemberian suplemen zat besi untuk mencegah anemia selama masa kehamilan. lingkungan. memperkenalkan strategistrategi untuk mempromosikan pelayanan kesehatan dasar dan revitalisasi Posyandu. BBLR/ prematuritas. dan program perlindungan sosial. perbatasan dan kepulauan. Untuk memas kan kemajuan. pela han bagi petugas kesehatan masyarakat mengenai prak k persalinan yang bersih. Memperkuat dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan. 8. c) e) Mengembangkan instrumen monitoring. dengan kegiatan-kegiatan di bidang air dan sanitasi. surveilans serta teknologi KIE. imunisasi dasar lengkap dan layanan kesehatan lainnya yang disediakan di Posyandu. d) Meningkatkan advokasi dan kemampuan tenaga kesehatan (capacity building). 7. strategi lintas sektoral perlu dipadukan untuk mempercepat pencapaian target MDG. Par sipasi masyarakat melalui kegiatan posyandu: pemantauan status gizi bayi dan balita se ap bulan melalui penimbangan berat badan. peningkatan kualitas untuk mempromosikan higiene. Mengembangkan strategi dalam penyediaan tenaga kesehatan strategis di daerah terpencil. b) Meningkatkan penyediaan anggaran publik untuk kesehatan dalam mengurangi risiko finansial khususnya masyarakat miskin.

Maluku Utara. Bangka Belitung.Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak Tabel 4. Papua Barat. dan Target Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Anak. Tahun 2010—2014 Prioritas Cakupan KN1 Cakupan KN4 Output 2010 84% 80% 60% 84% 78% 80% 80% 2011 86% 82% 65% 85% 80% 82% 85% 2012 88% 84% 70% 86% 81% 85% 88% 2013 89% 86% 75% 87% 83% 88% 90% 2014 90% 88% 80% 90% 85% 90% 93% Cakupan pengobatan pada komplikasi neonatal Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak Cakupan pelayanan kesehatan bagi bayi Cakupan pelayanan kesehatan bagi balita Cakupan imunisasi lengkap anak usia 1 tahun Cakupan imunisasi campak anak usia 1 tahun Sumber: RPJMN 2010-2014 dan RKP 2011. Jambi.1.1). Sumatera Utara. antara lain: (i) meningkatkan cakupan imunisasi campak anak usia 0-11 bulan dengan fokus pada peningkatan cakupan di provinsiprovinsi dengan cakupan lebih rendah dari rata-rata nasional (76. Gorontalo. 120 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Sulawesi Selatan. melalui Instruksi Presiden RI Nomor 3 tahun 2010 telah ditetapkan target yang akan dicapai dalam dua tahun pertama dari rencana pembangunan jangka menengah. Dalam rangka mempercepat pengurangan kema an bayi baru lahir khususnya dengan pencapaian kemajuan yang lambat. termasuk prioritas intervensinya. Sumatera Barat. Upaya ini akan dikoordinasikan oleh Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri. dengan melibatkan kementerian terkait (lihat teks Kotak 4. Riau. dan (ii) menetapkan peraturan untuk mempromosikan pemberian ASI secara eksklusif. Kalimantan Barat. Output. Prioritas. Kalimantan Selatan. Papua. Sulawesi Tengah.4 persen): Aceh. Maluku. dan akan mengerahkan seluruh pemerintah daerah dalam mencapai prioritas ini. Sumatera Selatan dan Sulawesi Barat.

“Puskesmas di Puskesmas di Praya. NTT” Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu .

.

1. Angka Kema an Ibu per 100.Target 5A: Menurunkan Angka Kematian Ibu hingga tiga-perempat dalam kurun waktu 1990 .70 persen (Susenas) Saat ini (2009) : 77. Proporsi kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan terla h (%): Acuan dasar (1992) : 40.34 persen (Susenas) Target Nasional (2014) : 90.000 kelahiran hidup: Acuan dasar (1991) : 390 (SDKI) Saat ini (2007) : 228 (SDKI) Target Nasional (2014) : 118 (RPJMN 2010-2014) Target (2015) : 102 5.2.2015 Indikator 5.00 persen (RPJMN 2010-2014) Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 123 .

3a.3 persen.4.4 persen (SDKI) 5. 124 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .1 persen (SDKI) Saat ini (2007): 57.0 persen (RPJMN 2010-2014) 5. Angka kelahiran remaja (perempuan usia 15-19 tahun): Acuan dasar (1991): 67 kelahiran per 1000 perempuan menikah usia 15-19 tahun (SDKI) Saat ini (2007): 35 kelahiran per 1000 perempuan menikah usia 15-19 tahun (SDKI)17 Target Nasional (2014): 30 kelahiran per 1000 perempuan menikah usia 15-19 tahun (RPJMN 2010-2014) 5.5.3. Meskipun perkiraan angka kema an 17 18 19 20 Angka fer litas (SDKI 2007) dikoreksi dengan memperhitungkan perempuan dak menikah yang memiliki anak.0 persen (SDKI) Saat ini (2007): 1 kali kunjungan: 93. semua cara: Acuan dasar (1991): 49.000 kelahiran hidup pada tahun 201520. AKI terus menurun. Angka pemakaian kontrasepsi (CPR) pada perempuan menikah usia 15-49 tahun. Indonesia belum memiliki sistem sta s k secara langsung untuk mengumpulkan informasi terkait indikator ini.Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu Target 5B: Mewujudkan akses kesehatan reproduksi bagi semua pada tahun 2015 Indikator 5. Lihat definisi pada Annex. 4 kali kunjungan: 56.6. Angka pemakaian kontrasepsi/Contracep ve Prevalence Rate (CPR) pada perempuan menikah usia 15-49 tahun.7 persen (SDKI) Saat ini (2007): 61. Cakupan pelayanan Antenatal (sedikitnya satu kali kunjungan18 dan empat kali kunjungan19): Acuan dasar (1991): 1 kali kunjungan: 75. Lihat definisi pada Annex. Kecenderungan yang ada. 4 kali kunjungan: 81.5 persen (SDKI) 5. Perkiraan usia spesifik yang bersifat langsung terkait kema an ibu didapat dari laporan dari sanak saudara ibu yang masih hidup yang dikumpulkan dari laporan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) secara serial.7 persen (SDKI) Saat ini (2007): 9.0 persen (RPJMN 2010-2014) Status Saat Ini Angka kema an ibu (AKI) di Indonesia masih tetap nggi. namun perlu upaya dan kerja keras untuk mencapai target MDG sebesar 102 per 100.1 persen (SDKI) Target Nasional (2014): 5.0 persen. Unmet Need (kebutuhan keluarga berencana/KB) yang dak terpenuhi: Acuan dasar (1991): 12.4 persen (SDKI) Target Nasional (2014): 65. cara modern: Acuan dasar (1991): 47.

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 125 . terutama perdarahan. jutaan perempuan mengalami beban penyebab kema an karena melahirkan tanpa disadari (Donnay dan Weil 2004).ibu bervariasi berdasarkan sumbernya. 15-20 persen ibu hamil baik di negara maju maupun berkembang akan mengalami risiko nggi (ris ) dan/atau komplikasi. 450 390 400 350 300 250 200 150 100 50 0 102 228 226 118 334 307 Gambar 5. Penyebab Utama Kema an Ibu. serta terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan. pra-eklampsia dan eklampsia. Lain-lain 11% Komplikasi Puerperium 8% Perdarahan 28% Gambar 5. maka diperkirakan se ap tahun sekitar 711. SDKI berbagai tahun. aborsi dak aman.2.1. Meskipun sebagian besar penyebab kema an ibu dapat ditangani.000 kelahiran hidup pada 1998-2002 dan 390 kema an per 100.111 hingga 948. Survei Kesehatan Rumah Tangga 2001. persalinan dan nifas. Di Indonesia. data SDKI 2007 mengungkapkan 228 kema an per 100. sepsis.148 perempuan dan remaja putri Indonesia akan mengalami ris /komplikasi pada masa kehamilan. Tren Nasional dan Proyeksi Angka Kema an Ibu. serta partus lama atau partus macet (Gambar 5. Data ini menunjukkan penurunan secara bertahap dari 307 kema an per 100.2). sekitar 80 persen kema an ibu disebabkan komplikasi langsung obstetri. namun karena kurangnya pengetahuan dan s gma sosial. yaitu. Tahun 1991-2025 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 2007 2009 2011 2013 2015 2017 2019 2021 2023 2025 SDKI Target MDG RPJMN Linear (SDKI) Sumber: BPS.000 kelahiran hidup pada tahun 1991 (Gambar 5. akibat kondisi medis yang diperburuk oleh kehamilan atau persalinan.000 kelahiran hidup untuk periode 2004-2007. Tahun 2001 Trauma obstetrik 5% Emboli obstetrik 3% Partus macet/lama 5% Abortus 5% Infeksi 11% Eklamsia 24% Sumber: BPS.1). Sebagaimana diperkirakan oleh WHO. Sisanya yaitu 20 persen kema an ibu disebabkan oleh penyebab dak langsung.

Tahun 1992-2009 100 71.5 64. Persentase proses persalinan di fasilitas kesehatan mengalami peningkatan sesuai dengan usia. dibandingkan dengan 83. mengurangi ngkat aborsi dak aman dan post abor on care. dan ngkat pengeluaran ibu. yaitu sebesar 36. 0 40.Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu Intervensi kunci yang mempengaruhi AKI mencakup pelayanan antenatal yang adekuat. berkisar dari ter nggi di Bali sebesar 90. 126 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 2009 Sumber: BPS. Kecenderungan Nasional Persalinan Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan Terla h.34 persen persalinan saat ini ditolong oleh tenaga kesehatan terla h (Susenas 2009). 21 Kuin l ngkat pengeluaran terendah dibandingkan dengan kuin l ter nggi.7 50 40 30 20 10 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Berdasarkan SDKI 2007.3 Gambar 5.4 persen persalinan dilakukan di fasilitas kesehatan swasta dibandingkan dengan hanya 9. ngkat pendidikan. Secara umum.9 80 70. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. perawatan yang tepat untuk kehamilan risiko nggi.7 67. Sebesar 77. Salah satu cara yang paling efek f untuk menurunkan angka kema an ibu adalah mendapatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terla h.7 persen persalinan di fasilitas kesehatan pemerintah. separuh lebih memilih bersalin di rumah.5 persen (Susenas 2007) dan 66.9 77.8 60. hanya 46. program keluarga berencana untuk menghindari kehamilan dini.4 persen di kalangan perempuan kaya.juga menunjukkan adanya kesenjangan ketersediaan fasilitas baik di antarwilayah maupun antarkota-desa.0 43.3. Disparitas antarwilayah persalinan di fasilitas kesehatan. dan sisanya.1 persen ibu yang bersalin di fasilitas kesehatan. 70 54.3 90 66. dibandingkan dengan 72.4 72.5 74.2 51.8 persen sampai dengan yang terendah di Sulawesi Tenggara sebesar 8. Hanya 13.21 Secara total. proses persalinan di fasilitas kesehatan mengalami peningkatan secara bertahap dan mencapai 46.0 63. Susenas 1992-2009.1 persen dari total persalinan pada tahun 2007.7 persen (Susenas 2002).1 Persentase 40.5 . Sementara target Kementerian Kesehatan pada tahun 2010 adalah 90 persen.4 persen.6 persen perempuan miskin yang melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. pemanfaatan fasilitas kesehatan swasta mengalami peningkatan.5 72. serta program-program perubahan perilaku (meningkatkan kesadaran) di kalangan perempuan usia subur. Tempat persalinan -di rumah atau di fasilitas kesehatan.8 46.3 60 50.

3 persen) dibanding di daerah perdesaan (28.3 76.9 persen). Ibu yang berpendidikan rendah lebih cenderung bersalin di rumah dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan lebih nggi (masing-masing 81.6 68. disparitas antarwilayah juga terlihat pada pertolongan persalinan oleh tenaga terla h.9 60 59.7 persen) daripada ibu yang melakukan empat kali kunjungan pelayanan antenatal atau lebih (45.2 85.5 persen).1 60.0 76.2 96.2 47.48 persen di Maluku.2 63.7 82.4.1 Sumber: BPS.2 85.5 63.7 88.5.14 persen di DKI Jakarta sampai yang terendah 42.5 47. Persentase Persalinan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Menurut Karakteris k.2 70.5 71. Sementara itu. Gambar 5. Tahun 2009 96.7 49.9 Gambar 5.4 62.3 78. SDKI 2007.5. Persentase Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Terla h. yaitu berkisar dari ter nggi 98. Tahun 2007 Sumber: BPS.5 88.9 98.9 69.8 84.7 82. Menurut Provinsi.Persentase persalinan di fasilitas kesehatan (pemerintah dan swasta) lebih nggi di daerah perkotaan (70.5 70. Para ibu yang dak mendapatkan pelayanan antenatal lebih cenderung melahirkan di rumah (86. Susenas 2009 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 127 . 100 90 80 70 Persentase 50 40 30 20 10 0 Maluku Maluku Utara Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Papua Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Papua Barat Sulawesi Tengah Gorontalo Kalimantan Tengah Banten Sulawesi Selatan Jawa Barat Jambi Nusa Tenggara Barat Kalimantan Selatan Lampung INDONESIA Sumatera Selatan Riau Sulawesi Utara Jawa Tengah Bengkulu Kalimantan Timur Bangka Belitung Aceh Jawa Timur Kepulauan Riau Sumatera Utara Sumatera Barat Bali DI Yogyakarta DKI Jakarta 42. Sementara itu.2 persen).3 87. persentase ibu dengan kuin l ngkat pengeluaran terendah hampir lima kali lebih besar melakukan persalinan di rumah dibandingkan dengan ibu dengan kuin l ngkat pengeluaran ter nggi (masing-masing 84.4 85.2 persen).4 77.5 48.1 49.3 85.8 dan 15.4 dibanding 28.9 86. seper ditunjukkan oleh Gambar 5. Terdapat kesenjangan yang substansial pada pemilihan tempat persalinan antarprovinsi maupun antardesa-kota.

SDKI berbagai tahun.5 63.5 75.5 2003 K4 ANC sesuai rekomendasi Sumber: BPS.3 persen. Data SDKI menunjukkan bahwa 3 dari 4 ibu hamil telah melakukan kunjungan ANC pertama pada trimester awal (kunjungan antenatal care sesuai jadual)22 sesuai rekomendasi program (Gambar 5. antara lain pemeriksaan nggi fundus (96. Di Indonesia.5 persen. 4.0 persen). tekanan darah. sedikitnya satu kali di trimester kedua. ibu hamil harus diinformasikan tentang tanda-tanda komplikasi kehamilan. Pelayanan Antenatal K1 dan K4.0 86. dan angka ini tetap stagnan selama dekade terakhir. diperlukan perha an khusus karena penurunan angka kema an ibu masih jauh dari target. imunisasi tetanus TT.8 persen.9 persen).0 90 80 70 Persentase 60 50 40 30 20 10 56. dibanding target 90 persen yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan (RPJMN 2010-2014).6. menunjukkan peningkatan angka kunjungan ANC (K1) oleh tenaga kesehatan profesional yang cukup signifikan dari 75.0 79. Tahun 1991-2007 100 83. 2001a).2 persen. direkomendasikan bahwa se ap ibu hamil mendapatkan layanan sbb: pengukuran nggi dan berat badan.0 93.Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu Sekitar sembilan puluh ga persen ibu hamil memperoleh pelayanan antenatal (antenatal care atau disebut ANC) dari tenaga kesehatan profesional selama masa kehamilan (Gambar 5. namun yang melakukan empat kali kunjungan pelayanan ANC atau lebih sesuai (jadual) yang dianjurkan baru mencapai 65.5 persen ibu hamil yang melakukan paling sedikit empat kali kunjungan pemeriksaan selama masa kehamilan.7 persen). diukur berat badannya.1 93. 40. serta menerima tablet besi sebesar 77.1 persen dan 29. beberapa pelayanan standar seper pemeriksaan sampel urin dan darah.7). Gambar 5. yaitu sebesar 93. Sementara itu. dan dua kali di trimester ke ga. serta penjelasan tanda-tanda komplikasi kehamilan masih jarang diterima ibu hamil. 128 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .7 2007 65. 0 1991 1994 K1 ANC 64. Sementara itu. Hasil survei tahun 2007.6). tablet zat besi. Terdapat 81. namun angka tersebut hanya sedikit lebih nggi jika dibandingkan dengan capaian tahun 2003. dan penimbangan berat badan (90.3 81. Data SDKI (2007) menunjukkan bahwa pelayanan yang umumnya diterima pada saat kunjungan ANC. masing-masing baru mencapai 38. pengukuran tekanan darah (91.0 81.23 22 23 Se daknya satu kali kunjungan pada trimester pertama. di samping pendekatan kesehatan ibu hamil yang terpadu dan menyeluruh.1 persen (Gambar 5.0 persen pada tahun 1991 menjadi 93. dan pemeriksaan nggi fundus (Kemkes.6).2 persen ibu hamil dak menerima layanan ANC (SDKI 2007). Salah satu aspek yang perlu diper mbangkan adalah kualitas layanan ANC untuk memas kan diagnosis dini dan perawatan yang tepat.3 persen.0 1997 K4 ANC Meski cakupan ANC cukup nggi. serta diambil sampel darah dan air seni. Dalam se ap kunjungan antenatal care.

1 93.3 61.3 40. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 129 . karena sebagian besar kema an ibu dan kema an neonatal terjadi pada masa ini. Disparitas antarwilayah untuk ibu hamil yang memperoleh pelayanan ANC oleh tenaga kesehatan profesional (K1) sangat signifikan.9 persen.0 persen.0 20 40 60 80 2007 100 2002/03 Sumber: BPS.8. 24 Pelayan postnatal (PNC) memberikan kesempatan penanganan komplikasi yang mbul pascapersalinan dengan informasi pen ng kepada ibu tentang cara merawat bayi dan dirinya sendiri.9 persen ibu yang dak berpendidikan dan 22.Frekuensi kunjungan ANC Tidak pernah missing 4% 1% 1 kali 3% 2-3 kali 11% Usia kandungan pada kunjungan pertama ANC 8+ bulan 1% 6-8 bulan 4% 4-5 bulan 15% Tidak pernah 4% Missing 1% Gambar 5. Con nuum of Care Pra-kehamilan Kehamilan Kelahiran Masa Neonatal Masa Bayi CPR ANC K1 Linakes 2 hari pasca salin ASI Eksklusif Imunisasi Campak (0-11 bln)* 0 60. lebih nggi dibandingkan di perdesaan yaitu sebesar 75.6 persen.3 persen ibu mendapatkan perawatan selama dua hari pertama yang paling kri s setelah melahirkan. berkisar mulai 100 persen di DKI Jakarta sampai sekitar 70 persen di daerah Maluku dan Papua (SDKI.4 93. Persentase ibu hamil yang memperoleh pelayanan ANC di daerah perkotaan cenderung lebih nggi daripada di perdesaan (masing-masing 97.0 61. SDKI 2007. para ibu hamil di perkotaan sebagian besar berkunjung sedikitnya empat kali kunjungan ANC.7 dan 90. Dua hari pertama pascapersalinan merupakan masa kri s. perbedaan antara perdesaan dan perkotaan mencapai 57.0 67. Sebesar 39.4 63.4 persen ibu memperoleh pelayanan postnatal (postnatal care atau PNC). Periode postnatal adalah waktu antara keluarnya plasenta hingga 42 hari (enam minggu) pasca persalinan.0 32.8 70.24 Pelayanan postnatal berbanding lurus dengan ngkat pendidikan dan ngkat pengeluaran ibu. Ibu yang dak mengenyam pendidikan memeriksakan kehamilannya ke dukun beranak/paraji mencapai 10. SDKI 2007. yaitu 89. Kunjungan Pelayanan Antenatal.5 persen di perdesaan dan 76.3 73.5 persen di perkotaan. Dari jumlah tersebut. Sebesar 83. Sementara itu. 2007).1 persen).7 persen ibu yang berada di kuin l pengeluaran terendah dak mendapatkan pelayanan postnatal ini. 70. Gambar 5. sedangkan untuk minimal 4 kali kunjungan sesuai jadual. Tahun 2007 4+ kali 81% <4 75% Sumber: BPS.3 66.7.5 persen. sedangkan yang dak periksa ANC mencapai 26.

kelahiran. Distress Nega f/melemahkan Gangguan seksual Peningkatan angka pemakaian kontrasepsi dak signifikan dalam 5 tahun terakhir (Gambar 5.4 persen untuk cara modern dan 61. seharusnya merupakan serangkaian upaya terpadu dalam pencapaian target kesehatan ibu. rata-rata peningkatan CPR adalah 3.Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu Karena con nuum of care merupakan sebuah ndakan/upaya untuk ibu melahirkan yang aman. CPR meningkat sebesar 1.1 persen untuk semua cara dan 0.4 persen untuk semua cara (SDKI 2007). terutama jika dibandingkan dengan peningkatan angka pemakaian kontrasepsi pada periode tahun 1991 sampai dengan 2002/2003. dan merupakan elemen pen ng untuk strategi peningkatan status kesehatan ibu dan anak yang dapat menurunkan angka kema an ibu dan anak. Gambar 5. neonatal dan anak (Gambar 5. periode neonatal dan bayi. diadaptasi dari Co ngham and Myn .11 menunjukkan bahwa pada tahun 2007 di antara cara modern. Konsep Dasar Kesehatan Seksual dan Reproduksi Kenyamanan. Maka.8). angka pemakaian kontrasepsi dak menunjukkan peningkatan yang berar . kepuasan Kehamilan dan kelahiran yg terencana Posi f/menguatkan Kesehatan seksual Menjadi Ayah / Ibu Ibu sehat Bayi lahir sehat Komplikasi morbiditas / Kema an Perinatal Morbiditas. Selama periode pra-kehamilan. kema an Ibu Jejas menetap termasuk infer litas Morbiditas / kema an akibat HIV/AIDS Penggunaan kontrasepsi pelindung PMS Tumbuh kembang Ak vitas seksual Kehamilan yg diinginkan Kehamilan yg tdk diinginkan Kelahiran Defisiensi gizi Aborsi dak aman Aborsi aman Infeksi Menular seksual Kontrasepsi berkaitan dengan morbiditas Infeksi endogen saluran reproduksi Sumber: UN Millennium Project 2005. kehamilan.2 persen untuk cara modern. KB sun k merupakan cara yang paling banyak digunakan (32 persen). 2002. pelayanan kesehatan pra-kehamilan. (Gambar 5.5 persen untuk semua cara dan 3. sementara pada periode 1991 sampai dengan 2002/2003. diiku pil KB (13 persen). kecacatan. Capaian Contracep ve Prevalence Rate (CPR) secara nasional rela f masih rendah. Selama periode 2002/2003 sampai dengan 2007.9.10). pelayanan konstrasepsi dan kesehatan reproduksi menjadi upaya pen ng yang perlu di ngkatkan.7 persen untuk cara modern. 130 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Pada periode 2002/2003 sampai dengan 2007.9). kesenangan. yaitu 57. Gambar 5.

1 52. Kecenderungan CPR pada Perempuan Menikah Usia 15-49 Tahun. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 131 .7 49.10.3 61. Tahun 1991-2007 56.7 Gambar 5.7 2.4 4.4 60.7 57.6 10 Sumber: BPS.6 2.4 70 54. SDKI 2007.0 0 1991 1994 1997 2002/03 2007 Semua cara Cara modern Cara tradisional 3.7 47.Penyuluhan KB 57.1 54.7 60 50 Persentase 40 30 20 2.

Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu

Gambar 5.11. Distribusi Persentase Perempuan Menikah Usia 15-49 Tahun Menurut Cara Kontrasepsi yang Digunakan, Tahun 2007

0,2 3 13,2 38,6 4.9

Sterilisasi Perempuan Sterilisasi laki-laki Pil KB IUD (spiral) Sun k Implan Kondom Laki-laki Amenore menyusui Pantang berkala Senggama terputus Jamu, pijat dll

31,8 0,4 2,1
Sumber: BPS, SDKI 2007.

0,2

2,8 1,3

Tidak menggunakan

1,5

Angka pemakaian kontrasepsi bervariasi antarprovinsi, antar ngkat pendidikan, dan antarngkat sosial-ekonomi. Angka pemakaian kontrasepsi terendah untuk semua cara terdapat di Maluku (34,1 persen) dan terendah untuk cara modern terdapat di Papua (24,5 persen). Sementara itu, CPR ter nggi untuk semua cara dan cara modern terdapat di Bengkulu, masing-masing sebesar 74,0 persen dan 70,4 persen. Masih ngginya disparitas CPR tersebut mencerminkan cakupan program keluarga berencana yang kurang merata di seluruh daerah (Gambar 5.12).
Gambar 5.12. Contracep ve Prevalence Rate Menurut Cara, Menurut Provinsi, Tahun 2007

100 80 60 40 20 0
Maluku Papua Papua Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Barat Aceh Maluku Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sumatera Utara Nusa Tenggara Barat Riau Banten Kepulauan Riau Kalimantan Timur Sumatera Barat DKI Jakarta Gorontalo Jawa Barat INDONESIA Kalimantan Barat Sulawesi Tengah Jawa Tengah Kalimantan Selatan Sumatera Selatan Jambi Jawa Timur Kalimantan Tengah DI Yogyakarta Bangka Belitung Sulawesi Utara Bali Lampung Bengkulu 34,1 38,3 39,6 42,1 45,4 47,4 48,8 50,7 53,4 54,2 54,8 56,7 57,4 57,6 59,2 59,9 60,1 60,1 61,1 61,4 62,7 63,6 63,7 64,4 64,8 65,2 66,1 66,5 66,9 67,8 69,3 69,4 71,1 74,0 29,4 24,5 37,5 30,1 44,5 45,4 46,2 44,4 42,9 42,6 52,2 52,8 55,4 54,0 55,4 52,8 56,4 58,8 60,3 57,4 61,2 59,8 60,0 63,2 62,6 62,5 62,3 65,2 54,8 64,7 66,7 65,4 66,0 70,4

Sumber: BPS, SDKI 2007.

Cara Modern

Cara Tradisional

Semua Cara

Gambar 5.13 menunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi di daerah perkotaan sedikit lebih nggi daripada di perdesaan (masing-masing sebesar 63 dan 61 persen). SDKI 2007 menunjukkan bahwa penggunaan KB cara modern rela f sama di kedua daerah tersebut (masing-masing sebesar 57 dan 58 persen). Angka pemakaian kontrasepsi secara umum meningkat seiring dengan makin ngginya ngkat pendidikan dan ngkat sosial ekonomi, demikian pula dengan CPR cara modern yang berbanding lurus dengan ngkat pendidikan, kecuali untuk penggunaan implan.

132

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

INDONESIA DAERAH TEMPAT TINGGAL Perkotaan Perdesaan PENDIDIKAN Tidak Sekolah Tidak Lulus SD Lulus SD Tidak Lulus SMA SMA + JUMLAH ANAK 0 12 34 5+ INDEKS KEKAYAAN KUINTIL Terbawah Menengah Bawah Menengah Menengah atas Teratas 0

61,4 62,5 60,6 42,3 54,0 64,0 65,5 64,4 8,3 46,7 53,0 63,3 62,4 63,8 63,5 20 40 60 80 68,1 67,7

Gambar 5.13. Contracep ve Prevalence Rate Pada Perempuan Menikah Usia 15-49 Tahun Menurut Karakteris k Latar Belakang, Tahun 2007

Persentase

Sumber: BPS, SDKI 2007.

Jumlah pasangan usia subur yang ingin menjarangkan kehamilan atau membatasi jumlah anak, tetapi dak menggunakan kontrasepsi (unmet need)25 meningkat dari 8,6 persen (SDKI 2002/2003) menjadi 9,1 persen (4,3 persen untuk menjarangkan kelahiran dan 4,7 persen untuk membatasi kelahiran) (SDKI 2007). Penurunan unmet need cenderung stagnan sejak tahun 1997 (Gambar 5.14).
14,0

% perempuan menikah usia 15-49

12,0 10,0 8,0 6,0 4,0

12,7 10,6 6,4 5,8 5,0 4,6 4,7 9,2 8,6 9,0

Gambar 5.14. Kecenderungan Unmet Need, Tahun 1991-2007

6,3 2,0 1991 1994
Penjarangan

4,8

4,2

4,0

4,3

Sumber: BPS, SDKI 1991, 1994, 1997, 2002/2003, 2007.

1997
Pembatasan

2002/3
Total

2007

25

Unmet need didefinisikan di sini sebagai persentase perempuan menikah yang dak menginginkan tambahan anak atau ingin menunda kehamilan, tapi dak menggunakan KB cara apapun. Perempuan dengan unmet need untuk “penjarangan” termasuk perempuan hamil yang kehamilannya di waktu yang dak tepat (mis med); amenore yang persalinan terakhirnya mis me; dan perempuan usia subur yang dak hamil maupun amenore, yang dak menggunakan KB cara apapun, dan yang ingin menunda 2 tahun atau lebih untuk kehamilan berikutnya. Yang juga termasuk dalam unmet need “penjarangan” adalah perempuan subur yang dak menggunakan KB cara apapun dan dak yakin apakah mereka menginginkan tambahan anak atau yang menginginkan tambahan anak tapi dak yakin kapan. Unmet need “pembatasan”mengacu kepada perempuan hamil yang kehamilannya dak diinginkan; perempuan amenore yang kelahiran anak terakhirnya dak diinginkan; dan perempuan yang dak hamil maupun amenore, yang dak menggunakan KB, dan yang dak menginginkan tambahan anak. Pengukuran unmet need untuk KB digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana program telah memenuhi permintaan. Perempuan yang telah disterilkan dianggap dak ingin anak lagi (SDKI 2007).

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

133

Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu

Unmet need cenderung bervariasi antarprovinsi, antardaerah dan antarstatus sosialekonomi. Gambar 5.15 menunjukkan provinsi dengan unmet need terendah terdapat di Bangka Belitung (3,2 persen) dan ter nggi di Maluku (22,4 persen). Sekitar 15 provinsi memiliki persentase unmet need di atas rata-rata nasional, 6 provinsi di antaranya memiliki unmet need di atas 15 persen dan semuanya terletak di Indonesia bagian mur. Selain itu, unmet need yang nggi juga ditemukan di daerah perdesaan (9,2 persen), dan pada kelompok yang dak berpendidikan (10,7 persen). Unmet need juga cenderung berbanding terbalik dengan peningkatan kuin l pendidikan dan kuin l pengeluaran, yaitu 11 persen untuk perempuan yang dak berpendidikan dan 8 persen untuk perempuan berpendidikan nggi (SMA ke atas); serta 13 persen untuk perempuan di kuin l terendah dan 8 persen untuk perempuan di kuin l ter nggi (Gambar 5.16). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin nggi ngkat pendidikan dan kesejahteraan, maka akan semakin nggi pula akses akan informasi dan layanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.
Gambar 5.15. Unmet Need Menurut Tujuan Penggunaan, Menurut Provinsi, Tahun 2007
Persentase

25
5,0 12,3

4,3

2,1 3,4

3,6

5 0

1,3

3,1

3,9

2,9

1,8

3,9

3,7

3,6

4,7

10

4,0

3,0

5,1

4,3

3,4

4,7

3,6

5,4 5,0

3,0

7,2

7,1

15

4,3

4,4

6,3

4,6

8,1

12,2

2,4

2,2

3,7

2,7

2,2

3,3

4,9

2,9

3,2

3,5

3,4

2,7

3,4

4,7

3,2

4,0

5,6

4,3

5,5

4,6

6,3

8,9

5,1

5,3

8,6

8,5

6,7

9,2

7,7

4,3

20

9,8

7,7 8,9

Sumber: BPS, SDKI 2007.

Tingginya unmet need juga disebabkan oleh ketakutan terhadap efek samping dan ke daknyamanan dalam penggunaan kontrasepsi, yang mencerminkan masih rendahnya kualitas layanan KB. Data SDKI 2007 menunjukkan 60 persen perempuan menikah dengan 2 anak, 75 persen perempuan menikah dengan 3-4 anak, dan 80 persen perempuan menikah dengan 5 anak atau lebih; dak ingin menambah anak lagi, namun dak seluruhnya menggunakan alat kontrasepsi. Data SDKI 2007 menunjukkan bahwa 12,3 persen perempuan usia 15-19 tahun dak ingin menggunakan alat/obat kontrasepsi karena takut efek samping, 10,1 persen karena masalah kesehatan dan 3,1 persen karena dilarang oleh suami. Unmet need dan CPR akan berpengaruh pada angka kelahiran total/Total Fer lity Rate (TFR), demikian pula terhadap peningkatan angka kema an ibu, yang diperkirakan 626 -1627 persen disebabkan oleh prak k aborsi yang dak aman. Tidak terpenuhinya kebutuhan akan layanan
26 27

MDGs Countdown 2005, Indonesia Country Profile. Abor on in Indonesia Gu macher Ins tute, Policy Brief, 9/2008.

134

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

Bangka Belitung Lampung Bali Kalimantan Tengah Bengkulu Sulawesi Utara Kalimantan Selatan Gorontalo DI Yogyakarta DKI Jakarta Jambi Sumatera Selatan Jawa Tengah Kalimantan Timur Kalimantan Barat Jawa Timur Sulawesi Tengah Banten INDONESIA Riau Jawa Barat Sumatera Barat Aceh Sumatera Utara Kepulauan Riau Nusa Tenggara Barat Sulawesi Tenggara Maluku Utara Sulawesi Selatan Papua Papua Barat Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Maluku

1,9

untuk penjarangan

untuk pembatasan

13,5

KB menyebabkan terjadinya kehamilan yang dak diinginkan sehingga memicu pada ndakan aborsi. Di Indonesia, aborsi termasuk ndakan yang ilegal sehingga para ibu yang hamil di luar rencana memilih menggunakan cara aborsi yang dak aman. Selanjutnya, dak terpenuhinya kebutuhan akan layanan KB ditandai pula dengan ngginya ngkat kehamilan pada usia remaja di Indonesia, 28 terutama di daerah perdesaan. Dalam beberapa pengukuran, ke daktersediaan layanan KB juga berdampak pada akurasi data fer litas yang terutama disebabkan oleh dak dilaporkannya peris wa kelahiran (lahir ma ) sebagaimana hasil survei SDKI.

Daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Lulus SD Lulus SD Tidak Lulus SMA SMTA+ Tingkat kesejahteraan Kuin l 1 Kuin l 2 Kuin l 3 Kuin l 4 Kuin l 5 4,3 4,1 3,3 3,6 3,9 4,6 6,5 4,3 4,7 6,2 3,0 3,2 4,1 5,2 4,9 7,7 6,2 4,9 4,0 3,4 4,0 4,5 4,7 4,7

Gambar 5.16. Unmet Need Menurut Karakteris k Latar Belakang, Tahun 2007

Total

4,3

4,7 Persentase

Unmet need - untuk menjarangkan kelahiran Unmet need - untuk membatasi kelahiran

Sumber: BPS, SDKI 2007.

Total Fer lity Rate saat ini adalah 2,3 per perempuan usia reproduksi (SDKI 2007) menurun dari 3,0 pada SDKI 1991. Penurunan angka TFR tersebut menunjukkan keberhasilan program KB di Indonesia. Dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, angka TFR di Indonesia sama dengan Brunei, dan Indonesia berada di urutan ke-5 di ASEAN setelah Myanmar (Gambar 5.17).

28

Data Adolescent Birth Rate dihitung menggunakan ASFR usia 15-19 tahun (jumlah kelahiran pada perempuan menikah usia 15-19 tahun dibagi jumlah perempuan menikah usia 15-19 tahun).

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

135

Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu

Gambar 5.17. Angka Fer litas Total di Negara-negara Asia Tenggara, Tahun 2002/2003 dan 2007

Singapura Thailand Vietnam Myanmar Brunei Indonesia Malaysia Laos Kamboja Filipina

1,4 1,3 1,7 1,6 1,9 1,9 2,8 2,1 2,5 2,3 2,4 2,3 2,9 2,6 4,7 3,3 4,0 3,4 3,7 3,5

0,0
Sumber: BPS, SDKI 2007.

1,0

2,0 2003 2007

3,0

4,0

5,0

Selanjutnya, ngginya TFR di beberapa provinsi di Indonesia juga disebabkan oleh kontribusi angka kelahiran remaja (Adolescent Birth Rate) yang rela f nggi, yang juga menunjukkan rendahnya median usia kawin pertama pada perempuan. Di Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat, TFR berada di atas rata-rata nasional, yaitu 2,5; sementara itu median usia kawin pertama perempuan juga rela f masih rendah, yaitu 19,8 tahun (SDKI 2007). Age Specific Fer lity Rate (ASFR) usia 15-19 tahun menurun dari 67 kelahiran per 1000 perempuan menikah (SDKI 1991) menjadi 35 kelahiran per 1000 perempuan menikah (SDKI 2007) namun ngginya disparitas antarprovinsi, antarwilayah, dan antarstatus sosial ekonomi masih menjadi tantangan utama. Age Specific Fer lity Rate usia 15-19 tahun yang ter nggi dijumpai di Provinsi Sulawesi Tengah (92 kelahiran) dan terendah di Provinsi D.I. Yogyakarta (7 kelahiran). Sementara itu, ASFR 15-19 tahun di 16 provinsi masih berada di atas rata-rata nasional (Gambar 5.18). Di daerah perdesaan, ASFR 15-19 tahun rela f nggi yaitu 74 kelahiran per 1000 perempuan usia 15-19 tahun, sementara di daerah perkotaan ASFR 1519 tahun hanya sebesar 26 kelahiran untuk kelompok yang sama. SDKI 2007 juga menunjukkan bahwa perempuan menikah usia 15-19 tahun yang pernah melahirkan lebih banyak terdapat di daerah perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan, masing-masing sebesar 12,7 persen dan 3,9 persen. Selain itu, persentase perempuan menikah usia 15-19 tahun yang pernah melahirkan juga lebih nggi pada perempuan dengan ngkat pendidikan dan ngkat sosial ekonomi yang lebih rendah (Gambar 5.19).

136

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

80
19 23 25 25 25 27 30 31 31 33 34 34 34 34 35 36 39 40 41 43 44 47 48 51 54 54 57 60 61

70 60 50 40 30 20 10 0
7 11 14

DI Yogyakarta DKI Jakarta Sumatera Barat Sumatera Utara Banten Riau Sumatera Selatan Kepulauan Riau Jawa Tengah Jambi Nusa Tenggara Timur Maluku Aceh Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Selatan INDONESIA Jawa Barat Lampung Papua Kalimantan Barat Bali Bengkulu Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Papua Barat Jawa Timur Kalimantan Selatan Bangka Belitung Nusa Tenggara Barat Gorontalo Maluku Utara

82

90

Gambar 5.18. Age Specific Fer lity Rate (ASFR) 15-19 Tahun, Menurut Provinsi, Tahun 2007

Sumber: BPS, SDKI 2007.

Tingginya angka kelahiran pada remaja disebabkan oleh terbatasnya informasi, akses, dan kualitas layanan KB dan kesehatan reproduksi. SDKI 2007 menunjukkan bahwa perempuan menikah pada kelompok usia 15-19 tahun yang menggunakan KB sebanyak 45,4 persen, terdiri dari 44,8 persen yang menggunakan cara modern dan 0,7 persen cara tradisional. Angka ini merupakan yang terendah setelah kelompok usia 45-49 tahun. Angka kelahiran pada remaja yang pernah menikah di daerah perdesaan lebih nggi dibandingkan dengan di perkotaan, dengan perbandingan hampir dua kali lipat di tahun 2002/2003. Di perkotaan, penurunan angka kelahiran pada remaja lebih cepat dibandingkan dengan di perdesaan (Gambar 5.19), yaitu dari 7,3 persen (SDKI 2002/2003) menjadi 3,9 persen (SDKI 2007), sementara di perdesaan angka kelahiran pada remaja turun dari 13,7 persen menjadi 12,7 persen untuk periode yang sama.
DAERAH TEMPAT TINGGAL Perdesaan Perkotaan PENDIDIKAN Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tidak tamat SMA SMA + INDEKS KEKAYAAN KUINTIL Terbawah Menengah bawah Menengah Menengah atas Teratas NASIONAL

13,7 12,7 3,9 7,3

13,6 16,2

18,7 21,2 22,7 21,4

Gambar 5.19. Proporsi Perempuan Usia 15-19 Tahun yang Pernah Melahirkan Menurut Karakteris k Latar Belakang, Tahun 2002/2003 dan 2007

3,8

6,7 5,5 5,6

5,9 6,4 9,8 16,8 9,6 10,3

8,5

0

5 2002/03

10 2007

15

20

25

Sumber: BPS, SDKI 2002/2003 dan SDKI 2007.

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

137

Sistem rujukan dari rumah ke puskesmas dan ke rumah sakit juga belum berjalan dengan op mal. di samping masalah budaya masyarakat. disamping determinan sosial budaya masyarakat. kesadaran masyarakat. Dari sisi kesehatan. perbatasan dan kepulauan (DTPK). risiko kema an bagi ibu dan bayinya meningkat selama periode perinatal dan neonatal. dengan kendala geografis dan hambatan transportasi yang seringkali menjadi hambatan untuk mengakses fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan. bayi yang dilahirkan oleh ibu berusia remaja akan lebih mudah mengalami cedera saat lahir. serta pengadaan layanan KB dan kesehatan reproduksi untuk pasangan usia subur. Selain itu. posyandu dan unit transfusi darah belum merata dan belum seluruhnya terjangkau oleh seluruh penduduk. Dari sisi demografi. pelayanan obstetrik neonatal emergensi dasar (PONED). sehingga dengan memperluas akses pelayanan KB dan kesehatan reproduksi dapat menurunkan ngkat fer litas. Ditambah lagi. Pengetahuan dan kesadaran remaja dan pasangan usia subur tentang KB dan kesehatan reproduksi masih rendah. Fasilitas pelayanan kesehatan belum seluruhnya menjadi tempat ibu hamil melahirkan akibat terbatasnya akses. Terbatasnya akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan yang berkualitas. BPS) tahun 2007 mengungkapkan adanya remaja yang setuju dengan hubungan seks pranikah sehingga menimbulkan potensi meningkatnya angka kehamilan yang dak diinginkan dan angka aborsi jika dak diiku dengan upaya yang tepat dalam meningkatkan pemahaman tentang kesehatan reproduksi pada remaja. 1. 138 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Di samping itu. penyediaan fasilitas pelayanan obstetrik neonatal emergensi komprehensif (PONEK). Melahirkan di usia remaja. dan risiko lahir ma . KB dan kesehatan reproduksi bagi remaja dan pasangan usia subur. melahirkan karena menikah di usia dini dapat meningkatkan kelahiran. Selain itu. risiko berat badan rendah. terutama bagi penduduk miskin di daerah ter nggal. Tantangan ke depan adalah upaya peningkatan layanan KIE. Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI. berisiko pada kerusakan sistem kesehatan reproduksi serta komplikasi kehamilan dan persalinan. keterbatasan tenaga kesehatan. Tantangan Pembangunan kesehatan menghadapi sejumlah tantangan pen ng termasuk rendahnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan. menunda kehamilan akan memperluas kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan memperluas akses terhadap kesempatan kerja.Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu Isu mengenai angka fer litas pada remaja dapat dipandang dari aspek kesehatan maupun demografi. terpencil. dan sistem informasi bagi perencanaan.

Beberapa indikator sosial ekonomi seper ngkat ekonomi dan pendidikan yang rendah serta determinan faktor lainnya dapat mempengaruhi ngkat pemanfaatan pelayanan serta berkontribusi pada angka kema an ibu di Indonesia. 29 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 139 . terutama bidan. diperoleh dari laporan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) secara serial sejak tahun 1994. Masih rendahnya status gizi dan kesehatan ibu hamil. Untuk mendapatkan angka kema an yang akurat dan penyebab kema an yang tepat. Terbatasnya ketersediaan tenaga kesehatan baik dari segi jumlah. penyakit menular. Masih banyak masyarakat yang mengandalkan dukun beranak dan prak k-prak k tradisional yang sering kali membahayakan keselamatan ibu akibat kurang memadainya jumlah dan pemerataan bidan.29 dan kadang-kadang kekurangan peralatan kesehatan. (iii) terlalu tua. Mo vasi dan mobilisasi masyarakat merupakan salah satu komponen pen ng untuk diintervensi. Tingginya angka kema an bayi dan rasio kema an ibu. Pengukuran AKI masih belum tepat. khususnya untuk bekerja dalam kondisi sulit di mana keterampilan tersebut sangat dibutuhkan. di mana risiko pada kehamilan dan kelahiran masih sangat nggi. Persentase perempuan usia subur (15-45 tahun) yang mengalami kurang energi kronis masih cukup nggi yaitu mencapai 13. 4. Program pendidikan dan pela han yang dilakukan secara crash program kadang-kadang mengakibatkan tenaga kesehatan lulus dengan keterampilan yang kurang memadai. (ii) terlalu dekat (jarak antar kehamilan). AKI saat ini diperoleh dari perkiraan usia spesifik yang bersifat langsung terkait kema an ibu yang didapat dari laporan dari saudara kandung ibu yang masih hidup. terutama ke ka dihadapkan pada kondisi keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan. Masih rendahnya angka pemakaian kontrasepsi dan ngginya unmet need masih menjadi tantangan utama.) yang masih merupakan masalah umum di sebagian besar daerah di Indonesia. dan rendahnya angka pemakaian kontrasepsi menunjukkan masih terbatasnya layanan KB yang merupakan salah satu faktor untuk menurunkan risiko kema an ibu. karena sistem pencatatan penyebab kema an ibu masih belum adekuat. Risiko ini juga lebih besar bagi ibu dengan kondisi khusus (menderita anemia. terutama di daerah terpencil. 6. dan persediaan darah yang diperlukan untuk menangani keadaan darurat persalinan. ngginya angka aborsi. terlalu muda). Disamping itu.6 persen (Riskesdas 2007). dan sebagainya. Hal ini terutama terjadi di daerah terpencil dan ter nggal. perlu segera diterapkan.2. risiko kema an ibu bahkan lebih besar bagi ibu dengan 4 ”terlalu” yaitu: (i) terlalu banyak (anak). 3. atau (iv) terlalu muda (usia ibu). terutama bidan sangat pen ng bagi keberhasilan program persalinan yang aman. usia ibu melahirkan (terlalu tua. obatobatan. Rendahnya status gizi. Masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pen ngnya menjaga kesehatan dan keselamatan ibu. kualitas dan persebarannya. model sta sik vital lengkap (yang dapat dilakukan melalui registrasi kema an ataupun sensus penduduk) dengan pencatatan penyebab kema an yang akurat. Petugas kesehatan di DTPK sering kali dak memperoleh pela han yang memadai. selain meningkatkan risiko kesehatan bagi ibu hamil juga menjadi salah satu penyebab bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Akses kepada tenaga kesehatan terla h. 5.

rumah sakit sayang ibu dan bayi serta revitalisasi posyandu. Program penurunan kema an ibu harus didasarkan pada prinsip bahwa se ap ibu hamil berisiko terhadap komplikasi yang mengancam jiwa. HIV/AIDS. Kebijakan untuk menempatkan bidan desa di daerah terpencil merupakan elemen kunci dalam upaya menurunkan angka kema an ibu. pendidikan keterampilan hidup. Pembinaan dan peningkatan kemandirian keluarga berencana melalui: a. dan perilaku remaja tentang kesehatan reproduksi remaja.000 penduduk. Untuk itu. (c) akses layanan obstetri darurat (dasar dan komprehensif) pada kehamilan dan persalinan berisiko nggi. dan •sistem rujukan yang berfungsi 30 Panduan PBB merekomendasikan minimum satu fasilitas PONEK dan empat PONED untuk ap 500. Napza. Untuk menurunkan rasio kema an ibu secara drama s. PONEK30 . 140 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . terutama bagi ibu pasca melahirkan dan kelompok dengan kebutuhan KB dak terpenuhi (unmet need group) dengan mengembangkan jaringan pelayanan kesehatan reproduksi terpadu termasuk pelayanan kesehatan reproduksi remaja dan pelayanan KB berkualitas dengan perha an khusus pada daerah miskin dan ter nggal. • akses ke pelayanan obstetri darurat.Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu Kebijakan dan Strategi Penekanan kebijakan di bidang kesehatan ibu adalah memperluas jaringan pelayanan. program pemberdayaan perempuan dan keluarganya.Healthy Indonesia 2010: Making Pregnancy Safer (MPS) – telah diterbitkan untuk meningkatkan akses ibu dan bayi terhadap layanan kesehatan yang layak. Pelayanan tersebut memiliki ga unsur kunci: • persalinan dibantu tenaga kesehatan terla h. Upaya melaksanakan revitalisasi KB dalam rangka pengendalian laju pertumbuhan penduduk merupakan salah satu kebijakan kunci untuk mencapai akses universal kesehatan reproduksi pada tahun 2015 dan dilakukan melalui serangkaian strategi antara lain: 1. dengan menjadikan puskesmas sebagai penyedia layanan primer. dengan: • meningkatkan pelayanan outreach berbasis fasilitas yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. meningkatkan kualitas layanan serta kesadaran masyarakat. dan (d) persentase persalinan di fasilitas kesehatan. serta dengan upaya s mulasi keterlibatan masyarakat dalam menciptakan rumah tangga dan lingkungan yang sehat. termasuk melalui program kerjasama lintas sektor yang efek f. b.000 kelahiran hidup. kebijakan dan strategi yang diambil melipu : 1) Peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. PONED. Memperha kan kecenderungan penurunan kema an ibu yang berjalan lambat dan begitu kompleksnya permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam rangka mencapai target AKI tahun 2015. semua perempuan harus memiliki akses ke pelayanan persalinan yang berkualitas.500 klinik KB pemerintah dan swasta yaitu dengan memberikan dukungan sarana dan prasarana klinik serta menyediakan alat/obat kontrasepsi (alokon) dan pelayanan KB gra s bagi masyarakat miskin. sikap. yaitu 102 per 100. meningkatkan pembinaan kesertaan dan kemandirian ber-KB melalui 23. Dokumen strategi . (b) cakupan persalinan ditolong tenaga kesehatan terla h. meningkatkan pengetahuan. maka upaya-upaya ke depan harus menjamin peningkatan: (a) frekuensi dan kualitas pelayanan ANC oleh tenaga kesehatan profesional. • meningkatkan akses layanan keluarga berencana. serta pendidikan kehidupan berkeluarga bagi remaja.

di 23. dan (iii) terlambat dalam mendapatkan penanganan di fasilitas.. Strategi pembangunan kesehatan perlu untuk membangun “koalisi yang kuat di seluruh pemangku kepen ngan” . dan mendorong demand lebih nggi. memperkuat sistem rujukan. d. dan BOK (Bantuan Operasional Kesehatan). (ii) terlambat mencapai fasilitas pelayanan. KB dan kesehatan reproduksi. dan keterampilan live saving. termasuk kemitraan dengan tenaga kesehatan swasta dan dukun bayi. pre-service dan in-services training bagi tenaga kesehatan strategis perlu terus di ngkatkan. 2) Peningkatan pelayanan con nuum of care. bidan. c. periode postnatal dan masa kanak-kanak. meningkatkan pengetahuan. dan (iii) di ngkat masyarakat. Hal ini mencakup penyediaan layanan terpadu bagi ibu dan bayi dari kehamilan hingga persalinan. Sumber : RPJMN 2010 . mengurangi hambatan finansial melalui: PKH (Program Keluarga Harapan). 3) Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 141 . sikap dan perilaku masyarakat terkait pengendalian jumlah penduduk. ditekankan pada peningkatan kualitas pelayanan. Peningkatan ketersediaan tenaga kesehatan. meningkatkan kapasitas sumber daya penyelenggara program KB di semua ngkatan. perbatasan dan kepulauan. 2. spesialis. mengembangkan media komunikasi dan intensifikasi komunikasi. memperkuat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat seper melalui posyandu dan poskesdes. untuk mengatasi masalah ‘ ga terlambat’. kualitas dan persebarannya (dokter umum.. dan masyarakat dalam penyelenggaraan program kependudukan dan KB. yang terdiri dari: (i) terlambat dalam memutuskan untuk mencari pelayanan. dan . Perencanaan proak f tenaga kesehatan dibutuhkan pula untuk menciptakan sebuah sistem sistem kesehatan yang inklusif dan adil. menggalang dan memperkuat kemitraan dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM). (ii) di ngkat rumah sakit. par sipasi dan kemandirian ber-KB. mengenali kasus-kasus yang membutuhkan pelayanan obstetri darurat. swasta. meningkatkan komitmen dan peran serta lintassektor dan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan program kependudukan dan KB. Program ini menempatkan persalinan yang aman sebagai elemen utama dalam kesehatan ibu dan bayi.c. dan sebagainya. untuk menjamin ketersediaan tenaga kesehatan di daerah-daerah terpencil. puskesmas dan rumah sakit. tenaga paramedis). Untuk meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan. terutama di daerah di mana mereka memiliki peran pen ng dalam kesehatan ibu. b. dapat dilakukan beberapa intervensi antara lain penerapan skema tenaga kesehatan kontrak. informasi dan edukasi tentang pengendalian penduduk serta keluarga berencana. Con nuum of Care merupakan elemen pen ng dalam strategi peningkatan kesehatan ibu dan bayi. ditekankan pada keterampilan komunikasi kemasyarakatan maupun komunikasi interpersonal. baik jumlah.. Peningkatan promosi dan penggerakan masyarakat melalui: a. terutama untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di daerah terpencil.500 klinik yang perlu bantuan.. Di samping itu.2014 • • • memperkuat fungsi bidan desa. Keterampilan tersebut melipu : (i) di ngkat masyarakat dan puskesmas. Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat). Hal ini sangat pen ng mengingat kunci untuk menyelamatkan nyawa ibu ke ka terjadi komplikasi adalah melalui perawatan yang memadai tepat pada waktunya. ditekankan pada keterampilan live saving dan perawatan obstetri komprehensif.

swasta dan masyarakat guna menerapkan sinergi dalam advokasi dan penyediaan layanan. Penciptaan lingkungan kondusif yang mendukung manajemen dan par sipasi stakeholder dalam pengembangan kebijakan dan proses perencanaan. di mana penentuan prioritas dan alokasi sumber daya tetap memperha kan penekanan intensitas sasaran pada daerah ter nggal dan miskin. khususnya dengan: (i) memperkenalkan metode-metode anali s untuk mengukur kema an ibu dengan memanfaatkan berbagai sumber data yang memiliki kualitas berbeda. lintas sektor. serta pembiayaan. kemitraan lintas program dan lintas sektor yang efek f dengan dukungan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan sektor swasta lainnya. Anemia juga menyebabkan peningkatan risiko kelahiran prematur dan mengakibatkan berat badan bayi lahir rendah. (ii) memberikan fokus pada kelompok dan daerah yang memiliki risiko kema an ibu terbesar.Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu 4) Peningkatan pendidikan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan dan keselamatan ibu di ngkat masyarakat dan rumah tangga melalui pelaksanaan program perubahan perilaku yang lebih intensif dan KIE yang dirancang sesuai kondisi lokal dalam rangka mendorong upaya promosi dan pencegahan serta memperkuat pesan mengenai safe motherhood dalam program Suami Siaga dan Desa Siaga. Penguatan sistem informasi. evaluasi. melalui: (i) penyesuaian strategi intervensi dari sisi penyedia layanan (keluarga berencana. sangat diperlukan guna menjamin terjadinya sinergi dalam pelaksanaan program. Penguatan koordinasi dengan memperjelas peran dan tanggung jawab pusat dan daerah dalam rangka memperkuat surveilans.31 (ii) meningkatkan kesehatan neonatal sebagai bagian tak terpisahkan dari program kesehatan ibu. program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) serta kelas ibu. kasus kekurangan yodium dapat menyebabkan sejumlah kondisi kehamilan yang berisiko. Pemberian zat besi kepada ibu selama masa kehamilan melindungi ibu dan anak dari anemia. perlu dipertajam pelaksanaan pencapaian indikator-indikator Standar Pelayanan Minimum (SPM) bidang kesehatan yang juga merupakan indikator sasaran MDGs. Diperkirakan sekitar 20 persen kema an perinatal dan 10 persen kema an ibu diakibatkan oleh anemia kurang zat besi. Pemberian vitamin A pada ibu menyusui juga dipandang perlu dengan manfaat baik bagi ibu maupun sang bayi. Di samping itu. (iii) memperkuat perencanaan dan manajemen kesehatan di ngkat daerah untuk pelayanan kesehatan ibu dan neonatal. Selain itu. dalam rangka menjamin pencapaian tujuan pembangunan kesehatan di ngkat pusat dan daerah (kabupaten/kota). Demikian pula. 5) 6) 7) 8) 9) 31 142 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . dan (iii) menyusun berbagai model untuk mengiden fikasi strategi-strategi safe motherhood yang efek f. pelayanan kesehatan ibu dan kesehatan reproduksi) dengan kondisi geografis dan sosial ekonomi yang ada. Perbaikan status gizi ibu hamil dengan menjamin kecukupan asupan gizi. dan (iv) mendorong kemitraan lintas program. monitoring. Program persalinan yang aman sering kali bersifat rumit dan hasilnya sangat bergantung pada kondisi di daerah program tersebut dilaksanakan.

Tahun 2010-2014 Jumlah Poskesdes (Pos Kesehatan Desa) 70. Sasaran yang akan dicapai dalam pembangunan KB untuk mendukung universal akses kesehatan reproduksi pada tahun 2014 antara lain: (i) menurunkan unmet need dari 9.Untuk menekankan strategi tersebut.4 persen menjadi 65 persen. (iii) menurunkan Age Specific Fer lity Rate (ASFR) usia 15– 19 tahun per 1.0 persen. RPJMN 2010-2014 telah menetapkan target tahunan sebagai berikut: Prioritas Output Persentase ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga kesehatan terla h (cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan (PN)) Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan reproduksi Persentase ibu hamil yang mandapatkan pelayanan antenatal (cakupan kunjungan kehamilan ke empat (K4)) Persentase fasilitas pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan KB sesuai standar. dari 35 menjadi 30. beberapa target output dari ap.000 74. dan Target Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu dan Reproduksi. dan (iv) menurunkan disparitas CPR dan unmet need antarwilayah dan antar ngkat sosial ekonomi. Output.000 Sumber: RPJMN 2010-2014. Dalam upaya mencapat target keluaran (output) tahunan yang telah dijabarkan sebelumnya.2.1 persen menjadi 5.000 perempuan menikah.000 72. Sasaran-sasaran tersebut Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 143 . Tahun 2010-2014 84% 86% 88% 89% 90% 84% 86% 90% 93% 95% 10% 40% 75% 90% 100% Sumber: RPJMN 2010-2014.000 78. Output. Prioritas. 2010 2011 2012 2013 2014 Tabel 5.ap masukan (input) telah ditetapkan sebagai berikut: Prioritas Meningkatkan pengembangan layanan persalinan dan kebidanan Meningkatkan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis pada program Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Output Jumlah puskesmas yang menerapkan layanan kebidanan standar sesuai pedoman 2010 2011 2012 2013 2014 70 140 210 280 350 Tabel 5. Prioritas.1. (ii) meningkatkan angka pemakaian kontrasepsi (CPR) cara modern dari 57. dan Target Peningkatan Layanan Persalinan Kebidanan dan Dukungan Manajemen Program Gizi dan KIA.000 76.

97 4.700 4.1 26. output. dan target antara lain sebagai berikut: Tabel 5.700 Meningkatkan kapasitas sumber daya penyelenggara program KB di 23.5 5.5 3.2 3. sikap.2 3.3 28.500 Program Kependudukan dan KB 3. kesertaan.6 12.700 4.0 23.2 26.373 12.3.7 12. tahun 2010-2014 Prioritas Output Contracep ve Prevalence Rate/CPR (%) Jumlah peserta KB baru/PB (juta) Jumlah peserta KB ak f/PA (juta) Jumlah peserta KB baru mandiri (ribu) Persentase peserta KB ak f mandiri Persentase peserta KB baru Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Persentase peserta KB ak f MKJP Persentase peserta KB baru laki-laki Jumlah klinik KB pemerintah dan swasta yang melayani KB Jumlah peserta KB baru miskin (Keluarga Prasejahtera/KPS dan Keluarga Sejahtera I/KS-I) dan rentan lainnya yang mendapatkan pembinaan dan alokon gra s melalui 23.9 12. Output.500 2014 65 7.3 23.700 4.5 12.9 25.253 13.500 klinik KB pemerintah dan swasta 11.500 klinik KB pemerintah dan swasta (juta) Jumlah peserta KB ak f miskin (KPS dan KS-1) dan rentan lainnya yang mendapatkan pembinaan dan alokon gra s melalui 23.0 23.9 4.4 49.2 27.7 4.500 2012 7.1 24.500 klinik KB pemerintah dan swasta Persentase klinik KB yang melayani KB sesuai Standard Opera ng Procedure (SOP) dari 23.75 3. dan kemandirian ber-KB Persentase tenaga pelayanan KB terla h di 23.700 4.8 3.6 23.8 3.6 51 13.4 12.6 27.Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu dicapai dengan melaksanakan revitalisasi KB melalui program kependudukan dan keluarga berencana dengan kegiatan utama.7 3.500 klinik KB pemerintah dan swasta Persentase pengetahuan remaja tentang: ·  Kesehatan reproduksi remaja 35 45 75 90 100 20 35 50 70 85 50 64 10 1 53 67 15 115 2 56 70 20 30 3 59 72 25 30 4 62 76 30 30 5 Meningkatkan pengetahuan.6 29.195 14.8 13.500 klinik KB pemerintah dan swasta (juta) Jumlah klinik KB pemerintah dan swasta yang mendapat dukungan sarana prasarana 2010 57. dan perilaku remaja tentang penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja (PKBR) ·  HIV/AIDS ·  Perencanaan kehidupan berkeluarga Jumlah pela h PKBR dila h Jumlah center of excellent PKBR (per provinsi) Jumlah Pusat Informasi dan Konseling (PIK) remaja/mahasiswa yang dibentuk dan dibina 9.2 12.6 23.500 2011 7.500 2013 7.4 48.5 50. dan kemandirian ber-KB melalui 23.500 klinik KB pemerintah dan swasta dalam rangka pembinaan. Prioritas.140 15.9 13. dan Target untuk Program Kependudukan dan KB (KKB).5 29 3.1 4.5 25.89 3.4 7.016 144 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .05 Meningkatkan pembinaan. kesertaan.1 4.4 49.

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 145 .750 3. perbatasan dan kepulauan (DTPK). yang memprioritaskan dan mengarah pada beberapa kegiatan seper : (i) peningkatan layanan kesehatan ibu (PONEK/PONED). swasta. rencana aksi dan target telah ditetapkan dalam Instruksi Presiden RI Nomor 3/2010. Dalam mempercepat pencapaian program kesehatan ibu. 95 95 95 95 95 Meningkatkan peran serta LSM.3.Prioritas Meningkatkan pengetahuan. terutama di daerah bermasalah kesehatan (DBK) dan daerah ter nggal. BKKBN.500 3. pemerintah kabupaten/kota dan peran ak f masyarakat. dan (iii) peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan KB dalam rangka menurunkan unmet need dan meningkatkan angka pemakaian kontrasepsi. dan remaja yang mengetahui informasi KKB melalui media massa (cetak dan elektronik) dan media luar ruang Jumlah tenaga lini lapangan KB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana/PLKB.343 2.350 3.700 950 Sumber: RPJMN 2010-2014. Penyuluh Keluarga Berencana/PKB) yang terla h: ·     La han dasar umum (LDU) ·     Refreshing ·     Pela han teknis 2010 38 2011 65 2012 84 2013 100 2014 100 Lanjutan Tabel 5.700 2.157 1. Seluruh target di atas dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan. mengurangi angka kema an ibu dan meningkatkan akses untuk mendapatkan layanan kesehatan reproduksi. dan masyarakat dalam penyelenggaraan program KKB 1.065 1.018 1. pemerintah provinsi.450 2. Wanita Usia Subur (WUS).300 1. (ii) penempatan sumber daya manusia kesehatan strategis.342 2. sikap dan perilaku masyarakat tentang pengendalian penduduk dan KB Output Persentase media dan materi Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) yang diproduksi Persentase Pasangan Usia Subur (PUS).

.

Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya . Start Running”.“Stop AIDS.

Malaria dan Penyakit Menular Lainnya 148 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS.

Prevalensi HIV/AIDS (persen)33 dari total populasi: Acuan dasar: Saat ini (2009) : 0. Dimodifikasikan dari panduan MDGs untuk indikator prevalensi HIV pada perempuan hamil usia 15-24 tahun menjadi prevalensi HIV per jumlah penduduk. Millennium Indicators). dalam persen karena data untuk indikator-indikator ini dak tersedia di Indonesia. 2006) Target (2015) : menurunkan penyebaran HIV/AIDS Target nasional : mengendalikan prevalensi HIV/AIDS hingga < 0.2 persen (es masi populasi rawan tertular HIV. laki-laki 18. maupun pasangan pernikahan dalam kurun 12 bulan terakhir (Metadata. Kemkes.5 persen pada tahun 2014 6.3 persen.Target 6A : Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV/AIDS hingga tahun 201532 Indikator 6.2. kecuali jumlah kasus per kelompok usia. Penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko nggi terakhir34: Acuan dasar (2002/03) : 12.4 persen (SKRRI) 32 33 Pembahasan Target 6A menjadi satu uraian dalam Target 6B.8 persen (SKRRI) Saat ini (2007) : perempuan 10. 34 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 149 . UNSTATS. Definisi untuk indikator ini: penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko nggi terakhir adalah persentase laki-laki dan perempuan berusia 15-24 tahun yang melaporkan penggunaan kondom pada hubungan seks dengan pasangan yang bukan pasangan hidup bersama.1.

namun laju kenaikannya masih cukup nggi.1.17 persen dari seluruh penduduknya.598 kasus).808 kasus). 150 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Proporsi penduduk terinfeksi HIV lanjut yang memiliki akses pada obat-obatan an retroviral: Acuan dasar : Saat ini (2009) : 38.6 persen. Walaupun angka keseluruhan populasi yang terinfeksi HIV di Indonesia rela f masih rendah yaitu 0. lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan jumlah kumula f pada tahun 2006 sebesar 8.828 kasus).) Berdasarkan jumlah kumula f kasus AIDS tersebut. DKI Jakarta (2. laki-laki 1.000 orang yang saat ini hidup dengan HIV di Indonesia.Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS.5. Proporsi jumlah penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS: Acuan dasar : Saat ini (2007) : (menikah) perempuan 9. per 30 November 2009) Status Saat Ini Jumlah infeksi HIV baru di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan. yaitu sebesar 19.7 persen (SDKI) (belum menikah) perempuan 2. Papua (2.973 kasus pada tahun 2009. Jawa Timur (3. jumlah kumula f kasus AIDS juga cenderung terus meningkat. dan Bali (1. Sementara itu. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya 6.194 kasus (Gambar 6. laki-laki 14.3.4 persen (Kemkes 2010.4 persen (SKRRI) Target 6B: Mewujudkan akses terhadap pengobatan HIV/AIDS bagi semua yang membutuhkan sampai dengan tahun 2010 Indikator 6. Sepanjang periode 1996 sampai dengan 2006. daerah dengan jumlah kasus AIDS ter nggi adalah Jawa Barat (3. seper terlihat pada Gambar 6.5 persen dan diperkirakan bahwa ada sekitar 193.615 kasus).2. angka kasus HIV meningkat sebesar 17.227 kasus).5 persen.

500 3. Menurut Provinsi. serta pasangan mereka. 4.639 2. Cara penularan HIV/AIDS di Indonesia ditunjukkan pada Gambar 6. KemKes.3 persen dan 3.000 14.808 2.171 316 1.3 persen).20.1. Meskipun di sebagian besar daerah di Indonesia epidemi AIDS umumnya terkonsentrasi pada populasi berisiko nggi dengan es masi nasional prevalensi orang dewasa 0.000 16.000 10. Tahun 2009 2.000 500 - 21 Sulawesi Barat Gorontalo Maluku Utara Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Kalimantan Tengah Sulawesi Tenggara Kalimantan Selatan Aceh Papua Barat Bengkulu Bangka Belitung Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Lampung Jambi Sulawesi Utara Maluku Sumatera Selatan DI Yogyakarta Banten Sumatera Barat Kepulauan Riau Riau Sumatera Utara Sulawesi Selatan Jawa Tengah Kalimantan Barat Bali Papua DKI Jakarta Jawa Timur Jawa Barat 0 3 10 11 12 21 27 43 58 91 117 119 138 144 165 173 192 219 290 318 330 333 475 485 591 717 794 1.000 18. yaitu para perempuan pekerja seks komersial (PSK) dan para transeksual.000 - 19.227 Sumber: Kemkes. 2009.947 3.000 6.500 2.000 8. dua provinsi di Tanah Papua (Papua dan Papua Barat) mengalami pergeseran ke generalized epidemic dengan prevalensi 2.3. 2007).000 2. P2PM.195 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Jumlah kasus baru AIDS yang dilaporkan Jumlah kumula f kasus AIDS yang dilaporkan Sumber: Kemkes.000 3.973 16.000 2.500 4. Tahun 1989-2009 8.110 11.828 3.22 persen pada tahun 2008. Kasus AIDS per 100.194 5.2.3 persen dari Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 151 .969 3.598 4. Jumlah Kasus AIDS di Indonesia.321 2. diiku oleh pengguna narkoba dengan jarum sun k (IDU) sekitar 39. Ditjen P2PL.615 Gambar 6. Ditjen P2PL.500 1.000 4.682 1.4 persen pada populasi umum usia 15-49 (STHP.141 2. 2009.873 2.863 Gambar 6.000 1. Kasus AIDS yang dilaporkan sampai dengan Desember 2009 menunjukkan bahwa AIDS sebagian besar ditemukan pada kelompok heteroseksual (50.000 12.000 Penduduk di Indonesia.

Kelompok Umur 152 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . 2009).2 48. Ditjen P2PL. 2. 4. penularan dari ibu ke anak menyebabkan 2.3% Persentase Gambar 6.6 persen kasus pada perinatal dan infeksi HIV yang ditularkan melalui transfusi darah sekitar 0.3 30.1 persen. Tahun 2009 Transfusi darah.3% Tidak diketahui. Menurut Kelompok Populasi. 3.4). Malaria dan Penyakit Menular Lainnya kelompok homoseksual (laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki.000 sampai 5.0 40. Gambar 6. 0.7 Sumber: Kemkes.1% Perinatal. LSL).0 50.4% Penasun. Angka kema an di antara orang yang hidup dengan AIDS dilaporkan sebesar 21 persen pada 2007 dan 17 persen di akhir Desember 2008.0 <1 1-4 5-14 15-19 20-29 30-39 40-49 50-59 > 60 Tidak diketahui 1.5 3.4. Persentase Kumula f Kasus AIDS di Indonesia.9 3.49 tahun.2 0.Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS. Program AIDS Nasional.3. 50. Indonesia.0 1.6 8. Heteroseks.0 10.6% LSL.3% Keterangan : Penasun : pengguna narkoba jarum sun k LSL : Laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki Sumber: Laporan Surveilans. 2009.000 orang meninggal akibat AIDS di Indonesia atau sekitar hampir 10 orang se ap hari meninggal akibat AIDS (Kemkes. Kemkes. Jika dilihat berdasarkan penularan kasus AIDS (Gambar 6. Tahun 2009 60. sebagian besar (91 persen) kasus AIDS diderita oleh kelompok usia produk f 15 . 39. Menurut Kelompok Usia.1 2. Se ap tahun sekitar 3. Distribusi Infeksi HIV di Indonesia.5 0.0 30.0 20.

atau dengan pasangan di luar nikah dalam kurun 12 bulan terakhir ini menjadi buk atas masalah di atas. Dengan adanya.Penularan HIV di Indonesia cenderung akan meningkat dalam lima tahun mendatang dengan semakin banyaknya orang yang melakukan hubungan seks tanpa pelindung. Kementerian Kesehatan Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 153 . Proses pemodelan tersebut menggunakan data demografi. Sesuai dengan rendahnya persentase pemakaian kondom pada hubungan seksual berisiko nggi pada kaum muda berusia antara 15-24 tahun yang mengaku menggunakan kondom ke ka berhubungan seksual bukan dengan suami/istrinya. namun sebaliknya pada kelompok laki-laki. Kecenderungan Jumlah Kumula f Kasus HIV Baru di Indonesia. yang akan meningkat jumlah infeksi baru HIV pada perempuan serta anak – anak. kelompok yang lebih muda menunjukkan ngkat penggunaan lebih rendah dari 35 36 Pemodelan Matema k Epidemi HIV di Indonesia. dan ngkat penyebaran HIV melalui pemakaian narkoba dengan jarum sun k meningkat pesat. peningkatan infeksi baru yang signifikan pada seluruh kelompok populasi kunci. peningkatan jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dari sekitar 404.3) diperkirakan akan terjadi peningkatan prevalensi HIV pada populasi usia 15-49 tahun dari 0. perilaku dan epidemiologi pada populasi kunci.400 pada tahun 2010 menjadi 86. Menurut Kelompok Populasi. perempuan yang lebih muda (1519 tahun) mempunyai kecenderungan untuk menggunakan kondom lebih nggi dibandingkan dengan kelompok perempuan yang lebih tua (20-24 tahun). Survei terkini (SKRRI 2007) menunjukkan bahwa pada rentang usia 15-24 tahun. Tahun 1980—2025 Sumber: Rencana Aksi Nasional HIV/AIDS di Indonesia. 2008-2014. Dari hasil proyeksi (Gambar 6. Kecenderungan epidemi HIV ke depan dengan pemodelan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang penularan HIV saat ini dan perubahannya hingga 2025.600 pada tahun 2010 menjadi 813.4 persen pada tahun 2014.800 pada tahun 201436. Sehingga diperkirakan pula. Pemodelan Matema k Epidemi HIV di Indonesia.720 pada tahun 201435.21 persen pada tahun 2008 menjadi 0.5. Gambar 6. diperlukan kewaspadaan terhadap potensi meningkatnya infeksi baru pada pasangan seksual (in mate partner) dari masing-masing populasi kunci. KPAN.5. 2010-2025. seper terlihat pada Gambar 6. tahun 2007-2010. yang berdampak pada peningkatan kebutuhan ART dari 50. Isu-isu kesehatan reproduksi dan seksual serta penyalahgunaan zat-zat adik f adalah salah satu dari sekian banyak masalah utama kesehatan yang dihadapi oleh generasi muda.

angka ini bahkan sangat rendah yakni 1. Proporsi Perempuan dan Laki-laki Tidak Menikah yang Menggunakan Kondom Kali Terakhir Berhubungan Seksual.3 Laki-laki Perempuan Sumber: BPS.5 persen perempuan menikah yang memiliki pengetahuan komprehensif dan benar mengenai AIDS.2 20 4 28 7.8).3 8. ternyata hanya 14. 0 10 20 30 Pengetahuan tentang HIV dan pencegahannya merupakan prasyarat pen ng untuk menerapkan perilaku sehat. Menurut Karakteris k Latar Belakang.4 24.6 persen pada perempuan yang belum menikah (Gambar 6. yaitu kurang dari 50 persen37 (Gambar 6.8 21.3 18.6 0 11. Tahun 2007 15-19 Usia 20-24 Tempat nggal Perkotaan Perdesaan Tidak tamat SD Pendidikan Tamat SD Tidak tamat SMTA SMTA+ Total 15. Meskipun sebagian besar generasi muda (usia 15-24 tahun) di negara ini pernah mendengar tentang HIV/AIDS.7 persen laki-laki menikah dan sekitar 9. Secara umum.4 10.1 10. Angka ini jauh dari angka target sebesar 95 persen yang ditetapkan oleh PBB dan merupakan angka terendah untuk kelompok umur ini.4 12.5 9. dan sekitar 18 persen pada kaum laki-laki muda yang belum menikah (Gambar 6. banyaknya penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko nggi juga berhubungan dengan ngkat pendidikan. hanya sekitar 10 persen kaum perempuan muda yang belum menikah yang menggunakan kondom pada hubungan seksual mereka.6). Malaria dan Penyakit Menular Lainnya kelompok yang lebih tua.6 13.4 persen pada laki-laki yang belum menikah dan 2. 154 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Gambar 6. Sedangkan pada kelompok yang belum menikah.7 0 15. Sementara itu kaum perempuan menunjukkan pola yang berbeda di mana perempuan di daerah perdesaan lebih sering mengenakan kondom pada hubungan seksual berisiko nggi dibandingkan dengan perempuan yang nggal di daerah perkotaan.6. laki-laki di daerah perkotaan lebih sering mengenakan kondom pada hubungan seksual berisiko nggi dibandingkan dengan laki-laki yang nggal di daerah perdesaan. Secara nasional.Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS.7). Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) 2007. Berdasarkan tempat nggal.

0 30.9 1.6 1.0 5.2 2.6 18.5 10.6 2.7 9.0 10.2. Wilayah Asia Tenggara.0 4. Persentase Perempuan dan Laki-laki Muda Usia 15-24 Tahun dengan Pengetahuan Komprehensif Mengenai HIV/AIDS.5 20-24 15-24 Tempat nggal Perkotaan Gambar 6. Country Reports: HIV / AIDS in the South-East Asia Region 2009.1 1.8 15.7 Catatan: *) mencakup usia 15-54 tahun untuk kelompok laki-laki menikah. 2008.9 0. Demikian pula jika dilihat berdasarkan ngkat sosial ekonomi. maka semakin nggi persentase pengetahun komprehensif tentang AIDS.7 0.7 persen (perempuan menikah).9 3.1 0.4 2. kecuali per-kelompok umur. Bangladesh India Nepal Sri Lanka Thailand Myanmar Indonesia Sumber: UNGASS country reports.2 22 2. Jika dilihat berdasarkan pendidikan.1 28.5 1.2 10.4 5.7 9.9 27.2 14.6 21.0 20.1 15-19 Usia 5. Tahun 2007 Perdesaan Tidak sekolah Laki-laki Menikah* Perempuan Menikah** Tidak tamat SD Pendidikan j g Laki-laki Lajang Perempuan Lajang Tamat SD Tidak lulus SMTA SMTA + Kuin l Terbawah Ter nggi Total 12. Proporsi Pengetahuan yang Benar dan Komprehensif Mengenai AIDS Pada Laki-laki dan Perempuan Usia 15-24 Tahun.1 persen (laki-laki menikah) dan 1.0 15.7. antarperdesaan dan perkotaan.3 2.9 3.8 0. 0.0 100 90 80 Target laki-laki perempuan % remaja (usia 15-24 tahun) 70 60 50 40 30 20 10 0 Gambar 6.9 persen (perempuan menikah).2 3.9 1.3 1.7 3.0 2.7 1. semakin nggi ngkat pendidikan seseorang. kelompok masyarakat pada kuin l ngkat pengeluaran teratas sebesar 27. antar ngkat pendidikan serta faktor sosio-ekonomi lainnya. Pengetahuan kaum laki-laki dan kaum perempuan yang telah menikah di perkotaan lebih nggi dari di perdesaan. 37 UNGASS.2 1.8 22.8.1 2.4 2. Tahun 2007. SDKI dan SKRRI 2007. **) mencakup usia 15-49 tahun untuk kelompok perempuan menikah.6 8.0 35. Sumber: BPS.0 25.5 14. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 155 .1 1.5 persen (laki-laki menikah) dan 21. Angka tersebut sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan kelompok masyarakat pada kuin l pengeluaran terbawah yakni 3.2 1. kecuali per-kelompok umur.8 10.2 2. Disparitas pengetahuan juga ditemui antarprovinsi.

UNGASS 2008. Cakupan Intervensi ART di Indonesia. Meskipun demikian.9). Baik perkiraan dan jumlah perempuan posi f yang menerima ARV profilaksis pada tahun 2008 telah dua kali lipat dibanding angka di tahun 2006. ke ka diperkirakan ada 2. Namun baru 165 perempuan terinfeksi HIV atau 12. UA 2009. Diproyeksikan bahwa jumlah perempuan dengan HIV posi f yang membutuhkan layanan PMTCT akan meningkat dari 5.203 ibu hamil (0. 38 Strategi Rencana Aksi Nasional HIV dan AIDS 2010-2014 156 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .730 orang di tahun 2010 menjadi 8.563 perempuan HIV posi f. Pada tahun 2008. di antaranya hanya 196 yang menerima ARV profilaksis.6 persen yang memperoleh ARV profilaksis dari skala program yang terbatas saat ini (hanya 30 fasilitas kesehatan dengan layanan PMTCT di akhir tahun 2008). Angka ini sedikit meningkat dibanding 2008 ke ka diperkirakan bahwa terdapat 4. diperkirakan hanya sekitar 1-10 persen perempuan hamil yang mendapatkan pelayanan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Meskipun jumlah infeksi HIV baru di kalangan anak-anak tampaknya semakin meningkat (Gambar 6. dan UA 2010.10).560 perempuan HIV posi f 165 di antaranya menerima ARV profilaksis. diperkirakan bahwa ada 5. penanganan dan perawatan HIV/AIDS bagi para perempuan.170 di tahun 201438.1 persen) telah menjalani tes HIV dan menerima hasilnya. Tahun 2006–2009 Catatan: An retroviral treatment (ART) diberikan secara individual pada mereka dengan infeksi lanjut sesuai protokol yang berlaku secara nasional. namun pencegahan penularan ibu ke anak mulai mendapat perha an lebih dari sektor yang relevan dan ada kesepakatan bahwa memperluas ketersediaan layanan PMTCT di Indonesia perlu percepatan pada strategi dasar yang ada. 89 di antaranya menerima pengobatan (Gambar 6. sebanyak 5. anak-anak dan keluarga mereka.170 perempuan terinfeksi HIV. 1. Pada tahun 2009.9. Sumber: Sumber: Country reports. Gambar 6.256. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Layanan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak merupakan bu r-bu r catatan pen ng dalam pencegahan.Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS.167 dari 5.306 (25 persen) diantaranya posi f HIV.

Kemkes. sementara jumlah ODHA Asian Epidemic Model (AEM) – model matema k epidemik. dari 46 persen pada tahun 2006 menjadi 19 persen pada 2009 (Kemkes. Kecenderungan Kasus Epidemik HIV di Indonesia dengan Opsi Cakupan Program. Gambar 6.12.9 persen. UNGASS 2008. Di Indonesia. yang kemudian meningkat perlahan kembali hingga mencapai 61 persen pada tahun 2009. namun menurun pada tahun 2006 menjadi 45. 39 Es masi ODHA yang membutuhkan ARV se ap tahun diperkirakan berdasarkan “cut of point” jumlah CD4 <200/mm3 adalah 10 . 2010. angka kema an dari kasus AIDS cenderung menurun dari tahun ke tahun. Cakupan ART pada Ibu Hamil untuk Mencegah Penularan dari Ibu ke Anak. Dengan skala layanan yang terbatas saat ini. Tanpa pencegahan yang efek f. cakupan ART dari ODHA yang eligible dan akses ke layanan tersedia mencapai 71 persen pada tahun 2005. kebutuhan akan ART pada kelompok usia 15-49 tahun diproyeksikan meningkat ga kali lipat dari 30. UNGASS. Jumlah anak-anak yang membutuhkan ART akan meningkat dari 930 pada tahun 2008 menjadi 2. Tahun 2006-2009 Catatan: Intervensi untuk pencegahan penularan dari ibu ke janin (PMTCT) termasuk pemberian an retroviral profilaksis untuk ibu hamil dengan infeksi HIV.11. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 157 . Tanpa intervensi yang adekuat.100 pada tahun 2008 menjadi 86.20% dari jumlah ODHA pada saat itu. 2010). 2010). Tahun 19902020 Gambar 6. Kecenderungan (proyeksi) Kasus Epidemik HIV di Indonesia. dan UA 2010.800 di tahun 2014 (SRAN Penanggulangan HIV dan AIDS 2010-2014). kecenderungan dan proyeksi kasus epidemik HIV di Indonesia diperkirakan akan mengalami peningkatan secara dak terkendali seper digambarkan dalam model matema s di bawah ini (Gambar 6. terapi an retroviral telah tersedia pada 180 unit fasilitas kesehatan dengan perkiraan cakupan sebesar 38.660 pada tahun 2014 (Kemkes. UA 2009. Tahun 2010–2020 Sumber: “Laporan Es masi Injeksi HIV untuk Populasi yang Berisiko Tahun 2006”.439 persen dari total perkiraan jumlah kohort ODHA yang eligible (dihitung dari laporan Kemkes 2010).10. Sumber: Country reports.Gambar 6.12).11 dan 6. Dari laporan tersebut di atas.

174. Tahun 2004-2008 Sumber: SRAN Penanggulangan AIDS 2010-2014 Domes k: 22.587 Per kapita: USD 0.23 triliun untuk program pencegahan.576. Diperkirakan dana yang tersedia per tahun adalah Rp483 miliar. Sekitar 52 persen pekerja seks laki-laki dan 25 persen pekerja seks perempuan. dan sekitar 36 persen pengguna narkoba dengan jarum sun k telah menjalani tes HIV dalam kurun waktu 12 bulan. 3) mi gasi dampak (2 persen).0% Total Dana: USD 50. 40 Rp7 triliun didistribusikan sebagai berikut: Rp4. es masi terakhir menunjukkan bahwa kebutuhan sumber dana Program AIDS Nasional selama kurun waktu 2007-2010 berjumlah sekitar Rp 7 triliun40. 180 rumah sakit yang menyediakan layanan Terapi An retroviral (ART) gra s dan 30 (2008) rumah sakit yang memiliki program Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PMTCT).3 persen di 2004 menjadi 39 persen di 2008 (Gambar 6.3% Total Dana: USD 58.59 triliun untuk manajemen. • Meningkatkan prak k pencegahan dan program uji lab. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Dalam hal pembiayaan untuk memas kan kesinambungan program pengendalian HIV/AIDS.1 triliun untuk dukungan dan pengobatan. Pada tahun 2006. 4) pengembangan lingkungan yang kondusif (13 persen).831. 2) perawatan.11 dan 6. Kesenjangan pendanaan diperkirakan dengan asumsi terdapat peningkatan kontribusi pendanaan domes k dari 22.3 triliun yang setara dengan USD 1.4% Total Dana: USD 39.Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS. Sampai dengan akhir tahun 2009 telah ada 547 unit klinik Konseling dan Tes Sukarela (Voluntary Counseling and Tes ng/VCT). dukungan dan pengobatan (28 persen). Dana tersebut ditujukan pada 4 fokus program: 1) pencegahan (57 persen). Gambar 6.13.6 miliar Dolar AS di mana 27 persen dari pengeluaran itu didanai oleh pemerintah pusat dan daerah.105 Per kapita: USD 0. Kebutuhan pendanaan diperkirakan akan meningkat secara tajam dalam tahun-tahun mendatang berdasarkan pada kecenderungan epidemiologi yang tercermin dan dijelaskan pada Gambar 6.12. 158 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . perkiraan ketersediaan dana per tahun untuk periode tersebut hanyalah sebesar Rp 483 miliar. Rp1.397 Per kapit a: USD 0. Sementara itu. Dari jumlah total dana internasional.18 Domes k: 26. dan Rp62 miliar untuk penanggulangan. Rp1. dan 57 persen laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki lain menggunakan kondom secara konsisten. sekitar 55 persen pekerja seks laki-laki dan 68 persen pekerja seks perempuan telah mengenakan kondom dengan pelanggan mereka terakhir ini. pengeluaran untuk program penanganan AIDS mencapai 56.13).26 Domes k: 39.6% Total Dana: USD 56.25 Domes k: 26. 68 persen di antaranya berasal dari kontribusi mitra bilateral. Menurut SRAN 2010-2014 dibutuhkan sekitar Rp 10. terdiri dari fasilitas pemerintah (383) dan swasta atau berbasis masyarakat (164).1 miliar.671.23 Kemajuan signifikan yang telah diupayakan untuk meningkatkan ketersediaan pelayanan: • Meningkatkan jumlah fasilitas pengobatan. Pendanaan Program Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia.320 Per kapita: USD 0.

Sebuah proyek uji coba untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak sudah dilaksanakan di 2 tempat. Sumber: World Health Organiza on. dan organisasi tersebut sangat bergantung pada bantuan dana donor internasional. memperluas la-yanan pengobatan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan program kesehatan reproduksi dan juga layanan kesehatan primer. Yayasan Pelita Ilmu mendukung proyek ini dan di Kabupaten Merauke di Provinsi Papua. Di Jakarta.1. termasuk memperkuat hubung-an dengan layanan berbasis komunitas. meningkatkan akses ke layanan berkualitas. kunjungan rumah dan perawatan berbasis rumah. Kebanyakan proyek tersebut menekankan pada pencegahan HIV/AIDS dengan sedikit penekanan pada pengobatan dan perawatan. Program tersebut dimulai pada tahun 2004 dan pada tahun 2005 ART murah telah tersedia di 50 rumah sakit. namun banyak organisasi berbasiskan masyarakat dan LSM di Indonesia yang dengan baik memantau dan mendukung ODHA yang menerima peng-obatan melalui mekanisme yang disebut manajemen kasus. Organisasi berbasis masyarakat dan LSM menyediakan layanan jauh lebih banyak bagi populasi rentan. Oleh karena itu. Sektor kesehatan mempunyai keterbatasan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan kelompok paling berisiko. dan sektor ini juga perlu meningkatkan upaya yang signifikan untuk menjamin kalau layanan yang tersedia dapat diakses oleh dan diterima oleh mereka. monitoring kepatuhan minum obat. Di lain pihak sistem rujukan antara organisasi berbasis masyarakat dan LSM serta fasilitas kesehatan masih kurang op mal. penyediaan kondom dengan harga terjangkau dan mendukung program penggunaan kondom 100 persen. dan • Mobilisasi masyarakat dan swasta untuk berpar sipasi dalam penanggulangan AIDS. • ART bagi ODHA telah mendapatkan subsidi penuh dari pemerintah. Department of HIV/AIDS. baik dalam upaya pencegahan. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional menandatangani MOU dengan Badan Narko ka Nasional yang memberikan peluang untuk meningkatkan program pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS bagi pengguna narkoba sun k. Di seluruh negeri. perawatan maupun pengobatan. Kotak 6.4 persen pada tahun 2009). sistem dampingan (buddy). namun saat ini telah menjangkau 80 persen. Mobilisasi masyarakat untuk meningkatkan upaya pencegahan. • Pada tahun 2004 program jarum bersih hanya menjangkau 20 persen dari pengguna narkoba dengan jarum sun k. Namun demikian.• Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mengoperasikan 24 layanan/klinik kesehatan seksual dan reproduksi. dan (ii) hambatan terbesar adalah di ngkat rumah tangga serta masyarakat. hanya kurang dari 25 persen pengidap HIV yang telah menjalani ART pada tahun 2007 yang kini terus meningkat (38. meskipun terapi ini dak selalu tersedia di semua daerah. Terdapat 24 klinik yang menyediakan terapi perawatan dengan metadon (Methadone Maintenance Therapy) di rumah sakit. adalah pen ng meningkatkan mobilisasi masyarakat sebab: (i) pembiayaan akan merupakan permasalahan utama di masa depan dalam penanggulangan AIDS di Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan menggabungkan inisia f pencegahan ke dalam layanan pengobatan dan perawatan HIV/AIDS. perawatan dan pengobatan HIV/AIDS bagi populasi rentan Sektor kesehatan perlu memainkan peranan yang lebih kuat dalam mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual. “3 by 5” Help Desk Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 159 . kantor proyek di ngkat kabupaten menargetkan 4 layanan kesehatan dan paraji/dukun beranak. khususnya pengguna narkoba sun k dan pekerja seks. puskesmas dan lembaga pemasyarakatan. termasuk layanan untuk penularan penyakit melalui hubungan seksual dan layanan VCT. banyak proyek kecil yang menjanjikan mensasar populasi rentan.

sistem lembaga pemasyarakatan. serta belum mampu mengimbangi cepatnya penyebaran infeksi HIV/AIDS ke seluruh penjuru negeri. antara lain: 1) Terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan dalam pencegahan. dan pengobatan HIV/AIDS. Pemberantasan HIV/AIDS membutuhkan peran serta berbagai sektoral – seper kesehatan. Tantangan dalam pencegahan dan pengendalian penularan HIV/AIDS. sementara kebutuhan akan pengobatan diharapkan untuk meningkat secara pesat. terutama dampak yang mbul dalam keluarga. Mengatasi dampak dak langsung dari AIDS. strategi pencegahan dan pengendalian penularan HIV/AIDS menjadi perha an utama. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Tantangan Tantangan mendasar yang dihadapi Indonesia terkait HIV/AIDS adalah menghen kan dan menurunkan tren peningkatan angka kejadian maupun prevalensi penularan penyakit. 2) Terbatasnya alokasi anggaran dan ketersediaan dana yang berkesinambungan dalam pengendalian HIV/AIDS. Op malisasi sumber daya melalui kemitraan dan pola kerja sama yang lebih baik dengan pemerintah daerah perlu mendapatkan perha an khusus. keamanan transfusi darah dan kewaspadaan universal. Hal ini masih menjadi kelemahan dalam hubungan antar instansi maupun dalam instansi itu sendiri. migrasi – yang akan menuntut adanya koordinasi yang efek f dalam mendesain dan menerapkan strategi dan intervensi.Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS. 3) Masih lemahnya koordinasi lintas sektor serta sistem monitoring dan evaluasi. Norma masyarakat membentuk perilaku dan sikap yang konserva f menjadi hambatan yang cukup besar dalam upaya penanggulangan epidemi HIV/AIDS. pengobatan. perencanaan dan implementasi. 4) Masih adanya hambatan terkait s gma sasi dan diskriminasi ODHA di masyarakat serta adanya ke daksetaraan gender dan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Meskipun banyak upaya telah ditempuh untuk mewujudkan prak k-prak k good governance di ngkat nasional. namun program tersebut belum cukup efek f dan belum tepat sasaran secara sosiogeografis. perawatan. Langkah-langkah pencegahan perlu dikembangkan dan diintensi an. Masalah pendanaan masih menjadi kendala utama dalam menangani epidemi HIV/AIDS. juga akan meningkatkan biaya. seper harmonisasi kebijakan. Sistem layanan kesehatan perlu diperkuat dalam menangani kasus HIV/AIDS antara lain di bidang pencegahan. perawatan. militer. masih lemahnya sistem surveilans dan lemahnya sistem monitoring dan evaluasi yang juga masih terfragmentasi. Dengan demikian. Sangat dibutuhkan penguatan sistem informasi serta good governance secara umum karena: HIV/AIDS belum menjadi arus utama dalam lingkungan kerja. monitoring dan evaluasi. Walaupun program komunikasi perubahan perilaku dan KIE tetap diupayakan terus sebagai bagian dari strategi pengendalian HIV/ AIDS. 160 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . namun koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) sendiri masih harus di ngkatkan. di mana saat ini VCT belum tersedia di seluruh daerah. termasuk penyediaan informasi strategis (SRAN 2010-2014). pendidikan. diagnos k. transportasi.

konseling dan layanan pengobatan serta perawatan di pusat rawat jalan dan lokasi-lokasi serupa. (ii) pelaksanaan penjangkauan terhadap masyarakat pada kelompok paling berisiko serta mencakup tes HIV. termasuk fasilitas kesehatan keliling dan mendorong peran serta masyarakat. (v) peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam pengendalian HIV/AIDS. di masyarakat. (v) pengembangan lingkungan yang lebih kondusif untuk mengurangi s gma dan diskriminasi. (iii) peningkatan cakupan penggunaan kondom. Pelayanan kesehatan harus mampu menyediakan con nuum of care yang mudah dijangkau melalui: (i) peningkatan jumlah fasilitas perawatan. dan di antara para pasien. Strategi utama dalam pengendalian HIV/AIDS antara lain: 1) Meningkatkan akses melalui penguatan pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kemampuan dan sumber daya yang memadai untuk mengan sipasi dan menghadapi epidemi yang ada. pencegahan penularan dari ibu ke janin (PMTCT). pengendalian penularan. Walaupun target MDG untuk masalah HIV/AIDS menekankan pada upaya pencegahan. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 161 . didukung melalui media dan program HIV/AIDS di sektor lain yang berperan dalam masalah penularan penyakit. 2) Meningkatkan mobilisasi masyarakat untuk meningkatkan upaya pencegahan. dan pelanggaran Hak Asasi Manusia demi terlaksananya program penanggulangan HIV/AIDS. IMS yang dak dioba akan meningkatkan risiko penularan HIV sesuai dengan ngkat keparahannya. harm reduc on bagi penasun. 41 Protokol penatalaksanaan IMS. serta ketersediaan obat an retroviral baik dalam hal kuan tas maupun kualitas. pengarusutamaan HIV dalam sistem kesehatan dan terselenggara melalui sistem tersebut. ke daksetaraan gender. Kebijakan dan Strategi Satu prinsip utama dalam menangani HIV/AIDS adalah perlunya pendekatan yang menyeluruh yang melipu pencegahan. (ii) penguatan kemampuan menerapkan upaya pencegahan. (iv) mengembangkan panduan nasional untuk pengarusutamaan HIV/AIDS dan penyesuaian terhadap kondisi lokal. serta untuk manajemen klinik untuk perawatan dan pengobatan pada ODHA. pengendalian infeksi dan perawatan. dan (iii) peningkatan cakupan seluruh program pencegahan dan pengobatan termasuk peningkatan cakupan ART. (iv) mengurangi prasangka di lingkungan para petugas kesehatan. protokol-protokol pengendalian penyakit dan infeksi41. (vi) perencanaan sumber daya manusia untuk mengan sipasi meluasnya epidemi HIV/AIDS yang akan menuntut terpenuhinya keterampilan manajemen dan peningkatan permintaan akan layanan kesehatan. Perha an utama kebijakan nasional adalah pada pencegahan.5) Masih terbatasnya fasilitas dan tenaga kesehatan baik dalam hal kualitas maupun kapasitas. VCT dan pencegahan progresifitas dari HIV menjadi AIDS. pengobatan serta konseling dan tes ng HIV yang berkelanjutan. dan pengobatannya. perawatan dan pengobatan HIV/AIDS pada populasi rentan melalui: (i) penyediaan layanan KIE terhadap infeksi HIV dan mencegah penularannya.

dan ndakan: (i) melaksanakan monitoring dan analisis kesehatan. dan status kesehatan. analisis. Presiden Republik Indonesia memberikan perha an khusus dengan mengeluarkan Inpres Nomor 3/2010 tentang program pembangunan berkeadilan. melalui: (i) pengintegrasian program penanggulangan HIV/AIDS ke dalam program-program pembangunan baik di ngkat nasional (yang dibiayai melalui APBN) maupun daerah (yang dibiayai melalui APBD). monitoring yang terpusat akan sangat pen ng untuk memberi masukan bagi strategi AIDS nasional. (ii) mobilisasi sumber dana tambahan dalam pengendalian HIV/AIDS. dan (ii) menyediakan informasi kepada para pembuat kebijakan mengenai beban sosio-ekonomi akibat HIV/AIDS dan upaya peningkatan intervensi. Untuk mempercepat pencapaian target penurunan prevalensi HIV/AIDS. serta mempertahankan suatu mekanisme koordinasi yang efek f (KPAN).Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS. sumber daya). Surveilans generasi kedua termasuk pelaporan kasus HIV/AIDS dengan model penularan dan survei terpadu biologis dan perilaku para pengguna narkoba dengan jarum sun k. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya 3) Mobilisasi sumber dana untuk penanggulangan HIV/AIDS. perempuan pekerja seks. (iii) penguatan kemitraan dengan berbagai sektor melalui penguatan peran forum perencanaan dan penganggaran penanggulangan HIV/AIDS. khususnya surveilans generasi kedua. Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014 telah menargetkan beberapa output berikut dalam mengendalikan penyebaran HIV/AIDS: 162 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Mengukur hasil termasuk pengumpulan dan diseminasi fakta-fakta untuk menetapkan kebijakan. Menggaris-bawahi strategi di atas. Sistem informasi kesehatan yang berfungsi dengan baik untuk monitoring. 5) Memperkuat sistem informasi dan sistem monitoring dan evaluasi. dan (vi) mengupayakan pendekatan inklusif yang mendorong keselarasan antara pemerintah. (iv) menetapkan peran pemerintah pusat dan daerah dalam menangani epidemi HIV/AIDS. serta peningkatan penggunaan kondom pada kelompok kunci. evaluasi dan pengembangan program HIV/AIDS diperlukan untuk memas kan hasil. masih perlu di ngkatkan. (ii) penguatan peran KPAN dan KPA daerah. dan (iii) pengembangan public private partnership (PPP). dan laki-laki berisiko nggi. (v) merumuskan pedoman nasional untuk pengarusutamaan HIV/AIDS dan menyesuaikannya dengan situasi yang ada (tahapan epidemi. laki-laki homoseksual. 4) Meningkatkan koordinasi lintas sektor dan good governance melalui : (i) membangun sebuah sistem dalam pemerintahan yang menyatukan berbagai jajaran organisasi dan kelembagaan yang dapat berkontribusi terhadap sebuah strategi terpadu. serta sen nel survei yang dilakukan oleh petugas di penjara-penjara tertentu. strategi. waria. peningkatan akses terhadap ART. diseminasi dan penggunaan informasi yang diperlukan untuk perbaikan kinerja sistem kesehatan. kapasitas. organisasi nonpemerintah dan sektor swasta. khususnya tentang penanggulangan HIV/AIDS melalui peningkatan konseling dan tes ng. peningkatan upaya penanggulangan HIV/AIDS di ngkat Kabupaten. kelompok risiko nggi. Walaupun pengumpulan dan analisis data harus dilakukan di semua ngkat.

Inpres Nomor 3 Tahun 2010.5 2013 <0.Prioritas Output Prevalensi HIV Persentase penduduk usia di atas 15 tahun yang mempunyai pengetahuan yang benar dan komprehensif mengenai HIV dan AIDS Jumlah orang yang berumur 15 tahun atau lebih yang menerima konseling dan tes ng HIV Persentase kabupaten/ kota yang melaksanakan pencegahan penularan HIV sesuai pedoman Penggunaan kondom pada kelompok hubungan seks berisiko nggi (berdasarkan pengakuan pemakai) Persentase ODHA yang menerima terapi an retroviral (ART) Persentase RS Pemerintah menyelenggarakan pelayanan rujukan bagi Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) 2010 0.000 400.5 Tabel 6.5 2012 <0.000 Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas penyakit menular (HIV/ AIDS) 50% 60% 70% 80% 100% - 35% (pr) 20% (lk) 45% (pr) 30% (lk) 55% (pr) 40% (lk) 65% (pr) 50% (lk) 30% 35% 40% 45% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Sumber: RPJMN 2010-2014. dan Target Pengendalian Penyebaran HIV/AIDS. Output.000 500. Renstra Kementerian Kesehatan 2010-2014 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 163 . Tahun 2010-2014 65% 75% 85% 90% 95% 300.000 600.1. Prioritas.2 2011 <0.5 2014 <0.000 700.

Proporsi anak balita yang dur dengan kelambu berinsek sida: Acuan dasar : Saat ini (2007) : 3.000 penduduk (MOH. perdesaan 4. dan sekitar 35 persen dari penduduk posi f terjangkit malaria.5 persen. Angka kejadian dan ngkat kema an akibat Malaria: 6.3 persen.000 penduduk42 (MOH) Saat ini (2009) : 1. angka kesakitan malaria di Indonesia diukur melalui dua indikator. Sementara itu.62 per 1. 164 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . 2009) Target (2015) : Mengendalikan dan mulai menurunkan kasus baru Target Nasional 2014 : Angka penemuan kasus Malaria per 1. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Target 6C: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru Malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015 Malaria Indikator 6.6 persen (SDKI) Status Saat Ini Sebagai sebuah negara kepulauan beriklim tropis dengan curah hujan yang nggi. Berdasarkan situasi angka kesakitan malaria selama tahun 2000-2009 kasus malaria cenderung menurun yaitu pada tahun 2000 angka kesakitan malaria sebesar 3. Indonesia merupakan habitat yang ideal bagi perkembangbiakan nyamuk vektor malaria.0 (RPJMN 2010-2014) Target Nasional : Menekan jumlah kasus menjadi kurang dari 1 per 1000 kasus malaria posi f yang ditemukan melalui pelayanan ru n.Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS.85 per 1. (ii) jumlah kasus per 1000 penduduk yang dikonfirmasi dengan uji parasit posi f atau disebut API (Annual Parasites 42 Konversi dari AMI (di luar Jawa dan Bali) dan API (untuk Jawa dan Bali) di Indonesia tahun 1990. Angka kejadian Malaria: Acuan dasar (1990) : 4. dan target nasional Indonesia bebas malaria pada tahun 2030 (Kemkes) 6. dengan asumsi bahwa cakupan penemuan kasus berdasarkan pemeriksaan usap darah telah dilakukan pada hampir 60 persen dari semua penemuan kasus berdasarkan klinis.85 per 1000 penduduk pada tahun 2009.3 persen.7.000 penduduk dan menurun secara berar menjadi 1. yaitu: (i) kasus per 1000 penduduk berdasarkan diagnosis klinis atau disebut AMI (Annual Malaria Incidence).6. Pada tahun 1990. perkotaan 1.68 per 1.000 penduduk: 1. yang digunakan untuk provinsi di luar Jawa dan Bali. Hampir setengah penduduknya nggal di daerah endemis.6a. pola penyebab kema an akibat malaria pada semua umur pada tahun 2007 sebesar 1.

Incidence) yang digunakan untuk daerah Jawa dan Bali.14 Gambar 6. Sulawesi Tengah. angka prevalensi bervariasi antarwilayah berkisar antara 0. pada umumnya plasmodium falciparum dan plasmodium vivax masih sensi f terhadap obat-obatan (susep bel). pada tahun 2007. Kalimantan Tengah. Tahun 1990-2009 Sumber: Kementerian Kesehatan.5 persen. malaria di Jawa dan Bali bersifat hipo-endemik. Maluku Utara. Nusa Tenggara Barat.14. dan malaria plasmodium vivax yang resisten terhadap obat-obatan pun merajalela. Papua (18. Bangka Belitung. Berdasarkan kebijakan satu indikator pengukuran di atas. menjadi angka kejadian nasional dengan API untuk memberikan es masi dan penyesuaian angka kecenderungan nasional selama kurun waktu dari 1990 hingga 2009. beberapa ahli bersama WHO mengkonversikan serangkaian angka kejadian malaria dari pengukuran dengan AMI dan API untuk ap wilayah. Jambi.4 persen) dan NTT (12 persen). Akibatnya. Kementerian Kesehatan menerbitkan kebijakan mengenai penggunaan satu indikator untuk mengukur angka kejadian malaria. yaitu sekitar 0. Namun demikian.1 persen. Gorontalo. Bengkulu. yaitu dengan API. Hanya sekitar 20 persen penderita dengan gejala malaria yang mencari pengobatan di fasilitas kesehatan publik. Kalimantan Barat.1 persen). Papua Barat dan Papua). Provinsi-provinsi di pulau Jawa dan Bali memiliki ngkat prevalensi (klinis) terendah. di mana angka kejadian ter nggi malaria dilaporkan. Angka Kejadian Malaria (API) di Indonesia. Terdapat 15 provinsi dengan prevalensi di atas angka rata-rata nasional (Aceh.89 persen (Riskesdas 2007). Prevalensi nasional berdasarkan diagnosa klinis adalah 2. Kebijakan ini mensyaratkan bahwa se ap kasus malaria harus dibuk kan dengan hasil uji usap darah dan semua kasus posi f harus dioba dengan pengobatan kombinasi berbasis artemisinin atau ACT (Artemisinin-based Combina on Therapies). seper yang ditampilkan pada Gambar 6. membuat hal ini sulit untuk memperkirakan angka kejadian malaria di masyarakat. Di pulau-pulau terluar. Maluku. 2010. Tingkat prevalensi ter nggi ditemukan di wilayah Timur Indonesia. Nusa Tenggara Timur. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 165 . dan prevalensi ter nggi terdapat di Papua Barat (26.2 persen dan 26. Sumatera Utara.

8 0.98 30 19. malaria bisa dicegah.38 16.22 .10 22.62 0.4 18.72 21. 166 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia AMI (per 1000 penduduk) 24.17 0. Namun. namun kepemilikan kelambu dengan insek sida masih sangat sedikit .17 0. pemakaian kelambu berinsek sida merupakan faktor yang pen ng. Walaupun. masing-masing sebesar 4.06 40 35 26.67 19. mbulnya dan meluasnya resistensi terhadap obat an malaria bisa menjadi faktor penentu utama.7 0.94 25 16. penyemprotan ruangan dengan insek sida (Indoor Residual Spraying/ IRS). Secara keseluruhan.5 0.11 21. Rumah tangga di perdesaan memiliki kelambu berinsek sida lebih nggi.3 persen memiliki ITN yang memenuhi syarat43. Langkah pengendalian vektor lainnya (misalnya.12 0.6 0.Las ng Insec cidal Nets/LLIN). Perangkat pencegahan primer adalah kelambu dengan insek sida tahan lama (Long.79 22.90 31.16 0.09 28. atau 2) kelambu dengan perlakuan khusus yang didapat dalam kurun 12 bulan terakhir. Tahun 2008 1.06 0. 2008 Wilayah di luar Jawa & Bali (API/kasus tahunan parasit) Jawa & Bali (AMI/kasus tahunan malaria) Saat ini.30 0.15 0.15. didiagnosa dan dioba dengan perpaduan perangkat yang ada.47 0.5 persen dan 1.9 API (per 1000 pennduduk) 24.51 21.80 20.81 23. Dalam upaya pencegahan malaria. penggunaan larvasida dan manajemen lingkungan) juga diterapkan. pemakaian kelambu berinsek sida masih sangat kurang di Indonesia.08 0.0 0.07 0. Sekitar 30 persen rumah tangga memiliki kelambu an nyamuk. ini dapat mencerminkan adanya peningkatan penemuan kasus yang merupakan dampak adanya dukungan dari Global Fund.62 0.2 0. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Angka sta s k nasional menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus malaria dalam ga tahun terakhir.hanya 4 persen rumah tangga yang memiliki sekurang-kurangnya satu kelambu berinsek sida ITN (Insec cide-Treated bedNets). di satu pihak. Angka Kasus Malaria dan Parasit Menurut Wilayah di Indonesia.52 20 15 0.15 0.21 0. Manajemen kasus (diagnosa dan pengobatan) menekankan pen ngnya intervensi sesegera mungkin. Rumah tangga di perdesaan tampaknya memiliki kelambu lebih nggi dari 43 ITN yang memenuhi syarat adalah: 1) kelambu berinsek sida buatan pabrik yang dak membutuhkan perawatan lanjut. Peneli an baru-baru ini.19 0.3 0. atau 3) kelambu yang telah dicelup dalam insek sida dalam kurun 12 bulan terakhir.0 0.16 10 5 0 Sumber: Kementerian Kesehatan.20 0. hampir ga kali lipat dari rumah tangga di perkotaan.12 0. dari bagian Utara maupun Selatan Papua menunjukkan bahwa plasmodium vivax yang resisten terhadap berbagai obat-obatan MDR (Mul drug-Resistant) telah mengakibatkan berjangkitnya malaria kronis dan bahkan berujung pada kema an.27 21. Gambar 6.1 0. dan ndakan pencegahan berkala (intermi ent preven ve treatment/IPTp) untuk perempuan hamil.19 0.97 22. 31 persen anak balita dur dengan kelambu pada malam sebelum survei (SDKI 2007).Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS. dan hanya 3.6 persen.20 0.

Sementara itu. Pengobatan segera terhadap malaria (dalam kurun 24 jam) terjadi hanya pada 48 persen kasus dan kesadaran masyarakat akan pengobatan tepat waktu sangat pen ng. Tujuan Utama Semua desa menjadi “desa siaga” – pemberdayaan dan pelibatan masyarakat dalam pemberantasan dan pengendalian ‘malaria’ dan penyakit lain yang merupakan masalah utama kesehatan Se ap bayi. Memperbaiki sistem surveilans. dan intervensi efek f diterapkan secara universal. dan beban akibat penyakit malaria berkurang sampai 50 persen. ACT: Artemisinin-based combina on therapy (terapi kombinasi berbasis artemisinin). dan monitoring evaluasi penyediaan obat-obatan malaria. Menggaris-bawahi keadaan ini. pendistribusian. tercapainya target MDG.rumah tangga di perkotaan (berturut-turut sebesar 40 persen dan 19 persen). Strategi Utama Memobilisasi dan memberdayakan masyarakat menuju hidup sehat. di mana rumah tangga pada kuin l terendah (46 persen) lebih banyak ditemui memiliki kelambu ke mbang rumah tangga dengan kuin l ter nggi (12 persen). Kebijakan saat ini menerapkan strategi Gebrak Malaria yang menetapkan target-target berikut ini: • hingga tahun 2010. Strategi Kampanye Gebrak Malaria Meningkatkan akses ke pelayanan kesehatan yang berkualitas.44 80 persen perempuan hamil di daerah penularan yang stabil mendapat perawatan pencegahan berkala (IPTp). Se ap kejadian luar biasa/wabah dikendalikan secara cepat dan tepat Peningkatan ketersediaan pendanaan malaria. 44 Tabel 6. anak dan kelompok risiko nggi terlindung dari penyakit-penyakit Se ap kejadian penyakit dilaporkan secara tepat waktu dan akurat kepada dinas kesehatan terdekat. memas kan bahwa 80 persen dari masyarakat yang berisiko terjangkit malaria mendapatkan perlindungan melalui metode pengendalian vektor yang sesuai keadaan setempat. masih belum memadai. Hal itu menunjukkan program distribusi ITN ke masyarakat yang diiku dengan promosi/KIE cukup signifikan dalam mempercepat pencapaian hasil. monitoring dan informasi. Penyediaan obat-obatan an malaria di pusat-pusat pelayanan kesehatan semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Direktorat Pengendalian Penyakit Berbasis Vektor. Ditjen P2PL. namun akses pada pengobatan. Kepemilikan kelambu mempunyai korelasi nega f terhadap ngkat kesejahteraan.2. angka perkiraan Kemkes di atas terbuk dari hasil survei SDKI 2007 yang melaporkan hanya sekitar 50 persen masyarakat secara nasional yang sadar akan pen ngnya strategi pengobatan malaria. 80 persen dari penderita malaria didiagnosis dan dioba dengan menggunakan an malaria yang adekuat. terutama ACT. Sumber: Kemkes.7 persen dari anak balita dur dengan kelambu berinsek sida. Faktor pendanaan menjadi pen ng dalam memas kan ketersediaan. 2007. hasil survei di 7 provinsi oleh Kementerian Kesehatan terkini (Profil Kesehatan 2008) menunjukkan bahwa 86. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 167 . penyakit dan kema an akibat malaria berkurang sebesar 75 persen dibandingkan dengan tahun 2005. dan • pada tahun 2015.

Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Kegiatan utama untuk mendukung strategi di atas melipu : pencegahan dan pengendalian penularan serta faktor-faktor risiko lokal: i. dan (v) melakukan kegiatan kesehatan lingkungan. diagnosa awal dan penanganan dini. Posdes tersebut diharapkan dapat: (i) melaksanakan penemuan kasus melalui pemeriksaan darah dan memberikan pengobatan terhadap malaria klinis. memperkuat surveilans epidemiologi dan pengendalian wabah. Jumlah Kasus Malaria yang Dioba Melalui Program Gebrak Malaria. (iv) membagikan kelambu/LLIN kepada masyarakat di lingkungan tersebut. 500 pusat lainnya akan dibuka di Nusa Tenggara Barat. Pemerintah sudah mendirikan lebih dari 800 pusat koordinasi pengendalian malaria di desa-desa terpencil di wilayah mur Indonesia. memperkuat komunikasi. ii. 2007. posdes malaria perlu dibangun guna mengurangi angka kema an dan penyakit malaria (khususnya) di daerah-daerah terpencil. Gambar 6. 168 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . serta iii. pemberdayaan masyarakat dan dukungan pemerintah setempat dalam pengendalian malaria. (ii) menjalankan program-program promosi kesehatan. edukasi. (iii) menjalin kerja sama dengan bidan-bidan dan perangkat desa untuk menyelenggarakan pertemuan bulanan. Dua juta kelambu akan dibagikan di daerah-daerah rawan malaria sampai dengan tahun 2009. Tahun 2007 Sumber: Kemkes.Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS. terutama membersihkan tempat-tempat bersarangnya jen k nyamuk. Ditjen P2PL dan LH. informasi. Direktorat Pengendalian Penyakit Berbasis Vektor. Sebagai bagian dari program Desa Siaga.16.

dan juga kurangnya tenaga ahli teknis (seper ahli entomolog dan tenaga untuk monitoring dan evaluasi). Sejauh ini. dan sosio-ekonomis setempat. Tantangan tersebut mencakup: 1. pengendalian vektor serta terbatasnya penyediaan sis m informasi terkait malaria. Sejauh ini. Kecenderungan adanya obat palsu dan berkualitas buruk kemungkinan besar dipicu akibat masih ngginya harga obat an malaria dan lemahnya kontrol. hasil monitoring dan evaluasi belum memadai untuk digunakan dalam menyusun perencanaan dan penganggaran. 2. Belum op malnya upaya pencegahan penularan malaria. Dalam beberapa kasus. termasuk koordinasi lembaga donor dalam pengendalian malaria. pendanaan dari sumber-sumber internasional berperan pen ng. memperha kan kondisi epidemiologis. serta pendanaan adalah tantangan utama dalam mengendalikan dan mengurangi kasus malaria. Belum op malnya pelaksanaan monitoring dan evaluasi. Terbatasnya kemampuan manajemen kasus malaria terutama di daerah. di samping belum op malnya mekanisme koordinasi dan sinergi lintas sektor. Hal ini terutama dapat dicapai lebih cepat melalui interaksi antara masyarakat yang berisiko terinfeksi malaria dengan tenaga kesehatan terkait. 45 Pelaksanaan pengendalian larva dan pengelolaan lingkungan (misalnya pengelolaan salinitas pengairan dan penampungan air ataupun pengairan sawah) bisa berjalan baik hanya bila masyarakat yang nggal di tempat tersebut dan menggunakan serta mengelola lingkungan tersebut dilibatkan. Kurangnya pemahaman keluarga dan masyarakat terhadap ndakan pencegahan malaria yang adekuat dan pen ngnya penanganan kasus malaria sedini mungkin. Besar kemungkinan bahwa ketergantungan pada pendanaan dari donor akan berlanjut dan tantangannya justru terletak pada bagaimana memfasilitasi aliran dana tersebut. dalam hal ini perlu diseimbangkan dengan peningkatan sumber pendanaan domes k. geografis. Isu obat an malaria palsu dengan kualitas buruk. Manajemen kasus terhambat oleh perencanaan logis k yang lemah di ngkat fasilitas dan sering terhen akibat keterbatasan pasokan obatobatan dan sarana untuk melakukan uji diagnos k. Kemampuan supervisi masih terbatas.Tantangan Pemahaman keluarga dan masyarakat. tenaga kesehatan yang terlibat tampaknya juga dak mendapat pela han yang memadai. BCC) dapat disampaikan dengan baik kepada masyarakat. Terbatasnya dukungan sumber daya dalam Gerakan Berantas Malaria (Gebrak Malaria). pendanaan domes k melalui anggaran nasional dan daerah rela f masih terbatas. Pesan-pesan komunikasi. 3. 46 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 169 . kapasitas pelayanan. dan edukasi (KIE) dan komunikasi perubahan perilaku (behavioral change communica on. Pelayanan kesehatan tampaknya dak dibekali dengan perangkat dan tenaga yang memadai untuk meres-pon kebutuhan sedini mungkin. serta semakin berkurangnya efek fitas ACT yang belum ditangani secara memadai. jika pesan yang disampaikan terstandardisasi.45 Belum op malnya upaya pencegahan penularan malaria disebabkan pula karena belum op malnya pelaksanaan surveilans epidemiologi. informasi. Sebuah strategi mobilisasi sumber dana nasional dan internasional dengan tujuan jangka menengah dan panjang perlu dikembangkan. perencanaan strategis.46 4.

Juga terdapat kebutuhan untuk meningkatkan upaya-upaya koordinasi program malaria dengan program penyakit lainnya. terutama di daerah endemik malaria. bantuan teknis akan diberikan untuk menjamin adanya peningkatan kapasitas di semua ngkat dan program pela han yang ditargetkan. (vi) meningkatkan pengendalian vektor yang sesuai dengan kondisi setempat. 2. Untuk dapat mengimplementasikan strategi pengendalian malaria. Beberapa perbaikan dan penguatan diperlukan dalam: (i) mempromosikan pencegahan dan pengendalian malaria pada masyarakat.Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS. melalui: (i) pengembangan KIE dan pesan BCC yang dirancang dengan par sipasi penyedia layanan dan pengguna. Memperkuat pelayanan kesehatan dalam pencegahan. 4. Meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di semua aspek. pengendalian dan pengobatan. Mobilisasi sosial yang berfokus pada meningkatkan kesadaran masyarakat tentang intervensi pencegahan dan pengendalian malaria. melalui: 1. (iii) menguatkan sistem informasi malaria dengan mengumpulkan data morbiditas dan kema an terkait malaria yang memadai. pengendalian dan pengobatan. dan (ix) mengembangkan kapasitas untuk menilai efek vitas upaya pengendalian malaria. program kerja. untuk disesuaikan dengan kondisi spesifik daerah dan situasi masyarakat (berorientasi pada klien). (ii) memas kan deteksi dini dan akses perawatan ke fasilitas kesehatan. memperkuat mekanisme pengawasan program dengan sistem monitoring dan evaluasi yang didisain untuk menggambarkan pemahaman yang baik tentang dinamika dan kesadaran masyarakat. dan (v) pengintegrasian program malaria dengan program intervensi kesehatan ibu dan anak. Pelayanan kesehatan memiliki peran sentral dalam meningkatkan kesadaran. Untuk menjamin kesinambungan program pengendalian. terla h dalam advokasi. (iv) memperkuat pemantauan kemajuan di ngkat lokal dan melakukan analisis situasi lokal. Meningkatkan struktur manajemen dan tata kelola yang melipu strategi. dan memungkinkan keterpaduan berbagai perbedaan area ke 170 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . manajemen logis k. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Kebijakan dan Strategi Upaya percepatan untuk mencapai target MDGs terkait dengan malaria dapat dilakukan dengan peningkatan cakupan universal dan penguatan pelaksanaan strategi Gebrak Malaria. dan sistem informasi yang memungkinkan pemantauan. 3. (ii) mengembangkan strategi mobilisasi sosial yang berfokus pada peningkatan kesadaran masyarakat terhadap upaya pencegahan malaria. Upaya yang dibutuhkan adalah: a. tenaga kesehatan perlu di ngkatkan kapasitasnya melipu : keterampilan yang tepat. (terutama) di daerah terpencil. dan entomologi. deteksi malaria dan pengobatan tepat dan cepat. (v) penyediaan dan mempromosikan penggunaan kelambu berinsek sida. (viii) mengembangkan model intervensi lintas sektoral seper larvaciding maupun biological control. (vii) memperkuat sistem surveilans epidemiologis dan kontrol wabah. (iv) penguatan pos malaria desa (posmaldes) untuk mengurangi mortalitas dan morbiditas terkait malaria. (iii) menanggapi kebutuhan akan manajemen kasus yang tepat waktu. perencanaan. dan sasaran intervensi malaria yang lebih baik.

Tahun 2010-2014 Menurunkan ngkat morbiditas dan mortalitas akibat malaria 2. Angka penemuan kasus Malaria per 1. 5.75 2012 1. khususnya melalui penguatan kemitraan dengan badan-badan riset dan teknis untuk melakukan riset operasional tentang keampuhan dan efek fitas obat-obatan. Peningkatan dukungan pendanaan. Sangat mungkin bahwa ketergantungan pada pembiayaan donor akan terus berlanjut. mengontrol kualitas dan penggunaan obat-obatan. Untuk mempercepat pencapaian target penurunan kasus malaria dan kema an akibat malaria. dan d. dan Target Pengendalian Malaria.000 penduduk 2010 2 2011 1. Hal ini telah sejalan dengan strategi nasional dalam RPJMN 2010-2014 sebagaimana terlihat pada tabel di bawah ini: Prioritas Indikator 1. Renstra Kemkes 20102014 100 100 100 100 100 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 171 . Presiden Republik Indonesia memberikan perha an khusus dengan mengeluarkan Inpres Nomor 3/2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan.dalam desain dan perencanaan strategi program. Selain itu. Prioritas.25 2014 1 Tabel 6. Inpres Nomor 3 Tahun 2010. insek sida dan alat pencegahan. Sebagaimana disebutkan di atas. mengalokasikan bantuan donor dengan lebih baik dengan meletakkannya dalam konteks perencanaan strategi nasional penanggulangan malaria.5 2013 1. disertai tantangan untuk memfasilitasi arus pendanaan tersebut. khususnya tentang pengendalian malaria melalui peningkatan angka penemuan kasus malaria. Dibutuhkan pendanaan jangka panjang serta dapat diprediksi untuk mempertahankan keberlanjutan program. b. dan mengiden fikasi dan mengupayakan peluang untuk mendukung pemerintah kabupaten dalam mene-rapkan program penanggulangan malaria. didukung pelaporan keuangan yang baik. kerangka perencanaan yang jelas dan manajemen berbasis hasil akan sangat pen ng ar nya. Persentase kabupaten/kota yang melakukan mapping vektor 3. mengembangkan peluang kerja sama antara instansi publik serta menggali sinergi kerjasama pemerintah-swasta terutama dalam upaya peningkatan kesadaran masyarakat. serta kemitraan dengan sektor swasta dan komunitas internasional. Output. Sebuah strategi mobilisasi sumber daya internasional dengan tujuan jangka menengah dan panjang akan dikembangkan.3. program malaria perlu meningkatkan efisiensi dalam kelembagaan. Seper dalam program-program lain. c. diperlukan juga kajian atas kebijakan penetapan harga obat-obatan. Persentase KLB malaria yang dilaporkan dan ditanggulangi 30 40 50 60 70 Sumber: RPJMN 2010-2014. khususnya melipu ndakanndakan yang telah disebutkan sebelumnya.

000). Angka kejadian. Proporsi kasus Tuberkulosis yang dioba dan sembuh dalam program DOTS: Acuan dasar (2000) : 87. WHO. WHO.1 persen (Laporan Kemkes 2009) Target 2015 : 70. mulai menurun 6.000 penduduk): Acuan dasar (1990) : 443 (Laporan TB Global.10b. 47 Pada program nasional. WHO.044 kasus baru yang tercatat di 2009. 2009) Saat ini (2009) : 244 (Laporan TB Global.10a. petunjuk pelaksanaan (indikator 24) menetapkan target 70 persen deteksi kasus untuk diraih sampai dengan tahun 2005. Prevalensi mencapai 253/100. Proporsi jumlah kasus Tuberkulosis yang terdeteksi dalam program DOTS: Acuan dasar (2000) : 20. 2009) 6.000 di tahun 2007 (Laporan TB Global 2009).0 persen (Laporan TB Global. prevalensi dan ngkat kema an akibat Tuberkulosis: 6.Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS. Pada tahun yang sama.0 persen Status Saat Ini Indonesia menduduki peringkat ke ga di dunia setelah India dan Cina dalam jumlah kasus TB – dengan jumlah 289. Di bawah indikator 23.369 kema an yang disebabkan oleh TB (39/100.9b. ngkat penyebaran dan kema an TB ditargetkan menjadi setengah dari ngkat tahun acuan dasar pada tahun yang sama.9a.000 penduduk/tahun): Acuan dasar (1990) : 343 (Laporan TB Global.000 penduduk di 2006 dan 244/100.0 persen (Laporan TB Global WHO-2009) Saat ini (2008) : 91. WHO.9. Short-course) : 6. WHO. Tingkat kema an karena Tuberkulosis (per 100. 2009) Saat ini (2009) : 228 (Laporan TB Global. Tingkat prevalensi Tuberkulosis (per 100. 2009) Saat ini (2009) : 39 (Laporan TB Global. 2009) Target 2015 : Dihen kan. WHO.9c. yang dioba dan sembuh dalam program DOTS (Directly Observed Treatment. Angka kejadian Tuberkulosis (semua kasus/100.0 persen (Laporan Kemkes 2009) Target 2015 : 85.000 penduduk): Acuan dasar (1990) : 92 (Laporan TB Global.0 persen 6. Laporan Badan Kesehatan Dunia mengatakan bahwa terdapat sekitar 91. 2009) 6. 2009) Saat ini (2009) : 73. WHO. sementara target untuk penanganan yang sukses adalah 85 persen. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Tuberkulosis Indikator47 6. 172 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Jumlah MDR-TB dalam kasuskasus TB yang sebelumnya ditangani adalah 19 persen. Proporsi jumlah kasus Tuberkulosis yang terdeteksi. di mana sekitar 169.10.213 kasus merupakan kasus baru dengan BTA posi f.

0 277. 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 91 81 73. Direktorat PPM.7 76.4 39. sistem logis k yang lebih baik serta sistem monitoring TB yang lebih kuat.2 298. Ditjen P2PL. Perkiraan untuk tahun 1990 prevalensi sebesar 443/100. untuk menghasilkan bahwa ngkat insiden akan mengalami penurunan hingga 2015 dan untuk mengurangi sampai setengahnya ngkat prevalensi dan kema an dari tahun 1990 hingga tahun 2015. Keduanya telah melampaui target MDG (masing-masing 70 dan 85 persen). Tahun 1997-2009 29.0 77. demikian juga dengan petugas pelayanan TB berbasis masyarakat.3 49.1 89.19. Kecenderungan pada penemuan kasus ditunjukkan pada Gambar 6.000 populasi/ tahun.5 177.survei tahun 2004 menunjukkan terjadinya penurunan signifikan sekitar 42 persen dari tahun 1990. Kinerja ini mencerminkan meningkatnya kerja sama antara layanan kesehatan daerah dan swasta.6 166.000 populasi dan kema an sebesar 91/100. Ditjen P2PL.8 72. Direktorat PPM.6 7.5 1997 1998 1999 2000 2001 2004 2005 2006 2007 2002 2003 2008 2009 BTA Pos Semua Kasus Sumber: Kemkes.8 89.6 275.2 260. Tahun 1995-2009 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 SR CDR Sumber: Kemkes. Penemuan kasus saat ini telah mencapai lebih dari 70 persen48. dan hasil-hasil pengobatan menunjukkan ngkat keberhasilan sebesar 91 persen (2006).8 73.3 294.7 155.4 169.7 91 91 91 91 87 86 Persentase Gambar 6.17. Ribuan 350 300 250 200 150 100 50 0 33. Kecenderungan Nasional Jumlah Total Kasus TB dan Kasus TB BTA-posi f di Indonesia. 2009.2 129.1 49. 2009.6 1.8 73.6 214.2 25.17 sementara penurunan yang signifikan jumlah kasus baru dapat dilihat di Gambar 6. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 173 . 48 Target adalah 70 persen kasus deteksi dari kasus BTA posi f di bawah program DOTS dan 85 persen keberhasilan pengobatan.6 75.7 Gambar 6.3 160.8 54 58 68 54 37.5 12 19 20 21 30.9 53.2 92.7 69.18.4 4.0 158. peningkatan perha an pembinaan kapasitas sumber daya manusia sejak tahun 2001. dan perbaikan pada layanan kesehatan.7 175.1 86.Laporan surveilans nasional untuk prevalensi TB menunjukkan jumlah orang terinfeksi TB telah mengalami penurunan .5 86. Angka Penemuan Kasus (CDR) dan Angka Keberhasilan Pengobatan (SR) Nasional untuk TB (%).

Pengembangan strategi DOTS setelah tahun 1995 pada awalnya berjalan lambat.000 Penduduk di Indonesia. Jumlah Kasus BTA-Posi f per 100.dari 30 persen tahun 2002 menjadi 76 persen tahun 2006.620) selama kurun waktu lebih dari 10 tahun. 174 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .19. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Gambar 6. Selanjutnya. dan tahun 1995 secara formal DOTS ditetapkan sebagai kebijakan nasional. Gambar 6. Kementerian Kesehatan melakukan uji coba pelaksanaan pengendalian TB berdasarkan strategi internasional yang direkomendasikan yang disebut – DOTS – tahun 1993. Direktorat PPM.18 dan 6. Tahun 1997-2008 Sumber: Kemkes. Angka deteksi kasus TB meningkat pesat .19 menunjukkan bahwa program TB nasional sudah semakin baik dalam mendeteksi kasus dan penyembuhannya selama kurun waktu lebih dari satu dekade telah berhasil menyembuhkan lebih dari setengah juta pasien TB (567. dan angka ini mencapai 91 persen pada tahun 2007 dan 2008. Indonesia merupakan salah satu negara yang pertama kali melaksanakan pela han singkat tentang kemoterapi (Short Course Chemotherapy atau SCC) untuk TB pada tahun 1977. dan angka deteksi kasus TB selalu di bawah 30 persen hingga tahun 2002. Indonesia adalah negara pertama yang memiliki beban TB nggi di wilayah WHO Asia Tenggara yang mencapai target global untuk pendeteksian kasus (70 persen) dan keberhasilan pengobatan (85 persen).17.Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS. 6. Ditjen P2PL 2009. Angka keberhasilan pengobatan selalu di atas 85 persen sejak tahun 2000.

kemoterapi jangka pendek standar. namun demikian kesenjangan pendanaan juga terjadi pada 5 tahun pertama. Pendanaan Strategi Stop TB. dan pemantauan untuk supervisi dan evaluasi program.20a menunjukkan bahwa anggaran program TB nasional sudah lebih dari dua kali lipatnya sejak tahun 2002. Selain itu. 5% 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Peralatan & perlengkapan lab. Gambar 6. 4% ACSM/CBTC. 49 DOTS (Directly Observed Treatment. (ii) keterlibatan luas para penyedia jasa publik dan swasta.50 dan (v) memiliki kapasitas laboratorium diagnos k di seluruh ngkatan pelayanan kesehatan. (iii) akses pada petugas kesehatan dan obat-obatan obat gra s.20.a. 14% Manajemen & supervisi program.20b). meskipun Indonesia diperkirakan memiliki nilai MDR-TB ke tujuh ter nggi di ngkat global (Gambar 6. keluarga.. kemitraan yang melibatkan pihak pemerintah. meningkatkan kesadaran. Global Tuberculosis Control. kebijakan nasional menekankan perlunya fokus pada kelompok miskin dan rentan serta menekankan pen ngnya MDGs untuk diintegrasikan pada kebijakan yang berlaku. “salah satu prioritas untuk keberlanjutan pembiayaan pengendalian TB adalah perlunya dukungan dan kontribusi pemerintah daerah” Kebijakan nasional saat ini menerapkan rekomendasi internasional pada strategi pengendalian TB. 8% Kemitraan Publik-Swasta. Indonesia. yaitu DOTS49 yang ditetapkan sebagai kebijakan TB nasional oleh Kementerian Kesehatan sejak tahun 1997. 5% MDR-TB. persediaan obat-obatan reguler. 36% Sumber: Indonesia Profile. DOTS menyerap 70 persen dari total anggaran Program TB Nasional. Short-course) mencakup deteksi kasus oleh temuan kasus pasif. dan menggalakkan penemuan kasus pasif. Strategi itu menekankan pen ngnya: (i) dukungan poli k dan program desentralisasi agar DOTS dapat diterapkan secara efek f. Sedangkan strategi global untuk penanggulangan TB telah diterapkan pada kerangka kerja penanggulangan TB nasional 2010 dan saat ini sedang disusun untuk tahap selanjutnya untuk mencapai target MDG 2010-2014. dan lingkungan kerja guna mempengaruhi perilaku. Rincian Anggaran Program TB Nasional tahun 2009 Riset/survei operasional. Tahun 2009 Lainnya. 15% 80 Juta dollar AS 69 53 34 32 39 57 59 60 40 20 0 Staf NTP. dan swasta dalam sebuah gerakan terpadu nasional untuk TB (Gerdunas). (iv) sistem kesehatan yang menerapkan pengendalian TB melalui pendekatan promosi ak f. 5% TB/HIV. 50 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 175 . 5% Gambar 6. untuk menjamin keberlanjutan pengobatan. nonpemerintah. Gerdunas: Gerakan Terpadu Nasional: Na onal Integrated (TB) Allevia on Movement. Anggaran Program TB Nasional berdasarkan sumber pendanaan 100 80 Kesenjangan Dana Global Hibah (non Global Fund) Pinjaman Pemerintah (non utang) b. 3% Obat lini pertama. peningkatan anggaran tahun 2009 disertai dengan peningkatan anggaran pemerintah. sementara bagian untuk MDR-TB rendah. WHO Report 2009. masyarakat.

176 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . komunikasi dan mobilisasi sosial atau Advocacy. serta pengukuran dampak MENANGANI TB-HIV. komunikasi dan mobilisasi sosial • Penguatan monitoring dan evaluasi serta mempromosikan penggunaan informasi dalam penerapan perencanaan dan pengambilan keputusan yang berbasis data BERKONTRIBUSI DALAM PENGUATAN SISTEM KESEHATAN • Menjamin ketersediaan tenaga yang memadai (kuan tas dan kualitas) dan skill-mix • Logis k efek f untuk menjamin keberlangsungan pengadaaan obat dan peningkatan kualitas layanan lab • Par sipasi ak f dalam upaya mengembangkan kebijakan system-wide.Interna onal Standards for TB Care (ISTC) MEMBERDAYAKAN PENDERITA TB DAN MASYARAKAT • Par sipasi masyarakat dalam penanganan TB • Kesepakatan Penderita terhadap Penanganan TB • Komunikasi efek f kepada penderita TB. dan sistem informasi • Menyebarkan inovasi yang memperkuat sistem. manajemen.4). pemberian layanan. Coomunica on and Social Mobiliza on (ACSM) dan rencana operasional untuk mengembangkan kapasitas dalam rangka pelaksanaan kegiatan dan pela han di ngkat provinsi dan kabupaten/kota. dan Publik-Swasta (PPM) • Penerapan Standar Internasional Penanganan TB . financing. 2006-2010 KOMPONEN STRATEGI NASIONAL STOP TB PELAKSANAAN PENINGKATAN DAN PERLUASAN DOTS YANG BERKUALITAS TINGGI • Komitmen poli k dengan pembiayaan yang meningkat dan berkelanjutan • Alokasi sumber dana dengan memperha kan kapasitas fiskal daerah • Deteksi kasus melalui uji bakteriologi berkualitas • Standarisasi penanganan pasien TB melalui supervisi dan dukungan • Sistem penyediaan dan manajemen obat yang efek f • Sistem pengawasan dan evaluasi. Kerangka kerja ACSM sejalan dengan Rencana Strategis Indonesia 2006-2010 (Tabel 6. termasuk Prac cal Approach to Lung Health (PAL– Pendekatan Prak s Kesehatan Paru) MEWUJUDKAN DAN MEMPROMOSIKAN PENELITIAN • Peneli an TB • Program berbasis riset-operasional Advokasi. Komponen Strategi TB Nasional Sumber: Rencana Strategis STOP TB Indonesia. RESISTENSI GANDA OAT DAN TANTANGAN LAINNYA • Surveilans resistensi obat TB • Pelayanan resistensi ganda OAT (Obat An TB) • Kegiatan kerjasama TB/HIV MELIBATKAN SEMUA PENYEDIA PELAYANAN • Pendekatan Kemitraan Publik-Publik. Tujuan kegiatan pendidikan bagi pasien dan mobilisasi sosial adalah untuk meningkatkan par sipasi masyarakat dan menciptakan kebutuhan diagnosis berkualitas serta layanan pengobatan untuk TB. providers dan stakeholders PENGUATAN KEBIJAKAN DAN MENUMBUHKAN ‘OWNERSHIP’ DAERAH TERHADAP PENGENDALIAN TB • Penguatan kebijakan yang terkait TB • Kesinambungan pembiayaan dan efisiensi penggunaan sumber daya • Advokasi.4. Program TB Nasional telah mengembangkan pedoman advokasi. SDM.Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS. komunikasi dan mobilisasi sosial pen ng untuk meningkatkan cakupan program TB. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Tabel 6.

letak geografi. dan komitmen pemangku kepen ngan.2. terlihat dampak implementasi DOTS yang sangat sukses dan pada saat bersamaan terjadi peningkatan penemuan kasus TB antara 20-30 persen. Dengan demikian. capaian dan penggunaan DOTS. Masyarakat di berbagai daerah di negeri ini turut dilibatkan. pemberian layanan. Indonesia sudah mengembangkan kemitraan yang efek f dengan banyak sektor di ngkat nasional – sektor kesehatan swasta. Membangun kemitraan dengan penyedia layanan kesehatan di luar sistem kesehatan pemerintah. bekerjasama dengan media dan pihak lainnya untuk meningkatkan sumber daya. strategi itu pertama kali dikembangkan oleh sebuah LSM bernama The Interna onal Union against Tuberculosis and Lung Disease (IUATLD). hal ini meningkatkan risiko pasien resisten terhadap obat TB. hal ini bisa dipantau dengan kegiatan pengontrolan oleh masyarakat. diawasi oleh kader atau pekerja sosial serta petugas kesehatan. petugas kesehatan. Indonesia sudah mengaplikasikan PPM DOTS yang bertujuan untuk mendorong organisasi dan asosiasi penyedia layanan swasta dan pemerintah yang bekerja di bidang TB dan HIV untuk memasukkan kegiatan bersama TB/HIV dalam pekerjaan mereka. Inisia f ini juga menawarkan mekanisme uji coba proyek PPM TB/HIV untuk mencari buk -buk yang akhirnya dapat memberikan informasi untuk kebijakan global dan nasional mengenai keterlibatan layanan swasta dan pemerintah dalam implementasi dan peningkatan (scale up) kegiatan kolaborasi TB/HIV. Keterlibatan masyarakat diharapkan dapat memberikan dampak dalam meningkatkan deteksi dini kasus TB dan menganjurkan orang yang mungkin menderita TB untuk segera mencari pengobatan yang tepat. dan informasi. Sejumlah pasien suspek TB dan pasien TB terus mencari perawatan dari penyedia layanan swasta maupun layanan nonpemerintah lainnya dan jumlahnya semakin banyak karena adanya kampanye dan pelibatan masyarakat. LSM memiliki peran utama dalam advokasi dan mobilisasi dukungan pemerintah dan masyarakat untuk menghen kan TB. Sumatera Utara. edukasi serta komunikasi. LSM tersebut Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 177 . Banyak kegiatan yang seringkali dipelopori oleh anggota masyarakat termasuk pemimpin adat. organisasi nonpemerintah. Tujuannya adalah untuk mempromosikan dan meningkatkan deteksi dini kasus infeksi tuberkolusis (TB) dan memas kan pengobatan yang tepat sekaligus mempertahankan angka capaian penyembuhan yang nggi dalam program DOTS ini. ke adaan aturan bila terjadi hal tersebut menyebabkan kebanyakan pasien dak terlaporkan. Sayangnya. Dengan cara demikian mereka yang mengidap TB dapat dicatat dalam sistem (Program DOTS) yang memungkinkan untuk melacak dan memas kan kalau pengobatan mereka dak terganggu atau terputus. relawan. Yogyakarta dan Palembang menunjukan peningkatan sekitar 24 persen dalam penemuan kasus. Ada sebuah perkumpulan atau asosiasi bernama ‘PAMALI’ yang terdiri atas eks pasien TB yang sukses menjalankan pengobatan dan ber ndak sebagai mo vator bagi pengidap TB agar mereka mendapat pengobatan yang tepat. sekolah kedokteran. mereka menggunakan protokol diagnos k dan pengobatan yang dak sesuai standar yang mengakibatkan munculnya diagnosis yang dak benar dan hasil pengobatan yang buruk. sebagian besar penyedia layanan itu dak berkaitan secara ak f dengan program TB nasional. LSM dan pekerja lapangannya. masyarakat. bisnis dan industri. meskipun bentuk pelibatannya bervariasi bergantung pada norma sosial. Lebih lanjut. melalui kerjasama nasional. LSM berperan pen ng dalam pencegahan dan pengendalian TB. Inisia f ini sudah menunjukkan kelayakan untuk melibatkan penyedia layanan swasta dalam kerjasama produk f implementasi DOTS. Saat ini strategi DOTS dianggap sebagai strategi yang paling efek f dalam biaya (cost effec ve) untuk melawan TB. Kemitraan yang efek f dalam pengendalian TB: memberdayakan pengidap TB dan masyarakat dalam Program DOTS Demi meningkatkan cakupan DOTS untuk semua. Kerjasama Pemerintah-Swasta untuk Inisia f DOTS (PPM-DOTS) dimulai awal tahun 2000. regional dan lokal. Memberdayakan mereka yang terdampak karena TB selain untuk meningkatkan deteksi dini kasus dan kepatuhan pengobatan.Kotak 6. juga dapat mengatasi s gma dan diskriminasi. dan khususnya dengan penyedia layanan kesehatan swasta adalah hal yang sangat pen ng untuk memperluas cakupan program DOTS di negara ini.

Dengan melibatkan asosiasi profesional seper Ikatan Dokter Indonesia. semuanya ini harus dapat dimonitor dan dievaluasi oleh Sistem Program DOTS. dan membantu pekerja yang mengidap TB untuk menjalani pengobatan untuk menghindari tersebarnya TB di tempat kerja dan di masyarakat. kurangnya koordinasi antara program kesehatan masyarakat dan sektor RS. Dari 2. memiliki perbedaan yang jelas dengan pegawai pemerintah dalam meyakinkan pasien suspek TB untuk menjalani tes diagnos k. Pekerja dan organisasinya dapat bekerjasama dalam kegiatan tersebut dan mengadvokasi kebutuhan pekerja. merujuk mereka untuk diagnosis. bahaya kesehatan kerja lainnya misalnya silicosis. Kelompok-kelompok yang tertarik seper LSM (NU. perlu diperkenalkan akses terhadap layanan pencegahan TB yang mungkin harus lebih kuat di tempat kerja dibandingkan tempat lainnya. termasuk akses terhadap perawatan kesehatan dan memas kan terpenuhinya aspek e s hubungan kerja. Dengan demikian. Mitra bisnis dan industri dapat secara ak f berkontribusi dengan cara mengiden fikasi pasien suspek TB di antara para pekerjanya. Ikatan Ahli Paru Indonesia juga merupakan salah satu strategi mendukung pelaksanaan ISTC (Interna onal Standard of TB Care). Inisia f untuk membangun hubungan dengan RS sedang diupayakan menggunakan ISTC. mengambil obat secara teratur dan melaporkannya untuk mendapatkan resep obat untuk menjamin pengobatan dijalani dengan lengkap. lebih dari 50 persen berisiko menderita TB ak f dalam hidupnya. Hambatan utama sistem kesehatan untuk pengendalian TB antara lain penyediaan layanan kesehatan di daerah terpencil. namun yang paling sering terjadi adalah pada mereka yang berusia antara 20 hingga 45 tahun. Sumber: Laporan Indonesia. Penyakit ini menyebabkan banyaknya biaya yang harus dikeluarkan perusahaan misalnya akibat pekerja yang mangkir kerja. Manfaat yang jelas terlihat dari pelibatan LSM dibandingkan dengan sektor pemerintah saja adalah dalam hal fleksibilitas.Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS. menurunnya produk vitas. sementara DOTS di RS diharapkan dapat meningkatkan angka kasus TB yang terdeteksi baik di RS swasta maupun RS pemerintah. ngkat respon dan kesan pen ngnya memberikan dampak yang berar dalam kurun waktu singkat. Dengan demikian. 2009: diperkaya wawancara dengan staf dan petugas kesehatan di ngkat puskesmas 178 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .5 milyar pekerja di seluruh dunia. perusahaan harus membantu menyediakan akses terhadap informasi dan dukungan kepada pekerja yang sakit dan mengaitkan pengendalian TB dengan isu tempat kerja lainnya seper HIV/AIDS. Selain itu. laki-laki dan perempuan di usia yang paling produk f secara ekonomi dalam hidup mereka. Aisiah. Tuberkulosis bisa terjadi pada semua orang di segala usia.2. Program TB Nasional telah memperkuat kapasitas laboratorium dan sumber daya manusia untuk memberikan perawatan dan pemantauan pasien TB sehingga dapat memberi manfaat semua yang terlibat dalam sistem. perha an mengenai kesehatan masyarakat masih lemah dan biaya yang dikeluarkan pasien masih menjadi sumber pendapatan utama program kesehatan. langkah awal yang dilakukan adalah membangun kerjasama dengan kementerian tenaga kerja dan transmigrasi serta JAMSOSTEK. Perusahaan dan organisasi di dalamnya memainkan peranan pen ng dalam mempromosikan dan menerapkan kegiatan pengendalian TB. biaya pengobatan yang nggi dan adanya biaya dak langsung yang besar jumlahnya yang diakibatkan karena perusahaan harus mencari penggan pekerja atau melakukan pela han ulang pada pekerja. Strategi diperlukan untuk menjamin pelibatan maksimum oleh bermacam-macam mitra dalam pengendalian TB di tempat kerja. PDPI) atau dokter swasta bersedia mengimplementasikan program DOTS dan bekerjasama dengan perwakilan program pengendalian TB nasional yang sesuai dengan ngkatnya (pusat. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Lanjutan Kotak 6. Tempat kerja mungkin memiliki lebih banyak orang di dalamnya dibandingkan dengan tetangga di sekitar tempat nggalnya. provinsi atau kabupaten). Perdaki). Pengembangan kapasitas sumber daya manusia serta fasilitas kesehatan masih terus menerus dilakukan untuk mencapai akses universal bagi semua orang. asosiasi profesional (IDI. Sektor bisnis menjadi sektor yang sangat pen ng dalam mengendalikan TB. Oleh karena itu. standar ini juga membantu melibatkan sektor RS untuk menyediakan layanan kesehatan kepada masyarakat umum.

dan menghindari terjadinya hambatan dalam siklus pengobatan. antara lain: ngginya penemuan kasus belum diimbangi dengan ketersediaan pelayanan pengobatan yang memadai. serta memperluas cakupan dari jaringan pengendalian TB. memas kan kualitas obat-obatan. Sikap dan Prak k (KAP) yang diadakan baru-baru ini melaporkan temuantemuan berikut: (i) tahu apa itu TB (76 persen) dan tahu bahwa TB bisa sembuh sepenuhnya (85 persen). Di ngkat pelayanan kesehatan. informasi. dan (iii) sikap berprasangka masyarakat lokal membuat strategi ACSM menjadi semakin rumit. Keterlibatan masyarakat dalam perawatan TB adalah hal yang pen ng. termasuk asosiasi profesi. sekitar 13 persen. Masih rendahnya kesadaran dan perlunya perubahan perilaku di keluarga dan masyarakat yang mempengaruhi risiko penyebaran infeksi. fasilitas kesehatan swasta maupun lapas. 3. memperbaiki prak k pemberian obat. dan hasil yang dicapai selama inipun cukup posi f. Tantangan utama yang kini dihadapi oleh program tersebut diupayakan untuk mempertahankan pencapaian yang mengesankan ini. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 179 . diperlukan fokus pada langkah-langkah untuk mengiku standar baku internasional dalam perawatan TB.Tantangan Kebijakan dan strategi yang diterapkan pemerintah untuk TB sudah cukup komprehensif. membutuhkan dukungan kebijakan dan regulasi. komunikasi dan mobilisasi sosial (Advocacy. 2. selain komitmen dari semua pihak. seper yang tercermin dalam pencapaian indikator-indikator MDG. namun hasilnya masih belum menggembirakan dan pemahaman tentang masalah tersebut masih kurang. dan pendanaan. Advokasi. dan hanya sekitar 2-3 persen dari prak k individual swasta yang telah melaksanakannya secara ru n). ngkat u lisasi serta efek fitas strategi nasional. (iii) kebanyakan masyarakat dak tahu bahwa obat an -TB bisa didapatkan secara gra s di pusat kesehatan setempat (hanya 19 persen yang tahu) dan hanya 16 persen responden mampu mengiden fikasi tanda-tanda dan gejala-gejala TB. yang mencerminkan gabungan dari beberapa faktor: (i) jangkauan ACSM masih terbatas dan pesan-pesan yang disampaikan bisa jadi dak efek f.51 Di samping itu. penerapan program TB juga terkendala sejumlah tantangan. (ii) terbatasnya akses pada pelayanan. sementara baru sekitar 38 persen dikerjakan secara ru n oleh rumah sakit. belum maksimalnya potensi kemitraan antara publikswasta. Communica on and Social Mobiliza on/ACSM) sedang digalakkan sebagai bagian dari strategi TB. Layanan pengobatan untuk TB belum diberikan secara ru n di seluruh pelayanan kesehatan (di mana sekitar 98 persen puskesmas telah melakukannya secara ru n. Panduan-panduan intervensi dan ACSM harus disesuaikan dengan kondisi 51 ACSM masih merupakan bidang baru dan masih memerlukan lebih banyak lagi dukungan panduan dan teknis. dan terdapat perbedaan yang signifikan antar daerah. (ii) s gma sasi yang buruk atas pengidap TB (merahasiakan bila anggota keluarga menderita TB). Masih diperlukannya perha an khusus dan penguatan kebijakan dalam penyusunan dan penerapan strategi di daerah yang berbasis lokal untuk memas kan keberhasilan program. Survei tentang Pengetahuan. Untuk itu masih diperlukan penguatan pada penyediaan pelayanan. mencakup: 1. Dengan ngginya MDR-TB (Mul drugs-Resistant TB/TB yang resisten terhadap berbagai macam obat) yang semakin mengancam.

termasuk melalui inisia f-inisia f yang fokus pada TB. Saat ini. Selama ini sumber pendanaan terutama datang dari para donor. (vi) peningkatan promosi ak f dalam pengendalian TB. nonpemerintah dan swasta dalam sebuah gerakan terpadu nasional untuk penanggulangan TB (Gerdunas TB). Tingkat kesadaran yang kurang terhadap program penanggulangan TB. saat ini mencerminkan banyak situasi yang terjadi di ngkat lokal dan terlihat dari kurangnya sumber daya yang dialokasikan untuk masalah TB. ACSM. penerapan sejumlah elemen dalam Strategi TB . Belum op malnya pengembangan basis informasi untuk penyusunan kebijakan berbasis fakta. Peningkatan cakupan DOTS.kurang begitu dipahami dibandingkan dengan pengembangan DOTS dan hubungan TB/HIV serta MDR-TB. Peningkatan kapasitas dan kualitas penanganan TB. peran serta petugas kesehatan. dan komitmen yang lemah terhadapnya. (viii) peningkatan sistem pengawasan dan evaluasi serta pengukuran dampak pengobatan melalui DOTS. pemanfaatan sumber daya dak akan efisien ataupun efek f. meningkatkan kesadaran serta menggalakkan penemuan pasif. melalui: (i) penguatan kapasitas laboratorium diagnos k di seluruh sarana pelayanan kesehatan. tentu dibutuhkan peningkatan mobilisasi sumber daya lokal. Sejumlah surveilans telah dilakukan. provider dan stakeholder. 4. (ii) peningkatan dukungan poli k dan program desentralisasi agar DOTS dapat diterapkan secara efek f. (iv) menjamin ketersediaan tenaga kesehatan yang memadai baik kuan tas maupun kualitas. 5. termasuk menyiapkan informasi yang dapat dimanfaatkan yang akan dimanfaatkan untuk manajemen berbasis kinerja. (iv) peningkatan akses pada layanan kesehatan dan obat-obatan gra s. komunikasi dan mobilisasi sosial. (vii) peningkatan komunikasi efek f kepada penderita TB. keluarga dan masyarakat dan lingkungan kerja guna mempengaruhi perilaku. melalui: (i) peningkatan advokasi. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya lokal. mencakup: 1. (ii) penerapan standar internasional penanganan TB/Interna onal Standards for TB Care (ISTC). (v) menjamin keberlangsungan penyediaan obat. 2. karena data tentang hal-hal yang disebut awal tadi terbatas. (vi) peningkatan kerjasama program TB/HIV. Keadaannya mungkin saja cukup mempriha nkan di daerah-daerah terpencil dan sulit dijangkau di mana dampak dari kemiskinan diperburuk dengan masalah TB. Namun demikian. namun informasi yang ada masih belum memadai untuk membuat kebijakan yang kuat. Masih terbatasnya sumber pendanaan untuk menanggulangi TB di Indonesia.penguatan sistem kesehatan. (v) peningkatan sistem penyediaan dan manajemen obat yang efek f. 180 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . serta peningkatan efisiensi dari anggaran belanja program yang ada. riset .Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS. Tanpa adanya perencanaan dan penganggaran terpadu guna mendukung kegiatan-kegiatan penanggulangan TB. (iii) peningkatan kemitraan yang melibatkan pemerintah. (iii) keterlibatan luas pada penyedia jasa publik swasta. Kebijakan dan Strategi Menghadapi tantangan TB perlu dilakukan beberapa strategi.

melalui: (i) peningkatan peneli an terkait TB. (ii) pengkajian dan penyesuaian disain penemuan kasus. sistem surveilans yang kuat. Layanan outreach atau strategi untuk daerah terpencil yang mendukung kegiatan di ngkat masyarakat perlu menggabungkan dukungan posdes dengan penyediaan informasi TB. 3. dan skema pemberian pengobatan dengan kondisi dan sumber daya setempat. baik di ngkat pusat maupun daerah. dan pengobatan. (viii) peningkatan promosi perawatan berbasis masyarakat dan pengendalian vektor serta langkah pencegahan lainnya berbasis lokal. penerapan peraturan berlaku.. Hal tersebut membutuhkan: (i) peningkatan kapasitas sistem kesehatan untuk mencegah dan mengendalikan penyakit menular . (iv) evaluasi periodik di ngkat nasional dan daerah demi meningkatkan akuntabilitas dan mo vasi untuk bekerja. dan (iv) peningkatan ketersediaan sistem informasi kesehatan yang efek f. (iii) layanan dukungan konsultasi yang mendorong penerapan prak k-prak k yang tepat. (iii) pelaksanaan surveilans untuk mengiden fikasi risiko-risiko khusus (munculnya MDR-TB). (ix) peningkatan cakupan penemuan kasus dan layanan pengobatan untuk TB di seluruh pelayanan kesehatan. (v) survei periodik untuk mengiden fikasi risiko-risiko khusus (munculnya MRD-TB atau wabah yang terjadi di lembaga pemasyarakatan atau di pusat-pusat pelayanan kesehatan).(vii) pembangunan elemen-elemen pelayanan kesehatan publik yang mampu memberikan respon efek f terhadap pencegahan dan pengendalian kasus TB. (vi) kendali mutu obat-obatan. karena keduanya merupakan prioritas pembangunan kesehatan baik untuk nasional maupun daerah. termasuk perawatan yang aman dan efek f bagi mereka yang terinfeksi di fasilitas setempat maupun layanan penjangkauan (outreach). Komitmen pemerintah daerah dalam mengalokasikan program TB dalam APBD sebagai tanggung jawab pelaksanaan Standar Pelayanan Minimum (SPM) maupun MDGs sangat krusial. keterlambatan diagnosa.menelaah sistem pemantauan dan sistem pelaporan kasus dan menentukan mekanisme siaga dan tanggap kasus untuk menekan angka kema an. Dalam pengembangan jaringan pelayanan publik. 5. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 181 . dan pelaksanaan DOTS. diagnos k. melalui studi berkala tentang upaya mendapatkan pelayanan. (xi) Penyediaan sarana dan prasarana pelayanan TB sesuai standar. dan (viii) menetapkan kapasitas pengendalian TB sebagai prioritas di ngkat kabupaten. Mobilisasi alokasi sumber daya secara tepat. (vii) pembinaan kerja sama antara sektor publik-swasta. penguatan kebijakan dan menumbuhkan ownership pemerintah daerah menjadi langkah kunci dalam menjamin kesinambungan program TB. 4. Penguatan sistem informasi serta sistem monitoring dan evaluasi terkait TB. (x) peningkatan layanan dukungan konseling yang memfasilitasi penerapan prak k-prak k yang tepat dalam pencegahan dan pengobatan TB. (ii) peningkatan jangkauan jaringan uji mikroskopis. termasuk kolaborasi lintas sektor dan penguatan monitoring dan evaluasi serta mempromosikan penggunaan informasi dalam penerapan perencanaan dan pengambilan keputusan yang berbasis data. diagnos k. Penguatan kebijakan dan peraturan dalam pengendalian TB untuk membangun kepemimpinan sektoral yang efek f melalui penguatan komitmen poli k. Oleh karena itu. training TB baik pre-service maupun inservice harus mencakup pembekalan keterampilan deteksi.

5. Fokus utama dari strategi TB adalah untuk memanfaatkan sebaik-baiknya instrumen yang ada saat ini untuk melakukan diagnosa. Prioritas. termasuk dampak sosial dan ekonominya. khususnya tentang pengendalian TB melalui peningkatan penemuan kasus baru TB Paru (BTA Posi f).000 penduduk 2010 235 73 85 2011 231 75 86 2012 228 80 87 2013 226 85 87 2014 224 90 88 Menurunkan ngkat morbiditas dan mortalitas TB 2.Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS. Hal itu juga berar perlu mengurangi dampak nega f dari penyakit tersebut. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya dengan menurunkan ketergantungan pemerintah daerah terhadap pusat maupun dana eksternal.  Persentase kasus baru TB Paru (BTA posi f) yang ditemukan 3. di samping membina kemitraan dengan semua sektor maupun sektor swasta yang saat ini sangat perlu dikembangkan.  Persentase kasus baru TB Paru (BTA posi f) yang disembuhkan 182 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .  Prevalensi TB per 100. Upaya pemberantasan TB harus sejalan dengan strategi nasional penanggulangan kemiskinan dan kerangka pembangunan nasional. Mengatasi TB secara efek f berar harus menghadapi semua faktor risiko yang menyebabkan individu menjadi rentan terhadap infeksi tuberkulosis Mycobacterium dan berjangkitnya penyakit. Presiden Republik Indonesia memberikan perha an khusus dengan mengeluarkan Inpres Nomor 3 tahun 2010 tentang Program Pembangunan Berkeadilan. Hal ini telah sejalan dengan strategi nasional dalam RPJMN 2010-2014 sebagaimana terlihat pada tabel di bawah ini: Tabel 6. pengobatan dan pencegahan. Output. Kekuatan dari upayaupaya global dalam pengendalian TB terletak pada langkah-langkah koordinasi dan kerja sama dari program kemitraan “Stop TB”. Untuk mempercepat pencapaian target penurunan kasus TB dan kema an akibat TB. serta memanfaatkan instrumen yang lebih baik yang mungkin dapat diciptakan melalui riset dan pengembangan. dan Target Upaya Penurunan Tingkat Morbiditas dan Mortalitas Penyakit TB Tahun 2010-2014 Sumber: RPJMN 2010-2014. Inpres Nomor 3 Tahun 2010 Prioritas Output 1.

Menjaga pertumbuhan pohon bakau Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup .

.

Jumlah konsumsi energi primer (per kapita): Acuan dasar (1991) : 2.2a.64 SBM per kapita (Kementerian Energi dan Sumber Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 185 .2. Jumlah emisi karbon dioksida (CO2e): Acuan dasar (2000) : 1.416.43 persen (Kementerian Kehutanan) Target (2015) : Meningkat 7. Rasio luas kawasan tertutup pepohonan berdasarkan hasil pemotretan citra satelit dan survei foto udara terhadap luas daratan: Acuan dasar (1990) : 59.97 persen (Kementerian Kehutanan) Saat ini (2008) : 52.Target 7A: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan yang berkesinambungan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan sumberdaya lingkungan yang hilang Indikator 7.626 Gg CO2e (Kementerian Lingkungan Hidup) Target (2020) : Menurun se daknya 26 persen jika dibandingkan dengan kondisi BAU pada tahun 2020 7.1.074 Gg CO2e (Kementerian Lingkungan Hidup) Saat ini (2008) : 1.711.

Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup

Saat ini (2008) Target (2015 7.2b. Intensitas energi: Acuan dasar (1990) Saat ini (2008)

Daya Mineral) : 4,3 SBM per kapita (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral) : Menurun jika dibandingkan dengan kondisi BAU [Business as Usual] (kondisi BAU = 6,99 SBM per kapita) : 5,28 SBM/USD 1.000 (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral) : 2,1 SBM/USD 1.000 (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral) : Menurun

Target (2015) 7.2c. Elas sitas energi: Acuan dasar (1991) : 0,98 (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral) Saat ini (2008) : 1,6 (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral) Target (2015) : Menurun 7.2d. Bauran energi untuk energi terbarukan: Acuan dasar (2000) : 3,5 persen (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral) Saat ini (2008) : 3,45 persen (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral) Target : 17 persen pada tahun 2025 7.3. Jumlah konsumsi bahan perusak ozon (BPO) dalam metrik ton: Acuan dasar (1992) : 8.332,7 ton BPO (Kementerian Lingkungan Hidup) Saat ini (2009) : 0 Chlorofluorocarbons (CFC), Halon, CTC, TCA, dan MBr (untuk nonkaran na dan nonpengapalan) (Kementerian Lingkungan Hidup) Target (2015) : Mengurangi Hydrochlorofluorocarbons (HCFC) hingga 10% (dari ngkat acuan dasar, rata-rata konsumsi tahun 2009-2010) 7.4. Proporsi tangkapan ikan yang berada dalam batasan biologis yang aman: Acuan dasar (1998) : 66,08 persen (dengan tangkapan total yang diizinkan 5,12 juta ton per tahun atau 80% dari tangkapan maksimum lestari [maximum sustainable yield/MSY]) (Kementerian Kelautan dan Perikanan) Saat ini (2008) : 91,83 persen (Kementerian Kelautan dan Perikanan) Target (2015) : Tangkapan ikan dak boleh melampaui batasan biologis yang aman 7.5. Rasio luas kawasan lindung untuk menjaga kelestarian keanekaragaman haya terhadap total luas kawasan hutan: Acuan dasar (1990) : 26,40 persen (Kementerian Kehutanan) Saat ini (2008) : 26,40 persen (Kementerian Kehutanan) Target (2015) : Meningkat 7.6 Rasio kawasan konservasi perairan terhadap total luas perairan teritorial: Acuan dasar (1990) : 0,14 persen (Kementerian Kehutanan) Saat ini (2009) : 4,35 persen atau seluar 13,5 juta ha (Kementerian Kelautan dan Perikanan) Target (2015) : Meningkat

186

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

Situasi Saat ini
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari 17.480 pulau dengan total luas lahan sekitar 1,87 juta kilometer persegi. Total luas kawasan laut bangsa ini mencapai 5,8 juta kilometer persegi yang terdiri dari laut teritorial nasional seluas 3,1 juta kilometer persegi dan zona ekonomi eksklusif 2,7 juta kilometer persegi. Pulau-pulau di Indonesia membentang sepanjang 5.120 kilometer dari Timur ke Barat dan 1.760 kilometer dari utara ke selatan. Indonesia dianugerahi dengan garis pantai sepanjang 95.181 kilometer dan memiliki hamparan terumbu karang seluas kurang lebih 20.731 kilometer. Kawasan laut dan pesisir pantai menyediakan sumber daya yang sangat pen ng guna menunjang kehidupan penduduknya, terutama masyarakat pesisir yang sangat mengandalkan sumber daya kelautan. Pemanfaatan sumber daya haya laut secara berkelanjutan akan meningkatkan ketahanan pangan global dan berkontribusi terhadap penanggulangan kemiskinan bagi generasi sekarang dan masa mendatang. Indonesia terletak di antara benua Asia dan Australia, dan dikenal sebagai negara dengan keanekaragaman haya yang sangat besar, dan hanya kalah dari Brazil dalam hal hutan tropis dan keanekaragaman haya . Kebijakan lingkungan hidup Indonesia telah dirumuskan dengan tujuan mewujudkan pembangunan yang selaras dengan lingkungan alam sehingga dapat memberikan manfaat bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Rencana Pembangunan Nasional Jangka Panjang 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah 20042009 serta 2010-2014 telah mengarusutamakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam semua aspek kebijakan dan program pembangunan nasional. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang ar pen ng prak k pengelolaan lingkungan dan perubahan iklim yang berkesinambungan merupakan prioritas nasional. Berbagai rencana dan kebijakan nasional juga difokuskan pada peningkatan koordinasi di antara lembaga-lembaga yang terlibat langsung dalam pengelolaan lingkungan, pembangunan kapasitas bagi lembaga-lembaga tersebut di semua ngkatan, serta penguatan penegakan hukum dan peraturan yang mengatur pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. Pemanasan global yang mengarah pada perubahan iklim berdampak nega f pada lingkungan hidup, dan Indonesia sangat rentan terhadap dampak nega f perubahan iklim tersebut. Permukaan laut di sepanjang 95.181 kilometer garis pantai nasional secara perlahan-lahan naik dan keberadaan beberapa pulau kecil pun terancam. Perubahan iklim juga mempengaruhi pola curah hujan dan penguapan yang mengakibatkan musim kemarau panjang dan curah hujan nggi disertai banjir yang pada gilirannya akan mengancam pasokan air, produksi pertanian, dan mata pencaharian penduduk perdesaan. Perubahan iklim juga menciptakan ancaman yang sangat besar terhadap kesehatan mayarakat dengan bertambah luasnya lingkungan tempat nyamuk berkembang biak dan merusak efek vitas sistem sanitasi dan air minum. Perubahan iklim berdampak nega f pada eksosistem laut, terutama di zona pesisir pantai. Perubahan iklim juga merupakan ancaman serius bagi masyarakat miskin yang paling rentan terhadap berbagai perubahan lingkungan di sekitarnya.

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

187

Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup

Pemerintah memberikan prioritas nggi pada program mi gasi perubahan iklim dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Hal itu merupakan mandat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan. Pada tahun 2008, Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) didirikan dalam upaya meningkatkan koordinasi kebijakan serta memperkuat posisi Indonesia di forum-forum internasional terkait dengan perubahan iklim. DNPI dipimpin oleh presiden dan beranggotakan 20 menteri anggota kabinet. Pada bulan September 2009, Pemerintah meluncurkan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) sebagai cerminan komitmen Indonesia untuk membangun mekanisme pendanaan yang lebih efisien, transparan, dan terpercaya dalam menangani dampak nega f perubahan iklim. Berbagai negara donor, termasuk Inggris, Australia, Norwegia, dan Swedia, telah berkomitmen untuk membantu ICCTF. Pemerintah Indonesia adalah peserta Pertemuan Kopenhagen bulan Desember 2009 dan penanda tangan United Na ons Framework Conven on on Climate Change (UNFCC). Indonesia adalah negara berkembang pertama yang mengumumkan target pengurangan emisi sebesar 26 persen dari ngkat Business as Usual (BAU) pada tahun 2020, dan target tersebut dapat di ngkatkan hingga 41 persen dengan dukungan dunia internasional.  Pada bulan Maret 2010 pemerintah meluncurkan Peta Jalan Sektoral Perubahan Iklim Indonesia, Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR), yang bertujuan mengarusutamakan perubahan iklim dalam perencanaan pembangunan nasional. ICCSR mencantumkan visi strategis yang memberikan penekanan khusus pada tantangan yang dihadapi bangsa ini di bidang kehutanan, energi, industri, transportasi, pertanian, daerah pesisir, sumber daya air, limbah, dan sektor kesehatan. Berbagai inisia f untuk membantu masyarakat Indonesia menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan iklim tercantum dalam ICCSR antara lain berupa prioritas nasional untuk mengurangi jumlah emisi karbon. Rasio luas kawasan tertutup pepohonan berdasarkan hasil pemotretan citra satelit dan survei foto udara terhadap luas daratan tercatat 52,43 persen pada tahun 2008, turun secara signifikan bila dibandingkan dengan acuan dasar tahun 1990 saat kawasan tertutup pepohonan masih sekitar 59,97 persen. Kenda demikian, sejak tahun 2002 berbagai kebijakan dan program baru mulai mengubah kecenderungan degradasi hutan. Degradasi hutan Indonesia dan penurunan keanekaragaman haya terjadi dalam skala besar sebelum tahun 2002 sebagai akibat dari prak k pengelolaan hutan yang dak lestari, pembalakan liar, kebakaran hutan, dan alih fungsi hutan untuk pemanfaatan lainnya. Pada tahun 2002 lebih dari 59,7 juta hektar hutan dilaporkan telah rusak, dengan 42,1 juta hektar tergolong sebagai hutan kri s. Laju penyusutan hutan antara tahun 2000 dan 2005 rata-rata diperkirakan mencapai 1,089 juta hektar per tahun. Upaya pelestarian dan pemulihan hutan telah di ngkatkan sejak tahun 2002. Dengan perbaikan kebijakan perlindungan hutan dan penurunan industri kayu bulat, ngkat penyusutan

188

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

hutan menurun menjadi satu juta hektar per tahun pada periode 2004-2006. Pelaksanaan program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) Kementerian Kehutanan menghasilkan rehabilitasi lebih dari dua juta hektar hutan antara tahun 2003 dan 2007. Dengan berbagai upaya tersebut, sejak tahun 2002 terjadi peningkatan tutupan lahan yang cukup signifikan, walaupun masih belum dapat mengejar angka baseline tahun 1990. Untuk itu kecenderungan posi f ini perlu didorong lebih cepat dengan program-program kehutanan seper reboisasi, penghijauan, pencegahan pembalakan hutan dan lain-lain. Kecenderungan persentase tutupan hutan dari luas daratan di Indonesia sejak tahun 1990 hingga tahun 2008 dapat dilihat pada Gambar 7.1 di bawah ini.
Gambar 7.1. Persentase Tutupan Hutan dari Luas Daratan di Indonesia dari Tahun 1990 sampai 2008

Sumber: Kementerian Kehutanan (1990-2008).

Total luas lahan yang ditetapkan secara hukum oleh Pemerintah sebagai kawasan hutan dan diatur peraturan Menteri Kehutanan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir menjadi 133,69 juta hektar atau sekitar 70 persen dari total luas lahan di Indonesia. Kawasan hutan ini berdasarkan fungsi ekosistem digolongkan menjadi enam jenis, dan yang berada di luar kawasan hutan digolongkan sebagai area untuk pengggunaan lainnya (APL). Di dalam pembagian jenis tersebut, terdapat kawasan yang dimaksudkan sebagai kawasan konservasi dan membantu menjaga keanekaragaman haya . Kawasan ini disebut sebagai: • Kawasan hutan yang dilindungi, yaitu Kawasan Pelestarian Alam (KPA) dan Kawasan Suaka Alam (KSA) dimaksudkan untuk mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam haya serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan. KPA melipu taman nasio-nal, taman hutan raya dan taman wisata alam; sementara KSA terdiri dari cagar alam dan suaka margasatwa. Pada tahun 2008 sejumlah 19,69 juta hektar telah ditetapkan sebagai KPA dan KSA oleh Kementerian Kehutanan. Sebanyak sekitar 15,19 juta hektar atau 77,15 persen dipertahankan sebagai tutupan hutan.

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

189

Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup

• Hutan Lindung merupakan area hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan di antaranya untuk mengatur tata air dan menanggulangi erosi tanah. Pada tahun 1984, sejumlah 30,31 juta hektar digolongkan sebagai Hutan Lindung dan pada tahun 2008 total area Hutan Lindung sedikit turun menjadi 29,85 juta hektar. Pada tahun 2008 tutupan hutan di kawasan yang tergolong sebagai Hutan Lindung mencapai 23,02 juta hektar atau sekitar 77,11 persen dari total area Hutan Lindung. Sepanjang tahun 2008 Pemerintah telah menetapkan area hutan yang dilindungi (KPA dan KSA) seluas 19,69 juta hektar dan area hutan lindung seluas 29,85 juta hektar. Dengan total area lahan di Indonesia seluas 1,87 juta kilometer persegi, rasio kawasan hutan yang dilindungi terhadap total luas lahan di Indonesia adalah 26,4 persen pada tahun 2008. Beberapa kawasan hutan yang hilang tersebut dikonversi menjadi perkebunan untuk mendukung berbagai program pertanian di Indonesia. Tabel 7.1 menunjukkan luas areal perkebunan dari tahun 2004 hingga 2010. Luas areal perkebunan telah meningkat dari 15,9 juta hektar pada tahun 2004 menjadi 19 juta hektar pada tahun 2010. Hal ini berar terjadi kenaikan luas kawasan perkebunan sekitar 3,1 juta hektar selama 6 tahun yang sebagian besar berasal dari konversi kawasan hutan.
Tabel 7.1. Luas Kawasan Perkebunan di Indonesia (Ha)
Komoditas Kelapa Sawit Cokelat Karet Kelapa Kopi Mete Cengkih Teh Total 2004 5.284.723 1.090.960 3.262.267 3.797.004 1.303.943 566.309 438.253 142.548 15.886.007 2005 5.453.817 1.167.046 3.279.391 3.803.614 1.255.272 579.650 448.857 139.121 16.126.768 2006 6.594.914 1.320.820 3.346.427 3.788.892 1.308.731 569.197 444.658 135.590 17.509.229 2007 6.766.836 1.379.279 3.413.717 3.787.988 1.295.911 570.409 453.292 133.733,64 17.801.166 2008 7.363.847 1.425.216 3.424.217 3.783.074 1.295.110 573.721 456.472 127.712 18.449.369 2009 7.508.023 1.475.343 3.435.417 3.807.056 1.299.348 574.105 459.193 127.411 18.685.896 2010* 7.824.623 1.503.113 3.445.317 3.810.650 1.302.636 578.761 462.300 127.384 19.054.784

Sumber: Kementerian Pertanian. *) perkiraan 2010.

Gambar 7.2. Kawasan Lindung Perairan Indonesia

16 14 12 Juta hektar 10 8
5,65 6,97 9,29 8,64 13,53

6 4 2 0

Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan.

2005

2006

2007

2008

2009

190

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

Kawasan lindung perairan telah di ngkatkan oleh Pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dan total area yang dialokasikan untuk kawasan tersebut mencapai 13,53 juta hektar pada tahun 2009 atau 4,35 persen dari perairan teritorial nasional seluas 3,1 juta kilometer persegi. Kawasan lindung perairan berkembang pesat dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 (yang telah direvisi melalui UU No. 45/2009) dan UU No. 27/2007 yang meletakkan tanggung jawab atas pelestarian ekosistem utama serta keanekaragaman spesies dan gene ka kehidupan laut pada Kementerian Kelautan dan Perikanan (Gambar 7.2). Kementerian berencana memperluas kawasan lindung perairan menjadi 15,5 juta hektar pada akhir 2014 atau sekitar 5 persen dari total wilayah laut nasional, dan menjadi 20 juta hektar pada 2020. Berbagai jenis kawasan konservasi perairan telah dibangun untuk menjaga keanekaragaman haya atau menjalankan fungsi ekologi khusus seper tempat ikan bertelur atau sumber makanan bagi hewan laut (Tabel 7.2). Wilayah laut, termasuk bakau, rumput laut, dan vegetasi lainnya, juga memegang peranan pen ng dalam penyerapan CO2 dari atmosfer. Kawasan konservasi perairan antara lain melipu Taman Laut Nasional, Taman Wisata Alam Laut, Cagar Alam Laut, Kawasan Konservasi Perairan Nasional dan Kawasan Konservasi Laut Daerah.
No
1 2 3 4 5 6

Jenis kawasan konservasi perairan
Taman Laut Nasional Taman Wisata Alam Laut Suaka Margasatwa Laut Cagar Alam Laut Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kawasan Konservasi Laut Daerah Total

Jumlah kawasan
7 18 7 8 1 35 76

Luas kawasan (juta hektar)
4,043 0,767 0,337 0,271 3,521 4,589 13,529

Tabel 7.2. Kawasan Konservasi Perairan (2009)

Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Gas Rumah Kaca (GRK) mencakup antara lain, karbon dioksida, metana, dan hydrofluorocarbon (HFC) yang dihasilkan oleh ak vitas manusia. Konsentrasi berlebihan bahan-bahan ini di lapisan biosfer memicu terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Emisi GRK diukur dari ngkat konsentrasi CO2 atau setara gas CO2. Berbagai usaha untuk mengurangi emisi gas rumah kaca telah disetujui oleh dunia internasional melalui Protokol Kyoto yang dira fikasi Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Ra fikasi Protokol Kyoto. Indonesia berkomitmen untuk melaksanakan program yang komprehensif guna mengurangi jumlah emisi CO2.

Komunikasi Nasional Indonesia pertama tentang upaya-upaya penanganan isu perubahan iklim dilakukan pada tahun 1999, yang telah menges masi jumlah emisi untuk semua gas rumah kaca utama seper CO2, CH4, N2O, HFC, PFC, dan SF6. Dalam Komunikasi Nasional kedua, di mana sejumlah sektor sudah menggunakan pedoman pelaporan IPCC 2006, total emisi GRK pada tahun 2000 untuk ga GRK utama (CO2,

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia

191

489 246.terutama CFC .057. Halon.609 674. al. yaitu CFC.495 678. Jumlah Konsumsi BPO di Indonesia.226.279 75. Perubahan Penggunaan Lahan.000 1.3.074 594. Tabel 7.3). pengawasan penggunaan BPO telah dilakukan oleh Kementerian Perindustrian. Sumber Energi Industri Pertanian Limbah Perubahan Penggunaan Lahan dan Kehutanan (termasuk emisi kebakaran lahan gambut).546 194. Fasilitas destruksi CFC telah dibangun di fasilitas milik salah satu perusahaan semen terbesar di Indonesia.541 34.030 154.848 Sumber: Kementerian LH (November 2009).242 634.863 155.828* 451. Konsumsi bahan perusak ozon (BPO) telah berkurang secara signifikan sesuai dengan Protokol Montreal terkait konsumsi BPO.000 7.990 37.000 1. Gambar 7. dan N2O) diperkirakan mencapai 594.416.580 821. Berbagai upaya juga telah dilakukan untuk mencegah emisi BPO . CTC. dalam bentuk sistem pembakaran bersuhu nggi.254 172.711. Sejauh ini.000 5.925 35.346 2005 395.965.000 1.425 77. dan Me l Bromida untuk nonkaran na dan prapengapalan.501 153.074 Gg CO2e (Tabel 7. dan peraturan yang melarang impor BPO telah diundangkan pada tahun 1998 dan direvisi tahun 2006 oleh Kementerian Perdagangan.874 591.(PPLK) Kebakaran Lahan Gambut 1 Total (dengan PPLK) Total Tanpa PPLK 2000 333.070 80. Tahun 1992-2008 10.280 440. MBr) HCFCs 192 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 2008 . Selain itu. TCA.300 754.125 79.635 77.000 1.000 4.000 2. Indonesia telah melarang impor lima jenis BPO.000 6.000 8.313 624.000 1.668 36.416.000 668.820 Gg CO2e dan jika termasuk emisi CO2 dari Penggunaan Lahan.000 2.159 618. TCA.584.246 33. Upaya meningkatkan kesadaran publik tentang isu perlindungan ozon telah memberikan kontribusi pada keberhasilan inisia f ini.820 2001 348.829 154. Pemerintah Indonesia telah mera fikasi Protokol Montreal melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Penghapusan Konsumsi Bahan Perusak Ozon.232 1.420 151. Ringkasan Emisi Gas Rumah Kaca dari Semua Sektor Tahun 2000-2005 (dalam Gg CO2e) 1 Keterangan: Emisi kebakaran lahan gambut diambil dari van der Werf et.767 2002 354. (2008) * Berdasarkan perkiraan Depkeu (2009) dan Bappenas (2009).331 45.848 668.000 0 1993 1994 1996 1997 1992 1995 1998 1999 2001 2004 2000 2002 2003 2005 2006 2007 Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup BPO yang telah dihapus (CFC.664 2003 364.379.000 Konsumsi dalam metrik ton BPO 9.3. dan Kehutanan (PLPPLK) mencapai 1.000 3. CTC.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup CH4.156 77.753 2004 384.ke atmosfer selama perawatan dan perbaikan sistem pendingin. Pencegahan emisi CFC telah berhasil melalui ditegakkannya peraturan terkait kewajiban ser fikasi kompetensi tenaga pelaku retrofit dan reuse sistem pendingin. Halon.179 155.390 1.626 654.

94 juta SBM yang tercatat pada tahun 1990. dan TCA dengan BPO penggan sementara yang nilai ODP-nya rendah.847 juta SBM seper terlihat pada Gambar 7. seper senyawa hydrochlorofluorocarbon (HCFC) dan/atau bahan-bahan non-BPO. Pada tahun 1990. peningkatan kewaspadaan atas penegakan hukum yang berlaku mengenai BPO sangat dibutuhkan. Intensitas energi pada tahun 2008 sebesar 2. yaitu hanya sekitar 2.4. di bawah bahan bakar berbasis minyak. Dalam hal ini telah terjadi peningkatan efisiensi penggunaan energi untuk mendukung perekonomian. Semakin nggi intensitas energi menunjukkan semakin besar energi yang diperlukan untuk menghasilkan PDB. Sementara itu indikator intensitas energi dapat digunakan sebagai ukuran efisiensi energi dari suatu negara.3 SBM/kapita pada tahun 2008. Hingga tahun Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 193 . Jumlah pemakaian energi pada tahun 1990 mencapai 247. konsumsi CFC di Indonesia telah turun sampai ke ngkat minimum (lihat Gambar 7.1 SBM/USD1.4 Bahan bakar berbasis minyak merupakan kelompok energi bahan bakar fosil yang paling banyak digunakan.Pada tahun 2007. Hal ini disebabkan karena akses masyarakat terhadap energi masih terbatas.000. Telah terjadi penggan an penggunaan BPO yang mempunyai ozone deple ng poten al (ODP) nggi seper CFC dan BPO lainnya seper Halon. adalah gas alam sebanyak 43. dan pada tahun 2008 jumlah itu mencapai 744.135.000.85 juta SBM pada tahun 2008. Penggunaan batu bara untuk menghasilkan listrik juga meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. menurun jika dibandingkan pada tahun 1990 sebesar 5. sedangkan pada tahun 2008 penggunaannya meningkat 180 persen menjadi 312. Pemakaian terbesar bahan bakar fosil. Jumlah Pemakaian Berbagai Jenis Energi Periode 1990-2008 (dalam Juta SBM) Sumber: Kementerian ESDM. CTC.825 SBM. penggunaan bahan bakar berbasis minyak mencapai 173. Indonesia juga menghadapi tantangan untuk memerangi impor ilegal BPO.3).64 SBM/kapita pada tahun 1991 dan meningkat menjadi 4. Gambar 7. Walaupun impor dan penggunaan BPO sangat dibatasi. dan meningkat menjadi 89. Karena itu. Konsumsi energi primer per kapita Indonesia masih cukup rendah. Jumlah pemakaian energi meningkat ga kali lipat di Indonesia antara tahun 1990 dan 2008.190. seper negara yang terikat dengan Pasal 5 Montreal Protokol lainnya.975 juta SBM (Setara Barel Minyak).28 SBM/USD 1.000 SBM.

Pada tahun 2000 dan tahun 2008 proporsi penggunaan energi baru terbarukan baru mencapai sekitar 3.5 persen dan 3. Untuk insen f nonfiskal. Pada tahun 2008 elas sitas energi Indonesia sekitar 1. Undang-Undang Nomor 30/2007 mengamanatkan peningkatan penggunaan Energi Baru dan Terbarukan sebagai upaya diversifikasi yang pelaksanaannya akan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah. Untuk menjaga ketahanan energi nasional.5 persen dan 37 persen. Sedangkan indikator Elas sitas Energi menggambarkan efisiensi penggunaan energi secara rela f dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi. di mana penggunaan minyak bumi masih sekitar 43. Oleh karena itu.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup PLTP Wayang Windu di Jawa Barat 2015 diupayakan intensitas energi akan terus menurun. dan mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi.45 persen. sementara penggunaan minyak bumi menurun menjadi 20 persen.98. Hingga tahun 2015 diupayakan intensitas energi akan terus menurun. Semakin rendah angka elas sitas energi maka akan semakin efisien penggunaannya. misalnya. Pada tahun 2025 diupayakan proporsi penggunaan energi baru terbarukan meningkat hingga 17 persen. Pemerintah telah memberikan insen f fiskal maupun nonfiskal. ada peraturan yang mengatur 194 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Contoh insen f fiskal mencakup pemberian subsidi bunga pinjaman untuk kegiatan pengembangan bahan bakar naba (biofuel) serta insen f pajak untuk investasi bahan bakar naba .6 meningkat jika dibandingkan pada tahun 1991 yang sebesar 0. Kementerian ESDM melakukan pengembangan sumber energi baru terbarukan (renewable energy) dan hal tersebut tercermin dalam proporsi bauran energi nasional. di mana angka 1 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi sama dengan pertumbuhan penggunaan energi.

12 juta ton atau setara dengan TAC pada tahun 2015 (lihat Gambar 7.5 5. khususnya sumber daya dari laut. termasuk penentuan harga jual/beli dan mekanisme pengadaan. Guna mempercepat pengembangan bahan bakar naba . Pemerintah telah menjalankan Program Listrik Perdesaan dan Program Desa Mandiri Energi. tangkapan maksimum lestari (maximum sustainable yield/MSY) perikanan tangkap diperkirakan mencapai kurang lebih 6. Pemanfaatan sumber daya perikanan. Untuk tangkapan ikan dalam batasan biologis yang aman.4 juta ton per tahun.5 4.000 MW Tahap II yang sumber energi utamanya berupa energi terbarukan. Dalam pengelolaan sumber daya ikan. Sedangkan tangkapan total yang diizinkan (Total Allowable Catch/TAC) adalah 80 persen dari MSY atau 5. Selain itu.8 persen dari TAC pada tahun 2008. Total produksi perikanan tangkap di Indonesia meningkat dari 3.70 MSY: 6.0 3.4 juta ton per tahun JTB: 5.0 5. ada beberapa WPP telah mengalami overexploita on.5.0 6.12 juta ton per tahun Proyeksi perikanan tangkap 2015: 5.70 juta ton atau 91.5 3. juta ton 7. dan pembangkit tenaga listrik.12 juta ton per tahun.12 juta ton Gambar 7. Produksi Perikanan Tangkap di Indonesia Produksi perikanan tangkap Tangkapan Maksimum Lestari (MSY) Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pemerintah juga menyediakan insen f bagi pembangkit listrik berbasis energi terbarukan skala kecil dan menengah agar dapat terhubung dengan jaringan listrik PLN.08 persen dari TAC pada tahun 1998 menjadi 4.penjualan listrik yang dihasilkan dari energi terbarukan.72 4. Antara lain di WPP Samudera Hindia bagian Barat Sumatera. Pemerintah telah meluncurkan Program 10. Walaupun secara total produksi perikanan dak melampaui TAC.0 1996 6 1998 8 2000 0 4 2004 2006 6 8 2008 0 2010 4 2014 1997 1999 2001 2002 2003 2005 2007 2009 2011 2012 2013 2015 3. wilayah perairan Indonesia dibagi menjadi 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP). di mana hasil produksi ikan demersal dan pelagis kecil mengalami kecenderungan penurunan hasil tangkapan ikan dan merefleksikan bahwa produksi sudah mencapai ambang batas. industri. Produksi perikanan tangkap diproyeksikan mencapai 5. terutama panas bumi sebesar 39 persen.5). Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 195 .72 juta ton atau 66.0 4.5 6. Pemerintah telah mewajibkan penggunaan bahan bakar naba di sektor transportasi. menggunakan prinsip keha -ha an dan berkelanjutan sehingga produksi dak akan melebihi batasan biologis yang aman.

pembalakan liar. Dalam pengelolaan laut dan pesisir pantai. lahan basah. 196 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Ada kebutuhan untuk meningkatkan pengelolaan wilayah darat dan laut yang dilindungi guna menjaga kekayaan keanekaragaman haya Indonesia.453 MW) dari total potensi dunia dan baru 4 persen (1. tetapi umumnya upaya pemberdayaan dan sosialisasi yang dilakukan kepada masyarakat kurang memadai. khususnya bakau. rumput laut. tenaga surya. estuari. sekitar 40 persen (28. dan pemerintah mengalami kesulitan dalam penegakan peraturan yang berlaku terkait prak k pembalakan. Taman nasional sering kali memiliki akses sumber daya yang lebih besar dibanding kawasan lindung lainnya. termasuk perencanaan penggunaan lahan laut dan pesisir. Penggunaan sumber-sumber energi alterna f yang dapat menghasilkan karbon dioksida dalam kadar rendah atau dak menimbulkan emisi karbon dioksida merupakan salah satu cara untuk menanggulangi dampak perubahan iklim. dan tenaga angin. untuk meminimalkan risiko dan kerentanan masyarakat pesisir dan infrastruktur pen ng. Untuk itu hutan harus dikembangkan melalui pelaksanaan prak k pengelolaan hutan lestari oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Salah satu perha an utama bagi pelestarian keanekaragaman haya di Indonesia adalah bagaimana meningkatkan pengelolaan kawasan lindung dengan melibatkan masyarakat setempat dalam perencanaan dan pengelolaan kawasan tersebut. dan terumbu karang. Kebakaran hutan dan pembukaan hutan dengan pembakaran dak hanya mengakibatkan menipisnya potensi sumber daya hutan. serta menerapkan manajemen wilayah pesisir dan laut terpadu. tetapi juga menghasilkan CO2 dalam jumlah besar. Pembalakan liar merupakan salah satu penyebab utama berkurangnya sumber daya hutan di Indonesia. konversi hutan. dan prak k pengelolaan hutan yang dak lestari. Sebagai contoh. antara lain: kebakaran hutan. Indonesia memiliki sumber daya panas bumi yang sangat besar. pen ng untuk mewujudkan konservasi jangka panjang dan pengelolaan serta pemanfaatan sumber daya haya laut dan habitat pesisir secara berkelanjutan melalui penerapan pendekatan pencegahan dan ekosistem yang tepat. bahan bakar haya . Terdapat kebutuhan untuk memprioritaskan adaptasi zonasi taman dan peraturan perlindungan untuk mengakomodasi kebutuhan hidup masyarakat lokal. Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan sumber energi alterna f seper panas bumi. Salah satu penyebab perubahan iklim adalah ngginya kadar karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer dalam menghasilkan energi. guna mengurangi dampak perubahan iklim.189 MW) yang telah didayagunakan. Konversi hutan guna memenuhi tuntutan masyarakat untuk budidaya merupakan salah satu penyebab penurunan sumber daya hutan yang sulit dikendalikan. Ada juga kebutuhan untuk menyusun strategi nasional pembangunan ekosistem pesisir dan laut secara berkelanjutan.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Tantangan Berbagai faktor telah menyebabkan luas tutupan hutan di Indonesia berkurang sejak tahun 1990.

414. pendinginan. produksi dan konsumsi HCFC oleh negara-negara yang dak masuk kategori yang diatur Pasal 5 Montreal Protokol harus dibekukan pada tahun 2004 dan dihapuskan tahun 2020. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 197 . produksi dan konsumsi HCFC akan dibekukan pada tahun 2013 dan dihapuskan pada 2030 untuk industri manufaktur (dengan target sementara sebelum waktu yang telah ditentukan.02 kilometer (2. termasuk kenaikan permukaan laut. pola curah hujan yang lebih bervariasi yang dapat menyebabkan banjir dan kekeringan. aerosol. Kebijakan dan Strategi Prioritas untuk mewujudkan pola pembangunan berkelanjutan dan mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang adalah sebagai berikut52: • memperkuat kelembagaan dan meningkatkan kesadaran serta par sipasi masyarakat dalam proses rehabilitasi dan konservasi sumber daya alam dan pengelolaan lingkungan alam lestari. panjang wilayah pesisir Indonesia yang sangat rentan terhadap kenaikan muka air laut adalah sepanjang 12. mulai 2015 untuk negara-negara Pasal 5).35 persen dari panjang pantai total) dan yang rentan sepanjang 10.00 persen). HCFC sekarang banyak digunakan untuk AC. Diperlukan aksi nasional. baik untuk mi gasi perubahan iklim global maupun melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memberdayakan masyarakat Indonesia agar dapat beradaptasi dengan dampak nega f perubahan iklim. Sedangkan bagi negara-negara yang masuk kategori Pasal 5 seper Indonesia. Adapun hasil kajian dengan pendekatan parameter geomorfologi pantai dan laju erosi/akresi pantai. Penggunaan HCFC sebagai refrigeran merupakan langkah sementara dan substansi yang diatur dalam Protokol Montreal. Jika langkah yang tepat dak diambil. Ada kemungkinan pengecualian pada tahap phase-out ini sehingga memungkinkan penggunaan khusus saat alterna f yang memadai dak tersedia.290.45 kilometer (10. penurunan hasil panen. dan pemadam kebakaran sebagai penggan sementara CFC berkat nilai ODP-nya yang rendah.Meskipun Indonesia telah berhasil menghapuskan CFC. walaupun ODP-nya jauh lebih kecil. 52 Bappenas. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (2010– 2014). dan berkurangnya produk vitas ekosistem pesisir.48 km yang melipu sangat rentang sepanjang sekitar 2. Pada tahap percepatan phase-out HCFC yang diadopsi dalam MOP19. penggunaan HCFC sebagai penggan sementara juga berdampak nega f pada lapisan ozon. serta perubahan lainnya.704. pelarut. busa. banyak daerah di Indonesia yang akan mengalami kelangkaan pasokan air. Perubahan iklim akan menghadirkan tantangan besar bagi pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Peta Jalan Sektoral Perubahan Iklim Indonesia (ICCSR) menyediakan landasan untuk pengarusutamaan inisia f perubahan iklim dalam perencanaan pembangunan nasional. Kebijakan konservasi dan rehabilitasi sumber daya hutan akan diarahkan untuk: (i) memperkuat kerangka hukum dan kelembagaan untuk pengelolaan hutan. Hal ini diperlukan untuk menjamin keberlangsungan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam memasok air bagi penduduk Indonesia yang terus bertambah. • memperkuat kapasitas kelembagaan pada semua ngkat pemerintahan untuk mengan sipasi dan mengelola bencana alam dan menyesuaikan diri dengan perubahan iklim. Prioritas ndakan melipu langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat lainnya. (ii) memperkuat pengelolaan sumber daya hutan secara kelembagaan. (vii) meningkatkan akses publik dan hubungan dengan kegiatan konservasi melalui pengelolaan dan pemberda-yaan bersama masyarakat di sekitar hutan. Selain itu juga telah ditetapkan pengelolaan lingkungan dan perubahan iklim sebagai salah satu dari 11 prioritas nasional. perambahan lahan hutan. Rehabilitasi kawasan hutan dan lahan kri s serta perlindungan dan konservasi sumber daya hutan di daerah aliran sungai akan dijadikan prioritas nasional. (iv) memperkuat fungsi konservasi alam dengan memperbaiki kualitas pengelolaan taman dan kawasan lindung lainnya untuk mempertahan-kan keanekaragaman haya .6). dan (viii) meningkatkan daya dukung dan fungsi DAS untuk menjamin ketersediaan air. Indonesia mengumumkan target penurunan emisi CO2 sebesar 26 persen pada tahun 2020 bila dibandingkan dengan skenario BAU (Business as Usual) di forum United Na ons Framework Conven on on Climate Change di Kopenhagen bulan Desember 2009 (lihat Gambar 7. dan • melaksanakan inisia f untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di semua sektor. Dalam pengelolaan sumber daya hutan. (vi) meningkatkan perlindungan hutan melalui pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan gambut serta penegakan hukum terhadap pembalakan liar. (v) meningkatkan pemanfaatan lingkungan hutan alam untuk wisata alam. Untuk itu dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 pemerintah telah mengarusutamakan isu perubahan iklim ke dalam sektor-sektor utama pembangunan. Indonesia berkomitmen untuk berusaha mengurangi emisi CO2 hingga 41 persen pada tahun 2020 dengan bantuan internasional yang semakin intensif. Untuk visi jangka panjang penanganan perubahan iklim. Pemerintah telah menetapkan pendekatan yang komprehensif untuk mencapai pola pembangunan berkelanjutan dan melakukan mi gasi pemanasan global serta melakukan adaptasi terhadap dampak nega f perubahan iklim. pemerintah akan memprioritaskan upaya mempertahankan peran pen ng hutan dalam menjaga keseimbangan siklus hidrologi. (iii) menjaga dan mening-katkan daya dukung dan fungsi lingkungan. Penanggulangan 198 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup • menjaga keanekaragaman haya yang unik dari sumber daya alam Indonesia dengan kontribusi pada pembangunan ekonomi nasional. dan perdagangan ilegal spesies yang terancam punah.

707 Gg ton CO2e pada tahun 2020. reklamasi hutan dan lahan gambut di DAS prioritas.672 giga ton CO2e pada tahun 2020 (untuk target 26 persen secara Nasional). lahan gambut dan lahan kri s. Rehabilitasi hutan. melalui fasilitasi dan pelaksanaan rehabilitasi hutan pada DAS prioritas.24 giga ton CO2e. 53 Na onal Ac on Plan for GHG Emission Reduc on. serta memper mbangkan target penurunan emisi GRK bidang kehutanan dan lahan gambut sebesar 0. fasilitasi rehabilitasi lahan kri s pada DAS prioritas. 2010-2020. fasilitasi pengembangan hutan kota. Rencana aksi untuk kehutanan dan lahan gambut difokuskan kepada53: 1. sedangkan kemampuan menyerap karbon dari atmosfer diperkirakan hanya mencapai 0. Gambar 7. Rencana Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Indonesia pada Tahun 2020 Sumber: Kementerian LH/ Bappenas. dan Indonesia berkomitmen untuk bekerja sama secara ak f dengan masyarakat dunia dalam menangani isu-isu pen ng terkait perubahan iklim. RPJPN 2005-2025 dan usulan dari K/L terkait. Rencana Aksi Nasional di bidang kehutanan dan lahan gambut disusun berdasarkan RPJMN 2010-2014.6. konservasi hutan dan/lahan rawan terbakar melalui pemberian insen f kepada masyarakat.pemanasan global membutuhkan kemitraan internasional. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 199 . rehabilitasi lahan rusak rawan terbakar melalui penanaman tanaman kayu. Emisi di bidang kehutanan (termasuk lahan gambut) per tahun diperkirakan mencapai 1.

meningkatkan konservasi pada lahan gambut yang belum diberikan ijin pemanfaatan. Peningkatan rehabilitasi dan pemeliharaan jaringan reklamasi rawa termasuk lahan bergambut. Penerapan penyiapan lahan tanpa membakar. dengan lebih dari 600 spesies terumbu karang yang merupakan 75 persen dari semua spesies terumbu karang yang dikenal di dunia.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup 2. Pengembangan perhutanan sosial melalui fasilitasi penetapan areal kerja dan pengelolaan hutan kemasyarakatan (HKm). Filipina. 5. Pengendalian kebakaran hutan dan pemberantasan illegal logging-pencegahan kehilangan kayu. Coral Triangle diiden fikasi mencakup lebih dari 5. Papua Nugini. penerapan ‘landswap’ bagi pemegang ijin/hak yang berada di dalam kawasan lahan gambut dan belum memanfaatkannya ke lokasi lain di luar kawasan lahan gambut (mineral soil). 8. 4. Hal itu akan disertai upaya rehabilitasi terumbu karang. Sektor kelautan juga memainkan peranan pen ng dalam meningkatkan penyerapan karbon. Peningkatan pengelolaan hutan alam produksi melalui pengelolaan LOA (Logged Over Area) oleh IUPHHK (Ijin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu) pada lahan gambut dan pengelolaan LOA oleh IUPHHK-RE (Ijin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu – Restorasi Ekosistem) serta peningkatan pengelolaan hutan tanaman. fasilitasi pembangunan hutan rakyat kemitraan. Indonesia juga akan bekerja sama dengan Malaysia. sebuah upaya untuk melestarikan kekayaan sumber daya laut di kawasan ini. 10. 3. rumput laut. Kegiatan yang dilakukan akan mencakup penanaman kembali bakau. 9. dan vegetasi penutup lainnya di daerah pesisir. Kementerian Kelautan dan Perikanan beserta Kementerian Lingkungan Hidup akan bekerja sama untuk memperluas Kawasan Konservasi Laut sampai 20 juta hektar pada akhir tahun 2020. perbaikan kualitas pengelolaan lahan gambut yang rusak. fasilitasi penetapan areal kerja hutan desa. 200 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . dan Timor Leste untuk melaksanakan Coral Triangle Ini a ve. perbaikan tata air kawasan lahan gambut secara integra f antar pengguna lahan gambut serta pengelolaan lahan gambut untuk pertanian berkelanjutan.4 juta kilometer persegi wilayah laut Indonesia. 11. Peningkatan kesatuan pengelolaan hutan. Kepulauan Solomon. 7. Pengendalian Tata Ruang melalui penetapan wilayah KPHK (Kesatuan Pemangkuan Hutan Konservasi) dan konsolidasi hutan yang berada di luar kawasan hutan. Kebijakan rehabilitasi kawasan lahan gambut yang rusak melalui reboisasi dan penghijauan. Pengendalian kerusakan ekosistem lahan gambut. 6. dan penyusunan masterplan pengelolaan ekosistem gambut provinsi. dan pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan gambut. penyusunan kriteria baku kerusakan gambut. Penanganan perambahan hutan dan lahan gambut dan penanganan konflik kawasan lindung dan konservasi.

Upaya rehabilitasi pesisir dan pulau-pulau kecil diamanahkan dalam Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 pasal 32 dan pasal 33. insen f dan disinsen f serta pembinaan dan pengawasan. Tahun 2010 sampai dengan 2015 Kementerian Kelautan dan Perikanan merencanakan upaya rehabilitasi pesisir melalui beberapa fokus kegiatan. 2. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah melakukan upaya rehabilitasi di sejumlah kawasan pesisir. di sektor industri manufaktur prak k penggunaan HCFC akan dihen kan pada tahun 2013 dan dihapuskan pada 2030 (dengan target sementara sebelum waktu yang Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 201 .Sejak tahun 1999 hingga saat ini. Teknologi Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (PPK). pengurangan GRK akan dicapai melalui penerapan standar emisi melalui pemeriksaan dan pemeliharaan serta pengenalan teknologi transportasi ramah lingkungan. standard dan labelisasi hemat energi. dan tenaga air. energi nuklir. tenaga panas bumi. pemberian insen f. Transportasi – Di sektor transportasi. Pembangkit Listrik – Pemerintah akan mendorong penerapan teknologi rendah emisi di pembangkit listrik dan mendukung pembangunan pembangkit listrik dengan sumber energi baru dan terbarukan. (ii) Mencegah dan memperbaiki kerusakan ekosistem pesisir karena kegiatan pembangunan. dan sebagainya). Konservasi Energi – Konservasi energi akan dipromosikan melalui penyebaran informasi kepada konsumen mengenai efisiensi. Fokus kegiatan ini dilakukan antara lain melalui penanaman mangrove sebagai habitat. Di sektor energi dan transpor. inisia f yang akan diambil untuk menurunkan ngkat emisi GRK adalah sebagai berikut: 1. dan pemberlakuan peraturan baru untuk menggalakkan penerapan teknologi hemat energi. Konservasi energi akan dipromosikan melalui penyebaran informasi kepada konsumen mengenai penghematan energi. standardisasi peralatan hemat energi (misalnya. sebagai salah satu pilihan mi gasi. keunggulan bola lampu hemat energi). perlindungan spesies biota laut agar tumbuh dan berkembang secara alami dan ramah lingkungan. juga akan diterapkan untuk mengurangi emisi karbon dari pembangkit listrik tenaga uap. Desentralisasi sistem energi akan didukung melalui sistem jaringan per pulau yang memanfaatkan energi baru dan terbarukan di ngkat lokal. pencegahan abrasi. Selain itu. (ii) Mendukung kawasan-kawasan pemijahan dan asuhan ikan dan spesies ekonomi pen ng perikanan lainnya melalui perbaikan kondisi estuaria-estuaria yang menjadi kawasan pemijahan dan asuhan ikan. pollu on trap. dan (iv) Proteksi lingkungan pesisir terhadap ancaman bencana alam (tsunami. 3. serta penciptaan kawasan pemijahan dan kawasan asuhan bagi ikan dan udang di pesisir dan estuaria. yaitu: (i) Membuat habitat baru untuk menggan kan atau sebagai kompensasi habitat yang sudah rusak atau terusak oleh kegi-atan lain. perbaikan habitat. Diversifikasi sumber energi mencakup pembangunan fasilitas yang memanfaatkan gas alam. Rehabilitasi wajib dilakukan dengan memperha kan keseimbangan ekosistem dan/atau keanekaragaman haya setempat dengan cara antara lain: pengayaan sumberdaya haya .

Prioritas pemerintah adalah memperkuat kapasitas untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim dan melakukan langkah tanggap bencana alam dengan cepat dan tepat. Peta Sektoral Perubahan Iklim Indonesia. c. Sektor Kelautan – Perikanan: a. Kelompok kerja teknis telah dibentuk untuk mengumpulkan dan menganalisis konsumsi HCFC di berbagai sektor dengan melibatkan perwakilan industri dan pemangku kepen ngan terkait lainnya. Sektor Sumber Daya Air: a. HCFC 141b dan HCFC 225. Inventarisasi data yang ada terkait sistem kelautan dan melakukan peneli an tentang isu-isu kelautan yang berhubungan dengan perubahan iklim. Hasil survei sementara telah di iden fikasi penggunaan berbagai jenis HCFC di sektor manufaktur dan servis di Indonesia. Indonesia saat ini sedang dalam proses penyusunan rencana pengelolaan penghapusan HCFC untuk mencapai target pengurangan. dan (vi) penyusunan kebijakan pembangunan dan peraturan tentang perubahan iklim dan manajemen bencana alam. 2010. Peningkatan kapasitas penyimpanan dan prasarana air untuk menjaga keseimbangan air dan pencegahan bencana. Mengurangi HCFC akan memberikan keuntungan dalam melindungi lapisan ozon yang juga berkontribusi terhadap mi gasi perubahan iklim. Revitalisasi kearifan lokal terkait pengelolaan sumber daya air dan pembangunan kapasitas serta par sipasi masyarakat dalam beradaptasi dengan perubahan iklim. Penilaian kerentanan dan risiko pada sumber daya air di ngkat kawasan dan di daerah strategis di seluruh Indonesia. HCFC 123. 54 Bappenas. Pembangunan kapasitas akan dilakukan dengan: (i) memperkuat semua lembaga yang terkait dengan perubahan iklim. di mana HCFC juga mempunyai potensi pemanasan global. Pembenahan konservasi tata air dan penanggulangan bahaya serta risiko bencana yang terkait dengan perubahan iklim. d.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup telah ditentukan. Perluasan fasilitas pasokan air dengan menggunakan teknologi yang tepat dan pengembangan sumber daya air lokal. (iii) membentuk Pusat Basis Data perubahan iklim dan sistem informasi terpadu. mulai 2015 untuk negara-negara Pasal 5 Montreal Protokol). (iv) meningkatkan kerjasama dan peneli an perubahan iklim serta risiko bencana alam. (v) penyusunan peta nasional kerentanan terhadap dampak perubahan iklim. 202 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Inisia f jangka panjang yang harus diambil untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim dan melindungi kesejahteraan masyarakat antara lain sebagai berikut54: 1. 2. seper HCFC 22. b. e. (ii) meningkatkan kecepatan dan ketepatan penyampaian informasi tentang perubahan iklim dan bencana alam melalui perluasan jaringan stasiun pemantau yang didukung oleh sistem telekomunikasi dan kalibrasi yang lebih baik.

dan kacang tanah). dan teknik manajemen air/tanah. Penambahan nggi dan penguatan struktur bangunan dan penguatan fasilitas vital di daerah pesisir. Penyesuaian pengelolaan pulau-pulau kecil strategis. provinsi. kedelai. Penyesuaian peraturan dan kebijakan kelautan yang terkait dengan perubahan iklim. dan perubahan lingkungan. e. j. g. hama dan penyakit. Analisis dampak perubahan iklim terkait dengan bencana alam. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 203 . Memadukan adaptasi perubahan iklim dengan perencanaan daerah pesisir. Sektor Pertanian: a. Melaksanakan program peningkatan ketahanan pangan di ngkat desa. termasuk sosialisasi. Pengembangan pengelolaan tanaman terpadu untuk padi dan palawija (jagung. Sektor Kesehatan: a. termasuk sosialisasi tentang kondisi iklim dan cuaca. ketahanan pangan/gizi buruk. Penyesuaian pengelolaan ikan hasil tangkapan maupun budidaya. dan kabupaten. dan dampaknya pada kesehatan masyarakat di semua ngkatan dan pengembangan model adaptasi untuk kota dan desa yang telah ditentukan. Koordinasi dengan pemerintah di semua ngkatan. Pengembangan kapasitas mi gasi bencana. termasuk varietas unggul. teknik budidaya. k. berumur pendek. d. Pengembangan pertanian yang dak banyak menghasilkan karbon. l. Pengembangan varietas tanaman yang tahan kekeringan. 3. risiko. salinitas. serta produk f. Menetapkan sistem basis data informasi serta upaya pengelolaan dan modernisasi profil kesehatan masyarakat. g. Pengembangan upaya pengamanan. 4. d. Pengembangan teknologi adap f. vektor penyakit. penanganan. c. h. Penyesuaian pengelolaan sumber daya alam dan ekosistem laut. Analisis bahaya perubahan iklim yang berkaitan dengan kesehatan. i. dan sistem penyimpanan air bersih selama kegiatan pascapanen. b. f. Pela han dan sosialisasi strategi adaptasi perubahan iklim di ngkat nasional. h.b. Perluasan penanaman pohon pada lahan nongambut dan nonhutan. b. banjir. e. Mempercepat diversifikasi produksi dan konsumsi makanan. c. c. f. m. Analisis dampak anomali iklim pada tanaman pangan. Memperluas fasilitas penyimpanan dan pengelolaan makanan di daerah rawan pangan. Mengurangi lahan yang gagal panen. Memperkuat kebijakan dan peraturan yang didasarkan pada kesehatan masyarakat dalam rangka memperkuat ndakan adaptasi dan pencegahan penyakit. kerentanan. d. Pembangunan dan pengembangan sistem rantai pendingin dan pergudangan guna mendukung proses pengolahan dan penyimpanan makanan pascapanen. e.

000 Ha 400. i.000 Ha 1. Penguatan sistem pemantauan. lahan gambut.000 Ha 2.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup f.000. Menetapkan sistem peringatan dini bagi wilayah yang paling terpengaruh oleh dampak nega f perubahan iklim terhadap kesehatan.000 Ha 60. Kerangka Kebijakan dan Strategi tersebut telah dirumuskan menjadi program dan kegiatan dalam RPJMN 2010-2014 sebagai berikut: Tabel 7.4.200.000 Ha 240. Output.000 Ha 480. dan daerah rawa-rawa (295. dan daerah rawa-rawa Memfasilitasi pengembangan kawasan hutan kemasyarakatan (HKM). Peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di seluruh kabupaten dan kota.000 Ha 800.000 Ha 1. Prioritas. Intensifikasi penyuluhan dan kampanye kesehatan masyarakat tentang kesehatan dan gaya hidup. h. Pengembangan Hutan Rakyat Memfasilitasi 500 grup/ unit HPH untuk HKM Memfasilitasi 50 unit kemitraan HKM Memfasilitasi dukungan kelembagaan untuk ketahanan pangan di 32 provinsi 2010 2011 2012 2013 2014 Rehabilitasi lahan kri s dan reklamasi hutan 60. yang melipu areal seluas 2 juta Ha.000 Ha 320. Penerapan sistem sanitasi terpadu dan teknologi perumahan sehat dan adap f terhadap perubahan iklim di seluruh kota dan desa di Indonesia.000 Ha 300.000 Ha 180.000 Ha 1.000 Ha 5.000 Ha 4. Tahun 2010-2014 Prioritas Implementasi Rehabilitasi Lahan dan Hutan Output Memfasilitasi rehabilitasi hutan bakau.000 Ha Mengurangi area lahan kri s melalui rehabilitasi dan reklamasi hutan 160.000 Ha Memperbaiki pengelolaan hutan melalui pemberdayaan masyarakat 400. pengawasan.000 Ha 295. j.000 Ha 240.000 Ha 120.000 Ha 500. lahan gambut. g. Perluasan cakupan sistem pelayanan kesehatan terpadu bagi seluruh desa di Indonesia.000 Ha 100 grup 10 unit 200 grup 20 unit 300 grup 30 unit 400 grup 40 unit 500 grup 50 unit 4 Provinsi 8 Provinsi 16 Provinsi 22 Provinsi 32 Provinsi 204 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .600. k.000 Ha 800.000 Ha 2.000 Ha) Memfasilitasi dan melaksanakan rehabilitasi hutan di daerah tangkapan prioritas Memfasilitasi rehabilitasi lahan di daerah tangkapan prioritas Memfasilitasi pengembangan kawasan hutan kota Memfasilitasi rehabilitasi hutan bakau.000 Ha 200.000 Ha Implementasi Reklamasi Lahan dan Rehabilitasi Hutan di DAS Prioritas 100.000 Ha 3.000Ha 295. dan Indikator Kinerja Pengelolaan Sumber Daya Alam.000 Ha 180.000 Ha 640. dan informasi kesehatan terkait perubahan iklim.000 Ha 120.

000 Ha Peningkatan kualitas kebijakan konservasi dan pengendalian kerusakan hutan serta pengelolaan lahan terpadu bersama berbagai kementerian dan lembaga.Prioritas Output Memfasilitasi kemitraan pembangunan hutan kemasyarakatan untuk bahan industri kayu mentah yang melipu areal seluas 250.000 Ha Memfasilitasi pendirian dan operasional kantor pusat di 30 kabupaten HHBK Wilayah kerja target hutan desa seluas 500.000 Ha 500.000 Ha 150.000 Ha 6 Kabupaten 12 Kabupaten 18 Kabupaten 24 Kabupaten 30 Kabupaten 100.000 Ha 200.4.000 Ha 2010 2011 2012 2013 2014 Lanjutan Tabel 7.000 Ha 250. 50. dan Pemerintah Daerah Jumlah kebijakan konservasi untuk mengendalikan kerusakan hutan dan penggunaan lahan yang telah ditetapkan (kriteria dan pedoman) akan dikoordinasikan di antara instansi terkait Data k panas di delapan lahan provinsi dan kebakaran hutan yang dibagikan untuk kementerian dan lembaga terkait Pelestarian dan Peningkatan Pengendalian Degradasi Hutan dan Lahan Mekanisme pelaksanaan pencegahan kebakaran hutan dan lahan di delapan lahan provinsi dan kebakaran hutan yang dikoordinasikan di antara kementerian dan lembaga terkait Rincian data tentang kerusakan lahan dan hutan di 11 DAS prioritas dan daerah yang berpotensi rawan longsor yang dikoordinasikan di antara kementerian dan lembaga terkait Data tutupan lahan dan perubahan penggunaan lahan (perubahan tata guna lahan) yang disusun dalam Program Go Green Indonesia 3 3 3 3 3 80% 80% 80% 80% 80% 8 8 8 8 8 80% 80% 80% 80% 80% 100% 100% 100% 100% 100% Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 205 .000 Ha 200.000 Ha 400.000 Ha 300. BPN. termasuk Kementerian Kehutanan.000 Ha 100.

000 Ha 9 kawasan/ 3 jenis 9 kawasan/ 3 jenis 9 kawasan/ 3 jenis 9 kawasan/ 3 jenis 9 kawasan/ 3 jenis Perbaikan sistem pemadaman.000 Ha 900. untuk memantau keberhasilan mekanisme implementasi pencegahan kebakaran hutan Pelestarian dan Perbaikan Hutan serta Pengendalian Kerusakan Lahan 80% 80% 80% 80% 80% Implementasi pengelolaan DAS terpadu di DAS prioritas Rencana pengelolaan DAS terpadu di 108 DAS prioritas Menyusun data acuan mengenai 36 BPDAS Penyediaan data dan pemetaan lahan kri s di 36 BPDAS 22 DAS 44 DAS 66 DAS 88 DAS 100 DAS Pengembangan Pengelolaan DAS 7 BPDAS 14 BPDAS 21 BPDAS 28 BPDAS 36 BPDAS 7 BPDAS 14 BPDAS 21 BPDAS 28 BPDAS 36 BPDAS 206 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . dan 15 jenis biota air yang terancam punah Kawasan konservasi laut.80% 59. bakau. Sumatera. dan air payau yang dikelola secara lestari Jumlah kawasan konservasi dan spesies biota air dilindungi yang telah diiden fikasi dan dipetakan secara akurat Pengelolaan dan Pelestarian Area Pembangunan 900. mi gasi.20% Pengendalian Kebakaran Hutan 10% 20% 30% 40% 50% Kecukupan data.000 Ha 900. rumput laut. pencegahan.4. dan Sulawesi berkurang 20% se ap tahunnya Daerah kebakaran hutan berkurang jika dibandingkan dengan situasi tahun 2008 20% 36% 48. Prioritas Output Jumlah provinsi (pendekatan ekosistem) yang dipantau berdasarkan data dan potensi bencana % implementasi rekomendasi kebijakan konservasi dan pengendalian kerusakan hutan dan lahan di ngkat provinsi yang dipantau se ap tahun 2010 2011 2012 2013 2014 10 15 20 25 30 50% 50% 50% 50% 50% Pengelolaan 20% wilayah terumbu karang. dan dampaknya pada kebakaran lahan dan hutan Ti k panas di Kalimantan. dan informasi untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan diintegrasikan serta dikoordinasikan bersama kementerian dan lembaga terkait Data sebaran k panas/kebakaran hutan di delapan Provinsi disebarluaskan ke kementerian terkait.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Lanjutan Tabel 7.000 Ha 900. air tawar.20% 67.000 Ha 900. kebijakan.

dengan koordinasi antar kementerian.16 0.64 0. dimulainya produksi gas metana batubara untuk menghasilkan listrik pada tahun 2011 yang disertai pemanfaatan potensi tenaga surya Output 2010 2011 2012 2013 2014 Kontribusi pada pencapaian target pembangkit listrik tenaga panas bumi berkapasitas 10.42 5. Ketersediaan alat kebijakan pengelolaan kualitas air terpadu di antara kementerian dan lembaga terkait % penentuan klasifikasi air di ngkat kabupaten/ kota untuk 13 sungai di 119 kabupaten dan kota prioritas. lembaga.261 1.55 1.000 MW dalam program tahap II Total kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi sebesar 5795 MW pada tahun 2014 Tabel 7.53 0 0 1 24.55 0. dan pemerintah daerah terkait Jumlah bantuan teknis bagi 119 kabupaten/ kota pengelolaan kualitas air di 13 DAS dikoordinasikan dengan kementerian/lembaga terkait 25% 25% 20% 20% 10% Pengelolaan Kualitas Air dan Lahan Gambut 20% 20% 20% 20% 20% Model fisik penyerapan CO2.49 10.1 1 24. penyempurnaan dan pengujian produksi Teknologi Pengendalian dan Mi gasi Dampak Pemanasan Global Rekomendasi kebijakan untuk mengurangi jumlah emisi karbon dan meningkatkan penyerapan karbon serta instalasi perin s fotobioreaktor untuk penyerapan CO2 1 1 1 1 1 Sumber: RPJMN 2010-2014 Prioritas Peningkatan penggunaan energi terbarukan termasuk energi panas bumi mencapai 2000 MW pada tahun 2012 dan 5000 MW pada tahun 2014.59 10.Prioritas Output 2010 2011 2012 2013 2014 Lanjutan Tabel 7.1 1 0 1 2 3 4 Sumber: RPJMN 2010-2014 50 50 50 50 50 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 207 .419 2.78 11. Pilihan Target Pelaksanaan Tahunan RPJMN untuk Penggunaan Sumber Energi Secara Berkelanjutan 1.795 Realisasi energi terbarukan yang baru dan berbagai pilihan konservasi energi Lisdes (EBT) PLTS 50 Wp PLTMH (kW) PLT Angin (kW) Mengelola penyediaan EBT dan Pelaksanaan Konservasi Energi Biomassa (MW) Jumlah studi kelayakan energi kelautan Jumlah Proyek Perin s yang dapat membangkitkan listrik dari sumber energi kelautan DME 3.000 5.4.1 1 27.69 11.94 5.32 0.38 5.1 1 24.260 3.9 5.5.

Investasi sebesar ini jelas melebihi kapasitas Pemerintah Indonesia jika mengandalkan sumber daya anggaran negara semata.5 miliar. 33 persen. pada emisi GRK di Indonesia pada tahun 2004 (SNC. seper dijelaskan dalam Komitmen Jakarta.13 persen sampai 1 persen dari PDB. Selain itu. Pemerintah akan berfokus pada pembiayaan kegiatan di sektor energi dan kehutanan yang akan berdampak maksimal untuk mengurangi laju pertumbuhan emisi gas rumah kaca di Indonesia.5-4. total investasi tahunan berkisar USD0. Maret 2010. Untuk memfasilitasi dukungan finansial pada kegiatan-kegiatan terkait perubahan iklim.1. dan 21 persen. yang semuanya akan dikelola oleh Pemerintah secara transparan dan akuntabel. 2009). perubahan penggunaan lahan dan penggundulan hutan. diperlukan harmonisasi upaya dari seluruh pemangku kepen ngan. ICCTF telah mengiden fikasi ga “jendela” prioritas utama untuk respons pembiayaan terhadap risiko perubahan iklim dan gangguan iklim. jaminan pinjaman.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Kotak 7. ICCTF akan ber ndak sebagai katalisator untuk menarik investasi asing ke Indonesia dan akan menyajikan berbagai mekanisme alterna f untuk mendanai mi gasi perubahan iklim dan program-program adaptasi. Sumber: Cetak Biru Indonesian Climate Change Trust Fund. dana bergulir. domes k maupun internasional. Hanya dengan komitmen nasional dan dukungan internasional seper itulah Pemerintah mampu mendedikasikan segenap kekuat-an teknis dan sumber daya keuangan yang dibutuhkan untuk memajukan prioritas pembangunan nasional Indonesia dan mendukung upaya internasional untuk menanggulangi risiko gangguan iklim global. masing-masing menyumbangkan sekitar 25 persen. Karena dimiliki dan dikelola oleh Pemerintah. Menyadari kenyataan ini. Indonesia Climate Change Trust Fund Pemerintah Indonesia memperkirakan bahwa program yang cukup memadai untuk menanggulangi risiko perubahan iklim membutuhkan investasi tahunan sekitar 0. 208 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . mekanisme pendanaan ini akan memperkuat upaya Pemerintah untuk meningkatkan efek vitas rencana pembangunan nasional. Pemerintah telah menetapkan bahwa untuk mengatasi tantangan perubahan iklim dan gangguan iklim. Jika sudah beroperasi secara penuh. Jendela prioritas tersebut adalah: • Energi • LULUCF • Adaptasi Degradasi lahan gambut. jendela pembiayaan kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan adaptasi akan memungkinkan Pemerintah mengarahkan perha an ke spektrum proyek yang lebih luas yang akan meningkatkan dan menyalurkan dana ke pengembangan kapasitas adaptasi bangsa ini. Mekanisme ini pada tahap lanjut akan dikembangkan untuk mencakup fasilitas kredit. baik pemerintah maupun swasta. Karena kegiatan ini sangat pen ng dan relevan secara ekonomi dalam hal perlindungan sumber daya alam. ICCTF akan menetapkan cara-cara inova f untuk menghubungkan sumber daya keuangan internasional dengan strategi investasi nasional dan anggaran dalam negeri. Dengan memperhitungkan sumber daya yang dibutuhkan untuk perbaikan infrastruktur dan pembangunan infrastruktur baru. Pemerintah telah membentuk mekanisme dana amanah nasional yang disebut Indonesian Climate Change Trust Fund (ICCTF). dan sarana investasi lain yang dirancang untuk mempromosikan kemitraan publik-swasta dan program-program lainnya. serta konsumsi energi. ICCTF akan menjadi mekanisme terpadu dalam pembiayaan kebijakan dan program nasional Indonesia sebagai tanggapan terhadap risiko perubahan iklim dan gangguan iklim.

Namun. ndakan. Dalam hal ekosistem. Pada tahun 1993 Pemerintah Indonesia meluncurkan Rencana Aksi Keanekaragaman Haya Indonesia (Biodiversity Ac on Plan of Indonesia/BAPI) sebagai dokumen yang digunakan untuk menetapkan prioritas dan investasi dalam pelestarian keanekaragaman haya yang digunakan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) Kelima dan Keenam (hingga 1999) dan seterusnya. yang sebagian merupakan spesies endemik (hanya ditemukan di daerah tertentu). sampai dengan ekosistem laut dalam. dan mencapai pengurangan yang signifikan pada 2010 Situasi Saat ini Indonesia dianugerahi dengan keanekaragaman haya yang kaya di ngkat ekosistem. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 209 . Kalimantan). tantangan serta kendala baru dalam melaksanakan pelestarian keanekaragaman haya . muara. Sekitar 515 spesies mamalia. isi substansial dalam IBSAP daklah mencerminkan target 2010. 270 jenis amfibi. tujuan. spesies. padang rumput. Oleh karena itu. misalnya. sub-alpin. Indonesia memiliki lebih dari 38. termasuk padang lamun (Selat Sunda) dan terumbu karang (Bunaken).827 jenis invertebrata telah ditemukan di Indonesia. dan indikator di dalam IBSAP ditetapkan sebelum penetapan target 2010 yang diluncurkan dalam Konferensi Para Pihak (COP) 7 UNCBD (keputusan VII/3) pada tahun 2004.Target 7B: Mengurangi laju kehilangan keragaman hayati. IBSAP telah mengiden fikasi sejumlah kebutuhan. gunung sampai hutan hujan tropis dataran rendah (Sumatera.000 spesies tumbuhan. IBSAP ini dibangun melalui proses par sipasi dan menangani permasalahan lingkungan yang lebih mutakhir. mangga. Belajar dari pengalaman BAPI 1993. dan lain-lain. dan 2. dan pemberian dukungan pada pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Dokumen ini dipublikasikan sebelum ra fikasi Konvensi PBB mengenai Keanekaragaman Haya (UN Conven on on Biological Diversity/UNCBD) melalui Undang-Undang No. dan laut. Selain itu. BAPI bertujuan melestarikan keanekaragaman haya melalui pengurangan laju kerusakan ekosistem. Keanekaragaman haya gene k yang luas di Indonesia terlihat dari sejumlah besar varietas. alpin. 511 spesies rep l. Beragam ekosistem ini merupakan habitat bagi jenis flora dan fauna yang sangat beragam. lahan basah. Dua puluh tahun kemudian. padi. dan gene k. peluang. hutan pantai. pesisir. 1. sabana (Nusa Tenggara). di mana kurang lebih 477 di antaranya merupakan jenis tanaman palem dan 350 jenis pohon penghasil kayu. dan ekosistem bakau. BAPI telah dimutakhirkan menjadi strategi keanekaragaman haya nasional dan rencana aksi baru yang diberi nama “Indonesia Biodiversity Strategy and Ac on Plan (IBSAP)” guna mengatasi berbagai permasalahan yang mbul di dalam UNCBD. beragam pe ekosistem dapat ditemukan di Indonesia. 5/1994. dari puncak salju di Jayawijaya.531 jenis burung. sasaran. pengembangan basis data.

Jumlah Jenis Ikan Tawar dan Jenis Ikan Laut yang Terancam Punah dan Dilindungi per Tahun 400 300 200 100 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Jumlah ikan tawar yang terancam punah dan dilindungi Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan Jumlah ikan laut yang terancam punah dan dilindungi 210 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Peningkatan yang cukup signifikan untuk jenis ikan laut  terjadi antara tahun 1998 dan 2004 yang mencapai 80 jenis. Jumlah Gambar 7. dan perikanan). perlindungan.000 jenis. Sementara itu. dan siklus air masih dianggap kurang signifikan. dan terus mengalami peningkatan sampai dengan tahun 2009 seper digambarkan pada Gambar 7. Namun demikian. hutan. rasio perbandingan jumlah jenis ikan tawar dan jenis ikan laut yang dilindungi dan terancam punah terlihat masih sangat sedikit. selama ini fokusnya lebih diarahkan pada pemanfaatan sumber daya alam dalam hal produk-produk massal (pertanian.7. kayu. Peningkatan perlindungan spesies akua k menunjukkan tren peningkatan se ap tahunnya.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Sumber daya alam dengan kekayaan keanekaragaman haya nya telah digunakan untuk menunjang mata pencaharian dan pertumbuhan ekonomi. apabila dibandingkan dengan total spesies ikan laut dan ikan air tawar di Indonesia yang mencapai 6. peran lainnya seper untuk tujuan pengobatan. Sedangkan untuk jenis ikan air tawar peningkatan antara tahun 1998 dan 2001 mencapai 35 jenis.7. Walaupun isu perubahan iklim menunjukkan peran pen ng ekosistem dan spesies tanaman dalam sekuestrasi dan penyerapan karbon. Jasa ekosistem dan manfaat keanekaragaman haya kurang mendapatkan perha an terlepas dari ar pen ng yang dimilikinya.

Misalnya. Selama 50 tahun terakhir. Namun demikian. 2001). kerusakan terumbu karang meningkat dari 10 persen menjadi 50 persen. dan 384 spesies flora. kurang lebih 240 spesies tanaman telah dinyatakan langka. yang terdiri dari 147 spesies mamalia.. Pengalihan ekosistem menjadi kawasan industri.09 juta hektar per tahun. dan bo a (Bo a macraranthus). Laporan dari lembaga internasional seper the Interna onal Union for Conserva on of Nature (IUCN) telah digunakan sebagai indikator ancaman terhadap berbagai spesies. 3 moluska. Empat tahun kemudian. transportasi. Sebagai contoh. Luas terumbu karang di Indonesia juga semakin menyusut akibat prak k penangkapan ikan yang merusak. dan berbagai tujuan lainnya telah berdampak buruk pada jumlah keanekaragaman haya . dan 65 spesies hewan lain yang dinyatakan berada di ambang kepunahan.) di wilayah pantai selatan Sulawesi. 63 spesies mamalia. serta pembangunan di wilayah pesisir dan sedimentasi. Antara tahun 1989 dan 2000. dan ga jenis mangga (Mogea et. Beberapa spesies ikan juga terancam punah. Se daknya 52 spesies anggrek (Orchidaceae) juga telah dinyatakan langka. ikan hias unik yang dapat ditemukan di Sungai Batanghari dan biasanya dikonsumsi oleh penduduk setempat namun sekarang telah langka. cendana (Santalum album) juga semakin berkurang. 28 rep l. 68 ikan. bilih (Mystacoleucus padangensis) yang endemik di Danau Singkarak. enam jenis durian. empat jenis pala. persentase terumbu dengan 50 persen populasi terumbu karang hidup turun dari 36 persen menjadi 29 persen. sebagaimana 11 spesies rotan. sembilan spesies bambu. pemukiman. penangkapan ikan yang berlebihan. al. Spesies ikan lain yang terancam punah adalah ikan batak (Neolissochilus sp. Red Data List IUCN menunjukkan bahwa 772 spesies flora dan fauna terancam punah. sembilan spesies pinang. namun negara anggota harus memiliki izin dan memantau perdagangan spesies tersebut). ikan haring cina (Clupea toli) yang mendominasi pantai Timur Sumatera dan ikan terbang (Cypselurus spp. Di samping itu. pada tahun 1988 terdapat 126 spesies burung. polusi. data tentang status spesies dan keanekaragaman haya gene k masih sangat terbatas. ulin (Eusideroxylon zwageri). banyak di antaranya merupakan kerabat tanaman budidaya. 28 spesies fauna lainnya.Tantangan Keanekaragaman haya Indonesia telah terancam karena pemanfaatan sumber daya alam dengan cara yang dak lestari.). Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 211 . Sementara itu. Penjelasan di atas dak hanya menyebabkan berkurangnya keanekaragaman haya di ngkat ekosistem. 114 burung. Demikian juga halnya dengan kebanyakan spesies Dipterocarps. 21 spesies rep l. Rentang sebaran kayu eboni (Diospyros celebica). tetapi juga di ngkat spesies dan gene k. Rata-rata ngkat degradasi ekosistem hutan pada periode 20002005 mencapai 1. kebanggaan masyarakat sekitar Danau Toba yang sering digunakan dalam upacara adat. ramin (Gonystylus bancanus) kini dimasukkan ke dalam Apendiks III CITES ( dak dilarang dari perdagangan internasional.

b. Hal-hal tersebut perlu dilakukan karena kelangkaan spesies akua k yang disebabkan oleh penangkap-an yang berlebihan. 212 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . penyusunan dan implementasi kebijakan-kebijakan dalam upaya perlindungan. belum di implementasikannya kebijakankebijakan pemerintah untuk pengelolaan spesies akua k yang dilindungi dan terancam punah belum sepenuhnya terkendali. dak terdokumentasi dengan baik. masih sangat kurang database terkait spesies akua k yang dilindungi dan terancam punah. Pembahasan terkait erosi gene k di bidang agroekosistem mungkin juga dapat berlaku untuk spesies liar. 3. finalisasi kasus kejahatan di kawasan konservasi. masih belum adanya keterpaduan antar instansi dalam melaksanakan kesepakatan-kesepakatan pada konvensikonvensi Internasional yang diiku oleh Indonesia. 2. penyusutan keanekaragaman gene k. perbaikan pengelolaan ekosistem esensial. pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan darat dan laut. memfasilitasi pengembangan Taman Keanekaragaman Haya . 1. Indonesia mungkin telah kehilangan banyak “mu ara” tanpa sempat mengetahui nilai dan manfaat mereka. Karena dak semua erosi gene k yang terjadi pada spesies liar diketahui. sedangkan erosi benar-benar terjadi. Peningkatan pelestarian keanekaragaman haya : a. d. b. kebijakan pelestarian keanekaragaman haya . mengurangi konflik dan tekanan terhadap taman nasional dan kawasan konservasi lainnya. peningkatan manajemen penanganan gangguan dari pihak-pihak yang memasuki kawasan konservasi tanpa izin. Kebijakan dan Strategi Pelestarian keanekaragaman haya merupakan salah satu prioritas dalam pengelolaan sumber daya alam sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (2010-2014). perusakan habitat. Penyelidikan dan perlindungan keamanan hutan: a. Kebutuhan dalam pengelolaan spesies akua k yang terancam punah menjadi perha an utama bagi Konservasi jenis ikan di Indonesia. b. serta di ngkat Internasional. salah satunya adalah bagaimana melakukan perencanaan. pemulihan kawasan konservasi. khususnya spesies satwa dan tumbuhan liar. c. c. Pembangunan kawasan konservasi dan ekosistem esensial: a. memantau pelaksanaan pelestarian keanekaragaman haya .Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Sayangnya. mengurangi ndak pidana kehutanan. Upaya untuk melestarikan keanekaragaman haya dan meningkatkan jumlah spesies yang terancam punah ini digambarkan dengan jelas beserta indikator target yang harus dicapai.

Pengembangan jasa lingkungan dan ekowisata. Pengendalian kebakaran hutan: a. 3. Pemenuhan akan kebutuhan database terkait dengan spesies akua k yang dilindungi dan terancam punah. Kalimantan. mengurangi luas area yang terbakar. 4. peningkatan pengelolaan ekosistem terumbu karang. lamun. Per. Penerapan kuota untuk beberapa akua k yang dilindungi dan terancam punah. Wilayah yang dicakup oleh manajemen spesies akua k dipilih berdasarkan lokasi dari spesies. mengurangi k panas. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 213 . 7. Implementasi pengembangan dari UU No.31 Tahun 2004 junto UU 45 Tahun 2009 tentang Perikanan dan PP No. 5. Pengelolaan dan pengembangan konservasi ekosistem dan spesies di wilayah pesisir dan laut: a. 2. Beberapa strategi yang dilakukan dalam pengelolaan konservasi jenis ikan melipu : 1.4. iden fikasi dan pemetaan kawasan konservasi dan spesies laut yang dilindungi. Inventarisasi spesies-spesies akua k yang dilindungi dan terancam punah. dan Papua. penangkaran. bakau. kerjasama internasional dan regional. Pengembangan konservasi spesies dan keanekaragaman haya gene k: a. b.03/MEN/2010 dan Permen KP No. dengan saluran distribusi serta unit-unit kerja yang tersedia dari Kementerian Kelautan dan Perikanan di daerah. meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam mengendalikan kebakaran hutan. meningkatkan keanekaragaman haya dan populasi spesies yang terancam punah. Sunda Kecil.04/MEN/2010 tentang Tata Cara Pemanfaatan Ikan dan Jenis Ikan yang Terkait dengan Perlindungan dan Konservasi Jenis Ikan. b. Sulawesi. 60 Tahun 2006 beserta turunannya Permen KP No. yang melipu Sumatera. c. 6. dan lain-lain. 5. Penyusunan NPOA (Na onal Plan of Ac on) terkait dengan spesies akua k yang dilindungi dan terancam punah. Maluku. Per. b. Bali. Jawa. c.

87 persen 7.8a.82 persen (Susenas) Target (2015) : 75.81 persen 7.81 persen (Susenas) Saat ini (2009) : 51.9a.82 persen 7.41 persen 7.9. Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi layak perkotaan: Acuan dasar (1993) : 53.9b.61 persen (Susenas) Saat ini (2009) : 45.8. perkotaan dan perdesaan: Acuan dasar (1993) : 37.55 persen 214 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi layak perdesaan: Acuan dasar (1993) : 11.8b.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Target 7C: Menurunkan hingga separuhnya proporsi penduduk tanpa akses terhadap air minum layak dan sanitasi layak pada 2015 Indikator 7. Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap sumber air minum layak . Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap sumber air minum layak. Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi layak.10 persen (Susenas) Saat ini (2009) : 33.72 persen (Susenas) Target (2015) : 65.perdesaan: Acuan dasar (1993) : 31. Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap sumber air minum layak .58 persen (Susenas) Saat ini (2009) : 49. perkotaan dan perdesaan: Acuan dasar (1993) : 24.perkotaan: Acuan dasar (1993) : 50.29 persen 7.51 persen (Susenas) Target (2015) : 76.64 persen (Susenas) Saat ini (2009) : 69.73 persen (Susenas) Saat ini (2009) : 47.71 persen (Susenas) Target (2015) : 68.19 persen (Susenas) Target (2015) : 62.96 persen (Susenas) Target (2015) : 55.

dan dibutuhkan perha an lebih besar untuk dapat mencapai target MDG tersebut.seper kolera. Masyarakat miskin seringkali dak memiliki akses ke sumber air minum dan sanitasi layak. Menurut studi.87 persen dan 62.Status Saat Ini Proporsi rumah tangga Indonesia dengan akses ke sumber air minum dan sanitasi layak telah meningkat sebesar 10 persen dan 26 persen sejak tahun 1993. diare.yang diderita sekitar 30 persen penduduk Indonesia .71 persen dan 51. dan minimnya akses tersebut berdampak buruk pada kesehatan dan mata pencaharian mereka. sanitasi yang buruk. Namun demikian. Target MDG untuk akses ke sumber air minum dan sanitasi layak masing-masing adalah 68. yang terkait dengan penggunaan sumber air minum dak layak. Studi Bank Dunia 2006 mengungkapkan biaya kesehatan yang di mbulkan akibat kondisi air dan sanitasi yang buruk adalah sebesar Rp 133 ribu per kapita.41 persen dari total populasi. dan foid. Dua penyebab utama kema an anak di bawah usia lima tahun (balita) adalah penyakit yang menyebar melalui kotoran dan penyakit yang menular lewat perantaraan air . Penyakit yang ditularkan melalui air menimbulkan dampak biaya kesehatan yang Sumber Air Minum nggi bagi masyarakat yang dak memiliki Muara Enim akses terhadap sumber air minum dan sanitasi layak. di luar kemajuan signifikan yang telah dicapai. Masyarakat miskin sering menghabiskan banyak waktu untuk mengambil air dari sumber yang jauh atau memanfaatkan sumber daya keuangan mereka yang terbatas untuk membeli air minum yang mahal atau membeli bahan bakar untuk memasak air. masyarakat miskin membayar 10 hingga 20 kali lipat lebih mahal untuk membeli air bersih dibandingkan dengan harga jual air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 215 . jumlah rumah tangga yang saat ini memiliki akses berkelanjutan pada sumber air minum layak dan sanitasi layak tercatat baru mencapai masingmasing 47.19 persen. dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.

Sumber air minum yang layak melipu air minum perpipaan dan air minum non-perpipaan terlindung yang berasal dari sumber air berkualitas dan berjarak sama dengan atau lebih dari 10 meter dari tempat pembuangan kotoran dan/atau terlindung dari kontaminasi lainnya.29 persen dan 65. serta air hujan. keran umum. dan di Indonesia penggunaan air kemasan dak dikategorikan sebagai sumber air minum layak terkait aspek keberlanjutannya. danau.81 persen. sumur terlindung dan mata air terlindung. Target nasional untuk daerah perkotaan dan perdesaan masing-masing tercatat 75.71 persen pada tahun 2009.8). air yang diangkut dengan tangki/drum kecil. sumur Pakai Sabun bor atau pompa. yaitu sumber air minum layak dan dak layak. Proporsi rumah tangga yang mempunyai akses terhadap sumber air minum layak di Indonesia meningkat dari 37. kolam. Rencana yang telah disiapkan saat ini membutuhkan penggalakan inisia f untuk memperluas akses terhadap air minum yang layak baik di daerah perdesaan maupun perkotaan guna mencapai target MDG.73 persen pada tahun 1993 menjadi 47. dan saluran irigasi/drainase.87 persen (lihat Gambar 7. Sumber air minum tak layak didefinisikan sebagai sumber air di mana jarak antara sumber air dan tempat pembuangan kotoran kurang dari 10 meter dan/atau dak terlindung dari kontaminasi lainnya. 216 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Sumber tersebut antara lain mencakup sumur galian yang tak terlindung. yaitu 68. Air kemasan dianggap sebagai sumber air minum layak hanya jika rumah tangga yang bersangkutan menggunakannya untuk memasak dan menjaga kebersihan tubuh. dan masih diperlukan upaya keras untuk mencapai target MDG.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup AKSES KE SUMBER AIR MINUM YANG LAYAK Indonesia menggolongkan sumber air minum ke dalam dua kategori. mata air tak terlindung. dan air permukaan dari sungai. Sumber air minum Prak k Cuci Tangan layak melipu air leding.

Aceh.71 persen. Perdesaan dan Total. Tahun 1993-2009 Catatan: *) Tahun 2000 pencacahan SUSENAS di Provinsi Aceh dan Maluku dak dilakukan. dan Bengkulu merupakan ga provinsi dengan proporsi rumah tangga dengan akses terendah terhadap sumber air minum layak. provinsi dengan proporsi rumah tangga ter nggi dengan akses ke sumber air minum layak antara lain: DI Yogyakarta. Maluku Utara. Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Sumber Air Minum Layak di Perkotaan.9. 19 dari 33 provinsi di Indonesia memiliki capaian persentase akses air minum layak yang lebih rendah dibanding rata-rata nasional yaitu di bawah 47. Maluku dan Papua hanya dilakukan di Ibu kota provinsi. Sementara itu. **) Tahun 2002 pencacahan untuk Provinsi Aceh. dan Sulawesi Tenggara.Gambar 7. Banten. Sumber: BPS. 2009. Gambar 7. Bali.1. Data dak termasuk Timor Timur. Seper ditunjukkan pada Gambar 7.8. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 217 . Kesenjangan antarwilayah dalam hal akses terhadap air minum yang layak di Indonesia masih cukup besar. sebagian besar provinsi di wilayah Indonesia bagian Timur memiliki akses air minum layak yang rendah sehingga memerlukan perha an khusus untuk upaya peningkatannya. Menurut Provinsi. Selain itu. Susenas berbagai tahun.9. Susenas. Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Sumber Air Minum Layak. Hal tersebut dapat dilihat lebih jelas pada Peta 7. Tahun 2009 Sumber: BPS.

Menurut Provinsi. sebesar 23. dari 14. 218 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Kenda demikian.27 persen.38 persen. dari 36. pada tahun 2006 proporsi tersebut turun menjadi 18. Akses terhadap air minum perpipaan selalu lebih nggi di wilayah perkotaan. Proporsi rumah tangga Indonesia yang mempunyai akses ke air minum perpipaan terus meningkat. Susenas 2009. Hal tersebut mencerminkan bahwa laju penyediaan infrastruktur air minum layak dak dapat mengimbangi laju pertumbuhan penduduk dan terjadi pergeseran layanan pelanggan perpipaan ke sumber air nonperpipaan terlindungi karena penyediaan air dari sistem nonperpipaan yang ada kurang memadai.44 persen penduduk.69 persen pada tahun 1993 menjadi 19.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Peta 7. dan pada tahun 2009 turun kembali menjadi hanya 15. Namun. Tahun 2009 Sumber: BPS. Distribusi Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Sumber Air Minum yang Layak. Hal ini disebabkan di perdesaan masih banyak tersedia sumber air minum layak selain perpipaan.20 persen pada tahun 2000 menjadi 23.60 persen penduduk perkotaan memiliki akses ke air minum perpipaan.24 persen pada tahun 2000. Hal ini disebabkan antara lain karena meningkatnya luasan kawasan perkotaan yaitu dari 42 persen pada tahun 2000 menjadi 54 persen pada tahun 2009 dan juga akibat laju penyediaan air minum perpipaan yang dak dapat mengimbangi laju pertumbuhan penduduk perkotaan.1. sementara di perdesaan hanya 7.60 persen pada 2009. sepanjang periode 20002009 akses perpipaan di kawasan perkotaan turun. Pada tahun 2009.

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 219 . seper Kalimantan Timur. misalnya di Riau. dan sebagian besar provinsi di Jawa.27 Gambar 7.02 12. provinsi yang mempunyai akses terhadap air minum nonperpipaan ter nggi adalah DI Yogyakarta. Seper yang ditunjukkan dalam Gambar 7.66 16.22 16. dan DKI Jakarta.11.24 18.27 13.82 22. Menurut Provinsi.67 15. namun terdapat kesenjangan yang signifikan dalam hal akses ke air minum nonperpipaan terlindungi di berbagai provinsi. Sistem air nonperpipaan terlindungi merupakan sumber air minum layak yang paling umum digunakan bagi masyarakat Indonesia.09 13.65 35.50 21.27 9.32 18.92 11. di provinsi lain. Susenas 2009.06 12.27 21. ketergantungan pada sistem air minum perpipaan semakin besar. Kalimantan Selatan. Proporsi rumah tangga dengan akses air minum perpipaan di sejumlah provinsi sangatlah rendah. akibat makin buruknya kualitas air minum yang bersumber dari air tanah dangkal dan atau air permukaan.75 18.05 6. Bali. dan Jawa Tengah.10.87 12.65 18. yang memiliki ngkat pertumbuhan penduduk perkotaan lebih besar daripada ngkat penyediaan sistem air perpipaan yang dilakukan PDAM.41 21.55 15.10).97 14. Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Sumber Air Minum Perpipaan.76 2.Sementara itu. Kalimantan Barat.14 22. Pada saat yang bersamaan.16 7. Kepulauan Bangka Belitung. terdapat kesenjangan yang signifikan dalam penyediaan sistem air perpipaan di berbagai provinsi di Indonesia (lihat Gambar 7. 80 70 60 Persentase Sumber Air Minum di NTT 50 40 30 20 10 0 Bangka Belitung Riau Lampung Kalimantan Barat Banten DI Yogyakarta Aceh Jawa Barat Papua Barat Papua Kepulauan Riau Bengkulu Nusa Tenggara Barat Jawa Timur INDONESIA Sulawesi Tengah Jambi Kalimantan Tengah Jawa Tengah Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Utara Gorontalo Maluku Sumatera Selatan Sumatera Barat Maluku Utara Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan Sumatera Utara DKI Jakarta Bali Kalimantan Selatan Kalimantan Timur 1.19 4.27 15.96 20.46 40.08 16.67 9.36 17.79 30. Tahun 2009 TOTAL PERKOTAAN PERDESAAN Sumber: BPS.

99 42.03 47. wadah ember.66 22. AKSES SANITASI YANG LAYAK Di Indonesia.60 28.30 27. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun rumah tangga tersebut memiliki tangki sep k.40 19. 77 persen pengguna tangki sep k dak melakukan pengurasan dalam 2 tahun terakhir.13 36. Berbagai jenis fasilitas sanitasi pribadi maupun bersama ini diklasifikasikan sebagai fasilitas sanitasi yang layak di Indonesia.00 32. dan nyaman.93 29. dari 53.96 15.83 28.65 28. higienis. Di daerah perkotaan cakupannya meningkat sekitar 16 persen poin.19 persen dari seluruh rumah tangga yang memiliki akses ke fasilitas sanitasi yang layak sementara target MDG untuk akses sanitasi yang layak adalah 62. sungai. 220 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia DKI Jakarta Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Bengkulu Banten Kalimantan Tengah Aceh Maluku Utara Papua Kepulauan Riau Sumatera Barat Sulawesi Utara Sulawesi Barat Gorontalo Nusa Tenggara Timur Sulawesi Selatan Jawa Barat Sumatera Utara Sulawesi Tengah Bali Sumatera Selatan Nusa Tenggara Barat INDONESIA Bangka Belitung Jambi Papua Barat Lampung Maluku Sulawesi Tenggara Riau Jawa Timur Jawa Tengah Kalimantan Barat DI Yogyakarta TOTAL PERKOTAAN PERDESAAN 50.81 40.83 . Fasilitas sanitasi yang layak mencakup kloset dengan leher angsa.49 26. serta toilet kompos.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Gambar 7. Tahun 2009 80 70 60 Persentase 50 40 30 20 11. .68 22.59 16.22 26.53 28. pada tahun 2009 hanya 51.75 20. atau lapangan terbuka. toilet guyur (flush toilet) yang terhubung dengan sistem pipa saluran pembuangan atau tangki sep k. yang dapat menjauhkan pengguna dan lingkungan di sekitarnya dari kontak dengan kotoran manusia.11.12 26. saluran terbuka.09 35.68 36. termasuk jamban cemplung (pit latrine) terlindung dengan segel slab dan ven lasi.64 persen pada tahun 1993 menjadi 69.90 38.44 35.31 29. Fasilitas sanitasi yang dak layak antara lain melipu toilet yang mengalir ke selokan. Susenas 2009.63 20.51 persen pada tahun 2009.41 persen (Gambar 7. jamban cemplung tanpa segel slab.24 26.48 10 0 Sumber: BPS. Namun.79 25.lebih lambat bila dibandingkan dengan kenaikan sebesar 23 persen poin di daerah perdesaan pada periode yang sama. Perkotaan dan Total Perdesaan dan Perkotaan. Namun. Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses Sumber Air Minum Nonperpipaan yang Terlindungi di Perdesaan.27 36.12). peningkatan cakupan layanan sanitasi ini belum menunjukkan kualitas layanan sanitasi yang ada. dan toilet gantung. Kemajuan selama 17 tahun antara tahun 1993 dan 2009 cukup signifikan. Menurut hasil survei USAID di DKI Jakarta.23 20. fasilitas sanitasi yang layak didefinisikan sebagai sarana yang aman.65 37. Proporsi rumah tangga di Indonesia yang mempunyai akses ke fasilitas sanitasi yang layak meningkat dua kali lipat sejak tahun 1993. namun terjadi kebocoran tangki sep k yang dapat mencemari kualitas air tanah di sekitarnya.62 31. menurut Provinsi.

terutama di daerah perkotaan di mana laju pertumbuhannya lebih nggi daripada laju pertumbuhan penduduk di ngkat nasional. kemajuan yang dicapai masih lebih lambat dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan regional dengan ngkat pembangunan ekonomi yang rela f sama. pada tahun 2015. 2007. guna mencapai target MDG. United Na ons Children’s Fund. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 221 . Dengan laju pertumbuhan penduduk nasional saat ini – 1.8 juta penduduk lagi yang membutuhkan fasilitas sanitasi dasar se ap tahun sejak saat ini sampai tahun 2015.3 persen per tahun – maka kurang lebih ada penambahan 2. Laju pertumbuhan penduduk menjadi tantangan utama yang dihadapi dalam meningkatkan cakupan sanitasi layak. World Health Organiza on. Indonesia harus memberikan perha an khusus. sehingga akan menambah 100 juta orang yang dak memiliki fasilitas sanitasi yang layak. 55 Universal Sanita on in East Asia. termasuk peningkatan kualitas infrastruktur sanitasi. Cuci. Mission Impossible? Water and Sanita on Program. Kakus (MCK) “Morgo Ratan” di Kota Mojokerto Walaupun kenaikan akses sanitasi layak secara nasional sebesar 26 persen poin selama 17 tahun merupakan prestasi mengesankan bagi negara dengan jumlah penduduk sebanyak dan wilayah geografis kepulauan seluas Indonesia.55 Memperha kan tren capaian akses sanitasi layak selama ini.Fasilitas Mandi.

Dalam hal kesenjangan akses sanitasi yang layak antara perdesaan dan perkotaan berdasarkan provinsi. Gambar 7.2). Sumber: BPS. dan Kalimantan Barat (Gambar 7.13. Data dak termasuk Timor Timur.13 dan Peta 7. Perkotaan dan Total Perdesaan dan Perkotaan. Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Sanitasi yang Layak di Perdesaan. Tahun 1993-2009 Catatan: Sanitasi yang layak: sendiri/bersama.12. Menurut Provinsi. Kesenjangan yang cukup lebar dalam hal akses berkelanjutan terhadap sanitasi yang layak antara perkotaan dan perdesaan masih terjadi. Susenas 2009. Susenas 1993-2009. Maluku Utara. dengan kesenjangan terbesar berada di Provinsi Kepulauan Riau.96 persen di daerah perdesaan.51 persen penduduk perkotaan memiliki akses ke fasilitas sanitasi yang layak dibandingkan dengan hanya 33. 69. leher angsa. ada 21 provinsi dengan kesenjangan yang lebih besar daripada rata-rata nasional. Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Sanitasi yang Layak di Perdesaan. Secara nasional.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Gambar 7. *) sendiri/bersama dan tangki sep k. **) Data dak mendukung. dan kesenjangan ini bervariasi antarprovinsi. tangki sep k. 222 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Tahun 2009 Sumber: BPS. Perkotaan dan Total Perdesaan dan Perkotaan.

Begitu pula investasi dalam penyediaan layanan sambungan air limbah terpusat skala kota (sewerage system) dan skala komunal (communal system). Masih banyaknya rumah tangga yang menggunakan sumber air minum nonperpipaan menurunkan kuan tas dan kualitas sumber daya air minum. Tingkat investasi dalam penyediaan sambungan perpipaan khususnya di perkotaan dak mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk perkotaan. 3. Di samping itu. peran dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam bekerja sama dengan masyarakat setempat dalam pelaksanaan pembangunan air minum dan sanitasi perlu lebih diperjelas. Banyak ins tusi dan lembaga yang membidangi pembangunan air minum dan sanitasi. terutama di perkotaan dengan pembangunan infrastruktur air minum dan sanitasi yang layak. Proporsi Rumah Tangga yang Memiliki Akses ke Fasilitas Sanitasi yang Layak Menurut Provinsi. ditambah lagi sistem sanitasi on-site yang ada juga belum disertai dengan investasi dalam infrastruktur penampungan. Susenas 2009. 2. Belum diimbanginya pertumbuhan penduduk. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 223 . sehingga menyulitkan PDAM untuk melakukan korporasi. terutama pada tataran pelaksanaan program. Belum adanya kebijakan komprehensif lintas sektor dalam penyediaan air minum dan sanitasi yang layak. Menurunnya kualitas dan kuan tas sumber daya air minum. sehingga dibutuhkan koordinasi yang lebih intensif. 4. Belum lengkap dan terbaharukannya perangkat peraturan yang mendukung penyediaan air minum dan sanitasi yang layak. Tantangan Tantangan utama dalam meningkatkan akses air minum dan sanitasi yang layak antara lain sebagai berikut: 1. Tahun 2009 Sumber: BPS. sebagai contoh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah yang belum direvisi. dan pembuangan limbah nja sehingga meningkatkan pencemaran terhadap sumber air baku.2. Sejumlah peraturan yang ada sudah dak sesuai dengan kondisi yang ada.Peta 7. pengolahan.

Berdasarkan audit tahun 2008. 2010). dalam penyediaan air minum berbasis masyarakat. sumber pendanaan dari pihak swasta. Hal ini menunjukkan ar pen ngnya kampanye serta komunikasi. terutama di daerah perkotaan. PDAM yang berkinerja baik hanya sekitar 22 persen.51 persen PDAM masih menerapkan tarif rata-rata di bawah biaya produksi air minum. 6.01 persen-1. 7. Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan prak k Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). dan meskipun hampir semua rumah tangga merebus air untuk minum. Hal ini membuat masyarakat enggan membayar iuran air minum. kualitas sumber daya manusia pada lembaga pengelola juga masih menjadi kendala. sekitar 47 persen rumah tangga masih melakukan buang air besar di tempat terbuka.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup 5. Dukungan perencanaan dan penganggaran untuk penyediaan air minum dan sanitasi yang layak belum menjadi prioritas. padahal penyediaan dan pengelolaan air minum dan sanitasi yang layak telah menjadi kewenangan pemerintah daerah. namun 48 persen dari air tersebut masih mengandung bakteri E. Sementara itu. Selain itu. coli. baik dari pemerintah maupun swasta. Keadaan dan perilaku dak sehat tercermin dari masih ngginya kasus diare yang mencapai 411 per 1. Di samping itu. baik dalam bentuk Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) ataupun Corporate Social Responsibility (CSR) masih belum dimanfaatkan secara signifikan.000 penduduk (Survei Morbiditas Diare Kemkes. Kinerja PDAM yang dak baik ini semakin diperburuk oleh anggapan masyarakat bahwa air adalah sesuatu yang dapat diperoleh secara cuma-cuma. tercermin dari rendahnya alokasi anggaran daerah dalam mendukung pembangunan baru maupun perbaikan infrastruktur air minum dan sanitasi yang telah ada. Rendahnya kinerja keuangan PDAM juga menyebabkan PDAM sulit mendapatkan sumber pendanaan alterna f. bukan merupakan komoditas yang langka. informasi dan edukasi (KIE) untuk menumbuhkan kesadaran dan mengubah perilaku masyarakat. Saat ini. Penetapan dan pengaturan tarif belum memenuhi prinsip pemulihan biaya (full-cost recovery). Hasil studi pembiayaan air minum dan sanitasi pada tahun 2003-2005 menyatakan bahwa anggaran untuk penyediaan air minum dan sanitasi hanya sebesar 0. Hal ini mencerminkan masih rendahnya prioritas yang diberikan oleh para pemangku kepen ngan terhadap pelaksanaan KIE. Masih terbatasnya kapasitas pemerintah daerah untuk menangani sektor air minum dan sanitasi. Hal tersebut antara lain diakibatkan oleh pendanaan yang masih bertumpu pada anggaran Pemerintah Pusat. Investasi sistem penyediaan air minum dan sanitasi yang layak masih kurang memadai. yang pada akhirnya mempersulit penyedia layanan untuk meningkatkan layanannya melalui investasi baru. 224 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .37 persen dari belanja APBD. di mana sekitar 55. Mencuci tangan dengan sabun masih jarang dilakukan. masih minimnya kapasitas sumber daya manusia pelaksana pembangunan air minum dan sanitasi di daerah juga menjadi kendala penyediaan air minum dan sanitasi. upaya KIE telah dilakukan namun masih kurang memadai. 8. Masih terbatasnya penyedia air minum yang layak baik oleh PDAM dan non-PDAM yang sehat (kredibel dan profesional).

Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 225 . di perdesaan pengembangan sistem penyediaan air minum berbasis masyarakat dilakukan bersama antara Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Kesehatan. Dalam meningkatkan akses penduduk terhadap sanitasi yang layak. Selain itu. Alokasi pendanaan dari Pemerintah Pusat diprioritaskan bagi masyarakat miskin antara lain melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) dan pengembangan sistem air minum Ibu Kota Kecamatan (IKK). Dalam meningkatkan cakupan pelayanan air minum. Selain itu. Melalui PMK ini diharapkan kinerja keuangan PDAM meningkat dengan diberikannya penghapusan terhadap tunggakan non-pokok atas pinjaman PDAM. dan keuangan. dan PDAM bertugas dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap penyediaan air minum layak melalui pembangunan dan perbaikan sistem air baku. Diharapkan bahwa mekanisme insen f dan disinsen f yang telah diterapkan dapat terus di ngkatkan dalam mempercepat pencapaian target MDG. perbaikan dan pengembangan instalasi serta pengembangan dan perbaikan jaringan transmisi dan distribusi. Investasi tersebut diberikan untuk pengembangan sistem pengolahan air limbah terpusat skala kota (off-site). program. telah diterbitkan Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2009 tentang Pemberian Jaminan dan Subsidi Bunga oleh Pemerintah Pusat dalam rangka Penyediaan Air Minum untuk mendapatkan pinjaman dari bank komersial.Kebijakan dan Strategi Arah kebijakan dan strategi untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan air minum dan sanitasi yang layak. Sementara itu. Dalam kurun waktu 2010-2014. 2. Pemerintah Pusat akan memfasilitasi pengembangan dan pembangunan sistem sanitasi on site di 210 kabupaten/kota dan sistem sanitasi off site di 16 kabupaten/kota. terutama di kawasan perkotaan. melalui penyediaan subsidi bunga dan penjaminan aset. pembangunan sistem sanitasi setempat (on-site) dan juga pengembangan dan perbaikan Instalasi Pengolah Lumpur Tinja (IPLT). dalam meningkatkan akses pendanaan yang bersumber selain dari Pemerintah. akan dilakukan melalui: 1. Pemerintah Pusat juga mendorong dan memfasilitasi penyediaan air minum bagi masyarakat menengah ke atas melalui perbaikan kinerja pelayanan operator (PDAM) yang dilakukan melalui pemberian bantuan teknis. Rekening Dana Investasi. pemerintah daerah. telah dikeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 120 Tahun 2008 tentang Penyelesaian Piutang Negara yang Bersumber dari Penerusan Pinjaman Luar Negeri. Untuk mendukung penyediaan layanan air minum perpipaan oleh PDAM. Kementerian Pekerjaan Umum dan pemerintah daerah akan meningkatkan investasi pengelolaan sistem air limbah terpusat dan penyediaan sanitasi berbasis masyarakat dengan fokus pelayanan bagi masyarakat miskin. dan Rekening Pembangunan Daerah pada PDAM. Percepatan penyediaan air minum dan sanitasi juga dilakukan melalui program hibah (matching grants) air minum dan air limbah bagi pemerintah daerah yang memprioritaskan pembangunan air minum dan sanitasi bagi masyarakat miskin. Kementerian Pekerjaan Umum.

ditargetkan bahwa pada akhir tahun 2014. swasta. Tahap III Penyusunan Strategi Sanitasi Kota/Kabupaten (SSK) untuk menentukan strategi pengembangan layanan sanitasi dan komponen pendukungnya. (ii) Peningkatan pengelolaan persampahan melalui implementasi 3R (Reduce. c. Pemerintah juga telah mengalokasikan dana alokasi khusus (DAK) untuk air minum dan sanitasi. Tahap VI Pemantauan dan Evaluasi untuk memas kan pelaksanaan program dan/atau proyek berjalan sesuai SSK. lembaga donor. DAK bidang sanitasi digunakan untuk meningkatkan cakupan layanan sanitasi di daerah padat perkotaan.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Untuk mengejar keter nggalan dalam penyediaan layanan sanitasi. f. melalui pendekatan sanitasi berbasis masyarakat (SANIMAS). Sasaran Program PPSP antara lain adalah: (i) Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di wilayah perkotaan dan perdesaan pada akhir 2014. Tahapan dalam pelaksanaan Program PPSP ini mencakup: a. pesisir dan di perdesaan. Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP). Tahap IV Penyusunan Memorandum Program yang bertujuan untuk meningkatkan akses terhadap sumber pendanaan sanitasi. Di samping itu. dan kolaborasi antar pemangku kepen ngan. 226 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Reuse.2. Saat ini 24 kabupaten/kota telah memiliki SSK dan pada tahun 2010 ini terdapat 41 kabupaten/kota lainnya yang sedang menyelesaikan penyusunan SSK tersebut. kerjasama. Untuk mendukung pencapaian sasaran PPSP. Recycle) dan penerapan pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) berwawasan lingkungan (sanitary landfill dan controlled landfill). Tahap II Penyiapan Kelembagaan untuk menciptakan koordinasi. d. (iii) Pengurangan genangan di 100 kawasan strategis perkotaan seluas 22. 330 kabupaten/ kota telah memiliki dokumen SSK sebagai por olio dalam mendukung pelaksanaan pembangunan sanitasi di daerahnya. Sementara itu. 2010-2014 Program PPSP merupakan program lintas sektor yang bertujuan untuk mendorong pemerintah kabupaten/kota dalam menyusun suatu perencanaan strategis pembangunan sanitasi yang komprehensif dan koordina f melalui penyusunan Strategi Sanitasi Kota/Kabupaten (SSK). b. Tahap V Implementasi yaitu penyediaan sarana dan prasarana sanitasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan berkelanjutan. DAK bidang air minum ditujukan untuk mengop malkan pelayanan infrastruktur air minum yang telah ada (exis ng) dan juga untuk pembangunan sistem baru di kota kecil. dan masyarakat. Kotak 7. terpencil. e. Tahap I Advokasi dan Sosialisasi yang bertujuan untuk meningkatkan kebutuhan masyarakat akan layanan sanitasi. saat ini juga telah dilakukan terobosan melalui peluncuran Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) 2010-2014 yang menekankan bahwa sanitasi adalah urusan bersama seluruh pihak baik Pemerintah.500 Ha.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum mengamanatkan kepada Pemerintah untuk mengatur penyediaan dan pelayanan air minum. Pendekatan yang peka permintaan (demandresponsive) ini mencakup: (i) menciptakan lingkungan yang kondusif untuk perilaku hidup bersih dan sehat melalui advokasi dan mobilisasi dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat.3. dan pembangunan infrastruktur. Menyediakan perangkat peraturan di ngkat Pusat dan/atau Daerah untuk mendukung pelayanan air minum dan sanitasi yang layak. Kotak 7. termasuk mensosialisasikan informasi ke berbagai sekolah. dan (v) mengembangkan sistem pemantauan di daerah. Kebijakan Nasional Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Masyarakat telah mendorong pemerintah daerah untuk memberikan prioritas lebih nggi pada penyediaan air minum dan sanitasi. (iv) mengurangi unsur subsidi dalam sanitasi dasar dan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki masyarakat berdasarkan solidaritas sosial. lembaga peneli an. (iii) memperkenalkan manajemen pengetahuan dengan membangun pusat data dan informasi. seper penyediaan air minum berbasis masyarakat dan penyediaan sarana jamban sehat. (ii) pengelolaan sistem air minum dan sanitasi yang layak. perlindungan sumber air tanah dan permukaan dari pencemaran domes k melalui peningkatan cakupan pelayanan sanitasi. maupun deregulasi peraturan perundang-undangan. 4.Sementara itu. Memas kan ketersediaan air baku untuk air minum. Kementerian Kesehatan bertanggung jawab untuk memas kan kualitas air minum dan sanitasi. di samping meningkatkan kesadaran masyarakat tentang ar pen ng air minum dan sanitasi yang layak. penganggaran. revisi. serta pengembangan dan penerapan teknologi pemanfaatan sumber air alterna f termasuk air reklamasi. melalui pengendalian penggunaan air tanah oleh pengguna domes k maupun industri. dan masyarakat. 3. Kementerian Kesehatan akan meningkatkan pelaksanaan strategi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) selama 2010-2014. Perha an khusus akan diberikan untuk lebih memperjelas peran dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam kaitannya dengan: (i) perencanaan. melalui penambahan. termasuk dengan melibatkan masyarakat. Pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Pendekatan ini menekankan pen ngnya perubahan perilaku dan par sipasi masyarakat luas dalam menciptakan akses dan perilaku yang dapat meningkatkan kesehatan lingkungan. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 227 . Beberapa program lain yang dirancang untuk meningkatkan cakupan layanan air minum dan sanitasi juga sudah disusun dan akan diprioritaskan. (ii) meningkatkan kapasitas penyediaan layanan melalui kemitraan dengan sektor swasta. terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar. dan pada saat yang bersamaan membangun infrastruktur yang dibutuhkan. dan (iii) perubahan dan pelibatan masyarakat dalam konservasi sumber daya air dan lingkungan. yang bertujuan untuk menghilangkan prak k BAB di tempat terbuka pada akhir 2014.

Meningkatkan belanja investasi daerah untuk perbaikan akses air minum dan sanitasi yang difokuskan pada pelayanan bagi penduduk perkotaan terutama masyarakat miskin. sebagaimana terlihat pada Tabel 7. Meningkatkan sistem perencanaan pembangunan air minum dan sanitasi yang layak. dan juga untuk pengembangan dan pemasaran pilihan sistem penyediaan air minum dan sanitasi yang tepat guna. Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pen ngnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Presiden RI telah memberikan perha an khusus dengan mengeluarkan Instruksi Presiden RI Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan Berkeadilan. penerapan korpora sasi. Untuk mempercepat pencapaian target MDGs tahun 2015. pemerintah kabupaten/kota. informasi dan edukasi serta pembangunan sarana dan prasarana air minum dan sanitasi di sekolah sebagai bagian dari upaya peningkatan sosialisasi perilaku yang higienis bagi siswa sekolah dan penerapan prak k perilaku hidup bersih dan sehat oleh masyarakat. (b) peningkatan kerja sama antarpemerintah. Meningkatkan kinerja manajemen penyelenggaraan air minum dan sanitasi yang layak melalui (a) penyusunan business plan. 7. Meningkatkan iklim investasi yang mendukung pembangunan guna merangsang par sipasi ak f sektor swasta dan masyarakat melalui KPS dan CSR. dan par sipasi masyarakat. dan masyarakat. Kementerian Dalam Negeri. pelaksanaan manajemen aset. dan (d) op malisasi pemanfaatan sumber dana. (c) peningkatan keterkaitan antara sistem pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat dengan pemerintah. khususnya tentang penyediaan air minum dan sanitasi yang layak.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup 5. baik yang dilakukan oleh ins tusi maupun masyarakat. Kementerian Kesehatan. 8. melalui komunikasi. ataupun antara pemerintah. dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Hal ini telah sejalan dengan strategi nasional dalam RPJMN 2010-2014 yang akan dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK) yang selaras dengan RIS-SPAM. pemerintah provinsi. antara pemerintah dan masyarakat. melalui penyusunan rencana induk sistem penyediaan air minum (RIS-SPAM) sesuai prinsipprinsip pembangunan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat maupun lembaga. 6. swasta. 9.6 di bawah ini: 228 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . antara pemerintah dan swasta. serta pemantauan dan evaluasi pelaksanaannya.

500 11. Output. Prioritas.6. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 229 . Tahun 2010-2014 85 90 95 100 100 Meningkatkan penyehatan dan pengawasan kualitas lingkungan 64 67 69 72 75 2.5 67 Tabel 7.000 20.472 terlayani air desa minum layak Meningkatkan pengembangan infrastruktur sanitasi Terlayaninya kawasan dengan infrastruktur air limbah melalui sistem off-site 30 kawasan dan 1.Prioritas Output Persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap air minum berkualitas (%) Persentase kualitas air minum yang memenuhi syarat (%) Persentase penduduk yang menggunakan jamban sehat (%) Jumlah desa yang melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) (Desa) 2010 2011 2012 2013 2014 62 62.000 Meningkatkan pengembangan sistem penyediaan air minum Terfasilitasinya kawasan perkotaan yang terlayani air minum 218 kawasan 244 kawasan 260 kawasan 315 kawasan 360 kawasan Terfasilitasinya 31 kawasan kawasan perdesaan yang dan 1.000 desa 32 kawasan dan 700 desa 9 kab/kota 11 kab/kota 11 kab/kota 11 kab/ kota 11 kab/ kota Terlayaninya kawasan dengan 30 kab/kota infrastruktur air limbah melalui sistem on-site 35 kab/kota 40 kab/kota 50 kab/ kota 55 kab/ kota Sumber: RPJMN 2010-2014 dan Inpres Nomor 3/2010. dan Target Peningkatan Akses Air Minum dan Sanitasi Layak.500 5.165 desa 30 kawasan dan 500 desa 30 kawasan dan 1.000 16.5 63 63.

Di samping itu. keran umum. Sumber air minum layak adalah sumber air yang berasal dari sumber air berkualitas dan berjarak sama dengan atau lebih dari 10 meter dari tempat pembuangan kotoran dan/atau terlindung dari kontaminasi lainnya.12 persen (Susenas) Target (2020) : 6. sumur bor atau pompa. sebagian besar warga yang nggal di permukiman kumuh adalah masyarakat berpenghasilan rendah. Sumber air layak tersebut melipu : air leding. dak adanya akses terhadap sanitasi dasar yang layak. tumbuhnya kawasan kumuh merupakan dampak dari pertambahan penduduk kota yang sangat pesat akibat dak terbendungnya arus urbanisasi. Es masi kondisi permukiman kumuh Indonesia dideka dengan menghitung proporsi rumah tangga kumuh perkotaan. Terdapat empat indikator yang digunakan yaitu dak adanya akses terhadap sumber air minum layak. Sementara itu. serta air hujan. yang dak mampu membiayai pengembangan dan pemeliharaan rumah dan lingkungan permukimannya agar layak dihuni. 230 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Target 7D: Mencapai peningkatan yang signifikan dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh pada tahun 2020 Indikator 7. sumur terlindung dan mata air terlindung. Proporsi rumah tangga kumuh perkotaan: Acuan dasar (1993) : 20.00 persen (Es masi Bappenas) Status Saat Ini Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman menyatakan bahwa permukiman kumuh merupakan suatu lingkungan permukiman yang dak sesuai dengan tata ruang. memiliki kepadatan bangunan yang sangat nggi. Secara umum. kualitas bangunan yang rendah. Sementara air kemasan dak dikategorikan sebagai sumber air minum layak.75 persen (Susenas) Saat ini (2009) : 12.10. penggunaan is lah perkotaan merujuk pada is lah yang digunakan oleh BPS. di samping terbatasnya lahan yang diperuntukkan bagi permukiman yang layak. prasarana lingkungan yang dak memenuhi persyaratan dan rawan sehingga dapat membahayakan kehidupan dan penghidupan masyarakat penghuni. luas minimal lantai hunian per kapita dan daya tahan material hunian.

Kiri: Daerah Kumuh di Makassar Kanan: Rusunawa di Makassar Sanitasi dasar yang layak didefinisikan sebagai sarana yang aman. serta toilet kompos. Tahun 1993 dan 2009 Sumber: BPS. Susenas.14. dan lantai terluas berupa tanah. Sesuai dengan Permenpera Nomor 22/PERMEN/M/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Perumahan Rakyat Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota. dan nyaman yang dapat menjauhkan pengguna dan lingkungan di sekitarnya dari kontak dengan kotoran manusia. Indikator terakhir dari rumah tangga kumuh adalah daya tahan material hunian yang diklasifikasikan berdasarkan bahan penyusun atap berupa ijuk/rumbia dan lainnya. Fasilitas sanitasi yang layak mencakup kloset dengan leher angsa yang terhubung dengan sistem pipa saluran pembuangan atau tangki sep k. Proporsi Rumah Tangga Kumuh Perkotaan. termasuk jamban cemplung (pit latrine) terlindung dengan segel slab dan ven lasi. higienis. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 231 . rumah dapat dikategorikan sebagai hunian layak huni apabila luas lantai per kapita lebih besar dari 7. dinding terluas berupa bambu dan lainnya.2 m2. Gambar 7. Rumah kumuh didefinisikan sebagai rumah tangga dengan kondisi yang minimal memenuhi dua dari ga klasifikasi tersebut.

Tantangan Tantangan utama dalam menurunkan proporsi rumah tangga kumuh perkotaan Indonesia adalah sebagai berikut: 1. DI Yogyakarta. Dalam Gambar 7. namun demikian masih terdapat 12. Tingginya laju pertumbuhan penduduk di perkotaan.15 terlihat bahwa provinsi dengan proporsi ter nggi untuk rumah tangga kumuh perkotaan antara lain Nusa Tenggara Timur. Selain itu terdapat beberapa kegiatan pemberdayaan masyarakat termasuk Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di beberapa kementerian yang ditujukan untuk penanganan kawasan kumuh. Urban Poverty Project (UPP). Tahun 2009 Sumber: BPS. Pemerintah Indonesia telah melaksanakan berbagai program dalam rangka menangani permukiman kumuh.12 persen rumah tangga yang menghuni rumah kumuh (lihat Gambar 7. Proporsi Rumah Tangga Kumuh Perkotaan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kondisi hunian rumah tangga perkotaan. dan Neighborhood Upgrading and Shelter Sector Program (NUSSP). Menurut Provinsi. keterbatasan lahan perumahan dan permukiman. Proporsi terendah rumah tangga kumuh perkotaan adalah 5. Susenas 2009. Pada 232 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . peremajaan kota (urban renewal). Terbatasnya akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap lahan untuk pembangunan perumahan. Jawa Tengah dan Kalimantan Barat merupakan provinsi dengan proporsi rumah tangga kumuh perkotaan terendah.85 persen.63 persen sejak tahun 1993. Kesenjangan daerah dalam proporsi rumah tangga kumuh perkotaan masih cukup besar.15. Papua. serta peningkatan harga lahan semakin mempersulit akses masyarakat untuk menempa hunian yang layak dan terjangkau di perkotaan.14). dan DKI Jakarta. Sementara itu. antara lain Kampung Improvement Program (KIP). sedangkan proporsi ter nggi adalah 28.10 persen. Gambar 7. CommunityBased Ini a ves for Housing and Local Development (CoBILD).Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Proporsi rumah tangga kumuh perkotaan Indonesia telah menurun 8.

Terbatasnya akses masyarakat terhadap pembiayaan perumahan. 5. drainase. Peningkatan penyediaan hunian yang layak dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa). Penanganan permukiman kumuh membutuhkan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan yang bersifat lintas sektor. Peningkatan aksesibilitas masyarakat berpenghasilan rendah terhadap hunian yang layak dan terjangkau melalui fasilitas likuiditas. Sektor formal yaitu pengembang swasta dan Perum Perumnas hanya mampu menyediakan sekitar 10 persen dari total kebutuhan perumahan per tahun. Bank pada umumnya dak dapat memberikan pinjaman bagi kelompok masyarakat yang dak memiliki penghasilan tetap atau bekerja di sektor informal. di mana sebagian besar penduduk kawasan kumuh bekerja di sektor informal. Kurangnya koordinasi dan sinergis lintas sektor menyebabkan hasil yang diperoleh belum op mal. listrik dan sebagainya. jalan. Terbatasnya kemampuan sektor pemerintah dan swasta dalam membangun rumah. baik melalui pembangunan baru maupun perbaikan rumah lama. Kebijakan dan Strategi Arah kebijakan dan strategi untuk menurunkan proporsi rumah tangga kumuh perkotaan. 2. akan dilakukan melalui: 1. 4. Sementara pemerintah memiliki kemampuan yang terbatas dalam pengadaan serta pengelolaanya. Sistem pembiayaan perumahan di Indonesia belum dapat mengakomodasi pembiayaan untuk kebutuhan perbaikan rumah dan pembangunan rumah secara bertahap. Namun secara keseluruhan total kebutuhan rumah dak dapat terpenuhi se ap tahunnya. sarana dan u litas perumahan swadaya. kredit mikro perumahan dan tabungan perumahan nasional. Selain itu.akhirnya lahan yang dapat diakses oleh masyarakat berpenghasilan rendah adalah lahan marginal atau kawasan kumuh perkotaan. sanitasi. Secara umum karakteris k lingkungan permukiman kumuh diwarnai oleh dak memadainya kondisi sarana dan prasarana dasar seper halnya air minum. 2. Belum op malnya program-program penanganan permukiman kumuh yang telah dilaksanakan. fasilitasi pembangunan baru/peningkatan kualitas perumahan swadaya serta penyediaan prasarana. Sementara selisih kebutuhan perumahan dipenuhi melalui pembangunan perumahan secara swadaya. Terbatasnya penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 233 . peran berbagai lembaga maupun individu di luar pemerintahan dalam penyediaan sarana dan prasarana lingkungan permukiman juga masih sangat terbatas. 3. serta fasilitasi penyediaan lahan.

250 7. Kementerian Perumahan Rakyat.250 Sumber: RPJMN 2010-2014.500 6.Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup 3.250 7.500 12. Prioritas. Keterangan: *) Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa diperkirakan 30 persen untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Tabel 7. dan u litas umum yang memadai dan terpadu dengan pengembangan kawasan perumahan dalam rangka mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh. sarana dan u litas perumahan swadaya Jumlah rusunawa terbangun 100 100 180 0 0 Target 2010 95 2011 30 2012 30 2013 30 2014 22 95 30 30 30 22 3.500 6. 7. dan Target Penurunan Rumah Tangga Kumuh Perkotaan Melalui Penanganan Permukiman Kumuh. Tahun 2010-2014 Prioritas Output Rencana ndak penanganan kawasan kumuh perkotaan di Kabupaten/kota Pengaturan.500 16.250 Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa* (Rusunawa) 234 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .500 16.041 5.200 3.500 12.7. pemerintah provinsi. dan par sipasi masyarakat. RPJM 2010-2014 telah menetapkan prioritas dan target penurunan rumah tangga kumuh perkotaan. Output. Pengawasan dan Penyelenggaraan dalam Pengembangan Permukiman Kawasan kumuh di perkotaan yang tertangani Satuan unit hunian rumah susun yang terbangun dan infrastruktur pendukungnya Penyediaan infrastruktur permukiman di kawasankawasan perumahan bagi MBR Fasilitasi dan S mulasi Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh Fasilitasi dan S mulasi Pembangunan Perumahan Swadaya Fasilitasi dan S mulasi Peningkatan Kualitas Perumahan Swadaya Fasilitasi Pembangunan PSU Perumahan Swadaya Jumlah permukiman kumuh yang terfasilitasi Jumlah fasilitasi dan s mulasi pembangunan baru perumahan swadaya Jumlah fasilitasi dan s mulasi peningkatan kualitas perumahan swadaya Jumlah fasilitasi dan s mulasi prasarana.041 7.250 7. Pembinaan.458 104 50 50 15 21 50 100 150 175 180 7. Upaya-upaya untuk pencapaian target tersebut akan dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. yang diharapkan dapat mempercepat pencapaian target MDGs. 4. sarana dasar.250 7.500 16. Peningkatan kualitas perencanaan dan penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman melalui peningkatan kapasitas dan koordinasi berbagai pemangku kepen ngan pembangunan perumahan dan permukiman serta penyusunan rencana ndak penanganan kumuh.500 6. Peningkatan kualitas lingkungan permukiman melalui penyediaan prasarana.7. pemerintah kabupaten/kota.960 7.500 12. sebagaimana terlihat pada Tabel 7.

Pertemuan G-20 di Pi sburgh Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan .

.

dengan memberikan penekanan khusus pada penggalangan dukungan internasional terhadap salah satu isu sosial MDGs yang paling terabaikan. bersama dengan sepuluh negara anggota Sherpa (Norwegia. Interna onal Monetary Fund (IMF). World Trade Organiza on (WTO). termasuk melalui kemitraan segi ga (triangular coopera on) dan kerja sama Selatan-Selatan (South South Coopera on).Indonesia telah secara ak f bekerja sama dengan masyarakat internasional untuk meningkatkan tata kelola perdagangan internasional. Selain itu. Indonesia selalu berupaya untuk mewujudkan pola kemitraan global yang adil dan dinamis. antara lain seper Kelompok G-20 dan Asia Pacific Economic Coopera on (APEC). Associa on of Southeast Asian Na ons (ASEAN). Mozambik. Inggris. Tanzania. Indonesia juga berpar sipasi ak f dalam komunitas internasional melalui berbagai forum internasional dan regional. investasi. untuk turut mendorong peningkatan kerja sama dalam menangani isu-isu yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi dan perdagangan antara negara berkembang dan negara maju. Cile. dan alih teknologi dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan MDG. Indonesia turut membangun Jaringan Kemitraan Pemimpin Dunia bagi Kampanye Global MDGs di bidang Kesehatan (Network of Global Leaders for Global Campaign on Health MDGs . Belanda. Liberia dan Senegal). Brazil. Sebagai anggota sejumlah lembaga mul lateral. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 237 . Indonesia juga telah membangun jaringan kemitraan bilateral yang luas serta kokoh. untuk memajukan pembangunan dan perdagangan yang adil. dan Asian Development Bank (ADB). yaitu kema an anak dan ibu melahirkan. World Bank Group (WBG). Australia.NGL 45). termasuk United Na ons (PBB).

8 persen (Bank Indonesia) Target (2015) : Meningkat 56 Rasio ini merupakan perbandingan dengan jumlah kredit yang disalurkan terhadap dana pihak ke ga (dalam persen). dapat diprediksi. Dalam membiayai pembangunan nasional. Rasio ekspor + impor terhadap PDB (indikator keterbukaan ekonomi): Acuan dasar (1990) : 41. Dalam hubungannya dengan kondisi investasi di Indonesia. Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB baru-baru ini menempatkan Indonesia dalam salah satu dari sepuluh besar negara di dunia yang paling menarik untuk dijadikan tujuan investasi asing. kemitraan pemerintah dengan mitra pembangunan juga perlu terus dijaga dan di ngkatkan produk vitasnya. yang dapat menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kesenjangan sosial. di samping menjaga iklim investasi yang kondusif agar investasi swasta baik dalam negeri maupun luar negeri meningkat. berbasis peraturan.6b. Rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ra o/LDR)56 di bank umum: Acuan dasar (2000) : 45. Selain kemitraan pemerintah dan swasta. Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai kemitraan yang produk f antara Pemerintah dengan sektor swasta. Pemerintah Indonesia masih memanfaatkan pinjaman dan hibah luar negeri dengan porsi yang semakin menurun. dan tidak diskriminatif Indikator 8. Pemerintah melakukannya secara sangat ha -ha dan berupaya memilih sumber luar negeri yang favourable dengan ketentuan dan persyaratan yang menguntungkan dalam kerangka menjaga kepen ngan internasional. Untuk menunjang pemanfaatan sumber dana dari luar ini.6a. Untuk itu.80 persen (Bank Indonesia) Saat ini (2009) : 72.Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan Di samping itu. kerjasama pembangunan Pemerintah dengan mitra pembangunan terus di ngkatkan dalam upaya memanfaatkan pinjaman dan hibah luar negeri yang efek f dan efisien. Kemitraan pemerintah dan swasta ini terus digalakkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki penyediaan layanan umum. 238 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .60 persen (Badan Pusat Sta s k dan Bank Dunia) Saat ini (2009) : 39. Target 8A: Mengembangkan sistem keuangan dan perdagangan yang terbuka.50 persen (Badan Pusat Sta s k dan Bank Dunia) Target (2015) : Meningkat 8. Lebih jauh lagi. kerjasama pemerintah dan swasta ini diarahkan untuk mendapatkan investasi yang berkualitas.

Sejak saat itu. Marie Pangestu. Pada saat yang sama. Indonesia juga mendukung Mekanisme Perlindungan Khusus untuk menanggulangi dampak nega f jangka pendek dari liberalisasi perdagangan bagi pelaku sektor pertanian. Indonesia ikut serta dalam Putaran Doha dan tetap berkomitmen untuk mencapai kesepakatan agar kepercayaan pada sistem perdagangan mul lateral dapat tetap terjaga. kelompok CAIRNS (koalisi negara pengekspor hasil-hasil pertanian untuk melobi liberalisasi perdagangan pertanian). pada Sidang Pleno Pertemuan Para Menteri WTO yang ke-7 di Jenewa. khususnya masyarakat miskin di perdesaan. dan terciptanya lapangan kerja sepanjang satu dekade terakhir”. AFTA telah memberikan kontribusi pada peningkatan arus barang dan jasa di antara negara anggota ASEAN.0 persen (Bank Indonesia) Target (2015) : Meningkat Status Saat Ini Sejak dekade 50-an.8. Perjanjian Common Effec ve Preferen al Tariff (CEPT) AFTA mewajibkan ngkat tarif yang dikenakan pada berbagai macam produk yang 57 Pernyataan Menteri Perdagangan Indonesia. NAMA 11 (koalisi negara berkembang untuk mencapai fleksibilitas dalam membatasi pembukaan pasar bagi perdagangan barang-barang industri). Indonesia telah berpar sipasi dalam forum diskusi internasional tentang Perjanjian Umum Tarif dan Perdagangan (GATT) yang bertujuan untuk meningkatkan sistem perdagangan global dan merupakan salah satu anggota World Trade Organiza on (WTO) pada Januari 1995. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 239 . pembangunan. Perjanjian tersebut diharapkan dapat mencegah meningkatnya upaya-upaya proteksi sehingga dapat terus mendorong pemulihan perekonomian global. Liberalisasi perdagangan melalui penghapusan hambatan tarif dan nontarif di antara negara-negara ASEAN juga menjadi katalisator untuk mencapai peningkatan efisiensi produksi dan peningkatan daya saing dalam jangka panjang. dan Sponsor “W52” (pendukung proposal “modalitas” dalam negosiasi terkait berbagai indikasi geografis).57 Indonesia juga telah berpar sipasi dalam berbagai forum negosiasi internasional yang berhubungan dengan perdagangan internasional termasuk APEC. Rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ra o/LDR) di BPR: Acuan dasar (2003) : 101.30 persen (Bank Indonesia) Saat ini (2009) : 109. Indonesia merupakan salah satu negara anggota pendiri ASEAN yang kemudian membentuk Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA) pada tahun 1992. 30 November 2009.6c. Pemerintah Indonesia menganggap bahwa GATT dan WTO telah berhasil menjaga “sistem perdagangan mul lateral berbasis peraturan (rule-based) yang telah menjamin pertumbuhan ekonomi. G-33 (sebagai ketua koalisi negara berkembang yang mendukung fleksibilitas pembukaan pasar terbatas terkait masalah-masalah pertanian).

Selanjutnya. industri. kekayaan intelektual. Dewan AEC telah didirikan di bawah Piagam ASEAN untuk memantau pekerjaan terkait pilar ekonomi Secara khusus. tetapi juga investasi. Berdasarkan kerangka AEC. jasa. Di samping penghapusan tarif. usaha kecil dan menengah.6 triliun). ASEAN kini sedang dalam proses negosiasi untuk perjanjian perdagangan bebas dengan negara lainnya seper : ASEAN-India FTA. dan menunjukkan masalah yang harus dilaporkan kepada para pemimpin dalam KTT ASEAN guna memas kan integrasi ekonomi ASEAN. ASEAN akan menuju pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC) pada tahun 2015 yang bertujuan integrasi ekonomi regional. (c) kawasan pembangunan ekonomi yang adil. sedangkan untuk Kamboja. serta pariwisata. ACFTA telah menciptakan kawasan perdagangan bebas terbesar di dunia dalam hal jumlah penduduk di negara-negara yang menandatangani perjanjian tersebut (1. Telekomunikasi. ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA)59 dan ASEAN-Korea Free Trade Agreement (AKFTA) merupakan contoh perjanjian perdagangan bebas yang telah berlaku antara negara ASEAN dengan negara Asia lainnya. energi. Tujuan ini dicapai pada tahun 2002 oleh ASEAN-6. pertanian. (b) kawasan ekonomi yang kompe f. Myanmar. Negara-negara anggota ASEAN telah merilis Cetak Biru AEC pada KTT ASEAN ke-13 pada tanggal 20 November 2007 yang berfungsi sebagai rencana induk koheren untuk mengarahkan pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun 2015. Energi. keuangan. Selain itu. transportasi dan komunikasi. Laos. Kerja sama ekonomi ASEAN kemudian diperluas untuk mencakup dak hanya perdagangan.9 miliar) dan yang ke ga terbesar dalam hal PDB (USD6. 2008. Indonesia mera fikasi pelaksanaan ACFTA melalui Keputusan Presiden RI Nomor 48 Tahun 2004 dan AKFTA melalui Peraturan Presiden RI Nomor 11 Tahun 2007.Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan diperdagangkan di kawasan ini dikurangi menjadi sebesar 5 persen pada tahun 2008. kehutanan. diharapkan bahwa ASEAN akan memiliki karakteris k utama berikut ini: (a) pasar tunggal dan basis produksi. Selanjutnya. AEC Scorecard digunakan sebagai mekanisme evaluasi untuk memeriksa apakah masing-masing negara ASEAN berkomitmen pada pelaksanaan Cetak Biru AEC. ASEAN juga berusaha untuk mengkaji langkah-langkah nontarif dan penghapusan hambatan nontarif yang dapat menghalangi arus barang di antara negara-negara anggota. Pertanian. Selain itu. 58 59 ASEAN Economic Community Blueprint. 240 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . dan Vietnam akan dilaksanakan pada tahun 2015.58 ASEAN juga telah menanggapi lebih jauh dengan mengadakan perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara Asia lainnya serta negara-negara di luar Asia. menunjukkan apa yang telah dicapai ASEAN terkait implementasi. Dewan ini mengawasi pekerjaan kementerian sektoral seper Keuangan. di bawah Uni Eropa dan North American Free Trade Area. dan (d) kawasan yang terintegrasi dengan perekonomian global. ngkat tarif diturunkan menjadi 0 persen oleh ASEAN-6 pada tahun 2010. Transportasi. ASEAN-Australia-New Zealand FTA. dan ASEAN-European Union FTA. dan Pariwisata.

Pertumbuhan PDB dan Rasio Ekspor dan Impor Terhadap PDB sebagai Indikator MDGs untuk Keterbukaan Ekonomi Sumber: BPS dan Bank Dunia. dalam jangka panjang. Perkembangan Impor. Namun demikian. Keterbukaan ekonomi yang lebih besar dan pembenahan kerangka peraturan perdagangan telah menghasilkan manfaat ekonomi yang substansial. seiring dengan pertumbuhan ekspor yang rata-rata lebih nggi daripada impornya. perdagangan. Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) yang ditandatangani pada tanggal 20 Agustus 2007 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 2008 merupakan perjanjian perdagangan bilateral pertama Indonesia. 2009. Ekspor. 100% 600 Persentase ( ngkat keterbukaan ekonomi) 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 37. surplus perdagangan Indonesia juga meningkat. dan ekspor maupun impor juga meningkat dalam periode yang sama.Di samping perjanjian perdagangan regional.6 persen pada tahun 1990 menjadi 46. Data indikator keterbukaan ekonomi menunjukkan adanya kecenderungan yang meningkat dalam hal keterbukaan pengelolaan perekonomian Indonesia dalam jangka panjang. Tujuan perjanjian ini adalah memperkuat hubungan ekonomi bilateral yang melipu berbagai jenis kerja sama di bidang investasi. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 241 .5 persen terkait adanya krisis ekonomi global. Indonesia telah berhasil mengembangkan keterbukaan yang lebih besar dalam perdagangan dengan masyarakat global.9% 39. Indonesia juga telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas bilateral dengan beberapa negara lain. ngkat keterbukaan ekonomi menurun menjadi 39. Namun. dan gerakan individu. pada tahun 2009. ada peningkatan dari 41. Indikator keterbukaan ekonomi dihitung sebagai rasio ekspor dan impor nasional terhadap PDB. Data dan kecenderungan indikator ini disajikan dalam Gambar 8.9 persen pada tahun 2008.1 PDB meningkat tajam pada periode pascakrisis. Volume perdagangan sejak tahun 1980 telah meningkat pesat dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional serta perluasan lapangan kerja.1. Sementara itu.5% 200 300 500 400 100 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Tingkat Keterbukaan Ekonomi Impor Ekspor PDB Harga Berlaku (miliar dolar AS) Miliar Dolar AS Gambar 8. Pengkajian data indikator keterbukaan mengungkapkan bahwa selama dekade terakhir indikator ini tercatat berkisar 45 persen.

Indonesia terlibat dalam kemitraan perdagangan. ekspor nonmigas ke pasar-pasar tradisional itu mengalami penurunan.1. Tabel 8.59 65. Australia 61.9 persen pada 2009. Pangsa ekspor nonmigas untuk negara tujuan ekspor tradisional mengalami penurunan dari 50.31 2. Bank Indonesia dan pemerintah terus memperbaiki kerangka peraturan dan pengawasan sektor perbankan sambil memberikan ruang gerak untuk intermediasi perbankan.71 12.     Singapura* 5. *Anggota ASEAN.7 persen terhadap total impor Indonesia pada tahun yang sama. Pada tahun 2009. Jerman 67. sementara pasar ekspor lainnya meningkat.33 4.Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan Dalam beberapa tahun terakhir.04 75.01 73. termasuk di dalamnya adalah dengan memperkuat neraca keuangan sektor korporasi dan perbankan serta menanggulangi kerentanan bank melalui kapitalisasi yang lebih besar dan pengawasan yang lebih baik.15 8. dalam beberapa tahun terakhir.92 70. dan Singapura. Thailand* 53.). Singapura* 40.7 61.09 3.33 12.04 5.65 6. Sedangkan di sisi impor. sementara posisi Cina sebagai tujuan ekspor utama Indonesia semakin menguat.03 2. baik pada forum mul lateral maupun bilateral. serta meningkatkan kerangka regulator perdagangan internasional.96 7.67 Pangsa (%) 12. Amerika Serikat. Korea Selatan 58.89 4.79 50.2 persen pada tahun 2000 menjadi 47.94 8.     Taiwan 10.78 5.29 1.03 2. untuk mendorong peningkatan keterbukaan dalam perdagangan internasional.29 10. India.33 29. Malaysia* 64.15 7.67 Pangsa Kumula f (%) Pangsa Kumula f (%) 17.     Belanda 9. Sebagaimana telah disebutkan di atas. Urutan 10 Negara yang Menjadi Tujuan Utama Ekspor Nonmigas Indonesia dan 10 Negara Utama Asal Impor Nonmigas Indonesia Tahun 2009 Ekspor nonmigas Indonesia Negara Tujuan 1. Cina 23.87 4.60 11.33 4.56 10.     Jepang 2.98 2.  Thailand* Reformasi menyeluruh sektor perbankan Indonesia telah dilaksanakan berdasarkan pelajaran pahit dari krisis ekonomi 1997/1998.6 persen terhadap total ekspor Indonesia (lihat Tabel 8.     India 6.74 9. Amerika 47.86 9. Penguatan sektor perbankan pada gilirannya telah mendukung periode pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. 8.89 9. Jepang 32. Reformasi dan peningkatan kapasitas instansi terkait telah memberikan dasar yang kuat bagi sektor perbankan yang kekuatan dan ketahananya telah berkembang pascakrisis. Cina. Lima negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia adalah Jepang.     Malaysia* 7. 2010.     Amerika 3. India Sumber: Kementerian Perdagangan (diolah oleh Bappenas). sepuluh negara utama asal impor memberikan kontribusi sebesar 75.18 3. 242 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .     Cina 4. Namun. pasar tujuan ekspor Indonesia sudah mulai mengalami diversifikasi sebagai hasil dari perluasan dan penguatan kerjasama perdagangan internasional.95 2.54 5. sepuluh negara yang menjadi pasar tujuan ekspor utama memberikan kontribusi ekspor sebesar 67.1.     Korea Selatan Impor nonmigas Indonesia Negara Tujuan Pangsa (%) 17.93 41.83 56.87 5.

10 20. Kredit dan tabungan di kedua lembaga ini meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.10 1.20 835.00 1.70 2.80 12.40 2005 1. LDR bank umum terus meningkat dari 45.5 109.50 2007 1.2 serta Tabel 8.80 19.50 45.20 2.60 3.3.0 triliun pada tahun 2009. Pada periode pascakrisis ekonomi indikator ini menunjukkan tren posi f.469.030.0 persen pada periode yang sama.20 2008 2. sedangkan LDR di BPR juga meningkat dari 101.437.4 120 101.60 77.1 triliun pada tahun 2000 menjadi Rp 1.045.8 60 45.353.30 3. total Dana Pihak Ke ga (DPK) bank umum meningkat dari Rp699.2 64.10 22.20 888. Indikator Total Aset (triliun Rp) Dana Pihak Ke ga (triliun Rp) Kredit (triliun Rp) Loan to Deposit Ra o – LDR ( %) Return on Assets – ROA ( %) Non-Performing Loans – NPL (%) Capital Adequacy Ra o – CAR (%) 2000 1.60 477.2009 Persentase 80 61.60 6.90 64.2 72.90 730.70 2.20 2.70 797.20 16.753. Bank Indonesia (berbagai tahun).50 1.30 17.80 2.10 19.60 80 19. sementara NPL pada BPR diharapkan dapat dijaga pada level yang aman.30 963.868 miliar pada tahun 2003 menjadi Rp 28.9 111.693.40 Tabel 8.310.80 2009 2. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 243 .00 832.50 699.50 5.40 358.7 77.3 100 108.40 12.8 persen pada akhir tahun 2009.7 109.70 2001 1.50 2002 1.80 410. Sementara itu.50 1.50 2003 1.80 4.510.534.30 49.80 0.50 8. 2009. BPR Bank Umum Indikator perbankan untuk MDG 8 adalah rasio antara kredit terhadap Dana Pihak Ke ga (LDR) untuk bank umum maupun bank perkreditan rakyat (BPR). Jumlah DPK BPR juga meningkat dari Rp 8.272. 2000 .2.40 2004 1.10 320.112.10 1.0 49.10 595.7 64.30 1.80 3.90 18.3 persen pada tahun 2003 menjadi 109.8 persen pada tahun 2000 menjadi sebesar 72.0 Gambar 8. 2000 – 2009 Sumber: Sta s k Perbankan Indonesia.90 72.1 53.2 dan 8.8 40 20 0 2000 2001 2002 2003 2004 2005 45. Seper ditunjukkan pada Gambar 8.973.127.001 miliar pada tahun 2009.50 2006 1.099.973.60 450 1.80 1.7 69.20 53. Indikator Terpilih untuk Kondisi Bank Umum di Indonesia.287.70 2.90 8.20 64.196.60 1. Loan to Deposit Ra o (LDR dalam persen) di Bank Umum dan BPR.10 61.2 107. Tingkat kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di bank umum rela f membaik pada periode pelaporan.8 2006 2007 2008 2009 Sumber: Laporan Perekonomian Bank Indonesia.986.140 119.70 1.20 19.2.10 20.70 69.

339 25.771 16. memperoleh bagian dalam pertumbuhan perdagangan dunia sesuai dengan kebutuhan pembangunan ekonomi mereka. peraturan yang seimbang dan tepat sasaran.533 21.59 2005 2. Diharapkan permintaan global akan meningkat pada tahun 2010 seiring dengan percepatan pemulihan ekonomi global. dan program peningkatan kapasitas memiliki peranan pen ng. termasuk pendekatan untuk meningkatkan kinerja logis k suatu negara dalam mendukung perdagangan. khususnya yang paling ter nggal. dan dapat diprediksi. 244 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .868 8.009 20.141 12. pembangunan ditempatkan sebagai bahan utama negosiasi. Saat itu. • Kualitas infrastruktur yang terkait perdagangan dan transportasi.719 20.707 11.554 25.73 9. • Kemudahan mengatur pengiriman dengan harga yang kompe • Kompetensi dan kualitas jasa logis k.73 2007 1.37 9. Sehubungan dengan itu. Indikator Terpilih untuk Kondisi BPR di Indonesia. namun kerapuhan pemulihan ekonomi global menegaskan pen ngnya paket s mulus dan perlunya mempertahankan kepas an perdagangan terbuka dan sistem perdagangan mul lateral yang didasari peraturan. Kita akan terus melakukan upaya-upaya posi f yang dirancang untuk memas kan bahwa negara berkembang.654 111. Ke ka Putaran Doha diluncurkan pada tahun 2000. dan hal ini tetap menjadi prioritas.Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan Tabel 8.97 2006 1. Non-Perfoming Loans – NPL (%) Tantangan Kontraksi perdagangan dunia pada tahun 2009 oleh WTO dilaporkan mencapai -12. Faktor-faktor yang menentukan kinerja logis k suatu negara dalam perdagangan adalah sebagai berikut: • Efisiensi proses pengurusan bea cukai dan prosedur perbatasan.552 28.9 Sumber: Sta s k Perbankan Indonesia.85 7.2 7.817 27.880 23.158 16.472 119.168 14. 2003 – 2009 Indikator Jumlah BPR Total Aset (miliar rupiah) Dana Pihak Ke ga (miliar rupiah) Kredit (miliar rupiah) Loan to Deposit Ra o – LDR ( %) 2003 2.98 2008 1.540 109.772 32. para menteri yang berpar sipasi menyatakan bahwa: “Kami berusaha menempatkan kebutuhan dan kepen ngan negara berkembang di jantung Program Kerja yang tertuang dalam Deklarasi ini. f. Delapan tahun setelah negosiasi Putaran Doha. tekanan proteksionis telah dapat dihindari.88 2009 1. perbaikan akses pasar. tantangan yang dihadapi sekarang adalah menyepaka perjanjian yang akan memberikan landasan kuat bagi pemulihan ekonomi global dan pertumbuhan berkelanjutan.773 37. Bank Indonesia (berbagai tahun).741 18.149 108. dukungan teknis yang dibiayai secara berkesinambungan.948 107.161 12. Pada umumnya.3.045 15.393 13.001 109.96 2004 2.46 9.32 7. berbasis peraturan.” Ada berbagai faktor yang berkontribusi pada pengembangan sistem perdagangan yang terbuka.2 persen.6 6.985 101.635 8.

diharapkan seiring dengan meningkatnya efisiensi di perbankan serta berkembangnya sumber-sumber pembiayaan lain yang bersumber dari lembaga keuangan bukan bank. tetapi sebagian besar merupakan kredit modal kerja dan kredit konsumsi. karena minimnya informasi tentang usaha yang dimiliki nasabah. Di samping itu. Connec ng to Compete in Indonesia. Berdasarkan Logis cs Performance Index (Bank Dunia). serta ketepatan waktu pengiriman). Indonesia menduduki peringkat ke-75 secara global terkait indikator kinerja logis k untuk perdagangan internasional. pelacakan dan penelusuran pengiriman.• Kemampuan untuk melacak dan menelusuri pengiriman. 60 World Bank. Meskipun Loan to Deposit Ra o (LDR) memiliki kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. serta pendekatan secara personal dengan memperha kan budaya setempat. (Interna onal LPI). Indonesia menempa peringkat yang lebih nggi pada beberapa komponen LPI (termasuk kemudahan mengatur pengiriman. Akan tetapi. Namun. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 245 . besarnya selisih (spread) antara suku bunga kredit dan simpanan diperkirakan menjadi salah satu penyebab rendahnya penyaluran kredit investasi pada industri perbankan. 2010. Ke depan. logis k. Dari sisi pembiayaan mikro. Rendahnya komposisi kredit investasi dak terlepas dari struktur simpanan pada perbankan yang merupakan dana jangka pendek yang berjangka waktu 1 sampai dengan 3 bulan sehingga berpotensi menimbulkan mismatch di dalam pendanaan yang bersifat jangka panjang. selisih antara ngkat suku bunga kredit dan simpanan dapat ditekan. Terbuka peluang untuk memperbaiki peringkat tersebut. dan jasa pengiriman). kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) menunjukkan kinerja yang membaik. terdapat kecenderungan bahwa BPR lebih fokus kepada nasabah yang bankable. meskipun ketahanan sektor keuangan rela f terjaga. terutama pelabuhan laut. kinerja sektor pelayanan (transportasi. Namun. dan • Frekuensi pengiriman yang sampai ke tangan penerima sesuai jadwal atau waktu yang diharapkan. Survei ini juga mengiden fikasi perlunya memberikan perha an khusus untuk meningkatkan kapasitas bea cukai dan terutama mutu dan standar instansi pemeriksaan. Keunggulan BPR dibandingkan dengan bank umum adalah pelayanannya kepada UMKM dan masyarakat berpenghasilan rendah yang mengedepankan kedekatan dengan nasabah melalui pelayanan langsung (door to door). masih terkendalanya fungsi intermediasi perbankan. dan seluruh infrastruktur logis k. masih terdapat beberapa permasalahan yaitu pertama. survei itu menyoro perlunya Indonesia untuk mengambil ndakan lebih lanjut guna meningkatkan manajemen perbatasan.60 Terjaganya stabilitas ekonomi berdampak pada stabilnya kondisi sektor keuangan.

oleh sebab itu. Prioritasnya adalah memperbaiki akses layanan keuangan dan membangun sektor keuangan yang lebih inklusif untuk mendukung pembangunan nasional dan menanggulangi kemiskinan. 2.Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan Kebijakan dan Strategi Untuk terus mengembangkan keterbukaan sistem perdagangan yang berbasis peraturan. termasuk melalui kebijakan berikut: 1. Meningkatkan upaya untuk melindungi konsumen dan investor. stabil. 246 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . serta produk dari kulit dan alas kaki. Strategi untuk memperkuat kinerja dan stabilitas sektor perbankan mencakup inisia f berikut: 1. Memperkuat kerangka peraturan dan kemudian meningkatkan pengawasan bank umum dan BPR. hasil perikanan dan produk olahannya. Mendorong pemanfaatan berbagai skema perdagangan. pemerintah terus berupaya meningkatkan rasio besarnya ekspor dan impor terhadap PDB sebagai indikator keterbukaan ekonomi melalui peningkatan daya saing produk ekspor nonmigas melalui diversifikasi pasar serta peningkatan keberagaman dan kualitas produk. produk makanan/minuman olahan. Mendorong pengembangan ak vitas perdagangan di daerah perbatasan yang dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang ak vitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. dan kerjasama perdagangan internasional yang lebih menguntungkan kepen ngan nasional. 5. serta permintaan pasarnya besar. dapat diprediksi. mesin dan peralatan listrik. Memperkuat kelembagaan dan pembiayaan perdagangan luar negeri yang mendorong efek vitas pengembangan ekspor nonmigas. Pemerintah Indonesia juga akan terus berusaha mempertahankan sistem perbankan yang sehat. serta 7. Memperkuat kualitas manajemen dan jasa operasional semua lembaga perbankan. pengembangan produk ekspor ke depan akan di kberatkan pada hasil perkebunan dan produk olahannya. kimia dan produk kimia. produk olahan pertambangan. 3. berbasis pada sumber daya alam. Meningkatkan ekspor nonmigas untuk produk-produk yang bernilai tambah lebih besar. Mendorong ekspor produk krea f dan jasa yang terutama dihasilkan oleh usaha kecil menengah (UKM). 3. 6. promosi. dan dak diskrimina f. Mendorong upaya diversifikasi pasar tujuan ekspor untuk mengurangi kebergantungan kepada pasar ekspor tertentu. 2. Berbagai langkah akan dilakukan untuk mencapai tujuan kebijakan ini. teks l dan produk teks l. dan efisien untuk lebih mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional. Meni kberatkan upaya untuk perluasan akses pasar. dan fasilitasi ekspor nonmigas di kawasan Afrika dan Asia. ngkat 4.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan reformasi komprehensif untuk memperkuat landasan perekonomian nasional.12a. Rasio pembayaran pokok utang dan bunga utang luar negeri terhadap penerimaan hasil ekspor (Debt Service Ra o . mengembangkan produk perbankan yang tepat dan ketentuan kredit syariah. Upaya reformasi ini dak hanya memberikan dasar yang kuat bagi Pemerintah untuk melaksanakan kebijakan pemulihan dari krisis. tetapi juga mewujudkan pertumbuhan yang adil. kecil.DSR): Acuan dasar (1996) : 51.89 persen (Kementerian Keuangan) Target (2015) : Penurunan rasio pinjaman luar negeri terhadap PDB 8. c. dan d.00 persen (Bank Indonesia) Saat ini (2009) : 22.00 persen (Bank Indonesia) Target (2015) : Penurunan DSR Status Saat Ini Pada dekade usai krisis ekonomi 1997/98. b. terutama jasa keuangan yang mendukung usaha mikro.59 persen (Kementerian Keuangan) Saat ini (2009) : 10. termasuk pengurangan utang dan penguatan sektor perbankan. Target 8D: Menangani utang negara berkembang melalui upaya nasional maupun internasional untuk dapat mengelola utang dalam jangka panjang Indikator 8. dan menengah. diversifikasi sumber dana pembangunan melalui lembaga keuangan bukan bank (LKBB). Kerjasama bilateral dan mul lateral telah membantu Indonesia menuju pencapaian MDGs bersamaan dengan dicapainya pertumbuhan ekonomi Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 247 . memperbaiki infrastruktur pendukung di lembaga jasa keuangan. memperluas cakupan jasa keuangan.12. Mempercepat intermediasi strategis dan penyaluran dana publik untuk meningkatkan akses ke lembaga jasa keuangan (LJK) bagi kelompok penghasilan rendah melalui inisia f berikut: a. Rasio pinjaman luar negeri terhadap PDB: Acuan dasar (1996) : 24.4.

di mana dampak dari pembayaran pinjaman terhadap perekonomian menurun dan kemampuan fiskal meningkat. 2010.3. yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi. Rasio pembayaran pokok utang dan bunga utang luar negeri terhadap penerimaan hasil ekspor atau Debt Service Ra o (DSR) Indonesia juga turun selama periode yang sama. Penurunan ini mengindikasikan peningkatan kemampuan pemerintah dalam pelunasan pinjaman. Kementerian Keuangan.0 persen pada tahun 1996 dan 248 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Rasio stok utang terhadap PDB turun dari k puncak 89 persen pada tahun 2000 menjadi 30 persen pada tahun 2009 (RPJM Nasional 2010-2014). BI dan Kementerian Keuangan 2010. Pada tahun 2007.89 persen pada tahun 2009 (Gambar 8. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi meningkat lebih cepat dibandingkan utang pemerintah. sehingga tekanan dan beban utang akan berkurang.59 persen pada tahun 1996 menjadi hanya 10. Sedangkan rasio stok pinjaman luar negeri terhadap PDB turun dari 24. Keberhasilan reformasi perekonomian Indonesia dan perbaikan pengelolaan utang pemerintah tercermin dalam tren sta s k indikator MDG yang terkait dengan utang. sambil terus melaksanakan pengelolaan utang dengan baik. Pemerintah secara konsisten terus menekan ngkat utang pemerintah dengan menjaga tambahan utang pokok untuk kebutuhan anggaran dengan ha -ha . Dengan demikian. BI 2008. setelah mencapai puncaknya sebesar 60 persen pada tahun-tahun krisis. Fokus pengelolaan utang pemerintah telah beralih dari masalah administra f menjadi pengelolaan utang melalui penyusunan portofolio dengan memper mbangkan risikonya. Gambar 8. DSR tercatat 19. Sta s k Utang Luar Negeri Indonesia.Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan berkelanjutan yang memungkinkan Pemerintah mengurangi ketergantungan pada pinjaman luar negeri secara berkelanjutan. peningkatan pengelolaan pada kedua sisi mendorong siklus fiskal.4 persen dan 22 persen pada tahun 2009. Perkembangan Pinjaman Luar Negeri Terhadap PDB dan Debt Service Ra o pada Periode 1996-2009 Sumber: Laporan Perekonomian Indonesia.3). Angka pencapaian tersebut sekitar 50 persen dari angka acuan dasar MDG sebesar 51.

Kedutaan Besar Jerman. Departemen Pembangunan Internasional Inggris. Kedutaan Besar Italia. (iii) mendorong dan membantu mitra pembangunan untuk mengiku peraturan dan mekanisme yang ditetapkan Pemerintah. Pemerintah Australia. Pemerintah Polandia. Kedutaan Besar Austria. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 249 . berkomitmen penuh pada prinsip-prinsip peningkatan efek vitas pengelolaan bantuan (Aid Effec veness). (iv) mendukung integrasi bantuan pembangunan dalam APBN. Kepercayaan pasar meningkat. Bank Dunia.mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam memperbaiki kebijakan pengelolaan utang serta menerapkan kebijakan fiskal yang ha -ha . (ii) meningkatkan kepemilikan bantuan pembangunan nasional. Islamic Development Bank. dan Swiss Agency for Development and Coopera on. Program Komitmen Jakarta ini menekankan kepada: (i) meningkatkan pemanfaatan bantuan internasional dalam mendukung pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Pemerintah Indonesia sebagai penandatangan Konsensus Monterrey (2002) dan Deklarasi Paris tentang Aid Effec veness (2005). Indonesia turut berpar sipasi ak f dalam persiapan Forum Tingkat Tinggi Ke ga mengenai Aid Effec veness (2008) ngkat regional. Komitmen Jakarta mendukung upaya Indonesia untuk memaksimalkan efek vitas pengelolaan bantuan luar negeri dalam menyokong pembangunan dan menentukan arah kebijakan untuk mencapai efek vitas pembangunan yang lebih signifikan pada tahun 2014 dan seterusnya. Hal ini lebih jauh mengindikasikan daya tahan Indonesia terhadap dampak krisis keuangan global. adalah: Asian Development Bank. hal ini ditunjukkan dengan penerimaan pasar terhadap surat obligasi internasional pada ngkat suku bunga yang menguntungkan. Peta jalan untuk Aid Effec veness menetapkan visi strategis yang menjadi komitmen Indonesia bersama mitra pembangunan. Kedutaan Besar Norwegia. Selain itu. Kedutaan Besar Perancis. Peningkatan pengelolaan utang juga tercermin pada peningkatan Indonesia dalam hal sovereign credit ra ngs dan klasifikasi risiko negara. Indonesia masih mampu memenuhi kebutuhan pendanaan pembangunan melalui penerbitan surat obligasi pemerintah dan pinjaman luar negeri. Korea Interna onal Coopera on Agency. Pada tahun 2009. Canadian Interna onal Development Agency. dan (v) mendorong mitra pembangunan untuk mengadopsi sistem “tak mengikat”. Kedutaan Besar Swedia. Pemerintah Belanda. United Na ons System in Indonesia. United States Agency for Interna onal Development/ Indonesia. Japan Interna onal Coopera on Agency. l’Agence Française de Développement. Pemerintah juga berkomitmen untuk menjalankan Agenda Aksi Accra serta Konsensus Monterrey (2002). 61 Mitra pembangunan yang menandatangani naskah Komitmen Jakarta. Terlepas dari kondisi pasar modal dunia yang dak menguntungkan dalam beberapa tahun terakhir. Danish Interna onal Development Agency. Pemerintah Jepang. Pemerintah dan 26 mitra pembangunan utama61 menandatangani “Komitmen Jakarta: Bantuan untuk Pembangunan yang Efek f – Peta Jalan Indonesia Menuju 2014”. New Zealand Agency for Interna onal Development. Kedutaan Besar Finlandia. Agenda di dalam peta jalan ini didasarkan pada prinsip-prinsip Deklarasi Paris dan komitmen Agenda Aksi Accra. Delegasi Komisi Eropa. dan Deklarasi Doha tentang Pembiayaan Pembangunan tahun 2008.

dan menurunnya ketersediaan utang mul lateral. meningkatnya kerentanan pasar. tujuan pengelolaan utang jangka panjang untuk menekan biaya pada ngkat yang lebih memadai akan menghadapi tantangan dengan dak tersedianya utang yang lunak. b. 250 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . rendahnya rasa kepemilikan terhadap program yang didanai pinjaman dan hibah dari pihak yang bertanggung jawab atas implementasinya. namun masih ada ruang untuk meningkatkan efek vitas bantuan. prosedur negara donor dak selalu sesuai dengan prosedur pemerintah Indonesia. melalui pencapaian efisiensi pembiayaan dan risiko yang lebih terkelola dalam dinamika pasar finansial. Hal terpen ng yang harus diperha kan Indonesia adalah memaksimalkan efek vitas semua sumber daya yang ditujukan untuk pembangunan. program pembangunan dak selalu berhasil mencapai hasil op mal dan rasa tanggung jawab bersama kadang-kadang dak seper yang diharapkan. ada kebutuhan.Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan Tantangan Kendala utama yang dihadapi Indonesia dalam mengatasi tantangan dan mencapai hasil pembangunan sesuai yang direncanakan bukan hanya kurangnya sumber daya keuangan. yang antara lain terdiri dari: a. Berbagai kajian terhadap program dan proyek yang didanai lembaga keuangan internasional serta komunitas donor menemukan adanya tantangan-tantangan umum dalam meningkatkan efek vitas bantuan di Indonesia. tetapi juga kemampuan untuk memanfaatkan semua sumber daya itu secara efek f. penyusunan program pinjaman dan hibah dak selalu selaras dengan perencanaan dan prioritas pemerintah. dan e. Tantangan portofolio adalah untuk mengalokasikan sumber-sumber secara lebih efek f. sekaligus tantangan untuk mengubah sumber daya yang ada menjadi hasil-hasil pembangunan yang lebih baik. Pemerintah telah berupaya meningkatkan efek vitas penggunaan hibah dan pinjaman luar negeri dalam memberikan dukungan terhadap pencapaian tujuan pembangunan nasional. Sejak utang pemerintah menjadi sumber alterna f bagi pendanaan pembangunan. Oleh karena itu. adanya kelemahan dalam mendukung sistem informasi manajemen serta sumber daya manusia yang ditugaskan untuk mengelola informasi mengenai program-program pembangunan. d. Mempertahankan portofolio utang saat ini juga merupakan salah satu fokus dalam menghadapi tantangan keterbatasan sumber dana. c. termasuk bantuan luar negeri.

• Kepemilikan nasional terhadap program-program yang didanai pinjaman dan hibah luar negeri di ngkatkan. tujuan. mitra bilateral maupun lembaga kredit komersial.63 Tiga komponen utama Komitmen Jakarta adalah sebagai berikut: 62 63 Komitmen Jakarta: Efek vitas Bantuan Pembangunan – Peta Jalan Indonesia Menuju 2014 (Januari. • Perbaikan lebih lanjut dilakukan pada peraturan dan undang-undang yang mengatur pinjaman dan hibah luar negeri. termasuk MDGs. pengetahuan. dari perencanaan. Komitmen ini mewajibkan pemerintah beserta mitra pembangunan untuk menyediakan sumberdaya. • Perbaikan mekanisme koordinasi kelembagaan. pelaksanaan. sampai ke monitoring dan evaluasi.a4des. serta akuntabilitas dan akan dilaksanakan agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar dalam pencapaian tujuan pembangunan Indonesia. Teks lengkap tersedia di website Secretariat for Aid Effec veness in Jakarta: h p://www. transparansi.org/ Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 251 . demikian juga penerapan prosedur nasional untuk mengelola dana internasional. • Memperkuat kapasitas pemerintah untuk mengelola penyusunan program dan pemanfaatan dana pembangunan secara efek f. Pinjaman luar negeri akan digunakan sebagai salah satu sumber pembiayaan yang terdiri dari pinjaman program (program loan) atau pinjaman proyek (project loan) berasal dari lembaga keuangan mul lateral. Prioritas Pemerintah dalam pengelolaan pinjaman dan hibah dari lembaga mul lateral dan bilateral untuk tahun-tahun mendatang adalah sebagai berikut: • Pinjaman dan hibah luar negeri digunakan untuk mendukung pencapaian prioritas. • Upaya kon nyu dilakukan untuk mengurangi rasio pinjaman luar negeri terhadap PDB dengan tetap menjaga kondisi nega ve net transfers. Berikut ini adalah ringkasan yang diadaptasi dari naskah Komitmen Jakarta. Hal itu merupakan pengakuan bersama antara pemerintah dan mitra pembangunan untuk meningkatkan efek vitas pendanaan luar negeri di Indonesia. dan sasaran nasional sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan komitmen Indonesia untuk mencapai Millennium Development Goals (MDGs). dan kapasitas yang tepat untuk melaksanakan Komitmen Jakarta.Kebijakan Strategi Indonesia telah meningkat ke status Lower Middle Income Country (LMIC) dan dak lagi berhak untuk menerima pinjaman lunak berjangka panjang dari lembaga pemberi pinjaman mul lateral. Komitmen Jakarta62 didasarkan pada semangat saling menghorma . 2009). dukungan. dan akuntabilitas akan dilakukan di semua tahapan.

program tanggung jawab sosial perusahaan. termasuk dengan sektor swasta dan masyarakat sipil untuk mendukung upaya-upaya pembangunan dan untuk menjamin keberlanjutan kedudukan Indonesia tersebut. pemerintah akan merumuskan tujuan dan sasaran pengembangan kapasitas melalui rencana sektor dan strategi tema snya dan para mitra pembangun-an akan mendukung Indonesia untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Dalam konteks dana amanat mul donor (MDTF) seper halnya yang sekarang ada. Pemerintah akan melakukan penganekaragaman sumberdaya sumberdaya pembangunannya dengan memasukkan sumber-sumber pembiayaan alterna f bagi pembangunan – antara lain kemitraan pemerintah dan sektor swasta.   Seiring dengan upaya Indonesia untuk terus memajukan dan mengkonsolidasikan kedudukannya sebagai negara berpenghasilan menengah. Melihat besarnya tantangan pembangunan yang dihadapi Indonesia kebutuhan akan bantuan luar negeri. Membangun Kemitraan Pembangunan yang Lebih Efek f dan Inklusif Indonesia sangat menghargai sumber daya pembangunan yang disumbangkan mitranya dalam pembangunan di Indonesia. Untuk meningkatkan kapasitas. 252 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . serta investasi dan perdagangan luar negeri. dana-dana yayasan-yayasan dalam dan luar negeri. Memperkuat Kepemilikan Negara atas Pembangunan Pemerintah dan mitra pembangunan sepakat untuk lebih menyelaraskan diri secara lebih menyeluruh dengan program-program dan sistem-sistem pemerintah. Pemerintah Indonesia bertekad untuk bekerja keras memperkuat kerangka bantuan internasional sedemikian rupa hingga dapat meningkatkan daya tanggap pemerintah atas kebutuhan Indonesia dan negara berkembang lainnya. 2. kemungkinan besar akan terus berlanjut selama kurun waktu jangka menengah ke depan. kerjasama secara erat dengan para mitra pembangunan akan terus dilaksanakan.Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan 1. pemerintah dan para mitra pembangunan akan bekerjasama untuk melakukan penyelarasan dengan sistem-sistem pemerintah. Pemerintah Indonesia dan para mitra pembangunannya bertekad terus memperkuat proses dan kelembagaan regional yang memfasilitasi kerjasama Selatan-Selatan. terutama dalam hal bantuan teknis. termasuk melakukan langkah pertama yaitu penyelarasan sistem pelaporan.

Sekretariat A4DES telah membentuk enam Kelompok Kerja tema k yang beranggotakan wakil-wakil dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. membahas pencapaian dan tantangan. serta memantau implementasi peta jalan Komitmen Jakarta. (iv) pengembang-an mekanisme pembiayaan. Kementerian Dalam Negeri. Kelompok kerja ini berfungsi sebagai forum untuk berbagi informasi. (vi) pembangunan kapasitas dan manajemen pengetahuan. (v) monitoring dan evaluasi. Kelompok Kerja tema k menangani isu-isu dan merumuskan rekomendasi kebijakan yang berkaitan dengan: (i) pengadaan. Kementerian Keuangan. Kementerian Luar Negeri. dan mencapai kesepakatan tentang langkah-langkah umum yang akan diambil untuk sepenuhnya mencapai tujuan Komitmen Jakarta. Pemerintah telah membentuk Sekretariat Aid for Development Effec veness (A4DES) untuk mendukung pelaksanaan Komitmen Jakarta dan memas kan bahwa lembaga-lembaga pemerintah memiliki kapasitas memadai untuk memegang kepemilikan penuh dan memimpin proses koordinasi dan pengelolaan bantuan. Sekretariat merespons kebutuhan kebijakan yang diiden fikasi oleh organisasi kunci pengambil keputusan dan mendukung. memfasilitasi. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Prinsip-prinsip kunci operasional A4DES adalah bahwa sekretariat ini dipimpin oleh pemerintah sekaligus juga terlibat penuh dengan mitra pembangunan dan para pemangku kepen ngan dari pemerintah. (ii) pengelolaan keuangan publik. mengkoordinasikan. (iii) dialog dan pengembangan kelembagaan. Kementerian Sekretariat Negara. Melaksanakan Pembangunan dan Bertanggung Jawab atas Hasil-Hasilnya Pemerintah dan mitra pembangunan akan secara bersama-sama melaksanakan njauan berkala atas kemajuan pelaksanaan komitmen-komitmen dan keefek fan bantuan pembangunan dan hasil pembangunan yang makin baik melalui mekanisme objek f di ngkat negara. dan perwakilan mitra pembangunan penandatangan Komitmen Jakarta. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 253 .3.

Elec on MDP. sekretariat sebuah MDTF dibantu oleh Trustee yang diberikan kepercayaan oleh governance MDTF dalam mengelola Trust Fund tersebut. telah disusun opera onal manual. Pemerintah Indonesia berharap untuk menggunakan MDTF ini sebagai salah satu mekanisme pembiaya-an pembangunan nasional. Dalam melaksanakan PSF tersebut telah dibentuk JMC sebagai forum pengambil keputusan dan beranggotakan negara-negara donor yang memberikan kontribusi lebih besar dari USD1 juta. pemerintah berupaya untuk membentuk kelembagaan yang dapat mempertanggungjawabkan kegiatan yang akan dibiayai. Dalam rangka tersebut. 2/2006. dan PSF-PNPM (Penanggulangan Kemiskinan).Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan Kotak 8. JRF (pemulihan pascabencana di Yogyakarta dan Jawa Tengah). dan Uni Eropa. serta manual proses administrasi. dan sekretariat. Melalui pembelajaran terhadap MDTF yang telah dibentuk tersebut. Sebagai pelaksana harian. Selain PSF-PNPM ini. untuk menyesuaikan dengan proses dan mekanisme pengelolaan hibah sesuai dengan PP No.1. 254 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Komite Teknis. MDTF dapat dijadikan wadah oleh para mitra pembangunan dalam memberikan kontribusi untuk membiayai kegiatan yang menjadi prioritas pembangunan nasional. Mul Donor Trust Fund Mul Donor Trust Fund (MDTF) merupakan salah satu bentuk penyaluran hibah kepada pemerintah yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan efek vitas pelaksanaan kegiatan pembangunan. MDTF yang dibentuk pada umumnya mempunyai kelembagaan terdiri dari Komite Pengarah. Struktur kelembagaan tersebut disusun beserta mekanisme pengambilan keputusannya yang dituangkan ke dalam Standard Opera ng Procedure (SOP) yang ditetapkan di dalam surat keputusan komite pengarah. PSF atau PNPM Support Facility Trust Fund dibentuk untuk membantu meningkatkan manajemen pengelolaan PNPM Mandiri (lihat Kotak 1. pembiayaan kegiatan yang telah menjadi prioritas tersebut dapat dilakukan dengan lebih terintegrasi dan sinergis. DSF (desentralisasi). semua kegiatan yang diputuskan dibiayai oleh MDTF dapat dipertanggungjawabkan (accountable) dan diputuskan secara transparan. Untuk itu. Inggris. Untuk meningkatkan kemampuan lembaga nasional dan meningkatkan ownerships dari kegiatan yang didanai melalui MDTF. peran trustee MDTF masih banyak dilakukan oleh lembaga internasional karena kemampuan mereka untuk mengelola dana hibah internasional. Sampai saat ini. Untuk landasan pelaksanaan PSF.2). pemerintah Indonesia sedang berupaya untuk mempersiapkan lembaga nasional sebagai salah satu lembaga yang berpotensi sebagai trustee dalam mengelola MDTF nasional. Dengan menggunakan fasilitas MDTF. Negara donor yang telah bergabung dalam PSF adalah Australia. sampai saat ini pemerintah Indonesia telah berhasil membentuk Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) untuk menampung dana hibah yang digunakan untuk membiayai penanggulangan kemiskinan (lihat Kotak 7. Dalam pelaksanaan Mul Donor Trust Fund (MDTF). pada tahun 2007 Pemerintah indonesia telah menunjuk Bank Dunia sebagai trustee melalui MoU antara Pemerintah Indonesia dengan Bank Dunia pada tahun 2007.1). PSF portofolio yang menjelaskan tentang 4 (empat) kelompok (windows) kegiatan dalam PSF agar mempermudah donor dan calon donor untuk bergabung. serta Amerika Serikat yang baru saja akan bergabung. Belanda. ICCTF (Perubahan iklim). Beberapa MDTF yang telah berhasil dibentuk antara lain adalah MDFAN (pemulihan pascabencana di Aceh dan Nias).

Termasuk layanan fixed wireless access (FWA) Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 255 . Prakarsa yang tengah dijalankan mencakup upaya peningkatan infrastruktur TIK. Tujuan ini antara lain melipu : (i) layanan komunikasi telepon suara dasar bagi masyarakat (“Layanan Universal”).65 persen (Kementerian Komunikasi dan Informa ka) 8.51 persen (Badan Pusat Sta s k) Target (2015) : 50 persen penduduk dengan akses internet pada tahun 2015 8. Komputer Pribadi (PC): Saat ini : 8. Akses Internet: Saat ini (2009) : 11. pengembangan kapasitas bagi pengguna TIK. dan (ii) lima puluh persen penduduk dengan akses internet pada tahun 2015.15.14. Memiliki jaringan PSTN (kepadatan fasilitas telepon tetap per jumlah penduduk)64: Acuan dasar (2004) : 4.17. dan penetapan peraturan/ kebijakan yang memungkinkan pencapaian tujuan yang disepaka dalam KTT Dunia tentang Masyarakat Informasi.32 persen (Badan Pusat Sta s k) Status Saat Ini Pemerintah berkomitmen untuk memperluas kerja sama dengan sektor swasta guna memas kan bahwa semua penduduk Indonesia dapat memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam membangun Masyarakat Informasi yang inklusif.Target 8F: Bekerjasama dengan swasta dalam memanfaatkan teknologi baru.02 persen (Kementerian Komunikasi dan Informa ka) Saat ini (2009) : 3. terutama teknologi informasi dan komunikasi Indikator Proporsi penduduk yang: 8. 64 65 Berdasarkan laporan dari Kementerian Komunikasi dan Informa ka 2010.41 persen (Kementerian Komunikasi dan Informa ka) Target (2015) : 100 persen orang Indonesia memiliki akses telepon Proporsi rumah tangga dengan: 8.79 persen penduduk (Kementerian Komunikasi dan Informa ka) Saat ini (2009) : 82.16. Memiliki Telepon Seluler65: Acuan dasar (2004) : 14.

41 persen penduduk Indonesia pada tahun 2009. Perluasan penggunaan PC masih jauh lebih lambat dibanding telepon seluler karena rela f ngginya harga PC dan diperlukannya kompetensi minimum untuk menggunakannya.51 persen dari total rumah tangga nasional. meningkat lima kali lipat dari ngkat penetrasi 14. penggunaan telepon seluler juga tumbuh bahkan dengan ngkat yang jauh lebih cepat daripada PSTN. Meskipun persentase pelanggan PSTN turun pada periode 2004-2009 dari 4.65 persen pada tahun 2009. Telepon Selular Telekomunikasi di Indonesia telah berkembang pesat selama masa pascakrisis. pemerintah. pemerintahan. Gambar 8. Tantangan Salah satu tantangan utama di masa depan adalah menjembatani kesenjangan dengan meningkatkan infrastruktur telekomunikasi untuk menyediakan akses pita lebar (broadband) di seluruh Indonesia. meskipun penggunaan komputer merupakan hal biasa di dunia bisnis. Pada tahun 2009 jumlah pengguna internet telah meningkat menjadi 11.Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan Gambar 8. Bagi bangsa yang besar dan begitu majemuk seper Indonesia. Akses internet telah berkembang pesat sejak tahun 1998 ke ka diperkirakan hanya 512. lembaga swadaya masyarakat. komunikasi TIK memainkan peran sangat strategis dalam perdagangan.79 persen pada tahun 2004.02 persen pada tahun 2004 menjadi 3. dan masyarakat 256 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .32 persen keluarga yang memiliki PC pada tahun 2009.4 menggambarkan pesatnya peningkatan persentase penduduk yang memiliki telepon seluler dalam beberapa tahun terakhir dibandingkan dengan lambatnya pertumbuhan penggunaan PSTN. Hanya sekitar 8. Persentase Penduduk yang Memiliki PSTN dan telepon Seluler pada Periode 2004-2009 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 2004 2005 PSTN 2006 2007 2008 2009 Sumber: Kementerian Komunikasi dan Informa ka.4.000 orang Indonesia yang mampu memanfaatkan layanan ini. 2010. dan organisasi masyarakat. Penetrasi telepon seluler dies masikan mencapai 82.

dengan ngkat penggunaan terendah dapat ditemukan di kawasan mur Indonesia (lihat Gambar 8. komputer. Infrastruktur dan penggunaan internet berkembang pesat di kota-kota besar. termasuk MDG. Infrastruktur nasional pendukung telekomunikasi yang ada berbasis sistem satelit. Dalam rangka menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi semua investor. Sebagai akibatnya. Susenas. Peningkatan nilai investasi dalam industri TIK tersebut menuntut penciptaan lingkungan penyelenggaraan yang lebih kompe f serta lingkungan yang lebih kondusif bagi kerja sama industri TIK. Perkembangan investasi dalam industri TIK telah melebihi dari yang diharapkan. dan perangkat aplikasi.5. produsen peralatan dan solusi pengguna. dan jaringan kabel bawah tanah.5). Sebagian besar daerah terpencil belum memiliki akses TIK modern dan kualitas akses di kebanyakan daerah masih rendah. 40 35 30 Gambar 8. namun peningkatan kualitas sumber daya manusia tetap dilakukan secara luas untuk meningkatkan ngkat TIK literasi (e-literasi) nasional. pemerintah akan memperkuat kerangka peraturan bagi investor dan menyelaraskan peraturan pemerintah pusat dan daerah mengenai Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 257 . dan internet antarwilayah. akses nirkabel. masih terdapat kesenjangan yang lebar dalam hal penggunaan telepon.sipil. 2009. termasuk penyedia layanan bagi pengguna. perangkat lunak. Kebijakan dan Strategi Pemerintah berkomitmen untuk mempromosikan investasi sektor swasta untuk mencapai tujuan pembangunan nasional. terutama di kawasan mur Indonesia. Kesadaran dan kapasitas untuk menggunakan TIK secara efek f juga berkembang dengan pesat. Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Komputer dan Akses Internet Menurut Provinsi (2009) Persentase 25 20 15 10 5 0 Sulawesi Barat Nusa Tenggara Timur Lampung Sulawesi Tengah Nusa Tenggara Barat Kalimantan Barat Sulawesi Tenggara Maluku Utara Kalimantan Tengah Maluku Jambi Aceh Papua Barat Papua Sulawesi Selatan Sumatera Utara Jawa Tengah Sumatera Selatan Kalimantan Selatan Gorontalo Jawa Timur Bangka Belitung Sulawesi Utara INDONESIA Bengkulu Jawa Barat Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Bali Banten Kalimantan Timur DI Yogyakarta DKI Jakarta Komputer Internet Sumber: BPS. tetapi infrastruktur pendukung jauh lebih terbatas di daerah pedesaan. khususnya di kalangan UKM.

Pemerintah sedang mengembangkan kerangka kebijakan pemanfaatan Dana TIK (ICT Fund) sebagai sumber daya untuk pembangunan Palapa Ring pada khususnya dan jaringan broadband pada umumnya. • Penyediaan Broadband Wireless Access (BWA). 32. hal itu diharapkan dapat menjadi langkah yang signifikan dalam meningkatkan akses informasi bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada akhir 2010. Oleh karena itu. Perbaikan Infrastruktur TIK: • Program Palapa Ring. Saat ini penduduk di pusat kota besar di Indonesia memiliki akses TIK yang jauh lebih baik. Pada saat yang bersamaan.748 kecamatan akan terhubung dengan internet. pemerintah memiliki kebijakan untuk mendorong penyediaan informasi bagi seluruh lapisan masyarakat. Walaupun kualitas akses yang disediakan bagi banyak desa pada awalnya masih terbatas. Perha an khusus akan diberikan pada pembangunan jaringan serat op k pita lebar (broadband) guna memperlancar komunikasi ke semua provinsi di kawasan mur Indonesia. Oleh karena dana pembangunan yang dimiliki konsorsium terbatas. Konsorsium tersebut berkomitmen untuk menanam kabel bawah laut dan kabel bawah tanah sepanjang kurang lebih 4. Dua penyedia layanan dipilih untuk masingmasing area yang termasuk dalam 15 area layanan BWA yang ditentukan. pemerintah akan terus bekerja sama dengan sektor swasta untuk mengimplementasikan empat komponen pen ng cetak biru TIK yang komprehensif di Indonesia: 1. Mereka sepakat untuk memanfaatkan teknologi WiMAX untuk memas kan kompa bilitas semua layanan yang diberikan guna memaksimalkan layanan bagi semua pengguna.Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan investasi. 258 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .450 kilometer selama lima tahun mendatang sebagai bagian dari program untuk menyediakan landasan bagi infrastruktur pita lebar berkualitas dalam rangka memperluas akses pengguna terhadap semua sarana komunikasi di seluruh Indonesia.948 desa di Indonesia akan terhubung dengan dunia melalui komunikasi telepon dan 5. Diharapkan agar sektor swasta dapat menjadi mesin untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen per tahun. Dengan peningkatan akses informasi. masyarakat akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi ekonomi dan mengakses layanan publik. Pemerintah juga akan memperluas kerja sama langsung dengan sektor swasta melalui kemitraan publik-swasta seraya mendukung pengembangan zona ekonomi khusus untuk produk-produk tertentu. termasuk di daerah terpencil dan terisolasi. Tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) juga akan didorong untuk memberikan kontribusi pada pencapaian tujuan masyarakat. Pada tahun 2009 pemerintah mengadakan tender bagi sektor swasta untuk lisensi pengadaan layanan BWA di seluruh Indonesia selama sepuluh tahun ke depan. Pemerintah akan bekerja sama dengan konsorsium penyelenggara untuk memperkuat infrastruktur komunikasi di Indonesia. Pemerintah bertujuan mengubah masyarakat Indonesia menjadi masyarakat informasi yang digerakkan oleh arus informasi yang bebas. Pembangunan ini akan dilakukan pada bagian yang dak dikembangkan oleh sektor swasta. Para pemenang tender kemudian membentuk konsorsium yang diberi nama Konsorsium Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX).

Pengenalan layanan WiMAX di seluruh Indonesia diharapkan dapat memberikan landasan bagi pemanfaatan teknologi ini oleh semakin banyak pengguna. Layanan CAP melipu (i) akses ke telepon dan faksimili. Selanjutnya.• Implementasi 3G. Pada akhir 2014 ngkat penetrasi TV digital dies masi sudah mencapai 35 persen dan semua siaran televisi di Indonesia diharapkan akan beralih ke format digital pada tahun 2018. (iv) layanan Informasi lainnya. serta mendukung berbagai aplikasi inova f. • Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Informasi dan Transaksi Elektronik (RPP PITE) mendorong tumbuhnya industri TIK Dalam Negeri melalui persyaratan penempatan pusat data dan pusat pemulihan data elektronik (disaster recovery data center) di tanah air bagi penyelenggara sistem elektronik untuk layanan Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 259 . • Peralihan ke Televisi Digital. Dalam periode 2006-2009. Sejak saat itu. Selain itu. mengembangkan perekonomian. Pembangunan Industri TIK: • Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. (v) layanan yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat (transaksi bisnis. (iii) transaksi elektronik. Penggunaan televisi digital di Indonesia akan didukung dengan memperkuat infrastruktur pita lebar nasional. (ii) akses email. Salah satu operator seluler meluncurkan layanan 3G di Indonesia pada tahun 2006. Jawa Barat. termasuk 222 lokasi di 3 provinsi yaitu Lampung. dan (vi) pendidikan keahlian yang sejalan dengan perlengkapan yang tersedia di CAP. 2. dan (iv) nama domain serta perbuatan-perbuatan yang dilarang. antara lain Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure dan Badan Pengawas Ser fikasi Elektronik. dan Banten. Undang-undang ini antara lain mengatur: (i) penggunaan dokumen dan/atau informasi elektronik. Pemerintah secara bertahap mengembangkan CAP yang merupakan fasilitas bagi masyarakat perdesaan untuk melakukan komunikasi dan mengakses informasi melalui sarana telekomunikasi dan internet. pada akhir tahun 2014 ngkat penetrasi internet diharapkan sudah mencapai 50 persen dan layanan broadband mencapai 30 persen. Indonesia akan beralih ke televisi digital untuk meningkatkan kualitas transmisi dan efisiensi pemanfaatan spektrum frekuensi radio. meningkatkan pelayanan publik. dan dua penyedia layanan lain juga menawarkan layanan 3G. pemerintah telah membangun CAP di 204 lokasi di seluruh Indonesia. (iii) akses internet. 75 persen kabupaten/kota sudah dilewa jaringan broadband. dan kesejahteraan rakyat sekaligus melindungi konsumen. sosial dan budaya). pemerintah akan membangun 249 CAP dalam periode 2010-2014. untuk mendorong implementasi e-bisnis. Pemerintah memperkuat infrastruktur dan kelembagaan. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 diharapkan dapat memberikan landasan hukum yang akan memperluas pemanfaatan informasi dan industri elektronik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam rangka pembelajaran TIK dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penyedia layanan akan meningkatkan upaya pemasaran layanan seluler mutakhir ini. 7 persen pelanggan seluler telah menggunakan layanan 3G. (ii) tanda tangan elektronik. • Pembangunan Community Access Point (CAP). • Merujuk kepada RPJMN 2010-2014.

dsb). untuk mencapai alokasi sumber daya dan barang kebutuhan publik yang lebih efisien.Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan publik. Kovergensi TIK juga membuka peluang bagi tumbuhnya industri konten digital dalam negeri melihat saat ini pengguna telpon genggam di tanah air sudah mencapai 170 juta nomor. dan memperkuat hubungan antarwarga negara. dalam rangka meningkatkan transparansi. Konvergensi TIK merupakan akibat dari perkembangan teknologi digital dan protokol internet. • Melaksanakan strategi e-government yang berfokus pada aplikasi-aplikasi yang ditujukan untuk berinovasi dan meningkatkan transparansi dalam administrasi publik dan proses demokrasi. • Pada akhir periode RPJMN 2010-2014. meningkatkan efisiensi. dan efisiensi di semua ngkatan pemerintahan. Selain itu. • Undang-Undang Konvergensi TIK. Pemerintah merevisi UU Telekomunikasi tahun 1999 untuk mencakup faktor konvergensi. TIK akan digunakan sebagai instrumen untuk menata kembali penyediaan layanan umum bagi seluruh masyarakat Indonesia. di semua ngkatan. Pemerintah terus berupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk mempromosikan investasi sektor swasta di bidang TIK. akuntabilitas. 3. Selain itu RPP PITE juga mensyaratkan pemanfaatan Penyelenggara Ser fikasi Elektronik nasional untuk sektor pemerintah. • Mendukung prakarsa kerja sama internasional di bidang e-government. • Penerapan e-budge ng oleh instansi pemerintah akan meningkatkan transparansi dan efisiensi perencanaan dan penganggaran pemerintah. disesuaikan dengan kebutuhan warga negara dan dunia usaha. Undang-undang Kovergensi TIK ini dimaksudkan untuk memberikan landasan hukum bagi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang demikian cepat. Pemerintah sedang mengembangkan RPP Penyelenggaraan Sistem Elektronik di Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah sebagai landasan hukum pengembangan e-government.4 (kategori baik). • Iklim Investasi. E-Government: Berbagai keputusan dan peraturan pemerintah telah dikeluarkan untuk mendukung prak k-prak k inova f e-government melalui kemitraan pemerintah-swasta dan kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah serta penyedia layanan sektor swasta. layanan publik yang se daknya 260 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . • Mengembangkan inisia f dan layanan e-government secara nasional. PC. Laptop. Pembuatan Taman Tekno akan menjadi salah satu instrumen untuk mempromosikan investasi di sektor pen ng ini secara langsung. dan • Pemerintah akan merumuskan Na onal e-Government Master Plan in 2010 dan se ap instansi pemerintah akan diminta menyiapkan e-Government Master Plan sendiri dengan merujuk kepada master plan nasional tersebut. Telah direncanakan bahwa: • E-services dan e-procurement akan diterapkan oleh seluruh instansi pemerintah. indeks e-government nasional diharapkan sudah mencapai angka 3. di mana beragam konten digital dapat dilewatkan dalam satu saluran/pipa dan ditampilkan dalam berbagai macam peralatan TIK (telpon genggam.

Pusat pendidikan TIK akan dijalankan untuk mempromosikan penerapan TIK dalam rangka mendukung penguatan UKM dan peningkatan akses UKM ke berbagai pasar.Jardiknas. 66 Saat ini. E-Educa on di bawah Kementerian Pendidikan Nasional: Jaringan pendidikan nasional (www. sistem ser fikasi profesional TIK akan disiapkan dan sistem pengembangan karier bagi sumber daya manusia TIK akan dipromosikan. 12 Pusdiklat Guru. dan cetak biru pembangunan TIK bidang pendidikan akan disiapkan. dunia usaha. 32 Universitas. lembaga pendidikan nggi guna mendukung kegiatan peneli an dan pengembangan (INHERENT).66 Di masa depan jaringan ini akan diperluas dan inisia f e-educa on akan diperkuat melalui: (i) legalisasi perangkat lunak pendidikan. Pela han ini akan difokuskan pada penerapan TIK untuk meningkatkan pelayanan publik dan akan dilaksanakan baik di pusat pela han milik pemerintah maupun di luar pemerintah. 3. 21 unit kerja Kemdiknas. dan perizinan (e-licensing) juga sudah dapat diakses secara online. baik di ngkat manajerial maupun di kalangan pendidik/guru. 30 Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan.net) dibentuk untuk memadukan TIK dengan proses pembelajaran. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 261 .500 sekolah di seluruh Indonesia. pengadaan (e-procurement). dan masyarakat seper dijelaskan di bawah ini: 1. meningkatkan manajemen pendidikan. Pengembangan sumber daya manusia TIK akan difokuskan pada kelompok sasaran di dalam pemerintahan. 17 Pusat Studi Bahasa. Tingkat kesiapan lembaga pendidikan dalam menerapkan e-educa on dan e-learning akan dikaji. 2.melipu layanan kependudukan (e-ci zen). Untuk mendukung ekspansi bisnis TIK yang begitu pesat. 13 Pusat TIK . lembaga pendidikan. dan (iv) pemba-ngunan sumber daya manusia TIK. (ii) perluasan aplikasi e-educa on dalam pendidikan formal dan nonformal. dan 6. Kapasitas e-government akan di ngkatkan bagi semua departemen di ngkat pusat maupun daerah dengan membangun kesadaran dan kompetensi TIK di kalangan pejabat dan penyediaan pela han khusus bagi petugas TIK yang ditunjuk. 17 Pusat Teknologi Komunikasi. Jardiknas menghubungkan 33 dinas pendidikan provinsi. dan guru serta siswa untuk meng-akses informasi dan mendukung interaksi (TeacherNet dan StudentNet). sekolah untuk mengakses informasi dan e-learning (SchoolNet). 441 dinas pendidikan kabupaten dan kota. Pembangunan kapasitas TIK akan dilakukan melalui model kemitraan publik-swasta untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga semua pihak yang terlibat dapat merasakan manfaatnya. 4. dan memanfaatkan TIK dalam peneli an dan pengembangan pendidikan. Kapasitas e-educa on akan dikembangkan di semua lembaga pendidikan. Jardiknas adalah Wide Area Network (WAN) dengan empat zona hubungan: kantor administrasi (DiknasNet). (iii) penggunaan internet untuk kampanye pendidikan.

infrastruktur e-Government termasuk sebagai salah satu infrastruktur yang memenuhi syarat untuk kemitraan pemerintah-swasta. Proyek percontohan penerapan TIK akan dijalankan di masyarakat. Dukungan perbaikan infrastruktur untuk mendukung kegiatan e-community. Dalam Peraturan Presiden RI Nomor 13 Tahun 2010 tentang Kemitraan Pemerintah dan Swasta. Bantuan khusus akan diberikan untuk membangun kemitraan strategis dalam penerapan TIK di ngkat masyarakat.Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan 4. termasuk menghubungkan berbagai pusat informasi dengan jaringan nasional. dan model-model yang sukses akan dicontoh. akan diberikan. 262 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .

Lampiran .

84 22.54 66.16 22.1 16.55 23.05 60.96 3.5 24.19 29.39 64.51 8.13 62.27 8.57 1.87 61.6 19.92 67.00 58.98 3.53 17.13 8.34 58.23 26.3 12.49 31.51 1.41 1.77 5.08 8.5 18.65 8.68 15.20 2.69 8.79 56.14 6.9 17.3 13.75 57.07 2.36 10.63 8.66 12.04 72.0 8.6 3.75 9.4 18.56 71.28 30.17 9.7 6.21 23.5 12.95 34.66 9.26 9.93 26.3 14.30 55.7 12.43 63.9 5.19 75.4 10.68 15.2 14.20 24.73 18.91 14.8 27.03 9.36 26.75 28.96 13.00 18.35 16.99 60.31 9.5 22.86 14.66 9.71 3.74 14.06 57.76 53.7 11.1 9.54 17.4 3.02 36.63 26.98 38.5 18.38 3.03 59.10 11.06 2.51 56.22 20.8 33.56 16.84 28.56 27.3 8.22 32.7 17.8 23.23 32.6 11.37 9.91 26.86 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia Provinsi Susenas 2010 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA .11 20.32 0.71 16.16 26.2 15.21 27.02 69.42 8.8 13.05 23.01 65.8 8.4 27.1 8.02 37.74 5.8 5.0 2.94 27.2 21.24 31.46 58.51 56.83 15.64 14.29 61.77 58.7 20.34 14.74 9.71 8.48 9.16 4.75 11.20 37.30 59.61 61.65 27.21 60.03 49.68 8.47 8.02 6.88 1.44 55.93 8.22 9.30 30.26 7.69 11.9 3.55 18.95 58.33 Indikator MDGs Penduduk di bawah garis kemiskinan nasional (%) Kecukupan konsumsi kalori (Kkal) < 2000 Susenas 2009 52.57 8.14 9.2 8.8 6.34 15.6 13.50 8.74 9.58 61.2 26.8 14.88 36.07 9.2 18.75 29.47 5.42 34.14 10.47 Rasio pekerja terhadap penduduk > 15 tahun (%) Tingkat pengangguran usia muda (15-24 tahun) (%) Persentase balita kekurangan gizi Kecukupan konsumsi kalori (Kkal) < 1400 Pekerja bebas & keluarga / total penduduk yang bekerja 20.02 19.25 1.49 50.07 17.1 18.9 7.50 9.96 17.02 0.6 22.77 62.80 13.0 16.06 59.26 9.00 64.61 63.77 10.75 14.2 21.Lampiran 1 : Ringkasan Status Indikator MDGs Menurut Provinsi 264 Indeks Kedalaman Kemiskinan / P1 (%) Konsumi penduduk termiskin (%) Persentase balita gizi kurang Persentase balita gizi buruk Susenas 2009 4.9 12.44 59.46 32.72 9.5 16.0 2.44 4.34 20.19 13.4 14.10 20.4 5.50 9.9 11.0 10.9 18.50 65.4 16.77 57.73 1.11 66.40 30.59 1.6 12.97 9.27 16.9 17.51 8.55 4.88 21.0 16.86 16.4 8.85 63.0 11.34 21.63 12.52 2.59 2.19 66.01 65.29 21.3 6.4 15.3 15.96 63.4 12.15 15.80 16.2 10.53 35.95 2.4 25.80 24.21 7.6 5.6 17.4 24.57 18.04 68.31 8.43 20.52 59.7 4.43 21.90 18.4 4.2 4.46 1.7 8.9 15.6 11.2 16.05 63.8 4.3 12.1 6.21 9.29 7.30 18.60 17.3 6.0 10.07 11.09 2.08 56.2 13.01 37.36 69.84 9.19 9.92 1.44 9.49 25.74 19.10 18.5 6.09 14.14 1.15 4.92 67.7 9.73 54.34 71.96 29.44 14.4 Susenas 2009 Sakernas 2009 Sakernas 2009 Sakernas 2009 Riskesdas 2007 Riskesdas 2007 Riskesdas 2007 Susenas 2009 12.73 67.0 9.03 0.75 64.48 11.35 9.55 1.94 6.66 9.47 18.61 60.98 11.08 3.7 4.91 15.17 20.66 74.89 71.45 67.31 16.05 3.5 15.5 4.31 40.4 18.89 9.94 1.48 15.75 24.97 32.13 15.88 13.22 69.82 13.4 6.05 12.62 63.8 22.94 32.58 27.49 13.70 8.33 32.40 8.7 24.28 60.6 22.7 25.89 31.1 11.36 63.58 9.2 8.75 9.27 9.02 22.5 8.34 74.2 16.10 9.09 50.

49 112.45 101.95 99.82 99.01 100.05 30.96 100.98 92.91 157. MTs & Paket B Rasio APM perempuan /laki-laki di perguruan nggi Rasio melek huruf perempuan / laki-laki usia 15-24 tahun Sakernas 2009 SDKI 2007 SDKI 2007 SDKI 2007 Kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan non pertanian (%) Anak usia 1 tahun yang diimunisasi campak Provinsi Susenas 2009 Susenas 2009 Susenas 2009 Susenas 2009 Susenas 2009 Susenas 2009 Susenas 2009 Susenas 2009 SDKI 2007 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 265 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 99.83 96.5 66.95 100.87 99.65 96.93 99.19 100.13 100.88 99.06 74.44 101.93 99.68 99.8 69.90 99.9 36.93 99.92 99.03 96.86 33.Indikator MDGs Angka melek huruf usia 15-24 tahun Angka melek huruf penduduk laki-laki usia 15-24 tahun Rasio APM perempuan / laki-laki di SD.86 83.69 87. MI & Paket A Rasio APM perempuan /laki-laki di SMA Angka kema an balita / AKBA (5q0) Angka kema an bayi / AKB (1q0) Angka kema an neonatal (NN) Angka melek huruf penduduk perempuan usia 15-24 tahun Rasio APM perempuan /laki-laki di SMP.00 99.05 99.94 100.70 81.58 102.21 100.73 99.0 74.00 99.00 99.64 99.0 49.6 57.45 100.79 105.33 99.49 99.54 97.28 99.96 100.20 24.83 98.64 104.68 102.15 109.95 99.23 30.91 99.90 107.0 50.93 99.04 100.94 99.92 99.73 27.96 111.6 85.00 99.93 99.91 99.02 109.8 65.39 99.01 100.68 100.09 99.27 33.81 99.71 97.2 72.41 109.90 99.00 99.74 99.23 100.91 99.99 103.64 99.84 103.80 98.3 80.5 64.07 88.92 99.0 .44 104.95 100.38 101.33 124.11 31.16 138.57 97.81 98.5 77.61 100.96 99.2 59.02 100.18 100.05 98.60 88.41 105.50 40.82 100.84 100.99 111.36 99.15 99.76 162.91 99.64 99.01 97.20 32.39 99.20 33.96 99.3 94.2 50.9 51.92 99.76 99.05 26.80 106.10 103.19 143.81 99.69 89.31 99.51 99.29 95.84 105.85 34.00 91.64 99.99 105.85 99.98 109.09 99.8 78.2 64.78 97.81 96.21 118.85 100.39 98.64 97.69 99.00 99.37 28.41 109.72 98.45 124.6 71.86 99.85 99.75 32.86 99.03 97.64 35.33 98.90 98.65 99.9 77.00 98.95 99.55 34.41 99.23 104.89 30.08 33.07 37.72 99.47 35.78 134.81 99.79 99.40 117.0 67.54 102.62 125.84 100.03 99.77 100.88 76.6 67.03 33.25 100.85 99.62 33.82 108.1 60.30 36.90 99.99 99.92 99.26 27.60 97.67 94.00 95.50 99.86 100.94 99.92 99.21 101.81 99.54 114.85 86.19 99.86 99.85 99.00 99.36 98.95 84.39 100.75 108.4 61.16 97.94 113.90 103.33 27.99 104.19 98.43 98.21 29.20 100.65 68.22 78.78 101.96 99.36 99.07 88.63 100.01 79.34 94.74 33.44 99.17 88.01 99.64 100.05 98.6 76.90 100.17 93.07 97.84 38.89 100.67 101.63 101.80 99.79 99.92 96.09 84.79 99.88 100.86 99.46 99.8 51.86 99.06 107.55 99.29 90.87 99.0 58.72 100.00 100.45 45 67 62 47 47 52 65 55 46 58 36 49 32 22 45 58 38 92 80 59 34 75 38 43 69 53 62 69 96 93 74 62 64 44 25 46 47 37 39 42 46 43 39 43 28 39 26 19 35 46 34 72 57 46 30 58 26 35 60 41 41 52 74 59 51 36 41 34 14 24 34 28 23 25 17 27 20 18 15 19 14 15 21 25 14 34 31 23 13 39 16 24 28 22 16 22 46 25 32 21 24 19 40.32 126.07 94.98 99.98 99.79 99.14 99.35 93.71 99.93 99.86 94.18 28.32 99.29 99.20 99.35 101.89 99.99 100.54 101.24 99.8 74.64 118.82 99.44 108.32 102.40 36.03 99.91 99.85 136.9 58.8 74.92 99.47 99.81 33.00 100.80 104.40 100.76 97.73 99.20 107.17 105.79 100.53 142.92 111.94 99.58 108.74 30.79 116.68 117.73 34.02 99.34 87.34 98.68 37.86 125.82 116.19 99.9 58.10 99.79 118.10 98.95 106.8 79.18 104.

81 62.2 5.3 88.4 59.08 77.86 88.5 86.3 89.1 97.2 86.3 7.9 75.7 3.3 4.0 41.3 60.8 3.2 84.1 61.4 54.8 44.6 2.1 8.1 81.0 93.6 4.22 71.0 54.1 SDKI 2007 SDKI 2007 SDKI 2007 SDKI 2007 SDKI 2007 SDKI 2007 SDKI 2007 SDKI 2007 8.06 63.3 70.2 12.9 76.9 6.3 50.2 63.4 72.5 29.0 31.1 77.2 89.266 Angka kesuburan Unmet need KB Cakupan antenatal care (K4) Unmet need KB penjarangan SDKI 2007 3.9 3.45 42.4 69.48 48.7 80.7 5.1 3.7 2.9 6.6 70.3 88.9 90.3 93.21 60.0 34.4 2.0 35.3 11.4 60.0 40.7 .0 93.6 91.6 17.5 57.4 97.2 2.5 86.0 7.6 60.2 85.0 93.9 95.9 5.9 90.9 82.1 48.6 52.1 62.0 13.0 7.7 65.6 4.3 61.7 6.1 61.2 37.4 22.3 2.45 98.6 3.2 91.4 1.0 23.3 98.0 93.1 90.4 6.8 4.9 44.2 4.2 8.17 47.7 95.8 62.3 96.0 3.0 80.4 66.1 2.7 2.2 8.2 5.6 2.6 33.0 9.4 89.8 3.8 74.0 34.7 60.0 30.0 60.8 3.0 61.0 71.72 85.3 93.5 62.0 2.7 3.2 59.6 94.3 3.3 5.5 2.71 70.68 88.0 36.1 3.0 54.0 2.4 54.6 4.14 70.8 57.8 42.8 12.0 66.9 56.4 2.24 82.3 1.9 4.0 5.3 2.5 3.3 66.6 2.1 3.7 4.0 47.9 3.0 34.9 5.2 7.4 7.3 8.7 59.85 59.8 52.3 88.9 12.6 70.6 79.7 81.3 63.0 44.94 86.8 2.0 14.1 45.1 2.55 76.4 69.1 7.7 3.3 61.4 3.0 25.1 2.5 95.5 95.37 85.0 52.0 93.0 16.3 93.0 93.4 45.34 Indikator MDGs Proporsi kelahiran yang ditolong oleh nakes Angka Kesuburan Menurut Kelompok Umur 15-19 (ASFR) Unmet need KB pembatasan SDKI 2007 Penggunaan kontrasepsi perempuan menikah (15-49 tahun) semua cara Penggunaan kontrasepsi perempuan menikah (15-49 tahun) cara modern Penggunaan kontrasepsi Cakupan perempuan antenatal care menikah (K1) (15-49 tahun) cara tradisional Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia Provinsi Susenas 2009 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 3.0 93.6 9.2 2.1 1.3 88.4 50.0 93.6 91.9 12.2 55.5 24.9 4.3 7.7 92.01 85.3 97.0 51.3 87.5 6.2 91.2 64.0 39.0 12.0 43.0 79.30 96.1 63.0 93.4 1.3 86.8 95.6 91.3 3.1 75.86 82.4 2.8 99.1 57.3 99.6 15.0 27.3 13.0 54.48 47.7 66.2 84.4 4.8 95.4 65.6 91.6 38.4 42.43 49.4 2.5 3.7 12.4 94.8 62.4 86.4 94.6 70.0 64.2 9.4 72.2 4.86 96.1 90.5 3.0 56.0 19.17 84.7 3.4 71.7 2.4 46.6 3.0 57.9 5.8 4.0 50.2 86.7 6.2 65.20 76.3 97.0 25.8 5.0 7.2 7.4 86.1 2.7 2.4 2.4 69.6 53.7 95.4 13.3 85.9 66.0 92.0 31.3 4.0 80.7 84.0 82.3 87.5 64.4 58.6 2.2 89.0 34.1 4.8 9.3 55.7 92.1 2.6 2.9 10.8 8.1 6.8 39.2 86.33 68.8 99.3 8.0 3.3 96.7 2.8 2.9 95.5 3.4 6.3 3.5 3.7 54.3 98.51 78.0 86.0 48.0 11.8 42.4 90.4 34.1 67.4 52.32 49.5 12.7 66.0 64.9 17.72 63.0 47.1 5.2 30.4 66.2 69.3 6.0 25.4 3.37 87.2 9.3 99.0 74.8 3.5 4.9 3.7 74.3 93.0 7.0 93.47 69.7 5.

07 3.530 6.7 87.053 2.69 0.134 10.6 66.69 0.7 93.46 6.572 42.2 36.5 85.3 94.430 1.45 61.Indikator MDGs Angka kumula f kasus HIV/ AIDS per 100.954 6.8 94.0 70.1 83.55 0.436 4.288 16.606 32.50 8.3 42.78 0.3 70.69 220.93 135.8 56.5 66.72 44.522 96.65 0.064 17.651 103 242 21.25 46.9 84.8 78.8 30.8 85.0 91.9 97.666 636 947 67 2.96 8.8 80.09 0.8 48.1 86.19 1.31 4.274 1.58 55.212 31.6 40.6 80.612 10.859 19.89 13.36 8.67 8.360 339 4.31 18.564 1.09 0.0 90.333 54.33 8.83 3.6 92.6 39.80 3.581 14.160 391 12.545 1.386 22.20 1.063 45.2 52.762 1.04 0.8 67.5 87.1 96.8 71.248 19.042 3.07 317.19 16.85 0.1 88.21 18.725 133 139 794 30 27 11 173 12 591 21 3 192 13 58 2.1 82.5 85.26 0.7 33.454 1.17 0.503 266.8 73.8 93.68 46.486 1.06 48.7 93.1 89.1 84.119 16.6 48.91 0.64 34.03 63.41 60.361 23.2 34.10 0.683 117.5 89.487 5.71 8.05 0.5 49.277 43.21 1.389 6.4 91.325 12.724 28.29 27.6 96.4 69.599 752 290 3.08 0.77 0.275 6.92 8.040 38.466 187.60 2.5 89.Success Rate KemKes 2010 KemKes 2010 KemKes 2010 KemKes 2008 KemKes 2008 KemKes 2009 KemKes 2009 KemKes 2009 KemKes 2008 KemKes 2008 Angka kejadian malaria menurut diagnosa klinis Angka kejadian malaria menurut konfirmasi laboratorium Provinsi Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 267 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 0.1 80.6 77.376 8.58 0.110 2.75 19.9 95.000 penduduk Angka Penemuan Kasus Baru TB Paru BTA posi f (CDR) Angka keberhasilan pengobatan .9 67.389 3.9 92.23 58.1 83.65 25.4 92.6 88.108 8.84 0.637 73.5 97.11 15.7 45.10 7.828 3.39 68.8 38.564 83.03 1.5 77.87 3.589 3.213 54.06 .3 81.168 4.4 31.32 1.426 1.7 51.540 318 1.933 609 3.74 3.5 41.6 34.858 20.2 92.1 92.006 172 37 250 510 228 136.22 0.07 133.67 15.55 2.30 0.0 2.52 0.0 92.4 74.5 44.654 27.51 5.674 8.235 2.3 83.028 2.7 86.22 3.355 2.9 65.09 54.924 120.1 85.9 93.37 0.25 13.07 22.8 90.2 32.2 88.4 80.49 42.907 828 245 2.9 85.04 5.624.0 97.3 33.401 29.784 10.36 22.9 78.2 52.73 0.8 87.164 9.89 0.91 1.86 0.3 89.566 42.5 77.5 82.44 8.29 31.86 11.9 72.2 38.9 60.14 2.33 14.692 18.77 3.35 7.67 0.337 40.16 181.47 90.254 777 279 947 531 576 5.4 82.2 85.807 34 1.005 1.621 425.920 2.26 0.000 penduduk Angka kumula f kasus HIV/ AIDS Angka kesembuhan .7 80.630 3.Cured Rate Angka kasus DBD Tingkat kejadian DBD Prevalensi kasus AIDS per 100.930 1.1 51.644 51.6 85.31 0.51 9.46 46.5 56.015 957 6.6 83.8 59.76 34.907 49.87 44 485 382 476 165 219 91 144 117 334 2.42 0.470 2.7 66.11 0.

56 76.18 32.53 36.24 4.85 42.77 35.71 63.15 37.44 47.79 40.94 19.36 50.80 33.29 36.08 35.25 21.60 51.49 44.74 15.42 18.75 48.40 34.34 1.97 39.33 15.25 62.74 55.54 55.68 37.83 46.50 43.72 33.41 12.32 48.70 38.55 13.28 45.07 12.19 48.56 3.99 44.44 13.06 57.61 8.18 3.52 5.56 55.51 58.54 8.16 38.92 26.64 22.01 15.50 37.32 28.11 50.24 3.45 54.54 0.97 18.27 15.47 60.19 29.25 10.46 21.82 31.64 34.21 21.16 36.81 20.03 43.45 35.63 34.83 Susenas 2009 Susenas 2009 Susenas 2009 Susenas 2009 Susenas 2009 Susenas 2009 Susenas 2009 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA .73 63.63 71.66 26.14 40.84 11.96 51.51 51.33 32.66 41.74 36.36 12.70 27.78 65.46 25.59 45.06 41.12 30.95 36.57 10.03 28.44 40.96 31.10 76.54 45.89 51.76 20.42 29.36 23.71 76.71 44.13 61.20 53.96 25.46 39.55 48.08 3.92 4.29 45.69 61.65 7.97 41.74 8.22 39.35 8.91 44.97 32.97 55.33 42.56 49.84 37.05 20.47 65.77 41.79 65.04 46.81 22.00 5.53 33.01 74.00 8.38 24.15 35.15 27.81 10.02 36.38 71.77 15.62 40.82 49.17 22.01 43.76 25.37 50.89 38.44 27.85 6.30 16.45 10.71 41.72 53.70 27.55 2.Indikator MDGs Akses terhadap sumber air minum layak (total) Akses terhadap sumber air minum layak (perkotaan) Akses terhadap sumber air minum layak (perdesaan) Akses terhadap air minum perpipaan (perkotaan) Akses terhadap air minum perpipaan (perdesaan) Akses terhadap sumber air minum nonperpipaan terlindung (perkotaan) Akses terhadap sumber air minum nonperpipaan terlindung (perdesaan) 268 Provinsi 30.44 11.52 4.51 6.02 40.81 40.59 34.76 13.04 39.45 41.96 48.41 23.99 21.27 58.30 59.12 44.13 43.13 59.19 28.76 41.85 56.14 10.98 65.14 25.31 33.96 45.11 21.11 27.58 19.20 4.89 31.56 51.00 49.28 26.78 26.62 8.72 66.88 6.20 9.98 45.47 59.16 45.22 6.35 15.20 21.81 34.60 22.16 23.31 39.08 35.67 35.27 24.30 26.90 22.45 57.92 55.46 40.42 34.28 48.55 14.74 54.30 60.92 32.38 55.01 47.15 51.54 27.98 40.61 32.61 65.83 27.43 0.38 41.93 29.70 7.66 8.74 34.31 8.09 43.48 35.

43 57.37 20.80 6.19 8.51 9.78 75.71 7.53 30.21 65.62 5.98 35.93 63.84 58.58 85.60 31.61 75.24 7.03 69.68 Susenas 2009 Susenas 2009 Susenas 2009 Susenas 2009 Susenas 2009 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 269 .71 4.48 75.51 42.27 25.88 12.86 75.88 34.24 5.31 6.09 7.38 78.63 4.51 33.84 45.64 27.29 8.68 5.80 39.34 34.00 51.94 4.47 9.69 43.51 52.45 33.58 4.49 44.13 7.39 22.93 6.32 45.05 30.24 10.23 24.89 34.63 7.92 72.48 6.35 12.16 64.07 69.32 58.11 40.19 45.87 51.99 56.77 14.57 11.50 85.37 80.08 52.13 27.05 54.55 9.96 10.01 4.13 10.28 5.82 4.45 41.16 21.63 21.18 35.75 75.12 38.41 63.05 10.89 8.35 7.66 77.51 14.82 77.60 11.64 6.17 66.96 6.80 5.18 32.82 9.31 25.47 9.56 60.26 18.53 12.89 12.24 6.35 43.40 11.99 54.69 5.92 11.69 51.55 10.04 45.51 32.43 10.38 6.35 84.73 25.27 12.28 42.43 13.59 70.66 59.18 9.98 30.83 49.59 78.48 73.65 51.96 28.72 62.18 40.60 29.82 6.40 7.17 38.27 5.13 10.97 4.50 56.03 29.91 57.03 73.02 70.87 73.79 7.91 4.10 12.47 34.44 12.Indikator MDGs Akses terhadap sanitasi layak total Akses terhadap sanitasi layak (perkotaan) Akses terhadap sanitasi layak (perdesaan) Rumah tangga yang memiliki komputer Persentase rumah tangga yang memiliki akses internet Provinsi Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 38.69 41.95 85.78 56.47 10.31 35.10 22.17 62.31 39.43 12.76 6.16 8.13 7.20 41.26 18.03 30.98 6.29 80.12 81.06 67.

sekolah menengah. Tenaga kerja yang berusaha sendiri adalah para pekerja yang. 2.8 Prevalensi balita dengan berat badan rendah 1. Karena garis kemiskinan ini mempunyai paritas daya beli (purchasing power parity – PPP) lintas Negara dan wilayah. tanpa memperhitungkan nggal kelas. Adalah selisih dari garis kemiskinan (dengan mengasumsikan warga nonmiskin memiliki selisih sama dengan nol). juga dikenal sebagai pekerja keluarga yang dak dibayar. dan perguruan nggi adalah rasio jumlah siswa perempuan yang terda ar di sekolah dasar. Untuk standardisasi dampak struktur penduduk dari kelompok umur yang sesuai. Pekerja keluarga yang turut bekerja. laki-laki maupun perempuan. termasuk konsumsi produk sendiri dan pendapatan berupa barang (in kind).3 Angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun. diukur berdasarkan ngkat harga internasional pada tahun 1993. dengan bekerja sendiri atau bersama satu mitra atau lebih. dan di semua jenjang pendidikan dak lebih dari tahun 2015 3. di mana pun dapat menyelesaikan pendidikan dasar 2. yang dinyatakan sebagai persentase garis kemiskinan. Laju pertumbuhan Produk Domes k Bruto (PDB) per unit masukan tenaga kerja. Garis kemiskinan USD 1. menengah atas. dan mampu memahami pernyataan singkat dan sederhana tentang kehidupan sehari-hari.3 Proporsi kuin l termiskin dalam konsumsi nasional Target 1B: Mewujudkan kesempatan kerja penuh dan produk f dan pekerjaan yang layak untuk semua.5 Rasio kesempatan kerja terha dap penduduk 1. dan perguruan nggi Rasio perempuan terhadap laki-laki (indeks paritas gender) di ngkat pendidikan dasar. adalah pekerja yang bekerja mandiri. Persentase penduduk yang kekurangan gizi atau kekurangan pangan. Indikator untuk Memantau Kemajuan Definisi 1.9 Proporsi penduduk dengan asupan kalori di bawah ngkat konsumsi minimum Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua Target 2A: Menjamin pada 2015 semua anakanak. yang asupan makanan/kalorinya berada di bawah ngkat kebutuhan energi minimum (garis rawan pangan). 270 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .08 per hari.1 Rasio perempuan terhadap laki-laki di ngkat pendidikan dasar.7 Proporsi tenaga kerja yang berusaha sendiri dan pekerja keluarga terhadap total kesem patan kerja Target 1C: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun waktu 1990-2015 1.00 per hari sering kali disebut sebagai “garis kemiskinan absolut”. Proporsi kuin l termiskin dalam pendapatan atau konsumsi nasional yang merupakan persentase kontribusi dari lima (kuin l) terendah dalam susunan penduduk.00 (PPP) per hari Proporsi penduduk dengan ngkat konsumsi per kapita kurang dari USD 1. digunakan indeks paritas gender dari angka par sipasi kasar untuk se ap ngkat pendidikan.Lampiran 2 : Definisi Indikator MDGs Tujuan dan Target (dari Deklarasi Milenium) Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan Target 1A: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk dengan ngkat pendapatan kurang dari USD 1 (PPP) per hari dalam kurun waktu 1990-2015 1. dan perguruan nggi terhadap jumlah siswa laki-laki di masing-masing ngkatan. mempunyai jenis pekerjaan yang tergolong sebagai pekerjaan mandiri (yaitu.4 Laju pertumbuhan PDB per tenaga kerja 1. menengah atas. Persentase kohor murid kelas 1 sekolah dasar pada tahun ajaran tertentu yang diperkirakan berhasil menamatkan sekolah dasar.00 per hari dibandingkan dengan ngkat konsumsi per kapita. Di Indonesia penduduk yang bekerja berusia 15 tahun ke atas. Total APM pendidikan dasar juga mencakup anak usia pendidikan dasar yang duduk di bangku sekolah menengah pertama. remunerasinya bergantung secara langsung pada keuntungan yang diperoleh dari barang dan jasa yang dihasilkan). perempuan dan laki-laki Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan Target 3A: Menghilangkan ke mpangan gender di ngkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005. atau yang bekerja dengan berusaha sendiri dalam suatu wadah yang berorientasi laba dan dijalankan oleh orang yang bersangkutan di rumah yang sama.1 Proporsi penduduk dengan pendapatan kurang dari USD 1.2 Proporsi murid kelas 1 yang berhasil menamatkan sekolah dasar 2. garis kemiskinan USD 1. Proporsi penduduk usia kerja suatu negara yang bekerja.2 Rasio kesenjangan kemiskinan 1. dan dak secara terus-menerus melibatkan karyawan untuk bekerja bagi mereka selama periode tertentu. Persentase anak balita (0-59 bulan) yang berada di bawah minus 2 standar deviasi dari berat badan rata-rata untuk anak seusia berdasarkan standar internasional.1 Angka Par sipasi Murni (APM) sekolah dasar Jumlah anak usia sekolah dasar resmi (menurut ISCED97) yang mengiku pendidikan dasar tercermin dalam persentase jumlah anak dari jumlah penduduk usia sekolah dasar resmi. Persentase penduduk usia 5-24 tahun yang bisa membaca dan menulis. termasuk perempuan dan kaum muda 1.

tercermin dalam persentase perempuan usia 15-49 tahun dengan kelahiran hidup pada periode tertentu. Untuk sedikitnya empat kali kunjungan. Probabilitas kema an bayi sebelum berusia satu bulan per 1.Tujuan dan Target (dari Deklarasi Milenium) Indikator untuk Memantau Kemajuan Definisi lanjutan Lampiran 2 Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan 3.000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. terhadap jumlah seluruh persalinan dan dinyatakan dalam persentase.2 Angka Kema an Bayi 4. hal ini mengacu pada persentase perempuan usia 15-49 tahun dengan kelahiran hidup pada periode tertentu yang menerima pelayanan antenatal oleh tenaga kesehatan terla h (dokter.000 kelahiran hidup. tercermin dalam total persentase lapangan kerja berupah di sektor nonpertanian. Angka ini merupakan bagian dari angka kema an per kelompok umur saat ini.3 Proporsi kursi yang diduduki perempuan di DPR Tujuan 4: Menurunkan Angka Kema an Anak Target 4A: Menurunkan Angka Kema an Balita (AKBA) hingga dua per ga dalam kurun waktu 1990-2015 4.5 Cakupan pelayanan Antenatal (sedikitnya satu kali kunjungan dan empat kali kunjungan) 5. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 271 . dan dinyatakan dalam persentase.2 Proporsi perempuan dalam lapangan kerja berupah di sektor nonpertanian 3.000 perempuan dalam kelompok usia tersebut.000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Persentase anak di bawah usia 1 tahun yang telah menerima imunisasi campak se daknya satu kali. dipresentasikan sebagai angka per 1. bidan. dan tenaga medis lainnya).000 kelahiran hidup. *) Definisi ini merupakan modifikasi dari definisi PBB yaitu prevalensi HIV di kalangan penduduk usia 15-24 tahun merupakan persentase penduduk usia 15-24 tahun yang hidup dengan HIV.3 Persentase anak usia 1 tahun yang diimunisasi campak Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu Target 5A: Menurunkan Angka Kema an Ibu hingga ga per empat dalam kurun waktu 1990-2015 5. Probabilitas kema an bayi sebelum berusia satu tahun per 1.1 Prevalensi HIV/AIDS di kalan gan seluruh penduduk*) Perbandingan antara perkiraan jumlah penduduk yang hidup dengan HIV terhadap jumlah penduduk (semua usia). perawat. Perbandingan perempuan usia subur (biasanya 15–49 tahun) yang menikah atau menjalin hubungan dan saat ini memakai.1 Angka Kema an Ibu Jumlah perempuan yang meninggal se ap tahun karena kehamilan atau melahirkan atau dalam masa 42 hari setelah berakhirnya kehamilan pada tahun tertentu (per 100. terhadap jumlah perempuan usia subur.6 Kebutuhan keluarga beren cana/KB yang dak terpenuhi (unmet need) Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS.3 Angka pemakaian kontrasepsi/ Contracep ve prevalence rate (CPR) 5. yang merupakan angka risiko melahirkan di kalangan remaja perempuan usia 15-19 tahun. perawat. atau pasangannya memakai alat kontrasepsi. Ini juga disebut sebagai angka kesuburan usia 15-19 tahun. Untuk sedikitnya satu kali kunjungan. Jumlah pekerja perempuan dalam lapangan kerja berupah di sektor nonpertanian.000 kelahiran hidup. Perbandingan antara persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terla h (dokter. Proporsi perempuan usia subur dan ak f secara seksual yang dak menggunakan kontrasepsi namun menyatakan dak ingin punya anak lagi atau ingin menunda kelahiran anak berikutnya. Angka ini merupakan bagian dari angka kemaan per kelompok umur saat ini. 5. 4.2a Angka Kema an Neonatal 4.4 Angka kelahiran remaja 5. tercermin dalam persentase perempuan usia 15-49 tahun dengan kelahiran hidup pada periode tertentu. dipresentasikan sebagai angka per 1. Persentase kursi yang diduduki perempuan di DPR atau di DPRD.2 Proporsi kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan terla h Target 5B: Mewujudkan akses kesehatan reproduksi bagi semua pada tahun 2015 5. Angka ini merupakan bagian dari angka kema an per kelompok umur saat ini. bidan) se daknya satu kali selama masa kehamilan.000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.000 kelahiran hidup). Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Target 6A: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV/ AIDS hingga tahun 2015 6. hal ini mengacu pada persentase perempuan usia 15-49 tahun dengan kelahiran hidup pada periode tertentu yang menerima pelayanan antenatal oleh tenaga kesehatan (baik terla h ataupun dak) sebanyak empat kali atau lebih. Mengukur angka kelahiran perempuan usia 15-19 tahun per 1.1 Angka Kema an Balita per 1000 kelahiran hidup Probabilitas kema an anak sebelum berusia lima tahun per 1. dipresentasikan sebagai angka per 1.

Angka kejadian mengacu pada jumlah kasus baru malaria yang dilaporkan dalam jangka waktu tertentu. seper is lah yang digunakan di sini. Proporsi kasus yang dilabeli dengan hasil seper itu. Hal ini termasuk kema an yang disebabkan semua jenis TB. Hal ini dinyatakan dalam jumlah kema an per 100.000 penduduk. per 100. merupakan bagian dari keseluruhan kasus yang terda ar.2 Penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko nggi terakhir Persentase laki-laki dan perempuan muda berusia 15-24 tahun dengan lebih dari satu pasangan atau berhubugan seks bukan dengan pasangan atau berhubungan seks di luar nikah dalam 12 bulan terakhir yang menyatakan menggunakan kondom dalam hubungan seks terakhir mereka. demikian halnya dengan kema an akibat TB pada orang dengan HIV.000 penduduk. “Kasus terdeteksi”. Proporsi perempuan dan laki-laki berusia 15-24 tahun yang dapat dengan benar mengiden fikasi dua cara utama untuk mencegah penularan HIV secara seksual (menggunakan kondom. Kelompok ini umumnya terdiri dari laki-laki dan perempuan usia muda (15-24 tahun) yang menyatakan memiliki lebih dari satu pasangan atau berhubungan seks bukan dengan pasangannya atau di luar nikah dalam 12 bulan terakhir. dan kemudian ke WHO.000 penduduk.lanjutan Lampiran 2 Tujuan dan Target (dari Deklarasi Milenium) Indikator untuk Memantau Kemajuan Definisi Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS. Angka ini melipu semua bentuk infeksi TB. Angka kema an mengacu pada perkiraan jumlah kema an akibat TB dalam jangka waktu tertentu. se ap pasien diberi satu dari enam label hasil pengobatan eksklusif berikut ini: sembuh. prevalensi dan ngkat kema an akibat Tuberkulosis 6.3 Proporsi penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS Target 6B: Mewujudkan akses terhadap pengobatan HIV/AIDS bagi semua yang membutuhkan sampai dengan tahun 2010 6.10. dan dialihkan dengan hasil yang dak diketahui. dalam persentase. dan yang tahu bahwa orang yang terlihat sehat juga dapat menularkan HIV. sebagaimana halnya pada kasus orang dengan HIV.6 Angka kejadian dan ngkat kema an Malaria 6.000 penduduk. Tingkat deteksi kasus dihitung sebagai jumlah kasus yang dilaporkan dibagi dengan perkiraan angka kejadian pada tahun itu. Angka kejadian adalah perkiraan jumlah kasus baru Tuberkulosis (TB) yang mbul dalam 1 tahun per 100. sedangkan angka kema an mengacu pada jumlah kema an akibat malaria per 100. membatasi seks dengan se a pada satu pasangan yang belum terinfeksi).5 Proporsi penduduk terinfeksi HIV lanjut yang memiliki akses pada obatobatan an retroviral Target 6C: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru Malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015 6. Persentase anak balita (0–59 bulan) yang dur dengan kelambu berinsek sida pada malam sebelum survei. Pada akhir pengobatan. dengan buk keberhasilan bakteriologis (“sembuh”) atau tanpa adanya buk tersebut (“pengobatan selesai”). berar bahwa TB didiagnosis pada pasien dan dilaporkan dalam sistem pengawaan nasional.000 penduduk per tahun. yang menolak dua macam kesalahpahaman umum tentang penularan HIV. meninggal.9 Angka kejadian. gagal. Prevalensi adalah jumlah kasus TB (semua jenis) dalam populasi pada waktu tertentu (‘point prevalence’). 6. selesai pengobatan. Persentase orang dewasa dan anak-anak terinfeksi HIV stadium lanjut yang saat ini menjalani terapi an retroviral sesuai dengan protokol pengobatan nasional di antara jumlah orang yang diperkirakan terinfeksi HIV stadium lanjut. Tingkat kesuksesan / kesembuhan adalah proporsi kasus baru TB posi f yang terda ar dalam program DOTS pada tahun tertentu yang berhasil menjalani pengobatan. Hal ini dinyatakan dalam jumlah kasus per 100. dak selesai pengobatan.7 Proporsi anak balita yang dur dengan kelambu berinsek sida 6. Proporsi jumlah kasus Tuberkulosis yang terdeteksi dan sembuh dalam program DOTS 272 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Malaria dan Penyakit Menular Lainnya 6. ditambah kasus lain yang terda ar untuk pengobatan namun dak diberi label hasil pengobatan. Perkiraan mencakup kasus TB pada orang dengan HIV.

pertanian. di mana lahan adalah total luas daratan di luar wilayah perairan di daratan (sungai besar.8 Proporsi rumah tangga68 dengan akses berkelanjutan terhadap air minum layak 7. 68 69 70 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 273 .6 Proporsi kawasan lindung dan kawasan lindung perairan Target 7C: Menurunkan hingga setengahnya proporsi rumah tangga67 tanpa akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan sanitasi dasar hingga tahun 2015 7. Persentase rumah tangga yang menggunakan sumber air minum layak (termasuk sambungan air minum rumah tangga. dan kehutanan. Di Indonesia.5 hektar dengan pohon-pohon yang lebih nggi dari 5 meter dan tutupan kanopi lebih dari 10 persen. es masi permukiman kumuh menggunakan perhitungan proporsi rumah tangga kumuh perkotaan. 7. standpipes. Penger an rumah tangga telah disesuaikan dengan konteks Indonesia dari definisi PBB mengenai “penduduk”. Terdapat empat indikator yang digunakan yaitu: (i) dak adanya akses terhadap sumber air minum layak (lihat 7C). prasarana lingkungan yang dak memenuhi persyaratan dan rawan sehingga dapat membahayakan kehidupan dan penghidupan masyarakat penghuni. Rumah dapat dikategorikan sebagai hunian layak huni apabila luas lantai per kapita lebih besar dari 7. 7.9 Proporsi rumah tangga70 dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi dasar Target 7D:Mencapai peningkatan yang signifikan dalam kehidupan penduduk miskin di pemukiman kumuh (minimal 100 juta) pada tahun 2020 7. dan rasio luas kawasan lindung perairan terhadap total luas perairan teritorial bangsa ini. beserta sumber daya alam dan budaya terkait.Tujuan dan Target (dari Deklarasi Milenium) Tujuan 7: Memas kan Kelestarian Lingkungan Hidup Target 7A: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan yang berkesinambungan dalam kebijakan dan program nasional serta mengurangi kerusakan pada sumber daya lingkungan Indikator untuk Memantau Kemajuan 7. jamban cemplung dengan segel slab. perubahan penggunaan lahan. (iii) luas minimal lantai hunian per kapita. Ibid. abaikan air dalam kemasan karena masalah keberlanjutan. tampungan air hujan. Kata “total” menyiratkan bahwa emisi dari semua kegiatan nasional ikut dihitung. memiliki kepadatan bangunan yang sangat nggi. Proporsi rumah tangga yang menggunakan sanitasi dasar (termasuk toilet guyur/toilet siram-guyur atau jamban. atau pohon-pohonnya mampu mencapai ambang batas in situ dan dak termasuk tanah yang sebagian besar digunakan sebagai lahan pertanian atau kawasan perkotaan. lubang bor. proses industri. dan waduk) serta wilayah lautan. dan air dalam kemasan)69 --> untuk Indonesia. karena data diambil dari survei rumah tangga ru n nasional (Survei Sosial Ekonomi Nasional). dan sektor penggunaan lahan. Hutan adalah lahan yang membentang lebih dari 0.10 Proporsi rumah tangga kumuh perkotaan 67 Penger an rumah tangga telah disesuaikan dengan konteks Indonesia dari definisi PBB mengenai “penduduk”.2 m2 (Permenpera Nomor 22/Permen/M/2008). kualitas bangunan yang rendah. tangki sep k atau jamban lubang. karena data diambil dari survei rumah tangga ru n nasional (Survei Sosial Ekonomi Nasional). danau. Air dalam kemasan dak dimasukkan dalam klasifikasi air minum layak di Indonesia karena masalah keberlanjutan. Kawasan lindung adalah area daratan dan/atau lautan yang secara khusus ditujukan untuk perlindungan dan pemeliharaan keanekaragaman haya . Perairan teritorial adalah kawasan perairan di dalam 12 mil laut dari garis pantai.2 Jumlah emisi karbon dioksida (CO2) Jumlah total emisi CO2 merupakan emisi karbondioksida dari kegiatan manusia.3 Jumlah konsumsi bahan perusak ozon (BPO) Target 7B: Menanggulangi kerusakan keanekaragaman haya dan mencapai penurunan ngkat kerusakan yang signifikan pada tahun 2010 7. atau toilet/jamban kompos) Permukiman kumuh adalah suatu lingkungan permukiman yang dak sesuai dengan tata ruang. dan dikelola melalui upaya hukum atau upaya lain yang efek f. (ii) dak adanya akses terhadap sanitasi dasar yang layak (lihat 7C). Indikator yang digunakan di Indonesia antara lain: rasio luas kawasan lindung terhadap total luas lahan. limbah. yang dak diserap oleh penyerap karbon. Sektor di mana umumnya emisi/penyerapan CO2 diperhitungkan antara lain energi. pipa saluran pembuangan. dan (iv) daya tahan material hunian. Jumlah konsumsi tahunan nasional dalam tonase ter mbang masing-masing substansi dalam kelompok BPO dikalikan dengan ODP-nya. jamban cemplung dengan ven lasi yang baik. sumur gali yang terlindung. BPO adalah se ap zat yang mengandung klorin atau bromin yang dapat merusak lapisan stratosfer yang berfungsi menyerap sebagian besar radiasi ultraviolet yang berbahaya bagi kehidupan.1 Rasio luas kawasan tertutup pepohonan berdasarkan hasil pemotretan citra satelit dan survei foto udara terhadap luas daratan Definisi lanjutan Lampiran 2 Luas tutupan hutan sebagai bagian dari luas lahan total. mata air terlindung.

sementara Dana Pihak Ke ga melipu giro. yang juga menyediakan jasa kliring. dan penanggulangan kemiskinan—baik di ngkat Nasional maupun internasional 8.lanjutan Lampiran 2 Tujuan dan Target (dari Deklarasi Milenium) Indikator untuk Memantau Kemajuan Definisi Tujuan 8: Mengembangkan Kemitraan Global untuk Pembangunan Target 8A: Mengembangan sistem keuangan dan perdagangan yang terbuka. atau jasa. Sambungan tetap menghubungkan pesawat telepon pelanggan ke jaringan PSTN dan memiliki port khusus pada peralatan sentral telepon. serta dak mencakup pengiriman uang pekerja.15 Proporsi penduduk yang memiliki telepon seluler per 100 penduduk 8. Jika dak. tercermin dalam jumlah ekspor dan impor barang dan jasa terhadap rasio PDB. Pelanggan telepon seluler mengacu pada pengguna telepon portabel yang berlangganan layanan telepon umum selular yang menyediakan akses ke jaringan telepon umum dengan teknologi selular. namun dak menyediakan layanan pembayaran kliring dalam bisnisnya. barang. BPR melakukan kegiatan usaha konvensional dan/atau yang berdasarkan pada prinsip Syariah.1 Rasio Ekspor + Impor terhadap PDB Ini merupakan indikator keterbukaan ekonomi. terutama teknologi informasi dan komunikasi 8. berbasis peraturan.12 Rasio pembayaran pokok utang dan bunga utang luar negeri terhadap penerimaan hasil ekspor (DSR) Target 8F: Bekerja sama dengan swasta dalam memanfaatkan teknologi baru. Indikatornya adalah jumlah pelanggan telepon selular per 100 penduduk. dan deposito berjangka ( dak termasuk simpanan antarbank). Is lah ini sama dengan is lah stasiun utama atau saluran pertukaran langsung yang lazim digunakan dalam dokumen telekomunikasi. tabungan.14 Proporsi penduduk yang memiliki jaringan PSTN per 100 penduduk 8. Pelanggan layanan umum mobile data atau layanan radio paging dak dimasukkan. 8. Perkiraan jumlah rumah tangga yang mempunyai komputer pribadi. yang mungkin dak sama dengan jalur akses atau pelanggan. termasuk pembayaran jatuh tempo pada kuota reserve tranche. dapat diprediksi dan dak diskrimina f Melipu komitmen pada tata pemerintahan yang baik. Bank umum adalah bank yang melakukan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau kegiatan usaha yang didasarkan pada prinsip syariah. Debt service merupakan jumlah pembayaran pokok utang dan bunga utang yang sebenarnya dibayarkan dalam mata uang asing. Definisi PBB menyebutkan: “pengguna internet per 100 penduduk”. dan pendapatan merupakan jumlah ekspor barang (barang dagangan). Pinjaman merupakan total kredit yang diberikan pada pihak ke ga ( dak termasuk pinjaman antar bank). Nama layanan dan tahun mulai berlangganan ditulis dalam catatan. Pembelian kembali IMF merupakan total pelunasan utang yang masih tersisa dari akun sumber daya umum pada tahun tertentu. pembangunan. 3G). ekspor jasa (nonfaktor) dan buk penerimaan (faktor). Ekspor barang. Rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) didefinisikan oleh Bank Indonesia sebagai jumlah pinjaman terhadap Dana Pihak Ke ga. hal itu harus disebutkan dalam catatan. Jumlah saluran ISDN dan pelanggan telepon nirkabel tetap harus dihitung. Hal ini hanya mencakup utang publik dan yang dijamin publik (public and publicly guaranteed debt) jangka panjang serta pelunasan (pembelian kembali dan biayanya) pada IMF. Hal tersebut mencakup pelanggan pascabayar dan prabayar serta sistem selular analog dan digital. Perkiraan jumlah rumah tangga yang memiliki akses Internet. termasuk juga pelanggan IMT-2000 (Generasi Ke ga.3 Rasio pinjaman terhadap simpanan di BPR Target 8D: Menangani utang negara berkembang melalui upaya nasional maupun internasional untuk dapat mengelola utang dalam jangka panjang 8. jasa.2 Rasio pinjaman terhadap simpanan di bank umum 8.16 Proporsi rumah tangga dengan akses internet71 71 Hal tersebut disesuaikan dengan konteks Indonesia karena data yang tersedia diambil dari survei nasional ru n yang sudah ada. Hal ini berbeda dengan penger an standar rasio utang luar negeri terhadap ekspor. Indikatornya adalah jumlah pelanggan telepon tetap per 100 penduduk. 274 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .

5. terutama untuk mewujudkan jaminan sosial kesehatan nasional. dengan pengutamaan pada upaya promo f dan preven f. pembangunan kesehatan yang ditujukan untuk meningkatkan status kesehatan dan gizi masyarakat telah dilaksanakan secara terintegrasi dengan bidang-bidang lainnya. (ii) pembiayaan kesehatan. kemanfaatan dan mutu sediaan farmasi. terjadinya kekurangan jumlah. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata. Meningkatkan ketersediaan. (iii) sumberdaya manusia kesehatan. berdayaguna dan berhasilguna untuk memantapkan desentralisasi kesehatan yang bertanggung-jawab. Kementerian Kesehatan merumuskan rencana strategis 2010-2014 yang melipu : 1. pemerataan. dan sistem budaya. terjangkau. 2. swasta dan masyarakat madani dalam pembangunan kesehatan melalui kerjasama nasional dan global. Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan. terbatasnya pembiayaan kesehatan. alat kesehatan dan makanan. jenis. Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel. khasiat. dan (vi) pemberdayaan masyarakat. Dalam rangka mempercepat pencapaian target MDGs kesehatan. biaya dan kondisi fasi-litas pelayanan kesehatan. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat. alat kesehatan dan makanan.Lampiran 3 : MDGs Kesehatan MDGs Kesehatan Selama beberapa tahun terakhir. 4. mutu dan penyebaran tenaga kesehatan yang kurang merata. Keenam sub-sistem tersebut juga saling terkait dengan berbagai sistem lain di luar SKN antara lain sistem pendidikan. terpencil dan daerah perbatasan serta pulau-pulau terluar. Pembangunan kesehatan dilaksanakan melalui pendekatan enam sub sistem dalam sistem kesehatan nasional (SKN). bermutu dan berkeadilan. dan keterjangkauan obat dan alat kesehatan serta menjamin keamanan. (iv) sediaan farmasi. (v) manajemen dan informasi kesehatan. Memperha kan kompleksnya permasalahan kesehatan serta tantangan yang dihadapi dalam mencapai target-target MDGs pada tahun 2015. sistem ekonomi. transparan. yang melipu sub sistem: (i) upaya kesehatan. Hal ini antara lain disebabkan karena kendala jarak. 3. Indonesia masih menghadapi beberapa permasalahan umum antara lain: masalah akses dan kualitas pelayanan kesehatan terutama pada kelompok penduduk miskin serta kesenjangan status kesehatan antar daerah (disparitas) terutama pada daerah ter nggal. serta belum op malnya pemberdayaan dan promosi kesehatan bagi masyarakat. Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM yang merata dan bermutu. serta berbasis buk . 6. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 275 .

prasarana.Berikut ini diuraikan secara ringkas beberapa tantangan dan implikasi kebijakan dari keenam sub sistem dalam SKN: 1. perbatasan. Di samping itu. dan (iii) memanfaatkan potensi sumber pembiayaan lain dengan mendorong peningkatan pembiayaan oleh pemerintah daerah dan menggali sumber pembiayaan dari kemitraan dengan donor maupun sektor swasta. kesenjangan antarwilayah dan antar ngkat sosial ekonomi dalam hal akses terhadap pelayanan kesehatan juga masih cukup lebar. diperlukan peningkatan pendanaan terutama untuk membiayai intervensiintervensi yang memiliki daya ungkit yang besar pada pencapaian target MDGs bidang kesehatan. keterjangkauan dan mutu pelayanan kesehatan. ke depan perlu penguatan kebijakan untuk: (i) meningkatkan efisiensi aloka f dan efisiensi teknis dalam penggunaan sumber pembiayaan pemerintah. Dengan demikian. dan ketenagaan. Pembiayaan kesehatan. 2. termasuk dengan menjalin kemitraan dengan masyarakat dan swasta. 276 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . (ii) meningkatkan cakupan program Jamkesmas. ke depan perlu penguatan kebijakan untuk (i) memperluas akses sekaligus menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan terutama pada daerah terpencil. dengan fokus pada masyarakat miskin dan kegiatan pada pelayanan kesehatan terkait MDGs. Upaya Kesehatan. Dengan demikian. Hal ini antara lain disebabkan oleh sarana pelayanan kesehatan seper rumah sakit. pembangunan kesehatan saat ini masih dihadapkan pada masalah yaitu belum op malnya akses. terutama bagi penduduk miskin terkait dengan biaya dan jarak. dan kepulauan serta daerah dengan aksesibilitas rela f rendah. Puskesmas dan jaringannya belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh masyarakat. dan (iii) peningkatan u lisasi fasilitas kesehatan. (ii) meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dengan didukung oleh pemenuhan kebutuhan sarana. Meskipun cakupan program kesehatan terus meningkat. Untuk mempercepat pencapaian target MDGs tahun 2015 bidang kesehatan.

1185/Menkes/SK/2009/XII tertanggal 13 Desember 2009. dengan dikeluarkannya UU No. Pengembangan sistem jaminan pembiayaan kesehatan. Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin 2005-2007) yang selanjutnya dikenal dengan nama Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas 2008 dan seterusnya) ditujukan untuk meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas untuk kaum miskin. orang lanjut usia yang miskin. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan no. dan pemberian bantuan hibah untuk desa. 6. 5. program Askeskin bagi kaum miskin dimulai dan dikelola oleh PT Askes. 2. Tahun 2005. 3. 4. skema ini sudah memasukkan skema cash for work. Peningkatan ketersediaan. warga binaan pemasyarakatan atau narapidana. 7. Kemkes diminta untuk mengembangkan inisia f sukarela berbasiskan masyarakat untuk memperluas cakupan asuransi kesehatan menggunakan pendekatan perawatan terkelola (managed care approach). pemerataan. mutu dan penggunaan obat serta pengawasan obat dan makanan. keamanan. Peningkatan kesehatan ibu.000/bulan. Program Jamkesmas diimplementasikan di seluruh wilayah Indonesia dan memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif. Jamkesmas merupakan salah satu dari delapan intervensi prioritas terkait pembangunan kesehatan yang akan dilaksanakan pada periode RPJMN kedua tahun 2010-2014. Indonesia mengembangkan pla orm untuk cakupan semesta. sekunder dan tersier Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 277 . bayi dan anak. Pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan. 40 tahun 2004 mengenai Sistem Jaminan Sosial Nasional. keterjangkauan. penjualan beras bersubsidi (raskin). Pengembangan sumber daya manusia kesehatan. Jamkesmas: Mengatasi hambatan pembiayaan untuk mengakses pelayanan kesehatan Inisiasi pembiayaan untuk kaum miskin dimulai sebagai respons terhadap krisis ekonomi tahun 1997-1998 yang dikenal dengan nama Jaring Pengaman Sosial atau JPS atau Social Safety Net.4 juta orang pada tahun 2007. Pengendalian penyakit menular serta penyakit dak menular. pemberian beasiswa bagi siswa yang berasal dari keluarga miskin. Jumlah penduduk miskin yang tercakup dalam program Jamkesmas meningkat dari 60 juta orang pada tahun 2005 dan 2006 menjadi sebanyak 76.Kotak L. Roadmap Cakupan Semesta telah disusun untuk memandu pelaksanaan yang sesuai dengan UndangUndang tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan UU No. Sebagai tambahan subsidi kesehatan. Peningkatan status gizi masyarakat. Dana untuk skema ini seluruhnya berasal dari APBN Kemkes dengan premi per kapita Rp 5. anak-anak dan ya m terlantar yang hidup di rumah singgah.1. Peningkatan pelayanan kesehatan primer. keanggotaan Jamkesmas diperluas untuk 3 kelompok sasaran baru yaitu orang yang menjadi miskin karena bencana alam. Pada periode yang sama. Pada tahun 2004. 8. Ke delapan fokus prioritas tersebut adalah : 1. 36/2009 tentang Kesehatan. dan penyehatan lingkungan.

Rendahnya kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat masih menjadi tantangan tersendiri dalam upaya peningkatan kesehatan dan gizi masyarakat. melalui perubahan perilaku dan KIE. Hal ini mencerminkan bahwa upaya komunikasi. faktor risiko. Jumlah tenaga kesehatan terus meningkat. perbatasan dan daerah kepulauan. (ii) meningkatkan efek vitas kebijakan pemerintah dalam pengadaan obat dan peralatan kesehatan. kegiatan promosi kesehatan. 6. Sta s k kesehatan antara lain data tentang mortalitas. (iv) mengatur ketersediaan. perbatasan dan kepulauan. Di samping itu. Sumberdaya Manusia Kesehatan.3. serta pemberdayaan masyarakat perlu di ngkatkan melalui kerjasama lintas sektor yang didukung dengan kebijakan dan peraturan perundangan. ke depan perlu penguatan kebijakan untuk: (i) meningkatkan pendayagunaan tenaga kesehatan terutama di daerah terpencil. Dengan demikian. pembiayaan dan akses terhadap pelayanan kesehatan merupakan dasar bagi perencanaan kesehatan di se ap ngkatan administrasi. penerapan gizi seimbang. (iii) meningkatkan manajemen logis k di semua ngkat administrasi. ke depan perlu penguatan kebijakan untuk: (i) mengembangkan Na onal Health Accounts. namun distribusinya belum merata. penggunaan dan menjamin akses obat. Manajemen dan Informasi Kesehatan. dan sebagainya. Dengan demikian. morbiditas. Ke-senjangan tenaga kesehatan juga masih terlihat jelas antara daerah perkotaan dan perdesaan. dan (ii) meningkatkan kualitas tenaga kesehatan yang didukung dengan penguatan regulasi termasuk akreditasi dan ser fikasi. penggunaan dan mutu obat. di samping adanya keterbatasan dalam hal akses pelayanan kesehatan yang berkualitas. Saat ini. serta pengawasan obat dan makanan masih belum op mal. 278 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . ter nggal. Alat Kesehatan dan Makanan. Ketersediaan dan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan terus membaik. terutama di daerah terpencil. 4. kualitas tenaga kesehatan juga masih rendah akibat belum op malnya sistem akreditasi ins tusi pendidikan kesehatan dan ser fikasi lulusan. (v) memas kan alokasi anggaran dalam penyediaan obat dan alat kesehatan yang efek f. Dengan demikian. sehingga penguat-an manajemen sumber daya manusia juga sangat diperlukan. Pemberdayaan Masyarakat. Sediaan Farmasi. pemanfaatan pelayanan kesehatan. 5. tetapi keterjangkauan. ke depan perlu penguatan kebijakan untuk: (i) penguatan regulasi. Dengan demikian. antara lain dalam pencegahan faktor risiko terhadap penyakit. (ii) memperkuat pengumpulan data dan analisis. dan (iii) penguatan monitoring dan evaluasi serta pelaporan. penyediaan informasi kesehatan yang akurat dan sis m pelaporan yang tepat waktu masih belum op mal. (vi) memas kan distribusi obat-obatan bagi daerah terpencil. informasi dan edukasi tentang prak k hidup sehat belum dilaksanakan secara efek f.

(iv) memperkuat koordinasi dengan memperjelas peran dan tanggung jawab se ap jenjang administrasi pemerintahan. (ii) mengiden fikasi unit implementasi untuk mendukung pelaksanaan desentralisasi sistem kesehatan untuk mengakselerasi pelaksanaan desentralisasi pada tatanan yang sesuai situasi dan kondisi yang ada. (vi) mendorong kepemim-pinan yang efek f di seluruh sistem kesehatan serta memberi peluang bagi pengembangan inovasi pelaksanaan desentralisasi. namun sebagai strategi luas mencakup perencanaan dan pembangunan seluruh sistem kesehatan. (ii) memperkuat fungsi supervisi guna mendukung pengelolaan sektor kesehatan dan penyediaan pelayanan di ngkat kabupaten/kota. ke depan perlu penguatan kebijakan untuk: (i) mengkomunikasikan visi yang jelas dan sederhana dari tujuan desentralisasi. Penguatan implementasi desentralisasi bidang kesehatan. Namun demikian. (iii) mengembangkan komitmen di semua ngkat pemerintahan yang mendukung desentralisasi. namun demikian masih belum op mal berkaitan dengan regulasi yang menjamin kejelasan pembagian tugas dan tanggung jawab serta sumber daya pendukung pembangunan kesehatan di se ap jenjang adminsitrasi. monitoring. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menyusun kerangka kerja strategis yang efek f dan efisien dalam pelaksanaan program dan kegiatan strategis. serta akuntabilitas. Dengan demikian. yaitu: 1. Tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). provinsi sampai kabupaten/kota dalam pelaksanaan program kesehatan. Desentralisasi di bidang kesehatan telah diterapkan. indikator dan target pembangunan kesehatan yang mendukung percepatan pencapaian target MDGs bidang kesehatan yang telah terintegrasi dalam RPJMN 2010-2014. (iii) memperkuat kerja sama lintas sektor dan publik-swasta.Di samping keenam subsistem kesehatan dalam SKN. perbaikan dan penataan kelembagaan dalam rangka pelaksanaan pembangunan kesehatan perlu terus dilakukan. (v) memperkuat supervisi. (vii) mempertajam tugas pencapaian indikator-indikator Standar Pelayanan Minimum (SPM) bidang kesehatan yang juga merupakan indikator sasaran MDGs. terdapat faktor pen ng yang mempengaruhi kinerja pencapaian target pembangunan kesehatan termasuk didalamnya pencapaian target MDGs. 2. ke depan perlu penguatan kebijakan untuk: (i) memperjelas peran masing-masing pemerintahan dari ngkat pusat. yaitu sebagai berikut: Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 279 . Di bawah ini disajikan beberapa prioritas kegiatan. bahwa sistem kesehatan dak dilihat sebagai program ver kal. dan evaluasi. serta (iv) memperkuat pengawasan sistem informasi dan pengukuran kinerja. Dengan demikian.

Output/Indikator 2010 2011 2012 2013 2014 Persentase ketersediaan obat dan 80% 85% 90% 95% 100% vaksin Da ar Obat Esensial Nasional akan diberlakukan sebagai dasar standar pengadaan obat na onal pada tahun 2010 Pembatasan harga untuk obat generik berlabel pada tahun 2010 Persentase penduduk (termasuk penduduk miskin) yang telah 59% 70.5 tahun 25.200 1.608 8.900 2.6 tahun 22.608 8. dan Target Bidang Kesehatan. Output.320 1. seperangkat target output dan outcome dalam menyediakan pelayanan kesehatan berkualitas.2.000 kelahiran hidup) Persentase persalinan terakhir dibantu tenaga kesehatan terla h Pengembangan kebijakan.210 2. Tahun 2010-2014 Prioritas Memas kan ketersediaan obat generik dan vaksin di fasilitas ke-sehatan dasar Pelaksanaan Universal Coverage yang menargetkan semua masyara-kat miskin (100%) hingga 2010 dan memperluas target kelompok lain secara bertahap dalam periode 2010-2014 Memas kan ketersediaan dan implementasi Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) untuk Puskesmas Sumber: RPJMN 2010-2014.000 lokakarya mini untuk menunjang pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Demi mengurangi kesenjangan antarprovinsi. Prioritas. mudah diakses dan terjangkau di wilayahwilayah yang kurang terjangkau pelayanan.70% 2014 68. Prioritas.868 9.560 Sumber: RPJMN 2010-2014.868 9.481 8. telah ditetapkan sebagai berikut: Gambar L.Gambar L. dan Target untuk Pelayanan Kesehatan. Tahun 2010 dan 2014 Prioritas Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. koordinasi dan prasarana kesehatan di daerah terpencil Persentase kabupaten di daerah terpencil yang menerima pengembangan prasarana kesehatan 2010 67.737 8. 280 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .470 1. Tahun 2010 dan 2014 Prioritas Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan untuk masyarakat Meningkatkan akses pelayanan kesehatan (puskesmas) untuk masyarakat miskin Meningkatkan pelayanan dokter spesialis untuk masyarakat Meningkatkan perencanaan dan pemanfaatan sumber daya kesehatan Output Jumlah puskesmas rawat inap di pulaupulau dan wilayah perbatasan Jumlah pelayanan kesehatan yang berfungsi pada puskesmas prioritas di pulau-pulau dan wilayah perbatasan Jumlah rumah sakit berjalan yang memberikan pelayanan kesehatan di daerah terpencil (DTPK) Jumlah sumber daya kesehatan yang dipekerjakan di daerah DTPK Jumlah residen senior dan tenaga kesehatan yang menerima insen f melalui formasi tenaga kesehatan di DTPK 2010 76 2011 81 2012 86 2013 91 2014 96 101 101 101 101 101 14 14 10 10 10 1.3.30% 84. Outcome. Prioritas.000 masyarakat miskin Jumlah puskesmas yang mendapatkan bantuan operasional kesehatan dan menyelenggarakan 300 8. dan Target untuk Pelayanan Kesehatan.370 2.737 8.1. 20% 100% Gambar L.260 1. Outcome.050 2.50% 100% mempunyai jaminan sosial Memformulasikan kebijakan tentang Jaminan sosial kesehatan dan pembiayaan kesehatan Persentase rumah sakit yang memberikan pelayanan bagi peserta 75% 80% 85% 90% 95% JAMKESMAS Jumlah puskesmas yang menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi 8.8 100% Sumber: RPJMN 2010-2014.3 74.380 1. keterjangkauan biaya dan akses di daerah terpencil Outcome Rata-rata Umur Harapan Hidup di daerah terpencil (lebih rendah dari rata-rata nasional) AKB di daerah terpencil (per 1.40% 94.

Bappenas Dr. Dr. Dedi M. CES. 22. Sekretaris c. Lukita Dinarsyah Tuwo. MA (BKKBN) dr. 19. Tjandra Yoga Aditama. Ketua b. Anggota d. 21. MA (Bappenas) Dr. Ir. Ir.D (Kemendiknas) Prof. Sp. Msc (Bappenas) Dr.A. MA (Bappenas) Ir. MA (Bappenas) Arizal Ahnaf. M. Dr. Suyanto. Ketenagakerjaan dan Usaha Kecil Menengah. M. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional : 1. Nina Sardjunani. M. : : Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan : Dr. Ir. 5. Agus Purwadianto. MPHM ( Kemenkes) Dr. Lukita Dinarsyah Tuwo. Prase jono Widjojo MJ. Armida S. Ir. Ir. 3. 11. Prase jono Widjojo MJ. Alisjahbana. Ratna Rosita Hendardji. Muhammad Ali (Kemenag) Dr. Msc (Bappenas) Dr. Kelompok Kerja a) Pokja Tujuan 1 Ketua Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 281 . 2. Dedy Supriadi Priatna. MA Depu Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan. Ir. Achmad Suryana. Bambang Widianto. MA (Bappenas) Dr. Max Hasudungan Pohan. 18. SE. MA (BPS) Prof. MPH (Kemenkes) Dr. Slamet Seno Adji. MA Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional : Dra. 8. Lukita Dinarsyah Tuwo.F(K) (Kemenkes) Dra. 9. 16. 20. Ir. Masykur Riyadi (Bappenas) Dr. 13. MA Depu Bidang Kemiskinan. MSc (Bappenas) Ir. Sri Indrawaty. MM (KemenPP&PA) drg. Budihardja. Dr. 10.P(K) (Kemenkes) Dra. MA (Bappenas) Mayjen TNI Bambang Sutedo.S (Kementan) Prof. M. Hertomo Heroe.App.Lampiran 4: Susunan Keanggotaan Penyusunan Peta Jalan (Roadmap) Nasional Percepatan Pencapaian MDGs Tahun 2010 PENANGGUNG JAWAB : Prof. Kustan nah Apt. 4.Kes (Kemenkes) Prof. Apt. dr. 12. Dr. 6. MA Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional : : Dr. 17. DTM&H.Sc (BPOM) TIM PENGARAH a. 14. Umiyatun Trihastu . 7. Sp. 15. Ida Wulan (KemenPP&PA) Sudibyo Alimoeso. Ph.

Yosi Diani Tresna. Drs. S.Pd (Kemendiknas) 3. MPM (Bappenas) 11. ST. MBA (Kemendiknas) 7. Drs. Dr. Ir. Suprapto Budinugroho. SH. (Bappenas) : Mewujudkan Pendidikan Dasar Untuk Semua : Dra. M. SKM. Taufik Hanafi. S. M. Emmy Soeparmijatun. (Bappenas) 2. (Bappenas) 2. Drs. Suyanto. M. M. MA (Bappenas) : 1.Pd (Kemenag) 8. Ph. Arif Haryana. (Bappenas) 3. Firdaus. S. Wynandin Imawan. Bappenas : 1. MPM (Bappenas) 9. MPH (Bappenas) 2. ST. Drs. MSIE (Bappenas) 10. M.Ec.D Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Mahatmi Parwitasari Saronto. MIDS (Bappenas) 9.Si (Kemendiknas) 5.Sc (BPS) 7.Sc (Kementan) 6. Ir. Didik Suhardi. MA (BPS) 8. Endah Murniningtyas.Ant.Si (Plt) (Kemendiknas) 6. Woro Srihastu Sulistyaningrum. Drs. M. MS (Kemenkes) 5. MSc (Bappenas) 3.Sos. (Bappenas) : Mempromosikan Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan b) Pokja Tujuan 2 Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota Tim Pendukung c) Pokja Tujuan 3 282 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .S Kepala Badan Ketahanan Pangan. Rr. SH. Rahma Iryan . Kemendiknas : Dr. In Wikanestri. Wahyuningsih Daraja . Dr. Mohammad Sjuhdi Rasjid (Bappenas) : 1. M. Rizang Wrihatnolo. Ir. Dr. H. Bappenas : 1. MURP Direktur Agama dan Pendidikan. ST. M. MA Depu Bidang SDM dan Kebudayaan. Dr.Sos. Dr. Ir.Wakil Ketua Sekretaris Anggota Tim Pendukung : Prof. Achmad Suryana. Bappenas : Prof. Ir. Dra. Mudjito AK. Minarto. DR. DR. Wendy Hartanto. Arum Atmawikarta. Kementan : Dr. Bambang Iryanto (Kemendiknas) 2. Sanjoyo. Ir. Endang Sulastri. MT (Bappenas) 4. R Agus Sartono. SKM. Karim. Nina Sardjunani. Tjuk Eko Hari Basuki. Zainy Arony. Ir. DR. M. MSc (Bappenas) 12. MSc Direktur Penanggulangan Kemiskinan. Dr.Eng. Giri Suryatmana (Kemendiknas) 4. Drs. H.

M. S. ST. SE. Bappenas : 1. Hasyim. dr. KemenPP&PA : Dr. MMA (Kemendagri) 11.. J. SE. Bappenas : 1. M. MPH Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. Arum Atmawikarta. MA. SKM. Dra. Kajun Suprapto (KemenPP&PA) 5. Dra.D (Kemendiknas) 8. MPA. DTM&H. Ani Pudyastu . DTM&H.Pd (Kemenag) 9. Nina Sardjunani. Drs. Gede Suratha.Sc Direktur Kependudukan. Ardhian e. Budihardja. Ph. Rahma Iryan . Pribudiarta Nur (KemenPP&PA) 4. Ida Wulan Depu PUG Bidang Sosial. MPH (Kemenkes) 3. H.Sc (KemenPP&PA) 7. Ph. (Bappenas) 2. Benny Azwir. H. Kemenag Drs. Bappenas : Dr. MPH (Bappenas) : 1. MPIA (Bappenas) 3. Asisten Depu Gender Dalam Pendidikan. M. Firdaus. Nina Sardjunani. M. Bappenas : drg.Ec (BPS) 5. Ir.Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota Tim Pendukung : Dra. Nina Sardjunani. Maulana T.Si (KemenPP&PA) 4. Direktur Pendidikan Madrasah. MPH Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. Poli k dan Hukum.D (Bappenas) 12. (Bappenas) : Menurunkan Kema an Anak : Dra. Chairul Fuad Yusuf (Kemenag) 10. Imam Subek . MPH Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat. Kemenkes : Drs. Raden Siliwan .Kes (Kemenkes) 2. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Kemenkes d) Pokja Tujuan 4 Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota Tim Pendukung e) Pokja Tujuan 5 Ketua Wakil Ketua Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 283 . Fithriyah. MPS. M. SKM. MA Depu Bidang SDM dan Kebudayaan. MA Depu Bidang SDM dan Kebudayaan. MA. KemenPP&PA Dra. Andi Muhadir. MT (Bappenas) 2. MA Depu Bidang SDM dan Kebudayaan. Sally Astuty Wardhani. Renova Glorya Montesori Siahaan. MM (Bappenas) : 1. Subandi. Ir. Drs. (Bappenas) : Meningkatkan Kesehatan Ibu : Dra. Ella Yulaelawa . Untung Suseno Sutarjo. Budihardja. Bappenas : Dr. dr. M. Happy Hardjo. Ir.

MA Depu Bidang SDM dan Kebudayaan. Qurrota A’yun. SKM.Sc (Bappenas) 2. Bappenas : Dr. Muljono. Zakaria Amin. Tjandra Yoga Aditama. S. (Bappenas) 2.. MSc (KemenPU) f) Pokja Tujuan 6 Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota Tim Pendukung g) Pokja Tujuan 7 Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota 284 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia .P(K) Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. MPH (Bappenas) 2.Sekretaris Anggota Tim Pendukung : Drs. Edi Effendi Tedjakusuma. Wisianto Wisnu.Kom. Mon y Girianna.. Iwan M. MPM (Bappenas) 6.Sc (Bappenas) 3. Bambang Setyabudi. Ir. Dedy Supriadi Priatna. Ir. Ph. M. MSc Depu Bidang SDA dan LH. Ir. Kemenkes : Drs. Bambang Hartono. MA Direktur Lingkungan Hidup. M. Dr. Umiyatun Haya Trihastu . Bappenas : Dr. ME (Bappenas) 6. Bappenas : Dr. MCP.. Tamin M. SKM. Ir. (Bappenas) : Mencegah Penularan HIV dan AIDS. Dr.Si.Eng. Arum Atmawikarta. MPA (Bappenas) 2. Bappenas : 1. SE. Bappenas : 1. MSc Depu Bidang Sarana dan Prasarana. SP. Hadiat. Bappenas : 1. Dewi Amila Solikha. Dadang Rizki Ratman. SKM. Dr. SKM. Basah Hernowo. MA (Bappenas) : 1.. Ambar Rahayu. Ir. M. MURP (KemenLH) 7. Ir. Ir. Sri Yan . MA (Bappenas) 4. Sp. Budi Hidayat. MAP (Bappenas) : 1. Nina Sardjunani. MPH (BPOM) 5. Dr. Subandi.Sc (Kemenkes) 3.Kes (BKKBN) 5. Se a Edi. MPH Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat. Ir. Arum Atmawikarta. MM (KemenLH) 8. dr.. MNS (BKKBN) 4. SKM. (Bappenas) : Menjamin Kelestarian Lingkungan Hidup : Ir. Ir. M. Ir. Dani Ramadan. Drs. Ssi. M. Arum Atmawikarta.Sc (Kemenkes) 4. Happy Hardjo. MPH (Kemenkes) 3. MHR.Ec (BPS) 6. Ir. M. MPH Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat. Bambang Hartono. Ahmad Taufik. Sulistyowa .Sc. S. SH. S. M. SKM. Malaria dan Penyakit Menular Lainnya (TB) : Dra.D (Bappenas) 5. Sularsono.

14. MM. MRP (Bappenas) Imam Subek . 3. Tu Riya . Wulandari. MA Direktur Perencanaan dan Pengembangan Pendanaan Pembangunan. ST. 10. Ph. Ph. MEM (Bappenas) Dr. SE.Com (Kemenlu) 5. (Bappenas) h) Pokja Tujuan 8 Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota Tim Pendukung : Mengembangkan Kemitraan Global untuk Pembangunan : Dr.D (Kemenkominfo) 6. (Bappenas) 2. Nilanto Perbowo. 2. Bappenas : Dra. Ph. MPS. Sugeng Wahyu Hendarto. ST. Farah Ratnadewi Indriani. R. MT. Prof. MCP (KemenPera) Ir. MA Depu Bidang Pendanaan Pembangunan. M. (Bappenas) 3. 4. Ir. (Bappenas) Erik Armundito. Riza Hamzah. AK. ST. SE. Ghafur Akbar Darmaputra. MIA (Bappenas) 2. (Bappenas) Nur ’Aisyah Nasu on. Ir.Sc (Kementerian Kelautan dan Perikanan) Dr. ST. Bappenas : 1. Ir. MA Depu Bidang Ekonomi. 17. ST.D (Bappenas) 3. M. Djadjang Sukarna (Kementerian ESDM) Tri Dewi Virgiyan . Ir. MA (Bappenas) 9. (Bappenas) Ira Lubis. M. M. 18. Guratno Hartono. 16. Ir. MPH (Bappenas) Setyawa . Lukita Dinarsyah Tuwo. Ayu Sukorini (Kemenkeu) 4. Anna Syviana Kar ka.9. 13. Tim Pendukung Ir. 19.. Nugroho Tri Utomo. ST. 11. Tommy Hermawan. SE (Kementerian Perdagangan) 7. : 1. Nur Hygiawa Rahayu. Yahya Rahmana Hidayat. 15. 12. Maliki. ST. Susmono (KemenPU) Ir. MBA (BKPM) 8. DEA. MA (Bappenas) Ir. MSIE. Kuswardono. Wismana Adi Suryabrata. Makbullah Pasinringi. SE. Erwin Dimas. Ir. MSc (Bappenas) Ir.Sc. Slamet Seno Adji. R. Msi (Bappenas) : 1. SE. (Bappenas) Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 285 . Sjarief Wijaya. (KemenHut) Ir. MPP. MBC (KemenPU) Ir. ST.NatResEcon.D. Bappenas : Dr.

Millennium Development Goals Report 2007. Badan Pusat Sta s k. (2007). Desember). Pembangunan Kesehatan dan Gizi di Indonesia: Overview dan Arah ke Depan. The World Bank. Bappenas. Jakarta. Jakarta. Badan Pusat Sta s k. (2010). (2009).Daftar Pustaka Pendahuluan: Jakarta Declara on on Millennium Development Goals in Asia and the Pacific. Jakarta. Ragatz. Tujuan 1: Asian Development Bank (2006. Compulsory Basic Educa on Discussion Paper. Wolfgang. Washington D. Javier. Tidak dipublikasikan. Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010. Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS). (2006). Background Study RPJMN 2010-2014. (2004). Arze del Granado. (2009). Tujuan 2 AIBEP. Center for Global Development. Achieving MDGs through RPJMN. Jakarta. Food Security in Indonesia: Current Challenges and the Long-Run Outlook. Badan Pusat Sta s k. Washington D.C. Suryana. The Way Forward 2015. Reposi oning Nutri on as Central to Development: A Strategy for LargeScale Ac on. Bappenas. Sustainable Food Security Development in Indonesia: Policies and its Implementa on. (2008). Fengler. Equity. Badan Peneli an dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta. Andrew and Yavuz. 9-10 Desember). Manila. World Bank. Poverty Reduc on and Economic Management (PREM). September). Jakarta. (2006). Jakarta. Paper presented at a High-level Regional Policy Dialogue organized by UNESCAP and Government of Indonesia. Bappenas. (2007). (2003-2008). World Bank. Paper presented at Nutri on Workshop. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). World Bank. Bappenas. Inves ng in Indonesia’s Educa on: Alloca on. (2005. (2008). Spending for Development: Making the Most of Indonesia’s New Opportuni es. Atmarita. Agustus). Jakarta. Kaji ulang status gizi anak 0-59 bulan (berat badan menurut umur) menggunakan data nasional Susenas 1989-2005: Perbandingan standar NCHS/WHO dan rujukan WHO 2005. A. and Efficiency of Public Expenditures. Bali.C. Dra Design and Monitoring Framework: Project Number 38117: Nutri on Improvement through Community Empowerment. Timmer. Educa on Sector Assessment. (2008. (2006). Jakarta World Bank. Jakarta. P. Elif. (2007). UNICEF. Data Strategis BPS. Jakarta. Jakarta. (2009). Jakarta. 286 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Kementerian Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar 2007.

(2006). (2008. (2003-2008). Jakarta  Kementerian Pendidikan Nasional. 9-10 Desember). (2004). Atmarita. Jakarta Kementerian Pendidikan Nasional. (2009. Basic Educa on Project (BEP) Design Proposal. (2008). Bappenas. Jakarta. Report on MDGs Achievement Indonesia. Jakarta. Nutri on Improvemnet through Community Empowerment. Jakarta. (2009). (2006. Angka Par sipasi Murni (APM) Dan Disparitas Sekolah Dasar (SD). and Opera onal Subsidy Programs in Four Provinces. (2009). AusAid. Maret). September). Riset Kesehatan Dasar. 26 April). European Commission. Basic Educa on Sector Policy Programme (SPSP) Indonesia. Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri. (2006). Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan. Gavin. UNESCO. Paper presented at High-level Regional Policy Dialogue. Jones. Suryana. Sumber Data PSP. Rapid Assessment on Educa on Problems and Social Safety Net. Jawa Barat. EFA Global Monitoring Report Team. (2007). (2007). Bappenas. Jakarta. Badan Peneli an dan Pengembangan Kesehatan. Scholarship. Kaji ulang status gizi anak 0-59 bulan (berat badan menurut umur) menggunakan data nasional Susenas 1989-2005: Perbandingan standar NCHS/WHO dan rujukan WHO 2005. (2006).publicfinanceindonesia. Manila. Joint EC/AUSAID Educa on Sector Assessment. Kementerian Pendidikan Nasional. (2009). Jakarta. Data Capaian Indikator MDGs. Kementerian Kesehatan. (2003). Educa on for All. (2004). Oerganized by UN-ESCAP and Governmnet of Indonesia. Educa onal Indicators in Indonesia 2007/2008. (2009).Asian Development Bank. Jakarta. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2005-2009. Pusat Sta s k Pendidikan. Dra DMF. Millennium Development Goals Report 2007. Kementerian Pendidikan Nasional dan World Bank (2005). Project Number 38117. Petunjuk Teknis Program BOS. A. Basic Educa on Parent Sa sfac on Survey in Indramayu. EFA Global Monitoring Report. Study on Teacher Employment & Deployment in Indonesia. (2009. (2005). Literacy for Life. Bappenas. Pembangunan Kesehatan dan Gizi di Indonesia: Overview dan Arah ke Depan. Unpublished report for the Asian Development Bank. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Hardjono. Bappenas. J. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 287 .org Badan Pusat Sta s k. Badan Peneli an dan Pengembangan. Bappenas. Jakarta. Bali. Jakarta. (2005). Jakarta: SMERU Research Ins tute. Backround study RPJMN 2101-2014. Tidak dipublikasikan. Paris. Kementerian Pendidikan Nasional. Na onal Medium-Term Development Plan. Kementerian Pendidikan Nasional. Jakarta. Sustainable food security development in Indonesia: Policies and its Implementa on. Available online at: www. The Integra on of Poverty Considera ons into the Nine-year Basic Educa on Program in Bali and Nusa Tenggara Barat.

(2004). Indonesia’s Educa on for All: Mid-Decade Assessment.Making the Most of Indonesia’s New Opportuni es. Agustus). (2007). World Bank. Inves ng in Indonesia’s Educa on at the District Level.depdagri. Jakarta Adam Wagstaff. (1992). (2007). World Bank.org/en/ sta s cs/data/hdi2008/ Tujuan 4 Adam et. h p://hdr. Food Security in Indonesia: Current Challenges and the Long-Run Outlook. 8 Mei 2009.go. Pablo Go ret. an Analysis of Regional Public Expenditure and Financial Management. and Qiu Fang. (2001-2008). Badan Pusat Sta s k. Jakarta. Jakarta. (2006).id Interna onal Trade Union Confedera on. (2008). and Efficiency of Public Spending. World Bank (2005. Laborer Situa on in Indonesia.go. (2007). Jakarta Badan Pusat Sta s k. (1994). 2008. (2008. (1997).undp. Educa on in Indonesia: Managing the Transi on to Decentraliza on. Spending for Development . Report for the WTO General Council review of the trade policies of Indonesia.al. Tujuan 3 Badan Pusat Sta s k. State Civil Service Agency in Sta s cal Yearbook of Indonesia. Bureau of Civil Service. 27 and 29 Juni 2007.id UNDP. Juni). www. Interna onally recognized Core Labour Standards in Indonesia. World Bank. Badan Pusat Sta s k. Jakarta Bappenas. World Bank. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 1991. Jakarta. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 1997. Reposi oning Nutri on as Central to Development: A Strategy for LargeScale Ac on. Millennium Development Goals for Health: What Will It Take to Accelerate Progress?. Geneva. Februari). Mariam Claeson. Badan Pusat Sta s k. Equity. Cost effec veness analysis of strategies for maternal and neonatal health in developing countries. (2007). Poverty Reduc on and Economic Management Unit East Asia and Pacific Region. (2007). Public Expenditure Review 2007. Wahington. DC World Bank. Report on MDGs Achievement Indonesia. Inves ng in Indonesia’s Educa on: Alloca on. Project Appraisal Document. Be er Educa on through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading Project (BERMUTU). Expenditure Review 2007. (2009. Sakernas. BMJ. Jakarta. Human Development Indices.kejaksaan. (2009). (2007). 288 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Center for Global Development. UNESCO. Robert M. Jakarta. World Bank. Indicators Table 2008. Human Development Sector Reports East Asia and the Pacific Region. (2004). Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). (2005). www.Timmer. Hecht. Kementerian Dalam Negeri. The World Bank. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 1994. General A orney RI.

Rencana Strategis Nasional. Analisis dari berbagai survei SDKI BPS tahun 1997. Bappenas. (2005). Bappenas. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003. Bappenas. (2008). 2005). Badan Pusat Sta s k. (2008). Healthy Indonesia 2010 . Gender. Millennium Development Goals for Health: What Will It Take to Accelerate Progress?. Profil Kesehatan 2007. Badan Pusat Sta s k. 2005 Tujuan 5 Adam et. UNFPA. Kementerian Kesehatan. (2005).Badan Pusat Sta s k. Neil Spicer. Robert M. di Jakarta.al. Ahrizal Ahnaf. Gill Walt. The Millennium Development Goals Report 2008. Ruairi Brugha. (2004). Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 289 . Jakarta Kementerian Kesehatan. Pembiayaan Pencapaian MDGs di Indonesia. New York. Angka Kema an Ibu di Indonesia Kecenderungan dan Faktor-Faktor yang Berpengaruh. Kementerian Kesehatan. (2007). Johanna Hanefeld. Inves ng in Development: A Prac cal Plan to Achieve the Millennium Development Goals. (2008). (2003). The Millennium Development Goals will not be a ained without new research addressing health system constraints to delivering effec ve interven ons. (2001). Cost effec veness analysis of strategies for maternal and neonatal health in developing countries. BMJ. and Qiu Fang. (2007). Laporan Kajian. (2008). Badan Peneli an dan Pengembangan Kesehatan. 2007. Kesehatan Reproduksi. (2007). Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas). Making Pregnancy Safer in Indonesia 2001-2010. (2007).Make Pregnancy Safer Indonesia. BKKBN. (2005). Millennium Project. World Health Organiza on. Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan Dan Gizi Masyarakat. (2006). Kementerian Kesehatan. (2006). (Maret. Jakarta. (2005). (2009). Pembangunan Kesehatan dan Gizi di Indonesia: Overview dan Arah ke Depan. A literature review commissioned by the Health Systems Knowledge Network. Pablo Go ret. United Na ons. Laporan Pencapaian Millennium Development Goals. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 1991. Bappenas. 2007. (2009).  United Na ons. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007. Backgorund Study RPJMN 2010-2014. World Health Organiza on. Indonesia. Mariam Claeson. Adam Wagstaff. Report of the Task Force on Health Systems Research. Keluarga Berencana. New York. dan Pembangunan Kependudukan. (2008). Hecht. Kementerian Kesehatan. Badan Pusat Sta s k. Dipresentasikan pada Workshop Prakarsa Strategis Percepatan Penurunan AKI. 2002-2003 and 2007. (1992). The World Health Report 2005: Make Every Mother and Child Count. How Have Global Health Ini a ves Impacted on Health Equity?. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Depu Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Laporan Nasional Tahun 2007.

Measuring Maternal Mortality: Challenges. Bappenas. The World Health Report 2005: Make Every Mother and Child Count. (2009). Geneva. dan Pembangunan Kependudukan. The Millennium Development Goals Report 2008. (Februari. WHO Report 2006. Gill Walt. Badan Pusat Sta s k. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003. (2007). Badan Pusat Sta s k. (2003).prb. (2005). Badan Pusat Sta s k. Solu ons. Laporan Kajian 2008. (2007). Johanna Hanefeld. Bappenas. Report of the Task Force on Health Systems Research. (2007). (2008). Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas). (2006). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Laporan Nasional Tahun 2007. Badan Pusat Sta s k. Popula on Reference Bureau. Pembiayaan Pencapaian MDGs di Indonesia. (2005). The Millennium Development Goals will not be a ained without new research addressing health system constraints to delivering effec ve interven ons. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 1994. Laporan Pencapaian Millennium Development Goals Indonesia 2007. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Depu Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional: Pengembangan Database Pembangunan Kesehatan dan Gizi Masyarakat 2008. Jakarta Kementerian Kesehatan. Jakarta Kementerian Kesehatan. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007. Making Pregnancy Safer in Indonesia 2001-2010. (1997). unpublished 20th Mee ng of The Na onal AIDS Programme Managers. Bappenas. Bappenas. and Next Steps.Make Pregnancy Safer Indonesia. Coordinated Community Ac on to Control Disease. Gender. (2006). Healthy Indonesia 2010 . 2007). 2-4 Desember 2008: Recommenda ons to The Member Countries. (2007). (2001). (1994). Ruairi Brugha. (2008). Indonesia confronts malaria epidemics in poor rural areas. www.pdf United Na ons. World Health Organiza on. Tujuan 6 --. Rencana Strategis Nasional. Kementerian Kesehatan. A literature review commissioned by the Health Systems Knowledge Network. Backgorund Study RPJMN 2010-2014. Geneva World Health Organiza on. World Health Organiza on. How have global health ini a ves impacted on health equity?. BKKBN. (Maret. Badan Peneli an dan Pengembangan Kesehatan. Bappenas. (2008). New York. 2007. (2007). 2005). (2008). Neil Spicer. Profil Kesehatan 2007. UNFPA. World Health Organiza on. WHO Report 2004.Badan Pusat Sta s k. Kementerian Kesehatan.org/pdf07/MeasuringMaternalMortality. 290 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . Pembangunan Kesehatan dan Gizi di Indonesia: Overview dan Arah ke Depan. Kesehatan Reproduksi. (2008). Keluarga Berencana. Rancang Bangun Perecepatan Penururan Angka Kema an Ibu untuk Mencapai Sasaran MDGs. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 1997. (2004).

Report of the Task Force on Health Systems Research – WHO. Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular Melalui Binatang. Report of HIV/AIDS Commodi es Survey and Supply Chain Status Assessment in Tanah Papua. Wiput Phoolcharoen. Gill Walt. Raj. (2008). Dec 2008 Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. Robert M. Oktober 2007 Badan Pusat Sta s k.pdf ). Country report on the Follow up to the Declara on of Commitment on HIV/AIDS. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Personal protec on and vector control op ons for preven on of malaria. Direktorat P2M. November). Kementerian Kesehatan. 2009 Kementerian Kesehatan. Januari. Hecht. “Preparing Na onal HIV/AIDS Strategies and Ac on Plans . Dirjen P2PL.worldbank. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. (2008). www. et all. rollbackmalaria.org/asap. (2007). (2007). (2010). Renu Garg. a service of UNAIDS. (2008). Februari 2008 ASAP. The Millennium Development Goals will not be a ained without new research addressing health system constraints to delivering effec ve interven ons. Dukungan dan Pengobatan. (2007). 2010-2014. Mariam Claeson. RBM Partnership Consensus Statement on insec cide treated ne ng. Kementerian Kesehatan. Neil Spicer. (2010). (2008). Millennium Development Goals for Health: What Will It Take to Accelerate Progress? Andy Barraclough. Dirjen P2PL. Coordina ng Minister for People’s Welfare/Chairman of the Na onal AIDS Commission. Johanna Hanefeld. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. and Qiu Fang. (UNGASS) Repor ng Period 2008-2009 Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Resources Needed to Address HIV/AIDS. Public health research priori es for HIV/AIDS in South-East Asia. Laporan Ru n P2M. Sunil S. Country report on the Follow up to the Declara on of Commitment on HIV/AIDS. (2010). (2009). Pedoman Tatalaksana Infeksi HIV dan Terapi An retroviral Pada Anak Di Indonesia. Pablo Go ret. Laporan AIDS.Lessons of Experience”. (h p://www. Profil Penyakit Menular 2009. (2008). Laksami Suebsaeng. (Maret 2004). Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Richard Steen. (2008). (2009). Tentang Kebijakan Perawatan Palia f Padmini Srikan ah.org/partnership/wg/wg_itn/docs/RBMWINStatementVector. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. 2003 Inter-agency Coali on on AIDS and Development. Mukta Sharma. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2004). (2005). 2007 Kementerian Kesehatan . How have global health ini a ves impacted on health equity?: A literature review commissioned by the Health Systems Knowledge Network. Na onal HIV/AIDS Strategy 2003 – 2007. HIV and AIDS Response Strategies2007-2010. Nomor : 812/Menkes/SK/VII/2007. A survey of HIV/AIDS Commodi es Situa on in Tanah Papua. Maret 2005 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 291 . (2007). Rencana Aksi dan Strategi Nasional Penanggulangan AIDS. Kementerian Kesehatan. Ruairi Brugha.Adam Wagstaff. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007. (UNGASS) Repor ng Period 2006-2007 Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. (2003). (2005. Malcolm Clark. Pedoman Perluasan Jejaring Perawatan.

The UK’s AIDS Strategy. UNFPA.pdf). WHO. 4th Mee ng Impact Mi ga on. Children and AIDS: Third Stocktaking Report. Progress report 2008. (2008). Malaria eradica on back on the table. Achieving Universal Access – the UK’s strategy for hal ng and reversing the spread of HIV in the developing world.pdf UNAIDS. The Joint United Na ons Programme on HIV/AIDS (UNAIDS). HIV and AIDS Es mates and Data. UNICEF. 2008. TB.org. (2008). Global Reference Group on HIV/AIDS and Human Rights: Review and Assessment of HIV/AIDS Strategies that Explicitly Include A en on to Rights Impact Mi ga on. 2005 United Na ons Development Programme Indonesia. Barrie | 26 April. Care and Support. Angela Obasi. 367: 955–57 Tanner M. UNICEF. The Global Plan to Stop TB: a unique opportunity to address poverty and the Millennium Development Goals. www. Geneva. (2001). WFP. Guidelines for core popula on coverage indicators for Roll Back Malaria: to be obtained from household surveys. MEASURE Evalua on. see Fourth RBM Partnership Board mee ng) S Bertel Squire. The World Bank’s Global HIV/AIDS Program of Ac on. Partnership Board channel. (2008). Financial Resources Required to Achieve Universal Access to HIV Preven on. 23-25 Agustus 2004 UNFPA. Desember 2005 UN Millennium Project. World Health Organiza on Bulle n 2008. AIDS epidemic update: Desember 2007. Report on The Global AIDS Epidemic 2008. Calverton.unmillenniumproject. ILO. www. (2005). org/partnership(wg/wg/monitoring/docs/GuidelinesForCorePopula onFINAL9-20_ Malaria. Addressing HIV/AIDS.theglobalfund. Bertha Nhlema-Simwaka. 2004. Reducing Poverty and Achieving the Millennium Development Goals: arguments for inves ng in reproduc ve health & rights. 2005. Jakarta. Lancet 2006. UNODC. Global Strategic Plan 2005 – 2015. UNAIDS. Treatment. (2008). (2008). (2005). Malaria.Roll Back Malaria/MEASURE Evalua on/World Health Organiza on/ UNICEF. (2004). Towards Universal access: Scaling up priority HIV/AIDS interven ons in the health sector. The Global Fund. (2005). Working Group on Malaria. and Access to Essen al Medicines. 2007 and 2001. (2004). UNESCO. Coming to Grips with Malaria in the New Millennium. Poverty Reduc on and 292 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . (2004). UNDP. Malaria and Tuberculosis : The resource needs of the Global Fund 2005 – 2007.org The Jakarta Post. Malaria-free Indonesia by 2030. the Joint United Na ons Programme on HIV/AIDS. (h p://rollbackmalaria. UNHCR. (2007). 2008 The Joint United Na ons Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) and World Health Organiza on (WHO). (2007). Task Force on HIV/AIDS. (2007). (2005). Malaria Emergency Fund for the Containment of Malaria Epidemics in Africa (www. September 2007 The RBM Partnership. 2004 The World Bank.org/documents/malaria-complete-lowres. WHO. UNAIDS. UNAIDS. Rollback Malaria Partnership Board Channel. (2006). 2008. de Savigny D. 86: 82. WHO and the World Bank. (2005).rollbackmalaria. GFATM.

Geneva. Regional Office for South-East Asia. Geneva. 2008 WHO. treatment and care. USAID/BASICS Project.who. November 2007 United Na ons. Malaria control and immuniza on: a sound partnership with great poten al. HIV/AIDS Department. int/rbm/A achment/20041004/malaria_pregnancy_str_framework. 31 October .2 – April 2009 World Health Organiza on. New York.pdf ). 2000 (WHO/CDS/RBM/2000.int/hiv World Health Organiza on. Regional Strategy for the Preven on and Control of Sexually Transmi ed Infec ons 2007–2015: Breaking the chain of transmission. (1996). World Health Organiza on. World Health Organiza on & Na onal AIDS Commission. (2001). World Health Organiza on Regional Office for Africa. (2004). New Delhi 2005 World Health Organiza on.rollbackmalaria.53. sebuah Peneli an Par sipa f/PLHIV and Health Service Access. h p://www. World Health Organiza on (2004). Care and Treatment. WHO We Are: The HIV/AIDS Programme at WHO: Strengthening the health sector for universal access to HIV preven on. Version 1. World Health Organiza on.int/cmc_upload/0/000/012/168/m_e_en. (2004). WHO.int/docs/WHOposi ononDDT. A strategic framework for malaria preven on and control during pregnancy in the African Region. World Health Organiza on. WHO/UNICEF Joint Statement. (2008). World Malaria Report.52. PRIORITY INTERVENTIONS . Brazzaville. Regional Office for South-East Asia. WHO/ CDS/CPE/PVC/2004. h p://mosquito. org/docs/RBM-EPI-EN. Global Strategic Framework for Integrated Vector Management. Expanding Access to HIV/AIDS Treatment: Mission Report – Indonesia. Regional Office for South-East Asia. Expanding Access to HIV/AIDS Treatment: A Strategic Framework for Ac on at Country Level. (2004). 2004. HIV/AIDS Department. h p://www.Achievement of the MDGs: Project Facts the Indonesian Partnership Fund for HIV and AIDS. Regional Office for South-East Asia.2 November 2006 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 293 . The Millennium Development Goals Report 2008. Roll Back Malaria.pdf).HIV/ AIDS preven on. WHO posi on on DDT use in disease vector control under the Stockholm Conven on on Persistent Organic Pollutants.25). ODHA & Akses Pelayanan Kesehatan Dasar. (2009). (2009). Framework for monitoring progress & evalua ng outcomes and impact.pdf) World Health Organiza on. Project Report 1996 Vipin M Vashishtha. (2003). A Billion-dollar Moment for a Centuries Old Disease? Indian Pediatric. New Delhi 2007. Volume 45. Regional Strategic Plan On HIV/TB. (2005). 2004 (AFR/MAL/04/01. World Health Organiza on.pdf). A Par cipatory Research. h p://mosquito. (2007). Regional Office for South-East Asia. Scaling-up HIV Preven on.who. October 2003. 17.who. Desember. Thailand. h p://mosquito.who. (2004). Report of a Regional Mee ng Bangkok. 19-31 Januari 2004. World Health Organiza on Regional Office for Africa. (2008). (WHO/HTM/RBM/2004. (WHO/HTM/RBM/2005. treatment and care in the health sector. (2006).10.

29–31 Oktober 2007.int/malaria/ wmr2008/malaria2008. (2008). World Health Organiza on. (2008). (2003). Partners Support for Malaria Control in Indonesia.pdf World Health Organiza on. World Health Organiza on. World AIDS Day.World Health Organiza on. (2008). (2008). Badan Pusat Sta s k. Guidance on Provider-Ini ated HIV tes ng and Counseling in Health Facili es: Strengthening health services to fight HIV/AIDS. (2006). Juni 2004 World Health Organiza on. (2007). HIV/AIDS Preven on. Sta s k Tahunan Indonesia.who. World Health Organiza on. Survei Sosial Ekonomi Nasional 2008. (2008). (2004). Conclusion of A Technical Consulta on. Report on the Achievement of Indonesia’s Millennium Development Goals 2004. Biregional strategy for harm reduc on. 2005 -2009 : HIV and injec ng drug. 294 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . (2008).int/malaria/wmr2008/MAL2008-SumKey-EN. Jakarta. (2008). 19-22 November 2002. THE STOP TB STRATEGY. Report of the Second Joint Mee ng of Na onal AIDS and TB Programme Managers. (2009). Na onal Development Planning: Indonesia Response to Climate Change. Juni 2004 World Health Organiza on. (2005). http://www. (2004). Indonesia. Bappenas dan United Na ons. Jakarta. Colombo. World Malaria Report: Summary and Key points. Injec ng Drug Use and HIV Transmission. 1 Desember 2008 World Health Organiza on. HIV Burden. Bappenas. (2008). (2008). Primary Health Care and HIV/AIDS: An Essen al Requirement for Mee ng the MDGs.pdf Tujuan 7 Badan Pusat Sta s k. Report of the 19th Mee ng of the Na onal AIDS Programme Managers Bali. Controlling Sexually Transmi ed Infec ons. 1 Desember 2008 World Health Organiza on. World Health Organiza on. diku p dari “Economic Impacts of Sanita on in Indonesia”. Badan Pusat Sta s k. World AIDS Day. Sri Lanka. The Roll Back Malaria Strategy for Improving Access to Treatment Through Home Management of Malaria World Health Organiza on. (2007). Sta s k Lingkungan Hidup Indonesia 2009. Malaria and HIV/AIDS Interac ons and Implica ons. Badan Pusat Sta s k. World AIDS Day. 1 Desember 2008 World Health Organiza on. 1 Desember 2008 World Health Organization. (2005). Technical Consulta on on Malaria and HIV Interac ons and Public Health Policy. TB and HIV/AIDS in the South-East Asia Region. World AIDS Day. h p:// www. Building on and Enhancing DOTS to Meet the TB-related Millennium Development Goals. (2004). 2008. (2008). 2007 World Health Organiza on. World Malaria Report. World Health Organiza on. Care and Treatment in the South-East Asia Region. October 2003.who. (2008). Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007. Malaria and HIV Interac ons and Their Implica ons for Public Health Policy.

Water safety plan manual: step-by-step risk management for drinking-water suppliers. Pusat Peneli an Kesehatan Universitas Indonesia. (2009). Climate Change in Indonesia Na onal Development Planning. Kementerian Kesehatan. Laporan akhir ke USAID . Pendekatan Strategis Pengembangan Sanitasi di Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 Tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Geneva. (2008). Jakarta Kementerian Kesehatan & WSP-EAP. Stevens M. Jakarta. Jakarta. (September. Kementerian Kesehatan & WSP-EAP. Corrales L. Fakultas Kesehatan Masyarakat – Universitas Indonesia. Jakarta. Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR). SPM Sebagai Target Pencapaian Pengembangan Sanitasi. 2006).org/ Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. h p://www. Kementerian Kesehatan & WSP-EAP. Jakarta. Bappenas. Jakarta. (2008). (2008). Kementerian Kesehatan. Survei rumah tangga pelayanan kesehatan dasar di 30 kabupa-ten di 6 provinsi di Indonesia 2005. Jakarta.Bappenas. Mobilisasi Pendanaan Guna Mendukung Pengembangan Sanitasi. Buku Data Sta s k Ekonomi Energi Indonesia. Kementerian Kesehatan & WSP-EAP. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 295 . Bartram J. Jakarta. Temuan Isu dan Permasalahan Serta Usulan Kebijakan Awal (Prematur Policy) Pembangunan Air Minum dan Sanitasi. 2009). Kementerian Kesehatan & WSP-EAP. (2010).Indonesia Health Services Program: Jakarta. Jakarta. (2008). Bappenas. Bappenas. Jakarta. Pusat Data dan Informasi. Jakarta. (Maret. Jakarta. Kementerian Kesehatan. Bappenas. Jakarta. Jakarta. Building an Indonesian Framework for Water and Sanita on Sector Monitoring Evalua on 13-14 April 2009. Lessons from Around the World. Davison A. Jakarta. Howard G. (2007). Presenta on at Asia Pacific Seminar on Climate Change. (2007). PEACE. (April. Indonesia and Climate Change. 2009). Rinehold A. Public-Private Partnership in Handwashing with Soap (PPP-HWWS) For Diarrheal Diseases Preven on in Indonesia. (April.(2009). Hasil Lokakarya Konsolidasi Masukan RPJMN 2010-2014 Bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. (2006). (2007). Deere D. Kementerian Kesehatan & WSP-EAP. Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Na onal Ac on Plan Adressing Climate Change. (April. 2009). World Health Organiza on. Fact Sheets. (2008).wssinfo. Gordon B. Bappenas. (2008). Current Status and Policies. Peranserta Swasta Dalam Peningkatan Layanan Sanitasi. Strategi Sanitasi Melalui Pendekatan Pengembangan Kelembagaan. Jakarta. (2008). 2010). Profil Kesehatan Indonesia 2007. Drury D. Kementerian Lingkungan Hidup. (2008). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014.

Interna onal Telecomunica on Union.Safrab Yusri and Muhammad Syahrir (TERANGI). Statement on Plenary Session of 7th WTO Ministerial Mee ng. Survei Sosial Ekonomi Nasional 2009. Mee ng the MDG drinking water and sanita on target.id ASEAN Secretariat. The Jakarta Commitment – Indonesia Roadmap to 2014. (2002). 30th November 2009. (2005). Abdul. Bappenas. 296 Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia . The Other Half of Climate Change – Why Indonesia Must Adapt to Protect Its Poorest People. Health. (2009). Geneva. Jakarta. (2009). Bank Indonesia. Laporan Perekonomian Indonesia 2009. (2007). (2009). Jakarta. www. and Development: What Will it Take? Task Force on Water and Sanita on. UN Millennium Project. (2009). Jakarta. (2009). Tujuan 8 APJII. Direktur Diseminasi Sta s k . (2009). Laporan Pencapaian Millennium Development Goals Indonesia 2007. The Availability of ICT Indicators for Households and Individuals: Case of Indonesia. Laporan Perekonomian Indonesia 2008.int Kementerian Keuangan. Jakarta.apjii.konservasi-laut. www. ASEAN Economic Community Blueprint. Irfan Yulianto and Yudi Herdiana (WCS Indonesia). Rachman. UNDP. through www.net. Jakarta. Bappenas. Dignity. Bank Indonesia. Informa on Sta s cal Profiles 2009.or. Sta s k Utang Luar Negeri. WHO dan UNICEF (2006). Jakarta. Pangestu. Indonesia. (2007).BPS. Mari. Jakarta.itu. Jurnal Kerjasama Pemerintah dan Swasta Edisi 7 – September 2009. Bappenas. (2006). (2008). Jakarta. (2009/2010). Jakarta. Southeast Asia: A Free Trade Area. (2008). ASEAN Secretariat. Badan Pusat Sta s k. Providing Access to Marine Protected Areas Data and Marine Related Research in Indonesia. Jakarta. (2007). Badan Pusat Sta s k.

Gendon Kemkes UNDP/Ali Budiman Kemkes UNDP/Camelia Siagian UNDP/Priyombodo Gendon Bappenas Bappenas Bappenas Bappenas Bappenas Bappenas Bappenas Randy R. Perhelatan Bertajuk Seribu Perempuan Belajar Internet Bersama (Supernets) yang Digelar dalam Rangka Hari Kar ni. UNDP) Penyuluhan KB “Stop AIDS. Suasana di Ruang Kelas Pendidikan Anak Usia Dini / PAUD SUPERNETS. UNDP) PLTP Wayang Windu di Jawa Barat Sumber Air Minum. Puluhan Anak SD yang Tergabung dalam “Kader An Korupsi” Melempar Topi Usai Upacara Peringatan Hari An Korupsi Se-Dunia di Halaman Gedung Grahadi Surabaya. 24-25 September.Kredit Foto Foto sampul KADER ANTI KORUPSI. ANTARA/Bhak Pundhowo Tujuan 1: • Halaman 23 • Halaman 32 • Halaman 37 • Halaman 38 • Halaman 58 Tujuan 2: • Halaman 69 • Halaman 72 • Halaman 76 Tujuan 3: • Halaman 87 Bappenas A. UNDP) “Menjaga Pertumbuhan Pohon Bakau” (dari Lomba Foto MDGs 2008. Pulang dari Ladang Ibu dan Anak-Anak Kembali dari Kebun PNPM – Bantuan Jalan Desa PNPM Generasi – Bantuan Biaya Siswa Pojok Gizi Murid Sekolah Dasar dan Taman Kanak Kanak. Manembu Bappenas Bappenas Kemkes Bappenas Bappenas Kemdiknas ANTARA/Eric Ireng Tujuan 4: • Halaman 101 • Halaman 108 Tujuan 5: • Halaman 121 • Halaman 131 Tujuan 6: • Halaman 147 Tujuan 7: • Halaman 183 • Halaman 194 • Halaman 215 • Halaman 216 • Halaman 219 • Halaman 221 • Halaman 231 • Halaman 231 Tujuan 8: • Halaman 235 UNDP/Priyombodo. NTT” (dari Lomba Foto MDGs 2008. “Antre Mendapatkan Vitamin A” (dari Lomba Foto MDGs 2008. 11 Mei 2009. Wrihatnolo Bappenas Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 297 . NTT MCK “Margo Ratan”di Kota Mojokerto Wilayah Kumuh di Makassar Perumahan Rusunawa di Makassar Pertemuan G-20 di Pi sburgh. 2009. Start Running” (dari Lomba Foto MDGs 2008. Seribu Perempuan Berinternet Bersama di Atrium TP 3 Surabaya. Hari Pendidikan Nasional dan HUT Surabaya ke-716 ini Tercatat dalam Sebuah Rekor. Muara Enim Cuci Tangan Sumber Air Minum. Rabu 9 Desember 2009. UNDP) Pemantauan Tumbuh Kembang Bayi di Posyandu “Puskesmas di Praya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful